ang permanen.
Ciri-ciri lainnya :
1. Bentuk tidak teratur.
2. Batas luka tidak teratur.
3. Tepi luka tidak rata.
4. Kadang-kadang ditemukan perdarahan kecil.
5. Permukaan tertutup oleh krusta (serum yang telah
mengering).
6. Warna kecoklatan.
7. Pada pemeriksaan mikroskopis terlihat adanya
beberapa bagian yang masih ditutupi epitel dan reaksi
jaringan (inflamasi).
2. Tipe-Tipe Dari Luka Lecet
a. Luka Lecet Garukan Goresan
Ini dapat disebabkan berbagai faktor, seperti :
Goresan horizontal mendatar atau miring dari ujung
suatu benda seperti duri, jarum atau segala benda yang
berujung runcing. Goresan tegak lurus dengan tekanan
seperti kuku. Goresan atau garukan akibat ujung tajam yang
bergerak secara mendatar atau miring memberi
gambaran bentuk luka yang luas pada bagian awalnya
dibandingkan dengan pada bagian akhirnya. Jenis ini,
pengikisan kutikula yang terjadi lebih dalam pula pada
bagian tengahnya. Lalu pada sebuah garukan, tipe senjata
dan bentuk langsung kekuatan dapat diketahui dimana
gambaran atau cetakan benda akan tampak dari sisi yang
lebih luas ke sisi yang lebih sempit pada garukan, dimana
posisi benda penggores datang dari bagian yang lebih luas.
Bentuk dan ukuran luka lecet memang tidak selalu
tergantung pada ukuran dan bagian senjata/benda
pemicu goresan ini .
Luka lecet garukan goresan
b. Luka Lecet Gesekan
Terjadi sebab gesekan secara sejajar/ miring antara
epidermis dan bagian kasar sebuah benda/ permukaan
(tanah/ senjata). Luka lecet jenis ini umumnya terlihat pada
kasus kecelakaan lalu lintas, dimana korban sesudah terjatuh
dari kenderaan pada tanah sambil bergerak, mengakibatkan
gesekan horizontal pada kulit. Pada tipe ini juga, bagian
awalnya lebih luas dan dalam serta menipis dan menyempit
pada bagian akhirnya. Juga ada pengelupasan dari
epidermis pada bagian tengah luka. Luka lecet ini juga dapat
menentukan kejadian dan senjata pemicu nya. Ukuran dan
bentuk luka tidak tergantung pada luasnya senjata atau
benda yang merusak tubuh/ organ.
Luka lecet gesekan
c. Luka Lecet Tekanan
Ini terjadi akibat tekanan yang secara tegak lurus
mengarah pada permukaan tubuh. Luasnya jejas/ tekanan
yang terjadi itu akan menunjukkan tentang dalamnya luka
pada tubuh. Ukuran dan bentuk dari luka lecet ini
tergantung pada bagian/ jenis senjata/ alat yang mengenai
tubuh. Luka lecet yang dipicu bekas tali yang
mengelilingi leher misalnya pada kasus-kasus tergantung
(hanging) atau terjerat (strangulasi) dan bekas bagian yaitu
merupakan contoh luka lecet sebab tekanan.
Luka lecet tekanan
d. Luka Lecet Cetak
Pada kasus luka lecet cetak, bentuk senjata juga akan
tertera/ tercapkan terhadap tubuh tempat luka lecet
ini , ini yang disebut luka lecet cetak. Dari bentuk
cetakan yang terbentuk pada area luka, senjata yang
digunakan dapat diperkirakan. Contoh luka lecet ini
misalnya akibat rantai sepeda, gigi kenderaan bermotor atau
tergilas ban mobil. Luka lecet cetak bervariasi berdasar
tekanan yang terjadi.
Luka lecet cetak
e. Cakaran Kuku
Cakaran dapat disebab kan gesekan sejajar ataupun
secara tekanan saat adanya gesekan sejajar, ini bentuknya
miring dengan terlepasnya jaringan epithelium di ujung dan
pada bagian akhir luka akan menyempit. Contoh cakaran
yang terjadi pada perkelahian saat kuku mencakar
dihasilkan sebab tekanan lalu terbentuk cakaran kuku dan
akan terlihat bentuk dan ukuran kuku. Perlu diingat bahwa
seluruh luka lecet yaitu akibat dari tekanan langsung dari
sebuah objek atau benda senjata.
3. Aspek Medikolegal Dari Luka Lecet (1,3,8)
1. Luka lecet dapat digunakan sebagai penanda untuk
menentukan tipe benda atau senjata pemicu luka.
2. Dapat digunakan untuk memperkirakan waktu
terjadinya luka lecet, yaitu :
- Baru (1-2 jam) : luka masih segar, warna merah dan
ditemukan sedikit darah dan serum, kudis belum ada.
- 8-24 jam : luka mengering dengan warna merah tua
- Hari ke 2 dan ke 3 : luka berwarna kecoklatan
- Hari ke 4 dan ke 5 : luka warna coklat tua
- Hari ke 6 : luka warna hitam dan kudis mulai
mengelupas dari luka. Untuk luka yang luas,
memerlukan beberapa hari lagi agar kudis / keropeng
lepas dari luka.
3. Luka lecet pada daerah tertentu, mengindikasikan
dasar tindak kejahatan / kriminal tertentu, misalnya :
a. Pada daerah payudara untuk korban wanita dan pada
daerah sekitar kemaluan, mengindikasikan adanya
kejahatan seksual.
b. Pada daerah leher, mengindikasikan kasus terjerat
atau gantung diri.
4. Luka lecet akibat gigitan gigi sangat khas sebab
bentuk yang elips atau “ circular “ dengan gambaran
berupa gigitan 2 gigi atas dan bawah atau 4 gigi atas
dan bawah dan bagian depan. Air ludah pada luka
juga dapat dijadikan barang bukti asal mulut
pelakunya. Demikian halnya pada cakaran kuku yang
dapat mengindikasikan kuku pelakunya (7,8)
5. Memberi petunjuk bagaimana terjadinya cedera dan
petunjuk adanya tanda-tanda perlawanan pada kasus
tertentu.
Tabel 2 : Perbedaan antara luka lecet antemortem dan postmortem
No. Penilaian atas Antemortem Postmortem
01. Letak Setiap tubuh Bagian tertentu
02.
Getah kelenjar
lymph
Ada Tidak ada
03.
Kudis /
keropeng
Ada Tidak ada
04. Perubahan
warna
Ada
Tidak ada,
umumnya agak
kekuningan
tanpa perubahan
warna berarti
05. Kulit ari Ada Tidak ada
LUKA MEMAR
(Kontusi, Hematom, Bruise, Contusion)
Luka memar biasanya terjadinya dengan permukaan
kulit (kontinuitas jaringan kulit) dalam keadaan utuh, namun
terjadi perdarahan pada jaringan di bawah kulit / kutis,
pembuluh darah kapiler dan vena yang pecah dan
memasuki jaringan ikat yang dipicu oleh kekerasan
benda tumpul (3,7,8,9). Luka memar yang terjadi dapat
disebabkan oleh berbagai benda tumpul dan kadang-kadang
dapat memberi petunjuk tentang benda pemicu memar
seperti :
1. Jejas ban (marginal hemorrhage).
2. Jejas tapak sepatu.
3. Jejas cambuk.
4. Jejas batu/ bola.
5. Cubitan / cekikan tangan.
Gambaran perubahan yang terjadi pada luka memar
yaitu daerah yang mengalami kekerasan tumpul akan
membengkak dan terjadi perubahan warna merah kebiru-
biruan, rasa sakit dan menjadi lembek. Dapat disertai
mengelupasnya jaringan kutikula kulit. Secara bertahap
akan disertai dengan perubahan warna dan bentuk dalam 2
minggu. Besarnya memar tidak akan selalu tergantung pada
benda/ alat pemicu nya, namun lebih pada daerah yang
dikenainya serta kerasnya benturan yang terjadi. Pada
daerah jaringan ikat longgar dan jaringan lemak, misalnya
pada dahi, bibir, scrotum dan vulva, hematom akan lebih
luas dibanding dengan kuatnya kekerasan yang sebenarnya.
Perlu juga diingat bahwa tidak semua hematom terjadi pada
daerah yang dikenai hematome.
Hematome ada kalanya tidak menunjukkan lokasi
kekerasan yang sebenarnya, misalnya hematom palpebra, ini
terjadi sebab jaringan ikat longgar pada daerah kelopak
mata serta adanya pengaruh gravitasi, umumnya dikenal
dengan istilah “black eye“. Demikian pula halnya pada
kasus “contra coup“, dimana cedera otak yang terjadi tidak
pada daerah yang terbentur (coup) namun pada sisi yang
berlawanan (countra coup) (7,8)
Trauma pada mata
Pada daerah dengan jaringan ikat yang kuat, cedera
yang berat dan keras mungkin hanya menghasilkan memar
yang kecil, seperti pada daerah leher belakang (tengkuk),
punggung, telapak tangan, dan telapak kaki. Beberapa
penyakit dapat memicu memar dengan mudah
walaupun hanya dengan pukulan/ tekanan yang ringan.
Contohnya pada penyakit leukemia, hemofilia, penderita
kekurangan vitamin K, skorbut (kekurangan vitamin C),
kekurangan fosfor, dan defisiensi prothrombin. Pada wanita
dibandingkan dengan laki-laki lebih mudah terjadi memar,
sebab pada wanita lebih banyak ada jaringan lemak,
juga mengandung pembuluh darah. Anak-anak/ bayi serta
pada lanjut usia lebih mudah terjadi memar bila
dibandingkan dengan dewasa muda, hal ini disebab kan
otot-otot dan jaringan ikat pada anak-anak / bayi masih
sangat muda. Demikian pula halnya dengan orang lanjut
usia, kehilangan jaringan serta keadaan arterisklerotik pada
pembuluh darah mengakibatkan pembuluh darah mudah
pecah walaupun dengan benturan yang sedikit/ ringan (8)
Luka memar pada tungkai atas
Bentuk dari memar biasanya bundar namun kadang
kala bisa juga menunjukkan jenis senjata yang digunakan,
namun ini masih dipengaruhi oleh tempat yang dikenai
(lokasi) serta kekuatan dari benturan. Biasanya benturan
pada daerah jaringan ikat yang padat maka bekas / jejas dari
bentuk senjata yang digunakan dapat terlihat.
1. Kontusio Superfisial
Kata lazim yang digunakan yaitu memar, terjadi
sebab tekanan yang besar dalam waktu yang singkat.
Penekanan ini memicu kerusakan pada pembuluh
darah kecil dan dapat memicu perdarahan pada
jaringan bawah kulit atau organ dibawahnya.
Pada orang dengan kulit berwarna memar sulit dilihat
sehingga lebih mudah terlihat dari nyeri tekan yang
ditimbulkannya. Perubahan warna pada memar
berhubungan dengan waktu lamanya luka, namun waktu
ini bervariasi tergantung jenis luka dan individu yang
terkena. Tidak ada standart pasti untuk menentukan
lamanya luka dari warna yang terlihat secara pemeriksaan
fisik. Pada mayat waktu antara terjadinya luka memar,
kematian dan pemeriksaan menentukan juga karekteristik
memar yang timbul.
Semakin lama waktu antara kematian dan
pemeriksaan luka akan semakin membuat luka memar
menjadi gelap. Pemeriksaan mikroskopik yaitu sarana
yang dapat digunakan untuk menentukan waktu terjadinya
luka sebelum kematian. Namun sulit menentukan secara
pasti sebab hal ini pun bergantung pada keahlian
pemeriksa.
Efek samping yang terjadi pada luka memar antara
lain terjadinya penurunan darah dalam sirkulasi yang
disebabkan memar yang luas dan masif sehingga dapat
memicu syok, penurunan kesadaran, bahkan
kematian. Yang kedua yaitu terjadinya agregasi darah di
bawah kulit yang akan mengganggu aliran balik vena pada
organ yang terkena sehingga dapat memicu ganggren
dan kematian jaringan.
Yang ketiga, memar dapat menjadi tempat media
berkembang biak kuman. Kematian jaringan dengan
kekurangan atau ketiadaaan aliran darah sirkulasi
memicu saturasi oksigen menjadi rendah sehingga
kuman anaerob dapat hidup, kuman tersering yaitu
golongan clostridium yang dapat memproduksi gas
gangren.
Efek lanjut lain dapat timbul pada tekanan mendadak
dan luas pada jaringan subkutan. Tekanan yang mendadak
memicu pecahnya sel Â-sel lemak, cairan lemak
kemudian memasuki peredaran darah pada luka dan
bergerak beserta aliran darah dapat memicu emboli
lemak pulmoner atau emboli pada organ lain termasuk otak.
Pada mayat dengan kulit yang gelap sehingga memar sulit
dinilai sayatan pada kulit untuk mengetahui resapan darah
pada jaringan subkutan dapat dilakukan dan dilegalkan.
2. Kontusio Pada Organ Dan Jaringan Dalam
Semua organ dapat terjadi kontusio. Kontusio pada
tiap organ memiliki karakteristik yang berbeda. Pada organ
vital seperti jantung dan otak jika terjadi kontusio dapat
memicu kelainan fungsi dan bahkan kematian.
ü Kontusio pada otak, dengan perdarahan pada otak,
dapat memicu terjadi peradangan dengan
akumulasi bertahap produk asam yang dapat
memicu reaksi peradangan bertambah hebat.
Peradangan ini dapat memicu penurunan
kesadaran, koma dan kematian. Kontusio dan
perangan yang kecil pada otak dapat memicu
gangguan fungsi organ lain yang luas dan kematian
jika terkena pada bagian vital yang mengontrol
pernapasan dan peredaran darah.
ü Jantung juga sangat rentan jika terjadi kontusio.
Kontusio ringan dan sempit pada daerah yang
bertanggung jawab pada inisiasi dan hantaran impuls
dapat memicu gangguan pada irama jantung
atau henti jantung. Kontusio luas yang mengenai kerja
otot jantung dapat menghambat pengosongan jantung
dan memicu gagal jantung.
ü Kontusio pada organ lain dapat memicu ruptur
organ yang memicu perdarahan pada rongga
tubuh.
3. Aspek Medikolegal Dari Luka Memar (1,7,8)
Luka memar biasanya merupakan cedera ringan,
namun bila terjadi cedera kuat dan memar yang sangat
banyak serta mengenai organ-organ yang vital dapat pula
berakibat fatal terhadap jiwa. Organ-organ yang berbahaya
bila memar terjadi yaitu : otak, organ-organ di dalam perut.
Memar cetakan/ cap, kadang-kadang dapat
mengindikasikan jenis senjata yang dipakai , terlebih
bila memar yang terjadi masih baru. Untuk membedakan
apakah memar yang terjadi akibat upaya bunuh diri,
pembunuhan ataupun kecelakaan memang cukup sulit,
namun beberapa indikasi umum dapat dilihat berupa :
Á Pada usaha pembunuhan, cedera memar bisa terjadi
pada setiap bagian tubuh namun jarang berhubungan
dengan cedera lainnya.
Á Pada bunuh diri, memar yang dipicu oleh alat
pemukul ada pada bagian tubuh yang
memungkinkan untuk dijangkau dan menunjukkan
gambaran memar serta bergantung pada jenis alat
yang digunakan.
Á Pada kecelakaan, memar bisa terjadi dimana saja pada
tubuh dan ada kaitannya dengan cedera lainnya yang
didapat (6,7,8)
Luka memar (hematoma) dapat dibedakan dengan
hipostatis paska kematian (lebam mayat). Adapun
perbedaan antara lebam mayat dan memar yaitu :
Tabel 3 : Perbedaan antara lebam mayat dan memar
No.
S I F A
T
LEBAM MAYAT M E M A R
01. Letak
Epidermal, sebab
pelebaran
pembuluh darah
yang tampak
sampai ke
permukaan kulit.
Sub epidermal, sebab
ruptur pembuluh darah
yang letaknya bisa
superfisial atau lebih
dalam.
02.
Kutikul
a
(kulit
Tidak rusak Rusak
147
ari)
03. Lokasi
ada pada
daerah yang luas,
terutama luka pada
bagian tubuh yang
letaknya rendah.
ada di sekitar, bisa
dimana saja pada bagian
tubuh yang terkena ruda
paksa dan tidak meluas.
04.
Gambar
an
Tidak ada
perubahan bentuk.
Biasanya membengkak
sebab resapan darah.
05.
Pinggira
n
Jelas Tidak jelas
06. Warna Sama semua
Memar yang lama
warnanya bervariasi.
Memar yang baru
warnanya lebih tegas
daripada warna lebam
mayat di sekitarnya.
07.
Pada
pemoto
ngan
Darah tampak
dalam pembuluh
darah dan mudah
dibersihkan,
jaringan subkutan
tampak pucat
Menunjukkan resapan
darah ke jaringan
sekitar, susah
dibersihkan jika hanya
dengan air mengalir.
Jaringan subkutan
berwarna merah
kehitaman.
08.
Dampak
sesudah
penekan
an
Ada, baru akan
hilang walaupun
hanya diberi
penekanan yang
ringan (dibawah 6
jam)
Warnanya berubah
sedikit saja, jika diberi
penekanan.
Tabel 4 : Perbedaan antara memar antemortem dengan memar
postmortem
No. Antemortem Postmortem
01.
Ada perubahan warna dan
pembengkakan
Tidak ada
02.
Pada memar dan daerah sekitarnya
terlihat darah
Tidak ada
Memar yang terjadi juga akan mengalami
perubahan-perubahan warna dan menjadi petunjuk lamanya
memar terjadi. Namun tidak dapat memastikan secara pasti
usia memar ini sebab banyak faktor lain yang
mempengaruhi seperti ukuran memar, dalamnya, letaknya
serta kekuatan pemicu nya.
Tabel 5 : Perubahan-perubahan warna pada memar
WARNA DAN
PERUBAHAN
W A K T U
Merah (bengkak) Baru (1-2 jam)
Kebiru-biruan Beberapa jam sampai 3 hari
Kecoklatan (sebab pigmen
hemosiderin)
Hari ke-4 atau hari ke-5
Kehijauan (sebab pigmen
hematoidin)
Hari ke-5 atau hari ke-6
Kekuningan (sebab
bilirubin)
Hari ke-6 sampai hari ke-12
Normal 2 minggu
Raekallio (1966) juga meneliti tentang perubahan
enzim pada luka memar. Adenotriphosphat dan
kolinesterase menunjukkan pertambahan aktivitas pada 1
jam pertama sesudah pecahnya pembuluh darah lalu
penambahan amino peptide sesudah 2 jam, penambahan
asam phosphatase sesudah 4 jam dan pertambahan alkalin
phosphatase sesudah 8 jam terjadinya luka.
Tabel 6: Perbedaan antara memar dan kongesti
No. Dilihat dari M E M A R KONGESTI
01. pemicu Kekuatan mekanik
Keadaan
patologi seperti
inflamasi
02.
Tingkat
perubahan
Menyebarnya
darah pada
jaringan subkutan
atau sub mukosa
sangat terjadi
pecahnya
pembuluh darah
kapiler
Adanya
pembuluh
darah kapiler
yang kolaps.
03. Warna
Berubah dari
merah, biru, coklat,
hijau, dan kuning
Merah
sepanjang hari
tanpa ada
perubahan.
04. Tepi Tidak jelas Agak lebih jelas
05.
Pada
pemotongan
Memperlihatkan
bercak darah yang
tidak dapat dicuci.
Perdarahan ada,
yang dapat
dicuci.
LUKA ROBEK
Laceration (4,7,8)
Luka robek merupakan keadaan luka dimana tubuh
dikenai oleh benda pada kulit sehingga tertarik dan tegang
hingga melampaui batas elastisitasnya dan tekanan benda
hingga ke dasar kulit (bahkan ke otot) dan akan merobek
bagian yang tergenting.
1. Gambar Dan Tanda-Tanda Luka Robek
Bentuk robekan pada kulit mengenai lapisan jaringan
dermis dan epidermis bahkan sampai ke jaringan di bawah
kulit (otot). Lukanya terbuka dengan pinggir / tepi luka
tidak rata, sudut luka tidak tajam dan tidak teratur
(sebaiknya memakai kaca pembesar/lup/suryakanta)
atau ditemukan adanya jembatan jaringan diantara kedua
tepi luka atau dinding luka, akar rambut masih utuh pada
tepi luka mudah terjadi pada bagian kulit yang menutupi
tulang. Biasanya mengalami perdarahan yang banyak.
Panjang dan lebar luka lebih luas dari pada dalamnya luka.
Dasar luka juga tidak teratur. Proses penyembuhan dari luka
robek juga lebih lama disebab kan kehancuran jaringan
lebih besar serta infeksi terbuka akibat luka lebih besar. Pada
luka robek juga akan meninggalkan parut yang permanen
sebab kehancuran jaringan yang lebih luas dan dalam.
Luka memar dapat disertai luka lecet dan luka memar.
2. Tipe-Tipe Dari Pada Luka Robek
a. Luka robek terbelah
Ini akibat hancurnya jaringan sebab benturan dengan
benda keras, dengan dasar biasanya tulang dan bentuk luka
pada kulit biasanya berbentuk pecah.
Luka robek terbelah
b. Luka Robek Tercabik
Tipe ini dipicu gesekan dengan benda yang kasar
dan memicu tercabiknya jaringan dari kulit.
c. Luka Robek Meluas dan Meregang
Luka robek ini akibat tekanan yang sangat keras pada
kulit. Contohnya pada kasus leher tergantung atau
tangan tergantung / terikat kuat dengan tali.
d. Luka Robek Lepas
Ini merupakan luka robek yang lebih dalam lagi yang
memicu jaringan di bawah kulit (otot dan
lemak) dapat ikut terlepas.
e. Luka Robek Potong
Jenis robekan seperti ini disebab kan benda yang tidak
terlalu tajam dengan tepi sedikit bergerigi yang
memotong jaringan. Luka sering kelihatan seperti luka
sayatan namun sebenarnya tepi luka tidak rata
(sebaiknya gunakan kaca pembesar/ lup /suryakanta)
dan ada ditemukan luka lecet dari luka robek ini .
Luka robek terpotong
3. Aspek Medikolegal Dari Luka Robek
a. Digunakan untuk menentukan pemicu kematian.
Biasanya pada kecelakaan dan pembunuhan. Sedikit
kasus bunuh diri, misalnya jatuh dari ketinggian atau
menabrak kereta api.
b. Mengetahui senjata/ alat pemicu . Walaupun sedikit
lebih sulit.
c. Benda-benda asing seperti debu, pasir, batu/ kerikil
dapat menjadi petunjuk tentang lokasi kejadian.
Tabel 7 : Perbedaan trauma tumpul dengan trauma tajam
No.
DINILAI
DARI
TRAUMA
TUMPUL
TRAUMA
TAJAM
01. Bentuk luka Tidak teratur Teratur
02. Tepi luka Tidak rata Rata
03.
Jembatan
jaringan
Ada Tidak ada
04. Rambut Tidak terpotong Terpotong
05. Dasar luka Tidak teratur Teratur
06. Sekitar luka
Luka lecet
positif, luka
memar positif
Luka lecet
negatif, luka
memar negatif.
KOMBINASI DARI LUKA LECET,
MEMAR DAN ROBEK
Luka lecet, memar dan laserasi dapat terjadi
bersamaan. Benda yang sama dapat memicu memar
pada pukulan pertama, laserasi pada pukulan selanjutnya
dan lecet pada pukulan selanjutnya. namun ketiga jenis luka
ini dapat terjadi bersamaan pada satu pukulan. Secara
umum bahwa ketiga jenis luka yang ada yaitu luka lecet,
luka memar dan luka robek memiliki arti yang cukup
penting dalam ilmu kedokteran kehakiman, walaupun nilai
klinisnya kurang begitu penting.
Kepentingan itu didasari atas :
1. Menentukan arah trauma
2. Menentukan kuat ringannya tenaga trauma
3. Menentukan pemicu luka, apakah kecelakaan,
bunuh diri atau dibunuh (perkelahian)
4. Menentukan pemicu kematian
5. Menentukan berat ringannya keadaan pasien
6. Menentukan secara kasar benda pemicu luka
7. Menentukan secara kasar lokasi/ tempat kejadian
berlangsung.
FRAKTUR
Fraktur yaitu suatu diskontinuitas tulang. Istilah
fraktur pada bedah hanya memiliki sedikit makna pada ilmu
forensik. Pada bedah, fraktur dibagi menjadi fraktur
sederhana dan komplit atau terbuka. Patah atau retaknya
tulang akibat kekerasan benda tumpul mudah dibedakan
dengan patah atau retaknya tulang akibat benda tajam atau
senjata api.Pada kasus dimana kepala seseorang dipukul
dengan benda tumpul, sering dijumpai patah tulang dimana
bagian-bagian yang patah ini tetekan ke dalam (fraktur
kompresi).
Pada kasus lalu lintas dimana sering kali tubuh
korban terlempar dan jatuh dengan kepala menyentuh jalan,
maka lebih sering akan dijumpai patah tulang dengan garis
patah yang linier. Dengan demikian dapat dibedakan
berdasar kelainan yang terjadi pada tengkorak, yaitu
apakah benda tumpul yang menghampiri kepala, atau
kepala yang mendekati benda tumpulnya.
Pada kasus kecelakaan lalu-lintas dimana tungkai
korban terkena bumper kendaraan, maka patah tulang yang
terjadi dapat memberi informasi arah datangnya
kendaraan yang mengenai tungkai korban. Bila ditabrak dari
belakang tulang yang patah akan terdorong ke depan dan
dapat merobek otot serta kulit didaerah tungkai bagian
depan, hal yang sebaliknya terjadi bila korban ditabrak dari
depan. Pada kasus-kasus khusus bentuk kerusakan pada
tulang dapat sesuai dengan bentuk dari benda tumpulnya,
misalnya martil, bagian punggung dari kampak dan lain
sebagainya.(12)
Terjadinya fraktur selain disebabkan suatu trauma
juga dipengaruhi beberapa faktor seperti komposisi tulang
ini , misalnya :
ü Anak-anak
Tulangnya masih lunak, sehingga jika terjadi
trauma khususnya pada tulang tengkorak dapat
memicu kerusakan otak yang hebat tanpa
memicu fraktur tulang tengkorak.
ü Dewasa
Wanita usia tua sering kali telah mengalami
osteoporosis, dimana dapat terjadi fraktur pada
trauma yang ringan.
Pada kasus dimana tidak terlihat adanya deformitas
maka untuk mengetahui ada tidaknya fraktur dapat
dilakukan pemeriksaan memakai sinar X, mulai
dari fluoroskopi, foto polos. Xero radiografi
merupakan teknik lain dalam mendiagnosa adanya
fraktur.(10)
A. Fraktur memiliki Makna Pada Pemeriksaan
Forensik.
Bentuk dari fraktur dapat menggambarkan benda
pemicu nya (khususnya fraktur tulang tengkorak), arah
kekerasan. Fraktur yang terjadi pada tulang yang sedang
mengalami penyembuhan berbeda dengan fraktur biasanya.
Jangka waktu penyembuhan tulang berbeda-beda setiap
orang.
1. Dari Penampang Makros Dapat Dibedakan
ü fraktur yang baru,
ü sedang dalam penyembuhan
ü sebagian telah sembuh
ü telah sembuh sempurna.
2. Secara Radiologis
Dibedakan berdasar akumulasi kalsium pada kalus.
3. Mikroskopis
Dibedakan daerah yang fraktur dan daerah
penyembuhan.
Penggabungan dari metode diatas menjadikan akurasi
yang cukup tinggi. Daerah fraktur yang sudah sembuh
tidaklah dapat menjadi seperti tulang aslinya.(10)
B. Komplikasi Dari Fraktur
1. Perdarahan
Contohnya : perdarahan subperiosteum memicu
nyeri yang hebat dan disfungsi organ ini , robek
pembuluh darah kecil, robekan pada arteri yang besar,
emboli lemak di serebral, emboli lemak di paru.
Perdarahan dapat muncul sesudah terjadi kontusio,
laserasi, fraktur, dan kompresi. Kehilangan 1/10 volume
darah tidak memicu gangguan yang bermakna.
Kehilangan ¼ volume darah dapat memicu pingsan
meskipun dalam kondisi berbaring. Kehilangan ½ volume
darah dan mendadak dapat memicu syok yang
berakhir pada kematian.
Kecepatan perdarahan tergantung pada ukuran dari
pembuluh darah yang terpotong dan jenis perlukaan.
a. Arteri besar yang terpotong, akan terjadi perdarahan
banyak yang sulit dikontrol oleh tubuh sendiri.jika
luka pada arteri besar berupa sayatan, seperti luka
yang disebabkan oleh pisau, perdarahan akan
berlangsung lambat dan mungkin intermiten. Luka
pada arteri besar yang disebabkan oleh tembakan akan
mengakibatkan luka yang sulit untuk dihentikan oleh
mekanisme penghentian darah dari dinding pembuluh
darah sendiri. Hal ini sesuai dengan prinsip yang telah
diketahui, yaitu perdarahan yang berasal dari arteri
lebih berisiko dibandingkan perdarahan yang berasal
dari vena.
b. Hipertensi dapat memicu perdarahan yang
banyak dan cepat jika terjadi perlukaan pada arteri.
c. Adanya gangguan pembekuan darah juga dapat
memicu perdarahan yang lama. Kondisi ini
ada pada orang-orang dengan penyakit hemofili
dan gangguan pembekuan darah, serta orang-orang
yang mendapat terapi antikoagulan.
d. Pecandu alcohol biasanya tidak memiliki mekanisme
pembekuan darah yang normal, sehingga cenderung
memiliki perdarahan yang berisiko. Investigasi
terhadap kematian yang dipicu oleh perdarahan
memerlukan pemeriksaan lengkap seluruh tubuh
untuk mencari penyakit atau kondisi lain yang turut
berperan dalam menciptakan atau memperberat
situasi perdarahan.
2. Emboli sumsum tulang atau lemak
Mmerupakan tanda antemortem dari sebuah fraktur.
Fraktur linier yang terjadi pada tulang tengkorak
tanpa adanya fraktur depresi tidaklah begitu berat
kecuali ada robekan pembuluh darah yang dapat
membuat hematom ekstra dural, sehingga diperlukan
depresi tulang secepatnya. jika ujung tulang
mengenai otak dapat merusak otak ini , sehingga
dapat terjadi penurunan kesadaran, kejang, koma
hingga kematian.
3. Kompresi
Yang terjadi dalam jangka waktu lama dapat
memicu efek lokal maupun sistemik yaitu
asfiksia traumatik sehingga dapat terjadi kematiaan
akibat tidak terjadi pertukaran udara.
TRAUMA TUMPUL berdasar
REGIO (5-8)
1. Pada Kepala
Benturan pada kepala dengan kecepatan ± 20 km/jam,
sudah cukup untuk membuat patah tulang impressi atau
retaknya tulang tengkorak kepala. sedang benturan
antara dua kepala, maka akan memicu pecahnya
tulang tengkorak kepala salah satunya yaitu kepala dengan
kecepatan yang lebih rendah. Cedera kepala dapat
memicu perdarahan pada epidural, subdural,
subarakhnoid.
Pada Penutup Otak
Jaringan otak dilindungi oleh 3 lapisan jaringan.
Lapisan paling luar disebut duramater, atau sering dikenal
sebagai dura. Lapisan ini tebal dan lebih dekat berhubungan
dengan tengkorak kepala dibandingkan otak. Antara
tengkorak dan dura ada ruang yang disebut ruang
epidural atau ekstradural.
Ruang ini penting dalam bidang forensik. Lapisan
yang melekat langsung ke otak disebut piamater. Lapisan ini
sangat rapuh, melekat pada otak dan meluas masuk ke
dalam sulkus-sulkus otak. Lapisan ini tidak terlalu penting
dalam bidang forensik. Lapisan berikutnya yang terletak
antara duramater dan piamater disebut arakhnoid. Ruang
yang dibentuk antara lapisan duramater dan arakhnoid ini
disebut ruang subdural. Kedalaman ruang ini bervariasi di
beberapa tempat.
Perlu diingat, cairan otak ada pada ruang
subarakhnoid, bukan di ruang subdural. Perdarahan kepala
dapat terjadi pada ketiga ruang yaitu ruang epidural,
subdural atau ruang subarakhnoid, atau pada otak itu
sendiri.(10) Robeknya selaput otak dapat memicu
perdarahan epidural, perdarahan subdural, dan perdarahan
subaraknoid.
a. Perdarahan Epidural
Biasanya terjadi pada usia dewasa pertengahan, sering
terjadi pada kekerasan daerah pelipis (± 50 %) dan belakang
kepala (10-15 %), biasanya tidak selalu diiringi dengan patah
tulang. Perdarahan epidural atau ekstradural yaitu
perdarahan yang letaknya antara tengkorak dan selaput
otak tebal, akibatnya robek arteri yang tersering arteri
meningeal media dan dapat terjadi dengan atau tanpa patah
tulang tengkorak.
Darah menembus antara tengkorak dan selaput otak
tebal dan bila darah yang terkumpul sudah banyak, baru
ada tekanan pada otak, baru timbul gejala klinik, seperti
nyeri kepala, penurunan kesadaran bertahap mulai dari
letargi, stupor dan akhirnya koma. Kematian akan terjadi
bila tidak dilakukan terapi dekompresi segera. Waktu antara
timbulnya cedera kepala sampai munculnya gejala-gejala
yang dipicu perdarahan epidural disebut sebagai
“lucid interval”.
Jadi antara terjadinya kekerasan dan timbulnya gejala
klinik ada masa tanpa gejala. Interval bebas atau periode
laten, lamanya biasanya beberapa jam sampai 24 jam, jarang
lebih dari 2 hari. Jumlah perdarahan yang sudah dapat
memicu kematian yaitu 60-80 gram.
Perdarahan epidural
b. Perdarahan Subdural
Perdarahan ini timbul jika terjadi “bridging vein”
yang pecah dan darah berkumpul di ruang subdural.
Perdarahan ini juga dapat memicu kompresi pada otak
yang terletak di bawahnya. sebab perdarahan yang timbul
berlangsung perlahan, maka “lucid interval” juga lebih lama
dibandingkan perdarahan epidural, berkisar dari beberapa
jam sampai beberapa hari. Jumlah perdarahan pada ruang
ini berkisar dibawah 120 cc, sehingga tidak memicu
perdarahan subdural yang fatal.
Tidak semua perdarahan epidural atau subdural
bersifat letal. Pada beberapa kasus, perdarahan tidak
berlanjut mencapai ukuran yang dapat memicu
kompresi pada otak, sehingga hanya memicu gejala-
gejala yang ringan. Pada beberapa kasus yang lain,
memerlukan tindakan operatif segera untuk dekompresi
otak. Penyembuhan pada perdarahan subdural dimulai
dengan terjadinya pembekuan pada perdarahan.
Pembentukan skar dimulai dari sisi dura dan secara
bertahap meluas ke seluruh permukaan bekuan. Pada waktu
yang bersamaan, darah mengalami degradasi. Hasil akhir
dari penyembuhan ini yaitu terbentuknya jaringan
skar yang lunak dan tipis yang menempel pada dan
menembus lapisan arakhnoid dan mencapai ruang subdural.
Perdarahan subdural
c. Perdarahan Subarakhnoid
pemicu perdarahan subarakhnoid yang tersering
ada 5, dan terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu yang
disebabkan trauma dan yang tidak berhubungan dengan
trauma. pemicu nya antara lain:
1. Nontraumatik :
a. Ruptur aneurisma pada arteri yang memperdarahi
otak
b. Perdarahan intraserebral akibat stroke yang
memasuki subarachnoid
2. Traumatik :
a. Trauma langsung pada daerah fokal otak yang
akhirnya memicu perdarahan subarakhnoid
b. Trauma pada wajah atau leher dengan fraktur pada
tulang servikal yang memicu robeknya arteri
vertebralis
c. Robeknya salah satu arteri berdinding tipis pada
dasar otak yang dipicu gerakan hiperekstensi
yang tiba-tiba dari kepala.
Arteri yang lemah dan membengkak seperti pada
aneurisma, sangat rapuh dindingnya dibandingkan arteri
yang normal. Akibatnya, trauma yang ringan pun dapat
memicu ruptur pada aneurisma yang mengakibatkan
banjirnya ruang subarakhnoid dengan darah dan akhirnya
memicu disfungsi yang serius atau bahkan kematian.
Yang menjadi teka-teki pada bagian forensik yaitu ,
apakah trauma yang memicu ruptur pada aneurisma
yang sudah ada, atau seseorang mengalami nyeri kepala
lebih dahulu akibat mulai pecahnya aneurisma yang
memicu gangguan tingkah laku berupa perilaku
mudah berkelahi yang berujung pada trauma.
Contoh yang lain, apakah seseorang yang jatuh dari
ketinggian tertentu memicu ruptur aneurisma, atau
seseorang ini mengalami ruptur aneurisma terlebih
dahulu yang memicu perdarahan subarakhnoid dan
akhirnya kehilangan kesadaran dan terjatuh. Pada beberapa
kasus, investigasi yang teliti disertai dengan otopsi yang
cermat dapat memecahkan teka-teki ini .
Perdarahan subarakhnoid ringan yang terlokalisir
dihasilkan dari tekanan terhadap kepala yang disertai
goncangan pada otak dan penutupnya yang ada di dalam
tengkorak. Tekanan dan goncangan ini memicu
robeknya pembuluh-pembuluh darah kecil pada lapisan
subarakhnoid, dan umumnya bukan merupakan perdarahan
yang berat. jika tidak ditemukan faktor pemberat lain
seperti kemampuan pembekuan darah yang buruk,
perdarahan ini dapat menceritakan atau mengungkapkan
tekanan trauma yang terjadi pada kepala.
Jarang sekali, tamparan pada pada sisi samping
kepala dan leher dapat mengakibatkan fraktur pada
prosesus lateralis salah satu tulang cervical superior. sebab
arteri vertebralis melewati bagian atas prosesus lateralis dari
vertebra di daerah leher, maka fraktur pada daerah ini
dapat memicu robeknya arteri yang memicu
perdarahan masif yang biasanya menembus sampai lapisan
subarakhnoid pada bagian atas tulang belakang dan
akhirnya terjadi penggenangan pada ruang subarakhnoid
oleh darah. Aliran darah ke atas meningkat dan perdarahan
meluas sampai ke dasar otak dan sisi lateral hemisfer serebri.
Pada beberapa kasus, kondisi ini sulit dibedakan dengan
perdarahan nontraumatikyang mungkin disebabkan oleh
ruptur aneurisma.
Tipe perdarahan subarakhnoid traumatic yang akan
dibicarakan kali ini merupakan tipe perdarahan yang massif.
Perdarahan ini melibatkan dasar otak dan meluas hingga ke
sisi lateral otak sehingga serupa dengan perdarahan yang
berhubungan dengan aneurisma pada arteri besar yang
ada di dasar otak.Akan namun , pada pemeriksaan yang
cermat dan teliti, tidak ditemukan adanya aneurisma,
sedang arteri vertebralis tetap intak.
pemicu terjadinya perdarahan diduga akibat
pecahnya pembuluh darah berdinding tipis pada bagian
bawah otak, serta tidak ada aneurisma. ada 2
bukti, meskipun tidak selalu ada, yang bisa mendukung
dugaan apakah kejadian ini murni dimulai oleh trauma
terlebih dahulu. Bukti pertama yaitu adanya riwayat
gerakan hiperekstensi tiba-tiba pada daerah kepala dan
leher, yang nantinya dapat memicu kolaps dan bahkan
kematian.
Perdarahan sub arachnoid
Terletak di bawah selaput otak laba-laba, dapat
terjadi sebab trauma atau spontan. Spontan misalnya
sebab pecahnya aneurysma circulus arteriosus willisi atau
cabangnya atau pecahnya arteri yang ateromatus.
Tabel 8 : Perbedaan perdarahan (hematom) pseudoepidural
dengan epidural
Pseudoepidural Hematom Epidural Hematom
Warna bekuan darah coklat. Warna bekuan darah hitam.
Konsistensi rapuh. Konsistensi kenyal.
Bentuk otak mengkerut
seluruhnya.
Bentuk otak cekung sesuai
dengan bekuan darah.
Garis patah tidak menentu.
Garis patah melewati sulcus
arteri meningeal.
Tanda post mortem. Tanda intravital.
d. Perdarahan subdural dan subarachnoid
Terjadi sebab robeknya sinus, jembatan, vena, arteri
basalis atau berasal dari contusio/ gegar. Perdarahan
subdural merupakan perdarahan yang ada di bawah
selaput otak tebal, biasanya disebabkan sebab trauma dan
biasanya disertai perdarahan subarachnoid. Perdarahan
dapat oleh sebab penyakit seperti rachy meningitis
haemorrhagic interna, merupakan perdarahan kronik,
hingga ada darah beku yang berlapis-lapis, darah beku
pertama yaitu yang melekat pada bagian selaput otak
tebal.
e. Fraktur Basis Cranii (Patah Dasar Tengkorak)
Didapatkan perdarahan yang keluar dari hidung dan
telinga dan bila atap bola mata ikut patah maka perdarahan
masuk jaringan bola mata dan juga kelopak mata, sehingga
kedua kelopak mata menjadi biru, berbentuk seperti kaca
mata (brill hematome). Patah tulang atap tengkorak dimana
patahan yang sederhana berupa garis ditemukan lebih dari
satu garis (fraktur komposit). Atau terjadi sebab memar di
dahi lalu perdarahan yang ada turun ke kelopak mata
menjadi biru. Hal ini disebab kan jaringan di sekitar mata
terdiri dari jaringan ikat longgar.
Brill hematome akibat perdarahan yang masuk kejaringan
bola dan kelopak mata
Fraktur komposit pada kepala dapat dilakukan
rekonstruksi pukulan, yang mana pukulan yang pertama
dan mana pukulan kedua. Prinsipnya yaitu garis patah
tulang pukulan kedua berhenti di garis patah tulang
pertama.
Gambaran dapat berupa :
I = pukulan I
II = pukulan II
Selain bentuk kelainan tulang tengkorak ini ada
lagi kelainan berupa :
ü Pecah berbentuk : dimana pecah atau retak pada
tulang tengkorak kepala akan membentuk benda yang
bersentuhan dengan kepala ini .
ü Pecah retak : yaitu keadaan bentuk tengkorak yang
menjadi berubah dengan keadaan pecah yaitu
memiliki luas lebar, pecahan tidak pada tempat
terjadi kekerasan namun terjadi pada tempat yang
menderita tekanan terbesar. Misalnya tekanan dari kiri
dan kanan atau atas dan bawah, maka proses
keretakan yang terjadi biasanya pada alas tengkorak
(dasar dari tengkorak) jadi kiri dan kanan kita sebut
kutub tekan sedang lawannya disebut kutub
lawan, demikian sebaliknya
f. Gegar Otak / Commotio Cerebri / Cerebral
Contussion)
Gegar otak, cerebral concusión, commotio cerebro dan
dalam bahasa Belanda herzenschudding, merupakan
pengertian klinik: trauma pada kepala yang memberi
gangguan fungís otak tanpa dapat ditentukan kelainan
anatomik pada otak. Gejalanya ádalah:
I II
1. Gejala cardinal hádala pingsan sebebtar sampai 15
menit, bila pingsan lebih dari 15 menit harus waspada,
biasanya bukan gegar otak lagi.
2. Muntah.
3. Amnesia retrograd, kelupaan tentang hal-hal yang
terjadi sebelum kecelakaan.
4. Pusing kepala, semua berputar dan bukan rasa pening
kepala.
5. Tidak ada kelainan neurologik.
Gegar otak merupakan indikasi untuk rawat inap di
rumah sakit untuk observasi memar otak atau pendarahan
epidural. Gejala ini diatas sangat subjektif, ada kalanya
orang berpura- pura gegar otak. Seorang yang mengalami
gegar otak sebab pusing, semua berputar tidak dapat
meninggalkan tempat tidur.
Dalam surat kabar sering ditulis gegar otak ringan
atau gegar otak berat dari kata Belanda litche dan zware
herzenschudding. Di klinik, kata ini tidak digunakan
lagi, sebab pada gegar otak seperti telah dijelaskan tidak ada
kelainan anatomik. Seorang yang mengalami trauma kepala
ada kalanya tingkah lakunya seperti orang mabuk. Penyidik
maupaun dokter dalam hal demikian harus waspada.
Tabel 9 : Perbedaan trauma kepala dengan dengan keadaan mabuk
Dinilai
dari
Orang Mabuk Trauma kepala
Warna Merah, panas. Pucat, dingin
Nadi Cepat, penuh. Cepat, kecil
Pupil
Reaksi lamban terhadap
cahaya.
Reaksi cepat
Pernapasan
Panyang,
mengembus,sendawa.
Dangkal, tak
teratur, pelan
Ingatan
Kacau, membaik dengan
waktu beberapa saat.
Amnesia retrograd
yang tidak
berkurang dengan
waktu lama.
Tingkah
laku
Tak kooperatif, mencaci
maki, merengut, selamba,
suka bercakap-cakap.
Kooperatif, tenang,
diam
170
Contoh :
Suatu kasus kecelakaan lalu lintas jalan, seorang
pengemudi sepeda motor terselip dan sesudah itu tingkah
lakunya menyerupai orang mabuk. Penyidik menganggap ia
seorang mabuk, dibentak-bentak, namun tidak ada reaksi dari
korban. Kemudian korban dikirim ke rumah sakit. sesudah
diperiksa, dokter mengatakan tidak apa-apa dan disuruh
pulang. Atas desakan keluarga yang juga seorang dokter
kemudian dibuat foto Rontgen dari kepala dan ternyata ada
patah tulang. Esok hari korban meninggal dan pada autopsi
ditemukan fraktur tengkorak dan laserasi otak.(6)
g. Memar Otak / Contusio Cerebri
Yaitu keadaan memar pada bagian sisi permukaan
dari pada otak, kulit otak (cortex cerebri), di bawah piamater
tanpa adanya kerusakan arakhnoidea, dimana di tempat
ini ditemukan perdarahan yang dipicu oleh
benturan pada kepala oleh benda tumpul, sebesar kepala
jarum biasa.
Hampir seluruh kontusio otak superfisial, hanya
mengenai daerah abu-abu. Beberapa dapat lebih dalam,
mengenai daerah putih otak. Kontusio pada bagian
superfisial atau daerah abu-abu sangat penting dalam ilmu
forensik. Rupturnya pembuluh darah dengan terhambatnya
aliran darah menuju otak memicu adanya
pembengkakan dan seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, lingkaran kekerasan dapat terbentuk jika
kontusio yang terbentuk cukup besar, edema otak dapat
menghambat sirkulasi darah yang memicu kematian
otak, koma, dan kematian total.
Poin kedua terpenting dalam hal medikolegal yaitu
penyembuhan kontusio ini yang dapat memicu
jaringan parut yang akan memicu adanya fokus
epilepsi. Yang harus dipertimbangan yaitu lokasi kontusio
tipe superfisial yang berhubungan dengan arah kekerasan
yang terjadi. Hal ini bermakna jika pola luka ditemukan
dalam pemeriksaan kepala dan komponen yang terkena
pada trauma seperti pada kulit kepala, kranium, dan otak.
Bentuk perdarahan yang terjadi dapat berupa :
• Coup : merupakan perdarahan pada bagian otak yang
mana perdarahan sesuai dengan tempat persentuhan
pada kepala atau di sekitar benturan juga cedera otak
pada daerah yang bersesuaian dengan benturan.
• Contra Coup : merupakan perdarahan pada otak yang
terjadi pada daerah yang berlawanan dengan tempat
persentuhan / benturan. Hal ini terjadi sebab
adanya liquor, sehingga otak dapat bergerak bebas.
Bisa pula akibat deformitas tulang tengkorak yang
berlebihan sehingga memicu tekanan negatif
pada sisi lawan benturan. Tekanan negatif minimal 1
atau lebih baru dapat terjadi contra coup.
Trauma Coup dan contra coup
Mekanisme contra coup :
Antara otak dan tengkorak ada ruangan yang
terisi cairan serebrospinal. Berat per otak lebih besar dari
pada berat jenis cairan serebrospinal. Bila kepala mengalami
gerakan percepatan (sebab kepala dapat bebas bergerak
waktu terjadi persentuhan) maka oleh sebab kelambanan
atau inersi otak akan menempel pada sisi tengkorak yang
berlawanan dengan arah gerakan kepala dan waktu kepala
menyentuh rintangan terjadi oksilasi pada otak. Kerusakan
ini sebab oksilasi terjadi di tempat otak menempel
pada tengkorak. Memar otak (contusio cerebri) merupakan
perdarahan kecil sebesar kepala jarum di kulit otak (cortex
cerebri) dibawah piameter tanpa ada kerusakan pada
selaput otak benang laba- laba (arachnoidea).
h. Robek Otak (Laceratio Cerebri)
ada di substantia abu-abu otak dan substantia
putih otak disertai robeknya selaput otak benang laba-
laba (arachnoidea) dan piamater.
i. Sembab Otak (Edema Cerebri)
Memiliki penampakan seperti :
• meratanya gelung otak (gyrus)
• mendangkalnya alur otak (sulcus)
• bertambahnya berat otak
Akibatnya kemudian, terjadi kompresi hingga otak
kecil (cerebellum) ada bekas cetakan lubang besar
tengkorak dan juga bekas cetakan tentorium cerebri.
j. Perdarahan intraserebral tipe apopletik
Tidak berhubungan dengan trauma biasanya
melibatkan daerah dengan perdarahan yang dalam. Tempat
predileksinya yaitu ganglia basal, pons, dan serebelum.
Perdarahan ini berhubungan dengan malformasi arteri
vena. Biasanya mengenai orang yang lebih muda dan tidak
memiliki riwayat hipertensi.
k. Edema paru tipe neurogenik
Biasanya menyertai trauma kepala. Manifestasi
eksternal yang dapat ditemui yaitu ‘foam cone’ busa
berwarna putih atau merah muda pada mulut dan hidung.
Hal ini dapat ditemui pada kematian akibat tenggelam,
overdosis, penyakit jantung yang didahului dekompensasio
kordis. Keberadaan gelembung tidak membuktikan adanya
trauma kepala.
l. Emboli Lemak
Yaitu adanya bahan lemak yang masuk dalam
sirkulasi darah. Bisa sebab persentuhan dengan benda
tumpul yang berakibat seluruh kulit punggung terjadi lebam
misalnya ataupun patah tulang panjang, dapat
memicu lemak bebas masuk dalam sirkulasi darah dan
menyumbat kapiler paru-paru dan dapat memicu
kematian. Cara pemeriksaan : jaringan paru-paru sesudah
difiksasi dengan formalin kemudian dibuat “frozen section“
yang dicat Sudan III jenuh dalam alkohol 70 %. Bahan lemak
dalam kapiler terlihat sebagai butir yang berwarna ungu.
2. PADA LEHER
a. Patah tulang leher
Biasanya terjadi pada kecelakaan lalu lintas, pada
kasus yang ditabrak dari belakang, penumpang yang
ditabrak akan mengalami percepatan mendadak sehingga
terjadi “ hiper ekstensi “ kepala disusul “ hiper fleksi “.
Cedera terutama pada tulang leher ke IV dan V yang dapat
membahayakan sumsum tulang belakang (whip-lesh injury).
b. Cedera batang otak
Dapat terjadi jika ada benturan pada leher dengan
akibat keluarnya cairan otak.
c. Patah tulang lidah (os hyoid)
Ini biasanya sebab kekerasan benda tumpul akibat
gantung diri (hanging) atau tercekik (strangulasi) yang
dapat berakibat gangguan pernafasan dan mati.
3. PADA DADA
Fraktur tulang dada dan tulang iga sering terjadi
akibat benturan dengan benda keras. Robek jantung dan
robek paru-paru dapat terjadi bila tekanan akibat beban
berat (tergilas ban mobil) dapat terjadi disertai patah tulang
iga dan merobek jantung dan paru-paru.
4. PADA PERUT DAN PANGGUL
Robek hati, limpa dan ginjal dapat terjadi jika perut
tertekan benda tumpul yang keras / berat (tergilas ban).
Sekat rongga badan (diafragma) dapat robek sehingga
lambung dapat masuk ke rongga dada dan menekan rongga
dada. Dalam keadaan ini kulit perut dapat terlihat biasa atau
tidak jelas adanya persentuhan dengan benda keras.Pada
penyakit malaria atau tifus, limpa dapat membesar dan
tegang sehingga persentuhan dengan benda tumpul yang
ringan sudah dapat merobeknya. Pada pengemudi yang
mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan
kemudian mendadak berhenti, dapat terjadi :
a. Tubuh pengemudi terdesak ke depan: dada
menyentuh alat pengemudi, memicu patah
tulang dada dan tulang iga. Kepala menyentuh desor
dan kaca, memicu patah tengkorak, luka robek
pada kulit kepala.
b. Dislokasio sendi pangkal paha.
c. Kemudian tubuh terdesak ke belakang, kepala
terbentur pada sandaran punggung yang
memicu patah tulang atau dislokasi ruas tulang
leher. Gerakan ini dinamakan gerakan cambuk
5. PADA TUNGKAI TUBUH (EKSTREMITAS ATAS
DAN BAWAH)
Patah tulang ataupun dislokasi persendian dapat
terjadi bila terkena benturan dengan benda tumpul. Anggota
gerak yang dimaksud yaitu lengan dan tungkai. Luka yang
sering dijumpai pada kecelakaan lalu- lintas jalan yaitu
sebagai berikut : urai sendi (dislokasi), patah tulang kering
setinggi 30- 35 cm dari tumit sebab bemper, dan patah
tulang yang menembus kulit. Bila tungkai digilas ban mobil
dan sebelum melintasi agak selip, maka kulit dapat lepas
dari jaringan dibawahnya, bahkan robek melingkar yang
menyerupai kaos kaki : avulsio atau decollement. Amputasi
tungkai sering dijumpai sebab tergilas kereta api. Pada
lengan bawah sering ditemukan luka robek atau koyak
akibat tangkisan pukulan dengan benda tumpul yang
arahnya tangensial.(6)
POLA TRAUMA
ada beberapa pola trauma akibat kekerasan
tumpul yang dapat dikenali, yang mengarah kepada
kepentingan medikolegal. Contohnya :
1. Luka terbuka tepi tidak rata pada kulit akibat terkena
kaca spion pada saat terjadi kecelakaan, saat terjadi
benturan, kaca spion ini akan menjadi fragmen-
fagmen kecil. Luka yang terjadi dapat berupa abrasi,
kontusio, dan laserasi yang berbentuk segiempat atau
sudut.
2. Pejalan kaki yang ditabrak kendaraan bermotor
biasanya mendapatkan fraktur tulang panjang kaki.
Hal ini disebut ‘bumper fractures’. Adanya fraktur
ini yang disertai luka lainnya pada tubuh yang
ditemukan di pinggir jalan, memperlihatkan bahwa
korban yaitu pejalan kaki yang ditabrak oleh
kendaraan bermotor dan dapat diketahui tinggi
bempernya. sebab hampir seluruh kendaraan
bermotor ‘nose dive’ saat mengerem mendadak,
pengukuran ketinggian bemper dan tinggi fraktur dari
telapak kaki, dapat mengindikasikan usaha
pengendara kendaraan bermotor untuk mengerem
pada saat kecelakaan terjadi.
3. Penderita serangan jantung yang terjatuh dapat
diketahui dengan adanya pola luka pada dan di bawah
area ‘hat band’ dan biasanya terbatas pada satu sisi
wajah. Dengan adanya pola ini mengindikasikan
jatuh sebagai pemicu , bukan sebab dipukul.
4. Pukulan pada daerah mulut dapat lebih terlihat dari
dalam. Pukulan yang kepalan tangan, luka tumpul
yang terjadi dapat tidak begitu terlihat dari luar,
namun memicu edem jaringan pada bagian
dalam, tepat di depan gigi geligi. Frenum pada bibir
atas kadang rusak, terutama bila korban yaitu bayi
yang sering mendapat pukulan pada kepala
Pola trauma banyak macamnya dan dapat bercerita
pada pemeriksa medikolegal. Kadangkala sukar dikenali,
bukan sebab korban tidak diperiksa, namun sebab
pemeriksa cenderung memeriksa area per area, dan gagal
mengenali polanya. Foto korban dari depan maupun
belakang cukup berguna untuk menetukan pola trauma.
Persiapan diagram tubuh yang memperlihatkan grafik lokasi
dan pemicu trauma yaitu latihan yang yang baik untuk
mengungkapkan pola trauma.
Demikian hal tentang trauma tumpul, kiranya dapat
bermanfaat bagi kita semua. Penulis menyadari bahwa
penulisan karya tulis ini masih jauh dari kata sempurna.
Maka kiranya sangatlah berguna atas kritik dan saran yang
positif, agar kiranya akan membantu dalam proses
pembelajaran pada penulisan karya tulis berikutnya,
TRAUMA TAJAM
TUJUAN INSTRUKSI UMUM (TIU) :
• Bertujuan agar mahasiswa memahami tentang
perlukaan khusunya perlukaan akibat benda tajam,
jenis- jenis luka akibat benda tajam, bedanya
pembunuhan,bunuh diri dan kecelakaan yang
dipicu benda tajam.
TUJUAN ISTRUKSI KHUSUS (TIK) :
• Bagaimana ciri-ciri luka akibat benda tajam, jenis- jenis
luka akibat benda tajam, bedanya pembunuhan,
bunuh diri dan kecelakaan yang dipicu benda
tajam?
• Bagaimana aspek medilolegal tentang luka yang
dipicu benda tajam?
1. Latar Belakang
Dalam sebuah survey di sebuah rumah sakit di selatan
tenggara kota London dimana didapatkan 425 pasien yang
dirawat oleh sebab kekerasan fisik yang disengaja.
Beberapa jenis senjata digunakan pada 68 dari 147 kasus
penyerangan di jalan raya, ada 12 % dari penyerangan
memakai besi batangan dan pemukul baseball atau
benda – benda serupa dengan itu, lalu di ikuti dengan
penggunaan pisau 18%, ada nilai yang sangat berarti
dari kasus penusukan, sekitar 47% kasus yang masuk rumah
sakit dan 90% mengalami luka yang serius.
Hal yang harus dicatat bahwa ada 2 dari 3
penyerangan terjadi di dalam tempat tinggal atau klub-klub
dengan memakai pisau, kaca, dan bermacam-macam
senjata. 40% kasus penikaman terjadi di jalan raya dan 23%
di dalam tempat tinggal dan klub-klub, 50% pasien sedang
mabuk atau minum pada saat sebelum waktu penyerangan,
27% pasien ini yaitu penganguran. Luka-luka yang
disebabkan oleh pukulan ( 46% ), tendangan ( 17 %)
bermacam-macam senjata ( 17% ), pisau dan pecahan kaca (
15% ) sisanya disebabkan oleh gigitan manusia dan
pemicu -pemicu lain yang tidak diketahui.1
Saat ini banyak sekali terjadi kasus-kasus perlukaan
yang terjadi di sekitar kita khususnya luka akibat benda
tajam. Hal ini seiring dengan keadaan ekonomi yang
memburuk sehingga banyak terjadi tindak kriminal
khususnya dengan kekerasan yang salah satunya dengan
benda tajam. Kasus-kasus ini banyak memicu
luka ringan sampai dengan luka berat.
Bahkan sebagian pasian yang datang ke Unit Gawat
Darurat di berbagai rumah sakit yang ada di Indonesia
yaitu pasien dengan kasus luka akibat benda tajam yang
membutuhkan penanganan yang segera, bila tidak maka
akan memicu kerusakan jaringan bahkan organ tubuh.
Senjata tajam sebagai alat pembunuhan di Jakarta terjadi
sekitar 30-40% dari seluruh pembunuhan sebaliknya sebagai
alat bunuh diri sangat jarang ( 2 kasus tiap tahunnya).1
Luka yaitu suatu gangguan dari kondisi normal pada
kulit (Taylor,1997). Luka yaitu kerusakan kontinyuitas
kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh
lain(Kozier, 1995). Didalam melakukan pemeriksaan
terhadap orang yang menderita luka akibat kekerasan, pada
hakekatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberi
kejelasan dari permasalahan jenis luka yang terjadi, jenis
kekerasan yang memicu luka, dan kualifikasi luka.2
2. Perumusan Masalah
berdasar latar belakang yang dikemukakan diatas,
maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
• Bagaimana ciri-ciri luka akibat benda tajam, jenis- jenis
luka akibat benda tajam, bedanya pembunuhan,bunuh
diri dan kecelakaan yang dipicu benda tajam?
• Bagaimana aspek medilolegal tentang luka yang
dipicu benda tajam?
3. Manfaat dan Tujuan Penulisan
3.1. Manfaat :
a. Untuk Program Pendidikan Dokter Spesialis
Forensik
Á Membantu PPDS Forensic untuk dapat lebih
memahami hal-hal yang berhubungan dengan ilmu
kedokteran forensic dan medikolegal, khususnya
peranan dokter dalam memperkirakan pemicu
kematian sebab benda tajam
Á Membantu PPDS Forensic dalam membedakan luka
akibat benda tajam yang dipicu sebab
pembunuhan, bunuh diri atau kecelakaan.
b. Untuk instasi pendidikan
Á Sebagai salah satu riset dalam bidang kedokteran
forensik dan medikolegal sehingga dapat memberi
informasi yang dibutuhkan sehubungan dengan luka
akibat benda tajam.
3.2. Tujuan
Bertujuan agar tenaga medis khususnya PPDS Forensic
memahami tentang perlukaan khusunya perlukaan akibat
benda tajam, jenis- jenis luka akibat benda tajam, bedanya
pembunuhan,bunuh diri dan kecelakaan yang dipicu
benda tajam.
1. Luka
1.1. Definisi
Luka yaitu rusaknya kesatuan/komponen jaringan,
dimana secara spesifikada substansi jaringan yang
rusak atau hilang. Beberapa pasal memiliki definisi
tersendiri tentang luka, berdasar kerusakan yang terjadi.
Hal ini termasuk kerusakan pada organ-organ dalam. Pasal
lain juga menyebutkan tentang derajat luka, tidak
berdasar bentuknya namun berdasar akibatnya yang
dapat membahayakan nyawa korban.2
1.2. berdasar kedalaman dan luasnya luka, dibagi
menjadi :3
• Derajat I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema)
: yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
• Derajat II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya
lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas
dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya
tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang
dangkal.
• Derajat III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya
kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis
jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah
namun tidak melewati jaringan yang mendasarinya.
Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan
fasia namun tidak mengenai otot. Luka timbul secara
klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau
tanpa merusak jaringan sekitarnya.
• Derajat IV : Luka “Full Thickness” yang telah
mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan
adanya destruksi/kerusakan yang luas.
1.3. Deskripsi luka 4
Perlu dijelaskan bahwa diskripsi luka harus seobjektif
mungkin, meliputi
1. Jumlah luka
2. Lokasi luka, meliputi:
Á Lokasi berdasar regio anatomiknya.
Á Lokasi berdasar garis koordinat atau
berdasar bagian-bagian tertentu dari tubuh.
3. Bentuk luka, meliputi :
Á Bentuk sebelum dirapatkan.
Á Bentuk sesudah dirapatkan.
4. Ukuran luka, meliputi:
Á Ukuran sebelum dirapatkan.
Á Ukuran sesudah dirapatkan.
5. Sif





















