Sabtu, 06 Juni 2026

farmakognosi obat 6




Farmakognosi yaitu  pengetahuan tentang obat, khususnya dari nabati, hewani

dan mineral, berasal dari dua perkataan Yunani yaitu Pharmakon yang  berarti

obat dan gnosis yang berarti ilmu atau pengetahuan. Farmakognosi merupakan

salah satu mata pelajaran kefarmasian yang erat hubungannya dengan ilmu-ilmu

lain misalnya biologi -zoologi, kimia, galenika. Farmakognosi mulai berkembang

pesat setelah pertengahan abad ke 19 dan masih terbatas pada uraian

makroskopis dan mikroskopis, yang sampai dewasa ini perkembangannya sudah

sampai ke usaha-usaha isolasi, identifikasi dan juga teknik-teknik kromatografi

untuk tujuan analisa kualitatif dan kuantitatif

Masyarakat secara tradisional telah memakai  ramuan berupa bahan

tumbuhan, hewan, dan mineral maupun campuran bahan-bahan tersebut untuk

pengobatan berdasarkan pengalaman. Sifat-sifat tumbuhan dan bahan lain

sebagai sumber obat dipelajari dalam Farmakognosi. Farmakognosi merupakan

cabang Farmakologi yang memiliki peranan penting dalam perkembangan dunia

farmasi.

Farmakognosi mempelajari, antara lain asal dan bagian tumbuhan yang

berkhasiat obat, klasifikasi tumbuhan obat, pembuatan simplisia dari tumbuhan

obat, beberapa jenis metabolit primer yang berguna dan metabolit sekunder

terpilih, dan manfaat atau khasiat tumbuhan obat, hewani, dan mineral.

Indonesia kini telah menjadi salah satu negara di Asia yang menghasilkan

berbagai jenis tanaman obat yang juga dieksport kebeberapa negara tetangga,

misalnya: Temulawak, Cengkeh dan lain-lain.

Fungsi utama dari tanaman obat cukup berkembang pesat, dan kini telah

dikembangkan menjadi beberapa obat fitofarmaka.

A. Deskripsi

Bahan ajar untuk mata pelajaran Dasar-dasar Farmakognosi dalam lingkup Dasar

Kompetensi Kejuruan (DKK) akan dijelaskan lebih lanjut berkaitan dengan lingkup

industri kefarmasian, sejarah farmakognosi, karakteristik farmakognosi, klasifikasi,

cara pembuatan dan pengolahan simplisia.



DASAR-DASAR FARMAKOGNOSI


1) Sejarah Dan Perkembangan Farmakognosi

armakognosi berasal   dari    dua perkataan   Yunani    yaitu Pharmakon

yang  berarti obat dan gnosis yang berarti ilmu atau pengetahuan. Jadi

farmakognosi berarti pengetahuan tentang obat, khususnya dari nabati,

hewani dan mineral

Definisi yang mencakup seluruh ruang lingkup farmakognosi diberikan oleh

Fluckiger, yaitu pengetahuan secara serentak berbagai macam cabang ilmu

pengetahuan untuk memperoleh segala segi yang perlu diketahui tentang obat.

Pada kurang lebih 2500 tahun sebelum masehi, penggunaan tanaman obat sudah

dilakukan orang,  hal  ini dapat diketahui dari lempeng tanah liat yang tersimpan di

Perpustakaan Ashurbanipal di Assiria,  yang memuat simplisia antara lain kulit

delima, opium, adas manis, madu, ragi, minyak jarak. Juga orang Yunani kuno

misalnya Hippocrates  (446 tahun sebelum  masehi),  seorang tabib telah

mengenal kayu manis, hiosiamina, gentiana,  kelembak, gom   arab, bunga kantil

dan lainnya.

Gambar 2.1 Sejarah dan perkembangan Farmakognosi

Pada tahun 1737 Linnaeus, seorang ahli botani Swedia, menulis buku

“Genera Plantarum” yang kemudian merupakan buku pedoman utama dari

sistematik botani,  sedangkan farmakognosi modern  mulai dirintis oleh Martiuss.

Seorang apoteker Jerman dalam bukunya “Grundriss Der Pharmakognosie Des

Planzenreisches” telah menggolongkan simplisia menurut segi morfologi, cara-

cara untuk   mengetahui kemurnian simplisia

Farmakognosi mulai berkembang pesat setelah pertengahan abad ke 19 dan

masih terbatas pada uraian makroskopis dan mikroskopis. Dan sampai dewasa ini

perkembangannya sudah sampai ke usaha-usaha isolasi, identifikasi dan juga

teknik-teknik kromatografi untuk tujuan analisa kualitatif dan kuantitatif.

2) Hubungan Farmakognosi dengan Ilmu-Ilmu Lain

Sebelum kimia organik dikenal, simplisia merupakan bahan utama yang harus

tersedia di tempat meramu atau meracik obat dan  umumnya diramu atau diracik

sendiri oleh tabib yang memeriksa sipenderita,  sehingga dengan cara tersebut

Farmakognosi  dianggap sebagai bagian dari Materia Medika. Simplisia diapotik

kemudian terdesak oleh perkembangan galenika, sehingga persediaan simplisia di

apotik digantikan dengan sediaan-sediaan galenik yaitu,  tingtur, ekstrak, anggur

dan lain-lain.

Kemudian setelah kimia organik berkembang, menyebabkan makin  terdesaknya

kedudukan simplisia di apotik-apotik. Tetapi hal ini bukan berarti  simplisia tidak

diperlukan lagi, hanya tempatnya tergeser ke pabrik-pabrik  farmasi, tanpa

adanya simplisia, di apotik tidak akan terdapat sediaan-sediaan galenik, ataupun

zat- zat kimia murni dengan segala bentuknya (serbuk, tablet, ampul dll), misalnya

injeksi Kinin antipirin, Secara sepintas Kinin antipirin dalam pembuatannya tidak

memerlukan simplisia, tetapi cukup dua zat kimia murni yaitu kinina dan antipirin,

dimana antipirin diperoleh secara sintetis, sedangkan kinina hanya dapat

diperoleh dari kulit kina. Sedangkan kulit kina sendiri baru dapat diperoleh setelah

ada kepastian bahwa tanaman yang akan ditebang benar- benar jenis Cinchona

yang dikehendaki.

Gambar 2.2 Proses pembuatan obat tradisional secara turun temurun

Dalam proses pembuatan zat-zat secara semisintetis, maka farmakognosi sangat

erat hubungannya dengan biokimia dan kimia sintesa, misalnya dalam pembuatan

Kortison, Hidrokortison, prednison dan prednisolon. Untuk membuat keempat

macam hormon tersebut, sebagai bahan bahan baku dipergunakan Stigmasterol

yang terdapat dalam biji kedelai atau memakai  diosgenin yang terdapat

dalam umbi gadung. Biji kedelai dan umbi gadung tidak pernah dimuat


monografinya dalam farmakope, tetapi secara tidak langsung kedua bahan

tersebut penting bagi proses semisintesa yang akan dilakukan.

Dari contoh-contoh tersebut maka dapat diketahui bahwa ruang lingkup

Farmakognosi tidak terbatas pada pengetahuan tentang simplisia yang tertera

dalam Farmakope, tetapi meliputi pemanfaatan alam  nabati-hewani dan mineral

dalam berbagai aspeknya di bidang farmasi dan kesehatan.

Simplisia  harus mempunyai  identitas botani - zoologi  yang  pasti, artinya  harus

diketahui dengan tepat nama latin tanaman atau hewan dari mana  simplisia

tersebut diperoleh, misalnya: menurut Farmakope Indonesia ditentukan bahwa

untuk Kulit Kina harus diambil dari tanaman asal Cinchona succirubra,

sedangkan jenis kina terdapat banyak sekali, yang tidak mempunyai kadar kina

yang tinggi. Atas dasar pentingnya identitas botani - zoologi maka nama-nama

tanaman  atau hewan dalam Farmakope selalu disebut nama latin dan tidak

dengan nama   daerah, sebab  satu nama daerah seringkali  berlaku untuk lebih

dari satu macam tanaman  sehingga dengan demikian nama daerah tidak selalu

memberikan kepastian identitas. Dengan demikian menetapkan identitas botani-

zoologi secara tepat yaitu  langkah pertama yang harus ditempuh sebelum

melakukan kegiatan-kegiatan lainnya dalam bidang farmakognosi.

Beberapa definisi tentang obat:

1. Obat : yakni suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang

dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan

diagnose, mencegah, mengurangkan,

menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka,

atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia

atau hewan, memperelok bagian badan manusia.

2. Obat Jadi : yakni obat dalam keadaan murni atau campuran

dalam bentuk serbuk, cairan, salep, tablet, pil,

suppositoria atau bentuk yang mempunyai nama

teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau

buku-buku lain yang ditetapkan pemerintah.


Gambar 2.3 Contoh obat jadi

3. Obat Generik : obat yang telah habis masa patennya, sehingga

dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi

tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat

generik, yaitu obat generik bermerek dagang dan

obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek

kandungan zat aktifnya. Dalam obat generik

bermerek, kandungan zat aktif itu diberi nama

(merek). Zat aktif amoxicillin misalnya, oleh pabrik ”A”

diberi merek ”inemicillin”, sedangkan pabrik ”B”

memberi nama ”gatoticilin” dan seterusnya, sesuai

keinginan pabrik obat. Dari berbagai merek tersebut,

bahannya sama: amoxicillin.

Gambar 2.4 Contoh obat generik

4. Obat Paten : yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar

atas nama pembuat atau dikuasakannya dan dijual

dalam bungkus asli dari pabrik yang

memproduksinya.


5. Obat Baru : yakni obat yang terdiri dari atau berisi suatu zat baik

sebagai bagian yang berkhasiat maupun yang tidak

berkhasiat, misalnya lapisan, pengisi, pelarut, bahan

pembantu (vehiculum) atau komponen lain yang

belum dikenal, sehingga tidak diketahui khasiat atau

keamanannya.

6. Obat Asli : yakni obat yang didapat langsung dari bahan-bahan

alamiah Indonesia, teerolah secara sederhana atas

dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan

tradisonal.

Gambar 2.5 Contoh Obat Asli

7. Obat Tradisional : yakni bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan

tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan

galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut,

secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan

berdasarkan pengalaman.

Gambar 2.6 Contoh Obat Tradisional


8. Obat Herbal

Terstandar:

sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan

keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji

praklinik dan bahan bakunya telah distandarisasi

Gambar 2.7 Contoh Obat Herbal Terstandar

9. Fitofarmaka : sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan

keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji

praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya

telah di standarisasi.

Gambar 2.8 Contoh obat Fitofarmaka

Beberapa Definisi dalam ilmu farmakognosi

1. Simplisia : yaitu  bahan alamiah yang digunakan sebagai obat

yang   belum   mengalami pengolahan apapun juga,

kecuali dinyatakan lain, berupa  bahan yang telah

dikeringkan.

(Zingiberis Rhizoma, Abri Folium) dll


2. Simplisia nabati : yaitu  simplisia berupa tanaman utuh, bagian

tanaman atau eksudat tanaman.

(Rhizoma, herba, damar dll)

3. Eksudat tanaman : yaitu  isi sel yang secara spontan keluar dari

tanaman atau isi  sel dengan cara tertentu

dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat  nabati lainnya

yang dengan cara tertentu dipisahkan dari

tanamannya  dan belum  berupa zat kimia murni.

(Opium, Papainum dll)

4. Simplisia hewani : yaitu  simplisia yang berupa hewan utuh, bagian

hewan atau  zat-zat yang berguna yang dihasilkan

oleh hewan dan belum  berupa zat  kimia murni.

(Adeps Lanae, Mel Depuratum dll).

5. Simplisia mineral

(pelikan)

: yaitu  simplisia yang berupa mineral (pelikan) yang

belum diolah atau diolah dengan cara sederhana dan

belum berupa zat kimia murni. (Vaselinum Album,

Paraffinum Solidum).

6. Alkaloida : yaitu  suatu basa organik yang mengandung unsur

Nitrogen (N) pada umumnya berasal dari tanaman,

yang mempunyai efek   fisiologis kuat/ keras terhadap

manusia. Sifat lainnya yaitu  sukar larut dalam air,

dengan suatu asam akan membentuk garam alkaloid

yang lebih mudah larut dalam air. Contohnya Codein,

Papaverin, Atropin.

7. Glikosida : yaitu  suatu zat yang oleh enzim tertentu akan

terurai menjadi satu macam gula serta satu atau lebih

zat bukan gula. Contohnya Digitalis Folium Purpurea

mengandung glukosida A yang dengan enzim

digipurpidase digitoksin berubah menjadi

digitoksigenin + 3 digitoksin + glukosa.

8. Enzim : yaitu  suatu biokatalisator yaitu senyawa atau zat

yang berfungsi mempercepat reaksi biokimia

/metabolisme dalam tubuh organisme. Sering

mempunyai nama dengan akhiran ase, seperti:

Amilase, Penisilinase dan lain-lain. Daya kerjanya

dibatasi   oleh suhu, dimana pada suhu 0o C  tidak

akan aktif dan diatas 60o C akan mati. (Carica papaya

mengandung enzim papain).


9. Vitamin : yaitu  suatu zat yang dalam jumlah sedikit sekali

diperlukan oleh tubuh manusia untuk membentuk

metabolisme tubuh. Tubuh manusia sendiri tidak

dapat memproduksi vitamin.

(Oleum Iecoris mengandung Vitamin A dan viatmin

D).

10. Hormon : yaitu  suatu zat yang dikeluarkan oleh kelenjar

endokrin yang mempengaruhi faal tubuh dan

mempengaruhi besar bentuk tubuh.

(Thyroidum).

11. Bahan  Organik

Asing

: disingkat benda asing, yaitu  satu  atau

keseluruhan dari apa yang disebutkan dibawah ini:

a. Fragmen bagian atau bagian tanaman asal

simplisia selain bagian tanaman yang

disebutkan dalam paparan makroskopik atau

bagian  sedemikian yang nilai batasnya

disebut monografi

b. Hewan atau hewan asing berikut fragmennya,

zat yang dikeluarkan    hewan, kotoran hewan,

batu, tanah atau zat pengotor lainnya

12. Pemerian : uraian tentang bentuk, bau, rasa dan warna simplisia.

Pemerian merupakan informasi yang diperlukan

dalam pengamatan terhadap simplisia nabati yang

berupa bagian tanaman (kulit, daun, akar, dll)

3) Ejaan Latin

Dalam ilmu farmakognosi kita memakai  bahasa latin dalam penamaan

tanaman obat. Meskipun alfabet Latin sama dengan alfabet yang dipergunakan

dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan ejaan yang disempurnakan pada bahasa

Indonesia, maka  terrdapat perbedaan cara pengucapan dari beberapa huruf dan

rangkaian huruf.

Cara pembacaan huruf-huruf atau rangkaian-rangkaian huruf Latin yang

dimaksud, dapat kita lihat pada contoh-contoh berikut ini:


Huruf atau

rangkaian

huruf

Dibaca sebagai Contoh Diucapkan

sebagai

Ae e Galangae ga-la-nge

Lobeliae lo-be-li-e

C k jika diikuti huruf a,

o, u  atau huruf mati

Cacao ka-ka-o

Cola ko-la

Curcuma kur-ku-ma

Fructus Fruk –tus

C s jika diikuti huruf

e,i,y

Cera

Citri

Glycyrrhiza

Se-ra

Sit-tri

Gli-si-ri-sa

Cc kk  jika diikuti huruf

a,o,u

Succus Suk-kus

Cc ks jika diikuti huruf

e,i,y

Coccinella Kok-si-ne-la

Ch kh jika diikuti huruf Cinchona Sin-ko-na

Hidup

Ch h jika diikuti huruf mati Strychni Strih-ni

Eae E Dioscoreae Di-es-ko-re

Eu e  + u Oleum O-le-um

Cetaceum Se-ta-se-um

Ff F Paraffinum Pa-ra-fi-num

Ie i..+ ye Iecoris Iye-ko-ris

Ii i  + i Aurantii Au-ran-ti-i

J Y Cajuputi Ka-yu-pu-ti

Ll L Vanilla Va-ni-la

Mm M Gummi Gu-mi

Ichtammolum Ih-ta-mo-lum

Nh N Ipecacuanhae I-pe-ka-ku-ane

Oe Eu Foeniculi Feu-ni-ku-li

Asafoetida A-sa-feu-ti-da

Nn N Belladonna Be-la-do-na

Sennae Se-ne

Ph F Orthosiphon Or-to-si-fon

Pp P Hippoglossi hi-po-glo-si

Qu Kw Quercus kwer-kus

Farmakognosi l

21

Huruf atau

rangkaian

huruf

Dibaca sebagai Contoh Diucapkan

sebagai

Rh R rhei

rhizoma

re-i

ri-zo-ma

Rr R Myrrha mi-ra

Sh Sy Shorea syo-re

Purshiana pur-si-a-na

Ss S Cassia ka-si-a

Th T Mentha men-ta

Tiae Sie Liquiritiae li-kwi-ri-sie

X ks jika tertera pada

tengah/akhir kata

s jika pada permulaan

kata

pix

radix

cortex

bixa

xanthorrhiza

piks

ra-diks

kor-teks

bik-sa

san-to-ri-za

Y i jika didahului dan/ atau

diikuti oleh huruf mati

hydrastis

maydis

hi-dras-tis

ma-i-dis

y jika diapit oleh 2 huruf

hidup

Papaya pa-pa-ya

4) Sistematika Tanaman Obat

Tata Nama Latin Tanaman

1. Nama Latin tanaman terdiri dari 2 kata, kata pertama disebut nama genus

dan   perkataan kedua disebut petunjuk species, misalnya nama latin dari

padi yaitu  Oryza sativa, jadi Oryza yaitu  genusnya  sedangkan sativa

yaitu  petunjuk speciesnya. Huruf pertama dari genus ditulis dengan huruf

besar dan huruf pertama dari petunjuk species ditulis dengan huruf kecil.

Nama ilmiah lengkap dari suatu tanaman terdiri dari nama latin diikuti

dengan singkatan nama ahli botani yang memberikan nama  latin tersebut.

Beberapa contoh yaitu  sebagai berikut:

Nama ahli botani Disingkat sbg Nama tanaman lengkap

Linnaeus L Oryza sativa  L

De Candolle DC Strophanthus  hispidus DC

Miller Mill Foeniculum vulgare Mill

Houttuyn Houtt Myristica  fragrans  Houtt


2. Nama  latin tanaman  tidak  boleh  lebih dari  2 perkataan,  jika lebih dari 2

kata (3 kata), 2  dari 3 kata tersebut harus digabungkan dengan  tanda ().

Contoh:

Dryopteris filix - mas

Strychnos nux - vomica

Hibiscus rosa – sinensis

3. Kadang-kadang terjadi penggunaan 1 nama latin terhadap 2 tanaman

yang berbeda, hal ini disebut homonim dan keadaan seperti ini terjadi

sehingga ahli botani lain keliru memakai  nama latin yang

bersangkutan terhadap tanaman lain yang juga cocok dengan  uraian

morfologis tersebut.

Tata Nama Simplisia

Dalam ketentuan umum Farmakope Indonesia disebutkan bahwa nama simplisia

nabati ditulis dengan menyebutkan nama  genus atau  species  nama  tanaman,

diikuti  nama  bagian  tanaman  yang digunakan.  Ketentuan ini tidak berlaku untuk

simplisia nabati yang  diperoleh dari beberapa macam tanaman dan untuk eksudat

nabati.

Contoh   :

1. Genus + nama bagian tanaman: Cinchonae Cortex (Cinchona

succirubra)

Digitalis Folium (Digitalis lanata)

Thymi Herba (Thymus vulgaris)

Zingiberis Rhizoma (Zingiber officinale)

2. Petunjuk species +  nama bagian

tanaman:

Belladonnae Herba (Atropa belladona)

Serpylli  Herba (Thymus serpyllum)

Ipecacuanhae Radix (Cephaelis

ipecacuanha)

Stramonii Herba (Datura stramonium)

3. Genus + petunjuk species + nama

bagian tanaman:

Curcuma aeruginosae Rhizoma

(Curcuma aeruginosa)

Capsici  frutescentis Fructus (Capsici

frutescentis)


Keterangan : Nama species terdiri dari genus + petunjuk spesies

Beberapa nama simplisia yang tidak mengikuti tata nama diatas:

   Galangae Rhizoma  (Alpinia officinarum)

   Sennae Folium (Cassia acutifolia)

   Oleum Aurantii (Citrus sinensis)

   Pyrethri Flos (Chrysanthemum cinerariaefolium)

   Dan lain-lain

c. Rangkuman

1. Farmakognosi berhubungan dengan ilmu lain yaitu antara lain ilmu kimia,

Biologi-Zoologi dan lain-lain

2. Nama Latin tanaman terdiri dari 2 kata, kata pertama disebut nama genus

dan   perkataan kedua disebut petunjuk species

3. Nama  latin  tanaman  tidak  boleh  lebih dari  2 perkataan, jika lebih dari 2

kata (3 kata), 2  dari 3 kata tersebut harus digabungkan dengan  tanda ().

4. Dalam ketentuan umum  Farmakope Indonesia nama simplisia nabati

ditulis dengan menyebutkan nama  genus atau  species  nama  tanaman,

diikuti  nama  bagian  tanaman  yang digunakan,kecuali untuk simplisia

nabati yang  diperoleh dari   beberapa macam tanaman dan untuk eksudat

nabati.





1. Tata Nama Simplisia

Dalam ketentuan umum  Farmakope Indonesia disebutkan bahwa nama simplisia

nabati ditulis dengan menyebutkan nama  genus atau  species  nama  tanaman,

diikuti  nama  bagian  tanaman  yang digunakan.  Ketentuan ini tidak berlaku untuk

simplisia nabati yang  diperoleh dari   beberapa macam tanaman dan untuk

eksudat nabati.


Contoh   :

a. Genus + nama bagian tanaman

:

Cinchonae Cortex (Cinchona succirubra)

Digitalis Folium (Digitalis lanata)

Thymi Herba (Thymus vulgaris)

Zingiberis Rhizoma (Zingiber officinale)

b. Petunjuk species +  nama bagian

tanaman   :

Belladonnae Herba (Atropa belladona)

Serpylli  Herba (Thymus serpyllum)

Ipecacuanhae Radix ( Cephaelis

ipecacuanha)

Stramonii Herba (Datura stramonium)

c. Genus + petunjuk species +

nama bagian tanaman :

Curcuma aeruginosae Rhizoma

(Curcuma aeruginosa)

Capsici  frutescentis Fructus (Capsici

frutescentis)

2. Alkaloida yaitu  suatu basa organik yang mengandung unsur Nitrogen (N)

pada umumnya berasal dari tanaman, yang mempunyai efek fisiologis kuat/

keras terhadap manusia. Sifat lainnya yaitu  sukar larut dalam air, dengan

suatu asam akan membentuk garam alkaloid yang lebih  mudah larut dalam

air. Contohnya Codein, Papaverin, Atropin

Eksudat tanaman yaitu   isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman

atau isi  sel dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat  nabati

lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya  dan belum

berupa zat kimia murni (Opium, Papainum dll).

3. a. Simplisia nabati : yaitu  simplisia berupa tanaman

utuh,bagian tanaman atau eksudat

tanaman. (Rhizoma, herba, damar dll)

b. Glikosida : yaitu  suatu zat yang oleh enzim tertentu

akan terurai menjadi satu macam gula

serta satu atau lebih zat bukan gula.

Contohnya Digitalis Folium Purpurea

mengandung glukosida A yang dengan

enzim digipurpidase  digitoksin berubah


menjadi digitoksigenin + 3 digitoksin +

glukosa.

c. Enzim : yaitu  suatu biokatalisator yaitu senyawa

atau zat yang berfungsi mempercepat reaksi

biokimia/metabolisme dalam tubuh

organisme. Sering mempunyai nama

dengan akhiran ase, seperti: Amilase,

Penisilinase dan lain- lain. Daya kerjanya

dibatasi   oleh suhu, dimana pada suhu 0o C

tidak akan aktif dan diatas 60o C akan   mati.

(Carica papaya mengandung enzim papain)


1) Budidaya Tanaman Obat

Berdasarkan kenyataan hingga sekarang sumber simplisia  nabati sebagian masih

diperoleh dengan menebang atau memungut langsung  dari  tempat tumbuh

alami. Sedangkan pembudidayaan tanaman  obat  masih terbatas   pada jenis-

jenis tertentu.

Penambangan simplisia  tanpa  pertimbangan  atau   pengelolaan yang   baik

demi  kesetimbangan  alam,  akan  dapat  memicu  kelangkaan. Bahkan

sering terjadi, dengan pengenalan teknologi baru atau pengabaian lingkungan

tumbuh,  dapat  menimbulkan  dampak (akibat)  yang  merugikan  bagi

kelestarian   suatu  species. Adanya tindakan pembudidayaan, merupakan  suatu

tindakan  pengadaan  atau  penyediaan simplisia secara kontinyu dan teratur yang

sekaligus dapat  merupakan suatu pelestarian nuftah. Pembudidayaan tanaman

obat dapat pula merupakan usaha utama atau  sambilan yang dapat menambah

pendapatan keluarga.

Dipekarangan pengembangan TOGA (tanaman obat keluarga)  berarti

pendayagunaan lahan untuk untuk memenuhi nilai estetika  maupun untuk

keperluan kesehatan. Umumnya simplisia hasil budidaya pedesaan mutunya

belum tinggi.  Hal ini umumnya sebab  kurang intensifnya penanaman, meliputi

cara bertanam, pemeliharaan dan panen. Bahkan sering penentuan waktu panen

lebih banyak berorientasi kepada harga pasar dari pada stadia tumbuh yang erat

hubungannya  dengan tingginya hasil dan kualitas.

Budidaya tanaman obat pada hakekatnya yaitu  suatu cara pengelolaan

sehingga suatu tanaman obat dapat mendatangkan hasil tinggi dan bermutu baik.

Keadaan ini bisa terjadi jika tanaman dapat tumbuh pada lingkungan yang sesuai,

antara lain pada kesuburan tanah sepadan, iklim yang sesuai dengan teknologi

tepat guna.

Tahap pembudidayaan tanaman dilakukan sebagai berikut:

Gambar 2.9 Budidaya tanaman obat dan contoh TOGA

Tempat Tumbuh

Pengertian tumbuh yaitu  daerah yang banyak menghasilkan simplisia yang

bersangkutan. Data tentang tempat tumbuh asli kadang-kadang hanya

mempunyai nilai sejarah dan tidak mempunyai arti ekonomis.

Misalnya:

Tanaman kina yang asli terdapat dipegunungan Andez di Amerika selatan,

sekarang kultur yang ekonomis bernilai hanya dilakukan di pulau Jawa. Minyak

Kenanga yang semula dikuasai produknya oleh Filipina,  sekarang sebagian besar

diproduksi di kepulauan Nossi Be dan Komoro  dekat Madagaskar. Untuk

keperluan tertentu, cengkeh Zanzibar ternyata lebih disukai dari cengkeh daerah

asalnya, kepulauan Maluku. Buah Vanili asli dari Meksiko tidak lagi diproduksi di

daerah asalnya, melainkan di produksi di Tahiti, Indonesia dan kepulauan

Reunion.

1. Pengelolaan tanah

Sebagian besar tanaman obat diusahakan di tanah kering. Pada dasarnya

pengolahan tanah bertujuan menyiapkan tempat atau media tumbuh yang

serasi bagi pertumbuhan tanaman. Pada kesuburan fisik dan kesuburan

kimiawi. Jika kedua macam kesuburan telah dipenuhi untuk jenis tanaman

yang diusahakan, maka dapat dikatakan tanah tersebut subur bagi tanaman

tersebut. Kesuburan fisik sangat erat hubungannya dengan struktur tanah

yang menggambarkan susunan butiran tanah, udara, dan air, sehingga  dapat

menjamin aktivitas akar dalam mengambil zat-zat yang diperlukan tanaman.


Sedangkan kesuburan kimiawi sangat erat hubungannya dengan kemampuan

tanah menyediakan kebutuhan nutrisi tanaman. Kedua kesuburan tersebut

saling berinteraksi dalam menentukan tingkat kesuburan bagi pertumbuhan

tanaman.

Gambar 2.10 Cara pengelolaan tanah

Di samping itu, pengolahan tanah mencakup pula menghilangkan gulma yang

merupakan saingan tanaman, menimbun dan meratakan bahan organik yang

penting bagi tanaman serta pertumbuhannya, saluran drainase untuk

mencegah terjadinya kelebihan air seperti dikehendaki  oleh tanaman. Dalam

pengolahan tanah memerlukan waktu mengingat terjadinya proses fisik, kimia

dan biologis dalam tanah sehingga terbentuk suatu media yang baik bagi

pertumbuhan tanaman.

Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam pengolahan tanah bagi tanaman

obat antara lain:

a. Bagi tanaman obat yang dipungut hasilnya dalam bentuk umbi  (tuber)

umumnya dikehendaki pengolahan-pengolahan tanah cukup dalam

(25 – 40 cm), struktur gembur sehingga pertumbuhan umbi atau

rimpang dapat berkembang dengan  baik.

b. Menghindari tercampurnya bahan induk yang belum melapuk dalam

daerah pekarangan tanaman.Untuk itu perlu adanya waktu yang

cukup untuk memberi kesempatan terjadinya proses pelapukan,

antara lain proses oksidasi, sehingga akan terbentuk lapisan tanah

yang menjamin pertumbuhan akar. Hal itu penting yaitu pada waktu

membuat lubang tanah (sedalam 40x60) bagi tanaman obat

berbentuk pohon, seperti Cengkeh (Eugenia caryophyllata), Kola

(Cola nitida).

c. Pembuatan teras-teras apabila tanah terlalu miring, agar erosi dapat

diperkecil, misal  dalam penanaman Sereh  (Cymbopogon nardus)

d. Pengolahan tanah intensif, diusahakan bebas gulma pada awal

pertumbuhan, yaitu untuk tanaman obat berhabitur perdu seperti

Kumis kucing (Orthosiphon stamineus), Mentol (Mentha  piperita),

Timi   (Thymus  vulgaris)

e. Pembuatan guludan sering dilengkapi dengan saluran drainase yang

baik,  terutama bagi tanaman yang tidak toleran terhadap genangan

air. Seperti  Cabe (Capsicum annuum).

2. Penanaman

Dalam penanaman dikenal  dua cara utama yaitu  penanaman bahan tanaman

(benih atau stek) secara langsung pada lahan dan disemaikan dahulu baru

kemudian diadakan pemindahan tanaman ke lahan yang telah disediakan atau

disiapkan.  Umumnya persemaian diadakan terutama bagi tanaman yang

pada waktu masih kecil memerlukan pemeliharaan intensif. Tanpa perlakuan

tersebut akan memicu  tingkat kematian yang tinggi. Disamping itu

persemaian diperlukan apabila benih terlalu kecil sehingga sulit untuk

mengatur tanaman sesuai dengan perkembangan teknologi tepat guna.

Gambar 2.11 Cara penanaman tanaman obat

Tujuan lain dari adanya persemaian agar dapat memanfaatkan  (menghemat)

waktu  musim tanam tiba (umumnya pada awal musim hujan), sehingga pada

saat musim tiba tanaman telah mengawali tumbuh lebih dahulu. Contohnya

temulawak (Curcuma xanthorrhiza), rimpang ditunaskan lebih dahulu pada

persemaian yang lembab dan agak gelap, baru kemudian belahan rimpang

dengan tunasnya ditanam di lahan.

Hal-hal yang perlu mendapat pertimbangan pada penanaman tanaman  obat

antara lain:

a. Mengingat pada umumnya penanaman pada lahan kering tanpa irigasi

dan cuaca cukup panas maka penanaman dilakukan pada awal musim

hujan.

b. Penanaman dengan jarak atau baris teratur akan lebih baik dipandang

dari segi fisiologi tanaman pemeliharaan dan estetika.

c. Penanaman secara tunggal (monokultur) terutama bagi tanaman yang

tidak tahan cahaya matahari, misalnya Mentol (Mentha piperita).


d. Penanaman ganda dapat dilakukan pada tanaman yang memerlukan

naungan ataupun untuk pertumbuhannya dapat beradaptasi terhadap

sinar matahari tidak langsung, misalnya Kemukus  (Piper cubeba).

Tanaman yang dapat saling bertoleransi terhadap persaingan sebab 

dapat memenuhi beberapa tujuan antara lain : memperluas areal tanam

(pada satu tempat dan waktu bersamaan ditanam lebih dari satu

macam tanaman), menghemat pemeliharaan, memperkecil resiko

kegagalan panen. Penggunaan alat penopang bagi tanaman obat yang

berbatang merambat dengan sistem tanaman ganda, tiang penopang

dapat saja diganti dengan tanaman tegak lalu yang dapat juga

menghasilkan.

e. Populasi tanaman erat hubungannya dengan hasil, antara lain

dipengaruhi oleh terjadinya persaingan antara tanaman dan kesuburan

tanah.

3. Pemeliharaan tanaman

Beberapa  faktor  penghambat  produksi,  misalnya  gulma, hama penyakit

harus ditekan sehingga batas  tertentu.  Demikian pula  faktor  penghambat

lingkungan  fisik  dan  kimia,  seperti kekurangan air,  tingginya  suhu,

kesuburan  tanah,  hendaknya diperkecil pengaruhnya. Perlu dilakukan

pemupukan, misalnya  pemupukan nitrogen pada kandungan  alkaloida  pada

tanaman tembakau   (Nicotiana tobacum). Demikian pula tindakan

pemangkasan merupakan bentuk pemeliharaan lain.

Beberapa tindakan pemeliharaan pada tanaman obat yaitu  :

a. Bibit yang mudah layu, perlu adanya penyesuaian waktu tanamnya

sehingga tidak mendapat sinar matahari berlebihan, misalnya

penanaman Tempuyung (Sonchus arvensis) hendaknya dilakukan

pada sore hari dan diberi naungan sementara.

b. Penyiangan  yang  intensif  guna  menekan  populasi  gulma disamping

dapat  mengurangi kesempatan tumbuh tanaman  usaha  juga  dapat

mengganggu  kebersihan hasil  pada saat  panen (misal pada tanaman

Mentha arvensis)

c. Penimbunan dan penggemburan dilakukan agar memperbaiki sifat

tanah tempat tumbuh.

d. Perbaikan saluran drainase untuk mencegah terjadinya genangan atau

kelebihan air yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

e. Untuk mengurangi evaporasi (penguapan) air tanah, sehingga

kelembaban tanah dapat tetap sesuai, dilakukan pemberian   mulsa.

Misalnya pada tanaman Jahe (Zingiber officinale) pemberian  mulsa

jerami  dapat menaikkan  hasil  sebesar 35 %.

f. Pemangkasan bunga, yang berarti mencegah perubahan fase vegetatif

ke generatif yang banyak memerlukan energi, sehingga kandungan

bahan berkhasiat sebagai sumber energi tidak berkurang. Pada

tanaman Dioscorea compositae kandungan glikosida diosgenin dapat


bertambah dengan dilakukan pemangkasan bunga.

g. Pemangkasan pucuk batang akan menstimulir percabangan, sehingga

dapat menambah jumlah daun yang tumbuh serta kandungan alkaloida

dalam akar bertambah. Misalnya pada tanaman Kumis kucing

(Orthosiphon stamineus).

h. Pemupukan nitrogen dapat meningkatkan kandungan alkaloida  dalam

akar Pule pandak (Rauwolfia serpentina).

Gambar 2.12 Cara pemeliharaan tanaman obat

4. Pemungutan hasil  (panen)

Penentuan saat panen suatu tanaman  obat hendaknya selalu diingat  akan

kwantitas  dan  kwalitas  simplisia.  Hal  ini mengingat jumlah zat  berkhasiat

dalam tanaman tidak selalu  konstan sepanjang  tahun  atau  selama  tanaman

siklus hidupnya, tetapi selalu berubah dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.

Misalnya  tanaman  Kelembak (Rheum  officinale) tidak mengandung derivat

antrakinon dalam musim  dingin, melainkan  antranol, yang dirubah menjadi

antrakinon pada musim panas. Umur   tanaman juga umumnya merupakan

faktor penting dalam akumulasi bahan  yang  diinginkan.

Beberapa penentuan (pedoman) saat panen:

a. Bagi tanaman Empon-empon (familia  Zingiberaceae), panen dilakukan

umumya pada saat bagian tanaman diatas  tanah menua atau kuning

yang biasanya terjadi pada musim  kering,dan jika yang diambil

akarnya. Misalnya   temulawak (Curcuma xanthorrhiza).

b. Daun dipungut sewaktu proses fotosintesa maksimal yaitu sebelum

pembentukan buah. Misal tanaman Saga (Abrus praecatorius).

c. Bunga dipetik selagi masih kuncup (sebelum berkembang) misal pada

cengkeh   (Eugenia caryophyllata).

d. Buah dipetik menjelang masak, misal Solanum laciniatum sedangkan

adas (Anethum graveolens) dipetik setelah masak  benar.


e. Biji dipungut sebaiknya pada saat buah masak

f. Kulit diambil sewaktu bertunas.

Gambar 2.13 Contoh cara panen tanaman obat

2) Pengolahan Simplisia

 Tahap Pembuatan Simplisia meliputi:

a) Pengumpulan bahan

Dalam pengumpulan bahan, yang perlu diperhatikan yaitu  umur

tanaman, bagian tanaman pada waktu dipanen dan lingkungan tempat

tumbuh.

b) Sortasi basah

Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-

bahan asing lainnya dari bahan simplisia sehingga tidak ikut terbawa

pada proses selanjutnya yang akan mempengaruhi hasil akhir

c) Pencucian

Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan kotoran lainnya

yang melekat pada bahan simplisia. Air yang digunakan sebaiknya

yaitu  air mengalir yang bersumber dari air bersih, seperti air PAM, air

sumur, atau mata air


d) Perajangan

Perajangan tidak harus selalu dilakukan. Proses ini pada dasarnya

dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan. Jika ukuran

simplisia kecil/tipis, proses ini dapat diabaikan

e) Pengeringan

Hasil panen tanaman obat untuk dibuat simplisia umumnya perlu segera

dikeringkan. Tujuan pengeringan yaitu  untuk mengurangi kadar air,

untuk menjamin dalam penyimpanan, mencegah pertumbuhan jamur

serta mencegah terjadinya proses atau reaksi enzimatika yang dapat

menurunkan mutu.

Dalam pengeringan faktor yang penting yaitu  suhu, kelembaban dan

aliran udara (ventilasi).  Sumber suhu dapat berasal dari matahari atau

dapat pula dari suhu buatan.

Umumnya pengeringan  bagian tanaman yang mengandung minyak atsiri

atau komponen lain yang termolabil, hendaknya dilakukan pada suhu

tidak terlalu tinggi dengan aliran udara berlengas rendah secara teratur.

Untuk simplisia yang mengandung alkaloida, umumnya dikeringkan pada

suhu kurang dari  70o C.

Agar dalam pengeringan tidak terjadi proses pembusukan, hendaknya

simplisia jangan tertumpuk terlalu tebal. Sehingga proses penguapan

berlangsung dengan cepat.  Sering suhu yang tidak terlalu tinggi dapat

menyebabkan warna simplisia menjadi lebih menarik. Misalnya pada

pengeringanTemulawak suhu awal pengeringan dengan panas buatan

antara 50o – 55o C.

f) Sortasi kering

Tujuan sortasi kering yaitu  memisahkan bahan-bahan asing, seperti

bagian tanaman yang tidak diinginkan dan kotoran lain, yang masih

tertinggal di simplisia kering.


Gambar 2.14 Cara Pengolahan Simplisia

g) Pengemasan

Pengemasan simplisia memakai  wadah yang inert, tidak beracun,

dapat melindungi simplisia dari cemaran, dan untuk mencegah

kerusakan.

Wadah atau bungkus tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan

didalamnya baik secara kimia maupun secara fisika yang dapat

memicu  perubahan potensi, mutu dan kemurnian. Jika pengaruh

itu tidak dapat dihindarkan, maka perubahan yang terjadi tidak boleh

sedemikian besar sehingga menyebabkan bahan yang disimpan tidak

memenuhi syarat baku.

Wadah tertutup baik : harus melindungi isinya terhadap masuknya

bahan padat dari luar dan mencegah kehilangan waktu pengangkutan,

penyimpanan dan penjualan dalam keadaan biasa dan dengan cara

biasa.

Wadah tertutup rapat : harus melindungi isinya terhadap masuknya

bahan padat atau lengas dari luar dan mencegah kehilangan, pelapukan,

pencairan dan penguapan pada waktu  pengurusan, pengangkutan,

penyimpanan dan penjualan dalam  keadaan biasa dan dengan cara

biasa

h) Penyimpanan

Penyimpanan simplisia sebaiknya di tempat yang kelembabannya rendah

dan terlindung dari sinar matahari, serta terlindung dari gangguan

serangga dan tikus.


Suhu penyimpanan

Apabila tidak dinyatakan lain, simplisia disimpan ditempat terlindung dari

sinar matahari dan pada suhu kamar

Simplisia yang mudah menyerap air harus disimpan dalam wadah

tertutup rapat yang berisi kapur tohor.

Dingin : yaitu  suhu tidak lebih dari 8o C, Lemari pendingin mempunyai

suhu   antara 2o C – 8o C, sedangkan  lemari  pembeku  mempunyai  suhu

antara 20oC dan 10o C.

Sejuk : yaitu  suhu antara  8oC dan 15oC.  Kecuali dinyatakan lain,

bahan yang harus di simpan pada suhu sejuk dapat disimpan pada lemari

pendingin.

Suhu kamar : yaitu  suhu  pada ruang kerja. Suhu kamar terkendali

yaitu  suhu yang di atur antara  15o dan  30o.

Hangat :  hangat yaitu  suhu antara  30o dan 40o .

Panas berlebih :  panas berlebih yaitu  suhu di atas 40o.

Disimpan terlindung dari sinar matahari berarti bahwa simplisia harus

disimpan  dalam wadah atau botol yang dibuat dari kaca inaktinik

berwarna hitam, merah atau coklat.

Semua simplisia yang termasuk daftar narkotika, diberi tanda palang

medali berwarna merah di atas putih dan harus disimpan dalam lemari

terkunci. Semua simplisia yang termasuk daftar obat keras kecuali yang

termasuk daftar narkotika, diberi tanda tengkorak dan harus disimpan

dalam lemari terkunci.

i) Pengawetan

Simplisia  nabati atau simplisia hewani harus dihindarkan dari serangga

atau cemaran atau mikroba dengan penambahan kloroform, karbon

tetraklorida, etilenoksida atau pemberian bahan atau penggunaan cara

yang sesuai,  sehingga tidak meninggalkan sisa yang membahayakan

kesehatan.

j) Pemeriksaan mutu

Pemeriksaan mutu merupakan usaha untuk menjaga kestabilan mutu

simplisia.Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan

atau penyerahan dari pengumpul/pedagang simplisia. Simplisia yang

diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum

untuk simplisia. Simplisia yang bermutu yaitu  simplisia yang memenuhi

persyaratan Farmakope Indonesia atau Materia Medika Indonesia.

Pemeriksaan mutu simplisia meliputi hal-hal sebagai berikut :


(1). Kebenaran simplisia Pemeriksaan kebenaran simplisia dilakukan

dengan cara organoleptis, makroskopis, dan mikroskopis.

  Pemeriksaan organoleptis dan makroskopis dilakukan

dengan memakai  indera manusia melalui pengamatan

terhadap bentuk, ciri-ciri luar, warna dan bau simplisia.

  Pemeriksaan secara organoleptis sebaiknya dilanjutkan

dengan mengamati ciri-ciri anatomi histologi terutama untuk

menegaskan keaslian simplisia, meliputi pengamatan terhadap

irisan melintang dan terha dap serbuk.

(2). Parameter nonspesifik

Parameter nonspesifik terkait dengan faktor lingkungan dalam

pembuatan simplisia, seperti uji adanya pencemaran yang

disebabkan oleh pestisida, jamur, aflotoksin, .logam berat, dan

benda asing lainnya.

(3). Parameter spesifik

Parameter spesifik terkait langsung dengan senyawa yang

terkandung dalam tanaman. Pemeriksaan parameter spesifik

meliputi :

  Pemeriksaan secara fisika, yang meliputi penetapan daya

larut, bobot    jenis,  rotasi optik, titik lebur, titik beku, kadar air,

sifat-sifat simplisia di bawah sinar ultra violet,  pengamatan

mikroskopik dengan sinar polarisasi dan lain   sebagainya

  Pemeriksaan secara Kimia, Yang bersifat kwalitatif disebut

identifikasi dan pada umumnya berupa reaksi warna atau

pengendapan. Sebelum reaksi - reaksi tersebut dilakukan

terlebih dahulu diadakan isolasi terhadap zat yang dikehendaki,

misalnya isolasi dengan cara pelarutan, penyaringan dan

mikrosublimasi. Pemeriksaan secara kimia yang bersifat

kwantitatif disebut penetapan kadar.

  Pemeriksaan secara Hayati/Biologi, pada umumnya bersifat

penetapan potensi zat berkhasiat

Gambar 2.15 Salah satu cara pemeriksaan mutu simplisia


3) Pembuatan Serbuk Simplisia

1. Bersihkan simplisia dari bahan organik asing dan pengotoran lain secara

mekanik atau dengan cara lain yang  cocok, keringkan pada suhu yang

cocok, haluskan, ayak.Kecuali dinyatakan lain, seluruh simplisia harus

dihaluskan sesuai derajat halus yang ditetapkan.

2. Simplisia yang  mengandung zat berkhasiat yang tidak tahan  panas,

dikeringkan pada  suhu serendah mungkin, jika perlu dengan pengurangan

tekanan udara.

3. Pada pembuatan serbuk simplisia yang mempunyai persyaratan potensi dan

kadar zat tertentu, misalnya serbuk Digitalis dan serbuk Opium, boleh

ditambahkan serbuk  sejenis  yang mempunyai potensi atau kadar lebih

rendah atau lebih tinggi, atau ditambah bahan lain yang cocok, misalnya

Laktosa, Pati beras, hingga hasil pengolahan terakhir memenuhi persyaratan.

4) Kemurnian  Simplisia

Persyaratan simplisia nabati dan simplisia hewani diberlakukan pada simplisia

yang diperdagangkan,  tetapi pada simplisia yang digunakan untuk suatu

pembuatan   atau isolasi minyak atsiri, alkaloida, glikosida, atau zat aktif lain,

tidak harus memenuhi persyaratan tersebut.

Persyaratan  yang membedakan strukrur mikroskopik serbuk yang berasal dari

simplisia nabati atau simplisia hewani dapat tercakup dalam masing- masing

monografi, sebagai petunjuk identitas, mutu atau kemurniannya.

 Simplisia nabati harus bebas dari serangga, fragmen hewan atau

kotoran    hewan, tidak boleh menyimpang bau dan warnanya, tidak

boleh mengandung lendir dan cendawan atau menunjukan tanda-tanda

pengotoran lain; tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun atau

berbahaya.

 Simplisia hewani harus bebas dari fragmen hewan asing atau kotoran

hewan, tidak boleh menyimpang bau dan warnanya, tidak boleh

mengandung cendawan atau tanda-tanda pengotoran lainnya, tidak

boleh mengandung bahan lain yang beracun atau berbahaya.

 Simplisia pelikan harus bebas dari pengotoran oleh tanah, batu,

hewan, fragmen hewan dan bahan asing lain

Dalam perdagangan, jarang dijumpai simplisia nabati tanpa terikut atau

tercampur bagian lain, maupun bahan asing, yang biasanya tidak

mempengaruhi simplisianya sendiri.

5) Pemalsuan dan Penurunan Mutu Simplisia

Pemalsuan umumnya dilakukan secara sengaja, sedangkan penurunan mutu

mungkin dilakukan secara tidak sengaja.


Simplisia dianggap bermutu rendah jika tidak memenuhi persyaratan -

persyaratan yang telah ditetapkan,  khususnya persyaratan kadarnya. Mutu

rendah  ini dapat disebabkan oleh tanaman asal, cara panen dan pengeringan

yang salah, disimpan terlalu lama, kena pengaruh kelembaban, panas atau

penyulingan.

Simplisia dianggap rusak jika oleh sebab tertentu, keadaannya tidak lagi

memenuhi syarat,  misalnya  menjadi  basah  oleh  air laut,  tercampur minyak

pelumas    waktu diangkut dengan kapal dan lain sebagainya.

Simplisia dinyatakan bulukan jika kwalitasnya turun sebab  dirusak oleh bakteri,

cendawan atau serangga.

Simplisia dinyatakan tercampur jika secara tidak sengaja terdapat bersama -

sama bahan-bahan atau bagian tanaman lain, misalnya kuncup Cengkeh

tercampur dengan tangkai Cengkeh, daun Sena tercampur dengan tangkai daun.

Simplisia dianggap dipalsukan jika secara sengaja diganti, diolah atau ditambahi

bahan lain yang tidak semestinya. Misalnya minyak zaitun diganti minyak biji

kapas,  tetapi tetap dijual dengan nama minyak Zaitun. Tepung jahe yang

ditambahi pati terigu agar bobotnya bertambah, ditambah serbuk  cabe agar tetap

ada rasa pedasnya, ditambah serbuk temulawak agar warnanya tampak seperti

keadaan semula.

6) Isi Simplisia

Isi  simplisia dibagi dalam dua  kelompok, yaitu isi utama dan isi tambahan.

Keterangan tentang isi  kadang-kadang malah merupakan kunci dalam sediaan-

sediaan galenik.

7) Penggunaan

Penggunaan merupakan petunjuk mengenai kerja farmakologik atau penggunaan

secara tradisional untuk pengobatan dan tidak berarti bahwa simplisia yang

bersangkutan tidak mempunyai khasiat dan penggunaan lain.

8) Pengambilan Contoh

Perlu dipastikan bahwa contoh suatu simplisia harus mewakili  bets yang diuji,

untuk mengurangi penyimpangan yang disebabkan oleh kesalahan pengambilan

contoh terhadap hasil analisis baik  kwalitatif maupun kwantitatif. Cara

pengambilan contoh berikut merupakan cara paling sederhana yang   dapat

diterapkan untuk bahan nabati.


Contoh dalam skala besar

Jika pada pengamatan bagian luar wadah, penandaan dan keterangan etiket

menunjukkan  bahwa bets dapat dianggap homogen, ambil contoh secara terpisah

dari berbagai wadah yang dipilih secara acak sesuai ketentuan dibawah ini.  Jika

bets tidak dapat dianggap homogen, bagi menjadi beberapa sub-bets yang

sehomogen mungkin, kemudian lakukan  pengambilan contoh pada masing-

masing sub-bets seperti  pada bets  yang homogen.

Jumlah wadah dalam bets (N) Jumlah  wadah yang harus diambil

contohnya (N)

1  sampai  10 Semua

11 sampai 19 11

 19 n = 10 +

Catatan:  Bulatkan harga  n  ke angka yang lebih tinggi.

Contoh bahan harus diambil pada bagian atas, tengah dan bawah dari setiap

wadah. Jika contoh bahan terdiri dari bagian - bagian  berukuran  1 cm atau lebih

kecil  dan untuk semua bahan yang diserbukkan atau digiling, lakukan

pengambilan contoh dengan memakai  suatu alat pengambil contoh yang

dapat menembus bahan dari bagian atas ke bagian bawah wadah, tidak kurang

dari dua kali pengambilan yang dilakukan pada arah yang berlawanan. Jika bahan

berupa bagian dengan ukuran lebih dari 1 cm, lakukan pengambilan contoh

dengan tangan. Untuk bahan dalam wadah atau bungkus yang besar

pengambilan contoh harus dilakukan pada kedalaman 10 cm, sebab  kelembaban

bagian permukaan mungkin berbeda dengan bagian dalam. Persiapkan contoh

dalam skala besar dengan menggabungkan dan mencampurkan setiap contoh

yang telah diambil dari setiap wadah yang telah terbuka dan jaga jangan sampai

terjadi kenaikan tingkat fragmentasi atau mempengaruhi derajat kelembaban

secara bermakna.

9) Bagian-Bagian dari Tanaman

Kormus (tubuh tanaman) umumnya  dapat  dibagi  menjadi 3  bagian yaitu radix

(akar), caulis  (batang) dan folium (daun). Di samping itu pada tanaman dapat

ditemukan gema (kuncup), flos (bunga), fructus (buah), semen (biji), tubera

(umbi), rhizoma (akar tinggal), bulbus (umbi lapis). Cortex (kulit bagian batang

atau buah atau buah yang dapat dikelupas), herba (bagian tanaman lunak di atas

tanah), pulpa (daging buah), kayu (lignum).

10

N 

   

  


10) Uraian Tentang Simplisia

a) Buku-buku yang digunakan :

(1). Simplisia yang monografinya diuraikan di FI

(2). Beberapa simplisia yang monografinya diuraikan di EFI dan dianggap

masih relevan untuk diketahui siswa.

(3). Beberapa simplisia yang monografinya diuraikan dalam MMI (Materia

Medika Indonesia)

(4). Simplisia yang sediaan galeniknya diuraikan di FI

(5). Simplisia di dalam bab-bab tertentu masih disebutkan oleh FI baik

sebagai contoh maupun keterangan lain.

b) Uraian masing-masing simplisia meliputi:

(1). Nama dan sinonim/nama lain simplisia

(2). Tanaman asal simplisia

(3). Familia atau keluarga simplisia

(4). Isi/zat berkhasiat utama dan persyaratan kadar

(5). Penggunaannya

(6). Pemerian

(7). Bagian yang digunakan

(8). Keterangan mengenai :

   Sediaan atau preparat yang terdapat di FI dan Form.Nas yang masih

digunakan

   Penyimpanan

   Jenis-jenisnya

   Waktu panen/cara memproleh

   Keterangan lain yang dianggap perlu


c. Rangkuman

1. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan tanah bagi tanaman obat

antara lain perlu Pembuatan teras-teras apabila tanah terlalu miring,agar erosi

dapat diperkecil, misal dalam penanaman Sereh  (Cymbopogon nardus ),

Pengolahan tanah intensif, diusahakan bebas gulma pada awal

pertumbuhan, yaitu untuk tanaman obat berhabitur perdu seperti  Kumis

kucing (Orthosiphon stamineus), Mentol (Mentha  piperita),  Timi   (Thymus

vulgaris), Pembuatan guludan sering dilengkapi dengan saluran drainase yang

baik,  terutama bagi tanaman yang tidak toleran terhadap genangan air.

Seperti Cabe (Capsicum annuum). Pembuatan guludan sering dilengkapi

dengan saluran drainase yang baik,  terutama bagi tanaman yang tidak

toleran terhadap genangan air. Seperti     Cabe (Capsicum annuum).

2. Tindakan yang diperlukan dalam pemeliharaan tanaman obat umumnya

persemaian diadakan terutama bagi tanaman yang pada waktu masih kecil

memerlukan pemeliharaan intensif. Tanpa perlakuan tersebut akan

memicu  tingkat kematian yang tinggi. Disamping itu persemaian

diperlukan apabila benih terlalu kecil sehingga sulit untuk mengatur tanaman

sesuai dengan perkembangan teknologi tepat guna.

3. Tujuan lain dari adanya persemaian agar dapat memanfaatkan  (menghemat)

waktu  musim tanam tiba (umumnya pada awal musim hujan), sehingga pada

saat musim tiba tanaman telah mengawali tumbuh lebih dahulu. Contohnya

temulawak (Curcuma xanthorrhiza), rimpang ditunaskan lebih dahulu pada

persemaian yang lembab dan agak gelap, baru kemudian belahan rimpang

dengan tunasnya ditanam di lahan.

4. Pedoman saat panen bagi tanaman obat antara lain

 Bagi tanaman Empon-empon (familia  Zingiberaceae), panen dilakukan

umumya pada saat bagian tanaman diatas  tanah menua atau kuning yang

biasanya terjadi pada musim  kering,dan jika yang diambil akarnya .

Misalnya   temulawak (Curcuma xanthorrhiza)

 Daun dipungut sewaktu proses fotosintesa maksimal yaitu sebelum

pembentukan buah. Misal tanaman Saga (Abrus praecatorius)

 Bunga dipetik selagi masih kuncup (sebelum berkembang) misal pada

cengkeh      (Eugenia caryophyllata).

 Buah dipetik menjelang masak, misal Solanum laciniatum sedangkan adas

(Anethum graveolens) dipetik setelah masak  benar.

 Biji dipungut sebaiknya pada saat buah masak

 Kulit diambil sewaktu bertunas

5. Tujuan pengeringan simplisia yaitu  untuk mengurangi kadar air,  untuk

menjamin dalam penyimpanan,  mencegah pertumbuhan jamur  serta

mencegah terjadinya proses atau reaksi enzimatika yang dapat menurunkan

mutu.

6. Cara-cara pemeriksaan untuk menilai simplisia

 Secara organoleptik

 Secara mikroskopis


 Secara kimia

 Secara fisika

 Secara biologi/ hayati



Uraian

1. Pemalsuan umumnya dilakukan secara sengaja, sedangkan penurunan

mutu  mungkin dilakukan secara tidak sengaja.

Simplisia dianggap bermutu rendah jika tidak memenuhi persyaratan -

persyaratan yang telah ditetapkan,  khususnya persyaratan kadarnya. Mutu

rendah ini dapat disebabkan oleh tanaman asal, cara panen dan

pengeringan yang salah, disimpan terlalu lama, kena pengaruh kelembaban,

panas atau penyulingan.

Simplisia dianggap rusak jika oleh sebab tertentu, keadaannya tidak lagi

memenuhi syarat, misalnya  menjadi  basah  oleh  air laut,  tercampur

minyak pelumas    waktu diangkut dengan kapal dan lain sebagainya.

Simplisia dinyatakan bulukan jika kwalitasnya turun sebab  dirusak oleh

bakteri, cendawan atau serangga.

Simplisia dinyatakan tercampur jika secara tidak sengaja terdapat

bersama-sama bahan-bahan atau bagian tanaman lain, misalnya kuncup

Cengkeh  tercampur dengan tangkai Cengkeh, daun Sena tercampur

dengan tangkai daun.

Simplisia dianggap dipalsukan jika secara sengaja diganti, diolah atau

ditambahi bahan lain yang tidak semestinya. Misalnya minyak zaitun diganti

minyak biji kapas,  tetapi tetap dijual dengan nama minyak Zaitun. Tepung


jahe yang ditambahi pati terigu agar bobotnya bertambah, ditambah serbuk

cabe agar tetap ada rasa pedasnya, ditambah serbuk temulawak agar

warnanya tampak seperti keadaan semula.

2. Tujuan pengeringan yaitu  untuk mengurangi kadar air,  untuk menjamin

dalam penyimpanan,  mencegah pertumbuhan jamur  serta mencegah

terjadinya proses atau reaksi enzimatika yang dapat menurunkan mutu.

3. Pembuatan Serbuk Simplisia

a) Bersihkan simplisia dari bahan organik asing dan pengotoran lain

secara mekanik atau dengan cara lain yang  cocok,  keringkan pada

suhu yang cocok, haluskan, ayak.Kecuali dinyatakan lain, seluruh

simplisia harus dihaluskan sesuai derajat halus yang ditetapkan.

b) Simplisia yang  mengandung zat berkhasiat yang tidak tahan  panas,

dikeringkan pada suhu serendah mungkin, jika perlu dengan

pengurangan tekanan udara.

c) Pada pembuatan serbuk simplisia yang mempunyai persyaratan

potensi dan kadar zat tertentu, misalnya serbuk Digitalis dan serbuk

Opium, boleh ditambahkan serbuk  sejenis  yang mempunyai potensi

atau kadar lebih rendah atau lebih tinggi, atau ditambah bahan lain

yang cocok, misalnya Laktosa, Pati beras, hingga hasil pengolahan

terakhir memenuhi persyaratan.

g. Lembar Kerja

Isilah lembar jawaban berikut:

Pada soal pemeriksaan mutu simplisia

No Pemeriksaan mutu

simplisia secara

Uraian

1 Kimia

2 memakai  panca indera terhadap

bentuk dan bau simplisia

3 Parameter nonspesifik

Farmakognosi l

54

3 Kegiatan Belajar 3

RHIZOMA

a. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari kompetensi ini diharapkan siswa mampu:

1. Mendefinisikan Rhizoma

2. Menjelaskan cara panen secara umum dari Rhizoma

3. Menyebutkan tanaman asal dari simplisia tanaman obat yang berasal dari

Rhizoma

4. Menyebutkan nama lain dari simplisia tanaman obat yang berasal dari

Rhizoma

5. Menyebutkan keluarga dari tanaman obat yang berasal dari Rhizoma

6. Menyebutkan bagian tanaman yang digunakan dari tanaman obat yang

berasal dari Rhizoma

7. Menyebutkan manfaat dari tanaman obat yang berasal dari Rhizoma

8. Menyebutkan isi berkhasiat dari tanaman obat yang berasal dari Rhizoma

b. Uraian Materi


1. BOESENBERGIAE  RHIZOMA  (MMI)

2. CALAMI  RHIZOMA  (MMI)

3. CURCUMAE  RHIZOMA  (FI)

4. CURCUMAE AERUGINOSAE RHIZOMA  (MMI)

5. CURCUMAE  DOMESTICAE RHIZOMA  (MMI)

6. CURCUMAE  HEYNEANAE RHIZOMA  (MMI)

7. CYPERI  RHIZOMA  (MMI)

8. IMPERATAE RHIZOMA (MMI)

9. KAEMPFERIAE RHIZOMA (MMI)

10. LANGUATIS  RHIZOMA  (MMI)

11. ZINGIBERIS  RHIZOMA (MMI)

12. ZINGIBERIS AROMATICAE RHIZOMA (MMI)

13. ZINGIBERIS LITTORALIS RHIZOMA (MMI)

14. ZINGIBERIS PURPUREI RHIZOMA  (MMI)

15. ZINGIBERIS ZERUMBETI RHIZOMA  (MMI)

Rhizoma (akar tinggal) yaitu : sebuah bentuk modifikasi batang tanaman yang

biasanya menjalar didalam tanah dan dapat menghasilkan tanaman baru dari

ruasnya. (Lawrence,1995, Tjitrosoepomo 1993). Sebetulnya yaitu  batang yang

seluruhnya berada dan tumbuh menjalar di dalam/permukaan tanah.


1. BOESENBERGIAE  RHIZOMA  (MMI)

Gambar 2.16 Boesenbergiae  Rhizoma

Nama  lain : Temu  Kunci

Nama  tanaman asal : Boesenbergia  pandurata (Roxb) Schlecht

Keluarga : Zingiberaceae

Zat berkhasiat

utama/isi

: Minyak atsiri, damar, pati

Penggunaan : Antidiare

Pemerian : Bau khas aromatik, rasa agak pahit menimbulkan

rasa agak tebal

Bagian yang

digunakan

: Kepingan-kepingan akar tinggal

Keterangan :

    Waktu panen : Dilakukan pada umur 1 tahun

    Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik


2. CALAMI  RHIZOMA  (MMI)

Gambar 2.17 Calami  Rhizoma

Nama  lain : Dlingo,  Dringo, Jaringau,  Calamus, Sweetflag

Nama  tanaman asal : Acorus calamus (L)

Keluarga : Araceae

Zat berkhasiat

utama/isi

: Minyak atsiri mengandung egenol. asaron. asaril

aldehid. Zat pahit akorin 0,2%, zat penyamak, pati,

akoretin, tannin.

Penggunaan : Bahan pewangi, karminativa, insektisida, demam

nifas

Pemerian : Bau khas aromatik, rasa pahit, agak pedas.

Bagian yang

digunakan

: Akar tinggal

Keterangan :

    Waktu panen : Dikumpulkan pada waktu daun mulai kering,

dibersihkan dari semua bagian tanaman lain,tetapi

tidak dikupas, biasanya diperoleh dari tanaman

berumur 1 tahun. Bila panenan dilakukan kurang dari

1 tahun hasilnya berkurang, dan bila lebih dari 1

tahun hasilnya masih dapat ditingkatkan.

    Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik


3. CURCUMAE  RHIZOMA  (FI)

Gambar 2.18 Curcumae  Rhizoma

Nama  lain : Temu lawak,  Koneng gede

Nama  tanaman asal : Curcuma xanthorrhiza (Roxb)

Keluarga : Zingiberaceae

Zat berkhasiat

utama/isi

: Minyak atsiri yang mengandung felandren dan

tumerol,  zat warna kurkumin, pati. Kadar minyak

atsiri tidak kurang dari 8,2 % b/v

Penggunaan : Kolagoga, antispasmodika

Pemerian : Bau khas aromatik, rasa tajam  dan pahit

Bagian yang

digunakan

: Kepingan akar tinggal

Keterangan :

    Waktu panen : Panenan dilakukan apabila daun dan bagian atas

tanaman sudah mengering. Untuk daerah yang

musim kemaraunya jelas penanamannya  dilakukan

pada musim kemarau berikutnya. Di daerah yang

banyak dan merata curah hujannya  dan tidak jelas

musim kemaraunya tanaman dapat dipanen  pada

umur 9 bulan atau lebih. Cara panen dilakukan

dengan membongkar rimpang memakai  garpu

Syarat Temulawak kering untuk ekspor sebagai berikut :

Warna :  Kuning jingga sampai coklat

Aroma :  Khas wangi aromatik

Rasa :  Pahit, agak pedas

Kelembaban :  Maksimum 12 %

Abu :  3  7 %

Pasir :  1 %

Kadar minyak atsiri : minimal 5 %

    Sediaan

    Penyimpanan

:

:

EM kapsul ®

Dalam wadah tertutup baik

Farmakognosi l

59

4. CURCUMAE AERUGINOSAE  RHIZOMA (MMI)

Gambar 2.19 Curcumae Aeruginosae  Rhizoma

Nama  lain : Temu hitam, Temu ireng

Nama  tanaman asal : Curcuma aeruginosa (Roxb)

Keluarga : Zingiberaceae

Zat berkhasiat

utama/isi

: Minyak atsiri, pati, damar, lemak

Persyaratan kadar : Minyak atsiri tidak kurang dari 0,3 %

Penggunaan : Bagian dari jamu, antirematik, karminativa

Pemerian : Bau aromatik lemah, rasa sangat pahit, lama-lama

menimbulkan rasa tebal

Bagian yang

digunakan

: Kepingan-kepingan akar tinggal yang dikeringkan

Keterangan :

    Sediaan :     1. P