dalam sediaan ragi bir, bersamaan dengan
zat-zat karbohidrat, protein dan enzim.
• Flavonoida, juga disebut polifenol (qu-
ercetin, genistein, rutin, hesperidin, dan
lain-lain) yaitu zat-zat nabati yang ter-
dapat sebagai glikosidanya (senyawa de-
ngan sakarida) dalam banyak makanan.
Khususnya ada dalam teh dan bawang
(putih), namun juga dalam sayur-mayur dan
buah-buahan (terutama apel dan anggur
merah), sering kali dalam zat-zat berwarna
merah, jingga, kuning atau hijau. Meskipun
pada prinsipnya bukan merupakan vitamin,
namun zat-zat ini sangat penting bagi tubuh
berkat daya antioksidan, bersama sifat anti-
tumor dan anti-aterogennya. Seperti te-
lah diutarakan di bab-bab terdahulu, anti-
oksidansia melindungi jaringan terhadap
kerusakan oksidatif akibat radikal bebas
yang berasal dari proses-proses dalam
tubuh atau dari luar. Penelitian ilmiah dari
tahun-tahun terakhir menegaskan bahwa
zat-zat ini memegang peranan penting
pada pemeliharaan kesehatan dan prevensi
berbagai penyakit, antara lain gangguan
jantung dan pembuluh, paru-paru dan kanker.
berdasar penemuan ini berbagai Dewan
Nutrisi negara-negara Barat menghimbau
untuk mengonsumsi sekurang-kurangnya
200 g sayuran dan 2 jenis buah sehari. Lihat
juga Bab 54, Dasar-dasar Diet Sehat.
Semua flavonoida mudah diserap oleh
usus dan lancar pula ekskresinya lewat
kemih atau tinja, maka bahaya kumulasi ri-
ngan sekali. biasanya tidak bersifat
toksik. Penimbunannya dalam jaringan ha-
nya sedikit dan gejala defisiensi sudah tam-
pak sesudah lebih kurang 4 bulan.
b . Vitamin larut-lemak (lipofil): A, D, E
dan K.
Zat-zat ini larut dalam lemak dan diserap
bersamaan dengan lemak, kemudian melalui
sistem limfe masuk ke dalam darah dengan
lipoprotein tertentu (chylomikron). Gangguan
pada pencernaan lemak, seperti kekurangan
asam empedu, mengurangi resorpsinya. Eks-
kresinya berlangsung lambat (masa paruh
panjang), sehingga dapat terjadi kumulasi
dan efek toksik. Hati dan jaringan lemak
dapat menimbun zat-zat ini dalam jumlah
besar, maka gejala defisiensi baru menjadi
nyata sesudah lebih dari satu tahun, kecuali
pada vitamin K (lebih cepat).
Toksisitas
biasanya derajat toksisitas vitamin
rendah sekali, terutama vitamin yang larut
dalam air dan pada kadar darah tertentu
diekskresi melalui urin.Vitamin B6 bersifat
neurotoksik dan dapat merusak sistem saraf
perifer bila dipakai pada dosis tinggi
untuk jangka waktu lama (neuropati ),
Editorial Lancet 1998; 351: 1523.
* Asam folat dalam dosis di atas 1 mg/hari
dapat menyelubungi defisiensi vit B12, yang
bisa menjadi fatal.
Vitamin yang melarut dalam minyak sebab
bersifat kumulasi dapat memicu efek
samping yang tidak diinginkan, terutama
vitamin A dan vitamin D. Kedua vitamin ini,
asam folat, seng, selen dan iodium tergolong
nutrien yang indeks terapinya agak sempit,
artinya RDA-nya terletak berdekatan dengan
dosis toksiknya yang dapat memicu
efek merugikan.
• Vitamin A. pemakaian lama (beberapa
bulan) dari retinol dalam dosis di atas 50.000
UI/hari dapat memicu intoksikasi kro-
nis. Gejalanya berupa hiperosteosis dengan
rasa nyeri dari tulang kaki (menjadi tebal),
juga malaise, nyeri kepala/sendi, pusing,
demam, keluhan lambung-usus, pembesaran
hati dan limpa, perubahan pada kulit dan
mukosa serta kelainan hematologi. Pada
anak-anak vitamin A lebih toksik daripada
bagi orang dewasa, juga wanita hamil harus
berhati-hati jangan sampai memakai nya
di atas 8.000 U sehari berhubung sifat tera-
togennya.
• Vitamin D selama waktu lama pada
dosis tinggi, yaitu bagi orang dewasa lebih
dari 50.000-100.000 U kolekalsiferol/hari
dan bagi anak-anak di atas 1.000-4.000 U,
dapat memicu intoksikasi kronis.
Gejalanya berupa hiperkalsiemia akibat ter-
larutnya kalsium dari kerangka, dengan
endapan kalsiumfosfat di berbagai organ
(kornea, pembuluh, jantung, ginjal, lambung,
paru-paru dan sendi). Juga osteoporosis,
penghambatan pertumbuhan pada anak-
anak, aritmia, nyeri otot dan sendi, gangguan
lambung-usus dan fungsi ginjal, rasa lemah
serta letih. Kerusakan pada janin baru timbul
pada dosis sangat tinggi, di atas 10.000 U/kg
berat badan, namun tidak sehebat vitamin A.
Kehamilan dan laktasi. Semua vitamin
dapat dipakai selama kehamilan dan
laktasi dalam dosis biasa, juga vitamin D3
(kolekalsiferol) 400 UI/hari. Hanya dosis
vitamin A tidak boleh melebihi 8.000 UI /
hari.
MONOGRAFI
1. Kelompok vitamin A
Vitamin A yaitu nama umum bagi senyawa
retinoida yang memiliki khasiat biologis
dari retinol. Sebagai ester zat ini terutama
ada dalam pangan hewani, seperti susu
dan produk-produknya, kuning telur, hati
dan dengan kadar tinggi dalam minyak ikan.
Kebutuhan sehari-hari vitamin A sebagian
dipenuhi oleh karotenoida (provitamin A),
yakni kompleks dari 2 molekul retinol yang
dalam usus diuraikan menjadi vitamin
aktif. Provitamin A ada dalam banyak
sayuran hijau tua, berbagai jenis kol dan
sebagai pigmen kuning-jingga dari berbagai
buah dan sayur, antara lain wortel dan tomat,
lemak susu dan kuning telur.
1a. Retinol: vitamin A, axeroftol
Resorpsi di usus cepat dan praktis sem-
purna, kecuali bila dosisnya terlampau
tinggi. Resorpsinya lebih cepat dalam bentuk
“larutan” air (emulsi homogen) daripada
larutan minyak. Zat ini terikat dan ditranspor
dengan RBP (Retinol Binding Protein), seba-
gian dioksidasi menjadi retinal dan asam
retinoat, yang bersama glukuronidanya di-
ekskresi lewat kemih dan tinja. Sebagian
retinol ditimbun dalam hati yang cukup bagi
kebutuhan 7-8 bulan.
Fungsinya beragam, yakni vitamin A
penting sekali bagi sintesis rodopsin, suatu
pigmen fotosensitif yang terurai oleh cahaya
dan memungkinkan kita untuk melihat dalam
keadaan setengah gelap. Dalam jaringan
vitamin A menstimulasi sintesis RNA, juga
glukoprotein dan kortikosteroida, serta
berperan pada terpeliharanya keutuhan sel-sel
epitel dan mukosa. Pada anak-anak vitamin
A menstimulasi pertumbuhan tulang.
Defisiensi tidak sering terjadi dan terutama
timbul pada diet yang kurang bervariasi;
sekunder pada defisiensi protein (kwashiorkor)
dan bila resorpsi terganggu. Bila terjadi
kekurangan vitamin A di dalam makanan,
persediaan di dalam hati masih mencukupi
untuk 7 sampai 8 bulan. Namun anak-anak
yang baru lahir tidak memiliki cadangan
ini, sehingga risiko malnutrisi dan kebutaan
meningkat. Kebutuhan sehari-hari yaitu
1.000-4.000 UI bagi anak-anak, 4.000-5.000 UI
bagi orang dewasa dan 5.000-6.000 UI pada
waktu hamil dan laktasi. Gejala defisiensi
antara lain buta malam, xeroftalmia (kornea
mengering dan mengeras) serta akhirnya
kebutaan. Juga dapat timbul hiperkeratosis
(pembentukan selaput tanduk berlebihan),
atrofia dari mukosa dan terhambatnya
pertumbuhan pada anak-anak.
pemakaian yang khas yaitu untuk
terapi buta malam, sebagai profilaksis
terhadap kwashiorkor dan pemberian
secara rutin pada waktu hamil dan laktasi,
juga bagi bayi dan anak-anak sampai usia
6 tahun. Telah ditemukan hubungan erat
antara kadar karoten yang terlampau rendah
dalam diet/darah dan timbulnya kanker paru-
paru dan saluran cerna. Atas dasar penemuan
ini vitamin A/karoten dipakai dalam
megadose sebagai profilaksis dan terapi kedua
jenis kanker itu . Dalam hal ini karoten
diduga berfungsi sebagai anti-promotor kar-
sinogen (lihat Bab 14, Sitostatika).
Efek toksik dari megadose di atas 100.000
U sehari secara kronis (atau lebih dari 1
juta UI sekaligus) berupa mual, muntah,
sakit kepala, halusinasi, juga kulit bersisik
(squamation) dan gatal-gatal, rambut rontok,
persendian nyeri, kelainan darah dan mata,
serta gangguan pertumbuhan pada anak-
anak. WHO menganjurkan maksimal 8.000
U sehari bagi wanita hamil berhubung pada
dosis tinggi (25.000 UI sehari atau lebih) risiko
teratogen atau cacat pada janin meningkat
(1990).
Dosis: pada defisiensi 25-50.000 U sehari
selama maksimal 2 bulan; profilaksis bagi
anak-anak 1.000 U dan dewasa 2.500-5.000 U
sehari (asetat atau palmitat).
Potensi: 1 UI vitamin A = 0,3 mcg
retinol = 0,344 mcg retinol-asetat = 0,55 mcg
retinolpalmitat = 0,18 mcg beta-karoten.
• Oleum iecoris aselli (“minyak ikan”,
levertraan, Scott’s Emulsion, Seven Seas Syrup)
diperoleh dari hati segar ikan Gadus morhua
(cod, kabeljauw). Kandungan kadar vitamin
A dan vitamin D3 agak tinggi, masing-
masing minimal 600 dan 85 U/g. Begitu
pula mengandung sejumlah poly-unsaturated
fatty acids (PUFA), termasuk ±18% asam
lemak omega-3 (EPA, DHA), yang berkhasiat
menurunkan kadar kolesterol (lihat Bab
36, Antilipemika dan Bab 54, Dasar-dasar
diet sehat). Dahulu banyak dipakai bagi
anak-anak sebagai obat pencegah rachitis
dan sebagai obat penguat pada keadaan
lemah sesudah mengalami infeksi (15-30 ml
sehari). Berhubung baunya yang tidak enak
dan kandungan zat-zat toksik (insektisid)
sebagai kotoran, sekarang sudah terdesak
oleh sediaan vitamin murni. Topikal masih
dipakai dalam salep (10%) untuk mem-
bantu penyembuhan luka bakar, namun jangan
dipakai bila luka sudah terinfeksi. Sediaan
kombinasi vitamin A/D sintetik mengandung
campuran dari kedua vitamin terlarut dalam
minyak atau tersolubilisasi dalam air dengan
bantuan suatu detergens (Tween).
1b. Karotenoida
Karotenoida yaitu pigmen alamiah ku-
ning, jingga dan merah yang ada dalam
banyak sayuran, buah-buahan dan bunga.
Dikenal lebih dari 100 senyawa, antara lain 21
zat yang ada dalam darah manusia, yaitu
alfa-, beta- dan gamma-karoten, lycopen, serta
derivat-OH dari ß-karoten (lutein, zeaxanthin
dan cryptoxanthin). Kebutuhan tubuh yaitu
100-150 mg sehari sebagai alfa/beta-karoten
dan lycopen.
• Beta-karoten (Carotaben) yaitu provi-
tamin A terpenting yang diperoleh dari
algae/rumput laut Dunaliella salina yang
membentuknya dalam jumlah besar. Senyawa
ini juga dibuat secara sintetik. Berkhasiat
antioksidan spesifik untuk menetralkan
oksigen singlet reaktif dan mencegah pem-
bentukan radikal-peroxyl akibat peroksidasi
lipida. Juga berperan pada “komunikasi”
intraseluler.
- ß-Karoten alamiah secara kimiawi terdiri
dari rata-rata 60% bentuk-trans dan 40%
bentuk-cis. Cis-karoten dapat menangkap
radikal bebas (efek antioksidan) lebih
kuat dan efektif daripada bentuk transnya.
Sebaliknya, trans karoten memiliki efek
provitamin A terkuat.
- ß-Karoten sintetik terutama mengandung
bentuk trans, daya antioksidannya ±5x
lebih lemah daripada produk alamiah. Daya
antioksidan dari alfa- dan gama-karoten agak
ringan.
Resorpsi dari usus hanya ±30%, yang
dapat ditingkatkan oleh lemak. Dalam hati
sebagian diubah melalui retinal menjadi
retinol (vitamin A) dan selebihnya disimpan
di kulit dan jaringan lemak. Plasma-t½ 10
hari.
pemakaian regular khusus pada penyakit
tertentu (protoporfiria) untuk melindungi kulit
terhadap efek cahaya. Bekerjanya (di kulit)
lambat, sehingga sesudah 2-3 minggu baru
tampak efeknya. Pada terapi alternatif banyak
dipakai untuk prevensi dan sebagai
tambahan pada penanganan berbagai jenis
kanker. pemakaian lainnya yaitu untuk
prevensi gangguan jantung dan pembuluh,
sebaiknya dalam kombinasi dengan lain
antioksidansia. Lihat Bab 54, Dasar-dasar diet
sehat, antioksidansia. Terhadap “sunburn”
tidak bermanfaat. Untuk keperluan farmasi
dan industri makanan dipakai sebagai
zat warna jingga yang aman (E 160a, E dari
Europa), maksimal 5 mg/kg.
Efek samping hanya berupa menguningnya
kulit (reversibel), yang paling nyata di bagian
dalam tangan dan kaki sesudah dipakai
2-6 minggu. Jarang sekali dilaporkan diare
dan nyeri sendi. Pada overdosis tidak terjadi
hipervitaminosa A.
Dosis: oral 25-200 mg sehari. 1 mg
β-karoten = 5556 UI vitamin A.
* Lycopen (pseudo-karoten, E 160d) yaitu
isomer dari beta-karoten, di mana kedua
cincin-enam terbuka dan menjadi dua ikatan
tak-jenuh ekstra. Daya antioksidannya ter-
hadap radikal singlet oxygen dan peroxyl ada-
lah terkuat dari semua antioksidansia dan 3
x lebih efektif daripada b-karoten. Lycopen
ada sebagai kristal merah yang ±8 x
lebih intensif dari karoten, dalam buah-
buahan yang masak, khususnya dalam
tomat (20 mg/kg), grapefruit merah, papaya,
semangka merah dan buah kembang ros. Dalam
tubuh zat ini ditemukan dalam kadar tinggi
di anak-ginjal, prostat dan testes. Penderita
kanker kandung kemih, pankreas dan paru-
paru ternyata memiliki kadar lycopen rendah
di dalam darahnya. Pada kanker paru-
paru diet dengan banyak tomat, sebaiknya
sebagai ketchup, menghasilkan efek nyata
atas survival. dipakai sebagai zat warna
jingga-merah dalam industri makanan (E
160d dalam minyak).
Dosis: pada terapi kanker alternatif 3 dd
1,5 mg. Lihat juga Bab 14, Sitostatika, 8a.
Antioksidansia.
*Lutein dan zeaxanthin diasup dengan pa-
ngan, khususnya dengan sayuran daun ber-
warna hijau tua.ada dalam lensa mata,
juga dalam jumlah tinggi di retina.(selaput
pelangi). Berdaya antioksidan kuat dengan
efek protektif lebih kuat terhadap oksidasi
lipida daripada lycopen. Sangat efektif ter-
hadap FR oksigen singlet (O-) yang sangat
reaktif dan dibentuk a.l. akibat eksposisi
sinar UV pada lensa mata. Oleh sebab itu
O- bisa merusak protein lensa dan memicu
terjadinya cataract (staar).
Sering kali dipakai dalam ilmu kedok-
teran mata komplementer untuk mengurangi
risiko dan progres katarak dan degenerasi
makula senil. Bercak kuning (macula lutea)
yaitu bagian pusat dari selaput pelangi, yang
dibutuhkan untuk melihat secara tajam. Bila
sebab usia lanjut macula cacat akibat proses
oksidatif, daya lihat akan sangat memburuk.
Sebagian besar manula mengidap degenerasi
macula demikian.
Selain itu, lutein juga berkhasiat anti-
aterogen dengan menghindari oksidasi ko-
lesterol-LDL menjadi oksi-LDL Lagi pula
telah dinyatakan berkhasiat antitumor, a.l.
menghambat pertumbuhan kanker payu-
dara dan mengurangi risiko kanker kolon
dan prostat. sebab berasal dari tubuh
sendiri karotenoida berwarna kuning ini
tidak memiliki efek samping yang tidak
diinginkan. Dosis: oral 1-2 dd 3 mg.
1c. Retinoida
Retinoida yaitu derivat retinol yang
khusus dipakai pada penyakit kulit,
antara lain pada akne, psoriasis dan beberapa
jenis kanker kulit, juga secara kontroversial
pada ichtyosis dan kerut muka. Wanita hamil
tidak boleh memakai berhubung sifat
teratogennya. Wanita yang akan menjalani
terapi oral dengan retinoida harus menjalani
antikonsepsi yang dimulai minimal sebulan
sebelum terapi sampai minimal 2 tahun
sesudah penghentian.
* Tretinoin (asam vitamin A, asam retinoat,
Eudyna) yaitu retinol pada mana gugus-
ujung -CH2OH diganti dengan -COOH
(1962). Berkhasiat menstimulasi produksi
sel-sel tanduk dan dengan demikian mence-
gah terbentuknya comedo (Lat. cum edo =
saya turut makan; sumbatan talg). Hanya
dipakai topikal pada bentuk hebat akne
(jerawat) dengan banyak comedo atau pe-
radangan. Gejala acne pada 3-4 minggu
pertama bisa memburuk dan kemudian
baru membaik. Untuk kosmetika dipakai
dalam krem antikerut 0,05% pada photo-aging
(UV) dari kulit. sesudah 3 bulan kulit menjadi
lebih lembut, hiperpigmentasi dan lentigin
dikurangi serta kerut-kerut kecil diratakan.
Efek sama diperoleh dalam 2 bulan dengan
derivatnya tazaroten (krem 0,05-0,1%) (NTvG
2002 ;146 :642)
Efek samping berupa iritasi kulit setempat
dengan rasa terbakar, kemerah-merahan, me-
nyerpih serta hipo- atau hiperpigmentasi.
pemakaian serentak dengan obat acne lain
benzoilperoksida menginaktifkan khasiat-
nya, oleh sebab itu perlu dipakai secara
terpisah.
Dosis: sekali sehari sebagai lotion atau
krem (0,25-0,5 mg/ml), bila kurang berhasil
kadarnya dapat dinaikkan sampai 1 mg/ml.
* Isotretinoin (13-cis-asam retinoat, Roaccutane)
yaitu isomer-cis (1983), yang oral diberikan
pada penderita acne yang resisten terhadap
terapi lain. Berkhasiat mengurangi produksi
lemak (talg) dan antiradang ringan. Dalam
darah zat ini sebagian besar terikat pada
protein (99%), plasma-t½-nya panjang (rata-
rata 15 jam). Dosis: permulaan 1 dd 40 mg,
bila perlu sesudah 2 minggu sampai 2 dd 40
mg, maksimal selama 16 minggu.
* Acitretin (Neotigason) yaitu derivat
tretinoin (dan metabolit dari etretinat),
yang berkhasiat menghambat pembelahan
sel yang pesat, sintesis RNA dan protein
(1989). Oleh sebab itu zat ini khusus
dipakai untuk kasus hebat dari psoriasis
(penyakit sisik) dan beberapa gangguan
keratinisasi lain. Kerjanya panjang (t½: 50
jam) dan ditimbun dalam jaringan lemak.
Etretinat (Tigason) tidak dipakai lagi
sebab plasma-t½-nya terlampau panjang
(100-175 hari). Dosis: oral permulaan 1 dd
25-30 mg d.c. selama 2-4 minggu, bila perlu
dinaikkkan sampai maksimal 75 mg sehari.
Bila dikombinasi dengan kortikosteroida dan
PUVA, dosisnya dapat diturunkan.
2. Kelompok Vitamin B
Kelompok vitamin ini terdiri dari sebelas
senyawa yang sangat berbeda dalam struk-
tur kimiawi dan kegiatan biologisnya. Zat-
zat ini dikelompokkan bersama, sebab
pada awalnya diisolasi dari sumber yang
sama, yakni hati dan ragi. Kebanyakan vita-
min ini berfungsi sebagai ko-enzim pada
metabolisme karbohidrat, asam amino
dan lemak. biasanya vitamin dari
kelompok B ini ada dalam makanan
yang sama, sehingga defisiensinya yaitu
multipel, walaupun gejalanya ditentukan
oleh satu komponen tertentu. Sindrom
defisiensi dapat terjadi pada tiamin, ribo-
flavin, piridoksin, nikotinamida, asam folat
dan sianokobalamin. Komponen lain dari
B-kompleks tidak menunjukkan gejala defi-
siensi pada manusia.
2a. Tiamin: aneurin, vitamin B1
Vitamin ini (Christiaan Eijkman, penemu
dan peraih hadiah Nobel, 1936) terutama
Christiaan Eijkman (1958-1930)
Peraih hadiah Nobel untuk Fisiologi/Ke-
dokteran (1929)
ada dalam kulit luar gandum (dedek,
beras tumbuk, “zilvervlies”), juga dalam
daging babi dan organ (hati, ginjal, otak).
Dalam tubuh zat ini bekerja dalam bentuk
aktifnya, yakni tiaminpirofosfat (ko-karbo-
ksilase) yang berfungsi sebagai ko-enzim
dari karboksilase, yaitu suatu enzim esensial
pada metabolisme karbohidrat (proses dekar-
boksilasi) dan pembentukan bio-energi serta
insulin. Aneurin juga menstimulasi pem-
bentukan eritrosit dan berperan penting pada
regulasi ritme jantung serta berfungsinya
susunan saraf dengan baik.
* Beri–beri. Dahulu, sebelum tahun 1935,
defisiensi tiamin banyak terjadi di negara kita
akibat konsumsi beras giling yang selaput
luarnya (dedek, “zilvervlies”) telah dibu-
ang. memicu hambatan kuat dari pe-
rombakan glukosa, dengan akibat gangguan
fungsi saraf perifer pada otot jantung dan
pada SSP. Ciri-ciri pertamanya yaitu ano-
reksia, obstipasi, kesemutan dan kejang otot,
lalu timbul beri-beri dengan polineuritis,
arteri mendilatasi kuat dan udema, serta
myocardiopati, akhirnya radang otak, hilang
ingatan dan dementia.
pemakaian . Selain pada defisiensi tia-
min, juga dipakai pada neuralgia (nyeri
pada mana urat saraf memegang peranan),
sering kali dikombinasi dengan piridoksin
dan vitamin B12 dalam dosis tinggi, yakni
masing-masing 100 mg dan 1 mg (Neurobion
amp.) Sediaan oral B1-B6-B12 lain yaitu
Bioneuron dan Neurofort. Dalam kalangan
ortomolekuler, kombinasi ini juga dipakai
untuk memperbaiki gejala lemah ingatan.
Sementara orang juga memakai nya bila
melawat ke daerah malaria untuk meng-
halau nyamuk, yang tidak menyukai baunya
yang khas dalam darah. (Untuk maksud sama
dapat juga diminum tablet bawang putih).
Resorpsi maksimal pada pemakaian
oral yaitu 8-15 mg sehari. sesudah dise-
rap, tiamin disalurkan ke semua organ de-
ngan konsentrasi terbesar di hati, ginjal,
jantung dan otak. Tiamin dalam dosis ting-
gi tidak memicu keracunan, kare-
na kelebihannya diekskresi melalui kemih
dalam bentuk utuh atau sebagai metabo-
litnya. Kebutuhan sehari-hari untuk bayi
diperkirakan sekitar 30 mcg/kg berat badan
dan untuk dewasa 1-1,5 mg/kg berat badan.
Sebagian kebutuhan ini disintesis oleh flora
usus.
Dosis: pada defisiensi 3 dd 5-10 mg, profi-
laksis 3 dd 2-5 mg (garam HCl).
• Benfotiamin (1961) dan bisbentiamin
(Beston, *Bestopyron) (1963) yaitu derivat
tiamin yang lebih mudah diresorpsi dan
memberikan kadar darah yang lebih tinggi
daripada tiamin. Tidak memiliki bau tiamin
yang khas pada napas dan keringat. Dosis:
untuk pengobatan sehari 100-300 mg benfo-
tiamin; 5-300 mg bisbentiamin sehari.
100 mg tiamin HCl = 114 mg bisbentiamin =
140 mg benfotiamin
2b. Riboflavin: laktoflavin, vitamin B2
Vitamin berwarna kuning ini (1935)
ada dalam susu, daging, telur, sayur-
mayur, ragi dan roti whole grain (padi-padian
lengkap). Dalam tubuh riboflavin diubah
menjadi 2 ko-enzim, pertama rf-5-fosfat (=
flavin-mononukleotida, FMN), lalu dalam hati
menjadi flavin-adenin-dinukleotida (FAD). Ke-
dua metabolit ini juga disebut flavoprotein,
yang sebagai ko-enzim memegang peranan
esensial pada sintesis antioksidansia faal,
antara lain glutation. Beberapa di antaranya
mengandung logam, misalnya mangan da-
lam xantinoksidase. Vit B2 juga penting bagi
pemeliharaan kesehatan kulit (bibir), mata,
otot dan tulang.
Defisiensi jarang terjadi sebab kebutuhan
tubuh hanya sedikit sekali, untuk bayi ±60 mcg,
dewasa ±1,1 mg dan sewaktu hamil/ laktasi
1,8/2,1 mg sehari. Bila pemasukan kalori
meningkat, maka kebutuhan akan B2 juga
naik. pemakaian lama klorpromazin dan
antidepresiva trisiklis dapat memicu
kekurangan B2, sebab resorpsinya di usus
terhambat akibat terganggunya mekanisme
transpor. Gejala defisiensinya berupa nyeri
tenggorok dan stomatitis dan pada tahap lanjut
timbul radang ujung bibir (cheilosis) dan
radang lidah (glossitis).
Dosis: pada defisiensi 5-10 mg sehari,
profilaksis 2 mg (Na-fosfat).
1 g riboflavin = 1,37 g rf-Na-fosfat.
2c. Nikotinamida: niasinamida, PP faktor,
vitamin B3
Banyak makanan seperti daging, hati,
ginjal, ayam, ikan, gandum, kacang-kacang-
an (nuts) dan kopi mengandung asam niko-
tinat (niasin), yang dalam hati diubah menjadi
niasinamida dan zat aktifnya NAD (niasin-
adenin-dinukleotida). Niasinamida (1937)
merupakan komponen dari dua ko-enzim
(antara lain dari dehidrogenase) yang berperan
pada berbagai proses reduksi-oksidasi
(pernapasan sel, glikolisa dan sintesis lipida).
Niasinamida juga dapat disintesis oleh tubuh
sendiri dengan triptofan dari makanan
sebagai bahan pangkalnya, pada mana 60 mg
triptofan menghasilkan 1 mg vitamin B3.
Fungsi dan pemakaian . Vitamin B3 juga
diperlukan untuk pengubahan triptofan
menjadi serotonin. Kekurangan vitamin B3
memicu kelebihan triptofan di otak
dengan gejala perubahan suasana jiwa dan
perilaku.
triptofan –––> niasinamida
↓ triptofan –––––> serotonin
Pada terapi alternatif dari depresi dan
schizofrenia vitamin B3 (dan vitamin B6)
sering kali dipakai dengan hasil baik
untuk meringankan gejalanya. Di samping
itu vitamin B3 juga merupakan komponen
(bersama logam krom) dari GTF (Glucose
Tolerance Factor), yang esensial bagi efek-
tivitas insulin. Pada percobaan binatang
niasinamida ternyata mampu mencegah
diabetes berkat khasiatnya menghambat sis-
tem imun dan memperbaiki sel-sel-beta yang
rusak. namun penelitian klinis belum dapat
memastikan daya kerja ini. Lihat juga Bab 47,
Insulin.
Niasin praktis tidak dipakai walau-
pun sama efektifnya, sebab efek samping-
nya yang mengganggu (vasodilatasi, muka
merah, gatal-gatal). Defisiensi jarang terjadi
dan khusus di daerah di mana jagung
yaitu pangan utama dengan sedikit sekali
daging (mengandung triptofan). Gejalanya
yaitu gangguan kulit (dermatitis), diare
dan dementia dengan kelainan perilaku.
Kebutuhan seharinya diperkirakan 15 mg
untuk dewasa bila diet mengandung cukup
protein (60-70 g) dan ±4 mg untuk bayi; air
susu ibu mengandung ±0,6 mg/100 ml.
Dosis: pada pellagra (Itali pelle = kulit,
agra = kasar) oral 50-300 mg sehari, profilaksis
15-30 mg sehari. Untuk meringankan gejala
schizofrenia 3 dd 1-2 g. Juga i.m./i.v. 2-5 dd
25-100 mg.
• Inositolniasinat yaitu senyawa inositol
dari niasin yang seperti niasinamida juga
jarang memicu flushing.
2d. Asam pantotenat: vitamin B5
Vitamin ini (1939) ada dalam semua
jaringan tubuh dan praktis dalam berbagai
macam bahan makanan (Yun. pantos = di
mana-mana), namun dapat juga disintesis
oleh flora usus. Hanya d-isomernya yang
aktif dan merupakan bagian dari ko-enzim
A, yang terlibat pada banyak reaksi asetilasi.
Juga berperan pada antara lain sintesis dan
perombakan karbohidrat, lemak dan protein,
juga pada sintesis kolesterol dan hormon
steroida.
Defisiensi belum pernah dilaporkan.
Kebutuhan sehari-hari diperkirakan 5-10 mg
(garam-Ca) bagi dewasa dan sedikit lebih
banyak bagi anak-anak muda. Air susu ibu
mengandung ±0,26 mg per 100 ml.)
Dosis: 5-10 mg sehari (garam Ca).
• d-Pantotenol (dekspantenol, Bepanthen)
yaitu derivat alkohol dari pantotenat dengan
khasiat sama (1944), lagi pula berkhasiat
mempercepat penyembuhan borok. Dosis:
5-10 mg sehari, dalam salep 2-5%.
2e. Piridoksin: adermin, vitamin B6
Derivat piridin ini (1939) ada antara
lain dalam daging, hati, ginjal, telur, gandum
whole grain, kacang kedele dan biji-biji
gandum (wheat germ). Dikenal dalam bentuk
alkohol, aldehida dan amin, yaitu piridoksin,
piridoksal dan piridoksamin. Di dalam hati
vitamin B6 dengan bantuan ko-faktor
riboflavin dan magnesium diubah menjadi
zat aktifnya piridoksal-5-fosfat (P5P). Zat
ini berperan penting sebagai ko-enzim pada
metabolisme protein dan asam-asam amino,
antara lain pada pengubahan triptofan me-
lalui okstriptan menjadi serotonin (lihat Bab
30 Antidepresiva, Triptofan) dan pada sintesis
GABA. Juga mempunyai peranan kecil pada
metabolisme karbohidrat dan lemak.
Defisiensi jarang terjadi, misalnya pada
pasien yang menjalani terapi jangka panjang
dengan INH, hidralazin dan penisilamin yang
meniadakan efek piridoksin. Gejalanya be-
rupa gangguan kulit, stomatitis, glossitis
dan efek neurologi (konvulsi, neuropati dan
sebagainya), sedang pada anak-anak ter-
jadi hambatan pertumbuhan dan anemia.
Kebutuhan sehari-hari diperkirakan 0,3 mg
untuk bayi, 2 mg bagi dewasa (±20 mcg per
gram protein asupan) dan 2,5 mg pada waktu
hamil dan laktasi. Air susu ibu mengandung
±10 mcg/100 ml.
pemakaian nya selain pada keadaan de-
fisiensi, juga terhadap mual-muntah dan
pada depresi post-natal dan depresi akibat
pil anti hamil, mungkin sebab kekurangan
serotonin di otak akibat metabolisme trip-
tofan yang meningkat. Juga dipakai untuk
menurunkan kadar homosistein meningkat,
yang merupakan faktor risiko untuk PJP,
khususnya pada wanita. Lihat juga di ba-
wah asam folat. Dalam megadosis, zat ini
berdasar empiris dianjurkan pada banyak
penyakit lain, misalnya PMS (premenstrual
syndrome), schizofrenia, autisme, hiperkinesia
pada anak-anak, dermatitis atopik dan asma
berat .
Efek samping jarang terjadi dan berupa
reaksi alergi. pemakaian lama dari 500
mg/hari dapat memicu ataksia (jalan
limbung) dan neuropati serius, begitu pula
pada dosis tinggi dari 2-6 g sehari.
Dosis: oral selama terapi dengan antagonis
piridoksin 10-100 mg (HCl) sehari, profilaksis
2-10 mg, mual hamil 50 mg dan pada depresi
akibat pil antihamil 125 mg sehari selama 7
hari sebulan. Pada schizofrenia: 1 dd 250-500
mg. Untuk menurunkan kadar homosistein
yang tinggi 1 dd 250 mg bersama asam folat
5 mg.11b.
• Piridoksal-5-fosfat (PSP, ko-dekarboksilase)
yaitu zat aktif dari piridoksin dengan
pemakaian sama. Daya kerjanya lebih cepat
dan juga lebih efektif. namun resorpsinya tidak
menentu sebab sel-sel usus menghilangkan
molekul fosfatnya sebelum dapat diserap
(Labadarios D et al. Gut 1977; 18: 23-7). Penggu-
naannya khusus dianjurkan bagi pasien
dengan gangguan fungsi hati, yang tidak
mampu mengubah B6 menjadi PSP.
2f. Biotin: vitamin B7, vitamin H
Vitamin ini ada dalam banyak ma-
kanan, lagi pula dapat disintesis oleh flora
usus. Berfungsi sebagai ko-enzim bagi sejum-
lah reaksi transkarboksilasi, oleh sebab itu
penting sekali pada metabolisme protein,
karbohidrat dan lemak.
Defisiensi jarang terjadi dan khususnya
pada bayi bila air susu ibu mengandung
terlampau sedikit biotin, yaitu kurang dari
±0,7 mg/100 ml, dengan gejala radang kulit
(seborrhoeic dermatitis). Putih telur mengan-
dung avidin yang mengikat biotin secara
irreversibel, maka orang yang mengonsumsi
terlalu banyak telur mentah juga dapat
menderita defisiensi biotin. Gejalanya antara
lain rambut rontok dan otot lemah. Kebu-
tuhan sehari-hari diperkirakan 0,1-0,2 mg.
Dosis: pada defisiensi 5-10 mg sehari, pro-
filaksis 0,15 mg.
2g. Asam folat: vitamin B11, folic acid, folacin
Vitamin ini (1947) ada dalam gandum
whole grain, sayuran hijau yang kaya serat
gizi (Lat. folium = daun) dan banyak pangan
lain seperti buncis dan kelapa, daging, ikan,
hati dan ragi. Berkhasiat mencegah spina
bifida pada bayi. Selain itu, berkhasiat
meringankan risiko stroke dan diperkirakan
dapat mencegah PJP (dengan menurunkan
kadar homosistein darah), khususnya infark
jantung serta memiliki daya kerja protektif
terhadap kanker kolon. Pada orang dengan
asupan folat tinggi risikonya akan kanker
kolorektal dapat diturunkan dengan 25%.(Int
J Canc 2005;113:825-8), sebaliknya folat juga
memiliki beberapa efek negatif, yaitu asupan
tinggi folat dapat menyelubungi defisiensi
vitamin B12. lagipula dapat menstimulasi
perkembangan tumor kolon yang sudah ada
(NTvG 2006;150: 1443- 48). Dalam hubungan
ini antagonis folat yaitu metotreksat sudah
sejak puluhan tahun dipakai untuk
menghambat pertumbuhan tumor.
pemakaian pada anemia megaloblaster
akibat defisiensi folat dan sebagai prevensi
rutin selama kehamilan untuk memperkecil
risiko spina bifida pada bayi, juga dipakai
selama terapi rematik dengan metotreksat
untuk mengurangi efek toksik dari antagonis
folat ini.
Efek samping jarang terjadi dan berupa
reaksi alergi, juga gangguan lambung-usus
dan sukar tidur.
Dosis: anemia megaloblaster permulaan
1-2 dd 0,5 mg, pemeliharaan 1 dd 0,1-0,5
mg. Profilaksis spina bifida tiap hari 0,5 mg
dimulai minimal 4 minggu sebelum konsepsi
sampai dengan minggu ke-8 kehamilan.
Untuk menurunkan kadar homosistein yang
tinggi dan aterosklerosis prematur 1 dd 5 mg
bersama vit B6 250 mg 11b .
• Asam folinat (folinic acid, Leucovorine,
Rescuvolin, Vorina) yaitu metabolit folat
yang terbentuk melalui reduksi. Dari cam-
puran rasemis hanya bentuk levonya aktif.
Terutama dipakai sebagai antidotum
terhadap keracunan darah akibat dosis tinggi
MTX. Pada pengobatan rema efek samping
MTX dapat dikurangi tanpa melemahkan
efek antirema. Begitu pula dipakai untuk
menurunkan efek samping kotrimoksazol
terhadap darah. Kombinasi dengan 5-FU
meningkatkan efeknya pada kanker kolo-
rektal yang tersebar. Dosis: oral, i.m. atau i.v.
6 – 100 mg/m2 tergantung dari dosis MTX
yang dipakai .
2h. Sianokobalamin: vitamin B12, extrinsic fac-
tor
Vitamin ini ada dalam semua pro-
duk hewan, terutama dalam daging, hati
dan susu. Di alam dan tubuh vitamin B12
terutama ada sebagai hidrokso-, metil-
dan adenosilkobalamin. Secara kimiawi
vitamin B12 (1950) yang dapat larut dalam
air, memiliki rumus cincin besar dengan
atom kobal di pusat. Kebutuhan sehari-
hari orang sehat yaitu 1-5 mcg, namun se-
lama kehamilan dan laktasi keperluan ini
meningkat sampai masing-masing 3 dan
3,5 mcg. RDA dewasa yaitu 2,5 mcg/hari.
Penelitian telah mengungkapkan, bahwa 25%
dari lansia mengidap kekurangan vitamin B12
dalam tubuhnya, yang dapat memicu
kemunduran fungsi otak dan gangguan daya
ingat, akhirnya juga anemia dan gangguan
neurologi.pemakaian : pada defisiensi dan
untuk mencegah anemia megaloblaster pada
keadaan malabsorpsi.
Dosis pada defisiensi: oral atau sublingual
2 dd 1 mg selama 1 bulan, pemeliharaan
1 mg sehari. Profilaktis dalam sediaan
multivitamin 1-10 mcg sehari, i.m. 0,5-1 mg/
minggu, pemeliharaan 1 mg setiap 2 bulan.
Lihat selanjutnya Bab 39. Hemopoëtika.
• Kobamamide (dibencozide, *Superton) ada-
lah metabolit bioaktif dari vitamin B12 yang
bekerja sebagai ko-enzim. dipakai oromu-
kosal sebagai tablet isap untuk absorpsi
optimal.
• Hidroksokobalamin (hidrokobamin) yaitu
derivat sianokobalamin dengan kerja lebih
panjang dan paling sering dipakai . Dosis:
pada defisiensi i.m. atau s.k. 2 x seminggu 1
mg selama 5 minggu, lalu 1 mg setiap 2 bulan.
3. Vitamin C: asam askorbat, Redoxon, Vitacimin
Vitamin C banyak ada di semua
sayur-mayur, khususnya kol, paprika, pe-
terseli dan asperges, serta buah-buahan
terutama dari jenis sitrus (jeruk nipis dan
jeruk lain), arbei dan buah kembang ros. Juga
agak banyak di kentang bila direbus dengan
kulitnya dan hanya sedikit dalam susu
sapi dan daging, kecuali hati. Dalam tubuh
ada di banyak jaringan, termasuk darah
dan lekosit. Vitamin C mudah dioksidasi dan
diinaktifkan (oksidasi) bila makanan dimasak
terlalu lama. Khasiat terpenting pada dosis
terapeutik yang cukup tnggi yaitu khasiat
antiviral dan antibakteri, yang diperkirakan
berdasar sifat antioksidannya (Dr Th
Levy,Vitamin C, infectious diseases & toxins.
Curing the incurable. 2002). Efeknya sebagai
injeksi askorbat-Ca cepat sekali, mungkin
berkat khasiatnya mampu menetralkan FR
yang selalu banyak ada pada penyakit
infeksi. Semakin parah infeksi, semakin
tinggi dosis yang diperlukan. Kedokteran
alternatif mengklaim dapat menyembuhkan
segala macam penyakit virus, a.l. hepatitis
dan penyakit Pfeiffer(virus Epstein-Barr).
Resorpsi dari usus cepat dan praktis
sempurna (90%) namun menurun pada dosis
di atas 1 g. Distribusi ke semua jaringan
baik. Persediaan tubuh untuk sebagian
besar ada dalam cortex anak ginjal.
Dalam darah sangat mudah dioksidasi se-
cara reversibel menjadi dehidroaskorbat
yang hampir sama aktifnya. Sebagian kecil
dirombak menjadi asam oksalat dengan jalan
pemutusan ikatan antara C2 dan C3. Ekskresi
berlangsung terutama sebagai metabolit
dehidronya dan sedikit sebagai asam oksalat.
Fungsi vitamin C yaitu kompleks dan
yang terpenting yaitu pembentukan kola-
gen, yaitu protein bahan penunjang utama
dalam tulang/ tulang rawan dan jaringan
ikat. Bila sintesis kolagen terganggu, maka
mudah terjadi kerusakan pada dinding pem-
buluh yang berakibat perdarahan. Khasiat
ini antara lain berdasar efek stimulasi
vitamin C terhadap pengubahan prolin men-
jadi hidroksiprolin.
Vitamin C juga menstimulasi banyak pro-
ses metabolisme berkat sistem redoksnya,
yaitu mudah dioksidasi dan direduksi kem-
bali dengan bantuan glutation.
oksidasi
askorbat –––––––> dehidroaskorbat + elektron
<–––––––
reduksi
Pada reaksi ini vitamin C berfungsi sebagai
donor atau akseptor elektron. Beberapa
reaksi pada mana vitamin C dioksidasi ada-
lah hidroksilasi dari prolin (lihat di atas),
dopamin (menjadi noradrenalin) dan hormon
steroid, juga perombakan tirosin. Reaksi pada
mana vitamin C direduksi yaitu misalnya
pengubahan triptofan menjadi serotonin. Se-
lain itu, vitamin C juga berperan pada sintesis
kortikosteroida dari kolesterol dalam anak
ginjal.
Defisiensi dahulu banyak terjadi, antara
lain pada anak buah kapal selama perjalanan
jauh tanpa adanya sayur-mayur atau buah
segar, namun sekarang jarang terjadi lagi.
Gejalanya berupa perdarahan sekitar mata
dan paha, juga gusi dan di bawah kulit
yang disebabkan oleh hilangnya ikatan ko-
lagen serta mudah rusaknya dinding pem-
buluh dan pecahnya kapiler. Borok sukar
sembuh dan akhirnya gigi terlepas. Sindrom
ini disebut skorbut (scurvy, scheurbuik). Ke-
butuhan seharinya (RDA) yaitu 25-40 mg
bagi bayi, 70 mg bagi dewasa, 90 mg bagi
wanita hamil dan 110 mg selama laktasi. Air
susu ibu mengandung ±4 mg vitamin C per
100 ml.
pemakaian nya selain pada terapi dan
pencegahan defisiensi, adakalanya juga un-
tuk mengasamkan urin misalnya pada
infeksi saluran kemih. namun efeknya kurang
memuaskan sebab vitamin C bersifat asam
agak lemah (asam mandelat untuk tujuan
ini lebih efektif!). Di samping itu vitamin
C dalam megadose (sampai 15 g sehari!)
banyak dipakai dalam ilmu pengobatan
alternatif (complementary medicine) untuk
mengobati berbagai macam penyakit, yang
tidak dapat diterima oleh dokter “biasa”
sebab belum ada bukti ilmiah/klinis.
Di antaranya sekadar dapat disebutkan
gangguan-gangguan berikut.
a. Selesma (common cold) dan infeksi lain.
Beberapa peneliti18 telah melaporkan di-
percepatnya penyembuhan ±20% dan
dengan keluhan lebih ringan, bila vitamin
C di minum sedini mungkin. Efek baik
ini diperkirakan berdasar daya imu-
nostimulasinya, pada mana produksi
dan mobilitas leukosit dan makrofag
sangat ditingkatkan pada dosis di atas 2,5
g sehari, juga berdasar pembentukan
interferon.
b. Antilipemik. ada indikasi kuat
bahwa vitamin C dalam dosis 500-
1.000 mg sehari dapat menurunkan ka-
dar kolesterol darah yang meningkat.
Diperkirakan bahwa mekanismenya ada-
lah stimulasi transpor kolesterol dari dinding
pembuluh ke hati serta peningkatan proses
pengubahannya menjadi asam kolat dan
kortikosteroida.
c. Mempercepat penyembuhan borok dan
luka di kulit akibat tekanan, misalnya
pada decubitus (mati jaringan akibat
berbaring untuk waktu lama). Efek ini
diperkirakan berdasar pengubahan:
prolin ––––> hidroksiprolin dan sintesis
kolagen, khususnya di jaringan granulasi
dari luka.
d. Kanker. Dalam dosis 3-10 g vitamin C
sehari dan bersama megadose vitamin
A, E, selenium, zinc dan bioflavonoida
kini sering dipakai sebagai obat kom-
plementer untuk menghambat pertum-
buhan sel-sel kanker. Khasiat antikarsinogen
ini diperkirakan berdasar sifat anti-
oksidannya, lihat Bab 14, Sitostatika.
Di samping itu vitamin C berkhasiat
menghindari pembentukan nitrosamin
(dari nitrat dan asam amino) dalam usus,
yang bersifat karsinogen.
e. Memperbaiki fungsi otot. Vitamin C
(400 mg sehari) melindungi otot terhadap
kerusakan oksidatif selama aktivitas jang-
ka panjang (olahraga) dan menstimulasi
reparasi fungsi otot. Profilaktis vitamin C
dapat dipakai sebelum latihan atau
perlombaan, untuk mencegah terjadinya
otot kaku dan nyeri (2 dd 1 g pada 2
hari berturut-turut). Fungsinya mungkin
dengan cara memperlancar pengeluaran
asam laktat dari otot.
f. Penyakit Pfeiffer dapat efektif ditangani
secara ortomolekuler dengan 3-5 dd 100
mg vit C selama 7 hari.
Efek samping akibat pemakaian lama dari
megadose di atas 1,5 g sehari dapat berupa
diare. Terjadinya batu ginjal oksalat dan urat
pada dosis di atas 1-10 g sehari belum pernah
dilaporkan. Bila terapi dihentikan dengan
mendadak, dapat terjadi rebound scorbut
sebagai reaksi, sebab sistem perombakan
vitamin C telah sangat dirangsang oleh
dosis tinggi. ada la-poran bahwa dosis
di atas 500 mg sehari dapat merusak DNA:
base-DNA guanosin dilindungi terhadap
radikal oksigen, namun kemudian adenosin
dapat dicederai oleh dehidro-askorbat, yang
bekerja sebagai pro-oksidan. Penemuan ini
dibantah berdasar banyak studi lain,
sebab reduksi dari dehi-dro-vitamin C
oleh glutation kembali menjadi vitamin C
berlangsung sedemikian cepat sehingga
tidak sempat mencederai adenosin.
Interaksi. Vitamin C meningkatkan resorpsi
besi, sedang vitamin B12 diperlemah efek-
nya sehingga dapat terjadi defisiensi. Dosis
di atas 10 g sehari memperlambat efek anti-
koagulansia oral.
Dosis: pada defisiensi 2 dd 250-500 mg
p.c., bayi 100 mg sehari, profilaktis 100–1.000
mg sehari. Bila lambung peka terhadap asam,
sebaiknya memakai garam Ca atau Mg-
askorbat yang bereaksi netral.Terapi alter-
natif penyakit Pfeiffer: 3-4 dd 1000 mg selama
7-10 hari.
4. Bioflavonoida
Bioflavonoida yaitu senyawa polifenol
dengan rumus difenilpropan, yang ada
dalam hampir semua bahan makanan nabati.
Secara kimia dapat dibedakan 4 kelompok
yang semua memiliki rumus dasar flavon,
yaitu:
• zat-zat flavon : apigenin, chrysin dan lu-
teolin
• zat-zat isoflavon : genistein, daidzein
• zat-zat flavonol : quercetin, kaempferol dan
myricetin
• zat-zat flavan : catechin (banyak dalam
daun teh hijau, daun teh yang tidak difer-
mentasi) dan dalam kulit pohon kayu
manis (Extract.Cortex cinnamomi), lihat
Bab 47,Antidiabetika.
Flavonoida memiliki beberapa khasiat penting,
yakni:
- antioksidan kuat, berdasar daya kerja-
nya “menangkap” radikal bebas;
- menghambat oksidasi LDL-kolesterol dan
menghambat aterosklerosis;
- menghambat induksi kimiawi dari tumor
melalui stimulasi enzim yang mengin-
aktifkan induktornya. Khusus polifenol
dengan rumus dihidroksi berkhasiat
antitumor, antara lain genistein, quercetin
dan catechin (dalam gambir = catechu);
- meregulasi kadar glukosa darah dengan
memperkuat khasiat insulin.
• Rutosida (zat-zat rutin). Di samping zat-zat
itu di atas, juga rutin dan hesperidin
dengan struktur benzopiran, termasuk
kelompok flavonoida. Glikosida ini ada
dalam kulit buah sitrus (jeruk), paprika dan
banyak tumbuhan lain. Dahulu diberi nama
“vitamin P”, sebab diperkirakan memiliki
daya meningkatkan permeabilitas dinding
pembuluh dengan efek antiradang. sebab
ternyata tidak mutlak diperlukan bagi tubuh
kini nama itu tidak dipakai lagi. Pada
hewan zat-zat ini berkhasiat memperkuat
dinding kapiler dan meningkatkan permea-
bilitasnya bagi eritrosit. Kekurangan zat
ini memicu bintik-bintik merah kecil
di bawah kulit (perdarahan). berdasar
sifatnya yang mengurangi fragilitas kapiler
zat ini dipakai pada berbagai gangguan
vena, seperti varices (vena betis mekar), wasir,
ulcus cruris (borok pada tungkai), retinopati
dan hematoma. Yang dipakai dalam tera-
pi yaitu beberapa turunan dari rutin, wa-
laupun agak kontroversial.
4a. Hidroksietilrutosida (troxerutin, Venaron,
Venoruton) yaitu derivat rutin. Diguna-
kan pada insufisiensi vena kronis untuk
mengurangi gejalanya seperti udema, kejang
otot, rasa berat dan nyeri di kaki. Juga
diperkirakan efektif (±80%) terhadap kejang
kaki pada waktu tidur (restless legs).
Dosis: 3-4 dd 300 mg.
4b. Genistein
Genistein, daidzein dan glisitein yaitu
isoflavon yang bersama glikosidanya, yaitu
genistin, daidzin dan glisitin, ada da-
lam kedelai. Zat-zat ini juga disebut fito-
estrogen sebab dapat menduduki reseptor
estrogen, meskipun rumus bangunnya tidak
ada kemiripan dengan steroida. Berkhasiat
antitumor dengan cara memblok reseptor
estrogen, menghambat angiogenesis dan
tyrosinkinase, sebagai antioksidan juga
berdaya menstimulir sistem imun. Berkat sifat
ini genistein dipakai untuk menghentikan
pertumbuhan beberapa jenis kanker dengan
‘estrogen-dependent receptors’, misalnya kan-
ker mamma, ovarium dan prostat.
Dosis: untuk prevensi 3 dd 20-30 mg ge-
nistein/genistin (ekstrak soya dengan 40%
isoflavon). Sebagai obat tambahan pada
kanker 3 dd 150-300 mg genistein/genistin.
Sebaiknya diminum bersamaan dengan
yoghurt atau bubur.
4c. Quercetin
Flavonol ini ada di banyak sayuran
dan buah-buahan; sumber terpenting yaitu
bawang, buah apel, dan teh, lihat tabel. Da-
lam bahan-bahan itu quercetin (seba-
gai aglukon) terikat pada masing-masing
glukosa, galaktosa dan rutinosida menjadi
glikosidanya. Resorpsi dari usus 20-50%,
waktu paruhnya panjang, ±25 jam. Berkhasiat
antitumor kuat antara lain dengan mengikat
zat-zat karsinogen dan menghambat proli-
ferasi sel melalui inisiasi apoptosis. Kha-
siat inhibisinya terhadap tumor ovarium
diperkuat oleh kombinasi dengan genistein
26 dan vitamin C.
Di samping itu berkhasiat antioksidan
dengan antara lain menghambat oksida-
si LDL-kolesterol dan melindungi terha-
dap sitotoksisitas dari oksi-LDL (merusak
endotel dengan peningkatan permeabili-
tasnya). Sistem imun distimulasi olehnya.
Berkat sifat ini dianjurkan sebagai obat
tambahan pada kanker dan untuk prevensi
penyakit jantung.
Dosis: pada kanker 2-3 dd 400-600 mg,
untuk prevensi PJP 1-2 dd 100 mg. Lihat juga
Bab 14, Sitostatika, Obat-obat alternatif.
4d. Ekstrak teh hijau
Teh hijau terdiri dari daun Camellia sinen-
sis kering yang tidak difermentasi, sehingga
mengandung banyak flavonoida catechin
sebab tidak dioksidasi secara enzimatik
menjadi tanin. Selain catechin, juga mengan-
dung lain-lain polifenol, antara lain coffeic
acid, cholic acid dan syringic acid, juga vitamin
K dan sedikit kofein. Lihat juga Bab 23,
Drugs, Kofein dan Bab 14, Onkolitika, Anti-
oksidansia. Telah dibuktikan bahwa teh hijau
Tabel 53-2: Kadar quercetin dalam
beberapa bahan makanan
memiliki sejumlah daya kerja berdasar
khasiat antioksidan kuat, yang tidak dimiliki
teh hitam. Zat-zat polifenol itu dapat
menginaktifkan secara efektif peroksida li-
pida, seperti anion superoksida. Yang ter-
penting yaitu efek antitumor, antilipemik
dan anti-aterosklerosis, antibakterial kuat,
hepatoprotektif dan efek thermogen aki-
bat stimulasi pembakaran lemak. Daya me-
lindunginya terhadap hati tampil sebagai
penurunan kadar enzim GOT dan GPT.
Efek antitumornya selain akibat efek
antioksidannya dan stimulasi sistem imun,
juga dihubungkan dengan penghambatan
pembentukan zat nitroso yang terbentuk
dalam usus dari nitrit dan asam amino, mirip
khasiat vitamin C. Lagi pula menghambat
efek mutagen dari banyak zat karsinogen
dengan cara mengikatnya. Inhibisi dari sel-
sel leukemia berlangsung melalui aktivasi
dari apoptosis. dipakai sebagai ekstrak
atau minuman teh pada penanganan alter-
natif dari semua jenis kanker, juga pada pre-
vensi dan penanganan hiperlipidemia dan
aterosklerosis.
Dosis: 1-3 dd 250 mg (kapsul dengan
50-60% polifenol). Lihat juga Bab 23 Drugs,
Kofein.
4e. Ekstrak Kayu manis: ZN 112, Diabecinn
Ekstrak kering ini dibuat dari kulit
kayu manis dan mengandung procianida
oligomer, a.l. beberapa trimer dan tetramer,
juga monomer (epi) catechin. Zat-zat ini mam-
pu memperkuat khasiat insulin dengan 20
kali pada tingkat reseptor. dipakai secara
komplementer di samping medikasi regular
untuk menurunkan kadar glukosa darah
pada diabetes tipe-2. Efek samping berupa
hipersensitivitas yang jarang sekali terjadi.
Dosis: oral 1-3 dd 1 caps. dari 112 mg eks-
trak kering yang distandardisasi, ½ jam a.c.
Alam Khan et al. Diab.Care, Cinnamom
improves glucose and lipids of people with type-2
diabetes; Diab Care 2003;26: 3215-18.)
4f. Pro-anthocyanidin: OPC, pycnogenol
Kelompok bioflavonoida ini ada
banyak dalam biji anggur dan juga dalam kulit
pohon cemara (Pinus maritima). Sumber lain
yaitu sayuran dan biji/kulit buah-buahan,
namun diuraikan sewaktu pemasakan. OPC
(Oligomeric Pro-Anthocyanidins) berkhasiat
antioksidan kuat sekali dengan daya kerja
50 dan 1.000 x lebih kuat daripada masing-
masing vitamin E dan vitamin C. OPC dapat
mereaktifkan kembali (recycling) vitamin
C yang telah teroksidasi. Melarut dalam air
namun bekerja bifasis, artinya aktif baik da-
lam lingkungan air maupun lipida. Efek
antioksidatif ini khusus terjadi di membran
sel dari jaringan pengikat kolagen (termasuk
dalam arteri) dan endotel (termasuk dinding
vena/kapiler). Khasiatnya memperkuat ko-
lagen berdasar melindungi dan mem-
perkuat “jembatan” hidrogen antara serat
yang berpasangan (paired strands) dari poli-
peptida yang memberikan keteguhan pada
kolagen. Pada proses menua struktur itu
diperlemah oleh FR dan enzim (elastase, colla-
genase) yang memicu kelebihan cross-
linking antara serat kolagen. Sebagai akibat
kulit hilang kelenturannya dan menjadi le-
mah serta keriput. OPC juga berdaya anti-
histamin dengan menghindarkan pelepasan
histamin dari mastcells akibat aktivasi oleh
FR. Di samping itu juga menghambat enzim
histidinkarboksilase, yang mengubah histidin
–––> histamin. Berkat sifat melindunginya
terhadap endotel pembuluh (angioprotektif),
OPC berguna sekali pada gangguan sirkulasi
dalam kapiler (claudicatio) dan pada varicose
(pemekaran pembuluh balik setempat).
Resorpsi dalam usus cepat dan baik untuk
segera didistribusikan ke jaringan yang
kaya akan kolagen dan glukosaminglikan.
Masa paruhnya 5 jam, namun dalam jaringan
kolagen bertahan lebih lama, sampai 70 jam.
Sampai sekarang belum dilaporkan adanya
efek samping.
Dosis: 1-2 dd 50-75 mg, diminum dengan
banyak air agar BA-nya optimal.
5. Kelompok vitamin D
Kelompok vitamin D mencakup ergokalsi-
ferol (D2), kolekalsiferol (D3alamiah) dan
beberapa turunannya yang semuanya me-
miliki rumus steroid. Dengan nama umum,
vitamin D selanjutnya dimaksudkan zat-
zat itu dengan aktivitas biologis dari
kolekalsiferol alamiah.
Vitamin D2 dibentuk dalam tubuh dari
provitamin ergosterol yang antara lain
ada dalam ragi. Vitamin D3 banyak
ada dalam ikan berlemak dan minyak
ikan kabeljauw (cod) (bersama vitamin A)
dan relatif sedikit dalam susu, kuning telur
dan hati. Dalam kulit ada provitamin
7-dehidrokolesterol, yang di bawah pengaruh
sinar UV diubah menjadi vitamin D3. Bebe-
rapa bahan makanan seperti margarin, lazim-
nya diperkaya dengan vitamin A dan D.
Resorpsi dari usus baik dan melalui limfe
memasuki darah dalam bentuk chylomikron,
suatu lipoprotein besar. Metabolisme vitamin
D2 dan D3 berlangsung sejajar, kedua-dua-
nya dalam hati dihidroksilasi menjadi se-
nyawa 25-OH-nya dan kemudian dalam
tubuli ginjal menjadi derivat 1,25-dihidroksi.
Kedua metabolit ini, yaitu 1,25-(OH)2D2 dan
1,25-(OH)2D3 (= kalsitriol) bersama 24,25-
(OH)2D3 merupakan bentuk bioaktif vitamin
D. Selain itu, juga 25(OH)D3 (= kalsifediol)
memiliki aktivitas sendiri. Untuk jelasnya
lihat skema di bawah ini. Penimbunan vita-
min D terutama terjadi di jaringan lemak dan
hati; ekskresi berlangsung terutama melalui
empedu dan tinja.
Khasiat
Di samping peranan penting dari vitamin
D pada mineralisasi jaringan tulang dan pada
fungsi otot juga ada berbagai efek lain
bagi kesehatan, misalnya peranan fisiologinya
pada penyakit auto-imun, kanker colon dan
penyakit jantung/pembuluh. Defisiensi vita-
min ini sering kali timbul pada lansia, oleh
sebab itu suplesinya dalam kombinasi
Sinar ultraviolet terdiri dari 3 komponen,
yakni UV-A, UV-B dan UV-C dengan panjang
gelombang menurun. UV-A mencakup ±90%
dari sinar matahari dan membuat “hitam”nya
kulit (“tanning”) dan dipakai pada banku
matahari (“sunbank”). UV-C sangat merusak
kulit, namun sinar ini ditahan oleh lapisan
ozon. UV-B, sinar gelombang menengah,
hanya merupakan 0,2% dari sinar matahari
total, namun sangat penting sebab memicu
pembentukan vitamin D3 dari provitaminnya.
Untuk pengubahan ini ±15 menit sinar
matahari sehari sudah cukup, bahkan bila
terkena secara tidak langsung (di tempat
teduh). Lagi pula UV-B bersifat melindungi
kulit terhadap pembakaran lebih lanjut melalui
menebalan lapisan tanduk. Namun eksposisi
terlampau lama sering memicu pig-
mentasi dan terbakarnya kulit. Pada orang
kulit putih sinar ini juga bertanggung-jawab
atas dipercepatnya proses menua kulit (men-
jadi kriput) serta melanoma dan kanker sel
basal dari kulit akibat penekanan imunitas
seluler kulit.
Melindungi kulit terhadap terbakar sinar
matahari (sunburn)dapat dilakukan dengan
mengolesi kulit dengan krem yang mengan-
dung suatu zat penyaring UV (sunblock), yang
menahan UV-A dan UV-B. UV-filter yang
banyak dipakai yaitu hidrochinon.
Gambar 53-3: Panjang gelombang sinar UV
dengan kalsium dapat mengurangi jumlah
insidensi jatuh serta patah tulang pinggang
maupun fraktur tulang lain dengan 10-20%.
Oleh sebab itu dianjurkan untuk mensuplesi
para lansia di atas usia 70 tahun terutama
yang menderita osteoporosis dengan 20 ug
(800 IE) sehari kolekalsiferol (vitamin D3).
Vitamin D berdaya menstimulasi resorpsi
aktif kalsium dan fosfat dari usus halus,
juga reabsorpsinya oleh ginjal. Mekanisme
kerjanya yaitu melalui stimulasi sintesis
CBP (Calcium Binding Protein), yang mengikat
Ca untuk selanjutnya diserap secara aktif
oleh usus. Bersama hormon tiroid kalsitonin
dan hormon paratiroid parathormon (PTH),
vitamin D menstimulasi mobilisasi (penge-
luaran dan terlarutnya kalsium dari tulang ke
darah) dengan hasil akhir kadar Ca dan fosfat
darah meningkat. Pada proses demineralisasi
ini kalsitriol berperanan penting; sebaliknya
24,25-(OH)2D3 khusus berfungsi mendorong
mineralisasi tulang dan dengan demikian
mencegah demineralisasi terlampau kuat.
Selain itu, parathormon juga menstimulasi
sintesis kalsitriol dan menghambat reabsorpsi
Ca dan P di ginjal dengan efek naiknya kadar
Ca dan turunnya kadar fosfat. Kalsitonin
sebaliknya mendorong mineralisasi tulang
di samping menghambat reabsorpsi Ca dan
P di ginjal dengan efek akhir turunnya kedua
kadar Ca dan fosfat. Dalam dosis tinggi
vitamin D menstimulasi perombakan tulang.
Vitamin D3 berperan penting pada regulasi
fungsi sistem imun.
Penelitian telah mengungkapkan bahwa
vitamin D mempunyai fungsi lebih banyak
dalam tubuh dari pada hanya peranan pusat
dalam metabolisme kalsium dan fosfor.
Reseptor vit D selain di kulit dan usus,
juga telah ditemukan di otak, jantung, lam-
bung, pankreas, testis, ovarium, limfo-T dan
limfo-B teraktivasi.
Vit D aktif (D3) berkhasiat menghambat
proliferasi sel kanker dan memegang pe-
ranan penting pada prevensi terjadinya kan-
ker dan PJP, juga dari penyakit autoimun
(diabetes tipe-1, rema dan MS).
Defisiensi memicu berkurangnya
resorpsi Ca dan P yang penting sekali bagi
kerangka. Akibatnya jaringan tulang diganti
oleh tulang rawan yang lebih lunak, mudah
melengkung dan memicu deformasi
setempat. Pada anak-anak perkembangan
kerangkanya terhenti dan terjadilah rachitis
atau penyakit Inggris dengan bercirikan
kaki bengkok (X-legs atau O-legs). Pada
orang dewasa terjadi osteomalacia (Yun.
osteon = tulang; malakia = lembek) dengan
ciri perasaan lemah dan letih serta menjadi
bungkuk, di samping kadar Ca dan P darah
menurun dengan akibat hiperparatirosis
sekunder. pemicu defisiensi yaitu anta-
ra lain malabsorpsi sebab diare atau stea-
torrea, ataupun sebab kelainan ginjal
yang menghambat reabsorpsi Ca dan P
(rachitis yang resisten terhadap vitamin
D). Rachitis “biasa” khususnya ada di
daerah-daerah dengan iklim sedang dengan
kurang sinar matahari. Hypovitaminosis
D memperlihatkan gejala seperti sakit dan
lemah otot atau rasa letih.Status vit D dalam
tubuh dapat dievaluasi di laboratorium dari
kadar kalsidiol [25(OH)D}dalam darah. Peng-
gunaannya terutama pada semua keadaan
defisiensi vitamin D, juga yang diakibatkan
oleh defek pada metabolisme vitamin D
dengan kekurangan kalsitriol. Begitu pula
pada penyakit tulang (osteoporosis) pada
mana ada kekurangan Ca dan P dalam
darah, serta pada hipofungsi paratiroid,
misalnya sesudah operasi gondok. Untuk
pencegahan defisiensi, vitamin D diberikan
secara rutin pada bayi dan anak-anak sampai
usia 6 tahun.
Pilihan obat tergantung dari keadaan,
misalnya bila fungsi ginjal kurang baik
sebaiknya dipakai kalsitriol atau alfa-
kalsidol yang tidak usah diaktifkan lagi
di dalam ginjal, lagi pula efeknya lebih
cepat daripada vitamin D2 dan D3. Pada
hipoparatirosis biasanya dipakai derivat
sintetik dihidrotachysterol, yang selain
bekerja cepat juga kurang berkumulasi
seperti zat-zat lainnya.
Efek samping. Pada overdosis ringan
vitamin D sudah bisa toksik dengan akibat
peningkatan resorpsi Ca dari usus dan de-
mineralisasi kerangka. Hal ini juga terjadi
sebagai reaksi terhadap hipoparatirosis. Aki-
batnya kadar Ca darah meningkat (hiper-
kalsiëmia) dan terendapnya Ca sebagai kal-
siumfosfat di ginjal (batu), lensa mata
(cataract), dinding pembuluh, jantung dan
organ-organ lainnya, dengan memicu
kerusakan jaringan dan hipertensi. Gejala
lain yaitu mual, muntah, diare, sakit kepala,
mengantuk (letargi), haus dan poliuria.
Overdosis dapat ditangani untuk waktu
singkat dengan prednison atau kalsitonin.
Interaksi dengan obat lain dapat terjadi,
misalnya dengan fenobarbital dan fenitoin
yang mengurangi efek vitamin D, baik sebab
perombakannya dipercepat melalui induksi
enzim atau sebab hambatan aktivasinya
(reaksi hidroksilasi).
5a. Ergokalsiferol (kalsiferol, vitamin D2) ada-
lah vitamin D tertua (1921) yang banyak di-
gunakan dalam sediaan multi-vitamin.
Dosis: pada defisiensi 1-2 mg sehari,
sebagai penunjang 400 U. Pada sindrom
malabsorpsi 10-50.000 U sehari, pada hipo-
paratirosis 50-200.000 U sehari.
1 mg vitamin D2 = 40.000 UI atau 1 UI vita-
min D2 = 0,025 mcg.
5b. Kolekalsiferol (vitamin D3, Devaron, Neo-
Dohyfral) yaitu vitamin D alamiah (1930)
dengan efek lambat (baru sesudah bebe-
rapa minggu), namun berlangsung lama ka-
rena adanya timbunan di lemak dan hati.
Dalam megadosis efektif untuk mencegah
«wintertoes» di musim dingin, pada waktu
mana jari-jari kaki-tangan mengembang,
menjadi merah, dan gatal.
Dosisnya sama dengan vitamin D2. Sebagai
profilaksis terhadap wintertoes (perniones) 2
kali setahun 300.000 U dalam larutan minyak
atau 600.000 U sekaligus (i.m.). 1 mg = 40.000
UI.
5c. Kalsitriol (1,25 dihidroksikolekalsiferol,1,25
(OH)2D3 Rocaltrol) yaitu metabolit vitamin
D3 yang paling aktif (1978) dengan kerja
panjang (plasma-t½ 7-12 jam). Hormon ini
terikat pada reseptor vitamin D. Kalsitriol
disintesis dalam ginjal dari 25-hidroksi-kal-
siferol, yang terbentuk di dalam hati dari
kolekalsiferol. Perbandingan aktivitasnya
yaitu : 1 mcg kalsitriol = 1 mcg alfakalsidol =
100 mcg kalsifediol = 500 mg DH-tachysterol.
Dosis: pada rachitis dan hipoparatirosis
permulaan oral 250 mcg sehari, bila perlu
dinaikkan setiap minggu 250 mcg dengan
kadar Ca dalam darah sebagai penuntun.
5d. Alfakalsidol(1-a-hidroksikalsidol, Etalpha)
yaitu derivat yang hanya perlu hidroksilasi
di hati untuk menjadi kalsitriol aktif (1978),
sehingga dapat dipakai pada insufisiensi
ginjal. Mulai efeknya lebih cepat (dalam bebe-
rapa hari) dibandingkan vitamin D2 dan D3.
Dosis: pada defisiensi permulaan oral 250-
500 mcg sehari, bila perlu dinaikkan setiap
minggu dengan 250 mcg.
5e. Dihidrotachysterol (Dihydral, AT-10) ada-
lah derivat sintetik dari vitamin D2 (1947)
yang dalam hati diubah menjadi zat aktifnya
25(OH)DHT. Seperti vitamin D2 dan D3, zat
ini berkhasiat meningkatkan resorpsi kal-
sium, namun daya kerjanya lebih ringan. Efek
demineralisasinya terhadap tulang lebih ku-
at. Mulai kerjanya juga sesudah beberapa hari.
Dosis: pada rachitis oral 0,5-2 mg sehari;
sebagai penunjang 0,2-1,5 mg.
6. d-a-Tokoferol: vitamin E, Evion,
Natur-E, *Fundamin -E
Vitamin yang larut dalam minyak ini banyak
ada dalam minyak nabati, ter-utama
yang mengandung PUFA, seperti minyak
jagung, kedele, kembang matahari dan mi-
nyak wheat-germ (1 mg per ml). Juga di dalam
padi-padian lengkap (whole grain), ragi,
hati, trubuk, kuning telur dan sayur-mayur.
Dikenal 4 bentuk tokoferol, yakni alfa-, be-
ta-, gamma- serta delta-tokoferol ; isomer
d-alfa memiliki kegiatan terbesar. DL-alfa-
tokoferol dapat dibuat secara sintetik, namun
36% kurang aktif. Berkhasiat melindungi
trombosit terhadap oksidasi dan dengan
demikian mencegah terjadinya trombi dan
trombosis, sehingga melancarkan sirkulasi
darah, menstimulasi pernapasan sel dan
menghambat pembentukan parut (bekas
luka).
Fungsi biologisnya belum diketahui de-
ngan jelas, mungkin sekali vitamin E bekerja
sebagai antioksidan yang melindungi asam
lemak tak-jenuh terhadap oksidasi oleh radikal
oksigen yang biasanya dibebaskan pada pro-
ses metabolisme dalam hati. Indikasi untuk
teori ini ialah ada nya vitamin E bersama
asam linolat dalam membran sel, sedang
kebanyakan minyak tumbuhan yang kaya
PUFA juga mengandung vitamin E. Fungsi
antioksidannya diperkuat oleh vitamin C
dan asam liponat, yang berdaya mereduksi
kembali vitamin E yang telah dioksidasi oleh
FR, sehingga dapat melanjutkan fungsinya.
Defisiensi jarang sekali terjadi, khusus
pada bayi prematur dengan anemia khas
akibat kelainan struktur mem










