Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 4


 an berdasar  profil genetik pribadi pen-

derita, FG memungkinkan menerapkan far- 

makoterapi individual (custom made) yang 

lebih efektif.

Di A.S. pada lembaran informasi obat 

(brosur) dicantumkan catatan pengaruh obat 

terhadap konstitusi genetik tertentu. Misal-

nya, pada tioridazin dicantumkan kontra-

indikasi bagi orang yang memiliki aktivitas 

enzim CYP2D6 rendah. Juga pada obat-

obat mahal dan pada penyakit parah seper- 

ti kanker, di brosur ada  anjuran untuk 

melakukan tes-tes genetik yang dapat me-

ramalkan respons obat atau efek sampingnya, 

misalnya trastuzumab (Herceptin) pada kan-

ker payudara tersebar dan tretinoin  pada 

leukemia.

Beberapa teknologi lain yang berkaitan 

dengan genom manusia yaitu  genomics dan 

proteomics, yang diintrodusir dan dikem-

bangkan sejak 4-5 tahun lalu. Untuk pene- 

litian dimanfaatkan sejumlah cara biotek-

nologi baru seperti microarray, NMR dan 

X-ray mikrokristalografi. Untuk analisis data 

yang berlimpah-limpah dipakai  metode 

bio-informatika. 

Genomics mempelajari hubungan antara 

pola penyakit dan semua mutasi dari gen-gen 

yang tampak pada genom, dengan tujuan 

menemukan dan mengembangkan terapi 

baru termasuk prevensinya untuk penyakit 

tertentu. Kemudian diusahakan mengha- 

lau gen-gen cacat (termutasi) dan menggan-

tikannya dengan gen sehat.

Pharmacogenomics

Penerapan pengetahuan DNA dalam bidang 

medis memberikan harapan bahwa “perso-

nalized medicine” berdasar  perkembang-

an baru yang disebut Pharmacogenomicsm, 

dapat mendesain dan memproduksi “cus-

tom” drugs (tailor-made) yang disesuaikan de-

ngan profil genetik pasien dan diarahkan 

terhadap titik-titik spesifik dalam tubuhnya. 

Pharmacogenomics berkembang cepat 

menyusul launching dari Human Genome 

Project dalam tahun 1990-an. Tujuannya ada-

lah meningkatkan efek terapeutik semaksi-

malnya, menghindari reaksi obat yang tidak 

diinginkan dan juga untuk sejauh mungkin 

memperkecil risiko kerusakan pada sel-sel 

sehat. Inilah yang menjadi impian dari Paul 

Ehrlich dengan kemoterapi.

Proteomics mempelajari sifat-sifat protein 

dalam sel, jenis, jumlah, struktur, cara ber-

fungsi dan interaksinya satu dengan yang 

lain. Proteom yaitu  nama gabungan dari se-

mua protein dalam suatu organisme yang di-

bentuk atas dasar genomnya. Dewasa ini para 

ilmuwan berusaha menentukan hubung- 

an antara protein dalam darah atau urin 

dengan gangguan tertentu, dengan maksud 

POLIMORFISME GENETIK

Enzim-enzim yang berperan pada metabolisme obat yaitu  terutama: 

CYP2D6, CYP2C9, CYP2C19 dan CYP3A4.

Sekitar 20% dari semua obat dimetabolisasi oleh enzim CYP2D9, misalnya antipsikotika (litium) dan 

antidepresiva (imipramin, haloperidol, risperidon, mirtazapin, citalopram).

berdasar  polimorfisme genetik dan fenotipe-fenotipe yang diturunkan dari DNA ada  3 ke-

lompok “metabolizer”:

– PM atau poor metabolizer

– IM atau intermediate metabolizer

– UM atau ultrarapid metabolizer

Untuk tepatnya dosis obat harus disesuaikan dalam kelompok mana pasien termasuk. Penyesuaian 

dosis misalnya bagi imipramin untuk fenotipe CYP2D6:

PM: 30% dari dosis standar;

IM: 70% dari dosis standar;

UM: dosis dinaikkan sampai 170%.

pemakaian  dosis normal/standar dalam contoh itu  bagi pasien PM dapat meningkatkan risiko 

efek samping sebab  aktivitas enzimnya rendah sehingga obat lambat di uraikan. Untuk menghindari 

efek samping, pasien condong lebih sering mengganti jenis obat yang berakibat dapat menurunkan 

kesetiaan terapinya.

Penentuan profil genetik yang berkaitan dengan aktivitas enzimnya penting sekali untuk terutama 

penentuan dosis yang tepat bagi obat psikofarmaka .

.

mendeteksi dan mendiagnosis gangguan 

itu .

GERIATRI (Yun. geras = usia tua) 

Dengan istilah ini (geriatric medicine) di-

maksud kan cabang ilmu kedokteran yang 

berhubungan dengan perawatan kesehatan 

orang tua (lansia) dengan tujuan meng-

hindari dan menangani penyakit dan ma-

salah invaliditas.

Para lansia merupakan kelompok orang 

yang peka terhadap efek samping obat yang 

dipengaruhi oleh banyak faktor terutama 

oleh perubahan-perubahan fisiologis seperti 

menurunnya fungsi ginjal dan menu runnya 

fungsi metabolisme dari hati serta peningkatan 

rasio lemak terhadap air tubuh. Di samping ini 

komorbiditas yang meluas pada lansia dengan 

konsekuensi polyfarmasi, meningkatkan in- 

teraksi farmakokinetik maupun farmakodi-

namik.Misalnya obat antikolinergik atau obat 

pereda condong meng akibatkan masalah, 

seperti terjatuh dengan fraktur.

Dibandingkan dengan orang muda far-

makoterapi pada lansia perlu lebih dise-

suaikan dengan keadaan individu. pemicu  

terpentin g yaitu  sebab  proses penuaan 

pada masing-masing individu tidak sinkron 

dan juga sebab  proses penuaan dari ber-

baga i jaring an dan organ per orang juga bisa 

berbeda.

Lagipula komorbiditas memicu  pa-

sien memakai  berbagai obat bersamaan 

(polifarmasi) dengan risiko interaksi dan efek 

samping yang meningkat. 

Perlu juga diperhatikan bahwa gangguan 

pada orang tua sering kali bersifat kronis, 

sehingga pemakaian  obat-obat juga untuk 

waktu panjang. 

Pada orang tua sukar dibedakan kelainan-

kelainan yang disebabkan oleh perubahan 

fisiologi sebab  usia atau akibat penyakit 

(patologis). Banyak gangguan kesehatan tim- 

bul dengan keluhan atau gejala yang as-

pesifik. Juga reaksi terhadap penyakit ka-

dangkala berbeda atau dengan lebih banyak 

gejala aspesifik pada lansia dibandingkan 

dengan orang muda. 

Berikut ini diuraikan beberapa kriteria 

yang memengaruhi pengobatan para lansia 

(> 65 tahun). 

Perubahan-perubahan yang timbul pada 

penuaan seperti homeostasis, jaringan dan 

organ memengaruhi farmakokinetik (penu-

runan proses absorpsi, distribusi dan elimi- 

nasi) dan farmakodinami (kepekaan terha-

dap obat dan jarak waktu interaksi obat dan 

reseptor). 

Dengan homeostasis dimaksudkan ke-

mampuan tubuh untuk pada timbulnya 

gangguan dapat kembali ke keadaan normal, 

proses ini pada lansia berlangsung lebih 

lambat. 

Cairan tubuh

Pada usia lanjut jumlah cairan tubuh ber-

kurang sedang  jumlah lemak relatif 

meningkat. Ini berarti bahwa distribusi obat-

obat yang melarut dalam air atau dalam 

lemak berubah, yang memengaruhi kadar-

nya dalam berbagai jaringan dan waktu 

eliminasinya serta berkaitan dengan efek 

samping.

Hati

Volume hati mengecil sehingga kapasitasnya 

untuk menguraikan senyawa/obat melalui 

enzim-enzim CYP menurun.

Kerangka

Kepadatan tulang berkurang sehingga ter-

utama pada wanita tinggi badan menurun 

sebab  kompresi dan fraktur dari badan 

ruas tulang belakang. Juga sering kali timbul 

masalah mobilitas, sebab  beberapa sebab 

antara lain, berkurangnya aktivitas sehari-

hari dan menurunnya keseimbangan, akibat 

organ keseimbangan dan otot yang massa 

dan kekuatannya pada lansia menurun.

Jantung. Fungsi jantung menurun sebab  

kehilangan sel-sel otot jantung, berkurangnya 

pemakaian  oksigen secara efisien dan me-

nurunnya frekuensi jantung.

Peningkatan berat badan yang cepat se-

ring kali disebabkan oleh retensi air akibat 

decompensatio cordis; sedang  menurunnya 

berat badan yang cepat akibat penyakit serius 

atau dehidrasi.

Tekanan darah. sebab  hilangnya kelenturan, 

tekanan diastolik menurun sedang  tekan-

an sistolik meningkat. Hipotensi ortostatik 

akibat pemakaian  obat antihipertensi atau 

obat terhadap SSP, sering kali timbul lebih 

cepat pada lansia dengan risiko terjatuh. 

Fungsi serebral. Dengan berlanjutnya usia 

timbul atrofi dari jaringan otak dengan ke-

hilangan neuron dan reseptor pada trans-

misi kolinerg. Juga pengaliran darah di otak 

ber kurang yang memicu  menurunnya 

daya ingat dan orientasi. Gangguan dari fungsi 

kognitif sering kali akibat demensi. Pada 

sebagian besar lansia timbul penyimpangan 

neurologi ringan, mungkin sebab  penyakit 

neurode generatif, misalnya Parkinsonisme 

ringan atau penyakit Parkinson. Lihat Bab 28, 

Obat-obat Parkinson dan Demensia.

Kesetiaan terapi (patient compliance). Ketidak-

setiaan minum obat para lansia sering kali 

menjadi pemicu  penting dari gagalnya te-

rapi, sebab  menurunnya daya kognitif (ter-

lupa), pemakaian  obat yang rumit (handi- 

cap pada memakai ), polifarmasi atau 

frekuensi dosis (beberapa kali sehari). Hal 

ini sering kali terjadi pada medikasi kronis, 

seperti pemakaian  antihipertensiva dan obat 

penurun kadar kolesterol. Akibatnya yaitu  

penyakit berkelanjutan, gagalnya terapi dan 

biaya tambahan untuk pemeriksaan yang 

tidak perlu.

Kulit menjadi lebih tipis dan berkurang ke-

lenturannya, serta kapasitas mengikat cairan 

menurun. 

Akibat atrofi dapat timbul perdarahan di 

bawah kulit tanpa pemicu  klinis.

Suhu. Pada sekitar 10% dari lansia timbul 

hypotermi dan bukannya demam pada in-

feksi.

Pancaindra. Disebabkan perubahan-perubah-

an degeneratif, pendengaran berkurang ter-

utama bagi suara-suara tinggi (presbyacusis). 

Katarak dapat timbul sebab  penggumpalan 

protein di lensa mata.

Saluran pencernaan

Produksi air liur sering kali berkurang pada 

lansia, begitu juga gerakan saluran gastro-

intestinal menurun.

Alat gerak dan mobilitas

Penuaan dari jaringan dan organ berakibat 

meningkatnya kepekaan tubuh bagi gang-

guan/cedera.

Efek samping. Pada lansia timbul efek samping 

lebih banyak akibat polifarmasi (interaksi) 

dan kepekaan yang meningkat terhadap efek 

samping obat. 

Obat-obat yang pada lansia memicu  

lebih banyak efek samping, sebaiknya dihin-

dari sebab  memengaruhi buruk kualitas 

hidupnya. Untuk tujuan ini di Amerika telah 

disusun “daftar hitam” yang mencantumkan 

sekitar 50 jenis obat yang selalu harus di-

hindari oleh lansia, terlepas dari indikasi, 

komorbiditas, dosis dan komedikasi. 

Beberapa contoh yaitu  klorpropamida, di-

azepam, indometasin, amiodaron, disopira-

mida, pentoksifilin, pentazosin, doksazosin 

dan metildopa.

Perlu pula diwaspadai dosis obat yang 

tersedia di “pasaran” yang kadangkala bagi 

lansia terlampau tinggi, sehingga meng-

akibatkan overdosis.

Faktor lain yang juga perlu diperhatikan 

yaitu  jangka waktu manifestasi dari efek 

samping yang pada lansia timbulnya bisa 

terlambat sesudah  obat dipakai  beberapa 

waktu. 

Dengan polyfarmasi dimaksudkan peng-

gunaan 5 atau lebih jenis obat pada bersamaan 

waktu, yang adakalanya bertentangan atau 

memicu  efek samping serius.

Akibat dari penuaan banyak obat yang 

dapat diberikan dengan aman dan efektif 

pada pasien muda, mungkin tidak cocok 

bagi lansia disebabkan meningkatnya ko-

morbiditas, polyfarmasi dan perubahan-

perubahan fisiologis yang diuraikan di atas, 

termasuk misalnya menurunnya fungsi ginjal. 

Beberapa contoh yaitu  a.l. meningkatnya 

risiko terjatuh pada pemakaian  senyawa 

benzodiazepin dan perdarahan lambung 

serta meningkatnya gangguan jantung pada 

pemakaian  obat-obat NSAID’s. 

Untuk menghindari timbulnya efek sam-

ping serius pada lansia telah disusun suatu 

daftar yang dinamakan Beers list sebagai alat 

bantu untuk memonitor masalah ini.

Di samping ini telah dikembangkan pula 

(Ierland) suatu metoda screening yang di-

namakan STOPP- dan START untuk meng-

analisis kemungkinan pengobatan berlebih- 

an atau justru kurang bagi lansia. Terdiri 

dari 2 daftar “Screening tool of older per-

son’s prescriptions” (STOPP)-criteria dan 

“Screening tool to alert doctors to right treat-

ment”(START)-criteria. Daftar pertama terdiri 

dari obat-obat yang potensial tidak cocok bagi 

lansia dan daftar kedua diarahkan pada cara 

penanganan yang seharusnya. Menurut para 

ahli metoda STOPP- dan START memberikan 

lebih banyak keuntungan dibandingkan de-

ngan daftar Beers.

Beers-list (1991)

Terdiri dari 2 tabel, yang pertama mencakup 

obat-obat yang selalu harus dihindari oleh 

lansia atau yang dosis tertentu tidak boleh 

dilampaui dan yang kedua daftar obat-obat 

yang harus dihindari berkenaan dengan ko-

morbiditas tertentu.

Versi terbaru dari daftar ini terbit dalam 

tahun 2012 yang disertai suatu daftar ketiga 

yang mencakup obat-obat yang perlu di-

gunakan dengan hati-hati oleh para lansia, 

misalnya antipsikotika.

Catatan: 

1. pemakaian  daftar ini dengan konsekuen 

memiliki risiko undertreatment yang pada 

lansia merupakan masalah penting; 

2. Kadangkala obat tertentu yang tercantum 

dalam daftar mutlak harus dipakai  

walaupun ada  kontraindikasi relatif;

3. Obat yang tidak tercantum dalam daf-

tar tidak berarti bahwa obat itu  

aman bagi lansia, dengan mengingat 

kemungkinan perubahan-perubahan pa-

rameter farmakokinetik dan farmakodi- 

namik pada lansia dan akibatnya terha-

dap risiko efek samping. Misalnya anti-

psikotika tertentu tidak tercantum dalam 

daftar namun  justru berisiko besar bagi 

lansia.

sebab  faktor-faktor individual ini daftar 

Beers harus dipakai  dengan pertimbangan 

yang rasional. Manfaatnya yaitu  sebagai alat 

bantu untuk secara kritis menilai medikasi 

para lansia dan menghindari efek samping 

dan interaksi. Misalnya menghindari obat 

atau dosis yang tidak dianjurkan dan meng-

gantinya dengan yang lebih aman.

Jenis obat Alasan

psikofarmaka

benzodiazepin kerja singkat

lorazepam (3 mg), alprazolam (2 mg) temazepam

(15 mg)

jangan melampaui dosis harian, bagi lansia dosis lebih

rendah pada umumnya sudah efektif dan juga lebih aman

benzodiazepin kerja panjang

(diazepam)

panjang pada lansia dg risiko terjatuh/fraktur; sebaiknya

gunakan benzodiazepin dengan daya kerja lebih singkat

amitriptilin tidak dianjurkan sebab sifat antikolinerg dan sedatif kuat

fluoksetin, pemakaian setiap hari t½ panjang dg risiko stimulasi kuat SSP, gangguan tidur dan

agitasi

tioridazin

amfetamin dan psikostimulansia lain

banyak risiko efek samping SSP dan keluhan ekstrapiramidal,

risiko ketergantungan, hipertensi, angina dan infark jantung

semua senyawa barbital, terkecuali fenobarbital dan

utk serangan epilepsi

ketergantungan serius

analgetika dan antirematika

pemakaian lama dari NSAID’s non-COX-selektif dg

panjang (naproksen dan piroksikam)

Risiko perdarahan gastro-intestinal, gagal ginjal, hipertensi

dan gagal jantung bila dipakai untuk waktu lama dengan

dosis maksimal

antikolinergika

oksibutinin sedasi, efek samping antikolinergik, lemah otot

obat jantung

disopiramida risiko gagal jantung dan bersifat antikolinerg kuat

amiodaron masalah QT-interval, kurang efektif bagi lansia

digoksin dosis harian maksimal 0,125 mg sebab risiko intoksikasi

pada bersihan ginjal (renal clearance) yang kurang

dipiridamol hipotensi ortostatik

metildopa bradikardi, dapat memperkuat depresi pada lansia

nifedipin bahaya hipotensi dan obstipasi

klonidin hipotensi ortostatik dan efek samping SSP

doksazosin bahaya hipotensi, mulut kering dan gangguan kencing

Antihistaminika

hidroksizin, siproheptadin, prometazin,

deksklorfeniramin

praktis semua antihis. memiliki sifat antikolinergik kuat; lansia

sebaiknya gunakan antihis. non-antikolinerg

Obat parkinson

orfenadrin efek samping sedasi dan antikolinergik

Obat antibakteri

nitrofurantoin bahaya gangguan ginjal, tersedia alternatif yang lebih aman

Hormon kelamin

Testosteron risiko prostat hipertrofi dan gangguan jantung

Oestrogen efek karsinogen payudara dan endometrium;

kurang efek kardioprotektif pada wanita post-menopause

Obat gastro-intestinal

simetidin

kontak laksansia (bisakodil)

efek samping SSP dan perasaan kacau, gangguan fungsi

intestinal

emulsi parafin risiko aspirasi dan efek samping

Mineral

fero sulfat>325 mg/hari obstipasi

Daftar beers (dipersingkat)

Tabel 1. Obat-obat dan dosis yang harus dihindari oleh lansia, terlepas dari 

gangguan atau keadaan


KEMOTERAPEUTIKA

Kemoterapeutika didefinisikan sebagai obat-

obat kimiawi yang dipakai  untuk mem-

berantas penyakit infeksi akibat mikro-orga- 

nisme bakteri, jamur, virus dan proto zoa (plas-

modi um, amuba, tricho monas, dan lain-lain), ju-

ga terhadap infeksi oleh cacing. Obat-obat 

itu  berkhasi at memus nahkan para sit 

tanpa merusak jaringan tuan rumah (toksisitas 

selektif). Sitostati­ka (obat-obat kanker) juga 

termasuk dalam golongan ini sebab  sel-sel 

kanker adakalanya dapat dikembangbiakkan 

dan ditularkan pada organisme lain, seperti 

halnya kuman. namun  sebab  sel-sel kanker 

sangat mirip sel-sel normal dan kebanyakan 

sitostatika tidak bekerja selektif, obat-obat ini 

dapat memicu  efek samping serius.

1. PENYAKIT INFEKSI

WHO telah memperoleh banyak sukses de-

ngan kampanye mondialnya untuk membe-

rantas berbagai penyakit infeksi penting. 

Hasil baik itu  terutama dicapai berkat 

penemuan banyak antibio tika baru dengan 

khasiat antimikroba kuat. Cacar telah dibasmi 

seluruhnya, polio juga praktis dieliminasi, 

sedang  sampar (pest), difteri, penya kit 

kuning dan kolera sangat dibatasi penjangki t-

annya. Begitu pula malaria dan tuber kulosa 

telah didesak penyebarannya. 

namun  sejak dasawarsa terakhir, penyakit-

penyakit itu  —kecuali cacar dan polio— 

sudah mulai muncul kembali di banyak 

bagian dunia. Tuberkulosa semakin meraja-

lela sebab  sulit diberantas akibat masalah 

resis tensi, terlebih-lebih pula dewasa ini 

juga berjangkit penyakit AIDS. Di dunia ke-

tiga malaria kini merupakan pemicu  ke-

matian utama, terutama anak-anak begitu 

juga kolera semakin banyak menelan korban. 

Bahkan dalam periode itu  telah di-

identifikasikan lebih dari 30­penyakit­infeksi­

baru, termasuk AIDS,Ebola, penyakit Vete ran 

dan penyakit Lyme. 

pemicu  perkembangan buruk ini terle-

tak antara lain pada kuman dan virus yang 

telah menjadi lebih agresif (virulen). Virus 

mengubah struktur permukaannya lebih 

cepat dan dengan demikian dapat menge-

lakkan khasiat vaksinasi. Virus-virus baru 

berasalkan dari hewan dengan jalan mutasi 

spontan telah muncul, yang kemudian 

disebar luaskan dengan cepat dari benua ke 

benua berkat perjal anan dan turisme sedunia 

yang telah berkem bang secara eksplo sif. 

pemicu  lainnya yaitu  eksplorasi manusia 

ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak 

dihuni orang serta berkembangnya kota-kota 

mega dengan berjuta-juta penduduknya. Di 

pihak lain banyak an tibioti ka ternyata menja-

di resisten terhadap infeksi umum, seperti 

radang paru-paru (pneumoni a), tbc dan gonor e. 

Keracunan­ darah­ (bacteremia, sepsis) yaitu  

keadaan di mana kuman, sesudah  infeksi 

segera memperbanyak diri dengan pesat. 

Toksin yang dibentuknya mengacaukan ba-

nyak fungsi tubuh, antara lain sistem pembe- 

kuan darah diaktifkan sehingga terjadi be-

kuan darah (trombi) di seluruh tubuh. Dengan 

demikian banyak faktor pembekuan habis di- 

pergunakan, sehingga memicu  kecen-

derungan perdar ahan kecil pada kulit. Geja-

la lainnya yaitu  perasaan nyeri, demam 

tinggi, termangu-mangu dan kadang-kadang 

muntah. Bila tidak diobati selayaknya, sep-

sis biasanya  berakibat fatal. Yang 

terkenal yaitu  sepsis yang menyertai infeksi 

oleh stafilokok atau meningokok­ (Neisse-

ria meningitides) yang teruta ma menyerang 

anak-anak dan remaja, yang tanpa pertanda 

dapat berlangsung fatal dalam bebera pa jam. 

Lihat juga Bab 50 Sera dan vaksin, Vaksin 

meningokok.

2. SEJARAH KEMOTERAPI

Sejak zaman purbakala, orang kuno telah 

mempraktikkan fitoterapi­(Y. phytos = tanam-

an) dengan coba-mencoba (empiris, trial and 

error). Orang Yunani dan Aztec (di Meksiko) 

menggu nakan masing-masing pakis­ pria­

(Filix mas) dan minyak­ chenopo­di untuk 

membasmi cacing dalam usus. Orang Hindu 

sudah beribu-ribu tahun lalu mengobati lepra 

dengan minyak­chaulmogra dan di Cina serta 

di pulau Mentawai (Sumatera Barat) sejak 

dahulu kala borok diobati dengan jamur-

jamur tertentu sebagai pelopor antibi otika. 

Orang dari negara Cina dan Vietnam sejak 

dua ribu tahun lalu memakai  tanaman 

qinghaosu (mengan dung artemisinin) untuk 

mengobati malaria, sedang kan suku-suku 

Indian di Amerika Selatan memanfaatkan 

kulit­pohon­kina. Pada abad ke-16 air­raksa­

(merku ri) mulai diguna kan sebagai kemo-

terapeutikum pertama terhadap sifilis. 

Kemoterapi­modern mulai berkembang pada 

akhir abad ke-19. Saat itu peneliti Dr­Robert­

Koch­ dan Dr­ Louis­ Pasteur membuktikan 

bahwa banyak penyakit diakibatkan oleh 

bakteri dan protozoa. Dr­Paul­Ehrlich yaitu  

sarjana pertama yang melontar kan konsepsi 

dan istilah kemoterapi dan indeks terapi. Pada 

penelitiannya dengan jaringan dan bakteri 

yang diwarnai dengan anilin dan metilenbiru, 

ia menemukan khasiat bakterisid dari zat-zat 

warna itu . Pada tahun 1891 ia berhasil 

menyembuhkan hewan yang terinfeksi para- 

sit malaria dengan metilenbiru. Kemudi-

an pada tahun 1907 ditemukan obat anti-

spirokheta arsfe­namin­ (Salvarsan) yang me-

rupakan obat standar sifilis pada saat itu 

sampai kemudian terdesak sesudah  ditemu-

kannya penisilin. Kemoterapeutika penting 

yang disintesis atas dasar zat-zat warna 

yaitu  obat malaria pamaquin dan mepakrin 

(1930). 

Dengan penemuan sulfonamida­ (1935) ke-

mungkinan terapi —yang hingga saat itu 

hanya terbatas pada infeksi protozoa dan 

spirokheta— sangat diperlu as dengan banyak 

bakteri lain. Antara lain banyak pemicu  

penyakit fatal seperti radang selaput otak 

(meningitis) dan radang paru-paru (pneumo-

nia) mulai dapat ditanggulangi dan disem-

buhkan dengan terapi­sistemik, yaitu melalui 

peredaran darah. 

Titik-titik puncak dalam perkembangan se-

lanjutnya yang membuka babak baru dalam 

pengobatan sistemik penyakit infeksi yaitu  

diperkenalkannya penisilin­ (1941) dengan 

khasiat dan toksi si tas yang sangat selektif. 

Antibiotikum­ pertama ini disusul oleh ba-

nyak antibiotika lain, seperti kloramfenikol 

dan kelompok sefalosporin, tetrasiklin, ami-

noglikosida, makrolida, polipeptida, linkomi- 

sin dan rifamisin. Selain sulfonamida di-

kembangkan juga­kemoterapeutika­sintetik,­

seperti senyawa­ nitrofuran (1944), asam­

nalidik­sat (1962) serta turunannya (fluorki-

no­lon,­1985),­obat-obat TBC (PAS,­INH)­dan 

obat-obat protozoa (kloroquin,­ proguanil,­

metronidazol,­ dan­ lain-lain). Banyak zat 

antimikroba baru telah dikem bang kan yang 

mampu menyembuhkan hampir semua in-

feksi mikroba, kecuali infeksi dengan ke-

banyakan virus.

3. PENGGOLONGAN ZAT-

ZAT ANTIBAKTERI

Kemoterapeutika antimikroba dapat digo-

longkan atas dasar mekanisme kerjanya da -

lam zat-zat bakterisid dan bakteriostatik sebagai 

berikut. 

A.­ zat-zat­ bakterisid­ (L. caedere = mema-

tikan), yang pada dosis biasa berkhasiat 

mematikan kuman. Obat-obat ini dapat 

dibagi pula dalam dua kelompok yang 

bekerja:

–­ terhadap­ tahap ­ pertumbuhan, misal-

nya penisilin dan sefalosporin, poli-

peptida (polimiksin, basitrasin), rifam- 

pisin, asam nalidiksat dan kuinolon-

kuinolon. Zat-zat ini kurang efektif 

terhadap kuman dalam tahap  istir ahat.

–­ terhadap­tahap ­istirahat misalnya ami-

noglikosi da, nitrofurantoin, INH, ko- 

trimoksazol dan juga polipeptida ter-

sebut di atas.

B.­ zat-zat­ bakteriostatik (L. stasis = meng-

hentikan), yang pada dosis biasa teruta- 

ma berkhasiat menghentikan pertum-

buhan dan perbanyakan kuman. Pemus-

nahannya harus dilakukan oleh sistem 

tangkis tubuh sendiri dengan jalan fa-

gositosis (‘dimakan’ oleh limfosit), lihat 

Bab 49, Dasar-dasar imunologi. Contoh-

nya yaitu  sulfonamida, kloramfenikol, 

tetrasiklin, makrolida dan linko misin, 

PAS serta asam fusidat.

Penggolongan ini tidak mutlak, sebab  faktor 

konsentrasi (dosis) dan waktu turut menentu-

kan efek obat. Kebanyakan bakteriostatika 

menjadi bakterisid pada dosis sangat tinggi, 

yang biasanya terlalu toksik untuk diberikan 

pada manusia. Lagipula kepekaan kuman bagi 

obat memegang peranan; pada dosis tertentu 

obat dapat berefek bakterisid untuk suatu 

kuman dan hanya bakterio statik bagi kuman 

lain. Secara klinis perbedaan ini biasanya 

tidaklah penting, sebab  pada akhirnya da-

ya tahan tubuh juga memegang peranan 

bagi pemusnahan kuman-kuman patogen. 

Pengecualian yaitu  pengobatan infeksi dari 

penderita yang memiliki daya tahan tubuh 

terganggu, mis. penderita AIDS, pengguna 

kortikosteroida, sitostatika dan obat-obat 

yang menekan imunitas. Pada kasus demikian 

obat-obat bakterisid yang harus dipakai .

Penggolongan­ lain yang juga sering digu-

nakan yaitu  berdasar kan luas aktivitasnya, 

artinya aktif terhadap banyak atau sedikit 

jenis kuman. Dapat dibedakan antibiotika 

dengan aktivitas sempit dan luas.

a.­ Antibiotika­ narrow-spectrum­ (aktivitas 

sempit). Obat-obat ini terutama aktif ter-

hadap beberapa jenis kuman saja, misal-

nya penisi lin-G dan penisilin-V, eritromisin, 

klindamisin, kanamisin dan asam fusidat 

hanya bekerja terhadap kuman Gram-

positif (lihat di bawah). sedang  strep-

tomi sin, gentami sisn, polimiksin-B dan asam 

nalidiksat khusus aktif terhadap kuman 

Gram-negatif.

b.­ Antibiotika­broad-spectrum­(aktivitas lu-

as) bekerja terha dap lebih banyak baik je-

nis kuman Gram-positif maupun Gram-

nega tif. Antara lain sulfona mida, ampisilin, 

sefalospo rin, kloram feni kol, tetrasiklin dan 

rifampisin.

Istilah­ antibiotika­ sering kali dipakai  

dalam arti luas dan dengan demikian tidak 

terbatas pada hanya obat-obat antibakteri 

yang dihasil kan fungi dan kuman (definisi 

dari Waksman untuk antibiotika), melainkan 

juga untuk obat-obat sintetik seperti sul-

fonamida,­ INH,­ PAS,­ nalidiksat­ dan­ fluor-

kuinolon. Istilah dengan arti luas itu  

yang selanjutnya akan dipakai  dalam 

buku ini. Zat-zat­ sintetik lainnya dengan 

kerja antibakteri yaitu  obat-obat­ tbc,lepra­

dan­ metro­ni­dazol. Antibiotika dengan ker-

ja­ fungi­sta­tik dibahas dalam Bab 6. Anti-

mikotika.

4. PARASIT-PARASIT 

PATOGEN

Secara global bakteri dapat dibagi dalam dua 

kelompok besar sesudah  diwarnai menurut 

metode sarjana Denmark dr­ Gram, yakni 

kuman­ Gram-positif dan kuman­ Gram-

negatif. Menurut bentuknya dapat pula di-

bedakan beberapa jenis kuman, yaitu cocci 

(tunggal: coccus = biji bundar), bacilli­(tung-

gal: bacillus = batang silindris) serta spiro-

kheta dan vibrio­ yang kedua-duanya ber-

bentuk spiral. 

Kuman­ Gram-negatif memiliki membran 

luar yang untuk sebagian besar terdiri dari 

suatu kompleks lipopolisakarida-endotoksin, 

yang memicu  toksisitasnya. Kebanyak-

an kuman ini seperti Meningococci dan 

Chlamydiae, bersifat sangat­ virulen akibat 

endotoksin itu  dan ada nya salut 

polisakarida yang kebal terhadap fagositosis 

oleh sel-sel sistem imun. Kuman-kuman ini 

sering kali memicu  bakteremia dan 

sepsis yang sangat membahayakan jiwa.

Di antara virus­ yang jauh lebih kecil 

daripada bakteri dan fungi (jamur) ada  

banyak pembangkit penyakit. Begitu pula di 

antara proto­zoa yang merupakan jasad-jasad­

renik­satu-sel terendah.

Untuk mempermudah pengertian dari pem-

bahasan selan jut nya, pada halaman berikut 

diberikan sebuah tabel ikhtisar yang men-

cantumkan parasit terpenting, yang dapat 

memicu  penyakit infeksi pada manusia 

serta kemoterapeuti ka yang biasanya  

dipakai  untuk pengobatanny a.


P a r a s i t Penyakit Obat pilihan utama Obat pilihan kedua

1 Kuman2 Gram positif

a c o c c i

Staphyloc. Aureus a p e m AK, Ps St, Sf, Vm

Streptoc. Pyogenes f o p s Pv, Pg Ss, Vm

Enterococcus u e As Sf, Nf

b b a c i l i

Bacillus anthracis p Pg Em, Ts

Clostridium tetani T serum+vaks., pg Ts, Em

Corynebact. Diphther. difteri antitoksin, Em Pg + Rf

Listeria monocytogenes b m As, Pg (+Ag) Kt, Ka, Ts

2 Kuman² Gram negatif

a c o c c i

Branhamella catarrh. o t p AK, Kt Em, Sf

Meningococci m Pg St, Ka

Neisseria gonorrh. gonore As/Pg + Pb Sp, St

b b a c i l i

Bacteroides fragilis a e b Mn, Km Mn, Ss

Campylobact. Jejuni j e g Sf, Em Ts, Km

Enterobact. spec. u umum Sp, Ag Ts, Kt

Escherichia coli u umum Kt, Sf AK, Sf

Haemophil. influ. B o s p m Sp, St AK, As

Klebsiella pneumon. u p Sp, St At, Kt

Legionella pneumoph. pk veteran Em (+Rf) Sf, Kt

Proteus mirabilis u As Ss, Ag

Pseudomon. aerugin. u p b Ps + Ag St + Ag

Salmonella typhi t b Kt, Ka Sp, St

Shigella spec. g Kt Sp

Vibrio cholerae kolera Ts Kt, Ka, Sf

Yersinia pestis pes (plague) Sf, Ag, Ka Ts, Ka

3 Kuman² tahan-asam

Mycobact. tubercul. tbc I + Rf + Pa I+Rf+etambutol

Mycobact. Leprae kusta Rf + dapson klofazimin

4 Spirochaeta dan lain-lain

Borrelia burdorferi pk Lyme Pg St, Ts

Leptospira pk Weil Pg Ts

Treponema pallidum sifilis Pg St, Ts

14108649_OBAT P(Bab 05)_T-061-097.indd   65 25/04/2015   9:05:02

Seksi II: Kemoterapeutika66

P a r a s i t Penyakit Obat pilihan utama Obat pilihan kedua

5 V i r u s - virus

Hepatitis-B virus hepatitis _ _

Herpes simplex pk kelamin asiklovir Vidarabin

Herpes zoster sinaga asiklovir Vidarabin

HIV AIDS AZT+3TC+indinavir

Influenza-A2 influenza amantadin, Relenza

6 Fungi – ragi

dermatofit dermatitis Kk

Candida albicans vaginitis nistatin, Kk

Pitosporum ovale ketombe Kk

7 Protozoa

Entamoeba histolyt. amubiasis Mn, diloksanida

Plasmodium vivax/falcip. malaria kinin, klorokuin

Trichomonas vaginalis vaginitis Mn, Kk

8 Lainnya

Chlamydia trachom. trachom Ts, Kt

Mycoplasma pneumon. p atipis Em, Ts

Rickettsia T, Q-fever Ts, Ka

a : abces o: otitis media

b : bacteremia p: pneumonia

 pk: penyakit

B : bronchitis s: sinusitis

e : endocarditis t: tifus

f: faringitis

g : gastro-enteritis T: tetanus

m : meningitis u: inf. sal. urin 

Ag : aminoglikosida Pv: penisilin-V

As : amoksisilin Pa: pirazinamida

AK : amoks.+klavulanat Pb: probenesid

At : aztreonam Pg: penisilin-G

Em : eritromisin Ps: piperasilin

I : INH

Fk : fluorkuinolon Rf: rifampisin

Ka : kloramfenikol Sf: siprofloksacin

Kk : ketokonazol Sp: sefperazon

Km : klindamisin Ss: sefalosporin

Kt : kotrimoksazol St: seftriakson

Mn : metronidazol Tk: tikarsilin

Nf : nitrofurantoin Ts: tetrasiklin

 Vm : vankomisin

Tabel II-1: Mikroorganisme patogen dengan penyakit yang dapat ditimbulkan serta 

pengobatannya


5. MEKANISME KERJA

Kemoterapeutika dapat melakukan aktivi-

tasnya lewat beberapa mekanisme, terutama 

melalui penghambatan­sintesis­materi pen-

ting bakteri misalnya: 

a.­ dinding­ sel: sintesisnya terganggu se-

hingga dinding menjadi kurang sempur-

na dan tidak tahan terhadap tekanan 

osmotik dari plasma dengan akibat pe-

cah. Contohnya: kelompok penisilin, sefa-

lospo rin, dan vankomisin.

b.­ membran­ sel: molekul lipoprotein dari 

membran plasma (di dalam dinding sel) 

dikacaukan sintesisnya, sehingga menjadi 

lebih permeabel dan zat-zat penting dari 

isi sel dapat merembes keluar. Contohnya: 

antibiotika polyen (nistatin, amfoteri sin) 

dan imidazol (mikonazol, ketokonazol).

c.­ protein­sel: sintesisnya terganggu, misal-

nya oleh kloramfenikol, tetrasiklin, ami-

noglikosida dan makrolida.

d.­ asam-asam­inti­(DNA,­RNA): rifampisin 

(RNA), asam nalidiksat dan kuinolon, 

IDU dan asiklovir (DNA). Juga termasuk 

di sini senyawa-senyawa imidazol. 

e.­ Antagonisme­ saingan. Obat menyaingi 

zat-zat yang penting untuk metabolisme 

kuman sehingga pertukaran zatnya ter-

henti, antara lain sulfonamida, trime-

toprim, PAS dan INH.

6. PILIHAN OBAT

Pada infeksi berat selalu dilakukan pembi-

akan dari cairan tubuh (darah, urin, dahak) 

untuk mendeteksi kuman pem bangkit infeksi 

dan menentukan obat yang paling aktif ter-

hadapnya. namun  dalam praktik sehari-hari, 

sebab  pertimbangan praktis, dokter memilih 

obat atas dasar jenis dan beratnya infeksi 

serta pengalamannya.

Bila harus dipilih antara beberapa obat 

dengan aktivitas dan sifat farmakokinetik 

yang lebih kurang sama, hendaknya diper-

hatikan beberapa faktor sebagai berikut.

a.­ Zat­bakterisid lebih diutamakan daripa-

da zat bakteriostatik, terutama bila daya 

tangkis pasien sudah berkurang, seper- 

ti pada penderita penyakit darah (agranu-

lositosis), endocarditis, pada pembawa bak-

teri (carriers) dan sesudah  pembedahan 

berat. Pada pasien-pasien ini sel-sel tang- 

kis  (limfosit) kurang aktif lagi untuk me-

musnahkan kuman yang telah diham- 

bat pertumbuhannya oleh bakteriosta-

tika. Begitu pula pasien lanjut usia sering 

kali sistem imunnya tidak optimal lagi, 

oleh sebab  itu lebih baik mereka diberi 

misalnya ampisilin daripada doksisiklin.

b.­ Zat­dengan­daya-penetrasi­baik­ke dalam 

organ atau CCS lebih diutamakan sebab  

lebih mudah meresap ke lokasi infeksi. 

Hal ini sangat penting bila sumber infeksi 

terletak pada jaringan dengan sirkulasi 

darah buruk. Misalnya rongga dahi dan 

prostat sukar dicapai oleh kebanyakan 

antibiotika. 

Obat­dengan­penetrasi­baik­ke­dalam­

jaringan yaitu  amoksi si lin, linkosin dan 

rifampisin. Begitu pula spira misin khusus 

ke dalam jaringan mulut dan tenggo-

rok, serta fluorkuinolon ke antara lain 

prostat. Sulfona mida, kloramfe ni kol dan 

tetrasiklin agak baik difusi nya, sedang  

antibiotika lain nya kurang baik. 

Obat­dengan­penetrasi­baik­ke­dalam­

CCS yaitu  sulfonamida, kloramfenikol, 

rifampisin dan minosiklin. berdasar  

itu obat-obat itu  merupakan obat 

utama pada meningitis. Penyerapannya 

ke CCS tergantung dari lipofilitas obat, 

semakin lipofil semakin baik penetra-

sinya. 

c.­ Zat­ dengan­ pentakaran­ 1-2­ x­ sehari 

lebih disukai daripada obat yang harus 

ditakarkan 3-4 kali. Telah dibuktikan 

bahwa kesetiaan minum obat (drug com-

pliance) dalam hal pertama yaitu  le-

bih baik. Dengan demikian obat akan 

diminum secara teratur dan berhasilnya 

kur lebih terjamin.

d.­ Zat­ dengan­ pengikatan­ protein­ (PP)­

rendah diutamakan, sebab  hanya obat 

bebas dapat mendifusi ke tempat infeksi.

7. pemakaian 

Dosis selalu dipilih sedemikian tinggi agar 

kadar obat di tempat infeksi melampaui 

MIC-nya­ untuk kuman (Minimum Inhibi-

tory Concentration, lihat Bab 3, sub 2). Guna 

mencapai kadar puncak dalam darah dan 

jaringan sering kali perlu diawali dengan 

dosis­ ganda­ (loading dose), misalnya pada 

sulfonamida,­ doksisik­lin­ dan­ klorokuin. 

Atau juga dimulai dengan pemberian paren-

teral pada infeksi parah dan selanjutnya 

diteruskan secara oral, misalnya penisilin-G,­

tetrasiklin­atau­kinin.

Frekuensi­pentakaran tergantung dari plas-

ma half-life obat (t½) yang seperti telah di-

uraikan merupakan ukuran untuk kecepatan 

eliminasinya. Obat dengan masa paruh pendek 

perlu diberikan sering kali, sampai 5x sehari, 

sedang  obat dengan masa paruh panjang 

cukup diberikan 1x sehari, bahkan 1x seming-

gu.

Lamanya­ terapi dengan kemoterapeutika 

harus cukup panjang agar menjamin semua 

mikroorganisme telah mati dan menghin- 

darkan kambuhnya penyakit. Lazimnya te- 

rapi diteruskan sampai 2-3 hari sesudah  ge-

jala hilang. Pengobatan beberapa penyakit 

tertentu perlu dilanjutkan lebih lama, misal-

nya pada tifus, malaria, TBC dan endocarditis, 

bahkan pada lepra kerap kali seumur hidup.

8. EFEK SAMPING

pemakaian  kemoterapeutika yang semba-

rangan atau tidak tepat dosisnya dapat meng- 

gagalkan terapi. Di samping itu juga dapat 

memicu  risiko sensitasi, resistensi dan 

suprainfeksi, lihat pula Bab 4, sub 7.

Gambar Seksi II-1: Bagaimana kuman menjadi resisten

 

 


 

plasmid

sesudah  dipakai  secara­ topikal banyak 

obat dapat memicu  kepekaan berle-

bihan atau sensitasi dan pasien menjadi hi-

persensitif. Bila kemudian obat yang sama 

dipakai  secara sistemik (oral atau paren- 

teral), ada kemungkinan terjadinya suatu 

reaksi­ alergi. Gejalanya berupa gatal-gatal, 

kemerah-merahan dan ben tol-bentol, namun  

kadang-kadang juga lebih hebat seperti de-

mam, kelainan darah, bahkan shock anafi-

laktis fatal! Oleh sebab  itu untuk menghin-

dari sensitasi, sebaiknya jangan mengguna-

kan obat-obat demikian dalam sediaan to-

pikal (salep, krem, lotion, dan sebagainya). 

Antibiotika yang terkenal dapat menim-

bulkan sensitasi yaitu  antara lain penisi-

lin, kloram fenikol dan sulfonamida. Sebaliknya 

framisetin, fusidat dan juga tetra siklin yang 

jarang sekali memicu  sen si tasi banyak 

dipakai  topikal. Neomisin dan basitrasin 

semakin banyak dilaporkan sebagai penye-

bab alergi kontak. 

Bila antibiotika dipakai  dengan dosis 

terlampau rendah atau masa terapi kurang 

lama, cara ini dapat mempercepat terben-

tuknya suku-suku resisten. Oleh sebab  itu 

perlu selalu dipakai  dosis cukup tinggi 

untuk waktu yang cukup lama. Cara lain 

untuk mencegah resistensi yaitu  menggu-

nakan kombinasi dari dua atau tiga obat, khusus-

nya pada tbc, lepra, AIDS dan sebagainya. 

Lihat Gambar II-1 dan juga Bab 4, sub 7, 

Resis tensi bakteri.

Supra­ infeksi merupakan infeksi sekunder 

dengan parasit berlainan yang timbul sete-

lah infeksi primer (L. supra = atas). Infeksi 

ini terutama terjadi pada pemakaian  anti-

biotika broad-spectrum yang sering kali 

mengganggu keseimbangan antar-bakteri 

di dalam usus, saluran napas dan saluran 

urogenital. Suku mikroorganisme yang lebih 

kuat dan resis ten hilang saingannya, menja- 

di dominan dan memicu  infeksi baru. 

Yang sangat dikhawatirkan yaitu  supra- 

infeksi dengan suku Stafi lokok resisten, Proteus

dan Pseudomonas, begitu pula dengan Candida

dan fungi lain. Obat-obat yang dapat me- 

nimbulkan supra-infeksi yaitu  ampisi-

lin, kloram-fenikol dan tetrasi klin. Begitu 

juga obat-obat yang menekan sistem tangkis 

tubuh (kortikosteroida dan sitostatika).

9. pemakaian  

KOMBINASI

biasanya  pemakaian  kombinasi da-

ri dua atau lebih antibio tika (multiple drug 

therapy, MDT) tidak dianjurkan, terlebih pula 

kombi nasi dengan dosis tetap (fixed dose). 

Terapi terarah mungkin lebih rasional (misal-

nya satu jenis bakterisid untuk gangguan 

tertentu), namun  beberapa kombina si dapat 

bermanfaat, sebagai berikut:

• pada infeksi campuran, misalnya kombi-

nasi obat-obat antiku man dan antifungi. 

Atau dua antibiotika dengan spektrum 

sempit (Gram-positif + Gram-negatif) un-

tuk memperlu as aktivitas terapi, misalnya 

basitrasin + polimiksin dalam sediaan 

topi kal.

• untuk potensiasi, misalnya sulfametok-

sazol dengan trimetoprim (= kotrimok-

sazol) dan sefsulo din dengan gentamisin 

pada infeksi dengan Pseudom onas.

• Multi drug therapy (AZT + 3TC + ritona-

vir) terhadap AIDS juga memberikan efek 

sangat baik. 

• untuk mengatasi resistensi, misalnya 

amoksisilin + asam klavul anat yang 

menginaktivasi enzim penisilinase.

• untuk menghambat resistensi, khusus-

nya pada infeksi menahun seperti pada 

tuberkulosa (rifampisin + INH + pirazina-

mida) dan kusta (dapson + klofazimin 

dan/atau rifampi sin). Berperan pula pa-

da MDT terhadap AIDS.

• untuk mengurangi toksisitas, misalnya 

trisulfa dan sitostati ka, sebab  dosis ma-

sing-masing komponen dapat dikurangi.

10. ANTAGONISME-SINERGISME 

DARI KOMBINASI

biasanya  kombinasi antibiotika dari 

berbagai kelompok menghasilkan adisi atau 

potensia­si dari khasiatnya masing-masing. 

Hanya kombinasi terten tu dapat menimbul-

kan antagonisme dengan penurunan atau 

penia daan efek terapi. Contoh yang terkenal 

dari antagonisme yaitu  kombinasi penisi-

lin/sefalosporin dengan tetrasi klin/kloram- 

fenikol. Oleh sebab  itu hingga kini tidak 

dianjurkan kombi nasi zat-zat bakterisid yang 

bekerja terhadap tahap  tumbuh dengan zat-zat 

bakterio sta tik, misalnya ampisilin + kloramfe-

ni kol pada meningitis bakterial dan amino-

glikosida dengan lin ko sin/klin damisin pada 

infeksi usus. 

namun  dalam praktik ternyata bahwa in-

teraksi demikian dalam­ kebanyakan­ hal­

tidak­ berlaku­ secara­ klinis. pemicu nya 

mungkin sebab  efek bakterio statik —bila sis-

tem imun utuh— sudah mencukupi untuk 

menang gu langi infeksi. Hanya pada pasien 

dengan neutropenia,menin gi tis dan endo carditis 

sebai knya jangan dipakai  kombina si, 

namun  monoterapi dengan zat bakterisid.

Kombinasi penisilin­dan­sulfa yang dahulu 

banyak dipakai  tidak menghasilkan anta-

gonisme, namun  adisi. 

11. PEMBAHASAN

Dalam bab-bab berikut akan dibahas ber-

turut-turut golongan besar kemotera peutika, 

yaitu Antibiotika (arti sempit), Antimikotika, 

Virustatika, Kuinolon dan Antiseptika saluran 

kemih, Tuberkulo statika, Leprostatika, Obat-

obat malaria, Obat-obat Amubiasis dan Tri-

chomonas, Anthelmintika, Sitostatika dan 

Antiseptika lokal.


ANTIBIOTIKA

B A B  5

Antibiotika(L. anti = lawan, bios = hidup) 

yaitu  zat-zat kimia yang dihasilkan oleh 

fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat 

mematikan atau menghambat pertumbuhan 

kuman, sedang  toksisi tasnya bagi manu-

sia relatif kecil. Turunan zat-zat ini yang 

dibuat secara semi-sintetik, juga termasuk 

kelompok ini, begitu pula semua senyawa 

sinte tik dengan khasiat antibakteri. 

Kegiatan antibiotik untuk pertama kali-

nya diketemukan secara kebetulan oleh dr. 

Alexander Fleming (Inggris, 1928, penisi­lin). 

namun  penemuan ini baru dikembangkan dan 

dipakai  di tahun 1941 pada permulaan 

Perang Dunia II, ketika obat-obat antibakteri 

sangat diperlukan untuk menangani infek si 

dari luka-luka akibat pertempuran.

Kemudian, para peneliti di seluruh dunia 

menghasilkan banyak zat lain dengan kha-

siat antibiotik. namun  berhubung dengan 

sifat toksiknya bagi manusia, hanya sebagi-

an kecil saja yang dapat dipakai  sebagai 

obat. Yang terpenting di antaranya yaitu  

streptomisin (1944), kloramfenikol (1947), tetra-

siklin (1948), neomisin 1949, eritromisin (1952), 

vankomisin (1955),rifampisin (1960), gentami-

sin 1963, bleomisin (1965), doksorubisin (1969), 

minosiklin (1972) dan tobramisin (1974).

Pembuatannya

biasanya  antibiotika dibuat secara 

mikrobiologi, yaitu fungi dibiakkan dalam 

tangki-tangki besar bersamaan dengan zat-

zat gizi khusus. Oksigen atau udara steril 

disalurkan ke dalam cairan pembiakan untuk 

mempercepat pertumbuhan fungi dan me-

ningkatkan produksi antibiotikanya. sesudah  

diisolasi dari cairan kultur, antibiotika ini di-

murnikan dan aktivitasnya ditentukan. 

*­ Antibiotika­ semisintetik.­ Apabila pada 

persemaian (culture sub strate) dibubuhi 

zat-zat pelopor tertentu, maka zat-zat 

ini diinkor porasi ke dalam antibiotika 

dasarnya. Hasilnya disebut senyawa semi-

sintetik, misalnya penisilin-V. 

*­ Antibiotika­sintetik­kini tidak lagi dibuat 

secara biosin te tik, melain kan seluruhnya 

melalui sintesis kimiawi, misalnya kloram-

fe nikol.

Mekanisme kerja

Cara kerjanya yang terpenting yaitu  

perintangan­ sintesis­ protein, sehingga ku-

man musnah atau tidak berkembang lagi, 

misalnya kloramfenikol, tetrasiklin, amino-

glikosida, makrolida dan linkomisin. Selain 

itu beberapa antibiotika bekerja terhadap­

dinding­sel (penisilin dan sefalosporin) atau 

membran­ sel­ (polimiksin, zat-zat polyen 

dan imidazol), lihat pendahu luan Seksi II. 

Alexander Fleming (1881-1955)

 

 

 

 

Antibiotika tidak aktif terhada p ke banyak-

an virus kecil, mungkin sebab  virus tidak 

memiliki proses metabolisme sesungguhny a, 

melainkan tergantung seluruhnya dari meta-

bolisme tuan-rumah.

Aktivitasnya

biasanya  aktivitasnya dinyatakan 

dengan satuan berat (mg), kecuali zat-zat 

yang belum dapat diperoleh murni 100% 

dan terdiri dari campuran beberapa zat. 

Misalnya, polimiksin­ B,­ basitrasin dan 

nistatin, yang aktivitasnya selalu dinyata-

kan dalam Satuan­ Internasional­ (I.U.­ atau­

International­ Unit). Begitu pula senyawa 

kompleks dari penisilin, yaitu prokain-­dan­

benzatin-penisilin. Lihat juga Bab 2, Bio-

assa y dan standardisasi.

pemakaian 

Antibiotika dipakai  untuk mengobat i 

berbagai jenis infeksi akibat kuman atau juga 

untuk prevensi infeksi, misalnya pada pembe-

dahan besar. Secara profilaktik juga diberikan 

pada pasien dengan sendi dan klep jantung 

buatan, juga sebelum cabut gigi. 

pemakaian  penting non-terapeutik yaitu  

sebagai perangsang pertumbuhan dalam pe-

ternakan sapi, babi dan ayam. Efek ini secara 

kebetulan diketemukan sekitar tahun 1940, 

namun  mekanisme kerjanya belum diketahui 

dengan jelas. Diperkirakan bahwa antibio-

tika bekerja setempat di dalam usus dengan 

menstabilisasi flora usus hewan itu . 

Kuman-kuman "buruk" yang merugikan di-

kurangi jumlah dan aktivitas nya, sehingga 

zat-zat gizi dapat dimanfaatkan lebih baik. 

Pertumbuhan dapat distimulasi dengan rata-

rata 10%. Meskipun di kebanyak an negara 

Barat cara penyalahgunaan ini dilarang keras, 

namun masih tetap banyak dipakai  dalam 

makanan ternak, terutama makrolida dan gli-

kopeptida. Jumlahnya kini sudah meningkat 

sampai lebih dari 3 kali pemakaian nya seba-

gai obat manusia.

Di bawah ini dibahas berturut-turut 

enam kelompok antibiotika, yaitu penisilin­

dan­ sefalosporin,­ kelompok­ tetrasiklin,­

aminoglikosida,­ makrolida­ dan­ linkosin,­

polipeptida­ serta­ kelompok­ sisa­ (polyen,­

rifamisin,­dan­lain-lain).

A. PENISILIN

Antibiotika ini dibagi menjadi dua kelompok, 

yaitu kelompok penisilin dan sefalosporin.

* Penisilin diperoleh dari jamur Penicillium 

chrysogenum; dari berbagai jenis yang diha-

silkan, perbedaannya hanya ter letak pada 

gugusan-samping-R saja, lihat Rumus ba-

ngun. Benzilpenisi lin (pen-G) ternyata yang 

paling aktif. 

Perubahan-perubahan pada gugu san-

samping-R menghasilkan derivat-derivat 

dengan sifat berlainan. Misalnya terbentuknya 

derivat yang tahan asam dan dapat dipakai  

per oral (fenoksimetilpenisilin atau penisilin-V). 

Bila pada radikal fenil dari benzilpenisilin di-

masukkan gugusan amin o, keampuhan dan 

juga luas spektrum antimikrobanya akan me-

ningkat dengan mencakup banyak organisme 

Gram-positif dan Gram-negatif. Modifikasi 

dari gugusan-R juga dapat membuatnya 

resisten terhadap penisilinase kuman (mis. flu-

kloksasilin).

* Sefalosporin diperoleh dari jamur Cepha-

lorium acremonium yang berasal dari Sicilia 

(1943).

Kedua kelompok antibiotika itu  

memiliki rumus bangun serupa, keduanya 

memiliki cincin­ beta-laktam­ dengan ru-

mus dasar yang tertera di halaman berikut. 

Cincin ini merupakan syarat mutlak untuk 

khasiatnya. Jika cincin ini dibuka misalnya 

oleh enzim­ beta-laktamase (penisilinase­

atau sefalosporinase), maka zat menjadi 

inaktif! biasanya  penisilinase hanya 

dapat mengin aktifkan penisilin dan tidak 

sefalosporin, kebalikannya berlaku untuk 

sefalosporinase.

Aktivitas

Penisilin-G dan turunannya bersifat bakteri-

sid terhadap terutama kuman Gram-positif 

(khususnya cocci) dan hanya beberapa 

kuman Gram-negatif. Penisilin termasuk 

antibiotika dengan spektrum­sempit,­begitu 

pula penisilin-V dan analognya. Ampisilin 

dan turunannya, serta sefalosporin me-

miliki spektrum kerja lebih luas yang 

meliputi banyak kuman Gram-negatif, a.l. 

H. influenzae, E. coli dan P. mirabilis. Beberapa 

sefalosporin bahkan aktif terhadap kuman 

„sulit“ Pseudomonas. Sebagaimana telah 

diutarakan, antibiotika bakterisid ini tidak da-

pat dikombinasikan dengan bakteriostatika 

seperti tetrasiklin, kloramfenikol, eritromi-

sin dan asam fusidat. Hal ini disebabkan 

zat-zat yang disebut terakhir menghambat 

pertumbuhan sel dan dindingnya. Kombinasi 

dengan sulfonamida yaitu  pengecualian.

Mekanisme kerja

Dinding sel kuman terdiri dari suatu jaring-

an peptidogli kan, yaitu poli mer dari senyawa 

amino dan gula yang saling terikat satu 

dengan yang lain (crosslinked) dan dengan de-

mikian memberikan kekuatan mekanis pada 

dinding. Penisilin dan sefalospo­rin mengha-

langi sintesis lengkap dari polimer ini yang 

spesi fik bagi kuman dan disebut murein. Bila 

sel tumbuh dan plasmanya bertambah atau 

menyerap air melalui osmosis, maka dinding 

sel yang tak sempurna itu akan pecah dan 

bakteri musnah. Dinding sel manusia dan 

hewan tidak terdiri dari murein, maka anti-

biotika ini tidak toksik untuk manusia.

Resistensi

Masalah resistensi antibiotik yang terus-

menerus meningkat merupakan sesuatu 

yang sangat gawat dewasa ini. Menurut 

WHO tiap tahun di Uni Eropa saja 25.000 

orang meninggal akibat masalah ini. Oleh 

sebab  itu dalam tahun 2014 WHO telah me-

mutuskan suatu Global Action Plan untuk 

menanggulangi resistensi antibiotika. 

Cara terpenting dari kuman untuk me-

lindungi diri terhadap efek mematikan dari 

antibiotika beta-laktam yaitu  pembentuk-

an enzim beta-laktamase. Semula hanya 

Stafilococci dan E. coli mampu membentuk 

penisi­linase dalam plasmid, yang mengan-

dung gen-gen (faktor keturunan) untuk sifat 

ini. namun  gen-gen itu  telah ditularkan 

ke kuman lain dengan jalan penggabungan 

(konyugasi). Maka kini kebanyakan kuman 

memili ki kemampuan ini dan resistensi 

telah disebarluaskan dengan pesat. 

Untuk mengatasi masalah resistensi ku-

man terhadap khusus antibiotik penisilin 

yang sangat serius ini, para peneliti telah 

mensintesis dua jenis senyawa penisilin, 

yait u derivat yang tahan laktamase dan yang 

memblokir laktamase.

a.­ Zat-zat­ tahan­ laktamase, antara lain 

metisilin dan turunannya (kloksasilin, fluklok-

sasi lin) serta sefalosporin tertentu yang 

terdiri dari sefotak sim, seftizoksim dan seftri-

akson. Molekul dari zat-zat ini mengandung 

gugusan yang 'mengelilingi dan melin dungi‘ 

cincin beta-laktam. sebab  perintangan 

ruang ini (steric hindrance), maka enzim tidak 

dapat mendekati molekul untuk mengurai-

kannya. Kloksasilin dan turunannya hanya 

tahan terhadap penisi linase yang berasal 

dari Stafilococci, namun  masih peka ter ha-

dap laktamase dari kuman lain. Turunan 

sefalosporin itu  di atas tahan terhadap 

bermacam-macam laktamase yang dibentuk 

oleh berbagai kuman.

Sejak akhir tahun 1980-an telah muncul ku-

man Stafilokok yang ternyata sangat resisten 

terhadap penisilin dan sangat meresahkan 

rumah sakit. Kuman itu dinamakan MRSA 

(Methicillin Resistent Staphylococcus Aureus). 

Dalam rentang waktu agak singkat, kuman 

ini telah menjadi resisten terhadap ham-

pir semua antibiotika. Pengecualian yaitu  

antibiotika dari kelompok glikopeptida: 

vankomisin dan teikoplanin (Targocid). namun  

pada akhir tahun 1998 telah diketemukan 

beberapa suku yang resisten terhadap van-

komisin. 

Teikoplanin disebut “antibiotik cadangan”, 

yaitu pemakaian nya khusus dicadangkan 

untuk pengobatan infeksi yang desebabkan 

oleh stafilokok yang resisten terhadap meti-

silin (MRSAKo).

b.­ Laktamase­ blockers, antara lain asam 

klavulanat dan sulbaktam (Unasyn). Senyawa 

ini merintangi efek laktamase dengan jalan 

mengikatnya sebagai kompleks. Namun zat 

ini tidak berdaya terha dap banyak sefalospo-

rinase jenis tertentu. Kombinasinya dengan 

amoksisilin atau ampisilin sangat penting 

dalam usaha melawan kuman yang resisten.

Efek samping

Yang terpenting yaitu  reaksi alergi akibat 

hipersensitasi, yang (jarang sekali) dapat 

memicu  shock anafilaktik (dan kema-

tian). Pada prokain-benzilpenisilin diduga 

prokain yang memegang peranan pada hi-

persensitasi itu . 

Pada penisi lin broad-spectrum agak sering 

terjadi gangguan-gangguan lambung-usus 

(diare, mual, muntah). Diare dapat dicegah 

dengan pemberian probiotika(Lactobacillus, 

Bifidobacterium) selama masa terapi.11,12 Pada 

dosis (sangat) tinggi dapat terjadi reaksi 

nefro toksik dan neurotoksik, seperti pada 

aminoglikosida tertentu.

Wanita hamil dan laktasi

Semua penisilin dianggap aman bagi wanita 

hamil dan yang menyusui, walaupun dalam 

jumlah kecil ada  dalam darah janin dan 

air susu ibu. 

Interaksi

Lama kerjanya diperpanjang oleh obat-obat 

encok probe nesid dan sulfin pirazon, juga oleh 

asetosal dan indometasin. Kombinasi de-

ngan probenesid sering dipakai  untuk 

maksud itu . Efek penisilin dikurangi 

oleh antibiotika bakteriostatik (tetrasiklin, 

kloramfenikol dan makrolida).

Penggolongan

Penisilin dapat dibagi dalam beberapa je-

nis menurut aktivitas dan resistensinya 

ter hadap laktamase sebagai berikut:

a.­ zat-zat dengan spektrum sempit: benzil-

penisilin, penisilin-V dan fenetisi lin. 

Zat-zat ini terutama aktif terhadap ku-

man Gram-positif dan diuraikan oleh 

penisilinase;

b. zat-zat tahan laktamase: metisilin, klok-

sasilin dan fluklok sa silin. Zat ini hanya 

aktif terhadap Stafilokok dan Streptokok. 

Asam klavulanat, sulbaktam dan tazobaktam­

memblokir­laktamase dan dengan demi-

kian mempertahankan aktivitas penisilin 

yang diberikan bersamaan;

c.  zat-zat dengan spektrum luas: ampi-

silin dan amoksisilin, aktif terhadap 

kuman-kuman Gram-positif dan sejum-

lah kuman Gram-negatif, kecuali antara 

lain Pseudomonas, Klebsiella dan B. fra-

gilis. Tidak tahan-laktamase, maka sering 

dipakai  terkombinasi dengan suatu 

laktamase-blocker, umumnya klavulanat;

d.  zat-zat anti-Pseudomonas: tikarsilin dan 

pipera silin. Antibiotika berspektrum luas 

ini meliputi lebih banyak kuman Gram-

negatif, termasuk Pseudom onas, Pro teus, 

Klebsiella dan Bacteroides fragilis. Tidak 

tahan laktama se, oleh sebab  itu diguna-

kan bersamaan dengan laktamase-blocker.

MONOGRAFI

1.­Benzilpenisilin:­penisilin-G yaitu  salah 

satu antibiotikum berspektrum sempit yang 

dihasilkan oleh Penicillium chrysogenum. 

Semula berkhasiat kuat terhadap terutama 

cocci (stafilokok, meningokok, streptokok, 

pneumokok), namun  kini lebih dari 80% ke-

dua kuman pertama sudah menjadi resisten. 

Resistensi ini disebabkan kuman-kuman ini 

memproduksi enzim (beta-laktamase, pe-

nisilinase) yang dapat “membuka” cincin 

beta-laktam, gugusan yang integritasnya 

esensial bagi kegiatan antibakterial dari ke-

lompok antibiotika ini.

Meskipun sudah ada  banyak 

derivatnya dan antibioti ka lain, namun  penisi-

lin-induk ini masih banyak sekali diguna kan 

berkat khasiat­ bakterisidnya­ yang sangat 

kuat dan toksisitas nya yang relatif rendah. 

Pen-G antara lain masih merupaka n pilihan 

pertama pada infeksi dengan kuman-ku-

man Gram-positif mis. pneumokok: radang 

paru-paru (pneumo nia) dan radang otak (me-

ningitis). Begitu pula sebagai obat profi laksis 

terhadap penya kit tertentu (a.l. sifilis, gonore, 

endocardi tis, poly arthri tis reumatica).

Resorpsi.­Penisilin-G tidak tahan asam, maka 

hanya dipakai  sebagai injeksi i.m. atau 

infus intravena. PP-nya lebih kurang 60%; 

plasma-t½-nya sangat singkat, hanya 30 me-

nit dan kadar darahnya cepat menurun. Maka 

obat ini khusus diberikan secara parenteral 

sebagai senyawa-prokain­ dan­ -benzatinnya 

dengan kerja panjang dan dalam dosis sangat 

tinggi. Ekskresinya berlangsung sebagian be-

sar melalui transpor aktif tubuler dari ginjal 

dan dalam keadaan utuh.

 Distribusinya ke jaringan dan cairan intra-

seluler baik (sendi, pleura, pericard, empedu), 

juga kadarnya di hati, ginjal, usus dan limfa 

baik. Penetrasinya ke jaringan otak dan cai-

ran intra-okuler buruk, namun  menjadi lebih 

baik bila ada  radang selaput otak (me-

ningitis). 

 Efek samping. Senyawa-senyawa penisi-

lin memiliki toksisitas yang rendah, namun  

kadar tinggi dapat memicu  encepha-

lopathy fatal, terutama pada pasien gagal 

ginjal. Efek samping utama yaitu  hipersen-

sitivitas yang dapat memicu  radang 

kulit, urticaria dan jarang-jarang shock ana-

filaktik yang 10% berakibat fatal.

Dosis: pada infeksi umum i.m./i.v. 4-6 dd 1-4 

MU dari garam-garam long-acting-nya.

* Sediaan long-acting terdiri dari garam pen-

G dengan basa organik yang disuspensikan 

dalam air atau minyak. Dalam plasma ga-

ram-garam itu  lambat laun terurai dan 

membebaskan kembali penisilin aktif. Yang 

banyak dipakai  yaitu :

- prokain-penisilin-G (F.I.): Bicilline yang 

dikombinasi dengan garam-Na-nya agar 

segera mulai kerjanya; 

- benzathin-penisilin-G (Penidural, Retarpen) 

kerjanya lebih panjang dari prok-pen-G dan 

adakalanya dikombinasi dengan Bicilline.­

Aktivitas­penG masih dinyatakan dalam Unit 

Internasional (UI). Atas dasar aktivitas penisilin-

G natrium murni, telah dikalkulasikan satuan 

garam-garamnya lewat Berat Molekulny a se-

bagai berikut. 

1 mg pen-G Na = 1667 UI; 1 mg prok-pen-

G = 1595 UI

1 mg pen-G K = 1595 UI; 1 mg benzathin-

pen-G = 1211 UI

2.­­Fenoksimetilpenisilin:­penisilin-V, Fenocin, 

Acipen-V, Ospen. 

Derivat semisintetik ini (1956) tahan asam 

dan memiliki spektrum kerja yang dapat 

disamakan dengan pen-G, namun  terhadap 

kuman Gram-negatif (a.l. suku Neisseria dan 

bacilli H. influenzae) 5-10 kali lebih lemah. 

Obat ini teruta ma dipakai  pada infeksi 

Strep to kok ringan sampai yang agak parah, 

a.l. radang hulu kerongkongan (pharyngitis).

Resorpsi. Pen-V tidak diuraikan oleh asam 

lambung, berlainan dengan penisilin-G. 

PP-nya lebih kurang 80%, plasma-t½ nya 

30-60 menit. Sebagian besar zat dirombak di 

dalam hati dan rata-rata 30% diekskre sikan 

lewat kemih dalam keadaan utuh.

Dosis: oral 3-4 dd 250-500 mg 1 jam se-

belum atau 2 jam sesudah makan, sebab  

penyerapan diperlambat oleh makanan.

*­ Fenetisilin(Broxil) merupakan derivat fe-

noksietil (1960) dengan sifat lebih kurang 

sama, resorpsinya dari usus sedikit lebih kuat 

(±70%). berdasar  satuannya dalam mg, 

aktivitasnya lebih ringan daripada pen-V, te-

tapi efek klinisnya tidak berbeda.

Dosis: oral 3-6 dd 250-500 mg 1 jam a.c. 

atau 2 jam p.c. 

3.­­Kloksasilin:Meixam, Orbenin. 

Derivat pertama yang tahan­laktamase­ada-

lah metisilin(1960) yang sebab  diuraikan oleh 

asam lambung hanya diberikan sebagai injek-

si. Kuman stafilokok resisten yang ditakuti 

yaitu ­MRSA(Methicilin Resistant Staphyloccus 

Aureus). Kloksasilin selain tahan laktamase 

juga tahan asam (1962) dan segera mende sak 

metisilin. Khusus diguna kan pada infeksi de-

ngan kuman yang memproduksi laktamase. 

Resorp sinya ± 50%, PP-nya lebih dari 90% 

dan plasma-t½-nya 30-60 menit. Ekskresinya 

berlang sung terutama lewat kemih, untuk 

±40% dalam keadaan utuh. 

Dosis: oral 4-6 dd 500 mg a.c.; i.m./i.v. 4-6 

dd 250–1.000 mg (garam-Na).

*­ Flukloksasilin­ (Floxapen) yaitu  derivat 

fluor semi-sintetik dari kloksasi lin dengan 

sifat lebih kurang sama, namun  resorpsi dan 

plasma-t½-nya agak lebih tinggi. Efektif 

terhadap stafilokoki yang memproduksi 

beta-laktamase, sebab  ada nya gugusan-

isoksazolil pada R1 yang merupakan halangan 

ruang (steric hindrance) bagi enzim terhadap 

cincin beta-laktam.

Dosis: oral 3-4 dd 500-1000 mg a.c.

4. Asam­klavulanat: *Augmentin, *Timentin.

Senyawa beta-laktam ini diperoleh dari 

Streptomyces clavuligerus (Inggeris 1976) 

dengan kerja antimikroba ringan. namun  

berkhasiat­ memblokir dan menginaktif-

kan­ kebanyakan laktamase yang berasal 

dari stafilokok dan kuman Gram-negatif 

(antara lain E. coli, Klebsiella, Proteus dan H. 

influenzae). Terha dap sefalosporinase dan 

laktamase dari Pseudomonas dan Ente-

robacter tidak berdaya, kecuali yang berasal 

dari B. fragilis. Digun akan pada infeksi (a.l. 

saluran kemih) yang pe nyebabnya diperki-

rakan yaitu  kuman yang resisten berkat 

laktamase.­

Resorpsinya dari usus ±70%, PP-nya 20% 

dan plasma-t½nya ±65 menit. Ekskresinya 

terutama berlangsung lewat kemih sebagai 

metabolit inaktif 40% dan dalam keadaan utuh 

50%. 

Efek sampingnya berupa mual dan mun-

tah, terutama pada dosis di atas 600 mg 

sehari yang dapat diatasi bila tablet ditelan 

ber sama makanan.

Sediaan kombinasi:

* Augmentin: tablet amoksisilin 250/500 + 

klavulanat 125/125 mg

* Timentin : vial (i.v) tikarsilin 750/3000 + 

klavulanat 50/200 mg

Kombinasi itu  bekerja sinergistis; 

khasiat amoksisilin menjadi sekitar 50 

kali lebih kuat terhadap E. coli, H. influen-

zae dan S. au reus. 

*­ Sulbaktam­ (*Unasyn IM) adala h senya-

wa baktam (1987) dengan khasiat 

mem blokir laktamase, seperti asam kla-

vulanat. dipakai  sebagai injeksi i.m./

i.v. 250/500 mg + ampisilin­500/1.000 mg. 

*­ Sultamisilin(*Unasyn oral) yaitu  se-

nyawa equimolekuler dari ampisi lin + 

sulbaktam, yang dalam tubuh dihidrolisis 

menjadi kompo nennya.

Dosis: oral 2 dd 375-750 mg.

*­ Tazobaktam­ (*Tazocin) yaitu  derivat 

(1993) yang hanya diguna kan intravena. 

 Tazocin = tazobaktam 250/500 mg + pi-

perasilin 2/4 g, khusus bermanfaat pada 

infeksi dengan Pseudomonas.

*­ Sulperazon:­sulbaktam 500 mg + sefope-

razon 500 mg

5.­ Ampisilin:­ Penbritin, Ultrapen, Binotal, 

Viccillin

Penisilin broad-spectrum ini (1961) tahan asam 

dan lebih luas spektrum kerjanya, yang meli-

puti banyak kuman Gram-negatif yang hanya 

peka bagi pen-G dalam dosis i.v. tinggi seka-

li. Sebetulnya kuman Gram-negatif (kuman 

Gram-positif tidak) memiliki membran fos-

folipid di bagian luar yang dapat menghindari 

akses dari obat ke dinding sel. namun  ampisilin 

dan juga amoksisilin dapat menembus mem-

bran fosfolipid ini melalui pori-porinya. 

Kuman-kuman yang memproduksi penisi-

linase tetap resisten terhadap ampisilin (dan 

amoksisilin). Ampisilin efektif terhadap E.coli, 

H. influenzae, Salmonella dan beberapa suku 

Proteus. Tidak aktif terhadap Pseudomonas, 

Klebsiella dan Enterococci, sama halnya 

dengan pen-G. Khasi atnya terhadap kuman 

Gram-positif lebih rendah daripa da pen-G.

Obat ini banyak dipakai  untuk menga-

tasi infeksi, antara lain dari sa