kok. Suatu studi be-
sar-besaran (BRONCUS-studi) telah mene-
mukan a.l. bahwa NAC (600 mg sehari)
memberikan efek baik pada penderita COPD
parah dengan serangan frekuen dibanding
yang tidak memakai ICS.37,38
OBAT ASMA DAN COPD
berdasar mekanisme kerjanya, obat asma
dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu
zat-zat yang menghindari degranulasi mastcells
(anti-alergika) dan zat-zat yang meniadakan efek
mediator (bronchodilator, antihistaminika dan
kortikosteroida). Penggolongan lengkapnya
yaitu sebagai berikut:
1. Anti-alergika yaitu zat-zat yang ber-
khasiat menstabilisasi mastcells, sehingga ti-
dak pecah dan memicu terlepasnya
histamin dan mediator peradang lainnya.
Yang terkenal yaitu kromoglikat dan nedo-
cromil, namun juga antihistaminika (ketotifen,
oksatomida) dan β2-adrenergika (lemah) memi-
liki khasiat ini. Obat ini sangat berguna untuk
prevensi serangan asma dan rhinitis alergik
(hay fever).
2. Bronchodilator
Obat-obat ini mengatasi penyempitan
bronchi dan dengan demikian juga berfungsi
melindungi bronchi.
Pelepasan kejang dan bronchodilatasi da-
pat dicapai dengan 3 cara, yakni merang-
sang sistem adrenergik dengan adrenergika
(simpatikomimetika) atau melalui pengham-
batan sistem kolinergik dengan antikolinergika
(antagonis reseptor muskarin), juga dengan
teofilin.
2a. Agonis-β2-adrenergik (β-mimetika): sal-
butamol, terbutalin, fenoterol, prokaterol, klenbu-
terol(Spiropent) dan indakaterol (Onbrez Bree-
zhaler). Juga salmeterol dan formoterol (long-
acting).19
Obat-obat ini bekerja selektif terhadap re-
septor-β2 adrenergik (bronchospasmolysis) dan
praktis tidak terhadap reseptor-β1 (stimulasi
jantung). Obat dengan efek terhadap kedua
reseptor sebaiknya jangan dipakai lagi
berhubung efeknya terhadap jantung, se-
perti efedrin, isoprenalin dan orsiprenalin. Pe-
ngecualian yaitu adrenalin (reseptor -α dan
-β) yang sangat efektif pada keadaan kemelut.
Mekanisme kerjanya yaitu melalui stimu-
lasi reseptor β2 yang banyak ada di
trachea (batang tenggorok) dan bronchi,
yang memicu aktivasi dari adenilsiklase.
Enzim ini memperkuat pengubahan ade-
nosintrifosfat (ATP) yang kaya enersi menjadi
cyclic-adenosine-monophosphat (cAMP) dengan
pembebasan enersi yang dipakai untuk
proses-proses dalam sel. Meningkatnya ka-
dar cAMP di dalam sel menghasilkan bebe-
rapa efek melalui enzim fosfokinase, a.l.
bronchodilatasi dan penghambatan pele-
pasan mediator oleh mastcells. Lihat Gambar
40-1: Sistem cAMP.
pemakaian nya semula sebagai monoterapi
kontinu, yang ternyata secara berangsur
meningkatkan HRB dan akhirnya memperburuk
fungsi paru, sebab tidak menanggulangi
peradangan dan peningkatan kepekaan bagi
alergen pada pasien alergis. Oleh sebab
itu sejak beberapa tahun hanya dipakai
terhadap serangan dan sebagai obat peme-
liharaan dalam kombinasi dengan zat anti-
radang, yaitu kortikosteroida inhalasi. Kom-
binasi dengan kortikosteroid yaitu juga
untuk menghindari timbulnya toleransi (de-
sensitasi) pada pemakaian kontinu.
Efek samping dari β2-agonis yaitu antara
lain tremor otot, tachycardia, hipokalemia
dan kegelisahan.
Kehamilan dan laktasi. Salbutamol dan ter-
butalin dapat dipakai oleh wanita hamil,
begitu pula fenoterol dan heksoprenalin
sesudah minggu ke-16. Salbutamol, terbutalin
dan salmeterol mencapai air susu ibu. Dari
obat lainnya belum ada cukup data
untuk menilai keamanannya pada binatang
percobaan; salmeterol ternyata merugikan
janin.
2b. Antikolinergika: ipratropium (Atrovent),
tiotropium (Spiriva) dan deptropin. Di dalam sel-
sel otot polos ada keseimbangan antara
sistem adrenergik dan sistem kolinergik.
Bila sebab sesuatu sebab reseptor β2 dari
sistem adrenergik terhambat, maka sistem
kolinergik akan berkuasa dengan akibat
bronchokonstriksi. Antikolinergika memblok
reseptor muskarin dari saraf-saraf kolinergik
di otot polos bronchi, hingga aktivitas saraf
adrenergik menjadi dominan dengan efek
bronchodilatasi.
pemakaian nya terutama untuk terapi
pemeliharaan HRB, namun juga berguna untuk
meniadakan serangan asma akut (melalui
inhalasi dengan efek pesat). Ipratropium dan
tiotropium khusus dipakai sebagai inhalasi,
kerjanya lebih panjang daripada salbutamol.
Kedua obat ini terutama dipakai ter-
hadap COPD, namun bagi kebanyakan pende-
rita asma obat-obat ini kurang efektif.
Kombinasinya dengan β2-mimetika sering
kali dipakai sebab menghasilkan efek
aditif. Deptropin(Brontin) berkhasiat mengu-
rangi HRB namun kerja spasmolitiknya ringan,
sehingga diperlukan dosis tinggi dengan
risiko efek samping yang lebih tinggi pula.
Adakalanya senyawa ini masih dipakai
untuk anak-anak kecil dengan hipersekresi
dahak, yang belum dapat diberikan terapi
melalui inhalasi.
Efek samping yang tidak dikehendaki yaitu
sifatnya yang mengentalkan dahak dan ta-
chycardia, yang tidak jarang mengganggu
terapi. Begitupula efek atropin lainnya seperti
mulut kering, obstipasi, sukar berkemih dan
penglihatan kabur akibat gangguan akomo-
dasi. pemakaian nya sebagai inhalasi meri-
ngankan efek samping ini.
Sejak beberapa dekade antikolinergika
dianggap sebagai bronchodilator of choice
untuk pengobatan COPD, namun kurang di-
minati oleh pasien asma disebabkan mulai
kerjanya lambat dan efeknya yang kurang baik
bagi fungsi paru bila dibandingkan dengan
beta-agonis (dihisap). Oleh sebab itu beta-
agonis long-acting yang dikombinasi dengan
glukokortikoid menjadi pengobatan standar
bagi pasien asma yang kurang memberikan
respons terhadap glukokortikoid saja.
Disamping tiotropium yang bekerja pan-
jang, sejak tahun 2013 telah dipasarkan
obat inhalasi yang mengandung parasim-
patikolitikum glikopironium (Seebri) dan
aklidinium (Eklira Genuair). Kedua-duanya
dipakai sebagai obat pemeliharaan terha-
dap COPD.
Untuk indikasi yang sama juga tersedia
senyawa beta-2-simpatikomimetikum kerja
panjang olodaterol (Striverdi Respimat) yang
dipakai melalui inhalator dengan dosis 5
mcg sehari.
2c. Derivat ksantin:teofilin, aminofilin
Khasiat bronchorelaksasinya diperkirakan
berdasar blokade reseptor adenosin. Se-
lain itu, teofilin –seperti juga kromoglikat–
mencegah meningkatnya hiperreaktivitas
dan berdasar ini bekerja profilaktik.
Resorpsi dari turunan teofilin sangat ber-
variasi; yang terbaik yaitu teofilin microfine
(particle size: 1-5 micron) dan garam-garamnya
aminofilin dan kolinteofilinat.
pemakaian nya secara terus-menerus pada
terapi pemeliharaan ternyata efektif mengu-
rangi frekuensi serta hebatnya serangan.
Pada keadaan akut (injeksi aminofilin) dapat
dikombinasi dengan obat asma lainnya, namun
kombinasi dengan β2-mimetika hendaknya
dipakai dengan hati-hati berhubung ke-
dua jenis obat saling memperkuat efek ter-
hadap jantung. Kombinasinya dengan efe-
drin (Asmadex, Asmasolon) praktis tidak me-
ningkatkan efek bronchodilatasi, sedang
efeknya terhadap jantung dan efek sentralnya
sangat diperkuat. Oleh sebab itu, sediaan
kombinasi demikian tidak dianjurkan, teru-
tama bagi para manula.
Tablet sustained release (Euphyllin retard 125-
250 mg) yaitu efektif untuk memperoleh
kadar darah yang konstan, khususnya pada
waktu tidur dan dengan demikian mencegah
serangan tengah malam dan ‘morning dip’.
Kehamilan dan laktasi. Teofilin aman bagi
wanita hamil. sebab dapat mencapai air
susu ibu, sebaiknya ibu menyusui bayinya
sebelum minum obat ini.
3. Kortikosteroid: hidrokortison, prednison,
deksametason
Kortikosteroid berkhasiat meniadakan efek
mediator, seperti peradangan dan gatal-gatal.
Khasiat antiradang ini berdasar blokade
enzim fosfolipase-A2, sehingga pembentukan
mediator peradangan prostaglandin dan
leukotriën dari asam arachidonat tidak terjadi
(Lihat Bab 21, Analgetika antiradang/rema).
Lagipula pelepasan asam ini oleh mastcells
juga dihalangi. Singkatnya kortikosteroid
menghambat mekanisme kegiatan alergen
yang melalui IgE dapat memicu de-
granulasi mastcells, juga meningkatkan kepe-
kaan reseptor-β2 hingga efek β-mimetika di-
perkuat.
pemakaian nya terutama bermanfaat pada
serangan asma akibat infeksi virus, sela-
in itu juga pada infeksi bakteri terhadap
reaksi peradangan. Pada reaksi alergi lambat
(type IV) juga efektif. Untuk mengurangi
hiperreaktivitas bronchi, zat-zat ini dapat
diberikan per inhalasi atau peroral. Dalam
kasus gawat dan status asthmaticus (kejang
bronchi), obat ini diberikan secara i.v. (per
infus), kemudian disusul dengan pemberian
oral.
pemakaian oral untuk jangka waktu lama
hendaknya dihindari, sebab menekan fung-
si anak ginjal dan dapat memicu
osteoporosis, maka hanya diberikan untuk
satu kur singkat. Pada serangan hebat dan
status asthmaticus, obat ini tidak dapat digu-
nakan. Lazimnya pengobatan dimulai dengan
dosis tinggi, yang dalam waktu 2 minggu
dikurangi sampai nihil. Bila perlu kur singkat
demikian dapat diulang lagi. Lihat selanjut-
nya Bab 46, ACTH dan Kortikosteroida.
Efek samping kortikosteroid pada peng-
gunaan jangka waktu lama terdiri dari os-
teoporosis (itu di atas), retensi cairan,
meningkatkan nafsu makan dan berat badan,
borok lambung, hipertensi, katarak, diabetes
dan gangguan psikis. Frekuensi dari efek
samping ini meningkat dengan usia.
Usaha dilakukan untuk mengembangkan
senyawa kortikoid dengan efek samping
lebih sedikit, misalya yang dimetabolisasi
cepat di saluran pernapasan („soft steroids“).
Hambatan utama dari terapi penderita
asma parah dan COPD yaitu resistensi kor-
tikosteroid (Barnes and Adcock, 2009)45. Asma
yang „steroid resistance“ ini disebabkan oleh
menurunnya khasiat anti-peradangan dari
kortikosteroid.
*Kortikosteroid inhalasi: beklometason
(Qvar), triamsinolon, flunisolida (Aerobid) dan
budesonida (Pulmicort). flutikason (Aerospan,
Flovent),mometason (Asmanex) dan siklesonida
(Alvesco).
Sejak beberapa tahun obat-obat ini telah
mendesak β2-mimetika sebagai terapi utama,
sebab juga dapat mencegah peradangan
lokal di bronchi. Keuntungannya diban-
dingkan kortikosteroid oral yaitu efek lo-
kalnya yang langsung tanpa diserap ke dalam
darah. Dengan demikian tidak memicu
efek samping sistemik serius (osteoporosis,
tukak dan perdarahan lambung, hipertensi,
diabetes dan lain-lain) walaupun absorpsi
dalam jumlah kecil di paru tidak dapat
dihindari.
Efek samping dari kortikosteroid inhalasi
terdiri dari efek lokal akibat deposit dari obat
ini pada selaput mulut dan tenggorok (suara
serak, kandidiasis mulut dan tenggorok,
batuk) dan efek sistemik (a.l. penipisan ku-
lit dan fragilitas pembuluh kulit terutama
pada lansia, katarak dan glaukoma (pada
pemakaian intra-okuler), pneumonia pada
penderita COPD, gangguan metabolisme
(glukosa, insulin, trigliserida) dan gangguan
psikis (eufori dan depresi).
Daya kerja dari triamsinolon dan fluniso-
lida paling rendah, beklometason dan bu-
desonida hampir seimbang, sedang flu-
tikason 2 kali lebih kuat dari beklometason.
4. Mukolitika dan ekspektoransia: asetil-/
karbosistein, mesna, bromheksin, guaifenesin, am-
broksol, kaliumiodida dan amoniumklorida.
Semua obat ini mengurangi kekentalan
dahak, mukolitika dengan merombak muko-
protein dan ekspektoransia dengan mengen-
cerkan dahak, sehingga pengeluarannya
dipermudah. Obat ini dapat meringankan
perasaan sesak napas dan terutama ber-
manfaat pada serangan asma hebat yang bisa
fatal bila sumbatan lendir sedemikian kental
tidak dapat dikeluarkan. Kaliumiodida se-
baiknya jangan dipakai untuk jangka
waktu lama berhubung efek sampingnya
(udema, urticaria, acne).
Penanganan simtomatik dengan menghi-
rup uap air panas dapat membantu pencairan
dahak yang kental sehingga lebih mudah
dikeluarkan. Penderita dianjurkan untuk ber-
batuk guna mengeluarkan dahak. Lihat juga
Bab 41, Obat-obat Batuk.
5. Antihistaminika: ketotifen, oksatomida
Obat-obat ini memblokir reseptor histamin
(H1-receptor blockers) dan dengan demikian
mencegah efek bronchokonstriksi. Anti-
histaminika sangat efektif terhadap sejumlah
gejala rhinitis allergica (hay fever), urticaria,
kepekaan terhadap obat-obat (rash), pruritus
dan gigitan/sengatan serangga. namun efek-
nya pada asma umumnya terbatas dan
kurang memuaskan, sebab antihistaminika
tidak mencegah efek bronchokonstriksi dari
mediator lain yang dilepaskan mastcells.
Banyak antihistaminika juga memiliki efek
antikolinergik dan sedatif, mungkin inilah
sebabnya mengapa kini masih agak banyak
dipakai pada terapi pemeliharaan. Keto-
tifen dan oksatomida berkhasiat menstabili-
sasi mastcells, oksatomida bahkan beker-
ja antiserotonin dan antileukotriën. Anti-
histaminika lain (cetirizin, azelastin) pun me-
miliki khasiat antileukotriën. Lihat juga Bab
51, Antihistaminika.
Antihistaminika generasi pertama (mis.
klorfeniramin, prometazin) memiliki khasiat
anti-muscarinic dan dapat menembus bar-
rier darah-otak, sehingga memicu pu-
sing dan gangguan pergerakan (psikomotor
impairment). Generasi ketiga dari senyawa-
senyawa ini (mis. loratadin, setirizin, fekso-
fenadin) tidak memiliki efek ini dan praktis
tidak memicu perasaan pusing sebab
tidak menembus barrier darah-otak.
6. Zat-zat antileukotriën (LT)
Pada pasien asma leukotriën turut menim-
bulkan bronchokonstriksi dan sekresi mu-
cus. berdasar fakta ini para sarjana telah
mengembangkan obat-obat „baru“, yaitu an-
tagonis leukotriën yang bekerja spesifik dan
efektif pada terapi pemeliharaan terhadap
asma.
Untuk penanganan rematik, para ahli ber-
upaya mensintesis obat-obat yang selain
berdaya antiprostaglandin, juga bersifat anti-
leukotriën (lihat juga Bab 21). Daya kerja
antileukotriën bisa berdasar pengham-
batan sintesis LT dengan jalan blokade enzim
lipoksigenase atau berdasar penempatan
reseptor LT dengan LT C4/D4-blocker.
a. Lipoksigenase-blocker, misalnya antihi-
staminika generasi-2, yang disamping
memblok reseptor-H2 juga menghambat
pembentukan leukotriën dan mediator
radang lainnya (prostaglandin, kinin).
Beberapa contohnya yaitu setirizin, lora-
tadin, azelastin (Astelin) dan ebastin. Lihat
juga Bab 51, Antihistaminika.
b. LT-receptorblocker (leukotriënreceptoranta-
gonis LTRA) yang kini tersedia yaitu
montelukast, zafirlukast (Accolate) dan pran-
lukast (Ultair). Obat-obat anti-asma dari
golongan ini berkhasiat menempati re-
septor LTB4 dan/atau LT-cysteinyl (C4,
D4 dan E4), lihat Bab 21. Obat2 rema.
Antagonis leukotriën ini mengurangi
efek konstriksi bronchi dan inflamasi dari
LTD4.
Gambar 40-1: Sistem cAMP dan titik-titik kerja beberapa obat asma
Gambar 40-2: Ringkasan skematis dari berbagai sistem fisiologi yang dapat me-
mengaruhi otot-otot bronchi serta titik kerja obat-obat asma
MONOGRAFI
1. ANTI ALERGIKA
1a. Kromoglikat: cromolyn sodium, Intal, Lo-
mudal/Lomusol
Zat sintetik ini merupakan keturunan
dari khellin, suatu zat dengan kerja broncho-
spasmolitis yang ada dalam biji saga
(Amni visaga). Kromoglikat berkhasiat men-
stabilisasi membran mastcell, sehingga
menghalangi pelepasan mediator vasoaktif,
seperti histamin, serotonin dan leukotriën,
pada waktu terjadinya reaksi antigen-anti-
body.
pemakaian . Kromoglikat sangat efektif
sebagai obat pencegah serangan asma dan
bronchitis yang bersifat alergis, conjuncti-
vitis/rhinitis allergica (hay fever) dan alergi
akibat bahan makanan. Untuk profilaksis
yang optimal, obat ini perlu diberikan
minimal 4 kali sehari yang efeknya baru
nyata sesudah 2-4 minggu. Sering kali dosis
bronchodilator dan prednison dengan ini
dapat dikurangi. pemakaian nya tidak bo-
leh dihentikan dengan tiba-tiba sebab dapat
memicu serangan. Pada serangan akut, kro-
molin tidak efektif sebab tidak memblok
reseptor histamin.
Dahulu pemakaian nya cukup banyak ka-
rena keamanannya yang baik, namun akhir-
akhir ini menurun drastis sebab tersedianya
obat inhalasi kortikosteroid yang lebih efektif
terutama bagi anak-anak.
Resorpsi. Di dalam usus tidak terjadi re-
sorpsi. Dari suatu dosis inhalasi (serbuk
halus), senyawa ini hanya 5-10% menca-
pai bronchi dan diserap, yang segera di-
ekskresikan lewat urin dan empedu secara
utuh. Plasma-t½ 1,5-2 jam, namun efeknya
bertahan 6 jam.
Efek samping berupa rangsangan lokal pa-
da selaput lendir tenggorok dan trachea,
dengan gejala a.l. perasaan kering, batuk-
batuk, kadang-kadang kejang bronchi dan
serangan asma selewat. Untuk mencegah hal
ini terlebih dahulu, dapat dipakai inhalasi
salbutamol. Rangsangan mukosa dapat ter-
jadi pada pemakaian nasal (Rynacrom, Lomu-
sol) dan pemakaian pada mata (Opticrom).
Wanita hamil dapat memakai kro-
moglikat.
Dosis: inhalasi minimal 4 dd 1 puff (20 mg)
sebagai serbuk halus dengan memakai
alat khusus (spinhaler), atau sebagai larutan
(aerosol). Nasal: 4 dd 10 mg serbuk dan untuk
mata 4-6 dd 1-2 tetes dari larutan 2%.
* Nedocromil (Tilade) yaitu senyawa di-
carbonic acid, sebagai turunan kromoglikat
(1986). Daya kerja dan pemakaian nya sama,
begitupula efek-efek sampingnya. Dosis: tra-
cheal 4 dd 4 mg (garam di-Na).
2.ADRENERGIKA
2a. Adrenalin: epinefrin, *Lidonest 5%
Zat adrenergik dengan efek alfa + beta ini
yaitu bronchodilator terkuat dengan kerja
cepat namun singkat dan dipakai untuk
serangan asma hebat. Sering kali dikombinasi
dengan tranquillizer peroral untuk mengatasi
rasa takut dan cemas yang menyertai se-
rangan. Secara oral, adrenalin tidak aktif.
Lihat selanjutnya Bab 31, Adrenergika dan
Adrenolitika.
Efek samping berupa efek sentral (gelisah,
tremor, nyeri kepala) dan terhadap jantung
(palpitasi, aritmia), terutama pada dosis lebih
tinggi. Timbul pula hiperglikemia, sebab efek
antidiabetika oral diperlemah.
Dosis: pada serangan asma i.v. 0,3 ml dari
larutan 1:1000 yang dapat diulang dua kali
setiap 20 menit (tartrat).
2b. Efedrin: *Asmadex, *Asmasolon, *Bronchi-
cum
Derivat adrenalin ini memiliki efek sentral
yang lebih kuat dengan efek bronchodilatasi
lebih ringan dan bertahan lebih lama (4 jam).
Efedrin dapat diberikan secara oral, maka
banyak dipakai sebagai obat asma (bebas
terbatas, tanpa resep) dalam berbagai sediaan
populer, walaupun efek sampingnya dapat
membahayakan.
Resorpsi baik dan dalam waktu ½-1 jam
sudah terjadi bronchodilatasi. Di dalam hati
sebagian zat dirombak; ekskresinya terutama
lewat urin secara utuh. Plasma-t½ 3-6 jam.
Efek samping. Pada orang yang peka, efedrin
dalam dosis rendah sudah dapat menim-
bulkan kesulitan tidur, tremor, gelisah dan
gangguan berkemih. Pada overdosis timbul
efek berbahaya terhadap SSP dan jantung
(palpitasi).
Dosis: 3-6 dd 25-50 mg, anak-anak 2-3 mg/
kg/hari dalam 4-6 dosis, dalam tetes hidung
(anti-mampat) larutan 1%, tidak boleh digu-
nakan untuk jangka waktu lama.
* Fenilpropanolamin (norefedrin, *Koldex, Tria-
minic) yaitu derivat tanpa gugusan -CH3
dengan kerja dan pemakaian yang sama,
namun bertahan lebih lama. Efek sentralnya
lebih ringan. Obat ini banyak ada da-
lam sediaan anti-pilek dan anti-selesma,
dalam kombinasi dengan analgetika, anti-
histaminika dan/atau obat batuk. Dosis: 3 dd
25-50 mg (HCl), tetes hidung 1-3%.
2c. Isoprenalin: Isuprel, Aleudrin
Derivat ini (1949) mempunyai efek β1
+ β2-adrenergik dan memiliki daya bron-
chodilatasi baik, namun resorpsinya di usus
buruk dan tidak teratur. Resorpsinya dari
mulut (oromukosal) sebagai tablet atau larutan
agak lebih baik serta cepat dan efeknya sudah
timbul sesudah beberapa menit dan bertahan
sampai 1 jam.
pemakaian nya sebagai obat asma sudah
terdesak oleh adrenergika dengan khasiat
spesifik terhadap reseptor-β2 (bronchi) dan
praktis tanpa efek β-1 (jantung), sehingga lebih
jarang memicu efek samping. Turunan
berikut juga dianggap obsolet dan sebaiknya
jangan dipakai lagi.
* Orsiprenalin (metaproterenol, Alupent, *Silo-
mat comp) yaitu isomer-isoprenalin dengan
resorpsi lebih baik, namun efeknya dimulai
lebih lambat (oral sesudah 15-20 menit) namun
bertahan lebih lama, sampai 4 jam. Mulai
kerjanya sesudah 10 menit melalui inhalasi
atau injeksi. Dosis: 4 dd 20 mg (sulfat), i.m.
atau s.c. 0,5 mg yang dapat diulang sesudah ½
jam, inhalasi 3-4 dd 2 semprotan.
3. BETA2-MIMETIKA
3a. Salbutamol: Ventolin, Volmax, Salbuven,
*Ventide
Derivat isoprenalin ini merupakan adre-
nergikum pertama (1968) yang pada do-
sis biasa memiliki daya kerja yang lebih
kurang spesifik terhadap reseptor-β2. Selain
berdaya bronchodilatasi baik, salbutamol
juga memiliki efek lemah terhadap stabilisasi
mastcell, maka sangat efektif untuk mencegah
maupun meniadakan serangan asma. De-
wasa ini obat ini sudah lazim dipakai
dalam bentuk aerosol sebab efeknya pesat
dengan efek samping yang lebih ringan
daripada pemakaian per oral. Pada saat
inhalasi serbuk halus atau larutan, ±80% dari
semprotan (puff) terendap pada langit-langit
tenggorok dan ±20% mencapai trachea, namun
hanya 7-8% dari bagian terhalus (1-5 mikron)
tiba di bronchioli dan paru-paru.
Efek samping jarang terjadi dan biasanya
berupa nyeri kepala, pusing-pusing, mual,
dan tremor tangan. Pada overdosis dapat
terjadi stimulasi reseptor β-1 dengan efek
kardiovaskuler: tachycardia, palpitasi, arit-
mia dan hipotensi. Oleh sebab itu, sangat
penting untuk memberikan instruksi yang
cermat agar jangan mengulang inhalasi
dalam waktu yang terlalu singkat, sebab
dapat terjadi tachyfylaxis (efek obat menurun
dengan pesat pada pemakaian yang terlalu
sering).
Dosis: 3-4 dd 2-4 mg (sulfat), inhalasi 3-4
dd 2 semprotan dari 100 mcg, pada serangan
akut 2 puff yang dapat diulang sesudah 15
menit. Pada serangan hebat i.m. atau s.c. 250-
500 mcg, yang dapat diulang sesudah 4 jam.
3b. Terbutalin: Bricasma, Bricanyl
Derivat metil dari orsiprenalin ini (1970)
juga berkhasiat β-2 selektif. Per oral mulai
kerjanya sesudah 1-2 jam, sedang lama
kerjanya ±6 jam. Lebih sering memicu
tachycardia.
Dosis: 2-3 dd 2,5-5 mg (sulfat), inhalasi 3-4
dd 1-2 semprotan dari 250 mcg, maks. 16 puff
sehari, s.c. 250 mcg, maks. 4 kali sehari.
* Fenoterol (Berotec,*Berodual) yaitu derivat
terbutalin dengan khasiat dan pemakaian
yang sama. Efeknya lebih kuat dan bertahan
±6 jam, lebih lama daripada salbutamol
(±4 jam). Dosis: 3 dd 2,5-5 mg (bromida),
suppositoria malam hari 15 mg dan inhalasi
3-4 dd 1-2 semprotan dari 200 mcg. *Berodual
= fenoterol 50 + ipratropium 20 mcg per puff.
3c. Salmeterol:Serevent, *Seretide
Senyawa long-acting ini (1990) kerjanya
cepat (sesudah 10-20 menit) dan bertahan se-
lama minimal 12 jam. Pada asma bronchial
perlu dikombinasi dengan kortikoida inhalasi.
Bila perlu dapat diberikan bersamaan obat
asma kerja singkat (salbutamol) atau dengan
suatu antikolinergikum (ipratropium, tiotro-
pium).
Dosis: pemeliharaan 2 dd 50 mcg, pada
COPD parah: 2 dd 100 mcg; anak-anak di atas
4 tahun 2 dd 50 mcg.
* Seretide =salmeterol 50 + fluticason 100-
250-500 mcg per puff (serbuk inhalasi).
3d. Prokaterol: Meptin
Derivat kuinolin ini memiliki daya kerja
bronchodilatasi yang sangat kuat dan hanya
dipakai secara oral dengan dosis 2 dd 50
mcg.
3e. Teofilin: 1,3 dimetilksantin, Quibron-T/SR,
Theobron
Alkaloid ini (1908) ada bersama ko-
fein (= trimetilksantin) di daun teh (Yun.
theos = Allah, phyllon = daun) dan memiliki
sejumlah khasiat, antara lain berefek spas-
molitis terhadap otot polos, khususnya otot
bronchi, menstimulasi jantung (efek inotrop
positif) dan mendilatasinya. Teofilin juga
menstimulasi SSP dan pernapasan, serta
bekerja diuretik lemah dan singkat. Kofein
juga memiliki semua khasiat ini walaupun
lebih lemah, kecuali efek stimulasi sentralnya
yang lebih kuat. Obat ini banyak dipakai
sebagai obat prevensi dan terapi serangan
asma9 sejak tahun 1930, terutama di negara-
negara berkembang sebab harganya yang
murah. namun pemakaian nya semakin ber-
kurang sebab masalah efek samping dan
tersedianya obat-obat yang lebih efektif
seperti kortikosteroid inhalasi yang meng-
hindari timbulnya efek samping sistemik.
Efek bronchodilatasi tidak berkorelasi
baik dengan dosis, namun memperlihatkan
hubungan jelas dengan kadar darah (dan
kadar di air liur). Luas terapeutiknya sempit
artinya dosis efektif berdekatan dengan dosis
toksik. Untuk efek optimal diperlukan kadar
dalam darah dari 10-15 mcg/ml, sedang
pada 20 mcg/ml sudah terjadi efek toksik.
Oleh sebab itu, dianjurkan untuk dosis
ditetapkan secara individual berdasar
kadar dalam darah. Hal ini terutama perlu
pada anak-anak di bawah usia 2 tahun
dan manula di atas 60 tahun, yang sangat
peka terhadap overdosis, juga pada pasien
gangguan hati dan ginjal.
Resorpsi di usus buruk dan tidak teratur.
Itulah sebabnya mengapa bronchodilator
tua ini (1935) dahulu jarang dipakai . Ba-
ru pada tahun 1970-an, diketahui bahwa
resorpsi dapat menjadi lebih sempurna bila
dipakai dalam bentuk serbuk micro-
fine (besar partikel 5-10 mikron). Juga pada
pemakaian sebagai larutan, yang seper-
lunya ditambahkan alkohol 20%. Plasma-t½
3-7 jam, ekskresi berlangsung sebagai asam
metilurat lewat urin dan hanya 10% dalam
keadaan utuh. Teofilin sebaiknya dipakai
sebagai sediaan ‘sustained release’ (walaupun
hasilnya tidak begitu besar) yang meng-
hasilkan resorpsi konstan dan kadar dalam
darah yang lebih teratur.
Efek samping yang terpenting berupa mu-
al dan muntah, baik pada pemakaian oral
maupun rektal atau parenteral. Pada over-
dosis timbul efek sentral (gelisah, sukar
tidur, tremor dan konvulsi) serta gangguan
pernapasan, juga efek kardiovaskuler, seperti
tachycardia, aritmia dan hipotensi. Anak kecil
sangat peka terhadap efek samping teofilin.
Dosis: 3-4 dd 125-250 mg microfine (retard).
1 g teofilin 0 aq = 1,1 g teofilin 1 aq = 1,17 g
aminofilin 0 aq = 1,23 g aminofilin 1 aq.
*Aminofilin (teofilin-etilendiamin, Phyllocontin
continus, Euphyllin) yaitu garam yang da-
lam darah membebaskan teofilin. Garam
ini bersifat basa dan sangat merangsang se-
laput lendir, sehingga per oral sering kali
memicu gangguan lambung (mual,
muntah), juga pada pemakaian dalam sup-
positoria dan injeksi intra-muskuler (nyeri!).
Pada serangan asma, obat ini dipakai se-
bagai injeksi i.v. Dosis: oral 2-4 dd 175-350 mg
dalam bentuk tablet salut (tanpa dikunyah);
pada serangan hebat i.v. 240 mg, rektal 2-3 dd
360 mg. Dosis maks. 1,5 g sehari.
4. ANTIKOLINERGIKA.
Lihat juga Bab 32, Kolinergika dan anti-
kolinergika.
4a Ipratropium: Atrovent, *Berodual, *Combi-
vent
Derivat-N-propil dari atropin ini (1974)
yaitu antagonis-muskarin dan berkhasiat
bronchodilatasi, sebab menghindari pem-
bentukan cGMP yang memicu kon_
striksi. Ipratropin mengurangi hipersekresi
di bronchi, yaitu „efek mengeringkan“ dari
obat antikolinergika, maka sangat efektif
pada pasien yang mengeluarkan banyak
dahak. Khusus dipakai sebagai inhalasi
efeknya dimulai lebih lambat (15 menit)
daripada β2-mimetika. Efek maksimal dicapai
sesudah 1-2 jam dan bertahan rata-rata 6 jam.
Sangat efektif sebagai obat pencegah dan
pemeliharaan, terutama pada bronchitis kro-
nis. Kini zat ini tidak dipakai (lagi) se-
bagai monoterapi (pemeliharaan), namun se-
lalu bersama kortikosteroid-inhalasi. Kom-
binasinya dengan β2-mimetika memperkuat
efeknya (adisi).
Resorpsi peroral buruk (seperti semua se-
nyawa amonium kuaterner). Secara tracheal
hanya bekerja setempat dan praktis tidak
diserap. Keuntungannya ialah zat ini juga
dapat dipakai oleh pasien jantung yang
tidak tahan terhadap adrenergika.
Efek samping jarang terjadi dan biasanya
berupa mulut kering, mual, nyeri kepala dan
pusing.
Dosis: inhalasi 3-4 dd 2 semprotan dari 20
mcg (bromida).
*Tiotropium (Spiriva) yaitu derivat long-
acting (2000) yang juga memiliki rumus
amonium kuaterner dan merupakan anta-
gonis muskarin-reseptor kuat yang agak
selektif. Banyak dipakai sebagai bron-
chodilator kerja panjang yang efektif pada
terapi pemeliharaan COPD.36
Antagonis muskarin-reseptor banyak digu-
nakan pada berbagai gangguan, khususnya
untuk menghambat efek aktivitas parasim-
patolitik di saluran cerna dan urin, saluran
pernapasan, mata dan jantung. Dosis: 1 dd 1
serbuk inhalasi (kapsul 18 mcg tiotropium)
dengan memakai alat khusus “Handi-
Haler” (Ph Wkbl 2002;137:871-5)
5. MUKOLITIKA.
5a Asetilsistein: Fluimucil
Di samping kerja mukolitiknya juga ber-
efek antioksidan dengan melindungi ja-
ringan paru terhadap kerusakan (lanjutan)
pada COPD. Kerjanya langsung berkat
gugus-thiol bebas yang dapat bereaksi de-
ngan gugus elektrofil dari FR reaktif. Berefek
antioksidans tak-langsung sebagai precursor
dari glutathion (melalui zat antara sistein).
Glutathion (GSH), suatu tripeptida dari
tiga asam amino (glutamin, sistein dan glisin)
merupakan anti-oksidans alamiah esensial,
yang, ada di semua sel hewan. GSH
berperan sentral pada berbagai proses bio-
kimiawi, seperti sintesis dari precursor DNA,
prostaglandin dan leukotriën serta inaktivasi
dari obat-obat tertentu, a.l. parasetamol. GSH
merupakan unsur utama dari cairan-UW
(University of Wisconsin), yang dipakai
untuk menyimpan organ-organ donor berkat
daya kerjanya dapat melindungi organ
itu terhadap kerusakan.
Asetilsistein dengan dosis 600 mg sehari
sesudah 2 bulan dapat mengencerkan spu-
tum, mempermudah pengeluarannya dan
meringankan parahnya batuk. Juga berkha-
siat mengurangi jumlah kuman di saluran
pernapasan.
Resorpsi dari saluran cerna pesat, namun BA
hanya ±5% akibat FPE yang tinggi. Seperti
semua asam amino distribusi dalam tubuh
baik dengan mencapai kadar tinggi, a.l.
di saluran pernapasan dan sekret bronchi.
Dalam hati diubah menjadi asam amino
sistein, sistin dan taurin yang ekskresinya ber-
langsung melalui urin.
Mekanisme kerja. Sifat melindungi dari
asetilsistein didasarkan atas peningkatan
persediaan GSH di samping memperkuat
aktivitas antioksidan alamiah lain (a.l. dis-
mutase). Asetilsistein juga dapat ‘melahap’ FR
dan mengurangi produksi FR oleh makrofag
alveoler akibat asap rokok di samping juga
mencegah inaktivasi oksidatif dari anti-elastase,
yang melindungi alveoli terhadap elastase.
sebab itu elastase tidak dapat merombak
dinding alveoli, sehingga timbulnya dan
progresi emfisema dihentikan.
pemakaian . Berkat kerja antioksidansnya
AS yang dikombinasi dengan bronchodila-
tor, pada COPD berkhasiat mengurangi
frekuensi exacerbatio dan keluhan (batuk,
banyaknya dan viskositas dahak), terutama
pada pasien di atas 50 tahun. Di samping
itu dahak kental dicairkan dan produksinya
dikurangi. Bermanfaat pula bagi penderi-
ta cystic fibrosis, suatu penyakit keturunan
yang memicu kelenjar-kelenjar tertentu
memproduksi sekret abnormal yang liat,
kental atau padat dan yang gejala-gejalanya
terutama memengaruhi saluran cerna dan
paru-paru.
Asetilsistein juga merupakan zat penawar
(antidotum) terhadap keracunan parasetamol
berdasar peningkatan persediaan gluta-
thion. Senyawa ini mengikat metabolit toksik
dari parasetamol dan dengan demikian da-
pat menghindari necrosis hati bila diberikan
dalam waktu 10 jam (peroral atau i.v.) sesudah
terjadinya intoksikasi parasetamol.
Efek samping yang paling sering terjadi
yaitu mual dan muntah, maka penderita
tukak lambung perlu waspada. Sebagai obat
inhalasi da pat memicu kejang-kejang
bronchi pada penderita asma. Pada dosis
tinggi (seperti pada intoksikasi parasetamol)
dapat timbul reaksi anafilaktik dengan rash,
gatal, udema, hipotensi dan bronchospasme.
Wanita hamil dan selama laktasi boleh meng-
gunakan obat ini.
Dosis: oral 3-6 dd 200 mg atau 1-2 dd 600
mg granulat, anak-anak 2-7 tahun 2 dd 200
mg, di bawah 2 thn 2 dd 100 mg. Sebagai
antidotum keracunan parasetamol, oral 140
mg/kg berat badan dari larutan 5%, disusul
dengan 70 mg/kg setiap 4 jam. Lihat juga Bab
41, Obat-obat Batuk.
*Karbosistein(Broncholit, Rhinathiol) yaitu
derivat (1969) dengan sifat dan pemakaian
sama. Juga dapat memutuskan „jembatan“
sulfur dari mukopolisakarida di selaput
lendir lambung, sehingga mucus menjadi
lebih cair.Dosis 2-3 dd 1 g.
6. ANTIhISTAMINIKA.
Lihat juga Bab 51.
6a. Ketotifen: Zaditen
Turunan pizotifen dengan =O pada cincin
tujuh ini (1980) selain memblokir reseptor
histamin, juga menstabilisasi mastcells.
Zat ini sama efektifnya dengan kromoglikat
pada profilaksis asma yang bersifat alergi.
Efeknya baru nyata sesudah 6 minggu. Pero-
ral, efek antikejangnya ringan, oleh kare-
na itu tidak berguna pada serangan asma
akut. Telah dibuktikan bahwa pemakaian
antihistaminika dalam bentuk inhalasi dapat
menghasilkan bronchodilatasi baik. Dengan
dipakai nya obat ini dosis adrenergika dan
prednison yang diberikan bersamaan dapat
dikurangi.
Resorpsi dari usus cepat dan baik (lebih
dari 90%), namun FPE besar (70%) sehingga
BA hanya ±27%. Zat ini terikat pada protein
untuk 80%, plasma-t½ panjang ialah 8 jam.
Ekskresi melalui urin sebagai glukuronida.
Efek samping berupa rasa kantuk, kadang-
kala mulut kering dan perasaan pusing yang
hanya selewat. Zat ini dapat memperkuat
efek sedatif dari alkohol. Kombinasi dengan
antidiabetika oral tidak dianjurkan, sebab
dapat mengurangi jumlah trombosit darah.
Dosis: malam hari 1 mg selama 1 minggu,
lalu 2 dd 1-2 mg (fumarat).
6b. Oksatomida: Tinset
Derivat piperazin ini (1982) berkhasiat
memblokir reseptor histamin, serotonin
dan leukotriën di otot, juga menstabilisasi
mastcells. Dianjurkan sebagai obat peme-
liharaan dan pencegah pada asma alergik,
rhinitis alergik (hay fever) dan urticaria kronis
(berkat efek antiserotonin). Tidak berguna
pada serangan akut.
Resorpsi dari usus cepat, PP 90% dan me-
tabolisasi dalam hati berlangsung cepat. Eks-
kresi berlangsung lewat urin.
Efek samping berupa rasa kantuk (selewat)
dan bertambahnya nafsu makan yang ber-
kaitan dengan sifat antiserotonin. Kombinasi
dengan alkohol dan zat-zat penekan SSP lain-
nya memperkuat efeknya.
Dosis: 2 dd 30-60 mg sesudah makan.
7. ANTAGONIS LEUKOTRIËN
7a. Zafirlukast: Accolate
Zat antileukotriën ini (1996) melindungi
terhadap bronchokonstriksi dan peradangan
yang dipicu oleh berbagai stimuli, seperti
mengeluarkan tenaga, hawa dingin, berbagai
alergen dan PAF. Khasiat ini berdasar
pengikatan pada reseptor leukotriën tertentu,
sehingga daya kerja leukotriën LTC4, LTD4
dan LTE4 dihindari. dipakai untuk pe-
ngobatan asma bila ICS dan β2-mimetika
tidak atau kurang efektif.
Resorpsi dari usus dikurangi oleh makanan
dengan 40%, oleh sebab itu harus diminum
pada perut kosong. PPP 99% dan masa pa-
ruh 10 jam. Dalam hati dirombak dengan
drastis dan metabolitnya dikeluarkan dengan
feses (90%) dan urin (10%). Keluhan asma
berkurang sesudah beberapa hari sampai
satu minggu.
Efek samping utama yaitu gangguan lam-
bung- usus (ringan), nyeri kepala dan reaksi
alergi kulit. Obat ini masuk ke ASI.
Dosis: permulaan 2 dd 20 mg a.c., ber-
angsur-angsur dinaikkan sampai 2 dd 40 mg,
anak-anak 7-12 thn 2 dd 10 mg a.c.
7b. Montelukast: Singulair
LT-reseptorblocker selektif dengan efek
bronchodilatasi ini (1997) memberikan efek
dalam waktu 2 jam. Berkhasiat menghambat
reaksi alergik, baik yang dini maupun yang
lambat, juga menurunkan jumlah eosinofil
dalam darah (seperti kortikoid). dipakai
sebagai terapi kombinasi dengan obat asma
lainnya, juga untuk prevensi serangan asma
sesudah kegiatan yang meletihkan. Untuk
menanggulangi serangan akut tidak efektif.
Resorpsi cepat dengan BA 73% yang tidak
dipengaruhi oleh makanan, t½ ± 4 jam,
ekskresi terutama dengan feses. Obat ini
masuk ke dalam air susu ibu.
Efek samping yang tersering yaitu gang-
guan saluran cerna dan sakit kepala, juga
gejala flu, pusing, mulut kering dan rash (ku-
lit).
Dosis pemeliharaan: di atas 15 tahun 1 tablet
kunyah (10 mg) sebelum tidur dengan perut
kosong. Anak-anak 6-14 thn 5 mg.
8. KORTIKOSTEROIDA
8a. Hidrokortison, predniso(lo)n, deksame-
tason, triamsinolon.
Obat-obat ini hanya diberikan peroral pa-
da asma parah yang tidak dapat dikenda-
likan dengan obat asma lainnya. Untuk
menghindari supresi anak-ginjal, biasanya
obat diberikan sebagai suatu kur singkat
dari 2 dan maksimal 3 minggu. Pada status
asthmaticus, hidrokortison atau prednisolon
dipakai sebagai injeksi i.v. dengan dosis
tinggi. Ternyata bahwa obat ini memperkuat
efek adrenergika dan teofilin, juga mengu-
rangi sekresi dahak.
Efek samping yang terpenting yaitu gejala
Cushing (osteoporosis, moonface, hipertri-
chosis, impotensi) serta penekanan fungsi
anakginjal.
Kehamilan: predni(sol)on tidak memenga-
ruhi janin pada dosis rendah (5-20 mg sehari).
Dosis: prednisolon untuk kur singkat 25-
40 mg sesudah makan pagi yang setiap dua
hari dikurangi dengan 5 mg sampai kur
selesai dalam waktu 2-3 minggu. Untuk
pemeliharaan 5-10 mg prednisolon setiap
48 jam, deksametason/betametason setiap
hari 0,5 mg. Kemudian terapi dilanjutkan de-
ngan suatu ICS. Bila kambuh lagi biasanya
serangan asma hebat atau terjadi infeksi,
perlu dijalani kur kembali.
Lihat selanjutnya Bab 46, ACTH dan Kor-
tikosteroida.
* Kortikosteroid inhalasi (ICS)
Pada COPD kortikosteroid inhalasi kini
dipakai sebagai obat yang setaraf dengan
zat bronchodilator, bahkan lebih penting
untuk memperlambat memburuknya penya-
kit. pemakaian nya secara tracheal (melalui
tenggorok) sebagai semprotan aerosol dan
juga secara nasal (melalui hidung) untuk
profilaksis dan terapi rhinitis alergik. Kom-
binasi dari steroid dengan β2-mimetika
long-acting yang banyak dipakai yaitu
budesonida+salmeterol (*Seretide) dan fluti-
kason+formoterol (* Symbicort).
Efek samping dari pemakaian kortikos-
teroid inhalasi berupa penurunan ketahanan
lokal dari mukosa terhadap infeksi fungi
dengan akibat timbulnya infeksi ragi Candida
albicans (candidiasis) di mulut (5% penderita)
dan suara parau akibat iritasi tenggorok
dan pita suara. Risiko infeksi ini dapat di-
hindari bila berkumur dengan air tiap kali
sesudah menyemprotkan obat inhalasi. Pada
inhalasi nasal juga dapat terjadi candidiasis,
di samping bersin, perdarahan dan atrofia
mukosa hidung.
Kehamilan dan laktasi. Belum ada cukup
data untuk menilai keamanannya bagi janin
pada pemakaian secara tracheal (inhalasi);
beklometason dan flutikason bersifat tera-
togen pada binatang percobaan. Tidak di-
ketahui apakah zat-zat ini dapat mencapai air
susu ibu.
8b. Beklometason (dipropionat): Becotide,
Beconase, *Ventide
Derivat betametason ini (1967), yang atom
fluornya digantikan oleh klor, mempunyai
daya larut buruk dan hanya sedikit diresor-
psi oleh mukosa bronchi. Obat ini dengan
cepat diinaktivasi melalui esterase. sebab
sebagian besar dari suatu inhalasi (80%)
terendap di mulut dan tenggorok, risiko
resorpsi meningkat pada dosis tinggi dan
bagi beklometason pada dosis di atas 1000
mcg sehari. Glukokortikoid ini dapat digu-
nakan secara lokal dalam bentuk aerosol
(Nebuhaler), serbuk inhalasi (turbuhaler) atau
cairan inhalasi. Dengan cara pemberian ini,
efek samping sistemik dari pemakaian oral
dapat dihindari.
Dosis: tracheal 3-4 dd 2 puff dari 50 mcg
(dipropionat), intranasal 2-4 dd 1 puff di
setiap lubang hidung (Beconase).
8c. Budesonida: Pulmicort, Rhinocort, *Symbi-
cort, Obucort swinghaler
Derivat tanpa atom halogen ini (1980)
memiliki efek lokal yang dua kali lebih ku-
at daripada beklometason, sebab tidak
diinaktivasi di paru-paru (dan di kulit). Dari
dosis inhalasi 10-30% mengendap di paru-
paru. Efeknya baru nyata sesudah 10 hari
dan mencapai puncaknya sesudah beberapa
minggu. Obat yang diberikan per oral diserap
dan dengan pesat dirombak untuk 90%
dalam hati (FPE besar). Untuk menghindari
infeksi Candida juga perlu berkumur setiap
kali sesudah inhalasi.
Dosis: tracheal 2 dd 2 puff dari 200 mcg,
intranasal 2 dd 1 puff (Rhinocort). Salep/krem
0,25 mg/g.
* Symbicort: budesonida 100/200 + formoterol
6/6 microgram per inhalasi
8d. Flutikason: Flixonase, Flixotide, Cutivate,
*Seretide
Derivat difluor (dalam inti steroida) ini
dengan rantai samping -CO-S-CH2F pada
C17 (1990), pada pemakaian tracheal tidak
diinaktifkan dalam paru-paru. Efeknya men-
jadi nyata sesudah 1 minggu, daya kerja-
nya bertahan lebih panjang dari kedua
obat lainnya (plasma-t½ 3 jam). Dosis yang
diminum hanya untuk sebagian kecil diserap,
kemudian dirombak dalam hati menjadi
metabolit inaktif.
Efek samping. Pada dosis tinggi (di atas
500 mcg/hari) ternyata memicu efek
sistemik: a.l. anak-anak dihambat pertum-
buhannya. pemicu nya mungkin sebab
bersifat sangat lipofil dengan volume pem-
bagian lebih besar dan ikatan reseptornya
yang lebih erat daripada obat lain.
Dosis: pemeliharaan asma 2 dd 100-500
mcg (propionat), maksimal 2 mg sehari, anak-
anak 4-16 tahun 2 dd 50-100 mcg. Untuk kulit:
krem 0,05% (Cutivate).
* Seretide: flutikason 100/250/500+salmeterol
50/50/50 microgram per inhalasi.
8e. Flunisolida: Syntaris
Pada pemakaian inhalasi intranasal,
derivat fluor ini (1978) diresorpsi 50%, namun
FPE besar dan cepat diinaktivasi oleh hati.
Plasma- t½ 105 menit.
Dosis: pada rhinitis alergik intranasal 2-3
dd 25-50 mcg.
9. PENGOBATAN
IMUNOMODULATOR
a. Terapi imunosupresif
Ternyata kurang efektif pada asma (meto-
treksat, siklosporin A) dan memiliki lebih
banyak efek samping daripada kortikosteroid
oral.
b. Terapi Anti-IgE
Suatu antibodi monoklonal omalizumab (Xo-
lair, Avila, 2007) dapat memblokir pengikatan
IgE pada reseptor IgE di mastcel, menghindari
aktivasinya oleh alergen dan menghindari
peradangan kronis. Juga menurunkan jumlah
IgE dalam sirkulasi. Hanya dipakai pada
penderita asma yang sangat parah berhubung
biayanya yang sangat mahal.
dipakai sebagai injeksi subkutan tiap
2-4 minggu dengan dosis yang tergantung
dari titer IgE yang bersirkulasi.
Efek samping utamanya reaksi anafilaktik
yang jarang timbul
OBAT-OBAT BATUK
“Love and a cough cannot be hidden” (pepatah
lama, sumber tidak diketahui)
FISIOLOGI BATUK
Batuk yaitu suatu refleks fisiologi protektif
yang bermanfaat untuk mengeluarkan dan
membersihkan saluran pernapasan dari da-
hak, debu, zat-zat perangsang asing yang
dihirup, partikel-partikel asing dan unsur-
unsur infeksi. Orang sehat hampir sama sekali
tidak batuk berkat mekanisme pembersihan dari
bulu getar di dinding bronchi, yang berfungsi
menggerakkan dahak keluar dari paru-paru
menuju batang tenggorok. Cilia ini bantu
menghindarkan masuknya zat-zat asing ke
saluran pernapasan.
Etiologi
Pada banyak gangguan saluran pernapasan,
batuk merupakan gejala penting yang di-
timbulkan oleh terpicunya refleks batuk.
Misalnya pada alergi (asma), sebab-sebab
mekanik (asap rokok, debu) tumor paru,
perubahan suhu yang mendadak dan rang-
sangan kimiawi (gas, bau). Sering kali juga
disebabkan oleh peradangan akibat infeksi
virus seperti virus selesma (common cold),
influenza, bronchitis dan pharyngitis. Virus-
virus ini dapat merusak mukosa saluran
pernapasan, sehingga menciptakan “pintu
masuk” untuk infeksi sekunder oleh kuman,
misalnya Pneumococci dan Haemophilus. Batuk
dapat memicu menjalarnya infeksi
dari suatu bagian paru ke yang lain dan juga
merupakan beban tambahan bagi pasien
penyakit jantung.
pemicu batuk lainnya yaitu peradangan
dari jaringan paru (pneumonia), tu mor dan
juga akibat efek samping beberapa obat
(penghambat ACE).
Pada 5-20% pasien, pengguna ACE (Angio-
tensin-converting enzyme) inhibitors terhadap
hipertensi dapat timbul batuk kering yang
menjemukan dan disebabkan oleh akumulasi
di paru dari senyawa-senyawa bradikinin,
zat P dan/atau prostaglandin. Untuk meng-
hindari gejala ini dosis penghambat ACE
dikurangi atau beralih ke obat-obat dari ke-
lompok ARB (Angiotensin Receptor Blocker).
Bila pemakaian obat penghambat ACE
dihentikan, gejala batuk kering ini biasanya
juga akan hilang dalam waktu 4 hari.
Batuk juga merupakan gejala terpenting
pada penyakit kanker paru. Penyakit tuber-
kulosa di lain pihak, tidak selalu harus di-
sertai batuk, walaupun gejala ini sangat pen-
ting. Selanjutnya batuk yaitu gejala lazim
pada penyakit tifus dan dekompensasi jantung,
terutama manula, begitu pula pada asma
dan keadaan psikis (kebiasaan atau “tic”).
Akhirnya batuk yang tidak sembuh-sembuh
dan “batuk darah” teru tama pada anak-anak
dapat pula disebabkan oleh penyakit cacing,
misalnya oleh cacing gelang.
Di samping gangguan-gangguan itu ,
batuk bisa juga dipicu oleh stimulasi reseptor-
reseptor yang ada di mukosa dari seluruh
saluran pernapasan, (termasuk tenggorok),
juga dalam lambung. Bila reseptor ini yang
peka bagi zat-zat perangsang distimulasi,
timbullah refleks batuk. Saraf-saraf tertentu
menyalurkan isyarat-isyarat ke pusat batuk
di sumsum lanjutan (medulla oblongata), yang
kemudian mengkoordinasi serangkaian pro-
ses yang menjurus ke respons batuk.
Batuk yang berlarut-larut merupakan be-
ban serius bagi banyak penderita dan me-
nimbulkan berbagai keluhan lain seperti su-
kar tidur, keletihan dan inkontinensi urin.
* Selesma (common cold) yang umumnya
disebut flu yaitu infeksi akut oleh suatu
rhinovirus yang ada dalam jumlah besar
di udara. Gejalanya timbul sesudah suatu
periode inkubasi singkat (1-3 hari) dan berupa
batuk-pilek, bersin dan sakit tenggorok
yang sembuh dengan sendirinya bila tidak
ada komplikasi lain dan sering kali tanpa
demam. pemicu nya yaitu peradangan
pada saluran pernapasan bagian atas, se-
perti hidung, tenggorok, larynx (pangkal
tenggorok) dan bronchi. Pada musim hujan,
keluhan yang banyak sekali timbul yaitu
flu, batuk dan infeksi saluran pernapasan.
Dahak bronchi
Dahak bronchi terdiri dari larutan suatu
persenyawaan rumit mukopolisakarida dan
glikoprotein, yang saling terikat melalui jem-
batan sulfur. Kekentalan dan keliatannya
tergantung dari jumlah air dan jembatan-SH
(sulfhidril) itu . Dalam keadaan normal
saluran pernapasan membentuk sekitar 100
ml sekret seharinya, yang untuk sebagian
besar ditelan. Pada keadaan sakit, seperti
pada pasien asma dan bronchitis, produksi
dahak ber tambah, begitu pula kekentalannya
meningkat hingga sukar dikeluarkan (lihat
Bab 40, Obat asma dan COPD). Sering kali
keadaan ini dipersulit lagi oleh terganggunya
fungsi bulu getar.
Jenis batuk
Dapat dibedakan 2 jenis batuk, yaitu batuk
pro duktif (dengan dahak) dan batuk non-produktif
(kering).
1. Batuk produktif merupakan suatu meka-
nisme perlindungan dengan fungsi men-
geluarkan zat-zat asing (kuman, debu, dan
sebagainya) dan dahak dari batang teng-
gorok seperti diuraikan di atas. Batuk ini
pada hakikatnya tidak boleh „ditekan“ oleh
obat pereda. namun dalam praktik sering
kali batuk yang hebat meng ganggu tidur
dan meletihkan pasien ataupun berbahaya,
misalnya sesudah pembedahan. Untuk me-
ringankan dan mengurangi frekuensi batuk
umumnya dilakukan terapi sim tomatis de-
ngan obat-obat batuk (antitussiva), yaitu zat
pelunak, ekspektoransia, mukolitika dan
pereda batuk.
2. Batuk non-produktif bersifat „kering“
tanpa adanya dahak, misalnya pada batuk
rejan (pertussis, kinkhoest), atau juga sebab
pengeluaran nya memang tidak mungkin,
seperti pada tumor. Batuk menggelitik ini
tidak ada manfaatnya, menjengkelkan dan
sering kali mengganggu tidur. Bila tidak
diobati, batuk demikian akan berulang terus
sebab pengeluaran udara yang cepat pada
waktu batuk akan kembali merangsang
mukosa tenggorok dan farynx.
Obat-obat batuk
Antitussiva (L. tussis = batuk) dipakai
untuk pengobatan batuk sebagai gejala dan
dapat dibagi dalam sejumlah kelompok de-
ngan mekanisme kerja yang sangat beraneka-
ragam, yaitu:
a. zat pelunak batuk (emolliensia, L. mollis =
lunak), yang memperlunak rangsangan
batuk, melumas tenggorok agar tidak
kering dan melunakkan mukosa yang
teriritasi. Untuk tujuan ini banyak digu-
nakan sirop (Thymi dan Altheae), zat-zat
lendir (Infus Carrageen) dan gula-gula
seperti drop (akar manis, succus liquiritiae),
permen, pastilles hisap (memperbanyak
sekresi ludah), dan sebagainyanya.
b. ekspektoransia (L. ex = keluar; pectus
= dada): minyak terbang, guaiakol, Radix
Ipeca (dalam tablet/pulvis Doveri) dan
amoniumklorida (dalam Obat Batuk Hi-
tam). Zat-zat ini memperbanyak produk-
si dahak (encer) dan dengan demikian
mengurangi kekenta lannya, sehingga
mempermudah pengeluarannya melalui
batuk. Mekanisme kerjanya yaitu me-
rangsang reseptor-reseptor di mukosa
lambung yang kemudian meningkatkan
kegiatan kelenjar sekresi dari saluran
lambung-usus dan sebagai refleks mem-
perbanyak sekresi dari kelenjar yang
berada di saluran pernapasan. Diper-
kirakan bahwa kegiatan ekspektoransia
juga dapat dipicu dengan meminum
banyak air.
c. mukolitika: asetilsistein, mesna, bromheksin
dan ambroksol. Zat-zat ini berefek me-
rombak dan melarutkan dahak (L. mucus
= lendir, lysis = melarutkan) sehingga
viskositasnya dikurangi dan pengeluar-
annya dipermudah. Lendir memiliki gu-
gus sulfhidril (-SH) yang saling mengikat
makromolekulnya. Senyawa-sistein dan
mesna efektif membuka jembatan disulfida
ini. Bromheksin dan ambroksol bekerja de-
ngan memutuskan „serat-serat“ (rantai
panjang) dari mukopolisakarida.
Mukolitika dipakai dengan efektif
pada batuk dengan dahak yang kental
sekali, seperti pada bronchitis, emfisema
dan mucoviscidosis (= cystic fibrosis). namun
biasanya zat-zat ini tidak berguna
bila gerakan bulu getar terganggu seperti
pada perokok atau akibat infeksi.
d. zat pereda: kodein, noskapin, dekstrometorfan
dan pentoksiverin (Tuclase). Obat-obat de-
ngan kerja sentral ini ampuh sekali pada
batuk kering yang menggelitik.
e. antihistaminika: prometazin, oksomemazin,
difenhidramin dan d-klorfeniramin. Obat-
obat ini sering kali juga efektif berda-
sarkan efek sedatifnya dan juga dapat
menekan perasaan menggelitik di teng-
gorok. Antihistaminika banyak diguna-
kan terkombinasi dengan obat-obat ba-
tuk lain dalam bentuk sirop OTC. Lihat
selanjutnya Bab 51, Antihista minika.
f. anestetika lokal: pentoksiverin. Obat ini
menghambat penerusan rangsangan ba-
tuk ke pusat batuk.
Efektivitas dari emolliensia, ekspektoransia
dan mukolitika untuk meringankan batuk
menurut sejumlah peneliti masih diragukan,
sebab belum pernah dibuktikan secara
objektif ilmiah. Efek baik yang sering kali
dihasilkan oleh obat-obat ini terutama ber-
dasarkan perasaan subjektif dan diperki-
rakan berkat efek plasebo yang terk enal
besar pengaruhnya pada terapi batuk.
Penggolongan lain dari antitussiva dapat
dilakukan sesuai titik-kerjanya, yaitu dalam
otak (SSP) atau di luar SSP, yakni zat-zat
sentral dan zat-zat perifer.
1. Zat-zat sentral. Kebanyakan antitusiva
bekerja sentral dengan menekan pusat batuk
di sumsum lanjutan dan mungkin juga
bekerja terhadap pusat saraf lebih tinggi (di
otak) dengan efek menenangkan. Dengan
demikian zat-zat ini dapat menaikkan am-
bang bagi impuls batuk.
Lalu juga dapat dibedakan antara zat-zat
yang dapat memicu adiksi (ketagihan)
dan zat-zat yang bersifat non-adiktif.
a. zat adiktif: candu (Pulvis Opii, Pulvis
Doveri), kodein. Zat-zat ini termasuk
dalam kelompok obat yang disebut “opi-
oid”, yaitu obat-obat yang memiliki
(sebagian) sifat farmakologi dari candu
(opium) atau morfin. sebab adanya ri-
siko ketagihan yang agak besar, candu
kini tidak dipakai lagi. Kodein hanya
dalam dosis tinggi dan bila dipakai
untuk jangka waktu lama merupakan
risiko adiksi.
b. zat non-adiktif: noskapin, dekstrometorfan,
pentoksiverin. Antihistaminika dianggap
termasuk juga dalam kelompok ini, mi-
salnya prometazin dan difenhidramin. Obat-
obat ini tidak termasuk dalam Daftar
Narkotika, bahkan dijual bebas tanpa
resep.
2. Zat-zat perifer. Obat-obat ini bekerja di
luar SSP (di periferi) dan dapat dibagi pula
dalam beberapa kelompok yang sudah
diuraikan di atas, yaitu emolliensia, ekspekto-
ransia,mukolitika, anestetika lokal dan zat-zat
pereda.
Penanganan batuk
Tindakan penting yaitu terutama berhenti
merokok untuk menghindari perangsangan
lebih lanjut pada saluran pernapasan. Di
samping itu dapat dilakukan inhalasi uap
air (mendidih) yang dihirup untuk memper-
banyak sekret yang diproduksi di tenggorok.
Metode ini efektif dan murah, terutama pa-
da batuk „dalam“, artinya bila rangsangan
batuk timbulnya dari pangkal tenggorok.
Sering kali minum banyak air juga dapat
menghasilkan efek yang sama.
Untuk meningkatkan efek inhalasi uap
sering kali dibubuhkan minyak atsiri atau
mentol pada air mendidih, agar uapnya turut
dihirup yang memicu vasodilatasi serta
perasaan lega di saluran pernapasan.
Pengobatan3. .Farmakoterapi batuk pertama-
tama hendaknya ditujukan pada mendeteksi
dan mengobati pemicu nya (terapi kausal),
seperti pemakaian antibiotika terhadap in-
feksi kuman dari saluran pernapasan, mi-
salnya bronchitis, pneumonia dan batuk rejan
(lihat boks).
* Pneumonia orang dewasa diobati dengan
doksisiklin selama 7 hari (permulaan 200
mg, lalu 1 dd 100 mg), bagi wanita hamil dan
menyusui amoksisilin 3 dd 500 mg selama 7
hari atau eritromisin 4 dd 500 mg selama 7
hari. Anak-anak dapat diberikan amoksisilin
30mg/kg selama 7 hari, bila ada kontra-
indikasi: azitromisin (Zithromax) 1 dd 10 mg/
kg selama 3 hari.
* Batuk rejan pada hakikatnya hanya diobati
dengan antibiotika bila di lingkungan dekat
ada bayi atau wanita hamil, jadi untuk
prevensi penularan. Dalam hal ini pada anak-
anak diberikan azitromisin 1 dd 10 mg/kg
selama 3 hari, dewasa 1 dd 500 mg selama 3
hari, wanita hamil dan menyusui eritromisin
4 dd 500 mg selama 7 hari.
Kemudian baru dapat dipertimbangkan
apakah perlu diberikan terapi simtomatis un-
tuk meniadakan atau meringankan gejala
batuk berdasar jenisnya batuk, yaitu batuk
produktif dengan (banyak) dahak atau batuk
“kering.“ Dalam hal pertama dapat diberikan
emolliensia, ekspektoransia, mukolitika atau
anthistaminika, sedang dalam hal kedua
zat pereda rangsangan bersama emolliensia
yaitu lebih efektif. Dalam kasus parah
obat pilihan utama untuk anak-anak yaitu
noskapin (2-4 dd 7,5-15 mg tergantung usia)
dan untuk dewasa noskapin 3-4 dd 15-30 mg
atau kodein 3-4 dd 10-20 mg.
Kehamilan dan laktasi
Kodein, noskapin dan dekstrometorfan boleh
dipakai selama kehamilan dan laktasi,
begitu pula mukolitika, amoniumklorida
dan Ipeca. Bagi oksolamin dan mesna belum
tersedia cukup data mengenai keamanannya.
Pentoksiverin tidak boleh dipakai selama
laktasi, sebab mencapai air susu ibu dan
dapat mengakibatan sesak napas pada bayi.
* Batuk rejan (pertussis) yaitu penyakit infeksi akibat inhalasi kuman Gram-negatif Bordetella
pertussis yang terutama menyerang anak-anak kecil, namun juga dewasa dapat terinfeksi.Masa
inkubasinya 7-10 hari. Penyakit bersifat sangat menular dan terdiri dari tiga fasa. Dalam fasa pertama
terbentuk banyak lendir akibat radang mukosa saluran pernapasan bagian atas, gejala lainnya ialah
perasaan lemah, malaise, anoreksia dan conjunctivitis. Kira-kira seminggu kemudian menyusul fasa
kedua dengan serangan-serangan batuk hebat dengan suara tinggi khas, yang sangat meletihkan dan
umumnya berakhir dengan muntah. Fasa ketiga yaitu masa penyembuhan yang berlangsung 7- 10
hari. Dengan pemberian eritromisin dalam fasa permulaan gejala-gejalanya dapat diperlunak dan
masa penularannya (dari ±4 minggu) bisa dipersingkat. Di banyak negara Barat di mana bayi di-
imunisasi secara rutin dengan vaksin DKTP, kasus batuk rejan sudah menjadi jarang sekali. Lihat Bab
50, Vaksin.
*Radang paru (pneumonia) yaitu penyakit infeksi akibat berbagai mikro-organisme, kebanyakan
oleh kuman, yaitu Stafilokok, Streptokok, Pneumokok, Coli, Proteus, Haemophilus influenzae,
Pseudomonas, Legionella, dan lain-lain. Ciri-cirinya yaitu kombinasi dari batuk kering, diare,
demam 38° C atau lebih dan kadar CRP > 20 mg per liter atau lebih (faktor radang).
sesudah kuman di determinasi melalui persemaian, pengobatan dilakukan dengan penisilin-G
dan amoksisilin terhadap kuman Gram-positif serta kombinasi dari sefalosporin + aminoglikosida
terhadap kuman Gram-negatif, lihat juga Bab 5, Antibiotika. Untuk infeksi oleh Legionella dan
Mycoplasma dipakai eritromisin.
MONOGRAFI
1.ZAT-ZAT PEREDA SENTRAL
1a. Kodein (F.I.): metilmorfin, *Codipront
Alkaloid candu ini memiliki sifat yang
menyerupai morfin, namun efek analgetik
dan meredakan batuknya jauh lebih lemah,
begitu pula efek depresinya terhadap per-
napasan. Obat ini banyak dipakai sebagai
pereda batuk dan penghilang rasa sakit,
biasanya dikombinasi dengan asetosal yang
memberikan efek potensiasi. Dosis analgetik
yang efektif terletak di antara 15 - 60 mg.
Sama dengan morfin, kodein juga dapat
membe baskan histamin (histamin-liberator).
Resorpsi dari usus jauh lebih baik daripada
morfin, begitu pula FPE-nya lebih ringan,
sehingga ±70% mencapai sirkulasi besar. PP
hanya 7%, plasma-t½ 3-4 jam. Dalam hati zat
ini diuraikan menjadi norkodein dan 10%
menjadi morfin yang mungkin memegang
peranan atas efek analgetiknya. Metabolitnya
diekskresi sebagai glukuronida melalui urin
dan 5-15% dalam keadaan utuh.
Efek samping jarang terjadi pada dosis
biasa dan terbatas pada obstipasi, mual dan
muntah, pusing dan termangu-mangu. Pada
anak kecil dapat terjadi konvulsi dan depresi
pernapasan. Dosis tinggi dapat menim bulkan
efek sentral itu . Walaupun kurang hebat
dan lebih jarang daripada morfin, obat ini
dapat pula memicu ketagihan.
Dosis: oral sebagai analgetikum dan pereda
batuk 3-5 dd 10-40 mg dan maks. 200 mg
sehari. Pada diare 3-4 dd 25-40 mg.
*Sediaan kombinasi dengan feniltoloksamin
yaitu *Codipront di mana kedua obat terikat
pada suatu resin (damar), yang memberikan
efek kerja panjang.
1b. Noskapin: narkotin, Mercotin, Longatin
Alkaloid candu alamiah ini tidak memi-
liki rumus fenantren seperti kodein dan morfin,
namun termasuk dalam kelompok benziliso-
kinolin seperti alkaloid candu lainnya (papa-
verin dan tebain). Efek meredakan batuk-
nya tidak sekuat kodein, namun tidak meng-
akibatkan depresi pernapasan atau obstipasi,
sedang efek sedatifnya dapat diabaikan.
Risiko adiksinya ringan sekali. Berkat sifat
baik ini, obat itu banyak dipakai
dalam berbagai sediaan obat batuk populer.
Noskapin tidak bersifat analgetik dan
merupakan pembebas histamin yang kuat
dengan efek bronchokonstriksi dan hipotensi
(selewat) pada dosis besar.
Efek samping jarang terjadi dan berupa
nyeri kepala, reaksi kulit dan perasaan lelah-
letih tidak bersemangat.
Dosis: oral 3-4 kali sehari 15-50 mg, maks.
250 mg sehari.
1c. Dekstrometorfan: metoksilevorfanol, *Ro-
milar/exp, *Benadryl DMP, *Quelidrine, *Tria-
minic
Derivat fenantren non-narkotik sintetik
ini (1953) berkhasiat menekan rangsangan
batuk yang sama kuatnya dengan kodein,
namun bertahan lebih lama. Tidak berkhasiat
analgetik, sedatif, sembelit atau adiktif, oleh
sebab itu tidak termasuk dalam Daftar
Narkotika. Mekanisme kerjanya berdasar
peningkatan ambang pusat batuk di otak.
Pada penyalahgunaan dengan dosis tinggi
dapat terjadi efek stimulasi SSP dengan me-
nimbulkan semacam euforia, maka kadang-
kala dipakai oleh pecandu drugs.
Resorpsi dari usus cepat dan mengalami
FPE luas, padamana terbentuk glukuronida
aktif dari dekstrorfan (= isomer-dekstro dari
levorfanol). Plasma-t½ bervariasi individual
dari 2-4 jam sampai 45 jam.
Efek samping hanya ringan dan terbatas
pada mengantuk, termangu-mangu, pusing,
nyeri kepala dan gangguan lambung-usus.
Dosis: oral 3-4 dd 10-20 mg (bromida) p.c.,
anak-anak 2-6 tahun 3-4 dd 8 mg , 6-12 tahun
3-4 dd 15 mg.
2. ANTIHISTAMINIKA
2a. Prometazin: Phenergan, *Phenergan exp.
Derivat fenotiazin ini (1949) sebagai anti-
histaminikum berkhasiat meredakan rang-
sangan batuk berkat sifat sedatif dan anti-
kolinergiknya yang kuat. Obat ini terutama
dipakai bagi anak-anak di atas usia 1
tahun pada batuk malam yang menggelitik.
Perlu diperhatikan bahwa obat ini jangan
diberikan kepada anak kecil di bawah
usia 1 tahun, sebab dapat memicu
depresi pernapasan dan kematian menda-
dak („sudden infant death“).
Efek samping










