Minggu, 07 Juni 2026

sediaan obat 1



GLOSARIUM

Antiadheran :

Suatu bahan yang ditambahkan dalam formula 

tablet yang berfungsi untuk meminimalkan 

permasalahan tablet lengket pada permukaan 

punch selama proses pentabletan 

Antasida :

Suatu bahan yang berkhasiat sebagai obat 

yang berfungsi untuk menormalkan suasana 

asam di lambung, biasanya digunakan sebagai 

pengobatan penyakit maag. 

Disolusi : Proses melarutnya zat aktif didalam saluran cerna 

Disintegrasi : Proses pecahnya sediaan farmasi didalam saluran 

cerna sehingga melepaskan zat aktif 

Effervescent :

Sejenis bahan apabila dimasukkan kedalam 

air akan menimbulkan buih yang berasal dari 

kandungan asam dan garam yang terdapat 

dalam formula ini  

Eksipien :

Disebut juga bahan tambahan atau tidak 

berkhasiat yang ditambahkan dalam formulasi 

sediaan farmasi 

Farmakope :

Buku standar yang merupakan acuan berkaitan 

dengan bahan-bahan yang digunakan pada 

sediaan farmasi berikut kontrol kualitas sediaan 

farmasi 

Farmasetika : Ilmu yang berkaitan dengan desain sedian 

farmasi 

Formulasi :

Suatu campuran yang spesifik antara zat aktif 

dan eksipien yang memiliki komposisi tertentu 

untuk dibuat menjadi sediaan farmas 

Granulasi : Proses menaikkan ukuran partikel dari serbuk 

sebelum dicetak menjadi tablet 

Glidan :

Suatu bahan yang ditambahka dalam formula 

sedian yablet yang berfungsi untuk menaikkan 

sifat alir dari material 

250 

Ketersediaan 

hayati : Jumlah dan kecepatan zat aktif yang diabsorpsi 

dan memasuki sirkulasi sistemik 

Lubrikan :

Suatu bahan yang ditambahkan dalam formula 

tablet yang berfungsi untuk meminimalkan 

permasalahan tablet lengket pada dinding 

mesin cetak tablet selama proses pentabletan 

Reseptor : Tempat aksi dari obat untuk memunculkan 

respon farmakologi 

Segregasi : Proses memisahnya serbuk saat pencampuran 

yang disebabkan ukuran serbuk yang tidak sama 

 

 

 






PRINSIP-PRINSIP DALAM DESAIN SEDIAAN FARMASI 


Pasien yang datang ke apotek untuk mendapatkan obat biasanya 

akan menerima obat dalam bentuk sediaan farmasi seperti sirup, tablet, 

salep dan lain sebagainya. Sediaan farmasi (dosage form) yang diterima 

oleh pasien merupakan suatu unit dosis dari produk farmasetika yang 

berada dalam bentuknya seperti sirup, tablet, salep dan lain sebagainya. 

Sediaan farmasi ini terdiri dari campuran antara zat aktif dan bahan 

tambahan atau eksipien yang ditujukan untuk pengobatan penyakit 

dengan mekanisme kerja tertentu sesuai dengan khasiatnya. Sebagai 

contoh, apabila pasien memperoleh parasetamol dalam bentuk sediaan 

tablet dengan bobot total per tablet 650 mg, pada sediaan tablet 

ini  terdapat zat aktif parasetamol sejumlah 500 mg serta bahan 

tambahan sejumlah 150 mg.  

 Sediaan farmasi ini merupakan suatu formulasi yang spesifik antara 

zat aktif dengan bahan tambahannya. Masing-masing formulasi ini 

memiliki komposisi yang unik. Zat aktif dalam sediaan farmasi memilihi 

sifat reaktif secara biokimia/berkhasiat, sedangkan bahan tambahannya 

tidak memiliki efek fisiologis. Pemilihan dari bahan tambahan dalam 

melakukan formulasi sediaan farmasi ini akan menghasilkan berbagai 

macam jenis bentuk sediaan. Secara umum bentuk dari sediaan farmasi 

ini yaitu  padat, semi padat, cair dan gas. Masing-masing bentuk sediaan 

memiliki keunikan dalam hal karakteristik fisika dan farmasetiknya. 

Keberagaman dan keunikan dari bentuk sediaan inilah yang merupakan 

tantangan bagi seorang formulator dalam melakukan formulasi dan 

manufaktur untuk pemilihan dan menghasilkan sistem penghantaran 

obat (drug delivery system) yang diharapkan sesuai dengan tujuan 

penggunaannya.  

Ilmu yang berkaitan dengan desain atau merancang sediaan 

farmasi ini disebut dengan farmasetika. Farmasetika berperan dalam 

merubah zat aktif (drug) menjadi obat (medicine) atau sediaan farmasi 

(dosage form) sehingga dihasilkan sediaan farmasi seperti tablet, sirup, 

krim dan lain sebagainya. Pengetahuan farmasetika berhubungan 

dengan formulasi zat aktif menjadi sediaan farmasi. Sediaan farmasi 

inilah yang akan dikonsumsi oleh pasien karena mengandung zat aktif 

dengan unit dosis yang mampu menimbulkan efek farmakologi untuk 

proses terapi tertentu. Formulasi dalam merancang sediaan farmasi 

berperanan dalam menentukan jenis dan jumlah eksipien dengan tepat 

berikutnya dilanjutkan dengan proses pembuatan sediaan farmasi. 

Sediaan farmasi yang dihasilkan tentunya memenuhi persyaratan yang 

tercantum dalam Farmakope, dengan demikian perlu adanya jaminan 

terhadap kualitas, stabilitas serta keefektifan sediaan farmasi yang telah 

dibuat.  

Farmasetika dapat dikatakan ilmu  yang paling beragam dari 

semua bidang studi dalam ilmu farmasi karena mencakup : 

1. Pengetahuan kimia dan fisika dasar yang dibutuhkan untuk 

keefisienan dan keefektifan desain bentuk sediaan.  Pengetahuan 

ini diperoleh dengan keilmuan farmasi fisik. 

2. Desain dan formulasi dari obat (desain bentuk sediaan) 

3. Manufaktur obat dalam skala kecil (compounding) dan skala besar 

(teknologi farmasi) 

3Prinsip-Prinsip Dalam Desain  Sediaan Farmasi 

Tujuan utama dari desain bentuk sediaan yaitu  untuk 

mendapatkan respon terapetik obat yang dapat diprediksi dalam suatu 

formulasi. Formulasi ini dapat diproduksi dalam skala besar dengan 

kualitas produk yang dapat dipertahankan. Untuk menjamin kualitas 

produk, dibutuhkan berbagai persyaratan diantaranya (1) stabilitas fisik, 

(2) keseragaman kandungan zat aktif, (3) dapat diterima oleh pasien 

dan dokter dan (4) pengemasan dan labeling yang sesuai. Dari uraian 

di atas dapat disimpulkan bahwa obat sangat jarang terdiri dari zat aktif 

saja tetapi dibutuhkan eksipien untuk menjadikannya bentuk sediaan, 

dengan demikian perlu diperkenalkan suatu konsep dari formulasi.  

B. Alasan Pembuatan Obat menjadi Sediaan Farmasi. 

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa suatu sediaan 

farmasi terdiri dari zat aktif dan bahan tambahan. Bahan tambahan 

ini  salah satu fungsinya yaitu  untuk mencukupkan bobot tablet 

sehingga bisa diambil dengan ujung jari. Kondisi ini biasanya terjadi 

pada obat-obat yang memiliki kemampuan kuat (potent) digunakan 

dalam dosis yang rendah setiap hari oleh pasien. Pada dosis yang 

kecil ini  diharapkan mampu menghasilkan efek yang diinginkan 

serta harus aman digunakan. Sebagian besar obat ini  diberikan 

dalam jumlah miligram sehingga terlalu kecil untuk ditimbang dengan 

timbangan biasa, kecuali dengan timbangan analitik elektronik.  

Sebagai contoh, tablet prednison memiliki bobot total 100 mg. 

Tablet ini  mengandung 5 mg zat aktif prednison dan sisanya 

yaitu  bahan tambahan. Bagaimana mungkin seseorang mendapatkan 

prednison dengan dosis 5 mg jika dalam sediaan tablet ini  tidak 

ada bahan tambahan? Apabila dosis dari obat sangat kecil sebagaimana 

prednison, sediaan padat seperti tablet dan kapsul harus disiapkan 

dengan bahan pengisi sehingga unit dosis cukup besar untuk diambil 

dengan ujung jari. 

Selain untuk menjamin keamanan serta untuk kemudahan 

penghantaran obat untuk mendapatkan dosis yang tepat, berikut 

yaitu  alasan pembuatan obat atau zat aktif menjadi sediaan farmasi. 

1. Untuk melindungi obat dari pengaruh oksigen yang ada di 

atmosfer atau kelembaban yang berpotensi merusak obat. Hal 

ini dapat diatasi di antaranya dengan penyalutan untuk sediaan 

tablet serta penyegelan untuk sediaan ampul. 

2. Untuk melindungi obat dari pengaruh asam lambung yang 

berpotensi merusak obat setelah pemberian obat secara oral. Hal 

ini dapat diatasi dengan pembuatan tablet salut enterik. 

3. Untuk menutupi rasa pahit, asin dan bau yang tidak enak dari obat. 

Hal ini dapat diatasi dengan pembuatan obat dalam bentuk sediaan 

kapsul, tablet bersalut, sirup dengan rasa dan bau menyenangkan. 

4. Untuk membuat obat menjadi sediaan cairan yang tidak larut atau 

tidak stabil dalam pembawa. Hal ini dilakukan dengan membuat 

sediaan dalam bentuk suspensi. 

5. Untuk membuat obat menjadi sediaan dalam bentuk cairan seperti 

sirup, dan larutan. 

6. Untuk membuat obat menjadi sediaan dengan pelepasan yang 

terkendali seperti pembuatan berbagai jenis tablet lepas lambat. 

7. Untuk membuat aksi obat optimal pada pemberian secara topikal 

seperti oinment, krim, transdermal, salep untuk mata, telinga dan 

hidung. 

8. Untuk memberikan kemudahan supaya obat dapat dimasukkan 

ke salah satu lubang pada tubuh seperti sediaan supositoria rektal 

atau vagina. 

9. Untuk memberikan kemudahan supaya obat secara langsung 

dapat dihantarkan ke dalam darah atau jaringan tubuh seperti 

sediaan injeksi. 

10. Untuk memberikan kemudahan aksi dari obat supaya optimal 

dihantarkan terapinya melalui inhalasi seperti sediaan inhalan atau 

aerosol. 

5Prinsip-Prinsip Dalam Desain  Sediaan Farmasi 

 Satu jenis obat atau zat aktif dapat dibuat dalam berbagai macam 

bentuk sediaan farmasi yang dapat digunakan untuk kemudahan dan 

keefektifan pengobatan dari pada suatu penyakit. Sebagai contoh 

parasetamol, merupakan suatu obat analgetik dan antipiretik yang 

dapat dibuat dalam bentuk sediaan tablet dan sirup. Contoh lainnya 

prednisolon, merupakan suatu steroid adrenokortikal sintetik yang 

digunakan sebagai antiinflamasi pada berbagai bagian tubuh. Zat aktif 

prednisolon ini dapat dibuat menjadi berbagai bentuk sediaan farmasi 

seperti tablet, suspensi steril untuk injeksi, larutan untuk injeksi, sediaan 

obat mata serta serbuk steril untuk suspensi kering.  

C. Bagaimana Obat Bekerja sampai Menimbulkan Efek/Khasiat ? 

Pendekatan rasional untuk mendesain suatu sediaan farmasi 

membutuhkan suatu pemahaman yang lengkap yang meliputi sifat-

sifat fisikokimia dan biofarmasetika dari bahan obat serta pemahaman 

tentang jalur disposisi fisiologis obat setelah diberikan secara per oral 

melalui mulut, masuk kedalam saluran cerna, diabsorpsi masuk ke dalam 

darah sampai memunculkan efek farmakologi atau respon terapetiknya. 

Berikut yaitu  ilustrasi organ saluran cerna cerna yang berperan 

pada proses pemberian obat melalui mulut (per oral) yang diawali dari 

mulut, kerongkongan, lambung, usus dan rektum.  

 

Gambar 1.1 Organ saluran cerna yang berperanpada 

pemberian obat melali mulut (Anonim, 2014). 

Pemberian obat dalam bentuk sediaan farmasi melalui mulut 

merupakan sistem penghantaran obat yang paling umum dengan 

tahapan sebagai berikut, pertama sediaan farmasi akan mengalami 

peristiwa disintegrasi yaitu pecahnya sediaan farmasi dan 

mengakibatkan zat aktif terlepas dari sediaan, berikut akan mengalami 

disolusi yaitu proses melarutnya zat aktif dalam cairan saluran cerna, 

selanjutnya zat aktif yang larut akan melintasi membran saluran cerna 

untuk masuk kedalam sirkulasi darah (gambar 1.2) Peristiwa disolusi ini 

terjadi pada lambung dan sebagian besar terjadi pada usus. Disolusi 

atau kondisi zat aktif dalam bentuk terlarut merupakan persyaratan 

untuk obat diabsorpsi menuju pembuluh darah atau sirkulasi sistemik 

(gambar 1.3).  Pembuluh darah yang ada disekitar saluran cerna selalu 

7Prinsip-Prinsip Dalam Desain  Sediaan Farmasi 

menuju hati sehingga distribusi obat pertama kali yaitu  menuju hati. 

Pada hati terjadi peristiwa metabolisme sehingga obat akan dirubah 

menjadi senyawa lain yang berbeda dengan senyawa asalnya (gambar 

1.4). Akibat dari peristiwa metabolisme ini konsentrasi obat yang ada 

pada pembuluh darah setelah melewati hati akan berkurang. Kecepatan 

dan jumlah zat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik setelah obat 

mengalami peristiwa metabolisme disebut dengan ketersediaan hayati. 

  

Gambar 1.2 Peristiwa disintegrasi dan disolusi pada lambung (Anonim, 2015a) 

 

Gambar 1.3 Proses absorpsi obat menuju pembuluh darah (Anonim, 2015b). 

 

Gambar 1.4 Proses metabolisme obat pada hati (Chotsiri, 2013)

Hati merupakan tempat metabolisme obat yang utama. Proses 

berkurangnya konsentrasi obat mencapai pembuluh darah 

sebagaimana gambar 1.4 dapat diuraikan sebagai berikut. Obat yang 

mencapai saluran cerna tidak semuanya diabsorpsi. Banyak faktor 

yang berpengaruh di saluran cerna yang mengurangi absorpsi obat 

seperti kelarutan obat, pengaruh makanan, enzim dan bahan lain yang 

terkandung pada saluran cerna. Di hati, kalau seandainya obat yang 

di metabolisme sebanyak 75 % sehingga obat aktif yang mencapai 

pembuluh darah hanya 25 %. 

Distribusi merupakan proses yang akan dialami oleh obat setelah 

melintasi hati. Distribusi yang terjadi pada pembuluh darah berperan 

pada penghantaran obat menuju pada reseptor yang merupakan 

tempat aksi obat. Protein plasma yang terkandung dalam pembuluh 

darah memiliki kemampuan berikatan dengan obat. Ikatan obat dengan 

protein plasma ini juga berperan dalam mengurangi konsentrasi 

obat menuju reseptor. Interaksi obat dengan reseptor menimbulkan 

serangkaian aksi sehingga mampu merubah fungsi biologis tubuh 

(gambar 1.5). Peristiwa inilah menghasilkan efek farmakologi atau 

repon terapetik dari obat. Reseptor merupakan lokasi yang spesifik dan 

9Prinsip-Prinsip Dalam Desain  Sediaan Farmasi 

hanya dikenali oleh obat dengan struktur yang spesifik untuk mampu 

membentuk suatu ikatan obat dengan reseptor. Obat yang berikatan 

dengan reseptor harus memiliki aktifitas intrinsik untuk memunculkan 

efek farmakologi atau terapetik. 

Gambar 1.5 Interaksi obat dengan reseptor.

Sifat fisikokimia dari obat dapat memiliki dampak besar pada 

ketersediaan hayatinya dan bahkan profil kemanjuran dan toksisitasnya. 

Jadi pemahaman tentang parameter-parameter ini perlu diperhatikan 

untuk pemilihan dan pengembangan bentuk sediaan yang optimal. 

Sifat-sifat ini  yaitu : 

1. Profil kelarutan dan kecepatan disolusi 

2. Koefisien partisi antara lipid dan media fisiologis air 

3. Stabilitas dan/atau kecepatan degradasi dalam cairan fisilogis 

4. Kepekaan terhadap inaktivasi metabolik 

5. Mekanisme transpor obat melintasi membran biologis. 

Kelarutan obat dalam air pada rentang pH 2–8 berpengaruh 

langsung pada formulasi obat oral dan parenteral. Suatu obat dengan 

kelarutan yang rendah (kurang dari 0,1 mg/ml) dalam media asam 

dimungkinkan menunjukkan ketersediaan hayati oral yang rendah atau 

10 

tidak teratur yang tergantung pada proses absorpsi pada cairan saluran 

cerna. Obat intravena disyaratkan untuk harus diberikan dalam bentuk 

larutan.  

Koefisien partisi lipid-air dari molekul obat mempengaruhi absorpsi 

secara difusi pasif. Absorpsi melintasi membran dapat dipengaruhi oleh 

berbagai faktor yang dimungkinkan melibatkan karakteristik ion dan/

atau kepolaran dari obat dan/atau membran dan juga tempat dan 

kapasitas dari pembawa yang memediasi absorpsi (carrier-madiated 

absorption) atau sistem penembusan (efflux system).  

Obat-obat yang ditujukan untuk diberikan melalui oral dan 

dimungkinkan mengalami degradasi secara cepat pada pH rendah, 

butuh untuk dilindungi dari lingkungan asam pada lambung. Biasanya 

perlindungan dilakukan dengan cara menyalut dengan  suatu senyawa 

yang tahan asam. Senyawa yang tidak larut asam tetap tidak larut dan 

tidak mengalami degradasi saat melewati lambung tetapi harus larut 

pada saat mencapai lingkungan yang secara kimia lebih stabil pada 

usus dengan pH yang lebih tinggi. Supaya efektif, penyalut yang tahan 

asam harus tetap utuh dan melindungi obat sampai dicapai pH untuk 

melarutkan penyalut, dan berikutnya melepaskan obat pada usus 

dimana obat ini lebih stabil. 

Metabolisme inaktivasi (yang mengurangi konsentrasi obat dalam 

tubuh) dari senyawa yang diberikan secara oral dapat terjadi pada 

lumen saluran cerna, mukosa saluran cerna atau pada hati sehingga 

dapat mempengaruhi keoptimalan ketersediaan hayati obat.  

Salah satu sifat fisikokimia dan biofarmasetika dari obat yaitu  

diperolehnya konsentrasi obat dalam plasma sesuai dengan yang dapat 

ditentukan dan sesuai yang diharapkan, dengan demikian dapat dipilih 

dan dikembangkan suatu bentuk sediaan yang lebih manjur dengan 

menggunakan pendekatan formulasi yaitu penggunaan prodrug, alat 

(device), atau  menggunakan rute pemberian lain (alternatif ). 

11Prinsip-Prinsip Dalam Desain  Sediaan Farmasi 

D. Pertimbangan Farmasetik dan Formulasi 

Sebelum dilakukan formulasi suatu obat atau zat aktif menjadi 

sediaan farmasi pertama kali perlu ditentukan bentuk sediaan 

farmasi yang akan dibuat yang diharapkan untuk dapat menentukan 

arah pengembangan produk yang akan dibuat. Berikutnya, perlu 

diperhatikan bahwa produk yang akan dikembangkan diharapkan 

mampu mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan 

seperti profil pelepasan obat, ketersediaan hayati dan efek klinis serta 

faktor lain yang meliputi studi skala kecil (pilot plant) dan skala produksi 

(production scale0up). Formulasi yang terbaik yang sesuai dengan tujuan 

produk dipilih menjadi master formula. Sejumlah produk obat yang 

mempunyai sifat dan mutu yang seragam yang dihasilkan dalam satu 

siklus pembuatan disebut dengan bets. 

Sebelum senyawa obat atau zat aktif diformulasi menjadi sediaan 

farmasi ada beberapa faktor yang dipertimbangkan diantaranya efek 

terapetik, jenis penyembuhan (aksi lokal atau sistemik), dan usia serta 

kondisi dari pasien. Jika pengobatan dimaksudkan untuk penggunaan 

sistemik dan diharapkan diberikan secara oral maka sediaan yang 

sesuai yaitu  tablet dan/atau kapsul karena mudah diberikan dan 

menyenangkan bagi pasien. Jika obat digunakan supaya segera 

diperoleh hasil yang diharapkan atau pasien tidak dimungkinkan untuk 

mengkonsumsi obat secara oral maka disiapkan dalam bentuk injeksi.  

Usia juga berperan penting dalam desain sediaan farmasi. Untuk 

bayi dan anak-anak di bawah 5 tahun, sediaan dalam bentuk cairan lebih 

disenangi dibandingkan padatan untuk pemberian secara oral. Sediaan 

dalam bentuk cairan ini yaitu  larutan dengan rasa dan aroma yang 

menyenangkan seperti sirup dan suspensi. Larutan ini dapat diberikan 

secara langsung pada mulut bayi dan anak-anak dengan tetesan (drop), 

sendok takar (spoon) atau alat khusus (oral dispenser) (gambar 1.6) atau 

dimasukkan kedalam makanan.  

12 

Gambar 1.6. Alat khusus untuk membantu menakar dosis pada obat yang diberikan 

secara oral pada anak-anak (“Cute baby gets medicine with a syringe in his mouth,” n.d.)

Pada pasien anak-anak bahkan dewasa, seseorang mungkin 

mengalami kesulitan dalam menelan obat, khususnya tablet tidak 

bersalut. Untuk alasan ini, beberapa obat diformulasi menjadi tablet 

kunyah (chewable tablets). Saat ini tersedia tablet yang dapat larut 

dimulut kira-kira 10 sampai 15 detik. Tablet ini larut di mulut, dengan 

demikian pasien mengkonsumsi tablet yang segera larut dilidah dan 

menelannya dalam bentuk larutan.  Bentuk sediaan ini disebut dengan 

obat yang segera pecah di mulut (orally disintegrating tablets).  

Pengobatan yang dimaksudkan untuk pasien berusia tua umumnya 

diformulasi dalam bentuk cairan oral atau mungkin tanpa suatu cairan 

oral. Biasanya pasien berusia tua akan mengkonsumsi banyak obat setiap 

hari. Hal ini dapat berakibat pada penggunaan obat yang salah karena 

banyaknya obat yang dikonsumsi. Bentuk sediaan yang diharapkan 

yaitu  dimungkinkannya pengurangan frekuensi pemberian tanpa 

mengurangi tujuan penggunaan. Perlu diperhatikan bahwa tablet atau 

kapsul yang didesain untuk pelepasan terkontrol atau lepas lambat 

jangan dihancurkan atau dikunyah karena akan mempengaruhi tujuan 

dari desain sediaan ini . 

13Prinsip-Prinsip Dalam Desain  Sediaan Farmasi 

Dalam menghadapi masalah formulasi dari suatu bahan obat 

menjadi sediaan farmasi, diperlukan pengetahuan yang berkaitan 

dengan fisika, kimia, biologi dan farmasetik. Tahapan awal dari setiap 

formulasi baru yaitu  kajian atau studi untuk mengumpulkan informasi 

dasar tentang karakteristik fisik dan kimia dari bahan obat. Kajian dasar 

ini disebut preformulasi yang merupakan kegiatan yang dibutuhkan 

sebelum memulai formulasi dari obat menjadi sediaan farmasi. 

Soal Latihan 

1. Tuliskan persyaratan untuk menjamin kualitas produk sediaan 

farmasi yang akan diproduksi. 

2. Tuliskan tujuan pembuatan obat atau zat aktif menjadi sediaan 

farmasi. 

3. Uraikan proses yang terjadi mulai dari obat diberikan pada pasien 

sampai memunculkan efek farmakologi. 

 




SIFAT-SIFAT SERBUK DAN EVALUASINYA

Serbuk atau partikel merupakan bahan awal untuk pembuatan 

sediaan padat.  Sediaan farmasi dalam bentuk padat ini seperti tablet 

dan kapsul umumnya dibuat dari serbuk. Untuk pengkajian yang lebih 

mendalam dalam hal teknologi dan pembuatan sediaan obat padat 

ini diperlukan pemahaman yang berkaitan dengan sifat-sifat khas dari 

serbuk ini . Hal ini penting untuk mendapatkan formulasi yang 

rasional dan proses manufaktur yang optimal sehingga dihasilkan 

sediaan yang memenuhi persyaratan kontrol kualitas sebagai sediaan 

farmasi.  

Sebagian besar obat atau zat aktif juga berupa serbuk sebelum 

diproses menjadi sediaan farmasi. Sifat-sifat dari serbuk ini tentunya 

sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses manufaktur, 

stabilitas serta keefektifan penghantaran sediaan farmasi ini  

sebagai sistem penghantaran obat agar obat itu bekerja sesuai dengan 

efek yang diharapkan.  

Berikut yaitu  beberapa contoh arti pentingnya pengetahuan 

serbuk atau partikel yang sudah dibentuk menjadi sediaan farmasi 

yang berhubungan dengan keberhasilan proses manufaktur, stabilitas 

serta keefektifannya sebagai sistem penghantaran obat terutama yang 

berkaitan dengan bentuk dan ukuran partikel: 

16 

1. Ketersediaan hayati dari obat-obat yang memiliki kelarutan 

yang rendah dalam air akan dapat ditingkatkan kelarutan dan 

laju disolusinya dengan mengurangi ukuran partikel serbuk. 

Pengurangan ukuran partikel akan meningkatkan luas permukaan 

efektif dari partikel per unit bobot sehingga akan meningkatkan 

laju disolusi. Peningkatan area permukaan efektif suatu partikel 

akan mengakibatkan peningkatan area permukaan partikel 

yang kontak dengan cairan. Peristiwa inilah yang berperan 

meningkatkan kelarutan dan laju disolusi suatu obat. 

2. Pada sediaan inhalasi dalam bentuk aerosol, ukuran partikel 

merupakan hal yang kritik untuk memaksimumkan penetrasi dan 

penghantaran obat menuju paru-paru. Jika ukuran partikelnya 

agak besar (lebih dari 5 µm) diperkirakan partikel ini  akan 

tertahan pada saluran pernafasan bagian atas. Partikel yang berada 

pada jangkauan 1–5 µm akan tertahan di alveolus, sedangkan 

partikel yang sangat halus (kurang dari 0,5 µm) akan hilang 

bersama dengan pernafasan. Dengan demikian ukuran partikel 

yang optimal untuk penghantaran obat menuju paru dalam 

bentuk sediaan aerosol yaitu  1–5 µm karena dalam jangkauan 

ukuran partikel ini obat banyak tertahan pada paru-paru.  

3. Ukuran partikel obat mempengaruhi keseragaman kandungan 

zat aktif dari obat-obat dosis rendah dalam bentuk sediaan padat 

seperti tablet dan kapsul. Pengurangan ukuran partikel akan 

meningkatkan jumlah partikel per gram. Semakin besar jumlah 

partikel per dosis, akan semakin rendah variabilitas antar unit dosis. 

4. Sifat alir partikel atau serbuk yang baik merupakan hal yang 

penting untuk menjamin keseragaman kandungan zat aktif dalam 

formulasi satu bets menggunakan mesin cetak dengan kecepatan 

tinggi dan mesin pengisian kapsul. Semakin kecil ukuran partikel 

(luas permukaan yang besar), serbuk tidak akan mengalir dengan 

baik sebagaimana partikel yang ukurannya besar (luas permukaan 

yang kecil). Hal ini disebabkan karena semakin kecil ukuran partikel 

17Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

(luas permukaan besar) maka interaksi pada permukaan (friksi, 

kohesi/adesi) semakin besar sehingga menyulitkan serbuk  untuk 

mengalir. 

B. Sifat-sifat serbuk yang berpengaruh dalam formulasi sediaan 

padat 

Paradigma mendesain kualitas (quality by design) telah 

diperkenalkan oleh bagian penelitian dan pengembangan serta bagian 

produksi pada industri farmasi yang bertujuan untuk memberikan arah 

arah pengembangan yang lebih jelas, memfokuskan pada keamanan dan 

kemanjuran, faktor ekonomi dan peningkatan proses serta pemahaman 

terhadap produk. Yang paling sering dilakukan yaitu  mengidentifikasi 

parameter proses yang kritis yang mempengaruhi kualitas produk dan 

harus dikontrol secara konsisten untuk menghasilkan kualitas yang 

sama.  

Pengembangan dan pembuatan sediaan obat dalam bentuk padat 

sangat bergantung pada material serbuk. Zat aktif dan bahan tambahan 

seringkali dibuat terlebih dahulu dalam bentuk granul sebelum dicetak 

menjadi tablet. Hal ini penting untuk kondisi yang diharapkan pada 

proses pencampuran, sifat aliran dan kompresi material agar dapat 

menghasilkan produk obat berkualitas tinggi. Karakterisasi serbuk 

secara tergantung pada kemampuan mengalir, sudut istirahat dan tap 

density.  

Dalam proses pembuatan sediaan farmasi dalam bentuk padat, 

sebagai bahan awal serbuk dapat berbentuk serbuk halus, kristal atau 

serbuk hablur, serbuk yang volumenius, berwarna atau tidak, berbau 

atau tidak berbau dan sifat lainnya. Serbuk-serbuk ini mempunyai sifat-

sifat fisik dan kimia yang kadang-kadang sama atau bahkan berlainan 

sama sekali, sehingga dalam proses pengerjaan dapat dilakukan 

hal-hal umum yang sama tetapi kadangkala diperlukan juga suatu cara 

pengerjaan yang khas. 

18 

Jadi dalam pembuatan sediaan padat dengan tujuan mencapai 

hasil jadi yang optimal baik dari aspek teknologi maupun aspek 

ketersediaan hayati obat diperlukan beberapa pengetahuan dasar yang 

menjadi faktor penentu dalam formulasi sebagai berikut: 

1. Kemampuan mengalir serbuk 

2. Kerapatan serbuk 

3. Pencampuran serbuk 

4. Pemadatan serbuk 

1. Kemampuan mengalir serbuk (Powder Flowability) 

Kemampuan mengalir atau sifat alir yang baik merupakan 

persyaratan yang harus dipenuhi untuk keberhasilan dalam proses 

manufaktur dari sediaan tablet serta serbuk yang akan diisikan ke 

dalam cangkang kapsul. Sifat ini harus dimiliki oleh semua serbuk untuk 

melawan pergerakan yang menahan partikel untuk mengalir. Tahanan 

ini disebabkan oleh gaya tarik menarik (kohesif ) antar partikel. Gaya 

tarik menarik antar partikel disebabkan oleh muatan elektrostatik, gaya 

van der Waals dan lembab. 

Seorang formulator memiliki peranan penting untuk menjamin 

bahwa sifat aliran dari serbuk harus baik dan memenuhi persyaratan. 

Persyaratan ini penting supaya dapat diaplikasikan pada peralatan 

farmasetik yang modern. Ada dua jenis aliran yang paling penting harus 

diperhatikan oleh seorang formulator yaitu aliran serbuk dari hopper 

dan aliran serbuk melewati lobang. 

a. Aliran serbuk dari Hopper 

Mesin cetak tablet dan mesin pengisian kapsul menyimpan 

serbuk untuk diproses dalam hopper yang terletak pada bagian atas 

mesin. Penting diketahui bahwa serbuk mengalir dari hopper menuju 

lobang pengisian dari mesin pada kecepatan yang tepat dan tanpa 

terjadinya pemisahan atau segregasi. Ada 2 jenis aliran yang dapat 

terjadi dari serbuk yang ada pada hopper yaitu aliran inti (core flow) dan 

aliran massa (mass flow) sebagaimana gambar berikut.   

  

Pola aliran dari aliran inti dapat dilihat dari gambar 2.1. Bila 

sejumlah kecil serbuk dilewatkan pada hopper, ada sebuah daerah yang 

bergerak kebawah dan permukaan atas mulai jatuh pada bagian tengah. 

Sebagian besar material meninggalkan hopper, area yang bergerak 

kebawah mulai meluas, dan permukaan atas berbentuk kerucut. 

Sedangkan serbuk yang berada pada bagian sisi dinding hopper akan 

terlihat sebagai material tidak bergerak. Bahkan apabila hopper hampir 

kosong, akan ada daerah serbuk yang tidak terganggu. Aliran inti dari 

hopper dikarakteristikkan oleh adanya ruang yang tidak bergerak 

selama pelepasan serbuk. Suatu aliran massa dari hopper merupakan 

seluruh material bergerak selama pelepasan serbuk, khususnya area 

yang berdekatan dengan dinding hopper (gambar 2.1). Sejumlah kecil 

serbuk dilepaskan, sebagian besar serbuk akan bergerak kebawah. 

20 

 Aliran inti dari hopper memiliki 2 kerugian yang signifikan. 

Pertama, aliran dari hopper dapat berhenti tanpa alasan yang jelas. 

Penghentian aliran ini  mungkin disebabkan karena pembentukan 

lengkungan antara dinding hopper yang cukup kuat untuk menahan 

berat dari serbuk di atasnya. Kerugian ke dua yaitu  bahwa pola aliran 

mendorong segregasi, dan kemungkinan dapat mengurangi kualitas 

pencampuran.  

 Apakah aliran inti dan aliran massa yang diperoleh tergantung 

pada desain hopper dan sifat aliran dari serbuk. Untuk sebagian besar 

aplikasi di bidang farmasetik, desain hopper untuk mesin tertentu 

sudah baku, dengan demikian merupakan tanggung jawab formulator 

untuk menjamin dan mengupayakan agar diperoleh aliran masa dengan 

modifikasi sifat dari serbuk. 

b. Aliran serbuk menuju lobang (Powder Flow into Orifices) 

Aliran serbuk menuju lobang penting pada saat pengisian 

serbuk kedalam lobang cetakan (dies) pada mesin cetak tablet dan dalam 

jenis tertentu dari mesin pengisian kapsul. Untuk bahan tertentu, aliran 

menuju atau melewati lobang tergantung pada ukuran partikel. Semakin 

kecil ukuran partikel serbuk akan mengakibatkan area permukaan efektif 

semakin meningkat sehingga gaya kohesif antar partikel akan semakin 

kuat. Peristiwa inilah yang akan menghasilkan sifat aliran yang jelek dari 

serbuk. Dengan meningkatnya ukuran partikel serbuk mengakibatkan 

aliran serbuk akan meningkat sampai maksimum tercapai.  

Kunci untuk pemahaman kemampuan mengalir serbuk yaitu  

karakteristik gaya yang bekerja pada dan antar partikel. Serbuk dengan 

ukuran partikel lebih besar dari 100 µm, sifat alirnya lebih dominan 

dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Sedangkan serbuk dengan ukuran 

partikel lebih kecil dari 100 µm, sifat alirnya didominasi oleh gaya 

adhesi dan kohesi. Serbuk diharapkan memiliki kemampuan mengalir 

dengan baik. Dalam proses pencetakan tablet menggunakan mesin 

cetak tablet yang standar, campuran serbuk yang berada pada hopper 

diharapkan dengan cepat mengalir menuju lobang pencetakan tablet 

21Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

(die) untuk menghasilkan tablet dengan bobot yang seragam. Bobot 

tablet yang seragam akan menjamin kadar zat aktif pada tiap-tiap tablet 

mengandung jumlah zat aktif yang sama. 

Kohesifitas merupakan salah satu istilah yang paling umum untuk 

mengklasifikasikan serbuk. Serbuk yang kohesif memiliki kecenderungan 

untuk lengket satu sama lainnya. Kekuatan gaya interaksi dipengaruhi 

oleh ukuran partikel, bentuk partikel dan kombinasi keduanya. Secara 

umum kekuatan gaya antar partikel meningkat dengan berkurangnya 

diameter partikel, dan partikel yang bentuknya tidak beraturan yang 

kecenderungan mengikat sesamnya dibandingkan dengan bentuk 

bundar. Sedangkan serbuk yang sedikit kohesif cenderung memiliki 

bentuk bundar dan partikelnya relatif besar.  

Lembab dalam serbuk dapat berfungsi sebagai jembatan 

penghubung antar partikel, kenaikan kadar lembab yang cukup besar 

dapat meningkatkan gaya kohesif antar partikel sejenis dan akibatnya 

serbuk kehilangan mobilitasnya buat mengalir. Peristiwa ini dapat diatasi 

dengan pengeringan serbuk atau granul sehingga diperoleh kadar air 

yang tertentu sehingga pencetakan dapat berlangsung dengan lancar 

Gambar di bawah ini menampilkan posisi serbuk yang berada 

pada hopper (tempat pengisian serbuk) menuju lobang pencetakan 

tablet. Serbuk dikatakan memiliki kemampuan mengalir yang baik 

apabila serbuk dengan cepat mampu mengalir dari hopper menuju die. 

 

 

Berikut yaitu  cara yang digunakan untuk memperbaiki sifat alir serbuk: 

a. Memperbesar ukuran rata-rata partikel 

Semakin besar ukuran partikel akan semakin lemah gaya adhesi 

maupun gaya kohesinya sehingga daya mengalirnya menjadi 

lebih baik. Gaya adhesi dan kohesi berperan sebagai gaya yang 

menghalangi partikel atau serbuk untuk mengalir. Sebagaimana 

yang telah dibahas sebelumnya bahwa ada hubungan antara ukuran 

partikel dengan gaya pada partikel dan sifat alirnya. Memperbesar 

ukuran partikel akan mengakibatkan area permukaan efektif dari 

partikel yang berinteraksi dengan partikel yang lainnya (gaya 

kohesi) serta interaksi antar partikel dengan dinding hopper (gaya 

adhesi) akan semakin berkurang. Pengurangan erea permukaan 

efektif inilah yang mengurangi atau memperlemah gaya adhesi 

dan kohesi sehingga halangan serbuk atau partikel untuk mengalir 

akan semakin berkurang.  

23Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

Berikut yaitu  gambar kondisi serbuk didalam hopper untuk 

menjelaskan terjadinya gaya adhesi dan kohesi di dalam hopper 

ini .  

 

 

b. Membentuk partikel menjadi bundar (spheris) 

Bentuk partikel yang bundar akan lebih mudah mengalir 

dibandingkan bentuk yang tidak beraturan. Untuk membuat 

partikel atau serbuk menjadi bundar dapat dilakukan diantaranya 

dengan proses granulasi campuran serbuk sebelum dicetak 

menjadi sediaan tablet. Selain itu teknik spray dried juga dilakukan 

untuk memperbaiki sifat alir dari laktosa menjadi laktosa spray dried 

sebagai bahan pengisi sediaan tablet. Laktosa spray dried memiliki 

ukuran partikel yang lebih besar dan juga bundar sehingga 

memberikan sifat alir yang sangat baik.

 

c. Menambahkan glidan 

Glidan merupakan suatu bahan yang ditambahkan dalam bentuk 

serbuk halus yang berfungsi untuk memperbaiki aliran dari 

material. Glidan harus ditambahkan dalam jumlah yang tepat 

untuk menghasilkan sifat alir yang baik karena pada konsentrasi 

yang tinggi glidan justru akan menghambat aliran material.  Dalam 

proses pembuatan tablet glidan biasanya ditambahkan sebelum 

proses pencetakan tablet. Contoh bahan yang berfungsi sebagai 

glidan yaitu  aerosol dan talkum. Mekanisme kerja dari glidan 

untuk memperbaiki aliran material yaitu  dengan mengisi rongga 

pada permukaan partikel sehingga bentuk partikel menjadi 

lebih licin dan bundar, mengurangi interaksi antar partikel dan 

mengurangi muatan partikel. Intreraksi dan muatan antar partikel 

bisa menjadi penghalang untuk partikel mengalir. Indikatornya 

dapat dilihat pada berkurangnya nilai sudut istirahat (angle of 

repose) yang menunjukkan meningkatnya aliran dari serbuk atau 

material.  

25Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

Kemampuan mengalir serbuk dapat dinyatakan dalam parameter 

3 dimensi yaitu salah satunya dari hubungan antara masa-waktu atau 

volume-waktu. Kategori ini mengukur kecepatan pelepasan/mengalir 

dari lobang hopper/corong. Teknik yang dilakukan untuk mengukur 

kemampuan mengalir serbuk secara langsung yaitu  dengan uji sifat 

alir yang meliputi kecepatan alir serbuk dan sudut istirahat (angle of 

repose) yang alatnya dapat dilihat pada gambar 2.5 berikut ini.  

 

  Gambar 2.5 Alat uji sifat alir (powder flowability BEP2)(Anonim, n.d.) 

 

Serbuk diisikan pada corong yang ada pada alat percobaan dalam 

kondisi bagian bawah yang tertutup. Berikut tutupnya ditarik sehingga 

serbuk turun dan mengalir sampai habis sampai terbentuk tumpukan 

serbuk. Dihitung waktu yang dibutuhkan untuk serbuk untuk mengalir 

sempurna. Waktu yang ditunjukkan merupakan waktu alir dari serbuk. 

Sedangkan kecepatan alir serbuk dihitung dengan cara massa serbuk 

dibagi dengan waktu yang dibutuhkan untuk mengalir serbuk dengan 

satuan gram per detik. Sudut istirahat (angle of repose) dihitung dengan 

rumus : Tg α = tinggi tumpukan serbuk / jari-jari tumpukan serbuk. 

26 

Sebagai contoh, dari alat uji sifat alir di bawah ini, suatu serbuk 

dengan massa 100 g ini diperoleh waktu untuk mengalir serbuk 5 

detik. Timbunan serbuk yang terbentuk setinggi 3 cm dengan diameter 

timbunan 18 cm (sehingga jari-jari 9 cm). Kecepatan aliran serbuk 

yaitu  100 g/5 detik atau 20 g/detik. Sudut istirahat yang terbentuk 

dapat dihitung dengan : Tg α = 3 cm/9 cm, sehimgga tg α = 0,33. Sudut 

istirahat (α) yaitu  18,26o. Sudut istirahat yang terbentuk ini seringkali 

disebut dengan sudut istirahat statik. Umumnya untuk mendapatkan 

suatu hasil yang optimal dibutuhkan serbuk atau granul yang memiliki 

sudut istirahat sebesar 25 – 40 o. 

2. Kerapatan (density) serbuk 

Apabila suatu serbuk dituangkan kedalam wadah, volume yang 

menempati wadah ini  tergantung dari sejumlah faktor seperti 

ukuran partikel, bentuk partikel dan sifat permukaan. Dalam kondisi 

normal, partikel yang menempati wadah terdiri dari partikel padat dan 

ruang antar partikel (rongga atau pori). Partikel padat dimungkinkan 

juga mempunyai pori antar partikel. Jika serbuk diberikan getaran 

atau tekanan, partikel akan bergerak relatif terhadap yang lainnya 

untuk memperbaiki penataannya pada wadah. Pada akhirnya, setelah 

diberikan getaran atau tekanan suatu kondisi tercapai dimana kepadatan 

lebih lanjut tidak memungkinkan terjadi lagi tanpa perubahan partikel. 

27Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

Kondisi ini dapat diilustrasikan pada gambar berikut ini. 

 

Gambar 2.6 Ilustrasi volume yang mempengaruhi kerapatan partikel. 

Kerapatan serbuk dipengaruhi oleh volume partikel (true volume) 

dan volume antarpartikel (interparticle void space). Kerapatan sebenarnya 

(true density, ρt) dari serbuk merupakan bobot per unit volume dari 

material tanpa adanya rongga udara antar partikel. Oleh sebab itu, 

jika material memiliki kerapatan sebenarnya 100 g/100 mL, maka 100 

gram dari serbuk akan menempati 100 mL yang diasumsikan partikel 

secara individual mengisi semua bidang tanpa adanya rongga atau pori. 

Dalam kenyataannya sebagian besar dari partikel tidak mampu mengisi 

dengan semua bidang pada wadah. Hal ini disebabkan diantaranya 

karena bentuk partikel yang tidak beraturan yang mengakibatkan 

terbentuknya rongga antar partikel. Jika suatu serbuk atau partikel 

mengisi suatu silinder 100 mL dan bobot dari serbuk yaitu  70 g maka 

kerapatan nyata (bulk density, ρb) yaitu  0,7 g/ mL. 

28 

Jika 100 mL volume dalam silinder di atas dilakukan pengetapan 

maka partikel-partikel akan melakukan penataan diri pada silinder 

ini  dengan mengisi rongga yang kosong. Sehingga dari 70 gram 

serbuk di atas volumenya akan berkurang dari 100 mL menjadi 80 mL. 

Inilah yang disebut dengan bobot jenis mampat (packed or tapped 

density, ρp) dengan nilai 0,875 g /mL. 

Bobot jenis bulk (bulk density) dan densitas mampat (tap density) 

dapat ditentukan  dengan alat uji bobot mampat (tap density tester) 

seperti gambar 2.7. 

Gambar 2.7. Alat uji bobot jenis mampat (sumber: http://

totallaboratoryservices.co.uk/products/svm-tapped-density tester/). 

    

Bobot jenis bulk dapat ditentukan dengan perbandingan antara 

bobot serbuk yang ditimbang dengan volume, sedangkan bobot 

jenis mampat merupakan perbandingan antara berat serbuk dengan 

29Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

volume setelah diuji pengetapan sebanyak 250 ketukan per menit 

menggunakan alat uji di atas. Sebagai contoh, suatu partikel diisikan 

kedalam alat uji bobot jenis mampat dengan volume 100 mL setelah 

ditimbang memiliki bobot 50 g. Bobot jenis bulk dari partikel ini yaitu  

50 g/100 mL, atau 0,5 g.mL. Setelah alat dihidupkan terjadi pengetukan 

sampai diperoleh volume yang konstan sehingga volume dari partikel 

berkurang dari 100 mL menjadi 80 mL. Dengan demikian, bobot jenis 

mampat dari partikel ini  yaitu  50 g/80 mL, atau 0,625 g/mL. 

Porositas atau keadaan yang berongga dapat digunakan untuk 

menerangkan tingkat kerapatan serbuk. Nilai porositas merupakan 

perbandingan nilai volume antar partikel dengan volume total. Volume 

total (V) merupakan jumlah dari volume antar partikel (Vp) dan volume 

partikel Vr), jadi : 

 Vp  =  V – Vr    

Sehingga nilai porositas (e) yaitu  : 

 e = (V – Vr) / V  x 100%   

Semakin besar nilai porositas dari kerapatan serbuk atau granul, 

pada umumnya mengakibatkan turunnya jumlah obat per tablet 

sehingga menyebabkan pula turunnya mutu farmakologis sediaan 

tablet. 

Kerapatan serbuk atau granul selama proses pencetakan tablet 

dapat diperbaiki atau disempurnakan dengan adanya getaran-getaran 

mesin yang membantu penyusunan partikel-partikel serbuk atau granul 

ini . Proses ini menjadi lebih berhasil apabila didalam serbuk atau 

granul terdapat sejumlah partikel halus yang dikenal sebagai fines. 

Dalam formulasi sediaan tablet partikel halus ini dikenal sebagai glidan 

yang juga berperan untuk memperbaiki aliran serbuk atau granul 

menuju lobang pencetakan pada mesin cetak tablet. 

Uji kerapatan serbuk dengan metode pengujian bobot jenis 

mampat (tap density tester) dikatakan juga metode untuk penentuan 

sifat alir serbuk secara tidak langsung. Ada 2 metode yang seringkali 

digunakan untuk menentukan sifat alir dari serbuk secara tidak langsung 

30 

yaitu Rasio Hausner (Hausner Ratio) dan Kompresibilitas Carrs (Carrs 

Compressibility).  

 

1) Rasio Hausner (Hausner ratio, HR) 

Rasio Hausner merupakan perbandingan antara bobot jenis 

yang diperoleh setelah uji pemampatan (tapping) yang biasa disebut 

dengan tap density dan bobot jenis sebelum uji pemampatan (bulk 

density). Rasio Hausner secara luas telah digunakan untuk menentukan 

kompresibilitas dari material dan juga dapat memprediksi sifat alir dari 

material. Hubungan antara rasio Hausner dengan sifat alir serbuk dapat 

dilihat pada tabel di 2.1. HR = tap density/bulk density 

Tabel 2.1. Hubungan rasio Hausner dengan sifat alir serbuk (Aulton, 2002)

Rasio Hausner Sifat Serbuk 

< 1,28 Serbuk cenderung mudah mengalir 

1,28 – 1,57 Kemampuan mengalir serbuk sedang 

> 1,57 Serbuk yang kohesif  

 

2) Carr’s Compresibility  

Meskipun rasio Hausner merupakan indikator yang dapat 

dipercaya untuk memprediksi sifat alir dari serbuk secara tidak langsung 

tetapi rasio ini tidak mewakili kekompakan (compaction behaviour) dari 

serbuk apabila lebih lanjut akan diproses di industri. Kompresibilitas 

serbuk secara alternatif dapat menentukan kekompakan dari partikel 

yang dinyatakan dengan perbedaan antara tap density dan bulk density, 

sebagaimana yang didefinisikan oleh Carr (1965) yang dinyatakan 

dengan rasio. 

Carr’s compresibility yang juga disebut dengan carr’s index 

merupakan pengukuran terhadap gaya antar partikel. Jika gaya antar 

31Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

partikel tinggi maka serbuk akan memiliki bulk density rendah karena 

akan terjadi jembatan antar partikel. Dengan demikian akan diperoleh 

Carr’s index dengan nilai yang besar yang disebabkan oleh tingginya 

perubahan volume akibat proses pengetapan (tapping). Sebaliknya, 

jika gaya antar partikel rendah, partikel akan memiliki afinitas yang 

rendah antar satu partikel dengan partikel yang lainnya dan akan 

mengakibatkan kekompakan secara spontan. Dengan kondisi ini, Carr’s 

index akan menjadi kecil karena sedikitnya perubahan volume pada 

bulk density yang diakibatkan oleh proses pengetapan.  

Nilai carr’s index yang berikutnya dinyatakan dengan kompresibilitas 

 yang menghasilkan nilai lebih dari 20 % akan cenderung menciptakan 

jembatan antar partikel pada hopper (tempat pengisian serbuk 

pada mesin cetak tablet), sedangkan serbuk dengan persentase 

kompresibilitasnya lebih dari 40 % akan sulit untuk keluar dari hopper. 

Berikut yaitu  tabel persentase carr’s index yang berhubungan dengan 

sifat alir dan kompresibilitas material.  

Tabel 2.2  Persentase Carr’s index yang berhubungan dengan sifat material 

Carr’s index  % Sifat Material 

5 – 15 Mudah mengalir – sifat alir granul sangat baik 

12 – 16 Mudah mengalir – sifat alir serbuk baik 

18 – 21 Sifat alir granul cukup baik 

23 – 28 Sifat alir jelek 

28 – 35 Serbuk yang kohesif – sifat alir jelek 

33 – 38 Serbuk kohesif – sifat alir sangat jelek 

> 40 Serbuk yang kohesif – sifat alir sangat jelek 

sekali 

 

Saat ini rasio Hausner lebih luas digunakan daripada kompresi-

bilitas, meskipun Carr’s compresibility masih digunakan secara luas 

untuk mengklasifikasikan jenis-jenis serbuk kedalam sifat alirnya untuk 

menghasilkan sifat alir yang sangat baik atau jelek. Nilai atau persentase 

32 

Carr’s compresibility telah digunakan secara efektif yang dikorelasikan 

untuk mengukur : 

a. Keseragaman ukuran partikel 

b. Keseragaman bentuk partikel 

c. Kekerasan dari partikel 

d. Bulk density 

e. Kekohesifan dari partikel 

f. Kandungan lembab 

g. Aliran relatif dari partikel 

3. Pencampuran serbuk 

Pencampuran optimum dari suatu serbuk merupakan prasyarat 

untuk pembuatan sediaan obat dalam bentuk padat yang melibatkan 

pencampuran serbuk yang berkontribusi penting dalam mencapai 

keseragaman kandungan zat aktif. Pemahaman terhadap karakteristik 

serbuk dan sifat-sifatnya sangat penting untuk mendapatkan tablet 

dengan kualitas yang diharapkan. Pencampuran merupakan proses 

penggunaan energi yang menghasilkan suatu distribusi random 

dari partikel. Beberapa parameter yang mempengaruhi keefisienan 

pencampuran yaitu  a) Parameter partikel seperti ukuran partikel, bentuk 

partikel, distribusi ukuran, densitas partikel, kohesifitas, higroskopisitas 

dan kekerasan; b) Jenis mixer meliputi lama pencampuran, volume 

dan pergerakan; c) Kecenderunag terjadinya segregasi dari komponen 

karena perbedaan densitas. 

Pencampuran serbuk secara bertahap telah mengalami perubahan 

paradigma dari proses empiris menjadi proses yang terkontrol secara 

teliti. Ketika partikel serbuk terdistribusi secara bebas ke dalam masa 

akan ada pembentukan campuran bebas mengalir (free flowing) atau 

tidak bebas mengalir/kohesif (non free flowing) tergantung pada ukuran 

partikel. Partikel diameter yang lebih besar cenderung bebas mengalir 

dan partikel berdiameter kecil cenderung kohesif karena gaya antar 

partikel yang berhubungan dengan partikel individual. Dalam proses 

33Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

pencampuran ada 3 kemungkinan yang akan terjadi yaitu kondisi awal 

sebelum pencampuran, pencampuran acak dan pencampuran ideal. 

Pencampuran serbuk merupakan kunci untuk manufaktur hampir 

semua bentuk sediaan padat. Suatu campuran sempurna dari 2 partikel 

yaitu  satu di mana setiap kelompok partikel yang diambil dari posisi 

manapun  dalam campuran akan mengandung proporsi yang sama 

setiap partikel sebagai campuran secara keseluruhan (gambar 2.8). 

Untuk serbuk, berbeda dengan cairan, ini hampir tidak mungkin 

tercapai. Semuanya mungkin mencapai derajat maksimum dari acak/

random, yaitu suatu campuran yang memungkinkan untuk menemukan 

partikel dari komponen yang diberikan sama pada semua posisi dalam 

campuran (gambar 2.8). 

Gambar 2.8 Kemungkinan kondisi yang terjadi dalam proses 

pencampuran (Sumber: Deveswaran et al.,, 2009) 

34 

Dalam proses pencampuran diharapkan partikel zat aktif 

terdistribusi secara homogen ke dalam partikel bahan tambahan. 

Kondisi pencampuran ideal merupakan kondisi yang diharapkan 

dapat dicapai. Tapi dalam kenyataannya kondisi ideal ini sangat sulit 

untuk diperoleh sehingga kondisi yang sangat memungkinkan yaitu  

pencampuran acak. Pada pencampuran acak, partikel zat aktif tidak 

mungkin untuk terdistribusi merata secara ideal untuk mendapatkan 

kadar 100 % apabila dilakukan penetapan kadar zat aktif. Karena 

kondisi yang mungkin tercapai yaitu  pencampuran acak, maka untuk 

mendapatkan kondisi pencampuran homogen perlu dilakukan proses 

penetapan kadar zat aktif dengan melakukan sampling mewakili bagian 

atas, tengah dan bawah. Setelah dilakukan sampling dan ditetapkan 

kadar zat aktif dihitung nilai persen simpangan baku relatif (% SBR) 

dengan cara : 

      Simpangan baku 

% SBR =   ------------------------ X 100 

          Rata-rata 

Pencampuran dikatakan homogen apabila nilai % SBR kurang dari 5 %.  

4. Segregasi atau pemisahan  

Semua campuran serbuk memiliki kecenderungan untuk memisah 

selama prosesing, yang menghasilkan kualitas produk yang rendah. 

Alasan terjadinya pemisahan yaitu  (i) perbedaan ukuran partikel, 

(ii) perbedaan densitas, (iii) interaksi obat dengan eksipien dan (iv) 

tingkatan aglomerasi.  

Jika serbuk terdiri dari 2 material ke duanya memiliki sifat fisik 

yang sama apabila dicampur dalam waktu yang cukup, pencampuran 

random akhirnya tercapai. Sayangnya sebagian besar serbuk farmasetik 

terdiri dari campuran material dengan sifat yang berbeda. Hal ini akan 

menyebabkan segregasi, dimana partikel dengan sifat yang sama 

cenderung akan berkumpul bersama sebagai bagian dari serbuk. 

Apabila serbuk yang tersegregasi dicampur karena waktu pencampuran 

35Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

bertambah, serbuk tampak tidak bercampur dan keseimbangan 

tercapai antara aksi dari mixer yang mengarahkan random dan tahanan 

dari partikel dikarenakan segregasi. 

Sementara sejumlah faktor dapat mengakibatkan segregasi, 

perbedaan ukuran partikel merupakan hal yang paling penting dalam 

serbuk farmasetik. Ada sejumlah mekanisme yang mana segregasi 

dari perbedaan ukuran partikel dapat terjadi, dan pertimbangan harus 

diberikan pada kondisi ini pada saat merancang proses farmasetik. 

Penyebab paling umum dari segregasi dikarenakan perkolasi dari partikel 

halus. Jika suatu serbuk ditangani dengan cara yang memungkinkan 

partikel individual bergerak, suatu penataan ulang partikel akan terjadi. 

Karena perbedaan antara partikel muncul, partikel dari atas akan dapat 

jatuh. Jika serbuk mengandung partikel dengan ukuran berbeda akan 

terdapat peluang dari partikel lebih kecil untuk jatuh, dengan demikian 

akan ada kecenderungan untuk bergerak kebawah yang menyebabkan 

segregasi. Proses ini dapat terjadi kapan saja pergerakan partikel terjadi, 

termasuk getaran, pengocokan dan penuangan. 

Sebagaimana dinyatakan di atas, perbedaan ukuran partikel 

merupakan penyebab paling umum terjadinya segregasi dalam serbuk 

farmasetik. Suatu pengecualian untuk ini yaitu  apabila satu komponen 

dari serbuk memiliki ukuran partikel sangat halus (kurang dari 5 µm) dan 

yang lain relatif besar. Dalam kondisi ini, partikel kecil akan menyalut 

permukaan partikel yang lebih besar dan gaya adhesi akan mencegah 

segregasi. Ini disebut dengan ordered mixing dan dengan menggunakan 

teknik ini dimungkinkan untuk menghasilkan homogenitas yang lebih 

besar daripada pencampuran random. 

5.  Pemilhan alat pencampur 

Suatu alat pencampur (mikser) yang ideal yaitu  harus mampu 

menghasilkan pengadukan sempurna dalam waktu yang wajar tanpa 

merusak produk. Selain itu, harus kedap debu, mudah pemeliharaan dan 

energinya rendah serta mudah dibersihkan. Semua sifat-sifat ini tidak 

36 

bisa diperoleh dalam suatu alat tunggal. Pemilihan mikser berdasarkan 

pada : 

a. Karakteristik serbuk dari konstituen campuran 

b. Persyaratan kualitas produk 

c. Persyaratan proses dan keterbatasan. 

 

Sebagai tambahan, berikut merupakan yang perlu dipertimbangkan 

untuk menjamin keberhasilan proses pencampuran : 

a. Apakah mikser memiliki fleksibilitas untuk mengatasi ukuran 

batch yang berfariasi? 

b. Mampukah bejana mikser dipindahkan pada saat produksi 

berlangsung seperti pemuatan, pencampuran dan 

pengemasan ? 

c. Apakah mikser memiliki akses yang mudah untuk sampling ? 

d. Seberapa baik mikser mampu memisahkan bahan prosesnya? 

e. Apakah mikser membutuhkan untuk sering dibersihkan? Jika 

demikian apa standarnya?  

Keefektifan mikser tergantung pada serbuk yang akan dicampur, 

waktu pencampuran, jumlah putaran dari mikser dan faktor lain. 

6.   Regulasi keseragaman campuran 

FDA telah menerbitkan draf panduan untuk analisis keseragaman 

campuran sebagai persyaratan pengajuan pendaftaran obat baru. 

FDA menyatakan bahwa ada kebutuhan yang kuat untuk pengujian 

keseragaman campuran yang rutin setelah validasi proses untuk 

memastikan keseragaman kandungan dalam campuran. Distribusi obat 

yang memadai yang diperoleh pada produk akhir belum cukup untuk 

menyatakan bahwa pencampuran sudah baik, namun harus ditunjukkan 

dalam campuran juga. Panduan ini memberikan dasar-dasar campuran 

serbuk dan sampel yang representatif. Sampel didasarkan pada 

campuran yang disampling dan jika % simbangan baku relatif (SBR) 

37Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

kurang dari 1, sampel ini  lolos uji. Pedoman FDA menyatakan 

bahwa kriteria USP untuk keseragaman kandungan yaitu  85115%. 

Tetapi standar industri untuk keseragaman pencampuran yaitu  90 – 

100 %. 

Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab berkaitan dengan 

keseragaman campuran serbuk: 

a. Bagaimana bisa mendapatkan sampel yang benar-benar 

representatif jika ukuran partikelnya berukuran berbeda dan 

dengan bahan yang berbeda? 

b. Bagaimana bisa mendapatkan contoh yang benar 

berdasarkan metode sampling yang ada? 

 Untuk mengatasi masalah di atas, perlu dipertimbangkan metode 

sampling yang akan dilakukan. Ada 2 metode sampling yaitu Stratified 

sampling dan Nested sampling.  

Stratified sampling yaitu  proses pemilihan sampel dengan sengaja 

dari berbagai lokasi dalam lot atau bets atau dari berbagai tahap proses. 

Tipe ini dikhususkan untuk pencampuran dalam blender atau kompresi 

yang memiliki risiko yang tinggi atau kegagalan dalam keseragaman 

kandungan. Nested sampling yaitu  proses pemilihan sampel dari satu 

lokasi tertentu di dalam sistem. 

Untuk mendapatkan sampel yang benar-benar representatif, 

aturan berikut harus ditekankan. 

a. Serbuk harus disampling pada saat bergerak 

b. Seluruh aliran serbuk harus disampling selama interval 

waktu yang singkat, malahan bagian dari aliran disampling 

sepanjang waktu.  

7. Pemadatan (compaction) 

Manufaktur tablet, dan serbuk mengalami konsolidasi ketingkat 

yang lebih rendah melibatkan proses pemadatan serbuk, tujuannya 

yaitu  untuk mengubah massa longgar (incoherent) dari serbuk 

38 

kedalam bentuk padatan tunggal. Pengetahuan tentang perilaku serbuk 

di bawah tekanan dan cara bagaimana ikatan dibentuk dari partikel, 

sangat penting untuk rancangan formulasi. 

Suatu serbuk dalam wadah diberikan suatu gaya kompresi yang 

rendah akan mengalami penataan partikel sampai dicapai tapped bulk 

density-nya. Pada akhirnya, suatu kondisi tercapai dimana pemadatan 

lebih lanjut tidak memungkinkan tanpa perubahan partikel. Jika 

pada titik ini serbuk yang diberikan mengalami kompresi lebih 

lanjut, partikel akan berubah secara elastis untuk mengakomodasi 

induksi tekanan, dan densitas/pemadatan serbuk akan meningkat 

dengan meningkatnya tekanan. Apabila batas elastis terlampaui, ada 

perubahan dalam tingkat penurunan volume karena deformasi plastis 

atau brittle fracture dari partikel dimulai (gambar 2.9). Material brittle 

akan mengalami fragmentasi, dan partikel halus yang terbentuk akan 

tersaring melalui bed untuk memberikan perlindungan sekunder. 

Material yang mengalami deformasi plastis akan berubah bentuk untuk 

mengisi rongga dan mungkin juga menunjukkan pengisian rongga 

dengan perkolasi/penyaringan partikel kecil apabila batas deformasi 

plastik tercapai dan terjadi fracture. Salah satu mekanisme, terdiri dari 

paling tidak 2 submekanisme dan proses dapat berulang pada partikel 

sekunder yang dihasilkan oleh fracture sampai porositas minimum dan 

struktur kristalin internal mendukung tekanan kompresi. 

39Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

Gambar 2.9  Kondisi serbuk pada gaya kompaksi atau pencetakan tablet : (a) penataan 

serbuk pada lobang cetakan, (b) proses pencetakan yang membentuk gaya antar 

partikel serbuk dengan ikatan secara elastis sehingga dapat menimbulkan tablet 

yang dapat pecah kembali (brittle dan fracture),  dan (c) ikatan antar partikel pada 

saat pencetakan tablet dengan ikatan antar partike yang mengalami deformasi plastik 

sehingga menghasilkan tablet yang kompak. 

Kedua proses di atas akan membantu ikatan untuk membentuk 

suatu kompak tunggal, karena aliran plastik meningkatkan area kontak 

antara partikel secara irreversibel dan fragmentasi menghasilkan 

permukaan bersih yang mengikat dengan kuat. Produksi kompak 

yang baik tergantung pada pencapaian area kontak yang tinggi antara 

permukaan yang tidak terkontaminasi.  

40 

Sifat-sifat dari serbuk di atas dimungkinkan dapat berpengaruh 

pada proses produksi dan formulasi sediaan padat. Berikut yaitu  

ringkasan pengaruh sifat-sifat serbuk terhadap formulasi dan proses 

produksi sediaan farmasi dalam bentuk padat. 

 Tabel 2.3 Sifat serbuk yang mempengaruhi formulasi 

Sifat Pengaruh dalam formulasi 

Ukuran partikel 

Keseragaman kandungan zat aktif, 

pencampuran 

Luas permukaan efektif Laju disolusi, stabilitas 

Bentuk Sifat alir, pencampuran 

Porositas 

Keseragaman bobot dan keseragaman 

kandungan dari tablet dan kapsul 

Sifat alir dan 

kompaktibilitas 

Sangat penting untuk optimasi metode 

manufaktur tablet dan kapsul serta 

keseragaman kandungan zat aktif 

Tabel 2.4 Sifat-sifat serbuk yang mempengaruhi proses produksi  

Sifat serbuk Pengaruh Permasalahan dalam 

proses produksi 

Kandungan lembab  

serta ukuran dan 

distribusi partikel 

Sifat adhesi 

dan kohesi 

Pelengketan pada 

permukaan alat dan 

jeleknya sifat alir partikel 

atau serbuk 

Bentuk partikel Gesekan 

pada 

dinding 

alat dan 

sifat alir 

material 

Aliran material dari hopper 

(tempat pengisian serbuk 

pada mesin cetak tablet) 

41Sifat-Sifat Serbuk Dan Evaluasinya

Soal Latihan 

1. Uraikan beberapa metode yang dapat dilakukan untuk 

memperbaiki aliran material untuk produksi sediaan farmasi 

2. Suatu serbuk dengan massa 100 g pada saat uji waktu alir 

diperoleh waktu untuk mengalir serbuk 8 detik. Timbunan serbuk 

yang terbentuk setinggi 5 cm dengan diameter timbunan 20 cm. 

Hitunglah: 

a. Kecepatan alir serbuk 

b. Sudut istirahat serbuk. 

3. Suatu partikel diisikan kedalam alat uji bobot jenis mampat dengan 

volume 100 mL setelah ditimbang memiliki bobot 50 g. Setelah 

dilakukan uji tapping volume tapping yang diperoleh yaitu  70 

mL. Hitunglah :  

a.  Carrs Indeks

b. Faktor Hausner

c. Bagaimana kriteria sifat alir partikel diatas?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


43Studi Praformulasi

BAB 3 

STUDI PRAFORMULASI 

______________________________

Mahasiswa memahami dan mengaplikasikan konsep praformulasi 

sediaan tablet yang meliputi penentuan sifat fisikokimia zat aktif dan 

inkompatibilitasnya sebagai langkah awal dalam mengembangkan 

sediaan tablet.  

A. Pendahuluan 

Studi pre-formulasi berkembang pada tahun 1950 dan awal 1960. 

Studi pre-formulasi yaitu  langkah pertama dalam pengembangan 

sediaan farmasi secara rasional dengan cara mengkaji sifat fisik dan kimia 

dari zat aktif dan bila digabungkan dengan eksipien. Tujuan keseluruhan 

dari studi preformulasi yaitu  untuk mendapatkan informasi yang 

berguna bagi seorang formulator dalam mengembangkan bentuk 

sediaan yang stabil dan memiliki ketersediaan hayati yang baik serta 

dapat diproduksi secara massal. Studi pre-formulasi dirancang untuk 

mendapatkan semua data yang diperlukan terutama sifat fisikokimia, 

fisika-makanik dan sifat-sifat farmasetika dari zat aktif, bahan tambahan 

dan bahan kemasan.

Studi praformulasi bertujuan untuk: (1) Mengembangkan 

sediaan farmasi yang elegan (stabil, efektif dan aman); (2) Memahami 

gambaran fisik zat aktif sebelum pengembangan sediaan; dan (3) 

Merupakan langkah awal dalam pengembangan sediaan yang rasional 

dari zat aktif sebelum pemilihan bentuk sediaan. Target dari studi 

praformulasi meliputi: (1) Untuk menetapkan parameter fisiko-kimia 

dari senyawa kimia baru (praformulasi penemuan obat); (2) Untuk 

menetapkan karakteristik fisik; (3) Untuk menetapkan profil tingkat 

kinetik (praformulasi dalam penemuan obat); (4) Untuk menentukan 

44 

kompatibilitas zat aktif dengan eksipien; dan (5)  Untuk memilih bentuk 

sediaan yang tepat dari zat aktif.

Sebelum dilakukan formulasi dari zat aktif menjadi bentuk 

sediaan, penting dilakukan karakterisasi sifat fisik dan kimia dari zat 

aktif ini . Studi preformulasi dan lainnya memberikan jenis-jenis 

informasi yang dibutuhkan untuk menggambarkan zat aktif. Informasi 

ini memberikan acuan untuk kombinasi obat dan bahan tambahan 

dalam pembuatan atau pabrikasi bentuk sediaan. Praformulasi didesain 

untuk mengidentifikasi sifat-sifat fisikokimia dari zat aktif dan eksipien 

yang mempengaruhi desain formulasi, metode manufaktur dan sifat 

farmakokinetik-biofarmasetika dari produk yang dihasilkan. 

Studi praformulasi merupakan tahap pertama dalam mendesain 

atau memformula suatu sediaan tablet. Preformulasi merupakan upaya 

untuk mengoptimasi suatu formula obat yaitu dengan cara determinasi 

sifat-sifat fisika dan kimia yang diperlukan dalam formulasi sediaan yang 

stabil, efektif dan aman. Kemungkinan interaksi dengan komponen 

lain juga perlu diperhatikan. Salah satu sifat fisikokimia yang perlu 

diperhatikan untuk pengembangan yaitu  desain formula. Contohnya 

metode produksi, sifat obat dan eksipien. Jadi studi praformulasi ini 

merupakan pengkajian terhadap sifat fisikokimia dari obat dalam bentuk 

tunggal atau kombinasi obat dengan eksipien yang mempengaruhi 

desain formulasi, metode manufaktur, sifat farmakokinetik dan 

biofarmasetika dari produk. Tidak semua parameter praformulasi yang 

perlu ditentukan untuk setiap senyawa baru. 

Tujuan utama praformulasi yaitu  untuk mendapatkan 

pendekatan formulasi yang rasional, memaksimumkan usaha formulasi 

serta mendapatkan kualitas dan penampilan produk yang optimal. 

Informasi ini kemudian memberikan kerangka untuk kombinasi obat 

dengan ingradien farmasetika dalam pembuatan bentuk sediaan. 

Parameter praformulasi meliputi karakteristik fisik dan kimia yaitu:

1. Karakteristik fisik yaitu:

a. Sifat organoleptik

45Studi Praformulasi

b. Karakteristik bulk, meliputi: 

i). Karakteristik solid

ii). Sifat air

iii). Densitas

iv). Kompresibilitas

v). Polimorfi

vi). Higroskopisitas

c. Analisis kelarutan, meliputi:

i). Konstanta ionisasi (pKa)

ii). Koefisien partisi

iii). Solubiliasasi

iv). Efek termal

v). Pengaruh ion (Ksp)

vi). Disolusi

d. Analisis stabilitas, meliputi:

i). Stabilitas larutan

ii). Stabilitas padat

iii). Kompatibilitas obat dengan eksipien

2. Karakteristik kimia yaitu:

a. Hidrolisis

b. Oksidasi

c. Fotolisis

d. Rasemisasi

e. Polimerisasi

f. Dekomposisi enzim

B. Karakteristik Fisik

1. Organoleptik 

Kajian praformulasi harus dimulai dengan deskripsi zat aktif. 

Warna, bau dan rasa obat baru harus dicatat dengan menggunakan 

terminologi deskriptif. Terminologi standar penting untuk ditetapkan 

supaya tidak membingungkan ilmuwan yang menggunakan istilah 

46 

yang berbeda untuk menggambarkan properti yang sama. Warna 

semua bets awal obat baru harus dicatat dengan menggunakan 

terminologi deskriptif. Rekaman warna dari batch awal sangat berguna 

dalam menetapkan spesifikasi yang tepat untuk produksi nanti. Tabel 

3.1 menyajikan terminologi untuk menggambarkan sifat organoleptis 

dari serbuk farmasetik.

Tabel 3.1 Terminologi untuk menggambarkan sifat organoleptik 

serbuk farmasetis (Desu, Vaishnavi, Divya, & Lakshmi, 2015).

Warna Bau Rasa

Putih kepucatan Tajam Asam

Kuning krim Sulfur Pahit

Coklat Buah-buahan Lembut

Berkilauan Aromatik Pedas

Tidak berbau Manis

Tidak Berasa

 

2. Karakteristik Bulk 

a. Karakteristik padatan

Serbuk yaitu  partikel padat atau butiran yang dikelilingi oleh 

udara (atau cairan lainnya) serta kombinasi padat dan kombinasi cairan 

yang secara signifikan mempengaruhi sifat bulk serbuk. Ini merupakan 

karakteristik yang paling menyulitkan karena jumlah cairan bisa sangat 

bervariasi. Serbuk dapat diprediksi kemampuan mengalirnya karena 

banyak faktor yang dapat mengubah sifat reologinya. Karakteristik 

fisik partikel, seperti ukuran, bentuk, sudut istirahat, variasi ukuran dan 

kekerasan semuanya akan mempengaruhi sifat aliran. Faktor eksternal 

seperti kelembaban, lingkungan, getaran dan mungkin udara yang 

terjerat dalam partikel akan memunculkan masalah. 

Sifat kimia dan fisik zat aktif dipengaruhi oleh distribusi dan 

bentuk ukuran partikelnya. Pengaruhnya tidak hanya pada sifat fisik 

bahan obat padat tetapi juga dalam beberapa kasus yang berhubungan 

47Studi Praformulasi

dengan sifat biofarmasetika. Misalnya, ketersediaan hayati griseofulvin 

dan fenasetin berhubungan langsung dengan distribusi ukuran partikel 

obat ini. Secara umum telah diketahui bahwa obat-obatan sukar larut 

dalam air yang menunjukkan disolusi merupakan kecepatan pembatas 

(dissolution rate-limiting step) dalam proses absorpsi akan lebih 

baik ketersediaan hayatinya bila diberikan apabila zat aktif dikurangi 

ukuran partikelnya dibandingkan zat aktif dalam bentuk kasar. Ukuran 

partikel juga berperan dalam homogenitas produk akhir tablet. Bila ada 

perbedaan ukuran yang besar antara komponen aktif dan eksipien, maka 

akan sulit untuk dicampur secara merata selama tahap pemrosesan 

selanjutnya.

b. Sifat alir

Sifat aliran serbuk sangat penting dalam proses pencetakan 

tablet. Serbuk atau granul harus memiliki sifat alir yang baik untuk 

menjamin pencampuran yang efisien dan keseragaman bobot 

yang memenuhi persyaratan pada tablet yang dicetak. Jika zat aktif 

diidentifikasi pada tahap pre-formulasi tidak dapat mengalir dengan 

baik, permasalahan dapat diatasi dengan memilih eksipien yang sesuai. 

Dalam beberapa kasus, serbuk mungkin harus dilakukan prekompresi 

atau digranulasi untuk memperbaiki sifat alirnya. Beberapa metode 

yang dilakukan untuk menentukan sifat alir ini diantaranya yaitu  sudut 

istirahat, kecepatan alir dan indeks kompresibilitas. Perubahan ukuran 

dan bentuk partikel menjadi lebih seragam sudah terbukti menghasilkan 

sudut istirahat yang lebih kecil dan indeks carr yang lebih kecil. 

Sudut Istirahat. Sudut maksimum yang terbentuk antara 

permukaan tumpukan serbuk dan permukaan horisontal disebut 

dengan sudut istirahat. Untuk