Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 8


  ada obat maupun vaksin terhadap 

infeksi virus ini. Selama epidemi ini ada satu 

experimental drug (ZMapp, serum dengan 

suatu monoklonal antibodi) yang belum 

melalui proses clinical trial diberikan kepada 

beberapa penderita infeksi Ebola dengan 

hasil sementara yang memberikan harapan.

c. Virus Hanta. Penyakit virus ini ditular-

kan kepada manusia melalui kotoran (urin, 

feses) binatang-binatang (zoönose), a.l. bina-

tang mengerat seperti tikus, namun  tidak da- 

pat ditulari dari manusia ke manusia (tuan- 

rumah terakhir). Infeksinya timbul melalui 

debu kotoran yang dihirup melalui perna-

pasan.

Di tahun 1951, untuk pertama kalinya mun-

cul di Korea dengan gejala demam, shock 

dan perdarahan. Suatu jenis Hanta baru telah 

menimbul kan pandemi di AS Barat di tahun 

1993 pada suku Indian Navajo dan kini sudah 

ditemukan di lebih dari 20 negara bagian AS. 

Akhir-akhir ini (2006) infeksi Hanta virus yang 

sangat meresahkan telah timbul di beberapa 

negara Eropa Barat.25

Infeksi ditandai dengan gangguan fungsi 

ginjal serius dan trombopeni di sam ping 

terisinya paru-paru oleh cairan dan tekanan 

darah yang sangat meningkat. Mortalitasnya 

tinggi, kurang lebih 60% dan sampai sekarang 

belum dikenal obat atau vaksin terhadap 

virus ganas ini.

d. Human Papillomavirus (HPV). Virus-

DNA ini termasuk famili papovavirus dan 

mencakup lebih dari 80 jenis (subtipe). Virus 

ini memicu  timbulnya kutil-kutil (ve-

rucca, wart) di kulit dan di daerah anogenital 

dengan jalan proliferasi sel-sel epitel nya. Ku- 

til-kutil kelamin ini merupakan penyakit ke-

lamin nomor dua sesudah  gonore dan Herpes 

genitalis. HPV juga pemicu  kanker leher 

rahim (cervix), dengan angka kematian di 

atas 40%! Deteksi dini melalui diagnostik-

DNA dapat menurunkan angka ini. 

Pengobatan. Kutil-kutil di tangan dan kaki 

sering kali sembuh secara spontan. Dalam 

kasus serius dapat dilakukan prosedur pem-

bakaran dengan listrik (electrocautery) atau 

pembedahan sesudah  pembeku an dengan 

kloretil. Selain itu dapat dipakai  kerato-

litika (larutan asam salisilat + asam laktat aa 

17% dalam collodium, salep salisilat 40%). 

Atau dikompres dengan formaldehi da 2-5% 

dengan efek baik.

e. Virus SARS (Severe Acute Respiratory Syn-

drome

Awal tahun 2003 dunia dikejutkan oleh 

timbulnya epidemi suatu penyakit infeksi 

virus yang dinamakan epidemi SARS. Berasal 

dari Cina SARS dalam waktu beberapa bulan 

melanda seluruh dunia. Menurut Organisasi 

Kesehatan Dunia (WHO) epidemi ini me-

nyebabkan ±8000 orang di seluruh dunia, 

terutama di Asia dan Kanada (Toronto), te-

lah terinfeksi dan ±10% meninggal. Walau- 

pun informasi mengenai penyakit ini diham-

bat oleh pemerintah China berdasar  bebe-

rapa alasan sehingga pemberantasannya di-

persulit, namun dunia internasional tanpa 

ragu-ragu mengerahkan kerja sama yang 

erat antara berbagai pusat penelitian dan 

laboratoria untuk menanggulanginya. Dalam 

waktu hanya dua bulan sesudah  epidemi di-

laporkan, pemicu  SARS sudah dapat di-

deteksi dan dalam lima bulan epidemi ini 

telah berhasil diatasi. 

pemicu nya. SARS yaitu  suatu penyakit 

saluran napas yang diakibatkan oleh suatu 

coronavirus yang dinamakan SARS-associated 

coronavirus atau SARS-CoV. Virus ini diperki-

rakan yaitu  suatu zoönose (penyakit hewan 

yang dapat pindah ke manusia) yang me-

nyerang manusia melalui transmisi dari 

hewan ke manusia. Identifikasi melalui reaksi 

rantai polymerase dari hewan-hewan pemba-

wa virus SARS-CoV sangat penting untuk 

menjamin kesehatan masyarakat. 

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 129 20/04/2015 20:15:23

Seksi II: Kemoterapeutika130

Gejalanya. Yang terutama yaitu  demam 

tinggi (99%) sampai melebihi 38° C, batuk 

tidak produktif (69%), myalgia (sakit otot) 

(49%) dan dyspnoe (sesak napas) (42%). Ge-

jala lain yaitu  sakit kepala, diare (10-20%) 

dan sebagian besar menderita pneumonia. 

Penyakit ini terutama fatal bagi penderita 

diabetes (JAMA 2003; 289:2801-9).

Cara penularan. SARS terutama ditularkan 

melalui hubungan erat person-to-person, yak- 

ni kontak langsung dengan sekret pernapas-

an atau cairan tubuh. Virus dengan mudah 

sekali ditulari melalui percikan pernapasan 

(droplet spread). Cara transmisinya yaitu  

bila seorang penderita batuk atau bersin dan 

percikannya tiba pada selaput lendir dari 

mulut, hidung dan mata dari seorang yang 

berdekatan. Virus juga dapat ditulari bila 

seorang bersentuhan dengan benda yang 

tercemar dengan percikan ini atau melalui 

udara (airborn). 

Pengobatan. Obat yang dipakai  terha-

dap infeksi virus SARS yaitu  ribavirin. 

Suatu vaksin telah dikembangkan dari virus 

influenza yang diperlemah, pada mana 

ditambahkan suatu gen dari virus SARS. 

Vaksin ini hanya efektif pada anak-anak, 

tidak pada orang dewasa (Lancet 2004; 363 : 

2122-6)

• Di tahun 2012 di Jordania timbul penyakit 

infeksi saluran pernapasan akibat suatu 

virus baru yang dinamakan ‘Middle East 

respiratory syndrome coronavirus’ (MERS-

CoV-RNA), yang penularannya diperkirakan 

dari manusia ke manusia.

Clinical Infectious Diseases (2014; epub 20 mei).

f.  Virus Nile Barat

Virus ‘baru’ ini pertama kali muncul pada 

tahun 1937 di Uganda dan kemudian secara 

acak melanda di Afrika dan Israel. Baru pada 

tahun1999 disinyalir timbulnya di New York. 

Penyebarannya terjadi oleh burung perantau 

dan nyamuk Culex, yang ditularkan virus 

sesudah  menyengat burung yang terinfeksi. 

Sementara ini sudah meninggal 104 orang 

di 32 negara bagian A.S. Yang sangat mere-

sahkan yaitu  bahwa semakin banyak hewan 

tewas akibat penularan (burung, kuda, ba-

jing) Penularan bisa juga terjadi melalui 

transfusi darah. Gejala infeksi mirip flu ringan, 

namun  menjadi sangat berbahaya bila timbul 

demam tinggi, mengigau dan koma, sebab  

dapat memicu  meningitis yang fatal. 

Juga dilaporkan perlumpuhan mirip polio 

irreversibel dan hilang ingatan.

Di laboratoria kini para ilmiawan bekerja 

keras untuk membuat vaksin antivirus.

Kehamilan dan laktasi. sebab  belum ter-

sedia cukup data menge nai keamanan obat 

antiviral untuk janin dan bayi, beberapa tahun 

yang lalu obat antiviral tidak dianjurkan 

pemakaian nya oleh wanita hamil dan 

selama laktasi. Akan namun  penelitian pada 

tahun-tahun terakhir menunjukkan, bahwa 

guna menghindari transmisi vertikal dari ibu 

yang terinfeksi HIV ke bayi, terapi HAART 

yaitu  aman, efektif dengan sedikit efek 

samping. Wanita hamil yang belum pernah 

diberikan medikasi, kini dianjurkan memulai 

dengan terapi HAART antara minggu ke-20 

dan ke-28.20

MoNogRAFI

A. obAT ANTIRETRoVIRAl

1.  Indinavir: Crixivan

Obat baru ini (1995) berkhasiat terutama 

terhadap HIV tipe-1, namun  efeknya kurang 

kuat terhadap tipe-2. Menghambat protease-

HIV(PI), yaitu enzim yang ‘memutuskan’ 

rantai polipeptida menjadi bagian-bagian 

yang lebih kecil. Dengan demikian menjadi 

“masaknya” virus-virus baru dihalangi dan 

terbentuklah virus-virus yang belum masak 

dan tidak bersifat menular lagi. Khusus 

dipakai  dalam kombi nasi dengan satu 

atau lebih penghambat RT (RTI).

Resorpsi dan BA-nya sangat berkurang oleh 

makanan yang kaya protein dan le mak, maka 

harus diminum pada perut kosong. Plas-

ma-t½-nya rata-rata 1,8 jam. Dimetabolisasi 

dalam hati oleh sistem oksidasi P 450, 

ekskresinya melalui tinja (80%) dan kemih 

(20%). 

Efek-efek samping yang tersering berup a 

gangguan lambung-usus, agak serin g juga 

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 130 20/04/2015 20:15:23

Bab 7: Virustatika 131

timbulnya batu ginjal dengan kencing ber-

darah (hematuria) yang mung kin akibat kris-

talisasi dalam urin. Untuk me ngurangi risiko 

ini perlu minum sekurang-kurangnya 1,5 l 

air sehari. Selain itu dapat pula terjadi nyeri 

otot dan kepala, pusing, rasa letih dan penat, 

exanthema, gatal- gatal, kesemutan dan sukar 

tidur. 

Interaksi. Zat-zat yang juga dimetabolisasi 

oleh sistem-P450 hati tidak dapat dipakai  

pada waktu bersamaan, sebab  kadarnya 

dalam darah dapat meningkat secara toksis. 

Contohnya: rifampi sin/rifabutin, terfena-

din, astemizol dan cisaprida (dengan efek 

gangguan ritme), juga alprazolam, mida-

zolam dan triazolam (efek sedasi berlebi han 

dan supresi pernapasan). Kadar indinavir 

dalam darah dikurangi oleh deksametason, 

rifampisin, fenitoin dan karbamazepin.

Resistensi silang dapat terjadi dengan rito-

navir dan praktis tidak dengan saquinavir.

Dosis: 3 dd 800 mg 1 jam a.c., bila dikom-

binasi dengan didano sin perlu diminum de-

ngan interval 1 jam. 

* Ritonavir (Norvir) yaitu  derivat (1996) 

dengan khasiat PI yang sama, namun  kerjanya 

lebih panjang (t½ = 3-5 jam). Makanan me-

ningkakan resorpsinya, BA-nya lebih dari 

60%. Efek samping dan interak si sama de-

ngan indinavir. 

Dosis: 2 dd 600 mg d.c.

* Saquinavir (Invirase) yaitu  derivat (1996) 

dengan daya kerja dan sifat-sifat yang sama. 

Plasma-t½-nya 13 jam, namun  resorpsinya 

buruk dengan BA hanya kurang lebih 4%. 

Dosis: 3 dd 600 mg p.c.

2.  Nevirapin: Viramune

Derivat diazepin-dipirido ini (1998), sama 

dengan efevirenz, bukan derivat nukleosida, 

namun  khasiatnya sama, yaitu menghambat 

reverse transcriptase Bila dipakai  sebagai 

monoterapi dengan cepat terjadi resistensi, 

maka selalu dipakai  bersama dua RTI-

nukleosida: lamivudin + AZT atau stavudin. 

Kombinasi dengan penghambat protease (PI) 

tidak mungkin sebab  menurunkan kadar 

plasma PI. Nevirapin mencapai otak dan da-

pat dipakai  pada demensia akibat AIDS.

Resorpsinya dari usus baik dengan BA 93%, 

PP-nya l.k. 60%. Dapat melintasi CCS dan 

kadarnya di cairan otak k.l. 45% dari kadar 

plasma. Masa paruhnya 25-30 jam. Ekskre- 

sinya melalui urin untuk 80% sebagai gluku-

ronida atau metabolit hidroksilnya, hanya 5% 

secara utuh.

Efek sampingnya relatif sedikit namun  agak 

serius, khususnya rash dan gangguan fungsi 

hati yang hebat. Selain itu juga dilaporkan 

demam, mual dan sakit kepala. Efek positif 

yang tak terduga yaitu  peningkatan HDL-

kolesterol dengan 35% lebih (dibandingkan 

maks. 15% dengan obat-obat statin).

Interaksi terjadi dengan obat TBC rifampisin 

dan rifabutin, yang kadar plasmanya ditu-

runkan. Begitupula efektivitas pil antihamil 

dapat dikurangi.

Dosis: permula 1 dd 200 mg selama 14 hari, 

lalu 2 dd 200 mg ac atau pc.

3. Tenofovir:Viread

Derivat-purin ini (2001) sebagai analogon 

nukleosida termasuk kelompok RTI. Berlainan 

dengan analoga nukleosida lainnya, obat ini 

di dalam limfosit langsung diubah menjadi 

difosfat aktif, yang menghambat reverse 

transcriptase.

Absorpsinya dari usus buruk sesudah  pem-

berian oral, maka diberikan sebagai garam 

fumaratnya, yang BA-nya kurang lebih 40% 

d.c. Ekskresinya melalui urin , sebagian besar 

secara utuh. Masa-paruhnya kurang lebih 10 

jam.

Efek samping yang dilaporkan yaitu  gang-

guan lambung-usus, nyeri kepala, rasa lelah 

dan peningkatan nilai enzim hati.

Dosis: oral 1 dd 300 mg (disoproxil fuma-

rat) d.c, infus i.v. 1-3 mg/kg sehari.

4.  Zidovudin: azidothymidine, AZT, Retrovir, 

* Combivir. 

Derivat-timidin ini (1987) berkhasiat terha- 

dap retrovirus termasuk HIV, dengan jalan 

menghambat enzim reverse-transcrip tase 

(RT). Merupakan prodrug, yang di dalam sel 

diubah secara enzimatis menjadi trifos fat 

aktifnya. Trifos fat bekerja sebagai substrat 

penyaing dan penghambat bagi RT viral, juga 

diinkorporasi dalam rantai RNA, sehingga 

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 131 20/04/2015 20:15:23

Seksi II: Kemoterapeutika132

pemben tukan DNA-viral digagal kan. Seba-

gai efek terapi sistem imun diperkuat, jum-

lah virus dalam darah agak menurun dan 

progres penyakit diperlambat, harapan hi-

dup diperpan jang. Mekanisme kerja ini juga 

ber-laku untuk semua derivatnya. Semakin 

dini terapi dimulai, semakin baik efeknya. 

Zidovu din hanya bekerja rata-rata 6 bulan. 

sebab  terjadi resisten si, maka tidak diguna-

kan lagi sebagai obat tunggal. Kini 10-15% 

dari pasien baru ternyata sudah resisten 

untuk AZT.

Kombinasi dengan peng hambat-RT lainnya 

(didanosin, zalcitabin atau lamivudin) mem-

perkuat dan memperpanjang daya kerjanya. 

Tri ple-therapy, yakni kombi na si dari dua 

penghambat-RT dengan satu pengham bat-

protease ternyata sangat memperku at efek- 

tivi tasnya dengan menurunkan jumlah virus 

dan memperbanyak sel-sel CD4+. Lagi pula 

meng hindarkan terjadinya resisten si. Se-

diaan kombinasi dari zidovudin dan lamivu-

din yaitu  *Combivir. 

Resorpsinya cepat dengan BA 60-70%, PP-

nya ±36%, plasma-t½-nya kurang lebih 1 jam. 

Ekskresinya untuk ±75% sebagai gluku ronida 

melalui kemih. Juga dapat melintasi CCS.

Efek-efek samping. Paling serius yaitu  de-

presi sumsum tulang (leukopenia, anemia) 

yang lazimnya timbul sesudah  4-6 minggu. 

Selain itu mual, nyeri kepala, nyeri otot 

(myalgia) dan sukar tidur.

Dosis: oral 4-5 dd 120-240 mg. 

* Didanosin (dideoksiinosin, DDI, Videx) ada-

lah derivat-purin (1991) dengan khasiat lebih 

lemah daripada AZT. Resorpsinya dikurangi 

oleh makana n dan asam lambung, maka 

perlu ditam bahkan zat penyangga (buffer). 

Plasma-t½-nya kuran g lebih 1,5 jam. Ekskresi 

berlangsung melalui kemih (20%). 

Efek samping terpenting berupa neuropati 

perifer dan pankre a titis, lebih jarang gang-

guan lambung-usus (nausea, muntah, diare) 

demam, nyeri kepala dan konvulsi. Praktis 

tidak menekan sumsum tulang.

Dosis: oral 2 dd 125-200 mg a.c. sebagai 

tablet-kunyah yang mengandung zat penya-

ngga untuk menaikkan pH lambung, ka- 

rena DDI dalam lingkung an asam terurai 

dengan pesat.

* Zalcitabin (dideoksisitidin, DDC, Hivid) ada-

lah derivat-sitidin (1992) dengan aktivitas 

sama. Obat ini kurang toksis bagi sumsum 

tulang daripada AZT. pemakaian nya diba-

tasi pada kasus di mana AZT tidak efektif 

atau penderita tidak tahan terhadap efek-

efek sampingnya, juga dalam kombi nasi 

de ngan AZT. Kombinasi dengan didanosin 

tidak dian jurkan sebab  toksisitasnya sama 

(neuropati perifer, efek samping yang paling 

sering terjadi).

Resorpsinya per oral baik, BA-nya ±88%, PP-

nya lebih kurang 4%, plasma-t½-nya 2 jam, 

ekskresinya untuk 75% secara utuh melalui 

kemih. Pene trasinya ke CCS baik.

Dosis oral 3 dd 0,75 mg a.c.

* Stavudine (D4T, Zerit) yaitu  derivat piri-

midin (1994) yang juga kurang mendepresi 

sumsum tulang daripada AZT. Neurotoksi-

sitasnya sama dengan DDI dan DDC. Obat ini 

dipakai  bila terda pat resistensi untuk AZT, 

yang lebih jarang terjadi. Resorpsinya baik dan 

diekskresi untuk 40-60% utuh dengan kemih. 

Plasma-t½-nya l.k. 1 jam. Dosis: oral 2 dd 20-40 

mg.

* Lamivudin (3TC, Epivir, *Combivir) ada lah 

derivat (1995) yang khusus diguna kan dalam 

terapi cocktail (HAART) dengan AZT dan 

suatu protease-blocker, mis. nevirapin. Efek 

sampingnya lebih ringan. Dosis: 2 dd 150 mg. 

Combivir* = zidovudin + lamivudin.

b. lAINNYA

5.  Amantadin: Symmetrel

Amin trisiklis ini khusus berkhasiat ter-

hadap virus-RNA dan hanya terhadap virus 

influenza tipe-A2, juga sebagai profilaksis. 

Mekanisme kerjanya diperkirakan berdasar-

kan pencegahan penetrasi virus ke dalam 

sel tuan-rumah. Jika diberikan dalam wak-

tu 48 jam sesudah  gejala influenza timbul, 

amantadin dapat mempersingkat lamanya 

masa sakit. Oleh sebab  spektrum kerjanya 

sempit, vaksin influenza lebih dianjurkan. 

Amantadin juga dipakai  pada penyakit 

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 132 20/04/2015 20:15:23

Bab 7: Virustatika 133

Parkinson, lihat Bab 28 A, Obat-obat Par-

kinson.

Dosis: oral 2 dd 100 mg p.c. selama 10 hari, 

sedini mungkin sesudah  kontak dengan pe-

ngidap influenza. Di atas usia 65 tahun 1 dd 

100 mg p.c.

* Tromantadin (Viru-Merz) yaitu  derivat 

dengan khasiat dan cara kerja sama, namun  

juga aktif terhadap virus DNA, khusus nya 

HSV. Obat ini terutama dipakai  secara 

lokal sebagai salep 1% pada infeksi HSV di 

kulit dan mukosa.

6. Asiklovir: acycloguanosine, Zovirax1, Clino-

vir, Poviral

Derivat-guanosin (asikloguanosin) ini 

(1981) berkhasiat spesifik terhadap virus Her-

pes tanpa mengganggu fisiologi sel-sel tuan-

rumah. 

Ditemukan dan dikembangkan (1977-8) 

oleh peneliti dari Wellcome Laboratories 

(UK) dan Burroughs Welcome (USA). 

Mekanisme kerjanya khas, yakni obat baru 

menjadi aktif sesudah  difosforilasi oleh enzim 

tymidinkinase, yang khusus ada  dalam 

sel-sel yang diinfeksi virus. Asiklovirtri fosfat 

yang terbentuk dipakai  oleh virus untuk 

memban gun DNA-nya. Dengan demikian, 

pembentukan DNA virus dikacaukan dan 

terhenti sama sekali, sedang  pembentuk-

an DNA dari sel-sel tuan-rumah tidak ter-

ganggu. Terutama dipakai  pada semua 

infeksi dengan Herpes simplex dan Herpes 

zoster, namun  tidak memusnahkannya. Kom-

binasi dengan zidovudin dapat bekerja siner-

gistis.

Resorpsinya dari usus buruk dengan BA 

hanya 12-20%, maka pentakaran oral perlu 

tinggi sekali. PP-nya rata-rata 21%, plasma-

t½-nya lebih kurang 3 jam. Ekskresinya untuk 

lebih kurang 75% secara utuh dengan kemih. 

Bersifat cukup lipofil untuk dapat melintasi 

CCS, maka juga dipakai  pada infeksi otak 

(encephalitis herpetica) sebagai infus. 

Efek sampingnya berupa gangguan lam-

bung-usus, ruam kulit dan pusing-pusing. 

Adakalanya anoreksia, sukar tidur dan nyeri 

sendi. Penggun aan lokal sebagai salep dapat 

memicu  nyeri untuk sementa ra, rasa 

terbakar, gatal-gatal dan erythema, di mata: 

radang pinggir kelopak mata dan radang 

selaput mata. 

Dosis: infeksi HSV: oral 5 dd 200 mg setiap 

4 jam selama minimal 5 hari. Profilaksis 

Herpes genitalis: 4 dd 200 mg, H. zoster: 5 dd 

800 mg setiap 4 jam selama 7 hari. Infus i.v. 3 

dd 5 mg/kg (perlahan) selama 5 hari. Salep 

kulit 5% dan salep mata 3% 5 dd setiap 4 jam 

selama 5 hari.

* Valasiklovir (Zelitrex, Valtrex) yaitu  pro-

drug (1995) dengan resorpsi baik, yang segera 

dihidrolisis hampir lengkap menjadi asiklovir 

dan asam amino alamiah l-valine. BA asiklovir 

yang terbentuk yaitu  l.k. 54%, jadi 4-5x 

lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian 

sebagai asiklovir sendiri. dipakai  pada H. 

zoster dengan dosis: oral 3 dd 1000 mg selama 

7 hari.

* Famsiklovir (Famvir) yaitu  derivat (1995) 

yang pertama-tama diubah menjadi pensi-

klovir untuk kemudian difosforilasi men-

jadi trifosfatnya. Zat ini diinkorporasi dalam 

DNA-virus sehingga sintesis DNA viral ter-

henti. Resorpsinya juga lebih baik daripa da 

asiklovir. Khusus dipakai  pada infeksi H. 

zoster.

Dosisnya: oral 3 dd 250 mg selama 7 hari.

* Gansiklovir (Cymevene) yaitu  derivat 

asiklovir (1988) yang khusus dipakai  pada 

infeksi cytomegalovirus pada pasien AIDS 

parah. Obat anti-CMV lainnya yaitu  virus-

tatikum foscarnet (Fosca vir) dan cidofovir 

yang merupakan analogon dari pirofosfat 

dan berbeda dengan analoga nukleosida dan 

nukleotida tidak membutuhkan aktivasi di 

dalam sel.

Dosisnya: infus i.v. 2 dd 5 mg/kg setiap 12 

jam selama 14-21 hari.

* Valgansiklovir (Valcyte) yaitu  L-valil ester 

prodrug dari gansiklovir.

Valgansiklovir diabsorpsi dengan baik dan 

oleh esterase di usus dan hati cepat dihidro-

lisis seluruhnya menjadi gansiklovir. Untuk 

terapi pemeliharaan pemakaian nya per oral 

lebih mudah daripada gansiklovir (i.v.)

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 133 20/04/2015 20:15:23

Seksi II: Kemoterapeutika134

7.  Idoksuridin: IDU, Cendrid

Zat nukleosida ini memiliki struktur ki-

mia yang mirip asam-asam amino dari DNA 

(1962). Berkhasiat virusstatik terhadap se- 

jumlah virus DNA, antara lain HSV, vari-

cella dan vaccinia (cacar sapi). Seperti zat-

zat nukleosida lainnya (RT-blockers) di da-

lam sel difosforilasi menjadi trifosfatnya 

yang aktif. Dengan dimasuk kannya zat ini 

ke dalam DNA-virus sebagai pengganti thy-

midin, replikasi virus dikacau kan. Akibatnya 

sintesis DNA tuan-rumah juga turut terhambat, 

sehingga dapat terjadi efek-efek yang meru- 

sak, terutama pada sel-sel yang membelah 

pesat. Oleh sebab  itu IDU terlam pau toksis 

untuk dipakai  secara sistemis dan hanya 

dipakai secara lokal sebagai salep dan tetes 

mata pada infeksi mata oleh HSV-1(keratitis 

herpetica). Resistensi dapat timbul bila IDU 

diguna kan terlalu lama. IDU tidak boleh 

dipakai  oleh wanita hamil dan anak-anak 

sebab  bersifat mutagen. 

Dosis: tetes mata 0,1% siang hari 1 tetes 

setiap jam, malam hari setiap 2 jam atau salep- 

mata 0,2% sampai 3-5 hari sesudah penyem-

buhan.

* Trifluridin (trifluorthymidine, TFT-0phtiole) 

yaitu  derivat-fluor (1975) dengan khasiat 

dan pemakaian  sama. Kerjanya lebih cepat 

dan ternyata lebih efektif dari IDU, mungkin 

disebabkan kelarutannya yang lebih baik 

dalam air.

Dosis: Pada H. keratitis: tetes mata 0,1% siang 

hari 1-2 tetes setiap 2 jam, malam hari setiap 

4 jam sampai 8 hari sesudah penyembu han.

* Ribavirin (Virazole, Rebetol) yaitu  analog-

guanosin sintetis (1986) dengan khasiat ter-

hadap banyak virus-RNA dan virus-DNA. 

Mekanisme kerjanya sama dengan IDU. 

Obat ini dipakai  sebagai inhalasi serbuk 

terhadap virus influenza, HSV dan SARS.

8. Interferon-alfa: IFN-alfa, Roferon-A (2a), 

Intron-A (2b).

Glikopeptida ini terdiri atas 165 asam-ami-

no dan diperoleh dari E. coli dengan teknik 

rekombinan-DNA. Interferon ter sedia dalam 

bentuk 2a, 2b (dan 2c), dengan masing-ma-

sing asam amino lysin dan arginin pada po-

sisi 23, sedang  angka 2 menunjukkan 

subtipe nya. Interferon-alfa merupakan zat 

alamiah dengan daya kerja antiviral dan 

imunomodulasi.

Khasiat antiviralnya diperkirakan melalui 

pengubahan metabolisme sel tuan-rumah, se- 

hingga replika si virus terhambat. Kerja anti-

tumor nya berdasar  supresi proliferasi sel 

dan stimulasi NK-cells. Obat ini dipakai  

pada hepati tis-B dan -C kronis dan pada 

jenis-jenis kanker darah (leuke mi a), a.l. sar-

koma Kaposi pada AIDS. Penggun aannya 

sebagai obat AIDS (Kerlon) praktis sudah di-

tinggalkan sebab  efeknya tidak tetap. Ada- 

kalanya dikombinasi dengan sitostatika dan 

virustati ka lainnya. Hanya dapat diberikan 

secara injeksi i.m./s.c. kare na terurai dalam 

saluran lambung-usus. IF-alfa dalam kom- 

binasi dengan ribavirin, ternyata efektif juga 

pada hepatitis-C, pada mana khasiatnya 

dapat ditingkatkan bila diikat pada polieti-

lenglikol (peginterferon; Pegasys).

Peginterferon merupakan ikatan dari polie-

tilenglikol (PEG) dengan interferon.

Akibat dari proses pengikatan ini bersihan 

ginjal berkurang, t½ meningkat dan terben-

tuk kelompok-kelompok interferon dalam 

serum yang stabil.

Kinetik. BA-nya sesudah  injeksi yaitu  di 

atas 80%, plasma-t½-nya rata-rata 5 jam. Di-

rombak terutama di ginjal dan metabolit-

metabolitnya direab sorpsi lengkap dan tidak 

dapat dideteksi dalam kemih.

Efek sampingnya tergantung dari dosis dan 

mirip gejala flu, yakni demam-dingin, nyeri 

kepala, otot dan sendi, anoreksia dan pera-

saan sangat lelah. Selain itu dapat pula terjadi 

gangguan lambung-usus, darah, hati dan 

jantung. 

Interaksi. Interferon menghambat sistem 

enzim hati dan dalam kombinasi dengan 

zidovudin dapat meningkatkan toksisitas-

nya , sehingga dosisnya perlu diturunkan. 

Efek dan toksisitas sitostati ka juga dapat 

diperkuat.

Dosis: hepatitis-B s.c. 3 x seminggu 2,5-5 juta 

UI/m2 permu kaan tubuh selama 4-6 bulan. 

Leukemia myeloid kronis s.c./ i.m. 1x sehari 3-9 

juta UI selama minimal 3 bulan, pemeliharaan 

3 x seming gu 9 juta UI.

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 134 20/04/2015 20:15:23

Bab 7: Virustatika 135

* Interferon-β-1b (IFN-β1b, Betaferon). Gliko-

peptida ini dengan 165 asam-amino tersedia 

dalam bentuk-bentuk 1a dan 1b, yang me-

miliki masing-masing sistein dan serin di-

posisi 17 (1993). Obat ini khusus diguna kan 

pada MS (multiple sclero sis), suatu penya-

kit autoimun kronis yang mungkin dipicu 

oleh infeksi virus (lihat Bab 28, Obat-obat 

Parkinson). Bercirikan lenyapnya salut-mye-

lin urat saraf dan pemben tukan plak-plak 

keras di otak dan sumsum belakang. Selain 

berkhasiat antiviral, juga menekan aktivitas 

limfo-T sehingga produksi interfe ron-g ber-

kurang, yang buruk bagi MS. Frekuensi se-

ran gan diku rangi dengan sepertiga dan juga 

jumlah luka menurun. 

Dosis: IFN-β1a, di atas 18 tahun s.c. 1 dd 8 

juta UI setiap 2 hari.

* Interferon-gamma (Immukine, 1992). Ada 

140 asam-amino dengan bentuk-bentuk 1a 

dan 1b, yang memiliki masing-masing gluta-

min atau arginin di posisi 137. Khasiatnya 

memperkuat sistem-imun dan menurut per-

ki raan dengan cara meningkatkan aktivitas 

makro fag dan monosit yang dapat ‘mela-

rut kan’ mikroba, lihat juga Bab 49, Dasar-

Dasar Imunologi. Obat ini diguna kan sebagai 

imunos timulator guna mence gah infeksi 

parah pada pasien penyakit gawat kronis 

tertentu. 

Dosis: IFN-ɤ1b, s.c. 3 x seminggu 1,5 mi-

krogram/m2.

9. Oseltamivir: Tamiflu

Derivat-sikloheksen ini (1999) berkhasia t 

menghambat enzim neuraminidase, enzim 

permukaan dari virus influenza yang mele-

paskan virion-virion baru dari permukaan 

sel-sel saluran napas yang terinfeksi. Berhu-

bung bekerjanya pada saat replikasi virus, 

maka pemberiannya harus sedini mungkin 

(24-72 jam).30

Obat ini yaitu  prodrug yang sesudah  di-

serap di usus dihidrolisis dalam hati menjadi 

metabolit-karboksilat aktifnya. PP-nya 3% dan 

t½-nya 6-10 jam. Ekskresinya melalui urin 

dan untuk kurang lebih 20% dengan tinja.

Efek sampingnya yang tersering terjadi be-

rupa mual dan muntah selama dua hari 

pertama, nyeri perut, juga bronchitis, vertigo 

dan sukar tidur. Tentang keamanan dari 

pemakaian nya selama kehamilan dan lak-

tasi belum terdata.

Dosis: oral di atas 13 tahun 2 dd 75 mg 

(fosfat) d.c. selama 5 hari, di bawah 13 tahun 

2 dd 30-60 mg tergantung berat badan. Pro-

filaksis 1 dd 75 mg selama minimal 7 hari.

10.  Zanamivir: Relenza

Derivat guanidin ini (1999) yaitu  juga 

penghambat neuraminidase dengan sifat- 

sifat yang kurang lebih sama dengan oselta-

mivir. Hanya pemakaian ya tidak per oral, 

melainkan dipakai  sebagai inhalasi yang 

bekerja seketika (dalam 10 detik).30 sesudah  

inhalasi hanya 20% dari dosis diabsorpsi dan 

dikeluarkan secara utuh dengan urin. Masa-

paruhnya 2,5 – 5 jam. Efek samping jarang ter-

jadi dan berupa batuk dan kejang bronchi.

Dosisnya: inhalasi 2 dd 5 mg, sebagai profi-

laksis 1 dd 10 mg.

Catatan: Akhir-akhir ini diberitakan bahwa 

oseltamivir maupun zanamivir mempersing-

kat gejala dengan sekitar setengah hari, namun  

tidak pasti apakah obat-obat antiviral ini 

dapat menghindari komplikasi. Oleh sebab  

itu penimbunan obat-obat oleh beberapa ne-

gara dengan biaya besar yang efektivitas nya 

diragukan menjadi pertanyaan.

1. Cochrane Database Syst Rev. 2014; 

4: CD008965

2. BMJ 2014;348:g2263

11. Imiquimod

yaitu  suatu senyawa baru dengan daya 

kerja imunomodulasi yang efektif untuk 

pemakaian  topikal (krem 5%) terhadap 

condylomata acuminata (genital dan perianal 

warts) dan lain-lain gangguan kulit yang di- 

akibatkan oleh infeksi dengan virus DNA 

(Skinner RB Jr. Imiquimod. Dermatol Clin, 

2003, 21:291-300). Mekanisme kerjanya berda-

sarkan efek antiviral dan imunomodulasi 

dari sitokin dan kemokin yang terbentuk.

12. Sofosbuvir: Sovaldi

Merupakan senyawa pertama dari kelom-

pok obat-obat antiviral baru (2013) yang di-

gunakan dalam kombinasi dengan obat lain 

terhadap Hepatitis C kronis.

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 135 20/04/2015 20:15:24

Seksi II: Kemoterapeutika136

Mekanisme kerjanya sebagai perintang 

polimerase RNA yang mutlak bagi replikasi 

virus.

Efek sampingnya tidak bisa tidur, sakit ke-

pala, anemi, depresi dan menurunnya kadar 

hemoglobin.

Dosis: 1 dd 400 mg dikombinasi dengan 

ribavirin.

DAFTAR PUSTAKA

19. Beumer JH et al. De schuilplaatsen van het 

virus. Ph Wkbl 2002;137:238-42

20. Tempelman C et al HAART bij HIV-positieve 

zwangeren in Nederland: veilig, effectief en 

met weinig bijwerkingen. NTvG 2004; 148: 

2021-5

21. Guan Y et al. Isolation and characterization 

of viruses related to the SARS coronavirus 

from animals in southern China. Science 

2003;302:276-8.

22. Fanoy E.B., Boucher C.A.B. Dieren op markten 

in China vormen mogelijk de bron van aan 

SARS gerelateerd virus. NTvG 2004 juni;7(2)

23.  Communicable Disease Surveillance and 

Response (CSR). Severe acute respiratory 

syndrome (SARS): status of the outbreak and 

lessons for he immediate future. Geneva: 

WHO; 2003.

24.  Leroy E.M.et al. Fruit bats as reservoirs of Ebola 

virus. Nature,2005;438:575-6.

25.  Dillingh S.J., et al. Hantavirus-infectie in 

Nederland, sterke toename van de incidentie. 

lNTvG 2006;150:1303-6.

26  Thuy-My Le, Zelftest voor HIV. NTvG 

2006;9(4):61-2.

27.  Zuurmond WWA en Perez RSGM. Beperkte 

mogelijkheden voor evidence- based 

behandeling en preventie van postherpetische 

pijn. NTvG 2006;150:2633-6.

28.  Wensing AMJ et al. Postexpositie profylaxe 

na blootstelling aan HIV: aanpassing aan 

de situatie kan geindiceerd zijn. NTvG 

2005;149:1485-9.

29. Hoepelman IM et al. Microbiologie en 

Infectieziekten, 1999, p.328.

30. De Jong JC et al. De neuraminida seremmers 

oseltamivir en zanamivir: een nieuw schild 

in de verdediging tegen influenza. NTvG 

2004;148:73-9.

14108649_OBAT P(Bab 07)_T-112-136.indd 136 20/04/2015 20:15:24

SULFONAMIDA DAN KUINOLON

b A b  8

Sulfonamida dan senyawa kuinolon meru-

pakan kelompok obat penting pada pena-

nganan Infeksi Saluran Kemih (ISK). Pertama-

tama akan diuraikan secara singkat beberapa 

aspek dari ISK, termasuk penanganannya. 

Kemudian pada bagian berikutnya akan 

dibahas secara mendalam kedua kelompok 

obat itu . 

Antibiotika ISK lain seperti penisilin/se-

falosporin dan aminoglikosida telah dibahas 

pada Bab 5, Antibiotika.

A. INFEKSI SALURAN  

KEMIH

Infeksi saluran kemih (ISK) hampir selalu 

diakibatkan oleh bakteri aerob dari flora 

usus. pemicu  utama ISK bagian bawah 

atau sistitis (radang kandung kemih) yaitu  

kuman Gram-negatif, terutama E. coli (± 

80%) dan dalam beberapa kasus Proteus, 

Klebsiella, Enterobacter dan Pseudomonas. 

pemicu  kuman Gram-positif adakalanya 

Enterokokus dan pada beberapa kasus Sta-

filokokus. biasanya  seseorang diang-

gap menderita ISK bila ada  lebih dari 

100.000 kuman dalam 1 ml urinnya.

Prevalensi. Antara usia ±15 dan 60 tahun 

jauh lebih banyak wanita daripada pria 

yang menderita ISK bagian bawah, dengan 

perbandingan ± 2 kali sekitar pubertas dan 

lebih dari 10 kali pada usia 60 tahun. Hal ini 

dapat dijelaskan dengan fakta bahwa sumber 

infeksi kebanyakan yaitu  flora usus. Pada 

wanita uretranya hanya pendek (2-3 cm) 

sehingga kandung kemih mudah dicapai 

oleh kuman-kuman dari dubur melalui 

perineum, khususnya basil E. coli. Pada pria 

di samping uretranya yang lebih panjang 

(15-18 cm) cairan prostatnya juga memiliki 

sifat bakterisid sehingga menjadi pelindung 

terhadap infeksi oleh kuman uropatogen. 

Jenis ISK. Dapat dibedakan dua bentuk 

infeksi saluran kemih, yaitu ISK bagian bawah 

dan ISK bagian atas.

a. ISK bagian bawah (tanpa komplikasi), 

umumnya radang kandung kemih pada 

pasien dengan saluran kemih normal.

b. ISK bagian lebih atas (dengan komplikasi) 

ada  pada pasien dengan saluran ke- 

mih abnormal, misalnya ada batu, pe-

nyumbatan atau diabetes. Contoh-contoh 

dari ISK ini yaitu  radang paru-ginjal 

(pyelitis), pyelonephritis dan prostatitis, pada 

mana jaringan organ terinfeksi. Kombinasi 

dari infeksi dan obstruksi saluran kemih 

dapat memicu  kerusakan ginjal 

serius dalam waktu singkat. Keadaan ini 

merupakan pemicu  penting terjadinya 

keracunan darah (septikemia, sepsis) oleh 

kuman-kuman Gram-negatif yang dapat 

membahayakan jiwa. 

Gejala khas ISK bagian bawah — yang tidak 

perlu selalu tampak — berkaitan dengan pe-

radangan kandung kemih atau uretra dapat 

berupa: 

sering kencing siang dan malam (pola-

kisuria)

sukar kencing (menetes) (stranguria)

perasaan sakit atau “terbakar” pada saat 

berkemih (dysuria)

nyeri perut dan pinggang

ada darah dalam urin (hematuria)

urin yang baunya abnormal

Pada anak-anak terjadi malaise umum, demam, 

sakit perut, ngompol malam dan hambatan 

14108649_OBAT P(Bab 08)_T-137-153.indd   137 20/04/2015   20:16:35

Seksi II: Kemoterapeutika138

pertumbuhan. Pada lansia juga malaise (tidak 

enak badan), demam, inkontinensi serta 

kadang-kadang perasaan kacau yang timbul 

mendadak.

ISK bagian lebih tinggi bergejala demam, 

kadang-kadang dengan menggigil dan sakit 

pinggang (di lokasi ginjal).

Tes diagnosis. Untuk menentukan bakteriuria, 

artinya ISK dengan bakteri, tersedia beberapa 

cara diagnosis, yaitu:

a.  tes sedimentasi mendeteksi mikroskopis 

adanya kuman dan lekosit di endapan 

urin. Tes positif perlu dipastikan dengan 

dip-slide test.

b.  tes nitrit (Nephur R) memakai  strip 

mengandung nitrat yang dicelupkan ke 

dalam urin. Praktis semua kuman Gram-

negatif dapat mereduksi nitrat menjadi 

nitrit, yang tampil sebagai perubahan 

warna tertentu pada strip. Kuman-kuman 

Gram-positif tidak dideteksi.

c.  dip-slide test (Uricult) memakai  per-

semaian kuman di kaca obyek, yang se-

usai inkubasi ditentukan jumlah kolo-

ninya secara mikroskopis. Tes ini dapat 

dipercaya dan lebih cepat daripada pem-

biakan lengkap dan jauh lebih murah.

d. pembiakan lengkap terutama dilakukan se-

sudah terjadinya residif 1-2 kali, terlebih-

lebih pada ISK anak-anak dan pria. 

e. tes ABC (antibody coated bacteria) yaitu  

cara imunologi guna menentukan ISK 

yang letaknya “lebih atas”. Dalam hal 

ini tubuli secara lokal membentuk anti-

bodies terhadap kuman, yang bereaksi 

dengan antigen yang berada di dinding 

kuman. Kompleks yang terbentuk dapat 

diperlihatkan dengan cara imunofluore-

sensi.

Derajat keasaman kemih. biasanya  

urin bereaksi netral atau asam lemah. Namun 

pada infeksi dengan sejumlah kuman, re-

aksinya menjadi basa. Misalnya Proteus, 

Enterobacter, suku-suku Pseudomonas dan 

Stafylococcus sapr. dapat membentuk enzim 

urease yang menguraikan ureum dengan 

membebaskan amoniak dalam urin.

Keasaman urin dapat memengaruhi akti-

vitas obat sebagai berikut:

pH asam (di bawah 5,5) memperkuat efek 

nitrofurantoin, tetrasiklin, kloksasilin, na-

lidiksat, pipemidinat dan methenamin 

pH basa memperkuat efek sefalosporin, 

gentamisin dan eritromisin

pH tidak penting pada ampisilin, amok-

sisilin, trimetoprim, dan kotrimoksazol.

Bila perlu, urin dapat dibuat asam dengan 

pemberian amoniumnitrat, namun  usaha ini 

tidak berguna bila ada  infeksi dengan 

kuman yang mampu menguraikan ureum. 

Pada penderita gangguan ginjal perlu ber-

hati-hati berhubung bahaya acidosis. Urin 

dapat dibuat alkalis dengan pemberian natrium 

bikarbonat (4 dd 3 g) atau natriumsitrat.

Resistensi kolonisasi (RK) yaitu  ketahan-

an suatu organ (saluran cerna dan saluran 

kencing, bronchi, rongga mulut atau teng-

gorok) terhadap kolonisasi, yaitu pertum-

buhan kuman patogen berlebihan pada 

mukosanya. Pada ISK, efek pembilasan uretra 

dengan jalan berkemih secara teratur memegang 

peranan penting sebab  memicu  pe-

lepasan sel-sel epitel kandung kemih, yaitu 

tempat melekatnya kuman. Sebetulnya 

saluran kencing yaitu  steril namun bila 

ada  ISK dan kolonisasi SK, maka da-

lam kebanyakan kasus sudah terjadi juga 

kolonisasi di dalam usus besar. Di usus besar 

biasanya ada  keseimbangan antara 

kuman aerob yang dapat memicu  ISK 

dan kuman anaerob yang jumlahnya bergan-

da. Antibiotika broad-spectrum yang dise-

rap kurang baik oleh usus, seperti ampisilin, 

tetrasiklin dan sulfonamida (usus) membunuh 

banyak bakteri anaerob dengan akibat ter-

ganggunya keseimbangan. Oleh sebab  itu 

kuman aerob (Coli, Klebsiella, Proteus, dan 

sebagainya) tidak terbendung lagi perba-

nyakannya dan terjadilah kolonisasi usus. 

Dengan demikian risiko penularan ke SK dan 

terjadinya ISK meningkat.

Faktor risiko. Ada beberapa faktor penting 

yang mempermudah timbulnya infeksi ya- 

itu: a. jarang kencing. Pengeluaran urin (mictio) 

merupakan mekanisme daya tahan pen-

ting dari kandung kemih. Bila mictio nor-

mal terhambat sebab  misalnya obstruksi, 

ISK dapat timbul lebih mudah. 

14108649_OBAT P(Bab 08)_T-137-153.indd   138 20/04/2015   20:16:35

Bab 8: Sulfonamida dan Kuinolon 139

b. gangguan pengosongan kandung kemih aki-

bat obstruksi (batu ginjal), disfungsi atau 

hipertrofi prostat dapat memicu  

tersisanya urin dalam kandung kemih 

sehingga kuman-kuman mudah berkem- 

bang biak.

c. hygiene pribadi kurang baik dapat menye-

babkan kolonisasi kuman uropatogen di 

sekitar (ujung) uretra, misalnya penggu-

naan pembalut wanita. Kuman lalu men- 

jalar ke atas menuju uretra, lalu ke kan-

dung kemih untuk kemudian menyebar 

melalui ureter ke ginjal (ISK bagian atas). 

d. pemakaian  kateter, melalui senggama dan 

infeksi lokal (misalnya vaginitis) dapat 

mempermudah infeksi.

e. penderita diabetes lebih peka terhadap ISK 

sebab  meningkatnya daya lekat bakteri 

pada epitel SK yang diakibatkan oleh be-

berapa faktor1.

Sebetulnya urin dalam kandung kemih ada-

lah steril sebab  mekanisme perlindungan 

terhadap infeksi oleh antara lain selaput 

lendir kandung kemih. Di atas usia 60 tahun, 

jumlah ISK pada pria mulai meningkat secara 

drastis, mungkin sebab  pembesaran prostat 

yang lazim terjadi pada pria usia lanjut. 

Akibatnya yaitu  pengosongan kandung ke-

mih sering kali tidak sempurna lagi dan urin 

yang tertinggal merupakan perbenihan yang 

sangat baik bagi kuman.

Pencegahan. Tindakan pertama yaitu  meng-

hindari (re-)infeksi dengan memperhatikan 

faktor-faktor itu  di atas. Salah satu tin- 

dakan pencegahan yang penting yaitu  mi-

num air lebih banyak dan buang air kecil 

lebih sering terutama bagi pasien diabetes 

dan manula.

Infeksi menahun. Adakalanya infeksi men-

jadi kronis dengan serangan akut berkala. 

Dalam keadaan demikian dianjurkan untuk 

melanjutkan kur antibiotika selama 3-6 bulan 

dengan dosis separuhnya. Untuk tujuan 

ini paling tepat dipakai  obat yang tidak 

mengganggu RK dan jarang memicu  

resistensi. Misalnya nitrofurantoin atau kotri-

moksazol. Obat-obat ini hendaknya diminum 

malam hari sebelum tidur mengingat kuman 

lebih mudah memperbanyak diri bila kan-

dung kemih penuh seperti halnya pada wak-

tu tidur. 

Untuk profilaksis infeksi saluran kemih 

non-antibiotik, dapat dipakai  sediaan de-

ngan probiotikum laktobasil yang berkhasiat 

menurunkan jumlah mikroorganisme pato-

gen misalnya di vagina. Minum 300 ml/

hari jus cranberry ternyata efektif untuk me-

nyembuhkan ISK pada wanita dan menu-

runkan risiko akan infeksi baru. Khasiat- 

nya diduga akibat penurunan daya melekat 

bakteri pada sel-sel epitel dari vagina dan 

juga diduga bahwa zat kandungannya hip-

puric acid memegang peranan.23,24

Menurut penelitian cranberry ternyat a me-

rupakan alternatif baik dibandingkan antibi- 

otik bagi wanita dengan ISK dengan radang 

kandung kemih. Walaupun efeknya tidak 

se-kuat antibiotik, namun  kebaikannya yaitu  

tidak memicu  resistensi. Ko-trimoksa-

zol memicu  resistensi pada 90% wanita 

hanya dalam waktu sebulan, demikian juga 

untuk antibiotik lain.

Membuat urin menjadi asam dengan amo-

niumnitrat/amoniumklorida masih diragukan 

manfaatnya.

.......................Archives of Internal Medicine [2011; 

171(14):1270-8].

Pengobatan

Ternyata bahwa ±50% dari wanita yang 

sering berkemih dengan perasaan nyeri tidak 

menderita bakteriuria. Oleh sebab  itu sebelum 

menjalani terapi dengan antibiotika perlu 

dipastikan terlebih dahulu adanya infeksi 

kuman (dip-slide test). Atau dilakukan tes 

pembiakan lengkap untuk mengidentifikasi 

kuman pemicu  di samping penentuan jenis 

obat mana yang efektif. Namun dalam praktik 

terapi sudah dimulai berdasar  gejala-

gejala klinis tertentu dan hasil pemeriksaan 

sedimen urin. 

Obat-obat yang banyak dipakai  pada ISK 

dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu:

a. obat-obat yang menurunkan RK: sulfo-

namida, ampisilin dan tetrasiklin. Amok-

sisilin, sefradin dan sefaklor hanya pada 

dosis tinggi.

14108649_OBAT P(Bab 08)_T-137-153.indd   139 20/04/2015   20:16:35

Seksi II: Kemoterapeutika140

b. obat-obat yang tidak mengganggu RK: 

nitrofurantoin, kotrimoksazol, trimeto-

prim, nalidiksinat dan pipemidinat.

Pilihan obat. berdasar  pertimbangan di 

atas pilihan utama pada ISK bagia n bawah 

tanpa komplikasi yaitu  trimetoprim, nitro-

furantoin atau sulfametizol berturut-turut sela-

ma 3-5 hari. Di samping ini pasien harus 

banyak minum air, minimal 2 liter sehari, de-

ngan tujuan menstimulasi diuresis sehingga 

kuman tidak berkesempatan memperbanyak 

diri dalam kandung kemih. Bila sesudah  3-5 

hari gejalanya belum hilang atau belum ber- 

kurang, sebaiknya pengobata n diganti de-

ngan obat dari ke lompok kuinolon, misalnya 

pipemidinat atau suatu fluorkuinolon (siproflo-

ksasin, norfloksasin dan lain-lain.) dengan spek-

trum kerja yang lebih luas. Akan namun  se-

baiknya obat ke lompok ini hanya diguna- 

kan sebagai obat cadangan untuk menghin-

dari timbulnya resistensi dengan pesat. 

Amoksisilin + klavulanat dipakai  bila diper-

kirakan adanya kuman yang sudah resisten. 

Nitrofurantoin kurang aktif bila urin bereaksi 

basa. Terhadap Pseudomonas dapat diberikan 

gentamisin atau/dan suatu sefalosporin dari 

generasi ketiga. 

ISK bagian lebih tinggi. Untuk pyelitis dan 

prostatitis dapat dipakai  kotrimoksazol, si-

profloksasin atau kombinasi amoksisilin + asam 

klavulanat, bila diperkirakan adanya resis-

tensi. Penisilin dan sefalosporin dalam dosis 

tertentu menghasilkan kadar antibiotik sa-

ngat tinggi dalam urin yang efektif terha- 

dap kuman Gram-positif dan Gram-negatif. 

Fluorkuinolon (siprofloksasin dan norfloksasin) 

memberikan hasil baik terhadap Pseudomo- 

nas dan bila perlu dikombinasi dengan ami-

noglikosida (gentamisin). Lihat selanjutnya 

Bab 5 Antibiotika.

Pada pyelonefritis akut dengan demam ting-

gi dan sakit pinggang, perlu pengobatan 

parenteral dengan injeksi i.v. ampisilin atau 

amoksisilin (4 dd 1 g) atau i.v. gentamisin (2-5 

mg per kg/hari dalam 2-3 dosis). sesudah  ini 

terapi perlu dilanjutkan dengan pengobatan 

oral selama 7 hari.

Lamanya pengobatan. Pada ISK bagian ba-

wah tanpa komplikasi yang pertama-tama 

dianjurkan yaitu  terapi selama 7-10 hari 

untuk mencapai penyembuhan optimal (95-

98%) tanpa risiko kambuhnya infeksi. Pada 

ISK bagian lebih tinggi, pengobatan harus 

dijalani lebih lama, sampai 3 minggu.

Resistensi. Akibat pemakaian  antibiotika 

yang kurang bijaksana di banyak negara 

semakin banyak bakteri menjadi resisten ter-

hadap antibiotika. Khususnya antibiotika 

yang mengganggu RK di usus ternyata lebih 

sering memicu  timbulnya resistensi. 

Misalnya, sebagian besar dari bakteri Coli su-

dah menjadi resisten terhadap sulfonamida, 

tetrasiklin dan ampisilin, sedang  hanya 

sebagian kecil terhadap kotrimoksazol dan 

nitrofurantoin.

Jenis resistensi yaitu  ekstrakromosomal dan 

terjadi melalui plasmid yang memuat kode 

genetik untuk sistem enzim. Plasmid ini di- 

tulari melalui kontak dalam usus, juga de-

ngan kuman dari famili lain, melalui suatu 

jembatan konyugasi (lihat Bab 4, sub 7).

MONOGRAFI

1. Nitrofurantoin: Macrofuran, Furadantin/

MC. 

Derivat nitrofuran ini (1944) berkhasiat 

bakterisid dengan spektrum luas terhadap 

kuman-kuman Gram-positif dan Gram-ne-

gatif, termasuk Str. fecalis dan E. coli. Nitro-

furantoin tidak aktif terhadap Pseudomo- 

nas dan Proteus sedang  banyak species 

Klebsiella dan Enterobacter sudah resisten. 

Khasiat bakterisidnya berdasar  inhibisi 

enzim kuman yang terkait pada siklus-Krebs 

(siklus sitrat) sehingga timbul kekurangan 

energi bagi pertumbuhannya. Resistensi tidak 

mudah terjadi dan hanya dapat timbul sete-

lah pemakaian  lama, namun  jarang terha-

dap E. coli dan bakteri usus lainnya yang 

justru sering kali menjadi resisten terhadap 

sulfa dan antibiotika. Hal ini disebabkan oleh 

resorpsinya yang baik sehingga sedikit sekali 

obat tiba di usus besar untuk selanjutnya 

dikeluarkan melalui tinja. 

14108649_OBAT P(Bab 08)_T-137-153.indd   140 20/04/2015   20:16:35

Bab 8: Sulfonamida dan Kuinolon 141

Kombinasi. Nitrofurantoin dapat dikom-

binasi dengan desinfektans kemih lain nya 

yang juga bekerja bakterisid, begitu pula de-

ngan sulfonamida. namun  tidak dapat dikom-

binasi dengan asam nalidiksinat sebab  bekerja 

antagonistis. 

Resorpsinya dari usus hampir lengkap de- 

ngan ekskresi pesat (t½ 20 menit), Oleh kare-

na itu kadar dalam plasma tetap rendah 

sedang  dalam kemih mencapai kadar 

bakterisid. Dalam hati separuhnya dirombak 

menjadi metabolit inaktif (aminofuran) yang 

membuat kemih berwarna cokelat. Nitrofu-

rantoin, yang berwarna kuning, bekerja op-

timal dalam urin asam (pH 5-6). Pada pH 

tinggi tidak efektif misalnya pada infeksi 

oleh kuman pembentuk urease. Oleh sebab  

itu dianjurkan untuk terlebih dahulu mencek 

pH air seni sebelum menjalani terapi dengan 

obat ini. Saran ini terutama berlaku bagi 

pasien yang mengalami infeksi residif.

Efek samping yang sering terjadi yaitu  

mual dan muntah (10%) mungkin sebab  

efek emetik sentral. Kadang-kadang terjadi 

neuritis. Zat ini tidak boleh dipakai  bila 

fungsi ginjal terganggu.

Kehamilan. Nitrofurantoin dapat dipakai  

selama 6 bulan pertama dari kehamilan namun  

tidak dianjurkan pada 3 bulan terakhir sebab  

risiko anemia hemolitik pada bayi. Obat juga 

ditemukan di air susu ibu dalam jumlah kecil, 

oleh sebab  itu perlu berhati-hati penggu-

naannya selama laktasi.

Dosis: selama 3-5 hari 4 dd 50-100 mg d.c. 

untuk mengurangi mual. Pada infeksi mena-

hun 3 dd 50 mg; sebagai profilaktikum malam 

hari 50-100 mg. Tablet MC mengan dung 

kristal (macrocrystal) dari 75-180 mikron yang 

melarut maupun resorpsinya lebih lambat. 

sebab  itu dapat menghasilkan kadar dalam 

darah tanpa mencapai puncaknya, sehingga 

lebih jarang timbul mual dan muntah. 

* Nifurtoinol (hidroksimetilnitrofurantoin, Ur-

fadyn, Uridurin) yaitu  derivat hidro ksimetil 

dengan sifat-sifat yang sama. Obat ini dapat 

dianggap sebagai prodrug yang dalam salur-

an cerna terurai menjadi nitrofurantoin dan 

formaldehida. 

Dosis: 4 dd 2 kapsul dari 40 mg pada waktu 

makan.

2. Methenamin: hexamine, heksametilentetra-

min, *Nephrolit

Dalam air seni asam (pH < 5,5) produ k 

kondensasi dari amoniak dan formaldehid a 

ini terurai dan menghasilkan kom ponen- 

komponennya kembali. Kha siatnya berdasar-

kan formaldehida yang kadarnya dalam urin 

cukup tinggi untuk menghentikan pertum-

buhan bakteri. Obat ini khusus dipakai  

sebagai terapi lanjutan ISK kronis sesudah 

terapi de ngan desinfektans. Resistensi jarang 

terjadi. Methenamin tidak dapat dikombinasi 

dengan sulfonamida sebab  terjadi kompleks 

dengan HCOH yang sukar larut. Juga tidak 

aktif terhadap bakteri yang membebaskan 

amoniak dari ureum (misalnya Proteus). 

Obat ini sekarang sudah jarang dipakai  

dan telah diganti de ngan obat-obat bakterisid 

modern.

Efek-efek samping terpenting berupa gang-

guan saluran cerna (akibat HCOH) dan reak- 

si-reaksi kulit. Wanita hamil dapat menggu-

nakan obat ini.

Dosis: 3 dd 0,5-1 g dengan banyak minum 

air.

* Heksamin-mandelat: methenamin amyg da-

lat, Reflux

Senyawa molekuler antara heksamin dan 

asam mandelat ini berkhasiat bakterisid 

terhadap bakteri Gram-positif dan Gram-

negatif, termasuk E. coli, Str.fecalis dan St. 

aureus. sesudah  resorpsi zat ini dikeluarkan 

oleh ginjal dalam bentuk utuh dan di urin 

asam (pH < 5,5) terurai menjadi formaldehida 

dan asam mandelat. Zat ini tidak memberi-

kan efek sistemik. Asam mandelat sendiri 

pada dosis tinggi berefek bakterisid terhadap 

terutama kuman-kuman Gram-negatif. 

Dosis: 4 dd 2 tablet dari 0,5 g (atau pagi 1,5 

g dan malam 2,5 g) sebaiknya dengan zat 

pengasam urin; dosis pemeliharaan 2 dd 1 g.

3. Fosfomisin-trometamol: Monuril

Bersifat bakterisid melalui penghambatan 

enzim enolpyruvyltransferase yang diperlukan 

untuk sintesis dinding sel bakteri. Memiliki 

spektrum daya kerja yang cukup lebar dan 

mencakup mikroorganisme Gram-positif (a.l. 

Staph. aureus) dan Gram-negatif (a.l. Esch. 

coli, Haemoph. influenzae).


dipakai  pada wanita sesudah  usia 12 

tahun terhadap infeksi saluran kemih akut 

tanpa komplikasi akibat infeksi oleh mikro- 

organisme yang peka terhadap fosfomisin. 

namun  tidak memiliki keunggulan lebih di-

bandingkan pengobatan dengan nitrofuran-

toin atau trimetoprim.

Efek samping terdiri dari gangguan saluran 

cerna seperti diare, mual dan juga gangguan 

kulit.

Dosis: wanita di atas 12 tahun (>50 kg) satu 

kali 3 g pada perut kosong.

b. SULFONAMIDA

Sulfonamida merupakan kelompok zat anti-

bakteri dengan rumus dasar yang sama yaitu 

H2N-C6H4-SO2NHR dan R yaitu  pelbagai 

jenis substituen. Pada prinsipnya senyawa ini 

dapat dipakai  terhadap berbagai infeksi. 

Namun sesudah  ditemukannya antibiotika 

dan zat-zat lain yang lebih efektif (namun  

kurang toksik), sejak tahun 1980-an indikasi 

dan pemakaian nya semakin berkurang, ju-

ga sebab  banyak kuman telah menjadi re-

sisten terhadap sulfonamida. Meskipun de- 

mikian dari sudut sejarah senyawa ini pen-

ting sebab  merupakan ke lompok obat perta-

ma yang dipakai  secara efektif terhadap 

infeksi sistemik bakteri. 

Selain sebagai kemoterapeutika terutama un-

tuk pengobatan infeksi saluran kencing yang 

disebabkan oleh bakteri Gram-positif atau 

Gram-negatif yang peka, sulfonamida juga 

dipakai  sebagai diuretika (zat perintang kar-

bonanhidrase) dan antidiabetika oral, lihat Bab-

bab 33 dan 47.

Perkembangan sejarah. Pada tahun 1935, 

Domagk telah menemukan bahwa suatu zat 

warna merah, prontosil rubrum, bersifat bak-

terisid in vivo namun  inaktif in vitro. Ternyata 

zat ini di dalam tubuh diuraikan menjadi 

sulfanilamida yang juga aktif in vitro. Berda-

sarkan penemuan ini kemudian disintesis 

sulfapiridin, yaitu obat pertama yang diguna-

kan secara sistemik untuk pengobatan ra-

dang paru (1937). Dalam waktu singkat obat 

ini diganti oleh sulfatiazol (*Cibazol) yang 

kurang toksik (1939), kemudian disusul pula 

oleh sulfadiazin, sulfmetoksazol dan turun-

an lainnya yang lebih aman. sesudah  diintro-

duksi derivat-derivat yang sukar resorpsinya 

dari usus (sulfaguanidin,dll.) akhirnya disin-

tesis sulfa dengan efek panjang, antara lain 

sulfadimetoksin (Madribon), sulfametoksipiri-

dazin (Lederkyn) dan sulfalen.

Kimia. Sulfonamida bersifat amfoter artinya 

dapat membentuk garam dengan asam mau-

pun dengan basa. Daya larutnya dalam air 

sangat kecil; garam alkalinya lebih baik, 

walaupun larutan ini tidak stabil sebab  

mudah terurai.

Aktivitas dan mekanisme kerja

Sulfonamida memiliki efek bakteriostatik 

yang luas terhadap banyak bakteri Gram-

positif dan Gram-negatif, kecuali terhadap 

Pseudomonas, Proteus dan Streptococcus faecalis. 

Mekanisme kerjanya berdasar  pencegahan 

sintesis (dihidro) folat dalam kuman melalui 

antagonisme saingan dengan PABA. Secara 

kimiawi sulfonamida merupakan analog-

analog dari asam p-aminobenzoat (PABA, 

H2N-C6H4-COOH). Banyak jenis bakteri 

membutuhkan asam folat untuk membangun 

asam intinya DNA dan RNA. Asam ini 

dibentuknya sendiri dari bahan pangkal 

PABA (= para-aminobenzoic acid) yang ada  

di berbagai tempat dalam tubuh manusia. 

Bakteri keliru memakai  sulfa sebagai 

bahan untuk mensintesis asam folatnya se-

hingga DNA/RNA tidak terbentuk lagi dan 

pertumbuhan bakteri terhenti. 

Manusia dan beberapa jenis bakteri (mis. Str. 

faecalis dan Enterococci lain) tidak membuat 

asam folat sendiri namun  menerimanya da-

lam bentuk jadi dari bahan makanan, sehi- 

ngga tidak mengalami gangguan pada meta- 

bolismenya. Dalam nanah ada  banyak 

PABA maka sulfonamida tidak dapat bekerja 

di lingkungan ini. Begitu pula sulfa tidak 

boleh diberikan serentak dengan obat-obat 

lain yang rumusnya mirip PABA, mis. pro-

kain, prokain-penisilin, benzokain, PAS, dan se-

bagainya. 

Kinetik. Resorpsinya dari lambung dan 

usus baik (terkecuali sulfa usus), PP-nya ber-

kisar antara rata-rata 40% (sulfadiazin), 70% 

(sulfametazin dan sulfamerazin) dan 85%-97% 

untuk derivat long-acting sulfametoksipirida-

zin dan sulfadimetoksin. Kecuali obat-obat 

de-ngan pengikatan protein (PP) tinggi, 

difusinya ke dalam jaringan agak baik. Di 

dalam hati sebagian diinaktifkan lewat 

perombakan menjadi senyawa asetilnya 

yang bersamaan dengan bentuk utuhnya 

diekskresi melalui ginjal. Kadar sulfa aktif 

dalam urin yaitu  10 kali lebih tinggi 

daripada kadarnya dalam plasma, maka 

layak sekali dipakai  sebagai desinfektans 

saluran urin.

Kombinasi sulfonamida

a. Trisulfa yaitu  kombinasi dari tiga sul-

fonamida, biasanya sulfadiazin, sulfame-

razin dan sulfamezatin dalam perban-

dingan yang sama. sebab  dosis setiap 

obat hanya sepertiga dari dosis biasa dan 

daya larutnya masing-masing tidak sa-

ling dipengaruhi, maka bahaya kristaluria 

sangat diperkecil. Pemberian bikarbonat 

tidak diperlu kan lagi, cukup dengan 

minum lebih dari 1,5 liter air sehari se-

lama pengobatan. 

b. Kotrimoksazol yaitu  suatu kombinasi 

dari sulfametoksazol + trimetoprim da-

lam perbandingan 5:1 (400 + 80 mg). Tri-

metoprim memiliki efek antibakteriil mi-

rip sulfonamida dengan menghambat 

enzim dihidrofolat reduktase. Afinitasnya 

terhadap enzim bakteri ini 50.000 kali 

lebih kuat dibandingkan dengan afinitas- 

nya terhadap enzim manusia, oleh kare-

na itu merupakan dasar dari daya kerja 

selektivitasnya. Di samping sebagai obat 

malaria, trimetoprim memiliki spek- 

trum kerja antibakteriil yang mirip sulfo-

namida, efektif terhadap sebagian besar 

kuman Gram-positif dan Gram-negatif 

dan banyak dipakai  terhadap ISK. 

Walaupun kedua kom ponennya masing- 

masing hanya bersifat bakteriostatik, 

kombinasinya berkhasiat bakterisid 

terhada p bakteri yang sama, juga terha-

dap Salmonella, Proteus dan H. influen-

zae. Kotrimoksazol terutama dipakai  

untuk pengobatan infeksi saluran napas. 

biasanya  kombinasi dari sulfona-

mida + trimetoprim memperkuat khasi-

atnya (potensiasi) serta menurunkan risiko 

resistensi dengan kuat, lihat di bawah.

* Kombinasi trimetoprim + sulfa lain 

dengan sifat-sifat dan pemakaian  sama 

dengan kotrimoksazol yaitu :

–  Supristol = sulfamoksol 200 mg + tri-

metoprim 40 mg

–  Kelfiprim = sulfalen 200 mg + trime-

toprim 250 mg

–  Lidatrim = sulfametrol 400 mg + tri-

metoprim 80 mg

Mekanisme kerjanya berdasar  teori se-

quential blockade dari Hitchings (1965), 

yakni bila dua obat bekerja terhadap 

dua titik berturut-turut dari suatu proses 

enzim bakteri, maka efeknya yaitu  

potensiasi. Dalam hal ini proses enzim 

yaitu  sintesis protein (DNA/RNA) dari 

PABA, yang skematis dapat digambarkan 

sebagai berikut:

Di sini terlihat bahwa sulfonamida meng-

ganggu proses enzim ini, antara lang-

kah 1 dan 2, melalui persaingan substrat 

(bahan pangkal) sedang  trimetoprim 

mengintervensi antara langkah 2 dan 3 

dengan merintangi enzim dihidrofolat-

reduktase yang mereduksi dihidrofolic 

acid (DHFA) menjadi tetrahidrofolic acid 

(THFA). Akibatnya yaitu  terhentinya 

sintesis asam folat yang merupakan ba-

han pangkal untuk sintesis purin dan 

DNA/RNA, sehingga pembelahan sel 

bakteri dihentikan.

Keuntungan penting lain dari kombi-

nasi ini yaitu  resistensi timbulnya lebih 

lambat daripada komponen-komponen-

nya sendiri. Hal ini yaitu  jelas sebab  

bakteri yang menjadi resisten untuk salah 

satu komponen masih dapat dimusnah-

kan oleh yang lain.

c. Kombinasi sulfadoksin + pirimetamin 

(Fansidar) dipakai  sebagai profilaksis 

dan pengobatan malaria tropika yang 

diakibatkan oleh Plasmodium falciparum 

yang resisten terhadap klorokuin, lihat 

Bab 11, Obat-obat malaria. 

d. Kombinasi sulfonamida + penisilin 

memperlihatkan efek adisi. Sesuai aturan 

dasar dari penggabungan kemoterapeu-

tika sebetulnya penisilin tidak dapat 

dikombinasi dengan bakteriostatika. 

namun  dalam hal ini ternyata tidak terjadi 

antagonisme. Hal ini mungkin dapat di- 

jelaskan sebab  diperlambatnya efek sul-

fa sebab bakteri dapat menghabiskan 

dahulu persediaan asam folatnya. Kombi-

nasi ini jarang dipakai  lagi.

e. Sulfasalazin yaitu  senyawa molekuler 

dari sulfapiridin dan aminosalisilat yang 

berkhasiat antiradang kuat dan dalam 

usus diuraikan menjadi komponennya. 

Khusus dipakai  pada rematik dan 

penyakit radang usus, p.Crohn dan colitis-

ulcerosa, yaitu radang usus halus dan usus 

besar yang bersifat menahun dan mudah 

kambuh. Kedua gangguan ini dianggap 

termasuk penyakit auto-imun pada mana 

antibodies dari sistem imun tubuh me-

nyerang dan merusak jaringa n/organ 

sendiri.

pemakaian 

Sulfonamida yaitu  kemoterapeutika bak-

teriostatik dengan spektrum luas yang di 

tahun 1950-an sampai dengan 1970-an ba-

nyak dipakai  dengan sukses terhadap 

banyak jenis penyakit infeksi akibat kuman 

Gram-positif maupun Gram-negatif. Sejak 

tahun 1980-an pemakaian nya sudah ba-

nyak sekali berkurang sebab  banyak jenis 

kuman sudah menjadi resisten di samping 

telah ditemukannya berbagai antibiotika ba- 

ru dengan efek bakterisid yang lebih efek-

tif dan lebih aman. 

Sekarang ini masih ada  sejumlah indi-

kasi untuk pemakaian  oral dari sulfonamida 

dan senyawa kombinasinya, yakni: 

Infeksi saluran urin: sulfametizol, sul-

fafurazol dan kotrimoksazol, sering kali 

dipakai  sebagai desinfektans infeksi 

saluran urin bagian atas yang menahun. 

Juga dipakai  terhadap cystitis. 

Infeksi mata: sultahap tamida, sulfadikra-

mida dan sulfametizol dipakai  topikal 

terhadap infeksi mata akibat kuman yang 

peka terhadap sulfonamida. Sistemik zat 

ini juga dipakai  untuk penyakit mata 

berbahaya trachoma, yang merupakan se-

bab utama dari kebutaan di dunia ketiga.

Radang usus: sufasalazin khusus digu-

nakan pada penyakit radang usus kronis 

Crohn dan colitis.

Malaria tropika: Fansidar, lihat di atas.

Radang otak (meningitis). Berkat daya 

penetrasinya yang baik ke dalam cairan 

otak (CCS) obat-obat sulfa sampai bebe-

rapa tahun yang lalu masih dianggap 

sebagai obat terbaik untuk mengobati atau 

mencegah meningitis, terutama sulfadiazin. 

Timbulnya banyak resis tensi dengan cepat 

memicu  obat ini telah diganti de-

ngan ampisilin atau rifampisin.

Infeksi lain: silversulfadiazin banyak 

dipakai  untuk pengobatan luka bakar. 

Kotrimoksazol sama efektifnya de ngan 

ampisilin pada tifus perut, infeksi sa- 

luran napas bagian atas, radang paru-

paru (pada pasien AIDS!) serta penyakit 

kelamin gonore. Sulfonamida tidak digu-

nakan secara rektal (suppositoria) sebab  

resorpsinya tidak sempurna (antara 10-

70%) dan kurang teratur. 

Efek samping. Yang terutama yaitu  keru-

sakan parah pada sel-sel darah, antara lain 

agranulositosis dan anemia hemolitik, ter-

utama pada penderita defisiensi glukosa-6-

fosfodehidrogenase. Oleh sebab  itu bila obat 

sulfa dipakai  lebih dari dua minggu perlu 

dilakukan pemantauan dengan pemeriksaan 

hematologi.

Gambar 8-1: Proses enzimatik sintesis protein (DNA/RNA) dari PABA

Efek samping lainnya yaitu  reaksi alergi, 

antara lain urticaria, fotosensitasi dan sin-

drom Stevens-Johnson, sejenis eritema multi-

form dengan risiko kematian tinggi terutama 

pada anak-anak. Selama terapi sebaiknya 

pasien jangan terlalu banyak terkena sinar 

matahari. Gangguan saluran cerna (mual, 

diare, dan sebagainya.) adakala juga terjadi. 

Bahaya kristaluria di dalam tubuli ginjal 

sering terjadi pada sulfa yang sukar larut 

dalam air seni asam, mis. sulfadiazin dan 

turunannya. Risiko kristalisasi ini sa ngat 

diperkecil dengan memakai  trisulfa, 

atau pemberian zat alkali (natriumbikarbonat) 

untu k melarutkan senyawa asetil itu  

dan banyak minum air.

pemakaian  lokal sebagai salep atau serbu k 

terhadap borok (inaktivasi oleh nanah!) tidak 

dianjurkan sebab  sering kali menim bulkan 

sensibil isasi dan reaksi kepekaan. Pengecualian 

yaitu  sultahap tamid/sulfadikrami d dalam tetes 

atau salep mata dan silversulfadiazin untuk 

luka bakar serius. 

Kehamilan dan laktasi. pemakaian  sulfon-

amida harus dihindari pada triwulan terakhir 

kehamilan sebab  risiko timbulnya icterus-

inti pada neonati (akibat pembebasan biliru-

bin dari ikatan protein plasma). Mengenai 

pemakaian nya pada bulan-bulan pertama 

kehamilan tidak ada  cukup data. sebab  

sulfonamida dikeluarkan melalui air susu ibu 

ada kemungkinan timbulnya icterus, hiper-

bilirubinemia dan reaksi-reaksi alergi pada 

bayi yang disusui.

Kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada 

bayi di bawah usia 6 bulan sebab  risiko efek 

sampingnya. Semua sulfonamida juga tidak 

boleh diberikan pada penderita gangguan 

fungsi hati dan ginjal. 

Resistensi sering kali terjadi dengan cepat 

terutama bila dipakai  untuk profilak-

sis, mis. pada infeksi salura