ususnya yang mengenai usus. sebab
pada hakikatnya tidak termasuk dalam Bab
Obat-obat lambung ini, maka sebetulnya ti-
dak perlu dibahas disini. namun sebab gang-
guan-gangguan ini agak sering terjadi dan
untuk lengkapnya, penyakit usus dan pengo-
batannya akan dibicarakan dengan singkat,
yaitu penyakit radang Crohn, colitis ulcerosa,
IBS, diverticulosis, polip-polip dan wasir.
a. Peradangan usus kronis
Dikenal dua penyakit auto-imun kronis, yang
pemicu nya tidak diketahui, yaitu penyakit
Crohn dan colitis ulcerosa.
* penyakit Crohn berupa radang mukosa
dari terutama usus halus bagian akhir
(ileum) dan bercirikan a.l. demam, nyeri
perut dan diare. Sering kali meng-
hinggapi penderita dewasa muda. Bila ter-
jadi ulserasi hebat bagian usus yang ber-
sang kutan perlu diangkat dengan pem-
bedaha n. Pengobatan dilakukan dengan
imunosupresiva (kortikoida, sikloserin,
azatioprin, MTX), obat antiradang (sala-
zopirin, EPA/DHA) dan antagonis TNF-
alfa (etanercept, infliximab).
* colitis ulcerosa berupa radang mukosa
usus besar bagian akhir dekat rektum
dan bercirikan diare hebat dengan darah,
demam, mual, muntah, anemia dan pen-
derita menjadi kurus dengan cepat. Bila
terjadi perforasi perlu dilakukan pembe-
dahan. Pengobatannya juga dengan korti-
koida, salazopirin, 5-ASA dan azatioprin.
b. Irritable Bowel Syndrome (IBS)
Nama gabungan untuk segala gangguan
fungsional dari usus besar de ngan ciri moti-
litas dan sekresi lendir yang mening kat de-
ngan kontraksi spastis tak menentu. Dise-
babkan oleh diet miskin-serat, laksansia ber-
lebihan dan stres psikis. Gejalanya berupa
perut kembung, nyeri perut dengan kejang,
obstipasi diselingi diare, usus “ber-
bunyi” dan ba nyak buang angin (flatus).
Pengobatannya terdiri dari diet kaya-serat
yang tak merangsang, juga sedativa dan
spasmolitika (oksifenonium, fentonium), lih
Bab 32. Antikolinergika.
c. diverticulosis
Diverticula yaitu penonjolan-penonjol an
lapisan mukosa usus melalui bagian yang
lemah dari lapisan otot, akibat tekanan kuat
dari dalam lumen. Sering kali timbul pada
colon, terutama di bagian sigmoid dan ±
50% diderita para lansia. pemicu nya ti-
dak diketahui, namun ada hubungan dengan
makanan rendah serat. Peradangan diverti-
cula dapat memicu perforasi usus,
terbentuknya abses sampai peradangan sela-
put lambung (peritonitis).
Penanganan diverticula tanpa komplikasi
berupa diet serat (20 g sehari) dan bila perlu
bersama suatu pencahar. Pengobatan terdiri
dari antibiotikum cefalosporin atau genta-
misin dan metronidazol.
d. Polip-polip
Merupakan benjolan ke dalam rongga usus
dari beberapa mm sampai beberapa cm di
permukaan mukosa usus dengan potensial
berkembang menjadi kanker usus besar/
rektum. Oleh sebab itu dianjurkan untuk
sedapat mungkin dikeluarkan (melalui pem-
bedahan). Juga perlu kewaspadaan bahwa
sebagian besar dari polip tidak memberikan
gejala dan biasanya ditemukan secara kebe-
tulan pada waktu diperiksa sebab mis.
perdarahan dari rektum atau ketika menjalani
pemeriksaan Röntgen atau colonoscopy.
Penanganannya berupa diet berserat dan
rendah lemak, di samping pemeriksaan colo-
noscopy secara periodik bagi mereka yang
berdasar keturunan berisiko tinggi.
e. Wasir (haemorrhoid)
Wasir (eksternal atau internal) memicu
perdarahan dari rektum dan pruritus ani.
Penanganannya tergantung dari parahnya
gangguan dan dapat berupa injeksi dengan
suatu zat “pengeras” (sclerotic) seperti fenol
atau pembedahan. Pengobatannya secara
swamedikasi dapat dengan salep atau suppo-
sitoria yang me ngandung antiseptikum, zat
penciut dan zat antiradang. Lihat buku Swa-
medikasi hal. 125 dari penulis yang sama.
PENGGOLONGAN
berdasar mekanisme kerjanya, obat-obat
tukak lambung-usus dapat digolongkan se-
bagai berikut.
A. Antasida (senyawa magnesium, aluminium
dan bismut, hidrotalsit, kalsium karbonat, Na-
bikarbonat). Zat pengikat asam atau antasida
(anti = lawan, acidus = asam) yaitu basa-
basa lemah yang dipakai untuk mengikat
secara kimiawi dan menetralisasi asam lam-
bung. Efeknya yaitu peningkatan pH, yang
memicu berkurangnya kerja proteolitik
dari pepsin (optimal pada pH 2). Di atas pH
4, aktivitas pepsin menjadi minimal.
pemakaian nya berbagai macam, selain
pada tukak lambung-usus juga pada indigesti
dan rasa “terbakar” (heartburn), pada gastro-
oesophageal reflux ringan dan pada gastritis.
Obat ini mampu me ngurangi rasa nyeri di
lambung dengan cepat (dalam beberapa
menit). Efeknya bertahan 20-60 menit bila
diminum pada perut kosong dan sampai
3 jam bila diminum 1 jam se sudah makan.
Makanan dengan efek mengikat asam (misal-
nya susu) sama efektifnya terhadap nyeri.
d. Polip-polip
Merupakan benjola ke dalam rongga usus dari beberapa mm sampai beberapa cm di permukaan
mukosa usus dengan pot sial berkembang menjadi kanker usus besar/rektum.. Oleh sebab itu
dia jurk n u tuk sedapat mungkin dikeluarkan (melalui pembedahan). Juga perlu kewaspadaan
b hwa sebagian besar ri polip tidak memberikan gejala dan biasanya ditemukan secara
kebetulan pada waktu diperiksa sebab mis. perdarahan dari rektum atau ketika menjalani
pemeriksaan Röntgen atau colonoscopy.
Penanganannya berupa diet berserat dan rendah lemak, di samping pemeriksaan colonoscopy
secara periodik bagi mereka yang berdasar keturunan berisiko tinggi.
e. Wasir (haemorrhoid)
Wasir (eksternal atau internal) memicu perdarahan dari rektum dan pruritus ani.
Penanganannya tergantung dari parahnya gangguan dan dapat berupa injeksi dengan suatu zat
“pengeras” (sclerotic) seperti fenol atau pembedahan. Pengobatannya secara swamedikasi
dapat dengan salep atau suppositoria yang mengandung antiseptikum, zat penciut dan zat
antiradang. Lihat buku Swamedikasi hal. 125 dari penulis yang sama.
Gambar 16-1: Saluran cerna dan gangguannya
Lih. Ed. VI halaman 267
Penggolongan
berdasar mekanisme kerjanya, obat-obat tukak lambung-usus dapat digolongkan sebagai
berikut.
A. Antasida(senyawa magnesium, aluminium dan bismut, hidrotalsit,kalsium karbonat, Na-
bikarbonat). Zat pengikat asam atau antasida (anti = lawan, acidus = asam) yaitu basa-basa
Gambar 16-1: Saluran cerna dan
gangguannya
Peningkatan pH. Garam-garam magnesium
dan Na-bikarbonat menaikkan pH isi lam-
bung sampai 6-8, CaCO3 sampai pH 5-6 dan
garam-garam alumiumhidroksida sampai
maksimum pH 4-5. Beberapa antasida (Al-
hidroksida, sukralfat dan bismut koloidal) memi-
liki khasiat melindungi tukak dengan menu-
tupnya de ngan suatu lapisan pelindung ter-
hadap serangan asam-pepsin.
Kehamilan dan laktasi. Wanita hamil sering
kali dihinggapi gangguan refluks dan rasa
“terbakar asam”. Antasida de ngan aluminium
hidroksida d n magnesium hidroksida boleh
iberikan selama kehamilan dan lakt si.
* Senyawa magnesium dan aluminium de-
ngan sifat menetralisasi baik tanpa diserap
usus merupakan pilihan pertama. sebab
garam magnesium bersifat mencahar, maka
biasanya dikombinasi dengan senyawa alu-
minium (atau kalsiumkarbonat) yang justru
bersifat obstipasi (dalam perbandingan 1:5).
Persenyawaan molekuler dari Mg dan Al
yaitu hidrotalsit yang juga sangat efektif.
* Natriumbikarbonat dan kalsiumkarbonat
bekerja kuat dan pesat namun dapat diserap
usus dengan memicu alkalosis. Adanya
alkal i berlebihan di dalam darah dan jaring-
an memicu gejala mual, muntah, ano-
reksia, nyeri kepala dan gangguan perila-
ku. Semula peng gunaannya tidak dianjur-
kan sebab terbentuknya banyak CO2 pada
reaksi dengan asam lambung, yang diduga
justru meng akibatkan hipersekresi asam
lambung (rebound effect). namun penelitian
baru (1996) tidak membenarkannya.
* Bismutsubsitrat dapat membentuk lapisan
pelindung yang menutupi tukak, lagi pula
berkhasiat bakteriostatik terhadap H. pylori. Kini
banyak dipakai pada terapi tukak, selalu
bersama dua atau tiga obat lain.
Waktu makan obat. Sudah diketahui umum
bahwa keasaman di lambung menurun segera
sesudah makan dan mulai naik lagi satu jam
kemudian hingga mencapai dataran tinggi
tiga jam sesudah makan. Berhubung de ngan
data ini maka antasida harus dipakai lebih
kurang 1 jam sesudah makan dan sebaiknya
dalam bentuk suspensi. Telah dibuktikan
bahwa tablet bekerja kurang efektif dan le-
bih lambat, mungkin sebab proses pe nge-
ringan selama pembuatan mengurangi daya
netralisasinya.
Pentakaran. Pada oesophagitis dan tukak
lambung 1 jam sesudah makan dan sebelum
tidur. Pada tukak usus 1 dan 3 jam sesudah
makan dan sebelu m tidur.
B. Antibiotika. Antara lain amoksisilin, tetra-
siklin, klaritromisin, metronidazol dan tinidazol.
Obat-obat ini dipakai dalam kombinasi
sebagai triple therapy untuk membasmi H.
pylori dan penyembuhan tukak lambung/
usus dengan tuntas.
C. Antikolinergika. Dahulu agak banyak
dipakai , namun dengan introduksi triple
therapy untuk eradikasi H.pylori, saat ini di-
anggap kuno dan sudah ditinggalkan selu-
ruhnya. Untuk data antikolinergika terpen-
ting, lihat Bab 32 B.
D. Obat penguat motilitas: metoklopramida,
cisaprida dan domperidon. Obat-obat ini juga
dinamakan prokinetika atau propulsiva dan
merupakan antagonis dopamin. Bekerja anti-
emetik, memperkuat peristaltik dan mem-
percepat pengosonga n lambung yang di-
hambat oleh neurotransmitter dopamin. Peng-
hambatan ini ditiadakan oleh zat-zat anta-
gonis dopamin dengan menduduki reseptor
yang banyak ada di saluran cerna dan
otak. Blokade dari reseptor ini di otak menim-
bulkan gangguan ekstrapiramidal. Cisaprida
dan domperidon tidak dapat melintasi barrier
da-rah-otak, sehingga aktivitasnya ter batas
pa-da saluran cerna. Lihat selanjutnya Bab
17, Antiemetika. Dengan stimulasi peristaltik
pengaliran kembali dari empedu dan enzim
pencernaan dari duodenum ke jurusan lam-
bung dicegah. Tukak tidak dirangsang lebih
lanjut dan dapat sembuh dengan lebih cepat.
Cisaprida (dan domperidon) dapat menye-
babkan gangguan ritme jantung berbahaya
(meningkatkan QTc-interval, fibrilasi ventri-
kel), oleh sebab itu Prancis dan Belanda telah
menariknya dari peredaran.
E. Penghambat sekresi asam
a. H2-blockers (antagonis H2-reseptor): sime-
tidin, ranitidin, famotidin, roksatidin dan niza-
tadin. Obat-obat ini menempati reseptor hista-
min-H2 secara selektif di permukaan sel-sel
parietal sehingga sekresi asam lambung dan
pepsin sangat dikurangi. Antihistaminika
(H1-blockers) lainnya tidak memiliki khasiat
ini, lihat selanjutnya Bab 51, Antihistaminika.
Efektivitas obat-obat ini pada penyembuhan
tukak lambung dan usus dengan terapi kom-
binasi melebihi 80%. H2–blockers paling efek-
tif untuk pengobatan tukak duodeni yang
khusus berkaitan dengan hiperasiditas. Pa-
da terapi tukak lambung obat ini kurang
efektivitasnya.
Kehamilan dan laktasi. Simetidin, ranitidin
dan nizatadin (Naxidine) dapat melintasi
plasenta dan mencapai air susu, sehingga
tidak boleh dipakai oleh wanita hamil dan
ibu-ibu yang menyusui. Dari famotidin dan
roksatidin belum ada cukup data.
b. Penghambat pompa-proton (PPP): ome-
prazol, lansoprazol, pantoprazol dan esome-
prazol.
Obat-obat ini menghambat dengan tuntas
sekresi asam lambung melalui blokade enzim
H+/K+-ATPase secara selektif dalam sel-sel
parietal. Dengan demikian produksi asam
lambung yang di”pompa” ke dalam lambung
dihalangi. PPP lebih efektif diban dingkan
dengan antagonis-H2.
Kerjanya panjang akibat kumulasi di sel-
sel itu . Kadar penghambatan asam ter-
gantung dari dosis dan biasanya lebih
kuat daripada perintangan oleh H2-blockers.
Kehamilan dan laktasi. Bagi pemakaian nya
selama kehamilan dan laktasi belum tersedia
cukup data.
F. Lainnya
a. Sedativa: meprobamat, diazepam, dan lain-
lain. Sudah lama diketahui bahwa stress
emosional membuat penyakit tukak lambung
bertambah parah, sedang pada waktu
serangan akut biasanya timbul kegelisahan dan
kecemasan pada penderita. Untuk mengatasi
hal-hal itu , penderita sering kali diobati
dengan antasida dan penambahan obat pene-
nang, misalnya meprobamat, oksazepam atau
benzodiazepin lain. Lihat Bab 24, Sedativa
dan Hipnotika.
b. Analogon prostaglandin-E1: misoprostol
(Cytotec) menghambat secara langsung sel-
sel parietal. Lagi pula melindungi mukosa
dengan merangsang produksi mucus dan
bikarbonat. Oleh sebab itu ditambahkan
pada terapi dengan NSAIDs.
* Arthrotec (= diklofenak + misoprostol), lihat
selanjutnya Bab 21, Obat-obat rema.
c. Zat-zat pembantu: asam alginat, succus dan
dimethicon. Kadang-kadang pada formulasi
antasida ditambahkan pula suatu adsorbens
yang pada permukaannya dapat menyerap
secara fisis zat-zat aktif dari getah lambung
atau penambahan zat-zat pelindung yang
menutupi mukosa dengan suatu lapisan hi-
drofob. Kegunaan zat-zat tambahan ini tidak
selalu dapat dibuktikan dengan pasti.
Antasida yang mengandung alginat me-
rupakan obat yang paling sering dipakai
pada nyeri yang disertai gangguan refluks/
heartburn.
MONOGRAFI
A. ANTASIdA
1. Aluminiumhidroksida: *Gelusil, *Maalox,
*Polysilane.
Zat koloidal ini sebagian terdiri dari
aluminiumhidroksida dan sebagian lagi sebagai
aluminiumoksida terikat pada molekul air
(hydrated). Zat ini berkhasiat adstringens, yaitu
menciutkan selaput lendir berdasar sifat
ion aluminium yang membentuk kompleks
dengan antara lain protein. Juga dapat menu-
tupi tukak lambung dengan suatu lapisan
pelindung.
Dosis: dalam bentuk gel 3 dd 0,5-1 g.
* Sukralfat (aluminiumsukrosasulfat basis, Ul-
sanic) dapat membentuk suatu kompleks
protein pada permukaan tukak yang me-
lindunginya terhadap HCl, pepsin dan em-
pedu. Kompleks ini bertahan ±6 jam di sekitar
tukak. Di samping itu juga menetralisasi asam,
menahan kerja pepsin dan mengadsorpsi asam
empedu. Resorpsinya ringan (3-5%). Efek
sampingnya berupa obstipasi, mulut kering
dan erythema.
Dosis: esofagitis 4 dd 1 g p.c. sebelum tidur.
Tukak lambung/usus: 4 dd 1 g 0,5 jam a.c. dan
sebelum tidur selama 4-6 minggu, bila perlu
12 minggu. Profilaksis kambuh tukak: 2 dd 1
g sebelum santap pagi dan sebelum tidur.
* Sediaan kombinasi Mg/Al: *Caved-S, *Neu-
silin, *Polycrol (+ dimeticon) dan *Neo Gastrolet
(+papaverin).
2. Bismutsubsitrat: De-Nol.
Garam ini (1972) berkhasiat bakteriostatik
dan terutama dipakai pada terapi mem-
basmi H. pylori pada tukak lambung/usus.
Zat ini juga berfungsi se bagai pelindung mukosa
berdasar terbentuknya kompleks bismut-
glikoprotein dalam lambung yang menutupi
tukak. Sebagian zat di dalam lambung di-
ubah menjadi bismutoksiklorida yang tak larut.
Khusus dipakai bersama suatu proton-
pump-blocker (omeprazol dan lain-lain) dan
antibiotik sebagai multiple therapy untuk
membasmi H. Pylori. Bismutsitrat juga ber-
khasiat bakteriostatik terhadap H. pylori.
Resorpsi buruk, kurang dari 1% dan ter-
gantung pada keasaman lambung, pada pH
>6 resorpsinya meningkat. Plasma-t½-nya
panjang sekali, rata-rata 20 hari.
Efek samping. Pada pemakaian lama dan
dalam dosis tinggi zat ini dapat diserap
usus dan memicu kerusakan otak
(encefalopatia) dengan kejang-kejang, ataksia
dan perasaan kacau. Lidah dan tinja dapat
berwarna gelap/hitam. Perasaan mual, mun-
tah dan reaksi kulit adakalanya terjadi.
Dosis: tukak lambung/usus 4 dd 120 mg
0,5 jam pada waktu makan dan sebelum tidur
selama 1-2 minggu bersama 2 atau 3 obat
lainnya (terapi kombinasi).
* Bismutsubnitrat (komb. Stomadex) berkha-
siat adstringens dan antiseptik lemah, juga
dapat mengikat asam. Pada dosis tinggi
dapat diserap dan memicu intoksikasi
bismut dan nitrat. Oleh sebab itu obat ini
jarang dipakai lagi, begitu pula garam-
garam bismut lainnya seperti Bi-subkarbonat
dan Bi-subsalisilat (Scantoma).
Dosis: hiperasiditas 3 dd 200-600 mg p.c.
maks. 10 hari.
3. Kalsiumkarbonat: kapur, *Stomagel
Kalsiumkarbonat yaitu karbonat pertama
yang dipakai sebagai antasidum yang
memiliki efek baik sekali. Zat ini menetralkan
asam lambung sambil melepaskan banyak
gas karbondioksida yang diduga dapat me-
rangsang dinding dan memicu perfo-
rasi dari tukak. Pertama-tama terjadi pere-
daan nyeri, namun segera disusul oleh rasa
nyeri yang lebih hebat akibat bertambahnya
pelepasan asam. Namun efek rebound ini tidak
pernah dipastikan secara ilmiah.
Efek samping berupa sembelit yang dapat
diatasi dengan kombinasi dari dua garam
magnesium (MgO 20%, Mgsulfat).
Dosis: 1-4 gram seharinya.
* Natriumbikarbonat (soda kue, *Gelusil II)
bersifat alkalis dengan efek antasid yang sama
dengan kalsiumkarbonat. Efek samping pada
pemakaian berlebihan yaitu terjadinya
alkalosis dengan gejala sakit kepala, perasaan
haus sekali, mual dan muntah-muntah. Se-
perti Ca-karbonat zat ini juga dihubungkan
dengan pelonjakan produksi asam secara
reflektoris (efek rebound).
Dosis: 1-4 gram seharinya.
4. Magnesiumoksida: *Stomadex.
Dalam dosis yang sama (1 g), MgO lebih
efektif untuk mengikat asam daripada na-
trium-bikarbonat, namun memiliki sifat pen-
cahar sebagai efek sampingnya (lebih ri-
ngan dari Mg-sulfat). Untuk mengatasi hal
ini, maka zat ini diberikan dalam kombi-
nasi dengan aluminiumhidroksida atau kalsi-
umkarbonat (perbandingan MgCO3/CaCO3
= 1:5) yang memiliki sifat sembelit. Mg-
oksida tidak diserap usus sehingga tidak
memicu alkalosis.
Dosis:1-4 dd 0,5-1 g.
* Magnesiumhidroksida (*Gelusil, *Maalox,
*Mylanta) memiliki daya netralisasi kuat,
cepat dan banyak dipakai dalam sediaan
terhadap gangguan lambung bersama Al-
hidroksida, karbonat, dimetikon dan alginat.
Dosis: 1-4 dd 500-750 mg.
* Magnesiumtrisilikat (*Gelusil, *Polysilane)
bekerja lebih lambat dan lebih lama dari
pada natriumbikarbonat. Efek netralisasinya
cukup baik, juga berkhasiat adsorbens (menye-
rap zat-zat lain pada permukaannya). Obat
ini bereaksi dengan asam lambung dan
membentuk silisiumhidroksida yang menutupi
tukak lambung de ngan suatu lapisan pelin-
dung yang berbentuk gel. Efek samping.
pemakaian kronis dari zat ini dapat me-
nimbulkan pembentukan batu ginjal (batu
silikat).Dosis: 1-4 dd 0,5-2 g.
* Hidrotalsit (Talsit, Ultacit) yaitu MgAl-
hidroksikarbonat dengan daya netralisasi
pesat namun agak lemah: pH tidak meningkat
di atas 5. Zat ini juga bekerja sebagai antipepsin
dan dapat mengikat dan menginaktivasi empedu
yang mengalir naik ke dalam lambung akibat
refluks. sesudah kembali di suasana basa dari
usus, garam-garam empedu dibebaskan lagi.
Efek sampingnya sering kali berupa pen-
caharan (Mg), namun adakalanya juga obsti-
pasi (Al).
Dosis: 2 dd 2 tablet dari 0,5 g dikunyah
halus 1 jam p.c. dan 2 tablet a.n. Juga dalam
bentuk suspensi.
B. ANTIBIOTIKA
Yang banyak dipakai pada triple therapy
yaitu amoksisilin, klaritromisin, tetrasiklin
dan metronidazol. Lihat Bab 5, Antibiotika
C. PROKINETIKA
5. Metoklopramida: Primperan
Derivat aminoklorbenzamida ini (1964) ber-
khasiat memperkuat motilitas dan pengo-
songan lambung (propulsivum) berdasar
stimulasi saraf-saraf kolinergis, khasiat anti-
dopamin di pusat dan perifer, serta kerja
langsung terhadap otot polos. Zat ini sering
dipakai untuk gangguan peristaltik le-
mah dan sesudah pembedahan. Selain itu,
obat ini juga berdaya anti-emetik sentral
kuat berdasar blokade reseptor dopamin
di CTZ. Oleh sebab itu metoklopramida
dipakai pada semua jenis mual/muntah,
termasuk akibat sitostatikum cisplatin-/ra-
dioterapi dan pada migrain, kecuali yang
disebabkan oleh mabuk jalan. Lihat juga Bab
17, Antiemetika.
Resorpsi dari usus cepat, BA-nya tidak
menentu, rata-rata di atas 30% sebab FPE
besar. Mulai kerjanya dalam 20 menit, PP
20% dan plasma-t½-nya lebih kurang 4 jam.
Ekskresi berlangsung untuk 80% dalam kea-
daan utuh melalui urin.
Efek samping terpenting berupa efek sen-
tral: sedasi dan gelisah berhubung metoklo-
pramida dapat melintasi sawar darah-otak.
Efek samping lainnya ber upa gangguan
lambung-usus serta gangguan ekstrapira-
midal, terutama pada anak-anak.
Interaksi. Obat seperti digoksin, yang ter-
utama diserap di lambung, dikurangi re-
sorpsinya bila diberikan bersamaan dengan
metoklopramida. Resorpsi dari obat-obat
yang diserap di usus halus justru dapat diper-
cepat, antara lain alkohol, asetosal, diazepam
dan levodopa.
Dosis: 3-4 dd 5-10 mg, anak-anak maks. 0,5
mg/kg/sehari. Rektal 2-3 dd 20 mg.
6. Cisaprida: Prepulsid, Acpulsif
Senyawa piperidil ini (1988) ber khasiat
menstimulasi motilitas lambung-usus yang
diduga berdasar pelepasan asetilkolin.
Tidak bekerja antidopamin atau kolinergis.
Khu-sus dipakai pada gangguan
pengosong-an lambung dan pada refluks-
oesophagitis ringan sampai agak berat.
Resorpsinya dari usus cepat dan lengkap,
namun BA-nya hanya 40% sebab FPE besar.
PP-nya kurang lebih 98% dan plasma-t½-nya
kurang lebih 11 jam. sesudah biotransformasi
di hati, metabolit-metabolitnya diekskresi
dengan kemih dan tinja.
Efek sampingnya berupa kejang-kejang usus,
perut berbunyi dan diare, jarang konvulsi,
efek ekstrapiramidal, kepala nyeri dan di-
rasakan ringan.
Pada pengobatan refluks oesofagus pada
anak-anak kecil perlu berhati-hati sebab
telah dilaporkan beberapa kasus aritmia aki-
bat perpanjangan-QT dan kematian menda-
dak (Ph Wkbl 2002; 137:1337).
Kehamilan dan laktasi. Belum ada cukup data
mengenai pemakaian nya selama kehamilan.
Selama menyusui tidak dianjurkan sebab
zat ini masuk ke dalam air susu ibu.
Dosis: 2 dd 10 mg a.c., pada esofagitis 2 dd
20 mg. Juga rektal 1-3 dd 30 mg.
Catatan: Mulai bulan Juli 2000 Dep.Kes.
R.I. telah menarik obat ini dari peredaran
sesudah di Amerika Serikat ditemukan efek
samping berupa gangguan irama jantung
yang berakhir fatal. Namun kemudian obat
ini diizinkan beredar kembali di negara kita
dengan peringatan khusus.
7. Domperidon: Motilium, Vometa
Derivat benzimidazolinon ini (1979) juga
berkhasiat anti-emetik berdasar perin-
tangan reseptor dopamin di CTZ (Chemo
Trigger Zone) beserta stimulasi peristaltik
dan pengosongan lambung. Pada keadaan
normal, pengosongan lambung dimulai rata-
rata 35 menit se sudah makan. Pada penderita
penyakit diabetes, periode ini bisa mencapai
sekitar satu jam (gastroparese). Penderita me-
rasa kenyang, kurang nafsu makan yang
berakibat menjadi kurus.
Domperidon dianjurkan pada terapi tukak
lambung dengan menghindari refluks empedu
dari duodenum ke lambung (duodeno-gastric
reflux). Dengan demikian pemborokan dari
mukosa tidak memburuk dan tukak bisa
sembuh dengan lebih mudah. Obat ini juga
dipakai pada reflux-oesophagitis untuk
mencegah pengaliran kembali dari asam
lambung ke tenggorok. Begitu pula terhadap
mual dan muntah sebab berbagai sebab, a.l.
pada migrain (bersama parasetamol), lihat
juga Bab 17, Antiemetika.
Di samping pemakaian nya untu k meri-
ngankan keluhan lambung, mual dan mun-
tah, secara off-label obat ini dipakai di
negeri Belanda untuk merangsang penge-
luaran air susu ibu. Domperidon yaitu an-
tagonis dopamin yang melalui peningkatan
kadar hormon prolaktin dapat merangsang
produksi air susu ibu. Walaupun obat ini
dapat masuk ke dalam air susu, namun me-
nurut penelitian jumlahnya sangat rendah
(0,01%-0,04%), di samping bioavailabi lity ha-
nya sekitar 15%, sehingga efek sistemiknya
pada bayi hanya terbatas. Oleh sebab itu ri-
siko bagi bayi yaitu minimal pada penggu-
naan dalam waktu singkat oleh sang ibu.
Dosis yang efektif untuk menstimulasi
produksi air susu pada ibu-ibu muda yang
sehat yaitu 3 dd 10 mg selama 1 sampai 2
minggu.
Berhubung dengan kekhawatiran menge-
nai efek samping kardiovaskuler (gangguan
ritme jantung) yang diberitakan di tahun
2013, wanita dengan gangguan kardiovas-
kuler harus berhati-hati, juga bila mengguna-
kan obat-obat yang memperpanjang QT-
interval (lihat Bab 37, Obat jantung) atau
memakai obat yang memperlambat
penguraian domperidon.
Resorpsi dari usus baik, dari poros usus
buruk. PP 92%, plasma-t½-nya lebih kurang
7 jam. Sesudah biotransformasi, zat ini
diekskresi khusus melalui empedu. Berlainan
dengan metoklopramida, zat ini tidak me-
masuki CCS sehingga tidak berefek sedatif.
Untuk menghindari efek samping neurologis
pada anak-anak di bawah usia 1 tahun, do-
sisnya harus ditentukan secara hati-hati dan
saksama, sebab sawar darah-otak pada bayi
belum berkembang dengan sempurna.
Efek sampingnya jarang terjadi dan berupa
kejang-kejang usus sementara dan reaksi
kulit alergik. Antikolinergika dan obat-obat
penyakit Parkinson tidak dapat diberikan
bersamaan sebab obat-obat ini meniadakan
efek domperidon.
Suatu efek samping serus dari obat ini
yaitu gangguan ritme jantung (ventrikel
aritmi) dan perpanjangan QT-interval (lihat
Bab 37, Obat-obat Jantung. QT interval). Oleh
sebab itu sejak tahun 2014 dianjurkan hanya
dipakai untuk mual dan muntah, namun
tidak untuk gangguan lambung, seperti perut
kembung dan refluks gastro-oesofageal. Un-
tuk membatasi risiko ini dosis standar dan
dosis maksimal telah diturunkan dengan
drastis dan pemakaian nya dibatasi sampai
maksimal 1 minggu.
Dosis dewasa (> 35 kg): 1 dd 10 mg dan
maks. 3 x sehari (30 mg/hari); Anak dan re-
maja (<35 kg): 0,25 mg/kg, maks 3 x sehari
(0,75mg/kg sehari).
Lagipula obat ini jangan dipakai
bersamaan dengan obat-obat yang juga
memicu gangguan ritme jantung atau
yang merintangi penguraiannya. Juga harus
waspada bila dikombinasi dengan obat-
obat yang memperpanjang QT-interval, a.l.
kinidin, disopiramida, sotalol, antidepresiva
trisiklik, antibiotik makrolida dan senyawa
kuinolon.
Risk Assessment Committee (PRAC) me-
ngenai pembatasan pemakaian domperidon
sebab efek samping jantung (Mei 2014).
Kehamilan dan laktasi: data mengenai ini
belum mencukupi. Dalam jumlah kecil, dom-
peridon memasuki air susu ibu, sehingga
harus waspada pada anak-anak (yang ma-
sih menyusu) sebab mereka sangat peka
terhadap zat ini (efek ekstrapiramidal).
Dosis: 3-4 dd 10-20 mg a.c.; anak-anak 3-4
dd 0,3 mg/kg; rektal anak-anak 0-2 tahun 2-4
dd 10 mg; i.m./i.v. 0,1-0,2 mg per kg berat
badan dengan maks. 1 mg/kg sehari.
d. PENGhAMBAT PROdUKSI
ASAM
8. Simetidin: Tagamet, *Algitec
Perintang-H2 pertama ini (1977) mendu-
duki reseptor histamin H2 di mukosa lam-
bung yang memicu produksi asam klorida
(reseptor-H2 ada pula di Susunan Sa-raf
Pusat dan pembuluh darah). Dengan de-
mikian, seluruh sekresi asam dihambat oleh-
nya yaitu baik yang basal (alamiah) maupun
yang disebabkan oleh rangsangan makanan,
insulin atau kofein. Juga produksi pepsin dan
seluruh getah lambung berkurang, pH-nya
dapat meningkat sampai pH 6-7.
pemakaian nya pada terapi dan profilaksis
tukak lambung-usus, reflux-oesophagitis ri-
ngan sampai sedang dan Sindroma Zollinger-
Ellison. Pada tukak usus, simetidin ternya-
ta sangat efektif dengan persentase penyem-
buhan di atas 80%, keluhan-keluhan lenyap
dalam beberapa hari dan tukak sembuh da-
lam beberapa minggu. Efeknya terhadap tu-
kak lambung lebih ringan.
Resorpsi dari usus pesat dan hampir lengkap
dengan BA ±70%. PP ±20%, plasma-t½ sing-
kat, hanya 2 jam. Dapat melintasi sawar da-
rah-otak. Dalam hati hanya 25% dibiotrans-
formasi menjadi sulfoksida yang bersama
sisanya yang tidak diubah diekskresi teru-
tama melalui ginjal. Untuk menghambat re-
sor psinya dari usus agar supaya efeknya ber-
tahan lama, tablet harus ditelan pada waktu
makan.
Efek samping jarang terjadi dan berupa diare
(sementara), nyeri otot, pusing-pusin g dan
reaksi kulit. Pada pemakaian lama dengan
dosis tinggi adakalany a terjadi impotensi dan
gynecomastia ringan, yakni buah dada pria
membesar. Simetidin merintangi enzim-enzim
oksidatif hati sehingga perombakan obat-obat
lain dapat diperlambat. Oleh sebab nya dosis
obat-obat demikian perlu dikurang i bila di-
gunakan bersamaan. Contohnya yaitu teo-
filin, karbamazepin, fenitoin dan zat-zat kuma-
rin (kecuali fenprokumon), mungkin juga nife-
dipin, diltiazem, verapamil, diazepam dan klor-
diazepoksida. Efek psikis juga dilaporka n.
Dosis: gastritis 1 dd 800 mg sesudah makan
malam. Ulcus pepticum 2 dd 400 mg pada
waktu makan dan a.n.(sebelum tidur) atau 1
dd sehari 800 mg a.n., selama 4 minggu dan
maksimum 8 minggu. Dosis pemeliharaan
guna mencegah kambuh: malam hari 400 mg
selama 3-6 bulan. Intravena 4-6 dd 200 mg.
9. Ranitidin: Zantac, Rantin
Daya menghambat senyawa furan ini (1981)
terhadap sekresi asam lebih kuat daripada
simetidin. Tidak merintangi perombakan
oksidatif dari obat-obat lain sehingga tidak
memicu interaksi yang tidak diingin-
kan.
Resorpsi pesat dan baik, tidak dipengaruhi
oleh makanan. BA 50-60%, plasma-t½ ± 2 jam.
Sifatnya sangat hidrofil maka PP-nya ringan
(15%) dan sukar memasuki CCS. Ekskresi
melalui urin terutama dalam keadaan utuh.
Efek samping mirip simetidin namun tidak
memicu gynecomastia sebab tidak ber-
sifat antiandrogen dan efek psikis (perasaan
kalut).
Dosis: 1 dd 300 mg sesudah makan malam
selama 4-8 minggu, sebagai pencegah 1 dd
150 mg, i.v. 50 mg sekali.
10. Famotidin: Famocid
Senyawa thiazol (cincin-5 dengan N dan S)
ini (1987) mirip ranitidin bila mengenai sifat-
sifat farmakokinetik dan efek sampingnya.
Plasma-t½ ± 3 jam. Efek menekan sekresinya
lebih kuat daripada ranitidin.
Dosis: pada esofagitis 2 dd 20-40 mg, tukak
lambung-usus 1 dd 40 mg malam hari p.c.
selama 4-8 minggu, profilaksis 1 dd 20 mg.
* Roksatidin (Roxan, Roxit) yaitu senyawa
piperidin (1986), yang diresorpsi hampir leng-
kap dengan BA rata-rata 85% dan plasma-t½
6-7 jam. Diekskresi secara utuh 60% melalui
urin.
Dosis: pada esofagitis 2 dd 75 mg (garam
asetat-HCl) selama 6-8 minggu. Pada tukak
lambung-usus 1 dd 150 mg malam hari sela-
ma 4-6 minggu, profilaksis 1 dd 75 mg malam
hari.
11. Omeprazol: Inhipump, Losec
Senyawa benzimidazol ini yaitu peng-
hambat pompa-proton pertama (1988) yang
dipakai dalam terapi untuk menurunkan
dengan sangat kuat produksi asam lam-
bung. pemakaian nya sama dengan H2-
blockers pada gastritis, tukak lambung-usus
sedang dan Sindrom Zollinger-Ellison. Obat ini
sering kali –secara kurang tepat– diresepkan
berlebiha n, pada kasus-kasus yang sebetul-
nya dapat ditangani oleh suatu H2-blocker
dengan inhibisi asam tidak begitu kuat.
Resorpsi lengkap, dalam waktu 2-5 jam, PP
tinggi (95%), plasma-t½ hanya ±1 jam, namun
efeknya bertahan ±24 jam. Dalam hati zat
ini dirombak seluruhnya menjadi metabolit-
metabolit inaktif yang diekskres i dengan
urin untuk 80%. Antara kadar darah dan
efeknya tidak ada korelasi. Omeprazol
terurai dalam suasana asam, sehingga perlu
diberikan salut tahan asam (e.c.).
Efek samping tidak sering terjadi dan beru-
pa gangguan lambung-usus, nyeri kepala,
nyeri otot dan sendi, vertigo, gatal-gatal
dan mengantuk atau sukar tidur. Eliminasi
dari zat-zat yang juga dirombak oleh sistem
oksidatif cytochrom P-450 dapat dihambat, a.l.
diazepam dan fenitoin.
Dosis: gastritis dan tukak 1 dd 20-40 mg
(kapsul e.c.) selama 4-8 minggu, tukak usus
selama 2-4 minggu, profilaksis tukak usus 1
dd 10-20 mg. Pada Sindrom Zollinger -Ellison
permula 1 dd 80 mg, lalu dosis disesuaikan
secara individual. Juga secara intravena
(infus).
* Esomeprazol (Nexium, 2000) yaitu enan-
tiomer-kiri dari omeprazol (campuran race-
mis) dengan efek menghambat asam yang
lebih kuat. BA antara 60-80%, PP ±97% dan
masa paruh 75 menit. Dirombak dalam ling-
kungan asam dan metabolitnya diekskresi
melalui urin (80%) dan feses.
Dosis: reflux-oesofagitis 1 dd 40 mg selama
4-8 minggu, prevensi 1 dd 20 mg. Eradikasi
H.pylori (triple therapy) 2 dd 20 mg selama 1
minggu.
* Lansoprazol (Prosogan, Ulceran) yaitu de-
rivat piridil (1992) dengan sifat-sifat yang
dalam garis besar sama dengan omeprazol
(tidak tahan asam, PP > 95%, t½ ±1,4 jam).
Dosis: pada esofagitis dan ulcus 1 dd 30 mg
1 jam sebelum makan pagi selama 4-8 ming-
gu, pada ulcus duodeni selama 2-4 minggu.
* Pantoprazol (Pantozol) yaitu juga derivat
piridil dengan sifat-sifat yang mirip (1995).
Dosis: pada esofagitis dan tukak 1 dd 40-
80 mg (tablet e.c. dengan garam Na) a.c./d.c.
selama 4-8 minggu, pada tukak usus selama
2-4 minggu.
E. LAINNYA
12. Misoprostol: Invitec
Analogon prostaglandin ini berfungsi men-
stimulasi mekanisme perlindunga n mukosa
lambung dan menghambat sekresi asam lam-
bung. berdasar ini membantu pengobat-
an tukak lambung dan juga dipakai se-
waktu pengobatan dengan obat-obat NSAIDs
untuk menghindari timbulnya tukak, lihat
selanjutnya Bab 21, Arthrotec
13. Succus liquiritiae
Ekstrak kering ini dibuat dari akar tum-
buhan Glycyrrhiza glabra. Kandungan aktif-
nya yaitu asam glisirizinat (glycyrrhizin,
sangat manis) dan ester dari asam glisiretinat
(enoxolon, tidak manis). Glisirizinat meng-
hambat suatu enzim yang bekerja sebagai
katalisator pada pengubahan androstendion
menjadi testosteron. Dalam hati zat ini dihi-
drolisis menjadi glisiretinat yang berkha-
siat mineralokor tikoid (hormon anak-ginjal
DOCA). Kedua zat asam juga memiliki sifat-
sifat ekspek toran dan antiradang lemah.
Selain itu succus me ngandung pula zat-zat
estrogen, liquiritin dan flavonoida yang ber-
khasiat spasmolitik dan memperbaiki fungsi
pelindun g mukosa lambung.
pemakaian nya sebagai obat tambahan pada
tukak lambung, terhadap tukak usus tidak
efektif. Lagi pula obat ini ba nyak dipakai
sebagai obat batuk untuk mempermudah
pengeluaran dahak dan sebagai corrigens rasa
(lihat Bab 41, Obat-Obat batuk).
Efek sampingnya pada dosis besar (di atas
3 g) berupa nyeri kepala, udema dan gang-
guan keseimbangan elektrolit sebab efek
DOCA-nya, juga dapat meningkatkan te-
kanan darah bila dipakai terus- menerus
(gula-gula, “drop”). Succus yang telah dike-
luarkan asam-asamnya, yakni succus degly-
cyrrhizinatus (*Caved-S), tidak menimbul-
kan efek samping itu namun masih ber-
manfaat untuk pengobatan tukak lambung.
Dosis: pada tukak lambung 3 dd 800 mg
ekstrak.
14. Asam alginat:*Gelusil II
Polisakarida koloidal ini diperoleh dari
ganggang laut. Obat ini dipakai dalam
sediaan antasida pada refluks esofagitis ber-
dasarkan khasiatnya untuk membentuk suatu
larutan sangat kental dari Na- atau Mg-alginat.
Gel ini mengembang sebagai lapisan tebal
pada permukaan isi lambung dan dengan
demikian melindungi mukosa esofagus ter-
hadap asam lambung.
Zat ini juga dipakai sebagai hemostatik
untuk menghentikan perdarahan dari borok
atau fistel, di mana Ca-alginat diabsorpsi
oleh jaringan. Di reseptur berguna untuk
pembuatan suspensi sebagai zat penebal
atau sebagai zat pembantu pada pembuatan
tablet.
Dosis: 4 dd 0,5-1 g dalam sediaan antasida
(garam Na dan Mg).
15. Dimetikon: dimetilpolisiloksan, *Polysilane,
Disflatyl
Kelompok polisiloksan yaitu cairan yang
tak larut dalam air atau alkohol dan larut
dalam pelarut lemak. Berkat sifat hidrofobnya
(waterrepellant) dimetikon banyak dipakai
dalam krem pelindung (barrier creams) untuk
melindungi kulit terhadap zat-zat hidrofil
yang bersifat merangsang, mis. asam dan
basa. Untuk memperkuat khasiatnya pada
pemakaian oral sering kali ditambahkan
silisiumoksida, yang disebut simetikon atau
dimetikon yang diaktivasi.
Dimetikon juga bersifat menurun kan ke-
tegangan permukaan, sehingga gelembung-
gelembung gas dalam lambung-usus lebih
mudah penguraiannya menjadi gelembung-
gelembung yang lebih kecil yang dapat
diresorpsi oleh usus. Oleh sebab itu zat ini
sangat efektif pada keadaan di mana terkum-
pul ba nyak gas (“angin”) di lambung atau
usus (flatulensi, sering kentut) dan sering ber-
sendawa (meteorisme). Kadang-kadang timbul
pula perasaan nyeri di perut akibat rang-
sangan gelembung-gelembung gas terhadap
dinding usus.
Dosis: oral 3-4 dd 40-160 mg, dalam krem
200 mg/g.
B. OBAT PENCERNAAN
Obat-obat pencernaan atau digestiva digu-
nakan untuk membantu proses pencernaan
di seluruh lambung-usus. Obat yang sering
kali dipakai yaitu asam hidroklorida, en-
zim lambung pepsin dan enzim pankreas pan-
kreatin,temu lawak serta garam empedu (kolat).
Zat-zat ini terutama dipakai pada kea-
daan defisiensi dari zat pembantu pencernaan
bersangkutan. Meskipun tidak ada kaitannya
dengan proses pencernaan, di sini akan dibi-
carakan pula pemakaian derivat-kolat pada
terapi batu empedu.
Batu empedu
Batu empedu lazimnya terbentuk di kantong
empedu dan terdiri dari kolesterol, garam kal-
sium, bilirubin dan protein. Kebanyakan batu
terdiri lebih dari 80% kolesterol dan hanya se-
bagian kecil yang tidak atau hanya sedikit
mengandung kolesterol. Batu-batu kecil dapat
menyumbat saluran empedu yang dinding-
nya berkontraksi untuk mengeluarkannya:
gerakan-gerakan ini memicu nyeri ko-
lik yang hebat. Gejalanya sering kali berupa
nyeri akut berupa kejang (kolik) di bagian
kanan atas perut. Nyeri kolik ini dapat berta-
han lebih dari 15 menit, adakalanya lebih lama
atau disertai demam, menggigil dan muntah,
juga sering timbul rasa terbakar (heartburn).
Rasa nyeri bisa menjalar ke bagian atas tubuh
sampai ke bahu.
Penanganan standar berupa pembedahan
yang aman dan efektif dengan jalan laparosco-
py (pembedahan melalui tabung), lebih ja-
rang melalui penghancuran dengan gelom-
bang getaran (shock waves) atau dengan pe-
nggunaan obat-pelarut batu.
Zat-pelarut batu empedu hanya dipakai
untuk batu kolesterol pada pasien yang kare-
na sesuatu sebab tak bisa dibedah. Batu ini
terbentuk sebab ada kelebihan koles-
terol yang tidak dapat dilarutkan lagi oleh
garam empedu dan lesitin. Obat yang kini
tersedia yaitu kenodeoksikolat dan ursode-
oksikolat. Mekanisme kerjanya berdasar
penghambatan sekresi kolesterol sehingga keje-
nuhannya dalam empedu berkurang dan
batu dapat melarut lagi. Obat pertama meng-
hambat sintesis kolesterol dalam hati, se-
dangkan yang kedua meningkatkan pengu-
bahan kolesterol menjadi asam kolat, sehing-
ga kadarnya dalam empedu menurun. Terapi
memerlukan waktu lama, yaitu 3 bulan sam-
pai 2 tahun dan baru dihentikan minimal 3
bulan sesudah semua batu melarut. Residif
dapat terjadi pada 30% dari pasien dalam
waktu 1 tahun, dalam hal ini pengobatan per-
lu dilanjutkan.
MONOGRAFI
1. Asam hidroklorida (HCl)
Fungsi pertama asam mineral ini yaitu
mengubah pepsinogen yang dihasilkan oleh
selaput lendir lambung menjadi pepsin. Lagi
pula untuk memberikan suasana asam yang
cocok bagi kerja proteolitik enzim ini. Suasana
asam itu juga penting sekali untuk
resorpsi dari garam-garam yang esensiil un-
tuk tubuh, misalnya garam kalsium dan besi.
Selanjutnya asam hidroklorida menstimulasi
pengosongan isi lambung ke usus duabelas-jari
dan merangsang sekresi getah lambung, pankreas
dan hati.
pemakaian nya khusus pada kekurangan
atau langkanya asam hidroklorida di labung
(hipoklorhidri/aklorhidri). Sering kali asam mi-
neral ini diberikan dalam kombinasi dengan
pepsin yang harus bekerja dalam lingkungan
asam. Dalam kadar rendah zat ini dipakai
untuk merangsang nafsu makan (julapium).
Berhubung HCl mampu melarutkan email
gigi maka kontak dengan gigi perlu dihindari
(minum melalui sedotan).
Efek samping. Dalam kadar tinggi asam
hidroklorida menghancurkan selaput lendir
hingga pemakaian nya harus dalam keadaan
yang cukup diencerkan.
Dosis biasa yaitu 4 ml HCl 10% diencerkan
25-50 kali dengan air dan diminum sewaktu
atau sesudah makan.
2. Pepsin: Enzynorm
Enzim yang dikeluarkan oleh mukosa lam-
bung ini bersifat proteolitik, yakni menguraikan
zat putih telur menjadi peptida. Di samping
pepsin beberapa enzim dari usus juga bersifat
proteolitik sehingga tidak adanya pepsin di
dalam lambung tidaklah mengkhawatirkan.
Kerjanya optimal pada pH 1,8.
Pepsin diperoleh dari mukosa lambung
binatang menyusui, 1 mg harus memiliki ak-
tivitas dari sekurang-kurangnya 0,5 U (Ph
Eur). Daya proteolitiknya distandarisasikan
sedemikian rupa sehingga 1 bagian pepsin
dapat menguraikan 300 bagian zat putih telur
dalam waktu 2,5 jam.
Dosis biasa yaitu 100-300 mg sekali dan
0,3-1 g sehari sesudah makan.
3. Pankreatin: *Pankreon comp, *Enzymfort,
*Cotazym, *Combizym
Pankreatin merupakan ekstrak dari pan-
kreas dan terdiri atas amilase, tripsin serta
lipase. Umumnya dipakai pada keadaan di
mana sekresi dari pankreas tidak mencukupi.
Misalnya pada radang pankreas dan untuk
membantu pencernaan di usus, misalnya pa-
da penyakit seriawan usus (“sprue”). Lipase
diinaktifkan pada pH < 4 sedang pro-
tease yaitu stabil pada pH 1-7 namun diu-
raikan oleh pepsin lambung. Oleh sebab
itu pankreatin hanya dapat bekerja dalam
suasana pH 4-7 dan harus diberikan dalam
sediaan enteric coated. Pankreatin dibuat dari
pankreas sapi atau babi dan USP menuntut
aktivitas minimal untuk protease, lipase dan
amilase dari masing-masing 25.000, 2.000,
dan 25.000 U-USP/g.
Efek samping pada dosis di atas 90.000 U/
hari lipase berupa hiperurikemia dan hiper-
urikosuria. Kontak dengan serbuk pankreatin
dapat mencetuskan reaksi alergi (bersin, mata
berair, exanthema, bronchospasme). Garam-
garam kalsium dan magnesium mengikat asam
lemak dan garam empedu sehingga absorpsi
lemak berkurang dan efeknya ditiadakan.
Bagi wanita hamil dan yang menyusui sampai
sekarang tidak ada kontra-indikasi untuk
pemakaian nya.
Dosis: 20.000 unit lipase per kali makan.
4. Temu lawak: Curcuma xanthorrhiza
Rimpang ini sangat terkenal sebagai obat
tradisional untuk gangguan pencernaan
yang berkaitan dengan kekurangan empedu.
Merupakan contoh khas dari Teori Signature
kuno mengenai bentuk dan warna obat tanam-
an. Bentuk rimpang nya menyerupai kan-
dung empedu dan ditambah warna kuning-
nya, maka dipakai pada penyakit ku-
ning (hepatitis). Berkhasiat koleretis dan ko-
lekinetis, yakni merangsang pembentukan
dan sekresi empedu oleh hati ke duodenum
berdasar zat warna kuning curcumin dan
minyak-minyak atsiri yang ternyata juga ber-
daya bak teriostatik terhadap bakteri Gram-
positif. Banyak dipakai pada gangguan
kandung empedu yang bersifat ringan serta
akibat sekresi empedu terlampau sediki t. Ju-
ga untuk prevensi sekunder terjadinya batu
emped u.
Dosis: serbuk 0,5 - 1 g sehari, godokan 5 g
dengan 500 ml air 3 dd 2 cangkir.
* Curcumin (diferuloylmetan) selain dalam
temu lawak juga banyak ada dalam ku-
nyit/kunir (turmeric, Curcuma longa). Polifenol
ini merupakan bahan penting dari kari
(curry), juga dipakai sebagai zat warna
kuning (E 100) dalam industri makanan
(a.l. mustard, keju, margarin). Pada tahun-
tahun terakhir telah dibuktikan khasiat anti-
oksidannya yang sangat kuat terhadap radi-
kal hidroksil, superoksida dan proses-proses
peroksidasi. Juga berkhasiat anti radang
yang me nyerupai efek NSAID dan juga
diperkirakan berfungsi menurunka n dengan
kuat pembentukan plak di pembuluh dan sel-
sel otak. Telah diketahui pula bahwa di ne-
gara-negara di mana ba nyak dipakai cur-
cuma prevalensi demensia jauh lebih kecil.
Selain itu curcumin menghambat penggum-
palan pelat darah (antiagregasi) dan menurun-
kan kolesterol plasma dengan menstimulasi
pengubahannya menjadi asam empedu di
samping meningkatkan kelarutan empedu
dan dengan demikian menghindari pem-
bentukan batu empedu.
pemakaian . berdasar efek antioksidan-
nya curcumin dapat menghambat proliferasi
sel-sel tumor dari kanker usus besar dan pa-
yudara. Maka kini sering dipakai pada
terapi alternatif dari jenis kanker ini. Lagipu-
la sifat ini melindungi saraf otak terhadap
lipida-peroksidasi dan produknya (amiloid-
beta), yang bertanggung jawab bagi terjadi-
nya demensia Alzheimer. [Lipida-peroksidasi
walaupun penting bagi pengoperan oksigen,
namun memicu suatu reaksi rantai dari
FR (radikal bebas) yang merusak]. Di samping
itu juga berkhasiat menginaktifkan radikal
NO (nitrit-oksida), yang ada dalam ka-
dar meningkat di neuron pasien Alzheimer.
Ditambah dengan efek antiradangnya yang
juga bekerja protektif terhadap demensia,
maka curcumin mulai dipakai pada pre-
vensi dan pengobatan alternatif penyakit ini.
Lihat juga Bab 28 Obat-obat Parkinson dan
Demensia. Akhirnya berkat efek protektifnya
terhadap hati, curcumin juga dipakai pada
gangguan hati dan empedu (lihat di atas).
Efek samping pada dosis biasa belum dila-
porkan. Tidak boleh diminum pada penyakit
hati serius. Bagi lansia perlu dikurangi dosis-
nya sebab berefek anti koagulans terbatas.
Dosis: kanker colon dan payudara 3 dd 600
mg sebagai ekstrak kunir 95% d.c., rema 1-2
dd 600 mg. Prevensi kanker dan demensia 1
dd 600 mg d.c.
5. Kenodeoksikolat: chenodiol, Chenofalk
Derivat asam kolat ini berumus steroida
(1975) dan ada secara alamiah di dalam
hati, tempat zat ini menghambat sintesis
kolesterol. Resorpsinya dari usus baik namun
BA-nya hanya ±30% sebab FPE tinggi. Se-
telah konyugasi di dalam hati diekskresikan
dengan empedu, lalu dalam usus dirombak
menjadi lithocholic acid toksik yang akhirnya
untuk 80% dikeluarkan bersama feses. Zat
ini dipakai untuk melarutkan batu emp-
edu “bening” (radio-lucent), yang lebih dari
80% terdiri dari kolesterol. Untuk batu yang
terutama mengandung garam kalsium, bili-
rubin dan protein, zat ini tidak berguna.
Efek samping yang tersering berupa diare
intermiten, juga kadang-kadang peningkatan
nilai fungsi hati. LDL-kolesterol dinaikkan
±10%, HDL tidak dipengaruhi.
Obat ini tidak boleh dipakai selama
kehamilan sebab bersifat teratogen. Wanita
dalam usia subur perlu melakukan antikon-
sepsi untuk menghindari kehamilan.
Dosis: 2 dd 750-1250 mg d.c.
* Ursodeoksikolat (ursodeoxycholic acid, urso-
diol, Urdafalk) yaitu derivat (1979) yang ber-
beda mekanisme kerjanyanya dengan keno-
deoksikolat dan bersifat hidrofil. Khasiat-
nya lebih kuat dengan efek samping lebih
ringan. Bekerja melalui peningkatan pengu-
bahan kolesterol menjadi asam kolat sehi-
ngga kadarnya dalam empedu menurun.
Juga mengalami siklus enterohepatik dengan
pembentukan lebih sedikit lithocholic acid.
Dosis: 2 dd 400-600 mg d.c. atau 1 dd 1 g 1
jam sebelum tidur, dipakai sampai 3 bulan
sesudah batu-batu terlarut.
ANTIEMETIKA
Mual dan muntah merupakan peristiwa
yang dapat berlangsung sendiri-sendiri atau
sering kali bersamaan sebab mekanisme
gejalanya melalui jaringan saraf yang sama.
Kedua-duanya merupakan gejal a yang di-
akibatkan oleh berbagai gangguan, seperti
gangguan lambung akut (usus buntu), pe-
nyakit hati, saluran empedu atau pankreas,
infeksi saluran pencernaan, gangguan yang
berkaitan dengan hormon-hormon (hipereme-
sis gravidarum atau mual/muntah kehami-
lan), sesudah pembedahan, mabok jalan dan
akibat efek samping tertentu (sitostatika,
kemoterapi). Gejala itu dapat juga di-
akibatkan oleh faktor-faktor psikologis. Oleh
sebab itu sebelum memakai antieme-
tika, sebaiknya pemicu nya di telusuri ter-
lebih dahulu untuk kemudian ditangani (te-
rapi kausal).
Lihat uraian di bawah mengenai etiologi
gejala muntah.
Muntah (Yun. emesis) dapat dianggap se-
bagai suatu cara perlindungan alamiah dari
tubuh terhadap zat-zat merangsang dan
be racun yang ada dalam makanan. Segera
sesudah zat-zat itu dikeluarkan dari
saluran cerna, muntah juga akan berhen-
ti. Namun demikian, sering kali muntah
hanya merupakan gejala penyakit, misalnya
dari kanker lambung, penyakit Menière,
mabuk darat dan pada masa hamil. Tidak
jarang muntah merupakan efek samping
yang tidak nyaman dari obat-obat, se perti
onkolitika/sitostatika, obat Parkinson,
digoksin dan sebagai akibat radioterapi
kanker. Dalam semua hal ter akhir ini,
muntah dapat diatasi dengan antimual
(antiemetika).
ETIologI
Muntah biasanya didahului oleh rasa
mual (nausea), yang bercirikan muka pucat,
berkeringat, liur berlebihan, tachycardia dan
pernapasan tidak teratur. Pada saat ini lam-
bung mengendur dan di usus halus timbul
aktivitas anti peristaltik yang menyalur-
kan isi usus halus bagian atas ke lambung.
Gejala-gejala itu kemudian disusul oleh
menutupnya glottis (bagian pangkal tenggo-
rok), napas ditahan, katup oesophagus dan
lambung merelaks. Akhirnya timbul kon-
traksi ritmis dari diafragma serta otot-otot
pernapasan disusul oleh lambung memun-
tahkan isinya.
Muntah diakibatkan oleh stimulasi dari
pusat muntah di sumsum lanjutan (medulla
oblongata) dan berlangsung menurut beberapa
mekanisme, yaitu akibat rangsangan lang-
sung melalui CTZ, atau melalui kulit otak
(cortex).
a. Akibat rangsangan langsung dari saluran
cerna. Bila peristaltik dan pelintasan lam-
bung tertunda, terjadilah dispepsi dan mual.
Jika gangguan itu menghebat, pusat
muntah dirangsang melalui saraf vagus (saraf
otak ke-10) dengan akibat muntah. Susunan
makanan dalam hal ini memegang peranan
penting. Pusat muntah dirangsang pula bila
ada kerusakan pada mukosa lambung-usus,
seperti pada radioterapi dan oleh sitostatika.
Organ-organ lain juga dapat secara langsung
merangsang pusat muntah, yaitu jantung
(infark) dan buah zakar (tekanan).
b. Secara tak-langsung melalui CTZ. Chemo-
receptor Trigger Zone yaitu suatu daerah
dengan banyak reseptor, yang letaknya ber-
dekatan dengan pusat muntah di sumsum
lanjutan, namun di luar rintang an sawar darah-
otak. Dengan bantuan neurotransmitter do-
pamin (DA), CTZ dapat menerima isyarat-
isyarat mengenai kehadiran zat-zat kimiawi
asing di dalam sirkulasi. Rangsangan itu
lalu diteruskan ke pusat muntah. Menurut
perkiraan, CTZ juga berhubung an langsung
dengan darah dan cairan otak.
Obat-obat yang terkenal merangsang ke-
moreseptor itu sebagai efek samping yaitu
glikosida digitalis, alkaloid ergot, estrogen, mor-
fin dan sitostatika. Menurut mekanisme ini,
gangguan pada fungsi labirin (= organ keseim-
bangan di bagian dalam telinga) juga dapat
memicu mual dan muntah, misalnya
pada mabuk darat. Gangguan metabolisme
keto-acidosis dan uremia (adanya keton/asam
dan urea dalam darah) dapat juga menye-
babkan muntah. Begitu pula diabetes dan
penya kit ginjal, seperti juga naik-turunnya
kadar estrogen atau naiknya dengan pesat kadar
gonadotropin pada wanita hamil.
c. Melalui kulit otak (cortex cerebri), misal-
nya pada waktu melihat, memcium, atau
merasakan sesuatu sudah cukup untuk me-
nimbulkan mual dan muntah. Oleh sebab
itu orang memakai kata-kata ‘nauseating
smells’ dan ‘sickening sights’.
ANTI-EMETIKA
Obat antimual yaitu zat-zat yang ber khasiat
menekan rasa mual dan muntah. berdasar
mekanisme kerjanya dapat dibedakan
empat kelompok besar dan beberapa obat
tambahan, sebagai berikut:
1. Antikolinergika: skopolamin dan antihi-
staminika tertentu (siklizin, meklizin, sinarizin,
prometazin dan dimenhidrinat). Obat-obat ini
ampuh pada mabuk darat, penyakit Menière
dan mual kehamilan (antihistaminika). Efek-
nya berdasar sifat antikolinergis dan
mungkin juga sebab blokade reseptor-H1 di
CTZ.
2. Antagonis reseptor dopamin. ada se-
jumlah obat yang memicu mual dan
muntah sebagai efek samping akibat rang-
sangan langsung CTZ atau rang sangan mu-
kosa lambung. Zat-zat ini berkhasiat menen-
tang perasaan mual berdasar blokade
neurotransmisi dari CTZ ke pusat muntah
dengan jalan merintangi reseptor dopamin.
Yang terpenting yaitu :
a. propulsiva (prokinetika): metoklopramida dan
domperidon. sebab DA juga berkhasiat
mengurangi motilitas lambung-usus, ma-
ka zat-zat antagonis ini juga bekerja men-
stimulasi motilitas dan dengan demikian
memperkuat efek antiemetiknya. Obat
ini banyak dipakai pada segala jenis
muntah.
b. derivat butirofenon: haloperidol dan droperidol
terutama dipakai pada muntah-mun-
tah sebagai efek samping zat-zat opioid
atau sesudah pembedahan.
c. derivat fenotiazin: proklorperazin dan thië-
tilperazin (Torecan).Efek sampingnya (se-
dasi, efek ekstrapiramidal) membatasi pe-
nggunaannya.
3. Antagonis serotonin: granisetron, ondan-
setron dan tropisetron. Mekanisme kerja ke-
lompok zat ini belum begitu jelas, namun
mungkin sebab blokade serotonin yang
memicu refleks muntah dari usus halus
dan rangsangan terhadap CTZ. Terutama
efektif pada hari-hari pertama terapi dengan
sitostatika yang bersifat emetogen kuat, juga
pada radioterapi.
4. Antagonis NKI (neurokinin): aprepitan
5. Lainnya
– Kortikosteroida, a.l. deksametason dan metil-
prednisolon ternyata efektif terhadap mun-
tah-muntah yang diakibatkan oleh sitos-
tatika dan radioterapi. Maka sering kali
dipakai sebagai obat tambahan pada
antiemetika. Mekanisme kerjanya tidak
diketahui. pemakaian nya sering kali ber-
samaan dengan suatu antagonis seroto-
nin.
– Dronabinol (marihuana, THC= tetrahi dro-
canabinol). Efektif dalam dosis tinggi
pada muntah akibat sitostatika (MTX,
kombinasi siklofosfamida, adriamisin
dan fluorurasil). Juga dipakai untuk
menstimulasi nafsu makan pada pasien
AIDS. Di banya k negara zat ini termasuk
di dalam Daftar Narkotika. Dosis tinggi
memicu a.l. halusinasi dan gejala-
gejala paranoida. Lihat juga Bab 23,
Drugs.
– Alizaprida (Litican) dipakai sete lah
pembedahan, radioterapi dan kemo te-
rapi. Khasiatnya berdasar pengham-
batan refleks muntah secara sentral. Juga
bersifat anksiolitis.
– Benzodiazepin memengaruhi sistem korti-
kal/limbis dari otak dan tidak mengu-
rangi frekuensi dan hebatnya emesis,
namun memperbaiki sikap pasien terhadap
peristiwa muntah. Terutama lorazepam
ternyata efektif sebagai pencegah muntah.
Secara skematis, mekanisme muntah dan
pengobatannya dapat digambarkan sebagai
berikut: lihat Gambar 17-1
JENIS-JENIS MUAl-MUNTAH
1. Mabuk Darat (Motion Sickness)
pemicu nya. Sejak lama sekali diperkirakan
bahwa mabuk darat khusus disebabkan oleh
gerakan kendaraan. Gerakan-gerakan ini me-
rangsang secara berlebihan labirin di bagian
dalam telinga dan kemudian juga pusat
muntah melalui CTZ. Akan namun sejak be-
berapa tahun teori konflik indra sudah dite-
rima umum. Menurut teori ini pemicu
utama mabuk darat yaitu pertentangan an-
tara informasi yang disalurkan oleh organ kese-
imbangan ke otak di satu pihak dan informasi
dari indra-indra lain di lain pihak. Khususnya
menyangkut pertentangan antara mata dan
indra perasa, yang sebetulnya harus bekerja
sama dengan organ keseimbangan(labirin),
yang pada mabuk darat (jalan) memegang pe-
ran esensial.
Contohnya, seorang penumpang mobil
yang membaca koran di kendaraan yang
sedang berjalan. Organ keseimbangannya
mencatat gerakan, namun matanya tidak.
Maka terjadilah suatu keadaan bertentangan
(konflik sensoris), yang mendorong labirin
untuk me-lepaskan isyarat-isyarat pada inti
vestibuler. Sinyal-sinyal itu diteruskan ke
pusat muntah dan dengan demikian timbul
rasa mual dan kecenderungan untuk muntah.
Proses ini terutama dikuasai oleh asetilkolin
(M) dan histamin (H1).
Tindakan pencegahan. Untuk menghindari
mabuk darat, penting sekali untuk dalam
mobil atau bus duduk di bagian depan, di
samping pengemudi, agar mata dapat selalu
diarahkan ke jalanan. Sebaiknya jendela di-
buka agar hawa segar masuk dengan cukup.
Selain itu tidak dianjurkan makan terlalu
banyak atau merokok sebelum memulai
perjalanan.
Obat-obat pencegah. Sebagai pencegah-
an dapat dipakai siklizin untuk per ja-
lanan singkat (sampai 4 jam) atau meklizin
gambar 17-1: Mekanisme muntah dan titik-titik kerja antiemetika
dan skopolamin untuk perjalanan sampai 16
jam lamanya. Dimenhidrinat dan prometazin
juga efektif, namun efek sampingnya terjadi
lebih sering, terutama perasaan mengan tuk
(sedatif). Ternyata obat yang sangat efektif
yaitu kombinasi dari sinarizin 20 mg +
domperidon 15 mg.Sinarizin 50 mg ternyata
manjur untuk ± 63% sebagai obat pencegah
mabuk laut. Jahe sejak dahulu kala sudah
dipakai sebagai obat tradisional ampuh un-
tuk mencegah mabuk darat dan juga untuk
mengatasi mual kehamilan. Efek baiknya
berdasar kandungan minyak atsiri de ngan
gingerol dan zingerone. Dosis yang di anjurkan
1 g serbuk (= ± 1 sendok teh) sebelum be-
rangkat.
Apabila perjalanan relatif panjang sehing-
ga diperlukan pemakaian lama dan anti-
histaminika ingin dihindari, maka dapat di-
gunakan skopolamin transdermal.
Pengobatan mabuk darat lebih sukar da-
ri pada pencegahannya, sebab obat-obat terse-
but tidak dapat diberikan secara oral ber-
hubung akan segera dimuntahkan kembali.
Lain halnya bila obat-obat itu diberi-
kan sebagai injeksi atau suppositoria. Anti-
psikotika ternyata tidak efektif terhadap ma-
buk darat.
2. Muntah kehamilan (“morning
sickness”)
Jenis muntah ini biasanya terjadi antara
minggu ke-6 dan ke-14 dari masa kehamilan
akibat kenaikan pesat dari HCG (human
chorion-gonadotropin). Gejalanya pada umum-
nya tidak hebat dan hilang de ngan sendirinya,
maka sedapat mungkin jangan diobati agar
tidak mengganggu perkembangan organ-
organ janin. Pada kasus hebat sebaiknya
diberikan siklizin 3 x sehari 50 mg, meklizin
1 x sehari 12,5-25 mg atau proklorperazin 2 x
sehari 25 mg rektal. Vitamin B6 (piridoksin) 3 x
sehari 25 mg telah dibuktikan efektivitasnya
sebagai obat tunggal atau bersamaan dengan
suatu antihistami n. Pada kasus berat juga
diperlukan penambahan cairan (rehidrasi)
untuk menghindari gangguan terhadap kese-
imbangan air-elektrolit.
Prometazin pun memiliki efek sedatif kuat
dan menurut data (terbatas) dianggap aman.
Jahe sejak dahulu kala dipakai di Cina
untuk mengurangi muntah kehamilan. Pada
dosis yang dipakai , obat-obat ini ternyata
tidak mengganggu perkembangan janin.
3. Muntah akibat sitostatika
Sitostatika dapat memicu muntah-
muntah akibat rangsangan langsung dari
CTZ, stimulasi dari retroperistaltik (= ter-
balik) dan pelepasan serotonin di saluran
lambung-usus. Emesis akut timbul selama 24
jam pertama sesudah kemoterapi dan muntah
yang baru dimulai pada hari ke-2 sampai ke-6
disebut muntah terlambat (delayed emesis).
Terakhir ada pula sejenis reaksi terhadap
sitostatika yang disebut emesis terantisipasi,
khusus pada (20-40%) pasien yang pernah
diterapi dengan sitostatika. Pada mereka
gejala mual dan muntah sudah dapat timbul
pada ingatan akan menjalani kemoterapi
atau bila melihat rumah sakit (penanganan
dengan antiemetika plus lorazepam).
Skala aktifitas emetogen akut dan frekuensi
mual dari beberapa sitostatika tunggal yaitu
sebagai berikut.
– Berat >90: karmustin, sisplatin, siklofos-
famida.
– Kurang berat 60-90: karboplatin, sitara-
bin, doksorubisin, metotreksat, prokar-
bazin
– Lebih ringan 30-60: ifosfamida, mitoksan-
tron, topotekan
– Ringan 10-30: kapesitabin, dosetaksel, eto-
posida, 5-fluorourasil, gemsitabin, mer-
kaptopurin, mitomisin, paklitaksel
– <10: bleomisin, busulfan, klorambusil,
melfalan, vinblastin, vinkristin
Kerja emetogen kuat dari beberapa sitos-
tatika, terutama senyawa-senyawa platina dan
doksorubisin, sering kali sukar ditangani, ter-
lebih lagi dari bentuk ‘delayed’ dan bila pa-
sien sudah pernah diobati dengan sitosta-
tika. Penanganan terbaik yaitu prevensi
mual melalui pemakaian suatu antieme-
tikum yang cocok sejak permulaan terapi. Ka-
rena bila sudah timbul muntah, maka ja-
uh lebih sulit untuk menanggulanginya.
Berhubung sitostatika biasanya diberikan
dalam kombinasi, maka untuk mempero-
leh hasil yang optimal juga perlu diguna-
kan kombinasi dari beberapa jenis anti-
emetika. Bila pemakaian per oral tidak
memungkinkan pada keadaan muntah be-
rat, obat harus diberikan dalam bentuk supo-
sitoria atau per injeksi.
Suatu kebijakan untuk penanganan muntah
akibat sitostatika yaitu sebagai berikut.
a. pada obat-obat emetogen ringan/sedang:
metoklopramida oral 10-20 mg atau 50-100
mg i.v. sebelum permulaan terapi. Bila ter-
jadi gejala ekstrapiramidal, obat ini dapat
diganti dengan suatu antagonis serotonin (mi-
salnya ondansetron) dikombinasi dengan dek-
sametason (3-4 x sehari 4 mg) atau loraze-
pam 1-2 mg. Pada muntah terlambat metok-
lopramida sama efektifnya dengan zat an-
tagonis serotonin atau malah lebih ampuh,
sedang pada dosis tinggi memicu
efek-efek antikolinergik yang lebih kuat dari-
pada haloperidol.
b. pada obat-obat emetogen kuat lebih di-
anjurkan kombinasi dari tiga obat (triple
therapy), yakni suatu antagonis serotonin ber-
sama deksametason dan lorazepam, yang dibe-
rikan secara intravena. Bila perlu pemberian
antagonis serotonin dapat dilanjutkan 3 hari.
4. Muntah akibat rad










