ber-
langsung lama, sedang resorpsi dari
mukosa jauh lebih baik daripada prokain.
Terikat ±76% pada plasma protein. sesudah
injeksi efeknya timbul dalam waktu 15 menit
dan berlangsung 2-3 jam. Pada pemakaian
lokal efeknya bertahan selama 45 menit.
Hidrolisisnya oleh kolinesterase lebih lambat
dibandingkan anestetika ester lain.
sebab daya kerjanya kuat, sebaiknya ja-
ngan dipakai untuk anestesia infiltrasi
maupun konduksi.
Dosis: Dalam tetes mata 0,5-1%, khasiatnya
lebih kuat daripada tetes mata oksibuprokain,
namun lebih merangsang. Tetes telinga tetra-
kain kurang efektif, sebab perasaan nyeri
biasanya berlokasi di telinga bagian
tengah (mid-ear), yang tidak dicapai oleh obat
ini. Campuran kokain, tetrakain dan epinefrin
(TAC) dipakai untuk anestesi permukaan
pada kulit. Dalam tablet hisap 60 mg.
4. Lidokain: lignokain, Xylocaine,*Emla
Derivat asetanilida ini (1947) termasuk ke-
lompok amida dan merupakan obat pilihan
utama untuk anestesia permukaan maupun
infiltrasi. Zat ini dipakai pada selaput
lendir dan kulit untuk nyeri, perasaan ter-
bakar dan gatal. Dibandingkan prokain, kha-
siatnya lebih kuat dan lebih cepat kerjanya
(sesudah beberapa menit), juga bertahan lebih
lama (plasma-t
1/2 1,5-2 jam, lama kerjanya 60-
90 menit).
pemakaian . Berhubung tidak mengaki-
batkan hipersensitasi, lidokain dipakai
dalam banyak sediaan topikal. Lidokain juga
dipakai sesudah infark jantung sebagai
obat pencegah aritmia ventrikular dan pada
bedah jantung. Lihat Bab 37C, An-tiaritmika.
Resorpsinya melalui kulit ke dalam saraf
juga berlangsung cepat.
Sekitar 90% zat ini dirombak di hati men-
jadi metabolit aktif monoetilglisin-ksilidida
(MEGX) dan glisin-ksilidida (GX). Masa paruh
kedua metabolit ini masing-masing 2 dan 10
jam. Ekskresi melalui urin dalam keadaan
utuh (10%) dan sisanya sebagai metabolit.
Efek samping mengantuk, pusing-pusing,
sukar bicara, hipotensi dan konvulsi; semua
efek SSP yang terutama timbul pada over-
dosis. pemakaian nya harus hati-hati pada
gangguan fungsi hati, decompensatio cordis,
depresi pernapasan dan syok.
Dosis: larutan injeksi 0,5-5% dengan atau
tanpa adrenalin, dalam suppositoria 50-100
mg dan salep 2,5-5%, untuk tenggorok 2-4%,
larutan semprot 100 mg/ml, tetes mata 4%
dan tetes telinga 5 mg/g atau 6,3 mg/ml
dalam gliserol. Sebagai tetes telinga, obat
ini jangan dipakai pada perforasi selaput
gendang dan pada congek.
*Prilokain (Citanest,*Emla) yaitu derivat
yang mulai kerja dan kekuatannya sama
dengan lidokain (1963). Toksisitasnya lebih
rendah daripada lidokain, sebab efek vaso-
dilatasi lebih ringan resorpsinya juga lebih
lambat dan perombakannya lebih cepat. Di
dalam hati zat ini dirombak menjadi o-toluidin
dan metabolit lain. Ekskresi melalui kemih
(kurang dari 1%). Obat ini dipakai pada
anestesia permukaan (4%) dan parenteral
1-1,5% dengan atau tanpa adrenalin.
Efek samping berupa methemoglobinemia dan
sianosis, terutama pada dosis besar yang dise-
babkan oleh metabolit o-toluidin.
Dosis: maksimum 400 mg sekalinya, 600
mg bersama vasokonstriktor.
*Emla cream: lidocain 2,5% + prilocain 2,5%
5. Mepivakain: Scandicaine, *Estradurin
Derivat piperidin ini juga termasuk ke-
lompok amida (1957), yang mulai kerja
dan kekuatannya mirip lidokain, namun ber-
tahan sedikit lebih lama. Tidak berkhasiat
vasodilatasi, sehingga tidak perlu ditam-
bahkan vasokonstriktor. Obat ini terutama
dipakai sebagai anestesia infiltrasi dan
jenis anestesia parenteral lainnya sebagai
larutan 1-2% pada pembedahan dental, mata
dan THT. Efeknya tampak sesudah ±4 menit
dan berlangsung 1-4 jam. Zat ini terikat pada
protein plasma 60-85% dan dimetabolisasi
melalui N-demetilasi menjadi pipekoloksilidin
(PPX). Ekskresi melalui urin dalam keadaan
utuh (5-10%) dan sisanya sebagai metabolit,
juga ±5% diekskresikan melalui paru-paru
sebagai CO2. Plasma-t1/2 2-3 jam.
Dosis: parenteral 350-400 mg , maksimum 1
g per 24 jam sebagai larutan 5-30 mg/ml.
* Bupivakain (Marcaine) yaitu derivat butil
(1967) yang ± 3 kali lebih kuat dan bersifat
long-acting (5-8 jam). Obat ini terutama di-
gunakan untuk anestesi daerah luas (larutan
0,25-0,5%) dikombinasi dengan adrenalin
1:200.000. Derajat relaksasinya terhadap otot
tergantung pada kadarnya.
PP-nya sebesar 82-96%. Melalui N-deal-
kilasi zat ini dimetabolisasi menjadi pipe-
koloksilidin (PPX). Ekskresi melalui urin 5%
dalam keadaan utuh, sebagian kecil sebagai
PPX dan sisanya metabolit-metabolit lain.
Plasma-t½ 1,5-5,5 jam.
Kehamilan. Sama dengan mepivakain, zat
ini dapat dipakai selama kehamilan de-
ngan kadar 2,5-5 mg/ml. Dari semua anes-
tetika lokal, bupivakain yaitu yang paling
sedikit melintasi plasenta.
*Levobupivacain: Chirocaïne
Anestetikum lokal dari tipe amida ini ada-
lah enantiomer dari bupivakain dengan meka-
nisme kerja sama. Efeknya dalam 10-15 menit
dan berlangsung 6-9 jam pada pemakaian
epidural. Dimetabolisasi sebagian besar di
dalam hati dan ekskresinya sebagai metabolit
via urin 71% dan melalui feses 24%. T1/2 rata-
rata 80 menit.
dipakai sebagai anestesi pada pembe-
dahan besar, termasuk bedah Caesar, juga
untuk pembedahan kecil a.l. bedah mata.
Efek samping a.l. hilang perasaan pada lidah,
pusing, penglihatan guram, konvulsi dan
gangguan jantung. Juga sering kali hipotensi,
mual dan muntah.
B. SENYAWA AMIDA.
6. Cinchokain: dibukain, *Proctosedyl, *Sche-
riproct
Derivat kinolin dari tipe amida ini(1929)
beberapa kali lebih kuat daripada lidokain,
namun juga lebih toksik. Efeknya bertahan
lebih lama dan juga bersifat vasodilatasi.
Obat ini banyak dipakai sebagai anes-
tetikum permukaan, antara lain dalam sup-
positoria anti wasir (1-5 mg) atau dalam
salep (0,5-1%) untuk nyeri dan gatal-gatal.
Tidak memicu hipersensitasi. Efeknya
tampak sesudah ± 15 menit dan berlangsung
2-4 jam.
7. Artikain: carticaine, *UltracainD-S, *Septa-
nest
Derivat tiofen ini merupakan zat anestetik
lokal dari kelompok amida dengan kerja
panjang (1976). Terikat pada protein plasma
±95% dan dimetabolisasi seluruhnya di da-
lam hati. Ekskresi terutama via urin.
Efeknya timbul sesudah 3 menit dan ber-
langsung agak lama,±45-90 menit. Obat ini
dipakai untuk pembedahan kecil dan juga
di kedokteran gigi, sebab artikain memiliki
daya penetrasi tulang yang lebih baik di-
bandingkan lidokain.
Efek samping. Pada orang yang alergi ter-
hadap amalgam (zat pengisi lubang gigi)
dan artikain dapat timbul keluhan serius.
Sering kali (1-10%) angio-udem (muka, lidah,
bibir dan kerongkong), hilang daya rasa dan
agitasi, pusing dan tachycardi.
Artikain tidak boleh dipakai per injeksi
i.v. sebab dapat memicu gejala toksik.
Dosis: dewasa sekali 400 mg.
* Ultracain D-S, * Septanest: per ml artikain 40
mg dan epinefrin 5 mcg (1:200.000)
8. Ropivakain: Naropin
Anestetikum lokal dari tipa amida yang
bekerja sesudah 10-20 menit epidural dan 1-15
menit sebagai blokade perifer.
Resorpsi bifasis dengan t1/2 masing-masing
14 menit dan 4 jam pada orang dewasa. Di
metabolisasi di dalam hati dan 80% diekskresi
via urin.
dipakai untuk blokade epidural pada
pembedahan a.l. bedah Caesar dan nyeri akut
(persalinan).
Efek samping sering kali (>10%) hipotensi
dan mual, sakit kepala, parestesia, tachycardi
dan retensi urin.
Dosis: epidural 7,5 mg/ml; lumbal 15-25
ml; bedah Caesar lumbal 15-20 ml.
Terhadap nyeri akut: epidural 2 mg/ml
C. LAINNYA
9. Etilklorida: kloretan, kloretil
Gas yang mudah menyala dan eksplosif
ini menjadi cair di bawah tekanan ringan
(1893). Baunya seperti eter, rasanya pedas
dan biasanya dijual dalam ampul gelas
besar atau dalam sediaan aerosol. Khasiat-
nya kuat namun singkat, hanya ±1 menit.
sebab toksik bagi hati dan jantung, obat
ini hanya dipakai lokal untuk anestesia
pembekuan cepat pada pembedahan kecil
(spray kulit), misalnya untuk mengangkat
kutil. Kerjanya berdasar menguapnya
kloretil dengan cepat berkat titik didihnya
yang rendah bila disemprotkan ke atas
kuli t.
Efek samping nyeri dan kejang otot, bila
pendinginannya terlampau kuat. Jangan
dipakai pada kulit yang tidak utuh atau
pada selaput lendir.
10. Fenol: asam karbol, acidum carbolicum,
*Calamine lotion
Di samping khasiat anestetik dan anti-
gatalnya, fenol juga berkhasiat bakterisid
dan fungisid pada konsentrasi di atas
masing-masing 1% dan 1,3%. Oleh sebab
itu, fenol sering dipakai untuk gatal-
gatal, misalnya pada biang keringat (prickly
heat) 1-2% dalam lotio calamine. Larutan
air dengan kadar >2% dapat merusak
kulit, sebab bersifat kaustik (membakar).
pemakaian lain yaitu sebagai konservans
larutan injeksi.
11. Benzilalkohol
Berbentuk cairan yang melarut dalam
air dan berkhasiat anestetik dan antigatal
lema h, begitu pula bakteriostatik terhadap
terutama kuman Gram-positif, serta virus-
tatik dan fungistatik lemah. Efeknya op-
timal dalam lingkungan asam. Berhubung
tidak merangsang dan tidak toksik, obat ini
sering kali dipakai dalam krem (10%)
terhadap gatal-gatal atau terhadap ‘sun-
burn’, juga pada sakit gigi (1-2 tetes). Dalam
laruta n injeksi i.m. atau s.k., benzilalkohol
juga sering dipakai sebagai konservans
dan anestetikum (10 mg/ml).
ANTIEPILEPTIKA
Epilepsi (Yun. = serangan) atau sawan/
penyakit ayan yaitu suatu gangguan saraf
yang timbul secara tiba-tiba dan berkala,
biasanya dengan perubahan kesadaran. Pe-
nyebabnya yaitu aksi serentak dan men-
dadak dari sekelompok besar sel-sel saraf
di otak. Aksi ini disertai pelepasan muatan
listrik yang berlebihan dari neuron-neuron
itu . Lazimnya pelepasan muatan listrik
ini terjadi secara teratur dan terbatas dalam
kelompok-kelompok kecil, yang memberikan
ritme normal pada elektroencefalogram (EEG).
Serangan ini kadangkala bergejala ringan dan
(hampir) tidak kentara, namun ada kalanya
bersifat demikian hebat sehingga perlu
dirawat di rumah sakit.
Insidensi epilepsi relatif tinggi pada anak-
anak dan lansia.
Pada serangan parsial, hiperaktivitas ter-
batas pada hanya satu bagian dari kulit otak,
sedang pada serangan luas (‘generalized’)
hiperaktivitas menjalar ke seluruh otak.
Sekitar 30% dari pasien epilepsi mempu-
nyai keluarga dekat yang juga menderita
gangguan konvulsi.
Penderita baru disebut pasien epilepsi
bila mengidap minimal 2 serangan kejang
(konvulsi) dalam kurun waktu 2 tahun.
pemicu nya. Separuh dari kasus epilepsi
disebabkan oleh cedera otak seperti gegar otak
berat atau infeksi (meningitis/encefalitis). Juga
infark otak dan perdarahan otak (beroerte),
kekurangan oksigen selama persalinan serta
abses atau tumor dapat memicu cacat
dan epilepsi. Epilepsi adakalanya juga dapat
dicetuskan oleh obat seperti petidin, asam
nalidiksat, klorpromazin, imipramin dan MAO-
blocker. Begitupula akibat penyalahgunaan
alkohol dan drugs. Faktor provokasi lainnya
yaitu bila pemakaian obat antikonvulsi
dan tranquillizers dihentikan secara tiba-
tiba. Serangan juga dapat dipicu oleh faktor-
faktor khas seperti kilatan cahaya dengan
frekuensi tertentu (disco, TV, videogames,
sinar matahari) atau juga musik keras yang
berdentum-dentum, stres dan kurang tidur.
Mengetahui trigger-trigger ini bermanfaat
untuk diwaspadai. Sekitar 20% dari kasus
epilepsi tidak diketahui pemicu nya, namun
keturunan memegang peranan.
* Konvulsi demam (kejang-kejang pada anak).
Tidak semua serangan kejang berdasar
epilepsi. Misalnya kejang-kejang singkat pada
anak-anak berusia 0,5 - 5 tahun, yang dipicu
oleh demam tinggi (di atas 390C). Serangan
khas ini biasanya timbul pada awal infeksi
virus, terutama dari saluran pernapasan.
Risiko untuk residif terletak antara 30-50%.
Jenis epilepsi
Dikenal sejumlah jenis epilepsi dan yang
paling lazim yaitu bentuk serangan luas
(grand mal, petit mal, abscence) pada mana
sebagian besar otak terlibat dan serangan
parsial (sebagian) pada mana pelepasan
muatan listrik hanya terbatas sampai seba-
gian otak. ada pula sejumlah bentuk
campurannya.
1. Grand mal (Prancis = penyakit besar)
atau serangan tonis-klonis ‘generalized’.
[Yun.tonis = kontraksi otot otonom yang
bertahan lama, klonos = gerakan liar hebat,
klonis = kontraksi ritmis]. Bercirikan kejang
kaku bersamaan dengan kejutan-kejutan
ritmis dari anggota badan dan hilangnya
untuk sementara kesadaran dan tonus.
biasanya serangan demikian diawali
oleh suatu perasaan alamat khusus (aura).
Hilangnya tonus memicu penderita
terjatuh, berkejang hebat dan otot-ototnya
menjadi kaku. tahap tonis ini berlangsung
kira-kira 1 menit untuk kemudian disusul
oleh tahap klonis dengan kejang-kejang dari
kaki-tangan, rahang dan muka. Penderita
kadang-kadang menggigit lidahnya sendiri
dan juga dapat terjadi inkontinensia urin
atau feces. Selain itu dapat timbul hentakan-
hentakan klonis, yakni gerakan ritmis dari kaki-
tangan secara tak sadar, sering kali dengan
jeritan, mulut berbusa, mata membelalak dan
gejala lainnya. Lamanya serangan berkisar
antara 1 dan 2 menit yang disusul dengan
keadaan pingsan selama beberapa menit dan
kemudian sadar kembali dengan perasaan
kacau serta depresi.
* Serangan myoclonis (Yun. myo = otot)yaitu
bentuk grand mal lainnya dan bercirikan
kontraksi otot-otot simetris dan sinkron yang
tidak ritmis dari terutama bahu dan tangan
(tidak dari muka). Adakalanya berlangsung
berurutan dengan jangka waktu singkat
sekali, kurang dari 1 detik.
* Status epilepticus yaitu serangan yang
bertahan lebih dari 30 menit dan berlangsung
beruntun dengan cepat tanpa diselingi kea-
daan sadar. Sesudah 30 menit mulai terjadi
kerusakan pada SSP. Situasi gawat ini bisa
fatal (mortalitas 10-15%), sebab kesulitan
pernapasan dan kekurangan oksigen di otak.
biasanya dapat disebabkan oleh ke-
tidakpatuhan penderita minum obat, meng-
hentikan pengobatan secara tiba-tiba atau
timbulnya demam.
2. Petit mal (Prancis = penyakit kecil) atau
abscencea (Prancis = tak hadir). Bercirikan
serangan yang hanya singkat sekali, antara
beberapa detik sampai setengah menit de-
ngan penurunan kesadaran ringan tanpa
kejang-kejang. Seperti grand mal, petit mal
juga bersifat serangan luas di seluruh otak.
Gejalanya berupa keadaan termangu-mangu
(pikiran kosong; kehilangan respons sesaat),
muka pucat, pembicaraan terpotong-potong
atau mendadak berhenti bergerak, terutama
anak-anak. sesudah serangan, anak kemudian
melanjutkan aktivitasnya seolah-olah tidak
terjadi apa-apa. Bila serangan singkat terse-
but berlangsung berturut-turut dengan ce-
pat, maka dapat pula timbul suatu status
epilepticus. Serangan petit mal pada anak-anak
dapat berkembang menjadi grand mal pada
usia pubertas.
3. Parsial (epilepsi psikomotor). Bentuk se-
rangan parsial umumnya berlangsung de-
ngan kesadaran hanya menurun untuk se-
bagian tanpa hilangnya ingatan. Penderita
memperlihatkan kelakuan otomatis tertentu
seperti gerakan mengunyam dan/atau me-
nelan atau berjalan dalam lingkaran.
Diagnosis
Elektroencefalogram (EEG). Tes paling ter-
percaya untuk mendiagnosis jenis epilepsi
yaitu melalui pemeriksaan EEG. Kegiatan
listrik dari otak pertama kali dikemukakan
pada abad ke-19, namun baru dianalisis secara
saksama oleh seorang ilmuwan Jerman (Dr
Hans Berger). Psikiater ini memperkenalkan
istilah elektroencefalogram, yang dapat men-
catat variasi-variasi potensial dari ak-tivitas
listrik di otak. Pencatatan ini berguna untuk
antara lain melokalisasi dan mendiagnosis
proses-proses patologis di otak. Misalnya
luka di cortex memicu gelombang khu-
sus yang dapat dideteksi melalui EEG.
Serangan grand mal yang diawali oleh
aura dan kemudian disusul oleh konvulsi
umum dengan kontraksi otot dan gerakan
klonis, memiliki pola EEG yang khusus.
Serangan petit mal juga memiliki EEG yang
khas. Dengan demikian EEG memungkinkan
penentuan jenis epilepsi yang diderita pasien,
yang ditunjang oleh gejala klinik khusus.
berdasar analisis ini dapat dipilih obat
antikonvulsi yang tepat bagi penderita. Pe-
nentuan jenis epilepsi dan pilihan obat ada-
lah penting sekali, sebab obat yang efektif
terhadap petit mal bisa bekerja berlawanan
pada grand mal dan sebaliknya.
Penanganan
Tindakan utama. Selalu diusahakan untuk
meniadakan pemicu penyakit (misalnya
tumor otak) dan menjauhkan faktor yang
dapat memicu serangan (alkohol, stres, ke-
letihan, demam, imunisasi, gejolak emosi).
Tindakan darurat. Pada waktu serangan
hendaknya diusahakan jangan sampai pen-
derita melukai dirinya sendiri, misalnya
menggigit lidah. Perlu diperhatikan pula
bahwa saluran pernapasannya bebas dan
tidak tersumbat. Bila ada kecurigaan menge-
nai hipoglikemia, yang juga dapat memicu
konvulsi, kadar gula darahnya harus diten-
tukan dan bila perlu harus diberikan glukosa
secara intravena.
Tujuannya. Serangan epilepsi dapat meru-
sak sel-sel otak, terutama serangan grand mal
dan menjadi suatu beban sosial dan psiko-
logis bagi penderita. Oleh sebab itu perlu
sekali terapi yang bertujuan utama mencegah
timbulnya kejang atau mengurangi seba-
nyak mungkin jumlah serangan tanpa meng-
ganggu fungsi normal tubuh. Ini berarti
bahwa antiepileptika harus dipakai te-
rus menerus. Dengan pengobatan dan dosis
yang tepat serangan epilepsi dapat ditekan,
yaitu frekuensinya dikurangi pada 70-80%
penderita. Syukurlah bahwa bentuk epilepsi
tertentu kadangkala hilang secara spontan,
sehingga pasien menjadi bebas serangan
untuk rentang waktu panjang, bahkan ada-
kalanya permanen. Namun biasanya
penyembuhan tuntas sukar dicapai.
Terapi serangan16
Lamanya serangan biasanya kurang
dari 5 menit dan berhenti dengan sendirinya
tanpa pengobatan. Bila berlangsung lebih
lama, barulah harus diberi obat sebagai
berikut.
a. diazepam rektal, sebagai larutan dalam
rectiole. Jika belum menghasilkan efek
sesudah 5 – 10 menit, pemberian dapat
diulang atau diberi midazolam/klona-
zepam secara oromucosal. Lihat selan-
jutnya dibawah pemakaian .
b. diazepam intravena untuk efek cepat
atau klonazepam i.v atau midazolam i.m.
Umumnya serangan berhenti dalam 5 –
15 menit Dosis tidak boleh terlalu tinggi
sebab risiko depresi pernapasan! Bila
penanganan ini belum berhasil juga dan
terjadi status epilepticus, terapi mutlak
harus segera dilanjutkan di rumah sakit
untuk penanganan berikutnya, yaitu:
c. benzodiazepin atau fenitoin sebagai
infus kontinu dengan monitoring per-
na pasan dan sirkulasi. Pasien biasanya
diberi di-azepam 10 mg i.v., disusul de-
ngan infus i.v. dari 200 mg per liter selama
24 jam. .
Terapi pemeliharaan16
Pada dasarnya monoterapi (dengan satu
obat) yaitu efektif pada kebanyakan pen-
derita epilepsi, misalnya karbamazepin atau
valproat.
Pentakarannya harus dimulai dengan dosis
rendah yang lambat laun ditingkatkan sampai
dosis pemeliharaan yang serendah mungkin.
Juga penghentian tidak boleh dengan tiba-
tiba. Bila ternyata obat ini tidak ampuh untuk
mengurangi serangan, maka dapat dicoba
obat lain. Baru sesudah 2-3 jenis obat dicoba
tanpa hasil memuaskan, dapat ditambahkan
obat lain sebagai politerapi. Obat dinyatakan
efektif bila dapat menurunkan frekuensi se-
rangan dengan ±50%.
a. Epilepsi luas (‘generalized’) Pilihan per-
tama pada grand mal yaitu valproat. Pada
grandmal dengan serangan myoclonis dapat
dipakai kombinasi dengan klonazepam.
Karbamazepin, fenitoin dan vigabatrin tidak
cocok, sebab justru dapat meningkatkan
frekuensi serangan. Etosuksimida dan val-
proat sama efektifnya pada absence luas.
Kombinasi dari klonazepam + klobazam,
karbamazepin + valproat dan lamotrigin +
valproat juga sering kali efektif. Pada bentuk
tonis-klonis, karbamazepin, valproat atau
fenitoin memberikan efek baik. Fenobarbital
juga banyak dipakai , namun efek sam-
pingnya (sedasi, kantuk) membatasi penggu-
naannya.
b. Epilepsi parsial biasanya ditanggulangi
dengan pilihan pertama karbamazepin, val-
proat atau fenitoin. Obat-obat lainnya yang
juga efektif yaitu benzodiazepin, lamotri-
gin, topiramat dan vigabatrin Pada umum-
nya efektivitas obat-obat ini tidak sempurna
sehingga sering kali diperlukan kombinasi
dari 2 jenis obat.
c. Kortikosteroida yang diberikan secara
berangsur-angsur sangat efektif, maka ter-
utama dipakai bila penyakit menjadi
parah (exacerbatio). Misalnya pada penderita
lansia, exacerbasi dapat diatasi dengan dosis
rendah prednison (10 mg), yang sepanjang
tahun dapat dikurangi sampai dosis peme-
liharaan. namun pada pasien yang lebih
muda diperlukan dosis (jauh) lebih tinggi
untuk waktu yang lama dengan risiko efek
samping besar. Pada tahun-tahun terakhir
telah dilaporkan lebih sedikit kerusakan
sen di dengan pemakaian 5 mg prednison
sehari secara dini (Arch Int Med 2002; 136:1-
12). Suatu penelitian muktahir menunjuk-
kan bahwa dosis awal tinggi dari kortikos-
teroid (metilprednisolon 1000 mg i.v.) ber-
selang 3 hari menghasilkan kerusakan tulang
yang lebih ringan daripada pemakaian
metilprednisolon 16 mg peroral setiap hari
(NTvG 2004;148: 261-2). Melalui injeksi intra-
artikuler kortikosteroida dipakai pada
keadaan kaku dan nyeri hebat di sendi.
Penderita epilepsi anak-anak
Separuh dari semua kasus epilepsi dimulai
sebelum usia 20 tahun; risiko untuk epilepsi
pada anak-anak yaitu ± 1 : 400. Khususnya
pada mereka penanganan tidak terbatas pada
terapi dengan obat-obat saja, namun yang
penting manajemen secara keseluruhan. Hal
ini menyangkut seluruh keluarga, terutama
orang tua, sekolah dan lingkungannya.
Kerjasama dengan orang tua yaitu mu-
tlak, terutama pada awal terapi sehingga
dapat memberikan informasi untuk menen-
tukan obat dan dosisnya yang paling tepat
bagi anak untuk kelak melaporkan efek
sampingnya. Perlu pula ditekankan kepada
pasien dan orang tua bahwa obat harus
diminum secara teratur setiap hari, sebaik-
nya pada saat yang sama, mis. pada waktu
makan atau sesudahnya.
Penyuluhan bagi orang tua dan guru me-
ngenai sifat penyakit ini dapat membantu
untuk bisa lebih baik menerima penderita
anak ini di rumah, di sekolah maupun di
masyarakat. Tujuannya yaitu menciptakan
suatu suasana di mana anak dapat menjalani
hidupnya senormal mungkin dan juga da-
pat mengembangkan potensinya semaksimal
mungkin. Dalam hal ini perlu diperhatikan
beberapa pedoman untuk menjamin kesela-
matan anak, misalnya menghindari berenang
sendiri atau melakukan olahraga berbahaya,
seperti panjat tebing. Yang juga sangat penting
dan mempunyai dampak sosial dan hukum
yaitu kapan seorang penderita epilepsi di-
perbolehkan mengemudikan kendaraan ber-
motor.
Konvulsi demam pada anak-anak kecil
(‘stuip’, ‘febrile seizures’) yang bertahan lama
dapat diatasi dengan diazepam 5-10 mg
rektal (larutan dalam rektiole). Demamnya
harus dikendalikan dengan parasetamol. Pe-
nanganan profilaktik tidak dianjurkan lagi.
Obat-obat epilepsi
Pada hakikatnya obat-obat ini bertujuan me-
lawan gejala epilepsi, dengan menghindari
pelepasan mendadak (hipersinkron) dari se-
jumlah (jaringan) neuron atau minimal meng-
hindari penyebaran dari aktivitas berlebihan
ke bagian-bagian lain dari otak.
Obat anti-epilepsi pertama yaitu bromida
yang dipakai pada akhir abad ke 19. Obat
sintetik pertama yang memiliki sifat anti-
kejang yaitu fenobarbital, namun terbatas
pada kejang tonik-klonik umum, tanpa efek
terhadap kejang absence.
Obat anti-kejang ideal yaitu yang dapat
mengendalikan segala jenis kejang tanpa efek
samping yang tidak diinginkan. Sayangnya
obat-obat yang sekarang dipakai adaka-
lanya tidak memberikan respons baik pada
sebagian penderita dan sering kali juga
memicu efek samping terhadap SSP
yang bersifat ringan sampai kematian aki-
bat anemia aplastik atau gagal ginjal. Juga
kecenderungan bunuh diri dapat meningkat.
Antiepileptika yaitu obat yang dapat me-
nanggulangi serangan epilepsi berkat kha-
siat antikonvulsinya, yaitu meredakan kon-
vulsi (kejang klonus hebat). Semua obat an-
tikonvulsi memiliki masa paruh panjang,
dieliminasi dengan lambat dan berkumulasi
dalam tubuh pada pemakaian kronis.
Penggolongan. Obat-obat ini dapat dibagi
dalam beberapa kelompok kimiawi, yaitu:
1. Obat generasi pertama.
– Barbital: fenobarbital dan mefobarbital me-
miliki sifat antikonvulsif khusus yang
terlepas dari sifat hipnotiknya. Yang
dipakai terutama senyawa kerja-pan-
jang untuk memberikan jaminan yang
lebih kontinu terhadap serangan grand
mal. Lihat juga Bab 24, Sedativa dan
Hipnotika.
– Fenitoin. Struktur kimia obat ini mirip
barbital, namun dengan cincin lima hi-
dantoin (lihat rumus bangun di bawah
ini). Senyawa hidantoin ini terutama
dipakai pada grand mal.
– Suksinimida: etosuksimida dan mesuksi-
mida. Senyawa ini memiliki kesamaan
dalam susunan gugus cincinnya dengan
fenitoin. Terutama dipakai pada petit
mal.
– Lainnya: asam valproat, diazepam dan
klonazepam, karbamazepin dan okskar-
bazepin.
2. Obat generasi ke-2: vigabatrin, lamotrigin
dan gabapentin (Neurontin), juga felbamat,
topiramat dan pregabaline. Obat-obat ini
umumnya tidak diberikan tunggal sebagai
monoterapi, namun sebagai tambahan dalam
kombinasi dengan obat-obat klasik (generasi
ke-1). Keberatan obat-obat yang agak baru
ini yaitu pengalaman pemakaian nya yang
masih relatif singkat dibandingkan dengan
obat-obat generasi pertama, yang sudah
membuktikan keampuhan dan keamanan-
nya. Lagi pula harganya jauh lebih tinggi.
Mekanisme kerja
Mekanisme kerja anti-epileptika dapat di-
jelaskan berdasar dua prinsip. Pertama
berdasar pemblokiran terhadap transpor
elektrokimia oleh saluran-saluran ion natrium
atau kalsium. Kedua yaitu peningkatan
penghambatan dari neurotransmitter GABA,
atau penurunan transmisi glutamat.
GABA (gamma-aminobutiric acid). Di otak
ada dua kelompok neurotransmitter,
yaitu zat-zat seperti noradrenalin dan serotonin
yang memperlancar transmisi rangsangan
listrik di sinaps sel-sel saraf. Selain itu juga
ada zat-zat yang menghambat neuro-
transmisi, antara lain GABA dan glisin.
Li hat juga Bab 54, Dasar-dasar diet se-
hat. Asam amino GABA memiliki efek
dopamin(= PIF, prolactin inhibiting factor)
lemah, yang berefek meng hambat pro-
duksi prolaktin oleh hipofisis. GABA ter-
dapat di praktis seluruh otak dalam dua
ben tuk, GABA-A dan GABA-B yang me-
kanis me kerjanya berhubungan erat de-
ngan reseptor benzodiazepin. Ternyata pula
bahwa ada hubungan langsung antara
serangan kejang dan GABA. Zat-zat yang
memicu timbulnya konvulsi diketahui ber-
sifat mengurangi aktivitas GABA. Di lain
pihak zat-zat yang memperkuat sistem
penghambatan yang diatur oleh GABA
berdaya antikonvulsi, antara lain benzodia-
zepin (diazepam, klonazepam). Ini merupakan
salah satu mekanisme kerja dari obat-obat
epilepsi, lihat di bawah.
Cara kerja antiepileptika belum semuanya
jelas. Namun dari sejumlah obat ada
indi kasi mengenai mekanisme kerjanya,
yaitu:
a. memperkuat efek GABA: valproat dan vi-
gabatrin bersifat menghambat perom-
bakan GABA oleh transaminase, sehingga
kadarnya di sinaps meningkat dan neu-
rotransmisi lebih diperlambat. Juga to-
piramat bekerja menurut prinsip mem-
perkuat GABA, sedang lamotrigin
meningkatkan kadar GABA. Fenobarbital
juga menstimulasi pelepasannya.
b. menghambat kerjanya aspartat dan gluta-
mat. Kedua asam amino ini yaitu neu-
rotransmitter yang merangsang neuron
dan memicu serangan epilepsi.
Pem bebasannya dapat dihambat oleh la-
motrigin, juga oleh valproat, karbama-
zepin dan fenitoin (NTvG 2006;150:977-9);
c. memblokir saluran-saluran (channels) Na,
K dan Ca yang berperan penting pada
timbul dan perbanyakan muatan listrik.
Contohnya yaitu etosuksimida, val-
proat, karbamazepin, okskarbazepin, fe-
nitoin, lamotrigin, pregabalin dan topi-
ramat;
d. meningkatkan ambang-serangan dengan ja-
lan menstabilkan membran sel, antara
lain felbamat;
e. mencegah timbulnya pelepasan muatan listrik
abnormal di pangkalnya (focus) dalam SSP,
yaitu fenobarbital dan klonazepam;
f. menghindari menjalarnya hiperaktivitas (mu-
atan listrik) itu pada neuron otak
lainnya, seperti klonazepam dan fenitoin.
pemakaian
Pada pemakaian awal dari suatu anti-
epileptikum harus diperhitungkan pengaruh
pemakaian bersamaan dari anti-epileptikum
lain (co-medikasi). Kombinasi demikian dapat
memicu induksi enzim (karbamazepin,
fenobarbital, fenitoin) atau inhibisi enzim
oleh obatnya sendiri (felbamat, topiramat,
valproat). berdasar hal ini adakalanya
dosis haru dinaikkan untuk memberikan
perlindungan secukupnya, atau penurunan
dosis untuk mengurangi efek samping.
Pada terapi kombinasi sebagian pasien
hanya membutuhkan dosis lebih rendah dari
masing-masing anti-epileptikum.
Antiepileptika sering kali memiliki in-
deks terapi yang sempit, seperti fenitoin,
maka untuk efek optimal perlu ditentukan
pentakaran yang saksama agar kadar darah
terpelihara pada rentang kadar terapi yang
sekonstan mungkin. Banyak obat (primidon,
karbamazepin, klonazepam dan valproat)
memicu mual dan pusing. Untuk
menghindari gejala ini, pada permulaan
obat diberikan tunggal dalam dosis rendah
yang berangsur-angsur dinaikkan sehingga
efek maksimal tercapai dan kadar plasma
menjadi tetap (‘steady state’). Bila terjadi
kegagalan harus diganti dengan obat lain
dan penting sekali untuk selalu menurunkan
dosis obat pertama dengan perlahan-lahan
sambil berangsur-angsur menaikkan dosis
obat baru untuk mencegah timbulnya status
epilepticus. Pengecualian yaitu fenitoin dan
etosuksimida yang dapat langsung diberikan
dalam dosis pemeliharaannya. Akan namun
sering kali juga terapi dilanjutkan dengan
kedua obat bersama, bahkan ditambah lagi
dengan obat ketiga bila belum tercapai hasil
yang diinginkan.
Pada usia lanjut CVA merupakan sebab
penting pada timbulnya epilepsi . Serangan
parsial paling sering terjadi. Pada tahun
pertama serangan kedua lebih sering (80%)
timbul dibandingkan dengan orang muda.
Oleh sebab itu penanganan pada lansia agar
lebih cepat dimulai sesudah serangan pertama
dan tidak menunggu-nunggu lagi.
* Kombinasi. Bagi orang yang resisten ter-
hadap monoterapi (±30% dari pasien) di-
perlukan kombinasi dari 2 atau 3 jenis obat
sekaligus. Terapi kombinasi ini sebetulnya
tidak dianjurkan sebab kemungkinan tim-
bulnya interaksi dan bertambahnya efek
samping. Namun ketidakpatuhan pasien
dalam minum obat akan berkurang, yang
merupakan pemicu utama kegagalan te-
rapi (85%). Penelitian dengan fenitoin, kar-
bamazepin dan valproat menunjukkan bah-
wa pada kebanyakan pasien serangan dapat
dikendalikan dengan hanya satu jenis obat
bila diberikan dalam dosis yang cukup tinggi.
Dalam hal ini terapi perlu dipantau melalui
penentuan kadar obat dalam darah.
Pada kasus resisten baru dapat dipakai
kombinasi dengan antiepileptika generasi
ke-2 felbamat, vigabatrin,lamotrigin, dalam
doses serendah mungkin, yang berangsur-
angsur dinaikkan. pemakaian sediaan kombi-
nasi tetap harus dihindari, kecuali pada kasus
resistensi itu di atas.
* pemakaian lain.
Selain untuk epilepsi obat-obat ini juga
sering kali dipakai off label (artinya di luar
indikasi resmi) pada antara lain keadaan-
keadaan sebagai berikut.
– gangguan bipoler: karbamazepin, val-
proat, lamotrigin
– trigeminus neuralgie: karbamazepin
– nyeri neuropatis perifer: gabapentin, pre-
gabalin
– nyeri neuropati sentral: pregabalin
– perasaan ketakutan: pregabalin
– gejala akibat penghentian minum alkohol:
karbamazepin
– aritmia: fenitoin
– profilaksis migren: topiramat, valproat
– diabetes insipidus: karbamazepin (mere-
gulasi cairan tubuh dengan cepat me-
ngurangi jumlah urin dan perasaan da-
haga).
* Pentakaran. Kebanyakan obat epilepsi
memiliki plasma-t½ yang agak panjang (10-
50 jam lebih) sehingga seyogyanya dosis
dapat diberikan 1 kali sehari. Namun pada
umumnya obat diberikan 2 atau 3 kali sehari
untuk meniadakan kemungkinan terjadinya
serangan akibat terlupanya satu dosis.
* Jangka waktu terapi. Lamanya pengobatan
sukar untuk dapat ditentukan terlebih da-
hulu. Hal ini tergantung antara lain dari usia,
frekuensi serangan dan faktor yang dapat
memicu serangan. biasanya terapi
diberikan selama bertahun-tahun dan dalam
kebanyakan kasus malahan seumur hidup.
Di lain pihak bila dalam kurun waktu 5
tahun tidak terjadi lagi serangan (pada hanya
±25% pasien), dosis dapat berangsur-angsur
diturunkan. Bila serangan tidak terjadi lagi,
akhirnya terapi dapat dihentikan sama sekali.
Pada bayi pengobatan biasanya sudah
bisa dihentikan beberapa minggu sampai
beberapa bulan sesudah serangan terakhir,
pada anak-anak sampai 6 tahun kebanyakan
sesudah 1 tahun. Risiko kambuh pada anak-
anak sampai ±16 tahun hanya ±25%.
Perlu pula diperhatikan sekali lagi bahwa
penghentian terapi tidak boleh secara tiba-
tiba, sebab dapat memicu serangan. Penge-
cualian yaitu bila timbul efek-efek samping
serius seperti toksisitas hati dan sindrom
Stevens-Johnson.
Sekitar 30% dari penderita epilepsi yang
menjalani pengobatan tetap tidak terlepas
dari serangan-serangan. Epilepsi yang sukar
ditangani demikian disebut epilepsi “refrac-
tair.” Pengobatan mutakhir untuk menghen-
tikan serangan yaitu dengan cara pembe-
dahan (epilepsie chirurgie).17
Efek samping
Efek samping yang paling sering timbul
berupa gangguan saluran pencernaan (nau-
sea, muntah, obstipasi, diare dan hilang cita
rasa). Begitu pula efek SSP (rasa kantuk,
pusing, ataxia, nystagmus, mudah tersing-
gung) sering kali terjadi. Selain itu juga reaksi
hipersensitivitas (dermatitis, ruam, urticaria,
sindrom Stevens-Johnson, hepatitis), rontok
rambut, hirsutisme, kelainan psikis, gangguan
darah dan hati, serta perubahan berat ba-
dan. Valproat, gabapentin, pregabalin dan
adakalanya vigabatrin meningkatkan berat
badan, sedang topiramat justru menu-
runkannya.
Okskarbazepin, gabapentin dan lamotrigin
memperbaiki suasana jiwa, sedang viga-
batrin dan topiramat memperbesar risiko akan
psikosis. Juga kemungkinan meningkatnya
kecenderungan bunuh diri (0,43%), terutama
pada pemakaian gabapentin, klonazepam
dan levetirasetam.
Kebanyakan antiepileptika memengaruhi
sistem endokrin, misalnya metabolisme vita-
min D, dengan akibat penurunan kadar kal-
sium dan fosfat dalam darah. Oleh sebab itu
penderita yang memakai antiepileptika
untuk jangka waktu lama, perlu periodik
diperiksa kadar kalsium dan fosfatnya.
Kehamilan
Efek teratogen. Antiepileptika dapat menye-
babkan gangguan kongenital yang ±2-3 ka-
li lebih besar daripada keadaan normal,
khususnya asam valproat dan karbama-
zepin. Efek teratogen ini - terutama spina
bifida - ditimbulkan oleh toksisitas langsung
terhadap sel-sel janin dan juga sebab de-
fisiensi asam folat. pemicu nya yaitu
sebab di satu pihak obat-obat ini (valproat
dan karbamazepin) menghambat dengan
kuat resorpsi asam folat dan di lain pihak
meningkatkan ekskresinya sebab induksi
enzim di hati. Penurunan kadar asam folat juga
dapat memicu anemi makrositer, maka
dianjurkan pemberian suplesi dari vitamin
ini (1 dd 0,5 mg). Fenobarbital, fenitoin dan
valproat a.l. juga dapat memicu ke-
lainan jantung dan bibir sumbing.
Untuk mengurangi risiko serangan pada
wanita hamil dan memperkecil risiko cacat
pada janin, dianjurkan pemberian obat
dengan dosis yang serendah mungkin (diss
B. Samren, Univ Rotterdam, April 1998).
*Penghentian pengobatan epilepsi dapat
memicu serangan pada sang ibu dengan
akibat dapat memicu penyimpangan
pada janin akibat hipoksia atau perdarahan
intrakranial.
* pemakaian kombinasi sebaiknya di-
ganti dengan obat tunggal, sebab risiko
penyimpangan pada janin lebih kecil pada
monoterapi dibandingkan dengan politerapi.
pemakaian asam valproat supaya dihin-
dari.
Interaksi
Beberapa antiepileptika memicu (auto)
induksi enzim hati (sistem-oksidasi P450),
seperti karbamazepin, fenitoin, fenobarbi-
tal dan primidon. Oleh sebab itu obat-
obat ini dapat saling menurunkan kadar-
nya dalam darah dengan peningkatan eks-
kresinya. Kadar dari antikoagulansia, zat-zat
anti-HIV dan steroida (antikonseptiva) ditu-
runkan. Akibatnya induksi enzim ini telah
memicu kehamilan pada wanita yang
memakai pil antihamil. `
Sebaliknya beberapa obat memicu
penghambatan enzim melalui kompetisi un-
tuk titik pengikatan yang sama. Misalnya val-
proat mampu meningkatkan kadar fenobarb
dengan kuat, sedang efek valproat diku-
rangi oleh fenitoin.
Interaksi itu hampir tidak terjadi pa-
da vigabatrin dan gabapentin sebab zat-
zat ini praktis tidak dimetabolisasi dan pada
okskarbazepin sebab dipecah oleh enzim-
enzim jenis lain di hati. namun dapat memicu
perombakan pil antihamil yang mengandung
kurang dari 50 mcg estrogen dengan risiko
perdarahan-antara dan kehamilan.
Pada lansia induksi enzim dapat mening-
katkan kecenderungan osteoporosis (fenitoin
dan fenobarbital).
MONOGRAFI
1. GENERASI PERTAMA
1a. Asam valproat: asam dipropilasetat, DPA,
Depakene, Leptilan (Na-).
Khasiat antikonvulsi dari derivat asam
valerian ini diketemukan secara kebetulan
(Meunier, 1963) dan dianggap sebagai obat
pilihan pertama pada absences. Dalam kom-
binasi dengan obat-obat lain juga efektif
pada grand mal dan serangan psikomotor.
Mekanisme kerjanya diperkirakan berda-
sarkan hambatan enzim yang menguraikan
GABA, sehingga kadar neurotransmitter ini
di otak meningkat.
Resorpsinya di usus cepat, sesudah 15 menit
sudah tercapai kadar plasma maksimal. PP
lebih kurang 90%, plasma-t½ ±10 jam dan
diekskresi sebagai glukuronida, terutama
melalui urin. Resorpsi dari suppositoria juga
baik, namun bersifat merangsang bagi selaput
lendir, juga pada pemakaian sebagai injeksi.
Efek rangsangan lokal ini dapat banyak di-
kurangi dengan memakai tablet enteric-
coated dan tablet slow-release. Yang terakhir
juga menguntungkan sebab memberikan
kadar plasma yang lebih merata. Antara
kadar plasma dan efek terapi (terhindarnya
serangan) tidak ada hubungan langsung,
berbeda dengan antiepileptika lainnya. Ada
indikasi bahwa pentakaran 1 kali sehari sama
efektifnya dengan 2 atau 3 kali sehari.
Efek samping yang sering terjadi yaitu
gangguan saluran cerna yang bersifat se-
mentara, adakalanya juga sedasi, ataksia,
udema pergelangan kaki dan rambut rontok
(reversibel). Efek lainnya yaitu kenaikan
berat badan, terutama pada remaja puteri.
Kehamilan. Senyawa ini bersifat teratogen
pada hewan, maka tidak boleh diberikan
pada wanita hamil.
Interaksi. sebab DPA dapat meningkatkan
kadar fenobarbital dan fenitoin, maka
berdasar penelitian kadarnya di dalam
darah, dosisnya harus dikurangi (sampai 30-
50%) untuk menghindari sedasi berlebihan.
Sebaliknya, khasiat DPA juga diperkuat oleh
antiepileptika lainnya.
Dosis: oral semula 3-4 dd 100-150 mg d.c.
dari garam natriumnya (tablet e.c.) untuk
kemudian berangsur-angsur dalam waktu
2 minggu dinaikkan sampai 2-3 dd 300-500
mg, maksimal 3 g sehari. Anak-anak 20-30
mg/kg/sehari. Asam bebasnya memberikan
kadar plasma yang 15% lebih tinggi (lebih
kurang sama dengan persentase natrium
dalam Na-valproat), namun lain daripada itu
tidak lebih menguntungkan.
1b. Karbamazepin: Tegretol
Senyawa trisiklis (1964) yang mirip imi-
pramin ini (lihat Bab 30, Antidepresiva)
selain bekerja antikonvulsi, juga berkhasiat
antidepresif dan antidiuretik, mungkin ber-
dasarkan peningkatan sekresi di hipofisis
atau penghambatan perombakannya.
pemakaian nya di berbagai bidang, yaitu:
– epilepsi grand mal dan bentuk parsial sama
efektifnya dengan fenitoin, namun efek
sampingnya lebih sedikit. Fenobarbital
dan valproat memperkuat efeknya. Tidak
efektif pada absences.
– neuralgia trigeminus: merupakan obat
yang paling efektif terhadap nyeri urat
saraf hebat di bagian muka, juga terhadap
nyeri sinannaga(Herpes zoster)
– depresi manis: efektivitasnya dapat disa-
makan dengan litium, lihat Bab 30 Anti-
depresiva.
– diabetes insipidus (polyuria akibat keku-
rangan ADH): khusus terhadap bentuk
sentral dari gangguan ini. Lihat Bab 47,
Antidiabetika.
Resorpsi lambat dan kadar maksimal da-
lam plasma dapat tercapai sesudah 4-24 jam.
Pengikatan proteinnya tinggi, ±80%, sedang-
kan plasma-t½ sangat variabel (7-30 jam). Di
dalam hati karbamazepin dioksidasi men-
jadi metabolit epoksida yang juga berefek
antikonvulsi.
Efek samping yang paling sering terjadi
berupa sedasi, sakit kepala, pusing, mual,
muntah dan ataxia, yang umumnya bersifat
sementara (±2 minggu). Sekitar 40% dari
pengguna masih mengalami rasa kantuk
sesudah 1 tahun. Reaksi kulit (rashes) juga agak
sering terjadi. Efek lainnya yaitu anoreksia,
mengantuk, radang kulit dan gangguan psi-
kis. sebab dapat terjadi gangguan darah,
hepatitis dan lupus erythematodes, harus di-
lakukan pemeriksaan darah setiap minggu/
bulan. Kombinasi dengan antara lain feno-
barbital dan fenitoin dapat menyulitkan
terapi. Selama pemakaian karbamazepin
tidak boleh minum alkohol dan pengendara
bermotor harus waspada.
Kehamilan dan laktasi. Zat ini dapat me-
nembus plasenta, berkumulasi di jaringan
janin dan dapat mengganggu pertumbuhan
janin. Oleh sebab itu tidak dianjurkan pe-
nggunaannya selama kehamilan. Dalam ke-
adaan utuh maupun metabolitnya dapat
masuk ke dalam air susu ibu, walaupun tidak
banyak.
Dosis: permulaan sehari 200-400 mg di bagi
dalam beberapa dosis yang berangsur-angsur
dapat dinaikkan sampai 800-1200 mg dibagi
dalam 2-4 dosis. Pada manula setengah dari
dosis ini. Dosis awal bagi anak-anak sampai
usia 1 tahun 100 mg sehari, 1-5 tahun 100-
200 mg sehari, 5-10 tahun 200-300 mg sehari
dengan dosis pemeliharaan 10-20 mg/kg
berat badan sehari dibagi dalam beberapa
dosis.
* Okskarbazepin (Trileptal) yaitu derivat
(1991) yang sama efektifnya dengan karba-
mazepin pada dosis yang 50% lebih tinggi.
Kedua obat ini tidak bersifat induktor en-
zim, maka pada pemakaian lama tidak
memicu auto-induksi (= stimulasi dari
metabolisme sendiri). Efek sampingnya lebih
ringan, khususnya rash. Okskarbazepin ter-
utama dipakai pada serangan tonis-
klonis ‘generalized’ dan pada epilepsi parsial.
Resorpsi cepat dan hampir sempurna (95%)
untuk kemudian diubah menjadi dihidrok-
sikarbamazepin aktif dengan plasma-t½ 10-25
jam. Lebih dari 95% diekskresi melalui urin
sebagai konyugat dan 0,3% dalam bentuk
utuh. Efek sampingnya berupa perasaan letih,
pusing dan ataksia, hiponatriemia, gangguan
tidur, tremor dan radang kulit.
Kehamilan dan laktasi. Data untuk ini belum
cukup, namun zat ini masuk ke dalam air susu
ibu dan dapat mencapai kadar sampai 50%
dari kadar plasma sang ibu.
Dosis: monoterapi 1 dd 300 mg d.c. atau
p.c., lambat laun dinaikkan sampai dosis
pemeliharaan 2-3 dd 200-400 mg; politerapi
pada epilepsi gawat dan yang resisten: 1 dd
300 mg dan lambat laun ditingkatkan sampai
dosis pemeliharaan 2-3 dd 300-1000 mg.
1c. Fenobarbital: fenobarbiton, Luminal.
Senyawa hipnotik ini (1912) terutama di-
gunakan pada serangan grand mal dan status
epilepticus berdasar sifatnya yang dapat
memblokir pelepasan muatan listrik di otak.
Untuk mengatasi efek hipnotiknya, obat ini
dapat dikombinasi dengan kofein. Tidak bo-
leh diberikan pada absences sebab justru
dapat memperburuknya.
Resorpsi di usus baik (70-90%) dan ±50%
terikat pada protein; plasma-t½ panjang, ±3-4
hari, maka dosisnya dapat diberikan sehari
sekaligus. Sekitar 50% dipecah menjadi p-hi-
droksifenobarbital yang diekskresi lewat urin
dan hanya 10-30% dalam keadaan utuh.
Efek samping berkaitan dengan efek seda-
sinya (lihat Bab 24, Sedativa dan Hipnotika),
yaitu pusing, mengantuk, ataksia dan pada
anak-anak mudah terangsang. Efek samping
ini dapat dikurangi dengan penambahan
obat-obat lain.
Interaksi. Bersifat menginduksi enzim dan
antara lain mempercepat penguraian kalsiferol
(vitamin D2) dengan kemungkinan timbulnya
rachitis (penyakit Inggris) pada anak kecil.
pemakaian bersama valproat harus hati-
hati, sebab kadar darah fenobarbital dapat
ditingkatkan. Di lain pihak kadar darah fe-
nitoin dan karbamazepin serta efeknya da-
pat diturunkan oleh fenobarbital.
Dosis: 1-2 dd 30-125 mg, maksimal 400 mg
(dalam 2 kali); pada anak-anak 2-12 bulan
4 mg/kg berat badan sehari; pada status
epilepticus dewasa 200-300 mg.
* Metilfenobarbital (mefobarbital, Prominal)
juga dipakai pada petit mal (1932). Di-
bandingkan dengan fenobarbital, resorpsi di
usus kurang baik (50%). Di dalam hati zat
ini dengan cepat diubah seluruhnya menjadi
fenobarbital. Efek sedasi dan hipnotiknya
lebih ringan, begitu pula khasiat anti-
epilepsinya, maka tidak banyak dipakai
lagi. Dosis: 2 dd 100-200 mg.
1d. Primidon: Mysoline
Struktur kimia obat ini (1952) sangat mirip
fenobarbital, namun bersifat kurang sedatif.
Sangat efektif terhadap serangan grand
mal dan psikomotor. Di dalam hati terjadi
biotransformasi menjadi fenobarbital dan fe-
niletilmalonamida (PEMA), yang juga bersifat
anti-konvulsi. pemakaian lainnya yaitu
pada neuralgia trigeminus, lihat di atas (1b).
Efek samping pusing, mengantuk, ataksia
dan anoreksia (sementara), juga anemia ter-
tentu yang dapat diatasi dengan asam folat.
Pada anak-anak: mudah terangsang.
Dosis: dimulai dengan 4 dd 500 mg (= 2
tablet), pada hari ke-4 dikurangi sampai 4
dd 250 mg dan pada hari ke-11 125 mg dan
seterusnya.
1e. Fenitoin: difenilhidantoin, Diphantoin, Di-
lantin
Senyawa imidazolidin ini (1938) tidak
bersifat hipnotik seperti senyawa barbital dan
suksinimida. Fenitoin terutama efektif pada
grand mal dan serangan psikomotor, namun
tidak boleh diberikan pada petit mal, sebab
dapat memprovokasi absences. Sediaan tablet
dari dua pabrik yang berlainan dapat sangat
berbeda kesetaraan biologis (BA) dan kadar
darahnya, maka selama terapi sebaiknya
jangan mengganti pabrik.
Fenitoin merupakan anti-epileptikum de-
ngan indeks terapi yang sangat sempit. Efek
terapi yang optimal terletak pada kadar
serum total antara 8-20 mg/L. Di dalam
tubuh 90% dari zat ini terikat pada protein
plasma. Kadar albumin dalam serum yang
rendah (hipoalbuminemia) memicu pe-
ningkatan kadar fenitoin bebas melampaui
kadar terapi (0,5-2 mg/L) dan dapat menye-
babkan intoksikasi. Keseimbangan antara
fraksi fenitoin total dan fraksi fenitoin bebas
juga dapat terganggu oleh penyakit fungsi
hati atau ginjal, usia lanjut dan juga oleh
obat-obat seperti digoksin, aspirin, derivat
kumarin, antidiabetika oral dan asam val-
proat.
Kemper E.M. et al., Ernstige fenytoïne-
intoxicatie bij patiënten met hypoalbumi-
nemie. Ned Tijdschr Geneesk. 2007;151:138-
41
Pentakaran obat ini agak sulit sebab
perubahan sedikit dalam dosis harian dapat
memicu perubahan kuat dalam plas-
ma darah, oleh sebab pada kadar terapeutik
farmakokinetiknya tidak lineair.
Resorpsi di usus cukup baik, persentase
pengikatan pada protein tinggi, ±90%. sesudah
mengalami siklus enterohepatik, akhirnya
fenitoin diekskresi melalui ginjal dalam ben-
tuk glukuronida (60-75%). Plasma-t½ rata-
rata 22 jam (sangat variabel).
Efek samping yang sering kali timbul ada-
lah hiperplasia gusi (tumbuh berlebihan) dan
obstipasi. Efek lainnya a.l. pusing, mual
dan bertambahnya rambut/bulu badan (hi-
pertrichosis). Wanita hamil tidak boleh meng-
gunakan fenitoin sebab bersifat teratogen.
Dosis: permulaan sehari 2-5 mg/kg berat
badan dibagi dalam 2 dosis dan dosis peme-
liharaan 2 dd 100-300 mg (garam Na) pada
waktu makan dengan minum banyak air
(alkalis!). Pada anak-anak 2-16 tahun, per-
mulaan sehari 4-7 mg/berat badan dibagi
dalam 2 dosis dan dosis pemeliharaan sehari
4-11 mg/berat badan. Bila dikombinasi de-
ngan fenobarbital, dosisnya dapat diperke-
cil.
* Fosfenitoin (Cerebyx) yaitu ester fosfat
dari pro-drug fenitoin yang cepat dan leng-
kap diuraikan menjadi fenitoin, formalde-
hida dan fosfat. dipakai sebagai injeksi
i.m./infus.
1f. Diazepam: Valium, Stesolid, Mentalium
Di samping khasiat anksiolitik, relaksasi
otot dan hipnotiknya (lihat juga Bab 24,
Sedativa dan Hipnotika), senyawa benzodia-
zepin ini (1961) juga berkhasiat antikonvulsi.
berdasar khasiat ini. diazepam diguna-
kan pada epilepsi dan dalam bentuk injeksi
i.v. terhadap status epilepticus. Pada peng-
gunaan oral dan dalam klisma (rectiole), resorp-
sinya baik dan cepat namun dalam bentuk
suppositoria lambat dan tidak sempurna.
Sekitar 97-99% diikat pada protein plasma.
Di dalam hati diazepam dibiotransformasi
menjadi antara lain N-desmetildiazepam yang
juga aktif dengan plasma-t½ panjang, antara
42-120 jam. Plasma-t½ diazepam sendiri ber-
kisar antara 20-54 jam. Toleransi dapat terjadi
terhadap efek antikonvulsinya, sama seperti
terhadap efek hipnotiknya.
Efek sampingnya lazim bagi kelompok
benzodiazepin, yaitu mengantuk, termenung-
menung, pusing dan kelemahan otot.
Dosis: 2-4 dd 2-10 mg dan i.v. 5-10 mg
dengan perlahan-lahan (1-2 menit), bila perlu
diulang sesudah 30 menit; pada anak-anak 2-5
mg. Pada status epilepticus dewasa dan anak
di atas usia 5 tahun 10 mg (rectiole); pada
anak-anak di bawah usia 5 tahun sekali 5 mg.
Pada konvulsi demam: anak-anak 0,25-0,5
mg/kg berat badan (rectiole), bayi dan anak-
anak di bawah 5 tahun 5 mg, sesudah 5 tahun
10 mg, juga preventf pada demam(tinggi).
* Klonazepam (Rivotril) yaitu derivat
klor (1973) dari nitrazepam dengan kerja
antikonvulsif yang lebih kuat. Khasiatnya
diperkirakan berdasar perintangan lang-
sung dari pusat epilepsi di otak dan juga
merintangi penyebaran aktivitas listrik ber-
lebihan pada neuron lain. Klonazepam ter-
utama dipakai pada absences anak-anak
dan merupakan obat pilihan utama (i.v.) pada
status epilepticus sebab khasiatnya lebih kuat
dan 2-3 kali lebih cepat daripada diazepam.
Kinetik. Sekitar 87% zat ini diikat pada pro-
tein plasma dan dimetabolisasi dalam hati
menjadi senyawa metabolit tidak aktif. Plas-
ma-t½ 18-50 jam, peroral kadar darah maksi-
malnya dicapai sesudah 1-3 jam, melalui i.v.
sesudah 1 menit. Toleransi juga dapat terjadi
sesudah beberapa minggu sampai beberapa
bulan.
Efek samping yang agak sering terjadi be-
rupa sedasi, mengantuk, pusing dan cupet-
nya pikiran, juga kelemahan otot dan sekresi
ludah berlebihan (hipersalivasi), yang dapat
membahayakan pernapasan terutama pada
anak-anak. Selama pemakaian klonaze-
pam dilarang minum alkohol, sebab me-
mengaruhi efek obat. Dosis: oral anak-anak
3 dd 0,5-2 mg; dewasa permulaan 0,5 mg
sehari, lambat laun dinaikkan sampai 3 dd
1-5 mg (maksimal 20 mg sehari); dosis harus
dinaikkan dengan berangsur-angsur. Pada
status epilepticus i.v. 1 mg (perlahan-lahan),
sesudah 30 menit diulang 1 mg; anak-anak 1
dd 0,5 mg.
*Klobazam (Frisium) yaitu derivat 1,5-ben-
zodiazepin (1982) yang dipasarkan sebagai
tranquillizer, namun memiliki khasiat anti-
konvulsi yang sama kuatnya dengan diaze-
pam. Klobazam dipakai sebagai obat tam-
bahan pada absences yang resisten terhadap
klonazepam. Tidak dapat dikombinasi de-
ngan valproat. Lihat selanjutnya Bab 24,
Sedativa dan Hipnotika. sesudah pemakaian
oral minimal 87% diresorpsi dan ±85% diikat
pada protein plasma. Metabolit utamanya
yaitu N-desmetilklobazam yang memiliki
sifat antikonvulsi lemah. Plasma-t½ 18-30
jam dan diekskresi (81-97%) melalui urin.
Dosis: oral sehari 5-15 mg, dapat lambat laun
ditingkatkan sampai maksimal 80 mg sehari.
1g. Etosuksimida: etilmetilsuksinimida, Za-
rontin
Derivat pirolidin ini (1958) sangat efektif
terhadap serangan absence. Efeknya panjang
dengan plasma-t½ 2-4 hari. Praktis tidak
terikat pada protein, ekskresi melalui ginjal,
yaitu 50% sebagai metabolit dan 20% dalam
keadaan utuh.
Efek samping berupa sedasi, antara lain
mengantuk dan termenung-menung, sakit
kepala, anoreksia dan mual, juga bersendawa.
Leukopenia jarang terjadi namun di samping
pemeriksaan hematologi, fungsi hati dan urin
perlu dimonitor secara teratur.
Dosis: 1-2 dd 250-500 mg sebagai tablet
e.c.(enteric-coated) sebab rasanya tidak enak
dan bersifat merangsang.
* Mesuksimida (Celontin) yaitu derivat
metil (1954) dengan sifat dan pemakaian
yang kurang lebih sama. Dosis: 1 dd 300 mg,
maks. 1,2 g sehari.
2. GENERASI KEDUA
2a. Felbamat: Taloxa, Felbatol
Analogon meprobamat ini (1993) digu-
nakan sebagai obat tambahan, bila karba-
mazepin atau fenitoin tunggal kurang ber-
khasiat.
Resorpsi cepat dengan kadar plasma mak-
simal tercapai dalam 1-4 jam, plasma-t½
12-16 jam. Sekitar 15-30% dari suatu dosis
diekskresikan melalui urin dalam keadaan
utuh. Diperkirakan bahwa mekanisme kha-
siatnya berdasar peningkatan ambang
serangan.
Efek samping serius berupa anemia aplastis
dan gangguan fungsi hati. Juga mual, mun-
tah, gangguan penglihatan, pusing dan reaksi
alergi pada kulit (Eke T et al. BMJ 1997; 314:
180-1).
Dosis: permulaan 0,6-1,2 g dibagi dalam 3-4
dosis, berangsur-angsur dinaikkan sampai
maksimal 3,6 g sehari.
2b. Gabapentin: Neurontin, Alpentin, Gabexal
Senyawa sikloheksilasetat ini (1999) me-
miliki struktur kimiawi yang berkaitan de-
ngan GABA, namun mekanisme kerjanya
berlainan. Obat ini dipakai sebagai obat
tambahan pada epilepsi parsial dan untuk
penderita pada siapa antiepileptika biasa
kurang memberikan efek. Di samping itu
juga dipakai pada depresi manis bersama
litium dan pada nyeri neuropati dengan efek
sesudah 1-3 minggu
Resorpsi: peroral dalam waktu 2-3 jam su-
dah tercapai kadar plasma maksimal. BA
±60%, PP ringan sekali dan dapat diabaikan,
masa paruhnya 5-7 jam. Diekskresi lengkap
melalui urin dalam bentuk utuh.
Efek samping mengantuk, pusing, ataksia,
perasaan letih dan meningkatnya berat ba-
dan.
Dosis: permulaan 1-3 dd 100-200 mg dan
lambat laun ditingkatkan sampai 3 dd 300-
400 mg. Pada nyeri neuropati: 3 dd 600 mg.
2c. Lamotrigine: Lamictal
Senyawa triazin ini (1991) berkhasiat anti-
konvulsi berdasar stabilisasi membran
sel saraf, sehingga menghambat pembebasan
neurotransmitter glutamat, yang berperan
penting pada timbulnya serangan epilepsi.
Obat ini dipakai antara lain pada epilepsi
grand mal dan parsial. ada indikasi
bahwa juga efektif pada depresi manis.
Resorpsi cepat dan sempurna dengan kadar
plasma maksimal tercapai dalam waktu 2,5
jam dan plasma-t½ sekitar 29 jam. Zat ini di-
uraikan dalam hati menjadi dua metabolit
N-glukuronida yang tidak aktif dan seluruhnya
diekskresi melalui urin, 8% dalam keadaan
utuh.
Efek samping berupa radang kulit (2-3%)
yang biasanya timbul dalam waktu 3 minggu
sesudah terapi dimulai dan hilang sendirinya
sesudah pengobatan dihentikan.
Dosis: 2 dd 100 mg dan dapat berangsur-
angsur ditingkatkan sampai 400 mg sehari,
pemeliharaan 1-2 dd 100 mg.
2d. Pregabalin (Lyrica)
Obat ini (2004) yaitu analogon dari GABA
dan diindikasikan pada terapi tambahan epi-
lepsi parsial dan untuk penanganan nyeri
neuropatis perifer.
Bekerja dengan memengaruhi secara lang-
sung saluran kalsium (Ca channel) dari sel.
Efek samping terpenting yaitu rasa kantuk
dan vertigo reversibel (± 25%), yang hilang
sesudah pemakaian selama 3-4 minggu. Se-
lain itu juga gangguan ingatan dan konsen-
trasi, mudah tersinggung, tremor dan gang-
guan lambung usus. Berat badan meningkat.
Dosis: 2-3 dd 75 – 200 mg .
2e. Topiramat: Topamax
Monosakarida (fructopyranose) ini (1995)
terutama dipakai sebagai adjuvans pada
epilepsi parsial dan/atau epilepsi luas tonis-
klonis. Diserap baik dalam usus (> 80%)
dengan BA ±50%.
Dalam hati sebagian (20%) dirombak men-
jadi beberapa metabolit inaktif, PP ±15%
dengan masa-paruh di atas 20 jam. Eliminasi
melalui urin untuk 65% dalam bentuk utuh.
Efek samping mirip pregabalin, kecuali me-
nurunkan berat badan.
Dosis: permulaan 1 dd 25 mg a.n. selama
1 minggu, lalu dinaikkan dengan 25 mg/
minggu sampai 1 dd 200 mg (= dosis efektif
minimal). Kemudian bila perlu berangsur-
angsur dinaikkan sampai maksimal 2 dd 500
mg a.n. Pemeliharaan 2 dd 100-200 mg a.n.
2f. Vigabatrin: Sabril
Senyawa heksen ini (1989) juga termasuk
generasi kedua dan merupakan derivat sin-
tetik dari GABA. Berkhasiat menghambat se-
cara spesifik enzim GABA-transaminase yang
berfungsi menguraikan GABA. Dengan de-
mikian kadar neurotransmitter ini mening-
kat dengan efek antikonvulsi. Obat ini di-
gunakan sebagai obat tambahan pada pengo-
batan epilepsi yang kurang responsnya ter-
hadap antiepileptika lain.
Resorpsi cepat (minimal 70%), kadar plasma
maksimal tercapai dalam 1-2 jam, t½ 5-8 jam.
Tidak terikat pada protein plasma, praktis
tidak dimetabolisasi dan diekskresi dalam
keadaan utuh melalui urin (70% dalam 24
jam).
Efek samping mengantuk, letih, pusing dan
sakit kepala, juga gangguan psikis. Sepertiga
dari pengguna mengalami gangguan peng-
lihatan serius dan irreversibel sesudah di-
gunakan lama (1-3 tahun), maka perlu untuk
menjalani pemeriksaan mata selama pengo-
batan.
Kehamilan & laktasi. Pada hewan percobaan
terjadi kelainan pada janin. Obat ini masuk ke
dalam air susu ibu
Dosis: permulaan 1 dd 1 g, lambat-laun di-
naikkan sampai dosis pemeliharaan dari 2 dd
1 g – 2 dd 2 g. Anak-anak sehari 40-80 mg/
kg berat badan.
2g. Zonisamida18: Zonegran
yaitu suatu derivat dari benzisoksazol-
sulfonamida yang termasuk dalam kelompok
anti-epileptika baru. Mekanisme kerjanya
yaitu memblokir pencetusan reaksi saraf
via saluran (channel) Na serta Ca dan dengan
demikian mengurangi menjalarnya serangan
epilepsi. dipakai sebagai obat tambahan
pada epilepsi parsial.
Efek samping berupa reaksi terhadap SSP,
hipersensitivitas dan pembentukan batu gin-
jal.
Dosis: sebagai monoterapi pada minggu
pertama dan kedua 1 dd 100 mg dan selan-
jutya sampai maksimal 1 dd 500 mg. Dosis
pemeliharaan 1 dd 300 mg.
Obat-obat baru
1. Levetirasetam: Keppra
yaitu suatu senyawa pirolidin yang
dipakai sebagai terapi pembantu terhadap
kejang-kejang myoklonik dan kejang-kejang
tonik-klonik pada orang dewasa dan anak-
anak semuda 4 tahun.
Mekanisme kerja anti-kejangnya tidak dike-
tahui. sesudah pemakaian oral hampir se-
luruhnya diabsorpsi dengan cepat dan tidak
terikat pada protein plasma. Ekskresi melalui
urin 65% dalam bentuk utuh dan 24% sebagai
metabolit yang tidak aktif.
Efek samping berupa somnolensi (kantuk),
astenia (tidak bertenaga) dan pusing.
Dosis: sebagai monoterapi oral dan i.v.
permulaan 2 dd 250 mg sampai maksimal 2
dd 1500 mg.
2.Tiagabin: Gabitril
Derivat dari asam nipekotin ini dipakai
sebagai obat tambahan pada kejang-kejang
parsial orang dewasa. Dapat melintasi bar-
riere otak-darah.
Mekanisme kerjanya berdasar peng-
hambatan transpor GABA dan dengan de-
mikian mengurangi uptakenya pada neuron
dan glia.
Pada pemberian oral diabsorpsi dengan
cepat dan terikat pada protein serum atau
plasma dan dimetabolisasi terutama di hati.
Efek samping timbul cepat pada awal terapi
dan berupa pusing-pusing, somnolensi dan
gemetar.
3.Lakosamida: Vimpat
Asam amino ini dipakai sebagai obat
pembantu (2008) terhadap serangan parsial
orang dewasa. Juga dapat diberikan dalam
bentuk injeksi.
Dosis: oral dan i.v. permulaan 2 dd 50 mg
sampai maksimal 2 dd 200 mg.
4.Rufinamida: Banzelm Inoveron
Senyawa triazol ini juga dipakai ter-
hadap serangan parsial (2008) sebagai obat
pembantu.
Dosis: permulaan 2 dd 100 mg pc; maks. 2
dd 500 mg.
OBAT-OBAT PARKINSON
DAN DEMENSIA
Dengan meningkatnya populasi manusia
lanjut usia (the greying of the world) beberapa
dari penyakit neurodegeneratif, seperti Par-
kinson dan Alzheimer, merupakan masa-
lah global yang semakin meningkat. Namun
sampai sekarang tidak tersedia obat-obat
ampuh yang dapat menghindari, menghen-
tikan atau membalik keadaan ini dan hanya
gejala-gejalanya saja yang dapat ditangani.
Dikenal sejumlah penyakit otak (neuro-
degenerative disorders) yang disebabkan fungsi
saraf otak terganggu dan berangsur dirusak,
yang umumnya berakhir fatal. Di bawah
ini akan dibicarakan tiga penyakit penting
yaitu penyakit Parkinson, multiple sclerosis
(MS), dan demensia Alzheimer berikut
pengobatannya. Dibahas pula secara ringkas
penyakit prion (penyakit sapi gila, BSE)
dan penyakit Creutzfeldt-Jakob—mes















