Senin, 13 Juli 2026

buku obat 7


 .go.id/ulpk), Kementerian 

Kesehatan, atau lembaga perlindungan kosumen.  

Dengan cara itu, masyakarat bisa ikut membantu 

Pemerintah memperbaiki kekurangan dalam hal pengawasan 

OGB, sehingga semua obat generik benar-benar menjadi obat 

generik tulen: betul-betul ekivalen dengan obat paten. 


306 

 

 

 

26 

 

OBAT  

BUAT IBU HAMIL 

 

 

 

Obat sejatinya yaitu  racun. Racun yang punya manfaat. 

Kita terpaksa minum obat sebab  satu alasan: manfaatnya lebih 

besar dibandingkan  mudaratnya. Ini yaitu  prinsip utama yang harus 

kita pegang setiap kali minum obat. 

First, do no harm. Perkara manjur atau tidak, itu urusan 

nomor dua. Perkara pertama yang harus benar-benar diperhatikan 

yaitu  apakah obat itu aman ataukah tidak. Aman dulu, baru 

berkhasiat. Urutannya harus begitu, tidak boleh dibalik. Itu 


307 

 

sebabnya dalam penelitian obat, toxicity test (uji keamanan) lebih 

didahulukan dibandingkan  efficacy test (uji khasiat). 

Penelitian tentang obat biasanya dilakukan terhadap hewan 

coba lebih dulu. Jika terbukti aman, baru dilakukan pada manusia. 

Di tahap ini ada keterbatasan yang tidak bisa dihindari. Penelitian 

terhadap ibu hamil dan janinnya sulit dilakukan sebab  terlalu 

berisiko. Itu sebabnya data tentang pengaruh obat terhadap janin 

tidak banyak diketahui. Wallahua’lam. 

Ada obat yang aman buat ibu hamil, banyak pula yang 

berbahaya. Contoh obat berbahaya yang paling fenomenal dalam 

sejarah manusia yaitu  talidomid. Obat yang biasa digunakan 

sebagai pil tidur ini memiliki efek antimuntah. Khasiat antimuntah 

ini lalu dimanfaatkan oleh ibu-ibu hamil yang tak tahan mual-

muntah. 

Belakangan baru diketahui ternyata banyak ibu yang minum 

obat ini melahirkan bayi tanpa lengan, tungkai, atau telinga. 

Banyak di antara bayi-bayi itu mengalami gangguan jantung, 

mata, ginjal, retardasi mental, dan sebagainya. Efek buruk yang 

disebut “teratogenik” obat ini baru diketahui dari banyaknya 

laporan bayi lahir, bukan dari penelitian yang memang sejak awal 

didesain untuk melihat pengaruh obat itu terhadap janin. 

Ini memang salah satu keterbatasan ilmu farmasi modern. 

sebab  ada keterbatasan inilah, ibu hamil harus ekstra hati-hati 


308 

 

kalau mau minum obat. Sebisa mungkin ibu hamil harus berusaha 

menghindari minum obat, dengan menerapkan pola hidup sehat, 

terutama sekali pada tiga bulan (trimester) pertama.  

Masa trimester pertama merupakan periode inisiasi 

pembentukan organ-organ vital bayi. Jika si ibu minum obat yang 

salah, bisa saja proses ini terganggu dan menyebabkan bayi lahir 

dengan kelainan organ. 

Aturan pertama selama kehamilan: sebisa mungkin hindari 

penggunaan obat, terutama obat yang diminum. Sebagai 

alternatifnya, ibu hamil bisa memakai  cara-cara non-obat. 

Misalnya, saat sakit kepala, pusing, atau badan capek. dibandingkan  

minum obat, lebih aman pijat, spa, atau mandi air hangat saja. 

Tentu pijatnya di bagian tubuh yang tak berhubungan dengan 

kandungan.  

Jika diperlukan, untuk pijat, ibu hamil bisa memakai  

balsem, minyak kayu putih, minyak telon dan sejenisnya yang tak 

perlu diminum dan berkhasiat terapi aroma. 

  Aturan kedua, kalau terpaksa minum obat, pilihlah obat 

yang aman. Ada kondisi-kondisi tertentu ketika ibu hamil harus 

menjalani pengobatan. Misalnya, jika dia mengalami demam 

tinggi, dia sebaiknya minum obat penurun demam. Sebab, jika 

dibiarkan saja, demam tinggi bisa membahayakan kesehatan janin. 

Syaratnya, obat itu harus aman buat janin. Jika si ibu salah 

memilih obat demam, bisa saja janin justru mengalami masalah 


309 

 

yang lebih parah. Itu sebabnya, obat demam yang dipilih harus 

yang paling aman. Sejauh ini, obat demam paling aman buat ibu 

hamil yaitu  parasetamol. 

Contoh lain, ibu hamil yang menyandang diabetes atau 

hipertensi sebaiknya tetap minum obat selama kehamilan. Sebab, 

jika tidak dikontrol, kadar gula darah tinggi atau tekanan darah 

tinggi pada ibu bisa membahayakan kesehatan janin. Kondisi 

diabetes yang tak terkontrol bisa menyebabkan bayi lahir dengan 

berat badan rendah. Dalam hal ini pemilihan obat diabetes dan 

obat hipertensi yang aman harus dilakukan oleh dokter. Obat 

diabetes dan hipertensi bukan termasuk golongan obat bebas. 

Di bawah ini, contoh obat-obat yang relatif aman buat ibu 

hamil. Predikat “aman” di sini tidak berarti 100% aman sebab , 

bagaimanapun, tak ada obat yang sepenuhnya aman, apalagi buat 

ibu hamil. Istilah aman di sini berarti relatif paling sedikit risiko 

buruknya dibandingkan obat lain dalam kelompok yang sama.  

Sekalipun obat-obat berikut ini dikategorikan aman, ibu 

hamil sebaiknya tetap berkonsultasi kepada dokter sebelum 

meminumnya. Sebab, aman bagi kebanyakan pasien  belum tentu 

aman buat pasien  .    

 

1. Obat pereda nyeri dan demam (analgesik-antipiretik) 

Obat paling aman dalam kategori ini yaitu  parasetamol. Ibu 

hamil sebaiknya menghindari ibuprofen, kecuali atas resep 


310 

 

dokter. Pemakaian reguler ibuprofen bisa mempengarui 

pertumbuhan pembuluh darah bayi dan mungkin bisa 

menyebabkan hipertensi di paru-paru bayi. 

Begitu pula asetosal (aspirin). Ibu hamil sebaiknya 

menghindari obat ini, kecuali atas resep dokter. Asetosal bisa 

meningkatkan risiko perdarahan pada ibu bersalin jika 

diminum menjelang bersalin. 

 

2. Obat alergi/antihistamin 

Menurut Mayo Clinic, antihistamin pilihan pertama buat ibu 

hamil yaitu  loratadin. Namun, menurut FDA, antihistamin 

pilihan pertama yaitu  klorfeniramin maleat (CTM) dan 

difenhidramin. Sebelum memilih, sebaiknya tanyakan kepada 

dokter atau apoteker.  

Sekalipun dikelompokkan aman, obat-obat ini hanya boleh 

dikonsumsi dalam jangka pendek. Tidak boleh sampai 

berhari-hari. Bagaimanapun, janin yaitu  makhluk hidup 

yang bisa merasakan efek samping antihistamin seperti CTM 

atau difenhidramin. 

Dan, sekali lagi, sebisa mungkin hindari obat yang 

diminum. Jika kita mengalami alergi akibat sesuatu yang 

bersentuhan dengan kulit, sebaiknya kita berusaha 

mengobatinya dengan obat-obat yang digunakan secara lokal 

(topikal) alias dioleskan atau ditaburkan di kulit. Misalnya, 


311 

 

sebelum memutuskan minum CTM atau difenhidramin, lebih 

baik mencoba bedak obat kulit lebih dulu. 

 

3. Obat mual 

Obat ini paling sering ditanyakan ibu hamil. Sesuai aturan 

pertama, sebisa mungkin usahakan melawan mual-muntah 

dengan cara non-obat. Misalnya: 

  Makan dan minum sedikit-sedikit tapi sering. 

  Hindari pemicunya, misalnya bau-bauan, kondisi stres, 

kecapekan, dan sejenisnya. 

  Istirahat yang cukup. 

  Pijat, terutama pijat oleh suami. 

  Jika perlu, manfaatkan jahe. Obat tradisional ini 

tergolong aman. Pemakaiannya bisa dengan cara direbus 

lalu diminum air rebusannya atau dimemarkan lalu 

dikulum dan disesap pelan-pelan. 

 

Jika memang sangat diperlukan, obat seperti 

difenhidramin bisa menjadi pilihan untuk pemakaian sesekali. 

Ini golongan antihistamin yang juga berkhasiat antimual. Jika 

ibu hamil terus-terusan mengalami mual dan muntah, 

sebaiknya konsultasikan ke dokter. Bagaimanapun, janin 


312 

 

yaitu  makhluk individu yang bisa merasakan efek samping 

difenhidramin. 

 

4. Obat sembelit 

Susah buang air besar (BAB) juga merupakan salah satu 

masalah yang lazim dialami ibu hamil. Sembelit terjadi 

sebab  terjadinya perubahan hormonal di dalam tubuh ibu, 

juga sebab  tekanan dari kandungan terhadap usus besar. 

Sembelit bisa juga disebabkan oleh pil zat besi dosis tinggi. 

Sesuai aturan pertama, sebisa mungkin atasi sembelit 

dengan cara-cara non-obat. Perbanyak konsumsi air dan serat 

(sayur dan buah-buahan). Minum air hangat di pagi hari. 

Usahakan tetap aktif dengan melakukan olahraga ringan, 

misalnya jalan kaki, olah napas, yoga, renang, bersepeda 

statis, dan olahraga lain yang tidak membahayakan janin. 

Aktivitas fisik bisa merangsang usus besar tetap aktif. Jika 

penyebabnya yaitu  sebab  kebanyakan pil zat besi, hentikan 

sementara konsumsinya. 

Apabila semua cara sudah dilakukan dan masih saja 

sembelit, ibu hamil bisa memilih obat sembelit dari golongan 

pelunak dan pelicin (lihat Bab Obat Sembelit). Contoh obat: 

laktulosa (misalnya Dulcolactol®, Duphalac®, Lactulax®, 

Lantulos®, Laxadilac®, Opilax®, Solac®), natrium lauril 


313 

 

sulfat/sulfoasetat, PEG, dan sorbitol (misalnya Microlax®, 

Laxarec®). 

Sebisa mungkin hindari penggunaan obat yang 

mengandung bisakodil kecuali atas resep dokter. Jika memang 

kita terpaksa mengonsumsi bisakodil, pilihlah obat yang 

dimasukkan ke dalam dubur (supositoria), bukan yang 

diminum. 

Jika sembelit terus berulang selama kehamilan, sebaiknya 

konsultasikan ke dokter. Hindari penggunaan obat sembelit 

yang berulang-ulang. Sekalipun relatif aman, jika dikonsumsi 

dalam jangka panjang, obat-obat ini tetap bisa menimbulkan 

efek samping yang buruk. Sebagai contoh, minyak mineral 

seperti parafin cair bisa mengurangi penyerapan vitamin-

vitamin yang diperlukan oleh janin. Begitu pula 

penggunanaan laktulosa jangka panjang mungkin bisa 

mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. 

 

5. Obat flu dan dekongestan (pelega hidung) 

Sesuai aturan pertama, sebisa mungkin hindari penggunaan 

obat, terutama obat minum. Jika hidung tersumbat sebab  flu, 

ibu hamil sebaiknya berusaha mengatasi flu dengan cara non-

obat, misalnya minum sup hangat, pijat, spa, beryoga, atau 

yang lain. Hidung tersumbat juga bisa diringankan dengan 

menghirup uap air hangat. 


314 

 

Jika hidung masih saja tersumbat, gunakan tetes hidung 

yang berisi air dan garam saja (misalnya Breathy®). Jika tetes 

air garam masih belum bisa mengatasinya, ibu hamil bisa 

memakai  obat tetes atau semprot hidung yang berisi 

oksimetazolin (seperti Afrin®, Inza Nasal®, Iliadin®), atau 

berisi silometazolin (misalnya Otrivin®, Zovrin®). 

Obat minum yang berisi fenilpropanolamin (PPA) atau 

pseudoefedrin sebaiknya dihindari, kecuali atas resep dokter 

dan untuk pemakaian sesekali. 

 

6. Suplemen vitamin dan mineral 

Secara umum vitamin dan mineral aman buat ibu hamil. 

Beberapa suplemen tertentu bahkan dianjurkan untuk 

dikonsumsi ibu hamil, misalnya asam folat dan zat besi. 

Kekurangan asam folat bisa menyebabkan bayi lahir dengan 

bibir sumbing atau mengalami gangguan di saraf otak dan 

saraf tulang belakang. Begitu pula kekurangan zat besi yang 

bisa menyebabkan anemia. 

Meski begitu, bukan berarti suplemen vitamin dan 

mineral bisa diminum sebanyak yang dimaui. Sesuai aturan 

pertama, sebisa mungkin hindari penggunaan obat maupun 

suplemen. Kebutuhan vitamin dan mineral sebaiknya 

dicukupi dari makanan, seperti buah, sayur, daging, susu, 

kacang-kacangan, biji-bijian, dan sebangsanya. 


315 

 

Asam folat bisa didapatkan dari sayur-sayuran yang 

berwarna hijau tua seperti bayam dan brokoli, dan kacang-

kacangan. Zat besi banyak terdapat di dalam daging merah, 

daging ayam, dan ikan. 

Jika terpaksa memakai  suplemen, sebisa mungkin 

hindari suplemen vitamin atau mineral dosis tinggi. Ukuran 

dosis bisa dilihat dari keterangan persentase terhadap angka 

kecukupan gizi di kemasannya. Dalam dosis wajar, vitamin 

dan mineral aman buat ibu hamil. Namun, dalam dosis 

kelewat tinggi (megadosis) vitamin dan mineral yang 

terakumulasi di tubuh ibu justru bisa berbahaya bagi janin. 

Sebagai contoh, overdosis vitamin A di trimester pertama 

mungkin justru bisa meningkatkan risiko bayi lahir dengan 

abnormalitas di wajah dan sarafnya. 

 

7. Obat batuk 

Sesuai aturan pertama, sebisa mungkin hindari penggunaan 

obat. Hindari faktor-faktor yang bisa mencetuskan batuk. 

Sebelum minum obat, redakan batuk dengan cara non-obat, 

misalnya minum air hangat, minum wedang jahe hangat, 

menyesap jahe yang dimemarkan, atau minum obat 

tradisional seperti perasan jeruk nipis dengan madu atau 

kecap. 


316 

 

Batuk yang wajar sebetulnya tak perlu dilawan dengan 

obat sebab  batuk yaitu  refleks alami untuk mengeluarkan 

sesuatu dari saluran napas. Tak perlu khawatir. Refleks batuk 

yang wajar tidak akan mengganggu kesehatan janin. 

Sebisa mungkin hindari penggunaan ekspektoran alias 

pengencer dahak guaifenesin (gliseril guaiakolat). FDA 

mengelompokkan obat ini ke dalam kategori C. Ini kategori 

untuk obat yang belum diketahui keamanannya. Mungkin 

aman buat janin, mungkin pula tidak. Begitu pula obat batuk 

golongan antitusif (untuk batuk kering). FDA pun 

mengelompokkannya ke dalam kategori C. 

Bagi pasien  yang tidak hamil, obat ini tergolong obat 

bebas. Tapi bagi ibu hamil, penggunaannya harus sangat hati-

hati, dan hanya boleh dalam tempo singkat. Apabila batuk 

berlangsung dalam jangka lama, hindari penggunaan obat 

terus-menerus. Konsultasikan ke dokter.  

Untuk panduan lebih detail, silakan cek langsung di 

http://www.aafp.org/afp/2003/0615/p2517.html.  

 

8. Obat mag 

FDA menggolongkan obat-obat antasid yang berisi kombinasi 

aluminium hidrosida dan magnesium hidroksida ke dalam 

kategori B, alias boleh digunakan. Simetikon (komponen obat 

mag yang berfungsi mengikat gas di lambung) digolongkan ke 


317 

 

dalam kategori C. Tapi sebab  obat ini tidak diserap, maka 

FDA menganggapnya sebagai obat yang aman (generally 

regarded as safe, GRAS). 

Jadi, obat mag yang berisi dua atau tiga komponen di 

atas termasuk kategori aman. Contoh merek dagang yang 

beredar di negara kita : Promag®, Mylanta®, Maalox®, 

Antasida DOEN, Madrox®, Polycrol®, Polysilane®, dsb. 

(Lihat juga Bab Obat Mag.) 

Obat mag golongan simetidin, ranitidin, dan famotidin 

sebaiknya dihindari kecuali atas resep dokter. Ketiga obat ini 

biasanya digunakan untuk sakit mag yang agak berat. Dalam 

pengelompokan FDA, ketiga obat ini termasuk kategori B. 

Boleh digunakan tapi harus sangat hati-hati, terutama di 

trimester pertama, sebab  obat-obatan ini bisa masuk ke 

peredaran darah janin lewat plasenta. 

 

9. Obat perut kembung 

Jika perut kembung disebabkan oleh sakit mag, obat-obat mag 

di atas bisa digunakan. Jika perut kembung disebabkan oleh 

kurangnya enzim cerna, obat-obat dari golongan enzim cerna 

seperti amilase, protease, lipase, pankreatin bisa digunakan. 

Contoh merek dagang: Enzyplex®, Enzymfort®, Vitazym®, 

Librozym®, Pankreoflat®. 


318 

 

Sebaiknya hindari obat kembung yang mengandung 

bromelain dan papain. Bromelain yaitu  enzim yang juga 

banyak terdapat di dalam buah nanas, yang berfungsi 

membantu pencernaan protein. Sementara papain yaitu  

enzim dari getah pepaya muda yang juga berkhasiat 

membantu pencernaan protein. Beberapa merek dagang obat 

kembung berisi enzim ini.  

 

10. Obat diare 

Sesuai aturan pertama, usahakan sebisa mungkin untuk tidak 

memakai  obat. Diare sendiri merupakan refleks tubuh 

untuk membuang sesuatu yang dianggap berbahaya dari 

saluran cerna. Sesuatu yang berbahaya itu bisa kuman (virus, 

bakteri, protozoa), toksin (racun), makanan yang mengiritasi 

(seperti cabai), atau komponen makanan yang tidak bisa 

dicerna. 

Sebagian diare bisa berhenti dengan sendirinya tanpa 

diberi obat. Pada dasarnya diarenya sendiri tidak berbahaya. 

Yang berbahaya yaitu  dehidrasinya, alias kekurangan 

cairan. Itu sebabnya, “obat” pertama yang harus diminum 

yaitu  oralit. (Lihat juga Bab Obat Diare) 

Jika diperlukan, pilihlah obat diare yang tidak diserap, 

misalnya karbon aktif, kaolin, attapulgit, dan pektin. Obat-


319 

 

obat ini aman buat ibu hamil sebab  tidak diserap ke 

peredaran darah. 

Karbon aktif bekerja dengan cara menyerap (meng-

adsorbsi) toksin penyebab diare di usus. Contoh merek dagang 

karbon aktif: Norit®, Bekarbon®. Sekalipun obat jadul, 

karbon aktif tetap merupakan obat pilihan dalam diare, 

terutama dalam urusan keamanan. Ditelan sepuluh butir pun 

aman. 

Kaolin bekerja dengan cara menyerap toksin penyebab 

diare. Attapulgit bekerja dengan cara melapisi permukaan 

usus sehingga tidak berkontak langsung dengan bahan 

penyebab diare. Sementara pektin bekerja dengan cara 

memadatkan tinja. Meski relatif aman, pektin tetap bisa 

menimbulkan efek samping, misalnya sembelit sebab  tinja 

menjadi terlalu padat. 

Contoh merek dagang yang berisi kombinasi kaolin dan 

pektin: Kaopectate®, Neo Kaolana®, Guanistrep®, Kaotin®, 

Kanina®, Kaolimec®, Omegdiar®. Contoh merek dagang 

yang berisi attapulgit saja atau attapulgit plus pektin: Neo 

Entrostop®, New Diatabs®, Diagit®, Molagit®, Kaotate®, 

Biodiar®. 

Jika penyebab diare yaitu  infeksi atau sesuatu yang tak 

bisa diadsorpsi (diserap), obat-obat di atas biasanya kurang 

efektif, bahkan bisa menyebabkan risiko sembelit akibat 


320 

 

pektin. Bila diare berlanjut atau malah menjadi sembelit, 

sebaiknya ibu hamil pergi ke dokter. Hindari penggunaan obat 

diare yang berisi loperamid, kecuali atas resep dokter. 

 

Obat-obat di atas (nomor 1–10) tergolong obat yang bisa 

didapatkan di apotek tanpa resep dokter. Dari golongan obat 

resep, ada beberapa jenis obat yang sebaiknya diketahui oleh pasien  

awam demi alasan kemananan.  

 

11. Kortikosteroid 

Pada pasien  yang tidak hamil saja, obat keras ini bisa 

menimbulkan efek buruk, apalagi pada ibu hamil. (Lihat 

Bab Obat Alergi, juga Bab Kortikosteroid). 

Minum kortikosteroid (seperti deksametason, prednison, 

prednisolon, dan sejenisnya) secara reguler pada ibu hamil 

berisiko membuat bayi lahir prematur, lahir dengan berat 

badan rendah, atau berbibir sumbing. Ini hanya contoh 

betapa ibu hamil harus ekstra hati-hati dalam minum obat. 

Seperti dijelaskan di Bab Kortikosteorid, obat ini banyak 

digunakan untuk berbagai penyakit, mulai dari asma, alergi, 

rematik, hingga sakit kulit. Jika si ibu menyandang peyakit 

kronis yang mengharuskannya minum kortikosteroid secara 

reguler, misalnya sakit asma, ia harus memberi tahu 

dokternya bahwa ia hamil. 


321 

 

Selama masa kehamilan, si ibu harus tetap memakai  

obat asma. Jika tidak dikendalikan, asma mungkin bisa 

menyebabkan gangguan pertumbuhan janin. Dengan 

memberi tahu dokter sedini mungkin, dokter akan bisa 

memilihkan obat asma yang risikonya paling kecil terhadap 

ibu dan janin. 

 

12. Antibiotik 

Ini kelompok obat yang sangat diperlukan dan sangat 

banyak digunakan secara bebas (tapi salah) tanpa resep 

dokter. Selain risiko resistensi dan kuman menjadi kebal, 

penggunaan antibiotik pada ibu hamil harus mendapat 

perhatian khusus sebab  mungkin bisa mengganggu 

pertumbuhan janin. 

Infeksi-infeksi tertentu memang membutuhkan antibiotik. 

Misalnya, infeksi saluran kemih. Jika dibiarkan saja dan 

tidak diobati, infeksi ini mungkin bisa menyebabkan bayi 

lahir prematur. Dan sebab  antibiotik yaitu  obat resep, ibu 

hamil sebaiknya menyerahkan urusan ini kepada dokter, 

tidak melakukan pengobatan sendiri. Dokter bisa 

menimbang manfaat dan risiko obat sehingga bisa memilih 

obat yang tepat. 

Berikut ini beberapa contoh antibiotik dan risiko yang 

mungkin timbul pada ibu hamil. 


322 

 

 

a. Tetrasiklin 

Antibiotik ini di pasaran hampir seperti obat bebas padahal 

sebetulnya yaitu  obat resep. Contoh merek yang sangat 

terkenal yaitu  Super Tetra®. Antibiotik ini bisa berikatan 

dengan kalsium. Jika diminum pada kehamilan trimester 

kedua hingga masa menyusui, antibiotik ini bisa 

mengganggu pertumbuhan cikal bakal gigi dan tulang. 

Sekalipun gigi bayi belum keluar saat di berada di dalam 

kandungan, sebetulnya proses awal pembentukan cikal 

bakal gigi sudah dimulai. Efek yang sama juga akan terjadi 

jika ibu hamil atau ibu menyusui minum oksitetrasiklin, 

doksisiklin, dan minosiklin. 

 

b. Kotrimoksasol 

Ini juga termasuk antibiotik yang banyak digunakan secara 

bebas tapi salah. Berupa kombinasi dua antibiotik, yakni 

trimetoprim dan sulfametoksazol, obat ini biasa 

diindikasikan untuk infeksi saluran kemih. 

Menurut Organization of Teratology Information 

Specialist (OTIS), kotrimoksazol bisa menurunkan kadar 

asam folat pada ibu hamil. Padahal asam folat yaitu  

vitamin penting yang diperlukan untuk mencegah bayi 

lahir dengan kelainan saraf atau bibir sumbing. Jika 


323 

 

diminum di trimester akhir, obat ini mungkin bisa 

menyebabkan bayi lahir dengan sakit kuning. 

 

c. Streptomisin, tobramisin, gentamisin, neomisin, dsj. 

Pada ibu hamil, konsumsi obat-obat ini mungkin bisa 

mengganggu pertumbuhan ginjal dan organ pendengaran 

janin. 

 

d. Siprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin, dan obat-obat 

segolongan yang biasanya berakhiran “-floksasin”. Di 

masyarakat kita, siprofloksasin banyak digunakan secara 

bebas, hampir seperti amoksisilin dan ampisilin. Sebagian 

referensi memasukkan obat ini termasuk kategori kurang 

aman sebab  bisa menyebabkan gangguan sendi pada bayi. 

 

13. Obat darah tinggi (hipertensi) 

Ini juga kelompok obat resep yang sering digunakan secara 

bebas (dan mungkin salah) tanpa resep dokter. Biasanya 

pasien pernah ke dokter, mendapat obat resep, dan merasa 

cocok. sesudah  obat itu habis, ia memutuskan membeli 

sendiri tanpa konsultasi lagi ke dokter. 

Dalam kondisi tidak hamil saja, tindakan seperti ini 

mungkin berisiko, apalagi dalam kondisi hamil. Jika ibu 

hamil mengalami hipertensi, aliran darah ke plasenta dan 


324 

 

janin menjadi berkurang. Akibatnya, janin akan kekurangan 

oksigen dan nutrisi-nutrisi penting yang diperlukan untuk 

perkembangannya. sebab  alasan inilah, hipertensi pada ibu 

hamil harus dikontrol dengan obat. Obat yang aman, 

tentunya. 

Sebagian obat hipertensi aman buat ibu hamil. Sebagian 

lainnya berisiko menyebabkan bayi lahir dengan kelainan. 

Obat hipertensi yang berisiko selama masa kehamilan 

antara lain obat-obat yang berakhiran “-pril” (seperti 

kaptopril, enalapril, lisinopril, ramipril, dan kawan-

kawan) serta obat-obat yang berakhiran “-sartan” (misalnya 

losartan, valsartan, irbesartan, kandesartan, dan kawan-

kawan). 

Penyandang hipertensi harus segera memberi tahu 

dokter sedini mungkin begitu ia tahu dirinya hamil. 

Sebaiknya jangan memutuskan sendiri minum terus obat 

hipertensi yang biasanya diminum. Mungkin dokter perlu 

mengganti obat itu dengan yang lebih aman. 

Penjelasan dan contoh-contoh obat di atas mungkin 

sudah tergolong terlalu rumit dan detail buat pasien  awam. 

Pada batas ini, kita mungkin bisa menetapkan posisi kita: 

ada hal-hal yang perlu kita ketahui, ada hal-hal yang tak 

perlu kita ketahui. Untuk hal-hal yang tidak kita ketahui, 


325 

 

mari kita percayakan saja urusan itu kepada dokter yang 

tepercaya. 

 

 

Jamu buat Ibu Hamil 

 

            Di masyarakat kita, praktik minum jamu selama kehamilan 

sudah menjadi budaya di sebagian kalangan. Keamanannya 

memang masih diperdebatkan. Jika kita memakai  ukuran 

kedokteran modern, dengan referensi dari FDA dan lembaga-

lembaga ilmiah serupa, praktik minum jamu dikategorikan tidak 

aman. Alasannya, tidak banyak penelitian ilmiah yang melaporkan 

keamanannya. Selain itu, yang natural tidak selalu aman. Toh 

wanita bisa hamil sehat cukup dengan makan bergizi seimbang 

dan pola hidup sehat. Ini cara pandang kedokteran modern. 

            Sebaliknya, buat kalangan pencinta obat tradisional, jamu 

bukan hanya tak apa-apa diminum, tapi bahkan disarankan. Ini 

sudah wilayah kepercayaan. 

 Kalau memang ibu hamil mengonsumsi jamu, sebaiknya 

pastikan bahwa jamu itu dibuat sendiri, dengan bahan-bahan 

yang biasa dikonsumsi, yang formulanya sudah biasa digunakan 

secara turun-temurun dan secara empiris terbukti aman. 

 

 


326 

 

Di situs www.mims.com, kita bisa memeriksa tingkat 

keamananan sebuah obat bagi ibu hamil, berdasarkan kategorisasi 

yang dibuat oleh FDA. Caranya, di kolom pencarian, masukkan 

nama obat (dalam ejaan bahasa Inggris), lalu lihat hasilnya di 

bagian “Pregnancy Category (US FDA)”. 

Untuk bahan bacaan lebih lanjut, silakan cek di situs-situs 

yang tepercaya. Beberapa di antaranya: 

 http://www.tg.org.au/etg_demo/tgc/plg/breastfeeding_p.htm  

 http://www.otispregnancy.org/otis-fact-sheets-s13037  

 http://safefetus.com  

 http://www.aafp.org/afp/2003/0615/p2517.html 


327 

 

 

27 

 

OBAT BUAT  

IBU MENYUSUI 

 

 

 

sesudah  melahirkan, sepasien  ibu sangat dianjurkan—hampir 

diwajibkan—untuk sebisa mungkin memberikan ASI kepada buah 

hatinya, terutama ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Jika 

si ibu sehat-sehat saja tentu tak ada masalah. Bagaimana jika ia 

sakit dan harus minum obat?  

Sebagian besar obat yang diminum ibu menyusui bisa 

masuk ke dalam ASI. Ada yang kadarnya besar, ada pula yang 

kadarnya kecil. Sebagian di antaranya tidak berbahaya, sebagian 

lainnya mungkin berisiko buruk bagi bayi. 


328 

 

Contoh, antibiotik golongan kotrimoksazol bisa 

menyebabkan bayi kuning. Obat golongan estrogen bisa 

menyebabkan penurunan produksi ASI. Estrogen biasanya 

terdapat di dalam pil KB (kontrasepsi oral) atau obat hipertensi 

golongan diuretik tiazida.  

Sebagian besar obat golongan antihistamin bisa 

menyebabkan bayi mengantuk atau rewel. Antihistamin biasanya 

terdapat di dalam obat alergi, obat flu-pilek, atau obat batuk. Ini 

hanya beberapa contoh bahwa apa yang diminum si ibu bisa 

menimbulkan efek merugikan buat si bayi. 

sebab  alasan kesehatan bayi itulah, selama menyusui, si 

ibu dianjurkan sebisa mungkin untuk tidak minum obat. Caranya, 

tentu saja dengan menjaga kesehatan secara ketat. Jika makanan 

tertentu biasanya menyebabkan batuk atau radang tenggorok, 

maka si ibu sebisa mungkin harus menghindarinya. Demi cinta 

kepada buah hati, menghindari makanan tertentu selama 

menyusui tentu bukan perkara besar. 

Biasanya aktivitas menyusui dan merawat bayi membuat ibu 

kecapekan dan mungkin menyebabkan daya tahan tubuhnya 

turun. Jika si ibu kurang istirahat, ia bisa memberi ASI sambil 

tiduran. Untuk mengganti cairan ASI yang keluar, si ibu sebaiknya 

minum cairan setiap kali habis menyusui. 

 


329 

 

Pilih Obat Tunggal 

Jika si ibu sudah berusaha keras menjaga kesehatan tapi tetap 

sakit, ia disarankan untuk sebisa mungkin mengobati sakitnya 

dengan cara non-farmakologis (tanpa minum obat). Kalaupun 

terpaksa minum obat, pilihlah obat tunggal yang memang aman 

untuk ibu menyusui.  

Hindari obat-obatan yang kandungannya berupa kombinasi 

bermacam-macam zat aktif. Obat seperti ini misalnya banyak kita 

jumpai di obat flu dan obat batuk yang banyak dijual bebas. 

Sebagai contoh, obat-obat flu dan batuk mungkin saja berisi 

campuran parasetamol, dekstrometorfan, fenilpropanolamin 

atau pseudoefedrin, CTM, dan gliseril guaiakolat (GG). 

Sebagian isi obat ini sangat mungkin tidak diperlukan si ibu. Lihat 

Bab Obat Flu-Pilek. 

Komposisi obat secara mudah bisa kita baca di kemasan 

atau brosurnya. Makin banyak kandungan obat yang diminum si 

ibu, makin besar risiko si bayi mengalami efek buruknya. Jika si 

ibu memerlukan obat penurun demam atau pereda nyeri dan sakit 

kepala, ia bisa minum obat yang isinya parasetamol tunggal. 

Bukan yang dicampur dengan beberapa jenis obat lain. Jika kita 

tidak tahu merek dagang obat yang isinya tunggal, kita bisa 

bertanya di apotek. Sekali lagi, prinsipnya, batasi hanya minum 

obat yang memang diperlukan saja. 


330 

 

Informasi kemananan suatu obat buat ibu menyusui 

biasanya tercantum di dalam brosur yang ada di kemasan obat. 

Kadang, informasi hanya menyebutkan keamanan pada ibu hamil. 

Pada umumnya, obat yang tidak aman buat ibu hamil juga tidak 

aman buat ibu menyusui. 

Perlu tidaknya ibu menyusui minum obat harus selalu 

didasarkan pada pertimbangan rasio antara risiko dan manfaat. 

Harus ditimbang, seberapa besar risiko buat bayi dan seberapa 

besar manfaat buat si ibu. Ini patokan umum dalam ilmu 

kedokteran. Si ibu diperbolehkan minum obat hanya jika memang 

risiko buat si bayi bisa lebih kecil dibandingkan  manfaatnya. 

 

Pilih yang Efek Sampingnya Paling Kecil 

Sebagian besar obat-obatan yang aman buat ibu hamil biasanya 

aman juga buat ibu menyusui. Sebetulnya, daftar obat yang aman 

buat bumil (ibu hamil) tidak sama persis dengan daftar obat yang 

aman buat busui (ibu menyusui). Pada busui, penggunaan obat 

sedikit berbeda. Sebagai contoh, obat penurun demam dan pereda 

nyeri ibuprofen. Di masa kehamilan, obat ini tidak dianjurkan 

dipakai. Tapi di masa menyusui, obat ini boleh diminum. 

Tapi demi alasan kemudahan dan keamanan, kita bisa 

memakai  patokan sederhana: obat yang tidak aman selama 


331 

 

kehamilan sebaiknya tetap dihindari selama masa menyusui, 

kecuali atas resep dokter. 

Jika memang sangat diperlukan, busui boleh memakai  

obat-obat yang termasuk kategori aman buat bumil. Selama 

minum obat, si ibu sebaiknya terus memantau perubahan yang 

terjadi pada bayi atau produksi ASI.  Contoh kategori obat: 

 

1. Antihistamin (obat alergi) 

Jika busui minum obat flu-pilek atau obat batuk yang 

mengandung golongan antihistamin, seperti CTM, 

difenhidramin, prometazin sebaiknya ia terus memantau 

kemungkinan timbulnya efek kantuk atau rewel pada bayi. 

 

2. Dekongestan (pelega hidung) 

Obat ini biasanya terdapat di dalam obat flu-pilek. 

Dekongestan yang diminum sebetulnya tidak dianjurkan buat 

ibu menyusui sebab  obat ini bisa masuk ke dalam ASI, 

menyebabkan jantung bayi berdebar-debar dan sulit tidur. 

Yang lebih dianjurkan yaitu  obat tetes atau semprot hidung. 

Kalaupun terpaksa minum, sebaiknya hanya dalam jangka 

pendek, jangan lebih dari dua hari. 

Jika si ibu terpaksa minum obat flu-pilek yang berisi 

fenilpropanolamin (PPA) atau pseudoefedrin, sebaiknya ia 


332 

 

mengamati kemungkinan rewel pada bayi atau turunnya 

produksi ASI. 

 

3. Kafein 

Obat ini kadang terdapat di dalam obat sakit kepala atau 

migrain, fungsinya untuk melancarkan peredaran darah ke 

kepala. Jika si ibu minum obat yang mengandung kafein, 

sebaiknya ia juga memantau kemungkinan rewel pada 

bayinya. 

 

4. Pil KB dan obat hormon 

Obat-obat hormonal terdapat di dalam pil kontrasepsi (pil KB) 

atau obat-obat resep untuk gangguan siklus menstruasi. Obat 

yang mengandung levonorgestrel, medroksiprogesteron, dan 

noretisteron tergolong aman buat ibu menyusui.  

Sementara obat yang berisi etinilestradiol bisa menurunkan 

produksi ASI. Contoh merek dagang pil KB yang 

mengandung etinilestradiol: Microgynon®, Diane®, 

Yasmin®, Mercilon®, Microdiol®, Cyclogynon®. Jika busui 

harus minum obat berisi etinilestradiol, ia harus terus 

memantau produksi ASI.  

Apabila si ibu memutuskan untuk ber-KB saat masih 

menyusui, ia bisa memakai  pil KB hormon tunggal. 

Contoh merek dagang, lihat di Bab Pil KB. 


333 

 

 

5. Obat pelancar ASI 

Di pasaran, tersedia beberapa merek obat tradisional yang 

diklaim bisa meningkatkan produksi ASI. Biasanya obat-obat 

ini berisi eksrak bahan herbal, misalnya daun katuk.  

Sesuai aturan pertama, sebisa mungkin hindari 

penggunanan obat maupun suplemen. Ini bukan sekadar 

terkait dengan alasan keamanan, tapi juga alasan kelengkapan 

gizi. Kebutuhan gizi sebaiknya dicukupi dari makanan dan 

minuman sehari-hari: buah, sayur, kacang-kacangan, biji-

bijian, ikan, susu, daging, telur, dll. 

dibandingkan  minum pil berisi ekstrak daun katuk, akan lebih 

baik kalau busui makan sayur katuk. Dengan makan sayur, ia 

bisa memperoleh serat, vitamin, mineral, dan zat-zat gizi lain 

dalam komposisi yang lebih komplet dan seimbang. 

Jika masalah produksi ASI bisa diatasi dengan suplemen, itu 

berarti sebetulnya masalah tersebut bisa diatasi dengan 

makanan. Pada umumnya penyebab kurangnya produksi ASI 

yaitu  masalah-masalah yang tidak bisa diatasi hanya dengan 

minum suplemen. Misalnya: 

  Ibu tidak langsung menyusui anaknya begitu lahir. Inisiasi 

menyusu dini (IMD) dan gerakan mengisap di puting yaitu  

cara ampuh merangsang produksi ASI. 


334 

 

  Jarang menyusui. Produksi ASI sebanding dengan 

kebutuhan. Makin sering ibu menyusui, makin banyak 

produksi ASI. Sebaliknya, makin jarang si ibu menyusui, 

makin sedikit produksi ASI-nya. 

  Penggunaan susu formula atau dot. Keduanya bisa 

membuat bayi tidak suka menyusu ke ibunya sehingga 

permintaan ASI pun turun. Padahal, produksi ASI 

sebanding dengan permintaannya.   

  Kondisi psikologis ibu. Ibu yang yakin dan tenang pada 

umumnya lebih mampu menyusui anaknya dibandingkan  ibu 

yang cemas dan tidak yakin. Dukungan suami dan keluarga 

sangat berperan penting dalam hal ini.  

  Kondisi kesehatan secara umum. Itu sebabnya penting sekali 

bagi bumil dan busui untuk makan dengan gizi seimbang 

dan cukup istirahat. Beberapa penyakit tertentu bisa 

menurunkan produksi ASI seperti hipotiroidisme atau 

gangguan hormonal. Untuk mengatasi penyebab terakhir 

ini, konsultasikan ke dokter.    

  

Jika obat yang diminum membuat produksi ASI turun 

sampai tidak mencukupi kebutuhan bayi, sebaiknya obat 

dihentikan dulu. Hubungi dokter, mungkin obat perlu diganti 

dengan yang lebih aman. Pada masa menyusui, ASI harus 


335 

 

mendapat prioritas utama. Jangan sampai hanya perkara pilek, 

lalu si ibu tidak menyusui bayinya. 

Untuk bahan bacaan lebih lanjut, silakan berkunjung ke 

situs-situs yang tepercaya seperti berikut ini: 

 

 http://www.tg.org.au/etg_demo/tgc/plg/breastfeeding_p.htm   

 http://www.otispregnancy.org/otis-fact-sheets-s13037  

 www.medsafe.govt.nz/profs/puarticles/lactation.htm#Primary  

 http://www.scribd.com/doc/34045101/Drugs-and-Human-Lactation  

 http://womenshealth.gov/publications/our-publications/breastfeeding-

guide/BreastfeedingGuide-General-English.pdf  

 


336 

 

 

 

28 

 

OBAT PADA  

BAYI DAN ANAK 

 

 

Dalam hal konsumsi obat, kita sering menganggap bahwa 

anak-anak yaitu  miniatur pasien  dewasa. Kita berpikir, obat yang 

aman buat pasien  dewasa, logikanya, tentu aman buat anak-anak 

jika dosisnya disesuaikan dengan umurnya. 

Jelas, ini anggapan yang tidak betul. Dalam hal keamanan 

obat, anak-anak bukanlah miniatur pasien  dewasa. Obat yang 

aman buat pasien  dewasa belum tentu aman buat bayi dan anak-

anak walaupun dosisnya sudah disesuaikan dengan umurnya. 

Pada anak-anak, organ-organ tubuhnya masih dalam masa 

perkembangan, termasuk ginjal dan lever (hati) yang berfungsi 


337 

 

sebagai penyaring dan penetral obat. Organ tubuh mereka masih 

rentan terhadap materi asing seperti obat. sebab  alasan inilah 

obat-obatan harus diberikan secara sangat hati-hati kepada anak-

anak, terutama di bawah usia dua tahun.  

Faktanya, anak yaitu  kelompok umur yang paling sering 

mengonsumsi (lebih tepatnya, dicekoki) obat-obat yang sebetulnya 

tidak ia perlukan. Ini terjadi di mana-mana, tidak hanya di 

negara kita .  

Dari sekian banyak jenis gangguan kesehatan yang membuat 

bayi dan anak-anak dibawa ke dokter yaitu  demam, flu-pilek, 

batuk, diare, dan radang tenggorok. Sebagian besar penyakit itu 

termasuk kategori self-limiting disease, penyakit yang bisa sembuh 

sendiri tanpa diobati secara khusus. Penyebabnya yang paling 

umum yaitu  virus. Dan sampai hari ini, belum ditemukan obat 

yang bisa membasmi virus-virus tersebut. 

Memang, ada sebagian penyakit langganan ini yang 

disebabkan oleh bakteri yang bisa dibasmi dengan antibiotik, 

misalnya sebagian diare dan sebagian radang tenggorok. Tapi 

secara umum persentasenya tidak besar.  

Celakanya, semua penyakit di atas diperlakukan sama. Semua 

dianggap infeksi bakteri. Dan tiap kali anak-anak ini dibawa ke 

dokter, hampir bisa dipastikan mereka akan pulang membawa 

obat berisi antibiotik di samping obat ini-itu lainnya. 


338 

 

Padahal, makin sering sepasien  anak minum antibiotik yang 

tidak diperlukan, makin rentan daya tahan tubuhnya. Kenapa 

begitu? sebab  antibiotik akan membasmi bakteri normal 

(nonpatogen) di saluran cerna. Padahal bakteri-bakteri ini 

berfungsi membantu produksi vitamin dan mendesak 

pertumbuhan bakteri jahat (patogen). 

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh pasien tua agar anak tidak 

sering sakit dan tidak terlalu banyak minum obat? 

Pertama-tama, tindakan pencegahan. Salah satu bentuk 

pencegahan yang paling murah dan paling baik yaitu  pemberian 

ASI. Berbagai penelitian menunjukkan, anak yang mendapat ASI 

lebih sehat dibandingkan  anak yang tidak. Banyak pasien tua tidak 

menyusui bayinya sebab  alasan ini dan itu. Padahal sebetulnya 

ibu yang benar-benar punya halangan menyusui itu amat sedikit 

jumlahnya.  

Sebagian besar masalah menyusui bisa diatasi. Wanita karier 

yang supersibuk pun tetap bisa memberi ASI buat bayinya. Untuk 

mengetahui trik-trik mengatasi berbagai masalah menyusui, kita 

bisa bergabung dengan komunitas ASI seperti Asosiasi Ibu 

Menyusui negara kita  (http://aimi-asi.org/). 

Jika tindakan pencegahan sudah dilakukan dan anak masih 

sakit, pedoman pertama: jangan mudah panik. Banyak pasien tua 

yang, sebab  tak begitu mengerti masalah kesehatan, mudah panik 

dan gopoh ketika anaknya sakit. Saat membawa anaknya ke 


339 

 

dokter, mereka biasanya cenderung menuntut dokter untuk 

“memberi anaknya obat apa saja yang penting ia sembuh”. 

Tuntutan inilah yang kemudian memaksa dokter untuk 

meresepkan “obat sapu jagat” yang berisi bermacam-macam obat, 

mulai dari penurun panas, penekan batuk, pengencer dahak, 

antihistamin, pelega hidung, dan... tak lupa antibiotik. Para dokter 

tentu sudah paham dengan prinsip pengobatan rasional dan 

polifarmasi, tapi memberi penjelasan kepada pasien tua yang panik 

dan gopoh tentu lebih menghabiskan waktu dibandingkan  menulis 

resep. 

Dalam kondisi seperti ini, pasien bisa memberdayakan diri 

dengan cara banyak belajar tentang kesehatan dasar anak. Untuk 

urusan ini, kita bisa belajar dari sesama pasien tua di komunitas 

Milis Sehat (http://milissehat.web.id/). Selain itu, kita juga bisa belajar 

perawatan kesehatan anak di situs Ikatan Dokter Anak negara kita  

di www.idai.or.id. Sayangnya, situs ini sering tidak bisa diakses. 

Agar kesehatan anak bisa dipantau dengan baik, pasien tua 

sebaiknya punya buku diary catatan kesehatan anak. Mirip rekam 

medis milik rumah sakit, tapi yang dibuat sendiri oleh pasien tua. 

Di buku itu pasien tua bisa mencatat apa yang dimakan oleh anak, 

apa saja gejala sakit yang dialami, berapa lama gejalanya, berapa 

derajat demamnya, telah berkunjung ke dokter siapa, diberi obat 

apa saja, berapa miligram dosisnya, diminum berapa kali sehari, 

dan seterusnya.  


340 

 

Tiap kali berkunjung ke dokter, pasien tua bisa menunjukkan 

buku catatan ini sehingga bisa menghemat waktu di ruang dokter. 

Cara seperti ini juga akan membuat dokter lebih terbantu sebab  

dia akan lebih mudah mendiagnosis kondisi si anak. 

Dalam banyak kondisi sakit, anak-anak sebetulnya sering kali 

tidak memerlukan obat. Mungkin ia hanya perlu ASI lebih 

banyak, minum lebih banyak, dan istirahat lebih banyak. 

Sebelum berpikir tentang obat, pasien tua sebaiknya mencoba 

lebih dulu cara non-obat. Contoh, untuk membantu mengencerkan 

dahak, pasien tua bisa mencoba memberi uap air panas. Caranya, 

taruh satu ember air panas di dalam kamar lalu tutup pintu kamar. 

Biarkan uap hangat memenuhi ruangan dan dihirup oleh anak. 

(Lihat Bab Obat Batuk.) 

Kalaupun anak membutuhkan obat, sebisa mungkin usahakan 

memilih obat yang risikonya paling kecil. Misalnya, untuk 

mengatasi hidung tersumbat, dibandingkan  memakai  dekongestan 

(pelega hidung) yang diminum, lebih aman memakai  

dekongestan dalam bentuk obat tetes hidung. Kalau sumbatan 

hidung hanya disebabkan oleh ingus yang kental, si anak mungkin 

tak perlu obat yang berisi dekongestan, tapi cukup tetes hidung 

yang berisi larutan garam steril. Lihat Bab PPA dan Obat Pelega 

Hidung. 

Kalaupun tidak bisa menghindari obat, usahakan 

memakai  obat yang aman. Misalnya, untuk kondisi demam, 


341 

 

sebagai pilihan pertama sesudah  kompres, sebaiknya pasien tua 

memakai  parsetamol lebih dulu dibandingkan  langsung 

memberikan ibuprofen. Jika parasetamol tidak mempan, barulah 

boleh dicoba ibuprofen, dengan syarat tidak ada kecurigaan 

demam berdarah. 

Ketika memakai  obat, pastikan dosisnya tepat. Sebagai 

contoh, obat sirup parasetamol. Pada umumnya, sirup obat di 

negara kita  memakai  tanda volume 2,5 ml dan 5 ml. 

Kandungan parasetamol biasanya sekitar 120 mg tiap 5 ml sirup. 

Jika anak mestinya minum 2,5 tapi kita beri 5 ml, artinya ia 

harus menenggak kelebihan parasetamol 60 mg. Pada anak-anak 

dan bayi, perbedaan miligram yang kecil bisa berakibat overdosis 

yang membahayakan. 

Begitu pula dengan obat yang diberikan dalam bentuk tetes. 

Pada obat tetes, kandungan obat biasanya dibuat lebih pekat 

dibandingkan  sirup. Konsentrasi pada umumnya 100 mg parasetamol 

tiap ml. Jadi, jika volumenya meleset 0,2 ml saja, si bayi harus 

menenggak kelebihan obat 20 mg. 

Kalau memang kita harus memakai  obat bebas, pilihlah 

obat bebas dengan kandungan yang memang diperlukan. Hindari 

produk sapu jagat yang berisi banyak sekali obat. Bagaimanapun, 

industri farmasi juga punya sisi bisnis—sebagaimana apotek, 

rumah sakit, klinik, dan dokter praktik. Sebagain pabrik membuat 

obat sapu jagat supaya lebih laris. Satu produk diisi bermacam-


342 

 

macam obat, kadang sampai lima macam. Tujuannya, kalau obat 

pertama tidak bekerja, obat kedua, ketiga, dan seterusnya masih 

bisa bekerja. Tak peduli efek sampingnya. 

Pencampuran berbagai obat ini banyak terjadi di produk obat 

batuk dan flu-pilek. Satu produk bisa mengandung golongan 

analgesik-antipiretik (antinyeri dan penurun demam), antitusif 

(penekan batuk), ekspektoran (pengencer dahak), antihistamin 

(antialergi), dekongestan (pelega hidung), dan mungkin masih ada 

lainnya. 

 

Mengatasi Flu-Pilek-Batuk pada Anak 

Obat-obat flu-pilek dan batuk sebetulnya yaitu  obat yang 

diperuntukkan buat pasien  dewasa. sebab  itu produk ini harus 

digunakan secara sangat hati-hati pada anak-anak. Bahkan, 

menurut standar FDA, obat-obat ini sebetulnya tidak boleh 

digunakan secara bebas pada anak di bawah dua tahun kecuali 

atas resep dokter.  

Lagi-lagi pertimbangannya yaitu  alasan keamanan. Saat 

minum obat batuk, sangat mungkin si anak mengalami efek buruk 

tapi tidak kelihatan oleh pasien tuanya, misalnya jantung berdebar-

debar atau bermimpi buruk.  

Sama seperti demam, batuk pun sebetulnya memiliki 

manfaat pertahanan tubuh, yaitu mengeluarkan benda asing dari 


343 

 

saluran napas atas. Benda asing itu mungkin kuman, debu, dahak, 

atau alergen. Kalau refleks batuk ditekan, justru manfaat batuk ini 

akan hilang. 

Lalu apa yang bisa dilakukan pasien tua kalau bayinya 

mengalami flu-pilek dan batuk?  

 

 Beri ASI atau minuman hangat lain lebih sering dari biasanya. 

 Jika ingusnya mengental dan menyumbat hidung, tetesi 

dengan obat tetes hidung yang berisi larutan garam supaya 

ingus tersebut lebih lembap dan encer. Saat ingus encer, 

keluarkan dengan cara memencet hidung bayi secara lembut 

memakai  tisu. 

 Jika batuknya berdahak dan mengganggu, encerkan dahak di 

hidung dan tenggoroknya dengan cara membiarkan bayi 

menghirup uap air hangat. Caranya, saat bayi tidur, letakkan 

ember berisi air panas lalu tutup kamar dan biarkan uap kamar 

memenuhi ruangan. 

 Sebagian pasien  menambahkan beberapa tetes minyak kayu 

putih atau minyak telon ke dalam air panas untuk 

menciptakan efek terapi aroma. Juga memijat bayi dengan 

balsem khusus bayi. Ini cara tradisional yang secara empiris 

banyak dipraktikkan di negara kita  sekalipun mungkin tidak 

banyak kita temui di referensi-referensi kedokteran.  


344 

 

Boleh saja cara ini diterapkan asal hati-hati, jangan sampai 

keliru memakai  balsem untuk pasien  dewasa sebab  kulit 

dan saluran napas bayi masih sangat rentan. Salah satu merek 

balsem bayi yang sangat populer yaitu  Transpulmin BB®. 

Jika kurang teliti, pasien tua bisa keliru dengan balsem 

Transpulmin® (tanpa “BB”) yang khusus untuk pasien  dewasa. 

 Jauhkan bayi dari kemungkinan penyebab pilek dan batuk, 

seperti kipas angin, asap rokok, dan debu.  

 Saat bayi tidur, atur posisi tidurnya miring dan beri bantal 

yang agak tinggi supaya ingusnya tidak mengganggu 

pernapasan. 

 Jika batuknya sampai membuat bayi sulit bernapas dan sulit 

tidur, bawa bayi ke dokter. 

 


345 

 

 

 

29 

 

OBAT TRADISIONAL 

 

 

 

Obat tradisional, khususnya obat herbal, hingga sekarang 

masih sering menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung habis. 

Para pengobat tradisional mendewa-dewakannya. Tapi kalangan 

medis sering menganggapnya tidak ilmiah dan belum punya cukup 

bukti! 

Perdebatan kedua pihak ini selalu muncul tiap kali hadir 

primadona baru obat tradisional seperti buah mahkota dewa, buah 

pace, virgin coconut oil, buah merah, sarang semut, dan sebagainya. 

Para herbalis biasanya mengangkat pamor tanaman 

primadonanya dengan testimoni para pemakai yang berhasil 

sembuh.  


346 

 

Bagi mereka, pengalaman itu yaitu  bukti kemujaraban 

tanaman tersebut. Tapi kalangan dokter selalu bilang bahwa 

testimoni-testimoni itu belum bisa dijadikan sebagai bukti. 

Bagi kebanyakan pasien  awam, perselisihan kedua kubu ini 

mungkin membingungkan. Tapi jika kita bisa memahami logika 

ilmu kedokteran modern, kita akan mafhum. Ilmu kedokteran 

modern ditegakkan di atas data-data penelitian ilmiah. Dan 

penelitian ilmiah baru bisa dianggap sah jika telah memenuhi 

metodologi ilmiah dan kaidah-kaidah statistik. 

Bukan berarti pengalaman-pengalaman para pemakai itu 

hanya dianggap bualan atau omong kosong belaka. Namanya saja 

cerita. Kita boleh percaya, boleh juga tidak. Masalahnya, 

kesembuhan beberapa pasien  belum bisa mewakili populasi sebab  

belum memenuhi kaidah statistik. Itu sebabnya pengakuan 

beberapa pasien  belum dianggap sebagai “bukti” dalam pandangan 

ahli medis. 

Seperti halnya obat modern, obat tradisional sebetulnya juga 

racun yang punya manfaat. Jika digunakan secara tepat, ia bisa 

menyembuhkan banyak macam penyakit, termasuk penyakit yang 

sulit ditangani oleh obat modern sekalipun. Tapi jika 

pemakaiannya salah, bisa saja penyakitnya malah tambah parah. 

Tak sedikit obat tradisional yang sudah terbukti aman dan 

ampuh—walau baru secara empiris. Banyak penderita hipertensi, 

diabetes, bahkan kanker mengalami “perbaikan klinis” sesudah  


347 

 

minum obat tradisional. Kenapa istilahnya perbaikan klinis, bukan 

sembuh? Banyak pasien  mengaku sembuh sesudah  minum obat 

tradisional tapi sebetulnya mungkin saja itu bukan sembuh 

melainkan hanya membaik. 

Seperti kita tahu, pemakaian obat tradisional biasanya 

menyebar secara getok tular lewat cerita-cerita pengakuan pasien . 

Kadang kita tak bisa membedakan, apakah cerita itu nyata atau 

hanya cerita karangan yang digunakan untuk marketing. 

Testimoni-testimoni kesembuhan ini kebanyakan masih perlu 

dicek kebenarannya. Misalnya apakah kesembuhannya permanen 

ataukah hanya efek perbaikan sementara. 

Meski begitu, banyaknya pengalaman pasien  yang 

mengalami perbaikan klinis setidaknya memberikan gambaran 

bahwa obat tradisional berpotensi menyembuhkan penyakit-

penyakit yang hingga kini masih sukar disembuhkan. 

Sejarah obat modern pun sebetulnya tidak bisa dilepaskan 

dari obat tradisional. Banyak obat modern yang awalnya yaitu  

obat tradisional herbal. Kita bisa menyebut contoh efedrin, 

asetosal (aspirin), vinkristin, vinblastin, digitalis, artemisin, morfin, 

kodein, dan masih banyak lagi. Semua nama ini merupakan 

contoh senyawa tunggal yang masuk kategori obat modern. 

Obat-obat pelega hidung (dekongestan) yang banyak 

digunakan sekarang pada umumnya yaitu  turunan dari efedrin. 


348 

 

Efedrin sendiri awalnya—sekarang tidak lagi—diisolasi  dari 

Efedra, marga tanaman yang banyak digunakan dalam 

pengobatan tradisional Cina. 

Salisilat, inti asetosal (obat antidemam yang juga digunakan 

untuk mencegah serangan jantung atau stroke) pada awalnya juga 

obat tradisional yang diperoleh dari kulit kayu marga tanaman 

Salix. Vinkristin dan vinblastin (dua senyawa yang banyak 

digunakan untuk kemoterapi kanker) diisolasi dari tapak dara, 

Catharanthus roseus, tanaman yang biasa dijadikan penghias 

pekarangan rumah.  

Digitalis (obat jantung) berasal dari Digitalis purpurea, 

tanaman yang banyak tumbuh di Eropa. Artemisin (obat 

antimalaria) berasal dari Artemisia annua, tanaman yang banyak 

tumbuh di Cina. 

Morfin, obat penekan sistem saraf pusat yang sering 

disalahgunakan itu, berasal dari tanaman opium (Papaver 

somniverum). Belajar dari struktur kimia morfin, para ilmuwan 

kemudian mengembangkan kodein dan dekstrometorfan yang 

biasa dipakai sebagai obat batuk. (Jadi, sebetulnya obat batuk yang 

biasa kita minum itu masih bersaudara dengan morfin.) 

Kolcisin, yang biasa dirsepkan untuk pertolongan pertama 

serangan asam urat, yaitu  senyawa yang berasal dari tanaman 

Colchicum autumnale, tumbuhan asal Inggris.  


349 

 

Semua contoh ini membuktikan bahwa tanaman obat punya 

potensi menghasilkan senyawa tunggal untuk obat modern. Jadi, 

kalau kita meremehkan obat tradisional dengan alasan “tidak 

ilmiah”, itu seperti melupakan sejarah obat modern. 

Secara ilmiah, obat tradisional memang masih belum bisa 

dibandingkan langsung dengan obat modern. Obat tradisional 

biasanya baru memiliki data penelitian yang amat sedikit. 

Sebagian bahkan mungkin sama sekali tak punya data penelitian 

ilmiah.  

Pemakaiannya di masyarakat hanya didasarkan pada 

pengakuan pasien , mungkin pengalaman tetangga, kawan, atau 

cerita Pak Karto yang tertulis di majalah. Banyak di antaranya 

bahkan kelihatan terang benderang sebagai strategi jualan. 

Ini berbeda dengan obat modern. Obat modern sudah 

memiliki cukup banyak data penelitian ilmiah. Khasiatnya bukan 

hanya didasarkan pengalaman Pak Karto, tapi berdasarkan 

pengamatan yang sistematis terhadap ribuan pasien.  

Dosis kerjanya sudah diketahui dengan pasti sampai tingkat 

miligram bahkan mikrogram. Efek samping (side effect) dan efek 

buruknya (adverse reaction) juga sudah diketahui dengan jelas. 

sebab  itu, dokter pun tidak ragu meresepkannya. 

Dalam urusan obat tradisional, ada beberapa “pasal” yang 

bisa dijadikan sebagai pedoman gampang agar kita bisa 

memperoleh manfaat dengan sekecil mungkin mudarat. 


350 

 

 

Salah satu aturan 

umum pengobatan: untuk 

penyakit-penyakit serius 

yang bisa ditangani secara 

medis, sebaiknya utamakan 

penyembuhan cara medis. 

Kalaupun mau mengombinasikan dengan obat tradisional, silakan 

saja. Tak ada larangan asalkan, sekali lagi, dikomunikasikan 

kepada dokter. 

Contoh gampang yaitu  kanker. Penyakit ini hingga 

sekarang masih menjadi momok yang amat ditakuti. Tak jarang 

masyarakat awam beranggapan bahwa penyakit ini mustahil 

disembuhkan oleh dokter. Padahal kenyataannya penyakit ini bisa 

disembuhkan secara medis asalkan masih dalam stadium dini, 

maksimal stadium dua. 

Biasanya, dalam stadium satu atau maksimal dua, penyakit 

ini masih bisa disembuhkan secara medis dengan terapi standar 

meliputi operasi, radiasi, dan kemoterapi. Sembuhnya tuntas, 

bukan hanya sembuh sebentar lalu kambuh lagi. Jaminan ini lebih 

pasti dibandingkan  jaminan obat tradisional. 

Banyak pasien yang—sebab  pandangan keliru, bukan 

sebab  tak punya biaya—tidak mau pergi ke dokter dan hanya 

mengonsumsi obat tradisional. Padahal kesembuhan dengan obat 

 

 

Pasal ke-1:  

Utamakan metode terapi 

yang sudah terbukti aman 

dan efektif. 


351 

 

tradisional bisa saja bersifat sementara. Selagi pasien merasa sehat, 

bisa saja stadium kankernya terus meningkat. Ketika pasien 

merasa sakitnya kambuh lagi, mungkin saja kankernya sudah 

stadium empat. Artinya, pada saat itu dokter mungkin “hanya bisa 

berikhtiar dan selebihnya yaitu  kehendak Tuhan”. 

Hal ini tentu tidak akan terjadi kalau pasien pergi ke dokter 

ketika kankernya masih stadium dini. Sambil menjalani terapi 

medis itu, pasien tetap boleh mengonsumsi obat tradisional. Justru 

dengan cara ini, obat tradisional dan obat modern akan 

komplementer, saling melengkapi. 

Contoh lain yaitu  konsumsi obat tradisional yang diklaim 

berasal dari ekstrak cacing untuk obat tifus (demam tifoid). 

Biasanya dokter tidak mengizinkan pasien minum obat ini. Tapi 

banyak pasien yang mengonsumsinya sebab  merasa obat dari 

dokter tidak manjur.  

Soal manjur atau tidak manjur barangkali bisa 

diperdebatkan. Tapi satu yang jelas, penyakit tifus disebabkan oleh 

bakteri. Dalam ilmu kedokteran, sudah ada metode standar terapi 

yang jelas aman dan efektif, yaitu pemberian antibiotik, tirah 

baring (istirahat total atau bed rest), dan diet yang mudah dicerna 

dan rendah serat-kasar. Dalam trilogi terapi ini, pemilihan 

antibiotik merupakan tahap yang sangat menentukan. 

Kalau obat dokter tidak manjur, mungkin saja itu 

disebabkan oleh pemilihan antibiotik yang kurang tepat sebab  


352 

 

bakterinya sudah kebal. Asalkan diagnosis dan pemilihan 

antibiotiknya tepat, penyakit tifus dijamin akan sembuh apabila 

disertai dengan tirah baring dan pola makan yang tepat. 

Jadi, dari sudut pandang ini, sebetulnya pasien tidak 

memerlukan ekstrak cacing. Akan namun , kalaupun pasien 

akhirnya memutuskan untuk minum ekstrak cacing (itu memang 

hak setiap pasien ), sebaiknya ia terus memantau efek obat itu 

terhadap kesehatannya. 

Selama ini ekstrak cacing diduga membantu penyembuhan 

sebab  kandungan asam aminonya. Namun, dugaan ini masih 

belum bisa menjawab pertanyaan berikutnya. Kalau sekadar 

kandungan asam amino, ekstrak protein hewani seperti daging-

dagingan dan seafood pun kaya asam amino dan harusnya bisa 

menggantikan ekstrak cacing. 

Sekali lagi, ini tidak berarti bahwa logika asam amino 

ekstrak cacing itu hanya strategi jualan tukang obat. Mungkin saja 

memang ekstrak cacing mengandung senyawa—entah apa 

namanya dan entah bagaimana struktur kimianya—yang jelas bisa 

membantu penyembuhan tifus.  

Kemungkinan itu bisa jadi ada, tapi kita tak pernah tahu. 

Wallahua’lam. Sementara dalam ilmu medis, dokter hanya akan 

meresepkan obat yang memang benar-benar diketahui cara 


353 

 

kerjanya. Ilmu kedokteran modern tak mau berurusan dengan hal-

hal yang wallahua’lam.  

Contoh lain yang mirip yaitu  konsumsi obat cina untuk 

mempercepat penyembuhan luka operasi, khususnya operasi sesar. 

Dalam ilmu medis, sebetulnya luka sesar dijamin akan sembuh 

sendiri walaupun tidak diterapi khusus dengan obat-obatan, 

asalkan luka itu dijaga tetap bersih dan kering. Kalaupun perlu 

obat, biasanya cukup antibiotik, antinyeri, dan vitamin. Bahkan, 

jika pasien bisa menjaga betul kebersihan diri dan lingkungan, dia 

mungkin malah tidak perlu antibiotik.  

Dengan metode terapi ini, di hari keempat atau kelima 

pascaoperasi, pasien biasanya sudah bisa pulang. Jadi, 

berdasarkan protap ini sebetulnya pasien sesar tak perlu minum 

obat cina. Tapi kalau ternyata pasien tetap bersikukuh minum obat 

cina (itu memang haknya), sebaiknya ia terus memantau 

kesehatannya dan kesehatan bayinya. Sebab, sangat mungkin obat 

yang belum diketahui persis senyawa kandungannya itu masuk ke 

dalam kelenjar ASI. 

 


354 

 

Selama ini obat 

tradisional diyakini tidak 

punya efek samping yang 

buruk. Atau, kalaupun ada, 

efek buruk ini boleh 

diabaikan. Pandangan seperti 

ini tidak sepenuhnya benar. Bagaimanapun, obat tradisional tetap 

berisi bahan kimia yang asing bagi tubuh dan sebab  itu punya 

efek samping atau bahkan efek buruk. sebab  itu, penggunaannya 

pun tetap harus sangat hati-hati. 

Oleh sebab  masalah keamanan obat tradisional sebagian 

besar masih wallahua’alam, kita sebaiknya membatasi 

pemakaiannya pada obat-obat yang memang sudah digunakan 

secara luas dan terbukti