Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 38

 





antikolinergiknya dapat me-

nye babkan retensi urin dan gangguan ako-

modasi pada manula.

Dosis: 3 dd 25-50 mg (garam HCl) d.c., 

anak-anak di atas 1 tahun 2-4 dd 0,2 mg/kg. 

Lihat selanjutnya Bab 51, Antihistaminika.

* Oksomemazin (Doxergan, *Toplexil) yaitu  

derivat dengan khasiat dan pemakaian  

yang sama (1964), efek antikolinergiknya 

lemah. Dosis: 2-3 dd 15 mg, anak-anak 1-2 

tahun 2,5-10 mg sehari, 2-5 tahun 10-20 mg 

sehari, 5-10 tahun 2-3 dd 10 mg.

2b. Difenhidramin: Benadryl

Sebagai zat antihistamin (H1-blocker), se-

nyawa ini bersifat hipnotik-sedatif dan 

dengan demikian meredakan rangsangan 

batuk. Pada bayi dapat memicu  perang-

sangan paradoksal, misalnya mengeringnya 

selaput lendir sebab  efek antikolinergik. 

Dosis: 3-4 dd 25-50 mg. 

3. MUKOLITIKA

3a. Asetilsistein: Fluimucil

Derivat dari asam amino alamiah sistein 

ini berkhasiat mencairkan dahak yang liat 

melalui pemutusan jembatan disulfida, se-

hingga rantai panjang antara mukoprotein 

terbuka dan lebih mudah dikeluarkan me-

lalui proses batuk. Sebagai precursor dari 

glutathion, zat ini juga bersifat antioksidan 

dengan melindungi sel terhadap oksidasi 

dan perusakan oleh radikal bebas; derivatnya 

karbosistein dan mukolitik lainnya mesna 

(Misatabron) tidak memiliki sifat ini.

Asetilsistein juga mampu memperbaiki 

gerakan bulu getar (cilia) dan membantu 

efek antibiotik (doksisiklin, amok sisiklin 

dan tiamfenikol). Zat ini terutama efektif 

terhadap dahak yang kental sekali dan sa-

ngat bermanfaat bagi pasien COPD dan 

mucoviscidosis. Asetilsistein juga merupakan 

zat penawar (antidotum) terhadap keracunan 

parasetamol melalui peningkatan persediaan 

glutation. Zat ini mengikat metabolit toksik 

dari parasetamol dan dengan demikian da-

pat menghindari necrosis hati bila diberikan 

dalam waktu 10 jam (per oral atau i.v.) sesudah  

intoksikasi. 

Resorpsi pesat, namun  BA hanya ±5% akibat 

FPE tinggi. Seperti semua asam amino, dis-

tribusinya dalam tubuh baik dengan men-

capai kadar tinggi, a.l. di saluran perna-

pasan dan sekret bronchi. Dalam hati diubah 

menjadi sistein, sistin dan taurin, sedang  

ekskresinya berlangsung melalui urin.

Efek samping yang paling sering terjadi 

yaitu  mual dan muntah, maka penderita 

tukak lambung perlu waspada. Sebagai obat 

inhalasi, zat ini da pat memicu  kejang 

bronchi pada penderita asma. Pada dosis 

tinggi (seperti pada intoksikasi parasetamol) 

dapat timbul reaksi anafilaktis dengan rash, 

gatal, udema, hipotensi dan bronchospasme. 

Dosis: oral 3-6 dd 200 mg atau 1-2 dd 600 

mg granulat, anak-anak 2-7 tahun 2 dd 200 

mg, di bawah 2 tahun 2 dd 100 mg. Sebagai 

antidotum keracunan parasetamol, oral 150 

mg/kg berat badan dari larutan 5%, disusul 

dengan 75 mg/kg setiap 4 jam.

* Karbosistein (karboksimetilsistein, Mucocil, 

Rhinathiol, Solmux) yaitu  derivat dengan 

pemakaian  yang sama namun  khasiat muko-

litiknya lebih lemah. Diperkirakan bahwa 

efeknya terhadap lambung lebih jarang 

terjadi. Plasma-t½ 2 jam. Dosis: oral 3-4 dd 750 

mg, anak-anak 3 dd 100-375 mg.

3b. Bromheksin: Bisolvon, Mosavon

Derivat sikloheksil ini berkhasiat mukoli-

tik pada dosis yang cukup tinggi. Viskositas 

dahak dikurangi melalui depolimerisasi serat-

serat mukopolisakaridanya. Bila dipakai  

melalui inhalasi efeknya sudah tampak 

sesudah  20 menit, sedang  per oral baru 

sesudah  beberapa hari dengan berkurangnya 

rangsangan batuk.

Resorpsi dari usus baik, mulai kerjanya 

per oral sesudah ±5 jam, sedang  sebagai 

inhalasi sesudah  15 menit. Dalam hati zat 

ini dirombak praktis tuntas menjadi a.l. 

metabolit aktif ambroksol (Ambril, Mucopect), 

yang juga dipakai  sebagai mukolitikum.

Efek samping berupa gangguan saluran 

cerna, pusing dan berkeringat, namun  jarang 


terjadi. Pada inhalasi dapat terjadi bron-

chokon striksi ringan. 

Dosis: oral 3-4 dd 8-16 mg (klorida), anak-

anak 3 dd 1,6-8 mg, tergantung dari usia.

4. EKSPEKTORANSIA

4a. Kaliumiodida

Iodida menstimulasi sekresi mucus di ca-

bang tenggorok dan mencairkannya, namun  

sebagai obat batuk (hampir) tidak efektif. 

Namun obat ini banyak dipakai  dalam 

sediaan batuk, khususnya pada asma, wa-

laupun risiko efek samping besar sekali. 

Kaliumiodida terutama dipakai  untuk 

profilaksis dan terapi struma (gondok) dan 

hipertirosis (lihat Bab 48, Tiroksin dan tiro-

istatika), serta sebagai obat tetes mata (larutan 

1%) untuk lensa mata keruh (katarak).

Efek samping kuat dan berupa gangguan 

tiroid, struma, urticaria dan iod-akne, juga 

hiperkaliëmia (pada fungsi ginjal buruk).

Dosis: pada batuk oral 3 dd 0,5-1 g, maks. 

6 g sehari. Bagi pasien yang tidak boleh 

diberikan kalium, obat ini dapat diganti 

dengan natriumiodida dengan khasiat yang 

sama.

4b. Amoniumklorida

Berkhasiat diuretik lemah yang menye-

babkan acidosis, yaitu kelebihan asam dalam 

darah, lihat Bab 33, Diuretika. Keasaman 

darah merangsang pusat pernapasan, se-

hingga frekuensi napas meningkat dan 

gerakan bulu getar (cilia) di saluran napas 

distimulasi. Sekresi dahak juga meningkat. 

Maka senyawa ini banyak dipakai  dalam 

sediaan sirop batuk, misalnya Obat Batuk 

Hitam. 

Efek samping hanya terjadi pada dosis tinggi 

dan berupa acidosis (khusus pada anak-

anak dan pada pasien ginjal) dan gangguan 

lambung (mual, muntah), sebab  sifatnya 

yang merangsang mukosa.

Dosis: oral 3-4 dd 100-150 mg, maks. 3 g 

seharinya.

4c. Guaifenesin (gliserilguaiakolat, *Toplexil) 

yaitu  derivat guaiakol yang banyak di-

gunakan sebagai ekspektoran dalam ber-

bagai jenis sediaan batuk populer. Pada 

dosis tinggi bekerja merelaksasi otot, seperti 

mefenesin.

Efek samping kadangkala berupa iritasi 

lambung (mual, muntah) yang dapat diku-

rangi bila diminum dengan segelas air.

Dosis: oral 4-6 dd 100-200 mg.

4d. Minyak atsiri

Minyak atsiri/mudah menguap, seperti 

minyak kayu putih, minyak permen dan 

minyak adas (Oleum foeniculi) berkhasiat 

menstimulasi sekresi dahak, bekerja spasmolitik 

(melawan kejang), anti radang dan juga bersifat 

bakteriostatik lemah. berdasar  sifat-sifat ini 

minyak terbang banyak dipakai  dalam 

sirop batuk atau juga sebagai obat inhalasi uap 

(obat sedot), yaitu ±10 tetes dimasukkan ke 

dalam 1 liter air panas dan dihisap uapnya. 

Terbukti bahwa inhalasi demikian juga 

sangat efektif un tuk meringankan selesma 

akibat infeksi virus, yang ternyata dapat 

diinak tifkan oleh suhu di atas 40° C.

4e. Ipecacuanhae radix (F.I.): *Doveri pulvis

Akar tambahan dari tumbuhan Psychotria 

ipecacuanha (Rubiaceae) ini mengandung dua 

alkaloid, yakni emetin dan sefaelin. Zat-zat 

ini bersifat emetik (memicu  muntah), 

spasmolitik terhadap kejang saluran perna-

pasan dan menstimulasi sekresi bronchi 

secara reflektoris. pemakaian  utamanya 

yaitu  sebagai emetikum yang efektif pa-

da peristiwa kera cunan, terutama pada 

anak-anak. Sebagai ekspektorans hanya di- 

gunakan dalam kombinasi dengan obat-

obat batuk lain, misalnya dalam Pulvis/Tablet 

Doveri, yakni campuran dengan serbuk candu 

dan dalam sediaan ini Ipeca juga berfungsi 

mencegah penyalahgunaannya.

Efek samping pada dosis biasa berupa reaksi 

hipersensitasi dan muntah-muntah pada 

dosis lebih tinggi.

Dosis: oral 3 dd 50 mg.

5. EMOLLIENSIA 

5a. Succus liquiritiae: *Obat Batuk Hitam.

Serbuk yang berwarna hitam ini diperoleh 

dari ekstrak akar tumbuhan Glycyrrhiza 

glabra (akar manis) dan mengandung dua 

asam (glycyrrhizic acid dan glycyrrhetic 

acid), liquiritin yang bersifat spasmolitik 

dan flavonoida lain, seperti fito-estrogen (Yun. 

phyto- : berasal tumbuhan). Obat ini banyak 

dipakai  sebagai salah satu komponen dari 

sediaan obat batuk untuk mempermudah 

pengeluaran da hak dan untuk memperbaiki 

rasa (corrigens rasa).

Efek samping pada dosis lebih tinggi dari 

3 g sehari berupa nyeri kepala, udema dan 

terganggunya ke seimbangan elektrolit, 

akibat efek mineralokortikoid dan hipernatriëmia 

dari asam glycyrrizinat. Yang terkenal yaitu  

hipertensi pada mereka yang makan terlalu 

banyak drop (gula-gula dengan succus).

Dosis: oral 1-3 g sehari.


Hormon yaitu  zat kimiawi yang disekre-

sikan oleh kelenjar endokrin dan masuk 

langsung ke dalam aliran darah. Efeknya 

terjadi di suatu organ lain dari tubuh yang 

membutuhkannya untuk dapat berfungsi 

secara normal.

Kelenjar endokrin yaitu  kelenjar dengan 

sekresi intern dan yang terpenting yaitu  

hipofisis, hipotalamus dan epifisis di otak, kelen-

jar kelamin (ovaria dan testes), anak-ginjal, 

pankre as, tiroid,parati roid dan timus.

pemakaian 

Sediaan hormon banyak dipakai  sebagai 

terapi substitusi untuk menggantikan ke-

kurangan yang terjadi akibat hipofungsi 

suatu kelenjar endokrin, misalnya insulin 

pada diabetes dan estrogen pada masa se-

telah menopause. namun  jumlah terbanyak 

dipakai  sebagai obat pada gangguan 

yang tidak bersifat endokrin, namun  berda-

sarkan kegiatannya yang khas. Misalnya 

pemakaian  korti koste roida pada antara 

lain gangguan yang berkai tan dengan pera-

dan gan dan hormon kelamin wanita dalam 

pil antiha mil.

Dahulu sering kali dipakai  sediaan or-

gannya sendiri, yaitu kelenjar hewan (sapi, 

babi, domba) yang telah dikeringkan, diha-

luskan dan distandardisasi. namun  sediaan 

itu  dewasa ini praktis sudah seluruhnya 

ditinggalkan, sebab  banyak hormon sudah 

dapat dibuat secara sintesis, yang lebih mur-

ni dan kerapkali lebih kuat aktivitasnya. 

Sejak akhir tahun 1990-an, sejumlah hormon 

malah dibuat secara biosin tetik melalui tek-

nik rekombinan-DNA, misal nya insulin, hor-

mon pertumbuhan somatro pin dan FSH 

(folitropine,Puregon).


HORMON-HORMON  

HIPOFISIS

 HIPOFISIS  

DAN HIPOTALAMUS

Hypophysis cerebri (embelan otak) atau 

glandula pituitaria yaitu  sebuah umbai 

kecil yang terikat dengan tangkai pada dasar 

otak. Kelenjar ini beratnya hanya 1 g, namun  

merupakan mata rantai terpenting antara 

SSP dan kelenjar-kelenjar endokrin lainnya 

dan terkadang juga disebut Kelenjar Utama 

(Master gland).

Hypothalamus yaitu  organ kecil yang se-

cara anatomis dan fungsi o nal berhubungan 

erat dengan hipofisis. Hipotalamus yaitu  

bagian dari otak-tengah (diencep halon) ber-

sama talamus dan merupa kan pusat sangat 

pen ting, yang mere gulasi a.l. suhu tubuh, 

tekanan darah serta sekresi hormon-hormon 

seks dan kortikoste roida.

Kedua organ endokrin itu  mengha-

silkan hormon-hormonnya sendiri. Sekresi 

dari sebagian besar hormon hipofisis 


dikendalikan oleh hormon-hormon hipota-

lamus, yang disebut releasing hormones dan 

inhibiting factors. Contohnya yaitu  PRH 

(Prolactine Releasing Hormone) yang men-

stimulasi sekresi prolak tin, sedang  PIF 

(Prolactine Inhibiting Factor) yang identik 

dengan dopamin, justru mengham batnya. 

Produksi hormon-hormon peptida ini di hipo- 

tala mus diatur oleh neurotransmitter seperti 

noradrenalin, seroto nin dan dopamin.

Hormon-hormon hipofisis

Hipofisis terdiri dari dua bagian, yakni umbai 

depan dan umbai belakang yang memben-

tuk hormonnya masing-masing.

1. Adenohipofisis: umbai depan (lobus an-

terior) merupa kan bagian terbesar, kira-kira 

duapertiga dari seluruh organ dan terdiri 

dari jaringan kelenjar (= Lat. adeno). Adeno-

hipofisis mengha silkan minimal 10 peptida, 

yang disebut hormon trophic (akhiran -troph 

berasal Yun. trophikos = beri makan, to feed). 

Hormon-hormon ini memiliki fungsi regulasi 

untuk organ endokrin lain yang didorong 

olehnya untuk mengeluarkan hormonnya 

sendiri. Penge cualian yaitu  prolaktin dan 

somatropin yang berefek langsung terhadap 

masing-masing laktasi dan pertumbuhan 

jaringan. 

Hormon-hormon adenohipofisis kini dapat 

disintesis dalam keadaan agak murni dan 

yang terpenting yaitu :

a.  gonadotropin atau hormon gonadotrop: 

sekresinya distimulasi oleh hormon hi-

potalamus GnRH, lihat di bawah. Gona- 

dotropin terdiri dari dua hormon, yakni:

– FSH(= Follicle Stimulating Hormone): 

menstimulasi perkembangan folikel 

(de Graaf) dalam ovaria dan pemben-

tukan spermatozoa dalam testes 

– LH(= Luteinizing Hormone), dahulu 

juga disebut ICSH(= Interstitial Cell 

Stimulating Hormone), menstimulasi 

antara lain transformasi folikel ma-

sak menjadi badan kuning(Corpus 

luteum) serta produksi estrogen dan 

progesteron oleh ovaria. Juga mendo-

rong sel-sel Leydig (=sel-sel interstitium 

testes) untuk memproduksi testos-

teron.

b.  kortikotropin, hormon kortikotrop atau 

ACTH (= Adreno-Corti cotropic Hormone) 

menstimulasi kulit anak-ginjal untuk 

memproduksi kortisol dan hormon-hor-

mon kelamin

c. tirotropin, hormon tirotrop atau TSH 

menstimulasi produksi tiroksin oleh ke-

lenjar tiroid

d. somatropin (STH) atau hormon pertum-

buhan (Growth hormone, GH) menstimulasi 

pertumbuhan umum dari jaringan, juga 

berefek laktogen

e.  prolaktin menstimulasi sekresi air susu 

ibu yang telah “disiap-sediakan” oleh 

estrogen dan progesteron selama masa 

hamil. Juga untuk memelihara laktasi. 

Struktur molekul peptidanya mirip de-

ngan STH. 

Hormon-hormon lainnya belum diiden-

tifikasi dengan tuntas dan mungkin juga 

berfungsi meregulasi. Beberapa hormon yang 

itu  di atas, selain di adenohipofisis, ju-

ga disintesis di plasenta, misalnya chorion 

gonadotropin dengan efek sama seperti LH.

2. Neurohipofisis: umbai belakang (lobus 

posterior) teruta ma terdiri dari jaringan saraf. 

Kedua hormonnya yaitu :

a.  oksitosin (oxytocin): berkhasiat meng-

kon traksi rahim dan menstimulasi dimu-

lainya laktasi

b. vasopresin atau ADH(Anti Diuretic Hor-

mone) mencegah ekskre si air berlebihan 

oleh ginjal. Kedua hormon ini disintesis 

di dalam hipotalamus dan diangkut se-

bagai paket-paket kecil melalui ujung-

ujung neuron di tangkai hipofisis ke 

umbai belakangnya.

A. HORMON ADENOHIPOFISIS

Gonadotropin

Efek atas ovaria. Setiap bulan FSH bersama 

LH menstimulasi pemasakan satu sel telur 

(ovum) hingga berkembang menjadi sebuah 

gelembung kecil, yaitu Folikel de Graaf. Pro-

duksi estrogen oleh ovaria juga distimulasi 

olehnya. Kira-kira 2 minggu kemudi an, pa- 

da pertengahan siklus haid, produksi LH 

memuncak dan terjadilah ovulasi, yaitu fo-

likel masak melepaskan sel telurnya. Juga 

di bawah pengaruh LH sisa folikel ber-

kembang lagi menjadi suatu Badan kuning 

(Corpus luteum), yang distimu lasinya untuk 

mensekresi progesteron dan estrogen dalam 

jumlah besar. Ketika terjadi kehamilan, 

sesudah  ovaria meng hentikan produk sinya 

sekitar bulan ke-4, plasenta membentuk 

HCG (gonadotropin) yang mendorong sekresi 

progesteron untuk memeli hara kehamilan. 

Efek atas testes. FSH khusus bertanggung 

jawab atas perkemban gan testes dan pem-

bentukan sel-sel mani (spermatogenesis), se-

dang kan LH bekerja terhadap sel-sel Leydig 

dalam testes untuk meningkatkan sintesis 

dan sekresi testosteron.

Sediaan 

Gonadotropin dapat diperoleh dari air kemih 

wanita hamil dan wanita sesudah meno-

pause. berdasar  ini tersedia 2 sedia-an, 

yaitu gonadotropin chorion dan gonadotropin 

menopau sal.

a. Human chorion gonadotropine (HCG). 

Telur yang sudah dibuahi dalam tuba sesudah 

kira-kira 8 hari tiba di rahim dan bersarang 

di endometrium. Janin muda berkem bang 

dengan cepat dan sel-sel tertentu dari pla-

senta (= uri, organ penghubung antara ibu 

dan janin) tumbuh ke dalam pembuluh ibu. 

Sel-sel ini secara khas membuat chorion go-

nadotro pin (chorion = selubung janin bagian 

luar). Gonadotropin juga memasuki sirkul asi 

Gambar 42-1a:Kehamilan dini

ibu untuk kemudian diekskresi lewat kemih, 

dari mana isolasi dapat dilakukan.

b. Human menopausal gonadotropine (me-

notropin, HMG). Pada wanita sesudah meno-

pause produksi estrogen yang sangat me-

nurun memicu bertambahnya sekresi FSH 

(dan LH) oleh hipofisis melalui feed back 

negatif. HMG ini diekskresi lewat urin.

*Tes kehamilan semuanya didasarkan atas 

indikasi adanya HCG dalam urin dan dike- 

nal tes biologis serta tes imuno kimiawi. HCG 

terbentuk pada 6 hari pertama sesudah  pem-

bua han dan 9 sampai 11 hari sesudah  ovulasi 

HCG sudah dapat dideteksi dalam urin. Pada 

8-12 minggu pertama dari nifas, kadarnya 

sangat meningkat sampai puncak 100–250.000 

U/l urin dan kemudian menurun lagi. 

Tes lama dapat mende teksi HCG ±2 minggu 

sesudah  tanggal haid yang diperkirakan. Tes 

mutakhir jauh lebih sensitif dan sudah mam-

pu menentukannya pada kadar 25-50 mlU/

ml, jadi sangat dini, bahkan sudah pada 

tanggal haid itu . Keberatan dari deteksi 

dini yaitu  bahwa rata-rata 30% dari semua 

kasus kehamilan, pada permulaan nifas ber-

akhir dengan abortus spontan. sebab  itu, tes 

kehamilan sebaiknya dilaku kan beberapa 

waktu seusai tanggal haid.

Tes kehamilan yang tersedia di negara kita  

antara lain Testpack Plus (sensitivitas 25 mIU/

ml), Acon hCG Card/Strip Test (sensitivitas 25 

mIU/ml), Sensitif (sensitivitas 25 mIU/ml; 

Plasmatec (UK), dan Trusty (Blue Cross).  

Gambar 42-2: Hubungan antara kadar estradiol dan kadar 

FSH/LH dengan mekanisme kerja feedback positif  

(M.Madlener, Hormon, vol XL, nr 1, p.4)

B. HORMON HIPOTALAMUS

Hormon-hormon hipotalamus menstimulasi 

atau menghambat sintesis dan pelepasan 

semua hormon hipofisis yang itu  di 

atas. Kini dikenal tujuh hormon polipeptida 

dengan aktivitas khusus terhadap adenohi-

pofisis, yaitu:

1. GnRH (= Gonadotropin RH), juga disebut 

LHRH (Luteinizing Hormone RH) atau go-

nado relin

2. CRH (= Corticotropin RH) atau kortiko-

relin

3. TRH (= Thyrotropin RH) atau protirelin

4. GHRH (= Growth Hormone RH) atau so-

matorelin

5. GHRIF (= GH Release Inhibiting Factor) 

menghambat se kresi somatotropin (dan 

tirotropin). Selain di hipotalamus dan 

Hormon

hipotalamus

Hormon

hipofisis 

Organ

tujuan

Efek-efek

utama

GnRH =

LH-RH =

gonadorelin

-----------------------

CRH =

kortikorelin

-----------------------

TRH = protirelin

GHRH 

= somatorelin

*GHIF

= somatostatin

-----------------------

PRL-RH

*PIF = dopamin

-----------------------

umbai depan

FSH

LH (= ICSH)

----------------------

ACTH  =  

kortikotropin

---------------------

TSH= tireotropin

GH=somatotropin

         —

---------------------

prolaktin (= LTH)

        —

-----------------------

umbai belakang

oksitosin ADH= 

vasopresin

ovaria dan testes

----------------------

anak ginjal

----------------------

tiroid

otot, tulang

         —

       

         —

----------------------

buah dada

        —

----------------------

rahim

mammae

ginjal

– pertumbuhan folikel,

–  produksi estrogen dan  

spermatozoa, ovulasi                     

–  pembentukanC.

luteum,produksi proges-

teron/testosteron

------------------------------------

stimulasi sekresi kortisol  

dan hormon kelamin

------------------------------------

stimulasi sekresi tiroksin

stimulasi pertumbuhan  

umum

menghambat GH

------------------------------------

stimulasi sekresi air susu

menghambat laktasi

------------------------------------

kontraksi

“milk-ejecting”

stimulasi, retensi air

Tabel 42-1: Hormon-hormon hipotalamus dan hipofisis dengan efek utamanya

(7 hormon yang disekresi oleh adenohipofisis di bawah pengaruh  

hormon-hormon hipotalamus)

otak, hormon ini juga disintesis di usus 

halus dan pankre as. Di saluran pencer-

naan hormon ini menghambat sekresi 

asam lambung, pepsin serta gas trin dan 

di pankreas menghambat sekresi insulin 

serta glukagon. 

6. PRL-RH (= Prolactine RH)

7. PIF (=Prolactine Inhibiting Factor) yaitu  

identik dengan neurotransmitter dopa-

min (DA)

Semua hormon ini sekarang dapat disintesis 

secara kimiawi. Gonadore lin dan analogon 

sintetiknya terutama diguna kan berdasar  

efek tak-langsungnya terhadap kadar hor-

mon kelamin. Kortiko relin, protirelin dan 

somatorelin dipakai  sebagai diagnosti ka, 

sedang  somatostatin dan analogonnya 

oktreotide untuk terapi. Lihat Tabel 42-1.

Mekanisme feedback negatif

Sekresi hormon adenohipofisis tidak hanya 

dikendalikan oleh peptida-peptida hipota-

lamus, namun  juga oleh kadar hormon ber-

sang kutan dalam darah. Umpamanya bila 

kadar kortisol meningkat di atas nilai tertentu, 

sekresi ACTH akan ditekan. Bila kadarnya 

turun, sekresi ACTH ditingkatkan untuk men-

dorong anak ginjal memperbanyak produksi 

kortisolnya. Begitu pula sekresi FSH, LH dan 

tirotropin juga diatur oleh kadar masing-ma-

sing estrogen, progesteron/testosteron dan 

tiroksin dalam darah. Fenome na ini disebut 

mekanisme feedback negatif.

Mekanisme feedback positif dapat pula 

terjadi, yaitu bila suatu hormon memengaruhi 

hipofisis secara positif. Contohnya yaitu  

estradiol: peningkatan kuat dari produksinya 

pada tahap  pemasakan folikel, menstimulasi 

sekresi LH optimal sehingga terjadi ovulasi. 

Sekresi FSH justru agak dihambat, mungkin 

untuk mence gah agar jangan sampai lebih 

dari satu folikel menjadi masak. Lihat Gambar 

42-2: Progesteron pun dapat memperlihatkan 

feed back positif demikian, sedang  zat-zat 

androgen tidak.

pemakaian 

Terutama dipakai  pada gangguan yang 

disebabkan oleh defisiensi hormon hipofisis, 

seperti gonadotropin pada kemandulan wani-

ta akibat anovulasi dan vasopresin pada dia-

betes insipidus. Atau pada kekurangan 

Releasing Hormone dari hipotalamus, misal-

nya gonadore lin pada cryptorchisme (buah 

zakar tidak turun ke dalam kandung buah 

zakar). Di samping itu juga dipakai  sebagai 

diagnostikum untuk menen tukan fungsi 

suatu organ, seperti protirelin untuk diagnosis 

hipo- atau hiperfungsi tiroid. Akhirnya, digu-

nakan juga pada keadaan khusus, misalnya 

oksitosin untuk memperkuat his pada per-

mulaan persalinan dan somastatin pada per-

darahan lambung-usus yang hebat.

C. HORMON EPIFISIS

Epiphysis cerebri atau glandula pinealis (ke-

lenjar nenas) yaitu  kelenjar sangat kecil 

yang terletak di atas hipotalamus (di tengah 

otak) dan memproduksi melato nin dan se-

rotonin. Letaknya di atas titik di mana sa raf 

mata bersilang (nucleus suprachiasmaticus), 

titik itu  dihubungi langsung melalui 

serat-serat saraf dengan kelenjar epifisis. 

Beberapa dasa warsa yang lalu, kelenjar epi-

fisis masih dianggap sebagai suatu organ sisa 

dari evolusi yang tak berguna. namun  kini 

sudah dipastikan bahwa melatonin memiliki 

berbagai fungsi vital dalam tubuh.

Fungsi faal utama melatonin yaitu  mengatur 

ritme siang-malam, yang dikendalikan oleh 

nucleus suprachiasmaticus (SCN = inti di atas 

lintasan), yaitu “lonceng biologis pusat” yang 

letaknya di hipotalamus. Rangsangan cahaya 

masuk ke dalam mata dan via retina dan jalur 

saraf mencapai SCN yang kemudian melalui 

SS simpatik berhubungan dengan epifysis, 

lihat Gambar. Dengan tibanya malam, 

stimulasi adrenerg akan bertambah yang 

berakibat meningkatnya produksi melatonin. 

Bila jumlah cahaya meningkat, pelepasan 

melatonin akan ditekan. Pada tengah malam 

kadar melatonin mencapai puncaknya dan 

dengan demikian merupakan pertanda khas 

dari senja dan bukannya dari tidur.

Orang tunanetra tanpa persepsi cahaya 

ternyata juga memiliki ritme siang-malam 

yang dihasilkan oleh SCN dengan siklus dari 

±25 jam, sehingga ritmenya bergeser setiap 

hari.12   

Khasiat lain dan pemakaian .13,14 Kelenjar 

epifisis orang sehat setiap hari memprodu-

ksi ±29 mcg melatonin. Berbagai obat seperti 

beta-blocker, dapat menekan produk si ini. 

Sekre sinya teru tama pada waktu malam hari 

dan dihambat oleh cahaya; produksi malam 

hari yaitu  5-10 x lebih besar daripada 

waktu siang hari. Fungsi utamanya yaitu  

sebagai antioksi dans dan zat pelindung 

kuat terhadap kerusakan oksidatif akibat 

sinar-UV, juga meregulasi bioritme siang-

malam, memperlancar tidur alamiah dan 

memperkuat sistem imun. sebab  bersifat 

lipofil maupun hidrofil, distribusinya ke 

seluruh jaringan tubuh baik sekali. Daya 

kerja nya di tubuh sebagai neuro hor mon dan 

neuro modula tor melalui reseptor melatonin 

yang banyak ada  antara lain di hipota-

lamus, hipofisis, retina dan sistem kelamin. 

Melatonin dan serotonin yaitu  derivat 

indolil, seperti juga tripto fan yang merupa kan 

bahan pangkal untuk sintesis alamiah nya. 

Lihat persamaan reaksi di bawah ini dan juga 

rumus bangun Bab 30, Antide presiva. 

MONOGRAFI

A. HORMON ADENOHIPOFISIS

1. Chorion Gonadotropin: HCG, Pregnyl, 

Profasi

Glikoprotein ini yang dibentuk oleh pla- 

senta, diperoleh dari air kemih wanita ha-

mil dan terdiri dari khusus LH. Terutama 

dipakai  pada infertilitas wanita akibat 

terganggunya pemasa kan folikel dan ano-

vulasi. Biasanya terapi dimulai dengan pem-

berian HMG dengan aktivitas FSH selama 

10 hari untuk memasakkan folikel. Disusul 

dengan HCG untuk menginduksi ovulasi.1,2

Pada pria dipakai  antara lain pada 

pubertas terlam bat akibat insufi sien si fungsi 

hipofisis dan pada kemandulan untuk men-

stimulasi produksi sperma.

Efek samping dapat berupa sakit kepala, 

rasa letih, iritasi, gelisah, depresi, udema dan 

gynecomastie. 

Dosis: kemandulan wanita i.m. 5-10.000 UI/

hari selama 1-3 hari sesudah  kur HMG/foli-

tropin. Sanggama hendaknya dilakukan pa-

da hari ke-1 dan/a tau ke-2 dari pemberian 

HMG. Pria: 1-2.000 UI/hari 2-3x seming gu, 

bersamaan dengan 75-150 UI HMG, selama 

minimal 3 bulan.

2. Menopausal Gonadotropin: HMG, meno-

tropin, Humegon, Pergonal

Ekstrak murni yang diperoleh dari urin 

wanita postmenopause mengandung FSH 

dan LH dalam perbandingan 1:1. Sekarang 

juga dibuat dengan teknik rekombinan-DNA 

(Puregon), lihat di bawah. 

FSH dan LH —berbeda dengan hormon 

hipofisis dan hormon hipotalamus lainnya— 

termasuk kelompok glikopep tida. Diguna-

kan terutama pada keman dulan wanita de-

ngan keberhasilan (ovulasi) ±90%. Persen tase 

poli-ovulasi dan keha milan ganda cukup 

tinggi. 

IVF. Meningkatnya permintaan akan HMG 

berkaitan dengan IVF (in vitro fertilization).

Oleh sebab  kesulitan meningkatkan pe-

ngum pulan air seni, maka lambat-laun terjadi 

kekurangan HMG. Oleh sebab  itu, intro-

duksi dari folitropin rekombinan-DNA yaitu  

tepat pada waktunya.

Dosis: i.m. 150 UI selama 10 hari, sesudah  24-

48 jam disusul oleh HCG untuk menginduksi 

ovulasi. Untuk IVF, ada beberapa protocol 

dan dosisnya jauh lebih tinggi.

* Folitropin (-alfa) (Puregon, Gonal-F) dibuat 

dari sel-sel ovarium hewan hamster Cina 

dengan teknik rekombinan-DNA. Hanya 

berefek FSH tanpa aktivitas LH (1996), 

struktur kimianya hanya berbeda dari FSH 

alamiah pada gugus samping karbohidrat-

nya. Folitropin selain secara i.m. dapat juga 

diberi kan subku tan. Sediaan folitropin me-

lengkapi kekurangan HMG dengan baik, 

namun  harganya rata-rata tiga kali lebih tinggi!

Dosis: pada anovulasi selama 7 hari i.m. 

50 UI atau s.k. dengan pena khusus (Puregon 

pen). Pada IVF: hari ke-2 atau 3 dari siklus 

150-225 UI/hari, maks. 450 U, sampai tercapai 

pertumbuhan folikel secukupnya (rata-rata 

10 hari), disusul dengan HCG maks. 10.000 U 

untuk pemasakan folikel dengan tuntas.

* Lutropin-alfa (Luveris) yaitu  human 

LH sangat murni, yang diperoleh dari sel-

sel ovarium hewan hamster Cina dengan 

teknologi-DNA. dipakai  untuk menun- 

jang produksi estradiol serta menstimulasi 

pemasakan folikel dan selalu terkombinasi 

dengan folitropin, terutama bila ada  

kadar-LH dan –FSH yang rendah sekali (un-

tuk induksi ovulasi). 

Dosis: s.k. individual berdasar  besarnya 

folikel dan kadar estradiol dalam darah.

3. Somatropin: somatotrofin, Growth Hormone, 

GH, Saizen, Humatrope, Norditropin, Genotropin

Hormon pertumbuhan ini terdiri dari 

rantai polipeptida 191 asam amino dan di-

buat sejak tahun 1985 dari kuman E. coli 

dengan teknik rekombi nan-DNA. Produksi 

dari hipofisis manusia dihentikan sesudah  

dilaporkan timbulnya penyakit Creutzfeldt-

Jakob akibat infeksi viral. 

Produksi GH distimulasi oleh GHRH dan 

dihambat oleh GHRIF dari hipotalamus. 

Faktor mana yang aktif tergantung dari kadar 

glukosa dalam plasma. Sekresinya berku-

rang bila kadar glukosa meningkat dan ber-

tambah pada keadaan lapar atau sesudah 

injeksi insulin. Berbagai jenis stress, fisik dan 

psikis, termasuk olahraga, juga menstimulasi 

produksi GH. 

Khasiat. Somatropin berkhasiat anabol, 

yaitu menstimulasi sintesis protein dan per-

tumbu han dari semua organ dan jaringan, 

termasuk otot, kulit dan tulang terutama me-

lalui peningkatan jumlah sel-sel otot kerangka. 

Gonad, hati, anak ginjal dan timus dapat 

membe sar. Pada anak-anak GH menstimulasi 

pertum buhan cakram epifisis, yaitu tulang 

rawan di kedua ujung tulang pipa panjang, 

tempat terjadinya pertumbu han. Di samping 

itu somatropin memengaruhi metabo lisme 

lemak dan karbo hidrat. 

Pada orang dewasa somatropin mening-

katkan energi dan vitalitas, memperbesar 

masa otot dan menurunkan masa lemak, 

juga menstimulasi timus. Pada usia menua 

produksinya lambat laun berkurang; pene-

litian di AS (1990) menunjuk kan efek pere-

majaan dan revitalisasi pada manula yang 

«disuplesi» dengan GH. Sejumlah geria ter di 

AS mengan jur kan suplesi ini dalam rangka 

mengham bat proses menua dan memperpan-

jang hidup (life extensi on). Daya kerja GH 

terutama melalui insulin-like growth factors 

(IGF), suatu pepti da yang dibentuk di semua 

jaringan, khusus dalam hati. Plasma-t½ 4 jam.

pemakaian nya terutama pada gangguan 

pertumbuhan pada anak-anak akibat kekurang-

an GH, misalnya pada anak kerdil untuk 

meninggikan tubuhnya. Pembe rian subkutan 

menghasilkan efek lebih baik dan kurang 

nyeri daripada secara intramuskuler. Terapi 

tidak ada gunanya bila cakram epifisis sudah 

menutup dan pertumbuhan memanjang 

berhenti (pada akhir pubertas). IOC (Interna-

tional Olympic Comittee), menganggap GH 

sebagai zat doping.

Efek samping jarang terjadi dan dapat be-

rupa sakit kepala, sakit sendi dan otot, ude-

ma, reaksi kulit dan hipoglike mia. Pada anak-

anak adakalanya dilaporkan leukemia.

Dosis: subkutan (kadang-kadang i.m.) 0,5-

0,8 UI/kg/minggu dalam 6-7 dosis, sebaik-

nya pada malam hari.

4. Corifollitropine alfa: Elonva

Efektivitas senyawa ini pada IVF sama 

dengan follitropin (rFSH). 

Merupakan glikoprotein yang diproduksi 

di sel-sel ovarium hewan hamster dari Cina. 

Khasiatnya sesuai dengan FSH rekombinan. 

Lama kerjanya 7 hari. sesudah  resorpsi disa-

lurkan terutama ke ovarium dan ginjal. Eks-

kresi khusus melalui ginjal. T1/2 ±69 jam.

Dalam kombinasi dengan antagonis GnRH 

dipakai  untuk menstimulasi ovarium.

Efek samping sering kali sakit kepala, pera-

saan letih, mual dan sindrom hiperstimulasi 

ovarium (nyeri panggul). Kadang-kadang 

pusing, nyeri perut, muntah dan diare.

Dosis: parenteral dan disesuaikan dengan 

respons ovariil.

5. Mecasermine: Increlex

Merupakan faktor pertumbuhan rekombi-

nan yang dipakai  pada defisiensi/gang-

guan pertumbuhan anak. Metabolisasi di hati 

dan ginjal dengan T1/2 ±6 jam.

Efek samping sering kali hipoglikemia (bulan 

pertama), hipertrofi timus dan tonsil, sakit 

kepala, gangguan pendengaran, tachycardie 

dan rasa pusing.

Dosis: permulaan s.k. 2 dd 0,04 mg/kg 

dan lambat laun dapat ditingkatkan sampai 

maksimal 2 dd 0,12 mg/kg.

6. Tetracosactide: Synacthen

Polipeptida sintetik ini terdiri dari 24 asam 

amino ACTH alamiah. Khasiat biologiknya 

serupa dengan ACTH, yaitu stimulasi biosin-

tesis gluko- dan mineralokortikoid serta seba-

gian androgen.

Terutama dipakai  untuk diagnostik 

gangguan fungsi anak ginjal dan terhadap 

eksaserbasi MS akut.

Efek samping terdiri dari reaksi hipersen-

sitivitas, kadangkala syok anfilaktik; pada 

pemakaian  lama dapat timbul efek-efek mi-

neralokortikoid, glukokortikoid dan andro- 

gen.

Dosis: untuk diagnostik i.m. atau i.v. 0,25 

mg; terapeutik i.v. infus permulaan sehari 1 

mg dan untuk pemeliharaan 0,5 mg tiap 2-3 

hari atau 1 mg seminggu.

7. Urofollitropine: Fostimon

Senyawa ini dibuat dari menopausal 

gonadotrofin human (HMG) dan terdiri dari 

FSH dalam keadaan yang sangat murni. FSH 

berfungsi merangsang pertumbuhan dan 

pemasakan follikel dalam ovarium, kemudi-

an memicu follikel memproduksi oestrogen. 

T1/250 jam (s.k.). Obat ini dipakai  pada 

infertilitas akibat anovulasi dan bila terapi 

dengan klomifen tidak membuahkan hasil. 

namun  follitropin lebih efektif daripada 

urofollitropin pada in vivo fertilisasi (IVF). 

Efek samping yang sering terjadi yaitu  sakit 

kepala, sembelit, sindrom hiperstimulasi ova-

rium, mual, nyeri perut dan dispepsi.

Dosis: permulaan i.m. atau s.k. 75-150 IE 

sehari, maksimal 225 IE sehari.

HORMON NEUROHIPOFISIS

8. Oksitosin: Oxytocin-S, Piton-S, Syntocinon

Nonapeptida (dengan 9 asam amino) ini 

bersama vasopresin sebetulnya dibentuk di 

hipotalamus dan hanya disimpan di umbai 

belakang hipofisis. Kini senyawa ini dibuat 

secara sintetik. Berkhasiat oksitosik, yaitu 

memicu  kontraksi ritmis pada rahim 

dan memperkuat kontraksi yang sudah 

ada. Di samping itu bekerja laktogen (‘milk-

ejecting’) melalui kontraksi ritmis dari otot 

sekitar kelenjar susu. Bila bayi menghisap 

putting susu, secara reflektoris hipofisis 

mensekresi oksitosin. Tidak memengaruhi 

pembentukan air susu.

pemakaian nya khusus dalam ilmu kebi-

danan untuk menstimulasi kontraksi sebe-

lum persalinan bila ada  kelemahan his, 

namun  hanya bila mulut rahim sudah praktis 

terbuka seluruhnya. Juga dipakai  sesudah 

persalinan untuk mencegah perdarahan 

berlebihan.

Plasma-t½ singkat, rata-rata 10 menit. Se- 

perti semua peptida, oksitosin dalam lam-

bung diuraikan oleh enzim proteolitik, se-

hingga tidak dapat dipakai  per oral.

Efek samping berupa kejang rahim (tetania) 

dengan risiko rahim robek (ruptura uteri) dan 

hambatan sirkulasi janin, juga aritmia dan 

reaksi hipersensitivitas. 

Dosis: menjelang persalinan infus i.v. 0,001 

UI/min dari larutan dengan 0,002-0,010 UI/

ml. Sesudah persalinan i.v./i.m. 2-10 UI dari 

larutan 5-10 UI/ml. Spray hidung untuk 

mempermudah laktasi 4 UI di setiap lubang 

hidung, 2-5 menit sebelum menyusui.

9. Vasopresin: antidiuretic hormone, ADH, Pi-

tressin

Nonapeptida ini diperoleh dari hipofisis 

babi dan hanya berbeda 1 asam amino (ly-

sine) dari hormon manusia/sa pi (arginine). 

Berkhasiat antidiuretik, yaitu mencegah 

ekskresi air berlebihan oleh ginjal melalui 

peningkatan resorpsi kembali oleh tubuli 

ginjal. Mekanisme kerjanya yaitu  peleba ran 

pori-pori membran mukosa tubuli, sehingga 

molekul air dapat melinta sinya sekaligus 

dalam kelompok lebih besar. Dengan demi-

kian dari ±180 l filtrat glomerulus seharinya, 

hanya 1-1,5 l dikelu arkan sebagai urin. Lihat 

Bab 33, Diuretika, fisiologi ginjal. 

Peng gunaannya untuk mengu ji fungsi hi-

pofisis berdasar  efeknya menstimulasi 

sekresi ACTH. Terutama dipakai  pada 

diabetes insipidus yang bergejala poliu ria (ba-

nyak kencing) akibat kekurangan ADH. 

Juga pada perdar ahan varices di esofagus (vena 

mekar), berdasar  efek kon striksi arteri ole 

dan biasanya bersamaan dengan nitrogliserin 

untuk mengu rangi efek sampingnya. 

Efek sampingnya berkaitan dengan efek 

kontraksinya terhadap jaringan otot polos 

dan berupa muka pucat, tekanan darah naik, 

bronchokonstriksi, kejang lambung-usus dan 

uterus, terutama pada dosis tinggi.

Dosis: diabetes insipidus, i.m. 1,5-5 UI se-

tiap 1-3 hari (-tanat dalam minyak), pada 

varices esofagus infus i.v. 0,2-0,6 UI/menit 

selama 24 jam.

Sekarang ini vasopresin alamiah sudah prak-

tis terdesak oleh analogon sintetiknya, yaitu : 

a. Desmopresin (Minrin). Khasiat antidi-

uretiknya lebih kuat dan lebih lama ker-

janya. Dapat dipakai  intranasal sebagai 

spray atau tetes hidung, antara lain pada 

ngompol malam (enuresis nocturna).

b. Terlipresin (Glypressin). Khasiat antidiu-

retik lebih ringan, namun  dipakai  ber- 

dasarkan efek vasokonstriksinya, teru-

tama pada saluran cerna dan rahim.

B. HORMON HIPOTALAMUS

10. Gonadorelin:GnRH, LH-RH, Cryptocur, 

Relefact, Lutrelef

Dekapeptida sintetik ini (dengan 10 asam 

amino, 1974) yaitu  identik dengan GnRH 

dari hipotalamus yang mengatur sekresi 

LH dan FSH oleh hipofisis. dipakai  

pada kemandulan wanita akibat anovu lasi 

dan pada infertilitas pria sebab  insufisiensi 

GnRH. Pada anak kecil dengan cryptorchis me 

(buah zakar tidak turun ke kandung zakar) 

sebaiknya dipakai  pada usia dua tahun. 

Juga sebagai diagnos tikum untuk menentukan 

fungsi adenohipofisis.

Bioavailability-nya pada pemakaian  nasal 

yaitu  1-2%, sesudah  injeksi subkutan 75-90%. 

Kerjanya hanya singkat, plasma-t½ 15-60 

menit.

Efek samping berupa nyeri buah dada, pa-

da pria gynecomasti dan priapisme, jarang 

reaksi hipersensitivitas (gatal-gatal, udema, 

urticaria, bronchospasme, syok anafilaktik). 

Pada dosis tinggi memicu  mual serta 

nyeri perut dan sakit kepala. Pada wanita, 

risiko kehamilan ganda tidak demikian besar 

dibandingkan dengan pemakaian  gonado-

tropin. Pada anak lelaki, kadang-kadang 

timbul agresi dan membesarnya penis.

Dosis: wanita i.v./s.c. 5-15 mcg sekali 

dengan interval 90 menit. Anak-anak: nasal 

3 dd 0,2 mg di setiap lubang hidung selama 

4 minggu, bila perlu diulang sesudah  3 bulan.

* Goserelin (Zoladex, 1987) yaitu  analogon 

yang 50-100 x lebih kuat daripada GnRH. 

Obat ini mula-mula meningkatkan sekresi LH 

dan FSH oleh hipofisis, yang memicu  

naiknya kadar estrogen atau testosteron. Bila 

peng gunaan dilanjut kan, sesudah  3 minggu 

hipofisis menjadi tidak peka lagi (desen sita-

si). Akibat turunnya jumlah reseptor aktif, 

maka sekresi gonadotropin dihambat dan 

kadar testosteron pada pria menurun sampai 

keadaan laksana kastrasi. Pada wanita kadar 

estrogen menurun sampai nilai postmeno-

pause.

pemakaian . berdasar  efek anti andro-

gen/estrogen itu  gosere lin diguna kan 

pada tumor prostat (yang peka bagi testos-

teron dan sudah bermetastasis) dengan efek 

penghambatan pertum buhanny a. Terapi ini 

juga dinamakan kastrasi kimiawi, lihat juga 

Bab 43, Zat-zat androgen, Antihormon. Pada 

wanita penurunan kadar estro gen dipakai  

untuk mengham bat pertumbu han kanker 

mamma (yang peka bagi estrogen). Juga 

untuk menge cilkan myoma uterus dan me-

ngurangi gejala endometriosis (antara lain 

nyeri perut dan dysme norroe). Plasma-t½ ±4 

jam.

Dosis: implantasi s.k. di kulit perut 3,6 mg 

(sebagai asetat) setiap 4 minggu.

* Buserelin(Suprefact, 1984) yaitu  analogon 

yang 16x lebih kuat dengan pemakaian  

sama seperti goserelin. Dosis: s.k. selama 7 

hari 3 dd 0,5 mg, disusul oleh spray nasal 3 

dd 1 mg.

* Leuprorelin (leuprolide, Tapros, Lucrin, 1985) 

yaitu  analogon yang ±20x lebih kuat dari-

pada GnRH. Juga dipakai  pada kanker 

prostat dan endometriosis. Larutannya da-

lam air dipakai  untuk injeksi subkutan; 

plasma-t½ ±3 jam.

Dosis: s.k. sediaan delayed action 3,75 mg 

setiap bulan (sebagai asetat). 

11. Protirelin:TRH, Relefact

Tripeptida sintetik ini (1970) yaitu  iden-

tik dengan TRH (Thyreotrophin Releasing Hor-

mone) alamiah yang menstimulasi sekresi ti-

reotropin dan prolaktin dari adenohipofisis. 

Protirelin terutama dipakai  untuk diag-

nosis gangguan tireoid dan tumor hipofisis. 

Juga pada produksi prolaktin berlebihan 

(hiperprolakti nemia) yang antara lain menye-

babkan kelebihan produksi air susu.

Dosis: oral 1-2 dd 40 mg a.c.atau i.v. 0,2 mg.

12. Somatostatin: GHR-IF, SR-IF, Somatofalk, 

Stilamin

Tetradekapeptida sintetik ini (1980) ada-

lah identik dengan SR-IF alamiah, selain 

di hipotalamus dan otak juga dibentuk di 

saluran lambung-usus dan pankreas. Soma-

tostatin menghambat sekresi GH dan ti-

reotropin di lambung dari gastrin, HCl dan 

pepsin, di pankreas dari insulin dan glukagon. 

Terutama dipakai  pada perdarahan akut 

yang parah dari tukak lambung-usus dan 

varices esofagus.

Dosis: i.v. 250 mcg dalam 1-2 ml larutan 

NaCl 0,9%, langsung disusul dengan infus i.v. 

3,5 mcg/kg/jam sampai perdarahan berhenti 

selama 48 jam.

13. Cetrorelix: Cetrotide

Senyawa ini seperti juga ganirelix terma-

suk GnRH antagonis, yang dipakai  pada 

pembuahan artifisial (teknik IVF). Secara 

kompetitif mengikat diri pada reseptor 

GnRH di hipofisis, sehingga pelepasan LH 

maupun FSH diblokir dan ovulasi tertunda. 

Efek injeksi dari 0,25 mg berlangsung selama 

24 jam. 

Efek samping sering kali eritema, gatal dan 

bengkak pada tempat injeksi. yang hanya 

berlangsung singkat. Juga sakit kepala, mual 

dan alergi.

Dosis: s.k. 1 dd 0,25 mg di bagian bawah 

perut. 

14. Ganirelix: Orgalutran

Antagonis gonadorelin (GnRH) ini memi-

liki khasiat dan pemakaian  yang sama 

dengan cetrorelix dan juga lebih murah. 

Ekskresi melalui feses ±75% sebagai meta-

bolit dan 22% via urin dalam keadaan utuh. 

T1/2 ±13 jam. 

Efek samping hampir serupa dengan cetro-

relix.

Dosis: s.k. 1 dd 0,25 mg di bagian paha. 

15. Histreline: Vantasse

Pada penanganan paliatif dari kanker 

prostat lanjut, pilihannya yaitu  pemakaian  

agonis GnRH seperti leuprorelin, goserelin, 

buserelin dan triptorelin. Histrelin sebagai 

agonis GnRH dan antagonis GnRH degarelix 

juga dapat menurunkan kadar testosteron. 

Dimetabolisasi melalui hidrolisis dan deal-

kilasi. T1/2 ±4 jam. 

Efek samping sering kali depresi, insomnia, 

pusing, sakit kepala dan obstipasi.

Dosis: sebagai implantasi s.k. di bagian 

lengan atas; tiap hari dilepaskan 50 mcg 

histrelin asetat.

16. Nafareline: Synarel

yaitu  agonis gonadorelin (GnRH) dan 

merupakan analogon sintetik dari gonado-

relin (LH-RH). dipakai  untuk penangan-

an endometriosis.

Ekskresi terutama sebagai metabolit via 

urin (35%) dan melalui feses (50%).

T1/2 2-4 jam.

Efek samping sakit kepala, mual dan gejala 

klimakterium,

Dosis: sebagai semprotan hidung 2 dd 200 

mcg (=1 semprotan). 

17. Octreotide: Sandostatin

Merupakan oktapeptida sintetik dan ana-

logon dari somatostatin alamiah, dengan 

daya kerja lebih kuat dan tahan lebih lama. 

Menghambat sekresi hormon pertumbuhan 

dan IGF-1, juga dari peptida sistem endokrin 

saluran lambung-usus dan pankreas.T1/2 100 

menit (s.k.) dan 90 menit (i.v.) 

dipakai  terhadap akromegali dan untuk 

meringankan gejala tumor endokrin dari 

saluran cerna dan pankreas. Sama dengan 

somatostatin senyawa ini juga dipakai  

terhadap perdarahan lambung/usus, berda-

sarkan antara lain penghambatan sekresi 

pepsin dan asam lambung.

Efek samping sering kali sakit kepala, diare, 

sakit perut, mual, obstipasi dan hiperglikemia.

Dosis: permulaan s.k. 0,05-0,1 mg tiap 8-12 

jam

18. Triptoreline: Decapeptyl, Pamorelin, Sal-

vacyl

yaitu  juga agonis gonadorelin (GnRH) 

dan merupakan analogon sintetik dari gona-

dorelin (LH-RH) dengan daya kerja kuat. 

Metabolisasi terutama di hati dan ginjal 

menjadi peptida lebih kecil dan asam amino. 

Ekskresi via urin ±5% utuh. T1/2 s.k. 3-5 jam.

dipakai  untuk kanker prostat yang 

sudah bermetastasis dan peka terhadap tes-

tosteron. Juga terhadap miom pra-bedah. 

Efek samping sebagai akibat dari penurunan 

kadar testostron atau estrogen, sering kali 

gangguan mental dan penurunan libido. Juga 

depresi, iritasi, mual, gangguan tidur dan 

alergi. 

Dosis: untuk kanker prostat permulaan 

s.k. 500 mcg sehari, selanjutnya s.k. 100 mcg 

sehari.

C. HORMON KELENJAR EPIFISIS

19. Melatonin

Sintesis dan pelepasan melatonin terjadi 

khusus pada waktu malam hari dan dihambat 

oleh cahaya. Pada musim dingin negara-

negara belahan bumi Utara mengalami ke-

kurangan cahaya matahari. Oleh sebab  itu 

sebagian penduduknya menderita depresi 

musim dingin, yang bertalian dengan keba-

nyakan produksi melatonin, lihat Bab 30, 

Antidepre siva. Melatonin diperoleh dari ke-

lenjar epifisis anak sapi atau melalui sintesis 

kimiawi.

Fungsi faal. Melatonin berkhasiat mere-

gulasi bioritme tubuh, yaitu lonceng biologik 

yang dimiliki oleh setiap mahluk hidup dan 

yang mengatur berbagai fungsi tubuh. Pada 

manusia ada  banyak bentuk bioritme, 

misalnya sekresi hor mon endokrin, denyut 

jantung (lamanya kira-kira 1 detik), siklus 

haid (±28 hari), proses regenerasi jaringan 

(1 minggu) dan ritme siang-malam (circa-

dian rhythm) yang lamanya 25 jam (Lat circa 

= kurang lebih, diem = hari). sebab  satu hari 

(= ritme bola dunia) terdiri dari 24 jam, maka 

lonceng intern selalu terlambat sedikit dan 

perlu dicocok kan terus menerus. Sinkronisasi 

ini berlang sung melalui saraf mata. Di sam-

ping itu melatonin dapat dianggap sebagai 

obat tidur alami ah. Pada manula lonceng 

circadian umumnya bekerja kurang baik 

dengan akibat terganggunya ritme siang-

malam, menurunnya kadar melato nin dan 

kualitas tidur.

pemakaian . Melatonin (Circadin, tablet 

slow-release 2 mg) dipakai  sebagai mono-

terapi bagi pasien di atas usia 55 tahun untuk 

gangguan insomnia primer akibat kualitas 

tidur yang buruk. Sifat-sifat insomnia pri-

mer yaitu  masalah sulitnya tidur dan ke-

langsungan tidur. 

Di dalam tubuh melatonin diproduksi oleh 

kelenjar pinealis dan mengatur siklus tidur-

sadar sebagai agonis dari reseptor melatonin. 

Sekresinya meningkat sesudah  magrib dengan 

puncak antara pukul 2 dan 4 subuh dan 

kemudian menurun.

Meningkatnya kadar melatonin dalam da- 

rah memicu  rasa mengantuk dan pe-

nurunan suhu tubuh, Lansia memproduksi 

lebih sedikit melatonin.

Khasiat lainnya. Melatonin memiliki banyak 

khasiat lain dan yang terpenting di antaranya 

yaitu :

– khasiat anti ovulasi berdasar  peng-

hambatan sekresi FSH. Atas dasar sifat 

ini pernah diselidiki pemakaian nya 

sebagai pil antihamil kombinasi, lihat Bab 

45, Antikonseptiva.

– efek antioksi dan intrasel. Melatonin 

bersifat hidrofil dan lipofil, mudah me-

lintasi sawar darah-otak dan mampu 

men capai setiap sel dalam tubuh. Zat 

ini mengikatkan dirinya pada inti sel 

dan melindungi DNA- nya terhadap ra-

dikal bebas oksida tif, terutama dengan 

“menangkap” radikal hidroksil (OH) ber-

bahaya. Juga menstimulasi anti-oksidan 

alamiah glutation-peroksidase

– stimulasi pertumbuhan timus dan se-

kresi hormon timosin, yaitu polipeptida 

yang memegang peranan penting pada 

perkem bangan dan pemasakan T-limfosit 

(Thymus-dependent lymphocyte). Bila pada 

hewan percobaan kelenjar epifisisnya 

dikeluarkan, timus akan mengerut. Li-

hat juga Bab 48, Hormon-hormon tiroid, 

timus. 

– stimulasi sistem imun berkat stimulasi 

fagositosis dan pertum buhan natural kil-

ler cells (NKc), juga mempercepat pertum-

buhan sel-sel sumsum tulang. Ternyata 

T-helper cells juga memiliki reseptor me-

latonin.

– antikan ker. Pada hewan percobaan, me-

lato nin mengham bat dengan kuat per-

tumbuhan kanker mamma dan prostat, 

yang mungkin berdasar  efek me- 

lindunginya bagi inti sel dan stimulasi 

T-limfosit (NKc).

pemakaian nya terutama sebagai obat mem-

percepat tidur bagi orang-orang yang 

lonceng biologik dan ritme circadiannya 

terganggu, misalnya manula dan karyawan 

yang bekerja pada malam hari. Juga sebagai 

obat pencegah jet-lag bagi wisatawan uda-

ra yang dalam waktu singkat melinta si 

beberapa zona waktu. Jet-lag terutama terjadi 

bila terbang dari Barat ke arah Timur. 

Berdasar kan khasiat antioksidannya ter-

dapat petunjuk bahwa melatonin dapat 

memperlambat proses menua. berdasar  

khasiat melindungi membran sel dan inti 

sel, melatonin pada tahun-tahun terakhir 

dianjurkan oleh dokter alterna tif pada kanker 

dan untuk ‘life-extensi on’. Terutama di AS 

terda pat aliran yang yakin bahwa kehidupan 

dapat diperpanjang dengan memakai  

setiap hari 3 hormon, yakni melatonin, so-

matropin dan DHEA (dehidroepiandrosteron), 

suatu precursor dari testos te ron, lihat Bab 43, 

Zat-zat androgen.

Resorpsi dari usus tidak konstan dengan 

FPE besar, BA bervariasi antara 3 dan 76%, PP 

±60%, plasma-t½ singkat 30-45 menit. Dalam 

hati zat ini hampir seluruhnya dirombak 

menjadi derivat-6-hidroksi dan N-asetilseroto-

nin, yang diekskresi lewat urin sebagai 

konyugatnya.

Efek samping dapat berupa perdarahan 

tak teratur, gangguan haid dan nyeri buah 

dada. Umumnya efek ini hanya selama 5 

bulan pertama, kemudian hilang dengan 

sendirinya. Juga gangguan lambung-usus, 

nyeri ulu hati (heartburn), rasa lapar dan 

pusing. Penggun aannya tidak dianjurkan se-

lama kehamilan dan laktasi.

Dosis: pada gangguan ritme siang-malam 

sebagai obat menidur kan 1 dd 3-5 mg malam 

hari, prevensi jet-lag dimulai satu hari sebelum 

Sintesa Serotonin

Gambar 42-3: Skema pembentukan melatonin

berangkat. 

20. Serotonin:5-hidroksitriptamin, 5HT

Neurohormon ini antara lain juga dise-

kresi oleh kelenjar epifisis dan dapat pula 

terbentuk dari melatonin. Produksinya ti-

dak begitu tergantung dari cahaya, namun  

dari insulin dan kadar glukosa darah. Ber-

khasiat meng hambat nafsu makan dan 

meningkatkan rasa kantuk. sesudah  makan 

banyak karbohidrat atau makanan manis 

(gula), produksi insulin naik berikut sekresi 

serotonin, sehingga hasrat makan menurun 

dan timbul rasa kantuk. Bila kadar 5HT di 

otak rendah, nafsu makan bertambah dan 

kebutuhan gula naik.

* Antagonis serotonin: siproheptadin (Pe-

riactin, Ennamax) dan pizotifen (Litec, Sando-

mi gran) meningkatkan nafsu makan berda-

sarkan pengaruhnya terhadap pusat-pusat 

tertentu di hipotalamus.


HORMON-HORMON  

PRIA

Testosteron yaitu  zat androgen utama yang 

disintesis dalam testis, ovarium dan anak-

ginjal. Hormon ini pertama kali diisolasi 

oleh ahli fisiologi Belanda Ernst Laqueur dari 

testikel kerbau, 1935).

Sel-sel Leydig (sel intersti tium) dari testes 

distimulasi oleh LH untuk menghasilkan 

testos teron sebanyak 2,5-11 mg sehari, se-

dangkan ovaria dan anak-ginjal membentuk 

hanya 0,5-2 mg sehari. Sintesis testoste ron 

diregulasi oleh FSH dan LH dari hipofisis, 

yang juga mensti mulasi pertumbuhan testes 

dan pemben tukan sel-sel mani (spermatoge-

nesis). 

LH yang dahulu juga disebut ICSH (In-

terstitial Cell Stimulating Hormone) bereaksi 

dengan sel-sel Leydig dengan efek pening-

katan produksi c-AMP (cyclic Adenosine-

Mono-Phospha te). Hasilnya ialah dimulainya 

reaksi enzimatis: asetat ––> kolesterol ––> 

testosteron. Dalam ovaria dan folikel reaksi 

yang sama berlangsung di bawah pengaruh 

FSH. Pada pria FSH mengaktifkan sel-sel 

Sertoli dalam dinding saluran mani untuk 

memproduksi sel-sel sperma. Selain itu juga 

dapat menstimulasi sintesis testosteron dan 

mem perkuat aktivitas LH. Kadar testosteron 

darah yang meningkat memicu  feed-

back negatif terhadap GnRH dan gonadot-

ropin.

Produksi testosteron mencapai puncaknya 

sekitar usia 25 ta hun, lalu menurun drastis 

sampai ±60% pada usia 40 tahun dan 

selanjut nya menyusut terus sampai kira-kira 

50%, 37% dan 33% pada masing-masing usia 

50, 70 dan 80 tahun.

* Dihidrotestosteron (DHT) yaitu  metabolit 

aktif yang terben tuk dengan bantuan enzim 

5-alfa-reduktase dalam darah dan di keba-

nyakan jaringan-tujuan dari testosteron. DHT 

berperan atas sebagian besar aktivitas andro-

gen dan hipertrofi prostat, sedang  rontok 

rambut dihubungkan dengan produksi DHT 

berlebihan. DHT dimetaboli sasi selanjutnya 

menjadi androste ron. Testosteron atau 

metabolit-metabolit lainnya melaksanakan 

daya kerjanya hanya dalam otot kerangka 

dan sumsum tulang.

* Androgen (Yun. andros = pria) juga dapat 

disintesis oleh ovaria dan anak-ginjal; organ 

terakhir ini juga dapat membentuk 2 precursor 

dari testosteron dan estradiol, yakni dehid ro-

epi-and rosteron (DHEA) dan androstendion. 

Pada wanita testosteron diproduksi sekitar 

0,25 mg sehari, separuhnya berasal dari pe-

ngubahan androstendi on di jaringan. Pro-

duksi berlebihan dapat memicu  efek 

virili sasi (sifat kejantanan).

* Estradiol, suatu estrogen, yaitu  juga meta-

bolit testosteron yang dibentuk di jaringan 

perifer dan berkha siat memper kuat atau 

memperlemah bebera pa efek androgen. Seti-

ap hari dibentuk rata-rata 2-25 mcg, produksi 

yang berlebi han dapat mengaki batkan femini-

sasi pada pria. 

Gambar 43-1 :Jalur biosintesis dari 

hormon-hormon pria

Kerja fisiologi

Testosteron memiliki sejumlah khasiat fisio-

logi dan farmakologi penting sebagai berikut:

a. efek virilisasi (Lat. virile = jantan). Testos-

teron bertang gungjawab atas ciri-ciri ke-

lamin primer dan sekunder serta meme-

gang peranan penting pada sperma-

togenesis. Mungkin sekali hormon ini 

memengaruhi hasrat seks (libido) dan da-

ya ereksi (potensi).

b.  efek anabol, yaitu daya retensi protein atau 

menghambat perombakannya, khusus 

dalam jaringan otot, juga meningkatkan 

pembentu kan protein dan pertumbuhan sel-

sel otot.

c. efek tulang. Androgen mempercepat 

pertumbuhan tulang pipa dan epifisisnya, 

yaitu tulang rawan di kedua ujungnya. 

Pada anak lelaki selama pubertas pro-

duksi testos teron meningkat dengan kuat, 

yang memicu  mereka tumbuh 

lebih panjang untuk bebera pa waktu. 

Pertumbu han ini kemudian berhenti, 

sebab  epifisis menutup ujung tulang 

seluruhnya. Dalam hal ini, somatropin 

(GH) juga memegang peranan penting.

d. efek anti-gonadotrop, artinya meng-

hambat sekresi FSH dan LH bila kadar 

testosteron dalam darah melebihi nilai 

tertentu. Sebaliknya kadar hormon ren- 

dah merupakan isyarat bagi hipofisis 

untuk meningkatkan sekresi gonadotro-

pin, yang menstimulasi testes untuk me-

mperbanyak produksi testoste ron. De-

ngan demi kian ada  keseimbangan 

antara andro gen dan gonadot ropin. Me-

kanisme feedback ini juga berlaku ba-

gi hormon-hormon lainnya. Pemberian 

androgen dari luar dapat menghambat 

sekresi testosteron melalui feedback nega-

tif ini.

e. efek anti-estrogen. Testosteron dapat me-

lawan sejumlah efek estrogen, misalnya 

pertumbuhan endometrium rahim dan 

pertandukan epitel mukosa vagina.

f.  efek atas sebum. Kelenjar sebum diper-

besar dan sekresi urapnya (lemak kulit, 

‘talg’) ditingkatkan, sehingga selama pu-

ber tas dapat mengakibat kan acne, juga 

pada anak perempuan. Pemberian estro-

gen memperbaiki gejala acne melalui 

penekanan sekresi gonadot ropin dan 

andro gen.

g.  efek kolesterol. Testosteron menurunkan 

kadar HDL-koleste rol dan menaikkan 

sedikit LDL. Sifat ini dianggap sebagai 

faktor risiko bagi terjadinya penyakit 

jantung dan pembuluh, lihat Bab 37, Obat 

jantung.

h. retensi garam dan air dengan efek berat 

badan mening kat. Sifat ini dimiliki oleh 

semua hormon steroi da.

Kinetik

Secara oral testosteron untuk sebagian besar 

diuraikan oleh mukosa usus selama absorpsi 

dan kemudian oleh FPE. Lagi pu la dari jum-

lah ini sebagian besar terikat pada SHBG (Sex 

Hormone Binding Globuline), sehingga sedikit 

sekali ada  dalam bentuk bebas aktif 

dalam darah. Injeksi dari larutan minyak, 

dengan cepat diinaktifkan oleh FPE.

Ester testosteron, yaitu testosteron.-propio-

nat, -enantat dan -undeka noat sebagai injeksi 

diabsorpsi lebih lambat dan ternyata efektif 

meng ha silkan kadar darah yang lebih tinggi. 

Dalam hati ester dimetabolisasi melalui ok-

sidasi dari gugusan-17OH menjadi andros-

tendion, reduksi dari gugusan-3-keto meng-

ha silkan androsteron. DHT dirombak pula 

menjadi androste ron, androstan diol dan 

androstandion. Ekskresi berlangsung melalui 

urin untuk ±90% sebagai androsteron, hanya 

±6% lewat feses.

Derivat 17-alkil (metiltestosteron dan fluok-

simesteron) lebih lambat metabolisme nya da-

lam hati, oleh sebab  itu dapat dipakai  

secara oral. namun  risiko hepatotoksisitasnya 

lebih besar.

pemakaian 

Androgen dipakai  sebagai terapi suplesi 

pada insufisiensi fungsi hipofisis atau testes 

(hipogonadisme), seperti sesudah  kastrasi dan 

pada klimakterium pria di atas usia ±50 tahun, 

yang istilahnya kadangka la diplesetkan men-

jadi «peno pause». Akibat menurunnya kadar 

testosteron dalam darah, maka dapat timbul 

beberapa keluhan, seperti berkurangnya 

libido dan potensi seksual. Jika tidak ter-

dapat sebab-sebab psikis, androgen dapat 

memberikan efek baik. Pada pria dengan 

kadar androgen darah normal pemberian 

testos teron tidak memicu  rangsangan 

sek sual, bahkan tidak pada dosis tinggi. Oleh 

sebab  itu tidak berguna sebagai afrodi siakum !

Pada pubertas terlambat, bagi anak laki-

laki di atas usia 16 tahun yang terlambat 

pertumbuhannya (kerdil) akibat hipofungsi 

hipofisis. Pengobatan dibatasi sampai mak-

simal 6 bulan berhubung risiko penutupan 

epifisis sebelum waktunya dan virilisasi. 

Indikasi lainnya seperti pada kanker buah dada 

dan osteoporo sis, dewasa ini jarang dipakai  

lagi berhubung tersedianya obat-obat baru 

yang lebih efektif. Misalnya untuk kanker 

mammae biasanya  kini diberikan 

suatu anti-estrogen.

Efek samping

Pada pemakaian  oral selainnya efek sam-

ping ringan seperti mual, androgen juga da-

pat memicu  efek-efek yang lebih serius, 

yaitu:

– efek virilisasi pada wanita dengan geja-

la acne, tumbuhnya rambut di muka, 

suara menjadi rendah (umumnya tidak 

reversibel) dan gangguan haid. Anak-

anak di bawah usia 16 tahun dapat ter-

hambat pertumbuhannya akibat penu-

tupan epifisis. Pada pria dapat terjadi 

peningkatan libido, priapisme dan hiper-

trofi prostat. Anabolika pada dosis tinggi 

juga bisa memicu  efek ini.

– menekan spermatogenesis dan degene-

rasi tubuli mani. Bila dipakai  untuk 

jangka waktu lama, androgen dapat me-

nyebabkan azoospermia akibat ham-

batan sekresi FSH/LH serta perombakan 

testosteron menjadi estradiol. Supresi ini 

sudah nampak sesudah  pemberian testos-

teronpropionat 25 mg i.m. selama 6 minggu. 

sesudah  penghentian terapi dapat timbul 

impotensi pada pria, sedang  pada 

wanita kemandulan yang tidak jarang 

bersifat irreversi bel. Efek samping ini 

berlaku juga bagi anabolika.

– efek feminisasi, terutama gynecomastia 

(buah dada laki-laki membe sar), terutama 

pada anak-anak. pemicu nya belum je-

las, hanya diketahui bahwa ester testos-

teron menyebab kan kadar estrogen plas-

ma meningkat.

– udema dan naiknya berat badan akibat 

retensi garam dan air, khususnya pada 

dosis tinggi. Sering kali disebabkan pula 

oleh bertambahnya nafsu makan. Pada 

pasien jantung dan pada manula, ude-

ma memperbesar risiko gagal jantung 

(dekompensa si).

– penyakit kuning (hepatitis cholestatic) 

dapat terjadi akibat tersumbatnya kapiler 

empedu, khusus sebab  derivat 17-alkil 

yang aktif secara oral

– tumor hati dilaporkan pada pemakaian  

lama dengan dosis tinggi

Banyak efek samping ini dapat dihinda-

ri bila androgen diguna kan untuk kur 

singkat dari maksimal 3-4 minggu. Kemu-

dian bila perlu kur dapat diulang sesudah  

istirahat empat minggu.

Anabolika

Steroida anabol yaitu  derivat testosteron 

(dan progesteron) sinte tik yang telah dikem-

bangkan untuk memperoleh daya kerja 

anabol besar dengan efek virilisasi seringan 

mungkin. Maksudnya ialah agar juga dapat 

dipakai  oleh khususnya wanita dan anak-

anak di bawah usia 16 tahun. namun  ternyata 

bahwa pemisahan kedua efek itu  hanya 

berhasil untuk sebagian saja; semua anabolika 

masih memiliki sifat-sifat androgen yang 

tidak diinginkan.

Anabolika yang banyak dipakai  yaitu :

– derivat testosteron: metandrostenolon, 

metenolon (Primobo lan), oksimetolon (Ze-

nalosyn) dan stanozol (Stromba)

– derivat nandrolon: nandrolon dan etil-

estrenol 

pemakaian . Obat-obat ini terutama digu-

nakan untuk penanganan simtomatik pada 

anemia aplastis, osteoporosis parah yang re-

sis ten terhadap obat-obat lain dan kanker 

mammae yang sudah menyebar pada wanita 

postmenopausal. Di sam ping itu juga banyak 

disalahgunakan sebagai doping di dunia 

olahraga. 

Disfungsi ereksi dan sildenafil.

Banyak pria di atas usia 50-60 tahun menderita gangguan potensi berupa disfungsi (kegagalan) 

ereksi dari alat kelaminnya (dahulu disebut impotensi) yang sangat memperburuk kehidupan 

seksual dan kesehatannya. 

Ereksi terjadi sebab  pada eksitasi seksual saraf-saraf otak membe rikan isyarat ke penis yang 

mencetuskan pelepasan sejumlah neurotransmittter oleh semua sel dinding pembuluh di badan 

pengembangnya, a.l. nitrogenoksida (NO). Gas neurotransmitter ini berperan penting pada daya 

tahan tubuh serta imunomodulasi dan dengan demikian terlibat pada banyak masalah peradangan, 

lihat selanjutnya Bab 40, Obat Asma, boks Radikal bebas. Antara lain NO mengaktifkan enzim 

guanylatcyclase yang menstimulasi pengubahan GTP (guanyltriphosphate) menjadi cGMP(cyclic guanyl-

monop hosphate). Zat ini juga disebut “second messenger”dan memegang peranan di banyak proses 

hayati. Misalnya cGMP menurunkan kadar kalsium dalam sel, sehingga terjadi relaksasi sel-sel otot 

dindingnya dan kemudian vasodilatasi lokal. Badan pengem bang (corpora cavernosa) dari penis terisi 

darah dan terjadilah ereksi. Bandingkan dengan kerja trinitrogliserin di Bab 37B, Obat-obat Angina 

Pectoris.

Secara biokimiawi ereksi bercirikan adanya keseimbangan antara cGMP dan enzim PDE-5

(phosphodiëstera se tipe-5) yang mengurai kan cGMP menjadi 5-GMP, lihat Gambar di Bab 40, Obat asma 

dan Bab 37, Obat-obat Jantung, sub A3. Penghambat fosfodiësterase. Pada keadaan normal keseim-

ban gan ini baik, yaitu darah dapat mengalir ke dalam penis namun  tidak bisa keluar lagi. Baru seusai 

orgasme, PDE