el).
Dosis: 1 dd 500 mg d.c. selama 5-7 hari, di-
naikkan setiap 5-7 hari dengan 500 mg sam-
pai 2 g sehari, maksimal 3 g/hari.
C2. Klorokuin (F.I.) : Resochin, Nivaquin.
Selain pada rema, derivat 4-aminokuinolin
ini (1934) dipakai juga terhadap malaria
(terapi dan profilaksis), amebiasis hati dan
S.L.E. Mekanisme kerjanya berdasar pe-
ngikatan pada DNA/RNA di inti sel, peng-
hambatan sintesis protein dan antibodies-
autoimun patologik. Obat ini ditimbun dalam
kadar tinggi di hati, limpa, paru serta ginjal
dan terikat pada sel-sel yang mengandung
melanin (pigmen cokelat-hitam) seperti mata
dan kulit. Lihat selan jutnya Bab 11, Obat-obat
Malari a, Obat-obat tersendi ri.
Kinetik. Sifat farmakokinetiknya yang ter-
penting yaitu plas ma-t½ yang sangat pan-
jang, antara 3-6 hari. Pada penggun aan kronis
bahaya kumulasi besar sekali dan dianjurkan
untuk menghentikan pengobatan 2 hari se-
tiap minggu. Sifat penting lainnya yaitu
afinitasnya untuk retina dan berbagai jenis
jaringan tubuh lain, antara lain sel-sel darah
(granulosit, dan lain-lain).
Efek samping pada terapi lama berupa gang-
guan lambung-usus, reaksi kulit, sakit kepala
dan pusing. Yang lebih serius yaitu peng-
lihatan menjadi guram akibat endapan di
kornea (reversi bel), juga retinopati akibat
penggeseran pigmen yang dapat mengaki-
batkan kebutaan, ketulian irreversibel dan
kelainan darah. Oleh sebab itu kondisi mata
dan gambaran darah harus selalu diawasi
secara tera tur. Overdosis dapat mengakibat-
kan konvulsi, berhentinya pernapasan dan
jantung.
Dosis: pada rema permulaan 150-300 mg
d.c. sehari (garam difos fat/sulfat) selama
7-10 hari, pemeliha raan 100-200 mg sehari.
* Hidroksiklorokuin (Plaquenil) yaitu deri-
vat dengan khasiat sama namun kurang toksik
bagi mata, sehingga lebih banyak diguna kan
untuk terapi jangka panjang.
Dosis: permulaan oral 2 dd 200 mg (garam-
sulfat), sesudah 1-3 bulan 1 dd 200 mg.
C3. Kortikosteroid
Glukokortikoid berkhasiat antiradang kuat
dengan efek agak cepat; pada dosis yang la-
zim dipakai untuk A.R. tidak bekerja an-
ti-erosif. Mekanisme kerjanya sebagian ber-
dasarkan atas hambatan fosfolipase yang
memicu rintangan sintesis prosta-
glan din maupun leukotriën. Mungkin juga
berdasar stabilisasi lisosom lekosit
dengan efek fagositosis dan berkurangnya
aktivi tas cyclic GMP(lihat Gambar 46-1). Ke-
beratan obat-obat ini yaitu bila dipakai
kronis terjadi susut tulang (osteoporosis) aki-
bat perombakan tulang yang meningkat dan
pembentukannya berkurang dengan akibat
bertambahnya risiko fraktur. Lihat juga Bab
46, Korti kosteroi d.
pemakaian biasanya peroral bersa-
ma suatu zat imunosupre sif atau sebagai
injeksi di sendi.
* Per oral terutama dipakai deksametason,
betameta son dan predniso lon, yang memiliki
efek minera lokorti koid ringan (retensi garam
dan air). Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa predni solon 7,5 mg/hari selama 6 bu-
lan mengurangi nyeri, memperbaiki fungsi
jari-jari tangan dan sangat menghambat pro-
ses pembu rukan penyakit.
* Melalui intra-artikuler hanya digu nakan di
sendi-sendi besar yang membengkak, nyeri
dan kebal terhadap terapi lain. Efek baiknya
dapat bertahan bulanan. Berhu bung dengan
meningkatnya risiko infeksi dan kerusakan
pada tulang rawan, injeksi intra-artikuler ti-
dak boleh dilakukan lebih dari dua kali pada
satu sendi.
Efek samping yang dikhawatirkan pada
pemakaian prednison dalam dosis rendah
untuk jangka waktu lama yaitu penyusutan
tulang, yaitu berkurang kepadatannya
dengan risiko besar akan fraktur. Penyusutan
ini dapat dihindari dengan kombi nasi
vitamin D3 dengan kalsium 800UI/1000
mg sehari atau dengan senyawa bisfosfonat
(alendronat, risedronat).
Dosis lazimnya dibatasi sampai oral 5-10
mg prednisolon sehari sebab di atas 10
mg timbul supresi sistem H-H-A. Di atas 20
mg malah dapat timbul perubahan tulang
(rawan). Deksametason (Oradexon) atau beta-
me tason (Benoson) oral 0,5-1 mg sehari. Intra-
artikuler triam si nolon 2,5-15 mg (fosfat: Ke-
nacort A) atau deksametason 4-12 mg (Na-
fos fat: Oradexon, Forte cortin).
C4. Penisilamin: Cuprimin, Kelatin, Gerodyl
Derivat penisilin ini yaitu zat chelasi,
yaitu dapat mengikat logam berat secara ki-
miawi (Cu, Pb, Hg) dan mempermudah pe-
ngeluarannya dari tubuh (1953). Berkhasiat
antiradang serta antierosif dan dianggap se-
bagai obat slow-acting yang paling efektif.
Mulai kerjanya baru tampak sesudah 4-8
minggu. Plasma-t½ hanya ±1 jam. Selain pada
A.R. zat ini juga dipakai pada keracunan
logam berat dan penyakit Wilson (degenerasi
sel hati dengan endapan tembaga di kornea).
Efek samping sering terjadi dan berupa gang-
guan lambung-usus dan cita-rasa, reaksi
alergi dan yang lebih serius yaitu kelainan
darah, ginjal, paru dan saraf mata. Sering
kali terjadi defisiensi vitamin B
6, yang dapat
diatasi dengan pemberian piridoksin 25 mg/
hari.
Dosis: 1 dd 125-250 mg a.c., bila perlu setiap
1-3 bulan dapat dinaikkan dengan 125-250
mg sehari, maks. 1,5 g sehari.
C5. Auranofin: Ridaura
Senyawa emas-glukosa ini (1982) berkha-
siat antiradang dan imunosupresif, juga
menghambat produksi faktor rema (IgM).
Dalam makrofag auranofin tidak mencegah
pelepasan enzim-enzim lysosomal, namun me-
rintangi efeknya. Efektivitasnya dapat disa-
makan dengan klorokuin, namun kurang am-
puh dibandingkan sediaan emas parenteral
aurothioglukosa (Auromyose) dan aurothio-
maleat (Tauredon). Plasma-t½ panjang, 17-26
hari.
Efek samping hebat terutama pada sediaan
i.m sering kali mengaki batkan penghentian
dan gagalnya terapi. Sangat berbahaya ka-
rena tidak jarang memicu kematian
disebabkan aplasia sumsum tulang dengan
kelainan darah (agranulositosis, leuk openi, ane-
mia aplastik) dan gangguan ginjal (proteinuria).
Di samping itu timbul juga gangguan lam-
bung-usus, reaksi kulit, pruritus, stomatitis
dan conjunctivitis.
Dosis: oral 2 dd 3 mg, sebaiknya 1 dd 6 mg,
maks. 9 mg/hari. Bi la terjadi diare hebat 3 mg
sehari.
C6. Leflunomida: Arava
DMARD ini yaitu suatu prodrug yang
berkhasiat imunosupresif, antiproliferatif dan
antiradang. dipakai pada rema aktif dan
psoriasis. Efeknya baru nyata sesudah 4-6 mi-
nggu.
Absorpsinya baik, ±90%, keadaan stabil di-
capai sesudah 3 hari. Metabolisme berlang-
sung cepat di mukosa usus dan di hati me-
ngalami FPE, eliminasinya lambat, lewat urin
dan feses.
Efek sampingnya berupa imunodefisiensi
parah dengan kemunduran fungsi sumsum
tulang, leukopenia dan trombopenia, juga a.l.
insufisiensi ginjal, gangguan lambung-usus,
rambut rontok dan eksem.
D. IMUNOSUPRESIVA
Untuk mencegah sendi-sendi cepat aus, si-
tostatika imunosupresif sekarang di diberi-
kan pada stadium dini dari rema aktif. Seba-
gai pilihan pertama dipakai metotrek-
sat (atau sulfasalazin). Di samping khasiat
imunosupresifnya (menekan imunitas selu-
ler dan humoral) obat-obat ini juga berkha-
siat antira dang, yang mekanisme kerjanya
belum diketahui dengan jelas. Semua sito-
statika bersifat teratogen dan karsinogen,
maka pada dasarnya tidak boleh diberikan
pada wanita di bawah usia 40-50 tahun.Lihat
selanjutnya Bab 14. Sitostatika.
*Metotrexat: MTX, Farmitrexat, Ledertrexat
Metotrexat dapat merintangi radang sendi
kronis dengan efek lebih cepat dan efektif
daripada azatioprin. Efek samping terpenting
yaitu penurunan daya tahan tubuh sehingga
sangat rentan terhadap infeksi, a.l. tbc. Obat
ini juga toksik bagi hati.
Dosis: oral, i.m. atau i.v. 3 x seminggu 2,5-5
mg dengan interval 12 jam, atau 1 x 10 mg.
Bila perlu dinaikkan setiap 6 minggu dengan
2,5 mg sampai maks. 25 mg seminggu.
*Azatioprin (Imuran) Dosis: oral 1 mg/kg/
hari dalam 1-2 dosis, bila perlu dinaikkan
setiap 4 minggu dengan 0,5 mg/kg, maks. 2,5
mg/kg/hari
*Siklofosfamida (Endoxan). Dosis: oral 1
mg/kg/hari, sering kali bersama prednison.
D1. Etanercept: Enbrel
Protein reseptor-TNF human ini (1998)
merintangi secara kompetitif pengikatan TNF
pada reseptornya di permukaan sel. Dilapor-
kan efektif pada rema parah untuk meng-
hentikan erosi (efek DMARD). Masa paruh
±70 jam dan BA ±76%. Injeksi subkutan
menghasilkan efek sesudah 2 minggu.
Efek samping berupa a.l. infeksi saluran
pernapasan dan sinusitis, gangguan lam-
bung-usus, sakit kepala dan pusing. Juga ke-
lainan darah (anemia, leukopenia) dan gang-
guan saraf (demyelinisasi seperti pada MS).
Dosis: s.k. 2 x seminggu 25 mg.
D2. Infliximab: Remicade
Antibodi monoklonal chimeric (human-ti-
kus) ini mengikat TNF dengan membentuk
kompleks stabil (1998). Terjadi imunosupresi
yang tidak lengkap, namun infiltrasi lekosit ke
bagian-bagian sendi yang meradang berku-
rang. Pada penyakit Crohn kadar TNF di usus
halus juga menurun. Biasanya dipakai
sebagai obat tambahan pada MTX untuk
mengurangi erosi sendi (efek DMARD) dan
untuk memelihara remisi pada penyakit
Crohn. Ternyata bahwa obat ini maupun
etanercept lebih efektif daripada MTX pada
rema parah untuk menghentikan kerusakan
sendi lebih lanjut. (Lipsky PE. Infliximab
and MTX in the treatment of R.A. New Engl J
Med 2000; 343: 1546-602). Dalam percobaan
infliximab ternyata juga ampuh terhadap
penyakit kulit psoriasis dibanding etanercept
(±76% versus 40%). Masa paruhnya panjang
sekali 8-9 hari dan efeknya baru nampak
sesudah 2-3 minggu.
Efek samping berkaitan dengan supresi
TNF endogen: pasien mudah terkena infeksi,
khususnya TBC akut. Bila hal ini terjadi pe-
ngobatan harus dihentikan. Yang sering kali
timbul yaitu gangguan lambung-usus dan
hati, sesak napas, demam dan sakit kepala.
Dosis: pada RA dalam kombinasi dengan
MTX melalui infus i.v. 3 mg/kg bobot badan,
diulang sesudah 2 dan 6 minggu, lalu setiap
8 minggu. Pada penyakit Crohn hebat 5 mg/
kg, bila perlu diulang sesudah 14 minggu.
Colitis: juga 5 mg/kg infus 2 jam, diulang
sesudah 2 dan 6 minggu, kemudian setiap 8
minggu.
Dosis: awal 1 dd 100 mg selama 3 hari, lalu
pemeliharaan 1 dd 10-20 mg
II. OBAT-OBAT ENCOK
Arthritis urica
Encok (gout) yaitu nama sekelompok gang-
guan pada metabolisme purin dan asam urat,
pada mana kadar berlebihan dalam plasma
memicu pengendapan kristal natrium-
urat di sendi dan cairan synovialnya. Yang
paling sering ada yaitu encok sendi
(arthritis urica). Selain sendi gangguan ini
terutama juga timbul pada jaringan ikat kulit
(tophi, celluli tis) dan ginjal (nefropa thy, batu
kalsium-urat/fosfat). Seperti rematik, encok ber-
lang sung bergelombang dan bila tidak segera
diobati akhirnya terjadi artrose, sebab tulang
rawan berangsur-angsur diru sak.
Faktor risiko. Dahulu di Eropa encok
dianggap sebagai penyakit orang kaya dan
terutama orang gemuk. Diperkirakan encok
disebabkan oleh makanan dan minum alko-
hol terlampau banyak. Pengidap encok ter-
masyhur yaitu antara lain Iskandar Besar,
Michel angelo, Luther dan Darwin. Sampai
sekarang tidak diketahui dengan tepat pe-
nyebab encok, namun kini diketahui bahwa
memang terda pat sejumlah faktor risiko selain
kadar urat yang meningkat (hiperurikemi-
a), yaitu keturunan, kelamin dan pola hidup
dengan kurang aktivitas fisik. Ditemukan
tanda-tanda kuat tentang adanya hubungan
antara penyakit jantung (hipertensi, gagal
jantung) dan encok. Penyelidikan kecil dalam
suatu praktik dokter memperlihatkan bahwa
pasien hipertensi lebih sering mengidap
encok, masing-masing 43% dibanding 20% di
kelompok kontrol. Anggapan umum bahwa
diuretika dapat memicu serangan encok
tidak dapat dibuktikan.
Dianjurkan untuk menghindari jeroan,
otak, kaldu daging, bayam, kacang-kacangan,
duren, salmon, ikan sardencis dan herring
sebab kandungan purinnya yang tinggi,
Juga untuk mengurangi asupan ikan salem,
tongkol, kalkun, daging merah, asparagus
dan jamur.
Juga alkohol harus dihindari, sebab
walaupun tidak mengandung purin namun
menghambat ekskresi asam urat.
Prevalen si nya di Eropa dan AS ditaksir
2,6 per 1.000 orang sampai 10% pada pria
Maori di New Zealand. Penderita encok pria
±10 kali lebih besar daripada wanita. Mulai-
nya encok pada pria biasanya pada usia
antara 40-60 tahun, sedang pada wanita
kebanyakan sesudah menopause.
Pathogenesis. Serangan akut diprovokasi
oleh endapan urat tinggi yang jarum-jarum
kristalnya merusak sel dengan memicu
nyeri hebat. Sendi membengkak, menjadi
panas, merah dan sangat sakit bila disentuh
(dolor, tumor, calor dan rubor), tersering di
jempol kaki atau pergelangan kaki-tangan
dan bahu. Sering kali juga demam tinggi
dan pada stadium lanjut timbul tophi (Lat.
tophus = batu gunung bera pi), yaitu ben jolan
keras di cuping telinga, kaki atau tangan dan
jempol kaki.
Peradangan di sendi memicu
pelepas an zat-zat chemotactic yang menarik
neutrofi l ke cairan synovial. Granulosit ini
«memakan» kristal urat melalui fagositosis,
kemudian dengan sendirinya pun musnah
sambil melepaskan beberapa zat, antara lain
suatu glikoprotein, radikal oksigen dan enzim-
enzim lisosomal(protea se, fosfatase), yang ber sifat
destruktif bagi tulang ra wan. Glikop rotein
itu bila diinjeksikan intra-artikuler da-
pat memicu serangan encok! Selain itu
terben tuk pula asam laktat yang sebab sifat
asamnya mempermu dah presipita si urat
selanjutnya. Mungkin terjadi pula aktivasi
sistem prostag landin. Dengan demikian pro-
ses peradan gan diperkuat dan terpelihara
terus menerus. Bandingkan patolo gi rematik.
Gambar 21-4: Pembengkakan jempol
kaki sebab encok
Fisiologi urat
Pada perombakan protein inti (DNA/RN A)
terbentuk basa-basa purin adenin dan gua-
nin. Adenin dirom bak menjadi hy poxanthin,
guanin menjadi xanthin. Hypoxanthin
diuba h menjadi xanthin oleh enzim xanthi-
noxydase dan selan jutnya menjadi asam urat.
Lihat skema reaksi berikut ini.
Seluruh asam urat dalam tubuh berjumlah
±1 g, sedang produksi dan ekskresinya
seimbang. Sebagian kecil dari urat dipergu-
nakan kembali untuk sintesis protein inti,
namun sisanya diekskresi melalui ginjal (70%)
dan usus (30%). Urat difil trasi oleh glome-
ruli ginjal dan diresorpsi kembali oleh tubuli
proximal (bagian pertama), akhirnya baru di-
ekskresi hingga 75% oleh tubuli distal (bagi-
an jauh). Diureti ka mengham bat ekskresi di
tubuli distal, begitu pula alkohol dalam jum-
lah tinggi, yang di samping itu juga men-
stimulasi produksi urat.
Nilai urat dalam darah yang dianggap
normal bagi pria yaitu 0,20-0,42 mmol/l,
bagi wanita 0,15-0,36 mmol/l (Jacobs JWG.
De standaard ‘Jicht’ van het NHG. NTvG 2002;
146:295-6). Titik jenuh teoretis dari urat dalam
plasma 37° C yaitu 0,42 mmol/l (= 7 mg/100
ml). biasanya bila nilai urat melebihi
6 mg/100 ml, risiko terkena serangan encok
besar sekali. Oleh sebab itu hiperu rikemia
di atas 0,55 mmol/l (= 9 mg/100 ml) sudah
cukup serius untuk diobati.
Hiperurikemia/encok primer dapat disebab-
kan oleh berku rangnya ekskresi (pada 80-
90% dari kasus) atau oleh produk si urat
berlebihan (10-20%).
Hiperurikemia/encok sekunder dapat ter-
jadi antara lain oleh hiperpro duksi urat
dengan perombakan masal dari protein inti,
seperti selama terapi dengan sitostatika atau
akibat berkurang nya ekskresi urat seperti pa-
da insufisiensi ginjal, penggu naan lama dari
diuretika dan sesudah pembedahan. Obat TB
(INH, pirazina mida dan ethionami da) juga
dapat meningkatkan kadar urat dan mem-
provokasi encok. Menurut laporan rifabutin
juga memicu artritis.
Diagnosis. Kadar urat tinggi tidaklah spe-
sifik bagi encok dan tidak begitu sering me-
nimbulkan gejala. Penderita “tersembunyi”
(dengan hiperuri kemiaasimto matik) memiliki
risiko besar akan kerusakan ginjal. Kristal urat
dapat mengen dap di jarin gan tanpa diketahui
dan hanya ±30% dari mereka mende rita
batu ginjal urat. Selama serangan pun, pada
hampir separuh dari pasien, tidak ditemu-
kan kadar urat tinggi. Oleh sebab itu
hiperuri kemia tidak selalu harus disertai
Seluruh asam urat dalam tubuh berjumlah ±1 g, sedang produksi dan ekskresinya seimbang.
Sebagian kecil dari urat dipergunakan kembali untuk sintesis protein inti, namun sisanya
diekskresi melalui ginjal (70%) dan usus (30%). Urat difiltrasi oleh glomeruli ginjal dan
diresorpsi kembali oleh tubuli proximal (bagian pertama), akhirnya baru diekskresi hingga 75%
oleh tubuli distal (bagian jauh). Diuretika menghambat ekskresi di tubuli distal, begitupula
alkohol dalam jumlah tinggi, yang di samping itu juga menstimulasiproduksi urat.
Nilai urat dalam darah yang dianggap normal bagi pria yaitu 0,20-0,42 mmol/l, bagi wanita
0,15-0,36 mmol/l (Jacobs JWG. De standaard ‘Jicht’ van het NHG. NTvG 2002;146:295-6).
Titik jenuh teoretis dari urat dalam plasma 37° C yaitu 0,42 mmol/l (= 7 mg/100 ml). Pada
umumnya bila nilai urat melebihi 6 mg/100 ml, risiko terkena serangan encok besar sekali. Oleh
sebab itu hiperurikemia di atas 0,55 mmol/l (= 9 m /100 ml) sudah cukup serius untuk diobati.
Hiperurikemia/encok primer dapat disebabkan oleh berkurangnya ekskresi (pada 80-90% dari
kasus) atau oleh produksi urat berlebihan (10-20%).
Hiperurikemia/encok sekunder dapat terjadi antara lain oleh hiperproduksi urat dengan
perombakan masal dari protein inti, seperti selama terapi dengan sitostatika atau akibat
berkurangnya ekskresi urat seperti pada insufisiensi ginjal, pemakaian lama dari diuretika dan
sesudah pembedahan. Obat TB(INH, pirazinamida dan ethionamida) juga dapat meningkatkan
kadar urat dan memprovokasi encok. Menurut laporan rifabutin juga memicu artritis.
5
Diagnosis. Kadar urat tinggi tidaklah spesifik bagi encok dan tidak begitu sering memicu
gejala. Penderita "tersembunyi" (dengan hiperurikemiaasimtomatik) memiliki risiko besar akan
kerusakan ginjal. Kristal urat dapat mengendap di jaringan tanpa diketahui dan hanya ±30% dari
mereka menderita batu ginjal urat. Selama serangan pun, pada hampir separuh dari pasien, tidak
ditemukan kadar urat tinggi. Oleh sebab itu hiperurikemia tidak selalu harus disertai encok.
Namun, semakin tinggi kadar asam urat, semakin besar risiko akan gejalanya.
encok. Namun, semakin tinggi kadar asam
urat, semakin besar risiko akan gejalanya.
Artritis kronis atau sering kambuh, pada
akhirnya dapat merusak tulang rawan. Foto
Röntgen memperlihat kan ruang sendi yang
menyempit akibat susutnya tulang rawan.
Di gnosis dapat dipasti ka dengan jalan
pe entuan ristal urat dalam cairan sy ovial
dan isi tofi melalui mikroskop polari sasi.
Bila perlu juga dilakukan punctio sendi. Pada
pseudo-encok tidak ditemukan kristal urat
melainkan kristal kalsium-pyrofosfat (
Tindakan um m
U tuk prevensi kambuhnya ser ngan encok
dapat dituruti suatu aturan hidup tertentu.
Bila ada over weight, perlu menjalani
diet menguruskan tubuh, banyak minum
(minimal 2 l sehari), membatasi asupan al-
kohol (bir), menghindari stres fisik dan men-
tal serta diet purin (daging merah, ikan ter-
tentu). pemakaian diuretika tiazida harus
dihentikan dan diganti dengan obat (hiper-
tensi) lain.
* Diet yang miskin purin dengan hanya sedi-
kit daging atau ikan dan tanpa organ dalam
seperti otak, hati, ginjal dan juga terubuk.
namun kini diketa hui bahwa kebanya kan
purin menurunkan kadar urat dengan hanya
10-15% dan tidaklah mencukupi untuk me-
nurunkannya sampai kadar ideal < 6 mg/dl,
sehingga tidak dapat mengu rangi timbulnya
serangan encok, lagipula kesetiaan terapinya
sulit. namun diet ini bermanfaat sebagai tam-
bahan dari terapi terhadap batu ginjal (urat).
Usahakan untuk menghindari alkohol dan
kopi.
Pengobatan
* Terapi serangan akut: kolkisin dan NSAID.
Serangan encok dapat ditangani secara efek-
tif dengan kolkisin. Efek yang berhasil dari
obat enco tertua ini memberikan kepas-
tian menge nai tepatnya diagnosis. Obat ini
bersifat kumulasi yang perlu diperhatikan.
Semua NSAID memiliki keampuhan yang
sama, namun daya kerjanya lebih cepat dan
kurang toksik daripada kolkisin Yang sering
kali dipakai yaitu diklofe nac, napro-
ksen, piroxicam dan indometa sin. Obat-
obat ini paling bermanfaat bila diminum
sedini mungkin. Bila tidak berhasil biasanya
diberikan kortikosteroid sampai gejalanya
mereda.
*Terapi prevensi dengan penghambat xan-
tinoxidase. Pasien yang menderita 3 se-
rangan atau lebih dalam satu tahun, dapat
melakukan terapi interval segera sesudah
serangan terakhir lewat. Maksudnya ialah
untuk mengurangi frekuensi dan hebatnya
seran gan berikutnya serta mencegah keru-
sakan jangka panjang pada sendi dan ginjal.
Terapi prevensi ini penting pula pada hiperu-
rikemia asimtoma tik dengan batu ginjal atau
tofi bila kadar urat darah melebi hi 6 mgl/
dl. Obat-obat yang dipakai untuk terapi
prevensi yaitu :
a. alopurinol dan febuxostat bila ada
overproduksi urat. Obat ini mengham bat
sintesisnya dan menurunkan kadar urat da-
rah. Sebaiknya dosis berangsur-angsur di-
tingkatkan sampai masing-masing maks. 800
mg dan 120 mg sehari.
b. urikosurika (benzbromaron, probenesid)
bila ada ekskresi urat rendah tanpa
produksi berlebihan. Obat ini menghindari
resorpsi urat kembali di tubuli proksimal,
sehing ga ekskresinya ditingkatkan dan kadar
darahnya menurun. Peningkatan kadar urat
dalam urin dapat memicu batu ginjal
(Ca-urat/fosfat). Untuk menghind arinya per-
lu minum minimal 2 l/hari termasuk 2 gelas
larutan natriumsitrat/bikarbonat 1% untuk
membuat kemih alkalis dan membantu
pelarutan asam urat (pH ca 6,5).
Urikosurika memobilisasi urat dari depot-
nya di jaringan, sehingga dapat memicu se-
rangan. Guna mencegah hal ini selama 6
minggu pertama harus dipakai zat anti-
radang (NSAID) dalam dosis rendah. Penta-
karan juga perlu dimulai rendah dengan
peningkatan berangsur-angsur, berdasar
tuntu nan kadar urat darah. Tindakan ini
berlaku pula bagi alopuri nol.
c. obat-obat alternatif: vitamin C, Ca-pan-
totenat dan EPA. Vitamin C (1-2 x 1 g p.c.)
berkhasiat meningkatkan ekskresi asam urat;
Ca-pantotenat (2 x 250 mg) perlu untuk pe-
rombakan urat menjadi urea dan amoniak
sedang EPA/DHA (2 x 500 mg) berkhasiat
menghambat peradangan. Senyawa-senyawa
ini dapat dipakai sebagai makanan tam-
bahan (foodsupplement) pada terapi regular.
Efek paradoksal. Pada dosis rendah alo-
purinol dan probenesid memperlihatkan
efek kebalikannya, yaitu justru menghambat
ekskresi urat dengan mekanisme yang belum
jelas. Pengecualian yaitu zat-zat benzofuran
(benzbromaron).
Kehamilan dan laktasi. Berhubung ku-
rangnya data mengenai keamanan obat-obat
prevensi ini, wanita hamil dan selama laktasi
tidak dianjurkan memakai nya.
Lamanya terapi. Pada dasarnya terapi pre-
vensi ini harus dilan jut kan seumur hidup.
namun sesudah satu tahun pemakaian
alopuri nol dapat dihentikan dengan peng-
awasan saksama kadar urat darah. Bila 3-6
bulan kemudian kadar naik lagi di atas 0,55
mmol/l, terapi dapat diulang.
Pembedahan dapat dilakukan untuk me-
ngeluarkan tofi yang terlalu besar dan meng-
ganggu.
MONOGRAFI
1. Kolkisin (colchicine)
Alkaloid ini diperoleh dari kembang dan
biji tumbuhan Colchicum autumnale(autumn
crocus), yang berasal dari India, Afrika Uta ra,
dan Eropa. Zat ini sudah dipakai sebagai
obat encok di abad ke-6 oleh dokter-dokter
Arab.
Kolkisin berkhasiat antiradang lemah de-
ngan efek baik pada serangan akut (efekti-
vitas 90%) dan efeknya baru nyata sesudah
12 jam. Tidak menurunkan kadar urat darah
dan tidak berdaya analgetik. Mekanisme
kerjanya diduga berda sarkan penghambatan
sekresi zat-zat chemotactic dan/atau glikoprotein
dari granulosit yang memegang peranan
pada rangkai an proses peradangan, sehing-
ga siklusnya dihenti kan. Pengendapan urat
berkurang, sebab pemben tukan laktat dan
fagositosis dihambat. Di samping itu, kolkisin
juga berdaya antimito tik, yaitu mengham bat
pembelahan sel (mitosis), namun sebagai obat
kanker tidak efektif.
pemakaian nya terutama untuk mengatasi
serangan akut (sebaiknya dalam 2 jam), namun
juga pada terapi prevensi bersama alopuri nol
atau urikosurika untuk mencegah provokasi
serangan (selama 6 minggu). Profilaksis de-
ngan kolkisin tunggal tidak dianjurkan ber-
hubung kadar urat tetap tinggi dan penyakit
dapat terus berlangsung. Obat ini tidak
bermanfaat bagi gejala rema.
Resorpsinya dari usus cepat dan hampir
lengkap, PP 30%, plasma-t½ 30-60 menit.
Kolkisin terutama menumpuk dalam le kosit
dengan masa paruh panjang, ±60 jam.
Efek samping sering terjadi sebab efek ter-
apeutiknya berdekatan dengan efek toksik
dan berupa gangguan lambung-usus. Pada
pemakaian lama dapat terjadi rambut ron-
tok, neuritis, depresi sumsum tulang (agra-
nulositosis, anemia aplastik) dan kerusakan
ginjal. Bila timbul gejala intoksikasi (rasa ter-
bakar di leher, kejang perut, diare dengan
perdarahan, mual hebat), penggun aannya
harus segera dihentikan.
Wanita hamil dan menyusui tidak dianjurkan
memakai obat ini.
Dosis: pada serangan akut oral 1 mg, lalu
0,5 mg setiap 2 jam sampai maksimal 8 mg
atau timbul diare. Kur tidak boleh diulang
dalam jangka waktu 3 hari. Profilaksis (terapi
kombinasi): 0,5-1,5 mg malam hari setiap dua
hari.
2. Alopurinol: Zyloric, Urica
Derivat pirimidin ini (1967) efektif sekali
untuk menormalkan kadar urat darah dan
urin yang meningkat. Berkhasiat menguran gi
sintesis urat atas dasar persaingan sub-strat
dengan zat-zat purin berlandasan peng-
hambatan enzim xanthinoxidase (XO). Purin
seperti hipoxanthin dan xanthin dirombak oleh
XO menjadi asam urat. Te tapi dengan adanya
alopurinol, XO melakukan aktivitasnya ter-
hadap obat ini sebagai ganti purin. Akibatnya
perombakan hipoxanthin dikuran gi dan
sintesis urat menurun dengan ±50%. Kadar
urat berangs ur turun, tofi menyusut dan batu
urat tidak dibentuk lagi. sesudah 1-3 minggu
kadar urat mencapai nilai normal. Untuk
jelasnya lihat persamaan reaksi di atas. Guna
menghindari tercetusnya serangan encok
akut pada awal terapi dianjurkan untuk
bersamaan dipakai kolkisin per oral atau
suatu NSAID dosis rendah. Selain pada terapi
interval encok, alopurinol juga dipakai
sebagai obat pencegah selama kur sitostatika
untuk jangka waktu minimal 4 minggu, pada
mana peromba kan cepat dari jaringan tumor
dapat memicu hiperurikemia sekunder.
Resorpsi dari usus baik (80%) dan cepat, ti-
dak terikat pada protein darah. Di dalam
hati, obat ini dioksidasi oleh XO menjadi
oksipurinol(= alloxanthine) aktif, yang teru-
tama diekskresi dengan urin. Plasma-t½ 2-8
jam, pada oksipurinol melebihi 20 jam ber-
hubung adanya resorpsi kembali di tubuli.
Efek samping agak sering terjadi, terutama
reaksi alergi kulit, juga gangguan lambung-
usus, nyeri kepala, pusing dan rambut ron-
tok. Adakalanya timbul pula demam dan
kelainan darah. Kerusa kan hati dan ginjal
pernah dilaporkan, begitu juga sindrom Ste-
vens-Johnson41 pada dosis di atas 200 mg.
Untuk mewaspadai hipersensitivitas terha-
dap alopurinol dianjurkan untuk meng-
gunakan dosis awal rendah dan lambat la-
un ditingkatkan, singkatnya sesuai anjuran
“Start Low, Go Slow With Allopurinol”.
Interaksi. Alopurinol menghambat enzim
XO, maka perombakan zat-zat yang diubah
oleh XO juga dirintangi, sehingga efeknya
diperku at. Contohnya yaitu antagonis pu-
rin azathioprin (Imuran) dan merkapto-
purin. Oleh sebab itu, dosis sitostatika ter-
sebut perlu diturunkan sampai 25-30%. Daya
kerja antikoa gulansia dan klorpropamida
diperku at. Pada pemakaian kombinasi
salisilat dan urikosurika dosisnya perlu
dinaikkan, sebab ekskresi oksipurinol
dipercepat oleh zat-zat itu .
Dosis: pada hiperurikemia 1 dd 100 mg p.c.,
bila perlu dinaik kan setiap minggu dengan
100 mg sampai maksimum 10 mg/kg/hari.
Profilaksis pada pemakaian sitostatika: 600
mg sehari dimulai 3 hari sebelum terapi.
* Febuxostat (Uloric).40 sesudah jangka waktu
40 tahun kini telah dikembangkan lagi suatu
obat baru terhadap encok (2010), yaitu
febuxostat (dosis 40,80 dan 120 mg) dengan
mekanisme kerja serupa dengan alopurinol,
yaitu menurunkan kadar asam urat melalui
penghambatan selektif oleh ksantin-oxi-
dase. Penyelidikan lebih lanjut mengenai
efektivitas dan keamanannya telah selesai
dan sejak 2006 obat ini beredar di USA dan
banyak negara lain. pemakaian nya agak
jarang sebab harganya hampir 3 kali lebih
tinggi. Dosis dimulai rendah 1dd 40 mg dan
berangsur-angsur dapat ditingkatkan sampai
80-120 mg. Untuk menghindari timbulnya
serangan sebaiknya seperti pada alopurinol,
diberikan bersamaan kolkisin atau NSAID
dengan dosis rendah selama 4-6 minggu.
* Pegloticase (Krystexxa) yaitu rekatan ki-
mia dari PEG (polietilenglikol) dengan uri-
kase (peptida). Enzim ini dapat mengubah
asam urat menjadi alantoin yang jauh le-
bih mudah melarut daripada asam urat,
sehingga menghindari pengendapannya.
Dengan demikian kadar urat diturunkan
dan deposit kristal urat di sendi dan jaringan
lunak dikurangi. Pada tahun 2010 FDA
mengidzinkan peredaran obat baru ini untuk
indikasi encok kronis parah yang tidak dapat
diturunkan kadar asam uratnya dengan
alopurinol. Obat ini memiliki t½ panjang,
sekitar 10-12 hari, oleh sebab itu cukup
diberikan intravena 1 kali setiap minggu
sampai 4 minggu.
3. Benzbromaron: Narcaricin, Desuric
Derivat benzofuran ini (1970) bersifat
urikosurik dengan merintangi penyerapan
kembali urat di tubuli proximal. Ekskresinya
ditingkatkan dan kadar urat darah menurun.
Tidak memicu efek paradoksal pada dosis
rendah. Kerjanya pan jang, maka pada peng-
gunaan lama dapat dihentikan selama 2-3
minggu.
Resorpsi dari usus hanya untuk 50%, PP
99% dan t½ 12-24 jam. Dalam hati obat ini
dirombak menjadi metabolit aktif broma ron
dan brombenzaron, yang untuk 90% lebih
diekskresi melalui empedu dan feses. Sisanya
dikeluarkan lewat urin sebagai glukuronida.
Efek samping berupa gangguan lambung-
usus (diare), reaksi alergi kulit, nyeri kepala,
kolik ginjal, sering berkemih dan provokasi
serangan encok. Overdosis memicu
mual dan muntah, hepatitis dan gangguan
fungsi ginjal.
Dosis: oral permulaan 1 dd 50 mg d.c.,
berangsur dinaikkan sampai maksimal 300
mg; pemeliharaan 50-200 mg sehari. Selama
6 minggu pertama bersama kolkisin atau
NSAID untuk menghindari serangan.
4. Probenesid:Probenid, Benemid, Benuryl
Derivat asam benzoat ini (1951) juga bersi-
fat urikosurik dengan mekanisme sama
seperti benzbromaron. Dengan meningkatnya
kadar urat dalam urin, penderita harus
banyak minum untuk mengurangi risiko
timbulnya batu ginjal. Juga dianjurkan untuk
pada awal terapi memakai kolkisin atau
obat NSAID untuk menghindari tercetusnya
serangan encok, yang dapat timbul pada seki-
tar 20% penderita yang diobati hanya dengan
probenesid saja.
Kini obat ini khusus dipakai pada tera-
pi interval encok. Probenesid tidak efektif
terhadap serangan akut. Pada dosis yang lebih
rendah dari 500 mg/hari berefek paradoksal,
yakni justru menghambat ekskresi. Semula
zat ini dipasarkan berdasar khasiat-
nya dapat menghambat ekskresi tubuler
dari penisi lin, sehingga kadar darahnya
meningkat dan efeknya diperpan jang.
Obat ini juga merintangi ekskresi dari
banyak obat lain, antara lain sefalosporin
(kecuali sefaloridin), eritromisin, sulfona-
mida, diuretika thiazida dan furosemida,
indometasin, naproksen dan PAS sehingga
kadar plasma dari obat-obat ini meningkat.
Oleh sebab itu dosisnya sering kali harus
dikurangi.
Resorpsi di usus cepat dan tuntas, efek
urikosurik sudah dimulai sesudah 30 menit
dan penghambatan ekskresi penisilin sesudah
2 jam. PP ±90%. Ekskresi terutama sebagai
metabolit melalui urin. Plasma-t½ 4-17 jam
dan tergantung dosis.
Efek samping tidak begitu sering terjadi
dan berupa gangguan lambung-usus, sakit
kepala, reaksi alergi kulit, sering berke mih
dan kolik ginjal. Juga dapat terbentuk batu
urat, yang dapat dihindari dengan membuat
kemih alkalis sampai pH 6,5 (dengan natri-
umsitrat atau -bikarbonat). Jarang sekali me-
nimbulkan kelainan darah atau nefritis.
Interaksi: Toksisitas MTX dapat meningkat,
sehingga dosisnya harus diturunkan. Salisilat
di atas 1,5 g/hari dapat mengurangi efeknya,
oleh sebab itu jangan dipakai selama
terapi.
Dosis: oral 2 dd 250 mg d.c. selama 1 minggu,
lalu 2 dd 500 mg dan bila perlu berangsur-
angsur dinaikkan sampai maksimal 2 g se-
hari. Untuk memperpanjang daya kerja pe-
nisilin: 4 dd 500 mg; sebagai adjuvans pada
gonore single dose dari 1 g.
ANALGETIKA NARKOTIK
Analgetika narkotik, kini disebut juga opi-
oida (= mirip opiat) yaitu obat-obat yang
mekanisme kerjanya meniru (mimic) opioid
endogen dengan memperpanjang aktivasi
dari reseptor-reseptor opioid (biasanya µ-re-
septor). Zat-zat ini bekerja terhadap reseptor
opioid khas di SSP, hingga persepsi nyeri dan
respons emosional terhadap nyeri berubah
(dikurangi). Daya kerjanya dirintangi oleh a.l.
nalokson. Minimal ada 4 jenis reseptor, yang
pengikatan padanya memicu analge sia.
Tubuh dapat mensinte sis zat-zat opi oidnya
sendiri, yaitu zat-zat endorfin, yang juga be-
kerja melalui resep tor opioid itu .
Endorfin (morfin endogen) yaitu kelompok
polipeptida yang ada di CCS dan da-
pat memicu efek yang menyerupai
efek morfin. Zat-zat ini dapat dibedakan an-
tara ß-endorfin, dynorfin dan enkefalin (Yun.
enkephalos = otak), yang menduduki reseptor-
reseptor berlainan. Secara kimiawi zat-zat ini
berkaitan dengan hormon-hormon hipofisis
dan berefek menstimulasi pelepa san kortiko-
tropin (ACTH), juga somatropin dan prolaktin.
Sebalik nya, pelepa san LH dan FSH dihambat
oleh zat ini. β-endorfin pada hewan berkhasi-
at menekan pernapasan, menu runkan suhu tubuh
dan memicu ketagihan. Lagipula berefek
analgetik kuat, dalam arti tidak mengubah
persepsi nyeri, melainkan memperbaiki “pe-
nerimaannya”. Rangsangan listrik dari bagian-
bagian tertentu otak mengakibat kan pening-
katan kadar endorfin dalam CCS. Mungkin
hal ini menjelaskan efek analgesia yang
timbul selama elektrostimul asi pada aku-
punktur atau pada stres, misalnya pada ce-
dera hebat. Peristiwa efek plasebo juga dihu-
bungkan dengan endorfin.
Penggolongan
Atas dasar mekanisme kerjanya, obat-obat ini
dapat dibagi dalam 3 kelompok, yaitu:
1. agonis opiat, yang dapat dibagi dalam:
– alkaloida candu: morfin, kodein, heroin,
nikomorfin
– zat-zat sintetik: metadon dan derivatnya
(dekstromoramida, propoksifen, bezitra-
mida), petidin dan derivatnya (fentanil,
sufentanil) dan tramadol.
Mekanise kerja obat-obat ini sama dengan
morfin, hanya berlainan mengenai potensi
dan lama kerjanya, efek samping dan risiko
akan kebiasaan dengan ketergantungan fisik.
2. antagonis opiat: nalokson, nalorfin, penta-
zosin dan buprenorfin (Temgesic). Bila diguna-
kan sebagai analgetik, obat-obat ini dapat
menduduki salah satu reseptor.
3. campuran: nalorfin, nalbufin (Nubain). Zat-
zat ini dengan kerja campuran juga mengikat
pada reseptor opioid, namun tidak atau ha-
nya sedikit mengaktivasi daya kerjanya. Kur-
va dosis/efeknya memperlihatkan plafon
yang berarti sesudah dosis tertentu, pening-
katan dosis tidak memperbesar lagi efek
analgetikya. Praktis tidak memicu de-
presi pernapasan.
Potensi analgetik
Khasiat analgetik dari morfin oral 30-60 mg
dapat disamakan dengan dekstromoramida
5-10 mg, metadon 20 mg, dekstropropoksifen
100 mg, tramadol 120 mg, pentazosin 100/180
mg dan kodein 200 mg.
Khasiat analgetik dari morfin subkutan/
i.m. 10 mg yaitu kurang lebih ekivalen de-
ngan fentanil 0,1 mg, heroin 5 mg, metadon
10 mg, nalbufin 10 mg, petidin 75/100 mg,
pentazosin 30/60 mg dan tramadol 100 mg.
Undang-Undang Narkotik. Di kebanyakan
negara, beberapa unsur dari kelompok obat
ini, seperti propoksifen, pentazosin dan trama-
dol, tidak termasuk dalam Undang-undang
Narkotik, sebab bahaya kebias aan dan
adiksinya ringan sekali. Namun pengguna-
annya untuk jangka waktu lama tidak dian-
jurkan. Sejak tahun 1978 sediaan-sediaan
dengan kandungan propok sifen di atas 135
mg di negeri Belanda dima sukkan dalam
Opiumwet (Undang-Undang opiat). Lihat se-
lanjutnya Bab 23, Drugs.
Mekanisme kerja
Endorfin bekerja dengan jalan menduduki
reseptor-reseptor nyeri di SSP, hingga pera-
saan nyeri dapat diblokir. Khasiat analgetik
opioida berdasar kemampuannya untuk
menduduki sisa-sisa reseptor nyeri yang
belum ditempati endorfin. namun bila anal-
geti ka itu dipakai terus-menerus,
pembentukan reseptor-reseptor baru disti-
mulasi dan produksi endorfin di ujung saraf
otak dirin tangi. Akibatnya terjadilah kebia-
saan dan ketagihan.
pemakaian
Rasa nyeri hebat (seperti pada kanker)
Ada banyak penyakit yang disertai rasa
nyeri, yang terkenal yaitu influenza dan
kejang-kejang (pada otot atau organ), artro-
se dan rema (pada sendi) dan migrain. Un-
tuk gangguan-gangguan ini tersedia obat-
obat khas (a.l. parasetamol, NSAID’s, suma-
triptan). namun yang paling hebat dan men-
cemaskan yaitu rasa sakit pada kanker,
walaupun sebetulnya hanya kurang lebih dua
per tiga dari penderita yang mengalaminya.
Begitu pula hanya ±70% disebabkan langsung
oleh penyakit ganas ini, di luar ini perasaan
sakit memiliki etiologi lain, mis. artritis. Oleh
sebab itu prinsip untuk menghilangkan
atau mengurangi rasa sakit berupa penelitian
dengan saksama pemicu nya, obat-obat apa
yang layak dipakai sesuai tangga analgetika
(lih. di bawah) dan memantaunya secara
periodik untuk mendapatkan cara pengen-
dalian rasa sakit yang optimal.
Rasa sakit merupakan suatu pengalaman
yang rumit dan unik untuk tiap individu
yang juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psi-
kososial dan spiritual dari ybs. Oleh sebab
itu untuk kasus-kasus perasaan nyeri yang
tidak/sukar terkendalikan yaitu penting
untuk memperhitungkan faktor-faktor terse-
but. di atas.
Tangga analgetika (tiga tingkat). WHO telah
menyusun suatu program pemakaian anal-
getika untuk nyeri hebat, seperti pada kanker,
yang menggolongkan obat dalam tiga kelas,
yaitu:
a. non-opioida: NSAID’s, termasuk asetosal,
parasetamol dan kodein
b. opioida lemah: d-propoksifen, tramadol
dan kodein, atau kombinasi parasetamol
dengan kodein
c. opioida kuat: morfin dan derivatnya
(heroin) serta opioida sintetik
Menurut program pengobatan ini pertama-
tama diberikan 4 dd 1 g paracetamol, bila
efeknya kurang, beralih ke 4-6 dd parase-
tamol-kodein 30-60 mg. Baru bila langkah
kedua ini tidak menghasilkan analgesi yang
memuaskan, dapat diberikan opioid kuat.
Pilihan pertama dalam hal ini yaitu morfin
(oral, subkutan kontinu, intravena, epidural
atau spinal).
Tujuan utama dari program ini yaitu
untuk menghindari risiko kebiasaan dan
adiksi untuk opioida, bila diberikan tanpa
aturan.
Efek-efek samping umum
Morfin dan opioida lainnya memicu
sejumlah besar efek samping yang tidak di-
inginkan, yaitu:
– supresi SSP, misalnya sedasi, menekan
pernapasan dan batuk, miosis, hipothermia
dan perubahan suasana jiwa (mood). Aki-
bat stimulasi langsung dari CTZ (Chemo
Trigger Zone) timbul mual dan muntah.
Pada dosis lebih tinggi memicu
menurunnya aktivitas mental dan mo-
torik.
– saluran pernapasan: bronchokonstriksi,
pernapasan menjadi lebih dangkal dan
frekuensinya menurun
– sistem sirkulasi: vasodilatasi perifer, pa-
da dosis tinggi hipotensi dan bradycardia
– saluran cerna: motilitas berkurang (obs-
tipasi), kontraksi sfingter kandung empe-
du (kolik batu empedu), sekresi pankreas, usus
dan empedu berkurang
– saluran urogenital: retensi urin (sebab
naiknya tonus dari sfingter kandung ke-
mih), motilitas uterus berkurang (waktu
persalinan di perpanjang)
– histamin liberator: urticaria dan gatal-
gatal, sebab stimulasi pelepa san histamin
– kebiasaan dengan risiko adiksi pada pe-
nggunaan lama. Bila terapi dihentikan da-
pat terjadi gejala abstinensi.
Kehamilan dan laktasi. Opioida dapat me-
lintasi plasenta, namun boleh dipakai sam-
pai beberapa waktu sebelum persalinan.
Bila diminum terus menerus, zat ini dapat
merusak janin akibat depresi pernapasan
dan memperlambat persalinan. Bayi dari ibu
yang ketagi han menderita gejala abstinensi.
Selama laktasi ibu dapat memakai opi-
oida sebab hanya sedikit yang masuk ke
dalam air susu ibu.
Kebiasaan dan ketergantungan
pemakaian untuk jangka waktu lama pada
sebagian pemakai menim bulkan kebiasaan
dan ketergantungan. pemicu nya mungkin
sebab berkurangnya resorpsi opioid atau
perombakan/eliminasinya yang diperce pat,
atau bisa juga sebab penurunan kepekaan
jaringan. Obat menjadi kurang efektif, se-
hingga diperlukan dosis yang lebih tinggi
untuk menca pai efek semula. Peristiwa ini
disebut toleran si (menurunnya respons) dan
bercirikan bahwa dosis tinggi dapat diterima
tanpa menimbul kan efek intoksikasi.
Di samping ketergantungan fisik itu
ada pula ketergantun gan psikis, yaitu ke-
butuhan mental akan efek psikotrop (euforia,
rasa nyaman dan segar) yang bisa menjadi
sangat kuat, sehingga pasien seolah-olah ter-
paksa melanjutkan pemakaian obat. Lihat
juga Bab 23, Drugs.
Gejala abstinensi (withdrawal syndrome) se-
lalu timbul bila pemakaian obat dihenti-
kan dengan mendadak dan pada awalnya
bergejala menguap, berke ringat hebat dan
air mata mengalir, tidur gelisah dan kedi-
nginan. Lalu timbul muntah-muntah, diare,
tachycardia, mydriasis (pupil membesar), tre-
mor, kejang otot, peningkatan tensi, yang dapat
disertai dengan reaksi psikis hebat (gelisah,
mudah marah, kekhawatiran mati).
Efek-efek ini menjadi pemicu mengapa
penderita yang sudah ketagihan sukar seka-
li menghentikan pemakaian opiat. Guna
menghindari efek-efek tidak nyaman ini, me-
reka “terpaksa” melanjutkan pemakaian nya.
Ketergantungan fisik lazimnya sudah hi-
lang dua minggu sesudah pemakaian obat
dihentikan. Ketergantungan psikis sering
kali sangat erat, oleh sebab ittu pembebasan
yang tuntas sukar sekali dicapai.
Antagonis morfin
Antagonis morfin yaitu zat-zat yang dapat
melawan efek-efek samping opioida tertentu
tanpa mengurangi kerja analgetiknya. Yang
paling terkenal yaitu nalokson, naltrekson
dan nalorfin. Obat-obat ini terutama digu-
nakan pada overdosis atau intoksikasi. Kha-
siat antagonisnya diperkirakan berda sar kan
penggese ran opioda dari tem patnya di re-
septor-reseptor otak. Antagonis morfin ini
sendiri juga berkhasiat analgetik, namun tidak
dipakai dalam terapi sebab khasiatnya
lemah dan efek samping tertentu mirip mor-
fin (depresi pernapasan, reaksi psikotik).
MONOGRAFI
1. Morfin (F.I.): MSTcontinus, MS Contin, Ka-
panol
Candu atau opium yaitu getah yang
dikeringkan dan diperoleh dari tumbuhan
Papaver somniferum (Lat., memicu tidur).
Morfin mengandung dua kelompok alkaloid
yang secara kimiawi sangat berlainan. Ke-
lompok fenantren meliputi morfin, kodein
dan tebain; kelompok kedua yaitu kelompok
isokinolin dengan struktur kimiawi dan
khasiat sangat berlai nan (a.l. non-narkotik),
yaitu papaverin, noskapin (= narkotin) dan
narsein. Morfin berkhasiat analgetik sangat
kuat, lagi pula memiliki banyak jenis efek
pusat lainnya, a.l. sedatif dan hipnotik,
menimbul kan euforia, menekan pernapasan
dan menghi langkan refleks batuk, yang
semuanya berdasar supresi sususan saraf
pusat (SSP). Morfin juga memicu efek
stimulasi SSP, mis. miosis (penciutan pupil
mata), eksitasi dan konvulsi. Efek stimulasinya
pada CTZ memicu mual dan muntah-
muntah sedang efek perifernya yang
penting yaitu obstipasi, retensi urin dan
pelepasan histamin yang memicu
vasodilatasi pembuluh kulit dan gatal-gatal
(urticaria).
pemakaian nya khusus pada nyeri hebat
akut dan kronis, seperti pasca-bedah dan
sesudah infark jan tung, juga pada tahap terminal
dari kanker. Banyak dipakai sebagai tablet
retard untuk memperpanjang efeknya .
Resorpsi di usus baik, namun BA hanya ±25%
akibat FPE besar. Mulai kerjanya sesudah 1-2
jam dan bertahan sampai 7 jam. Resorpsi
dari suppositoria umumnya sedikit lebih
baik, secara s.c./i.m. baik sekali. PP-nya 35%;
dalam hati 70% dari morfin dimetabolisasi
melalui senyawa konyugasi dengan asam
glukuronat menjadi morfin-3-glukuronida
yang tidak aktif dan hanya sebagian kecil (3%)
dari jumlah ini terbentuk morfin-6-gluku-
ronida dengan daya kerja analgetik lebih kuat
dari morfin sendiri. Ekskresinya melalui urin,
empedu dengan siklus entero hepatik dan feses.
Antidota. Pada intoksikasi dipakai anta-
gonis morfin sebagai antidotum, yaitu nalok-
son, lihat nr 6.
Dosis: dewasa oral 3-6 dd 10-20 mg garam-
HCl, s.c/i.m. 3-6 dd 5-20 mg. Anak-anak: oral
2 dd 0,1-0,2 mg/kg.
Sediaan:
* Pulv. Opii: 10% morfin
* Pulv. Doveri: 1% morfin + Radix Ipeca-
cuanhae + K2SO4.
* Acidov II: pulvis Doveri 150 mg + salamid
350 mg.
* Heroin (diamorfin, diasetilmorfin) ada-
lah turunan semi-sinte tik (Bayer, 1897) de-
ngan kerja analgetik yang 2 x lebih kuat,
namun mengaki batkan adiksi yang cepat
serta hebat sekali dan dianggap sebagai
salah satu obat yang paling berbahaya di
sejarah modern. Dengan alasan ini, heroin
tidak dipakai lagi dalam terapi, namun
sangat diminati oleh para pecan du drugs,
lihat Bab 23. Drugs. Kelarutannya dalam
lipid lebih baik daripada morfin, oleh
sebab itu mulai bekerjanya juga lebih
pesat bila diberikan per injeksi.
2. Kodein (F.I.): metilmorfin, *Codipront
Alkaloid candu ini memiliki khasiat yang
sama dengan indukny a, namun lebih lemah,
misalnya efek analgetiknya 6-7 x kurang kuat.
Efek samping dan risiko adiksinya lebih ri-
ngan, sehingga sering kali dipakai seba-
gai obat batuk, obat anti-diare dan obat an-
tinye ri, yang diperkuat melalui kombinasi
dengan parasetamol/asetosal. Obstipasi dan
mual dapat terjadi terutama pada dosis lebih
tinggi (di atas 3 dd 20 mg). Resorpsi oral dan
rektal baik; di dalam hati zat ini didemetilasi
menjadi norkodein dan morfin (10%) yang
memberikan sifat analgetiknya.
Ekskre si lewat urin sebagai glukuronida
dan 10% secara utuh. Plasma-t½ 3-4 jam.
Dosis: untuk nyeri, oral 3-6 dd 15-60 mg
garam-HCl, anak-anak di atas 1 thn 3-6 dd 0,5
mg/kg. Untuk batuk 4-6 dd 10-20 mg, maks.
120 mg/hari, anak-anak 4-6 dd 1 mg/kg.
* Etilmorfin (Dionin) yaitu derivat dengan
khasiat analgetik dan hipnotik lebih lemah;
penghambatannya terhadap pernapasan juga
lebih ringan. Untuk menekan batuk, zat ini
kurang efektif dibandingkan kodein, namun
dahulu banyak dipakai dalam sediaan
obat batuk.
* Noskapin (narkotin, Longatin, Mercotin,
Neocodin) yaitu alkaloid candu lain, tanpa
sifat narkotik, yang lebih efektif sebagai
obat batuk, lihat selanjutnya Bab 41, Obat-
obat Batuk. Noskapin tidak termasuk dalam
Daftar Narkotik sebab tidak memicu
ketagihan. Dosis: pada batuk 2-3 dd 15-30 mg,
maks. 200 mg/hari.
3. Fentanil: Fentanyl, Durogesic, *Thalamonal
Derivat piperidin ini (1963) merupakan turun-
an dari petidin (Dolantin) yang jarang di-
gunakan lagi sebab efek samping dan sifat
adiksinya, lagi pula daya kerjanya singkat
(3 jam) sehingga tidak layak untuk mereda-
kan rasa sakit jangka panjang. Efek analge-
tik agonis opiat ini 80 x lebih kuat daripada
morfin. Mulai kerjanya cepat, yaitu dalam
2-3 menit (i.v.), namun singkat, hanya ±30
menit. Zat ini dipakai pada anestesi dan
infark jantung.
Efek sampingnya mirip morfin, termasuk
depresi pernapasan, bronchospasme dan ke-
kakuan otot (thorax). Zat ini jarang menim-
bulkan penghambatan sirkulasi seperti penu-
runan cardiac output dan bradycardia.
Dosis: pada infark i.v. 0,05 mg + 2,5 mg
droperidol (Thalamonal), bila perlu diulang
sesudah ½ jam. Plester transdermal (Durogesic)
melepaskan senyawa ini dengan konstan se-
lama 72 jam dan dipakai pada nyeri parah
kronik yang memerlukan zat opioid dan
analgetika lain tidak dapat dipakai .
* Sufentanil (Sufenta/forte) yaitu derivat
(1982) dengan efek analgetik ±10x lebih kuat.
Sifat dan efek sampingnya sama dengan
fentanil. Zat ini terutama dipakai pada
anestesi dan pasca-bedah, juga pada waktu
his dan persalinan (dikombinasi dengan sua-
tu anestetikum).
Dosis: pada waktu his dan persalinan epi-
dural 10 mcg bersama bupivakain, bila perlu
diulang dua kali.
4. Metadon: Amidon, Symoron
Zat sintetik ini (1947) yaitu suatu cam-
puran rasemis, yang memiliki efek analgetik
2x lebih kuat daripada morfin dan juga
berkhasiat anestetik lokal.
Resorpsi di usus baik, PP 90%, plasma-t½
rata-rata 25 jam dan efeknya dapat bertahan
sampai 48 jam pada terapi pemeliha raan bagi
para pecandu. Umumnya metadon tidak me-
nimbulkan euforia, sehingga banyak digu-
nakan untuk menghindari gejala abstinensi
sesudah penghentian pemakaian opioida la-
in. Khusus dipakai bagi para pecandu
sebagai obat pengganti heroin dan morfin
pada terapi substitusi.
Efek samping kurang hebat dari morfin,
terutama efek hipnotik dan efek euforianya
lemah, namun bertahan lebih lama. Penggu-
naan lama juga memicu adiksi yang
lebih mudah disembuhkan. Lihat selanjutnya
Bab 23, Drugs. Efek obstipasinya agak ringan,
namun pemakaian nya selama persalinan ha-
rus dengan berhati-hati sebab dapat mene-
kan pernapasan.
Dosis: pada nyeri oral 4-6 dd 2,5-10 mg
garam-HCl, maks. 150 mg/hari. Terapi peme-
liharaan bagi pecandu: permulaan 20-30 mg,
sesudah 3-4 jam 20 mg, lalu 1 dd 50-100 mg
selama 6 bulan.
Dekstromoramida (Palfium) yaitu opioid
sintetik (1956) yang rumusnya mirip meta-
don. Khasiat analgetiknya sedikit lebih kuat
daripada morfin. Mulai kerjanya cepat, efek-
nya sesudah 20-30 menit dan bertaha n lebih
singkat, ±3 jam. Depresi pernapa san lebih
kuat dibandingkan morfin (pada dosis biasa
dapat terjadi apnoe), begitu pula efek adik-
sinya. Tidak cocok untuk pengobatan nyeri
kronis. Efek sedasi dan obstipasinya lebih ri-
ngan.
Dosis: oral, s.c. atau i.m. 3-4 dd 2,5-5 mg
sebagai hidrogen tartrat. Dapat juga diberikan
sublingual.
5. Tramadol: Tramal
Derivat sikloheksanol sintetik ini (1977)
yaitu campuran rasemis dari 2 isomer. Kha-
siat analgetiknya sedang dan berkhasiat
menghambat reuptake noradrenalin dan be-
kerja antitussif (anti-batuk). Obat ini di se-
bagian negara dianggap sebagai analge-
tikum opiat sebab bekerja sentral, yaitu
melalui pendudukan reseptor µ-opioid oleh
cis-isomernya. namun zat ini tidak menekan
pernapasan, praktis tidak memengaruhi sis-
tem kardiovaskuler atau motilitas lambung-
usus. Walaupun memiliki sifat adiksi ringan,
dalam praktik ternyata risikonya hampir ni-
hil sehingga tidak termasuk Daftar Narko-
tika di kebanyakan negara (AS, GB, BRD,
Belanda, Swis, Swedia dan Jepang) terma-
suk negara kita . Efek analgetik dari 120 mg
tramadol oral setaraf dengan 30-60 mg
morfin oral. pemakaian nya juga rektal
dan parenteral untuk nyeri sedang sampai
hebat, bila kombinasi parasetamol-kodein
dan NSAIDs kurang efektif atau tidak dapat
dipakai . Untuk nyeri akut atau kanker
umumnya morfin lebih ampuh.
Resorpsi di usus cepat dan tuntas dengan
BA rata-rata 78%, PP 20%, plasma-t ½ 6 jam.
Efeknya dimulai sesudah 1 jam dan dapat
bertahan 6-8 jam. Dalam hati sebagian besar
diuraikan menjadi a.l. o-desmetil, metabolit
dengan daya kerja 6 kali lebih kuat melalui
pengikatan pada reseptor µ-opioid. Ekskresi
berlang sung lewat urin, untuk 10% secara
utuh.
Efek samping tidak begitu serius dan paling
sering berupa termangu-mangu, berkeringat,
pusing, mulut kering, mual dan muntah, juga
obstipasi, gatal-gatal, rash, nyeri kepala dan
rasa letih. Risiko habituasi, ketergantungan
dan adiksi ringan, namun tidak dianjurkan
pemakaian nya oleh penderita dengan seja-
rah penyalahgunaan drugs.
Catatan. Semua reseptor µ-opioid agonis
memicu gejala mual dan muntah me-
lalui stimulasi langsung reseptor opioid di
pusat muntah (lih. Bab 17, Antiemetika). Efek
samping gastro-intestinal lainnya yaitu obs-
tipasi yang juga terkait dengan sifat opioid
yakni penurunan peristaltik dan peningkatan
absorpsi air dari usus.7
Wanita hamil dan menyusui. Opioida dapat
melintasi plasenta dan selama ini diketahui
tidak merugikan janin bila dipakai jauh
sebelum partus. Hanya 0,1% dari dosis masuk
ke dalam air susu ibu. Meskipun demikian
tramadol tidak dianjurkan selama kehamilan
dan laktasi.
Dosis: di atas 14 tahun 3-4 dd 50-100 mg,
maks. 400 mg sehari. Anak-anak di atas 1 ta-
hun: 3-4 dd 1-2 mg/kg.
6. Nalokson: Narcan
Antagonis morfin ini memiliki rumus mor-
fin dengan gugus-alil pada atom-N (1969).
Senyawa ini dapat meniadakan semua kha-
siat morfin dan opioida lainnya, terutama
depresi pernapasan tanpa mengurangi efek
analgetiknya. Penekanan pernapasan dari
obat-obat depresi SSP lain (barbital, siklopro-
pan, eter) tidak dihilang kan, namun juga tidak
diperkuat seperti halnya dengan nalor fin.
Juga tidak memiliki kerja agonistis (analge-
tik). pemakaian nya sebagai antidotum pada
overdosis opioida (dan barbital), pasca-bedah
untuk meng atasi depresi pernapasan oleh
opioida. Secara diagnostik untuk menentu kan
adiksi sebelum dimulai dengan pemakaian
naltrexon.
Kinetik. sesudah injeksi i.v. sudah timbul
efek sesudah 2 menit, yang bertahan 1-4 jam.
Plasma-t½ hanya 45-90 menit, lama kerjanya
lebih singkat dari opioida, maka biasanya
perlu diulan g bebera pa kali.
Efek samping dapat berupa tachycardia
(sesudah bedah jantung), jarang reaksi alergi
dengan syok dan udema paru-paru.
Pada penangkalan efek opioida terlalu pe-
sat dapat terjadi mual, muntah, berkeringat,
pusing-pusing, hipertensi, tremor, seran gan
epilepsi dan terhentinya fungsi jantung.
Dosis: pada overdosis opioida, intravena per-
mulaan 0,4 mg, bila perlu diulang setiap 2-3
menit.
* Nalorfin (alilnormorfin) yaitu zat induk
nalokson (1952) dengan khasiat sama, kecu-
ali juga berkhasiat analgetik lemah di sam-
ping memperkuat depresi yang bersifat ri-
ngan. Zat ini mampu meniadakan depresi
pernapasan yang hebat oleh opioida atau
akibat opioida dengan kerja campuran (ago-
nistis dan antagonistis) dan zat-zat sentral
lain. Zat ini hanya dipakai pada overdosis
opioida, bila nalokson tidak tersedia.
Dosis: pada overdosis s.c./i.m./i.v. 5-10 mg,
bila perlu diulang sesudah 10-15 menit sampai
maks. 40 mg sehari.
* Naltrekson (Nalorex) yaitu juga derivat
nalokson, pada mana gugus-alil diganti de-
ngan siklopropil (1985). Sifatnya antagonis
murni yang tidak memicu toleransi
atau ketergantungan fisik dan psikis. Dalam
hati zat ini diubah menjadi a.l. metabolit
aktif 6β-naltreksol yang terutama diekskresi
melalui urin. Naltrekson mengalami siklus
enterohepatik dengan masa paruh 4-12 jam.
Pengunaannya terutama untuk meng-
hambat efek opioida berdasar pengikatan
kompetitif pada reseptor opioid dan sebagai
obat anti-ketagihan heroin. Pada pecandu
opiat memicu gejala abstinensi hebat
dalam waktu 5 menit, yang dapat bertahan 48
jam. Obat ini hanya boleh diberikan sesudah
penghentian heroin/morfin atau metadon
minimal masing-masing 7 dan 10 hari. Dosis:
permulaan 25 mg, bila tidak terjadi efek
abstinensi sesudah 1 jam diulang dengan 25
mg. Lalu 50 mg sehari selama 3 bulan atau
lebih lama.
7. Pentazosin: Fortral
Zat sintetik ini merupakan turunan dari
morfin (1964), pada mana cincin fenantren
diganti oleh naftalen. Gugus-N-allil membe-
rikan efek antagonis terhadap opioida lain-
nya. Khasiatnya beragam, yaitu di samping
antagonis lemah, juga merupakan agonis
parsiil. Khasiat analge tik nya sedang sampai
kuat, antara kodein dan petidin (3-6 x lebih
lemah daripada morfin). Di AS sering kali
disalahgunakan dalam kombinasi dengan
antihistam inika dan nalokson.
Resorpsi di usus baik, namun BA hanya ±20%
akibat FPE besar. Mulai kerjanya cepat, sete-
lah 15-30 menit dan bertahan minimal 3 jam.
Efek rektalnya sama dengan pemakaian
oral. PP 60%, plasma-t½ 2-3 jam. Dalam
hati zat ini diubah menjadi metabolit yang
diekskresi terutama lewat urin.
Dosis: pada nyeri sedang sampai kuat 3-4
dd 50-100 mg, maks. 600 mg sehari.
8. Kanabis: marihuana, *hashiz, weed, grass
Pucuk dengan kembang dan buah-buah
muda yang dikeringkan dari bentuk wani-
ta tumbuhan Cannabis sativa (Asia Barat).
Kandungannya 0,3% minyak atsiri dengan
zat-zat terpen, terutama tetrahid ro kanabinol
(THC). Zat ini banyak khasiat farmakologis-
nya, yang terpenting di antaranya yaitu
sedatif, hipno tik dan analge tik, antimual
dan spasmolitik.
Khasiat analgetik dari THC terjadi di batang
otak, di mana juga ada titik kerja dari
opioida. Hanya mekanisme kerjanya yang
berlainan, reseptor morfin tidak memegang
peranan dan nalokson tidak melawan efek
analgesiknya. Di samping itu, ambang nyeri
diturunkan (Lancet 1998; 352: 1040). Dahulu
(meskipun jarang) kanabis dipakai seba-
gai obat tidur, sedativum dan spasmolitikum
pada tetanus, umumnya dalam bentuk eks-
trak 2-3 dd 30-50 mg. Sekarang kanabis
banyak disalahgunakan sebagai zat penyegar
narkotik (“drug”).
Penelitian akhir-akhir ini melaporkan efek-
tivitas dan pemakaian nya sebagai anti-
emetikum (dan analgetikum) pada kanker,
stimulans nafsu makan pada penderita
AIDS dan obat relaksasi kejang/otot pada
MS. Lihat selanjutnya Bab 23, Drugs.
9. Alfentanil: Rapifen
berdasar indikasinya senyawa ini pe-
nggunaannya di (poli) klinik terbatas. Ago-
nis opiat sintetik ini memiliki daya kerja
analgetik kuat dan bekerja maks. sesudah 1
menit dengan lama kerja 10-20 menit. PP
92% dan dimetabolisasi dalam hati men-
jadi metabolit-metabolit tidak aktif yang di-
ekskresi terutama via urin.T1/2 di antara 80-
220 menit. dipakai sebagai zat analgetik
pada anestesi singkat.
Efek samping sering kali (>10%) nyeri pada
lokasi injeksi, mual dan muntah, mengantuk,
kaku otot, depresi pernapasan, pusing dan
gangguan penglihatan.
Dosis: untuk penanganan lebih singkat dari
10 menit: i.v. 7-15 mcg/kg.
10. Buprenorfin: Transtec, Butrans, Temgesic
Agonis opiat semisintetik ini memiliki
daya kerja analgetik kuat dan antara lain
dipakai dalam bentuk plester yang
melepaskan senyawa ini dengan kecepatan
yang relatif konstan.
Kecepatan kerja: i.v. sesudah 15-30 menit
dan i.m./oromukosal sesudah 30-50 menit
selama 6 jam. Resorpsi sesudah injeksi i.m.
cepat namun lambat melalui oromukosal. PP
95% dan dimetabolisasi dalam hati menjadi
a.l. norbuprenorfin.
Ekskresi 2/3 bagian utuh melalui feses dan
sepertiga via urin. T1/2 dari tablet oromukosal
3-4 jam dan dari plester ± 20 jam. dipakai
terhadap nyeri pasca bedah dan nyeri akibat
kanker. Jangan dipakai oleh wanita hamil
dan yang menyusui.
Efek samping tergantung dari bentuk pem-
beriannya. Pada pemberian parenteral me-
ngantuk dan apathi. Melalui plester sering
kali mual, eritem dan gatal di tempat injeksi,
juga muntah, obstipasi, sakit perut, mulut
kering, sakit kepala dan pusing.
Dosis: untuk nyeri pasca bedah permulaan
i.m. 0,3-0,6 mg. Lansia 1-4 dd 0,2 mg. Nyeri
sebab kanker: oromukosal 3-4 dd 0,2-0,4 mg
11. Hidromorfon: Paladon
Merupakan alkaloid candu dengan khasiat
analgetik kuat yang efektif dalam 5 menit
sesudah injeksi i.v., atau 5 – 10 menit sesudah
injeksi s.k. dan 30 menit sesudah pemberian
per oral yang berlangsung untuk 4 jam. Da-
ya kerjanya berlangsung selama 12 jam pada
pemberian per oral dari sediaan time re-
leased.
Di dalam hati dimetamobilisasi melalui
konyugasi menjadi terutama glukuronida.
Ekskresi via urin terutama sebagai hidro-
morfon terkonyugasi. T1/2 2-4 jam. dipakai
pada nyeri kanker hebat dan nyeri pasca
bedah.
Dosis: untuk nyeri kanker permulaan 1,3-2,6
mg tiap 4-6 jam dan tergantung dari hebatnya
nyeri dosis dapat ditingkatkan 25-50% per 24
jam. I.v. permulaan 1-1,5 mg tiap 3-4 jam.
Injeksi s.k. 1-2 mg tiap 3-4 jam. Untuk lansia
dosis awal dianjurkan untuk dikurangi.
12. Oksikodon: OxyContin, OxyNorm
Khasiat farmakologiknya tidak banyak ber-
beda dari morfin, yaitu analgetik, anksiolitik
dan sedatif. Resorpsi tahap cepat ±37 menit dan
tahap lambat ±6 jam. Di metabolisasi terutama
menjadi metabolit senyawa noroksikodon
dan senyawa oksimorfon. Sifat analgetik dari
noroksikodon yaitu ±1% dari oksikodon
sedang dari oksimorfon 14 kali lebih ku-
at. T1/2 ±3 jam (kapsul, tablet) dan 3,5 jam
(larutan injeksi). dipakai terhadap nyeri
hebat a.l. pasca bedah.
Efek samping sering kali (>10%) sedasi, obs-
tipasi, mual , muntah dan sakit kepala. Juga
ano










