Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 48

 





dalam sediaan ragi bir, bersamaan dengan 

zat-zat karbohidrat, protein dan enzim. 

• Flavonoida, juga disebut polifenol (qu-

ercetin, genistein, rutin, hesperidin, dan 

lain-lain) yaitu  zat-zat nabati yang ter-

dapat sebagai glikosidanya (senyawa de-

ngan sakarida) dalam banyak makanan. 

Khususnya ada  dalam teh dan bawang 

(putih), namun  juga dalam sayur-mayur dan 

buah-buahan (terutama apel dan anggur 

merah), sering kali dalam zat-zat berwarna 

merah, jingga, kuning atau hijau. Meskipun 

pada prinsipnya bukan merupakan vitamin, 

namun zat-zat ini sangat penting bagi tubuh 

berkat daya antioksidan, bersama sifat anti-

tumor dan anti-aterogennya. Seperti te- 

lah diutarakan di bab-bab terdahulu, anti-

oksidansia melindungi jaringan terhadap 

kerusakan oksidatif akibat radikal bebas 

yang berasal dari proses-proses dalam 

tubuh atau dari luar. Penelitian ilmiah dari 

tahun-tahun terakhir menegaskan bahwa 

zat-zat ini memegang peranan penting 

pada pemeliharaan kesehatan dan prevensi 

berbagai penyakit, antara lain gangguan 

jantung dan pembuluh, paru-paru dan kanker. 

berdasar  penemuan ini berbagai Dewan 

Nutrisi negara-negara Barat menghimbau 

untuk mengonsumsi sekurang-kurangnya 

200 g sayuran dan 2 jenis buah sehari. Lihat 

juga Bab 54, Dasar-dasar Diet Sehat. 

Semua flavonoida mudah diserap oleh 

usus dan lancar pula ekskresinya lewat 

kemih atau tinja, maka bahaya kumulasi ri-

ngan sekali. biasanya  tidak bersifat 

toksik. Penimbunannya dalam jaringan ha- 

nya sedikit dan gejala defisiensi sudah tam-

pak sesudah  lebih kurang 4 bulan.

b . Vitamin larut-lemak (lipofil): A, D, E 

dan K.

Zat-zat ini larut dalam lemak dan diserap 

bersamaan dengan lemak, kemudian melalui 

sistem limfe masuk ke dalam darah dengan 

lipoprotein tertentu (chylomikron). Gangguan 

pada pencernaan lemak, seperti kekurangan 

asam empedu, mengurangi resorpsinya. Eks-

kresinya berlangsung lambat (masa paruh 

panjang), sehingga dapat terjadi kumulasi 

dan efek toksik. Hati dan jaringan lemak 

dapat menimbun zat-zat ini dalam jumlah 

besar, maka gejala defisiensi baru menjadi 

nyata sesudah  lebih dari satu tahun, kecuali 

pada vitamin K (lebih cepat).

Toksisitas

biasanya  derajat toksisitas vitamin 

rendah sekali, terutama vitamin yang larut 

dalam air dan pada kadar darah tertentu 

diekskresi melalui urin.Vitamin B6 bersifat 

neurotoksik dan dapat merusak sistem saraf 

perifer bila dipakai  pada dosis tinggi 

untuk jangka waktu lama (neuropati ), 

Editorial Lancet 1998; 351: 1523.

* Asam folat dalam dosis di atas 1 mg/hari 

dapat menyelubungi defisiensi vit B12, yang 

bisa menjadi fatal.

Vitamin yang melarut dalam minyak sebab  

bersifat kumulasi dapat memicu  efek 

samping yang tidak diinginkan, terutama 

vitamin A dan vitamin D. Kedua vitamin ini, 

asam folat, seng, selen dan iodium tergolong 

nutrien yang indeks terapinya agak sempit, 

artinya RDA-nya terletak berdekatan dengan 

dosis toksiknya yang dapat memicu  

efek merugikan. 


• Vitamin A. pemakaian  lama (beberapa 

bulan) dari retinol dalam dosis di atas 50.000 

UI/hari dapat memicu  intoksikasi kro-

nis. Gejalanya berupa hiperosteosis dengan 

rasa nyeri dari tulang kaki (menjadi tebal), 

juga malaise, nyeri kepala/sendi, pusing, 

demam, keluhan lambung-usus, pembesaran 

hati dan limpa, perubahan pada kulit dan 

mukosa serta kelainan hematologi. Pada 

anak-anak vitamin A lebih toksik daripada 

bagi orang dewasa, juga wanita hamil harus 

berhati-hati jangan sampai memakai nya 

di atas 8.000 U sehari berhubung sifat tera-

togennya. 

• Vitamin D selama waktu lama pada 

dosis tinggi, yaitu bagi orang dewasa lebih 

dari 50.000-100.000 U kolekalsiferol/hari 

dan bagi anak-anak di atas 1.000-4.000 U, 

dapat memicu  intoksikasi kronis. 

Gejalanya berupa hiperkalsiemia akibat ter-

larutnya kalsium dari kerangka, dengan 

endapan kalsiumfosfat di berbagai organ 

(kornea, pembuluh, jantung, ginjal, lambung, 

paru-paru dan sendi). Juga osteoporosis, 

penghambatan pertumbuhan pada anak-

anak, aritmia, nyeri otot dan sendi, gangguan 

lambung-usus dan fungsi ginjal, rasa lemah 

serta letih. Kerusakan pada janin baru timbul 

pada dosis sangat tinggi, di atas 10.000 U/kg 

berat badan, namun  tidak sehebat vitamin A.

Kehamilan dan laktasi. Semua vitamin 

dapat dipakai  selama kehamilan dan 

laktasi dalam dosis biasa, juga vitamin D3 

(kolekalsiferol) 400 UI/hari. Hanya dosis 

vitamin A tidak boleh melebihi 8.000 UI /

hari.

MONOGRAFI

1. Kelompok vitamin A

Vitamin A yaitu  nama umum bagi senyawa 

retinoida yang memiliki khasiat biologis 

dari retinol. Sebagai ester zat ini terutama 

ada  dalam pangan hewani, seperti susu 

dan produk-produknya, kuning telur, hati 

dan dengan kadar tinggi dalam minyak ikan. 

Kebutuhan sehari-hari vitamin A sebagian 

dipenuhi oleh karotenoida (provitamin A), 

yakni kompleks dari 2 molekul retinol yang 

dalam usus diuraikan menjadi vitamin 

aktif. Provitamin A ada  dalam banyak 

sayuran hijau tua, berbagai jenis kol dan 

sebagai pigmen kuning-jingga dari berbagai 

buah dan sayur, antara lain wortel dan tomat, 

lemak susu dan kuning telur.

1a. Retinol: vitamin A, axeroftol

Resorpsi di usus cepat dan praktis sem-

purna, kecuali bila dosisnya terlampau 

tinggi. Resorpsinya lebih cepat dalam bentuk 

“larutan” air (emulsi homogen) daripada 

larutan minyak. Zat ini terikat dan ditranspor 

dengan RBP (Retinol Binding Protein), seba-

gian dioksidasi menjadi retinal dan asam 

retinoat, yang bersama glukuronidanya di-

ekskresi lewat kemih dan tinja. Sebagian 

retinol ditimbun dalam hati yang cukup bagi 

kebutuhan 7-8 bulan.

Fungsinya beragam, yakni vitamin A 

penting sekali bagi sintesis rodopsin, suatu 

pigmen fotosensitif yang terurai oleh cahaya 

dan memungkinkan kita untuk melihat dalam 

keadaan setengah gelap. Dalam jaringan 

vitamin A menstimulasi sintesis RNA, juga 

glukoprotein dan kortikosteroida, serta 

berperan pada terpeliharanya keutuhan sel-sel 

epitel dan mukosa. Pada anak-anak vitamin 

A menstimulasi pertumbuhan tulang.

Defisiensi tidak sering terjadi dan terutama 

timbul pada diet yang kurang bervariasi; 

sekunder pada defisiensi protein (kwashiorkor) 

dan bila resorpsi terganggu. Bila terjadi 

kekurangan vitamin A di dalam makanan, 

persediaan di dalam hati masih mencukupi 

untuk 7 sampai 8 bulan. Namun anak-anak 

yang baru lahir tidak memiliki cadangan 

ini, sehingga risiko malnutrisi dan kebutaan 

meningkat. Kebutuhan sehari-hari yaitu  

1.000-4.000 UI bagi anak-anak, 4.000-5.000 UI 

bagi orang dewasa dan 5.000-6.000 UI pada 

waktu hamil dan laktasi. Gejala defisiensi 

antara lain buta malam, xeroftalmia (kornea 

mengering dan mengeras) serta akhirnya 

kebutaan. Juga dapat timbul hiperkeratosis 

(pembentukan selaput tanduk berlebihan), 

atrofia dari mukosa dan terhambatnya 

pertumbuhan pada anak-anak.

pemakaian  yang khas yaitu  untuk 

terapi buta malam, sebagai profilaksis 

terhadap kwashiorkor dan pemberian 

secara rutin pada waktu hamil dan laktasi, 

juga bagi bayi dan anak-anak sampai usia 

6 tahun. Telah ditemukan hubungan erat 

antara kadar karoten yang terlampau rendah 

dalam diet/darah dan timbulnya kanker paru-

paru dan saluran cerna. Atas dasar penemuan 

ini vitamin A/karoten dipakai  dalam 

megadose sebagai profilaksis dan terapi kedua 

jenis kanker itu . Dalam hal ini karoten 

diduga berfungsi sebagai anti-promotor kar-

sinogen (lihat Bab 14, Sitostatika).

Efek toksik dari megadose di atas 100.000 

U sehari secara kronis (atau lebih dari 1 

juta UI sekaligus) berupa mual, muntah, 

sakit kepala, halusinasi, juga kulit bersisik 

(squamation) dan gatal-gatal, rambut rontok, 

persendian nyeri, kelainan darah dan mata, 

serta gangguan pertumbuhan pada anak-

anak. WHO menganjurkan maksimal 8.000 

U sehari bagi wanita hamil berhubung pada 

dosis tinggi (25.000 UI sehari atau lebih) risiko 

teratogen atau cacat pada janin meningkat 

(1990). 

Dosis: pada defisiensi 25-50.000 U sehari 

selama maksimal 2 bulan; profilaksis bagi 

anak-anak 1.000 U dan dewasa 2.500-5.000 U 

sehari (asetat atau palmitat). 

Potensi: 1 UI vitamin A = 0,3 mcg 

retinol = 0,344 mcg retinol-asetat = 0,55 mcg 

retinolpalmitat = 0,18 mcg beta-karoten.

• Oleum iecoris aselli (“minyak ikan”, 

levertraan, Scott’s Emulsion, Seven Seas Syrup) 

diperoleh dari hati segar ikan Gadus morhua 

(cod, kabeljauw). Kandungan kadar vitamin 

A dan vitamin D3 agak tinggi, masing-

masing minimal 600 dan 85 U/g. Begitu 

pula mengandung sejumlah poly-unsaturated 

fatty acids (PUFA), termasuk ±18% asam 

lemak omega-3 (EPA, DHA), yang berkhasiat 

menurunkan kadar kolesterol (lihat Bab 

36, Antilipemika dan Bab 54, Dasar-dasar 

diet sehat). Dahulu banyak dipakai  bagi 

anak-anak sebagai obat pencegah rachitis 

dan sebagai obat penguat pada keadaan 

lemah sesudah mengalami infeksi (15-30 ml 

sehari). Berhubung baunya yang tidak enak 

dan kandungan zat-zat toksik (insektisid) 

sebagai kotoran, sekarang sudah terdesak 

oleh sediaan vitamin murni. Topikal masih 

dipakai  dalam salep (10%) untuk mem-

bantu penyembuhan luka bakar, namun  jangan 

dipakai  bila luka sudah terinfeksi. Sediaan 

kombinasi vitamin A/D sintetik mengandung 

campuran dari kedua vitamin terlarut dalam 

minyak atau tersolubilisasi dalam air dengan 

bantuan suatu detergens (Tween).

1b. Karotenoida

Karotenoida yaitu  pigmen alamiah ku-

ning, jingga dan merah yang ada  dalam 

banyak sayuran, buah-buahan dan bunga. 

Dikenal lebih dari 100 senyawa, antara lain 21 

zat yang ada  dalam darah manusia, yaitu 

alfa-, beta- dan gamma-karoten, lycopen, serta 

derivat-OH dari ß-karoten (lutein, zeaxanthin 

dan cryptoxanthin). Kebutuhan tubuh yaitu  

100-150 mg sehari sebagai alfa/beta-karoten 

dan lycopen. 

• Beta-karoten (Carotaben) yaitu  provi-

tamin A terpenting yang diperoleh dari 

algae/rumput laut Dunaliella salina yang 

membentuknya dalam jumlah besar. Senyawa 

ini juga dibuat secara sintetik. Berkhasiat 

antioksidan spesifik untuk menetralkan 

oksigen singlet reaktif dan mencegah pem-

bentukan radikal-peroxyl akibat peroksidasi 

lipida. Juga berperan pada “komunikasi” 

intraseluler. 

- ß-Karoten alamiah secara kimiawi terdiri 

dari rata-rata 60% bentuk-trans dan 40% 

bentuk-cis. Cis-karoten dapat menangkap 

radikal bebas (efek antioksidan) lebih 

kuat dan efektif daripada bentuk transnya. 

Sebaliknya, trans karoten memiliki efek 

provitamin A terkuat.

- ß-Karoten sintetik terutama mengandung 

bentuk trans, daya antioksidannya ±5x 

lebih lemah daripada produk alamiah. Daya 

antioksidan dari alfa- dan gama-karoten agak 

ringan.

Resorpsi dari usus hanya ±30%, yang 

dapat ditingkatkan oleh lemak. Dalam hati 

sebagian diubah melalui retinal menjadi 

retinol (vitamin A) dan selebihnya disimpan 

di kulit dan jaringan lemak. Plasma-t½ 10 

hari.

pemakaian  regular khusus pada penyakit 

tertentu (protoporfiria) untuk melindungi kulit 

terhadap efek cahaya. Bekerjanya (di kulit) 

lambat, sehingga sesudah  2-3 minggu baru 

tampak efeknya. Pada terapi alternatif banyak 

dipakai  untuk prevensi dan sebagai 

tambahan pada penanganan berbagai jenis 

kanker. pemakaian  lainnya yaitu  untuk 

prevensi gangguan jantung dan pembuluh, 

sebaiknya dalam kombinasi dengan lain 

antioksidansia. Lihat Bab 54, Dasar-dasar diet 

sehat, antioksidansia. Terhadap “sunburn” 

tidak bermanfaat. Untuk keperluan farmasi 

dan industri makanan dipakai  sebagai 

zat warna jingga yang aman (E 160a, E dari 

Europa), maksimal 5 mg/kg.

Efek samping hanya berupa menguningnya 

kulit (reversibel), yang paling nyata di bagian 

dalam tangan dan kaki sesudah  dipakai  

2-6 minggu. Jarang sekali dilaporkan diare 

dan nyeri sendi. Pada overdosis tidak terjadi 

hipervitaminosa A.

Dosis: oral 25-200 mg sehari. 1 mg 

β-karoten = 5556 UI vitamin A.

* Lycopen (pseudo-karoten, E 160d) yaitu  

isomer dari beta-karoten, di mana kedua 

cincin-enam terbuka dan menjadi dua ikatan 

tak-jenuh ekstra. Daya antioksidannya ter-

hadap radikal singlet oxygen dan peroxyl ada-

lah terkuat dari semua antioksidansia dan 3 

x lebih efektif daripada b-karoten. Lycopen 

ada  sebagai kristal merah yang ±8 x 

lebih intensif dari karoten, dalam buah-

buahan yang masak, khususnya dalam 

tomat (20 mg/kg), grapefruit merah, papaya, 

semangka merah dan buah kembang ros. Dalam 

tubuh zat ini ditemukan dalam kadar tinggi 

di anak-ginjal, prostat dan testes. Penderita 

kanker kandung kemih, pankreas dan paru-

paru ternyata memiliki kadar lycopen rendah 

di dalam darahnya. Pada kanker paru-

paru diet dengan banyak tomat, sebaiknya 

sebagai ketchup, menghasilkan efek nyata 

atas survival. dipakai  sebagai zat warna 

jingga-merah dalam industri makanan (E 

160d dalam minyak).

Dosis: pada terapi kanker alternatif 3 dd 

1,5 mg. Lihat juga Bab 14, Sitostatika, 8a. 

Antioksidansia.

*Lutein dan zeaxanthin diasup dengan pa-

ngan, khususnya dengan sayuran daun ber-

warna hijau tua.ada  dalam lensa mata, 

juga dalam jumlah tinggi di retina.(selaput 

pelangi). Berdaya antioksidan kuat dengan 

efek protektif lebih kuat terhadap oksidasi 

lipida daripada lycopen. Sangat efektif ter-

hadap FR oksigen singlet (O-) yang sangat 

reaktif dan dibentuk a.l. akibat eksposisi 

sinar UV pada lensa mata. Oleh sebab  itu 

O- bisa merusak protein lensa dan memicu 

terjadinya cataract (staar). 

Sering kali dipakai  dalam ilmu kedok-

teran mata komplementer untuk mengurangi 

risiko dan progres katarak dan degenerasi 

makula senil. Bercak kuning (macula lutea) 

yaitu  bagian pusat dari selaput pelangi, yang 

dibutuhkan untuk melihat secara tajam. Bila 

sebab  usia lanjut macula cacat akibat proses 

oksidatif, daya lihat akan sangat memburuk. 

Sebagian besar manula mengidap degenerasi 

macula demikian.

Selain itu, lutein juga berkhasiat anti-

aterogen dengan menghindari oksidasi ko-

lesterol-LDL menjadi oksi-LDL Lagi pula 

telah dinyatakan berkhasiat antitumor, a.l. 

menghambat pertumbuhan kanker payu-

dara dan mengurangi risiko kanker kolon 

dan prostat. sebab  berasal dari tubuh 

sendiri karotenoida berwarna kuning ini 

tidak memiliki efek samping yang tidak 

diinginkan. Dosis: oral 1-2 dd 3 mg.

1c. Retinoida

Retinoida yaitu  derivat retinol yang 

khusus dipakai  pada penyakit kulit, 

antara lain pada akne, psoriasis dan beberapa 

jenis kanker kulit, juga secara kontroversial 

pada ichtyosis dan kerut muka. Wanita hamil 

tidak boleh memakai  berhubung sifat 

teratogennya. Wanita yang akan menjalani 

terapi oral dengan retinoida harus menjalani 

antikonsepsi yang dimulai minimal sebulan 

sebelum terapi sampai minimal 2 tahun 

sesudah  penghentian.

* Tretinoin (asam vitamin A, asam retinoat, 

Eudyna) yaitu  retinol pada mana gugus-

ujung -CH2OH diganti dengan -COOH 

(1962). Berkhasiat menstimulasi produksi 

sel-sel tanduk dan dengan demikian mence-

gah terbentuknya comedo (Lat. cum edo = 

saya turut makan; sumbatan talg). Hanya 

dipakai  topikal pada bentuk hebat akne 

(jerawat) dengan banyak comedo atau pe-

radangan. Gejala acne pada 3-4 minggu 

pertama bisa memburuk dan kemudian 

baru membaik. Untuk kosmetika dipakai  

dalam krem antikerut 0,05% pada photo-aging 

(UV) dari kulit. sesudah  3 bulan kulit menjadi 

lebih lembut, hiperpigmentasi dan lentigin 

dikurangi serta kerut-kerut kecil diratakan. 

Efek sama diperoleh dalam 2 bulan dengan 

derivatnya tazaroten (krem 0,05-0,1%) (NTvG 

2002 ;146 :642)

Efek samping berupa iritasi kulit setempat 

dengan rasa terbakar, kemerah-merahan, me-

nyerpih serta hipo- atau hiperpigmentasi. 

pemakaian  serentak dengan obat acne lain 

benzoilperoksida menginaktifkan khasiat-

nya, oleh sebab  itu perlu dipakai  secara 

terpisah.

Dosis: sekali sehari sebagai lotion atau 

krem (0,25-0,5 mg/ml), bila kurang berhasil 

kadarnya dapat dinaikkan sampai 1 mg/ml.

* Isotretinoin (13-cis-asam retinoat, Roaccutane) 

yaitu  isomer-cis (1983), yang oral diberikan 

pada penderita acne yang resisten terhadap 

terapi lain. Berkhasiat mengurangi produksi 

lemak (talg) dan antiradang ringan. Dalam 

darah zat ini sebagian besar terikat pada 

protein (99%), plasma-t½-nya panjang (rata-

rata 15 jam). Dosis: permulaan 1 dd 40 mg, 

bila perlu sesudah 2 minggu sampai 2 dd 40 

mg, maksimal selama 16 minggu. 

* Acitretin (Neotigason) yaitu  derivat 

tretinoin (dan metabolit dari etretinat), 

yang berkhasiat menghambat pembelahan 

sel yang pesat, sintesis RNA dan protein 

(1989). Oleh sebab  itu zat ini khusus 

dipakai  untuk kasus hebat dari psoriasis 

(penyakit sisik) dan beberapa gangguan 

keratinisasi lain. Kerjanya panjang (t½: 50 

jam) dan ditimbun dalam jaringan lemak. 

Etretinat (Tigason) tidak dipakai  lagi 

sebab  plasma-t½-nya terlampau panjang 

(100-175 hari). Dosis: oral permulaan 1 dd 

25-30 mg d.c. selama 2-4 minggu, bila perlu 

dinaikkkan sampai maksimal 75 mg sehari. 

Bila dikombinasi dengan kortikosteroida dan 

PUVA, dosisnya dapat diturunkan.

2. Kelompok Vitamin B 

Kelompok vitamin ini terdiri dari sebelas 

senyawa yang sangat berbeda dalam struk-

tur kimiawi dan kegiatan biologisnya. Zat-

zat ini dikelompokkan bersama, sebab  

pada awalnya diisolasi dari sumber yang 

sama, yakni hati dan ragi. Kebanyakan vita-

min ini berfungsi sebagai ko-enzim pada 

metabolisme karbohidrat, asam amino 

dan lemak. biasanya  vitamin dari 

kelompok B ini ada  dalam makanan 

yang sama, sehingga defisiensinya yaitu  

multipel, walaupun gejalanya ditentukan 

oleh satu komponen tertentu. Sindrom 

defisiensi dapat terjadi pada tiamin, ribo-

flavin, piridoksin, nikotinamida, asam folat 

dan sianokobalamin. Komponen lain dari 

B-kompleks tidak menunjukkan gejala defi-

siensi pada manusia.

2a. Tiamin: aneurin, vitamin B1

Vitamin ini (Christiaan Eijkman, penemu 

dan peraih hadiah Nobel, 1936) terutama 

Christiaan Eijkman (1958-1930)

Peraih hadiah Nobel untuk Fisiologi/Ke-

dokteran (1929)


ada  dalam kulit luar gandum (dedek, 

beras tumbuk, “zilvervlies”), juga dalam 

daging babi dan organ (hati, ginjal, otak). 

Dalam tubuh zat ini bekerja dalam bentuk 

aktifnya, yakni tiaminpirofosfat (ko-karbo-

ksilase) yang berfungsi sebagai ko-enzim 

dari karboksilase, yaitu suatu enzim esensial 

pada metabolisme karbohidrat (proses dekar-

boksilasi) dan pembentukan bio-energi serta 

insulin. Aneurin juga menstimulasi pem-

bentukan eritrosit dan berperan penting pada 

regulasi ritme jantung serta berfungsinya 

susunan saraf dengan baik.

* Beri–beri. Dahulu, sebelum tahun 1935, 

defisiensi tiamin banyak terjadi di negara kita  

akibat konsumsi beras giling yang selaput 

luarnya (dedek, “zilvervlies”) telah dibu-

ang. memicu  hambatan kuat dari pe-

rombakan glukosa, dengan akibat gangguan 

fungsi saraf perifer pada otot jantung dan 

pada SSP. Ciri-ciri pertamanya yaitu  ano-

reksia, obstipasi, kesemutan dan kejang otot, 

lalu timbul beri-beri dengan polineuritis, 

arteri mendilatasi kuat dan udema, serta 

myocardiopati, akhirnya radang otak, hilang 

ingatan dan dementia.

pemakaian . Selain pada defisiensi tia-

min, juga dipakai  pada neuralgia (nyeri 

pada mana urat saraf memegang peranan), 

sering kali dikombinasi dengan piridoksin 

dan vitamin B12 dalam dosis tinggi, yakni 

masing-masing 100 mg dan 1 mg (Neurobion 

amp.) Sediaan oral B1-B6-B12 lain yaitu  

Bioneuron dan Neurofort. Dalam kalangan 

ortomolekuler, kombinasi ini juga dipakai  

untuk memperbaiki gejala lemah ingatan. 

Sementara orang juga memakai nya bila 

melawat ke daerah malaria untuk meng-

halau nyamuk, yang tidak menyukai baunya 

yang khas dalam darah. (Untuk maksud sama 

dapat juga diminum tablet bawang putih).

Resorpsi maksimal pada pemakaian  

oral yaitu  8-15 mg sehari. sesudah  dise-

rap, tiamin disalurkan ke semua organ de-

ngan konsentrasi terbesar di hati, ginjal, 

jantung dan otak. Tiamin dalam dosis ting- 

gi tidak memicu  keracunan, kare-

na kelebihannya diekskresi melalui kemih 

dalam bentuk utuh atau sebagai metabo-

litnya. Kebutuhan sehari-hari untuk bayi 

diperkirakan sekitar 30 mcg/kg berat badan 

dan untuk dewasa 1-1,5 mg/kg berat badan. 

Sebagian kebutuhan ini disintesis oleh flora 

usus.

Dosis: pada defisiensi 3 dd 5-10 mg, profi-

laksis 3 dd 2-5 mg (garam HCl).

• Benfotiamin (1961) dan bisbentiamin 

(Beston, *Bestopyron) (1963) yaitu  derivat 

tiamin yang lebih mudah diresorpsi dan 

memberikan kadar darah yang lebih tinggi 

daripada tiamin. Tidak memiliki bau tiamin 

yang khas pada napas dan keringat. Dosis: 

untuk pengobatan sehari 100-300 mg benfo-

tiamin; 5-300 mg bisbentiamin sehari. 

100 mg tiamin HCl = 114 mg bisbentiamin = 

140 mg benfotiamin 

2b. Riboflavin: laktoflavin, vitamin B2

Vitamin berwarna kuning ini (1935) 

ada  dalam susu, daging, telur, sayur-

mayur, ragi dan roti whole grain (padi-padian 

lengkap). Dalam tubuh riboflavin diubah 

menjadi 2 ko-enzim, pertama rf-5-fosfat (= 

flavin-mononukleotida, FMN), lalu dalam hati 

menjadi flavin-adenin-dinukleotida (FAD). Ke-

dua metabolit ini juga disebut flavoprotein, 

yang sebagai ko-enzim memegang peranan 

esensial pada sintesis antioksidansia faal, 

antara lain glutation. Beberapa di antaranya 

mengandung logam, misalnya mangan da-

lam xantinoksidase. Vit B2 juga penting bagi 

pemeliharaan kesehatan kulit (bibir), mata, 

otot dan tulang.

Defisiensi jarang terjadi sebab  kebutuhan 

tubuh hanya sedikit sekali, untuk bayi ±60 mcg, 

dewasa ±1,1 mg dan sewaktu hamil/ laktasi 

1,8/2,1 mg sehari. Bila pemasukan kalori 

meningkat, maka kebutuhan akan B2 juga 

naik. pemakaian  lama klorpromazin dan 

antidepresiva trisiklis dapat memicu  

kekurangan B2, sebab  resorpsinya di usus 

terhambat akibat terganggunya mekanisme 

transpor. Gejala defisiensinya berupa nyeri 

tenggorok dan stomatitis dan pada tahap  lanjut 

timbul radang ujung bibir (cheilosis) dan 

radang lidah (glossitis).

Dosis: pada defisiensi 5-10 mg sehari, 

profilaksis 2 mg (Na-fosfat). 

1 g riboflavin = 1,37 g rf-Na-fosfat.

2c. Nikotinamida: niasinamida, PP faktor, 

vitamin B3

Banyak makanan seperti daging, hati, 

ginjal, ayam, ikan, gandum, kacang-kacang-

an (nuts) dan kopi mengandung asam niko-

tinat (niasin), yang dalam hati diubah menjadi 

niasinamida dan zat aktifnya NAD (niasin-

adenin-dinukleotida). Niasinamida (1937) 

merupakan komponen dari dua ko-enzim 

(antara lain dari dehidrogenase) yang berperan 

pada berbagai proses reduksi-oksidasi 

(pernapasan sel, glikolisa dan sintesis lipida). 

Niasinamida juga dapat disintesis oleh tubuh 

sendiri dengan triptofan dari makanan 

sebagai bahan pangkalnya, pada mana 60 mg 

triptofan menghasilkan 1 mg vitamin B3. 

Fungsi dan pemakaian . Vitamin B3 juga 

diperlukan untuk pengubahan triptofan 

menjadi serotonin. Kekurangan vitamin B3 

memicu  kelebihan triptofan di otak 

dengan gejala perubahan suasana jiwa dan 

perilaku. 

        triptofan –––> niasinamida

triptofan –––––> serotonin 

 

Pada terapi alternatif dari depresi dan 

schizofrenia vitamin B3 (dan vitamin B6) 

sering kali dipakai  dengan hasil baik 

untuk meringankan gejalanya. Di samping 

itu vitamin B3 juga merupakan komponen 

(bersama logam krom) dari GTF (Glucose 

Tolerance Factor), yang esensial bagi efek-

tivitas insulin. Pada percobaan binatang 

niasinamida ternyata mampu mencegah 

diabetes berkat khasiatnya menghambat sis-

tem imun dan memperbaiki sel-sel-beta yang 

rusak. namun  penelitian klinis belum dapat 

memastikan daya kerja ini. Lihat juga Bab 47, 

Insulin. 

Niasin praktis tidak dipakai  walau-

pun sama efektifnya, sebab  efek samping-

nya yang mengganggu (vasodilatasi, muka 

merah, gatal-gatal). Defisiensi jarang terjadi 

dan khusus di daerah di mana jagung 

yaitu  pangan utama dengan sedikit sekali 

daging (mengandung triptofan). Gejalanya 

yaitu  gangguan kulit (dermatitis), diare 

dan dementia dengan kelainan perilaku. 

Kebutuhan seharinya diperkirakan 15 mg 

untuk dewasa bila diet mengandung cukup 

protein (60-70 g) dan ±4 mg untuk bayi; air 

susu ibu mengandung ±0,6 mg/100 ml. 

Dosis: pada pellagra (Itali pelle = kulit, 

agra = kasar) oral 50-300 mg sehari, profilaksis 

15-30 mg sehari. Untuk meringankan gejala 

schizofrenia 3 dd 1-2 g. Juga i.m./i.v. 2-5 dd 

25-100 mg.

• Inositolniasinat yaitu  senyawa inositol 

dari niasin yang seperti niasinamida juga 

jarang memicu  flushing.

2d. Asam pantotenat: vitamin B5

Vitamin ini (1939) ada  dalam semua 

jaringan tubuh dan praktis dalam berbagai 

macam bahan makanan (Yun. pantos = di 

mana-mana), namun  dapat juga disintesis 

oleh flora usus. Hanya d-isomernya yang 

aktif dan merupakan bagian dari ko-enzim 

A, yang terlibat pada banyak reaksi asetilasi. 

Juga berperan pada antara lain sintesis dan 

perombakan karbohidrat, lemak dan protein, 

juga pada sintesis kolesterol dan hormon 

steroida.

Defisiensi belum pernah dilaporkan. 

Kebutuhan sehari-hari diperkirakan 5-10 mg 

(garam-Ca) bagi dewasa dan sedikit lebih 

banyak bagi anak-anak muda. Air susu ibu 

mengandung ±0,26 mg per 100 ml.)

Dosis: 5-10 mg sehari (garam Ca).

• d-Pantotenol (dekspantenol, Bepanthen) 

yaitu  derivat alkohol dari pantotenat dengan 

khasiat sama (1944), lagi pula berkhasiat 

mempercepat penyembuhan borok. Dosis: 

5-10 mg sehari, dalam salep 2-5%.

2e. Piridoksin: adermin, vitamin B6

Derivat piridin ini (1939) ada  antara 

lain dalam daging, hati, ginjal, telur, gandum 

whole grain, kacang kedele dan biji-biji 

gandum (wheat germ). Dikenal dalam bentuk 

alkohol, aldehida dan amin, yaitu piridoksin, 

piridoksal dan piridoksamin. Di dalam hati 

vitamin B6 dengan bantuan ko-faktor 

riboflavin dan magnesium diubah menjadi 

zat aktifnya piridoksal-5-fosfat (P5P). Zat 

ini berperan penting sebagai ko-enzim pada 

metabolisme protein dan asam-asam amino, 

antara lain pada pengubahan triptofan me-

lalui okstriptan menjadi serotonin (lihat Bab 

30 Antidepresiva, Triptofan) dan pada sintesis 

GABA. Juga mempunyai peranan kecil pada 

metabolisme karbohidrat dan lemak.

Defisiensi jarang terjadi, misalnya pada 

pasien yang menjalani terapi jangka panjang 

dengan INH, hidralazin dan penisilamin yang 

meniadakan efek piridoksin. Gejalanya be-

rupa gangguan kulit, stomatitis, glossitis 

dan efek neurologi (konvulsi, neuropati dan 

sebagainya), sedang  pada anak-anak ter-

jadi hambatan pertumbuhan dan anemia. 

Kebutuhan sehari-hari diperkirakan 0,3 mg 

untuk bayi, 2 mg bagi dewasa (±20 mcg per 

gram protein asupan) dan 2,5 mg pada waktu 

hamil dan laktasi. Air susu ibu mengandung 

±10 mcg/100 ml.

pemakaian nya selain pada keadaan de-

fisiensi, juga terhadap mual-muntah dan 

pada depresi post-natal dan depresi akibat 

pil anti hamil, mungkin sebab  kekurangan 

serotonin di otak akibat metabolisme trip-

tofan yang meningkat. Juga dipakai  untuk 

menurunkan kadar homosistein meningkat, 

yang merupakan faktor risiko untuk PJP, 

khususnya pada wanita. Lihat juga di ba-

wah asam folat. Dalam megadosis, zat ini 

berdasar  empiris dianjurkan pada banyak 

penyakit lain, misalnya PMS (premenstrual 

syndrome), schizofrenia, autisme, hiperkinesia 

pada anak-anak, dermatitis atopik dan asma 

berat . 

Efek samping jarang terjadi dan berupa 

reaksi alergi. pemakaian  lama dari 500 

mg/hari dapat memicu  ataksia (jalan 

limbung) dan neuropati serius, begitu pula 

pada dosis tinggi dari 2-6 g sehari. 

Dosis: oral selama terapi dengan antagonis 

piridoksin 10-100 mg (HCl) sehari, profilaksis 

2-10 mg, mual hamil 50 mg dan pada depresi 

akibat pil antihamil 125 mg sehari selama 7 

hari sebulan. Pada schizofrenia: 1 dd 250-500 

mg. Untuk menurunkan kadar homosistein 

yang tinggi 1 dd 250 mg bersama asam folat 

5 mg.11b. 

• Piridoksal-5-fosfat (PSP, ko-dekarboksilase) 

yaitu  zat aktif dari piridoksin dengan 

pemakaian  sama. Daya kerjanya lebih cepat 

dan juga lebih efektif. namun  resorpsinya tidak 

menentu sebab  sel-sel usus menghilangkan 

molekul fosfatnya sebelum dapat diserap 

(Labadarios D et al. Gut 1977; 18: 23-7). Penggu-

naannya khusus dianjurkan bagi pasien 

dengan gangguan fungsi hati, yang tidak 

mampu mengubah B6 menjadi PSP.

2f. Biotin: vitamin B7, vitamin H

Vitamin ini ada  dalam banyak ma-

kanan, lagi pula dapat disintesis oleh flora 

usus. Berfungsi sebagai ko-enzim bagi sejum-

lah reaksi transkarboksilasi, oleh sebab  itu 

penting sekali pada metabolisme protein, 

karbohidrat dan lemak. 

Defisiensi jarang terjadi dan khususnya 

pada bayi bila air susu ibu mengandung 

terlampau sedikit biotin, yaitu kurang dari 

±0,7 mg/100 ml, dengan gejala radang kulit 

(seborrhoeic dermatitis). Putih telur mengan-

dung avidin yang mengikat biotin secara 

irreversibel, maka orang yang mengonsumsi 

terlalu banyak telur mentah juga dapat 

menderita defisiensi biotin. Gejalanya antara 

lain rambut rontok dan otot lemah. Kebu-

tuhan sehari-hari diperkirakan 0,1-0,2 mg.

Dosis: pada defisiensi 5-10 mg sehari, pro-

filaksis 0,15 mg. 

2g. Asam folat: vitamin B11, folic acid, folacin

Vitamin ini (1947) ada  dalam gandum 

whole grain, sayuran hijau yang kaya serat 

gizi (Lat. folium = daun) dan banyak pangan 

lain seperti buncis dan kelapa, daging, ikan, 

hati dan ragi. Berkhasiat mencegah spina 

bifida pada bayi. Selain itu, berkhasiat 

meringankan risiko stroke dan diperkirakan 

dapat mencegah PJP (dengan menurunkan 

kadar homosistein darah), khususnya infark 

jantung serta memiliki daya kerja protektif 

terhadap kanker kolon. Pada orang dengan 

asupan folat tinggi risikonya akan kanker 

kolorektal dapat diturunkan dengan 25%.(Int 

J Canc 2005;113:825-8), sebaliknya folat juga 

memiliki beberapa efek negatif, yaitu asupan 

tinggi folat dapat menyelubungi defisiensi 

vitamin B12. lagipula dapat menstimulasi 

perkembangan tumor kolon yang sudah ada 

(NTvG 2006;150: 1443- 48). Dalam hubungan 

ini antagonis folat yaitu metotreksat sudah 

sejak puluhan tahun dipakai  untuk 

menghambat pertumbuhan tumor. 

pemakaian  pada anemia megaloblaster 

akibat defisiensi folat dan sebagai prevensi 

rutin selama kehamilan untuk memperkecil 

risiko spina bifida pada bayi, juga dipakai  

selama terapi rematik dengan metotreksat 

untuk mengurangi efek toksik dari antagonis 

folat ini.

Efek samping jarang terjadi dan berupa 

reaksi alergi, juga gangguan lambung-usus 

dan sukar tidur.

Dosis: anemia megaloblaster permulaan 

1-2 dd 0,5 mg, pemeliharaan 1 dd 0,1-0,5 

mg. Profilaksis spina bifida tiap hari 0,5 mg 

dimulai minimal 4 minggu sebelum konsepsi 

sampai dengan minggu ke-8 kehamilan. 

Untuk menurunkan kadar homosistein yang 

tinggi dan aterosklerosis prematur 1 dd 5 mg 

bersama vit B6 250 mg 11b .

• Asam folinat (folinic acid, Leucovorine, 

Rescuvolin, Vorina) yaitu  metabolit folat 

yang terbentuk melalui reduksi. Dari cam-

puran rasemis hanya bentuk levonya aktif. 

Terutama dipakai  sebagai antidotum 

terhadap keracunan darah akibat dosis tinggi 

MTX. Pada pengobatan rema efek samping 

MTX dapat dikurangi tanpa melemahkan 

efek antirema. Begitu pula dipakai  untuk 

menurunkan efek samping kotrimoksazol 

terhadap darah. Kombinasi dengan 5-FU 

meningkatkan efeknya pada kanker kolo-

rektal yang tersebar. Dosis: oral, i.m. atau i.v. 

6 – 100 mg/m2 tergantung dari dosis MTX 

yang dipakai .

2h. Sianokobalamin: vitamin B12, extrinsic fac-

tor

Vitamin ini ada  dalam semua pro-

duk hewan, terutama dalam daging, hati 

dan susu. Di alam dan tubuh vitamin B12 

terutama ada  sebagai hidrokso-, metil- 

dan adenosilkobalamin. Secara kimiawi 

vitamin B12 (1950) yang dapat larut dalam 

air, memiliki rumus cincin besar dengan 

atom kobal di pusat. Kebutuhan sehari-

hari orang sehat yaitu  1-5 mcg, namun  se-

lama kehamilan dan laktasi keperluan ini 

meningkat sampai masing-masing 3 dan 

3,5 mcg. RDA dewasa yaitu  2,5 mcg/hari. 

Penelitian telah mengungkapkan, bahwa 25% 

dari lansia mengidap kekurangan vitamin B12 

dalam tubuhnya, yang dapat memicu  

kemunduran fungsi otak dan gangguan daya 

ingat, akhirnya juga anemia dan gangguan 

neurologi.pemakaian : pada defisiensi dan 

untuk mencegah anemia megaloblaster pada 

keadaan malabsorpsi. 

Dosis pada defisiensi: oral atau sublingual 

2 dd 1 mg selama 1 bulan, pemeliharaan 

1 mg sehari. Profilaktis dalam sediaan 

multivitamin 1-10 mcg sehari, i.m. 0,5-1 mg/

minggu, pemeliharaan 1 mg setiap 2 bulan. 

Lihat selanjutnya Bab 39. Hemopoëtika.

• Kobamamide (dibencozide, *Superton) ada-

lah metabolit bioaktif dari vitamin B12 yang 

bekerja sebagai ko-enzim. dipakai  oromu-

kosal sebagai tablet isap untuk absorpsi 

optimal. 

• Hidroksokobalamin (hidrokobamin) yaitu  

derivat sianokobalamin dengan kerja lebih 

panjang dan paling sering dipakai . Dosis: 

pada defisiensi i.m. atau s.k. 2 x seminggu 1 

mg selama 5 minggu, lalu 1 mg setiap 2 bulan.

3. Vitamin C: asam askorbat, Redoxon, Vitacimin

Vitamin C banyak ada  di semua 

sayur-mayur, khususnya kol, paprika, pe-

terseli dan asperges, serta buah-buahan 

terutama dari jenis sitrus (jeruk nipis dan 

jeruk lain), arbei dan buah kembang ros. Juga 

agak banyak di kentang bila direbus dengan 

kulitnya dan hanya sedikit dalam susu 

sapi dan daging, kecuali hati. Dalam tubuh 

ada  di banyak jaringan, termasuk darah 

dan lekosit. Vitamin C mudah dioksidasi dan 

diinaktifkan (oksidasi) bila makanan dimasak 

terlalu lama. Khasiat terpenting pada dosis 

terapeutik yang cukup tnggi yaitu  khasiat 

antiviral dan antibakteri, yang diperkirakan 

berdasar  sifat antioksidannya (Dr Th 

Levy,Vitamin C, infectious diseases & toxins. 

Curing the incurable. 2002). Efeknya sebagai 

injeksi askorbat-Ca cepat sekali, mungkin 

berkat khasiatnya mampu menetralkan FR 

yang selalu banyak ada  pada penyakit 

infeksi. Semakin parah infeksi, semakin 

tinggi dosis yang diperlukan. Kedokteran 

alternatif mengklaim dapat menyembuhkan 

segala macam penyakit virus, a.l. hepatitis 

dan penyakit Pfeiffer(virus Epstein-Barr).

Resorpsi dari usus cepat dan praktis 

sempurna (90%) namun  menurun pada dosis 

di atas 1 g. Distribusi ke semua jaringan 

baik. Persediaan tubuh untuk sebagian 

besar ada  dalam cortex anak ginjal. 

Dalam darah sangat mudah dioksidasi se-

cara reversibel menjadi dehidroaskorbat 

yang hampir sama aktifnya. Sebagian kecil 

dirombak menjadi asam oksalat dengan jalan 

pemutusan ikatan antara C2 dan C3. Ekskresi 

berlangsung terutama sebagai metabolit 

dehidronya dan sedikit sebagai asam oksalat.

Fungsi vitamin C yaitu  kompleks dan 

yang terpenting yaitu  pembentukan kola-

gen, yaitu protein bahan penunjang utama 

dalam tulang/ tulang rawan dan jaringan 

ikat. Bila sintesis kolagen terganggu, maka 

mudah terjadi kerusakan pada dinding pem-

buluh yang berakibat perdarahan. Khasiat 

ini antara lain berdasar  efek stimulasi 

vitamin C terhadap pengubahan prolin men-

jadi hidroksiprolin.

Vitamin C juga menstimulasi banyak pro-

ses metabolisme berkat sistem redoksnya, 

yaitu mudah dioksidasi dan direduksi kem-

bali dengan bantuan glutation. 

                      oksidasi

askorbat –––––––> dehidroaskorbat + elektron

<–––––––

reduksi

Pada reaksi ini vitamin C  berfungsi sebagai 

donor atau akseptor elektron. Beberapa 

reaksi pada mana vitamin C dioksidasi ada-

lah hidroksilasi dari prolin (lihat di atas), 

dopamin (menjadi noradrenalin) dan hormon 

steroid, juga perombakan tirosin. Reaksi pada 

mana vitamin C direduksi yaitu  misalnya 

pengubahan triptofan menjadi serotonin. Se-

lain itu, vitamin C juga berperan pada sintesis 

kortikosteroida dari kolesterol dalam anak 

ginjal.

Defisiensi dahulu banyak terjadi, antara 

lain pada anak buah kapal selama perjalanan 

jauh tanpa adanya sayur-mayur atau buah 

segar, namun  sekarang jarang terjadi lagi. 

Gejalanya berupa perdarahan sekitar mata 

dan paha, juga gusi dan di bawah kulit 

yang disebabkan oleh hilangnya ikatan ko-

lagen serta mudah rusaknya dinding pem-

buluh dan pecahnya kapiler. Borok sukar 

sembuh dan akhirnya gigi terlepas. Sindrom 

ini disebut skorbut (scurvy, scheurbuik). Ke-

butuhan seharinya (RDA) yaitu  25-40 mg 

bagi bayi, 70 mg bagi dewasa, 90 mg bagi 

wanita hamil dan 110 mg selama laktasi. Air 

susu ibu mengandung ±4 mg vitamin C per 

100 ml.

pemakaian nya selain pada terapi dan 

pencegahan defisiensi, adakalanya juga un- 

tuk mengasamkan urin misalnya pada 

infeksi saluran kemih. namun  efeknya kurang 

memuaskan sebab  vitamin C bersifat asam 

agak lemah (asam mandelat untuk tujuan 

ini lebih efektif!). Di samping itu vitamin 

C dalam megadose (sampai 15 g sehari!) 

banyak dipakai  dalam ilmu pengobatan 

alternatif (complementary medicine) untuk 

mengobati berbagai macam penyakit, yang 

tidak dapat diterima oleh dokter “biasa” 

sebab  belum ada  bukti ilmiah/klinis. 

Di antaranya sekadar dapat disebutkan 

gangguan-gangguan berikut.

a.  Selesma (common cold) dan infeksi lain. 

Beberapa peneliti18 telah melaporkan di-

percepatnya penyembuhan ±20% dan 

dengan keluhan lebih ringan, bila vitamin 

C di minum sedini mungkin. Efek baik 

ini diperkirakan berdasar  daya imu-

nostimulasinya, pada mana produksi 

dan mobilitas leukosit dan makrofag 

sangat ditingkatkan pada dosis di atas 2,5 

g sehari, juga berdasar  pembentukan 

interferon.

b.  Antilipemik. ada  indikasi kuat 

bahwa vitamin C dalam dosis 500-

1.000 mg sehari dapat menurunkan ka-

dar kolesterol darah yang meningkat. 

Diperkirakan bahwa mekanismenya ada-

lah stimulasi transpor kolesterol dari dinding 

pembuluh ke hati serta peningkatan proses 

pengubahannya menjadi asam kolat dan 

kortikosteroida.

c.  Mempercepat penyembuhan borok dan 

luka di kulit akibat tekanan, misalnya 

pada decubitus (mati jaringan akibat 

berbaring untuk waktu lama). Efek ini 

diperkirakan berdasar  pengubahan: 

prolin ––––> hidroksiprolin dan sintesis 

kolagen, khususnya di jaringan granulasi 

dari luka.

d.  Kanker. Dalam dosis 3-10 g vitamin C 

sehari dan bersama megadose vitamin 

A, E, selenium, zinc dan bioflavonoida 

kini sering dipakai  sebagai obat kom- 

plementer untuk menghambat pertum-

buhan sel-sel kanker. Khasiat antikarsinogen 

ini diperkirakan berdasar  sifat anti-

oksidannya, lihat Bab 14, Sitostatika. 

Di samping itu vitamin C berkhasiat 

menghindari pembentukan nitrosamin 

(dari nitrat dan asam amino) dalam usus, 

yang bersifat karsinogen.

e. Memperbaiki fungsi otot. Vitamin C 

(400 mg sehari) melindungi otot terhadap 

kerusakan oksidatif selama aktivitas jang-

ka panjang (olahraga) dan menstimulasi 

reparasi fungsi otot. Profilaktis vitamin C 

dapat dipakai  sebelum latihan atau 

perlombaan, untuk mencegah terjadinya 

otot kaku dan nyeri (2 dd 1 g pada 2 

hari berturut-turut). Fungsinya mungkin 

dengan cara memperlancar pengeluaran 

asam laktat dari otot.

f.  Penyakit Pfeiffer dapat efektif ditangani 

secara ortomolekuler dengan 3-5 dd 100 

mg vit C selama 7 hari. 


Efek samping akibat pemakaian  lama dari 

megadose di atas 1,5 g sehari dapat berupa 

diare. Terjadinya batu ginjal oksalat dan urat 

pada dosis di atas 1-10 g sehari belum pernah 

dilaporkan. Bila terapi dihentikan dengan 

mendadak, dapat terjadi rebound scorbut 

sebagai reaksi, sebab  sistem perombakan 

vitamin C telah sangat dirangsang oleh 

dosis tinggi. ada  la-poran bahwa dosis 

di atas 500 mg sehari dapat merusak DNA: 

base-DNA guanosin dilindungi terhadap 

radikal oksigen, namun  kemudian adenosin 

dapat dicederai oleh dehidro-askorbat, yang 

bekerja sebagai pro-oksidan. Penemuan ini 

dibantah berdasar  banyak studi lain, 

sebab  reduksi dari dehi-dro-vitamin C 

oleh glutation kembali menjadi vitamin C 

berlangsung sedemikian cepat sehingga 

tidak sempat mencederai adenosin. 

Interaksi. Vitamin C meningkatkan resorpsi 

besi, sedang  vitamin B12 diperlemah efek-

nya sehingga dapat terjadi defisiensi. Dosis 

di atas 10 g sehari memperlambat efek anti-

koagulansia oral.

Dosis: pada defisiensi 2 dd 250-500 mg 

p.c., bayi 100 mg sehari, profilaktis 100–1.000 

mg sehari. Bila lambung peka terhadap asam, 

sebaiknya memakai  garam Ca atau Mg-

askorbat yang bereaksi netral.Terapi alter-

natif penyakit Pfeiffer: 3-4 dd 1000 mg selama 

7-10 hari.

4. Bioflavonoida

Bioflavonoida yaitu  senyawa polifenol 

dengan rumus difenilpropan, yang ada  

dalam hampir semua bahan makanan nabati. 

Secara kimia dapat dibedakan 4 kelompok 

yang semua memiliki rumus dasar flavon, 

yaitu:

•  zat-zat flavon : apigenin, chrysin dan lu-

teolin

•  zat-zat isoflavon : genistein, daidzein

•  zat-zat flavonol : quercetin, kaempferol dan 

myricetin

•  zat-zat flavan : catechin (banyak dalam 

daun teh hijau, daun teh yang tidak difer-

mentasi) dan dalam kulit pohon kayu 

manis (Extract.Cortex cinnamomi), lihat 

Bab 47,Antidiabetika.

Flavonoida memiliki beberapa khasiat penting, 

yakni: 

-  antioksidan kuat, berdasar  daya kerja-

nya “menangkap” radikal bebas;

-  menghambat oksidasi LDL-kolesterol dan 

menghambat aterosklerosis; 

-  menghambat induksi kimiawi dari tumor 

melalui stimulasi enzim yang mengin-

aktifkan induktornya. Khusus polifenol 

dengan rumus dihidroksi berkhasiat 

antitumor, antara lain genistein, quercetin 

dan catechin (dalam gambir = catechu); 

-  meregulasi kadar glukosa darah dengan 

memperkuat khasiat insulin.

• Rutosida (zat-zat rutin). Di samping zat-zat 

itu  di atas, juga rutin dan hesperidin 

dengan struktur benzopiran, termasuk 

kelompok flavonoida. Glikosida ini ada  

dalam kulit buah sitrus (jeruk), paprika dan 

banyak tumbuhan lain. Dahulu diberi nama 

“vitamin P”, sebab  diperkirakan memiliki 

daya meningkatkan permeabilitas dinding 

pembuluh dengan efek antiradang. sebab  

ternyata tidak mutlak diperlukan bagi tubuh 

kini nama itu  tidak dipakai  lagi. Pada 

hewan zat-zat ini berkhasiat memperkuat 

dinding kapiler dan meningkatkan permea-

bilitasnya bagi eritrosit. Kekurangan zat 

ini memicu  bintik-bintik merah kecil 

di bawah kulit (perdarahan). berdasar  

sifatnya yang mengurangi fragilitas kapiler 

zat ini dipakai  pada berbagai gangguan 

vena, seperti varices (vena betis mekar), wasir, 

ulcus cruris (borok pada tungkai), retinopati 

dan hematoma. Yang dipakai  dalam tera-

pi yaitu  beberapa turunan dari rutin, wa-

laupun agak kontroversial.

4a. Hidroksietilrutosida (troxerutin, Venaron, 

Venoruton) yaitu  derivat rutin. Diguna-

kan pada insufisiensi vena kronis untuk 

mengurangi gejalanya seperti udema, kejang 

otot, rasa berat dan nyeri di kaki. Juga 

diperkirakan efektif (±80%) terhadap kejang 

kaki pada waktu tidur (restless legs).

Dosis: 3-4 dd 300 mg.

4b. Genistein

Genistein, daidzein dan glisitein yaitu  

isoflavon yang bersama glikosidanya, yaitu 

genistin, daidzin dan glisitin, ada  da-

lam kedelai. Zat-zat ini juga disebut fito-

estrogen sebab  dapat menduduki reseptor 

estrogen, meskipun rumus bangunnya tidak 

ada kemiripan dengan steroida. Berkhasiat 

antitumor dengan cara memblok reseptor 

estrogen, menghambat angiogenesis dan 

tyrosinkinase, sebagai antioksidan juga 

berdaya menstimulir sistem imun. Berkat sifat 

ini genistein dipakai  untuk menghentikan 

pertumbuhan beberapa jenis kanker dengan 

‘estrogen-dependent receptors’, misalnya kan-

ker mamma, ovarium dan prostat. 

Dosis: untuk prevensi 3 dd 20-30 mg ge-

nistein/genistin (ekstrak soya dengan 40% 

isoflavon). Sebagai obat tambahan pada 

kanker 3 dd 150-300 mg genistein/genistin. 

Sebaiknya diminum bersamaan dengan 

yoghurt atau bubur.

4c. Quercetin

Flavonol ini ada  di banyak sayuran 

dan buah-buahan; sumber terpenting yaitu  

bawang, buah apel, dan teh, lihat tabel. Da-

lam bahan-bahan itu  quercetin (seba-

gai aglukon) terikat pada masing-masing 

glukosa, galaktosa dan rutinosida menjadi 

glikosidanya. Resorpsi dari usus 20-50%, 

waktu paruhnya panjang, ±25 jam. Berkhasiat 

antitumor kuat antara lain dengan mengikat 

zat-zat karsinogen dan menghambat proli-

ferasi sel melalui inisiasi apoptosis. Kha-

siat inhibisinya terhadap tumor ovarium 

diperkuat oleh kombinasi dengan genistein 

26 dan vitamin C. 

Di samping itu berkhasiat antioksidan 

dengan antara lain menghambat oksida-

si LDL-kolesterol dan melindungi terha-

dap sitotoksisitas dari oksi-LDL (merusak 

endotel dengan peningkatan permeabili-

tasnya). Sistem imun distimulasi olehnya. 

Berkat sifat ini dianjurkan sebagai obat 

tambahan pada kanker dan untuk prevensi 

penyakit jantung. 

Dosis: pada kanker 2-3 dd 400-600 mg, 

untuk prevensi PJP 1-2 dd 100 mg. Lihat juga 

Bab 14, Sitostatika, Obat-obat alternatif.

4d. Ekstrak teh hijau

Teh hijau terdiri dari daun Camellia sinen-

sis kering yang tidak difermentasi, sehingga 

mengandung banyak flavonoida catechin 

sebab  tidak dioksidasi secara enzimatik 

menjadi tanin. Selain catechin, juga mengan-

dung lain-lain polifenol, antara lain coffeic 

acid, cholic acid dan syringic acid, juga vitamin 

K dan sedikit kofein. Lihat juga Bab 23, 

Drugs, Kofein dan Bab 14, Onkolitika, Anti-

oksidansia. Telah dibuktikan bahwa teh hijau 

Tabel 53-2: Kadar quercetin dalam 

beberapa bahan makanan

memiliki sejumlah daya kerja berdasar  

khasiat antioksidan kuat, yang tidak dimiliki 

teh hitam. Zat-zat polifenol itu  dapat 

menginaktifkan secara efektif peroksida li-

pida, seperti anion superoksida. Yang ter-

penting yaitu  efek antitumor, antilipemik 

dan anti-aterosklerosis, antibakterial kuat, 

hepatoprotektif dan efek thermogen aki-

bat stimulasi pembakaran lemak. Daya me-

lindunginya terhadap hati tampil sebagai 

penurunan kadar enzim GOT dan GPT. 

Efek antitumornya selain akibat efek 

antioksidannya dan stimulasi sistem imun, 

juga dihubungkan dengan penghambatan 

pembentukan zat nitroso yang terbentuk 

dalam usus dari nitrit dan asam amino, mirip 

khasiat vitamin C. Lagi pula menghambat 

efek mutagen dari banyak zat karsinogen 

dengan cara mengikatnya. Inhibisi dari sel-

sel leukemia berlangsung melalui aktivasi 

dari apoptosis. dipakai  sebagai ekstrak 

atau minuman teh pada penanganan alter-

natif dari semua jenis kanker, juga pada pre-

vensi dan penanganan hiperlipidemia dan 

aterosklerosis.

Dosis: 1-3 dd 250 mg (kapsul dengan 

50-60% polifenol). Lihat juga Bab 23 Drugs, 

Kofein.

4e. Ekstrak Kayu manis: ZN 112, Diabecinn

Ekstrak kering ini dibuat dari kulit 

kayu manis dan mengandung procianida 

oligomer, a.l. beberapa trimer dan tetramer, 

juga monomer (epi) catechin. Zat-zat ini mam-

pu memperkuat khasiat insulin dengan 20 

kali pada tingkat reseptor. dipakai  secara 

komplementer di samping medikasi regular 

untuk menurunkan kadar glukosa darah 

pada diabetes tipe-2. Efek samping berupa 

hipersensitivitas yang jarang sekali terjadi. 

Dosis: oral 1-3 dd 1 caps. dari 112 mg eks-

trak kering yang distandardisasi, ½ jam a.c.

Alam Khan et al. Diab.Care, Cinnamom 

improves glucose and lipids of people with type-2 

diabetes; Diab Care 2003;26: 3215-18.)

4f. Pro-anthocyanidin: OPC, pycnogenol

Kelompok bioflavonoida ini ada  

banyak dalam biji anggur dan juga dalam kulit 

pohon cemara (Pinus maritima). Sumber lain 

yaitu  sayuran dan biji/kulit buah-buahan, 

namun  diuraikan sewaktu pemasakan. OPC 

(Oligomeric Pro-Anthocyanidins) berkhasiat 

antioksidan kuat sekali dengan daya kerja 

50 dan 1.000 x lebih kuat daripada masing-

masing vitamin E dan vitamin C. OPC dapat 

mereaktifkan kembali (recycling) vitamin 

C yang telah teroksidasi. Melarut dalam air 

namun  bekerja bifasis, artinya aktif baik da-

lam lingkungan air maupun lipida. Efek 

antioksidatif ini khusus terjadi di membran 

sel dari jaringan pengikat kolagen (termasuk 

dalam arteri) dan endotel (termasuk dinding 

vena/kapiler). Khasiatnya memperkuat ko-

lagen berdasar  melindungi dan mem-

perkuat “jembatan” hidrogen antara serat 

yang berpasangan (paired strands) dari poli-

peptida yang memberikan keteguhan pada 

kolagen. Pada proses menua struktur itu  

diperlemah oleh FR dan enzim (elastase, colla-

genase) yang memicu  kelebihan cross-

linking antara serat kolagen. Sebagai akibat 

kulit hilang kelenturannya dan menjadi le-

mah serta keriput. OPC juga berdaya anti-

histamin dengan menghindarkan pelepasan 

histamin dari mastcells akibat aktivasi oleh 

FR. Di samping itu juga menghambat enzim 

histidinkarboksilase, yang mengubah histidin 

–––> histamin. Berkat sifat melindunginya 

terhadap endotel pembuluh (angioprotektif), 

OPC berguna sekali pada gangguan sirkulasi 

dalam kapiler (claudicatio) dan pada varicose 

(pemekaran pembuluh balik setempat).

Resorpsi dalam usus cepat dan baik untuk 

segera didistribusikan ke jaringan yang 

kaya akan kolagen dan glukosaminglikan. 

Masa paruhnya 5 jam, namun  dalam jaringan 

kolagen bertahan lebih lama, sampai 70 jam. 

Sampai sekarang belum dilaporkan adanya 

efek samping.

Dosis: 1-2 dd 50-75 mg, diminum dengan 

banyak air agar BA-nya optimal.

5. Kelompok vitamin D 

Kelompok vitamin D mencakup ergokalsi-

ferol (D2), kolekalsiferol (D3alamiah) dan 

beberapa turunannya yang semuanya me-

miliki rumus steroid. Dengan nama umum, 

vitamin D selanjutnya dimaksudkan zat-

zat itu  dengan aktivitas biologis dari 

kolekalsiferol alamiah.

Vitamin D2 dibentuk dalam tubuh dari 

provitamin ergosterol yang antara lain 

ada  dalam ragi. Vitamin D3 banyak 

ada  dalam ikan berlemak dan minyak 

ikan kabeljauw (cod) (bersama vitamin A) 

dan relatif sedikit dalam susu, kuning telur 

dan hati. Dalam kulit ada  provitamin 

7-dehidrokolesterol, yang di bawah pengaruh 

sinar UV diubah menjadi vitamin D3. Bebe-

rapa bahan makanan seperti margarin, lazim-

nya diperkaya dengan vitamin A dan D.

Resorpsi dari usus baik dan melalui limfe 

memasuki darah dalam bentuk chylomikron, 

suatu lipoprotein besar. Metabolisme vitamin 

D2 dan D3 berlangsung sejajar, kedua-dua-

nya dalam hati dihidroksilasi menjadi se-

nyawa 25-OH-nya dan kemudian dalam 

tubuli ginjal menjadi derivat 1,25-dihidroksi. 

Kedua metabolit ini, yaitu 1,25-(OH)2D2 dan 

1,25-(OH)2D3 (= kalsitriol) bersama 24,25- 

(OH)2D3 merupakan bentuk bioaktif vitamin 

D. Selain itu, juga 25(OH)D3 (= kalsifediol) 

memiliki aktivitas sendiri. Untuk jelasnya 

lihat skema di bawah ini. Penimbunan vita-

min D terutama terjadi di jaringan lemak dan 

hati; ekskresi berlangsung terutama melalui 

empedu dan tinja. 

Khasiat

Di samping peranan penting dari vitamin 

D pada mineralisasi jaringan tulang dan pada 

fungsi otot juga ada  berbagai efek lain 

bagi kesehatan, misalnya peranan fisiologinya 

pada penyakit auto-imun, kanker colon dan 

penyakit jantung/pembuluh. Defisiensi vita- 

min ini sering kali timbul pada lansia, oleh 

sebab  itu suplesinya dalam kombinasi 

Sinar ultraviolet terdiri dari 3 komponen, 

yakni UV-A, UV-B dan UV-C dengan panjang 

gelombang menurun. UV-A mencakup ±90% 

dari sinar matahari dan membuat “hitam”nya 

kulit (“tanning”) dan dipakai  pada banku 

matahari (“sunbank”). UV-C sangat merusak 

kulit, namun  sinar ini ditahan oleh lapisan 

ozon. UV-B, sinar gelombang menengah, 

hanya merupakan 0,2% dari sinar matahari 

total, namun sangat penting sebab  memicu 

pembentukan vitamin D3 dari provitaminnya. 

Untuk pengubahan ini ±15 menit sinar 

matahari sehari sudah cukup, bahkan bila 

terkena secara tidak langsung (di tempat 

teduh). Lagi pula UV-B bersifat melindungi 

kulit terhadap pembakaran lebih lanjut melalui 

menebalan lapisan tanduk. Namun eksposisi 

terlampau lama sering memicu  pig-

mentasi dan terbakarnya kulit. Pada orang 

kulit putih sinar ini juga bertanggung-jawab 

atas dipercepatnya proses menua kulit (men-

jadi kriput) serta melanoma dan kanker sel 

basal dari kulit akibat penekanan imunitas 

seluler kulit.

Melindungi kulit terhadap terbakar sinar 

matahari (sunburn)dapat dilakukan dengan 

mengolesi kulit dengan krem yang mengan-

dung suatu zat penyaring UV (sunblock), yang 

menahan UV-A dan UV-B. UV-filter yang 

banyak dipakai  yaitu  hidrochinon.

Gambar 53-3: Panjang gelombang sinar UV

dengan kalsium dapat mengurangi jumlah 

insidensi jatuh serta patah tulang pinggang 

maupun fraktur tulang lain dengan 10-20%. 

Oleh sebab  itu dianjurkan untuk mensuplesi 

para lansia di atas usia 70 tahun terutama 

yang menderita osteoporosis dengan 20 ug 

(800 IE) sehari kolekalsiferol (vitamin D3). 


Vitamin D berdaya menstimulasi resorpsi 

aktif kalsium dan fosfat dari usus halus, 

juga reabsorpsinya oleh ginjal. Mekanisme 

kerjanya yaitu  melalui stimulasi sintesis 

CBP (Calcium Binding Protein), yang mengikat 

Ca untuk selanjutnya diserap secara aktif 

oleh usus. Bersama hormon tiroid kalsitonin 

dan hormon paratiroid parathormon (PTH), 

vitamin D menstimulasi mobilisasi (penge-

luaran dan terlarutnya kalsium dari tulang ke 

darah) dengan hasil akhir kadar Ca dan fosfat 

darah meningkat. Pada proses demineralisasi 

ini kalsitriol berperanan penting; sebaliknya 

24,25-(OH)2D3 khusus berfungsi mendorong 

mineralisasi tulang dan dengan demikian 

mencegah demineralisasi terlampau kuat.

Selain itu, parathormon juga menstimulasi 

sintesis kalsitriol dan menghambat reabsorpsi 

Ca dan P di ginjal dengan efek naiknya kadar 

Ca dan turunnya kadar fosfat. Kalsitonin 

sebaliknya mendorong mineralisasi tulang 

di samping menghambat reabsorpsi Ca dan 

P di ginjal dengan efek akhir turunnya kedua 

kadar Ca dan fosfat. Dalam dosis tinggi 

vitamin D menstimulasi perombakan tulang. 

Vitamin D3 berperan penting pada regulasi 

fungsi sistem imun.

Penelitian telah mengungkapkan bahwa 

vitamin D mempunyai fungsi lebih banyak 

dalam tubuh dari pada hanya peranan pusat 

dalam metabolisme kalsium dan fosfor. 

Reseptor vit D selain di kulit dan usus, 

juga telah ditemukan di otak, jantung, lam-

bung, pankreas, testis, ovarium, limfo-T dan 

limfo-B teraktivasi.

Vit D aktif (D3) berkhasiat menghambat 

proliferasi sel kanker dan memegang pe-

ranan penting pada prevensi terjadinya kan-

ker dan PJP, juga dari penyakit autoimun 

(diabetes tipe-1, rema dan MS). 

Defisiensi memicu  berkurangnya 

resorpsi Ca dan P yang penting sekali bagi 

kerangka. Akibatnya jaringan tulang diganti 

oleh tulang rawan yang lebih lunak, mudah 

melengkung dan memicu  deformasi 

setempat. Pada anak-anak perkembangan 

kerangkanya terhenti dan terjadilah rachitis 

atau penyakit Inggris dengan bercirikan 

kaki bengkok (X-legs atau O-legs). Pada 

orang dewasa terjadi osteomalacia (Yun. 

osteon = tulang; malakia = lembek) dengan 

ciri perasaan lemah dan letih serta menjadi 

bungkuk, di samping kadar Ca dan P darah 

menurun dengan akibat hiperparatirosis 

sekunder. pemicu  defisiensi yaitu  anta- 

ra lain malabsorpsi sebab  diare atau stea-

torrea, ataupun sebab  kelainan ginjal 

yang menghambat reabsorpsi Ca dan P 

(rachitis yang resisten terhadap vitamin 

D). Rachitis “biasa” khususnya ada  di 

daerah-daerah dengan iklim sedang dengan 

kurang sinar matahari. Hypovitaminosis 

D memperlihatkan gejala seperti sakit dan 

lemah otot atau rasa letih.Status vit D dalam 

tubuh dapat dievaluasi di laboratorium dari 

kadar kalsidiol [25(OH)D}dalam darah. Peng-

gunaannya terutama pada semua keadaan 

defisiensi vitamin D, juga yang diakibatkan 

oleh defek pada metabolisme vitamin D 

dengan kekurangan kalsitriol. Begitu pula 

pada penyakit tulang (osteoporosis) pada 

mana ada  kekurangan Ca dan P dalam 

darah, serta pada hipofungsi paratiroid, 

misalnya sesudah operasi gondok. Untuk 

pencegahan defisiensi, vitamin D diberikan 

secara rutin pada bayi dan anak-anak sampai 

usia 6 tahun.

Pilihan obat tergantung dari keadaan, 

misalnya bila fungsi ginjal kurang baik 

sebaiknya dipakai  kalsitriol atau alfa-

kalsidol yang tidak usah diaktifkan lagi 

di dalam ginjal, lagi pula efeknya lebih 

cepat daripada vitamin D2 dan D3. Pada 

hipoparatirosis biasanya dipakai  derivat 

sintetik dihidrotachysterol, yang selain 

bekerja cepat juga kurang berkumulasi 

seperti zat-zat lainnya.

Efek samping. Pada overdosis ringan 

vitamin D sudah bisa toksik dengan akibat 

peningkatan resorpsi Ca dari usus dan de-

mineralisasi kerangka. Hal ini juga terjadi 

sebagai reaksi terhadap hipoparatirosis. Aki-

batnya kadar Ca darah meningkat (hiper-

kalsiëmia) dan terendapnya Ca sebagai kal-

siumfosfat di ginjal (batu), lensa mata 

(cataract), dinding pembuluh, jantung dan 

organ-organ lainnya, dengan memicu  

kerusakan jaringan dan hipertensi. Gejala 

lain yaitu  mual, muntah, diare, sakit kepala, 

mengantuk (letargi), haus dan poliuria. 

Overdosis dapat ditangani untuk waktu 

singkat dengan prednison atau kalsitonin.

Interaksi dengan obat lain dapat terjadi, 

misalnya dengan fenobarbital dan fenitoin 

yang mengurangi efek vitamin D, baik sebab  

perombakannya dipercepat melalui induksi 

enzim atau sebab  hambatan aktivasinya 

(reaksi hidroksilasi).

5a. Ergokalsiferol (kalsiferol, vitamin D2) ada-

lah vitamin D tertua (1921) yang banyak di-

gunakan dalam sediaan multi-vitamin.

Dosis: pada defisiensi 1-2 mg sehari, 

sebagai penunjang 400 U. Pada sindrom 

malabsorpsi 10-50.000 U sehari, pada hipo-

paratirosis 50-200.000 U sehari. 

1 mg vitamin D2 = 40.000 UI atau 1 UI vita-

min D2 = 0,025 mcg.

5b. Kolekalsiferol (vitamin D3, Devaron, Neo-

Dohyfral) yaitu  vitamin D alamiah (1930) 

dengan efek lambat (baru sesudah  bebe- 

rapa minggu), namun  berlangsung lama ka-

rena adanya timbunan di lemak dan hati. 

Dalam megadosis efektif untuk mencegah 

«wintertoes» di musim dingin, pada waktu 

mana jari-jari kaki-tangan mengembang, 

menjadi merah, dan gatal.

Dosisnya sama dengan vitamin D2. Sebagai 

profilaksis terhadap wintertoes (perniones) 2 

kali setahun 300.000 U dalam larutan minyak 

atau 600.000 U sekaligus (i.m.). 1 mg = 40.000 

UI.

5c. Kalsitriol (1,25 dihidroksikolekalsiferol,1,25

(OH)2D3 Rocaltrol) yaitu  metabolit vitamin 

D3 yang paling aktif (1978) dengan kerja 

panjang (plasma-t½ 7-12 jam). Hormon ini 

terikat pada reseptor vitamin D. Kalsitriol 

disintesis dalam ginjal dari 25-hidroksi-kal-

siferol, yang terbentuk di dalam hati dari 

kolekalsiferol. Perbandingan aktivitasnya 

yaitu : 1 mcg kalsitriol = 1 mcg alfakalsidol = 

100 mcg kalsifediol = 500 mg DH-tachysterol.

Dosis: pada rachitis dan hipoparatirosis 

permulaan oral 250 mcg sehari, bila perlu 

dinaikkan setiap minggu 250 mcg dengan 

kadar Ca dalam darah sebagai penuntun.

5d. Alfakalsidol(1-a-hidroksikalsidol, Etalpha) 

yaitu  derivat yang hanya perlu hidroksilasi 

di hati untuk menjadi kalsitriol aktif (1978), 

sehingga dapat dipakai  pada insufisiensi 

ginjal. Mulai efeknya lebih cepat (dalam bebe-

rapa hari) dibandingkan vitamin D2 dan D3.

Dosis: pada defisiensi permulaan oral 250-

500 mcg sehari, bila perlu dinaikkan setiap 

minggu dengan 250 mcg.

5e. Dihidrotachysterol (Dihydral, AT-10) ada-

lah derivat sintetik dari vitamin D2 (1947) 

yang dalam hati diubah menjadi zat aktifnya 

25(OH)DHT. Seperti vitamin D2 dan D3, zat 

ini berkhasiat meningkatkan resorpsi kal-

sium, namun  daya kerjanya lebih ringan. Efek 

demineralisasinya terhadap tulang lebih ku-

at. Mulai kerjanya juga sesudah  beberapa hari.

Dosis: pada rachitis oral 0,5-2 mg sehari; 

sebagai penunjang 0,2-1,5 mg.

6. d-a-Tokoferol: vitamin E, Evion, 

Natur-E, *Fundamin -E

Vitamin yang larut dalam minyak ini banyak 

ada  dalam minyak nabati, ter-utama 

yang mengandung PUFA, seperti minyak 

jagung, kedele, kembang matahari dan mi-

nyak wheat-germ (1 mg per ml). Juga di dalam 

padi-padian lengkap (whole grain), ragi, 

hati, trubuk, kuning telur dan sayur-mayur. 

Dikenal 4 bentuk tokoferol, yakni alfa-, be-

ta-, gamma- serta delta-tokoferol ; isomer 

d-alfa memiliki kegiatan terbesar. DL-alfa-

tokoferol dapat dibuat secara sintetik, namun  

36% kurang aktif. Berkhasiat melindungi 

trombosit terhadap oksidasi dan dengan 

demikian mencegah terjadinya trombi dan 

trombosis, sehingga melancarkan sirkulasi 

darah, menstimulasi pernapasan sel dan 

menghambat pembentukan parut (bekas 

luka).

Fungsi biologisnya belum diketahui de-

ngan jelas, mungkin sekali vitamin E bekerja 

sebagai antioksidan yang melindungi asam 

lemak tak-jenuh terhadap oksidasi oleh radikal 

oksigen yang biasanya dibebaskan pada pro-

ses metabolisme dalam hati. Indikasi untuk 

teori ini ialah ada nya vitamin E bersama 

asam linolat dalam membran sel, sedang  

kebanyakan minyak tumbuhan yang kaya 

PUFA juga mengandung vitamin E. Fungsi 

antioksidannya diperkuat oleh vitamin C 

dan asam liponat, yang berdaya mereduksi 

kembali vitamin E yang telah dioksidasi oleh 

FR, sehingga dapat melanjutkan fungsinya.

Defisiensi jarang sekali terjadi, khusus 

pada bayi prematur dengan anemia khas 

akibat kelainan struktur mem