agi usia dan kelompok berbeda.
Seluruh proses dari penemuan obat baru,
perkembangan dan clinical trial sampai per-
setujuan pemakaian secara umum mema-
kan waktu sekitar 10-15 tahun dengan biaya
rata-rata Euro 1-2 juta.
Pengecualian: fast tracked system (siste m
yang dipercepat) diberlakukan bagi obat-obat
yang sangat efektif untuk keadaan-keadaan
yang mengancam jiwa (lifethreatening), misal-
nya obat AZT (azidothymidine) terhadap HIV
(Maret 1987) yang memerlukan waktu 25
bulan dan merupakan perkembangan obat
tersingkat dalam sejarah akhir-akhir ini.
Dalam keadaan yang sangat darurat,
misal nya dalam epidemi Ebola di Afrika
Barat pada pertengahan tahun 2014, suatu
obat (ZMapp) yang masih dalam penelitian
(investigational drug) dapat dipakai berda-
sarkan “compassionate regulation” dari FDA.
Perkembangan dari banyak obat baru
yang potensial, sering kali harus dihentikan
sebab ternyata tidak efektif atau efek
sampingnya yang serius. Oleh sebab ini
penting sekali untuk pada waktu dini sudah
dapat diramalkan bahwa suatu obat akan
berhasil menjalani seluruh tahap itu di
atas. berdasar hal ini sekarang telah di-
introduksi tahap -0 melalui penelitian dengan
positron-emisi tomografi (PET) terhadap obat
yang diberi label radio-aktif.
Melalui tahap -0 dimungkinkan untuk:
1. penelitian mekanisme farmakologi suatu
obat;
2. menyeleksi pasien yang cocok melalui
biomarker di tubuhnya;
Lihat Bab 14, Sitostatika, biomarker.
3. penentuan dosis terapi;
4. distribusi obat dalam jaringan dan organ.
PET merupakan suatu “imaging tool” yang
paling efektif untuk melakukan penelitian
tahap -0, yang akan mengurangi biaya dan
waktu penelitian obat baru dengan sangat
drastis.
.
Farmakokinetika dapat didefinisikan seba-
gai setiap proses yang dilakukan tu buh
terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi/eliminasi. Kadar
obat dalam plasma ditentukan oleh 4 proses
ini. Metabolisme dibagi pula dalam biotrans-
formasi (tahap I) dan konyugasi (tahap II). Dalam
arti sempit farmakokinetika khususnya
mempelajari perubahan-perubahan konsen-
trasi obat dan metabo litnya di dalam darah
dan jaringan sebagai fungsi dari waktu.
Farmakogenetika1
Salah satu disiplin dari farmakokinetika ada-
lah yang disebut farmakogenetika berdasar-
kan variasi pada profil genetik (DNA) ber-
bagai manusia. Oleh sebab ini reaksi ter-
hadap obat pun dapat sa ngat berbeda pada
berbagai pasien, antara lain mengenai efek-
tivitas dan efek-efek sampingnya. Penelitian
dari farmakogenetika bertujuan untuk meng-
hasilkan suatu terapi yang optimal bagi
pasien secara individual (“tailor made”),
khusus mengenai dosis, interaksi dan penen-
tuan efek sampingnya.
DNA yaitu suatu rangkaian nukleotida
dan perubahan-perubahan dalam susunan-
nya merupakan variasi genetik. Singkatnya
DNA yaitu pembawa utama informasi
genetik, pada mana juga berperan enzim-
enzim replikasi DNA polimerase, primase
dan helikase.
Kompartimen. Tubuh kita dapat dianggap
sebagai suatu ruang besar yang terdiri dari
Gambar 3-1: Perjalanan obat di dalam tubuh dengan proses-proses
farmakokinetika yang dialaminya.
beberapa kompartimen (bagian) berisi cairan
dan antar-kompartimen dipisahkan oleh
membran sel. Kompartimen yang ter penting
antara lain saluran lambung-usus, sistem
peredaran darah, ruang ekstra sel (di luar sel,
antarjaringan), ruang intrasel (di dalam sel)
dan ruang cerebrospinal(sekitar otak dan
sumsum tulang belakang). Resorpsi, distribusi
dan ekskresi obat di dalam tubuh pada ha-
kikatnya berlangsung dengan mekanisme
yang sama, sebab semua proses tergantung
dari lintasan obat melalui se rangkaian mem-
bran sel itu .
Membran sel terdiri dari lapisan lipoprotein
(lemak dan protein) yang mengandung ba-
nyak pori-pori kecil yang berisi air. Lubang-
lubang ini sedemikian kecilnya sehingga
tidak dapat dilihat, walaupun dengan mi-
kroskop elektron dengan perbesaran 50.000
kali. Membran dapat dilintasi dengan
mudah oleh zat-zat tertentu namun sukar
dilalui zat-zat lainnya, sehingga disebut se-
mipermeabel (semi = setengah, permeabel
= dapat ditembus). Zat-zat lipofil (= suka
lemak) yang mudah larut dalam lemak dan
tidak bermuatan lis trik umumnya lebih
mudah melintasi dibandingkan dengan zat-
zat hidrofil yang bermuatan listrik (ion).
Tujuan biotransformasi obat yaitu untuk
mengubah sedemikian rupa sehingga mudah
diekskresi ginjal, dengan lain kata dibuat
lebih hidrofil.
Pada skema berikut ini digambarkan pro-
ses-proses farmakokine tik yang dapat di-
alami obat selama perjalanannya di dalam
tubuh, lihat Gambar 3-1.
pemakaian obat secara lokal
maupun sistemik
Bentuk sediaan suatu obat merupakan alat
untuk menempatkan obat pada lokasi tepat
di tubuh. Bila lokasi itu relatif mudah
dicapai dari luar tubuh, maka diusahakan
untuk menempatkan obat secara lokal dan
sedekat mungkin pada tempat (reseptor)
di mana efek obat diinginkan. Contohnya
yaitu obat-obat luar seperti salep, krem,
obat tetes mata, telinga dan hidung, obat
inhalasi/aerosol dan sediaan-sediaan untuk
efek lokal di usus (klisma, supositoria) dan
injeksi untuk penghilang rasa setempat.
Bila usaha itu tidak mungkin, maka
akan dimanfaatkan proses sirkulasi sebagai
alat transpor yang dinamakan pemberian
sistemik. Contohnya yaitu obat-obat oral
seperti tablet, kapsul, obat minum, obat pa-
renteral (i.v., i.m., s.k.) dan obat sublingual (di
bawah lidah).
Reseptor yaitu protein yang dapat meng-
ikat molekul obat yang kemudian dapat
memicu suatu reaksi (aktivasi reseptor) atau
memblokir suatu reaksi (blokade reseptor).
1. Sistem transpor
Untuk mentranspor obat ke tempat yang
tepat di dalam tubuh, zat aktif diolah menjadi
suatu bentuk khusus. Seperti yang telah
dibicarakan pada Bab 2, ada dua bentuk
transpor utama, yakni cara lokal dan cara
sistemik.
Transpor obat. Molekul zat kimia dapat me-
lintasi membran semipermeabel berdasar
adanya perbedaan konsentrasi, antara lain
melintasi dinding pembuluh ke ruang antar-
jaringan (interstitium). Pada proses ini bebe-
rapa mekanisme transpor yang memegang
peranan, yaitu cara pasif atau cara aktif.
a. Transpor pasif: tidak memakai energi.
Misalnya perjalanan molekul-molekul suatu
obat melintasi dinding pembuluh ke ruang-
ruang antarjaringan (interstitial), berlangsung
dengan dua cara, yakni:
* filtrasi melalui pori-pori kecil dari mem-
bran, misalnya dinding kapi ler. Yang
difiltrasi yaitu air dan zat-zat hidrofil
yang molekulnya lebih kecil dibanding-
kan dengan pori, seperti alkohol dan urea
(BM < 200);
* difusi, zat melarut dalam lapisan lemak
dari membran sel. Dengan sendirinya zat
lipofil lebih lancar penerusannya dari pada
zat hidrofil yang tidak dapat larut dalam
lemak, seperti ion anor ganik. Kecuali ion
natrium dan ion klorida, yang sangat mu-
dah melintasi membran. Difusi merupakan
cara transpor pasif yang paling lazim ber-
dasarkan perbedaan kadar (konsentrasi)
tanpa membutuhkan energi.
b. Transpor aktif: memerlukan energi. Peng-
angkutan dilakukan dengan meng ikat zat
hidrofil(makromolekul atau ion) pada suatu
protein pengangkut spesifik yang umumnya
berada di membran sel (carrier). sesudah me-
lintasi membran, dari ekstraselular ke intra-
selular, obat dibebaskan kembali. Kebanyak-
an zat alamiah diresorpsi dengan proses
aktif ini, misalnya glukosa, asam amino,
asam lemak dan zat gizi lainnya. Begitu pula
obat-obat seperti garam besi dan empedu,
metildopa, vitamin B1, B2 dan B12, mungkin
juga basa kuat seperti basa amonium kwaterner.
Berbeda de ngan difusi, kecepatan penerusan
pada transpor aktif tidak tergantung dari
konsentrasi obat.
2. Resorpsi
Umumnya penyerapan obat dari usus ke
dalam sirkulasi (resorpsi) berlangsung me-
lalui filtrasi, difusi atau transpor aktif, se-
perti telah diuraikan di atas. Molekul besar,
terutama zat lemak, diangkut dengan sistem
limfe ke darah. Zat hidrofil yang melarut
dalam cairan ekstra-sel diserap dengan mu-
dah, se dangkan zat-zat yang sukar melarut
lebih lambat diresorpsi, misalnya kompleks
prokain-penisilin dan protamin-zinc-insulin.
Kecepatan resorpsi terutama tergantung
dari bentuk sediaan, cara pemberian dan sifat
fisiko-kimiawi dari zat aktifnya. Resorpsi dari
usus ke dalam sirkulasi berlangsung cepat
bila obat diberikan dalam bentuk terlarut
(obat cairan, sirop atau obat tetes). Obat padat
(tablet, kapsul atau serbuk) lebih lambat,
sebab harus dipecah dahulu dan zat aktifnya
perlu dilarutkan dalam cairan lambung-
usus. Di sini kecepatan larut partikel obat
(dissolution rate) berperan penting; semakin
halus semakin cepat larut dan penyerapan
obat. Hal ini antara lain sangat penting bagi
asetosal, sulfonamida, griseoful vin, kloramfenikol
dan teofilin.
Pemberian melalui injeksi intraven a (i.v.)
menghasilkan efek sistemik ter cepat,sebab
obat langsung masuk ke dalam sirkulasi.
Cara ini hanya dilakukan bila diinginkan
efek cepat dan tidak tersedia jalan lain.
Efek lebih lambat diperoleh dengan injeksi
intramuskuler (i.m.) dan efek lebih lambat
lagi via injeksi subkutan (s.c.), sebab obat
harus me lintasi banyak membran sel sebelum
tiba di peredaran darah besar.
Lambung-usus. Obat yang diberikan per
oral akan diserap dalam sa luran lambung-
usus. Obat harus melintasi membran sel
dari mukosa dinding organ-organ ini. Ke-
banyakan obat bersifat asam atau basa
organik lemah yang dalam larutan meng-
alami disosiasi menjadi ion. Besarnya ionisasi
untuk setiap zat berlainan dan tergantung
dari Konstan disosiasi nya (Ka)* dan Derajat
asam (pH)** lingkungan sekitarnya.
Molekul yang tak terionisasi serta utuh ber -
sifat lipofil dan lebih mudah diresorpsi
daripada ion-ion hidrofil. Lebih sedikit obat
terdisosiasi, semakin lancar pula penye rap-
annya.
Konstan disosiasi (Ka)* biasanya dinyatakan sebagai logaritma negatifnya pKa. Untuk asam semakin
kecil pKa, semakin kuat sifat asamnya; untuk basa semakin besar pKa, semakin kuat sifat basanya.
Beberapa obat dengan pKa kuat yaitu :
Asam salisilat 3,0
Asetosal 3,5
Sulfadiazin 6,5
Fenobarbital 7,2
Barbital 7,9
Reserpin 6,6
Kodein 7,9
Prokain 8,8
Efedrin 9,4
Atropin 9,7
pH** dari beberapa cairan tubuh
Getah lambung pH ±2
Usus halus (bagian atas) 6,6
Usus halus (bagian bawah) 7,6
Liur 6,0
Air seni 6,5
Air mata 7,3
Darah 7,3
Keringat 4-4,5
Oleh sebab itu untuk resorpsi cepat dan
optimal dari saluran gastro-intestinal dibu-
tuhkan suatu sifat lipofilitas (larut dalam
lemak).
Lambung. Obat seperti asetosal dan barbital,
yang bersifat asam lemah, hanya sedikit
sekali terurai menjadi ion dalam lingkungan
asam kuat di dalam lambung, sehingga
resorpsinya baik sekali di dalam organ ini.
Sebalik nya, basa lemah terionisasi baik pada
pH lambung dan hanya sedikit di resorpsi,
misalnya amfetamin dan alkaloida.
Usus halus. Dalam usus halus berlaku ke-
balikannya, yakni basa lemah yang diserap
paling mudah, misalnya alkaloida. Beberapa
obat yang bersifat asam atau basa kuat de-
ngan derajat ionisasi tinggi dengan sendirinya
diresorpsi sangat lambat. Zat lipofil yang
mudah larut dalam cairan usus lebih cepat
diresorpsi daripada zat yang sukar larut.
Terutama bila penguraiannya cepat, hingga
perbedaan konsentrasi di kedua belah sisi
membran tetap tinggi, misalnya asetosal (t½ =
20 menit; lihat pada Konsentrasi Plasma).
Usus besar mengandung terlalu sedikit air
untuk melarutkan obat yang belum ter larut
di dalam usus halus. Selain itu organ ini juga
tidak memiliki jonjot mukosa (villi) yang
dapat memperbesar permukaan resorpsi
dan juga tidak memiliki mekanisme transpor
aktif. Villi pada usus halus menperbesar
permukaan resorpsi menjadi 10-15 kali lebih
luas. Difusi obat dari isi usus besar yang
telah mengental juga sangat dipersulit. Inilah
sebabnya mengapa obat yang aktif diserap
tidak cocok di berikan secara rektal dan me-
ngapa suppositoria sebaiknya dipakai
pada saat rektum kosong.
3. biotransformasi
Dewasa ini manusia mengonsumsi lebih
banyak zat asing dibandingkan dengan se-
aba d yang lalu, misalnya pemakaian zat-
zat kimia dalam makanan, seperti pengawet
dan berbagai zat warna, di samping banyak
ragamnya obat-obat sintetik memicu
meningkatnya risiko baru terhadap kesehat-
an. Oleh sebab itu penting sekali penelitian
mengenai cara-cara zat asing diuraikan di
dalam tubuh (biotransformasi), terutama
pemahaman mengenai daya kerja sistem-
sistem enzim yang memegang peranan
sangat besar dalam metabolisme makanan,
zat pengawet dan obat-obat.
Pada dasarnya setiap obat merupakan
zat asing yang tidak di inginkan bagi tubuh,
sebab obat dapat merusak sel dan meng-
ganggu fungsinya. Oleh sebab itu, tubuh
akan berupaya merombak zat asing ini
menjadi metabolit yang tidak aktif lagi dan
sekaligus bersifat lebih hidrofil agar me-
mudahkan proses ekskresinya oleh ginjal.
Obat yang telah diserap usus akan dibawa
ke hati melalui vena porta yang merupakan
penyuplai aliran darah dari daerah lambung-
usus ke hati. Dengan pemberian sublingual,
intrapulmonal, transkutan, parenteral atau rek-
tal (sebagian) sistem porta dan hati dapat
dihindari. Dalam hati —dan sebelumnya
juga di saluran lambung-usus— seluruh atau
sebagian obat mengalami perubahan kimiawi
secara enzimatik dan biasanya hasil
perubahannya (metabolit) menjadi tidak
atau kurang aktif. Oleh sebab itu proses
ini juga disebut proses detoksifikasi atau
bio-inaktivasi (pada obat disebut first pass
effect, lihat Gambar 3 - 2). Ada pula obat yang
khasiat farmakologinya justru diperkuat
(bio-aktivasi), oleh kare na itu reaksi-reaksi
metabolisme dalam hati dan beberapa organ
lain lebih tepat disebut biotransformasi.
Contoh-contoh dari obat yang menjadi
lebih aktif sebab proses biotransformasi
yaitu kortison dan prednison (menjadi kortisol
dan prednisolon), fenasetin dan kloralhidrat
(menjadi parasetamol dan triklore tanol), primi-
don dan levodopa (menjadi fenobarbital dan
dopamin), imipra min menjadi desipramin. Ada
pula obat yang menghasilkan metabolit de-
ngan aktivitas sama, misalnya klorpromazin,
efedrin dan banyak senyawa benzodiazepin.
Proses biotransformasi
tergantung dari banyak faktor
Berbagai jenis zat di resorpsi dalam salura n
gastro-intestinal yang masing-masing meng-
alami “nasib” berlainan, ada yang diekskresi
dalam bentuk asal (kebanyakan kation dan
anion anorganik), di samping juga banyak
zat-zat organik mengalami perubahan ki-
miawi dalam tubuh.
Proses biotransformasi tergantung dari
susunan kimia, juga dari struktur ruangnya,
misalnya biotransformasi senyawa rasemis
dapat berlainan untuk masing-masing bentuk
levo- dan dekstronya.
Kecepatan biotransformasi dalam plasma
darah sangat beragam dan dinyatakan da-
lam persentase zat yang diuraikan dalam
satuan waktu. Inilah yang disebut biological
halftime (t½), yaitu waktu yang dibutuhkan
sampai kadar senyawa tertentu menurun
sampai setengahnya. Perubahan-perubahan
kimiawi in vitro sering kali berlangsung
dengan kecepatan sangat berbeda dengan
yang berlangsung secara enzimatik in vivo.
Sangat menarik bahwa banyak perubahan
in vivo (enzimatik) demikian tidak dapat
di”tiru” in vitro.
Sering kali hasil dari biotransformasi hanya
dapat dikenali secara kwalitatif, namun tidak/
sukar sekali secara kwantitatif sebab kadar
hasil biotransformasi demikian sangat kecil,
misalnya berbagai hasil biotransformasi yang
diekskresi ke dalam urin sehingga tidak
semua hasil penguraian dapat dideteksi se-
cara kwantitatif.
Kecepatan biotransformasi tergantung ju-
ga dari misalnya jenis kelamin, usia, diet,
kesehatan dan aktivitas enzim-enzim hati.
Di samping hati sebagai organ biotrans-
formasi utama, obat dapat ditransformasi
pula di beberapa organ lain, seperti di
paru-paru, ginjal, dinding usus (aseto sal,
salisilamid, lidokain) dan juga di dalam darah
(succinylcholine) serta di da lam jaringan
(catecholamin), sebab enzim untuk proses
ini juga ada di dinding usus, kulit,
ginjal dan paru.
Perlu diperhatikan bahwa beberapa en-
zim pada neonati tidak dapat dideteksi atau
berfungsi lemah dan baru sesudah ±8 minggu
bekerja penuh. Inilah salah satu sebab me-
ngapa banyak jenis obat bekerja lebih kuat
pada anak-anak yang sangat muda dibanding
dengan orang dewasa.
Bioformasi terpenting yang dikatali sasi
oleh enzim-enzim hati terdiri dari proses
oksidasi (misalnya senyawa alkohol), re-
duksi (mis. senyawa nitro atau azo) dan
hidrolisa yang kemudian dieks kresi mela-
lui urin atau empedu, atau dibiotrans-
formasi lagi, atau dikonyugasi (terutama
hasil reduksi atau oksidasi). Konyugasi
yaitu “memasukkan” gugusan organik
fungsional (asam glukuron menjadi glu-
kuronida; asam amino glutamin) pada
molekul dari senyawa bersangkuta n. Da-
lam konyugasi termasuk antara lain proses
metilasi (amina, senyawa dengan gugusan
fenol) dan asetilasi.
Bio-availability (BA, kesetaraan biologis) suatu
sediaan obat yaitu persentase obat utuh
yang mencapai sirkulasi sistemik. Persentase
obat yang diberikan dengan cara disuntikkan
melalui vena yaitu 100%. Selama proses
resorpsi dapat terjadi kehilangan zat aktif
akibat misalnya tidak dibebaskan dari
sediaannya. Atau sesudah pemberian per
oral sebagian dari obat yang diresorpsi di
metabolisasi oleh enzim-enzim, di sel-sel
dinding usus, oleh kuman-kuman usus
atau dalam hati selama peredaran pertama
di sistem porta, sebelum tiba di peredaran
umum. sebab first-pass-effect (FPE) ini,
maka bio-availability obat menjadi lebih
rendah daripada persentase yang sebenarnya
diserap. FPE juga sering me nyebabkan per-
bedaan BA individual yang besar, sehingga
bisa berbeda sampai empat kali.
Obat-obat yang memperlihatkan FPE
besar yaitu antara lain efedrin, isoprena-
lin, thiazinamium, lidokain, nortriptilin dan
klorpromazin, beta-blockers (propranolol, alpre-
nolol, oksprenolol, metoprolol) reserpin dan
guanetidin, morfin, pentazosin dan d-propoksifen,
asetosal, paraseta mol dan fenilbutazon.
Skematis efek FPE atas BA obat dan per-
edar an umum dapat digambarkan seba ga i
berikut: lihat Gambar 3-2.
Reaksi transformasi. Perombakan-perom-
baka n kimiawi pada molekul-molekul su-
atu senyawa di dalam hati atau di saluran
pencernaan oleh enzim-enzim mikrosomal1[1]
dan meliputi sejumlah reaksi biokimiawi.
a. reaksi perombakan, yaitu:
– oksidasi: alkohol, aldehida, asam dan zat
hidratarang dioksidasi menjadi CO2 dan
air. Sistem enzim oksidatif terpenting di
saluran lambung-usus dan dalam hati
yaitu cytochrom P450 (CYP450), yang
bertanggung-jawab atas banyak reaksi
perombakan oksidatif. Sistem ini terbagi
dalam beberapa bagian dengan kode
CYP yang terdiri dari beberapa subfamili
(CYP2C9, CYP2C19, CYP2D6) dan en-
zim-enzim individual, antara lain yang
terpenting yaitu CYP3A4.
– reduksi: misalnya kloralhidrat direduksi
menjadi trikloretanol, vitamin C menjadi
dehidroaskorbat.
– hidrolisa: molekul obat mengikat 1 molekul
air dan pecah menjadi dua bagian, misal-
nya penyabunan ester oleh esterase, gula
oleh karbo hidrase (maltase dan lain-lain)
dan asam karbonamida oleh amidase.
Reaksi perombakan itu juga disebut
reaksi tipe-1 dan menghasilkan produk-
produk (metabolit) yang klinis tidak aktif
atau memiliki efek/efek samping yang
menyimpang dari zat aslinya.
b. reaksi penggabungan (konyugasi). Di si-
ni molekul obat bergabung dengan suatu
molekul yang ada di dalam tubuh
sambil mengeluarkan air, misalnya de ngan
zat-zat alamiah berikut:
– asetilasi; asam cuka mengikat gugus-amino
yang tak dapat dioksida si, misalnya
asetilasi dari sulfonamida dan piramidon
– sulfatasi; asam sulfat mengikat gugus-OH
fenolis menjadi ester, misalnya estron
(sulfat)
– glukuronidasi; asam glukuronat membentuk
glukuronida dengan mengikat gugus-OH
(fenolis) (morfin, kamfer dan sebagainya)
dan triklor etanol
– metilasi; molekul obat bergabung dengan
gugus-CH3, misal nya nikotinamid dan
adrenalin menjadi derivat metilnya.
Reaksi konyugasi itu juga disebut
reaksi tipe-2 dan menghasilkan produk-
produk yang biasanya farmakologis
tidak aktif.
Gambar 3-2: Pengaruh FPE terhadap bio-availability obat.
[1]Enzim mikrosomal ini ada di dalam mikrosom sel-sel hati, yaitu salah satu elemen dari protoplasma sel de ngan
bentuk granul halus.
Kecepatan biotransformasi umumnya ber-
tambah bila konsentrasi obat meningkat. Hal
ini berlaku sampai titik di mana konsentrasi
obat menjadi demiki an tinggi hingga seluruh
molekul enzim yang melakukan pengubah an
ditem pati terus-menerus oleh molekul obat
dan tercapainya kecepatan biotransformasi
yang konstan. Sebagai contoh dapat disebut
natriumsalisilat dan etanol bila diberikan
dengan dosis yang melebihi 500 mg dan 20
g. Pada grafik konsentrasi-waktu dari etanol
(lihat Gambar 3-2) kecepatan biotrans formasi
konstan ini terlihat dari turunnya secara
konstan konsentra sinya dalam darah.
Faktor-faktor lain. Di samping konsentrasi
ada pula beberapa faktor lain yang dapat
meme ngaruhi kecepatan biotransformasi,
antara lain:
a. fungsi hati. Pada gangguan fungsi hati,
metabolisme dapat berlangsung lebih
cepat atau lebih lambat, sehingga efek
obat menjadi lebih lemah atau lebih kuat
dari yang diharapkan.
b. usia. Pada bayi yang baru dilahirkan
(neonati) semua enzim hati belum ter-
bentuk lengkap, sehingga reaksi-reaksi
metabolismenya lebih lambat (ter utama
pembentukan glukuronid), antara lain
pada kloramfenikol, sulfon amida, dia-
zepam, barbital, asetosal dan petidin.
Untuk menghindari overdosis dan kera-
cunan, obat-obat ini perlu diturunkan
dosisnya. Sebaliknya dikenal obat-obat
yang metabolismenya pada anak-anak
berlangsung lebih cepat dibandingkan
pada orang dewasa, misalnya anti-epi-
leptika fenitoin, fenobarbital, karbama-
zepin, valproat dan etosuksi mida. Dosis
obat ini harus dinaikkan seperlunya ber-
dasarkan hasil monitoring kadar plasma.
*Manula mengalami kemunduran pa-
da banyak proses fisiologinya, antara
lain fungsi ginjal dan filtrasi glomeruli,
sedang jumlah total air-tubuh dan
albumin-serum berkurang, begitu pula
enzim-enzim hatinya. Semua ini pada
umumnya memicu terhambatnya
biotransformasi, yang sering kali berefek
kumulasi dan keracunan. Yang terkenal
dalam hal ini yaitu obat jan tung di-
goksin, propranolol dan fenilbutazon.
Pengecualian yaitu fenitoin yang justru
dirombak lebih cepat dengan efek yang
lebih singkat, lih. juga Bab 4, sub 8b.
c. faktor genetik. Ada orang yang tidak
memiliki faktor genetik tertentu, misalnya
enzim untuk asetilasi sulfadiazin atau
INH. Akibatnya pe rombakan obat-obat
ini lambat sekali.
d. pemakaian obat lain. Banyak obat,
terutama yang bersifat lipofil dapat men-
stimulasi pembentukan dan aktivitas
enzim-enzim hati. Hal ini di sebut induk-
si enzim. Sebaliknya dikenal pula banyak
obat yang menghambat atau mengin-
aktifkan enzim itu (inhibisi enzim),
misalnya antikoagulansia, antidiabetika
oral, sulfonamida, antidepresiva trisiklis,
metronidazol, alopurinol dan disulfiram.
Induksi enzim. Bila obat yang dapat men-
stimulasi aktivitas enzim hati sering kali
dipakai , maka biotransformasinya di-
percepat dan juga ekskresinya, sehingga
jangka waktu kerjanya diperpendek. Dengan
demikian pada analgetika dan barbiturat
tertentu terjadi toleransi (lihat Bab 4, sub 6).
sebab enzim-enzim ini kerjanya tidak se-
lektif, artinya tidak bekerja terhadap hanya
satu obat, maka metabolisme obat-obat
lain yang di gunakan bersamaan juga dapat
dipercepat sehingga aktivitas dan lama ker-
janya ber kurang. Hal ini menjelaskan be-
berapa inter aksi obat, antara lain obat TBC
rifampisin yang mengurangi efek pil anti-
hamil, sedang fenobarbital menurunkan
efek antikoagulansia, lihat juga Bab 4, Sub 12.
Obat yang terkenal memicu induksi
enzim yaitu barbi turat, anti-epileptika
(fenitoin, primidon, karbamazepin), klofi-
brat, alkohol (pada pemakaian kronis),
fenilbutazon, griseofulvin dan spironolakton.
Bahan penyegar dan makanan juga dapat
mengandung induktor enzim, misal nya
minum kopi (kofein), merokok atau makan
sate yang dibakar di atas arang. Asap rokok
dan arang sudah diketahui mengandung
antara lain benzopiren, yaitu suatu zat kar-
sinogen bersifat induksi enzim. Oleh sebab
itu pada perokok berat khasiat sejumlah obat
dapat sangat berku rang, misalny a analgetika
(fenasetin, pentazosin dan d-propoksi fen)
dan benzodiazepin (diazepam, nitrazepam,
dan lain-lain). Induksi enzim pada kuman
ditimbulkan oleh penisilin, yang mensti-
mulasi ter bentuknya penisilinase pada stafi-
lokoki.
Variasi individual. Selain faktor-faktor luar
itu , aktivitas enzim hati tergantung
pula pada faktor keturunan (genetika). Akti-
vitas ini dapat berbeda secara individual,
misalnya enzim asetilase lazimnya lebih aktif
pa da orang kulit hitam dan Asia daripada
pada orang kulit putih. Kadang-kadang
asetilasi cepat juga dapat memicu
peningkatan dengan cepat metabolit toksik,
sehingga terjadi efek samping buruk.
Umpamanya obat TBC INH, yang dapat
memicu hepati tis pada penderita
tbc, membutuhkan dosis yang 50% lebih
tinggi (libat Bab 9, Tuberkulostatika). Pada
fenitoin dan antidepresiva trisiklis, variasi
individual dapat sangat besar dan tidak
jarang memicu efek terapi yang tidak
menentu sampai gagalnya pengobatan.
4. Distribusi
Obat yang telah melalui hati ber samaan de-
ngan metabolitnya disebarkan secara merata
ke seluruh jaring an tubuh, khususnya me-
lalui peredaran darah. Lewat kapiler dan
cairan ekstra-sel (yang mengelilingi jaring-
an) obat diangkut ke tempat kerjanya di
dalam sel (cairan intra-sel) organ atau otot
yang sakit. Tempat kerja ini hendaknya me-
miliki penyaluran darah yang baik, sebab
obat hanya dapat melakukan ak tivitasnya
bila konsentrasi setempatnya cukup tinggi
selama waktu yang cu kup lama.
Sering kali distribusi obat tidak merata
akibat beberapa gangguan, yaitu adanya
rintangan, misalnya sawar darah-otak (cere-
bro-spinal barrier) dan terikatnya obat pada
protein darah atau jaringan dan lemak.
Cairan cerebro-spinalis (CCS, cairan otak)
mengelilingi otak dan sumsum belakang,
dan terpisah dari darah oleh suatu membran
semipermeabel, yaitu dinding kapiler otak.
Obat yang terutama memberikan efeknya di
sistem saraf pusat perlu ditranspor ke tempat
ini (biotahap ), misalnya untuk beberapa pe-
nyakit seperti tbc, Parkinson, demensia dan
meningitis (radang otak). Ternyata bahwa
rintangan darah- otak ini (membran) tidak
dapat ditembus oleh banyak zat hidrofil
(misalnya streptomisin), namun mudah sekali
dilalui oleh zat-zat lipofil seperti sulfonamid,
mi nosiklin dan levodopa. Antibiotika lain
seperti penisilin, kloramfenikol dan tetra-
siklin, dapat melintasi membran rintangan
ini hanya pada dosis besar, bahkan bila perlu
harus diberikan melalui injeksi intravena.
Sawar darah otak (blood-brain barrier)
juga berperan pada timbulnya kerja samping
sentral dari berbagai obat lipofil.
Pengikatan protein-darah. Sebagian obat
di dalam darah diikat secara rever sibel (=
dapat dibalik) pada protein plasma. Zat yang
bersifat asam terikat terutama pada albumin
yang jumlahnya jauh lebih besar daripada
protein lainnya. Zat basa mengikat diri pada
glikoprotein asam, seperti globulin, misal-
nya doksisiklin dan hormon-hormon kortisol
dan tiroksin, atau juga pada sel darah merah,
misalnya klorpromazin. Bagian obat yang
terikat akan hilang aktivitas farmakologinya
dan menjadi inaktif, namun tidak mengalami
biotransformasi dan ekskresi.
Albumin memiliki afinitas terkuat bagi
obat-obat anionik (asam-asam lemah) dan
obat hidrofob. Kebanyakan obat hidrofil dan
obat netral tidak diikat oleh albumin.
Persentase pengikatan (PP) tergantung pada
konsentrasi obat di dalam darah dan dapat
diukur in vitro. Antara jumlah molekul yang
terikat dan yang be bas ada perbandingan
tetap: konstan asosiasi ini yaitu spesifik
bagi tiap obat. Sebagai ilustrasi, ber ikut ini
diberikan PP rata-rata dari beberapa obat
pada dosis lazimnya: lihat Tabel 3-1.
Zat lipofil biasanya lebih banyak
terikat pada albumin daripada zat hidrofil,
misalnya salisilat (asetosal) lebih banyak
dan terpisah dari darah oleh suatu membran
semipermeabel, yaitu dinding kapiler otak.
Obat yang terutama memberikan efeknya di
sistem saraf pusat perlu ditranspor ke tempat
ini (biotahap ), misalnya untuk beberapa pe-
nyakit seperti tbc, Parkinson, demensia dan
meningitis (radang otak). Ternyata bahwa
rintangan darah- otak ini (membran) tidak
dapat ditembus oleh banyak zat hidrofil
(misalnya streptomisin), namun mudah sekali
dilalui oleh zat-zat lipofil seperti sulfonamid,
mi nosiklin dan levodopa. Antibiotika lain
seperti penisilin, kloramfenikol dan tetra-
siklin, dapat melintasi membran rintangan
ini hanya pada dosis besar, bahkan bila perlu
harus diberikan melalui injeksi intravena.
Sawar darah otak (blood-brain barrier)
juga berperan pada timbulnya kerja samping
sentral dari berbagai obat lipofil.
Pengikatan protein-darah. Sebagian obat
di dalam darah diikat secara rever sibel (=
dapat dibalik) pada protein plasma. Zat yang
bersifat asam terikat terutama pada albumin
yang jumlahnya jauh lebih besar daripada
protein lainnya. Zat basa mengikat diri pada
glikoprotein asam, seperti globulin, misal-
nya doksisiklin dan hormon-hormon kortisol
dan tiroksin, atau juga pada sel darah merah,
misalnya klorpromazin. Bagian obat yang
terikat akan hilang aktivitas farmakologinya
dan menjadi inaktif, namun tidak mengalami
biotransformasi dan ekskresi.
Albumin memiliki afinitas terkuat bagi
obat-obat anionik (asam-asam lemah) dan
obat hidrofob. Kebanyakan obat hidrofil dan
obat netral tidak diikat oleh albumin.
Persentase pengikatan (PP) tergantung pada
konsentrasi obat di dalam darah dan dapat
diukur in vitro. Antara jumlah molekul yang
terikat dan yang be bas ada perbandingan
tetap: konstan asosiasi ini yaitu spesifik
bagi tiap obat. Sebagai ilustrasi, ber ikut ini
diberikan PP rata-rata dari beberapa obat
pada dosis lazimnya: lihat Tabel 3-1.
Zat lipofil biasanya lebih banyak
terikat pada albumin daripada zat hidrofil,
misalnya salisilat (asetosal) lebih banyak
daripada antipirin yang mudah larut dalam
air. Zat lain yang memiliki daya larut baik
dalam air praktis tidak terikat, misalnya
etanol, urea dan kofein. Begitu pula zat-zat
asam lebih banyak terikat pada protein di-
bandingkan dengan zat yang bersifat basa.
Kompetisi pengikatan untuk tempat peng-
ikatan pada molekul protein adaka lanya
terjadi, sebab kapasitas pengikatan ada
batasnya. Hal ini terutama pen ting sekali
pada obat dengan pentakaran tinggi (500
mg atau lebih) dan PP besar. Misalnya
asetosal bila diberikan bersamaan dengan
fenproku mon (Marcoumar) akan mendesak
antikoagulan ini dari ikatan protein nya,
hingga PP-nya me nurun. Penurunan dari
99% ke 98% sudah berarti kadar obat bebas
(yang aktif) meningkat 2 kali lipat (dari 1%
menjadi 2%) dan dapat memicu per-
darahan yang tak diinginkan. Lihat selan-
jutnya Bab 4, Interaksi obat.
* Efek depot. Pengikatan protein dapat
dianggap sebagai suatu cara untuk me-
nyimpan obat, sebab bagian yang teri-
kat tidak dirombak atau diekskre si. Pada
umumnya, ikatan protein ber sifat agak
lemah (kecuali pada kliokinol dan obat
diagnostik iod), segera bila kadar obat be-
bas menurun, kompleks obat -protein ter-
urai dan obat terlepas kembali, hingga
kadar obat bebas hampir ti dak berubah.
* Distribusi obat ke berbagai kompartimen
cairan dan jaringan terhambat oleh pengikatan
protein, sebab molekul besar seperti kom-
pleks protein sukar sekali melintasi membran
sel. Sebaliknya obat be bas dan aktif mudah
melintasi membran, misalnya antipirin de-
ngan PP hanya 10%. Semakin besar PP,
semakin rendah kadar obat be bas. Namun,
jika PP melebihi 80% pengurangan distribusi
menjadi sa ngat nyata. Bila kadar obat
bebas dalam semua kompartimen cairan
sudah sama rata, distribusi obat terikat juga
mencapai posisi keseimbangan. CCS hanya
mengandung sedikit protein. Oleh sebab
itu, obat dengan PP tinggi walaupun kadar
totalnya di dalam darah besar, kadarnya
dalam CCS jauh lebih ren dah dan hampir
sama dengan kadar obat bebas dalam plasma,
misalnya sulfadimetoksin.
* Ekskresi dari obat yang dikeluarkan dengan
jalan filtrasi glomeruli sangat diperlambat,
sebab hanya obat bebas mengalami filtrasi.
Obat yang diekskresi secara aktif ti dak ter-
pengaruh oleh pengikatan, misalnya benzil-
penisilin (PP ±50%) hampir diekskresi selu-
ruhnya dengan cepat.
* Kumulasi yaitu penumpukan suatu zat/
obat dalam tubuh sebab per satuan waktu
suplainya lebih besar daripada eliminasinya.
Beberapa obat memperlihatkan afinitas (gaya
tarik) terha dap jaringan-jaringan tertentu
dan ditimbun di jaringan itu . sebab
konsentrasi obat di jaringan atau organ ter-
sebut menjadi sangat tinggi, sifat kumu lasi
menjadi bermanfaat sekali untuk meng obati
pe nyakit organ bersangkutan. Yang ter kenal
yaitu glikosid digitalis yang dikumulasi
secara selektif dalam otot jan tung (sebagian
kecil juga dalam hati dan ginjal). Begitu pula
vita min B12, obat-obat malaria dan obat-
obat disentri amuba (mepakrin dan klorokuin)
ditimbun dalam hati. Contoh lain yaitu fu-
ngistatik griseofulvin yang dikumu lasi dalam
kuku dan rambut serta klorpromazin dengan
afinitas kuat terhadap otak. lod radio-aktif
dipakai untuk mengobati hiperfungsi ke-
lenjar tiroid, sebab secara selektif dikumulasi
di organ itu.
Diketahuinya lokasi kumulas i berbagai obat
bermanfaat pula untuk menilai efek samping
dan efek toksiknya. Misalnya logam dan
tetrasiklin dikumulasi pada tulang dan gigi
(menjadi kuning). Oleh sebab itu, antibiotika
ini jangan diberikan pada anak-anak kecil
yang giginya masih dibentuk. Begitu pula kal-
sium ditimbun dalam kolagen (sejenis jaringan
pengikat) dan arsen dikumulasi dalam ke-
ratin (rambut, kuku).
* Kumulasi dalam lemak terjadi denga n
beberapa obat lipofil, misalnya DDT, barbital
kerja singkat (thiopental), anestetika halo gen
(kloroform, halothan) dan zat-zat estrogen
tertentu. Sebagaimana PP (pengikatan pro-
tein plasma), terjadinya ku mulasi obat di
organ atau jaringan tertentu merupakan
suatu cara pe nimbunan, dari mana obat ber-
angsur-angsur dilepaskan kembali ke dalam
peredaran bila konsentrasinya di lokasi ter-
sebut me nurun. Dengan demikian daya ker-
ja obat diperpanjang pula. Pada penilaian
aktivitas obat-obat yang ber sifat kumulasi
perlu diperhatikan bahwa antara konsentrasi
plasma dan efek terapeutiknya tidak ter-
dapat hubungan langsung.
5. Ekskresi
Pengeluaran obat atau metabolitnya dari
tubuh terutama dila kukan oleh ginjal melalui
urin dan disebut ekskresi. Selain itu ada pula
beberapa cara lain, yaitu melalui:
– kulit, bersama keringat, misalnya paral-
dehida dan bromida (sebagi an);
– paru-paru, melalui pernapasan, biasanya
hanya zat-zat terbang, seperti alkohol,
paraldehida dan anestetika (kloroform,
halotan, siklopropan);
– empedu. Ada obat yang dikeluarka n
dengan em pedu secara aktif oleh hati,
misalnya fenolftalein (pencahar). sesudah
tiba kembali dalam usus obat diresorpsi
lagi. Peristiwa inilah yang dinamakan
siklus enterohepatik yang memper pan-
jang eksistensi obat dalam tubuh dan
biasanya juga memperpanjang
efeknya, namun akhirnya dengan in duksi
enzim diubah menjadi metabolit yang
mudah diekskresi ginjal. Adakalanya
obat di dalam usus diionisasi hingga ti-
dak diresorpsi kembali dan dikeluarkan
dengan tinja. Contoh lain yaitu zat-zat
asam (asam empedu, asam organik iod,
yang dipakai sebagai obat diagnos tik
saluran empedu) dan antibiotika penisi-
lin, eritromisin serta rifampi sin, yang me-
larut baik di dalam empedu dan digu-
nakan pada penyakit in feksi saluran em-
pedu. Pada umum nya obat dengan berat
molekul di atas 600 Dalton cenderung
dikeluarkan oleh tubuh melalui empedu.
* Air susu ibu. Cara ekskresi ini hanya
penting diperhatikan untuk bayi, ka rena
dapat memicu keracunan. Misalnya
alkohol, obat-obat tidur, nikotin (rokok!) dan
alkaloida (sebab pH air susu ±6,7 dan lebih
rendah dari pH darah). Yang sangat ber-
bahaya yaitu obat yang diekskresi dalam
jumlah agak besar melalui air susu, seperti
peni silin (sensitasi!), kloramfenikol, INH, er-
gotamin, antikoagulansia dan antitiroida, ka-
rena sistem enzim hati pada neo nati belum
berkembang dengan sempurna.
* Usus. Zat-zat yang tidak atau tidak lengkap
diresorpsi usus dikeluarkan de ngan tinja, mi-
salnya sulfasuksidin, neomisin dan sediaan-
sediaan besi.
Ginjal. Kebanyakan obat dikeluarkan mela-
lui air seni dan lazimnya setiap obat yang
diekskresi sebagai metabolitnya dan hanya
sebagian kecil da lam keadaan asli/ utuh mi-
salnya penisilin, tetrasiklin, digoksin dan
sali silat. Zat-zat dalam bentuk ion yang mu-
dah larut di air seni diekskresi de ngan mudah.
Zat-zat lipofil dan zat-zat tak terionisasi lebih
lambat ekskresinya; untuk meningkatkan
sifat hidrofilnya, pada biotransfor masi di-
masukkan gugus -OH dan atau -COOH ke
dalam molekulnya. De ngan jalan oksidasi
rantai samping dan konyugasi, keasaman
asam-asam lemak dinaikkan agar disosiasi
dan demikian pula ekskresinya diperkuat .
Ginjal memiliki beberapa mekanisme eks-
kresi obat, yang pada hakikat nya tidak ber-
beda dengan mekanisme transpor umum
yang berlaku bagi membran-membran lain,
yakni transpor secara pasif atau aktif.
a. Filtrasi glomeruli (pasif). Obat dan me-
tabolitnya yang terlarut dalam plasma me-
lintasi dinding glomeruli dengan ultra-
filtrat secara pasif (lihat Bab 33, Diuretika,
fisiologi ginjal). Selama filtrat ini dipekat-
kan dalam tubuli, zat-zat lipofil berdifusi
kembali secara pasif melalui membran
selnya ke dalam darah dan dengan de-
mikian menghindari ekskresi. Zat-zat hi-
drofil hampir tidak didifusi kembali dan
langsung dikeluarkan lewat urin. Ekskresi
dapat diperlancar dengan memperkuat
disosiasi obat yang kebanyakan bersifat
asam atau basa lemah dengan derajat
ionisasi agak ringan. Misalnya untuk asam
seperti barbital dapat diberikan natrium-
bi karbonat hingga air seni bereaksi basa.
Untuk alkaloida pemberian amo nium-
klorida akan meningkatkan keasaman air
seni, sehingga obat itu lebih banyak
terionisasi.
b. Transpor aktif. Tubuli dapat mensekresi
secara aktif zat-zat tertentu, misalnya ion
asam organik seperti penisilin, vitamin
C, asam salisilat, juga probenesid. Sekresi
berlangsung dengan bantuan enzim peng-
angkut dan kadang-kadang terjadi per-
saingan antara beberapa ion untuk enzim
ini. Misalnya probenesid menyai ngi peni-
silin untuk enzim peng angkutnya, se-
hingga ekskresi antibiotikum ini diper-
lambat dan efek kerjanya lebih panjang.
6. Konsentrasi plasma
Untuk dapat menilai suatu obat (baru)
secara klinis, menetapkan dosis dan skema
pentakarannya yang tepat, perlu adanya
sejumlah data farmakokinetika. Khususnya
mengenai kadar obat di tempat tujuan
(target site) dan dalam darah, serta perubah-
an kadar ini dalam waktu tertentu. Pada
umumnya pengaruh efek obat tergantung
pada konsentrasinya di organ target dan
berhubungan erat pula dengan konsentrasi
plasma. Pada obat yang resorpsinya baik,
kadar plasma meningkat bila dosis nya di-
perbesar. Kadar obat dalam plasma, yang
nilainya kurang lebih sama dengan konsentra-
sinya dalam darah, dapat diukur melalui
alat-alat khusus dengan kesek samaan dari
satu per seribu mg (0,001 mg). Untuk obat-
obat yang diberikan terus-menerus sebaik-
nya dipakai yang absorpsi/resorpsinya
lambat, sehingga fluktuasi dari konsentrasi
plasmanya kecil.
Dengan mengambil contoh darah se orang
pasien yang telah diberikan suatu dosis
obat tertentu pada beberapa titik waktu dan
mengukur kadarnya dalam sampel darah
itu , dapat digambarkan nilai kadar-
nya sebagai fungsi dari waktu (grafik kon-
sentrasi-waktu).
Gambar 3-3 memperlihatkan grafik leng-
kung yang lazim pada kebanyak an obat. Di
sini dapat dilihat bahwa obat A mencapai
konsentrasi puncak dalam waktu 1 jam, lalu
menurun. Penurunan ini pada awalnya agak
cepat dan kemudian de ngan berkurangnya
konsentrasi akan berlangsung secara ber-
angsur-angsur, yaitu secara eksponensiil. Hal
ini disebabkan elimi nasi obat setiap menit
menjadi semakin kecil. Obat B menun juk-
kan penurunan kadar plasma yang lebih
berangsur-angsur.
Ada pula obat yang pada dosis besar
menghasilkan grafik lurus yang menurun
secara linier, misalnya natriumsalisilat lebih
dari 500 mg dan alkohol lebih dan 20 g.
Lihat Gambar 3-4. Pada grafik ini turunnya
kadar plasma etanol sesudah diberikan per
oral sebanyak 25 ml, berbanding langsung
dengan waktu, artinya jumlah etanol yang
mengalami biotransforma si dan ekskresinya
setiap menit yaitu sama.
Kurve konsentrasi-waktu terutama berguna
pada pemberian obat yang dosis terapinya
dekat sekali dengan dosis toksiknya, seperti
pada digoksin dan obat depresi litiumkar-
bonat. Begitu pula bila fungsi ginjal atau hati
terganggu hingga eliminasi obat diperlambat,
atau pada peristiwa keracun an, misalnya
barbital atau salisilat.
Dengan luas terapi dimaksudkan selisih
antara jumlah obat yang diperlukan untuk
efek terapi dan dosis toksiknya. Efek toksik
akan cepat timbul pada overdosis kecil atau
kumulasi dari obat yang memiliki luas terapi
sempit .
7. Plasma half-life (eliminasi)
Telah kita lihat, bahwa turunnya kadar plas-
ma obat dan lama efeknya tergantung pada
kecepatan metabolisme dan ekskresi. Kedua
faktor ini me nentukan kecepatan eliminasi
obat, yang dinyatakan dengan pengertian
masa paruh (plasma-t½, plasma half-life eli-
minasi), yaitu rentang waktu di mana kadar
obat dalam plasma pada tahap eliminasi me-
nurun sampai separuhnya.
Pada Gambar 3-3, masa paruh obat yaitu 1
jam, kadar menurun dari 80 (pada titik waktu
1) sampai 40 mg% (titik waktu 2) dalam waktu
1 jam, begitu pula dari 40 sampai 20 mg%
(titik waktu 2 ke 3) dan seterusnya. Plasma-t½
obat B yaitu 2 jam: kadarnya menurun
dari 80 sampai 40 mg% dari titik waktu 0.5
sampai 2,5. Plasma-t½ etanol pada Gambar
3-4 yaitu 1 jam: kadarnya menurun dari 80
sampai 40 mg% dalam waktu 60 menit.
Setiap obat memiliki masa paruh berlain-
an dan bervariasi dari 23 detik (adrenalin)
hingga 2 tahun lebih (obat kontras-iod orga-
Gambar 3-3: Grafik eksponensiil Gambar 3-4: Grafik linier
nik), sebagaimana dapat dilihat dalam tabel
berikut ini.
Half-life obat berlainan pula bagi binatang
percobaan, bahkan secara perorangan pun
dapat berbeda berdasar variasi indi-
vidual, oleh sebab itu yang tercantum di
atas merupakan nilai rata-rata.
Kecepatan eliminasi obat dan dengan de-
mikian juga plasma t½-nya ter gantung dari
kecepatan biotransformasi dan ekskresi.
Obat dengan metabo lisme cepat half-life-
nya juga singkat, misalnya insulin sesudah
injeksi s.k. diuraikan dengan cepat, t½-nya
hanya 40 menit. Sebaliknya obat yang tidak
mengalami biotransformasi, atau obat de-
ngan siklus enterohepatik atau ju ga yang
diresorpsi kembali oleh tubuli ginjal, dengan
sendirinya t½-nya panjang. Begitu pula obat
dengan persentase pengikatan pada pro tein
(PP) tinggi, misalnya sulfametoksipiridazin
PP 85% dengan t½ 34 jam, dibandingkan
dengan sulfamezatin PP 30% dengan t½ 7 jam.
Digoksin yang dikumulasi pada otot jantung
juga mempunyai t½ panjang, lebih kurang 2
hari.
Fungsi organ-organ eliminasi penting sekali,
sebab pada kerusakan hati atau ginjal half-
life dapat meningkat sampai 20 kali atau
lebih. Misalnya pada penyakit ginjal tertentu
t½ penisilin bisa naik dari 0,5 jam sampai
lebih kurang 10 jam dan t½ streptomisin dari
2,5 jam menjadi 60 jam lebih.
Akhirnya cara pemberian obat turut me-
nentukan nilai half-lifenya. Misalnya t½ peni-
silin sesudah injeksi i.v. yaitu 2-3 menit,
sedang kan pada pemberian oral nilainya 1-2
jam.
Area Under the Curve (A.U.C.) yaitu luas
permukaan di bawah kurve (grafik) yang
menggambarkan naik-turunnya kadar plas-
ma sebagai fungsi dari waktu. AUC dapat
dihitung secara matematik dan merupakan
ukuran untuk bio-availability (BA) suatu
obat. AUC dapat dipakai untuk memban-
dingkan kadar masing-masing plasma obat
bila penentuan kecepatan elimi nasinya tidak
mengalami perubahan.
Pada Gambar 3-3(A), AUC diberi warna
gelap. Selain itu antara kadar plasma puncak
dan bio-availability terda pat hubungan lang-
sung.
8. Dosis dan skema pentakaran
Plasma half-life merupakan ukuran jangka
waktu efek obat, maka t½ bersama grafik
kadar-waktu penting sekali sebagai dasar
untuk menentu kan dosis dan frekuensi
pemberian obat yang rasional, dengan kata
lain berapa kali sehari sekian mg. Dosis
yang terlalu tinggi atau terlalu sering dapat
memicu efek toksik, sedang dosis
yang terlampau rendah atau terlalu jarang
tidak menghasilkan efek yang diharapkan,
bahkan pada kemoterapeuti ka dapat me-
nimbulkan resis tensi kuman (lihat Bab 4,
Resistensi).
Obat dengan half-life panjang, lebih dari 24
jam, biasanya cukup diberikan dosis
(pemeliharaan) satu kali sehari dan tidak
perlu sampai 2 atau 3 kali, misalnya digoksin.
Terkecuali bila obat terikat kuat pada protein
dan diperlukan kadar plasma tinggi untuk
efek terapeutiknya, sebagai mana halnya
dengan fenilbutazon (t½ lebih kurang 60 jam,
PP = 98%).
Sebaliknya, obat yang dimetabolisasi cepat
dan t½-nya pendek, perlu di berikan sampai
3-6 kali sehari agar kadar plasmanya tetap
tinggi. Misalnya oksitosin dan noradrenalin
yang eliminasinya demikian cepat, sehingga
perlu diberikan melalui infus kontinu. Pe-
ngecualian yaitu obat hiper tensi reserpin
dengan t½ ± 15 menit, namun ke giatannya
ber tahan lebih dari 36 jam, lihat Bab 35,
Antihipertensiva. Begitu pula efek obat-obat
hiperten si lainnya, antara lain beta-blockers
dan metildopa tidak berkorelasi dengan
plas ma-t½-nya. Hal ini mungkin disebabkan
didudukinya reseptor secara irreversibel oleh
obat itu . Lihat Gambar 3 - 5.
MIC dan MEC. biasanya pentakaran
ditujukan pada efek terapeutik yang cepat.
Untuk mencapainya sering kali dimulai de-
ngan dosis tinggi (loading-dose, stootdosis )
agar kadar plasma meningkat ke konsentrasi
aktif dengan pesat. Misalnya terapi dengan
sulfonamida diawali de ngan loading dose,
disusul dengan dosis separuhnya setiap 6
jam, atau setiap 24 jam pada sulfa long-acting.
Dengan demi kian akan terpelihara kadar
darah yang untuk beberapa waktu terletak di
atas kadar penghambatan minimum untuk
kuman tertentu (MIC= Minimum Inhibitory
Concentration). MIC merupakan kadar obat,
di ma na kuman tidak tumbuh atau tidak
berkembang-biak lagi. Bagi obat lain (bu kan
kemoterapeutika) dipakai MEC (Minimum
Effective Concentra tion), yakni kadar plasma,
di mana obat baru memberikan efek tera-
peutik yang diinginkan.
Untuk penisilin yang berkhasiat bakte-
ri sid terhadap kuman yang se dang tum-
buh, diperlukan kadar tinggi sekali yang
tidak perlu kontinu, sehingga dapat dise-
lingi de ngan kadar yang lebih rendah.
Sebaliknya, pada obat-obat yang berkhasiat
bakteriostatik, seperti sulfonamida dan te-
tra siklin, perlu dipelihara kadar plasma yang
berada tetap di atas MIC agar kuman tidak
diberi kesempatan berkembang lagi. Gambar
3-5 mengilustrasikan hal-hal ini.
Obat tidur yang hanya dipakai sesekali
sebaiknya memiliki half-life agak pendek
Gambar 3-5: Grafik kadar-waktu sulfadiazin (A) dan ampisilin (B);
kedua-duanya dengan dosis 4 dd 500 mg.
(t½ 6-8 jam) agar tidak mengakibat kan pe-
rasaan pusing dan tak nyaman (hang-over)
sesudah bangun tidur seperti pada fenobarbital.
Sebaliknya, obat tidur yang sering kali di-
gunakan (secara teratur) lebih baik bermasa
paruh panjang, sebab risiko ketagihan lebih
ringan.
Begitu pula obat yang perlu dipakai
terus-menerus pada penyakit kronis, hendak-
nya t½-nya panjang agar pentakaran tidak
perlu terlalu sering, mi salnya antiepileptika,
antihipertensiva dan antidiabetika oral.
Obat yang mengalami first pass effect (FPE)
besar, dosis oralnya harus tinggi sekali di-
bandingkan dengan dosis parenteral. Misal-
nya thiazinamium (Multergan), yang resorp-
sinya dari usus sedikit sekali (hanya ±20%
dengan BA 10% dan FPE 50%) diberikan
dalam dosis oral 300 mg untuk memperoleh
BA (kadar plasma) yang sama dengan dosis
25 mg i.m. atau 6,5 mg i.v.
Farmakodinamika berkaitan dengan efek-
efek farmakologi dari suatu obat dalam tu-
buh melalui ikatan/pengaruhnya terhadap
misalnya suatu reseptor, enzim atau saluran
ion (ion channel).
1. MEKANISME
KERJA ObAT
Walaupun sudah banyak diketahui menge-
nai efek obat dalam tubuh ma nusia, namun
mengenai mekanisme kerjanya banyak yang
belum dipahami dengan baik.
Mekanisme kerja obat yang kini telah dike-
tahui dapat digolongkan sebagai berikut:
a. secara fisik, misalnya anestetika inhalasi,
laksansia dan diuretika osmotik.
Aktivitas anestetika inhalasi terkait lang-
sung dengan si fat lipofilnya. Obat ini diper-
kirakan melarut dalam lapisan lemak dari
membran sel, yang oleh sebab itu berubah
demikian rupa sehingga transpor normal
dari oksigen dan zat-zat gizi terganggu dan
aktivitas sel ter hambat. Akibatnya yaitu
timbulnya mati rasa.
Pencahar osmotik (magnesium dan natri-
umsulfat) lambat sekali resorpsinya oleh
usus, lalu melalui proses osmotik menarik
air dari sekitarnya. Volume usus bertambah
besar dan dengan demikian merupakan
rangsangan mekanis atas dindingnya untuk
memicu peristaltik dan mengeluarkan isinya.
Untuk diuretika osmotik, lihat Bab 33.
b. secara kimiawi, misalnya antasida lambung
dan zat-zat chelasi (chelator).
Antasida, seperti natrium bikarbonat, alu-
minium dan magnesium hidroksida dapat
mengikat kelebihan asam lambung melalui
reaksi netralisasi kimiawi.
Zat-zat chelasi mengikat ion-ion logam
berat pada molekulnya de ngan suatu ikatan
kimiawi khusus. Kompleks yang terbentuk
tidak toksik lagi dan mudah diekskresi
oleh ginjal. Contohnya yaitu dimerkaprol
(BAL), natriumedetat (EDTA) dan penisilamin
(=dimetilsistein), yang dipakai sebagai
obat rematik.
c. melalui proses metabolisme berbagai
cara, misalnya antibiotika yang mengganggu
pembentukan dinding sel kuman, sintesis
protein atau me tabolisme asam nukleinat.
Begitu pula antimitotika mencegah pem-
belahan inti sel dan diuretika yang meng-
hambat atau menstimulasi proses filtrasi.
Con toh lain yaitu probenesid, suatu obat
encok yang dapat menyaingi penisilin dan
derivatnya (antara lain amoksisilin) pada
proses sekresi tubuler, sehingga ekskresinya
diperlambat dan efeknya diperpanjang.
d. melalui kompetisi (saingan), padamana
dapat dibedakan dua kemungkinan, yaitu
kompetisi untuk reseptor spesifik atau untuk
enzim.
Reseptor-reseptor
Pada tahun 1970-an telah dilakukan banyak
penyelidikan pada tingkat molekuler untuk
memperoleh pengertian yang lebih menda-
lam mengenai interaksi biokimiawi antara
zat-zat endogen dan sel-sel tubuh. Ter nya-
ta bahwa reaksi demikian hampir selalu
berlangsung di suatu tempat reaksi spesifik,
yaitu di reseptor (sel penerima) atau di en-
zim. Pengetahuan ini menghasilkan antara
lain betabloker pertama, yaitu propranolol.
Bab 4: Prinsip-Prinsip Farmakodinamika 33
Sejak lama diketahui bahwa semua proses
fisiologi dalam tubuh dire gulasi oleh zat-zat
pengatur kimiawi (regulator endogen), yang
masing-masing memiliki titik kerja khas di
satu atau berbagai organ. Meskipun ada
ratusan regulator, terutama hormon dan
neurotransmitter (noradrenalin, serotonin,
dopamin, dan lain-lain) namun setiap zat
mengetahui dengan tepat di mana letaknya
sel dan organ tujuannya. Hal ajaib ini da-
pat didijelaskan dengan adanya sejenis in-
formasi biologi di setiap zat dalam bentuk
konfigurasi khusus, struktur ruang dan sifat-
sifat kimianya yang dengan eksak mencocoki
sel-sel reseptor di organ-tujuan. Sistem ini
dapat disamakan dengan prinsip kunci anak
kunci. Selain (neuro)hormon itu , ada
juga reseptor un tuk zat-zat lain, misalnya
untuk zat-zat endorfin(morfin endogen) dan
benzodiazepin.
Letak reseptor ini khusus di membran sel
dan terdiri dari suatu protein yang merupa-
kan komplemen (kunci) tepat dari struktur
ruang dan muatan hormon bersangkutan
(anak-kunci). sesudah hormon “ditangkap”
dan diikat oleh reseptor, terjadilah inter-
aksi yang mengubah rumus dan pembagian
muatan nya. Akibatnya yaitu suatu reaksi
dengan perubahan aktivitas sel yang sudah
ditentukan (prefixed) dan suatu efek fisiologi.
Receptor-blockers. Obat yang struktur kimi-
awinya mirip dengan suatu hormon, juga
mampu menduduki reseptor bersangkutan
dan de ngan demikian memblokir aktivitas
hormon itu . Obat demikian di namakan
perintang reseptor (receptor blocker) dan
sebagai contoh dapat disebutkan adreno-
receptor blockers (beta-blockers) yang me-
nyaingi noradrenalin pada dua jenis resep-
tor (131 dan 82), antara lain propranolol
dan metoprolol. Derivatnya yaitu labeta-
lol, memblokir baik reseptor-α maupun re-
septor-β dari susunan saraf adrenergik. Begi-
tupula histamin—suatu neurohormon ja-
ringan—aktif terhadap dua reseptor ber-
lainan, yakni jenis H1 dan H2. Antihista-
minika memblokir reseptor H1, sedang
penghambat asam (anti tukak usus) simetidin
dan ranitidin mem blokir reseptor H2.
Enzim-enzim
Enzim terdiri dari protein dan bekerja se-
bagai katalisator antara dua zat kimia, yakni
mempermudah atau mendorong suatu re-
aksi tanpa sendirinya turut ambil bagian. Pada
permukaan enzim ter dapat suatu ‘titik aktif’,
biasanya suatu celah sempit, di mana dua
zat kimia yang berada di sirkulasi darah
dapat “diperangkap”, sehingga interaksi bisa
berlangsung. Tanpa enzim, kedua zat tidak
akan “bersentuhan” dan bergerak terus dalam
plasma. Enzim tidak hanya menggabungkan,
melain kan dapat juga merombak molekul
dari zat, yang dinamakan substrat.
Proses enzimatik di dalam tubuh yang
terkena l yaitu proses pencernaan asupan
makana n: protein, karbohidrat, lemak, koles-
terol dan sebagainya. Contoh lain yaitu
pembentukan dan perubahan hormon maupun
vitamin, begitu pula perombakan dari ba nyak
zat/obat endogen maupun eksogen di dalam
hati, lihat jugaBab 3, sub 3, Biotransformasi.
Enzyme-blockers. Obat-obat tertentu yang
memiliki kesamaan struktur kimiawi de-
ngan suatu substrat mampu menduduki
‘titik aktif’ dari enzim bersangkutan, hingga
reaksi normal tidak terjadi dan produk akhir
tidak dibentuk. Perintang-enzim demikian
dipakai dalam terapi untuk berbagai
tujuan, yaitu:
a. mencegah pembentukan produk akhir
– alopurinol, yang menduduki tempat
ksantin di enzim ksantinoksidase, hingga
sintesis asam urat sangat dihambat (pada
encok).
– metildopa. Obat hipertensi ini menyaingi
dopa, hingga dekarboksilase tidak mengka-
talisasi pembentukan noradrenalin (me-
ningkatkan tekanan da rah), sehingga ter-
bentuk metil-NA yang inaktif
– asetazolamida memblokir karbonanhidrase,
sehingga pembentukan asam karbonat ter-
henti dengan efek peningkatan diuresis
– antagonis folat: sulfonamida, trimetoprim
dan MTX menyaingi PABA pada enzim
folatreduktase, sehingga sintesis asam fo-
lat yang di perlukan bakteri dan sel-sel
tumor terhenti. Dapson serta obat malaria
proguanil dan pirimetamin juga bekerja me-
nurut prinsip ini.
– antagonis-purin: merkaptopurin dan aza-
tioprin.
– antagonis-pirimidin: 5-fluorourasil, sitara-
bin. Keempat onkolitika (= sitostatika) ini
menduduki tempat purin dan pirimidin
pada asam nukleinat, hingga sintesis pro-
tein sel-sel tumor menjadi kacau.
b. melindungi substrat:
– disulfiram merintangi aldehidoksidase, se-
hingga oksidasi asetaldehida (menjadi asam
asetat) ti dak dilanjutkan dan kadar plas-
manya naik. Obat ini dipakai pada
pengobatan adiksi alkohol.
– fisostigmin dan neostigmin yaitu perintang
kolinesterase sementara, hingga asetilkolin
terhambat penguraiannya dan kadarnya
naik. Insektisid a organofosfat (parathion dan
malathion) memblokir enzim itu
secara irreversibel, maka sangat toksik!
– perintang MAO memblokir monoaminok-
sidase sehingga zat-zat mono amin (nora-
drenalin, serotonin, dopamin, dan lain-
lain) tidak diuraikan lagi dan kadar
plasmanya meningkat. Dahulu obat ini
sering diguna kan sebagai obat depresi,
namun ditinggalkan sebab mengakibat-
kan tekanan darah sangat meningkat.
Sekarang tersedia obat-obat yang berdaya
selektif terhadap MAO-A tanpa efek
samping buruk itu (moklobemida
dan ekstrak Hyperici).
– asam klavulanat khusus dipakai untuk
memblokir enzim beta-laktamase, sehingga
tidak dapat menginaktifkan lagi penisilin.
2. EFEK TERAPEUTIK
Tidak semua obat mampu menyembuhkan
penyakit secara tuntas; ba nyak di antaranya
hanya meniadakan atau meringankan geja-
lanya. Oleh sebab itu, dapat dibedakan tiga
jenis pengobatan, yaitu:
– terapi kausal, pada mana pemicu pe-
nyakit dihalau, khususnya pemusnahan
kuman, virus atau parasit. Contohnya
kemoterapeutika (sulfonamida dan anti-
biotika, antimikotika, fungisida, obat-obat
malaria);
– terapi simtomatik: hanya gejala pe nyakit
yang diobati dan diringankan, namun
sebabnya tidak dipengaruhi, misalnya
kerusakan pada suatu organ atau saraf.
Contohnya analgetika pada rematik atau
sa kit kepala, obat hipertensi dan obat
jantung;
– terapi substitusi: obat menggantikan zat
yang lazimnya dibuat oleh organ yang
sakit. Misalnya insulin pada diabetes, ka-
rena produksinya oleh pankreas kurang
atau terhenti, tiroksin pada fungsi tiroid
ber kurang (hipotirosis) dan estrogen pada
hipofungsi ovarium pada masa klimak-
terium wa nita.
Efek terapeutik obat tergantung dari ba nyak
sekali faktor, antara lain cara dan bentuk
pemberian, sifat fisikokimiawinya yang
me nentukan resorpsi, biotransformasi dan
ekskresinya dalam tubuh. Begitu pula dari
kondisi fisiologi penderita (fungsi hati, ginjal,
usus dan peredar an darah). Faktor-faktor
individual lainnya misalnya etnis, kelamin,
luas permukaan badan dan kebiasaan makan
juga dapat memegang peranan penting.
Variasi biologi. Akibat faktor individual,
efek obat dapat sa ngat berbeda. Setiap orang
dapat memberikan respons yang ber lainan
terhadap suatu obat sesuai kepekaannya
masing-masing. Perbedaan respons ini bisa
besar sekali, sebab untuk setiap obat selalu
ada orang yang sangat rentan dan dengan
dosis rendah sekali sudah dapat memberikan
efek terapeutis. Sebaliknya, ada pula orang
yang hanya memberikan respons pada dosis
yang sangat tinggi. Inilah sebabnya me ngapa
dosis obat yang diberikan pada suatu pasien
dengan hasil baik, adakalanya tidak ampuh
untuk pasien lain, pada siapa mungkin do-
sisnya harus dinaikkan untuk memberikan
efek yang sa ma. Dalam keadaan penting
hendaknya kadar obat pasien ditentukan
dalam darahnya untuk mendapatkan kepas-
tian me ngenai takaran yang optimal. Libat
juga Bab 3, sub 3: Variasi individual.
Kesetiaan terapi (patient compliance).
Banyak peneli tian menunjukkan bahwa
sejumlah besar pasien tidak minum obatnya
dengan taat dan teratur, atau tidak meng-
habiskan kur yang di berikan padanya se-
suai resep dokter. Jelaslah bahwa dengan
demikian obat tidak memberikan efek opti-
mal yang diinginkan, bahkan dapat menim-
bul kan resistensi, khususnya pada anti-
biotika. Kesetiaan dan kerelaan pasien un-
tuk minum obat dipengaruhi oleh sejumlah
faktor dan yang utama yaitu :
a. sifat individual: misalnya watak, tingkat
pendidikan dan kepekaan untuk rasa
nyeri, pengobatan dianggap tidak perlu,
kekhawatiran mengenai efek samping
dan ketergantungan, kurang percaya ter-
hadap terapi.
b. relasi dokter-pasien: bila pasien tidak
senang dengan perlakuan dokter atau
tidak menerima perhatian dan informasi
secukupnya mengenai pe nyakitnya, com-
pliance akan menurun. Begitu pula bila
dokter tidak memberikan instruksi yang
lengkap atau cukup je las mengenai
pemakaian obat. Misalnya antibiotika
harus diselesaikan kurnya, walaupun ge-
jala penyakit infeksi sudah lenyap.
c. jenis penyakit: semakin berat penyakit,
semakin baik compliance-nya, juga bila
pa sien







