Farmakognosi yaitu cabang ilmu farmasi yang mempelajari tentang obat-
obatan alami, terutama dari tumbuhan. Kata "farmakognosi" sendiri berasal
dari bahasa Yunani, "pharmakon" yang berarti obat, dan "gnosis" yang berarti
pengetahuan. Jadi, farmakognosi secara harfiah dapat diartikan sebagai
pengetahuan tentang obat-obatan
Farmakognosi yaitu cabang ilmu farmasi yang berfokus pada penelitian,
identifikasi, karakterisasi, dan pemahaman senyawa-senyawa kimia yang
ada dalam bahan-bahan alam, seperti tumbuhan, hewan, dan
mikroorganisme, serta bagian-bagian dari bahan-bahan ini yang
dipakai dalam pengobatan dan terapi Ilmu ini juga mempelajari sejarah pemakaian tradisional dan
budaya terkait dengan bahan-bahan alami yang dipakai dalam pengobatan
Farmakognosi bertujuan untuk:
1. Mengidentifikasi dan mengisolasi senyawa aktif: Farmakognosi
mempelajari senyawa-senyawa kimia dalam bahan alam untuk
mengidentifikasi senyawa aktif yang memiliki potensi farmakologi,
seperti senyawa obat
2. Menentukan kualitas bahan baku obat: Farmakognosi membantu
dalam menetapkan standar kualitas untuk bahan baku obat, sehingga
produk obat yang dihasilkan memiliki kualitas yang konsisten dan
efektif
3. Mempelajari interaksi obat alam dan tubuh: Ilmu ini memahami
bagaimana senyawa-senyawa alam berinteraksi dengan tubuh
manusia, termasuk mekanisme kerja, efek samping, dan toksisitas
potensial .
4. Mendukung penelitian obat baru: Farmakognosi berperan penting
dalam penemuan dan pengembangan obat-obatan baru, terutama
dengan menyediakan sumber inspirasi dari bahan alam
5. Melestarikan pengetahuan tradisional: Farmakognosi juga mencakup
upaya untuk memahami dan melestarikan pengetahuan tradisional
tentang pemakaian tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme dalam
pengobatan dari berbagai budaya
Ilmu farmakognosi sangat penting dalam pengembangan obat-obatan,
pengujian keamanan, dan perancangan formula sediaan obat yang efektif.
Seiring dengan kemajuan teknologi, farmakognosi juga telah
mengintegrasikan metode analisis kimia dan biologi molekuler untuk
memahami secara lebih mendalam senyawa-senyawa alami yang berperan
dalam pengobatan modern
Farmakognosi memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan
obat-obatan sebab :
1. Penemuan Senyawa Aktif
Farmakognosi membantu dalam mengidentifikasi senyawa aktif
dalam bahan-bahan alami. Ini yaitu langkah awal dalam penemuan
obat-obatan baru atau dalam memahami dasar ilmiah dari
pemakaian obat tradisional
2. Pengujian Aktivitas Farmakologi
Setelah senyawa aktif diidentifikasi, farmakognosi mendukung
pengujian aktivitas farmakologi untuk memahami mekanisme kerja,
efek terapeutik, dan keamanan senyawa ini
3. Pengembangan Formula Sediaan Obat
Farmakognosi juga terlibat dalam pengembangan formula sediaan
obat yang efektif. Ini melibatkan penentuan dosis, cara pemberian,
dan formulasi obat agar obat dapat dipakai dengan aman dan
efektif oleh pasien
4. Penentuan Kualitas Bahan Baku Obat
Farmakognosi membantu dalam menentukan kualitas bahan baku
obat, sehingga produk obat yang dihasilkan memiliki kualitas yang
konsisten. Hal ini sangat penting untuk menghindari variasi dalam
kekuatan obat.
5. Konservasi Sumber Daya Alam
Dalam konteks lingkungan, farmakognosi juga mempertimbangkan
konservasi sumber daya alam. Ilmu ini membantu dalam menentukan
bagaimana tumbuhan dan hewan obat dapat diambil secara
berkelanjutan tanpa merusak ekosistem
6. Penghormatan Terhadap Pengetahuan Tradisional
Farmakognosi menghormati pengetahuan tradisional yang telah lama
dipakai dalam pengobatan oleh warga lokal. Ini melibatkan
kerja sama dengan komunitas tradisional dan pengakuan pengetahuan
warga local
Farmakognosi juga berperan dalam memahami interaksi antara bahan-bahan
alam dan tubuh manusia. Sebagai contoh, banyak obat-obatan modern yang
dipakai dalam pengobatan dihasilkan dari senyawa-senyawa yang pertama
kali ditemukan dalam tumbuhan atau mikroorganisme. Farmakognosi
membantu mengidentifikasi dan mengisolasi senyawa-senyawa ini, dan
kemudian memahami bagaimana mereka bekerja dalam tubuh. Dengan
demikian, farmakognosi yaitu ilmu multidisiplin yang menggabungkan
pengetahuan kimia, biologi, kedokteran, dan budaya untuk memahami dan
memanfaatkan sumber-sumber alam dalam pengobatan dan perawatan
kesehatan. Ilmu ini terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan
penelitian, memberi kontribusi penting dalam pengembangan ilmu farmasi
dan perawatan Kesehatan (Dhami, 2013). Dalam perkembangannya,
farmakognosi juga terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan ilmu
pengetahuan.
Berikut yaitu beberapa perkembangan penting dalam farmakognosi:
1. Teknologi DNA Barcoding
DNA barcoding yaitu teknik yang memungkinkan ilmuwan untuk
mengidentifikasi organisme berdasar sekuensinya. Dalam
farmakognosi, ini dipakai untuk mengkonfirmasi identitas
tumbuhan obat yang dipakai dalam obat-obatan. Teknologi ini
membantu menghindari kesalahan identifikasi dan memastikan
keaslian dan kualitas bahan baku obat
2. Biologi Molekuler
Ilmuwan farmakognosi juga memanfaatkan biologi molekuler untuk
memahami mekanisme produksi senyawa aktif dalam tumbuhan obat.
Ini membantu dalam pengembangan teknik bioteknologi untuk
menghasilkan senyawa-senyawa obat dengan efisien
3. Perkembangan Database
Perkembangan farmakognosi juga mencakup pembuatan dan
pemeliharaan database informasi tentang bahan-bahan alam yang
dipakai dalam pengobatan. Database ini memungkinkan para
peneliti untuk mengakses informasi yang diperlukan dengan cepat
dan efisien
4. Nuclear Magnetic Resonance (NMR) merupakan teknik analisis
kimia yang krusial dalam ilmu farmakognosi. Spektroskopi NMR
dipakai untuk menganalisis struktur kimia dari senyawa-senyawa
yang ada dalam tumbuhan atau hewan obat. NMR
memungkinkan identifikasi senyawa aktif, penentuan struktur
molekuler, dan pemahaman interaksi kimia antar komponen dalam
bahan alam ini . NMR berperan penting dalam penelitian
farmakognosi untuk memberi informasi yang rinci tentang
komposisi kimia sampel, mengembangkan obat-obatan berbasis
sumber alam, serta memantau kualitas dan keaslian bahan obat alam,
sehingga mendukung upaya pemanfaatan yang berkelanjutan dan
optimal terhadap obat tradisional ,
5. Analisis Spektrometri Massa
Spektrometri massa yaitu alat analisis kimia yang sangat penting
dalam farmakognosi. Ini dipakai untuk mengidentifikasi senyawa-
senyawa kimia dalam bahan alam dengan tingkat resolusi dan
sensitivitas yang tinggi. Ilmuwan dapat mengkarakterisasi senyawa-
senyawa aktif dengan presisi dengan bantuan spektrometri massa
6. Mikroskopi Elektron memberi gambaran yang sangat rinci
tentang struktur seluler dan mikrostruktur tumbuhan obat.
Mikroskopi Elektron membantu dalam mengidentifikasi bagian-
bagian tumbuhan yang memiliki nilai obat, serta dalam mengamati
perubahan struktur seluler yang terjadi selama proses pengolahan
obat
1.2 Sejarah Farmakognosi
Perkembangan farmakognosi dari zaman kuno hingga saat ini mencerminkan
perjalanan panjang dalam pemahaman tentang obat-obatan alami, pemakaian
tumbuhan obat, dan peran ilmu pengetahuan modern dalam penelitian dan
pengembangan obat.
Gambaran umum tentang perkembangan farmakognosi selama berbagai
periode sejarah.
1. Zaman Kuno:
Babilonia-Asyur
Dalam farmasi Babilonia-Asyur yang tercatat dalam bentuk
kuneiform, pemakaian obat herbal untuk penyembuhan internal dan
salep untuk perawatan eksternal menjadi prinsip utama. Buku resep
tertua di dunia, ditemukan di Irak, berisi dua belas resep untuk salep
dan obat dalam, dengan bahan-bahan seperti garam dapur, mur,
thyme, buah ara, embun, susu, kulit, dan baju baju kura-kura.
warga Mesopotamia mengenal budidaya buah ara untuk
dijadikan anggur, dan mereka memakai jus buah ara untuk
merawat dan melapisi obat-obatan. Selain itu, penanaman bawang
juga dilakukan, dimakan sebab alasan kebersihan dan Kesehatan
Yunani Kuno
Peradaban Yunani menandai era ilmu pengetahuan dan filsafat yang
berkontribusi penting dalam ilmu farmasi, terutama di bidang
fitofarmasi. Aristotle dan Hippocrates, yang diakui sebagai bapak
kedokteran allopatis, masing-masing mendeskripsikan 500 dan
hampir 400 bahan obat mentah dari tanaman. Theophrastus, murid
Aristotle, juga menyebutkan 500 bahan obat mentah dalam karyanya.
Sementara itu, Claudius Galen Pergamum, seorang tokoh kunci,
mengembangkan teknik ekstraksi obat nabati dan memperkenalkan
konsep formulasi farmasi, menulis sekitar 300 buku tentang tanaman.
Semua ini mencerminkan kontribusi Yunani dalam pengembangan
ilmu farmasi
Tokoh-tokoh seperti Dioscorides dan Theophrastus berkontribusi
pada pemahaman tentang tumbuhan obat dan pemakaian mereka
dalam pengobatan. Theophrastus mendefinisikan "tumbuhan" dan
memberi nama serta menggambarkan bagian-bagian tumbuhan; ia
mempelajari reproduksi tumbuhan dan efek iklim, tanah yang
berbeda, dan kontribusi manusia melalui pertanian. Dioscorides
menggambarkan tumbuhan obat dan pemakaian nya, serta
membentuk praktik untuk memperlakukan setiap tanaman dalam
bagian tersendiri. Dioscorides, sebagai tokoh utama dalam warisan
ilmu farmasi Yunani. Karya Dioscorides, "De Materia Medica,"
menjadi panduan penting dalam farmakognosi. Karya ini merupakan
replika dari "farmakope kuno" dan diakui sebagai karya terbaik dan
terluas dalam bidang kedokteran sepanjang zaman kuno. Dioscorides
secara cermat mendokumentasikan lebih dari 750 zat obat, termasuk
sekitar 600 tanaman. Selain sinonim, "farmakope" ini memberi
deskripsi morfologi dan data distribusi geografis tanaman tertentu,
panduan tentang cara menyusun dan menyimpan obat tertentu, serta
memberi indikasi terapeutik, dosis, dan efek farmakologis
Setelah Romanisasi Yunani pada 146 SM, buku farmakope
dipindahkan ke Roma. Scribonius Largus, di abad pertama Masehi,
menulis "Compositiones medicae" dengan 271 resep. "Compounding
of Drugs or Recipes for Remedies" (Compositiones
medicamentorum) oleh Scribonius Largus juga merupakan sumber
penting dalam kedokteran Romawi, terutama praktik farmasi pada
abad pertama Masehi, dengan pembagiannya menjadi tiga bagian
utama untuk menyelidiki pendekatan Scribonius terhadap aspek
kedokteran, jenis obat, bahan terapetik, dan metode farmasi terapan
di awal Kekaisaran Romawi. Galen, ahli farmasi terkemuka Yunani-
Romawi, menulis karya berpengaruh sekitar 160 M, merinci sekitar
500 obat herbal dan obat mineral serta hewan, termasuk "De
simplicium medicamentorum temperamentis et facultatibus" dan "De
compositione medicamentorum sectmdum genera." Karya-karya
Galen, termasuk "De Antidotis," terlestarikan dalam naskah
berbahasa Yunani, Latin, dan Arab, dengan banyak edisi cetak, mulai
dari edisi Latin pertama di Venice pada 1490 dan edisi Yunani
pertama pada 1525 oleh Venetian Aldina. Edisi Latin terkenal
termasuk pencetakan Giunta di Venice
2. Abad Pertengahan
Pengaruh Islam
Asal mula ilmu farmasi (syadanah, dalam bahasa Arab) tidak bisa
dipisahkan dari sejarah panjang perkembangannya, yang merupakan
suatu proses bertahap dalam evolusi ilmu pengetahuan itu sendiri.
Tokoh-tokoh Islam pada zaman kejayaan Islam memiliki peran yang
signifikan dalam kemajuan ilmu kedokteran dan farmasi, yang
tercermin dalam karya-karya kitab yang dihasilkan. Karya-karya
seperti "The Canon of Medicine" oleh Ibn Sina (Avicenna) dan
"Kitab al-Adwiya al-Mufrada" oleh al-Razi (Rhazes) dari dunia Islam
menggabungkan pengetahuan klasik Yunani dengan pengetahuan
lokal dan memainkan peran penting dalam pengembangan
farmakognosi
Masa antara abad ke-9 hingga ke-13 tetap dikenal sebagai "Golden
period of the Arab science" dengan Kedokteran dan Farmasi
menduduki posisi penting di antara ilmu yang diajarkan. Bangsa Arab
mampu memakai sumber daya budaya dan alamiah serta
jaringan perdagangan mereka untuk berkontribusi pada
perkembangan kuat farmasi. Ilmuwan Arab seperti Yuhann ibn
Masawayh (777-857), Hunayn bin Ishaq (809-873), Sabur bin Sahl
(wafat 869), Ali ibn Sahl at-Taberi (808-861), Muhammad ibn
Zakarya al-Razi (865-925), Ali ibn Abbas al-Majusi (925-994), Abu-
lKasim al-Zahrawi (936-1013), Abu ar-Rayhan al-Biruni (975-1048),
Abu Ali ibn Hussayn ibn Abdullah ibn Sina (980-1037), Ibn Jazlah
(wafat 1100), Ibn al-Tilmidh (1073-1165), Rabbi Moses bin Maimon
(1135-1204), Ibn al-Baitar (1197-1248), Kohen alBaitar, Alauddin
ibn al-Nafis (1210-1277), dan lain sebagainya (19-26) (Masic dkk.,
2017; Zunic dkk., 2017).
Ibnu Sina, atau Avicenna, memulai perjalanan studinya di Bukhara,
mendalami logika, filsafat, metafisika, dan ilmu alam di bawah
bimbingan para sarjana terkenal seperti Abu Abd Allah al-Natili.
Ibnu Sina menciptakan karya farmasi utamanya, "Kitab al-Qanun fi
al-tibb" yang dikenal sebagai "The Canon of Medicine". Buku medis
paling terkenal sebelum terbitnya karya oleh yaitu Kitab Kamil al-
sinaà h al-tibbiyyah yang ditulis sekitar tahun 983 oleh Ali ibn al-
Abbas al-Majusi. Meskipun dokter Suriah Ibnu al-Ibri (dikenal
sebagai Bar Hebraeus), yang meninggal pada tahun 1286,
menganggap bahwa buku ini berisi lebih banyak saran klinis praktis
dibandingkan The Canon. Karya Ibnu Sina "The Canon of Medicine"
tetap menjadi buku teks medis paling populer di dunia selama enam
abad berikutnya
Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Ar-Razi atau lebih dikenal Ar-
Razi merupakan dokter Muslim terkemuka dan pengajar utama di
dunia Islam dan Eropa dalam bidang ilmu kedokteran. Ar-Razi juga
seorang filsuf dan ahli kimia setelah fondasi-fondasinya dirumuskan
oleh Jabir bin Ibnu Hayyan. Ar-Razi berhasil membuat berbagai
penemuan kimia modern berdasar penelitian dan eksperimen
3. Zaman Modern Awal
Pengembangan Kebun Botani
Pada abad ke-16 dan 17, berbagai kebun botani muncul di Eropa
barat dan berperan sebagai fasilitas pengajaran bagi mahasiswa
universitas yang mempelajari kedokteran, botani, dan farmakologi.
Kebutuhan untuk mengajarkan cara membedakan tanaman dengan
sifat medis dan beracun mendorong Francesco Bonafede, profesor
botani pertama di Eropa, untuk mencetuskan ide pembuatan Orto
botanico di Padua. Raja Henry IV dari Prancis juga memerintahkan
Pierre Richer de Belleval untuk membuat Jardin des Plantes di
Montpelier, diikuti oleh Jardin Royal des Plantes Médicinales di
Paris. Berbeda dengan kebun di Padua, Montpellier, dan Paris, hortus
yang dibuat oleh Clusius di Leiden lebih fokus pada tanaman langka
dari berbagai wilayah. Botanis Inggris mendirikan kebun botani
untuk mempelajari sifat obat tanaman, mengklasifikasikan spesies
yang baru tiba, dan mendalami potensi ekonomisnya
Senyawa bahan alam dan obat tradisional memiliki signifikansi yang besar.
Jenis obat seperti pengobatan tradisional Cina, Ayurveda, Kampo, pengobatan
tradisional Korea, dan Unani telah dipakai di beberapa wilayah dunia dan
berkembang menjadi sistem pengobatan yang diatur secara teratur
Beberapa contoh pengobatan tradisional yang memiliki keterkaitan dengan
farmakognosi, yaitu pemakaian tumbuhan dan bahan alam untuk tujuan
pengobatan.
1. Traditional Chinese Medicine (TCM)
TCM telah menjadi subjek penelitian ilmiah yang intensif dalam
beberapa dekade terakhir. Banyak produk alami dan obat tradisional
dari TCM telah diisolasi, diidentifikasi, dan dievaluasi untuk aktivitas
biologis dan farmakologis mereka. Salah satu obat modern yang
berasal dari TCM yaitu artemisinin.
2. Ayurveda (India)
Ayurveda memanfaatkan berbagai tanaman obat untuk merawat
kondisi kesehatan. Contohnya, curcumin dari kunyit berpotensi untuk
mengobati penyakit Alzheimer (AD), sebuah gangguan
neurodegeneratif yang memicu penurunan kognitif dan
demensia
3. Kampo (Japan)
Dalam Kampo, formulasi herbal tradisional dari TCM diadaptasi
untuk dipakai dalam konteks Jepang. Kampo memiliki efek
analgesik yang signifikan dan dapat meningkatkan kualitas hidup
pasien dengan nyeri. Kampo juga memiliki efek samping yang
minimal dan dapat dikombinasikan dengan obat-obatan
konvensional. Beberapa formula Kampo yang sering dipakai
untuk nyeri yaitu Yokukansan (Tang-kuei, Gambir, Cnidium,
Atractylodes rhizome, Holen, Bupleurum, Liquorice) dan
Shakuyakukanzoto
4. Traditional Korean Medicine (TKM)
TKM mengandalkan farmakognosi dengan memakai tanaman
seperti ginseng. Ginseng telah dipakai sebagai tonik, nootropik,
anti-penuaan, dan anti-patogenik dalam pengobatan herbal Korea,
Cina, dan Jepang selama ribuan tahun. Ginseng juga dipakai untuk
mengobati berbagai penyakit, seperti diabetes, kanker, stres,
impotensi, dan gangguan saraf
5. Unani (Middle East)
Sistem pengobatan Unani, yang juga dikenal sebagai pengobatan
Islam, merupakan salah satu sistem penyembuhan utama di dunia.
Diciptakan oleh dokter-dokter Islam di Timur Tengah sekitar seribu
tahun yang lalu, sistem ini berdasar prinsip-prinsip yang diajarkan
oleh Hippocrates dan Galen .
6. Jamu (negara kita )
Jamu yaitu bentuk pengobatan tradisional dari negara kita yang
memakai berbagai bahan alami seperti rempah-rempah,
tumbuhan obat, dan bahan organik lainnya. Beberapa tanaman yang
umumnya dipakai dalam jamu mencakup kunyit, jahe, temulawak,
sambiloto, daun sirih, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Jamu
dipakai untuk meningkatkan kesehatan secara umum dan untuk
mengobati berbagai kondisi, dan sering kali terkait erat dengan
pengetahuan farmakognosi lokal yang telah diwariskan secara turun
temurun.
7. Traditional Medicine in Native American Cultures
Suku-suku asli di Amerika memiliki beragam tradisi pengobatan
yang melibatkan tanaman obat dan praktik spiritual. Misalnya,
ramuan memakai tanaman seperti sage, sweetgrass, dan cedar
dipakai dalam upacara penyembuhan.
8. Traditional African Medicine
Praktik pengobatan tradisional di berbagai negara di Afrika,
melibatkan pemakaian tanaman obat, pengobatan herbal, dan
praktik-praktik spiritual untuk menyembuhkan penyakit dan menjaga
kesehatan.
9. Traditional Medicine in South America
Suku-suku di Amerika Selatan, seperti pengobatan tradisional
Amazon, memakai tanaman obat dari hutan hujan untuk
pengobatan. Contoh termasuk ayahuasca dan curanderos
(penyembuh tradisional).
10. Traditional Medicine in Australia
Pengobatan tradisional oleh suku Aborigin di Australia melibatkan
pemakaian tanaman obat seperti tea tree dan eucalyptus, serta
praktik pengobatan spiritual.
11. Traditional Medicine in the Arctic Regions
Suku-suku asli di wilayah Arktik, seperti Inuit dan Saami, memiliki
tradisi pengobatan yang melibatkan pemakaian tanaman obat yang
dapat tumbuh di lingkungan mereka yang keras.
1.3 Sumber-sumber Obat Alam
Sumber-sumber obat dari alam dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa
kategori berdasar asal-usulnya. Berikut yaitu klasifikasi umum dari
sumber-sumber obat alam:
1. Tumbuhan Obat (Plant Sources):
a. Herba: Bagian atas tanaman yang berbunga, seperti daun, bunga,
dan batang muda.
b. Akar dan Rimpang: Bagian tanaman yang berada di bawah tanah
dan biasanya dipakai untuk sifat-sifat obatnya.
c. Buah dan Bijian: Buah tanaman dan biji-bijian tertentu memiliki
sifat obat tertentu, contohnya yaitu jintan dan biji adas manis.
Pola penamaan simplisia tanaman dalam ketentuan Farmakope
negara kita menyatakan bahwa identifikasi simplisia nabati harus
memuat nama genus atau spesies tanaman, diikuti dengan
penunjukan bagian tanaman yang dipakai . Namun, peraturan ini
tidak berlaku pada simplisia nabati yang berasal dari beberapa jenis
tanaman atau eksudat nabati.
a. Genus + Nama Bagian Tanaman. Contoh: Cinchonae Cortex:
Kulit pohon cinchona yang dipakai untuk menghasilkan kinin.
Digitalis Folium: Daun tanaman digitalis yang dipakai sebab
mengandung senyawa seperti digitoksin.
b. Petunjuk Species + Nama Bagian Tanaman. Contoh Belladonnae
Herba: Herba belladonna, yang berasal dari tanaman belladonna
(Atropa belladonna) dan dipakai dalam obat-obatan. Serpylli
Herba: Herba serpylli, yang berasal dari tanaman serpyllium atau
thyme (Thymus vulgaris).
c. Genus + Petunjuk Species + Nama Bagian Tanaman. Contoh:
Curcuma aeruginosae Rhizoma berasal dari Rimpang tanaman
Curcuma aeruginosae yang dipakai dalam pengobatan
tradisional. Capsici frutescentis Fructus berasal dari Buah
tanaman Capsicum frutescens, yang umumnya dikenal sebagai
cabai.
2. Hewan dan Produk Hewan:
a. Kelenjar dan Sekresi: Beberapa obat berasal dari kelenjar dan
sekresi hewan, seperti insulin dari pankreas babi.
b. Empulur Hewan: Beberapa organ tubuh hewan, seperti hati,
dapat memiliki nilai obat tertentu.
Simplisia Hewani merujuk pada simplisia yang bisa berupa seluruh
hewan atau bahan-bahan berguna yang dihasilkan oleh hewan dan
masih berbentuk asli tanpa proses kimia murni. Contoh minyak ikan
(Oleum ieconis asselli) dan madu (Mel depuratum).
3. Mineral dan Logam:
a. Mineral: Beberapa mineral, seperti sulfat besi, dapat dipakai
sebagai suplemen obat.
b. Logam: Merkuri dan arsenik, meskipun kurang umum dipakai
sebab sifat toksisitasnya, pernah dipakai dalam sejarah
sebagai obat-obatan.
Simplisia Mineral atau pelikan merujuk pada bahan pelikan atau
mineral yang belum mengalami proses pengolahan atau telah diolah
dengan cara sederhana, dan masih berada dalam bentuk aslinya tanpa
mencapai tingkat bahan kimia murni. Contohnya mencakup serbuk
seng dan tembaga.
4. Jamur Obat (Fungal Sources):
Jamur: Beberapa jenis jamur mengandung senyawa-senyawa dengan
sifat obat, seperti antibiotik dari genus Penicillium.
5. Mikroorganisme:
a. Bakteri: Beberapa antibiotik, seperti streptomisin, berasal dari
bakteri tertentu.
b. Virus: pemakaian virus dalam terapi gen dapat dianggap
sebagai sumber obat baru yang sedang berkembang.
6. Bahan Alam bahari:
Organisme Laut: Beberapa organisme laut, seperti spons laut dan
hewan laut lainnya, dapat menghasilkan senyawa-senyawa obat.
7. Produk Alam Kombinasi:
Tanaman Campuran dan Formulasi Herbal: Banyak obat tradisional
berasal dari campuran berbagai tanaman dan formulasi herbal yang
diracik dengan tujuan tertentu.
Metabolit Sekunder dan
Aktivitas Biologisnya
Senyawa kimia tumbuhan dapat diklasifikasikan menjadi metabolit primer dan
sekunder sesuai dengan jalur biosintesis dan fungsinya. Biosintesis dari
metabolit primer praktis tidak berbeda antara organisme hidup, dan
memainkan peran peranan penting bagi kehidupan (pertumbuhan,
metabolisme dan reproduksi). Metabolit sekunder berbeda dari metabolit
primer (misalnya, protein, lipid, karbohidrat, dan asam nukleat) sebab
distribusinya yang terbatas dalam berbagai kelompok tanaman. Disamping itu,
metabolit sekunder merupakan zat yang dihasilkan oleh tanaman guna
bertahan di lingkungan tempat tumbuhnya. Molekul-molekul kecil ini
memiliki efek bervariasi pada tanaman dan organisme lain, termasuk
merangsang pembungaan dan pembentukan buah. Selain itu, metabolit
sekunder berperan sebagai antimikroba, dapat berfungsi sebagai atraktan yang
bereran dalam manarik serangga, senyawa ini juga melndungi tanaman dari
predator dan patogen sebab efek racunnya. Ditemukan lebih dari 50.000
metabolit sekunder dalam dunia tumbuhan, senyawa ini menjadi kunci dalam
memberi efek obat dari tanaman dan banyak obat modern.
Metabolit sekunder menarik perhatian sebab berbagai alasan. Metabolit
sekunder dianggap menarik sebab keragaman strukturalnya dan potensinya
sebagai calon obat dan/atau antioksidan. Metabolit sekunder yang berasal dari
tumbuhan terutama dipakai untuk pengobatan, sebagai racun dan sebagai
bahan makanan. Morfin yaitu produk alami pertama yang diisolasi dari
opium poppy (Papaver somniferum) pada tahun 1806. Saat ini, metabolit
sekunder tanaman memiliki peran penting dalam pengobatan, yang
ditunjukkan lebih dari 30% produk obat baik langsung maupun tidak langsung
berasal dari hasil alam produk. Metabolit sekunder tumbuhan dapat
diklasifikasikan menjadi empat kelompok berbeda, seperti alkaloid, fenolik,
terpen dan glikosida.
2.1 Alkaloid
Istilah "alkaloid" dipakai untuk merujuk pada senyawa turunan tumbuhan
yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam cincin
heterosiklik (gugus fungsi amina), dan memiliki dampak nyata terhadap
hewan, termasuk manusia. Orang-orang telah memanfaatkan alkaloid selama
berabad-abad, baik dalam penyembuhan maupun sebagai obat penghilang rasa
sakit, atau bahkan sebagai racun. pemakaian opium, dari getah Papaver
somniferum yang mengandung kodein dan morfin, telah dilaporkan di Timur
Tengah sejak sekitar 1200-1400 SM. Pada awalnya, secara kimia, alkaloid
dijelaskan sebagai molekul dasar yang mengandung satu atau lebih atom
nitrogen yang dihasilkan oleh tanaman. Namun, saat ini diketahui bahwa
beberapa alkaloid juga dihasilkan oleh beberapa hewan, seperti salamander api
yang menghasilkan samandarine dan beberapa spesies katak.
Alkaloid memiliki rasa pahit dan mampu membentuk garam dengan asam dan
menjadi kompleks ion logam. Klasifikasi alkaloid dapat kategorikan
berdasar berbagai karakteristik, seperti asal asam amino, struktur sistem
cincin (pyrrolidine-, indole-, piperidine-, pyrrolizidine-,tropane-, quinoline-,
isoquinoline-, aporphine-, imidazole-, diazocin-, purine-, steroidal-, amino-,
and diterpene alkaloids), aktivitas farmakologis, klasifikasi taksonomi
tumbuhan, atau karakteristik inti siklik. Sekitar 20% tanaman menghasilkan
alkaloid, dan banyak dari tanaman ini memproduksi lebih dari satu jenis.
Peran alkaloid dalam tumbuhan sebagian besar yaitu sebagai pertahanan
terhadap predator, seperti serangga (nikotin, kafein) dan herbivora (alkaloid
lupin, solasodine), serta melawan mikroorganisme (berberin, liriodenin).
Beberapa di antaranya juga dihasilkan sebagai respons terhadap kerusakan
jaringan, seperti nikotin.
Banyak dari alkaloid ini memiliki aktivitas biologis yang sangat penting (Tabel
2.1). Mayoritas alkaloid berasal dari prekursor asam amino, seperti ornitin,
lisin, tirosin, triptofan, dan histidin, atau dari asam. Beberapa alkaloid stimulan
bersifat adiktif, seperti morfin, kokain, dan nikotin. pemakaian yang tidak
tepat dari beberapa stimulan dan obat penenang sangat berbahaya bagi tubuh.
Strychnine, sebagai contoh, dipakai sebagai racun tikus. Pada tahun 339
SM, filsuf Yunani Socrates dibunuh dengan meminum hemlock yang
mengandung alkaloid coniine. Taxol, yang memiliki inti diterpenoid, memiliki
rantai samping alkaloid merupakan komponen yang sangat penting kemoterapi
untuk mengobati kanker ovarium dan payudara. Vincristine dan vinblastine
Catharanthus roseus, juga agen sitotoksik, namun pemakaian nya terbatas pada
kanker stadium akhir sebab toksisitas tinggi. Camptothecin, alkaloid quinoline
yang diperoleh dari Camptotheca accuminata, dipakai untuk mengobati
kanker ovarium stadium lanjut yang resisten terhadap taxol. Banyak senyawa
sintetis berasal dari bahan alami tanaman, dan beberapa di antaranya lebih
aman untuk dipakai , meskipun tetap memiliki beberapa sifat toksis yang
bermanfaat.
2.2 Fenolik
Senyawa-senyawa ini dapat diidentifikasi sebagai senyawa aromatik yang
mengandung satu atau lebih gugus hidroksil yang bersifat asam. Saat terpapar
udara, senyawa-senyawa ini cenderung mengalami oksidasi cepat dan
membentuk kompleks dengan protein. Senyawa fenolik disintesis melalui dua
jalur biosintetik: jalur asam shikimat dan jalur asam malonat. Biosintesis
sebagian besar produk fenolik dimulai dengan deaminasi fenilalanin menjadi
asam sinamat, dikatalisis oleh enzim phenylalanine ammonia lyase (PAL).
Asam sinamat merupakan prekursor untuk sintesis turunan yang lebih
kompleks seperti lignin, flavonoid, kumarin dan tanin.
2.2.1 Flavonoid
Flavonoid merupakan salah satu kelompok metabolit sekunder yang tersebar
luas dengan berbagai fungsi metabolisme. Senyawa biologis aktif ini telah
diisolasi lebih dari 6000 jenis flavonoid dari berbagai sumber nabati, seperti
buah-buahan, sayuran, herba, dan minuman non alkohol seperti teh dan anggur
merah. Flavonoid menjadi unsur yang paling melimpah dalam makanan
manusia, mencakup dua pertiga dari total konsumsi makanan. Kelompok
flavonoid ini termasuk dalam kelompok fenolik tumbuhan terbesar dengan
kerangka karbon 15-C, terdiri dari dua cincin benzena yang dihubungkan oleh
jembatan 3-C atau melalui struktur cincin piron heterosiklik. Struktur karbon
flavonoid dapat disingkat sebagai C6-C3-C6. Flavonoid kemudian dibagi
menjadi sembilan subkelas utama, seperti flavon, flavonol, flavanon,
flavanonol, flavanol atau katekin, isoflavon, antosianidin dan
proanthocyanidin, serta auron. Terakhir, flavonoid dengan cincin C terbuka
dikenal sebagai kalkon. Kelompok flavonoid ini berbeda satu sama lain dalam
bilangan oksidasi dan pola substitusi pada cincin karbon. Sifat larut dalam air
membuat flavonoid dapat terakumulasi dalam kompartemen vakuola sel.
Favonoid sering ditemukan di dalam vakuola sel, dan berperan dalam
memberi warna pada sebagian besar bunga dan buah. Senyawa ini
memiliki fungsi beragam, seperti menjadi atraktan penyerbuk (seperti
pelargonidin, sianidin, delphinidin), melindungi tanaman dari radiasi UV-B
(seperti kaempferol), berperan sebagai atraktan bagi pemakan serangga
(isoquercetine), atau sebagai antifeedant (proanthocyanidin). Beberapa
flavonoid, seperti apigenin dan luteoline, juga terlibat sebagai molekul sinyal
dalam asosiasi antara kacang-kacangan dan Rhizobium.
Sebagian besar flavonoid disintesis sebagai respon terhadap rangsangan stres
seperti luka, kekeringan, paparan logam, dan kelaparan. Terutama flavonol dan
flavan-3-ols diyakini melindungi tanaman dari stres oksidatif dengan berfungsi
sebagai antioksidan. Dari segi aktivitas biologis, flavonoid menunjukkan
fungsi antioksidan, efek anti-inflamasi, dan kemampuan menghambat protein
sinyal sel. Malvidin-3-O-β-glukosida, yang ditemukan dalam anggur, telah
terbukti menghambat mediator inflamasi yang berasal dari makrofag.
Flavonoid juga dianggap memiliki manfaat dalam melawan jenis kanker
tertentu melalui aktivitas modulasi seperti apoptosis, vaskularisasi, diferensiasi
sel, proliferasi sel, dan lainnya, sebagaimana ditunjukkan dalam pengujian in
vitro dan in vivo. Meskipun demikian, interaksi kompleks antara flavonoid dan
enzim kunci yang terkait sel neoplastik dan metastasis masih belum
sepenuhnya dipahami.
Kumarin
Lebih dari 300 senyawa kumarin telah ditemukan dan diisolasi dari lebih dari
800 spesies tumbuhan, termasuk lebih dari 70 famili angiosperma. Contohnya
dapat ditemui pada lavender, akar manis, stroberi, ceri, cassia, kayu manis, dan
rerumputan seperti rumput manis dan rumput vanila. Kumarin termasuk dalam
kelas lakton yang tersebar luas yang disebut benzopyranone. Ada dua senyawa
kimia wangi yang paling sederhana dalam kelompok ini, yaitu kumarin dan 7-
hidroksikumarin (umbelliferon), yang dihasilkan melalui reaksi asam sinamat
dan asam p-kumarat, diikuti dengan penutupan cincin. Beberapa turunan
kumarin alami lainnya meliputi aesculetin (6,7 dihydroxycoumarin), herniarin
(7-methoxycoumarin), dan psoralen.
Dalam konteks fisiologis, kumarin dikenal sebab perannya sebagai agen
antimikroba, mengurangi nafsu makan, dan penghambat pertumbuhan.
Scopoletin, merupakan kumarin paling umum dijumpai pada spesies tanaman
berbunga, sering ditemukan pada kulit biji yang diyakini menghambat
perkecambahan, sehingga harus dihilangkan sebelum penanaman. Meskipun
kumarin sendiri hanya bersifat racun ringan, turunannya yang disebut
'dicoumarol' yaitu antikoagulan yang sangat kuat. Dicoumarol dapat
ditemukan dalam jerami berjamur atau silase semanggi manis, dan dapat
memicu perdarahan fatal pada sapi sebab menghambat sintesis vitamin
K, suatu kofaktor penting yang diperlukan dalam pembekuan darah.
Kumarin merupakan komponen dalam minyak Bergamot, suatu minyak atsiri
yang dipakai untuk memberi aroma pada tembakau, teh, parfum,
kondisioner kain, dan berbagai produk lainnya. Kumarin memberi aroma
manis khas pada jerami yang baru dipotong, namun rasa pahitnya membuat
hewan enggan mengonsumsi tanaman ini . Selain itu, kumarin memiliki
aktivitas sebagai pengencer darah, agen antijamur, dan antitumor, namun dapat
menjadi racun jika dipakai dalam dosis tinggi dan dalam jangka waktu yang
lama. Warfarin merupakan kumarin sintetik, dipakai sebagai rodentisida
yang sangat efektif. Kumarin (Aflatoksin B1), suatu mikotoksin yang
dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus, umumnya ditemukan dalam pakan
ternak, kacang tanah lembab, dan jagung. Senyawa ini merupakan salah satu
karsinogen alami yang paling kuat, dapat mengganggu sistem kekebalan
tubuh, serta merusak hati dan ginjal.
Tanin
Tanin yaitu hasil dari reaksi polimerisasi senyawa fenolik, yang dapat
diidentifikasi melalui warna coklat pada dedaunan saat musim gugur dan
perubahan warna pada jaringan tanaman yang terluka. Tanin memiliki peran
sebagai pertahanan tanaman terhadap hewan dengan cara menghambat
pencernaan hewan. Hal ini terjadi sebab tanin dapat berikatan dengan protein
dalam sistem pencernaan hewan yang diperlukan untuk pertumbuhan.
Akibatnya, proses penyerapan protein dalam sistem pencernaan terganggu.
Buah yang belum matang seringkali mengandung tanin dalam konsentrasi
tinggi, terutama di lapisan sel luarnya.
Senyawa tanin dapat dibedakan menjadi dua yaitu tanin terkondensasi dan
tanin terhidrolisis. Tanin terkondensasi dihasilkan melalui proses polimerisasi
unit flavonoid dan umumnya ada pada tanaman berbentuk kayu.
Sebaliknya, tanin yang dapat mengalami hidrolisis yaitu polimer heterogen
yang terdiri dari asam galat dan gula sederhana. Tanin merupakan senyawa
pertahanan khas yang ditemukan pada daun, buah, akar dan kulit kayu dari
tumbuhan. Banyak jaringan sehat mengandung tanin, yang sering kali
disintesis sebagai respon terhadap kerusakan sel. Oleh sebab itu, tanin dapat
berperan sebagai alat pelindung untuk mencegah infeksi pada jaringan yang
mengalami kerusakan.
Lignin
Setelah selulosa, senyawa organik yang paling dominan pada tumbuhan yaitu
lignin yang menyumbang sekitar 30% dari kandungan karbon organik di
biosfer. Lignin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang paling
penting yang diproduksi oleh jalur metabolisme fenilalanin/tirosin dalam sel-
sel tumbuhan. Lignin yaitu salah satu jenis senyawa fenolik yang merupakan
suatu polimer gugus fenilpropanoid yang sangat bercabang. Tumbuhan yang
secara alami mampu menghasilkan lignin yaitu tumbuha berkayu. Biasanya,
lignin ditemukan di dalam dinding sekunder yang tebal, namun juga ada
di dalam dinding primer dan lamela tengah.
Pembentukan lignin melibatkan proses biokimia yang kompleks. Lignin
terbentuk dalam dinding sel tanaman melalui proses polimerisasi, terutama
pada jaringan-jaringan kompleks yang mengandung monomer-monomer asam
fenolik, terutama monolignol. Selain memberi dukungan mekanis, lignin
juga memiliki peran penting dalam pertahanan tanaman. Lignin relatif sulit
dicerna oleh herbivora sebab komposisi kimianya. Dengan terikat pada
selulosa dan protein, lignin semakin mengurangi daya cerna. Proses lignifikasi
ini membatasi pertumbuhan patogen dan merupakan respon yang umum
terhadap infeksi atau luka.Lignin dan metabolismenya yang terkait berperan
penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Sebagai polimer
fenolik kompleks, lignin meningkatkan kekakuan dinding sel tanaman, sifat
hidrofobik, dan membantu transportasi mineral. Selain itu, lignin yaitu
penghalang penting yang melindungi terhadap hama dan patogen.
Glikosida
Senyawa glikosida memiliki bagian karbohidrat (gula) yang terikat pada gugus
fungsi lain melalui ikatan glikosidik. Komponen penyusun glikosida disebut
glikon (gugus gula),' sementara gugus non gula disebut 'aglikon' atau 'genin'.
Ikatan antara glikon dan aglikon disebut sebagai ikatan glikosidik. Secara
kimia, bagian glikon dan aglikon dapat dipisahkan melalui hidrolisis dengan
adanya asam.
Beberapa enzim diketahui dapat membentuk dan memutus ikatan glikosidik.
Glikosida dikelompokkan berdasar :
1. Sifat kimia bagian aglikon.
2. Jenis ikatan glikosidik, apakah posisinya berada pada tingkat 'atas
atau bawah' molekul gula siklik, yaitu α-glikosida atau β-glikosida.
3. Aktivitas terapeutik bagian aglikon.
Tergantung pada sifat kimia aglikon atau turunannya yang ada dalam
glikosida, terbagi sebagai: glikosida alkohol; glikosida antrakuinon; glikosida
fenol; glikosida steroid; glikosida flavonoid; glikosida kumarin; glikosida
furano-kumarin; glikosida sianogenik; tioglikosida; glikosida saponin (terkait
erat dengan steroid); dan glikosida steviol. Secara umum, berdasar
karakteristik farmakologinya, glikosida dapat dibagi menjadi tiga kelompok
utama, yaitu: i) glikosida jantung atau kardenolida, ii) glikosida sianogenik,
dan iii) saponin. Sebagai tambahan, kelompok keempat, glukosinolat
(meskipun secara teknis bukan glikosida), dapat dimasukkan dalam daftar ini
sebab memiliki struktur yang mirip.
2.4 Glikosida jantung atau kardenolida
Glikosida jantung atau kardenolida merupakan kelompok obat alami dengan
rentang dosis yang dapat memicu kematian dan dosis terapeutiknya
cukup sempit. Oleh sebab itu, pemakaian nya harus hati-hati. Glikosida
jantung tersebar luas di lebih dari 200 spesies tumbuhan berbunga, termasuk
dalam 55 marga dan 12 famili. Salah satu yang paling terkenal yaitu foxlove,
yang awalnya dipakai untuk mengatasi retensi air yang tidak diinginkan di
dalam tubuh dan sekarang banyak dimanfaatkan sebagai obat untuk masalah
jantung seperti penyumbatan dan aritmia (irama detak jantung tidak teratur).
Spesies tanaman foxglove di antaranya yaitu Digitalis purpurea dan Digitalis
lanata. Glikosida aktif dalam daun Digitalis purpurea mengandung digitoksin,
gitoksin, dan gitalin, sedangkan pada Digitalis lanata, gitalin digantikan oleh
digoksin, dengan dua yang lain tetap sama.
Beberapa contoh lain dari glikosida jantung termasuk spesies Strophanthus
dan Scilla. Sumber kardenolida yang menarik lainnya yaitu tanaman
milkweed, terutama yang termasuk dalam genus Calotropis dan Asclepias
yang menghasilkan getah berwarna putih susu dan kaya akan kardenolida.
Tanaman ini juga menjadi tempat bertelur bagi kupu-kupu raja. Larva kupu-
kupu hidup di daun milkweed dan menyerap steroid beracun (kardenolida).
Kardenolida ini berfungsi sebagai pertahanan terhadap predator. Ekstrak biji
Strophanthus yang kaya kardenolida pernah dipakai oleh pemburu Afrika
untuk meracuni ujung anak panah dan tombak.
Glikosida Tioglikosida
Sesuai dengan namanya, senyawa ini mengandung sulfur dalam ikatan S-
glikosidik. Contohnya termasuk sinigrin (atau potasium myronate), yang
ada dalam sawi hitam (Brassica nigra), dan sinalbin, yang terkandung
dalam sawi putih (B. alba). Benih dari kedua spesies ini sebenarnya tidak
memiliki aktivitas fisiologis apa pun, namun jika dihidrolisis dengan enzim
myrosin (tioglukosidase), benih ini menghasilkan dekstrosa dan minyak
esensial mustard yang memicu rasa pedas. Seperti glikosida sianogenik,
tioglikosida atau glukosinolat dipisahkan secara spasial dari enzim hidrolitik
sehingga minyak mustard dihasilkan hanya ketika bijinya dihancurkan atau
didisintegrasi, sehingga enzim dan substrat bersentuhan langsung. Rasa yang
khas menghalangi atau mengusir beberapa herbivora, sehingga bertindak
sebagai perlindungan pertahanan sementara pada beberapa lainnya
glukosinolat atau minyak mustard bertindak sebagai penarik serangga dan
selanjutnya merangsang makan dan bertelur. Minyak biji lobak, diperoleh
terutama dari Brassica napus, merupakan minyak nabati yang penting, namun
adanya glukosinolat dan asam erusat tingkat tinggi memberi rasa yang
tidak diinginkan. Dengan memakai metode pembiakan konvensional,
para ilmuwan Kanada dapat menghasilkan varietas Canola yang sangat rendah
glukosinolat dan asam erusat.
Glikosida Sianogenik
Glikosida sianogenik telah ditemukan di lebih dari 200 spesies tumbuhan
berbeda, termasuk dikotil, monokotil, gymnospermae, dan pakis. Glikosida ini
pada dasarnya merupakan aglikon dengan gugus sianida yang terikat.
Glikosida ini dibuat melalui konversi asam amino menjadi oksim, yang
kemudian mengalami glikosilasi. Di dalam sel, glikosida sianogenik
terkandung di dalam kompartemen yang terpisah dari enzim yang
memecahnya. Ketika sel pecah sebab kerusakan yang disebabkan oleh
herbivora, isi kompartemen bercampur dan glikosida terdegradasi melepaskan
hidrogen sianida (HCN) sebagai perlindungan bagi tanaman terhadap
herbivora dan patogen.
Glikosida sianogenik ditemukan dalam biji (dan daun layu) sejumlah spesies
tanaman dari keluarga Rosaceae seperti persik, apel, aprikot, ceri, plum, dan
apel. Amygdalin yang berasal dari almond pahit yaitu contoh khas glikosida
sianogenik. Biji rami (Linum usitatissimum), makanan kesehatan yang popular
mengandung senyawa sianogenik, namun senyawa ini hilang selama
pemanggangan. Singkong atau ubi kayu (Manihot esculenta dari keluarga
Euphorbiaceae) juga mengandung glikosida sianogenik dan akan rusak
senyawanya dengan perebusan, pemanggangan, pemerasan atau fermentasi.
Glikosida Saponin
Saponin yaitu kelompok khusus molekul kimia kompleks dengan
karakteristik berbusa. Namanya diambil dari tanaman sabun (Saponaria spp.),
yang akarnya telah dipakai sejak zaman dahulu sebagai sabun. Saponin
terdiri dari aglikon polisiklik yang terikat pada satu atau lebih rantai samping
karbohidrat. Bagian aglikon dari saponin (atau sapogenin) yaitu steroid (C27)
atau triterpen (C30). Saponin telah diekstraksi dari hampir 100 jenis saponin
yang berbeda famili angiospermia, terutama Sapindaceae, Aceraceae,
Hippocastanaceae, Cucurbitaceae, dan Araliaceae. Pada hewan, saponin
ditemukan di sebagian besar teripang dan bintang laut.
Saponin steroid, misalnya pada ubi jalar (Dioscorea spp.) dan ginseng (Panax
quinquefolia dan P. ginseng) banyak dipakai dalam pengobatan. Saponin
glisirrhizin, ditemukan dalam akar manis (Glycyrrhiza glabra), memiliki sifat
ekspektoran, kortikosteroid dan anti inflamasi dan dipakai sebagai pemanis
dan penambah rasa pada makanan dan rokok. Saponin memiliki rasa yang
pahit, dapat berfungsi sebagai antifeedant, sehingga melindungi tanaman
terhadap banyak jamur patogen. Sel epidermis akar gandum (Avena sativa)
menghasilkan saponin triterpenoid, avenacin A-1 yang melindungi terhadap
serangan jamur. Saponin alfalfa (dari Medicago sativa) dapat memicu
masalah pencernaan dan kembung. Saponin yaitu fitonutrien, banyak
ada pada sumber makanan seperti sayur mayur, buncis, kacang polong,
kedelai. Beberapa saponin (misalnya yang diperoleh dari oat dan bayam) dapat
meningkatkan penyerapan nutrisi. sebab sifat deterjennya, saponin populer
dalam formulasi kosmetik seperti sampo, pembersih wajah, dan krim
kosmetik. Saponin dari Yucca dan Quillaja dipakai dalam beberapa
minuman, seperti bir, untuk menghasilkan busa yang stabil. Jenis glikosida
lainnya yaitu Steviol glikosida dari tanaman stevia (Stevia rebaudiana) yang
mengandung glikosida manis yang memiliki sifat manis sebanyak 40–300 kali.
lebih manis daripada sukrosa yang rasanya manis. Dua glikosida utama,
stevioside dan rebaudioside A dipakai sebagai pemanis alami
menggantikan gula biasa di banyak negara. Steviol yaitu bagian aglikon dari
glikosida ini .
Terpen (Terpenoid)
Terpenoid diberi nama berdasar terpen, yaitu komponen turpentine yang
mudah menguap yang berasal dari penyulingan resin pohon pinus. Terpen,
yang merupakan kelompok terbesar dari metabolit sekunder, terdiri dari
berbagai zat yang umumnya tidak larut dalam air dan disintesis baik dari asetil
CoA maupun zat antara glikolisis. Terpenoid dan derivatifnya merupakan unit
polimer isoprena yang terbentuk oleh kerangka isoprena lima karbon
bercabang. Oleh sebab itu, terpenoid sering disebut sebagai senyawa
isoprenoid.
Klasifikasi terpen didasarkan pada jumlah unit 5-C dalam kerangkanya:
1. Hemiterpenoid: terpen 5-C (satu, lima unit karbon), contoh: isoamil
alkohol, asam tiglat
2. Monoterpenoid: terpen 10-C (dua, lima unit karbon), contoh:
geraniol, menthol
3. Sesquiterpenoid: terpen 15-C (tiga, lima unit karbon), contoh:
farnesol
4. Diterpenoid: terpen 20-C (empat, lima unit karbon), misal, contoh:
(bagian dari klorofil)
5. Sesterpenoid: terpen 25-C (lima, lima unit karbon), contoh:
ophiobolane
6. Triterpenoid: terpen 30-C, contoh: steroid and sterol
7. Tetraterpenoid: terpen 40-C, contoh: karotenoid
8. Polyterpenoid: ([C5] n karbon, di mana n > 8), contoh: karet alam.
Artemisinin, sejenis antimalaria modern yang termasuk dalam kategori
sekuiterpen, berasal dari tanaman obat Cina Quinhao (Artemisia annua), yang
telah dipakai sebagai obat demam selama lebih dari dua ribu tahun.
Artemisinin memiliki rumus empiris C15H22O5 dan efektif melawan
resistensi klorokuin yang berbahaya pada malaria falciparum. Selain itu,
senyawa terpen lain yang berperan dalam menyelamatkan nyawa yaitu
paclitaxol, suatu diterpen dengan struktur molekul yang sangat kompleks,
efektif dalam mengatasi kanker ovarium, payudara, usus besar, sel kanker
paru-paru dan melanoma maligna. Terpenoid (diterpenoid, seskuiterpenoid,
triterpenoid) dan lignoid memiliki aktivitas sebagai antivirus, dan telah terbukti
menghambat virus corona, termasuk yang berbahaya Virus SARS-Corona.
Asam betulinat dan savinin merupakan inhibitor kompetitif dari protease
(enzim yang memecah protein) yang diproduksi oleh virus SARS-CoV 3CL.
Teknik Ekstraksi dan Isolasi
Metabolit Sekunder
negara kita merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati
yang sangat besar. ada sekitar 30.000 jenis tanaman dan 7.000 di
antaranya memiliki aktivitas farmakologi untuk membantu mengobati
penyakit (Ditjen, 2014). Tanaman yang diketahui berkhasiat sebagai obat
banyak tersebar di berbagai pulau di negara kita , di antaranya Jawa, Kalimantan,
Sumatra, dan Papua. Keanekaragaman hayati ini merupakan sumber
metabolit sekunder atau bahan aktif yang tidak terbatas jumlahnya (Atun,
2010). Metabolit sekunder yang diproduksi oleh berbagai organisme, memang
tidak memiliki peran yang cukup signifikan untuk keberlangsungan organisme
penghasilnya, namun sangat bermanfaat untuk keperluan manusia, terutamanya
yaitu untuk bahan obat-obatan. Sejak dahulu kala, tumbuhan obat sudah
banyak dipakai terutama dipakai untuk membantu mengobati penyakit
pada manusia (Atun, 2014).
Khasiat metabolit sekunder yang berasal dari tanaman obat yang sudah banyak
diteliti misalnya yaitu sebagai antibakteri, antijamur, antioksidan, antikanker
dan lain-lain. Penelitian memakai bahan dari alam sudah banyak
mengalami kemajuan, di antaranya ditemukannya teknik-teknik pemisahan
dengan metode kromatografi dan penentuan struktur molekul secara
spektroskopi pada pertengahan abad 20. Dengan memakai metode-
metode ini , maka ditemukanlah senyawa-senyawa bioaktif, misalnya
penemuan alkaloid seperti vinkristin dan vinblastine dari tanaman tapak dara
(Catharanthus roscus), berdasar yang sudah dilakukan oleh peneliti-peneliti
terdahulu, kedua senyawa bioaktif ini memiliki aktivitas farmakologi
sebagai antikanker. Demikian pula penelitian pada tanaman Taxus brevifolia,
yaitu ditemukan senyawa taksol, serta taxoter yang merupakan senyawa
modifikasinya, yang dapat dipakai sebagai obat antikanker. Dari latar
belakang ini , maka mendorong industri farmasi melakukan eksplorasi
senyawa-senyawa bioaktif dari tumbuhan sebagai lead compounds untuk
penemuan obat baru
Metode yang dapat dipakai untuk penemuan obat baru yaitu metode
ekstraksi. Proses ekstraksi dilakukan dengan tujuan untuk menarik komponen
atau metabolit sekunder dari suatu padatan dan/atau cairan dengan
memakai pelarut tertentu. Beberapa tahapan yang dapat dilakukan
sebelum melakukan proses ekstraksi, dapat dilakukan perlakuan sampel
tumbuhan sebagai awalan tahapan untuk memperoleh metabolit sekunder yang
optimal.
Pembuatan Simplisia
Bahan baku obat tradisional, sebagian besar berupa tanaman obat yang sudah
melewati beberapa tahapan perlakuan, sebelum pada akhirnya dinyatakan
sebagai simplisia. Beberapa tahapan perlakuan ini di antaranya yaitu
budidaya, panen, dan penanganan pasca panen. Simplisia merupakan bahan
alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan
apapun juga kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan.
Proses pembuatan simplisia di antaranya yaitu sebagai berikut:
1. Pengumpulan bahan
Sumber bahan tumbuhan dapat diperoleh dari tumbuhan budidaya
dan tumbuhan liar. Tentunya ada beberapa keuntungan jika tumbuhan
obat diperoleh dari hasil budidaya, di antaranya yaitu bibit unggul,
tempat tumbuhnya baik, ada pengolahan pasca panen yang dapat
meningkatkan kualitas simplisia yang dihasilkan. Sedangkan
tumbuhan liar jarang dipilih sebab tidak memiliki kejelasan asal usul
bahan, kemurnian spesies, usia tanaman tidak diketahui, cara
budidaya, cara panen, dan kondisi lingkungan tumbuhannya tidak
diperhatikan. pemakaian tumbuhan liar juga berisiko tidak
teridentifikasi dengan benar. Pengumpulan bahan haruslah
memakai bagian tanaman yang sesuai dengan ketentuan yang
telah ditentukan, misalnya bagian dari tanaman ini harus segar,
tidak rusak, usianya masih muda atau diambil yang sudah tua, dan
lain-lain. Setelah tumbuhan dikumpulkan, kemudian sampel
dilakukan proses sortasi basah.
2. Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan kotoran-
kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari simplisia. Bahan asing
yang dimaksud, misalnya seperti tanah, kerikil, daun yang rusak atau
bagian yang rusak, rumput dan pengotor lainnya yang harus dibuang.
Sortasi basah yang dilakukan yaitu sebagai awalan pembersihan
simplisia dari pengotor yang terbawa sehingga dapat mengurangi
jumlah mikroba awal
3. Pencucian bahan
Pencucian bahan bertujuan untuk menghilangkan tanah atau kotoran
lain yang melekat pada bahan simplisia. Bahan simplisia harus
dilakukan pencucian dengan benar untuk mendapatkan hasil yang
lebih baik. Pencucian dengan benar haruslah memakai air bersih
dan mengalir yang berasal dari mata air, air sumur, atau air PAM.
Cara pencucian bahan akan sangat memengaruhi jenis dan jumlah
mikroba awal pada simplisia. Jika air yang dipakai kotor, maka
jumlah mikroba yang terkandung pada simplisia dapat bertambah.
Bakteri yang umum ada dalam air yaitu Pseudomonas, Proteus,
Micrococcus, Bacillus, Streptococcus, Escherichia
4. Perajangan
Bahan tanaman yang akan dibuat menjadi simplisia, perlu dilakukan
perajangan. Perajangan dilakukan untuk mempermudah proses
selanjutnya, seperti pengeringan pengemasan, dan ekstraksi. Proses
perajangan yaitu membuat ukuran partikel dari simplisia menjadi
lebih kecil, sehingga semakin memperbesar luas permukaan dan akan
membuat seluruh permukaan simplisia terkenai oleh panas pada saat
proses pengeringan. Semakin tipis partikel bahan yang dikeringkan,
maka semakin cepat penguapan air, sehingga mempercepat lama
waktu pengeringan. Akan namun perlu diperhatikan ketipisan dari
bahan, irisan yang terlalu tipis juga dapat memicu
berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang bersifat volatil
(seperti minyak atsiri), sehingga dapat memengaruhi komposisi, bau,
dan rasa yang diharapkan (B2P2TOOT, 2011)
5. Pengeringan
Tumbuhan obat sangat jarang dipakai dalam keadaan segar sebab
mudah terjadi kerusakan. pemakaian bahan yang dikeringkan lebih
disarankan, sebab jarak antara waktu pemanenan dengan waktu
pengolahan sampel untuk menjadi sebuah produk maksimum jangka
waktunya yaitu 3 jam pada bahan segar, di mana sampel segar
mudah rusak dan mengalami penurunan kualitas yang lebih cepat
daripada sampel kering.
Tujuan dari pengeringan yaitu untuk mengurangi kadar air pada
bahan, sehingga lebih tahan lama pada saat proses penyimpanan.
Dengan berkurangnya kadar air, maka reaksi enzimatik pada bahan
dapat dicegah. Reaksi enzimatik yang terjadi dapat memicu
penurunan mutu dan atau perusakan simplisia. Adanya air yang
masih tersisa pada bahan dengan kadar tertentu, memicu
tumbuhnya mikroba, kapang, atau jasad renik lainnya. Pada
tumbuhan yang masih hidup, pertumbuhan kapang atau jasad renik,
serta reaksi enzimatik tidak akan terjadi sebab adanya keseimbangan
proses metabolisme dalam tubuh tumbuhan, yakni proses sintesis,
transformasi, dan pemakaian isi sel. Keseimbangan ini akan hilang
setelah sel tumbuhan mati. Reaksi enzimatik tidak akan berlangsung,
bila kadar air pada simplisia < 10% (B2P2TOOT, 2011).
Metode perngeringan simplisia di antaranya yaitu memakai
sinar matahari langsung, matahari tidak langsung, diangin-anginkan,
oven, dan lemari pengeringan. Hal yang perlu diperhatikan selama
proses pengeringan yaitu suhu pengeringan, aliran udara,
kelembaban udara, waktu pengeringan, dan luas permukaan bahan.
Faktor-faktor ini perlu diperhatikan agar dapat memperoleh
simplisia kering yang berkualitas dan tidak mengalami kerusakan.
6. Sortasi kering
Sama halnya seperti sortasi basah, sortasi kering bertujuan untuk
memisahkan pengotor atau bahan asing yang ada pada simplisia.
Perbedaannya dengan sortasi basah yaitu tahapan sortasi basah
dilakukan setelah proses pengumpulan bahan, sedangkan sortasi
kering dilakukan setelah tahapan pengeringan dan sebelum dilakukan
proses pengemasan. Sortasi kering dilakukan untuk menjamin bahwa
simplisia sudah benar-benar terbebas dari bahan asing
7. Pengemasan dan Pemberian Label
Tahapan pengemasan dan pemberian label berhubungan dengan
proses distribusi dan penyimpanan simplisia. Tahapan ini bertujuan
untuk melindungi simplisia saat pengangkutan atau distribusi, dan
penyimpanan supaya terlindung dari gangguan luar, seperti suhu,
kelembaban, cahaya, kontaminasi mikroba, kontaminasi serangga
atau hewan lainnya. Gangguan luar ini dapat menurunkan
kualitas dari simplisia.
Bahan pengemas yang dipakai harus memenuhi beberapa
persyaratan, di antaranya yaitu :
a. Dapat menjamin mutu produk yang dikemas
b. Mudah dipakai
c. Tidak mempersulit penanganan
d. Dapat melindungi isi pada saat proses distribusi
e. Tidak beracun dan tidak bereaksi dengan isi
f. Kedap air dan udara
Bahan pengemas dapat terbuat dari karung yang terbuat dari bahan
plastik, jerami, atau goni. Simplisia daun dan herba biasanya proses
pengemasannya dengan cara ditekan terlebih dahulu agar mudah
dikemas dan diangkut. Pada setiap kemasannya dapat ditambahkan
silica gel yang dibungkus yang bertujuan untuk menyerap air di
sekitar simplisia sehingga kondisi simplisia tetap kering dan kemasan
tidak lembab.
Pemberian label pada kemasan si















