Penyakit kronis merupakan penyakit yang
berdurasi lama, memiliki kecenderungan dapat
menyebabkan kerusakan yang bersifat
permanen dan ketidakmampuan serta tidak
dapat disembuhkan secara sempurna. Penyakit
kronis untuk saat ini lebih banyak disebabkan
salah satunya oleh gaya hidup yang berkaitan
dengan masyarakat modern. Factor perilaku
dan genetic meningkatkan ketahanan
seseorang terhadap penyakit kronis
Penyakit kronis memiliki beberapa tahap. tahap
yang ditemukan pada saat di rumah yaitu
tahap stabil , tahap pulih dan tahap penurunan.
Pada tahap stabil ditandai dengan tanda dan
gejala terkontrol dan aktivitas sehari hari
tertangani. tahap pulih yaitu keadaan pulih
dan cara hidu yang diterima sesuai batasan
dari penyakit. tahap penurunan yaitu
effektif
perjalanan penyakit berkembang
Penyakit kronis memiliki beberapa kategori ,
salah satunya yaitu at risk illnesses. Penyakit
ini lebih ditekankan pada resiko penyakitnya.
Penyakit kronis yang merupakan at risk
illnesses yaitu hipertensi. Hipertensi
merupakan penyakit yang juga berhubungan
dengan hereditas
Penyakit hipertensi merupakan masalah
kesehatan yang cukup serius. Angka kejadian
hipertensi menurut World Health Assosiation
di dunia memcapai 22 % dan di asia tenggara
mencapai 36 %. berdasar Riskesdas, pada
tahun 2018 angka hipertensi di Indonesia 34,1
% dari jumlah penduduk di Indonesia dan ini
meningkat jika dibandingkan dengan data dari
Riskesdas tahun 2014.
Penelitian oleh Tirtasari (2019) menghasilkan
informasi bahwa pada kelompok usia
produktif atau dewasa semakin bertambah usia
remakin bertambah resikonya terjadi
hipertensi. Pad usia dewasa (35-44) mencapai
21,35 persen dan prosentase hipertensi pada
usia dewasa muda lebih kecil. Tingginya
angka kejadian hipertensi memerlukan
perhatian dalam penatalaksanaannya.
Penatalaksanaan pada penyakit kronis
memiliki prinsip teratur untuk menjaga agar
terkontrol. Penatalaksanaan tidak lepas dari
manajemen diri. Manajemen diri yang
dimaksud yaitu kemampuan individu
bekerjasama dengankeluarga , komunitas dan
pemberi pelayanan kesehatan untuk
melakukan manajemen penyakit, terapi, dan
perubahan gaya hidup (Richard & Shea, 2011).
Masalah keperawatan manajemen kesehatan
tidak effektif merupakan salah satu yang dapat
muncul pada klien dengan penyakit kronis.
Manajenen kesehatan tidak effektif yaitu
pola pengaturan dan pengintergrasian
penanganan masalah kesehatan kedalam
kebiasaan hidup sehari-hari tidak memuaskan
untuk mencapai status kesehatan yang
diharapkan. Masalah ini dapat disebabkan oleh
kompleksitas program perawatan dan konflik
pengambilan keputusan serta ketidakeffektifan
pola perawatan kesehatan keluarga
Penyelesaian masalah manajemen kesehatan
tidak effektif dapat melalui pengelolaan
keperawatan memakai metode asuhan
keperawatan yang terdiri dari pengkajian,
diagnose, intervensi dan implementasi serta
evaluasi. Pada masalah manajemen kesehatan
salah satu intervensi yang dapat diberikan
yaitu dukungan pengambilan keputusan.
Dukungan pengambilan keputusan merupakan
suatu perencanaan yang didalammya
memberikan informasi dan dukungan saat
pembuatan keputusan kesehatan. Dukungan
pengambilan keputusan terdiri dari 1
intervensi observasi, 8 intervensi terapeutik,
Hasil wawancara dengan pihak puskesmas di
dapatkan informasi cukup tingginya angka
hipertensi di wilayah A.mbarawa. penderita
hipertensi banyak terjadi pada kelompok usia
produktif atau dewasa. Angka kunjungan
kontrol rutin dari penderita sangat kecil,
mereka hanya akan memeriksakan kesehatan
jika ada keluhan saja yang dirasa mengganggu.
berdasar uraian ditas peneliti ingin
mengetahui pengaruh tindakan dukungan
pengambilan keputusan terhadap masalah
manajemen kesehatan tidak effektif pada
keluarga dengan anggota keluarga dengan
riwayat penyakit kronis dengan pendekatan
asuhan keperawan.
Subjek study kasus ini 2 keluarga yang
memenuhi criteria. Studi kasus ini dilakukan
pada bulan januari 2020. Kriteria lain yang
mendasar dari subjek studi kasus yaitu
keluarga telah menyetujui bekerjasama serta
menyetujui inform consent. Penelitian ini
tetap memperhatikan etika penelitian dengan
menerapkan anonimty dan confidentiality.
Analisa yang dipakai yaitu analisis
deskriptif dari tahap persiapan, pelaksanaan
hingga tahap akhir. Urutan dalam proses
analisis yaitu pengumpulan data (
wawancara, observasi dan dokumentasi),
mereduksi data, penyajian data ( pengkajian,
diagnose, intervensi, implementasi dan
evaluasi) hingga kesimpulan.
Hasil penelitian dari penelitian studi kasus ini
merupakan hasil selama pengelolaan
memakai pendekatan proses keperawatan
yang terdiri dari pengkajian, diagnose
keperawatan, intervensi keperawatan,
implementasi keperawatan dan evaluasi
Pada pengkajian melalui wawancara, observasi
dan dokumentasi didapatkan data bahwa kedua
keluarga memiliki masing masing satu anggota
keluarga yang memiliki riwayat hipertensi.
Keluarga 1 mengatakan bahwa suaminya
mengalami hipertensi sejak 2 tahun yang lalu,
hanya akan kontrol kalau merasakan pusing
atau nyeri dan kaku di bagian tengkuk, sang
suami tidak mau rutin control maupun berobat,
suami mengatakan banyak program yang
dianjurkan tenaga kesehatan sulit untuk
dijalani seperti kurangi makanan yang
berlemak, kurangi rokok, olahraga dan
gorengan), dan keluarga tidak bisa untuk
memaksa bapaknya ini untuk menjalan
perawatan. Semua kebiasaan yang dilakukan
sang suami susah di hilangkan karena
dilakukan pada saat bekerja , yaitu saat nyopir.
Rokok dianggap dapat mengurangi rasa kantuk
dan gorengan serta makanan bersantan yaitu
makanan kesekaan sedangkan olahraga tidak
dilakukan karena tidak ada waktu.
Pada pengkajian keluarga ke 2 didapatkan
sang kepala keluarga menderita hipertensi
sudah sejak 3 tahun yang lalu dan keluhan
pusing dan kaku di tengkuknya semakin
sering. Keluarga mengatakan obat yang sering
dikonsumsi yaitu obat pusing yang dibeli
diwarung. Keluarga mengatakan anjuran yang
disarankan oleh pihak puskesmas sulit
dilakukan, dan yang sakit juga susah untuk
diajak kontrol. Beberapa kali periksa TD
selalu meningkat dari hasil sebelumnya.
Kepala keluarga mengatakan jika yang sakit
memiliki kebiasaan merokok saat nuking.
Data hasil pengkajian dari kedua keluarga
dialkukan analisa dan berdasar gejala dan
tanda mayor baik itu subjektif maupun
objektif, maka masalah keperawatan atau
diagnosa yang muncul pada kedua keluarga
tersebut yaitu manajemen kesehatan tidak
effektif.
Diangnosa atau masalah keperawatan
manajemen kesehatan tidak effektif
memerlukan intervensi atau perencanaan yang
tepat untuk mengatasinya. Salah satu
intervensi yan ditetapka dalam penelitaian ini
yaitu dukungan pengambilan keputusan.
Intervensi ini terdiri dari tindakan observasi,
terapeutik, edukasi dan kolaborasi. Intervensi
yang disusun yaitu identifikasi persepsi
mengenai masalah, fasilitasi nilai dan harapan
yang membantu membuat pilihan, fasilitasi
melihat situasi secara realistik, motivasi
ungkapan harapan akan perawatan, fasilitasi
hubungan antar angora keluarga, fasilitasi
pengambilan keputusan kolaboratif, berikan
informasi yang diminta dan kolaborasi dengan
tenaga kesehatan lain.
Perencanaan keperawatan atau intervensi yang
telah disusun disepakati oleh tim dan keluarga
dan akan di implementasikan atau lakukan
selama 3 hari. Implementasi dilakukan sesuai
perencanaan dan melibatkan anggota keluarga.
Pemberian informasi dilakukan melalui
promosi kesehatan sesuai kebutuhan keluarga.
Pereawat menempatkan diri sebagai rekan
sehingga pada sesi fasilitasi keluarga berhak
mengungkapkan apa yang dirasakan.
Implementasi berfokus pada keluarga dank
lien bukan berfokus pada perawat. Peneliti
menjalin kerjasama denga bidan desa selaku
penanggungjawab masalah kesehatan di
wilayah klien dan menyampaikan hasil
kelolaan dan permasalahan klien ke
puskesmas.
Evaluasi keperawatan yang dilakukan terdiri
dari evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Evaluasi terdiri dari subjektif, objektif, analisa
dan planning. Evaluasi pengelolaan
menunjukkan hasil dimana manajemen
kesehatan keluarga meningkat dengan adanya
cukup meningkatnya menerapkan program
perawatan, cukup meningkatnya aktivitas
sehari hari untuk memenuhi kesehatan, cukup
meningkatnya tindakan mengurangi factor
resiko dan cukup menurun ungkapan kesulitan
program perawatan.
Ungkapan kesulitan dalam program
keperawatan sering disampaikan oleh klien
dan keluarga dengan penyakit kronis. Keluarga
ikut mengungkapkan kesulitan program
perawatan karena keluarga terlibat dalam
perawatan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Dalam perawatan keluarga
merupakan support system.
Ungkapan yaitu kata yang diucapkan yang
dipakai seseorang dalam situasi tertentu
untuk megkiaskan suatu hal yang dirasakan
dalam kondisi tertentu (Wikibook). Ungkapan
kesulitan perawatan diucapkan oleh individu
dan keluarga yang mendapatkan informasi
tentang cara perawatan yang dirasakan banyak
oleh seseorang dan keluarga dan sulit untuk
diterapkan dengan berbagai alasan individu.
Kegagalan melakukan tindakan untuk
mengurangi resiko merupakan salah satu data
yang harus ada sebelum menegakkan masalah
manajemen kesehatan tidak effektif. Berbagai
situasi dapat memperlihatkan adanya
kegagalan melakukan tindakan untuk
mengurangi factor resiko. Pada individu
hipertensi tindakan yang dapat mengurangi
factor resiko dari hipertensi yaitu kebiasaan
merokok, kebiasaan konsumsi garan berlebih,
diet rendah serat, kurang aktivitas, berat badan
berlebih dan konsumsi alkohol
(P2PTM,Kemenkes).
Gagal melakukan tindakan untuk mengurangi
resiko pada seseorang dengan hipertensi
disampaikan berbagain alasan. Hasil
wawancara yang dilakukan dari pertanyaan
kenapa tidak mengurangi rokok, hasilnya
yaitu rokok mendukung pekerjaan karena
mengurangi rasa kantuk dan membuat santai di
sela kesibuakan. Utuk aktivitas disampaikan
meluangkan waktu khusus untuk olahraga itu
susah, kita kerja kan sudah aktivitas, pekerjaan
menjadikan kita harus duduk.
Kurangi garam , merupakan sesuatu yang
susah karena kalau kurang itu ndak enak,
kurang berasa, kurang mantap. Berbagai
alasan disampaikan dalam melakukan cara
mengurangi factor resiko. Pola hidup sehat
masih susah diterapkan dalam kehidupan
sehari- hari.
Salah satu prinsip pada penatalaksanaan
penyakit kronis yaitu penatalaksanaan yang
teratur. Tujuan dari penatalaksanaan yang
teratur yaitu agar kondisi tetap terkontrol dan
terpantau
Penatalaksanaan yang teratur pada pasien
hipertensi yaitu teratur untun melakukan
pengecekan tekanan darah ( TD),
mengkonsumsi obat secara rutin sesuai anjuran
dokter dan sesuai kondisi.
Aktivitas hidup sehari hari tidak efektif juga
merupakan data yang harus ada sebagai syarat
ditegakkannya diagnosa manajemen
kesehatan tidak effektif. Aktivitas hidup
sehari-hari tidak effektif untuk memenuhi
tujuan kesehatan yaitu Mager ( malas gerak),
kondisi ini terlihat dalam perilaku sehari hari,
seperti kalau sudah menonton televise maka
untu kebutuhan lain meminta tolong orang
lain. Kegiatan duduk lama saat bekerja juga
merupakan hal yang kurang bagus.
Uraian yang disampaikan akan ditemukan
pada saat pengkajian. Dan ini ditemukan pada
2 keluarga yang menjadi kelolaan atau 2
subjek studi penelitian. Hasil pengkajian
berupa data , dilanjukkan dilakukan analisa
data. Hasil analisa menunjukkan memenuhi
syarat batasab gejala dan tanda mayor baik itu
subjektif maupun objektif.
Diangnosa sudah ditegakkan maka langkah
selanjutnya yaitu menentukan intervensi
yang telap untuk mengatasi masalag tersebut.
Penentuan intervensi juga harus mengacu pada
tujuan yang diharapkan. Tujuan memiliki
criteria yang tetap harus diperhatikan yaitu
tujuan harus bersifat spesifik, measurable,
acciefable, rasional dan time frame atau ada
batasan waktunya.
Intervensi keperawatan untuk mengatasi
masalah keperawatan atau mengatasi diagnose
keperawatan ada 2 yaitu intervensi utama dan
intervensi pendukung. Intervensi pendukung
dapat di aplikasikan jika dirasakan dengan
intervensi utama , masalah belum teratasi atau
teratasi tapi belum sesuai tujuan (
Pada masalah manajemen kesehatan tidak
efektif ada 4 intervensi utama yaitu dukungan
pengambilan keputusan, dukungan
tanggungjawab pada diri sendiri, edukasi
kesehatan dan perlibatan keluarga. Pada
intervensi pendukung ada 19 intervensi
pendukung dianataranya yaitu bimbingan
antisipasig, bimbingan system kesehatan, dan
dukungan keluarga merencanakan perwatan.
Intervensi secara teori cukup banyak, hal ini
disesuaikan dengan kondisi dari masing
masing klien atau subjek yang di kelola.
Peneliti mencoba menentukan 1 intervensi
utama dalam mengatasi masalah keperawatan
yang terjadi. , dengan pertmbangan peneliti
yaitu dalam 1 intervensi utama saja sudah
terdiri dari berbagai sub intervensi dan sudan
berupa tindakan observasi, tindakan mandiri
perawat, tindakan berupa edukasi dan tindakan
kolaboratif.
Intervensi telah ditentukan maka dilanjukkan
dengan impementasi atau melakukan tindakan
keperawatan sesuai perencanaan.
Implementasi keperawatan dilakukan selama
3x24 jam sesuai perencanaan waktu.
Implementasi keperawatan berupa tindakan
observasi dengan melihat keseharian dari klien
dan keluarga dalam menjalankan pola hidup
dan perilaku. Tindakan mandii perawat berupa
perawat sebagai fasilitator dengan kegiatan
memvasilitasi permasalahan yang dihadapi
oleh keluarga. Tindakan lainnya berupa
memberikan pendidikan kesehatan dan
disesuaikan kebutuhan informasidari klien
kelolaan. Tindakan keperawatan terakhir
yaitu kolaborasi. Peneliti atau pemberi
asuhan keperawatan menyampaikan hasil
pengelolaan kepada pihak puskesmas setempat
dan penanggung jawab kesehatan di wilayah
tempat tinggal pasien. Perawat menyampaikan
permasalahan yang ada pada subjek penelitian
da menyampaikan tindakan yang sudah
dilakukan kepada subjek study penelitian atau
keluarga kelolaan. Selain itu peneliti atau
pengelola asuhan perawatan menyampaikan
hasil akhir dari pengelolaan yang telah
dilakukan.
Proses terakhir dari asuhan keperawatan
yaitu evaluasi. Evaluasi terdiri dari
komponen evaluasi subjektif, evaluasi
objektif, analisa dan planning. Semua
komponen evaluasi tersebut harus ada baik
pada evaluasi formatif maupun evaluasi
sumatif. Evaluasi formatif dilakukan oleh
pemberi asuhan keperawatan setiap kali
setelah melakukan implementasi keperawatan,
sedangkan evaluasi sumatif dilakukan pada
akhir pengelolaan.
Hasil dari pengelolaan menunjukkan bahwa
pengelolaan berhasil. Hal ini menunjukkan
bahwa ada pengaruh positif dari dukungan
pengambilan keputusan terhadap masalah
manajemen kesehatan tidak effektif. Bukti
adanya pengaruh posifif ini yaitu dari skor 1
meningkat menjadi 4 dari tiap tiap tujuan atau
criteria hasil, dati kurang menjadi cukup
meningkat.
Keterbatasan dalam kegaitan penelitaian ini
yang dirasakan oleh peneliti yaitu pada tahap
awal kegiatan dalam membangun hubungan
saling percaya dan perasaan terbuka serta
saling membutuhkan antara peneliti dengan
subjek study kasus, tetapi berkan intens
komunikasi dan penguasaan tehnik
komunikasi serta dukungan pihak puskesmas
berupa perijinan maka keterbatasan ini dapat
diatasi.
Dukungan pengambilan keputusan merupakan
intervensi yang dapat diberikan untuk
mengatasi masalah keperawatan manajemen
kesehatan tidak effektif. Dalam pelaksanaan
implementasi libatkan sebisa mungkin seluruh
angota keluarga atau orang yang menjadi
support pendukung dari klien. Peneliti atau
pemberi perawatan dapat menempatkan diri
sebagai rekan. Inform consent, bukti perijinan,
tehnik komunikasi, memahami karakter klien
merupakan hal penting dalam pengelolaan.
Dalam pemberian atau pengelolaan asuhan
keperawatan, penelitian perlu mempersiapkan
lebih banyak materi promosi kesehatan karena
dalam tiap keluarga atau klien kelolaan
mempunyai perbedaan tingkat pengetahuan
dan perbedaan kebutuhan jenis informasi.
Prevalensi penyakit kronis menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 mendapatkan
hipertensi sebesar sebesar 34,11%, diabetes melitus sebesar 8,5%, kanker sebesar 1,8%, stroke sebesar
10,9% dan gagal ginjal kronik sebesar 3,8%. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis hubungan
pengetahuan tentang pencegahan penyakit kronis dengan kualitas hidup. Penelitian ini merupakan
analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional. Populasi penelitian ini yaitu seluruh
rumah tangga di Desa Marga Agung sebanyak 4.395 rumah tangga dengan jumlah sampel sebanyak 404
orang memakai simple random sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu umur, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan dan lama menderita penyakit kronis. sedang
variabel terikat dalam penelitian ini yaitu kualitas hidup. Alat pengumpul data memakai kuesioner
WHOQOL-BREF yang sudah terstandar dan valid serta reliabel. Data yang telah terkumpul lalu
dilakukan editing, coding, processing dan cleaning. Analisis data penelitian ini meliputi analisis
univariat dan bivariat. Ada hubungan antara pengetahuan tentang pencegahan penyakit kronis dengan
kualitas hidup petani.
Penyakit kronis merupakan penyakit dengan durasi panjang, berkembang lambat terjadi
akibat faktor genetik, fisiologis, lingkungan dan perilaku . Penyakit
kronis dapat menyerang seseorang sejak usia muda . Penyakit kronis
diantaranya yaitu hipertensi, stroke, diabetes, asma, gagal jantung, gagal ginjal dan kanker
. Riskesdas tahun 2018 mendapatkan prevalensi hipertensi sebesar
sebesar 34,11%, diabetes melitus sebesar 8,5%, kanker sebesar 1,8%, stroke sebesar 10,9%
dan gagal ginjal kronik sebesar 3,8%
Penyakit kronis dapat terjadi akibat perubahan gaya hidup modern yang semakin tidak sehat
Penyakit kronis mengganggu aktivitas hidup sehari-hari dan dapat
berpengaruh pada kualitas hidup seseorang , Kualitas hidup yaitu
pandangan subjektif individu pada kehidupannya dalam konteks nilai dan budaya yang
dianut oleh individu, yang hubungannya dengan tujuan personal, harapan, standar hidup
serta perhatian yang mempengaruhi kemampuan fisik, psikologis, tingkat kemandirian,
hubungan sosial dan lingkungan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang antara lain yaitu
sosiodemografi, gaya hidup, nutrisi, latihan fisik, pengalaman keluarga dengan penyakit
kronis, asuransi kesehatan, dukungan sosial, kepatuhan pengobatan penyakit kronis,
keterpaparan informasi tentang penyakit kronis dan pendidikan kesehatan , Kualitas hidup berdampak pada kehidupan seseorang. Dampak dari kualitas
hidup yang baik berupa keadaan sejahtera pada seseorang. sedang dampak kualitas
hidup yang buruk yaitu frustasi, kecemasan, ketakutan, kesal, dan khawatir yang panjang
sehingga membuat seseorang untuk menyerah atau hilangnya antusiasme untuk masa depan
Penilaian kualitas hidup dapat memakai kuesioner
WHOQOL-BREF yang berisikan 26 pertanyaan dan dikelompokkan menjadi empat domain
yaitu kesehatan fisik, psikologis, dukungan sosial, dan lingkungan keluarga , Hasil ini dapat digunakan untuk membantu menilai aspek yang terganggu akibat
penyakit kronis dan membantu untuk menentukan rencana pengobatan yang tepat
Studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Marga Agung, didapatkan masih tingginya angka
kejadian penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, asma dan gaangguan ginjal.
Wawancara pada 10 orang yang mengalami hipertensi dan diabetes, didapatkan data bahwa
8 orang menyatakan kualitas hidup yang buruk. Mereka mengatakan bahwa tidak puas
dengan kesehatan dan merasa kurang dukungan dari keluarga. sedang 2 orang
menyatakan cukup puas dengan kesehatan dan mempunyai kualitas hidup yang masih baik.
Hal ini tentunya akan berdampak pada kehidupan di masa yang akan datang, sehingga perlu
dilakukan penelitian tentang kualitas hidup terkait kesehatan pada masyarakat agrikultur
yang mengalami penyakit kronis. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis hubungan
pengetahuan dengan kualitas hidup.
Analisis data menyajikan analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat menyajikan
persentase dari masing-masing variabel. Analisis bivariat menyajikan hubungan antara
variabel independen (pengetahuan) dan dependen (kualitas hidup).
Analisis univariat menyajikan persentase dari variabel pengetahuan dan kualitas hidup yang
disajikan dalam tabel 1.
Tabel 1.
Distribusi Frekuensi Pengetahuan dan Kualitas Hidup
Variabel Kategori F %
Umur 20-35 tahun 118 48,0
>35 tahun 128 52,0
Jenis Kelamin Laki-laki 172 69,9
Perempuan 74 30,1
Pengetahuan Baik 128 52,0
Kurang Baik 118 48,0
Kualitas hidup Sangat baik 17 6,9
Baik 172 69,9
Biasa 55 22,4
Buruk 2 0,8
Total 246 100,0
Analisis mendapatkan bahwa umur paling banyak yaitu >35 tahun sebanyak 128 orang
(52,0%), laki-laki sebanyak 172 orang (69,9%), pengetahuan paling banyak yaitu baik
sebanyak 128 orang (52,0%) dan sebagian besar kualitas hidup dalam kategori baik sebanyak
172 orang (69,9%).
Analisis Bivariat
Analisis bivariat menyajikan hubungan antara variabel pengetahuan dengan kualitas hidup
yang disajikan dalam tabel 2.
Tabel 2.
Hubungan Antara Pengetahuan dengan Kualitas Hidup
Pengetahuan Kualitas Hidup Total p
Sangat Baik Baik Biasa Buruk
Baik 3 88 35 2 128 0,005
2,3% 68,8% 27,3% 1,6% 100,0%
Kurang Baik 14 84 20 0 118
11,9% 71,2% 16,9% 0,0% 100,0%
Analisis lanjut mendapatkan p=0,005 yang berarti bahwa ada hubungan antara pengetahuan
dengan kualitas hidup.
Analisis mendapatkan bahwa umur paling banyak yaitu >35 tahun sebanyak 128 orang
(52,0%), laki-laki sebanyak 172 orang (69,9%), pengetahuan paling banyak yaitu baik
sebanyak 128 orang (52,0%) dan sebagian besar kualitas hidup dalam kategori baik sebanyak
172 orang (69,9%). Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya suatu tindakan pada seseorang. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan
lebih baik daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Perilaku terjadi yang
sebelumnya terjadi proses yang berurutan, diantaranya kesadaran, ketertarikan terhadap
ransangan, menimbang-nimbang pada baik dan tidaknya stimulus ini , lalu mulai
mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus, subjek
telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap
stimulus
Penilaian terhadap kualitas hidup pada penderita penyakit kronis sangat penting untuk
dilakukan, karena kualitas hidup yaitu mencerminkan status kesehatan dan kesejahteraan
seseorang. Kualitas hidup selalu dihubungkan dengan kondisi kesehatan, baik secara fisik
maupun psikologis. Semakin sehat kondisi seseorang, maka kualitas hidupnya semakin baik,
sebaliknya, semakin tidak sehat kondisi seseorang, maka kualitas hidupnya semakin buruk
Analisis lanjut mendapatkan p=0,005 yang berarti bahwa ada hubungan antara pengetahuan
dengan kualitas hidup. Pengetahuan dapat terbentuk oleh tingkat pendidikan, informasi, dan
pengalaman. Kualitas hidup dapat dipengaruhi oleh faktor medis diantaranya lamanya
menderita penyakit, kondisi penyakit yang dialami saat ini, control tekanan darah dan kadar
gula darah, serta adanya komplikasi penyakit. Selain itu, kualitas hidup dapat juga
dipengaruhi oleh kecemasan, stress, depresi dan adanya dukungan keluarga. Kemungkinan
lain yang dapat menyebabkan kualitas hidup yang masih buruk antara lain yaitu faktor
penyakit, seperti tingginya angka kejadian penyakit degeneratif, dimana semakin tinggi
angka kesakitan maka menurunkan kualitas hidup. Seseorang yang mengalami penyakit
kronis, harus ditangani dengan baik sehingga akan menurunkan morbiditas yang berdampak
baik pada kualitas hidup seseorang yang akhirnya pada penurunan angka kesakitan dan
kematian.
mendapatkan bahwa pengetahuan seseorang
berhubungan dengan kualitas hidup.juga hampir sama
yang mendapatkan bahwa pengetahuan rendah mempunyai risiko 4,4 kali lebih banyak untuk
mempunyai kualitas hidup yang buruk. makin tinggi
pengetahuan seseorang, maka semakin tinggi kualitas hidupnya. Penemuan itu didukung
penelitian yang menyatakan kualitas hidup seseorang akan baik, jika
didukung pengetahuan yang baik pula.
, bahwa pengetahuan merupakan ranah yang sangat penting
untuk terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan erat kaitannya dengan pendidikan
seseorang, dimana seseorang dengan pendidikan tinggi, diharapkan akan semakin luas
pengetahuannya. Peningkatan kualitas hidup harus diimbangi dengan pengetahuan yang baik
mengenai penyakit dan cara perawatannya. Sehingga seseorang yang memiliki pengetahuan
yang tinggi memiliki kualitas hidup yang baik tetapi seseorang yang berpengetahuan rendah
berisiko untuk memiliki kualitas hidup yang buruk.
Penelitian ini mendapatkan bahwa pengetahuan dan kualitas hidup paling banyak yaitu
dalam kategori baik. Analisis lanjut mendapatkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan
dengan kualitas hidup.
negara kita menjadi salah satu negara berkembang dengan banyaknya penyakit yang
mengancam kesehatan. berdasar data Kemenkes Tahun 2017, negara kita mengalami transisi
epidemiologi pada perubahan beban penyakit dari Tahun 1990 ke Tahun 2017. Beban penyakit
yang dulu disebabkan oleh berbagai penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Penyakit
tidak menular (non-communicable diseases) penyakit kronis merupakan penyakit yang tidak dapat
ditularkan antara manusia namun menyerang kesehatan individu secara terus menerus dalam
waktu yang lebih lama dan berdampak pada kondisi kesehatan pada masa yang akan datang . Penyakit kronis menjadi penyebab kematian dini, dimana prevalensinya cenderung
meningkat seiring dengan bertambahnya usia . berdasar data
Kemenkes Tahun 2017, diperkirakan sedikitnya ada 1,4 juta orang meninggal setiap tahunnya
akibat penyakit kronis. Selain itu berdasar data WHO Tahun 2018, penyakit kronis
menyebabkan kematian sekitar 41 juta orang sehingga menyumbang kematian hampir 71 persen
dari total kematian di dunia. Kematian akibat penyakit kronis paling sedikitnya 80 persen berasal
dari negara berkembang (Wang, et.al, 2015).
Salah satu penyakit kronis yang dihadapi oleh sebagian besar masyarakat negara kita yaitu
penyakit hipertensi. Hipertensi menjadi salah satu penyakit kronis utama penyebab morbiditas dan
mortalitas yang paling mematikan di dunia. Hal ini dikarenakan hipertensi menjadi peluang
pembuka dalam memicu terjadinya faktor risiko penyakit lain seperti jantung, gagal ginjal,
diabetes maupun stroke Institute for Health Metrics and Evaluation
(IHME) juga merilis data pada Tahun 2017 dimana dari 1,7 juta kematian di negara kita disumbang
dari kasus hipertensi yaitu sebesar 23,7%, hiperglikemia sebesar 18,4%, merokok sebesar 12,7%
dan obesitas sebesar 7,7%.
Penyakit hipertensi juga membawa masalah seperti beban ekonomi, ketergantungan hidup
dan kemiskinan bagi rumah tangga. Chen dan Lin (2017) menjelaskan bahwa penyakit kronis
menyebabkan beban keuangan yang berat pada pengeluaran medis nasional. Di Taiwan 7 dari 10
item pengeluaran obat teratas yang ditanggung oleh asuransi kesehatan nasional, salah satunya
untuk penyakit hipertensi. Hal yang senada di negara kita , berdasar data dari Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan menyebutkan bahwa biaya penanganan untuk
pengobatan hipertensi mengalami kenaikan setiap tahunnya, pada Tahun 2016 sebesar 2,8 Triliun
rupiah dan meningkat sebesar 3 Triliun rupiah pada Tahun 2018. Pada sisi ketergantungan hidup,
data IFLS Tahun 2014 menunjukkan sebanyak 32,06 persen penderita hipertensi sangat terganggu
dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan mempunyai rata rata pengeluaran biaya kesehatan
sebesar 125.215 Rupiah lebih tinggi daripada bukan penderita yang sebesar 90.039 Rupiah.
juga menjelaskan bahwa pengeluaran untuk biaya rumah sakit di
Cina akibat hipertensi mencapai sebesar 60,3 persen dari total pengeluaran kesehatan langsung.
Selain itu adanya pengeluaran intangible cost atau biaya kerugian akibat financial loss sebesar
45,7 persen dari total cost akibat penyakit hipertensi. Penyakit hipertensi juga berdampak terhadap
kemiskinan bagi rumah tangga, penelitian dari menjelaskan bahwa
kasus hipertensi di Amerika Latin memberikan beban yang signifikan bagi sistem kesehatan
dimana pengeluaran biaya kesehatan akibat penyakit akan berdampak terhadap financial loss
rumah tangga dan hilangnya human capital akibat ketidak mampuan untuk berobat. Dalam
prosesnya penyakit kronis akan signifikan dalam menurunkan kualitas hidup individu dan secara
tidak proporsional akan memengaruhi populasi miskin dan rentan di negara berkembang.
Studi terdahulu yang membahas penyakit kronis yaitu meneliti
tentang seluruh penyakit kronis terhadap penurunan aktivitas produksi, dimana hasilnya yaitu
penyakit kronis akan berdampak negatif terhadap partisipasi kerja pada usia angkatan kerja Hal ini
diakibatkan probabilitas produktivitas bekerja akan menurun sebesar 33,4 persen jika memiliki
penyakit kronis dibandingkan dengan kelompok yang sehat.
bahwa konsekuensi ekonomi dari suatu penyakit kronis akan berdampak pada sisi makro dan
mikro. Pada sisi makro yaitu kesehatan penduduk yang buruk berdampak terhadap penurunan
pertumbuhan ekonomi bagi negaranya. Sedangkan pada sisi mikro yaitu terjadinya penurunan
pendapatan rumah tangga dan menyebabkan kemungkinan crowding-out dari konsumsi rumah
tangga sehingga berdampak terhadap penurunan quality of life dari rumah tangga, penurunan
supply dan produktivitas tenaga kerja dan penurunan tenaga kerja. Sehingga akan berdampak
terhadap kerentanan rumah tangga.
Penelitian yang membahas tentang hubungan kesehatan terhadap kerentanan rumah tangga
cenderung fokus kepada health condition. Penelitian meneliti tentang variabel health shock terhadap kerentanan rumah
tangga. Variabel yang digunakan yaitu jumlah hari rawat inap maupun proporsi jumlah art yang
sakit dan dirawat di rumah sakit dibandingkan total jumlah anggota rumah tangganya. Hasilnya
yaitu health shock akan berpengaruh negatif terhadap pengeluaran rumah tangga.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, kontribusi penelitian ini yaitu, pertama fokus
dalam penelitian ini yaitu melihat dampak kesehatan terhadap kerentanan melalui penyakit
kronis dan secara umum tanpa merinci jenis dan karakteristik penyakitnya. Kedua, penelitian ini
menggunakan penyakit kronis yang lebih spesifik lagi yaitu hipertensi, dimana hipertensi
merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang paling mematikan di seluruh dunia. Ketiga
penelitian ini juga bertujuan untuk melihat pengaruh hipertensi sebagai penyebab transisi
perpindahan kemiskinan pada rumah tangga yang sama antar kedua tahun yaitu Tahun 2007 dan
Tahun 2014.
Tabel 2 menyajikan statistik deskriptif karakteristik rumah tangga. Pada periode 2007 dan
2014, terjadi peningkatan pengeluaran konsumsi perkapita. Secara rata-rata pengeluaran konsumsi
perkapita pada Tahun 2007 yaitu 506.143 Rupiah dan Tahun 2014 sebesar 614.644,8 Rupiah.
Sehingga terjadi peningkatan sebesar 21,43 persen pada Tahun 2014 jika dibandingkan Tahun
2007. Pada Variabel dummy hipertensi secara rata-rata terjadi peningkatan sebesar 33,33 persen
pada Tahun 2014.
Pengelompokkan Status Kemiskinan Rumah Tangga
Setelah diperoleh nilai estimasi parameter dari pengeluaran konsumsi perkapita rumah
tangga, selanjutnya dilakukan penghitungan nilai peluang setiap rumah tangga untuk jatuh miskin
pada masa mendatang. Pada Tabel 4 dan Tabel 5 menunjukkan peningkatan rumah tangga sangat
miskin, miskin, rentan miskin pada Tahun 2007 sebesar 14,22 persen menjadi 42,55 persen pada
Tahun 2014. Hal ini berarti adanya penurunan persentase rumah tangga yang tidak miskin pada
Tahun 2014.
Tabel 4 Kerentanan Rumah Tangga Akibat Hipertensi Pada Tahun 2007
Tabel 5 Kerentanan Rumah Tangga Akibat Hipertensi Pada Tahun 2014
Robustness Dengan Data Panel
Pada penelitian juga turut melakukan uji robustness dengan model data panel. Robustness
yang digunakan yaitu dengan menggunakan metode panel random effect. Hasil estimasi dengan
RE yang disajikan pada Tabel 6, secara umum tanda koefisien tidak jauh berbeda dengan estimasi
menggunakan FGLS. Variabel hipertensi juga berdampak negatif terhadap pengeluaran konsumsi
perkapita (ex-ante mean consumption). Jika didalam rumah tangga ada satu art yang terkena
penyakit hipertensi maka akan membawa beban terhadap rumah tangga dan berpengaruh terhadap
konsumsi rumah tangga. Hasil estimasi variabel hipertensi pada Tabel 16 kolom 1 sebesar negatif
0,228 (β1) menunjukkan ruta yang memiliki art yang terkena hipertensi akan memiliki selisih nilai
konsumsi perkapita yang lebih rendah sebesar 0,228 poin dibandingkan rumah tangga yang tidak
terkena hipertensi atau median pengeluaran konsumsi perkapita penderita hipertensi lebih rendah
sebesar 20,38 persen dibandingkan bukan penderita hipertensi Hasil estimasi tidak berbeda jauh
dengan hasil pada kolom 2 ketika turut memasukkan variabel kontrol yaitu sebesar negatif 0,213
(β1) yang menunjukkan perbedaan konsumsi perkapita antara rumah tangga yang memiliki art
yang terkena hipertensi yaitu 0,213 poin lebih rendah dibanding rumah tangga yang tidak
memiliki art yang terkena hipertensi atau median pengeluaran konsumsi perkapita penderita
hipertensi lebih rendah sebesar 19,18 persen dibandingkan bukan penderita hipertensi Sedangkan
pada kolom 3 dan 4 memuat variability atau fluktuasi dari expected variance consumption.
Sehingga dengan menggunakan metode panel hipertensi secara signifikan menyebabkan
kerentanan rumah tangga pada masa yang akan datang. Tanda koefisien dari variabel interest
tanpa maupun dengan memasukkan variabel kontrol sudah sesuai dengan hipotesis.
Hasil estimasi menunjukkan rumah tangga yang terkena hipertensi akan cenderung
memiliki konsumsi yang lebih rendah dibandingkan rumah tangga yang tidak terkena hipertensi.
Pada hasil estimasi Tahun 2014 memiliki nilai koefisien yang lebih rendah dibandingkan Tahun
2007 yang berarti memiliki tingkat kerentanan lebih rendah daripada Tahun 2007. Secara umum
hasil pada kedua tahun menunjukkan bahwa rumah tangga yang terkena hipertensi akan memiliki
probabilita pengeluaran perkapita yang lebih rendah dan juga median yang lebih rendah
dibandingkan ruta tanpa hipertensi. Sehingga akan beresiko menjadikan rumah tangga lebih rentan
dan berpeluang jatuh kedalam jurang kemiskinan yang lebih besar. Hasil ini sesuai dengan Falkner
(2010) yang menjelaskan bahwa resiko kematian dini akibat penyakit hipertensi turut memberikan
beban substansial pada sistem perawatan kesehatan, keluarga, pengasuh, dan masyarakat secara
keseluruhan dan menjadi beban baik mental dan ekonomi yang berat pada keluarga terlebih jika
penderita yaitu seorang kepala keluarga. Senada dengan Atake (2018) penelitian yang
menjelaskan bahwa gangguan kesehatan akan meningkatkan kerentanan rumah tangga akibat
ketidakmampuan dalam mempertahankan konsumsi dasar akibat adanya pengeluaran kesehatan.
Selain itu koefisien variability konsumsi menunjukkan tanda positif pada kedua tahun. Hasil ini
sesuai dengan penelitian Ouadika (2020) yang menjelaskan kerentanan rumah tangga juga
dipengaruhi oleh variasi pengeluaran konsumsi yang tidak stabil dan cenderung meningkat.
berdasar hasil pengelompokkan kemiskinan rumah tangga, penyakit hipertensi
signifikan memengaruhi peluang terjadinya kerentanan rumah tangga. Kelompok rumah tangga
sangat miskin, miskin dan rentan miskin mengalami peningkatan dari 1624 ruta Tahun 2007
menjadi 4859 ruta Tahun 2014, sehingga terjadi peningkatan sebesar 199,2 persen.
Saran pada penelitian selanjutnya yaitu dengan menggunakan metode pengukuran
kerentanan yang lain yaitu Vulnerability of Expected Utility (VEU). Pada metode VEU juga
melihat resiko yang dihadapi terutama rumah tangga miskin (Ligon dan Schecter, 2003). Sehingga
ketika rumah tangga terkena shock dan berdampak terjadinya penurunan pendapatan juga dapat
dielaborasi dengan faktor resiko yang dihadapi oleh rumah tangga tersebut. Selain itu strategi
penanggulangan hipertensi perlu ditingkatkan seperti sosialisasi bahwa penyakit hipertensi bersifat
heterogeneouse group of disease yang dapat mengancam kesehatan siapapun dan pada kelompok
sosial ekonomi manapun. Selain itu pencegahan terhadap penyakit ini perlu dilakukan karena
hipertensi signifikan berdampak terhadap peningkatan kerentanan kemiskinan. Salah satu upaya
untuk mengurangi dampak hipertensi yaitu dengan peningkatan kepemilikan asuransi oleh rumah
tangga karena asuransi terbukti memiliki efek ekonomi yang dapat membantu rumah tangga dalam
upaya mengurangi kerentanan rumah tangga akibat pendapatan yang tidak stabil.








