ya. Untuk profilaktik
MAC yaitu efektif kombinasi rifabutin + azi-
tromisin, dan kombinasi rifabutin + etambutol
+ klaritromisin. (MAC terdiri dari minimal dua
jenis, yakni M.intracellulare dan M.avium yang
ada di dalam air, tanah dan makanan).
Efek samping yang paling sering terjadi
mirip rifampisin dan terdiri dari gangguan
pencernaan, reaksi kulit, kelainan darah dan
hati, adakalanya gejala influenza (demam,
nyeri otot). Berlainan dengan rifampisin,
rifabutin dapat memicu artritis dan
artralgia.
Kombinasi rifabutin/rifampisin de ngan
klaritromisin dan penghambat protease (indi-
navir, ritonavir, saquinavir) sanga t meningkat-
kan kadar rifabutin/rifamisin di dalam darah
dengan peningkatan toksisitasnya. Oleh ka-
rena itu dosis rifabutin (c.q. rifampisi n) harus
diparuh.
Dosis: TB MAC oral 1 dd 300-600 mg dalam
kombinasi dengan 2 dd 0,5 g klaritromisin
dan etambutol 1 dd 150 mg. Profilaktik MAC:
1 dd 300 mg.
5. Streptomisin (F.I.)
Streptomisin, suatu aminoglikosid, diper-
oleh dari Streptomyces griseus (Waksman dan
Schatz, 1944), sedang kanamisin dari
Str. kanamyceticus. Senyawa ini berkhasiat
bakterisid terhadap banyak kuman Gram-
negatif dan Gram positif, termasuk M.tuber-
culosa dan beberapa M.atipis. Streptomisin
khusus aktif terhadap mycobacteria eks-
traseluler yang sedang membelah aktif dan
pesat (misalnya di dalam caverne). Mekanisme
kerjanya berdasar penghambatan sintesis
protein kuman melalui pengikatan pada
RNA ribosomal. Antibiotik ini toksik untuk
organ pendengaran dan keseimbangan. Oleh
sebab itu jangan dipakai untuk jang-
ka waktu lama, sebab efek neurotoksiknya
terhadap saraf cranial ke-8 dapat memicu
ketulian permanen.
Resorpsinya di usus buruk sekali, maka
hanya diberikan sebagai injeksi i.m. Sejak
adanya obat-obat ampuh lain, pemakaian
streptomisin untuk TB paru telah jauh berku-
rang. Obat ini masih dipakai bersama-
an dengan tiga obat lainnya terhadap TB otak
yang sangat parah (meningitis).
Dosis: i.m. 1 dd 0,5-1 g tergantung dari
usia (garam sulfat) selama maksimal 2 bulan.
Lihat selanjutnya Bab 5, Antibiotika.
* Kanamisin (Kanoxin) yaitu derivat (1958)
dengan khasiat dan sifat yang sama dengan
streptomisin. Obat ini jarang dipakai lagi
pada TB.
Dosis: i.m./i.v. 15 mg/kg dalam 2-3 kali
(garam sulfat) setiap hari atau 2-4 x seminggu,
maksimal 1 g sehari.
* Kapreomisin (Capastat) diperoleh dari
Streptomyces capreolus (1960). Bekerja sebagai
obat anti-TB second line bila terapi lain
tidak berhasil. Mekanisme kerja dan efek
sampingnya sama dengan aminoglikosida
lain.
Efek samping: gangguan terhadap saraf otak
ke-8 (hilangnya pendengaran, mungkin lebih
ringan daripada derivat lainnya), tinnitus,
juga toksik untuk ginjal dan hati, eosinofilia
dan lekopenia.
Dosis: injeksi 1 g sehari (tidak melebihi 20
mg/kg) selama minimal 6 bulan.
6. Obat-obat TB lainnya
Obat cadangan itu di bawah ini hanya
dipakai bila obat TB primer kurang efektif,
ada resistensi atau hipersensitasi.
a. PAS: para-aminosalicylic acid.
Senyawa ini merupakan obat pertama yang
efektif terhadap TB (Lehman, 1943). Berkhasiat
bakteriostatik sangat lemah terhadap
Mycobacteria, maka pemakaian nya sebagai
obat TB sudah terdesak oleh obat-obat
itu di atas yang jauh lebih kuat, kurang
toksik dan lebih baik penerimaannya oleh
pasien. Obat yang menggantikan PAS dalam
terapi TB yaitu terutama etambutol.
b. Etionamida: Trecator
Turunan dari tioisonikotinamida ini juga
menghambat biosintesis asam mikolik se-
hingga memperburuk sintesis dinding sel
bakteri.
Efek samping utamanya terdiri dari gang-
guan saluran cerna, mual, muntah dan gang-
guan neurologik. Terhadap gejala terakhir ini
dianjurkan pengobat an dikombinasi dengan
piridoksin.
Dosis: hanya dipakai peroral dengan
dosis awal 2 dd 250 mg dan dinaikkan dengan
125 mg per hari selama 5 hari sampai tercapai
dosis 15-20 mg/kg/hari; dosis maksimal 1
gram per hari. Diminum sesudah makan untuk
mengurangi rangsangan terhadap lambung.
c. Klofazimin: Lampren
Derivat fenazin ini (1967) berkhasiat bak-
terisid terhadap basil lepra dan TB/avium,
juga yang multiresisten. Obat ini terutama
dipakai pada infeksi de ngan M. leprae.
Lihat selanjutnya Bab 10, Obat-obat lepra.
Dosis: oral 2-3 dd 100 mg bersama dengan
dapson atau dengan 2-3 obat TB lainnya.
d. Sikloserin: Seromycin
Antibiotik berspektrum luas ini diper oleh
dari Streptomyes orchidaceous. Efektif terhadap
M.tuberculosis, MAC, E.coli, S.aureus dan
Chlamydia. Terutama dipakai bersama
obat TB lain, bila obat-obat primer kurang
berhasil. Mekanisme kerjanya menghambat
sintesis dinding bakteri melalui persaing an
inkorporasi d-alanin.
Efek samping terdiri dari gejala neurop-
sikiatrik, kejang-kejang (terutama bila meng-
gunakan minuman beralkohol), oleh sebab
itu sikloserin tidak boleh diberikan bagi pen-
derita epilepsi dan yang mengalami depresi.
Obat ini dapat berkumulasi sampai kadar
toksik pada penderita gangguan ginjal.
Dosis: peroral 2 dd 250-500 mg.
e. Moksifloksasin: Avelox, Megaxin.
Fluorkinolon berspektrum luas ini (2003)
pada awalnya dipakai terhadap infeksi
saluran pernapasan, kemudian juga terhadap
TB. Masih dalam taraf perkembangan yaitu
kombinasinya dengan rifampisin. Diperki-
rakan dapat mempersingkat terapi dengan
beberapa bulan dan mengatasi masalah re-
sistensi. Juga mengurangi efek samping dari
obat-obat TB terdahulu.
Efek samping : sering kali gangguan urat
(tendon, Achilles). Juga sendi beng kak dan
nyeri, terutama pada lansia di atas 60 tahun.
Dosis: 1 dd 400 mg tablet atau melalui infus.
f. Kapreomisin: Capastat
Merupakan antimikobakterial yang terdiri
dari 4 senyawa aktif dan bekerja sebagai obat
anti-tuberkulosa second line. Mekanisme
kerja dan efek sampingnya sama dengan zat-
zat aminoglikosida seperti kanamisin dan
neomisin.
Efek samping: gangguan terhadap saraf
otak ke VIII, seperti hilangnya pende ngaran,
tinnitus, juga eosinofilia dan lekopenia.
Dosis: 1 g sehari (tidak melebihi 20 mg/kg)
selama 60-120 hari, disusul de ngan 2-3 kali
seminggu 1 g.
LEPROSTATIKA
Lepra atau kusta (Sansekerta) yaitu suatu
penyakit infeksi kronis yang merusak ter-
utama jaringan saraf dan kulit. pemicu
lepra yaitu Mycobacterium leprae ditemukan
oleh seorang dokter Norwegia Hansen (lahir
1873, wafat 1912), maka lepra juga disebut
penyakit Hansen. Basil lepra memiliki sifat
mirip dengan basil TB, yakni sangat ulet
sebab men gandung banyak lilin (wax)
yang sukar ditembus obat, tahan-asam dan
pertum buhannya lambat sekali.
G. H. A. Hansen (29 July 1841 – 12
February 1912) Discoverer of M. leprae
Penularan biasanya terjadi dalam
bentuk lepra multibasiler (lihat di bawah)
pada usia anak-anak melalui percikan ludah
di saluran pernapasan (batuk, bersin, ingus)
dan terutama melalui kontak yang erat dan
lama. Penyakit ini lebih banyak timbul pada
pria dibandingkan dengan wanita. Juga di-
perkirakan bahwa faktor keturunan turut
berperan. Lepra khu susnya menyerang orang
yang sistem imunnya tidak aktif atau lemah
(im mu no defi cient). Penelitian baru menunjuk-
kan bahwa 5-10% dari semua penduduk di
suatu daerah kusta telah terinfeksi M. leprae.
Hal ini dapat mudah ditentu kan dengan
carik celup kapas yang dima sukkan ke dalam
liang hidung dan lalu diperiksa di laborato-
rium untuk mengetahui keberadaan basil
kusta. Berhu bung masa inkubasinya pan-
jang, rata-rata 2-5 tahun, bahkan adakalanya
sampai 10 tahun lebih, penyakit ini baru
diketa hui dengan pasti sesudah 5-6 tahun.Hal
ini berarti bahwa daya penularannya sangat
besar, meskipun pada dasarnya kusta yaitu
penyakit yang memiliki derajat penulara n
rendah.
ada NYA
Sejak 1985 jumlah kasus baru kusta setiap
tahun di dunia menurun secara spektakuler
(kira-kira 90%). Penurunan telah dimulai pada
tahun 1980-an saat WHO menyelenggarakan
terapi kombinasi (Multidrug Therapy, MDT)
yang dalam 2 tahun dapat menyembuhkan
kusta secara tuntas. Multidrug therapy ini ter-
diri dari tiga obat yakni rifampisin, dapson
dan klofazimin yang sejak1995 diberikan oleh
WHO secara gratis kepada penderita di selu-
ruh dunia dan merupakan suatu terapi yang
sederhana namun sangat efektif untuk semua
bentuk lepra.
WHO pada tahun 1991 telah menerbitkan
resolusi untuk menghapus lepra dari dunia
pada tahun 2000. Eliminasi didefinisikan se-
bagai ada kurang dari satu pasien dalam
10.000 penduduk di suatu kawasan. Masalah
yang memprihatinkan yaitu walaupun pre-
valensi (jumlah pasien yang sedang diobati)
menurun drastis, namun insidensinya tidak
menurun melainkan terlihat meningkat. Ma-
ka target WHO itu di atas oleh banyak
ahli dianggap terlalu optimistis dan ambi-
sius.
Prevalensi. Menurut laporan resmi dari
WHO pada akhir kwartal pertama tahun
2013 dari 115 negara tercatat 189,018 ka-
sus sedang kasus baru pada tahun 2012
ada sejumlah 232.857 dibandingkan dengan
226.626 kasus di tahun 2011. Jumlah pende-
rita lepra di negara kita masih tinggi dan
menduduki peringkat ketiga di dunia sesudah
India dan Brazil. Dewasa ini tercatat 33.700
penderita dengan setiap tahun tercatat 17
ribu hingga 20 ribu kasus baru. Insidensi yang
tinggi ada di Jawa Timur, Papua, Sula-
wesi Selatan dan Maluku (Yogyakarta, Indo-
nesia-Dutch Tropical Dermatology Meeting
2011). Penderita diobati di sejumlah rumah
sakit (leproseri) yang diawasi oleh Lembaga
Kusta DepKes. Begitu pula di perkampungan
kusta tersendi ri, seperti Sumberglagah di
Jawa Timur, yang letaknya dekat gunung
Bromo.
Negara-negara lain dengan jumlah pende-
rita lepra yang cukup tinggi yaitu Myan mar
(50.8 00), Nigeria dan Zaire (masing-masing
30.000), Sudan (25.0 00), Nepal (24.500) dan
Filipina (20.000).
Di negara Barat lepra praktis sudah di-
berantas sama sekali, mung kin sebab keta-
hanan penduduknya terhadap basil lepra
lebih kuat, berkat gizi dan keadaan hidup
yang lebih baik. namun bahkan di AS masih
ada pasien kusta, yakni 500 pasien di
suatu klinik Los Angeles dengan 30 pasien
baru setiap tahunnya.
bENTUK-bENTUK LEPRA
Lazimnya kusta dibagi dalam 3 bentuk klinis
dengan sifat-sifat khusus, yaitu:
a. lepra paucibacillair (LP), juga disebut
lepra tuberkuloid, yaitu bentuk terlokali-
sasi dengan 1-5 luka (laesio). Bentuk ini
paling sering terjadi, ± 75% dari semua
penderita, tidak bersifat menular dan agak
mudah disem buhkan. Pasien LP ternyata
masih memili ki daya tahan imuno logi
yang agak baik.
Gejala utama berupa noda-noda pucat di
kulit yang hilang-rasa dan penebalan saraf-
saraf yang nyeri di berbagai tempat di
tubuh, biasa nya sangat nyata di cuping
telinga, muka dan kaki-tangan. Bila tidak
diobati saraf-saraf itu akan dirusak,
menjadi hilang rasa dan mudah terluka.
sebab luka-luka ini tidak dirasakan
oleh penderita, biasanya luka menjadi
borok serius dengan merusak jarin gan.
Akibatnya yaitu cacat hebat sekun der,
terutama di telapak kaki dan jeriji tangan
yang akhirnya menjadi buntung. Basil
lepra hanya dapat dideteksi dalam jumlah
kecil (Lat. pauci- = sedikit, pelafalan
pauki) pada luka-luka LP.
b. lepra multibacillair (LM), juga disebut
lepra lepromateus (Levis and Ernst,
2005), yaitu bentuk tersebar (generalized)
yang bersi fat sangat menular, lebih sukar
dan lebih lama disembuhkan. Bentuk ini
bercirikan benjol kemerah-merahan kecil
(noduli) yang penuh dengan basil (Lat.
multi- banyak), dengan hampir semua
saraf perifer terkena infeksi. Lebih sering
timbul gejala seperti demam, anemia
dan turunnya berat badan. Lagi pula
dapat timbul deformasi akibat infil trat di
muka, kelumpuhan urat saraf muka (pa-
resis facialis) dan mutilasi hidung sebab
keruntuhan tulang rawan, yang menye-
babkan pasien “berparas-singa”. Kelum-
puhan dan kebutaan sering kali terjadi
pada kasus ini. Kerusakan saraf timbul
lebih lambat dibandingkan dengan LP.
Bila tidak diobati, selain saraf juga organ
dalam akan diru sak.
c. lepra borderline (LB) yaitu kombinasi
dari LP dan LM, yang dapat dibagi lagi
dalam 3 bentuk peralihan. Tergantung dari
cirinya lepra dibagi atas L. paucibacillair
borderline (LPB), L. multibacillair borderline
(LMB) dan lepra tak tertentu.
DIAGNOSIS
Perkiraan terjangkitnya penyakit lepra harus
diwaspadai bila:
* timbul bercak-bercak pada kulit yang
hilang warna pigmennya dan hilang rasa
terhadap tekanan dan suhu;
* penebalan atau pekanya urat saraf;
* ada nya basil tahan asam dari apus
kulit atau dari selaput lendir hidung yang
tidak dapat dibiakkan secara biasa.
Diagnosis definitif dicapai dengan hasil
positif melalui pembiakan basil ini pada
telapak kaki tikus. Pada semua bentuk lepra,
DNA kuman dapat dideteksi melalui reaksi
polimerase berantai untuk menentukan efekti-
vitas pengobatan.
Reaksi-reaksi lepra
Kusta yaitu suatu penyakit kronis yang
ditandai dengan periode berku rangnya ge-
jala (remisi), yang diselingi rentang waktu
pada mana penyakit menjadi aktif lagi.
Reaksi lepra yaitu reaksi imunologi serius
terhadap Mycobac terium leprae yang terjadi
selama pengobatan, jadi bukan disebabkan
oleh obat lepra.
Ada dua tipe reaksi lepra, yaitu:
a. tipe I (reaksi kebalikan = “reversal”)
memicu eksaserbasi mendadak dari
luka-luka kulit dan saraf yang meradang
serta membeng kak, terutama terjadi pada
bentuk borderline dari LP dan LM. Penye-
babnya yaitu suatu reaksi imun seluler
(oleh limfosit T) terhadap antigen basil
lepra (lihat Bab 49. Imunosupressiva).
b. tipe II (erythema nodosum leprosum, ENL)
terjadi hanya pada LM sebagai reaksi
imun humoral (dari antibodi) terhadap
antigen basil lepra. Kompleks imun yang
diendapkan pada endotel pembuluh dan
saraf kulit, memicu meningkatnya
permeabi litas dinding pembuluh dan ber-
kurangnya oksigen di jaringan. Geja lanya
berupa demam tinggi, noduli dengan ru-
am merah dan radang saraf.
Bila terjadi reaksi lepra itu , terapi ti-
dak boleh dihenti kan. Keluhan ringan (tipe
I) dapat diatasi dengan analgetika dan obat
anti radang, yang lebih serius (tipe II) dengan
imunosu presiva seperti prednisolon dan ta-
lidomida.
Talidomida bekerja antara lain sebagai
sedatif, anti radang dan imunosu presif (anti-
TNF) dengan mencegah produksi berlebihan
dari sitokin TNF-alfa (Tumor Necrosis Factor)
yang meme gang peranan pada reaksi lepra,
selan jutnya lihat monografi talidomida di
Bab 49, Dasar-dasar imunolo gi. Talidomida
yang sesudah tragedi Softenon di tahun 1960-
an dilarang peredarannya di seluruh dunia,
sejak akhir 1997 diperbolehkan lagi penjual-
annya oleh FDA (USA) untuk indikasi ENL
ini. namun pemakaian nya yang kurang
rasional di Amerika Selatan memicu
terlahirnya kembali bayi-bayi dengan kaki
dan tangan cacat.
PENCEGAHAN
Tes lepromin dipakai untuk menilai apa-
kah seseorang memiliki daya tahan yang
cukup terhadap bentuk LM. Tes diberikan
sebagai suatu injeksi intrakutan dari basil
lepra mati.
Hasil negatif berarti orang itu memi-
liki sistem imun lemah dan sangat peka ter-
infeksi basil lepra. Dengan vaksinasi BCG
ybs dapat dijadikan lepromin-positif (basil dari
Calmette – Guérin, lihat Bab 9, Obat-obat TB).
Pasien LM selalu memberi kan hasil negatif,
sedang pasien LP dengan respons imun
agak normal memberikan hasil positif.
Vaksinasi BCG memberikan perlindungan
yang cukup baik terhadap infeksi bentuk LM.
Dibuktikan pada penelitian besar-besaran di
Malawi pada tahun 1996. Banyak vaksin baru
terhadap lepra sedang diteliti.
PENGObATAN
Sejak dulu obat satu-satunya terhadap kusta
yaitu minyak kaulmogra, yang sering
kali efektif untuk meredakan gejala tanpa
menyembuhkan penyakit. Penelitian akan
obat-obat yang lebih baik dan bekerja kausal
menemui banyak kesulitan, sebab basil
lepra tidak dapat dikembangbiakkan in vitro
(obligat intraseluler). Baru pada tahun 1962
seorang peneliti berhasil membiakkan basil
lepra pada binatang percobaan (telapak
kaki tikus), kemudian pada binatang arma-
dillo (1971). Di tahun 1975 ditemukan bahwa
Mycobacterium leprae dapat dibiakkan bila
pada biakan diberikan hyaluronic acid.
Dapson, suatu zat bakteriostatik, diper-
kenalkan pada tahun 1948. Penemuan ini
memicu revolusi pada terapi lepra,
sebab obat ini mampu menghentikan per-
tumbuhan basil lepra, yang kemudian, wa-
laupun lama (tahunan sampai seumur hi-
dup), dapat memusnahkannya melalui sis-
tem imun tubuh pasien sendiri. Pasien dapat
diobati secara rawat jalan —artinya tidak
usah dirawat di rumah sakit— secara murah
dan efektif di rumahnya sendiri, tentu saja
tindakan untuk mencegah penularan pada
keluarganya harus tetap ditaati.
Pada tahun 1960-an M. leprae mulai mem-
perlihatkan resistensi terhadap dapson, ke-
tika itu obat satu-satunya terhadap lepra.
Kemudian ditemukan obat-obat lepra lain
dengan kerja bakterisid antara lain rifampi-
sin (1965) dan klofazimin(1967). Meskipun
harga obat ini jauh lebih mahal daripada
dapson, namun penyembuhan berlangsung
lebih cepat dan efektif. namun dapson dan
rifampisin dapat cepat menim bulkan resis-
tensi. Untuk mengurangi risiko resistensi
obat-obat itu dan mempersingkat jangka
waktu pengobatan, kini tidak dipergunakan
lagi sebagai monoterapi, namun dalam bentuk
kombinasi 3 obat (multidrug therapy).
Multidrug therapy (MDT) yang dianjurkan
WHO sebagai terapi pilihan pertama pada
bentuk-bentuk lepra, yaitu :
* lepra paucibacillair: dapson 100 mg 1x
sehari dan rifampin 600 mg 1x sebulan
selama 6 bulan;
* lepra multibacillair: dapson 100 mg 1x
sehari, rifampisin 600 mg 1x sebulan dan
klofazimin 50 mg 1x sehari + 300 mg
1x sebulan selama minimal 2 tahun (dan
maksimal 3 tahun).
Sampai sekarang belum ada resistensi
terhadap MDT.
Lama pengobatan. MDT menyembuhkan
gejala kulit dan luka dalam beberapa bulan,
namun kuman masih tetap berada dalam
selaput lendir, kulit dan saraf. Oleh sebab itu
terapi harus dilanjutkan lama sekali sampai
kuman lenyap seluruhnya dari jarin gan, yaitu
6 bulan untuk LP dan 2-3 tahun untuk LM.
WHO menganggap penderita yang telah
menyelesaikan kur dan tidak usah minum
obat lagi sebagai «sembuh». Akan namun pa-
sien demikian perlu dipantau selama 8-10
tahun untuk mewaspadai timbulnya residif.
Wanita hamil dan laktasi. Keamanan peng-
gunaan dapson dan klofazimin pada wanita
hamil belum diketahui dengan jelas sebab
belum ada cukup data mengenai ke-
amanannya bagi janin. Berhubung risiko
akan eksaserbasi selama hamil, maka WHO
menganjurkan agar jangan menghentikan
pengobatan, juga selama hamil. Obat-obat
ini dikeluarkan melalui air susu ibu, maka
selama terapi tidak dianjurkan menyusui
bayi. Rifampisin dapat menim bulkan perda-
rahan pada ibu dan anak bila dipakai
selama minggu terakhir kehamilan. Untuk
meng hindarinya diberikan vitamin K pada
keduanya. pemakaian rifampisin selama
laktasi diperbolehkan, walaupun masuk da-
lam air susu ibu.
REHAbILITASI SOSIAL
Banyak pasien kusta menderita cacat di
muka atau mutilasi pada anggota tubuhnya.
Hal ini membawa stigma bagi dirinya dan
seumur hidup akan dianggap sebagai pasien
lepra. Mereka dikucilkan dari masyarakat,
dijauhi dari pergaulan sehari-hari dan ter-
paksa menjalani kehidupan terisol asi. Oleh
sebab itu sesudah penyembuhan penting
sekali pasien menjalani psikoterapi untuk
merehabilitasi kehidupan sosialnya.
MONOGRAFI
1. Minyak kaulmogra: Oleum hydnocarpi.
Minyak nabati ini sudah dianggap kuno
dan tidak akan dibicarakan lagi di sini. Untuk
yang ber kepentingan lihat Edisi IV, hal. 134.
2. Dapson: diaminodifenilsulfon, DDS
Dapson (1943) termasuk kelompok sulfon de-
ngan rumus bangun, aktivitas antimikroba
dan mekanisme kerja yang kurang lebih
sama de ngan sulfona mida. Khasiatnya ku-
rang le bih 10x lebih kuat dan juga lebih
toksik. Bekerja bakteriostatik kuat terhadap
basil lepra berdasar persaingan substrat
dengan PABA serta inhibisi enzim folat
sintetase kuman, hingga pembentukan folat
dan DNA dicegah (antagonis folat). Akti-
vitasnya ditiadak an oleh turunan PABA.
Diguna kan terutama pada lepra dan juga
pada TB, dermatitis herpetiformis dan sebagai
profi laksis terhadap malaria (bersama pirime-
tamin = Maloprim). Penggun aannya selalu
dalam kombi nasi de ngan obat-obat lain,
sebab monoterapi dengan cepat menim-
bulkan resistensi.
Resorpsi dari usus hampir lengkap dengan
kadar darah puncak terjadi dalam 1-3 jam.
PP-nya 70%, plasma-t½-nya rata-rata 28 jam
(10 - 50 jam). Di dalam hati zat ini mengalami
siklus enterohepatik dan terjadi asetilasi menjadi
metabolit inaktif. Ekskresinya berlangsung
20% melalui urin dan sebagian kecil lewat
feses.
Efek samping yang jarang terjadi pada dosis
biasa, antara lain sakit kepala, mual, muntah,
sukar tidur dan takikardia. Pada dosis tinggi
dapat terjadi kelainan darah, (a.l. hemolisis,
methemoglobinemia) dan risiko meningkat
oleh antagonis folat seperti pirimetamin dan
sulfonamida. Sulfonamida memicu re-
sistensi silang.
Dosis: bersama obat-obat lain permulaan 1
x sehari 50 mg, kemudian 1 x sehari 100 mg,
maks. 200 mg, anak-anak 1x sehari 1-1,5 mg
/kg. Pada dermatitis herp. 3-4 x sehari 50 mg,
maks.300 mg/hari.
3. Klofazimin: Lampren
Derivat fenazin ini (1967) memiliki efek
bakterisid terhadap M. leprae berdasar kan
pengikatan pada DNA sehingga fung sinya
diblokir. Kerjanya lambat sekali dan efeknya
baru tampak sesudah ± 50 hari. Basil-basil
di dalam mukosa dan kulit mati, kecuali
di tempat yang sulit dicapai, seperti dalam
saraf dan otot memerlukan waktu lebih lama.
Begitu pula untuk mengeluarkan seluruh
basil dari jaringan. Di samping itu klofazimin
juga ber khasiat anti radang dan khusus di-
gunakan pada bentuk LL dan terhadap
benjolan (ENL). Zat ini juga diguna kan pada
tuberkulosis multiresis ten dan terhadap
infeksi dengan Mycobacterium avium (MAI)
pada pasien AIDS.
Resorpsi dari usus lambat dan kurang
baik (50%). Kadar puncak darah baru dica-
pai sesudah 8-12 jam. Bersifat lipofil kuat,
ditimbun dalam jaringan lemak dan makrofag
dari sistem imun untuk kemudian dilepas kan
lagi secara berangsur-angsur. Plasma-t½-nya
lama sekali, ± 70 hari, maka dapat ditakarkan
secara intermiten. Ekskresi berlangsung ter-
utama lewat feses.
Efek samping terpenting yaitu pewarnaan
merah yang reversibel dari air kencing, ke-
ringat, air mata dan selaput mata, ludah
dan tinja. Gang guan lambung usus biasanya
baru terjadi sesudah 6 bulan. Efek samping
yang lebih serius yaitu pe ngendapan
kristal klofazimin pada dinding usus dan
cairan mata pada dosis tinggi untuk ENL,
sehingga pemakaian lebih dari 3 bulan tidak
dianjurkan.
Dosis: lepra multibasiler bersama dapson
dan rifampin: 3x seminggu 100 mg + 1x
sebulan 300 mg pada waktu makan selama
minimal 2 tahun atau sampai pembiakan
apus kulit menjadi negatif. Pada ENL: 2-3 x
sehari 100 mg selama maks. 3 bulan. Infeksi
basil TB multiresis ten atau M. avium: 2-3 x
sehari 100 mg bersama 2-3 obat TB lain.
4. Rifampisin: rifampin, Rifadin, Rimactane
Antibiotik dari kelompok rifampisin ini
(1965) berkhasiat leprosid berda sarkan peng-
hambatan enzim kuman polimerase RNA.
Kerjanya le bih cepat dan efektif daripada
dapson. Dalam waktu 3-4 minggu, bentuk
LM yang ganas sudah bersifat tidak menular
lagi. Resisten si dapat timbul dalam waktu
singkat, sehingga selalu dipakai bersama
obat lain, terutama pada lepra dan TB. Air
kencing berwarna merah muda.
Interaksi. Akibat induksi enzim, rifampisin
dapat mengurangi efek estrogen (pil anti-
hamil!), fenitoin, siklosporin dan turuna n
kumarin, mungkin juga kortikosteroid, kini-
din dan metadon. INH dan halotan mening-
katkan risikonya akan toksisi tas hati.
Dosis: umumnya 1 x sehari 600 mg a.c.,
atau menurut WHO 1 kali sebulan. Lihat se-
lanjutnya Bab 9, Obat-obat tuberkulosa.
5. Talidomid: Softenon, Synovir
Senyawa ftalat ini (1957) dipasarka n se-
bagai obat tidur dan dilarang per edar an-
nya pada permulaan tahun 60an, sebab
memicu cacat pada bayi (fokomelia).
Duapuluh lima tahun kemudian ditemukan
khasiat anti radang dan imunosupresifnya.
Selain itu juga berkhasiat anti angiogenesis
kuat. Sejak 1997 secara resmi mulai digu-
naka n lagi untuk meredakan reaksi lepra ENL,
pada multiple myeloma serta lupus eritematosu s.
Efek sampingnya berupa sedasi dan rasa
kantuk, pusing, eksantema, gangguan peng-
lihatan dan rasa lelah.
Dosis: ENL berat 50 – 400 mg sehari selama
3-24 bulan.
OBAT-OBAT MALARIA
PROTOZOA
Protozoa (tunggal: protozoon) yaitu mikro
organisme bersel tunggal yang merupaka n
organisme hidup terendah dalam dunia
hewan. Organisme ini hidup sebagai parasit
pada hewan/serangga sebagai tuan rumah
dan dapat memicu infeksi pada
manusia. Protozoa yang sering kali menye
babkan infeksi yaitu :
Plasmodium: malaria (tuan rumah: nya
muk)
Entamoeba histolytica: amubiasis (disentri)
Trichomonas vaginalis: trikomoniasis (vag
initis, keputihan)
Giardia lamblia: giardiasis/lambliasis (di
are kronis)
Toxoplasma gondii: toksoplasmosis (tuan
ru mah: antara lain kucing, babi dan
domba)
Pneumocystis carinii: pneumokistosis (ra
dang paru)
Trypanosoma gambiense: tripanosomiasis
(pe nyaki t tidur; tuan rumah: lalat tsetse)
Penyakit yang paling sering timbul ada
lah malaria, namun juga amubiasis, trikomo-
niasis dan giardiasis yang tersebar di selu
ruh dunia. Sejumlah infeksi meluas insiden
sinya pada pasien AIDS, misalnya tokso-
plasmosis dan pneumokistosis. Yang akan
dibahas yaitu hanya obatobat anti proto
zoa terhadap penyakit infeksi yang banyak
ada di negara kita , yakni dalam Bab 11,
Obat malaria dan di Bab 12, Obat amubiasis
dan trikomoniasis.
Sejarah malaria
Istilah malaria (berasal dari bahasa Italia:
mala = buruk, aria = udara) dahulu (1846)
dipakai untuk setiap bentuk gangguan
kesehatan yang pemicu nya diperkirakan
sebab uap beracun yang datang dari rawa
rawa (lihat citation di atas). Charles Laveran,
seorang dokter Prancis (18451922) pertama
kali menemukan parasit plasmodium dalam
darah seorang pasien malaria (1880) dan
mengemukakan hipotesis bahwa malaria
diakibatkan oleh parasit ini, namun tidak dapat
menerangkan mekanisme infeksinya. Baru di
tahun 1898 siklus hidup dari plasmodium
dalam nyamuk diuraikan dengan lengkap
oleh seorang zoolog Italia G. Battista Grassi
(18541925), yang juga membuktikan bahwa
hanya nyamuk sejenis Anopheles yang da
pat mengalihkan parasit malaria kepada ma
nusia. Seorang ahli bedah tentara Inggris
Ronald Ross (18571932) yaitu orang yang
melakukan eksperimen dasar pertama untuk
mengindentifikasi parasit malaria pada nya
muk.
Baru menjelang akhir abad ke19 di ketahui
bahwa penyakit ini disebabkan oleh gigitan
nyamuk Anopheles betina.
Malaria yaitu penyakit infeksi dengan
demam berkala yang disebabkan oleh parasit
Plasmodium dan ditularkan oleh sejenis nya
muk tertentu (Anopheles). Berbeda dengan
nyamuk biasa (Culex), nyamuk Anopheles
khususnya menggigit pada malam hari
dengan posisi yang khas, yakni bagian
belakangnya mengarah ke atas de ngan sudut
48°, lihat gambar.
Menurut catatan WHO (2010) sekitar 200
juta orang menderita malaria dengan ham
pir 660.000 kematian dan 86% yaitu balita.
Penyakit ini terutama ada di negara
negara beriklim panas dan lembap yang
letaknya lebih rendah dari 2.200 m di atas
permukaan laut; tempat ini merupakan tem
pat ideal untuk berkembangbiaknya nyamuk
Anopheles. Menurut laporan tahun 2006,
sekitar 2 juta anakanak di Afrika meninggal
Gambar 11-1: Nyamuk Anopheles, Aedes dan Culex
dalam satu tahun akibat terserang malaria.
Namun Amerika, Australia dan kebanyakan
negaranegara di sekitar Laut Tengah (Medi
terrania) dapat dikatakan telah bebas malaria.
Di negara kita (terutama Irian Jaya, Timor
dan Flores), malaria merupakan salah satu
penyakit endemis penting. Di tahun 2004,
wabah malaria memicu ± 2000 kasus
dan ± 33 kematian, terutama di propinsi Jawa
Barat, KalSel dan Aceh Barat. Kemudian di
tahun 2005, wabah ini menyerang Kalimantan
Barat dan Maluku dengan memicu ±
1100 kasus dan hampir 50 kematian (data
DepKes. R.I.).
Pemerintah berusaha menurunkan insiden
si penyakit ini dengan mengendalikan faktor
faktor risiko infeksi malaria antara lain pem
berantasan terusmenerus terhadap nyamuk
dan tempat pembenihannya (vector control),
penyuluhan, deteksi dini dan peng obatan.
Dengan meningkatnya hubungan trans
portasi melalui udara, benih penyakit malaria
juga dapat diimpor melalui nyamuk yang
terinfeksi, sehingga disebut “malaria bandar
udara” (airport malaria). Nyamuk “lokal” juga
dapat ditulari oleh “pendatang“ dari luar
negeri.
Jenis Malaria dan Gejalanya
Bagi manusia, malaria disebabkan oleh lima
spesies Plasmodium yaitu P. falciparum, P.
vivax, P. ovale, P. malariae dan P. knowlesi yang
memicu tiga jenis penyakit malaria, ya
itu malaria tropikana, tersiana dan kwartana.
P.knowlesi yang semula dikira hanya mengin
feksi sukusuku monyet (macaca), sekarang
ini merupakan pemicu malaria yang
kadangkadang mematikan di wilayah Asia
Tenggara, termasuk Malaysia, negara kita ,
Thailand dan Singapura (CoxSingh et al.,
2008)23.
P. knowlesi sering kali dikelirukan dengan P.
malariae dengan perbedaan siklus eritrosit
yang lebih singkat (24 jam) dibanding de
ngan 72 jam pada P. malariae. Kedua jenis ini
peka terhadap klorokuin, walaupun tetap
fatal pada penderita malaria jenis P. knowlesi
yang sudah parah.
Sama seperti asal mula penyakit Sindro
ma Cacat Kekebalan (AIDS), malaria diper
kirakan berasal dari penyakit malaria hewan
di Afrika Tengah yang kemudian tersebar
ke seluruh dunia oleh a.l. migrasi pendu
duk dan nyamuk yang terinfeksi (lihat di
atas), transfusi darah yang tercemar, kadang
kadang oleh alat suntik (pengguna narkoba)
dan peralatan rumah sakit yang tercemar.
Walaupun telah diusahakan berbagai cara
untuk memberantas penyakit ini mis. de
ngan vaksin anti malaria yang sampai kini
belum berhasil, setiap tahun ± 300 juta orang
terinfeksi dan 13 juta orang meninggal.
Kurang lebih 40% umat manusia meng
hadapi risiko terinfeksi. Derajat mortalitas
nya tinggi terutama pada bayi dan anakanak.
Suatu berita menarik telah disiarka n dalam
majalah kedokteran The New England journal
of Medecin dalam tahun 2011 mengenai hasil
pendahuluan Phase III clinical trial dari suatu
vaksin malaria baru, RTS, S (Mosquirix) bagi
anakanak di Afrika.
a. Malaria tropika. Plasmodium falciparum
yaitu pemicu jenis malaria yang
paling ganas dan berbahaya dengan
mortalitas terbesar. Bila tidak diobati,
penyakit ini dapat memicu kema
tian hanya dalam beberapa hari akibat
adanya relatif banyak eritrosit yang
rusak (sampai 50%!) menyumbat kapile r
otak. Terutama pada anakanak timbul
koma dan kematian hanya dalam wak
tu beberapa jam. Gejalanya yaitu ber
kurangnya kesadaran dan serangan de
mam yang tidak menentu, adakalanya
terusmenerus (suhu rektal di atas 48°C),
dapat pula berkala tiga hari sekali. Tidak
memicu residif (kambuh) seperti
jenis malaria lainnya.
Sering kali ditandai dengan pembesaran
hati dan ada nya penyakit kuning
(icterus) dan urin yang berwarna cokelat
tua/hitam akibat hemolisis (‘black-water
fever’). Gejala lainnya yaitu demam
tinggi yang timbul mendadak, hemoglo
binuria, hiperbilirubinemia, muntah dan
gagal ginjal akut.
Malaria otak merupakan komplikasi
malaria tropikana yang gawat sekali de
ngan ciri cepat hilang kesadaran, timbul
kejangkejang, koma dan kematian. Se
bagian orang memiliki kecenderungan
genetik mendapat malaria otak sesudah
terinfeksi oleh P. falciparum.
b. Malaria tersiana disebabkan oleh Plas-
modium vivax atau P. ovale. Ciricirinya
demam berkala tiga hari sekali dengan
puncak sesudah setiap 48 jam. Gejala lain
nya berupa nyeri kepala dan punggung,
mual, pembesaran limpa dan malaise
umum. Tidak bersifat mematikan, meski
pun tidak diobati. Sering kali kambuh
kembali berhubung adanya bentuk-EE
sekunder.
c. Malaria kwartana. Pada penyakit ini
Plasmodium malariae memicu de
mam berkala empat hari sekali, dengan
puncak demam setiap 72 jam. Gejalanya
sama dengan tertiana. Residif juga sering
terjadi sebab bentuk-eksoeritrositer (EE)
sekunder.
Masa Inkubasi dan gejalanya.
Masa inkubasi P. falciparum yaitu 712 hari,
P. ovale/vivax 1014 hari dan P. malariae 46
minggu. Periode prodromal 35 hari dengan
tandatanda penyakit tidak khas, seperti
nyeri kepala dan otot, mual, anoreksia, rasa
letih dan nyeri. Kemudian timbul serangan
demam yang khas, seperti menggigil dan
merasa sangat dingin, disusul oleh perasaan
panas dengan demam tinggi, yang disertai
banyak keringat. Gejala pen ting lainnya
yaitu membesarnya limpa dan anemia yang
diakibatkan oleh: hemolisis semua sel (sel
sehat dan terinfeksi) yang memicu
urin berwarna hitam (blackwater fever). Juga
ada defisiensi asam folat dan gangguan
pembentukan sel darah merah.
Serangan panas dingin terdiri atas tiga tahap :
1. tahap dingin berlangsung dari 30 menit
sampai 1 jam sebab timbulnya penyem
pitan pembuluh darah (vasokontriksi).
Penderita menggigil sebab merasa kedi
nginan dan suhu badan meningkat de
ngan cepat sampai 41° C.
2. tahap panas segera menyusul tahap dingin
pada saat tubuh terasa sangat panas se
lama kirakira 2 6 jam. Pada tahap ini
penderita kadangkadang mengigau (de-
lirium). Kemudian tahap ini disusul oleh
tahap berkeringat.
3. tahap berkeringat: penderita merasa sangat
letih dan mengantuk.
Siklus Hidup Parasit
Pada garis besar semua jenis Plasmodium me
miliki siklus hidup rumit yang sama, yaitu
sebagian di dalam tubuh manusia (siklus
aseksual) dan sebagian di tubuh Anopheles
(siklus seksual).
Di dalam tubuh manusia Plasmodium
pertamatama berkembang di dalam selsel
hati (hepatosit), kemudian di selsel darah
merah (eritrosit). Di samping itu Plasmodium
vivax dan Plasmodium ovale juga berkembang
menjadi hipnozoit di dalam sel hati, yaitu tahap
tidur dari sporozoit
1. Siklus aseksual dapat dipecah dalam dua
bagian, yaitu:
a. Siklus hati. Penularan terjadi bila nya
muk betina yang terinfeksi parasit, meng
gigit manusia dan dengan ludahnya
“menyuntikkan” sporozoit ke dalam per
edaran darah yang untuk selanjutnya
tinggal di sel parenkim hati (bentuk pree-
ritrositer).
Nyamuk jantan tidak menye ngat ka
rena hanya hidup dari tumbuhtumbuh
an. Parasit tumbuh dan aktif membelah
(proses schizogoni, dengan menghasil
kan schizont). 69 hari kemudian, schi
zont menjadi masak dan melepaskan
diri berupa beriburibu merozoit. tahap
pertama ini (di dalam hati) disebut ben-
tuk-EE primer (ekso-eritrositer = di luar
eritrosit).
b. Siklus darah (siklus eritrosit). Dari hati
sebagian merozoit memasuki sel darah
merah dan berkembang di sini menjadi
trofozoit. Sebagian lainnya memasuki
jaringan lain, antara lain limpa atau
berdiam di hati dan disebu t bentuk-
EE sekunder. Di dalam eritrosi t terjadi
pembelahan aseksual pula (schizogoni).
Dalam waktu 48 72 jam selsel darah
merah pecah dan ribuan merozoit yang
dilepaskan dapat memasuki eritrosit lain
dan kemudian siklus dimulai kembali.
Setiap saat sel darah merah pecah, pen
derita merasa kedinginan dan demam;
hal ini disebabkan oleh merozoit dan
protein asing yang dilepaskan. Kejadian
ini terjadi setiap 48 jam pada infeksi oleh
P. falciparum, 4872 jam pada infeksi P.
vivax/ovale dan kirakira 72 jam pada P.
malariae. Kemampuan P. falciparum un
tuk menembus semua eritrosit sekaligus
membuatnya begitu “ganas“ dan berba
haya.
2. Siklus seksual. sesudah beberapa siklus,
sebagian merozoit di dalam eritrosit dapat
berubah menjadi bentuk seksual betina dan
jantan. Gametosit ini tidak berkembang
lagi dan akan mati bila tidak “diisap” oleh
Anopheles betina. Di dalam lambung nyamuk
terjadi penggabungan (pembuahan) dari ga
metosit jantan dan betina menjadi zygote,
Gambar 11-2: Kurva-kurva suhu malaria:hubungan antara perkembangan dan schizogoni.
yang kemudian memenetrasi dinding lam
bung dan berkembang menjadi ookista.
Dalam waktu tiga minggu, lahirlah ba nyak
sporozoit kecil yang memasuki kelenjar lu
dah nyamuk. Akhirnya, bila nyamuk (beti
na) ini menyengat manusia, lengkaplah si
klushidup parasit. Dengan ini jelaslah bahwa
gametosit merupakan sumber penularan baru!
Diagnosis
Plasmodium dapat dideteksi dan diidenti
fikasi secara mikroskopis dalam preparat
darah tebal yang diwarnai menurut Giem-
sa atau Wright. Ciri lainnya yaitu adanya
monosit yang berisi pigmen. Petunjuk pen
ting, terutama untuk malaria kronis, berupa
munculnya antibodi spesifik. Kini sedang
dikembangkan tes ELISA untuk mendeteksi
antigen dan metode untuk menemukan DNA
parasit.
Pasien baru dapat dinyatakan bebas ma
laria bila 2 3 preparat darah yang diambil
tiap hari selama 3 4 hari memberikan hasil
negatif pada tes pewarnaan.
Residivitas
Seorang penderita yang telah diobati dan
tampaknya sembuh total bisa kambuh kem
bali penyakitnya beberapa bulan sampai
beberapa tahun kemudian. pemicu nya ia
lah bentuk-EE sekunder dari P. vivax dan P.
ovale yang masih berada di dalam hati, limpa
atau organ lain tanpa memicu gejala
nyata, juga bila semua bentuk EE sudah di
musnahkan.
Hipnozoit P. vivax dan P. ovale yang “ti
dur” bisa aktif kembali bila daya tahan tubuh
menurun atau bila pasien mengalami kele
tihan fisik sesudah beberapa bulan bahkan
beberapa tahun sesudah tampaknya sem
buh total. Mereka memperbanyak diri, mem
belah, kemudian memasuki eritrosit dan me
nimbulkan kambuhnya penyakit.
Bentuk-EE sekunder hanya ada pada
malaria tertiana dan kwartana, tidak pada
malaria tropika, sehingga pembasmian bentuk
EEnya berarti penyembuhan tuntas. Sebalik
nya, semua sporozoit P. falciparum dalam sel
hati berkembang sekaligus menjadi merozoit,
sedang pada Plasmodia lainnya sebagian
dari sporozoit tertinggal dalam sel parenkim
hati. Kebanyakan obat malaria tidak dapat
mencapai sporozoit dan menjadi pemicu
timbulnya residif.
Imunitas
Di negaranegara tropik, di mana malaria
endemik seperti di negara kita , rakyat semen
jak lahir sudah mengalami infeksi dengan
parasit malaria dan sebab itu orang Indo
nesia memiliki derajat imunitas yang agak
tinggi. sesudah terjadi infeksi berulang, an
tara tubuh dan parasit terjadilah suatu kese
imbangan, sehingga serangan demam men
jadi lebih ringan dan kurang nyata. Imunitas
ini akan pudar sesudah beberapa tahun bila
tidak terjadi infeksi ulang.
Secara skematis siklus hidup Plasmodium
dapat digambarkan sebagai berikut, lihat
Gambar 113.
Tindakan Pencegahan Umum
Tindakan pencegahan umum perlu diusa
hakan untuk menghindari kontak antara
manusia dan vektor (nyamuk Anopheles)
dengan cara membasmi nyamuk dan larva
larvanya. Begitu pula menghilangkan penye
baran infeksi oleh manusia dengan pengo
batan semua jenis demam di daerah malaria
dengan obat anti malaria.
Janganlah mengabaikan caracara seder
hana dan murah untuk menghindari penyakit
ini, a.l. menghindari gigitan nyamuk pada
waktu pagi dan magrib, terutama di daerah
yang endemik. Juga sangat efektif yaitu
pemakaian obat penangkal serangga (mos-
quito repellent) seperti minyak sereh, DEET
(30% diethyltoluamide) dan dibutilftalat.
Tidur di bawah kelambu yang telah di
impregnasi dengan insektisida permethrin19
sangat dianjurkan.
Ikan Lele (Clarias fuscus) sering pula di
pelihara di kolamkolam atau tempat tempat
air yang tergenang untuk menghindari
tumbuhnya jentikjentik/larva nyamuk.
Walaupun kemoprofilaksis telah diberi
kan (lih. di bawah) penyakit malaria tetap
timbul. Hal ini dapat disebabkan oleh a.l.:
– cara profilaksis yang tidak tepat;
– tidak patuhnya minum obat (noncom
pliance);
– jenis profilaktik yang dipakai tidak
tepat.
Obat Malaria
Sejarah. Obat tertua untuk mengobati demam
malaria yaitu kulit pohon kina dan alkaloid
yang dikandungnya (kinin, 1820). Baru pa
da tahun 1932 ditemukan obat yang sama
khasiatnya, yaitu mepakrin, yang terutama
banyak dipakai selama perang dunia keII
sewaktu tentara Sekutu tidak menerima kinin
lagi dari negara kita .
Pada tahun 1944, klorokuin yang lebih
ringan efek sampingnya, menggantikan me-
pakrin yang agak toksik, juga lebih cepat efek
kuratifnya. Pada tahun 1946 diintroduksi
proguanil sebagai obat yang tidak hanya
aktif terhadap bentuk darah (trofozoit) se
bagaimana ketiga obat terdahulu, namun juga
terhadap bentuk hati, khususnya bentuk EE
primer dari P. falciparum. Primakuin (1948)
Gambar 11-3: Skema siklus hidup Plasmodium dalam tubuh manusia dan nyamuk.
terutama berkhasiat kuat terhadap bentuk EE
dari P. vivax/ ovale.
Dengan demikian proguanil dan prima
kuin sangat ampuh sebagai obat pencegah
malaria. Kemudian dipasarkan pula derivat
klorokuin yaitu amodiakuin (1950), pirime-
tamin (1952) dan meflokuin (1981). Pada
tahun 1990, WHO telah mengeluarkan amo
diakuin dari program terapi malaria, sebab
dilaporkan timbulnya efek samping serius
pada pemakaian nya sebagai profilaksis.
Artemeter (1991) yaitu suatu derivat
semi sintetik dari artemisinin, yang ada
dalam tumbuhan China qinghaosu (pelafalan:
cinghausu, nama Latin Artemisia annua).
Obat tradisional ini sudah sejak tahun
1970an ba nyak dipakai dengan sukses
di China Selatan (Hainan) dan Thailand
terhadap P. falciparum (malaria otak) yang
multiresisten. Efeknya lebih cepat daripada
kinin dan obatobat lain de ngan efek sam
ping lebih ringan.
Pyronaridin yaitu obat eksperimen
terbaru yang sangat efektif terhadap P.
falci-parum multiresisten. Derivat akridin
ini berasal dari China dan telah dibuktikan
efektivitasnya pada malaria, begitu pula
di Kamerun. Harganya juga murah hingga
layak dipakai di negaranegara miskin,
walaupun lebih sering memicu gang
guan lambung.
Catatan. Obatobat anti malaria sepert i
klorokuin, kuinakrin dan terutama hidrok-
siklorokuin (2x sehari 200 mg) juga digu
nakan pada penyakit kulit, a.l. terhadap lupus
eritematosus (LaDuca and Gaspari, 2008)22.
Mekanisme kerja anti inflamasinya belum
jelas.
Mekanisme Kerja
Klorokuin mencegah ‘dimakannya’ hemo-
globin (zat warna darah merah) oleh parasit,
sehingga timbul kekurangan asam amino
esensia l untuk sintesis DNAnya. Meflokuin
diperkirakan memiliki mekanisme kerja
yang sama dengan klorokuin. Kinin dan
artemeter menghambat sintesis protein de
ngan membentuk kompleks dengan DNA
parasit, di samping memblokir banyak sistem
enzimnya.
Proguanil dan pirimethamin yaitu anta-
gonis folat yang memblokir enzim yang me
ngubah asam folat menjadi asam folinat, se
hingga sintesis DNA/RNA terganggu (lihat
Bab 8, Sulfonamida, Kombinasi).
Trimetoprim yaitu derivat pirimethamin
yang berkhasiat lebih kuat terhadap enzim
bakteri daripada terhadap enzim Plasmodium.
sebab itu senyawa ini tidak dipakai
pada pengobatan malaria, namun sebagai obat
anti bakteri (kotrimoksazol = trimetoprim +
sulfisoksazol).
Primakuin juga dapat mengikat DNA
dan diduga dalam tubuh nyamuk zat ini
dirombak menjadi metabolit yang bersifat
oksidan dan lebih aktif terhadap parasit.
Penggolongan
berdasar titik kerjanya dalam tubuh (eri
trosit atau hati), obat malaria dapat dike
lompokkan sebagai berikut,
a. Obat skizontisid darah: kinin, klorokuin,
meflokuin, pirimetamin + sulfadoksin, atova-
quon + proguanil dan artemeter. Berkhasiat
mematikan bentuk darah (skizon) dan
dipakai pada serangan demam, juga
untuk pencegahan. Senyawa ini tidak
menghalangi infeksi eritrosit, namun me
nekan timbulnya gejala klinis (profilaksis
supresif).
b. Obat skizontisid hati: proguanil, primakuin
dan doksisiklin. Khusus dipakai sebagai
profilaksis kausal, sebab memusnahkan
bentuk EE (merozoit dan hipnozoit) da
lam sel parenchym hati. Obat ini meng
hin dari penembusan eritrosit dan demi
kian menghalangi serangan.
Penggolongan lain bertolak dari titikkerja
obat pada siklus hidup parasit serta tujuan
terapi yang dikehendaki dan terdiri dari 4
kelompok berikut:
a. Obat pencegah = profilaktika kausal:
proguanil dan pirimethamin. Berkhasiat
terhadap bentukEE primer dalam hati
dari P. falciparum dan P. vivax sedang
P. malariae hanya peka untuk sebagian.
Primakuin juga aktif terhadap bentuk ini
namun terlalu toksik untuk dipakai
dalam jangka waktu lama sebagai obat
pencegah.
b. Obat penyembuh/pencegah demam =
kurativa/supressiva
Berkhasiat terhadap siklus darah, me
matikan trofozoit serta skizon (skizontisid)
sehingga menghentikan atau mencega h
gejala klinis. Kinin bekerja lambat, arte-
meter dan klorokuin cepat dan kuat,
maka banyak dipakai sebagai obat
pencegah. namun berhubung meningkat
nya resistensi untuk klorokuin, obat ini
telah terdesak oleh meflokuin, yang
di A.S. dianggap sebagai obat malaria
pa ling unggul dan aman. Lagipula
meflokuin ampuh terhadap M. tropica
tanpa komplikasi dan jenis baru M.
knowlesi. Namun pada tahuntahun
terakhir dilaporkan efek samping seperti
depresi, sukar tidur, mimpi buruk
dan hilangnya konsentrasi. Selain itu
wanita hamil tidak boleh meminumnya
selama triwulan pertama. Inilah sebab
nya mengapa meflokuin mulai terdesak
oleh kombinasi dari obat baru atovakuon
dengan proguanil (Malarone) yang di
negeri Belanda merupakan obat profilak
sis yang paling banyak dipakai dengan
efektivitas ± 84%.
Proguanil dan pirimetamin juga sangat
aktif, namun jauh lebih lambat kerjanya
dan lebih sering memicu resistensi.
Obatobat ini tidak menyembuhkan
secara radikal sebab masih ada
bentukEE sekunder (hipnozoit) yang
tidak peka terhadap obat ini. Pada malaria
tropikana tidak ada bentuk ini dan
penyembuhan radikal dapat dicapai bila
dilanjutkan pemakaian nya selama 4 6
minggu sesudah meninggalkan daerah
mala ria. Dengan demikian bentuk hati
yang masa hidupnya singkat tidak dapat
berkembang lagi dan akan mati dengan
sendirinya.
c. Obat pencegah kambuh = penyembuh
radikal: primakuin. Obat ini mematikan
bentukEE sekunder dari malaria tertiana
dan kwartana. Primakuin yaitu satu
satunya obat yang sangat efektif untuk
terapi jangka pendek. namun untuk rakyat
setempat tidak cocok sebab kemung
kinan besar akan reinfeksi.
d. Obat gametosid = pencegah tersebarnya
penyakit: mematikan gametosit dalam
darah penderita yang menjadi pemicu
penularan dari manusia ke nyamuk. Oleh
sebab itu obatobat ini menghindari
penyebaran parasit sesudah semua bentuk
lainnya dimusnahkan.
Primakuin dalam dosis kecil efektif da
lam 3 hari, proguanil dan pirimethamin
tidak mematikan gametosit, namun merin
tangi perkembangannya di tubuh nya
muk. Klorokuin bekerja gametosid terha
dap P. vivax, P. ovale dan P. malariae, namun
tidak terhadap P. falciparum. Kinin aktif
terhadap gametosit P.vivax dan P. malariae.
Kemoprofilaksis
Dengan semakin meningkatnya kepariwi
sataan internasional dan perjalanan ke luar
negeri, semakin bertambah pula pentingnya
profilaksis malaria, terutama bagi merek a
yang belum pernah menderita infeksi Plas-
modium.
pemakaian obatobat anti malaria untuk
terapi atau pencegahan ditentukan oleh far
makokinetika dan keamanan dari senyawa
senyawa itu . Misalnya kinin dan pri
makuin yang cukup toksik dan memiliki
masa paruh relatif singkat khusus dipakai
sesudah terjadinya infeksi malaria dan tidak
dipakai sebagai pencegahan kimiawi bagi
orang sehat yang sedang melawat. Sebaliknya
klorokuin yang memiliki masa paruh panjang
dan kurang toksik, dapat dipakai sebagai
pencegahan malaria di mana parasitnya
masih peka terhadap klorokuin
Untuk menentukan pilihan obat mana
yang harus dipakai , masalah resistensi me
rupakan faktor penting (lihat di bawah
Resistensi). Juga perlu diketahui bahwa pola
resistensi suatu daerah dapat berubah.
Profilaktika seperti klorokuin, meflokuin
dan doksisiklin bekerja terhadap siklus da
rah dan tidak dapat menghindari serangan
kambuhan, sedang atovaquone progu
anil (Malarone) dan primakuin bekerja ter
hadap siklus hati dan dapat menghindari
kambuhnya penyakit.
Profilaksis dapat dilakukan dengan empat
jenis obat, tergantung dari tujuan perjalanan,
yaitu:
a. Proguanil (2x sehari 100 mg sesudah
makan) untuk daerah dengan hanya P.
vivax dan/atau tanpa resistensi terha
dap P. falciparum, berhubung ada nya
lebih sedikit laporan mengenai resistensi
dibandingkan dengan pirimetamin.
b. Klorokuin (1x seminggu 300 mg basa
sesudah makan.) untuk daerah dengan
terutama resistensi terhadap proguanil.
Klorokuin dimulai dengan dosis awal 300
mg/hari pada 2 hari pertama. Atau, juga
kombinasi klorokuin dan proguanil.
c. Meflokuin (1x seminggu 250 mg sesudah
makan.) untuk daerah di mana P. falcipa-
rum resisten terhadap proguanil dan kloro-
kuin (misalnya Irian Jaya, Afrika di Sela
tan Sahara dan daerah Amazon). Meflo
kuin sebagai obat pencegah harus mulai
diminum 3 minggu sebelum tiba di daerah
rawan malaria dan dilanjutkan sampai 4
minggu sesudah pulang ke rumah.
d. Pirimetamin juga efektif sebagai obat
pencegah, namun sebab meluasnya resis
tensi dan kurang aktif terhadap P. vivax,
maka sekarang tidak dianjurkan lagi se
bagai obat pencegahan. Begitu pula
kombinasinya dengan sulfadoksin (*Fansidar)
yang dipakai sebagai obat penyembuh.
Di Australia masih dianjurkan sediaan
kombinasi *Maloprim(= pirimetamin 12,5 +
dapson 100 mg) 1x seminggu dan dimulai
sebelum keberangkatan ke pulaupulau
Pasifik Barat dan Papua NGuinea.
Minum obat pencegahan harus dimulai sehari
sebelum (untuk mencapai kadar terapeutik
dari darah) atau selambatlambatnya pada
hari keberangkatan ke daerah yang rawan
malaria dan dilanjutkan selama minimal 4
minggu sesudah meninggalkan daerah ter
sebut.
Malaria tropika dapat timbul sampai bebe
rapa bulan sesudah kembali, malaria tersiana
bahkan sampai beberapa tahun kemudian!
Vaksinasi. Sejak beberapa dasawarsa telah
diupayakan pembuatan vaksin terhadap
khusus P. falciparum. Vaksin itu dapat di
arahkan terhadap berbagai stadia dari siklus
hidup parasit. Sayang sekali usaha penelitian
untuk menghasilkan vaksin yang efektif
hingga kini belum terwujud.
Suatu vaksin eksperimentil berdasar
antigen-sporozoit menghasilkan imunitas se
lama 3 minggu dan akan diselidiki lebih
lanjut.
vaksin, Perkembangan baru. Mengingat
adanya lebih dari 1 juta pengidap malaria
yang meninggal setiap tahun di Afrika, maka
kampanye vaksinasi akan terus dilangsung
kan.
Pengobatan
biasanya penderita diberi analgetika
dan antipiretika, seperti asetosal dan para-
setamol. Untuk menanggulangi dehidrasi dan
shock dapat diberikan cairan dalam bentuk
infus atau per oral (ORS). Sesuai dengan
tujuan terapi yang ingin dicapai, maka dapat
dipilih obat dari empat kelompok di atas
(a,b,c atau d). Harus diperhatikan juga bah
wa orang asing, yang belum pernah meng
alami infeksi parasit malaria, membutuh
kan jenis atau lama terapi yang berlainan dari
pada rakyat setempat, yang umumnya sudah
memiliki imunitas minimal (sudah menjadi
semiimun).
Terapi tergantung pada keadaan, yaitu pada
serangan akut dari berbagai bentuk malaria,
sebagai berikut,
• Malaria tersiana/kwartana biasanya di
tanggulangi dengan klorokuin yang
kerjanya cepat selama 24 hari. P. vivax
yang resisten terhadap klorokuin perlu
ditangani dengan meflokuin dosis tunggal
500 mg sesudah makan (atau kinin
maksimal 3 x sehari 600 mg selama 47
hari). Terapi harus selalu dilanjutkan
dengan primakuin (15 mg/hari selama
14 hari) untuk mematikan bentuk EE
(hipnozoit dalam hati) dan menghindari
kambuhnya penyakit. Bila ada mual
dan muntah perlu diberikan kinin secara
intravena.
• Malaria tropika tak-parah ditangani de
ngan klorokuin, bila infeksi terjadi di
Amerika Tengah, Afrika Utara dan Asia
Kecil (Asia Minor). Di negaranegara
lain di mana ada multiresistensi, a.l.
untuk klorokuin, perlu diberikan obat lain,
yakni kinin + doksisiklin (hari pertama
200 mg, lalu 1 x sehari 100 mg selama 6
hari) atau meflokuin (2 dosis dari masing
masing 15 dan 10 mg/kg dengan interval
46 jam). Kemungkinan lain yaitu ha-
lofantrin (hanya bila ECG normal), 1
hari 3 dd 500 mg a.c., diulang sesudah
1 minggu Begitu pula pirimethamin-
sulfadoksin (dosis tunggal dari 3 tablet),
yang biasanya dikombinasi dengan ki-
nin (3 x sehari 600 mg selama 3 hari,
tidak untuk Asia Tenggara dan daerah
Amazon).
• Malaria tropika parah (atau berkomplikasi)
harus dimulai dengan kinin parenteral,
kemudian disusul dengan pemberian oral
seperti di atas.
Stadium EE tidak ada pada malaria
tropika, oleh sebab itu terapi menghasilkan
penyembuhan tuntas dan tidak perlu dilan
jutkan dengan primakuin.
Kehamilan dan laktasi
Klorokuin dan proguanil boleh dipakai ; klo
rokuin merupakan pilihan pertama terhadap
serangan dan profilaksis, juga selama laktasi.
Pada malaria tropika yang resisten terhadap
klorokuin dapat dipakai kinin (hanya pada
dosis tinggi sekali kinin bekerja teratogen
dan dapat memicu keguguran). Me-
flokuin dan sediaan kombinasi pirimethamin
+ sulfadoksin tidak dapat diberikan selama
triwulan pertama, pada triwulan kedua dan
ketiga (sampai minggu ke34) umumnya
dianggap aman. Primakuin dan doksisiklin ti
dak dianjurkan untuk wanita hamil dan
selama laktasi. Mengenai artemeter belum
ada cukup data, namun pada kasus
darurat (multiresistensi) mungkin aman pa
da triwulan ke2 dan ke3. Untuk triwulan
pertama lebih banyak dipakai kinin.
Resistensi
Resistensi untuk obat malaria merupakan
masalah penting sekali bagi terutama P. fal
ciparum sebab merupakan pemicu utama
dari kematian. Kemoprofilaksis terhadap
P. falciparum terutama di Asia Tenggara
semakin sedikit sebab resistensinya yang
progresif.
Malaria tersiana dan kwartana tidak sering
memicu resistensi, baru pada tahun
tahun terakhir dilaporkan resistensi untuk
klorokuin di Irian Jaya, Papua New Guinea
dan kepulauan Salomon.
Resistensi untuk P.falciparum
Kinin tidak atau jarang sekali memicu
resistensi. Pada permulaan tahun 1960an,
di Kolombia dan Thailand terjadi resistensi
dari spesies falciparum untuk (hidroksi)
klorokuin, sehingga jenis malaria ini bisa
menjalar dengan pesat ke daerah Amazon
dan Asia Tenggara. Sejak tahun 1979 juga
mulai ditemukan di Afrika Timur (Kenya,
Tanzania) dan menyebar ke seluruh benua
Afrika. Pada tahun 1983 resistensi untuk me-
flokuin ditemukanhanya di Thailand.
Halofantrin jarang sekali memicu re
sistensi, dengan meflokuin ada resisensi
silang. Sukusuku resisten itu ternyata
resisten pula untuk primakuin dan proguanil
(multiresistensi). Pirimethamin tunggal de
ngan cepat dapat memicu resistensi,
sehingga untuk menghindarkan atau mem
perlambatnya dipakai kombinasi dengan
sulfadoksin (*Fansidar = 25 + 500 mg). Resis
tensi P. falciparum terhadap *Fansidar ada
sejak 1982 di Kampuchea dan Afrika Timur,
namun tidak begitu banyak kasusnya.
Multiresistensi. Dalam kasus multiresis
tensi demikian biasanya diberikan kinin,
yang sebaiknya dikombinasi dengan tetra-
siklin/doksisiklin yang bekerja sinergis.
Masalah resistensi tidak jarang timbul se
telah pelaksanaan program pemberantasan
malaria besarbesaran, kemungkinan dise
babkan oleh dosis yang kurang tepat atau
kurang disiplinnya pasien minum obat.
Multidrug therapy. pemakaian kombinasi
dari beberapa jenis obat biasanya se
makin banyak dilakukan, sebab sering kali
lebih efektif dan dapat menghindari timbul
nya resistensi.
Dewasa ini tidak ada satu obat pun terha
dap mana parasit malaria tidak resisten. Oleh
sebab itu penting sekali telah ditemukannya
suatu kelompok obat baru terhadap malaria,
yaitu senyawa imidazo pyrazine (2013). Se
nyawa ini bekerja terhadap tiap tahap dari per
kembangan parasit malaria dan oleh sebab
itu tidak saja preventif ter hadap malaria, namun
juga untuk penanganan dan menghalangi
transmisi dari orang ke nyamuk. Mekanisme
kerjanya berdasar perintangan enzim fos-
fatidylinositol-4-OH-kinase (PI(4)K) yang ber
tanggung jawab untuk perkembangan dari
parasit bersel tunggal ini.
MONOGRAFI
1. Kinin (F.I.)
Kinin yaitu alkaloid utama dari kulit
pohon kina (Cinchona rubra) yang berasal
dari Amerika Selatan dan dimasukkan ke
negara kita di zaman kolonial. Dari kurang
lebih 20 alkaloid lainnya hanya isomer
optiknya, yaitu kinidin, yang dipakai
dalam terapi sebagai obat pereda jantung.
Sintesis kinin secara kimiawi sudah diketahui,
namun dalam praktik tidak dilaksanakan
sebab jauh lebih mahal.
Kinin memiliki banyak kegunaan, yaitu:
a. Anti plasmodium. Kinin bekerja sebagai
skizontisid darah yang kuat dan dapat
mematikan trofozoit dalam eritrosit. Zat
ini juga aktif terhadap gametosit P. vivax
dan P. malariae, namun tidak terhadap
bentukEE sekunder. Oleh sebab itu
kinin dipakai untuk menyembuhkan
dan sebagai supresivum, terutama pada
malaria tropika yang resisten untuk
klorokuin (dan meflokuin). Kombinasi
nya dengan primakuin efektif untuk
menyembuhkan secara radikal malaria
tersiana dan kuartana yang sering sekali
kambuh.
Pada serangan malaria tropika yang
mengancam jiwa diberikan injeksi i.v.
b. Kerja antipiretik dan analgetik lemah,
khususnya pada nyeri otot dan perse
ndian. sebab itu dahulu kinin meru
pakan komponen dari banyak obat paten
influenza. Kini sudah dianggap kuno
sebab toksisitasnya.
c. Kerja oksitosik, yaitu kontraksi pada otot
rahim wanita hamil, terkenal se bagai obat
pengguguran.namun efeknya sangat tidak
dapat dipercaya, bahkan pada dosis tinggi
bersifat mematikan.
d. Spasmolitik, efektif untuk meredakan
kejang malam di betis kaki (restless legs).
Resorpsi garamgaram kinin di usus (se bagai
basa) baik dan cepat, PPnya tinggi yaitu
sebesar 7090%, plasmat½nya 821 jam. Di
dalam hati sebagian besar dirombak menjadi
metabolit hidroksinya yang diekskresi mela
lui ginjal.
Efek samping pada dosis biasa yaitu cin-
chonisme berupa nyeri kepala, pusing, gang
guan pendengaran seperti berdengung (tin-
nitus), tremor, mual dan menggigil. Pada
dosis tinggi atau pemakaian lama dapat ter
jadi ketulian dan gangguan penglihatan, bahkan
kebutaan. Jarang terjadi anemia hemolitik
dan hepatiti s.
Dosis: sebagai kurativum terhadap malaria
yang resisten untuk klorokuin oral 3 x sehari
600 mg garam bisulfat p.c. selama 5 hari
(orang “luar” selama 7 hari). Disusul oleh
primakuin 1 x seminggu 45 mg selama 68
minggu. Pada malaria tropika akut oral 3 x
sehari 650 mg selama 7 hari, bila ada
resistensi bersama doksisiklin. Pada malaria
tropika parah dimulai dengan injeksi i.v dari
20 mg/kg berat badan garam kinin klorida.
Pada restless legs 100200 mg sebelum tidur.
Kadar kinin basa dalam garamgaramnya
yaitu sebagai berikut:
K. bisulfat: 59% (daya larut 1:11), K. sulfat:
83% (daya larut 1:600) dan K. klorida: 81,5%
(daya larut 1:25).
2. Klorokuin (F.I.): Nivaquine, Resochin, Avlo-
clor.
Senyawa 4aminokinolin ini bekerja kuat
dan cepat; berkhasiat skizontisid terhadap
bentuk darah (trofozoit) dari semua jenis
malaria. Zat ini juga berdaya gametosid ter
hadap P. vivax dan P. malariae. Tidak aktif ter
hadap bentukEE sekunder. Klorokuin me
rupakan obat pilihan pertama sebagai kura
tivum, sebab dibandingkan dengan kinin
lebih cepat kerjanya dengan jangka terapi
lebih singkat, sedang efek sampingnya
lebih ringan. Zat ini juga dipakai sebagai
profilaktik, sering kali bersama proguanil.
Selain itu, klorokuin juga berkhasiat anti
ameba (amebisid) dan anti radang (anti flo-
gistis). Oleh sebab itu juga dipakai pada
infeksi ameba (amebiasis hati, lihat Bab 12,
Obat amebiasis) dan dahu








