lu sebagai obat
rematik, lihat Bab 21, Analgetika anti radang/
rema.
Resorpsinya di usus cepat dan lengkap; dis
tribusinya baik dengan afinitas kuat untuk
jaringan, misalnya hati, limpa, paruparu dan
ginjal, pada mana kadarnya bisa tinggi sekali
sampai ratusan kali dibandingkan dengan
plasma. PPnya ± 55%, biotransformasi ber
langsung lambat. Ekskresinya melalui ginjal
juga lambat sekali dan sebagian dikeluarkan
dalam bentuk utuh. Ekskresi dapat dipercepat
dengan mengasamkan kemih dengan amo
nium klorida atau vitamin C. Plasmat½nya
sangat panjang, yaitu 3 sampai 6 hari, sehingga
kerjanya disebut long-acting.
Efek samping pada dosis biasa bersifat
agak serius, namun tidak sering terjadi dan
reversibel, yaitu gangguan saluran cerna, ke
jangkejang, sakit kepala, gatalgatal, gang
guan penglihatan, perubahan mental dan
kelainan darah (agranulositosis, anemia aplas-
tis). Pada dosis tinggi (lebih dari 250 mg
sehari) atau pemakaian lama (di atas 1
tahun), efek sampingnya lebih parah, yaitu
rambut rontok, gangguan pendengaran (tuli)
dan kerusakan mata (retinopati menetap!)20.
Anak-anak sangat peka terhadap klorokuin; do
sis tunggal melebihi 30 mg/kg berat badan
dapat memicu keracunan fatal.
Dosis biasa: pada serangan akut oral per
mulaan 600 mg basa pada waktu makan, 6
jam kemudian 300 mg, kemudian 1 x sehari
300 mg selama 2 hari. Orang asing yang tidak
semi imun harus meneruskan kur 2 hari lagi.
Bagi anakanak dosis awal 5 mg/kg berat
badan sehari. pemakaian intravena hanya
dilakukan pada keadaan parah, misalnya
malaria otak, sebab ada bahaya hipo
tensi mendadak disertai kematian, terutama
pada anakanak. Sebagai profilaktik (di atas
usia 15 tahun): pada 2 hari pertama 1 x sehari
300 mg (loading dose).
Sediaan. Resochin dan Avloclor: 250 mg
klorokuin fosfat (= 150 mg basa); Nivaquin:
100 mg basa.
* Hidroksiklorokuin (Plaquenil) yaitu de
rivat hidroksi yang sama kuatnya, namun
dengan efek samping lebih ringan. Dahulu
lebih banyak dipakai sebagai obat rematik
(lihat Bab 21).
3. Meflokuin: Lariam.
Senyawa 4aminokinolon sintetik ini (1981)
berkhasiat skizontisid darah dari semua
Plasmodia. Kadar dalam eritrosit 24 x lebih
tinggi daripada dalam plasma. Tidak berdaya
terhadap semua bentuk hati. Senyawa ini
dipakai terhadap malaria yang resisten
terhadap klorokuin dan kinin, juga sebagai
obat profilaktik. sebab efek preventif baru
efektif sesudah tercapai kadar stabil dalam da
rah, sesudah ratarata menelan 4 tablet, maka
perlu dimulai 3 minggu sebelum keberang
katan ke daerah endemik malaria.
Resorpsi lambat dan tidak menentu, rata
rata 87%, PPnya 98%, plasmat½nya rata
rata 21 jam. Ekskresi terutama melalui em
pedu dan feses.
Efek samping pada dosis tinggi berupa gejala
neuropsikis, seperti perasaan takut, gelisah,
agitasi, depresi, mimpi buruk, sukar tidur
dan sukar konsentrasi. Gejala ini terjadi lebih
buruk pada 1:10.000 pasien. Gejala disertai
pula pusingpusing, gangguan lambung
usus dan anoreksia. Wanita hamil tidak boleh
minum obat ini 3 bulan sebelum hamil dan
pada trimester pertama.
Dosis: pada serangan akut (di atas 15 kg
berat badan) dosis tunggal dari 15 mg/kg,
maksimal 1 g, bila perlu diulang sesudah 1
minggu (saran WHO). Profilaksis: 3 minggu
sebelum berangkat 1x seminggu 250 mg
basa sebelum makan., kemudian 250 mg
seminggu sampai 4 minggu sesudah pulang.
Alternatifnya yaitu 250 mg pada hari ke 1,
2, 3 dan 8, lalu 1 tablet seminggu. Pada dosis
ini risiko akan efek samping psikis menjadi
lebih tinggi.
4. Primakuin (F.I.)
Senyawa 8aminokinolin (dengan NH2
pada posisi8, 1948) merupakan obat satu
satunya yang berkhasiat mematikan bentuk-
EE sekunder dari P. vivax maupun P. ovale dan
dapat menghasilkan penyembuhan radikal.
Zat ini juga aktif terhadap bentuk-EE primer
dari terutama P. falciparum, namun kerjanya
terlalu lambat sehingga sebaiknya tidak di
gunakan untuk terapi. Selain itu, bekerja
gametosid pada semua jenis Plasmodium,
sehingga dapat mencegah penyebaran infeksi
dari manusia ke nyamuk. Primakuin kurang
efektif terhadap bentuk darah.
pemakaian nya hanya terbatas pada follow-
up penanganan serangan akut dengan suatu
skizontisida (kinin atau klorokuin), sebab
aktivitasnya terhadap siklus darah lemah
sekali. Untuk pemakaian lama sebagai pen
cegah kausal terlalu toksik.
Resorpsi di usus baik dan cepat, begitu pula
metabolismenya dalam hati. Ekskresinya me
lalui ginjal dan sebagian besar berupa meta
bolit. Plasmat½nya 36 jam. Resistensi dari
P. vivax sudah ada di Asia Tenggara dan
Afrika.
Efek samping pada dosis biasa agak ringan,
sedang pada dosis lebih besar dapat
memicu gangguan saluran cerna, nyeri
kepala, gangguan penglihatan dan gatalga
tal. Jarang sekali terjadi kerusakan selsel
darah (hemolisis, leukemia, anemia).
Suatu enzim yang normal ada da
lam sel darah merah yaitu glukosa-6-fosfat
dehidrogenase (G6PD) yang berfungsi meng
atur kadar glutation (GSH), suatu antioksidan
alamiah. Obat anti malaria seperti primakuin
meningkatkan fragilitas sel darah merah
dengan akibat memicu anemia hemo
litik parah pada orang yang menderita de
fisiensi enzim ini.
Dosis: sebagai penyembuh radikal 1 x sehari
15 mg basa (= 27 mg difosfat) selama 14 hari
atau 1 x seminggu 45 mg selama 68 minggu.
Sebagai pencegah penularannya ke nyamuk: 3 x
sehari 7,5 mg basa selama 3 hari.
5. Proguanil: kloroguanida HCl, Paludrine
Derivat biguanida ini (1946) yaitu anta-
gonis folat yang terutama berkhasiat mema-
tikan bentuk-EE primer P. falciparum, te
tapi terhadap P. vivax tidak begitu aktif.
Juga tidak efektif terhadap bentukEE seku
nder, sehingga tidak dapat menghindari se
rangan “delayed” dari P.vivax/ovale. Sebagai
skizontisida darah efeknya jauh lebih lemah
daripada klorokuin dan kinin, sehingga ku
rang efektif terhadap serangan akut malaria.
Di samping itu bekerja sebagai gameto-
sida yaitu merusak gametosit, sehingga di
dalam tubuh nyamuk tidak berkembang
menjadi sporozoit. berdasar sifatsifat
ini proguanil khusus dipakai sebagai pro-
filaktik kausal, terutama untuk daerah di mana
tidak ada resistensi, seperti negara kita .
Kadangkala proguanil juga dipakai seba
gai obat supresif.
Mekanisme kerjanya menghambat akti vi tas
enzim dihidrofolat-reduktase, sehingga parasit
tidak dapat mensintesis asam folat yang
merupakan unsur mutlak bagi asam nukleinat
(RNA/DNA), sehingga pembelahan intinya
terhenti.
Resorpsi di usus agak lambat namun baik,
PPnya ± 75%, plasmat½nya panjang, ± 20
jam. Di dalam hati zat ini dirombak menjadi
sikloguanil aktif yang diekskresi bersama zat
utuhnya lewat saluran kemih.
Efek samping jarang dan ringan, berupa
muntah, nyeri lambung, stomatitis dan ano
reksia. Dari semua obat malaria proguanil
yaitu yang paling tidak toksik. Resistensi
dapat terjadi untuk semua jenis Plasmodium
dan juga ada resistensi silang dengan
pirimetamin, yang juga bersifat antagonis
asam folat. Kombinasi kedua obat ini tidak
diperbolehkan, sebab meningkatkan toksi
sitas masingmasing.
Dosis: sebagai pencegah kausal bagi orang
yang tidak semiimun, 2 x sehari 100 mg se
sudah makan pada jam yang sama, dimulai
1 minggu sebelum tiba di daerah malaria
sampai 4 minggu sesudah meninggalkannya.
6. Pirimethamin: Daraprim, *Fansidar
Derivat pirimidin ini memiliki rumus yang
berkaitan dengan gugusan biguanida dari
proguanil. Sebagai antagonis folat kegiatannya
lebih kurang sama, namun jauh lebih kuat.
Berkat daya gametosidnya (secara tidak
langsung) pirimetamin dipakai juga pada
pemberantasan malaria tersiana dan kwartana
di daerah endemik untuk menghentikan pe
nularan melalui nyamuk. Obat ini tidak aktif
terhadap gametosit falciparum, maka harus
dipakai primakuin.
pemakaian nya terutama sebagai pen-
cegah kausal malaria tropika untuk jangka
waktu singkat. Sebagai zat supresif pada
semua jenis malaria juga efektif, namun
sebagai zat kuratif pada serangan akut
tidak cocok sebab kerjanya terlalu lambat.
Kombinasinya dengan suatu skizontisida
darah sering kali dipakai , misalnya
dengan klorokuin. Kombinasinya dengan
proguanil meningkatkan toksisitas, maka
harus dihindari.
Resorpsi dari usus lengkap namun lambat,
begitu pula ekskresinya melalui ginjal dan
tinja sebagai metabolit. Zat ini ditimbun
dalam berbagai organ, antara lain hati.
Plasmat½nya panjang sekali, lebih kurang 4
hari. PPnya 87%.
Efek samping pada pemakaian satu kali
seminggu hanya ringan. Pada dosis yang
lebih besar dapat terjadi gangguan saluran
cerna, sedang pada pemakaian lama
terjadi depresi sumsum tulang dan anemi
defisiensi asam folat. Zat ini tidak dapat dig
unakan sebagai obat tunggal untuk pengo
batan maupun profilaksis, sebab tingginya
resistensi terhadap P. falciparum. sebab bersifat
teratogen, obat ini tidak boleh diminum oleh
wanita hamil.
Dosis: sebagai pencegah kausal terutama
pada malaria tropika dan sebagai obat su
presif (untuk orang tidak semi imun) oral 1
kali seminggu 25 mg atau 1 tablet *Fansidar
terhadap P. falciparum yang resisten untuk
klorokuin, sebaiknya maksimal 4 minggu.
Penduduk setempat yang sudah semi imun
lebih baik jangan diberikan obat ini meng
ingat bahaya resistensi.
* Fansidar = pirimetamin 25 mg + sulfadoksin
500 mg.
Sulfadoksin yaitu suatu sulfonamida
kerja panjang yang berdaya skizontisid da-
rah, seperti klorokuin. Efek pirimetamin di
perkuat oleh sulfadoksin yang juga merin
tangi sintesis asam folat dari PABA, namun
dengan titik kerja berlainan, atas dasar prinsip
“blokade berturut”, lihat Bab 8, Sulfonamida,
Kotrimoksazol.
pemakaian nya terutama untuk mengobati
(dan mencegah) infeksi akibat P. falciparum.
Obat ini kurang aktif terhadap P. vivax dan
P. malariae, juga terhadap toksoplasmosis, yaitu
suatu infeksi dengan protozoa Toxoplasma
gondii.
Farmakokinetik sulfadoksin mirip dengan
pirimetamin. Resorpsi di usus baik, plasma
t½nya lama (48 hari) dan ekskresi melalui
urin sebagai metabolitnya.
Efek samping tidak sering terjadi, namun
sebagian orang sangat peka untuk sulfona
mida yang dapat memicu reaksi ku
lit. Misalnya Sindrom Stevens-Johnson yang
ditandai semacam eritema bernanah ganas
dengan demam dan mortalitas tinggi, foto
sensitif, demam, penyakit kuning dan agra
nulositosis. Mengingat efek ini, maka tidak
dianjurkan pemakaian nya sebagai obat
pencegah.
Dosis: sebagai kurativum pada serangan akut
malaria di atas 13 tahun: oral dosis tunggal 3
tablet p.c.; anakanak 913 tahun: 2 tablet; 58
tahun: 1 tablet dan 14 tahun: ½ tablet. Sebagai
pencegah kausal orang “luar” (di atas 15 th) 1x
seminggu 1 tablet; orang semi imun 23 tablet
setiap 4 minggu. Pada toksoplasmosis: 1 x 2
tablet seminggu sampai 46 minggu sesudah
sembuh.
* Trimetoprim (kotrimoksazol, *Bactrim) yaitu
derivat (1961) yang berkhasiat sama dengan
pirimetamin, namun lebih aktif terhadap bak
teri daripada terhadap Plasmodium. Oleh
sebab itu, obat ini banyak dipakai da
lam kombinasi dengan sulfametoksazol (=
kotrimoksazol) sebagai kemoterapeutik bakte
risid kuat pada berbagai macam infeksi
bakteri, lihat Bab 8, Sulfonamida.
7. Artemeter
Senyawa benzodioksepin ini (1995) yaitu
derivat semi sintetik dari artemisinin yang
terkandung dalam tumbuhan kuno China
qinghaosu (sweet wormwood, Artemisia annua).
[Pelafalan: cinghausu, dalam bah. China
berarti: tumbuhan hijau]. Penemuan ini
yaitu suatu “hadiah” (true gift) berasalkan
pengobatan asli China dan merupakan suatu
cerita menakjubkan dari ditemukannya suatu
“obat baru” dari “cara pengobatan tua”. Tu
Youyou, Nature Medicine, 2011.
Tumbuhan ini banyak ada di China
dan Vietnam, juga di Eropa dan AS. Godokan
tumbuhan ini sudah sejak abad keempat
dipakai di China untuk mengobati wasir
dan penyakit demam, termasuk malaria.
namun baru pada tahun 1972 zat aktif diisolasi
dan ditentukan struktur kimianya.
Kimia. Artemisinin yaitu senyawa ses-
quiterpenlacton dengan suatu jembatan pero
ksida di dalam cincin ke7, yang diperoleh
dari ekstrak eter daun dan kembang A. annua.
sesudah reduksi sampai derivat dihidro dan
lalu dimetilasi terbentuk artemeter (hasilnya
60%), sedang etilasi menghasilkan arte-
eter. Artesunat yaitu hemisuksinat dari di
hidroartemisinin dengan aktivitas sama.
Khasiat. Berkhasiat skizontisid kuat dan
sangat cepat terhadap skizont darah dari
P. falciparum dan P. vivax, juga yang multi
resisten. Semua parasit dimatikan dalam
waktu 24 jam! Khasiat artemisinin ini ber
dasarkan 2 langkah; pertama jembatan endo
peroksida di dalam molekulnya dibuka,
sehingga terbentuk radikal bebas (RB). Pada
tahap ke 2 parasit dimusnahkan oleh RB dengan
jalan mengalkilasi proteinnya. “Penangkap”
RB (antioksidansia) seperti vitamin C, E dan
asetilsistein mengurangi khasiat anti mala
rianya. Begitu pula zatzat yang mengikat
besi, sebab artemisinin bekerja selektif ter
hadap Plasmodium dengan jalan aktivasi
oleh besi dari hemoglobin darah.
pemakaian . Sudah lebih dari 20 tahun
senyawa ini dipakai secara eksperimental
dengan efektif di China Selatan (Hainan),
Vietnam, Thailand dan Birma terhadap P.
falciparum yang resisten terhadap klorokuin
dan sulfadoksinpirimethamin. Efek obat ini
pada malaria otak ternyata sama efektifnya
dengan kinin (Vietnam, Gambia). Di China
dan Thailand sudah diregistrasi. Guna me
ngurangi risiko residif yang tinggi, WHO
menganjurkan kombinasi (ACT = artemisinin
combination therapy) dari obat kerja pendek
yang unggul dan agak murah ini bersama
meflokuin dengan kerja lebih panjang untuk
efektif memberantas malaria, di samping
menghindari resistensi. Di benua Afrika rata
rata 3000 penderita malaria per hari menggu
nakan obat ini.
Catatan: dilaporkan bahwa parasit malaria
juga mulai resisten (Cambodia) terhadap
artemisinin (New England Journal of Medicine,
2008;359:2619-20). Oleh sebab itu WHO te
lah melarang pemakaian obat ini sebagai
monoterapi (“Stop the marketing of oral arte-
misinine monotherapy“) dan menganjurkan
pemakaian nya dikombinasi dengan obat
anti malaria lain.
1. Nature, 2009;460:3101
2. Dondorp AM, Nosten F, Poravuth Y, et
al. Artemisinin Resistance in Plasmodium
falciparum malaria. N Engl J Med 2009;
361: 455467.
Terhadap infeksi P. vivax, senyawa ini perlu
dikombinasi dengan primakuin, sebab tidak
aktif terhadap hipnozoit. Di samping itu
diperkirakan berkhasiat gametosid sehingga
berguna untuk mengurangi transmisi pe
nyakit.
pemakaian kombinasi dengan lumefan-
trin (Coartem) merupakan pengobatan lini
pertama yang sangat efektif terhadap malaria
di benua Afrika.18
namun artemisinin jangan dipakai seba
gai obat pencegah sebab masa paruhnya
yang singkat.
Selain daya kerja anti malarianya, qing
haosu juga berdaya anti tumor dan mem-
perkuat sistem imun, mungkin berkat kan
dungan lain daripada artemisinin.
Kinetik. Dalam hati hampir lengkap di
ubah menjadi zat aktif dihidro-artemisinin.
PPnya ± 77%, plasmat½nya 12 jam, dari
metabolitnya ± 4 jam.
Efek samping pada pemakaian oral berupa
mual, muntah dan sakit perut, intramuskuler:
nyeri di tempat injeksi. Pada dosis tinggi se
kali bekerja neurotoksik pada binatang per
cobaan.
Sediaan dalam bentuk supositoria (10 mg/
kg) dipakai bagi penderita (anakanak)
yang tidak dapat menelan, misalnya sebab
muntah. Resorpsinya cepat dan terutama
penting sebagai pertolongan pertama di da
erah terpencil yang tidak memiliki fasilitas
pengobatan yang memadai.
Dosis: hari pertama oral 1 x sehari 6 tabl
dari 50 mg, hari ke 25 1 x sehari 100 mg, i.m.
hari pertama 300 mg (= 3 ml), hari 25 i.m. 100
mg.
Artemisinin: oral hari pertama 25 mg/kg,
hari 27 12,5 mg/kg.
Artesunat: oral hari pertama 4 mg/kg, hari
23 2 mg/kg, hari 47 1 mg/kg.
8. Atovaquon: Wellvone, * Malarone
Senyawa naftochinon ini (1994) berkhasiat
anti protozoa dengan jalan merintangi sinte
sis asam nukleinat dan ATP. Efektif terha
dap a.l. Pneumocystis carinii pneumoniae, Toxo-
plasma gondii dan P. falciparum. dipakai
pada pneumonia akibat Pneumocystis pada
pasien yang tidak dapat minum kotrimo
ksazol. Mulai tahun 2000 semakin banyak
dipakai bersama proguanil sebagai zat
skizontisid darah/hati untuk mencegah dan
mengobati malaria tropica yang resisten ter
hadap obat lain. Untuk profilaksis perlu
dimulai 12 hari menjelang keberangkatan ke
suatu tempat berisiko dan tiap hari selama
bermukim di tempat ini. sesudah kembali ke
rumah pemakaian nya harus diteruskan se
lama 7 hari
Kinetik.Walaupun bersifat lipofil, BAnya
rendah dan variabel. Makanan berlemak
meningkatkan BA dengan faktor 23, sampai
23% bagi tablet dan 47% bagi suspensi. PP
nya hampir tuntas (99.9%). Masa paruhnya
panjang yaitu 23 hari. sesudah mengalami
siklus enterohepatik, tanpa dirombak obat
diekskresi bersama feses.
Efek samping yang tersering berupa ruam
kulit, diare, mual, sakit perut dan kepala,
pusing, demam dan sukar tidur.
Dosis: pneumonia 3 x sehari 1 tablet (750
mg) atau 2 x sehari 750 mg suspensi pada
waktu makan (yang kaya akan lemak).
Malaria tropica akut: 1 x sehari 1000 mg +
proguanil 400 mg selama 3 hari, anak 31 40
kg: 1 x sehari 750 + 300 mg, 2130 kg 1 x sehari
500 + 200 mg, 1120 kg 1 x sehari 250 + 100 mg
proguanil d.c.
Prevensi malaria tropica (bila meflokuin
tidak dapat dipakai ): dewasa 1 x sehari
1 tablet d.c. Malarone (= atovaquon 250 +
proguanil 100 mg) selama maks. 4 minggu.
14108649_OBAT P(Bab 11)_T-171-188.indd 187 20/04/2015 20:22:13
Seksi II: Kemoterapeutika188
Anakanak di bawah 40 kg tidak dianjurkan
minum obat ini.
OBAT-OBAT AMEBIASIS dAn
PEnYAKIT MEnULAR SEKSUAL
A. AMEBIASIS InTESTInALIS
A1. Disentri ameba (amebiasis intestinalis)
yaitu penyakit infeksi usus yang ditim-
bulkan oleh Entamoeba histolytica, suatu mi-
kroorganisme anaerob bersel tunggal (pro-
tozoa). Dewasa ini dapat dibedakan 2 jenis
spesies, yakni E. histolytica yang bersifat
patogen dan E. dispar yang non patogen
dan manusia merupakan tuan rumah (host)
tunggal dari protozoa ini. sebab kista dari
kedua spesies ini identik, maka kadangkala
timbul kekeliruan identifikasi mengenai
pemicu nya pembawa kista asimtomatik.
Untuk membedakan kedua jenis ini dapat
dilakukan reaksi diagnostik yang disebut
polymerase chain reaction (PCR).
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia dan
banyak terjadi di negara (sub)tropik dengan
tingkat sosio-ekonomi yang rendah dan
kondisi higiene yang belum memadai. Bila
tidak diobati penyakit dapat menjadi sistemik
dan menjalar ke organ-organ lain, khususnya
hati. Bentuk serius ini disebut amebiasis hati
dan ditandai dengan abses dan/atau radang
hati.
Jenis Entamoeba
Entamoeba histolytica memiliki dua bentuk,
yaitu bentuk-minuta dan bentuk-histolitika.
a. Bentuk-minuta (= bentuk-usus): amebiasis
intestinalis menularkan penyakit langsung
dari orang ke orang (kontak seksual) atau
melalui makanan dan air minum (fecal-oral
route) yang telah terinfeksi kista, yaitu bentuk
inaktif dari ameba (Lat. minuta = kecil). Kista
diliputi oleh suatu membran pelindung
yang ulet, tahan asam (getah lambung) dan
dapat hidup di luar tubuh. Di dalam usus
halus kista berkembang menjadi bentuk
aktif, yakni trofozoit yang terutama hidup
dalam usus besar dan memperbanyak diri
dengan cara pembelahan. Trofozoit biasanya
hidup di colon sebagai komensal non-patogen,
yakni membentuk kista tanpa memicu
gejala penyakit. Kemudian kista-kista ini
meninggalkan tubuh lewat tinja bersama
trofozoit yang tak berubah.
Gambar 12-1: Siklus hidup protozoa usus
Kista inilah yang memegang peranan
dalam penularan penyakit lebih lanjut bila
terbawa ke bahan makanan atau air minum
oleh lalat atau tangan manusia yang tidak
bersih. Dengan demikian lengkaplah siklus
penyebarannya. Banyak orang yang disebut
pembawa kista asimtomatis menjadi sumber
infeksi bagi lingkungannya.
Trofozoit juga dapat berubah menjadi bentuk
patogen dan dengan bantuan toksinnya sendiri
serta enzim proteolitik, dapat menyerang
mukosa usus. Terjadilah luka-luka kecil dan
diare. Luka-luka ini sering memicu
infeksi sekunder dengan bakteri dan timbul-
lah pemborokan (ulcerative colitis). Sering kali
amebiasis usus berlangsung juga tanpa diare
atau gejala lainnya yang nyata.
b. Bentuk histolitika (= bentuk jaringan):
amebiasis hati. Dalam keadaan tertentu tro-
fozoit dapat menembus dinding usus dan
mengalami perubahan, yakni tumbuh men-
jadi kurang lebih dua kali lebih besar. Trofozoit
besar ini menjalar melalui vena porta ke organ-
organ lain, a.l. jantung, paru-paru dan otak,
khususnya hati. Di sini trofozoit hidup dari
eritrosit dan sel-sel jaringan yang dilarutkan
olehnya melalui fagositosis. sebab itu disebut
juga bentuk jaringan (Yun: histos = jaringan,
lisis = melarutkan). Akibatnya ialah nekrosis
(jaringan mati), abses intra-hepatik dan reaksi
radang yang dapat merusak hati (a.l. hepatitis).
Penyakit ini sangat serius dan melalui dia-
fragma dapat menjalar ke paru-paru dan
memicu abses amoebik di bagian kanan
bawah paru-paru. Bila tidak segera di obati
sering kali berakibat fatal. Bentuk-jaringan
tidak dapat membentuk kista.
Gejalanya
Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara
beberapa hari dan beberapa bulan sampai
satu tahun.
• Amebiasis usus(disenteri ameba) yang
akut memperlihatkan gejalanya yang
menyerupai disentri basiler (Shigellosis).
Awal infeksi ditandai oleh diare akut yang
Gambar 12-1a: Siklus Entamoeba histolytica.
abses amuba
hati, paru, otak
desentri amuba
tinja normal
saluran darah
kolon
kista
kista
kista
trofozoit
prakistaprakista
ringan dan berselang-seling (intermittent),
biasanya berlanjut dengan diare yang
mengandung lendir dan darah, kejang-
kejang, nyeri perut serta mulas pada hajat
(tenesmus). Gejala lainnya berupa sakit
kepala, mual dan anoreksia.
• Amebiasis hati gejalanya demam tinggi,
mual, muntah-muntah dan nyeri di da-
erah hati yang memancar ke punggung
atau bahu, juga pembesaran hati (hepa-
tomegalia) namun dalam kebanyakan kasus
tidak terjadi diare.
Komplikasi jarang terjadi namun dapat
memicu a.l. perforasi dinding kolon,
peritonitis dan perdarahan. Komplikasi ju-
ga dapat memicu jaringan granulasi
fibrosis, biasanya di coecum dan bagian re c-
tosigmoid, yang disebut amoeboma. Kasus ini
terjadi pada kira-kira 10% penderita yang
dapat memicu perdarahan, obstruksi
dan kadang-kadang terdiagnosis keliru
sebagai karsinoma (kanker).
Makanan atau minuman yang ter cemar
kista melalui mulut masuk ke dalam tubuh
dan berkembang menjadi trofozoit dalam
usus, dan hidup sebagai bentuk minuta dalam
rongga usus, yang selanjutnya menjadi kista
dalam kolon yang dikeluarkan melalui feses.
Bentuk minuta dapat menembus dinding
usus dan melalui darah mencapai organ-
organ yang memicu abses amuba.
Disentri amuba diakibatkan oleh invasi dan
peradangan dinding usus.
diagnosis
Diagnosis amebiasis dilakukan melalui pe-
meriksaan mikroskopis dari kerokan (scrap-
ings) rektal atau feses terhadap trofozoit
atau kista. namun perlu berhati-hati untuk
membedakannya dari ameba non-patogen
atau dari sel darah putih. sebab gejala
itu di atas tidak selalu tampak dengan
jelas, maka penyakit agak sukar dikenali.
Sering kali juga orang keliru dengan tukak
usus atau radang kantung empedu. Pada
amebiasis paru parasit dapat dideteksi dari
sputum.
Pencegahan
Penyakit ini sukar dibasmi sebab banyak nya
pembawa kista tanpa gejala. Yang terpenting
yaitu peningkatan higiene perorangan dan
pengadaan air bersih. Kista dapat dimusnah-
kan dengan memasak air sekurang-kurang-
nya 10 menit, sedang pemurnian air me-
lalu i klorinasi diragukan efektivitasnya.
Penggolongan Obat
Obat antiprotozoa biasanya di guna-
kan untuk infeksi oleh Entamoeba his tolytica,
Trichomonas vaginalis, Giardia lamblia dan
Pneumocystis carinii, walaupun batasan spesi-
fisitasnya tidak tajam. Beberapa dari obat-
obat ini dapat dipakai sekaligus terhadap
beberapa protozoa itu di atas.
Obat amebiasis dapat dibagi dalam dua
kelompok besar, yaitu zat amebisida kontak dan
zat amebisida jaringan.
1. Obat amebisida kontak berdaya mema-
tikan dengan jalan kontak langsung bentuk
minuta dalam rongga usus, namun tidak di
dalam hati. Obat-obat ini terdiri dari beberapa
senyawa kimia, yakni:
a. senyawa nitro-imidazol: metronidazol dan
tinidazol. Obat ini juga aktif terhadap ben-
tuk jaringan dan dapat dianggap obat
amebisida umum. sebab senyawa imi-
dazol ini diserap dengan baik di usus
halus, maka efeknya terhadap kista di
dalam rongga usus kurang efektif.
Di samping itu senyawa-senyawa ini
juga berkhasiat terhadap protozoa lain,
misalnya Trichomonas vaginalis dan Giardia
lamblia. Obat-obat ini juga dipakai
bagi penderita E. histolytica tanpa gejala
(asimptomatik).
b. antibiotika: tetrasiklin, eritromisin dan azi-
tromisin. Kerjanya tidak langsung teta-
pi melalui pemusnahan bakteri usus
sehingga ameba tidak dapat hidup. Obat
yang bekerja langsung terhadap kista be-
lum ada.
2. Obat amebisid jaringan berkhasiat ter-
hadap bentuk histolitika di dinding usus
dan jaringan lain, yaitu zat-zat nitro-imidazol,
(dehidro)emetin dan klorokuin. Pilihan perta-
ma yaitu nitro-imidazol, sebab juga aktif
terhadap ameba bentuk usus. Emetin mema-
tikan parasit di semua jaringan tubuh, namun
jarang dipakai lagi sebab kardiotok-
sisitasnya. Derivat dehidronya yang kurang
toksis masih dipakai parenteral di daerah
endemik.
Pengobatan
1. Disentri ameba akut atau kronis pertama-
tama diobati dengan metronidazol (atau
derivatnya), yang aktif terhadap semua
bentuk Entamoeba. Guna meng hindari
kambuhnya penyakit maka terapi perlu
dilanjutkan dengan suatu amebisid kon-
tak untuk membasmi seluruh kista dalam
rongga usus. Untuk tujuan ini dipakai
diloksanida furoat (Furamide).
Hilangnya gejala tidak berarti bahwa
penyakit sudah sembuh dengan tuntas.
Penyakit dikatakan sembuh total bila tinja
tidak mengandung ameba lagi selama 6
bulan.
Pemberian serentak tetrasiklin atau an-
tibiotika lain dianjurkan pada keadaan
parah yang disertai infeksi sekunder oleh
bakteri akibat pengobatan terlantar atau
kondisi tubuh menurun.
2. Amebiasis hati dan abses hati. Pengo-
batan juga dimulai dengan satu dosis
metronidazol, bila perlu bersama klorokuin
yang sekarang jarang dipakai lagi.
Akhirnya perlu juga diberikan dosis de-
ngan suatu amebisid kontak (diloksanida
furoat) untuk mematikan bentuk minuta
yang tersisa dan menghindarkan residif.
3. Karier kista tanpa gejala juga mutlak
harus diobati, sebab merupakan sumber
infeksi potensial bagi orang lain maupun
bagi dirinya sendiri, sebab setiap waktu
penyakit dapat menjadi akut lagi. Hal ini
terutama penting sekali bila karier kista
itu bekerja dengan bahan makanan
dan kurang memperhatikan dasar-dasar
higiene. Pengobatan yang efektif dapat
dilakukan dengan diloksanida (atau klio-
kinol) hingga tinja bebas dari kista.
Di bawah ini diberikan rangkuman obat-
obat amebiasis dengan khasiatnya terhadap
bentuk minuta dan bentuk histolitika.
A2. Giardiasis
Giardia lamblia/intestinalis yaitu protozoa
dengan benang cambuk (flagelat) dan seperti
Etamoeba histolytica dapat memicu in-
feksi melalui air atau makanan yang terce-
mar kista. Kista dalam usus halus segera
memperbanyak diri dan hidup di mukosa,
hanya jarang menembusnya. Kebanyakan
infeksi tidak memicu gejala, misalnya
mual, diare, sakit perut, kembung dan mala-
bsorpsi dari bahan makanan a.l. lemak. Giar-
diasis banyak ditemukan di daerah tropik dan
pada wisatawan yang merupakan salah satu
pemicu traveller’s diarrhea. Untuk pengo-
batan giardiasis dapat dipakai 2 g metro-
nidazol sebagai dosis oral tunggal selama 3
hari berturut-turut. Juga dapat dipakai
tinidazol.
A3. Trichomonas
Lihat dibawah B1
Bentuk-minuta
(disentri usus)
Bentuk-
histolitika
(amebiasis hati)Trofozoit Kiste
emetin ++ - +++
klorokuin - - +++
metronidazol & deriv. ++ ++ +++
diloksanida & deriv. +++ +++ -
Tabel 12-1: Khasiat beberapa obat amebisida terhadap
Entamoeba histolytica
B. PEnYAKIT MEnULAR
SEKSUAL (PMS)
Penyakit Menular Seksual yaitu sama tuanya
dengan peradaban manusia.
Pada dasawarsa terakhir jumlah penya-
kit/infeksi menular seksual [(Sexuall y Trans-
mitted Disease (STD)] telah mening kat secara
eksplosif di seluruh dunia. Hal ini disebab-
kan oleh sikap yang lebih terbuka dan terus
terang terhadap seks, yang telah di mulai se-
kitar tahun tujuhpuluhan di abad yang lam-
pau. Pada revolusi seksual ini segala sesua-
tu yang sebelumnya merupakan tabu bagi
masyarakat umum tiba-tiba diper bolehkan
oleh kelompok-kelompok pembaru masya-
rakat. Walau-pun banyak orang tetap tidak
dapat menyetujui penyimpangan norma-
norma yang dapat diterima masyarakat pada
umumnya, lambat laun sikap keterbukaan
terhadap seks tidak dapat dihentikan lagi
dan merambah ke semua lapisan masya-
rakat. Dampaknya yaitu hubung an seksual
tidak aman, perilaku berganti-ganti pasang-
an seksual, terutama antar sesama jenis
memicu meningkatnya penyakit me-
nular seksual (PMS) dengan pesat. Muncul-
nya penyakit AIDS pada awal tahun dela-
panpuluhan, yang semula selalu bersifat fatal,
tidak dapat meng hentikan perkembang an
ini.
Catatan: Di tahun 1997 pada Kongres
IUVDT (International Union of Venereal Di-
seases and Treponematosis) di Australia, istilah
PMS diubah menjadi IMS (Infeksi Menular
Seksual), oleh sebab semua penyakit yang
termasuk dalam kelompok itu merupa-
kan penyakit infeksi (Djajakusumah, 2008).
namun dalam bab ini kami akan tetap
memakai istilah PMS untuk kelompok
penyakit ini.
Penularan
Di samping kontak seksual langsung dengan
penderita yang sudah terinfeksi, sering kali
ada juga beberapa cara penularan lain,
yaitu lewat darah, sebagai berikut.
a. Pada kegiatan merajah (tato) dan tindik
dengan alat kurang higienis
b. Alat suntik (antar pemakai narkoba) yang
terinfeksi (lebih dari 51% kasus sejak
tahun 2001)
c. Ibu hamil kepada bayinya (HIV, hepatitis
B/C, herpes simplex, gonore, sifilis)
d. Selama proses melahirkan bayi
e. Transfusi darah yang terinfeksi
PMS tidak dapat ditularkan melalui kontak
dengan gelas bekas penderita, batuk atau se-
ngatan serangga, juga tidak sebab WC bekas
dipakai penderita HIV.
Gejala PMS
PMS tidak selalu menunjukkan gejala (sim-
tomatik) baik pada pria maupun wanita, wa-
laupun penderita dapat menularkan penya-
kitnya pada orang lain. Pada beberapa PMS
gejala atau tanda-tanda terinfeksi baru mun-
cul sesudah berminggu-minggu, ber bulan-
bulan bahkan sampai bertahun-tahun.
PMS sebaiknya ditangani sedini mung-
kin agar dapat disembuhkan dengan tuntas.
Bila tidak, penyakit dapat berlangsung terus
tanpa keluhan, menjadi sangat parah dan tak
dapat disembuhkan lagi.
Gejala-gejala yang dapat mengarah ke suatu
PMS, namun yang juga dapat diakibatkan oleh
penyakit lain, yaitu sebagai berikut:
a. getah (sekret) dari penis, vagina, atau anus,
yang pada wanita jumlahnya bertambah,
berwarna lain (kuning, hijau) atau berbau
b. rasa terbakar, iritasi, atau nyeri selama
atau sesudah berkemih atau sesudah ber-
senggama
c. tukak-tukak, gelembung-gelembung kecil,
atau kutil pada alat kelamin dan sekitar
mulut penderita
d. kelenjar bengkak atau nyeri perut bagian
bawah
e. nyeri pada buah zakar
f. nyeri sewaktu berhubungan badan atau
pendarahan abnormal pada wanita.
PMS yang paling sering terjadi
Di bawah ini diberikan rangkuman beberapa
pemicu penyakit menular seksual (PMS)
yang dewasa ini paling banyak ada di
seluruh dunia.
A. Protozoa: Trichomonas
B. Ragi: Candida
C. Virus: herpes simplex virus, human papilloma
virus, virus Hepatitis B/C dan HIV
D. Kuman: Chlamydia, Neisseria gonorroea dan
Treponema pallidum
Kebanyakan PMS ini dapat disembuhkan bila
dikenali dan diobati pada fasa dini. Dalam
semua kasus pasangan penderita juga perlu
ditangani supaya infeksi tidak menjalar lebih
lanjut.
Pada bab ini akan dibahas hanya infeksi
akibat Trichomonas dan kuman Chlamydia
trachomatis, berikut penyakit gonore dan
sifilis. PMS lainnya telah dibahas di Bab 6,
Antimikotika dan Bab 7, Virusstatika.
Insidensi/epidemiologi
Pekerja Seks Komersial (PSK) yang dijangkiti
PMS dari tahun ke tahun meningkat. Esti-
masi tahun 2006 menunjukkan jumlah Pe-
kerja Seks Komersial sebesar 221.000 orang
dan pelanggan 3.160.000 orang memiliki
prevalensi PMS sangat tinggi di wilayah
Bandung yaitu antara lain gonore 37,4%, kla-
midia 34,5% dan sifilis 25,2%; besaran angka-
angka ini hampir sama untuk kota Jakarta
(Adhitama, 2008).
sebab para PSK cenderung bertukar
pasangan seks, maka risiko penularan PMS
pada kelompok masyarakat ini sangat besar.
Penyakit PMS membuat individu rentan
terhadap infeksi HIV. Komisi Penanggulang-
an AIDS Nasional mengemukakan bahwa
pengidap HIV/AIDS di negara kita sebagian
besar ditemukan diantara Pekerja Seks Ko-
mersial yang jumlahnya diperkirakan berki-
sar 190.000-270.000 orang.
Di seluruh dunia diperkirakan bahwa
sekitar 35 juta orang terinfeksi HIV yang
70% ada di Afrika, khususnya di daerah
Selatan dari gurun Sahara dan 5% terdiri dari
orang dewasa. Infeksi kronis yang untuk
waktu lama tidak diobati atau tidak dikenali
pada waktunya, di samping menurunnya
jumlah sel CD4+ lebih rendah dari 200 juta/L,
akan selalu menjurus ke penyakit-penyakit
oportunistik sangat serius dan fatal.
Perlu diwaspadai bahwa memakan waktu
sekitar 6-10 tahun sebelum gejala klinis dari
infeksi-HIV timbul, bahkan dapat lebih lama
dari 15 tahun (“long-term progressors”).
B1. Trichomoniasis
Trichomonas vaginalis yaitu protozoa ber-
ekor yang bermukim di saluran genital ma-
nusia yang terinfeksi, khususnya di uretra
dan vagina. Infeksi terutama terjadi akibat
kontak seksual. Bayi (perinatal) dapat tertu-
lar pada saat dilahirkan oleh ibu yang ter-
infeksi. Sering kali infeksi berlangsung tan-
pa gejala atau hanya ringan. Infeksi pada
pria umumnya berlangsung tanpa gejala,
walaupun kadangkala terjadi radang salur-
an kemih (uretritis). Pada wanita gangguan
ini memicu radang vagina (vaginitis)
dengan sekret kuning kehijauan yang berbu-
sa dan berbau busuk (keputihan), gatal-gatal
dan sukar berkemih. pemicu lain dari vagi-
nitis yaitu ragi Candida albicans (lihat Bab 6,
Antimikotika).
Pengobatan
Obat pilihan pertama yaitu metronidazol
dengan dosis oral tunggal 2 g sewaktu sarap-
an pagi, atau juga 2 x sehari 500 mg selama
7 hari. Pasangannya juga perlu menjalani pe-
ngobatan ini, ditambah obat yang efektif
terhadap radang kandung kemih (cystitis) dan
uretritis yang turut dideritanya. Bila ada
resistensi terhadap metronidazol, dapat dibe-
rikan derivatnya tinidazol (Tindamax).Pada
infeksi ekstravaginal dapat dipakai secara
topikal krem klotrimazol.
Wanita hamil tidak boleh diberikan obat-
obat ini selama trimester pertama dan sewak-
tu laktasi sebab obat dikeluarkan melalui
ASI dan memicu rasa logam pada air
susu.
B2. Kutil kelamin (jengger ayam)
Kutil kelamin diakibatkan oleh Human pa-
pilloma Virus (papilloma = bintil/kutil) dan
sebetulnya tidak berbahaya, hanya menyu-
sah kan dan menjengkelkan. Sebuah tipe
tertent u dari virus ini yaitu pembangkit
kanker leher-rahim pada wanita, untuk ini
sejak beberapa tahun terakhir tersedia vak-
sin profilaktik (2006, Gardasil). Selain se-
cara sek sual, infeksi juga dapat ditularkan
melalui jari-jari atau handuk seorang pende-
rita. Infeksi kebanyakan berlangsung tan-
pa gejala, namun pembawa virus bisa me-
nularkannya pada orang lain. Berhubung
bentuknya yang terkadang menyerupai bu-
nga kol atau jengger ayam, awam menye-
butnya sebagai penyakit kelamin jengger
ayam atau dalam istilah kedokteran Condy-
loma acuminata.
Masa inkubasinya antara beberapa ming-
gu sampai berbulan-bulan sesudah kontak
dengan virus tipe mukosa yaitu yang menye-
rang selaput lendir. Pada wanita, kutil teru-
tama ada di atau sekitar labia, liang vagi-
na dan dubur, pada pria sekitar ujung penis,
testis dan juga dubur. Gejalanya yaitu gatal-
gatal, nyeri dan rasa terbakar pada waktu
berkemih. Tipe mukosa ini juga disebut HPV
genital, sebab terutama ada di daerah
sekitar alat kelamin luar dan liang dubur.
Pengobatan. Terhadap kutil yang berbentuk
seperti kembang kol ini dahulu dipakai
damar (larutan 25% dalam alkohol) yang
diperoleh dari akar tanaman Podophyllum pel-
tatum yang a.l. mengandung zat antimitotik
podophyllotoxin. Lihat Bab 14, Sitostatika.
Obat terbaru untuk Condyloma acumi-
nata (genital dan peri-anal) yaitu krem
imikuimod (Aldara, krem 5%), suatu imun-
modulator. dipakai lokal 3 kali seminggu
selama maksimal 16 minggu. Untuk sebagian
kecil sekali diabsorpsi melalui kulit dan
diekskresi lewat urin. Efek samping: gatal
dan nyeri setempat, eritema, sakit kepala dan
mual.
Dalam kebanyakan kasus, kutil kelamin
sembuh dengan spontan tanpa diberi obat,
namun kadangkala baru hilang sesudah berta-
hun-tahun. Dokter dapat membekukan kutil
dengan zat nitrogen cair, atau bila berbentuk
untaian dokter memotongnya sesudah dimati-
rasakan. Sebaiknya orang dengan kutil ge-
nital diperiksakan juga infeksi PMS lain.
B3. Klamidia
Chlamydia trachomatis yaitu bakteri yang
tersering memicu PMS pada selaput
lendir alat kelamin dan anus. Infeksi terjadi
melalui kontak seksual dan kontak langsung
dari mukosa, sering kali terkombinasi de-
ngan PMS lain. Sering kali, masing-masing
50% sampai 80% dari kasus pria dan wani-
ta, infeksi berlangsung asimtomatis (tanpa
gejala) dan tidak diobati, sehingga penyakit
menjalar dengan memicu pelengket-
an dan parut-parut di alat reproduksi dengan
efek penderita dapat menjadi mandul.
Gejala pada pria berupa perasaan terba-
kar ketika berkemih, nyeri dan demam, ra-
dang saluran kemih (uretritis), disuria de-
ngan mengeluarkan nanah dari uretra dan
frekuensi berkemih menjadi lebih sering, juga
radang buah zakar.
Pada wanita berupa urgensi (keinginan)
berkemih yang lebih sering, rasa nyeri ketika
berkemih, sekresi vagina berlebihan dan per-
darahan, nyeri di perut bagian bawah, ka-
dangkala infeksi mencapai rahim dan salur-
an telur dengan akibat radang saluran telur
(salpingitis). Juga dapat memicu ra-
dang selaput mata (conjunctivitis) dan pneu-
monia.
Kuman ini memicu sekitar 50% in-
feksi uretra pada laki-laki yang bukan oleh
gonore dan pada wanita infeksi leher rahim
(serviks) yang juga bukan disebabkan oleh
gonore.
Diagnosis dapat ditegakkan melalui pem-
biakan kuman dari urin atau lebih pasti dari
apus endoservikal.
Pengobatan: azitromisin dosis tunggal 2 ta-
blet dari 500 mg. Juga dapat diberikan eritro-
misin 1x sehari 500 mg selama 7 hari atau
doksisiklin 2 x sehari 100 mg selama 7 hari. Ke-
beratan dari jangka waktu peng obatan selama
1 minggu menurunkan kesetiaan terapi.
Pasangan seksualnya juga perlu diobati.
B4. Gonore (kencing nanah)
pemicu penyakit ini ditemukan oleh Al-
bert Neisser (1855-1916) yang menggambar-
kannya sebagai pasangan mikrokoki yang
membentuk angka 8, ialah Neisseria gonor-
rhoeae, yang di tahun 1933 diberi nama resmi
sesuai nama penemunya.
Gonokok yaitu suatu diplokok Gram ne-
gatif yang dapat menginfeksi selaput lendir
saluran urogenital, poros usus, mulut dan
mata. Bakteri sangat peka terhadap hawa ke-
ring. Infeksi terutama berlangsung dan di-
sebarkan lewat kontak seksual, namun bisa
terjadi asimtomatik (10-50% pada masing-
masing pria dan wanita) dan sering kali
memicu kemandulan.
Masa inkubasi 2-14 hari, gejala muncul
sesudah 2- 5 hari. Pada pria berupa uretritis,
disuria dan getah bernanah. Pada wanita
timbul getah vaginal berlebihan, nyeri pi-
nggul (pelvis) dan perdarahan, pada tahap
lebih lanjut bisa tersebar pada sendi (artritis).
Bayi yang dilahirkan ibu terinfeksi sering kali
terpapar conjunctivitis, maka diberikan tetes
mata dengan antibiotika.
Diagnosis dapat dilakukan secara mikros-
kopis dari persemaian sampel getah atau
urin.
Pengobatan.
Pilihan pertama yaitu seftriakson (Rocephin)
1dd 500 mg i.m.
Per oral dapat dipakai dosis tunggal
amoksisilin 3 g + probenesid 1 g.
Terhadap siprofloksasin ada resistensi
yg meningkat (37% di tahun 2011).
A.L.S. Neisser (1855-1916)
Discoverer of N.gonorrhoeae
B5. Sifilis (lues; raja singa)
“One night with Venus and a lifetime with
Mercury.”
Joseph Gruenpeck, on syphilis, 1503 (“Semalam
dengan dewi cinta dan seumur hidup dengan
merkuri”)
Paul Ehrlich(1854-1915)
Treponema pallidum, pemicu sifilis yang
ditemukan oleh Fritz Schaudinn (1871-1906)
dan Erich Hoffmann (1868-1959), yaitu
spiroketa (berbentuk spiral) yang masuk ke
dalam tubuh manusia melalui selaput lendir
(misalnya di vagina atau mulut) via kontak
seksual. Membelah sangat lambat sesudah 30
jam dan pada tahap lanjut lebih lambat lagi.
Masa inkubasinya berkisar antara 10-90 hari.
Pada awal abad ke-16 senyawa merkuri
(lihat kutipan di atas) merupakan obat uni-
versal terhadap sifilis di Eropa, walaupun
kurang efektif.
Di tahun 1909 Paul Ehrlich (1854-1915) ber-
sama pembantunya Sahachinro Hata (1873-
1938) menemukan (1910) obat antimikroba
pertama, yang diberi nama Salvarsan dan
ternyata sangat efektif terhadap Treponema
pallidum tanpa merugikan sel-sel sehat. Ber-
hubung dengan toksisitasnya kemudian Sal-
varsan dimodifikasi dan dinamakan Neosal-
varsan.
sesudah Perang Dunia Pertama penyakit
sifilis baru dapat diterapi secara efektif de-
ngan ditemukannya penisilin oleh Alexander
Fleming (1881-1955) pada tahun 1929. Untuk
penemuannya Fleming dianugerahkan hadi-
ah Nobel di tahun 1945.
Dewasa ini sifilis dapat disembuhkan de-
ngan baik, namun bila tidak diobati dapat
menyerang banyak organ lain dan berakhir
fatal.
Gejalanya. Pada tahap primer timbul suatu
ulkus (chancre keras) di penis atau vulva/
vagina tanpa nyeri yang sembuh spontan
dalam waktu 2-3 minggu.
tahap sekunder sesudah 4-10 minggu
ditandai dengan demam, sakit tenggorok dan
sendi, ruam kulit berwarna cokelat merah
dengan bintil-bintil, radang mukosa genital
dan oral, juga gejala neurologi. Sekitar 50%
pasien menderita pembesaran kelenjar getah
bening di seluruh tubuhnya dan sekitar 10%
menderita peradangan mata.
tahap Laten. sesudah penderita sembuh dari
tahap sekunder, penyakit akan memasuki tahap
laten tanpa gejala sama sekali. tahap ini bisa
berlangsung bertahun-tahun atau berpuluh-
puluh tahun atau bahkan sepanjang hidup
penderita. Pada awal tahap laten kadang-
kadang luka yang infeksius timbul kembali.
Akhirnya tahap ketiga yang bervariasi
dari ringan sampai sangat parah, bercirikan
gangguan jantung (sifilis kardiovaskuler),
kelumpuhan umum dan tabes dorsalis (keru-
sakan sumsum tulang belakang).
Diagnosis
1. Tes penyaringan antibodi (mudah dan
tidak mahal): yang dinamakan VDRL
(venereal disease research laboratory) atau
RPR (rapid plasma reagin).
2. Tes serologis (tes cardiolipin) dengan mi-
kroskop medan gelap (dark-field micro-
scope) untuk memperkuat hasil tes pe-
nyaringan yang positif.
Sebaiknya penderita diperiksa juga terha-
dap PMS lain.
Kit untuk pemeriksaan sendiri (self tests)
dapat dibeli di beberapa apotik.
Pengobatan. Pada kedua fasa awal diguna-
kan dosis tunggal kerja panjang benzatin-
penisilin G 2,4 juta E (Penidural) terbagi in-
jeksi pada kedua bokong selama minimal 7
hari. Penderita perlu dimonitor selama 2-3
tahun.
MOnOGRAFI
1. Emetin (F.I.)
Alkaloid ini ada dalam akar tumbuh-
an Psychotria ipecacuanha (“Brazil root”)dan
berkhasiat sebagai amebisid sistemik, ter-
utama terhadap bentuk histolitika. Emetin
kurang aktif terhadap bentuk minuta, wa-
laupun sangat efektif untuk meredakan
gejala parah akut dari amebiasis usus mau-
pun amebiasis hati. Dehidroemetin memi-
liki sifat farmakologi yang sama namun
kurang toksik dibanding emetin. sesudah
metronidazol yang memiliki khasiat lebih luas
dan kardiotoksisitas lebih ringan, dipasarkan
pertama kali sekitar tahun 1960, pemakaian
emetin dan dehidroemetin sebagai obat ame-
biasis hati sudah sangat berkurang, kecuali
bila ada kontraindikasi terhadap peng-
gunaan metronidazol. Kini emetin praktis
tidak dipakai lagi. Untuk data lebih lanjut,
lihat Edisi 4, p. 207.
2. Klorokuin (F.I.): Nivaquine, Resochin, Avlo-
clor.
Senyawa 4-aminokinolin ini selain ber-
khasiat anti malaria dan anti radang (lihat
Bab 11, Obat Malaria dan Bab 21, Analgetika
antiradang) juga berkhasiat amebisid ter-
hadap bentuk jaringan (amebiasis hati). Ker-
janya kurang kuat, sehingga biasanya hanya
dipakai dalam kombinasi dengan metro-
nidazol atau bila pengobatan dengan metroni-
dazol tidak efektif atau ada kontraindikasi
terhadap pemakaian nya. Tidak efektif ter-
hadap bentuk minuta dalam kolon, sebab
kadar pada dinding usus jauh lebih rendah
daripada di hati, juga sebab resorpsinya di
usus cepat dan praktis lengkap. Klorokuin
berakumulasi di dalam hati sampai konsen-
trasi yang sangat tinggi (beberapa ratus kali
lebih tinggi daripada kadar dalam plasma),
sehingga sangat efektif terhadap abses hati dan
amebiasis hati. Lewat pengobatan beberapa
hari saja, gejala amebiasis hati sudah hilang.
Pengobatan dengan klorokuin perlu disusul
dengan diloksanida.
Efek samping jarang terjadi dan biasanya
berupa sakit kepala, gatal-gatal, gangguan
saluran cerna ringan (diare) dan gangguan
akomodasi. Selain di dalam hati, klorokuin
juga ditimbun di ginjal dan mata, sehingga
pada terapi jangka panjang perlu diadakan
pemeriksaan mata setiap 3 sampai 6 bulan.
Anak-anak sangat peka terhadap senyawa
4-amino-kinolin sehingga pemakaiannya pa-
da anak-anak berusia 1-3 tahun perlu sangat
hati-hati. Lihat selanjutnya Bab 11, Obat-Obat
Malaria.
Dosis: pada amebiasis hati 2 kali sehari 300
mg basa untuk 2 hari, kemudian 1 kali sehari
300 mg selama 2-3 minggu. Anak-anak: 10
mg/kg sehari selama 2-3 hari, maks. 300 mg/
hari.
- Klorokuin difosfat(Resochin, Avoclor) 250
mg = 150 mg basa
- Klorokuin sulfat(Nivaquin) 137 mg = 100
mg basa
3. Metronidazol: Flagyl, *Flagystatin, *Rodogyl.
Senyawa nitro-imidazol ini (1960) memiliki
spektrum anti protozoa dan antibakterial
yang luas. Berkhasiat kuat terhadap semua
bentuk Entamoeba (a.l. E. histolytica), juga ter-
hadap protozoa patogen anaerob lainnya,
seperti Trichomonas dan Giardia. Obat ini
juga aktif terhadap semua kokus dan basil
anaerob Gram positif dan Gram negatif,
namun tidak aktif terhadap kuman aerob.
Metronidazol berkhasiat amebisid jaringan
kuat dan amebisid kontak lemah, sebab
resorpsinya di usus yang cepat, sehingga
kadar dalam rongga usus tidak sempat
mencapai kadar terapeutik tinggi.
Mekanisme kerja. Gugus nitro pada C5 dalam
struktur kimia metronidazol yaitu yang
esensial bagi daya kerjanya. Metronidazol
yaitu suatu zat yang baru aktif (prodrug)
sesudah dalam organisme/bakteri gugusan
nitro direduksi oleh enzim dan membentuk
zat-zat-antara yang menghalangi sintesis
DNA dan/atau merusak DNA, sehingga sin-
tesis asam nukleinat terganggu. Efek muta-
gen diperkirakan juga berdasar meka-
nisme ini. Toksisitasnya juga lebih ringan
dibandingkan emetin.
pemakaian obat ini merupakan pilihan
pertama untuk amebiasis hati. Pada infeksi
Helicobacter pylori (tukak usus duabelas jari)
dipakai sebagai pengobatan tripel/kua-
drupel bersama 2 atau 3 obat lain (bismut
oksida, omeprazol, amoksisilin). Kombinasi
multi-drug ini diperlukan sebab cepatnya
timbul resistensi dari Helicobacter terhadap
metronidazol.
Metronidazol ada dalam sediaan oral,
intravena, intravaginal dan topikal.
Resorpsinya di usus baik sekali dengan
BA 80%. PP-nya hanya ±11% dan plasma-
t½-nya 8 jam. Daya penetrasi ke jaringan
dan cairan tubuh baik, termasuk ludah, air
susu ibu, sperma, sekret vagina dan juga ke
cairan serebro spinal (CCS) kecuali plasenta.
Ekskresinya cepat melalui empedu (siklus
enterohepatik).
Efek samping ringan dan berupa gangguan
saluran cerna, mual, mulut kering dan rasa
logam, sakit kepala, rash kulit dan ada kala-
nya leukopenia. Pengobatan harus dihen-
tikan bila timbul hilang rasa pada kaki/
tangan. Air kemih dapat menjadi cokelat
kemerahan yang disebabkan oleh zat warna
yang terbentuk. Selama terapi tidak boleh
minum alkohol sebab dapat memicu
efek disulfiram (efek Antabus), yaitu intoksikasi
asetaldehida dengan vasodilatasi perifer, muka
merah, jantung berdebar-debar dan nyeri
kepala. Penelitian pada tikus dan dosis tinggi
pada manusia, obat ini ternyata bersifat
mutagen dan karsinogen, yakni memicu
kanker pada paru-paru dan buah dada. Oleh
sebab ini metronidazol tidak dianjurkan
pemakaian nya untuk gangguan ringan se-
perti vaginitis, sebab tersedianya obat-obat
lain yang juga efektif.
Metronidazol juga tidak boleh dipakai
selama kehamilan triwulan pertama dan selama
laktasi.
Dosis: pada amebiasis 3 x sehari 750 mg (=
3 tablet senyawa benzoat) selama 5-10 hari,
atau 1x sehari 2,5 g selama 2-5 hari; anak-anak
30-50 mg/kg/hari dalam 3 dosis selama 5-10
hari. Pada keadaan parah dapat dikombinasi
dengan klorokuin atau tetrasiklin 4 x sehari
250-500 mg.
Pada trichomoniasis oral sekaligus 2 g seba-
gai dosis tunggal, bila tidak efektif (sebab
sering timbul resistensi) atau ada residif, tera-
pi diulang dengan pemberian 2 x sehari 500
mg selama 7 hari. Tablet vaginal dari 500 mg
malam hari selama 10 hari dapat membantu
keberhasilan pengobatan. Bila perlu kur da-
pat diulang sesudah 4-6 minggu. Untuk men-
cegah reinfeksi, pasangan prianya juga harus
diobati. Keberhasilannya melebihi 90% terha-
dap infeksi trichomonas pada pria maupun
wanita.
Pada giardiasis (lambliasis): 1 x sehari 2 g
untuk 3 hari atau 3 x sehari 250 mg selama
5-7 hari; anak-anak sampai 10 tahun: sehari
20 mg/kg berat badan dibagi dalam 2-3 dosis
selama 7 hari.
• Tinidazol (Fasigyn, Flatin). Derivat ini ju-
ga memiliki khasiat antiprotozoa yang luas
dengan sifat lipofil yang lebih besar diban-
dingkan derivat-derivat nitro-imidazol lain-
nya. Berkhasiat lebih lama daripada metro-
nidazol dengan efek samping yang sangat
ringan. Merupakan pengobatan lini pertama
terhadap giardiasis.
Dosis pada amebiasis: sekaligus 4 tablet 500
mg selama 3 hari, pada trichomoniasis dan
giardiasis: dosis tunggal 4 tablet sudah mencu-
kupi.
4. Diloksanida: Furamide
Ester furoat dari derivat diklorasetamida ini
(1957) sangat efektif terhadap bentuk minuta
dalam usus. Diperkirakan furamide lebih
efektif daripada kliokinol, namun terhadap
bentuk jaringan tidak berkhasiat. dipakai
pula dalam bentuk ester furoat dengan re-
sor psi lebih ringan dan lambat daripada
senyawa induknya diloksanida, sehingga da-
pat melakukan aktivitasnya dalam rongga
usus secara lebih intensif. Diloksanida furoat
merupakan obat pilihan pertama untuk
pengobatan karier kista yang asimtomatis.
Efek samping ringan, antara lain gang gu-
an saluran cerna, terutama flatulensi, yaitu
banyak gas tertimbun dalam usus.
Dosis: sebagai amebisid kontak untuk
anak-anak di atas 12 tahun: 3 x sehari 1 tablet
dari 500 mg a.c. selama 10 hari. Anak-anak
di bawah 12 tahun: 20 mg/kg/berat badan
sehari dalam 3 dosis.
5. Antibiotika amebisid.
Beberapa antibiotika berkhasiat anti ame-
biasis intestinal, yaitu beberapa senyawa
tetrasiklin dan eritromisin. Kedua zat ini
mengganggu flora usus yang dibutuhkan
untuk perkembangan ameba patogen.
ANTHELMINTIKA
Lebih dari 2 miliar manusia di seluruh dunia
terinfeksi oleh cacing dan sering kali oleh
beberapa jenis cacing sekaligus terutama di
daerah tropik miskin.
Anthelmintika atau obat cacing (Yun.
anti = lawan, helmins = cacing) yaitu obat
yang dapat memusnahkan cacing dalam
tubuh manusia dan hewan. Dalam istilah
ini termasuk semua zat yang bekerja lokal
menghalau cacing dari saluran cerna maupun
obat-obat sistemik yang membasmi cacing
serta larvanya yang menghinggapi organ
dan jaringan tubuh. Obat-obat yang tidak
diresorpsi (mebendazol dan tiabendazol) le-
bih di utamakan untuk cacing di dalam rongga
usus agar kadar setempat se tinggi mung-
kin, lagi pula sebab kebanyakan anthel-
mintika juga bersifat toksik bagi tuan-rumah.
Sebaliknya, terhadap cacing yang dapat
menembus dinding usus dan men jalar ke
jaringan dan organ lain, misalnya cacing ge-
lang, hendaknya dipakai obat sistemik
(ivermectin dan dietilkarbamazin) yang jus-
tru diresorpsi baik ke dalam darah hingga
bisa mencapai jaringan.
PENYAKIT CACING
Infeksi cacing merupakan salah satu pe-
nyakit yang paling umum tersebar dan men-
jangkiti lebih dari 2 miliar manusia di selu-
ruh dunia. Walaupun tersedia obat-obat ba-
ru yang lebih spesifik dengan kerja lebih
efektif, pembasmian penyakit cacing masih
tetap merupakan suatu masalah a.l. disebab-
kan oleh kondisi sosial-ekonomi di bebe-
rapa bagian dunia. Jumlah manusia yang
dihinggapinya juga semakin bertambah aki-
bat migrasi, lalu-lintas dan kepariwisataan
udara. Proyek-proyek irigasi untuk mening-
katkan agrikultur dapat pula memicu
perluasan kemungkinan infeksi. Misalnya
schistosomiasis (bilharziasis), penyakit ini ber-
kembang sebab timbulnya kondisi yang me-
nunjang pengembangan keong-keong, yang
menjadi tuan rumah-antara bagi cacing schis-
tosoma.
biasanya cacing jarang menimbul-
kan penyakit serius, namun dapat menye-
babkan gangguan kesehatan kronis yang
merupakan suatu faktor ekonomis sangat
penting. Di negara berkembang, termasuk
negara kita , penyakit cacing yaitu penyakit
rakyat umum yang sama pentingnya dengan
misal-nya malaria atau TB. Infeksinya pun
dapat terjadi simultan oleh beberapa jenis
cacing sekaligus. Diperkirakan bahwa lebih
dari 60% anak-anak di negara kita menderita
infeksi cacing.
PENuLArAN
Infeksi cacing umumnya terjadi melalui
mulut, adakalanya langsung melalui luka
di kulit (cacing tambang dan benang) atau
lewat telur (kista) atau larvanya, yang ada
di mana-mana di atas tanah. Terlebih lagi
bila pembuangan kotoran (tinja) dilakukan
dengan sembarangan (sistem riol terbuka)
dan tidak memenuhi persyaratan higiene.
Terutama anak kecil yang biasanya belum
mengerti azas higiene, mudah sekali terkena
infeksi. Tergantung dari jenisnya, cacing
tetap bermukim dalam saluran cerna atau
berpenetrasi ke jaringan. Jumlah cacing
merupakan faktor menentukan apakah orang
menjadi sakit atau tidak.
Diagnosis. Prosedur esensial untuk men-
diagnosis infeksi cacing yaitu melalui peme-
riksaan mikroskopis dari telur atau larvanya
dalam tinja, urin, darah dan jaringan. Pe-
nentuan ini yaitu penting sekali sebab
daya kerja obat cacing kebanyakan ter gan-
tung dari jenis parasitnya.
GEjALA
Gejala dan keluhan dapat disebabkan oleh
efek toksik dari produk pertukaran zat
cacing, penyumbatan usus halus dan saluran
empedu (obstruksi) atau penarikan zat gizi
yang penting bagi tubuh. Sering kali gejala
tidak begitu nyata dan hanya berupa gang-
guan lambung-usus, seperti mual, muntah,
mulas, kejang-kejang dan diare berkala
dengan hilangnya nafsu makan (anoreksia).
Obstruksi usus buntu dan saluran pankreas
dapat memicu appendicitis dan pancre-
atitis. Pada sejumlah cacing yang menghisap
darah, tuan-rumah dapat menderita keku-
rangan darah, misalnya cacing tambang, pita
dan cambuk. Sebagian penderita tidak mem-
berikan keluhan atau tidak menunjukkan
gejala cacingan sama sekali. Misalnya pada
orang-orang pembawa cacing atau telur/
kistanya (carriers).
Dengan carrier dimaksudkan manusia atau
hewan yang “menyimpan” dan menyebar-
kan mikroorganisme yang meng akibatkan
penyakit, namun sendirinya tidak jatuh sakit.
PENCEGAHANNYA
Tindakan umum yang perlu dilakukan ada-
lah mentaati aturan higiene dengan tegas
dan konsekuen, terutama oleh anak-anak.
Yang terpenting di antaranya yaitu selalu
mencuci tangan sebelum makan atau se-
belum mengolah bahan-makanan. Jangan
memakan sesuatu yang telah jatuh di tanah
tanpa mencucinya terlebih dahulu dengan
bersih. Dengan demikian infeksi mela-
lui mulut yang paling sering terjadi, dapat
dihindarkan. Selanjutnya untuk pemberan-
tasan infeksi cacing perlu diambil tindakan
higiene umum yang mencakup perbaikan
perumahan, lingkungan hidup dan sosial-
ekonomi.
jENIs CACING
Cacing yang merupakan parasit manusia
dapat dibagi dalam dua kelompok, yakni
cacing pipih dan cacing bundar.
1. Plathelminthes (flatworms): Cestoda dan
Trematoda.
Ciri-ciri cacing ini yaitu bentuknya yang
pipih dan tidak memiliki rongga tubuh.
a. Cacing pita (Cestoda): Taenia, Echino coccus,
Hymenolepsis, dan lain-lain
Parasit ini memiliki kelamin ganda (her-
mafrodit), berbentuk pita yang bersegmen,
dan tidak memiliki saluran cerna. Echi-
nococcus memiliki tuan-rumah tetap
(anjing) dan larvanya membentuk kista di
organ dalam.
b. Cacing pipih (Trematoda): Schistosoma,
Fasciola dan lain-lain.
Umumnya cacing ini berbentuk seperti
daun dan juga bersifat hermafrodit, ke-
cuali spesies skistosoma yang berbentuk
lebih memanjang dan memiliki kelamin
terpisah. Skistosoma (bilharzia) menulari da-
ri bentuk aktifnya (cercariae). Fasciola (ca-
cing hati) khusus ada pada domba
dan memicu a.l. pembesaran hati,
jarang sekali menulari manusia. Infeksi
cacing ini dinamakan masing-masing schis-
tosomiasis (bilharziasis) dan fascioliasis.
2. Nematoda (roundworms): Oxyuris, Ascaris,
Ancylostoma, Strongyloides, Trichuris.
Infeksi dengan cacing ini dinamakan ma-
sing-masing oxyuriasis (cacing kermi), asca-
riasis (cacing gelang). ancylostomiasis (cacing
tambang), strongyloidiasis dan trichuriasis (ca-
cing cambuk). Infeksi dapat terjadi melalui
telur, larva atau cacingnya sendiri, melalui
mulut atau langsung melalui kulit.
Ciri-cirinya. Bertubuh bulat, tidak berseg-
men, memiliki rongga tubuh dengan saluran
cern a nyata dan kelamin terpisah. Siklus hidup
cacing ini cukup kompleks dan sering kali
membutuhkan tuan rumah-antara sebelum
terjadi perkembangan dari telur hingga ca-
cing dewasa. Pada manusia, tergantung dari
jenis nya, cacing tetap bermukim dalam sa-
luran cerna atau menembus hingga jaringan.
Untuk penyakit, cara infeksi, penyebaran dan
peng obatannya, lihat tabel di bawah ini.
PENGobATAN
Banyak anthelmintika memiliki khasiat yang
spesifik terhadap satu atau dua jenis cacing
saja. Hanya beberapa obat yang memiliki
khasiat terhadap lebih banyak jenis cacin g
(broad spectrum), misalnya mebendazol. Oleh
Gambar 13-0: Cacing pita manusia
sebab itu pengobatan harus selalu didasar-
kan atas diagnosis jenis cacing dengan jalan pe-
nelitian mikroskopis.
Posmedikasi. Banyak anthelmintika dalam
dosis terapi hanya bersifat melumpuhkan
cacing, jadi tidak mematikannya. Untuk men-
cegah jangan sampai parasit menjadi aktif
lagi atau sisa-sisa cacing mati dapat menim-
bulkan reaksi alergi, maka harus dikeluar-
kan secepat mungkin. Biasanya diberikan
suatu laksans garam 2-4 jam sesudahnya.
Minyak kastor tidak boleh dipakai , kare-
na banyak anthelmintika melarut di dalam-
nya hingga resorpsi obat dan toksisitasnya
meningkat. Pencaharan tidak diperlukan pa-
da obat yang bersifat laksans seperti pipera-
zin atau berkhasiat vermisid, mematikan
cacing seperti mebendazol, niklosamida dan
praziquantel. Bila ada anemia pasien
juga harus diobati dengan sediaan yang me-
ngandung besi, lihat Bab 39, Hemopoetika.
jENIs PENYAKIT CACING
Jenis-jenis cacing dapat pula dibagi dalam
3 kelompok, yaitu nematoda (roundworm),
cestoda (cacing pita) dan trematoda (cacing
penghisap). Infeksi oleh nematoda dapat
C = cestoda (cacing pita) N = nematoda (cacing gelang)
Penyakit dan parasit Lokasi di tubuh Cara penularan Penyebaran
geografis
Pengobatan
Ascaris
Ascaris lumbricoides (N)
(cacing gelang biasa)
Usus halus;
larva melalui
paru-paru
Makanan/tanah
terinfeksi tinja dg
telur cacing.
Seluruh dunia;
sangat umum
piperazin
thiabendazol
.
Enterobiasis
E. vermicularis (N);













