Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 43. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 43. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 43

 





etformin atau sulfony-

lurea, 1-2 dd 4 mg ac atau pc.

* Pioglitazon(Actos) yaitu  derivat (1999) 

dengan khasiat dan pemakaian  yang sa-

ma. Resorpsi dari usus baik dengan BA 

>80%, masa paruh 16-24 jam dan diekskresi 

melalui urin dan feses. Khasiat maksimal 

baru tercapai sesudah  6-8 mingu. Efek toksik 

reversibel terhadap hati sudah nampak 

sesudah 2-3 minggu, maka perlu pemantauan 

teratur sejak dini. 

Efek samping yang serius terutama ter-

hadap jantung dan pembuluh (a.l. udema, 

gagal jantung) dan risiko meningkat untuk 

fraktur terutama pada pemakaian  jangka 

lama.

Dosis: 1 dd 15-30 mg a.c atau pc.

* Troglitazon yaitu  glitazon pertama (1996) 

yang telah ditarik dari peredaran di A.S pada 

bulan Maret 2000 sebab  merusak hati secara 

irreversibel dan fatal, namun  di Jepang masih 

dipasarkan.

6a. Sitagliptin fosfat (Januvia)

dipakai  sebagai monoterapi atau di-

kombinasi dengan metformin atau piogli-

tazon, bila obat-obat ini kurang efektif.

H. Croonen et al. Januvia en Galvus, top of flop? 

Pharm.Wkbl 2007;142:24-7.

*Janumet: sitagliptin 50 + metformin 500 mg

6b. Vildagliptin (Galvus)

Absorpsi cepat dengan BA ±85% dan di-

metabolisasi menjadi metabolit tidak aktif. 

T½ ± 3 jam.

Efek samping tremor, sakit kepala, pusing, 

gangguan hati, bertambah berat badan dan 

hipoglikemi.

Dosis: 1-2 dd 50 mg dalam kombinasi 

dengan antidiabetika lain.

* Eucreas/Galvusmet: vildagliptin 50 + met-

formin 850 mg/1000 mg

6c. Exenatide(Byetta, Bydureon)

yaitu  peptida dengan 39 asam amino dan 

bukan merupakan antidiabetikum oral, namun  

untuk pemakaian  parenteral (s.k.) dalam 

kombinasi dengan metformin dan/atau sua-

tu derivat sulfonilureum, bila dengan obat-

obat oral ini tidak berhasil mengontrol kadar 

gula dengan optimal. 

Bekerja sebagai incretinmimeticum, meng-

aktifkan reseptor GLP-1, meningkatkan se-

kresi insulin dan menghambat sekresi glu-

kagon. dipakai  sebagai penurun kadar 

gula darah bagi penderita diabetes tipe-2. T½ 

2,4 jam.

Efek samping: hipoglikemia, sakit kepala, 

pusing, gagal ginjal dan gangguan saluran 

cerna.

Dosis: s.k. 2 dd 5 mcg, sesudah  sebulan dapat 

dinaikkan menjadi 2 dd 10 mcg.

6d. Liraglutide(Victoza)

Analog peptida GLP-1 yang diproduksi 

melalui teknologi rekombinan DNA pada 

Saccharomyces cerevisae. Mengikat pada re-

septor GLP-1 dan mengakitivasinya dengan 

akibat peningkatan cAMP.

Pada kadar glukose darah tinggi sekresi 

insulin ditingkatkan dan pelepasan glukacon 

dikurangi.

Sebaliknya pada keadaan hipoglikemi, 

sekresi insulin dikurangi sedang  sekresi 

glukagon tetap.

Mengurangi rasa lapar dan berefek sekitar 

24 jam.

dipakai  sebagai injeksi subkutan pa-

da DB tipe-2 dalam kombinasi dengan met-

formin atau derivat sulfonilureum/thiazo- 

lidindion bila monoterapi tidak dapat me-

ngontrol kadar gula.

dipakai  pada pasien dengan BMI > 35 

kg/m2 terutama berkat efek menurunkan 

berat badan.

Dosis: permulaan s.k. 1 dd 0,6 mg dan 

sesudah  minimal 1 minggu dinaikkan menjadi 

1 dd 1,2 mg. 

Efek samping: terutama mual dan diare, 

gangguan saluran cerna, sakit kepala dan 

pusing.

*Liraglutide (Saxenda): obat ini dengan 

nama paten Saxenda diusulkan penggu-

naanya terhadap obesitas kronis bagi pasien 

yang juga menderita gangguan lain akibat 

berat badannya, misalnya hipertensi. Dosis: 

1dd 3 mg parenteral.

7. LAINNYA

7a. Asam liponat: alpha-lipoic acid, thioctic acid

Derivat ditiolan ini (C3S2H5-C4H8-COOH) 

yaitu  suatu antiok si dan alamiah, yang 

pada eksperimen hewan telah diselidiki 

efekti vitasnya terha dap neuropathy diabetes. 

Berefek antioksi dans kuat dan menguran-

gi stres oksidatif, di samping meningkatkan

sensivitas bagi insulin, juga memperbaiki 

penyalu ran darah ke saraf perifer dan 

memperlancar laju transmisi impuls di saraf. 

Zat ini pada tikus dapat mencegah terja-

dinya tipe-1. Sejak 1996 di Jerman dipakai  

untuk menanggulangi keluhan neuropati pa-

da penderita diabetes tipe-2, seperti nyeri 

dan kesemutan (paraes thesia). Cara kerjanya 

diperkirakan berdasar  efek antioksi-

dansnya, yaitu mampu mencegah oksidasi 

dari zat-zat lain (Diab Care 1995; 18: 1160-7). 

Contoh antioksidansia lain yaitu  senyawa 

faal endogen vitamin A dan E, katalase, SOD 

(superoksi dedismutase) dan glutationper oksidase, 

yang ber fungsi menghind ari oksidasi jaring-

an tubuh. Ternyata bahwa pasien diabetes 

mengalami lebih banyak oksidasi jaringan 

dibandingkan dengan orang sehat, sehingga 

pada mereka ada  “oxidative stres “ yang 

lebih besar.

Khasiat antioksidans liponat berdasar  

reduksinya dalam hati menjadi dihidroliponat, 

yang memiliki 4 sifat penting, yaitu:

– “menangkap” logam yang dapat bekerja 

sebagai katalisator bagi radikal oksigen;

– menginaktifkan radikal bebas yang berperan 

bagi stres oksidatif;.

– mereduksi kembali antioksidansia lain yang 

sudah dioksidasi (regenerasi, “recycling’), 

sehingga masa kerjanya sangat diper-

panjang;

– dapat mereparasi kerusakan oksidatif sehing-

ga bekerja menyembuhkan, berbeda 

dengan antioksidansia lain, yang hanya 

bekerja preventif. Sifat ini yaitu  sangat 

penting, sebab  memberikan kemungki-

nan untuk menangani penyakit lain, di 

mana bentuk stres oksidatif berperan 

penting, seperti kanker, penyakit jantung 

dan pembu luh, dementia, glaukoma dan 

asma. Beberapa penelitian telah menun-

jukkan manfaatnya pada demensia Al-

zheimer. Lihat juga Bab 28, C. Obat-obat 

Parkinson dan Demensia.

Dosis: oral 2-3 dd 100 mg. 

7b. Ekstrak Cinnamom : ZN112, ekstrak 

kayu manis cina20

Kayu manis mengandung zat-zat yang 

berkhasiat antidiabetik, yaitu prosianida oli-

gomer, a.l. catechin dan/atau epicatechin. Zat-

zat ini berkhasiat memperkuat daya kerja 

insulin terhadap reseptor-reseptornya de-

ngan faktor 20! Suatu penelitian21 antara 60 

pasien diabetes memperlihatkan bahwa 1-6 

g serbuk kayu manis dalam waktu 40 hari 

menurunkan kadar gula-darah dengan rata-

rata 23%, juga kolesterol dan trigliserida. 

Di kalangan komplementer* dewasa ini 

mulai dipakai  ekstrak kering untuk 

memperbaiki pengendalian hiperglikemia 

dan juga untuk mengurangi risiko gangguan 

jantung pada penderita tipe-2.

Efek samping, Keamanan dari doses tinggi 

belum diteliti dengan saksama. Minyak 

cinnamon a.l. mengandung kumarin yang 

bersifat mengencerkan darah. 

Dosis: 1-2 dd 3 g ekstrak kering. 

*Dewasa ini lebih sering dipakai  istilah 

kedokteran komplementer dari pada kedok-

teran alternatif, sebab  di beberapa negara 

(a.l. Belanda) timbul kecenderungan pada 

sebagian dokter untuk mempraktikkan cara 

pengobatan ini sebagai tambahan (meleng-

kapi) di samping ilmu kedokteran reguler. 

Juga telah dicetuskan istilah CAM, yang 

berarti Complementary and Alternative Me-

dicine.

7c.Glucose Tolerance Factor: GTF23 24

GTF yaitu  senyawa dengan 1 atom 

krom di pusat, dikelilingi oleh 2 molekul 

niasin dan 3 molekul asam amino (sistein, 

glutamin dan glisin). Krom bervalensi 6 

tidak ada  dalam alam dan sangat toksik. 

Elemen mikrospura krom trivalen diasup 

dengan makanan dan berefek memperkuat 

kerja insulin dan penting pada regulasi 

metabolisme hidratarang. Cara kerjanya 

diperkirakan sebagai berikut: GTF mengikat 

pada insulin serta pada reseptor-reseptor 

sel dan membantu pemasukan glukosa ke 

dalam sel sehingga kadarnya dalam darah 

menurun. Demikian dihindarkan terjadinya 

kadar glukosa tinggi yang kontinu dan 

dapat memicu diabetes mellitus-2. Glukosa 

berlebihan yang tidak dapat memasuki sel 

akan terus bersirkulasi dalam darah dan 

akhirnya bisa memicu  efek buruk 

pada a.l. sel-sel retina mata dan arteri-

arteri. Monitoring yang baik dari glukosa 

darah dapat menghindari aterosklerosis 

dan PJP. Krom juga berkhasiat antilipid 

(kolesterol+TG) dan meningkatkan sedikit 

HDL. dipakai pada resistensi insulin dan 

DM-2, lagi pula untuk prevensi kekurangan 

krom sedini mungkin.

Dalam tubuh orang Amerika ada  

rata-rata 6 mg krom, sedang  populasi di 

Asia Tengah dan di Afrika memiliki masing-

masing ±4 kali dan 2 kali lebih banyak dalam 

tubuhnya. Ternyata di A.S. setiap tahun 

±300.000 orang menderita diabetes, sedang-

kan di bagian dunia itu  di atas lebih 

jarang insidensinya. Sebabnya diperkirakan 

bahwa pangan orang Amerika mengandung 

lebih sedikit krom akibat tanahnya yang 

miskin krom dan pangannya juga lebih 

dimurnikan. Defisiensi ada  pada lansia, 

penderita diabetes dan orang-orang yang 

mengonsumsi banyak karbohidrat dan gula. 

Resorpsi krom dalam usus buruk sekali, namun  

dari kompleks organiknya lebih baik ±10%, 

ekskresi terutama melalui feses. Menurut 

perkiraan tubuh membutuhkan minimal 

1-1,5 mcg krom sehari, yang diperoleh dari 

makanan dan minuman, terutama air jeruk 

(grape fruit), anggur (wine) dan ragi bir, lebih 

sedikit dari gula yang tidak dimurnikan, 

merica hitam, hati, keju dan wheat germ. Efek 

baik dari minuman anggur bagi penderita 

penyakit jantung kerapkali dilaporkan 

terutama di Prancis. Semula efek baik ini 

diduga ada hubungannya dengan kadar 

krom tinggi, yaitu ±100 mcg/gelas dari 250 

ml. namun  kini diketahui bahwa kandungan 

flavonoid dengan efek antioksidannya, yang 

memicu  efek baik ini.

Dosis: 1 dd 200-300 mcg krompikolinat 

(asam pikolinat = pyiridin carbonic acid)

Di tahun 2003 Cr-pikolinat dilarang pere-

darannya di AS (Food Standards Agen-

cy) sebab  in vitro dengan dosis tinggi 

memicu  kerusakan DNA pada hewan. 

Oleh sebab  itu perlu sangat berhati-hati 

dengan food supplemen ini.

7d. Dapagliflozin (Forxiga) per oral menu-

runkan kadar glukosa darah dengan me-

ngurangi reabsorpsi glukosa di ginjal, se-

hingga glukosa diekskresi melalui urin dan 

kadarnya dalam plasma menurun. PP ± 91%, 

t½ ± 13 jam dan diekskresi sebagai metabolit 

melalui urin (75%) dan feses.

Efek samping: infeksi saluran urin, dysuri, 

poliuri, mual dan pusing.

Dosis: 1 dd 5-10 mg.

8. Lainnya: 

alfa-liponzuur, (krom)pikolinat dan kayu manis

 B. ZAT-ZAT PEMANIS

Zat pemanis dipakai  sebagai pengganti 

gula pasir (sakaro sa) yang boleh dikonsumsi 

oleh pasien diabetes. Hal ini sebetul nya tidak 

mutlak perlu, sebab  menurut pendapat 

modern, diabe tici diperbolehkan makan gu-

la dalam batas-batas tertentu, lihat di atas. 

Orang gemuk yang menjalani kur melang- 

singkan badan memakai  zat-zat pe-

manis ini.

ada  dua kelompok berdasar  nilai 

energinya, yaitu zat-zat yang menghasilkan 

kalori dan yang tidak.

a.Zat­zat berkalori: polialkohol ksilitol, sor-

bitol, manitol, maltitol dan laktitol, juga mono-

sakarida fruktosa. Zat-zat manis ini meng-

hasilkan energi yang nilainya lebih rendah 

dari sakaro sa. Namun jumlah yang dikon-

sumsi perlu diperhitungkan dalam jatah 

kalori sehari. Lihat tabel di bawah ini.

b. Zat­zat tanpa kalori: aspartam, asesulfam, 

sakarin, siklamat dan steviosida. Sebetulnya 

aspartam berkalori sama dengan sakarosa 

(4 kcal/g), namun  sebab  200 x lebih manis 

hanya diperlukan sedikit sekali. Satu tablet 

aspartam sama manisnya dengan 1 gumpal 

gula dari 4 g dan mengandung hanya 0,3 

kcal (1 g = 17 kJ). Kombinasi dua zat pemanis 

sering kali dipakai  sebab  mengha silkan 

sinergis me. 

* Steviosida (ekstrak Stevia). Di Jepang sejak 

25 tahun lalu tersedia zat pemanis steviosida, 

yang diperoleh dari daun Stevia rebaudiana 

Bertoni (‘honey leaf”), suatu tanaman berasal 

dari Paraguay dan Brasili a. Di AS steviosida 

sejak 1995 diizinkan oleh FDA sebagai food 

additive. Struktur diterpenglikosida ini mirip 

dengan hormon wanita estriol, namun  tidak 

memiliki aktivitas estrogen. Daya manisnya 

±300 kali gula putih, sukar larut dalam 

air (1:800) dan tahan pemanasan. Rasanya 

menyerupai liquorice (drop). Praktis tidak 

diserap oleh usus. Steviosida berdaya men­

stimulasi sekresi insulin pada hewan 

percobaan dan juga bersifat bakteriostatik.

* Sifat karsinogen. Di tahun 1970-an, siklamat 

dan sakarin dihu bungkan dengan kanker 

kandung kemih dan membuat cacat janin 

(focomelia) pada hewan. Oleh sebab  itu di 

banyak negara penggun aan nya dibatasi 

sampai suatu dosis maksimal dan hanya 

untuk bahan makanan bagi diabeti ci. namun  

akhir tahun 1980-an dipastikan bahwa ke-

dua zat itu  pada manusia tidak bersi-

fat karsinogen. Mungkin kombinasi dari 

zat-zat itu  dapat bekerja demiki an. 

Juga aspartam di akhir tahun 1990-an di 

hubungkan dengan kanker otak, namun  FDA 

tidak memberikan reaksi terhadap tuduhan 

ini sebab  dianggap tidak serius.

* Kehamilan dan laktasi. Dari kebanyakan 

zat pemanis belum ada  cukup data 

mengenai keamanannya untuk wanita hamil 

dan bayi. Hanya sorbitol dianggap aman, juga 

dari aspartam,asesul fam dan siklamat belum 

pernah dilaporkan dapat memicu  ke-

rusakan pada janin.

Tabel 47-3: Daya manis dan kandungan 

kalori zat-zat pemanis

  

Perhatian. Meskipun keamanan zat-zat pe-

manis sudah dipastikan dengan jelas, namun 

konsumsinya dalam jumlah besar pada jangka 

panjang dapat mengganggu metabolis me 

glukosa menurut suatu mekanisme tertentu. 

Akibatnya dapat timbul hiperinsulinisme dan 

hipoglikemia. Terlalu banyak insulin dapat 

menstimulasi penimbunan lemak, sedang  

kadar glukosa rendah mencetuskan perasaan 

lapar. Oleh sebab nya, pasien diabetes dan 

orang gemuk sebaiknya membatasi jumlah 

dan lamanya pemakaian  zat-zat pemanis 

ini sampai seminimalnya.

MONOGRAFI

1. Aspartam (Equal, Canderel, NutraSweet) 

yaitu  dipeptida dari dua asam amino, 

asam asparaginat dan ester-metil dari fenil- 

alanin, yang ±200 kali lebih manis dari 

gula. Ditemukan secara kebetulan (serendi-

pity) di AS  (1965), sewaktu ahli  kimia J. 

Schlatter meneliti suatu obat anti-ulcer dan 

menjilat jerijinya yang tercemar aspartam. 

Tidak berasa pahit, namun  terurai pada 

pemanasan di atas 180°C, maka sebaiknya 

ditambahkan pada makanan sesudah  selesai 

dimasak. Dalam usus, zat ini dihidrolisis 

menjadi metanol, asam asparaginat dan 

fenilalanin, yang semuanya diserap ke dalam 

darah. Banyak dipakai  dalam minuman 

“berkalori rendah”. Daya manis dari 1 tablet 

à 50 mg yaitu  sama dengan 1-2 gumpal gula 

dari 5 g, namun  nilai kalorinya dapat diabaikan 

( 1 g = 4.18 kcal seperti semua peptida) . 

Persetujuan registrasi FDA sering kali tertunda 

sebab  pertikaian mengenai keamanannya; 

pada tikus aspartam diperkirakan dapat 

memicu  kerusakan dan kanker otak. 

Oleh sebab  itu baru sesudah  10 tahun lebih 

diizinkan  pemakaian nya dalam makanan 

dan minuman (1993). Namun demikian 

di AS ada  sekelompok pengguna 

yang terus berkukuh untuk mewujudkan 

pelarangan dari peredarannya, sebab  sendi-

rinya telah mengidap berbagai keluhan 

neurologi dan lain-lain, yang diperkirakan 

akibat aspartam. Pada awal tahun 1999 

melalui Internet di AS telah disiarkan oleh 

seorang awam peringatan yang meresahkan 

mengenai neurotoksisitas aspartam yang 

dapat memicu  kerusakan neuron 

di otak. Gejalanya dikatakan mirip dengan 

gejala MS (multiple sclerosis) dengan antara 

lain hilang ingatan, hilang rasa di tungkai, 

sukar berbicara dan nyeri sendi. Menurut 

pendapatnya, sindroma ini disebabkan oleh 

keracunan asam formiat (acidosis), yang 

dibentuk dari metanol pada perombakan 

aspartam.  Formiat menghambat  enzim oksi- 

datif di mitochondria, dengan efek hipoksia 

dan turunnya produksi energi (ATP) da-

lam sel. Ungkapan ini sangat mustahil, 

sebab  kuantitas metanol dan formiat yang 

dilepaskan oleh beberapa tablet aspartam 

dari 50 mg yaitu  sangat kecil untuk dapat 

memicu  intoksikasi. Lagi pula sekian 

banyaknya studi mengenai toksisitas aspar-

tam, secara ilmiah tidak dapat membenar-

kan tuduhan ini. Persamaan reaksi dari pe-

rombakan aspartam yaitu  sebagai berikut: 

aspartam ––> CH3OH ––> HCOOH ––>  

CO2  +  H2O

 

Efek samping yang tersering timbul pada 

dosis tinggi dapat berupa  nyeri kepala dan 

lambung, pusing, mual, muntah dan peru-

bahan suasana jiwa, lebih jarang reaksi 

alergi dan serangan epilepsi. Adakalanya 

aspartam dalam Cola light dapat mence-

tuskan serangan migrain. Tidak boleh dibe-

ri kan pada anak-anak dan wanita hamil 

dengan fenilketonuria (PKU), pada mana 

ada  kekuran gan enzim yang mengubah 

fenilalanin menjadi tirosin. Akibatnya fenila-

lanin akan menum puk dalam darah dan 

dapat merusak saraf otak. Lihat juga Bab 54, 

Dasar-dasar Diet Sehat.

Dosis: ADI (Acceptable Daily Intake) 40 mg/

kg sehari, dewasa maksimal 2,4 g/hari. Pada 

pasien diabetes sampai 2.7 g/hari aspartam 

tidak memengaruhi kadar gula darah. 1 

tablet = 50 mg. 

2. Asesulfam (*Natrena) yaitu  derivat oxa-

thiazine (cincin-6 dengan O, S dan N dalam 

inti) yang ±200 kali lebih manis dari gula 

(1988). Pada dosis tinggi memicu  rasa 

pahit. Tidak berkalori. Diserap dengan cepat 

dari mukosa mulut dan usus, ekskre si secara 

utuh melalui terutama urin. Efek samping 

tidak diketahui dan tahan pemanasan.

Dosis: ADI 9 mg/kg, maks. 15 mg/kg se-

hari.

3. Siklamat (*Natrena) yaitu  garam Na atau 

Ca dari suatu asam aminosulfonat (1950), 

yang ±25 kali lebih manis dari gula dan tidak 

berkalori. Berhubung tahan terhadap suhu 

tinggi (pemanasan) dan tidak memicu  

rasa pahit, maka banyak dipakai  dalam 

makanan dan minuman “berkalori rendah”. 

Dosis: ADI 11 mg/kg sehari, dewasa maks. 

650 mg sehari (garam-Na).

4. Sakarin (benzosulfimida, Sionon) yaitu  

zat pemanis tertua (1879) dan ±350 kali le-

bih manis dari gula. Tidak berka lori, namun  

memberikan rasa pahit. Resorpsi dari usus 

cepat dan diekskresi secara utuh lewat urin. 

Kecurigaan tentang sifat karsinogennya tidak 

didukung secara ilmiah, maka dianggap 

aman.

Dosis: ADI 2,5 mg/kg, dewasa maks. 150 

mg sehari (garam-Na).

5. Fruktosa ada  di banyak buah-buahan, 

antara lain korma, grapefruit dan prune, juga 

dalam madu. Daya manisnya 1,5 kali dari 

sakarosa. Resorpsinya dari usus lebih lambat 

daripa da glukosa, namun  metabolismenya da-

lam darah lebih cepat. Dalam hati, fruktosa 

difosforilasi dan tergantung dari keadaan 

diuraikan menjadi piruvat atau diubah men-

jadi glukosa dan glikogen. Fruktosa mampu 

memasuki sel-sel jaringan tanpa insulin dan 

tidak menstimulasi pankreas untuk men- 

sekresi insulin. Tidak cocok untuk menang-

gulangi keadaan hipoglikemia, sebab  SSP 

tidak dapat mempergunakannya. Sementara 

ahli menganggap frukto sa sebagai zat peng-

ganti gula yang terbaik.

Efek samping. Risiko akan hiper gli kemia 

lebih ringan dari glukosa, maka sering dian-

jurkan untuk diabetici sebanyak 20-30 g sehari 

dengan memperhatikan kadar kalorinya. 1 

g = 15.7 kJ. Konsumsi terlalu banyak dapat 

meningkatkan kadar trigliserida darah. 

Dosis: untuk pemberian energi/infus i.v. 

100-300 g sehari larutan 5-20%.

*Glukosa yaitu  stereoisomer dari fruktosa 

yang ±0,5 kali kurang manis dari gula. Glu-

kosa yaitu  sumber energi utama dari tubuh 

yang dibakar oleh tubuh untuk memperoleh 

kalori untuk proses tubuh, antara lain kerja 

jantung dan otot, lihat Bab 54, Dasar-dasar 

diet sehat, Hidratarang.

Larutan glukosa 50% terutama dipakai  

parenteral untuk pemberian energi dan/atau 

air pada hipoglike mia. Tubuh dapat meme-

tabolisasi ±800 mg/kg glukosa per jam. 

Dosis: pada hipogli kemia, oral 10-20 g, bila 

perlu diulang sesudah  10-20 menit, sebagai 

infus i.v. 10-50 ml larutan 50%. 

6. Sorbitol dan maltitol yaitu  polialkohol 

(C6 dengan 6 gugus-OH) yang ada  dalam 

banyak buah-buahan (apel, pear, prune dan 

lain-lain). Diperoleh dari hasil hidrolisis pati. 

Masing-masing 0,5 dan 0,9 kali kurang manis 

daripada sakarosa. Tahan pemanasan, namun  

bersi fat higroskopik; dapat menghasilkan 2,8 

kcal/g. 

Resorpsi dari usus tidak menentu dan lam-

bat sekali, maka pada dosis di atas 40 g sehari 

bekerja sebagai laksans osmotik. Dalam hati, 

sorbitol dioksi dasi dengan perlahan menjadi 

frukto sa dan untuk sebagian kecil menjadi 

glukosa. Pen garuhnya terhadap kadar gula 

hanya ringan, maka banyak dipakai  da-

lam bahan makanan untuk diabetici, juga 

sebagai pengganti gula dalam gula-gula 

(candy) sebab  tidak mengakibat kan caries 

(rusak gigi). 1 g = 12,5 kJ.

Dosis: sebagai zat pemanis maks. 25 g/

hari, sebagai laksans 30-50 g/hari, sebagai 

hidratan (“pembasah”) dalam krem sampai 

70%.

* Ksilitol(Xylit) yaitu  pentanpentanol yang 

sama manisnya dengan gula. Diserap da-

ri usus sekitar 20% dan dalam hati dapat 

diubah menjadi glukosa sekitar 20-80%. Ba-

nyak diguna kan dalam chewing gum dan 

gula-gula berkat daya anticariësnya. 1 g = 15 

kJ. Dapat bekerja sebagai laksans.

Dosis: 1 g /kg berat badan sehari, umumnya 

50-70 g sehari.

* Laktitol diperoleh dengan jalan hidrogenasi 

dari laktosa. Tidak diserap oleh usus, namun  

dalam usus dirombak oleh kuman menjadi 

antara lain asam yang akhirnya mensuplai 

kalori. Dapat bekerja sebagai laksans dan 

membentuk gas. Tahan tehadap suhu tinggi 

dan asam.

* Manitol ada  di mana-mana di alam 

dan diperoleh melalui reduksi d-glukosa. 

Tahan suhu tinggi dan secara kimiawi agak 

stabil. Rasanya manis segar, 1 g = 8 kJ.

7. Thaumatin yaitu  zat pemanis alamiah, 

yang terdiri dari campuran protein dengan 

daya manis kuat sekali. Diperoleh dari biji 

buah kecil tanaman Thaumatococcus danielli. 

Efek pemanisnya lambat dan bertahan la-

ma, maka layak dikombinasi dengan zat-zat 

pemanis lain. Tahan pemanasan dan digu-

nakan dalam gula-gula dan chewing gum.


TIROKSIN DAN TIROISTATIKA

A. TIROKSIN DAN 

LIOTIRONIN

Tiroid atau kelenjar gondok yaitu  sebuah 

organ kecil yang terdiri atas dua bagian 

(lobus) yang terletak di sebelah kanan dan 

kiri trakhea dan yang dihubungkan oleh 

secarik jaringan tiroid yang disebut istmus. 

“Jembatan” ini melintasi trakhea di sebelah 

depannya dan mirip suatu perisai (Yun.= 

thyreos).

Tiroid berfungsi sebagai termostat (pe-

ngatur kalor) dari metabolisme tubuh yang 

aktivitasnya diatur oleh hipofisis. Di bawah 

pengaruh hormon TRH (Thyrotropin Releasing 

Hormone, protirelin) dari hipotalamus, hipo-

fisis mensekresi TSH (Thyreoid Stimulating 

Hormone), yang selanjutnya menstimulasi 

tiroid untuk mensekresi hormonnya lioti-

ronin (T3) dan tiroksin (T4).

.Sekresi hormon-hormon ini diatur oleh 

sistem H-H (Hipotalamus-Hipofisis) itu  

melalui mekanis me feedback negatif. Bila 

produksinya melampaui kebutuhan tubuh, 

yaitu sekitar 0,5 mg sehari, maka hipotalamus 

mengurangi pelepasan TRH yang berakibat 

menurunnya produksi TSH dan kemudian 

berkurangnya sekresi T3 dan T4. Sekresi 

TRH ternyata distimulasi oleh neurohormon 

noradrenalin, sedang  sekresi TSH di-

hambat oleh somatostatin. 

*Kalsitonin yaitu  hormon polipeptida kecil 

(terdiri dari 32 asam amino), yang dibentuk 

oleh sel-sel C dari tiroid. Fungsinya ada- 

lah untuk melindungi tubuh terhadap pe-

ningkatan akut dari kadar kalsium darah 

(hiperkalsi emia) melalui beberapa mekanisme: 

a  meningkatkan ekskresi kalsium (dan fos-

fat) oleh ginjal

b  menghambat penyerapan kalsium dari 

usus dan

c  menghambat perombakan tulang 

(resorpsi) ke dalam darah berkat kerja 

langsung terhadap sel-sel perombak 

tulang (osteoclast).

Sekresinya distimulasi dan meningkat 

bila kadar kalsium darah tinggi dan juga oleh 

naiknya kadar magnesium darah dan hormon-

hormon lam bung-usus.

Berkat efeknya menghambat osteoclast, 

kalsitonin adakalanya dipakai  bersama 

suatu bisfosfonat pada osteoporosis.

Paratiroid

Paratiroid atau anaktiroid terdiri dari empat 

kelenjar kecil yang terletak di belakang tiroid 

dan membentuk hormon parathormon (PTH), 

suatu polipeptida dengan 84 asam amino. PTH 

bersama vitamin D dan kalsitonin memegang 

peran utama dalam mengatur kadar kalsium 

dalam darah. Bertentangan dengan kalsitonin, 

PTH berfungsi meningkatkan kadar kalsium 

darah bila kadarnya menurun. Oleh sebab  

itu dalam hal kadar Ca rendah, sekresi PTH 

ditingkatkan.

*Hiperkalsiemia dapat terjadi oleh produksi 

PTH berlebihan (hiperparatiroidi), dapat pula 

oleh a.l. terlampau banyak pemasukan Ca dan 

vit D. Gejalanya berupa mual, muntah, rasa 

penat, dehidrasi dan murung, juga banyak 

berkemih, nyeri tulang dan perut. Penanganan 

terdiri atas rehidrasi dan pemberian 

bisfosfonat i.v (pamidronat) Lihat juga Bab 53, 

Gambar 53-3, metabolisme vitamin D.

Gangguan tiroid

Dapat dibagi dalam dua kelompok, sebagai 

berikut.

1. Primer: penyakit auto-imun yang teru-

tama timbul pada wanita dan lansia 

dengan atau tanpa perubahan volume 

kelenjar tiroid. 

2. Sekunder: timbul perubahan volume ke-

lenjar tiroid dan pemicu  hipo/hiper-

tiroidi yang terletak di hipofisis atau di 

SSP. 

Bila dari pemeriksaan diperkirakan adanya 

gangguan fungsi tiroid perlu dianalisis kadar 

TSH dan bilamana menyimpang harus dipe-

riksa kadar T4 bebas, yaitu yang tidak terikat 

pada protein.

Yang paling sering terjadi yaitu  hipofungsi 

(hipoti rosis, hipotiroidi) atau hiperfungsi (hiper-

tirosis, hipertiroidi) dari kelenjar tiroid, pada 

mana produksi hormon masing-masing di 

bawah atau melebi hi nilai normal.

a. Hipotirosis. Tiroid yang bekerja terlalu 

lamban memicu  kekurangan T3 dan 

T4 dan penurunan metabolisme umum, yang 

dapat memicu  sejumlah gejala. Gejala 

yang sangat khas yaitu  keadaan mental 

mundur, lesu dan mengantuk, berat badan 

meningkat, obesitas, brady car dia, muka pucat 

dengan suara menda lam, kulit menebal, ram-

but kering, sembe lit dan perasaan dingin. 

* Kekerdilan. Bila hipotirosis terjadi sejak 

lahir, pertum bu han mental dan fisik akan 

terhambat (creti nisme) dan mende kati pandir 

(idioti a). Tubuh tetap kerdil dan sering kali 

dengan struma (gon dok) di leher akibat 

membesarnya tiroid.

* Mixudema yaitu  juga suatu penyakit 

hipofungsi tiroid, yang bercirikan infiltrasi 

dan pengembangan kulit oleh lendir (mucus), 

yang terutama jelas pada kelopak mata dan 

bibir. Gejala lain yaitu  proses metabolik 

mundur, ada  kecenderungan untuk obe- 

sitas, juga gerakan, cara berpikir, bicara dan 

denyut nadi lamban, kulit menebal dan 

kering, serta rambut rontok. Pada wanita 

sering kali suara serak dan haid berlangsung 

lebih deras.

pemicu  hipotirosis bisa bermacam-ma-

cam, misalnya sebab  tidak ada iod di dalam 

bahan makanan atau air minum, seperti di 

daerah pegunun gan tertentu (Himalaya, 

Amerika Selatan dan Afrika Tengah). Atau, 

sebab  tubuh tidak mampu membentuk 

mono- dan diiodti rosin, ataupun tidak dapat 

mempersenyawakannya menjadi T3 dan T4. 

Lihat skema reaksi di bawah. 

* Kekurangan iod atau iodida memicu  

menurunnya produksi tiroksin, sehingga 

hipofisis distimulasi terus untuk mense-

kresi TSH (melalui TRH). Akibatnya ialah 

tiroid dirangsang dan tumbuh berlebi han 

(hiperplasia) dengan bertambahnya pembu-

luh darah (vaskula risasi) dan akhirnya ter-

jadi gondok (struma). Bahan makanan ter-

tentu, seperti jenis kol, mengandung zat-zat 

yang menghalangi penyera pan iodida, atau 

mencegah iodisasi dari tirosin. Untuk meng-

hindar i peristiwa ini, di banyak negara io-

dida dibubuhkan pada garam dapur atau 

garam untuk pembuatan roti (2,5-6 mg/kg), 

terutama di daerah di mana gondok ada  

secara endemik.

Pengobatannya berupa terapi substitusi 

dengan tirok sin, yang pada dasarnya perlu 

dijalani seumur hidup.

b. Hipertirosis bercirikan overproduksi T3 

dan T4, seperti pada penyakit Graves(dahulu 

disebut penyakit Basedow). Gejala terpen-

tingnya yaitu  efek jantung (tachycardia, atri-

umfibril asi), struma, serta bola mata menon jol 

secara abnormal (exophthal mus), meskipun 

kedua gejala terakhir ini tidak selalu nampak. 

Gejala lainnya dapat berupa menurunnya 

berat badan akibat peningkatan kecepatan 

metabolisme dan pemakaian  energi (‘pem-

bakaran’), palpitasi, tremor, transpirasi, ge-

lisah, rasa takut, sukar tidur, diare akibat 

peningkatan peristaltik dan nafsu makan 

bertambah. Lihat juga di bawah B. Tiroistatika. 

Penyakit Graves.

Pada manula, gejala hiper fungsi sering kali 

hanya nampak sebagai kelemahan jantung, 

tachycardia, udema, banyak berkemih, gang-

gu an ritme jantung (fibrilasi atrium) dan hati 

membe sar. Gejala ini mudah dikelirukan 

dengan gangguan jantung.

pemicu  hipertirosis kebanyakan yaitu  

sebab  stimulasi tiroid oleh suatu globulin 

darah yang memiliki aktivitas TSH, yang 

disebut LATS(longacting thyreoid stimulator). 

Sering kali juga disebabkan adanya benjolan 

kecil di dalam kelenjar (noduli), yang secara 

otonom membentuk hormon berlebihan di 

luar sistem H-H. pemicu  lainnya yaitu  

kelebihan minum obat yang mengandung 

iod atau iodida (obat batuk!) selama jangka 

waktu panjang, ataupun makanan dengan 

kadar iod tinggi, seperti lumut laut (seaweed, 

bio alga, kelp), misalnya pada penangkap 

ikan Jepang. Dalam hal ini, penyakit itu  

disebut iod-struma atau iod-Basedow.

Sintesis

Pembuatan hormon tiroid berlangsung dalam 

beberapa tahap. Pertama-tama tiroid menarik 

iodida dari darah, yang lalu dipekatkan ±25 

kali dan dioksidasi oleh peroksidase men-

jadi iod. Lalu iod ini secara enzimatik pula 

dipersenyawa kan dengan asam amino tiro-

sin (Yun. tyros = keju) menjadi mono- atau 

di-iodtirosin. Akhirnya zat-zat ini saling ber-

senyawa dan mengha silkan liotironin (T3) 

dan tiroksin (T4).

Sebagian besar T4 dalam darah diubah 

di jaringan perifer menjadi T3 (80%) dan 

hanya 20% T3 disekresi langsung oleh tiroid. 

Di samping itu di jaringan juga dibentuk 

‘reverse’ T3 (rT3) melalui deiodisasi T4. 

Reverse T3 ini dianggap sebagai metabolit 

inaktif, yang terbentuk sebagai pengganti T3 

selama puasa atau penyakit parah. 

Untuk jelasnya lihat skema reaksi berikut:

T3 dan T4. Di dalam tiroid kedua hormon 

ini ada  dalam bentuk terikat pada 

protein tireoglobulin. Di bawah pengaruh 

TSH, kompleks ini dihidrolisis dan hormon 

dibebaskan ke dalam darah. Di sini terjadi 

pengikatan lagi untuk lebih dari 99% pada 

protein-pengangkut, sehingga menjadi fisio-

logis inaktif. Hanya sebagian kecil yang ber-

edar bebas dan aktif, yakni T3 0,4% dan T4 

0,04%. Kebanyakan T4 di dalam jaringan 

perifer (hati, ginjal, otot) melalui deiodisasi 

diubah menjadi T3, yang berdaya 5 kali 

lebih kuat dan mengikat pada reseptor khas 

di dalam sel. Hanya 10-25% dari T3 dalam 

darah berasal dari sintesis dalam tiroid. T4 

dapat dianggap sebagai pro-hormon dari T3 

aktif.

Fungsi

Hormon-hormon tiroid bekerja terhadap 

semua sel tubuh dan berfungsi meningkatkan 

metabolisme sel melalui mitochondria dan 

pemakaian  oksigen, juga mendorong sintesis 

protein di dalam sel yang terutama penting 

bagi pertumbuhan anak-anak. Hormon tiroid 

penting bagi perkembangan susunan saraf 

sentral anak-anak.

Pertum buhan sel dan perkem ban gan otak/

SSP distimulasi, begitu pula kerja jantung 

dan sirkulasi darah, sedang  peristaltik 

lambung-usus diperkuat. Daya kerjanya 

terhadap jantung mungkin disebabkan otot 

jantung menjadi lebih peka terhadap kate-

cholamin. 

Tes fungsi tiroid. pemakaian  oksigen sela-

ma bertahun-tahun telah merupakan prin-

sip untuk menentukan metabolisme basal 

(dasar) seseorang dengan mak sud menilai 

fungsi tiroidnya. Metode ini kurang saksama, 

maka sudah lama diganti dengan penentuan 

tiroksin langsung dalam darah.

pemakaian 

Hormon tiroid dipakai  untuk berbagai 

indikasi, yaitu pada gangguan-gangguan 

berikut:

a.  Hipotirosis. Tiroksin terutama diguna-

kan untuk terapi substi tu si pada hipo-

fungsi tiroid, yang disebabkan insufi-

siensi hipotalamus, hipofisis atau tiroid. 

Liotironin yang berkhasiat lebih kuat 

- meskipun kerjanya lebih cepat - tidak 

dianjurkan, sebab  bertahan lebih singkat 

dengan risiko efek samping yang lebih 

besar. Oleh sebab  itu hormon ini hanya 

dipakai  dalam keadaan gawat, seperti 

pada koma/mixudema.

b.  Obesitas. Adakalanya tiroksin diguna-

kan terhadap kegemukan, yaitu sebagai 

kompo nen dari obat pengurus badan, 

berdasar  efek stimulasinya terhadap 

metabo lisme umum. Cara pemakaian  

ini tidak dapat dibenarkan, sebab  pada 

dosis tinggi yang diperlu kan untuk 

«membakar» lemak berlebihan, dapat 

terjadi gejala hipertirosis yang justru me-

nyebabkan bertambahnya nafsu makan.

c.  Kolesterol tinggi. Bentuk dekstro dari 

tiroksin (d-tiroksin) dengan aktivitas 

ringan terhadap metabolisme dan jan-

tung (hanya 10% daripada bentuk-levo- 

nya), adakalanya dipakai  pada hi-

perkoles terolemia tertentu untuk menu-

runkan kadar kolesterol. Lihat Bab 36, 

Antilipemika.

Efek samping dan pentakaran

Pada pentakaran yang tepat tidak timbul 

efek samping. Pada overdosis timbul gejala 

hipertirosis (kecuali exophthal mus), terutama 

palpitasi, gelisah dan sukar tidur. Pada 

pentaka ran yang terlalu mendadak tinggi 

dapat timbul efek jantung, seperti angina 

pectoris, dekompensasi dan infark. Untuk 

menghindari efek samping ini, dosis harus 

ditentukan secara individual atas tuntunan 

gejala dan/atau kadar hormon dalam darah. 

Dosis permulaan hendaknya rendah sekali dan 

secara berangsur-angsur dinaikkan. Semakin 

berat keadaan hipotirosis, semakin besar 

kepekaan organisme untuk hormon tiroid 

dan semakin rendah pula hendaknya dosis 

permulaan.

Interaksi. Tiroksin memperkuat efek anti-

koagulansia dan memper le mah efek insulin, 

antidiabetika oral dan digoksin. Beberapa 

obat, antara lain garam litium, amiodaron, 

kelp (lumut laut) dan zat kontras Röntgen 

yang mengandung iod dapat memicu  

gangguan fungsi tiroid. 

MONOGRAFI

1. l-Tiroksin: levo-thyroxin Na, tetraiodtironin, 

T4, Thyrax, Euthyrox

Hormon ini dibuat secara sintetik dan 

telah menggantikan serbuk tiroid yang ker-

janya kurang konstan dan pentakarannya 

kurang saksama. Tiroksin berfungsi sebagai 

prohormon untuk liotironin yang lebih aktif. 

Deiodisasi T4 menjadi T3 terjadi secara 

enzimatik di hati, ginjal dan otot. Mulai 

kerjanya lambat dengan masa laten 7-10 

hari, efek maksimalnya tercapai sesudah  3-4 

minggu, namun  berta han lama. Bila terapi 

dihenti kan, obat masih bekerja terus selama 

1-3 minggu.

Resorpsi dari usus tidak menentu (50-80%) 

dan tergantung pada adanya makanan, maka 

sebaiknya diminum pada lambung kosong-

setengah jam sebelum makan pagi. Makanan 

berserat mengurangi resorpsinya, demikian 

juga pemakaian  bersamaan waktu dari 

senyawa-senyawa yang mengandung besi 

dan obat-obat pengikat asam. Plasma-t½ 6-7 

hari, sehingga cukup dengan single-dose 

sehari. Eliminasi seperti T3 terjadi untuk 

60% melalui deiodisasi menjadi tirosin, 25% 

melalui konyugasi dengan glukuronida/

sulfat yang diekskresi lewat empedu, untuk 

kemudian dideiodisasi pula.

Dosis: oral permulaan 1 dd 25 mcg (garam-

Na) ½-1 jam a.c., setiap 2 minggu dinaik-

kan dengan 25 mcg, pemeliharaan 1 dd 

100–125 mcg a.c. Lansia dan pasien jantung: 

permulaan 1 dd 12,5 mcg.

2. Liotironin: T3, triiodtironin, Cytomel

Liotironin dibuat secara sintetik (1956); 

khasiatnya ±5 kali lebih kuat dari tiroksin. 

Mulai kerjanya cepat, efek maksimal dicapai 

sesudah  2-3 hari dan terapi bertahan sampai 3 

hari sesudah  penghentian. Plasma-t½ 1-2 hari.

Efek sampingnya lebih berbahaya, khususnya 

infark jantung, maka kurang layak bagi terapi 

jangka panjang. Zat ini hanya diguna kan bila 

dibutuhkan kerja cepat dan kuat, misalnya 

pada mixudema. Juga bila tiroksin tidak 

efektif dan sebagai zat pembantu diagnosis 

hipertirosis.

Dosis: pada hipotirosis berat, oral per-

mulaan 25 mcg sehari, berangsur-angsur 

dinaikkan sampai maksimal 75 mcg. Pada 

mixudema dan struma: 1 dd 2,5-5 mcg.

3. Kalsitonin: salcatonin (salmon), Miacalcic

Polipeptida sintetik ini (1972) yaitu  iden-

tik dengan kalsitonin yang berasal dari ikan 

salem (salcatonin). Berdaya menginaktifkan 

osteo clast dan perombakan tulang, juga 

menghambat resorpsi kembali kalsium 

di tubuli ginjal, yang berdam pak turunnya 

kadar kalsium darah. Di samping itu ber-

khasiat analgetik. Oleh sebab  itu, zat ini 

dipakai  untuk penyakit Paget (ostitis defor-

mans), yaitu melunaknya tulang secara kro-

nis yang memicu  deformitas dengan 

nyeri hebat. Juga untuk terapi simtomatis dari 

hiperkal siëmia dan osteoporosis postmenopausal, 

meskipun efeknya terha dap insidensi frac-

tura belum dipastikan.

Efek samping kerapkali terjadi dan berupa 

mual dan flushing, lebih jarang diare, sakit 

perut, polyuria dan reaksi kulit di tempat 

injeksi.

Dosis: pada penyakit Paget i.m./s.c. 0,5 mg 

sehari, sesudah  2 minggu dinaik kan sampai 

2 dd 0,5 mg atau diturunkan sampai 2-3 kali 

seminggu 0,5 mg tergantung dari efeknya, 

selama minimal 6 bulan. Pada hiperkalsiemia: 

kalsitonin salem sintetik setiap 6-8 jam i.m./

i.v./s.c. 400 IE hingga kadar Ca dan fosfat 

turun atau gejala klinis hilang. 

 B. TIROISTATIKA9

Tiroistatika atau zat antitiroid yaitu  zat-zat 

yang berkhasiat menekan produksi hormon 

tiroid. Khusus dipakai  pada keadaan 

hiperfungsi kelenjar itu , yang sering 

kali disertai peningkatan sekresi tiroksin. 

Keadaan itu disebut hipertiroidisme, hiperti-

rosis, atau thyreotoxicosis.

Penggolongan

Obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa 

kelompok, yakni:

a. thionamida (dahulu disebut derivat thio-

urea) dan dibagi dalam:

– derivat thiourasil : propiltiourasil 

– derivat tioimidazol: karbimazol, 

tiamazol

Obat-obat ini menghambat secara 

langsung sintesis hormon tiroid dengan 

mencegah pengika tan iod pada tirosin atau 

penggandengan mono- dan diiodtirosin 

menjadi T3/T4. Juga pengubahan T4 

menjadi T3 di jaringan perifer dihambat. 

Kelenjar masih tetap aktif, pelepa san 

hormon (yang masih tersedia) tidak 

dihambat, hanya produk sinya terhen-

ti. Oleh sebab  itu hipofisis kehilangan 

kendalinya dan meningkatkan sekresi 

TSH, dengan akibat tiroid dirangsang 

berlebihan dan tumbuh membesar. Un- 

tuk meng hindarkan hiperpla sia dan ke-

mungkinan hipotirosis, terapi dengan 

thionamida selalu dikombi nasi dengan 

dosis ringan tirok sin. Exophthalmus 

yang sudah ada akan memburuk. Di 

samping itu, tiroistatika juga berkhasiat 

imunosupresif.

Efek samping terpenting yang tergan-

tung dari dosisnya yaitu  agranulositosis 

(demam, sakit tenggorok), gangguan ku-

lit dan persendian.

b. iod dan iodida dalam dosis tinggi meng-

hambat sintesis dan pelepasan hormon-

hormon tiroid, juga pemasukan iodida 

ke dalam tiroid dirintangi. Tiroid menjadi 

lebih padat (kecil) dan vaskularisasinya 

berkurang, sehingga juga dipakai  

untuk persia pan pembedahan. sesudah  

beberapa waktu efeknya berkurang, ma-

ka biasanya dikombinasi dengan suatu 

thionamida. Iod sebagai elemen tidak digu-

nakan lagi, sebab  pentakarannya kurang 

saksama, lagi pula baru diserap di usus 

sesudah diubah menjadi iodida.

Efek sampingnya yaitu  alergi (eks-

antema, mata merah dan bercair, bron-

chospasm) pada penderita yang peka. 

pemakaian  yang lama (amiodaron) pada 

sebagian pasien dapat memicu  

struma dengan hipotiroidia.

c. iod radioaktif berupa isotop iod-131 

(131I) yang sesudah  diserap secara selektif 

oleh tiroid merusak sebagian jaringan 

melalui radiasi beta-radioaktif. Tiga bu-

lan sebelum penanganan dengan iod 

radioaktif, harus dihindari pemakaian  

senyawa-senyawa yang mengandung 

iodium, seperti amiodaron dan obat 

kontras Röntgen, sebab  resorpsi iod ra-

dioaktif oleh kelenjar tiroid tergantung 

dari a.l. kadar iodium anorganik dalam 

plasma. biasanya , radioiod ini 

hanya dipakai  pada pasien di atas usia 

40 tahun.

Efek samping yang terpenting yaitu  

hipotiroidia yang dapat bertahan berta-

hun-tahun. Oleh sebab  itu pasien demi-

kian harus memeriksakan kadar TSH-nya 

minimal setahun sekali selama hidupnya.

d.  propranolol adakalanya dipakai  un-

tuk mengurangi beberapa keluhan, seperti 

tachycardia, fibrilasi serambi jantung dan 

kegelisahan. Beta-blocker ini menguran gi 

efek tiroksin di jaringan perifer dengan 

jalan blokade susunan saraf simpatis.

Hipertirosis

Gangguan ini bercirikan hiperaktivitas kelenjar 

tiroid dan dapat ditimbulkan oleh banyak 

sebab. Yang paling sering (70-80%) yaitu  

akibat penyakit Graves dan pada orang di atas 

usia 50 tahun oleh hiperfungsi (TMG, toxic 

multinodular goitre). Di samping itu, juga oleh 

hiper fungsi akibat adanya adenom (tumor) 

atau pera dangan tiroid (tiroidi tis).

a. Penyakit Graves (nama lama penyakit 

Basedow)8

Gangguan ini diakibatkan oleh suatu pro-

ses auto-imun, pada mana antibo dies IgG 

mengikat pada reseptor untuk TSH di tiroid. 

Efeknya yaitu  stimulasi produksi T4, jadi 

sama dengan aktivasi oleh TSH. Mungkin 

pembentukan antibo dies itu  dipicu oleh 

infeksi suatu kuman Gram-negatif (antara lain 

E. coli, Yersini a, dan lain-lain) yang memiliki 

titik pengika tan TSH. Penyakit auto-imun ini 

terutama timbul pada usia muda/menengah 

dan wanita 5 kali lebih sering daripada pria. 

Pada sekitar 25-50% dari semua kasus terjadi 

penyembuhan spontan dalam waktu satu 

tahun. Lihat juga di awal bab ini: Hipertirosis.

Gejalanya yang khas berupa trias: bola mata 

menonjol (exopht halmus) dengan pembesaran 

tiroid (struma difus 60%) dan tireotoxi cosis 

(tachycar dia, atriumfibrilasi, tremor, badan 

menjadi kurus). Gejala lain dapat berupa 

keluhan mata (nyeri, visus guram, peka ca-

haya, udema, conjunctivitis) juga akibat pro-

ses auto-imun (auto-antibodies, kom pleks 

imun). Gejala ini dapat ditanggulangi dengan 

prednison 40 mg atau lebih, yang berkhasiat 

menekan proses auto-imun seluler dan 

humoral (imunosupre sif). Dosis prednison 

yang tinggi itu  berangsur-angsur diku-

ran gi sampai dosis pemeliha raan 5-10 mg.

Gejala penting kedua dari hipertirosis 

(10-15%) yang terutama timbul pada lansia 

berbentuk struma (multi)nodular. Lihat di 

bawah.

pemicu  iatrogen lain yaitu  pemakaian  

obat-obat yang mengandung iodium seperti 

amiodaron dan senyawa-senyawa kontras 

pada penyinaran dengan X-ray.

ada  pula hipertiroidia sesudah  persa-

linan yang disebut postpartum thyreoiditis, 

juga merupakan gangguan auto-imun yang 

biasanya akan spontan berlalu sesudah  per-

salinan.

Penanganan. Pembedahan (thyreoïdectomia 

subtotal) dilakukan bila struma menjadi sa-

ngat besar, sehingga arteri leher atau ba-

tang tenggo rok terancam tersumbat. Hanya 

sebagian tiroid dikelu arkan. Untuk memper-

mudah pembedahan, 1-2 minggu sebelum-

nya diberi terapi dengan tiroistatika dan/

atau iodida. Maksudnya yaitu  untuk me-

ngurangi vaskularisasi tiroid dan memadat-

kan konsistensinya. Kemungkinan lain ada-

lah menginaktif kan seba gian kelenjar melalui 

iod radio ak tif.

Pengobatan. Hipertiroidisme dapat dita-

ngani dengan obat antitiroid (tiroistatika) 

untuk mengurangi aktivitas tiroid dengan 

mengurangi produksi hormonnya. Keberat-

annya yaitu  sering terjadi residif sesudah  

pengoba tan dihentikan, pada penyakit Gra-

ves ±50% dan pada struma nodular bahkan 

sampai 90%. 

*Terapi kombinasi. Untuk mencegah hiper-

plasia dan risiko hipoti rosis, umumnya di-

lakukan terapi kombinasi tiona mida dengan 

tiroksin (“block and replace” treatment). 

1.  Weetman AP. Graves’ disease. N Engl J 

Med.2000;343:1236-48 

2.  Cooper DS. Antithyroid drugs. N Engl J Med 

2005;352:905-17). 

Thionamida diberikan terlebih dahulu de-

ngan dosis yang untuk sebagian besar menekan 

fungsi tiroid. Lazimnya tiamazol 30 mg atau 

karbimazol 40 mg/hari sudah mencukupi. 

Efeknya baru nampak sesudah ±4 minggu, 

sebab  depot hor mon dalam tiroid harus 

dihabis kan dahulu (masa laten). Kemudi an, 

atas pengarahan dari kadar T4 bebas dalam 

darah baru disuplesi l-tiroksin (1,6 mcg/

kg) untuk menormali sasi sistem H-H dan 

menghindari hipotirosis. 

berdasar  kadarnya dalam darah, se-

tiap triwu lan dosis tiroksin disesuai kan. 

Lazimnya sesudah  1 tahun pemberian kedua 

obat dihen ti kan, namun  sering kali juga perlu 

dilanjut kan sampai 3 tahun sebelum semua 

gejala hilang. 

*Terapi tunggal hanya memakai  thio-

namida, yang sesudah  kadar hormon normal 

tercapai, diturunkan dosisnya sampai 50%. 

Kemudian berdasar  kadar tiroksin dalam 

darah sebagai penuntun, dosis disesuaikan 

menurut kebutuhan. Cara ini memerlukan 

lebih banyak monitoring dan kemungkinan 

kambuh lebih besar dibandingkan dengan 

terapi kombinasi, maka dewasa ini jarang 

dipakai  lagi

Exophthalmus tidak dapat disem buhkan, 

sebab  tidak disebabkan oleh TSH, namun  

oleh suatu zat khusus yang belum diketahui. 

Bila terjadi residif dalam waktu 2 tahun, 

penanganan dengan iod 131 atau pembedah-

an dapat dipertimbangkan. Kemung kinan 

kam-buh sesudah 2 tahun yaitu  kecil. Di AS 

umumnya lang sung dilakukan pembedahan 

di bawah “perlindungan” propranolol, atau 

terapi singkat dari thionamida dan/atau 

kaliumiodida (“plumme ring”).

b. Struma multi-nodular (TMG)

Penyakit ini jarang memperlihatkan remisi 

spontan (terhen tinya atau berkurangnya ge-

jala untuk sementara) dan juga ditangani 

dengan terapi kombinasi. namun  segera sete-

lah terapi dihenti kan penyakit umumnya 

kambuh lagi, sehingga terapi perlu dilan-

jutkan seumur hidup. Ini juga berlaku bagi 

adenom tunggal. Kemungki nan lain sesudah  

dicapai nilai hormon normal (euthyreoïdie) 

langsung dimulai penanganan dengan iod 

131. Cara ini memberikan keuntungan tam-

bahan bahwa struma dapat menyusut. Bila 

struma sangat besar dapat langsung dilaku-

kan pembedahan.

Di berbagai negara dipakai  metode 

penanganan berlainan, misalnya di AS 69% 

dokter memilih radioiod dan 31% dokter 

memilih tiroistatika. Di Eropa dan Jepang, 

angka itu  masing-masing 22-77% dan 

11-83%. 

c. Tiroiditis

Radang tiroid dapat disebabkan oleh infeksi 

virus atau kuman (strepto-/stafilokok). Geja-

lanya berupa leher membengkak, dengan rasa 

sakit yang menjalar ke telinga atau rahang, 

demam dan malaise umum. Pengobatannya 

dilakukan dengan analgetika (dan bila parah 

dengan prednison) atau antibiotika.

* Struma Hashimoto yaitu  suatu bentuk 

tiroiditis kronis, yang merupakan gangguan 

auto-imun, seperti penyakit Graves. Berci-

rikan pembesaran tiroid menahun (struma, 

gondok) tanpa pera dangan, akibat suatu 

proses auto-imun. Gangguan ini teru tama 

diderita wanita lanjut usia. Pada awalnya 

dapat terjadi hiperti rosis, namun  kerap kali 

berakhir dengan hipoti rosis. Terapi dilakukan 

dengan tiroksin. 

MONOGRAFI

1. Karbimazol: Neo-Mercazole

Derivat tioimidazol ini (1951) berkhasiat 

antitiroid kuat dan paling sering dipakai . 

Resorpsinya dari usus cepat dan langsung 

diubah dengan lengkap menjadi metabolit 

aktifnya ialah tiamazol. 10 mg karbimazol 

mengha silkan 6-7 mg tiamazol. Plasma-t½ 9 

jam. 

Efek samping jarang terjadi pada dosis 

normal dan biasanya tidak serius, antara lain 

sakit kepala dan sendi, gangguan lambung-

usus, hilang rasa di mulut, rambut rontok 

dan reaksi kulit (gatal, ruam). Pada dosis 

lebih tinggi dapat terjadi efek serius, seperti 

depresi sumsum tulang dengan antara 

lain agranulositosis dan leuk openia (reversi-

bel). Kelainan darah ini bisa timbul dengan 

sangat mendadak selama bulan pertama, 

maka terapi harus segera dihentikan sambil 

menjalani pemeriks aan darah bila terjadi 

sakit tenggorok atau demam. 

Wanita hamil hanya dapat diberikan kar-

bima z ol dan tiroistatika lainnya dengan pe-

ngawasan dosis yang saksama untuk meng-

hindari struma dan aplasia cutis congenita 

pada bayi bila dosis terlampau tinggi. Obat 

pilihan pertama selama kehamilan yaitu  

propiltiourasil dalam dosis rendah(50-100 

mg per hari). Ibu yang menyusui sebaiknya 

jangan menelan obat-obat ini sebab  juga 

menca pai air susu. 

Dosis: oral 3-4 dd 10 mg atau 1 dd 30-40 mg 

selama 6-8 minggu, kemudian ditambahkan 

tiroksin, atau dapat juga beralih ke dosis 

pemeli haraan 5-20 mg/hari.

* Tiamazol(metimazol, Strumazol, Thyrozol) 

yaitu  derivat merkaptome til (1950), yang 

sebagai metabolit karbimazol memiliki kha-

siat sama. Mungkin juga berkhasiat imu-

nosupresif, yang meningkatkan efek anti-

tiroidnya. Plasma-t½ hanya 2-6 jam, namun  

afini tasnya untuk tiroid besar dan lama kerja 

biologisnya berkorel asi dengan kadarnya di 

tiroid. Oleh sebab  itu zat ini aktif selama 

24 jam (pada dosis 10-30 mg) dan dapat 

diberikan sebagai single-dose. Praktis tidak 

terikat pada protein. Tiamazol merupakan obat 

pilihan utama dan banyak diguna kan di AS 

dan negara-negara lain. Dosis: 1 dd 15-30 mg, 

maksimal 120 mg sehari, selama 6-8 minggu, 

pemeliharaan 5-30 mg/hari.

2. Propiltiourasil (F.I.)

Derivat pirimidin ini (1948) yaitu  ana-

logon dari metiltioura sil, yaitu zat antiti-

roid pertama (1945). Khasiat tiroistatiknya 

±10 x lebih lemah daripada karbimazol. Re-

sorpsinya cepat, PP ±80%, plasma-t½ sing-

kat (1-2 jam) maka perlu ditakarkan 3-4 kali 

sehari. Berbeda dengan karbimazol, obat 

ini merintangi pengubahan T4 menjadi T3 

(yang lebih aktif) di jaringan perifer, misalnya 

dalam hati. Efek samping mirip karbimazol. 

Turunnya kadar T3 dan T4 berlang sung lebih 

lambat, maka tidak begitu sering diguna kan 

seperti karbima zol.

Dosis: permulaan 3 dd 70-200 mg selama 

6-8 minggu, pemeliharaan 50-300 mg/hari 

atau dikombinasi dengan tiroksin.

3. Kaliumiodida

Garam ini yaitu  obat pertama yang 

dipakai  pada struma dan hipertirosis. 

Sesudah diserap dengan baik oleh usus, 

iodida diabsorpsi secara selektif oleh tiroid 

dan dipekatkan di sini sampai 25 kali. Mulai 

kerjanya cepat, dalam 1-2 hari, namun  bersifat 

sementara, sesudah  ±2 minggu sering kali 

tidak efektif lagi dan gejala memburuk. 

pemakaian nya bervariasi, yaitu untuk:

–  premedikasi untuk memadatkan kelenjar 

10-14 hari sebelum pembedahan;

–  profilaksis pada orang yang terkena radiasi 

25 rem atau lebih, misalnya pada bencana 

reaktor di Chernobyl (Rusia, 1986). Pada 

kecelakaan pusat tenaga nuklear ini ba-

nyak produk pembelahan dilepaskan ke 

atmosfir, termasuk isotop-iod radioaktif. 

Kaliumiodida (dan kaliumiodat) mampu 

merintangi uptake iod radioaktif itu  

ke dalam tiroid untuk 90-99% bila di-

minum sebelum atau tepat sesudah 

exposure. Bila dipakai  dalam 3-4 jam 

sesudah exposure perintangannya yaitu  

±50%. Kaliumiodida 130 mg memberi 

pelindungan untuk 24-48 jam terhadap 

iod radioaktif.

– ekspekto ran dalam sirop batuk untuk 

memudahkan pengeluaran dahak, li-

hat Bab 41, Obat batuk. Efektivitasnya 

belum pernah dibuktikan secara ilmiah 

dan sangat diragukan, sedang  risiko 

efek samping serius (struma) agak besar. 

Oleh sebab  itu pemakaian nya tidak 

dianjurkan lagi.

– tetes mata 1% pada bular mata(cataract) 

jarang dipakai  lagi dan cara kerjanya 

juga kurang jelas.

Efeknya kompleks terhadap tiroid dan 

tergantung dari dosis serta keadaan organ. 

Pada orang sehat kelebihan iodida dapat 

memicu  struma, umpamanya dalam 

obat batuk atau dalam rumput laut (seaweed, 

kelp) yang banyak dimakan oleh penangkap 

ikan Jepang (iod-Basedow). Sebaliknya, ke-

kurangan iod juga dapat memicu  

struma, lihat di atas. Kebutuhan tubuh akan 

iodida berjumlah sekitar 150 mcg/hari. 

Garam dapur mengandung ± 65 mg KJ/

kg, garam roti ±60 mg/kg untuk profilaksis 

gondok. Pada hipertirosis, dosis sedang KJ 

berkhasiat meningkatkan produksi hormon 

berkat peranannya sebagai bahan dasar 

untuk sintesis T3 dan T4. namun  dosis tinggi 

cepat menghambat pelepasan hormon dan 

memadatkan serta memperkecil kelen-

jar. Mekanisme kerja efek ini belum dapat 

dijelaskan.

Efek samping agak sering terjadi dan lazim-

nya berupa reaksi alergi seperti iod-acne, 

urticaria, juga udema dan selesma. Dosis 

tinggi dan pemakaian  lama bisa menim-

bulkan hipotirosis atau struma, juga depresi, 

nervositas, sukar tidur, impotensi dan mixu-

dema. 

Wanita hamil dan selama laktasi tidak bo-

leh diberikan iodida, sebab  senyawa ini 

melintasi plasenta dan mencapai air susu ibu, 

dengan risiko terjadinya struma pada janin 

dan bayi.

Dosis: untuk persiapan strumectomia oral 

15 ml larutan KJ/NaJ 1% selama 10-14 hari 

sebelum pembedahan. Sebagai profi lak sis pada 

radiasi, hendaknya dimulai 24 jam sebelum 

radiasi dengan radioaktif iod: di atas 1 tahun 

130 mg/sehari selama 3-10 hari, di bawah 1 

tahun 65 mg/hari. 

Sebagai obat batuk: 3 dd 0,5-1 g. 1 g KJ 

berisi 765 mg iod. 

4. Iod 131

Radiofarmaka merupakan kelompok obat, 

yang dipakai  dalam ilmu kedokteran nuklear 

untuk terapi dan diagnosis, berkat dayanya 

melepaskan sinar-sinar ionisasi. Dewasa ini 

tersedia antara lain isotop-isotop sebagai 

berikut: aurum 198, krom 51, kobal 57, galium 

67, indium 111, iod 131, kripton 81, stron si um 89, 

talium 201 dan ksenon 133. 

* Iod radioaktif. sesudah  diresorpsi, iod 131 

secara selektif diserap oleh tiroid dan mulai 

radiasinya. Terutama memproduksi sinar-

beta dengan daya penetrasi ringan (±2 mm) 

dan sedikit sinar-gama yang penetrasinya 

lebih da lam. Efeknya panjang dengan masa 

paruh ±8 jam, sehingga lebih disukai dari-

pada isotop iod lainnya yang kerjanya lebih 

singkat atau lebih lemah.

pemakaian nya dalam bentuk natrium 

radioiodida (= NaI dengan I 131), antara lain 

pada hipertirosis. Terapi dengan tiroistatika 

harus dihentikan 2 hari sebelumnya. Efeknya 

dapat disamakan dengan pemotongan seba-

gian kelenjar pada pembedahan. Di samping 

itu, radioiod juga diguna kan untuk diagnosis 

fungsi tiroid atau terapi kanker tiroid. 

Efek samping berupa peradangan tiroid dan 

sementara memburuknya gejala hipertirosis. 

Efek yang lebih serius yaitu  risiko (kecil) 

terjadinya leukemia dan kanker tiroid yang 

dapat timbul 20-30 tahun kemudian. sebab  

itu, radioiod pada dasarnya hanya diberi kan 

pada pasien di atas usia 40 tahun. Wanita hamil 

dan yang menyusui tidak boleh memakai  

radioiod.

Dosis: oral atau i.v. 925-1850 MBq sebagai 

larutan natriumiodi da I 131 (USP).

14108649_OBAT P(Bab 48)_T-769-778.indd   777 21/04/2015   20:44:39

Seksi VIII: Hormon-hormon778

C. TIMuS

Timus (Thymus) atau kelenjar kacangan 

yaitu  suatu organ kecil yang terdiri dari 2 

paruh lonjong (mirip perisai) berukuran 2-3 

kali 3-4 cm dengan berat ±10 gram pada bayi 

yang baru lahir. 

Timus yaitu  penting sekali bagi proses 

sistem imun dan adakalanya disebut “master-

gland of the body’s defense system” (Yun. thymos 

= mind, feeling) .Letak nya di depan batang 

tenggo rok dan di belak ang tulang dada. 

Thymus menca pai ukuran maksi mal (sebesar 

buah dukuh, ±40 g) selama pubertas, kemudi-

an dengan berangsur lisut (atrofi a) sampai 

sekecil butir jagung pada usia 70 tahun (±6 g).

Timosin (thymosin, Zadaxin). Timus mem-

bentuk minimal 4 hormon yang dinamakan 

timosin dan berperan bagi pemasakan sel-sel 

dasar (stem cells) dari sumsum tulang belak-

ang menjadi limfosit T (Thymus dependent 

cells). T-cells didife ren siasi menjadi CD4+(T-

helper cells) dan CD8+(T-supres sorcells) masak. 

Sel-sel regul asi ini memegang peranan 

utama pada ketahanan tubuh dengan me-

ngatur aktivi tas sel-sel lain dari sistem 

imun. Dengan demikian timosin – yang juga 

diproduksi oleh antara lain sel-sel epitel 

kulit – mengendalikan imunitas seluler. Lihat 

selanjutnya Bab 49, Dasar-dasar Imunolo gi. 

Timosin diperoleh dari ekstraksi timus 

anak sapi. dipakai  sebagai imunostimu-

lans pada berbagai keadaan imunode fisiensi 

se-luler, terutama sebagai obat tambahan 

pada imunote rapi komplementer kanker. 

Lihat selanjutnya Bab 14, Sitosta tika, Terapi 

kom-plementer.

Khasiatnya dapat disimpulkan sebagai 

berikut:

– menstimulasi pemasakan limfosit men-

jadi T-cells masak. Sel-sel ini ”dilatih” 

mengenali sel-sel asing yang masuk ke 

dalam aliran darah. Kuman, virus dan 

sel-sel tumor itu  kemudian dapat 

dimusnah kan dengan pelepa san limfokin 

dan pembentukan killer cells. Limfosit juga 

“ dilatih” mengenali sel-sel tubuh sendiri, 

agar tidak diserang olehnya.

– mengatur keseimbangan antara T-hel-

per, T-supresor dan NK-cells (yang pem-

bentukannya distimulasi oleh T-cells). 

Perbandin gan normal yaitu  CD4+ : 

CD8+ = 1,5-2,2; sedang  pada penyakit 

auto-imun (Graves, Hashimoto, Sjögren, 

diabetes-1, myasthenia gravis, M.S., SLE, 

dan lain-lain ) perbandingannya mening-

kat sampai di atas 3.

– turut meregulasi sistem hormonal lain 

di otak, misalnya LRH serta LH dan 

mungkin memegang peranan pada pro-

ses menua. Juga turut memengaruhi 

pelepasan hormon di anak-ginjal.

Efek samping berupa reaksi kulit pada 

tempat injeksi dan kadangkala demam 

menggigil.

Dosis: 2-3 kali seminggu 150 mg ekstrak 

i.m./s.c. selama maksimal 10 minggu (Thy-

mex-L), kemudi an oral 2 kali sehari 300-600 

mg (tablet e.c. Zellmedin) pada perut kosong 

selama 3 bulan, pemeli haraan: 1 dd 300 mg.

DAFTAR PuSTAKA

8. Weetman AP. Graves’disease. N Engl J Med 

2000; 343: 1236-48

9. Cooper DS. Antithyreoid drugs. N Engl J Med 

2005; 352: 905-17

14108649_OBAT P(Bab 48)_T-769-778.indd   778 21/04/2015   20:44:39

SEKSI IX

LAIN-LAIN

14108649_OBAT P(Bab 49)_T-779-801.indd   779 21/04/2015   20:45:19

B A B  4 9 

DASAR-DASAR IMUNOLOGI

SIStEM IMUN

Tubuh memiliki dua sistem pembuluh, yaitu 

sistem pembuluh darah dan sistem limfa. 

a. Sistem pembuluh darah mengangkut 3 

kelompok sel darah, yaitu: 

–  eritro sit untuk transpor oksigen dan kar-

bondioksida ke seluruh tubuh; 

– lekosit untuk melindungi tubuh terhadap 

zat-zat asing dalam darah. Sel darah 

putih ini juga dapat bersir kulasi di luar 

sistem pembuluh darah, yakni dalam 

sistem limfa.

– trombo sit(pelat darah) yang berperan pen-

ting pada pembekuan darah (hemostasis).

Semua sel darah itu  dibentuk dalam 

sumsum tulang belakang dan berasal dari sel-

sel batang yang belum terdiferensiasi (‘stem 

cells). Sel-sel ini memperbanyak diri secara 

kontinu dan dengan demikian memelihara 

perse diaan sel-sel darah.

b. Sistem limfa berisi limfa yang susunan-

nya sama dengan darah, namun  tanpa eritrosit 

dan trombosit. Sistem ketahanan tubuh meng-

gunakan jaringan luas dari rongga dan pem-

bu luh untuk melindungi tubuh terhadap 

zat-zat asing dari luar. Limfa mengangkut 

zat gizi ke semua organ dan jaringan, lalu 

menyerap zat sampah dan membawa nya ke 

darah untuk pengolahan selanjutnya. Yang 

termasuk dalam sistem ini yaitu  organ-

organ limfoid: kelenjar limfa, amandel (tonsil), 

limpa, thymus dan pelat Peyer.

Pelat Peyer letaknya di mukosa usus ha-

lus dan terdiri atas tumpukan limfo sit dan sel 

plasma. Sel-sel ini berperan pada terjadi nya 

reaksi imun yang berlangsung melalui IgA 

terhadap jasad-jasad dari flora usus. Pem-

bentukan memory cells (sel-sel pengingat) ter-

hadap flora itu  juga diatur di sini.

Sebelum membicarakan cara kerja sistem 

tangkis dan obat-obat yang dapat memengaruhi 

proses imun, akan terlebih dahulu dibahas 

peme ran utama dan alat-alatnya. Berturut-

turut akan dijelaskan sifat dan fungsi ‘serdadu’ 

sistem imun, yaitu lekosit yang terdiri dari 

limfo sit-T/B, NKc ells, memory cells dan 

granulo sit (sel neutro fil, eosinofil dan basofil). 

Khasiat “peralatan” dan “senjatanya”, yaitu 

sitokin : monokin dan limfokin (interferon, 

interleukin dan Tumor Necrosis Factor) juga 

akan dibicarakan. Akhirnya akan dibahas 

pula obat-obat yang berkhasiat menstimulasi 

atau menekan sistem ketahanan.

LEKOSIt

Di dalam darah perifer ada  tiga ke-

lompok sel darah putih, yakni limfo sit, 

granulosit dan fagosit. Jangka hidupnya 

beberapa jam sampai beberapa hari dan 

senantiasa diperbaharui oleh sumsum tulang 

bela kang. Makrofag jaringan dan limfo-T 

bertahan lebih lama. Semua permukaan 

epitel, juga organ-organ berongga, seperti 

pembuluh darah dan limfa, merupakan garis 

pertahanan permeabel, yang dapat dilintasi 

oleh mikrofag, makrofag, limfosit dan zat-

zat humoral (imunoglobulin, sitokin dan enzim 

lysosomal). Kuman dan molekul protein yang 

lebih besar juga mampu menembus mem-

bran permukaan itu , misalnya vaksin 

oral mampu melintasi mukosa usus dan 

masuk ke dalam darah. Kulit ari (epidermis) 

hanya dapat dilintasi oleh molekul kecil, 

seperti obat-obat (dari plester).

14108649_OBAT P(Bab 49)_T-779-801.indd   780 21/04/2015   20:45:19

Bab 49: Dasar-dasar Imunologi 781

A1. Limfosit

Limfosit berasal dari sel batang, yang tergan-

tung dari tempat perkembangannya men-

jadi limfo-T (T-cells) atau limfo-B(B-cells). 

Kemudian, sel-sel ini melalui kelenjar limfa 

masuk ke dalam sirkul asi darah dan berbagai 

organ. Limfosit yaitu  sel-sel berinti, yang 

sedikit lebih besar daripada eritrosit.

T-cells dan B-cells merupakan hampir se-

paruh dari semua lekosit yang beredar dalam 

darah dan berperan penting pada sistem 

tangkis tubuh, limfo-T pada imunitas seluler 

dan limfo-B pada imunitas humo ral. Lihat 

juga Bab 50.

1a. Limfosit-T (T-cells, Thymus-dependent cells, 

limfo-T) menjadi masak dalam organ lim-

foid thymus (kelen jar kacangan). Dapat dibe-

dakan T-helpercells dan T-supres sorcells, 

yang bekerja sebagai sel-sel regulasi. Sel-sel 

ini berperan utama pada sistem tangkis me-

Gambar 49-1: Gambaran skematis interaksi antara limfosit T dan B yang menjurus 

ke pembentukan ant