na virus
(Hepatitis B; HBV) dan juga Human papillo-
mavirus (HPV)pemicu kutil genital dan
kanker cervix.
b. Virus RNA terpenting yaitu Retrovi rus
HIV (pemicu AIDS, ditemukan oleh Luc
Montagnier 1984), virus hepati tis (pe nyakit
kuning), rhabdovirus (rabies), rhinovirus (se-
lesma), corona virus (SARS) dan polio virus
(pemicu penyakit lumpuh layuh pada
anak-anak, poliomyelitis). Begitu pula virus
influenza (flu), rotavi rus (diare), virus ru bella
gambar 7-1: Infeksi dan perbanyakan virus
1. Virus DNA mendekati sel sehat
2. Virus menembus dinding sel dan membuang
dinding dengan proteinnya.
3. Virus melepaskan bahan-bahan genetis
(gen-gen)
4. DNA virus “menyalahgunakan” enzim-enzim
dan bahan bangun sel untuk memperbanyak
diri. Akibatnya sel mati.
5. Partikel-partikel virus yang baru akan keluar
dari sel dan menyerang sel-sel sehat lain.
(“rode hond”), bermacam-macam para myxovi-
rus: virus rubeo la = mor billi dan virus beguk
(“mumps”) serta berbagai flavi vi rus, a.l demam
kuning (yellow fever) dan Hepatitis C.
Penelitian obat antiviral.
Penelitian virustatika mulai berkembang se-
kitar tahun 1956 saat ditemukan bahwa virus
dapat dikembangbiakkan dalam telur ayam
yang telah dibuahi. Penemuan ini membe-
rikan dorongan kuat ke arah pembuatan
vaksin dan penaklukan penyakit-penyakit
virus penting, seperti cacar (variola major),
polio, campak, rubella, mumps dan hepati-
tis. Lihat selanjutnyaBab 50. Sera dan vaksin.
sesudah infeksi virus dapat bermukim ber-
tahun-tahun di dalam sel tuan-rumah tanpa
memicu gejala. Dalam tahap laten ini
virus tidak peka terhadap obat-obat. Baru
pada tahap replikasi obat-obat berdaya me-
musnahkannya dengan jalan mengganggu
sistem enzim bersangkutan. Namun sebab
enzim-enzim itu yaitu milik sel tuan-
rumah, maka obat antivirus perlu berkhasiat
spesi fik terhadap virus tanpa merusak sel
tuan-rumah. Adanya hubungan erat ini, yaitu
antara virus dan proses metabo lis me sel tuan-
rumah, sangat mempersulit riset obat-obat
yang secara selektif berdaya menghamba t
pertum buhan virus.
Dalam memerangi infeksi virus, semua
sistem tangkis dikerahi, a.l. sistem imun alami
maupun sistem imun spesifik yang diperoleh
dan mencakup sel-sel B dan limfosit-T CD4+
dan CD8+.
Populasi T-sel ini yang terdiri dari sel-sel
memori terhadap berbagai virus spesifik me-
miliki peranan sentral pada perlindungan
dan pengontrolan infeksi virus. Lihat Bab 49,
Dasar-dasar Imunologi.
Interferon yaitu glycoprotein yang di-
produksi oleh sel-sel yang terinfeksi virus,
makrofag dan T-limfosit. Ada 3 tipe inter-
feron manusia, yakni alfa-, beta- dan gamma-
interferon, yang sejak 1985 telah diperoleh
murni dengan jalan teknik rekombinan
DNA. Pada proses ini, “sepotong” DNA
dari lekosit yang mengandung gen inter-
feron, dimasukkan ke dalam plasmid kuman
E. coli. Dengan demikian kuman ini mam-
pu memper banyak DNA itu dan men-
sintesis interferon.
* Interferon-alfa dan -beta (IFN-a/b) diben-
tuk oleh bermacam-macam sel sebagai reaksi
terhadap infeksi viral. Fungsinya mencegah
infeksi lebih lanjut dengan jalan menduduki
reseptor-reseptor spesifik di membran-mem-
bran sel sehat, sehingga tidak dapat dipe-
netrasi oleh virus. Di samping berkhasiat
virustatik, juga berdaya sitostatik (antitu-
mor), yakni meng ham bat pertum buhan sel-
sel tumor dan mensti mulasi makro fag dan
NK-cells (Natu ral Killer cells) yang dapat
mende teksi sel-sel tumor (dan sel-sel yang
diinvasi virus) untuk kemudian memus-
nahkannya. IFN-alfa dipakai antara lain
pada hepati tis dan jenis-jenis leukemia
terten tu, sedang IFN-beta khusus pada
MS (multip le sclerosis).
* Interferon-gamma (IFN-g) (dan limfokin-
limfokin lain) dibentuk oleh limfo-T dan ber-
fungsi mengatur proses-proses imun. Khasiat
antivi ralnya lemah dibandingkan IFN-a dan
IFN-b.
Penyakit virus penting
Penyakit-penyakit yang disebabkan virus
banyak sekali dan meliputi gangguan-gang-
guan ringan, seperti selesma (pilek biasa),
influenza (pe rut), biang keringat (rubella,
‘rode hond’), cacar air Varicella (“chickenpox”),
campak (morbilli, measles), cacar (variola),
beguk (parotitis, bof, ‘mumps’), Pfeif fer (‘kissing
disease’) dan sinannaga (herpes zoster, ‘gor-
delroos’) sampai penyakit-penyakit serius,
seperti dengue, radang hati (hepatitis), penyakit
lumpuh layu (polio myeli tis), penyakit-penya-
kit kelamin herpes dan hepatitis B/C, kanker
cervix, Ebola dan AIDS.
Kebanyakan penyakit viral ini sudah dapat
diatasi, bahkan pada tahun 1980 WHO telah
menyatakan virus cacar sudah musnah di
seluruh dunia. Pada tahun 1988 Organisa-
si Kesehatan Dunia (WHO) mencanang kan
program pemusnahan virus polio untuk
ke-dua kalinya dalam sejarah dengan tujuan
membebaskan dunia dari penyakit infeksi ini
selambat-lambatnya akhir tahun 2005 dengan
jalan vaksinasi secara besar-besaran. namun
tujuan ini ter nyata belum berhasil sebab di
tahun 2006 polio masih endemik (= selalu
ada ) di beberapa negara Asia dan Afrika
(van der Avoort HGAM. Poliomyelitis in 2006:
alles of niets. NTvG 2006; 150:2689-92).
Di tahun 1995 negara kita mencanangkan
kampanye besar-besaran lewat Pekan Imu-
nisasi Nasional (PIN) untuk memerangi pe-
nyakit infeksi virus ini. sesudah l.k. 10 tahun
negara kita dinyatakan bebas polio, namun
pada awal tahun 2005 di negara kita kembali
timbul epidemi polio dengan ±15 kasus di
Sukabumi, Jawa Barat, sehingga DepKes
meng anggap perlu untuk di bulan Agustus
2006 melakukan vaksinasi massal dengan
vaksin polio oral (OPV, Sabin). Dalam rangka
membebaskan negara kita dari virus polio,
imunisasi terpadu akan terus digalakan.
Sejak tahun 2005 sudah 5 kali dilaksanakan
PIN dan terakhir di tahun 2006 dengan target
negara kita harus bebas polio pada tahun 2008.
Virus polio yang timbul kembali di negara kita
pada tahun 2005 diperkirakan berasal dari
negara Afrika-Asia di mana penyakit ini masih
endemik, seperti Sudan, Nigeria, Pakistan,
India, dan Afganistan. Dalam tahun 2006 Me-
sir dinyatakan bebas polio.
Virus-virus baru. Pada dasawarsa ter-
akhir dunia telah dilanda sejumlah penya kit
virus baru yang hebat dan sering kali bersifat
epidemi. Yang paling ganas yaitu AIDS
yang diakibatkan infeksi HIV. Meskipun ada
ikhtiar bersama secara besar-besaran dari
para ilmuwan di seluruh dunia, hingga kini
belum ditemukan obat yang dapat dikatakan
ampuh. Hepatitis pun mulai menjadi ma-
salah mendunia pula, sedang dengue
dan Ebola, Lassa dan Hanta merupakan
epidemi-epidemi kecil di Asia Tenggara,
Afrika dan Amerika. Menjelang akhir abad
ke-20 di Hong Kong timbul virus influenza
unggas yang pertama kali ditularkan kepada
manusia via kontak langsung dari ayam/
burung. Kemudian di tahun 2003 dunia di-
landa oleh virus SARS yang pertama kali
muncul di Cina pula.
Fakta yang sangat mencolok pada epidemi-
epidemi baru itu yaitu bahwa virus-
virus baru itu kebanyakan berasalkan dari
jenis-jenis hewan tertentu (lihat di bawah).
Misalnya virus influenza bermukim di babi
dan ternak bersayap, sedang virus demam
kuning dan AIDS pada mulanya ada
pada kera. sebab virus mampu memper-
banyak diri dengan cepat dan mudah ber-
mutasi secara spontan, maka cepat sekali
terbentuk varian-varian baru. Akibat mutasi
yang tak terduga, virus-virus hewan men-
dadak dapat ditularkan ke manusia. Para
ahli meramalkan bahwa di masa depan akan
selalu muncul virus-virus baru yang dapat
memicu epide mi-epidemi serius yang
mengancam manusia.
Zoonosa: dengan istilah ini dimaksudkan
penyakit-penyakit infeksi yang berasal dari
hewan dan menjangkiti manusia melalui
kontak langsung dengan hewan atau me-
ngonsumsi produk-produk berasalkan hewan
seperti susu, daging dan telur. pemicu
zoonosa dapat dibagi dalam kelompok-
kelompok virus, jamur, bakteri, protozoa dan
bahkan cacing. Juga dapat dibedakan antara
zoonosa lama dan yang baru. Misalnya yang
lama yaitu penjangkit infeksi salmonella
dan campylobacter, sedang yang baru
yaitu virus influenza H5N1 dan H7N9
(2013 di Cina), virus SARS dan yang paling
resen yaitu virus MERS. Akhir-akhir ini
telah timbul kembali zoonosa lama yang
memicu demam Q, sebagai akibat
komsumsi daging yang terkontaminasi de-
ngan Coxiella burnetii, dengan gejala demam,
pneeumoni, hepatitis, sakit kepala, mual
muntah dan sakit otot.
Hewan-hewan dan zoonosa yang bersang-
kutan yaitu a.l. sebagai berikut:
– kambing (demam Q, leptospirosa, salmo-
nellosa, toksoplasmosa);
– anjing (rabies, salmonellosa, toksoplas-
mosa, trichinellosa);
– kucing (demam Q, leptospirosa, salmo-
nellosa, toksoplasmosa);
– sapi (E.coli, fasciolosa, rabies, demam Q,
salmonellosa, toksoplasmosa);
– babi (MRSA, brucellosa, rabies, salmo-
nellosa, toksoplasmosa).
Mereka yang dapat terjangkit infeksi aki-
bat zoonosa yaitu terutama anak-anak,
lansia, ibu hamil dan yang daya tahannya
me nurun. Juga termasuk dalam kelompok
risiko ini yaitu orang yang sebab pro-
fesinya bersentuhan dengan hewan atau
produk-produknya.
Slow virus. Di samping itu masih ada se-
jumlah penyakit yang hingga kini belum
diketahui pemicu nya, namun menurut per-
kiraan ditimbulkan oleh infeksi pada usia
sangat muda dengan suatu ‘slow virus’ yang
tidak dike nal. Misalnya, diabetes tipe I, rema
(arthritis rheumatica), multip le sclero sis ( M.S.),
keleti han kronis (M.E., Chronic Fatigue Syndro-
me) dan bentuk-bentuk kanker tertentu.
1. HIV dan AIDS
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syn-
drome) atau Sindroma Cacat Kekebalan
Dapatan merupakan epidemi mikroorga-
nisme terpenting dari abad ke-20, yang untuk
pertama kalinya disinya lir di AS pada awal
tahun 1980-an.
pemicu nya yaitu HIV (Human Immu-
nodeficiency Virus) yang menurut perkiraan
sudah lama sekali ada pada binatang
liar. Akibat kontak erat dengan khususnya
binatang-binatang mengerat, virus telah “me-
loncat” ke manusia. Terutama pada dasawar-
sa terak hir, HIV dan beberapa virus lainnya
(antar a lain virus Ebola) muncul dari hu tan
rimba. HIV dan AIDS dengan pesat menyebar
ke seluruh dunia, sebab bertahun-tahun pe-
nyakit ini tidak menun jukkan gejala apapun.
Selama masa inkubasi panjang itu, pembawa-
virus (orang seropositif) yang masih sehat dan
tanpa keluhan dapat menular kan virus ke-
pada orang lain sebelum diri nya menjadi sakit
dan kemudian meninggal.
Di tahun 1996 telah diperkenalkan terapi
antiretroviral kuat, yakni HAART (highly
active antiretroviral therapy), yang terdiri
atas kombinasi (life-saving “cocktail”) dari
minimal tiga obat antiretroviral ampuh (triple
therapy) dan dijulukkan sebagai “Lazarus
effect.” (kisah dari Kitab Injil mengenai ke-
bangkitan Lazarus dari kematian oleh Jezus).
Sejak saat itu infeksi HIV dapat dikenda-
likan dengan menekan replikasi viral seca-
ra tuntas untuk jangka waktu panjang. Juga
perkembangan resistensi viral dapat dihin-
dari. Berkat HAART infeksi HIV dewasa
ini dapat ditanggulangi dengan baik dan
mortalitas penyakit AIDS telah menurun
dengan peningkatan harapan hidup.
Salah satu syarat bagi suksesnya peng-
obatan yaitu kesetiaan terapi
Obat-obat ini tidak menyembuhkan pe-
nyakit namun memperlambat progres dari
virus dengan menekan replikasinya dan
menghindarinya untuk dengan cepat me-
musnahkan daya tahan tubuh, sehingga HIV
bukan lagi merupakan ancaman jiwa (death
sentence).
Namun demikian dewasa ini AIDS masih
merupakan pemicu kematian nomor 4
di seluruh dunia. Di tahun 2004 jumlah
kematian sebab infeksi yang belum ada
obatnya ini yaitu ±3,1 juta.
Menurut laporan prevalensi HIV/AIDS
di tahun 2003 yaitu kurang lebih 40 juta di
seluruh dunia dan terbanyak yaitu di Afrika
dengan kurang lebih 35 juta kasus (Botswana,
Zimbabwe) (Report on the Global HIV/AIDS
Epidemic, UNAIDS, 2002). Penambahan
kasus infeksi baru di tahun 2004 yaitu ku-
rang lebih 4 juta di benua ini. Juga di Cina
insidensi infeksi AIDS memperlihatkan ke-
cenderungan meningkat dengan kurang
lebih 70.000 kasus terinfeksi HIV/AIDS di
tahun 2005 (WHO 2005).
Di banyak negara Barat, penyebaran AIDS
sudah dapat dihen tikan berkat penyulu han
besar-besaran dengan kampa nye nasional
mengenai AIDS, prevensi dan kontak seksual
secara aman (‘safe sex’).
Menurut laporan DitJen Pemberantasan
Penyakit Menular dan Penyehatan Ling-
kungan Permukiman (PP & PL) DepKes RI,
sampai dengan kwartal ketiga tahun 2006
secara kumulatif di seluruh negara kita jumlah
pengidap infeksi HIV melebihi 4600 kasus,
sedang penderita AIDS sebanyak hampir
7000 orang dan l.k. 1650 di antaranya telah
meninggal dunia.
Jumlah sebenarnya diperkirakan jauh le-
bih besar (diperkirakan 120.000 kasus; CIA
2004). Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi
dilaporkan dari propinsi Papua, disusul oleh
DKI Jakarta, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat
dan kepulauan Riau dengan jumlah kasus
kian meningkat terutama akibat penularan
melalui jarum suntik oleh pecandu narkoba
(IDU atau injecting drug user) (diperkirakan
190-240 ribu orang) dan perilaku seks tidak
aman.
HIV self-test. Sejak tahun 2000 di negeri
Belanda sudah dapat diperoleh HIV-selftest
kit (serupa dengan pregnancy test kit) untuk
melakukan pemeriksaan sendiri terhadap
infeksi HIV. namun di beberapa negara Eropa
penjualan test demikian dilarang.
Keuntungan dari tes ini yaitu kemu dah-
an bagi orang untuk mentes diri sendiri, me-
ngingat bahwa sebagian orang sungkan atau
takut untuk menjalani pemeriksaan demikian
oleh dokter atau fasilitas peme riksaan publik.
Kendalanya yaitu tidak ada counseling
dan pengarahan lanjutan oleh seorang profe-
sional, di samping semua tes demikian tidak
100% dapat dipercaya, walaupun diklaim
bahwa kepekaan dan spesifisitasnya masing-
masing > 99,9% dan > 99,6%.26
Mekanisme kerja. HIV yaitu virus-RNA
yang termasuk kelompok retrovirus. Virus
ini memasuki sel sel limfosit T, monosit dan
makrofag. Lalu enzim reverse-trans criptase
(RT) ment rans kripsi RNA-nya menjadi
DNA, dengan lain kata RNAnya membuat
kopi DNA. Kemudian DNA ini mempe-
netrasi inti sel dan diinkorporasi ke dalam
genom sel limfo-T, yang diperintahkan untuk
memproduksi protein virus baru. Pada repli-
kasi itu terbentuk protein precursor besar,
yang oleh enzim HIV protease dirombak
menjadi protein protein lebih kecil yang
disusun di salut protein dari virus. Sel tuan
rumah mengeluarkan virus–virus baru itu
dan sendirinya akan mati. Jadi, HIV seakan-
akan mengubah limfosit menjadi pabrik
untuk memproduksi virus-virus baru (genom
= keseluruhan gen dalam inti-sel).
Infeksi seumur hidup. Berlainan dengan
infeksi virus lainnya (cacar, campak, influen-
za, dan lain-lain) infeksi dengan HIV bersifat
permanen sebab sulit sekali dimusnahkan
seluruhnya. Virus dapat bersem bunyi di sel-
sel tubuh, terutama dalam CD4+ memory
cells dan di SSP18,19 tanpa dapat didetek si dan
tanpa memicu gejala untuk bertahun-
tahun lamanya. Virus laten ini tidak dapat
dimusnahkan oleh obat. Bila su atu waktu
sistem imun melemah, virus laten dapat
mendadak menjadi aktif lagi. Selain itu HIV
mampu bermutasi beru langkali secara
spontan dan adakalanya membentuk varian
yang lebih ganas (virulen).
HIV-1 dan HIV-2 yaitu dua tipe HIV,
yang hanya dapat ditula ri melalui selaput
lendir yang mengalami kerusakan (kecil). HIV-1
ditemukan di seluruh dunia, sedang HIV-
2 praktis hanya di Afrika Barat. Penularannya
terbatas pada kontak homosek sual (genito-anal),
pengguna narkoba melalui alat suntik dan
penerima transfusi darah yang tercemar.
HIV-2 kurang lancar penularannya baik
seksual maupun dari ibu ke anak dibanding
HIV-1, juga jalannya penyakit lebih lambat.
Kedua tipe utama ini memperlihatkan ba-
nyak subtipenya.
HIV subtipe E telah ditemukan beberapa
tahun lalu. Berbeda dengan kedua tipe HIV
itu di atas, tipe ini berdaya melinta si
mukosa utuh pada kontak hetero seksual (juga
oral) dan pada tahun-tahun terak hir ber tang-
gung ja wab atas merajalelanya AIDS dengan
pesat di Afrika dan Asia Tenggara.
Penularan terutama terjadi melalui darah,
mani dan cairan vagi nal, akibat pemakaian
jarum suntik terinfeksi (pecandu narkotika)
dan transfusi darah tercemar, serta kontak
seksual tanpa perlin dungan (kondom) de-
ngan seorang pembawa-HIV. Virus juga dapat
ditular kan pada bayi oleh ibu seropositif,
selama hamil atau persalin an, begitu pula
melalui air susu ibu (ASI). Telah dipastikan
bahwa penularan tidak dapat terjadi melalui
liur (ciuman, batuk, bersin dan minum dari gelas
yang sama) sebab jumlah virus di dalam liur
terlampau kecil, tidak pula melalui sengatan
nyamuk. Oleh sebab itu pergaulan sosial
dengan pasien AIDS tidak perlu dihindari.
Jalannya infeksi. Pada infeksi HIV dapat
dibedakan tiga tahap :
a. tahap pertama. Orang yang terkena infeksi
menjadi seroposi tif, artinya sesudah 6
bulan di dalam darahnya dapat dideteksi
HIV secara tak-langsung (melalui anti-
bodies). Pada persen tase kecil, beberapa
hari sesudah infeksi timbul gejala flu berat
selama lebih kurang seminggu. Keluhan
ini diakibatkan invasi dan replikasi dari
ribuan HIV di dalam limfo-T.
b. tahap kedua. Kemudian sistem-imun ‘me-
nangkap’ dan mengurung semua virus
di kelenjar limfa, di mana replikasinya
berlang sung terus. Jaringan yang terin-
feksi dan HIV yang lolos dimusnahkan
oleh masing-masing T-killer cells dan
antibodies. Proses ini berlang sung tanpa
gejala. Setiap tahun semakin banyak HIV
dapat meloloskan diri dan masuk ke
dalam sirkulasi dan lebih banyak limfo-T
mati, sedang sistem-imun menjadi
semakin lemah.
c. tahap ketiga. Satu sampai 12 tahun ke-
mudian jumlah HIV dalam darah (viral
load) menjadi besar sekali dan jumlah
limfo-T helper cells (CD4+) turun dari l.k.
1.000 sampai l.k. 200/mm3. Baru pada
saat inilah penyakit AIDS menjadi nyata
(fullblown) dengan gejala-gejala klinis.
Hanya lebih kurang 40% dari semua
orang seropositif yang sebelumnya mera-
sakan dirinya sehat, kini betul-betul men-
jadi sakit de ngan keluhan-keluhan hebat.
Pada sisanya (60%) tidak akan berkem-
bang AIDS, yang sebab-sebabnya belum
diketahui.
Gejalanya berupa suprainfeksi hebat de-
ngan fungi (candidiasis mulut/tenggorok) dan
virus (Herpes dan CMV). sebab sistem- imun
penderita sudah menjadi sangat lemah (CD4+
limfosit count≥200/ml), maka berbagai
infeksi kuman sekunder (infeksi oportunistik)
dapat menghingga pinya (antara lain TBC
dan sejenis pneumonia terten tu, Pneumocystis
carinii) serta tumor-tumor ganas (Kaposi sar-
coma, limfo ma) yang akhirnya mengaki batkan
kematian nya.
Prevensi utama terdiri atas menghindari
kontak seksual tanpa perlindungan (safe
sex dengan kondom), memakai jarum
suntik bersih (pecan du, akupunktur) dan
memakai darah transfusi yang bebas
HIV.
Vaksin anti-AIDS belum dapat dibuat
sebab HIV sering bermuta si, pada mana
susunan salut proteinnya —yang berfungsi
sebagai antigen— berubah secara kontinu.
yaitu sangat sulit membuat vaksin
terhadap beribu-ribu mutan yang terbentuk.
Lihat juga Bab 50, Sera dan Vaksin.
Teori disiden. Beberapa ilmuwan, biokimiawan Amerika David Rasnick dan Kanada Peter
Duesburg menentang, bahwa AIDS disebabkan oleh infeksi dengan virus HIV. Menurut mereka di
Afrika ada suku-suku orang hitam yang tidak bisa diinfeksikan dengan HIV. Pada hematnya
AIDS khusus disebabkan oleh kelemahan sistem tangkis tubuh akibat reaksi-reaksi autoimun, yang
bertalian dengan banyaknya kontak seksual sembarangan. Maka itu AIDS tidak bersifat menular dan
tidak bisa ditulari melalui kontak seksual pada orang sehat dengan sistem ketahanan baik.
Presiden Thabo Mbeki dari Afrika Selatan semula menganut teori ini dan meragukan hubungan
antara HIV dan AIDS serta beranggapan bahwa AIDS diakibatkan oleh kemiskinan dan higiene yang
buruk. Dia menolak untuk mengobati sekitar 4 juta penderita HIV-AIDS di negaranya – yaitu 10%
dari populasi total- dengan cocktail 3 obat AIDS. Sebagai alasan dikemukakan keraguannya terhadap
keamanan dan efektivitas serta kekhawatirannya mengenai efek samping serius dari obat-obat
antiretroviral. Sebaliknya dia menekankan manfaat dari suatu diet yang kaya akan bawang putih
(garlic), lemon dan minyak zaitun. namun atas tekanan massal para ilmiawan selama Konferensi
AIDS Sedunia di Pretoria bulan Februari 2001, akhirnya beliau menyerah dan mengizinkan impor
dan penerapan obat-obat AIDS di Afsel. (NTvG 2001: 145:542)
Dewasa ini pemerintah melontarkan kampanye besar- besaran untuk membendung merajalelanya
secara liar infeksi HIV akibat unsafe sex. Sekarang ini (th 2005) di Afrika Selatan ada l.k. 6 juta
orang terinfeksi dengan kematian lebih dari 600 penderita tiap harinya. Dengan demikian negara ini
memiliki jumlah pengidap HIV/AIDS terbesar di seluruh dunia.
obat-obat antiretroviral
Obat-obat yang kini tersedia untuk terapi
AIDS terdiri atas dua kelompok, yakni reverse-
transcriptase inhibitors dan protease-inhibitors
(PI). Semua obat ini menghambat enzim
RT, sehingga sintesis DNA virus (bertolak
dari RNAnya) dan multip lika sinya dicegah.
Hanya bekerja viru statis namun virus-virus
laten tidak dimatikan.
I. Reverse-transcriptase inhibitors (RTI)
dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu
a. analoga nukleosida (NRTI= nucleo-
side/nucleotide reverse-transcriptase
inhibitor): abacavir, didanosin (DDI),
lamivudin (3TC), stavudin (D4T),
zalcitabine (DDC) dan zidovudin
(AZT).
Analog nukleosida yaitu prodrugs
yang di dalam sel diubah menjadi
trifosfat inaktif, yang bekerja sebagai
substrat saingan untuk enzim viral
RT. Dengan demikian RT dihambat,
pembentukan DNA virus diblokir dan
replikasinya dihentikan.
Obat hanya berkhasiat di sel-sel
yang baru dihinggapi infeksi dan ti-
dak ampuh menghentikan produksi
virus dalam sel-sel di mana DNA viral
sudah terbentuk.
Tenovir, suatu nukleotida yang juga
dapat dianggap analogon nukleosida,
di dalam sel tuan rumah diubah
menjadi difosfat aktif, yang berkhasiat
menghambat enzim RT.
b. analoga non-nukleosida (NNRTI =
Non-nucleoside reverse transcriptase
inhibitor): efavirenz (Stocrin), nevi-
rapin.
Obat-obat ini memiliki struktur ki-
miawi berlainan, jadi bukan analog-
nukleo sida. Mengikat diri secara lang-
sung pada RT virus dan memblokir
pembentukan DNA. Di samping itu
obat-obat ini —di dalam DNA viral
yang sudah terbentuk— meng hambat
perpan jan gan selanjut nya dari rantai-
DNA. Khasiatnya sama, namun efek
sam pingnya relatif sedikit, khususnya
rash. Nevirapin dapat mencapai otak
dan dapat dipakai pada demensia
akibat AIDS.
NRTI dan NNRTI hanya bekerja
bila enzim reverse-transcriptase dari
HIV yang aktif pada awal infeksi,
mengubah RNA menjadi DNA. Selain
menghambat protease, obat-obat ini
tidak menghindari produksi dari par-
tikel-partikel virus oleh sel-sel yang
telah terinfeksi.
II. Protease-inhibitor (PI): amprenavir
(Agrenase), indinavir, nelfinavir (Viracept),
ritonavir dan saquinavir.
Obat-obat ini bekerja pada tahap akhir dari
multiplikasi virus dan e feknya terhadap
HIV lebih kuat daripada obat peng-
hambat RT. Berbeda dengan RTI, PI
mam-pu menghentikan replikasi dari sel
sel yang sudah terinfeksi.
Profilaksis sesudah eksposisi perkutan pada darah yang terinfeksi HIV dapat dilakukan dengan
terapi kombinasi dari AZT 2 x 300 mg + lamivudin 2 x 150 mg + indinavir 3 x 800 mg a.c. (atau
saquinavir 3 x 600 mg d.c. ) selama 4 minggu. Misalnya bila secara tidak sengaja tertusuk jarum
yang telah dipakai pasien AIDS. Terapi harus dimulai sedini mungkin dan selambat-lambatnya
72 jam se telah infeksi; efektivitasnya kurang lebih 80%. Cara ini dikenal sebagai Post Exposition
Profylaxis(PEP).28
Profilaksis penularan ibu ke bayi. “Trans misi vertikal” dari ibu ke bayi terutama terjadi dalam
trimester ketiga dari kehamilan dan selama persalinan, tergantung daripada ba nyaknya virus
dalam darah ibu. Di samping itu juga melalui ASI , maka bayi yang dilahirkan oleh ibu seropositif
perlu diberikan susu botol. Dengan terapi HAART pada wanita HIV-positif yang hamil - tidak
peduli banyaknya viral load dan jumlah sel CD4+ - infeksi pada bayi dapat diturunkan dari 30%
lebih sampai 1-2%.20 Bedah Caesar hanya menurunkan angka ini sampai l.k. 15%.
PI menghambat enzim protease yang
memecah poliprotein besar yang terben-
tuk oleh DNA-viral menjadi pro tein-pro-
tein lebih kecil untuk dipakai bagi
pemba n gunan virus baru. Dengan demi-
kian perkem ban gan virus baru dapat
digagalkan seluruhnya.
Resis tensi sering kali muncul dalam waktu
6-12 bulan bila suatu obat dipakai secara
mono/terapi, sebab HIV mampu bermutasi
secara spontan. Telah dibuktikan bahwa
kombinasi dari RTI dan PI yaitu sangat
menguntungkan, sebab tidak saja saling
memperkuat khasiatnya (sinergisme), namun
juga meng hindarkan atau sangat memper-
lambat timbulnya resistensi. Oleh sebab
itu HAART kini sudah menjadi terapi baku
dalam penanganan infeksi HIV dan prevensi
AIDS
Pengobatan
HAART (highly active antiretroviral the-
rapy). Kombinasi RTI dan PI memicu per-
kembangan drastis pada akhir tahun 1995,
pada saat dibuktikan bahwa kombina si
dari kedua jenis obat berkhasi at lebih kuat
daripada obat-obat tersendi ri. Triple therapy
dari 2 RT-bloc kers bersama 1 protease-
blocker ternyata sangat efektif, misalnya
AZT + 3TC + indinavir. sesudah 6 bulan viral
load (= jumlah partikel virus per ml plasma)
menurun dengan drastis sehingga tidak
dapat dide teksi lagi dalam tubuh pada 60-
90% dari pasien HIV, termasuk yang sudah
parah. Selain itu dapat meningkatkan jumlah
sel-sel limfo-T (CD4+). Kondisi umum pasien
mem baik, berat badan mening kat, energi nya
pulih kembali serta merasakan dirinya sehat
dan dapat bekerja seperti biasa. Dimulainya
terapi sedini mungkin dapat menghindarkan
pembentukan mutan-mutan virus dan des-
truksi lebih lanjut dari sistem imun.
Kini disangsikan bahwa virus dapat dimus-
nahkan dengan tuntas untuk selama-lama-
nya dari darah dan tempat-tempat yang
sukar dicapai seperti jaringan limfe dan SSP.
Selain itu ada pula kekhawati ran mengenai
akan muncul nya resistensi sesudah beberapa
waktu bila obat —yang efek-efek samping-
nya hebat— tidak diminum dengan teratur.
Mengingat bahwa kebanyakan obat ini me-
miliki masa-paru h yang singkat dan memer-
lukan pemberian yang kerapkali, maka kese-
tiaan minum obat yaitu sangat esensial.
Terlewatnya hanya satu dosis dapat meng-
akibatkan menurunnya kadar obat dalam
darah sampai titik yang membahayakan dan
gagalnya terapi.
Penambahan hidroksiureum. Pada Kongres
AIDS di Chicago (Januari 1998) telah dila-
porkan bahwa penambahan obat kanker
hidroksiureum (Hydrea) pada triple therapy
(HAART) dapat memusnahkan seluruh vi-
rus HIV. Bahkan sesudah 1 tahun beberapa
pasien yang menjalani terapi itu masih
tetap bebas-HIV. Keberatan utama terhadap
HAART yaitu efek samping nya yang hebat dan
skema pentakaran yang sangat ketat, sehingga
kesetiaan minum obat (drug compliance) sangat
menurun. Selain itu harganya juga sangat
mahal, sekitar USD 1200 untuk pengobatan
satu bulan. Biaya ini sejak beberapa tahun
telah turun banyak berkat sejumlah pabrik
internasional menurunkan harga obat-obat
HIVnya, bahkan memberikannya cuma-cu-
ma.
HAART Dewasa ini (2005) terapi kombinasi dipakai sebagai penanganan utama di seluruh
dunia. Tujuannya yaitu untuk menekan replikasi virus selama mungkin dan demikian mencegah
perkembangan AIDS.
* Efek sampingnya dapat berupa supresi sumsum tulang dengan anemia dan gangguan sel-sel
darah, neuropati dan pankreatitis. Juga mual, muntah, anoreksia, eksantema, gangguan cita rasa,
sukar tidur dan pikiran kalut. Di samping itu pada jangka panjang terjadi lipodystrofia dari muka,
lengan, tungkai dan bokong. Akibat pembagian lemak yang berubah pasien menjadi kurus di tempat-
tempat itu dan lemak menumpuk di tengkuk (buffalo hump), perut, payudara atau di bagian-
bagian lain. Dengan demikian bentuk tubuh pasien sangat berubah yang dialaminya sebagai sesuatu
yang sangat tidak nyaman.
obat-obat lain
* HCG (Human Chorionic Gonadotropin, lihat
Bab 42, Hormon-hormon Hipofisis) baru-
baru ini telah dila porkan dapat memus-
nahkan sarcoma Kaposi pada penderita AIDS.
Menurut perkiraan HCG menghambat re-
septor-reseptor di permukaan sel tumor dan
menstimulasi DNA-nya untuk mengaktivasi
program “bunuh-dirinya” (apoptose, N Engl
J Med 1996, 29/10 1996). Lihat juga Bab 14,
Sitostatika, sebab-sebab kanker.
* Talidomida kini dipakai untuk meng-
obati borok dan luka di mulut (stomatitis
aphtosae, aften) yang berkait an dengan AIDS.
Di samping itu, obat ini juga menghambat
replikasi HIV-1 dan proses peradangan yang
dicetuskan oleh TNF (Tumor Necrosis Factor)
sehingga dapat memperbaiki keadaan dan
perasaan sehat penderita.* Lihat juga Bab 10,
Obat-Obat Lepra dan Bab 49, Imunosupresiva.
2. VIRUS HERPES
Berbagai infeksi virus pada manusia dise-
babkan oleh kelompok besar virus DNA.
Berlainan dengan infeksi virus lainnya dan
mirip infeksi HIV, infeksi akibat virus Herpes
sukar sekali disembuhkan secara radikal. Sekali
masuk ke dalam tubuh, virus Herpes praktis
tidak dapat dikeluarkan lagi!
Infeksi primer terjadi di ku lit/mukosa,
umumnya pada usia di bawah 10 tahun.
sesudah ‘sembuh’, virus mengundurkan diri
melalui saraf ke sumsum belak ang. Lalu
bersembunyi di simpul-simpul saraf di sam-
ping sumsum (gangli a) dalam bentuk laten
untuk seumur hidup. Bi la suatu waktu ter-
dapat rangsan gan tertentu, virus melalui
saraf muncul lagi di kulit dan menim bul-
kan infeksi sekun der berdekatan dengan
tempat infeksi pertama. Rangsangan dapat
berbentuk “masuk angin”, demam, haid,
stres, penyinaran X-ray, penyakit berat dan
lain-lain, yakni situasi saat sistem-imun dan
daya-tangkis tubuh menurun. sesudah per-
banyakannya dihentikan dan infeksi dapat
diatasi, virus “mengundurkan diri” lagi dan
menjadi laten kembali di gangli a.
Pada awal tahun 1997 ditemukan indikasi
kuat bahwa sejenis virus Herpes (H-6V) yaitu
pemicu dasar dari penyakit MS (multiple
sclerosis). MS dianggap sebagai gangguan
auto-imun kronis yang berciri kerusakan pada
selubung saraf dengan gejala hebat progresif,
seperti kelumpuhan spastis, kelemahan total
dan berkurangnya penglihatan. Penemuan
ini membuka pintu untuk pembuatan vaksin
terhadap penyakit fatal itu. Lihat juga Bab 28,
Obat-obat Parkinson dan MS.
a. Herpes Simplex Virus (HSV) dikenal da-
lam dua bentuk, tipe-I dan tipe-II.
HSV-1 menyerang terutama muka, mata,
mulut dan sekitarnya. HSV-II kebanyak an
ada di daerah kelamin. Biasanya infeksi
primer terjadi di mulut dengan ba nyak luka
kecil, bengkak dan demam. biasanya
gejala-gejala ini sembuh sendiri sesudah satu
minggu pengoba tan paliatif dengan analgeti-
ka, obat kumur, diet cair dan istirahat.
Kortikosteroi da tidak boleh diberikan, sebab
sistem-imun akan lebih terte kan dan infeksi
lebih cepat menyebar ke tempat lain.
* Herpes labialis terjadi sebagai infeksi se-
kunder sesudah reaktivasi virus dan ber cirikan
gelembung-gelembung kecil di bibir atau
di bawah hidung (demam-bibir, “koortslip”).
Gelembung ini sangat gatal dan bersifat
menular sekali, sebab berisi virus. Dengan
salep asiklovir penyembuhan berlangsung
lebih cepat.
* Herpes keratitis yaitu infe ksi mata yang
bercirikan gelem bun g- gelembung yang ber-
cabang di permukaan epitel selaput bening
(korne a). Jika tidak segera diobati dapat ter-
jadi perforasi kornea dan kebutaan, begitu
pula pada pemakaian tetes-mata kortison.
Terapi efektif dapat dilakukan dengan tetes
mata trifluridin, IDU dan vidarabin (sebab
toksisitasnya telah dilarang peredarannya di
Amerika) atau salep mata asiklovir.
* Herpes genitalis disebabkan oleh HSV-
II dan ditulari melalui kontak seksual. Pe-
nyakit kelamin ini di AS merupakan pe-
nyakit kelamin nomor dua (gonore yaitu
nomor satu). Penyakit-penyakit kelamin pen-
ting lainnya yaitu kutil kelamin
di bawah HPV), Chlamy di a, sifilis dan Hepa-
titis B/C. Ternyata bahwa kondom tidak
memberikan perlin dun gan 100% terhadap
infeksi HSV-II, mungkin sebab virusnya
lebih kecil daripa da pori-pori karet. Geja-
lanya berupa gelembung-gelembung bercair
atau borok yang membengkak dan sangat
nyeri di daera h bokong, paha dan alat kela-
min. Kelenjar-kelenjar di lipat paha (groin)
dapat membengkak diiringi rasa sakit bila
buang air kecil, demam dan malaise umum.
Sesudah infeksi pertama diatasi, virus “meng -
undurkan diri” di dalam gangli a di samping
sumsum tulang dan bermukim di tempat ini
seumur hidup! Selama kurun waktu tertentu
dengan daya-tangkis renda h (stres, flu, ke-
lelahan) virus dapat muncul kembali. Ini-
lah sebabnya mengapa HSV-II me nimbul-
kan rata-rata 4-5 seran gan setahun nya.
Pengobatan dilaku kan dengan infus i.v.
asiklo vir, juga salep dengan betadin- iodium
dapat efektif. Obat perintang HSV-2 baru
pritelivir diharapkan menjadi obat utama
terhadap gangguan ini, namun sementara
obat yang juga dianjurkan yaitu famsiklovir
atau valasiklovir. Dewasa ini Herpes mulai
merajalela di mana-man a sebagai penyakit
kelami n.
* Herpes zoster (sinanna ga, “shingles”,
“gordelroos”). Penya kit ini diakibatkan oleh
Varicella zoster (VZV), pemicu cacar-air
(chickenpox), yang menetap di ganglia pasien
sesudah mengalami infeksi cacar pada masa
kanak-kanak. Infeksi ini teruta ma me nyerang
orang-orang di atas usia 50 tahun dan sesudah
sembuh menjadi imun untuk seumur hidup.
Infeksi bercirikan peradangan akut dari
simpul-simpul saraf punggung, biasanya ha-
nya di separuh tubuh di bawah dada. Geja-
lanya berupa kelompok gelembung-gelem-
bung, umumnya sejajar dengan tulang iga
di daerah simpul saraf. Jarang tampak di
tengkuk, bahu, muka dan bagian mata, yang
lazimnya disertai nyeri setempat yang hebat
sekali dan bertahan lama.
Pengobatan neuralgia itu sukar di-
tanggulangi dengan analge ti ka namun dapat
dikurangi dengan mengo leskan 2-3 x sehari
larutan asetosal 10% dalam al ko hol 95%
dengan kapas pada tempat yang nyeri.
Terapi oral dapat dilakukan dengan suatu
virustatikum (asiklovir, valasi klovir). Pada
kasus-kasus hebat lebih efektif diberikan
secara infus i.v. (asiklo vir, vidarabin). Korti-
koste roida dapat diguna kan serentak dan da-
pat mempercepat penyembuhan luka-luka
kulit. Secara alternatif dipakai asam amino
lysin 3 dd 500 mg (0,5 jam a.c.) berdasar
khasiat virustatiknya, lihat Bab 54, Dasar-
dasar diet sehat, Lisin.
Neuralgia postherpetis yaitu nyeri saraf
hebat yang terjadi di tempat yang terkena
pada 10% dari pasien sesudah sinannaga
sembuh, sering kali pada orang-orang lansia.
Nyerinya seperti rasa terbakar yang terus-
menerus, bersifat bandel dan bisa bertahan
sampai 2 tahun! Nyeri dapat dihindari bila
terapi dengan virustati ka dimulai sedini mungkin,
yakni dalam 72 jam sesudah timbulnya rash.
Obat-obat yang dipakai terhada p nyeri
postherpetis terdiri dari kelompok anti de-
presiva trisiklis (amitriptilin, klomi pramin,
nortriptilin), antidepresiva venlafaksin, anti-
epileptika (pregabalin, gabapentin. karbama-
zepin, fenitoin, asam valproat, klonazepam),
obat narkotik (plester fentanil, oksikodon,
metadon), relaksan otot (baklofen) dan obat
topikal (krem lidokain 3-5%, dan lain-lain).
Efek samping dari obat-obat ini tentu harus
diperhatikan.
Kompres pada tempat-tempat yang nyeri
(es batu di dalam kantung plastik) juga me-
ringankan nyeri untuk semen tara waktu.
Pada kasus yang parah, adakalanya dilaku-
kan pembeda han, antara lain saraf-saraf ruas
tulang belakang dipotong (denerva si).
* Epstein-Barr virus (mononucleosis infectiosa)
memicu demam kelenjar (glandular
fever,”kissing disease”, penyakit Pfeiffer). Gejala-
gejalanya berupa kelenjar limfe mem beng-
kak, sakit tenggorokan, demam ringan yang
bertahan dan rasa lelah. Tidak dikenal terapi
kausal, hanya simtomatis dengan banyak
istirahat, pemakaian analgetika dan obat-
obat kumur. Keluhan biasanya hilang sesudah
beberapa minggu, namun penyembuhan tuntas
(terutama rasa lelah) baru terjadi 3-6 bulan
kemudi an! Antibiotika dapat memperhebat
gejala, maka tidak boleh diberikan.
3. VIRUS HEPATITIS
Hepatitis (radang hati) dapat ditimbul kan
oleh banyak sebab, namun paling sering terjadi
sebab infeksi oleh virus hepati tis. Sebab-
sebab lain hepatitis yaitu virus demam
kuning dan penyumbatan saluran empedu
(antara lain akibat batu empedu), zat-zat
kimia atau obat-obat tertentu, juga sebab
minum terlalu banyak alkohol. Hingga kini
dikenal 7 jenis, yakni Virus hepati tis A, B, C, D,
E, F dan G.Hepatitis B dan C dianggap paling
berba haya, sebab dapat merusak hati secara
permanen.
a. HAV (Hepatitis-A Virus) yaitu virus-
RNA dan pemicu hepati tis yang paling
sering terjadi. Penularan terutama melalui
jalur tinja-mulut dengan minuman dan
makanan yang tercemar. Tidak terda-
pat pembawa-virus. Diagnosis dilaku kan
dengan deteksi antibo dies IgM (anti-HAV).
Masa inkubasinya antara 2 dan 6 minggu;
kebanyakan infeksi berlangsung tanpa
keluhan dan tidak ken tara. Gejala utama
yaitu kulit dan putih mata menjadi
kuning pada kurang lebih 50% pengidap,
berhubung zat warna empedu (biliru-
bin) tidak diuraikan lagi oleh hati dan
dikeluarkan ke dalam darah. Gangguan-
gangguan lambung-usus, demam, rasa
letih, nyeri perut, nyeri otot dan sendi
bisa terjadi. Tinja dapat hilang warnanya
dan kemih berwarna gelap. Prevensi
dapat dilakukan dengan imunisasi pasif
(imunoglobu lin), lihat Bab 50, Sera dan
vaksin. Tidak ada obat anti-HAV, namun
infeksi sembuh secara spontan dengan
istirahat dan diet tanpa lemak dalam
waktu 4-8 minggu. Adakalanya disusul
dengan keadaan lemah-letih selama be-
berapa bulan.
b. HBV (Hepatitis-B Virus). HBV termasuk
penyakit kelamin, bersama sifilis, gonore,
herpes genitalis, trichomoniasis, chlamydiasis
dan AIDS. Sama dengan HIV, penular-
annya hanya melalui darah, mani dan
cairan vaginal. Penyakit ini ditemukan di
seluruh dunia dengan lebih kurang 200
juta penderita dengan 2 juta kematian
setiap tahun. Di Asia dan Afrika diper-
kirakan 15% penduduknya yaitu pem-
bawa-virus, dibandingkan kurang dari
1% di negara-negara Barat. Potensi penu-
larannya jauh lebih besar daripada AIDS,
namun risiko kematian nya sama besar.
Pada 10% dari penderita, infeksi menjadi
kronis, virus menetap di darah, khasnya di
hati, lalu pasien menjadi pemba wa-virus
kronis (±5%). Adakalanya hati mengeras
(cirro sis), keluhan menghebat dan bila
tidak diobati akhir nya menjadi fatal. Masa
inkubasinya antara 2 dan 6 bulan. Gejala-
gejalanya dalam garis besar mirip infeksi
dengan HAV, namun lebih hebat dan lebih
sering menim bulkan warna kulit menjadi
kuning.
Prevensi dapat dilakukan dengan vak-
sinasi (HB-vax, terbuat dari antigen-per-
mukaan HBV rekombinan, 10 dan 40
mcg/ml) tiga kali (langsung dan masing-
masing sesudah satu serta enam bulan)
yang memberikan perlindun gan selama
beberapa tahun. WHO menganjur kan
agar vaksinasi HBV dilakukan secara ter-
atur dalam rangka program imunisasi
di setiap negara. Hal ini kini sudah di-
realisa sikan di Prancis, Italia dan Belgia.
Pengobatan dengan obat-obat antiviral
jauh belum sempurna. Efek cukup baik
dicapai dengan alfa-interferon i.m. 3x
seminggu 5-9 MU dengan respons 14-
75%. Obat HIV lamivudin dalam dosis
tinggi efektif pula terhadap HBV.
Bila (peg) interferon-alfa tidak efektif
atau terkontraindikasi, ternyata obat-
obat antiviral baru sesudah 4-5 tahun da-
pat menghilangkan fibrosis dan regresi
cirrosis.
* Adefovir (Hepsera), suatu asiklik nu-
kleosid fosfonat, khusus dipakai ter-
hadap infeksi HBV (De Clercq E. Clinical
potential of the acyclic nucleoside phos-
phonates cidofovir, adefovir and tenofovir
in treatment of DNA virus and retrovirus
infections. Clin Microbiol Rev.2003, 16:
560-596). Obat ini baru efektif sesudah
intraselular diubah menjadi metabolit
aktif adefovirdifosfat yang menghambat
polimerase viral dan demikian memblokir
perpanjangan rangkaian DNA vius. Eks-
kresi melalui urin sebanyak 45% dalam 24
jam.
Dosis: 1 dd 10 mg yang juga merupakan
dosis maksimal.
* Telbivudin (Sebivo) suatu thymidin nu-
kleosida analog yang dipakai bagi
penderita Hepatitis B kronis. Untuk
pemakaian yang sama pilihan lebih
ditujukan kepada adefovir sebab refe-
rensinya yang lebih lengkap.
Dosis: 1 dd 600 mg.
c. HCV (Hepatitis-C Virus) baru ditemukan
pada tahun 1989. Infeksi dengan HCV
acap kali berlangsung lambat tanpa
gejala. Nilai fungsi hati dalam darah agak
meningkat terus-menerus. Penularan juga
berlangsung melalui darah, mani dan
lendir, sama dengan AIDS namun lebih
agresif; setetes kecil darah sudah cukup
untuk memicu infeksi. Penyakit
ini khusus menyerang pecandu narkoba,
pekerja seks dan orang-orang dengan
kontak seksual berganti-ganti. Menurut
tafsiran, dewasa ini di seluruh dunia ter-
dapat 130-210 juta penderita hepatitis
C kronik. Pengobatan aniviral yang opti-
mal dapat mengurangi morbiditas dan
mortalitas akibat hepatitis C kronik dan
menghindari penyebaran dari HCV. Juga
sangat penting untuk menghentikan ke-
rusakan hati akibat infeksi HCV kronik.
Pengobatan standar dewasa ini terdiri
dari kombinasi peg-interferon dan riba-
virin selama 34-48 minggu yang membe-
rikan kesembuhan sub-optimal di sam-
ping timbulnya efek-efek samping serius.
Hanya efektif kurang dari 50% untuk
infeksi HCV-genotipe 1 dan 4,
Penghambat enzim protease merupakan
kelompok obat-obat baru yang bekerja
langsung terhadap siklus hidup HCV.
Kombinasi dari obat ini dengan pegin-
terferon serta ribavirin hampir dapat
melipatgandakan kesempatan penyem-
buhan pasien HCV-genotipe 1, di samping
lamanya terapi dapat sangat dipersingkat.
Efek negatif dari pengobatan dengan pe-
rintang protease yaitu dapat timbul-
nya species virus resisten di samping
timbulnya efek samping khusus.
.......................
1. Aronson, S.J. et al., Nieuwe klasse
medicijnen voor chronische hepatitis C;
Ned Tijdschr Geneeskd. 2012;156
2. Deuffic-Burban S, Deltenre P, Louvet A, et
al. Impact of viral eradication on mortality
related to hepatitis C: a mode ling approach
in France. J Hepatol. 2008;49:175-83
3. Deuffic-Burban S, et al. Impact of pegylated
interferon and ribavirin on morbidity and
mortality in pa-tients with chronic hepatitis
C and normal aminotransferases in France.
Hepatology. 2009;50:1351-9
d. HEV (Hepatitis-E Virus) banyak ada
di daerah tropis dan terutama melanda
remaja. Gejala-gejalanya secara klinis ti-
dak dapat dibedakan dari hepatitis A.
Masa inkubasinya 2-8 minggu, lazimnya
sembuh tuntas secara spontan (Hepatitis
E in Neder land 1992-96. NTvG 1996, 29,
1514).
e. HFV (Hepatitis-F Virus) belum lama di-
temukan; bahan-bahan genetisnya belum
dianalisis secara lengkap.
f. HGV (hepatitis-G virus) ditemukan di
tahun 1996 dan relatif banyak ditemukan
pada donor darah. Kebanyakan infeksi
(via transfusi dan jarum yang tercemar)
berlangsung tanpa gejala nyata, seperti
halnya pada hepatitis akut.
14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 124 20/04/2015 20:15:23
Bab 7: Virustatika 125
4. VIRUS INFlUENZA
Influenza disebabkan oleh virus-RNA yang
dapat hidup pada manusia, kuda, babi, ikan
paus, ayam, itik dan burung. Virus-RNA
terdiri atas inti protein dengan antara lain RNA
dan polimerase. Di bagian luarnya ada
membran albumin dan membran lemak, di mana
ada tajuk-tajuk glycopeptida. «Spikes» ini
terdiri dari protein hemagglutinin (H) dan
neuraminidase (N), yang berfungsi sebagai
antigen permukaan (lihat Gambar 50-1).
Hemagglutinin dan neuraminidase terdiri
dari banyak varian dan berdasar ini jenis
virus influenza diberikan namanya, misalnya
H1N1, H3N2.
Infeksi terjadi melalui inhalasi dari tetesan
liur (pada waktu bersin, batuk, berbica ra).
Masa inkubasinya 1-3 hari. Gejalanya muncul
sesudah masa inkubasi dan berupa demam
sampai 40°C, nyeri sendi dan otot di seluruh
tubuh, sakit tenggorok dan kepala, radang
mukosa hidung dan batuk kering yang dapat
bertahan berminggu-minggu. Pada sebagian
kecil penderita, terutama yang memiliki da-
ya tahan menurun, infeksi ini berlangsung
parah sampai fatal.
Rhinovirus dan selesma. Di samping
virus influenza masih ada lebih dari
seratus jenis rhinovirus pemicu selesma/
pilek(masuk angin, «common cold»). Ganggu an
ini sering kali dikelirukan dengan influenza,
sebab geja la-gejalanya sama walaupun tidak
sehe bat dan praktis tidak pernah mengaki-
batkan kemati an. Selesma juga sembuh spon-
tan melalui pengobatan simtomatis dengan
analgetika, obat batuk dan tetes hidung/telinga.
Jenis-jenis virus influenza yang dikenal di-
bagi berdasar 3 tipe, yakni:
• tipe A, dengan 5 subtipe, yakni H1-H2-
H3-H4 dan H5, yang bermutasi setiap 1-2
tahun.
• tipe B, yang bermutasi setiap 4-5 tahun.
• tipe C, yang jarang sekali ada .
Seusai suatu epidemi dan setiap tahun, virus-
virus influenza A dan B bermu tasi ringan,
khusus mengenai enzim hemagglutinnya.
Berhu bung dengan mutasi-mutasi kecil ini
(“antigenic drift”) glikopro teinnya (H dan
N) selalu berubah sedikit, sehingga secara
sangat berangsur-angsur “menjauhkan diri”
(‘drifting away’) dari antibodies yang sudah
terbentuk dalam tubuh. Oleh sebab itu tidak
mungkin membuat suatu vaksin influ en za
univer sal, lihat Bab 50, Sera dan vak sin, Vak-
sin influen za.
Mutasi besar (“antigenic shif t”) terjadi se-
tiap 8-15 tahun pada virus-A, di mana ter-
bentuk suatu subtipe A baru dengan protein
permukaan yang seluruhnya berlainan. Mu-
tan demikian dapat mengaki bat kan epidemi
hebat. Munculnya virus-virus A baru dalam
abad ini sudah beberapa kali memicu
pandemi. Yang terkenal yaitu pandemi di
tahun 1919 (“Spanish flu”) dengan 20-50 juta
kematian, terutama orang muda. Menurut
penyelidikan baru, epidemi itu disebabkan
oleh subtipe H1-N1 yang “berkerabat” de-
ngan virus flu babi. Begitu pula pandemi 1946
(strain baru A1), 1957 (“flu Asia”,subtipe A2:
H2-N2), 1968 (“flu Hongkong”, subtipe A2: H3-
N2,) dan 1977 (“Rusia”, H1).Virus-virus yang
ada dewasa ini yaitu turuna n dari tipe
H3-N2. Virus influenza yang terdapa t pada
babi pada tahun 1976 menim bulkan epidemi
Fort Dixon.
Flu burung. Akhir 1997 di Hongkong telah
muncul suatu virus influenza-A baru (avian
influenza tipe H5-N1) yang berasal dari bu-
rung/unggas dan dapat ditularkan kepada
manusia melalui percikan lendir yang keluar
dari unggas atau melalui udara (kotoran
unggas yang sudah mengering). Sumber
infeksi lain yaitu pemakaian kotoran ung-
gas sebagai pupuk. Gejalanya pada manu-
sia yaitu demam tinggi (di atas 38° C), sakit
kepala, tenggorok, myalgia (sakit otot), batuk
pilek dan radang parah paru-paru.
Virus ini kemudian menyebar ke berbagai
negara di Asia a.l. negara kita pada tahun
2003. Dari ± 120 orang di Asia yang terinfeksi
sekitar 60 orang telah meninggal. Walaupun
kemungkinan penularan dari manusia ke
manusia kecil, namun sebab virus flu terkenal
bersi fat sangat lincah, dikhawatirkan virus
ini akan berintegrasi/berkombinasi dengan
virus influenza manusia dan menciptakan
14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 125 20/04/2015 20:15:23
Seksi II: Kemoterapeutika126
mutan-mutan baru yang lebih ganas dan
memudahkan transmi sinya dari manusia ke
manusia.
Dalam usaha mence gah penyebaran nya
dan timbulnya pande mi, maka lebih dari satu
juta (anak) ayam dan itik telah dimusnahkan
di banyak negara, misalnya di negara kita
dan negeri Belanda (2002). Awal 2005 telah
dilaporkan lagi kasus-kasus infeksi dengan
H5N1 di Vietnam, Thailand, Kamboja dan
juga negara kita .
Medio bulan September 2005 kekhawatir-
an merebak di negara kita mengenai penye-
baran virus flu ini yang dipicu dengan me-
ninggalnya beberapa korban yang positif
terinfeksi avian flu H5N1. Juga terinfeksinya
sejumlah unggas di Taman Margawatwa
Ragunan memicu kebun binatang ini
ditutup bagi publik selama 3 minggu untuk
memberikan kesempatan ‘mensterilkan’ be-
berapa bagian yang tercemar. Untuk menang-
gulangi penyebaran penyakit ini dengan lebih
efektif dan menyeluruh, maka Departemen
Kesehatan telah mengumumkan situasi KLB
(Kejadian/kondisi Luar Biasa) Nasional Flu
burung.
Menurut laporan terakhir (2007) negara kita
menempatkan peringkat pertama di dunia
sesudah Vietnam mengenai terjangkitnya dan
angka kematian akibat flu burung H5N1.
Hampir seluruh provinsi di negara kita meru-
pakan endemik virus ini dengan hanya 3
provinsi yang bebas. Hingga akhir bulan
Januari tahun 2007 jumlah orang yang positif
terinfeksi di seluruh negara kita sebanyak 79
orang dan 61 di antaranya telah me ninggal
(DirJen Pengendalian Penyakit dan Penye-
hatan Lingkungan DepKes R.I.).
Di samping ini kurang lebih 30 juta unggas
telah dimusnahkan. Dalam rangka membe-
rantas penyakit virus ganas ini, dalam bulan
Januari 2007 telah diterbitkan Peraturan Gu-
bernur DKI Jakarta No.5 tahun 2007 tentang
larangan memelihara unggas di kawasan
pemukiman.
Catatan: Epidemi yaitu peningkatan pesat
dari jumlah penderita suatu penyakit.
Pandemi yaitu epidemi sangat meluas
yang mis. menyerang beberapa negara seka-
ligus.
Penanganan. Sebagai tindakan prevensi
ayam dan itik dapat divaksinasi dengan
vaksin H5N1 (Sanofi Pasteur, Prancis) yang
sudah tersedia sejak beberapa tahun, sedang-
kan unggas yang sudah terinfeksi dimus-
nahkan. namun masih terlampau dini untuk
menyatakan keampuhan dan keselamatan
dari pemakaian vaksin ini sebab penga-
lamannya masih terbatas.
Pengobatan terdiri atas istirahat (bedrest) dan
suatu analge tikum untuk mengatasi rasa nyeri
(parasetamol, aseto sal). Obat-obat lain yang
dapat memengaruhi jalannya infeksi yaitu
vitamin C, seng, amantadin dan penghambat
neuraminidase.
a. Vitamin C dalam dosis tinggi (3-4 dd
1000 mg) berkhasiat meringankan gejala
dan mempersingkat lamanya infeksi, ber-
dasarkan stimulasi perbanyakan dan akti-
vitas limfosit-T (Br J Nutr 1992; 67: 3).
b. Seng-glukonat dalam bentuk tablet-hisap
dengan 13,3 mg Zn (kurang lebih 92,5
mg Zn-glukonat) yang dipakai sedini
mungkin pada awal infeksi 5-6 x sehari
dapat mempersingkat lamanya masa sakit
dari rata-rata 7,6 menjadi rata-rata 4,4
hari (Ann Int Med 1996; 125: 81). Mekanis-
me kerjanya diperkirakan berdasar
blokade dari tempat-tempat di permukaan
virus yang dapat mengikat pada sel-sel
tubuh. Atau juga atas dasar daya kerja ion-
Zn yang menghambat pembelahan polipep tida
virus serta aktivasi limfo sit.
c. Virustatika dipakai sebagai prevensi
atau untuk meringankan gejala penyakit,
bila terjadi infeksi.
• Amantadin dapat dipakai selama
10 hari bersama injeksi vaksin influ-
enza guna melindungi terhadap vi-
rus-A2 selama masa vaksin belum
aktif (masa inkubasi 10 hari), terutama
pada orang-orang dengan daya-tang-
kis lemah.
• Oseltamivir dan zanamivir termasuk
kelompok neuraminidase-inhibitors
(1998) yang ternyata efektif untuk
mencegah dan menangani influenza.
Obat-obat ini dapat menurunkan
kematian pada orang dewasa yang
terinfeksi virus influenza A H1N1,
14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 126 20/04/2015 20:15:23
Bab 7: Virustatika 127
bila dipakai dalam 2 hari sesudah
timbulnya gejala-gejala pertama.
Obat ini menghambat enzim neurami-
nidase pada permukaan virus. Dengan
demikian pelepasan partikel-partikel
virus (virion) ke luar sel tuan rumah
dihindarkan, sehingga sel-sel yang
berdekatan di dalam saluran napas
tidak ditulari. Zanamivir dipakai
sebagai inhalasi 1-2 dd 10 mg (Ph Wkbl
1998; 133: 1590). pemakaian osel-
tamivir lebih praktis sebab per oral,
(lih. Monografi).
d. Antibiotika hanya dipakai pada
orang yang berisiko tinggi dengan daya-
tangkis lemah, seperti penderita bronchi-
tis kronis, jantung atau ginjal. Penderita-
penderita ini mudah dihinggapi infeksi
bakterial sekunder, khususnya radang
paru (pneumonia) yang tak jarang berakhir
fatal. Oleh sebab itu di Eropa orang-
orang yang berisiko tinggi dianjur kan
untuk setiap tahun pada permulaan
musim dingin melindungi diri dengan
injeksi vaksin influenza. Malah di negeri
Belanda semua lansia diatas 65 tahun
diberi vaksinasi ini dengan cuma-cuma.
Sindrom postviral yaitu kompleks ge-
jala sesudah sembuh dari infeksi influ-
enza (atau infeksi virus lain) yang berci-
rikan perasaan sangat lelah, letih, kurang
energi serta depresi. Keadaan ini mung-
kin disebab kan oleh toksin-toksin virus
yang masih beredar di dalam darah
selama berminggu-minggu sampai ber-
bulan-bulan. Selama kurun waktu ini
sebaiknya jangan melakukan kerja fisik
berat sambil memperkuat daya tahan
tubuh dengan makanan bergizi dan
cukup vitamin.
5. VIRUS-VIRUS lAIN
a. Virus dengue (pelafalan: denggi; Ing =
menyerupai dandy).
Sekitar setengah dari populasi dunia ber-
mukim di negara-negara yang endemik bagi
virus-RNA (flavivirus) ini, terutama di Asia
dan Afrika, namun dewasa ini juga di Amerika.
Infeksi terjadi oleh gigitan nyamuk Aedes
aegypti dan penularannya mirip penularan
malaria. namun berbeda dengan nyamuk
Anopheles, nyamuk ini menyengat terutama
pada siang hari. [Nyamuk itu juga
merupakan pemicu penularan flavivirus
lain, yaitu demam kuning (yel low fever) di
Afrika dan Amerika Latin]. Dikenal empat
serotipe virus dengue, masa inkubasinya 5-8
hari. Menurut perki raan WHO, setiap tahun
dengue memicu korban fatal ±20.000
orang. Pada tahun 1994 terjadi epidemi di
Amerika Tengah (Puerto Rico, Kuba) dan di
tahun 1996 di negara kita , Malay sia, Filipina
dan India. Pada awal tahun 2004 kembali
terjadi epidemi di negara kita dengan ±24 ribu
orang terinfeksi dan ± 360 yang meninggal.
Total kasus DBD di seluruh negara kita untuk
tahun 2005 tercatat kurang lebih 67.800 pa-
sien dan lebih dari 900 telah meninggal (Dir-
jen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan Dep Kes RI). sedang di
DKI Jakarta hingga pertengahan bulan De-
sember 2006 tercatat kurang lebih 24300
kasus dan k.l. 50 telah meninggal (situs web
Antara). Kini virus itu sudah ditemui
di 17 negara bagian AS. Sampai sekarang
pengendalian penyakit virus ini masih
mengalami kesulitan. Di tahun 2010 sekitar
4 miliar orang di seluruh dunia berisiko
terinfeksi oleh salah satu dari 4 virus dengue
(DENV1-4) dan lebih dari 390 juta orang telah
terinfeksi.
.......................Halstead S.B. Stumbles on the path
to dengue control.The Lancet Infectious
Diseases, Volume 14, Issue 8, Pages 661 - 662,
2014
Deteksi virus dilaku kan dengan penen tuan
antibodies di dalam darah. Transmisi dari
manusia ke manusia tidak mungkin.
Penelitian untuk membuat vaksin terhadap
dengue telah dilaksanakan di Thailand (Sa-
nofi Pasteur), namun masih mengecewakan
sebab praktis tidak dapat memberikan
perlindungan terhadap serotype 2. Vak-
sin itu mengandung virus hidup re-
kombinan yang aman. Dari hasil penelitian
ini terbukti untuk pertama kali bahwa suatu
vaksin yang aman terhadap dengue dapat
dibuat, namun masih memerlukan studi
follow-up lebih lanjut.
.......................Lancet. 2012; epub 11 september
14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 127 20/04/2015 20:15:23
Seksi II: Kemoterapeutika128
Gejalanya berupa demam-menggigil sam-
pai 40°C, nyeri sendi dan otot yang hebat,
terutama di tungkai, sakit kepala berat,
nyeri otot/persendian dan timbulnya bintik-
bintik merah (petechiae) yang khas di muka,
kaki dan tubuh. sesudah 2-4 hari demam
mendadak hilang untuk kemudian (sesudah
24 jam) kambuh lagi. Naik-turunnya suhu
ini yaitu karakteristik bagi dengue. Pada
awalnya timbul leukopeni, trombositopeni
dan kemudian leukositosis. Trombositopeni
diperkirakan sebab depresi sumsum tulang
dan rusaknya trombosit. sesudah 3-6 hari
lagi ruam dan demam lenyap sama sekali.
Prognosisnya baik, masa penyembuhannya
dapat memakan waktu lama. Tes diagnosis
yang umum dipakai yaitu tourniquettest
(Rumpell-Leede test) disusul konfirmasi deteksi
virus melalui penentuan antibodies dengan
pemeriksaan IgM (respons primer) dan IgG
(respons sekunder) di dalam darah. Sampai
sekarang belum ada terapi kausal terhadap
dengue dan penangana n hanya terdiri dari
terapi penunjang seperti infus dengan laruta n
garam, pemberian zat asam, istirahat dan
parasetamol terhadap demam. Bila terjadi
perdarahan serius dapat dipertimbangkan
pemberian transfusi darah. Dengan terapi
penunjang yang baik mortalitas penyakit
infeksi ini terbatas sampai 1-3%, namun bila
diabaikan dapat meningkat sampai 50%.
Demam berdarah dengue (DBD) dan Sin-
drom shock dengue (SSD) merupakan ben-
tuk-bentuk parah dari dengue. Menurut
perki raan disebabkan oleh 2 infeksi ber turut-
turut dari jenis-jenis (serotipe-serotipe) yang
berlai nan. Selama infeksi kedua terjadi suatu
reaksi imunologi dengan aktivasi sistem
komplemen serta terganggunya endotel dan
permeabilitas pembuluh. Mungkin juga viru-
lensi abnormal dari virus memegang peranan.
Pada bentuk-bentu k ganas ini dari hari ke-2
sampai ke-5, di samping demam, juga terjadi
hipotensi, shock dan perdarahan dari kulit,
hidung dan telinga, yang tanpa perawatan
akan berakhir fatal dalam 50% dari kasus.
DBD (he morrha gic fever) terutama meng-
hingga pi anak-anak. Prevensi dilakukan
dengan jalan memberan tas nyamuk dari
tempat-tempat pembia kannya (air yang
tidak mengalir, tong air hujan). Untuk ini
dapat dipakai suatu insektisid yang dapat
memusnahkan jentik-jentik (larva) nyamuk,
misalnya senyawa organotiofosfat temephos(
Abate), 10 g per 100 liter air.
Pengo ba tannya hanya simtoma tis dengan
transfusi darah untuk menanggulangi shock
di samping analgetika/antipiretika. Dengan
penan ga nan yang layak, angka kematian
DBD dan SSD terbatas sampai ±5%.
Obat antiviral yang ampuh terhadap de-
ngue belum diketemukan, walaupun sedang
diadakan penelitian terhadap senyawa peng-
hambat alfa-glukosidase celgosivir untuk
pengobatan demam berdarah akut.
.......................The Lancet Infectious Disea ses, Volume
14, Issue 8, Pages 706 - 715, 2014
b. Virus Ebola yaitu virus-RNA, yang pada
tahun 1995 memicu epidemi di Zaire
sesudah virus “tidur” selama 16 tahun. Ebola
yaitu nama suatu sungai di Zaire, di mana
penyakit ini dideteksi untuk pertama kalinya
di tahun 1979. Sampai sekarang belum di-
ketahui vektor-nya, yaitu hewan perantara
yang meneruskan virus kepada manusia.
namun diduga bahwa carriernya yaitu
kelelawar, walaupun hewan ini sendiri tidak
memperlihatkan gejala penyakit. Mungkin
sekali hewan ini sudah menyesuaikan diri
dan sejak lama sudah menjadi pembawa
virus itu . 24
Pertengahan tahun 2014 timbul epidemi
Ebola yang menurut para ahli kesehatan
merupakan “letusan” Ebola paling mema-
tikan dalam sejarah. Epidemi ini timbul di
Afrika Barat dan pertama kali di Guinea
yang lalu menjalar ke Liberia, Sierra Leone,
Senegal, Mali dan Nigeria. Menurut WHO
tercatat lebih dari 20.600 kasus terinfeksi,
dengan angka kematian lebih dari 8.150
(Januari 2015). WHO telah menyatakan
epidemi ini sebagai “public health emergency
of international concern.”
Infeksi terjadi melalui kontak langsung (tidak
melalui udara) dengan darah (seper ti AIDS)
atau dengan cairan tubuh lain (liur, urin,
tinja, mani), begitu pula melalui barang yang
terkontaminasi oleh cairan tubuh penderita.
14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 128 20/04/2015 20:15:23
Bab 7: Virustatika 129
Masa inkubasi 2 sampai 21 hari dengan geja-
la nyeri kepala, nyeri persendian, muka dan
mata bengkak, ruam kulit, demam, muntah,
diare serta gangguan ginjal dan hati. Gejala-
gejala ini disusul oleh perdarahan hebat dari
semua liang tubuh dan organ-organ dalam,
sebab darah tidak membeku lagi. Akibatnya
syok dan fatal (90%) dalam beberapa (±10)
hari bagi kebanyakan pengidap. Penyakit
infeksi ini sangat menular dengan angka
kematian berkisar antara 50%-90%! Hingga
kini belum







