an berdasar profil genetik pribadi pen-
derita, FG memungkinkan menerapkan far-
makoterapi individual (custom made) yang
lebih efektif.
Di A.S. pada lembaran informasi obat
(brosur) dicantumkan catatan pengaruh obat
terhadap konstitusi genetik tertentu. Misal-
nya, pada tioridazin dicantumkan kontra-
indikasi bagi orang yang memiliki aktivitas
enzim CYP2D6 rendah. Juga pada obat-
obat mahal dan pada penyakit parah seper-
ti kanker, di brosur ada anjuran untuk
melakukan tes-tes genetik yang dapat me-
ramalkan respons obat atau efek sampingnya,
misalnya trastuzumab (Herceptin) pada kan-
ker payudara tersebar dan tretinoin pada
leukemia.
Beberapa teknologi lain yang berkaitan
dengan genom manusia yaitu genomics dan
proteomics, yang diintrodusir dan dikem-
bangkan sejak 4-5 tahun lalu. Untuk pene-
litian dimanfaatkan sejumlah cara biotek-
nologi baru seperti microarray, NMR dan
X-ray mikrokristalografi. Untuk analisis data
yang berlimpah-limpah dipakai metode
bio-informatika.
Genomics mempelajari hubungan antara
pola penyakit dan semua mutasi dari gen-gen
yang tampak pada genom, dengan tujuan
menemukan dan mengembangkan terapi
baru termasuk prevensinya untuk penyakit
tertentu. Kemudian diusahakan mengha-
lau gen-gen cacat (termutasi) dan menggan-
tikannya dengan gen sehat.
Pharmacogenomics
Penerapan pengetahuan DNA dalam bidang
medis memberikan harapan bahwa “perso-
nalized medicine” berdasar perkembang-
an baru yang disebut Pharmacogenomicsm,
dapat mendesain dan memproduksi “cus-
tom” drugs (tailor-made) yang disesuaikan de-
ngan profil genetik pasien dan diarahkan
terhadap titik-titik spesifik dalam tubuhnya.
Pharmacogenomics berkembang cepat
menyusul launching dari Human Genome
Project dalam tahun 1990-an. Tujuannya ada-
lah meningkatkan efek terapeutik semaksi-
malnya, menghindari reaksi obat yang tidak
diinginkan dan juga untuk sejauh mungkin
memperkecil risiko kerusakan pada sel-sel
sehat. Inilah yang menjadi impian dari Paul
Ehrlich dengan kemoterapi.
Proteomics mempelajari sifat-sifat protein
dalam sel, jenis, jumlah, struktur, cara ber-
fungsi dan interaksinya satu dengan yang
lain. Proteom yaitu nama gabungan dari se-
mua protein dalam suatu organisme yang di-
bentuk atas dasar genomnya. Dewasa ini para
ilmuwan berusaha menentukan hubung-
an antara protein dalam darah atau urin
dengan gangguan tertentu, dengan maksud
POLIMORFISME GENETIK
Enzim-enzim yang berperan pada metabolisme obat yaitu terutama:
CYP2D6, CYP2C9, CYP2C19 dan CYP3A4.
Sekitar 20% dari semua obat dimetabolisasi oleh enzim CYP2D9, misalnya antipsikotika (litium) dan
antidepresiva (imipramin, haloperidol, risperidon, mirtazapin, citalopram).
berdasar polimorfisme genetik dan fenotipe-fenotipe yang diturunkan dari DNA ada 3 ke-
lompok “metabolizer”:
– PM atau poor metabolizer
– IM atau intermediate metabolizer
– UM atau ultrarapid metabolizer
Untuk tepatnya dosis obat harus disesuaikan dalam kelompok mana pasien termasuk. Penyesuaian
dosis misalnya bagi imipramin untuk fenotipe CYP2D6:
PM: 30% dari dosis standar;
IM: 70% dari dosis standar;
UM: dosis dinaikkan sampai 170%.
pemakaian dosis normal/standar dalam contoh itu bagi pasien PM dapat meningkatkan risiko
efek samping sebab aktivitas enzimnya rendah sehingga obat lambat di uraikan. Untuk menghindari
efek samping, pasien condong lebih sering mengganti jenis obat yang berakibat dapat menurunkan
kesetiaan terapinya.
Penentuan profil genetik yang berkaitan dengan aktivitas enzimnya penting sekali untuk terutama
penentuan dosis yang tepat bagi obat psikofarmaka .
.
mendeteksi dan mendiagnosis gangguan
itu .
GERIATRI (Yun. geras = usia tua)
Dengan istilah ini (geriatric medicine) di-
maksud kan cabang ilmu kedokteran yang
berhubungan dengan perawatan kesehatan
orang tua (lansia) dengan tujuan meng-
hindari dan menangani penyakit dan ma-
salah invaliditas.
Para lansia merupakan kelompok orang
yang peka terhadap efek samping obat yang
dipengaruhi oleh banyak faktor terutama
oleh perubahan-perubahan fisiologis seperti
menurunnya fungsi ginjal dan menu runnya
fungsi metabolisme dari hati serta peningkatan
rasio lemak terhadap air tubuh. Di samping ini
komorbiditas yang meluas pada lansia dengan
konsekuensi polyfarmasi, meningkatkan in-
teraksi farmakokinetik maupun farmakodi-
namik.Misalnya obat antikolinergik atau obat
pereda condong meng akibatkan masalah,
seperti terjatuh dengan fraktur.
Dibandingkan dengan orang muda far-
makoterapi pada lansia perlu lebih dise-
suaikan dengan keadaan individu. pemicu
terpentin g yaitu sebab proses penuaan
pada masing-masing individu tidak sinkron
dan juga sebab proses penuaan dari ber-
baga i jaring an dan organ per orang juga bisa
berbeda.
Lagipula komorbiditas memicu pa-
sien memakai berbagai obat bersamaan
(polifarmasi) dengan risiko interaksi dan efek
samping yang meningkat.
Perlu juga diperhatikan bahwa gangguan
pada orang tua sering kali bersifat kronis,
sehingga pemakaian obat-obat juga untuk
waktu panjang.
Pada orang tua sukar dibedakan kelainan-
kelainan yang disebabkan oleh perubahan
fisiologi sebab usia atau akibat penyakit
(patologis). Banyak gangguan kesehatan tim-
bul dengan keluhan atau gejala yang as-
pesifik. Juga reaksi terhadap penyakit ka-
dangkala berbeda atau dengan lebih banyak
gejala aspesifik pada lansia dibandingkan
dengan orang muda.
Berikut ini diuraikan beberapa kriteria
yang memengaruhi pengobatan para lansia
(> 65 tahun).
Perubahan-perubahan yang timbul pada
penuaan seperti homeostasis, jaringan dan
organ memengaruhi farmakokinetik (penu-
runan proses absorpsi, distribusi dan elimi-
nasi) dan farmakodinami (kepekaan terha-
dap obat dan jarak waktu interaksi obat dan
reseptor).
Dengan homeostasis dimaksudkan ke-
mampuan tubuh untuk pada timbulnya
gangguan dapat kembali ke keadaan normal,
proses ini pada lansia berlangsung lebih
lambat.
Cairan tubuh
Pada usia lanjut jumlah cairan tubuh ber-
kurang sedang jumlah lemak relatif
meningkat. Ini berarti bahwa distribusi obat-
obat yang melarut dalam air atau dalam
lemak berubah, yang memengaruhi kadar-
nya dalam berbagai jaringan dan waktu
eliminasinya serta berkaitan dengan efek
samping.
Hati
Volume hati mengecil sehingga kapasitasnya
untuk menguraikan senyawa/obat melalui
enzim-enzim CYP menurun.
Kerangka
Kepadatan tulang berkurang sehingga ter-
utama pada wanita tinggi badan menurun
sebab kompresi dan fraktur dari badan
ruas tulang belakang. Juga sering kali timbul
masalah mobilitas, sebab beberapa sebab
antara lain, berkurangnya aktivitas sehari-
hari dan menurunnya keseimbangan, akibat
organ keseimbangan dan otot yang massa
dan kekuatannya pada lansia menurun.
Jantung. Fungsi jantung menurun sebab
kehilangan sel-sel otot jantung, berkurangnya
pemakaian oksigen secara efisien dan me-
nurunnya frekuensi jantung.
Peningkatan berat badan yang cepat se-
ring kali disebabkan oleh retensi air akibat
decompensatio cordis; sedang menurunnya
berat badan yang cepat akibat penyakit serius
atau dehidrasi.
Tekanan darah. sebab hilangnya kelenturan,
tekanan diastolik menurun sedang tekan-
an sistolik meningkat. Hipotensi ortostatik
akibat pemakaian obat antihipertensi atau
obat terhadap SSP, sering kali timbul lebih
cepat pada lansia dengan risiko terjatuh.
Fungsi serebral. Dengan berlanjutnya usia
timbul atrofi dari jaringan otak dengan ke-
hilangan neuron dan reseptor pada trans-
misi kolinerg. Juga pengaliran darah di otak
ber kurang yang memicu menurunnya
daya ingat dan orientasi. Gangguan dari fungsi
kognitif sering kali akibat demensi. Pada
sebagian besar lansia timbul penyimpangan
neurologi ringan, mungkin sebab penyakit
neurode generatif, misalnya Parkinsonisme
ringan atau penyakit Parkinson. Lihat Bab 28,
Obat-obat Parkinson dan Demensia.
Kesetiaan terapi (patient compliance). Ketidak-
setiaan minum obat para lansia sering kali
menjadi pemicu penting dari gagalnya te-
rapi, sebab menurunnya daya kognitif (ter-
lupa), pemakaian obat yang rumit (handi-
cap pada memakai ), polifarmasi atau
frekuensi dosis (beberapa kali sehari). Hal
ini sering kali terjadi pada medikasi kronis,
seperti pemakaian antihipertensiva dan obat
penurun kadar kolesterol. Akibatnya yaitu
penyakit berkelanjutan, gagalnya terapi dan
biaya tambahan untuk pemeriksaan yang
tidak perlu.
Kulit menjadi lebih tipis dan berkurang ke-
lenturannya, serta kapasitas mengikat cairan
menurun.
Akibat atrofi dapat timbul perdarahan di
bawah kulit tanpa pemicu klinis.
Suhu. Pada sekitar 10% dari lansia timbul
hypotermi dan bukannya demam pada in-
feksi.
Pancaindra. Disebabkan perubahan-perubah-
an degeneratif, pendengaran berkurang ter-
utama bagi suara-suara tinggi (presbyacusis).
Katarak dapat timbul sebab penggumpalan
protein di lensa mata.
Saluran pencernaan
Produksi air liur sering kali berkurang pada
lansia, begitu juga gerakan saluran gastro-
intestinal menurun.
Alat gerak dan mobilitas
Penuaan dari jaringan dan organ berakibat
meningkatnya kepekaan tubuh bagi gang-
guan/cedera.
Efek samping. Pada lansia timbul efek samping
lebih banyak akibat polifarmasi (interaksi)
dan kepekaan yang meningkat terhadap efek
samping obat.
Obat-obat yang pada lansia memicu
lebih banyak efek samping, sebaiknya dihin-
dari sebab memengaruhi buruk kualitas
hidupnya. Untuk tujuan ini di Amerika telah
disusun “daftar hitam” yang mencantumkan
sekitar 50 jenis obat yang selalu harus di-
hindari oleh lansia, terlepas dari indikasi,
komorbiditas, dosis dan komedikasi.
Beberapa contoh yaitu klorpropamida, di-
azepam, indometasin, amiodaron, disopira-
mida, pentoksifilin, pentazosin, doksazosin
dan metildopa.
Perlu pula diwaspadai dosis obat yang
tersedia di “pasaran” yang kadangkala bagi
lansia terlampau tinggi, sehingga meng-
akibatkan overdosis.
Faktor lain yang juga perlu diperhatikan
yaitu jangka waktu manifestasi dari efek
samping yang pada lansia timbulnya bisa
terlambat sesudah obat dipakai beberapa
waktu.
Dengan polyfarmasi dimaksudkan peng-
gunaan 5 atau lebih jenis obat pada bersamaan
waktu, yang adakalanya bertentangan atau
memicu efek samping serius.
Akibat dari penuaan banyak obat yang
dapat diberikan dengan aman dan efektif
pada pasien muda, mungkin tidak cocok
bagi lansia disebabkan meningkatnya ko-
morbiditas, polyfarmasi dan perubahan-
perubahan fisiologis yang diuraikan di atas,
termasuk misalnya menurunnya fungsi ginjal.
Beberapa contoh yaitu a.l. meningkatnya
risiko terjatuh pada pemakaian senyawa
benzodiazepin dan perdarahan lambung
serta meningkatnya gangguan jantung pada
pemakaian obat-obat NSAID’s.
Untuk menghindari timbulnya efek sam-
ping serius pada lansia telah disusun suatu
daftar yang dinamakan Beers list sebagai alat
bantu untuk memonitor masalah ini.
Di samping ini telah dikembangkan pula
(Ierland) suatu metoda screening yang di-
namakan STOPP- dan START untuk meng-
analisis kemungkinan pengobatan berlebih-
an atau justru kurang bagi lansia. Terdiri
dari 2 daftar “Screening tool of older per-
son’s prescriptions” (STOPP)-criteria dan
“Screening tool to alert doctors to right treat-
ment”(START)-criteria. Daftar pertama terdiri
dari obat-obat yang potensial tidak cocok bagi
lansia dan daftar kedua diarahkan pada cara
penanganan yang seharusnya. Menurut para
ahli metoda STOPP- dan START memberikan
lebih banyak keuntungan dibandingkan de-
ngan daftar Beers.
Beers-list (1991)
Terdiri dari 2 tabel, yang pertama mencakup
obat-obat yang selalu harus dihindari oleh
lansia atau yang dosis tertentu tidak boleh
dilampaui dan yang kedua daftar obat-obat
yang harus dihindari berkenaan dengan ko-
morbiditas tertentu.
Versi terbaru dari daftar ini terbit dalam
tahun 2012 yang disertai suatu daftar ketiga
yang mencakup obat-obat yang perlu di-
gunakan dengan hati-hati oleh para lansia,
misalnya antipsikotika.
Catatan:
1. pemakaian daftar ini dengan konsekuen
memiliki risiko undertreatment yang pada
lansia merupakan masalah penting;
2. Kadangkala obat tertentu yang tercantum
dalam daftar mutlak harus dipakai
walaupun ada kontraindikasi relatif;
3. Obat yang tidak tercantum dalam daf-
tar tidak berarti bahwa obat itu
aman bagi lansia, dengan mengingat
kemungkinan perubahan-perubahan pa-
rameter farmakokinetik dan farmakodi-
namik pada lansia dan akibatnya terha-
dap risiko efek samping. Misalnya anti-
psikotika tertentu tidak tercantum dalam
daftar namun justru berisiko besar bagi
lansia.
sebab faktor-faktor individual ini daftar
Beers harus dipakai dengan pertimbangan
yang rasional. Manfaatnya yaitu sebagai alat
bantu untuk secara kritis menilai medikasi
para lansia dan menghindari efek samping
dan interaksi. Misalnya menghindari obat
atau dosis yang tidak dianjurkan dan meng-
gantinya dengan yang lebih aman.
Jenis obat Alasan
psikofarmaka
benzodiazepin kerja singkat
lorazepam (3 mg), alprazolam (2 mg) temazepam
(15 mg)
jangan melampaui dosis harian, bagi lansia dosis lebih
rendah pada umumnya sudah efektif dan juga lebih aman
benzodiazepin kerja panjang
(diazepam)
t½ panjang pada lansia dg risiko terjatuh/fraktur; sebaiknya
gunakan benzodiazepin dengan daya kerja lebih singkat
amitriptilin tidak dianjurkan sebab sifat antikolinerg dan sedatif kuat
fluoksetin, pemakaian setiap hari t½ panjang dg risiko stimulasi kuat SSP, gangguan tidur dan
agitasi
tioridazin
amfetamin dan psikostimulansia lain
banyak risiko efek samping SSP dan keluhan ekstrapiramidal,
risiko ketergantungan, hipertensi, angina dan infark jantung
semua senyawa barbital, terkecuali fenobarbital dan
utk serangan epilepsi
ketergantungan serius
analgetika dan antirematika
pemakaian lama dari NSAID’s non-COX-selektif dg
t½ panjang (naproksen dan piroksikam)
Risiko perdarahan gastro-intestinal, gagal ginjal, hipertensi
dan gagal jantung bila dipakai untuk waktu lama dengan
dosis maksimal
antikolinergika
oksibutinin sedasi, efek samping antikolinergik, lemah otot
obat jantung
disopiramida risiko gagal jantung dan bersifat antikolinerg kuat
amiodaron masalah QT-interval, kurang efektif bagi lansia
digoksin dosis harian maksimal 0,125 mg sebab risiko intoksikasi
pada bersihan ginjal (renal clearance) yang kurang
dipiridamol hipotensi ortostatik
metildopa bradikardi, dapat memperkuat depresi pada lansia
nifedipin bahaya hipotensi dan obstipasi
klonidin hipotensi ortostatik dan efek samping SSP
doksazosin bahaya hipotensi, mulut kering dan gangguan kencing
Antihistaminika
hidroksizin, siproheptadin, prometazin,
deksklorfeniramin
praktis semua antihis. memiliki sifat antikolinergik kuat; lansia
sebaiknya gunakan antihis. non-antikolinerg
Obat parkinson
orfenadrin efek samping sedasi dan antikolinergik
Obat antibakteri
nitrofurantoin bahaya gangguan ginjal, tersedia alternatif yang lebih aman
Hormon kelamin
Testosteron risiko prostat hipertrofi dan gangguan jantung
Oestrogen efek karsinogen payudara dan endometrium;
kurang efek kardioprotektif pada wanita post-menopause
Obat gastro-intestinal
simetidin
kontak laksansia (bisakodil)
efek samping SSP dan perasaan kacau, gangguan fungsi
intestinal
emulsi parafin risiko aspirasi dan efek samping
Mineral
fero sulfat>325 mg/hari obstipasi
Daftar beers (dipersingkat)
Tabel 1. Obat-obat dan dosis yang harus dihindari oleh lansia, terlepas dari
gangguan atau keadaan
KEMOTERAPEUTIKA
Kemoterapeutika didefinisikan sebagai obat-
obat kimiawi yang dipakai untuk mem-
berantas penyakit infeksi akibat mikro-orga-
nisme bakteri, jamur, virus dan proto zoa (plas-
modi um, amuba, tricho monas, dan lain-lain), ju-
ga terhadap infeksi oleh cacing. Obat-obat
itu berkhasi at memus nahkan para sit
tanpa merusak jaringan tuan rumah (toksisitas
selektif). Sitostatika (obat-obat kanker) juga
termasuk dalam golongan ini sebab sel-sel
kanker adakalanya dapat dikembangbiakkan
dan ditularkan pada organisme lain, seperti
halnya kuman. namun sebab sel-sel kanker
sangat mirip sel-sel normal dan kebanyakan
sitostatika tidak bekerja selektif, obat-obat ini
dapat memicu efek samping serius.
1. PENYAKIT INFEKSI
WHO telah memperoleh banyak sukses de-
ngan kampanye mondialnya untuk membe-
rantas berbagai penyakit infeksi penting.
Hasil baik itu terutama dicapai berkat
penemuan banyak antibio tika baru dengan
khasiat antimikroba kuat. Cacar telah dibasmi
seluruhnya, polio juga praktis dieliminasi,
sedang sampar (pest), difteri, penya kit
kuning dan kolera sangat dibatasi penjangki t-
annya. Begitu pula malaria dan tuber kulosa
telah didesak penyebarannya.
namun sejak dasawarsa terakhir, penyakit-
penyakit itu —kecuali cacar dan polio—
sudah mulai muncul kembali di banyak
bagian dunia. Tuberkulosa semakin meraja-
lela sebab sulit diberantas akibat masalah
resis tensi, terlebih-lebih pula dewasa ini
juga berjangkit penyakit AIDS. Di dunia ke-
tiga malaria kini merupakan pemicu ke-
matian utama, terutama anak-anak begitu
juga kolera semakin banyak menelan korban.
Bahkan dalam periode itu telah di-
identifikasikan lebih dari 30penyakitinfeksi
baru, termasuk AIDS,Ebola, penyakit Vete ran
dan penyakit Lyme.
pemicu perkembangan buruk ini terle-
tak antara lain pada kuman dan virus yang
telah menjadi lebih agresif (virulen). Virus
mengubah struktur permukaannya lebih
cepat dan dengan demikian dapat menge-
lakkan khasiat vaksinasi. Virus-virus baru
berasalkan dari hewan dengan jalan mutasi
spontan telah muncul, yang kemudian
disebar luaskan dengan cepat dari benua ke
benua berkat perjal anan dan turisme sedunia
yang telah berkem bang secara eksplo sif.
pemicu lainnya yaitu eksplorasi manusia
ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak
dihuni orang serta berkembangnya kota-kota
mega dengan berjuta-juta penduduknya. Di
pihak lain banyak an tibioti ka ternyata menja-
di resisten terhadap infeksi umum, seperti
radang paru-paru (pneumoni a), tbc dan gonor e.
Keracunan darah (bacteremia, sepsis) yaitu
keadaan di mana kuman, sesudah infeksi
segera memperbanyak diri dengan pesat.
Toksin yang dibentuknya mengacaukan ba-
nyak fungsi tubuh, antara lain sistem pembe-
kuan darah diaktifkan sehingga terjadi be-
kuan darah (trombi) di seluruh tubuh. Dengan
demikian banyak faktor pembekuan habis di-
pergunakan, sehingga memicu kecen-
derungan perdar ahan kecil pada kulit. Geja-
la lainnya yaitu perasaan nyeri, demam
tinggi, termangu-mangu dan kadang-kadang
muntah. Bila tidak diobati selayaknya, sep-
sis biasanya berakibat fatal. Yang
terkenal yaitu sepsis yang menyertai infeksi
oleh stafilokok atau meningokok (Neisse-
ria meningitides) yang teruta ma menyerang
anak-anak dan remaja, yang tanpa pertanda
dapat berlangsung fatal dalam bebera pa jam.
Lihat juga Bab 50 Sera dan vaksin, Vaksin
meningokok.
2. SEJARAH KEMOTERAPI
Sejak zaman purbakala, orang kuno telah
mempraktikkan fitoterapi(Y. phytos = tanam-
an) dengan coba-mencoba (empiris, trial and
error). Orang Yunani dan Aztec (di Meksiko)
menggu nakan masing-masing pakis pria
(Filix mas) dan minyak chenopodi untuk
membasmi cacing dalam usus. Orang Hindu
sudah beribu-ribu tahun lalu mengobati lepra
dengan minyakchaulmogra dan di Cina serta
di pulau Mentawai (Sumatera Barat) sejak
dahulu kala borok diobati dengan jamur-
jamur tertentu sebagai pelopor antibi otika.
Orang dari negara Cina dan Vietnam sejak
dua ribu tahun lalu memakai tanaman
qinghaosu (mengan dung artemisinin) untuk
mengobati malaria, sedang kan suku-suku
Indian di Amerika Selatan memanfaatkan
kulitpohonkina. Pada abad ke-16 airraksa
(merku ri) mulai diguna kan sebagai kemo-
terapeutikum pertama terhadap sifilis.
Kemoterapimodern mulai berkembang pada
akhir abad ke-19. Saat itu peneliti DrRobert
Koch dan Dr Louis Pasteur membuktikan
bahwa banyak penyakit diakibatkan oleh
bakteri dan protozoa. DrPaulEhrlich yaitu
sarjana pertama yang melontar kan konsepsi
dan istilah kemoterapi dan indeks terapi. Pada
penelitiannya dengan jaringan dan bakteri
yang diwarnai dengan anilin dan metilenbiru,
ia menemukan khasiat bakterisid dari zat-zat
warna itu . Pada tahun 1891 ia berhasil
menyembuhkan hewan yang terinfeksi para-
sit malaria dengan metilenbiru. Kemudi-
an pada tahun 1907 ditemukan obat anti-
spirokheta arsfenamin (Salvarsan) yang me-
rupakan obat standar sifilis pada saat itu
sampai kemudian terdesak sesudah ditemu-
kannya penisilin. Kemoterapeutika penting
yang disintesis atas dasar zat-zat warna
yaitu obat malaria pamaquin dan mepakrin
(1930).
Dengan penemuan sulfonamida (1935) ke-
mungkinan terapi —yang hingga saat itu
hanya terbatas pada infeksi protozoa dan
spirokheta— sangat diperlu as dengan banyak
bakteri lain. Antara lain banyak pemicu
penyakit fatal seperti radang selaput otak
(meningitis) dan radang paru-paru (pneumo-
nia) mulai dapat ditanggulangi dan disem-
buhkan dengan terapisistemik, yaitu melalui
peredaran darah.
Titik-titik puncak dalam perkembangan se-
lanjutnya yang membuka babak baru dalam
pengobatan sistemik penyakit infeksi yaitu
diperkenalkannya penisilin (1941) dengan
khasiat dan toksi si tas yang sangat selektif.
Antibiotikum pertama ini disusul oleh ba-
nyak antibiotika lain, seperti kloramfenikol
dan kelompok sefalosporin, tetrasiklin, ami-
noglikosida, makrolida, polipeptida, linkomi-
sin dan rifamisin. Selain sulfonamida di-
kembangkan jugakemoterapeutikasintetik,
seperti senyawa nitrofuran (1944), asam
nalidiksat (1962) serta turunannya (fluorki-
nolon,1985),obat-obat TBC (PAS,INH)dan
obat-obat protozoa (kloroquin, proguanil,
metronidazol, dan lain-lain). Banyak zat
antimikroba baru telah dikem bang kan yang
mampu menyembuhkan hampir semua in-
feksi mikroba, kecuali infeksi dengan ke-
banyakan virus.
3. PENGGOLONGAN ZAT-
ZAT ANTIBAKTERI
Kemoterapeutika antimikroba dapat digo-
longkan atas dasar mekanisme kerjanya da -
lam zat-zat bakterisid dan bakteriostatik sebagai
berikut.
A. zat-zat bakterisid (L. caedere = mema-
tikan), yang pada dosis biasa berkhasiat
mematikan kuman. Obat-obat ini dapat
dibagi pula dalam dua kelompok yang
bekerja:
– terhadap tahap pertumbuhan, misal-
nya penisilin dan sefalosporin, poli-
peptida (polimiksin, basitrasin), rifam-
pisin, asam nalidiksat dan kuinolon-
kuinolon. Zat-zat ini kurang efektif
terhadap kuman dalam tahap istir ahat.
– terhadaptahap istirahat misalnya ami-
noglikosi da, nitrofurantoin, INH, ko-
trimoksazol dan juga polipeptida ter-
sebut di atas.
B. zat-zat bakteriostatik (L. stasis = meng-
hentikan), yang pada dosis biasa teruta-
ma berkhasiat menghentikan pertum-
buhan dan perbanyakan kuman. Pemus-
nahannya harus dilakukan oleh sistem
tangkis tubuh sendiri dengan jalan fa-
gositosis (‘dimakan’ oleh limfosit), lihat
Bab 49, Dasar-dasar imunologi. Contoh-
nya yaitu sulfonamida, kloramfenikol,
tetrasiklin, makrolida dan linko misin,
PAS serta asam fusidat.
Penggolongan ini tidak mutlak, sebab faktor
konsentrasi (dosis) dan waktu turut menentu-
kan efek obat. Kebanyakan bakteriostatika
menjadi bakterisid pada dosis sangat tinggi,
yang biasanya terlalu toksik untuk diberikan
pada manusia. Lagipula kepekaan kuman bagi
obat memegang peranan; pada dosis tertentu
obat dapat berefek bakterisid untuk suatu
kuman dan hanya bakterio statik bagi kuman
lain. Secara klinis perbedaan ini biasanya
tidaklah penting, sebab pada akhirnya da-
ya tahan tubuh juga memegang peranan
bagi pemusnahan kuman-kuman patogen.
Pengecualian yaitu pengobatan infeksi dari
penderita yang memiliki daya tahan tubuh
terganggu, mis. penderita AIDS, pengguna
kortikosteroida, sitostatika dan obat-obat
yang menekan imunitas. Pada kasus demikian
obat-obat bakterisid yang harus dipakai .
Penggolongan lain yang juga sering digu-
nakan yaitu berdasar kan luas aktivitasnya,
artinya aktif terhadap banyak atau sedikit
jenis kuman. Dapat dibedakan antibiotika
dengan aktivitas sempit dan luas.
a. Antibiotika narrow-spectrum (aktivitas
sempit). Obat-obat ini terutama aktif ter-
hadap beberapa jenis kuman saja, misal-
nya penisi lin-G dan penisilin-V, eritromisin,
klindamisin, kanamisin dan asam fusidat
hanya bekerja terhadap kuman Gram-
positif (lihat di bawah). sedang strep-
tomi sin, gentami sisn, polimiksin-B dan asam
nalidiksat khusus aktif terhadap kuman
Gram-negatif.
b. Antibiotikabroad-spectrum(aktivitas lu-
as) bekerja terha dap lebih banyak baik je-
nis kuman Gram-positif maupun Gram-
nega tif. Antara lain sulfona mida, ampisilin,
sefalospo rin, kloram feni kol, tetrasiklin dan
rifampisin.
Istilah antibiotika sering kali dipakai
dalam arti luas dan dengan demikian tidak
terbatas pada hanya obat-obat antibakteri
yang dihasil kan fungi dan kuman (definisi
dari Waksman untuk antibiotika), melainkan
juga untuk obat-obat sintetik seperti sul-
fonamida, INH, PAS, nalidiksat dan fluor-
kuinolon. Istilah dengan arti luas itu
yang selanjutnya akan dipakai dalam
buku ini. Zat-zat sintetik lainnya dengan
kerja antibakteri yaitu obat-obat tbc,lepra
dan metronidazol. Antibiotika dengan ker-
ja fungistatik dibahas dalam Bab 6. Anti-
mikotika.
4. PARASIT-PARASIT
PATOGEN
Secara global bakteri dapat dibagi dalam dua
kelompok besar sesudah diwarnai menurut
metode sarjana Denmark dr Gram, yakni
kuman Gram-positif dan kuman Gram-
negatif. Menurut bentuknya dapat pula di-
bedakan beberapa jenis kuman, yaitu cocci
(tunggal: coccus = biji bundar), bacilli(tung-
gal: bacillus = batang silindris) serta spiro-
kheta dan vibrio yang kedua-duanya ber-
bentuk spiral.
Kuman Gram-negatif memiliki membran
luar yang untuk sebagian besar terdiri dari
suatu kompleks lipopolisakarida-endotoksin,
yang memicu toksisitasnya. Kebanyak-
an kuman ini seperti Meningococci dan
Chlamydiae, bersifat sangat virulen akibat
endotoksin itu dan ada nya salut
polisakarida yang kebal terhadap fagositosis
oleh sel-sel sistem imun. Kuman-kuman ini
sering kali memicu bakteremia dan
sepsis yang sangat membahayakan jiwa.
Di antara virus yang jauh lebih kecil
daripada bakteri dan fungi (jamur) ada
banyak pembangkit penyakit. Begitu pula di
antara protozoa yang merupakan jasad-jasad
reniksatu-sel terendah.
Untuk mempermudah pengertian dari pem-
bahasan selan jut nya, pada halaman berikut
diberikan sebuah tabel ikhtisar yang men-
cantumkan parasit terpenting, yang dapat
memicu penyakit infeksi pada manusia
serta kemoterapeuti ka yang biasanya
dipakai untuk pengobatanny a.
P a r a s i t Penyakit Obat pilihan utama Obat pilihan kedua
1 Kuman2 Gram positif
a c o c c i
Staphyloc. Aureus a p e m AK, Ps St, Sf, Vm
Streptoc. Pyogenes f o p s Pv, Pg Ss, Vm
Enterococcus u e As Sf, Nf
b b a c i l i
Bacillus anthracis p Pg Em, Ts
Clostridium tetani T serum+vaks., pg Ts, Em
Corynebact. Diphther. difteri antitoksin, Em Pg + Rf
Listeria monocytogenes b m As, Pg (+Ag) Kt, Ka, Ts
2 Kuman² Gram negatif
a c o c c i
Branhamella catarrh. o t p AK, Kt Em, Sf
Meningococci m Pg St, Ka
Neisseria gonorrh. gonore As/Pg + Pb Sp, St
b b a c i l i
Bacteroides fragilis a e b Mn, Km Mn, Ss
Campylobact. Jejuni j e g Sf, Em Ts, Km
Enterobact. spec. u umum Sp, Ag Ts, Kt
Escherichia coli u umum Kt, Sf AK, Sf
Haemophil. influ. B o s p m Sp, St AK, As
Klebsiella pneumon. u p Sp, St At, Kt
Legionella pneumoph. pk veteran Em (+Rf) Sf, Kt
Proteus mirabilis u As Ss, Ag
Pseudomon. aerugin. u p b Ps + Ag St + Ag
Salmonella typhi t b Kt, Ka Sp, St
Shigella spec. g Kt Sp
Vibrio cholerae kolera Ts Kt, Ka, Sf
Yersinia pestis pes (plague) Sf, Ag, Ka Ts, Ka
3 Kuman² tahan-asam
Mycobact. tubercul. tbc I + Rf + Pa I+Rf+etambutol
Mycobact. Leprae kusta Rf + dapson klofazimin
4 Spirochaeta dan lain-lain
Borrelia burdorferi pk Lyme Pg St, Ts
Leptospira pk Weil Pg Ts
Treponema pallidum sifilis Pg St, Ts
14108649_OBAT P(Bab 05)_T-061-097.indd 65 25/04/2015 9:05:02
Seksi II: Kemoterapeutika66
P a r a s i t Penyakit Obat pilihan utama Obat pilihan kedua
5 V i r u s - virus
Hepatitis-B virus hepatitis _ _
Herpes simplex pk kelamin asiklovir Vidarabin
Herpes zoster sinaga asiklovir Vidarabin
HIV AIDS AZT+3TC+indinavir
Influenza-A2 influenza amantadin, Relenza
6 Fungi – ragi
dermatofit dermatitis Kk
Candida albicans vaginitis nistatin, Kk
Pitosporum ovale ketombe Kk
7 Protozoa
Entamoeba histolyt. amubiasis Mn, diloksanida
Plasmodium vivax/falcip. malaria kinin, klorokuin
Trichomonas vaginalis vaginitis Mn, Kk
8 Lainnya
Chlamydia trachom. trachom Ts, Kt
Mycoplasma pneumon. p atipis Em, Ts
Rickettsia T, Q-fever Ts, Ka
a : abces o: otitis media
b : bacteremia p: pneumonia
pk: penyakit
B : bronchitis s: sinusitis
e : endocarditis t: tifus
f: faringitis
g : gastro-enteritis T: tetanus
m : meningitis u: inf. sal. urin
Ag : aminoglikosida Pv: penisilin-V
As : amoksisilin Pa: pirazinamida
AK : amoks.+klavulanat Pb: probenesid
At : aztreonam Pg: penisilin-G
Em : eritromisin Ps: piperasilin
I : INH
Fk : fluorkuinolon Rf: rifampisin
Ka : kloramfenikol Sf: siprofloksacin
Kk : ketokonazol Sp: sefperazon
Km : klindamisin Ss: sefalosporin
Kt : kotrimoksazol St: seftriakson
Mn : metronidazol Tk: tikarsilin
Nf : nitrofurantoin Ts: tetrasiklin
Vm : vankomisin
Tabel II-1: Mikroorganisme patogen dengan penyakit yang dapat ditimbulkan serta
pengobatannya
5. MEKANISME KERJA
Kemoterapeutika dapat melakukan aktivi-
tasnya lewat beberapa mekanisme, terutama
melalui penghambatansintesismateri pen-
ting bakteri misalnya:
a. dinding sel: sintesisnya terganggu se-
hingga dinding menjadi kurang sempur-
na dan tidak tahan terhadap tekanan
osmotik dari plasma dengan akibat pe-
cah. Contohnya: kelompok penisilin, sefa-
lospo rin, dan vankomisin.
b. membran sel: molekul lipoprotein dari
membran plasma (di dalam dinding sel)
dikacaukan sintesisnya, sehingga menjadi
lebih permeabel dan zat-zat penting dari
isi sel dapat merembes keluar. Contohnya:
antibiotika polyen (nistatin, amfoteri sin)
dan imidazol (mikonazol, ketokonazol).
c. proteinsel: sintesisnya terganggu, misal-
nya oleh kloramfenikol, tetrasiklin, ami-
noglikosida dan makrolida.
d. asam-asaminti(DNA,RNA): rifampisin
(RNA), asam nalidiksat dan kuinolon,
IDU dan asiklovir (DNA). Juga termasuk
di sini senyawa-senyawa imidazol.
e. Antagonisme saingan. Obat menyaingi
zat-zat yang penting untuk metabolisme
kuman sehingga pertukaran zatnya ter-
henti, antara lain sulfonamida, trime-
toprim, PAS dan INH.
6. PILIHAN OBAT
Pada infeksi berat selalu dilakukan pembi-
akan dari cairan tubuh (darah, urin, dahak)
untuk mendeteksi kuman pem bangkit infeksi
dan menentukan obat yang paling aktif ter-
hadapnya. namun dalam praktik sehari-hari,
sebab pertimbangan praktis, dokter memilih
obat atas dasar jenis dan beratnya infeksi
serta pengalamannya.
Bila harus dipilih antara beberapa obat
dengan aktivitas dan sifat farmakokinetik
yang lebih kurang sama, hendaknya diper-
hatikan beberapa faktor sebagai berikut.
a. Zatbakterisid lebih diutamakan daripa-
da zat bakteriostatik, terutama bila daya
tangkis pasien sudah berkurang, seper-
ti pada penderita penyakit darah (agranu-
lositosis), endocarditis, pada pembawa bak-
teri (carriers) dan sesudah pembedahan
berat. Pada pasien-pasien ini sel-sel tang-
kis (limfosit) kurang aktif lagi untuk me-
musnahkan kuman yang telah diham-
bat pertumbuhannya oleh bakteriosta-
tika. Begitu pula pasien lanjut usia sering
kali sistem imunnya tidak optimal lagi,
oleh sebab itu lebih baik mereka diberi
misalnya ampisilin daripada doksisiklin.
b. Zatdengandaya-penetrasibaikke dalam
organ atau CCS lebih diutamakan sebab
lebih mudah meresap ke lokasi infeksi.
Hal ini sangat penting bila sumber infeksi
terletak pada jaringan dengan sirkulasi
darah buruk. Misalnya rongga dahi dan
prostat sukar dicapai oleh kebanyakan
antibiotika.
Obatdenganpenetrasibaikkedalam
jaringan yaitu amoksi si lin, linkosin dan
rifampisin. Begitu pula spira misin khusus
ke dalam jaringan mulut dan tenggo-
rok, serta fluorkuinolon ke antara lain
prostat. Sulfona mida, kloramfe ni kol dan
tetrasiklin agak baik difusi nya, sedang
antibiotika lain nya kurang baik.
Obatdenganpenetrasibaikkedalam
CCS yaitu sulfonamida, kloramfenikol,
rifampisin dan minosiklin. berdasar
itu obat-obat itu merupakan obat
utama pada meningitis. Penyerapannya
ke CCS tergantung dari lipofilitas obat,
semakin lipofil semakin baik penetra-
sinya.
c. Zat dengan pentakaran 1-2 x sehari
lebih disukai daripada obat yang harus
ditakarkan 3-4 kali. Telah dibuktikan
bahwa kesetiaan minum obat (drug com-
pliance) dalam hal pertama yaitu le-
bih baik. Dengan demikian obat akan
diminum secara teratur dan berhasilnya
kur lebih terjamin.
d. Zat dengan pengikatan protein (PP)
rendah diutamakan, sebab hanya obat
bebas dapat mendifusi ke tempat infeksi.
7. pemakaian
Dosis selalu dipilih sedemikian tinggi agar
kadar obat di tempat infeksi melampaui
MIC-nya untuk kuman (Minimum Inhibi-
tory Concentration, lihat Bab 3, sub 2). Guna
mencapai kadar puncak dalam darah dan
jaringan sering kali perlu diawali dengan
dosis ganda (loading dose), misalnya pada
sulfonamida, doksisiklin dan klorokuin.
Atau juga dimulai dengan pemberian paren-
teral pada infeksi parah dan selanjutnya
diteruskan secara oral, misalnya penisilin-G,
tetrasiklinataukinin.
Frekuensipentakaran tergantung dari plas-
ma half-life obat (t½) yang seperti telah di-
uraikan merupakan ukuran untuk kecepatan
eliminasinya. Obat dengan masa paruh pendek
perlu diberikan sering kali, sampai 5x sehari,
sedang obat dengan masa paruh panjang
cukup diberikan 1x sehari, bahkan 1x seming-
gu.
Lamanya terapi dengan kemoterapeutika
harus cukup panjang agar menjamin semua
mikroorganisme telah mati dan menghin-
darkan kambuhnya penyakit. Lazimnya te-
rapi diteruskan sampai 2-3 hari sesudah ge-
jala hilang. Pengobatan beberapa penyakit
tertentu perlu dilanjutkan lebih lama, misal-
nya pada tifus, malaria, TBC dan endocarditis,
bahkan pada lepra kerap kali seumur hidup.
8. EFEK SAMPING
pemakaian kemoterapeutika yang semba-
rangan atau tidak tepat dosisnya dapat meng-
gagalkan terapi. Di samping itu juga dapat
memicu risiko sensitasi, resistensi dan
suprainfeksi, lihat pula Bab 4, sub 7.
Gambar Seksi II-1: Bagaimana kuman menjadi resisten
plasmid
sesudah dipakai secara topikal banyak
obat dapat memicu kepekaan berle-
bihan atau sensitasi dan pasien menjadi hi-
persensitif. Bila kemudian obat yang sama
dipakai secara sistemik (oral atau paren-
teral), ada kemungkinan terjadinya suatu
reaksi alergi. Gejalanya berupa gatal-gatal,
kemerah-merahan dan ben tol-bentol, namun
kadang-kadang juga lebih hebat seperti de-
mam, kelainan darah, bahkan shock anafi-
laktis fatal! Oleh sebab itu untuk menghin-
dari sensitasi, sebaiknya jangan mengguna-
kan obat-obat demikian dalam sediaan to-
pikal (salep, krem, lotion, dan sebagainya).
Antibiotika yang terkenal dapat menim-
bulkan sensitasi yaitu antara lain penisi-
lin, kloram fenikol dan sulfonamida. Sebaliknya
framisetin, fusidat dan juga tetra siklin yang
jarang sekali memicu sen si tasi banyak
dipakai topikal. Neomisin dan basitrasin
semakin banyak dilaporkan sebagai penye-
bab alergi kontak.
Bila antibiotika dipakai dengan dosis
terlampau rendah atau masa terapi kurang
lama, cara ini dapat mempercepat terben-
tuknya suku-suku resisten. Oleh sebab itu
perlu selalu dipakai dosis cukup tinggi
untuk waktu yang cukup lama. Cara lain
untuk mencegah resistensi yaitu menggu-
nakan kombinasi dari dua atau tiga obat, khusus-
nya pada tbc, lepra, AIDS dan sebagainya.
Lihat Gambar II-1 dan juga Bab 4, sub 7,
Resis tensi bakteri.
Supra infeksi merupakan infeksi sekunder
dengan parasit berlainan yang timbul sete-
lah infeksi primer (L. supra = atas). Infeksi
ini terutama terjadi pada pemakaian anti-
biotika broad-spectrum yang sering kali
mengganggu keseimbangan antar-bakteri
di dalam usus, saluran napas dan saluran
urogenital. Suku mikroorganisme yang lebih
kuat dan resis ten hilang saingannya, menja-
di dominan dan memicu infeksi baru.
Yang sangat dikhawatirkan yaitu supra-
infeksi dengan suku Stafi lokok resisten, Proteus
dan Pseudomonas, begitu pula dengan Candida
dan fungi lain. Obat-obat yang dapat me-
nimbulkan supra-infeksi yaitu ampisi-
lin, kloram-fenikol dan tetrasi klin. Begitu
juga obat-obat yang menekan sistem tangkis
tubuh (kortikosteroida dan sitostatika).
9. pemakaian
KOMBINASI
biasanya pemakaian kombinasi da-
ri dua atau lebih antibio tika (multiple drug
therapy, MDT) tidak dianjurkan, terlebih pula
kombi nasi dengan dosis tetap (fixed dose).
Terapi terarah mungkin lebih rasional (misal-
nya satu jenis bakterisid untuk gangguan
tertentu), namun beberapa kombina si dapat
bermanfaat, sebagai berikut:
• pada infeksi campuran, misalnya kombi-
nasi obat-obat antiku man dan antifungi.
Atau dua antibiotika dengan spektrum
sempit (Gram-positif + Gram-negatif) un-
tuk memperlu as aktivitas terapi, misalnya
basitrasin + polimiksin dalam sediaan
topi kal.
• untuk potensiasi, misalnya sulfametok-
sazol dengan trimetoprim (= kotrimok-
sazol) dan sefsulo din dengan gentamisin
pada infeksi dengan Pseudom onas.
• Multi drug therapy (AZT + 3TC + ritona-
vir) terhadap AIDS juga memberikan efek
sangat baik.
• untuk mengatasi resistensi, misalnya
amoksisilin + asam klavul anat yang
menginaktivasi enzim penisilinase.
• untuk menghambat resistensi, khusus-
nya pada infeksi menahun seperti pada
tuberkulosa (rifampisin + INH + pirazina-
mida) dan kusta (dapson + klofazimin
dan/atau rifampi sin). Berperan pula pa-
da MDT terhadap AIDS.
• untuk mengurangi toksisitas, misalnya
trisulfa dan sitostati ka, sebab dosis ma-
sing-masing komponen dapat dikurangi.
10. ANTAGONISME-SINERGISME
DARI KOMBINASI
biasanya kombinasi antibiotika dari
berbagai kelompok menghasilkan adisi atau
potensiasi dari khasiatnya masing-masing.
Hanya kombinasi terten tu dapat menimbul-
kan antagonisme dengan penurunan atau
penia daan efek terapi. Contoh yang terkenal
dari antagonisme yaitu kombinasi penisi-
lin/sefalosporin dengan tetrasi klin/kloram-
fenikol. Oleh sebab itu hingga kini tidak
dianjurkan kombi nasi zat-zat bakterisid yang
bekerja terhadap tahap tumbuh dengan zat-zat
bakterio sta tik, misalnya ampisilin + kloramfe-
ni kol pada meningitis bakterial dan amino-
glikosida dengan lin ko sin/klin damisin pada
infeksi usus.
namun dalam praktik ternyata bahwa in-
teraksi demikian dalam kebanyakan hal
tidak berlaku secara klinis. pemicu nya
mungkin sebab efek bakterio statik —bila sis-
tem imun utuh— sudah mencukupi untuk
menang gu langi infeksi. Hanya pada pasien
dengan neutropenia,menin gi tis dan endo carditis
sebai knya jangan dipakai kombina si,
namun monoterapi dengan zat bakterisid.
Kombinasi penisilindansulfa yang dahulu
banyak dipakai tidak menghasilkan anta-
gonisme, namun adisi.
11. PEMBAHASAN
Dalam bab-bab berikut akan dibahas ber-
turut-turut golongan besar kemotera peutika,
yaitu Antibiotika (arti sempit), Antimikotika,
Virustatika, Kuinolon dan Antiseptika saluran
kemih, Tuberkulo statika, Leprostatika, Obat-
obat malaria, Obat-obat Amubiasis dan Tri-
chomonas, Anthelmintika, Sitostatika dan
Antiseptika lokal.
ANTIBIOTIKA
B A B 5
Antibiotika(L. anti = lawan, bios = hidup)
yaitu zat-zat kimia yang dihasilkan oleh
fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat
mematikan atau menghambat pertumbuhan
kuman, sedang toksisi tasnya bagi manu-
sia relatif kecil. Turunan zat-zat ini yang
dibuat secara semi-sintetik, juga termasuk
kelompok ini, begitu pula semua senyawa
sinte tik dengan khasiat antibakteri.
Kegiatan antibiotik untuk pertama kali-
nya diketemukan secara kebetulan oleh dr.
Alexander Fleming (Inggris, 1928, penisilin).
namun penemuan ini baru dikembangkan dan
dipakai di tahun 1941 pada permulaan
Perang Dunia II, ketika obat-obat antibakteri
sangat diperlukan untuk menangani infek si
dari luka-luka akibat pertempuran.
Kemudian, para peneliti di seluruh dunia
menghasilkan banyak zat lain dengan kha-
siat antibiotik. namun berhubung dengan
sifat toksiknya bagi manusia, hanya sebagi-
an kecil saja yang dapat dipakai sebagai
obat. Yang terpenting di antaranya yaitu
streptomisin (1944), kloramfenikol (1947), tetra-
siklin (1948), neomisin 1949, eritromisin (1952),
vankomisin (1955),rifampisin (1960), gentami-
sin 1963, bleomisin (1965), doksorubisin (1969),
minosiklin (1972) dan tobramisin (1974).
Pembuatannya
biasanya antibiotika dibuat secara
mikrobiologi, yaitu fungi dibiakkan dalam
tangki-tangki besar bersamaan dengan zat-
zat gizi khusus. Oksigen atau udara steril
disalurkan ke dalam cairan pembiakan untuk
mempercepat pertumbuhan fungi dan me-
ningkatkan produksi antibiotikanya. sesudah
diisolasi dari cairan kultur, antibiotika ini di-
murnikan dan aktivitasnya ditentukan.
* Antibiotika semisintetik. Apabila pada
persemaian (culture sub strate) dibubuhi
zat-zat pelopor tertentu, maka zat-zat
ini diinkor porasi ke dalam antibiotika
dasarnya. Hasilnya disebut senyawa semi-
sintetik, misalnya penisilin-V.
* Antibiotikasintetikkini tidak lagi dibuat
secara biosin te tik, melain kan seluruhnya
melalui sintesis kimiawi, misalnya kloram-
fe nikol.
Mekanisme kerja
Cara kerjanya yang terpenting yaitu
perintangan sintesis protein, sehingga ku-
man musnah atau tidak berkembang lagi,
misalnya kloramfenikol, tetrasiklin, amino-
glikosida, makrolida dan linkomisin. Selain
itu beberapa antibiotika bekerja terhadap
dindingsel (penisilin dan sefalosporin) atau
membran sel (polimiksin, zat-zat polyen
dan imidazol), lihat pendahu luan Seksi II.
Alexander Fleming (1881-1955)
Antibiotika tidak aktif terhada p ke banyak-
an virus kecil, mungkin sebab virus tidak
memiliki proses metabolisme sesungguhny a,
melainkan tergantung seluruhnya dari meta-
bolisme tuan-rumah.
Aktivitasnya
biasanya aktivitasnya dinyatakan
dengan satuan berat (mg), kecuali zat-zat
yang belum dapat diperoleh murni 100%
dan terdiri dari campuran beberapa zat.
Misalnya, polimiksin B, basitrasin dan
nistatin, yang aktivitasnya selalu dinyata-
kan dalam Satuan Internasional (I.U. atau
International Unit). Begitu pula senyawa
kompleks dari penisilin, yaitu prokain-dan
benzatin-penisilin. Lihat juga Bab 2, Bio-
assa y dan standardisasi.
pemakaian
Antibiotika dipakai untuk mengobat i
berbagai jenis infeksi akibat kuman atau juga
untuk prevensi infeksi, misalnya pada pembe-
dahan besar. Secara profilaktik juga diberikan
pada pasien dengan sendi dan klep jantung
buatan, juga sebelum cabut gigi.
pemakaian penting non-terapeutik yaitu
sebagai perangsang pertumbuhan dalam pe-
ternakan sapi, babi dan ayam. Efek ini secara
kebetulan diketemukan sekitar tahun 1940,
namun mekanisme kerjanya belum diketahui
dengan jelas. Diperkirakan bahwa antibio-
tika bekerja setempat di dalam usus dengan
menstabilisasi flora usus hewan itu .
Kuman-kuman "buruk" yang merugikan di-
kurangi jumlah dan aktivitas nya, sehingga
zat-zat gizi dapat dimanfaatkan lebih baik.
Pertumbuhan dapat distimulasi dengan rata-
rata 10%. Meskipun di kebanyak an negara
Barat cara penyalahgunaan ini dilarang keras,
namun masih tetap banyak dipakai dalam
makanan ternak, terutama makrolida dan gli-
kopeptida. Jumlahnya kini sudah meningkat
sampai lebih dari 3 kali pemakaian nya seba-
gai obat manusia.
Di bawah ini dibahas berturut-turut
enam kelompok antibiotika, yaitu penisilin
dan sefalosporin, kelompok tetrasiklin,
aminoglikosida, makrolida dan linkosin,
polipeptida serta kelompok sisa (polyen,
rifamisin,danlain-lain).
A. PENISILIN
Antibiotika ini dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu kelompok penisilin dan sefalosporin.
* Penisilin diperoleh dari jamur Penicillium
chrysogenum; dari berbagai jenis yang diha-
silkan, perbedaannya hanya ter letak pada
gugusan-samping-R saja, lihat Rumus ba-
ngun. Benzilpenisi lin (pen-G) ternyata yang
paling aktif.
Perubahan-perubahan pada gugu san-
samping-R menghasilkan derivat-derivat
dengan sifat berlainan. Misalnya terbentuknya
derivat yang tahan asam dan dapat dipakai
per oral (fenoksimetilpenisilin atau penisilin-V).
Bila pada radikal fenil dari benzilpenisilin di-
masukkan gugusan amin o, keampuhan dan
juga luas spektrum antimikrobanya akan me-
ningkat dengan mencakup banyak organisme
Gram-positif dan Gram-negatif. Modifikasi
dari gugusan-R juga dapat membuatnya
resisten terhadap penisilinase kuman (mis. flu-
kloksasilin).
* Sefalosporin diperoleh dari jamur Cepha-
lorium acremonium yang berasal dari Sicilia
(1943).
Kedua kelompok antibiotika itu
memiliki rumus bangun serupa, keduanya
memiliki cincin beta-laktam dengan ru-
mus dasar yang tertera di halaman berikut.
Cincin ini merupakan syarat mutlak untuk
khasiatnya. Jika cincin ini dibuka misalnya
oleh enzim beta-laktamase (penisilinase
atau sefalosporinase), maka zat menjadi
inaktif! biasanya penisilinase hanya
dapat mengin aktifkan penisilin dan tidak
sefalosporin, kebalikannya berlaku untuk
sefalosporinase.
Aktivitas
Penisilin-G dan turunannya bersifat bakteri-
sid terhadap terutama kuman Gram-positif
(khususnya cocci) dan hanya beberapa
kuman Gram-negatif. Penisilin termasuk
antibiotika dengan spektrumsempit,begitu
pula penisilin-V dan analognya. Ampisilin
dan turunannya, serta sefalosporin me-
miliki spektrum kerja lebih luas yang
meliputi banyak kuman Gram-negatif, a.l.
H. influenzae, E. coli dan P. mirabilis. Beberapa
sefalosporin bahkan aktif terhadap kuman
„sulit“ Pseudomonas. Sebagaimana telah
diutarakan, antibiotika bakterisid ini tidak da-
pat dikombinasikan dengan bakteriostatika
seperti tetrasiklin, kloramfenikol, eritromi-
sin dan asam fusidat. Hal ini disebabkan
zat-zat yang disebut terakhir menghambat
pertumbuhan sel dan dindingnya. Kombinasi
dengan sulfonamida yaitu pengecualian.
Mekanisme kerja
Dinding sel kuman terdiri dari suatu jaring-
an peptidogli kan, yaitu poli mer dari senyawa
amino dan gula yang saling terikat satu
dengan yang lain (crosslinked) dan dengan de-
mikian memberikan kekuatan mekanis pada
dinding. Penisilin dan sefalosporin mengha-
langi sintesis lengkap dari polimer ini yang
spesi fik bagi kuman dan disebut murein. Bila
sel tumbuh dan plasmanya bertambah atau
menyerap air melalui osmosis, maka dinding
sel yang tak sempurna itu akan pecah dan
bakteri musnah. Dinding sel manusia dan
hewan tidak terdiri dari murein, maka anti-
biotika ini tidak toksik untuk manusia.
Resistensi
Masalah resistensi antibiotik yang terus-
menerus meningkat merupakan sesuatu
yang sangat gawat dewasa ini. Menurut
WHO tiap tahun di Uni Eropa saja 25.000
orang meninggal akibat masalah ini. Oleh
sebab itu dalam tahun 2014 WHO telah me-
mutuskan suatu Global Action Plan untuk
menanggulangi resistensi antibiotika.
Cara terpenting dari kuman untuk me-
lindungi diri terhadap efek mematikan dari
antibiotika beta-laktam yaitu pembentuk-
an enzim beta-laktamase. Semula hanya
Stafilococci dan E. coli mampu membentuk
penisilinase dalam plasmid, yang mengan-
dung gen-gen (faktor keturunan) untuk sifat
ini. namun gen-gen itu telah ditularkan
ke kuman lain dengan jalan penggabungan
(konyugasi). Maka kini kebanyakan kuman
memili ki kemampuan ini dan resistensi
telah disebarluaskan dengan pesat.
Untuk mengatasi masalah resistensi ku-
man terhadap khusus antibiotik penisilin
yang sangat serius ini, para peneliti telah
mensintesis dua jenis senyawa penisilin,
yait u derivat yang tahan laktamase dan yang
memblokir laktamase.
a. Zat-zat tahan laktamase, antara lain
metisilin dan turunannya (kloksasilin, fluklok-
sasi lin) serta sefalosporin tertentu yang
terdiri dari sefotak sim, seftizoksim dan seftri-
akson. Molekul dari zat-zat ini mengandung
gugusan yang 'mengelilingi dan melin dungi‘
cincin beta-laktam. sebab perintangan
ruang ini (steric hindrance), maka enzim tidak
dapat mendekati molekul untuk mengurai-
kannya. Kloksasilin dan turunannya hanya
tahan terhadap penisi linase yang berasal
dari Stafilococci, namun masih peka ter ha-
dap laktamase dari kuman lain. Turunan
sefalosporin itu di atas tahan terhadap
bermacam-macam laktamase yang dibentuk
oleh berbagai kuman.
Sejak akhir tahun 1980-an telah muncul ku-
man Stafilokok yang ternyata sangat resisten
terhadap penisilin dan sangat meresahkan
rumah sakit. Kuman itu dinamakan MRSA
(Methicillin Resistent Staphylococcus Aureus).
Dalam rentang waktu agak singkat, kuman
ini telah menjadi resisten terhadap ham-
pir semua antibiotika. Pengecualian yaitu
antibiotika dari kelompok glikopeptida:
vankomisin dan teikoplanin (Targocid). namun
pada akhir tahun 1998 telah diketemukan
beberapa suku yang resisten terhadap van-
komisin.
Teikoplanin disebut “antibiotik cadangan”,
yaitu pemakaian nya khusus dicadangkan
untuk pengobatan infeksi yang desebabkan
oleh stafilokok yang resisten terhadap meti-
silin (MRSAKo).
b. Laktamase blockers, antara lain asam
klavulanat dan sulbaktam (Unasyn). Senyawa
ini merintangi efek laktamase dengan jalan
mengikatnya sebagai kompleks. Namun zat
ini tidak berdaya terha dap banyak sefalospo-
rinase jenis tertentu. Kombinasinya dengan
amoksisilin atau ampisilin sangat penting
dalam usaha melawan kuman yang resisten.
Efek samping
Yang terpenting yaitu reaksi alergi akibat
hipersensitasi, yang (jarang sekali) dapat
memicu shock anafilaktik (dan kema-
tian). Pada prokain-benzilpenisilin diduga
prokain yang memegang peranan pada hi-
persensitasi itu .
Pada penisi lin broad-spectrum agak sering
terjadi gangguan-gangguan lambung-usus
(diare, mual, muntah). Diare dapat dicegah
dengan pemberian probiotika(Lactobacillus,
Bifidobacterium) selama masa terapi.11,12 Pada
dosis (sangat) tinggi dapat terjadi reaksi
nefro toksik dan neurotoksik, seperti pada
aminoglikosida tertentu.
Wanita hamil dan laktasi
Semua penisilin dianggap aman bagi wanita
hamil dan yang menyusui, walaupun dalam
jumlah kecil ada dalam darah janin dan
air susu ibu.
Interaksi
Lama kerjanya diperpanjang oleh obat-obat
encok probe nesid dan sulfin pirazon, juga oleh
asetosal dan indometasin. Kombinasi de-
ngan probenesid sering dipakai untuk
maksud itu . Efek penisilin dikurangi
oleh antibiotika bakteriostatik (tetrasiklin,
kloramfenikol dan makrolida).
Penggolongan
Penisilin dapat dibagi dalam beberapa je-
nis menurut aktivitas dan resistensinya
ter hadap laktamase sebagai berikut:
a. zat-zat dengan spektrum sempit: benzil-
penisilin, penisilin-V dan fenetisi lin.
Zat-zat ini terutama aktif terhadap ku-
man Gram-positif dan diuraikan oleh
penisilinase;
b. zat-zat tahan laktamase: metisilin, klok-
sasilin dan fluklok sa silin. Zat ini hanya
aktif terhadap Stafilokok dan Streptokok.
Asam klavulanat, sulbaktam dan tazobaktam
memblokirlaktamase dan dengan demi-
kian mempertahankan aktivitas penisilin
yang diberikan bersamaan;
c. zat-zat dengan spektrum luas: ampi-
silin dan amoksisilin, aktif terhadap
kuman-kuman Gram-positif dan sejum-
lah kuman Gram-negatif, kecuali antara
lain Pseudomonas, Klebsiella dan B. fra-
gilis. Tidak tahan-laktamase, maka sering
dipakai terkombinasi dengan suatu
laktamase-blocker, umumnya klavulanat;
d. zat-zat anti-Pseudomonas: tikarsilin dan
pipera silin. Antibiotika berspektrum luas
ini meliputi lebih banyak kuman Gram-
negatif, termasuk Pseudom onas, Pro teus,
Klebsiella dan Bacteroides fragilis. Tidak
tahan laktama se, oleh sebab itu diguna-
kan bersamaan dengan laktamase-blocker.
MONOGRAFI
1.Benzilpenisilin:penisilin-G yaitu salah
satu antibiotikum berspektrum sempit yang
dihasilkan oleh Penicillium chrysogenum.
Semula berkhasiat kuat terhadap terutama
cocci (stafilokok, meningokok, streptokok,
pneumokok), namun kini lebih dari 80% ke-
dua kuman pertama sudah menjadi resisten.
Resistensi ini disebabkan kuman-kuman ini
memproduksi enzim (beta-laktamase, pe-
nisilinase) yang dapat “membuka” cincin
beta-laktam, gugusan yang integritasnya
esensial bagi kegiatan antibakterial dari ke-
lompok antibiotika ini.
Meskipun sudah ada banyak
derivatnya dan antibioti ka lain, namun penisi-
lin-induk ini masih banyak sekali diguna kan
berkat khasiat bakterisidnya yang sangat
kuat dan toksisitas nya yang relatif rendah.
Pen-G antara lain masih merupaka n pilihan
pertama pada infeksi dengan kuman-ku-
man Gram-positif mis. pneumokok: radang
paru-paru (pneumo nia) dan radang otak (me-
ningitis). Begitu pula sebagai obat profi laksis
terhadap penya kit tertentu (a.l. sifilis, gonore,
endocardi tis, poly arthri tis reumatica).
Resorpsi.Penisilin-G tidak tahan asam, maka
hanya dipakai sebagai injeksi i.m. atau
infus intravena. PP-nya lebih kurang 60%;
plasma-t½-nya sangat singkat, hanya 30 me-
nit dan kadar darahnya cepat menurun. Maka
obat ini khusus diberikan secara parenteral
sebagai senyawa-prokain dan -benzatinnya
dengan kerja panjang dan dalam dosis sangat
tinggi. Ekskresinya berlangsung sebagian be-
sar melalui transpor aktif tubuler dari ginjal
dan dalam keadaan utuh.
Distribusinya ke jaringan dan cairan intra-
seluler baik (sendi, pleura, pericard, empedu),
juga kadarnya di hati, ginjal, usus dan limfa
baik. Penetrasinya ke jaringan otak dan cai-
ran intra-okuler buruk, namun menjadi lebih
baik bila ada radang selaput otak (me-
ningitis).
Efek samping. Senyawa-senyawa penisi-
lin memiliki toksisitas yang rendah, namun
kadar tinggi dapat memicu encepha-
lopathy fatal, terutama pada pasien gagal
ginjal. Efek samping utama yaitu hipersen-
sitivitas yang dapat memicu radang
kulit, urticaria dan jarang-jarang shock ana-
filaktik yang 10% berakibat fatal.
Dosis: pada infeksi umum i.m./i.v. 4-6 dd 1-4
MU dari garam-garam long-acting-nya.
* Sediaan long-acting terdiri dari garam pen-
G dengan basa organik yang disuspensikan
dalam air atau minyak. Dalam plasma ga-
ram-garam itu lambat laun terurai dan
membebaskan kembali penisilin aktif. Yang
banyak dipakai yaitu :
- prokain-penisilin-G (F.I.): Bicilline yang
dikombinasi dengan garam-Na-nya agar
segera mulai kerjanya;
- benzathin-penisilin-G (Penidural, Retarpen)
kerjanya lebih panjang dari prok-pen-G dan
adakalanya dikombinasi dengan Bicilline.
AktivitaspenG masih dinyatakan dalam Unit
Internasional (UI). Atas dasar aktivitas penisilin-
G natrium murni, telah dikalkulasikan satuan
garam-garamnya lewat Berat Molekulny a se-
bagai berikut.
1 mg pen-G Na = 1667 UI; 1 mg prok-pen-
G = 1595 UI
1 mg pen-G K = 1595 UI; 1 mg benzathin-
pen-G = 1211 UI
2.Fenoksimetilpenisilin:penisilin-V, Fenocin,
Acipen-V, Ospen.
Derivat semisintetik ini (1956) tahan asam
dan memiliki spektrum kerja yang dapat
disamakan dengan pen-G, namun terhadap
kuman Gram-negatif (a.l. suku Neisseria dan
bacilli H. influenzae) 5-10 kali lebih lemah.
Obat ini teruta ma dipakai pada infeksi
Strep to kok ringan sampai yang agak parah,
a.l. radang hulu kerongkongan (pharyngitis).
Resorpsi. Pen-V tidak diuraikan oleh asam
lambung, berlainan dengan penisilin-G.
PP-nya lebih kurang 80%, plasma-t½ nya
30-60 menit. Sebagian besar zat dirombak di
dalam hati dan rata-rata 30% diekskre sikan
lewat kemih dalam keadaan utuh.
Dosis: oral 3-4 dd 250-500 mg 1 jam se-
belum atau 2 jam sesudah makan, sebab
penyerapan diperlambat oleh makanan.
* Fenetisilin(Broxil) merupakan derivat fe-
noksietil (1960) dengan sifat lebih kurang
sama, resorpsinya dari usus sedikit lebih kuat
(±70%). berdasar satuannya dalam mg,
aktivitasnya lebih ringan daripada pen-V, te-
tapi efek klinisnya tidak berbeda.
Dosis: oral 3-6 dd 250-500 mg 1 jam a.c.
atau 2 jam p.c.
3.Kloksasilin:Meixam, Orbenin.
Derivat pertama yang tahanlaktamaseada-
lah metisilin(1960) yang sebab diuraikan oleh
asam lambung hanya diberikan sebagai injek-
si. Kuman stafilokok resisten yang ditakuti
yaitu MRSA(Methicilin Resistant Staphyloccus
Aureus). Kloksasilin selain tahan laktamase
juga tahan asam (1962) dan segera mende sak
metisilin. Khusus diguna kan pada infeksi de-
ngan kuman yang memproduksi laktamase.
Resorp sinya ± 50%, PP-nya lebih dari 90%
dan plasma-t½-nya 30-60 menit. Ekskresinya
berlang sung terutama lewat kemih, untuk
±40% dalam keadaan utuh.
Dosis: oral 4-6 dd 500 mg a.c.; i.m./i.v. 4-6
dd 250–1.000 mg (garam-Na).
* Flukloksasilin (Floxapen) yaitu derivat
fluor semi-sintetik dari kloksasi lin dengan
sifat lebih kurang sama, namun resorpsi dan
plasma-t½-nya agak lebih tinggi. Efektif
terhadap stafilokoki yang memproduksi
beta-laktamase, sebab ada nya gugusan-
isoksazolil pada R1 yang merupakan halangan
ruang (steric hindrance) bagi enzim terhadap
cincin beta-laktam.
Dosis: oral 3-4 dd 500-1000 mg a.c.
4. Asamklavulanat: *Augmentin, *Timentin.
Senyawa beta-laktam ini diperoleh dari
Streptomyces clavuligerus (Inggeris 1976)
dengan kerja antimikroba ringan. namun
berkhasiat memblokir dan menginaktif-
kan kebanyakan laktamase yang berasal
dari stafilokok dan kuman Gram-negatif
(antara lain E. coli, Klebsiella, Proteus dan H.
influenzae). Terha dap sefalosporinase dan
laktamase dari Pseudomonas dan Ente-
robacter tidak berdaya, kecuali yang berasal
dari B. fragilis. Digun akan pada infeksi (a.l.
saluran kemih) yang pe nyebabnya diperki-
rakan yaitu kuman yang resisten berkat
laktamase.
Resorpsinya dari usus ±70%, PP-nya 20%
dan plasma-t½nya ±65 menit. Ekskresinya
terutama berlangsung lewat kemih sebagai
metabolit inaktif 40% dan dalam keadaan utuh
50%.
Efek sampingnya berupa mual dan mun-
tah, terutama pada dosis di atas 600 mg
sehari yang dapat diatasi bila tablet ditelan
ber sama makanan.
Sediaan kombinasi:
* Augmentin: tablet amoksisilin 250/500 +
klavulanat 125/125 mg
* Timentin : vial (i.v) tikarsilin 750/3000 +
klavulanat 50/200 mg
Kombinasi itu bekerja sinergistis;
khasiat amoksisilin menjadi sekitar 50
kali lebih kuat terhadap E. coli, H. influen-
zae dan S. au reus.
* Sulbaktam (*Unasyn IM) adala h senya-
wa baktam (1987) dengan khasiat
mem blokir laktamase, seperti asam kla-
vulanat. dipakai sebagai injeksi i.m./
i.v. 250/500 mg + ampisilin500/1.000 mg.
* Sultamisilin(*Unasyn oral) yaitu se-
nyawa equimolekuler dari ampisi lin +
sulbaktam, yang dalam tubuh dihidrolisis
menjadi kompo nennya.
Dosis: oral 2 dd 375-750 mg.
* Tazobaktam (*Tazocin) yaitu derivat
(1993) yang hanya diguna kan intravena.
Tazocin = tazobaktam 250/500 mg + pi-
perasilin 2/4 g, khusus bermanfaat pada
infeksi dengan Pseudomonas.
* Sulperazon:sulbaktam 500 mg + sefope-
razon 500 mg
5. Ampisilin: Penbritin, Ultrapen, Binotal,
Viccillin
Penisilin broad-spectrum ini (1961) tahan asam
dan lebih luas spektrum kerjanya, yang meli-
puti banyak kuman Gram-negatif yang hanya
peka bagi pen-G dalam dosis i.v. tinggi seka-
li. Sebetulnya kuman Gram-negatif (kuman
Gram-positif tidak) memiliki membran fos-
folipid di bagian luar yang dapat menghindari
akses dari obat ke dinding sel. namun ampisilin
dan juga amoksisilin dapat menembus mem-
bran fosfolipid ini melalui pori-porinya.
Kuman-kuman yang memproduksi penisi-
linase tetap resisten terhadap ampisilin (dan
amoksisilin). Ampisilin efektif terhadap E.coli,
H. influenzae, Salmonella dan beberapa suku
Proteus. Tidak aktif terhadap Pseudomonas,
Klebsiella dan Enterococci, sama halnya
dengan pen-G. Khasi atnya terhadap kuman
Gram-positif lebih rendah daripa da pen-G.
Obat ini banyak dipakai untuk menga-
tasi infeksi, antara lain dari sa







