Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 7

 


na virus 

(Hepatitis B; HBV) dan juga Human papillo-

mavirus (HPV)pemicu  kutil genital dan 

kanker cervix. 

b. Virus RNA terpenting yaitu  Retrovi rus 

HIV (pemicu  AIDS, ditemukan oleh Luc 

Montagnier 1984), virus hepati tis (pe nyakit 

kuning), rhabdovirus (rabies), rhinovirus (se-

lesma), corona virus (SARS) dan polio virus 

(pemicu  penyakit lumpuh layuh pada 

anak-anak, poliomyelitis). Begitu pula virus 

influenza (flu), rotavi rus (diare), virus ru bella 

gambar 7-1: Infeksi dan perbanyakan virus

1. Virus DNA mendekati sel sehat

2. Virus menembus dinding sel dan membuang

dinding dengan proteinnya.

3. Virus melepaskan bahan-bahan genetis

(gen-gen)

4. DNA virus “menyalahgunakan” enzim-enzim

dan bahan bangun sel untuk memperbanyak

diri. Akibatnya sel mati.

5. Partikel-partikel virus yang baru akan keluar

dari sel dan menyerang sel-sel sehat lain.


(“rode hond”), bermacam-macam para myxovi-

rus: virus rubeo la = mor billi dan virus beguk 

(“mumps”) serta berbagai flavi vi rus, a.l demam 

kuning (yellow fever) dan Hepatitis C.

Penelitian obat antiviral.

Penelitian virustatika mulai berkembang se- 

kitar tahun 1956 saat ditemukan bahwa virus 

dapat dikembangbiakkan dalam telur ayam 

yang telah dibuahi. Penemuan ini membe-

rikan dorongan kuat ke arah pembuatan 

vaksin dan penaklukan penyakit-penyakit 

virus penting, seperti cacar (variola major), 

polio, campak, rubella, mumps dan hepati-

tis. Lihat selanjutnyaBab 50. Sera dan vaksin. 

sesudah  infeksi virus dapat bermukim ber-

tahun-tahun di dalam sel tuan-rumah tanpa 

memicu  gejala. Dalam tahap  laten ini 

virus tidak peka terhadap obat-obat. Baru 

pada tahap  replikasi obat-obat berdaya me-

musnahkannya dengan jalan mengganggu 

sistem enzim bersangkutan. Namun sebab  

enzim-enzim itu  yaitu  milik sel tuan-

rumah, maka obat antivirus perlu berkhasiat 

spesi fik terhadap virus tanpa merusak sel 

tuan-rumah. Adanya hubungan erat ini, yaitu 

antara virus dan proses metabo lis me sel tuan-

rumah, sangat mempersulit riset obat-obat 

yang secara selektif berdaya menghamba t 

pertum buhan virus. 

Dalam memerangi infeksi virus, semua 

sistem tangkis dikerahi, a.l. sistem imun alami 

maupun sistem imun spesifik yang diperoleh 

dan mencakup sel-sel B dan limfosit-T CD4+ 

dan CD8+.

Populasi T-sel ini yang terdiri dari sel-sel 

memori terhadap berbagai virus spesifik me-

miliki peranan sentral pada perlindungan 

dan pengontrolan infeksi virus. Lihat Bab 49, 

Dasar-dasar Imunologi.

Interferon yaitu  glycoprotein yang di-

produksi oleh sel-sel yang terinfeksi virus, 

makrofag dan T-limfosit. Ada 3 tipe inter-

feron manusia, yakni alfa-, beta- dan gamma-

interferon, yang sejak 1985 telah diperoleh 

murni dengan jalan teknik rekombinan 

DNA. Pada proses ini, “sepotong” DNA 

dari lekosit yang mengandung gen inter-

feron, dimasukkan ke dalam plasmid kuman 

E. coli. Dengan demikian kuman ini mam-

pu memper banyak DNA itu  dan men-

sintesis interferon. 

* Interferon-alfa dan -beta (IFN-a/b) diben-

tuk oleh bermacam-macam sel sebagai reaksi 

terhadap infeksi viral. Fungsinya mencegah 

infeksi lebih lanjut dengan jalan menduduki 

reseptor-reseptor spesifik di membran-mem-

bran sel sehat, sehingga tidak dapat dipe- 

netrasi oleh virus. Di samping berkhasiat 

virustatik, juga berdaya sitostatik (antitu-

mor), yakni meng ham bat pertum buhan sel-

sel tumor dan mensti mulasi makro fag dan 

NK-cells (Natu ral Killer cells) yang dapat 

mende teksi sel-sel tumor (dan sel-sel yang 

diinvasi virus) untuk kemudian memus- 

nahkannya. IFN-alfa dipakai  antara lain 

pada hepati tis dan jenis-jenis leukemia 

terten tu, sedang  IFN-beta khusus pada 

MS (multip le sclerosis).

* Interferon-gamma (IFN-g) (dan limfokin-

limfokin lain) dibentuk oleh limfo-T dan ber-

fungsi mengatur proses-proses imun. Khasiat 

antivi ralnya lemah dibandingkan IFN-a dan 

IFN-b. 

Penyakit virus penting

Penyakit-penyakit yang disebabkan virus 

banyak sekali dan meliputi gangguan-gang-

guan ringan, seperti selesma (pilek biasa), 

influenza (pe rut), biang keringat (rubella, 

‘rode hond’), cacar air Varicella (“chickenpox”), 

campak (morbilli, measles), cacar (variola), 

beguk (parotitis, bof, ‘mumps’), Pfeif fer (‘kissing 

disease’) dan sinannaga (herpes zoster, ‘gor-

delroos’) sampai penyakit-penyakit serius, 

seperti dengue, radang hati (hepatitis), penyakit 

lumpuh layu (polio myeli tis), penyakit-penya-

kit kelamin herpes dan hepatitis B/C, kanker 

cervix, Ebola dan AIDS. 

Kebanyakan penyakit viral ini sudah dapat 

diatasi, bahkan pada tahun 1980 WHO telah 

menyatakan virus cacar sudah musnah di 

seluruh dunia. Pada tahun 1988 Organisa-

si Kesehatan Dunia (WHO) mencanang kan 

program pemusnahan virus polio untuk 

ke-dua kalinya dalam sejarah dengan tujuan 

membebaskan dunia dari penyakit infeksi ini 

selambat-lambatnya akhir tahun 2005 dengan 

jalan vaksinasi secara besar-besaran. namun  

tujuan ini ter nyata belum berhasil sebab  di 

tahun 2006 polio masih endemik (= selalu 

ada ) di beberapa negara Asia dan Afrika 

(van der Avoort HGAM. Poliomyelitis in 2006: 

alles of niets. NTvG 2006; 150:2689-92).

Di tahun 1995 negara kita  mencanangkan 

kampanye besar-besaran lewat Pekan Imu-

nisasi Nasional (PIN) untuk memerangi pe-

nyakit infeksi virus ini. sesudah  l.k. 10 tahun 

negara kita  dinyatakan bebas polio, namun 

pada awal tahun 2005 di negara kita  kembali 

timbul epidemi polio dengan ±15 kasus di 

Sukabumi, Jawa Barat, sehingga DepKes 

meng anggap perlu untuk di bulan Agustus 

2006 melakukan vaksinasi massal dengan 

vaksin polio oral (OPV, Sabin). Dalam rangka 

membebaskan negara kita  dari virus polio, 

imunisasi terpadu akan terus digalakan. 

Sejak tahun 2005 sudah 5 kali dilaksanakan 

PIN dan terakhir di tahun 2006 dengan target 

negara kita  harus bebas polio pada tahun 2008.

Virus polio yang timbul kembali di negara kita  

pada tahun 2005 diperkirakan berasal dari 

negara Afrika-Asia di mana penyakit ini masih 

endemik, seperti Sudan, Nigeria, Pakistan, 

India, dan Afganistan. Dalam tahun 2006 Me-

sir dinyatakan bebas polio.

Virus-virus baru. Pada dasawarsa ter-

akhir dunia telah dilanda sejumlah penya kit 

virus baru yang hebat dan sering kali bersifat 

epidemi. Yang paling ganas yaitu  AIDS 

yang diakibatkan infeksi HIV. Meskipun ada 

ikhtiar bersama secara besar-besaran dari 

para ilmuwan di seluruh dunia, hingga kini 

belum ditemukan obat yang dapat dikatakan 

ampuh. Hepatitis pun mulai menjadi ma-

salah mendunia pula, sedang  dengue 

dan Ebola, Lassa dan Hanta merupakan 

epidemi-epidemi kecil di Asia Tenggara, 

Afrika dan Amerika. Menjelang akhir abad 

ke-20 di Hong Kong timbul virus influenza 

unggas yang pertama kali ditularkan kepada 

manusia via kontak langsung dari ayam/

burung. Kemudian di tahun 2003 dunia di-

landa oleh virus SARS yang pertama kali 

muncul di Cina pula.

Fakta yang sangat mencolok pada epidemi-

epidemi baru itu  yaitu  bahwa virus-

virus baru itu kebanyakan berasalkan dari 

jenis-jenis hewan tertentu (lihat di bawah). 

Misalnya virus influenza bermukim di babi 

dan ternak bersayap, sedang  virus demam 

kuning dan AIDS pada mulanya ada  

pada kera. sebab  virus mampu memper-

banyak diri dengan cepat dan mudah ber-

mutasi secara spontan, maka cepat sekali 

terbentuk varian-varian baru. Akibat mutasi 

yang tak terduga, virus-virus hewan men-

dadak dapat ditularkan ke manusia. Para 

ahli meramalkan bahwa di masa depan akan 

selalu muncul virus-virus baru yang dapat 

memicu  epide mi-epidemi serius yang 

mengancam manusia.

Zoonosa: dengan istilah ini dimaksudkan 

penyakit-penyakit infeksi yang berasal dari 

hewan dan menjangkiti manusia melalui 

kontak langsung dengan hewan atau me-

ngonsumsi produk-produk berasalkan hewan 

seperti susu, daging dan telur. pemicu  

zoonosa dapat dibagi dalam kelompok- 

kelompok virus, jamur, bakteri, protozoa dan 

bahkan cacing. Juga dapat dibedakan antara 

zoonosa lama dan yang baru. Misalnya yang 

lama yaitu  penjangkit infeksi salmonella 

dan campylobacter, sedang  yang baru 

yaitu  virus influenza H5N1 dan H7N9 

(2013 di Cina), virus SARS dan yang paling 

resen yaitu  virus MERS. Akhir-akhir ini 

telah timbul kembali zoonosa lama yang 

memicu  demam Q, sebagai akibat 

komsumsi daging yang terkontaminasi de-

ngan Coxiella burnetii, dengan gejala demam, 

pneeumoni, hepatitis, sakit kepala, mual 

muntah dan sakit otot.

Hewan-hewan dan zoonosa yang bersang-

kutan yaitu  a.l. sebagai berikut:

– kambing (demam Q, leptospirosa, salmo-

nellosa, toksoplasmosa);

– anjing (rabies, salmonellosa, toksoplas-

mosa, trichinellosa);

– kucing (demam Q, leptospirosa, salmo-

nellosa, toksoplasmosa);

– sapi (E.coli, fasciolosa, rabies, demam Q, 

salmonellosa, toksoplasmosa);

– babi (MRSA, brucellosa, rabies, salmo-

nellosa, toksoplasmosa).

Mereka yang dapat terjangkit infeksi aki-

bat zoonosa yaitu  terutama anak-anak, 

lansia, ibu hamil dan yang daya tahannya 

me nurun. Juga termasuk dalam kelompok 

risiko ini yaitu  orang yang sebab  pro-

fesinya bersentuhan dengan hewan atau 

produk-produknya.

Slow virus. Di samping itu masih ada se-

jumlah penyakit yang hingga kini belum 

diketahui pemicu nya, namun  menurut per-

kiraan ditimbulkan oleh infeksi pada usia 

sangat muda dengan suatu ‘slow virus’ yang 

tidak dike nal. Misalnya, diabetes tipe I, rema 

(arthritis rheumatica), multip le sclero sis ( M.S.), 

keleti han kronis (M.E., Chronic Fatigue Syndro-

me) dan bentuk-bentuk kanker tertentu.

1. HIV dan AIDS 

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syn-

drome) atau Sindroma Cacat Kekebalan 

Dapatan merupakan epidemi mikroorga-

nisme terpenting dari abad ke-20, yang untuk 

pertama kalinya disinya lir di AS pada awal 

tahun 1980-an.

pemicu nya yaitu  HIV (Human Immu-

nodeficiency Virus) yang menurut perkiraan 

sudah lama sekali ada  pada binatang 

liar. Akibat kontak erat dengan khususnya 

binatang-binatang mengerat, virus telah “me- 

loncat” ke manusia. Terutama pada dasawar-

sa terak hir, HIV dan beberapa virus lainnya 

(antar a lain virus Ebola) muncul dari hu tan 

rimba. HIV dan AIDS dengan pesat menyebar 

ke seluruh dunia, sebab  bertahun-tahun pe-

nyakit ini tidak menun jukkan gejala apapun. 

Selama masa inkubasi panjang itu, pembawa-

virus (orang seropositif) yang masih sehat dan 

tanpa keluhan dapat menular kan virus ke-

pada orang lain sebelum diri nya menjadi sakit 

dan kemudian meninggal.

Di tahun 1996 telah diperkenalkan terapi 

antiretroviral kuat, yakni HAART (highly 

active antiretroviral therapy), yang terdiri 

atas kombinasi (life-saving “cocktail”) dari 

minimal tiga obat antiretroviral ampuh (triple 

therapy) dan dijulukkan sebagai “Lazarus 

effect.” (kisah dari Kitab Injil mengenai ke-

bangkitan Lazarus dari kematian oleh Jezus).

Sejak saat itu infeksi HIV dapat dikenda-

likan dengan menekan replikasi viral seca-

ra tuntas untuk jangka waktu panjang. Juga 

perkembangan resistensi viral dapat dihin-

dari. Berkat HAART infeksi HIV dewasa 

ini dapat ditanggulangi dengan baik dan 

mortalitas penyakit AIDS telah menurun 

dengan peningkatan harapan hidup.

Salah satu syarat bagi suksesnya peng-

obatan yaitu  kesetiaan terapi

Obat-obat ini tidak menyembuhkan pe-

nyakit namun  memperlambat progres dari 

virus dengan menekan replikasinya dan 

menghindarinya untuk dengan cepat me-

musnahkan daya tahan tubuh, sehingga HIV 

bukan lagi merupakan ancaman jiwa (death 

sentence).

Namun demikian dewasa ini AIDS masih 

merupakan pemicu  kematian nomor 4 

di seluruh dunia. Di tahun 2004 jumlah 

kematian sebab  infeksi yang belum ada 

obatnya ini yaitu  ±3,1 juta.

Menurut laporan prevalensi HIV/AIDS 

di tahun 2003 yaitu  kurang lebih 40 juta di 

seluruh dunia dan terbanyak yaitu  di Afrika 

dengan kurang lebih 35 juta kasus (Botswana, 

Zimbabwe) (Report on the Global HIV/AIDS 

Epidemic, UNAIDS, 2002). Penambahan 

kasus infeksi baru di tahun 2004 yaitu  ku-

rang lebih 4 juta di benua ini. Juga di Cina 

insidensi infeksi AIDS memperlihatkan ke-

cenderungan meningkat dengan kurang 

lebih 70.000 kasus terinfeksi HIV/AIDS di 

tahun 2005 (WHO 2005). 

Di banyak negara Barat, penyebaran AIDS 

sudah dapat dihen tikan berkat penyulu han 

besar-besaran dengan kampa nye nasional 

mengenai AIDS, prevensi dan kontak seksual 

secara aman (‘safe sex’).

Menurut laporan DitJen Pemberantasan 

Penyakit Menular dan Penyehatan Ling-

kungan Permukiman (PP & PL) DepKes RI, 

sampai dengan kwartal ketiga tahun 2006 

secara kumulatif di seluruh negara kita  jumlah 

pengidap infeksi HIV melebihi 4600 kasus, 

sedang  penderita AIDS sebanyak hampir 

7000 orang dan l.k. 1650 di antaranya telah 

meninggal dunia.

Jumlah sebenarnya diperkirakan jauh le-

bih besar (diperkirakan 120.000 kasus; CIA 

2004). Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi 

dilaporkan dari propinsi Papua, disusul oleh 

DKI Jakarta, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat 

dan kepulauan Riau dengan jumlah kasus 

kian meningkat terutama akibat penularan 

melalui jarum suntik oleh pecandu narkoba 

(IDU atau injecting drug user) (diperkirakan 

190-240 ribu orang) dan perilaku seks tidak 

aman. 

HIV self-test. Sejak tahun 2000 di negeri 

Belanda sudah dapat diperoleh HIV-selftest 

kit (serupa dengan pregnancy test kit) untuk 

melakukan pemeriksaan sendiri terhadap 

infeksi HIV. namun  di beberapa negara Eropa 

penjualan test demikian dilarang.

Keuntungan dari tes ini yaitu  kemu dah-

an bagi orang untuk mentes diri sendiri, me-

ngingat bahwa sebagian orang sungkan atau 

takut untuk menjalani pemeriksaan demikian 

oleh dokter atau fasilitas peme riksaan publik. 

Kendalanya yaitu  tidak ada counseling 

dan pengarahan lanjutan oleh seorang profe-

sional, di samping semua tes demikian tidak 

100% dapat dipercaya, walaupun diklaim 

bahwa kepekaan dan spesifisitasnya masing-

masing > 99,9% dan > 99,6%.26

Mekanisme kerja. HIV yaitu  virus-RNA 

yang termasuk kelompok retrovirus. Virus 

ini memasuki sel sel limfosit T, monosit dan 

makrofag. Lalu enzim reverse-trans criptase 

(RT) ment rans kripsi RNA-nya menjadi 

DNA, dengan lain kata RNAnya membuat 

kopi DNA. Kemudian DNA ini mempe- 

netrasi inti sel dan diinkorporasi ke dalam 

genom sel limfo-T, yang diperintahkan untuk 

memproduksi protein virus baru. Pada repli-

kasi itu terbentuk protein precursor besar, 

yang oleh enzim HIV protease dirombak 

menjadi protein protein lebih kecil yang 

disusun di salut protein dari virus. Sel tuan 

rumah mengeluarkan virus–virus baru itu 

dan sendirinya akan mati. Jadi, HIV seakan-

akan mengubah limfosit menjadi pabrik 

untuk memproduksi virus-virus baru (genom 

= keseluruhan gen dalam inti-sel).

Infeksi seumur hidup. Berlainan dengan 

infeksi  virus lainnya (cacar, campak, influen-

za, dan lain-lain) infeksi dengan HIV bersifat 

permanen sebab  sulit sekali dimusnahkan 

seluruhnya. Virus dapat bersem bunyi di sel-

sel tubuh, terutama dalam CD4+ memory 

cells dan di SSP18,19 tanpa dapat didetek si dan 

tanpa memicu  gejala untuk bertahun-

tahun lamanya. Virus laten ini tidak dapat 

dimusnahkan oleh obat. Bila su atu waktu 

sistem imun melemah, virus laten dapat 

mendadak menjadi aktif lagi. Selain itu HIV 

mampu bermutasi beru langkali secara 

spontan dan adakalanya membentuk varian 

yang lebih ganas (virulen). 

HIV-1 dan HIV-2 yaitu  dua tipe HIV, 

yang hanya dapat ditula ri melalui selaput 

lendir yang mengalami kerusakan (kecil). HIV-1 

ditemukan di seluruh dunia, sedang  HIV-

2 praktis hanya  di Afrika Barat. Penularannya 

terbatas pada kontak homosek sual (genito-anal), 

pengguna narkoba melalui alat suntik dan 

penerima transfusi darah yang tercemar. 

HIV-2 kurang lancar penularannya baik 

seksual maupun dari ibu ke anak dibanding 

HIV-1, juga jalannya penyakit lebih lambat. 

Kedua tipe utama ini memperlihatkan ba-

nyak subtipenya. 

HIV subtipe E telah ditemukan beberapa 

tahun lalu. Berbeda dengan kedua tipe HIV 

itu  di atas, tipe ini berdaya melinta si 

mukosa utuh pada kontak hetero seksual (juga 

oral) dan pada tahun-tahun terak hir ber tang-

gung ja wab atas merajalelanya AIDS dengan 

pesat di Afrika dan Asia Tenggara. 

Penularan terutama terjadi melalui darah, 

mani dan cairan vagi nal, akibat pemakaian  

jarum suntik terinfeksi (pecandu narkotika) 

dan transfusi darah tercemar, serta kontak 

seksual tanpa perlin dungan (kondom) de-

ngan seorang pembawa-HIV. Virus juga dapat 

ditular kan pada bayi oleh ibu seropositif, 

selama hamil atau persalin an, begitu pula 

melalui air susu ibu (ASI). Telah dipastikan 

bahwa penularan tidak dapat terjadi melalui 

liur (ciuman, batuk, bersin dan minum dari gelas 

yang sama) sebab  jumlah virus di dalam liur 

terlampau kecil, tidak pula melalui sengatan 

nyamuk. Oleh sebab  itu pergaulan sosial 

dengan pasien AIDS tidak perlu dihindari. 

Jalannya infeksi. Pada infeksi HIV dapat 

dibedakan tiga tahap : 

a. tahap  pertama. Orang yang terkena infeksi 

menjadi seroposi tif, artinya sesudah  6 

bulan di dalam darahnya dapat dideteksi 

HIV secara tak-langsung (melalui anti-

bodies). Pada persen tase kecil, beberapa 

hari sesudah  infeksi timbul gejala flu berat 

selama lebih kurang seminggu. Keluhan 

ini diakibatkan invasi dan replikasi dari 

ribuan HIV di dalam limfo-T. 

b. tahap  kedua. Kemudian sistem-imun ‘me-

nangkap’ dan mengurung semua virus 

di kelenjar limfa, di mana replikasinya 

berlang sung terus. Jaringan yang terin-

feksi dan HIV yang lolos dimusnahkan 

oleh masing-masing T-killer cells dan 

antibodies. Proses ini berlang sung tanpa 

gejala. Setiap tahun semakin banyak HIV 

dapat meloloskan diri dan masuk ke 

dalam sirkulasi dan lebih banyak limfo-T 

mati, sedang  sistem-imun menjadi 

semakin lemah. 

c. tahap  ketiga. Satu sampai 12 tahun ke-

mudian jumlah HIV dalam darah (viral 

load) menjadi besar sekali dan jumlah 

limfo-T helper cells (CD4+) turun dari l.k. 

1.000 sampai l.k. 200/mm3. Baru pada 

saat inilah penyakit AIDS menjadi nyata 

(fullblown) dengan gejala-gejala klinis. 

Hanya lebih kurang 40% dari semua 

orang seropositif yang sebelumnya mera-

sakan dirinya sehat, kini betul-betul men-

jadi sakit de ngan keluhan-keluhan hebat. 

Pada sisanya (60%) tidak akan berkem-

bang AIDS, yang sebab-sebabnya belum 

diketahui.

Gejalanya berupa suprainfeksi hebat de-

ngan fungi (candidiasis mulut/tenggorok) dan 

virus (Herpes dan CMV). sebab  sistem- imun 

penderita sudah menjadi sangat lemah (CD4+ 

limfosit count≥200/ml), maka berbagai 

infeksi kuman sekunder (infeksi oportunistik) 

dapat menghingga pinya (antara lain TBC 

dan sejenis pneumonia terten tu, Pneumocystis 

carinii) serta tumor-tumor ganas (Kaposi sar-

coma, limfo ma) yang akhirnya mengaki batkan 

kematian nya.

Prevensi utama terdiri atas menghindari 

kontak seksual tanpa perlindungan (safe 

sex dengan kondom), memakai  jarum 

suntik bersih (pecan du, akupunktur) dan 

memakai  darah transfusi yang bebas 

HIV. 

Vaksin anti-AIDS belum dapat dibuat 

sebab  HIV sering bermuta si, pada mana 

susunan salut proteinnya —yang berfungsi 

sebagai antigen— berubah secara kontinu. 

yaitu  sangat sulit membuat vaksin 

terhadap beribu-ribu mutan yang terbentuk. 

Lihat juga Bab 50, Sera dan Vaksin.

Teori disiden. Beberapa ilmuwan, biokimiawan Amerika David Rasnick dan Kanada Peter 

Duesburg menentang, bahwa AIDS disebabkan oleh infeksi dengan virus HIV. Menurut mereka di 

Afrika ada  suku-suku orang hitam yang tidak bisa diinfeksikan dengan HIV. Pada hematnya 

AIDS khusus disebabkan oleh kelemahan sistem tangkis tubuh akibat reaksi-reaksi autoimun, yang 

bertalian dengan banyaknya kontak seksual sembarangan. Maka itu AIDS tidak bersifat menular dan 

tidak bisa ditulari melalui kontak seksual pada orang sehat dengan sistem ketahanan baik. 

Presiden Thabo Mbeki dari Afrika Selatan semula menganut teori ini dan meragukan hubungan 

antara HIV dan AIDS serta beranggapan bahwa AIDS diakibatkan oleh kemiskinan dan higiene yang 

buruk. Dia menolak untuk mengobati sekitar 4 juta penderita HIV-AIDS di negaranya – yaitu 10% 

dari populasi total- dengan cocktail 3 obat AIDS. Sebagai alasan dikemukakan keraguannya terhadap 

keamanan dan efektivitas serta kekhawatirannya mengenai efek samping serius dari obat-obat 

antiretroviral. Sebaliknya dia menekankan manfaat dari suatu diet yang kaya akan bawang putih 

(garlic), lemon dan minyak zaitun. namun  atas tekanan massal para ilmiawan selama Konferensi 

AIDS Sedunia di Pretoria bulan Februari 2001, akhirnya beliau menyerah dan mengizinkan impor 

dan penerapan obat-obat AIDS di Afsel. (NTvG 2001: 145:542) 

Dewasa ini pemerintah melontarkan kampanye besar- besaran untuk membendung merajalelanya 

secara liar infeksi HIV akibat unsafe sex. Sekarang ini (th 2005) di Afrika Selatan ada  l.k. 6 juta 

orang terinfeksi dengan kematian lebih dari 600 penderita tiap harinya. Dengan demikian negara ini 

memiliki jumlah pengidap HIV/AIDS terbesar di seluruh dunia.

obat-obat antiretroviral

Obat-obat yang kini tersedia untuk terapi 

AIDS terdiri atas dua kelompok, yakni reverse-

transcriptase inhibitors dan protease-inhibitors 

(PI). Semua obat ini menghambat enzim 

RT, sehingga sintesis DNA virus (bertolak 

dari RNAnya) dan multip lika sinya dicegah. 

Hanya bekerja viru statis namun  virus-virus 

laten tidak dimatikan. 

I.  Reverse-transcriptase inhibitors (RTI) 

dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu

a. analoga nukleosida (NRTI= nucleo-

side/nucleotide reverse-transcriptase 

inhibitor): abacavir, didanosin (DDI), 

lamivudin (3TC), stavudin (D4T), 

zalcitabine (DDC) dan zidovudin 

(AZT).

Analog nukleosida yaitu  prodrugs 

yang di dalam sel diubah menjadi 

trifosfat inaktif, yang bekerja sebagai 

substrat saingan untuk enzim viral 

RT. Dengan demikian RT dihambat, 

pembentukan DNA virus diblokir dan 

replikasinya dihentikan.

Obat hanya berkhasiat di sel-sel 

yang baru dihinggapi infeksi dan ti-

dak ampuh menghentikan produksi 

virus dalam sel-sel di mana DNA viral 

sudah terbentuk. 

Tenovir, suatu nukleotida yang juga 

dapat dianggap analogon nukleosida, 

di dalam sel tuan rumah diubah 

menjadi difosfat aktif, yang berkhasiat 

menghambat enzim RT.

b. analoga non-nukleosida (NNRTI = 

Non-nucleoside reverse transcriptase 

inhibitor): efavirenz (Stocrin), nevi-

rapin.

Obat-obat ini memiliki struktur ki-

miawi berlainan, jadi bukan analog- 

nukleo sida. Mengikat diri secara lang-

sung pada RT virus dan memblokir 

pembentukan DNA. Di samping itu 

obat-obat ini —di dalam DNA viral 

yang sudah terbentuk— meng hambat 

perpan jan gan selanjut nya dari rantai-

DNA. Khasiatnya sama, namun  efek 

sam pingnya relatif sedikit, khususnya 

rash. Nevirapin dapat mencapai otak 

dan dapat dipakai  pada demensia 

akibat AIDS.

NRTI dan NNRTI hanya bekerja 

bila enzim reverse-transcriptase dari 

HIV yang aktif pada awal infeksi, 

mengubah RNA menjadi DNA. Selain 

menghambat protease, obat-obat ini 

tidak menghindari produksi dari par-

tikel-partikel virus oleh sel-sel yang 

telah terinfeksi.

II. Protease-inhibitor (PI): amprenavir 

(Agrenase), indinavir, nelfinavir (Viracept), 

ritonavir dan saquinavir.

Obat-obat ini bekerja pada tahap  akhir dari 

multiplikasi virus dan e feknya terhadap 

HIV lebih kuat daripada obat peng- 

hambat RT. Berbeda dengan RTI, PI 

mam-pu menghentikan replikasi dari sel 

sel yang sudah terinfeksi.

Profilaksis sesudah  eksposisi perkutan pada darah yang terinfeksi HIV dapat dilakukan dengan 

terapi kombinasi dari AZT 2 x 300 mg + lamivudin 2 x 150 mg + indinavir 3 x 800 mg a.c. (atau 

saquinavir 3 x 600 mg d.c. ) selama 4 minggu. Misalnya bila secara tidak sengaja tertusuk jarum 

yang telah dipakai  pasien AIDS. Terapi harus dimulai sedini mungkin dan selambat-lambatnya 

72 jam se telah infeksi; efektivitasnya kurang lebih 80%. Cara ini dikenal sebagai Post Exposition 

Profylaxis(PEP).28

Profilaksis penularan ibu ke bayi. “Trans misi vertikal” dari ibu ke bayi terutama terjadi dalam 

trimester ketiga dari kehamilan dan selama persalinan, tergantung daripada ba nyaknya virus 

dalam darah ibu. Di samping itu juga melalui ASI , maka bayi yang dilahirkan oleh ibu seropositif 

perlu diberikan susu botol. Dengan terapi HAART pada wanita HIV-positif yang hamil - tidak 

peduli banyaknya viral load dan jumlah sel CD4+ - infeksi pada bayi dapat diturunkan dari 30% 

lebih sampai 1-2%.20 Bedah Caesar hanya menurunkan angka ini sampai l.k. 15%.


PI menghambat enzim protease yang 

memecah poliprotein besar yang terben-

tuk oleh DNA-viral menjadi pro tein-pro-

tein lebih kecil untuk dipakai  bagi 

pemba n gunan virus baru. Dengan demi-

kian perkem ban gan virus baru dapat 

digagalkan seluruhnya. 

Resis tensi sering kali muncul dalam waktu 

6-12 bulan bila suatu obat dipakai  secara 

mono/terapi, sebab HIV mampu bermutasi 

secara spontan. Telah dibuktikan bahwa 

kombinasi dari RTI dan PI yaitu  sangat 

menguntungkan, sebab  tidak saja saling 

memperkuat khasiatnya (sinergisme), namun  

juga meng hindarkan atau sangat memper-

lambat timbulnya resistensi. Oleh sebab  

itu HAART kini sudah menjadi terapi baku 

dalam penanganan infeksi HIV dan prevensi 

AIDS

Pengobatan

HAART (highly active antiretroviral the-

rapy). Kombinasi RTI dan PI memicu per-

kembangan drastis pada akhir tahun 1995, 

pada saat dibuktikan bahwa kombina si 

dari kedua jenis obat berkhasi at lebih kuat 

daripada obat-obat tersendi ri. Triple therapy 

dari 2 RT-bloc kers bersama 1 protease-

blocker ternyata sangat efektif, misalnya 

AZT + 3TC + indinavir. sesudah  6 bulan viral 

load (= jumlah partikel virus per ml plasma) 

menurun dengan drastis sehingga tidak 

dapat dide teksi lagi dalam tubuh pada 60-

90% dari pasien HIV, termasuk yang sudah 

parah. Selain itu dapat meningkatkan jumlah 

sel-sel limfo-T (CD4+). Kondisi umum pasien 

mem baik, berat badan mening kat, energi nya 

pulih kembali serta merasakan dirinya sehat 

dan dapat bekerja seperti biasa. Dimulainya 

terapi sedini mungkin dapat menghindarkan 

pembentukan mutan-mutan virus dan des-

truksi lebih lanjut dari sistem imun. 

Kini disangsikan bahwa virus dapat dimus-

nahkan dengan tuntas untuk selama-lama-

nya dari darah dan tempat-tempat yang 

sukar dicapai seperti jaringan limfe dan SSP. 

Selain itu ada pula kekhawati ran mengenai 

akan muncul nya resistensi sesudah  beberapa 

waktu bila obat —yang efek-efek samping-

nya hebat— tidak diminum dengan teratur. 

Mengingat bahwa kebanyakan obat ini me- 

miliki masa-paru h yang singkat dan memer-

lukan pemberian yang kerapkali, maka kese- 

tiaan minum obat yaitu  sangat esensial. 

Terlewatnya hanya satu dosis dapat meng-

akibatkan menurunnya kadar obat dalam 

darah sampai titik yang membahayakan dan 

gagalnya terapi. 

Penambahan hidroksiureum. Pada Kongres 

AIDS di Chicago (Januari 1998) telah dila-

porkan bahwa penambahan obat kanker 

hidroksiureum (Hydrea) pada triple therapy 

(HAART) dapat memusnahkan seluruh vi-

rus HIV. Bahkan sesudah  1 tahun beberapa 

pasien yang menjalani terapi itu  masih 

tetap bebas-HIV. Keberatan utama terhadap 

HAART yaitu  efek samping nya yang hebat dan 

skema pentakaran yang sangat ketat, sehingga 

kesetiaan minum obat (drug compliance) sangat 

menurun. Selain itu harganya juga sangat 

mahal, sekitar USD 1200 untuk pengobatan 

satu bulan. Biaya ini sejak beberapa tahun 

telah turun banyak berkat sejumlah pabrik 

internasional menurunkan harga obat-obat 

HIVnya, bahkan memberikannya cuma-cu-

ma.

HAART Dewasa ini (2005) terapi kombinasi dipakai  sebagai penanganan utama di seluruh 

dunia. Tujuannya yaitu  untuk menekan replikasi virus selama mungkin dan demikian mencegah 

perkembangan AIDS.

* Efek sampingnya dapat berupa supresi sumsum tulang dengan anemia dan gangguan sel-sel 

darah, neuropati dan pankreatitis. Juga mual, muntah, anoreksia, eksantema, gangguan cita rasa, 

sukar tidur dan pikiran kalut. Di samping itu pada jangka panjang terjadi lipodystrofia dari muka, 

lengan, tungkai dan bokong. Akibat pembagian lemak yang berubah pasien menjadi kurus di tempat-

tempat itu  dan lemak menumpuk di tengkuk (buffalo hump), perut, payudara atau di bagian-

bagian lain. Dengan demikian bentuk tubuh pasien sangat berubah yang dialaminya sebagai sesuatu 

yang sangat tidak nyaman.


obat-obat lain

* HCG (Human Chorionic Gonadotropin, lihat 

Bab 42, Hormon-hormon Hipofisis) baru-

baru ini telah dila porkan dapat memus-

nahkan sarcoma Kaposi pada penderita AIDS. 

Menurut perkiraan HCG menghambat re-

septor-reseptor di permukaan sel tumor dan 

menstimulasi DNA-nya untuk mengaktivasi 

program “bunuh-dirinya” (apoptose, N Engl 

J Med 1996, 29/10 1996). Lihat juga Bab 14, 

Sitostatika, sebab-sebab kanker.

* Talidomida kini dipakai  untuk meng-

obati borok dan luka di mulut (stomatitis 

aphtosae, aften) yang berkait an dengan AIDS. 

Di samping itu, obat ini juga menghambat 

replikasi HIV-1 dan proses peradangan yang 

dicetuskan oleh TNF (Tumor Necrosis Factor) 

sehingga dapat memperbaiki keadaan dan 

perasaan sehat penderita.* Lihat juga Bab 10, 

Obat-Obat Lepra dan Bab 49, Imunosupresiva.

2. VIRUS HERPES

Berbagai infeksi virus pada manusia dise-

babkan oleh kelompok besar virus DNA. 

Berlainan dengan infeksi virus lainnya dan 

mirip infeksi HIV, infeksi akibat virus Herpes 

sukar sekali disembuhkan secara radikal. Sekali 

masuk ke dalam tubuh, virus Herpes praktis 

tidak dapat dikeluarkan lagi! 

Infeksi primer terjadi di ku lit/mukosa, 

umumnya pada usia di bawah 10 tahun. 

sesudah  ‘sembuh’, virus mengundurkan diri 

melalui saraf ke sumsum belak ang. Lalu 

bersembunyi di simpul-simpul saraf di sam- 

ping sumsum (gangli a) dalam bentuk laten 

untuk seumur hidup. Bi la suatu waktu ter-

dapat rangsan gan tertentu, virus melalui 

saraf muncul lagi di kulit dan menim bul-

kan infeksi sekun der berdekatan dengan 

tempat infeksi pertama. Rangsangan dapat 

berbentuk “masuk angin”, demam, haid, 

stres, penyinaran X-ray, penyakit berat dan 

lain-lain, yakni situasi saat sistem-imun dan 

daya-tangkis tubuh menurun. sesudah  per-

banyakannya dihentikan dan infeksi dapat 

diatasi, virus “mengundurkan diri” lagi dan 

menjadi laten kembali di gangli a.

Pada awal tahun 1997 ditemukan indikasi 

kuat bahwa sejenis virus Herpes (H-6V) yaitu  

pemicu  dasar dari penyakit MS (multiple 

sclerosis). MS dianggap sebagai gangguan 

auto-imun kronis yang berciri kerusakan pada 

selubung saraf dengan gejala hebat progresif, 

seperti kelumpuhan spastis, kelemahan total 

dan berkurangnya penglihatan. Penemuan 

ini membuka pintu untuk pembuatan vaksin 

terhadap penyakit fatal itu. Lihat juga Bab 28, 

Obat-obat Parkinson dan MS.

a. Herpes Simplex Virus (HSV) dikenal da-

lam dua bentuk, tipe-I dan tipe-II.

HSV-1 menyerang terutama muka, mata, 

mulut dan sekitarnya. HSV-II kebanyak an 

ada  di daerah kelamin. Biasanya infeksi 

primer terjadi di mulut dengan ba nyak luka 

kecil, bengkak dan demam. biasanya  

gejala-gejala ini sembuh sendiri sesudah  satu 

minggu pengoba tan paliatif dengan analgeti-

ka, obat kumur, diet cair dan istirahat. 

Kortikosteroi da tidak boleh diberikan, sebab  

sistem-imun akan lebih terte kan dan infeksi 

lebih cepat menyebar ke tempat lain.

* Herpes labialis terjadi sebagai infeksi se-

kunder sesudah  reaktivasi virus dan ber cirikan 

gelembung-gelembung kecil di bibir atau 

di bawah hidung (demam-bibir, “koortslip”). 

Gelembung ini sangat gatal dan bersifat 

menular sekali, sebab  berisi virus. Dengan 

salep asiklovir penyembuhan berlangsung 

lebih cepat.

* Herpes keratitis yaitu  infe ksi mata yang 

bercirikan gelem bun g- gelembung yang ber-

cabang di permukaan epitel selaput bening 

(korne a). Jika tidak segera diobati dapat ter-

jadi perforasi kornea dan kebutaan, begitu 

pula pada pemakaian  tetes-mata kortison. 

Terapi efektif dapat dilakukan dengan tetes 

mata trifluridin, IDU dan vidarabin (sebab  

toksisitasnya telah dilarang peredarannya di 

Amerika) atau salep mata asiklovir.

* Herpes genitalis disebabkan oleh HSV-

II dan ditulari melalui kontak seksual. Pe-

nyakit kelamin ini di AS merupakan pe-

nyakit kelamin nomor dua (gonore yaitu  

nomor satu). Penyakit-penyakit kelamin pen-

ting lainnya yaitu  kutil kelamin 


di bawah HPV), Chlamy di a, sifilis dan Hepa-

titis B/C. Ternyata bahwa kondom tidak 

memberikan perlin dun gan 100% terhadap 

infeksi HSV-II, mungkin sebab  virusnya 

lebih kecil daripa da pori-pori karet. Geja-

lanya berupa gelembung-gelembung bercair 

atau borok yang membengkak dan sangat 

nyeri di daera h bokong, paha dan alat kela-

min. Kelenjar-kelenjar di lipat paha (groin) 

dapat membengkak diiringi rasa sakit bila 

buang air kecil, demam dan malaise umum. 

Sesudah infeksi pertama diatasi, virus “meng - 

undurkan diri” di dalam gangli a di samping 

sumsum tulang dan bermukim di tempat ini 

seumur hidup! Selama kurun waktu tertentu 

dengan daya-tangkis renda h (stres, flu, ke-

lelahan) virus dapat muncul kembali. Ini-

lah sebabnya mengapa HSV-II me nimbul- 

kan rata-rata 4-5 seran gan setahun nya. 

Pengobatan dilaku kan dengan infus i.v. 

asiklo vir, juga salep dengan betadin- iodium 

dapat efektif. Obat perintang HSV-2 baru 

pritelivir diharapkan menjadi obat utama 

terhadap gangguan ini, namun  sementara 

obat yang juga dianjurkan yaitu  famsiklovir 

atau valasiklovir. Dewasa ini Herpes mulai 

merajalela di mana-man a sebagai penyakit 

kelami n. 


* Herpes zoster (sinanna ga, “shingles”, 

“gordelroos”). Penya kit ini diakibatkan oleh 

Varicella zoster (VZV), pemicu  cacar-air 

(chickenpox), yang menetap di ganglia pasien 

sesudah  mengalami infeksi cacar pada masa 

kanak-kanak. Infeksi ini teruta ma me nyerang 

orang-orang di atas usia 50 tahun dan sesudah  

sembuh menjadi imun untuk seumur hidup. 

Infeksi bercirikan peradangan akut dari 

simpul-simpul saraf punggung, biasanya ha-

nya di separuh tubuh di bawah dada. Geja- 

lanya berupa kelompok gelembung-gelem-

bung, umumnya sejajar dengan tulang iga 

di daerah simpul saraf. Jarang tampak di 

tengkuk, bahu, muka dan bagian mata, yang 

lazimnya disertai nyeri setempat yang hebat 

sekali dan bertahan lama. 

Pengobatan neuralgia itu  sukar di-

tanggulangi dengan analge ti ka namun  dapat 

dikurangi dengan mengo leskan 2-3 x sehari 

larutan asetosal 10% dalam al ko hol 95% 

dengan kapas pada tempat yang nyeri. 

Terapi oral dapat dilakukan dengan suatu 

virustatikum (asiklovir, valasi klovir). Pada 

kasus-kasus hebat lebih efektif diberikan 

secara infus i.v. (asiklo vir, vidarabin). Korti-

koste roida dapat diguna kan serentak dan da-

pat mempercepat penyembuhan luka-luka 

kulit. Secara alternatif dipakai  asam amino 

lysin 3 dd 500 mg (0,5 jam a.c.) berdasar  

khasiat virustatiknya, lihat Bab 54, Dasar-

dasar diet sehat, Lisin.

Neuralgia postherpetis yaitu  nyeri saraf 

hebat yang terjadi di tempat yang terkena 

pada 10% dari pasien sesudah  sinannaga 

sembuh, sering kali pada orang-orang lansia. 

Nyerinya seperti rasa terbakar yang terus-

menerus, bersifat bandel dan bisa bertahan 

sampai 2 tahun! Nyeri dapat dihindari bila 

terapi dengan virustati ka dimulai sedini mungkin, 

yakni dalam 72 jam sesudah  timbulnya rash. 

Obat-obat yang dipakai  terhada p nyeri 

postherpetis terdiri dari kelompok anti de-

presiva trisiklis (amitriptilin, klomi pramin, 

nortriptilin), antidepresiva venlafaksin, anti- 

epileptika (pregabalin, gabapentin. karbama-

zepin, fenitoin, asam valproat, klonazepam), 

obat narkotik (plester fentanil, oksikodon, 

metadon), relaksan otot (baklofen) dan obat 

topikal (krem lidokain 3-5%, dan lain-lain). 

Efek samping dari obat-obat ini tentu harus 

diperhatikan.

Kompres pada tempat-tempat yang nyeri 

(es batu di dalam kantung plastik) juga me-

ringankan nyeri untuk semen tara waktu. 

Pada kasus yang parah, adakalanya dilaku-

kan pembeda han, antara lain saraf-saraf ruas 

tulang belakang dipotong (denerva si).

* Epstein-Barr virus (mononucleosis infectiosa) 

memicu  demam kelenjar (glandular 

fever,”kissing disease”, penyakit Pfeiffer). Gejala- 

gejalanya berupa kelenjar limfe mem beng-

kak, sakit tenggorokan, demam ringan yang 

bertahan dan rasa lelah. Tidak dikenal terapi 

kausal, hanya simtomatis dengan banyak 

istirahat, pemakaian  analgetika dan obat-

obat kumur. Keluhan biasanya hilang sesudah  

beberapa minggu, namun  penyembuhan tuntas 

(terutama rasa lelah) baru terjadi 3-6 bulan 


kemudi an! Antibiotika dapat memperhebat 

gejala, maka tidak boleh diberikan.

3. VIRUS HEPATITIS

Hepatitis (radang hati) dapat ditimbul kan 

oleh banyak sebab, namun  paling sering terjadi 

sebab  infeksi oleh virus hepati tis. Sebab-

sebab lain hepatitis yaitu  virus demam 

kuning dan penyumbatan saluran empedu 

(antara lain akibat batu empedu), zat-zat 

kimia atau obat-obat tertentu, juga sebab  

minum terlalu banyak alkohol. Hingga kini 

dikenal 7 jenis, yakni Virus hepati tis A, B, C, D, 

E, F dan G.Hepatitis B dan C dianggap paling 

berba haya, sebab  dapat merusak hati secara 

permanen.

a. HAV (Hepatitis-A Virus) yaitu  virus-

RNA dan pemicu  hepati tis yang paling 

sering terjadi. Penularan terutama melalui 

jalur tinja-mulut dengan minuman dan 

makanan yang tercemar. Tidak terda-

pat pembawa-virus. Diagnosis dilaku kan 

dengan deteksi antibo dies IgM (anti-HAV). 

Masa inkubasinya antara 2 dan 6 minggu; 

kebanyakan infeksi berlangsung tanpa 

keluhan dan tidak ken tara. Gejala utama 

yaitu  kulit dan putih mata menjadi 

kuning pada kurang lebih 50% pengidap, 

berhubung zat warna empedu (biliru-

bin) tidak diuraikan lagi oleh hati dan 

dikeluarkan ke dalam darah. Gangguan-

gangguan lambung-usus, demam, rasa 

letih, nyeri perut, nyeri otot dan sendi 

bisa terjadi. Tinja dapat hilang warnanya 

dan kemih berwarna gelap. Prevensi 

dapat dilakukan dengan imunisasi pasif 

(imunoglobu lin), lihat Bab 50, Sera dan 

vaksin. Tidak ada obat anti-HAV, namun  

infeksi sembuh secara spontan dengan 

istirahat dan diet tanpa lemak dalam 

waktu 4-8 minggu. Adakalanya disusul 

dengan keadaan lemah-letih selama be-

berapa bulan. 

b. HBV (Hepatitis-B Virus). HBV termasuk 

penyakit kelamin, bersama sifilis, gonore, 

herpes genitalis, trichomoniasis, chlamydiasis 

dan AIDS. Sama dengan HIV, penular-

annya hanya melalui darah, mani dan 

cairan vaginal. Penyakit ini ditemukan di 

seluruh dunia dengan lebih kurang 200 

juta penderita dengan 2 juta kematian 

setiap tahun. Di Asia dan Afrika diper-

kirakan 15% penduduknya yaitu  pem-

bawa-virus, dibandingkan kurang dari 

1% di negara-negara Barat. Potensi penu-

larannya jauh lebih besar daripada AIDS, 

namun  risiko kematian nya sama besar. 

Pada 10% dari penderita, infeksi menjadi 

kronis, virus menetap di darah, khasnya di 

hati, lalu pasien menjadi pemba wa-virus 

kronis (±5%). Adakalanya hati mengeras 

(cirro sis), keluhan menghebat dan bila 

tidak diobati akhir nya menjadi fatal. Masa 

inkubasinya antara 2 dan 6 bulan. Gejala-

gejalanya dalam garis besar mirip infeksi 

dengan HAV, namun  lebih hebat dan lebih 

sering menim bulkan warna kulit menjadi 

kuning. 

Prevensi dapat dilakukan dengan vak-

sinasi (HB-vax, terbuat dari antigen-per-

mukaan HBV rekombinan, 10 dan 40 

mcg/ml) tiga kali (langsung dan masing-

masing sesudah  satu serta enam bulan) 

yang memberikan perlindun gan selama 

beberapa tahun. WHO menganjur kan 

agar vaksinasi HBV dilakukan secara ter-

atur dalam rangka program imunisasi 

di setiap negara. Hal ini kini sudah di-

realisa sikan di Prancis, Italia dan Belgia. 

Pengobatan dengan obat-obat antiviral 

jauh belum sempurna. Efek cukup baik 

dicapai dengan alfa-interferon i.m. 3x 

seminggu 5-9 MU dengan respons 14-

75%. Obat HIV lamivudin dalam dosis 

tinggi efektif pula terhadap HBV. 

Bila (peg) interferon-alfa tidak efektif 

atau terkontraindikasi, ternyata obat-

obat antiviral baru sesudah  4-5 tahun da-

pat menghilangkan fibrosis dan regresi 

cirrosis. 


* Adefovir (Hepsera), suatu asiklik nu-

kleosid fosfonat, khusus dipakai  ter- 

hadap infeksi HBV (De Clercq E. Clinical 

potential of the acyclic nucleoside phos-

phonates cidofovir, adefovir and tenofovir 

in treatment of DNA virus and retrovirus 

infections. Clin Microbiol Rev.2003, 16: 

560-596). Obat ini baru efektif sesudah  

intraselular diubah menjadi metabolit 

aktif adefovirdifosfat yang menghambat 

polimerase viral dan demikian memblokir 

perpanjangan rangkaian DNA vius. Eks-

kresi melalui urin sebanyak 45% dalam 24 

jam.

Dosis: 1 dd 10 mg yang juga merupakan 

dosis maksimal.

* Telbivudin (Sebivo) suatu thymidin nu-

kleosida analog yang dipakai  bagi 

penderita Hepatitis B kronis. Untuk 

pemakaian  yang sama pilihan lebih 

ditujukan kepada adefovir sebab  refe-

rensinya yang lebih lengkap.

Dosis: 1 dd 600 mg.

c.  HCV (Hepatitis-C Virus) baru ditemukan 

pada tahun 1989. Infeksi dengan HCV 

acap kali berlangsung lambat tanpa 

gejala. Nilai fungsi hati dalam darah agak 

meningkat terus-menerus. Penularan juga 

berlangsung melalui darah, mani dan 

lendir, sama dengan AIDS namun  lebih 

agresif; setetes kecil darah sudah cukup 

untuk memicu  infeksi. Penyakit 

ini khusus menyerang pecandu narkoba, 

pekerja seks dan orang-orang dengan 

kontak seksual berganti-ganti. Menurut 

tafsiran, dewasa ini di seluruh dunia ter-

dapat 130-210 juta penderita hepatitis 

C kronik. Pengobatan aniviral yang opti-

mal dapat mengurangi morbiditas dan 

mortalitas akibat hepatitis C kronik dan 

menghindari penyebaran dari HCV. Juga 

sangat penting untuk menghentikan ke-

rusakan hati akibat infeksi HCV kronik.

Pengobatan standar dewasa ini terdiri 

dari kombinasi peg-interferon dan riba-

virin selama 34-48 minggu yang membe-

rikan kesembuhan sub-optimal di sam-

ping timbulnya efek-efek samping serius. 

Hanya efektif kurang dari 50% untuk 

infeksi HCV-genotipe 1 dan 4, 

Penghambat enzim protease merupakan 

kelompok obat-obat baru yang bekerja 

langsung terhadap siklus hidup HCV. 

Kombinasi dari obat ini dengan pegin- 

terferon serta ribavirin hampir dapat 

melipatgandakan kesempatan penyem-

buhan pasien HCV-genotipe 1, di samping 

lamanya terapi dapat sangat dipersingkat. 

Efek negatif dari pengobatan dengan pe- 

rintang protease yaitu  dapat timbul-

nya species virus resisten di samping 

timbulnya efek samping khusus.

.......................

1.  Aronson, S.J. et al., Nieuwe klasse 

medicijnen voor chronische hepatitis C; 

Ned Tijdschr Geneeskd. 2012;156

2. Deuffic-Burban S, Deltenre P, Louvet A, et 

al. Impact of viral eradication on mortality 

related to hepatitis C: a mode ling approach 

in France. J Hepatol. 2008;49:175-83

3.  Deuffic-Burban S, et al. Impact of pegylated 

interferon and ribavirin on morbidity and 

mortality in pa-tients with chronic hepatitis 

C and normal aminotransferases in France. 

Hepatology. 2009;50:1351-9 

d.  HEV (Hepatitis-E Virus) banyak ada  

di daerah tropis dan terutama melanda 

remaja. Gejala-gejalanya secara klinis ti-

dak dapat dibedakan dari hepatitis A. 

Masa inkubasinya 2-8 minggu, lazimnya 

sembuh tuntas secara spontan (Hepatitis 

E in Neder land 1992-96. NTvG 1996, 29, 

1514).

e.  HFV (Hepatitis-F Virus) belum lama di-

temukan; bahan-bahan genetisnya belum 

dianalisis secara lengkap.

f. HGV (hepatitis-G virus) ditemukan di 

tahun 1996 dan relatif banyak ditemukan 

pada donor darah. Kebanyakan infeksi 

(via transfusi dan jarum yang tercemar) 

berlangsung tanpa gejala nyata, seperti 

halnya pada hepatitis akut.

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 124 20/04/2015 20:15:23

Bab 7: Virustatika 125

4. VIRUS INFlUENZA

Influenza disebabkan oleh virus-RNA yang 

dapat hidup pada manusia, kuda, babi, ikan 

paus, ayam, itik dan burung. Virus-RNA 

terdiri atas inti protein dengan antara lain RNA 

dan polimerase. Di bagian luarnya ada  

membran albumin dan membran lemak, di mana 

ada  tajuk-tajuk glycopeptida. «Spikes» ini 

terdiri dari protein hemagglutinin (H) dan 

neuraminidase (N), yang berfungsi sebagai 

antigen permukaan (lihat Gambar 50-1). 

Hemagglutinin dan neuraminidase terdiri 

dari banyak varian dan berdasar  ini jenis 

virus influenza diberikan namanya, misalnya 

H1N1, H3N2.

Infeksi terjadi melalui inhalasi dari tetesan 

liur (pada waktu bersin, batuk, berbica ra). 

Masa inkubasinya 1-3 hari. Gejalanya muncul 

sesudah  masa inkubasi dan berupa demam 

sampai 40°C, nyeri sendi dan otot di seluruh 

tubuh, sakit tenggorok dan kepala, radang 

mukosa hidung dan batuk kering yang dapat 

bertahan berminggu-minggu. Pada sebagian 

kecil penderita, terutama yang memiliki da-

ya tahan menurun, infeksi ini berlangsung 

parah sampai fatal.

Rhinovirus dan selesma. Di samping 

virus influenza masih ada  lebih dari 

seratus jenis rhinovirus pemicu  selesma/

pilek(masuk angin, «common cold»). Ganggu an 

ini sering kali dikelirukan dengan influenza, 

sebab  geja la-gejalanya sama walaupun tidak 

sehe bat dan praktis tidak pernah mengaki-

batkan kemati an. Selesma juga sembuh spon-

tan melalui pengobatan simtomatis dengan 

analgetika, obat batuk dan tetes hidung/telinga.

Jenis-jenis virus influenza yang dikenal di-

bagi berdasar  3 tipe, yakni:

tipe A, dengan 5 subtipe, yakni H1-H2-

H3-H4 dan H5, yang bermutasi setiap 1-2 

tahun.

tipe B, yang bermutasi setiap 4-5 tahun.

tipe C, yang jarang sekali ada . 

Seusai suatu epidemi dan setiap tahun, virus-

virus influenza A dan B bermu tasi ringan, 

khusus mengenai enzim hemagglutinnya. 

Berhu bung dengan mutasi-mutasi kecil ini 

(“antigenic drift”) glikopro teinnya (H dan 

N) selalu berubah sedikit, sehingga secara 

sangat berangsur-angsur “menjauhkan diri” 

(‘drifting away’) dari antibodies yang sudah 

terbentuk dalam tubuh. Oleh sebab  itu tidak 

mungkin membuat suatu vaksin influ en za 

univer sal, lihat Bab 50, Sera dan vak sin, Vak-

sin influen za.

Mutasi besar (“antigenic shif t”) terjadi se-

tiap 8-15 tahun pada virus-A, di mana ter-

bentuk suatu subtipe A baru dengan protein 

permukaan yang seluruhnya berlainan. Mu-

tan demikian dapat mengaki bat kan epidemi 

hebat. Munculnya virus-virus A baru dalam 

abad ini sudah beberapa kali memicu  

pandemi. Yang terkenal yaitu  pandemi di 

tahun 1919 (“Spanish flu”) dengan 20-50 juta 

kematian, terutama orang muda. Menurut 

penyelidikan baru, epidemi itu disebabkan 

oleh subtipe H1-N1 yang “berkerabat” de-

ngan virus flu babi. Begitu  pula pandemi 1946 

(strain baru A1), 1957 (“flu Asia”,subtipe A2: 

H2-N2), 1968 (“flu Hongkong”, subtipe A2: H3-

N2,) dan 1977 (“Rusia”, H1).Virus-virus yang 

ada  dewasa ini yaitu  turuna n dari tipe 

H3-N2. Virus influenza yang terdapa t pada 

babi pada tahun 1976 menim bulkan epidemi 

Fort Dixon.

Flu burung. Akhir 1997 di Hongkong telah 

muncul suatu virus influenza-A baru (avian 

influenza tipe H5-N1) yang berasal dari bu-

rung/unggas dan dapat ditularkan kepada 

manusia melalui percikan lendir yang keluar 

dari unggas atau melalui udara (kotoran 

unggas yang sudah mengering). Sumber 

infeksi lain yaitu  pemakaian  kotoran ung-

gas sebagai pupuk. Gejalanya pada manu- 

sia yaitu  demam tinggi (di atas 38° C), sakit 

kepala, tenggorok, myalgia (sakit otot), batuk 

pilek dan radang parah paru-paru.

Virus ini kemudian menyebar ke berbagai 

negara di Asia a.l. negara kita  pada tahun 

2003. Dari ± 120 orang di Asia yang terinfeksi 

sekitar 60 orang telah meninggal. Walaupun 

kemungkinan penularan dari manusia ke 

manusia kecil, namun  sebab  virus flu terkenal 

bersi fat sangat lincah, dikhawatirkan virus 

ini akan berintegrasi/berkombinasi dengan 

virus influenza manusia dan menciptakan 

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 125 20/04/2015 20:15:23

Seksi II: Kemoterapeutika126

mutan-mutan baru yang lebih ganas dan 

memudahkan transmi sinya dari manusia ke 

manusia. 

Dalam usaha mence gah penyebaran nya 

dan timbulnya pande mi, maka lebih dari satu 

juta (anak) ayam dan itik telah dimusnahkan 

di banyak negara, misalnya di negara kita  

dan negeri Belanda (2002). Awal 2005 telah 

dilaporkan lagi kasus-kasus infeksi dengan 

H5N1 di Vietnam, Thailand, Kamboja dan 

juga negara kita . 

Medio bulan September 2005 kekhawatir-

an merebak di negara kita  mengenai penye-

baran virus flu ini yang dipicu dengan me-

ninggalnya beberapa korban yang positif 

terinfeksi avian flu H5N1. Juga terinfeksinya 

sejumlah unggas di Taman Margawatwa 

Ragunan memicu  kebun binatang ini 

ditutup bagi publik selama 3 minggu untuk 

memberikan kesempatan ‘mensterilkan’ be- 

berapa bagian yang tercemar. Untuk menang-

gulangi penyebaran penyakit ini dengan lebih 

efektif dan menyeluruh, maka Departemen 

Kesehatan telah mengumumkan situasi KLB 

(Kejadian/kondisi Luar Biasa) Nasional Flu 

burung.

Menurut laporan terakhir (2007) negara kita  

menempatkan peringkat pertama di dunia 

sesudah  Vietnam mengenai terjangkitnya dan 

angka kematian akibat flu burung H5N1. 

Hampir seluruh provinsi di negara kita  meru-

pakan endemik virus ini dengan hanya 3 

provinsi yang bebas. Hingga akhir bulan 

Januari tahun 2007 jumlah orang yang positif 

terinfeksi di seluruh negara kita  sebanyak 79 

orang dan 61 di antaranya telah me ninggal 

(DirJen Pengendalian Penyakit dan Penye- 

hatan Lingkungan DepKes R.I.). 

Di samping ini kurang lebih 30 juta unggas 

telah dimusnahkan. Dalam rangka membe-

rantas penyakit virus ganas ini, dalam bulan 

Januari 2007 telah diterbitkan Peraturan Gu-

bernur DKI Jakarta No.5 tahun 2007 tentang 

larangan memelihara unggas di kawasan 

pemukiman.

Catatan: Epidemi yaitu  peningkatan pesat 

dari jumlah penderita suatu penyakit.

Pandemi yaitu  epidemi sangat meluas 

yang mis. menyerang beberapa negara seka-

ligus.

Penanganan. Sebagai tindakan prevensi 

ayam dan itik dapat divaksinasi dengan 

vaksin H5N1 (Sanofi Pasteur, Prancis) yang 

sudah tersedia sejak beberapa tahun, sedang- 

kan unggas yang sudah terinfeksi dimus-

nahkan. namun  masih terlampau dini untuk 

menyatakan keampuhan dan keselamatan 

dari pemakaian  vaksin ini sebab  penga-

lamannya masih terbatas. 

Pengobatan terdiri atas istirahat (bedrest) dan 

suatu analge tikum untuk mengatasi rasa nyeri 

(parasetamol, aseto sal). Obat-obat lain yang 

dapat memengaruhi jalannya infeksi yaitu  

vitamin C, seng, amantadin dan penghambat 

neuraminidase.

a. Vitamin C dalam dosis tinggi (3-4 dd 

1000 mg) berkhasiat meringankan gejala 

dan mempersingkat lamanya infeksi, ber- 

dasarkan stimulasi perbanyakan dan akti-

vitas limfosit-T (Br J Nutr 1992; 67: 3).

b. Seng-glukonat dalam bentuk tablet-hisap 

dengan 13,3 mg Zn (kurang lebih 92,5 

mg Zn-glukonat) yang dipakai  sedini 

mungkin pada awal infeksi 5-6 x sehari 

dapat mempersingkat lamanya masa sakit 

dari rata-rata 7,6 menjadi rata-rata 4,4 

hari (Ann Int Med 1996; 125: 81). Mekanis-

me kerjanya diperkirakan berdasar  

blokade dari tempat-tempat di permukaan 

virus yang dapat mengikat pada sel-sel 

tubuh. Atau juga atas dasar daya kerja ion- 

Zn yang menghambat pembelahan polipep tida 

virus serta aktivasi limfo sit.

c. Virustatika dipakai  sebagai prevensi 

atau untuk meringankan gejala penyakit, 

bila terjadi infeksi.

• Amantadin dapat dipakai  selama 

10 hari bersama injeksi vaksin influ-

enza guna melindungi terhadap vi-

rus-A2 selama masa vaksin belum 

aktif (masa inkubasi 10 hari), terutama 

pada orang-orang dengan daya-tang-

kis lemah.

• Oseltamivir dan zanamivir termasuk 

kelompok neuraminidase-inhibitors 

(1998) yang ternyata efektif untuk 

mencegah dan menangani influenza. 

Obat-obat ini dapat menurunkan 

kematian pada orang dewasa yang 

terinfeksi virus influenza A H1N1, 

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 126 20/04/2015 20:15:23

Bab 7: Virustatika 127

bila dipakai  dalam 2 hari sesudah  

timbulnya gejala-gejala pertama.

Obat ini menghambat enzim neurami-

nidase pada permukaan virus. Dengan 

demikian pelepasan partikel-partikel 

virus (virion) ke luar sel tuan rumah 

dihindarkan, sehingga sel-sel yang 

berdekatan di dalam saluran napas 

tidak ditulari. Zanamivir dipakai  

sebagai inhalasi 1-2 dd 10 mg (Ph Wkbl 

1998; 133: 1590). pemakaian  osel-

tamivir lebih praktis sebab  per oral, 

(lih. Monografi).

d. Antibiotika hanya dipakai  pada 

orang yang berisiko tinggi dengan daya-

tangkis lemah, seperti penderita bronchi-

tis kronis, jantung atau ginjal. Penderita-

penderita ini mudah dihinggapi infeksi 

bakterial sekunder, khususnya radang 

paru (pneumonia) yang tak jarang berakhir 

fatal. Oleh sebab  itu di Eropa orang-

orang yang berisiko tinggi dianjur kan 

untuk setiap tahun pada permulaan 

musim dingin melindungi diri dengan 

injeksi vaksin influenza. Malah di negeri 

Belanda semua lansia diatas 65 tahun 

diberi vaksinasi ini dengan cuma-cuma.

 Sindrom postviral yaitu  kompleks ge-

jala sesudah sembuh dari infeksi influ- 

enza (atau infeksi virus lain) yang berci-

rikan perasaan sangat lelah, letih, kurang 

energi serta depresi. Keadaan ini mung-

kin disebab kan oleh toksin-toksin virus 

yang masih beredar di dalam darah 

selama berminggu-minggu sampai ber-

bulan-bulan. Selama kurun waktu ini 

sebaiknya jangan melakukan kerja fisik 

berat sambil memperkuat daya tahan 

tubuh dengan makanan bergizi dan 

cukup vitamin.

5. VIRUS-VIRUS lAIN

a. Virus dengue (pelafalan: denggi; Ing = 

menyerupai dandy).

Sekitar setengah dari populasi dunia ber-

mukim di negara-negara yang endemik bagi 

virus-RNA (flavivirus) ini, terutama di Asia 

dan Afrika, namun  dewasa ini juga di Amerika. 

Infeksi terjadi oleh gigitan nyamuk Aedes 

aegypti dan penularannya mirip penularan 

malaria. namun  berbeda dengan nyamuk 

Anopheles, nyamuk ini menyengat terutama 

pada siang hari. [Nyamuk itu  juga 

merupakan pemicu  penularan flavivirus 

lain, yaitu demam kuning (yel low fever) di 

Afrika dan Amerika Latin]. Dikenal empat 

serotipe virus dengue, masa inkubasinya 5-8 

hari. Menurut perki raan WHO, setiap tahun 

dengue memicu  korban fatal ±20.000 

orang. Pada tahun 1994 terjadi epidemi di 

Amerika Tengah (Puerto Rico, Kuba) dan di 

tahun 1996 di negara kita , Malay sia, Filipina 

dan India. Pada awal tahun 2004 kembali 

terjadi epidemi di negara kita  dengan ±24 ribu 

orang terinfeksi dan ± 360 yang meninggal. 

Total kasus DBD di seluruh negara kita  untuk 

tahun 2005 tercatat kurang lebih 67.800 pa- 

sien dan lebih dari 900 telah meninggal (Dir-

jen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan 

Lingkungan Dep Kes RI). sedang  di 

DKI Jakarta hingga pertengahan bulan De-

sember 2006 tercatat kurang lebih 24300 

kasus dan k.l. 50 telah meninggal (situs web 

Antara). Kini virus itu  sudah ditemui 

di 17 negara bagian AS. Sampai sekarang 

pengendalian penyakit virus ini masih 

mengalami kesulitan. Di tahun 2010 sekitar 

4 miliar orang di seluruh dunia berisiko 

terinfeksi oleh salah satu dari 4 virus dengue 

(DENV1-4) dan lebih dari 390 juta orang telah 

terinfeksi.

.......................Halstead S.B. Stumbles on the path 

to dengue control.The Lancet Infectious 

Diseases, Volume 14, Issue 8, Pages 661 - 662, 

2014

Deteksi virus dilaku kan dengan penen tuan 

antibodies di dalam darah. Transmisi dari 

manusia ke manusia tidak mungkin.

Penelitian untuk membuat vaksin terhadap 

dengue telah dilaksanakan di Thailand (Sa-

nofi Pasteur), namun  masih mengecewakan 

sebab  praktis tidak dapat memberikan 

perlindungan terhadap serotype 2. Vak-

sin itu  mengandung virus hidup re-

kombinan yang aman. Dari hasil penelitian 

ini terbukti untuk pertama kali bahwa suatu 

vaksin yang aman terhadap dengue dapat 

dibuat, namun  masih memerlukan studi 

follow-up lebih lanjut. 

.......................Lancet. 2012; epub 11 september

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 127 20/04/2015 20:15:23

Seksi II: Kemoterapeutika128

Gejalanya berupa demam-menggigil sam-

pai 40°C, nyeri sendi dan otot yang hebat, 

terutama di tungkai, sakit kepala berat, 

nyeri otot/persendian dan timbulnya bintik-

bintik merah (petechiae) yang khas di muka, 

kaki dan tubuh. sesudah  2-4 hari demam 

mendadak hilang untuk kemudian (sesudah 

24 jam) kambuh lagi. Naik-turunnya suhu 

ini yaitu  karakteristik bagi dengue. Pada 

awalnya timbul leukopeni, trombositopeni 

dan kemudian leukositosis. Trombositopeni 

diperkirakan sebab  depresi sumsum tulang 

dan rusaknya trombosit. sesudah  3-6 hari 

lagi ruam dan demam lenyap sama sekali. 

Prognosisnya baik, masa penyembuhannya 

dapat memakan waktu lama. Tes diagnosis 

yang umum dipakai  yaitu  tourniquettest 

(Rumpell-Leede test) disusul konfirmasi deteksi 

virus melalui penentuan antibodies dengan 

pemeriksaan IgM (respons primer) dan IgG 

(respons sekunder) di dalam darah. Sampai 

sekarang belum ada terapi kausal terhadap 

dengue dan penangana n hanya terdiri dari 

terapi penunjang seperti infus dengan laruta n 

garam, pemberian zat asam, istirahat dan 

parasetamol terhadap demam. Bila terjadi 

perdarahan serius dapat dipertimbangkan 

pemberian transfusi darah. Dengan terapi 

penunjang yang baik mortalitas penyakit 

infeksi ini terbatas sampai 1-3%, namun  bila 

diabaikan dapat meningkat sampai 50%.

Demam berdarah dengue (DBD) dan Sin-

drom shock dengue (SSD) merupakan ben-

tuk-bentuk parah dari dengue. Menurut 

perki raan disebabkan oleh 2 infeksi ber turut-

turut dari jenis-jenis (serotipe-serotipe) yang 

berlai nan. Selama infeksi kedua terjadi suatu 

reaksi imunologi dengan aktivasi sistem 

komplemen serta terganggunya endotel dan 

permeabilitas pembuluh. Mungkin juga viru- 

lensi abnormal dari virus memegang peranan. 

Pada bentuk-bentu k ganas ini dari hari ke-2 

sampai ke-5, di samping demam, juga terjadi 

hipotensi, shock dan perdarahan dari kulit, 

hidung dan telinga, yang tanpa perawatan 

akan  berakhir  fatal dalam 50% dari kasus. 

DBD (he morrha gic fever) terutama meng-

hingga pi anak-anak. Prevensi dilakukan 

dengan jalan memberan tas nyamuk dari 

tempat-tempat pembia kannya (air yang 

tidak mengalir, tong air hujan). Untuk ini 

dapat dipakai  suatu insektisid yang dapat 

memusnahkan jentik-jentik (larva) nyamuk, 

misalnya senyawa organotiofosfat temephos( 

Abate), 10 g per 100 liter air. 

Pengo ba tannya hanya simtoma tis dengan 

transfusi darah untuk menanggulangi shock 

di samping analgetika/antipiretika. Dengan 

penan ga nan yang layak, angka kematian 

DBD dan SSD terbatas sampai ±5%.

Obat antiviral yang ampuh terhadap de-

ngue belum diketemukan, walaupun sedang 

diadakan penelitian terhadap senyawa peng-

hambat alfa-glukosidase celgosivir untuk 

pengobatan demam berdarah akut.

.......................The Lancet Infectious Disea ses, Volume 

14, Issue 8, Pages 706 - 715, 2014

b. Virus Ebola yaitu  virus-RNA, yang pada 

tahun 1995 memicu  epidemi di Zaire 

sesudah  virus “tidur” selama 16 tahun. Ebola 

yaitu  nama suatu sungai di Zaire, di mana 

penyakit ini dideteksi untuk pertama kalinya 

di tahun 1979. Sampai sekarang belum di-

ketahui vektor-nya, yaitu hewan perantara 

yang meneruskan virus kepada manusia. 

namun  diduga bahwa carriernya yaitu  

kelelawar, walaupun hewan ini sendiri tidak 

memperlihatkan gejala penyakit. Mungkin 

sekali hewan ini sudah menyesuaikan diri 

dan sejak lama sudah menjadi pembawa 

virus itu . 24 

Pertengahan tahun 2014 timbul epidemi 

Ebola yang menurut para ahli kesehatan 

merupakan “letusan” Ebola paling mema-

tikan dalam sejarah. Epidemi ini timbul di 

Afrika Barat dan pertama kali di Guinea 

yang lalu menjalar ke Liberia, Sierra Leone, 

Senegal, Mali dan Nigeria. Menurut WHO 

tercatat lebih dari 20.600 kasus terinfeksi, 

dengan angka kematian lebih dari 8.150 

(Januari 2015). WHO telah menyatakan 

epidemi ini sebagai “public health emergency 

of international concern.”

Infeksi terjadi melalui kontak langsung (tidak 

melalui udara) dengan darah (seper ti AIDS) 

atau dengan cairan tubuh lain (liur, urin, 

tinja, mani), begitu pula melalui barang yang 

terkontaminasi oleh cairan tubuh penderita. 

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 128 20/04/2015 20:15:23

Bab 7: Virustatika 129

Masa inkubasi 2 sampai 21 hari dengan geja-

la nyeri kepala, nyeri persendian, muka dan 

mata bengkak, ruam kulit, demam, muntah, 

diare serta gangguan ginjal dan hati. Gejala-

gejala ini disusul oleh perdarahan hebat dari 

semua liang tubuh dan organ-organ dalam, 

sebab  darah tidak membeku lagi. Akibatnya 

syok dan fatal (90%) dalam beberapa (±10) 

hari bagi kebanyakan pengidap. Penyakit 

infeksi ini sangat menular dengan angka 

kematian berkisar antara 50%-90%! Hingga 

kini belum