merasa nyeri. Sebaliknya com-
pliance berkurang bila obat harus dimi-
num untuk waktu yang lama atau me-
nahun, sedang penyakit tidak mem-
perlihatkan gejala tidak nyaman (radang,
nyeri), seperti diabetes dan hipertensi.
d. jumlah obat dan frekuensi takarannya.
Semakin sering kali pemberian obat,
semakin turun compliance. Bila obat harus
dipakai lebih dari dua kali seha ri,
compliance menurun dengan nyata, begi-
tupun bila obat tidak diberi kan sebagai
tablet atau kapsul, namun dalam bentuk
cairan (larutan, sus pensi) atau supositoria.
e. faktor-faktor individual seperti pelupa
(dosis yang rumit, polifarmasi), kemam-
puan terbatas untuk mengerti tujuan
pengobatan, gangguan mata (tidak bisa
membaca dengan jelas).
Industri farmasi juga telah memahami pen-
tingnya masalah ini, oleh sebab itu telah
dikembangkan tablet/kapsul dengan efek
panjang, delayed action atau slow/sus tained
release, yang cukup diminum satu atau
maksimal dua kali sehari. Sekarang tersedia
banyak obat single-dose dari bermacam-
macam jenis, misalnya tablet atau kapsul
dengan analgetika (Voltaren retard), hipertensi
(Selozok) dan obat jantung (Isoptin SR), lihat di
bawah ini.
Keuntungan tambahan dari tablet kerja
panjang yaitu resorpsi obat bisa berlang-
sung lebih teratur selama waktu yang lebih
panjang dan kadar darah yang kurang ber-
fluktuasi. Dengan demikian efek klinis obat
bisa lebih stabil dengan efek samping yang
berkurang.
Cara memperpanjang efek obat. Daya
kerja obat dapat diperpanjang dengan be-
berapa cara, antara lain memperlambat re-
sorpsinya ke dalam sir kulasi darah atau
menghambat ekskresinya oleh ginjal. Misal-
nya berdasar kompetisi enzim, efek
amoksisilin (per oral) dapat diperpanjang
melalui kombinasi dengan obat encok pro-
benesid.
Sediaan long-acting. Tablet dan kapsul kini
sudah banyak diproduksi dalam ben-tuk
kerja panjang, Yang terkenal yaitu sediaan
timespan atau retard (Ronicol), durule atau
durette (kinidine), repetab (Polaramine) dan
spansule (kapsul Stelazine). Bentuk lain ada-
lah sediaan ZOC (Zero Order Control, Selozok)
dan (Oral Regulation Osmotic system, Adalat
Oros).
Cara mutakhir yang semakin banyak di-
terapkan, yaitu “mempegilir” obat, yaitu
menggabungkan polietilenglikol (PEG) de-
ngan obat (konyugasi). Polimer etilenglikol
itu cenderung menghimpun molekul
air di sekitarnya yang membentuk sejenis
barrier, sehingga molekul lain yang dapat
menguraikannya (misalnya protease) sukar
mencapainya. Penerapannya terutama pada
obat yang berdasar protein, se perti peg-
interferon-alfa dan pegfilgastrim, yang digu-
nakan pada terapi hepatitis C dan prevensi
neutropenia. (Geneesk Bull 2005; 39: 37-41).
Ada berbagai cara pembuatan sediaan oral
long-acting. Ada obat yang diserap pada
suatu matriks plastik (semacam spons) de-
ngan lubang-lubang kecil, yang dalam usus
melepaskan obat secara berangsur (durules).
Ada pula obat yang butir-butirnya diselu-
bungi coating yang lambat laun larut dalam air,
misalnya etilselulose (spansule), atau coating
lilin (carnaubawax, stearyalco hol). Tablet
mantel mengandung inti de ngan enteric
coating sehingga pecah dalam dua tingkat.
Pada sistem ZOC=Zero Order Control (1990)
itu di atas, obat dibebaskan di usus
dengan kecepatan konstan. Obat terkandung
dalam butir-butir kecil yang masing-masing
diselubungi membran semipermeabel. Setiap
tablet mengandung 1.500-2.000 butir zat aktif
dan zat pengisi netral (laktosa, tepung dan
sebagainya). Di saluran cerna, zat pengisi
melarut dan butir-butir obat dibebaskan dari
tablet. Cairan usus melintasi membran butir
dan obat secara berangsur didesak keluar.
Kecepatan pelepasan obat konstan sampai
±20 jam sesudah tablet diminum. Contoh
sistem ini yaitu Seloken ZOC atau Selozok
itu di atas.
Keberatannya. Salah satu keberatan dari
tablet kerja-panjang yaitu kadang-kadang
resorp sinya di usus berlangsung kurang
eksak. Selain itu kemungkinan besar peris-
taltik usus yang agak kuat memicu obat
dikeluarkan dari tubuh sebelum resorpsinya
lengkap. Agar matriks atau coating khusus
jangan sampai dirusak dan pembebasan
obat dipercepat, maka tablet harus ditelan
utuh, artinya tidak dipecah, dikunyah atau
dilarutkan dalam air.
Injeksi kerja-panjang. Untuk sediaan paren-
teral, perlambatan resorpsi dan perpanjangan
daya kerjanya dapat dicapai de ngan cara
berikut:
– memakai minyak sebagai zat pelarut
untuk zat lipofil, misalnya hormon kela-
min dan penisilin;
– memperkecil daya larut obat melalui peng-
gabungan dengan suatu zat (lipofil), mi-
salnya estrogen-enantat, flufenazin-deka-
noat dan protamin-seng-insulin;
– memakai kristal lebih kasar, untuk me-
nekan daya larut nya, misalnya insulin;
– penambahan vasokonstriktor (zat penciut
pembuluh), agar penyebaran obat diper-
lambat, misalnya adrenalin pada prokain.
3. PLASEbO
The state of the body is linked to the state of the
mind (Razi, d.c. 925)
Suatu faktor penting yang turut menentukan
efek terapeutik obat ada lah kepercayaan
atas dokter dan obat yang diberikannya.
berdasar kepercayaan ini pada situasi
tertentu adakalanya diberikan suatu obat
plase bo(Lat. = saya ingin menyenangkan).
Plasebo yaitu sediaan obat tanpa kegiata n
farmakologi (tablet, kapsul, cairan) dan khu-
sus diberikan untuk menyenangkan dan
menenangkan pasie n yang menurut diag-
nosis dokter sebetulnya tidak mende rita
gangguan organik. Atau untuk me ningkat-
kan semangat hidup, misalnya pada pe-
nyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi.
Pada azasnya plasebo merupakan cara peng-
obatan melalui sugesti, yang sering kali
menghasilkan efek tidak terduga walaupun
bertahan hanya sebentar.
Efek plasebo yang paling nyata yaitu
pada obat tidur, juga hasil baik telah dicapai
dengan analgetika, obat asma atau obat
penguat (tonikum). Suatu studi menya-
takan bahwa lebih dari 30% pasien dengan
suatu pe nyakit organik dan lebih dari 40%
pasien dengan gangguan jiwa memberikan
reaksi baik terhadap peng obatan dengan
plasebo. Jelaslah bahwa ti dak semua pe-
nyakit dapat ditangani dengan plasebo,
misalnya penyakit insufisiensi organ, se-
perti diabetes.
Zat inaktif dalam plasebo umumnya ter-
diri dari laktosa dengan dibu buhi sedikit
kinin untuk rasa pahit dan sering kali zat
warna. Bentuk tablet sebaiknya kecil sekali
atau sa ngat besar dengan warna mencolok
(kuning atau cokelat) guna me nambah efek
psikologisnya.
4. EFEK ObAT YANG TAK
DIINGINKAN
a. Efek samping
Menurut definisi WHO (1970) efek sampin g
suatu obat yaitu segala sesuatu efek yang
tidak diinginkan untuk tujuan terapi yang
dimaksudkan pada dosis yang di anjurkan.
Atau dapat juga didefinisikan: efek sam ping
yaitu efek yang tidak diinginkan atau tidak
ditujukan dari suatu obat yang timbul pada
dosis yang lazim dipakai untuk profilaksis,
diagnosis atau terapi suatu penyakit.
Dapat dibedakan dua jenis efek samping
obat, yaitu tipe I (juga disebut tipe A) dan
tipe II (juga disebut tipe B). Efek samping
Tipe I yaitu reaksi-reaksi yang berdasar
sifat-sifat farmokologi obat itu dapat
diperkirakan dan biasaya tergantung dari
dosis.
Efek samping Tipe II yaitu reaksi-reaksi
tidak lumrah dan berdasar sifat-sifat
farmakologi obat itu tidak dapat diper-
kirakan.
Dengan terjadinya drama talidomid* pada
tahun enam puluhan, masa lah efek samping
obat (baru) mulai diteliti dengan saksama. Di
banyak negara didirikan pusat-pusat khusus
untuk memonitor efek sam ping obat agar
dengan cepat dapat diperoleh informasi bila
suatu obat (baru) ternyata memicu efek
samping berbahaya.
Obat yang ideal hendaknya bekerja cepat
untuk waktu terten tu saja dan secara selektif,
artinya hanya berkhasiat terhadap keluha n
atau gangguan ter tentu tanpa aktivitas lain.
Semakin selektif kerja obat, semakin kurang
efek sampingnya, yaitu semua aktivitas yang
tidak menjurus ke penyembuh an penyakit.
Sebagai contoh obat dengan kerja tidak se-
lektif dapat di sebut klorpromazin, yang dapat
mengganggu banyak proses fisiologi lain.
Obat yang sa ngat selektif yaitu perintang
enzim, se perti fisostigmin dan alopurinol.
Kerja utama dan efek samping obat yaitu
pengertian yang sebetulnya tidak mutlak.
Kebanyakan obat memiliki lebih dari satu
khasiat farmakologik; tergantung dari tujuan
pemakaian nya. Efek samping pada suatu
saat mungkin menjadi kerja utama yang
diinginkan. Contoh terkenal yaitu asetosal,
yang efek sampingnya yaitu mengencerkan
darah dimanfaatkan sebagai khasiat utama
untuk prevensi infark kedua. Juga anti-
histaminika (prometazin, dan sebagainya.)
yang efek sedatifnya semula dianggap se-
bagai efek samping yang tidak diinginkan.
Sifat ini kemudian justru dijadikan titik-
tolak untuk mengembangkan psikofarmaka
dari golongan klorpromazin. Contoh lain
yaitu minoksidil dan finasteride yang te-
lah dipasarkan sebagai masing-masing obat
hipertensi (Lonnoten) dan obat hipertrofi
prostat (Proscar). Kedua obat dapat memicu
pertumbuhan rambut sebagai efek samping-
nya, oleh sebab itu kemudian diluncurkan
sebagai obat penumbuh rambut (Regaine dan
Propecia).
Efek samping adakalanya tidak dapat di-
hindari, misalnya rasa mual pada penggu-
naan digoksin, ergotamin atau estrogen
dengan dosis yang melebihi dosis normal.
Kadang-kadang efek samping merupakan
kelanjut an efek utama sampai tingkat yang
tidak diinginkan, misalnya rasa kantuk
pada fenobarbital bila dipakai sebagai
obat epilepsi. Bila efek samping (misalnya
mual) terlalu hebat, dapat diatasi dengan
obat lain, misalnya obat antimual (meklizin,
proklorperazin) atau obat anti-mengantuk
(kofein, amfetamin).
Kerja tambahan atau kerja sekunder yaitu
efek tidak langsung akibat kerja utama obat.
Misalnya, antibiotika spek trum-luas dapat
mengganggu keseimbangan bakteri/flora
usus dan memicu defisiensi vitamin atau
supra-infeksi dengan jamur. Untuk meng-
hindari kerja tambahan itu biasanya
dalam hal ini terapi dilengkapi dengan vita-
min B kompleks atau obat fungistatik.
b. Idiosinkrasi
Idiosinkrasi yaitu reaksi abnormal ter-
hadap obat, pada mana suatu obat mem-
berikan efek yang secara kualitatif total
berlainan dari efek normalnya. Umumnya
hal ini disebabkan oleh kelainan genetik pada
pasien bersangkutan (misalnya defisiensi
G6PD). Sebagai contoh dapat disebutkan
anemia hemolitik (kekurangan darah akibat
terurainya eritrosit) sesudah pengobatan
mala ria dengan primakuin atau derivatnya.
Con toh lain yaitu pasien yang pada peng -
obatan dengan neuroleptika un tuk me ne-
nangkannya, justru memperlihatkan reaksi
bertentangan dan menjadi gelisah dan
cemas. Begitu pula pada morfin dan anal-
getika lain, adakalanya terjadi suatu reaksi
idiosinkrasi. Anemia aplastik pada pengguna-
an kloramfenikol, mungkin juga merupakan
suatu fenomena idiosinkrasi walaupun ja-
rang terjadi.
c. Alergi
Bilamana seseorang diberikan penisilin
secara topikal, sebagian kecil akan diresorpsi
oleh kulit dan di dalam darah bergabung
dengan salah satu pro tein. Penisilin disebut
hapten dan kompleks penisilin-protein di-
sebut antigen yang mendorong tubuh untuk
membentuk zat-zat penangkis ter tentu, yaitu
antibodies. Pasien itu telah disensitasi
dan menjadi rentan berle bihan terhadap pe-
nisilin (hipersensitif). Bila pada kesempatan
lain ia diberi penisilin lagi, kemungkinan
besar akan terjadi reaksi khu sus antara
antigen dan antibodies itu , yang dina-
makan reaksi alergi. Lihat juga Bab 51,
Antihistaminika, alergi.
Zat dengan molekul besar (makromolekul),
seperti protein (asing) dan polisakarida juga
dapat berfungsi sebagai antigen de ngan me-
nimbulkan reaksi alergi. Selain penisilin
banyak obat bermolekul kecil (Berat Mole-
kul < 1000), dapat pula berperan sebagai
hapten, yaitu antigen tak lengkap. Obat yang
sering memicu reaksi alergi yaitu
antihistaminika, sulfonamida, prokain, obat-
obat tbc, fenilbutazon dan DDT, oleh sebab
itu sebaiknya jangan diguna kan secara to-
pikal.
Sensitasi oleh obat. Banyak orang tanpa
diketahui memiliki antibodies terhadap pe-
ni silin di tubuhnya, sebab obat ini ba nyak
dipakai pada penyakit hewan (sapi, babi)
atau sebagai stimulans pertumbuhan hewan.
Akibatnya ada sebagai residu dalam
daging atau susu dalam jumlah yang kecil
namun cukup untuk memicu sensitasi
(lihat juga di bawah Resistensi dan Makanan).
namun hanya sedikit sekali terjadi reaksi
alergi pada orang yang diberi penisilin un-
tuk mengobati suatu penyakit. pemicu nya
belum jelas, begitu pula me ngapa suatu
zat lebih bersifat antigen daripada zat lain.
Kenyataannya yaitu , bahwa pasien yang
sudah menderita penya kit alergi, misalnya
eksem atau asma, lebih cenderung disensitasi
oleh obat.
Gejala alergi terpenting dan sering tampak
pada ku lit yaitu urtikaria (gatal dan bentol-
bentol) serta rash (kemerah-merahan). Ada-
kalanya berlangsung lebih hebat dan berupa
demam, serangan asma, anaphylactic shock.
Berlainan dengan efek toksik obat, gejala
alergi biasanya sudah timbul oleh
dosis yang sangat kecil dan tidak dapat
dikurangi dengan menurunkan dosisnya.
Pada kebanyakan kasus. reaksi alergi dapat
cepat diatasi dengan injeksi adrenalin, anti-
histamin atau kortikosteroid.
Alergi silang dapat terjadi antara zat dengan
struktur kimiawi yang lebih kurang sama,
misalnya sulfonamida dengan turunannya
yang dipakai se bagai diuretika (klortiazida)
atau antidiabetika oral (tolbutamid), begitu
pula antara semua derivat penisilin dengan
derivat sefalosporin.
d. Fotosensitasi
Fotosensitasi yaitu kepekaan berlebiha n
untuk cahaya akibat penggu naan obat, ter-
utama pemakaian topikal. Yang terkenal
yaitu antiseptikum bithionol (dalam sabun
Bris), yang sebab efek ini sejak tahun 1973
dilarang pemakaian nya dalam sedia an
topikal, antara lain di AS dan Kanada. Begitu
pula minosiklin dan turunannya kadang-
kadang memicu fotosensitasi pada
pemakaian oral.
Untuk sebanyak mungkin menghindari
timbulnya alergi kontak, di anjurkan agar bila
mungkin tidak memakai secara lokal
alergen-alergen kontak terkenal, yaitu ‘lima
A’: Antibiotika, Antiseptika, Anestetika lokal,
Antimi kotika dan Antihistaminika.
5. EFEK TOKSIK
“Sola dosis facit venenum” The dose makes the
poison: dosis menentukan beracunnya suatu zat.
Paracelsus (1493-1541,”father” of toxicology)
Setiap obat dalam dosis yang cukup ting-
gi dapat memicu efek toksik. Pada
umumnya, hebatnya reaksi toksik berhu-
bungan langsung de ngan besarnya dosis:
bila dosis diturunkan, efek toksik juga dapat
dikurangi.
Efek teratogen
Dari peredaran darah ibu semua zat gizi dan
zat pertumbuhan masuk ke da lam sirkulasi
janin dengan melintasi plasenta (uri). Pla-
senta dapat disamakan dengan sawar da-
rah-otak (lihat Bab 3, Distribusi) dengan
membran semipermeabel pula, oleh sebab
itu zat-zat lipofil dapat melaluinya de ngan
lancar. Zat-zat hidrofil, bila kadar plasmanya
tinggi, akhirnya akan melintasi plasenta juga.
Dalam peredaran janin obat akan bertahan
lebih lama, sebab sistem eliminasinya belum
berkembang dengan optimal.
Obat teratogen yaitu obat yang pada dosis
terapeutik bagi sang ibu dapat mengaki batkan
cacat pada janin, berupa focomelia (kaki
tangan seperti singa laut atau adakalanya
tidak terbentuk sama sekali), kerusakan pada
mata, telinga dan jantung, juga saluran pen-
cernaan dan saluran kemih. Perhatian dunia
yang tersentak terhadap peningkatan secara
“epidemik” dari kelainan yang sangat serius
dan langka ini, pertama kali yaitu berkat
penelitian luar biasa dari 2 ahli kedokteran di
German (Lenz) dan Australia (McBride) pada
akhir 1960. namun baru pada akhir 1961, ialah
3 tahun sesudah dipasarkan, akibat desakan
kuat internasional obat pemicu kelainan
itu (Softenon, Grünenthal), ditarik dari
peredaran.
• Kehamilan muda. Kerusakan yang ter-
hebat terjadi pada masa kehamilan muda,
yaitu selama 12 minggu pertama kehamilan,
mungkin antara minggu ke-3 sampai ke-8
terhi tung dari hari pertama haid terakhir.
Selama masa inilah terbentuk kaki, tangan
dan semua organ penting bayi. Oleh sebab
itu untuk mengatasi keluhan-keluhan yang
tidak begitu serius pada triwulan pertama
kehamilan, dianjurkan pemakaian obat
seminimal mungkin. Misalnya, untuk rasa
mual di pagi hari (morning sickness) yang
sering kali terjadi, sebaiknya jangan diberi
obat antimual, melainkan jahe (dalam ben-
tuk manisan) yang “aman”, lihat Bab 17,
Antiemetika.
Penyakit virus tertentu, khususnya campak
Jerman(rubella, German measles), sudah lama
diketahui dapat memicu cacat pada
ja nin, terutama gangguan penglihatan dan
pendengaran. Oleh sebab itu, di banyak
negara Eropa, semua gadis dari usia 10–12
tahun, yang belum pernah menderita rubella,
diberi vaksinasi terhadap penyakit ini. Ke-
mung kinan terjadinya cacat janin akibat obat
yang diminum oleh sang ayah pada saat
pembuaha n juga diteliti pada hewan per-
cobaan.
• Kehamilan tua. Obat yang diberikan
pada masa akhir kehamilan dapat pula
memicu efek yang tidak diinginkan,
misalnya hormon an drogen dan progesteron,
yang memicu ciri-ciri jantan pada bayi
wanita (virilisasi). Juga tetrasiklin dan turun-
annya dapat mengganggu pertumbuhan
tulang dan gigi. Klorokuin dan klorpromazin
dikumulasi pada mata janin dan dapat me-
Peristiwa talidomida. Pada tahun 1960-61 di Eropa, terutama di Jerman Barat dan lnggris, dilahirkan
± 350 bayi dengan cacat hebat, yaitu para bayi yang ibunya pada permulaan kehamilan memakai
obat tidur talidomida. Baru sesudah bencana ini terjadi, para sarjana farmakologi mulai menelaah
secara sistematik semua obat terhadap efek teratogen nya pada hewan percobaan. Obat yang dicurigai
yaitu antara lain barbital, sulfonamida, obat-obat epilepsi karbamazepin, fenitoin dan valproat,
serta turunan vitamin A, etretinat dan asitretin.
pemakaian obat-obat baru dengan pengalaman ku rang dari 10 tahun harus dilakukan dengan
sanga t hati-hati oleh para wanita, walaupun tidak sedang hamil.
1 Kelinci memiliki suatu enzim esterase untuk menguraikan atropin dengan cepat. Hal ini mungkin disebabkan binatang ini
sudah beribu-ribu tahun memakan daun tumbuhan Atropa belladonna yang banyak ada di alam dan mengandung atropin.
rusak retina. Juga antidiabetika oral dan
sulfonamida diduga dapat memicu
efek yang tidak diinginkan. Lihat juga Lam-
piran A. Daftar obat selama Kehamilan dan
Laktas i.
6. TOLERANSI, HAbITUASI,
DAN ADIKSI
Toleransi yaitu peristiwa pada mana dosis
obat perlu ditingkatkan te rus-menerus untuk
mencapai efek terapeutik yang sama. Tidak
begitu banyak obat dapat memicu
toleransi yang berarti, sedang di lain
pihak banyak sekali obat dapat dipakai
Teratologi
Cacat lahir dapat diakibatkan oleh antara lain, faktor-faktor etiologi berikut:
- faktor eksternal: obat-obat, sinar ionisasi, infeksi (toksoplasmosis, rubella);
- faktor genetik: dominan atau resesif
- faktor kromosom: mongolisme (Down’s syndrome)
Sekitar 60% dari cacat lahir etiologinya tidak jelas.
Yang akan diuraikan di bawah ini yaitu cacat lahir yang diakibatkan oleh obat (teratogenitas).
Faktor-faktor terpenting yang menentukan timbulnya efek samping teratogenetik obat-obat yaitu
antara lain:
- waktu kehamilan;
- jenis dan dosis obat;
- kepekaan janin terhadap obat tertentu;
- passage plasenta.
1. Taraf perkembangan janin sewaktu bekerjanya obat yaitu sangat penting. Selama tahap embrional
(trimester pertama kehamilan) janin sangat peka terhadap daya kerja teratogen obat. Kepekaan tiap
organ dari janin terhadap obat teratogen sangat ditentukan oleh faktor waktu.
Periode paling kritis bagi jantung yaitu hari ke-20 dan ke-40 sesudah konsepsi; untuk sistem saraf
antara hari ke-15 dan ke-25, lalu untuk alat gerak antara hari ke-24 dan ke-36.
Di samping ini ada pula obat-obat tertentu (misalnya talidomid) yang memiliki kecenderungan
luar biasa untuk bermanifestasi pada perkembangan organ atau sistem organ tertentu.
2. Dosis dari obat teratogen bukannya merupakan faktor yang menentukan, namun yang lebih penting
yaitu jenis dan sifat obat itu , permeabilitas dari plasenta, dan cara metabolismenya oleh
janin. Bahkan pernah dipertanyakan (Wilson) apakah tiap zat dapat bekerja teratogen, bila saja
diberikan dalam dosis yang tepat, pada saat yang kritis dan kepada species yang tepat.
3. Predisposisi genetik juga menentukan kecenderungan terhadap cacat bawaan tertentu yang
dapat diakibatkan oleh zat teratogen. Menurut statistik yaitu tidak betul pengertian one drug
= one malformation. Obat-obat tertentu hanya bersifat teratogen terhadap orang yang memiliki
kecenderungan genetik dan sangat peka terhadapnya.
4. Plasenta-barrier bukan merupakan suatu membran semi-permeabel pasif, namun dapat disamakan
dengan sawar darah-otak. Transpor melalui plasenta bisa secara difusi pasif atau transpor aktif.
Tiap zat yang ada dalam darah maternal, dapat mencapai sistem janin. Bukan menjadi
pertanyaan apakah obat melewati plasenta namun yang lebih penting yaitu kuantumnya.
bertahun-tahun tanpa memicu tole-
ransi, antara lain glikosida digitalis.
Toleransi primer (bawaan) ada pada
sebagian orang dan hewan tertentu, misalnya
kelinci1 sangat tahan terhadap atropin, yaitu
zat yang sangat toksik untuk manusia dan
binatang menyusui.
Toleransi sekunder (yang diperoleh) bisa
timbul sesudah suatu obat digu nakan untuk
beberapa waktu dan organisme menjadi ku-
rang rentan terhadap obat itu . Peristiwa
ini juga disebut kebiasaan atau habituasi.
Toleransi silang dapat terjadi antara zat-zat
dengan struktur kimiawi se rupa (diazepam
dan oksazepam) atau antara beberapa zat
berlainan, misalnya alkohol dan barbital
(walaupun jarang sekali).
Takifilaksis yaitu toleransi obat yang
timbul dengan pesat sekali (dalam waktu
beberapa jam), bila pemberian obat diulang
dalam jangka wak tu singkat, misalnya
efedrin dan propranolol dalam tetes mata
ter hadap glaukoma.
Habituasi atau kebiasaan dapat terjadi me-
lalui beberapa cara, yaitu:
• induksi enzim, misalnya barbital dan
fenilbutazon, menstimulasi terben tuknya
enzim yang menguraikan obat-obat ter-
sebut;
• reseptor sekunder, yang dibentuk ekstra
oleh obat-obat tertentu, misalnya morfin.
Dengan demikian jumlah molekul obat
yang menduduki reseptor (di mana efek
obat terjadi) akan menurun;
• penghambatan resorpsi sesudah pembe-
rian oral, misalnya habituasi bagi sediaan
arsen.
Dengan meningkatkan dosis obat terus
menerus, pasien bisa menderita keracunan,
sebab efek sampingnya juga menjadi lebih
kuat. Habi tuasi dapat diatasi dengan meng-
hentikan pemberian obat dan pada umum-
nya tidak memicu gejala penghentian
(abstinensi) seperti pada adiksi.
Adiksi atau ketagihan berbeda dengan habi-
tuasi dalam dua hal, yaitu:
a. adiksi bercirikan adanya ketergantung an
jasmaniah dan rohaniah; dan
b. penghentian pemakaian obat adiktif me-
nimbulkan efek fisik dan mental hebat,
yang dinamakan gejala abstinensi.
Adiksi merupakan bentuk penyalahgunaan
obat yang sangat serius dan terjadi dengan
antara lain obat-obat narkotika, kokain dan
hashiz, lihat pula Bab 23, Drugs. Obat-obat
ini memicu efek euforia kuat, yaitu
perasaan nyaman dan kemampuan besar
akan prestasi mental dan artistik, di samping
segala kecemasan hilang. Dengan setiap
pemberian kebutuhan akan suasana euforia
meningkat dan pasien akan semakin sering
memakai obat bersangkutan.
Terapi. Adiksi drugs dapat disembuhkan, mi-
salnya dengan cara menggantikan morfin,
heroin, kokain dan sebagainya dengan
metadon dalam dosis yang setara. Kemudi-
an secara berangsur-angsur dosis diturunkan
sampai akhirnya pasien bebas obat sama
sekali. Dasar terapi ini yaitu bahwa me-
tadon, amfetamin dan obat stimulansia lain
biasanya juga bisa memicu
toleransi dan adiksi. namun , bila pemberian
dihentikan, gejala abstinensi fisiknya tidak
sekuat narkotika.
7. RESISTENSI bAKTERI
Kemoterapeutika yang dipakai pada
penyakit infeksi adakalanya tidak bekerja
(lagi) terhadap kuman-kuman tertentu yang
ternyata memiliki daya tahan kuat dan
resisten terhadap obat itu . Bahaya resis-
tensi ini jelas yaitu memicu pengobat-
an penyakit menjadi sangat sulit dan pro-
gresnya menjadi lama, di samping risiko
timbulnya komplikasi atau kematian akan
meningka t. Resistensi merupakan masalah
global yang sangat serius. pemakaian ber-
lebihan (overuse) atau penyalahgunaan (mis -
use) obat-obat penting seperti antibiotik dan
obat antimalaria dan tidak tersedianya obat-
obat perkembangan baru, memicu be-
berapa jenis infeksi tidak dapat disembuhkan.
Dikenal tiga jenis resistensi bakteri, yaitu
resistensi primer, sekunder dan episomal.
a. Resistensi bawaan (primer), yang secara
alamiah sudah ada pada kuman.
Misalnya, ada nya enzim penisilinase
pada stafilokoki yang merombak penisilin
dan sefaloridin. Ada pula bakteri yang
dinding selnya tidak dapat ditembusi
obat, misalnya basil tuberkulosa dan
lepra.
b. Resistensi yang diperoleh (sekunder)
yaitu akibat kontak dari kuman de-
ngan kemoterapeutika dan biasanya di-
sebabkan oleh pembentukan spontan
jenis baru dengan ciri yang berlainan.
Mutan ini segera memperbanyak diri dan
menjadi suku baru yang resisten. Terben-
tuk nya mutan adakalanya cepat, seperti
pada streptomisin, INH dan rifampisin
(resistensi setingkat). Sebaliknya, pem-
bentukannya dapat pula berlangsung
lebih lambat, misalnya pada penisilin,
eritromisin dan tetrasiklin (resistensi
banyak tingkat).
* Adaptasi merupakan cara lain untuk
menjadi resisten, yaitui bak teri menye-
suaikan metabolismenya untuk melawan
efek obat. Misalnya, bakteri mengubah
pola enzimnya dan membentuk enzim
khusus untuk menguraikan obat, umpa-
manya penisilinase, asetilase (terhadap
kloramfenikol), adenilase/fosforilase ter-
hadap streptomisin, kanamisin dan neo-
misin. Dikenal pula kuman yang memper-
kuat dinding selnya, sehingga tidak dapat
ditembus lagi oleh antibiotika; atau ada
pula yang melepaskan dinding selnya,
sehingga tidak peka lagi untuk penisilin
(kuman bentuk-L).
c. Resistensi episomal. Berlainan dengan
kedua jenis itu di atas, pada tipe
resistensi ini pembawa faktor genetik
berada di luar kromosom(= rangkaian
pendukung sifat genetik). Faktor R
(= resistensi) ini disebut epi som atau
plasmid, terdiri dari DNA(desoxynucleic
acid) dan dapat “di tulari” pada kuman
lain dengan penggabungan atau kontak
sel-dengan- sel. Penularan ini terutama
terjadi di dalam usus melalui pengoperan
gen. Transmisi tidak terbatas pada satu
jenis kuman saja namun juga dapat terjadi
antara berbagai jenis, misalnya dari E. Coli
dan Enterococci dengan kuman patogen
Salmonella, Klebsiella, atau Vibrio dan keba-
likannya.
Telah diketahui bahwa dengan masuknya
faktor-R, daya memperbanyak diri bakteri
sangat meningkat. Hal ini jelas meresahkan
sebab dengan demikian resistensi dapat
menjalar dengan pesat. Kini faktor-R dari
banyak kuman di rumah sakit sudah diisolir
yang berasal dari tinja dan urin. Kuman-
kuman ini resisten terhadap banyak kemo-
terapeutika, termasuk ampisilin, kloramfe-
nikol, tetrasiklin, aminoglikosida, sulfona-
mida, trimeto prim dan golongan (fluor) kui-
nolon.
Ketergantungan (dependence) yaitu peris-
tiwa di mana pertumbuhan bakteri tergan-
tung dari keberadaan antibiotika tertentu.
Misalnya, penisilin, streptomisin, INH dan
kloramfenikol dapat dipakai oleh kuman
seba gai bahan pertumbuhan. Sifat ganjil
ini bisa terjadi pada mutasi berikutnya dari
suatu mutan yang telah menjadi resisten.
Resistensi-silang (cross-resistence) yaitu ke-
jadian padamana kuman yang resisten ter-
hadap suatu antibiotikum juga resisten ter-
hadap semua derivatnya, misalnya peni-
silin dengan ampisilin dan amoksisilin.
Begitu juga ada resistensi silang antara,
misalnya turunan tetrasiklin, berbagai jenis
sulfonamida, antara linkosin dan klindamisin,
juga antara rifamisin dan rifampisin.
Prevensi. Resistensi dapat dihindarkan de-
ngan memakai dosis obat yang relatif
tinggi (dibandingkan dosis efektif minimal-
nya) selama waktu yang agak singkat, sebagai
ganti dari kur jangka lama tanpa istira hat.
Atau pemakaian kombinasi dari dua atau lebih
obat, terutama pada tuberkulosis, lepra dan
kanker. Akhirnya membatasi pengguna an
antibiotika dengan aktivitas terhadap kuman-
kuman berbahaya hanya untuk penyakit parah
dan tidak untuk membasmi kuman “biasa”,
seperti misalnya pada sakit tenggorok atau
radang telinga.
Antibiotika dalam makanan hewan se-
ring kali dipakai untuk menstimulasi
pertumbuhannya dan sudah menjadi lazim
di kebanyakan negara Barat. Praktik ini
sudah lama dilarang sebab kekhawatiran
berkembangnya kuman-kuman yang resisten
pada hewan. Selain itu residu antibiotika
dapat tertinggal di dagingnya yang kemudian
dikonsumsi manusia. Sebagai contoh yaitu
vancomisin, yaitu suatu antibiotikum yang
sejak lama dianggap sebagai obat penolong
terakhir (last resort drug), yang masih am-
puh bila antibiotika lain tidak berefek lagi
akibat resistensi. Di AS vancomisin, di sam-
ping hormon, banyak dipakai dalam
makanan hewan dan kini sudah banyak
dilaporkan resistensi pada manusia terha-
dap antibiotikum ini. Sebaliknya untuk me-
ngurangi risiko penularan resistensi kepada
manusia, sebagai ganti nya di Eropa banyak
dipakai ‘derivat hewan’, yaitu avopara-
cine dalam jumlah besar dan resistensi ter-
hadap vancomisin praktis tidak disinyalir.
namun sejak 1997 avoparacine juga dilarang
di Eropa.
Namun para pembela pemakaian an-
tibiotika dalam animal food berpendapat
bahwa belum ada cukup bukti ilmiah
mengenai kemungkinan transmisi resisten-
si terhadap antibiotika dari hewan ke ma-
nusia. Malah dikemukakan adanya indi-
kasi kuat bahwa pemakaian nya telah me-
ngurangi penye baran kuman patogen Sal-
monella. Kuman ini setiap tahun mengaki-
batkan banyak kematian di seluruh dunia
pada lansia dan orang de ngan daya tahan
lemah. Lihat selanjutnya Bab 5, Kemotera-
peutika, pemakaian lainnya.
8. DOSIS
Dosis obat yang diberikan pada pasien
untuk menghasilkan efek yang diharapkan
tergantung dari banyak faktor, antara lain
usia, bobot badan, kelamin, luasnya permu-
kaan badan, beratnya penyakit dan daya
tahan penderita.
Takaran/dosis yang dimuat dalam Far-
makope Indo nesia dan farmakope negara-
negara lain hanya dimaksudkan sebagai
pedoman saja. Begitu pula dosis maksimal
(MD), yang bila dilampaui dapat meng-
akibatkan efek toksik, bukan merupakan
batas yang mutlak harus ditaati. Dosis mak-
simal dari banyak obat dimuat di berbagai
farmakope, namun kebiasaan ini sudah di-
tinggalkan oleh Farmakope Eropa dan nega-
ra-negara Barat, sebab kurang adanya ke-
pastian mengenai ketepat annya, antara lain
berhubung de ngan variasi biologi dan faktor-
faktor ter sebut di atas. Sebagai gantinya, kini
dipakai dosis lazim, yaitu dosis rata-rata
yang biasanya memberikan efek yang
diinginkan.
Dosis yang tercantum di farmakope luar
negeri sebetulnya berlaku untuk orang Barat
de wasa berdasar bobot badan rata-rata
150 pound (= 68 kg). Tubuh orang negara kita
biasanya lebih kecil dengan rata-rata
beratnya 56 kg, sehingga se harusnya men-
dapatkan takaran yang lebih rendah pula.
Da lam praktik, hal ini tidak atau kurang
diperhatikan, tidak pula soal variasi menge-
na i besar-kecilnya pasien, sebab perbedaan
dosis antara kedua bo bot badan hanya ±16%,
lihat tabel pentakaran di bawah ini. Selisih ini
dapat diabaikan mengingat variasi individual
mengenai daya resorpsi obat di dalam tubuh
jauh lebih besar, kadang-kadang sampai
lebih dari 50%.
Usia
A. Manula, yaitu orang yang berusia di
atas 65 tahun biasanya lebih peka
terhadap obat, sebab sirkulasi darahnya
sudah berkurang. Fungsi hati dan ginjalnya
pun sudah menurun, hingga eliminasi obat
berlangsung le bih lambat. Lagi pula jum-
lah albumin darahnya lebih sedikit, oleh
sebab itu peng ikatan obat pun berkurang,
terutama obat-obat dengan PP besar, se perti
anti-koagulansia dan fenilbutazon. Hal ini
berarti bahwa bentuk bebas dan aktif dari
obat-obat ini menjadi lebih besar dan bahaya
keracunan semakin meningkat. Akhirnya pa-
da manula tidak jarang adanya kerusakan
difus pada sel-sel otak, yang memicu
peningkatan kepekaan terhadap obat dengan
efek sentral, misalnya obat tidur (bar biturat,
nitrazepam), opioida dan psikofarmaka.
Obat ini pada dosis biasa dapat me nyebabkan
reaksi keracunan yang hebat pada manula,
juga obat jan tung digoksin, hormon insulin
dan adrenalin.
* Dosis lansia. Oleh sebab faktor-faktor ter-
sebut di atas, bagi lansia dianjurkan dosis
yang lebih rendah, yaitu:
65- 74 tahun : dosis biasa - 10%
75 - 84 tahun : dosis biasa - 20%
85 tahun dan lebih : dosis biasa - 30%
B. Anak
berdasar pengembangan biologiknya
anak-anak dibagi dalam kelompok:
– Neonat: 0-28 hari
– Bayi: di bawah usia 1 tahun
– Balita: 2 sampai dengan 5 tahun
– Adolescent 12-18 tahun
Antara anak-anak dan orang dewasa, mau-
pun antara neonat dan balita ada per-
bedaan besar berdasar farmakokinetik
dan farmakodinamik yang senantiasa ber-
ubah sesuai dengan pertumbuhan dan pe-
ngembangan anak.
Kekurangan data klinik mengenai penelitian
obat untuk anak-anak memicu tidak
tersedianya informasi esensial mengenai
pemakaian obat yang rasional, terutama
dosi s dan frekuensinya bagi kelompok ter-
sebut di atas yang peka terhadap masalah ini.
Tidak dibenarkan untuk sekadar meng-
ekstrapolasi data dari orang dewasa ke ke lom-
pok bayi/anak, misalnya untuk menentukan
dosis obat yang dahulu sering kali dihitung
sebagai fraksi dari dosis orang dewasa dan
memicu underdosis bagi anak-anak
yang sedang berkembang (terkecuali ne onat),
sebab metabolisme dari banyak obat lebih
kuat pada anak daripada dewasa.
Hal ini bukan saja berlaku bagi dosis/
efek obat, namun juga berkaitan dengan efek
samping yang sering kali pada anak-anak ber-
akibat sangat serius, misalnya pemakaian
obat antiepileptika asam valproat-Depakine
(gangguan hati) dan lamotrigin-Lamictal (Ste-
vens-Johnson sindrom).
Pertumbuhan dan pengembangan anak
terutama pada fasa neonatal mempunya i
dampak besar terhadap farmakokinetik obat-
obat yang diminum (per oral), antara lain
disebabkan oleh faktor-faktor:
– belum berkembangnya dengan sempurna
organ-organ eliminasi seperti hati dan
ginjal;
– transpor obat dalam tubuh;
– perubahan-perubahan besar dalam pro-
ses resorpsi di saluran cerna yang ber-
kaitan dengan terutama keasaman lam-
bun g dan kecepatan pengosongan lam-
bung (motilitas usus), flora usus, susun-
an empedu;
– perubahan-perubahan dan perkembang-
an organ-organ tubuh;
- variasi genetik
Absorpsi obat melalui dubur (rektal) dapat
meningkat pada neonat disebab kan sistem
first-pass-effectnya belum berkembang de-
ngan sempurna. sedang absorpsi obat
kulit pada anak-anak dapat meningkat
kadarnya sebab luas permukaan kulitnya
relatif besar terhadap berat badannya.
Faktor-faktor lain yang perlu mendapatkan
perhatian pada neonat yaitu :
– Pembagian (distribusi) obat yang ber-
kaitan dengan perubahan susunan lemak
dan air dalam tubuh;
– Sawar darah/otak yang untuk beberapa
obat lebih mudah passagenya dan dapat
memicu reaksi-reaksi yang tidak di-
inginkan;
– Mekanisme eliminasi (biotransformas i)
oleh hati dan ginjal yang belum optima l
sehingga masa paruh obat dapat mening-
ka t;
– Belum optimalnya aktivitas enzim-enzim
hati yang berperan pada biotransformasi
obat yang dapat memicu toksisitas
(kloramfenikol dan “gray-baby syndrome”).
Anak kecil, terutama bayi yang baru lahir
(neonati), memiliki kerentanan yang lebih
besar terhadap obat, sebab seperti diurai-
kan di atas fungsi hati dan ginjal serta sis-
tem enzimnya belum berkembang secara
lengkap. Klor amfenikol, yang sekitar tahun
1960 diberikan di Inggris pada neonati seca-
ra rutin untuk mencegah infeksi, telah me-
nyebabkan banyak keracunan fatal akibat
belum aktifnya enzim-enzim hati. Elimi-
nasi sulfonamida berlangsung sangat lambat
dan terutama pe ka terhadap obat-obat sen-
tral yang menstimulasi susunan saraf pusat
(SSP), misalnya amfetamin, morfin, aminofilin,
atropin dan antihistaminika (generasi perta-
ma). Dikenal pula sejumlah obat yang —se-
ring kali pada dosis terlalu tinggi— dapat
memperlihatkan reaksi paradoksal, seperti
perilaku agresif dan hiperaktif, misalnya ben-
zodiazepin, ketotifen dan deptropin. Sebaliknya
ada pula beberapa obat yang dapat diberikan
pada anak dengan dosis agak tinggi tanpa
reaksi buruk, antara lain fenobarbital dan
digoksin.
C. Dosis untuk anak-anak.10 Ada beberapa
rumus untuk menghitung dosis anak-anak
berdasar usia, bobot badan atau luas
permukaan badan. Ada pula rumus yang
hanya berlaku untuk kelompok usia tertentu,
seperti rumus atas dasar usia.
1. Atas dasar usia: rumus Young dan rumus
Augsberger
a. Rumus Young semula banyak diguna-
kan untuk menghitung dosis anak dengan
usia antara 1-12 tahun. namun kini rumus ini
jarang dipakai lagi, sebab memberikan
dosis terlampau rendah bagi bayi.
n
–––––– D
n+12
n : usia (tahun); D : dosis dewasa.
b. Rumus Augsberger lebih tepat, namun lebih
rumit mempraktikkannya:
Untuk 2-12 bulan : (m + 13)% dari D
Untuk 1-11 tahun : (4n + 20)% dari D
Untuk 12-16 tahun : (5n + 10)% dari D
m = usia (bulan); n: usia (tahun)
2. Atas dasar bobot badan: rumus Clark,
menghasilkan dosis yang lebih saksama. dan
banyak dipakai dalam praktik sehari-hari.
W
––––– D
68
w = bobot dalam kg
Di samping itu, ada pula daftar obat dengan
dosis sekian mg setiap kg bobot badan (mg/
kg b.b).
3. Atas dasar luas permukaan badan (PB):
formula Haycock, sebetulnya paling tepat
mengingat adanya hubungan langsung
antar a permukaan badan de ngan kecepat-
an metabolisme obat. Misalnya, parameter
eliminasi, seperti filtrasi glomeruler, volum e
darah dan arusnya di ginjal. Lagipula pada
anak-anak, permukaan badan nya relatif
lebih besar daripada bobotnya. Semakin
bertambah usia, maka perbanding an antara
permukaan badan dan bobot akan menjadi
lebih kecil. Obat dengan luas terapi sempit,
seperti onkolitika, dosisnya selalu ditentukan
berdasar PB, sebab lebih eksak.
Formula Haycock/Mosteller dipakai un-
tuk menghitung luasnya permukaan badan
(PB) pada anak-anak, termasuk neonati dan
bayi prematur.
0,5738 x w l
PB = –––––––––––––—–––– m2
0,3964 x 0,024265
w = bobot (kg) ; l = panjang (cm)
Penerapannya dalam praktik kurang lancar
sebab agak rumit. Oleh sebab itu telah
dibuat suatu tabel (Denekamp) berdasar
permukaan badan yang dihubungkan de-
ngan usia atau bobot badan, sehingga dapat
langsung dibaca persentase dosis dewasa
yang berlaku untuk usia anak tertentu.
* Tabel prosentuil dari Denekamp yang tertera
di bawah ini dan telah disesuaikan dengan
keadaan anak negara kita sangat memuaskan
pemakaian nya dalam praktik.
Untuk negeri Belanda, tabel Denekamp te-
lah “diperhalus” dengan tabel khusus untuk
masing-masing anak lelaki dan anak perem-
puan. Berat tubuh anak-anak itu rata-
rata juga lebih besar daripada anak negara kita ,
lagipula dalam dasawarsa terakhir telah me-
ningkat.10,11
Cara memakai . Pada anak-anak dengan
bentuk badan normal harus dibaca dari kiri
ke kanan (B → C),yaitu dari bobot anak ke
dosis dewasa dalam %. Pada bentuk tubuh
yang tidak normal perlu dibaca pula dari
panjang (D) ke dosis dewasa (C). Lalu dari
kedua hasil diambil nilai rata-ratanya.
Tabel 4-1: Modifikasi Skala Denekamp
Skema dosis bagi anak-anak.
(versi modifikasi Skala Denekamp)
A = usia dalam tahun/bulan
B = berat badan dalam kg
C = luas permukaan badan dan per-
sentase dosis orang dewasa
D = tinggi badan dalam cm
a. pada proporsi tubuh normal
Hubungkan horizontal usia (A) atau —
lebih tepat— berat badan (B) dengan C
untuk mendapatkan persentase dosis
dewasa (conto h garis a)
b. pada proporsi tubuh menyimpang
Hubungkan berat badan (B) dengan
tinggi badan (D), titik potong dengan C
yaitu persentase dari dosis dewasa
(contoh garis b).
Modifikasi Skala Denekamp, yang memper-
mudah pemakaian nya, kini banyak digu-
nakan sebab dosis (% dewasa) dapat lang-
sung dibaca.
9. WAKTU MINUM ObAT
Bagi kebanyakan obat waktu minum obat
tidak begitu penting, yaitu se belum atau
sesudah makan. namun ada beberapa obat
dengan sifat atau tujuan pengobatan khusus,
yang hendaknya diminum pada waktu ter-
tentu untuk mencapai efek optimal atau
menghindari efek samping tertentu.
Obat diminum sebelum makan (a.c. = ante
coenam).Telah dikemukakan di atas bahwa
resorpsi obat dari lambung kosong ber-
langsung paling cepat, sebab tidak dihalangi
oleh isinya. Oleh sebab itu obat yang
bertujuan memberikan efek cepat, sebaiknya
diminum sebe lum makan, yaitu saat lambung
kosong, misalnya analgetika (kecuali asetosal
dan NSAIDs). Atau untuk memperoleh kadar
plasma yang lebih tinggi, 1 jam se belum (a.c.)
atau 2 jam sesudah makan (p.c.), misalnya:
– antibiotika dari kelompok penisilin dan sefa-
losporin, eritromisin dan spiramisin (Rova-
mycin), linkomisin dan klindamisin, rifami-
sin dan rifampisin.
– lainnya: tonika, penisilamin, asetosal-Ca
(Ascal) dan domperidon.
Obat diminum sesudah makan (p.c.: post
coenam). Makanan dapat menghambat FPE
(perombakan) obat, sehingga BA-nya me-
ningkat. Begitu pula akibat makanan FPE
dalam hati bisa menurun (propranolol, meto-
prolol, hidralazin).
Banyak obat bersifat merangsang mukosa
lambun g dan untuk menguranginya harus
dipakai pada waktu (d.c.) atau sesudah
makan (p.c.), antara lain:
– antidiabetika oral dan antiepileptika
– garam-ferro, kalium dan litium
– antelmintika dan antasida (½ jam p.c.)
– vasodilator (teofilin, nikotinat, isoksuprin,
hidralazin)
– kemoterapeutika:kotrimoksazol,sulfasalazin,
metronida zol dan derivatnya.
– griseofulvin, nitrofurantoin, danazol, halo-
fantrin dan retinoat dapat diserap 2-4 kali
lebih banyak bila diminum dengan makanan
(yang kaya akan lemak) atau susu
– bisfosfonat (etidronat, alendronat dan lain-
lain) diikat oleh Ca dalam makanan (susu,
keju, hazelnut), begitu pula oleh mineral Fe,
Mg dan Al (dalam antasida dan laksansia)
– mineralokortikoida dan estrogen menimbul-
kan retensi Na. Hal ini dapat di atasi
dengan makanan yang miskin Na, namun
pembatasan Na dapat menurunkan eks-
kresi Ca sehingga terjadi risiko terbentuk-
nya batu ginjal. Resorpsi kembali litium
(proksimal) dapat memicu intok-
sikasi.
– glukokortikoida dan NSAIDs (anti-rematik/
encok) termasuk asetosal
– diuretika (lengkungan, thiazida) mendeplesi
mineral K, Na, Ca, Mg dan Zn. Hal ini dapat
diatasi dengan makanan yang kaya unsur
kalium, seperti pisang, abrikos, peach, kacang-
kacangan (beans, polong), juga minum teh.
– lainnya: bromokriptin, INH, pankreatin,
reserpin, spironolakton dan triamteren.
10. INDEKS TERAPI
Hampir semua obat pada dosis yang cukup
besar dapat memicu efek toksik (=
dosis toksik, TD) dan pada akhirnya dapat
meng akibatkan kematian (= dosis letal, LD).
Dosis terapeutik yaitu takaran padamana
obat menghasilkan efek yang diinginkan.
Untuk menilai keamanan dan efek suatu
obat, di laboratorium farmakologi dilakukan
penelitian dengan binatang percobaan. Yang
di tentukan yaitu khusus ED50dan LD50,
yaitu dosis yang masing-masing memberikan
efek atau dosis yang mematikan pada 50%
dari jumlah binatang.
Indeks terapi (LD50:ED50) merupakan per-
bandingan antara kedua dosis itu, yang
merupakan suatu ukuran keamanan obat.
Semakin be sar indeks terapi, semakin aman
pemakaian obat itu . namun hendaknya
diperhatikan bahwa indeks terapi tidak de-
ngan begitu saja dapat diko relasikan ter-
hadap manusia, seperti juga semua hasil
perco baan dengan binatang, sebab adanya
perbedaan metabolisme.
Luas terapi (ED50 – LD50) yaitu jarak an-
tara ED50 dan LD50, juga dinamakan jarak
keamanan (safety margin). Seperti indeks te-
rapi, luas terapi juga penting sebagai in dikasi
keamanan obat, terutama untuk obat yang
dipakai dalam jangka waktu panjang.
Obat dengan luas terapi kecil, yaitu dengan
selisih kecil antara dosis terapi dan dosis
toksiknya, mudah sekali menimbul kan ke-
racunan bila dosis normalnya dilampaui,
misalnya antikoagulansia ku marin, teofilin,
litiumkarbonat dan tolbutamida.
11. KOMbINASI ObAT
Dua obat yang dipakai pada saat ber-
samaan dapat saling memengaruhi khasiat-
nya, yaitu dapat memperlihatkan kerja
berlawanan (antagonisme) atau kerja sama
(synergisme).
a. Antagonisme terjadi jika kegiatan obat
pertama dikurangi atau ditiadakan sama
sekali oleh obat kedua yang memiliki
efek farmakologi berlawanan, misalnya
barbital dan strychnin, adrenalin dan
histamin. Pada anta gonisme kompetitif,
dua obat bersaing secara reversibel untuk
resep tor yang sama, misalnya nalorfin
dan morfin, kurare dan asetilkolin, anti-
histamin dan histamin. Ada pula obat-
obat yang bersaing secara tak-reversibel
untuk molekul yang sama, misalnya zat-
zat chelasi pada keracunan logam.
b. Sinergisme yaitu kerja sama antara dua
obat dan dikenal dua jenis:
- adisi(=penambahan). Efek kombinasi
yaitu sama dengan jumlah kegiatan
dari masing-masing obat, misalnya
kombinasi asetosal dan parasetamol,
juga trisulfa
- potensiasi (=peningkatan potensi). Ke-
dua obat saling memperkuat khasiat-
nya, sehingga terjadi efek yang me-
lebihi jumlah matematis dari a + b.
Kedua obat kombinasi dapat memiliki
kegiatan yang sama, seperti estrogen
dan progesteron, sulfametoksazol
dan trimeto prim, asetosal dan kodein.
Atau, satu obat dari kombinasi me-
miliki efek berlainan, misalnya anal-
getika dan klorpromazin, benzo-
diazepin dan meproba mat/alkohol,
perintang-MAO dan amfetamin, juga
tiamin/piridoksin dan diklofenac
(NSAIDs).
Sering kali kombinasi obat diberikan da-
lam perbandingan tetap dengan maksud
mengadisi efek terapeutiknya tanpa me-
ngadisi efek buruknya, seperti pada trisulfa.
Atau untuk mencegah timbulnya resistensi
Gambar 4-1: Kurva yang menggambarkan kerja terapeutik
(a) dan dosis letal (b) dari suatu obat.
kuman, mi salnya kombinasi INH dengan
PAS. Kadang-kadang ditambahkan obat
pembantu untuk meniadakan efek samping
obat pertama, seperti kalium pada di ure-
tika thiazida, vitamin B-kompleks pada anti-
biotika spektrum luas dan penghambat asam
(ranitidin) pada pemakaian prednison atau
NSAID.
Sediaan kombinasi tetap dari dua obat
yaitu praktis, sebab pasien harus minum
hanya satu tablet atau kapsul. Keberatannya
yaitu dosis obat tidak dapat diubah tanpa
mengubah pula dosis obat kedua, sedang-
kan skema pentakaran untuk kedua obat
tidak selalu sama berhubung dengan masa
paruhnya yang berlainan.
Masah paruh (plasma-t½, half-/life) ter uta-
ma penting pada kombinasi dua obat dari
satu kelompok farmakologi. Ditinjau dari
sudut farmakokinetika kombinasi trisulfa
yang terdiri dari bagian sama (ana, aaa)
sulfamezatin, sulfadiazin dan sulfa merazin se-
betulnya tidak tepat. Sebabnya ialah masa
paruh komponennya terlalu berbeda, yaitu
masing-masing 7, 17 dan 24 jam, sehingga
sesudah beberapa hari akan terjadi kumulasi
sulfamerazin, sedang obat inilah yang
sebetulnya menentukan efek kemoterapeutik
dari kombinasi itu .
Kombinasi yang tepat sekali yaitu kotri-
moksazol, yaitu sulfametoksazol dan trimeto-
prim yang masing-masing memiliki half-life
lebih kurang 10 jam.
12. INTERAKSI ObAT
Dengan ini dimaksudkan efek antara obat-
obat yang dapat memicu efektivitas
yang berlainan atau (bertambahnya) efek
samping. berdasar mekanismenya inter-
aksi dapat dibagi dalam interaksi farma-
kodinami dan farmakokinetik. Yang pertama
yaitu bila dua zat bekerja terhadap reseptor
atau enzim atau saluran ion (ionchannel) yang
sama, dan memicu efektivitas masing-
masing diperkuat atau berlawanan (misalnya
Ginkgo biloba dan antitrombotika). Interaksi
farmakokinetik berkaitan dengan proses-
proses dari obat dalam tubuh, yaitu absorpsi,
distribusi (pembagian), metabolisme dan
ekskresi. Enzim CYP dan p-glikoprotein (P-
gp) berkaitan dengan metabolisme obat-
obat « umum » maupun obat-obat tumbuh-
an (fitoterapeutika). Artinya fitoterapeutika
(jamu) juga dapat berinteraksi de ngan obat-
obat lain dan dapat meng akibatkan efek-efek
samping.
Catatan: Protein transpor memegang pe-
ranan pada absorpsi, distribusi dan ekskresi
dari suatu obat. Misalnya p-glikoprotein yaitu
protein transpor yang menyalurkan a.l. obat-
obat dari sel ke misalnya urin atau empedu.
Bila seorang pasien diberikan dua atau lebih
obat, kemungkinannya besar akan terjadi
interaksi antara obat-obat itu di da-
lam tubuhnya. Efek masing-masing obat
dapat saling mengganggu dan/atau efek
samping yang tidak diinginkan mungkin
akan timbul. Yang paling terkenal yaitu
interaksi pil antihamil dengan suatu zat
induktor enzim (fenobarbital, fenitoin, primidon,
karbamazepin, rifampisin) yang dapat menu-
runkan kadar plasma estrogen, sehingga
efektivitas pil tidak dapat dipercaya lagi.
Begitu juga asetosal (salisilat) dengan diku-
marol yang efeknya diper kuat sehingga
sering kali terjadi perdarahan berbahaya.
Begitu pula interaksi barbital dengan anti-
koagulansia, yang justru menurunkan kha-
siatnya.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, ada
beberapa cara berlangsungnya interaksi obat.
Yang terpenting di antaranya yaitu :
a. Interaksi kimiawi. Obat bereaksi de ngan
obat lain secara kimiawi, misal nya peng-
ikatan fenitoin oleh kalsium, tetrasikli n oleh
logam bervalensi dua, dimerkaprol (BAL)
oleh arsen/air raksa dan penisilamin oleh
Cu, Pb atau Au.
b. Kompetisi untuk protein plasma: anal-
getika (salisilat, fenilbutazon, indometa-
sin), klofibrat dan kinidin mendesak obat
lain dari ikatannya pada protein dan
dengan demikian memperkuat khasiat-
nya, misalnya sulfonamid dan kumarin
memperkuat daya kerja tolbutamid dan
metotreksat.
c. Induksi enzim. Obat yang menstimulas i
pembentukan enzim hati, tidak hanya
mempercepat eliminasinya, namun juga
mempercepat perombakan obat lain. Con-
tohnya yaitu hipnotika (barbital) dan
antiepileptika (fenitoin, karbamazepin,
lamotrigin, felbamat) memperlancar bio-
transformasi antikoagulansia dan anti-
depresiva trisiklis (imipramin, amitripti-
lin) dan menurunkan khasiatnya. Con-
toh lain yaitu hipnotika dan obat-obat
rematik yang mengurangi kegiatan feni-
toin.
d. Inhibisi enzim. Obat yang mengganggu
fungsi hati dan enzimnya, seperti alkohol,
dapat memperkuat daya kerja obat lain
yang efek dan lama kerjanya tergantung
pada enzim itu . Alopurinol, yang
memblokir ksantin-oksidase pada sintesis
asam urat, memperkuat khasiat obat-
obat turun an purin (a.l. obat kanker mer-
kaptopurin) yang justru dapat diuraikan
oleh enzim itu . Metabolisme alko-
hol diblokir oleh disulfiram, sulfonilurea
(tolbutamida, dan lain-lain) dan metro-
nidazol, sehingga oksidasi oleh dehidro-
genase dihentikan pada tingkat asetal-
dehida, yang kadar nya lalu meningkat
dan memicu efek toksik.
Interaksi obat dengan makanan
Adakalanya terjadi interaksi dari obat de ngan
bahan makanan yang dapat memengaruhi
farmakokinetika obat.
1. Absorpsi.Obat dapat diikat oleh ma kan-
a n, sehingga absorpsinya di usus dapa t
diperlambat atau dikurangi dan efeknya
akan menurun. Misalnya mengonsum-
si makanan yang ba nyak serat dapat
meng absorpsi obat, seperti perintang ko-
lesterolsintetase lovastatin, sehingga BA-
nya menurun, sedang serat sen diri
juga memiliki efek menurunkan koles-
terol. Efek sama terjadi pada digoksin,
garam litium dan antidepresiva trisiklis.
Contoh lain yaitu interaksi dari anti-
koagulansia dengan sayuran yang me-
ngandung vitamin K, seperti bayem,
brokoli dan kol kecil (spruitjes). Bila di-
makan terlampau banyak (jumlah maksi-
mal dianjurkan ±100 g sehari), vitamin K
dapat mengurangi efek antikoagulansia.
2. Perombakan obat dapat dihalangi, se-
hingga kadarnya meningkat dan timbul
efek toksik. Contoh yang terkenal yaitu
interaksi MAO-blockers dengan keju
dan cokelat. Enzim MAO bertanggung
jawab atas penguraian semua katechola-
min didalam tubuh, misalnya adrenalin,
serotonin dan dopamin. Bila pasien diberi
perintang-MAO sebagai antidepresivum
dan makan sesuatu yang mengandun g
tiramin atau amin lain, maka zat ini tidak
akan diuraikan la gi sebab enzim MAO
sudah diblokir. Akibatnya dapat terjadi
hipertensi hebat dengan efek buruk.
Makanan yang mengandung amin yaitu
antara lain keju, avokad, anggur (Chianti,
dan lain-lain), bir, produk-produk ragi
dan hati ayam. Cokelat mengandung
fenil etilamin.
Grapefruit juice memberikan interaksi
yang serupa. Kandungan flavonoida
narin-genin yang terkandung dalam
jus ini berefek memblokir sistem enzim
cytochrom–P450 pada dinding usus. Oleh
sebab itu, obat yang perombakannya
melalu i sistem oksidatif akan mening-
katkan bio-availability dan kadar darah -
nya. Obat yang diperkuat daya kerjanya
yaitu antara lain antagonis Ca (amlo-
dipin, nifedipin) dan obat AIDS saqui-
navi r. Oleh sebab interaksi ini obat-obat
itu tidak boleh diminum bersamaan
dengan jus grapefruit atau boleh sesudah
selang waktu minimal 2 jam.
3. Ekskresi. Suatu diet vegetaris ketat me-
ningkatkan pH urin (menjadi alkalis)
dan memperlancar ekskresi obat yang
bersifat asam lemah, seperti vitamin C dan
NSAIDs, juga buah-buahan (ke cuali prune
kering), semua sayuran (kecuali jagung
dan ”lentils”), kentang dan susu. Diet
Tabel 4-2 : Interaksi beberapa obat penting
Penjelasan:
1. A dapat memperkuat B
2. A dapat memperlemah B
3. B dapat memperkuat A
4. B dapat memperlemah A
m enzim-induksi atau –inhibisi
o adisi, potensiasi atau antagonisme
G penggeseran dari protein-plasma tanpa tanda: mekanisme lain/tidak diketahui
yang kaya akan protein (daging, ikan,
kerang, keju, telur), mentega kacang, roti
dan cake menurunkan pH urin. Urin asam
ini mengurangi reabsorpsi tubuler dari
obat yang bersifat basa lemah dan dengan
demikian meningkatkan ekskresinya, mi-
salnya alkaloida (kinin, morfin).
Obat-obat yang memiliki risiko in-
teraksi penting yaitu bisfosfonat, digok-
sin, levodopa, nitrendipin, penisilamin dan
warfarin. Levodopa dan metildopa mem-
bentuk kompleks dengan Fe dan bila
diminum bersamaan dengan senyawa
besi, resorpsinya bisa me nurun dengan
60%. Obat lain dengan risiko interaksi
yaitu atenolol, kaptopril, metildopa, kar-
bidopa, fenitoin, klorokin dan flekainide..
Obat-obat yang meningkatkan kebutuhan
akan vitamin tertentu yaitu :
– pil antihamil, INH, penisilamin dan hi-
dralazin (*Ser-Ap-Es) meningkatkan ke-
butuhanakan piridoksin;
– salisilat dan tetrasiklin meningkatkan
kebutuhan akan vitamin C;
– parafin (Laxadine) dapat menurunkan
resorpsi vitamin A, D, E, dan K, yang
larut dalam lemak.
Interaksi obat terutama harus diperhatikan
bila obat diberikan bersa maan dengan obat
yang indeks terapinya kecil, sehingga pening-
katan sedikit kadar plasmanya sudah da-
pat memicu gejala toksik hebat. Obat-
obat demikian terdiri dari antikoagulansia
kumarin, teofilin, fenitoin, digoksin dan anti-
diabetika oral.
Pada Tabel 4-2 dapat dilihat jenis-jenis inter-
aksi yang dapat timbul pada kombinasi dari
sejumlah obat yang banyak dipakai .
Obat-obat yang termasuk kelompok Tabel
4-2:
Antasida: oksida, hidroksida, karbonat dan
trisilikat dari kalsium, magne slum, bismut
atau aluminium
Antikoagulansia: asenokumarol, fenpro-
kumon dan warfarin
Antidepresiva: imipramin, desipramin,
klomipramin, amitriptilin, nortriptilin dan
doksepin
Antidiabetika oral: tolbutamida, klorpro-
pamida, glibenklamida, gliklazida dan met-
formin
Antihipertensiva: guanetidin, hidralazin,
metildopa dan klonidin
Beta-blockers: propranolol, oksprenolol,
alprenolol, pindolol, metoprolol dan timolol
Androgen/anabolika: mesterolon, fluok-
simesteron, nandrolon, etil estrenol, metan-
dienon dan metenolon
Salisilat: asetosal, benorilat, diflunisal dan
natriumsali silat
Fenotiazin: klorpromazin, levomeproma-
zin, trifluoperazin, tioridazin, perfenazin dan
flufenazin
13. FARMAKOGENETIKA
James D. Watson: (1928- )
F.H. Compton Crick (1916-2004)
“We have discovered the secret of life!”
Watson and Crick (Nobel price 1962 untuk pene-
muan DNA molekul dalam bentuk double helix
3-dimensional). Nature (1953)
Genetika yaitu cabang biologi yang mem-
pelajari transmisi dari sifat-sifat fisik dan
biokimia organisme dari satu generasi ke
generasi selanjutnya.
Farmakogenetika (FG) mempelajari hubung-
an antara konstitusi genetik (variasi gen-gen)
dari seorang pasien dengan responsnya ter-
hadap suatu obat, misalnya keturunan orang
Kaukasia, Afrika atau Asia. FG berusaha
meramalkan reaksi pasien terhadap suatu
obat berdasar sifat-sifat genetiknya. Efek
obat berdasar perbedaan etnik dapat me-
rupakan akibat dari variasi enzim yang me-
tabolisasi obat, misalnya sitokrom P450 (CYP)
atau akibat variasi genetik pada reseptor yang
mengikat obat. Perbedaan ini mempunyai
konsekuensi terhadap dosis obat. Di sam-
ping perbedaan pada farmakokinetik dan
farmakodinamik, ada juga perbedaan
etnik pada efek samping, misalnya pada re-
aksi-reaksi hipersensitivitas. Yang juga pen-
ting yaitu masalah defek enzim misalnya
timbulnya anemi hemolitik akibat kotrimok-
sazol, nitrofurantoin dan obat-obat malaria
akibat defisiensi enzim glukosa-6-fosfat
dehidrogenase (G6PD).
Dengan demikian atas dasar profil gene-
tiknya dapat dipilih obat yang optimal bagi
pasien individual sehingga terapi menjadi
lebih efektif dan aman. Istilah untuk prosedur
ini disebut “personalized medicine” dan ”tar-
geted therapy”, berdasar teori bahwa
hasil obat paling efektif bila diberikan pada
pasien maupun sasaran yang tepat.
Lagipula FG akan memudahkan dan mem-
percepat penemuan obat-obat baru.
Istilah FG sudah dilansir pada tahun 1957,
namun risetnya bagaimana gen-gen dapat
memengaruhi khasiat dan efek samping obat
ketika itu belum membuahkan solusi, yaitu
usaha menghubungkan data dari variasi
genetik dengan variasi individual terhadap
reaksi suatu obat. Baru sesudah di tahun 2002
para ilmuwan berhasil menguraikan misteri
genom manusia, yaitu keseluruhan gen yang
ada dalam DNA inti-sel, riset FG mulai
berkembang pesat. Genom manusia ternyata
terdiri dari ±25.000 gen dan setiap individu
memiliki 25.000 gen yang sama, namun ma-
sing-masing memiliki kelainan kecil yang
spesifik (genetic fingerprint).
Dengan menerapkan teknologi mutakhir
untuk identifikasi gen-gen dan enzim-enzim
yang terlibat pada reaksi-reaksi terhadap
obat, diperoleh banyak data yang kini dapat
diterjemahkan ke praktik klinis. Misalnya
meramalkan bagaimana reaksi pasien terha-
dap obat atas dasar genomnya. Sebagai con-
toh dapat disebut penentuan genotipe (geno-
typing, penentuan jenis metabolizer) yang
memungkinkan identifikasi penderita yang
merombak obat dengan pesat atau lambat.
Genotyping merupakan suatu cara untuk
menerangkan reaksi/kerja samping yang ti-
dak jelas dari obat yang dipakai .
Contoh-contoh. Enzim hati oksidatif cyto-
chrom P 450 tipe 2D6 (CYP2D6) terlibat pa-
da banyak perombakan obat, antara lain
dari beta-blocker dan psikofarmaka tiori-
dazin (Melleril), risperidon (Risperdal) dan
venlafaxin (Efexor). Bangsa kulit putih (Cau-
casian) 5-10% tidak memiliki enzim ini, oleh
sebab itu mereka kurang mampu mengu-
raikan banyak obat, antara lain obat-obat
kejiwaan itu . Dosis obat bagi mereka
perlu diturunkan agar tidak terjadi efek
toksik. Begitu pula obat malaria primaquin
dirombak dalam hati oleh suatu enzim ter-
tentu (GPH); pada orang yang tidak memi-
liki enzim ini dapat timbul anemia akut.
Oleh sebab itu pada orang demikian tidak
boleh diberikan obat ini. Isoniazida (INH)
memberikan lebih banyak efek samping
pada orang yang lambat merombaknya (slow
metabolizers). Baru-baru ini telah ditemukan
gen-gen yang bertanggung jawab untuk kela-
inan-kelainan itu dan bagaimana se-
kuensi-DNA dari gen-gen ini. Dengan demi-
ki







