Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 11. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 11. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 11

 



lu sebagai obat 

rematik, lihat Bab 21, Analgetika anti radang/

rema.

Resorpsinya di usus cepat dan lengkap; dis­

tribusinya baik dengan afinitas kuat untuk 

jaringan, misalnya hati, limpa, paru­paru dan 

ginjal, pada mana kadarnya bisa tinggi sekali 

sampai ratusan kali dibandingkan dengan 

plasma. PP­nya ± 55%, biotransformasi ber­

langsung lambat. Ekskresinya melalui ginjal 

juga lambat sekali dan sebagian dikeluarkan 

dalam bentuk utuh. Ekskresi dapat dipercepat 

dengan mengasamkan kemih dengan amo­

nium klorida atau vitamin C. Plasma­t½­nya 

sangat panjang, yaitu 3 sampai 6 hari, sehingga 

kerjanya disebut long-acting. 

Efek samping pada dosis biasa bersifat 

agak serius, namun  tidak sering terjadi dan 

reversibel, yaitu gangguan saluran cerna, ke­

jang­kejang, sakit kepala, gatal­gatal, gang­ 

guan penglihatan, perubahan mental dan 

kelainan darah (agranulositosis, anemia aplas-

tis). Pada dosis tinggi (lebih dari 250 mg 

sehari) atau pemakaian  lama (di atas 1 

tahun), efek sampingnya lebih parah, yaitu 

rambut rontok, gangguan pendengaran (tuli) 

dan kerusakan mata (retinopati menetap!)20. 

Anak-anak sangat peka terhadap klorokuin; do­

sis tunggal melebihi 30 mg/kg berat badan 

dapat memicu  keracunan fatal.

Dosis biasa: pada serangan akut oral per­

mulaan 600 mg basa pada waktu makan, 6 

jam kemudian 300 mg, kemudian 1 x sehari 

300 mg selama 2 hari. Orang asing yang tidak 

semi­ imun harus meneruskan kur 2 hari lagi. 

Bagi anak­anak dosis awal 5 mg/kg berat 

badan sehari. pemakaian  intravena hanya 

dilakukan pada keadaan parah, misalnya 

malaria otak, sebab  ada  bahaya hipo­

tensi mendadak disertai kematian, terutama 

pada anak­anak. Sebagai profilaktik (di atas 

usia 15 tahun): pada 2 hari pertama 1 x sehari 

300 mg (loading dose).

Sediaan. Resochin dan Avloclor: 250 mg 

klorokuin fosfat (= 150 mg basa); Nivaquin: 

100 mg basa.

* Hidroksiklorokuin (Plaquenil) yaitu  de­

rivat hidroksi yang sama kuatnya, namun  

dengan efek samping lebih ringan. Dahulu 

lebih banyak dipakai  sebagai obat rematik 

(lihat Bab 21).

3. Meflokuin: Lariam.

Senyawa 4­aminokinolon sintetik ini (1981) 

berkhasiat skizontisid darah dari semua 

Plasmodia. Kadar dalam eritrosit 2­4 x lebih 

tinggi daripada dalam plasma. Tidak berdaya 

terhadap semua bentuk hati. Senyawa ini 

dipakai  terhadap malaria yang resisten 

terhadap klorokuin dan kinin, juga sebagai 

obat profilaktik. sebab  efek preventif baru 

efektif sesudah  tercapai kadar stabil dalam da­

rah, sesudah  rata­rata menelan 4 tablet, maka 

perlu dimulai 3 minggu sebelum keberang­ 

 katan ke daerah endemik malaria. 

Resorpsi lambat dan tidak menentu, rata­

rata 87%, PP­nya 98%, plasma­t½­nya rata­

rata 21 jam. Ekskresi terutama melalui em­

pedu dan feses.

Efek samping pada dosis tinggi berupa gejala 

neuropsikis, seperti perasaan takut, gelisah, 

agitasi, depresi, mimpi buruk, sukar tidur 

dan sukar konsentrasi. Gejala ini terjadi lebih 

buruk pada 1:10.000 pasien. Gejala disertai 

pula pusing­pusing, gangguan lambung 

usus dan anoreksia. Wanita hamil tidak boleh 

minum obat ini 3 bulan sebelum hamil dan 

pada trimester pertama.

Dosis: pada serangan akut (di atas 15 kg 

berat badan) dosis tunggal dari 15 mg/kg, 

maksimal 1 g, bila perlu diulang sesudah  1 

minggu (saran WHO). Profilaksis: 3 minggu 

sebelum berangkat 1x seminggu 250 mg 

basa sebelum makan., kemudian 250 mg 

seminggu sampai 4 minggu sesudah  pulang. 

Alternatifnya yaitu  250 mg pada hari ke 1, 

2, 3 dan 8, lalu 1 tablet seminggu. Pada dosis 

ini risiko akan efek samping psikis menjadi 

lebih tinggi. 

4. Primakuin (F.I.)

Senyawa 8­aminokinolin (dengan ­NH2 

pada posisi­8, 1948) merupakan obat satu­

satunya yang berkhasiat mematikan bentuk-

EE sekunder dari P. vivax maupun P. ovale dan 

dapat menghasilkan penyembuhan radikal. 

Zat ini juga aktif terhadap bentuk-EE primer 

dari terutama P. falciparum, namun  kerjanya 

terlalu lambat sehingga sebaiknya tidak di­

gunakan untuk terapi. Selain itu, bekerja 

gametosid pada semua jenis Plasmodium, 

sehingga dapat mencegah penyebaran infeksi 

dari manusia ke nyamuk. Primakuin kurang 

efektif terhadap bentuk darah.

pemakaian nya hanya terbatas pada follow-

up penanganan serangan akut dengan suatu 

skizontisida (kinin atau klorokuin), sebab  

aktivitasnya terhadap siklus darah lemah 

sekali. Untuk pemakaian  lama sebagai pen­

cegah kausal terlalu toksik.

Resorpsi di usus baik dan cepat, begitu pula 

metabolismenya dalam hati. Ekskresinya me­

lalui ginjal dan sebagian besar berupa meta­

bolit. Plasma­t½­nya 3­6 jam. Resistensi dari 

P. vivax sudah ada  di Asia Tenggara dan 

Afrika.

Efek samping pada dosis biasa agak ringan, 

sedang  pada dosis lebih besar dapat 

memicu  gangguan saluran cerna, nyeri 

kepala, gangguan penglihatan dan gatal­ga­

tal. Jarang sekali terjadi kerusakan sel­sel 

darah (hemolisis, leukemia, anemia).

Suatu enzim yang normal ada  da­

lam sel darah merah yaitu  glukosa-6-fosfat 

dehidrogenase (G6PD) yang berfungsi meng­

atur kadar glutation (GSH), suatu antioksidan 

alamiah. Obat anti malaria seperti primakuin 

meningkatkan fragilitas sel darah merah 

dengan akibat memicu  anemia hemo­

litik parah pada orang yang menderita de­

fisiensi enzim ini.

Dosis: sebagai penyembuh radikal 1 x sehari 

15 mg basa (= 27 mg difosfat) selama 14 hari 

atau 1 x seminggu 45 mg selama 6­8 minggu. 

Sebagai pencegah penularannya ke nyamuk: 3 x 

sehari 7,5 mg basa selama 3 hari.

5. Proguanil: kloroguanida HCl, Paludrine

Derivat biguanida ini (1946) yaitu  anta-

gonis folat yang terutama berkhasiat mema-

tikan bentuk-EE primer P. falciparum, te­

tapi terhadap P. vivax tidak begitu aktif. 

Juga tidak efektif terhadap bentuk­EE seku­

nder, sehingga tidak dapat menghindari se­

rangan “delayed” dari P.vivax/ovale. Sebagai 

skizontisida darah efeknya jauh lebih lemah 

daripada klorokuin dan kinin, sehingga ku­

rang efektif terhadap serangan akut malaria. 

Di samping itu bekerja sebagai gameto-

sida yaitu merusak gametosit, sehingga di 

dalam tubuh nyamuk tidak berkembang 

menjadi sporozoit. berdasar  sifat­sifat 

ini proguanil khusus dipakai  sebagai pro-

filaktik kausal, terutama untuk daerah di mana 

tidak ada  resistensi, seperti negara kita . 

Kadangkala proguanil juga dipakai  seba­

gai obat supresif.

Mekanisme kerjanya menghambat akti vi tas 

enzim dihidrofolat-reduktase, sehingga parasit 

tidak dapat mensintesis asam folat yang 

merupakan unsur mutlak bagi asam nukleinat 

(RNA/DNA), sehingga pembelahan intinya 

terhenti.

Resorpsi di usus agak lambat namun  baik, 

PP­nya ± 75%, plasma­t½­nya panjang, ± 20 

jam. Di dalam hati zat ini dirombak menjadi 

sikloguanil aktif yang diekskresi bersama zat 

utuhnya lewat saluran kemih. 

Efek samping jarang dan ringan, berupa 

muntah, nyeri lambung, stomatitis dan ano­

reksia. Dari semua obat malaria proguanil 

yaitu  yang paling tidak toksik. Resistensi 

dapat terjadi untuk semua jenis Plasmodium 

dan juga ada  resistensi silang dengan 

pirimetamin, yang juga bersifat antagonis 

asam folat. Kombinasi kedua obat ini tidak 

diperbolehkan, sebab  meningkatkan toksi­

sitas masing­masing.

Dosis: sebagai pencegah kausal bagi orang 

yang tidak semi­imun, 2 x sehari 100 mg se­

sudah makan pada jam yang sama, dimulai 

1 minggu sebelum tiba di daerah malaria 

sampai 4 minggu sesudah  meninggalkannya.

6. Pirimethamin: Daraprim, *Fansidar

Derivat pirimidin ini memiliki rumus yang 

berkaitan dengan gugusan biguanida dari 

proguanil. Sebagai antagonis folat kegiatannya 

lebih kurang sama, namun  jauh lebih kuat. 

Berkat daya gametosidnya (secara tidak 

langsung) pirimetamin dipakai  juga pada 

pemberantasan malaria tersiana dan kwartana 

di daerah endemik untuk menghentikan pe­

nularan melalui nyamuk. Obat ini tidak aktif 

terhadap gametosit falciparum, maka harus 

dipakai  primakuin. 

pemakaian nya terutama sebagai pen-

cegah kausal malaria tropika untuk jangka 

wak­tu singkat. Sebagai zat supresif pada 

semua jenis malaria juga efektif, namun  

sebagai zat kuratif pada serangan akut 

tidak cocok sebab  kerjanya terlalu lambat. 

Kombinasinya dengan suatu skizontisida 

darah sering kali dipakai , misalnya 

dengan klorokuin. Kombinasinya dengan 

proguanil meningkatkan toksisitas, maka 

harus dihindari. 

Resorpsi dari usus lengkap namun  lambat, 

begitu pula ekskresinya melalui ginjal dan 

tinja sebagai metabolit. Zat ini ditimbun 

dalam berbagai organ, antara lain hati. 

Plasma­t½­nya panjang sekali, lebih kurang 4 

hari. PP­nya 87%.

Efek samping pada pemakaian  satu kali 

seminggu hanya ringan. Pada dosis yang 

lebih besar dapat terjadi gangguan saluran 

cerna, sedang  pada pemakaian  lama 

terjadi depresi sumsum tulang dan anemi 

defisiensi asam folat. Zat ini tidak dapat dig­

unakan sebagai obat tunggal untuk pengo­

batan maupun profilaksis, sebab  tingginya 

resistensi terhadap P. falciparum. sebab  bersifat 

teratogen, obat ini tidak boleh diminum oleh 

wanita hamil.

Dosis: sebagai pencegah kausal terutama 

pada malaria tropika dan sebagai obat su­

presif (untuk orang tidak semi imun) oral 1 

kali seminggu 25 mg atau 1 tablet *Fansidar 

terhadap P. falciparum yang resisten untuk 

klorokuin, sebaiknya maksimal 4 minggu. 

Penduduk setempat yang sudah semi imun 

lebih baik jangan diberikan obat ini meng­

ingat bahaya resistensi.

* Fansidar = pirimetamin 25 mg + sulfadoksin 

500 mg.

Sulfadoksin yaitu  suatu sulfonamida 

kerja panjang yang berdaya skizontisid da-

rah, seperti klorokuin. Efek pirimetamin di­

perkuat oleh sulfadoksin yang juga merin­

tangi sintesis asam folat dari PABA, namun  

dengan titik kerja berlainan, atas dasar prinsip 

“blokade berturut”, lihat Bab 8, Sulfonamida, 

Kotrimoksazol. 

pemakaian nya terutama untuk mengobati 

(dan mencegah) infeksi akibat P. falciparum. 

Obat ini kurang aktif terhadap P. vivax dan 

P. malariae, juga terhadap toksoplasmosis, yaitu 

suatu infeksi dengan protozoa Toxoplasma 

gondii.

Farmakokinetik sulfadoksin mirip dengan 

pirimetamin. Resorpsi di usus baik, plasma 

t½­nya lama (4­8 hari) dan ekskresi melalui 

urin sebagai metabolitnya.

Efek samping tidak sering terjadi, namun  

sebagian orang sangat peka untuk sulfona­

mida yang dapat memicu  reaksi ku­

lit. Misalnya Sindrom Stevens-Johnson yang 

ditandai semacam eritema bernanah ganas 

dengan demam dan mortalitas tinggi, foto­

sensitif, demam, penyakit kuning dan agra­

nulositosis. Mengingat efek ini, maka tidak 

dianjurkan pemakaian nya sebagai obat 

pencegah.

Dosis: sebagai kurativum pada serangan akut 

malaria di atas 13 tahun: oral dosis tunggal 3 

tablet p.c.; anak­anak 9­13 tahun: 2 tablet; 5­8 

tahun: 1 tablet dan 1­4 tahun: ½ tablet. Sebagai 

pencegah kausal orang “luar” (di atas 15 th) 1x 

seminggu 1 tablet; orang semi imun 2­3 tablet 

setiap 4 minggu. Pada toksoplasmosis: 1 x 2 

tablet seminggu sampai 4­6 minggu sesudah  

sembuh.

* Trimetoprim (kotrimoksazol, *Bactrim) yaitu  

derivat (1961) yang berkhasiat sama dengan 

pirimetamin, namun  lebih aktif terhadap bak­

teri daripada terhadap Plasmodium. Oleh 

sebab  itu, obat ini banyak dipakai  da­

lam kombinasi dengan sulfametoksazol (= 

kotrimoksazol) sebagai kemoterapeutik bakte­

risid kuat pada berbagai macam infeksi 

bakteri, lihat Bab 8, Sulfonamida.

7. Artemeter

Senyawa benzodioksepin ini (1995) yaitu  

derivat semi sintetik dari artemisinin yang 

terkandung dalam tumbuhan kuno China 

qinghaosu (sweet wormwood, Artemisia annua). 

[Pelafalan: cinghausu, dalam bah. China 

berarti: tumbuhan hijau]. Penemuan ini 

yaitu  suatu “hadiah” (true gift) berasalkan 

pengobatan asli China dan merupakan suatu 

cerita menakjubkan dari ditemukannya suatu 

“obat baru” dari “cara pengobatan tua”. Tu 

Youyou, Nature Medicine, 2011.

Tumbuhan ini banyak ada  di China 

dan Vietnam, juga di Eropa dan AS. Godokan 

tumbuhan ini sudah sejak abad keempat 

dipakai  di China untuk mengobati wasir 

dan penyakit demam, termasuk malaria. 

namun  baru pada tahun 1972 zat aktif diisolasi 

dan ditentukan struktur kimianya. 

Kimia. Artemisinin yaitu  senyawa ses-

quiterpenlacton dengan suatu jembatan pero­

ksida di dalam cincin ke­7, yang diperoleh 

dari ekstrak eter daun dan kembang A. annua. 

sesudah  reduksi sampai derivat dihidro dan 

lalu dimetilasi terbentuk artemeter (hasilnya 

60%), sedang  etilasi menghasilkan arte-

eter. Artesunat yaitu  hemisuksinat dari di­

hidro­artemisinin dengan aktivitas sama.

Khasiat. Berkhasiat skizontisid kuat dan 

sangat cepat terhadap skizont darah dari 

P. falciparum dan P. vivax, juga yang multi­

resisten. Semua parasit dimatikan dalam 

waktu 24 jam! Khasiat artemisinin ini ber­

dasarkan 2 langkah; pertama jembatan endo­

peroksida di dalam molekulnya dibuka, 

sehingga terbentuk radikal bebas (RB). Pada 

tahap  ke­ 2 parasit dimusnahkan oleh RB dengan 

jalan mengalkilasi proteinnya. “Penangkap” 

RB (antioksidansia) seperti vitamin C, E dan 

asetilsistein mengurangi khasiat anti mala­

rianya. Begitu pula zat­zat yang mengikat 

besi, sebab  artemisinin bekerja selektif ter­

hadap Plasmodium dengan jalan aktivasi 

oleh besi dari hemoglobin darah.

pemakaian . Sudah lebih dari 20 tahun 

senyawa ini dipakai  secara eksperimental 

dengan efektif di China Selatan (Hainan), 

Vietnam, Thailand dan Birma terhadap P. 

falciparum yang resisten terhadap klorokuin 

dan sulfadoksin­pirimethamin. Efek obat ini 

pada malaria otak ternyata sama efektifnya 

dengan kinin (Vietnam, Gambia). Di China 

dan Thailand sudah diregistrasi. Guna me­

ngurangi risiko residif yang tinggi, WHO 

menganjurkan kombinasi (ACT = artemisinin 

combination therapy) dari obat kerja pendek 

yang unggul dan agak murah ini bersama 

meflokuin dengan kerja lebih panjang untuk 

efektif memberantas malaria, di samping 

menghindari resistensi. Di benua Afrika rata­

rata 3000 penderita malaria per hari menggu­

nakan obat ini.

Catatan: dilaporkan bahwa parasit malaria 

juga mulai resisten (Cambodia) terhadap 

artemisinin (New England Journal of Medicine, 

2008;359:2619-20). Oleh sebab  itu WHO te­

lah melarang pemakaian  obat ini sebagai 

monoterapi (“Stop the marketing of oral arte-

misinine monotherapy“) dan menganjurkan 

pemakaian nya dikombinasi dengan obat 

anti malaria lain. 

1. Nature, 2009;460:310­1

2. Dondorp AM, Nosten F, Poravuth Y, et 

al. Artemisinin Resistance in Plasmodium 

falciparum malaria. N Engl J Med 2009; 

361: 455­467. 

Terhadap infeksi P. vivax, senyawa ini perlu 

dikombinasi dengan primakuin, sebab  tidak 

aktif terhadap hipnozoit. Di samping itu 

diperkirakan berkhasiat gametosid sehingga 

berguna untuk mengurangi transmisi pe­

nyakit.

pemakaian  kombinasi dengan lumefan-

trin (Coartem) merupakan pengobatan lini 

pertama yang sangat efektif terhadap malaria 

di benua Afrika.18

namun  artemisinin jangan dipakai  seba­

gai obat pencegah sebab  masa paruhnya 

yang singkat. 

Selain daya kerja anti malarianya, qing­

haosu juga berdaya anti tumor dan mem-

perkuat sistem imun, mungkin berkat kan­

dungan lain daripada artemisinin.

Kinetik. Dalam hati hampir lengkap di­

ubah menjadi zat aktif dihidro-artemisinin. 

PP­nya ± 77%, plasma­t½­nya 1­2 jam, dari 

metabolitnya ± 4 jam.

Efek samping pada pemakaian oral berupa 

mual, muntah dan sakit perut, intramuskuler: 

nyeri di tempat injeksi. Pada dosis tinggi se­

kali bekerja neurotoksik pada binatang per­

cobaan.

Sediaan dalam bentuk supositoria (10 mg/

kg) dipakai  bagi penderita (anak­anak) 

yang tidak dapat menelan, misalnya sebab  

muntah. Resorpsinya cepat dan terutama 

penting sebagai pertolongan pertama di da­

erah terpencil yang tidak memiliki fasilitas 

pengobatan yang memadai. 

Dosis: hari pertama oral 1 x sehari 6 tabl 

dari 50 mg, hari ke 2­5 1 x sehari 100 mg, i.m. 

hari pertama 300 mg (= 3 ml), hari 2­5 i.m. 100 

mg.

Artemisinin: oral hari pertama 25 mg/kg, 

hari 2­7 12,5 mg/kg.

Artesunat: oral hari pertama 4 mg/kg, hari 

2­3 2 mg/kg, hari 4­7 1 mg/kg.

8. Atovaquon: Wellvone, * Malarone

Senyawa naftochinon ini (1994) berkhasiat 

anti protozoa dengan jalan merintangi sinte­

sis asam nukleinat dan ATP. Efektif terha­ 

dap a.l. Pneumocystis carinii pneumoniae, Toxo-

plasma gondii dan P. falciparum. dipakai  

pada pneumonia akibat Pneumocystis pada 

pasien yang tidak dapat minum kotrimo­

ksazol. Mu­lai tahun 2000 semakin banyak 

dipakai  bersama proguanil sebagai zat 

skizontisid darah/hati untuk mencegah dan 

mengobati malaria tropica yang resisten ter­ 

hadap obat lain. Untuk profilaksis perlu 

dimulai 1­2 hari menjelang keberangkatan ke 

suatu tempat berisiko dan tiap hari selama 

bermukim di tempat ini. sesudah  kembali ke 

rumah pemakaian nya harus diteruskan se­ 

lama 7 hari 

Kinetik.Walaupun bersifat lipofil, BA­nya 

rendah dan variabel. Makanan berlemak 

meningkatkan BA dengan faktor 2­3, sampai 

23% bagi tablet dan 47% bagi suspensi. PP­

nya hampir tuntas (99.9%). Masa paruhnya 

panjang yaitu 2­3 hari. sesudah  mengalami 

siklus enterohepatik, tanpa dirombak obat 

diekskresi bersama feses.

Efek samping yang tersering berupa ruam 

kulit, diare, mual, sakit perut dan kepala, 

pusing, demam dan sukar tidur. 

Dosis: pneumonia 3 x sehari 1 tablet (750 

mg) atau 2 x sehari 750 mg suspensi pada 

waktu makan (yang kaya akan lemak). 

Malaria tropica akut: 1 x sehari 1000 mg + 

proguanil 400 mg selama 3 hari, anak 31­ 40 

kg: 1 x sehari 750 + 300 mg, 21­30 kg 1 x sehari 

500 + 200 mg,  11­20 kg 1 x sehari 250 + 100 mg 

proguanil d.c.

Prevensi malaria tropica (bila meflokuin 

tidak dapat dipakai ): dewasa 1 x sehari 

1 tablet d.c. Malarone (= atovaquon 250 + 

proguanil 100 mg) selama maks. 4 minggu.

14108649_OBAT P(Bab 11)_T-171-188.indd   187 20/04/2015   20:22:13

Seksi II: Kemoterapeutika188

Anak­anak di bawah 40 kg tidak dianjurkan 

minum obat ini. 


OBAT-OBAT AMEBIASIS dAn

PEnYAKIT MEnULAR SEKSUAL


A. AMEBIASIS InTESTInALIS

A1. Disentri ameba (amebiasis intestinalis)

yaitu  penyakit infeksi usus yang ditim-

bulkan oleh Entamoeba histolytica, suatu mi-

kroorganisme anaerob bersel tunggal (pro-

tozoa). Dewasa ini dapat dibedakan 2 jenis 

spesies, yakni E. histolytica yang bersifat 

patogen dan E. dispar yang non patogen 

dan manusia merupakan tuan rumah (host) 

tunggal dari protozoa ini. sebab  kista dari 

kedua spesies ini identik, maka kadangkala 

timbul kekeliruan identifikasi mengenai 

pemicu nya pembawa kista asimtomatik. 

Untuk membedakan kedua jenis ini dapat 

dilakukan reaksi diagnostik yang disebut 

polymerase chain reaction (PCR). 

Penyakit ini tersebar di seluruh dunia dan 

banyak terjadi di negara (sub)tropik dengan 

tingkat sosio-ekonomi yang rendah dan 

kondisi higiene yang belum memadai. Bila 

tidak diobati penyakit dapat menjadi sistemik 

dan menjalar ke organ-organ lain, khususnya 

hati. Bentuk serius ini disebut amebiasis hati 

dan ditandai dengan abses dan/atau radang 

hati.

Jenis Entamoeba

Entamoeba histolytica memiliki dua bentuk, 

yaitu bentuk-minuta dan bentuk-histolitika. 

a. Bentuk-minuta (= bentuk-usus): amebiasis 

intestinalis menularkan penyakit langsung 

dari orang ke orang (kontak seksual) atau 

melalui makanan dan air minum (fecal-oral 

route) yang telah terinfeksi kista, yaitu bentuk 

inaktif dari ameba (Lat. minuta = kecil). Kista 

diliputi oleh suatu membran pelindung 

yang ulet, tahan asam (getah lambung) dan 

dapat hidup di luar tubuh. Di dalam usus 

halus kista berkembang menjadi bentuk 

aktif, yakni trofozoit yang terutama hidup 

dalam usus besar dan memperbanyak diri 

dengan cara pembelahan. Trofozoit biasanya 

hidup di colon sebagai komensal non-patogen, 

yakni membentuk kista tanpa memicu  

gejala penyakit. Kemudian kista-kista ini 

meninggalkan tubuh lewat tinja bersama 

trofozoit yang tak berubah. 

Gambar 12-1: Siklus hidup protozoa usus

Kista inilah yang memegang peranan 

dalam penularan penyakit lebih lanjut bila 

terbawa ke bahan makanan atau air minum 

oleh lalat atau tangan manusia yang tidak 

bersih. Dengan demikian lengkaplah siklus 

penyebarannya. Banyak orang yang disebut 

pembawa kista asimtomatis menjadi sumber 

infeksi bagi lingkungannya.

Trofozoit juga dapat berubah menjadi bentuk 

patogen dan dengan bantuan toksinnya sendiri 

serta enzim proteolitik, dapat menyerang 

mukosa usus. Terjadilah luka-luka kecil dan 

diare. Luka-luka ini sering memicu  

infeksi sekunder dengan bakteri dan timbul-

lah pemborokan (ulcerative colitis). Sering kali 

amebiasis usus berlangsung juga tanpa diare 

atau gejala lainnya yang nyata.

b. Bentuk histolitika (= bentuk jaringan): 

amebiasis hati. Dalam keadaan tertentu tro-

fozoit dapat menembus dinding usus dan 

mengalami perubahan, yakni tumbuh men- 

jadi kurang lebih dua kali lebih besar. Trofozoit 

besar ini menjalar melalui vena porta ke organ-

organ lain, a.l. jantung, paru-paru dan otak, 

khususnya hati. Di sini trofozoit hidup dari 

eritrosit dan sel-sel jaringan yang dilarutkan 

olehnya melalui fagositosis. sebab  itu disebut 

juga bentuk jaringan (Yun: histos = jaringan,

lisis = melarutkan). Akibatnya ialah nekrosis 

(jaringan mati), abses intra-hepatik dan reaksi 

radang yang dapat merusak hati (a.l. hepatitis). 

Penyakit ini sangat serius dan melalui dia-

fragma dapat menjalar ke paru-paru dan 

memicu  abses amoebik di bagian kanan 

bawah paru-paru. Bila tidak segera di obati 

sering kali berakibat fatal. Bentuk-jaringan 

tidak dapat membentuk kista.

Gejalanya

Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 

beberapa hari dan beberapa bulan sampai 

satu tahun. 

Amebiasis usus(disenteri ameba) yang 

akut memperlihatkan gejalanya yang 

menyerupai disentri basiler (Shigellosis). 

Awal infeksi ditandai oleh diare akut yang 

Gambar 12-1a: Siklus Entamoeba histolytica.

abses amuba 

hati, paru, otak

desentri amuba

tinja normal

saluran darah

kolon

kista

kista

kista

trofozoit

prakistaprakista


ringan dan berselang-seling (intermittent), 

biasanya berlanjut dengan diare yang 

mengandung lendir dan darah, kejang-

kejang, nyeri perut serta mulas pada hajat 

(tenesmus). Gejala lainnya berupa sakit 

kepala, mual dan anoreksia. 

Amebiasis hati gejalanya demam tinggi, 

mual, muntah-muntah dan nyeri di da-

erah hati yang memancar ke punggung 

atau bahu, juga pembesaran hati (hepa-

tomegalia) namun  dalam kebanyakan kasus 

tidak terjadi diare. 

 

Komplikasi jarang terjadi namun  dapat 

memicu  a.l. perforasi dinding kolon, 

peritonitis dan perdarahan. Komplikasi ju-

ga dapat memicu  jaringan granulasi 

fibrosis, biasanya di coecum dan bagian re c-

tosigmoid, yang disebut amoeboma. Kasus ini 

terjadi pada kira-kira 10% penderita yang 

dapat memicu  perdarahan, obstruksi 

dan kadang-kadang terdiagnosis keliru 

sebagai karsinoma (kanker).

Makanan atau minuman yang ter cemar 

kista melalui mulut masuk ke dalam tubuh 

dan berkembang menjadi trofozoit dalam 

usus, dan hidup sebagai bentuk minuta dalam 

rongga usus, yang selanjutnya menjadi kista 

dalam kolon yang dikeluarkan melalui feses. 

Bentuk minuta dapat menembus dinding 

usus dan melalui darah mencapai organ-

organ yang memicu  abses amuba. 

Disentri amuba diakibatkan oleh invasi dan 

peradangan dinding usus.

diagnosis

Diagnosis amebiasis dilakukan melalui pe- 

meriksaan mikroskopis dari kerokan (scrap-

ings) rektal atau feses terhadap trofozoit 

atau kista. namun  perlu berhati-hati untuk 

membedakannya dari ameba non-patogen 

atau dari sel darah putih. sebab  gejala 

itu  di atas tidak selalu tampak dengan 

jelas, maka penyakit agak sukar dikenali. 

Sering kali juga orang keliru dengan tukak 

usus atau radang kantung empedu. Pada 

amebiasis paru parasit dapat dideteksi dari 

sputum.

Pencegahan

Penyakit ini sukar dibasmi sebab  banyak nya 

pembawa kista tanpa gejala. Yang terpenting 

yaitu  peningkatan higiene perorangan dan 

pengadaan air bersih. Kista dapat dimusnah-

kan dengan memasak air sekurang-kurang-

nya 10 menit, sedang  pemurnian air me-

lalu i klorinasi diragukan efektivitasnya.

Penggolongan Obat

Obat antiprotozoa biasanya  di guna-

kan untuk infeksi oleh Entamoeba his tolytica, 

Trichomonas vaginalis, Giardia lamblia dan 

Pneumocystis carinii, walaupun batasan spesi-

fisitasnya tidak tajam. Beberapa dari obat-

obat ini dapat dipakai  sekaligus terhadap 

beberapa protozoa itu  di atas.

Obat amebiasis dapat dibagi dalam dua 

kelompok besar, yaitu zat amebisida kontak dan 

zat amebisida jaringan.

1. Obat amebisida kontak berdaya mema-

tikan dengan jalan kontak langsung bentuk 

minuta dalam rongga usus, namun  tidak di 

dalam hati. Obat-obat ini terdiri dari beberapa 

senyawa kimia, yakni:

a. senyawa nitro-imidazol: metronidazol dan 

tinidazol. Obat ini juga aktif terhadap ben-

tuk jaringan dan dapat dianggap obat 

amebisida umum. sebab  senyawa imi-

dazol ini diserap dengan baik di usus 

halus, maka efeknya terhadap kista di 

dalam rongga usus kurang efektif.

Di samping itu senyawa-senyawa ini 

juga berkhasiat terhadap protozoa lain, 

misalnya Trichomonas vaginalis dan Giardia 

lamblia. Obat-obat ini juga dipakai  

bagi penderita E. histolytica tanpa gejala 

(asimptomatik).

b.  antibiotika: tetrasiklin, eritromisin dan azi-

tromisin. Kerjanya tidak langsung teta-

pi melalui pemusnahan bakteri usus 

sehingga ameba tidak dapat hidup. Obat 

yang bekerja langsung terhadap kista be-

lum ada.

2. Obat amebisid jaringan berkhasiat ter-

hadap bentuk histolitika di dinding usus 

dan jaringan lain, yaitu zat-zat nitro-imidazol, 

(dehidro)emetin dan klorokuin. Pilihan perta-

ma yaitu  nitro-imidazol, sebab  juga aktif 

terhadap ameba bentuk usus. Emetin mema- 

tikan parasit di semua jaringan tubuh, namun  

jarang dipakai  lagi sebab  kardiotok-

sisitasnya. Derivat dehidronya yang kurang 

toksis masih dipakai  parenteral di daerah 

endemik.

Pengobatan 

1. Disentri ameba akut atau kronis pertama-

tama diobati dengan metronidazol (atau 

derivatnya), yang aktif terhadap semua 

bentuk Entamoeba. Guna meng hindari 

kambuhnya penyakit maka terapi perlu 

dilanjutkan dengan suatu amebisid kon-

tak untuk membasmi seluruh kista dalam 

rongga usus. Untuk tujuan ini dipakai  

diloksanida furoat (Furamide). 

Hilangnya gejala tidak berarti bahwa 

penyakit sudah sembuh dengan tuntas. 

Penyakit dikatakan sembuh total bila tinja 

tidak mengandung ameba lagi selama 6 

bulan.

Pemberian serentak tetrasiklin atau an-

tibiotika lain dianjurkan pada keadaan 

parah yang disertai infeksi sekunder oleh 

bakteri akibat pengobatan terlantar atau 

kondisi tubuh menurun.

2.  Amebiasis hati dan abses hati. Pengo-

batan juga dimulai dengan satu dosis 

metronidazol, bila perlu bersama klorokuin 

yang sekarang jarang dipakai  lagi. 

Akhirnya perlu juga diberikan dosis de-

ngan suatu amebisid kontak (diloksanida 

furoat) untuk mematikan bentuk minuta 

yang tersisa dan menghindarkan residif. 

3.  Karier kista tanpa gejala juga mutlak 

harus diobati, sebab  merupakan sumber 

infeksi potensial bagi orang lain maupun 

bagi dirinya sendiri, sebab  setiap waktu 

penyakit dapat menjadi akut lagi. Hal ini 

terutama penting sekali bila karier kista 

itu  bekerja dengan bahan makanan 

dan kurang memperhatikan dasar-dasar 

higiene. Pengobatan yang efektif dapat 

dilakukan dengan diloksanida (atau klio-

kinol) hingga tinja bebas dari kista.

Di bawah ini diberikan rangkuman obat-

obat amebiasis dengan khasiatnya terhadap 

bentuk minuta dan bentuk histolitika.

A2. Giardiasis

Giardia lamblia/intestinalis yaitu  protozoa 

dengan benang cambuk (flagelat) dan seperti 

Etamoeba histolytica dapat memicu  in-

feksi melalui air atau makanan yang terce-

mar kista. Kista dalam usus halus segera 

memperbanyak diri dan hidup di mukosa, 

hanya jarang menembusnya. Kebanyakan 

infeksi tidak memicu  gejala, misalnya 

mual, diare, sakit perut, kembung dan mala-

bsorpsi dari bahan makanan a.l. lemak. Giar-

diasis banyak ditemukan di daerah tropik dan 

pada wisatawan yang merupakan salah satu 

pemicu  traveller’s diarrhea. Untuk pengo-

batan giardiasis dapat dipakai  2 g metro-

nidazol sebagai dosis oral tunggal selama 3 

hari berturut-turut. Juga dapat dipakai  

tinidazol. 

A3. Trichomonas

Lihat dibawah B1

Bentuk-minuta

(disentri usus)

Bentuk-

histolitika

(amebiasis hati)Trofozoit Kiste

emetin  ++  -  +++

klorokuin  -  -  +++

metronidazol & deriv.  ++  ++  +++

diloksanida & deriv.  +++  +++  -

Tabel 12-1: Khasiat beberapa obat amebisida terhadap 

Entamoeba histolytica


B. PEnYAKIT MEnULAR 

SEKSUAL (PMS)

Penyakit Menular Seksual yaitu  sama tuanya 

dengan peradaban manusia.

Pada dasawarsa terakhir jumlah penya-

kit/infeksi menular seksual [(Sexuall y Trans-

mitted Disease (STD)] telah mening kat secara 

eksplosif di seluruh dunia. Hal ini disebab-

kan oleh sikap yang lebih terbuka dan terus 

terang terhadap seks, yang telah di mulai se-

kitar tahun tujuhpuluhan di abad yang lam- 

pau. Pada revolusi seksual ini segala sesua-

tu yang sebelumnya merupakan tabu bagi 

masyarakat umum tiba-tiba diper bolehkan 

oleh kelompok-kelompok pembaru masya- 

rakat. Walau-pun banyak orang tetap tidak 

dapat menyetujui penyimpangan norma- 

 norma yang dapat diterima masyarakat pada 

umumnya, lambat laun sikap keterbukaan 

terhadap seks tidak dapat dihentikan lagi 

dan merambah ke semua lapisan masya- 

rakat. Dampaknya yaitu  hubung an seksual 

tidak aman, perilaku berganti-ganti pasang-

an seksual, terutama antar sesama jenis 

memicu  meningkatnya penyakit me-

nular seksual (PMS) dengan pesat. Muncul-

nya penyakit AIDS pada awal tahun dela-

panpuluhan, yang semula selalu bersifat fatal, 

tidak dapat meng hentikan perkembang an 

ini.

Catatan: Di tahun 1997 pada Kongres 

IUVDT (International Union of Venereal Di-

seases and Treponematosis) di Australia, istilah 

PMS diubah menjadi IMS (Infeksi Menular 

Seksual), oleh sebab  semua penyakit yang 

termasuk dalam kelompok itu  merupa-

kan penyakit infeksi (Djajakusumah, 2008). 

namun  dalam bab ini kami akan tetap 

memakai  istilah PMS untuk kelompok 

penyakit ini.

Penularan

Di samping kontak seksual langsung dengan 

penderita yang sudah terinfeksi, sering kali 

ada  juga beberapa cara penularan lain, 

yaitu lewat darah, sebagai berikut.

a. Pada kegiatan merajah (tato) dan tindik 

dengan alat kurang higienis

b. Alat suntik (antar pemakai narkoba) yang 

terinfeksi (lebih dari 51% kasus sejak 

tahun 2001)

c. Ibu hamil kepada bayinya (HIV, hepatitis 

B/C, herpes simplex, gonore, sifilis)

d. Selama proses melahirkan bayi 

e. Transfusi darah yang terinfeksi

PMS tidak dapat ditularkan melalui kontak 

dengan gelas bekas penderita, batuk atau se-

ngatan serangga, juga tidak sebab  WC bekas 

dipakai  penderita HIV.

Gejala PMS

PMS tidak selalu menunjukkan gejala (sim-

tomatik) baik pada pria maupun wanita, wa-

laupun penderita dapat menularkan penya- 

kitnya pada orang lain. Pada beberapa PMS 

gejala atau tanda-tanda terinfeksi baru mun-

cul sesudah  berminggu-minggu, ber bulan-

bulan bahkan sampai bertahun-tahun.

PMS sebaiknya ditangani sedini mung-

kin agar dapat disembuhkan dengan tuntas. 

Bila tidak, penyakit dapat berlangsung terus 

tanpa keluhan, menjadi sangat parah dan tak 

dapat disembuhkan lagi.

Gejala-gejala yang dapat mengarah ke suatu 

PMS, namun  yang juga dapat diakibatkan oleh 

penyakit lain, yaitu  sebagai berikut:

a. getah (sekret) dari penis, vagina, atau anus, 

yang pada wanita jumlahnya bertambah, 

berwarna lain (kuning, hijau) atau berbau 

b. rasa terbakar, iritasi, atau nyeri selama 

atau sesudah berkemih atau sesudah ber-

senggama

c. tukak-tukak, gelembung-gelembung kecil, 

atau kutil pada alat kelamin dan sekitar 

mulut penderita

d. kelenjar bengkak atau nyeri perut bagian 

bawah

e. nyeri pada buah zakar

f. nyeri sewaktu berhubungan badan atau 

pendarahan abnormal pada wanita.

PMS yang paling sering terjadi

Di bawah ini diberikan rangkuman beberapa 

pemicu  penyakit menular seksual (PMS) 

yang dewasa ini paling banyak ada  di 

seluruh dunia.


A. Protozoa: Trichomonas

B.  Ragi: Candida

C.  Virus: herpes simplex virus, human papilloma 

virus, virus Hepatitis B/C dan HIV

D. Kuman: Chlamydia, Neisseria gonorroea dan 

Treponema pallidum

Kebanyakan PMS ini dapat disembuhkan bila 

dikenali dan diobati pada fasa dini. Dalam 

semua kasus pasangan penderita juga perlu 

ditangani supaya infeksi tidak menjalar lebih 

lanjut.

Pada bab ini akan dibahas hanya infeksi 

akibat Trichomonas dan kuman Chlamydia 

trachomatis, berikut penyakit gonore dan 

sifilis. PMS lainnya telah dibahas di Bab 6, 

Antimikotika dan Bab 7, Virusstatika.

Insidensi/epidemiologi

Pekerja Seks Komersial (PSK) yang dijangkiti 

PMS dari tahun ke tahun meningkat. Esti-

masi tahun 2006 menunjukkan jumlah Pe-

kerja Seks Komersial sebesar 221.000 orang 

dan pelanggan 3.160.000 orang memiliki 

prevalensi PMS sangat tinggi di wilayah 

Bandung yaitu antara lain gonore 37,4%, kla-

midia 34,5% dan sifilis 25,2%; besaran angka-

angka ini hampir sama untuk kota Jakarta 

(Adhitama, 2008).

sebab  para PSK cenderung bertukar 

pasangan seks, maka risiko penularan PMS 

pada kelompok masyarakat ini sangat besar.

Penyakit PMS membuat individu rentan 

terhadap infeksi HIV. Komisi Penanggulang-

an AIDS Nasional mengemukakan bahwa 

pengidap HIV/AIDS di negara kita  sebagian 

besar ditemukan diantara Pekerja Seks Ko-

mersial yang jumlahnya diperkirakan berki-

sar 190.000-270.000 orang.

Di seluruh dunia diperkirakan bahwa 

sekitar 35 juta orang terinfeksi HIV yang 

70% ada  di Afrika, khususnya di daerah 

Selatan dari gurun Sahara dan 5% terdiri dari 

orang dewasa. Infeksi kronis yang untuk 

waktu lama tidak diobati atau tidak dikenali 

pada waktunya, di samping menurunnya 

jumlah sel CD4+ lebih rendah dari 200 juta/L, 

akan selalu menjurus ke penyakit-penyakit 

oportunistik sangat serius dan fatal. 

Perlu diwaspadai bahwa memakan waktu 

sekitar 6-10 tahun sebelum gejala klinis dari 

infeksi-HIV timbul, bahkan dapat lebih lama 

dari 15 tahun (“long-term progressors”). 


B1. Trichomoniasis

Trichomonas vaginalis yaitu  protozoa ber-

ekor yang bermukim di saluran genital ma-

nusia yang terinfeksi, khususnya di uretra 

dan vagina. Infeksi terutama terjadi akibat 

kontak seksual. Bayi (perinatal) dapat tertu- 

lar pada saat dilahirkan oleh ibu yang ter-

infeksi. Sering kali infeksi berlangsung tan-

pa gejala atau hanya ringan. Infeksi pada 

pria umumnya berlangsung tanpa gejala, 

walaupun kadangkala terjadi radang salur-

an kemih (uretritis). Pada wanita gangguan 

ini memicu  radang vagina (vaginitis) 

dengan sekret kuning kehijauan yang berbu-

sa dan berbau busuk (keputihan), gatal-gatal 

dan sukar berkemih. pemicu  lain dari vagi-

nitis yaitu  ragi Candida albicans (lihat Bab 6, 

Antimikotika).

Pengobatan

Obat pilihan pertama yaitu  metronidazol 

dengan dosis oral tunggal 2 g sewaktu sarap-

an pagi, atau juga 2 x sehari 500 mg selama 

7 hari. Pasangannya juga perlu menjalani pe- 

ngobatan ini, ditambah obat yang efektif 

terhadap radang kandung kemih (cystitis) dan 

uretritis yang turut dideritanya. Bila ada  

resistensi terhadap metronidazol, dapat dibe-

rikan derivatnya tinidazol (Tindamax).Pada 

infeksi ekstravaginal dapat dipakai  secara 

topikal krem klotrimazol.

Wanita hamil tidak boleh diberikan obat-

obat ini selama trimester pertama dan sewak-

tu laktasi sebab  obat dikeluarkan melalui 

ASI dan memicu  rasa logam pada air 

susu.

B2. Kutil kelamin (jengger ayam)

Kutil kelamin diakibatkan oleh Human pa-

pilloma Virus (papilloma = bintil/kutil) dan 

sebetulnya tidak berbahaya, hanya menyu-

sah kan dan menjengkelkan. Sebuah tipe 

tertent u dari virus ini yaitu  pembangkit 

kanker leher-rahim pada wanita, untuk ini 

sejak beberapa tahun terakhir tersedia vak- 


sin profilaktik (2006, Gardasil). Selain se-

cara sek sual, infeksi juga dapat ditularkan 

melalui jari-jari atau handuk seorang pende- 

rita. Infeksi kebanyakan berlangsung tan- 

pa gejala, namun  pembawa virus bisa me-

nularkannya pada orang lain. Berhubung 

bentuknya yang terkadang menyerupai bu- 

nga kol atau jengger ayam, awam menye- 

butnya sebagai penyakit kelamin jengger 

ayam atau dalam istilah kedokteran Condy-

loma acuminata.

Masa inkubasinya antara beberapa ming-

gu sampai berbulan-bulan sesudah  kontak 

dengan virus tipe mukosa yaitu yang menye- 

rang selaput lendir. Pada wanita, kutil teru-

tama ada  di atau sekitar labia, liang vagi-

na dan dubur, pada pria sekitar ujung penis, 

testis dan juga dubur. Gejalanya yaitu  gatal-

gatal, nyeri dan rasa terbakar pada waktu 

berkemih. Tipe mukosa ini juga disebut HPV 

genital, sebab  terutama ada  di daerah 

sekitar alat kelamin luar dan liang dubur.

Pengobatan. Terhadap kutil yang berbentuk 

seperti kembang kol ini dahulu dipakai  

damar (larutan 25% dalam alkohol) yang 

diperoleh dari akar tanaman Podophyllum pel-

tatum yang a.l. mengandung zat antimitotik 

podophyllotoxin. Lihat Bab 14, Sitostatika.

Obat terbaru untuk Condyloma acumi-

nata (genital dan peri-anal) yaitu  krem 

imikuimod (Aldara, krem 5%), suatu imun-

modulator. dipakai  lokal 3 kali seminggu 

selama maksimal 16 minggu. Untuk sebagian 

kecil sekali diabsorpsi melalui kulit dan 

diekskresi lewat urin. Efek samping: gatal 

dan nyeri setempat, eritema, sakit kepala dan 

mual. 

Dalam kebanyakan kasus, kutil kelamin 

sembuh dengan spontan tanpa diberi obat, 

namun  kadangkala baru hilang sesudah  berta-

hun-tahun. Dokter dapat membekukan kutil 

dengan zat nitrogen cair, atau bila berbentuk 

untaian dokter memotongnya sesudah  dimati-

rasakan. Sebaiknya orang dengan kutil ge-

nital diperiksakan juga infeksi PMS lain.

B3. Klamidia

Chlamydia trachomatis yaitu  bakteri yang 

tersering memicu  PMS pada selaput 

lendir alat kelamin dan anus. Infeksi terjadi 

melalui kontak seksual dan kontak langsung 

dari mukosa, sering kali terkombinasi de-

ngan PMS lain. Sering kali, masing-masing 

50% sampai 80% dari kasus pria dan wani-

ta, infeksi berlangsung asimtomatis (tanpa 

gejala) dan tidak diobati, sehingga penyakit 

menjalar dengan memicu  pelengket-

an dan parut-parut di alat reproduksi dengan 

efek penderita dapat menjadi mandul.

Gejala pada pria berupa perasaan terba-

kar ketika berkemih, nyeri dan demam, ra-

dang saluran kemih (uretritis), disuria de-

ngan mengeluarkan nanah dari uretra dan 

frekuensi berkemih menjadi lebih sering, juga 

radang buah zakar. 

Pada wanita berupa urgensi (keinginan) 

berkemih yang lebih sering, rasa nyeri ketika 

berkemih, sekresi vagina berlebihan dan per- 

darahan, nyeri di perut bagian bawah, ka- 

dangkala infeksi mencapai rahim dan salur-

an telur dengan akibat radang saluran telur 

(salpingitis). Juga dapat memicu  ra-

dang selaput mata (conjunctivitis) dan pneu-

monia.

Kuman ini memicu  sekitar 50% in-

feksi uretra pada laki-laki yang bukan oleh 

gonore dan pada wanita infeksi leher rahim 

(serviks) yang juga bukan disebabkan oleh 

gonore. 

Diagnosis dapat ditegakkan melalui pem-

biakan kuman dari urin atau lebih pasti dari 

apus endoservikal.

Pengobatan: azitromisin dosis tunggal 2 ta-

blet dari 500 mg. Juga dapat diberikan eritro-

misin 1x sehari 500 mg selama 7 hari atau 

doksisiklin 2 x sehari 100 mg selama 7 hari. Ke-

beratan dari jangka waktu peng obatan selama 

1 minggu menurunkan kesetiaan terapi.

Pasangan seksualnya juga perlu diobati. 

B4. Gonore (kencing nanah)

pemicu  penyakit ini ditemukan oleh Al-

bert Neisser (1855-1916) yang menggambar-

kannya sebagai pasangan mikrokoki yang 

membentuk angka 8, ialah Neisseria gonor-

rhoeae, yang di tahun 1933 diberi nama resmi 

sesuai nama penemunya. 

Gonokok yaitu  suatu diplokok Gram ne-

gatif yang dapat menginfeksi selaput lendir 

saluran urogenital, poros usus, mulut dan 

mata. Bakteri sangat peka terhadap hawa ke- 

ring. Infeksi terutama berlangsung dan di-

sebarkan lewat kontak seksual, namun  bisa 

terjadi asimtomatik (10-50% pada masing-

masing pria dan wanita) dan sering kali 

memicu  kemandulan.

Masa inkubasi 2-14 hari, gejala muncul 

sesudah  2- 5 hari. Pada pria berupa uretritis, 

disuria dan getah bernanah. Pada wanita 

timbul getah vaginal berlebihan, nyeri pi-

nggul (pelvis) dan perdarahan, pada tahap 

lebih lanjut bisa tersebar pada sendi (artritis). 

Bayi yang dilahirkan ibu terinfeksi sering kali 

terpapar conjunctivitis, maka diberikan tetes 

mata dengan antibiotika.

Diagnosis dapat dilakukan secara mikros-

kopis dari persemaian sampel getah atau 

urin.

Pengobatan.

Pilihan pertama yaitu  seftriakson (Rocephin) 

1dd 500 mg i.m. 

Per oral dapat dipakai  dosis tunggal 

amoksisilin 3 g + probenesid 1 g.

Terhadap siprofloksasin ada  resistensi 

yg meningkat (37% di tahun 2011).

A.L.S. Neisser (1855-1916)

Discoverer of N.gonorrhoeae

B5. Sifilis (lues; raja singa)

“One night with Venus and a lifetime with 

Mercury.”

Joseph Gruenpeck, on syphilis, 1503 (“Semalam 

dengan dewi cinta dan seumur hidup dengan 

merkuri”)

Paul Ehrlich(1854-1915)

Treponema pallidum, pemicu  sifilis yang 

ditemukan oleh Fritz Schaudinn (1871-1906) 

dan Erich Hoffmann (1868-1959), yaitu  

spiroketa (berbentuk spiral) yang masuk ke 

dalam tubuh manusia melalui selaput lendir 

(misalnya di vagina atau mulut) via kontak 

seksual. Membelah sangat lambat sesudah  30 

jam dan pada tahap lanjut lebih lambat lagi. 

Masa inkubasinya berkisar antara 10-90 hari. 

Pada awal abad ke-16 senyawa merkuri 

(lihat kutipan di atas) merupakan obat uni-

versal terhadap sifilis di Eropa, walaupun 

kurang efektif. 

Di tahun 1909 Paul Ehrlich (1854-1915) ber-

sama pembantunya Sahachinro Hata (1873-

1938) menemukan (1910) obat antimikroba 

pertama, yang diberi nama Salvarsan dan 

ternyata sangat efektif terhadap Treponema 

pallidum tanpa merugikan sel-sel sehat. Ber-

hubung dengan toksisitasnya kemudian Sal-

varsan dimodifikasi dan dinamakan Neosal-

varsan.

sesudah  Perang Dunia Pertama penyakit 

sifilis baru dapat diterapi secara efektif de-

ngan ditemukannya penisilin oleh Alexander 

Fleming (1881-1955) pada tahun 1929. Untuk 

penemuannya Fleming dianugerahkan hadi-

ah Nobel di tahun 1945. 

Dewasa ini sifilis dapat disembuhkan de-

ngan baik, namun  bila tidak diobati dapat 

menyerang banyak organ lain dan berakhir 

fatal. 

Gejalanya. Pada tahap  primer timbul suatu 

ulkus (chancre keras) di penis atau vulva/

vagina tanpa nyeri yang sembuh spontan 

dalam waktu 2-3 minggu. 

tahap  sekunder sesudah 4-10 minggu 

ditandai dengan demam, sakit tenggorok dan 

sendi, ruam kulit berwarna cokelat merah 

dengan bintil-bintil, radang mukosa genital 

dan oral, juga gejala neurologi. Sekitar 50% 

pasien menderita pembesaran kelenjar getah 

bening di seluruh tubuhnya dan sekitar 10% 

menderita peradangan mata.

tahap  Laten. sesudah  penderita sembuh dari 

tahap  sekunder, penyakit akan memasuki tahap  

laten tanpa gejala sama sekali. tahap  ini bisa 

berlangsung bertahun-tahun atau berpuluh-

puluh tahun atau bahkan sepanjang hidup 

penderita. Pada awal tahap  laten kadang-

kadang luka yang infeksius timbul kembali.

Akhirnya tahap  ketiga yang bervariasi 

dari ringan sampai sangat parah, bercirikan 

gangguan jantung (sifilis kardiovaskuler), 

kelumpuhan umum dan tabes dorsalis (keru-

sakan sumsum tulang belakang).

Diagnosis

1. Tes penyaringan antibodi (mudah dan 

tidak mahal): yang dinamakan VDRL 

(venereal disease research laboratory) atau 

RPR (rapid plasma reagin).

2. Tes serologis (tes cardiolipin) dengan mi-

kroskop medan gelap (dark-field micro-

scope) untuk memperkuat hasil tes pe-

nyaringan yang positif.

Sebaiknya penderita diperiksa juga terha-

dap PMS lain.

Kit untuk pemeriksaan sendiri (self tests) 

dapat dibeli di beberapa apotik.

Pengobatan. Pada kedua fasa awal diguna-

kan dosis tunggal kerja panjang benzatin-

penisilin G 2,4 juta E (Penidural) terbagi in-

jeksi pada kedua bokong selama minimal 7 

hari. Penderita perlu dimonitor selama 2-3 

tahun.

MOnOGRAFI

1.  Emetin (F.I.)

Alkaloid ini ada  dalam akar tumbuh-

an Psychotria ipecacuanha (“Brazil root”)dan 

berkhasiat sebagai amebisid sistemik, ter-

utama terhadap bentuk histolitika. Emetin 

kurang aktif terhadap bentuk minuta, wa-

laupun sangat efektif untuk meredakan 

gejala parah akut dari amebiasis usus mau-

pun amebiasis hati. Dehidroemetin memi-

liki sifat farmakologi yang sama namun  

kurang toksik dibanding emetin. sesudah  

metronidazol yang memiliki khasiat lebih luas 

dan kardiotoksisitas lebih ringan, dipasarkan 

pertama kali sekitar tahun 1960, pemakaian  

emetin dan dehidroemetin sebagai obat ame-

biasis hati sudah sangat berkurang, kecuali 

bila ada  kontraindikasi terhadap peng-

gunaan metronidazol. Kini emetin praktis 

tidak dipakai  lagi. Untuk data lebih lanjut, 

lihat Edisi 4, p. 207.

2. Klorokuin (F.I.): Nivaquine, Resochin, Avlo-

clor.

Senyawa 4-aminokinolin ini selain ber-

khasiat anti malaria dan anti radang (lihat 

Bab 11, Obat Malaria dan Bab 21, Analgetika 

antiradang) juga berkhasiat amebisid ter-

hadap bentuk jaringan (amebiasis hati). Ker-

janya kurang kuat, sehingga biasanya hanya 

dipakai  dalam kombinasi dengan metro-

nidazol atau bila pengobatan dengan metroni-

dazol tidak efektif atau ada  kontraindikasi 

terhadap pemakaian nya. Tidak efektif ter-

hadap bentuk minuta dalam kolon, sebab  

kadar pada dinding usus jauh lebih rendah 

daripada di hati, juga sebab  resorpsinya di 

usus cepat dan praktis lengkap. Klorokuin 

berakumulasi di dalam hati sampai konsen-

trasi yang sangat tinggi (beberapa ratus kali 

lebih tinggi daripada kadar dalam plasma), 

sehingga sangat efektif terhadap abses hati dan 

amebiasis hati. Lewat pengobatan beberapa 

hari saja, gejala amebiasis hati sudah hilang. 

Pengobatan dengan klorokuin perlu disusul 

dengan diloksanida.

Efek samping jarang terjadi dan biasanya 

berupa sakit kepala, gatal-gatal, gangguan 

saluran cerna ringan (diare) dan gangguan 

akomodasi. Selain di dalam hati, klorokuin 

juga ditimbun di ginjal dan mata, sehingga 

pada terapi jangka panjang perlu diadakan 

pemeriksaan mata setiap 3 sampai 6 bulan.

Anak-anak sangat peka terhadap senyawa 

4-amino-kinolin sehingga pemakaiannya pa-

da anak-anak berusia 1-3 tahun perlu sangat 

hati-hati. Lihat selanjutnya Bab 11, Obat-Obat 

Malaria.

Dosis: pada amebiasis hati 2 kali sehari 300 

mg basa untuk 2 hari, kemudian 1 kali sehari 

300 mg selama 2-3 minggu. Anak-anak: 10 

mg/kg sehari selama 2-3 hari, maks. 300 mg/

hari.

- Klorokuin difosfat(Resochin, Avoclor) 250 

mg = 150 mg basa

- Klorokuin sulfat(Nivaquin) 137 mg = 100 

mg basa

3. Metronidazol: Flagyl, *Flagystatin, *Rodogyl.

Senyawa nitro-imidazol ini (1960) memiliki 

spektrum anti protozoa dan antibakterial 

yang luas. Berkhasiat kuat terhadap semua 

bentuk Entamoeba (a.l. E. histolytica), juga ter-

hadap protozoa patogen anaerob lainnya, 

seperti Trichomonas dan Giardia. Obat ini 

juga aktif terhadap semua kokus dan basil 

anaerob Gram positif dan Gram negatif, 

namun  tidak aktif terhadap kuman aerob. 

Metronidazol berkhasiat amebisid jaringan 

kuat dan amebisid kontak lemah, sebab  

resorpsinya di usus yang cepat, sehingga 

kadar dalam rongga usus tidak sempat 

mencapai kadar terapeutik tinggi.

Mekanisme kerja. Gugus nitro pada C5 dalam 

struktur kimia metronidazol yaitu  yang 

esensial bagi daya kerjanya. Metronidazol 

yaitu  suatu zat yang baru aktif (prodrug) 

sesudah  dalam organisme/bakteri gugusan 

nitro direduksi oleh enzim dan membentuk 

zat-zat-antara yang menghalangi sintesis 

DNA dan/atau merusak DNA, sehingga sin-

tesis asam nukleinat terganggu. Efek muta-

gen diperkirakan juga berdasar  meka-

nisme ini. Toksisitasnya juga lebih ringan 

dibandingkan emetin. 

pemakaian  obat ini merupakan pilihan 

pertama untuk amebiasis hati. Pada infeksi 

Helicobacter pylori (tukak usus duabelas jari) 

dipakai  sebagai pengobatan tripel/kua-

drupel bersama 2 atau 3 obat lain (bismut 

oksida, omeprazol, amoksisilin). Kombinasi 

multi-drug ini diperlukan sebab  cepatnya 

timbul resistensi dari Helicobacter terhadap 

metronidazol.

Metronidazol ada  dalam sediaan oral, 

intravena, intravaginal dan topikal.

Resorpsinya di usus baik sekali dengan 

BA 80%. PP-nya hanya ±11% dan plasma-

t½-nya 8 jam. Daya penetrasi ke jaringan 

dan cairan tubuh baik, termasuk ludah, air 

susu ibu, sperma, sekret vagina dan juga ke 

cairan serebro spinal (CCS) kecuali plasenta. 

Ekskresinya cepat melalui empedu (siklus 

enterohepatik).

Efek samping ringan dan berupa gangguan 

saluran cerna, mual, mulut kering dan rasa 

logam, sakit kepala, rash kulit dan ada kala-

nya leukopenia. Pengobatan harus dihen-

tikan bila timbul hilang rasa pada kaki/

tangan. Air kemih dapat menjadi cokelat 

kemerahan yang disebabkan oleh zat warna 

yang terbentuk. Selama terapi tidak boleh 

minum alkohol sebab  dapat memicu  

efek disulfiram (efek Antabus), yaitu intoksikasi 

asetaldehida dengan vasodilatasi perifer, muka 

merah, jantung berdebar-debar dan nyeri 

kepala. Penelitian pada tikus dan dosis tinggi 

pada manusia, obat ini ternyata bersifat 

mutagen dan karsinogen, yakni memicu  

kanker pada paru-paru dan buah dada. Oleh 

sebab  ini metronidazol tidak dianjurkan 

pemakaian nya untuk gangguan ringan se-

perti vaginitis, sebab  tersedianya obat-obat 

lain yang juga efektif. 

Metronidazol juga tidak boleh dipakai  

selama kehamilan triwulan pertama dan selama 

laktasi.

Dosis: pada amebiasis 3 x sehari 750 mg (= 

3 tablet senyawa benzoat) selama 5-10 hari, 

atau 1x sehari 2,5 g selama 2-5 hari; anak-anak 

30-50 mg/kg/hari dalam 3 dosis selama 5-10 

hari. Pada keadaan parah dapat dikombinasi 

dengan klorokuin atau tetrasiklin 4 x sehari 

250-500 mg.

Pada trichomoniasis oral sekaligus 2 g seba-

gai dosis tunggal, bila tidak efektif (sebab  

sering timbul resistensi) atau ada residif, tera-

pi diulang dengan pemberian 2 x sehari 500 

mg selama 7 hari. Tablet vaginal dari 500 mg 

malam hari selama 10 hari dapat membantu 

keberhasilan pengobatan. Bila perlu kur da- 

pat diulang sesudah  4-6 minggu. Untuk men-

cegah reinfeksi, pasangan prianya juga harus 

diobati. Keberhasilannya melebihi 90% terha-

dap infeksi trichomonas pada pria maupun 

wanita.

Pada giardiasis (lambliasis): 1 x sehari 2 g 

untuk 3 hari atau 3 x sehari 250 mg selama 

5-7 hari; anak-anak sampai 10 tahun: sehari 

20 mg/kg berat badan dibagi dalam 2-3 dosis 

selama 7 hari.

• Tinidazol (Fasigyn, Flatin). Derivat ini ju-

ga memiliki khasiat antiprotozoa yang luas 

dengan sifat lipofil yang lebih besar diban-

dingkan derivat-derivat nitro-imidazol lain-

nya. Berkhasiat lebih lama daripada metro-

nidazol dengan efek samping yang sangat 

ringan. Merupakan pengobatan lini pertama 

terhadap giardiasis.

Dosis pada amebiasis: sekaligus 4 tablet 500 

mg selama 3 hari, pada trichomoniasis dan 

giardiasis: dosis tunggal 4 tablet sudah mencu-

kupi.

4. Diloksanida: Furamide

Ester furoat dari derivat diklorasetamida ini 

(1957) sangat efektif terhadap bentuk minuta 

dalam usus. Diperkirakan furamide lebih 

efektif daripada kliokinol, namun  terhadap 

bentuk jaringan tidak berkhasiat. dipakai  

pula dalam bentuk ester furoat dengan re-

sor psi lebih ringan dan lambat daripada 

senyawa induknya diloksanida, sehingga da- 

pat melakukan aktivitasnya dalam rongga 

usus secara lebih intensif. Diloksanida furoat 

merupakan obat pilihan pertama untuk 

pengobatan karier kista yang asimtomatis. 

Efek samping ringan, antara lain gang gu-

an saluran cerna, terutama flatulensi, yaitu 

banyak gas tertimbun dalam usus.

Dosis: sebagai amebisid kontak untuk 

anak-anak di atas 12 tahun: 3 x sehari 1 tablet 

dari 500 mg a.c. selama 10 hari. Anak-anak 

di bawah 12 tahun: 20 mg/kg/berat badan 

sehari dalam 3 dosis.

5. Antibiotika amebisid.

Beberapa antibiotika berkhasiat anti ame-

biasis intestinal, yaitu beberapa senyawa 

tetrasiklin dan eritromisin. Kedua zat ini 

mengganggu flora usus yang dibutuhkan 

untuk perkembangan ameba patogen. 


ANTHELMINTIKA


Lebih dari 2 miliar manusia di seluruh dunia 

terinfeksi oleh cacing dan sering kali oleh 

beberapa jenis cacing sekaligus terutama di 

daerah tropik miskin.

Anthelmintika atau obat cacing (Yun. 

anti = lawan, helmins = cacing) yaitu  obat 

yang dapat memusnahkan cacing dalam 

tubuh manusia dan hewan. Dalam istilah 

ini termasuk semua zat yang bekerja lokal 

menghalau cacing dari saluran cerna maupun 

obat-obat sistemik yang membasmi cacing 

serta larvanya yang menghinggapi organ 

dan jaringan tubuh. Obat-obat yang tidak 

diresorpsi (mebendazol dan tiabendazol) le-

bih di utamakan untuk cacing di dalam rongga 

usus agar kadar setempat se tinggi mung-

kin, lagi pula sebab  kebanyakan anthel-

mintika juga bersifat toksik bagi tuan-rumah. 

Sebaliknya, terhadap cacing yang dapat 

menembus dinding usus dan men jalar ke 

jaringan dan organ lain, misalnya cacing ge-

lang, hendaknya dipakai  obat sistemik 

(ivermectin dan dietilkarbamazin) yang jus-

tru diresorpsi baik ke dalam darah hingga 

bisa mencapai jaringan.

PENYAKIT CACING

Infeksi cacing merupakan salah satu pe-

nyakit yang paling umum tersebar dan men- 

jangkiti lebih dari 2 miliar manusia di selu-

ruh dunia. Walaupun tersedia obat-obat ba- 

ru yang lebih spesifik dengan kerja lebih 

efektif, pembasmian penyakit cacing masih 

tetap merupakan suatu masalah a.l. disebab- 

kan oleh kondisi sosial-ekonomi di bebe-

rapa bagian dunia. Jumlah manusia yang 

dihinggapinya juga semakin bertambah aki-

bat migrasi, lalu-lintas dan kepariwisataan 

udara. Proyek-proyek irigasi untuk mening-

katkan agrikultur dapat pula memicu  

perluasan kemungkinan infeksi. Misalnya 

schistosomiasis (bilharziasis), penyakit ini ber-

kembang sebab  timbulnya kondisi yang me- 

nunjang pengembangan keong-keong, yang 

menjadi tuan rumah-antara bagi cacing schis-

tosoma.

biasanya  cacing jarang menimbul-

kan penyakit serius, namun  dapat menye-

babkan gangguan kesehatan kronis yang 

merupakan suatu faktor ekonomis sangat 

penting. Di negara berkembang, termasuk 

negara kita , penyakit cacing yaitu  penyakit 

rakyat umum yang sama pentingnya dengan 

misal-nya malaria atau TB. Infeksinya pun 

dapat terjadi simultan oleh beberapa jenis 

cacing sekaligus. Diperkirakan bahwa lebih 

dari 60% anak-anak di negara kita  menderita 

infeksi cacing.

PENuLArAN

Infeksi cacing umumnya terjadi melalui 

mulut, adakalanya langsung melalui luka 

di kulit (cacing tambang dan benang) atau 

lewat telur (kista) atau larvanya, yang ada 

di mana-mana di atas tanah. Terlebih lagi 

bila pembuangan kotoran (tinja) dilakukan 

dengan sembarangan (sistem riol terbuka) 

dan tidak memenuhi persyaratan higiene. 

Terutama anak kecil yang biasanya belum 

mengerti azas higiene, mudah sekali terkena 

infeksi. Tergantung dari jenisnya, cacing 

tetap bermukim dalam saluran cerna atau 

berpenetrasi ke jaringan. Jumlah cacing 

merupakan faktor menentukan apakah orang 

menjadi sakit atau tidak. 

Diagnosis. Prosedur esensial untuk men-

diagnosis infeksi cacing yaitu  melalui peme-

riksaan mikroskopis dari telur atau larvanya 

dalam tinja, urin, darah dan jaringan. Pe-

nentuan ini yaitu  penting sekali sebab  

daya kerja obat cacing kebanyakan ter gan-

tung dari jenis parasitnya.

GEjALA

Gejala dan keluhan dapat disebabkan oleh 

efek toksik dari produk pertukaran zat 

cacing, penyumbatan usus halus dan saluran 

empedu (obstruksi) atau penarikan zat gizi 

yang penting bagi tubuh. Sering kali gejala 

tidak begitu nyata dan hanya berupa gang- 

guan lambung-usus, seperti mual, muntah, 

mulas, kejang-kejang dan diare berkala 

dengan hilangnya nafsu makan (anoreksia). 

Obstruksi usus buntu dan saluran pankreas 

dapat memicu  appendicitis dan pancre-

atitis. Pada sejumlah cacing yang menghisap 

darah, tuan-rumah dapat menderita keku-

rangan darah, misalnya cacing tambang, pita 

dan cambuk. Sebagian penderita tidak mem-

berikan keluhan atau tidak menunjukkan 

gejala cacingan sama sekali. Misalnya pada 

orang-orang pembawa cacing atau telur/

kistanya (carriers). 

Dengan carrier dimaksudkan manusia atau 

hewan yang “menyimpan” dan menyebar-

kan mikroorganisme yang meng akibatkan 

penyakit, namun  sendirinya tidak jatuh sakit.

PENCEGAHANNYA

Tindakan umum yang perlu dilakukan ada- 

lah mentaati aturan higiene dengan tegas 

dan konsekuen, terutama oleh anak-anak. 

Yang terpenting di antaranya yaitu  selalu 

mencuci tangan sebelum makan atau se-

belum mengolah bahan-makanan. Jangan 

memakan sesuatu yang telah jatuh di tanah 

tanpa mencucinya terlebih dahulu dengan 

bersih. Dengan demikian infeksi mela- 

lui mulut yang paling sering terjadi, dapat 

dihindarkan. Selanjutnya untuk pemberan-

tasan infeksi cacing perlu diambil tindakan 

higiene umum yang mencakup perbaikan 

perumahan, lingkungan hidup dan sosial-

ekonomi.

jENIs CACING

Cacing yang merupakan parasit manusia 

dapat dibagi dalam dua kelompok, yakni 

cacing pipih dan cacing bundar.

1. Plathelminthes (flatworms): Cestoda dan 

Trematoda. 

Ciri-ciri cacing ini yaitu  bentuknya yang 

pipih dan tidak memiliki rongga tubuh. 

a. Cacing pita (Cestoda): Taenia, Echino coccus, 

Hymenolepsis, dan lain-lain

 Parasit ini memiliki kelamin ganda (her-

mafrodit), berbentuk pita yang bersegmen, 

dan tidak memiliki saluran cerna. Echi-

nococcus memiliki tuan-rumah tetap 

(anjing) dan larvanya membentuk kista di 

organ dalam.

b. Cacing pipih (Trematoda): Schistosoma, 

Fasciola dan lain-lain.

 Umumnya cacing ini berbentuk seperti 

daun dan juga bersifat hermafrodit, ke-

cuali spesies skistosoma yang berbentuk 

lebih memanjang dan memiliki kelamin 

terpisah. Skistosoma (bilharzia) menulari da-

ri bentuk aktifnya (cercariae). Fasciola (ca-

cing hati) khusus ada  pada domba 

dan memicu  a.l. pembesaran hati, 

jarang sekali menulari manusia. Infeksi 

cacing ini dinamakan masing-masing schis-

tosomiasis (bilharziasis) dan fascioliasis.

2. Nematoda (roundworms): Oxyuris, Ascaris, 

Ancylostoma, Strongyloides, Trichuris.

Infeksi dengan cacing ini dinamakan ma- 

sing-masing oxyuriasis (cacing kermi), asca-

riasis (cacing gelang). ancylostomiasis (cacing 

tambang), strongyloidiasis dan trichuriasis (ca-

cing cambuk). Infeksi dapat terjadi melalui 

telur, larva atau cacingnya sendiri, melalui 

mulut atau langsung melalui kulit.

Ciri-cirinya. Bertubuh bulat, tidak berseg-

men, memiliki rongga tubuh dengan saluran 

cern a nyata dan kelamin terpisah. Siklus hidup 

cacing ini cukup kompleks dan sering kali 

membutuhkan tuan rumah-antara sebelum 

terjadi perkembangan dari telur hingga ca-

cing dewasa. Pada manusia, tergantung dari 

jenis nya, cacing tetap bermukim dalam sa-

luran cerna atau menembus hingga jaringan. 

Untuk penyakit, cara infeksi, penyebaran dan 

peng obatannya, lihat tabel di bawah ini.

PENGobATAN

Banyak anthelmintika memiliki khasiat yang 

spesifik terhadap satu atau dua jenis cacing 

saja. Hanya beberapa obat yang memiliki 

khasiat terhadap lebih banyak jenis cacin g 

(broad spectrum), misalnya mebendazol. Oleh 

Gambar 13-0: Cacing pita manusia

sebab  itu pengobatan harus selalu didasar-

kan atas diagnosis jenis cacing dengan jalan pe-

nelitian mikroskopis.

Posmedikasi. Banyak anthelmintika dalam 

dosis terapi hanya bersifat melumpuhkan 

cacing, jadi tidak mematikannya. Untuk men- 

cegah jangan sampai parasit menjadi aktif 

lagi atau sisa-sisa cacing mati dapat menim- 

bulkan reaksi alergi, maka harus dikeluar-

kan secepat mungkin. Biasanya diberikan 

suatu laksans garam 2-4 jam sesudahnya. 

Minyak kastor tidak boleh dipakai , kare-

na banyak anthelmintika melarut di dalam- 

nya hingga resorpsi obat dan toksisitasnya 

meningkat. Pencaharan tidak diperlukan pa-

da obat yang bersifat laksans seperti pipera-

zin atau berkhasiat vermisid, mematikan 

cacing seperti mebendazol, niklosamida dan 

praziquantel. Bila ada  anemia pasien 

juga harus diobati dengan sediaan yang me-

ngandung besi, lihat Bab 39, Hemopoetika.

jENIs PENYAKIT CACING

Jenis-jenis cacing dapat pula dibagi dalam 

3 kelompok, yaitu nematoda (roundworm), 

cestoda (cacing pita) dan trematoda (cacing 

penghisap). Infeksi oleh nematoda dapat 

C = cestoda (cacing pita) N = nematoda (cacing gelang)

Penyakit dan parasit Lokasi di tubuh  Cara penularan Penyebaran

geografis 

Pengobatan

Ascaris

Ascaris lumbricoides (N)

(cacing gelang biasa)

Usus halus;

larva melalui

paru-paru

Makanan/tanah 

terinfeksi tinja dg 

telur cacing.

Seluruh dunia;

sangat umum

piperazin

thiabendazol

.

Enterobiasis

E. vermicularis (N);