Tampilkan postingan dengan label sediaan obat 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sediaan obat 2. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

sediaan obat 2

 


sebagian besar serbuk farmasi, nilai sudut 

istirahat berkisar antara 25 sampai 45 °, dengan nilai yang lebih rendah 

menunjukkan karakteristik aliran yang lebih baik.

48 

Tg a = h/r

a, yaitu  sudut istirahat; h, yaitu  tinggi timbunan serbuk; 

dan r, yaitu  jari-jari yang terbentuk dari timbunan serbuk.

c. Densitas

Rasio massa dengan volume dikenal dengan densitas. Jenis-

jenis dari densitas yaitu : (1) Densitas bulk, diperoleh dengan mengukur 

volume massa yang melewati ayakan; (2) Densitas setalah pengetukan 

(tapping), diperoleh secara mekanis secara pengetukan (tapping) yang 

diukur dari suatu silinder yang mengandung serbuk; dan (3) Densitas 

sebenarnya (true density) merupakan densitas sebenarnya dari bahan 

padat. Densitas granul dapat mempengaruhi kompresibilitas, porositas 

tablet, disintegrasi dan disolusi.

d. Kompresibilitas

Kompresibilitas serbuk didefinisikan sebagai kemampuan 

untuk menurunkan volume di bawah tekanan dan kompaktibiltas 

sebagai kemampuan bahan serbuk untuk dicetak menjadi tablet dengan 

kekuatan rentang (tensile strength) yang ditentukan. Metode ini dapat 

digunakan untuk memprediksi sifat aliran berdasarkan pengukuran 

densitas yang ditentukan dengan Indeks Carrs.

    Densitas tapping – Densitas bulk

Indeks Carrs =   -------------------------------------------------  X 100

  

  

      Densitas tapping

e. Kristalinitas

Umumnya sebagian besar obat berada dalam keadaan 

padat. Sangat sedikit yang berada dalam keadaan cair seperti asam 

valproat dan bahkan lebih sedikit dalam bentuk gas seperti beberapa 

anestesi umum. Struktur kristal yaitu  susunan yang unik dari atom 

dalam kristal. Sifat fisik yang dipengaruhi oleh sifat solid-state dapat 

mempengaruhi pilihan sistem penghantaran dan aktivitas obat. Partikel 

kristal dikarakteristikkan oleh struktur eksternal dan internal. Kristal 

49Studi Praformulasi

habit menggambarkan bentuk eksternal kristal, sedangkan keadaan 

polimorfik mengacu pada susunan molekul yang pasti di dalam kisi 

kristal. Kristalisasi selalu digunakan sebagai langkah terakhir untuk 

pemurnian zat padat. Penggunaan pelarut dan kondisi pemrosesan 

yang berbeda dapat mengubah habit partikel rekristalisasi, selain 

memodifikasi keadaan polimorfik padatan.

Morfologi kristal atau habit sangat penting karena 

mempengaruhi banyak sifat dari senyawa. Sebagai contoh, sifat aliran, 

kekompakan dan stabilitas telah ditemukan tergantung pada morfologi 

kristal. Memperbaiki bentuk serbuk menjadi bundar akan meningkatkan 

kemampuan mengalir dari partikel dan porositas dari serbuk akan 

berkurang. Serbuk berbentuk jarum memiliki sifat kompresi yang tidak 

baik. Senyawa dengan perbedaan morfologi kristal juga menunjukkan 

perbedaan kecepatan disolusi dan ketersediaan hayati. Gambar dibawah 

ini menunjukkan scanning electron micrograph dari berbagai morfologi 

kristal yang ditemukan pada beberapa bahan obat. 

Gambar 3.1 Mikrograf SEM dari beberapa morfologi kristal. 

50 

f. Polimorfi 

Banyak bahan obat mempunyai lebih dari satu bentuk 

polimorfi. Bentuk ini ditentukan dengan kondisi tertentu selama tahapan 

kristalisasi. Meskipun bahan ini secara kimia identik, bentuk polimorfi 

yang berbeda dari senyawa dihubungkan dengan perbedaan energi 

bebas, dan oleh sebab itu memiliki sifat fisika yang berbeda yang dapat 

secara bermakna mempengaruhi kualitas produk. Sifat-sifat ini meliputi 

perbedaan kelarutan dan disolusi (mempengaruhi ketersediaan hayati), 

stabilitas bahan padat (mempengaruhi potensi), karakteristik deformasi 

(mempengaruhi kompaktibilitas), serta ukuran dan bentuk partikel 

(mempengaruhi densitas serbuk dan sifat aliran). Bentuk dengan energi 

paling rendah lebih stabil dari pada yang lainnya. 

Sifat polimorfi dan amorf berdasarkan pada struktur internal 

dari suatu bahan padat atau material obat yang dapat diklasifikasikan 

secara luas sebagai salah satunya dalam bentuk kristal dan bentuk 

amorf. Keberadaan material solid dalam lebih dari satu bentuk kristal 

disebut dengan polimorfi. Bentuk polimorfi ini pada umumnya dibagi 

atas bentuk stabil dan meta stabil. Bentuk stabil dikenal sebagai kristal 

sedangkan bentuk meta stabil lebih popular dengan sebutan amorf. 

Bentuk amorf umumnya tidak stabil karena dalam proses pembuatan 

atau proses penyimpanannya bentuk ini dapat berubah menjadi bentuk 

kristal yang lebih stabil. Walaupun bentuk amorf umumnya lebih mudah 

larut sehingga efek bioavailabilitasnya lebih besar tetapi karena sifatnya 

yang dapat mengalami perubahan bentuk menjadi bentuk yang stabil 

maka disarankan untuk tidak menggunakan kristal amorf dalam sediaan 

farmasi.

Bentuk kristal dan amorf merupakan faktor penting da- 

lam formulasi bahan obat. Bentuk polimorfi biasanya menunjukkan 

perbedaan sifat fisikokimia meliputi titik lebur dan kelarutan. Di- 

perkirakan bahwa paling sedikit dari seluruh senyawa organik 

menunjukkan polimorfi. Sebagai tambahan bentuk polimorfi, senyawa 

mungkin berada dalam bentuk non kristal atau amorf. Energi yang 

51Studi Praformulasi

dibutuhkan untuk satu molekul obat untuk keluar dari bentuk kristal 

lebih besar dari pada energi yang dibutuhkan dari serbuk amorf. Oleh 

sebab itu, bentuk amorf dari senyawa selalu lebih larut dari pada bentuk 

kristal.

Transformasi polimorfi dapat terjadi selama proses farmasetik 

seperti pengurangan ukuran partikel, granulasi basah, pengeringan 

dan bahkan selama proses pencetakan. Evaluasi struktur kristal, 

polomorfi dan solvat penting dilakukan dalam praformulasi. Perubahan 

karakteristik dari kristal dapat mempengaruhi ketersediaan hayati dan 

stabilitas fisik dan kimia sehingga dapat memiliki implikasi penting 

dalam fungsi proses bentuk sediaan. Sebagai contoh, bentuk ini menjadi 

faktor yang berkaitan erat terhadap formulasi tablet karena berkaitan 

erat dengan sifat aliran dan kekompakannya. Ada perbedaan pada sifat 

individual dari polimorfi seperti kelarutan, ukuran partikel, densitas, 

kekerasan dan karakteristik kompresi. 

Bentuk polimorfi menunjukkan suatu tingkat energi yang 

rendah memiliki titik lebur yang lebih tinggi dan bahkan menunjukkan 

kelarutan yang rendah dalam air. Ini disebut dengan bentuk stabil. 

Bentuk lainnya disebut metastabil. Bentuk metastabil memiliki energi 

yang lebih tinggi sehingga titik leburnya lebih rendah, dengan demikian 

menunjukkan kelarutan yang lebih rendah dalam air. Sebagai contoh 

ada 3 bentuk polimorfi dari kloramfenikol yaitu bentuk A, B dan C. Bentuk 

B menunjukkan ketersediaan hayati yang paling baik dan bentuk A tidak 

aktif secara biologis. Keberadaan sifat-sifat ini secara tepat ditentukan 

dengan teknik kristalografi optik, hot stage microscopy, analisis thermal, 

spektroskopi inframerah dan difraksi sinar X. Gambar 3.1 menyajikan 

perbedaan antara pola difraksi sinar X dari serbuk teofilin mohohidrat, 

serbuk teofilin anhidrat dan tablet Theo-Dur yang mengandung teofilin.

52 

 

Gambar 3.2 Perbandingan pola difraksi sinar X antara serbuk teofilin monohidrat, 

serbuk teofilin anhidrat dan tablet Theo-Dur (sumber: Namatame & Sato, 2013)

Teofilin memiliki 2 bentuk pseodopolimorfik yaitu bentuk 

monohidrat dan anhidrat. Gambar 3.1 menunjukkan profil XRD untuk 

sampel referensi teofilin monohydrat dan teofilin anhidrat dan sampel 

uji tablet Theo-Dur. Posisi sudut puncak tablet Theo-Dur untuk sampel 

uji cocok dengan theophylline anhydrate, yang menunjukkan bahwa 

tablet ini  mengandung teofilin anhidrat.

Obat dapat berada hanya sebagai polimorfi atau satu molekul 

atau gabungan keduanya. Pada jenis gabungan yang mana molekul 

pelarut bergabung dalam kisi-kisi kristal dari padatan yang disebut 

sebagai solvat dan pelarut terperangkap sebagai pelarut kristalisasi. 

Solvat dapat berada dalam bentuk kristal yang berbeda yang disebut 

dengan pseodopolimorfi. Apabila pelarut bergabung dengan yang 

bergabung dengan obat yaitu  air, pelarut disebut sebagai hidrat.

Hidrat secara umum seringkali disebut bentuk solvat dari 

obat. Dari observasi yang dilakukan dalam skala besar bentuk anhidrat 

dari obat memiliki kelarutan lebih tinggi dalam air daripada bentuk 

hidrat. Sebagai contoh kelarutan dalam air dari teofilin dan ampisilin 

sebagian besar lebih tinggi, oleh sebab itu obat-obat ini memiliki 

kelarutan lebih cepat dan menunjukkan ketersediaan hayati yang lebih 

baik bila dibandingkan dengan bentuk monohidrat dan trihidratnya. 

In

te

ns

it

(a

.u

.)

53Studi Praformulasi

g. Higrokopisitas 

Banyak senyawa dan garam sensitif terhadap adanya uap 

air atau lembab. Ketika senyawa berinteraksi dengan uap air, mereka 

mempertahankan air dengan adsorpsi permukaan, kondensasi kapiler, 

dan reaksi kimia. Kelembaban juga merupakan faktor penting yang 

dapat mempengaruhi stabilitas obat dan formulasinya. Penyerapan 

molekul air ke obat (atau eksipien) dapat menyebabkan hidrolisis. Dalam 

situasi ini, dengan penyerapan pada campuran obat-eksipien, molekul 

air dapat mengionisasi salah satu atau keduanya dan menginduksi 

reaksi. Sebagai contoh, telah dilaporkan bahwa amina primer, bila 

dicampur dengan laktosa ternyata stabil meskipun disimpan pada suhu 

90 ° C selama 12 minggu. Namun, saat percobaan dilakukan dengan 

adanya kelembaban, terjadi degradasi secara ekstensif. Sifat lain seperti 

struktur kristal, aliran serbuk, pemadatan, lubrisitas, laju disolusi dan 

permeabilitas film polimer juga dapat dipengaruhi oleh adsorpsi air.  

3. Analisis Kelarutan 

Kelarutan merupakan sifat fisik-kimia yang penting dari zat aktif 

terutama kelarutan dalam air. Obat harus memiliki kelarutan yang baik 

dalam air dalam kisaran pH fisiologis dari 1 sampai 8 untuk keampuhan 

efek terapeutiknya. Untuk obat yang masuk ke sirkulasi sistemik, untuk 

memberikan efek terapeutik, obat ini harus pertama kali menjadi larutan. 

Jika kelarutan zat aktif kurang dari yang diinginkan, harus dilakukan 

upaya untuk meningkatkan kelarutannya. Kelarutan yang buruk (<10mg 

/ ml) dapat mengakibatkan penyerapan yang tidak lengkap atau tidak 

menentu pada pH 1-7 dengan suhu 37oC. Pengetahuan tentang dua 

sifat mendasar untuk senyawa baru yaitu : (1) Kelarutan intrinsik (Co); 

dan (2) Konstanta disosiasi (pKa). 

a. Konstanta Ionisasi (pKa)

Kebanyakan obat mengandung asam lemah atau basa lemah 

dan, dalam larutan, bergantung pada nilai pH, ada sebagai bentuk 

terionisasi atau tidak terionisasi. Bentuk yang tidak terionisasi lebih 

54 

mudah larut dalam lipid dan karenanya lebih mudah diabsorpsi. Absorpsi 

obat asam lemah atau basa lemah pada saluran cerna berhubungan 

dengan fraksi obat dalam larutan yang tidak terionisasi. Faktor-faktor 

yang penting dalam absorpsi senyawa asam dan basa lemah yaitu  

pH pada tempat absorpsi, konstanta ionisasi, dan kelarutan lipid dari 

bentuk yang tidak terionisasi. Faktor-faktor ini dikenal dengan teori 

partisi pH. Konsentrasi relatif dari bentuk yang tidak terionisasi dan 

terionisasi dari obat asam lemah atau basa lemah dalam larutan pada 

pH tertentu dapat dengan mudah dihitung dengan menggunakan 

persamaan Henderson-Hasselbalch:

[bentuk tak terionkan]

   pH = pKa + log  --------------------------------- untuk asam lemah

[bentuk terionkan]

 

[bentuk terionkan]

pH = pKa + log  --------------------------------  untuk basa lemah

 [bentuk tak terionkan]

b. Koefisien Partisi 

Lipofilisitas dari senyawa organik biasanya dijelaskan dalam 

bentuk koefisien partisi; log P, yang dapat didefinisikan sebagai rasio 

konsentrasi senyawa tak terionkan, pada keseimbangan, antara fase 

organik dan berair: 

P o/w = ( C minyak/air) kesetimbangan 

atau 

     [senyawa tak terionkan]fasa minyak

 log P =   -------------------------------------------

    [senyawa tak terionkan]fasa air

 

Rasio ini dikenal sebagai koefisien partisi atau koefisien 

distribusi dan pada dasarnya tidak bergantung pada konsentrasi larutan 

encer dari bentuk zat terlarut tertentu. Log P = 0 berarti senyawa 

ini  sama larut dalam air dan dalam pelarut organik. Jika senyawa 

55Studi Praformulasi

ini  memiliki log P = 5, maka senyawa ini  100.000 kali lebih 

mudah larut dalam pelarut organik. Log P = -2 berarti senyawa ini  

100 kali lebih larut dalam air, yaitu cukup hidrofilik. Obat yang memiliki 

nilai P jauh lebih besar dari 1 diklasifikasikan sebagai lipofilik, sedangkan 

yang memiliki koefisien partisi kurang dari 1 menunjukkan adanya obat 

hidrofilik. Lipid yang terjadi pada membran hidup sangat kompleks dan 

sulit didapat dalam bentuk murni. Indikasi kelarutan lipida relatif dapat 

diperoleh dengan menentukan bagaimana zat aktif mendistribusikan 

dirinya di antara air dan pelarut organik yang tidak bercampur. Bila zat 

terlarut ditambahkan ke dua cairan tak bercampur yang bersentuhan 

satu sama lain, ia akan mendistribusikan dirinya di antara dua fase dalam 

rasio tetap. Rasio ini dikenal sebagai koefisien partisi, atau koefisien 

distribusi, dan pada dasarnya bebas dari konsentrasi larutan encer dari 

bagian zat terlarut tertentu. Berbagai pelarut organik seperti kloroform, 

eter, amil asetat, isopropilmyristat, karbon tetraklorida, dan n-oktanol 

dapat digunakan untuk menentukan koefisien partisi. 

c. Disolusi 

Dalam banyak kasus, laju disolusi dalam cairan pada tempat 

absorpsi, yaitu  langkah pembatas laju dalam proses absorpsi. Hal ini 

berlaku untuk obat yang diberikan secara oral dalam bentuk sediaan 

padat seperti tablet, kapsul, dan suspensi serta obat yang diberikan 

intra muskular dalam bentuk pelet atau suspensi. Ada 2 jenis disolusi 

yaitu: (1) Disolusi intrinsik; dan (2) disolusi partikulat.

Disolusi Intrinsik

Laju disolusi padatan dalam dapat dijelaskan dengan 

persamaan Noyes-Nernst:

  DA (Cs – C)

dC/dt =  -----------------------

         hv

dC/dt = kecepatan disolusi; D = koefisien difusi; A = area 

permukaan padatan yang terlarut; Cs = konsentrasi zat terlarut pada 

lapisan difusi atau kelarutan minimal zat aktif dalam pelarut; C = 

56 

konsentrasi zat aktif yang terlarut dalam medium; h = tebal lapisan 

difusi; dan v = volume media disolusi. 

Selama fase awal disolusi, Cs »C dan pada dasarnya sama 

dengan kelarutan saturasi S. Area permukaan A dan volume V dapat 

dianggap konstan. Pada kondisi ini dan pada suhu dan pengadukan 

konstan, persamaan dikurangi menjadi:

dC / dt = KS 

dimana, K =AD/hV = konstan. 

Kecepatan disolusi seperti yang dinyatakan dalam persamaan 

disebut kecepatan disolusi intrinsik dan merupakan karakteristik dari 

setiap senyawa padat dalam pelarut tertentu dalam kondisi hidrodinamik 

tetap. Kecepatan disolusi intrinsik dalam volume pelarut yang tetap 

umumnya dinyatakan sebagai mg terlarut x (min-1cm-2). Pengetahuan 

tentang nilai ini membantu ilmuwan preformulasi dalam memprediksi 

apakah disolusi merupakan kecepatan pembatas (rate-limited) pada 

absorpsi.

Disolusi Partikulat

Disolusi partikulat akan menentukan disolusi obat pada area 

permukaan yang berbeda. Digunakan untuk mempelajari pengaruh 

ukuran partikel, luas permukaan dan pencampuran dengan eksipien 

terhadap disolusi. Jadi, jika ukuran partikel tidak berpengaruh terhadap 

disolusi maka metode lain seperti penambahan surfaktan akan 

dipertimbangkan.

4. Studi Stabilitas

a. Inkompatibilitas Secara Umum

Bila kita mencampur dua atau lebih zat aktif dan / atau eksipien 

satu sama lain, jika kedua bahan ini menimbulkan efek yang berlawanan 

dan mempengaruhi keselamatan, kemanjuran dan penampilan maka 

mereka dikatakan tidak kompatibel.

57Studi Praformulasi

b. Inkompatibilitas Obat dan Eksipien

Dalam bentuk sediaan tablet obat ini  bercampur 

dengan satu atau lebih eksipien yang dimungkinkan bisa mempengaruhi 

stabilitas obat. Pengetahuan tentang interaksi obat-eksipien sangat 

berguna bagi formulator dalam memilih eksipien yang sesuai. Untuk 

obat baru atau eksipien baru, ahli preformulasi harus memperoleh 

informasi yang dibutuhkan. Tablet biasanya mengandung bahan 

pengikat, penghancur, lubrikan, dan pengisi. Studi kompatibiltas obat 

dan eksipien meliputi:

 - Stabilitas bentuk sediaan bisa dimaksimalkan. Setiap interaksi 

fisik atau kimia antara obat dan eksipien dapat mempengaruhi 

bioavailabilitas dan stabilitas obat.

 - Studi ini membantu menghindari masalah yang mungkin 

terjadi. Dengan melakukan studi kompatibilitas obat dan 

eksipien bisa diketahui kemungkinan reaksi sebelum 

memformulasi bentuk sediaan sampai menjadi produk akhir.

 - Studi ini menjembatani penemuan obat dan pengembangan 

obat. Penemuan obat bisa mendapatkan senyawa kimia baru. 

Senyawa ini akan  menjadi produk obat setelah diformulasi 

dan diproses dengan eksipien.

 - Dengan menggunakan data studi kompatibilitas obat dengan 

eksipien kita bisa memilih jenis eksipien yang sesuai dengan 

senyawa kimia baru yang diperoleh dalam penemuan obat. 

Data studi kompatibitas obat dan eksipien sangat penting 

untuk pendaftaran penemuan obat baru. Sekarang, USFDA 

telah mewajibkan mengirimkan data studi kompatibiltas obat 

dan eksipien untuk formulasi baru sebelum persetujuannya.

Teknik analisis yang dilakukan untuk mendeteksi 

kompatibilitas obat dengan eksipien yaitu :

1. Metode analisis termal

a. Differential Scanning Calorimetry (DSC)

b. Differential Thermal Analysis (DTA)

58 

2. Studi stabilitas yang dipercepat

3. Spektroskopi FT-IR

4. Diffuse Reflectance Spectroscopy (DRS)

5. Kromatografi

a. Self Interactive Chromatography (SIC)

b. Thin Layer Cromatography (TLC)

c. High Performance Liquid Chromatography (HPLC)

C. KARAKTERISTIK KIMIA

1. Hidrolisis

Hidrolisis melibatkan serangan nukleofilik kelompok labil. Misalnya, 

Lactam> Ester> Amide> Imide. Bila serangan ini dilakukan dengan 

pelarut selain air maka dikenal sebagai solvolysis. Hidrolisis mumnya 

mengikuti kinetika orde 2 karena ada 2 spesies bereaksi yaitu air dan 

zat aktif. Dalam larutan berair, apabila air berlebih, reaksinya mengikuti 

orde 1.

Kondisi yang mengkatalisis pemecahan yaitu :

a. Adanya ion hidroksil

b. Adanya ion hidrida

c. Adanya ion divalent

d. Panas

e. Cahaya

f. Hidrolisis ionik

g. Polaritas larutan dan kekuatan ionik

h. Konsentrasi obat yang tinggi

Hidrolisis dapat dicegah dengan cara:

a. Pengaturan pH

Sebagian besar obat ampuh bersifat asam lemah atau basa 

lemah, yang lebih mudah larut saat terionisasi sehingga 

ketidakstabilannya akan meningkat. Pengaturan pH dapat 

dilakukan dengan: (1) Memformula larutan obat mendekati pH 

kestabilan optimumnya; (2) Penambahan pelarut yang larut 

59Studi Praformulasi

air dalam formulasi; dan (3) Konsentrasi buffer optimum untuk 

menekan ionisasi.

b. Penambahan surfaktan

Surfaktan nonionik, kationik & anionik menstabilkan obat 

terhadap katalisis.

c. Garam dan ester

Kelarutan farmasetik yang mengalami hidrolisis ester dapat 

dikurangi dengan membentuk garam yang tidak larut atau ester 

obat, misalnya ester fosfat clindamisin

d. Penyimpanan dengan desikator

e. Penggunaan senyawa kompleks

2. Oksidasi

Oksidasi merupakan jalur yang sangat umum untuk degradasi 

atau penguraian obat dalam formulasi sediaan cair dan padat. Oksidasi 

terjadi dalam dua cara yaitu: (1) Autooksidasi; dan (2) Proses rantai 

radikal bebas.

Autooksidasi merupakan suatu reaksi suatu material dengan 

molekul oksigen yang menghasilkan radikal bebas dengan pemecahan 

ikatan hemolitik dari ikatan kovalen. Radikal ini sangat tak jenuh & 

mudah mengambil elektron dari zat lainnya yang menyebabkan 

oksidasi. Autooksidasi terjadi pada oksigen molekul padat yang harus 

dapat berdifusi melalui kisi kristal ke lokasi yang dikenai. Oleh karena 

itu morfologi kristal dan pengemasan yaitu  parameter penting untuk 

menentukan kinetika oksidasi. Sedangkan proses rantai radikal bebas 

meliputi; inisiasi, propagasi, dekomposisi hidroperoksida dan terminasi. 

Gugus fungsi yang sangat rentan dengan terjadinya oksidasi 

yaitu  alkena, kelompok aromatik yang tersubstitusi (toluena, fenol, 

anisol), eter, tioeter dan amina. Faktor-faktor yang mempengaruhi 

oksidasi yaitu :

a. Konsentrasi oksigen

b. Cahaya

60 

c. Logam berat yang secara khusus memiliki dua atau lebih valensi 

(misalnya tembaga, besi, nikel, kobal)

d. Hidrogen dan ion hidroksil

e. Suhu

Berikut yaitu  yang dapat mencegah terjadinya oksidasi:

a. Mengurangi kandungan oksigen

Degradasi oksidatif obat terjadi dalam larutan berair, sehingga 

kandungan oksigen dapat diturunkan dengan air mendidih

b. Penyimpanan dalam kondisi gelap dan sejuk

c. Penambahan antioksidan yang berfungsi mengurangi kerja 

oksidatif dan penghambat rantai dekomposisi yang disebabkan 

radikal. Senyawa antioksidan yang larut dalam minyak bertindak 

sebagai akseptor radikal bebas dan menghambat proses rantai 

radikal bebas. Contohnya yaitu : hidrokuinon, propil galat, 

butylated hydroxyl toluene (BHT), lesitin dan -tokoferol. 

Sedangkan antioksidan yang larut air secara langsung 

mencegah oksidasi obat, contohnya: natrium metabisulfit, 

natrium bisulfit, asetil sistein, asam askorbat, natrium tiosulfat, 

sulfur dioksida, asam tioglikolat dan tiogliserol.

d. Penambahan senyawa pengkhelat

Senyawa ini membentuk komplek dengan jumlah sedikit ion 

logam berat dan inaktifasi aktifitas katalisnya. Contohnya EDTA, 

asam sitrat, asam tartrat.

e. Pengaturan pH

Pengaturan pH berfungsi untuk mendapatkan stabilitas yang 

optimal agar dapat mengurangi potensi oksidasi sistem

f. Merubah pelarut

Pelarut selain air mungkin mengkatalisis efek pada reaksi 

oksidasi bila digunakan dalam kombinasi dengan air atau 

sendiri. Misalnya. aldehida, eter, keton dapat mempengaruhi 

reaksi radikal bebas.

61Studi Praformulasi

3. Fotolisis

Foto dekomposisi terjadi dengan mekanisme:

a. Konfigurasi elektronik obat tumpang tindih dengan spektrum 

sinar matahari atau cahaya buatan, dengan demikian energi 

diserap oleh elektron dan menuju ke keadaan tereksitasi.

b. Fotosensitisasi, maksudnya molekul atau eksipien yang 

mengabsorpsi energi tetapi tidak secara langsung dalam reaksi 

tetapi memberikan energi ke energi lain yang akan menyebabkan 

kerusakan sel dengan menginduksi pembentukan radikal.

Fotodekomposisi dapat dicegah dengan cara:

a. Pengemasan yang cocok

Misalnya, botol warna hijau kekuningan memberi perlindungan 

terbaik di area UV sementara warna kuning sawo memberikan 

perlindungan yang cukup besar terhadap radiasi UV tapi sedikit 

untuk infra merah.

b. Antiosidan

Misalnya, fotodegradasi larutan sulfasetamid dapat dihambat 

oleh antioksidan seperti natrium tiosulfat atau natrium 

metabisulfat.

c. Melindungi obat dari cahaya

Misalnya, nifedipin diproduksi di bawah cahaya Na.

d. Menghindari paparan matahari

Misalnya, sparfloksasin

e. Fotostabilizer (penyerap cahaya)

Misalnya, menggunakan pewarna menggunakan kurkumin 

dan azorubin dan penggunaan pigmen seperti besi oksida dan 

titanium dioksida.

f. Penyalutan (coating)

Penyalutan dilakukan dengan menggunakan pigmen seperti 

TiO2 / ZnO. Fotostabilisasi tablet sulfasomidin disalut lapis tipis 

yang mengandung penyerap UV (oksibenzon) untuk melindungi 

degradasi warna dan fotolitik

62 

4. Polimerisasi

Polimerisasi yaitu  reaksi kontinu antar molekul. Lebih dari 

satu monomer bereaksi membentuk polimer. Misalnya, larutan 

glukosa menjadi gelap disebabkan oleh polimerisasi produk pecahan 

[5- (hidroksil metil) furfural]. Misalnya, polimerisasi HCHO menjadi 

para-HCHO yang mengkristal keluar dari larutan.

5. Rasemisasi

Interkonversi dari satu isomer ke yang lain dapat menyebabkan 

perbedaan sifat farmakokinetik (ADME) serta perbedaan efek 

farmakologi dan toksikologi. Misalnya, L-efinefrin 15 sampai 20 kali 

lebih aktif daripada bentuk D-efinefrin, sementara aktivitas campuran 

rasemat hanya satu setengah dari bentuk-L. Peristiwa ini mengikuti 

kinetika orde pertama yang tergantung pada suhu, pelarut, katalis dan 

ada tidaknya cahaya.

6. Dekomposisi enzim

Degradasi kimiawi yang disebabkan oleh enzim yang menginduksi 

obat menjadi bentuk dekomposisinya. Peristiwa ini diatasi dengan 

merubah jalur pemberian menjadi bukal dan penggunaan pro-drug 

misalnya L-dopa.

SOAL LATIHAN

1. Tuliskan faktor fisika, kimia dan farmasetika yang mempengaruhi 

praformulasi.

2. Uraikan tujuan dilakukannya uji praformulasi

3. Jelaskan analisis yang dilakukan untuk mengkaji polimorfi suatu 

zat aktif

4. Uraikan metode yang dilakukan untuk menilai kompatibilitas zat 

aktif dengan eksipien.

5. Uraikan upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya oksidasi 

dalam studi praformulasi  

63Formulasi  Sediaan Tablet

 BAB 4 

FORMULASI  SEDIAAN TABLET 

_____________________________________

Mahasiswa memahami  dan mampu menjelaskan tentang:

1. Konsep formulasi sediaan farmasi dalam bentuk tablet

2. Komposisi formula sediaan tablet beserta sifat-sifatnya

3. Eksipien yang digunakan untuk tablet yang dibuat dengan teknik 

kempa langsung dan granulasi

A. Pendahuluan 

Peran yang paling penting dari suatu sistem penghantaran obat 

yaitu  untuk  menghantarkan obat mencapai tempat kerjanya dalam 

jumlah yang cukup dan tepat dan harus memenuhi beberapa kriteria 

meliputi stabilitas fisika dan kimia, kemampuan diproduksi secara 

ekonomis yang menjamin jumlah dari obat dalam masing-masing unit 

dosis dan dalam masing-masing batch yang dihasilkan diterima oleh 

pasien. Sebagai contoh bentuk dan ukuran rasional, rasa, warna dan lain 

sebagainya sehingga disenangi oleh pasien sehingga mematuhi aturan 

dosis yang diresepkan.  

Bagaimanapun juga, obat dan sistem penghantaran tidak dapat 

dipisahkan. Secara umum kriteria desain untuk tablet yaitu  sebagai 

berikut : 

1. Disolusi obat yang optimal sehingga tersedia dari bentuk 

sediaan untuk diabsorpsi secara konsisten sesuai dengan 

maksud penggunaannya (misalnya, pelepasan cepat atau 

pelepasan yang diperlama) 

2. Akurasi dan keseragaman kandungan zat aktif 

64 

3. Stabilitas, meliputi stabilitas dari zat aktif, formulasi, 

disintegrasi serta jumlah dan kecepatan disolusi dari tablet 

dalam periode waktu yang lama.

4. Dapat diterima oleh pasien. Produk akhir memiliki 

penampilan yang menarik, meliputi warna, ukuran, rasa dan 

lain sebagainya untuk memaksimalkan penerimaan pasien. 

5. Dapat dimanufaktur. Desain formulasi harus efisien, biaya 

efektif, praktis diproduksi pada batch yang dibutuhkan. 

Eksipien merupakan faktor kritis untuk mendesain sistem 

pengantaran berperan utama dalam menentukan kualitas dan 

kemanjuran dari obat yang diproduksi. Eksipien yang tersedia banyak, 

tetapi faktor-faktor eksternal perlu dipertimbangkan untuk seleksi 

seperti biaya, tersedia, dan secara internasional disetujui pemerintah. 

Sebagai contoh, meskipun buku-buku resmi menyediakan standar 

untuk identitas dan kemurnian eksipien, monografi tidak menyediakan 

uji untuk menjamin fungsinya. 

Tablet merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa atau 

cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkular, kedua permukaan rata 

atau cembung mengandung satu jenis bahan obat atau lebih dengan 

atau tanpa zat tambahan. Bentuk sediaan padat yang mengandung 

bahan obat, dengan atau tanpa aditif yang sesuai. 

Tablet yang dinyatakan baik harus memiliki persyaratan 

berikut ini: 

1. Memiliki kemampuan atau daya tahan atau daya tahan 

terhadap pengaruh mekanis selama proses produksi, 

pengemasan dan penggunaannya 

2. Bebas dari kerusakan seperti pecah-pecah, rempal pada 

sisinya, warna yang memucat dan kontaminan-kontaminan 

baik dari bahan obat ataupun dari pengotor lainnya 

3. Dapat menjamin kestabilan fisik maupun kimia dari zat 

khasiat yang terkandung didalamnya 

65Formulasi  Sediaan Tablet

4. Mampu membebaskan zat khasiat dengan baik sehingga 

memberikan efek biologis seperti yang dikehendaki 

Berbagai bentuk tablet yang diberikan secara per oral yaitu  

sebagai berikut : 

1. Tablet kompresi 

2. Tablet kompresi berlapis 

3. Tablet kunyah 

4. Tablet yang larut segera (fast-dissolving tablets) 

5. Tablet aksi berulang (repeat-action tablets) 

6. Tablet aksi diperlama dan tablet salut enterik 

7. Tablet salut gula dan coklat 

Selain diberikan per oral tablet juga dapat diberikan melalui rute 

lain yaitu : 

1. Tablet yang digunakan pada rongga mulut, misalnya tablet 

bukal, tablet sublingual, troches dan lozenges/tablet hisap. 

2. Tablet yang diberikan dengan rute lain misalnya, tablet 

implan, tablet vaginal. 

3. Tablet yang disiapkan dalam bentuk larutan misalnya, tablet 

effervescent, tablet hipodermik dan tablet triturat. 

 

Tablet merupakan sediaan farmasi yang paling populer digunakan 

sampai saat ini yang disebabkan banyak memberikan keuntungan 

meskipun ada beberapa keterbatasan dari sediaan ini. Keuntungan dari 

sediaan tablet yaitu : 

1. Tablet lebih nyaman digunakan dengan bentuk yang lebih 

menarik

2. Tersedia dalam banyak bentuk yang memfasilitasi kecepatan 

pelepasan obat dan durasi efek klinik. Tablet dapat diformulasi 

untuk pelepasan obat secara cepat dan juga pelepasan yang 

terkontrol sehingga mengurangi frekuensi pemberian obat.

66 

3. Tablet dapat diformulasi untuk pelepasan zat aktif pada lokasi 

tertentu di saluran cerna untuk mengurangi efek samping, 

meningkatkan absorpsi pada lokasinya dan memberikan aksi 

lokal (misalnya radang pada usus besar). Kondisi ini dapat 

dengan mudah jika obat diberikan secara per oral. 

4. Tablet dapat diformulasi jika zat aktif lebih dari satu. Selain itu, 

pelepasan masing-masing zat aktif dimungkinkan dikontrol 

secara efektif oleh formulasi dan desain sediaan tablet.

5. Kecuali untuk protein, semua zat aktif bisa diberikan secara 

per oral dalam bentuk sediaan tablet.

6. Sediaan tablet mampu menutupi rasa yang tidak enak dari 

obat dibandingkan sediaan sirup.

7. Tablet secara umum harganya tidak mahal

8. Tablet dapat dengan mudah dimanufaktur untuk 

menunjukkan identifikasi produk seperti memperlihatkan 

tanda yang dibutuhkan pada permukaan tablet.

9. Tablet memiliki stabilitas kimia, fisika dan mikrobiologi lebih 

baik dibandingkan bentuk sediaan lain.

Keterbatasan sediaan tablet diantaranya yaitu :

1. Manufaktur tablet membutuhkan suatu seri unit operasi 

dengan demikian dimungkinkan terjadi kehilangan produk 

pada masing-masing tahap pada proses manufaktur

2. Absorpsi zat aktif dari tablet tergantung pada faktor fisiologi 

seperti kecepatan pengosongan lambung dan adanya variasi 

antar pasien.

3. Tidak bagusnya sifat-sifat kompresi dari beberapa zat aktif 

merupakan suatu problem dalam formulasi dan manufaktur 

sediaan tablet

4. Pemberian tablet pada kelompok tertentu seperti anak-anak 

dan orang tua merupakan suatu permasalahan karena 

kesulitan untuk menelan tablet. Permasalahan ini dapat 

diatasi dengan menggunakan tablet effervescent.

67Formulasi  Sediaan Tablet

B. Zat Aktif dalam Sediaan Tablet 

Data yang diperlukan dari zat khasiat yaitu  data yang diperoleh 

dari kajian preformulasi meliputi : 

a. Sifat fisika dan kimia seperti kelarutan, kestabilan, bentuk 

garam dan polimorfi, titik lebur 

b. Sifat absorbability-nya seperti pKa, koefisien partisi 

c. Farmakokinetika 

d. Ketersediaan hayati 

e. Kekompakan dan sifat alir 

f. Kemurnian zat aktif 

g. Ukuran partikel, berpengaruh terhadap segregasi dari serbuk 

(keseragaman pencampuran) dan mempengaruhi disolusi. 

Data ini sangat membantu formulator untuk menentukan metode 

pembuatan yang paling praktis dan efisien sehingga tablet yang 

dihasilkan benar-benar memenuhi syarat formulasi, teknologi serta 

biologinya. 

Ada 2 kelompok obat yang diberikan secara oral dalam bentuk 

tablet, yaitu : 

a. Obat yang tidak larut : diharapkan bekerja lokal di saluran 

cerna, misal antasida, anti cacing dan adsorben 

b. Obat yang larut : diharapkan mempunyai efek sistemik 

setelah obat terdisolusi dalam saluran cerna yang dilanjutkan 

dengan absorpsi 

Tujuan mendesain kedua kelompok obat ini  berbeda : 

a. Untuk obat yang tidak larut, kerja obat terutama dipengaruhi 

oleh fenomena permukaan. Jadi desain produk yang segera 

terdispersi merupakan faktor kritis dalam menghasilkan 

partikel yang halus dengan luas permukaan yang besar 

Oleh sebab itu sebagai parameter kritis yaitu  : efek formulasi, 

68 

granulasi dan tableting terhadap sifat-sifat permukaan bahan 

dan kemampuannya untuk melepaskan diri dari sediaan 

(ketika mencapai usus), dengan sifat permukaan yang 

optimum 

b. Pada obat-obat yang ditujukan untuk efek sistemik, desain 

sediaan yang cepat terdisintegrasi dan melarut mungkin 

merupakan hal yang kritis tergantung pada lokasi absorpsi 

dan sifat kelarutan pada atau sebelum lokasi absorpsi. 

C. Bahan Tambahan Tablet 

Ada 6 kelompok besar bahan tambahan tablet yaitu : 

1. Pengisi (filler, diluent) 

2. Pengikat (binder) 

3. Penghancur (disintegran) 

4. Lubrikan

5. Glidan 

6. Lain-lain (seperti pemanis, absorben dan pewarna) 

Pemilihan bahan tambahan akan lebih kritis pada tablet obat-obat 

yang tidak larut karena bahan tambahan yang inert sebenarnya juga 

dapat mempengaruhi sifat-sifat sediaan akhir. Pengetahuan tentang sifat-

sifat bahan tambahan dan bagaimana bahan tambahan mempengaruhi 

sifat-sifat formulasi total sangat diperlukan, khususnya jika dosis obat 

cukup kecil. Bahan tambahan yang mempengaruhi karakteristik tablet 

yaitu  pengisi, pengikat, lubrikan, antiadheran dan glidan, sedangkan 

bahan tambahan yang mempengaruhi biofarmasetika, stabilitas dan 

keperluan marketing yaitu  disintegran, zat warna dan pemanis. 

Berikut yaitu  jenis dan fungsi eksipien dalam tablet. 

69Formulasi  Sediaan Tablet

Tabel 4.1 Jenis dan fungsi eksipien dalam sediaan tablet  

Eksipien Fungsi 

Pengisi (Diluent) Sebagai bahan pengisi dan mencukupkan 

jumlah bobot 

tablet 

Bahan Pengikat 

(Binders and 

adhesives) 

Sebagai bahan untuk mengikat serbuk menjadi 

granul untuk tablet 

 

Bahan 

Penghancur 

(Disintegrants) 

Untuk membantu tablet pecah dalam saluran 

cerna 

Glidan Untuk meningkatkan aliran granul dari hopper 

menuju lobang cetakan tablet  

Lubrikan Untuk mengurangi gesekan antara granul dan 

dinding lobang cetakan selama pencetakan dan 

memudahkan proses 

pentabletan  

Antiadheran Untuk meminimalkan permasalahan tablet 

lengket pada permukaan punch selama proses 

pentabletan  

Pewarna Untuk menambah daya tarik di pasaran 

Pemberi rasa dan 

pemanis  

Untuk memperbaiki rasa dari tablet kunyah  

1. Pengisi tablet 

Bahan pengisi ditambahkan bila jumlah bahan aktif sedikit dan 

tidak mencukupi bobot total tablet. Faktor-faktor yang mempengaruhi 

pemilihan pengisi yaitu  sebagai berikut :

a. Kompresibilitas 

b. Sifat alir 

c. Ukuran dan distribusi partikel 

70 

d. Kadar lembab 

e. Bulk density 

f. Kompaktibilitas zat aktif 

g. Kelarutan 

h. Stabilitas dari bahan dan tablet jadi 

i. Inert secara fisiologis 

j. Biaya dan ketersediaannya 

k. Dapat diterima pasien 

Jika bahan higroskopis maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 

a. Sorpsi atau desorpsi air oleh obat atau eksipien tidak selalu 

reversible. Kelembaban yang diabsorpsi mungkin tidak 

mudah dihilangkan selama proses pemanasan 

b. Kelembaban dapat mempengaruhi sistem penerimaan 

larutan granulasi dengan pembasah air 

c. Kandungan lembab dan laju up-take kelembaban merupakan 

fungsi temperatur dan lembab 

d. Kandungan lembab dalam granulasi mempengaruhi 

karakteristik tablet yang digranulasi 

e. Data higroskopisitas dapat membantu perencanaan proses 

pembuatan tablet 

f. Obat-obat yang peka terhadap lembab jangan dikombinasi 

dengan eksipien yang higroskopis 

Rentang lembab 1,7 – 5,6 % masih memungkinkan untuk formula 

tablet cetak langsung (tergantung pada eksipien yang digunakan) 

Contoh pengisi yang mengadsorpsi lembab dalam jumlah : 

a. Sedikit  : dikalsium fosfat, laktosa anhidrat 

b. Sedang  : manitol, dekstrosa dan monokalsium fosfat 

c. Banyak  : sorbitol dan laktosa 

Bahan pengisi berfungsi dalam formulasi tablet untuk 

meningkatkan masa dari tablet yang mengandung zat aktif dalam jumlah 

yang sedikit dengan demikian proses manufaktur lebih diandalkan dan 

71Formulasi  Sediaan Tablet

reprodusibel. Bahan pengisi harus memiliki sifat kompresi yang baik 

dan tidak mahal. Contoh dari bahan pengisi yaitu : (1) laktosa anhidrat; 

(2) laktosa monohidrat; (3) laktosa spray-dried; (4) amilum; (5) kalsium 

fosfat dibasik; (6) mikrokristalin selulosa; dan (7) manitol.

a. Laktosa  anhidrat

Laktosa anhidrat merupakan  laktosa anhidrat murni atau 

campuran -laktosa anhidrat  (70-80%) dan 20-30% -laktosa anhidrat. 

Laktosa anhidrat tersedia dalam suatu rentang ukuran partikel dan 

secara umum digunakan sebagai bahan pengisi dalam proses ganulasi 

basah dan granulasi kering. Bahan ini berupa kristal.

b. Laktosa monohidrat

Laktosa monohidrat terdiri dari monohidrat dari -laktosa 

monohidrat dan sementara sifatnya kristalin, mungkin ada proporsi 

yang bervariasi bentuk amorf. Laktosa monohidrat tersedia dalam 

berbagai kualitas (grade) yang memberikan sifat fisik yang berbeda 

seperti distribusi ukuran partikel dan densitas (bulk dan tapped).

c. Laktosa spray-dried

Laktosa spray-dried merupakan campuran kristalin -laktosa 

monohidrat (80-90%) dan 10-20% laktosa amorf. Laktosa ini dibuat 

dengan spray-drying suatu suspensi -laktosa monohidrat. Suspensi 

terdiri dari sekitar 80-90% suspensi -laktosa monohidrat, sisanya 

berada dalam larutan (yang kemudian membentuk bagian amorf dari 

bahan yang di-spray-dried. Penggunaan spesifik laktosa spray-dried 

yaitu  untuk manufaktur tablet dengan teknik kempa langsung.

d. Amilum

Amilum merupakan polisakharida yang terdiri dari amilosa 

dan amilopektin yang digunakan sebagai bahan pengisi (dan juga 

pengikat dan penghancur) dalam formulasi tablet. Umumnya untuk 

bahan pengisi dipilih bahan yang mampu mengalami deformasi yang 

irreversible sehingga tablet yang dihasilkan menjadi lebih kompak dan 

stabil. Sebagai bahan penghancur dalam digunakan dalam konsentrasi 

5 – 10 % dari berat total tablet. Kualitas (grade) pregelatinasi juga 

72 

tersedia dalam bentuk granul dengan memodifikasi secara fisik dan 

kimia dari amilum untuk menghasilkan serbuk yang mengalir dengan 

baik (free-flowing powder). Sebagai contoh di pasaran tersedia amilum 

pregelatinasi yaitu Starch 1500LM (yang memiliki kandungan lembab/

air yang rendah). 

e. Kalsium fosfat dibasik

Kalsium fosfat dibasik merupakan bahan pengisi yang umum 

digunakan dalam formulasi tablet dan tersedia dalam bentuk hidrat 

yang berbeda dan dalam berbagai rentang ukuran partikel. Ini 

merupakan eksipien dasar dan oleh sebab itu dapat berinteraksi secara 

kimia dengan komponen asam dengan adanya lembab/uap air. Bahan 

ini memiliki sifat alir dan kompresi yang sangat baik.

f. Mikrokristalin selulosa (MCC)

MCC merupakan serbuk kristalin yang dibuat dengan hidrolisis 

asam yang terkontrol dari selulosa. Beberapa kualitas/grade MCC 

tersedia di pasaran yang berbeda sifat fisikokimianya seperti densitas, 

sifat alir dan distribusi ukuran partikel. Selain penggunaannya sebagai 

bahan pengisi, MCC juga digunakan sebagai bahan pengikat pada 

granulasi basah dan bahan penghancur. Ada 2 kualitas/grade MCC yang 

tersedia yaitu Avicel pH-101 (serbuk) dan pH-102 (granul).

g. Manitol USP 

Manitol merupakan polyol yang secara umum digunakan sebagai 

bahan pengisi dalam tablet, khususnya tablet kunyah, karena rasa manis 

dan dingin yang melekat pada larutan. Bahan ini menunjukkan sifat alir 

yang sangat baik.  

2. Pengikat dan adhesif tablet 

Bahan pengikat merupakan sebagian besar komponen polimer 

yang digunakan dalam produksi tablet dengan metode manufaktur 

secara granulasi basah. Dalam hal ini, bahan pengikat ditambahkan 

dalam bentuk larutan atau padatan kedalam campuran serbuk (diikuti 

dengan cairan penggranul seperti air). Tujuan penambahan pengikat 

73Formulasi  Sediaan Tablet

dan adhesif yaitu  untuk meningkatkan gaya kohesifitas serbuk, 

(yang mungkin diperlukan untuk membentuk granul), sehingga jika 

dikompresi akan membentuk masa yang kohesif dan kompak sebagai 

tablet. Kriteria pemilihan pengikat yaitu  harus tersatukan dengan 

komponen tablet yang lain dan harus memberikan kohesi yang memadai 

terhadap serbuk. Konsentrasi dari bahan pengikat akan berpengaruh 

terhadap kekerasan dan kerapuhan tablet. Sifat bahan pengikat yang 

umum digunakan diringkas pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Contoh dan sifat bahan pengikat yang umum digunakan 

dalam manufaktur tablet dengan granulasi basah

Bahan pengikat Konsentrasi Keterangan

Hidroksipropilmetilselulosa 

(HPMC)

2-5% w/w Konsentrasi yang 

dibutuhkan tergantung 

pada berat molekul 

(grade) yang digunakan

Polivinilpirolidon (PVP) 0,5-5% w/w Konsentrasi yang 

dibutuhkan tergantung 

pada berat molekul 

(grade) yang digunakan

Hidroksipropilselulosa 

(HPC)

2-6% w/w Konsentrasi yang 

dibutuhkan tergantung 

pada berat molekul 

(grade) yang digunakan

Sukrosa 50-67% w/w Ditambahkan sebagai 

sirup yang menghasilkan 

tablet keras dengan 

sifat dipengaruhi 

oleh kelembaban

Mikrokristalin 

selulosa (MCC)

20-90% w/w Seringkali digunakan 

sebagai bahan pengikat 

dan bahan pengisi

Akasia 1-5% w/w Menghasilkan 

tablet yang keras

   

74 

3. Disintegran (Penghancur) 

Fungsi disintegran dalam formula tablet sangat berlawanan dengan 

fungsi bahan pengikat. Makin kuat daya ikat bahan pengikat maka 

dipilih bahan penghancur dengan daya hancur yang juga semakin besar. 

Disintegran bekerja dalam formulasi tablet untuk membantu pecahnya 

tablet menjadi granul saat berada dalam saluran cerna. Jika formulasi 

tablet hidrofobik dan/atau diformulasi dengan tekanan kompresi yang 

tinggi, laju pengambilan air ke dalam, sehingga disintegrasi tablet 

akan menjadi sangat rendah. Dalam situasi ini disintegran merupakan 

komponen formulasi yang penting, yang memungkinkan disintegrasi 

tablet terjadi dalam batas spesifikasi farmakope (biasanya disintegrasi 

tablet untuk tablet konvensional yaitu  tidak boleh lebih dari 15 

menit). Beberapa mekanisme hancurnya tablet akibat pengaruh bahan 

penghancur yang ditambahkan dalam formula tablet yaitu :

a. Disintegran dapat meningkatkan porositas dan keterbasahan 

matriks tablet kompresi. Dengan demikian cairan saluran cerna 

mampu dengan mudah menembus matriks tablet dan dengan 

demikian memungkinkan terjadinya pemecahan tablet. Dalam 

pendekatan ini, diperlukan agar disintegran terdistribusi secara 

homogen ke seluruh matriks tablet (membutuhkan konsentrasi 

antara 5 dan 20% w/w).   Contoh disintegran yang bekerja dengan 

mekanisme ini yaitu :

- Amilum

- MCC

- Natrium starch glycolate

Natrium starch glycolate merupakan garam natrium dari 

karboksimetil eter dari amilum dan digunakan sekitar 5% w/w 

sebagai disintegran dalam formulasi tablet.

b. Disintegran yang bekerja dengan mengembang disebabkan 

adanya cairan berair, sehingga mempercepat disintegrasi tablet 

karena kenaikan tekanan internal dalam matriks tablet. Disintegran 

dalam kategori ini biasanya yaitu  polimer hidrofilik. Untuk bekerja 

75Formulasi  Sediaan Tablet

secara efektif, penting bahwa disintegran yang dimasukkan tidak 

menyebabkan peningkatan viskositas secara signifikan, sehingga 

mengurangi difusi cairan saluran cerna ke dalam matriks tablet. 

Contoh eksipien yang memfasilitasi disintegrasi tablet dengan 

pengembangan dengan adanya cairan berair yaitu : 

- Natrium starch glycolate

- Croscarmellose sodium (suatu cross-linked Na CMC). Biasanya 

digunakan dengan konsentrasi 0,5-5% w/w.

- Crospovidone (suatu cross-linked PVP). Biasanya digunakan 

dengan konsentrasi 2-5% w/w.

- Amilum pregelatinasi, biasanya digunakan dengan konsentrasi 

5% w/w.

c. Disintegrasi tablet juga dapat dimediasi oleh produksi gas pada 

saat tablet kontak dengan cairan berair. Ini yaitu  mekanisme 

disintegrasi tablet effervescent. Mekanisme ini terjadi karena 

dalam formulasinya terdapat kombinasi antara asam sitrat atau 

asam tartrat dengan basa karbonat ataupun bikarbonat

Beberapa cara penambahan bahan penghancur dalam formulasi 

tablet :

a. Ditambahkan sekaligus dalam bentuk keringnya kedalam granul 

yang telah dikeringkan sebelum proses pencetakan

b. Ditambahkan sebagian dari jumlah totalnya, sebagian pertama 

ditambahkan kedalam campuran serbuk sebelum proses 

granulasi basah (dikenal sebagai penghancur dalam) dan 

sebagian sisanya ditambahkan kedalam bentuk keringnya (dikenal 

sebagai penghancur luar) kedalam campuran granul yang telah 

dikeringkan sebelum proses pencetakan. Cara ini merupakan yang 

paling umum dilakukan

c. Ditambahkan secara total kedalam campuran serbuk sebelum 

proses granulasi basah dilakukan. Cara ini kurang menguntungkan 

oleh karena beberapa bahan penghancur dengan adanya air 

76 

justeru tidak lagi berlaku sebagai bahan penghancur tetapi sudah 

berubah fungsinya menjadi bahan pengikat seperti gom arab

Bahan penghancur yang umum digunakan dalam formulasi tablet 

tersaji pada tabel 4.3.

 Tabel 4.3 Disintegrad yang digunakan dalam formulasi tablet (Gibson,2009)

 Bahan Konsentrasi 

(%)

Keterangan

Amilum 5-10 Bekerja dengan wicking, swelling 

minimal pada suhu tubuh

Mikrokristalin 

selulosa

Aksi wicking kuat. Kehilangan daya 

disintegran apabila tekanan tinggi

Natrium starch 

glikolat

2-8 Serbuk mudah mengalir yang 

mengembang (swell) dengan cepat 

apabila kontak dengan air

Crosscramellose 

sodium

1-5 Mengambang apabila kontak 

dengan air

Gum-agar, 

xanthan

<5 Mengembang apabila kontak 

dengan air; membentuk gel yang 

kental yang dapat memperlama 

disolusi, dengan demikian 

digunakan konsentrasi yang 

terbatas

Asam alginat, 

natrium alginat

4-6 Mengembang seperti gum tetapi 

tidak sekental gel

Crospovidone 1-5 Aktifitas wicking yang tinggi

Karena lubrikan yang paling efektif bersifat hidrofob, tahan air dan 

berfungsi sebagai selaput dari granul, maka lubrikan dapat mengganggu 

proses pembasahan tablet, disintegrasi tablet dan disolusi zat aktif. 

Untuk mengatasi hal ini, disintegran seperti amilum sering dikombinasi 

dengan lubrikan (untuk mempermudah pembasahan tablet dan 

disintegrasi ekstragranular). Kombinasi lubrikan dan disintegran seperti 

77Formulasi  Sediaan Tablet

ini yang ditambahkan pada granul tablet sebelum dikompresi disebut 

sebagai running powder.

4. Lubrikan 

Kerja lubrikan khususnya dibutuhkan segera setelah kompresi 

tablet didalam die, yaitu untuk mereduksi friksi antara bagian dalam 

dinding die dan tepi tablet pada proses pengeluaran tablet. Ketiadaan 

lubrikan akan menyebabkan kesulitan untuk mengeluarkan tablet. 

Selama kompresi lubrikan bekerja pada antarmuka antara permukaan 

lobang cetakan tablet dan permukaan tablet dan bekerja mengurangi 

gesekan pada antarmuka selama pengeluaran tablet dari cetakan tablet. 

Lubrikan yang tidak memadai dari antarmuka ini menghasilkan produksi 

tablet yang tidak mampu terlepas dengan sempurna dari lobang cetakan 

tablet. Penampilan dari tablet penting untuk persyaratan farmakope 

dan konsumen dengan demikian, lubrikan yang tidak memadai akan 

menyebabkan tablet akan tertolak dari bets.

Ada dua kategori utama dari lubrikan: (1) tidak larut air; dan (2) 

larut air.

a. Lubrikan tidak larut air

Lubrikan tidak larut air ditambahkan pada tahapan pencampuran 

akhir sebelum pencetakan tablet. Konsentrasi lubrikan yang 

digunakan sangat penting dipertimbangkan karena mempe-

ngaruhi waktu hancur dan disolusi tablet. Tingginya konsentrasi 

lubrikan akan memperburuk nilai waktu hancur dan disolusi 

sehingga memungkinkan kegagalan dalam kontrol kualitas 

untuk parameter ini. Selain konsentrasi, lama pencampuran 

lubrikan dengan granul/serbuk dan ukuran partikel lubrikan 

akan mempengaruhi kinerja lubrikan. Overmixing (pencampuran 

yang berlebihan) dapat memberikan efek yang kurang baik dari 

disintegrasi dan disolusi tablet. Secara khusus pencampuran 

disintegran dan lubrikan tidak larut air bersamaan harus dihindari 

karena mengarahkan pada pembentukan lapis tipis/film lubrikan 

78 

pada permukaan disintegran yang kemudian mengurangi 

keterbasahan dan pengambilan air oleh disintegran sehingga 

menyebabkan disintegrasi terganggu. Selanjutnya, telah 

ditunjukkan bahwa kemampuan lubrikan meningkat apabila area 

permukaan meningkat (misalnya mengurangi ukuran partikel 

lubrikan). Contoh lubrikan tidak larut air yang secara umum 

digunakan yaitu :

 - Magnesium stearat. Informasi mengenai sifat kimia dan 

komposisi fisik dari batch magnesium stearat yang digunakan 

harus tersedia pada formulator sebelum digunakan sebagai 

lubrikan tablet. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor 

ini, kisaran konsentrasi magnesium stearat yang digunakan 

yaitu  0,25-0,50% w/w.

 - Asam stearat. Tersedia banyak kualitas/grade asam stearat 

yang berbeda sifat fisika dan kimianya seperti jarak lebur, 

nilai asam, iodin dan saponifikasi. Konsentrasi asam stearat 

yang digunakan sebagai lubrikan yaitu  1-3% w/w.

 - Glyceryl behenate. Digunakan sebagai lubrikan tablet 

dengan konsentrasi 1-3% w/w.

 - Glyceryl palmitostearate. Digunakan sebagai lubrikan dalam 

manufaktur tablet dengan konsentrasi 1-3% w/w. 

b. Lubrikan larut air

Lubrikan tidak larut air pada dasarnya digunakan untuk mengatasi 

kemungkinan pengaruh yang tidak baik dari lubrikan tidak larut air 

seperti pada waktu hancur dan disolusi tablet. Penggunaan lubrikan 

larut air dapat mengatasi masalah ini. Namun untuk penggunaan yang 

lebih besar, lubrikan tidak larut air lebih baik dibandingkan lubrikan 

larut air. Contoh lubrikan larut air yaitu :

 - Polietilen glikol (PEG). Khususnya PEG 4000, 6000 dan 

8000 dengan berat molekul yang besar, digunakan sebagai 

lubrikan dalam manufaktur tablet. Kemampuannya sebagai 

79Formulasi  Sediaan Tablet

lubrikan tidak sebaik magnesium stearat. Digunakan sebagai 

lubrikan dengan konsentrasi 1-2% w/w.

 - Polioksietilen stearat. Digunakan sebagai lubrikan dengan 

konsentrasi 1-2% w/w. 

 - Garam lauril sulfat. Garam lauril sulfat (misalnya natrium 

dan magnesium) merupakan surfaktan anionik yang bekerja 

sebagai lubrikan dengan konsentrasi 1-2% w/w. Selain 

berfungsi sebagai lubrikan, juga mampu meningkatkan 

disolusi obat yang sukar larut dalam air dalam tablet karena 

merupakan senyawa aktif permukaan.

Yang paling efektif sebagai lubrikan yaitu  bahan yang 

hidrofob, tetapi jika terlalu banyak digunakan dapat mempengaruhi 

disintegrasi dan disolusi. Sebagai contoh magnesium stearat dan 

kalsium stearat. Logam alkali stearat tidak tersatukan (inkompatibel) 

dengan aspirin dan asam askorbat. Lubrikan laminar (magnesium 

stearat, kalsium stearat sangat sensitif terhadap pencampuran 

(mixing). Pengaruhnya dapat sama dengan penambahan lubrikan 

dengan jumlah banyak. Lubrikan ditambahkan dalam keadaan kering 

setelah komponen lain dihomogenkan. Setelah penambahan lubrikan, 

campuran dihomogenkan 2 – 5 menit. Overmixing akan menyebabkan 

berkurangnya karakter disintegrasi, disolusi dan hilangnya ikatan dalam 

matriks tablet. Lubrikan juga dapat ditambahkan pada granul sebagai 

larutan alkohol, sebagai suspensi atau emulsi. Lubrikan yang larut air 

hanya umum digunakan untuk tablet yang harus larut sempurna di 

dalam air, missal : tablet effervescent atau jika diperlukan karakteristik 

disintegrasi atau disolusi yang khusus. Sebagai contoh DL Leusin, 

natrium benzoat dan PEG 8000.

80 

5. Glidan

Glidan berfungsi untuk meningkatkan sifat alir dari serbuk dalam 

penampungan serbuk/granul pada mesin cetak (hopper) menuju lobang 

pencetakan (die) pada proses pencetakan tablet. Glidan bekerja dengan 

mengurangi gesekan antara serbuk/granul dengan permukaan hopper 

dan die yang disebabkan kemampuan partikel glidan menempati 

antara ruangan antara partikel/granul. Glidan juga bekerja mengurangi 

kecenderungan granul untuk memisah atau mengalami segregasi akibat 

vibrasi yang berlebihan. Untuk mendapatkan kondisi ini secara optimal 

diperlukan partikel glidan yang (1) harus kecil; dan (2) tertata pada 

permukaan partikel/granul. Glidan biasanya bersifat hidrofobik dan oleh 

karena itu perlu diperhatikan untuk memastikan bahwa konsentrasi 

glidan yang digunakan dalam formulasi tidak mempengaruhi waktu 

hancur tablet dan disolusi obat. Kondisi ini sama dengan lubrikan yang 

dapat memperlama waktu hancur dan disolusi sehingga tablet tidak 

memenuhi persyaratan kontrol kualitas sediaan tablet. Contoh glidan 

yang digunakan pada manufaktur tablet yaitu  (1) talkum; dan (2) 

colloidal silicon dioxide. 

a. Talkum

Secara kimia talkum merupakan magnesium silikat hidrat dan 

merupakan suatu material kristalin dengan ukuran partikel yang kecil. 

Biasanya digunakan sebagai glidan dalam formulasi tablet dengan 

konsentrasi antara 5-50% w/w. Talkum tidak toksik pada pemberian 

per oral. Masa talkum dalam jumlah yang besar pada pemberian 

secara inhalasi dapat menghasilkan pembentukan granuloma. Kondisi 

ini merupakan keterbatasan penggunaan talkum dalam formulasi 

farmasetika.

b. Colloidal silicon dioxide

Colloidal silicon dioxide secara umum digunakan dalam formulasi 

tablet sebagai glidan (0,1-0,5% w/w) karena merupakan suatu kombinasi 

sifat hidrofobik dan ukuran partikel yang kecil (koloidal), biasanya 

kurang dari 15 nm. 

81Formulasi  Sediaan Tablet

Ada konsentrasi optimum yang akan menghasilkan sifat alir yang 

bagus. Biasanya kurang dari 1 % yaitu 0,25 – 0,5 % untuk koloid silica. 

Konsentrasi optimum berkaitan dengan jumlah yang dibutuhkan untuk 

menyelimuti partikel serbuk. Konsentrasi yang tinggi kemungkinan 

dibutuhkan untuk adhesi yang serius (sticking) pada permukaan punch. 

Glidan tipe silica digunakan untuk memperkecil variasi bobot 

tablet. Pada umumnya bahan-bahan yang dikenal sebagai lubrikan 

hanya mempunyai sedikit aktivitas lubrikan dan lebih baik sebagai 

antiadheran atau glidan. Oleh sebab itu diperlukan kombinasi 2 atau 

lebih senyawa untuk mendapatkan sifat lubrikan, antiadheran dan 

glidan

6. Eksipien lain yang digunakan dalam formulasi tablet

Bahan tambahan/eksipien termasuk golongan ini yaitu : (1) 

absorben; (2) bahan pemanis/pemberi rasa; (3) pewarna; dan (4) 

surfaktan. 

a. Absorben

Adsorben digunakan apabila diperlukan untuk memasukkan 

komponen cair atau semipadat, misalnya obat atau pemberi rasa, 

di dalam formulasi tablet. Karena produksi tablet membutuhkan 

komponen padat, konstituen cair/semipadat harus diserap ke 

komponen padat yang, dalam banyak kasus, dapat menjadi salah satu 

komponen lain dalam formulasi tablet (misalnya bahan pengisi) selama 

pencampuran. Jika pendekatan ini tidak memungkinkan, adsorben 

secara khusus disertakan dalam formulasi. Contohnya adsorben yaitu : 

(1) magnesium oksida/karbonat; dan (2) kaolin/bentonit.

 - Magnesium oksida/karbonat. Magnesium oksida yaitu  

adsorben padat yang tersedia secara komersial dalam 

dua bentuk yang disebut cahaya/light dan berat/heavy. 

Magnesium karbonat terdiri dari beberapa bentuk (hidrat, 

bentuk dasar dan anhidrat). Kedua garam digunakan sebagai 

adsorben dalam tablet dalam kisaran konsentrasi 0,5-1,0% 

82 

w/w. Sebagai tambahan, magnesium oksida juga dapat 

digunakan sebagai glidant sedangkan magnesium karbonat 

digunakan sebagai bahan pengisi. Kedua garam itu dapat 

berinteraksi dengan obat asam.

 - Kaolin/bentonit. Bentonit/kaolin yaitu  bahan alami yang 

tersusun dari aluminium silikat hidrat. Tidak seperti kaolin, 

bentonit yaitu  bahan koloid dan oleh karena itu ukuran 

partikel eksipien ini lebih rendah daripada kaolin. Eksipien 

ini digunakan sebagai adsorben dalam kisaran konsentrasi 

1,0-2,0% w/w.

b. Bahan pemanis/pemberi rasa

Bahan pemanis dan pemberi rasa digunakan untuk mengendalikan 

rasa sehingga tablet dapat diterima konsumen. Bahan ini sangat penting 

jika tablet konvensional mengandung obat dengan rasa pahit atau, yang 

lebih penting, jika tablet itu yaitu  tablet kunyah. Eksipien digunakan 

untuk meningkatkan rasa manis dan memperbaiki rasa tablet.

c. Pewarna

Tablet berwarna umumnya diformulasikan untuk memperbaiki 

penampilan atau untuk mengidentifikasi keunikan produk akhir. 

Dalam beberapa formulasi pewarnaan tablet pada saat diproduksi 

menyebabkan tablet berbintik sehingga penampilannya kurang 

menarik. Untuk mengatasi permasalahan ini, perlu pemilihan zat 

pewarna yang tepat dalam formulasi tablet. Perlu diperhatikan bahwa 

zat warna harus terdistribusi merata ke seluruh tablet. Ini biasanya 

dicapai dengan menambahkan zat warna yang larut air ke cairan 

granulasi dalam metode granulasi basah dari pada saat manufaktur 

tablet.

d. Surfaktan

Surfaktan dapat dimasukkan ke dalam formulasi tablet untuk 

memperbaiki sifat pembasahan dari tablet hidrofobik sehingga 

meningkatkan laju disintegrasi tablet. Surfaktan juga dapat 

meningkatkan kelarutan obat yang sukar larut dalam air di saluran 

83Formulasi  Sediaan Tablet

pencernaan sehingga laju disolusi zat aktif akan meningkat. Salah satu 

surfaktan paling populer untuk tujuan ini yaitu  natrium lauril sulfat. 

Namun, perlu dicatat bahwa surfaktan tidak boleh berinteraksi dengan 

zat aktif karena hal ini dapat mempengaruhi laju disolusi obat.

D. BAHAN TAMBAHAN UNTUK TABLET KEMPA LANGSUNG

Sama dengan metode pembuatan tablet lainnya, produksi tablet 

mengharuskan penambahan beberapa jenis eksipien. Alasan untuk 

penambahan eksipien ini identik dengan yang dijelaskan sebelumnya. 

Untuk mendapatkan sifat alir dan kompresi yang baik, kualitas/grade 

eksipien tertentu digunakan secara khusus untuk pembuatan tablet 

dengan kompresi/kempa langsung. Grade ini biasanya telah disiapkan 

dengan metode khusus (misalnya spray drying) untuk mencapai sifat 

fisikokimia yang baik (misalnya ukuran partikel/distribusi dan sifat aliran). 

Contoh eksipien yang digunakan untuk formulasi dan pembuatan tablet 

dengan kempa langsung yaitu : (1) bahan pengisi-pengikat; (2) bahan 

penghancur; dan (3) lubrikan dan glidan. 

Sejumlah zat aktif juga tersedia dalam bentuk co-processed yang 

digunakan untuk formulasi kempa langsung. Sementara bahan ini 

mungkin tidak dianggap sebagai kempa langsung dalam bentuknya 

yang paling murni, namun lebih pada memanfaatkan keunggulan 

teknologi kompresi langsung ke produsen tablet.

1. Pengisi – Pengikat untuk Tablet Cetak Langsung

Kempa langsung sangat tergantung pada eksipien terutama bahan 

pengisi. Hal ini mengakibatkan berkembangnya pembuatan eksipien 

yang telah dirancang khusus untuk digunakan dalam formulasi kempa 

langsung, walaupun harganya cenderung mahal. 

a. Mikrokristalin Selulosa (MCC) / Avicel

Mikrokristalin selulosa diisolasi dari serat selulosa dengan 

hidrolisis asam. Bersifat paling kompresibilitas dibandingkan 

semua pengisi untuk formula cetak langsung dan mempunyai 

potensial pengenceran yang tinggi Dua hal lain yang berperanan 

84 

dalam hal kemampuan avicel untuk mengikat zat lain yaitu :

i). Bulk density rendah (menunjukkan potensial 

pengenceran yang tinggi)

ii). Rentang ukuran partikel yang besar 

Bahan ini mempunyai koefisien friksi (static dan dinamik) yang 

sangat rendah, sehingga bersifat self lubrikan. Tetapi jika terdapat 

zat aktif > 20 % atau ditambahkan eksipien lain, diperlukan lubrikan. 

Tetapi jika digunakan lubrikan alkali stearat dalam jumlah banyak 

(> 0,75 %) dan waktu pencampuran yang lama, tablet avicel PH 101 

dapat melunak, sedangkan tablet avicel PH 102 tidak. 

Karena avicel mempunyai kompresibilitas yang tinggi, 

bersifat self-lubricating dan dapat bertindak sebagai disintegran, 

maka Avicel dapat digunakan sebagai pengisi-pengikat untuk 

obat-obat dengan dosis kecil. Tablet yang mengandung Avicel > 

80 % mempunyai waktu hancur yang lama (jika digunakan untuk 

formula tablet dengan zat aktif yang mempunyai kelarutan air 

rendah). Solusinya yaitu  dengan menambahkan eksipien cetak 

langsung yang larut air.

Pemakaian Avicel dalam formula cetak langsung yaitu  10 – 50 

%, tetapi yang lazim yaitu  30 %. Tablet yang dibuat dengan Avicel 

PH 101 (powder) dan PH 102 (granul) mempunyai kekerasan dan 

friabilitas yang baik.

Penetrasi air ke dalam tablet merupakan akibat daya kapilaritas 

Avicel, sehingga terjadi pemutusan ikatan kohesif antar partikel. 

Efek disintegran dari Avicel tidak seefektif amilum, tapi pada 

konsentrasi > 20 % Avicel mempunyai efek aditif terhadap amilum.

Jika dikombinasi dengan laktosa, Emcompres atau starch, Avicel 

dapat mengontrol laju pelepasan obat. Sifat Avicel yang bertidak 

sebagai pengikat-disintegran sangat bermanfaat untuk tablet 

yang memerlukan perbaikan daya kohesi, tapi tidak mentoleransi 

waktu hancur yang lama.

85Formulasi  Sediaan Tablet

b. Dikalsium Fosfat Dihidrat (Emcompress, Ditab)

Dikalsium fosfat dihidrat merupakan minigranul yang dibuat 

dengan agglomerasi kristal. Sifat-sifat dikalsium fosfat yaitu :

i). Alirannya baik sehingga ideal untuk mesin kompresi 

dengan kecepatan tinggi dan lazimnya tidak 

memerlukan glidan

ii). Kompresibilitasnya tidak sebaik avicel, tapi lebih baik 

dari spray-dried lactose maupun starch

iii). Bersifat non higroskopis

iv). Digunakan pada formula yang mengandung zat aktif 

40 – 50 %

v). Jika pada kompresi terjadi keretakan dapat diatasi 

dengan penambahan lubrikan, misalnya Magnesium 

stearat 0,5 – 0,75 %

vi). Tidak dianjurkan untuk digunakan dalam jumlah 

besar pada tablet yang mengandung zat aktif dengan 

kelarutan dalam air yang rendah

vii). Hindari pemakaian untuk zat aktif yang sensitif terhadap 

alkali

c. Spray-dried lactose (Fast Flo Lactose)

Spray-dried lactose merupakan minigranulasi dari kristal laktosa 

yang digabungkan bersama dengan sejumlah kecil laktosa amorf.

Keunggulannya yaitu  :

i). Sifat aliran paling baik dibandingkan semua pengisi 

untuk formula cetak langsung

ii). Bulk density cukup besar, sehingga pengisian die cukup 

baik

iii). Lubrikan hanya mempunyai sedikit efek pelunakan 

terhadap kompresibilitas

iv). Mempunyai stabilitas fisik (kekerasan dan friabilita) 

yang baik

v). Harga relatif tidak terlalu mahal

86 

Sedangkan keterbatasan dari bahan ini yaitu  :

i). Aliran dan kompresibilita berkurang jika dikerjakan 

ulang (reworked) dan dihaluskan

ii). Kompresibilita hilang jika kadar air normal (3%) hilang 

selama penyimpanan

Dalam formula cetak langsung lazim dikombinasi dengan avicel. 

Penggunaan tunggal dengan konsentrasi minimum 40 – 50 % dari 

bobot tablet. Efektif sebagai pengisi formula tablet cetak langsung 

jika konsentrasinya cukup besar (> 80 %), tetapi tidak efektif untuk 

obat dengan dosis besar yang tidak compresible

d. Spray processed sucrose (Dipac)

Dipac sangat cocok untuk tablet kunyah dan merupakan 

minigranul dari kristal gula yang digabungkan dengan dekstrin 

amorf.

2. Disintegran untuk Tablet Cetak Langsung

Disintegrasi merupakan tahap awal dan mungkin merupakan satu 

penentu disolusi zat aktif dari sediaan solid. Selama 2 atau 3 dekade 

yang lalu, formulator sangat menaruh perhatian terhadap pentingnya 

disintegrasi dan disolusi, walaupun korelasi antara disintegrasi dan 

disolusi in vivo dan absorpsi sangat sulit dibuktikan dengan mantap. 

Tetapi umum diketahui bahwa tablet yang cepat terdisintegrasi 

merupakan faktor yang positif dalam formulasi sediaan padat dengan 

pelepasan segera (karena dapat mempercepat disolusi, khususnya 

untuk obat-obat yang sedikit larut).

Dalam upaya penemuan disintegran yang efisien peneliti 

mengarahkan tujuannya pada sifat-sifat hidrofilik dan pengembangan 

(swelling) tanpa meningkatkan kelarutan. Bahan yang ideal seperti ini 

disebut superdisintegran.Swelling diyakini sebagai mekanisme umum 

dari proses disintegrasi tablet. Secara lebih rinci dapat dijelaskan bahwa 

proses disintegrasi terjadi melalui 3 fase:

87Formulasi  Sediaan Tablet

a. Pembasahan tablet

b. Penetrasi cairan ke dalam tablet

c. Pengembangan kekuatan disintegran

Faktor yang berpengaruh dalam disintegrasi yaitu  jumlah dan 

cara penambahan disintegran. Beberapa persyaratan disintegran yang 

ideal:

a. Kelarutannya terbatas atau tidak larut sama sekali

b. Kapasitas hidrasi kuat

c. Mempunyai sifat aliran dan kompresibilitas yang baik

d. Daya ikat dalam komprimat kuat, misalnya mudah terjadi 

deformasi plastik dan/atau aktivitas hidrogen

e. Aktivitas kapiler tinggi

f. Luas permukaan spesifik besar

g. Higroskopis (sorpsi kelembaban maksimim dan cepat)

h. Mempunyai indeks dan tekanan mengembang yang tinggi

i. Efektif dalam konsentrasi rendah

j. Penampilan konsisten

k. Stabil dan tetap efektif pada kekerasan tablet yang cukup 

tinggi

l. Inert secara kimia dan biologi

m. Tidak toksik dan tidak mengiritasi

a. Natrium Starch Glikolat (Explotab, Primojel)

Proses disintegrasi yang baik dari Primojel disebabkan oleh 

absorpsi air yang cepat ke dalam tablet, diikuti dengan pengembangan 

yang sangat besar (200 –300 kali). Meskipun tidak larut air, tidak 

akan membentuk lapisan yang visikous, sehingga tablet akan cepat 

terdisintegrasi menjadi partikel asal. Umumnya efektifitas disintegran 

akan berkurang jika terdapat lubrikan yang hidrofob. Hal ini ditunjukkan 

dengan meningkatnya waktu disintegrasi jika konsentrasi lubrikan dan 

waktu pencampuran dengan lubrikan meningkat. Tapi tidak demikian 

88 

halnya dengan Primojel karena sifat mengembangnya cukup besar 

sehingga dapat mereduksi efek lubrikan hidrofob terhadap waktu 

disintegrasi. Konsentrasi Primojel yang umum digunakan 2 – 8 % dan 

yang optimum 4 %

b. Crosslinked PVP (Crospovidon)

Dalam perdagangan dikenal sebagai Kollidon CL dan Kollidon 

CL-M (BASF), Polyplasdon XL dan Polyplasdon XL-10 (GAF). Karakteristik 

umum Polyplasdon:

i). Kapasitas pengembangan cukup besar

ii). Aktivitas kapiler tinggi

iii). Kapasitas hidrasi superior

iv). Bulk density rendah

v). Luas permukaan spesifik besar

vi). Absorpsi lembab cepat dan ti