n urin kronis.
Khususnya gonocci dan meningococci agak
mudah menjadi resisten, begitu pula strepto-
cocci bila dipakai lebih lama dari 3 mingg u.
Actinomyces dan Chlamydia trachomatis masih
sensitif, sedang efeknya terhadap E. coli,
Hemophilus dan kuman Gram-negatif lain-
nya tidak menentu. Di antara semua deriva t
ada resistensi silang. Tipe resistensi
yaitu berdasar plasmid (faktor R) dan
juga sebab bakteri mampu membuat PABA-
nya dalam jumlah berlebihan.
Dosis. Untuk mencapai kadar darah yang
cukup tinggi pengobatan harus dimulai de-
ngan loading dose, yaitu dosis ganda dari 1-2
g untuk kemudian disusul dengan 0,5-1 g se-
tiap 6 jam. Derivat-derivat long-acting dapat
diberikan 1 kali sehari.
Dosis anak. Dosis yang diberikan atas dasar
berat badan anak-anak sampai usia 7 tahun
relatif tinggi sebab plasma-t½ pada mereka
jauh lebih singkat daripada t½ orang dewa-
sa. Hanya lambat laun pada usia ±7 tahun
nilainya mencapai taraf normal. Pada umum-
nya dosis anak yaitu 100-150 mg/kg berat
badan atau menurut usia: antara 1-3 tahun
sepertiga, antara 4-10 tahun setengah dan an-
tara 11-15 tahun tigaperempat dosis dewasa.
Pengobatan dengan dosis yang tepat ha-
rus dijalani selama minimal 5-7 hari untuk
menghindari gagalnya terapi dan timbulnya
resistensi yang cepat.
Penggolongan
Setiap sulfonamida memiliki banyak perbe-
daan mengenai metabolisme (asetilasi dan
glukuronidasi di dalam hati) maupun eks-
kresinya. berdasar ini sulfonamida dapat
di bagi dalam zat-zat dengan kerja singkat (t½<
24 jam) dan zat-zat dengan kerja panjang (t½
24-65 jam), sulfonamida usus dan sulfonamida
untuk pemakaian lokal.
a. Sulfonamida short-acting: sulfametizol,
derivat isoksazol (sulfafurazol, sulfametoksazol),
derivat oksazol (sulfamoksol) dan derivat piri-
midin (sulfadiazin, sulfamerazin, sulfamezatin
dan sulfasomidin). Sulfametizol dan sulfafu-
razol cepat resorpsinya dari usus dan daya
larutnya dalam urin asam atau urin netral
lebih baik dibandingkan dengan sulfa lain-
nya, sedang asetilasinya di dalam hati
lebih ringan. Dengan demikian kadarnya
dalam urin sangat tinggi hingga mencapai
efek bakterisid. Oleh sebab itu zat-zat
ini khusus dipakai pada infeksi saluran
urin tanpa komplikasi, terutama yang dise-
babkan oleh E. coli dan pada cystitis.
b. Sulfonamida long-acting: antara lain
sulfadoksin.
Zat-zat ini resorpsinya juga baik namun
ekskresinya lambat sekali akibat PP-nya yang
tinggi dan ada nya penyerapan kembali
pada tubuli ginjal. Keuntungan praktisnya
yaitu dapat dipakai sebagai dosis tung-
gal sehari sehingga dahulu banyak diguna-
kan, mis. sulfadimetoksin dan sulfametoksipiri-
dazin. namun khasiatnya lebih lemah daripa-
da sulfa lainnya di samping kadar plasma
dari sulfa bebas (aktif) relatif rendah pada
dosis lazimnya. Efek samping berupa erythe-
ma multiforme hebat (sindrom Stevens-
Johnson, demam dengan luka pada mukosa
mulut, anus, organ kelamin) lebih sering
terjadi. Oleh sebab itu di kebanyakan
negara Barat semua sulfa longacting telah
ditarik dari peredaran, kecuali kombinasinya
dengan pirimetamin atau trimetoprim.
c. Sulfonamida usus: sulfaguanidin dan sala-
zosulfapiridin.
Obat-obat ini hanya sedikit seka li (5-10%)
diserap oleh usus sehing ga menghasilkan
konsentrasi obat yang tinggi di dalam usus
besar. Sulfa guanidin ter nyata lebih baik
resorpsinya (sampai ±50%) dan sebaiknya
jangan dipakai untuk pengobatan infek-
si usus berhubung efek sistemiknya. Di waktu
yang lalu sulfa ini banyak dipakai untuk
mensterilkan usus sebelum pembedahan
namun untuk maksud ini sudah digantikan
oleh antibiotika bakterisid seperti neomisin
dan basitrasin yang juga tidak diserap
usus. Sulfaguanidin, ftalilsulfatiazol dan suksi-
nilsulfatiazol dahulu banyak dipakai da-
lam sediaan kombinasi anti diare, namun
sekarang praktis tidak dipakai lagi. Lihat
Ed.4 untuk monografinya.
d. Sulfonamida lokal: sultahap tamida, sulfa-
dikramida dan silversulfadiazin. Kedua obat
pertama banyak dipakai sebagai obat
luar dalam sediaan salep dan tetes mata,
sedang yang terakhir dalam salep ter-
hadap luka bakar.
SULFONAMIDA
1. Sulfametizol: sulfametiltiodiazol
Derivat tiodiazol ini (1940) PP-nya ±90%
dengan plasma-t½ 1-2 jam. Daya larutnya
dalam urin (asam) baik. Berhubung ekskre-
sinya cepat sekali zat ini menghasilkan kadar
tinggi dalam urin dan sering kali dipakai
terhadap radang kandung kemih. Sebaliknya,
kadarnya dalam darah dan jaringan rendah.
Sulfametizol memiliki persentase resistensi
yang agak tinggi.
Dosis: pada ISK oral 3-4 dd 0,5-1 g selama
3-5 hari, sebagai profilaksis 2 dd 1 g selama
3 hari.
* Uro Nebacetin = sulfametizol 2,4 g +
neomisinsulfat 428 mg per 30 ml suspensi.
2. Sulfametoksazol : kotrimoksazol, *Bactrim
Merupakan derivat isoksazol (1961) dengan
PP 65% dan plasma-t½ ±10 jam. Ekskresinya
via urin, 25% dalam keadaan utuh dan 60%
sebagai metabolit asetilnya. Obat ini terutama
dipakai dalam kombinasi dengan trimeto-
prim.
* Kotrimoksazol: *Bactrim, *Septrin
Kombinasi dari sulfametoksazol dan tri-
metoprim dalam perbandingan 5:1 bersifat
bakterisid dengan spektrum kerja lebih luas
dibandingkan sulfonamida, antara lain juga
aktif terhadap Proteus dan Chlamydia. Lagi-
pula lebih jarang memicu resistensi
sehingga sering kali dipakai terhadap
berbagai penyakit infeksi, antara lain infeksi
saluran urin (Coli, Enterobacter), alat kelamin
(prostatitis), saluran cerna (salmonellosis) dan
pernapasan (bronchitis). Kotrimoksazol dalam
dosis tinggi juga dipakai untuk pengo-
batan dan pencegahan radang paru (Pneumo-
cystis carinii-pneumoni) pada penderita AIDS.
Resorpsinya baik dan cepat, sesudah lebih
kurang 4 jam sudah mencapai puncaknya
dalam darah. Distribusinya ke dalam semua
jaringan, ludah dan cairan otak (CCS) sa-
ngat baik; terutama trimetoprim lebih lancar
berhubung sifat lipofilnya. PP sulfa dan tri-
metoprim yaitu masing-masing ±60% dan
45%, sedang plasma-t½-nya sama, yaitu
±10 jam. Ekskresinya melalui ginjal sebagai
zat aktif yaitu masing-masing 20-25% dan
50-60%.
Efek samping tidak sering terjadi dan bia-
sanya berupa gangguan kulit (exanthema),
stomatitis dan gangguan lambung-usus. Juga
dapat timbul efek samping khas dari sul-
fonamida seperti fotosensitasi dan sindrom
Stevens-Johnson. Pada dosis tinggi efek sam-
pingnya dapat berupa demam, gangguan
fungsi hati dan terhadap darah (neutropenia,
trombositopenia). Oleh sebab itu pemakaian
lebih lama dari dua minggu hendaknya
disertai pemantauan darah. Risiko kristaluria
dapat dihindari dengan minum lebih dari 1,5
liter air sehar i.
Dosis: umum 2 dd 2 tablet kotrimoksazol
(= sulfametoksazol 400 + trimetoprim 80 mg).
Radang kandung kemih tanpa komplikasi
pada wanita: 2 dd 2 tablet selama 3-7 hari.
Pada tifus dan infeksi parah 2 dd 3 tablet
selama maksimal 14 hari.
* Trimetoprim (*Bactrim, *Septrin).
Senyawa pirimidin ini (1961) yaitu deri-
vat dari obat malaria pirimetamin; selain
berkhasiat antiprotozoa juga berefek bakteri-
ostatik. Zat ini aktif terhadap banyak kuman
Gram-positif dan Gram-negatif termasuk
E. coli, jenis-jenis Proteus, Salmonella, Shi-
gella, Klebsiella dan Enterobacter, namun ter-
hadap Gonokok dan Pseudomonas tidak efek-
tif. Mekanisme kerjanya sama dengan sulfo-
namida yaitu berdasar penghambatan
reduksi DHFA menjadi THFA lewat blokade
reduktase, sehingga sintesis DNA kuman
gagal. Trimetoprim dipakai de ngan efek-
tif sebagai monoterapi pada ISK akut tanpa
komplikasi dan ternyata sama efektifnya
dengan kotrimoksazol. Pada infeksi kronis
dengan kelainan organik, khasiatnya lebih
rendah.
Resorpsinya dari usus cepat dan praktis
lengkap, PP-nya ±50% dengan plasma-t½
dari 9-17 jam. Sebagian zat dirombak di
dalam hati; kadar obat utuh di dalam urin
tinggi sekali dan bertahan selama minimal 24
jam untuk kemudian diekskresikan.
Efek sampingnya terutama gangguan sa-
luran cerna yang lebih ringan daripada
obat kombinasinya. Untuk menghindari
resistens i lebih lanjut yang semakin sering
terjadi, sebaik nya jangan dipakai sebagai
obat profilaksis. Resistensi kuman uropatogen
terhada p trimetoprim sudah meningkat dari
6% (1971) ke 25% di tahun 1992.
Dosis: setiap malam 300 mg atau 2 dd 200
mg selama 3-7 hari. Untuk anak-anak 5-12
tahun 2 dd 3 mg/kg berat badan.
3. Sulfadiazin: sulfapirimidin, *Triacef, *Temasu d
Derivat pirimidin ini (1947), seperti juga
sulfametoksazol dan sulfafurazol memiliki
atas dasar jumlah mg, khasiat terkuat dari
semua sulfa. Resorpsinya dari usus agak lam-
bat sehingga sebagian obat dapat mencapai
usus besar. Oleh sebab itu sulfadiazin ber-
khasiat terhadap disentri basiler, bahkan
lebih efektif dibandingkan dengan kloram-
fenikol dan tetrasiklin.
PP-nya paling rendah (±40%), oleh sebab
itu kadar obat dalam cairan tubuh paling
tinggi dan sering kali dipakai pada me-
ningiti s. Kombinasi dengan piri metamin
dipakai terhadap infeksi dengan Toxo -
plasma gondii (toxoplasmosis). Plasma-t½-nya
10 jam. Sulfadiazin merupakan obat pilihan
kedua untuk infeksi saluran urin. Daya larut-
nya dalam urin rendah (sering menyebabka n
kristaluria) sehingga perlu diberikan natri-
umbikarbonat 3 kali sehari 3-4 g dan minum
air ±1,5 liter sehari.
Dosis: permulaan 2-4 g, kemudian 4-6 dd 1 g.
* Sulfamerazin (F.I.) (sulfametildiazin, *Triacef)
yaitu derivat metil (1943) dengan khasia t
sama. namun PP-nya lebih tinggi, ±70%,
plasma-t½-nya panjang, yaitu di atas 20 jam.
Efek samping lebih sering terjadi, begitu pula
bahaya kristaluria lebih besar dan sering
memicu kerusakan ginjal. Oleh karen a
itu pemakaian nya di Inggris telah dilarang.
Dosis: 4 dd 1 g.
* Triacef = s.diazin + s.metazin + s.merazin
aaa 167 mg per tablet.
* Sulfamezatin (F.I.) (sulfadimidin, sulfame-
tazin, sulfadimetildiazin,*Triacef) yaitu de-
rivat dimetil (1945). Daya larut obat ini dan
begitu pula senyawa asetilnya dalam urin
lebih baik daripada sulfadiazin sehingga ba-
haya kristaluria juga lebih kecil. PP-nya lebih
tinggi (±70%) dan ekskresinya lebih lambat.
Dosis: permulaan 3 g, lalu 4 dd 1-1,5 g.
* Sulfasomidin (sulfa-2,4-dimetildiazin, Elko-
sin) yaitu isomer dari sulfadimidin (1944)
dengan PP 85% dan plasma-t½ 8 jam. Ekskre-
sinya dengan urin cepat, rata-rata 15%
sebaga i derivat asetil yang kelarutannya
dalam urin kurang baik. Oleh sebab itu perlu
minum minimal 1,5 l air sehari. Dosis: permu-
laan 2 g, kemudian 3 dd 1g.
4. Sulfadoksin: sulfametoxine, *Fansidar
Derivat pirimidin ini (1965) memiliki PP
tinggi (90-95%) dan t½ yang panjang sekali
(rata- rata 6 hari). Senyawa ini khusus diguna-
kan dalam kombinasi dengan obat antiprotozoa
pirimetamin pada terapi dan profilaksis ma-
laria tropika yang resisten terhadap klorokuin,
juga pada toxoplasmosis, suatu infeksi oleh
protozoon Toxoplasma gondii yang ditularkan
lewat kucing, domba atau babi.
Wanita hamil tidak boleh diberikan
Fansidar selama 3 bulan pertama kehamilan
sebab bersifat teratogen, begitu pula pada
bulan terakhir kehamilan sebab risiko
icterus- inti pada bayi.
Dosis: infeksi umum permulaan 2 g, lalu
1-1,5 g seminggu.
* Fansidar= sulfadoksin 500 + pirimetamin 25
mg. Pada toxoplasmosis: 1 x 2 tablet seming-
gu sampai 4-6 minggu sesudah sembuh. Untuk
dosis terhadap malaria, lihat Bab 11, Obat-
obat malaria.
5. Sulfasalazin: salazosulfapiridin, Sulcolon,
Salazopyrin
Senyawa azo ini dari 5-aminosalicylic
acid (5-ASA) dengan sulfapiridin, berwar-
na kuning kecokelat-cokelatan dan berkha-
siat anti-radang. In vitro zat ini tidak aktif.
Sebagian kecil diserap di usus; di dalam
darah separuh dipecah menjadi komponen-
komponennya dan sisanya yang utuh meng-
alami siklus enterohepatik. Bagian terbesar
yang tidak diserap tiba di usus besar dan di
sini diuraikan oleh bakteri menjadi kompo-
nennya dan hanya sedikit diekskresi dengan
tinja dalam bentuk utuh. 5-ASA juga dieks-
kresi dengan tinja sedang sulfapiridin
diserap hampir seluruhnya.
sebab eliminasinya oleh ginjal yang cepat
(sebagai metabolit asetil dan glukuronida)
kadar plasma dari zat yang agak toksik ini
tetap rendah. Penelitian menunjukkan ak-
tivitas sulfasalazin berdasar efek antira-
dang lokal dari 5-ASA terhadap mukosa
usus. Sulfasalazin khusus dipakai pada
rematik dan penyakit usus beradang colitis
ulcerosa dan penyakit Crohn. Lihat Bab 21,
Analgetika Antiradang.
Efek samping yang dapat terjadi berupa
mual, anoreksia, demam, nyeri kepala dan
erythema. Pada dosis lebih tinggi efek sulfa-
piridin berupa antara lain kelainan darah, he-
maturia, proteinuria dan kristaluria.
Dosis: pada rema 1 dd 500 mg d.c. selama
5-7 hari, dinaikkan setiap 5-7 hari dengan
500 mg sampai 2 g sehari, maksimal 3 g/
hari. Pada colitis 4 dd 0,5-1,5 g d.c. selama 3
mingg u, lalu pemeliharaan 1-2 g sehari.
* Mesalazin (5-aminosalisilat, 5-ASA, Salofalk)
yaitu komponen aktif dari sulfasalazin
(1985) terutama khasiat antiradang langsung
ter hadap mukosa usus yang beradang. Zat
ini juga dipakai sebagai monoterapi pada
radan g usus ringan.
Resorpsinya dari tablet (harus e.c.) buruk,
hanya 20%, PP-nya ±50%, plasma-t½-nya ±1
jam. Ekskresi terutama dengan tinja dalam
keadaan utuh dan sebagai derivat asetil.
Efek samping terpenting yaitu gangguan
lambung-usus, nyeri kepala, pusing dan
reaksi alergi.
Dosis: colitis akut 3-4 dd 0,5-1 g.
* Olsalazin (Dipentum) terdiri dari 2 moleku l
mesalazin yang dihubungkan oleh ikatan
azo. Dalam usus besar kuman-kuman me-
nguraikannya tun tas menjadi mesalazin.
Dosis: colitis akut 3 dd 250-1000 mg p.c.,
profilaksis 2 dd 500 mg.
6. Sultahap tamid: N-asetilsultahap tamid, Albucid.
Garam natrium dari sulfa ini tidak bersifat
alkalis seperti garam natrium dari sulfa lain-
nya sehingga terutama dipakai dalam
tetes mata (10%) dan salep mata (10%). Se-
baiknya zat ini jangan dipakai untuk
profilaksis sebab risiko sensibil isasi.
7. Silverdiazin: Flammazine, Darmazin,
Silvaden e
Garam perak dari sulfadiazin ini ber-
khasiat bakterisid terhadap banyak bakteri
termasuk E. coli, Klebsiella dan Proteus dan
tidak diinaktifkan oleh PABA. Sangat efektif
untuk pengobat an luka bakar parah (derajat
kedua dan ketiga), ter utama bila terinfeksi
oleh Pseudomonas. Kulit yang diobati dengan
silversulfadiazin menjadi kelabu kehitam-
hitaman sebab endapan perak. dipakai
dalam bentuk krem 1-3%. Lihat juga Bab 15,
Antiseptika.
C. SENYAWA KUINOLON
Pada tahun-tahun terakhir senyawa kui-
nolon sangat efektif sebagai pengobatan
per oral dari berbagai penyakit infeksi
oleh kuman Gram-negatif yang semula
hanya dapat di atasi melalui pengobatan
parenteral, misalnya prostatitis dan osteo-
myelitis. Zat-zat dari generasi pertam a,
misalnya asam nalidiksinat hanya
efektif terhadap kuman Gram-negatif
(terkecuali Pseudomonas), namun tidak ber-
khasiat terhadap kuman Gram-positif
maupu n kuman anaerob. Efek sampingnya
pun banyak dan tidak memberikan kadar
yang optimal dalam darah dan jaringan.
Dengan introduksi atom fluor ke dalam
molekulnya terbentuk fluorkuinolon per-
tama yakni nor-floksasin yang aktif terhadap
Pseudomonas namun belum menghasilkan
kadar serum yang efektif. Pada permu-
laan tahun delapan puluhan telah disin-
tesis siprofloksasin (generasi kedua) yang
memiliki spektrum kerja lebih luas dan
lebih efektif terhadap Enterobacteriaceae,
Pseudomonas aeruginosa, Staph. aureus
dan Legionella pneumophila.
Pada pemakaian per oral senyawa ini
juga dapat mencapai kadar dalam darah dan
jaringan yang optimal, di samping toksisi-
tasnya yang rendah. Terhadap infeksi saluran
napas, misalnya Streptococcus pneumoniae
masih kurang bermanfaat.
Modifikasi pada struktur kimia selanjutnya
menghasilkan sederetan kuinolon baru sepert i
antara lain gemifloksasin, grepafloksasin, levo-
floksasin, moksifloksasin, sparfloksasin dan trova-
floksasin. Semua senyawa ini memperlihatkan
aktivitas yang meningkat terhadap kuman
Gram-positif, namun berkurang bagi Pseudo-
monas. sebab beberapa di antaranya kurang
aman dibandingkan dengan siprofloksasin,
sehingga antara lain sparfloksasin dan trova-
floksasin (Trovan) di Amerika telah ditarik
dari peredaran. Trovafloksasin dapat meng-
akibatkan gangguan hati sangat parah,
terutama bila dipakai lebih lama dari 2
mingg u. Di negara kita sparfloksasin masih di-
perbolehkan beredar.
Resorpsi per oral dari kuinolon baru ini
sangat baik, kesetaraan biologisnya melebihi
90% dan tidak dipengaruhi oleh makanan
maupun oleh senyawa reseptor H2. namun
resorpsi akan sangat berkurang oleh antasi-
da yang mengandung magnesium dan alumi-
nium, juga oleh garam-garam kalsium dan
besi.
Mekanisme kerja
Senyawa kuinolon berkhasiat bakterisid pa-
da tahap pertumbuhan kuman berdasar
inhibisi dua enzim bakteriil (topo-isomerase),
yaitu DNA-gyrase dan topo-isomerase IV se-
hingga sintesis DNA-nya terganggu. DNA-
gyrase yaitu enzim yang mengkompres
DNA bakteri sehingga dapat diinkorporasi
dalam sel bakteri, sedang topo-isomerase
diperlukan bagi struktur ruang DNA. Kedua
proses itu dihambat oleh kuinolon. Enzim
itu hanya ada pada kuman dan
tidak pada sel dari organisme lebih tinggi,
sehingga sintesis DNA manusia tidak diham-
bat. Hal yang sama berlaku bagi sulfonamida
dan antibiotika beta-laktam.
pemakaian
Senyawa kuinolon hanya dapat dipakai
pada infeksi saluran kemih (ISK) tanpa kompli-
kasi, sedang fluorkuinolon lebih luas
spektrum indikasinya berkat kadarnya da-
lam darah yang mencapai nilai lebih tinggi.
Dengan demikian zat-zat ini dapat pula
dipakai pada ISK berkomplikasi oleh kuman
multiresisten, misalnya yang melibatkan ja-
ringan ginjal. Selain dari itu fluorkuinolon
juga dipakai untuk infeksi saluran napas
(radang paru), infeksi lambung-usus (salmonella,
shigella), prostatitis kronis, infeksi kulit dan
jaringan lunak oleh khususnya kuman Gram-
negatif. Juga dipakai terhadap karier
Salmonella kronis danpada infeksi mata, serta
preventif pada pembedahan transuretra.
Dengan tujuan menghambat meluasnya
resistensi, sangat dianjurkan untuk menggu-
nakan fluorkuinolon sebagai kemoterapeutika
cadangan pada infeksi oleh bakteri yang
resisten terhadap obat-obat standar. Sebagai
pilihan pertama pada ISK tanpa komplikasi
sebaiknya dipakai trimetoprim, nitrofuran-
toin atau sulfametizol.
Fluorkuinolon merupakan satu-satunya
antibiotikum oral yang berkhasiat terhadap
Pseudomonas dan oleh sementara peneliti
dianggap sebagai obat pilihan pertama pada
traveller’s diarrhoea.
Efek samping dan kontraindikasi
Efek samping yang paling sering terjadi
yaitu gangguan lambung-usus (2%), seperti
sakit perut, mual (4-8%), muntah, anoreksia
dan diare (4-5%), jarang timbul sejenis radang
usus besar (colitis pseudomembranosis). Di sam-
ping itu terjadi pula reaksi alergi (eritema, urti-
caria). Efek neurologi (sakit kepala, pening,
termangu-mangu, neuropati dan perasaan
kacau), efek psikis hebat (eksitasi, ketakut-
an, gelisah, reaksi panik) dan konvulsi jarang
terjadi, terkecuali pada penderita SLE (Sys-
temic Lupus Erythemathodes) dan pada penggu-
naan serentak NSAIDs. Efek samping yang
lebih serius yaitu terhadap jantung dengan
memicu aritmia bilik (tachyaritmia
ventricular).
Kehamilan dan laktasi. sebab ada indikasi
kelainan pada pembentukan tulang rawan
dan persendian pada hewan percobaan,
senyawa ini tidak dianjurkan pemakaian nya
oleh wanita hamil, juga selama laktasi sebab
dikeluarkan melalui air susu ibu.
Juga jangan diberikan pada anak-anak di
bawah usia 16 tahun, sebab dapat menim-
bulkan penyimpangan pada pembentukan
tulang rawan terutama oleh asam nalidiksinat
(jarang oleh siprofloksasin dan ofloksasin).
Resistensi
Fluorkinolon juga dapat memicu resis-
tensi akibat mutasi pada kromosom bakteri,
walaupun tidak sedemikian cepat dibanding-
kan kuinolon lama tanpa fluor. Saat terjadi-
nya resistensi pada kuman Gram-negatif,
enzim DNA-gyrase berperan utama dan to-
poisomerase IV memegang peranan seku-
nder. Pada kuman Gram-positif situasinya
terbalik. Suku-suku yang resisten dapat me-
lakukan mutasi pada enzim ini, sehingga
menjadi sangat resisten (Piddock LJV. Fluor-
quinolone resistance. BMJ 1998; 317: 1029-30).
Perkembangan resistensi sangat tergan-
tung dari dosis, frekuensi19 dan tujuan pe-
nggunaannya, misalnya sebagai stimulator
pertumbuhan dalam industri ternak. Sebagai
contoh yaitu resistensi dari Campylobacter,
Pseudomonas dan Enterobacter akibat pe-
nggunaannya secara besar-besaran dalam
industri unggas.18 sebab itu fluorkinolon
hendaknya dipakai secara terbatas seba-
gai antibiotika cadangan, khususnya hanya
bagi penderita yang alergis terhadap anti-
biotika betalaktam.
Resistensi silang ada antara semua
fluorkuinolon, juga dengan antibiotika
betalakta m.
MONOGRAFI
1. Asam nalidiksinat: Negram, Urineg.
Derivat naftiridin ini (1962) berkhasia t
bakterisid terhadap terutama bakteri Gram-
negatif, termasuk E. coli, Proteus dan Klebsiella,
namun Pseudomonas dan Str. faecalis tidak peka
terhadapnya (1962). Mekanisme kerjanya
melalui penghambatan sintesis DNA. Seperti
juga penisilin, hanya berkhasiat terhadap
bakteri yang sedang tumbuh. Oleh sebab
itu tidak dapat dikombinasi dengan zat-zat
bakteriostatik (tetrasiklin, kloramfenikol) juga
tidak dengan nitrofurantoin. Aktivitasnya
optimal pada pH asam (5-7). Resistensi dapat
terjadi dengan agak cepat, terutama pada
dosis di bawah 4 g sehari, sehingga tidak dian-
jurkan untuk pemakaian jangka lama. Oleh
sebab itu dan dengan tersedianya derivat fluor
dengan spektrum kerja lebih luas dan khasiat
lebih kuat, pemakaian nya bagi infeksi sa-
luran kemih tanpa komplikasi dewasa ini
tidak dianjurkan lagi. Di sejumlah negara
Barat, antara lain negeri Belanda, peredaran-
nya sudah dihentikan.
Resorpsinya baik (± 96%) dan cepat, begi-
tupula ekskresinya melalui ginjal (t½ = ±1,5
jam), oleh sebab itu kadarnya di dalam urin
relatif tinggi. Di samping itu PP-nya tinggi
(±90%), sehingga kadar plasmanya hanya
rendah. Dalam hati zat ini dirombak menjadi
glukuronida tidak aktif dan derivat hidroksi
aktif, hanya sebagian kecil dikeluarkan da-
lam bentuk utuh (±15%). Efek samping yang
kadang-kadang timbul yaitu mual, muntah
dan reaksi alergi (urtikaria). Selanjutnya,
lihat di atas (efek samping umum).
Dosis: 4 dd 1 g selama maksimal 7-14 hari.
2. Asam pipemidinat: Urixin, Pipram, Impre-
sial, Urotractin
Derivat piperizanil dari nalidiksinat ini
(1975) memiliki spektrum kerja lebih luas,
yang juga meliputi Pseudomonas. Efek bak-
terisid terhadap kuman yang sedang membe-
lah yaitu dua kali lebih kuat. Ekskresi oleh
ginjal demikian cepat sehingga kadarnya
dalam darah rendah sedang dalam urin
relatif tinggi. Oleh sebab itu asam pipemi-
dinat khususnya dipakai pula pada ISK
tanpa komplikasi.
Resorpsinya cepat dan kadar plasma mak-
simal tercapai sesudah 1-2 jam. Dalam 24 jam
sejumlah 50-60% diekskresi melalui urin ter-
utama dalam bentuk utuh. Resistensi silang
dengan nalidiksinat dapat terjadi.
Efek samping yang terpenting yaitu mual,
muntah, diare dan foto-sensibilisasi. Efek-
efek neurologi tidak dilaporkan.
Dosis: 2 dd 400 mg (3 aq.) d.c., selama 10
hari.
3. Norfloksasin: Lexinor, Noroxin
Derivat fluor dari pipemidinat (1983)
ini yaitu obat pertama dari kelompok
fluorkuino lon (generasi ketiga). Di sampin g
khasiatny a terhadap ISK, juga efektif pada
gonore, saluran cerna (gastro-enteritis) dan
infeksi mata, namun tidak berkhasiat ter-
hadap bakteri anaerob.
Resorpsinya cepat dengan BA 80% dan ka-
dar maksimal dalam plasma sudah terca-
pai sesudah 1-2 jam. PP-nya rendah (15%)
dan hanya sebagian yang dimetabolisasikan
menjadi metabolit yang juga memiliki khasiat
antibakteriil. Zat ini diekskresi melalui urin
sebanyak 30% sampai 50% dalam bentuk
utuh dan 28% dengan feces. Plasma-t½-nya
3-4 jam.
Dosis: terhadap ISK 2 dd 400 mg selama
7-10 hari, untuk gonore single dose 800 mg.
Pada infeksi mata 4 dd 1 tetes obat mata
(3mg/4ml).
* Pefloksasin (Peflacine) yaitu derivat metil
dari norfloksasin (1985) dengan efek kurang
kuat terhadap Pseudomonas. Zat ini diguna-
kan pada ISK tanpa maupun dengan kompli-
kasi. Resorpsi cepat dan hampir sempurna, PP
±30%. Kadar plasma maksimal dicapai sesudah
±1,5 jam. Metabolit yang terpenting yaitu N-
desmetil-pefloksasin (= norfloksasin) yang aktif.
Diekskresi ±60% melalui urin dan 40% dengan
tinja. Plasma-t½ 9-14 jam, namun dapat menca-
pai 31 jam pada gangguan fungsi hati.
Dosis: oral pada ISK 2 dd 400 mg (mesi-
lat-2 aq.) d.c. sampai 48-72 jam sesudah gejala
hilang atau tidak diketemukannya lagi ku-
man-kuman patogen. Pada ISK akut wanita
tanpa komplikasi, dosis tunggal dari 800 mg.
4. Siprofloksasin: Ciproxin
Derivat siklopropil dari kelompok fluor-
kuinolon (1987) ini berkhasiat lebih luas dan
lebih kuat daripada nalidiksinat dan pipe-
midinat, juga menghasilkan kadar dalam
darah/jaringan dan plasma-t½ yang lebih
tinggi. pemakaian sistemiknya lebih luas
dan meliputi ISK berkomplikasi, infeksi sa-
luran napas bila disebabkan oleh Pseudomo-
nas aeruginosa, infeksi saluran cerna, jaringan
lunak, kulit dan gonore.
Resorpsi baik dengan BA ±70% dan kadar
plasma maksimal tercapai 0,5-1,5 jam setela h
pemakaian oral. PP-nya ±30%. Dimetabo-
lisasi menjadi 4 metabolit aktif yang dieks-
kresi melalui urin (55%) dan feces (39%).
Plasma-t½ 3-5 jam dan bisa mencapai ±8 jam
pada gangguan fungsi ginjal yang serius.
Efek samping lihat di atas. Secara insidentil
dapat timbul kristaluria atau hematuria.
Dosis: pada ISK oral 2 dd 125-250 mg (-HCl)
dan sebagai infus i.v. 2 dd 100 mg (laktat),
pada infeksi lain oral 2 dd 500 mg.
5. Ofloksasin: Tarivid
Fluorkuinolon ini (1987) lebih kurang sama
khasiatnya dengan siprofloksasin. dipakai
pada ISK, prostatitis, infeksi pernapasan,
gonore dan infeksi mata, juga sebagai obat
tuberkulosis sekunder.
Resorpsinya cepat dan praktis lengkap de-
ngan PP ±25% dan plasma-t½ ±6 jam, yang
dapat meningkat sampai 10-30 jam pada
gangguan fungsi ginjal. Ekskresi dalam kea-
daan utuh melalui urin dan dalam 24 jam
mencapai 80%.
Dosis: pada ISK tanpa komplikasi 1-2
dd 200 mg selama 7-10 hari. Sebagai obat
sekunder terhadap tuberkulosis paru 300-600
mg seharinya.
* Levofloksasin (Tavanic, Levoxal) yaitu
isomer levo (1997) dengan sifat yang sama,
hanya spektrum kerjanya terhadap kuman
Gram-positif sedikit lebih luas, t½-nya 6-8
jam. Efek sampingnya lebih ringan.
Dosis: 1-2 dd 250-500 mg.
6. Lomefloksasin: Omniquin, Maxiquin.
Derivat difluor ini (1989) berkhasiat ter-
hadap ISK dengan atau tanpa komplikasi dan
sebagai profilaksis terhadap infeksi sesudah
pembedahan transuretral. Di samping itu
juga dipakai terhadap serangan (eksaser-
basi) bronkitis kronis.
Resorpsinya cepat dan baik (BA 98%), namun
dapat diperlambat oleh makanan. PP-nya
rendah sekali (±10%) Kadar plasma maksimal
tercapai sesudah 1-1,5 jam dan ekskresi ±65%
melalui urin dalam bentuk utuh dan 6%
sebagai glukuronida. Diekskresi dengan tinja
±10% dalam bentuk utuh. Plasma-t½-nya 8
jam.
Efek samping. Selain efek samping yang
lazim timbul, obat ini cenderung lebih sering
memicu fotosensibilisasi.
Dosis: 1 dd 400 mg, lazimnya selama 14 hari.
7. Sparfloksasin: Newspar, Redspar, Resflok
Derivat difluor ini (1995) berkhasia t lebih luas
terhadap kuman Gram-positif dibandingka n
siprofloksasin, lagipula ma sa paruhny a pan-
jang (20 jam) sehingga dapat diberikan 1 kali
sehari. Terhadap Pseudomonas dan Proteus,
obat ini kurang efektif diba ndingkan dengan
siprofloksasin. Sparfloksasin diguna kan pada
semua bentuk ISK, pneumonia akibat pneu-
mokok yang resisten terhadap penisilin dan
pada gonore.
Efek sampingnya yang serius yaitu foto-
sensitasi yang sangat membatasi penggu-
naannya.
Dosis: permulaan 400 mg, lalu 1 dd 200 mg
selama 10 hari. Gonore: single dose dari 200
mg.
8. Gatifloksasin: Tequin
Termasuk generasi ketiga yang dapat digu-
nakan per oral maupun i.v. terhadap infeksi
saluran urin (gonore) dan infeksi pernapasan
(pneumonia). Juga aktif terhadap kuman
anaerob. Memiliki t½ 7 jam dan dieliminasi
dari tubuh melalui ginjal.
Interaksi. Tidak boleh diberikan pada pen-
derita gangguan jantung, khususnya yang
memakai obat-obat anti aritmia (kini-
din, disopiramida, amiodaron, sotalol) atau
neuroleptika. Juga dapat memicu
gangguan pada peredaran gula darah (glucose-
homeostasis), oleh sebab itu perlu pemantauan
kadar gula pada pemakaian antidiabetika
oral.22
Dosis: 1 dd 400 mg.
9. Moksifloksasin: Avelox
Juga termasuk generasi ketiga dan digu-
nakan terhadap infeksi saluran pernapasan
(pneumonia) dan terhadap infeksi oleh
kuma n anaerob. Memiliki t½ 12 jam dan die-
liminasi dari tubuh melalui hati.
Sama dengan gatifloksasin agar dihindari
pemberiannya pada penderita gangguan arit-
mia jantung.
Dosis: 1 dd 400 mg.
TUBERKULOSTATIKA
TUBERKULOSIS
Tuberkulosis, disingkat TB, yaitu suatu
penyakit menular yang paling sering (±80%)
terjadi di paru-paru. pemicu nya yaitu
suatu basil Gram-positif tahan-asam de-
ngan pertumbuhan sangat lamban, yaitu
Mycobacterium tuberculosis (Yun.mycos = din-
ding selnya bersifat sebagai lilin) (dr. Robert
Koch, 1882).
Bakteri ini terdiri dari beberapa spesies
yang semuanya dapat memicu tuber-
kulosis, yaitu a.l. M.tuberculosis (typus hu-
manus), M.africanum dan M.bovis (typus sapi).
Gejala TB terdiri dari a.l. batuk kronis,
demam, berkeringat waktu malam, keluhan
pernapasan, perasaan letih, malaise, hilang
nafsu makan, turunnya berat badan dan rasa
nyeri di bagian dada. Dahak penderita beru-
pa lendir mucoid, purulent (bernanah) atau
mengandung darah.
* Infeksi primer. sesudah terjadi infeksi me-
lalui saluran pernapasan, di dalam gelem-
bung paru (alveoli) berlangsung reaksi pera-
dangan setempat dengan timbulnya benjo-
lan-benjolan kecil (tuberkel). Sering kali sis-
tem imun tubuh sehat dapat memberan-
tas basil dengan menyelubunginya dengan
jaringan pengikat. Infeksi primer ini pada
umumnya menjadi abses “terselubung” (in-
capsulated) dan berlangsung tanpa gejala,
hanya kadangkala disertai batuk dan napas
berbunyi.
Pada mereka dengan sistem imun lemah
(anak-anak, manula, pasien AIDS) dapat tim-
bul radang paru hebat. Basil TB memper-
banyak diri di dalam makrofag dan benjolan-
benjolan bergabung menjadi infiltrat yang
akhirnya memicu rongga (caverna) di
paru-paru. Bila kemudian terjadi hubungan
antara paru-paru dan cabang bronchi, maka
terjadilah TB terbuka (tuberculosis cavernosus)
dengan adanya basil di dahak (sputum). TB
terbuka berbahaya sekali. Walaupun hanya
bercirikan batuk kronis, namun bersifat sangat
menular. Pasien dengan kondisi demikian
merupakan sumber meluasnya TB di
sekelompok masyarakat, namun hanya terjadi
pada lebih kurang 10% dari semua infeksi.
Infeksi dapat menyebar melalui darah dan
limfe ke organ lain dari tubuh, a.l. ke:
– saluran pencernaan (intestinal tu ber culosis);
TB selaput perut (tuberculous peritonitis)
yang memicu ascites (busung perut)
merupakan TB lambung kedua yang
paling umumRobert Koch (1843-1910)
– ginjal dan juga bagian-bagian dari sistem
urogenital (pemicu kemandulan pada
wanita)
– susunan saraf pusat, pemicu radang se-
laput otak (tuberculous meningitis) pada
anak-anak)
– kerangka tubuh, memicu a.l.
osteomyelitis (radang sumsum tulang)
Di samping itu organ lain juga dapat
terinfeksi, yaitu kulit (lupus vulgaris), mata,
pericardium (kandung jantung) (menyebab-
kan Addison’s disease) dan simpul-simpul
limfe.
Di organ yang terinfeksi timbul abses ber-
nanah atau pertumbuhan liar dari jaringan
pengikat yang selalu disertai dengan pembe-
saran simpul limfe. Tanpa pengobatan akhir-
nya dapat terjadi kerusakan hebat yang ber-
akhir fatal.
* Reaktivasi. Kadang-kadang dalam waktu
setahun atau lebih infeksi primer —akibat
proses reaktivasi penyakit lama (post-primary
tuberculosis) atau kadangkala sebab re-
infeksi dengan kuman tuberkel yang menye-
bar melalui saluran darah––berkembang
menjadi TB-miliar (sebesar “padi”) yang pa-
da umumnya berakibat fatal. Reaktivasi de-
mikian terutama dapat timbul bila daya
tahan tubuh menurun, misalnya pada ma-
nula, pengidap HIV dan pasien yang menja-
lani terapi imunosupresiva (dengan kortikos-
teroid atau sitostatika).
Mycobacteria lain. Pengidap AIDS sema-
kin sering dihinggapi infeksi dengan berba-
gai jenis Mycobacteria lain (“atipis”, tidak khas),
seperti Mycobacterium avium intracellu-
lare (MAI) yang ada di air dan tanah.
Mikroorganisme ini biasanya bersifat
resisten terhadap obat-obat TB biasa sehingga
menjadi masalah serius pada terapi AIDS.
Infeksi MAI tidak dapat ditulari dari manusia
ke manusia.
Penularan Mycobacterium bovis akibat
minum susu sapi yang menderita TB kelenjar-
susu jarang sekali terjadi. Infeksi demikian
dapat dihindari dengan mempasteurisasikan
atau memasak susu.
PENYEBARAN
Penyakit TB tersebar di seluruh dunia, di sam-
ping banyak kasus baru ±8 juta per tahun
dengan angka kematian meningkat sampai
2-3 juta manusia per tahun. Di seluruh du-
nia setiap 18 detik ada seorang yang
meninggal akibat penyakit ini. TB yaitu
penyakit infeksi tunggal yang paling memati-
kan dan merupakan pemicu kematian
nomor dua, sesudah penyakit jantung. Preva-
lensinya sangat tinggi di negara-negara Asia
dan Afrika, yang 60-80% dari anak-anak
di bawah usia 14 tahun sudah terinfeksi.
Misalnya Filipina dengan prevalensi TB po-
sitif 0,40%; artinya 40 orang di antara 10.000
orang mengidap TB. Di negara-negara ber-
kembang biasanya infeksi timbul
pada masa anak-anak dan sekarang ini masih
merupakan pembunuh utama, yang a.l. di-
akibatkan oleh resistensi terhadap antibiotik.
Di negara kita dengan prevalensi TB po-
sitif 0,22% (laporan WHO 1998), penyakit
ini merupakan salah satu penyakit rakyat
penting yang tiap tahun memicu
banyak korban. Jumlah penderita di Indo-
nesia menduduki peringkat ketiga terbesar
sesudah India dan Cina, dengan angka ke-
matian sebesar 140.000 jiwa per tahun dan
lebih dari 500.000 kasus baru per tahun yang
merupakan tingkat infeksi ketiga tertinggi
di dunia. Pada setiap 100.000 penduduk ada
125 penderita tuberkulosis yang menular.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO)
di negara kita setiap empat menit satu orang
meninggal atau ekivalen dengan ±400 kema-
tian setiap hari akibat TB yang merupakan
pemicu kematian kedua bagi orang dewasa
di negara kita .
Kawasan negara kita Timur merupaka n da-
erah yang banyak penderitanya. Preva lensi
di NTT dan Timor Timur yaitu 700 per
100.000 penduduk. Penyakit ini diketemukan
terutama di antara rakyat jelata yang gizi
makanannya tidak memadai dan hidup
dalam keadaan sosial-ekonomi dan hygiene
di bawah normal. Lagi pula krisis ekonomi
meningkatkan jumlah penderita, sebab daya
tahan tubuh berkurang akibat menurunnya
asupan gizi dan kualitas lingkungan.
Menurut WHO penyebaran HIV, virus
pemicu AIDS, di kawasan Asia Pasifik
meningkatkan kasus TB. Diperkirakan 3%
dari seluruh pasien TB memberikan tes posi-
tif terhadap HIV.
Hal ini disebabkan HIV merusak sistem ke-
kebalan tubuh penderita, sehingga mening-
katkan peluang terjadinya infeksi oleh kuman.
Mortalitasnya kini berjumlah 3 juta penderita
yang setiap tahun semakin meningkat. Ham-
pir dua pertiga dari penderita TB di seluruh
dunia ada di kawasan Asia Pasifik. Si-
sanya banyak ada di sub-Sahara (Afri-
ka), terutama sebagai infeksi-multiresisten
dalam kombinasi dengan AIDS (WHO 1998).
Di negara Barat TB hampir punah selu-
ruhnya sesudah dilakukan pengobatan dan
vaksinasi intensif pada tahun 1950-an. Namun
pada dasawarsa terakhir timbul kembali
bersamaan dengan meningkatnya pengidap
HIV serta terjadinya resistensi terhadap obat
TB, a.l. disebabkan oleh penyalahgunaan
antibiotika. Bentuk yang paling serius yaitu
TB multi-drug resisten. Jenis TB dengan
mortalitas tinggi ini disebabkan oleh kuman-
kuman yang resisten terhadap dua obat
utama (rifampisin dan isoniazida) dan sangat
sukar pengobatannya.
Walaupun Robert Koch telah mengisolasi
bakteri tuberkel sebagai pemicu dari TB
(1882), ada sebagian orang yang memandang
pemicu nya dalam konteks yang lebih luas.
Salah satunya yang terkenal yaitu René Du-
bos (1901-82) walaupun dia sarjana mikro-
biologi, beranggapan bahwa TB merupakan
suatu penyakit masyarakat dan harus ada
pengertian bahwa imbas faktor sosial dan
ekonomi terhadap seorang juga harus diper-
hitungkan sama seperti mekanisme merusak-
nya bakteri tuberkel terhadap tubuh manusia.
Dalam dekade-dekade sesudah penemuan
bakteri TB dan dimulainya pengobatan de-
ngan obat-obat antiTB, angka kematian kare-
na tuberkulosis menurun drastis di negara-
negara industri. Menurut Dubos penurunan
ini terutama disebabkan oleh kebijakan
sosial yang memperbaiki standar kehidupan
keseluruhannya. Kesimpulannya walaupun
TB yaitu penyakit infeksi, namun juga –
sampai hari ini– merupakan ekspresi biologis
dari ketimpangan sosial.
PENULARAN
Penyakit TB ditularkan dari orang ke orang,
terutama melalui saluran napas dengan
menghisap atau menelan percikan ludah/
dahak (droplet infection) yang mengandung
basil dan dibatukkan oleh penderita TB
terbuka. Atau juga sebab adanya kontak
antara tetes ludah/dahak itu dan luka
di kulit. Dalam percikan ludah ini kuman
dapat hidup beberapa jam dalam udara
panas lembap, dalam nanah bahkan beberapa
hari. Untuk membatasi penyebaran perlu
sekali diperiksa semua anggota keluarga de-
kat yang erat hubungannya dengan pende-
rita. Dengan demikian penderita baru dapat
dideteksi pada waktu dini.
Ada banyak kesalahfahaman mengenai da-
ya penularan penyakit TB. Umumnya terda-
pat anggapan bahwa TB bersifat sangat me-
nular, namun pada hakikatnya bahaya infeksi
relatif tidak begitu besar dan dapat disamakan
dengan penularan penyakit infeksi saluran
pernapasan lainnya, seperti selesma dan
influenza. Akan namun bahaya semakin me-
ningkat, sebab sering kali seseorang tidak
diketahui sudah menderita TB (terbuka) dan
dapat menularkannya pada orang-orang di
sekitarnya sebelum penyakitnya terdeteksi.
PENCEGAHAN
Penularan perlu diwaspadai dengan tindak-
an-tindakan pencegahan seperlunya untuk
menghindari infeksi sebab percikan dahak
dari seorang penderita ke orang lain. Salah
satu cara yaitu batuk dan bersin dengan
menutup mulut/hidung dengan saputangan
atau tissue yang kemudian didesinfeksi de-
ngan lysol atau dibakar. Juga harus menjaga
jarak bila berbicara dengan seorang pende-
rita. Saluran udara ruangan yang baik dapat
memperkecil bahaya penularan.
Anak-anak di bawah usia satu tahun dari
keluarga yang menderita TB perlu divaksinasi
BCG sebagai pencegahan, bersamaan dengan
pemberian isoniazida 5-10 mg/kg selama 6
bulan (kemoprofilaksis),lihat di bawah.
Reaksi Mantoux (reaksi tuberkulin, 1907)
dilakukan untuk menentukan belum atau
sudahnya seseorang terinfeksi basil TB.
Reaksi ini dilakukan dengan penyuntikan
tuberkulin intradermal, yaitu filtrat dari pem-
biakan basil yang mengandung produk
pemisahannya yang khas.
Reaksi positif tampak sebagai kemerah-
merahan setempat dan menunjukkan terda-
patnya antibodies terhadap basil TB di da-
lam darah. Hal ini berarti bahwa yang ber-
sangkutan pernah mengalami infeksi primer
atau telah divaksinasi dengan BCG. Antibodi
itu telah menjadikannya kebal terhadap
infeksi baru. Orang dengan reaksi tuberkulin
positif harus diperiksa lebih lanjut sputum
dan paru-parunya melalui sinar Röntgen.
Hasil tuberkulin skin test lebih dari 15 mm
menunjukkan risiko besar mendapatkan pe-
nyakit ini dan perlu menjalani pengobatan
profilaktik untuk menghindari timbulnya TB
aktif.
Pengobatan profilaktik bagi orang dewasa
terdiri dari oral tiap hari 300 mg isoniazida
atau dua kali seminggu selama 6 bulan. Ba-
gi penderita yang tidak tahan terhadap iso-
niazida harus diberikan 10 mg/kg rifampisin
tiap hari selama 4 bulan.
Reaksi negatif berarti bahwa yang ber-
sangkutan belum pernah mengalami infeksi
primer dan lebih mudah diserang TB dari-
pada orang dengan reaksi positif.
Vaksin BCG (Basil Calmette-Guérin). Daya
tahan orang dengan reaksi tuberkulin negatif
dapat diperkuat melalui vaksinasi dengan
vaksin BCG. Vaksin ini mengandung basil TB
sapi yang telah dihilangkan keganasannya
(virulensi) sesudah dibiakkan di laboratorium
selama bertahun-tahun. Vaksinasi mening-
galkan tanda bekas luka yang nyata, biasanya
di lengan-bawah dan memberikan kekebalan
selama 3-6 tahun terhadap infeksi primer dan
efektif untuk rata-rata 70%. Vaksin BCG ter-
utama efektif untuk menghindari TB miliar
dan TB meningitis. Bayi di daerah dengan
insidensi TB tinggi sering kali secara rutin di-
imunisasi dengan BCG.
Efektivitas vaksin BCG yaitu kontrover-
sial, walaupun sudah dipakai lebih dari
50 tahun di seluruh dunia. Hasilnya sangat
bervariasi; beberapa penelitian baru menun-
jukkan perlindungan terhadap lepra, namun
sama sekali tidak terhadap TB.
Vaksin BCG diberikan intradermal 0,1 ml
bagi anak-anak dan orang dewasa; bayi 0,05
ml.
Kemoprofilaktik terutama dilakukan de ngan
isoniazida. Anak-anak di bawah usia empat
tahun dari keluarga penderita TB dan mereka
yang berisiko besar terhadap infeksi dapat
diberikan isoniazida selama 6 bulan secara
kontinu sebagai profilaksis. Bila ada
intoleransi dapat diganti dengan rifampisin,
maksimal 6 bulan. Di samping itu dilakukan
juga imunisasi dengan BCG.
Untuk profilaksis terhadap infeksi M. avium,
dianjurkan monoterapi dengan antibiotik
makrolida azitromisin (1 x seminggu 1200
mg a.c.)
PENGOBATAN
Dahulu TB sukar sekali disembuhkan, sebab
belum ada obat yang dapat memusnahkan
Mycobacterium. Basil ini lambat sekali per-
tumbuhannya dan sangat ulet, sebab din-
ding selnya mengandung kompleks lipida-
glikolipida serta lilin (wax), yang sulit di-
tembus zat kimia.
Sebagian dari basil ini juga dapat bersem-
bunyi di dalam sel-sel penderita dan melin-
dungi diri dengan membentuk suatu rin-
tangan (barrier) kimiawi yang merupakan
hambatan kedua terhadap obat TB.
Mycobacteri tidak mengeluarkan enzim
ekstraseluler maupun toksin. Penyakit ber -
kembang sebab kuman mampu memper-
banyak diri di dalam sel-sel fagosit dan tahan
terhadap enzim-enzim pencernaan.
Terapi kuno hanya terbatas pada penang-
gulangan gejala penyakit (terapi simtomatik).
Pengobatan dapat dibantu dengan istirahat
lengkap (bedrest, sanatorium) dan diet sehat.
Dianjurkan mengonsumsi banyak lemak dan
vitamin A untuk membentuk jaringan le-
mak baru yang dapat menyelubungi kuman
(encapsulate) dan meningkatkan daya tahan
tubuh.
Terapi modern memakai tuberku-
lostatika dan biasanya pasien dapat
dirawat jalan (ambulan). Sebagian penderita
malahan dapat bekerja sebagaimana biasa.
Biasanya sesudah 4-6 minggu tidak ada ba-
haya infeksi lagi, walaupun sering kali di
dalam sputumnya masih ada basil TB.
Ada dua kelompok obat yang dipakai
terhadap tuberkulosis, yaitu yang disebut
first line anti-TB, seperti isoniazida, pira-
zinamida, rifampisin, etambutol dan strep-
tomisin. Masih dalam penelitian lanjutan
sebagai obat first-line yaitu moksifloksazin.
Obat-obat dari kelompok ini lebih efektif
dan penerimaannya lebih baik dari obat-
obat kelompok second line seperti PAS,
etionamida, sikloserin, amikasin, kanamisin
dan kapreomisin, yang baru diberikan bila
obat-obat dari kelompok pertama menim-
bulkan resistensi atau penderita tidak tahan
terhadap obat-obat ini.
Resistensi terutama akan timbul pada pe-
nggunaan dari hanya satu jenis obat TB (mo-
noterapi) namun peluang timbulnya resistensi
akan lebih kecil bila dipakai lebih dari dua
jenis obat.
Oleh sebab itu dianjurkan pemakaian
multi-drug terapi yang juga akan memper-
singkat jarak waktu pengobatan.
Pengobatan TB paru terdiri dari dua tingkat,
yaitu fasa terapi intensif dan fasa pemeliharaan.
a. Fasa intensif merupakan terapi dengan
isoniazida yang dikombinasi dengan ri-
fampisin dan pirazinamida selama 2 bu-
lan. Untuk menghindari resistensi ditam-
bahkan pula etambutol.
b. tahap pemeliharaan memakai iso-
niazida bersama rifampisin selama 4 bu-
lan lagi, sehingga seluruh masa pengo-
batan mencakup 6 bulan. Telah dibuktikan
bahwa kur singkat ini sama efektifnya
dengan kur lama dari 2 + 7 bulan. Persen-
tase residifnya juga kurang lebih sama
(1%) Untuk mengurangi efek samping
dari isoniazida (neuropati) juga diberikan
piridoksin (10-50 mg sehari), terutama bagi
a.l. lansia, penderita dengan gizi buruk,
wanita hamil dan penderita diabetes un-
tuk menghindari timbulnya gangguan
saraf (neurological toxicity).
PengobatanTB tulang harus lebih lama (9
bulan) dan untuk meningitis-TBC selama 1
tahun. Obat yang dipakai sama seperti
untuk TB paru dengan penambahan
pirazinamida hanya untuk 2 bulan
pertama. Obat-obat yang di-gunakan
terhadap kuman M. tuberculosis resisten
yaitu kapreomisin, sikloserin, kla-
ritromisin, azitromisin, siprofloksasin, oflo-
soksasin, ethionamida, kanamisin dan ami-
kasin.
Terapi kombinasi berefek potensiasi, sebab
obat-obat bekerja di titik tangkap berlainan,
lagi pula menghindari terjadinya resistensi.
Dengan cara ini sebagian besar penderita da-
pat diobati secara efektif. Semua kuman ter-
masuk basil yang berada intraseluler juga
dimusnahkan. Kombinasi itu juga sa-
ngat praktis, sebab dapat diberikan seren-
tak dalam dosis tunggal 1 kali sehari dengan
efek samping ringan. Terapi kombinasi yang
terdiri dari isoniazida, pirazinamida dan ri-
fampisin merupakan dasar dari terapi singkat
(short-course therapy).
Kesetiaan minum obat. Terapi perlu dila-
kukan sekian lama untuk memusnahkan
seluruh “sumber infeksi” dan kuman yang
berada dalam keadaan «tidur» intraseluler
(dormant) untuk menghindari kambuhnya
penyakit. namun faktor terpenting untuk ber-
hasilnya pengobatan yaitu kesetiaan tera-
pi dari penderita untuk secara teratur dan
terus-menerus minum obatnya selama 6
bulan. Sering kali penderita yang berobat
baru separuh jalan sudah merasa sembuh
sehingga mengabaikan kewajiban menyele-
saikan kur. Kurangnya patient compliance ter-
sebut merupakan sebab utama gagalnya
pengobatan bagi 5% dari jumlah penderita.
Lagi pula hal ini memicu basil TB
menjadi kebal terhadap obat.
Untuk meningkatkan kepatuhan minum
obat telah didirikan klinik-klinik khusus
untuk tujuan ini dengan supervisi langsung
serta pemberian insentif. Program ini disebut
Directly Observed Therapy Short Course (DOTS)
dan telah diterapkan di negara kita sejak tahun
1995.
*Terapi infeksi MAI yang multiresisten
pada pasien AIDS dapat dilakukan efektif
dengan makrolida klaritromisin (2 dd 0,5
g), rifampisin (10 mg/kg/hari) dan etambutol
(25 mg/kg/hari). Kombinasi ini bekerja
sinergistik.
Obat TB umumnya dibagi dalam obat-obat
primer dan obat-obat sekunder.
a. Obat primer: INH, rifampisin, pirazi-
namida dan etambutol. Obat-obat ini
paling efektif dan paling rendah toksi-
sitasnya, namun memicu resistensi
dengan cepat bila dipakai sebagai obat
tunggal. Maka terapi selalu dilakukan
dengan kombinasi dari 3-4 obat. Suku-
suku yang sekaligus kebal terhadap dua
atau lebih jenis obat sangat jarang terja-
di. Yang paling banyak dipakai ada-
lah kombinasi INH, rifampisin dan pira-
zinamida.
b. Obat sekunder: streptomisin, klofazimin,
fluorkinolon dan sikloserin. Obat ini me-
miliki kegiatan yang lebih lemah dan
bersifat lebih toksik, oleh sebab itu hanya
dipakai bila ada resistensi atau
intoleransi terhadap obat primer, juga
terhadap infeksi MAI pada pasien HIV.
Fluorkinolon (siprofloksasin, ofloksasin,
moksifloksasin, dan lain-lain) bekerja seba-
gai bakterisida berdasar pengham-
batan DNA-gyrase kuman. Obat ini ber-
peran penting pada TB multi-resisten;
aktivitasnya dapat disamakan dengan
INH.
pemakaian obat TB harus berhati-hati
pada penderita gangguan fungsi hati dan
ginjal.
Kehamilan dan laktasi. Wanita hamil yang
menderita TB aktif dapat diobati dengan
isoniazida, rifampisin dan pirazinamida.
Etambutol juga dapat dipakai dalam
keadaan tertentu. Streptomisindan amikasin
dilarang pemakaian nya sebab risiko ketu-
lian pada janin. Data dari obat TB sekunder
terhadap kehamilan masih belum lengkap.
Perlu juga diperhatikan bahwa kebanyakan
tuberkulostatika masuk ke dalam air susu
ibu. Namun bayi dapat diberi susu ibu tanpa
ada keberatan.
MONOGRAFI
1. Etambutol: Myambutol
Derivat etilendiamin ini (1961) berkhasiat
spesifik terhadap M. tuberculosa dan M.
atipis (termasuk MAI), namun tidak terhadap
bakteri lain. Daya kerja bakteriostatiknya
sama kuatnya dengan INH, namun pada dosis
terapi kurang efektif dibandingkan obat-obat
primer. Mekanisme kerjanya berdasar
penghambatan sintesis RNA pada kuman
yang sedang membelah, juga menghalangi
terbentuknya mycolic acid pada dinding sel
yang lebih dari 60% terdiri dari lipid.
Resorpsinya baik (75-80%) dan mudah
memasuki eritrosit, yang berfungsi sebagai
depot yang lambat-laun melepaskan obat
kembali ke plasma. Penetrasinya ke CCS
buruk. PP-nya 20-30%, plasma-t½-nya 3-4 jam
dan dapat meningkat sampai ±8 jam pada
gangguan ginjal. Ekskresinya lewat ginjal
(80%) yang sebagian dalam bentuk utuh dan
15% sebagai metabolit non-aktif.
Efek samping yang terpenting yaitu neu-
ritis optica (radang saraf mata) yang meng-
akibatkan gangguan penglihatan, a.l. ku-
rang tajamnya penglihatan dan buta warna
terhadap warna merah dan hijau. Reaksi
toksik ini baru timbul pada dosis besar (di
atas 50 mg/kg/hari) dan bersifat reversibel
bila pengobatan segera dihentikan, namun
dapat memicu kebutaan bila pemberian
obat dilanjutkan. Sebaiknya jangan diberikan
pada anak kecil, sebab kemungkinan gang-
guan penglihatan sulit dideteksi. Dianjurkan
untuk memeriksakan mata secara perio-
dik, terutama kepekaannya terhadap warna.
Etambutol juga meningkatkan kadar
asam urat dalam plasma akibat penurunan
ekskresinya oleh ginjal.
Kehamilan: dapat diberikan pada wanita
hamil. Etambutol masuk ke dalam air susu
ibu.
Dosis: oral sekaligus 20-25 mg/kg/hari
(garam di-HCl), selalu dalam kombinasi
dengan INH. I.v.(infus) 1 dd 15 mg/kg dalam
2 jam.
2. Isoniazida (F.I.): INH
Derivat asam isonikotinat ini (1952)
berkhasiat tuberkulostatik paling kuat
terhadap M. tuberculosis (dalam tahap istirahat)
dan bersifat bakterisid terhadap basil yang
sedang tumbuh pesat. Aktif terhadap kuman
yang berada intraseluler dalam makrofag
maupun di luar sel (ekstraseluler). Obat ini
praktis tidak aktif terhadap bakteri lain.
Isoniazida masih tetap merupakan obat
kemoterapi terpenting terhadap berbagai
jenis tuberkulosa dan selalu dipakai se-
bagai multiple terapi dengan rifampisin
dan pirazinamida. Struktural senyawa ini
berkaitan dengan pirazi namida.
Profilaktik dipakai sebagai obat tunggal
bagi mereka yang berhubungan dengan pa-
sien TB terbuka.
Mekanisme kerjanya berdasar tergang-
gunya sintesis mycolic acid, yang di per lukan
untuk membangun dinding bakteri. Senyawa
ini memasuki sel bakteri melalui difusi pasif
dan baru akfif sesudah diaktivasi oleh enzim
katalasa-peroksidase.
Resorpsi dari usus sangat cepat; difusi ke
dalam jaringan dan cairan tubuh baik sekali,
bahkan dapat menembus jaringan yang su-
dah mengeras. Penetrasi yang cepat ini sa-
ngat penting dalam pengobatan tuberculous
meningitis.
Di dalam hati INH diasetilasi oleh enzim
asetiltransferase menjadi metabolit inaktif. PP-
nya ringan sekali, plasma-t½-nya antara 1 dan
4 jam tergantung pada kecepatan asetilasi.
Ekskresi terutama melalui ginjal (75-95%
dalam 24 jam) dan sebagian besar sebagai
asetilisoniazida.
Efek samping pada dosis normal (200-300
mg sehari) jarang terjadi dan ringan (gatal-
gatal, ikterus), namun lebih sering timbul
bila dosis melebihi 400 mg. Yang terpen-
ting yaitu polineuritis, yakni radang saraf
dengan gejala kejang dan gangguan peng-
lihatan. pemicu nya yaitu persaingan de-
ngan piridoksin yang rumus kimiawinya
mirip INH. Perasaan tidak sehat, letih dan
lemah, serta anoreksia juga sering kali timbul.
Untuk menghindari efek samping ini biasa-
nya diberikan piridoksin (vitamin B6) 10 mg
sehari bersama vitamin B1 (aneurin) 100 mg.
Kadangkala terjadi kerusakan hati dengan
hepatitis dan ikterus yang fatal, khususnya
pada orang pengasetilir-lambat (slow-acetyla-
tors) terutama bila dikombinasi dengan
rifampisin. Kecepatan proses asetilasi yang
memengaruhi kadar obat dalam plasma dan
masa paruhnya, tergantung dari banyaknya
asetiltransferase yang genetik pada masing-
masing orang berbeda.
Perlu diwaspadai bila dipakai oleh
penderita gangguan fungsi ginjal/hati dan
mereka yang berusia di atas 45 tahun, sebab
risiko timbulnya efek samping meningkat
sesuai usia. Dianjurkan periodik memantau
pasien yang menjalani terapi dengan obat ini
terhadap gejala hepatitis (anoreksia, keletihan,
mual dan ikterus).
Antasida yang mengandung aluminium
dapat mengganggu absorpsi INH.
Resistensi dapat timbul agak cepat bila di-
gunakan sebagai obat tunggal, namun resis-
tensi silang dengan obat TB lainnya tidak
terjadi.
Dosis: oral/i.m. dewasa dan anak-anak 1 dd
4-8 mg/kg/hari atau 1 dd 300-400 mg, atau
sebagai dosis tunggal bersama rifampisin, pagi
hari sebelum makan atau sesudah makan bila
terjadi gangguan lambung.
Profilaktik: 5-10 mg/kg/hari.
3. Pirazinamida: pirazinkarboksamida, Prazina,
Pezeta
Analogon pirazin dari nikotinamida ini
(1952) bekerja sebagai bakterisid (pada
suasana asam: pH 5-6) atau bakteriostatik,
tergantung pada pH dan kadarnya di dalam
darah. Spektrum kerjanya sangat sempit dan
hanya meliputi M.tuberculosis.
Mekanisme kerjanya berdasar pengu-
bahannya menjadi asam pirazinat oleh en-
zim pyrazinamidase yang berasal dari basil
TB. sesudah pH dalam makrofag menurun,
maka kuman yang berada di “sarang” in-
feksi yang menjadi asam akan mati. Khasi-
atnya diperkuat oleh INH. Obat ini khu-
sus dipakai pada tahap intensif; pada fasa
pemeliharaan hanya bila ada multi-
resistensi.
Resorpsi cepat dan hampir sempurna;
kadar maksimal dalam plasma sudah dicapai
dalam 1-2 jam. PP-nya ±50%, plasma-t½-nya
9-10 jam. Distribusi ke jaringan dan cairan
serebrospinal baik, oleh sebab itu dipakai
terhadap meningitis tuberkulosa. Ekskresi
lewat urin 70%, sebagian utuh dan sebagian
besar sebagai produk hidrolisisnya, yaitu
asam pirazinat.
Efek samping yang sering kali terjadi dan
berbahaya yaitu kerusakan hati dengan
ikterus (hepatotoksik), terutama pada dosis
di atas 2 g sehari. Pengobatan harus segera
dihentikan bila ada tanda-tanda kerusak-
an hati. Pada hampir semua pasien, pirazi-
namida menghambat pengeluaran asam
urat sehingga meningkatkan kadarnya dalam
darah (hiperuricemia) dan memicu se-
rangan encok (gout). Obat ini juga dapat
memicu gangguan saluran cerna, foto-
sensibilisasi dengan reaksi kulit (menjadi
merah-cokelat), artralgia, demam, malaise
dan anemia, juga menurunkan kadar gula
darah.
Resistensi dapat timbul dengan cepat bila
sebagai monoterapi.
Dosis: oral 1 dd 30 mg/kg selama 2-4 bulan,
maksimal 2 g sehari, pada meningitis TB 50
mg/kg/hari.
4. Rifampisin: Rifadin, Rimactane
Antibiotikum ini yaitu derivat semisin-
tetik dari rifamisin B (1965) yang dihasilkan
oleh Streptomyces mediterranei, suatu jamur
tanah yang berasal dari Prancis Selatan. Zat
yang berwarna merah-bata ini bermolekul
besar dengan banyak cincin (makrosiklis).
Rifampisin berkhasiat bakterisid luas ter-
hadap tahap pertumbuhan M.tuberkulosae dan
M.leprae, baik yang berada di luar maupun
di dalam sel. Juga membunuh kuman yang
«dormant» selama tahap pembelahannya yang
singkat. Oleh sebab itu sangat penting untuk
membasmi semua basil untuk mencegah
kambuhnya TB.
Rifampisin juga aktif terhadap kuman
Gram-positif lain dan kuman Gram-negatif
(a.l. E.coli, Klebsiella, suku-suku Proteus
dan Pseudomonas), terutama terhadap sta-
filokoki, termasuk yang resisten terhadap
penisilin. Terhadap kuman terakhir, aktivi-
tasnya agak lemah. Mekanisme kerjanya
berdasar perintangan spesifik dari suatu
enzim bakteri RNA-polymerase, sehingga
sintesis RNA terganggu. Juga efektif sebagai
profilaktik terhadap infeksi meningoccus dan
H.influenza meningitis.
pemakaian pada terapi TB paru sangat
dibatasi oleh harganya yang cukup mahal.
Manfaat utamanya terletak pada terapi yang
dapat dipersingkat dari ±2 tahun hingga
6-12 bulan. Rifampisin juga merupakan obat
pilihan pertama terhadap lepra (lihat Bab
10, Leprostatika) dan sebagai obat pencegah
infeksi meningococci pada orang yang berhu-
bungan dengan pasien meningitis. Begitu
pula sangat efektif terhadap gonore (± 90%).
Resorpsi di usus sangat kuat; distribusi ke
jaringan dan cairan tubuh juga baik, termasuk
CCS. Hal ini nyata sekali pada pewarnaan
jingga/merah dari air seni, tinja, ludah, keri-
ngat dan air mata. Lensa kontak (lunak) juga
dapat berwarna permanen. Efek ini juga
timbul pada pemakaian rifabutin. Plasma-
t½-nya berkisar antara 1,5 sampai 5 jam dan
meningkat bila ada gangguan fungsi hati. Di
lain pihak masa paruh akan turun pada pasien
yang bersamaan waktu memakai INH.
Di hati terjadi desasetilasi dengan terben-
tuknya metabolit-metabolit dengan kegiatan
antibakteri. Ekskresinya khusus melalui empe-
du, sedang lewat ginjal berlangsung fa-
kultatif.
Efek samping yang terpenting namun tidak
sering terjadi yaitu penyakit kuning (icte-
rus), terutama bila dikombinasi dengan
INH yang juga agak toksik bagi hati. Pada
pemakaian lama dianjurkan untuk meman-
tau fungsi hati secara periodik. Obat ini juga
agak sering memicu gangguan saluran
cerna seperti mual, muntah, sakit ulu hati,
kejang perut dan diare, begitu juga gangguan
SSP dan reaksi hipersensitasi.
Interaksi. Melalui induksi enzim dalam
hati, rifampisin mempercepat perombakan
obat lain bila diberikan bersamaan waktu.
Akibatnya BA menurun, misalnya dari kla-
ritromisin dan penghambat protease (obat
AIDS). Kadar darah dari obat-obat ini bisa
menurun sampai 80%, yang dapat mengaki-
batkan timbulnya resistensi cepat terhadap
HIV. Obat lain yang dipercepat metabolis-
menya yaitu antikoagulansia, sehingga do-
sisnya harus dinaikkan. Pil antihamil men-
jadi tidak terjamin lagi efeknya, sebab ri-
fampisin mempercepat katabolisme dari ber-
bagai zat steroid. Resistensi dapat terjadi de-
ngan agak cepat.
Kehamilan. biasanya rifampisi n dapat
diberikan pada wanita hamil. pemakaian
pada minggu-minggu terakhir kehamilan da-
pat memicu perdarahan postnatal pada
ibu dan bayi. Untuk pencegah annya dapat
diberikan fitomenadion (vitamin K). Rifampisin
dikeluarkan melalui air susu ibu, namun ibu
diperbolehkan menyusui ba yinya.
Dosis: pada TB oral 1 dd 450-600 mg seka-
ligus pagi hari sebelum makan, sebab kece-
patan dan kadar resorpsi dihambat oleh isi
lambung. Selalu diberikan dalam kombi-
nasi dengan INH 300 mg dan untuk 2 bulan
pertama juga ditambah dengan 1,5-2 g
pirazinamida setiap hari.
Pada gonore: oral 1 dd 900 mg sekaligus sela-
ma 2-3 hari; pada infeksi lain 2 dd 300 mg a.c.
Profilaksis pada meningitis 2 dd 10 mg/kg/
hari selama 2 hari.
* Rimactazid 225/200 = rifampisin 225 + INH
200 mg
* Rimactazid 450/300 = rifampisin 450 + INH
300 mg
* Rimcure3-FDC = rifampisin 150 + INH 75 +
pirazinamida 400 mg
* Rimstar 4-FDC = rifampisin 150 + INH 75
+ pirazinamida 400 + etambutol 275 mg
* Rifabutin (Mycobutin) yaitu turunan (1995)
dengan khasiat dan sifat mirip rifampisin.
Obat ini terutama dipakai pada pasien
HIV-positif bila ada (multi)resistensi
untuk obat lain dan selalu dikombinasi de-
ngan minimal 2 obat TB lainnya. Dengan ri-
fampisin ada resistensi silang. Rifabutin
dipakai profilaktik dan terapi infeksi MAC
pada pasien dengan sistem imun menurun,
misalnya pada penderita AIDS. Infeksi de-
mikian sulit terapin








