.go.id/ulpk), Kementerian
Kesehatan, atau lembaga perlindungan kosumen.
Dengan cara itu, masyakarat bisa ikut membantu
Pemerintah memperbaiki kekurangan dalam hal pengawasan
OGB, sehingga semua obat generik benar-benar menjadi obat
generik tulen: betul-betul ekivalen dengan obat paten.
306
26
OBAT
BUAT IBU HAMIL
Obat sejatinya yaitu racun. Racun yang punya manfaat.
Kita terpaksa minum obat sebab satu alasan: manfaatnya lebih
besar dibandingkan mudaratnya. Ini yaitu prinsip utama yang harus
kita pegang setiap kali minum obat.
First, do no harm. Perkara manjur atau tidak, itu urusan
nomor dua. Perkara pertama yang harus benar-benar diperhatikan
yaitu apakah obat itu aman ataukah tidak. Aman dulu, baru
berkhasiat. Urutannya harus begitu, tidak boleh dibalik. Itu
307
sebabnya dalam penelitian obat, toxicity test (uji keamanan) lebih
didahulukan dibandingkan efficacy test (uji khasiat).
Penelitian tentang obat biasanya dilakukan terhadap hewan
coba lebih dulu. Jika terbukti aman, baru dilakukan pada manusia.
Di tahap ini ada keterbatasan yang tidak bisa dihindari. Penelitian
terhadap ibu hamil dan janinnya sulit dilakukan sebab terlalu
berisiko. Itu sebabnya data tentang pengaruh obat terhadap janin
tidak banyak diketahui. Wallahua’lam.
Ada obat yang aman buat ibu hamil, banyak pula yang
berbahaya. Contoh obat berbahaya yang paling fenomenal dalam
sejarah manusia yaitu talidomid. Obat yang biasa digunakan
sebagai pil tidur ini memiliki efek antimuntah. Khasiat antimuntah
ini lalu dimanfaatkan oleh ibu-ibu hamil yang tak tahan mual-
muntah.
Belakangan baru diketahui ternyata banyak ibu yang minum
obat ini melahirkan bayi tanpa lengan, tungkai, atau telinga.
Banyak di antara bayi-bayi itu mengalami gangguan jantung,
mata, ginjal, retardasi mental, dan sebagainya. Efek buruk yang
disebut “teratogenik” obat ini baru diketahui dari banyaknya
laporan bayi lahir, bukan dari penelitian yang memang sejak awal
didesain untuk melihat pengaruh obat itu terhadap janin.
Ini memang salah satu keterbatasan ilmu farmasi modern.
sebab ada keterbatasan inilah, ibu hamil harus ekstra hati-hati
308
kalau mau minum obat. Sebisa mungkin ibu hamil harus berusaha
menghindari minum obat, dengan menerapkan pola hidup sehat,
terutama sekali pada tiga bulan (trimester) pertama.
Masa trimester pertama merupakan periode inisiasi
pembentukan organ-organ vital bayi. Jika si ibu minum obat yang
salah, bisa saja proses ini terganggu dan menyebabkan bayi lahir
dengan kelainan organ.
Aturan pertama selama kehamilan: sebisa mungkin hindari
penggunaan obat, terutama obat yang diminum. Sebagai
alternatifnya, ibu hamil bisa memakai cara-cara non-obat.
Misalnya, saat sakit kepala, pusing, atau badan capek. dibandingkan
minum obat, lebih aman pijat, spa, atau mandi air hangat saja.
Tentu pijatnya di bagian tubuh yang tak berhubungan dengan
kandungan.
Jika diperlukan, untuk pijat, ibu hamil bisa memakai
balsem, minyak kayu putih, minyak telon dan sejenisnya yang tak
perlu diminum dan berkhasiat terapi aroma.
Aturan kedua, kalau terpaksa minum obat, pilihlah obat
yang aman. Ada kondisi-kondisi tertentu ketika ibu hamil harus
menjalani pengobatan. Misalnya, jika dia mengalami demam
tinggi, dia sebaiknya minum obat penurun demam. Sebab, jika
dibiarkan saja, demam tinggi bisa membahayakan kesehatan janin.
Syaratnya, obat itu harus aman buat janin. Jika si ibu salah
memilih obat demam, bisa saja janin justru mengalami masalah
309
yang lebih parah. Itu sebabnya, obat demam yang dipilih harus
yang paling aman. Sejauh ini, obat demam paling aman buat ibu
hamil yaitu parasetamol.
Contoh lain, ibu hamil yang menyandang diabetes atau
hipertensi sebaiknya tetap minum obat selama kehamilan. Sebab,
jika tidak dikontrol, kadar gula darah tinggi atau tekanan darah
tinggi pada ibu bisa membahayakan kesehatan janin. Kondisi
diabetes yang tak terkontrol bisa menyebabkan bayi lahir dengan
berat badan rendah. Dalam hal ini pemilihan obat diabetes dan
obat hipertensi yang aman harus dilakukan oleh dokter. Obat
diabetes dan hipertensi bukan termasuk golongan obat bebas.
Di bawah ini, contoh obat-obat yang relatif aman buat ibu
hamil. Predikat “aman” di sini tidak berarti 100% aman sebab ,
bagaimanapun, tak ada obat yang sepenuhnya aman, apalagi buat
ibu hamil. Istilah aman di sini berarti relatif paling sedikit risiko
buruknya dibandingkan obat lain dalam kelompok yang sama.
Sekalipun obat-obat berikut ini dikategorikan aman, ibu
hamil sebaiknya tetap berkonsultasi kepada dokter sebelum
meminumnya. Sebab, aman bagi kebanyakan pasien belum tentu
aman buat pasien .
1. Obat pereda nyeri dan demam (analgesik-antipiretik)
Obat paling aman dalam kategori ini yaitu parasetamol. Ibu
hamil sebaiknya menghindari ibuprofen, kecuali atas resep
310
dokter. Pemakaian reguler ibuprofen bisa mempengarui
pertumbuhan pembuluh darah bayi dan mungkin bisa
menyebabkan hipertensi di paru-paru bayi.
Begitu pula asetosal (aspirin). Ibu hamil sebaiknya
menghindari obat ini, kecuali atas resep dokter. Asetosal bisa
meningkatkan risiko perdarahan pada ibu bersalin jika
diminum menjelang bersalin.
2. Obat alergi/antihistamin
Menurut Mayo Clinic, antihistamin pilihan pertama buat ibu
hamil yaitu loratadin. Namun, menurut FDA, antihistamin
pilihan pertama yaitu klorfeniramin maleat (CTM) dan
difenhidramin. Sebelum memilih, sebaiknya tanyakan kepada
dokter atau apoteker.
Sekalipun dikelompokkan aman, obat-obat ini hanya boleh
dikonsumsi dalam jangka pendek. Tidak boleh sampai
berhari-hari. Bagaimanapun, janin yaitu makhluk hidup
yang bisa merasakan efek samping antihistamin seperti CTM
atau difenhidramin.
Dan, sekali lagi, sebisa mungkin hindari obat yang
diminum. Jika kita mengalami alergi akibat sesuatu yang
bersentuhan dengan kulit, sebaiknya kita berusaha
mengobatinya dengan obat-obat yang digunakan secara lokal
(topikal) alias dioleskan atau ditaburkan di kulit. Misalnya,
311
sebelum memutuskan minum CTM atau difenhidramin, lebih
baik mencoba bedak obat kulit lebih dulu.
3. Obat mual
Obat ini paling sering ditanyakan ibu hamil. Sesuai aturan
pertama, sebisa mungkin usahakan melawan mual-muntah
dengan cara non-obat. Misalnya:
Makan dan minum sedikit-sedikit tapi sering.
Hindari pemicunya, misalnya bau-bauan, kondisi stres,
kecapekan, dan sejenisnya.
Istirahat yang cukup.
Pijat, terutama pijat oleh suami.
Jika perlu, manfaatkan jahe. Obat tradisional ini
tergolong aman. Pemakaiannya bisa dengan cara direbus
lalu diminum air rebusannya atau dimemarkan lalu
dikulum dan disesap pelan-pelan.
Jika memang sangat diperlukan, obat seperti
difenhidramin bisa menjadi pilihan untuk pemakaian sesekali.
Ini golongan antihistamin yang juga berkhasiat antimual. Jika
ibu hamil terus-terusan mengalami mual dan muntah,
sebaiknya konsultasikan ke dokter. Bagaimanapun, janin
312
yaitu makhluk individu yang bisa merasakan efek samping
difenhidramin.
4. Obat sembelit
Susah buang air besar (BAB) juga merupakan salah satu
masalah yang lazim dialami ibu hamil. Sembelit terjadi
sebab terjadinya perubahan hormonal di dalam tubuh ibu,
juga sebab tekanan dari kandungan terhadap usus besar.
Sembelit bisa juga disebabkan oleh pil zat besi dosis tinggi.
Sesuai aturan pertama, sebisa mungkin atasi sembelit
dengan cara-cara non-obat. Perbanyak konsumsi air dan serat
(sayur dan buah-buahan). Minum air hangat di pagi hari.
Usahakan tetap aktif dengan melakukan olahraga ringan,
misalnya jalan kaki, olah napas, yoga, renang, bersepeda
statis, dan olahraga lain yang tidak membahayakan janin.
Aktivitas fisik bisa merangsang usus besar tetap aktif. Jika
penyebabnya yaitu sebab kebanyakan pil zat besi, hentikan
sementara konsumsinya.
Apabila semua cara sudah dilakukan dan masih saja
sembelit, ibu hamil bisa memilih obat sembelit dari golongan
pelunak dan pelicin (lihat Bab Obat Sembelit). Contoh obat:
laktulosa (misalnya Dulcolactol®, Duphalac®, Lactulax®,
Lantulos®, Laxadilac®, Opilax®, Solac®), natrium lauril
313
sulfat/sulfoasetat, PEG, dan sorbitol (misalnya Microlax®,
Laxarec®).
Sebisa mungkin hindari penggunaan obat yang
mengandung bisakodil kecuali atas resep dokter. Jika memang
kita terpaksa mengonsumsi bisakodil, pilihlah obat yang
dimasukkan ke dalam dubur (supositoria), bukan yang
diminum.
Jika sembelit terus berulang selama kehamilan, sebaiknya
konsultasikan ke dokter. Hindari penggunaan obat sembelit
yang berulang-ulang. Sekalipun relatif aman, jika dikonsumsi
dalam jangka panjang, obat-obat ini tetap bisa menimbulkan
efek samping yang buruk. Sebagai contoh, minyak mineral
seperti parafin cair bisa mengurangi penyerapan vitamin-
vitamin yang diperlukan oleh janin. Begitu pula
penggunanaan laktulosa jangka panjang mungkin bisa
mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
5. Obat flu dan dekongestan (pelega hidung)
Sesuai aturan pertama, sebisa mungkin hindari penggunaan
obat, terutama obat minum. Jika hidung tersumbat sebab flu,
ibu hamil sebaiknya berusaha mengatasi flu dengan cara non-
obat, misalnya minum sup hangat, pijat, spa, beryoga, atau
yang lain. Hidung tersumbat juga bisa diringankan dengan
menghirup uap air hangat.
314
Jika hidung masih saja tersumbat, gunakan tetes hidung
yang berisi air dan garam saja (misalnya Breathy®). Jika tetes
air garam masih belum bisa mengatasinya, ibu hamil bisa
memakai obat tetes atau semprot hidung yang berisi
oksimetazolin (seperti Afrin®, Inza Nasal®, Iliadin®), atau
berisi silometazolin (misalnya Otrivin®, Zovrin®).
Obat minum yang berisi fenilpropanolamin (PPA) atau
pseudoefedrin sebaiknya dihindari, kecuali atas resep dokter
dan untuk pemakaian sesekali.
6. Suplemen vitamin dan mineral
Secara umum vitamin dan mineral aman buat ibu hamil.
Beberapa suplemen tertentu bahkan dianjurkan untuk
dikonsumsi ibu hamil, misalnya asam folat dan zat besi.
Kekurangan asam folat bisa menyebabkan bayi lahir dengan
bibir sumbing atau mengalami gangguan di saraf otak dan
saraf tulang belakang. Begitu pula kekurangan zat besi yang
bisa menyebabkan anemia.
Meski begitu, bukan berarti suplemen vitamin dan
mineral bisa diminum sebanyak yang dimaui. Sesuai aturan
pertama, sebisa mungkin hindari penggunaan obat maupun
suplemen. Kebutuhan vitamin dan mineral sebaiknya
dicukupi dari makanan, seperti buah, sayur, daging, susu,
kacang-kacangan, biji-bijian, dan sebangsanya.
315
Asam folat bisa didapatkan dari sayur-sayuran yang
berwarna hijau tua seperti bayam dan brokoli, dan kacang-
kacangan. Zat besi banyak terdapat di dalam daging merah,
daging ayam, dan ikan.
Jika terpaksa memakai suplemen, sebisa mungkin
hindari suplemen vitamin atau mineral dosis tinggi. Ukuran
dosis bisa dilihat dari keterangan persentase terhadap angka
kecukupan gizi di kemasannya. Dalam dosis wajar, vitamin
dan mineral aman buat ibu hamil. Namun, dalam dosis
kelewat tinggi (megadosis) vitamin dan mineral yang
terakumulasi di tubuh ibu justru bisa berbahaya bagi janin.
Sebagai contoh, overdosis vitamin A di trimester pertama
mungkin justru bisa meningkatkan risiko bayi lahir dengan
abnormalitas di wajah dan sarafnya.
7. Obat batuk
Sesuai aturan pertama, sebisa mungkin hindari penggunaan
obat. Hindari faktor-faktor yang bisa mencetuskan batuk.
Sebelum minum obat, redakan batuk dengan cara non-obat,
misalnya minum air hangat, minum wedang jahe hangat,
menyesap jahe yang dimemarkan, atau minum obat
tradisional seperti perasan jeruk nipis dengan madu atau
kecap.
316
Batuk yang wajar sebetulnya tak perlu dilawan dengan
obat sebab batuk yaitu refleks alami untuk mengeluarkan
sesuatu dari saluran napas. Tak perlu khawatir. Refleks batuk
yang wajar tidak akan mengganggu kesehatan janin.
Sebisa mungkin hindari penggunaan ekspektoran alias
pengencer dahak guaifenesin (gliseril guaiakolat). FDA
mengelompokkan obat ini ke dalam kategori C. Ini kategori
untuk obat yang belum diketahui keamanannya. Mungkin
aman buat janin, mungkin pula tidak. Begitu pula obat batuk
golongan antitusif (untuk batuk kering). FDA pun
mengelompokkannya ke dalam kategori C.
Bagi pasien yang tidak hamil, obat ini tergolong obat
bebas. Tapi bagi ibu hamil, penggunaannya harus sangat hati-
hati, dan hanya boleh dalam tempo singkat. Apabila batuk
berlangsung dalam jangka lama, hindari penggunaan obat
terus-menerus. Konsultasikan ke dokter.
Untuk panduan lebih detail, silakan cek langsung di
http://www.aafp.org/afp/2003/0615/p2517.html.
8. Obat mag
FDA menggolongkan obat-obat antasid yang berisi kombinasi
aluminium hidrosida dan magnesium hidroksida ke dalam
kategori B, alias boleh digunakan. Simetikon (komponen obat
mag yang berfungsi mengikat gas di lambung) digolongkan ke
317
dalam kategori C. Tapi sebab obat ini tidak diserap, maka
FDA menganggapnya sebagai obat yang aman (generally
regarded as safe, GRAS).
Jadi, obat mag yang berisi dua atau tiga komponen di
atas termasuk kategori aman. Contoh merek dagang yang
beredar di negara kita : Promag®, Mylanta®, Maalox®,
Antasida DOEN, Madrox®, Polycrol®, Polysilane®, dsb.
(Lihat juga Bab Obat Mag.)
Obat mag golongan simetidin, ranitidin, dan famotidin
sebaiknya dihindari kecuali atas resep dokter. Ketiga obat ini
biasanya digunakan untuk sakit mag yang agak berat. Dalam
pengelompokan FDA, ketiga obat ini termasuk kategori B.
Boleh digunakan tapi harus sangat hati-hati, terutama di
trimester pertama, sebab obat-obatan ini bisa masuk ke
peredaran darah janin lewat plasenta.
9. Obat perut kembung
Jika perut kembung disebabkan oleh sakit mag, obat-obat mag
di atas bisa digunakan. Jika perut kembung disebabkan oleh
kurangnya enzim cerna, obat-obat dari golongan enzim cerna
seperti amilase, protease, lipase, pankreatin bisa digunakan.
Contoh merek dagang: Enzyplex®, Enzymfort®, Vitazym®,
Librozym®, Pankreoflat®.
318
Sebaiknya hindari obat kembung yang mengandung
bromelain dan papain. Bromelain yaitu enzim yang juga
banyak terdapat di dalam buah nanas, yang berfungsi
membantu pencernaan protein. Sementara papain yaitu
enzim dari getah pepaya muda yang juga berkhasiat
membantu pencernaan protein. Beberapa merek dagang obat
kembung berisi enzim ini.
10. Obat diare
Sesuai aturan pertama, usahakan sebisa mungkin untuk tidak
memakai obat. Diare sendiri merupakan refleks tubuh
untuk membuang sesuatu yang dianggap berbahaya dari
saluran cerna. Sesuatu yang berbahaya itu bisa kuman (virus,
bakteri, protozoa), toksin (racun), makanan yang mengiritasi
(seperti cabai), atau komponen makanan yang tidak bisa
dicerna.
Sebagian diare bisa berhenti dengan sendirinya tanpa
diberi obat. Pada dasarnya diarenya sendiri tidak berbahaya.
Yang berbahaya yaitu dehidrasinya, alias kekurangan
cairan. Itu sebabnya, “obat” pertama yang harus diminum
yaitu oralit. (Lihat juga Bab Obat Diare)
Jika diperlukan, pilihlah obat diare yang tidak diserap,
misalnya karbon aktif, kaolin, attapulgit, dan pektin. Obat-
319
obat ini aman buat ibu hamil sebab tidak diserap ke
peredaran darah.
Karbon aktif bekerja dengan cara menyerap (meng-
adsorbsi) toksin penyebab diare di usus. Contoh merek dagang
karbon aktif: Norit®, Bekarbon®. Sekalipun obat jadul,
karbon aktif tetap merupakan obat pilihan dalam diare,
terutama dalam urusan keamanan. Ditelan sepuluh butir pun
aman.
Kaolin bekerja dengan cara menyerap toksin penyebab
diare. Attapulgit bekerja dengan cara melapisi permukaan
usus sehingga tidak berkontak langsung dengan bahan
penyebab diare. Sementara pektin bekerja dengan cara
memadatkan tinja. Meski relatif aman, pektin tetap bisa
menimbulkan efek samping, misalnya sembelit sebab tinja
menjadi terlalu padat.
Contoh merek dagang yang berisi kombinasi kaolin dan
pektin: Kaopectate®, Neo Kaolana®, Guanistrep®, Kaotin®,
Kanina®, Kaolimec®, Omegdiar®. Contoh merek dagang
yang berisi attapulgit saja atau attapulgit plus pektin: Neo
Entrostop®, New Diatabs®, Diagit®, Molagit®, Kaotate®,
Biodiar®.
Jika penyebab diare yaitu infeksi atau sesuatu yang tak
bisa diadsorpsi (diserap), obat-obat di atas biasanya kurang
efektif, bahkan bisa menyebabkan risiko sembelit akibat
320
pektin. Bila diare berlanjut atau malah menjadi sembelit,
sebaiknya ibu hamil pergi ke dokter. Hindari penggunaan obat
diare yang berisi loperamid, kecuali atas resep dokter.
Obat-obat di atas (nomor 1–10) tergolong obat yang bisa
didapatkan di apotek tanpa resep dokter. Dari golongan obat
resep, ada beberapa jenis obat yang sebaiknya diketahui oleh pasien
awam demi alasan kemananan.
11. Kortikosteroid
Pada pasien yang tidak hamil saja, obat keras ini bisa
menimbulkan efek buruk, apalagi pada ibu hamil. (Lihat
Bab Obat Alergi, juga Bab Kortikosteroid).
Minum kortikosteroid (seperti deksametason, prednison,
prednisolon, dan sejenisnya) secara reguler pada ibu hamil
berisiko membuat bayi lahir prematur, lahir dengan berat
badan rendah, atau berbibir sumbing. Ini hanya contoh
betapa ibu hamil harus ekstra hati-hati dalam minum obat.
Seperti dijelaskan di Bab Kortikosteorid, obat ini banyak
digunakan untuk berbagai penyakit, mulai dari asma, alergi,
rematik, hingga sakit kulit. Jika si ibu menyandang peyakit
kronis yang mengharuskannya minum kortikosteroid secara
reguler, misalnya sakit asma, ia harus memberi tahu
dokternya bahwa ia hamil.
321
Selama masa kehamilan, si ibu harus tetap memakai
obat asma. Jika tidak dikendalikan, asma mungkin bisa
menyebabkan gangguan pertumbuhan janin. Dengan
memberi tahu dokter sedini mungkin, dokter akan bisa
memilihkan obat asma yang risikonya paling kecil terhadap
ibu dan janin.
12. Antibiotik
Ini kelompok obat yang sangat diperlukan dan sangat
banyak digunakan secara bebas (tapi salah) tanpa resep
dokter. Selain risiko resistensi dan kuman menjadi kebal,
penggunaan antibiotik pada ibu hamil harus mendapat
perhatian khusus sebab mungkin bisa mengganggu
pertumbuhan janin.
Infeksi-infeksi tertentu memang membutuhkan antibiotik.
Misalnya, infeksi saluran kemih. Jika dibiarkan saja dan
tidak diobati, infeksi ini mungkin bisa menyebabkan bayi
lahir prematur. Dan sebab antibiotik yaitu obat resep, ibu
hamil sebaiknya menyerahkan urusan ini kepada dokter,
tidak melakukan pengobatan sendiri. Dokter bisa
menimbang manfaat dan risiko obat sehingga bisa memilih
obat yang tepat.
Berikut ini beberapa contoh antibiotik dan risiko yang
mungkin timbul pada ibu hamil.
322
a. Tetrasiklin
Antibiotik ini di pasaran hampir seperti obat bebas padahal
sebetulnya yaitu obat resep. Contoh merek yang sangat
terkenal yaitu Super Tetra®. Antibiotik ini bisa berikatan
dengan kalsium. Jika diminum pada kehamilan trimester
kedua hingga masa menyusui, antibiotik ini bisa
mengganggu pertumbuhan cikal bakal gigi dan tulang.
Sekalipun gigi bayi belum keluar saat di berada di dalam
kandungan, sebetulnya proses awal pembentukan cikal
bakal gigi sudah dimulai. Efek yang sama juga akan terjadi
jika ibu hamil atau ibu menyusui minum oksitetrasiklin,
doksisiklin, dan minosiklin.
b. Kotrimoksasol
Ini juga termasuk antibiotik yang banyak digunakan secara
bebas tapi salah. Berupa kombinasi dua antibiotik, yakni
trimetoprim dan sulfametoksazol, obat ini biasa
diindikasikan untuk infeksi saluran kemih.
Menurut Organization of Teratology Information
Specialist (OTIS), kotrimoksazol bisa menurunkan kadar
asam folat pada ibu hamil. Padahal asam folat yaitu
vitamin penting yang diperlukan untuk mencegah bayi
lahir dengan kelainan saraf atau bibir sumbing. Jika
323
diminum di trimester akhir, obat ini mungkin bisa
menyebabkan bayi lahir dengan sakit kuning.
c. Streptomisin, tobramisin, gentamisin, neomisin, dsj.
Pada ibu hamil, konsumsi obat-obat ini mungkin bisa
mengganggu pertumbuhan ginjal dan organ pendengaran
janin.
d. Siprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin, dan obat-obat
segolongan yang biasanya berakhiran “-floksasin”. Di
masyarakat kita, siprofloksasin banyak digunakan secara
bebas, hampir seperti amoksisilin dan ampisilin. Sebagian
referensi memasukkan obat ini termasuk kategori kurang
aman sebab bisa menyebabkan gangguan sendi pada bayi.
13. Obat darah tinggi (hipertensi)
Ini juga kelompok obat resep yang sering digunakan secara
bebas (dan mungkin salah) tanpa resep dokter. Biasanya
pasien pernah ke dokter, mendapat obat resep, dan merasa
cocok. sesudah obat itu habis, ia memutuskan membeli
sendiri tanpa konsultasi lagi ke dokter.
Dalam kondisi tidak hamil saja, tindakan seperti ini
mungkin berisiko, apalagi dalam kondisi hamil. Jika ibu
hamil mengalami hipertensi, aliran darah ke plasenta dan
324
janin menjadi berkurang. Akibatnya, janin akan kekurangan
oksigen dan nutrisi-nutrisi penting yang diperlukan untuk
perkembangannya. sebab alasan inilah, hipertensi pada ibu
hamil harus dikontrol dengan obat. Obat yang aman,
tentunya.
Sebagian obat hipertensi aman buat ibu hamil. Sebagian
lainnya berisiko menyebabkan bayi lahir dengan kelainan.
Obat hipertensi yang berisiko selama masa kehamilan
antara lain obat-obat yang berakhiran “-pril” (seperti
kaptopril, enalapril, lisinopril, ramipril, dan kawan-
kawan) serta obat-obat yang berakhiran “-sartan” (misalnya
losartan, valsartan, irbesartan, kandesartan, dan kawan-
kawan).
Penyandang hipertensi harus segera memberi tahu
dokter sedini mungkin begitu ia tahu dirinya hamil.
Sebaiknya jangan memutuskan sendiri minum terus obat
hipertensi yang biasanya diminum. Mungkin dokter perlu
mengganti obat itu dengan yang lebih aman.
Penjelasan dan contoh-contoh obat di atas mungkin
sudah tergolong terlalu rumit dan detail buat pasien awam.
Pada batas ini, kita mungkin bisa menetapkan posisi kita:
ada hal-hal yang perlu kita ketahui, ada hal-hal yang tak
perlu kita ketahui. Untuk hal-hal yang tidak kita ketahui,
325
mari kita percayakan saja urusan itu kepada dokter yang
tepercaya.
Jamu buat Ibu Hamil
Di masyarakat kita, praktik minum jamu selama kehamilan
sudah menjadi budaya di sebagian kalangan. Keamanannya
memang masih diperdebatkan. Jika kita memakai ukuran
kedokteran modern, dengan referensi dari FDA dan lembaga-
lembaga ilmiah serupa, praktik minum jamu dikategorikan tidak
aman. Alasannya, tidak banyak penelitian ilmiah yang melaporkan
keamanannya. Selain itu, yang natural tidak selalu aman. Toh
wanita bisa hamil sehat cukup dengan makan bergizi seimbang
dan pola hidup sehat. Ini cara pandang kedokteran modern.
Sebaliknya, buat kalangan pencinta obat tradisional, jamu
bukan hanya tak apa-apa diminum, tapi bahkan disarankan. Ini
sudah wilayah kepercayaan.
Kalau memang ibu hamil mengonsumsi jamu, sebaiknya
pastikan bahwa jamu itu dibuat sendiri, dengan bahan-bahan
yang biasa dikonsumsi, yang formulanya sudah biasa digunakan
secara turun-temurun dan secara empiris terbukti aman.
326
Di situs www.mims.com, kita bisa memeriksa tingkat
keamananan sebuah obat bagi ibu hamil, berdasarkan kategorisasi
yang dibuat oleh FDA. Caranya, di kolom pencarian, masukkan
nama obat (dalam ejaan bahasa Inggris), lalu lihat hasilnya di
bagian “Pregnancy Category (US FDA)”.
Untuk bahan bacaan lebih lanjut, silakan cek di situs-situs
yang tepercaya. Beberapa di antaranya:
http://www.tg.org.au/etg_demo/tgc/plg/breastfeeding_p.htm
http://www.otispregnancy.org/otis-fact-sheets-s13037
http://safefetus.com
http://www.aafp.org/afp/2003/0615/p2517.html
327
27
OBAT BUAT
IBU MENYUSUI
sesudah melahirkan, sepasien ibu sangat dianjurkan—hampir
diwajibkan—untuk sebisa mungkin memberikan ASI kepada buah
hatinya, terutama ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Jika
si ibu sehat-sehat saja tentu tak ada masalah. Bagaimana jika ia
sakit dan harus minum obat?
Sebagian besar obat yang diminum ibu menyusui bisa
masuk ke dalam ASI. Ada yang kadarnya besar, ada pula yang
kadarnya kecil. Sebagian di antaranya tidak berbahaya, sebagian
lainnya mungkin berisiko buruk bagi bayi.
328
Contoh, antibiotik golongan kotrimoksazol bisa
menyebabkan bayi kuning. Obat golongan estrogen bisa
menyebabkan penurunan produksi ASI. Estrogen biasanya
terdapat di dalam pil KB (kontrasepsi oral) atau obat hipertensi
golongan diuretik tiazida.
Sebagian besar obat golongan antihistamin bisa
menyebabkan bayi mengantuk atau rewel. Antihistamin biasanya
terdapat di dalam obat alergi, obat flu-pilek, atau obat batuk. Ini
hanya beberapa contoh bahwa apa yang diminum si ibu bisa
menimbulkan efek merugikan buat si bayi.
sebab alasan kesehatan bayi itulah, selama menyusui, si
ibu dianjurkan sebisa mungkin untuk tidak minum obat. Caranya,
tentu saja dengan menjaga kesehatan secara ketat. Jika makanan
tertentu biasanya menyebabkan batuk atau radang tenggorok,
maka si ibu sebisa mungkin harus menghindarinya. Demi cinta
kepada buah hati, menghindari makanan tertentu selama
menyusui tentu bukan perkara besar.
Biasanya aktivitas menyusui dan merawat bayi membuat ibu
kecapekan dan mungkin menyebabkan daya tahan tubuhnya
turun. Jika si ibu kurang istirahat, ia bisa memberi ASI sambil
tiduran. Untuk mengganti cairan ASI yang keluar, si ibu sebaiknya
minum cairan setiap kali habis menyusui.
329
Pilih Obat Tunggal
Jika si ibu sudah berusaha keras menjaga kesehatan tapi tetap
sakit, ia disarankan untuk sebisa mungkin mengobati sakitnya
dengan cara non-farmakologis (tanpa minum obat). Kalaupun
terpaksa minum obat, pilihlah obat tunggal yang memang aman
untuk ibu menyusui.
Hindari obat-obatan yang kandungannya berupa kombinasi
bermacam-macam zat aktif. Obat seperti ini misalnya banyak kita
jumpai di obat flu dan obat batuk yang banyak dijual bebas.
Sebagai contoh, obat-obat flu dan batuk mungkin saja berisi
campuran parasetamol, dekstrometorfan, fenilpropanolamin
atau pseudoefedrin, CTM, dan gliseril guaiakolat (GG).
Sebagian isi obat ini sangat mungkin tidak diperlukan si ibu. Lihat
Bab Obat Flu-Pilek.
Komposisi obat secara mudah bisa kita baca di kemasan
atau brosurnya. Makin banyak kandungan obat yang diminum si
ibu, makin besar risiko si bayi mengalami efek buruknya. Jika si
ibu memerlukan obat penurun demam atau pereda nyeri dan sakit
kepala, ia bisa minum obat yang isinya parasetamol tunggal.
Bukan yang dicampur dengan beberapa jenis obat lain. Jika kita
tidak tahu merek dagang obat yang isinya tunggal, kita bisa
bertanya di apotek. Sekali lagi, prinsipnya, batasi hanya minum
obat yang memang diperlukan saja.
330
Informasi kemananan suatu obat buat ibu menyusui
biasanya tercantum di dalam brosur yang ada di kemasan obat.
Kadang, informasi hanya menyebutkan keamanan pada ibu hamil.
Pada umumnya, obat yang tidak aman buat ibu hamil juga tidak
aman buat ibu menyusui.
Perlu tidaknya ibu menyusui minum obat harus selalu
didasarkan pada pertimbangan rasio antara risiko dan manfaat.
Harus ditimbang, seberapa besar risiko buat bayi dan seberapa
besar manfaat buat si ibu. Ini patokan umum dalam ilmu
kedokteran. Si ibu diperbolehkan minum obat hanya jika memang
risiko buat si bayi bisa lebih kecil dibandingkan manfaatnya.
Pilih yang Efek Sampingnya Paling Kecil
Sebagian besar obat-obatan yang aman buat ibu hamil biasanya
aman juga buat ibu menyusui. Sebetulnya, daftar obat yang aman
buat bumil (ibu hamil) tidak sama persis dengan daftar obat yang
aman buat busui (ibu menyusui). Pada busui, penggunaan obat
sedikit berbeda. Sebagai contoh, obat penurun demam dan pereda
nyeri ibuprofen. Di masa kehamilan, obat ini tidak dianjurkan
dipakai. Tapi di masa menyusui, obat ini boleh diminum.
Tapi demi alasan kemudahan dan keamanan, kita bisa
memakai patokan sederhana: obat yang tidak aman selama
331
kehamilan sebaiknya tetap dihindari selama masa menyusui,
kecuali atas resep dokter.
Jika memang sangat diperlukan, busui boleh memakai
obat-obat yang termasuk kategori aman buat bumil. Selama
minum obat, si ibu sebaiknya terus memantau perubahan yang
terjadi pada bayi atau produksi ASI. Contoh kategori obat:
1. Antihistamin (obat alergi)
Jika busui minum obat flu-pilek atau obat batuk yang
mengandung golongan antihistamin, seperti CTM,
difenhidramin, prometazin sebaiknya ia terus memantau
kemungkinan timbulnya efek kantuk atau rewel pada bayi.
2. Dekongestan (pelega hidung)
Obat ini biasanya terdapat di dalam obat flu-pilek.
Dekongestan yang diminum sebetulnya tidak dianjurkan buat
ibu menyusui sebab obat ini bisa masuk ke dalam ASI,
menyebabkan jantung bayi berdebar-debar dan sulit tidur.
Yang lebih dianjurkan yaitu obat tetes atau semprot hidung.
Kalaupun terpaksa minum, sebaiknya hanya dalam jangka
pendek, jangan lebih dari dua hari.
Jika si ibu terpaksa minum obat flu-pilek yang berisi
fenilpropanolamin (PPA) atau pseudoefedrin, sebaiknya ia
332
mengamati kemungkinan rewel pada bayi atau turunnya
produksi ASI.
3. Kafein
Obat ini kadang terdapat di dalam obat sakit kepala atau
migrain, fungsinya untuk melancarkan peredaran darah ke
kepala. Jika si ibu minum obat yang mengandung kafein,
sebaiknya ia juga memantau kemungkinan rewel pada
bayinya.
4. Pil KB dan obat hormon
Obat-obat hormonal terdapat di dalam pil kontrasepsi (pil KB)
atau obat-obat resep untuk gangguan siklus menstruasi. Obat
yang mengandung levonorgestrel, medroksiprogesteron, dan
noretisteron tergolong aman buat ibu menyusui.
Sementara obat yang berisi etinilestradiol bisa menurunkan
produksi ASI. Contoh merek dagang pil KB yang
mengandung etinilestradiol: Microgynon®, Diane®,
Yasmin®, Mercilon®, Microdiol®, Cyclogynon®. Jika busui
harus minum obat berisi etinilestradiol, ia harus terus
memantau produksi ASI.
Apabila si ibu memutuskan untuk ber-KB saat masih
menyusui, ia bisa memakai pil KB hormon tunggal.
Contoh merek dagang, lihat di Bab Pil KB.
333
5. Obat pelancar ASI
Di pasaran, tersedia beberapa merek obat tradisional yang
diklaim bisa meningkatkan produksi ASI. Biasanya obat-obat
ini berisi eksrak bahan herbal, misalnya daun katuk.
Sesuai aturan pertama, sebisa mungkin hindari
penggunanan obat maupun suplemen. Ini bukan sekadar
terkait dengan alasan keamanan, tapi juga alasan kelengkapan
gizi. Kebutuhan gizi sebaiknya dicukupi dari makanan dan
minuman sehari-hari: buah, sayur, kacang-kacangan, biji-
bijian, ikan, susu, daging, telur, dll.
dibandingkan minum pil berisi ekstrak daun katuk, akan lebih
baik kalau busui makan sayur katuk. Dengan makan sayur, ia
bisa memperoleh serat, vitamin, mineral, dan zat-zat gizi lain
dalam komposisi yang lebih komplet dan seimbang.
Jika masalah produksi ASI bisa diatasi dengan suplemen, itu
berarti sebetulnya masalah tersebut bisa diatasi dengan
makanan. Pada umumnya penyebab kurangnya produksi ASI
yaitu masalah-masalah yang tidak bisa diatasi hanya dengan
minum suplemen. Misalnya:
Ibu tidak langsung menyusui anaknya begitu lahir. Inisiasi
menyusu dini (IMD) dan gerakan mengisap di puting yaitu
cara ampuh merangsang produksi ASI.
334
Jarang menyusui. Produksi ASI sebanding dengan
kebutuhan. Makin sering ibu menyusui, makin banyak
produksi ASI. Sebaliknya, makin jarang si ibu menyusui,
makin sedikit produksi ASI-nya.
Penggunaan susu formula atau dot. Keduanya bisa
membuat bayi tidak suka menyusu ke ibunya sehingga
permintaan ASI pun turun. Padahal, produksi ASI
sebanding dengan permintaannya.
Kondisi psikologis ibu. Ibu yang yakin dan tenang pada
umumnya lebih mampu menyusui anaknya dibandingkan ibu
yang cemas dan tidak yakin. Dukungan suami dan keluarga
sangat berperan penting dalam hal ini.
Kondisi kesehatan secara umum. Itu sebabnya penting sekali
bagi bumil dan busui untuk makan dengan gizi seimbang
dan cukup istirahat. Beberapa penyakit tertentu bisa
menurunkan produksi ASI seperti hipotiroidisme atau
gangguan hormonal. Untuk mengatasi penyebab terakhir
ini, konsultasikan ke dokter.
Jika obat yang diminum membuat produksi ASI turun
sampai tidak mencukupi kebutuhan bayi, sebaiknya obat
dihentikan dulu. Hubungi dokter, mungkin obat perlu diganti
dengan yang lebih aman. Pada masa menyusui, ASI harus
335
mendapat prioritas utama. Jangan sampai hanya perkara pilek,
lalu si ibu tidak menyusui bayinya.
Untuk bahan bacaan lebih lanjut, silakan berkunjung ke
situs-situs yang tepercaya seperti berikut ini:
http://www.tg.org.au/etg_demo/tgc/plg/breastfeeding_p.htm
http://www.otispregnancy.org/otis-fact-sheets-s13037
www.medsafe.govt.nz/profs/puarticles/lactation.htm#Primary
http://www.scribd.com/doc/34045101/Drugs-and-Human-Lactation
http://womenshealth.gov/publications/our-publications/breastfeeding-
guide/BreastfeedingGuide-General-English.pdf
336
28
OBAT PADA
BAYI DAN ANAK
Dalam hal konsumsi obat, kita sering menganggap bahwa
anak-anak yaitu miniatur pasien dewasa. Kita berpikir, obat yang
aman buat pasien dewasa, logikanya, tentu aman buat anak-anak
jika dosisnya disesuaikan dengan umurnya.
Jelas, ini anggapan yang tidak betul. Dalam hal keamanan
obat, anak-anak bukanlah miniatur pasien dewasa. Obat yang
aman buat pasien dewasa belum tentu aman buat bayi dan anak-
anak walaupun dosisnya sudah disesuaikan dengan umurnya.
Pada anak-anak, organ-organ tubuhnya masih dalam masa
perkembangan, termasuk ginjal dan lever (hati) yang berfungsi
337
sebagai penyaring dan penetral obat. Organ tubuh mereka masih
rentan terhadap materi asing seperti obat. sebab alasan inilah
obat-obatan harus diberikan secara sangat hati-hati kepada anak-
anak, terutama di bawah usia dua tahun.
Faktanya, anak yaitu kelompok umur yang paling sering
mengonsumsi (lebih tepatnya, dicekoki) obat-obat yang sebetulnya
tidak ia perlukan. Ini terjadi di mana-mana, tidak hanya di
negara kita .
Dari sekian banyak jenis gangguan kesehatan yang membuat
bayi dan anak-anak dibawa ke dokter yaitu demam, flu-pilek,
batuk, diare, dan radang tenggorok. Sebagian besar penyakit itu
termasuk kategori self-limiting disease, penyakit yang bisa sembuh
sendiri tanpa diobati secara khusus. Penyebabnya yang paling
umum yaitu virus. Dan sampai hari ini, belum ditemukan obat
yang bisa membasmi virus-virus tersebut.
Memang, ada sebagian penyakit langganan ini yang
disebabkan oleh bakteri yang bisa dibasmi dengan antibiotik,
misalnya sebagian diare dan sebagian radang tenggorok. Tapi
secara umum persentasenya tidak besar.
Celakanya, semua penyakit di atas diperlakukan sama. Semua
dianggap infeksi bakteri. Dan tiap kali anak-anak ini dibawa ke
dokter, hampir bisa dipastikan mereka akan pulang membawa
obat berisi antibiotik di samping obat ini-itu lainnya.
338
Padahal, makin sering sepasien anak minum antibiotik yang
tidak diperlukan, makin rentan daya tahan tubuhnya. Kenapa
begitu? sebab antibiotik akan membasmi bakteri normal
(nonpatogen) di saluran cerna. Padahal bakteri-bakteri ini
berfungsi membantu produksi vitamin dan mendesak
pertumbuhan bakteri jahat (patogen).
Lalu apa yang bisa dilakukan oleh pasien tua agar anak tidak
sering sakit dan tidak terlalu banyak minum obat?
Pertama-tama, tindakan pencegahan. Salah satu bentuk
pencegahan yang paling murah dan paling baik yaitu pemberian
ASI. Berbagai penelitian menunjukkan, anak yang mendapat ASI
lebih sehat dibandingkan anak yang tidak. Banyak pasien tua tidak
menyusui bayinya sebab alasan ini dan itu. Padahal sebetulnya
ibu yang benar-benar punya halangan menyusui itu amat sedikit
jumlahnya.
Sebagian besar masalah menyusui bisa diatasi. Wanita karier
yang supersibuk pun tetap bisa memberi ASI buat bayinya. Untuk
mengetahui trik-trik mengatasi berbagai masalah menyusui, kita
bisa bergabung dengan komunitas ASI seperti Asosiasi Ibu
Menyusui negara kita (http://aimi-asi.org/).
Jika tindakan pencegahan sudah dilakukan dan anak masih
sakit, pedoman pertama: jangan mudah panik. Banyak pasien tua
yang, sebab tak begitu mengerti masalah kesehatan, mudah panik
dan gopoh ketika anaknya sakit. Saat membawa anaknya ke
339
dokter, mereka biasanya cenderung menuntut dokter untuk
“memberi anaknya obat apa saja yang penting ia sembuh”.
Tuntutan inilah yang kemudian memaksa dokter untuk
meresepkan “obat sapu jagat” yang berisi bermacam-macam obat,
mulai dari penurun panas, penekan batuk, pengencer dahak,
antihistamin, pelega hidung, dan... tak lupa antibiotik. Para dokter
tentu sudah paham dengan prinsip pengobatan rasional dan
polifarmasi, tapi memberi penjelasan kepada pasien tua yang panik
dan gopoh tentu lebih menghabiskan waktu dibandingkan menulis
resep.
Dalam kondisi seperti ini, pasien bisa memberdayakan diri
dengan cara banyak belajar tentang kesehatan dasar anak. Untuk
urusan ini, kita bisa belajar dari sesama pasien tua di komunitas
Milis Sehat (http://milissehat.web.id/). Selain itu, kita juga bisa belajar
perawatan kesehatan anak di situs Ikatan Dokter Anak negara kita
di www.idai.or.id. Sayangnya, situs ini sering tidak bisa diakses.
Agar kesehatan anak bisa dipantau dengan baik, pasien tua
sebaiknya punya buku diary catatan kesehatan anak. Mirip rekam
medis milik rumah sakit, tapi yang dibuat sendiri oleh pasien tua.
Di buku itu pasien tua bisa mencatat apa yang dimakan oleh anak,
apa saja gejala sakit yang dialami, berapa lama gejalanya, berapa
derajat demamnya, telah berkunjung ke dokter siapa, diberi obat
apa saja, berapa miligram dosisnya, diminum berapa kali sehari,
dan seterusnya.
340
Tiap kali berkunjung ke dokter, pasien tua bisa menunjukkan
buku catatan ini sehingga bisa menghemat waktu di ruang dokter.
Cara seperti ini juga akan membuat dokter lebih terbantu sebab
dia akan lebih mudah mendiagnosis kondisi si anak.
Dalam banyak kondisi sakit, anak-anak sebetulnya sering kali
tidak memerlukan obat. Mungkin ia hanya perlu ASI lebih
banyak, minum lebih banyak, dan istirahat lebih banyak.
Sebelum berpikir tentang obat, pasien tua sebaiknya mencoba
lebih dulu cara non-obat. Contoh, untuk membantu mengencerkan
dahak, pasien tua bisa mencoba memberi uap air panas. Caranya,
taruh satu ember air panas di dalam kamar lalu tutup pintu kamar.
Biarkan uap hangat memenuhi ruangan dan dihirup oleh anak.
(Lihat Bab Obat Batuk.)
Kalaupun anak membutuhkan obat, sebisa mungkin usahakan
memilih obat yang risikonya paling kecil. Misalnya, untuk
mengatasi hidung tersumbat, dibandingkan memakai dekongestan
(pelega hidung) yang diminum, lebih aman memakai
dekongestan dalam bentuk obat tetes hidung. Kalau sumbatan
hidung hanya disebabkan oleh ingus yang kental, si anak mungkin
tak perlu obat yang berisi dekongestan, tapi cukup tetes hidung
yang berisi larutan garam steril. Lihat Bab PPA dan Obat Pelega
Hidung.
Kalaupun tidak bisa menghindari obat, usahakan
memakai obat yang aman. Misalnya, untuk kondisi demam,
341
sebagai pilihan pertama sesudah kompres, sebaiknya pasien tua
memakai parsetamol lebih dulu dibandingkan langsung
memberikan ibuprofen. Jika parasetamol tidak mempan, barulah
boleh dicoba ibuprofen, dengan syarat tidak ada kecurigaan
demam berdarah.
Ketika memakai obat, pastikan dosisnya tepat. Sebagai
contoh, obat sirup parasetamol. Pada umumnya, sirup obat di
negara kita memakai tanda volume 2,5 ml dan 5 ml.
Kandungan parasetamol biasanya sekitar 120 mg tiap 5 ml sirup.
Jika anak mestinya minum 2,5 tapi kita beri 5 ml, artinya ia
harus menenggak kelebihan parasetamol 60 mg. Pada anak-anak
dan bayi, perbedaan miligram yang kecil bisa berakibat overdosis
yang membahayakan.
Begitu pula dengan obat yang diberikan dalam bentuk tetes.
Pada obat tetes, kandungan obat biasanya dibuat lebih pekat
dibandingkan sirup. Konsentrasi pada umumnya 100 mg parasetamol
tiap ml. Jadi, jika volumenya meleset 0,2 ml saja, si bayi harus
menenggak kelebihan obat 20 mg.
Kalau memang kita harus memakai obat bebas, pilihlah
obat bebas dengan kandungan yang memang diperlukan. Hindari
produk sapu jagat yang berisi banyak sekali obat. Bagaimanapun,
industri farmasi juga punya sisi bisnis—sebagaimana apotek,
rumah sakit, klinik, dan dokter praktik. Sebagain pabrik membuat
obat sapu jagat supaya lebih laris. Satu produk diisi bermacam-
342
macam obat, kadang sampai lima macam. Tujuannya, kalau obat
pertama tidak bekerja, obat kedua, ketiga, dan seterusnya masih
bisa bekerja. Tak peduli efek sampingnya.
Pencampuran berbagai obat ini banyak terjadi di produk obat
batuk dan flu-pilek. Satu produk bisa mengandung golongan
analgesik-antipiretik (antinyeri dan penurun demam), antitusif
(penekan batuk), ekspektoran (pengencer dahak), antihistamin
(antialergi), dekongestan (pelega hidung), dan mungkin masih ada
lainnya.
Mengatasi Flu-Pilek-Batuk pada Anak
Obat-obat flu-pilek dan batuk sebetulnya yaitu obat yang
diperuntukkan buat pasien dewasa. sebab itu produk ini harus
digunakan secara sangat hati-hati pada anak-anak. Bahkan,
menurut standar FDA, obat-obat ini sebetulnya tidak boleh
digunakan secara bebas pada anak di bawah dua tahun kecuali
atas resep dokter.
Lagi-lagi pertimbangannya yaitu alasan keamanan. Saat
minum obat batuk, sangat mungkin si anak mengalami efek buruk
tapi tidak kelihatan oleh pasien tuanya, misalnya jantung berdebar-
debar atau bermimpi buruk.
Sama seperti demam, batuk pun sebetulnya memiliki
manfaat pertahanan tubuh, yaitu mengeluarkan benda asing dari
343
saluran napas atas. Benda asing itu mungkin kuman, debu, dahak,
atau alergen. Kalau refleks batuk ditekan, justru manfaat batuk ini
akan hilang.
Lalu apa yang bisa dilakukan pasien tua kalau bayinya
mengalami flu-pilek dan batuk?
Beri ASI atau minuman hangat lain lebih sering dari biasanya.
Jika ingusnya mengental dan menyumbat hidung, tetesi
dengan obat tetes hidung yang berisi larutan garam supaya
ingus tersebut lebih lembap dan encer. Saat ingus encer,
keluarkan dengan cara memencet hidung bayi secara lembut
memakai tisu.
Jika batuknya berdahak dan mengganggu, encerkan dahak di
hidung dan tenggoroknya dengan cara membiarkan bayi
menghirup uap air hangat. Caranya, saat bayi tidur, letakkan
ember berisi air panas lalu tutup kamar dan biarkan uap kamar
memenuhi ruangan.
Sebagian pasien menambahkan beberapa tetes minyak kayu
putih atau minyak telon ke dalam air panas untuk
menciptakan efek terapi aroma. Juga memijat bayi dengan
balsem khusus bayi. Ini cara tradisional yang secara empiris
banyak dipraktikkan di negara kita sekalipun mungkin tidak
banyak kita temui di referensi-referensi kedokteran.
344
Boleh saja cara ini diterapkan asal hati-hati, jangan sampai
keliru memakai balsem untuk pasien dewasa sebab kulit
dan saluran napas bayi masih sangat rentan. Salah satu merek
balsem bayi yang sangat populer yaitu Transpulmin BB®.
Jika kurang teliti, pasien tua bisa keliru dengan balsem
Transpulmin® (tanpa “BB”) yang khusus untuk pasien dewasa.
Jauhkan bayi dari kemungkinan penyebab pilek dan batuk,
seperti kipas angin, asap rokok, dan debu.
Saat bayi tidur, atur posisi tidurnya miring dan beri bantal
yang agak tinggi supaya ingusnya tidak mengganggu
pernapasan.
Jika batuknya sampai membuat bayi sulit bernapas dan sulit
tidur, bawa bayi ke dokter.
345
29
OBAT TRADISIONAL
Obat tradisional, khususnya obat herbal, hingga sekarang
masih sering menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung habis.
Para pengobat tradisional mendewa-dewakannya. Tapi kalangan
medis sering menganggapnya tidak ilmiah dan belum punya cukup
bukti!
Perdebatan kedua pihak ini selalu muncul tiap kali hadir
primadona baru obat tradisional seperti buah mahkota dewa, buah
pace, virgin coconut oil, buah merah, sarang semut, dan sebagainya.
Para herbalis biasanya mengangkat pamor tanaman
primadonanya dengan testimoni para pemakai yang berhasil
sembuh.
346
Bagi mereka, pengalaman itu yaitu bukti kemujaraban
tanaman tersebut. Tapi kalangan dokter selalu bilang bahwa
testimoni-testimoni itu belum bisa dijadikan sebagai bukti.
Bagi kebanyakan pasien awam, perselisihan kedua kubu ini
mungkin membingungkan. Tapi jika kita bisa memahami logika
ilmu kedokteran modern, kita akan mafhum. Ilmu kedokteran
modern ditegakkan di atas data-data penelitian ilmiah. Dan
penelitian ilmiah baru bisa dianggap sah jika telah memenuhi
metodologi ilmiah dan kaidah-kaidah statistik.
Bukan berarti pengalaman-pengalaman para pemakai itu
hanya dianggap bualan atau omong kosong belaka. Namanya saja
cerita. Kita boleh percaya, boleh juga tidak. Masalahnya,
kesembuhan beberapa pasien belum bisa mewakili populasi sebab
belum memenuhi kaidah statistik. Itu sebabnya pengakuan
beberapa pasien belum dianggap sebagai “bukti” dalam pandangan
ahli medis.
Seperti halnya obat modern, obat tradisional sebetulnya juga
racun yang punya manfaat. Jika digunakan secara tepat, ia bisa
menyembuhkan banyak macam penyakit, termasuk penyakit yang
sulit ditangani oleh obat modern sekalipun. Tapi jika
pemakaiannya salah, bisa saja penyakitnya malah tambah parah.
Tak sedikit obat tradisional yang sudah terbukti aman dan
ampuh—walau baru secara empiris. Banyak penderita hipertensi,
diabetes, bahkan kanker mengalami “perbaikan klinis” sesudah
347
minum obat tradisional. Kenapa istilahnya perbaikan klinis, bukan
sembuh? Banyak pasien mengaku sembuh sesudah minum obat
tradisional tapi sebetulnya mungkin saja itu bukan sembuh
melainkan hanya membaik.
Seperti kita tahu, pemakaian obat tradisional biasanya
menyebar secara getok tular lewat cerita-cerita pengakuan pasien .
Kadang kita tak bisa membedakan, apakah cerita itu nyata atau
hanya cerita karangan yang digunakan untuk marketing.
Testimoni-testimoni kesembuhan ini kebanyakan masih perlu
dicek kebenarannya. Misalnya apakah kesembuhannya permanen
ataukah hanya efek perbaikan sementara.
Meski begitu, banyaknya pengalaman pasien yang
mengalami perbaikan klinis setidaknya memberikan gambaran
bahwa obat tradisional berpotensi menyembuhkan penyakit-
penyakit yang hingga kini masih sukar disembuhkan.
Sejarah obat modern pun sebetulnya tidak bisa dilepaskan
dari obat tradisional. Banyak obat modern yang awalnya yaitu
obat tradisional herbal. Kita bisa menyebut contoh efedrin,
asetosal (aspirin), vinkristin, vinblastin, digitalis, artemisin, morfin,
kodein, dan masih banyak lagi. Semua nama ini merupakan
contoh senyawa tunggal yang masuk kategori obat modern.
Obat-obat pelega hidung (dekongestan) yang banyak
digunakan sekarang pada umumnya yaitu turunan dari efedrin.
348
Efedrin sendiri awalnya—sekarang tidak lagi—diisolasi dari
Efedra, marga tanaman yang banyak digunakan dalam
pengobatan tradisional Cina.
Salisilat, inti asetosal (obat antidemam yang juga digunakan
untuk mencegah serangan jantung atau stroke) pada awalnya juga
obat tradisional yang diperoleh dari kulit kayu marga tanaman
Salix. Vinkristin dan vinblastin (dua senyawa yang banyak
digunakan untuk kemoterapi kanker) diisolasi dari tapak dara,
Catharanthus roseus, tanaman yang biasa dijadikan penghias
pekarangan rumah.
Digitalis (obat jantung) berasal dari Digitalis purpurea,
tanaman yang banyak tumbuh di Eropa. Artemisin (obat
antimalaria) berasal dari Artemisia annua, tanaman yang banyak
tumbuh di Cina.
Morfin, obat penekan sistem saraf pusat yang sering
disalahgunakan itu, berasal dari tanaman opium (Papaver
somniverum). Belajar dari struktur kimia morfin, para ilmuwan
kemudian mengembangkan kodein dan dekstrometorfan yang
biasa dipakai sebagai obat batuk. (Jadi, sebetulnya obat batuk yang
biasa kita minum itu masih bersaudara dengan morfin.)
Kolcisin, yang biasa dirsepkan untuk pertolongan pertama
serangan asam urat, yaitu senyawa yang berasal dari tanaman
Colchicum autumnale, tumbuhan asal Inggris.
349
Semua contoh ini membuktikan bahwa tanaman obat punya
potensi menghasilkan senyawa tunggal untuk obat modern. Jadi,
kalau kita meremehkan obat tradisional dengan alasan “tidak
ilmiah”, itu seperti melupakan sejarah obat modern.
Secara ilmiah, obat tradisional memang masih belum bisa
dibandingkan langsung dengan obat modern. Obat tradisional
biasanya baru memiliki data penelitian yang amat sedikit.
Sebagian bahkan mungkin sama sekali tak punya data penelitian
ilmiah.
Pemakaiannya di masyarakat hanya didasarkan pada
pengakuan pasien , mungkin pengalaman tetangga, kawan, atau
cerita Pak Karto yang tertulis di majalah. Banyak di antaranya
bahkan kelihatan terang benderang sebagai strategi jualan.
Ini berbeda dengan obat modern. Obat modern sudah
memiliki cukup banyak data penelitian ilmiah. Khasiatnya bukan
hanya didasarkan pengalaman Pak Karto, tapi berdasarkan
pengamatan yang sistematis terhadap ribuan pasien.
Dosis kerjanya sudah diketahui dengan pasti sampai tingkat
miligram bahkan mikrogram. Efek samping (side effect) dan efek
buruknya (adverse reaction) juga sudah diketahui dengan jelas.
sebab itu, dokter pun tidak ragu meresepkannya.
Dalam urusan obat tradisional, ada beberapa “pasal” yang
bisa dijadikan sebagai pedoman gampang agar kita bisa
memperoleh manfaat dengan sekecil mungkin mudarat.
350
Salah satu aturan
umum pengobatan: untuk
penyakit-penyakit serius
yang bisa ditangani secara
medis, sebaiknya utamakan
penyembuhan cara medis.
Kalaupun mau mengombinasikan dengan obat tradisional, silakan
saja. Tak ada larangan asalkan, sekali lagi, dikomunikasikan
kepada dokter.
Contoh gampang yaitu kanker. Penyakit ini hingga
sekarang masih menjadi momok yang amat ditakuti. Tak jarang
masyarakat awam beranggapan bahwa penyakit ini mustahil
disembuhkan oleh dokter. Padahal kenyataannya penyakit ini bisa
disembuhkan secara medis asalkan masih dalam stadium dini,
maksimal stadium dua.
Biasanya, dalam stadium satu atau maksimal dua, penyakit
ini masih bisa disembuhkan secara medis dengan terapi standar
meliputi operasi, radiasi, dan kemoterapi. Sembuhnya tuntas,
bukan hanya sembuh sebentar lalu kambuh lagi. Jaminan ini lebih
pasti dibandingkan jaminan obat tradisional.
Banyak pasien yang—sebab pandangan keliru, bukan
sebab tak punya biaya—tidak mau pergi ke dokter dan hanya
mengonsumsi obat tradisional. Padahal kesembuhan dengan obat
Pasal ke-1:
Utamakan metode terapi
yang sudah terbukti aman
dan efektif.
351
tradisional bisa saja bersifat sementara. Selagi pasien merasa sehat,
bisa saja stadium kankernya terus meningkat. Ketika pasien
merasa sakitnya kambuh lagi, mungkin saja kankernya sudah
stadium empat. Artinya, pada saat itu dokter mungkin “hanya bisa
berikhtiar dan selebihnya yaitu kehendak Tuhan”.
Hal ini tentu tidak akan terjadi kalau pasien pergi ke dokter
ketika kankernya masih stadium dini. Sambil menjalani terapi
medis itu, pasien tetap boleh mengonsumsi obat tradisional. Justru
dengan cara ini, obat tradisional dan obat modern akan
komplementer, saling melengkapi.
Contoh lain yaitu konsumsi obat tradisional yang diklaim
berasal dari ekstrak cacing untuk obat tifus (demam tifoid).
Biasanya dokter tidak mengizinkan pasien minum obat ini. Tapi
banyak pasien yang mengonsumsinya sebab merasa obat dari
dokter tidak manjur.
Soal manjur atau tidak manjur barangkali bisa
diperdebatkan. Tapi satu yang jelas, penyakit tifus disebabkan oleh
bakteri. Dalam ilmu kedokteran, sudah ada metode standar terapi
yang jelas aman dan efektif, yaitu pemberian antibiotik, tirah
baring (istirahat total atau bed rest), dan diet yang mudah dicerna
dan rendah serat-kasar. Dalam trilogi terapi ini, pemilihan
antibiotik merupakan tahap yang sangat menentukan.
Kalau obat dokter tidak manjur, mungkin saja itu
disebabkan oleh pemilihan antibiotik yang kurang tepat sebab
352
bakterinya sudah kebal. Asalkan diagnosis dan pemilihan
antibiotiknya tepat, penyakit tifus dijamin akan sembuh apabila
disertai dengan tirah baring dan pola makan yang tepat.
Jadi, dari sudut pandang ini, sebetulnya pasien tidak
memerlukan ekstrak cacing. Akan namun , kalaupun pasien
akhirnya memutuskan untuk minum ekstrak cacing (itu memang
hak setiap pasien ), sebaiknya ia terus memantau efek obat itu
terhadap kesehatannya.
Selama ini ekstrak cacing diduga membantu penyembuhan
sebab kandungan asam aminonya. Namun, dugaan ini masih
belum bisa menjawab pertanyaan berikutnya. Kalau sekadar
kandungan asam amino, ekstrak protein hewani seperti daging-
dagingan dan seafood pun kaya asam amino dan harusnya bisa
menggantikan ekstrak cacing.
Sekali lagi, ini tidak berarti bahwa logika asam amino
ekstrak cacing itu hanya strategi jualan tukang obat. Mungkin saja
memang ekstrak cacing mengandung senyawa—entah apa
namanya dan entah bagaimana struktur kimianya—yang jelas bisa
membantu penyembuhan tifus.
Kemungkinan itu bisa jadi ada, tapi kita tak pernah tahu.
Wallahua’lam. Sementara dalam ilmu medis, dokter hanya akan
meresepkan obat yang memang benar-benar diketahui cara
353
kerjanya. Ilmu kedokteran modern tak mau berurusan dengan hal-
hal yang wallahua’lam.
Contoh lain yang mirip yaitu konsumsi obat cina untuk
mempercepat penyembuhan luka operasi, khususnya operasi sesar.
Dalam ilmu medis, sebetulnya luka sesar dijamin akan sembuh
sendiri walaupun tidak diterapi khusus dengan obat-obatan,
asalkan luka itu dijaga tetap bersih dan kering. Kalaupun perlu
obat, biasanya cukup antibiotik, antinyeri, dan vitamin. Bahkan,
jika pasien bisa menjaga betul kebersihan diri dan lingkungan, dia
mungkin malah tidak perlu antibiotik.
Dengan metode terapi ini, di hari keempat atau kelima
pascaoperasi, pasien biasanya sudah bisa pulang. Jadi,
berdasarkan protap ini sebetulnya pasien sesar tak perlu minum
obat cina. Tapi kalau ternyata pasien tetap bersikukuh minum obat
cina (itu memang haknya), sebaiknya ia terus memantau
kesehatannya dan kesehatan bayinya. Sebab, sangat mungkin obat
yang belum diketahui persis senyawa kandungannya itu masuk ke
dalam kelenjar ASI.
354
Selama ini obat
tradisional diyakini tidak
punya efek samping yang
buruk. Atau, kalaupun ada,
efek buruk ini boleh
diabaikan. Pandangan seperti
ini tidak sepenuhnya benar. Bagaimanapun, obat tradisional tetap
berisi bahan kimia yang asing bagi tubuh dan sebab itu punya
efek samping atau bahkan efek buruk. sebab itu, penggunaannya
pun tetap harus sangat hati-hati.
Oleh sebab masalah keamanan obat tradisional sebagian
besar masih wallahua’alam, kita sebaiknya membatasi
pemakaiannya pada obat-obat yang memang sudah digunakan
secara luas dan terbukti







