Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 27. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 27. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 27







 grain pizotifen (Litec, Sando mi gran) serta 

methysergida (Deseril). Beberapa antidepre-

 siva juga memiliki efek ini, antara lain 

trazodon, begitu juga obat hipertensi ke-

tanserin.

Efek makanan atas suasana jiwa

Asam amino triptofan merupakan precursor 

dari serotonin dan untuk mengasup secu-

kupnya bagi sintesis serotonin dianjurkan 

untuk makan sebany ak mungkin protein 

(daging, ikan, telur, tahu, dan lain-lain). Te-

tapi ternyata bahwa banyak asam amino 

yang diserap dari protein itu  dikon-

sentrasi terutama di otot dan hanya sedikit 

masuk ke dalam otak. Oleh sebab  itu lebih 

baik mengasup banyak karbohidrat dengan 

sedikit protein. Pada pembakaran karbohidrat 

berlangsung suatu proses pada mana trip-

tofan tidak disa lurkan ke otot melainkan ke 

otak. Diet demikian telah dibuktikan dapat 

memperbaiki suasana jiwa dan di samping itu 

juga mempermudah serta memperpanjang 

waktu tidur dan mengurangi rasa nyeri 

(pada rema).

Keadaan depresif lazimnya diiringi dengan 

daya tahan tubuh yang berfung si buruk, 

sehingga ada  risiko besar timbulnya 

berbagai penyakit. Di pihak lain perasaan 

gembira dan berse mangat berkaitan dengan 

kesehatan yang baik.

Efek baik dari gerak badan. Triptofan 

diinaktifkan oleh enzim triptofan-pyrrolase, 

oleh sebab  itu penting untuk menghambat 

sintesis enzim ini. Pada keadaan stress yang 

penuh ketegangan, anak ginjal melepaskan 

banyak kortisol, yang menstimulasi sinte-

sis pyrrolase dan dengan demiki an meng-

akibatkan menurunnya kadar serotonin di 

otak. Efek kortisol dihambat oleh hormon 

anak ginjal lain, yaitu adrenalin. Pada akti-

vitas fisik seperti gerak badan dan olahra-

ga terben tuk banyak adrenalin, sehingga 

sintesis pyrrolase relatif sedikit dan lebih 

banyak triptofan beredar dalam darah. Hal 

ini memicu  kadar seroto nin di otak 

meningkat dan depresi diperbaiki. Suatu 

eksperimen pada orang-orang yang mende-

rita depresi telah membuktikan ini.

JENIS–JENIS GANGGUAN 

DEPRESI 

Keadaan murung. Setiap orang yang meng-

alami suatu kekecewaan berat (kematian, 

perceraian, kepailitan) atau kehilangan pribadi 

(kemati an kekasih) dengan sendirinya men-

jadi murung. Jiwanya tertekan dengan pe-

rasaan sangat sedih, putus asa dan hilang- 

nya kegembiraan, merasa letih, tidak ber-

nafsu makan dan sukar tidur. Mental juga 

terganggu dengan sering termenung dan 

berpikiran khayal, konsentrasi berkurang, 

bimbang dan sukar mengambil keputusan.

biasanya , orang murung demikian 

lambat laun mampu mengatasi sendiri ke-

adaan sendunya tanpa obat atau mungkin 

hanya dengan bantuan obat pereda. Gejala 

hilang dengan sendirinya sesudah dua atau 

tiga minggu. 

Depresi normal biasanya  tidak 

memerlukan pengobatan dan dapat mem-

perlihatkan remisi spontan. namun  sebaiknya 

tetap dimonitor untuk menghindari menjadi 

patologik dan sebaiknya juga tetap diberikan 

pengobatan untuk mempersingkat dan me-

ringankan gejalanya. Sering kali timbul gejala 

on-off, yaitu period-periode perbaikan yang 

diselingi dengan kemunduran.

Gangguan Depresi Utama (Major Depressive 

disorder) yaitu  nama internasional yang 

sekarang dipakai  untuk keadaan murung 

yang sesudah  2-3 minggu masih juga bertahan 

atau bahkan memperburuk. Kriteria untuk 

depresi sedang/he bat yang kini berlaku menurut 

DSM IV** yaitu  ada  nya minimal lima 

gejala dari daftar berikut pada waktu hampir 

setiap hari selama minimal 2 minggu.: Kedua 

gejala a dan b yaitu  esensial dan salah satu 

dari padanya harus terda pat dalam lima 

gejala itu . 

a.  suasana jiwa murung hampir sepanjang hari;

b.  hilangnya perasaan gembira dan perhatian 

untuk hampir semua aktivitas;

c.  perasaan bersalah dan tak berharga;

d.  pikiran atau percobaan bunuh diri;

e.  tidak dapat mengambil keputusan atau 

timbul masalah konsentrasi;

f.  agitasi (perasaan dikejar, cepat tersing-

gung) atau penghambatan (segala sesuatu 

terkesan berlangsung lambat);

g.  lelah dan hilangnya enersi;

h.  gangguan tidur; 

i.  perubahan nafsu makan atau perubahan 

berat badan. 

** DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual, 

Edisi IV dari American Psychiatric Association 

merupakan klasifikasi dari gangguan-gang-

guan psikiatri, yang memberikan uraian 

dari golongan-golongan diagnostik untuk 

memungkinkan dokter mendiagnosis, mem-

pelajari dan menangani orang-orang dengan 

berbagai gangguan mental.

*Hamilton depression rating scale (HDRS) 

terdiri dari sebuah daftar gejala yang lebih 

luas lagi dan sering kali dipakai  sebagai 

pedoman untuk mengukur parahnya depresi.

Depresi kronis yaitu  depresi yang bertahan 

lebih lama dari 2 tahun dan sesudah  dipastikan 

tidak adanya penanganan yang kurang tepat 

atau resistensi untuk obat. 

a. Depresi manis (mania) bercirikan bipoler, 

artinya terdiri dari dua tahap , masa depresif 

dan masa manis. Pada masa depresif, pasien 

mengalami segala sesuatu sebagai hitam atau 

kelabu dan perasaan nya seperti mati. tahap  

ini diselingi dengan suatu periode manis, yang 

bercirikan suasana jiwa berbunga-bunga, 

hipereksitasi dan aktivitas berlebihan.

Pengobatan dapat dilakukan dengan anti-

psikotika klor pro ma zin, haloperidol dan pimo-

zida selama 2-3 bulan. Sebagai prevensi di-

gunakan litiumkarbonat/sitrat, yang 60% efek-

tif untuk mencegah seran gan baru. Kebe-

ratan obat ini yaitu  efek samping dan 

toksisi tasnya bagi ginjal dan ti roid pada 

overdosis, sedang  luas terapinya sempit. 

Karbamazepin dipakai  sebagai pilihan ke-

dua untuk penanganan dan profilaksis, bila 

litium kurang efektif, atau bersamaan sebagai 

kombinasi.

b. Depresi vital yaitu  suatu bentuk depresi 

berat, yang memili ki ciri-ciri berikut (DSM 

IV):

– gangguan tidur khas. Pasien tidur dengan 

mudah namun  tengah malam atau sangat 

pagi sudah terbangun dengan merasakan 

dirinya sangat letih, sendu, apatis, takut 

atau gelisah dan tidak bisa tidur lagi.

– bervariasinya suasana sepanjang hari. Pasien 

seakan-akan memiliki dua kehidupan, 

aktivitas dan perasaannya sangat berlai-

nan pada pagi hari dan waktu tengah-

hari atau malam.

– hilangnya perhatian dan kegembiraan dalam 

praktis semua aktivi tas, tidak adanya 

reaksi terhadap rangsangan, perasaan 

nyaman, agitasi atau terhambatnya moto-

rik, anoreksia atau turunnya berat badan.

Antidepresiva ternyata paling ampuh pada 

depresi dengan ciri-ciri vital itu .

c. Depresi musim dingin (Seasonal Affective 

Disorder, SAD) yaitu  suatu bentuk depresi 

yang spesifik terjadi pada musim dingin di 

negara-negara Utara akibat kekurangan sinar 

mataha ri.

Di Eropa dan AS selama musim dingin ±3% 

dari penduduk mengalami depre si; pada 

wanita (usia 15-50 tahun) 4 x lebih sering dari 

pa da pria. Letak geografis berperan pada 

insidensinya: semakin utara semakin banyak 

penderita, misalnya di Alaska dekat kutub 

utara sampai 10% dari penduduk! Keadaan 

murung ini berkaitan dengan menying kat-

nya hari dan berku ran gnya cahaya matahari 

yang menyusut sampai ±8 jam sehari di-

bandingkan ±16 jam di musim panas. Seba- 

gai akibat produksi melatonin mening kat, 

suhu tubuh menurun serta metabolisme 

dan semua proses faal berkurang (lihat Bab 

42, Hormon-hormon Hipofisis) Pada hewan 

tertentu (beru ang, bajing, rubah dan lain-lain) 

hari-hari yang menying kat ini mendorongnya 

untuk tidur musim dingin. Manusia tidak 

mengenal winter sleep sejati demikian. namun  

pada orang yang peka, pukulan jantung juga 

menurun dan kebutuhan tidur meningkat, 

suasana jiwa menjadi murung (winterblu es), 

enersi berkurang, sangat mudah tersinggung, 

merasa letih dan - berbeda dengan depresi 

‘normal’- nafsu makan justru sangat me-

ningkat. Selain pola makan juga timbul pe-

rubahan pada pola tidur. Semua gejala ini 

diakibatkan oleh “lonceng biologis” yang 

terganggu.

Terapi. Depresi musim dingin sering kali 

dapat diatasi secara efektif dengan terapi 

cahaya, yang mampu memperbaiki lonceng 

biologis yang terganggu. Caranya yaitu  

memperpanjang hari secara artifisial. Untuk 

ini penderita harus du duk 2 kali sehari selama 

1 jam di bawah 4-5 lampu TL dari 40 W [mini-

mal 2.500 Lux; 1 Lux = kekuatan cahaya dari 1 

lilin (candle) pada jarak 1 m]. Metoda terbaru 

memakai  intensitas cahaya dari 10.000 

Lux, 30 menit sehari selama 5 hari. Mata 

pasien tidak boleh ditutup, sebab  perlu ter-

kena cahaya yang —berbeda dengan sinar-

UV— tidak berbahaya bagi mata. Dengan 

demikian produksi melatonin - yang juga 

dinamakan ‘hormon tidur alamiah’- oleh 

epifisis diham bat dan sintesis serotonin yang 

memperbaiki suasana, distimulasi. Efeknya 

yaitu  suasana sendu lewat lebih cepat. 

Terapi cahaya ini pada sebagian pasien 

SAD kurang ampuh dan perlu diberi anti-

depresiva, misalnya fluoksetin(Prozac) yang 

dilaporkan efektif. Terapi ini tidak boleh 

dikombinasi dengan pemakaian  antide-

presiva trisiklis, antipsikotika dan antibiotik 

tertentu, sebab  senyawa-senyawa ini mem-

buat retina lebih peka bagi cahaya.

Terapi cahaya juga dapat dipakai  pada 

depresi biasa dengan dosis 1,5 jam/hari 6.000 

Lux (pagi hari) selama minimal 3 minggu 

(Arch General Psychiatry 1998; 55:861-96). 

Risiko akan residif sesudah  terapi dihentikan 

cukup besar (50%). 

Ada laporan bahwa terapi cahaya juga 

dapat dipakai  untuk lebih cepat mengatasi 

jetlag sebagai akibat dari penerbangan me-

lintasi banyak zone waktu. 

*Depresi selama kehamilan sering kali ter-

jadi dan bila tidak ditangani dapat mem-

bawa risiko seperti residif depresi pada si 

ibu, kelahiran prematur dan berat badan bayi 

yang rendah.

1. Weinstock M. The potential influence of 

maternal stress hormones on develop-

ment and mental health of the offspring. 

Brain Behav Immun.2005 jul;19(4):296-

308.

2.  Boyd RC, Zayas LH, McKee MD. Mother-

infant interaction, life events and prenatal 

and postpartum depressive symptoms 

among urban minority women in prim-

ary care. Matern Child Health J. 2006 

mrt;10(2):139-48.

*Depresi postnatal dialami oleh ±10% dari 

wanita nifas selama 6 pekan sesudah per-

salinan, sehingga sebetulnya lebih tepat 

disebut depresi post-partum (Lat. natalis = 

kelahiran, partus = persalinan). Depresi ini 

disebabkan oleh menurunnya kadar proge steron 

akibat berkurangnya absorpsi hormon ini 

oleh resep tornya. Begitu pula pada depresi 

postme no pausal pada wanita sesudah 

berhentinya haid. Keadaan ini dapat diobati 

dengan dosis tinggi progesteron, namun  sering 

kali dalam beberapa bulan akan hilang 

sendiri tanpa pengobatan. Secara alternatif 

juga sering kali dapat disembuhkan dengan 

piridoksin 100-150 mg sehari selama beberapa 

minggu-bulan.

*Depresi eksogen (reaktif) dapat dianggap 

sebagai efek samping obat, misalnya antihi-

pertensiva, adakalanya kortikosteroida, pil 

antihamil dan benzodiazepin long-acting. 

pemicu  lain yaitu  penyakit parah seperti 

penyakit auto-imun atau defisiensi piridok-

sin. Depresi demikian biasanya dapat diatasi 

dengan menghen tikan pemberian obat yang 

menjadi pemicu  atau pemicu nya pe-

nyakit ditangani. Faktor eksogen juga dapat 

berupa pemicu luar, suatu kejadian pribadi 

misalnya pemecatan dari peker jaan atau 

isolasi sosial.

* Depresi endogen(biologis) sering kali ter-

jadi secara mendadak tanpa adanya sesuatu 

pemicu  yang nyata. Pembagian dalam ke-

dua jenis depresi itu  sekarang ini tidak 

banyak dipakai  lagi sebab  dianggap 

kurang tepat.

Gangguan suasana lainnya

*Gangguan panik bercirikan serangan men-

dadak dari perasaan takut hebat, misalnya 

takut menjadi gila atau takut mati. Peristi-

wa ini disertai berbagai gejala, seperti ber-

keringat, sesak napas, pusing, mual, debar 

jantung dan gemetar. Adakalanya ada  

pula agorafobia dan kecenderungan menjauhkan 

diri, yakni perasaan gamang untuk melalui 

tanah lapang atau jalanan terbuka (Yun. agora 

= tanah lapang). Gejala ini dapat ditangani 

efektif (sesudah  3-5 minggu) dengan imipramin, 

klomiprami atau fluvoksamin, yang mungkin 

berkaitan dengan penghambatan re-uptake 

serotonin. namun  bila terapi dihentikan, 

gangguan sering kali kambuh lagi. Benzo-

diazepin alprazolam (Xanax), yang diklaim 

berdaya antidepresif, ternya ta juga efektif 

untuk gangguan panik.

*Neurose paksaan (Obsessive Compulsive Di-

sorder, OCD). Menurut klasifikasi DSM IV, 

OCD bercirikan perbuatan (compulsio) atau 

pikiran paksaan (obsessio). Hal ini menim-

bulkan kesengsaraan pada pasien dan dialami 

dirinya sebagai tidak berguna, sehingga 

pasien berusaha menekannya. Sebagian pa-

sien juga menderita depresi. Penangangan 

dilakukan dengan terapi perilaku bersama 

pengoba tan dengan klomipramin, fluvoksamin 

atau fluoxetin. Efeknya baru nyata sesudah 

4-12 minggu. 

Penanganan 

Gangguan depresi yang tidak ditangani da-

pat sembuh dengan sendirinya pada ±80% 

dari kasus sesudah  rata-rata 6-12 bulan, namun  

dengan risiko kambuh kembali dengan cepat 

dan penyakit menjadi kronis. Masalahnya 

di sini pun sama seperti pada schizofrenia, 

yaitu sering kali tidak adanya keinsafan 

sakit pada pasien. Penderita depresi tidak 

menyadari akan gangguan ini dan meng- 

anggap perubahan-perubahan dalam pera-

saannya sebagai akibat dari kelainan-kelainan 

somatik. Untuk keluhan-keluhan depresi 

yang tersamar ini dicari pertolongan medis, 

tanpa menghiraukan sebab-sebab kejiwaan 

yang menyertai keluhan somatik ini. Oleh 

sebab  itu pengobatan hanya ditujukan ke-

pada pemicu -pemicu  somatik saja.

Melalui psikoterapi dan antidepresiva pro-

gres penyakit bisa membaik dan separuh dari 

penderita sembuh dalam 3-4 bulan. yaitu  

penting untuk jangan membebankan diri 

terlalu berat, mempertahankan pola aktivitas 

setiap hari dengan gerak badan secukupnya 

di samping menjalani kontak sosial, bahkan 

kalau bisa tetap melakukan pekerjaan rutin. 

Pilihan obat. biasanya  ATC (Anti-

depresiva TriCyclis) sebaiknya dipakai  

bila ada  gejala ekstrapiramidal atau 

jika serentak minum obat antipsikotika atau 

NSAIDs. Obat-obat generasi ke-2 (SSRIs) se-

baiknya diberikan bila ada keluhan jantung 

(sesudah  infark, jantung lemah, aritmia), sukar 

buang air kecil dan glaucoma.

Depresi hebat terutama yang bersi fat ke-

turunan dan yang menun jukkan gejala vital 

selalu harus ditangani dengan dukungan 

sosial dan psikote rapi, di samping pem-

berian antide presiva. Tujuan psikotera pi ada-

lah merubah pikiran dan sikap negatif pasi-

en dengan pandangan yang lebih realis- 

tik mengenai dirinya sendiri dan dunia 

luar. Terutama terapi perlakuan cognitif 

ternyata efektif, yaitu suatu bentuk pena-

nganan psikologis, pada mana pasien dipe-

lajari menemukan pola-pola negatif dari 

permasalahan kognitif dan merubahnya. 

Juga menganalisis pikiran-pikiran negatif 

yang dari sudut psikologis merupakan inti 

dari depresi, seperti misalnya keluhan ‘saya 

memang orang yang selalu gagal’ atau ‘segala 

sesuatu yang saya berbuat senantiasa salah’ 

dan ‘semua orang benci pada saya‘. Kini su-

dah dapat dipastikan bahwa penanganan 

dengan hanya antidepresiva yaitu  kurang 

efektif dibandingkan penanganan yang sama 

namun  dalam kombinasi dengan psikoterapi. 9

Bila depresi disertai perasaan takut atau 

kegeli sa han, pada pengobatannya sering 

kali ditam bahkan suatu benzodiaze pin untuk ± 

4 minggu. sesudah  waktu itu, efek anksiolitik 

dari obat antidepresi sudah menyadi nyata 

dan tranquillizer tidak diper lukan lagi. Bila 

ATC dan SSRIs kurang memberikan hasil, 

dapat ditambahkan litium atau diganti 

seluruhnya dengan moclo bemida.

Dosis dari ATC perlu dinaikkan secara 

berangsur-angsur, dimulai dengan dosis ren-

dah yang setiap 2-3 hari dinaikkan sampai 

tercapai dosis pemeliharaan efektif. Sering 

kali dipakai  dosis amitriptilin, nortriptilin 

atau imipramin di atas 150 mg sehari, namun  

dalam praktik ternyata dosis rendah dari 

100 mg/hari atau kurang sering kali sudah 

efektif.15

SSRIs seperti fluoxetin, paroxetin, sertralin 

dan moclobemida dapat langsung dimulai de-

ngan dosis standar. Kebanyakan antidepre- 

siva dapat diberikan sebagai dosis tunggal 

pada malam hari berdasar  masa paruh-

nya yang panjang. Pengecualian yaitu  

paroxetin dan desip ra min dengan sifat 

stimulasi, yang harus diberikan pada pagi 

hari. Pada pemakaian  obat terakhir perlu 

sekali ke-waspadaan terhadap percobaan 

bunuh diri selama 2-3 minggu pertama. 

Depresi me-rupakan pemicu  suicidium 

yang paling umum!.

* Efek antidepresif dan efek sedatif dari 

antidepresiva biasanya  baru nampak 

2-4 minggu sesudah  permulaan terapi, yang 

pada lansia adakalanya baru sesudah  6 ming- 

gu. Bila sesudah  8 minggu belum ada per-

baikan, terapi perlu diganti dengan obat lain 

dengan menurunkan dosis secara perlahan 

dan dimulai dengan obat baru secara ber-

angsur-angsur.

* Lamanya terapi. sesudah  depresi hilang, 

pengobatan perlu dilan jutkan dengan dosis 

pemeliharaan selama 4-9 bulan untuk menghin-

dari atau meringankan residif. Pada depresi 

hebat yang sering kali kambuh, masa terapi 

perlu diper panjang. 

Terapi elektroshock (Electroconvulsive thera-

py, ECT, atau kejang listrik) dilakukan sebagai 

tindakan terakhir pada depresi sangat hebat 

yang resisten terhadap berbagai antidepre- 

siva atau adanya kemungkinan bunuh diri. 

Meskipun tindakah ini mungkin memberikan 

kesan kekerasan dan reputasinya buruk ber-

hubung pengala man di masa lampau, dewasa 

ini dengan tindakan pencegah khusus untuk 

keamanan pasien, ECT dianggap sangat efek-

tif dan mulai agak banyak dipakai  lagi. 

Penanganan ini terdiri dari memicu  

suatu serangan epilepsi melalui pemberian 

aliran listrik singkat pada penderita yang 

dibius total.

Efek samping terutama terdiri dari kehi-

langan daya ingat, sakit kepala, sakit otot, 

mual dan perasaan kacau yang berlangsung 

singkat.

biasanya  penanganan dengan ECT 

yaitu  efektif dan dapat diterima oleh pende-

rita. Insiden fatal maupun kerusakan otak 

permanen belum pernah terjadi.


ANTIDEPRESIVA

Sekitar tahun 1957, obat-obat antide presi per- 

tama mulai diintro duk si, yaitu obat tuber-

kulosa iproniazida, juga imipra min. Kemudian 

disusul dengan sejumlah besar antidepresiva 

lain (dengan lebih sedikit efek samping) 

yang secara efektif berdaya mengatasi kea- 

daan sendu. Pada periode ini juga dikem-

bang kan tran quilli zer modern, yang perta-

ma meprobamat kemudian disusul oleh se-

rangkaian senyawa benzodiazepin (diazepam, 

klordiazepok sida, dan lain-lain).

Lazimnya obat-obat antidepresi dibagi dalam 

4 kelompok besar, yaitu:

1. antidepresiva klasik: Obat-obat ini meng-

hambat resorpsi kembali dari serotonin dan 

nor adrenalin dari sela sinaps di ujung-ujung 

saraf. Pengecualian yaitu  desipramin yang 

menghambat re-uptake NA secara lebih se-

lektif. Oleh sebab  itu obat ini berefek meng-

aktifkan dengan akibat timbulnya risiko 

bunuh diri pada minggu-minggu pertama 

terapi. 

a.  senyawa trisiklik: amitriptilin, doksepin, do-

sule pin, imipra min, desipramin dan klomi-

pramin. Obat-obat ini memiliki struktur 

dasar cincin-tiga, mirip dengan struktur 

antipsikotika kelom pok fenotiazin dan 

thioksan ten. Obat-obat antidepresiva tri-

siklik klasik (TCA) ini juga disebut Non-

selective Mono-amin reuptake Inhibitors 

dan ada  paling lama di pasaran.

b.  senyawa tetrasiklik: maproti lin, mianserin 

(dan mirtazapin) dengan struktur tetra-

siklis, namun  dengan sifat yang hampir 

sama. Maprotilin dan desipramin meng-

hambat secara selektif re-uptake dari NA 

(Selective NA Re-uptake Inhibitor), begitu 

pula mianserin (lemah). Mirtazapin ter-

masuk generasi ke 2.

2. obat generasi ke 2 dengan struktur kimiawi 

berlainan yang memicu  lebih sedikit 

efek samping, khususnya berkurangnya efek 

jantung dan antikolinergik. Oleh sebab  itu 

lebih aman pada overdosis dan bagi pasien 

lansia. namun  ternyata bahwa obat-obat mo- 

dern ini tidak terbuk ti lebih unggul daripada 

obat klasik, khusus terhadap gejala-gejala 

dari depresi.

a. SSRI’s (= Selective Serotonin Re-uptake 

Inhibitors): fluvoxamin (Luvox, Fevarin), 

fluoxetin, paroxetin , sertra lin, citalopram 

dan venlafaxin. 

Trazodon (Trazolan) juga menghambat re-

uptake serotonin, namun  di samping itu 

juga bekerja anti-seroto nin.

b.  NaSA (Noradrena lin and Serotonin Anti-

de pres sants): mirtaza pin dan venlafaxin 

(Efexor).

Obat-obat ini tidak berkhasi at selek tif, 

menghambat re-uptake dari baik seroto-

nin maupun nor adrena lin. ada  be-

berapa indikasi bahwa obat-obat ini lebih 

efektif daripada obat SSRI.

3. MAO-blocker: fenelzin dan tranylcypromin 

(Parnate). Obat ini menghambat enzim mono-

amin-oksidase (MAO), yang menguraikan 

zat-zat monoamin sesudah  selesai aktivitas-

nya. Enzim ini ada  dalam dua bentuk: 

MAO-A dan MAO-B. Kedua obat di atas 

menghambat kedua bentuk secara irrever-

sibel dan hanya dipakai  bila obat-obat lain 

tidak ampuh (lagi). Obat baru moclobemida 

menghambat terutama MAO-A secara rever-

sibel, namun  pada overdosis selekti vitasnya 

hilang. Obat tanaman tingtur Hyperici bekerja 

melalui perintangan MAO. Obat Parkinson 

selegi lin memblokir secara selektif MAO-B 

dan hanya bekerja antide presif pada dosis 

tinggi dengan risiko efek samping. Oleh kare-

na itu tidak dipakai  lagi sebagai antide-

presivum.

4. lainnya: tryptofan, okstriptan, piridoksin, 

tingtur Hyperici, litium, agomelatine, bupropion, 

trazodon dan vortioxetine.

Mekanisme kerja

Antidepresiva bekerja melalui penghambatan 

re-uptake serotonin dan noradrenalin di ujung-

ujung saraf otak dan dengan demikian mem- 

per panjang masa waktu tersedia nya neu-

rotransmitter itu . Di samping itu anti-

depresiva dapat memengaruhi reseptor post- 

sinaptis. namun  mekanisme kerja nya yang 

tepat belum diketa hui. Misalnya, mengapa 

pengham batan re-uptake dari 5-HT dan NA 

ber langsung dengan cepat, sedang  efek 

antidepresifnya baru nyata sesudah  2-6 minggu. 

Menurut perki raan masa laten ini berkai tan 

dengan berku rangnya jumlah dan kepekaan 

dari reseptor postsi naptis terten tu, yang baru 

terjadi sesudah beberapa minggu. Demikian 

di samping peningkatan kadar serotonin, 

diperkirakan masih ada  mekanisme lain 

untuk efek antidepresifnya.

Efek samping 

Antidepresiva dapat memicu  banyak 

efek samping yang tidak diinginkan dan 

mirip dengan efek samping antipsikotika. 

Kebanyakan efek ini bersifat sementara dan 

hilang dengan sendirinya sesudah beberapa 

waktu. 

1. Obat klasik (ATC) dapat memperlihatkan 

efek samping berikut:

a. efek jantung, yang mirip efek kinidin dan 

dapat memicu  gangguan penerus-

an impuls jantung dengan perubahan 

ECG. Pada overdosis dapat terjadi aritmia 

berbahaya.

b. efek antikolinergik akibat blokade re-

septor muskarin dengan memicu  

a.l. mulut kering, obstipasi, retensi urin, 

tachycardia serta ganggu an potensi dan 

akomodasi. Hiper hidrosis (kerin gat berle-

bihan) dapat terjadi sebagai efek paradoksal. 

Efek ini terutama kuat pada amitriptilin, 

klomipramin serta doksepin dan ringan 

pada desipramin. Perlu diketahui bah-

wa mulut kering dan obstipasi pada 

hakikatnya merupakan gejala depresi. 

Obat generasi ke-2 jarang memicu  

efek antikolinergik dan efek terhadap 

jantung.

c. sedasi berdasar  penghambatan re-

septor antihistamin postsinaptik, yang 

terutama kuat pada amitriptilin, doksepin 

dan dosulepin (dan mianserin), namun  

kurang kuat pada imipramin, klomipra-

min serta maproti lin dan ringan sekali 

pada desipra min. Bila diperlukan sedasi 

di samping efek antidepresi, sebaiknya 

ditambahkan suatu benzodiazepin sela-

ma 2-3 minggu pertama sampai efek 

antidepre sifnya menjadi nyata. 

d. hipotensi ortostatik dan pusing serta 

mudah terjatuh merupakan akibat dari 

efek anti-noradrena lin (blokade reseptor 

a1-adrenergik). Hal ini sering kali terjadi, 

terutama pada lansia. Blokade-a1 juga 

dapat memicu  berkurangnya fungsi 

seksual (libido, ganggu an potensi, dan 

lain-lain).

e. efek antiserotonin akibat blokade resep-

tor-5HT postsinaptik dengan bertambah-

nya nafsu makan dan berat badan dan 

umumnya pasien menjadi gemuk.

f. kelainan darah seperti agranulositosis 

dan leukopenia, yang mungkin berda-

sarkan reaksi hipersensitivitas namun  ja-

rang terjadi. Reaksi alergi juga menjadi 

pemicu  dari gangguan kulit.

g. gejala penarikan dapat terjadi, meski-

pun antidepresiva tidak bersifat adiktif. 

Pada penghentian terapi dengan men-

dadak dapat timbul a.l. gangguan lam-

bung-usus, agitasi, sukar tidur serta nyeri 

kepala dan otot.

2. Obat generasi ke-2 (SSRIs) memiliki profil 

berlainan dengan obat klasik (ATC), khusus 

efek jantungnya sangat berkurang dan efek 

serotoninergnya lebih nyata. 

a. efek serotoninerg berupa mual, muntah, 

malaise umum, nyeri kepala, gangguan 

tidur (juga gejala depresi!) dan nervosi tas, 

agitasi atau kegelisahan (sementara), juga 

disfungsi seksual dengan ejaculatio dan 

orgasme terlambat.

b. sindroma serotonin timbul akibat sti-

mulasi berlebihan dari reseptor-resep- 

tor-5HT1a dalam inti-inti otak tertentu, 

sering kali akibat kombinasi dari suatu 

perintang MAO dan suatu zat seroto- 

ninerg SSRI (antidepresivum duloksetin-

Cymbalta/Xeristar). Gejala psikis, oto-

nom dan neurologik berupa a.l. tachy- 

cardi, kegelisahan, demam dan meng-

gigil, konvulsi, gejala kekakuan parah, 

tremor, diare dan ganggu an koordina-

si, yang tidak jarang berakhir fatal. Ke- 

banyakan timbul pada pemakaian  kombi-

nasi dari obat generasi ke-2 bersama obat 

serotoninerg lainnya, yaitu obat klasik 

(ATC), perintang-MAO, litium, triptofan, 

amfetamin dan sumatriptan, dan biasa- 

nya dalam waktu beberapa jam sampai 

2-3 minggu. Gejala ini dapat diatasi 

dengan antagonis serotonin (metisergida, 

propra nolol). 

c. efek antik oliner gik dan antiadrenergik 

lemah atau sama sekali tidak ada, misal-

nya efek jantung.

Gejala penarikan (withdrawal symptoms)

Walaupun bukan obat-obat adiktif seper-

ti narkotika dan obat-obat tidur, gejala 

penarikan atau gejala abstinensi juga dapat 

timbul pada antidepressiva, baik antidepre-

siva klasik (antidepresiva trisiklik dan peng-

hambat MAO), maupun senyawa-senyawa 

modern seperti SSRI’s, venlafaksin dan mir-

tazapin. 

Gejala penarikan didefinisikan sebagai ge- 

jala fisik dan psikis yang timbul akibat 

penghentian atau penurunan dosis yang ter- 

lampau cepat dari suatu obat sesudah  peng- 

gunaan yang cukup lama. Gejala penarikan 

dari antidepresiva dapat dibagi dalam be-

berapa kelompok, yaitu gejala griep, gejala 

psikis, gejala gastro-intestinal, gejala tidur 

dan keseimbangan, gejala sensoris serta eks- 

trapiramidal (GEP) dan lain-lain gejala. Me-

rupakan sesuatu yang khas yaitu  bahwa 

gejala-gejala itu  timbulnya 1-4 hari 

sesudah  dosis dikurangi atau dihentikan. 

Timbulnya gejala itu  dapat dihindari 

dengan menurunkan dosisnya secara lambat 

laun dan tidak sekaligus.

Sering kali telah terbukti bahwa anti-

depresiva yang memiliki t1/2 singkat seperti 

paroksetin dan fluvoksamin, lebih kerap 

menunjukkan gejala penarikan daripada se-

nyawa-senyawa dengan t1/2 panjang seperti 

fluoksetin. 

......................................... Vlaminck J.J.D. et al. Onttrekkings-

verschijnselen van antidepressiva. Ned 

Tijdschr Geneeskd 2005;149: 698-701. 

Gejala penarikan yang diuraikan di atas 

juga berlaku bagi psikofarmaka. Lih. Bab 29 

Antipsikotika. 

Efek-efek samping lainnya akan dibicara-

kan tersendi ri pada monogra fi obat-obat ber-

sangku tan.

Kehamilan dan laktasi

Meskipun belum ditentukan adanya hu-

bungan antara antidepresiva dan kerusakan 

janin, namun dari beberapa obat diketahui 

efek teratogennya pada binatang percobaan. 

Beberapa obat mencapai air susu ibu.

Interaksi

– Fluoxetin dan SSRIs lain dapat mening-

katkan kadar darah dari antidepresiva 

tri siklis, mungkin sebab  penghambatan 

metabolis menya di dalam hati. 

– Zat-zat serotoninerg dalam kombinasi 

dengan ATC (terutama imipramin dan 

klomipramin) atau SSRIs dapat menim-

bulkan sindroma serotonin, lihat di atas. 

Untuk menghindarinya obat-obat ini baru 

dapat diberikan sesudah  antidepresiva 

dihentikan minimal 2 minggu.

– Adrenergika diperkuat daya kerjanya oleh 

ATCs, terutama efeknya terhadap jantung 

dengan hipertensi dan aritmia.

pemakaian 

Antidepresiva selain pada depresi tertentu, 

juga dipakai  untuk sejumlah indikasi lain, 

yaitu: 

a.  depre si, khususnya yang bercirikan vital. 

Pada depresi parah adakalanya dikom-

binasi dengan litium atau dengan mo-

clobemida. Pada depresi dengan psiko sis, 

bersama dengan antipsikotika. 

Pada periode depresi gangguan bipoler 

(mania), adakalanya bersama litium seba-

gai obat pencegah. 

b.  gangguan panik (dengan agorafobia) dan 

gangguan obsesif-compulsif: imipramin, 

klomipramin, juga SSRIs (fluvoxamin, 

citalopram). 

c.  ngompol malam (enuresis nocturna) dari 

anak-anak di atas 5 tahun (imipramin, 

amitriptilin), mungkin berdasar  kha-

siat antik olinergiknya. 

d.  sebagai analgetikum, pada terapi nyeri 

kronis hebat (kanker) dan nyeri saraf (se-

su dah herpes zoster/shingles). Khusus di-

gunakan imipramin dan ami trip tilin ber-

samaan dengan analgetika lain namun  

desipramin dan klomipramin juga dapat 

dipakai .

e. bulimia nervosa, juga dinamakan hyper-

orexia (Yun. orexi = nafsu makan), pada 

mana nafsu makan meningkat secara 

patolo gis. Bulimia, bersama anorexia ner-

vosa, merupakan gangguan makan yang 

bercirikan “serangan” makan tanpa batas 

yang diselingi muntah-muntah buatan 

(dan pemakaian  laksansia) agar tidak 

menjadi gemuk. Fluoxetin, imipramin dan 

desip ramin mampu dalam waktu singkat 

mengurangi frekuensi makan. 

f. terapi interval migrain, mungkin ber-

dasarkan blokade reseptor 5HT2 di pem-

buluh dan neuron otak, khususnya ami-

triptilin.

Catatan: Dipertimbangkan untuk antidepre-

siva hanya diberikan kepada penderita de-

presi berat (melankolik atau psikotik) dan 

kepada penderita depresi ringan yang lebih 

lama dari 3 bulan.

......................................... Doornbos B. et al Ned. Tijdschr 

Geneeskd. 2008:152:1406-8.

MONOGRAFI

A. OBAT-OBAT KLASIK (ATC) 

1. Imipramin: Tofranil

Antidepresivum trisiklis pertama ini (1958) 

menghambat re-uptake dari NA dan 5HT, lagi 

pula berkhasiat antiadrenergik, antikoli-

ner gik dan antihistamin agak kuat. Zat ini 

memiliki efek sedatif cukup baik, namun  pada 

umumnya jangan diberikan pada pasien yang 

mudah terangsang dan agresif. Imipramin 

dipakai  pada depresi dengan ciri-ciri vital, 

pada gangguan panik dan ngompol malam 

pada anak-anak di atas 5 tahun.

Resorpsi dari usus cepat dan lengkap, PP 

±86%, plasma-t½ bervariasi antara 6-34 jam. 

Di dalam hati zat ini didemetilasi menjadi 

metabolit aktif desipramin dengan t½ 12-76 

jam. Ekskre si terutama melalui urin.

Dosis: pada depresi oral 3 dd 25 mg garam 

HCl, bila perlu berangsur-angsur dinaikkan 

sampai maks. 300 mg sehari. Pada gangguan 

panik: 10-25 mg sehari; pada enuresis anak-

anak 5-8 tahun: 20-30 mg a.n.; pada nyeri 

kronis: 25-150 mg sehari. 

* Desipramin (Pertofran) yaitu  metabolit 

aktif dari imipramin dengan khasiat meng-

hambat re-uptake dari terutama noradrenalin.

Obat ini bersifat mengaktif kan, maka waspada 

akan kemungkinan bunuh diri. Mulai ker-

janya agak cepat, masa paruh ±18 jam.

Dosis: oral 3-4 dd 25-50 mg.

* Klomipramin (klorimipramin, Anafranil) ada-

lah derivat klor dengan efek antidepresif 

lebih kuat. Klomipramin menghambat re-uptake 

serotonin lebih kuat daripada NA. Zat ini 

selain pada depresi juga dipakai  pada 

ganggu an panik dan obsesif-konvulsif. 

Dosis: pada depresi dan OCD: 2-3 dd 25 

mg garam HCl, maks. 250 mg sehari. Pada 

gangguan panik: 1 dd 25 mg, dinaikkan sam-

pai maks. 200 mg selama 6 bulan. Pada lansia 

permulaan 10 mg sehari, maks. 50 mg sehari.

14108649_OBAT P(Bab 30)_T-464-482.indd   473 21/04/2015   17:26:17

Seksi IV: Obat Susunan Saraf Pusat474

* Opipramol (Insidon) yaitu  derivat pipe-

razinyl yang sebetul nya bukan obat anti-

depresi. Obat ini berkhasiat antiserotonin dan 

antidopamin (lemah) serta tidak menghambat 

re-uptake serotonin atau NA. Opipramol 

dipakai  sebagai obat tambahan (minor 

tranquil lizer) pada ketegangan dan keadaan 

takut. Dosis: oral 1-3 dd 50 mg selama minimal 

2 minggu, lansia dosis separuhnya.

2. Amitriptilin:Tryptizol, Laroxyl, *Limbitrol,* 

Mutabon-D

Senyawa trisiklik ini (1961) rumusnya mi-

rip dengan imipramin, hanya dalam cincin-

tiga ikatan >NC diganti dengan >C=C. Meng-

hambat re-uptake noradrenalin dan seroto nin di 

otak. Berkhasiat antihistamin dan antikoli-

nergik, juga sedatif kuat, maka cocok untuk 

diberikan pada pasien agresif. Selain pada 

depresi, amitriptilin juga dipakai  pada 

terapi interval migrain, pada ngompol ma-

lam anak-anak di atas 5 tahun dan sebagai 

analgetikum pada nyeri kronis.

Resorpsi dari usus cepat, BA ±40%. PP di 

atas 90%, plasma- t½ rata-rata 15 jam. Dalam 

hati sebagian besar didemetilasi menjadi 

metabolit aktif nortripti lin dengan khasiat 

sedatif lebih ringan, t½ rata-rata 36 jam. 

Ekskresi terutama lewat urin. 

Dosis: pada depresi 3 dd 25 mg garam HCl 

atau 50-100 mg a.n., bila perlu berangsur-

angsur dinaikkan sampai 150-300 mg. I.m./

i.v 4 dd 20-30 mg. Lansia: 1 dd 25 mg, maks. 

150 mg sehari. Ngompol malam: anak-anak 

5-10 tahun 10-25 mg a.n. Nyeri kronis: 25-75 

mg a.n., prevensi migrain: 25-150 mg a.n.

*Mutabon-D = amitriptilin 25 + perfenazin 

2 mg 

* Doksepin (Sinequan) yaitu  derivat de-

ngan atom-O dalam cincin trisikliknya (1964). 

Berkhasiat sedatif kuat dengan plasma-t½ ±17 

jam. Dosis: oral 75-150 mg a.n. (garam-HCl) 

atau 3 dd 25-50 mg.

* Dosulepin (Prothiaden) yaitu  derivat de-

ngan atom-S dalam cincin trisikliknya (1969). 

Berkhasiat menghambat re-uptake NA dan 

mungkin juga serotonin. Khasiat antihistamin 

dan antikolinergiknya kuat. Dosis: 3 dd 25 mg 

garam HCl atau 75 mg a.c., bila perlu maks. 

225 mg sehari, lansia maks. 75 mg sehari.

3. Maprotilin: Ludiomil

Senyawa tetrasiklik ini (1972) memiliki se- 

jumlah sifat dasar dari obat-obat trisiklik. 

Berkhasiat menghambat kuat re-uptake noradre-

nalin dan hanya ringan re-uptake serotonin. 

Obat ini juga bekerja antihistamin kuat. 

Efek antik oli nergik dan antiadre nergiknya 

cukup baik. Pada dosis rendah juga bersifat 

sedatif dan anksiolitik. Kombinasi dengan 

klomipramin memberikan efek baik pada 

pasien yang hanya resisten untuk ATC. Khu-

sus dipakai  pada depresi dengan ciri-ciri 

vital. Resorpsi dari usus lambat namun  lengkap, 

PP 88%, t½ rata-rata 43 jam, sedang  eks-

kresinya berlangsung sebagai metabolit me-

lalui urin (70%) dan feses (30%).

Efek samping yang terutama pada hari-hari 

pertama sering terjadi yaitu  sedasi, rasa 

lelah, sakit kepala, pusing, berkeringa t dan 

mulut kering. Jarang efek samping umum 

lainnya.

Dosis: 1-3 dd 25 mg garam HCl atau 25-75 

mg sekaligus sebelum tidur. Lansia 25 mg a.n.

4. Mianserin: Tolvon

Senyawa tetrasiklik ini (1975) tidak memiliki 

rantai sisi alkalis dari ATC, yang dianggap 

sebagai pemicu  efek antikoliner giknya. 

Berkhasiat lemah menghambat re-uptake NA 

dan meningkatkan tersedia nya NA, sebab  

blokade reseptor-a2 adrener gik presinaptik. 

Di samping itu berkha siat antihistamin dan 

anti-noradrenalin (blokade-a1) kuat, maka 

berdaya sedatif dan anksiolitik. Resorpsi dari 

usus cepat, BA hanya 20% akibat FPE besar, 

PP ±95% dan t½ antara 20-60 jam. Di dalam 

hati zat ini dirombak menjadi metabolit aktif, 

yang terutama dikeluarkan melalui urin.

Efek sampingnya lebih ringan daripada zat-

zat trisiklik. Yang utama yaitu  sedasi, me-

ngantuk dan termangu-mangu, oleh kare- 

na itu sebaiknya diminum malam hari seba- 

gai dosis tunggal. Efek samping ini berlalu 

sesudah  beberapa minggu. Hipotensi ortos-

tatik (blokade-a1), peningkatan berat badan 

dan efek kolinergik jarang terjadi.

Efek samping serius yaitu  supresi sumsum 

tulang yang berbahaya dengan a.l. agranu-

lositosis dan anemia aplastis (reversibel) yang 

dapat timbul sesudah  4-6 minggu. 

Dosis: permulaan 1 dd 30-40 mg malam hari 

(garam HCl), bila perlu dinaikkan sampai 90 

mg sehari. 

* Mirtazapin (Remeron) yaitu  derivat mi-

anserin (1994) dengan atom-N ketiga di 

cincin-6, dengan efek antihistamin kuat.

Berkhasiat memperkuat pelepasan NA melalui 

blokade resep tor -ɤ2 presinaptis dan oleh 

sebab  ini pelepasan serotonin ditingkatkan. Di 

samping itu obat ini menghambat re-uptake 

seroto nin (bloka de resep tor 5HT2 dan 5HT3), 

sedang  reseptor 5HT1 distimul asi secara 

selektif. Tidak memblo kir re-uptake NA. 

Obat ini ter-nyata lebih efektif daripada SSRI 

lain (fluoxetin) untuk menga tasi depresi, 

terutama efeknya lebih cepat. Plasma-t½ rata-

rata 30 jam. 

Efek samping mirip mianserin dan juga 

berupa sedasi selama 2-3 minggu pertama, 

bertambahnya nafsu makan dan berat badan. 

Supresi sumsum tulang dapat terjadi sesudah  

4-6 minggu. Efek antikolinergik dan hipotensi 

ortostatik jarang sekali terjadi, juga retensi 

urin. Dosis: permulaan 15 mg malam hari, 

bila perlu dinaikkan sampai 45 mg sehari.

B. OBAT-OBAT GENERASI KE-2 

(SSRI’s) 

5. Fluoxetine: Prozac, Oxipres

Senyawa fenoksipropilamin dengan gugus-

CF3 (1986) menghambat secara spesifik re-

uptake serotonin. Tidak atau hanya ringan ber-

efek seda tif. Berkat iklan besar-besaran, obat 

ini menjadi sangat terkenal di seluruh dunia 

dan merupakan antidepressan yang paling 

banyak dijual di AS dan negara Barat lainnya. 

Obat ini juga disalahgu nakan untuk keadaan 

murung ringan yang sebetul nya tidak perlu 

diobati. Di samping untuk depresi parah 

dengan ciri-ciri vital, juga diindikasikan pada 

gangguan obsesi konvulsif dan pada bulimia 

(dengan dosis tinggi). Fluoxetin dan SSRI 

lain ternyata juga efektif terhadap nyeri haid 

(premenstrual sindrome, PMS); 

Resorpsi dari usus baik, makanan meng-

hambat resorpsi, namun  jumlah totalnya tidak 

dipengaruhi. PP ±94%. Di dalam hati zat ini 

diubah menjadi metabolit aktif norfluoxetin, 

yang terutama diekskresi lewat urin. Plas-

ma-t½ 2-3 hari (norfluoxe tin 7-9 hari).

Efek samping tersering berupa mual, nyeri 

kepala dan nervosi tas. Lebih jarang gangguan 

tidur dan gangguan saluran pencernaan, 

mulut kering, perasaan takut, tremor, hiper-

hidrosis dan turunnya berat badan. Juga 

jarang reaksi kulit (rash, gatal-gatal), rasa 

lelah, debar jantung, berkurangnya libido 

dan gejala flu. 

Dosis: pada depresi dan OCD oral 20 mg 

sehari (garam HCl), bila perlu dinaikkan 

setiap 2 minggu sampai maks. 60 mg sehari 

dalam 2 dosis. 

Pada bulimia 1 dd 60 mg. 

6. Sertralin: Zoloft, Antipres

Senyawa naftylamin ini (1990) menghambat 

re-uptake serotonin dalam neuron dan terutama 

dipakai  pada depresi dengan gejala vital. 

Plasma- t½ panjang, di atas 26 jam. Obat ini 

di samping escitalopram merupakan anti-

depressiva pilihan pertama. NTvG 2009 5 

September;153(36)

Efek samping utama berupa gangguan lam-

bung-usus dan gangguan ejaculatio, ada-

kalanya efek antikolinergik ringan.

Dosis: oral 1 dd 50 mg d.c. (garam HCl), bila 

perlu dinaikkan setiap 2 minggu dengan 50 

mg sampai maks. 200 mg sehari.

7. Paroxetin: Seroxat

Obat ini (1991) termasuk SSRI’s yang pa-

ling banyak dipakai  dan selain sebagai 

antidepresivum juga efektif untuk gangguan 

takut sosial dan fobie sosial. Resorpsi dari usus 

baik, namun  BA hanya 50% akibat FPE besar. 

PP 95%, masa paruh ±24 jam. Dalam hati 

dirombak menjadi metabolit inaktif, ekskresi 

berlangsung melalui urin dan feses.

Efek samping pada minggu-minggu perta-

ma terutama mual, mengantuk, tremor, ber- 

keringat, mulut kering dan sukar tidur. Ma-

suk ke ASI, oleh sebab  itu tidak dianjurkan 

selama menyusui bayi.

Dosis: depresi permulaan 1 dd 20 mg pagi 

hari, berangsur-angsur dinaikkan sampai 50 

mg sehari, lansia 40 mg.

Gangguan panik: 1dd 10 mg pagi hari, be-

rangsur-angsur dinaikken sampai 40-60 mg.

8. Citalopram: Cipram, Cipramil

Derivat benzofuran ini (1995) yaitu  

penghambat reuptake serotonin (SSRI) yang juga 

dipakai  pada gangguan panik. Resorpsi 

dari usus cepat dengan BA tinggi (80-100%), 

PP kurang dari 60%. Dalam hati dirombak 

menjadi metabolit kurang aktif, yang untuk 

15% diekskresi dengan urin secara utuh. 

Masa paruhnya panjang, 15 hari atau lebih 

(pada lansia).

Efek samping terutama gangguan lambung-

usus, berkeringat, mulut kering, sukar tidur, 

tremor dan nyeri kepala. Obat ini juga masuk 

ke ASI dalam jumlah kecil.

Dosis: gangguan panik/depresi permulaan 

1 dd 10/20 mg, berangsur-angsur dinaikkan 

sampai 40-60 mg sehari.

*Escitalopram (Lexapro) yaitu  l-isomer dari 

citalopram.

9. Fluvoksamine: Luvox, Fevarin

Mekanisme kerjanya berdasar  perin-

tangan spesifik dari serotonin reuptake (SSRI) 

di neuron dan baru nyata sesudah  2-4 minggu.

Resorpsi lengkap dan dimetabolisasi da-

lam hati menjadi metabolit non-aktif yang 

diekskresi melalui urin. T1/2 13-15 jam sesudah  

pemberian tunggal.

Tidak boleh diberikan pada wanita hamil 

dan yang menyusui. 

Efek samping sering kali (1-10%) anoreksia, 

perasaan cemas, gangguan tidur, gemetar, 

sakit kepala, gangguan pencernaan, mual 

dan muntah.

Pada awal pengobatan dapat mengurangi 

daya reaksi dan konsentrasi.

Dosis: permulaan malam hari 50-100 mg 

1x sehari yang bila perlu dapat ditingkatkan 

sampai 300 mg sehari.

10. Nortriptylin: Nortrilen

Trisiklik antidepressiva ini memiliki efek 

sentral, merintangi heropname norepinefrin 

dan agak lemah serotonin, juga bersifat anti-

histaminerg kuat dan lebih sedikit antiko-

linerg. Efek antidepresif biasanya baru timbul 

sesudah  2-4 minggu. 

Senyawa ini merupakan metabolit dari 

amitriptilin. Memiliki PP 93%, t1/2 26 jam dan 

dimetabolisasi menjadi metabolit aktif yang 

diekskresi terutama melalui urin.

Di samping khasiat antidepresifnya, juga 

dipakai  (seperti juga bupropion) untuk 

bantu menghentikan kebiasaan merokok. 

namun  sebaiknya dicoba terlebih dahulu efek 

pemakaian  zat-zat pengganti nikotin yang 

relatif lebih sedikit efek sampingnya. 

Kontra indikasinya yaitu  gangguan jan-

tung dan pemakaian  serentak dari peng-

hambat MAO, yang dapat memicu  

risiko sindrom serotonin. pemakaian  bagi 

ibu hamil harus berdasar  indikasi yang 

kuat.

Efek samping berupa efek antikolinergik 

(mulut kering, berkurangnya motilitas alat 

pencernaan, gangguan akomodasi dan re-

tensi urin). Juga sering kali (>10%) gemetar, 

sakit kepala, pusing dan mual. Juga dapat 

mengurangi daya konsentrasi dan reaksi. 

sebab  kepekaan yang meningkat terhadap 

efek antikolinergik dan kardiovaskuler, para 

lansia harus berhati-hati memakai  obat 

ini.

Dosis: permulaan 25 mg 2-3 x sehari atau 

50 mg sekali sehari pada waktu pagi yang 

lambat laun tiap hari dapat ditingkatkan de-

ngan 25 mg sampai 100-150 mg sehari. Dosis 

bagi lansia harus dikurangi.

11. Duloksetin: Cymbalta, Xeristar

Senyawa ini merintangi reuptake serotonin 

dan noradrenalin (NA). Efek antidepresinya 

sesudah  2-4 minggu. 

PP ±96% dan dimetabolisasi di hati menjadi 

metabolit non-aktif yang diekskresi terutama 

melalui urin. T1/2 8-17 jam.

Jangan diberikan kepada wanita hamil dan 

yang menyusui.

Efek samping sering kali (>10%) mual, 

mulut kering, tidak bisa tidur, pusing dan 

sakit kepala. sebab  efek samping belum 

jelas seluruhnya, sebaiknya obat ini jangan 

diberikan kepada lansia.

Dosis: awal dan sebagai pemeliharaan 1x 

sehari 60 mg dan maksimal 120 mg sehari 

yang dilanjutkan selama beberapa bulan bila 

efeknya optimal.

12. Venlafaxine: Efexor

Senyawa ini maupun metabolitnya me-

rintangi dengan kuat reuptake serotonin dan 

norepinefrin, juga dopamin walaupun lemah. 

Resorpsi baik dan dimetabolisasi di dalam 

hati via enzim CYP2D6 menjadi a.l. metabolit 

akftif o-demetilvenlafaksin.

Ekskresi terutama melalui ginjal 5% dalam 

bentuk utuh; t1/2 5 jam dan 11 jam dari o-me-

tabolitnya.

Di samping terhadap depresi juga diguna-

kan pada keadaan kekhawatiran dan panik.

Efek samping sering kali (>10%) mulut ke-

ring, mual, meningkatnya kadar kolesterol, 

pusing, tidak bisa tidur dan gangguan peng-

lihatan.

Juga dapat menurunkan daya konsentrasi 

dan reaksi, oleh sebab  itu harus hati-hati 

dalam mengerjakan sesuatu yang membu-

tuhkan kewaspadaan.

Dosis: 75-375 mg sehari selama beberapa 

bulan atau lebih lama.

MAO-BLOCKER

13. Moclobemide: Aurorix

Derivat benzamida ini (1991) berkhasiat 

menghambat MAO-B secara reversibel. Oleh 

sebab  itu efek sampingnya lebih ringan 

daripa da penghambat MAO klasik, yang 

merintangi kedua jenis MAO (A dan B) secara 

irreversibel. Bila terapi dengan obat-obat 

lainnya diganti dengan moclobemida perlu 

berhati-hati, sebab  dapat terjadi sindroma 

serotonin (mengantuk, kekacauan, gelisah, 

demam, konvulsi). Khusus dipakai  pada 

depresi dengan ciri-ciri vital.

Resorpsi dari usus lengkap, BA rata-rata 

70% sebab  menga lami FPE, 

PP 50%, plasma-t½ singkat (1-2 jam). Dalam 

hati dimetabolisasi hampir lengkap. Ekskresi 

terutama lewat urin.

Efek samping yang paling sering timbul 

berupa gangguan tidur dan mual, juga nyeri 

kepala, pusing, agitasi, gelisah dan perasa- 

an kacau, jarang mulut kering, visus guram, 

gemetar dan berkeringat. Selama penggu-

naan penghambat MAO, makanan yang 

mengandung triptamin (keju tua, avokad, 

pisang, buah ara, hati, bir dan anggur) dapat 

memicu  efek tiramin. pemicu nya 

yaitu  sebab  tiramin tidak diuraikan lagi 

oleh MAO, sehingga kadarnya naik dengan 

memicu  a.l. hipertensi. sebab  moclo-

bemida tidak merintangi semua bentuk 

MAO, maka tiramin masih dapat dirombak 

dan risiko akan efek ini sangat ringan. 

Dosis: oral permulaan 300 mg p.c. sehari 

dalam 2-3 doses, bila perlu sesudah  2-4 ming-

gu dinaikkan sampai maks. 600 mg sehari. 

Pemeliharaan rata-rata 150 mg sehari.

C. LAINNYA

14. Triptofan

Asam amino esensial ini (1963) merupakan 

bahan pangkal bagi tubuh untuk sintesis 

serotonin. sebab  tidak dapat disintesis oleh 

tubuh sendiri, maka triptofan perlu diasup 

lewat makanan, khususnya yang kaya 

protein. Banyak ada  dalam daging sapi/

a nak domba, hati, kalkun, ikan, protein kedele 

(tahu), beras merah, kacang tanah dan biji-

bijian (kembang matahari, pompun (labu), 

wijen dan amandel). Hanya ±2% dari asupan 

ini dipergu nakan untuk sintesis seroto nin. 

Berkhasiat antide presif dan sedatif-hipnotik. 

Oleh sebab  itu dian jurkan sebagai obat 

antidepresi dan obat menidurkan, adakalanya 

bersama piridoksin yang memegang peranan 

pada sintesis serotonin.

Resorpsi dari usus cepat, PP 80-90%, plas-

ma-t½ rata-rata 2 jam. Di dalam hati zat ini 

dirombak minimal 75% menjadi metabolit 

dan dengan bantuan koenzim piridoksin akhir-

nya asam xanthurenat, yang diekskresi melalui 

urin. Jumlah triptofan yang mencapai otak 

agak kecil, di mana terjadi hidroksilasi oleh 

enzim hidroksilase menjadi 5-hidroksitriptofan 

(oksitriptan), yang untuk ±20% diubah oleh 

dekarboksilase menjadi serotonin (juga de-

ngan bantuan piridoksin sebagai koenzim). 

Asetilasi dan metilasi dari serotonin meng-

hasilkan hormon epifisis melatonin. Untuk 

pengubahan triptofan diperlukan vitamin B6, 

mineral Mg dan Zn.Lihat skema metabolisme 

serotonin pada Gambar di bawah ini.

Efek samping berupa mual dan muntah, 

anoreksia serta mengantuk bila dosis per-

tama terlampau tinggi. Pada hewan dosis 

besar dapat memicu  kanker kandung 

kemih. Pada tahun 1990 food supple ment 

yang mengandung tripto fan di atas 100 mg/

dosis ditarik dari pereda ran di AS dan UK. 

pemicu nya yaitu  timbulnya gangguan 

darah berbahaya Eosinop hi lic myalgia syn-

drome pada 1.500 pengguna dengan 27 orang 

meninggal. EMS itu  bercirikan pening-

katan kuat dari jumlah lek osit eosinofil de-

ngan gejala nyeri otot dan nyeri sendi hebat, 

sesak napas, batuk dan perasaan letih. namun  

kemudian ternyata bahwa pemicu  EMS 

bukan triptofan melain kan suatu pengotoran 

dan pada tahun 1994 larangan itu  

dibatalkan.

Dosis: pada depresi permulaan 0,5-1 g se-

hari, dinaikkan berang sur-angsur sampai 

maks. 9 g sehari dalam 3-6 dosis. Sebagai obat 

tidur 1-5 g a.n. dan sebagai diagnosticum un-

tuk defisiensi piridoksin: dosis tunggal 2 g.

* Oksitriptan (5-hidroksitriptofan, 5-HTP) ada-

lah metabolit (1975) yang lebih layak diguna- 

kan sebab  kemungkinan mencapai otak 

lebih besar. Untuk menghindari pengurai-

annya di luar otak dan meningkatkan pema- 

sukannya ke otak sering kali dikombi nasi 

dengan dekarboksilase-blocker (karbidopa, 

benserazida). Zat-zat ini —seperti juga sero-

tonin— sukar melintasi sawar darah-otak, 

sedang  oksitriptan dapat menembusnya 

dengan mudah. Bandingkan dengan obat 

penyakit Parkinson levodopa, Bab 32, Koli-

nergika dan Antikolinergika. Kombinasinya 

diperkirakan lebih efektif daripada triptofan 

terhadap bentuk depresi vital yang resisten 

bagi obat-obat lain. Oksitrip tan dapat di-

kombi nasi dengan antide presiva lain dalam 

dosis lebih rendah.

Efek samping sama dengan triptofan, namun  

gangguan lambung-usus dapat dihindari 

  a  b  c  d

 triptofan  okstriptan  serotonin  melatonin  MAO-A

 

 xanthurenat  aldehida   OH-indolasetat    

 a = hidroksilase  b = dekarboksilase

 c = asetilase   d = koenzim + vit B6

Gambar 30-1: Sintesis serotonin (dan melatonin) di otak

bila diminum dalam bentuk sediaan enteric 

coated. 

Dosis: pada depresi 3 dd 5 mg (+ karbidopa 

50 mg) ½ jam a.c., berangsur-angsur 

dinaikkan sampai maks. 3 dd 250 mg (+ 

karbidopa 50 mg).

15. Piridoksin: vitamin B6, adermin

Derivat piridin ini bersama piridoksal dan 

piridoksamin meru pakan bentuk vitamin 

B6 yang terpenting. Piridoksin dalam bentuk 

piridoksalfosfat berperan pada metabolisme 

karbohidrat, lemak, protein dan asam amino, 

termasuk sintesis neurotransmitter 5HT dan 

GABA. Zat ini ada  dalam daging, ikan, 

gandum dan jenis-jenis buncis.

Gejala defisiensi jarang sekali terjadi dan 

berupa gangguan kulit seborrois, stomati tis, 

glossitis, neuropati perifer, konvulsi, dan lain-

lain. Selain itu depresi dan perasaan kacau 

dapat terjadi. Ternyata obat ini agak efektif 

pada depresi eksogen yang disebabkan peng-

gunaan estrogen dan pil antihamil, yang 

mungkin berkaitan dengan kekurangan 5HT 

di otak akibat perombakan triptofan yang 

meningkat. Juga dianjurkan pemakaian nya 

pada depresi post partum dan postmenopausal 

serta pada keluhan haid (PMS, premenstrual 

syndrome) yang disertai perasaan murung.

Resorpsi dari usus baik dan diubah men-

jadi metabolit aktif piridoksalfosfat dan 

piridoksaminfosfat. Di dalam darah terutama 

beredar sebagai piridoksal (fosfat). Ekskresi 

berlangsung lewat urin sebagai asam piri-

doksin. 

Efek samping yang adakalanya terjadi be-

rupa gangguan lambung-usus.

Dosis: pada depresi (postnatal) 1 dd 100-200 

mg, pada PMS 1 dd 50-100 mg. Lihat juga Bab 

53, Vitamin dan Mineral.

16. Tingtur Hyperici

Tingtur ini dibuat dari daun, batang dan 

kembang tumbuhan Hypericum perforatum 

(St John’s wort, Johanneskruid) yang ada  

di Eropa. Tumbuhan ini mengandung hy-

pericin, suatuzat warna merah dengan struk-

tur naftodiantron, yang berkhasiat antide-

presif dan analge tik dengan meng ham bat 

MAO-A secara reversibel. Kandungan lain-

nya yaitu  minyak terbang, asam samak 

dan hyperoside. Obat rakyat tradisi o nal ini 

sejak dahulu diguna kan sebagai obat anti-

mu rung dan obat nyeri saraf (ek strak dalam 

minyak sebagai obat gosok). Sejumlah studi 

telah memas tikan efektivitasnya sebagai anti- 

depre sivum pada depresi ringan sampai se-

dang. Mekanisme kerjanya yaitu  melan-

jutkan ketersediaan serotonin, NA dan do- 

pamin di otak melalui penghambatan pe-

rombakannya oleh MAO. Di Jerman zat ini 

telah dire gistrasi sebagai obat resmi terhadap 

a.l. depresi (1996). 

Minyak hypericum (Johannes-olie) dibuat 

dengan ekstraksi kembangnya dalam minyak 

zaitun (dengan eksposisi pada sinar mata- 

hari). Minyak berwarna merah ini diguna-

kan sebagai obat gosok, terutama pada nyeri 

otot akibat neuritis.

Efek sam ping ringan, a.l. meningkatkan ke-

pekaan terhadap sinar matahari. Pada pema-

kaian luar dalam dosis tinggi, zat ini dapat 

menim bulkan ruam kulit.

Interaksi berbahaya dapat terjadi dengan 

digoksin, teofilin dan siklosporin, yang me- 

nurunkan kadar darah secara drastis aki-

bat induksi enzim cytochrom P 450 oleh hy-

pericin. Efek obat SSRI (fluoxetin, sertralin, 

trazodon) justru diperkuat.

Dosis: 2 dd 250 mg ekstrak, atau 3 dd 20 

tetes tingtur a.c. Efeknya baru nyata sesudah  

10-14 hari. 

17. Litium 

Garam-garam litium merupakan “mood sta-

bilizers” dengan terutama khasiat antimania 

dan sedikit efek antidepresi. Mekanisme 

kerjanya belum diketahui. Terutama digu-

nakan pada prevensi depresi manis (bipoler) 

dan sebagai pilihan pertama untuk terapi 

pemeliharaan yang efektif. Mulai kerjanya 

baru sesudah  3-4 minggu. Pada terapi mania 

akut juga efektif, namun  efeknya lambat dan 

barunyata dalam 1-2 minggu, oleh sebab  

itu untuk meniadakan serangan mania akut 

biasanya diberikan suatu antipsikotikum. 

Untuk mengobati depresi tanpa mania (unipoler) 

khusus diberikan bersamaan dengan anti-

depresiva lain bila ada  resistensi. Juga 

dipakai  sebagai obat tambahan pada 

antipsikotika. sebab  luas terapinya sangat 

sempit dan mudah terjadi overdosis serta 

keracunan, dosis harus ditentukan berdasar- 

kan monitoring kadar plasma. Juga berhu-

bung dengan risiko nefrotoksisitasnya, kadar 

litium perlu dimonitor dengan saksama 

secara periodik.16,17 Intoksikasi litium meru-

pakan suatu keadaan yang sangat serius 

yang perlu ditangani dengan segera. Kadar 

yang melebihi 2,5 mmol/L yaitu  potensial 

fatal dan sering kali harus segera dilakukan 

hemodialisis. Intoksikasi kronis dapat meng-

akibatkan kerusakan otak permanen. Kadar 

litium juga dapat meningkat sebab  gangguan 

keseimbangan cairan dan garam dari tubuh, 

misalnya sebab  demam atau diare. Juga 

pemakaian  bersamaan obat-obat yang me-

rintangi ekskresinya dapat meningkatkan 

risiko intoksikasi seperti tiazida diuretika, 

perintang RAAS dan NSAID’s.

Resorpsi dari usus baik, sebagai zat hidro-

fil (larut dalam air 1:78) PP-nya nihil, namun  

dapat melintasi sawar darah-liquor. Plas-

ma-t½ 20-27 jam (bifasis) dengan variasi 

inter-individual besar, yang dapat meningkat 

dengan usia dan lamanya terapi. Tidak me-

ngalami biotransformasi dan diekskresi me-

lalui urin secara utuh (ion-Li+) untuk rata-

rata 97%. sesudah  filtrasi ±80% direabsorpsi di 

tubuli proksimal bersamaan dengan natrium 

dan air. Untuk menjamin ekskresi lancar 

perlu sekali asupan NaCl yang cukup dalam 

makanan. Bila tidak, dapat timbul bahaya 

kumulasi dan intoksikasi serius.

Efek samping yang sering terjadi berupa 

gangguan lambung-usus, haus dan mulut 

kering, polyuria, otot lemah dan tremor ha-

lus dari tangan, juga peningkatan bobot 

badan sebab  terlalu banyak minuman ma-

nis. Efek-efek ini bersifat sementara dan hi-

lang dengan sendirinya, terkecuali tremor 

yang dapat diatasi dengan propranolol. Pada 

overdosis a.l. muntah hebat, tremor, kejang 

kuat dan ataksia. pemakaian  lama dapat 

memicu  hipotirosis.

Litium dapat merubah homeostasis kalsium 

dengan memengaruhi bersihan ginjal(renal 

clearance) dari kalsium dan mungkin juga 

penggeseran ambang sekresi parathormon 

(PTH) dengan akibat hiperkalsiemia dan hi- 

perparatiroidia. Defisiensi vitamin D mau-

pun peningkatan kadar PTH dapat berkaitan 

dengan gangguan suasana jiwa dan menu-

runnya daya kognitif pada lansia.

Kehamilan dan laktasi. Litium melintasi pla-

senta yang dapat berefek terhadap janin; juga 

mencapai air susu ibu. berdasar  ini tidak 

dianjurkan pemakaian nya oleh wanita ha-

mil (khususnya selama triwulan pertama) 

dan yang menyusui.

Interaksi. Diuretika (tiazida, furosemida), ACE- 

inhibitor, AT II-blocker, NSAID dan metronidazol 

mengurangi ekskresi litium, sehingga ka-

darnya dalam darah meningkat, oleh sebab  

itu kombinasi demikian perlu diberikan 

dengan hati-hati. Pembatasan garam dalam 

makanan juga memicu  retensi litium 

(dan air). 

Dosis: pada mania akut oral (13 tahun ke 

atas) 1 dd 400 mg karbonat/1100 mg sitrat 

selama 27 hari, lalu 1 dd 800 mg/2200 mg, 

sejak hari ke-8 dan dilanjutkan atas dasar 

kadarnya dalam darah. Untuk profilaksis se-

mula 400-1600 mg dalam 1-3 dosis selama 4-7 

hari, kemudian berdasar  tuntunan kadar 

darah.

18. Agomelatine: Valdoxan 

Senyawa ini tidak memiliki keuntungan 

nyata dibandingkan dengan antidepresiva 

lain, bahkan daya kerjanya tidak meyakinkan, 

lagipula efektivitasnya bagi lansia tidak 

pasti dan perlunya diadakan pemantauan 

terhadap fungsi hati selama pengobatan. 

Merupakan agonis dari melatonin untuk 

reseptor melatonin-1 dan -2 dan antagonis 

dari serotoni 5 HT2c. Berkhasiat meningkatkan 

pengeluaran noradrenalin dan dopamin di 

kortex frontal.

Resorpsi >80%, PP 95% dan T1/2 1-2 jam. 

Di dalam hati dimetabolisasi menjadi meta-

bolit non-aktif. Ekskresi terutama sebagai 

me-tabolit ±80% melalui urin.

sebab  data mengenai a.l. teratogeneti-

tasnya tidak cukup, sebaiknya jangan di-

berikan kepada wanita hamil maupun yang 

menjusui.

Efek samping sering kali (10%) sakit kepala, 

pusing, migren, diare, obstipasi, mimpi bu-

ruk, tidak bisa tidur dan perasaan lelah.

Dapat mengurangi daya konsentrasi dan 

refleks, oleh sebab  itu supaya berhati-hati.

Dosis: sebelum tidur 25 mg 1x sehari dan 

bila sesudah  2 minggu tidak efektif, dapat di-

tingkatkan sampai 50 mg 1x sehari.

19. Bupropion: Wellbutrin, Zyban

Merupakan perintang selektif dari reuptake 

katecholamin (norefedrin dan dopamin). Efek 

antidepresi sesudah  2 minggu. Dimetabolisasi 

di hati menjadi metabolit aktif yang terutama 

diekskresi melalui urin. T1/2 ± 20 jam dan 

metabolitnya lebih dari 30 jam.

Di samping terhadap depresi juga digu-

nakan untuk bantu menghentikan merokok. 

Jangan diberikan kepada ibu hamil atau yang 

menyusui. 

Efek samping sering kali (>10%) tidak bisa 

tidur, sakit kepala dan pusing, gemetar, gang-

guan konsentrasi, gangguan saluran cerna 

dan kulit.

Dosis: terhadap depresi permulaan 150 mg 

1x sehari dan bila perlu sesudah  4 minggu 

ditingkatkan sampai maksimal 300 mg 1x 

sehari. Mengingat efek samping itu  di 

atas, obat jangan diminum sebelum tidur.

Bantuan untuk menghindari merokok: 1x 

sehari 150 mg selama 6 hari dan ditingkatkan 

sampai 2x sehari 150 mg. Bila perlu dikom-

binasi dengan memakai  plester nikotin.

20. Trazodon: Trazolan

yaitu  antidepresiva non-trisiklik dengan 

khasiat antikolinerg dan antihistaminerg le-

mah. Pada dosis rendah merupakan antago- 

nis serotonin, dalam dosis tinggi bekerja se-

bagai perintang reuptake serotonin. Efeknya 

baru nyata sesudah  1-2 minggu.

Resorpsi cepat dengan PP 89-95% dan t1/2 

8 jam. Dimetabolisasi lengkap menjadi a.l. 


m-klorfenilpiperazin aktif. Ekskresi terutama 

melalui urin. 

Kontra-indikasi: infark jantung akut.

Tidak boleh diberikan kepada wanita hamil 

dan yang menyusui.

Efek samping: mengantuk, mual dan mun-

tah, pusing, sakit kepala, hipotensi dan gang-

guan kulit. 

Juga efek antikolinerg lemah seperti mulut 

kering, gangguan penglihatan, gemetar dan 

retensi urin. Dapat meningkatkan tekanan 

okuler dan memicu  serangan glau-

koma akut.

Dapat memicu  penurunan daya kon-

sentrasi dan reaksi. Para lansia harus berhati-

hati sebab  meningkatnya kepekaan bagi efek 

samping antikolinerg dan kardiovaskuler.

Dosis: permulaan 150 mg sehari dalam 2-3 

dosis atau sekaligus sebelum tidur. Untuk 

pemeliharaan 150-400 mg sehari.

21. Vortioxetine: Brintellix

yaitu  obat antidepresi baru (2013) yag 

dipasarkan sebagai tablet dari 5 mg. 

Mekanisme kerja: modulasi aktivitas resep-

tor serotoninerg dan perintangan transpor 

5-HT.

Efek samping: mual, muntah, pusing, ano-

reksi, diare, obstipasi dan berkurangnya efek 

samping seksual.

Dosis: 1 dd 10 mg sampai maks. 20 mg. 


Seperti telah diuraikan dalam Seksi IV, siste m 

saraf terdiri dan dua kelompok, yakni Susunan 

Saraf Pusat (SSP) —otak dan sumsum 

tulang belakang— dan Susunan Saraf Perifer 

dengan saraf-saraf yang secara langsung atau 

tak langsung ada hubungannya dengan SSP. 

Saraf perifer terbagi lagi dalam dua bagian, 

yaitu Sistem Saraf Motoris yang bekerja se-

kehendak kita, misalnya otot-otot lurik (ka-

ki, tangan, dan lain-lain) serta Sistem Saraf 

Otonom (SSO) yang bekerja menurut aturan-

nya sendiri.

Sistem Saraf Otonom

SSO, juga disebut Sistem saraf vegetatif, 

meliputi antara lain saraf-saraf dan ganglia 

(= majemuk dari ganglion = simpul saraf) 

yang merupakan  persarafan ke semua otot 

polos dari berbagai organ (bronchia, lam-

bung, usus, pembuluh darah, dan lain-lain). 

Termasuk dalam kelompok ini yaitu  be-

berapa kelenjar (ludah, keringat dan pen-

cernaan) dan juga otot jantung,yang sebagai 

pengecualian