Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 37

 





kok. Suatu studi be-

sar-besaran (BRONCUS-studi) telah mene-

mukan a.l. bahwa NAC (600 mg sehari) 

memberikan efek baik pada penderita COPD 

parah dengan serangan frekuen dibanding 

yang tidak memakai  ICS.37,38

OBAT ASMA DAN COPD

berdasar  mekanisme kerjanya, obat asma 

dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu 

zat-zat yang menghindari degranulasi mastcells 

(anti-alergika) dan zat-zat yang meniadakan efek 

mediator (bronchodilator, antihistaminika dan 

kortikosteroida). Penggolongan lengkapnya 

yaitu  sebagai berikut:

1. Anti-alergika yaitu  zat-zat yang ber-

khasiat menstabilisasi mastcells, sehingga ti-

dak pecah dan memicu  terlepasnya 

histamin dan mediator peradang lainnya. 

Yang terkenal yaitu  kromoglikat dan nedo-

cromil, namun  juga antihistaminika (ketotifen, 

oksatomida) dan β2-adrenergika (lemah) memi-

liki khasiat ini. Obat ini sangat berguna untuk 

prevensi serangan asma dan rhinitis alergik 

(hay fever).

2. Bronchodilator

Obat-obat ini mengatasi penyempitan 

bronchi dan dengan demikian juga berfungsi 

melindungi bronchi.

Pelepasan kejang dan bronchodilatasi da- 

pat dicapai dengan 3 cara, yakni merang-

sang sistem adrenergik dengan adrenergika 

(simpatikomimetika) atau melalui pengham-

batan sistem kolinergik dengan antikolinergika 

(antagonis reseptor muskarin), juga dengan 

teofilin.

2a. Agonis-β2-adrenergik (β-mimetika): sal-

butamol, terbutalin, fenoterol, prokaterol, klenbu-

terol(Spiropent) dan indakaterol (Onbrez Bree-

zhaler). Juga salmeterol dan formoterol (long-

acting).19

Obat-obat ini bekerja selektif terhadap re-

septor-β2 adrenergik (bronchospasmolysis) dan 

praktis tidak terhadap reseptor-β1 (stimulasi 

jantung). Obat dengan efek terhadap kedua 

reseptor sebaiknya jangan dipakai  lagi 

berhubung efeknya terhadap jantung, se-

perti efedrin, isoprenalin dan orsiprenalin. Pe-

ngecualian yaitu  adrenalin (reseptor -α dan 

-β) yang sangat efektif pada keadaan kemelut.

Mekanisme kerjanya yaitu  melalui stimu-

lasi reseptor β2 yang banyak ada  di 

trachea (batang tenggorok) dan bronchi, 

yang memicu  aktivasi dari adenilsiklase. 

Enzim ini memperkuat pengubahan ade-

nosintrifosfat (ATP) yang kaya enersi menjadi 

cyclic-adenosine-monophosphat (cAMP) dengan 

pembebasan enersi yang dipakai  untuk 

proses-proses dalam sel. Meningkatnya ka- 

dar cAMP di dalam sel menghasilkan bebe-

rapa efek melalui enzim fosfokinase, a.l. 

bronchodilatasi dan penghambatan pele-

pasan mediator oleh mastcells. Lihat Gambar 

40-1: Sistem cAMP.

 pemakaian nya semula sebagai monoterapi 

kontinu, yang ternyata secara berangsur 

meningkatkan HRB dan akhirnya memperburuk 

fungsi paru, sebab  tidak menanggulangi 

peradangan dan peningkatan kepekaan bagi 

alergen pada pasien alergis. Oleh sebab  

itu sejak beberapa tahun hanya dipakai  

terhadap serangan dan sebagai obat peme-

liharaan dalam kombinasi dengan zat anti-

radang, yaitu kortikosteroida inhalasi. Kom-

binasi dengan kortikosteroid yaitu  juga 

untuk menghindari timbulnya toleransi (de-

sensitasi) pada pemakaian  kontinu.

Efek samping dari β2-agonis yaitu  antara 

lain tremor otot, tachycardia, hipokalemia 

dan kegelisahan.

Kehamilan dan laktasi. Salbutamol dan ter-

butalin dapat dipakai  oleh wanita hamil, 

begitu pula fenoterol dan heksoprenalin 

sesudah  minggu ke-16. Salbutamol, terbutalin 

dan salmeterol mencapai air susu ibu. Dari 

obat lainnya belum ada  cukup data 

untuk menilai keamanannya pada binatang 

percobaan; salmeterol ternyata merugikan 

janin.

2b. Antikolinergika: ipratropium (Atrovent), 

tiotropium (Spiriva) dan deptropin. Di dalam sel-

sel otot polos ada  keseimbangan antara 

sistem adrenergik dan sistem kolinergik. 

Bila sebab  sesuatu sebab reseptor β2 dari 

sistem adrenergik terhambat, maka sistem 

kolinergik akan berkuasa dengan akibat 

bronchokonstriksi. Antikolinergika memblok 

reseptor muskarin dari saraf-saraf kolinergik 

di otot polos bronchi, hingga aktivitas saraf 

adrenergik menjadi dominan dengan efek 

bronchodilatasi. 

 pemakaian nya terutama untuk terapi 

pemeliharaan HRB, namun  juga berguna untuk 

meniadakan serangan asma akut (melalui 

inhalasi dengan efek pesat). Ipratropium dan 

tiotropium khusus dipakai  sebagai inhalasi, 

kerjanya lebih panjang daripada salbutamol. 

Kedua obat ini terutama dipakai  ter-

hadap COPD, namun  bagi kebanyakan pende-

rita asma obat-obat ini kurang efektif.

Kombinasinya dengan β2-mimetika sering 

kali dipakai  sebab  menghasilkan efek 

aditif. Deptropin(Brontin) berkhasiat mengu-

rangi HRB namun  kerja spasmolitiknya ringan, 

sehingga diperlukan dosis tinggi dengan 

risiko efek samping yang lebih tinggi pula. 

Adakalanya senyawa ini masih dipakai  

untuk anak-anak kecil dengan hipersekresi 

dahak, yang belum dapat diberikan terapi 

melalui inhalasi.

Efek samping yang tidak dikehendaki yaitu  

sifatnya yang mengentalkan dahak dan ta-

chycardia, yang tidak jarang mengganggu 

terapi. Begitupula efek atropin lainnya seperti 

mulut kering, obstipasi, sukar berkemih dan 

penglihatan kabur akibat gangguan akomo-

dasi. pemakaian nya sebagai inhalasi meri-

ngankan efek samping ini.

Sejak beberapa dekade antikolinergika 

dianggap sebagai bronchodilator of choice 

untuk pengobatan COPD, namun  kurang di-

minati oleh pasien asma disebabkan mulai 

kerjanya lambat dan efeknya yang kurang baik 

bagi fungsi paru bila dibandingkan dengan 

beta-agonis (dihisap). Oleh sebab  itu beta-

agonis long-acting yang dikombinasi dengan 

glukokortikoid menjadi pengobatan standar 

bagi pasien asma yang kurang memberikan 

respons terhadap glukokortikoid saja. 

Disamping tiotropium yang bekerja pan-

jang, sejak tahun 2013 telah dipasarkan 

obat inhalasi yang mengandung parasim-

patikolitikum glikopironium (Seebri) dan 

aklidinium (Eklira Genuair). Kedua-duanya 

dipakai  sebagai obat pemeliharaan terha-

dap COPD.

Untuk indikasi yang sama juga tersedia 

senyawa beta-2-simpatikomimetikum kerja 

panjang olodaterol (Striverdi Respimat) yang 

dipakai  melalui inhalator dengan dosis 5 

mcg sehari. 

2c. Derivat ksantin:teofilin, aminofilin

Khasiat bronchorelaksasinya diperkirakan 

berdasar  blokade reseptor adenosin. Se-

lain itu, teofilin –seperti juga kromoglikat– 

mencegah meningkatnya hiperreaktivitas 

dan berdasar  ini bekerja profilaktik. 

Resorpsi dari turunan teofilin sangat ber-

variasi; yang terbaik yaitu  teofilin microfine 

(particle size: 1-5 micron) dan garam-garamnya 

aminofilin dan kolinteofilinat. 

pemakaian nya secara terus-menerus pada 

terapi pemeliharaan ternyata efektif mengu-

rangi frekuensi serta hebatnya serangan. 

Pada keadaan akut (injeksi aminofilin) dapat 

dikombinasi dengan obat asma lainnya, namun  

kombinasi dengan β2-mimetika hendaknya 

dipakai  dengan hati-hati berhubung ke- 

dua jenis obat saling memperkuat efek ter- 

hadap jantung. Kombinasinya dengan efe-

drin (Asmadex, Asmasolon) praktis tidak me-

ningkatkan efek bronchodilatasi, sedang  

efeknya terhadap jantung dan efek sentralnya 

sangat diperkuat. Oleh sebab  itu, sediaan 

kombinasi demikian tidak dianjurkan, teru-

tama bagi para manula.

Tablet sustained release (Euphyllin retard 125-

250 mg) yaitu  efektif untuk memperoleh 

kadar darah yang konstan, khususnya pada 

waktu tidur dan dengan demikian mencegah 

serangan tengah malam dan ‘morning dip’. 

 Kehamilan dan laktasi. Teofilin aman bagi 

wanita hamil. sebab  dapat mencapai air 

susu ibu, sebaiknya ibu menyusui bayinya 

sebelum minum obat ini. 

3. Kortikosteroid: hidrokortison, prednison, 

deksametason

Kortikosteroid berkhasiat meniadakan efek 

mediator, seperti peradangan dan gatal-gatal. 

Khasiat antiradang ini berdasar  blokade 

enzim fosfolipase-A2, sehingga pembentukan 

mediator peradangan prostaglandin dan 

leukotriën dari asam arachidonat tidak terjadi 

(Lihat Bab 21, Analgetika antiradang/rema). 

Lagipula pelepasan asam ini oleh mastcells 

juga dihalangi. Singkatnya kortikosteroid 

menghambat mekanisme kegiatan alergen 

yang melalui IgE dapat memicu  de-

granulasi mastcells, juga meningkatkan kepe-

kaan reseptor-β2 hingga efek β-mimetika di-

perkuat.

pemakaian nya terutama bermanfaat pada 

serangan asma akibat infeksi virus, sela-

in itu juga pada infeksi bakteri terhadap 

reaksi peradangan. Pada reaksi alergi lambat 

(type IV) juga efektif. Untuk mengurangi 

hiperreaktivitas bronchi, zat-zat ini dapat 

diberikan per inhalasi atau peroral. Dalam 

kasus gawat dan status asthmaticus (kejang 

bronchi), obat ini diberikan secara i.v. (per 

infus), kemudian disusul dengan pemberian 

oral. 

pemakaian  oral untuk jangka waktu lama 

hendaknya dihindari, sebab  menekan fung-

si anak ginjal dan dapat memicu  

osteoporosis, maka hanya diberikan untuk 

satu kur singkat. Pada serangan hebat dan 

status asthmaticus, obat ini tidak dapat digu-

nakan. Lazimnya pengobatan dimulai dengan 

dosis tinggi, yang dalam waktu 2 minggu 

dikurangi sampai nihil. Bila perlu kur singkat 

demikian dapat diulang lagi. Lihat selanjut-

nya Bab 46, ACTH dan Kortikosteroida.

Efek samping kortikosteroid pada peng-

gunaan jangka waktu lama terdiri dari os-

teoporosis (itu  di atas), retensi cairan, 

meningkatkan nafsu makan dan berat badan, 

borok lambung, hipertensi, katarak, diabetes 

dan gangguan psikis. Frekuensi dari efek 

samping ini meningkat dengan usia.

Usaha dilakukan untuk mengembangkan 

senyawa kortikoid dengan efek samping 

lebih sedikit, misalya yang dimetabolisasi 

cepat di saluran pernapasan („soft steroids“).

Hambatan utama dari terapi penderita 

asma parah dan COPD yaitu  resistensi kor-

tikosteroid (Barnes and Adcock, 2009)45. Asma 

yang „steroid resistance“ ini disebabkan oleh 

menurunnya khasiat anti-peradangan dari 

kortikosteroid.

*Kortikosteroid inhalasi: beklometason 

(Qvar), triamsinolon, flunisolida (Aerobid) dan 

budesonida (Pulmicort). flutikason (Aerospan, 

Flovent),mometason (Asmanex) dan siklesonida 

(Alvesco). 

Sejak beberapa tahun obat-obat ini telah 

mendesak β2-mimetika sebagai terapi utama, 

sebab  juga dapat mencegah peradangan 

lokal di bronchi. Keuntungannya diban-

dingkan kortikosteroid oral yaitu  efek lo-

kalnya yang langsung tanpa diserap ke dalam 

darah. Dengan demikian tidak memicu  

efek samping sistemik serius (osteoporosis, 

tukak dan perdarahan lambung, hipertensi, 

diabetes dan lain-lain) walaupun absorpsi 

dalam jumlah kecil di paru tidak dapat 

dihindari.

Efek samping dari kortikosteroid inhalasi 

terdiri dari efek lokal akibat deposit dari obat 

ini pada selaput mulut dan tenggorok (suara 

serak, kandidiasis mulut dan tenggorok, 

batuk) dan efek sistemik (a.l. penipisan ku-

lit dan fragilitas pembuluh kulit terutama 

pada lansia, katarak dan glaukoma (pada 

pemakaian  intra-okuler), pneumonia pada 

penderita COPD, gangguan metabolisme 

(glukosa, insulin, trigliserida) dan gangguan 

psikis (eufori dan depresi).

Daya kerja dari triamsinolon dan fluniso-

lida paling rendah, beklometason dan bu-

desonida hampir seimbang, sedang  flu-

tikason 2 kali lebih kuat dari beklometason.

4. Mukolitika dan ekspektoransia: asetil-/

karbosistein, mesna, bromheksin, guaifenesin, am-

broksol, kaliumiodida dan amoniumklorida. 

Semua obat ini mengurangi kekentalan 

dahak, mukolitika dengan merombak muko-

protein dan ekspektoransia dengan mengen-

cerkan dahak, sehingga pengeluarannya 

dipermudah. Obat ini dapat meringankan 

perasaan sesak napas dan terutama ber-

manfaat pada serangan asma hebat yang bisa 

fatal bila sumbatan lendir sedemikian kental 

tidak dapat dikeluarkan. Kaliumiodida se-

baiknya jangan dipakai  untuk jangka 

waktu lama berhubung efek sampingnya 

(udema, urticaria, acne). 

Penanganan simtomatik dengan menghi-

rup uap air panas dapat membantu pencairan 

dahak yang kental sehingga lebih mudah 

dikeluarkan. Penderita dianjurkan untuk ber-

batuk guna mengeluarkan dahak. Lihat juga 

Bab 41, Obat-obat Batuk.

5. Antihistaminika: ketotifen, oksatomida 

Obat-obat ini memblokir reseptor histamin 

(H1-receptor blockers) dan dengan demikian 

mencegah efek bronchokonstriksi. Anti-

histaminika sangat efektif terhadap sejumlah 

gejala rhinitis allergica (hay fever), urticaria, 

kepekaan terhadap obat-obat (rash), pruritus 

dan gigitan/sengatan serangga. namun  efek-

nya pada asma umumnya terbatas dan 

kurang memuaskan, sebab  antihistaminika 

tidak mencegah efek bronchokonstriksi dari 

mediator lain yang dilepaskan mastcells. 

Banyak antihistaminika juga memiliki efek 

antikolinergik dan sedatif, mungkin inilah 

sebabnya mengapa kini masih agak banyak 

dipakai  pada terapi pemeliharaan. Keto-

tifen dan oksatomida berkhasiat menstabili-

sasi mastcells, oksatomida bahkan beker- 

ja antiserotonin dan antileukotriën. Anti- 

histaminika lain (cetirizin, azelastin) pun me-

miliki khasiat antileukotriën. Lihat juga Bab 

51, Antihistaminika.

Antihistaminika generasi pertama (mis. 

klorfeniramin, prometazin) memiliki khasiat 

anti-muscarinic dan dapat menembus bar-

rier darah-otak, sehingga memicu  pu-

sing dan gangguan pergerakan (psikomotor 

impairment). Generasi ketiga dari senyawa-

senyawa ini (mis. loratadin, setirizin, fekso-

fenadin) tidak memiliki efek ini dan praktis 

tidak memicu  perasaan pusing sebab  

tidak menembus barrier darah-otak.

6. Zat-zat antileukotriën (LT)

Pada pasien asma leukotriën turut menim-

bulkan bronchokonstriksi dan sekresi mu-

cus. berdasar  fakta ini para sarjana telah 

mengembangkan obat-obat „baru“, yaitu an-

tagonis leukotriën yang bekerja spesifik dan 

efektif pada terapi pemeliharaan terhadap 

asma. 

Untuk penanganan rematik, para ahli ber-

upaya mensintesis obat-obat yang selain 

berdaya antiprostaglandin, juga bersifat anti-

leukotriën (lihat juga Bab 21). Daya kerja 

antileukotriën bisa berdasar  pengham- 

batan sintesis LT dengan jalan blokade enzim 

lipoksigenase atau berdasar  penempatan 

reseptor LT dengan LT C4/D4-blocker.

a. Lipoksigenase-blocker, misalnya antihi-

staminika generasi-2, yang disamping 

memblok reseptor-H2 juga menghambat 

pembentukan leukotriën dan mediator 

radang lainnya (prostaglandin, kinin). 

Beberapa contohnya yaitu  setirizin, lora-

tadin, azelastin (Astelin) dan ebastin. Lihat 

juga Bab 51, Antihistaminika.

b. LT-receptorblocker (leukotriënreceptoranta-

gonis LTRA) yang kini tersedia yaitu  

montelukast, zafirlukast (Accolate) dan pran-

lukast (Ultair). Obat-obat anti-asma dari 

golongan ini berkhasiat menempati re-

septor LTB4 dan/atau LT-cysteinyl (C4, 

D4 dan E4), lihat Bab 21. Obat2 rema. 

Antagonis leukotriën ini mengurangi 

efek konstriksi bronchi dan inflamasi dari 

LTD4.

Gambar 40-1: Sistem cAMP dan titik-titik kerja beberapa obat asma

Gambar 40-2: Ringkasan skematis dari berbagai sistem fisiologi yang dapat me-

mengaruhi otot-otot bronchi serta titik kerja obat-obat asma

MONOGRAFI

1. ANTI ALERGIKA

1a. Kromoglikat: cromolyn sodium, Intal, Lo-

mudal/Lomusol

Zat sintetik ini merupakan keturunan 

dari khellin, suatu zat dengan kerja broncho-

spasmolitis yang ada  dalam biji saga 

(Amni visaga). Kromoglikat berkhasiat men-

stabilisasi membran mastcell, sehingga 

menghalangi pelepasan mediator vasoaktif, 

seperti histamin, serotonin dan leukotriën, 

pada waktu terjadinya reaksi antigen-anti-

body. 

pemakaian . Kromoglikat sangat efektif 

sebagai obat pencegah serangan asma dan 

bronchitis yang bersifat alergis, conjuncti-

vitis/rhinitis allergica (hay fever) dan alergi 

akibat bahan makanan. Untuk profilaksis 

yang optimal, obat ini perlu diberikan 

minimal 4 kali sehari yang efeknya baru 

nyata sesudah 2-4 minggu. Sering kali dosis 

bronchodilator dan prednison dengan ini 

dapat dikurangi. pemakaian nya tidak bo- 

leh dihentikan dengan tiba-tiba sebab  dapat 

memicu serangan. Pada serangan akut, kro-

molin tidak efektif sebab  tidak memblok 

reseptor histamin.

Dahulu pemakaian nya cukup banyak ka-

rena keamanannya yang baik, namun  akhir-

akhir ini menurun drastis sebab  tersedianya 

obat inhalasi kortikosteroid yang lebih efektif 

terutama bagi anak-anak.

Resorpsi. Di dalam usus tidak terjadi re-

sorpsi. Dari suatu dosis inhalasi (serbuk 

halus), senyawa ini hanya 5-10% menca-

pai bronchi dan diserap, yang segera di-

ekskresikan lewat urin dan empedu secara 

utuh. Plasma-t½ 1,5-2 jam, namun  efeknya 

bertahan 6 jam.

Efek samping berupa rangsangan lokal pa-

da selaput lendir tenggorok dan trachea, 

dengan gejala a.l. perasaan kering, batuk-

batuk, kadang-kadang kejang bronchi dan 

serangan asma selewat. Untuk mencegah hal 

ini terlebih dahulu, dapat dipakai  inhalasi 

salbutamol. Rangsangan mukosa dapat ter- 

jadi pada pemakaian  nasal (Rynacrom, Lomu-

sol) dan pemakaian  pada mata (Opticrom). 

Wanita hamil dapat memakai  kro-

moglikat.

Dosis: inhalasi minimal 4 dd 1 puff (20 mg) 

sebagai serbuk halus dengan memakai  

alat khusus (spinhaler), atau sebagai larutan 

(aerosol). Nasal: 4 dd 10 mg serbuk dan untuk 

mata 4-6 dd 1-2 tetes dari larutan 2%.

* Nedocromil (Tilade) yaitu  senyawa di-

carbonic acid, sebagai turunan kromoglikat 

(1986). Daya kerja dan pemakaian nya sama, 

begitupula efek-efek sampingnya. Dosis: tra-

cheal 4 dd 4 mg (garam di-Na).

2.ADRENERGIKA

2a. Adrenalin: epinefrin, *Lidonest 5%

Zat adrenergik dengan efek alfa + beta ini 

yaitu  bronchodilator terkuat dengan kerja 

cepat namun  singkat dan dipakai  untuk 

serangan asma hebat. Sering kali dikombinasi 

dengan tranquillizer peroral untuk mengatasi 

rasa takut dan cemas yang menyertai se-

rangan. Secara oral, adrenalin tidak aktif. 

Lihat selanjutnya Bab 31, Adrenergika dan 

Adrenolitika.

Efek samping berupa efek sentral (gelisah, 

tremor, nyeri kepala) dan terhadap jantung 

(palpitasi, aritmia), terutama pada dosis lebih 

tinggi. Timbul pula hiperglikemia, sebab  efek 

antidiabetika oral diperlemah.

Dosis: pada serangan asma i.v. 0,3 ml dari 

larutan 1:1000 yang dapat diulang dua kali 

setiap 20 menit (tartrat).

2b. Efedrin: *Asmadex, *Asmasolon, *Bronchi-

cum

Derivat adrenalin ini memiliki efek sentral 

yang lebih kuat dengan efek bronchodilatasi 

lebih ringan dan bertahan lebih lama (4 jam). 

Efedrin dapat diberikan secara oral, maka 

banyak dipakai  sebagai obat asma (bebas 

terbatas, tanpa resep) dalam berbagai sediaan 

populer, walaupun efek sampingnya dapat 

membahayakan.

Resorpsi baik dan dalam waktu ½-1 jam 

sudah terjadi bronchodilatasi. Di dalam hati 

sebagian zat dirombak; ekskresinya terutama 

lewat urin secara utuh. Plasma-t½ 3-6 jam.

Efek samping. Pada orang yang peka, efedrin 

dalam dosis rendah sudah dapat menim-

bulkan kesulitan tidur, tremor, gelisah dan 

gangguan berkemih. Pada overdosis timbul 

efek berbahaya terhadap SSP dan jantung 

(palpitasi). 

Dosis: 3-6 dd 25-50 mg, anak-anak 2-3 mg/

kg/hari dalam 4-6 dosis, dalam tetes hidung 

(anti-mampat) larutan 1%, tidak boleh digu-

nakan untuk jangka waktu lama.

* Fenilpropanolamin (norefedrin, *Koldex, Tria-

minic) yaitu  derivat tanpa gugusan -CH3 

dengan kerja dan pemakaian  yang sama, 

namun  bertahan lebih lama. Efek sentralnya 

lebih ringan. Obat ini banyak ada  da-

lam sediaan anti-pilek dan anti-selesma, 

dalam kombinasi dengan analgetika, anti-

histaminika dan/atau obat batuk. Dosis: 3 dd 

25-50 mg (HCl), tetes hidung 1-3%.

2c. Isoprenalin: Isuprel, Aleudrin

Derivat ini (1949) mempunyai efek β1 

+ β2-adrenergik dan memiliki daya bron-

chodilatasi baik, namun  resorpsinya di usus 

buruk dan tidak teratur. Resorpsinya dari 

mulut (oromukosal) sebagai tablet atau larutan 

agak lebih baik serta cepat dan efeknya sudah 

timbul sesudah  beberapa menit dan bertahan 

sampai 1 jam. 

pemakaian nya sebagai obat asma sudah 

terdesak oleh adrenergika dengan khasiat 

spesifik terhadap reseptor-β2 (bronchi) dan 

praktis tanpa efek β-1 (jantung), sehingga lebih 

jarang memicu  efek samping. Turunan 

berikut juga dianggap obsolet dan sebaiknya 

jangan dipakai  lagi.

* Orsiprenalin (metaproterenol, Alupent, *Silo-

mat comp) yaitu  isomer-isoprenalin dengan 

resorpsi lebih baik, namun  efeknya dimulai 

lebih lambat (oral sesudah 15-20 menit) namun  

bertahan lebih lama, sampai 4 jam. Mulai 

kerjanya sesudah  10 menit melalui inhalasi 

atau injeksi. Dosis: 4 dd 20 mg (sulfat), i.m. 

atau s.c. 0,5 mg yang dapat diulang sesudah  ½ 

jam, inhalasi 3-4 dd 2 semprotan. 

3. BETA2-MIMETIKA

3a. Salbutamol: Ventolin, Volmax, Salbuven, 

*Ventide

Derivat isoprenalin ini merupakan adre-

nergikum pertama (1968) yang pada do- 

sis biasa memiliki daya kerja yang lebih 

kurang spesifik terhadap reseptor-β2. Selain 

berdaya bronchodilatasi baik, salbutamol 

juga memiliki efek lemah terhadap stabilisasi 

mastcell, maka sangat efektif untuk mencegah 

maupun meniadakan serangan asma. De-

wasa ini obat ini sudah lazim dipakai  

dalam bentuk aerosol sebab  efeknya pesat 

dengan efek samping yang lebih ringan 

daripada pemakaian  per oral. Pada saat 

inhalasi serbuk halus atau larutan, ±80% dari 

semprotan (puff) terendap pada langit-langit 

tenggorok dan ±20% mencapai trachea, namun  

hanya 7-8% dari bagian terhalus (1-5 mikron) 

tiba di bronchioli dan paru-paru.

Efek samping jarang terjadi dan biasanya 

berupa nyeri kepala, pusing-pusing, mual, 

dan tremor tangan. Pada overdosis dapat 

terjadi stimulasi reseptor β-1 dengan efek 

kardiovaskuler: tachycardia, palpitasi, arit-

mia dan hipotensi. Oleh sebab  itu, sangat 

penting untuk memberikan instruksi yang 

cermat agar jangan mengulang inhalasi 

dalam waktu yang terlalu singkat, sebab  

dapat terjadi tachyfylaxis (efek obat menurun 

dengan pesat pada pemakaian  yang terlalu 

sering).

Dosis: 3-4 dd 2-4 mg (sulfat), inhalasi 3-4 

dd 2 semprotan dari 100 mcg, pada serangan 

akut 2 puff yang dapat diulang sesudah 15 

menit. Pada serangan hebat i.m. atau s.c. 250-

500 mcg, yang dapat diulang sesudah 4 jam.

3b. Terbutalin: Bricasma, Bricanyl

Derivat metil dari orsiprenalin ini (1970) 

juga berkhasiat β-2 selektif. Per oral mulai 

kerjanya sesudah 1-2 jam, sedang  lama 

kerjanya ±6 jam. Lebih sering memicu  

tachycardia.

Dosis: 2-3 dd 2,5-5 mg (sulfat), inhalasi 3-4 

dd 1-2 semprotan dari 250 mcg, maks. 16 puff 

sehari, s.c. 250 mcg, maks. 4 kali sehari.

* Fenoterol (Berotec,*Berodual) yaitu  derivat 

terbutalin dengan khasiat dan pemakaian  

yang sama. Efeknya lebih kuat dan bertahan 

±6 jam, lebih lama daripada salbutamol 

(±4 jam). Dosis: 3 dd 2,5-5 mg (bromida), 

suppositoria malam hari 15 mg dan inhalasi 

3-4 dd 1-2 semprotan dari 200 mcg. *Berodual 

= fenoterol 50 + ipratropium 20 mcg per puff.

3c. Salmeterol:Serevent, *Seretide

Senyawa long-acting ini (1990) kerjanya 

cepat (sesudah  10-20 menit) dan bertahan se-

lama minimal 12 jam. Pada asma bronchial 

perlu dikombinasi dengan kortikoida inhalasi. 

Bila perlu dapat diberikan bersamaan obat 

asma kerja singkat (salbutamol) atau dengan 

suatu antikolinergikum (ipratropium, tiotro-

pium).

Dosis: pemeliharaan 2 dd 50 mcg, pada 

COPD parah: 2 dd 100 mcg; anak-anak di atas 

4 tahun 2 dd 50 mcg.

* Seretide =salmeterol 50 + fluticason 100-

250-500 mcg per puff (serbuk inhalasi). 

3d. Prokaterol: Meptin

Derivat kuinolin ini memiliki daya kerja 

bronchodilatasi yang sangat kuat dan hanya 

dipakai  secara oral dengan dosis 2 dd 50 

mcg.

3e. Teofilin: 1,3 dimetilksantin, Quibron-T/SR, 

Theobron

Alkaloid ini (1908) ada  bersama ko-

fein (= trimetilksantin) di daun teh (Yun. 

theos = Allah, phyllon = daun) dan memiliki 

sejumlah khasiat, antara lain berefek spas-

molitis terhadap otot polos, khususnya otot 

bronchi, menstimulasi jantung (efek inotrop 

positif) dan mendilatasinya. Teofilin juga 

menstimulasi SSP dan pernapasan, serta 

bekerja diuretik lemah dan singkat. Kofein 

juga memiliki semua khasiat ini walaupun 

lebih lemah, kecuali efek stimulasi sentralnya 

yang lebih kuat. Obat ini banyak dipakai  

sebagai obat prevensi dan terapi serangan 

asma9 sejak tahun 1930, terutama di negara-

negara berkembang sebab  harganya yang 

murah. namun  pemakaian nya semakin ber- 

kurang sebab  masalah efek samping dan 

tersedianya obat-obat yang lebih efektif 

seperti kortikosteroid inhalasi yang meng-

hindari timbulnya efek samping sistemik.

Efek bronchodilatasi tidak berkorelasi 

baik dengan dosis, namun  memperlihatkan 

hubungan jelas dengan kadar darah (dan 

kadar di air liur). Luas terapeutiknya sempit 

artinya dosis efektif berdekatan dengan dosis 

toksik. Untuk efek optimal diperlukan kadar 

dalam darah dari 10-15 mcg/ml, sedang  

pada 20 mcg/ml sudah terjadi efek toksik. 

Oleh sebab  itu, dianjurkan untuk dosis 

ditetapkan secara individual berdasar  

kadar dalam darah. Hal ini terutama perlu 

pada anak-anak di bawah usia 2 tahun 

dan manula di atas 60 tahun, yang sangat 

peka terhadap overdosis, juga pada pasien 

gangguan hati dan ginjal. 

Resorpsi di usus buruk dan tidak teratur. 

Itulah sebabnya mengapa bronchodilator 

tua ini (1935) dahulu jarang dipakai . Ba-

ru pada tahun 1970-an, diketahui bahwa 

resorpsi dapat menjadi lebih sempurna bila 

dipakai  dalam bentuk serbuk micro-

fine (besar partikel 5-10 mikron). Juga pada 

pemakaian  sebagai larutan, yang seper-

lunya ditambahkan alkohol 20%. Plasma-t½ 

3-7 jam, ekskresi berlangsung sebagai asam 

metilurat lewat urin dan hanya 10% dalam 

keadaan utuh. Teofilin sebaiknya dipakai  

sebagai sediaan ‘sustained release’ (walaupun 

hasilnya tidak begitu besar) yang meng-

hasilkan resorpsi konstan dan kadar dalam 

darah yang lebih teratur.

Efek samping yang terpenting berupa mu-

al dan muntah, baik pada pemakaian  oral 

maupun rektal atau parenteral. Pada over-

dosis timbul efek sentral (gelisah, sukar 

tidur, tremor dan konvulsi) serta gangguan 

pernapasan, juga efek kardiovaskuler, seperti 

tachycardia, aritmia dan hipotensi. Anak kecil 

sangat peka terhadap efek samping teofilin.

Dosis: 3-4 dd 125-250 mg microfine (retard). 

1 g teofilin 0 aq = 1,1 g teofilin 1 aq = 1,17 g 

aminofilin 0 aq = 1,23 g aminofilin 1 aq.

*Aminofilin (teofilin-etilendiamin, Phyllocontin 

continus, Euphyllin) yaitu  garam yang da-

lam darah membebaskan teofilin. Garam 

ini bersifat basa dan sangat merangsang se-

laput lendir, sehingga per oral sering kali 

memicu  gangguan lambung (mual, 

muntah), juga pada pemakaian  dalam sup-

positoria dan injeksi intra-muskuler (nyeri!). 

Pada serangan asma, obat ini dipakai  se-

bagai injeksi i.v. Dosis: oral 2-4 dd 175-350 mg 

dalam bentuk tablet salut (tanpa dikunyah); 

pada serangan hebat i.v. 240 mg, rektal 2-3 dd 

360 mg. Dosis maks. 1,5 g sehari. 

4. ANTIKOLINERGIKA.

Lihat juga Bab 32, Kolinergika dan anti-

kolinergika.

4a Ipratropium: Atrovent, *Berodual, *Combi-

vent

Derivat-N-propil dari atropin ini (1974) 

yaitu  antagonis-muskarin dan berkhasiat 

bronchodilatasi, sebab  menghindari pem-

bentukan cGMP yang memicu  kon_

striksi. Ipratropin mengurangi hipersekresi 

di bronchi, yaitu „efek mengeringkan“ dari 

obat antikolinergika, maka sangat efektif 

pada pasien yang mengeluarkan banyak 

dahak. Khusus dipakai  sebagai inhalasi 

efeknya dimulai lebih lambat (15 menit) 

daripada β2-mimetika. Efek maksimal dicapai 

sesudah  1-2 jam dan bertahan rata-rata 6 jam. 

Sangat efektif sebagai obat pencegah dan 

pemeliharaan, terutama pada bronchitis kro- 

nis. Kini zat ini tidak dipakai  (lagi) se-

bagai monoterapi (pemeliharaan), namun  se-

lalu bersama kortikosteroid-inhalasi. Kom-

binasinya dengan β2-mimetika memperkuat 

efeknya (adisi).

Resorpsi peroral buruk (seperti semua se-

nyawa amonium kuaterner). Secara tracheal 

hanya bekerja setempat dan praktis tidak 

diserap. Keuntungannya ialah zat ini juga 

dapat dipakai  oleh pasien jantung yang 

tidak tahan terhadap adrenergika. 

Efek samping jarang terjadi dan biasanya 

berupa mulut kering, mual, nyeri kepala dan 

pusing.

Dosis: inhalasi 3-4 dd 2 semprotan dari 20 

mcg (bromida).

*Tiotropium (Spiriva) yaitu  derivat long-

acting (2000) yang juga memiliki rumus 

amonium kuaterner dan merupakan anta-

gonis muskarin-reseptor kuat yang agak 

selektif. Banyak dipakai  sebagai bron-

chodilator kerja panjang yang efektif pada 

terapi pemeliharaan COPD.36

Antagonis muskarin-reseptor banyak digu-

nakan pada berbagai gangguan, khususnya 

untuk menghambat efek aktivitas parasim-

patolitik di saluran cerna dan urin, saluran 

pernapasan, mata dan jantung. Dosis: 1 dd 1 

serbuk inhalasi (kapsul 18 mcg tiotropium) 

dengan memakai  alat khusus “Handi-

Haler” (Ph Wkbl 2002;137:871-5)

5. MUKOLITIKA.

5a Asetilsistein: Fluimucil

Di samping kerja mukolitiknya juga ber-

efek antioksidan dengan melindungi ja-

ringan paru terhadap kerusakan (lanjutan) 

pada COPD. Kerjanya langsung berkat 

gugus-thiol bebas yang dapat bereaksi de-

ngan gugus elektrofil dari FR reaktif. Berefek 

antioksidans tak-langsung sebagai precursor 

dari glutathion (melalui zat antara sistein).

Glutathion (GSH), suatu tripeptida dari 

tiga asam amino (glutamin, sistein dan glisin) 

merupakan anti-oksidans alamiah esensial, 

yang, ada  di semua sel hewan. GSH 

berperan sentral pada berbagai proses bio-

kimiawi, seperti sintesis dari precursor DNA, 

prostaglandin dan leukotriën serta inaktivasi 

dari obat-obat tertentu, a.l. parasetamol. GSH 

merupakan unsur utama dari cairan-UW 

(University of Wisconsin), yang dipakai  

untuk menyimpan organ-organ donor berkat 

daya kerjanya dapat melindungi organ 

itu  terhadap kerusakan. 

Asetilsistein dengan dosis 600 mg sehari 

sesudah  2 bulan dapat mengencerkan spu-

tum, mempermudah pengeluarannya dan 

meringankan parahnya batuk. Juga berkha-

siat mengurangi jumlah kuman di saluran 

pernapasan.

Resorpsi dari saluran cerna pesat, namun  BA 

hanya ±5% akibat FPE yang tinggi. Seperti 

semua asam amino distribusi dalam tubuh 

baik dengan mencapai kadar tinggi, a.l. 

di saluran pernapasan dan sekret bronchi. 

Dalam hati diubah menjadi asam amino 

sistein, sistin dan taurin yang ekskresinya ber-

langsung melalui urin.

Mekanisme kerja. Sifat melindungi dari 

asetilsistein didasarkan atas peningkatan 

persediaan GSH di samping memperkuat 

aktivitas antioksidan alamiah lain (a.l. dis-

mutase). Asetilsistein juga dapat ‘melahap’ FR 

dan mengurangi produksi FR oleh makrofag 

alveoler akibat asap rokok di samping juga 

mencegah inaktivasi oksidatif dari anti-elastase, 

yang melindungi alveoli terhadap elastase. 

sebab  itu elastase tidak dapat merombak 

dinding alveoli, sehingga timbulnya dan 

progresi emfisema dihentikan. 

pemakaian . Berkat kerja antioksidansnya 

AS yang dikombinasi dengan bronchodila-

tor, pada COPD berkhasiat mengurangi 

frekuensi exacerbatio dan keluhan (batuk, 

banyaknya dan viskositas dahak), terutama 

pada pasien di atas 50 tahun. Di samping 

itu dahak kental dicairkan dan produksinya 

dikurangi. Bermanfaat pula bagi penderi-

ta cystic fibrosis, suatu penyakit keturunan 

yang memicu  kelenjar-kelenjar tertentu 

memproduksi sekret abnormal yang liat, 

kental atau padat dan yang gejala-gejalanya 

terutama memengaruhi saluran cerna dan 

paru-paru.

Asetilsistein juga merupakan zat penawar 

(antidotum) terhadap keracunan parasetamol 

berdasar  peningkatan persediaan gluta-

thion. Senyawa ini mengikat metabolit toksik 

dari parasetamol dan dengan demikian da-

pat menghindari necrosis hati bila diberikan 

dalam waktu 10 jam (peroral atau i.v.) sesudah  

terjadinya intoksikasi parasetamol. 

Efek samping yang paling sering terjadi 

yaitu  mual dan muntah, maka penderita 

tukak lambung perlu waspada. Sebagai obat 

inhalasi da pat memicu  kejang-kejang 

bronchi pada penderita asma. Pada dosis 

tinggi (seperti pada intoksikasi parasetamol) 

dapat timbul reaksi anafilaktik dengan rash, 

gatal, udema, hipotensi dan bronchospasme. 

Wanita hamil dan selama laktasi boleh meng-

gunakan obat ini.

Dosis: oral 3-6 dd 200 mg atau 1-2 dd 600 

mg granulat, anak-anak 2-7 tahun 2 dd 200 

mg, di bawah 2 thn 2 dd 100 mg. Sebagai 

antidotum keracunan parasetamol, oral 140 

mg/kg berat badan dari larutan 5%, disusul 

dengan 70 mg/kg setiap 4 jam. Lihat juga Bab 

41, Obat-obat Batuk.

*Karbosistein(Broncholit, Rhinathiol) yaitu  

derivat (1969) dengan sifat dan pemakaian  

sama. Juga dapat memutuskan „jembatan“ 

sulfur dari mukopolisakarida di selaput 

lendir lambung, sehingga mucus menjadi 

lebih cair.Dosis 2-3 dd 1 g.

6. ANTIhISTAMINIKA. 

Lihat juga Bab 51.

6a. Ketotifen: Zaditen

Turunan pizotifen dengan =O pada cincin 

tujuh ini (1980) selain memblokir reseptor 

histamin, juga menstabilisasi mastcells. 

Zat ini sama efektifnya dengan kromoglikat 

pada profilaksis asma yang bersifat alergi. 

Efeknya baru nyata sesudah 6 minggu. Pero-

ral, efek antikejangnya ringan, oleh kare-

na itu tidak berguna pada serangan asma 

akut. Telah dibuktikan bahwa pemakaian  

antihistaminika dalam bentuk inhalasi dapat 

menghasilkan bronchodilatasi baik. Dengan 

dipakai nya obat ini dosis adrenergika dan 

prednison yang diberikan bersamaan dapat 

dikurangi.

Resorpsi dari usus cepat dan baik (lebih 

dari 90%), namun  FPE besar (70%) sehingga 

BA hanya ±27%. Zat ini terikat pada protein 

untuk 80%, plasma-t½ panjang ialah 8 jam. 

Ekskresi melalui urin sebagai glukuronida.

Efek samping berupa rasa kantuk, kadang-

kala mulut kering dan perasaan pusing yang 

hanya selewat. Zat ini dapat memperkuat 

efek sedatif dari alkohol. Kombinasi dengan 

antidiabetika oral tidak dianjurkan, sebab  

dapat mengurangi jumlah trombosit darah.

Dosis: malam hari 1 mg selama 1 minggu, 

lalu 2 dd 1-2 mg (fumarat).

6b. Oksatomida: Tinset

Derivat piperazin ini (1982) berkhasiat 

memblokir reseptor histamin, serotonin 

dan leukotriën di otot, juga menstabilisasi 

mastcells. Dianjurkan sebagai obat peme-

liharaan dan pencegah pada asma alergik, 

rhinitis alergik (hay fever) dan urticaria kronis 

(berkat efek antiserotonin). Tidak berguna 

pada serangan akut.

Resorpsi dari usus cepat, PP 90% dan me-

tabolisasi dalam hati berlangsung cepat. Eks-

kresi berlangsung lewat urin.

Efek samping berupa rasa kantuk (selewat) 

dan bertambahnya nafsu makan yang ber-

kaitan dengan sifat antiserotonin. Kombinasi 

dengan alkohol dan zat-zat penekan SSP lain-

nya memperkuat efeknya.

Dosis: 2 dd 30-60 mg sesudah makan.

7. ANTAGONIS LEUKOTRIËN

7a. Zafirlukast: Accolate

Zat antileukotriën ini (1996) melindungi 

terhadap bronchokonstriksi dan peradangan 

yang dipicu oleh berbagai stimuli, seperti 

mengeluarkan tenaga, hawa dingin, berbagai 

alergen dan PAF. Khasiat ini berdasar  

pengikatan pada reseptor leukotriën tertentu, 

sehingga daya kerja leukotriën LTC4, LTD4 

dan LTE4 dihindari. dipakai  untuk pe-

ngobatan asma bila ICS dan β2-mimetika 

tidak atau kurang efektif.

Resorpsi dari usus dikurangi oleh makanan 

dengan 40%, oleh sebab  itu harus diminum 

pada perut kosong. PPP 99% dan masa pa-

ruh 10 jam. Dalam hati dirombak dengan 

drastis dan metabolitnya dikeluarkan dengan 

feses (90%) dan urin (10%). Keluhan asma 

berkurang sesudah beberapa hari sampai 

satu minggu.

Efek samping utama yaitu  gangguan lam-

bung- usus (ringan), nyeri kepala dan reaksi 

alergi kulit. Obat ini masuk ke ASI.

Dosis: permulaan 2 dd 20 mg a.c., ber-

angsur-angsur dinaikkan sampai 2 dd 40 mg, 

anak-anak 7-12 thn 2 dd 10 mg a.c. 

7b. Montelukast: Singulair

LT-reseptorblocker selektif dengan efek 

bronchodilatasi ini (1997) memberikan efek 

dalam waktu 2 jam. Berkhasiat menghambat 

reaksi alergik, baik yang dini maupun yang 

lambat, juga menurunkan jumlah eosinofil 

dalam darah (seperti kortikoid). dipakai  

sebagai terapi kombinasi dengan obat asma 

lainnya, juga untuk prevensi serangan asma 

sesudah  kegiatan yang meletihkan. Untuk 

menanggulangi serangan akut tidak efektif. 

Resorpsi cepat dengan BA 73% yang tidak 

dipengaruhi oleh makanan, t½ ± 4 jam, 

ekskresi terutama dengan feses. Obat ini 

masuk ke dalam air susu ibu. 

Efek samping yang tersering yaitu  gang-

guan saluran cerna dan sakit kepala, juga 

gejala flu, pusing, mulut kering dan rash (ku-

lit). 

Dosis  pemeliharaan: di atas 15 tahun 1 tablet 

kunyah (10 mg) sebelum tidur dengan perut 

kosong. Anak-anak 6-14 thn 5 mg.

8. KORTIKOSTEROIDA

8a. Hidrokortison, predniso(lo)n, deksame-

tason, triamsinolon.

Obat-obat ini hanya diberikan peroral pa-

da asma parah yang tidak dapat dikenda-

likan dengan obat asma lainnya. Untuk 

menghindari supresi anak-ginjal, biasanya 

obat diberikan sebagai suatu kur singkat 

dari 2 dan maksimal 3 minggu. Pada status 

asthmaticus, hidrokortison atau prednisolon 

dipakai  sebagai injeksi i.v. dengan dosis 

tinggi. Ternyata bahwa obat ini memperkuat 

efek adrenergika dan teofilin, juga mengu-

rangi sekresi dahak.

Efek samping yang terpenting yaitu  gejala 

Cushing (osteoporosis, moonface, hipertri-

chosis, impotensi) serta penekanan fungsi 

anakginjal. 

Kehamilan: predni(sol)on tidak memenga-

ruhi janin pada dosis rendah (5-20 mg sehari).

Dosis: prednisolon untuk kur singkat 25-

40 mg sesudah makan pagi yang setiap dua 

hari dikurangi dengan 5 mg sampai kur 

selesai dalam waktu 2-3 minggu. Untuk 

pemeliharaan 5-10 mg prednisolon setiap 

48 jam, deksametason/betametason setiap 

hari 0,5 mg. Kemudian terapi dilanjutkan de-

ngan suatu ICS. Bila kambuh lagi biasanya 

serangan asma hebat atau terjadi infeksi, 

perlu dijalani kur kembali. 

Lihat selanjutnya Bab 46, ACTH dan Kor-

tikosteroida.

* Kortikosteroid inhalasi (ICS)

Pada COPD kortikosteroid inhalasi kini 

dipakai  sebagai obat yang setaraf dengan 

zat bronchodilator, bahkan lebih penting 

untuk memperlambat memburuknya penya-

kit. pemakaian nya secara tracheal (melalui 

tenggorok) sebagai semprotan aerosol dan 

juga secara nasal (melalui hidung) untuk 

profilaksis dan terapi rhinitis alergik. Kom-

binasi dari steroid dengan β2-mimetika 

long-acting yang banyak dipakai  yaitu  

budesonida+salmeterol (*Seretide) dan fluti-

kason+formoterol (* Symbicort).

Efek samping dari pemakaian  kortikos-

teroid inhalasi berupa penurunan ketahanan 

lokal dari mukosa terhadap infeksi fungi 

dengan akibat timbulnya infeksi ragi Candida 

albicans (candidiasis) di mulut (5% penderita) 

dan suara parau akibat iritasi tenggorok 

dan pita suara. Risiko infeksi ini dapat di-

hindari bila berkumur dengan air tiap kali 

sesudah  menyemprotkan obat inhalasi. Pada 

inhalasi nasal juga dapat terjadi candidiasis, 

di samping bersin, perdarahan dan atrofia 

mukosa hidung.

Kehamilan dan laktasi. Belum ada cukup 

data untuk menilai keamanannya bagi janin 

pada pemakaian  secara tracheal (inhalasi); 

beklometason dan flutikason bersifat tera-

togen pada binatang percobaan. Tidak di-

ketahui apakah zat-zat ini dapat mencapai air 

susu ibu. 

8b. Beklometason (dipropionat): Becotide, 

Beconase, *Ventide

Derivat betametason ini (1967), yang atom 

fluornya digantikan oleh klor, mempunyai 

daya larut buruk dan hanya sedikit diresor-

psi oleh mukosa bronchi. Obat ini dengan 

cepat diinaktivasi melalui esterase. sebab  

sebagian besar dari suatu inhalasi (80%) 

terendap di mulut dan tenggorok, risiko 

resorpsi meningkat pada dosis tinggi dan 

bagi beklometason pada dosis di atas 1000 

mcg sehari. Glukokortikoid ini dapat digu-

nakan secara lokal dalam bentuk aerosol 

(Nebuhaler), serbuk inhalasi (turbuhaler) atau 

cairan inhalasi. Dengan cara pemberian ini, 

efek samping sistemik dari pemakaian  oral 

dapat dihindari. 

Dosis: tracheal 3-4 dd 2 puff dari 50 mcg 

(dipropionat), intranasal 2-4 dd 1 puff di 

setiap lubang hidung (Beconase).

8c. Budesonida: Pulmicort, Rhinocort, *Symbi-

cort, Obucort swinghaler

Derivat tanpa atom halogen ini (1980) 

memiliki efek lokal yang dua kali lebih ku-

at daripada beklometason, sebab  tidak 

diinaktivasi di paru-paru (dan di kulit). Dari 

dosis inhalasi 10-30% mengendap di paru-

paru. Efeknya baru nyata sesudah  10 hari 

dan mencapai puncaknya sesudah  beberapa 

minggu. Obat yang diberikan per oral diserap 

dan dengan pesat dirombak untuk 90% 

dalam hati (FPE besar). Untuk menghindari 

infeksi Candida juga perlu berkumur setiap 

kali sesudah  inhalasi.

Dosis: tracheal 2 dd 2 puff dari 200 mcg, 

intranasal 2 dd 1 puff (Rhinocort). Salep/krem 

0,25 mg/g. 

* Symbicort: budesonida 100/200 + formoterol 

6/6 microgram per inhalasi

8d. Flutikason: Flixonase, Flixotide, Cutivate, 

*Seretide

Derivat difluor (dalam inti steroida) ini 

dengan rantai samping -CO-S-CH2F pada 

C17 (1990), pada pemakaian  tracheal tidak 

diinaktifkan dalam paru-paru. Efeknya men- 

jadi nyata sesudah  1 minggu, daya kerja-

nya bertahan lebih panjang dari kedua 

obat lainnya (plasma-t½ 3 jam). Dosis yang 

diminum hanya untuk sebagian kecil diserap, 

kemudian dirombak dalam hati menjadi 

metabolit inaktif. 

Efek samping. Pada dosis tinggi (di atas 

500 mcg/hari) ternyata memicu  efek 

sistemik: a.l. anak-anak dihambat pertum-

buhannya. pemicu nya mungkin sebab  

bersifat sangat lipofil dengan volume pem-

bagian lebih besar dan ikatan reseptornya 

yang lebih erat daripada obat lain. 

Dosis: pemeliharaan asma 2 dd 100-500 

mcg (propionat), maksimal 2 mg sehari, anak-

anak 4-16 tahun 2 dd 50-100 mcg. Untuk kulit: 

krem 0,05% (Cutivate).

* Seretide: flutikason 100/250/500+salmeterol 

50/50/50 microgram per inhalasi.

8e. Flunisolida: Syntaris

Pada pemakaian  inhalasi intranasal, 

derivat fluor ini (1978) diresorpsi 50%, namun  

FPE besar dan cepat diinaktivasi oleh hati. 

Plasma- t½ 105 menit.

Dosis: pada rhinitis alergik intranasal 2-3 

dd 25-50 mcg.

9. PENGOBATAN  

IMUNOMODULATOR

a. Terapi imunosupresif

Ternyata kurang efektif pada asma (meto-

treksat, siklosporin A) dan memiliki lebih 

banyak efek samping daripada kortikosteroid 

oral.

b. Terapi Anti-IgE

Suatu antibodi monoklonal omalizumab (Xo-

lair, Avila, 2007) dapat memblokir pengikatan 

IgE pada reseptor IgE di mastcel, menghindari 

aktivasinya oleh alergen dan menghindari 

peradangan kronis. Juga menurunkan jumlah 

IgE dalam sirkulasi. Hanya dipakai  pada 

penderita asma yang sangat parah berhubung 

biayanya yang sangat mahal. 

dipakai  sebagai injeksi subkutan tiap 

2-4 minggu dengan dosis yang tergantung 

dari titer IgE yang bersirkulasi. 

Efek samping utamanya reaksi anafilaktik 

yang jarang timbul 


OBAT-OBAT BATUK

“Love and a cough cannot be hidden” (pepatah 

lama, sumber tidak diketahui)

FISIOLOGI BATUK

Batuk yaitu  suatu refleks fisiologi protektif 

yang bermanfaat untuk mengeluarkan dan 

membersihkan saluran pernapasan dari da-

hak, debu, zat-zat perangsang asing yang 

dihirup, partikel-partikel asing dan unsur-

unsur infeksi. Orang sehat hampir sama sekali 

tidak batuk berkat mekanisme pembersihan dari 

bulu getar di dinding bronchi, yang berfungsi 

menggerakkan dahak keluar dari paru-paru 

menuju batang tenggorok. Cilia ini bantu 

menghindarkan masuknya zat-zat asing ke 

saluran pernapasan. 

Etiologi 

Pada banyak gangguan saluran pernapasan, 

batuk merupakan gejala penting yang di-

timbulkan oleh terpicunya refleks batuk. 

Misalnya pada alergi (asma), sebab-sebab 

mekanik (asap rokok, debu) tumor paru, 

perubahan suhu yang mendadak dan rang-

sangan kimiawi (gas, bau). Sering kali juga 

disebabkan oleh peradangan akibat infeksi 

virus seperti virus selesma (common cold), 

influenza, bronchitis dan pharyngitis. Virus-

virus ini dapat merusak mukosa saluran 

pernapasan, sehingga menciptakan “pintu 

masuk” untuk infeksi sekunder oleh kuman, 

misalnya Pneumococci dan Haemophilus. Batuk 

dapat memicu  menjalarnya infeksi 

dari suatu bagian paru ke yang lain dan juga 

merupakan beban tambahan bagi pasien 

penyakit jantung.

pemicu  batuk lainnya yaitu  peradangan 

dari jaringan paru (pneumonia), tu mor dan 

juga akibat efek samping beberapa obat 

(penghambat ACE).

Pada 5-20% pasien, pengguna ACE (Angio-

tensin-converting enzyme) inhibitors terhadap 

hipertensi dapat timbul batuk kering yang 

menjemukan dan disebabkan oleh akumulasi 

di paru dari senyawa-senyawa bradikinin, 

zat P dan/atau prostaglandin. Untuk meng-

hindari gejala ini dosis penghambat ACE 

dikurangi atau beralih ke obat-obat dari ke-

lompok ARB (Angiotensin Receptor Blocker). 

Bila pemakaian  obat penghambat ACE 

dihentikan, gejala batuk kering ini biasanya 

juga akan hilang dalam waktu 4 hari. 

Batuk juga merupakan gejala terpenting 

pada penyakit kanker paru. Penyakit tuber-

kulosa di lain pihak, tidak selalu harus di-

sertai batuk, walaupun gejala ini sangat pen-

ting. Selanjutnya batuk yaitu  gejala lazim 

pada penyakit tifus dan dekompensasi jantung, 

terutama manula, begitu pula pada asma 

dan keadaan psikis (kebiasaan atau “tic”). 

Akhirnya batuk yang tidak sembuh-sembuh 

dan “batuk darah” teru tama pada anak-anak 

dapat pula disebabkan oleh penyakit cacing, 

misalnya oleh cacing gelang.

Di samping gangguan-gangguan itu , 

batuk bisa juga dipicu oleh stimulasi reseptor-

reseptor yang ada  di mukosa dari seluruh 

saluran pernapasan, (termasuk tenggorok), 

juga dalam lambung. Bila reseptor ini yang 

peka bagi zat-zat perangsang distimulasi, 

timbullah refleks batuk. Saraf-saraf tertentu 

menyalurkan isyarat-isyarat ke pusat batuk 

di sumsum lanjutan (medulla oblongata), yang 

kemudian mengkoordinasi serangkaian pro-

ses yang menjurus ke respons batuk.

Batuk yang berlarut-larut merupakan be-

ban serius bagi banyak penderita dan me-

nimbulkan berbagai keluhan lain seperti su-

kar tidur, keletihan dan inkontinensi urin.

* Selesma (common cold) yang umumnya 

disebut flu yaitu  infeksi akut oleh suatu 

rhinovirus yang ada  dalam jumlah besar 

di udara. Gejalanya timbul sesudah  suatu 

periode inkubasi singkat (1-3 hari) dan berupa 

batuk-pilek, bersin dan sakit tenggorok 

yang sembuh dengan sendirinya bila tidak 

ada komplikasi lain dan sering kali tanpa 

demam. pemicu nya yaitu  peradangan 

pada saluran pernapasan bagian atas, se-

perti hidung, tenggorok, larynx (pangkal 

tenggorok) dan bronchi. Pada musim hujan, 

keluhan yang banyak sekali timbul yaitu  

flu, batuk dan infeksi saluran pernapasan. 

Dahak bronchi

Dahak bronchi terdiri dari larutan suatu 

persenyawaan rumit mukopolisakarida dan 

glikoprotein, yang saling terikat melalui jem-

batan sulfur. Kekentalan dan keliatannya 

tergantung dari jumlah air dan jembatan-SH 

(sulfhidril) itu . Dalam keadaan normal 

saluran pernapasan membentuk sekitar 100 

ml sekret seharinya, yang untuk sebagian 

besar ditelan. Pada keadaan sakit, seperti 

pada pasien asma dan bronchitis, produksi 

dahak ber tambah, begitu pula kekentalannya 

meningkat hingga sukar dikeluarkan (lihat 

Bab 40, Obat asma dan COPD). Sering kali 

keadaan ini dipersulit lagi oleh terganggunya 

fungsi bulu getar.

Jenis batuk

Dapat dibedakan 2 jenis batuk, yaitu batuk 

pro duktif (dengan dahak) dan batuk non-produktif 

(kering).

1. Batuk produktif merupakan suatu meka-

nisme perlindungan dengan fungsi men-

geluarkan zat-zat asing (kuman, debu, dan 

sebagainya) dan dahak dari batang teng-

gorok seperti diuraikan di atas. Batuk ini 

pada hakikatnya tidak boleh „ditekan“ oleh 

obat pereda. namun  dalam praktik sering 

kali batuk yang hebat meng ganggu tidur 

dan meletihkan pasien ataupun berbahaya, 

misalnya sesudah  pembedahan. Untuk me- 

ringankan dan mengurangi frekuensi batuk 

umumnya dilakukan terapi sim tomatis de-

ngan obat-obat batuk (antitussiva), yaitu zat 

pelunak, ekspektoransia, mukolitika dan 

pereda batuk.

2. Batuk non-produktif bersifat „kering“ 

tanpa adanya dahak, misalnya pada batuk 

rejan (pertussis, kinkhoest), atau juga sebab  

pengeluaran nya memang tidak mungkin, 

seperti pada tumor. Batuk menggelitik ini 

tidak ada manfaatnya, menjengkelkan dan 

sering kali mengganggu tidur. Bila tidak 

diobati, batuk demikian akan berulang terus 

sebab  pengeluaran udara yang cepat pada 

waktu batuk akan kembali merangsang 

mukosa tenggorok dan farynx.

Obat-obat batuk

Antitussiva (L. tussis = batuk) dipakai  

untuk pengobatan batuk sebagai gejala dan 

dapat dibagi dalam sejumlah kelompok de-

ngan mekanisme kerja yang sangat beraneka-

ragam, yaitu:

a.  zat pelunak batuk (emolliensia, L. mollis = 

lunak), yang memperlunak rangsangan 

batuk, melumas tenggorok agar tidak 

kering dan melunakkan mukosa yang 

teriritasi. Untuk tujuan ini banyak digu-

nakan sirop (Thymi dan Altheae), zat-zat 

lendir (Infus Carrageen) dan gula-gula 

seperti drop (akar manis, succus liquiritiae), 

permen, pastilles hisap (memperbanyak 

sekresi ludah), dan sebagainyanya. 

b.  ekspektoransia (L. ex = keluar; pectus 

= dada): minyak terbang, guaiakol, Radix 

Ipeca (dalam tablet/pulvis Doveri) dan 

amoniumklorida (dalam Obat Batuk Hi-

tam). Zat-zat ini memperbanyak produk- 

si dahak (encer) dan dengan demikian 

mengurangi kekenta lannya, sehingga 

mempermudah pengeluarannya melalui 

batuk. Mekanisme kerjanya yaitu  me-

rangsang reseptor-reseptor di mukosa 

lambung yang kemudian meningkatkan 

kegiatan kelenjar sekresi dari saluran 

lambung-usus dan sebagai refleks mem- 

perbanyak sekresi dari kelenjar yang 

berada di saluran pernapasan. Diper-

kirakan bahwa kegiatan ekspektoransia 

juga dapat dipicu dengan meminum 

banyak air.

c.  mukolitika: asetilsistein, mesna, bromheksin 

dan ambroksol. Zat-zat ini berefek me-

rombak dan melarutkan dahak (L. mucus 

= lendir, lysis = melarutkan) sehingga 

viskositasnya dikurangi dan pengeluar-

annya dipermudah. Lendir memiliki gu-

gus sulfhidril (-SH) yang saling mengikat 

makromolekulnya. Senyawa-sistein dan 

mesna efektif membuka jembatan disulfida 

ini. Bromheksin dan ambroksol bekerja de-

ngan memutuskan „serat-serat“ (rantai 

panjang) dari mukopolisakarida. 

Mukolitika dipakai  dengan efektif 

pada batuk dengan dahak yang kental 

sekali, seperti pada bronchitis, emfisema 

dan mucoviscidosis (= cystic fibrosis). namun  

biasanya  zat-zat ini tidak berguna 

bila gerakan bulu getar terganggu seperti 

pada perokok atau akibat infeksi.

d. zat pereda: kodein, noskapin, dekstrometorfan 

dan pentoksiverin (Tuclase). Obat-obat de-

ngan kerja sentral ini ampuh sekali pada 

batuk kering yang menggelitik.

e. antihistaminika: prometazin, oksomemazin, 

difenhidramin dan d-klorfeniramin. Obat-

obat ini sering kali juga efektif berda-

sarkan efek sedatifnya dan juga dapat 

menekan perasaan menggelitik di teng-

gorok. Antihistaminika banyak diguna-

kan terkombinasi dengan obat-obat ba-

tuk lain dalam bentuk sirop OTC. Lihat 

selanjutnya Bab 51, Antihista minika.

f. anestetika lokal: pentoksiverin. Obat ini 

menghambat penerusan rangsangan ba-

tuk ke pusat batuk. 

Efektivitas dari emolliensia, ekspektoransia 

dan mukolitika untuk meringankan batuk 

menurut sejumlah peneliti masih diragukan, 

sebab  belum pernah dibuktikan secara 

objektif ilmiah. Efek baik yang sering kali 

dihasilkan oleh obat-obat ini terutama ber-

dasarkan perasaan subjektif dan diperki-

rakan berkat efek plasebo yang terk enal 

besar pengaruhnya pada terapi batuk.

Penggolongan lain dari antitussiva dapat 

dilakukan sesuai titik-kerjanya, yaitu dalam 

otak (SSP) atau di luar SSP, yakni zat-zat 

sentral dan zat-zat perifer.

1. Zat-zat sentral. Kebanyakan antitusiva 

bekerja sentral dengan menekan pusat batuk 

di sumsum lanjutan dan mungkin juga 

bekerja terhadap pusat saraf lebih tinggi (di 

otak) dengan efek menenangkan. Dengan 

demikian zat-zat ini dapat menaikkan am-

bang bagi impuls batuk. 

Lalu juga dapat dibedakan antara zat-zat 

yang dapat memicu  adiksi (ketagihan) 

dan zat-zat yang bersifat non-adiktif.

a. zat adiktif: candu (Pulvis Opii, Pulvis 

Doveri), kodein. Zat-zat ini termasuk 

dalam kelompok obat yang disebut “opi-

oid”, yaitu obat-obat yang memiliki 

(sebagian) sifat farmakologi dari candu 

(opium) atau morfin. sebab  adanya ri-

siko ketagihan yang agak besar, candu 

kini tidak dipakai  lagi. Kodein hanya 

dalam dosis tinggi dan bila dipakai  

untuk jangka waktu lama merupakan 

risiko adiksi.

b. zat non-adiktif: noskapin, dekstrometorfan, 

pentoksiverin. Antihistaminika dianggap 

termasuk juga dalam kelompok ini, mi-

salnya prometazin dan difenhidramin. Obat-

obat ini tidak termasuk dalam Daftar 

Narkotika, bahkan dijual bebas tanpa 

resep.

2. Zat-zat perifer. Obat-obat ini bekerja di 

luar SSP (di periferi) dan dapat dibagi pula 

dalam beberapa kelompok yang sudah 

diuraikan di atas, yaitu emolliensia, ekspekto-

ransia,mukolitika, anestetika lokal dan zat-zat 

pereda.

Penanganan batuk

Tindakan penting yaitu  terutama berhenti 

merokok untuk menghindari perangsangan 

lebih lanjut pada saluran pernapasan. Di 

samping itu dapat dilakukan inhalasi uap 

air (mendidih) yang dihirup untuk memper-

banyak sekret yang diproduksi di tenggorok. 

Metode ini efektif dan murah, terutama pa-

da batuk „dalam“, artinya bila rangsangan 

batuk timbulnya dari pangkal tenggorok. 

Sering kali minum banyak air juga dapat 

menghasilkan efek yang sama.

Untuk meningkatkan efek inhalasi uap 

sering kali dibubuhkan minyak atsiri atau 

mentol pada air mendidih, agar uapnya turut 

dihirup yang memicu  vasodilatasi serta 

perasaan lega di saluran pernapasan.

Pengobatan3. .Farmakoterapi batuk pertama-

tama hendaknya ditujukan pada mendeteksi 

dan mengobati pemicu nya (terapi kausal), 

seperti pemakaian  antibiotika terhadap in-

feksi kuman dari saluran pernapasan, mi-

salnya bronchitis, pneumonia dan batuk rejan 

(lihat boks).

* Pneumonia orang dewasa diobati dengan 

doksisiklin selama 7 hari (permulaan 200 

mg, lalu 1 dd 100 mg), bagi wanita hamil dan 

menyusui amoksisilin 3 dd 500 mg selama 7 

hari atau eritromisin 4 dd 500 mg selama 7 

hari. Anak-anak dapat diberikan amoksisilin 

30mg/kg selama 7 hari, bila ada  kontra-

indikasi: azitromisin (Zithromax) 1 dd 10 mg/

kg selama 3 hari.

* Batuk rejan pada hakikatnya hanya diobati 

dengan antibiotika bila di lingkungan dekat 

ada  bayi atau wanita hamil, jadi untuk 

prevensi penularan. Dalam hal ini pada anak-

anak diberikan azitromisin 1 dd 10 mg/kg 

selama 3 hari, dewasa 1 dd 500 mg selama 3 

hari, wanita hamil dan menyusui eritromisin 

4 dd 500 mg selama 7 hari.

Kemudian baru dapat dipertimbangkan 

apakah perlu diberikan terapi simtomatis un-

tuk meniadakan atau meringankan gejala 

batuk berdasar  jenisnya batuk, yaitu batuk 

produktif dengan (banyak) dahak atau batuk 

“kering.“ Dalam hal pertama dapat diberikan 

emolliensia, ekspektoransia, mukolitika atau 

anthistaminika, sedang  dalam hal kedua 

zat pereda rangsangan bersama emolliensia 

yaitu  lebih efektif. Dalam kasus parah 

obat pilihan utama untuk anak-anak yaitu  

noskapin (2-4 dd 7,5-15 mg tergantung usia) 

dan untuk dewasa noskapin 3-4 dd 15-30 mg 

atau kodein 3-4 dd 10-20 mg.

Kehamilan dan laktasi

Kodein, noskapin dan dekstrometorfan boleh 

dipakai  selama kehamilan dan laktasi, 

begitu pula mukolitika, amoniumklorida 

dan Ipeca. Bagi oksolamin dan mesna belum 

tersedia cukup data mengenai keamanannya. 

Pentoksiverin tidak boleh dipakai  selama 

laktasi, sebab  mencapai air susu ibu dan 

dapat mengakibatan sesak napas pada bayi.

* Batuk rejan (pertussis) yaitu  penyakit infeksi akibat inhalasi kuman Gram-negatif Bordetella 

pertussis yang terutama menyerang anak-anak kecil, namun  juga dewasa dapat terinfeksi.Masa 

inkubasinya 7-10 hari. Penyakit bersifat sangat menular dan terdiri dari tiga fasa. Dalam fasa pertama 

terbentuk banyak lendir akibat radang mukosa saluran pernapasan bagian atas, gejala lainnya ialah 

perasaan lemah, malaise, anoreksia dan conjunctivitis. Kira-kira seminggu kemudian menyusul fasa 

kedua dengan serangan-serangan batuk hebat dengan suara tinggi khas, yang sangat meletihkan dan 

umumnya berakhir dengan muntah. Fasa ketiga yaitu  masa penyembuhan yang berlangsung 7- 10 

hari. Dengan pemberian eritromisin dalam fasa permulaan gejala-gejalanya dapat diperlunak dan 

masa penularannya (dari ±4 minggu) bisa dipersingkat. Di banyak negara Barat di mana bayi di-

imunisasi secara rutin dengan vaksin DKTP, kasus batuk rejan sudah menjadi jarang sekali. Lihat Bab 

50, Vaksin.

*Radang paru (pneumonia) yaitu  penyakit infeksi akibat berbagai mikro-organisme, kebanyakan 

oleh kuman, yaitu Stafilokok, Streptokok, Pneumokok, Coli, Proteus, Haemophilus influenzae, 

Pseudomonas, Legionella, dan lain-lain. Ciri-cirinya yaitu  kombinasi dari batuk kering, diare, 

demam 38° C atau lebih dan kadar CRP > 20 mg per liter atau lebih (faktor radang).

sesudah  kuman di determinasi melalui persemaian, pengobatan dilakukan dengan penisilin-G 

dan amoksisilin terhadap kuman Gram-positif serta kombinasi dari sefalosporin + aminoglikosida 

terhadap kuman Gram-negatif, lihat juga Bab 5, Antibiotika. Untuk infeksi oleh Legionella dan 

Mycoplasma dipakai  eritromisin.


MONOGRAFI

1.ZAT-ZAT PEREDA SENTRAL

1a. Kodein (F.I.): metilmorfin, *Codipront

Alkaloid candu ini memiliki sifat yang 

menyerupai morfin, namun  efek analgetik 

dan meredakan batuknya jauh lebih lemah, 

begitu pula efek depresinya terhadap per-

napasan. Obat ini banyak dipakai  sebagai 

pereda batuk dan penghilang rasa sakit, 

biasanya dikombinasi dengan asetosal yang 

memberikan efek potensiasi. Dosis analgetik 

yang efektif terletak di antara 15 - 60 mg. 

Sama dengan morfin, kodein juga dapat 

membe baskan histamin (histamin-liberator).

Resorpsi dari usus jauh lebih baik daripada 

morfin, begitu pula FPE-nya lebih ringan, 

sehingga ±70% mencapai sirkulasi besar. PP 

hanya 7%, plasma-t½ 3-4 jam. Dalam hati zat 

ini diuraikan menjadi norkodein dan 10% 

menjadi morfin yang mungkin memegang 

peranan atas efek analgetiknya. Metabolitnya 

diekskresi sebagai glukuronida melalui urin 

dan 5-15% dalam keadaan utuh.

Efek samping jarang terjadi pada dosis 

biasa dan terbatas pada obstipasi, mual dan 

muntah, pusing dan termangu-mangu. Pada 

anak kecil dapat terjadi konvulsi dan depresi 

pernapasan. Dosis tinggi dapat menim bulkan 

efek sentral itu . Walaupun kurang hebat 

dan lebih jarang daripada morfin, obat ini 

dapat pula memicu  ketagihan.

Dosis: oral sebagai analgetikum dan pereda 

batuk 3-5 dd 10-40 mg dan maks. 200 mg 

sehari. Pada diare 3-4 dd 25-40 mg.

*Sediaan kombinasi dengan feniltoloksamin 

yaitu  *Codipront di mana kedua obat terikat 

pada suatu resin (damar), yang memberikan 

efek kerja panjang.

1b. Noskapin: narkotin, Mercotin, Longatin

Alkaloid candu alamiah ini tidak memi-

liki rumus fenantren seperti kodein dan morfin, 

namun  termasuk dalam kelompok benziliso-

kinolin seperti alkaloid candu lainnya (papa-

verin dan tebain). Efek meredakan batuk-

nya tidak sekuat kodein, namun  tidak meng-

akibatkan depresi pernapasan atau obstipasi, 

sedang  efek sedatifnya dapat diabaikan. 

Risiko adiksinya ringan sekali. Berkat sifat 

baik ini, obat itu  banyak dipakai  

dalam berbagai sediaan obat batuk populer. 

Noskapin tidak bersifat analgetik dan 

merupakan pembebas histamin yang kuat 

dengan efek bronchokonstriksi dan hipotensi 

(selewat) pada dosis besar.

Efek samping jarang terjadi dan berupa 

nyeri kepala, reaksi kulit dan perasaan lelah-

letih tidak bersemangat. 

Dosis: oral 3-4 kali sehari 15-50 mg, maks. 

250 mg sehari.

1c. Dekstrometorfan: metoksilevorfanol, *Ro-

milar/exp, *Benadryl DMP, *Quelidrine, *Tria-

minic

Derivat fenantren non-narkotik sintetik 

ini (1953) berkhasiat menekan rangsangan 

batuk yang sama kuatnya dengan kodein, 

namun  bertahan lebih lama. Tidak berkhasiat 

analgetik, sedatif, sembelit atau adiktif, oleh 

sebab  itu tidak termasuk dalam Daftar 

Narkotika. Mekanisme kerjanya berdasar  

peningkatan ambang pusat batuk di otak. 

Pada penyalahgunaan dengan dosis tinggi 

dapat terjadi efek stimulasi SSP dengan me-

nimbulkan semacam euforia, maka kadang-

kala dipakai  oleh pecandu drugs.

Resorpsi dari usus cepat dan mengalami 

FPE luas, padamana terbentuk glukuronida 

aktif dari dekstrorfan (= isomer-dekstro dari 

levorfanol). Plasma-t½ bervariasi individual 

dari 2-4 jam sampai 45 jam.

Efek samping hanya ringan dan terbatas 

pada mengantuk, termangu-mangu, pusing, 

nyeri kepala dan gangguan lambung-usus.

Dosis: oral 3-4 dd 10-20 mg (bromida) p.c., 

anak-anak 2-6 tahun 3-4 dd 8 mg , 6-12 tahun 

3-4 dd 15 mg.

2. ANTIHISTAMINIKA

2a. Prometazin: Phenergan, *Phenergan exp.

Derivat fenotiazin ini (1949) sebagai anti- 

histaminikum berkhasiat meredakan rang-

sangan batuk berkat sifat sedatif dan anti-

kolinergiknya yang kuat. Obat ini terutama 

dipakai  bagi anak-anak di atas usia 1 

tahun pada batuk malam yang menggelitik. 

Perlu diperhatikan bahwa obat ini jangan 

diberikan kepada anak kecil di bawah 

usia 1 tahun, sebab  dapat memicu  

depresi pernapasan dan kematian menda- 

dak („sudden infant death“). 

Efek samping