Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 41

 





risiko perdarahan an- 

tara. Pengunduran lebih lama biasanya me-

nimbulkan perdarahan itu  dan juga 

tidak dianjurkan untuk melakukannya terla-

lu sering. 

Cara penundaan yaitu  sesudah  satu kur 

jangan mengadakan istirahat, namun  melan-

jutkan minum pil selama 7 atau 14 hari bila 

haid ingin diundur dengan masing-masing 

7 atau 14 hari. Sesudah itu baru diadakan 

istirahat;

c. a c n e, khususnya pil dengan siproteron 

(Diane-35), lihat di atas.

Faktor-faktor yang mengurangi ke-

amanan pil

a.Terlupa minum

– bila lupa minum pil satu kali, dalam waktu 

12 jam pil masih dapat diminum; 

– bila lupa minum pil lebih dari 12 jam atau 

lebih dari 2-3 pil, keama nannya tidak 

dapat dijamin lagi. Pil-pil yang terlupa 

dibuang dan kur dilanjutkan sampai 

selesai dengan mengada kan cara antikon-

sepsi lain (kondom dengan spermicida). 

Bila pil yang terlupa lebih dari 12 jam 

merupakan satu dari empat pil terak-

hir, sebaiknya diadakan istirahat selama 

4 hari, ketika akan terjadi perdarahan. 

Kemudian dimulai lagi dengan kur baru.

– bila pil terlupa 3 kali atau lebih, kur harus 

dihentikan sebab  perdarahan penarikan 

tidak dapat dihindari lagi. Terlepas dari 

terjadinya perdarahan atau tidak, tanpa 

istirahat segera dimulai lagi dengan kur 

baru.

b. Gangguan lambung-usus juga dapat me-

ngurangi keamanan pil anti hamil akibat 

berkurangnya resorpsi dari usus, misalnya 

sebab  diare atau muntah dalam waktu 3 jam 

sesudah meminumnya. Dalam keadaan ini 

sebaiknya sesudah beberapa waktu diminum 

satu pil baru.

c. Interaksi dengan obat-obat lain. Sejumlah 

obat yang diberikan bersamaan dengan pil 

anti hamil mengurangi keamanannya melalui 

induksi enzim (mikrosomal hati) sehingga 

hormon-hormon dalam pil dipercepat pengu-

rai annya. Hal ini terutama berlaku bagi pil 

sub-50. Oleh sebab  itu risiko perdarahan 

break-through (perdarahan antara dua periode 

menstruasi) dan spot ting (perdarahan ringan 

berupa bercak-bercak) juga lebih besar.

*Induk tor enzim terkenal yaitu  rifampi-

sin, fenilbutazon, griseofulvin, terbinafin dan 

anti epileptika fenobarbi tal, karbamaze pin, 

primidon dan feni toin. Selain itu antibioti k 

seperti ampisilin, amoksisiklin dan tetrasi-

klin, juga menguran gi keamanan nya. Menu-

rut perkiraan hal ini disebabkan oleh efek 

buruk nya terhadap flora usus, yang berefek 

mengurangi siklus entero hepa tik dari hor-

mon-hormon dan turun nya kadar darah. 

*Efek terhadap obat-obat lain. Di lain pihak, 

pil anti ha mil memper panjang efek diazepam, 

klordiazepoksida dan imipramin, sebab  

mengurangi metabolisme oksidatifnya. Efek 

kortikoste roid dan teofilin diperkuat, begi-

tu pula daya kerja dari antihiper tensiva, 

antikoagulansia dan antidiabetika oral dapat 

dipenga ruhi oleh pil.

Efek samping

Pil antihamil dapat memicu  banyak 

efek samping yang tergantung pada dosis 

komponen-komponennya, keseimban gan es-

trogen-progestagen dalam pil dan lamanya 

pemakaian . Lagi pula efek-efek tertentu 

dari kedua hormon dapat saling ditiada kan. 

Kebanyakan efek samping tidak terjadi pada 

pil ringan (sub-50).

a. Efek-efek kombinasi yang berkaitan de-

ngan khasiat antikonsepsinya yaitu  perda-

rahan-antara bila pil pertama diminum pada 

hari ke-5 dari siklus haid, juga mual, nyeri 

kepala, buah dada tegang dan sensitif. Sering- 

kali efek-efek ini hilang dengan sendirinya, 

namun  bila tetap timbul perlu dipertim-

bangkan pil yang lebih berat (mengan-

dung lebih banyak estro gen). Efek samping 

lebih serius yaitu  meningkatnya tekanan 

darah, berkurangnya toleransi glukosa, ter-

bentuknya batu empedu dan pigmentasi 

kulit (melasma, bintik-bintik hitam). Serius 

pula yaitu  trombosis (terbentuknya gum-

palan darah di pembuluh), yang risiko 

timbulnya lebih besar pada kombinasi de-

ngan progestagen generasi ketiga (gestoden, 

desogestrel dan drospirenon). Anovulasi 

dan amenorroea dapat terjadi sesudah  peng-

gunaan dihen ti kan, biasanya  selama 

3-6 bulan. 

b. Efek estrogen dapat berupa mual, muntah, 

mudah tersinggung, retensi air dan udema, 

nyeri buah dada dan kepala, pening katan 

tekanan darah serta melasma. Lagi pula 

gangguan fungsi hati, hyper me norroe a, per-

darahan antara di paruh kedua dari siklus, 

pembe saran myoma dan kontraksi nyeri dari 

rahim. Kolesterol-HDL ditingkatkan dan 

LDL diturunkan. 

c. Efek progestagen terdiri dari obstipasi, 

rasa letih, nyeri kepala, reaksi kulit alergi 

dan melasma, varices dan kejang tungkai, 

juga depresi. Di samping itu, zat ini juga 

dapat memicu  perdarahan-antara di 

minggu-minggu pertama, hipomenorroea 

dan amenorroea, libido berkurang dan 

gangguan pembuluh. Kolesterol-HDL ditu-

runkan.

d. Efek androgen dari derivat nortestosteron 

nampak sebagai acne, kulit dan rambut 

berlemak, bertambahnya nafsu makan dan 

berat badan, penurunan kolesterol-HDL 

dan meningkatnya LDL Pil trifasis dengan 

kadar progestagen total yang rendah sekali, 

tidak memengaruhi HDL-LDL. Toleransi 

karbohidrat menurun.

Efek samping positifnya yaitu  berkurang-

nya insidensi kanker endometrium dan ova-

rium serta tumor mammae jinak (benigne)., 

begitu pula membaiknya siklus haid dengan 

mengurangi nyeri perut, perdarahan ovulasi 

dan dysmenorrea.

Pilihan pil

Dari uraian di atas jelaslah bahwa pilihan 

pertama yaitu  pil dengan kadar hormon 

serendah mungkin, yaitu pil sub-50 dengan 

estrogen di bawah 50 mcg dan progestagen 

di bawah 125 mcg. Juga yang paling dapat 

dipercaya yaitu  dengan Pearl Indeks kurang 

dari 0,1. Maka lazimnya antikonsepsi dia-

wali dengan suatu pil sub-50 (Stediril), ke-

banyakan dengan EE 30 atau 37,5 mcg dan 

levonorgestrel 125 atau 150 mcg. Pil sub-30 

(Mercilon, Meliane, Lovette) dengan 20 mcg EE 

lebih jarang dipakai  sebab  lebih sering 

memicu  «spotting», perdarahan-anta- 

ra dan amenorroea. Peristiwa ini terutama 

terjadi pada pil-mini yang hanya mengan-

dung progestagen. Bila timbul keluhan de-

mikian barulah dapat beralih ke pil yang 

lebih berat dengan 30 atau 50 mcg EE. 

Bila pil menimbulken efek samping tertentu, 

maka atas dasar keluhannya pil dapat diganti 

dengan pil lain yang lebih sesuai dengan 

profil hormon pemakai. Artinya, beralih ke 

pil dengan dosis estrogen/progestagen lebih 

tinggi atau lebih rendah.

Pil dengan 30 ug etinilestradiol dan levo-

norgestrel merupakan pil antikonsepsi stan-

dar.

Kontra-indikasi

Kontra-indikasi pemakaian  pil antihamil 

dapat disimpulkan dari efek sampingnya. 

Untuk lengkapnya dikemukakan lagi kea-

daan pada mana pil (sebaiknya) jangan di-

berikan, yaitu:

– bila ada  riwayat trombosis, hiperli-

pidemia, myoma dan semua jenis kanker 

yang bersifat estrogendependent (endome-

trium, mammae)

– perdarahan rahim yang tidak terdiagnosis

– pasien hati, migrain hebat, gangguan jan-

tung dan pembuluh 

pemakaian nya harus dengan hati-hati pada 

pasien diabetes dan hiperten si. Pil tidak dian-

jurkan untuk wanita di atas usia 40 tahun, 

terutama yang merokok dan terlalu gemuk, 

atau memiliki faktor risiko PJP lain. Tidak 

pula bagi wanita sekitar masa peralihan, ber-

hubung haid akan berlangsung terus dan saat 

menopause tidak dapat ditentukan. sebab  

itu sebaiknya pemakaian  pil dihentikan 

pada usia sekitar 45 tahun, sebab pada usia 

ini kemungkinan hamil kecil sekali dan yang 

lebih dikuatirkan yaitu  trombo-emboli, ter-

utama pada wanita yang merokok.

SEDIAAN-SEDIAAN

Kebanyakan sediaan pil antihamil mengan-

dung EE sebagai estrogen terkombinasi 

dengan berbagai progestagen. Tersedia be-

berapa sediaan yang hanya berisi proges-

tagen. Dalam ikhtisar di bawah ini dimuat 

sediaan-sediaan yang paling banyak digu-

nakan.

A. Pil “berat” dengan EE 50 mcg  + progestagen                                                        

EE + norgestrel   : Neogynon 50/250mcg, Microgynon-50 : 50/125 mcg                                   

                           Binordiol  50/50 + 50/125 (bifasis)                                                           

EE + linestrenol   : Ovostat  50/1000 mcg                                                                         

………………………………………………………………………………………………….

B. Pil  “ringan’ (sub-50),  dengan EE < 50 mcg  + progestagen                                   

EE  + norgestrel    : Microgynon , Microdiol,  pil KB, Nordette-28, Stederil :  30/150 mcg        

                                Trinordiol, Triquilar : 30/50 + 40/75 + 30/125 (trifasis)

EE + noretisteron  : Trinovum 35/500 + 35/750 + 35/1000 (trifasis)

EE + linestrenol     : Minipregnon, Ministat : 37,5/ 750 mcg

                                 Ovanon  50/0 + 50/2500 (bifasis)

EE +  gestoden      : Gynera, Minulet  30/75, Meliane 20/75  mcg 

                                 Triminulet  30/50, 40/70, 30/100  (trifasis)

EE + desogestrel   :  Marvelon 30/150 , Mercilon 20/150 mcg

EE + drospirenon   :  Yasmin , Angeliq  30/ 3000 mcg

EE + siproteron      :  Diane-35 : 35/2000 mcg (pil acne)

………………………………………………………………………………………………….

C. Pil dengan hanya progestagen

norgestrel       :  Postinor-2  750 mcg (morning after pill)

                          Norplant    216 mg (pil implantasi)

linestrenol       :  Exluton       500 mcg (pil mini)

desogestrel     :  Cerazette    75 mcg   (pil mini)

etonogestrel    :  Implanon     68 mg  (pil implantasi)

medroksiprogesteron : Depo-Provera 150 mg (“pil suntik”)


ACTH DAN KORTIKOSTEROIDA

ANAK-GINJAL DAN 

HORMON-HORMONNYA

Anak ginjal atau kelenjar adrenal yaitu  

organ kecil yang letaknya berdampingan de-

ngan ginjal pada bagian atas-dalamnya (Lat. 

ad = dekat, ren = ginjal). Organ ini terdiri dari 

bagian sumsum dan bagian kulit.

1. Medul la (= sumsum) yaitu  bagian dalam 

yang membentuk neurohormon adrena lin; 

2. Cortex (= kulit) yaitu  bagian luar yang 

menghasilkan tiga jenis hormon steroi d, ya-

itu:

a.  glukokortikoida: kortisol (hidrokortison), 

yang terutama berkhasiat bagi metabolisme 

karbohidrat, juga memengaruhi banyak 

efek lain, termasuk pertuka ran zat pro-

tein, pembagian lemak dan reaksi pera-

dangan. Sekresi ACTH (dan kortisol), 

yang memperlihatkan ritme siang-malam 

(circadian) fisiologis, naik di waktu pagi 

disusul oleh memuncaknya sekresi korti-

sol, yang sepanjang hari menurun lagi. 

Produksi kortisol total berjumlah 20-30 

mg sehari. Pada situasi stres produk si-

nya meningkat sampai 100-200 mg! Efek 

mineralo kortikoidnya jauh lebih ringan da-

ripada aldosteron (lihat di bawah);

b. mineralokortikoi da: aldosteron serta 

dua precursornya, yaitu kortikoste ron dan 

desoksikorton. Hormon-hormon ini teru-

tama memengaruhi metabolis me garam 

dan air. Kedua precursor hanya ringan 

daya kerjanya, masing-masing 0,5 dan 

3% dari efek aldosteron. Aldosteron dan 

kortikoste ron juga memiliki efek gluko- 

kortikoida, lebih kurang 30% diban-

dingkan dengan kortisol. Pada penggu-

naan 5-10 g garam sehari, produksi hor-

mon ini berjumlah 0,1-0,2 mg sehari.

c.  hormon kelamin: produksi rendah dari 

testosteron dan DHEA (= dehidro-epi-andro-

ste ron), juga estro gen dan proge ste ron.

Sintesis dari semua hormon itu  ber- 

langsung dalam anak-ginjal melalui koles-

terol, seperti juga sintesis hormon-hormon 

kelamin dalam testes dan ovaria. Garis besar 

reaksi sintetik ini tertera dalam gambar di 

bawah ini, lihat juga Gambar 43-1 Bab 43, Zat-

zat Androgen.

Gambar 46-1: Metabolisme kolesterol di anak-ginjal dan sintesis DHEA 

serta steroida lain.

*ACTH (kortikotropin) dari hipofisis men-

stimulasi produksi kortisol yang dikenda-

likan oleh hormon hipota la mus CRH (Corti-

cotrophin Relea sing Hormone), lihat Bab 42, 

Hormon-hormon Hipofisis. Sebagai mana 

telah diketahui produksi ACTH dihambat 

oleh kortisol melalui mekanisme feedback 

negatif, juga bila diberi kan dari ‘luar’. Sistem 

ini untuk mudahnya disingkat sistem poros 

(axis) atau sistem HHA(Hipo talamus - Hipofisis 

- Adrenal).

Aldosteron. Hormon pria ini berperan pen-

ting pada metabolisme elektrolit. Produk-

sinya tidak tergan tung dari  ACTH, namun  da-

ri sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS), 

khususnya dari angiotensin-II, kadar natrium 

dan kalium, serta volume plasma yang me-

ngalir melalui ginjal. Selama berlangsung 

diet garam dengan ketat (misalnya pada 

hiper tensi) kedua nilai akan turun. Untuk 

mencegah terlalu menurun nya tensi, ginjal 

mening katkan pelepa san enzim renin dengan 

akibat terben tuknya angio tensin. Peptida ini 

selain meningkatkan tekanan darah, juga 

menstimulasi produk si aldoste ron oleh anak-

ginjal, lihat Bab 35, Antihiper tensiva, RAAS.

*DHEA (dehidro-epi-androsteron, prasteron) 

berfungsi sebagai bahan pangkal untuk pem- 

bentukan hormon-hormon kelamin. Di sam-

ping itu DHEA berperan penting dalam 

metabolisme, sistem imun dan sistem saraf 

pusat. Produksinya 10-20 kali lebih banyak 

dibandingkan dengan korti sol dan menca-

pai puncaknya sekitar usia 30 tahun untuk 

kemudi an berangsur-ang sur menurun sam- 

pai 10-20% pada usia 80 tahun. Hanya da-

lam keadaan stres kronis produksi kor-

tisol melebihi DHEA; pria lebih banyak 

membentuknya daripada wanita. Hewan 

menyu sui tidak membentuk DHEA, kecuali 

orang utan (monyet). 

Sejak awal tahun 1990-an, DHEA dian-

jurkan sebagai smart drug (obat pinter) un-

tuk menghambat proses menua dan mem-

perpanjang harapan hidup (life extension). 

Di Prancis penelitian mengenai penggu- 

naannya sebagai obat dipimpin oleh Prof E. 

Baulieu. Lihat selanjutnya Bab 43, Zat-zat 

Androgen. 

Khasiat fisiologi kortisol

Kortisol memegang peranan penting pada 

proses metabolisme hidratarang, protein 

dan lemak, serta pada pemeliharaan keseim-

ban gan elektrolit dan air. Kortisol turut me-

ngatur fungsi sistem kardiovaskuler, sis-

tem saraf, otot, ginjal dan organ lain. Selain 

itu, kortisol mendukung sistem tangkis, 

sehingga tubuh menjadi lebih kebal terhadap 

rangsangan buruk yang tercakup dalam 

pengertian “stres”, seperti yang timbul pada 

pembedahan, infeksi, luka be rat, juga trauma 

psikis, lihat di bawah.

Reaksi stres 

Stress (tekanan) yaitu  reaksi non-spesifik 

dari tubuh terhadap setiap rangsangan da- 

lam bentuk apapun (dr H. Selye, 1947). Pe-

rangsang atau stressor yang memicu  

tres dapat berbeda-beda dan menghasilkan 

beberapa bentuk stres , yaitu:

– stres fisik seperti kecelakaan, luka berat 

atau perdar ahan, pembedahan, hawa di-

ngin atau panas, juga olahraga;.

– stres psikis berupa emosi negatif seperti 

perasaan marah, jengkel, dendam dan 

kebencian, perasaan tidak senang atau 

tidak puas dengan sesuatu, perasaan sa-

lah, kerinduan dan perasaan duka yang 

berlarut-larut;

– stres akibat infeksi dan zat-zat kimiawi 

(anestesia, kemote rapi).

* Hormon stres. Sebagai reaksi terhadap 

stres, anak-ginjal didorong untuk mensekresi 

berlebihan hormon-hormonnya adrenalin/

NA dan kortisol melalui masing-masing SSP 

dan hipofisis; kedua sistem ini bekerjasama 

dengan erat. Sekresi kortisol dapat meningkat 

sampai 300 mg untuk mengatasi efek-efek 

stres , seperti antara lain radang, nyeri dan 

demam. Kortisol sebagai zat antiradang ber-

fungsi menghambat reaksi sistem tangkis 

tubuh, sehingga respons terhadap stres ja-

ngan sampai terlampau kuat.

Adrenalin. Sebagaimana telah diuraikan 

di Bab 31, Adrenergika dan Adrenolitika, 

adrenalin dan NA berfungsi mempersiapkan 

Gambar 46-1a: Regulasi produksi kortisol secara skematik.

CRH disekresi oleh hipotalamus, misalnya sebab  stres , dan merangsang adenohipofi sis 

melepaskan ACTH, yang menstimulasi anak ginjal memproduksi kortisol.

Kortisol berbalik memengaruhi secara negatif hipotalamus (mengurangi sekresi 

CRH) dan hipofi sis (mengurangi sekresi ACTH).

......................................... Ned Tijdschr Geneesk 2008 december; 11(4)

organisme untuk aksi (fi ght or fl ight) dengan 

mengaktifkan berbagai proses fi siologi. Yang 

terpenting di antaranya yaitu  stimulasi 

SSP dengan efek antara lain meningkatnya 

tekanan darah dan peningkatan alirannya 

ke otak, paru-paru dan otot perifer. Sintesis 

protein dikurangi dan produksi glukosa di-

tingkatkan melalui mobilisasi glikogen depot, 

begitu pula pelepasan asam lemak ke dalam 

darah. Asam lemak merupakan sumber 

energi yang bisa langsung dipakai . Oleh 

sebab  itu, profi l lipida memburuk dengan 

meningkatnya kadar triglise rida dan LDL-

kolesterol serta menurunnya HDL. Dengan 

peruba han-perubahan ini, tubuh dapat me-

nyesuaikan diri(adaptasi) pada tekanan yang 

mengancamnya.

Reaksi normal. Sebetulnya secara alamiah 

reaksi stres merupa kan suatu reaksi emosi 

yang bermanfaat bagi tubuh dalam peng- 

hidu pan sehari-hari dan setiap orang pernah 

mengalami suatu kete gan gan (tension), mi-

salnya bila menghadapi ujian atau sebelum 

pemeriksaan oleh dokter. stres normal me- 

mungkinkan kita untuk menjadi lebih was-

pada (alert) dan bereaksi lebih cepat terhadap 

situa si sulit atau darurat. namun , terlampau 

banyak tension dapat merugi kan keseha-

tan dan memicu  atau memperbu ruk 

keluhan. Penelitian WHO telah menunjuk-

kan adanya hubung an positif antara banyak- 

nya penga laman hidup dan keluhan kese-

hatan. Dengan demikian ternyata tubuh 

dapat belajar hidup dengan stres. Sekarang 

ini masyarakat mendapat tekanan berat 

dengan syarat-syarat ketat yang diharapkan 

dari masing-masing orang, misalnya untuk 

membangun karier, membina kehidupan ke-

luarga di samping kesibukan pekerjaan dan 

juga keinginan berpenampilan sempurna. 

Oleh sebab  itu wajarlah bila banyak orang 

merasa tertekan dan tegang. 

Ketegangan yang tidak nyaman itu baru 

menjadi stres yang merugi kan bila berlang-

sung terlampau lama. Tubuh mencoba me-

nyesuaikan diri dengan keadaan ini, namun  

serentak daya tahan terhadap bentuk-bentuk 

lain dari stres menurun. Dalam periode ini 

misalnya, orang menjadi lebih peka terhadap 

alergi. Lambat laun tubuh menjadi sangat 

letih dan tidak mampu menyesuaikan diri 

lagi untuk menyalur kan ketegangan ini 

dengan layak dan mengata sinya.

Bila keadaan stres berlangsung berlarut-

larut dengan reaksi dari hormon stres yang 

terlampau hebat, maka proses adaptasi ter-

sebut tidak berhasil lagi. Proses fisiologi 

mulai terganggu dan timbullah bermacam-

macam keluhan, seperti sakit kepala, sakit 

punggung dan perut, hilangnya nafsu makan, 

sukar bernapas, hiperventilasi dan berkeringat 

berlebihan. Akhirnya dapat terjadi perubahan 

patologis pada organ-organ, sehingga dapat 

sangat merugikan.

Penanganannya terdiri dari usaha meng-

ubah pola hidup, antara lain dengan gerak 

badan secara teratur untuk memperbaiki 

kondisi tubuh, misalnya dengan berjalan 

kaki, bersepeda atau olahraga lainnya. Ju- 

ga berekre asi dengan cukup hiburan, yang 

memengaruhi secara baik daya tahan tu-

buh. Selain itu teknik-teknik pernapasan 

seperti yoga, tai chi dan chi kung sangat 

berguna untuk mengatasi stres . Di samping 

itu suasana hidup harus tenang dengan 

menjauhi kesibukan, kegelisahan dan faktor-

faktor stres lainnya sebanyak mungkin, serta 

memperhatikan cukup istirahat dan hiburan. 

Sejak lama telah diketahui bahwa stres emo-

sional membuat penyakit tukak lambung 

bertambah parah, sedang  pada waktu 

serangan akut biasanya timbul kegelisahan 

dan kecemasan pada penderita. 

*Kortisol berlebihan selama waktu lama 

akibat stres menahun dapat mengacaukan 

regulasi sistem imun yang sangat rumit. 

Misalnya, ratio jumlah sel T-helper dan 

T-supresor bisa berubah, yang dapat mence-

tuskan suatu penyakit auto-imun. Bila 

masalah tidak terpecahkan akhirnya akan 

terjadi kerusakan pada jaringan otot, saraf 

dan penurunan fungsi sistem imun, di 

samping kadar glukosa dan tekanan darah 

meningkat. Sel-sel otak bereaksi kuat terhadap 

kortisol, khususnya bagian otak di mana 

terletak fungsi ingatan (hippocampus), di 

mana ada  banyak reseptor kortisol dan 

dapat dianggap sebagai termostat untuk 

kortisol. Kelebihan kortisol memicu  

perubahan ekspresi dari gen-gen tertentu 

yang penting bagi sistem ketahanan. Oleh 

sebab  itu pasien lebih mudah menderita 

berbagai infeksi serius (tbc, dan lain-lain) atau 

mendapatkan suatu gangguan psikosomatis.

Misalnya hipertensi, infark jantung, tukak 

lambung, asma, eksem, colitis atau kanker.Bila 

masalah tidak terpecahkan dan tekanan 

berlan jut, maka tubuh tidak berenergi lagi 

dan akan runtuh.

Khasiat farmakologi 

Kortisol memiliki banyak fungsi farmakologi, 

yang baru menjadi nyata pada dosis besar 

dan dapat dibagi dalam dua kelompok, 

yaitu khasiat glukokortikoid dan khasiat 

mineralokortikoid.

1. Khasiat glukokortikoid meliputi antara 

lain:

a. efek antiradang (anti-inflammatoir), misal-

nya akibat trauma, alergi dan infeksi, yang 

berdasar  efek vasokonstriksi. Juga 

berkhasiat merintangi atau menguran-

gi terbentuknya cairan peradangan dan 

udema setempat, misalnya sewaktu ra-

diasi sinar-X di bagian kepala dan tulang 

punggung;

b.  daya imunosupresif dan anti alergi , 

yang mungkin ada hubun gan nya dengan 

khasiat antiradangnya. Reaksi imun di-

hambat, sedang  migrasi dan aktivi tas 

limfosit T/B dan makrofag menurun;

c. peningkatan gluko-neogenesis, artinya 

pembentukan hid ratarang dari protein 

dinaikkan dengan kehilangan nitrogen. 

Pembentukan glukosa distimulasi, utili-

sasinya di jaringan perifer dikurangi dan 

penyimpanannya sebagai glikogen diting-

katkan;

d. efek katabol, yaitu merintangi pemben-

tukan protein dari asam amino, sedang- 

kan pengubahannya ke glukosa diperce-

pat. Sebagai akibat dapat terjadi osteo-

porosis (tulang menjadi rapuh ka rena 

massa dan kepada tannya berkurang), 

atrofia otot dan kulit dengan terjadinya 

striae (garis-garis). Anak-anak dihambat 

pertumbuhan nya, sedang  penyem-

buhan borok (lambung) dipersu lit;

e. pengubahan pembagian lemak. Yang ter-

kenal yaitu  penumpukkan lemak di atas 

tulang selangka dan muka, yang menjadi 

bundar (“moon face”), juga di bagian perut 

dan di belakang tengkuk (“buffalo hump”). 

Gejala ini mirip Sindroma Cushing, yang 

disebab kan oleh hiperfungsi hipofisis 

atau adrenal, atau juga sebab  penggun-

aan korti kosteroid terlampau lama.

2. Khasiat mineralokortikoid terdiri dari 

retensi natrium dan air oleh tubuli ginjal, se-

dangkan kalium justru ditingkatkan ekskre-

sinya.

Derivat kortisol sintetik

pemakaian  hidrokortison dengan dosis 

tinggi yang sering kali diper lukan dalam 

terapi, kerapkali terganggu oleh efek-efek 

sampingnya, seperti retensi garam/air, ude-

ma dan hipertensi. Oleh sebab  itu telah 

disinte sis banyak derivat dengan maksud 

memperkuat efek gluko kortikoid dan anti radang-

nya dengan menghilangkan sebanyak mungkin 

efek mineralokortikoid nya. Zat-zat ini sering kali 

dipakai  pada dermato-farmakoterapi. 

Derivat-derivat yang kini tersedia secara 

kimiawi dapat dibagi dalam dua kelompok, 

yaitu deltakortikoida dan fluorkortikoida.

a. Deltakortikoida: predniso(lo)n, metilpred-

nisolon, budeso ni da, desonida dan prednikarbat. 

Zat-zat ini berbeda dari kortisol dengan 

adanya ikatan ganda pada C1-2 (delta 1-2), 

sebab  itu namanya demikian. Efek gluko-

kortikoidnya ±5 x lebih kuat dan daya mi-

neralonya lebih ringan dibandingkan dengan 

kortisol, sedang  lama kerjanya ±2x lebih 

panjang.

b. Fluorkortikoida: betametason, deksametason, 

triamsinolon, dan lain-lain (lihat di bawah) 

merupakan turunan fluor dari prednisolon 

dengan 1 atau 2 atom fluor pada C6 atau/dan 

C9 dalam posisi -alfa. Khasiat glukokorti-

koid dan anti radangnya 10-30 x lebih kuat 

daripada kortisol, daya mineralonya praktis 

hilang sama sekali. Plasma-t½-nya lebih pan-

jang (3-5 jam) sebab  perombakannya dalam 

hati dipersu lit oleh adanya substituen fluor, 

oleh sebab  itu efeknya juga bertahan 3-5x 

lebih lama. 

pemakaian  sistemiknya tidak mengun-

tungkan dibandingkan prednisolon, sebab  

efek sampingnya biasanya  juga se-

banding lebih kuat. Maka zat ini hanya di-

gunakan bila predniso(lo)n diperlukan da-

lam dosis yang terlampau tinggi. Khususnya 

ketiga zat yang itu  di atas banyak di-

gunakan per oral dan parenteral. 

pemakaian  dermal dalam salep/krem se-

ring sekali, begitu pula penyalahgunaannya, 

sebab  lebih manjur daripada hidrokortison. 

namun  sering kali penyakit lebih cepat kam- 

buh, sedang  efek sampingnya pada 

pemakaian  tanpa aturan menjadi parah, 

seperti kulit menjadi tipis dan mudah terluka, 

dan lain-lain, lihat di bawah.

Penggolongan. berdasar  posisi dari 

atom fluor dalam rumus steroid, deri vat-

derivat fluor dapat dibagi sebagai berikut: 

*  6-alfa-fluor : fluokortolon, flunisolida

* 9-alfa-fluor: betametason, deksametason, tri-

amsinolon, desok simetason, fluormetolon dan 

flup redni den

* 6,9-alfa-difluor: flumetason, fluosinolon, di-

flukort olon

*  9-alfa-fluor 21-klor : klobetasol, klobetason

*  6-alfa-fluor 9,11-diklor : fluklorolon

*  6,9-alfa-difluor 2-klor: halometason

Tabel berikut ini memperlihatkan aktivitas 

biologik relatif dari sejumlah kortikoida ala-

miah dan sintetik dengan masa paruhnya.

Khasiat Khasiat Masa

mineral- gluko- paruh

okort. kort. (t ½)

hidrokortison 1 1 1,5-2 j.

kortison 0,8 0,8 0,5-2 j

prednison/olon 0,7 4 2,5-3

6-alfa-metilpredni. 0,5 5 3,5

triamsinolon 0 5 >5

deksametason 0 >3 3-4,5

betametason 0 >35

aldosteron 3000 0,3

kortikosteron 15 0,35

desoksikorton 40 0

fludrokortison 800 10 0,5

Tabel 46-1: Khasiat relatif atas dasar 

berat dari beberapa kortikoida alamiah 

dan sintetik.

    

Kinetik

Semua kortikoida secara oral diserap baik, 

efeknya baru nampak sesudah  4-6 jam, maka 

untuk efek cepat hendaknya dipakai  

parenteral dari derivat yang mudah larut. 

Masa paruh berkisar antara 1,5 dan 5 jam, 

namun  bertahan jauh lebih lama. (t½biolo-

giknya lebih panjang). Misalnya hidrokor-

tison dan kortison 8-12 jam, prednisolon 

dan triamsinolon 12-36 jam, deksa- dan beta-

metason (36-72 jam).

Secara intramuskuler kecepatan absorpsi ter-

gantung dari zat yang dipakai , senyawa-

Na dari suksinat dan fosfat yang dapat larut 

cepat diserapnya, sedang  suspensi dari 

asetat dan asetonida yang sukar larut lambat 

absorpsinya sehingga bekerja panjang. Oleh 

sebab  itu untuk pemakaian  intra-artikuler 

dan intrabursal dipakai  terutama senyawa 

asetat dan senyawa asetonida. Misalnya in-

jeksi asetat memberikan efek antiradang dan 

analgetik yang dapat bertahan 2 hari sampai 

2 bulan (asetonida), rata-rata 10 hari.

Absorpsinya per rektal sangat berbeda-

beda, biasanya  senyawa dinatrium 

dari fosfat paling baik penyerapannya, maka 

banyak dipakai  sebagai klisma pada co-

litis dan radang rektum (proctitis). Biasanya 

dipakai  beklometasondipropionat dengan 

efek lokal sangat kuat dan efek sistemik agak 

ringan. 

Kortikoida diikat pada protein plasma 

transkortin dan albumin. Pengikatannya pada 

protein (PP) berkisar antara 90-95% untuk 

hidrokortison dan 60-70% untuk derivat sin-

tetiknya. Prednison inaktif diubah menjadi 

prednisolon aktif selama first pass melalui 

hati, begitu pula kortison melalui proses sama 

menjadi hidrokortison aktif. Pengubahan ini 

tidak terjadi di kulit, mata, sendi dan rektum, 

maka sediaan-sediaan lokal untuk lokasi 

itu , perlu dipakai  senyawa hidronya. 

sesudah  dirombak dalam hati metabolitnya 

dikeluarkan melalui urin dan feses.

pemakaian . Glukokortikoida terutama di-

gunakan berdasar  berbagai khasi atnya 

sebagai berikut. 

1. Terapi substitusi dilakukan pada insufi-

siensi adrenal, seperti pada penyakit Addison 

yang bercirikan perasaan letih, kurang tenaga 

dan otot lemah akibat kekurangan kortisol. 

Dalam hal ini diberikan hidrokortison sebab  

efek mineralnya paling kuat.

2. Terapi non-spesifik dengan dosis lebih 

tinggi berdasar  khasiat anti radang dan 

khasiat imunosupresifnya pada banyak je-

nis penyakit. Juga berefek menghilangkan 

perasaan malaise serta memberikan perasaan 

nyaman dan segar pada pasien (sense of well-

being). Untuk ini biasanya  dipakai  

predniso(lo)n, triamsinolon, deksametason 

dan betametason dengan kerja mineralokor-

tikoid yang dapat diabaikan.

*Indikasi terpenting di mana glukokortikoida 

telah membuktikan keampuhannya yaitu  

pada gangguan-gangguan berikut:

a.  asma hebat akut atau kronis, misalnya 

status asthmaticus, namun  efeknya lebih 

lambat daripada ß2-mimetika. Inhalasi 

(spray, aerosol) merupakan terapi baku 

pada asma kronis, umumnya bersama 

suatu ß2-mimetikum

b.  radang usus akut (colitis ulcerosa, penyakit 

Crohn)

c.  penyakit auto imun, pada mana sistem 

imun terganggu dan menyerang jaring- 

an tubuh sendiri. Kortikoida menekan 

reaksi imun dan meredakan gejala pe- 

nyakit, misalnya pada rema, MS (mul-

tiple sclerosis), SLE (systemic lupus erythe-

matosus), sclero derma, anemia hemolitis, p. 

Crohn dan colitis.

d. sesudah transplantasi organ, bersama 

siklosporin atau azati oprin untuk mencegah 

penolakannya oleh sistem imun tubuh

e.  kanker, bersama onkolitika dan sesudah  

radiasi X-ray, untuk mencegah pem-

bengkakan dan udema (khususnya deksa-

metason). Juga sebagai anti emetikum, 

bersama obat-obat lain untuk prevensi 

mual dan muntah akibat penggun aan 

sitosta tika.

* Waktu minum. Glukokortikoida sebaiknya 

diminum dalam satu dosis pagi hari, sebab  

kadar kortisol alamiah maksimal antara 

pukul 8 - 9 dan terendah tengah malam (rit-

me circadi an, ritme siang malam, lihat Bab 42, 

Melatonin). Dengan demiki an risiko akan 

supresi sistem-HHA lebih kecil.

* ACTH dewasa ini khusus dipakai  se-

bagai obat diagnostik fungsi anak-ginjal.

pemakaian  lokal

Di samping secara oral dan parenteral, kor-

tikoida juga banyak digu nakan secara lokal, 

yakni:

a. pada mata, terutama pada proses pera-

dangan, seperti radang selaput mata, sela-

put bening dan pinggir kelopak mata (con-

junc tivitis, keratitis, blephari tis). Obat yang 

lazim dipakai  untuk terapi singkat ada- 

lah hidrokortison, prednisolon, deksame tason, 

betametason dan fluormeto lon. Obat-obat ini 

memiliki akti vitas relatif lemah dan tidak atau 

sedikit diserap ke dalam darah. Mengingat 

risiko akan efek sampingnya (katarak dan 

glaukoma), maka tidak boleh dipakai  

pada ganggu an mata lain (gatal-gatal, mata 

merah). 

b. pada telinga pada radang rongga gendang 

(otitis media) dan otitis externa kronis, ada 

kalanya terkombinasi dengan antibiotika. 

c. di hidung (intranasal). dipakai  seba-

gai spray hidung pada rhinitis (radang mu-

kosa hidung, pilek) dan pada polip untuk 

menghambat atau mencegah pertumbuh-

annya.

d. mulut (tracheal) khusus pada asma dan 

umumnya bersama ß2-mimetika. Ternyata 

efektif untuk mencegah serangan, pengem-

bangan dan udema bronchi, dengan risiko 

ringan bagi supresi sistem-HHA. Untuk 

ini tersedia spray (dosis aerosol) dengan 

beklometason, budisonida dan flutikason, yang 

disemprotkan ke dalam tenggorok dan 

berkhasiat lokal di bronchi. Resorpsinya ke 

dalam darah hanya ringan sekali.

e. rektal. Kadang kala dipakai  sebagai 

suppositoria terhadap wasir yang meradang, 

biasanya hidrokortison atau triamsinolon, di-

kombinasi dengan suatu anestetikum lokal, 

umumnya lidokain. Sebagai lavemen/klisma, 

zat ini juga dipakai  pada radang usus 

besar (colitis ulcerosa) untuk meringankan 

gejalanya (betame tason, prednisolon).

f. intra-artikuler. Pada radang sendi, seperti 

bursitis (“ten nis elbow”, radang kandung sega) 

dan synovitis (radang selaput synovium) dapat 

disuntikkan hidrokortison atau triamsinolon 

di antara sendi-sendi untuk mencapai efek 

lokal. 

g. dermal, lihat di bawah.

* Kortison dan prednison baru menjadi 

aktif sesudah diubah dalam hati menjadi 

derivat hidronya, yakni hidrokortison dan 

predni solon, maka bila peroral diperlukan 

efek cepat sebaiknya dipakai  derivat 

hidro aktif ini. Di kulit dan sendi pengubahan 

itu  tidak terjadi, maka untuk salep/

krem dan injeksi intra artiku ler selalu harus 

dipakai  hidrokortison dan prednisolon.

Efek samping

Efek samping kortisol terutama nampak pada 

pemakaian  lama dengan dosis tinggi, yaitu 

melampaui 50 mg sehari atau dosis setaraf 

dengan derivat sintetiknya. Efek ini mirip 

gejala dari suatu gangguan yang disebabkan 

oleh produksi kortisol faal berlebihan, yaitu 

sindroma Cushing.

* Sindroma Cushing sering kali disebabkan 

oleh tumor di hipofisis dan hiperproduksi 

ACTH. Gejala utama nya yaitu  retensi cairan 

di jaringan-jaringan yang memicu  

naiknya berat badan dengan pesat, muka 

menjadi tembam dan bundar (“muka bulan”), 

adakalanya kaki-tangan gemuk (bagian atas). 

Selain itu terjadi penum pukan lemak di bahu 

dan tengkuk. Kulit menjadi tipis, mudah 

terluka dan timbul garis kebiru-biruan 

(striae).

Ada tiga kelom pok efek samping berda-

sarkan khasiat faali pokoknya, yaitu efek 

glukokortikoid, mineralokortikoid dan efek 

umum.

1. Efek glukokortikoid dapat memicu  

efek samping sebagai berikut:

a. imunosupresi, yaitu menekan daya ta-

han tubuh, seperti yang terjadi pada 

transplantasi organ. Jumlah dan aktivitas 

limfosit-T/B beserta makrofag dikurangi dan 

pada dosis sangat tinggi juga produksi 

antibodies. Akibatnya yaitu  turunnya 

daya tahan dan tubuh menjadi lebih 

peka bagi infeksi oleh jasad-jasad renik. 

Lagi pula gejala klinis dari infeksi dan 

pera dangan menjadi saru. TBC dan 

infeksi parasiter dapat direakti fkan, be-

gitu pula tukak lambung-usus dengan 

risiko meningkatnya perdar ahan dan 

perforasi. 

b.  atrofia dan kelemahan otot (myopati ste-

roid), khusus dari anggota badan dan bahu. 

Lebih sering terjadi pada hidrokortison 

daripada derivat sintetiknya. 

c. osteoporosis (rapuh tulang) sebab  me-

nyusutnya tulang memicu  risi- 

ko besar fraktur bila terjatuh. Efek ini 

terutama pada pemakaian  lama dari 

dosis di atas 7,5 mg prednison sehari 

(atau dosis ekivalen dari glukokortikoid 

lain), seperti pada rema dan asma hebat. 

Prevensi dapat dilakukan efektif dengan 

vitamin D3 + kalsi um, masing-masing 

500 UI dan 1.000 mg sehari. Senyawa 

bisfosfonat (alendronat, risedronat) kini juga 

sering dipakai . Lihat juga Bab 44, Zat-

zat Estrogen, osteoporosis (boks).

d.  merintangi pertumbuhan pada anak-

anak, akibat dipercepatnya penutupan 

epifisis tulang pipa; 

e.  atrofia kulit dengan striae, yaitu garis 

kebiru-biruan akibat perdar ahan di ba-

wah kulit, juga luka/borok sukar sembuh 

sebab  pengham batan pembentukan ja-

ringan granulasi (efek katabol);

f.  diabetogen. Penurunan toleransi glukosa 

dapat menim bul kan hiperglikemia dengan 

efek menjadi manifest atau memper parah 

diabetes. pemicu nya yaitu  stimulasi 

pembentukan glukose berlebihan dalam 

hati.

g.  gejala Cushing, seperti tertera di atas; 

h. anti mitotis, yaitu menghambat pembe-

lahan sel (mitose), terutama kortikoida-

fluor berefek kuat, yang hanya dipakai  

secara dermal pada penyakit psoriasis 

(penyakit sisik), lihat di bawah.

2. Efek mineralokortikoid dapat menye-

babkan efek samping sebagai berikut:

a.  hipokaliemia akibat kehilangan kalium me-

lalui urin; 

b.  udema dan berat badan meningkat akibat 

retensi garam dan air, juga risiko hipertensi 

dan gagal jantung.

3. Efek-efek umum:

a. efek sentral (atas SSP) berupa geli sah, 

perasaan takut, sukar tidur, depresi dan 

psikosis. Perasaan euforia dengan keter-

gantungan fisik dapat pula terjadi.

b.  efek androgen, seperti acne, hirsutisme dan 

gangguan haid;

c.  katarak (bular mata) dan naiknya tekanan 

intra okuler (glaukoma), juga bila diguna-

kan sebagai tetes mata. Risiko glaukoma 

meningkat.

d.  bertambahnya sel-sel darah: eritrositosis dan 

granulositosis;

e.  bertambahnya nafsu makan dan berat badan; 

f.  reaksi hipersensitivitas;

g.  pada pemakaian  intra-artikuler (dalam 

sendi): iritasi dan sakit di tempat injeksi, 

abses steril, parestesia (kesemutan) dan 

khusus sesudah  injeksi berulangkali, des-

truksi dari sendi.

Interaksi. Efek samping ulcerogen dari 

NSAIDs dapat diperkuat. Risiko borok lam-

bung-usus pada dosis lebih tinggi, peng- 

gunaan lebih lama dan pada lansia mening-

kat.

Zat-zat induktor enzim seperti fenobarb, 

fenitoin, karbamazepin dan rifampisin dapat 

menurunkan efek glukokortikoida. Estrogen 

justru memperkuat daya kerjanya. Efek dari 

antikoagulantia dapat diperkuat dengan pe-

ningkatan risiko perdarahan.

Wanita hamil harus berhati-hati bila di-

berikan kortikoida, sebab  pada hewan 

percobaan dilaporkan efek-efek teratogen. 

(Metil)prednisolon mencapai ASI dalam 

jumlah kecil yang pada bayi tidak 

memicu  efek buruk. Dari kortikoida 

lain belum tersedia cukup data.

Tingkat I. lemah

hidrokortison  asetat  1%   

metilprednisolon  asetat  2,5   Neo Medrol

tingkat II. sedang

desoksimetason  + salis.  0,25%   Esper son 

deksametason  + klorheksidin 0,04   *Dexatopic 

hidrokortison  butirat  0,1   Locoid

flukortolon  pivalat  0,25   Ultralan

flumetason  pivalat  0,02   Locacorten

fluosinolon  asetonida  0,025   *Synalar

flupredniden  + neomisin 0,5%  0,1   *Decoderm3 

klobetason  butirat  0,05   Emovate

triamsinolon  asetonida  0,1   Kenacort-A

tingkat III. kuat

beklometason  dipropionat  0,025 %   Cleniderm

alklometason  dipropionat  0.05   Perderm, Aclosone 

betame tason  valerat  0,1   Celestoderm-V

betametason  dipropionat  0,05   Diprosone-OV

budesonida  -  0.025   Preferid

diflukortolon  valerat  0,1   Nerisona

fluklorolon  asetonida  0,025   Topilar-N

flutikason  propionat  0,05   Cutivate

halometason  -  0,05   Sicorten

halsinonida  -  0,1   Halog

mometason  furoat  0,1   Elocon

prednikarbat  -  0,25   Derma top

tingkat IV. sangat kuat

klobetasol  propionat  0,05 %  Dermovate

Tabel 46-2: Tingkat-tingkat potensi dari sejumlah glukokortikoid 

pada pemakaian  dermal


KORTIKOSTEROID  

DERMAL

Kortikoid merupakan obat paling ampuh 

dalam pengobatan gangguan kulit dan di-

gunakan secara luas. Berkat efek anti ra-

dang dan anti mitotiknya zat-zat ini dapat 

menyembuhkan dengan efektif berbagai 

bentuk eksem dan derma titis, psoria sis (pe-

nyakit sisik) dan prurigo (bintil-bintil gatal). 

namun  tidak jarang gangguan (khusu snya 

eksem) segera kambuh lagi, terutama bila 

dipakai  fluor korti koid dengan khasiat kuat.

Tingkat daya kerja. berdasar  aktivitasnya 

kortikoida lokal dapat dibagi dalam 4 tingkat 

dengan urutan potensi yang mening kat. Di 

Tabel 46-2. sediaan digolongkan atas dasar 

kadar standarnya; pada kadar yang lebih ren-

dah, daya kerjanya juga menurun ke tingkat 

lebih rendah. Misalnya triamsinolon 0,1% 

termasuk tingkat II, namun  triamsinolon 0,05% 

menurun ke tingkat I.

Pembagian potensi. Tabel 46-2 hendaknya 

dianggap sebagai penun tun saja, sebab  

aktivitas sekian banyak nya sediaan sangat 

sukar untuk diperbanding kan. Lagi pula 

aktivitasnya tidak hanya tergan tung dari 

tingkatan khasiatnya, namun  juga dari daya 

pene trasinya ke dalam kulit dan basis salep/krem 

yang dipakai . Misalnya obat dalam bentuk 

salep lebih baik penetrasi nya daripada krem, 

sebab  berta han lebih lama di atas kulit. 

Penetra si dapat pula ditingkatkan (lebih dari 

10 kali) melalui oklusi, yaitu menutup bagian 

kulit dengan sehelai plas tik. Atau dengan 

memberikan zat-zat tambahan seperti urea 

(10%), asam salisilat (3%), asam laktat (2%) 

dan propilen glikol (10%). Keratoli tika ini 

melepaskan atau menghidrata si selaput tan-

lengan bawah  1,0  kepala (atas)  3,5

tangan (tapak)  0,83  ketiak  3,6

kaki (tapak)  0,14  muka  6,0

pergelangan kaki  0,42  rahang bawah  13,0

punggung  1,7 scrotum  42,0

Tabel 46-3: Perbandingan resorpsi hidrokortison dari kulit 

di berbagai daerah tubuh

duk kulit dengan efek meningkatnya pene-

trasi, resorpsi dan efeknya.

Resorpsi obat juga tergantung dari lokasi pada 

tubuh di mana salep diolesi, seperti dapat 

dilihat dari Tabel 46-3. Di tabel ini resorpsi 

hidrokortison pada lengan bawah (sekitar 1% 

dari dosis yang dipakai ) dibandingkan 

dengan resorpsinya pada bagian-bagian tu-

buh lain. 

Pilihan obat

Pada dasarnya terapi gangguan kulit dimulai 

dengan obat-obat klasik, seperti mentol, ZnO, 

titanoksid, resorsin, ichtiol dan ter. Bila obat-

obat ini kurang efektif, barulah dipakai  

suatu korti koid lemah (tingkat I), yaitu hi-

drokortison 1%. Misalnya pada berbagai 

bentuk eksem, prurigo, gatal-gatal dan dermatitis 

popok, juga pada sengatan tawon, untuk me-

ngurangi reaksi radang dan alergi. Bila efek-

nya kurang memuaskan dapat beralih ke 

obat tingkat II, misalnya triamsinolon 0,1% 

pada eksem kontak/a lergik dan eksem konsti-

tusional (atopik).

Zat-zat tingkat III dan IV berkhasiat anti 

mitotik, artinya menghambat pembelahan 

sel (mitosis). Oleh sebab  itu obat-obat ini 

lebih ampuh untuk gangguan yang berkaitan 

dengan pertumbuhan sel berlebihan, seperti 

psoriasis (penyakit kulit menahun dengan 

pembentukan sisik), begitu pula pada eksem 

dengan timbulnya lichen (bintil-bintil terten-

tu) dan lupus discoid (borok berbentuk ca-

kram). Zat-zat tingkat IV hanya dipakai  

bila obat-obat tingkat III tidak efektif (lagi). 

Risiko akan efek samping lokal atau sistemik 

menjadi lebih besar. Maka pada dasarnya 

pengobatan hendaknya dilakukan sesing kat 

mungkin.

Berhubung dengan adanya perbedaan re-

sorpsi yang substansial pada berbagai bagi-

an tubuh, maka bila dipakai  pada kulit 

tipis risiko efek sampingnya lebih besar dan 

sebaiknya dipakai  suatu sediaan dengan 

tingkat lebih rendah. Misalnya di muka, li-

patan kulit, daerah anogenital, bagian dalam 

paha dan pada permukaan luas.

*Kombinasi dengan zat antimikotik atau 

antibiotik dapat dipakai  pada mycosis 

kulit atau infeksi kuman, pada mana ada  

gejala-gejala radang yang nyata.

Terapi intermitten. Kortikoid ditimbun di 

lapisan tanduk dari epidermis (kulit ari) dan 

dari depot ini dilepaskan ke lapi san dalam 

selama 24-36 jam. berdasar  ini telah 

dikembangkan kebijakan terapi dalam dua 

tahap  sebagai berikut: 

a. penyembuhan: salep diolesi 2-3 kali sehari 

selama 1-2 minggu. dengan sediaan tingkat 

I-III, untuk secepat mungkin mengendalikan 

penyakit. Sebaiknya salep diolesi secukupnya 

secara kontinu, tanpa interupsi.

b. pemeliharaan untuk menghindari kambuh-

nya gangguan: 

– selama 1-2 minggu 1 kali setiap hari salep 

tingkat I- III. 

– selama 1-2 minggu 1 kali setiap hari ke-

dua, untuk masing-masing tingkat III dan 

IV. 

– selama 1-3 bulan 1 dd pada 2 hari semi-

nggu.

Pada hari-hari ‘istirahat’ perlu dipakai  

suatu salep/krem netral, yang hanya mengan-

dung basisnya tanpa kortikoid.

Bila penggu naan obat yang berkhasiat 

kuat dihentikan, hendaknya jangan secara 

mendadak, terutama sesudah  pengobatan 

lama. Sebaiknya diakhiri dengan salep ber-

khasiat lemah (hidro kortison) atau salep 

netral.

Efek samping

Khusus dapat terjadi pada bagian kulit 

yang peka dan berupa atrofia dan striae, 

peradangan sekitar mulut dan benjolan aki-

bat pembuluh menggelembung (teleangiecta-

sia). Penambahan tretinoin pada kortikoid 

dapat mencegah timbulnya striae, namun  

membawa efek samping lain. Penyembuhan 

luka dihambat, akne dan rosacea (eritema di 

muka) dapat diperhebat, sedang  infeksi 

mikroorganisme dapat tersamar (berlang-

sung tanpa gejala). Pada pemakaian  terlalu 

lama di kelopak mata atau sekitarnya, kor-

tikoid dapat memicu  glaukoma dan 

keratitis herpetica.

*Efek samping sistemik jarang terjadi bi-

la petunjuk di atas diperhatikan. Risiko 

meningkat bila sediaan dipakai  dalam 

jumlah besar, lebih dari 30-50 g seminggu, 

pada permukaan luas selama jangka waktu 

lama dan khususnya pada obat-obat yang 

bekerja kuat. Begitu pula bila obat dipakai  

di bawah tutup plastik (oklusi) atau dikom-

binasi dengan keratolitika atau zat-zat hidratasi, 

terutama di bagian kulit dengan resorpsi 

baik.

Kontraindikasi. Sediaan kortikoid lokal tidak 

boleh dipakai  pada gangguan kulit akibat 

infeksi kuman, virus, jamur atau parasit, juga 

tidak pada akne dan borok.

MONOGRAFI

1.KORTISON

1. Hidrokortison: HC, kortisol, 17-alfa-korti-

kosteron, Solu-Cortef

Hormon adrenal utama ini (1952) ter-

utama berkhasiat terhadap metabo lisme 

karbohidrat, protein dan lemak, serta relatif 

ringan terhadap metabolisme mineral dan 

air. Hormon ini terutama dipakai  pada 

terapi substitusi, misalnya pada penyakit 

Addison. Topikal banyak dipakai dalam sa-

lep/krem 1-2% (asetat) atau 0,1% buti rat, 

juga dalam tetes mata dan telinga (1% asetat). 

Pada dosis biasa tidak memicu  efek 

samping. Tersedia banyak sediaan kombinasi 

dengan kemoterapeutika. Di banyak negara 

salep/krem dengan maksimal 1% HC dapat 

dibeli tanpa resep, antara lain di Inggris dan 

Skandinavia. 

Resorpsi dari usus buruk, oleh sebab  itu tidak 

dipakai  per oral namun  sebagai injeksi (i.m. 

atau intra-artikuler). Dalam darah terikat 

95% pada globulin pengangkut transkortin. 

Plasma-t½ 1,5-2 jam, namun  efek maksimalnya 

baru tercapai sesudah 6-8 jam. Keganjilan 

ini juga timbul pada prednison dan derivat 

lainnya. Ekskresi berlangsung lewat urin 

sebagai metabolit 17-keto yang mudah larut.

Dosis: i.m./i.v. semula 100-500 mg larutan 

Na-suksinat, bila perlu diulang setiap 2-10 

jam, maksimal 8 g sehari. Rektal pada wasir: 

suppos./salep 1-2 dd 5 mg, pada colitis: 

klisma 100 mg. 

*Kortison (F.I.) yaitu  derivat keto sintetik 

dari hidrokorti son yang resorpsinya dari 

usus lebih baik dan cepat. Tidak aktif, namun  

dalam hati diubah menjadi kortisol. Pembe-

rian i.m. ±20% lebih efektif, walaupun penye-

rapan ke dalam darah agak lambat (bahaya 

kumulasi!). Tidak dapat dipakai  lokal 

atau intra-artikuler, sebab  di kulit dan sendi 

tidak terjadi perubahan enzimatik menjadi 

kortisol. Penderita gangguan hati sebaiknya 

jangan diberikan kortison oral.

Dosis: pada insufisiensi oral 3 dd 25-50 

mg (asetat). Perbandingan efeknya: 25 mg 

kortisonasetat = 20 mg hidrokortison.

2. PREDNISON

2. Prednison:Hostacortin

Derivat keto ini (1954) baru aktif sesudah  

dalam hati diubah menjadi derivat hidronya 

prednisolon. Khasiat dan pemakaian nya 

sama, hanya tidak dipakai  secara lokal 

dan intra artikuler sebab  tidak dihidrogenasi 

di kulit, mukosa mata dan sendi. Tidak dian-

jurkan bagi pasien hati.

Dosis: oral semula 1 dd 5-60 mg pagi hari, 

pemeliharaan 5 mg sehari.

*Prednisolon (delta-hidrokortison, Di-Adre-

son-F aquosum) 

Delta-steroid sintetik ini (1955) dengan 

ikatan ganda pada C1-2 berkhasiat ±5 x lebih 

kuat dari pada kortisol dengan efek mineralo-

kortikoid yang lebih ringan. Daya kerjanya 

juga lebih panjang (t½ = 3 jam). Berhubung 

dengan sifat-sifatnya, obat ini banyak digu-

nakan untuk terapi sistemik, begitu pula 

prednison. Kadar puncak nya dalam darah 

baru tercapai sesudah  6-8 jam (per oral). Sifat 

merang sangnya ringan, maka sering kali 

dipakai  untuk injeksi intra artikuler dan 

tetes mata (0,25-5%), juga dalam klisma 

pada colitis. Dosis: oral semula 1 dd 5-60 mg 

pagi hari, berangsur-angsur dalam waktu 4 

minggu diturunkan sampai 5 mg sehari atau 

10 mg setiap 2 hari; i.m./i.v. 25-75 mg sebagai 

diNa-fosfat atau Na-suksinat. 

Perbandingan efek: 5 mg prednisolon = 20 

mg hidrokortison.

*Metilprednisolon (Depo-Medrol, Solu-Me-

drol, Urbason) berkhasiat ±20% lebih kuat dari 

pada prednisolon (1956) dengan berbagai 

cara pemakaian  oral dan parenteral.

Dosis: oral semula 2-60 mg/ hari, peme-

liharaan 4 mg sehari. Pada rema, MS dan LE 

1 g sehari selama 3-10 hari atau lebih lama.

Advantan: krem/salep 0.1%.

*Budesonida (Pulmicort, Rhinocort, *Symbi-

cort) yaitu  derivat (1980) yang khusus 

dipakai  topikal sebagai salep/krem. Juga 

sebagai spray inhal asi (bersama suatu ß2-

mimetikum) pada asma untuk mencegah 

serangan dan meniadakan pengembangan 

dan udema dari mukosa bronchi. Efeknya 

kuat dan cepat; bahaya efek sistemik ringan 

sebab  cepat dan tuntas diinaktifkan oleh 

hati. Plasma- t½ ±3 jam. Dosis: tracheal 2-4 dd 

1 puff dari 200 mcg, begitupula intrana sal 

pada rhinitis.

*Symbicort turbuhaler: 80/160 + formoterol 

fumarat 4,5/4,5 mcg per dosis. Salep/krem: 

0,025% (Preferid)

3. DERIVAT 9-ALFA-FLUOR

Senyawa-senyawa ini pada pemakaian  oral 

sering kali memicu  myopathy (otot 

menyusut dan nyeri), terutama bila diguna-

kan untuk jangka waktu lama dengan dosis 

tinggi, juga menekan adrenal agak kuat. 

Zat-zat ini praktis tidak memili ki efek minera-

lokortikoid dan yang terpenting yaitu  sebagai 

berikut.

3a. Triamsinolon(Kenacort) banyak diguna-

kan oral, intra artiku ler, i.m./i.v., rektal dan 

dermal (1956). Secara dermal hanya aktif se-

ba gai asetonidanya: salep/krem 0.05-0,1%. 

Perbandingan efek: 4 mg triamsinolon = 20 

mg hidrokortison.

Dosis: oral semula 8-32 mg sehari sesudah 

makan pagi, pemeliha raan 4-8 mg sehari. 

*Halsinonida (Halog, Halciderm) yaitu  tri-

amsinolon tanpa ikatan ganda antara C1 dan 

C2, maka dapat dianggap sebagai derivat 

kortisol. dipakai  dalam krem 0,1%.

3b. Deksametason (Oradexon, Fortecortin, *De-

xatopic) ±6x lebih kuat dari kortisol (1958). Zat 

ini menekan adrenal relatif kuat, maka risiko 

insufisiensi juga agak besar. Deksametason 

sering kali dipakai  sebagai zat diagnostik 

untuk menentukan hiperfungsi adrenal (tes 

supresi deksametason). Topikal dipakai  

sebagai tetes mata/telinga (fosfat 0,1%), juga 

dikombinasi dengan antibiotika, misalnya 

dengan soframisin (*Sofradex). 

Perbandingan efeknya: 0,65 mg deksame-

tason = 20 mg hidrokorti son.

Dosis: oral semula 0,5-9 mg sehari sesudah 

makan pagi, pemeli ha raan 0,5-1 mg sehari. 

Pada syok i.v. 100-300 mg larutan Na-fosfat.

*Desoksimetason (Esperson, Topicorte, *Deno-

mix) yaitu  deksametason tanpa gugus-OH 

pada C17 (1965). Efek lokalnya ±2x lebih 

lemah. dipakai  dalam krem 0,25%, juga 

dikombinasi dengan antibiotik. *Denomix: des-

oksimetason 0,05 % + neomisin sulfat 0,5%.

3c. Betametason (Celestone, Celestoderm, *Di-

progenta) yaitu  stereoisomer dari deksame-

tason (1961), pada mana gugus metil pada 

C16 berada dalam posisi-beta. Khasiat anti-

radangnya pada pemakaian  lokal lebih 

ringan. Zat ini dipakai  dalam tetes mata 

sebagai diNa-fosfat 0,1% dan dalam salep 

sebagai valerat 0,1% atau dipropio nat yang 

2x lebih kuat: 0,05 % (Diprosone).

Dosis: oral 0,5-8 mg sehari sesudah makan 

pagi.

* Diprogenta: betametason diprop. 0.05% + 

gentamisin sulfat 0,1%

3d. Fluormetolon : Flumetolon, FML liquifilm

Derivat 9-alfa-fluor ini (1959) khusus digu-

nakan dalam tetes mata dengan kadar 0,1%.

4. DERIVAT 6-ALFA-FLUOR

Senyawa-senyawa ini memiliki atom fluor 

pada C6 dalam posisi alfa.

4a. Fluokortolon (Ultralan) rumusnya mirip 

dengan deksameta son, hanya posisi atom 

fluor tidak pada C9 namun  pada C6 dan tanpa 

gugus-OH pada C17 (1976). Zat ini khusus 

dipakai  dalam salep sebagai kapronat 

atau trimetilasetat 0,5%.

*Flunisolida (Syntaris) yaitu  derivat fluo-

kortolon (1978) yang khusus dipakai  da-

lam spray hidung 0,025%. 

5. DERIVAT DIFLUOR

Dengan ditambahkannya atom fluor kedua, 

zat-zat ini diperkuat khasiat antiradangnya 

dan pada pemakaian  dermal termasuk 

tingkat kerja III.

5a. Fluosinonida (fluosinolon-asetonida, Syna-

lar, Topsyne) memiliki rumus triamsinolon 

dengan atom fluor ekstra pada C6, dengan 

khasiat 5 x lebih kuat (1961). Khusus digu-

nakan dalam salep/krem 0,025%. 

5b. Flumetason (Locacorten) yaitu  deksame-

tason dengan atom fluor kedua pada C6 

(1963). Efek lokalnya juga ±5x lebih kuat. 

dipakai  khusus dalam salep/krem/pasta 

0,02% pivalat, juga dalam kombinasi dengan 

asam salisilat 3% (Locasalen) atau vioform. 

Begitu juga dalam tetes telinga.

*Diflukortolon (Nerisona) yaitu  flukortolon 

dengan atom fluor kedua pada C9 dan efek 

lokal yang 5x lebih kuat. dipakai  dalam 

salep/krem 0,1%, juga terkombinasi dengan 

zat antiseptik klorkinaldol 1%. 

5c. Flutikason (Cutivate, Flixotide, *Seretide) 

yaitu  derivat trifluor dengan belerang pada 

C20 (-CO-S-CH2-F) yang termasuk dalam 

tingkat III (1990). dipakai  sebagai krem 

0,05% (propionat) dan salep 0,005%, juga 

sebagai inhalasi (Flixotide) dan spray hidung 

dengan 50 mcg/d osis (Flixonase).


*Seretide: futikason prop 50 + salmeterol 25 

mcg per 50 dosis inhaler.

6. DERIVAT KLOR

6a. Beklometason (Cleniderm, Becotide, Beco-

nase) memiliki struk tur betametason, pada 

mana atom F pada C9 diganti dengan atom 

Cl (1967). Ester dipropionatnya (C17 dan 

C21) berkhasiat ±300 kali lebih kuat daripada 

kortisol. Plasma-t½ singkat sekali, hanya 9 

menit, secara lokal ±2 menit. Di samping 

sebagai krem 0,025%, teruta ma dipakai  

sebagai inhalasi pada asma (bersama ß2-

mimetika) berkat efek lokalnya di bronchi. Zat 

ini dapat diresorpsi dari saluran pernapasan 

(dan usus) ke dalam darah, namun  sebab  

dalam hati FPE besar dengan cepat dirombak 

menjadi beklometason inaktif. Oleh sebab  

itu pada dosis biasa tidak menekan sistem 

HHA.

Dosis: inhalasi 3-4 dd 2 puffs à 50 mcg 

(dipropionat), intrana sal pada rhinitis 2-4 dd 

50 mcg di setiap lubang hidung.

*Alklometason (Perderm, Alclosone) yaitu  

isomer dengan atom klor pada C6 sebagai 

ganti C8. Khasiatnya juga (agak) kuat. Di-

gunakan sebagai salep/krem 0,5 mg/g (di-

propionat) selama 3-5 hari, kemudian 1 x 

sehari dan sesudah  terjadi perbaikan 2-3 x 

seminggu.

6b. Mometason (Elocon, *Elosalic) yaitu  

derivat diklor (C9, C21) tingkat III (1987), 

yang khusus dipakai  sebagai salep 0,1% 

(furoat). Risiko alergi kontak pada obat ini 

kecil, seperti juga pada flutikason.

*Elosalic salep: mometason furoat 0,1% + 

salisilat 5%.

7. DERIVAT KLOR-FLUOR

Kombinasi dari dua atom halogen di dalam 

molekul memperkuat khasiat anti radangnya, 

oleh sebab  itu zat-zat ini terhitung glu-

kokortikoida yang terkuat (tingkat III dan IV). 

pemakaian nya di bagian kulit yang sensi tif 

harus dengan sangat berhati-hati, misalnya di 

muka, ketiak, bagian paha dan alat kelamin.

7a. Klobetasol (Dermovate) yaitu  betame-

tason, di mana gugusan OH pada C21 diganti 

dengan klor (1973). Penetrasinya ke dalam 

kulit baik sekali, juga pada penyakit psoriasis. 

Klobetasol berkhasi at anti radang, vasokonstriksi 

dan antimitotik yang paling kuat dari semua 

fluor kortikoida (tingkat IV). Oleh sebab  itu 

zat ini hanya dica dangkan untuk gangguan 

parah yang kurang bereaksi terhadap obat-

obat tingkat III, seperti psoriasis, lupus discoid 

dan hipertro fi parut. Tersedia salep/krem 

dengan 0,05% propionat.

*Klobetason (Emovate) yaitu  derivat 17-keto 

dari klobetasol (1975) dengan khasiat lebih 

ringan (tingkat II), penetrasinya ke dalam 

kulit juga kurang. dipakai  dalam salep/

krem 0,05% (butirat).

7b. Fluklorolon (*Topilar-N) yaitu  derivat 

difluorklor yang khasiat lokalnya kuat (tingkat 

III) dan dipakai  sebagai krem 0,025 % 

(asetonida).

*Halometason (Sicorten) yaitu  juga derivat 

difluorklor, yang khasiat lokalnya mendekati 

klobetasol, daya kerjanya pun panjang (1983). 

Berkhasiat antimitotik kuat dengan efek atro-

fia ringan (tingkat III). dipakai  sebagai 

salep/krem 0,05%.


INSULIN DAN ANTIDIABETIKA 

ORAL

A. DIABETES DAN INSULIN

Diabetes mellitus, penyakit gula atau kencing 

manis yaitu  gangguan kronis yang disebab-

kan oleh kekurangan relatif atau absolut dari 

hormon insulin yang dihasilkan oleh sel-

sel beta dari kelenjar pankreas. Gangguan 

ini bercirikan hiperglikemia (glukosa-darah 

terlampau meningkat) dan khususnya me-

nyangkut metabolisme hidratarang (gluk­

osa) di dalam tubuh. namun  metabolisme 

lemak dan protein juga tergang gu (Lat. 

diabetes = penerusan, mellitus = manis madu).

Kadar glukosa-darah ditentukan oleh ke- 

seimbangan antara insulin dan zat-zat tubuh 

yang bekerja antagonis terhadap insulin, 

seperti glukagon, katecholamin, hormon 

pertumbuhan dan glukokortikoid. Keseim-

bangan inilah yang pada penyakit diabetes 

terganggu.

Harapan hidup penderita diabetes rata-

rata 5-10 tahun lebih rendah dan risikonya 

untuk PJP yaitu  2-4 kali lebih besar.

pemicu nya yaitu  kekurangan hormon 

insulin, yang berfungsi memungkinkan 

glukosa masuk ke dalam sel untuk dimeta-

bolisasi (dibakar) dan dimanfaatkan sebagai 

sumber energi. Akibatnya glukosa bertum- 

puk di dalam darah (hiper gli kemia) dan 

akhirnya diekskresi lewat urin tanpa digu-

nakan (glycosu ria). Oleh sebab  itu produksi 

urin sangat mening kat dan penderita sering 

berkemih, merasa amat haus, berat badan 

menurun dan merasa lelah. pemicu  lain 

yaitu  menurunnya kepekaan reseptor sel 

bagi insulin (resistensi insulin) yang diaki-

batkan oleh makan terlalu banyak dan 

kegemukan (overweight). Rata-rata 1,5-2% dari 

seluruh penduduk dunia menderi ta diabe- 

tes yang bersifat menurun (familial). Di 

negara kita  penderita diabetes diperkirakan 3 

juta orang atau 1,5% dari 200 juta penduduk, 

sedang  di Eropa mencapai angka 3-5%! 

Pada lima tahun terakhir jumlah ini telah 

meningkat secara eksplosif, yang disebabkan 

oleh meningkatnya overweight dan obesitas 

terutama di dunia Barat. Diperkirakan bahwa 

di tahun 2030 jumlah penderita diabetes akan 

meningkat sampai 366 juta jiwa, berarti ±2 

kali dari sekarang.27

Insulin

Pankreas yaitu  suatu organ lonjong dari 

kira-kira 15 cm, yang terletak di belakang 

lambung dan sebagian di belakang hati. 

Organ ini terdiri dari 98% sel-sel dengan 

sekresi ekstern, yang memproduksi enzim-

enzim cerna yang disalurkan ke duodenum 

(lihat Seksi III, Obat Saluran Cerna). Sisanya 

terdiri dari kelompok sel (pulau Langer hans) 

dengan sekresi intern, yaitu hormon-hormon 

endokrin yang disalur kan langsung ke aliran 

darah. Dalam pankreas ada  empat jenis 

sel endokrin, yakni: 

a. sel-alfa, yang memprodusir hormon glu­

kagon;

b. sel-beta dengan banyak granula berde-

katan membran selnya, dalam mana 

ada  insulin (Lat. insula= pulau). 

Setiap hari dis ekresi ±2 mg (= 50 UI) 

insulin, yang dengan aliran darah diang-

kut ke hati. Kira-kira 50% dari hormon ini 

dirombak di sini dan sisanya diuraikan 

dalam ginjal

c. sel-D memprodusir somatostatin (antago-

nis somatropin, lihat Bab 42, Hormon 

hipofisis)

d. sel-PP memprodusir PP (pancreatic poly-

peptide), yang mungkin berperan pada 

penghambatan sekresi endokrin dan 

empedu

* Gluconeogenesis (pembentukan baru glu-

kosa). Hati merupakan organ utama yang 

menstabilkan keseimbangan glukosa (home-

ostasis) antara absorpsi dan penimbu nannya 

sebagai glikogen (pati hewan). Glikogen 

ini sesudah makan dilepaskan ke dalam 

sirkul asi untuk menyesuaikan kecepatan 

pembaka ran glukosa oleh jaringan perifer. 

Hati juga mampu mensintesis glukosa dari 

molekul-molekul beratom-3C yang berasal 

dari perom ba kan lemak dan protein (proses 

gluconeogene sis; Lat. neo = baru, genesis = 

terbentuk, jadi, tumbuh). Setiap hari «diba-

kar» ±200 g glukosa, yang ±25% berasal dari 

gluconeogenesis.

* Metabolisme glukosa. sesudah  karbohidrat 

dari makanan didegradasi dalam usus, glu-

kosa lalu diserap ke dalam darah dan diangkut 

ke sel-sel tubuh. Untuk penyerapannya ke 

dalam sel-sel ini dibutuhkan insulin, yang 

dapat di-ibaratkan sebagai «kunci untuk pintu 

sel». Sesudah masuk ke dalam sel, glukosa 

segera diubah di mitochondria (‘pabrik 

energi’) menjadi energi atau ditimbun sebagai 

glikogen. Cadangan ini dipakai  bila tubuh 

kekurangan energi sebab  misalnya berpuasa 

beberapa waktu.

Setiap kali kita makan hidratarang (gula), 

maka kadar glukosa darah akan naik. Seba-

gai reaksi pankreas memproduksi dan 

melepaskan insulin untuk memungkinkan 

absorpsi glukosa oleh sel, sehingga kadar 

glukosa darah turun lagi dan pankreas me-

nurunkan produksi insulinny a. Dengan 

demikian kadar glukosa dapat bervariasi 

antara batas-batas normal dari 4-8 mmol/liter 

(1 mmol/l = 180 mg glukosa/l darah).

* pemakaian  glukosa. Yang paling banyak 

memakai  glukosa yaitu  saraf dan otak, 

pemasukannya mutlak (obligat) dan tidak 

tergantung dari insulin. Di dalam sel, glukosa 

dioksidasi menjadi karbondiok sida dan air 

dengan menghasilkan energi.

glukosa + O2 ––––––> CO2 + Energi

Jaringan otot dan lemak menyerap glukosa 

hanya bila diper lukan, sebab  kebutuhan 

energi dapat pula dicapai melalui oksidasi 

asam lemak. Glukosa yang diserap di otot 

ditim bun sebagai glikogen atau dirombak 

menjadi asam laktat, yang dengan darah 

diangkut ke hati dan menjadi bahan pangkal 

untuk glucone ogenesis. Jaringan lemak meng-

gunakan glukosa sebagai sumber energi 

dan sebagai substrat untuk sintesis trigli­

serida. Zat-zat ini mengalami lipolysis de-

ngan menghasilkan asam lemak dan glis erol, 

yang juga merupakan bahan pangkal untuk 

gluconeo genesis.

* Regulasi hormonal. Bila kadar insulin 

rendah, produksi glukosa maksimal dan 

utilisasinya minimal. Pada kadar insulin ti-

n