grain pizotifen (Litec, Sando mi gran) serta
methysergida (Deseril). Beberapa antidepre-
siva juga memiliki efek ini, antara lain
trazodon, begitu juga obat hipertensi ke-
tanserin.
Efek makanan atas suasana jiwa
Asam amino triptofan merupakan precursor
dari serotonin dan untuk mengasup secu-
kupnya bagi sintesis serotonin dianjurkan
untuk makan sebany ak mungkin protein
(daging, ikan, telur, tahu, dan lain-lain). Te-
tapi ternyata bahwa banyak asam amino
yang diserap dari protein itu dikon-
sentrasi terutama di otot dan hanya sedikit
masuk ke dalam otak. Oleh sebab itu lebih
baik mengasup banyak karbohidrat dengan
sedikit protein. Pada pembakaran karbohidrat
berlangsung suatu proses pada mana trip-
tofan tidak disa lurkan ke otot melainkan ke
otak. Diet demikian telah dibuktikan dapat
memperbaiki suasana jiwa dan di samping itu
juga mempermudah serta memperpanjang
waktu tidur dan mengurangi rasa nyeri
(pada rema).
Keadaan depresif lazimnya diiringi dengan
daya tahan tubuh yang berfung si buruk,
sehingga ada risiko besar timbulnya
berbagai penyakit. Di pihak lain perasaan
gembira dan berse mangat berkaitan dengan
kesehatan yang baik.
Efek baik dari gerak badan. Triptofan
diinaktifkan oleh enzim triptofan-pyrrolase,
oleh sebab itu penting untuk menghambat
sintesis enzim ini. Pada keadaan stress yang
penuh ketegangan, anak ginjal melepaskan
banyak kortisol, yang menstimulasi sinte-
sis pyrrolase dan dengan demiki an meng-
akibatkan menurunnya kadar serotonin di
otak. Efek kortisol dihambat oleh hormon
anak ginjal lain, yaitu adrenalin. Pada akti-
vitas fisik seperti gerak badan dan olahra-
ga terben tuk banyak adrenalin, sehingga
sintesis pyrrolase relatif sedikit dan lebih
banyak triptofan beredar dalam darah. Hal
ini memicu kadar seroto nin di otak
meningkat dan depresi diperbaiki. Suatu
eksperimen pada orang-orang yang mende-
rita depresi telah membuktikan ini.
JENIS–JENIS GANGGUAN
DEPRESI
Keadaan murung. Setiap orang yang meng-
alami suatu kekecewaan berat (kematian,
perceraian, kepailitan) atau kehilangan pribadi
(kemati an kekasih) dengan sendirinya men-
jadi murung. Jiwanya tertekan dengan pe-
rasaan sangat sedih, putus asa dan hilang-
nya kegembiraan, merasa letih, tidak ber-
nafsu makan dan sukar tidur. Mental juga
terganggu dengan sering termenung dan
berpikiran khayal, konsentrasi berkurang,
bimbang dan sukar mengambil keputusan.
biasanya , orang murung demikian
lambat laun mampu mengatasi sendiri ke-
adaan sendunya tanpa obat atau mungkin
hanya dengan bantuan obat pereda. Gejala
hilang dengan sendirinya sesudah dua atau
tiga minggu.
Depresi normal biasanya tidak
memerlukan pengobatan dan dapat mem-
perlihatkan remisi spontan. namun sebaiknya
tetap dimonitor untuk menghindari menjadi
patologik dan sebaiknya juga tetap diberikan
pengobatan untuk mempersingkat dan me-
ringankan gejalanya. Sering kali timbul gejala
on-off, yaitu period-periode perbaikan yang
diselingi dengan kemunduran.
Gangguan Depresi Utama (Major Depressive
disorder) yaitu nama internasional yang
sekarang dipakai untuk keadaan murung
yang sesudah 2-3 minggu masih juga bertahan
atau bahkan memperburuk. Kriteria untuk
depresi sedang/he bat yang kini berlaku menurut
DSM IV** yaitu ada nya minimal lima
gejala dari daftar berikut pada waktu hampir
setiap hari selama minimal 2 minggu.: Kedua
gejala a dan b yaitu esensial dan salah satu
dari padanya harus terda pat dalam lima
gejala itu .
a. suasana jiwa murung hampir sepanjang hari;
b. hilangnya perasaan gembira dan perhatian
untuk hampir semua aktivitas;
c. perasaan bersalah dan tak berharga;
d. pikiran atau percobaan bunuh diri;
e. tidak dapat mengambil keputusan atau
timbul masalah konsentrasi;
f. agitasi (perasaan dikejar, cepat tersing-
gung) atau penghambatan (segala sesuatu
terkesan berlangsung lambat);
g. lelah dan hilangnya enersi;
h. gangguan tidur;
i. perubahan nafsu makan atau perubahan
berat badan.
** DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual,
Edisi IV dari American Psychiatric Association
merupakan klasifikasi dari gangguan-gang-
guan psikiatri, yang memberikan uraian
dari golongan-golongan diagnostik untuk
memungkinkan dokter mendiagnosis, mem-
pelajari dan menangani orang-orang dengan
berbagai gangguan mental.
*Hamilton depression rating scale (HDRS)
terdiri dari sebuah daftar gejala yang lebih
luas lagi dan sering kali dipakai sebagai
pedoman untuk mengukur parahnya depresi.
Depresi kronis yaitu depresi yang bertahan
lebih lama dari 2 tahun dan sesudah dipastikan
tidak adanya penanganan yang kurang tepat
atau resistensi untuk obat.
a. Depresi manis (mania) bercirikan bipoler,
artinya terdiri dari dua tahap , masa depresif
dan masa manis. Pada masa depresif, pasien
mengalami segala sesuatu sebagai hitam atau
kelabu dan perasaan nya seperti mati. tahap
ini diselingi dengan suatu periode manis, yang
bercirikan suasana jiwa berbunga-bunga,
hipereksitasi dan aktivitas berlebihan.
Pengobatan dapat dilakukan dengan anti-
psikotika klor pro ma zin, haloperidol dan pimo-
zida selama 2-3 bulan. Sebagai prevensi di-
gunakan litiumkarbonat/sitrat, yang 60% efek-
tif untuk mencegah seran gan baru. Kebe-
ratan obat ini yaitu efek samping dan
toksisi tasnya bagi ginjal dan ti roid pada
overdosis, sedang luas terapinya sempit.
Karbamazepin dipakai sebagai pilihan ke-
dua untuk penanganan dan profilaksis, bila
litium kurang efektif, atau bersamaan sebagai
kombinasi.
b. Depresi vital yaitu suatu bentuk depresi
berat, yang memili ki ciri-ciri berikut (DSM
IV):
– gangguan tidur khas. Pasien tidur dengan
mudah namun tengah malam atau sangat
pagi sudah terbangun dengan merasakan
dirinya sangat letih, sendu, apatis, takut
atau gelisah dan tidak bisa tidur lagi.
– bervariasinya suasana sepanjang hari. Pasien
seakan-akan memiliki dua kehidupan,
aktivitas dan perasaannya sangat berlai-
nan pada pagi hari dan waktu tengah-
hari atau malam.
– hilangnya perhatian dan kegembiraan dalam
praktis semua aktivi tas, tidak adanya
reaksi terhadap rangsangan, perasaan
nyaman, agitasi atau terhambatnya moto-
rik, anoreksia atau turunnya berat badan.
Antidepresiva ternyata paling ampuh pada
depresi dengan ciri-ciri vital itu .
c. Depresi musim dingin (Seasonal Affective
Disorder, SAD) yaitu suatu bentuk depresi
yang spesifik terjadi pada musim dingin di
negara-negara Utara akibat kekurangan sinar
mataha ri.
Di Eropa dan AS selama musim dingin ±3%
dari penduduk mengalami depre si; pada
wanita (usia 15-50 tahun) 4 x lebih sering dari
pa da pria. Letak geografis berperan pada
insidensinya: semakin utara semakin banyak
penderita, misalnya di Alaska dekat kutub
utara sampai 10% dari penduduk! Keadaan
murung ini berkaitan dengan menying kat-
nya hari dan berku ran gnya cahaya matahari
yang menyusut sampai ±8 jam sehari di-
bandingkan ±16 jam di musim panas. Seba-
gai akibat produksi melatonin mening kat,
suhu tubuh menurun serta metabolisme
dan semua proses faal berkurang (lihat Bab
42, Hormon-hormon Hipofisis) Pada hewan
tertentu (beru ang, bajing, rubah dan lain-lain)
hari-hari yang menying kat ini mendorongnya
untuk tidur musim dingin. Manusia tidak
mengenal winter sleep sejati demikian. namun
pada orang yang peka, pukulan jantung juga
menurun dan kebutuhan tidur meningkat,
suasana jiwa menjadi murung (winterblu es),
enersi berkurang, sangat mudah tersinggung,
merasa letih dan - berbeda dengan depresi
‘normal’- nafsu makan justru sangat me-
ningkat. Selain pola makan juga timbul pe-
rubahan pada pola tidur. Semua gejala ini
diakibatkan oleh “lonceng biologis” yang
terganggu.
Terapi. Depresi musim dingin sering kali
dapat diatasi secara efektif dengan terapi
cahaya, yang mampu memperbaiki lonceng
biologis yang terganggu. Caranya yaitu
memperpanjang hari secara artifisial. Untuk
ini penderita harus du duk 2 kali sehari selama
1 jam di bawah 4-5 lampu TL dari 40 W [mini-
mal 2.500 Lux; 1 Lux = kekuatan cahaya dari 1
lilin (candle) pada jarak 1 m]. Metoda terbaru
memakai intensitas cahaya dari 10.000
Lux, 30 menit sehari selama 5 hari. Mata
pasien tidak boleh ditutup, sebab perlu ter-
kena cahaya yang —berbeda dengan sinar-
UV— tidak berbahaya bagi mata. Dengan
demikian produksi melatonin - yang juga
dinamakan ‘hormon tidur alamiah’- oleh
epifisis diham bat dan sintesis serotonin yang
memperbaiki suasana, distimulasi. Efeknya
yaitu suasana sendu lewat lebih cepat.
Terapi cahaya ini pada sebagian pasien
SAD kurang ampuh dan perlu diberi anti-
depresiva, misalnya fluoksetin(Prozac) yang
dilaporkan efektif. Terapi ini tidak boleh
dikombinasi dengan pemakaian antide-
presiva trisiklis, antipsikotika dan antibiotik
tertentu, sebab senyawa-senyawa ini mem-
buat retina lebih peka bagi cahaya.
Terapi cahaya juga dapat dipakai pada
depresi biasa dengan dosis 1,5 jam/hari 6.000
Lux (pagi hari) selama minimal 3 minggu
(Arch General Psychiatry 1998; 55:861-96).
Risiko akan residif sesudah terapi dihentikan
cukup besar (50%).
Ada laporan bahwa terapi cahaya juga
dapat dipakai untuk lebih cepat mengatasi
jetlag sebagai akibat dari penerbangan me-
lintasi banyak zone waktu.
*Depresi selama kehamilan sering kali ter-
jadi dan bila tidak ditangani dapat mem-
bawa risiko seperti residif depresi pada si
ibu, kelahiran prematur dan berat badan bayi
yang rendah.
1. Weinstock M. The potential influence of
maternal stress hormones on develop-
ment and mental health of the offspring.
Brain Behav Immun.2005 jul;19(4):296-
308.
2. Boyd RC, Zayas LH, McKee MD. Mother-
infant interaction, life events and prenatal
and postpartum depressive symptoms
among urban minority women in prim-
ary care. Matern Child Health J. 2006
mrt;10(2):139-48.
*Depresi postnatal dialami oleh ±10% dari
wanita nifas selama 6 pekan sesudah per-
salinan, sehingga sebetulnya lebih tepat
disebut depresi post-partum (Lat. natalis =
kelahiran, partus = persalinan). Depresi ini
disebabkan oleh menurunnya kadar proge steron
akibat berkurangnya absorpsi hormon ini
oleh resep tornya. Begitu pula pada depresi
postme no pausal pada wanita sesudah
berhentinya haid. Keadaan ini dapat diobati
dengan dosis tinggi progesteron, namun sering
kali dalam beberapa bulan akan hilang
sendiri tanpa pengobatan. Secara alternatif
juga sering kali dapat disembuhkan dengan
piridoksin 100-150 mg sehari selama beberapa
minggu-bulan.
*Depresi eksogen (reaktif) dapat dianggap
sebagai efek samping obat, misalnya antihi-
pertensiva, adakalanya kortikosteroida, pil
antihamil dan benzodiazepin long-acting.
pemicu lain yaitu penyakit parah seperti
penyakit auto-imun atau defisiensi piridok-
sin. Depresi demikian biasanya dapat diatasi
dengan menghen tikan pemberian obat yang
menjadi pemicu atau pemicu nya pe-
nyakit ditangani. Faktor eksogen juga dapat
berupa pemicu luar, suatu kejadian pribadi
misalnya pemecatan dari peker jaan atau
isolasi sosial.
* Depresi endogen(biologis) sering kali ter-
jadi secara mendadak tanpa adanya sesuatu
pemicu yang nyata. Pembagian dalam ke-
dua jenis depresi itu sekarang ini tidak
banyak dipakai lagi sebab dianggap
kurang tepat.
Gangguan suasana lainnya
*Gangguan panik bercirikan serangan men-
dadak dari perasaan takut hebat, misalnya
takut menjadi gila atau takut mati. Peristi-
wa ini disertai berbagai gejala, seperti ber-
keringat, sesak napas, pusing, mual, debar
jantung dan gemetar. Adakalanya ada
pula agorafobia dan kecenderungan menjauhkan
diri, yakni perasaan gamang untuk melalui
tanah lapang atau jalanan terbuka (Yun. agora
= tanah lapang). Gejala ini dapat ditangani
efektif (sesudah 3-5 minggu) dengan imipramin,
klomiprami atau fluvoksamin, yang mungkin
berkaitan dengan penghambatan re-uptake
serotonin. namun bila terapi dihentikan,
gangguan sering kali kambuh lagi. Benzo-
diazepin alprazolam (Xanax), yang diklaim
berdaya antidepresif, ternya ta juga efektif
untuk gangguan panik.
*Neurose paksaan (Obsessive Compulsive Di-
sorder, OCD). Menurut klasifikasi DSM IV,
OCD bercirikan perbuatan (compulsio) atau
pikiran paksaan (obsessio). Hal ini menim-
bulkan kesengsaraan pada pasien dan dialami
dirinya sebagai tidak berguna, sehingga
pasien berusaha menekannya. Sebagian pa-
sien juga menderita depresi. Penangangan
dilakukan dengan terapi perilaku bersama
pengoba tan dengan klomipramin, fluvoksamin
atau fluoxetin. Efeknya baru nyata sesudah
4-12 minggu.
Penanganan
Gangguan depresi yang tidak ditangani da-
pat sembuh dengan sendirinya pada ±80%
dari kasus sesudah rata-rata 6-12 bulan, namun
dengan risiko kambuh kembali dengan cepat
dan penyakit menjadi kronis. Masalahnya
di sini pun sama seperti pada schizofrenia,
yaitu sering kali tidak adanya keinsafan
sakit pada pasien. Penderita depresi tidak
menyadari akan gangguan ini dan meng-
anggap perubahan-perubahan dalam pera-
saannya sebagai akibat dari kelainan-kelainan
somatik. Untuk keluhan-keluhan depresi
yang tersamar ini dicari pertolongan medis,
tanpa menghiraukan sebab-sebab kejiwaan
yang menyertai keluhan somatik ini. Oleh
sebab itu pengobatan hanya ditujukan ke-
pada pemicu -pemicu somatik saja.
Melalui psikoterapi dan antidepresiva pro-
gres penyakit bisa membaik dan separuh dari
penderita sembuh dalam 3-4 bulan. yaitu
penting untuk jangan membebankan diri
terlalu berat, mempertahankan pola aktivitas
setiap hari dengan gerak badan secukupnya
di samping menjalani kontak sosial, bahkan
kalau bisa tetap melakukan pekerjaan rutin.
Pilihan obat. biasanya ATC (Anti-
depresiva TriCyclis) sebaiknya dipakai
bila ada gejala ekstrapiramidal atau
jika serentak minum obat antipsikotika atau
NSAIDs. Obat-obat generasi ke-2 (SSRIs) se-
baiknya diberikan bila ada keluhan jantung
(sesudah infark, jantung lemah, aritmia), sukar
buang air kecil dan glaucoma.
Depresi hebat terutama yang bersi fat ke-
turunan dan yang menun jukkan gejala vital
selalu harus ditangani dengan dukungan
sosial dan psikote rapi, di samping pem-
berian antide presiva. Tujuan psikotera pi ada-
lah merubah pikiran dan sikap negatif pasi-
en dengan pandangan yang lebih realis-
tik mengenai dirinya sendiri dan dunia
luar. Terutama terapi perlakuan cognitif
ternyata efektif, yaitu suatu bentuk pena-
nganan psikologis, pada mana pasien dipe-
lajari menemukan pola-pola negatif dari
permasalahan kognitif dan merubahnya.
Juga menganalisis pikiran-pikiran negatif
yang dari sudut psikologis merupakan inti
dari depresi, seperti misalnya keluhan ‘saya
memang orang yang selalu gagal’ atau ‘segala
sesuatu yang saya berbuat senantiasa salah’
dan ‘semua orang benci pada saya‘. Kini su-
dah dapat dipastikan bahwa penanganan
dengan hanya antidepresiva yaitu kurang
efektif dibandingkan penanganan yang sama
namun dalam kombinasi dengan psikoterapi. 9
Bila depresi disertai perasaan takut atau
kegeli sa han, pada pengobatannya sering
kali ditam bahkan suatu benzodiaze pin untuk ±
4 minggu. sesudah waktu itu, efek anksiolitik
dari obat antidepresi sudah menyadi nyata
dan tranquillizer tidak diper lukan lagi. Bila
ATC dan SSRIs kurang memberikan hasil,
dapat ditambahkan litium atau diganti
seluruhnya dengan moclo bemida.
Dosis dari ATC perlu dinaikkan secara
berangsur-angsur, dimulai dengan dosis ren-
dah yang setiap 2-3 hari dinaikkan sampai
tercapai dosis pemeliharaan efektif. Sering
kali dipakai dosis amitriptilin, nortriptilin
atau imipramin di atas 150 mg sehari, namun
dalam praktik ternyata dosis rendah dari
100 mg/hari atau kurang sering kali sudah
efektif.15
SSRIs seperti fluoxetin, paroxetin, sertralin
dan moclobemida dapat langsung dimulai de-
ngan dosis standar. Kebanyakan antidepre-
siva dapat diberikan sebagai dosis tunggal
pada malam hari berdasar masa paruh-
nya yang panjang. Pengecualian yaitu
paroxetin dan desip ra min dengan sifat
stimulasi, yang harus diberikan pada pagi
hari. Pada pemakaian obat terakhir perlu
sekali ke-waspadaan terhadap percobaan
bunuh diri selama 2-3 minggu pertama.
Depresi me-rupakan pemicu suicidium
yang paling umum!.
* Efek antidepresif dan efek sedatif dari
antidepresiva biasanya baru nampak
2-4 minggu sesudah permulaan terapi, yang
pada lansia adakalanya baru sesudah 6 ming-
gu. Bila sesudah 8 minggu belum ada per-
baikan, terapi perlu diganti dengan obat lain
dengan menurunkan dosis secara perlahan
dan dimulai dengan obat baru secara ber-
angsur-angsur.
* Lamanya terapi. sesudah depresi hilang,
pengobatan perlu dilan jutkan dengan dosis
pemeliharaan selama 4-9 bulan untuk menghin-
dari atau meringankan residif. Pada depresi
hebat yang sering kali kambuh, masa terapi
perlu diper panjang.
Terapi elektroshock (Electroconvulsive thera-
py, ECT, atau kejang listrik) dilakukan sebagai
tindakan terakhir pada depresi sangat hebat
yang resisten terhadap berbagai antidepre-
siva atau adanya kemungkinan bunuh diri.
Meskipun tindakah ini mungkin memberikan
kesan kekerasan dan reputasinya buruk ber-
hubung pengala man di masa lampau, dewasa
ini dengan tindakan pencegah khusus untuk
keamanan pasien, ECT dianggap sangat efek-
tif dan mulai agak banyak dipakai lagi.
Penanganan ini terdiri dari memicu
suatu serangan epilepsi melalui pemberian
aliran listrik singkat pada penderita yang
dibius total.
Efek samping terutama terdiri dari kehi-
langan daya ingat, sakit kepala, sakit otot,
mual dan perasaan kacau yang berlangsung
singkat.
biasanya penanganan dengan ECT
yaitu efektif dan dapat diterima oleh pende-
rita. Insiden fatal maupun kerusakan otak
permanen belum pernah terjadi.
ANTIDEPRESIVA
Sekitar tahun 1957, obat-obat antide presi per-
tama mulai diintro duk si, yaitu obat tuber-
kulosa iproniazida, juga imipra min. Kemudian
disusul dengan sejumlah besar antidepresiva
lain (dengan lebih sedikit efek samping)
yang secara efektif berdaya mengatasi kea-
daan sendu. Pada periode ini juga dikem-
bang kan tran quilli zer modern, yang perta-
ma meprobamat kemudian disusul oleh se-
rangkaian senyawa benzodiazepin (diazepam,
klordiazepok sida, dan lain-lain).
Lazimnya obat-obat antidepresi dibagi dalam
4 kelompok besar, yaitu:
1. antidepresiva klasik: Obat-obat ini meng-
hambat resorpsi kembali dari serotonin dan
nor adrenalin dari sela sinaps di ujung-ujung
saraf. Pengecualian yaitu desipramin yang
menghambat re-uptake NA secara lebih se-
lektif. Oleh sebab itu obat ini berefek meng-
aktifkan dengan akibat timbulnya risiko
bunuh diri pada minggu-minggu pertama
terapi.
a. senyawa trisiklik: amitriptilin, doksepin, do-
sule pin, imipra min, desipramin dan klomi-
pramin. Obat-obat ini memiliki struktur
dasar cincin-tiga, mirip dengan struktur
antipsikotika kelom pok fenotiazin dan
thioksan ten. Obat-obat antidepresiva tri-
siklik klasik (TCA) ini juga disebut Non-
selective Mono-amin reuptake Inhibitors
dan ada paling lama di pasaran.
b. senyawa tetrasiklik: maproti lin, mianserin
(dan mirtazapin) dengan struktur tetra-
siklis, namun dengan sifat yang hampir
sama. Maprotilin dan desipramin meng-
hambat secara selektif re-uptake dari NA
(Selective NA Re-uptake Inhibitor), begitu
pula mianserin (lemah). Mirtazapin ter-
masuk generasi ke 2.
2. obat generasi ke 2 dengan struktur kimiawi
berlainan yang memicu lebih sedikit
efek samping, khususnya berkurangnya efek
jantung dan antikolinergik. Oleh sebab itu
lebih aman pada overdosis dan bagi pasien
lansia. namun ternyata bahwa obat-obat mo-
dern ini tidak terbuk ti lebih unggul daripada
obat klasik, khusus terhadap gejala-gejala
dari depresi.
a. SSRI’s (= Selective Serotonin Re-uptake
Inhibitors): fluvoxamin (Luvox, Fevarin),
fluoxetin, paroxetin , sertra lin, citalopram
dan venlafaxin.
Trazodon (Trazolan) juga menghambat re-
uptake serotonin, namun di samping itu
juga bekerja anti-seroto nin.
b. NaSA (Noradrena lin and Serotonin Anti-
de pres sants): mirtaza pin dan venlafaxin
(Efexor).
Obat-obat ini tidak berkhasi at selek tif,
menghambat re-uptake dari baik seroto-
nin maupun nor adrena lin. ada be-
berapa indikasi bahwa obat-obat ini lebih
efektif daripada obat SSRI.
3. MAO-blocker: fenelzin dan tranylcypromin
(Parnate). Obat ini menghambat enzim mono-
amin-oksidase (MAO), yang menguraikan
zat-zat monoamin sesudah selesai aktivitas-
nya. Enzim ini ada dalam dua bentuk:
MAO-A dan MAO-B. Kedua obat di atas
menghambat kedua bentuk secara irrever-
sibel dan hanya dipakai bila obat-obat lain
tidak ampuh (lagi). Obat baru moclobemida
menghambat terutama MAO-A secara rever-
sibel, namun pada overdosis selekti vitasnya
hilang. Obat tanaman tingtur Hyperici bekerja
melalui perintangan MAO. Obat Parkinson
selegi lin memblokir secara selektif MAO-B
dan hanya bekerja antide presif pada dosis
tinggi dengan risiko efek samping. Oleh kare-
na itu tidak dipakai lagi sebagai antide-
presivum.
4. lainnya: tryptofan, okstriptan, piridoksin,
tingtur Hyperici, litium, agomelatine, bupropion,
trazodon dan vortioxetine.
Mekanisme kerja
Antidepresiva bekerja melalui penghambatan
re-uptake serotonin dan noradrenalin di ujung-
ujung saraf otak dan dengan demikian mem-
per panjang masa waktu tersedia nya neu-
rotransmitter itu . Di samping itu anti-
depresiva dapat memengaruhi reseptor post-
sinaptis. namun mekanisme kerja nya yang
tepat belum diketa hui. Misalnya, mengapa
pengham batan re-uptake dari 5-HT dan NA
ber langsung dengan cepat, sedang efek
antidepresifnya baru nyata sesudah 2-6 minggu.
Menurut perki raan masa laten ini berkai tan
dengan berku rangnya jumlah dan kepekaan
dari reseptor postsi naptis terten tu, yang baru
terjadi sesudah beberapa minggu. Demikian
di samping peningkatan kadar serotonin,
diperkirakan masih ada mekanisme lain
untuk efek antidepresifnya.
Efek samping
Antidepresiva dapat memicu banyak
efek samping yang tidak diinginkan dan
mirip dengan efek samping antipsikotika.
Kebanyakan efek ini bersifat sementara dan
hilang dengan sendirinya sesudah beberapa
waktu.
1. Obat klasik (ATC) dapat memperlihatkan
efek samping berikut:
a. efek jantung, yang mirip efek kinidin dan
dapat memicu gangguan penerus-
an impuls jantung dengan perubahan
ECG. Pada overdosis dapat terjadi aritmia
berbahaya.
b. efek antikolinergik akibat blokade re-
septor muskarin dengan memicu
a.l. mulut kering, obstipasi, retensi urin,
tachycardia serta ganggu an potensi dan
akomodasi. Hiper hidrosis (kerin gat berle-
bihan) dapat terjadi sebagai efek paradoksal.
Efek ini terutama kuat pada amitriptilin,
klomipramin serta doksepin dan ringan
pada desipramin. Perlu diketahui bah-
wa mulut kering dan obstipasi pada
hakikatnya merupakan gejala depresi.
Obat generasi ke-2 jarang memicu
efek antikolinergik dan efek terhadap
jantung.
c. sedasi berdasar penghambatan re-
septor antihistamin postsinaptik, yang
terutama kuat pada amitriptilin, doksepin
dan dosulepin (dan mianserin), namun
kurang kuat pada imipramin, klomipra-
min serta maproti lin dan ringan sekali
pada desipra min. Bila diperlukan sedasi
di samping efek antidepresi, sebaiknya
ditambahkan suatu benzodiazepin sela-
ma 2-3 minggu pertama sampai efek
antidepre sifnya menjadi nyata.
d. hipotensi ortostatik dan pusing serta
mudah terjatuh merupakan akibat dari
efek anti-noradrena lin (blokade reseptor
a1-adrenergik). Hal ini sering kali terjadi,
terutama pada lansia. Blokade-a1 juga
dapat memicu berkurangnya fungsi
seksual (libido, ganggu an potensi, dan
lain-lain).
e. efek antiserotonin akibat blokade resep-
tor-5HT postsinaptik dengan bertambah-
nya nafsu makan dan berat badan dan
umumnya pasien menjadi gemuk.
f. kelainan darah seperti agranulositosis
dan leukopenia, yang mungkin berda-
sarkan reaksi hipersensitivitas namun ja-
rang terjadi. Reaksi alergi juga menjadi
pemicu dari gangguan kulit.
g. gejala penarikan dapat terjadi, meski-
pun antidepresiva tidak bersifat adiktif.
Pada penghentian terapi dengan men-
dadak dapat timbul a.l. gangguan lam-
bung-usus, agitasi, sukar tidur serta nyeri
kepala dan otot.
2. Obat generasi ke-2 (SSRIs) memiliki profil
berlainan dengan obat klasik (ATC), khusus
efek jantungnya sangat berkurang dan efek
serotoninergnya lebih nyata.
a. efek serotoninerg berupa mual, muntah,
malaise umum, nyeri kepala, gangguan
tidur (juga gejala depresi!) dan nervosi tas,
agitasi atau kegelisahan (sementara), juga
disfungsi seksual dengan ejaculatio dan
orgasme terlambat.
b. sindroma serotonin timbul akibat sti-
mulasi berlebihan dari reseptor-resep-
tor-5HT1a dalam inti-inti otak tertentu,
sering kali akibat kombinasi dari suatu
perintang MAO dan suatu zat seroto-
ninerg SSRI (antidepresivum duloksetin-
Cymbalta/Xeristar). Gejala psikis, oto-
nom dan neurologik berupa a.l. tachy-
cardi, kegelisahan, demam dan meng-
gigil, konvulsi, gejala kekakuan parah,
tremor, diare dan ganggu an koordina-
si, yang tidak jarang berakhir fatal. Ke-
banyakan timbul pada pemakaian kombi-
nasi dari obat generasi ke-2 bersama obat
serotoninerg lainnya, yaitu obat klasik
(ATC), perintang-MAO, litium, triptofan,
amfetamin dan sumatriptan, dan biasa-
nya dalam waktu beberapa jam sampai
2-3 minggu. Gejala ini dapat diatasi
dengan antagonis serotonin (metisergida,
propra nolol).
c. efek antik oliner gik dan antiadrenergik
lemah atau sama sekali tidak ada, misal-
nya efek jantung.
Gejala penarikan (withdrawal symptoms)
Walaupun bukan obat-obat adiktif seper-
ti narkotika dan obat-obat tidur, gejala
penarikan atau gejala abstinensi juga dapat
timbul pada antidepressiva, baik antidepre-
siva klasik (antidepresiva trisiklik dan peng-
hambat MAO), maupun senyawa-senyawa
modern seperti SSRI’s, venlafaksin dan mir-
tazapin.
Gejala penarikan didefinisikan sebagai ge-
jala fisik dan psikis yang timbul akibat
penghentian atau penurunan dosis yang ter-
lampau cepat dari suatu obat sesudah peng-
gunaan yang cukup lama. Gejala penarikan
dari antidepresiva dapat dibagi dalam be-
berapa kelompok, yaitu gejala griep, gejala
psikis, gejala gastro-intestinal, gejala tidur
dan keseimbangan, gejala sensoris serta eks-
trapiramidal (GEP) dan lain-lain gejala. Me-
rupakan sesuatu yang khas yaitu bahwa
gejala-gejala itu timbulnya 1-4 hari
sesudah dosis dikurangi atau dihentikan.
Timbulnya gejala itu dapat dihindari
dengan menurunkan dosisnya secara lambat
laun dan tidak sekaligus.
Sering kali telah terbukti bahwa anti-
depresiva yang memiliki t1/2 singkat seperti
paroksetin dan fluvoksamin, lebih kerap
menunjukkan gejala penarikan daripada se-
nyawa-senyawa dengan t1/2 panjang seperti
fluoksetin.
......................................... Vlaminck J.J.D. et al. Onttrekkings-
verschijnselen van antidepressiva. Ned
Tijdschr Geneeskd 2005;149: 698-701.
Gejala penarikan yang diuraikan di atas
juga berlaku bagi psikofarmaka. Lih. Bab 29
Antipsikotika.
Efek-efek samping lainnya akan dibicara-
kan tersendi ri pada monogra fi obat-obat ber-
sangku tan.
Kehamilan dan laktasi
Meskipun belum ditentukan adanya hu-
bungan antara antidepresiva dan kerusakan
janin, namun dari beberapa obat diketahui
efek teratogennya pada binatang percobaan.
Beberapa obat mencapai air susu ibu.
Interaksi
– Fluoxetin dan SSRIs lain dapat mening-
katkan kadar darah dari antidepresiva
tri siklis, mungkin sebab penghambatan
metabolis menya di dalam hati.
– Zat-zat serotoninerg dalam kombinasi
dengan ATC (terutama imipramin dan
klomipramin) atau SSRIs dapat menim-
bulkan sindroma serotonin, lihat di atas.
Untuk menghindarinya obat-obat ini baru
dapat diberikan sesudah antidepresiva
dihentikan minimal 2 minggu.
– Adrenergika diperkuat daya kerjanya oleh
ATCs, terutama efeknya terhadap jantung
dengan hipertensi dan aritmia.
pemakaian
Antidepresiva selain pada depresi tertentu,
juga dipakai untuk sejumlah indikasi lain,
yaitu:
a. depre si, khususnya yang bercirikan vital.
Pada depresi parah adakalanya dikom-
binasi dengan litium atau dengan mo-
clobemida. Pada depresi dengan psiko sis,
bersama dengan antipsikotika.
Pada periode depresi gangguan bipoler
(mania), adakalanya bersama litium seba-
gai obat pencegah.
b. gangguan panik (dengan agorafobia) dan
gangguan obsesif-compulsif: imipramin,
klomipramin, juga SSRIs (fluvoxamin,
citalopram).
c. ngompol malam (enuresis nocturna) dari
anak-anak di atas 5 tahun (imipramin,
amitriptilin), mungkin berdasar kha-
siat antik olinergiknya.
d. sebagai analgetikum, pada terapi nyeri
kronis hebat (kanker) dan nyeri saraf (se-
su dah herpes zoster/shingles). Khusus di-
gunakan imipramin dan ami trip tilin ber-
samaan dengan analgetika lain namun
desipramin dan klomipramin juga dapat
dipakai .
e. bulimia nervosa, juga dinamakan hyper-
orexia (Yun. orexi = nafsu makan), pada
mana nafsu makan meningkat secara
patolo gis. Bulimia, bersama anorexia ner-
vosa, merupakan gangguan makan yang
bercirikan “serangan” makan tanpa batas
yang diselingi muntah-muntah buatan
(dan pemakaian laksansia) agar tidak
menjadi gemuk. Fluoxetin, imipramin dan
desip ramin mampu dalam waktu singkat
mengurangi frekuensi makan.
f. terapi interval migrain, mungkin ber-
dasarkan blokade reseptor 5HT2 di pem-
buluh dan neuron otak, khususnya ami-
triptilin.
Catatan: Dipertimbangkan untuk antidepre-
siva hanya diberikan kepada penderita de-
presi berat (melankolik atau psikotik) dan
kepada penderita depresi ringan yang lebih
lama dari 3 bulan.
......................................... Doornbos B. et al Ned. Tijdschr
Geneeskd. 2008:152:1406-8.
MONOGRAFI
A. OBAT-OBAT KLASIK (ATC)
1. Imipramin: Tofranil
Antidepresivum trisiklis pertama ini (1958)
menghambat re-uptake dari NA dan 5HT, lagi
pula berkhasiat antiadrenergik, antikoli-
ner gik dan antihistamin agak kuat. Zat ini
memiliki efek sedatif cukup baik, namun pada
umumnya jangan diberikan pada pasien yang
mudah terangsang dan agresif. Imipramin
dipakai pada depresi dengan ciri-ciri vital,
pada gangguan panik dan ngompol malam
pada anak-anak di atas 5 tahun.
Resorpsi dari usus cepat dan lengkap, PP
±86%, plasma-t½ bervariasi antara 6-34 jam.
Di dalam hati zat ini didemetilasi menjadi
metabolit aktif desipramin dengan t½ 12-76
jam. Ekskre si terutama melalui urin.
Dosis: pada depresi oral 3 dd 25 mg garam
HCl, bila perlu berangsur-angsur dinaikkan
sampai maks. 300 mg sehari. Pada gangguan
panik: 10-25 mg sehari; pada enuresis anak-
anak 5-8 tahun: 20-30 mg a.n.; pada nyeri
kronis: 25-150 mg sehari.
* Desipramin (Pertofran) yaitu metabolit
aktif dari imipramin dengan khasiat meng-
hambat re-uptake dari terutama noradrenalin.
Obat ini bersifat mengaktif kan, maka waspada
akan kemungkinan bunuh diri. Mulai ker-
janya agak cepat, masa paruh ±18 jam.
Dosis: oral 3-4 dd 25-50 mg.
* Klomipramin (klorimipramin, Anafranil) ada-
lah derivat klor dengan efek antidepresif
lebih kuat. Klomipramin menghambat re-uptake
serotonin lebih kuat daripada NA. Zat ini
selain pada depresi juga dipakai pada
ganggu an panik dan obsesif-konvulsif.
Dosis: pada depresi dan OCD: 2-3 dd 25
mg garam HCl, maks. 250 mg sehari. Pada
gangguan panik: 1 dd 25 mg, dinaikkan sam-
pai maks. 200 mg selama 6 bulan. Pada lansia
permulaan 10 mg sehari, maks. 50 mg sehari.
14108649_OBAT P(Bab 30)_T-464-482.indd 473 21/04/2015 17:26:17
Seksi IV: Obat Susunan Saraf Pusat474
* Opipramol (Insidon) yaitu derivat pipe-
razinyl yang sebetul nya bukan obat anti-
depresi. Obat ini berkhasiat antiserotonin dan
antidopamin (lemah) serta tidak menghambat
re-uptake serotonin atau NA. Opipramol
dipakai sebagai obat tambahan (minor
tranquil lizer) pada ketegangan dan keadaan
takut. Dosis: oral 1-3 dd 50 mg selama minimal
2 minggu, lansia dosis separuhnya.
2. Amitriptilin:Tryptizol, Laroxyl, *Limbitrol,*
Mutabon-D
Senyawa trisiklik ini (1961) rumusnya mi-
rip dengan imipramin, hanya dalam cincin-
tiga ikatan >NC diganti dengan >C=C. Meng-
hambat re-uptake noradrenalin dan seroto nin di
otak. Berkhasiat antihistamin dan antikoli-
nergik, juga sedatif kuat, maka cocok untuk
diberikan pada pasien agresif. Selain pada
depresi, amitriptilin juga dipakai pada
terapi interval migrain, pada ngompol ma-
lam anak-anak di atas 5 tahun dan sebagai
analgetikum pada nyeri kronis.
Resorpsi dari usus cepat, BA ±40%. PP di
atas 90%, plasma- t½ rata-rata 15 jam. Dalam
hati sebagian besar didemetilasi menjadi
metabolit aktif nortripti lin dengan khasiat
sedatif lebih ringan, t½ rata-rata 36 jam.
Ekskresi terutama lewat urin.
Dosis: pada depresi 3 dd 25 mg garam HCl
atau 50-100 mg a.n., bila perlu berangsur-
angsur dinaikkan sampai 150-300 mg. I.m./
i.v 4 dd 20-30 mg. Lansia: 1 dd 25 mg, maks.
150 mg sehari. Ngompol malam: anak-anak
5-10 tahun 10-25 mg a.n. Nyeri kronis: 25-75
mg a.n., prevensi migrain: 25-150 mg a.n.
*Mutabon-D = amitriptilin 25 + perfenazin
2 mg
* Doksepin (Sinequan) yaitu derivat de-
ngan atom-O dalam cincin trisikliknya (1964).
Berkhasiat sedatif kuat dengan plasma-t½ ±17
jam. Dosis: oral 75-150 mg a.n. (garam-HCl)
atau 3 dd 25-50 mg.
* Dosulepin (Prothiaden) yaitu derivat de-
ngan atom-S dalam cincin trisikliknya (1969).
Berkhasiat menghambat re-uptake NA dan
mungkin juga serotonin. Khasiat antihistamin
dan antikolinergiknya kuat. Dosis: 3 dd 25 mg
garam HCl atau 75 mg a.c., bila perlu maks.
225 mg sehari, lansia maks. 75 mg sehari.
3. Maprotilin: Ludiomil
Senyawa tetrasiklik ini (1972) memiliki se-
jumlah sifat dasar dari obat-obat trisiklik.
Berkhasiat menghambat kuat re-uptake noradre-
nalin dan hanya ringan re-uptake serotonin.
Obat ini juga bekerja antihistamin kuat.
Efek antik oli nergik dan antiadre nergiknya
cukup baik. Pada dosis rendah juga bersifat
sedatif dan anksiolitik. Kombinasi dengan
klomipramin memberikan efek baik pada
pasien yang hanya resisten untuk ATC. Khu-
sus dipakai pada depresi dengan ciri-ciri
vital. Resorpsi dari usus lambat namun lengkap,
PP 88%, t½ rata-rata 43 jam, sedang eks-
kresinya berlangsung sebagai metabolit me-
lalui urin (70%) dan feses (30%).
Efek samping yang terutama pada hari-hari
pertama sering terjadi yaitu sedasi, rasa
lelah, sakit kepala, pusing, berkeringa t dan
mulut kering. Jarang efek samping umum
lainnya.
Dosis: 1-3 dd 25 mg garam HCl atau 25-75
mg sekaligus sebelum tidur. Lansia 25 mg a.n.
4. Mianserin: Tolvon
Senyawa tetrasiklik ini (1975) tidak memiliki
rantai sisi alkalis dari ATC, yang dianggap
sebagai pemicu efek antikoliner giknya.
Berkhasiat lemah menghambat re-uptake NA
dan meningkatkan tersedia nya NA, sebab
blokade reseptor-a2 adrener gik presinaptik.
Di samping itu berkha siat antihistamin dan
anti-noradrenalin (blokade-a1) kuat, maka
berdaya sedatif dan anksiolitik. Resorpsi dari
usus cepat, BA hanya 20% akibat FPE besar,
PP ±95% dan t½ antara 20-60 jam. Di dalam
hati zat ini dirombak menjadi metabolit aktif,
yang terutama dikeluarkan melalui urin.
Efek sampingnya lebih ringan daripada zat-
zat trisiklik. Yang utama yaitu sedasi, me-
ngantuk dan termangu-mangu, oleh kare-
na itu sebaiknya diminum malam hari seba-
gai dosis tunggal. Efek samping ini berlalu
sesudah beberapa minggu. Hipotensi ortos-
tatik (blokade-a1), peningkatan berat badan
dan efek kolinergik jarang terjadi.
Efek samping serius yaitu supresi sumsum
tulang yang berbahaya dengan a.l. agranu-
lositosis dan anemia aplastis (reversibel) yang
dapat timbul sesudah 4-6 minggu.
Dosis: permulaan 1 dd 30-40 mg malam hari
(garam HCl), bila perlu dinaikkan sampai 90
mg sehari.
* Mirtazapin (Remeron) yaitu derivat mi-
anserin (1994) dengan atom-N ketiga di
cincin-6, dengan efek antihistamin kuat.
Berkhasiat memperkuat pelepasan NA melalui
blokade resep tor -ɤ2 presinaptis dan oleh
sebab ini pelepasan serotonin ditingkatkan. Di
samping itu obat ini menghambat re-uptake
seroto nin (bloka de resep tor 5HT2 dan 5HT3),
sedang reseptor 5HT1 distimul asi secara
selektif. Tidak memblo kir re-uptake NA.
Obat ini ter-nyata lebih efektif daripada SSRI
lain (fluoxetin) untuk menga tasi depresi,
terutama efeknya lebih cepat. Plasma-t½ rata-
rata 30 jam.
Efek samping mirip mianserin dan juga
berupa sedasi selama 2-3 minggu pertama,
bertambahnya nafsu makan dan berat badan.
Supresi sumsum tulang dapat terjadi sesudah
4-6 minggu. Efek antikolinergik dan hipotensi
ortostatik jarang sekali terjadi, juga retensi
urin. Dosis: permulaan 15 mg malam hari,
bila perlu dinaikkan sampai 45 mg sehari.
B. OBAT-OBAT GENERASI KE-2
(SSRI’s)
5. Fluoxetine: Prozac, Oxipres
Senyawa fenoksipropilamin dengan gugus-
CF3 (1986) menghambat secara spesifik re-
uptake serotonin. Tidak atau hanya ringan ber-
efek seda tif. Berkat iklan besar-besaran, obat
ini menjadi sangat terkenal di seluruh dunia
dan merupakan antidepressan yang paling
banyak dijual di AS dan negara Barat lainnya.
Obat ini juga disalahgu nakan untuk keadaan
murung ringan yang sebetul nya tidak perlu
diobati. Di samping untuk depresi parah
dengan ciri-ciri vital, juga diindikasikan pada
gangguan obsesi konvulsif dan pada bulimia
(dengan dosis tinggi). Fluoxetin dan SSRI
lain ternyata juga efektif terhadap nyeri haid
(premenstrual sindrome, PMS);
Resorpsi dari usus baik, makanan meng-
hambat resorpsi, namun jumlah totalnya tidak
dipengaruhi. PP ±94%. Di dalam hati zat ini
diubah menjadi metabolit aktif norfluoxetin,
yang terutama diekskresi lewat urin. Plas-
ma-t½ 2-3 hari (norfluoxe tin 7-9 hari).
Efek samping tersering berupa mual, nyeri
kepala dan nervosi tas. Lebih jarang gangguan
tidur dan gangguan saluran pencernaan,
mulut kering, perasaan takut, tremor, hiper-
hidrosis dan turunnya berat badan. Juga
jarang reaksi kulit (rash, gatal-gatal), rasa
lelah, debar jantung, berkurangnya libido
dan gejala flu.
Dosis: pada depresi dan OCD oral 20 mg
sehari (garam HCl), bila perlu dinaikkan
setiap 2 minggu sampai maks. 60 mg sehari
dalam 2 dosis.
Pada bulimia 1 dd 60 mg.
6. Sertralin: Zoloft, Antipres
Senyawa naftylamin ini (1990) menghambat
re-uptake serotonin dalam neuron dan terutama
dipakai pada depresi dengan gejala vital.
Plasma- t½ panjang, di atas 26 jam. Obat ini
di samping escitalopram merupakan anti-
depressiva pilihan pertama. NTvG 2009 5
September;153(36)
Efek samping utama berupa gangguan lam-
bung-usus dan gangguan ejaculatio, ada-
kalanya efek antikolinergik ringan.
Dosis: oral 1 dd 50 mg d.c. (garam HCl), bila
perlu dinaikkan setiap 2 minggu dengan 50
mg sampai maks. 200 mg sehari.
7. Paroxetin: Seroxat
Obat ini (1991) termasuk SSRI’s yang pa-
ling banyak dipakai dan selain sebagai
antidepresivum juga efektif untuk gangguan
takut sosial dan fobie sosial. Resorpsi dari usus
baik, namun BA hanya 50% akibat FPE besar.
PP 95%, masa paruh ±24 jam. Dalam hati
dirombak menjadi metabolit inaktif, ekskresi
berlangsung melalui urin dan feses.
Efek samping pada minggu-minggu perta-
ma terutama mual, mengantuk, tremor, ber-
keringat, mulut kering dan sukar tidur. Ma-
suk ke ASI, oleh sebab itu tidak dianjurkan
selama menyusui bayi.
Dosis: depresi permulaan 1 dd 20 mg pagi
hari, berangsur-angsur dinaikkan sampai 50
mg sehari, lansia 40 mg.
Gangguan panik: 1dd 10 mg pagi hari, be-
rangsur-angsur dinaikken sampai 40-60 mg.
8. Citalopram: Cipram, Cipramil
Derivat benzofuran ini (1995) yaitu
penghambat reuptake serotonin (SSRI) yang juga
dipakai pada gangguan panik. Resorpsi
dari usus cepat dengan BA tinggi (80-100%),
PP kurang dari 60%. Dalam hati dirombak
menjadi metabolit kurang aktif, yang untuk
15% diekskresi dengan urin secara utuh.
Masa paruhnya panjang, 15 hari atau lebih
(pada lansia).
Efek samping terutama gangguan lambung-
usus, berkeringat, mulut kering, sukar tidur,
tremor dan nyeri kepala. Obat ini juga masuk
ke ASI dalam jumlah kecil.
Dosis: gangguan panik/depresi permulaan
1 dd 10/20 mg, berangsur-angsur dinaikkan
sampai 40-60 mg sehari.
*Escitalopram (Lexapro) yaitu l-isomer dari
citalopram.
9. Fluvoksamine: Luvox, Fevarin
Mekanisme kerjanya berdasar perin-
tangan spesifik dari serotonin reuptake (SSRI)
di neuron dan baru nyata sesudah 2-4 minggu.
Resorpsi lengkap dan dimetabolisasi da-
lam hati menjadi metabolit non-aktif yang
diekskresi melalui urin. T1/2 13-15 jam sesudah
pemberian tunggal.
Tidak boleh diberikan pada wanita hamil
dan yang menyusui.
Efek samping sering kali (1-10%) anoreksia,
perasaan cemas, gangguan tidur, gemetar,
sakit kepala, gangguan pencernaan, mual
dan muntah.
Pada awal pengobatan dapat mengurangi
daya reaksi dan konsentrasi.
Dosis: permulaan malam hari 50-100 mg
1x sehari yang bila perlu dapat ditingkatkan
sampai 300 mg sehari.
10. Nortriptylin: Nortrilen
Trisiklik antidepressiva ini memiliki efek
sentral, merintangi heropname norepinefrin
dan agak lemah serotonin, juga bersifat anti-
histaminerg kuat dan lebih sedikit antiko-
linerg. Efek antidepresif biasanya baru timbul
sesudah 2-4 minggu.
Senyawa ini merupakan metabolit dari
amitriptilin. Memiliki PP 93%, t1/2 26 jam dan
dimetabolisasi menjadi metabolit aktif yang
diekskresi terutama melalui urin.
Di samping khasiat antidepresifnya, juga
dipakai (seperti juga bupropion) untuk
bantu menghentikan kebiasaan merokok.
namun sebaiknya dicoba terlebih dahulu efek
pemakaian zat-zat pengganti nikotin yang
relatif lebih sedikit efek sampingnya.
Kontra indikasinya yaitu gangguan jan-
tung dan pemakaian serentak dari peng-
hambat MAO, yang dapat memicu
risiko sindrom serotonin. pemakaian bagi
ibu hamil harus berdasar indikasi yang
kuat.
Efek samping berupa efek antikolinergik
(mulut kering, berkurangnya motilitas alat
pencernaan, gangguan akomodasi dan re-
tensi urin). Juga sering kali (>10%) gemetar,
sakit kepala, pusing dan mual. Juga dapat
mengurangi daya konsentrasi dan reaksi.
sebab kepekaan yang meningkat terhadap
efek antikolinergik dan kardiovaskuler, para
lansia harus berhati-hati memakai obat
ini.
Dosis: permulaan 25 mg 2-3 x sehari atau
50 mg sekali sehari pada waktu pagi yang
lambat laun tiap hari dapat ditingkatkan de-
ngan 25 mg sampai 100-150 mg sehari. Dosis
bagi lansia harus dikurangi.
11. Duloksetin: Cymbalta, Xeristar
Senyawa ini merintangi reuptake serotonin
dan noradrenalin (NA). Efek antidepresinya
sesudah 2-4 minggu.
PP ±96% dan dimetabolisasi di hati menjadi
metabolit non-aktif yang diekskresi terutama
melalui urin. T1/2 8-17 jam.
Jangan diberikan kepada wanita hamil dan
yang menyusui.
Efek samping sering kali (>10%) mual,
mulut kering, tidak bisa tidur, pusing dan
sakit kepala. sebab efek samping belum
jelas seluruhnya, sebaiknya obat ini jangan
diberikan kepada lansia.
Dosis: awal dan sebagai pemeliharaan 1x
sehari 60 mg dan maksimal 120 mg sehari
yang dilanjutkan selama beberapa bulan bila
efeknya optimal.
12. Venlafaxine: Efexor
Senyawa ini maupun metabolitnya me-
rintangi dengan kuat reuptake serotonin dan
norepinefrin, juga dopamin walaupun lemah.
Resorpsi baik dan dimetabolisasi di dalam
hati via enzim CYP2D6 menjadi a.l. metabolit
akftif o-demetilvenlafaksin.
Ekskresi terutama melalui ginjal 5% dalam
bentuk utuh; t1/2 5 jam dan 11 jam dari o-me-
tabolitnya.
Di samping terhadap depresi juga diguna-
kan pada keadaan kekhawatiran dan panik.
Efek samping sering kali (>10%) mulut ke-
ring, mual, meningkatnya kadar kolesterol,
pusing, tidak bisa tidur dan gangguan peng-
lihatan.
Juga dapat menurunkan daya konsentrasi
dan reaksi, oleh sebab itu harus hati-hati
dalam mengerjakan sesuatu yang membu-
tuhkan kewaspadaan.
Dosis: 75-375 mg sehari selama beberapa
bulan atau lebih lama.
MAO-BLOCKER
13. Moclobemide: Aurorix
Derivat benzamida ini (1991) berkhasiat
menghambat MAO-B secara reversibel. Oleh
sebab itu efek sampingnya lebih ringan
daripa da penghambat MAO klasik, yang
merintangi kedua jenis MAO (A dan B) secara
irreversibel. Bila terapi dengan obat-obat
lainnya diganti dengan moclobemida perlu
berhati-hati, sebab dapat terjadi sindroma
serotonin (mengantuk, kekacauan, gelisah,
demam, konvulsi). Khusus dipakai pada
depresi dengan ciri-ciri vital.
Resorpsi dari usus lengkap, BA rata-rata
70% sebab menga lami FPE,
PP 50%, plasma-t½ singkat (1-2 jam). Dalam
hati dimetabolisasi hampir lengkap. Ekskresi
terutama lewat urin.
Efek samping yang paling sering timbul
berupa gangguan tidur dan mual, juga nyeri
kepala, pusing, agitasi, gelisah dan perasa-
an kacau, jarang mulut kering, visus guram,
gemetar dan berkeringat. Selama penggu-
naan penghambat MAO, makanan yang
mengandung triptamin (keju tua, avokad,
pisang, buah ara, hati, bir dan anggur) dapat
memicu efek tiramin. pemicu nya
yaitu sebab tiramin tidak diuraikan lagi
oleh MAO, sehingga kadarnya naik dengan
memicu a.l. hipertensi. sebab moclo-
bemida tidak merintangi semua bentuk
MAO, maka tiramin masih dapat dirombak
dan risiko akan efek ini sangat ringan.
Dosis: oral permulaan 300 mg p.c. sehari
dalam 2-3 doses, bila perlu sesudah 2-4 ming-
gu dinaikkan sampai maks. 600 mg sehari.
Pemeliharaan rata-rata 150 mg sehari.
C. LAINNYA
14. Triptofan
Asam amino esensial ini (1963) merupakan
bahan pangkal bagi tubuh untuk sintesis
serotonin. sebab tidak dapat disintesis oleh
tubuh sendiri, maka triptofan perlu diasup
lewat makanan, khususnya yang kaya
protein. Banyak ada dalam daging sapi/
a nak domba, hati, kalkun, ikan, protein kedele
(tahu), beras merah, kacang tanah dan biji-
bijian (kembang matahari, pompun (labu),
wijen dan amandel). Hanya ±2% dari asupan
ini dipergu nakan untuk sintesis seroto nin.
Berkhasiat antide presif dan sedatif-hipnotik.
Oleh sebab itu dian jurkan sebagai obat
antidepresi dan obat menidurkan, adakalanya
bersama piridoksin yang memegang peranan
pada sintesis serotonin.
Resorpsi dari usus cepat, PP 80-90%, plas-
ma-t½ rata-rata 2 jam. Di dalam hati zat ini
dirombak minimal 75% menjadi metabolit
dan dengan bantuan koenzim piridoksin akhir-
nya asam xanthurenat, yang diekskresi melalui
urin. Jumlah triptofan yang mencapai otak
agak kecil, di mana terjadi hidroksilasi oleh
enzim hidroksilase menjadi 5-hidroksitriptofan
(oksitriptan), yang untuk ±20% diubah oleh
dekarboksilase menjadi serotonin (juga de-
ngan bantuan piridoksin sebagai koenzim).
Asetilasi dan metilasi dari serotonin meng-
hasilkan hormon epifisis melatonin. Untuk
pengubahan triptofan diperlukan vitamin B6,
mineral Mg dan Zn.Lihat skema metabolisme
serotonin pada Gambar di bawah ini.
Efek samping berupa mual dan muntah,
anoreksia serta mengantuk bila dosis per-
tama terlampau tinggi. Pada hewan dosis
besar dapat memicu kanker kandung
kemih. Pada tahun 1990 food supple ment
yang mengandung tripto fan di atas 100 mg/
dosis ditarik dari pereda ran di AS dan UK.
pemicu nya yaitu timbulnya gangguan
darah berbahaya Eosinop hi lic myalgia syn-
drome pada 1.500 pengguna dengan 27 orang
meninggal. EMS itu bercirikan pening-
katan kuat dari jumlah lek osit eosinofil de-
ngan gejala nyeri otot dan nyeri sendi hebat,
sesak napas, batuk dan perasaan letih. namun
kemudian ternyata bahwa pemicu EMS
bukan triptofan melain kan suatu pengotoran
dan pada tahun 1994 larangan itu
dibatalkan.
Dosis: pada depresi permulaan 0,5-1 g se-
hari, dinaikkan berang sur-angsur sampai
maks. 9 g sehari dalam 3-6 dosis. Sebagai obat
tidur 1-5 g a.n. dan sebagai diagnosticum un-
tuk defisiensi piridoksin: dosis tunggal 2 g.
* Oksitriptan (5-hidroksitriptofan, 5-HTP) ada-
lah metabolit (1975) yang lebih layak diguna-
kan sebab kemungkinan mencapai otak
lebih besar. Untuk menghindari pengurai-
annya di luar otak dan meningkatkan pema-
sukannya ke otak sering kali dikombi nasi
dengan dekarboksilase-blocker (karbidopa,
benserazida). Zat-zat ini —seperti juga sero-
tonin— sukar melintasi sawar darah-otak,
sedang oksitriptan dapat menembusnya
dengan mudah. Bandingkan dengan obat
penyakit Parkinson levodopa, Bab 32, Koli-
nergika dan Antikolinergika. Kombinasinya
diperkirakan lebih efektif daripada triptofan
terhadap bentuk depresi vital yang resisten
bagi obat-obat lain. Oksitrip tan dapat di-
kombi nasi dengan antide presiva lain dalam
dosis lebih rendah.
Efek samping sama dengan triptofan, namun
gangguan lambung-usus dapat dihindari
a b c d
triptofan okstriptan serotonin melatonin MAO-A
xanthurenat aldehida OH-indolasetat
a = hidroksilase b = dekarboksilase
c = asetilase d = koenzim + vit B6
Gambar 30-1: Sintesis serotonin (dan melatonin) di otak
bila diminum dalam bentuk sediaan enteric
coated.
Dosis: pada depresi 3 dd 5 mg (+ karbidopa
50 mg) ½ jam a.c., berangsur-angsur
dinaikkan sampai maks. 3 dd 250 mg (+
karbidopa 50 mg).
15. Piridoksin: vitamin B6, adermin
Derivat piridin ini bersama piridoksal dan
piridoksamin meru pakan bentuk vitamin
B6 yang terpenting. Piridoksin dalam bentuk
piridoksalfosfat berperan pada metabolisme
karbohidrat, lemak, protein dan asam amino,
termasuk sintesis neurotransmitter 5HT dan
GABA. Zat ini ada dalam daging, ikan,
gandum dan jenis-jenis buncis.
Gejala defisiensi jarang sekali terjadi dan
berupa gangguan kulit seborrois, stomati tis,
glossitis, neuropati perifer, konvulsi, dan lain-
lain. Selain itu depresi dan perasaan kacau
dapat terjadi. Ternyata obat ini agak efektif
pada depresi eksogen yang disebabkan peng-
gunaan estrogen dan pil antihamil, yang
mungkin berkaitan dengan kekurangan 5HT
di otak akibat perombakan triptofan yang
meningkat. Juga dianjurkan pemakaian nya
pada depresi post partum dan postmenopausal
serta pada keluhan haid (PMS, premenstrual
syndrome) yang disertai perasaan murung.
Resorpsi dari usus baik dan diubah men-
jadi metabolit aktif piridoksalfosfat dan
piridoksaminfosfat. Di dalam darah terutama
beredar sebagai piridoksal (fosfat). Ekskresi
berlangsung lewat urin sebagai asam piri-
doksin.
Efek samping yang adakalanya terjadi be-
rupa gangguan lambung-usus.
Dosis: pada depresi (postnatal) 1 dd 100-200
mg, pada PMS 1 dd 50-100 mg. Lihat juga Bab
53, Vitamin dan Mineral.
16. Tingtur Hyperici
Tingtur ini dibuat dari daun, batang dan
kembang tumbuhan Hypericum perforatum
(St John’s wort, Johanneskruid) yang ada
di Eropa. Tumbuhan ini mengandung hy-
pericin, suatuzat warna merah dengan struk-
tur naftodiantron, yang berkhasiat antide-
presif dan analge tik dengan meng ham bat
MAO-A secara reversibel. Kandungan lain-
nya yaitu minyak terbang, asam samak
dan hyperoside. Obat rakyat tradisi o nal ini
sejak dahulu diguna kan sebagai obat anti-
mu rung dan obat nyeri saraf (ek strak dalam
minyak sebagai obat gosok). Sejumlah studi
telah memas tikan efektivitasnya sebagai anti-
depre sivum pada depresi ringan sampai se-
dang. Mekanisme kerjanya yaitu melan-
jutkan ketersediaan serotonin, NA dan do-
pamin di otak melalui penghambatan pe-
rombakannya oleh MAO. Di Jerman zat ini
telah dire gistrasi sebagai obat resmi terhadap
a.l. depresi (1996).
Minyak hypericum (Johannes-olie) dibuat
dengan ekstraksi kembangnya dalam minyak
zaitun (dengan eksposisi pada sinar mata-
hari). Minyak berwarna merah ini diguna-
kan sebagai obat gosok, terutama pada nyeri
otot akibat neuritis.
Efek sam ping ringan, a.l. meningkatkan ke-
pekaan terhadap sinar matahari. Pada pema-
kaian luar dalam dosis tinggi, zat ini dapat
menim bulkan ruam kulit.
Interaksi berbahaya dapat terjadi dengan
digoksin, teofilin dan siklosporin, yang me-
nurunkan kadar darah secara drastis aki-
bat induksi enzim cytochrom P 450 oleh hy-
pericin. Efek obat SSRI (fluoxetin, sertralin,
trazodon) justru diperkuat.
Dosis: 2 dd 250 mg ekstrak, atau 3 dd 20
tetes tingtur a.c. Efeknya baru nyata sesudah
10-14 hari.
17. Litium
Garam-garam litium merupakan “mood sta-
bilizers” dengan terutama khasiat antimania
dan sedikit efek antidepresi. Mekanisme
kerjanya belum diketahui. Terutama digu-
nakan pada prevensi depresi manis (bipoler)
dan sebagai pilihan pertama untuk terapi
pemeliharaan yang efektif. Mulai kerjanya
baru sesudah 3-4 minggu. Pada terapi mania
akut juga efektif, namun efeknya lambat dan
barunyata dalam 1-2 minggu, oleh sebab
itu untuk meniadakan serangan mania akut
biasanya diberikan suatu antipsikotikum.
Untuk mengobati depresi tanpa mania (unipoler)
khusus diberikan bersamaan dengan anti-
depresiva lain bila ada resistensi. Juga
dipakai sebagai obat tambahan pada
antipsikotika. sebab luas terapinya sangat
sempit dan mudah terjadi overdosis serta
keracunan, dosis harus ditentukan berdasar-
kan monitoring kadar plasma. Juga berhu-
bung dengan risiko nefrotoksisitasnya, kadar
litium perlu dimonitor dengan saksama
secara periodik.16,17 Intoksikasi litium meru-
pakan suatu keadaan yang sangat serius
yang perlu ditangani dengan segera. Kadar
yang melebihi 2,5 mmol/L yaitu potensial
fatal dan sering kali harus segera dilakukan
hemodialisis. Intoksikasi kronis dapat meng-
akibatkan kerusakan otak permanen. Kadar
litium juga dapat meningkat sebab gangguan
keseimbangan cairan dan garam dari tubuh,
misalnya sebab demam atau diare. Juga
pemakaian bersamaan obat-obat yang me-
rintangi ekskresinya dapat meningkatkan
risiko intoksikasi seperti tiazida diuretika,
perintang RAAS dan NSAID’s.
Resorpsi dari usus baik, sebagai zat hidro-
fil (larut dalam air 1:78) PP-nya nihil, namun
dapat melintasi sawar darah-liquor. Plas-
ma-t½ 20-27 jam (bifasis) dengan variasi
inter-individual besar, yang dapat meningkat
dengan usia dan lamanya terapi. Tidak me-
ngalami biotransformasi dan diekskresi me-
lalui urin secara utuh (ion-Li+) untuk rata-
rata 97%. sesudah filtrasi ±80% direabsorpsi di
tubuli proksimal bersamaan dengan natrium
dan air. Untuk menjamin ekskresi lancar
perlu sekali asupan NaCl yang cukup dalam
makanan. Bila tidak, dapat timbul bahaya
kumulasi dan intoksikasi serius.
Efek samping yang sering terjadi berupa
gangguan lambung-usus, haus dan mulut
kering, polyuria, otot lemah dan tremor ha-
lus dari tangan, juga peningkatan bobot
badan sebab terlalu banyak minuman ma-
nis. Efek-efek ini bersifat sementara dan hi-
lang dengan sendirinya, terkecuali tremor
yang dapat diatasi dengan propranolol. Pada
overdosis a.l. muntah hebat, tremor, kejang
kuat dan ataksia. pemakaian lama dapat
memicu hipotirosis.
Litium dapat merubah homeostasis kalsium
dengan memengaruhi bersihan ginjal(renal
clearance) dari kalsium dan mungkin juga
penggeseran ambang sekresi parathormon
(PTH) dengan akibat hiperkalsiemia dan hi-
perparatiroidia. Defisiensi vitamin D mau-
pun peningkatan kadar PTH dapat berkaitan
dengan gangguan suasana jiwa dan menu-
runnya daya kognitif pada lansia.
Kehamilan dan laktasi. Litium melintasi pla-
senta yang dapat berefek terhadap janin; juga
mencapai air susu ibu. berdasar ini tidak
dianjurkan pemakaian nya oleh wanita ha-
mil (khususnya selama triwulan pertama)
dan yang menyusui.
Interaksi. Diuretika (tiazida, furosemida), ACE-
inhibitor, AT II-blocker, NSAID dan metronidazol
mengurangi ekskresi litium, sehingga ka-
darnya dalam darah meningkat, oleh sebab
itu kombinasi demikian perlu diberikan
dengan hati-hati. Pembatasan garam dalam
makanan juga memicu retensi litium
(dan air).
Dosis: pada mania akut oral (13 tahun ke
atas) 1 dd 400 mg karbonat/1100 mg sitrat
selama 27 hari, lalu 1 dd 800 mg/2200 mg,
sejak hari ke-8 dan dilanjutkan atas dasar
kadarnya dalam darah. Untuk profilaksis se-
mula 400-1600 mg dalam 1-3 dosis selama 4-7
hari, kemudian berdasar tuntunan kadar
darah.
18. Agomelatine: Valdoxan
Senyawa ini tidak memiliki keuntungan
nyata dibandingkan dengan antidepresiva
lain, bahkan daya kerjanya tidak meyakinkan,
lagipula efektivitasnya bagi lansia tidak
pasti dan perlunya diadakan pemantauan
terhadap fungsi hati selama pengobatan.
Merupakan agonis dari melatonin untuk
reseptor melatonin-1 dan -2 dan antagonis
dari serotoni 5 HT2c. Berkhasiat meningkatkan
pengeluaran noradrenalin dan dopamin di
kortex frontal.
Resorpsi >80%, PP 95% dan T1/2 1-2 jam.
Di dalam hati dimetabolisasi menjadi meta-
bolit non-aktif. Ekskresi terutama sebagai
me-tabolit ±80% melalui urin.
sebab data mengenai a.l. teratogeneti-
tasnya tidak cukup, sebaiknya jangan di-
berikan kepada wanita hamil maupun yang
menjusui.
Efek samping sering kali (10%) sakit kepala,
pusing, migren, diare, obstipasi, mimpi bu-
ruk, tidak bisa tidur dan perasaan lelah.
Dapat mengurangi daya konsentrasi dan
refleks, oleh sebab itu supaya berhati-hati.
Dosis: sebelum tidur 25 mg 1x sehari dan
bila sesudah 2 minggu tidak efektif, dapat di-
tingkatkan sampai 50 mg 1x sehari.
19. Bupropion: Wellbutrin, Zyban
Merupakan perintang selektif dari reuptake
katecholamin (norefedrin dan dopamin). Efek
antidepresi sesudah 2 minggu. Dimetabolisasi
di hati menjadi metabolit aktif yang terutama
diekskresi melalui urin. T1/2 ± 20 jam dan
metabolitnya lebih dari 30 jam.
Di samping terhadap depresi juga digu-
nakan untuk bantu menghentikan merokok.
Jangan diberikan kepada ibu hamil atau yang
menyusui.
Efek samping sering kali (>10%) tidak bisa
tidur, sakit kepala dan pusing, gemetar, gang-
guan konsentrasi, gangguan saluran cerna
dan kulit.
Dosis: terhadap depresi permulaan 150 mg
1x sehari dan bila perlu sesudah 4 minggu
ditingkatkan sampai maksimal 300 mg 1x
sehari. Mengingat efek samping itu di
atas, obat jangan diminum sebelum tidur.
Bantuan untuk menghindari merokok: 1x
sehari 150 mg selama 6 hari dan ditingkatkan
sampai 2x sehari 150 mg. Bila perlu dikom-
binasi dengan memakai plester nikotin.
20. Trazodon: Trazolan
yaitu antidepresiva non-trisiklik dengan
khasiat antikolinerg dan antihistaminerg le-
mah. Pada dosis rendah merupakan antago-
nis serotonin, dalam dosis tinggi bekerja se-
bagai perintang reuptake serotonin. Efeknya
baru nyata sesudah 1-2 minggu.
Resorpsi cepat dengan PP 89-95% dan t1/2
8 jam. Dimetabolisasi lengkap menjadi a.l.
m-klorfenilpiperazin aktif. Ekskresi terutama
melalui urin.
Kontra-indikasi: infark jantung akut.
Tidak boleh diberikan kepada wanita hamil
dan yang menyusui.
Efek samping: mengantuk, mual dan mun-
tah, pusing, sakit kepala, hipotensi dan gang-
guan kulit.
Juga efek antikolinerg lemah seperti mulut
kering, gangguan penglihatan, gemetar dan
retensi urin. Dapat meningkatkan tekanan
okuler dan memicu serangan glau-
koma akut.
Dapat memicu penurunan daya kon-
sentrasi dan reaksi. Para lansia harus berhati-
hati sebab meningkatnya kepekaan bagi efek
samping antikolinerg dan kardiovaskuler.
Dosis: permulaan 150 mg sehari dalam 2-3
dosis atau sekaligus sebelum tidur. Untuk
pemeliharaan 150-400 mg sehari.
21. Vortioxetine: Brintellix
yaitu obat antidepresi baru (2013) yag
dipasarkan sebagai tablet dari 5 mg.
Mekanisme kerja: modulasi aktivitas resep-
tor serotoninerg dan perintangan transpor
5-HT.
Efek samping: mual, muntah, pusing, ano-
reksi, diare, obstipasi dan berkurangnya efek
samping seksual.
Dosis: 1 dd 10 mg sampai maks. 20 mg.
Seperti telah diuraikan dalam Seksi IV, siste m
saraf terdiri dan dua kelompok, yakni Susunan
Saraf Pusat (SSP) —otak dan sumsum
tulang belakang— dan Susunan Saraf Perifer
dengan saraf-saraf yang secara langsung atau
tak langsung ada hubungannya dengan SSP.
Saraf perifer terbagi lagi dalam dua bagian,
yaitu Sistem Saraf Motoris yang bekerja se-
kehendak kita, misalnya otot-otot lurik (ka-
ki, tangan, dan lain-lain) serta Sistem Saraf
Otonom (SSO) yang bekerja menurut aturan-
nya sendiri.
Sistem Saraf Otonom
SSO, juga disebut Sistem saraf vegetatif,
meliputi antara lain saraf-saraf dan ganglia
(= majemuk dari ganglion = simpul saraf)
yang merupakan persarafan ke semua otot
polos dari berbagai organ (bronchia, lam-
bung, usus, pembuluh darah, dan lain-lain).
Termasuk dalam kelompok ini yaitu be-
berapa kelenjar (ludah, keringat dan pen-
cernaan) dan juga otot jantung,yang sebagai
pengecualian

















