t trombus
(trombolitika) yaitu :
– tPA (tissue Plasminogen Activator), yang
dilepaskan oleh endotel dalam bentuk
aktif; dan
– uPA (urokinase-type Plasminogen Ac-
tivator), yang pertama kali ditemukan
dalam urin. Dilepaskan dari endotel ke
dalam darah sebagai pro-urokinase, yai-
tu bentuk inaktif yang bila perlu baru
diaktifkan.
Pada keadaan stres fisik atau mental, kadar
tPA meningkat, begitupula sejumlah hormon
yang berdaya menginduksi pelepasan ZAP
ke dalam darah, misalnya adrenalin dan des-
mopresin.
Proses pembekuan darah
Bila pembuluh darah terluka, sebagai reaksi
pertamanya terjadi penggumpalan trombosit
pada dinding pembuluh. Gumpalan ini di-
perkuat oleh serat-serat fibrin. Melalui pro-
ses feedback tubuh mengatur agar jangan
terbentuk bekuan darah terlalu banyak atau
terlalu sedikit.
Mekanisme pembekuan darah merupakan su-
atu proses yang kompleks dan menyangkut
13 faktor pembekuan. Yang utama yaitu
faktor-faktor sebagai berikut: fibrinogen (fak-
tor I), protrombin (faktor II), kalsium (faktor
IV), faktor VII, VIII dan IX.
Dalam garis besar, urutan proses ini ber-
langsung sebagai berikut. Bila darah mengalir
keluar dari, misalnya suatu luka, yaitu suatu
permukaan “asing” yang kasar, maka proses
pembekuan dimulai dengan timbulnya
Tissue factor (Tf) di permukaan sel, yang ber-
sentuhan dengan plasma. Bersama faktor
VII yang telah diaktivasi (VIIa), Tf dapat
mengaktivasi faktor X(rute sekunder). namun ,
peranan utama dari Tf + VIIa in vivo yaitu
aktivasi dari faktor IX (rute primer). Faktor
IXa bersama faktor VIII + ion-Ca mengaktivasi
faktor X. Faktor XI hanya diaktivasi pada
luka parah oleh faktor XIIa. Akhirnya, faktor
Xa mendorong pengubahan protrombin men-
jadi trombin, yang menghidrolisis ikatan
peptida dari fibrinogen dengan membebaskan
serat-serat fibrin, yang mengendap sebagai
gumpalan. Sementara itu, trombin + ion-
Ca mengaktifkan faktor XIII, yang bekerja
menstabilkan gumpalan fibrin melalui cross-
linking molekul fibrin yang berdekatan. Sel-
sel darah akan “terperangkap” dalam gum-
palan yang menyerupai serat-serat lekat
dan membentuk suatu trombus padat. Lihat
skema proses pembekuan darah di Gambar
38-2.
Tromboplastin(trombokinase, faktor III) yaitu
suatu enzim yang berkhasiat mengaktifkan
pengubahan protrombin –––> trombin. Di-
bentuk dalam jaringan cacat dan dilepaskan
ke dalam plasma. Khususnya dipakai
sebagai reagens pada tes protrombin untuk
memonitor pentakaran antikoagulansia oral.
Pada keadaan normal, tidak akan terjadi
pembekuan dan penggumpalan dalam
pembuluh darah, disebabkan dindingnya
yang licin. namun , bila dinding ini menjadi
kasar akibat luka atau peradangan, maka
proses pembekuan darah tercetus dan
memicu hemostasis (Lat. haema =
darah, stasis = berhenti).
Gambar 38-2: Skema mekanisme pembekuan darah
dan peranan beberapa faktor pembekuan
B. ZAT-ZAT ANTI-
TROMBOTIK
Penggolongan
Antitrombotika yaitu zat-zat yang digu-
nakan untuk terapi dan prevensi trombosis,
yang berdasar mekanisme kerjanya dapat
dibagi dalam 3 kelompok, yaitu:
1. Antikoagulansia: menghindari proses
pembekuan darah melalui
- bekerja langsung: kelompok heparin
- bekerja tidak langsung: kelompok kumarin
(antagonis vitamin K atau AVK), meng-
hindari sintesis dari beberapa faktor
pembekuan di hati (menghambat sintesis
fibrin). Masalah utama yang berkaitan
dengan pemakaian antagonis vitamin
K yaitu bahwa dosisnya “sempit” dan
tiap kali harus disesuaikan berdasar
hasil tes pembekuan darah. Akibat se-
rius dari dosis yang tidak tepat yaitu
trombosis dan emboli pada dosis ter-
lampau rendah dan perdarahan pada
dosis yang terlampau tinggi. Antagonis
vitamin K sudah dipakai lebih dari
setengah abad untuk pengobatan dan
prevensi trombo-emboli dan mengurangi
risiko stroke dengan 60%, namun
memiliki risiko untuk perdarahan serius.
Kelompok terbesar dari penggunanya
yaitu untuk prevensi stroke yang meru-
pakan komplikasi terparah dari fibrilasi
atrium, suatu gangguan ritme yang ter-
sering. Sebagian kecil terdiri dari pasien
yang diterapi untuk DVA atau emboli
paru, atau mereka yang memiliki risiko
meningkat untuk gangguan ini.
Zat-zat penghambat sintesis fibrin baru
yaitu penghambat trombin (faktor IIa) lang-
sung dabigatran, melagatran dan pro-drug-
nya ximelagatran (Exanta, 2004).13 Juga dua
senyawa dari kelompok pentasakarida fon-
daparinux (Arixtra) 15 dan idraparinux.
2. penghambat penggumpalan trombosit
(asetosal, dipiridamol, ticlopidin, indobufen, epo-
prostenol), yang berkhasiat menghambat agre-
gasi trombosit. Caranya yaitu melalui peng-
hambatan sintesis tromboxan A2 (TxA2) di
trombosit, meningkatkan jumlah cAMP atau
dengan mengurangi pengikatan fibrinogen
pada reseptor GP trombosit. Sering kali obat-
obat ini disebut antitrombotika (dalam arti
sempit).
Zat-zat baru yaitu antagonis reseptor
glikoprotein abciximab {Reopro} yang ber-
khasiat mengikat pada reseptor glikoprotein
GP pada permukaan trombosit dan demikian
menghambat agregasinya.
3.trombolitika (fibrinolitika): streptokinase,
alteplase, urokinase dan reteplase (Rapilysin).
Obat-obat ini berkhasiat melarutkan gum-
palan darah yang terbentuk beberapa jam
sebelumnya Caranya ialah via aktivasi sis-
tem fibrinolitis tubuh melalui stimulasi pe-
ngubahan plasminogen menjadi plasmin.
Plasmin memecahkan jaringan fibrin dari
trombus.
1. ANTIKOAGULANSIA
Antikoagulansia (Lat.: coagulare = mem-
beku) yaitu zat-zat yang dapat mencegah
pembekuan darah dengan menghambat
pembentukan fibrin.Antagonis vitamin K ini
dipakai pada keadaan di mana ada
kecenderungan meningkat dari darah untuk
membeku, misalnya pada trombosis. Pada
trombosis koroner (infark), sebagian otot jan-
tung mati sebab penyaluran darah ke ba-
gian ini terhalang oleh trombus di salah
satu cabangnya. Obat-obat ini sangat pen-
ting untuk meningkatkan harapan hidup
penderita.
* Penggolongan. Antikoagulansia dapat di-
bagi dalam dua kelompok, yakni obat dengan
kerja langsung dan kerja tak-langsung.
a. Zat-zat dengan kerja langsung: heparin,
heparin BM rendah (enoksaparin, nadropa-
rin) dan zat-zat heparinoid. Zat-zat ini dapat
bereaksi dengan tromboplastin dan memben-
tuk suatu persenyawaan kompleks antitrom-
boplastin, yang menghindari terbentuk-
nya trombin dari protrombin. Dengan de-
mikian, heparin yaitu suatu zat pencegah
pembekuan darah yang kuat. Keunggulan
heparin yaitu khasiatnya yang langsung
dan singkat, namun pemakaian nya harus
secara parenteral (i.v./infus, s.k.), sebab dimus-
nahkan dalam saluran lambung-usus.
* Heparin BM rendah (LMWH = Low Mo-
lecular Weight Heparines).
Heparin merupaan polimer dari mukoi-
tinester sulfat dan memiliki BM paling be-
sar, yaitu rata-rata 15.000-18.000 D(alton).
LMWH yaitu heparin yang telah dipecah
(difraksionasi) dengan BM 4.000-6.500, se-
perti enoksaparin dan nadroparin. Fraksi
heparin ini memiliki panjang rantai berbeda-
beda. Dalam hubungan ini, heparin juga
disebut UFH (Un-Fractionated Heparin). Efek
antitrombotik dari LMWH tergantung dari
besar molekulnya; semakin besar BM, se-
makin kuat dan cepat kerjanya.
LMWH ternyata sama efektifnya dengan
UFH pada trombosis dan emboli paru, lagi
pula bekerja lebih efektif mengenai inaktiva-
si sistem pembekuan darah.3,4 Selain itu,
LMWH memiliki bio-availability biologis
serta kinetik yang lebih baik, juga lebih mu-
dah pemakaian nya. LMWH yang lebih
baru yaitu reviparin (Clivarin),tinzaparin
(Innohep), dan danaparoide (Orgaran).
* Heparinoida. Terdiri atas zat-zat dengan
khasiat yang mirip heparin. Khususnya di-
gunakan dalam salep atau krem sebagai obat
pembantu pada penanganan tromboflebitis,
luka akibat olahraga, keseleo dan salah urat.
b. Zat-zat dengan kerja tak langsung: war-
farin, asenokumarol, fenprokumon
Struktur kimia dari senyawa kumarin
sangat mirip dengan vitamin K (lihat rumus
bangunnya) dan khasiatnya berdasar
antara lain saingan terhadap vitamin ini. Se-
bagai antagonis vitamin K, senyawa ini
menghalangi pembentukan faktor pembekuan
di dalam hati, antara lain protrombin. Oleh
sebab itu proses pembekuan darah ter-
hambat secara tidak langsung. Lagi pula
mengurangi pembentukan fibrin.
Antikoagulansia oral ini mulai kerjanya
agak lambat, baru sesudah 18-72 jam, yaitu
bilamana faktor pembekuan yang sudah ada
dan bersirkulasi hilang seluruhnya. sesudah
pemakaian nya dihentikan, efeknya masih
berlangsung minimal beberapa hari, pada
fenprokumon malah sampai 2 minggu.
Untuk efek antipembekuan yang segera,
terapi harus dimulai dengan heparin, lalu
dilanjutkan dengan suatu kumarin.
Luas terapi. pemakaian obat-obat ini harus
selalu diawasi ketat dengan penentuan kadar
protrombin dalam darah secara periodik,
sebab luas terapinya hanya kecil. Artinya,
jarak antara pengobatan yang kurang dan
pengobatan yang berlebihan dengan risiko
perdarahan yaitu sempit, lagi pula sangat
berbeda-beda secara individual. Oleh sebab
masalah penting ini sejak lama dicari obat
alternatif bagi antagonis vitamin K, yang
terdiri dari generasi baru obat-obat antibeku-
an darah oral yang tidak membutuhkan
moni-toring frekuen, yaitu perintang trombin
(faktor IIa) langsung dabigatran dan pe-
rintang faktor Xa (komponen pertama dari
sistem kaskade pembekuan) langsung riva-
roksaban, apiksaban en edoksaban. Ke-
untungan besar dari obat antikoagulansia
oral baru ini yaitu pemakaian nya dalam
dosis tetap, sehingga tidak membutuhkan
monitoring yang frekuen dan bagi pasien
jauh lebih mudah. Permulaan kerjanya cepat
dan berlangsung tidak lama.
---------------------------------
1. Engelfriet P.M. et al., Introductie van
nieuwe antistollingsmiddelen; Ned Tijdschr
Geneeskd. 2012;156
2. Brouwers, JRBJ, Aanbevelingen over orale
anticoagulantia; Ned Tijdschr Geneeskd.
2012;156:
pemakaian
Antikoagulansia dipakai pada gangguan
trombo-emboli, termasuk tromboflebitis (radang
vena), sesudah pembedahan di mana ada
faktor-faktor yang memudahkan terjadinya
trombosis, terutama trombosis koroner.
Secara preventif, antikoagulansia diguna-
kan untuk mencegah terbentuknya trombi
(darah beku) pada aterosklerosis, misalnya
pada gangguan sirkulasi akibat penyempitan
pembuluh. pemakaian secara profilaktis
sesudah infark jantung ternyata tidak me-
ngurangi risiko serangan kedua, namun terja-
dinya trombose perifer dapat dicegah dengan
efektif 9.
Prevensi stroke
Untuk menghindari stroke dengan efektif
diperlukan terapi dengan anikoagulan per
oral yaitu kelompok antagonis vitamin K,
misalnya warfarin. pemakaian warfarin
membutuhan monitoring secara teratur, oleh
sebab itu dikembangkan antikoagulan oral
lain yang aman dan efektif sebagai alternatif
dari warfarin terutama bagi pasien yang
tidak cocok terhadap warfarin.
Gambar 38-2a: Mekanisme pembekuan antitrombotika baru
rivaroksaban dan dabigatran
Aktivasi: > Blokade: -
......................................... Ned Tijdschr Geneeskd 2009 april; 153(16)
Untuk ini telah disintesis beberapa obat
oral baru seperti inhibitor trombin langsung
dabigatran (Pradaxa ) eteksilat dan inhibitor
faktor Xa rivaroxaban (Xarelto ) dan apixaban
(Eliquis). Dibandingkan dengan warfarin
obat-obat ini memicu lebih sedikit
stroke hemoragic dan perdarahan otak. (J Am
Coll Cardiol. 2012;60(8):738-746).
Keuntungan dari antikoagulan oral baru ini
yaitu pemberiannya yang mudah, dosisnya
yang tetap, sedikit interaksi dengan obat-obat
lain dan tidak diperlukannya monitoring
laboratorium untuk efek antipembekuannya.
Masalah dari obat baru ini yaitu tidak
tersedianya antidotum spesifi k untuk misal-
nya overdosis, dibandingkan dengan peng-
gunaan antagonis vitamin K yang daya
kerjanya dapat dengan cepat dan efektik
dihentikan dengan pemberian vitamin K atau
infus kompleks protrombin. Pencarian dan
pengembangan antidotum spesifi k terhadap
perintang faktor Xa dan perintang trombin
yaitu mutlak untuk praktik klinis.
Lu G, DeGuzman FR et al., Recombinant
antidote for reversal of anticoagulation by factor Xa
inhibitors. Blood, 2008;112:938.
Mengingat efek samping potensial (per-
darahan gastrointestinal) yang serius dan
masih kurangnya pengalaman dengan obat-
obat baru ini, maka diperlukan monitoring
dalam jangka waktu panjang terhadap efek-
tivitas dan keamanannya (tahap -4).
......................................... Van Dijk E. et al; Nieuwe orale anti-
coagulantia bij atriumfibrilleren, Ned Tijdschr
Geneeskd2012;156.
Disamping untuk prevensi stroke di ta-
hun 2014 FDA Amerika telah memberikan
persetujuan untuk pemakaian apixaban
sebagai profilaksis terhadap DVT bagi pa-
sien sesudah bedah pinggul atau dengkul
(replacement surgery).
Perintang trombin oral pertama yaitu
Ximelagatran, namun sebab efek sampingnya
yang a.l. berupa gangguan fungsi hati, telah
ditarik dari peredaran.
Efek samping
Berupa perdarahan hebat, antara lain di
lambung-usus, terutama pada overdose.
Juga reaksi kepekaan yang serius, sebab
heparin yaitu suatu zat alergen, yaitu zat
yang dapat memicu reaksi alergi. Bila
terjadi perdarahan, misalnya dari hidung,
perlu segera diberikan zat penawar vitamin
K1(*Ossovit, Konakion) secara oral (5-10 mg).
Pemberian vitamin K —yang merupakan
antagonis dari kumarin— akan menormalkan
kadar protrombin dalam darah, walaupun efek
klinisnya baru tampak sesudah beberapa jam.
Kehamilan dan laktasi. Senyawa kumarin
tidak boleh diberikan pada wanita hamil
selama 3 bulan pertama kehamilan dan sete-
lah minggu ke-36, berhubung sifat terato-
gennya. Obat-obat ini dalam jumlah kecil
dikeluarkan dalam air susu ibu, namun boleh
dipakai selama laktasi.
Heparin juga dapat dipakai selama
masa itu.
Kontra indikasi yaitu kecenderungan un-
tuk perdarahan, tekanan darah tinggi, gang-
guan ginjal dan penyakit parah dari usus dan
hati yang mengganggu resorpsi dan produksi
vitamin K. Heparin tidak boleh diberikan
pada penderita penyakit hemofilia (sakit blu-
der) dan penyakit purpura hemorrhagica.
Interaksi dengan obat lain
Efeknya terhadap waktu pembekuan darah
dapat sangat dipengaruhi bila dipakai
bersamaan dengan obat lain. Efek antikoa-
gulansnya dapat diperkuat namun dengan
risiko besar akan perdarahan, berdasar
beberapa mekanisme, yaitu:
a. inhibisi enzim oleh alopurinol, antidiabetika
oral, kloramfenikol, dan metronidazol, kare-
na biotransformasi (hidroksilasi) zat-zat
itu dipengaruhi oleh enzim yang
sama, yaitu hidroksilase. Zat-zat androgen,
anabolika, vitamin E dan dekstrotiroksin
memperkuat efeknya, namun mekanisme
kerjanya tidak diketahui.
b. penggeseran dari ikatan proteinnya yang
kuat (96-98%), oleh obat dengan PP yang
juga kuat, antara lain fenilbutazon, sul-
fonamida tertentu, kloralhidrat dan asam
nalidiksat. Oleh sebab itu persentase obat
bebas yang aktif dapat dilipatgandakan.
c. penghambatan agregasi trombosit se-
hingga efek antipembekuannya diper-
kuat, misalnya oleh salisilat.
Sebaliknya ada sejumlah obat yang
justru memperlemah efek antipembekuan-
nya, berdasar mekanisme berikut:
d. induksi enzim: rifampisin, griseofulvin dan
barbiturat, yang mempercepat biotrans-
formasinya
e. mengurangi resorpsinya dari usus: koles-
tiramin
f. menstimulasi aktivitas faktor pembekuan:
antikonseptiva oral
Oleh sebab interaksi itu , efek yang
diinginkan tidak akan tercapai. Maka, bila
pemakai antikoagulansia perlu mengguna-
kan obat-obat itu di atas, sebaiknya
dilakukan pengawasan terhadap kadar anti-
koagulansia di dalam darahnya, sehingga
dosisnya dapat disesuaikan seperlunya.
MONOGRAFI
1a. Heparin: *Thrombophob, Calparine
Senyawa glycosaminoglycan ini (nama lama:
mucopolysaccharide) bersifat asam kuat dan
terdiri dari glukosamin dan asam glukuronat.
Heparin untuk pertama kalinya didapatkan
dalam hati (Lat: hepar = hati), namun pada
umumnya juga ada dalam darah dan
sel jaringan, bersamaan dengan histamin dan
serotonin. Heparin kini diperoleh dengan jalan
ekstraksi dari paru-paru dan hati sapi (1937).
Berhubung masih ada variasi dalam
sifat dan kadar heparin, maka potensinya
dinyatakan dalam unit-unit tertentu (USP).
Heparin berkhasiat menetralkan trombin
dengan segera dan dipakai sebagai zat
antitrombin dalam keadaan di mana perlu
mencairkan darah yang pesat, misalnya
trombose vena dalam (DVT) dengan bahaya
emboli. Juga untuk profilaksis DVT (dosis
rendah). Perlu diberikan parenteral (s.k. atau
i.v.) sebab per oral tidak diserap. Untuk
efek yang segera (dalam 10 menit) heparin
diberikan melalui intravena. Plasma-t½-nya
0,5-3 jam tergantung dari dosis. Efeknya
berlangsung singkat, yaitu ±3 jam, sebab
ekskresinya oleh ginjal cepat. Pentakaran
harus ditentukan atas dasar kebutuhan pen-
derita dan monitoring waktu pembekuan
darah (normal berkisar antara 10-20 menit)
atau Activated Partial Thromboplastin Time
(APTT normal = lebih kurang 45 detik), mut-
lak harus dilaksanakan. Secara dermal juga
dipakai pada tromboflebitis permukaan dan
peradangan, namun efektivitasnya diragukan
(*Thrombophob).
Efek samping utamanya yaitu perdarahan
akibat efek antipembekuan berlebihan atau
trombositopeni yang ditimbulkannya. Jarang
reaksi alergi dan rontok rambut (reversibel).
Dosis: pada trombo-emboli i.v. tiap 4 jam
5.000-10.000 UI (garam-Na) atau dengan
infus 1.000 unit/jam. Profilaksis s.k. 5.000 UI
1-2 jam sebelum pembedahan, lalu 2-3 dd
5.000 UI selama 7-10 hari.
1 mg heparin = 150 UI.
1b. Enoxaparin: Lovenox, Clexane.
LMWH ini yaitu campuran dari sejumlah
heparin dengan BM rendah (rata-rata 4.500),
yang dibuat dengan jalan fraksionasi, yaitu
perombakan esterbenzil dari heparin dengan
alkali (1988). Plasma-t½-nya pada injeksi
s.k. lebih panjang dari heparin, ±4 jam, juga
lebih dapat diperhitungkan. Sebaliknya, daya
kerjanya dibandingkan heparin hanya lemah.
Oleh sebab itu terutama dipakai untuk
pencegahan, misalnya DVT pasca bedah dan
emboli paru.
Efek sampingnya sama dengan heparin,
namun risiko perdarahan lebih kecil sebab
afinitasnya untuk trombin lebih ringan. Agre-
gasi trombosit juga kurang dihambat, se-
hingga risiko trombositopeni juga lebih kecil.
Dosis: s.k. 20 mg garam-Na 2 jam sebelum
pembedahan, lalu 1 dd 20 mg selama 7-10
hari.
1 mg enoxaparin-Na memiliki aktivitas 100
AXa-UI.
* Nadroparin (Fraxiparine) yaitu campuran
dari molekul heparin dengan BM rendah
pula, yang dibentuk melalui fraksionasi
heparin dengan asam nitrat (1989). Plasma-
t½-nya ±3,5 jam. Aktivitasnya dinyatakan
dalam unit AXa-E (IC) [= antifactor-Xa
(Institute of Choay)].
1 AXa-E (IC) = 0,41 AXa-UI. Dosis: pro-
filaksis s.k. 7.500 unit (AXa-E) garam-Ca, 12
jam sebelum dan sesudah pembedahan, lalu
1 dd selama 7-10 hari. Terapi 2 dd 225 AXa-E/
kg selama 10 hari.
1c. Heparinoida: *Lasonil, *Mobilat
Terdiri atas ester sulfat dari polisakarida
dengan khasiat heparin lemah (1949). Khu-
sus dipakai dalam bentuk salep untuk
mengobati cedera olahraga, biasanya dikom-
binasi dengan enzim hyaluronidase untuk
memperkuat efeknya (lihat boks di bawah).
* Hyaluronidase:Hyason, *Lasonil
Enzim mukolitis ini (1949) merombak asam hyaluronat dengan khasiat melarutkan substansi dasar
dari jaringan dan menurunkan viskositasnya, sehingga permeabilitasnya dinaikkan. Dengan demikian,
absorpsi dari obat yang diberikan bersamaan (heparinoida, anestetika lokal) diperbaiki. Kelenturan dari
kulit dan jaringan pengikat juga ditingkatkan. Jarang sekali memicu reaksi alergi. Efeknya
dikurangi oleh salisilat. Kadar yang dipakai 150 U per g salep/krem.
Efek samping jarang terjadi dan berupa
reaksi alergi pada kulit. Kadar dalam krem/
salep 3 mg/g.
1d. Warfarin:(Simarc-2)
Derivat asetonilbenzil ini dari kumarin
(1950) terdiri dari suatu campuran rasemis.
Khasiat antikoagulansnya berdasar meka-
nisme saingan terhadap vitamin K. Terutama
dipakai untuk prevensi sekunder infark
otak dan jantung. pemakaian non-medis
yaitu sebagai racun tikus.
Resorpsinya baik, PP-nya ±99%, plasma-
t½-nya 40-50 jam. Mulai bekerjanya agak
cepat dan maksimal sesudah 36-72 jam dan
bertahan selama 4-5 hari. Dalam hati diubah
menjadi beberapa metabolit inaktif, yang
diekskresi melalui urin.
Dosis: permulaan oral 1 dd 10-15 mg (ga-
ram-Na) selama 3 hari, pemeliharaan 1 dd
2-10 mg berdasar arahan masa pro-
totrombin.
* Asenokumarol: (Sintrom) yaitu derivat
nitro dari warfarin (1955) yang berkhasiat
kuat. Resorpsinya di atas 60%, PP-nya 99%,
plasma-t½-nya 8-14 jam. Mulai kerjanya
agak lambat, yaitu sesudah 18-24 jam dan
bertahan sampai 48 jam. Metabolit inaktifnya
diekskresi melalui urin dan tinja. Daya
kerjanya agak singkat. Dosis: hari pertama
1 dd 8 mg, hari ke-2 dan ke-3 1 dd 4 mg,
pemeliharaan 1-8 mg sehari berdasar
arahan masa prototrombin.
* Fenprokumon (fenilpropiloksikumarin, Mar-
coumar) yaitu derivat etilbenzil dari kumarin
(1953). Mulai kerjanya lebih lambat lagi, yaitu
sesudah 36-48 jam dan bertahan sangat lama,
sampai 1-2 minggu. Plasma-t½-nya ±160 jam.
Dosis: hari pertama 1 dd 12 mg, hari ke-2 6mg,
hari ke-3 3 mg, pemeliharaan 1,5-6 mg sehari.
1e. Rivaroxaban: Xarelto
Merupakan penghambat faktor Xa selektif
oral dan dengan demikian memutuskan
rangkaian cascade pembekuan darah.
Obat ini dipakai untuk prevensi trom-
bo-emboli vena (pasca pembedahan ping-
gul atau lutut), stroke, DVT dan emboli
pulmonal. Efektivitas dan keamanannya pa-
da pengobatan dan profilaksis DVT ulang-
an serta emboli pulmonal sama dengan an-
tagonis vitamin K.
Ekskresinya ±67% melalui urin yang se-
tengahnya dalam keadaan asli dan ± 33%
melalui feces.
T½ nya 5-9 jam; 11-13 jam pada lansia.
Efek sampingnya sering kali anemia, pusing,
sakit kepala, perdarahan pada mata dan
saluran pencernaan, mual, muntah, obstipasi,
diare dan alergi.
Dosis: sesudah pembedahan pinggul atau
lutut: 10 mg sekali sehari.
Untuk prevensi CVA: 20 mg sekali sehari;
pengobatan DVT dan profilaksis DVT residif:
permulaan 15 mg 2x sehari selama 20 hari,
kemudian 20 mg sekali sehari.
*Fondaparinux (Arixtra) yaitu juga
penghambat faktor Xa selektif untuk prevensi
trombo-emboli vena, namun melalui injeksi
s.k. Efek samping anemi, perdarahan, mual,
muntah, alergi, diare, obstipasi dan alergi.
Dosis: s.k. 1 dd 2,5 mg selama 6-14 hari.
1f. Dabigatran: Pradaxa
sesudah resorpsi prodrug ini dengan cepat
diubah oleh esterase di dalam plasma dan hati
menjadi dabigatran aktif. Zat ini merupakan
penghambat kuat dan reversibel dari trom-
bin dan dengan demikian menghindari
pembentukan fibrin dari fibrinogen. Digu-
nakan untuk prevensi stroke dan akhir-
akhir ini (2014) disetujui untuk pengobatan
maupun prevensi risiko terulangnya venous
thromboembolism (VTE).
Ekskresi terutama melalui urin dalam
keadaan utuh. T1/2 12-14 jam. dipakai un-
tuk prevensi gangguan trombo-emboli vena
dan prevensi CVA (stroke).
Efek sampingnya sangat sering (>10%) per-
darahan, anemia, nyeri perut , diare, dispepsi
dan mual.
Dosis: untuk prevensi CVA (stroke) 2 dd 150
mg.
2. PENGHAMBAT
AGREGASI TROMBOSIT
Seperti telah diuraikan di atas, penggumpalan
darah sebagai akibat dari agregasi trombosit
akan terjadi bila misalnya darah mengalir
melalui suatu permukaan yang kasar, se-
perti dinding pembuluh yang rusak atau
meradang. Zat-zat ini, yang singkatnya juga
disebut penghambat trombosit (“platelet
inhibitor” atau penghambat agregasi trom-
bosit) berkhasiat menghindari terbentuk
dan berkembangnya trombi melalui peng-
hambatan penggumpalannya.
Termasuk dalam kelompok ini antara
lain asam asetilsalisilat, dipiridamol, tiklopidin,
indobufen dan epoprostenol.
Penghambat trombosit atau kombinasinya
memegang peranan esensial untuk mengu-
rangi risiko komplikasi aterotrombotik akut
baru pada pasien yang telah mengalami
serangan TIA atau infark otak.
Untuk tujuan ini dianjurkan 3 cara yaitu
pemakaian asam asetilsalisilat dikombinasi
dengan dipiridamol, monoterapi dengan
klopidogrel atau monoterapi dengan asam
asetilsalisilat.
Perlu diperhatikan bahwa pemakaian
kombinasi dari klopidogrel dengan asam
asetilsalisilat meningkatkan risiko perdarah-
an, antara lain perdarahan gastro-intestinal.
MONOGRAFI
2a. Asam asetilsalisilat: asetosal, Aspirin, As-
pilet, Ascardia, Cardio Aspirin, Restor
Di samping khasiat analgetik dan anti-
radangnya (pada dosis tinggi), obat antinyeri
tertua ini (Gerhardt, 1853 - Hoffman,1897)
pada dosis rendah berkhasiat merintangi
penggumpalan trombosit. Dewasa ini, ase-
tosal yaitu obat dengan efek terbukti yang
paling banyak dipakai pada prevensi
trombosis arteriil. Sejak akhir tahun 1980-
an, asam ini mulai banyak dipakai un-
tuk prevensi sekunder dari infark otak dan
jantung. Risiko serangan diturunkan dan
jumlah kematian sebab infark kedua diku-
rangi sampai 25%. Keuntungannya banyak
dibandingkan antikoagulansia untuk indi-
kasi ini, antara lain kerjanya cepat seka-
li dan dosisnya lebih mudah diregulasi.
Lagipula pasien tidak perlu dimonitor waktu
protrombin dalam darahnya dan tidak perlu
mentaati skema pentakaran yang rumit
(7a,7b). ada pula beberapa indikasi bah-
wa asetosal, seperti NSAIDs lainnya, bersifat
melindungi terhadap kanker usus besar.
Penelitian akhir-akhir ini menyatakan
bahwa asam asetilsalisilat dapat menurunkan
angka kematian akibat kanker usus besar.
Mekanismenya mungkin dapat dijelaskan
bahwa senyawa ini menghalangi agregasi
dari sel-sel tumor yang beredar membentuk
“deposito metastatik” yang keberadaannya
memperburuk prognosa kanker colon.
berdasar penelitian ini pemakaian
aspirin (75-325 mg sehari) dapat dianjurkan
bagi pasien dalam stadium III kanker usus
besar.
pemakaian lainnya. Asetosal juga dipakai
pada dosis rendah untuk gangguan kardio-
vaskuler berikut:
– prevensi sekunder dari TIA (Transient
Ischaemic Attack), yakni kehilangan kesa-
daran selewat akibat gangguan sirkulasi
di otak;
– terapi angina pectoris instabil;
– pasca pembedahan bypass.
pemakaian kombinasi asetosal dengan
antikoagulansia sesudah infark jantung ter-
nyata bermanfaat.9,16 Misalnya, terapi di-
mulai dengan asetosal untuk kerja cepat dan
dilanjutkan beberapa minggu kemudian
dengan warfarin, dan sebagainya. Untuk
pemakaian nya sebagai zat penghalau nye-
ri, lihat Bab 20. Analgetika.
Mekanisme kerja. Hambatan agregasi trom-
bosit berdasar inhibisi pembentukan
tromboxan-A2 (TxA2) dari asam arachidonat
yang dibebaskan dari senyawa esternya
dengan fosfolipida (dalam membran sel)
oleh enzim fosfolipase. Asetosal mengasetilasi
secara irreversibel dan dengan demikian
menginaktivasi enzim siklo-oksigenase-I, yang
mengubah arachidonat menjadi endopero-
ksida. TxA2 memiliki khasiat kuat meng-
gumpalkan trombosit dan vasokonstriksi.
Dosis 30-100 mg sehari sudah cukup efektif
untuk menginaktivasi siklo-oksigenase tanpa
menghalangi produksi prostasiklin. Prosta-
siklin berkhasiat menghalangi agregasi dan
melindungi mukosa lambung. Lihat juga Bab
21. Analgetika antiradang, gambar 21-2.
Dosis: antiagregasi oral 1 dd 40–100 mg p.c.,
atau 50-125 mg asetosal-kalsium (= carbasalat).
Antinyeri: 3 dd 500 mg, antiradang: 3–4 dd 1
g p.c..
Efek sampingnya yang terkenal yaitu sifat
merangsang mukosa lambung dengan risiko
perdarahan, yang juga berkaitan dengan
penghambatan prostasiklin (PgI2), yang di-
bentuk oleh dinding pembuluh. PgI2 ini
mencegah sintesis TxA2 dan bersifat meng-
hambat kuat agregasi trombosit. Lihat Bab 21,
Analgetika antiradang. Namun pada dosis
rendah yang diperlukan untuk daya kerja
antiagregasi, efek samping ini ternyata jarang
sekali memicu keluhan lambung,
sedang produksi PgI2 sistemik tidak
dihalangi.
Dosis: prevensi sekunder infark otak/jan-
tung 1 dd 100 mg p.c., prevensi TIA 1 dd
30-100 mg p.c.. Pada infark jantung akut 75-
160 mg sebelum infus dengan streptokinase.
Pada angina pectoris 1 dd 75-100 mg.
Gambar 38-3: Cascade arachidonat dengan pembentukan PgI2 dan TxA2.
2b. Clopidogrel: Plavix,Clopisan, Platogrix,
CPG
Derivat piridin ini (1998) yaitu suatu
pro-drug, yang dalam hati ±15% diubah
oleh enzim sitokrom p450 menjadi metabo-
lit thiol yang aktif. Zat aktif ini sesudah di-
resorpsi mengikat dengan pesat dan irrever-
sibel pada reseptor trombosit dan meng-
hambat penggumpalannya, yang dinduksi
oleh adenosindifosfat (ADP). Resorpsinya
minimal 50%, PP-nya 98%. Ekskresi melalui
urin dan tinja. Terutama dipakai untuk
prevensi sekunder dari infark jantung dan
CVA bila ada hipersensivitas terhadap
asetosal yang sama efektifnya, namun jauh
lebih murah.
Efek samping terpenting yaitu perdarahan
yang dapat terjadi di seluruh tubuh (saluran
cerna dan pernapasan, hidung, mata, kulit).
Sering terjadi gangguan lambung-usus (sakit
perut, mual, muntah, diare atau obstipasi) .
Dianjurkan pemeriksaan hematologi bila
ada gejala perdarahan.
Wanita hamil dan selama laktasi tidak
dianjurkan minum obat ini.
Interaksi. Berhubung risiko akan kehilang-
an darah tersembunyi (occult) di lambung-
usus, maka kombinasi dengan NSAID’s hen-
daknya diberikan dengan sangat berhati-hati.
pemakaian kombinasi dari antikoagulan
dengan NSAID’s, termasuk aspirin, sangat
meningkatkan risiko perdarahan serius.
Oleh sebab itu kombinasi demikian sejauh
mungkin dihindarkan.
Dosis: dewasa 1 dd 75 mg ac /p.c.
......................................... Davidson BL, Verheijen S, Lensing AWA,
et al. Bleeding risk of patients with acute venous
thromboembolism taking non-steroidal anti-
inflammatory drugs or aspirin. JAMA Internal
Med. 2014;14 april.
*Prasugrel (Efient): lebih efektif daripada
clopidogrel untuk menghindari komplikasi
aterotrombotik, namun juga lebih banyak risi-
ko perdarahan, terutama pada kelompok ber-
risiko (lansia > 75 tahun).
Dosis: 1 dd 10 mg selama maks. 12 bulan.
2c. Cilostazol: Pletaal
Fosfodiësterase inhibitor ini meningkatkan
cAMP yang memicu vasodilatasi dan
menghambat agregasi trombosit. dipakai
untuk claudicatio, dengan gejala nyeri, hilang
rasa atau kelemahan di betis, paha dan ping-
gul yang timbul sewaktu berjalan dan pulih
kembali sesudah istirahat beberapa menit.
Efek samping: sakit kepala, pusing dan dia-
re. Tidak boleh dipakai oleh penderita ga-
gal jantung.
Dosis: 2 dd 100 mg.
2d. Dipiridamol: Persantin, *Asasantin Retard
Senyawa dipirimidin (1959) berkhasiat
menghindari agregasi trombosit dan adhe-
sinya pada dinding pembuluh. Juga mensti-
mulasi efek dan sintesis epoprostenol (lihat
2g). Kerjanya berdasar inhibisi fosfo-
diësterase, sehingga cAMP (dengan daya
menghambat agregasi) tidak diubah dan ka-
darnya dalam trombosit meningkat (sama
dengan 2c). Terutama dipakai pada bedah
katup jantung, bersama antikoagulansia.
Kombinasinya dengan asetosal dahulu di-
anjurkan sebagai profilaksis infark kedua,
namun ternyata bahwa monoterapi asetosal
menghasilkan efek yang sama. Suatu studi
telah menunjukkan efektivitas dari kombinasi
(asetosal 25 mg + dipiridamol retard 200 mg
= *Asasantin) untuk menurunkan risiko CVA
sekunder dan prevensi TIA (Ph Wkbl 1998;
133:1298-1300). Kombinasi ini ternyata lebih
efektif dari pada asetosal tunggal berdasar
titik kerja yang berlainan dari kedua senyawa
ini. pemakaian nya pada angina pectoris
dianggap obsolet.
Resorpsinya dari usus tidak menentu, BA-
nya 30-65%, terikat pada plasma protein un-
tuk 90-99%, plasma-t½-nya ±11 jam. Diubah
di dalam hati menjadi glukuronida, yang
dikeluarkan melalui tinja.
Efek sampingnya seperti sakit kepala, gang-
guan lambung-usus, debar jantung dan pu-
sing, akan jauh berkurang pada dosis rendah.
Pada dosis di atas 200 mg, tekanan darah
dapat menurun dan pingsan pada orang
dengan sirkulasi buruk.
Dosis: oral 1 dd 300 mg 1 jam a.c. Pada bedah
katup jantung 4 dd 75-100 mg, dikombinasi
dengan suatu antikoagulans.
2e. Ticlopidin: Ticlid.
Derivat tetrahidropiridin ini (1978) meng-
hambat agregasi trombosit, yang dicetuskan
oleh antara lain ADP (adenosindifosfat).
Resorpsinya dari usus sekitar 80%, PP-nya
±98%, plasma-t½-nya ±8 jam (sesudah 1 dosis)
dan 96 jam sesudah dipakai 14 hari. Efeknya
maksimal sesudah 3 hari dan bertahan selama
14 hari.
Efek sampingnya berupa gangguan saluran
cerna, ruam kulit, pusing dan hepatitis. Lebih
gawat lagi yaitu efeknya terhadap sel-sel
darah (agranulositosis, anemi aplastik dan
lain-lain) yang jarang terjadi namun bersifat
fatal. Oleh sebab itu di Belanda ticlopidin di
tahun 1982 telah ditarik dari peredaran.
Dosis: oral 2 dd 250 mg d.c./p.c. (garam-
HCl).
2f. Indobufen: Ibustrin
Senyawa asam butirat ini (1995) berkhasiat
menghambat agregasi trombosit, lagi pula
bekerja antiradang dan analgetik. Terutama
dipakai antara lain pada trombosis vena
dan gangguan jantung ischemis serta pre-
vensinya.
Efek sampingnya dapat berupa gangguan
lambung-usus, perdarahan hidung dan gusi,
juga reaksi alergi.
Dosis: 2 dd 100 mg, bagi lansia separuhnya.
2g. Epoprostenol: prostaglandin I2, prostacy-
cline, Fiolan
Prostasiklin alamiah ini (1982) dibentuk
di dinding pembuluh pada sistem cascade
arachidonat dan berkhasiat menghambat agre-
gasi trombosit, juga berdaya vasodilatasi
kuat. Pada hakikatnya, zat ini merupakan
antagonis dari tromboxan (TxA2) (Lihat
Gambar 38-3). Kerja antitrombotiknya ter-
gantung dari dosis dan berdasar pening-
katan kadar cAMP dalam trombosit melalui
stimulasi enzim adenilsiklase. Terutama digu-
nakan untuk prevensi trombosis pada waktu
hemodialisa (ginjal) sebagai zat pengganti
heparin. Lihat juga misoprostol (Cytotec)
dengan khasiat mukosa protektif di Bab 21.
Obat-obat rema.
Efek sampingnya berupa muka merah, hi-
potensi, nyeri kepala, pusing, tachycardia
atau bradycardia, juga gangguan lambung-
usus dan mulut kering.
Dosis: infus (i.v.) selama dialyse 4 ng/kg.
2h.Ticagrelor: Brilique, Brilinta
Penghambat agregasi trombosit ini meng-
ikat dengan cepat dan reversibel pada resep-
tor-reseptor trombosit. Lebih efektif daripada
klopidogrel untuk menghindari komplikasi
aterotrombotik pada pasien sindrom koroner
akut (angina instabil atau infark jantung).
Pengikatan pada protein plasma >99,7%
(utuh dan metabolitnya). Ekskresinya 58%
melalui feces (metabolit aktif) dan 27% via
urin (metabolit non-aktif). T1/2 7 jam dan
metabolit aktifnya 8,5 jam.
dipakai dalam kombinasi dengan asam
asetilsalisilat untuk profilaksis komplikasi
trombosis.
Efek sampingnya sering kali perdarahan lo-
kal (kulit, di bawah kulit), bercak-bercak bi-
ru, perdarahan saluran cerna, perdarahan
saluran urin, mual, diare dan sakit perut.
Dosis: dalam kombinasi dengan asam ase-
tilsalisilat 1 dd 75-150 mg ; dosis awal sekali
180 mg, lalu 2 dd 90 mg selama minimal
12 bulan. Penghentian sebelumnya dapat
memicu risiko meningkat untuk infark
jantung pada pasien dengan sindrom koroner
akut.
2i. Eptifibatide: Integrilin
yaitu penghambat reversibel agregasi
trombosit dengan cara menghindari peng-
ikatan glikoprotein (fibrinogen dan faktor
von Willebrand) pada reseptor glikoprotein
IIb/IIIa dari trombosit yang diaktivasi. Da-
lam waktu sejam sesudah pemberian, agregasi
trombosit dihambat dengan kuat sehingga
waktu perdarahan diperpanjang sampai 5
kali. sesudah infus dihentikan fungsi trombosit
pulih kembali dalam waktu 4 jam dan waktu
perdarahan menjadi 2-8 jam.
Ekskresi ± 50% dalam keadaan utuh melalui
urin; T½ ±2,5 jam.
Dalam kombinasi dengan heparin dan
asam asetilsalisilat untuk menghindari infark
jantung dini pada pasien dengan angina
pectoris instabil.
Efek samping sering kali (>10%) perdarahan,
hematuri, muntah darah , gangguan jantung
serius, hipotensi, syok dan flebitis.
Dosis: i.v. 180 mcg/kg berat badan, disusul
dengan infus kontinu 2 mcg/kg per menit.
3. TROMBOLITIKA
Trombolitika, juga disebut fibrinolitika, ber-
khasiat melarutkan trombus dengan meng-
ubah plasminogen menjadi plasmin, suatu
enzim yang dapat menguraikan fibrin. Fibrin
ini merupakan zat pengikat dari gumpalan
darah. Terutama dipakai pada infark
jantung akut untuk melarutkan trombi yang
menyumbat arteri koroner.9,10,11 Bila diberikan
tepat pada waktunya, yaitu dalam jam pertama
sesudah timbulnya gejala, obat-obat ini dapat
membatasi luasnya infark dan kerusakan otot
jantung, sehingga memperbaiki prognosa pe-
nyakit. Juga pada emboli paru, trombosis
perifer dan untuk trombolisis preoperatif.
Efektivitas penanganan infark otak melalui
trombolysis berkaitan dengan waktu antara
permulaan timbulnya gejala dan dimulainya
trombolysis, yang harus dilakukan dalam
waktu 4,5 jam sesudah gejala pertama.
Efek samping yang serius dari obat-obat ini
yaitu meningkatnya kecenderungan per-
darahan, terutama perdarahan otak, khusus-
nya pada manula. Juga harus waspada pada
pasien yang condong mengalami perdarahan,
misalnya yang baru menjalani pembedahan
atau yang menderita luka besar.
Penggolongan. Dapat dibedakan dua kelom-
pok trombolitika, yaitu :
a. fibrinolysin (plasmin) yaitu enzim pro-
tease (fibrinolitis), yang langsung merom-
bak jaringan fibrin dari trombus dan protein
plasma lainnya, seperti fibrinogen, faktor-
beku 5 dan 8.
pemakaian topikal untuk melarutkan
jaringan mati di borok, seperti pada ulcus
cruris dan decubitus, sudah diganti dengan
collagenase yang lebih efektif.
b. zat-zat aktivator plasminogen: strepto-
kinase, alteplase, urokinase dan reteplase (Ra-
pilysin)12. Obat-obat ini bekerja tak-langsung
melalui stimulasi pengubahan plasminogen
menjadi plasmin.
MONOGRAFI
3a. Streptokinase: Kabikinase, Streptase
Streptokinase yaitu protein yang dibu-
at dari filtrat kultur Streptococcusß-hemoliti-
cus (1962). Berkhasiat fibrinolitis melalui
pembentukan kompleks dengan plasmino-
gen yang mengubahnya menjadi plasmin.
dipakai pada gangguan trombo-embo-
li, misalnya emboli paru dan pada infark
jantung. Keberatannya yaitu risiko perda-
rahan akibat aktivasi plasminogen berlebihan,
sehingga tidak hanya gumpalan fibrin dila-
rutkan, melainkan juga fibrinogen bebas.
Efek samping dan kontra-indikasinya sama
seperti pada zat-zat di atas.
Dosis: ditentukan secara individual dan
lamanya pengobatan 5 hari.
3b. Alteplase: tPA (Tissue Plasminogen Acti-
vator), Actilyse
Alteplase yaitu enzim serine-protease dari
sel endotel pembuluh yang dibuat dengan
teknik rekombinan-DNA (1987). T1/2 hanya
5 menit. Berkhasiat sebagai fibrinolitikum
dengan mengikat pada fibrin dan mengaktivasi
plasminogen jaringan. Plasmin yang terbentuk
mendegradasi fibrin dan dengan demikian
melarutkan trombus.
dipakai pada infark otot jantung akut,
sebaiknya dalam waktu 1-3 jam sesudah tim-
bulnya gejala, maksimal sesudah 6 jam. Un-
tuk menghindari timbulnya trombus baru
dianjurkan untuk sesudahnya juga diberikan
heparin dan antikoagulans oral. Demikian
juga pada emboli paru.
Obat ini juga telah disetujui untuk pena-
nganan iskemik stroke akut bila diberikan
dalam waktu 4-5 jam, namun efeknya menurun
bila diberikan lebih lambat.
1. Hacke W, Donnan G, Fieschi C, et al the
ATLANTIS Trials Investigators, the ECASS
Trials Investigators, the NINDS rt-PA Study
Group Investigators. Association of outcome
with early stroke treat-ment: pooled analysis of
ATLANTIS, ECASS, and NINDS rt-PA stroke
trials. Lancet 2004; 363: 768-774.
2 Lees KR, Bluhmki E, von Kummer R, et al.
Time to treatment with intravenous alteplase
and outcome in stroke: an updated pooled
analysis of ECASS, ATLANTIS, NINDS, and
EPITHET trials. Lancet 2010; 375: 1695-1703.
Dosis: pada infark jantung akut i.v. (infus)
permulaan 10 mg dalam 1-2 menit, lalu 50
mg selama jam pertama dan 10 mg dalam 30
menit, sampai maksimal 100 mg dalam 3 jam.
*Tenecteplase (Metalyse, 2000) yaitu varian
alteplase yang dibentuk dengan manipulasi
genetik. Masa-paruhnya lebih panjang (±20
menit), spesifitasnya untuk fibrin lebih
besar dan lebih tahan terhadap penghambat
activator plasminogen. Dosis: intravena da-
lam ±10 detik, tergantung berat badan 30 mg
/60 kg sampai 50 mg/90 kg. 50 mg =10.000 U
tenecteplase
3c. Urokinase: Ukidan, Medacinase
Urokinase yaitu enzim yang dihasilkan
dari biakan jaringan sel ginjal manusia (1962).
Plasma-t½-nya 10-20 menit. dipakai pada
trombosis vena dalam dan arteriil, juga pada
emboli paru.
Dosis: i.v. (infus) permulaan 250.000 UI da-
lam larutan NaCl/glukosa selama 15 menit,
lalu 100-250.000 UI/jam selama 8-12 jam.
HEMOPOETIKA
Hemopoetika atau zat-zat pembentuk darah
yaitu obat-obat yang khusus dipakai
untuk merangsang atau memperbaiki proses
pembentukan darah [hem(at)opiesis].
D A r A H
Darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit),
sel darah putih (lekosit) dan pelat darah
(trombosit), yang tersuspensi dalam plasma.
Plasma terdiri untuk sebagian besar dari air
dengan terlarut dalamnya zat-zat elektrolit
dan beberapa protein, yakni globulin (alfa-,
beta-, gamma-), albumin dan faktor pembe-
kuan darah.
Hem(at)opoiesis (Lat haem =darah., poése =
pembentukan). Sel-sel darah mempunyai
jangka waktu hidup (lifespan) yang relatif
singkat (misalnya, eritrosit 120 hari), se-
hingga perlu diganti secara terus-menerus.
Hematopoiesis yaitu proses penggantian
terus-menerus dari sel-sel darah berhubung
daya hidupnya yang terbatas. Produksi sel-
sel baru tergantung dari keperluan dasar dan
kebutuhan yang meningkat pada keadaan-
keadaan tertentu. Misalnya produksi eritrosit
bisa meningkat sampai lebih dari 20 kali pada
anemia, lekosit juga akan meningkat dengan
drastis sewaktu terjadi infeksi sistemk,
begitupula produksi trombosit naik sampai
10-20 kali pada trombositopenia.
Proses hemopoiesis ini mencakup pemben-
tukan lebih dari 200 miliar (2x10 pangkat 11)
sel darah seharinya.
Faktor pertumbuhan (growth factors) yang
mendorong pembentukan sel darah yaitu
antara lain eritropoietin (EPO, interleukin
IL-2 (untuk limfo-T), IL-5 (untuk eosinofil),
dan IL-6 dan IL-11 (untuk limfo-B dan
trombosit), trombopoietin (TPO), juga CSF
(Colony Stimulating Factor) untuk monosit dan
neutrofil.
Proses hematopoiesis membutuhkan ter-
sedianya dengan cukup mineral-mineral
(mis. besi, kobal dan tembaga), vitamin-vita-
min ( mis. asam folat, B12, B6, C dan B2).
Kekurangan (defisiensi) dari unsur-unsur
ini memicu anemia atau jarang-ja-
rang kegagalan umum dari hematopoiesis
(Wrighting and Adrews, 2008).
Eritropoiesis yaitu proses pembentukan
eritrosit, yang distimulir oleh eritropoietin
(EPO). Hormon faal ini dibuat oleh ginjal
dan mengatur antara lain pemasakan eri-
trosit muda (eritroblas, retikulosit) dan pele-
pasannya ke dalam sirkulasi. Tidak terse-
dianya eritropoietin memicu terjadi-
nya anemia serius. Gagal ginjal kronis
dapat memicu anemia yang dapat
diobati melalui injeksi i.v. atau s.c. dengan
eritropoietin dalam bentuk epoëtin-alfa
(EPO, Eprex).
* EPO banyak disalahgunakan dalam dunia
lomba balap sepeda untuk menstimulasi
pembentukan eritrosit dan fibrin, serta pe-
masukan oksigen ke otot. Efeknya yaitu
peningkatan daya tahan lama (‘ausdauer’)
dan prestasi (sampai 30%). Efek sampingnya
berupa sakit di bagian dada, debar jantung,
darah menjadi lebih kental, sesak napas serta
hipertensi dengan risiko infark otak dan
jantung. Oleh sebab itu EPO dimasukkan
ke dalam daftar obat ‘doping’ oleh Komite
Olimpiade Internasional (IOC).
Tersedia sediaan epoetin alfa seperti
Epogen, Procrit dan Eprex dengan kadar
2000-40.000 unit/ml) untuk injeksi s.k. atau
i.v. Sediaan baru untuk menstimulasi ery-
thropoiesis yaitu darbepoetin alfa (Ara-
nesp) dan dipakai pada pasien anemia
yang menderita penyakit ginjal kronis.
Erythropoietin rekombinan dipakai
secara rutin untuk pengobatan anemia pada
pasien gagal ginjal (renal insuffisiency), pera-
dangan dan kanker. Hematopoietic growth
factor dengan kerja panjang ini memerlukan
jadwal pemberian obat lebih jarang, misalnya
erythropoiesis –stimulating protein (NESP)
dan IL-11 yang dipakai pada thrombo-
cytopenia.
Selama terapi eritropoietin dapat timbul
defisiensi unsur besi, sebab meningkatnya
eritropoiesis dengan cepat tidak dapat di-
ikuti dengan kecepatan mobilisasi besi dari
depotnya. berdasar hal ini maka dibu-
tuhkan suplemen besi bagi semua pasien yang
memiliki kadar ferritin serum <100ug/L.
Hematokrit yaitu persentase tingginya eri-
trosit dalam plasma, yang ditentukan sesudah
darah disentrifus dalam suatu tabung. Nilai
normal pada pria: 36-48%, wanita 36-45%
dan anak-anak 38-70%. Pada orang yang
bermukim di gunung, nilainya bisa naik
sampai 44-54%, juga pada pecandu alkohol
dan pasien tumor ginjal tertentu (akibat
produksi EPO berlebihan). Nilai lebih ren-
dah dari normal ditemukan pada pasien
anemia dan gangguan ginjal tertentu, juga
pada wanita hamil. Hematokrit pada pagi
hari bernilai 5% lebih tinggi daripada siang
hari, maka pengontrolan para peserta lomba
sepeda selalu dilakukan pada pagi hari. Nilai
hematokritnya tidak boleh melebihi 50%.
Sel–sel d a r a h
a. Eritrosit. Sel darah merah dibentuk dalam
sumsum tulang pipih, yang mutlak mem-
butuhkan beberapa zat tertentu, yakni:
– besi untuk sintesis hemoglobin (zat warna
darah);
– vitamin B12 dan folat untuk sintesis DNA;
– vitamin lain, seperti vitamin B6, B1, B2, C
dan E;
– spora logam, seperti kobal;
– hormon androgen dan tiroksin.
Zat-zat ini diserap dari makanan dan di-
timbun dalam jaringan, terutama dalam hati
dan sumsum tulang. Vitamin B12 dan folat
disintesis dalam usus besar oleh bakteri,
namun dari tempat ini tidak dapat diserap lagi
oleh tubuh.
* Hemoglobin (Hb), suatu protein dengan
BM = 64.500 D, yaitu zat warna merah dari
eritrosit, yang berdaya mengikat oksigen
dalam paru-paru dengan membentuk oksi-
hemoglobin. Melalui sirkulasi darah, zat
ini mencapai semua organ dan jaringan, di
mana oksigen dilepaskan lagi. Hb yaitu
persenyawaan dari haem dengan protein
globin. Haem merupakan senyawa Fe +
porfirin, yang inti molekulnya terdiri dari 4
cincin pyrrol dengan atom Fe di pusatnya.
Porfirin dalam hati dirombak menjadi zat-
zat warna empedu: antara lain bilirubin dan
urobilin, yang memberikan warna khas pada
tinja. Hb merupakan timbunan besi utama
dari tubuh.
b. Lekosit. Sel darah putih berperan sangat
penting pada sistem daya tangkis tubuh dan
akan dibicarakan secara mendalam di Bab 49.
Dasar-Dasar Imunologi.
c. Trombosit. Pelat darah berperan penting
pada pembekuan darah. Bila bersentuhan
dengan permukaan yang kasar, seperti ja-
ringan cacat, trombosit akan berubah. Ber-
sama protein tertentu, zat ini membentuk
gumpalan darah untuk mereparasi luka.
Lihat selanjutnya Bab 38. Antitrombotika.
d. Plasma. Plasma merupakan komponen
cairan dari darah yang mengandung fibri-
nogen terlarut. sesudah aktivasi oleh enzim
plasmin, terbentuklah gumpalan fibrin. Sesu-
dah gumpalan ini disingkirkan, sisanya yang
tertinggal disebut serum.
PEnyAKIT DArAH
Dari sekian banyak penyakit darah, di sini
hanya akan dibicarakan secara agak men-
dalam keadaan kekurangan eritrosit dan hemo-
globin (anemia). Dari defisiensi faktor pembe-
kuan hanya sekadar disinggung penyakit
hemofilia, sedang gangguan akibat ke-
kurangan atau kelebihan lekosit dan trom-
bosit yaitu di luar rangka teks buku ini.
1. Hemofilia
Defisiensi dari ke-13 faktor pembekuan te-
lah dilaporkan, namun jarang sekali terjadi.
Pengecualian yaitu hemofilia A/B dan pe-
nyakit von Willebrand, yang semuanya dapat
diturunkan secara genetik.
a. Hemofilia A dan B. Disebabkan oleh
defisiensi dari faktor VIII (FVIII, antihemofi-
liaglobulin, hemofilia A) dan faktor IX (FIX,
Christmas-factor, hemofilia B). Hemofilia A
jauh lebih sering ada daripada bentuk
B (85% dibanding 15%). Kedua gangguan
bersifat keturunan dengan gen recessive pada
kromosom-X. Penderitanya khusus pria (1 per
5000), jarang sekali wanita yang umumnya
menjadi pembawa gen dan dapat menurunkan
pada anak lelakinya. Gejalanya berupa per-
darahan yang sukar dihentikan dan di-
iringi rasa sangat nyeri akibat kecelakaan
atau pembedahan. Pada kasus agak berat,
bahkan bisa timbul perdarahan spontan pa-
da pembebanan berlebihan dari terutama
persendian. Perdarahan sendi ini akhirnya
dapat memicu deformasi sendi hebat.
Obat-obat yang berpengaruh buruk terhadap
proses pembekuan darah, seperti NSAID’s,
dapat memicu perdarahan fatal pa-
da pasien hemofili. Salah satu komplikasi
penting pada penanganan hemofilia ada-
lah pembentukan zat-zat penghambat yang
menginaktifkan terutama FVIII dan FIX.
Pengobatan dilakukan dengan suplesi fak-
tor pembekuan; pemberian profilaktik dari
konsentrat faktor FVIII atau faktor IX meru-
pakan penanganan standar bagi pasien he-
mofilia anak-anak. Harapan hidup penderita
hemofilia meningkat dari 27 tahun di 1960
sampai usia normal dewasa ini. Perbaikan
dramatis ini yaitu berkat tersedianya faktor
pembekuan yang semakin murni dan dibuat
dari plasma sejak tahun 1960-an.
*Hemostatika yaitu produk (darah) yang
berkhasiat menstimulasi pembekuan darah
dan dengan demikian menghentikan per-
darahan (Lat. haema = darah, stasis = ber-
henti). Untuk menghentikan perdarahan akut
dipakai faktor VIII-concentrate (Koge-
nate) dan faktor IX-concentrate (Mononine)
pada masing-masing hemofilia A dan B.
Sejak beberapa tahun juga tersedia produk
teknik-rekombinan rF-VIII dan rF-IX. Faktor
rekombinan ini sangat murni dan tidak
membawa risiko transmisi virus (khususnya
HIV dan hepatitis C). Pada kasus agak se-
rius, faktor itu juga diberikan secara
profilaktik 2-3x seminggu untuk menghin-
dari terjadinya perdarahan spontan. Pada
penderita hemofilia ringan sering kali dibe-
rikan desmopresin(Minrin) untuk menghin-
dari risiko infeksi virus.
Pembentukan antibodies. Pada terapi dengan
faktor pembekuan terbentuk antibodies pada
25-50% dari kasus, yang menginaktifkan ker-
janya sehingga efeknya ditiadakan. Pada 15-
20% penderita hemofilia A, antibodies terse-
but ada dalam waktu sangat lama dalam
darah, sedang hanya 2% pada hemofilia
B. Masalah ini untuk sebagian besar dapat
diatasi dengan terapi toleransi-imun, yang
dimulai dengan dosis rendah dan berangsur-
angsur dinaikkan menurut suatu skema
yang cermat. Sisanya (±20%) bila timbul per-
darahan, dapat diobati dengan recombinant
factor VIIa (rF-VIIa). Mekanisme kerjanya
berdasar adanya “rute” alternatif untuk
pengubahan protrombin menjadi trombin. Pada
jalan pintas (bypass) ini tidak diperlukan lagi
faktor VIII dan IX untuk proses pembekuan.
Dengan demikian tubuh mampu membentuk
cukup fibrinogen untuk memperkuat bekuan
darah dengan bantuan trombin. Lihat skema
pembekuan darah di Bab 38, Antitrombotika.
b. Penyakit von Willebrand diakibatkan
oleh defisiensi faktor Willebrand (FVW) dan
merupakan penyakit perdarahan keturunan
yang paling sering terjadi. pemicu nya ada-
lah adhesi dari trombosit pada endotel cacat
terganggu dan kadar faktor VIII dalam darah
menurun atau fungsi yang menyimpang dari
faktor FVW. Singkatnya dapat disebabkan
oleh kekurangan kwantitatif atau defek
kualitatif dari FVW yang merupakan carrier-
protein dari faktor pembekuan VIIIl dalam
sirkulasi. Gejala khasnya berupa perdarahan
selaput lendir, gejala lainnya mirip hemofilia,
namun biasanya agak ringan dan jarang
sekali perdarahan sendi.
Pengobatannya juga dapat disamakan de-
ngan hemofilia, yaitu pada perdarahan akut
F-VIII + FVW (Haemate P) dan secara pro-
filaktik untuk pembedahan kecil desmopre-
sin.
2. A n e m i a
Kebutuhan tubuh untuk unsur besi sehari
(RDA) yaitu 8,7 mg bagi pria dan 14,8 mg
bagi wanita. Defisiensi besi yaitu suatu gejala
umum di seluruh dunia dan penderitanya
terutama kaum wanita pada usia subur dan
anak-anak dalam periode pertumbuhan. De-
fisiensi dapat ditimbulkan antara lain oleh
asupan yang tidak cukup, perdarahan lam-
bung-usus, haid, melahirkan, atau membu-
ruknya resorpsi akibat diare atau pembedahan
lambung, kehilangan darah atau kebutuhan
yang meningkat, misalnya pada kehamilan.
Infeksi cacing kronis, terutama di negara-
negara berkembang, juga dapat memicu
defisiensi. Penyakit yang timbul disebut
mikrocytic, hypochromic anemia.
Kekurangan ini awalnya ditampung oleh
peningkatan resorpsi besi dari pangan, lalu
oleh persediaan ferritin dalam hati dan sum-
sum tulang. Bila depotnya habis, barulah
dipakai besi plasma, sehingga kadar he-
moglobin darah pun menurun dengan me-
nimbulkan anemia.
Kekurangan darah atau anemia yaitu
suatu keadaan kronis, pada mana kadar
hemoglobin dan/atau jumlah eritrosit ber-
kurang. Seseorang dianggap menderita ane-
mia bila kadar Hb < 8 mmol/l pada pria atau
< 7 mmol/l pada wanita.
Hemoglobin melakukan fungsi utama da-
ri sel darah merah dengan mengangkut
oksigen ke jaringan dan mengembalikan
karbondioksida (CO2) dari jaringan ke paru-
paru. Tergantung dari pemicu nya, dapat
dibedakan dua tipe anemia utama, yaitu
anemia ferriprive dan anemia megaloblaster.
berdasar Volume Eritrosit Rata-rata
(VER; mean corposcular volume MCV) dapat
dibedakan pula 3 kolompok utama dari
anemia yakni, anemi mikrositer, normositer
dan makrositer.
a. Anemia ferriprive (anemia sekunder)
pemicu paling umum dari anemia yaitu
kekurangan besi (Lat. prive = kekurangan) un-
tuk sintesis hemoglobin. Cirinya yaitu kadar
hemoglobin per eritrosit di bawah normal
(hipokrom) dengan eritrosit yang abnormal
kecilnya (mikrositer) dan MCV rendah. MCV
merupakan salah satu kekhasan sel darah
merah.
pemicu nya defisiensi besi. Jenis anemia ini
juga disebut nutritional anemia dan kerapkali
disebabkan oleh:
– perdarahan mukosa lambung, misalnya dise-
babkan cacing tambang, obat tertentu
(aspirin, NSAID’s) atau juga sebab tukak
lambung. ada nya darah dalam feses
juga dapat disebabkan oleh penyakit
wasir atau lebih serius lagi akibat kanker
usus besar bagian bawah.
– berkurangnya resorpsi dari usus halus sete-
lah reseksi (pemotongan sebagian).
– meningkatnya kebutuhan tubuh, seperti
pada pubertas dan pada wanita selama
haid, hamil dan nifas.
– kualitas makanan yang tidak memadai.
– penyakit kronis. Antara lain penyakit
thalassaemia (Yun. thalassa = laut), suatu
anemia yang semula timbul pada pendu-
duk pantai Laut Tengah, namun sekarang
diketahui juga ada di seluruh dunia.
Penanganannya dilakukan dengan sedia-
an besi.
Gejalanya berupa muka dan kuku pucat,
rasa letih dan lesu, jari kaki-tangan dingin,
palpitasi, adakalanya juga nyeri lidah, kela-
inan kuku dan kulit keriput (atrofia). Semua
ini berkaitan dengan kekurangan enzim besi
yang perlu bagi pembaharuan sel-sel epitel.
Defisiensi besi juga memengaruhi perilaku
dan fungsi belajar anak-anak.
b. Anemia megaloblaster (anemia primer)
Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan
vitamin B12atau asam folat, dan bercirikan sel-
sel darah abnormal dan besar (makrositer)
dengan kadar Hb per eritrosit yang normal
atau lebih tinggi (hiperkrom) dan MCV
tinggi. Kekurangan vitamin itu da-
pat disebabkan oleh gangguan resorpsinya,
seperti pada penyakit coeliakia (diare aki-
bat hipersensitivitas terhadap gluten) dan
steatorea (diare lemak pada seriawan/
”sprue”). pemicu lainnya yaitu efek toksik
obat, misalnya kloramfenikol, sulfonamida,
antidiabetika oral, fenitoin dan fenilbutazon.
Penanganannya dilakukan dengan pembe-
rian vitamin B12 atau asam folat, tergantung
dari pemicu nya.
* Anemia perniciosa, suatu bentuk anemia
hiperkrom ganas, yang disebabkan defisiensi
vitamin B12 (= extrinsic factor); B12 ini tidak
dapat diserap dari makanan sebab tidak
adanya intrinsic factor(Castle, 1929) di lam-
bung. Intrinsic factor atau hemopoëtine ada-
lah suatu hormon yang disekresi oleh sel
parietal di ujung lambung.
Gejalanya berupa kelainan di saluran cerna
(daya resorpsi yang buruk, nyeri lidah dan
sebagainya). Yang sangat serius yaitu tim-
bulnya kerusakan irreversibel dari sistem saraf
dengan gangguan neurologi, seperti rasa
kesemutan (paresthesia) kaki/tangan dan
berkurangnya refleks otot. Selain itu, juga
nampak degenerasi otak, sumsum tulang dan
saraf perifer. Akibatnya yaitu timbul gejala
psikis, seperti hilang ingatan, halusinasi,
depresi, kebingungan dan demensia. Anemia
perniciosa sering kali timbul pada lansia,
lazimnya kaum wanita.
c. Anemia lainnya
Dikenal beberapa bentuk anemia serius yang
tidak ada hubungannya dengan kekurangan
besi atau vitamin, sebagai berikut:
– anemia aplastis, yaitu eritrosit atau unsur
darah lainnya tidak terbentuk lagi. Dapat
juga disebut jenis primer atau congenital
yang disebabkan oleh keturunan namun
jarang terjadi. Jenis sekunder ditimbulkan
oleh perusakan langsung sumsum tulang
sebagai efek samping obat. Terkenal buruk
dalam kasus ini yaitu kloramfenikol,
karbimazol, sitostatika, seperti busulfan
dan doksorubisin), juga insektisida.
– anemia hemolitik, yaitu eritrosit diru-
sak, Hb dilarutkan dalam serum dan
diekskresi lewat urin, antara lain pada
malaria tropica.
Terapi
sebab anemia hanya merupakan gejala sa-
ja, maka sebelum menjalani pengobatan,
perlu terlebih dahulu ditentukan jenis dan
pemicu nya. Untuk tujuan ini, dilakukan
pemeriksaan sel darah dan adakalanya sum-
sum tulang serta penentuan kadar besi, B12, dan
folat dalam darah.
* Anemia ferriprive umumnya diobati de-
ngan suatu garam ferro (ferrofumarat dan
glukonat) untuk menormalisasi kadar Hb.
Akan namun , pemicu nya mungkin tetap
masih ada, seperti pada tumor atau bo-
rok lambung. Pada jenis anemia ini, vita-
min B12atau folat tidak berguna, malah da-
pat merugikan, sebab menyulitkan diag-
nosis anemia primer berhubung cepat meng-
hilangnya megaloblas (tingkat permulaan
eritrosit besar) dari sumsum tulang.
* Anemia perniciosa perlu ditangani dengan
vitamin B12. Asam folat tidak dapat diberikan,
sebab walaupun gambaran darah terlihat
menjadi normal, namun dapat menyelubungi
defisiensi vitamin B12. Lamanya terapi perlu
minimal tiga bulan; sesudah masa latensi
dari ±10 hari, kadar Hb (hemoglobin) akan
naik ±1% (= 0,15 g%) sehari sampai nilainya
kembali normal dalam waktu 1-2 bulan.
Kemudian perlu dilanjutkan 1-2 bulan lagi
untuk mengisi depot tubuh.
Pada hakikatnya, pemakaian kombinasi dari
besi, vitamin B12 dan folat untuk mengobati ane-
mia yaitu tidak tepat!
Penggolongan hem(at)opoëtika
Obat-obat yang dipakai pada defisiensi
darah terdiri dari sediaan besi, asam folat
dan sianokobalamin. Sediaan populer se-
ring kali mengandung pula mineral spura.
Ekstrak hati sudah usang dan jarang sekali
dipakai lagi. Ketiga senyawa pertama
akan dibicarakan secara mendalam di bawah
ini.
Ekstrak hati atau Extr.hepaticum liquidum
mengandung vitamin B12 dan asam folat.
Sampai tahun 1948 ekstrak ini merupakan
obat utama pada terapi anemia perniciosa.
Efek sampingnya berupa reaksi alergi dan
nyeri di tempat injeksi. Dengan tersedianya
kedua vitamin itu dalam keadaan
murni, yang tidak memicu efek sam-
ping buruk (reaksi alergi, nyeri di tempat
injeksi), maka ekstrak hati sudah menjadi
obsolet. Di kebanyakan negara Barat, semua
preparat dengan ekstrak hati sudah ditarik
dari peredaran.
Mineral tertentu, yang juga lazim disebut
elemen spura, seperti seng, selen, tembaga,
kobal, molybden dan mangan, ada dalam
bahan makanan dengan jumlah kecil sekali
(spura). Kerapkali elemen ini merupakan ba-
gian khusus dari sediaan kombinasi populer
yang dipromosikan sebagai obat penyakit
kurang darah. Sebetulnya, anemia yang
khusus disebabkan oleh defisiensi elemen-
elemen itu jarang sekali terjadi, lagi pula
belum terbukti secara ilmiah. Oleh sebab itu,
pengobatan anemia dengan sediaan mineral
ini pada prinsipnya tidak betul. Selain da-
pat mengaburkan diagnosis yang tepat, juga
dapat memicu efek samping buruk,
misalnya nefritis dan struma akibat peng-
gunaan kobal. Inilah sebabnya mengapa
WHO dalam tahun 1968 telah menganjurkan
agar jangan memasukkan lagi kobal dalam
sediaan vitamin. Lihat selanjutnya Bab 53,
Vitamin dan Mineral.
Obat-obat “baru”
Sekarang tersedia beberapa obat baru untuk
dipakai pada keadaan kha










