etformin atau sulfony-
lurea, 1-2 dd 4 mg ac atau pc.
* Pioglitazon(Actos) yaitu derivat (1999)
dengan khasiat dan pemakaian yang sa-
ma. Resorpsi dari usus baik dengan BA
>80%, masa paruh 16-24 jam dan diekskresi
melalui urin dan feses. Khasiat maksimal
baru tercapai sesudah 6-8 mingu. Efek toksik
reversibel terhadap hati sudah nampak
sesudah 2-3 minggu, maka perlu pemantauan
teratur sejak dini.
Efek samping yang serius terutama ter-
hadap jantung dan pembuluh (a.l. udema,
gagal jantung) dan risiko meningkat untuk
fraktur terutama pada pemakaian jangka
lama.
Dosis: 1 dd 15-30 mg a.c atau pc.
* Troglitazon yaitu glitazon pertama (1996)
yang telah ditarik dari peredaran di A.S pada
bulan Maret 2000 sebab merusak hati secara
irreversibel dan fatal, namun di Jepang masih
dipasarkan.
6a. Sitagliptin fosfat (Januvia)
dipakai sebagai monoterapi atau di-
kombinasi dengan metformin atau piogli-
tazon, bila obat-obat ini kurang efektif.
H. Croonen et al. Januvia en Galvus, top of flop?
Pharm.Wkbl 2007;142:24-7.
*Janumet: sitagliptin 50 + metformin 500 mg
6b. Vildagliptin (Galvus)
Absorpsi cepat dengan BA ±85% dan di-
metabolisasi menjadi metabolit tidak aktif.
T½ ± 3 jam.
Efek samping tremor, sakit kepala, pusing,
gangguan hati, bertambah berat badan dan
hipoglikemi.
Dosis: 1-2 dd 50 mg dalam kombinasi
dengan antidiabetika lain.
* Eucreas/Galvusmet: vildagliptin 50 + met-
formin 850 mg/1000 mg
6c. Exenatide(Byetta, Bydureon)
yaitu peptida dengan 39 asam amino dan
bukan merupakan antidiabetikum oral, namun
untuk pemakaian parenteral (s.k.) dalam
kombinasi dengan metformin dan/atau sua-
tu derivat sulfonilureum, bila dengan obat-
obat oral ini tidak berhasil mengontrol kadar
gula dengan optimal.
Bekerja sebagai incretinmimeticum, meng-
aktifkan reseptor GLP-1, meningkatkan se-
kresi insulin dan menghambat sekresi glu-
kagon. dipakai sebagai penurun kadar
gula darah bagi penderita diabetes tipe-2. T½
2,4 jam.
Efek samping: hipoglikemia, sakit kepala,
pusing, gagal ginjal dan gangguan saluran
cerna.
Dosis: s.k. 2 dd 5 mcg, sesudah sebulan dapat
dinaikkan menjadi 2 dd 10 mcg.
6d. Liraglutide(Victoza)
Analog peptida GLP-1 yang diproduksi
melalui teknologi rekombinan DNA pada
Saccharomyces cerevisae. Mengikat pada re-
septor GLP-1 dan mengakitivasinya dengan
akibat peningkatan cAMP.
Pada kadar glukose darah tinggi sekresi
insulin ditingkatkan dan pelepasan glukacon
dikurangi.
Sebaliknya pada keadaan hipoglikemi,
sekresi insulin dikurangi sedang sekresi
glukagon tetap.
Mengurangi rasa lapar dan berefek sekitar
24 jam.
dipakai sebagai injeksi subkutan pa-
da DB tipe-2 dalam kombinasi dengan met-
formin atau derivat sulfonilureum/thiazo-
lidindion bila monoterapi tidak dapat me-
ngontrol kadar gula.
dipakai pada pasien dengan BMI > 35
kg/m2 terutama berkat efek menurunkan
berat badan.
Dosis: permulaan s.k. 1 dd 0,6 mg dan
sesudah minimal 1 minggu dinaikkan menjadi
1 dd 1,2 mg.
Efek samping: terutama mual dan diare,
gangguan saluran cerna, sakit kepala dan
pusing.
*Liraglutide (Saxenda): obat ini dengan
nama paten Saxenda diusulkan penggu-
naanya terhadap obesitas kronis bagi pasien
yang juga menderita gangguan lain akibat
berat badannya, misalnya hipertensi. Dosis:
1dd 3 mg parenteral.
7. LAINNYA
7a. Asam liponat: alpha-lipoic acid, thioctic acid
Derivat ditiolan ini (C3S2H5-C4H8-COOH)
yaitu suatu antiok si dan alamiah, yang
pada eksperimen hewan telah diselidiki
efekti vitasnya terha dap neuropathy diabetes.
Berefek antioksi dans kuat dan menguran-
gi stres oksidatif, di samping meningkatkan
sensivitas bagi insulin, juga memperbaiki
penyalu ran darah ke saraf perifer dan
memperlancar laju transmisi impuls di saraf.
Zat ini pada tikus dapat mencegah terja-
dinya tipe-1. Sejak 1996 di Jerman dipakai
untuk menanggulangi keluhan neuropati pa-
da penderita diabetes tipe-2, seperti nyeri
dan kesemutan (paraes thesia). Cara kerjanya
diperkirakan berdasar efek antioksi-
dansnya, yaitu mampu mencegah oksidasi
dari zat-zat lain (Diab Care 1995; 18: 1160-7).
Contoh antioksidansia lain yaitu senyawa
faal endogen vitamin A dan E, katalase, SOD
(superoksi dedismutase) dan glutationper oksidase,
yang ber fungsi menghind ari oksidasi jaring-
an tubuh. Ternyata bahwa pasien diabetes
mengalami lebih banyak oksidasi jaringan
dibandingkan dengan orang sehat, sehingga
pada mereka ada “oxidative stres “ yang
lebih besar.
Khasiat antioksidans liponat berdasar
reduksinya dalam hati menjadi dihidroliponat,
yang memiliki 4 sifat penting, yaitu:
– “menangkap” logam yang dapat bekerja
sebagai katalisator bagi radikal oksigen;
– menginaktifkan radikal bebas yang berperan
bagi stres oksidatif;.
– mereduksi kembali antioksidansia lain yang
sudah dioksidasi (regenerasi, “recycling’),
sehingga masa kerjanya sangat diper-
panjang;
– dapat mereparasi kerusakan oksidatif sehing-
ga bekerja menyembuhkan, berbeda
dengan antioksidansia lain, yang hanya
bekerja preventif. Sifat ini yaitu sangat
penting, sebab memberikan kemungki-
nan untuk menangani penyakit lain, di
mana bentuk stres oksidatif berperan
penting, seperti kanker, penyakit jantung
dan pembu luh, dementia, glaukoma dan
asma. Beberapa penelitian telah menun-
jukkan manfaatnya pada demensia Al-
zheimer. Lihat juga Bab 28, C. Obat-obat
Parkinson dan Demensia.
Dosis: oral 2-3 dd 100 mg.
7b. Ekstrak Cinnamom : ZN112, ekstrak
kayu manis cina20
Kayu manis mengandung zat-zat yang
berkhasiat antidiabetik, yaitu prosianida oli-
gomer, a.l. catechin dan/atau epicatechin. Zat-
zat ini berkhasiat memperkuat daya kerja
insulin terhadap reseptor-reseptornya de-
ngan faktor 20! Suatu penelitian21 antara 60
pasien diabetes memperlihatkan bahwa 1-6
g serbuk kayu manis dalam waktu 40 hari
menurunkan kadar gula-darah dengan rata-
rata 23%, juga kolesterol dan trigliserida.
Di kalangan komplementer* dewasa ini
mulai dipakai ekstrak kering untuk
memperbaiki pengendalian hiperglikemia
dan juga untuk mengurangi risiko gangguan
jantung pada penderita tipe-2.
Efek samping, Keamanan dari doses tinggi
belum diteliti dengan saksama. Minyak
cinnamon a.l. mengandung kumarin yang
bersifat mengencerkan darah.
Dosis: 1-2 dd 3 g ekstrak kering.
*Dewasa ini lebih sering dipakai istilah
kedokteran komplementer dari pada kedok-
teran alternatif, sebab di beberapa negara
(a.l. Belanda) timbul kecenderungan pada
sebagian dokter untuk mempraktikkan cara
pengobatan ini sebagai tambahan (meleng-
kapi) di samping ilmu kedokteran reguler.
Juga telah dicetuskan istilah CAM, yang
berarti Complementary and Alternative Me-
dicine.
7c.Glucose Tolerance Factor: GTF23 24
GTF yaitu senyawa dengan 1 atom
krom di pusat, dikelilingi oleh 2 molekul
niasin dan 3 molekul asam amino (sistein,
glutamin dan glisin). Krom bervalensi 6
tidak ada dalam alam dan sangat toksik.
Elemen mikrospura krom trivalen diasup
dengan makanan dan berefek memperkuat
kerja insulin dan penting pada regulasi
metabolisme hidratarang. Cara kerjanya
diperkirakan sebagai berikut: GTF mengikat
pada insulin serta pada reseptor-reseptor
sel dan membantu pemasukan glukosa ke
dalam sel sehingga kadarnya dalam darah
menurun. Demikian dihindarkan terjadinya
kadar glukosa tinggi yang kontinu dan
dapat memicu diabetes mellitus-2. Glukosa
berlebihan yang tidak dapat memasuki sel
akan terus bersirkulasi dalam darah dan
akhirnya bisa memicu efek buruk
pada a.l. sel-sel retina mata dan arteri-
arteri. Monitoring yang baik dari glukosa
darah dapat menghindari aterosklerosis
dan PJP. Krom juga berkhasiat antilipid
(kolesterol+TG) dan meningkatkan sedikit
HDL. dipakai pada resistensi insulin dan
DM-2, lagi pula untuk prevensi kekurangan
krom sedini mungkin.
Dalam tubuh orang Amerika ada
rata-rata 6 mg krom, sedang populasi di
Asia Tengah dan di Afrika memiliki masing-
masing ±4 kali dan 2 kali lebih banyak dalam
tubuhnya. Ternyata di A.S. setiap tahun
±300.000 orang menderita diabetes, sedang-
kan di bagian dunia itu di atas lebih
jarang insidensinya. Sebabnya diperkirakan
bahwa pangan orang Amerika mengandung
lebih sedikit krom akibat tanahnya yang
miskin krom dan pangannya juga lebih
dimurnikan. Defisiensi ada pada lansia,
penderita diabetes dan orang-orang yang
mengonsumsi banyak karbohidrat dan gula.
Resorpsi krom dalam usus buruk sekali, namun
dari kompleks organiknya lebih baik ±10%,
ekskresi terutama melalui feses. Menurut
perkiraan tubuh membutuhkan minimal
1-1,5 mcg krom sehari, yang diperoleh dari
makanan dan minuman, terutama air jeruk
(grape fruit), anggur (wine) dan ragi bir, lebih
sedikit dari gula yang tidak dimurnikan,
merica hitam, hati, keju dan wheat germ. Efek
baik dari minuman anggur bagi penderita
penyakit jantung kerapkali dilaporkan
terutama di Prancis. Semula efek baik ini
diduga ada hubungannya dengan kadar
krom tinggi, yaitu ±100 mcg/gelas dari 250
ml. namun kini diketahui bahwa kandungan
flavonoid dengan efek antioksidannya, yang
memicu efek baik ini.
Dosis: 1 dd 200-300 mcg krompikolinat
(asam pikolinat = pyiridin carbonic acid)
Di tahun 2003 Cr-pikolinat dilarang pere-
darannya di AS (Food Standards Agen-
cy) sebab in vitro dengan dosis tinggi
memicu kerusakan DNA pada hewan.
Oleh sebab itu perlu sangat berhati-hati
dengan food supplemen ini.
7d. Dapagliflozin (Forxiga) per oral menu-
runkan kadar glukosa darah dengan me-
ngurangi reabsorpsi glukosa di ginjal, se-
hingga glukosa diekskresi melalui urin dan
kadarnya dalam plasma menurun. PP ± 91%,
t½ ± 13 jam dan diekskresi sebagai metabolit
melalui urin (75%) dan feses.
Efek samping: infeksi saluran urin, dysuri,
poliuri, mual dan pusing.
Dosis: 1 dd 5-10 mg.
8. Lainnya:
alfa-liponzuur, (krom)pikolinat dan kayu manis
B. ZAT-ZAT PEMANIS
Zat pemanis dipakai sebagai pengganti
gula pasir (sakaro sa) yang boleh dikonsumsi
oleh pasien diabetes. Hal ini sebetul nya tidak
mutlak perlu, sebab menurut pendapat
modern, diabe tici diperbolehkan makan gu-
la dalam batas-batas tertentu, lihat di atas.
Orang gemuk yang menjalani kur melang-
singkan badan memakai zat-zat pe-
manis ini.
ada dua kelompok berdasar nilai
energinya, yaitu zat-zat yang menghasilkan
kalori dan yang tidak.
a.Zatzat berkalori: polialkohol ksilitol, sor-
bitol, manitol, maltitol dan laktitol, juga mono-
sakarida fruktosa. Zat-zat manis ini meng-
hasilkan energi yang nilainya lebih rendah
dari sakaro sa. Namun jumlah yang dikon-
sumsi perlu diperhitungkan dalam jatah
kalori sehari. Lihat tabel di bawah ini.
b. Zatzat tanpa kalori: aspartam, asesulfam,
sakarin, siklamat dan steviosida. Sebetulnya
aspartam berkalori sama dengan sakarosa
(4 kcal/g), namun sebab 200 x lebih manis
hanya diperlukan sedikit sekali. Satu tablet
aspartam sama manisnya dengan 1 gumpal
gula dari 4 g dan mengandung hanya 0,3
kcal (1 g = 17 kJ). Kombinasi dua zat pemanis
sering kali dipakai sebab mengha silkan
sinergis me.
* Steviosida (ekstrak Stevia). Di Jepang sejak
25 tahun lalu tersedia zat pemanis steviosida,
yang diperoleh dari daun Stevia rebaudiana
Bertoni (‘honey leaf”), suatu tanaman berasal
dari Paraguay dan Brasili a. Di AS steviosida
sejak 1995 diizinkan oleh FDA sebagai food
additive. Struktur diterpenglikosida ini mirip
dengan hormon wanita estriol, namun tidak
memiliki aktivitas estrogen. Daya manisnya
±300 kali gula putih, sukar larut dalam
air (1:800) dan tahan pemanasan. Rasanya
menyerupai liquorice (drop). Praktis tidak
diserap oleh usus. Steviosida berdaya men
stimulasi sekresi insulin pada hewan
percobaan dan juga bersifat bakteriostatik.
* Sifat karsinogen. Di tahun 1970-an, siklamat
dan sakarin dihu bungkan dengan kanker
kandung kemih dan membuat cacat janin
(focomelia) pada hewan. Oleh sebab itu di
banyak negara penggun aan nya dibatasi
sampai suatu dosis maksimal dan hanya
untuk bahan makanan bagi diabeti ci. namun
akhir tahun 1980-an dipastikan bahwa ke-
dua zat itu pada manusia tidak bersi-
fat karsinogen. Mungkin kombinasi dari
zat-zat itu dapat bekerja demiki an.
Juga aspartam di akhir tahun 1990-an di
hubungkan dengan kanker otak, namun FDA
tidak memberikan reaksi terhadap tuduhan
ini sebab dianggap tidak serius.
* Kehamilan dan laktasi. Dari kebanyakan
zat pemanis belum ada cukup data
mengenai keamanannya untuk wanita hamil
dan bayi. Hanya sorbitol dianggap aman, juga
dari aspartam,asesul fam dan siklamat belum
pernah dilaporkan dapat memicu ke-
rusakan pada janin.
Tabel 47-3: Daya manis dan kandungan
kalori zat-zat pemanis
Perhatian. Meskipun keamanan zat-zat pe-
manis sudah dipastikan dengan jelas, namun
konsumsinya dalam jumlah besar pada jangka
panjang dapat mengganggu metabolis me
glukosa menurut suatu mekanisme tertentu.
Akibatnya dapat timbul hiperinsulinisme dan
hipoglikemia. Terlalu banyak insulin dapat
menstimulasi penimbunan lemak, sedang
kadar glukosa rendah mencetuskan perasaan
lapar. Oleh sebab nya, pasien diabetes dan
orang gemuk sebaiknya membatasi jumlah
dan lamanya pemakaian zat-zat pemanis
ini sampai seminimalnya.
MONOGRAFI
1. Aspartam (Equal, Canderel, NutraSweet)
yaitu dipeptida dari dua asam amino,
asam asparaginat dan ester-metil dari fenil-
alanin, yang ±200 kali lebih manis dari
gula. Ditemukan secara kebetulan (serendi-
pity) di AS (1965), sewaktu ahli kimia J.
Schlatter meneliti suatu obat anti-ulcer dan
menjilat jerijinya yang tercemar aspartam.
Tidak berasa pahit, namun terurai pada
pemanasan di atas 180°C, maka sebaiknya
ditambahkan pada makanan sesudah selesai
dimasak. Dalam usus, zat ini dihidrolisis
menjadi metanol, asam asparaginat dan
fenilalanin, yang semuanya diserap ke dalam
darah. Banyak dipakai dalam minuman
“berkalori rendah”. Daya manis dari 1 tablet
à 50 mg yaitu sama dengan 1-2 gumpal gula
dari 5 g, namun nilai kalorinya dapat diabaikan
( 1 g = 4.18 kcal seperti semua peptida) .
Persetujuan registrasi FDA sering kali tertunda
sebab pertikaian mengenai keamanannya;
pada tikus aspartam diperkirakan dapat
memicu kerusakan dan kanker otak.
Oleh sebab itu baru sesudah 10 tahun lebih
diizinkan pemakaian nya dalam makanan
dan minuman (1993). Namun demikian
di AS ada sekelompok pengguna
yang terus berkukuh untuk mewujudkan
pelarangan dari peredarannya, sebab sendi-
rinya telah mengidap berbagai keluhan
neurologi dan lain-lain, yang diperkirakan
akibat aspartam. Pada awal tahun 1999
melalui Internet di AS telah disiarkan oleh
seorang awam peringatan yang meresahkan
mengenai neurotoksisitas aspartam yang
dapat memicu kerusakan neuron
di otak. Gejalanya dikatakan mirip dengan
gejala MS (multiple sclerosis) dengan antara
lain hilang ingatan, hilang rasa di tungkai,
sukar berbicara dan nyeri sendi. Menurut
pendapatnya, sindroma ini disebabkan oleh
keracunan asam formiat (acidosis), yang
dibentuk dari metanol pada perombakan
aspartam. Formiat menghambat enzim oksi-
datif di mitochondria, dengan efek hipoksia
dan turunnya produksi energi (ATP) da-
lam sel. Ungkapan ini sangat mustahil,
sebab kuantitas metanol dan formiat yang
dilepaskan oleh beberapa tablet aspartam
dari 50 mg yaitu sangat kecil untuk dapat
memicu intoksikasi. Lagi pula sekian
banyaknya studi mengenai toksisitas aspar-
tam, secara ilmiah tidak dapat membenar-
kan tuduhan ini. Persamaan reaksi dari pe-
rombakan aspartam yaitu sebagai berikut:
aspartam ––> CH3OH ––> HCOOH ––>
CO2 + H2O
Efek samping yang tersering timbul pada
dosis tinggi dapat berupa nyeri kepala dan
lambung, pusing, mual, muntah dan peru-
bahan suasana jiwa, lebih jarang reaksi
alergi dan serangan epilepsi. Adakalanya
aspartam dalam Cola light dapat mence-
tuskan serangan migrain. Tidak boleh dibe-
ri kan pada anak-anak dan wanita hamil
dengan fenilketonuria (PKU), pada mana
ada kekuran gan enzim yang mengubah
fenilalanin menjadi tirosin. Akibatnya fenila-
lanin akan menum puk dalam darah dan
dapat merusak saraf otak. Lihat juga Bab 54,
Dasar-dasar Diet Sehat.
Dosis: ADI (Acceptable Daily Intake) 40 mg/
kg sehari, dewasa maksimal 2,4 g/hari. Pada
pasien diabetes sampai 2.7 g/hari aspartam
tidak memengaruhi kadar gula darah. 1
tablet = 50 mg.
2. Asesulfam (*Natrena) yaitu derivat oxa-
thiazine (cincin-6 dengan O, S dan N dalam
inti) yang ±200 kali lebih manis dari gula
(1988). Pada dosis tinggi memicu rasa
pahit. Tidak berkalori. Diserap dengan cepat
dari mukosa mulut dan usus, ekskre si secara
utuh melalui terutama urin. Efek samping
tidak diketahui dan tahan pemanasan.
Dosis: ADI 9 mg/kg, maks. 15 mg/kg se-
hari.
3. Siklamat (*Natrena) yaitu garam Na atau
Ca dari suatu asam aminosulfonat (1950),
yang ±25 kali lebih manis dari gula dan tidak
berkalori. Berhubung tahan terhadap suhu
tinggi (pemanasan) dan tidak memicu
rasa pahit, maka banyak dipakai dalam
makanan dan minuman “berkalori rendah”.
Dosis: ADI 11 mg/kg sehari, dewasa maks.
650 mg sehari (garam-Na).
4. Sakarin (benzosulfimida, Sionon) yaitu
zat pemanis tertua (1879) dan ±350 kali le-
bih manis dari gula. Tidak berka lori, namun
memberikan rasa pahit. Resorpsi dari usus
cepat dan diekskresi secara utuh lewat urin.
Kecurigaan tentang sifat karsinogennya tidak
didukung secara ilmiah, maka dianggap
aman.
Dosis: ADI 2,5 mg/kg, dewasa maks. 150
mg sehari (garam-Na).
5. Fruktosa ada di banyak buah-buahan,
antara lain korma, grapefruit dan prune, juga
dalam madu. Daya manisnya 1,5 kali dari
sakarosa. Resorpsinya dari usus lebih lambat
daripa da glukosa, namun metabolismenya da-
lam darah lebih cepat. Dalam hati, fruktosa
difosforilasi dan tergantung dari keadaan
diuraikan menjadi piruvat atau diubah men-
jadi glukosa dan glikogen. Fruktosa mampu
memasuki sel-sel jaringan tanpa insulin dan
tidak menstimulasi pankreas untuk men-
sekresi insulin. Tidak cocok untuk menang-
gulangi keadaan hipoglikemia, sebab SSP
tidak dapat mempergunakannya. Sementara
ahli menganggap frukto sa sebagai zat peng-
ganti gula yang terbaik.
Efek samping. Risiko akan hiper gli kemia
lebih ringan dari glukosa, maka sering dian-
jurkan untuk diabetici sebanyak 20-30 g sehari
dengan memperhatikan kadar kalorinya. 1
g = 15.7 kJ. Konsumsi terlalu banyak dapat
meningkatkan kadar trigliserida darah.
Dosis: untuk pemberian energi/infus i.v.
100-300 g sehari larutan 5-20%.
*Glukosa yaitu stereoisomer dari fruktosa
yang ±0,5 kali kurang manis dari gula. Glu-
kosa yaitu sumber energi utama dari tubuh
yang dibakar oleh tubuh untuk memperoleh
kalori untuk proses tubuh, antara lain kerja
jantung dan otot, lihat Bab 54, Dasar-dasar
diet sehat, Hidratarang.
Larutan glukosa 50% terutama dipakai
parenteral untuk pemberian energi dan/atau
air pada hipoglike mia. Tubuh dapat meme-
tabolisasi ±800 mg/kg glukosa per jam.
Dosis: pada hipogli kemia, oral 10-20 g, bila
perlu diulang sesudah 10-20 menit, sebagai
infus i.v. 10-50 ml larutan 50%.
6. Sorbitol dan maltitol yaitu polialkohol
(C6 dengan 6 gugus-OH) yang ada dalam
banyak buah-buahan (apel, pear, prune dan
lain-lain). Diperoleh dari hasil hidrolisis pati.
Masing-masing 0,5 dan 0,9 kali kurang manis
daripada sakarosa. Tahan pemanasan, namun
bersi fat higroskopik; dapat menghasilkan 2,8
kcal/g.
Resorpsi dari usus tidak menentu dan lam-
bat sekali, maka pada dosis di atas 40 g sehari
bekerja sebagai laksans osmotik. Dalam hati,
sorbitol dioksi dasi dengan perlahan menjadi
frukto sa dan untuk sebagian kecil menjadi
glukosa. Pen garuhnya terhadap kadar gula
hanya ringan, maka banyak dipakai da-
lam bahan makanan untuk diabetici, juga
sebagai pengganti gula dalam gula-gula
(candy) sebab tidak mengakibat kan caries
(rusak gigi). 1 g = 12,5 kJ.
Dosis: sebagai zat pemanis maks. 25 g/
hari, sebagai laksans 30-50 g/hari, sebagai
hidratan (“pembasah”) dalam krem sampai
70%.
* Ksilitol(Xylit) yaitu pentanpentanol yang
sama manisnya dengan gula. Diserap da-
ri usus sekitar 20% dan dalam hati dapat
diubah menjadi glukosa sekitar 20-80%. Ba-
nyak diguna kan dalam chewing gum dan
gula-gula berkat daya anticariësnya. 1 g = 15
kJ. Dapat bekerja sebagai laksans.
Dosis: 1 g /kg berat badan sehari, umumnya
50-70 g sehari.
* Laktitol diperoleh dengan jalan hidrogenasi
dari laktosa. Tidak diserap oleh usus, namun
dalam usus dirombak oleh kuman menjadi
antara lain asam yang akhirnya mensuplai
kalori. Dapat bekerja sebagai laksans dan
membentuk gas. Tahan tehadap suhu tinggi
dan asam.
* Manitol ada di mana-mana di alam
dan diperoleh melalui reduksi d-glukosa.
Tahan suhu tinggi dan secara kimiawi agak
stabil. Rasanya manis segar, 1 g = 8 kJ.
7. Thaumatin yaitu zat pemanis alamiah,
yang terdiri dari campuran protein dengan
daya manis kuat sekali. Diperoleh dari biji
buah kecil tanaman Thaumatococcus danielli.
Efek pemanisnya lambat dan bertahan la-
ma, maka layak dikombinasi dengan zat-zat
pemanis lain. Tahan pemanasan dan digu-
nakan dalam gula-gula dan chewing gum.
TIROKSIN DAN TIROISTATIKA
A. TIROKSIN DAN
LIOTIRONIN
Tiroid atau kelenjar gondok yaitu sebuah
organ kecil yang terdiri atas dua bagian
(lobus) yang terletak di sebelah kanan dan
kiri trakhea dan yang dihubungkan oleh
secarik jaringan tiroid yang disebut istmus.
“Jembatan” ini melintasi trakhea di sebelah
depannya dan mirip suatu perisai (Yun.=
thyreos).
Tiroid berfungsi sebagai termostat (pe-
ngatur kalor) dari metabolisme tubuh yang
aktivitasnya diatur oleh hipofisis. Di bawah
pengaruh hormon TRH (Thyrotropin Releasing
Hormone, protirelin) dari hipotalamus, hipo-
fisis mensekresi TSH (Thyreoid Stimulating
Hormone), yang selanjutnya menstimulasi
tiroid untuk mensekresi hormonnya lioti-
ronin (T3) dan tiroksin (T4).
.Sekresi hormon-hormon ini diatur oleh
sistem H-H (Hipotalamus-Hipofisis) itu
melalui mekanis me feedback negatif. Bila
produksinya melampaui kebutuhan tubuh,
yaitu sekitar 0,5 mg sehari, maka hipotalamus
mengurangi pelepasan TRH yang berakibat
menurunnya produksi TSH dan kemudian
berkurangnya sekresi T3 dan T4. Sekresi
TRH ternyata distimulasi oleh neurohormon
noradrenalin, sedang sekresi TSH di-
hambat oleh somatostatin.
*Kalsitonin yaitu hormon polipeptida kecil
(terdiri dari 32 asam amino), yang dibentuk
oleh sel-sel C dari tiroid. Fungsinya ada-
lah untuk melindungi tubuh terhadap pe-
ningkatan akut dari kadar kalsium darah
(hiperkalsi emia) melalui beberapa mekanisme:
a meningkatkan ekskresi kalsium (dan fos-
fat) oleh ginjal
b menghambat penyerapan kalsium dari
usus dan
c menghambat perombakan tulang
(resorpsi) ke dalam darah berkat kerja
langsung terhadap sel-sel perombak
tulang (osteoclast).
Sekresinya distimulasi dan meningkat
bila kadar kalsium darah tinggi dan juga oleh
naiknya kadar magnesium darah dan hormon-
hormon lam bung-usus.
Berkat efeknya menghambat osteoclast,
kalsitonin adakalanya dipakai bersama
suatu bisfosfonat pada osteoporosis.
Paratiroid
Paratiroid atau anaktiroid terdiri dari empat
kelenjar kecil yang terletak di belakang tiroid
dan membentuk hormon parathormon (PTH),
suatu polipeptida dengan 84 asam amino. PTH
bersama vitamin D dan kalsitonin memegang
peran utama dalam mengatur kadar kalsium
dalam darah. Bertentangan dengan kalsitonin,
PTH berfungsi meningkatkan kadar kalsium
darah bila kadarnya menurun. Oleh sebab
itu dalam hal kadar Ca rendah, sekresi PTH
ditingkatkan.
*Hiperkalsiemia dapat terjadi oleh produksi
PTH berlebihan (hiperparatiroidi), dapat pula
oleh a.l. terlampau banyak pemasukan Ca dan
vit D. Gejalanya berupa mual, muntah, rasa
penat, dehidrasi dan murung, juga banyak
berkemih, nyeri tulang dan perut. Penanganan
terdiri atas rehidrasi dan pemberian
bisfosfonat i.v (pamidronat) Lihat juga Bab 53,
Gambar 53-3, metabolisme vitamin D.
Gangguan tiroid
Dapat dibagi dalam dua kelompok, sebagai
berikut.
1. Primer: penyakit auto-imun yang teru-
tama timbul pada wanita dan lansia
dengan atau tanpa perubahan volume
kelenjar tiroid.
2. Sekunder: timbul perubahan volume ke-
lenjar tiroid dan pemicu hipo/hiper-
tiroidi yang terletak di hipofisis atau di
SSP.
Bila dari pemeriksaan diperkirakan adanya
gangguan fungsi tiroid perlu dianalisis kadar
TSH dan bilamana menyimpang harus dipe-
riksa kadar T4 bebas, yaitu yang tidak terikat
pada protein.
Yang paling sering terjadi yaitu hipofungsi
(hipoti rosis, hipotiroidi) atau hiperfungsi (hiper-
tirosis, hipertiroidi) dari kelenjar tiroid, pada
mana produksi hormon masing-masing di
bawah atau melebi hi nilai normal.
a. Hipotirosis. Tiroid yang bekerja terlalu
lamban memicu kekurangan T3 dan
T4 dan penurunan metabolisme umum, yang
dapat memicu sejumlah gejala. Gejala
yang sangat khas yaitu keadaan mental
mundur, lesu dan mengantuk, berat badan
meningkat, obesitas, brady car dia, muka pucat
dengan suara menda lam, kulit menebal, ram-
but kering, sembe lit dan perasaan dingin.
* Kekerdilan. Bila hipotirosis terjadi sejak
lahir, pertum bu han mental dan fisik akan
terhambat (creti nisme) dan mende kati pandir
(idioti a). Tubuh tetap kerdil dan sering kali
dengan struma (gon dok) di leher akibat
membesarnya tiroid.
* Mixudema yaitu juga suatu penyakit
hipofungsi tiroid, yang bercirikan infiltrasi
dan pengembangan kulit oleh lendir (mucus),
yang terutama jelas pada kelopak mata dan
bibir. Gejala lain yaitu proses metabolik
mundur, ada kecenderungan untuk obe-
sitas, juga gerakan, cara berpikir, bicara dan
denyut nadi lamban, kulit menebal dan
kering, serta rambut rontok. Pada wanita
sering kali suara serak dan haid berlangsung
lebih deras.
pemicu hipotirosis bisa bermacam-ma-
cam, misalnya sebab tidak ada iod di dalam
bahan makanan atau air minum, seperti di
daerah pegunun gan tertentu (Himalaya,
Amerika Selatan dan Afrika Tengah). Atau,
sebab tubuh tidak mampu membentuk
mono- dan diiodti rosin, ataupun tidak dapat
mempersenyawakannya menjadi T3 dan T4.
Lihat skema reaksi di bawah.
* Kekurangan iod atau iodida memicu
menurunnya produksi tiroksin, sehingga
hipofisis distimulasi terus untuk mense-
kresi TSH (melalui TRH). Akibatnya ialah
tiroid dirangsang dan tumbuh berlebi han
(hiperplasia) dengan bertambahnya pembu-
luh darah (vaskula risasi) dan akhirnya ter-
jadi gondok (struma). Bahan makanan ter-
tentu, seperti jenis kol, mengandung zat-zat
yang menghalangi penyera pan iodida, atau
mencegah iodisasi dari tirosin. Untuk meng-
hindar i peristiwa ini, di banyak negara io-
dida dibubuhkan pada garam dapur atau
garam untuk pembuatan roti (2,5-6 mg/kg),
terutama di daerah di mana gondok ada
secara endemik.
Pengobatannya berupa terapi substitusi
dengan tirok sin, yang pada dasarnya perlu
dijalani seumur hidup.
b. Hipertirosis bercirikan overproduksi T3
dan T4, seperti pada penyakit Graves(dahulu
disebut penyakit Basedow). Gejala terpen-
tingnya yaitu efek jantung (tachycardia, atri-
umfibril asi), struma, serta bola mata menon jol
secara abnormal (exophthal mus), meskipun
kedua gejala terakhir ini tidak selalu nampak.
Gejala lainnya dapat berupa menurunnya
berat badan akibat peningkatan kecepatan
metabolisme dan pemakaian energi (‘pem-
bakaran’), palpitasi, tremor, transpirasi, ge-
lisah, rasa takut, sukar tidur, diare akibat
peningkatan peristaltik dan nafsu makan
bertambah. Lihat juga di bawah B. Tiroistatika.
Penyakit Graves.
Pada manula, gejala hiper fungsi sering kali
hanya nampak sebagai kelemahan jantung,
tachycardia, udema, banyak berkemih, gang-
gu an ritme jantung (fibrilasi atrium) dan hati
membe sar. Gejala ini mudah dikelirukan
dengan gangguan jantung.
pemicu hipertirosis kebanyakan yaitu
sebab stimulasi tiroid oleh suatu globulin
darah yang memiliki aktivitas TSH, yang
disebut LATS(longacting thyreoid stimulator).
Sering kali juga disebabkan adanya benjolan
kecil di dalam kelenjar (noduli), yang secara
otonom membentuk hormon berlebihan di
luar sistem H-H. pemicu lainnya yaitu
kelebihan minum obat yang mengandung
iod atau iodida (obat batuk!) selama jangka
waktu panjang, ataupun makanan dengan
kadar iod tinggi, seperti lumut laut (seaweed,
bio alga, kelp), misalnya pada penangkap
ikan Jepang. Dalam hal ini, penyakit itu
disebut iod-struma atau iod-Basedow.
Sintesis
Pembuatan hormon tiroid berlangsung dalam
beberapa tahap. Pertama-tama tiroid menarik
iodida dari darah, yang lalu dipekatkan ±25
kali dan dioksidasi oleh peroksidase men-
jadi iod. Lalu iod ini secara enzimatik pula
dipersenyawa kan dengan asam amino tiro-
sin (Yun. tyros = keju) menjadi mono- atau
di-iodtirosin. Akhirnya zat-zat ini saling ber-
senyawa dan mengha silkan liotironin (T3)
dan tiroksin (T4).
Sebagian besar T4 dalam darah diubah
di jaringan perifer menjadi T3 (80%) dan
hanya 20% T3 disekresi langsung oleh tiroid.
Di samping itu di jaringan juga dibentuk
‘reverse’ T3 (rT3) melalui deiodisasi T4.
Reverse T3 ini dianggap sebagai metabolit
inaktif, yang terbentuk sebagai pengganti T3
selama puasa atau penyakit parah.
Untuk jelasnya lihat skema reaksi berikut:
T3 dan T4. Di dalam tiroid kedua hormon
ini ada dalam bentuk terikat pada
protein tireoglobulin. Di bawah pengaruh
TSH, kompleks ini dihidrolisis dan hormon
dibebaskan ke dalam darah. Di sini terjadi
pengikatan lagi untuk lebih dari 99% pada
protein-pengangkut, sehingga menjadi fisio-
logis inaktif. Hanya sebagian kecil yang ber-
edar bebas dan aktif, yakni T3 0,4% dan T4
0,04%. Kebanyakan T4 di dalam jaringan
perifer (hati, ginjal, otot) melalui deiodisasi
diubah menjadi T3, yang berdaya 5 kali
lebih kuat dan mengikat pada reseptor khas
di dalam sel. Hanya 10-25% dari T3 dalam
darah berasal dari sintesis dalam tiroid. T4
dapat dianggap sebagai pro-hormon dari T3
aktif.
Fungsi
Hormon-hormon tiroid bekerja terhadap
semua sel tubuh dan berfungsi meningkatkan
metabolisme sel melalui mitochondria dan
pemakaian oksigen, juga mendorong sintesis
protein di dalam sel yang terutama penting
bagi pertumbuhan anak-anak. Hormon tiroid
penting bagi perkembangan susunan saraf
sentral anak-anak.
Pertum buhan sel dan perkem ban gan otak/
SSP distimulasi, begitu pula kerja jantung
dan sirkulasi darah, sedang peristaltik
lambung-usus diperkuat. Daya kerjanya
terhadap jantung mungkin disebabkan otot
jantung menjadi lebih peka terhadap kate-
cholamin.
Tes fungsi tiroid. pemakaian oksigen sela-
ma bertahun-tahun telah merupakan prin-
sip untuk menentukan metabolisme basal
(dasar) seseorang dengan mak sud menilai
fungsi tiroidnya. Metode ini kurang saksama,
maka sudah lama diganti dengan penentuan
tiroksin langsung dalam darah.
pemakaian
Hormon tiroid dipakai untuk berbagai
indikasi, yaitu pada gangguan-gangguan
berikut:
a. Hipotirosis. Tiroksin terutama diguna-
kan untuk terapi substi tu si pada hipo-
fungsi tiroid, yang disebabkan insufi-
siensi hipotalamus, hipofisis atau tiroid.
Liotironin yang berkhasiat lebih kuat
- meskipun kerjanya lebih cepat - tidak
dianjurkan, sebab bertahan lebih singkat
dengan risiko efek samping yang lebih
besar. Oleh sebab itu hormon ini hanya
dipakai dalam keadaan gawat, seperti
pada koma/mixudema.
b. Obesitas. Adakalanya tiroksin diguna-
kan terhadap kegemukan, yaitu sebagai
kompo nen dari obat pengurus badan,
berdasar efek stimulasinya terhadap
metabo lisme umum. Cara pemakaian
ini tidak dapat dibenarkan, sebab pada
dosis tinggi yang diperlu kan untuk
«membakar» lemak berlebihan, dapat
terjadi gejala hipertirosis yang justru me-
nyebabkan bertambahnya nafsu makan.
c. Kolesterol tinggi. Bentuk dekstro dari
tiroksin (d-tiroksin) dengan aktivitas
ringan terhadap metabolisme dan jan-
tung (hanya 10% daripada bentuk-levo-
nya), adakalanya dipakai pada hi-
perkoles terolemia tertentu untuk menu-
runkan kadar kolesterol. Lihat Bab 36,
Antilipemika.
Efek samping dan pentakaran
Pada pentakaran yang tepat tidak timbul
efek samping. Pada overdosis timbul gejala
hipertirosis (kecuali exophthal mus), terutama
palpitasi, gelisah dan sukar tidur. Pada
pentaka ran yang terlalu mendadak tinggi
dapat timbul efek jantung, seperti angina
pectoris, dekompensasi dan infark. Untuk
menghindari efek samping ini, dosis harus
ditentukan secara individual atas tuntunan
gejala dan/atau kadar hormon dalam darah.
Dosis permulaan hendaknya rendah sekali dan
secara berangsur-angsur dinaikkan. Semakin
berat keadaan hipotirosis, semakin besar
kepekaan organisme untuk hormon tiroid
dan semakin rendah pula hendaknya dosis
permulaan.
Interaksi. Tiroksin memperkuat efek anti-
koagulansia dan memper le mah efek insulin,
antidiabetika oral dan digoksin. Beberapa
obat, antara lain garam litium, amiodaron,
kelp (lumut laut) dan zat kontras Röntgen
yang mengandung iod dapat memicu
gangguan fungsi tiroid.
MONOGRAFI
1. l-Tiroksin: levo-thyroxin Na, tetraiodtironin,
T4, Thyrax, Euthyrox
Hormon ini dibuat secara sintetik dan
telah menggantikan serbuk tiroid yang ker-
janya kurang konstan dan pentakarannya
kurang saksama. Tiroksin berfungsi sebagai
prohormon untuk liotironin yang lebih aktif.
Deiodisasi T4 menjadi T3 terjadi secara
enzimatik di hati, ginjal dan otot. Mulai
kerjanya lambat dengan masa laten 7-10
hari, efek maksimalnya tercapai sesudah 3-4
minggu, namun berta han lama. Bila terapi
dihenti kan, obat masih bekerja terus selama
1-3 minggu.
Resorpsi dari usus tidak menentu (50-80%)
dan tergantung pada adanya makanan, maka
sebaiknya diminum pada lambung kosong-
setengah jam sebelum makan pagi. Makanan
berserat mengurangi resorpsinya, demikian
juga pemakaian bersamaan waktu dari
senyawa-senyawa yang mengandung besi
dan obat-obat pengikat asam. Plasma-t½ 6-7
hari, sehingga cukup dengan single-dose
sehari. Eliminasi seperti T3 terjadi untuk
60% melalui deiodisasi menjadi tirosin, 25%
melalui konyugasi dengan glukuronida/
sulfat yang diekskresi lewat empedu, untuk
kemudian dideiodisasi pula.
Dosis: oral permulaan 1 dd 25 mcg (garam-
Na) ½-1 jam a.c., setiap 2 minggu dinaik-
kan dengan 25 mcg, pemeliharaan 1 dd
100–125 mcg a.c. Lansia dan pasien jantung:
permulaan 1 dd 12,5 mcg.
2. Liotironin: T3, triiodtironin, Cytomel
Liotironin dibuat secara sintetik (1956);
khasiatnya ±5 kali lebih kuat dari tiroksin.
Mulai kerjanya cepat, efek maksimal dicapai
sesudah 2-3 hari dan terapi bertahan sampai 3
hari sesudah penghentian. Plasma-t½ 1-2 hari.
Efek sampingnya lebih berbahaya, khususnya
infark jantung, maka kurang layak bagi terapi
jangka panjang. Zat ini hanya diguna kan bila
dibutuhkan kerja cepat dan kuat, misalnya
pada mixudema. Juga bila tiroksin tidak
efektif dan sebagai zat pembantu diagnosis
hipertirosis.
Dosis: pada hipotirosis berat, oral per-
mulaan 25 mcg sehari, berangsur-angsur
dinaikkan sampai maksimal 75 mcg. Pada
mixudema dan struma: 1 dd 2,5-5 mcg.
3. Kalsitonin: salcatonin (salmon), Miacalcic
Polipeptida sintetik ini (1972) yaitu iden-
tik dengan kalsitonin yang berasal dari ikan
salem (salcatonin). Berdaya menginaktifkan
osteo clast dan perombakan tulang, juga
menghambat resorpsi kembali kalsium
di tubuli ginjal, yang berdam pak turunnya
kadar kalsium darah. Di samping itu ber-
khasiat analgetik. Oleh sebab itu, zat ini
dipakai untuk penyakit Paget (ostitis defor-
mans), yaitu melunaknya tulang secara kro-
nis yang memicu deformitas dengan
nyeri hebat. Juga untuk terapi simtomatis dari
hiperkal siëmia dan osteoporosis postmenopausal,
meskipun efeknya terha dap insidensi frac-
tura belum dipastikan.
Efek samping kerapkali terjadi dan berupa
mual dan flushing, lebih jarang diare, sakit
perut, polyuria dan reaksi kulit di tempat
injeksi.
Dosis: pada penyakit Paget i.m./s.c. 0,5 mg
sehari, sesudah 2 minggu dinaik kan sampai
2 dd 0,5 mg atau diturunkan sampai 2-3 kali
seminggu 0,5 mg tergantung dari efeknya,
selama minimal 6 bulan. Pada hiperkalsiemia:
kalsitonin salem sintetik setiap 6-8 jam i.m./
i.v./s.c. 400 IE hingga kadar Ca dan fosfat
turun atau gejala klinis hilang.
B. TIROISTATIKA9
Tiroistatika atau zat antitiroid yaitu zat-zat
yang berkhasiat menekan produksi hormon
tiroid. Khusus dipakai pada keadaan
hiperfungsi kelenjar itu , yang sering
kali disertai peningkatan sekresi tiroksin.
Keadaan itu disebut hipertiroidisme, hiperti-
rosis, atau thyreotoxicosis.
Penggolongan
Obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa
kelompok, yakni:
a. thionamida (dahulu disebut derivat thio-
urea) dan dibagi dalam:
– derivat thiourasil : propiltiourasil
– derivat tioimidazol: karbimazol,
tiamazol
Obat-obat ini menghambat secara
langsung sintesis hormon tiroid dengan
mencegah pengika tan iod pada tirosin atau
penggandengan mono- dan diiodtirosin
menjadi T3/T4. Juga pengubahan T4
menjadi T3 di jaringan perifer dihambat.
Kelenjar masih tetap aktif, pelepa san
hormon (yang masih tersedia) tidak
dihambat, hanya produk sinya terhen-
ti. Oleh sebab itu hipofisis kehilangan
kendalinya dan meningkatkan sekresi
TSH, dengan akibat tiroid dirangsang
berlebihan dan tumbuh membesar. Un-
tuk meng hindarkan hiperpla sia dan ke-
mungkinan hipotirosis, terapi dengan
thionamida selalu dikombi nasi dengan
dosis ringan tirok sin. Exophthalmus
yang sudah ada akan memburuk. Di
samping itu, tiroistatika juga berkhasiat
imunosupresif.
Efek samping terpenting yang tergan-
tung dari dosisnya yaitu agranulositosis
(demam, sakit tenggorok), gangguan ku-
lit dan persendian.
b. iod dan iodida dalam dosis tinggi meng-
hambat sintesis dan pelepasan hormon-
hormon tiroid, juga pemasukan iodida
ke dalam tiroid dirintangi. Tiroid menjadi
lebih padat (kecil) dan vaskularisasinya
berkurang, sehingga juga dipakai
untuk persia pan pembedahan. sesudah
beberapa waktu efeknya berkurang, ma-
ka biasanya dikombinasi dengan suatu
thionamida. Iod sebagai elemen tidak digu-
nakan lagi, sebab pentakarannya kurang
saksama, lagi pula baru diserap di usus
sesudah diubah menjadi iodida.
Efek sampingnya yaitu alergi (eks-
antema, mata merah dan bercair, bron-
chospasm) pada penderita yang peka.
pemakaian yang lama (amiodaron) pada
sebagian pasien dapat memicu
struma dengan hipotiroidia.
c. iod radioaktif berupa isotop iod-131
(131I) yang sesudah diserap secara selektif
oleh tiroid merusak sebagian jaringan
melalui radiasi beta-radioaktif. Tiga bu-
lan sebelum penanganan dengan iod
radioaktif, harus dihindari pemakaian
senyawa-senyawa yang mengandung
iodium, seperti amiodaron dan obat
kontras Röntgen, sebab resorpsi iod ra-
dioaktif oleh kelenjar tiroid tergantung
dari a.l. kadar iodium anorganik dalam
plasma. biasanya , radioiod ini
hanya dipakai pada pasien di atas usia
40 tahun.
Efek samping yang terpenting yaitu
hipotiroidia yang dapat bertahan berta-
hun-tahun. Oleh sebab itu pasien demi-
kian harus memeriksakan kadar TSH-nya
minimal setahun sekali selama hidupnya.
d. propranolol adakalanya dipakai un-
tuk mengurangi beberapa keluhan, seperti
tachycardia, fibrilasi serambi jantung dan
kegelisahan. Beta-blocker ini menguran gi
efek tiroksin di jaringan perifer dengan
jalan blokade susunan saraf simpatis.
Hipertirosis
Gangguan ini bercirikan hiperaktivitas kelenjar
tiroid dan dapat ditimbulkan oleh banyak
sebab. Yang paling sering (70-80%) yaitu
akibat penyakit Graves dan pada orang di atas
usia 50 tahun oleh hiperfungsi (TMG, toxic
multinodular goitre). Di samping itu, juga oleh
hiper fungsi akibat adanya adenom (tumor)
atau pera dangan tiroid (tiroidi tis).
a. Penyakit Graves (nama lama penyakit
Basedow)8
Gangguan ini diakibatkan oleh suatu pro-
ses auto-imun, pada mana antibo dies IgG
mengikat pada reseptor untuk TSH di tiroid.
Efeknya yaitu stimulasi produksi T4, jadi
sama dengan aktivasi oleh TSH. Mungkin
pembentukan antibo dies itu dipicu oleh
infeksi suatu kuman Gram-negatif (antara lain
E. coli, Yersini a, dan lain-lain) yang memiliki
titik pengika tan TSH. Penyakit auto-imun ini
terutama timbul pada usia muda/menengah
dan wanita 5 kali lebih sering daripada pria.
Pada sekitar 25-50% dari semua kasus terjadi
penyembuhan spontan dalam waktu satu
tahun. Lihat juga di awal bab ini: Hipertirosis.
Gejalanya yang khas berupa trias: bola mata
menonjol (exopht halmus) dengan pembesaran
tiroid (struma difus 60%) dan tireotoxi cosis
(tachycar dia, atriumfibrilasi, tremor, badan
menjadi kurus). Gejala lain dapat berupa
keluhan mata (nyeri, visus guram, peka ca-
haya, udema, conjunctivitis) juga akibat pro-
ses auto-imun (auto-antibodies, kom pleks
imun). Gejala ini dapat ditanggulangi dengan
prednison 40 mg atau lebih, yang berkhasiat
menekan proses auto-imun seluler dan
humoral (imunosupre sif). Dosis prednison
yang tinggi itu berangsur-angsur diku-
ran gi sampai dosis pemeliha raan 5-10 mg.
Gejala penting kedua dari hipertirosis
(10-15%) yang terutama timbul pada lansia
berbentuk struma (multi)nodular. Lihat di
bawah.
pemicu iatrogen lain yaitu pemakaian
obat-obat yang mengandung iodium seperti
amiodaron dan senyawa-senyawa kontras
pada penyinaran dengan X-ray.
ada pula hipertiroidia sesudah persa-
linan yang disebut postpartum thyreoiditis,
juga merupakan gangguan auto-imun yang
biasanya akan spontan berlalu sesudah per-
salinan.
Penanganan. Pembedahan (thyreoïdectomia
subtotal) dilakukan bila struma menjadi sa-
ngat besar, sehingga arteri leher atau ba-
tang tenggo rok terancam tersumbat. Hanya
sebagian tiroid dikelu arkan. Untuk memper-
mudah pembedahan, 1-2 minggu sebelum-
nya diberi terapi dengan tiroistatika dan/
atau iodida. Maksudnya yaitu untuk me-
ngurangi vaskularisasi tiroid dan memadat-
kan konsistensinya. Kemungkinan lain ada-
lah menginaktif kan seba gian kelenjar melalui
iod radio ak tif.
Pengobatan. Hipertiroidisme dapat dita-
ngani dengan obat antitiroid (tiroistatika)
untuk mengurangi aktivitas tiroid dengan
mengurangi produksi hormonnya. Keberat-
annya yaitu sering terjadi residif sesudah
pengoba tan dihentikan, pada penyakit Gra-
ves ±50% dan pada struma nodular bahkan
sampai 90%.
*Terapi kombinasi. Untuk mencegah hiper-
plasia dan risiko hipoti rosis, umumnya di-
lakukan terapi kombinasi tiona mida dengan
tiroksin (“block and replace” treatment).
1. Weetman AP. Graves’ disease. N Engl J
Med.2000;343:1236-48
2. Cooper DS. Antithyroid drugs. N Engl J Med
2005;352:905-17).
Thionamida diberikan terlebih dahulu de-
ngan dosis yang untuk sebagian besar menekan
fungsi tiroid. Lazimnya tiamazol 30 mg atau
karbimazol 40 mg/hari sudah mencukupi.
Efeknya baru nampak sesudah ±4 minggu,
sebab depot hor mon dalam tiroid harus
dihabis kan dahulu (masa laten). Kemudi an,
atas pengarahan dari kadar T4 bebas dalam
darah baru disuplesi l-tiroksin (1,6 mcg/
kg) untuk menormali sasi sistem H-H dan
menghindari hipotirosis.
berdasar kadarnya dalam darah, se-
tiap triwu lan dosis tiroksin disesuai kan.
Lazimnya sesudah 1 tahun pemberian kedua
obat dihen ti kan, namun sering kali juga perlu
dilanjut kan sampai 3 tahun sebelum semua
gejala hilang.
*Terapi tunggal hanya memakai thio-
namida, yang sesudah kadar hormon normal
tercapai, diturunkan dosisnya sampai 50%.
Kemudian berdasar kadar tiroksin dalam
darah sebagai penuntun, dosis disesuaikan
menurut kebutuhan. Cara ini memerlukan
lebih banyak monitoring dan kemungkinan
kambuh lebih besar dibandingkan dengan
terapi kombinasi, maka dewasa ini jarang
dipakai lagi
Exophthalmus tidak dapat disem buhkan,
sebab tidak disebabkan oleh TSH, namun
oleh suatu zat khusus yang belum diketahui.
Bila terjadi residif dalam waktu 2 tahun,
penanganan dengan iod 131 atau pembedah-
an dapat dipertimbangkan. Kemung kinan
kam-buh sesudah 2 tahun yaitu kecil. Di AS
umumnya lang sung dilakukan pembedahan
di bawah “perlindungan” propranolol, atau
terapi singkat dari thionamida dan/atau
kaliumiodida (“plumme ring”).
b. Struma multi-nodular (TMG)
Penyakit ini jarang memperlihatkan remisi
spontan (terhen tinya atau berkurangnya ge-
jala untuk sementara) dan juga ditangani
dengan terapi kombinasi. namun segera sete-
lah terapi dihenti kan penyakit umumnya
kambuh lagi, sehingga terapi perlu dilan-
jutkan seumur hidup. Ini juga berlaku bagi
adenom tunggal. Kemungki nan lain sesudah
dicapai nilai hormon normal (euthyreoïdie)
langsung dimulai penanganan dengan iod
131. Cara ini memberikan keuntungan tam-
bahan bahwa struma dapat menyusut. Bila
struma sangat besar dapat langsung dilaku-
kan pembedahan.
Di berbagai negara dipakai metode
penanganan berlainan, misalnya di AS 69%
dokter memilih radioiod dan 31% dokter
memilih tiroistatika. Di Eropa dan Jepang,
angka itu masing-masing 22-77% dan
11-83%.
c. Tiroiditis
Radang tiroid dapat disebabkan oleh infeksi
virus atau kuman (strepto-/stafilokok). Geja-
lanya berupa leher membengkak, dengan rasa
sakit yang menjalar ke telinga atau rahang,
demam dan malaise umum. Pengobatannya
dilakukan dengan analgetika (dan bila parah
dengan prednison) atau antibiotika.
* Struma Hashimoto yaitu suatu bentuk
tiroiditis kronis, yang merupakan gangguan
auto-imun, seperti penyakit Graves. Berci-
rikan pembesaran tiroid menahun (struma,
gondok) tanpa pera dangan, akibat suatu
proses auto-imun. Gangguan ini teru tama
diderita wanita lanjut usia. Pada awalnya
dapat terjadi hiperti rosis, namun kerap kali
berakhir dengan hipoti rosis. Terapi dilakukan
dengan tiroksin.
MONOGRAFI
1. Karbimazol: Neo-Mercazole
Derivat tioimidazol ini (1951) berkhasiat
antitiroid kuat dan paling sering dipakai .
Resorpsinya dari usus cepat dan langsung
diubah dengan lengkap menjadi metabolit
aktifnya ialah tiamazol. 10 mg karbimazol
mengha silkan 6-7 mg tiamazol. Plasma-t½ 9
jam.
Efek samping jarang terjadi pada dosis
normal dan biasanya tidak serius, antara lain
sakit kepala dan sendi, gangguan lambung-
usus, hilang rasa di mulut, rambut rontok
dan reaksi kulit (gatal, ruam). Pada dosis
lebih tinggi dapat terjadi efek serius, seperti
depresi sumsum tulang dengan antara
lain agranulositosis dan leuk openia (reversi-
bel). Kelainan darah ini bisa timbul dengan
sangat mendadak selama bulan pertama,
maka terapi harus segera dihentikan sambil
menjalani pemeriks aan darah bila terjadi
sakit tenggorok atau demam.
Wanita hamil hanya dapat diberikan kar-
bima z ol dan tiroistatika lainnya dengan pe-
ngawasan dosis yang saksama untuk meng-
hindari struma dan aplasia cutis congenita
pada bayi bila dosis terlampau tinggi. Obat
pilihan pertama selama kehamilan yaitu
propiltiourasil dalam dosis rendah(50-100
mg per hari). Ibu yang menyusui sebaiknya
jangan menelan obat-obat ini sebab juga
menca pai air susu.
Dosis: oral 3-4 dd 10 mg atau 1 dd 30-40 mg
selama 6-8 minggu, kemudian ditambahkan
tiroksin, atau dapat juga beralih ke dosis
pemeli haraan 5-20 mg/hari.
* Tiamazol(metimazol, Strumazol, Thyrozol)
yaitu derivat merkaptome til (1950), yang
sebagai metabolit karbimazol memiliki kha-
siat sama. Mungkin juga berkhasiat imu-
nosupresif, yang meningkatkan efek anti-
tiroidnya. Plasma-t½ hanya 2-6 jam, namun
afini tasnya untuk tiroid besar dan lama kerja
biologisnya berkorel asi dengan kadarnya di
tiroid. Oleh sebab itu zat ini aktif selama
24 jam (pada dosis 10-30 mg) dan dapat
diberikan sebagai single-dose. Praktis tidak
terikat pada protein. Tiamazol merupakan obat
pilihan utama dan banyak diguna kan di AS
dan negara-negara lain. Dosis: 1 dd 15-30 mg,
maksimal 120 mg sehari, selama 6-8 minggu,
pemeliharaan 5-30 mg/hari.
2. Propiltiourasil (F.I.)
Derivat pirimidin ini (1948) yaitu ana-
logon dari metiltioura sil, yaitu zat antiti-
roid pertama (1945). Khasiat tiroistatiknya
±10 x lebih lemah daripada karbimazol. Re-
sorpsinya cepat, PP ±80%, plasma-t½ sing-
kat (1-2 jam) maka perlu ditakarkan 3-4 kali
sehari. Berbeda dengan karbimazol, obat
ini merintangi pengubahan T4 menjadi T3
(yang lebih aktif) di jaringan perifer, misalnya
dalam hati. Efek samping mirip karbimazol.
Turunnya kadar T3 dan T4 berlang sung lebih
lambat, maka tidak begitu sering diguna kan
seperti karbima zol.
Dosis: permulaan 3 dd 70-200 mg selama
6-8 minggu, pemeliharaan 50-300 mg/hari
atau dikombinasi dengan tiroksin.
3. Kaliumiodida
Garam ini yaitu obat pertama yang
dipakai pada struma dan hipertirosis.
Sesudah diserap dengan baik oleh usus,
iodida diabsorpsi secara selektif oleh tiroid
dan dipekatkan di sini sampai 25 kali. Mulai
kerjanya cepat, dalam 1-2 hari, namun bersifat
sementara, sesudah ±2 minggu sering kali
tidak efektif lagi dan gejala memburuk.
pemakaian nya bervariasi, yaitu untuk:
– premedikasi untuk memadatkan kelenjar
10-14 hari sebelum pembedahan;
– profilaksis pada orang yang terkena radiasi
25 rem atau lebih, misalnya pada bencana
reaktor di Chernobyl (Rusia, 1986). Pada
kecelakaan pusat tenaga nuklear ini ba-
nyak produk pembelahan dilepaskan ke
atmosfir, termasuk isotop-iod radioaktif.
Kaliumiodida (dan kaliumiodat) mampu
merintangi uptake iod radioaktif itu
ke dalam tiroid untuk 90-99% bila di-
minum sebelum atau tepat sesudah
exposure. Bila dipakai dalam 3-4 jam
sesudah exposure perintangannya yaitu
±50%. Kaliumiodida 130 mg memberi
pelindungan untuk 24-48 jam terhadap
iod radioaktif.
– ekspekto ran dalam sirop batuk untuk
memudahkan pengeluaran dahak, li-
hat Bab 41, Obat batuk. Efektivitasnya
belum pernah dibuktikan secara ilmiah
dan sangat diragukan, sedang risiko
efek samping serius (struma) agak besar.
Oleh sebab itu pemakaian nya tidak
dianjurkan lagi.
– tetes mata 1% pada bular mata(cataract)
jarang dipakai lagi dan cara kerjanya
juga kurang jelas.
Efeknya kompleks terhadap tiroid dan
tergantung dari dosis serta keadaan organ.
Pada orang sehat kelebihan iodida dapat
memicu struma, umpamanya dalam
obat batuk atau dalam rumput laut (seaweed,
kelp) yang banyak dimakan oleh penangkap
ikan Jepang (iod-Basedow). Sebaliknya, ke-
kurangan iod juga dapat memicu
struma, lihat di atas. Kebutuhan tubuh akan
iodida berjumlah sekitar 150 mcg/hari.
Garam dapur mengandung ± 65 mg KJ/
kg, garam roti ±60 mg/kg untuk profilaksis
gondok. Pada hipertirosis, dosis sedang KJ
berkhasiat meningkatkan produksi hormon
berkat peranannya sebagai bahan dasar
untuk sintesis T3 dan T4. namun dosis tinggi
cepat menghambat pelepasan hormon dan
memadatkan serta memperkecil kelen-
jar. Mekanisme kerja efek ini belum dapat
dijelaskan.
Efek samping agak sering terjadi dan lazim-
nya berupa reaksi alergi seperti iod-acne,
urticaria, juga udema dan selesma. Dosis
tinggi dan pemakaian lama bisa menim-
bulkan hipotirosis atau struma, juga depresi,
nervositas, sukar tidur, impotensi dan mixu-
dema.
Wanita hamil dan selama laktasi tidak bo-
leh diberikan iodida, sebab senyawa ini
melintasi plasenta dan mencapai air susu ibu,
dengan risiko terjadinya struma pada janin
dan bayi.
Dosis: untuk persiapan strumectomia oral
15 ml larutan KJ/NaJ 1% selama 10-14 hari
sebelum pembedahan. Sebagai profi lak sis pada
radiasi, hendaknya dimulai 24 jam sebelum
radiasi dengan radioaktif iod: di atas 1 tahun
130 mg/sehari selama 3-10 hari, di bawah 1
tahun 65 mg/hari.
Sebagai obat batuk: 3 dd 0,5-1 g. 1 g KJ
berisi 765 mg iod.
4. Iod 131
Radiofarmaka merupakan kelompok obat,
yang dipakai dalam ilmu kedokteran nuklear
untuk terapi dan diagnosis, berkat dayanya
melepaskan sinar-sinar ionisasi. Dewasa ini
tersedia antara lain isotop-isotop sebagai
berikut: aurum 198, krom 51, kobal 57, galium
67, indium 111, iod 131, kripton 81, stron si um 89,
talium 201 dan ksenon 133.
* Iod radioaktif. sesudah diresorpsi, iod 131
secara selektif diserap oleh tiroid dan mulai
radiasinya. Terutama memproduksi sinar-
beta dengan daya penetrasi ringan (±2 mm)
dan sedikit sinar-gama yang penetrasinya
lebih da lam. Efeknya panjang dengan masa
paruh ±8 jam, sehingga lebih disukai dari-
pada isotop iod lainnya yang kerjanya lebih
singkat atau lebih lemah.
pemakaian nya dalam bentuk natrium
radioiodida (= NaI dengan I 131), antara lain
pada hipertirosis. Terapi dengan tiroistatika
harus dihentikan 2 hari sebelumnya. Efeknya
dapat disamakan dengan pemotongan seba-
gian kelenjar pada pembedahan. Di samping
itu, radioiod juga diguna kan untuk diagnosis
fungsi tiroid atau terapi kanker tiroid.
Efek samping berupa peradangan tiroid dan
sementara memburuknya gejala hipertirosis.
Efek yang lebih serius yaitu risiko (kecil)
terjadinya leukemia dan kanker tiroid yang
dapat timbul 20-30 tahun kemudian. sebab
itu, radioiod pada dasarnya hanya diberi kan
pada pasien di atas usia 40 tahun. Wanita hamil
dan yang menyusui tidak boleh memakai
radioiod.
Dosis: oral atau i.v. 925-1850 MBq sebagai
larutan natriumiodi da I 131 (USP).
14108649_OBAT P(Bab 48)_T-769-778.indd 777 21/04/2015 20:44:39
Seksi VIII: Hormon-hormon778
C. TIMuS
Timus (Thymus) atau kelenjar kacangan
yaitu suatu organ kecil yang terdiri dari 2
paruh lonjong (mirip perisai) berukuran 2-3
kali 3-4 cm dengan berat ±10 gram pada bayi
yang baru lahir.
Timus yaitu penting sekali bagi proses
sistem imun dan adakalanya disebut “master-
gland of the body’s defense system” (Yun. thymos
= mind, feeling) .Letak nya di depan batang
tenggo rok dan di belak ang tulang dada.
Thymus menca pai ukuran maksi mal (sebesar
buah dukuh, ±40 g) selama pubertas, kemudi-
an dengan berangsur lisut (atrofi a) sampai
sekecil butir jagung pada usia 70 tahun (±6 g).
Timosin (thymosin, Zadaxin). Timus mem-
bentuk minimal 4 hormon yang dinamakan
timosin dan berperan bagi pemasakan sel-sel
dasar (stem cells) dari sumsum tulang belak-
ang menjadi limfosit T (Thymus dependent
cells). T-cells didife ren siasi menjadi CD4+(T-
helper cells) dan CD8+(T-supres sorcells) masak.
Sel-sel regul asi ini memegang peranan
utama pada ketahanan tubuh dengan me-
ngatur aktivi tas sel-sel lain dari sistem
imun. Dengan demikian timosin – yang juga
diproduksi oleh antara lain sel-sel epitel
kulit – mengendalikan imunitas seluler. Lihat
selanjutnya Bab 49, Dasar-dasar Imunolo gi.
Timosin diperoleh dari ekstraksi timus
anak sapi. dipakai sebagai imunostimu-
lans pada berbagai keadaan imunode fisiensi
se-luler, terutama sebagai obat tambahan
pada imunote rapi komplementer kanker.
Lihat selanjutnya Bab 14, Sitosta tika, Terapi
kom-plementer.
Khasiatnya dapat disimpulkan sebagai
berikut:
– menstimulasi pemasakan limfosit men-
jadi T-cells masak. Sel-sel ini ”dilatih”
mengenali sel-sel asing yang masuk ke
dalam aliran darah. Kuman, virus dan
sel-sel tumor itu kemudian dapat
dimusnah kan dengan pelepa san limfokin
dan pembentukan killer cells. Limfosit juga
“ dilatih” mengenali sel-sel tubuh sendiri,
agar tidak diserang olehnya.
– mengatur keseimbangan antara T-hel-
per, T-supresor dan NK-cells (yang pem-
bentukannya distimulasi oleh T-cells).
Perbandin gan normal yaitu CD4+ :
CD8+ = 1,5-2,2; sedang pada penyakit
auto-imun (Graves, Hashimoto, Sjögren,
diabetes-1, myasthenia gravis, M.S., SLE,
dan lain-lain ) perbandingannya mening-
kat sampai di atas 3.
– turut meregulasi sistem hormonal lain
di otak, misalnya LRH serta LH dan
mungkin memegang peranan pada pro-
ses menua. Juga turut memengaruhi
pelepasan hormon di anak-ginjal.
Efek samping berupa reaksi kulit pada
tempat injeksi dan kadangkala demam
menggigil.
Dosis: 2-3 kali seminggu 150 mg ekstrak
i.m./s.c. selama maksimal 10 minggu (Thy-
mex-L), kemudi an oral 2 kali sehari 300-600
mg (tablet e.c. Zellmedin) pada perut kosong
selama 3 bulan, pemeli haraan: 1 dd 300 mg.
DAFTAR PuSTAKA
8. Weetman AP. Graves’disease. N Engl J Med
2000; 343: 1236-48
9. Cooper DS. Antithyreoid drugs. N Engl J Med
2005; 352: 905-17
14108649_OBAT P(Bab 48)_T-769-778.indd 778 21/04/2015 20:44:39
SEKSI IX
LAIN-LAIN
14108649_OBAT P(Bab 49)_T-779-801.indd 779 21/04/2015 20:45:19
B A B 4 9
DASAR-DASAR IMUNOLOGI
SIStEM IMUN
Tubuh memiliki dua sistem pembuluh, yaitu
sistem pembuluh darah dan sistem limfa.
a. Sistem pembuluh darah mengangkut 3
kelompok sel darah, yaitu:
– eritro sit untuk transpor oksigen dan kar-
bondioksida ke seluruh tubuh;
– lekosit untuk melindungi tubuh terhadap
zat-zat asing dalam darah. Sel darah
putih ini juga dapat bersir kulasi di luar
sistem pembuluh darah, yakni dalam
sistem limfa.
– trombo sit(pelat darah) yang berperan pen-
ting pada pembekuan darah (hemostasis).
Semua sel darah itu dibentuk dalam
sumsum tulang belakang dan berasal dari sel-
sel batang yang belum terdiferensiasi (‘stem
cells). Sel-sel ini memperbanyak diri secara
kontinu dan dengan demikian memelihara
perse diaan sel-sel darah.
b. Sistem limfa berisi limfa yang susunan-
nya sama dengan darah, namun tanpa eritrosit
dan trombosit. Sistem ketahanan tubuh meng-
gunakan jaringan luas dari rongga dan pem-
bu luh untuk melindungi tubuh terhadap
zat-zat asing dari luar. Limfa mengangkut
zat gizi ke semua organ dan jaringan, lalu
menyerap zat sampah dan membawa nya ke
darah untuk pengolahan selanjutnya. Yang
termasuk dalam sistem ini yaitu organ-
organ limfoid: kelenjar limfa, amandel (tonsil),
limpa, thymus dan pelat Peyer.
Pelat Peyer letaknya di mukosa usus ha-
lus dan terdiri atas tumpukan limfo sit dan sel
plasma. Sel-sel ini berperan pada terjadi nya
reaksi imun yang berlangsung melalui IgA
terhadap jasad-jasad dari flora usus. Pem-
bentukan memory cells (sel-sel pengingat) ter-
hadap flora itu juga diatur di sini.
Sebelum membicarakan cara kerja sistem
tangkis dan obat-obat yang dapat memengaruhi
proses imun, akan terlebih dahulu dibahas
peme ran utama dan alat-alatnya. Berturut-
turut akan dijelaskan sifat dan fungsi ‘serdadu’
sistem imun, yaitu lekosit yang terdiri dari
limfo sit-T/B, NKc ells, memory cells dan
granulo sit (sel neutro fil, eosinofil dan basofil).
Khasiat “peralatan” dan “senjatanya”, yaitu
sitokin : monokin dan limfokin (interferon,
interleukin dan Tumor Necrosis Factor) juga
akan dibicarakan. Akhirnya akan dibahas
pula obat-obat yang berkhasiat menstimulasi
atau menekan sistem ketahanan.
LEKOSIt
Di dalam darah perifer ada tiga ke-
lompok sel darah putih, yakni limfo sit,
granulosit dan fagosit. Jangka hidupnya
beberapa jam sampai beberapa hari dan
senantiasa diperbaharui oleh sumsum tulang
bela kang. Makrofag jaringan dan limfo-T
bertahan lebih lama. Semua permukaan
epitel, juga organ-organ berongga, seperti
pembuluh darah dan limfa, merupakan garis
pertahanan permeabel, yang dapat dilintasi
oleh mikrofag, makrofag, limfosit dan zat-
zat humoral (imunoglobulin, sitokin dan enzim
lysosomal). Kuman dan molekul protein yang
lebih besar juga mampu menembus mem-
bran permukaan itu , misalnya vaksin
oral mampu melintasi mukosa usus dan
masuk ke dalam darah. Kulit ari (epidermis)
hanya dapat dilintasi oleh molekul kecil,
seperti obat-obat (dari plester).
14108649_OBAT P(Bab 49)_T-779-801.indd 780 21/04/2015 20:45:19
Bab 49: Dasar-dasar Imunologi 781
A1. Limfosit
Limfosit berasal dari sel batang, yang tergan-
tung dari tempat perkembangannya men-
jadi limfo-T (T-cells) atau limfo-B(B-cells).
Kemudian, sel-sel ini melalui kelenjar limfa
masuk ke dalam sirkul asi darah dan berbagai
organ. Limfosit yaitu sel-sel berinti, yang
sedikit lebih besar daripada eritrosit.
T-cells dan B-cells merupakan hampir se-
paruh dari semua lekosit yang beredar dalam
darah dan berperan penting pada sistem
tangkis tubuh, limfo-T pada imunitas seluler
dan limfo-B pada imunitas humo ral. Lihat
juga Bab 50.
1a. Limfosit-T (T-cells, Thymus-dependent cells,
limfo-T) menjadi masak dalam organ lim-
foid thymus (kelen jar kacangan). Dapat dibe-
dakan T-helpercells dan T-supres sorcells,
yang bekerja sebagai sel-sel regulasi. Sel-sel
ini berperan utama pada sistem tangkis me-
Gambar 49-1: Gambaran skematis interaksi antara limfosit T dan B yang menjurus
ke pembentukan ant















