Senin, 13 Juli 2026

buku obat 6


 ah satu lokasinya di bagian leher belakang telinga. Itu 

sebabnya, pasien tua harus waspada jika si upik atau si buyung 

punya benjolan di leher bagian belakang telinga. 

Selain itu, pasien tua juga bisa mengamati gejala-gejala yang 

lain. Di antaranya, batuk yang tak kunjung sembuh, gampang 

sakit, nafsu makan hilang, berat badan yang tidak naik-naik atau 

bahkan turun, serta demam berulang-ulang tanpa sebab yang jelas. 

Namun, gejala-gejala ini bersifat subjektif sehingga tidak 

selalu menjamin diagnosis yang tepat. Sebagai contoh, batuk bisa 

saja disebabkan oleh alergi, radang tenggorok, asma, atau radang 

paru (pneumonia). Demam yang berulang-ulang bisa saja sebab  

infeksi virus. Pembesaran kelenjar getah bening pun bisa 

disebabkan kuman yang lain. Gejala-gejala ini hanya sebagai salah 

satu pertimbangan untuk segera berkonsultasi ke dokter ahli anak 

atau ahli paru-paru. 

Jika sesudah  melakukan berbagai pemeriksaan di atas, 

dokter menyimpulkan bahwa si anak menderita TB, itu berarti 

pasien tua harus siap-siap untuk meminumkan obat kepada 

anaknya secara disiplin setiap hari selama paling tidak enam 

bulan. Mungkin lebih lama dari itu, tergantung resep dokter.  


260 

 

Intinya, pasien tua perlu memastikan bahwa vonis itu 

dijatuhkan sesudah  dokter melakukan pemeriksaan yang 

menyeluruh terhadap si anak. Bukan sekadar pemeriksaan foto 

rontgen. pasien tua perlu memastikan hal ini sebab vonis TB pada 

anak yaitu  sebuah vonis berat yang akan membawa konsekuensi 

yang juga berat.  

 

Minum Obat 6-8 Bulan 

Jika sepasien  anak dinyatakan menderita TB, ia harus minum 

beberapa jenis obat setiap hari selama paling tidak enam bulan. Ini 

bukan perkara enteng mengingat organ lever dan ginjal anak 

belum berkembang sempurna.  

Dalam kondisi normal, anak-anak sebetulnya sangat 

dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari minum obat.  Tapi 

dalam kondisi TB yang sudah pasti, memang tak ada pilihan lain. 

Minum obat mungkin akan membawa mudarat bagi si anak. Akan 

namun  jika ia tidak minum obat, mudaratnya akan jauh lebih besar 

lagi. TB bisa menjadi semakin parah, semakin sulit disembuhkan, 

dan mungkin akan membuat anak lebih menderita lagi. TB parah 

bisa membuat paru-paru rusak dan penderita meninggal dunia.   

pasien tua harus memastikan bahwa vonis dokter dilakukan 

dengan akurat. Jangan sampai si anak, yang sebetulnya tidak 

menderita TB, divonis menderita TB. Ini bisa saja terjadi 

mengingat batuk grok-grok atau badan kurus dan tidak doyan 


261 

 

makan bisa saja disebabkan oleh penyakit lain. Jika vonis dokter 

ternyata salah, maka yang akan menanggung akibatnya yaitu  si 

anak sebab ia harus minum sesuatu yang tidak ia perlukan selama 

setengah tahun. 

 

Disiplin, Disiplin, Disiplin 

sesudah  vonis TB dijatuhkan, hal terpenting berikutnya yaitu  

kedisiplinan. Minum obat selama minimal enam bulan yaitu  

kewajiban yang tak boleh dilupakan satu kali pun. Satu kali saja 

tidak boleh lupa, apalagi satu hari atau bahkan beberapa hari. 

Kuman TB yaitu  salah satu kuman paling bandel dan 

paling kuat di dunia. Untuk membasminya, kita perlu beberapa 

macam antibiotik, tidak cukup hanya satu. Pengobatannya pun 

tidak cukup beberapa hari tapi setidaknya harus enam bulan.  

Selama waktu itu, pasien tua harus memastikan si anak 

minum obat sesuai aturan dokter. Ini sangat penting sebab  

biasanya anak-anak susah diajak kompromi untuk minum obat. 

sebab  itulah, pasien tua harus telaten dan disiplin. Telaten dan 

disiplin. Telaten dan disiplin. 

Hal ini perlu ditegaskan sebab banyak pasien tua yang, 

sebab  kasihan pada anaknya atau sebab  tidak telaten 

meninumkan obat, lantas menghentikan konsumsi obat begitu 

gejala sakit si anak sudah hilang. Padahal, hilangnya gejala sakit 


262 

 

TB bukan petunjuk bahwa kuman telah terbasmi semuanya. Sekali 

lagi, kuman ini dikenal sebagai kuman yang sangat bandel.  

Jika pengobatan 

dihentikan di tengah jalan, 

maka suatu saat kuman-

kuman yang tidur itu akan 

bangun lagi dan 

menggerogoti tubuh si anak 

di kemudian hari. Jika ini 

sampai terjadi, pengobatan 

berikutnya menjadi lebih 

sukar. Waktu terapi pun menjadi lebih lama, bisa sampai dua 

tahun tanpa henti, obatnya pun dipastikan akan lebih mahal.  

Pasalnya, kuman generasi kedua ini dipastikan akan lebih 

bandel dan lebih tahan terhadap obat yang terdahulu. Akibatnya, 

pemilihan obat menjadi lebih sulit. pasien tua harus menyiapkan 

lebih banyak duit. Masalah yang timbul pun menjadi lebih rumit. 

Soalnya, semakin banyak si anak minum obat, semakin besar 

kemungkinan fungsi hati dan ginjalnya terganggu. 

 

Cegah TB dari pasien  Dewasa 

Sebagaimana penyakit infeksi lainnya, hal terpenting dalam 

pencegahan TB yaitu  menghindari penularan. pasien tua harus 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam kondisi digempur habis-

habisan, kuman TB akan 

berusaha “mengawetkan diri” 

dengan membentuk lapisan 

pelindung dan tidur tanpa 

makanan. Ia bisa bertahan dalam 

kondisi itu dalam jangka berbulan-

bulan. Itulah sebabnya, 

pengobatan TB membutuhkan 

kedisiplinan ekstra. 


263 

 

memastikan tidak ada anggota keluarga atau pembantu yang 

menderita TB. Jika ada, itu yaitu  lampu merah buat seisi rumah. 

Kalau ada anggota rumah yang menderita TB, ia harus 

segera diobati agar tidak menulari anggota keluarga yang lain, 

terutama anak-anak. Mereka yaitu  kelompok yang paling rentan 

tertular sebab  daya tahan tubuh mereka relatif masih lemah. 

Selain vaksin BCG, pencegahan TB pada anak harus 

dimulai dengan pemberantasan TB pada pasien  dewasa. Merekalah 

sumber penularan. Anak-anak hanyalah korban.  

Di negara kita , penyakit ini masih merupakan ancaman 

serius. Pemberantasan TB yaitu  tanggung jawab bersama. Semua 

pasien  yang dicurigai mengidapnya, harus segera pergi ke dokter. 

Jika positif TB, ia harus menjalani pengobatan sampai tuntas tas! 

Semua pasien  di sekitarnya juga harus ikut mengingatkan agar obat 

diminum dengan disiplin! Tak boleh kurang satu kali pun pun. Ini 

harga pas, tak bisa ditawar! 

 

Obat Harus Jadi Satu 

Ada lima jenis obat TB yang biasa digunakan, yaitu isoniazida 

(INH), rifampisin, pirazinamida, streptomisin, dan etambutol. 

Sepasien  pasien biasanya mendapatkan kombinasi beberapa jenis 

obat ini.  

Satu dekade lalu, masing-masing obat di atas dibuat dalam 

tablet atau kapsul yang terpisah-pisah. Sehingga saat pasien pulang 


264 

 

dari klinik, ia biasanya membawa satu kresek obat-obatan yang 

berisi beberapa jenis, dalam jumlah belasan strip.  

Ini biasanya 

menimbulkan masalah bagi 

pasien maupun tenaga 

kesehatan. Tiap hari, pasien 

harus minum banyak sekali 

obat. Dosis satu obat 

berbeda dari obat yang lain 

sehingga cara pakainya 

cukup membingungkan. 

Kadang, satu obat sudah 

habis tapi obat yang lain 

masih tersisa banyak. Padahal jika pasien keliru minum atau salah 

dosis, pengobatan bisa gagal dan kuman malah menjadi kebal. 

Untuk mengatasi ini, Depkes beberapa tahun yang lalu 

telah membuat aturan bahwa obat TB harus diberikan dalam 

bentuk kombinasi supaya memudahkan pasien dan tenaga 

kesehatan. Jadi, satu tablet obat anti-TB (Depkes menyebutnya 

OAT) yang sesuai standar Depkes sudah berisi beberapa macam 

obat yang digabung jadi satu. Pasien hanya perlu menelan satu 

obat saja dalam satu dosis. Ia tidak perlu dipusingkan dengan 

empat macam obat.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Banyak Makan Protein  

 

Selama minum obat TB, pasien 

dianjurkan banyak mengonsumsi 

makanan dan minuman yang 

banyak mengandung protein seperti 

ikan, telur, daging, ayam, tempe, 

tahu, susu, dan sebagainya. Protein 

ini diperlukan untuk menjaga daya 

tahan tubuhnya terhadap kuman TB 

sekaligus terhadap gempuran obat 

yang ia minum berbulan-bulan. 


265 

 

Jadi, kalau Anda mendapatkan obat TB tapi dalam 

sediaan yang terpisah-pisah, itu berarti obat tersebut mungkin 

tidak sesuai standar Kementerian Kesehatan. Tapi ini tidak berarti 

bahwa obat tersebut tidak efektif. Keduanya sama-sama efektif 

asalkan diminum dengan disiplin. Disiplin yaitu  kata kuncinya. 

Meski begitu, obat yang digabung memang lebih memudahkan 

pasien dan meminimalkan timbulnya masalah kepatuhan. 

Kalau kita menginginkan obat yang digabung, kita bisa 

pergi ke layanan kesehatan pemerintah seperti Puskesmas atau 

rumah sakit umum daerah (RSUD). Di sini biasanya kita akan 

mendapatkan obat standar.  

Pemerintah memang sengaja membuat program 

penggabungan obat TB sebab  belajar dari pengalaman. Pada satu 

dekade lalu pemberantasan TB kurang berhasil sebab  pasien tidak 

patuh minum obat. Padahal, ketidakpatuhan yaitu  masalah 

utama dalam terapi TB.  

Biasanya, sesudah  minum obat selama dua bulan, pasien 

merasa sehat lalu berhenti minum obat. Padahal, kondisi sehat itu 

tidak berarti bahwa kuman TB sudah terbasmi secara sempurna. 

Pasien memang sudah sehat, tapi kuman masih bersembunyi di 

dalam tubuh. Pengobatan hanya dianggap tuntas kalau pasien 

minum obat selama 6–8 bulan. 

 

 


266 

 

Ketidakpatuh

an minum obat ini 

merupakan masalah 

besar dalam 

penanggulangan TB. 

Jika pasien tidak 

patuh, kuman TB bisa 

menjadi kebal dan 

lebih ganas. Jika itu 

terjadi, pengobatan 

selanjutnya akan 

menjadi lebih rumit, 

pemilihan obat jadi 

lebih sulit, waktu 

pengobatan lebih 

lama, biayanya pun 

lebih mahal. Lebih 

dari itu, pasien juga 

akan menjadi sumber 

penularan yang 

berbahaya. Ia tidak 

sekadar menularkan kuman TB biasa, tapi kuman TB yang kebal 

dan ganas. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Malaikat”  

Pengawas Minum Obat 

 

Ketidakpatuhan minum obat 

merupakan masalah sangat serius yang 

menghambat pemberantasan TB. sebab  

itu, dalam pedoman Kemenkes, semua 

penderita TB harus diawasi oleh 

pasien   yang melakukan tugas 

waskat—pengawasan melekat. Setiap 

pasien TB harus punya sepasien  

pendamping yang disebut sebagai 

Pengawas Menelan Obat (PMO). 

Persyaratan ini tidak boleh ditawar. 

Pengawas ini umumnya anggota 

keluarga yang tinggal serumah dengan 

pasien. Ia dilatih secara khusus, tugasnya 

memastikan pasien minum obat secara 

disiplin dalam waktu yang telah 

ditentukan. Tugas pengawas ini tidak 

sekadar seperti jam weker yang 

mengingatkan pasien agar mimun obat. Ia 

harus mengawasi dan memastikan pasien 

benar-benar menelan obatnya. Ia harus 

benar-benar “hakulyakin” dan dengan 

matanya sendiri melihat si pasien 

menelan obatnya. 


267 

 

Lebih Baik ke Puskesmas  

Pemberantasan TB menuntut komitmen dari semua pihak. Bukan 

hanya pasien yang dituntut disiplin minum obat, pemerintah dan 

sarana pelayanan kesehatan pun dituntut disiplin memastikan obat 

TB gabungan selalu tersedia. Jangan sampai pasien putus obat 

hanya sebab  ia tidak mendapatkannya di sarana pelayanan 

kesehatan. 

Sayangnya, sampai saat ini mungkin belum semua 

pelayanan kesehatan mengikuti cara standar Pemerintah. Belum 

semua apotek atau klinik memiliki obat TB gabungan sesuai 

standar.  

Jika begitu, apa yang bisa dilakukan pasien TB agar bisa 

mendapatkan pelayanan standar? Jawabannya mungkin terdengar 

mengherankan bagi sebagian kalangan: dibandingkan  ke rumah sakit 

swasta, lebih baik datanglah ke Puskesmas! Ya, datanglah ke Pusat 

Kesehatan Masyarakat yang selama ini sering dianggap sebagai 

sarana pelayanan kesehatan kelas bawah itu. 

Dalam urusan penanggulangan TB, Puskesmas secara 

umum lebih bisa diandalkan dibandingkan  rumah sakit swasta. Hampir 

seluruh Puskesmas sudah menerapkan standar yang ditetapkan 

Pemerintah. Sementara, mungkin belum semua layanan kesehatan 

swasta menerapkannya.  


268 

 

Kalau pasien datang ke layanan swasta, ada kemungkinan 

ia mendapatkan obat yang tidak standar. Sebaliknya, kalau ia 

datang ke Puskesmas, kemungkinan besar ia akan mendapatkan 

pelayanan standar. Dalam urusan penyakit lain, mungkin rumah 

sakit swasta lebih unggul. Tapi dalam perkara TB ini, Puskesmas 

lebih bisa diandalkan. 

Tak perlu khawatir jika, misalnya, ternyata penderita 

memerlukan perawatan yang fasilitasnya tidak dimiliki oleh 

Puskesmas. Jika itu terjadi, Puskesmas akan merujuk pasien ke 

rumah sakit yang memang telah memakai standar Kemenkes.  

Keuntungan lain buat pasien, di Puskesmas, obat TB 

standar ini sama sekali gratis. Pasien tidak perlu membayar sebab  

memang tanggung jawab penyediaan obat ini ada di tangan 

pemerintah. Dengan datang ke Puskesmas, pasien secara tidak 

langsung telah membantu program Pemerintah memberantas TB. 

Di Puskesmas, semua data penderita TB tercatat secara nasional. 

Ini akan memudahkan pemerintah dalam memantau keberhasilan 

program pemberantasan TB. 

Dokumentasi ini merupakan salah satu strategi penting 

dalam pemberantasan TB. Puskesmas memang mendapat amanat 

untuk memantau perkembangan pasien sampai ia sembuh. Jika, 

misalnya, pasien tidak kembali ke Puskesmas sebelum dinyatakan 

sembuh, maka pihak Puskesmas akan melacaknya untuk 


269 

 

memastikan bahwa pasien tidak putus obat sesuai amanat 

Pemerintah.  

Sebagian 

Puskesmas tertentu 

bahkan menerapkan 

strategi yang lebih ketat. 

Semua pasien dan 

pengawas minum obat 

harus menandatangani 

semacam surat 

perjanjian kontrak yang 

menyatakan bahwa 

pasien akan menjalani 

pengobatan sampai 

tuntas. 

TB memang 

bukan penyakit yang 

bisa diremehkan. 

Penyakit ini mudah 

menular melalui 

percikan batuk 

penderita. Di tahun 

2012, jumlah 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENCEGAHAN 

 

Agar terhindari dari TB, kita bisa 

melakukan upaya pencegahan sbb: 

  Pastikan anak mendapat vaksinasi 

BCG. 

  Perkecil kemungkinan kontak dengan 

penderita. 

  Atur jendela rumah supaya sinar 

matahari bisa masuk ke dalam rumah 

sebab kuman TB bisa mati jika 

terkena sinar matahari. 

  Terapkan pola hidup sehat, jaga daya 

tahan tubuh. Sebagian besar kita 

mungkin pernah terpapar kuman ini. 

Meski terpapar, kita tidak lantas 

menjadi sakit TB jika daya tahan 

tubuh kita baik. 

  Jika ada yang sakit, ia harus segera 

diobati. sesudah  dua bulan 

pengobatan, ia tidak lagi menularkan 

penyakitnya meskipun penyakitnya 

belum sembuh total. Saat batuk, ia 

harus menutup mulutnya. 

 

 

 


270 

 

penderitanya di negara kita  diperkirakan masih 450 ribu pasien . 

Padahal, tiap satu pasien  penderita TB yang aktif bisa menularkan 

kuman ini kepada 10–15 pasien  lain. Itu sebabnya, penyakit ini 

harus diberantas dengan gerakan terpadu secara nasional. 


271 

 

 

24 

 

 

OBAT ASAM URAT 

 

 

 

Apa beda antara rematik, linu, encok, dan asam urat? 

Dalam kamus bahasa awam, keempat istilah ini biasa dianggap 

sekupang dua ringgit alias tak ada bedanya. Dan sebab  dianggap 

tak ada bedanya, obat untuk semua keluhan di atas pun dianggap 

sama. 

Dalam pandangan medis, ini jelas keliru. Menurut ilmu 

kedokteran, sebuah penyakit harus disebut dengan nama yang 

jelas, khas, spesifik agar obatnya tidak tertukar dengan obat 

penyakit lainnya. sebab  itu, untuk menyamakan pengertian di 

buku ini, mari kita sepakati dulu pengertian istilah-istilah 

“perematikan”. 


272 

 

 

  Rematik. Ini bukanlah nama sebuah penyakit, melainkan nama 

umum untuk penyakit-penyakit yang ditandai dengan gejala 

nyeri/encok/linu di sendi, tulang, dan otot. Total ada sekitar dua 

ratusan jenis penyakit rematik. Asam urat hanya salah satunya. 

 

  Asam urat. Ini merupakan salah satu jenis penyakit rematik. 

Dalam bahasa medis, disebut artritis gout. Penyebabnya yaitu  

endapan kristal asam urat yang menyerang persendian. Asam urat 

ini berasal dari makanan tertentu seperti jeroan, seafood, daging 

merah, dsb. Yang diserang yaitu  persendian (engsel tulang), 

misalnya ruas-ruas jari, terutama jari kaki, tumit, lutut, dan 

pergelangan tangan.  

Cirinya, sakit ini dipicu oleh makanan tertentu dan terjadi 

pada persendian, biasanya diawali dari sendi jempol kaki. Kalau 

tidak dipicu oleh makanan, atau tidak terjadi di persendian, itu 

biasanya bukan penyakit asam urat. Jadi, kalau rasa nyerinya di 

paha, belikat, punggung, pinggang, biasanya itu bukan asam urat.  

Obat asam urat berbeda dari obat rematik jenis lainnya. Jadi, 

jangan sampai keliru. Sebagian obat asam urat bekerja dengan 

cara membantu tubuh menurunkan kadar asam urat. Kalau 

diminum penderita rematik jenis lain tentu mubazir.   

 


273 

 

  Pengapuran sendi. Penyakit ini sering disalah sangka sebagai 

asam urat padahal sama sekali berbeda. Dalam istilah medis, 

pengapuran sendi disebut osteoartritis. Osteo- berati tulang, artritis 

berarti radang sendi.  

Penyakit ini biasanya terjadi pada pasien  lanjut usia sebab  

bantalan sendi mengalami kerusakan, biasanya terjadi di lutut, 

bukan di sendi jari atau tangan. Kerusakan jaringan sendi 

disebabkan oleh pengaruh beban yang terus-menerus. 

Kemungkinan timbulnya penyakit ini makin besar pada pasien  

gemuk atau pasien  yang sehari-hari bekerja mengangkat beban.  

Beban berat ini akan menyebabkan bantalan sendi di lutut aus 

sehingga bagian saraf di tulang akan tertekan saat sendi 

digerakkan. Kadang sendi itu sampai mengeluarkan suara 

gemeretak saat digerakkan. 

Yang jelas, penyebab utamanya bukan makanan seperti 

jeroan, seafood, daging, atau sejenisnya. Rasa nyeri timbul sebab  

bantalan sendi yang melindungi saraf sudah aus.  

 

  Rheumatoid arthritis. Belum ada istilah awam untuk jenis penyakit 

ini. Yang jelas, ini jenis rematik bawaan yang disebabkan oleh 

gangguan sistem imun (pertahanan tubuh). Sistem imun yang 

mestinya bertugas melindungi tubuh malah menyerang tubuh 

sendiri dan menyebabkan nyeri di sendi-sendi.  


274 

 

Gejalanya bisa jadi mirip dengan asam urat sebab  sama-

sama menyerang persendian. Tapi penyebabnya bukan endapan 

kristal asam urat dan sebab  itu obatnya pun berbeda dari obat 

asam urat. Sebagai pasien  awam, kita sulit membedakannya dari 

rematik jenis lain. Ini sepenuhnya wilayah dokter.  

 

  Pegel linu. Biasanya sebutan ini digunakan untuk pegal-pegal dan 

nyeri di sekujur otot akibat kerja fisik yang keras (bukan sebab  

makanan). Kalau penyebabnya yaitu  kerja fisik yang keras, tentu 

ini jauh berbeda dari asam urat. Jadi, kalau dilawan dengan obat 

asam urat tentu muspra alias sia-sia. 

Nyeri pada pegel linu terjadi sebab  otot kecapekan bekerja, 

bisa juga sebab  otot keseleo. Keluhan pegal linu biasanya terjadi 

tidak seketika sesudah  bekerja keras melainkan sekitar semalam 

sesudahnya. Dan biasanya akan pelan-pelan menghilang jika otot 

diistirahatkan. Jadi, kalau nyeri bisa hilang dengan pijat, balsem, 

atau mandi air hangat, kemungkinan kecil itu gangguan asam urat.  

 

  Selain beberapa contoh di atas, nyeri mirip rematik bisa juga 

disebabkan oleh masalah saraf. Ini juga tak ada kaitannya dengan 

asam urat. Di bab ini kita akan fokus membahas masalah asam 

urat.  

 

 


275 

 

Biang Asam Urat 

Kata urat dalam asam urat  tidak berkaitan dengan kata urat dalam 

bahasa negara kita  yang berarti otot atau pembuluh. Asam urat yaitu  

terjemahan dari uric acid. Urat di sini berasal dari kata yang sama 

dengan urine (air kemih).  

Asam  urat memang seharusnya dibuang lewat air kemih. 

Tapi sebab  metabolisme tubuh terganggu, proses pembuangan 

tidak berjalan dengan baik. Akibatnya, asam urat akan menumpuk 

dan mengkristal. Bentuk kristalnya serupa jarum-jarum kecil. 

“Jarum-jarum neraka” ini menyebabkan terjadinya radang 

(inflamasi) yang menyebabkan nyeri hebat pada sendi yang 

terkena, disertai dengan bengkak, kemerahan, dan rasa panas.  

Nyeri akibat asam urat memang juga bisa terjadi di lutut 

seperti pada pengapuran sendi, tapi pada umumnya organ yang 

pertama diserang yaitu  ruas jari kaki, utamanya ruas jempol. 

Hingga sekarang, para ahli belum bisa memastikan kenapa 

pasien   menderita gangguan asam urat. Yang pasti, ada faktor 

keturunan. pasien  yang lahir dari pasien tua penderita asam urat 

akan punya kecenderungan menderita penyakit yang sama. 

Kemungkinan menderita juga lebih tinggi pada pasien  gemuk, 

punya darah tinggi, dan banyak makan jeroan, seafood, atau 

daging. 


276 

 

Kebanyakan penderita asam urat yaitu  pria berusia 

lanjut. Kabar buruknya, para ilmuwan sampai sekarang belum 

bisa menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Tapi 

kabar baiknya, penyakit ini bisa dikendalikan dengan baik 

sehingga penderitanya bisa sehat tanpa gangguan berarti.  

Asam urat terbuat dari satu zat yang disebut purin. Zat 

purin ini banyak terdapat di makanan kita sehari-hari. Oleh sebab  

purin berasal dari makanan, maka pengendalian penyakit asam 

urat pun harus dilakukan lewat makanan.  

Ada banyak sekali makanan yang mengandung purin. Tapi 

tidak semua jenis makanan berpurin akan mencetuskan nyeri. 

Masing-masing pasien  memiliki kepekaan yang berbeda terhadap 

makanan-makanan itu.  

Secara umum, bahan-bahan di tabel berikut bisa menjadi 

pencetus asam urat, tergantung kepekaan masing-masing pasien . 

Tapi ini hanya pedoman kasar. Sebagai contoh, pada sebagian 

pasien , melinjo atau kacang bisa mencetuskan asam urat tapi pada 

pasien  lain tidak. Itu sebabnya, setiap penderita harus punya daftar 

sendiri jenis makanan yang memicu nyeri pada dirinya. 

 

Kelompok Contoh makanan 

Jeroan otak, jantung, ginjal, paru, hati, limpa, usus, dsj 

Alkohol minuman beralkohol, tape, durian, bir  


277 

 

Seafood kerang, kepiting, udang, cumi-cumi, ikan teri, 

sarden, ikan asin, ikan pindang 

Daging/kaldu babi, bebek, entok, sapi, kambing, ayam 

Kacang kacang tanah, kedelai, dsj  

Sayuran jamur, asparagus, kembang kol, bayam 

Lain-lain melinjo, makanan yang mengandung ragi 

 

Dari tabel di atas, yang paling perlu dijauhi yaitu  

golongan jeroan, alkohol, dan seafood. Sebagian besar ikan (selain 

yang disebut di atas), daging ayam, tahu, tempe, kacang-kacangan, 

dan sayuran  biasanya masih bisa dikonsumsi secara wajar.    

  

Purin Bukan Satu-Satunya Kambing Hitam 

Melihat daftar makanan di atas, kita mungkin akan bertanya-

tanya: kalau semua makanan di atas harus dihindari, lantas apa 

yang boleh dimakan penderita asam urat?  

Sekali lagi, daftar di atas hanya perkiraan kasar makanan 

yang harus diwaspadai. Reaksi masing-masing pasien  terhadap 

makanan-makanan tersebut bisa saja berbeda. Jenis dan jumlah 

makanan bisa sangat mempengaruhi. pasien   mungkin bisa 

terserang asam urat kalau makan gulai daging tapi tidak apa-apa 

saat makan bakso daging. 


278 

 

Purin, biang asam urat itu, sebetulnya merupakan zat yang 

secara alami ada di dalam tubuh kita dan terkandung di dalam 

hampir semua jenis makanan berprotein, dalam kadar yang 

berbeda-beda. Kita tidak mungkin menghindari purin. Yang perlu 

dilakukan hanyalah membatasi konsumsinya supaya tidak terlalu 

banyak.  

Tinggi rendahnya kandungan purin suatu makanan atau 

minuman tidak selalu berbanding lurus dengan kemungkinan 

serangan asam urat. Kopi, misalnya. Minuman ini banyak 

mengandung kafein. Kafein sendiri merupakan salah satu bentuk 

purin. Tapi yang unik, sebagian penelitian malah menunjukkan 

bahwa kopi bisa bermanfaat bagi penderita asam urat.  

Tentu saja kita tidak lantas bisa mengonsumsinya banyak-

banyak sebab  kopi bisa membuat jantung berdebar-debar dan 

mungkin akan membuat kita mengantuk kalau tidak 

meminumnya. Satu cangkir sehari mungkin bisa memberi manfaat 

untuk mencegah serangan asam urat tanpa banyak menimbulkan 

mudarat. 

 

Pencegahan Lain 

Selain dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari makanan-

makanan di atas, penderita asam urat juga dianjurkan untuk: 

 


279 

 

  Banyak minum air putih. Penderita asam urat sebaiknya minum 

air putih lebih banyak dibandingkan  pasien  kebanyakan. Pada saat 

terkena serangan, penderita harus minum air lebih banyak lagi 

dibandingkan  hari-hari biasa. Air sangat diperlukan untuk membantu 

pengeluaran asam urat dari dalam tubuh.  

  Perbanyak makan buah yang banyak mengandung vitamin C. 

Vitamin ini menurut penelitian bisa menurunkan kadar asam urat 

dan memperkecil kemungkinan terkena serangannya.  

  Kurangi makan lemak. Selain mempertinggi kemungkinan 

penyakit jantung, lemak tinggi juga akan membuat asam urat lebih 

sulit dikeluarkan dari dalam tubuh.  

  Ganti sumber protein hewani ke protein nabati. Sebetulnya 

sumber protein nabati seperti tahu dan tempe pun mengandung 

purin. Tapi jika dibandingkan dengan daging hewan, 

kemungkiannya menjadi pencetus nyeri jauh lebih kecil. Secara 

umum, penderita asam urat dianjurkan lebih banyak 

mengonsumsi makanan nabati dibandingkan  makanan-makanan 

hewani. Bukan berarti penderita asam urat tidak boleh makan 

protein hewani sama sekali. Boleh saja tapi jumlahnya dibatasi 

sesuai batas amannya.  

  Lakukan olahraga secara rutin. Olahraga bisa membuat 

metabolisme tubuh lebih lancar. Jika metabolisme lancar, 

pengeluaran asam urat pun akan lebih lancar.  


280 

 

  Hindari stres dan kelelahan fisik. Ketegangan mental maupun 

ketegangan fisik harus dihindari sebab  keduanya bisa 

mempertinggi kemungkinan serangan asam urat.  

  Usahakan langsing. Kegemukan merupakan salah satu faktor 

yang bisa meningkatkan kemungkinan menderita gangguan asam 

urat. Meski dianjurkan langsing, penderita asam urat sangat tidak 

dianjurkan melakukan diet tinggi protein seperti yang kini banyak 

dilakukan di pusat-pusat kebugaran. Sebab, diet tinggi protein 

justru akan meningkatkan kemungkinan gangguan asam urat.  

 

Obat Asam Urat 

Asam urat termasuk penyakit yang berada di wilayah dokter. 

Pasien sebaiknya tidak melakukan pengobatan sendiri. Begitu 

terkena serangan asam urat, pasien sebaiknya langsung ke dokter. 

Jika pasien   sudah pernah terkena serangan asam urat, 

sebaiknya ia punya persediaan obatnya di kotak P3K, paling tidak 

untuk pertolongan pertama pereda nyeri.   

Berdasarkan tujuannya, obat asam urat dibedakan menjadi 

dua, yaitu obat pertolongan pertama dan obat untuk pencegahan.  

 

1. Pertolongan pertama 

a. Antinyeri (analgesik). Untuk mengatasi rasa nyeri, pasien 

memerlukan obat antinyeri yang cukup kuat. Pereda nyeri 


281 

 

sekelas parasetamol biasanya tidak cukup kuat untuk 

melawan nyeri akibat asam urat. sebab  cara kerjanya 

hanya meredakan nyeri dan radang, obat kelompok ini 

sama sekali tidak berurusan dengan kristal asam uratnya. 

Dan sebab  khasiatnya meredakan nyeri, obat-obat ini 

biasa juga diresepkan untuk rematik jenis lain.  

Hampir semua antinyeri kuat yaitu  obat resep, bukan 

obat bebas. Antinyeri agak kuat yang masih bisa dibeli 

tanpa resep misalnya ibuprofen. Adapun sebagian besar 

lainnya termasuk obat resep, misalnya diklofenak, 

piroksikam, meloksikam, ketoprofen, tinoridin. 

Obat-obat di atas termasuk pereda nyeri “kelas berat” 

dan bisa mengiritasi lambung. Oleh sebab  itu obat-obat 

ini sebaiknya diminum bersama makanan, dan digunakan 

dengan sangat hati-hati pada penderita sakit mag.  

Selain itu, obat golongan ini juga bisa meningkatkan 

kemungkinan masalah jantung dan pembuluh darah. 

sebab  itu, jangan gunakan obat-obat di atas kecuali atas 

petunjuk dokter. 

Begitu nyeri sudah hilang, pemakaian obat pereda 

nyeri sebaiknya dihentikan untuk menghindari efek 

buruknya.  


282 

 

Untuk mengurangi efek iritasi lambung, tablet obat-

obat ini biasanya dilapisi selaput tipis yang menjaga obat 

bisa melewati lambung dalam keadaan utuh dan baru 

pecah saat di usus. Sebagai konsumen awam, kita 

mungkin sulit membedakan tablet yang berselaput dan 

yang tidak. Gampangnya, kita harus menelan obat-obat di 

atas dalam keadaan utuh, jangan sampai dibelah atau 

dikunyah.  

 

Obat Contoh merek dagang 

Diklofenak Cataflam®, Voltaren®, Abdiflam®, Aclonac®, Alflam®, 

Anuva®, Araclof®, Atranac®, Catanac®, Deflamat®, 

Dicloflam®, Diflam®, Divoltar®, Eflagen®, Elithris 50®, 

Exaflam®, Fenavel®, Flamar®, Flamic®, Flamigra®, 

Flamsy®, Flazen 50®, Galtaren®, Gratheos®, Inflam®, 

Kadiflam®, Kaditic®, Kaflam®, Kamaflam®, Klotaren®, 

Laflanac®, Linac SR®, Matsunaflam®, Merflam®, 

Mirax®, Nacoflar®, Nadifen®, Neurofenac®, 

Nichoflam®, Nilaren®, Proklaf®, Provoltar®, Raost®, 

Reclofen®, Renadinac®, Renvol®, Scanaflam®, 

Tirmaclo®, Troflam®, Valto®, Volmatik®, Voltadex®, 

Voren®, Xepathritis®, X-Flam®, Yariflam®, Zegren®  

Piroksikam Feldene®, Campain®, Felcam®, Feldco®, Grazeo®, 

Infeld®, Kifadene®, Lanareuma®, Licofel®, Pirocam®, 

Pirofel®, Rexicam®, Rexil®, Roxidene®, Scandene®, 

Tropidene®, Xicalom® 


283 

 

Meloksikam Movi-Cox®, Arimed®, Artrilox®, Atrocox®, Cameloc®, 

Denilox®, Flamoxi®, Flasicox®, Futamel®, Hexcam®, 

Loxil®, Loximei®, Loxinic®, Mecox®, Meflam®, 

Melogra®, Meloxin®, Mevilox®, Mexpharm®, 

Mobiflex®, Movix®, Moxam®, Moxic®, Nulox®, 

Ostelox®, Paxicam®, Relox®, Remacam®, Remelox®, 

Rhemacox®, Velcox®, X-Cam® 

Ketoprofen Profenid®, Altofen®, Anrema®, Fetik®, Gatofen®, 

Hextrofen®, Kaltrofen®, Ketros®, Lantiflam®, 

Molaflam®, Nasaflam®, Nazovel®, Noflam®, Ovurila 

E®, Profecom®, Profika®, Pronalges®, Protofen®, 

Remapro®, Rhetoflam®, Rofiden®, Suprafenid® 

Tinoridin Nonflamin® 

 

b. Kortikosteroid. Untuk menghilangkan radang, dokter 

mungkin akan meresepkan kortikosteroid seperti 

prednisolon, deksametason, dsb. Obat ini memiliki 

banyak efek samping. sebab  itu pastikan Anda 

mengonsumsinya sesuai dengan petunjuk dokter. Baca 

juga Bab Kortikosteroid.  

 

c. Kolcisin. Obat ini bukan golongan pereda nyeri melainkan 

antiradang. Termasuk obat “sangat keras” sebab  punya 

banyak efek buruk misalnya muntah dan diare. Batas 

keamanannya juga sangat sempit, kelebihan dosis sedikit 


284 

 

saja bisa berefek fatal.  sebab  itu, gunakan hanya sesuai 

petunjuk dokter. Contoh merek dagang: Recolfar®. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Obat untuk pencegahan. Obat kelompok ini  bekerja 

menurunkan kadar asam urat, tidak menghilangkan nyeri, 

sehingga tidak cocok untuk pertolongan pertama. Dan 

memang sebaiknya obat kelompok ini tidak diminum saat 

P3K Non-Obat 

 

Sembari menunggu obat-obat di atas bekerja, kita 

bisa mengurangi radang dengan memakai  es batu. 

Caranya: 

  Masukkan es batu ke dalam plastik (atau gunakan 

kantong es jika punya).  

  Lapisi kantong es dengan handuk lalu tempelkan ke 

bagian sendi yang meradang.  

  Tahan sekitar beberapa belas menit sesudah  itu angkat.  

  Biarkan bagian yang radang itu kembali ke suhu normal. 

  sesudah  suhunya kembali normal, kita bisa 

menempelkan kantong es berlapis handuk itu lagi. Yang 

penting, kalau mau mengulangi lagi, pastikan suhu 

bagian yang radang itu sudah kembali ke suhu normal.  

  Jangan menempelkan kantong es langsung ke kulit 

tanpa lapisan handuk sebab  suhu yang terlalu dingin 

bisa merusak jaringan yang sakit. 


285 

 

terjadi serangan asam urat, melainkan diminum pada saat 

serangan sudah mereda.  

Akan namun  jika memang sebelumnya pasien sudah minum 

obat ini secara rutin, maka ia tidak perlu menghentikannya 

saat terkena serangan asam urat. 

Tujuan minum obat ini bukan untuk meredakan radang 

melainkan untuk mencegah terjadinya serangan berikutnya. 

Semua obat di kelompok ini tergolong obat keras. Di 

kelompok ini, obat masih dibagi lagi menjadi dua 

subkelompok berdasarkan cara kerjanya.  

 

a. Obat yang menurukan produksi asam urat. Contoh 

alopurinol. Ini obat penurun asam urat yang paling 

banyak beredar di negara kita . Biasanya pasien asam urat 

akan pulang dari dokter dan apotek membawa obat ini. 

Sekali lagi, obat ini sebaiknya tidak diminum pada saat 

terjadinya serangan asam urat. Pasalnya, pada saat awal 

kita minum alopurinol, kadar asam urat mungkin justru 

akan meningkatkan sebentar sebelum kemudian turun.  

Jadi, obat ini sebaiknya hanya diminum sesudah  

serangannya reda. Ini sesuai dengan fungsinya sebagai 

obat pencegahan, bukan untuk P3K. Selain itu, minum 

alopurinol pada saat serangan justru mungkin membuat 

kristal asam urat berpindah ke jaringan lain.  


286 

 

 

Obat Contoh merek dagang 

Alopurinol Zyloric®, Algut®, Alluric®, Alodan®, Alofar®, 

Benoxuric®, Decasurik®, Hycemia®, Isoric®, 

Kemorinol®, Licoric®, Linogra®, Mediuric®, Nilapur®, 

Omeric®, Ponuric®, Pritanol®, Puricemia®, Purinic, 

Reucid®, Rinolic®, Selespurin®, Sinoric®, Tylonic®, 

Urica®, Uricnol®, Uroquad®, Xanturic® 

 

b. Obat yang membantu pengeluaran asam urat lewat urine. 

Contoh probenesid. Dibandingkan alopurinol, obat ini 

lebih jarang digunakan. Contoh merek dagang: Probenid®. 

Seperti alopurinol, obat ini hanya untuk diminum pada 

saat serangan nyeri sudah mereda. Jika diminum pada saat 

serangan asam urat terjadi, dikhawatirkan akan 

menyebabkan kristal asam urat justru akan menyebar ke 

jaringan tubuh lainnya.  

 

Jamu dan Obat Herbal 

Hingga saat ini gangguan asam urat memang masih termasuk 

penyakit yang belum bisa disembuhkan. Maka tidak 

mengherankan banyak penderita yang kemudian berpaling ke obat 

tradisional. 


287 

 

Banyak bahan herbal yang menurut penelitian atau 

berdasarkan pengalaman memang bisa menurunkan kemungkinan 

serangan asam urat. Tapi, harap dicatat, hingga sekarang tidak ada 

satu pun obat tradisional maupun obat modern yang terbukti 

benar-benar bisa menyembuhkan asam urat. Jadi, jangan mudah 

percaya kepada iklan obat herbal yang mengklaim produk itu bisa 

menyembuhkan asam urat.  

Di pasar banyak sekali jenis jamu yang diklaim sebagai 

obat asam urat. Jika Anda yakin jamu itu seratus persen herbal, 

silakan mengonsumsinya sesuai aturan. Beberapa perusahaan 

farmasi nasional memang memproduksi jamu/obat herbal seperti 

ini. Prouric® dan sejenisnya termasuk kategori ini. 

Namun, sebagai konsumen kita harus hati-hati memilih 

jamu. Jangan sampai kita mengonsumsi jamu yang sudah 

dicampur dengan bahan kimia. Di pasaran masih banyak 

produsen jamu rematik yang dicampur dengan kortikosteroid dan 

fenilbutazon.  

Fenilbutazon yaitu  salah satu pereda nyeri kuat yang 

memiliki banyak efek samping. Termasuk obat “keras sekali”, obat 

ini di beberapa negara tidak boleh lagi digunakan pada manusia 

sebab  bisa merusak sumsum tulang belakang. Hanya boleh 

digunakan pada hewan yang dagingnya tidak dikonsumsi seperti 


288 

 

kuda atau anjing—ya, kedua hewan ini memang bisa juga terkena 

encok!  

Di negara kita , obat ini masih boleh beredar dan digunakan 

untuk manusia tapi kini sudah jarang diresepkan, dan justru 

banyak dimanfaatkan oleh produsen jamu nakal.   

Jamu-jamu seperti ini memang bisa cespleng sekali. Begitu 

kita minum, nyeri langsung hilang sebab  memang isinya obat-

obat kelas berat yang kita tidak tahu apa saja isinya dan berapa 

dosisnya. 

Jamu/obat herbal asam urat yang baik mestinya berfungsi 

untuk pencegahan, bukan pertolongan pertama. Kalau sebuah 

produk jamu diklaim bisa menghilangkan rasa nyeri saat serangan 

terjadi, hampir bisa dipastikan obat itu berisi obat kimia sintetis.  

Bagaimanapun, minum obat herbal yaitu  hak pasien. 

Tapi pasien yang cerdas tak mudah dikibuli pabrik jamu.  

Penyakti asam urat memang termasuk salah satu penyakit 

yang tak mudah diobati. Jika tidak dikendalikan dengan baik, 

gangguan asam urat bisa menjadi kronis. Ini harus dihindari.  

Gangguan asam urat sebisa mungkin harus dikendalikan 

dengan baik, entah dengan obat modern atau obat tradisional. 

Kalau tidak, maka penderita akan sering minum obat pereda nyeri 

jangka panjang.  

Padahal jika diminum jangka panjang, obat-obat ini bisa 

menyebabkan sakit mag. Ini yang repot. Kalau sudah terkena 


289 

 

asam urat ditambah sakit mag, pengobatan kedua penyakit ini 

akan lebih sulit. Asam uratnya lebih sulit ditangani. Sakit magnya 

akan makin sering kambuh lagi.  

 


290 

 

 

25 

 

 

OBAT GENERIK 

 

 

Setali pembeli kemenyan, sekupang pembeli ketaya 

Sekali lancung keujian, seumur hidup pasien  tak percaya 

 

------ 

 

Pantun Melayu lawas di atas barangkali masih bisa memberi 

gambaran yang pas terhadap masalah sosialisasi obat generik di 

negara kita  saat ini. Sekalipun sudah lebih dari dua dasawarsa 

kebijakan ini diterapkan di negara kita , masih saja banyak kalangan 

yang enggan memakai nya. Alasannya klasik: harga obat 

generik memang murah tapi khasiatnya masih diragukan. 


291 

 

Bukan hanya masyarakat awam yang berpandangan seperti 

ini. Sebagian dokter pun berpandangan serupa dan enggan 

meresepkan obat generik. Kalau dokter saja menganggap obat 

generik tidak efektif, tentu ini sebuah masalah serius sebab  tenaga 

kesehatan yaitu  ujung tombak sosialisi program ini. Laporan 

dokter tentang obat generik yang tidak ampuh bukan satu atau dua 

tapi cukup banyak. Kalau mau tahu pendapat langsung para 

dokter tentang obat generik, silakan lihat arsip milis Dokter 

negara kita . (Milis ini hanya khusus untuk dokter tapi arsipnya bisa 

diakses siapa saja.) 

Kita memang tidak bisa membuat sebuah kesimpulan umum 

berdasarkan testimoni pasien  per pasien . Akan namun , banyaknya 

laporan tersebut setidaknya membuat kita layak bertanya: jangan-

jangan memang benar bahwa di pasaran ada banyak produk obat 

generik yang tidak ampuh. Bagaimanapun, ketidakpercayaan 

sebagian dokter dan masyarakat tentu harus dijadikan bahan 

introspeksi oleh Pemerintah dan industri farmasi, bukannya 

sekadar dianggap angin lalu atau dicela sebagai alasan yang 

mengada-ada. 

Mengapa dokter tidak percaya? Pertanyaan ini perlu dijawab 

lebih dulu sebelum mencari jawaban dari pertanyaan berikutnya: 

Mengapa dokter enggan meresepkannya? Dua pertanyaan ini bisa 

saja memberi jawaban yang berbeda. Untuk menjawab pertanyaan 


292 

 

pertama, kita harus melihat dulu sejarah penerapan kebijakan obat 

generik di negara kita .  

Kebijakan ini diterapkan Pemerintah tahun 1989 dengan 

tujuan mulia, yaitu ingin melindungi masyarakat dari biaya obat 

yang dianggap terlalu tinggi. Harga obat paten dan obat bermerek 

dianggap terlalu mahal sehingga menyebabkan biaya kesehatan 

menjadi tidak terjangkau oleh banyak pasien . Motif industri 

farmasi untuk mengeruk keuntungan besar telah membuat harga 

obat tidak berpihak kepada konsumen. 

Untuk menurunkan harga, Pemerintah kemudian 

menerapkan kebijakan Obat Generik Berlogo (OGB, yang dalam 

bahasa sehari-hari kita sebut “obat generik” saja). Perusahaan-

perusahaan farmasi dalam negeri didorong untuk memproduksi 

obat-obatan yang isinya sama dengan obat paten, efektivitasnya 

sama, tapi harganya jauh lebih murah. Pada saat yang sama, para 

dokter, terutama di rumah sakit pemerintah, pun diinstruksikan 

untuk meresepkan obat generik buat pasien. 

Tapi usaha ini ternyata tak mudah. Sebagian masyarakat—

pihak yang hendak dilindungi itu—ternyata justru merupakah 

pihak yang paling sulit diyakinkan. Begitu juga sebagian kalangan 

dokter. Mereka beralasan, obat generik tidak ampuh. 

Benarkah klaim itu? 

Sebelum bicara tentang perbedaan jenis obatnya, kita 

mungkin perlu bersikap kritis lebih dulu terhadap klaim ampuh 


293 

 

atau tidak ampuh. Sebagai contoh, mari kita perhatikan ilustrasi 

berikut: Pasien minum obat “G” di hari pertama dan kedua tapi 

gejala sakitnya tidak berkurang. Lalu ia minum obat “P” di hari 

ketiga dan keempat, dan gejala sakitnya berkurang. Ia merasa 

sembuh lalu menyimpulkan bahwa obat “G” tidak ampuh dan 

obat “P” ampuh.  

Secara metodologis, kesimpulan seperti ini mungkin saja 

tidak tepat. Sebab, kita tidak tahu, mungkin saja proses 

pengobatan sudah dimulai di hari pertama atau kedua saat ia 

minum obat “G”. Lalu progres itu mencapai puncaknya di hari 

ketiga dan keempat ketika ia minum obat “P”. Kesimpulan yang 

paling tepat yaitu  bahwa kita tidak bisa membuat kesimpulan 

sebab  kita tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi di dalam tubuh. 

Kita hanya bisa menduga-duga. 

Akan namun , jika banyak sekali pasien  mengalami hal yang 

sama dan membuat dugaan yang sama, apalagi mereka yaitu  

para dokter yang tahu konsep evidence-based medicine, artinya 

kita memang layak bertanya tentang efektivitas obat “G” itu. 

Efektivitas obat generik memang masalah klasik yang 

banyak diperdebatkan. Bukan hanya di negara kita  tapi juga hampir 

di seluruh dunia. Bahkan, negara dengan regulasi farmasi yang 

ketat seperti Amerika Serikat pun sempat menghadapi masalah 

serupa sampai di tahun 1990-an. 


294 

 

Lalu apa yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika? Selain 

kampanye gencar kepada pengguna, Pemerintah Amerika juga 

meningkatkan pengawasan kepada produsen. Sebagai bentuk 

quality assurance, sejak tahun 1999 Food and Drug 

Administration (FDA, Badan Pengawas Makanan dan Obat 

Amerika)  mewajibkan semua produsen obat generik melakukan 

uji bioekivalensi. (Baca publikasi FDA “From Test Tube to Patient: 

Improving Health Through Human Drugs”.)  

Dalam uji ini, obat generik dibandingkan langsung dengan 

obat paten. Keduanya sama-sama diperiksa kandungan dan 

kualitasnya di laboratorium. sesudah  itu, kedua obat tersebut juga 

diminumkan kepada sukarelawan, lalu kadar obat di dalam darah 

mereka diperiksa. Jika keduanya setara, barulah obat generik itu 

dinyatakan layak beredar di pasar. 

Audit terhadap industri farmasi juga diperketat. FDA 

tercatat beberapa kali memberi peringatan bahkan penarikan 

produk obat generik perusahan-perusahaan multinasional seperti 

Ranbaxy, Apotex, dan Teva. Di pasar internasional, perusahaan-

perusahaan ini terkenal sebagai pemasok obat generik dengan 

harga murah. Pabrik-pabrik farmasi negara kita  pun banyak yang 

mengimpor dari mereka. 

Kewajiban uji bioekivalensi dan kontrol ketat terhadap 

industri farmasi ini terbukti bisa membuat reputasi obat generik 

meningkat. Para dokter tak lagi ragu-ragu meresepkannya sebab  


295 

 

memang obat ini telah menjalani uji bioekivalensi. Uji ini 

memastikan bahwa obat generik memang sama efektifnya 

dibandingkan obat paten. Memang, obat generik tetap tidak bisa 

100% sama dengan obat paten. Berdasarkan review FDA terhadap 

2.070 hasil uji bioekivalensi sampai tahun 2007, obat generik 

berbeda sekitar 3,5% dari obat paten. Sekalipun ada perbedaan, 

kedua jenis obat ini secara terapetik dianggap sama sebab  sama-

sama efektif.  

Dengan adanya uji bioekivalensi ini, sekarang di negara 

"Uak Sam" itu, sekitar 70-80% isi resep dokter yaitu  obat generik. 

Padahal, Amerika yaitu  negara yang memiliki paling banyak 

perusahaan farmasi penemu obat paten seperti Pfizer, Abbott 

Labs, Merck & Co, Wyeth, Eli Lilly, Bristol-Myers Squib, dll. 

Bagaimana dengan di negara kita ? 

Pada masa dasawarsa pertama penerapan kebijakan obat 

generik, harus diakui bahwa kualitas sebagian (bukan sebagian 

besar) obat generik memang masih diragukan. Pemerintah 

sebetulnya sudah mewajibkan semua produsen obat generik untuk 

mematuhi aturan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). 

Namun, tak bisa diingkari bahwa di pasaran masih dijumpai obat 

generik yang kualitasnya di bawah standar. 

Di internet, kita masih bisa menemukan arsip penelitian-

penelitian tentang obat generik yang kualitasnya tidak sebanding 

dengan obat paten. Dua di antaranya di sini  dan di sini. Sebagian 


296 

 

besar produk generik sebetulnya sudah memiliki kualitas yang 

setara dengan dengan obat paten. Akan namun , dalam hal reputasi, 

selalu berlaku peribahasa Minangkabau, “Dek nilo satitiak, rusak 

susu sabalango.” Beberapa produk obat generik yang kualitasnya 

buruk itu telah merusak citra keseluruhan obat generik. 

Bagaimanapun, obat yaitu  produk dagang, dan industri 

farmasi punya orientasi terhadap laba. Sementara, harga eceran 

tertinggi obat generik ditentukan oleh Pemerintah sehingga 

perusahaan-perusahaan farmasi itu tidak bisa menentukan harga 

jual sesuai kalkulator mereka. Untuk menyiasati margin 

keuntungan yang lebih tipis ini, pabrik-pabrik farmasi harus 

berhemat dalam produksi. Mungkin saja dalam penghematan itu 

ada sebagian unsur kualitas obat yang dikorbankan tanpa sengaja, 

misalnya membeli bahan baku obat dari pemasok yang kurang 

menjamin kualitasnya. 

Dalam hal ini, Pemerintah tentu tak bisa mengawasi semua 

hal yang terkait produksi obat, mulai dari pembelian bahan baku, 

produksi, pengendalian mutu, dan seterusnya. Yang bisa 

dilakukan oleh Pemerintah sebatas sertifikasi CPOB dan pengujian 

produk jadi. 

Apalagi saat itu Pemerintah juga belum mewajibkan uji 

bioekivalensi buat produk obat generik sebab  biayanya yang 

cukup mahal. Yang diwajibkan saat itu baru sebatas uji-uji yang 


297 

 

murah dan mudah dilakukan di laboratorium tanpa memakai  

sukarelawan, seperti uji disolusi terbanding. 

Dalam uji disolusi ini, obat generik diperiksa kecepatannya 

terlarut di dalam larutan simulasi mirip cairan lambung. Tapi uji 

ini hanya dilakukan di dalam tabung kaca di laboratorium, tidak 

dengan cara diminumkan kepada sukarelawan. Jadi, tidak bisa 

menggambarkan keadaan sesungguhnya ketika obat diminum oleh 

pasien. 

sebab  kontrol kualitas obat generik saat itu masih belum 

begitu bagus, mudah dipahami jika dokter masih menemukan obat 

generik yang tidak efektif. Inilah yang kemudian membuat mereka 

sangsi terhadap slogan iklan OGB, “Kita ‘kan tidak makan 

mereknya”. 

Sekalipun semua produsen obat generik sudah memperoleh 

sertifikat CPOB, kemampuan masing-masing pabrik itu dalam 

membuat formula yang bagus tentu saja tidak sama. Walaupun 

kandungan dua produk sama-sama amoksisilin 500 mg, bisa saja 

keduanya memiliki sifat pelarutan dan penyerapan yang berbeda 

jika formulasinya berbeda, jenis kristal zat aktifnya berbeda, atau 

proses produksinya berbeda. 

Untuk memperbaiki kekurangan ini, Pemerintah kemudian 

menerapkan kebijakan seperti yang dilakukan oleh FDA, yakni 

kewajiban uji bioekivalensi. Uji disolusi di dalam tabung saja tidak 

cukup. Obat generik harus diuji pada manusia. Maka sejak tahun 


298 

 

2005, Pemerintah mewajibkan para produsen obat-obat generik 

untuk melakukan uji bioekivalensi pada produk-produk yang 

memang harus dibandingkan bioekivalensinya. 

Sejak kebijakan uji bioekivalensi ini diterapkan, sebetulnya 

keseragaman kualitas obat generik di pasaran menjadi semakin 

baik. Pelaksanaan kebijakan ini memang tidak bisa seketika. 

Hingga saat ini pun belum semua produk obat generik dilengkapi 

uji bioekivalensi. Tapi secara umum keseragaman kualitas obat 

generik dalam lima tahun terakhir sudah jauh lebih baik dibandingkan  

dasawarsa yang lalu. 

Sayangnya, mindset bahwa obat generik yaitu  obat murah 

dan murahan yang sudah telanjur tertanam belasan tahun 

memang tidak mudah untuk diubah. Ini bukti bahwa jika  

Pemerintah dan industri farmasi “lancung keujian” dan gagal 

menjamin efektivitas obat generik, bisa jadi seumur hidup 

masyarakat akan sulit percaya. 

Perlu usaha keras dan sungguh-sungguh untuk membuat 

pasien  yang tidak percaya menjadi percaya. Maka jika selama ini 

kampanye obat generik lebih menekankan logika harga murah, 

sudah saatnya kampanye sekarang lebih menekankan pada bukti 

uji bioekivalensi. 

Para dokter dan tenaga kesehatan yaitu  pasien -pasien  

terdidik yang terbiasa berpikir rasional dengan landasan bukti 

ilmiah. Logika harga murah saja tidak cukup kalau tidak disertai 


299 

 

dengan bukti ilmiah bahwa obat generik memang sungguh-

sungguh sama efektifnya dengan obat paten. Jika bukti ilmiah dari 

laboratorium independen yang terakreditasi sudah ada, tapi tenaga 

kesehatan masih tetap enggan memakai nya, barangkali 

memang masalahnya bukan kepercayaan. 

Sebagian tenaga kesehatan mungkin lebih suka 

memakai  obat bermerek sebab  alasan keuntungan yang 

didapat dari produsennya. Ini tentu bukan bab obat generik tapi 

bab kode etik. Yang jadi persoalan yaitu  ketika tenaga kesehatan 

meragukan efektivitas obat generik. Sebab, mereka yaitu  pihak 

yang bersentuhan langsung dengan pasien. Mereka lebih tahu 

fakta di lapangan. Sekalipun Pemerintah mengampanyekan obat 

generik dijamin efektif, mereka tak akan mudah percaya jika 

ternyata di lapangan mereka menjumpai fakta yang sebaliknya. 

Ketidakpercayaan yaitu  masalah persepsi. Dan, seperti 

kata para psikolog, persepsi bisa saja berangkat dari fakta, 

sekalipun bisa juga hanya berdasarkan syakwasangka. Apa pun 

penyebabnya, fakta ataupun prasangka, keduanya bisa dilawan 

dengan satu senjata, yaitu bukti ilmiah uji bioekivalensi. 

 

Obat Generik Sejati vs. Semu   

Jika kita melihat sejarah perkembangan obat di dunia, sebetulnya 

kita akan lebih mudah memahami kenapa kebijakan obat generik 


300 

 

yaitu  sebuah keharusan, lebih-lebih di negara kita , negara dengan 

penduduk seperempat miliar yang sebagian besar dari mereka 

belum dilindungi asuransi kesehatan. 

Bagaimanapun juga, produk obat yaitu  produk dagang. 

Medicine is business. Big business. Hukum dagang berlaku di sini. 

Perusahaan-perusahaan besar farmasi dunia berinvestasi miliaran 

dolar, melakukan riset bertahun-tahun untuk menemukan obat 

baru. Begitu obat ini ditemukan, mereka akan memanen investasi 

dari penjualan obat tersebut. 

Sebagai penghargaan terhadap kekayaan intelektual, 

perusahaan penemu obat akan memegang hak paten yang 

membuatnya bisa memonopoli penjualan obat tersebut di seluruh 

dunia. Selama masa paten itu belum kedaluwarsa, tak ada 

perusahaan lain yang boleh memproduksi dan menjual obat itu. 

Contoh gampang yaitu  amoksisilin. Antibiotik ini 

ditemukan tahun 1972 oleh Beecham, perusahaan farmasi Inggris 

yang sekarang menjadi GlaxoSmithKline. Beecham memberi 

nama dagang obat ini Amoxil®. Amoxil® inilah yang dalam ilmu 

farmasi disebut sebagai obat paten (kadang disebut inovator, 

originator, atau pioner). Selama sepuluh tahun, Beecham 

menangguk keuntungan dari monopoli penjualan amoksisilin di 

seluruh dunia. 


301 

 

Baru ketika masa patennya kedaluwarsa di tahun 1982, 

perusahaan-perusahaan farmasi lainnya berlomba-lomba membuat 

versi generiknya. Dalam terminologi ilmu farmasi, semua produk 

yang mengandung amoksisilin selain Amoxil® dianggap sebagai 

obat generik. Jadi, yang namanya obat paten sebetulnya hanya 

satu merek, yaitu Amoxil® saja. Semua produk amoksisilin selain 

Amoxil® yaitu  obat generik (biasa disebut juga me-too product). 

Di negara kita  terdapat banyak sekali merek dagang obat 

yang mengandung amoksisilin. Jumlahnya sekitar dua ratus 

merek! Maklum, amoksisilin termasuk antibiotik yang paling laris 

sehingga semua industri farmasi berlomba-lomba 

memproduksinya. Oleh pasien  negara kita , obat-obat generik 

bermerek ini sering disebut sebagai “obat paten”. Jelas sekali 

penyebutan ini mengaburkan definisi obat paten sebab  sejatinya 

produk-produk itu yaitu  obat generik. Hanya saja, produk 

generik itu diberi merek dagang. Obat generik semu! 

Harga obat-obat generik bermerek ini lebih murah dibandingkan  

obat paten sebab  memang pabrik-pabrik obat generik ini tidak 

perlu berinvestasi miliaran dolar untuk melakukan penelitian 

sendiri. Meski sudah cukup murah, tetap saja harga ini masih 

belum berpihak kepada konsumen.  

Produksi obat generik bermerek ini masih melupakan esensi 

kebijakan paten, yaitu bahwa sesudah  masa paten kedaluwarsa, 

obat itu menjadi milik masyarakat luas. Dalam produk obat 


302 

 

bermerk, masih banyak komponen harga yang mestinya bisa 

dipangkas sehingga tidak perlu dibebankan kepada konsumen, 

misalnya biaya promosi, biaya kemasan yang hanya berfungsi 

“pencitraan” tanpa nilai fungsional, atau bahkan margin 

keuntungan yang terlalu besar. 

Atas alasan inilah Pemerintah kemudian membuat 

kebijakan Obat Generik Berlogo (OGB, produk obat tanpa merek 

dagang yang diberi nama sesuai dengan kandungan generiknya). 

OGB inilah yang biasa kita sebut sehari-hari sebagai obat generik—

tanpa embel-embel. Harga OGB ini bisa amat sangat jauh lebih 

murah sampai sepersepuluh bahkan seperdua puluh dari harga 

obat paten maupun obat generik bermerek! Lewat kebijakan OGB 

ini, perusahaan farmasi tetap bisa memperoleh keuntungan wajar 

tanpa membebani konsumen dengan biaya-biaya yang tidak perlu. 

Jadi, dari latar belakang ini kita bisa melihat bahwa 

kebijakan OGB yaitu  upaya untuk melindungi masyarakat dari 

biaya kesehatan yang mahal. Sungguh sayang jika konsumen yang 

hendak dilindungi itu justru merupakan pihak yang paling kuat 

menolak OGB hanya sebab  mereka tidak percaya dengan 

kualitasnya.  

Di dasawarsa ketiga ini, kebijakan OGB di negara kita  

menjadi lebih penting lagi mengingat negara kita akan 

menerapkan sistem jaminan sosial nasional. Penggunaan obat 

generik sejati (OGB) jelas akan menghemat banyak anggaran. 


303 

 

Sebagai gambaran pembanding, penggunaan obat generik di 

Amerika diperkirakan bisa menghemat anggaran hingga US$ 200 

miliar (sekitar Rp 2.000 triliun) dalam setahun. 

Di negara kita saat ini, penggunaan OGB baru mencapai 

10%. Porsi terbesar masih ditempati oleh obat generik bermerek. 

Sukses tidaknya kebijakan obat generik sangat ditentukan oleh 

semua pihak, mulai dari Pemerintah, industri farmasi, tenaga 

kesehatan, hingga masyarakat luas. sebab  sebagian produk obat 

generik selama ini telanjur dianggap “lancung keujian”, maka 

yaitu  tugas Pemerintah dan industri farmasi untuk benar-benar 

memastikan bahwa dengan kewajiban uji bioekivalensi, semua 

produk obat generik yang beredar di pasar memiliki efektivitas 

yang sama dengan produk obat paten. 

Pengawasan terhadap produsen obat generik harus lebih 

ditingkatkan. Jika perlu, Badan POM harus proaktif melakukan 

sampling obat generik di pasaran kemudian melakukan semua uji 

yang diperlukan secara independen, terutama untuk produk-

produk yang dicurigai tidak memenuhi standar. Dengan begitu, 

masyarakat tidak hanya mendapat informasi dari perusahaan 

farmasi tapi juga dari lembaga pengawas.   

Pada saat yang sama, para tenaga kesehatan harus 

mendapat akses mudah untuk melihat hasil uji bioekivalensi obat 

generik itu sehingga mereka tidak ragu lagi meresepkannya. Dan 

konsumen, sebagai pihak yang paling berhak menentukan pilihan, 


304 

 

harus mendapat refreshing pemahaman baru tentang OGB. 

Bagaimanapun, konsumen yaitu  pihak yang paling berkuasa. 

Meskipun dokter meresepkan obat paten yang mahal, pada 

akhirnya konsumenlah yang paling berhak menentukan pilihan. 

Permenkes tentang Obat Generik menyebutkan dengan 

jelas: “Apoteker dapat mengganti obat merek dagang/obat paten dengan 

obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain 

atas persetujuan dokter dan/atau pasien.” Walaupun dokter 

meresepkan obat paten atau obat bermerek, pasien berhak 

meminta versi generiknya di apotek. Generik sejati alias OGB.  

OGB yang sesuai standar yaitu  obat yang memenuhi 

semua kriteria obat sejati, yaitu aman, ampuh, dan... murah. 

Selisih harga yang jauh antara OGB terhadap obat paten atau obat 

generik bermerek bukan sekadar soal mampu atau tidak mampu 

bayar. Masyarakat Amerika saja, yang daya belinya lebih tinggi 

dari masyarakat negara kita , lebih banyak memakai  obat 

generik. Ini soal kepercayaan masyarakat dan kewajiban negara 

menyediakan pelayanan kesehatan yang terjangkau.  

Kalaupun toh, andaikata, umpamanya, misalkan... sampai 

hari ini masih ada produk OGB yang dicurigai berkualitas rendah 

di pasaran, mestinya nila setitik itu tidak menjadi alasan untuk 

menolak obat generik sebelanga. Sebagai konsumen yang kritis, 

kita bisa mengomunikasikan temuan kita ke dokter atau apoteker 

yang akan meneruskannya ke organisasi profesi, atau bisa juga 


305 

 

langsung ke Badan POM (http://ulpk.pom