Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 42





 ggi terjadi kebalikannya. Molekul-molekul 

insulin mengikat diri pada reseptor insulin 

di membran sel dari sel tujuan (otot dan 

lemak). Pada reaksi ini terbentuk suatu kom- 

pleks, yang melalui impuls listrik memper-

cepat pelintasan membran sel dan masuk-

nya glukosa ke dalam sel. Kompleks ini diin-

korporasi di dalam sel, lalu insulin dirombak, 

reseptor dikembalikan ke membran yang 

dapat diduduki lagi oleh molekul insulin 

baru, dan seterusnya.

Resistensi insulin(RI)

Merupakan keadaan pada mana sel-sel men- 

jadi kurang peka bagi insulin dengan aki-

bat berkurangnya penyerapan glukosa dari 

darah. Lagi pula sel beta di pankreas disti- 

mulasi agar produksinya ditingkatkan. 

Akhirnya sel beta tidak mampu memperta-

hankan peningkatan insulin dan terlalu se-

dikit glukosa memasuki sel. Akibatnya kadar 

glukosa darah meningkat dan lambat laun 

terjadilah diabetes tipe-2 (DM2). 

pemicu  lain yaitu  berkurangnya jumlah 

reseptor untuk mengikat insulin atau reseptor 

tidak bekerja (lagi) semestinya. 

Di dalam sel, glukosa dibakar untuk meng-

ha sil kan kalori dan kelebihannya ditim-

bun terutama sebagai glikogen dalam sel 

otot atau sebagai lemak dalam sel lemak, 

yang oleh sebab  itu sangat membesar. Bila 

pemasukan glukosa berlang sung terus-mene-

rus akibat makan terlalu banyak, maka tum-

buhnya sel-sel lemak akhirnya mengakibat-

kan overweight dan obesi tas. Efek lainnya 

yaitu  reseptor insulin berkurang jumlahnya 

atau menurun fung si nya dan pengika tan insulin 

dipersulit. Jumlah glukosa yang memasuki sel 

berkurang, sedang  banyak glukosa dan 

insulin beredar dalam darah (hiperglikemia 

dan hiperinsuli nemia). Keadaan bahwa or-

gan tujuan menja di kebal bagi insulin ini 

disebut tidak-kepekaan atau resis tensi insu lin 

(R.I.). Insulin yang disuntikkan menghasil-

kan kadar dalam darah yang rendah, maka 

efek biologisnya juga di bawah normal.

Resistensi insulin bisa terjadi akibat berbagai 

sebab, antara lain:

– obesitas. Orang gemuk  mem butuh kan le-

bih banyak insulin daripa da orang ‘nor-

mal’;  

– gangguan jantung (infark, dekompensasi);

– obat-obatan, misalnya kortikosteroid, di-

uretika tiazida (di atas 25 mg/hari) dan 

betablocker; 

– kekurangan krom, yang perlu bagi ber-

fungsi baik insulin dan metabolisme glu-

kosa yang normal22 .

Bila resistensi insulin tidak ditanggulangi 

dengan perubahan drastis pola hidup (pe-

nurunan asupan kalori dan peningkatan 

aktivitas tubuh), maka dapat dipastikan suatu 

waktu akan timbul penyakit gula (DM2).

Khasiat fisiologi

Insulin memiliki beberapa efek terhadap 

metabolisme ketiga bahan utama pangan, 

yaitu hidratarang, lemak dan protein. Keti- 

ganya dapat mensuplai energi, namun  karbo-

hidrat yaitu  yang terpenting sebab  glukosa 

bisa menghasilkan energi dengan cepat. 

Khasiat insulin terhadap zat-zat gizi yaitu  

sebagai berikut:

a.  Efek karbohidrat. Fungsi utama insulin 

yaitu  mengatur utili sasi glukosa oleh sel 

sebagai sumber energi, antara lain de- 

ngan melancarkan pelinta sannya mela-

lui membran sel dan resorp sinya ke 

dalam sel-sel otot dan lemak. Selain itu 

insulin bekerja hipoglikemis, yaitu menu-

runkan gula-darah dengan menstimula­

si pengu bahan kelebihan glukosa men-

jadi glikogen di hati dan otot. Dengan 

demikian insulin menjaga jangan sampai 

gula-darah terlampau tinggi. Lagi pula in-

sulin menghambat gluconeogenesis (pem-

bentukan glukose) dalam hati dengan 

merin tangi pelarutan glikogen. 

b. Efek lemak yang terdiri dari stimulasi 

lipogenesis dan meng hambat lipolysis, yaitu 

menstimulasi sinte sis lemak dari glukosa 

dan pemasukan nya ke dalam sel serta 

merintangi pengurai an (Lat. lipo- = lemak, 

genesis = pembentukan, lysis = pemeca-

han, pelarutan) dan pelepasan asam le-

mak dari jaringan lemak.

c.  Efek protein (efek anabol):menstimulasi

sintesis protein dari glukosa.

d.  Stimulasi faktor pertumbuhan dinding 

arteri, yang pada hiperinsulinemia kerap-

kali menebal, sehingga dapat mengaki- 

batkan hipertensi. 

Diagnosis diabetes

Dengan adanya gejala klinis atau komplikasi 

diabetes yang khas (misalnya retinopati), 

seperti tertera di bawah ini, diagnosis dapat 

dipas tikan dengan penentuan kadar glukosa 

darah. Nilai di atas 7,8 mmol/l (pada lambung 

kosong) pada dua hari berlai nan dianggap 

positif (WHO). Begitu pula “post-load” di atas 

11,0 mmol/l, yaitu 2 jam sesudah  pembebanan 

glukosa 75 gram.

Kriteri um baru (1997) dari ADA (American 

Diabetes Association) menurun kan nilai batas 

(pada perut kosong) >6,9 mmol/l. Kriterium 

post-load ditiadakan sebab  tes toleransi 

glukosa dalam praktik adakalanya tidak da-

pat dilakukan. Nilai antara 6,1-7,0 mmol/l 

menunjukkan toleran si glukosa yang terganggu.

Misi dari asosiasi ini yaitu  untuk meng-

hindari dan menangani diabetes dan mem-

perbaiki kehidupan dari semua penderita 

diabetes. Untuk memenuhi tujuan ini ADA 

mendanai riset, mempublikasi hasil-hasil pe-

nemuan, memberikan informasi dan pela-

yanan kepada penderita dan publik. 

Gejala

Penyakit diabetes mellitus ditandai gejala 

3P, yaitu poliuria (banyak berkemih), polidip-

sia (banyak minum) dan polifagia (banyak 

makan), yang dapat dijelaskan sebagai beri-

kut.

Di samping naiknya kadar gula darah, 

diabetes bercirikan adanya gula dalam urin 

(glycosuria) dan banyak berkemih sebab  

glukosa yang diekskresi mengikat banyak 

air. Akibatnya timbul rasa sangat haus, 

kehilangan energi, berat badan menurun 

serta rasa letih. Tubuh mulai membakar lemak 

untuk memenuhi kebutuhan energinya, yang 

diser tai pembentukan zat-zat perombakan, 

antara lain ase ton, asam hidroksibutirat dan 

diase tat, yang membuat darah menjadi asam. 

Keadaan ini, yang disebut ketoacidosis dan 

terutama timbul pada tipe 1, sangat berba-

haya sebab  dapat memicu  pingsan 

(coma diabeticum). Napas penderita yang 

sudah menjadi sangat kurus sering kali juga 

berbau aseton.

Komplikasi lambat 

Diabetes sangat meningkatkan risiko akan PJP, 

antara lain hipertensi dan infark jantung 

(Diabetes and the heart. Lancet 1997; 350 suppl.1: 

1-31). Bila tidak atau kurang tepat diobati, 

lambat-laun dapat terjadi gangguan kardio-

vaskuler dan neurovasku ler serius yang sangat 

dikhawatiri. Risiko untuk komplikasi parah 

ini dapat dikurangi dengan mempertahankan 

kadar gula darah sedatar mungkin, artinya 

tanpa puncak-puncak tajam yang timbul se-

telah makan banyak (hidratarang). Kompli-

kasi terpenting dapat berupa:

a.  Infark jantung. Di dinding arteri timbul 

benjolan-benjolan yang meng ganggu sir-

kul asi darah dan akhir nya terjadi atheros-

clerosis yang dapat memicu  infark 

jantung.

b. Retinopati. Sering kali pada retina timbul 

ciri-ciri perdar ahan, udema, mengelu- 

pas dan menjadi buta! Di dunia Barat, 

retinopathy merupakan pemicu  terse-

ring dari pengliha tan buruk dan kebutaan. 

c.  Polineuropati. Begitu pula kerusakan 

pada pembu luh kecil dan saraf dapat 

timbul pada berbagai tempat, yang akhir-

nya memicu  defek pada semua 

organ dan jaringan perifer. Gangguan 

ini sering terjadi dengan perasaan seperti 

ditusuk-tusuk dan hilang rasa di kaki-

tangan atau benjolan sangat nyeri di 

kaki. Luka dan borok sukar sembuh dan 

tidak jarang memicu  gangren (mati 

jaringan) dan amputasi.

d. Nefropati. Selain itu dapat timbul ke-

rusakan ginjal dengan hiper filtrasi dan 

keluar nya albumin dalam kemih, yang 

sering kali bersifat fatal. 

e.  Lainnya: impotensi, infeksi stafilokok pa-

da kulit dan keluhan claudicatio (penyakit 

etalase) di tungkai yang berciri kejang-

kejang sangat nyeri di betis sesudah  jalan 

sejumlah meter, lihat Bab 34, Vasodilator.

Jenis diabetes

Klasifikasi dari jenis-jenis diabetes yaitu  

sangat penting untuk a.l. penentuan pengo-

batan dan prognosisnya. Untuk klasifikasi 

tepat dari jenis diabetes yang paling sering 

terjadi pada pasien-pasien dengan hiper-

glikemia, dapat dipakai  sebagai pedoman 

BMI dan riwayat keluarga. Untuk tujuan ini 

dapat dipakai  sejenis flow chart sederhana 

untuk diagnostik, klasifikasi dan terapi.29

Dewasa ini diabetes dapat dibagi dalam 3 

tipe, yaitu tipe-1, tipe-2 dan tipe hamil. 

a. Tipe­1, jenis remaja(juvenile, DM1)

Pada tipe ini ada  destruksi dari sel-

beta pankreas, sehingga tidak memproduksi 

insulin lagi dengan akibat sel-sel tidak bisa 

menyerap glukosa dari darah. sebab  itu 

kadar glukosa darah meningkat di atas 10 

mmol/l, yaitu nilai ambang ginjal, sehingga 

glukosa berlebi han dikelu arkan lewat urin 

bersama banyak air (glyco suri a). Di bawah 

kadar itu , glukosa ditahan oleh tubuli 

ginjal. 

* Prevalensi. Tipe-I diderita orang-orang 

di bawah usia 30 tahun dan paling sering, 

namun  tidak selalu, dimulai pada usia 10-13 

tahun. Insidensinya di negara Barat telah 

berlipatganda dalam 20-30 tahun terakhir. 

sebab  penderita senanti asa membu tuhkan 

insulin, maka tipe I dahulu juga disebut 

IDDM (Insulin Depen dent Diabetes Mellitus).

* pemicu nya belum begitu jelas, namun  

terda-pat indikasi kuat bahwa jenis ini 

disebab kan oleh suatu infeksi virus yang 

memicu  reaksi auto-imun berlebihan

untuk menanggulangi virus. Akibatnya sel-

sel pertaha nan tubuh tidak hanya membas-

mi virus, melainkan juga turut merusak atau 

memusnah kan sel-sel Langer hans. Dalam 

waktu satu tahun sesudah diagnosis, 80-90% 

penderita tipe I memperlihatkan antibo dies

sel-beta di dalam darahnya. Pada tipe ini faktor 

keturunan juga memegang peranan. Virus yang 

dicurigai yaitu  virus Coxsackie-B, Epstein-Barr, 

morbilli (measles) dan virus parotitis(“bof”). 

* Prevensi dan terapi. Pengobatan satu-satunya 

terhadap tipe-1 yaitu  pembe rian insulin 

seumur hidup. Berhubung tipe-1 merupakan 

penyakit auto­imun, maka imunosupre siva 

seperti azatioprin dan siklosporin, dapat meng-

hambat jalannya penya kit, namun  hanya 

untuk sementara. Di German untuk mena-

ngani gejala neuropati dipakai  obat kom-

plementer asam liponat dengan sukses.

b. Tipe­2, jenis dewasa(maturity onset, DM2)

Biasanya timbul di atas 40 tahun dengan 

insidensi lebih besar pada orang gemuk 

(overweight, dengan BMI> 27; lihat Bab 31, 

Adrenergika) dan pada usia lanjut. Bagi 

mereka yang hidupnya makmur, makan 

terlampau banyak dan kurang gerak badan 

lebih besar lagi risikonya. 

* Prevalensi. Menurut perkiraan 5-10% dari 

orang di atas usia 60 tahun mengidap DM2. 

Sangat meresahkan bahwa dewasa ini orang 

semakin muda diserang penyakit ini. Penye-

bab utama dari meningkatnya insidensi ada-

lah a.l. obesitas/kegemukkan.

Pada orang Afrika ada  2 kali lebih 

banyak pasien diabetes tipe-2 daripada orang 

Eropa; pada orang Asia Selatan bahkan rata-

rata 4-5 kali lebih banyak. Orang Hindu di 

Eropa ternyata sangat rentan untuk diabetes 

berhubung pola genetiknya, ±30% dari ke-

lompok populasi ini mengidap penyakit gula.

Mulainya DM2 sangat berangsur-angsur 

dengan keluhan ringan yang sering kali 

tidak dikenali. Tipe-2 bersifat menyesatkan 

(“treacherous”), sebab  dalam kebanyakan 

hal baru menjadi manifes dengan tampil nya 

gejala stadium lanjut. Bahkan bila sudah terjadi 

komplika si, misalnya infark jantung atau 

gangguan penglihatan.

* pemicu nya. Hiperglikemia pada diabetes 

mellitus type-2 singkatnya disebabkan oleh 

kombinasi dua faktor. Faktor pertama yaitu  

berkurangnya kepekaan reseptor di jaringan 

hati, otot dan lemak bagi insulin yang disebut 

insulin-resistensi, sehingga dibutuhkan lebih 

banyak insulin untuk mencapati tujuan 

yang sama. Peristiwa insulin-resistensi ini 

berkaitan dengan berat badan berlebihan 

(BM>27 kg/m2.

Berat badan berlebihan memicu timbulnya 

hiperlipidemia, terutama hipertrigliseridemia 

dan kadar HDL-kolesterol rendah, serta hi- 

pertensi. Kombinasi dari hiperglikemia, hi-

perlipidemia dan hipertensi yang disebut 

sindrom metabol, sindrom X atau sindrom resis-

tensi insulin, cenderung meningkatkan risiko 

penyakit jantung dan pembuluh.

Faktor kedua yaitu  penurunan progresif 

dari produksi hormon insulin di sel-sel beta 

dari kepulauan Langerhans sehingga tidak 

mencukupi kebutuhan. Akibatnya yaitu  

hiperglikemia.

Akibat proses menua, banyak penderita 

jenis ini mengala mi penyusutan sel-sel-beta 

yang progre sif serta penumpukan amiloid di 

sekitarnya. Pada 2006 telah ditemukan enzim 

yang bertanggungjawab untuk perombakan 

amiloid dan insulin. Sel-sel-beta yang tersisa 

biasanya  ma sih aktif, namun  sekresi 

insulinnya semakin berku rang.

* Tipe-2 pada hakekatnya tidak tergantung 

dari insulin, maka dahulu juga disebut 

NIDDM (= non-insulin-dependent) dan lazim-

nya dapat diobati dengan antidia betika 

oral. Akan namun  sejak 1997 semakin banyak 

penderita tipe-2 diterapi dengan insulin 

sehingga menurunkan risiko komplikasi lam-

bat. Oleh sebab  itu perbedaan kedua nama 

itu  tidak ada artinya lagi dan sudah 

ditinggalkan (Ph Wkbl 1998; 133: 32-5).

Antidiabetika oral biasanya  tidak 

memicu  kecenderungan acido sis. Anta-

ra 70-80% dari semua penderita diabetes 

termasuk jenis ini, pada mana faktor keturunan 

memegang peranan besar. Bila salah satu 

orang tua menderi ta kencing manis, maka 

kemung kinan diturunkan penya kit ini ke 

anak-anaknya yaitu  1:20.

Diagnosis dini. Tipe-2 umumnya baru di-

diagnosis pada stadium terlambat (lihat di 

atas), padahal diagnosis dini yaitu  penting 

sekali untuk menghindarkan komplikasi 

lambat. Maka bila ada  geja la seperti haus 

hebat dengan sering berkemih dan turunnya 

berat badan serta rasa letih, maka sebaiknya 

segera mengkon sultasi dokter untuk diperik-

sa terhadap penyakit gula. sebab  lebih dari 

separuh penderita diabetes juga mengidap 

hipertensi, maka sebaiknya tekanan darah 

dimonitor secara teratur.

c. Diabetes kehamilan (GDM) timbul pada 

trimester kedua dari kehamilan dan umum-

nya hilang sesudah  persalinan. Wanita dengan 

diabetes kehamilan cenderung mendapatkan 

diabetes tipe-2 pada usia lanjut.

Pada wanita hamil dengan penyakit gula, 

regulasi glukosa yang ketat yaitu  penting 

sekali untuk menurunkan risiko akan kegu-

guran spontan, cacat dan kelebihan berat 

badan bayi atau kematian perinatal. sebab  

antidiabetika oral tidak dapat dipakai  pe-

ngobatan harus dialihkan ke insulin.

Diabetes insipidus (DI)

Jenis diabetes ini berlainan sekali etiologi-

nya dari pada DM, sebab  ditimbulkan oleh 

 kekurangan sekresi vasopressin (ADH), yaitu 

Antidiuretic Hormone oleh kelenjar hipofisis, 

lihat Bab 4. pemicu  defisiensi hormon itu 

agak sering timbul akibat suatu tumor di 

hipofisis atau hipotalamus, dapat juga aki- 

bat defek pada reseptor-reseptor ADH. Pada 

45% dari kasus pemicu nya tidak diketa-

hui. Gejalanya berupa poliuri (banyak sekali 

berkemih dengan akibat dehidrasi dan poli-

dipsi, yaitu sangat haus. Terapi suplesi da-

pat dilakukan dengan hormon sintetik des­

mopresin (Minrin).

Glukagon

Hormon peptida ini dapat dianggap sebagai 

antagonis dari insulin sebab  berefek

meningkatkan kadar gula darah. Bila kadar 

glukosa rendah (hipoglike mia), sel-sel-alfa 

melepaskan glukagon dan menstimulasi 

pengubahan glikogen ––> glukosa, sehingga 

kadar gula dinormalkan kembali. Selain itu 

lipolysis diperkuat yang dapat memicu  

ketosis. Selanjutnya glukagon berdaya inotrop

positif, yakni memper kuat kontraksi otot 

jantung dan menstimulasi penerusan impuls-

nya.

Dalam terapi peptida ini dengan BM 3000 

dipakai  pa renteral pada keadaan hipo-

glikemia yang parah, khususnya bila tidak 

tersedia gula dan pada pasien yang pingsan. 

Dosis tinggi dapat memicu  mual dan 

muntah.

Penanganan diabetes 

Tindakan umum

a. Diet. Pokok pangkal penanganan diabe-

tes yaitu  makan dengan bijaksana. Se-

mua pasien selalu harus mengawali diet 

dengan pembatasan kalori, terlebih-lebih 

pada pasien dengan over weight (tipe-2). 

Makanan perlu dipilih secara saksama 

dengan memperhatikan pembatasan lemak 

total, lemak trans dan lemak jenuh untuk 

mencapai normalisa si kadar glukosa dan 

lipida darah. Lihat di bawah Diet dan fre-

kuensi makan. Angka-angka di Tabel 47-1. 

hanya merupakan pedoman (bagi orang 

Barat).

b. Gerak badan. Bila ada  resistensi in-

sulin, gerak badan secara teratur (jalan 

kaki atau bersepeda, olahraga) dapat me- 

nguranginya. Hasilnya insulin dapat di-

pergu nakan lebih efisien oleh sel tubuh 

dan dosisnya biasanya  dapat ditu-

runkan.

c. Berhenti merokok sebab  nikotin dapat 

memengaruhi secara buruk penyerapan 

glukosa oleh sel. Lagi pula merokok 

menghasilkan banyak radikal bebas, li- 

hat dibawah d) dan juga Bab 35, Anti-

hipertensiva.

Tabel 47-1: Kebutuhan energi 

berdasar  usia, jenis kelamin dan  

aktivitas fisik.

    

* stres oksidatif. Banyak indikasi menun-

jukkan bahwa pada pende rita diabetes, me-

tabolisme glukosa yang terganggu menim- 

bulkan kelebihan radikal bebas, yang meme-

gang peranan penting pada terjadinya kom- 

plikasi lambat. Stres oksidatif ini dapat me-

nimbulkan gangguan kronis pada mata, 

ginjal, pembuluh dan sistem saraf. Untuk 

prevensi dan pengo batan kerusakan oksidatif 

ini, terutama di kalan gan ortomolekuler di- 

anjurkan penggun aan antioksi dansia, misal-

nya asam liponat, vitamin E dan vitamin C. 

namun  pendapat ini belum dapat diterima 

oleh kedokteran regular sebab  secara ilmiah 

belum dibuktikan dengan meyakinkan. Lihat 

di atas dan juga Bab 53, Vitamin, boks Antiok-

sidansia.

Asam liponat sejak awal abad-ke 21 sudah 

dipakai  di Jerman untuk menan ga-

ni keluhan neuropati, seperti nyeri dan 

kesemutan (paraesthe si a).

Pengobatan

a. Pasien tipe­1 dengan usia di bawah 40 

tahun selalu perlu diobati dengan insulin, 

sebab  sel betanya tidak aktif lagi (0,6-0,9 

UI/kg/hari) dan tidak dianjurkan minum 

antidiabetika oral. Banyaknya insulin yang 

dibutuhkan pertama-tama dipengaruhi oleh 

susunan makanan, namun  juga faktor lain 

memegang peranan, misalnya stres , penyakit 

infeksi, haid dan kehamilan. Dalam semua 

keadaan ini kebutuhan insulin meningkat, 

mungkin sebab  ambang ginjal bagi glukosa 

menurun. Sebaliknya diketahui pula bahwa 

aktivitas tubuh yang teratur menurunkan 

kebutuhan insulin, antara lain sebab  ke-

pekaan tubuh bagi insulin meningkat. Olah-

ragawan selama latihan memerlukan lebih 

sedikit insulin dibandingkan dengan pada 

waktu istirahat. Lagi pula olahraga teratur 

memperbaiki regulasi diabetes dan fungsi 

jantung.

*Pengobatan komplementer. Pada hewan yang 

sering kali mengidap diabetes telah dipasti - 

kan bahwa vitamin B3 (niasina mida) ber-

khasiat menghambat sistem imun dan mem-

perlam bat terjadinya diabetes. Vitamin B3 

melindungi sel beta terha dap kerusakan oleh 

sistem imun sendiri dan membantu pemulihan 

sel beta yang rusak. Anak-anak di A.S dengan 

antibodies terhadap sel betanya sendiri 

(artinya berisiko tinggi mendapatkan tipe-

remaja) yang diberikan vitamin B3, ternyata 

hanya 50% yang betul-betul mengidap 

diabetes tipe-1. Akan namun  peneli tian besar-

besaran dalam 23 negara untuk menegaskan 

efek baik vitamin B3(Euro pean Nicoti namide 

Diabetes Interventi on Trial, ENDIT) tidak da-

pat mengkonfirmasikannya. Begitu pula 

penelitian lain dengan antioksidansia, yaitu 

HOPE study dengan vitamin E dan Heart 

Protection Study dengan cocktail dari vita-

min A,C, dan E juga tidak memperbaiki 

morbiditas dan mortalitas. Di samping ini 

minyak ikan (EPA,DHA) telah dilaporkan 

manfaatnya untuk menstabilisasi jalannya 

penyakit diabetes.

b. Pasien tipe­2. Penanganan pertama ada-

lah menurunkan berat badan (bila berle-

bihan) dan perubahan pola hidup (lebih 

banyak bergerak) dan menghentikan kebia-

saan merokok yang dapat menurunkan 

gangguan jantung dan pembuluh dengan 

50%. Bila tindakan umum (diet, gerak ba-

dan dan penurunan berat badan) tidak 

atau kurang efektif untuk menormalisasi 

kadar glukosa darah, perlu diberi tambahan 

pengobatan monoterapi oral (metformin). 

Bila hasilnya kurang efektif, sering kali 

diberikan terapi kombinasi (SU derivat kerja 

singkat tolbutamida atau gliklazida 80 mg) 

(sebaiknya tidak lebih dari dua jenis yang 

memiliki daya kerja aditif) dan apabila masih 

belum mencapai tujuan dapat diberikan 

pengobatan parenteral dengan injeksi insulin 

(sekali malam hari NPH-insulin).

* Tujuan jangka pendek. Secara primer 

terapi diabetes ditujukan pada pencegahan 

efek jangka pendek seperti haus, banyak 

berkemih, rasa lelah dan khususnya 

keto-acidosis. Tujuan pengobatan yaitu  

mencapai nilai glukosa darah di bawah 

6,7 mmol/l (pada lambung kosong). Pada 

manula nilainya boleh lebih tinggi, sampai 8 

mmol/l. Dengan sulfonilurea dan biguanida 

dapat dicapai penurunan rata-rata 3 mmol/l 

pada 60-70% dari penderita.

Tujuan jangka panjang. Yang lebih pen-

ting yaitu  preven si komplikasi lambat 

seperti retino pati dan neuropati perifer 

(borok kaki), juga nefropa ti dan gangguan 

jantung/pembuluh. Untuk mencapai tujuan 

ini sangatlah penting untuk mengusahakan 

regulasi gula darah yang optimal. Sepan jang 

hari kadar gula darah - yang pada penderita 

diabe tes sangat berfluktu asi - hendaknya 

dikendalikan di antara batas normal(= antara 

4-7 mmol/l). Dengan maksud ini sekarang 

ada  kecende rungan untuk memberikan 

insulin kepada penderita tipe-2 pada tahap  

lebih dini. Lagipula sebab  injeksi insulin 

sudah sangat dipermudah dengan adanya 

pena-insulin (penfill).

* Regulasi optimal berarti bahwa pema-

sukan hidrat arang dan profil insulin-darah 

(fluktuasi, turun-naiknya kadar) harus saling 

disela raskan dengan baik. Demikian pula 

pola kadar gula sebanyak mungkin supaya 

mendekati fluktuasi gula-darah normal (pada 

orang sehat). Selama makan kadar insulin 

naik dengan pesat, lalu turun lagi ke nilai 

semula dalam waktu 2 jam. Oleh sebab  itu 

fluktu asi dari kadar-glukosa berkisar antara 

4-7 mmol/l. Lihat grafik 47-1.

biasanya  regulasi yang lebih baik 

bisa dicapai dengan injeksi penfill 4 kali sehari 

dibanding 2 kali sehari. Untuk memonitor 

kadar glukosa dengan baik, pasien perlu 

mengontro l gula darahnya 4 kali sehari. Ba-

nyak studi telah membuktikan bahwa dengan 

regulasi yang tepat, komplikasi lambat dapat 

diundur dengan nyata. Misalnya sesudah  enam 

tahun risiko akan nefropathy, retinopathy 

dan neuropathy ternyata berkurang dengan 

masing-masing 35%, 50%, dan 60%!

* Pemeriksaan gula­darah dapat dilakukan 

oleh penderita sendiri dengan test strip yang 

memerlukan hanya satu tetes darah. Kadar 

Gambar 47-1: Turun-naiknya kadar glukosa dan insulin 

darah sepanjang hari pada orang sehat

gula darah dapat diketahui dengan mem-

bandingkan warna yang timbul dengan 

standar. Pengontrolan ini perlu dilakukan mini-

mal 4 kali sehari.

Diet dan frekuensi makan

Diet untuk pasien diabetes pada hakikatnya 

tidak berbeda dari diet yang dianggap ideal 

bagi orang sehat. Pembatasan kalori juga perlu 

dilakukan, lihat tabel kebutuhan energi ber-

dasarkan jenis kelamin, usia dan aktivitas 

fisik dalam Bab 54, Dasar-dasar Diet Sehat. 

Pada pasien gemuk (BMI > 27) perlu diawali 

dengan diet menurunkan asupan kalori menjadi 

1000-1600 kcal/hari, tergantung dari berat 

badan .

* Susunan diet yang dianjurkan hendaknya 

terdiri dari 4 kompo nen, yakni:

a. hidratarang: 50-55 En% (= % dari energi 

total), hendaknya sebagai polisakarida, yaitu 

karbohidrat yang tidak dimurnikan (refined) 

seperti pati gandum (roti, bakmi, makaro-

ni), na si, kentang, ubi tales, singkong dan 

jagung. Dari jumlah kalori ini, 5-10 En% 

diperbolehkan sebagai mono­/disakarida, 

yakni glukosa, frukto sa, laktosa dan gula 

pasir/jawa (jem atau buah masak). namun  

hendaknya hanya bersamaan dengan bahan 

gizi lainnya dan tidak sendiri seperti sirop, 

Cola, perasan buah/jus. Misalnya puncak 

glukosa darah sesudah  makan sebuah jeruk 

(berisi serat) yaitu  lebih mendatar daripada 

sesudah  makan sejumlah hid ratarang yang 

setaraf dengan peresan jeruk (tanpa ampas/

serat). 

b. protein: 10-15 En%. Misalnya pria berusia 

55 tahun yang banyak bekerja duduk de-

ngan aktivitas fisik ringan hanya membu-

tuhkan ±1700 kcal sehari. Orang demikian 

memerlukan 200-300 kcal zat putih telur. 

Protein ini diperoleh terutama dari daging 

dan telur, namun  juga dari sumber nabati: 

khususnya jenis kacang (beans) dan jagung, 

juga banyak dalam daun ketela, sedikit di 

jenis gandum, kentang dan ketela.

c. lemak/minyak: 25-30 En%, yaitu dalam 

contoh di atas 500-600 kcal sehari. Hendaknya 

terbagi untuk 1/3 sebagai asam lemak poly-

unsatu rated (PUFA), 1/3 mono-unsaturated dan 

1/3 satura ted (fatty acids).

d. serat gizi: 40-46 g sehari yang diperoleh 

dari 200-400 g sayur-mayur atau buah-bu-

ahan, juga berbagai kacang (tanah, jogo, 

ke dele, polong, dan lain-lain), jagung dan 

beras tumbuk/merah yang mengandung cu-

kup serat gizi. Idealnya setiap pangan hen-

daknya berisi serat gizi, sebab  berkhasiat 

mengikat hidratarang (dan lemak) yang 

kemudian dilepaskan secara berangsur. De-

ngan demikian kadar glukosa darah tidak 

melonjak-lonjak dan juga pelepasan insulin 

oleh pankreas berlangsung lebih teratur. 

Lihat Tabel 47-2 dan selanjutnya Bab 54, 

Dasar-dasar Diet Sehat. 

* Frekuensi makan. Di samping susunan 

diet yang hendak nya sekonstan mungkin, 

penting pula membagi secara merata pema-

sukan kalori sepanjang hari. Hal ini perlu 

untuk menghindari terlalu meningkatnya kadar 

gula darah, yang merupa kan rangsan gan 

bagi pankreas untuk mensekresi insulin. 

Seperti telah dibahas di atas, pada tipe-2 

sekresi insulin berlebihan tidak diinginkan 

berhubung biasanya  sudah ada  

terlalu banyak insulin (tak aktif) dalam 

darah sebab  reseptor tidak didudu ki secara 

optimal.

Pembagian kalori merata dapat dicapai de-

ngan makan lebih sering daripada 3 kali 

sehari, yaitu 5-6 kali, namun  setiap kalinya 

dengan porsi yang lebih kecil dan pada 

waktu yang tetap. Di samping itu setiap 

porsi sebaiknya selalu mengandung keempat 

bahan gizi itu  di atas dengan susunan 

yang lebih kurang konstan. Yang terutama 

penting yaitu  pembagian merata dari 

hidratarang sepanjang hari. Hal ini perlu 

ditaati pula oleh pasien tipe­1 agar mencapai 

keseimban gan yang sebaik mungkin antara 

makanan dan pemberian insulin.

Terapi dari komplikasi 

a. Hipoglikemia (“hipo”) yaitu  komplikasi 

yang paling lazim terjadi pada terapi dengan 

insulin, sebab  kadar gula darah turun terlalu 

Tabel 47-2: Beberapa bahan makanan dengan isi dan kalorinya 

(Kutipan Tabel Bahan Makanan dari Dewan Gizi Belanda)

drastis. Hal ini lebih jarang terjadi dengan 

antidiabe ti ka oral. Keadaan berbahaya ini 

dapat disebabkan oleh overdose obat, kurang 

atau tidak makan sesudah injeksi, atau sebab  

absorpsi insulin yang lebih lancar berhu bung 

lokasi injeksi berlainan ataupun sebab  kerja 

fisik berat atau olah-raga. Lokasi injeksi juga 

menentu kan kecepatan resorpsi, misalnya 

penyuntikan di perut dan lengan bagian 

atas masing-masing 2 dan 2,5 kali lebih cepat 

daripada injeksi di paha.

* Gejala. Bila kadar glukosa menurun di 

bawah ±3,3 mmol/l timbul gejala ‘otonom’ 

akibat stimulasi dari susunan saraf adrenerg. 

Antara lain berkeringat, gemetar, muka pucat 

dan jantung berdebar-debar, rasa lapar dan 

kesemutan sekitar mulut dan lidah. Bila kadar 

gula turun lebih lanjut di bawah 2,8 mmol/l 

akan timbul gejala khas akibat kekurang-

an glukosa di otak. Yang terpenting yaitu  

gangguan konsentrasi dan penglihatan, pusing, 

terman gu-mangu, mengantuk, kemudian bah-

kan stupor dan koma.

“Hipo” ringan sebai knya diatasi dengan 

segera memberikan gula, perasan jeruk, 

sirop kental atau makanan apapun. “Hipo” 

hebat dengan berkurangnya kesadaran atau 

pingsan yaitu  sangat berbahaya, sebab  bisa 

mengakibat kan kerusa kan otak. Oleh sebab  

itu harus segera diobati dengan injeksi i.v. 

larutan glukosa 40-50% atau s.k./i.m. glukagon 

1 mg; penderita akan pulih kesadarannya 

sesudah 10-15 menit.

Berhubung dengan bahaya ini, penderita dia- 

betes sangat dianjur kan selalu membawa bebe-

rapa gumpal gula untuk keadaan darurat.

b. Resistensi insulin yaitu  komplikasi lain, 

yang umumnya diaki batkan oleh kegemukan, 

lihat di atas. Senyawa tiazolidindion, asam 

liponat dan krom dipakai  untuk mengatasi 

komplikasi ini

 B. ANTIDIABETIKA ORAL

Pada tahun 1954 karbutamida diperkenalkan 

sebagai obat diabetes oral pertama dari

kelompok sulfonilurea yang struktur dan efek 

sampingnya mirip sulfonamida. Beberapa 

tahun kemudian, disintesis derivatnya, yaitu 

tolbutamida dan klorpropamida tanpa efek 

sulfa, yang se lanjut nya disusul oleh banyak 

turunan lain dengan daya kerja lebih kuat. 

Sementara itu sekitar tahun 1959 ditemukan 

senyawa lain dengan efek antidiabetes, yaitu 

kelompok biguanida, a.l metformin.Pada ta-

hun 1990 dipasarkan penghambat alfa-

glukosidase (akarbose, miglitol) yang cara ker-

janya sangat berlainan dengan kedua ke-

lompok sebelumnya. Akhirnya pada per-

tengahan tahun 90-an disalurkan senyawa

tiazolidindion dengan khasiat peningkatan 

sensitivitas insulin, khususnya uptake glu-

kosa perifer. 

Antidiabetika oral dapat dibagi dalam enam 

kelompok besar, sebagai berikut

1. Sulfonilurea: a.l. tolbutamida, klorpropamida, 

glibenklamida, gliklazida, glipizida,glikidon dan 

glimepirida.

Kedua obat pertama termasuk obat gene-

rasi ke-1 sedang  yang lainnya disebut obat

generasi ke-2 dengan daya kerja 10-100x lebih 

kuat atas dasar berat badan.

Sulfo nil urea menstimulasi sel-sel beta dari 

pulau Langer hans, sehingga sekresi insu lin 

ditingkatkan. Di samping itu, kepekaan sel- 

sel beta bagi kadar glukosa darah diting-

katkan melalui efeknya terhadap protein 

transpor glukosa. Obat ini hanya efektif 

pada penderita tipe-2 yang tidak begitu 

berat, yang sel-sel betanya masih bekerja 

cukup baik. Ada indika si bahwa obat-obat 

ini juga memperbaiki kepekaan organ tujuan 

terhadap insulin dan menurunkan absorpsi 

insulin oleh hati. 

Penderita biasanya mengalami resistensi 

insulin, sehingga sulfonilurea kurang efektif. 

Resorpsi dari usus umumnya lancar dan 

lengkap, sebagian besar terikat pada protein 

antara 90-99%. Plasma-t½ berkisar antara 4-5 

jam (tolbutamida, glipizida), 6-7 jam (gliben-

klami da) sampai 10 jam (gliklazida) atau 

lebih dari 30 jam (klorpro pamida).

Efek samping yang terpenting yaitu  hipo-

glikemia yang dapat terjadi secara terse-

lubung dan adakalanya tanpa gejala khas 

(terutama pada lansia), khususnya pada 

derivat kuat seperti glibenkla mida. Agak 

jarang terjadi gangguan lambung-usus (mu-

al, muntah, diare), sakit kepala, pusing, 

rasa tidak nyaman di mulut, juga gangguan 

kulit alergis (exanthema, fotosen sitasi). Nafsu 

makan diperbesar dan berat ba dan bisa naik, 

terutama pada mereka yang tidak mentaati 

diet. Toleransi pun dapat timbul pada 5-10% 

pasien sesudah bebera pa tahun, mungkin 

sebab  sel-sel beta hilang kepekaannya ter-

hadap insulin. Dengan alkohol terjadi efek 

disulfiram (efek Antabu se), khususnya pada 

klorpropamida. 

2. Kalium channel blocker : repaglinida, nate-

glinida

Senyawa ini sama mekanisme kerjanya 

dengan sulfonilurea, hanya pengikatan terja-

di di tempat lain dan efeknya lebih singkat.

3. Biguanida

Berbeda dengan sulfonilurea, obat ini tidak 

menstimulasi pelepasan insulin dan tidak 

menurunkan gula darah pada orang sehat. 

Zat ini juga menekan nafsu makan (efek anor-

eksan) sehingga berat badan tidak meningkat, 

maka layak diberi kan pada penderita yang 

kegemukan. Mekanisme kerjanya hingga kini 

belum diketahui dengan jelas. Di samping 

menghambat produksi glukosa di hati, juga 

menurunkan kepekaan perifer bagi insulin. 

Produksi insulin tidak distimulasi sehingga 

tidak memicu  hipoglikemia. Telah 

dibuktikan bahwa metformin mengurangi 

terjadinya komplikasi makrovaskuler mela-

lui perbaikan profil lipida darah, yaitu 

peningkatan HDL, penurunan LDL dan tri-

gliserida, juga fibrinolisis diperbaiki sedang- 

kan berat badan tidak begitu meningkat.

Efek samping. Jarang namun  serius yaitu  

acido sis asam  laktat dan angiopati luas, teruta-

ma pada lansia dengan gangguan ginjal. 

Oleh sebab  itu kebanya kan biguanida sejak 

tahun 1979 telah ditarik dari peredaran, a.l. 

fenformin dan buformin. Metformin pada dosis 

normal hanya sedikit meningkatkan kadar 

asam laktat dalam darah.

4. Glukosidase inhibitors: akarbose dan mi-

glitol

Zat-zat ini bekerja atas dasar persaingan

merintangi enzim alfa-glukosidase di muko-

sa duodenum, sehingga reaksi pengu raian 

polisakarida –––> monosakarida dirintangi. 

Dengan demiki an glukosa dilepas kan lebih 

lambat dan absorpsi nya ke dalam darah 

juga kurang cepat, lebih rendah dan merata, 

sehing ga puncak kadar gula darah dihindari. 

Mekanisme kerja ini mirip dengan efek dari 

makanan yang kaya akan serat gizi. Tidak 

ada kemungkinan untuk hipoglikemia dan 

terutama berguna pada penderita yang 

gemuk, bila tindakan diet tidak menghasil-

kan efek. Kombinasi dengan obat-obat lain 

memperkuat efeknya. 

5. Tiazolidindion19: rosiglitazon dan pioglitazon

Obat dari kelas ini (1996) dengan efek 

farmakologi istimewa disebut insulin sen-

* Efek Antabuse bercirikan penghambatan peromba kan enzimatik dari alkohol pada tingkat asetal-

dehida, sehingga zat toksik ini menumpuk dalam darah. Antabuse dipakai  sebagai obat anti­

minum alkohol untuk membantu pecandu yang ingin menghentikannya. Bila pecandu yang 

menjalani kur Antabuse minum alkohol lagi, ia akan mengalami penumpukan aldehida dengan 

gejala-gejala yang sangat tidak nyaman, yaitu jantung berdebar-de bar, nyeri kepala, flus hing, 

berkerin gat dan mual. Persamaan reaksinya yaitu :

C2H5OH ––––––> CH3COH ––––––> CH3COOH ––––––> CO2 + H2O

  alkohol  asetaldehida  asetat

sitizers. Berkhasiat mengurangi resistensi

insulin dan meningkatkan sensitivitas ja-

ringan perifer untuk insulin. Oleh sebab  

itu penyerapan glukosa ke dalam jaringan 

lemak dan otot meningkat, demikian juga 

kapasitas penimbunannya di jaringan ini. 

Efeknya yaitu  kadar insulin, glukosa dan 

asam lemak bebas dalam darah menurun, 

begitupula gluconeogenesis dalam hati. 

Obat-obat ini (misalnya pioglitazon) sering 

kali ditambahkan pada metformin bila efek 

zat ini kurang memuaskan.

Senyawa thiazolidindion (TZD, seperti pio-

glitazon [Actos] dan rosiglitazon [Avandia] 

menurut beberapa penyelidikan berkaitan 

dengan kanker kandung kemih. 

Mamtani R et al. Association between longer 

therapy with thiazolidinediones and risk of bladder 

cancer. J Natl Cancer Inst 2012 Sep 19; 104:1411

Berhubung dengan efek samping ini seba-

gian dokter enggan memakai  TZD yang 

juga tidak mutlak untuk menangani diabetes.

6. Sistem Incretin

Incretin yaitu  hormon intestinal yang 

bekerja terhadap pengaturan glukosa dari 

pankreas. Hormon-hormon ini merangsang 

pengeluaran insulin pada kadar glukosa 

darah tinggi dan sekaligus menghambat 

pengeluaran glukagon dari sel-sel beta. Obat-

obat untuk DB-2 yang berkaitan dengan 

sistem incretin dibagi dalam 2 kelompok: 

1. dipeptidylpeptidase (DPP)­blocker atau 

penghambat hidrolisis incretin.

Kelompok obat ini berkhasiat mening-

katkan kemampuan tubuh sendiri untuk 

menurunkan kadar glukosa darah yang 

tinggi. Obat-obat ini memblokir enzim 

DPP-4 sehingga hidrolisis dari hormon 

incretin dihindari dan kadar plasma dari 

peptida GLP-1 serta peptida insulinotropik 

GIP meningkat. Akibatnya kadar incretin 

meningkat sehingga pelepasan insulin me-

ningkat, sekresi glukagon menurun dan 

kadar glukosa darah puasa maupun post-

prandial menurun: saxagliptin (Onglyza), 

alogliptin (Nesina), linagliptin (Trajenta) dan 

vildagliptin (Galvus).

Per oral dipakai  pada diabetes tipe-2 

dalam kombinasi dengan metformin, derivat 

sulfonilureum dan/atau senyawa tiazoli-

dindion.

2. antagonis reseptor GLP­1 (antagonis GLP-

1 atau incretinmimetica): exenatide (Byetta, 

Bydureon).

Pilihan obat

Antidiabetika oral umumnya baru diberikan 

bila diet (selama minimal 3 bulan), gerak 

badan dan upaya lain untuk penuru nan berat 

badan tidak (cukup) menurunkan kadar gula 

yang tinggi.

* Pasien kurus biasa nya diberi obat sulfonil-

urea dari generasi pertama yang agak lemah, 

yaitu tolbutamida atau klor propami da, sebab  

risiko hipoglikemia lebih ringan. Dimulai 

dengan 1 dd 500 mg tolbutamida yang 

bila perlu dapat dilipatgandakan sesudah 

4 minggu, maksimal 2 g/hari. Bila kurang 

memberikan hasil dapat diganti dengan 

suatu obat dari generasi ke-2 yang lebih kuat, 

misalnya glibenklamida, glikazida, glipizida, dan 

lain-lain. Bila perlu dosis nya dapat dinaikkan 

setiap 4 minggu hingga dosis maksi mal dica-

pai. Dapat pula ditambahkan metformin 1 

dd 500 mg pada pasien yang berat badannya 

terlampau tinggi (BMI.> 27). Bila perlu dapat 

dinaikkan setiap 4 minggu sampai maksimal 

3 dd 850 mg. Bila terapi kombinasi ini belum 

juga menghasilkan efek, perlu ditambahkan 

insulin atau diganti seluruhnya dengan 

insulin. Kombinasi sulfonilurea dengan in-

sulin (medium-acting, satu injeksi sehari) 

semakin banyak dipakai . Begitu juga 

kepada pasien kurus dan kadar gula sangat 

tinggi dapat diberikan insulin.

*Pasien yang gemuk sekali (BMI > 30) pada 

umumnya secara primer diberikan met-

formin dengan khasiat anoreksans, sebab  

pada mereka biasanya ada  resis tensi 

insulin yang tinggi. Kira-kira 80% dari semua 

pasien tipe-2 yaitu  terlalu gemuk dengan 

kadar gula tinggi, sampai 17-22 mmol/l (= 

300-400 mg/100 ml). Biguanida berkhasiat 

memperbaiki kerentanan sel bagi insulin.

Insulin biasanya  baru disuntikkan, 

bila obat-obat oral tidak memberikan (lagi) 

efek yang diinginkan atau menun jukkan 

resisten si. Insulin yang dibutuhkan bisa 

lebih banyak daripada untuk penderita tipe-

1 sebab  lebih sering mengalami resistensi. 

Dewasa ini dianjurkan agar insulin mulai 

dipakai  pada fasa lebih dini, sebab  de-

mikian risiko akan komplikasi lambat dapat 

diperkecil.

Pada keadaan khusus seperti kehamilan, 

keto-acidosis, infeksi, pembedahan atau ganggu-

an hati dan ginjal, tidak dapat dipakai  

antidiabetika oral. Dalam keadaan demikian 

tidak perlu diberikan antidiabetika oral ter-

lebih dahulu, namun  segera perlu disuntik 

insulin.

Interaksi dengan obat lain

Insulin dan antidiabetika oral mudah 

sekali dipengaruhi efeknya oleh obat-obat 

lain yang diberikan bersamaan, dengan 

akibat yang tidak nyaman dan berbahaya 

bagi pasien. Obat-obat yang paling sering 

memicu  interaksi terbagi dalam efek 

yang ditimbulkannya, yaitu:

a. Efek potensiasi, sering kali dengan pengge-

seran ikatan pro teinnya yang tinggi: 

– analgetika: salisilat, fenilbutazon;

– antibiotika: kloramfenikol, tetrasiklin, 

sulfonamida, INH; 

– lain­lain: alkohol, antikoagulansia, klofi-

brat, probenesid.

Semua obat ini dapat meningkatkan 

kadar insulin darah dan memicu  

hipoglikemia, kerapkali dengan mendadak 

seperti alkohol, terlebih-lebih pada waktu 

perut kosong.

b. Efek memperlemah. Sejumlah obat meng-

hambat sekresi insulin, sehingga mening-

katkan kadar gula darah dan dengan demikian 

memperle mah kerja insulin dan antidiabetika 

oral. Yang terkenal yaitu  diuretika tiazida dan 

furosemida, hormon-hormon kortikoida, tiroksin, 

estrogen (pil antihamil!), adrenalin dan gluka-

gon. Rifampisin dan obat antiepilepsi fenitoin 

memper kuat perombakan sulfonilurea mela-

lui induksi enzim dan dengan demikian 

menurunkan kadar dalam darah dan daya 

kerjanya. Semua obat ini pada dasarnya 

dapat meningkatkan gula darah yang tidak 

diinginkan (hiperglikemia).

MONOGRAFI

Insulin

Secara kimiawi insulin terdiri dari dua 

rantai peptida (A dan B) dengan masing-

masing 21 dan 30 asam amino, yang saling 

dihubungi oleh 2 jembatan disulfida (dr 

Sanger, 1955). Berat molekulnya 5.700. Pada 

tahun 1974, sintesis keseluruhannya ditemu-

kan, namun  membutuhkan sekitar 200 reaksi 

kimia yang sangat mahal, sehingga tidak 

layak diproduksi secara besar-besaran. De-

wasa ini insulin diproduksi secara semisin-

tetik dan biosintetik.

a. Cara semisintetik. Sebagai bahan pangkal 

dipakai  insulin babi, yang diperoleh 

dari pankreasnya. Insulin babi lebih mirip 

hormon manusia daripada insulin sapi dan 

hanya berbeda 1 asam amino, yaitu alanin 

sebagai ganti threonin pada C30 yang terletak 

di ujung, lihat rumus bangun. Penukaran 

dengan threonin dapat dilakukan secara 

enzimatik dengan transpeptidase.

Insulin babi dapat bekerja imunogen 

dengan menginduksi pemben tukan antibodies 

dan reaksi alergi. Insulin sapi bersifat lebih 

imunogen, sebab  strukturnya lebih berlainan 

dari insulin human, maka tidak dipakai  

lagi. Contoh insulin semisintetik babi yaitu  

Insulin Mix 30/70, Regular, dan Retard NPH. 

Aktivitas insulin ini yaitu  40 UI/ml.

b. Cara biosintetik melalui rekombinan-DNA 

(1982). Dengan teknik DNA-rekombinan 

gen untuk pro-insulin human, yakni suatu 

rantai polipeptida dengan 84 asam amino, 

dimasukkan ke dalam kuman E. coli atau ragi 

Saccharomyces cerevisiae. Dari pro-insulin yang 

terbentuk kemudian dihilangkan peptida 

penghubung antara kedua rantai (A dan B) 

dan akhirnya tersisa insulin, lihat rumus 

bangunnya. 

Insulin biosintetik identik dengan hormon 

pankreas faali; contohnya yaitu  Insulin Mix-

tard Human, Monotard Human dan Insulatard 

Human, yang semuanya berkadar 100 UI/ml. 

Insu lin human ini sangat murni dan tidak 

bersifat imunogen, maka di banyak negara 

Barat insulin ini sudah menggantikan insulin 

babi dengan tuntas sejak awal tahun 1990-an.

Frederick Sanger (1918-2013)  

Two time Nobel prize winner for  

chemistry:  

1958 for his work on the structure of pro-

teins, especially that of insulin

1980 for his work on DNA molecules 

(“Sanger method”)

As noted in his obituary, he had described himself 

as “just a chap who messed about in a lab”, and 

“academically not brilliant”.

Lama kerjanya sediaan insulin tergantung 

dari lokasi injeksi, dosis, aktivitas fisik dan 

faktor individual lainnya. Misalnya pembe-

rian intramuskuler bekerja lebih cepat dari 

pada subkutan dan s.k. di kulit perut lebih 

cepat dari pada di paha, lengan atau bokong. 

Juga tergantung dari bentuk insulin yang di-

gunakan, yaitu insulin kerja singkat, medi-

um atau kerja panjang.

1.Insulin kerja singkat: Actrapid, Velosulin, 

Humulin Regu lar. Sediaan ini terdiri dari 

insulin tunggal ‘biasa’. Mulai kerjanya da-

lam 30 menit (injeksi subkutan), menca pai 

puncaknya 1- 3 jam kemudian dan bertahan 

7-8 jam. Insulin lispro (Humalog) yaitu  

analogon sintetik dari insulin human, pada 

mana asam-asam amino di posisi 28 dan 29 

saling ditu kar. Mulai kerjanya dalam 10-20 

menit dan lebih mendekati keadaan faal. 

Lama kerjanya lebih singkat 2-5 jam. Obat 

ini khusus dian jurkan untuk pende rita tipe-

1 yang kadar gulanya sukar diregulasi.16,17. 

Insulin aspart (NovoRapid) yaitu  analogon 

sintetik lain yang dibentuk oleh ragi.

2. Insulin long-acting. Untuk memperpan-

jang kerjanya telah dibuat sediaan long-

acting, yang semuanya berdasar  memper­

sulit daya larutnya di cairan jarin gan dan 

menghambat resorpsi nya dari tempat injeksi 

ke dalam darah. Metode yang dipakai  

yaitu  mencampur insulin dengan protein 

atau seng, atau mengubah bentuk fisiknya. 

a. Tambahan protein, biasanya protamin (in­

sulin­isofan atau ­NPH). sebab  agak 

sering memicu  reaksi alergi kini 

jarang dipakai  lagi. Lama kerja Insulin 

isofan human(Insulatard, Humulin N) 

yaitu  14-24 jam.

b. Tambahan seng: zinc­insulin. Tersedia 

sebagai sediaan:

– Humulin-Zinc = kristal Zn-insulin, 

bekerja selama 28 jam

–  Monotard Human = Zn-insulin amorf 

30% + kristal 70%, lama kerjanya 24-

28 jam.

c.  Bentuk fisik insulin: suspensi dari bentuk 

kristal atau amorf (halus) memperlambat 

penyerapannya ke dalam sirkulasi.

3. Medium-acting. Jangka waktu efeknya 

dapat divariasikan dengan mencam pur be-

bera pa bentuk insulin dengan lama kerja 

berlai nan. Misal nya, campuran insulin ‘bi-

asa’ dengan seng-insulin dalam perban-

dingan dan bentuk kris tal berbeda-beda, 

menghasilkan sediaan dengan efek cepat 

yang bertahan sedang, panjang atau sangat 

panjang. Mulai kerjanya sesudah ±1,5 jam, 

puncaknya sesudah 4-12 jam dan bertahan 

16-24 jam. Contohnya yaitu : 

–  *Mixtard 30 HM (human) = insulin 30% + 

insulin isofan 70%, bekerja 12-24 jam

–  *Humulin 20= insulin 20% + insulin isofan 

80%, lama kerja 12-24 jam

Sifat-sifat insulin

Kinetik. Insulin tidak dapat dipakai  per 

oral sebab  terurai oleh pepsin lambung, 

maka selalu diberikan sebagai injeksi s.c. ½ jam 

sebelum makan. Zat ini dirombak dengan cepat 

terutama di hati, ginjal dan otot. Plasma-t½ 

hanya beberapa menit pada orang sehat, 

pada diabetici bisa diperpanjang sampai 13 

jam, mungkin akibat pengikatan pada antibo-

dies. Khasiatnya hanya singkat, lebih kurang 

40 menit. 

Efek samping terpenting yang dapat terjadi 

berupa hipoglikemi a, reaksi alergi, resistensi, 

lipodistrofi dan gangguan penglihatan.

a. Hipoglikemia biasanya terjadi sebab  over-

dosis atau tidak/terlambat makan sesudah 

injeksi. Juga sebab  kerja fisik terlalu be-

rat, atau interaksi dengan obat-obat yang 

diminum bersamaan. Sediaan depot lebih 

berba haya, sebab  me nimbulkan “hipo” se-

cara berangsur-angsur yang tidak diperki-

rakan oleh pasien dan kebanya kan terjadi 

di tengah malam sewaktu tidur. “Hipo” 

ternyata lebih sering terjadi pada insulin 

human. Mungkin sebab  gejala adrenerg, 

seperti rasa lapar,gemetar, berkeringat dan jan-

tung berdebar, kurang jelas dirasakan ber-

hubung regulasi gula darah nya yang lebih 

baik. Semakin baik regulasi gula darah, semakin 

besar risiko akan timbulnya hipog likemia serius.

b. Reaksi alergi di kulit pada tempat injeksi 

adakalanya terjadi dan kebanyakan ditim-

bulkan oleh zat-zat tambahan (protamin, 

seng, zat-zat pengawet, kotoran). Alergi 

untuk insulin jarang terjadi dan umumnya 

bersifat lokal (eksantema, gatal dan penge rasan 

di tempat injeksi, antara lain sebab  iritasi 

kulit, teknik injeksi kurang tepat, atau infeksi 

kuman). Reaksi imun ogen sistemik jarang sekali 

terjadi pada insulin babi dan berupa antara lain 

urtica ria, mual, muntah dan anafilaksia.

c. Lipodystrofia, yakni terganggunya pertum-

buhan lemak subkutan di tempat injeksi, 

jarang terjadi dan bersifat ringan. Misal-

nya atrofia (penyusutan) dan hipertrofia (ber-

lebihan), yang hampir selalu disebabkan oleh 

kurang sering meng ganti lokasi injeksi.

d. Resistensi insulin ada  bila kebutuhan 

insulin melebihi 200 UI/hari. Keadaan ini 

dapat disebabkan oleh pembentukan anti-

bodies yang mengikat sebagian insulin. 

Resistensi terutama dapat timbul pada pa-

sien dengan overweight, mungkin akibat 

berkurangnya reseptor insulin atau penu-

runan kepekaannya.

e. Gangguan akomodasi mata dapat terjadi 

akibat terlalu cepatnya penurunan gula da-

rah, yang dapat memicu  tergang gunya 

keseimbangan osmotik antara lensa dan 

cairan mata. 

Catatan: IOC (Komite Olimpik Int.) telah me-

nyatakan insulin sebagai zat-doping (kelom-

pok hormon peptida), kecuali bagi pasien 

diabetes (tipe-1).

Imunogenitas. Untuk menghindari reaksi 

alergi dan resisten si, maka telah dilaku-

kan pemurnian insulin secara istimewa 

dengan hasil antara lain sediaan MC (= 

monocomponent). namun  insulin ini masih 

mengandung spura pro­insulin sebagai 

pengotoran. Begitu pula insulin human 

(rekombinan) masih dapat bersifat imunogen 

dan kedua jenis ini mendorong pembentukan 

antibodies oleh limfosit, walaupun jauh lebih 

ringan daripada insulin babi.

Potensi insulin ditentukan dengan jalan 

bio­assay terhadap kelinci, pada mana kadar 

gula darah dibandingkan dengan suatu 

standar internasional. Kegiatannya dinya-

takan dalam Unit Internasional, yaitu 50 UI 

= 2 mg. Kekuatan sediaan insulin babi yaitu  

40 UI/ml, sedang  insulin human 100 UI/ml.

Dosisnya sangat individual, begitu pula 

lama kerja sebenarnya yang tergantung dari 

diet dan pola hidup pasien (kerja fisik berat, 

banyak bergerak, dan sebagainya). Wanita 

hamil dan selama haid memerlukan dosis 

yang lebih tinggi dari biasanya, demikian 

juga penderita tireoid atau pengidap penyakit 

infeksi. Selama berolahraga dosis justru perlu 

diturunkan.

Insulin inhalasi (aerosol). Cara pengguna-

an mutakhir dari insulin yaitu  dalam 

bentuk inhalasi (Exubera) yang telah diizin-

kan oleh FDA untuk terapi diabetes tipe-

1 dan tipe-2. Obat ini terdiri dari human 

insulin rekombinan dalam bentuk serbuk. 

(Inhaleerbare insuline. NTvG 2006;150:393.)

Pemberian insulin yang lazimnya melalui 

injeksi subkutan, memiliki beberapa kendala 

penting, a.l. resorpsinya yang relatif lambat, 

variasi individual yang besar dan tiap 

kali harus mengganti lokasi injeksi serta 

keengganan kebanyakan penderita terhadap 

injeksi. Oleh sebab  itu sudah sejak tahun 

1925 dicari alternatif pemberian insulin 

sebagai aerosol. Hal ini dimungkinkan ka-

rena luas permukaan resorpsi yang besar 

(±140 m2), selaput alveoli yang tipis dan 

vaskularisasi  yang baik, membuat paru-paru 

sangat optimal untuk penyerapan peptida 

kecil seperti insulin. Ternyata pula bahwa 

kecepatan mencapai saluran darah dari 

insulin yang diberikan melalui paru sama 

dengan insulin (kerja singkat) yang diberikan 

subkutan. Inhalasi insulin dapat diperoleh di 

Eropa, a.l. di negeri Belanda.28 

Insulin glargin (Lantus, Abasria) yaitu  ana-

logon sintetik dari insulin human yang 

diproduksi melalui teknik DNA rekombinan; 

mulai kerjanya sesudah  4-8 jam dan bertahan 

±24 jam.

Sediaan-sediaan insulin yang tersedia di 

negara kita :

Actrapid HM/Penfill/Novolet (Novo Nordisk)

Insulin glulisine:Apidra (Sanofi)

Insulin lispro: Humalog (Eli Lilly)

Insulin + isophane: Humulin 30/70 (Eli Lilly)

Insulatard HM/Penfill/Novolet (Novo Nor-

disk)

Insulin glargine:Lantus (Sanofi Aventis)

Insulin detemir: Levemir (Novo Nordisk)

Mixtard 30/Mixtard 30/ Penfill/ 30 Novolet 

(Novo Nordisk)

Insulin-protamin: Novomix 30 (Novo Nor-

disk)

Insulin aspatt: Novorapid (Novo Nordisk)

1. SUFONILUREA

1a. Tolbutamida:Rastinon

Obat ini memiliki struktur sulfonamida di 

mana gugus p.amino diganti dengan -metil 

(1956). Efek hipoglikemiknya relatif lemah, 

maka jarang memicu  hipoglikemia. 

Banyak dipakai  pada diabetes tipe-2.

Resorpsinya dari usus praktis lengkap, PP 

±95%, plasma-t½ 4-5 jam, khasiatnya ber- 

tahan 6-12 jam. Dalam praktik ternya ta bahwa 

satu single-dose pagi hari dari 500 mg cukup 

efektif untuk mengendalikan kadar gula 

selama 24 jam. Dalam hati zat ini dioksidasi 

menjadi metabolit inaktif, yang diekskresi 

80% lewat urin.

Kehamilan dan laktasi. Tidak dianjurkan 

pemberiannya selama kehamilan dan laktasi, 

sebab  mencapai air susu ibu (±15%).

Dosis: permulaan 1 dd 0,5 g pada waktu 

makan (untuk menghindari iritasi lambung), 

bila perlu setiap minggu dinaikkan sampai 

maksimal 2 dd 1 g. Dosis di atas 2g/hari 

diperkirakan tidak ada gunanya.

* Klorpropamida (Diabinese) yaitu  derivat 

klor long-acting (1958), yang ±4 kali lebih 

kuat. Plasma-t½ rata-rata 35 jam dan efeknya 

bertahan 1-3 hari. Juga bekerja antidiuretik.

Efek samping lebih sering terjadi dan bersifat 

lebih berat, antara lain hipoglikemia dan reaksi 

kulit. Juga ada  variasi inter-indivi dual 

besar mengenai kadar plasma yang dicapai 

pada dosis yang sama. sebab  efek samping 

itu , klorpropamida di kebany akan nega-

ra Barat sudah ditarik dari peredaran.

Dosis: permulaan 1 dd 250 mg pagi hari, 

lansia 125 mg.

* Gliklazida (Diamicron) yaitu  derivat tolu-

ilsulfonilurea (1972), yang termasuk generasi 

ke-2 dan ±6 kali lebih kuat dengan lama kerja 

lebih dari 12 jam (t½ ±10 jam). Berkhasiat anti­

agregasi trombosit dan dapat memperbaiki 

aktivi tas fibrinolitik dari endotel pembuluh. 

Jarang memicu  ‘hipo’.

Dosis: oral 1-3 dd 80 mg dari sediaan retard.

* Glimepirida (Amaryl) yaitu  derivat pyrro-

lin (1995) dengan khasiat dan pemakaian  

sama. Dosis: 1 dd 1-4 mg, maks 6 mg sehari, 

a.c.

1b. Glibenklamida: Daonil, Euglucon

Derivat klormetoksi ini (1969) yaitu  

obat pertama dari antidi abetika generasi 

ke­2 dengan khasiat hipoglikemik ±100 kali 

lebih kuat daripada tolbutamida. Sering 

kali ampuh bilamana obat-obat lain tidak 

efektif (lagi). Risiko ‘hipo’ juga lebih besar 

dan lebih sering terja di terutama pada lansia 

(malam hari), juga gangguan hati atau ginjal, 

Pola kerjanya berlainan dengan sulfonil-

urea lain, yaitu dengan single-dose pagi hari 

mampu menstimulasi sekresi insulin  pada 

setiap pemasu kan glukosa (sewaktu makan). 

Dengan demiki an selama 24 jam tercapai 

regulasi gula darah optimal yang mirip pola 

normal. 

Resorpsi dari usus praktis lengkap, PP di 

atas 99%, plasma-t½ ±10 jam, khasiatnya 

dapat bertahan sampai 24 jam. Dalam hati 

zat ini dirombak menjadi metabolit kurang 

aktif, yang diekskresi sama rata lewat urin 

dan feses.

Dosis: permulaan 1 dd 2,5-5 mg, bila perlu 

dinaikkan setiap minggu sampai maksimal 2 

dd 10 mg.

* Glipizida (Aldiab, Glibinese, Glucotrol XL) 

yaitu  derivat pirazin dari glibenklamida 

yang juga termasuk generasi ke-2 (1971). 

Khasiat hipoglikemik dan pola kerjanya 

sama dengan glibenkla mida; daya kerjanya 

bertahan 12-24 jam, walaupun plasma-t½ 

hanya 2-4 jam. Dosis: 1 dd 2,5-5 mg ½ jam a.c., 

maksimal 3 dd 15 mg.

* Glikidon (Glurenorm) yaitu  derivat metil 

(1975) dari glibenklamida yang ±3 kali 

lebih lemah daripada gliben klamida. Risiko 

hipoglikemia juga lebih ringan. Dosis: 1 dd 15 

mg pada waktu makan pagi, maksimal 2 dd 

30 mg d.c.

* Glucovance: glibenklamid + metformin

* Gliclazide: Diamicron MR 60

2. K-CHANNEL BLOCKERS

2a. Repaglinida: Novonorm, Dexanorm

Termasuk kelompok carbamoylmethyl-ben-

zoic acid (CMBA, 1998). Bekerja sesuai suatu 

mekanisme khusus, yaitu memicu pelepasan 

insulin dari pankreas segera sesudah makan. 

Insulin yang dilepaskan cukup untuk menu-

runkan kadar glukosa darah seusai makan. 

dipakai  sebagai obat tunggal pada dia-

betes tipe-2 atau bersama metformin untuk 

memperkuat efeknya. Harus diminum tepat 

sebelum makan; sebab  resorpsinya cepat dan 

tuntas kadar darah puncak tercapai dalam 

1 jam. BA 63%, PP 98%, t½1 jam dan dalam 

hati dirombak menjadi metabolit inaktif yang 

diekskresi terutama melalui feses. 

Efek samping yang terpenting sama dengan 

antidiabetika oral lainnya (hipoglikemia). Juga 

gangguan visus, lambung-usus dan reaksi 

alergi. 

Dosis: 3-4 dd 1-2 mg ½ jam a.c.

*Nateglinida (Starlix) yaitu  derivat (1999) 

dengan khasiat, pemakaian  dan sifat-sifat 

yang kurang lebih sama. Dosis: 3 dd 60 mg 

a.c., maksimal 3 dd 180 mg.

3. BIGUANIDA

3a. Metformin: Glucophage, Diabex

Zat ini yaitu  derivat dimetil dari 

kelompok biguanida (1959) yang berkhasiat 

memperbaiki sensitivitas insulin, terutama 

menghambat pembentukan glukosa dalam 

hati serta menurunkan kolesterol­LDL dan 

triglise rida. Lagipula berkhasiat menekan 

nafsu makan dan —berbeda dengan sul-

fonilurea— tidak meningkatkan berat badan. 

Oleh sebab  itu dipakai  pada DB tipe 2 

sebagai monoterapi pilihan pertama bagi 

terutama pasien (sangat) gemuk. 

Dengan daya kerja supresi produksi dan 

penyera pan glukosa, fluktuasi gula darah 

menjadi lebih kecil dan nilai rata-ratanya 

menurun. Mekanisme kerja ini mirip dengan 

efek serat gizi, lihat Bab 54, Dasar-dasar diet 

sehat. Khusus dipakai  pada diabetes tipe-

2 bila diet tunggal tidak mencu kupi.

Resorpsi dari usus tidak lengkap, BA 50-

60%, PP rendah. Praktis tidak dimetabolisasi 

dan diekskresi utuh lewat urin. Plasma-t½ 3-6 

jam.

Efek samping pada awal terapi agak sering 

(20%) terjadi dan berupa gangguan alat pen-

cernaan, antara lain mual, muntah, diare dan 

anorexia, terutama pada dosis di atas 1,5 g/

hari. Jarang sekali terjadi acidosis asam laktat 

yang mengan cam jiwa, teruta ma lansia30. 

Oleh sebab  itu pasien di atas 60 tahun 

sebaiknya jangan diberi metformin sebagai 

terapi permulaan. Rasa logam di mulut 

adakalanya dialami, risiko hipogli kemia 

sangat kecil.

Kehamilan dan laktasi. Berhubung keku-

rangan data mengenai keamanannya, ma-

ka metformin tidak dianjurkan selama ke-

hamilan dan laktasi. Sebagai gantinya yaitu  

insulin parenteral.

Dosis: 3 dd 500 mg atau 2 dd 850 mg d.c. 

Bila perlu berangsur-angsur dinaikkan dalam 

waktu 2 minggu sampai maksimal 3 dd 1 g.

4. PENGHAMBAT GLUCOSIDASE

4a. Akarbose:Glucobay

Senyawa tetra-maltosa ini berasal dari 

kuman (1990) dan berbeda cara kerjanya 

dengan antidiabetika lain. Dalam duode-

num, zat ini berkhasi at menghambat enzim 

glucosidase (malta se, sukra se, glukoamilase) 

yang perlu untuk perombakan di/poli saka rida 

dari makanan menjadi monosa karida. Dengan 

demikian, pembentukan dan penyera pan 

glukosa diperlambat, sehing ga fluktuasi gu-

la darah menjadi lebih kecil dan nilai rata-

ratanya menurun.. Di AS sejak tahun 1994, 

zat ini juga dipakai  pada obesi tas, untuk 

mengurus kan orang gemuk. 

Resorpsi dari usus buruk, hanya ±2 % dan 

naik sampai ±35% sesudah  enzimatis dirombak 

oleh kuman usus. Ekskresi berlangsung cepat 

lewat urin.

Efek samping yang tersering berupa terben-

tuknya  banyak gas di usus (beserdawa, kentut) 

dan kejang usus. Efek-efek ini diakibatkan 

oleh penumpukan hidratarang yang tidak 

dicerna dalam colon dan peningkatan pe-

nguraiannya oleh flora usus dengan antara 

lain pembentu kan gas. Selain itu terjadi diare 

pada dosis lebih tinggi dan bila dipakai  

bersamaan dengan gula. Biasanya efek ini 

berkurang dalam waktu beberapa minggu/

bulan. Tidak memicu  hipoglikemia 

sebab  tidak merangsang sekresi insulin 

endogen.

Interaksi. Makanan yang mengandung gula 

(saka rosa) meningkatkan risiko efek samping. 

Obat­obat lambung (antasida, enzim cerna, 

adsorbensia), laksansia dan kolestiramin 

dapat mengurangi daya kerja akarbose. Re-

sorpsi obat-obat lain berkurang bila terjadi 

diare sebagai efek samping. Berhubung de-

ngan daya kerjanya yang kurang kuat dan 

efek samping itu , maka pemakaian nya 

tidak dianjurkan.

Dosis: permulaan 3 dd 50 mg langsung 

sebelum makan, bila perlu dinaikkan sesudah  

1-2 minggu sampai maksimal 3 dd 100 mg.

4b. Miglitol (Diastabol) yaitu  derivat pi-

peridintriol (1995) yang memiliki khasiat 

sama dengan akarbose, namun  resorpsinya 

dari saluran cerna jauh lebih baik (60-90%). 

Oleh sebab  itu efek sampingnya terhadap 

lambung-usus berkurang.

Dosis: permulaan 3 dd 50 mg a.c., berangsur-

angsur dinaikkan dalam waktu 4-12 minggu 

menjadi dosis pemeliharaan 3 dd 100 mg.

5. TIAZOLIDINDION

5a. Rosiglitazon: Avandia, *Avandamet 1999

Senyawa tiazolidindion ini (1997) mem-

perbaiki sensitivitas insulin di antara lain 

jaringan lemak, otot kerangka dan dalam hati. 

Juga penyerapan glukosa perifer. Zat ini tidak 

mendorong pankre as untuk meningkatkan 

pelepasan insulin, seperti sulfo nilurea. Kare-

na efek protektif ini terhadap fungsi sel 

beta, obat ini mungkin dapat menghindari 

komplikasi makrovaskuler diabetes jangka 

panjang (retinopathy, nefropathy, neuropathy)

(Schoonjans K. Thiazolidinedions: an update. 

Lancet 2000;355:1008-10). 

pemakaian  terutama pada pasien tipe-2 

dalam kombinasi dengan metformin (pada 

orang gemuk) atau dengan sulfonilurea un-

tuk mengoptimalisasi regulasi glukosa darah.

Mekanisme kerja. Zat ini yaitu  agonis 

PPAR­gamma (peroxisome proliferator activated 

receptor). PPAR yaitu  suatu kelompok 

faktor transkripsi (alfa, beta dan gamma), 

yang berperan pada pemasakan adiposit 

(sel lemak) dan ekspresi dari gen-gen yang 

bertalian dengan metabolisme intermedier. 

Schimmel KJM. Rosiglitazon, de nodige reserve? 

Pharm Sel 2000;16: 144-8). 

Efeknya yaitu  peningkatan sensitivitas 

adiposit bagi insulin, sehingga kapasitas pe- 

nimbunannya bagi glukosa dan lipida diper-

besar, dengan kenaikan HD. PPAR–gamma 

terutama ada  di adiposit, lebih sedikit di 

sel-sel hati dan jaringan otot. 

Resorpsi baik sekali, BA 99%, masa paruh 

3-4 jam. Dalam hati dirombak menjadi a.l. 

para-hidroksisulfat yang mungkin aktif juga. 

Ekskresi berlangsung melalui feses dan urin. 

Hanefeld M. Pharmacokinetics and clinical ef-

ficacy of pioglitazone. Int J Clin Pract Suppl 

2001;121:19-25. 

Efek samping utama yaitu  meningkatnya 

berat badan akibat retensi air, yang diper-

kuat oleh kombinasi dengan insulin atau 

NSAID. Oleh sebab  itu kombinasi ini tidak 

dianjurkan dan pasien gagal jantung tidak 

diperbolehkan minum obat ini. Fungsi hati 

perlu dipantau berhubung adanya risiko 

kerusakan hati, yang baru dapat timbul sete-

lah 6 bulan dan bersifat reversibel (Ph Wkbl 

2004;139:1065).

Efek samping lainnya (2007) yaitu  me-

ningkatnya risiko untuk infark jantung.

Dosis: bersama m