cacing kermi
Coecum, colon Anal-oral,
auto-infeksi
Seluruh dunia piperazin
pyrvinium pamoat
Filiariasis
Wucheria bancrofti (N)
Simpul limfe;
mikrofilaria
dalam darah.
Gigitan nyamuk Daerah tropis
dan subtropis
dietilkarbamazin
Hookworms
Ancylostoma duodenale
Necator americanus (N)
Usus halus;
Larva via paru
Melalui kulit,
tanah yg
terinfeksi.
Daerah tropis befenium,
tetrakloretilen,
thiabendazol
Strongyloidiasis
Strongyl.stercoralis (N)
Duodenum,
jejunum; larva
via kulit, paru
Melalui kulit Seluruh dunia thiabendzol,
pyrvinium pamoat
Taeniasis (cacing pita)
Taenia saginata/solium (C)
Usus halus Daging mentah Seluruh dunia niklosamida,
quinakrin
Trichinosis
Trichinella spiralis (N)
Larva dalam otot Daging mentah Seluruh dunia thiabendazol
Trichuriasis
Trichiuris trichiura (N)
cacing cambuk
Coecum, colon Tanah yang
terinfeksi
tinja dg telur
cacing
Seluruh dunia heksilresorsinol
thiabendazol
Tabel 13-1: Penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi cacing
dibagi pula dalam infeksi saluran cerna dan
infeksi jaringan.
Ketiga kelompok ini berbeda mengenai
siklus hidup, bentuk, pengembangan, fisio-
logi, lokalisasi di dalam tuan rumah (host) dan
kepekaannya terhadap kemoterapi. Bentuk-
bentuk yang belum dewasa (immature) me-
masuki tubuh manusia melalui kulit atau
saluran cerna dan berkembang menjadi ca-
cing dewasa.
Dari sekian banyak jenis infeksi cacing yang
dikenal, hanya sejumlah kecil yang sering
terjadi di negara kita dan akan dibahas di
bawah ini. Pada setiap jenis juga disebutkan
anthelmintik yang dapat dipakai ter-
hadapnya
1. Ascariasis: mebendazol, albendazol, pirante l
dan piperazin.
Ascaris lumbricoides atau cacing gelang
panjangnya 10-15 cm dan biasanya bermukim
dalam usus halus. Kira-kira 25% dari seluruh
penduduk dunia terinfeksi cacing ini, ter-
utama di negara tropik (70-90%). Infeksi
terutama timbul pada anak-anak sekolah dan
memicu obstruksi saluran cerna atau
hepatobiliary ascariasis.
Cacing betina mengeluarkan telur dalam
jumlah yang sangat banyak, sampai 200.000
telur sehari yang dikeluarkan dalam tinja.
Penularan terjadi melalui makanan yang
terinfeksi oleh telur dan larvanya (panjangnya
kira-kira 0,25 mm) yang berkembang dalam
usus halus. Larva ini menembus dinding
usus, melalui hati untuk kemudian ke paru-
paru. sesudah mencapai tenggorok, lalu larva
ditelan untuk kemudian berkembang biak
menjadi cacing dewasa di usus halus. Lihat
Gambar: Lingkaran hidup Ascaris. Jumlah-
nya dapat menjadi demikian besar hingga
bisa memicu penyumbatan, juga kom-
plikasi seperti ileus, appendicitis dan pan-
creatitis.
Pengobatan. Obat pilihan pertama yaitu
mebendazol, albendazol dan pirantel. Sering
kali kur harus diulang dengan kur kedua,
sebab tidak semua cacing atau telurnya da-
pat dimusnahkan pada tahap pertama. Ang-
gota keluarga juga mungkin pembawa kista
oleh sebab itu sebaiknya diobati.
2. Oxyuriasis: mebendazol, albendazol, pirantel
dan piperazin.
Enterobius vermicularis (dahulu disebut
Oxyuris) atau cacing kermi yang biasanya
ada dalam coecum, memicu gatal
di sekitar dubur (anus) dan kejang hebat
pada anak-anak. Adakalanya infeksi ini
memicu radang umbai-usus buntu
akut (appendicitis). Pada wanita cacing ini bisa
merambat ke saluran genital dan seterusnya
ke rongga perut sehingga memungkinkan
timbulnya salpingitis atau peritonitis. Penularan
pada anak kecil sering kali terjadi dengan
jalan auto-reinfeksi, yakni melalui telur yang
melekat pada jari-jari sewaktu menggaruk
daerah dubur yang dirasakan sangat gatal dan
dengan demikian memungkinkan terjadinya
infeksi sekunder. pemicu nya yaitu cacing
betina yang panjangnya 8-13 mm, keluar dari
dubur antara jam 8-9 malam untuk bertelur
di kulit sekitar dubur.
Infeksi cacing kermi yaitu infeksi cacing
satu-satunya yang penularannya berlangsung
dari orang ke orang, sehingga semua anggota
keluarga harus serentak diobati pula, walau-
pun mereka tidak menunjukkan gejala apa-
pun. Soalnya yaitu sebab cacing betina
baru meletakkan telurnya antara 3-6 minggu
sesudah infeksi.
Pengobatan. Mebendazol, albendazol dan
pirantel tidak mematikan telurnya, sehingga
sesudah dua minggu cacing yang menetas
harus dimatikan oleh kur kedua. Piperazin
yaitu obat pilihan kedu a.
3. Taeniasis: praziquantel, niklosamida
Cacing pita yang paling umum ada
yaitu Taenia soliumdan T. saginata yang ba-
nyak ada pada masing-masing babi dan
sapi, juga ikan. Penularannya terjadi sebab
memakan daging yang dimasak belum
cukup lama dan masih mengandung larva.
Cacing dewasa yang berkembang dalam
usus, berbentuk seperti pita bersegmen. T.
saginata dapat mencapai panjang sampai 10
m, sedang T. solium lebih pendek, sampai
6 m.
Taenia sukar sekali dibasmi sebab kepa-
lanya (scolex) yang relatif kecil dibenamkan
ke dalam selaput lendir usus hingga tidak
bersentuhan dengan obat. Bagian cacing (seg-
men, proglotida) yang bersentuhan dengan
obat dan telah dimatikan, dilepaskan dari
scolex yang kemudian membuat segmen-
segmen baru (regenerasi). Segmen dan telur-
nya dapat dikenali dalam tinja, namun scolex-
nya biasanya sudah dicernakan oleh
getah usus. Penularan terjadi bila telur yang
dikeluarkan dengan tinja, dimakan oleh
tuan rumah-antara (hewan) dan kemudian
berkembang menjadi larvae. Larvae ini me-
nembus dinding usus dan menyebar ke
berbagai jaringan tubuh a.l. jaringan sub-
kutan, otot dan malahan ke otak. Di situ
larvae (khusus dari T. solium) dapat berkem-
bang menjadi cysticerci, ialah kista dengan
ukuran 0,5 – 1 cm yang mengandung scolex
cacing dewasa. Manusia makan kista ini me-
lalui daging terinfeksi yang dimasak kurang
matang, di lambung parasit keluar dari kis-
tanya dan dalam usus halus menjadi cacing
dewasa. Diagnosisnya dilakukan dengan de-
teksi proglotida atau telur dalam tinja. Kista
yang berada di dalam otak dapat dideteksi
melalui CT atan MRI scan.
Gejala umum. Infeksi dengan cacing dewa-
sa umumnya tak memicu gejala (asim-
tomatis), jarang sekali anemia, radang usus
buntu atau radang pankrea s.
Pengobatan. Obat pilihan pertama ter hadap
infeksi Taenia yaitu praziquantel (10 mg/kg
single dose) atau niklosamida (2 x 1g dengan
selang waktu 2 jam). Pemberian suatu laksan
sesudahnya dianggap tidak perlu.
4. Ancylostomiasis: mebendazol dan albendazol.
Ada dua jenis cacing tambang, yakni Necator
americanus yang terutama ter dapat di Amerika
dan Ancylostoma duodenale yang ada di
daerah tropik/subtropik dan panjangnya ±
10 mm. Cacing ini disebut cacing tambang
atau cacing terowongan (pemicu tunnel
disease) sebab ada di daerah tambang
dan terowongan di gunung. Penularannya
terjadi oleh larva yang memasuki kulit kaki
yang terluka dan memicu reaksi lokal.
sesudah memasuki vena, larva menuju ke
paru-paru dan bronchi, akhirnya ke saluran
cerna. Seperti Taenia, cacing tambang juga
mengaitkan diri pada mukosa usus dan
menghisap darah tuan-rumah sehingga me-
nimbulkan anemia yang cukup serius.
Pengobatannya diarahkan pada dua tuju-
an, yakni memperbaiki hematologik dan
memberantas cacing. Mebendazol dan pi-
rantel merupakan obat pilihan pertama, yang
sekaligus juga membasmi cacing gelang bila
terjadi infeksi campura n.
5. Strongyloidiasis: tiabendazol, ivermectin,
albendazol
Strongyloides stercoralis atau cacing be nang
sering kali ada di daerah tropik dan
subtropik. Penularannya lewat larva yang
berbentuk benang yang menembus kulit.
Larva ini dapat dikenali dalam tinja namun
tidak mengandung telurnya. Berhubung ter-
jadinya auto-reinfeksi, maka cacing dapat
bertahan puluhan tahun lamanya di mukosa
bagian atas usus halus. Di tempat ini cacing
merusak jaringan dan memicu reaksi
radang. Gejalanya yang khas yaitu gatal
hebat (urticaria) di bagian bokong yang ber-
sifat sementara, juga gangguan perut dan
iritasi saluran pernapasan (batuk, sesak
napas) akibat migrasi cacing.
Pengobatan. Tiabendazol dan ivermectin
merupakan obat pilihan pertama terhadap
cacing benang; albendazol juga efektif.
6. Trichiuriasis: mebendazol, pirantel, albendazol
Trichiuris trichiura atau cacing cambuk
umumnya ada di negara beriklim pa-
nas dan lembap. Dalam tubuh manusia
biasanya cacing cambuk ada dalam
coecum dan bermukim di mukosa ileum dan
colon, dengan memicu kerusakan dan
peradangan. Telurnya dikeluarkan dalam
tinja dan dapat di deteksi untuk keperluan
diagnosis. Telur dapat berkembang di tanah.
Penularannya terjadi melalui makanan dan air
yang terinfeksi.
Gejalanya: pada anak kecil dapat meng-
akibatkan appendicitis akut. Akibat kehilangan
darah juga dapat timbul anemia. Pengobatan
efektif dengan mebendazol, pirantel dan
albendazol.
7. Filariasis: dietilkarbamazin (DEC), Hetrazan
Wucheria bancrofti atau cacing benang
merupakan nematoda dari famili Filaria,
yang memicu penyakit tropik elephan-
tiasis (kaki gajah) atau filariasis Bancrofti. Ca-
cing ini ada antara lain di Afrika Te-
ngah, Amerika Selatan, India dan negara
tropik lainnya, begitu pula di Asia Tengga-
ra (negara kita , Malaysia, Vietnam dan Cina
Selatan). memicu radang pembuluh
limfa (lymphangitis) disusul dengan pe-
nyumbatan oleh cacing dewasa (panjang-
nya 8-10 cm). Akibatnya yaitu hipertrofi
dari jaringan sel, terutama di bagian kaki
yang dapat membesar sampai diameter 30
cm, oleh sebab itu disebut “kaki gajah”. Pe-
nularannya ke manusia terjadi melalui tuan
rumah-antaranya, yaitu nyamuk Culex fati-
gans yang menyengat pada waktu malam.
Pengobatan. Obat utama terhadap infek-
si ini yaitu dietilkarbamazin, khusus nya
bila diberikan pada waktu dini. Kadangkala
diperlukan pembedah an untuk memperbaiki
penyaluran getah bening dan membuang
jaringan yang berlebihan.
8. Skistosomiasis: praziquantel.
Schistosoma haematobium merupakan cacing
pipih yang tidak bersegmen dan ada di
Amerika Selatan, negara Arab, Afrika, Cina
dan beberapa negara Asia, a.l. negara kita (S.
japonicum). Cacing ini merupakan pemicu
penyakit schistosomiasis atau bilharziasis yang
di tularkan melalui sejenis keong pembawa
larvanya. sesudah berkembang, parasit ini
menembus kulit manusia dan memasuki
peredaran darah. Di beberapa bagian dunia
schistosomiasis merupakan suatu masalah
kesehatan masyarakat yang disebarkan me-
lalui mandi di air yang terinfeksi.
Penularan terjadi oleh cercariae dengan
bentuk khas yang dilepaskan ke dalam air
oleh tuan rumah-antara (keong), yang kemu-
dian menembus kulit atau selaput lendir
manusia. Siklus seksualnya terjadi di dalam
tubuh manusia dengan pembentukan ba-
nyak telur, yang dikeluarkan lewat tinja
atau urin. Di dalam air larva keluar dari
telur dan menulari keong, yang kemudian
memproduksi puluhan ribu cercariae.
Terapi. Obat pilihan pertama yaitu prazi-
quantel terhadap semua jenis skistosomiasis
yang menyerang manusia.
MoNoGrAFI
1. Mebendazol: Vermox.
Ester metil dari benzimidazol ini (1972)
yaitu anthelmintikum berspektrum luas
yang sangat efektif terhadap cacing kermi,
gelang, pita, cambuk dan tambang. Obat
ini banyak dipakai sebagai monoterapi
untuk penanganan massal penyakit cacing,
juga pada infeksi campuran dengan dua
atau lebih jenis cacing. Mebendazol bekerja
sebagai vermisid, larvisid dan juga ovisid.
Mekanisme kerjanya melalui perintangan
pemasukan glukosa dan mempercepat peng-
gunaannya (glikogen) pada cacing. Tidak
perlu diberikan laksan. Resorpsi dari usus
ringan sekali, kurang dari 10%. BA-nya juga
rendah akibat first pass effect tinggi. PP-nya
95%. Ekskresinya berlangsung lewat empedu
dan urin. Efek samping jarang terjadi dan
berupa gangguan saluran cerna seperti sakit
perut dan diare.
Kehamilan dan laktasi: tidak boleh dipakai
oleh ibu hamil sebab memiliki sifat teratogen
yang potensial. Mengingat resorpsinya
sangat ringan, laktasi tidak perlu dihentikan.
Tidak dianjurkan bagi anak di bawah usia 2
tahun.
Dosis: bagi dewasa dan anak-anak sama,
yaitu pada oxyuriasis dosis tunggal dari 100
mg (= 1 tablet) pada waktu makan pagi. Kur
diulang 14 hari kemudian. Sebaiknya seluruh
keluarga diberi obat terhadap cacing kermi.
Pada infeksi cacing gelang, tambang, benang,
pita dan cambuk 2 dd 100 mg selama 3 hari,
bila perlu diulang sesudah 3 minggu.
* Albendazol (Eskazole, Albenza, Zentel)
yaitu juga derivat karbamat dari ben-
zimidazol (1988), berspektrum luas terha-
dap Ascaris, Oxyuris, Taenia, Ancylostoma,
Strongyloides dan Trichiuris. Terutama di-
anjurkan pada echinococciosis (cacing pita
anjing). Resorpsi dari usus buruk, namun ma-
sih lebih baik daripada mebendazol. Di da-
lam hati, zat ini segera diubah menjadi sul-
foksidanya, yang diekskresi melalui empedu
dan urin.
Efek samping berupa gangguan lambung-
usus, demam, rontok rambut (selewat) dan
exanthema.
Wanita hamil dan selama laktasi tidak boleh
memakai albendazol, sebab ternyata
teratogen pada binatang percobaan.
Dosis: pada echinococciosis di atas 6 thn 15
mg/kg/hari dalam 2 dosis d.c., pada as-
cariasis, enterobiasis, ancylostomiasis, tri-
churiasis: anak dan dewasa dosis tunggal 400
mg d.c., pada strongyloidiasis 1 dd 400 mg
d.c. selama 3 hari.
2. Piperazin (F.I.): Upixon
Zat basa ini (1949) sangat efektif terhadap
Oxyuris dan Ascaris berdasar perintangan
penerusan impuls neuromuskuler, hingga
cacing dilumpuhkan untuk kemudian dike-
luarkan dari tubuh oleh gerakan peristaltik
usus. Di samping itu piperazin juga ber-
khasiat laksan lemah. Dahulu obat ini banyak
dipakai sebab efektif dan murah, namun
di banyak negara Barat sejak tahun 1984 tidak
dipakai lagi sebab efek sampingnya,
terutama neurotoksisitasnya. Resorpsi oleh
usus cepat dan ± 20% diekskresi melalui urin
dalam keadaan utuh. Dari sekian banyak
garam yang dipakai , mungkin hanya ga-
ram adipat yang paling sedikit resorpsinya.
Efek samping jarang terjadi (mual, muntah,
reaksi alergi), pada overdosis timbul gatal-
gatal (urticaria), kesemutan (paresthesia) dan
gejala neurotoksik (mengantuk, pikiran kacau,
kon-vulsi, dan lain-lain). Hati-hati pengguna-
annya pada pasien epilepsi, gangguan hati
dan ginjal. Wanita hamil dapat diberikan
piperazin.
Dosis: terhadap Ascaris 75 mg/kg berat
badan atau dosis tunggal dari 3 g (terhitung
sebagai heksahidrat. 6 aq.) selama 2 hari.
Terhadap Oxyuris 65 mg/kg berat badan atau
dosis tunggal dari 2,5 g selama 7 hari.
Untuk anak-anak terhadap Ascaris: 50 mg/
kg berat badan, yakni 1-2 tahun 1 g, 3-5 tahun
2 g dan di atas 6 tahun 3 g sekaligus. Terhadap
Oxyuris: dosis sama, namun selama 4-7 hari.
* Dietilkarbamazin (DEC, Hetrazan)
Derivat piperazin ini (1948) dikembangkan
sewaktu perang dunia kedua, ketika ±15.000
tentara AS yang ditempatkan di pulau-pulau
Pasifik Barat menderita filariasis. Obat ini
khusus dipakai terhadap mikrofilaria ca-
cing benang, a.l. Wucheria bancrofti dan
Loaloa, sedang terhadap makrofilaria
Obat Terpilih Pilihan Kedua
Ascaris (gelang) meb - pir – alb pip - lev
Oxyuris (kermi) meb - pir pip
Taenia (pita) nik – pra alb - meb
Necator (tambang) meb – alb pir – lev
Strongyl. (benang) alb meb
Trichuris (cambuk) Meb - pir alb
Filaria (benang) dietilkarbamazin -
Bilharzia pra -
Echinococcus meb –alb
meb = mebendazol pip = piperazin ivr = ivermectin
pir = pirantel lev - levamisol
alb = albendazol pra = praziquantrel nik = niklosamida
Tabel 13-2: Anthelmintika yang dipakai pada berbagai
jenis infeksi cacing
kurang efektif. Khasiatnya berdasar
penurunan aktivitas otot dan kemudian
melumpuhkan mikrofilaria. Lagi pula obat
ini mengubah permukaan membran cacing,
sehingga cacing dapat dimusnahkan oleh
daya tahan penderita. Resorpsi dari usus
mudah sehingga kadar dalam plasma
sudah mencapai puncaknya dalam 1-2 jam.
Plasma-t½-nya 10-12 jam. Lebih dari 50%
diekskresi melalui urin dalam keadaan utuh.
Efek samping sakit kepala, pusing, mual dan
muntah, walaupun sering terjadi namun tidak
serius dan biasanya hilang sendiri dalam
waktu beberapa hari tanpa menghentikan
pengobatan. Protein dari filaria yang mati
dapat memicu reaksi alergi, mis.
urticaria hebat, dermatitis dan demam, yang
juga dapat hilang sendiri sesudah 3-7 hari.
Kehamilan. Obat ini dianggap aman untuk
dipakai oleh ibu hamil.
Dosis: 3 dd 2 mg/kg berat badan p.c. atau
150-500 mg seharinya untuk 14 hari.
3. Pirantel: Combantrin, *Quantrel, *Trivexan
Derivat pirimidin ini (1966) berkhasiat
terhadap Ascaris, Oxyuris dan cacing tam-
bang, namun tidak efektif terhadap Trichiuris.
Mekanisme kerjanya berdasar melum-
puhkan cacing dengan menghambat pene-
rusan impuls neuromuskuler (seperti pipe-
razin). Lalu parasit dikeluarkan oleh peris-
taltik usus tanpa memerlukan laksan. Resorpsi
dari usus ringan; 50% zat diekskresi dalam
keadaan utuh bersama metabolitnya melalui
tinja dan ± 7% dikeluarkan melalui urin. Efek
samping ringan dan berupa gangguan saluran
cerna dan kadangkala sakit kepala.
Kehamilan: Pirantel tidak dianjurkan peng-
gunaannya oleh wanita hamil maupun anak-
anak di bawah usia 2 tahun.
Dosis: pada cacing kermi dan gelang
sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg (pamoat =
embonat), anak-anak ½-2 tablet sesuai usia (10
mg/kg). Pada cacing cambuk dosisnya sama
dan diberikan selama 3 hari.
* Oksantel yaitu derivat m-oksifenol dari
pirantel yang dalam dosis tunggal (250-375
mg) efektif terhadap trichiuriasis.
Sediaan kombinasi:
* Quantrel = pirantel pamoat 150 + oksantel
pamoat 150 mg
* Trivexan= pirantel pamoat 100 + meben-
dazol 150 mg
4. Levamisol: levotetramisol, Askamex, Erga-
misol
Derivat imidazol ini (1969) sanga t efektif
terhadap Ascaris (90%) dan cacing tambang
(80%) denga n cara melumpuhkannya. Bentuk
rasemis nya tetramisol juga dipakai ter-
utama pada hewan; aktivitasnya hanya
setengahnya dari levamisol. Khasiat lainnya
yang sangat penting yaitu stimulasi sistem
imunologi tubuh (imunostimulator pada
kemoterapi; khususnya mengenai T-cells).
Oleh sebab itu sangat berguna pada terapi
dengan obat yang menekan sistem itu ,
yaitu sitostatika dan kortikosteroida. dipakai
pula dalam kombinasi dengan fluoro-urasil
sesudah pembedahan reseksi pada kanker
colon. Efek samping jarang terjadi, yaitu reaksi
alergi (rash), granulocytopenia dan kelainan
darah lainnya. Hati-hati pada penderita rema
dan penyakit auto-imun lainnya, sebab
mereka sangat peka terhadap efek samping
hematologis.
Kehamilan dan laktasi: data untuk ini masih
kurang jelas.
Dosis: pada ascariasis orang lebih berat
dari 40 kg sekaligus 150 mg d.c (garam HCl),
anak-anak 10-19 kg: 50 mg, 20-39 kg: 100 mg.
5. Praziquantel: Biltricide
Derivat pirazino-isokinolin ini (1980) ber-
khasiat baik terhadap jenis tertentu Schisto-
soma (Cina) dan Taenia, sedang terhadap
cacing hati Fasciola hepatica tidak efektif. Obat
ini dipakai sebagai obat satu-satunya pada
schistosomiasis dan juga dianjurkan pada
taeniasis. Khasiatnya berdasar pemicuan
kontraksi cepat pada cacing dan desintegrasi
kulitnya, untuk kemudian dikeluarkan dari
tubuh. Efek samping ringan dan berupa mual,
sakit perut dan sakit kepala (selewat), jarang
demam dan urticaria.
Dosis: 600 mg sesudah makan malam. Untuk
taeniasis dosis tunggal 10mg/kg.
6. Niklosamida: Yomesan
Senyawa nitrosalisilanilida ini (1960) sangat
efektif sebagai vermisid terhadap cacing pita
manusia/hewan, namun terhadap telurnya
tidak aktif. Khasiatnya diperkirakan melalui
peningkatan kepekaan cacing terhadap enzim
protease dalam usus tuan-rumah, hingga ca-
cing lebih mudah dicerna. Oleh sebab itu
sering kali scolex tidak ditemukan lagi dalam
tinja yang menyukarkan penilaian berhasil
atau tidaknya pengobatan. Umumnya terapi
dinilai efektif bila sesudah 3-4 bulan tidak
ditemukan lagi segmen cacing (proglottida)
dan telurnya dalam tinja. Khusus pada infeksi
oleh Taenia solium (babi) sesudah segmen di-
cernakan, telurnya akan dibebaskan dalam
rongga usus, sehingga timbul kemungkin-
an cysticercosis bagi pasien. Dalam hal itu
perlu diberikan laksan garam 3-4 jam sete-
lah pengobatan untuk mengeluarkan seg-
men mati sebelum dicernakan. Laksan tidak
diperlukan pada infeksi oleh Taenia saginata
(sapi) sebab tidak ada risiko cysticercosis.
Resorpsi dari saluran cerna hanya ringan
(±15%) dan sebagian besar diekskresi melalui
urin dalam bentuk yang sudah direduksi,
sisanya melalui feses dalam 1-2 hari. Plasma-
t½-nya 3 jam.
Efek samping hampir tidak ada, namun
obat ini bersifat sangat toksik sehingga peng-
gunaannya harus hati-hati sekali pada
gangguan yang meningkatkan resorpsi (co-
litis dan luka di usus). Kehamilan dan laktasi:
data untuk ini belum mencukupi.
Dosis: dewasa dan anak di atas 8 tahun
pagi hari saat perut kosong 1 g (= 2 tablet)
dikunyah halus, disusul dengan 1 g lagi 1 jam
kemudian. sesudah 2 jam baru boleh makan.
Anak-anak dari 2-8 tahun: dosis setengahnya
dan di bawah 2 tahun seperempat (sebaiknya
tablet ditumbuk menjadi serbuk halus).
7. Ivermectin: Stromectol
Hasil fermentasi (1987) dari jamur Strep-
tomyces avermitilis ini merupakan obat terpilih
untuk infeksi cacing benang (onchocerciasis).
Obat ini berkhasiat mengurangi mikrofilaria
di kulit dan mata dengan efektif. Ivermectin
juga sangat efektif terhadap Ascaris dan
Strongyloides, namun lebih ringan daya ker-
janya terhadap Oxyuris dan Trichiuris. Ter-
hadap kudis dan kutu rambut juga ampuh.
Plasma-t½-nya 12 jam, ekskresi berlangsung
khusus melalui tinja. Efek samping ringan dan
berupa gatal-gatal, ruam kulit dan perasaan
pusing. Tidak dianjurkan bagi wanita hamil.
Dosis: di atas 12 tahun dosis tunggal dari
150 mcg/kg minimal 2 jam a.c/p.c. Bila perlu
diulang sesudah 6 bulan.
8. Obat-obat lainnya seperti minyak Che-
nopodi, gentianviolet, ekstrak Filices, san-
tonin dan papain yang sudah obsolet dan
praktis tidak dipakai lagi telah dibica-
rakan dalam Edisi III. Untuk obat yang
pemakaian nya tidak lazim lagi sebab efek
sampingnya seperti pyrvinium, befenium
dan tetrakloretilen, lihat Edisi IV.
SITOSTATIKA
A. KANKER
Kanker atau karsinoma (Yun. karkinos =
kepiting) yaitu pemben tu kan jaringan baru
yang abnor mal dan bersifat ganas (maligne).
Suatu kelompok sel dengan mendadak men-
jadi liar dan memperbany ak diri se cara pesat
dan terus-menerus (proliferasi).
Akibatnya yaitu pem bengkakan atau
benjolan yang disebut tumor atau neoplas-
ma (Lat. neo = baru, plasma=bentukan). Sel-
sel kanker menginfiltrasi jaringan sekitarnya
dan memusnahkannya. Tumor primer setem-
pat sering kali menyebarkan sel-selnya me-
lalui saluran darah dan limfe ke tempat
lain di tubuh (metastase), yang selanjutnya
berkembang menjadi tumor sekunder. Gejala-
gejala umum utama yaitu nyeri sangat
hebat, penurunan berat badan mendadak,
kepenatan total (cachexia) dan berkeringat
malam.
Jenis-jenis kanker banyak sekali dan ham-
pir semua organ dapat diserang penyakit
ganas ini, termasuk limfe, darah, sumsum dan
otak. Kanker merupakan pemicu kematian
kedua di dunia sesudah penyakit jantung
dan pembuluh. berdasar penelitian in-
tensif mengenai peranan makanan sehat di
beberapa negara Barat a.l. negeri Belanda
pada beberapa dasawarsa lalu, ternyata kan-
ker telah menempati urutan nomor satu
menggantikan penyakit PJP.
Bentuk-bentuk tumor dinamakan sesuai ja-
ringan tempat neo plasma berasal, yaitu:
• adenoma: benjolan maligne pada kelenjar,
misalnya pada prostat dan payudara
• limfoma: kanker pada kelenjar limfe, mi-
salnya penyakit (non-) Hodgkin dan p. Bur-
kitt yang berciri benjolan rahang
• sarkoma: neoplasma ganas yang berasal
pembuluh darah, jaringan ikat, otot atau
tulang, misalnya sarkoma Kaposi, suatu
tumor pembuluh di bawah kulit tungkai
bawah dengan bercak-bercak merah
• leukemia: kanker darah yang berhubungan
dengan produksi lekosit yang abnormal
tinggi dan jumlah eritrosit sangat me nu-
run
• myeloma: kanker pada sumsum tulang,
misalnya penyakit Kahler(multiple myeloma)
dengan pertumbuhan liar sel-sel plasma
di sumsum. Sel plasma berkembang men-
jadi limfosit-B. Lihat Bab 49 Dasar-Dasar
Imunologi.
• melanoma: neoplasma kulit yang sangat
ganas, terdiri dari sel-sel pigmen, yang
menyebar pesat. Neoplasma kulit lainnya
yang dapat terjadi yaitu sel basal dan sel
“plaveisel”(squamous cell). Berlainan de-
ngan melanoma, kedua jenis kanker ter-
akhir dapat disembuhkan.
pemicu
Riset pada beberapa dasawarsa terakhir
mengungkapkan bahwa kanker disebabkan
terganggunya siklus sel akibat mutasi dari gen-
gen yang mengatur pertumbuhan. Pada umum-
nya dibutuhkan minimal dua jenis mutasi
untuk membentuk pertumbuhan sel ganas.
Sel-sel tumor “berusaha“ menjauhkan diri
dari regulasi pertumbuhan sel normal. Hal
ini dicapai dengan jalan perubahan genetik,
sehingga sel tumor menjadi mandiri dari
regulasi itu . Oleh sebab itu, kanker
termasuk penyakit akibat defek pada gen.
Defek pada gen dapat diakibatkan oleh
banyak sebab, yaitu:
– radiasi dari sinar Röntgen, sinar gama
dan gelombang sinar UV tertentu (UV-C;
260 nm) yang diabsorpsi kuat oleh DNA;
– zat-zat kimia lingkungan (polu si, a.l.
asap rokok dengan zat karbonhidro gen),
juga aflatoksin yang di ben tuk jamur
Aspergillus;
– radikal bebas yang sangat reaktif ( O2
--
,
H2O2, OH-) dari pernapasan biasa dan
proses-proses faal lainnya;
– sitostatika, obat-obat kemoterapi kanker
(„kemo“), yang sendirinya memiliki ri-
siko besar memicu kanker baru,
sering kali leukemia. Sitostatika yang
dapat merusak DNA dan berkhasiat kar-
sinogen yaitu zat-zat alkilasi.
Sistem reparasi DNA. Cacat-cacat pada
gen beraneka ragam, yang pada hakikatnya
dapat diperbaiki oleh sejumlah sistem enzim.
Salah satu zat yang membantu reparasi ini
yaitu NADH (Niacinamide Adenine Dinu-
cleotide), suatu zat antioksidan kuat dan
penyuplai energi seperti ATP. namun bila sel
diekspose terus-menerus pada pemicu ke-
rusakannya, maka sistem reparasi akhirnya
tidak mampu lagi untuk memperbaiki cacat
itu . Sel defek ini memperbanyak diri
dan menurunkannya pada generasi berikut-
nya, sehingga akhirnya kanker dapat muncul
di keturunannya sesudah rentan waktu pan-
jang. Sel cacat demikian yang tidak dapat
direparasi lagi telah mengalami mutasi dari
gen-gennya.
Proses timbulnya kanker. Tumor ganas ter-
jadi melalui beberapa tingkat yaitu:
a. tahap inisiasi: DNA dirusak akibat radiasi
atau zat karsinogen (radikal bebas). Zat-
zat inisiator ini mengganggu proses re-
parasi normal, sehingga terjadi mutasi
DNA dengan kelainan pada kromosom-
nya. Kerusakan DNA diturunkan kepada
anak-anak sel dan seterusnya.
b. tahap promosi: zat karsinogen tambahan
(co-carcinogens) diperlukan sebagai pro-
motor untuk mencetuskan proliferasi sel
sehingga sel-sel rusak menjadi ganas.
c. tahap progresi: gen-gen pertumbuhan yang
diaktivasi oleh kerusakan DNA meng-
akibatkan mitosis yang dipercepat dan
pertumbuhan liar dari sel-sel ganas,
berarti tumor menjadi manifes.
Sel-sel tumor dapat menggandakan gen-
gennya sampai 10.000 kali lebih cepat dari-
pada sel normal. Oleh sebab itu berbagai
mutasi dapat berlangsung serentak, juga
akibat kekhilafan genetik secara spontan.
Sel membelah dalam beberapa tahap selama
siklusnya, yang rata-rata memakan waktu
sekitar 20 jam.
* Apoptosis yaitu kematian sel yang te-
lah diprogram. Pada perkembangannya di
dalam embryo praktis setiap sel menerima seca-
ra genetik suatu program khas, yang memati-
kannya sesudah sejumlah pembelahan terten-
tu (prinsip “you are born to die”). Begitu juga
bila cara berfungsinya terganggu hebat se-
perti halnya pada sel-sel kanker, yang demi-
kian tidak akan mati pada waktunya. Akibat
apoptosis sel kehilangan cairannya, meng-
kerat dan pecah dalam bentuk gelembung-
gelembung kecil, yang akan diserap oleh
sel-sel sekitarnya. Kalsium berperan penting
pada proses ini. Berbeda dengan necrosis
sel, pada apoptosis tidak timbul reaksi pera-
dangan.
Sel-sel tumor telah menemukan cara untuk
menghindari apoptosis, antara lain melalui
mutasi dalam gen p53. Dengan demikian gen
ini tidak bereaksi lagi terhadap kerusakan
DNA dan proses reparasi tidak terwujud.
Mekanisme yang mengatur apoptosis ter-
ganggu dan mutasi DNA yang sudah ada
menjadi tetap dan diturunkan kepada sel-sel
turunannya, sehingga akhirnya, mungkin
baru pada generasi berikut, akan terbentuk
sel-sel tumor ganas.
* Gen p53 (juga disebut gen-apoptosis atau
tumor-suppressor gene) memegang peran-
an esensial pada lebih dari separuh dari
semua kanker. Protein ini berfungsi sebagai
gen bunuh diri, sebab berdaya mencetuskan
apoptosis dan bekerja sebagai faktor trans-
kripsi di dalam inti sel. Oleh sebab itu jumlah
total dari pembelahan sel menjadi tetap bagi
setiap jenis sel. Bila gen p53 dihambat atau
dirusak, maka pertumbuhan sel (ganas) da-
pat berlangsung secara tak terkendali. Seba-
gai contoh dapat disebut virus HPV-16 (hu-
man papillomavirus) pemicu kanker cervix
(leher rahim). Virus ini mampu memadam-
kan isyarat darurat sel dengan jalan meng-
inaktivasi gen p53, sehingga sel-sel tidak
mati pada waktunya, namun membelah te-
rus-menerus. Pada replikanya (anak-anak
sel) akan timbul lebih banyak kekhilafan
atau cacat dari pada normal, yang akhirnya
berkembang menjadi sel-sel ganas dan tim-
bulnya tumor. Para peneliti telah menemukan
suatu protein (gen BCL-2) yang berefek
menginaktivasi gen apoptosis ini. Kerja gen
p53 diregulasi pula oleh hormon-hormon,
misalnya pada haid kadar progesteron me-
nurun dan beberapa jam kemudian sel-sel
epitel rahim mengkerat dan mati dengan
sendirinya. Contoh lain yaitu kematian sel-
sel prostat sesudah kastrasi dan terhentinya
produksi testosteron.
* Telomer-telomer juga memegang peranan
penting pada terjadinya kanker. Sel-sel sehat
memiliki suatu rantai dari strip-DNA kecil
(telomer) pada ujung setiap kromosomnya.
sesudah setiap pembelahan rantai sel telomer
menjadi semakin pendek dan proses ini
merupakan bagian dari proses menua. sesudah
membelah sekian kali telomer habis terpakai,
pembelahan sel terhenti dan sel mati. Sel-
sel kanker dapat membentuk telomerase,
suatu enzim ribonukleoprotein yang berefek
mencegah penyingkatan rantai telomer, se-
hingga sel tumor dimungkinkan untuk mem-
belah kontinu tanpa terhenti.
Telomerase telah diketemukan oleh pe-
nyelidik Amerika dan pemenang hadiah
Nobel 2009 (Profs Elizabeth Blackburn, Carol
Greidi dan Jack Szostak). Kini telomerase ak-
tivator dalam kapsul sudah mulai dipakai
peroral sebagai obat untuk memperpanjang
penghidupan (Life-extension capsule TA-65).
namun pemakainya harus sangat berhati-hati
sebab potensial ada risiko terjadinya
kanker bila telomerase bekerja tidak ter-
kendali.
Sebab-sebab mutasi. Selain penyinaran
dan zat-zat perusak DNA (radikal bebas,lihat
Bab 40, Obat Asma), mutasi DNA di inti sel
dapat pula diakibatkan oleh kekeliruan-kekeli-
ruan kecil pada ratusan ribu pembelahan sel yang
berlangsung setiap hari. Sel-sel cacat pada
orang sehat dikena li oleh limfosit sebagai sel
asing dan dimusnah kan. namun , bila sistem
imun terganggu atau lemah, sel-sel yang termu-
tasi itu dibiarkan berkembang menjadi sel
kanker yang kemudian berpro liferasi.
Infeksi “virus lambat” dalam kombi na-
si dengan faktor-faktor lain juga mungkin
merupakan pemicu dari mutasi. “Slow
virus” ini dapat bermukim dalam tubuh se-
lama puluhan tahun tanpa memicu
gejala. Contoh dari virus pemicu kanker
mulut rahim yaitu human papillomavirus
(HPV-16), lihat di atas. Pria, meskipun tidak
mengalami keluhan, dapat menjadi karier
HPV dan menularkannya. Lihat juga Bab 7.
Virustatika, Virus-virus lain.
Faktor lingkungan
Diperkirakan sekitar 80% dari semua kanker
yang menyerang manusia diakibatkan oleh
pengaruh lingkungan dalam arti seluas-
luasnya, yaitu pengaruh zat-zat karsinogen
dari luar (eksogen). Sisanya yang menjadi
pemicu yaitu virus dan radiasi, masing-
masing ±10%. Faktor-faktor eksogen penting
yaitu :
• pengotoran udara oleh gas buangan mobil,
pesawat udara, pabrik dan sebagainya.
• sinar ultraviolet dari matahari (kanker ku-
lit, melanoma)
• radiasi terlalu sering dengan dosis tinggi
oleh sinar-sinar ionisasi yang kaya akan
enersi (sinar Röntgen dan sinar radio-ak-
tif)
• makanan yang kaya akan lemak hewan dan
miskin serat nabati
• tembakau: merokok bertanggungjawab
untuk ±30% dari semua kematian akibat
kanker (cutaneous squamous cell carcino mas).
Leonardi-Bee J et al. Arch Dermatol 2012
Aug 148:939.
Ingatlah peribahasa berikut: “Au bout de
chaque cigarette, toujours le meme filtre: vos pou-
mons.” (di ujung setiap rokok selalu ada
filter yang sama, yaitu paru-paru Sdr).
Faktor Keturunan
Sejumlah kanker ternyata dapat diturunkan,
antara lain 10-20% tumor payudara, 40% tu-
mor mata (retinoblas toma) dan kanker ginjal
pada anak-anak (Wilms tumor). Diketahui
bahwa dua gen tumor payudara (BRCA-1dan
BRCA-2) merupakan pemicu diturunkan
kanker ini dari ibu ke anak perempuan.
Anak-anak yang memiliki gen-gen itu
dalam kromosomnya berisiko sangat tinggi
(± 80%) untuk mendapatkan kanker payuda-
ra atau ovaria sesudah usia 40 tahun. Untuk
menghindari risiko itu , sebagian wanita
yang termasuk kelompok di atas secara pre-
ventif menjalani mammectomi (prophylactic
mastectomy) dan ovariotomi .
(‚Angelina Jolie effect,‘, meningkatnya genetic
testing terhadap mutasi BRCA1/2 bagi car-
rier; Breast Cancer Symposium September,
2014).
Zat-zat karsinogen
Merupakan zat-zat yang dapat memicu
tumor melalui kontak (lokal, inhalasi) atau
oral (usus). ada banyak zat kimia wi
yang bersifat karsino gen, misalnya ter yang
timbul pada pembakaran tem bakau dan
kertas. Ada hubungan lang sung yang jelas
antara merokok dan kanker paru, tenggorok
dan kandung kemih. Juga antara serat-serat
asbes dan nikel (Ni) yang ada di udara
dan kanker paru.
Obat-obat yang bersifat karsinogen yaitu
a.l. semua zat alkilasi, azatioprin, doksorubisin,
daunorubisin dan prokarba zin (leukemia), hor-
mon-hormon wanita (dietilstilbestrol = DES
kanker vagina dan endome tri um), fe nasetin
(ginjal, hati) dan fenitoin, juga metronidazol
dan ter arang batu (Liq. Carbonis detergens).
Makanan juga dapat mengandung zat-zat
kimiawi yang bersifat karsi nogen langsung
atau sesudah interaksi dengan zat lain di da-
lam tubuh. Beberapa zat karsinogen terkenal
yang berasal dari makanan yaitu :
a. Nitrosamin, yang antara lain ada
dalam lemak babi dan diuap kan pada
proses penggorengan. Di dalam usus zat-
zat ini dapat terben tuk sebagai hasil re-
aksi dari nitrit dengan amin (hasil pe-
rombakan protein). Pembentukan nitro-
samin dapat dihindari oleh vitamin C.
b. Nitrat ada dalam banyak sayur-
mayur, terutama yang dibiakkan dengan
pupuk buatan berlebihan, khususnya ba-
yem. Oleh sebab itu bayem yang sudah
diolah sebaiknya dikonsumsi habis sebab
bila disimpan pada suhu kamar akan
segera membentuk nitrit. pemakaian
kalium nitrat sebagai pengawet dan untuk
memberi kan warna segar (merah) pada
daging sudah dilarang di kebanyakan
negara Barat! Nitrat direduksi menjadi
nitrit oleh flora usus. Vitamin C (0,5-1
g/hari) dapat mencegah bersenyawanya
nitrit dengan amin men jadi nitrosamin.
c. Benzpiren yaitu suatu induktor enzim
yang antara lain ada pada asap
rokok dan gas-buangan mobil. Zat ini
juga terbentuk saat pemanasan daging
dan ikan di atas api langsung pada bagian
yang terbakar hitam (gosong). Perhatian:
panggang sate.
d. Asam desoksikholat terbentuk dalam
usus pada per ombakan kolesterol dan
empedu.
e. Aflatoksin dibentuk oleh jamur Asper-
gillus flavus yang berkembang biak pada
kacang tanah, ke lapa, jagung dan seba-
gainya yang disimpan di tempat lembap.
Berhati-hatilah dengan mentega kacang
(‚pindakaas‘) yang berkualitas buruk, ka-
rena dapat mengandung aflatoksin!
Ochratoksin yang ada pada jenis
gandum tertentu di Eropa yaitu zat
karsinogen lain yang dibentuk oleh
jamur Aspergillus ochraceus pada proses
pembusukan.
f. Zat-zat pewarna yang dipakai pada
pembuatan kue, sirop, gula-gula dan se-
bagainya sering kali bersifat karsinogen
pada binatang percobaan. Dalam sebu-
ah Daftar WHO dimuat zat-zat pewarna
yang dianggap aman (GRAS list = Gene-
rally Recognized As Safe).
g. Lainnya: dioxin dan radon. Dioxin terma-
suk kelompok PCB (polychlorbifenyl, C12
a b
nitrat nitrit nitrosamin
flora usus + amin
a: reduksi
b: reaksi ini dicegah oleh vitamin C.
H10-xClx), yang sangat toksik. Dibentuk
pada pembakaran sampah, bersifat lipofil,
sukar didegradasi dan berkumulasi di
jaringan lemak hewan dan ikan. sebab
berkhasiat karsinogen dan teratogen serta
menurunkan sistem imun dan kesuburan,
sejak 1985 penjualan dan pemakaiannya
dilarang. Selama ± 50 tahun dioksin telah
dipakai sebagai cairan pendingin di
transformator dan kondensator.
Radon yaitu gas mulia yang ada
di mana-mana dan terbentuk dari radium
sesudah degradasi. Juga bersifat radioaktif,
namun hanya melepaskan sinar-sinar alfa.
h. Zat degradasi minyak nabati yang ter-
bentuk bila minyak goreng dengan kan-
dungan banyak asam lemak tak-jenuh
dipanasi pada suhu diatas 1700 C.
i. Tumbuhan Aristolochia yang sering di-
gunakan dalam campuran Traditional Chi-
nese Medicin (TCM) mengandung asam
aristolo chia, yang selain mutagenik dan
nefrotoksik juga bersifat karsinogenik.
Diagnosis
Bila diduga adanya suatu kanker berdasar
gejala-gejala khusus (pendarahan abnormal,
benjolan, suara parau, peruba han kutil, dan
sebagainyanya) dan gejala-gejala umum (rasa
nyeri hebat, anoreksia, penurunan berat
badan mendadak, rasa sangat letih), diagno-
sis biasanya diperkuat dengan a.l. foto X-ray,
echografi, CT-scan, MRI dan/atau penyelid-
ikan mikrosko pis jaringan (biopt).
* Indikator tumor. Se lain sedimen tasi tinggi
dan hemoglobin rendah, juga ada sejumlah
bio-markers penting di dalam darah. Yang
terutama yaitu PSA (prostate specific antigen),
alfa-FP (alfa-fetoprotein) dan beta-HCG (beta-
human chorio nic gonadotrophin). Nilai yang
meningkat memberikan indikasi yang agak
spesi fik untuk adanya tumor pada masing-
masing prostat (normal: 0-4 mcg/l darah),
hati dan antara lain testis. Kurang spesi fik
yaitu CEA (carcino-embryonic antigen) (0-4
mcg/l) dan CA 125 (carcino-antigen), na-
mun berguna untuk memonitor efek terapi
terhadap kanker tersebar dari masing-masing
lambung-usus dan payudara, ovari um/epi-
tel lain.
* Biomarker kanker prostat. Kebanyakan
bentuk kanker prostat disertai PSA yang
meningkat (di atas 10 mcg/l), lihat Bab 43,
Hormon-hormon Pria, PSA. Awal tahun
1998 di AS ditemukan suatu protein IGF1
dengan fungsi isyarat untuk kanker prostat
pada pria dengan risiko yang meningkat.
Protein ini menurut perkiraan merupakan
marker tumor yang lebih baik, sebab dapat
dideteksi di dalam darah beberapa tahun
lebih dini daripada PSA. Namun nilai tinggi
dapat juga disebabkan oleh prostatitis atau
pembesaran prostat.
Gen-gen di kemudian hari mungkin dapat
dipakai sebagai marker tumor umum,
misalnya dengan tes warna untuk mendeteksi
gen supresi tumor p53 yang termutasi, lihat di
atas. Begitu juga dapat ditentukan gen-gen
BRCA1dan BRCA2 pada wanita dengan
sejarah kanker payudara di keluarga.
Akhir-akhir ini telah dihasilkan suatu tes
pewarnaan untuk mendeteksi gen p53 termu-
tasi, yang memberikan indikasi terganggunya
siklus sel dan dimulainya pertumbuhan sel-
sel ganas. Tes ini mungkin dapat dipakai di
klinik secara rutin untuk screening kanker dan
sebagai marker untuk memonitor progresnya
(diss. dr I.O. Baas, Univ. Amsterdam, Jan.
1998).
* Klasifikasi tumor didasarkan atas sistem
TNM, pada mana T = tumor, N = nodul dan
M = metastasis. T 1-3 meny atakan besarnya
tumor, N 1-3 luasnya kelenjar limfe yang ter-
libat dan M 0-1 ada/ tidaknya metastasis.
Pencegahan
Menurut pendapat pada Union for Interna-
tional Cancer Control (UICC) World Cancer
Congress 2012, perubahan pola hidup dapat
menghindari dengan 50% insidensi penyakit
kanker tertentu (paru, payudara).
Faktor-faktor risiko yang terutama harus
diperhatikan yaitu menghindari merokok,
kegemukan, makanan tertentu dan kurang
bergerak (aktivitas fisik). Juga dianjurkan
eradikasi melalui vaksinasi dari 3 jenis virus
yang dapat memicu kanker, yaitu human-
papillomavirus, hepatitis B dan C.
TUMOR MARKERS/CANCER bIOMARKERS
Penanda tumor ideal yaitu zat yang khusus diproduksi oleh jaringan tumor dan tidak oleh jaringan
normal. Dapat ditentukan dengan mudah dan terpercaya dalam cairan tubuh (darah, urin), tinja atau
jaringan dan yang kadarnya berkaitan dengan massa tumor.
Tumor marker ideal dapat mengenali pertumbuhan ganas dalam stadium dini, spesifik bagi organ
tertentu, berkaitan dengan aktivitas tumor (“tumour burden”) dan memberikan informasi untuk
prognosis. namun tumormarker ideal demikian tidak tersedia, sebab kadar dari banyak tumormarkers
meningkat pada gangguan jinak (benign) maupun akibat gangguan ganas (maligne). sebab
terbatasnya spesifisitas masalah ini dapat memicu “overtreatment” yang menjadi beban fisik
dan psikis bagi pasien.
Definisi yang lebih praktis dari penanda tumor yaitu : suatu zat yang penentuannya secara kualitatif
atau kuantitatif dalam cairan tubuh atau dalam jaringan tumor dapat memberikan informasi bagi
diagnostik dan terapi pertumbuhan jaringan abnormal.
Penentuan dalam cairan tubuh (darah/serum) sebagai indikator biokimia untuk diagnostik primer
dan monitoring responsnya terhadap terapi atau untuk deteksi timbulnya residif merupakan aplikasi
terpenting dari tumor marker.
Singkatnya pada penelitian kanker, biomarker dipakai untuk 3 tujuan:
1. diagnostik: identifikasi kanker secara dini
2. prognostik: meramalkan keganasan kanker tertentu
3. predictive: memonitor respons pasien terhadap terapi
biasanya tumor marker berupa protein, namun akhir-akhir ini dengan kemajuan teknologi,
perubahan-perubahan genetik(DNA/RNA) yang berkaitan dengan jenis kanker tertentu, juga dapat
dipakai sebagai marker genetik a.l. untuk memonitor terapi terarah (targeted treatment).
Lebih dari 20 tumor markers sekarang ini dipakai , sebagian hanya berkaitan dengan satu jenis
kanker dan ada juga yang menandai beberapa tipe kanker. Suatu “universal” tumor marker yang
dapat menunjukkan setiap jenis kanker tidak tersedia.
Tumor marker yang paling sering dipakai klinis yaitu a.l.:
α1-foetoprotein (AFP), karsino-embrional antigen (CEA), human choriongonadotrofine (HCG),
prostat specifik antigen (PSA), thyreoglobuline (TG) dan kalsitonin.
Tabel pemakaian tumor markers pada keganasan (malignitas) spesifik
Organ Marker Tujuan
Colon dan rektum CEA penentuan dini residif atau metastase
Pankreas karsinoma CA 19/9 diferensiasi pankreatitis kronis dan karsinoma
Hati karsinoma AFP diagn. dini; penentuan dini residif atau metastase
Payudara karsinoma BRCA1/BRCA2/HER2 penentuan dini residif atau metastase
Ovarium karsinoma BRCA/CA 125 penentuan dini residif atau metastase
Prostat karsinoma PSA penentuan dini residif atau metastase
Testis karsinoma AFP, hCG diagnosis primer; penentuan dini residif atau
metastase
Paru, non small cel EGFR penentuan dini residif atau metastase
Tiroid karsinoma kalsitonin diagnosis primer; penentuan dini residif atau
metastase
Terhadap kanker hingga kini baru tersedia
satu vaksin, yaitu vaksin cervix (Gardasil
2006, Cervarix 2007) yang mengandung anti-
bodies terhadap Human Papilloma virus
tipe 6, 11, 16 dan 18, pemicu kanker mulut
rahim dan terutama dianjurkan bagi wanita
usia 16-26 tahun.
Dosis: kur dari 3 injeksi 0,5 ml sesuai jadwal
0-2-6 bulan.
Di samping sebagai prevensi juga diguna-
kan terapeutik terhadap infeksi virus ini.
Profilaktis juga berkhasiat terhadap kutil ge-
nital (condyloma acuminata) yang juga diaki-
batkan oleh HPV. Lihat Bab 7, Virustatika.
Makanan. Lihat juga Bab 54. Dasar-dasar
diet sehat.
Pada dasawarsa terakhir telah dibuktikan
adanya hubungan erat antara makanan dan
kanker. Susunan diet sehari-hari dapat meme-
ngaruhi risiko kanker, khususnya daging,
lemak jenuh, sayuran dan buah-buahan,
serta serat nabati. Diperkirakan 30-40% dari
semua kanker berkaitan dengan makanan.
Protein hewan dan lemak jenuh dalam diet
mempunyai hubungan jelas dengan berbagai
jenis kanker, misalnya kanker payudara, usus
besar, prostat, ovarium dan cervix. Di negara
Barat seperti Spanyol dan Yunani, yang ma-
kanan sehari-harinya mengandung lebih ba-
nyak lemak dan daging, ada dua kali
lebih banyak jenis kanker itu dibanding-
kan dengan Jepang.
Protein hewan (termasuk daging ayam dan
ikan) mengandung asam arachidonat yang
dalam tubuh merupakan bahan pangkal bagi
prostaglandin-E. PgE2 ini di samping bersifat
meradang, juga berefek menekan sistem
imun dan menstimulasi pertumbuhan sel
tumor. (lihat Bab 21, Analgetika Antiradang).
Oleh sebab itu sebaiknya jangan makan
terlalu banyak daging hewan, terutama or-
gan (jeroan, otak, limpa, jantung, lambung)
dengan pengecualian hati dan kelenjar ka-
cangan (timus). Hati mengandung banyak
zat penting, seperti enzim antioksidan (SOD,
katalasa, glutathion-peroksidase), glutathi-
on, vitamin B-kompleks dan vitamin K, mi-
neral dan elemen spura. Sebaliknya, prote-
in nabati(kedele, kacang-kacangan (beans),
syampinyon, jagung) tidak mengandung
arachidonat, sehingga dapat bebas dimakan.
namun sebab protein nabati tidak mengan-
dung semua asam amino esensial, sebaiknya
dilengkapi juga dengan produk-produk su-
su dan protein telur.
Minyak nabati (kembang matahari, ja-
gung, kedele) dianjurkan untuk dikonsumsi
tiap hari, sebab mengandung asam lemak
tak-jenuh yang esensial bagi tubuh. Asam
lemak tak-jenuh tidak dapat disintesis sendiri.
Lemak jenuh (mentega, margarin, min-
yak babi/sapi/domba/ayam) sebaiknya di-
konsumsi sesedikit mungkin, sebab me-
ngandung banyak asam lemak trans yang
mudah diubah menjadi kolesterol dan ti-
dak dapat dipakai untuk pembentukan
prostaglandin “baik”. Minyak kacang (tanah)
sebaiknya jangan dipakai sebab me ngan-
dung arachidonat. Untuk proses menggoreng
sebaiknya dipakai sedikit mentega atau
minyak kelapa. Jenis-jenis kacang (cashew/
mede, pistachio, walnut, hazelnut, pecan)
mengandung banyak minyak tak jenuh serta
mineral dan dapat dimakan secukupnya,
sebaiknya dalam keadaan mentah. Minyak
ikan mengandung asam lemak omega (EPA,
DHA) yang berefek anti tumor sebab men-
desak arachidonat dari membran sel dan
membentuk prostaglandin “baik” (tipe E1
dan E3). Oleh sebab itu dianjurkan untuk
beberapa kali seminggu mengonsumsi ikan
berlemak seperti kembung (makril India),
salem, herring, sardencis dan tongkol.
Sayuran dan buah-buahan mengandung
banyak zat alamiah dengan khasiat anti-
oksidan yang memperkuat sistem imun dan
menghambat pertumbuhan tumor, misalnya
vitamin C, E, karoten, lycopen dan zat-zat
indol. Sangat dianjurkan mengonsumsi sa-
yur an, seperti brokoli, kembang kol, kol
hijau/putih, bayem, wortel, alfalfa, bawang
putih dan bit. Buah-buahan yang dianjurkan
yaitu arbai, abrikos, nenas, kiwi, sitrun,
grapefruit, tomat, paprika, papaya dan se-
mangka. Sayur an sebaiknya dimakan dalam
keadaan segar sebagai lalap.
Serat nabati dalam diet juga mempunyai
peranan pent ing, sebab kekurangan serat
(dalam sayur-mayur, katul dan tepung
„whole grain“) dapat meningkatkan risiko
kanker, terutama kanker usus. Serat di dalam
usus menghisap air dan mengem bang, isi
usus membesar, peristaltik distimulasi dan
pengelua rannya (tinja) diperlancar. Zat-zat
peromba k makanan yang bersifat karsinogen,
seperti nitrosamin dan metabolit-metabolit
koleste rol “ter perangkap“ dalam gumpalan
serat, sehingga tidak dapat di serap atau mela-
kukan kerja buruknya terhadap dinding
usus.
Diperkirakan sekitar 40% dari kanker
usus dapat dihindari dengan diet yang kaya
akan serat nabati. Sejak lama telah diketahui
bahwa kasus kanker pada orang vegetarian
tidak begitu banyak.
Penanganan
Ada berbagai cara penanganan kanker, anta-
ra lain pembedahan, penyinaran, kemote-
rapi, hormon terapi, imuno ter api dan hiper-
termi. Sering kali cara-cara ini dikombinasi,
yaitu penanganan secara lokal dan sistemik
pada saat terdeteksi penyakit. Pembedahan
dan radiasi dapat mencapai penyembuh-
an lengkap (kuratif) bila dilakukan sedini
mungkin dan bila belum ter jadi metastasis.
Kemote rapi dengan sitostatika dapat me-
nyembuhkan hanya se jumlah kecil jenis
kanker, lihat uraian di bawah ini bagian c.
Pengo batan kanker yang sudah menyebar
biasanya hanya bersi fat paliatif, yaitu
meringankan gejala tanpa dapat menyem-
buhkan penyakit.
Sitostatika, yaitu kelompok obat yang di-
gunakan terhadap kanker didasarkan atas
penghentian mekanisme proliferasi sel, se-
hingga bersifat toksik bagi sel tumor maupun
sel normal, terutama sel sumsum tulang,
epitel saluran pencernaan dan folikel rambut
(rambut rontok). Selektivitas dari sitostatika
berdasar kenyataan bahwa sel kanker
membelah jauh lebih intensif daripada sel
jaringan normal.
Sebagian obat hanya efektif pada tahap
tertentu dari siklus pembelahan sel (phase-
specific drug), seperti zat anti metabolit, al-
kaloid vinca dan senyawa taksan. Sebagian
lain efektif pada seluruh siklus pembelahan
sel (cycle-specific drug), seperti penghambat
DNA, senyawa alkilasi, antibiotika dan hor-
mon steroid.
Penerapan terapi hormone replacement di
Amerika menurun dengan drastis sesudah
diketahui ada risiko kanker payudara
yang meningkat.
a. Pembedahan untuk mengeluarkan tumor
secara radikal hanya dapat dilakukan
pada tumor tunggal yang belum menye-
bar, misalnya pada kanker kulit atau
payu dara. Risikonya yaitu penyebaran
sel-sel tumor ke jaringan dan pembuluh
sekitarnya akibat pemotongan. Untuk
mengurangi kemungkinan ini adakala-
nya pre-operatif dilakukan radiasi untuk
sekadar merusak sel-sel kanker dan mem-
per lunak keganasan nya. Pasca bedah se-
ring kali dilakukan radiasi atau kemo-
terapi untuk membasmi sisa-sisa sel
tumor yang mungkin masih tertinggal.
Di AS pembedahan demikian merupakan
prosedur standar.
b. Radiasi dengan sinar radioaktif (radio-
terapi) “membakar“ dan memusnahkan
sel-sel tumor dan bisa bersifat kuratif (a.l.
kanker kulit, oropharynx, cervix, vagina
dan prostat) atau paliatif (a.l. mengu-
rangi rasa sakit misalnya pada metastasis
tulang, mengurangi sakit kepala akibat
meningkatnya tekanan intra-kranial pada
metastasis CNS). Sekarang ini pelaksa-
naannya dengan alat megavolt (linear
accelerator) 4-25MV, SL-25 dan yang ter-
mutakhir yaitu Race track Microtron
MM50, yang mengguna kan sinar dengan
energi sangat tinggi (foton atau elek-
tron). Alat-alat yang memakai ko-
bal dari akhir tahun 1970-an sudah ja-
rang dipakai lagi. Alat-alat modern
bersifat kurang merusak jaringan se hat
dan lebih efektif, sebab dapat menem-
bus tubuh lebih dalam. Lagi pula de-
ngan perantaraan komputer ben tuk dan
intensitas sinar dapat diubah secara ter-
pimpin. Dosis radiasi dinyata kan dalam
satuan Gray (Gy). 1 Gray = 1 joule yang
diabsorpsi per kg jaringan; 1 centigray =
1 rad.
Radioterapi (dengan foton) yang konven-
sional, walaupun relatif murah diban-
dingkan dengan pembedahan dan kemo-
terapi, tidak optimal sebab dosis penyi-
naran untuk membunuh sel-sel tumor
terlalu merusak jaringan dan organ sehat
di sekitarnya. Perkembangan mutakhir
lainnya untuk terapi kanker didasarkan
atas pemakaian partikel-partikel proton
(terutama) dan ion (charged particle the-
rapy) pada mana distribusi penyinaran
dapat diatur lebih cermat, yakni dosis
penyinaran rendah sebelum mengenai
tumor, lalu dosis tinggi terhadap sel-sel
tumor dan praktis nihil penyinaran di
belakang tumor. Dengan cara ini kerja
samping juga dapat dikurangi.43
* Radiasi intern (brachyterapi, IBU) menggu-
nakan sumber radioaktif dua radioisotop:
iridium (192Ir) dan cesium (137Cs). Cara ini
memung kinkan ra diasi di daerah tumor se-
cara langsung “dari dalam“ dengan dosis
tinggi tanpa merugikan jaringan sekitarnya.
Ke dalam tumor dimasukkan (dengan pem-
biu san) tabung kecil yang lalu diisi dengan
elemen radioaktif itu . Brachyterapi se-
ring kali dikombinasi dengan radiasi MM50.
c. Kemoterapi dengan sitostatika, juga ber-
sama radioterapi, sering kali dilakukan
dengan berbagai tujuan, yaitu:
1. kuratif, untuk mencapai penyembuh-
an penyakit pada tumor-tumor yang
sangat peka bagi sitostatika. Untuk
meningkatkan efektivitas dan mem-
perlambat terjadinya resistensi, biasa-
nya dipakai kombiterapi dari tiga
onkolitika. Jenis-jenis tumor yang se-
karang bisa disembuhkan masih be-
lum banyak dan meliputi p. Hodgkin,
leukemia limfatis akut, limfoma non-
Hodgkin, kanker testis, chorion, retina
dan ginjal pada anak-anak(Wilms-tumor).
2. paliatif, untuk mengurangi keluhan
dan gejala yang berkaitan dengan sta-
dium lanjut dari kanker tanpa meng-
hambat proses penyakit. Untuk se-
mentara massa tumor dapat diper-
kecil. Cara ini a.l. dipakai pada
pasien dengan kanker yang sudah
menyebar ke organ-organ lain (meta-
stasis), misalnya pada kanker payu-
dara dan paru (sel kecil), penyakit
Kahler dan leukemia kronis.
Pada anak-anak kemoterapi diguna-
kan sebagai terapi primer sebab radio-
terapi membawa risiko terhambatnya
pertumbuhan jaringan dan tulang. Ke-
beratan terhadap semua sito statika ada-
lah sifatnya yang sangat toksik dan efek
samp ingnya yang hebat.
d. Terapi hormon. Hormon dan antihormon
tertentu di gunakan pada kanker yang
pertumbuhannya tergantung dari hor-
mon, terutama senyawa-senyawa anti
estrogen (tamoksifen) pada kanker payu-
dara dan endometrium, serta senyawa
anti androgen (flutamida, nilutamida)
pada kanker prostat..
e. Imunoterapi yaitu pengobatan gang-
guan maligne dengan stimulator sistem
imun, antara lain interferon, interleukine-2
atau LAK-cells. Zat-zat ini dinamakan
Biological Respons Modifiers (BRM)
dan berefek menstimulasi limfosit sito-
toksik (natural killer cells = NKc) dan me-
ningkatkan ekspresi antigen-antigen ter-
tentu pada permukaan sel tumor. Cara
lain memakai vaksin, seperti vaksin
BCG dan antibo di monoklo nal (MOABs)
terhadap tumor tertentu, yaitu kopi
identik dari suatu antibodi yang dibuat
in vitro. Lihat Bab 21, Obat rema, boks
Biologicals.
NK-cells termasuk kelompok limfosit
yang langsung dapat memusnahkan sel-
sel asing tanpa reaksi antigen antibodi.
NK-cells dianggap sebagai sel-sel efektor
penting dalam ketahanan imun terhadap
tumor. Lihat selanjutnya Bab 49, Dasar-
dasar imunologi.
f. Hipertermi yaitu penanganan tumor
dengan kalor sebagai terapi tambahan
(additional, adjuvant therapy) untuk mem-
perkuat efek radiasi. Kalor dari 43°–44°
C bek erja mematikan langsung sel-sel
tumor, terutama dalam lingkungan asam
dan bila ada keku rangan oksigen (hy-
poxia), seperti halnya di lokasi tumor.
sebab teknis pemanasan saksama da-
lam waktu lama sulit sekali, hingga kini
khusus dipakai pada tumor di permu-
kaan (kulit, payudara, kelenjar leher).
Penanganan melalui hipertermi sebelum-
nya kemoterapi membuat tumor lebih
rentan bagi obat kemo.
g. Genterapi. Inaktivasi dari gen-gen ter-
tentu (misalnya gen supresor tumor p53)
berperan penting terhadap pertumbuhan
liar dari tumor. Pada hewan percobaan,
gen p53 sudah dapat dimasukkan ke
dalam sel-sel tumor dengan efek terhen-
tinya pertumbuhan. Sekarang ini gen-
terapi sedang dikembangkan di banyak
Pusat Riset Kanker dan merupakan pen-
dekatan mutakhir penanganan kanker.
Dari kanker dibuat profil-DNAnya dan
ditentukan mutasi genetik mana yang
memicu sel kanker. Kemudian pasien
dapat diberi obat terhadap mutasi spesifik
itu. Sekarang ini sudah dipakai lebih
dari sepuluh obat yang semuanya khusus
bekerja terhadap mutasi kanker tertentu
dan beratus-ratus obat baru sedang
diselidiki. Obat-obat baru ini disebut
Monoclonal Antibodies (MOABs) dan
Tirosin kinase inhibitors (TKIs).
h. Terapi sel batang (stemcell therapy) masih
berada dalam tingkat eksperimental.
Prinsip dari penanganan regeneratif ini
terdiri atas menggantikan gen-gen cacat
yang memicu tumor dengan gen-
gen sehat melalui cara-cara khusus. Di
A.S. sedang dilakukan banyak riset di
bidang ini yang sampai saat ini belum
membuahkan hasil konkret. Banyak il-
muwan percaya bahwa terapi ini dalam
rentang waktu 10-30 tahun menjadi cara
penanganan kanker yang sangat penting.
Di bidang kardiovaskuler sudah diper-
oleh hasil baik dengan implantasi sel
batang sesudah infark jantung. Sumsum
tulang penderita disuntikkan ke dalam
arteri jantung, kemudian sel-sel batang
berkembang menjadi jaringan jantung
untuk menggantikan sel-sel mati
i. CAM (= Complementary & Alternative
Medicine)
Terapi komplementer & alternative, ju-
ga disebut NTTT (Non Toxic Tumor Thera-
py). Cara ini ditujukan untuk memus-
nahkan sel ganas dan terhadap metastasis
mikroskopis yang belum dapat dideteksi
dengan metode biasa. Terapi ini juga
untuk meniadakan atau mengurangi efek
samping dari terapi regular. Misalnya se-
bagai penanganan tambahan pada terapi
dengan sitostatika atau sebagai follow-
up pembedahan dan radioterapi untuk
mengeliminasi sisa-sisa sel tumor yang
mungkin lolos (mikro-metastasis tersembu-
nyi). Ternyata prosedur ini sangat berguna
sesudah pembedahan kanker payudara
dan kolon. Pada hakikatnya cara ini me-
rupakan terapi diet, yang berdasar
diet dasar sehat seperti dianjurkan oleh
Dewan Gizi Nasional. Di samping itu juga
diberikan food supplement seperti vita-
min dan mineral dalam dosis tinggi dan
zat-zat penghambat tumor yang terutama
ada dalam sayuran dan buah-buah-
an. Zat-zat alternatif ini terdiri dari zat-
zat yang memiliki sifat antioksidan kuat,
seperti senyawa-senyawa polifenol, indol,
monoterpen, katechin, enzim, flavonoida
dan karotenoida. ada banyak publi-
kasi menge nai hasil penanganan ini untuk
meringan kan gejala penyakit dan memperbaiki
kualitas hidup, dalam sejumlah kasus bah-
kan dengan efek menyembuhkan. namun
secara resmi belum diterima oleh dunia
kedokteran, sebab banyak prasangka
dan secara ilmiah belum dapat dibuktikan
dengan tuntas.
pemakaian obat-obat alternatif, ter-
masuk rempah-rempah oleh penderita
kanker biasanya dianggap aman
dan tidak toksik. namun beberapa suple-
men ini dapat memengaruhi enzim sito-
krom-P450 dan distribusi obat-obat, se-
perti P-glikoprotein.
Goey AK et al.; Herb-drug interactions
in oncology. Clin Pharmacol Ther.2014
apr;95(4)354-5.
* Dasar-dasar terapi tambahan
Penanganan alternatif juga disebut meto-
da biologis, sebab memakai zat-zat
alamiah (tumbuhan, enzim, vitamin) dan
sering kali bersifat empiris atau tradisio-
nal berdasar pengalaman rakyat. Cara
yang paling sering dipakai yaitu terapi
ortomolekular, terapi enzim dan fitoterapi
(terapi dengan tumbuhan)..
Terapi alternatif bertolak dari fakta bahwa
pasien kanker, yang kebanyakan sudah
berusia agak lanjut (di atas 55 tahun), sering
kali menderita kelemaham sistem imun. Hal
ini disebabkan oleh proses menua, pada saat
mana banyak fungsi organ semakin mundur
dan banyak pro ses berlangsung semakin
lambat. Misalnya aktivitas limfo-T dan NK-
cells sudah berku rang sehingga tidak mam-
pu lagi mereparasi atau membasmi sel pre-
karsinom. Sel ini yaitu benih-benih sel
tumor yang DNA-nya cacat akibat berba-
gai sebab. Antioksidansia tubuh lansia un-
tuk melindungi sel terhadap serangan ra-
dikal bebas juga berkurang (lihat Bab 53,
Vitamin-vitamin, boks Terapi ortomolekular
& antioksidansia). Begitu juga pro duksi enzim
(protei nase) tertentu yang berefek menghambat
perkem ban gan sel-sel pre-tumor berkurang.
* Suplemen diet. Untuk memperkuat sis-
tem imun dan daya tahan, maka pada
terapi ortho molekular banyak dipakai
antioksidansia, yaitu dosis tinggi dari vitamin,
mineral dan bioflavonoida alamiah yang berefek
menetralisasi radikal bebas. Zat-zat ini tidak
termasuk golongan ob










