Tampilkan postingan dengan label farmakognosi obat 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label farmakognosi obat 1. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2026

farmakognosi obat 1

 






Farmakognosi yaitu  cabang ilmu farmasi yang mempelajari tentang obat-

obatan alami, terutama dari tumbuhan. Kata "farmakognosi" sendiri berasal 

dari bahasa Yunani, "pharmakon" yang berarti obat, dan "gnosis" yang berarti 

pengetahuan. Jadi, farmakognosi secara harfiah dapat diartikan sebagai 

pengetahuan tentang obat-obatan 

Farmakognosi yaitu  cabang ilmu farmasi yang berfokus pada penelitian, 

identifikasi, karakterisasi, dan pemahaman senyawa-senyawa kimia yang 

ada  dalam bahan-bahan alam, seperti tumbuhan, hewan, dan 

mikroorganisme, serta bagian-bagian dari bahan-bahan ini  yang 

dipakai  dalam pengobatan dan terapi Ilmu ini juga mempelajari sejarah pemakaian  tradisional dan 

budaya terkait dengan bahan-bahan alami yang dipakai  dalam pengobatan 

Farmakognosi bertujuan untuk: 

1. Mengidentifikasi dan mengisolasi senyawa aktif: Farmakognosi 

mempelajari senyawa-senyawa kimia dalam bahan alam untuk 


 

mengidentifikasi senyawa aktif yang memiliki potensi farmakologi, 

seperti senyawa obat 

2. Menentukan kualitas bahan baku obat: Farmakognosi membantu 

dalam menetapkan standar kualitas untuk bahan baku obat, sehingga 

produk obat yang dihasilkan memiliki kualitas yang konsisten dan 

efektif 

3. Mempelajari interaksi obat alam dan tubuh: Ilmu ini memahami 

bagaimana senyawa-senyawa alam berinteraksi dengan tubuh 

manusia, termasuk mekanisme kerja, efek samping, dan toksisitas 

potensial . 

4. Mendukung penelitian obat baru: Farmakognosi berperan penting 

dalam penemuan dan pengembangan obat-obatan baru, terutama 

dengan menyediakan sumber inspirasi dari bahan alam 

5. Melestarikan pengetahuan tradisional: Farmakognosi juga mencakup 

upaya untuk memahami dan melestarikan pengetahuan tradisional 

tentang pemakaian  tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme dalam 

pengobatan dari berbagai budaya 

Ilmu farmakognosi sangat penting dalam pengembangan obat-obatan, 

pengujian keamanan, dan perancangan formula sediaan obat yang efektif. 

Seiring dengan kemajuan teknologi, farmakognosi juga telah 

mengintegrasikan metode analisis kimia dan biologi molekuler untuk 

memahami secara lebih mendalam senyawa-senyawa alami yang berperan 

dalam pengobatan modern 

Farmakognosi memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan 

obat-obatan sebab : 

1. Penemuan Senyawa Aktif 

Farmakognosi membantu dalam mengidentifikasi senyawa aktif 

dalam bahan-bahan alami. Ini yaitu  langkah awal dalam penemuan 

obat-obatan baru atau dalam memahami dasar ilmiah dari 

pemakaian  obat tradisional 

 

2. Pengujian Aktivitas Farmakologi 

Setelah senyawa aktif diidentifikasi, farmakognosi mendukung 

pengujian aktivitas farmakologi untuk memahami mekanisme kerja, 

efek terapeutik, dan keamanan senyawa ini  

3. Pengembangan Formula Sediaan Obat 

Farmakognosi juga terlibat dalam pengembangan formula sediaan 

obat yang efektif. Ini melibatkan penentuan dosis, cara pemberian, 

dan formulasi obat agar obat dapat dipakai  dengan aman dan 

efektif oleh pasien 

4. Penentuan Kualitas Bahan Baku Obat 

Farmakognosi membantu dalam menentukan kualitas bahan baku 

obat, sehingga produk obat yang dihasilkan memiliki kualitas yang 

konsisten. Hal ini sangat penting untuk menghindari variasi dalam 

kekuatan obat. 

5. Konservasi Sumber Daya Alam 

Dalam konteks lingkungan, farmakognosi juga mempertimbangkan 

konservasi sumber daya alam. Ilmu ini membantu dalam menentukan 

bagaimana tumbuhan dan hewan obat dapat diambil secara 

berkelanjutan tanpa merusak ekosistem 

6. Penghormatan Terhadap Pengetahuan Tradisional 

Farmakognosi menghormati pengetahuan tradisional yang telah lama 

dipakai  dalam pengobatan oleh warga  lokal. Ini melibatkan 

kerja sama dengan komunitas tradisional dan pengakuan pengetahuan 

warga  local 

Farmakognosi juga berperan dalam memahami interaksi antara bahan-bahan 

alam dan tubuh manusia. Sebagai contoh, banyak obat-obatan modern yang 

dipakai  dalam pengobatan dihasilkan dari senyawa-senyawa yang pertama 

kali ditemukan dalam tumbuhan atau mikroorganisme. Farmakognosi 

membantu mengidentifikasi dan mengisolasi senyawa-senyawa ini, dan 

kemudian memahami bagaimana mereka bekerja dalam tubuh. Dengan 

demikian, farmakognosi yaitu  ilmu multidisiplin yang menggabungkan 

pengetahuan kimia, biologi, kedokteran, dan budaya untuk memahami dan 

memanfaatkan sumber-sumber alam dalam pengobatan dan perawatan 

kesehatan. Ilmu ini terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan 

penelitian, memberi  kontribusi penting dalam pengembangan ilmu farmasi 

dan perawatan Kesehatan (Dhami, 2013). Dalam perkembangannya, 

farmakognosi juga terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan ilmu 

pengetahuan.  

Berikut yaitu  beberapa perkembangan penting dalam farmakognosi: 

1. Teknologi DNA Barcoding 

DNA barcoding yaitu  teknik yang memungkinkan ilmuwan untuk 

mengidentifikasi organisme berdasar  sekuensinya. Dalam 

farmakognosi, ini dipakai  untuk mengkonfirmasi identitas 

tumbuhan obat yang dipakai  dalam obat-obatan. Teknologi ini 

membantu menghindari kesalahan identifikasi dan memastikan 

keaslian dan kualitas bahan baku obat 

2. Biologi Molekuler 

Ilmuwan farmakognosi juga memanfaatkan biologi molekuler untuk 

memahami mekanisme produksi senyawa aktif dalam tumbuhan obat. 

Ini membantu dalam pengembangan teknik bioteknologi untuk 

menghasilkan senyawa-senyawa obat dengan efisien 

3. Perkembangan Database 

Perkembangan farmakognosi juga mencakup pembuatan dan 

pemeliharaan database informasi tentang bahan-bahan alam yang 

dipakai  dalam pengobatan. Database ini memungkinkan para 

peneliti untuk mengakses informasi yang diperlukan dengan cepat 

dan efisien 

4. Nuclear Magnetic Resonance (NMR) merupakan teknik analisis 

kimia yang krusial dalam ilmu farmakognosi. Spektroskopi NMR 

dipakai  untuk menganalisis struktur kimia dari senyawa-senyawa 

yang ada  dalam tumbuhan atau hewan obat. NMR 

memungkinkan identifikasi senyawa aktif, penentuan struktur 

molekuler, dan pemahaman interaksi kimia antar komponen dalam 

bahan alam ini . NMR berperan penting dalam penelitian 

farmakognosi untuk memberi  informasi yang rinci tentang 

komposisi kimia sampel, mengembangkan obat-obatan berbasis 


 

sumber alam, serta memantau kualitas dan keaslian bahan obat alam, 

sehingga mendukung upaya pemanfaatan yang berkelanjutan dan 

optimal terhadap obat tradisional ,

5. Analisis Spektrometri Massa 

Spektrometri massa yaitu  alat analisis kimia yang sangat penting 

dalam farmakognosi. Ini dipakai  untuk mengidentifikasi senyawa-

senyawa kimia dalam bahan alam dengan tingkat resolusi dan 

sensitivitas yang tinggi. Ilmuwan dapat mengkarakterisasi senyawa-

senyawa aktif dengan presisi dengan bantuan spektrometri massa 

6. Mikroskopi Elektron memberi  gambaran yang sangat rinci 

tentang struktur seluler dan mikrostruktur tumbuhan obat. 

Mikroskopi Elektron membantu dalam mengidentifikasi bagian-

bagian tumbuhan yang memiliki nilai obat, serta dalam mengamati 

perubahan struktur seluler yang terjadi selama proses pengolahan 

obat

 

1.2 Sejarah Farmakognosi 

Perkembangan farmakognosi dari zaman kuno hingga saat ini mencerminkan 

perjalanan panjang dalam pemahaman tentang obat-obatan alami, pemakaian  

tumbuhan obat, dan peran ilmu pengetahuan modern dalam penelitian dan 

pengembangan obat.  

Gambaran umum tentang perkembangan farmakognosi selama berbagai 

periode sejarah. 

1. Zaman Kuno:  

Babilonia-Asyur 

Dalam farmasi Babilonia-Asyur yang tercatat dalam bentuk 

kuneiform, pemakaian  obat herbal untuk penyembuhan internal dan 

salep untuk perawatan eksternal menjadi prinsip utama. Buku resep 

tertua di dunia, ditemukan di Irak, berisi dua belas resep untuk salep 

dan obat dalam, dengan bahan-bahan seperti garam dapur, mur, 


 

thyme, buah ara, embun, susu, kulit, dan baju baju kura-kura. 

warga  Mesopotamia mengenal budidaya buah ara untuk 

dijadikan anggur, dan mereka memakai  jus buah ara untuk 

merawat dan melapisi obat-obatan. Selain itu, penanaman bawang 

juga dilakukan, dimakan sebab  alasan kebersihan dan Kesehatan 


Yunani Kuno 

Peradaban Yunani menandai era ilmu pengetahuan dan filsafat yang 

berkontribusi penting dalam ilmu farmasi, terutama di bidang 

fitofarmasi. Aristotle dan Hippocrates, yang diakui sebagai bapak 

kedokteran allopatis, masing-masing mendeskripsikan 500 dan 

hampir 400 bahan obat mentah dari tanaman. Theophrastus, murid 

Aristotle, juga menyebutkan 500 bahan obat mentah dalam karyanya. 

Sementara itu, Claudius Galen Pergamum, seorang tokoh kunci, 

mengembangkan teknik ekstraksi obat nabati dan memperkenalkan 

konsep formulasi farmasi, menulis sekitar 300 buku tentang tanaman. 

Semua ini mencerminkan kontribusi Yunani dalam pengembangan 

ilmu farmasi 

Tokoh-tokoh seperti Dioscorides dan Theophrastus berkontribusi 

pada pemahaman tentang tumbuhan obat dan pemakaian  mereka 

dalam pengobatan. Theophrastus mendefinisikan "tumbuhan" dan 

memberi nama serta menggambarkan bagian-bagian tumbuhan; ia 

mempelajari reproduksi tumbuhan dan efek iklim, tanah yang 

berbeda, dan kontribusi manusia melalui pertanian. Dioscorides 

menggambarkan tumbuhan obat dan pemakaian nya, serta 

membentuk praktik untuk memperlakukan setiap tanaman dalam 

bagian tersendiri. Dioscorides, sebagai tokoh utama dalam warisan 

ilmu farmasi Yunani. Karya Dioscorides, "De Materia Medica," 

menjadi panduan penting dalam farmakognosi. Karya ini merupakan 

replika dari "farmakope kuno" dan diakui sebagai karya terbaik dan 

terluas dalam bidang kedokteran sepanjang zaman kuno. Dioscorides 

secara cermat mendokumentasikan lebih dari 750 zat obat, termasuk 

sekitar 600 tanaman. Selain sinonim, "farmakope" ini memberi  


 

deskripsi morfologi dan data distribusi geografis tanaman tertentu, 

panduan tentang cara menyusun dan menyimpan obat tertentu, serta 

memberi  indikasi terapeutik, dosis, dan efek farmakologis 

Setelah Romanisasi Yunani pada 146 SM, buku farmakope 

dipindahkan ke Roma. Scribonius Largus, di abad pertama Masehi, 

menulis "Compositiones medicae" dengan 271 resep. "Compounding 

of Drugs or Recipes for Remedies" (Compositiones 

medicamentorum) oleh Scribonius Largus juga merupakan sumber 

penting dalam kedokteran Romawi, terutama praktik farmasi pada 

abad pertama Masehi, dengan pembagiannya menjadi tiga bagian 

utama untuk menyelidiki pendekatan Scribonius terhadap aspek 

kedokteran, jenis obat, bahan terapetik, dan metode farmasi terapan 

di awal Kekaisaran Romawi. Galen, ahli farmasi terkemuka Yunani-

Romawi, menulis karya berpengaruh sekitar 160 M, merinci sekitar 

500 obat herbal dan obat mineral serta hewan, termasuk "De 

simplicium medicamentorum temperamentis et facultatibus" dan "De 

compositione medicamentorum sectmdum genera." Karya-karya 

Galen, termasuk "De Antidotis," terlestarikan dalam naskah 

berbahasa Yunani, Latin, dan Arab, dengan banyak edisi cetak, mulai 

dari edisi Latin pertama di Venice pada 1490 dan edisi Yunani 

pertama pada 1525 oleh Venetian Aldina. Edisi Latin terkenal 

termasuk pencetakan Giunta di Venice 

2. Abad Pertengahan 

Pengaruh Islam  

Asal mula ilmu farmasi (syadanah, dalam bahasa Arab) tidak bisa 

dipisahkan dari sejarah panjang perkembangannya, yang merupakan 

suatu proses bertahap dalam evolusi ilmu pengetahuan itu sendiri. 

Tokoh-tokoh Islam pada zaman kejayaan Islam memiliki peran yang 

signifikan dalam kemajuan ilmu kedokteran dan farmasi, yang 

tercermin dalam karya-karya kitab yang dihasilkan. Karya-karya 


seperti "The Canon of Medicine" oleh Ibn Sina (Avicenna) dan 

"Kitab al-Adwiya al-Mufrada" oleh al-Razi (Rhazes) dari dunia Islam 

menggabungkan pengetahuan klasik Yunani dengan pengetahuan 

lokal dan memainkan peran penting dalam pengembangan 

farmakognosi 

Masa antara abad ke-9 hingga ke-13 tetap dikenal sebagai "Golden 

period of the Arab science" dengan Kedokteran dan Farmasi 

menduduki posisi penting di antara ilmu yang diajarkan. Bangsa Arab 

mampu memakai  sumber daya budaya dan alamiah serta 

jaringan perdagangan mereka untuk berkontribusi pada 

perkembangan kuat farmasi. Ilmuwan Arab seperti Yuhann ibn 

Masawayh (777-857), Hunayn bin Ishaq (809-873), Sabur bin Sahl 

(wafat 869), Ali ibn Sahl at-Taberi (808-861), Muhammad ibn 

Zakarya al-Razi (865-925), Ali ibn Abbas al-Majusi (925-994), Abu-

lKasim al-Zahrawi (936-1013), Abu ar-Rayhan al-Biruni (975-1048), 

Abu Ali ibn Hussayn ibn Abdullah ibn Sina (980-1037), Ibn Jazlah 

(wafat 1100), Ibn al-Tilmidh (1073-1165), Rabbi Moses bin Maimon 

(1135-1204), Ibn al-Baitar (1197-1248), Kohen alBaitar, Alauddin 

ibn al-Nafis (1210-1277), dan lain sebagainya (19-26) (Masic dkk., 

2017; Zunic dkk., 2017). 

Ibnu Sina, atau Avicenna, memulai perjalanan studinya di Bukhara, 

mendalami logika, filsafat, metafisika, dan ilmu alam di bawah 

bimbingan para sarjana terkenal seperti Abu Abd Allah al-Natili. 

Ibnu Sina menciptakan karya farmasi utamanya, "Kitab al-Qanun fi 

al-tibb" yang dikenal sebagai "The Canon of Medicine". Buku medis 

paling terkenal sebelum terbitnya karya oleh yaitu  Kitab Kamil al-

sinaàh al-tibbiyyah yang ditulis sekitar tahun 983 oleh Ali ibn al-

Abbas al-Majusi. Meskipun dokter Suriah Ibnu al-Ibri (dikenal 

sebagai Bar Hebraeus), yang meninggal pada tahun 1286, 

menganggap bahwa buku ini berisi lebih banyak saran klinis praktis 

dibandingkan The Canon. Karya Ibnu Sina "The Canon of Medicine" 

tetap menjadi buku teks medis paling populer di dunia selama enam 

abad berikutnya

 

Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Ar-Razi atau lebih dikenal Ar-

Razi merupakan dokter Muslim terkemuka dan pengajar utama di 

dunia Islam dan Eropa dalam bidang ilmu kedokteran. Ar-Razi juga 

seorang filsuf dan ahli kimia setelah fondasi-fondasinya dirumuskan 

oleh Jabir bin Ibnu Hayyan. Ar-Razi berhasil membuat berbagai 

penemuan kimia modern berdasar  penelitian dan eksperimen 


3. Zaman Modern Awal 

Pengembangan Kebun Botani  

Pada abad ke-16 dan 17, berbagai kebun botani muncul di Eropa 

barat dan berperan sebagai fasilitas pengajaran bagi mahasiswa 

universitas yang mempelajari kedokteran, botani, dan farmakologi. 

Kebutuhan untuk mengajarkan cara membedakan tanaman dengan 

sifat medis dan beracun mendorong Francesco Bonafede, profesor 

botani pertama di Eropa, untuk mencetuskan ide pembuatan Orto 

botanico di Padua. Raja Henry IV dari Prancis juga memerintahkan 

Pierre Richer de Belleval untuk membuat Jardin des Plantes di 

Montpelier, diikuti oleh Jardin Royal des Plantes Médicinales di 

Paris. Berbeda dengan kebun di Padua, Montpellier, dan Paris, hortus 

yang dibuat oleh Clusius di Leiden lebih fokus pada tanaman langka 

dari berbagai wilayah. Botanis Inggris mendirikan kebun botani 

untuk mempelajari sifat obat tanaman, mengklasifikasikan spesies 

yang baru tiba, dan mendalami potensi ekonomisnya 

Senyawa bahan alam dan obat tradisional memiliki signifikansi yang besar. 

Jenis obat seperti pengobatan tradisional Cina, Ayurveda, Kampo, pengobatan 

tradisional Korea, dan Unani telah dipakai  di beberapa wilayah dunia dan 

berkembang menjadi sistem pengobatan yang diatur secara teratur 

 

Beberapa contoh pengobatan tradisional yang memiliki keterkaitan dengan 

farmakognosi, yaitu pemakaian  tumbuhan dan bahan alam untuk tujuan 

pengobatan. 

1. Traditional Chinese Medicine (TCM) 

TCM telah menjadi subjek penelitian ilmiah yang intensif dalam 

beberapa dekade terakhir. Banyak produk alami dan obat tradisional 

dari TCM telah diisolasi, diidentifikasi, dan dievaluasi untuk aktivitas 

biologis dan farmakologis mereka. Salah satu obat modern yang 

berasal dari TCM yaitu  artemisinin. 

2. Ayurveda (India) 

Ayurveda memanfaatkan berbagai tanaman obat untuk merawat 

kondisi kesehatan. Contohnya, curcumin dari kunyit berpotensi untuk 

mengobati penyakit Alzheimer (AD), sebuah gangguan 

neurodegeneratif yang memicu  penurunan kognitif dan 

demensia 

3. Kampo (Japan)  

Dalam Kampo, formulasi herbal tradisional dari TCM diadaptasi 

untuk dipakai  dalam konteks Jepang. Kampo memiliki efek 

analgesik yang signifikan dan dapat meningkatkan kualitas hidup 

pasien dengan nyeri. Kampo juga memiliki efek samping yang 

minimal dan dapat dikombinasikan dengan obat-obatan 

konvensional. Beberapa formula Kampo yang sering dipakai  

untuk nyeri yaitu  Yokukansan (Tang-kuei, Gambir, Cnidium, 

Atractylodes rhizome, Holen, Bupleurum, Liquorice) dan 

Shakuyakukanzoto 

4. Traditional Korean Medicine (TKM)  

TKM mengandalkan farmakognosi dengan memakai  tanaman 

seperti ginseng. Ginseng telah dipakai  sebagai tonik, nootropik, 

anti-penuaan, dan anti-patogenik dalam pengobatan herbal Korea, 

Cina, dan Jepang selama ribuan tahun. Ginseng juga dipakai  untuk 

mengobati berbagai penyakit, seperti diabetes, kanker, stres, 

impotensi, dan gangguan saraf 

 

5. Unani (Middle East) 

Sistem pengobatan Unani, yang juga dikenal sebagai pengobatan 

Islam, merupakan salah satu sistem penyembuhan utama di dunia. 

Diciptakan oleh dokter-dokter Islam di Timur Tengah sekitar seribu 

tahun yang lalu, sistem ini berdasar  prinsip-prinsip yang diajarkan 

oleh Hippocrates dan Galen .  

6. Jamu (negara kita )  

Jamu yaitu  bentuk pengobatan tradisional dari negara kita  yang 

memakai  berbagai bahan alami seperti rempah-rempah, 

tumbuhan obat, dan bahan organik lainnya. Beberapa tanaman yang 

umumnya dipakai  dalam jamu mencakup kunyit, jahe, temulawak, 

sambiloto, daun sirih, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Jamu 

dipakai  untuk meningkatkan kesehatan secara umum dan untuk 

mengobati berbagai kondisi, dan sering kali terkait erat dengan 

pengetahuan farmakognosi lokal yang telah diwariskan secara turun 

temurun.  

7. Traditional Medicine in Native American Cultures 

Suku-suku asli di Amerika memiliki beragam tradisi pengobatan 

yang melibatkan tanaman obat dan praktik spiritual. Misalnya, 

ramuan memakai  tanaman seperti sage, sweetgrass, dan cedar 

dipakai  dalam upacara penyembuhan.  

8. Traditional African Medicine 

Praktik pengobatan tradisional di berbagai negara di Afrika, 

melibatkan pemakaian  tanaman obat, pengobatan herbal, dan 

praktik-praktik spiritual untuk menyembuhkan penyakit dan menjaga 

kesehatan.  

9. Traditional Medicine in South America  

Suku-suku di Amerika Selatan, seperti pengobatan tradisional 

Amazon, memakai  tanaman obat dari hutan hujan untuk 

pengobatan. Contoh termasuk ayahuasca dan curanderos 

(penyembuh tradisional).  

 

 

10. Traditional Medicine in Australia 

Pengobatan tradisional oleh suku Aborigin di Australia melibatkan 

pemakaian  tanaman obat seperti tea tree dan eucalyptus, serta 

praktik pengobatan spiritual.  

11. Traditional Medicine in the Arctic Regions 

Suku-suku asli di wilayah Arktik, seperti Inuit dan Saami, memiliki 

tradisi pengobatan yang melibatkan pemakaian  tanaman obat yang 

dapat tumbuh di lingkungan mereka yang keras. 

 

1.3 Sumber-sumber Obat Alam 

Sumber-sumber obat dari alam dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa 

kategori berdasar  asal-usulnya. Berikut yaitu  klasifikasi umum dari 

sumber-sumber obat alam: 

1. Tumbuhan Obat (Plant Sources): 

a. Herba: Bagian atas tanaman yang berbunga, seperti daun, bunga, 

dan batang muda.  

b. Akar dan Rimpang: Bagian tanaman yang berada di bawah tanah 

dan biasanya dipakai  untuk sifat-sifat obatnya. 

c. Buah dan Bijian: Buah tanaman dan biji-bijian tertentu memiliki 

sifat obat tertentu, contohnya yaitu  jintan dan biji adas manis. 

Pola penamaan simplisia tanaman dalam ketentuan Farmakope 

negara kita  menyatakan bahwa identifikasi simplisia nabati harus 

memuat nama genus atau spesies tanaman, diikuti dengan 

penunjukan bagian tanaman yang dipakai . Namun, peraturan ini 

tidak berlaku pada simplisia nabati yang berasal dari beberapa jenis 

tanaman atau eksudat nabati. 

a. Genus + Nama Bagian Tanaman. Contoh: Cinchonae Cortex: 

Kulit pohon cinchona yang dipakai  untuk menghasilkan kinin. 

Digitalis Folium: Daun tanaman digitalis yang dipakai  sebab  

mengandung senyawa seperti digitoksin. 


 

b. Petunjuk Species + Nama Bagian Tanaman. Contoh Belladonnae 

Herba: Herba belladonna, yang berasal dari tanaman belladonna 

(Atropa belladonna) dan dipakai  dalam obat-obatan. Serpylli 

Herba: Herba serpylli, yang berasal dari tanaman serpyllium atau 

thyme (Thymus vulgaris). 

c. Genus + Petunjuk Species + Nama Bagian Tanaman. Contoh: 

Curcuma aeruginosae Rhizoma berasal dari Rimpang tanaman 

Curcuma aeruginosae yang dipakai  dalam pengobatan 

tradisional. Capsici frutescentis Fructus berasal dari Buah 

tanaman Capsicum frutescens, yang umumnya dikenal sebagai 

cabai. 

2. Hewan dan Produk Hewan: 

a. Kelenjar dan Sekresi: Beberapa obat berasal dari kelenjar dan 

sekresi hewan, seperti insulin dari pankreas babi. 

b. Empulur Hewan: Beberapa organ tubuh hewan, seperti hati, 

dapat memiliki nilai obat tertentu. 

Simplisia Hewani merujuk pada simplisia yang bisa berupa seluruh 

hewan atau bahan-bahan berguna yang dihasilkan oleh hewan dan 

masih berbentuk asli tanpa proses kimia murni. Contoh minyak ikan 

(Oleum ieconis asselli) dan madu (Mel depuratum). 

3. Mineral dan Logam: 

a. Mineral: Beberapa mineral, seperti sulfat besi, dapat dipakai  

sebagai suplemen obat. 

b. Logam: Merkuri dan arsenik, meskipun kurang umum dipakai  

sebab  sifat toksisitasnya, pernah dipakai  dalam sejarah 

sebagai obat-obatan. 

Simplisia Mineral atau pelikan merujuk pada bahan pelikan atau 

mineral yang belum mengalami proses pengolahan atau telah diolah 

dengan cara sederhana, dan masih berada dalam bentuk aslinya tanpa 

mencapai tingkat bahan kimia murni. Contohnya mencakup serbuk 

seng dan tembaga. 

 

4. Jamur Obat (Fungal Sources): 

Jamur: Beberapa jenis jamur mengandung senyawa-senyawa dengan 

sifat obat, seperti antibiotik dari genus Penicillium. 

5. Mikroorganisme: 

a. Bakteri: Beberapa antibiotik, seperti streptomisin, berasal dari 

bakteri tertentu. 

b. Virus: pemakaian  virus dalam terapi gen dapat dianggap 

sebagai sumber obat baru yang sedang berkembang. 

6. Bahan Alam bahari: 

Organisme Laut: Beberapa organisme laut, seperti spons laut dan 

hewan laut lainnya, dapat menghasilkan senyawa-senyawa obat. 

7. Produk Alam Kombinasi: 

Tanaman Campuran dan Formulasi Herbal: Banyak obat tradisional 

berasal dari campuran berbagai tanaman dan formulasi herbal yang 

diracik dengan tujuan tertentu. 

 

Metabolit Sekunder dan 

Aktivitas Biologisnya 

 

 

 

Senyawa kimia tumbuhan dapat diklasifikasikan menjadi metabolit primer dan 

sekunder sesuai dengan jalur biosintesis dan fungsinya. Biosintesis dari 

metabolit primer praktis tidak berbeda antara organisme hidup, dan 

memainkan peran peranan penting bagi kehidupan (pertumbuhan, 

metabolisme dan reproduksi). Metabolit sekunder berbeda dari metabolit 

primer (misalnya, protein, lipid, karbohidrat, dan asam nukleat) sebab  

distribusinya yang terbatas dalam berbagai kelompok tanaman. Disamping itu, 

metabolit sekunder merupakan zat yang dihasilkan oleh tanaman guna 

bertahan di lingkungan tempat tumbuhnya. Molekul-molekul kecil ini  

memiliki efek bervariasi pada tanaman dan organisme lain, termasuk 

merangsang pembungaan dan pembentukan buah. Selain itu, metabolit 

sekunder berperan sebagai antimikroba, dapat berfungsi sebagai atraktan yang 

bereran dalam manarik serangga, senyawa ini juga melndungi tanaman dari 

predator dan patogen sebab  efek racunnya. Ditemukan lebih dari 50.000 

metabolit sekunder dalam dunia tumbuhan, senyawa ini menjadi kunci dalam 

memberi  efek obat dari tanaman dan banyak obat modern. 

Metabolit sekunder menarik perhatian sebab  berbagai alasan. Metabolit 

sekunder dianggap menarik sebab  keragaman strukturalnya dan potensinya 

sebagai calon obat dan/atau antioksidan. Metabolit sekunder yang berasal dari 

 

tumbuhan terutama dipakai  untuk pengobatan, sebagai racun dan sebagai 

bahan makanan. Morfin yaitu  produk alami pertama yang diisolasi dari 

opium poppy (Papaver somniferum) pada tahun 1806. Saat ini, metabolit 

sekunder tanaman memiliki peran penting dalam pengobatan, yang 

ditunjukkan lebih dari 30% produk obat baik langsung maupun tidak langsung 

berasal dari hasil alam produk. Metabolit sekunder tumbuhan dapat 

diklasifikasikan menjadi empat kelompok berbeda, seperti alkaloid, fenolik, 

terpen dan glikosida. 

 

2.1 Alkaloid 

Istilah "alkaloid" dipakai  untuk merujuk pada senyawa turunan tumbuhan 

yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam cincin 

heterosiklik (gugus fungsi amina), dan memiliki dampak nyata terhadap 

hewan, termasuk manusia. Orang-orang telah memanfaatkan alkaloid selama 

berabad-abad, baik dalam penyembuhan maupun sebagai obat penghilang rasa 

sakit, atau bahkan sebagai racun. pemakaian  opium, dari getah Papaver 

somniferum yang mengandung kodein dan morfin, telah dilaporkan di Timur 

Tengah sejak sekitar 1200-1400 SM. Pada awalnya, secara kimia, alkaloid 

dijelaskan sebagai molekul dasar yang mengandung satu atau lebih atom 

nitrogen yang dihasilkan oleh tanaman. Namun, saat ini diketahui bahwa 

beberapa alkaloid juga dihasilkan oleh beberapa hewan, seperti salamander api 

yang menghasilkan samandarine dan beberapa spesies katak. 

Alkaloid memiliki rasa pahit dan mampu membentuk garam dengan asam dan 

menjadi kompleks ion logam. Klasifikasi alkaloid dapat kategorikan 

berdasar  berbagai karakteristik, seperti asal asam amino, struktur sistem 

cincin (pyrrolidine-, indole-, piperidine-, pyrrolizidine-,tropane-, quinoline-, 

isoquinoline-, aporphine-, imidazole-, diazocin-, purine-, steroidal-, amino-, 

and diterpene alkaloids), aktivitas farmakologis, klasifikasi taksonomi 

tumbuhan, atau karakteristik inti siklik. Sekitar 20% tanaman menghasilkan 

alkaloid, dan banyak dari tanaman ini  memproduksi lebih dari satu jenis. 

Peran alkaloid dalam tumbuhan sebagian besar yaitu  sebagai pertahanan 

terhadap predator, seperti serangga (nikotin, kafein) dan herbivora (alkaloid 

lupin, solasodine), serta melawan mikroorganisme (berberin, liriodenin). 

Beberapa di antaranya juga dihasilkan sebagai respons terhadap kerusakan 

jaringan, seperti nikotin.   

 

Banyak dari alkaloid ini memiliki aktivitas biologis yang sangat penting (Tabel 

2.1). Mayoritas alkaloid berasal dari prekursor asam amino, seperti ornitin, 

lisin, tirosin, triptofan, dan histidin, atau dari asam. Beberapa alkaloid stimulan 

bersifat adiktif, seperti morfin, kokain, dan nikotin. pemakaian  yang tidak 

tepat dari beberapa stimulan dan obat penenang sangat berbahaya bagi tubuh. 

Strychnine, sebagai contoh, dipakai  sebagai racun tikus. Pada tahun 339 

SM, filsuf Yunani Socrates dibunuh dengan meminum hemlock yang 

mengandung alkaloid coniine. Taxol, yang memiliki inti diterpenoid, memiliki 

rantai samping alkaloid merupakan komponen yang sangat penting kemoterapi 

untuk mengobati kanker ovarium dan payudara. Vincristine dan vinblastine 

Catharanthus roseus, juga agen sitotoksik, namun  pemakaian nya terbatas pada 

kanker stadium akhir sebab  toksisitas tinggi. Camptothecin, alkaloid quinoline 

yang diperoleh dari Camptotheca accuminata, dipakai  untuk mengobati 

kanker ovarium stadium lanjut yang resisten terhadap taxol. Banyak senyawa 

sintetis berasal dari bahan alami tanaman, dan beberapa di antaranya lebih 

aman untuk dipakai , meskipun tetap memiliki beberapa sifat toksis yang 

bermanfaat.  

 

2.2 Fenolik 

Senyawa-senyawa ini dapat diidentifikasi sebagai senyawa aromatik yang 

mengandung satu atau lebih gugus hidroksil yang bersifat asam. Saat terpapar 

udara, senyawa-senyawa ini cenderung mengalami oksidasi cepat dan 

membentuk kompleks dengan protein. Senyawa fenolik disintesis melalui dua 

jalur biosintetik: jalur asam shikimat dan jalur asam malonat. Biosintesis 

sebagian besar produk fenolik dimulai dengan deaminasi fenilalanin menjadi 

asam sinamat, dikatalisis oleh enzim phenylalanine ammonia lyase (PAL). 

Asam sinamat merupakan prekursor untuk sintesis turunan yang lebih 

kompleks seperti lignin, flavonoid, kumarin dan tanin. 

2.2.1 Flavonoid 

Flavonoid merupakan salah satu kelompok metabolit sekunder yang tersebar 

luas dengan berbagai fungsi metabolisme. Senyawa biologis aktif ini telah 

diisolasi lebih dari 6000 jenis flavonoid dari berbagai sumber nabati, seperti 

buah-buahan, sayuran, herba, dan minuman non alkohol seperti teh dan anggur 

merah. Flavonoid menjadi unsur yang paling melimpah dalam makanan 

manusia, mencakup dua pertiga dari total konsumsi makanan. Kelompok 

flavonoid ini termasuk dalam kelompok fenolik tumbuhan terbesar dengan 

kerangka karbon 15-C, terdiri dari dua cincin benzena yang dihubungkan oleh 

jembatan 3-C atau melalui struktur cincin piron heterosiklik. Struktur karbon 

flavonoid dapat disingkat sebagai C6-C3-C6. Flavonoid kemudian dibagi 

menjadi sembilan subkelas utama, seperti flavon, flavonol, flavanon, 

flavanonol, flavanol atau katekin, isoflavon, antosianidin dan 

proanthocyanidin, serta auron. Terakhir, flavonoid dengan cincin C terbuka 

dikenal sebagai kalkon. Kelompok flavonoid ini berbeda satu sama lain dalam 

bilangan oksidasi dan pola substitusi pada cincin karbon. Sifat larut dalam air 

membuat flavonoid dapat terakumulasi dalam kompartemen vakuola sel. 

Favonoid sering ditemukan di dalam vakuola sel, dan berperan dalam 

memberi  warna pada sebagian besar bunga dan buah. Senyawa ini 

memiliki fungsi beragam, seperti menjadi atraktan penyerbuk (seperti 

pelargonidin, sianidin, delphinidin), melindungi tanaman dari radiasi UV-B 

(seperti kaempferol), berperan sebagai atraktan bagi pemakan serangga 

(isoquercetine), atau sebagai antifeedant (proanthocyanidin). Beberapa 

flavonoid, seperti apigenin dan luteoline, juga terlibat sebagai molekul sinyal 

dalam asosiasi antara kacang-kacangan dan Rhizobium.  

 

Sebagian besar flavonoid disintesis sebagai respon terhadap rangsangan stres 

seperti luka, kekeringan, paparan logam, dan kelaparan. Terutama flavonol dan 

flavan-3-ols diyakini melindungi tanaman dari stres oksidatif dengan berfungsi 

sebagai antioksidan. Dari segi aktivitas biologis, flavonoid menunjukkan 

fungsi antioksidan, efek anti-inflamasi, dan kemampuan menghambat protein 

sinyal sel. Malvidin-3-O-β-glukosida, yang ditemukan dalam anggur, telah 

terbukti menghambat mediator inflamasi yang berasal dari makrofag. 

Flavonoid juga dianggap memiliki manfaat dalam melawan jenis kanker 

tertentu melalui aktivitas modulasi seperti apoptosis, vaskularisasi, diferensiasi 

sel, proliferasi sel, dan lainnya, sebagaimana ditunjukkan dalam pengujian in 

vitro dan in vivo. Meskipun demikian, interaksi kompleks antara flavonoid dan 

enzim kunci yang terkait sel neoplastik dan metastasis masih belum 

sepenuhnya dipahami. 


 Kumarin 

Lebih dari 300 senyawa kumarin telah ditemukan dan diisolasi dari lebih dari 

800 spesies tumbuhan, termasuk lebih dari 70 famili angiosperma. Contohnya 

dapat ditemui pada lavender, akar manis, stroberi, ceri, cassia, kayu manis, dan 

rerumputan seperti rumput manis dan rumput vanila. Kumarin termasuk dalam 

kelas lakton yang tersebar luas yang disebut benzopyranone. Ada dua senyawa 

kimia wangi yang paling sederhana dalam kelompok ini, yaitu kumarin dan 7-

hidroksikumarin (umbelliferon), yang dihasilkan melalui reaksi asam sinamat 

dan asam p-kumarat, diikuti dengan penutupan cincin. Beberapa turunan 

kumarin alami lainnya meliputi aesculetin (6,7 dihydroxycoumarin), herniarin 

(7-methoxycoumarin), dan psoralen.  

Dalam konteks fisiologis, kumarin dikenal sebab  perannya sebagai agen 

antimikroba, mengurangi nafsu makan, dan penghambat pertumbuhan. 

Scopoletin, merupakan kumarin paling umum dijumpai pada spesies tanaman 

berbunga, sering ditemukan pada kulit biji yang diyakini menghambat 

perkecambahan, sehingga harus dihilangkan sebelum penanaman. Meskipun 

kumarin sendiri hanya bersifat racun ringan, turunannya yang disebut 

'dicoumarol' yaitu  antikoagulan yang sangat kuat. Dicoumarol dapat 

ditemukan dalam jerami berjamur atau silase semanggi manis, dan dapat 

memicu  perdarahan fatal pada sapi sebab  menghambat sintesis vitamin 

K, suatu kofaktor penting yang diperlukan dalam pembekuan darah. 

Kumarin merupakan komponen dalam minyak Bergamot, suatu minyak atsiri 

yang dipakai  untuk memberi aroma pada tembakau, teh, parfum, 


 

kondisioner kain, dan berbagai produk lainnya. Kumarin memberi  aroma 

manis khas pada jerami yang baru dipotong, namun  rasa pahitnya membuat 

hewan enggan mengonsumsi tanaman ini . Selain itu, kumarin memiliki 

aktivitas sebagai pengencer darah, agen antijamur, dan antitumor, namun dapat 

menjadi racun jika dipakai  dalam dosis tinggi dan dalam jangka waktu yang 

lama. Warfarin merupakan kumarin sintetik, dipakai  sebagai rodentisida 

yang sangat efektif. Kumarin (Aflatoksin B1), suatu mikotoksin yang 

dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus, umumnya ditemukan dalam pakan 

ternak, kacang tanah lembab, dan jagung. Senyawa ini merupakan salah satu 

karsinogen alami yang paling kuat, dapat mengganggu sistem kekebalan 

tubuh, serta merusak hati dan ginjal. 


 Tanin 

Tanin yaitu  hasil dari reaksi polimerisasi senyawa fenolik, yang dapat 

diidentifikasi melalui warna coklat pada dedaunan saat musim gugur dan 

perubahan warna pada jaringan tanaman yang terluka. Tanin memiliki peran 

sebagai pertahanan tanaman terhadap hewan dengan cara menghambat 

pencernaan hewan. Hal ini terjadi sebab  tanin dapat berikatan dengan protein 

dalam sistem pencernaan hewan yang diperlukan untuk pertumbuhan. 

Akibatnya, proses penyerapan protein dalam sistem pencernaan terganggu. 

Buah yang belum matang seringkali mengandung tanin dalam konsentrasi 

tinggi, terutama di lapisan sel luarnya. 

Senyawa tanin dapat dibedakan menjadi dua yaitu tanin terkondensasi dan 

tanin terhidrolisis. Tanin terkondensasi dihasilkan melalui proses polimerisasi 

unit flavonoid dan umumnya ada  pada tanaman berbentuk kayu. 

Sebaliknya, tanin yang dapat mengalami hidrolisis yaitu  polimer heterogen 

yang terdiri dari asam galat dan gula sederhana. Tanin merupakan senyawa 

pertahanan khas yang ditemukan pada daun, buah, akar dan kulit kayu dari 

tumbuhan. Banyak jaringan sehat mengandung tanin, yang sering kali 

disintesis sebagai respon terhadap kerusakan sel. Oleh sebab  itu, tanin dapat 

berperan sebagai alat pelindung untuk mencegah infeksi pada jaringan yang 

mengalami kerusakan. 


 Lignin 

Setelah selulosa, senyawa organik yang paling dominan pada tumbuhan yaitu  

lignin yang menyumbang sekitar 30% dari kandungan karbon organik di 

biosfer. Lignin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang paling 


 

penting yang diproduksi oleh jalur metabolisme fenilalanin/tirosin dalam sel-

sel tumbuhan. Lignin yaitu  salah satu jenis senyawa fenolik yang merupakan 

suatu polimer gugus fenilpropanoid yang sangat bercabang. Tumbuhan yang 

secara alami mampu menghasilkan lignin yaitu  tumbuha berkayu. Biasanya, 

lignin ditemukan di dalam dinding sekunder yang tebal, namun juga ada  

di dalam dinding primer dan lamela tengah. 

Pembentukan lignin melibatkan proses biokimia yang kompleks. Lignin 

terbentuk dalam dinding sel tanaman melalui proses polimerisasi, terutama 

pada jaringan-jaringan kompleks yang mengandung monomer-monomer asam 

fenolik, terutama monolignol. Selain memberi  dukungan mekanis, lignin 

juga memiliki peran penting dalam pertahanan tanaman. Lignin relatif sulit 

dicerna oleh herbivora sebab  komposisi kimianya. Dengan terikat pada 

selulosa dan protein, lignin semakin mengurangi daya cerna. Proses lignifikasi 

ini membatasi pertumbuhan patogen dan merupakan respon yang umum 

terhadap infeksi atau luka.Lignin dan metabolismenya yang terkait berperan 

penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Sebagai polimer 

fenolik kompleks, lignin meningkatkan kekakuan dinding sel tanaman, sifat 

hidrofobik, dan membantu transportasi mineral. Selain itu, lignin yaitu  

penghalang penting yang melindungi terhadap hama dan patogen.  

 

 Glikosida 

Senyawa glikosida memiliki bagian karbohidrat (gula) yang terikat pada gugus 

fungsi lain melalui ikatan glikosidik. Komponen penyusun glikosida disebut 

glikon (gugus gula),' sementara gugus non gula disebut 'aglikon' atau 'genin'. 

Ikatan antara glikon dan aglikon disebut sebagai ikatan glikosidik. Secara 

kimia, bagian glikon dan aglikon dapat dipisahkan melalui hidrolisis dengan 

adanya asam.  

Beberapa enzim diketahui dapat membentuk dan memutus ikatan glikosidik. 

Glikosida dikelompokkan berdasar : 

1. Sifat kimia bagian aglikon. 

2. Jenis ikatan glikosidik, apakah posisinya berada pada tingkat 'atas 

atau bawah' molekul gula siklik, yaitu α-glikosida atau β-glikosida. 

3. Aktivitas terapeutik bagian aglikon. 

 

Tergantung pada sifat kimia aglikon atau turunannya yang ada dalam 

glikosida, terbagi sebagai: glikosida alkohol; glikosida antrakuinon; glikosida 

fenol; glikosida steroid; glikosida flavonoid; glikosida kumarin; glikosida 

furano-kumarin; glikosida sianogenik; tioglikosida; glikosida saponin (terkait 

erat dengan steroid); dan glikosida steviol. Secara umum, berdasar  

karakteristik farmakologinya, glikosida dapat dibagi menjadi tiga kelompok 

utama, yaitu: i) glikosida jantung atau kardenolida, ii) glikosida sianogenik, 

dan iii) saponin. Sebagai tambahan, kelompok keempat, glukosinolat 

(meskipun secara teknis bukan glikosida), dapat dimasukkan dalam daftar ini 

sebab  memiliki struktur yang mirip. 

 

2.4 Glikosida jantung atau kardenolida 

Glikosida jantung atau kardenolida merupakan kelompok obat alami dengan 

rentang dosis yang dapat memicu  kematian dan dosis terapeutiknya 

cukup sempit. Oleh sebab  itu, pemakaian nya harus hati-hati. Glikosida 

jantung tersebar luas di lebih dari 200 spesies tumbuhan berbunga, termasuk 

dalam 55 marga dan 12 famili. Salah satu yang paling terkenal yaitu  foxlove, 

yang awalnya dipakai  untuk mengatasi retensi air yang tidak diinginkan di 

dalam tubuh dan sekarang banyak dimanfaatkan sebagai obat untuk masalah 

jantung seperti penyumbatan dan aritmia (irama detak jantung tidak teratur). 

Spesies tanaman foxglove di antaranya yaitu Digitalis purpurea dan Digitalis 

lanata. Glikosida aktif dalam daun Digitalis purpurea mengandung digitoksin, 

gitoksin, dan gitalin, sedangkan pada Digitalis lanata, gitalin digantikan oleh 

digoksin, dengan dua yang lain tetap sama. 

Beberapa contoh lain dari glikosida jantung termasuk spesies Strophanthus 

dan Scilla. Sumber kardenolida yang menarik lainnya yaitu  tanaman 

milkweed, terutama yang termasuk dalam genus Calotropis dan Asclepias 

yang menghasilkan getah berwarna putih susu dan kaya akan kardenolida. 

Tanaman ini juga menjadi tempat bertelur bagi kupu-kupu raja. Larva kupu-

kupu hidup di daun milkweed dan menyerap steroid beracun (kardenolida). 

Kardenolida ini berfungsi sebagai pertahanan terhadap predator. Ekstrak biji 

Strophanthus yang kaya kardenolida pernah dipakai  oleh pemburu Afrika 

untuk meracuni ujung anak panah dan tombak.  

 

 Glikosida Tioglikosida 

Sesuai dengan namanya, senyawa ini mengandung sulfur dalam ikatan S-

glikosidik. Contohnya termasuk sinigrin (atau potasium myronate), yang 

ada  dalam sawi hitam (Brassica nigra), dan sinalbin, yang terkandung 

dalam sawi putih (B. alba). Benih dari kedua spesies ini sebenarnya tidak 

memiliki aktivitas fisiologis apa pun, namun  jika dihidrolisis dengan enzim 

myrosin (tioglukosidase), benih ini  menghasilkan dekstrosa dan minyak 

esensial mustard yang memicu  rasa pedas. Seperti glikosida sianogenik, 

tioglikosida atau glukosinolat dipisahkan secara spasial dari enzim hidrolitik 

sehingga minyak mustard dihasilkan hanya ketika bijinya dihancurkan atau 

didisintegrasi, sehingga enzim dan substrat bersentuhan langsung. Rasa yang 

khas menghalangi atau mengusir beberapa herbivora, sehingga bertindak 

sebagai perlindungan pertahanan sementara pada beberapa lainnya 

glukosinolat atau minyak mustard bertindak sebagai penarik serangga dan 

selanjutnya merangsang makan dan bertelur. Minyak biji lobak, diperoleh 

terutama dari Brassica napus, merupakan minyak nabati yang penting, namun  

adanya glukosinolat dan asam erusat tingkat tinggi memberi  rasa yang 

tidak diinginkan. Dengan memakai  metode pembiakan konvensional, 

para ilmuwan Kanada dapat menghasilkan varietas Canola yang sangat rendah 

glukosinolat dan asam erusat. 


 Glikosida Sianogenik 

Glikosida sianogenik telah ditemukan di lebih dari 200 spesies tumbuhan 

berbeda, termasuk dikotil, monokotil, gymnospermae, dan pakis. Glikosida ini 

pada dasarnya merupakan aglikon dengan gugus sianida yang terikat. 

Glikosida ini dibuat melalui konversi asam amino menjadi oksim, yang 

kemudian mengalami glikosilasi. Di dalam sel, glikosida sianogenik 

terkandung di dalam kompartemen yang terpisah dari enzim yang 

memecahnya. Ketika sel pecah sebab  kerusakan yang disebabkan oleh 

herbivora, isi kompartemen bercampur dan glikosida terdegradasi melepaskan 

hidrogen sianida (HCN) sebagai perlindungan bagi tanaman terhadap 

herbivora dan patogen. 

Glikosida sianogenik ditemukan dalam biji (dan daun layu) sejumlah spesies 

tanaman dari keluarga Rosaceae seperti persik, apel, aprikot, ceri, plum, dan 

apel. Amygdalin yang berasal dari almond pahit yaitu  contoh khas glikosida 

sianogenik. Biji rami (Linum usitatissimum), makanan kesehatan yang popular 


 

mengandung senyawa sianogenik, namun senyawa ini hilang selama 

pemanggangan. Singkong atau ubi kayu (Manihot esculenta dari keluarga 

Euphorbiaceae) juga mengandung glikosida sianogenik dan akan rusak 

senyawanya dengan perebusan, pemanggangan, pemerasan atau fermentasi. 


Glikosida Saponin 

Saponin yaitu  kelompok khusus molekul kimia kompleks dengan 

karakteristik berbusa. Namanya diambil dari tanaman sabun (Saponaria spp.), 

yang akarnya telah dipakai  sejak zaman dahulu sebagai sabun. Saponin 

terdiri dari aglikon polisiklik yang terikat pada satu atau lebih rantai samping 

karbohidrat. Bagian aglikon dari saponin (atau sapogenin) yaitu  steroid (C27) 

atau triterpen (C30). Saponin telah diekstraksi dari hampir 100 jenis saponin 

yang berbeda famili angiospermia, terutama Sapindaceae, Aceraceae, 

Hippocastanaceae, Cucurbitaceae, dan Araliaceae. Pada hewan, saponin 

ditemukan di sebagian besar teripang dan bintang laut.  

Saponin steroid, misalnya pada ubi jalar (Dioscorea spp.) dan ginseng (Panax 

quinquefolia dan P. ginseng) banyak dipakai  dalam pengobatan. Saponin 

glisirrhizin, ditemukan dalam akar manis (Glycyrrhiza glabra), memiliki sifat 

ekspektoran, kortikosteroid dan anti inflamasi dan dipakai  sebagai pemanis 

dan penambah rasa pada makanan dan rokok. Saponin memiliki  rasa yang 

pahit, dapat berfungsi sebagai antifeedant, sehingga melindungi tanaman 

terhadap banyak jamur patogen. Sel epidermis akar gandum (Avena sativa) 

menghasilkan saponin triterpenoid, avenacin A-1 yang melindungi terhadap 

serangan jamur. Saponin alfalfa (dari Medicago sativa) dapat memicu  

masalah pencernaan dan kembung. Saponin yaitu  fitonutrien, banyak 

ada  pada sumber makanan seperti sayur mayur, buncis, kacang polong, 

kedelai. Beberapa saponin (misalnya yang diperoleh dari oat dan bayam) dapat 

meningkatkan penyerapan nutrisi. sebab  sifat deterjennya, saponin populer 

dalam formulasi kosmetik seperti sampo, pembersih wajah, dan krim 

kosmetik. Saponin dari Yucca dan Quillaja dipakai  dalam beberapa 

minuman, seperti bir, untuk menghasilkan busa yang stabil. Jenis glikosida 

lainnya yaitu Steviol glikosida dari tanaman stevia (Stevia rebaudiana) yang 

mengandung glikosida manis yang memiliki sifat manis sebanyak 40–300 kali. 

lebih manis daripada sukrosa yang rasanya manis. Dua glikosida utama, 

stevioside dan rebaudioside A dipakai  sebagai pemanis alami 

menggantikan gula biasa di banyak negara. Steviol yaitu  bagian aglikon dari 

glikosida ini . 

 

Terpen (Terpenoid) 

Terpenoid diberi nama berdasar  terpen, yaitu komponen turpentine yang 

mudah menguap yang berasal dari penyulingan resin pohon pinus. Terpen, 

yang merupakan kelompok terbesar dari metabolit sekunder, terdiri dari 

berbagai zat yang umumnya tidak larut dalam air dan disintesis baik dari asetil 

CoA maupun zat antara glikolisis. Terpenoid dan derivatifnya merupakan unit 

polimer isoprena yang terbentuk oleh kerangka isoprena lima karbon 

bercabang. Oleh sebab  itu, terpenoid sering disebut sebagai senyawa 

isoprenoid.  

Klasifikasi terpen didasarkan pada jumlah unit 5-C dalam kerangkanya: 

1. Hemiterpenoid: terpen 5-C (satu, lima unit karbon), contoh: isoamil 

alkohol, asam tiglat  

2. Monoterpenoid: terpen 10-C (dua, lima unit karbon), contoh: 

geraniol, menthol  

3. Sesquiterpenoid: terpen 15-C (tiga, lima unit karbon), contoh: 

farnesol  

4. Diterpenoid: terpen 20-C (empat, lima unit karbon), misal, contoh: 

(bagian dari klorofil)  

5. Sesterpenoid: terpen 25-C (lima, lima unit karbon), contoh: 

ophiobolane  

6. Triterpenoid: terpen 30-C, contoh: steroid and sterol  

7. Tetraterpenoid: terpen 40-C, contoh: karotenoid  

8. Polyterpenoid: ([C5] n karbon, di mana n > 8), contoh: karet alam. 

Artemisinin, sejenis antimalaria modern yang termasuk dalam kategori 

sekuiterpen, berasal dari tanaman obat Cina Quinhao (Artemisia annua), yang 

telah dipakai  sebagai obat demam selama lebih dari dua ribu tahun. 

Artemisinin memiliki rumus empiris C15H22O5 dan efektif melawan 

resistensi klorokuin yang berbahaya pada malaria falciparum. Selain itu, 

senyawa terpen lain yang berperan dalam menyelamatkan nyawa yaitu  

paclitaxol, suatu diterpen dengan struktur molekul yang sangat kompleks, 

efektif dalam mengatasi kanker ovarium, payudara, usus besar, sel kanker 

paru-paru dan melanoma maligna. Terpenoid (diterpenoid, seskuiterpenoid, 

triterpenoid) dan lignoid memiliki aktivitas sebagai antivirus, dan telah terbukti 

 

menghambat virus corona, termasuk yang berbahaya Virus SARS-Corona. 

Asam betulinat dan savinin merupakan inhibitor kompetitif dari protease 

(enzim yang memecah protein) yang diproduksi oleh virus SARS-CoV 3CL. 

 

 

Teknik Ekstraksi dan Isolasi 

Metabolit Sekunder 

 

  

negara kita  merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati 

yang sangat besar. ada  sekitar 30.000 jenis tanaman dan 7.000 di 

antaranya memiliki aktivitas farmakologi untuk membantu mengobati 

penyakit (Ditjen, 2014). Tanaman yang diketahui berkhasiat sebagai obat 

banyak tersebar di berbagai pulau di negara kita , di antaranya Jawa, Kalimantan, 

Sumatra, dan Papua. Keanekaragaman hayati ini  merupakan sumber 

metabolit sekunder atau bahan aktif yang tidak terbatas jumlahnya (Atun, 

2010). Metabolit sekunder yang diproduksi oleh berbagai organisme, memang 

tidak memiliki peran yang cukup signifikan untuk keberlangsungan organisme 

penghasilnya, namun  sangat bermanfaat untuk keperluan manusia, terutamanya 

yaitu  untuk bahan obat-obatan. Sejak dahulu kala, tumbuhan obat sudah 

banyak dipakai  terutama dipakai  untuk membantu mengobati penyakit 

pada manusia (Atun, 2014). 

Khasiat metabolit sekunder yang berasal dari tanaman obat yang sudah banyak 

diteliti misalnya yaitu  sebagai antibakteri, antijamur, antioksidan, antikanker 

dan lain-lain. Penelitian memakai  bahan dari alam sudah banyak 

 

mengalami kemajuan, di antaranya ditemukannya teknik-teknik pemisahan 

dengan metode kromatografi dan penentuan struktur molekul secara 

spektroskopi pada pertengahan abad 20. Dengan memakai  metode-

metode ini , maka ditemukanlah senyawa-senyawa bioaktif, misalnya 

penemuan alkaloid seperti vinkristin dan vinblastine dari tanaman tapak dara 

(Catharanthus roscus), berdasar  yang sudah dilakukan oleh peneliti-peneliti 

terdahulu, kedua senyawa bioaktif ini  memiliki aktivitas farmakologi 

sebagai antikanker. Demikian pula penelitian pada tanaman Taxus brevifolia, 

yaitu ditemukan senyawa taksol, serta taxoter yang merupakan senyawa 

modifikasinya, yang dapat dipakai  sebagai obat antikanker. Dari latar 

belakang ini , maka mendorong industri farmasi melakukan eksplorasi 

senyawa-senyawa bioaktif dari tumbuhan sebagai lead compounds untuk 

penemuan obat baru 

 

Metode yang dapat dipakai  untuk penemuan obat baru yaitu  metode 

ekstraksi. Proses ekstraksi dilakukan dengan tujuan untuk menarik komponen 

atau metabolit sekunder dari suatu padatan dan/atau cairan dengan 

memakai  pelarut tertentu. Beberapa tahapan yang dapat dilakukan 

sebelum melakukan proses ekstraksi, dapat dilakukan perlakuan sampel 

tumbuhan sebagai awalan tahapan untuk memperoleh metabolit sekunder yang 

optimal. 

 

 Pembuatan Simplisia 

Bahan baku obat tradisional, sebagian besar berupa tanaman obat yang sudah 

melewati beberapa tahapan perlakuan, sebelum pada akhirnya dinyatakan 

sebagai simplisia. Beberapa tahapan perlakuan ini  di antaranya yaitu  

budidaya, panen, dan penanganan pasca panen. Simplisia merupakan bahan 

alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan 

apapun juga kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan.  

Proses pembuatan simplisia di antaranya yaitu  sebagai berikut: 

1. Pengumpulan bahan 

Sumber bahan tumbuhan dapat diperoleh dari tumbuhan budidaya 

dan tumbuhan liar. Tentunya ada beberapa keuntungan jika tumbuhan 

obat diperoleh dari hasil budidaya, di antaranya yaitu  bibit unggul, 

tempat tumbuhnya baik, ada  pengolahan pasca panen yang dapat 

meningkatkan kualitas simplisia yang dihasilkan. Sedangkan 

tumbuhan liar jarang dipilih sebab  tidak memiliki kejelasan asal usul 

bahan, kemurnian spesies, usia tanaman tidak diketahui, cara 

budidaya, cara panen, dan kondisi lingkungan tumbuhannya tidak 

diperhatikan. pemakaian  tumbuhan liar juga berisiko tidak 

teridentifikasi dengan benar. Pengumpulan bahan haruslah 

memakai  bagian tanaman yang sesuai dengan ketentuan yang 

telah ditentukan, misalnya bagian dari tanaman ini  harus segar, 

tidak rusak, usianya masih muda atau diambil yang sudah tua, dan 

lain-lain. Setelah tumbuhan dikumpulkan, kemudian sampel 

dilakukan proses sortasi basah. 

2. Sortasi Basah 

Sortasi basah dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan kotoran-

kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari simplisia. Bahan asing 

yang dimaksud, misalnya seperti tanah, kerikil, daun yang rusak atau 

bagian yang rusak, rumput dan pengotor lainnya yang harus dibuang. 

Sortasi basah yang dilakukan yaitu  sebagai awalan pembersihan 

simplisia dari pengotor yang terbawa sehingga dapat mengurangi 

jumlah mikroba awal 

3. Pencucian bahan 

Pencucian bahan bertujuan untuk menghilangkan tanah atau kotoran 

lain yang melekat pada bahan simplisia. Bahan simplisia harus 

dilakukan pencucian dengan benar untuk mendapatkan hasil yang 

lebih baik. Pencucian dengan benar haruslah memakai  air bersih 

dan mengalir yang berasal dari mata air, air sumur, atau air PAM. 

Cara pencucian bahan akan sangat memengaruhi jenis dan jumlah 

mikroba awal pada simplisia. Jika air yang dipakai  kotor, maka 

jumlah mikroba yang terkandung pada simplisia dapat bertambah. 

Bakteri yang umum ada  dalam air yaitu  Pseudomonas, Proteus, 

Micrococcus, Bacillus, Streptococcus, Escherichia 

4. Perajangan 

Bahan tanaman yang akan dibuat menjadi simplisia, perlu dilakukan 

perajangan. Perajangan dilakukan untuk mempermudah proses 

selanjutnya, seperti pengeringan pengemasan, dan ekstraksi. Proses 

perajangan yaitu membuat ukuran partikel dari simplisia menjadi 

lebih kecil, sehingga semakin memperbesar luas permukaan dan akan 

membuat seluruh permukaan simplisia terkenai oleh panas pada saat 

proses pengeringan. Semakin tipis partikel bahan yang dikeringkan, 

maka semakin cepat penguapan air, sehingga mempercepat lama 

waktu pengeringan. Akan namun  perlu diperhatikan ketipisan dari 

bahan, irisan yang terlalu tipis juga dapat memicu  

berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang bersifat volatil 

(seperti minyak atsiri), sehingga dapat memengaruhi komposisi, bau, 

dan rasa yang diharapkan (B2P2TOOT, 2011) 

5. Pengeringan 

Tumbuhan obat sangat jarang dipakai  dalam keadaan segar sebab  

mudah terjadi kerusakan. pemakaian  bahan yang dikeringkan lebih 

disarankan, sebab  jarak antara waktu pemanenan dengan waktu 

pengolahan sampel untuk menjadi sebuah produk maksimum jangka 

waktunya yaitu  3 jam pada bahan segar, di mana sampel segar 

mudah rusak dan mengalami penurunan kualitas yang lebih cepat 

daripada sampel kering. 

Tujuan dari pengeringan yaitu  untuk mengurangi kadar air pada 

bahan, sehingga lebih tahan lama pada saat proses penyimpanan. 

Dengan berkurangnya kadar air, maka reaksi enzimatik pada bahan 

dapat dicegah. Reaksi enzimatik yang terjadi dapat memicu  

penurunan mutu dan atau perusakan simplisia. Adanya air yang 

masih tersisa pada bahan dengan kadar tertentu, memicu  

tumbuhnya mikroba, kapang, atau jasad renik lainnya. Pada 

tumbuhan yang masih hidup, pertumbuhan kapang atau jasad renik, 

serta reaksi enzimatik tidak akan terjadi sebab  adanya keseimbangan 

proses metabolisme dalam tubuh tumbuhan, yakni proses sintesis, 

transformasi, dan pemakaian  isi sel. Keseimbangan ini akan hilang 

setelah sel tumbuhan mati. Reaksi enzimatik tidak akan berlangsung, 

bila kadar air pada simplisia < 10% (B2P2TOOT, 2011). 

Metode perngeringan simplisia di antaranya yaitu  memakai  

sinar matahari langsung, matahari tidak langsung, diangin-anginkan, 

oven, dan lemari pengeringan. Hal yang perlu diperhatikan selama 

proses pengeringan yaitu  suhu pengeringan, aliran udara, 

kelembaban udara, waktu pengeringan, dan luas permukaan bahan. 

Faktor-faktor ini  perlu diperhatikan agar dapat memperoleh 

simplisia kering yang berkualitas dan tidak mengalami kerusakan. 

6. Sortasi kering 

Sama halnya seperti sortasi basah, sortasi kering bertujuan untuk 

memisahkan pengotor atau bahan asing yang ada  pada simplisia. 

Perbedaannya dengan sortasi basah yaitu  tahapan sortasi basah 

dilakukan setelah proses pengumpulan bahan, sedangkan sortasi 

kering dilakukan setelah tahapan pengeringan dan sebelum dilakukan 

proses pengemasan. Sortasi kering dilakukan untuk menjamin bahwa 

simplisia sudah benar-benar terbebas dari bahan asing

 

7. Pengemasan dan Pemberian Label 

Tahapan pengemasan dan pemberian label berhubungan dengan 

proses distribusi dan penyimpanan simplisia. Tahapan ini bertujuan 

untuk melindungi simplisia saat pengangkutan atau distribusi, dan 

penyimpanan supaya terlindung dari gangguan luar, seperti suhu, 

kelembaban, cahaya, kontaminasi mikroba, kontaminasi serangga 

atau hewan lainnya. Gangguan luar ini  dapat menurunkan 

kualitas dari simplisia. 

Bahan pengemas yang dipakai  harus memenuhi beberapa 

persyaratan, di antaranya yaitu : 

a. Dapat menjamin mutu produk yang dikemas 

b. Mudah dipakai 

c. Tidak mempersulit penanganan 

d. Dapat melindungi isi pada saat proses distribusi 

e. Tidak beracun dan tidak bereaksi dengan isi 

f. Kedap air dan udara 

Bahan pengemas dapat terbuat dari karung yang terbuat dari bahan 

plastik, jerami, atau goni. Simplisia daun dan herba biasanya proses 

pengemasannya dengan cara ditekan terlebih dahulu agar mudah 

dikemas dan diangkut. Pada setiap kemasannya dapat ditambahkan 

silica gel yang dibungkus yang bertujuan untuk menyerap air di 

sekitar simplisia sehingga kondisi simplisia tetap kering dan kemasan 

tidak lembab. 

Pemberian label pada kemasan si