Contoh klasik yaitu yang dinamakan
“pseudoepidural hematom” yang terjadi sebab efek panas
sehingga darah akan banyak berkumpul di kepala, dan bila
disertai pula dengan retaknya tengkorak akan dapat
memicu penafsiran yang salah, oleh sebab dianggap
sebagai perdarahan epidural, yang terjadi sebelum korban
tewas. 3
Pseudoepidural
hematom
Epidural Hematom
Warna bekuan darah
coklat.
Warna bekuan darah hitam.
Konsistensi rapuh. Konsistensi kenyal.
Bentuk otak
mengkerut
seluruhnya.
Bentuk otak cekung sesuai dengan
bekuan darah.
Garis patah tidak
menentu.
Garis patah melewati sulcus arteri
meningeal.
Tanda post mortem. Tanda intravital.
Tabel 1. Perbedaan pseudoepidural dan epidural
hematom 7
Mekanisme Kematian
Angka kejadian terbanyak dari luka bakar terjadi pada
24 jam pertama. Biasanya akibat syok dan toksemia.
Toksemia berlangsung pada 72-96 jam dan dapat
memicu kematian. Sepsis yaitu faktor yang paling
penting pada kematian pada kejadian 4-5 hari/lebih sesudah
luka bakar. 3,13
Kematian sebab kecelakaan kebakaran dapat terjadi
secara cepat atau lambat dan memiliki ciri-ciri sebagai
berikut : 1
A. Kematian Cepat yaitu kematian yang dilihat
menurut waktunya dalam beberapa menit sampai
berapa jam dari kecelakan, ini dapat terjadi dari :
a. Syok neurogenik dalam kaitan dengan sakit yang
sangat parah
b. Luka akibat panas. kulit yang terbakar memicu
kehilangan cairan dalam jumlah besar, yang dapat
memicu terjadinya hypovolemia, Syok dan
kegagalan ginjal akut
c. Luka Pada Pernafasan, yang harus dicurigai dalam
setiap kasus dimana warna hitam sangat kelihatan di
sekitar atau dimulut
- Akibat panas di saluran udara mukosa, yang
mengarah ke mukosal nekrosis dan edema,
bronkospasme, atau edema pada pangkal
tenggorokan,
- pemicu utama dari kematian luka pada
pernafasan yaitu racun karbon monoksida.
Karbon monoksida mengikat hemoglobin dengan
gaya gabung lebih dari 200 kali lebih besar
dibanding oksigen, dan melakukan pemindahan
oksigen dari hemoglobin molekul, mendorong ke
arah jaringan dalam hypoxia dan kematian.
Tingkatan darah postmortem carbon hemoglobin
(COHb) harus ditentukan dalam semua kasus yang
menyertakan api.
- Sebagai tambahan terhadap CO, asap mengandung
agen lain:
Á Sianida, yang dengan cepat diserap dan
menghambat sistem cytochrome oxidase untuk
pemanfaatan oksigen selular.
Á Acrolin yaitu suatu aldehid reaktif yang
diproduksi dari kayu dan produk minyak tanah
dapat memicu luka - luka / kekurangan
protein denaturation.
Á Hydrochloric Acid diproduksi oleh pembakaran
beberapa plastik, perabot, komponen bangunan
dapat mengakibatkan edema.
Á Toluene Diisocyanate, diproduksi dari pembakaran
polyurethane (produk buatan yang secara luas
digunakan untuk bantal, kasur, dukungan
permadani) yang memicu bronkospasme.
Á Nitrogen dioksida, diproduksi dari mobil atau
sampah argikultural, dengan konsentrasi tinggi
memicu bronko/laringospasme dan edema
paru, yang pada akhirnya memicu PPOK.
B. Kematian yang lambat terjadi sebagai hasil beberapa
kemungkinan komplikasi
a. Dehidrasi yang berlanjut, syok yang tertunda atau
kegagalan ginjal
b. Kegagalan pernafasan sebab tertundanya
kerusakan epithelium yang berhubungan dengan
pernapasan dan pengembangan organ.
c. Sepsis terjadi terutama berkaitan dengan luas luka
bakar atau radang paru
Jenis-jenis Luka Bakar Menurut Ilmu Forensik
Dry heat (burn heat / luka bakar)
Dry heat (burn heat / luka bakar) yaitu luka bakar
yang dipicu oleh persentuhan tubuh dengan api atau
benda panas (bukan cairan).
Gejala umum yang sering ditemukan pada kasus ini
berupa: 7
Á Nyeri yang sangat hebat, dapat memicu syok
dan kematian.
Á Pugilistik attitude / coitus attitude berupa
ekstremitas fleksi, kulit menjadi arang &
mengelupas.
Á Ekstremitas fleksi akibat koagulasi protein dan
tidak sampai memicu rigor mortis
Á Otot merah gelap, kering, berkontraksi dan jari-jari
mencengkeram.
Á Bukan tanda intravital.
Á Fraktur tengkorak yang dapat memicu
pseudoepidural hematom.
Dua reaksi dari tubuh korban luka bakar yang dapat
kita periksa, yaitu reaksi lokal dan umum. Reaksi lokal yang
ditemukan berupa : 7
Á Eritema dengan ciri-ciri: epidermis intak,
kemerahan, sembuh tanpa meninggalkan sikatriks.
Á Vesikel, bulla & bleps dengan albumin atau NaCl
tinggi.
Á Necrosis coagulativa dengan ciri-ciri : warna coklat
gelap hitam dan sembuh dengan meninggalkan
sikatriks (litteken).
Á Karbonisasi (sudah menjadi arang).
sedang reaksi umum dari tubuh korban yang dapat
ditemukan berupa gejala heat exhaustion , heat stroke / sun
stroke / pingsan panas, dan heat cramp.
Gejala-gejala yang ditemukan melalui reaksi heat
exhaustion seperti badan panas, pusing, pucat, berkeringat,
otot lemah, suhu tubuh turun, nadi irreguler, kolaps
sirkuler. Heat exhaustion terbagi menjadi primer, yaitu
akibat suhu tinggi, sedang sekunder akibat kehilangan
cairan tubuh yang berlebihan.8
Dalam hal pemeriksaan dalam, ada 3 hal yang dapat
kita temukan sebagai tanda adanya reaksi heat exhaustion,
yaitu :
1. Arteriosklerosis arteri koroner, darah berwarna gelap
di jantung, dan organ dalam mengalami kongesti.
2. Heat stroke / sun stroke / pingsan panas dipicu
oleh terjadinya kegagalan dan paralise centrum di
medulla. Keadaan ini terjadi pada udara yang panas
(1000F) dan lembab serta telah berlangsung beberaoa
hari. Gejala heat stroke / sun stroke / pingsan panas,
yaitu : badan panas, pusing, sakit kepala, nadi cepat &
penuh, kolaps sirkuler hingga syok sampai beresiko
mati dengan tubuh kemerahan. 7,8
Pada otopsi sebagai tanda adanya reaksi heat stroke /
sun stroke / pingsan panas ditemukan tanda-tanda
darah berwarna merah gelap, organ mengalami
kongesti, perdarahan otak, epicard, endocard atau
berkas his, degenerasi sel-sel ganglion, kongesti (edem
berat), perdarahan kecil pada ventrikel III & IV. 7
3. Heat cramp dapat terjadi pada individu yang bekerja
dalam ruangan yang bersuhu tinggi dengan
kehilangan NaCl dengan cepat. 7,8
Moist heat
Moist heat (scald heat) yaitu luka bakar yang
dipicu oleh persentuhan tubuh dengan cairan panas
atau uap panas. 9
Reaksi lokal dari tubuh korban yang ditemukan
berupa eritem, blister (tanda khas) berupa vesikel dan bulla.
Enam jam kemudian akan terjadi infiltrasi PMN granulasi
dan sembuh dengan meninggalkan koagulativa, yang
kemudian terjadi nekrosis koagulativa. sedang reaksi
umum yang terjadi berupa syok sebab nyeri (jarang
memicu kematian) dan syok sekunder sebab kolaps
pembuluh darah (sering memicu kematian), terjadi
akibat dehidrasi, autointoksikasi, infeksi dan sepsis. 9
Temuan Dini Otopsi Pada Kematian Luka Bakar
Kelainan Khusus Patologis
Lesi eksternal luka bakar dapat ditemukan pada
pemeriksaan luar tubuh. Keadaan, luas, sifat dasar luka
harus dideskripsikan. Luas luka sebanding dengan angka
kematian.
Heat rigor, ditemukan pada otot, terjadi pada kasus
dimana terjadi pada deep charring of the body. 3
Liver necrosis. Bentuk ini ditemukan pada akut
toksikemi yang menyertai luka bakar, disebabkan oleh
koagulasi agen dari luka bakar ini . 3
Kelainan Umum Patologis
Berupa perubahan kongestif organ visceral. Bintik-
bintik perdarahan sering ditemukan pada pleura,
pericardium dan endocardium. 3
Artefak Yang Ditemukan Pada Mayat Oleh sebab
Luka Bakar
Pada kebakaran yang hebat, apakah di dalam gedung
atau yang terjadi pada kecekalaan mobil yang terbakar,
sering terlihat bahwa keadaan tubuh korban yang terbakar
sering tidak mencerminkan kondisi saat matinya. 2
1. Skin Split
Kontraksi dari jaringan ikat yang terbakar
memicu terbelahnya kulit dari epidermis dan
korium, yang menyerupai luka sayat dan sering
disalahartikan sebagai kekerasan tajam. Artefak post
mortem ini dapat mudah dibedakan dengan kekerasan
tajam ante mortem sebab tidak adanya perdarahan
dan lokasinya yang bervariasi di sembarang tempat.
2. Abdominal Wall Destruction
Kebakaran parsial dari dinding abdomen bagian
depan akan memicu keluarnya sebagian dari
jaringan usus melalui defek yang terjadi. Biasanya
terjadi tanpa perdarahan.
3. Skull Fractures
Bila kepala terpapar cukup lama dengan panas
memicu pembentukan uap didalam rongga
kepala yang akan mengakibatkan kenaikan tekanan
intra kranial, yang akhirnya memicu terpisahnya
sutura-sutura dari tulang tengkorak. Pada luka bakar
yang hebat dan kepala sudah menjadi arang atau
hangus terbakar dapat terlihat fraktur tulang
tengkorak menyerupai fraktur linier tanpa diikuti oleh
kontusio serebri, subdural, atau subaraknoid.
4. Pseudo Epidural hemorrages
ada pada korban yang hangus terbakar dan
kepala yang sudah menjadi arang.
5. Non-cranial fractures
Berupa fraktur pada tulang ekstremitas pada korban
yang mengalami karbonisasi oleh sebab terpapar
terlalu lama dengan api dan asap. Tulang-tulang yang
terbakar memiliki warna abu-abu keputihan dan
sering menunjukkan fraktur kortikal pada
permukaannya. Umumnya hancur bila dipegang
sehingga memudahkan trauma post mortem pada
waktu transportasi ke kamar mayat atau selama usaha
memadamkan api.
6. Pugilistic Posture
Koagulasi dari otot-otot oleh sebab panas yang akan
memicu kontraksi serabut otot-otot fleksor,
mengakibatkan ekstremitas atas mengambil sikap
seperti posisi boxer dengan tangan terangkat di
depannya, paha dan lutut juga fleksi sebagian atau
seluruhnya. Posisi ini akan hilang bersama dengan
timbulnya pembusukan.
Pandangan Forensik tentang Kepentingan
Medikolegal
Apakah orang ditemukan pada kebakaran masih
hidup atau sudah meninggal pada saat api membakar
dirinya? 3
Pada kasus ini , dapat diketahui melalui
pemeriksaan yang teliti terhadap tubuh korban, dimana
akan ditemukan tanda-tanda intravitalitas atau post mortem
luka bakar.
Pada tubuh manusia yang masih hidup, adanya
trauma akan memicu timbulnya reaksi tubuh terhadap
trauma ini . Dengan menemukan adanya reaksi trauma,
dapat dipastikan bahwa saat terjadi trauma, yang
bersangkuan masih hidup. 8
Reaksi vital yang umum yaitu : perdarahan berupa
ekimosis, petechie dan terjadinya emboli. 8
Pada penilaian terhadap perdarahan, harus dilakukan
dengan teliti terutama bila luka terletak di daerah hipostatis.
Luka pada korban harus diperhatikan dengan seksama
termasuk saluran luka / kerusakan jaringan bawah kulit. 14
Emboli lemak dapat terjadi pada kasus patah tulang
atau trauma tumpul jaringan lemak sedang emboli udara
terjadi bila ada vena superfisial yang terbuka dan emboli
jaringan dapat terjadi bila alat dalam, misalnya hati
mengalami kerusakan. 8
Kadar laktat dalam darah dapat digunakan sebagai
cerminan reaksi adrenergik, yaitu parameter terjadinya
suatu situasi stres premortal, misalnya pada kecelakaan
pesawat terbang. 15
Reaksi radang, sepsis dan terjadinya ulkus duodeni
dapat pula sebagai indikator intravital. Peningkatan kadar
histamin bebas serta serotonin pada jaringan yang
mengalami trauma dapat pula ditemukan. 15
Sebagai contoh, orang yang meninggal oleh kobaran
api akan didapatkan konsentrasi CO darah mencapai 10%,
dan partikel karbon ditemukan pada jalan napasnya. Dua
tanda ini tidak akan ditemukan pada orang yang
meninggal sebelum terjadi kebakaran. 3 Selain itu ditemukan
juga tanda-tanda intravitalitas yang lain, yaitu: 2
1. Jelaga dalam saluran nafas
Pada kebakaran rumah atau gedung beserta isi
perabotannya juga terbakar seperti bahan-bahan yang
terbuat dari kayu, plastik akan menghasilkan asap yang
berwarna hitam dalam jumlah yang banyak. Akibat dari
inhalasi ini korban akan menghirup partikel karbon dalam
asap yang berwarna hitam. Sebagai tanda dari inhalasi aktif
antemortem, maka partikel-partikel jelaga ini dapat masuk
kedalam saluran nafas melalui mulut yang terbuka,
mewarnai lidah, dan pharynx, glottis, pita suara, trakhea
bahkan bronkiolus terminalis. Sehingga bila secara histology
ditemukan jelaga yang terletak pada bronkiolus terminalis
merupakan bukti yang absolut dari fungsi respirasi. Sering
pula dijumpai adanya jelaga dalam mukosa lambung, ini
juga merupakan bukti bahwa korban masih hidup pada
waktu ada asap pada peristiwa kebakaran. Karbon ini
biasanya bercampur dengan mucus yang melekat pada
trakhea dan dinding bronkus oleh sebab iritasi panas pada
mukosa.
2. Saturasi CO-HB dalam darah
CO dalam darah merupakan indikator yang paling
berharga yang dapat menunjukkan bahwa korban masih
hidup pada waktu terjadi kebakaran. Oleh sebab gas ini
hanya dapat masuk melalui absorbsi pada paru-paru.
Akan namun bila pada darah korban tidak ditemukan adanya
saturasi CO-HB maka tidak berarti korban mati sebelum
terjadi kebakaran. Pada nyala api yang terjadi secara cepat,
terutama kerosene dan benzene, maka level
karbonmonoksida lebih rendah atau bahkan negative dari
pada kebakaran yang terjadi secara perlahan-lahan dengan
akses oksigen yang terbatas seperti pada kebakaran gedung.
Satu lagi yang harus disadari bahwa kadar saturasi CO
dalam darah tergantung beberapa faktor termasuk
konsentrasi CO yang terinhalasi dari udara, lamanya
eksposure, rata-rata dan kedalaman respiration rate dan
kandungan Hb dalam darah. Kondisi-kondisi ini akan
mempengaruhi peningkatan atau penurunan rata-rata
absorbsi CO. sebagai contoh api yang menyala dalam
ruangan tertutup, akumulasi CO dalam udara akan cepat
meningkat sampai konsentrasi yang tinggi, sehingga
diharapkan absorbsi CO dari korban akan meningkat seacra
bermakna.
Pada otopsi biasanya relatif mudah untuk menentukan
korban yang meninggal pada keracuan CO dengan melihat
warna lebam mayat yang berupa cherry red pada kulit, otot,
darah dan organ-organ interna, akan namun pada orang yang
anemik atau memiliki kelainan darah warna cherry red
ini menjadi sulit dikenali. Warna cherry red ini juga dapat
disebabkan oleh keracuan sianida atau bila tubuh terpapar
pada suhu dingin untuk waktu yang lama.
3. Reaksi jaringan
Sebenarnya tidak mungkin untuk membedakan luka
bakar yang akut yang terjadi ante mortem dan post mortem.
Pemeriksaan mikroskopik luka bakar tidak banyak
menolong kecuali bila korban dapat bertahan hidup cukup
lama sampai terjadi respon respon radang. Kurangnya
respon tidak merupakan indikasi bahwa luka bakar terjadi
postmortem. Pemeriksaan slide secara mikroskopis dari
korban luka bakar derajat tiga yang meninggal tiga hari
kemudian tidak ditemukan reaksi radang, ini diperkirakan
oleh sebab panas memicu trombosis dari pembuluh
darah pada lapisan dermis sehingga sel-sel radang tidak
dapat mencapai area luka bakar dan tidak memicu
reaksi radang.
Blister juga bukan merupakan indikasi bahwa korban
masih hidup pada waktu terjadi kebakaran, oleh sebab
blister ini dapat terjadi secara postmortem. Blister yang
terjadi postmortem berwarna kuning pucat, kecuali pada
kulit yang hangus terbakar. Agak jarang dengan dasar
merah atau areola yang eritematous, walaupun ini bukan
merupakan tanda pasti. Secara tradisionil banyak penulis
mengatakan bahwa untuk dapat membedakan blister yang
terjadi antemortem dengan blister yang terjadi post mortem
yaitu dengan menganalisa protein dan klorida dari cairan
itu. Blister yang dibentuk pada ante mortem dikatakan
mengandung lebih banyak protein dan klorida, namun inipun
tidak merupakan angka yang absolut.
4. Subendocardial left ventricular hemorrhages
Perdarahan subendokardial pada ventrikel kiri dapat
terjadi oleh sebab efek panas. Akan namun perdarahan ini
bukan sesuatu yang spesifik sebab dapat disebabkan oleh
berbagai mekanisme kematian. Pada korban kebakaran
perdarahan ini merupakan indikasi bahwa sirkulasi aktif
sedang berjalan saat tereksposure oleh panas tinggi yang
tidak dapat ditoleransi oleh tubuh dan ini merupakan bukti
bahwa korban masih hidup saat terjadi kebakaran.
Ante Mortem Post Mortem
Garis Merah Ada
Tidak ada (Keras,
kekuningan)
Kandungan
Vesikel
Albumin dan
Cl-
Udara
Infeksi Pus Tidak ada
Proses
penyembuhan
Granulasi Tidak ada
Jelaga Saluran
Nafas Atas
Ada Tidak ada
CO Darah Ada Tidak ada
Enzym Meningkat Tidak berarti
Tabel 2. Perbedaan Luka Bakar Ante Mortem dan Post Mortem
KESIMPULAN
Kejadian luka bakar umumnya terjadi akibat
kecelakaan, yang sering berhubungan dengan penggunaan
alkohol dan rokok, ataupun akibat dari kecerobohan
seseorang dalam mengunakan alat-alat rumah tangga yang
dapat memicu ledakan, atau kebakaran, ataupun
tersengat listrik. Kasus bunuh diri dengan membakar diri,
pada saat sekarang jarang ditemukan.
Pada kasus luka bakar, penentuan sebab kematian,
baik itu merupakan kecelakaaan ataupun pembunuhan
dapat diketahui melalui tanda-tanda intravitalitas yang
ditemukan baik pada pemeriksaan luar maupun dalam dari
tubuh korban. Tanda-tanda intravitalitas luka bakar ini
mencakup blister, adanya jelaga pada saluran nafas, reaksi
jaringan, kadar CO dalam darah dan lain-lain.
Kematian yang disebakan oleh luka bakar dapat terjadi
secara cepat, akibat langsung dari luka bakar atau lambat,
akibat dari komplikasi yang terjadi.
TRAUMA LISTRIK
DAN PETIR
TUJUAN INSTRUKSI UMUM (TIU)
• Memahami Perlukaan Yang Disebabkan Listrik dan
Petir
TUJUAN ISTRUKSI KHUSUS (TIK)
• Mengetahui Ciri – Ciri Luka Akibat Listrik dan Petir.
• Menngetahui Jenis – Jenis Luka Akibat Listrik dan
Petir.
• Memahami Perbedaan Pembunuhan, Bunuh diri dan
Kecelakaan Akibat Listrik dan Petir.
• Memahami Aspek Medikolegal Tentang Luka Yang di
Akibatkan Listrik dan Petir.
A. LATAR BELAKANG
Setiap dokter yang bekerja di Indonesia perlu
memahami Ilmu Kedokteran Forensik terlebih dahulu agar
tidak menemui kesulitan di dalam menerapkan ilmu
kedokteran yang dimilikinya untuk kepentingan peradilan.
Hal ini khususnya membantu penegak hukum (penyidik)
dalam memecahkan kasus agar lebih terarah dan selektif di
dalam melakukan pemeriksaan terhadap para tersangka
atau korban tindak pidana di dalam proses penyidikan.(1)
Gambar 1: FRANKLIN BENYAMIN
Sejak eksperimen Franklin dengan petir, manusia telah
terbiasa dengan listrik, penggunaan listrik yang meluas dan
aplikasi dari tenaga listrik pada mesin telah memicu
peningkatan jumlah pasien terluka akibat listrik. Samuel W.
Smith yaitu orang pertama di USA yang meninggal akibat
luka listrik oleh generator di Buffalo, New York USA, pada
tahun 1881.(2)
Untuk mencari metode hukuman mati yang lebih
manusiawi dibandingkan dengan hukum gantung, pada
tahun 1888 New York merancang kursi mati listrik yang
pertama dan menghukum mati William Kemmler pada
tahun 1890. Segera, sesudah itu negara bagian lain
mengadopsi cara hukuman mati ini. Pada zaman sekarang
ini, hukuman mati memakai kursi listrik dilakukan
hanya di negara bagian Nebraska.(3)
Hukuman mati dengan kursi listrik yang dilakukan di
New York State sejak tahun 1889 yaitu sebagai berikut :
Kepala dan tungkai terhukum mati dicukur, kemudian
ia diikat pada suatu kursi. Satu elektrode ditempatkan di
kepala dan yang lain di tungkai. Listrik arus bolak-balik
dengan tegangan 1700 V dan arus 7 A dialirkan melalui
tubuhnya selama 1 menit. Terhukum mengalami kejang
tetani dan langsung pingsan. Proses ini diulang sekali lagi.
Untuk kepastian terhukum sudah meninggal dunia, hukum
mengharuskan terhukum diautopsi segera sesudah eksekusi
dilakukan.
Luka listrik (Electrical injuries) angka kejadiannya
cukup jarang tapi oleh praktisi medis dianggap sebagai
keadaan gawat paling darurat. Luka listrik mengarah dalam
berbagai bentuk diagnostik dan perawatan. Secara umum,
diklasifikasikan antara lain luka akibat petir, tegangan
rendah dan tegangan tinggi.(4)
Luka listrik yang terjadi diperkirakan 1000 kematian
setiap tahun dan sekitar 3000 luka dialokasikan pada tempat
penanganan luka bakar setiap tahunnya. Luka akibat
serangan petir memicu 50-300 kematian setiap tahun
di USA, dengan kemungkinan terkena sambaran petir
meningkat saat memakai benda-benda metal atau
saat basah. Hingga 40% dari luka listrik yaitu fatal.(2)
Diperkirakan 20% dari luka listrik yang terjadi pada
anak-anak, dengan puncak grafik meningkat pada balita dan
remaja. Satu berbanding tiga dari luka listrik dan hampir
semua luka tegangan tinggi berhubungan dengan pekerjaan.
Hampir lebih dari 50% dari pasien ini akibat dari
hubungan dengan sumber listrik dan 25% berhubungan
dengan penggunaan mesin atau peralatan listrik. Rata-rata
kematian akibat listrik pada pekerja yaitu 1 kematian
setiap 100.000 pekerja, dengan perbandingan pria
berbanding wanita yaitu 9:1.(2)
Listrik merupakan bentuk energi yang dapat
memicu luka yang memicu kematian, dimana
listrik memiliki beda potensial dan mengalir melalui
medium perantara (konduktor) yang pada akhirnya
menghilang masuk ke dalam tanah. Pada sisi lain, tubuh
manusia merupakan konduktor yang baik bagi listrik.(1)
Untuk dapat terjadinya luka, harus ada proses
masuknya elektron melalui tubuh sehingga tubuh
membentuk bagian dari sirkuit, yang biasanya mengalirkan
listrik dari sumber ke bumi. Arus listrik masuk melalui satu
titik (paling sering tangan yang memegang, menyentuh atau
memanipulasi peralatan listrik) dan meninggalkan tubuh
melalui titik keluar, biasanya ke bumi atau ke peralatan
listrik yang netral. Jalan arus listrik terutama tergantung
pada tahanan relatif dari berbagai titik keluar. Jika seseorang
251
meletakkan jarinya pada arus 240 V saat berdiri dengan
memakai sepatu lembab pada lantai yang basah,
kemudian arus listrik akan lewat dari tangan ke kaki, akan
menghasilkan akibat yang fatal. Sebaliknya orang yang
berdiri di atas karpet dengan lantai kayu, hanya sedikit arus
listrik yang dapat melewati tubuh dan hanya akan
memicu spame pada otot.(5,6)
Hampir seluruh trauma listrik, fatal atau tidak,
ditimbulkan oleh arus masuk antara 110 atau 240 volts.
Jarang sekali terjadi kematian yang ditimbulkan oleh arus
kurang dari 100 volts. Arus listrik yang masuk melewati
thoraks dapat memicu shock, sebab beresiko
memicu henti jantung atau paralisis pernafasan. saat
arus listrik tersentuh oleh tangan, rasa sakit dan gerakan
refleks otot akan terjadi jika arus yang mengalir kira-kira 10
mA.
Jika arus listrik yang tersentuh kira-kira 30 mA, akan
terjadi spasme otot yang tidak bisa di relaksasi lagi. Efek ini
sangat berbahaya terutama jika terjadi pada waktu yang
lama, dapat memicu aritmia jantung. Jika arus yang
masuk melalui dada 50 mA atau lebih walaupun hanya
beberapa detik, ventrikular fibrilasi akan terjadi (tampak
pada tabel hal 6). Arus bolak balik (AC) dengan 50-60 siklus
perdetik lebih berbahaya daripada arus searah (DC) sebab
lebih mudah memicu aritmia jantung.(6)
B. LISTRIK
Listrik yaitu kondisi dari partikel subatomik tertentu,
seperti elektron dan proton, yang memicu penarikan
dan penolakan gaya diantaranya. Dapat juga diartikan
sebagai sumber energi yang disalurkan melalui kabel, arus
listrik timbul oleh sebab muatan listrik mengalir dari
saluran positif ke saluran negatif. Ada beberapa teori yang
berkaitan listrik diantaranya yaitu :
a. Hukum Ohm : “perbedaan potensial antara ujung
konduktor berbanding langsung dengan arus yang
melewati dan berbanding terbalik dengan tahanan
konduktor “
V = I . R
R : tahanan (Ω)
I : kuat arus (A)
V : tegangan (Volt)
b. Hukum Joule : “arus listrik yang melewati
konduktor dengan perbedaan tegangan dalam
waktu tertentu akan memicu panas”
E = (V . I . t) : Joule (angka koefisien = 0,
239 kalori)
E : energi / panas / kalori
I : kuat arus (A)
V : tegangan (Volt)
t : waktu (detik) (1)
Ada 2 jenis tenaga listrik yang dapat kita manfaatkan,
yaitu:
1. Tenaga listrik alam seperti petir dan kilat
2. Tenaga listrik buatan meliputi arus searah
(DC) seperti telepon dan arus bolak-balik (AC) seperti listrik
rumah, pabrik dan lain-lain.
Kerusakan yang berat pada jaringan tubuh termasuk
kematian berhubungan langsung dengan sejumlah fakto-
faktor fisik yaitu arus listrik, tegangan, tahanan dan waktu.
Kumpulan elektron yang membentuk listrik statis tidak akan
melukai, yang dibuktikan dengan percobaan, hanya akan
memicu rambut berdiri.(7)
Luka yang disebabkan arus listrik yang fatal pada
umumnya bersifat kecelakaan, dimana jenis arus listrik
bolak-balik (AC = alternating current) lebih sering sebagai
pemicu kecelakaan, sedang kecelakaan sebab arus
listrik searah (DC = direct current) lebih jarang dan pada
umumnya terjadi di pabrik-pabrik, seperti pabrik pemurnian
logam dan penyepuhan. Manusia lebih sensitive (sekitar 4-6
kali) terhadap arus listrik bolak-balik bila dibandingkan
dengan arus listrik yang searah. Bila seseorang terkena arus
listrik bolak-balik dengan intentitas 80 mA ia dapat mati
akan namun dengan arus listrik searah yang intentitasnya 250
mA (umumnya) tidak akan berakibat kematian.(8)
Menurut Moritz peristiwa trauma listrik disebabkan
kontak dengan penghantar listrik tergantung pada : jenis
arus listrik, kuat arus listrik, lintasan arus listrik dan
lamanya arus mengalir. Kuat arus yang mengalir melalui
tubuh dapat dihitung dengan rumus C(I)=V/R, dimana C
yaitu kuat arus dalam Ampere, V yaitu tegangan arus
listrik dalam volt dan R yaitu tahanan tubuh dalam Ohm.
Jika tegangan arus tinggi, atau jika tahanan rendah, kuat
arus listrik yang mengalir dalam tubuh akan menjadi besar.
Pada umumnya tingkat keparahan dari trauma listrik
berhubungan langsung dengan lamanya terpapar arus
listrik.(9)
Charles Dalziel membuat suatu riset pada pertengahan
abad ke dua puluh mengenai respon tubuh manusia jika
dimasuki arus listrik. Riset ini berguna bagi kita sehingga
kita mengetahui batas-batas arus listrik yang tidak akan
melukai kita.(9)
Arus listrik ( dalam mA
)
Efek terhadap tubuh
1
Ambang batas persepsi,
sensasi tingling pada lidah
5 Tremor otot
15 Kontraksi otot
40 Hilang kesadaran
75-100 Fibrilasi ventrikel
2000 (2 Amps)
Ventrikel berhenti
berkontraksi (Ventrikel
arrest)
Tabel arus listrik dan efek dalam tubuh
http://www.ELECTROCUTION -- Stella, Yessi, Anita, Alex, Farid.htm
Gambar 5: Reaksi eritema akibat trauma listrik tegangan rendah
Dikutip dari
http://www.uic.edu/labs/lightninginjury/treatment.html
1. Sifat Fisika Kelistrikan
1.1 Arus Listrik
Aliran listrik (elektron) yang bergerak pada suatu
penghantar listrik dengan kecepatan tertentu disebut arus
listrik. Timbulnya arus listrik sebab ada nya beda
potensial pada dua ujung penghantar. sedang terjadinya
beda potensial pada dua tempat penghantar disebabkan
sebab salah satu ujung penghantar mendapatkan suatu
tenaga yang mendorong elektron-elektron untuk berpindah
tempat. Besar kecilnya arus listrik, tergantung dari tenaga
yang dihasilkan oleh pembangkit listriknya itu sendiri.
Kecepatan pemindahan sejumlah elektron dalam waktu
tertentu disebut kuat arus. Satuan untuk ukuran arus listrik
dinamakan Ampere. 1 Ampere yaitu sejumlah listrik dari 1
Coulomb (6,25 x 1018 elektron) dipindahkan melalui suatu
penampang pada suatu tempat dalam suatu rangkaian
dalam satu detik. (11)
1.2 Tegangan Listrik
Menurut teori elektron, sebuah benda bermuatan
positif jika benda ini kehilangan elektron dan sebuah
benda bermuatan negatif jika benda ini kelebihan
elektron. Dalam keadaan berbeda muatan inilah munculnya
tenaga potensial yang berada diantara benda-benda ini .
Besarnya tenaga potensial ini diukur dengan satuan
volt. (11)
1.3 Tahanan Listrik
Tahanan listrik yaitu gesekan atau rintangan yang
diberikan suatu bahan terhadap suatu aliran listrik. Dengan
adanya gesekan atau rintangan ini memicu gerak
elektron berkurang. Makin besar tahanan listrik makin
sedikit arus listrik yang melewatinya. Akibat adanya
gesekan atau rintangan pada aliran elektron maka sejumlah
energi listrik berubah menjadi energi panas. (11)
1.4 Macam-Macam Gelombang Arus Listrik
ada dua macam gelombang arus listrik yang
berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu
gelombang bolak balik/ AC (sinusoidal) dan gelombang
searah/ DC. Disebut arus searah sebab arah arusnya selalu
mengalir dalam satu arah. Terjadinya arus searah yaitu
jika pada suatu sumber listrik memiliki muatan kutub-
kutubnya tetap atau tidak berpindah-pindah.
Contoh sumber listrik searah misalnya batu baterai
dan accumulator. sedang arus bolak balik jika arah
arusnya berbalik setiap setengah putaran. Contohnya
yaitu : pembangkit listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Perlu diketahui bahwa arus listrik bolak balik tidak
digunakan untuk alat-alat elektronika. Jika dijumpai alat-alat
elektronika mempergunakan arus bolak balik, sebenarnya
arus bolak balik ini secara otomatis telah diubah oleh
dioda yang ada di setiap peralatan elektronika menjadi
arus searah. (11)
1.5 Frekwensi Arus Listrik
Sesuai dengan efek yang timbulkan arus listrik, maka
arus listrik dibagi dalam dua bentuk, yaitu : listrik
berfrekwensi rendah dan listrik berfrekwensi tinggi.
Frekwensi 20 Hz sampai dengan 500.000 Hz disebut listrik
frekwensi rendah. Frekwensi ini memiliki efek
merangsang saraf dan otot sehingga terjadi kontraksi otot.
Arus searah maupun arus bolak balik dengan frekwensi
rendah memiliki kemampuan yang serupa yaitu
merangsang saraf sensoris, saraf motoris dan otot.
Contoh peralatan medis yang memanfaatkan
frekwensi ini yaitu multivibrator. Listrik berfrekwensi
tinggi yaitu frekwensi arus listrik di atas 500.000 Hz.
Frekwensi ini tidak memiliki sifat merangsang saraf dan
otot. Namun memiliki sifat mampu memanaskan. Contoh
alat medis yang memakai frekwensi tinggi yaitu
elektrocauter dan elektrosurgery. (12)
1.6 Konduktor dan Isolator
Zat-zat berbeda dalam kebebasan relatif elektron-
elektron untuk bergerak di dalam zat ini . Disebut
konduktor jika elektron-elektron dapat bergerak bebas,
sebaliknya dikatakan isolator jika sedikit elektron yang
dapat bergerak bebas di dalam zat ini . Semua logam
yaitu konduktor yang baik. Kaca, karet, busa yaitu
isolator. Di dalam isolator, setiap elektron terikat bebas pada
satu atom dan tidak bebas bergerak menjauh. sedang
dalam suatu konduktor logam, paling tidak satu elektron
dipisahkan dari setiap atom dan bebas bergerak kemana saja
dalam konduktor ini . (11)
2. Biolistrik
2.1 Rumus atau Hukum dalam Biolistrik
Ada beberapa rumus atau hukum yang berkaitan
dengan biolistrik (seperti telah disinggung pada hal 5) antara
lain : hukum Ohm dan hukum Joule. Hukum Ohm
menyatakan bahwa perbedaan potensial antara ujung
konduktor berbanding langsung dengan arus yang
melewati, berbanding terbalik dengan tahanan dari
konduktor. Hukum Ohm ini dapat dinyatakan dalam rumus
: V = I x R. Dimana R = tahanan listrik (ohm), I = kuat arus
(A), V = tegangan (Volt). sedang Hukum Joule
mengatakan bahwa arus listrik yang melewati konduktor
dengan perbedaan tegangan (V) dalam waktu tertentu akan
memicu panas. Hal ini dinyatakan dalam rumus : H
(E) = VIT/ J. Dimana H (E) = energi panas (kalori), I = kuat
arus (A), V = tegangan (Volt), T = waktu (detik), J = Joule =
0,239 kalori.(12) Panas (kalori) yang dihasilkan oleh arus
listrik juga dapat dijelaskan dari formula GC = I2R/ 4,187.
GC= gram kalori per detik, I = kuat arus (A), R = tahanan
listrik (ohm).(2)
2.2 Kelistrikan dan Kemagnetan yang timbul dalam
Tubuh
Di dalam tubuh manusia ada medan listrik dan
medan magnet. Pada tahun 1856 Caldani menunjukkan
kelistrikan pada test otot katak yang telah mati. Luigi
Galvani (1780) mulai mempelajari kelistrikan pada tubuh
hewan kemudian pada tahun 1786 Luigi Galvani
melaporkan hasil eksperimennya bahwa kedua kaki katak
terangkat saat diberikan arus listrik lewat suatu
konduktor. Pada tahun 1899 Van Seynek melakukan
pengamatan tentang terjadinya panas pada jaringan yang
disebabkan oleh aliran frekwensi tinggi. Arons (1892)
merasakan ada aliran melalui beliau sendiri serta asistennya.
(12)
Pada dasarnya di seluruh sel tubuh ada potensial
listrik yang melintasi membran. Selain itu, pada beberapa
sel, misalnya sel saraf dan sel otot, bersifat dapat dirangsang
artinya, mampu membangkitkan sendiri impuls
elektrokimia pada membrannya. Pada beberapa keadaan,
impuls ini dapat digunakan untuk menghantarkan sinyal
sepanjang membran. (13)
2.3 Fisiologi Membran Saraf dan Otot
ada perbedaan komposisi cairan ekstraseluler,
yang terletak di luar membran sel dan cairan intraseluler, di
dalam sel. Cairan ekstraseluler mengandung sejumlah besar
natrium namun hanya mengandung sedikit kalium. Keadaan
ini justru sebaliknya terjadi pada cairan intraseluler. Selain
itu, cairan ekstraseluler juga banyak mengandung klorida.
Berbagai perbedaan ini sangat penting untuk kehidupan sel.
Telah diketahui bahwa sel memiliki lapisan yang disebut
membran sel. Sel memiliki kemampuan memindahkan
ion dari satu sisi ke sisi lain.
Kemampuan sel ini disebut aktifitas kelistrikan sel.
Dalam keadaan biasa konsentrasi ion Na+ lebih besar di luar
sel daripada di dalam sel. Pada keadaan demikian potensial
di dalam sel relatif negatif dibandingkan dengan potensial di
luar sel. Keadaan ini dinamakan potensial membran negatif.
Jika konsentrasi ion Na+ lebih banyak di dalam sel daripada
di luar sel, perbedaan potensial listrik di dalam sel lebih
positif daripada di luar sel. Keadaan ini disebut potensial
membran positif. (12,13)
Suatu saraf atau membran otot pada keadaan istirahat
(tidak adanya proses konduksi listrik), konsentrasi ion Na+
lebih banyak di luar sel daripada di dalam sel. Jadi di dalam
sel akan lebih negatif dibandingkan dengan di luar sel.
jika perbedaan ini diukur dengan galvanometer akan
mencapai -90 mV. Membran sel ini disebut dalam keadaan
polarisasi, dengan potensial membran istirahat -90 mV.(12,13)
jika suatu rangsangan terhadap membran dengan
mempergunakan listrik, mekanik atau zat kimia, butir-butir
membran akan berubah dan beberapa ion Na+ akan masuk
ke dalam sel. Di dalam sel akan menjadi kurang negatif
daripada di luar sel dan potensial membran akan meningkat.
Keadaan membran ini dikatakan menjadi depolarisasi. Suatu
rangsangan yang cukup kuat mencapai titik tertentu
sehingga dapat memicu depolarisasi membran. Titik
tertentu ini disebut nilai ambang. Proses depolarisasi akan
berkelanjutan serta irreversibel. Ion-ion Na+ akan mengalir
ke dalam sel secara cepat dan dalam jumlah yang sangat
banyak. Pada keadaan ini potensial membran akan naik
dengan cepat mencapai puncak + 40 mV.
Terjadinya depolarisasi sel membran secara tiba-tiba
disebut potensial aksi, yang berlangsung kurang dari 1
millidetik. Potensial aksi merupakan fenomena keseluruhan
atau tidak sama sekali (all or none) yang berarti bahwa
begitu nilai ambang tercapai, peningkatan waktu dan
amplitudo dari potensial aksi akan selalu sama, tidak
perduli macam maupun intensitas dari rangsangan.(12.13)
Segera sesudah potensial aksi mencapai puncak mekanisme
pengangkutan di dalam sel membran dengan cepat
mengembalikan ion Na+ ke luar sel sehingga mencapai
potensial membran istirahat (-90 mV). Proses ini disebut
repolarisasi. Proses repolarisasi sel membran disebut juga
suatu tingkat refrakter.
Tingkat refrakter ada dua fase yaitu periode refrakter
absolut dan periode refrakter relatif. Selama periode
refrakter absolut tidak ada rangsangan, tidak ada unsur
kekuatan untuk menghasilkan potensial aksi yang lain.
sesudah sel membran mendekati repolarisasi seluruhnya
maka dari periode refrakter absolut akan menjadi periode
refrakter relatif. jika ada stimulus atau rangsangan yang
kuat secara normal akan menghasilkan potensial aksi yang
baru. Mulai dengan suatu rangsangan sampai mencapai nilai
ambang timbul potensial aksi kemudian mencapai
repolarisasi dan berakhir dengan potensial membran
istirahat mebutuhkan waktu 3 milidetik. sesudah mencapai
potensial membran istirahat maka sel membran ini
telah siap untuk menghantarkan impuls yang lain. (12,13)
Potensial aksi bisa terjadi jika suatu daerah
membran saraf atau otot mendapat rangsangan mencapai
nilai ambang. Potensial aksi itu sendiri memiliki
kemampuan untuk merangsang daerah sekitar sel membran
untuk mencapai nilai ambang. Dengan demikian dapat
terjadi perambatan potensial aksi ke segala jurusan sel
membran. Keadaan ini disebut perambatan potensial aksi
atau gelombang depolarisasi.
Kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi bisa
terjadi pada hubungan antara dua sel saraf (sinapsis) dan
pada hubungan antar saraf dengan sel otot (neuromyal
junction). Gelombang depolarisasi ini penting pada sel
membran otot oleh sebab pada waktu terjadi depolarisasi,
zat kimia yang ada pada otot akan bergetar
memicu depolarisasi sel otot yang diikuti kontraksi sel
otot. sesudah itu terjadi repolarisasi sel otot hal mana otot
akan mengalami relaksasi.(12,13)
Sel membran otot jantung (miokardium) sangat
berbeda dengan dengan saraf dan otot bergaris. Pada saraf
maupun otot bergaris dalam keadaan potensial membran
istirahat dilakukan rangsangan maka ion-ion Na+ akan
masuk ke dalam sel dan sesudah tercapai nilai ambang akan
timbul depolarisasi. sedang pada sel otot jantung, ion Na
+ mudah bocor sehingga sesudah terjadi repolarisasi lengkap,
ion Na + akan perlahan-lahan kembali masuk ke dalam sel
dengan akibat akan terjadi gejala depolarisasi secara spontan
sampai mencapai nilai ambang dan terjadi potensial aksi
tanpa memerlukan rangsang dari luar.
Potensial aksi ini terjadi pada suatu kecepatan (natural
rate) yang teratur. Kecepatan ini disebut kecepatan dasar
membran sel otot jantung. Waktu antara mulai depolarisasi
spontan sampai mencapai nilai ambang sesudah terjadinya
repolarisasi ternyata bervariasi oleh sebab perubahan
dalam potensial membran istirahat, tingkat dari nilai
ambang dan slope dari depolarisasi spontan terhadap nilai
ambang. Perubahan ketiga parameter itu sangat
mempengaruhi mekanisme kontrol fisiologis terhadap
frewensi jantung.
Jika daerah sekitar miokardium belum mencapai nilai
ambang sedang bagian lain telah mengalami potensial
aksi, bagian ini akan dengan segera memicu bagian
lain mencapai nilai ambang dan menghasilkan potensial
aksi. Demikian seterusnya sehingga menghasilkan
depolarisasi untuk seluruh otot jantung.
Irama jantung diatur oleh isyarat listrik yang
dihasilkan oleh rangsangan secara spontan oleh sel-sel
khusus yang ada pada atrium kanan (dekat muara vena
cava superior dan inferior), yaitu simpul SA (SA node). SA
node ini berperan sebagai pacemaker. Bergetarnya SA node
berkisar 72 kali per menit. Getaran ini dapat meningkat
dan menurun diatur oleh saraf eksternal jantung yang
merupakan respon kebutuhan darah oleh tubuh. Isyarat
listrik dari SA node memicu depolarisasi otot jantung
atrium dan memompa darah ke ventrikel, kemudian diikuti
oleh repolarisasi atrium. Isyarat listrik akan dilanjutkan ke
simpul AV (atrioventrikular node) yang akan memicu
depolarisasi ventrikel kanan dan kiri yang memicu
kontraksi ventrikel sehingga darah dipompa ke arteri
pulmonalis dan aorta.
Saraf pada ventrikel dan otot ventrikel kemudian
mengalami repolarisasi dan mulai lagi isyarat listrik dari SA
node. ada tiga perbedaan penting perbedaan sel otot
jantung dengan sel otot bergaris dalam hal potensial aksi,
yaitu pada otot jantung memiliki konduksi yang berjalan
sangat cepat, periode refrakter yang panjang dan adanya
automatisasi.(7,20) Saraf dan otot jantung dapat dipandang
sebagai sumber listrik tertutup dalam suatu konduktor
listrik dada dan perut. (14)
2.4 Syok Listrik
Syok listrik atau kejutan listrik yaitu suatu nyeri
pada saraf sensoris yang dipicu aliran listrik yang
mengalir secara tiba-tiba melalui tubuh. Kejadian syok listrik
merupakan kejadian yang timbul secara kebetulan. Tidak
mengherankan kejadian syok listrik semakin meningkat
dengan meluasnya pemakain listrik di rumah tangga dan
industri. Disamping itu kemajuan instrumentasi elektronik
rumah sakit ada kecendrungan meningkatnya kejadian syok
listrik Bahaya syok listrik sangat besar yaitu fibrilasi
ventrikel jantung dan kelumpuhan pernafasan yang
memicu kematian jika tidak mendapatkan
pertolongan segera.(12,14,15)
Dalam bidang kedokteran ada dua macam syok listrik,
yaitu : syok yang dibuat dengan tujuan tertentu dan syok
yang timbul tanpa tujuan tertentu. Electro convultion
therapy pada pasien gila merupakan syok listrik yang
sengaja dilakukan dalam bidang kedokteran jiwa. Syok yang
timbul dari kecelakaan dikenal dengan earth syok.
Seseorang memperoleh syok jika salah satu bagian tubuh
menyentuh kawat fasa (yang memiliki kuat arus tinggi)
sedang bagian tubuh yang lain menyentuh kawat netral.
berdasar besar kecilnya tegangan earth syok dapat
dibagi menjadi dua, yaitu : syok tegangan rendah dan syok
tegangan tinggi.
Syok tegangan rendah berkaitan dengan pemakaian
generator yang menghasilkan arus listrik dengan tegangan
rendah atau berkaitan dengan pemakaian lampu sinar ultra
ungu. sedang syok tegangan tinggi berkaitan dengan
pemakaian generator tegangan tinggi, generator gelombang
pendek. Pada penderita ini akan mengalami luka bakar. (12)
ada beberapa parameter yang mempengaruhi
syok listrik. Syok semakin serius jika arus yang melewati
tubuh semakin besar. Menurut hukum Ohm intensitas arus
listrik tergantung dari tegangan dan tahanan yang ada.
Disamping itu ada parameter-parameter lain yang turut
berperan mempengaruhi tingkat syok seperti jenis kelamin,
frekwensi arus bolak balik, durasi, berat badan dan jalan
yang ditempuh arus. Dari sudut arus dapat dijelaskan
sebagai berikut : (1,12,15)
a. Seseorang akan menderita syok lebih serius pada
tegangan 220 Volt daripada tegangan 80 Volt, oleh
sebab kuat arus pada tegangan 220 Volt lebih besar
daripada tegangan 80 Volt (pada tahanan sama yang
sama).
b. Basah tidaknya kulit penderita. Kulit penderita yang
basah atau berkeringat akan memudahkan arus listrik
melewati kulit penderita. Ini dapat dimengerti oleh
sebab kulit yang basah atau berkeringat memiliki
tahanan yang lebih kecil bila dibandingkan kulit yang
kering.
c. Basah tidaknya lantai. Lantai yang basah merupakan
konduktor yang baik sehingga lebih besar arus yang
dapat melewati tubuh ke tanah (ground). Dari sudut
parameter lain : (8)
d. Jenis kelamin. Tahun 1973 Dalziel melakukan
penelitian tentang nilai ambang persepsi (arus
minimum yang dapat dideteksi) dan let go current
(arus yang dapat memicu tarikan tangan
kembali) yang ditunjukkan oleh distribusi Gausian
yang menyatakan bahwa rata-rata nilai ambang
persepsi (threshold of perception) untuk laki-laki 1,1
mA sedang untuk wanita 0,7 mA, minimum nilai
ambang persepsi yaitu 500 mikro ampere. Gausian
juga menjelaskan bahwa bahwa rata-rata let go current
untuk laki-laki 16 mA, untuk wanita 10,5 mA.
Minimum let go current untuk laki-laki 9,5 mA, untuk
wanita 6 mA.
e. Frekwensi arus bolak balik. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa frekuensi 560 Hz merupakan
batas minimum let go current. Di bawah 10 Hz let go
current akan meningkat dan otot-otot akan terjadi
relaksasi sebagian dan di atas beberapa ratus Hz let go
current akan meningkat pula yang mana otot-otot
mengalami strength duration trade off serta refrakter
jaringan yang telah mengalami eksitasi
f. Durasi. LA geddes (1973) melakukan percobaan
terhadap binatang ponny dan anjing. Ternyata nilai
ambang fibrilasi akan meningkat bila waktu semakin
kecil
g. Berat badan. Penelitian Ferris (1936) dan Kiselev (1963)
menunjukkan bahwa nilai ambang fibrilasi akan
meningkat dengan meningkatnya berat badan. Hal ini
diramalkan berlaku juga pada manusia.
h. Jalan yang ditempuh arus. jika jalan yang
ditempuh arus melewati jantung dan otak akan timbul
bahaya syok yang lebih serius.
3. Faktor Yang Berperan Dalam Trauma Listrik
3.1 Intensitas (I)
Banyaknya arus listrik yang mengalir melalui kawat
atau tubuh manusia dan ini yang menentukan fitalitas
seseorang.(7) Pada eksprimen didapat hasil sebagai berikut :
Manusia yang terkena arus listrik (AC) dengan intensitas di
bawah 25 mA atau arus listrik (DC) sekitar 25-80 mA, tidak
akan memicu efek apa-apa. Bla terkena arus listrik
(AC), dengan intensitas 25-80 mA atau arus listrik (DC)
sebesar 80-300 mA akan terjadi penurunan kesadaran dan
gangguan denyut jantung (fibrilasi ventrikel). Bila kekuatan
arus listrik melebihi 3 A, maka akan terjadi penghentian
denyut jantung (cardiac arrest).(15)
3.2 Tegangan atau voltase (V)
- Tegangan rendah : kurang dari 65 Volt.
- Tegangan sedang : 65-1000 Volt.
- Tegangan tinggi : lebih 1000 Volt.
- Tegangan sangat tinggi : 100.000 Volt.
- Tegangan rendah (umumnya) tidak berbahaya, namun
tegangan sedang sudah dapat mematikan manusia
(contoh tengangan listrik rumah tangga 110-220
Volt).(8)
Arus listrik searah (DC) : Untuk telepon 30-50
Volt.
Arus listrik bolak-balik (AC) : Volt rendah 110-380
untuk perumahan dan Volt tinggi 1000 untuk transpor arus
listrik.(16)
Voltase (tegangan) yang rendah, yaitu sekitar 100 volt
pada beberapa kasus dapat memicu kematian. Voltase
yang lebih tinggi misalnya 10.000 malah pada beberapa
kasus dapat tidak mematikan (tergantung oleh banyak
faktor yang mempengaruhi). Peralatan rumah tangga yang
memakai listrik sebagai sumber energi, aman bila voltase
dari peralatan ini maksimal 42 volt. Umumnya
kematian orang yang terkena arus listrik yang bertegangan
rendah berbeda dengan mereka yang terkena arus listrik
yang tegangannya tinggi, dimana pada yang pertama
kematian disebabkan sebab terjadinya fibrilasi ventrikel,
sedang pada yang kedua kematian biasanya sebab luka
bakar/ panas.(15)
3.3 Tahanan (R)
Besarnya tahanan pada manusia tergantung dari
banyak sedikitnya air yang ada pada bagian tubuh.
Tahanan yang paling besar yaitu kulit, kemudian tulang,
lemak, saraf, otot, darah dan yang rendah yaitu cairan
tubuh. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa orang
yang terkena arus listrik dalam bak mandi yang berisi air
kelainan bisa tidak ditemukan, kelainan yang dimaksud
yaitu ”electrik mark” (luka masuk di kulit). Pada kulit
yang kering R tinggi, sedang kulit yang lembab R rendah.
Selain itu R tergantung pula dari luas kontak, lebih luas
kontaknya lebih rendah R. Kulit kering memiliki tahanan
antara 2000-3000 ohm, sedang kulit yang lembab kurang
lebih 500 ohm.(15,17)
3.4 Arah aliran
Manusia dapat mati bila terkena arus listrik bila aliran
dari arus listrik ini melintasi otak atau jantung,
misalnya arah aliran dari kepala ke kaki atau dari lengan kiri
ke lengan kanan (sebaliknya). Dengan sendirinya lebih lama
arus listrik melalui tubuh, lebih besar akibatnya.
3.5 Waktu
Waktu lamanya seseorang kontak dengan benda yang
beraliran listrik menentukan kecepatan datangnya kematian.
Sebagai contoh, bila intentitas sekitar 70-300 mA, maka
kematian akan terjadi dalam 5 detik, sedang pada
intentitas sekitar 200-700 mA kematian akan terjadi dalam 1
detik.(15,16) Cepat lambatnya arus listrik masuk ke dalam
tubuh juga menjadi suatu faktor penentu kematian.
Sebagaimana telah dijelaskan pada halaman 7, bahwa : 1
Ampere yaitu sejumlah listrik dari 1 Coulomb (6,25 x 1018
elektron) dipindahkan melalui suatu penampang pada suatu
tempat dalam suatu rangkaian dalam satu detik, maka
semakin lama seseorang menyentuh sumber arus akan
mengakibatkan semakin banyak muatan elektron yang
masuk ke dalam tubuh dan semakin berbahaya bagi tubuh,
bahkan dapat memicu kematian. (7)
Selain faktor-faktor di atas, hal lain yang penting
diperhatikan yaitu luas permukaan kontak seluas 50 cm
persegi (kurang lebih selebar telapak tangan) dapat
mematikan tanpa memicu jejas listrik, sebab pada
kuat arus letal/ mematikan (100 mA), kepadatan arus pada
daerah selebar telapak tangan ini hanya 2 mA/ cm
persegi, yang tidak cukup besar untuk memicu jejas
listrik. Kuat arus yang masih memungkinkan bagi tangan
yang memegangnya untuk melepaskan diri disebut let go
current yang besarnya berbeda-beda untuk setiap
individu.(17)
TRAUMA LISTRIK
A. DEFINISI TRAUMA LISTRIK
Trauma listrik (electrical injuries) merupakan jenis
trauma atau kekerasan yang disebabkan oleh adanya
persentuhan dengan benda yang memiliki arus listrik
sehingga dapat memicu luka bakar sebagai akibat
berubahnya energi listrik menjadi energi panas.(1) Lewatnya
arus listrik substansial melalui jaringan dapat memicu
lesi kulit, kerusakan organ dan kematian. Cedera semacam
ini biasa disebut “electrocution”.(18)
B. JENIS-JENIS TRAUMA LISTRIK
Ada tiga jenis trauma akibat akibatan kontak dengan
sesuatu bermuatan listrik:
1. Contact burn disebabkan kontak dengan benda hidup
(manusia, hewan) dan tingkat keparahannya bervariasi
dari lesi yang kecil dan superficial sampai ke dasar jika
kontaknya berlangsung lama.
2. Spark burn disebabkan kontak murni/ langsung
dengan arus listrik oleh kulit. Luka yang timbul
berbentuk lingkaran dengan dengan daerah
pertengahan yang pucat dikelilingi daerah yang
hiperemis. Luka ini penting untuk membuktikan
adanya kontak murni dengan arus listrik.
3. Flash burn menunjukkan tampilan yang bervariasi,
mulai dari bentuk seperti pohon, hingga tampilan
seperti kulit buaya Crocodile skin effect yang
disebabkan kontak dengan arus yang sangat tinggi
(petir atau radisi arus tegangan tinggi).(19)
C. BENTUK-BENTUK JEJAS
Ada tiga bentuk :
1. Electric mark.
Dijumpai pada tempat dimana arus listrik masuk ke
dalam tubuh, dengan tegangan rendah sampai sedang.
Electric mark berupa kerusakan lapisan tanduk kulit
berupa luka bakar dengan tepi yang menonjol, di
sekitarnya ada daerah yang pucat dikelilingi oleh
kulit yang hiperemi. Bentuknya sering sesuai dengan
bentuk benda pemicu nya. Metalisasi dapat juga
ditemukan pada jejas listrik. Gambaran jejas ini juga
dapat ditemukan akibat persentuhan kulit dengan
benda/ logam panas (membara). Untuk
membedakannya dapat dilakukan pemeriksaan
mikroskopis. Jejas listrik bukanlah tanda intravital
sebab dapat juga ditemukan pada kulit mayat atau
pasca kematian namun tanpa disertai daerah hiperemi
disekitar jejas.(8)
2. Joule burn atau endogenous burn.
Terjadi bilamana kontak antara tubuh dengan benda
yang mengandung arus listrik yang cukup lama.
Gambaran jejas berupa elektric mark dengan bagian
tengah yang menjadi hitam hangus terbakar.(8)
3. Exogenous burn.
Dapat terjadi bila tubuh manusia terkena benda yang
berarus listrik dengan tegangan tinggi dan benda
ini memang sudah mengandung panas. Tubuh
korban akan hangus terbakar dengan kerusakan yang
sangat berat, yang tidak jarang disertai dengan
patahnya tulang-tulang.(8)
Gambar 6: Electric mark (spark burn = kontak langsung dari arus listrk)
Dikutip dari
http://www.uic.edu/labs/lightninginjury/treatment.html
Gambar 8: Joule burn
Dikutip dari http://www.siegfriedandjensen.com/html/burn-injuries.html
Gambar 9: Exogenous burn
http://www.cdc.gov/niosh/docs/2002-123/2002-123b.html
Gambar 9 : Trauma listrik tegangan tinggi dengan patah tulang
(exogenous burn)
Dikutip dari farm4.static.flickr.com/3185/2492830434_18c8b.
www.electricityforum.com/.../arc-flash-burn1.jpg
Gambar 10: Multiple spark lesion (Crocodile skin effect) = flash burn
Gambar 11: Crocodile skin effect (flash burn) Dikutip dari forensic
pathology second edition
Gambar 12: Arborescent mark (gambaran pohon = flash burn)
D. MEKANISME TERJADINYA KEMATIAN(5,6,9)
Kematian biasanya terjadi dengan cepat namun bisa
saja terjadi sesudah beberapa jam. Menurut Barrera kematian
yang cepat disebabkan oleh, gagal jantung atau gagal napas.
Barera mengatakan bahwa dalam prakteknya seluruh
kejadian gagal nafas dapat diatasi dengan bantuan nafas
yang memadai, namun gagal jantung akan mengakibatkan
henti jantung yang tiba-tiba.
Henti jantung ini dipicu oleh fibrilasi ventrikel,
ini lebih disebabkan oleh perangsangan yang hebat pada
pusat vagal di medulla oblongata. Pada kasus-kasus dimana
kematian terjadi lebih lambat, penurunan kesadaran yaitu
simptom yang umum dan terjadi bahkan pada kasus-kasus
dimana otak tidak secara langsung terkena arus listrik.
Penurunan kesadaran biasanya diikuti dengan tanda-tanda
gagal sirkulasi dan gagal nafas. Pada kasus-kasus dimana
lesi spesifik tidak muncul pada system saraf pusat,
penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh hipoksia atau
anoksia yang merupakan akibat sekunder dari gagal jantung
dan gagal nafas.
Arus bolak-balik (AC) lebih cepat memicu
terjadinya lesi daripada arus searah (DC). Moritz
menyatakan bahwa 60 siklus arus bolak balik yang biasanya
digunakan di rumah dan beberapa industri, dapat
memicu trauma pada pusat medulla dan jantung.
Moritz menyatakan bahwa kematian akan terjadi jika batang
otak atau jantung terkena langsung oleh arus listrik.
Sebagaimana telah dinyatakan di atas bahwa pemicu
kematian pada umumnya yaitu aritmia jantung yang
disebabkan fibrilasi ventrikel.
Ini disebabkan oleh proses arus listrik yang masuk
melalui myocardium, khususnya di lapisan terluar
epicardium dan masuk ke inti myocardium. saat kematian
terjadi oleh sebab henti jantung, tubuh akan menjadi sedikit
pucat dan terlihat sedikit kongesti dan tampilan pada
autopsi tidak akan menolong sebab tidak ada bekas luka di
permukaan tubuh.
Kematian oleh sebab gagal nafas, dimana arus
melewati toraks akan memicu otot-otot interkosta dan
diafragma spasme atau menjadi paralysis. Gerakan alat-alat
pernafaan dihambat dan kematian sebab hipoksia dan
kongesti akan terjadi. Batang otak jarang terpengaruh, saat
arus listrik melewati kepala. Walaupun jarang terpengaruh,
arus listrik yang masuk ke kepala akan merangsang batang
otak memicu gagal nafas. Ini terjadi jika kepala
dimasuki arus listrik tegangan tinggi di atas 660 volt. Banyak
kematian sebab trauma listrik tidak diobservasi, korban
ditemukan mati kemudian, sehingga sebab kematian tidak
diketahui. (5,6,9)
E. KEMATIAN AKIBAT SENGATAN LISTRIK(20)
Cedera Akibat Listrik yaitu kerusakan yang terjadi
jika arus listrik mengalir ke dalam tubuh manusia dan
membakar jaringan ataupun memicu terganggunya
fungsi suatu organ dalam. Tubuh manusia yaitu
penghantar listrik yang baik.
Kontak langsung dengan arus listrik bisa berakibat
fatal. Lintasan listrik yang melalui jaringan akan
menghasilkan panas yang dapat membakar dan
menghancurkan jaringan tubuh sehingga memicu lesi
kulit, kerusakan organ dan kematian. Cedera ini umumnya
disebut ‘elektrokusion’ meski beberapa orang memakai
batasan ini hanya bila terjadi kematian. Meskipun luka bakar
list

















