Farmakognosi yaitu pengetahuan tentang obat, khususnya dari nabati, hewani
dan mineral, berasal dari dua perkataan Yunani yaitu Pharmakon yang berarti
obat dan gnosis yang berarti ilmu atau pengetahuan. Farmakognosi merupakan
salah satu mata pelajaran kefarmasian yang erat hubungannya dengan ilmu-ilmu
lain misalnya biologi -zoologi, kimia, galenika. Farmakognosi mulai berkembang
pesat setelah pertengahan abad ke 19 dan masih terbatas pada uraian
makroskopis dan mikroskopis, yang sampai dewasa ini perkembangannya sudah
sampai ke usaha-usaha isolasi, identifikasi dan juga teknik-teknik kromatografi
untuk tujuan analisa kualitatif dan kuantitatif
Masyarakat secara tradisional telah memakai ramuan berupa bahan
tumbuhan, hewan, dan mineral maupun campuran bahan-bahan tersebut untuk
pengobatan berdasarkan pengalaman. Sifat-sifat tumbuhan dan bahan lain
sebagai sumber obat dipelajari dalam Farmakognosi. Farmakognosi merupakan
cabang Farmakologi yang memiliki peranan penting dalam perkembangan dunia
farmasi.
Farmakognosi mempelajari, antara lain asal dan bagian tumbuhan yang
berkhasiat obat, klasifikasi tumbuhan obat, pembuatan simplisia dari tumbuhan
obat, beberapa jenis metabolit primer yang berguna dan metabolit sekunder
terpilih, dan manfaat atau khasiat tumbuhan obat, hewani, dan mineral.
Indonesia kini telah menjadi salah satu negara di Asia yang menghasilkan
berbagai jenis tanaman obat yang juga dieksport kebeberapa negara tetangga,
misalnya: Temulawak, Cengkeh dan lain-lain.
Fungsi utama dari tanaman obat cukup berkembang pesat, dan kini telah
dikembangkan menjadi beberapa obat fitofarmaka.
A. Deskripsi
Bahan ajar untuk mata pelajaran Dasar-dasar Farmakognosi dalam lingkup Dasar
Kompetensi Kejuruan (DKK) akan dijelaskan lebih lanjut berkaitan dengan lingkup
industri kefarmasian, sejarah farmakognosi, karakteristik farmakognosi, klasifikasi,
cara pembuatan dan pengolahan simplisia.
DASAR-DASAR FARMAKOGNOSI
1) Sejarah Dan Perkembangan Farmakognosi
armakognosi berasal dari dua perkataan Yunani yaitu Pharmakon
yang berarti obat dan gnosis yang berarti ilmu atau pengetahuan. Jadi
farmakognosi berarti pengetahuan tentang obat, khususnya dari nabati,
hewani dan mineral
Definisi yang mencakup seluruh ruang lingkup farmakognosi diberikan oleh
Fluckiger, yaitu pengetahuan secara serentak berbagai macam cabang ilmu
pengetahuan untuk memperoleh segala segi yang perlu diketahui tentang obat.
Pada kurang lebih 2500 tahun sebelum masehi, penggunaan tanaman obat sudah
dilakukan orang, hal ini dapat diketahui dari lempeng tanah liat yang tersimpan di
Perpustakaan Ashurbanipal di Assiria, yang memuat simplisia antara lain kulit
delima, opium, adas manis, madu, ragi, minyak jarak. Juga orang Yunani kuno
misalnya Hippocrates (446 tahun sebelum masehi), seorang tabib telah
mengenal kayu manis, hiosiamina, gentiana, kelembak, gom arab, bunga kantil
dan lainnya.
Gambar 2.1 Sejarah dan perkembangan Farmakognosi
Pada tahun 1737 Linnaeus, seorang ahli botani Swedia, menulis buku
“Genera Plantarum” yang kemudian merupakan buku pedoman utama dari
sistematik botani, sedangkan farmakognosi modern mulai dirintis oleh Martiuss.
Seorang apoteker Jerman dalam bukunya “Grundriss Der Pharmakognosie Des
Planzenreisches” telah menggolongkan simplisia menurut segi morfologi, cara-
cara untuk mengetahui kemurnian simplisia
Farmakognosi mulai berkembang pesat setelah pertengahan abad ke 19 dan
masih terbatas pada uraian makroskopis dan mikroskopis. Dan sampai dewasa ini
perkembangannya sudah sampai ke usaha-usaha isolasi, identifikasi dan juga
teknik-teknik kromatografi untuk tujuan analisa kualitatif dan kuantitatif.
2) Hubungan Farmakognosi dengan Ilmu-Ilmu Lain
Sebelum kimia organik dikenal, simplisia merupakan bahan utama yang harus
tersedia di tempat meramu atau meracik obat dan umumnya diramu atau diracik
sendiri oleh tabib yang memeriksa sipenderita, sehingga dengan cara tersebut
Farmakognosi dianggap sebagai bagian dari Materia Medika. Simplisia diapotik
kemudian terdesak oleh perkembangan galenika, sehingga persediaan simplisia di
apotik digantikan dengan sediaan-sediaan galenik yaitu, tingtur, ekstrak, anggur
dan lain-lain.
Kemudian setelah kimia organik berkembang, menyebabkan makin terdesaknya
kedudukan simplisia di apotik-apotik. Tetapi hal ini bukan berarti simplisia tidak
diperlukan lagi, hanya tempatnya tergeser ke pabrik-pabrik farmasi, tanpa
adanya simplisia, di apotik tidak akan terdapat sediaan-sediaan galenik, ataupun
zat- zat kimia murni dengan segala bentuknya (serbuk, tablet, ampul dll), misalnya
injeksi Kinin antipirin, Secara sepintas Kinin antipirin dalam pembuatannya tidak
memerlukan simplisia, tetapi cukup dua zat kimia murni yaitu kinina dan antipirin,
dimana antipirin diperoleh secara sintetis, sedangkan kinina hanya dapat
diperoleh dari kulit kina. Sedangkan kulit kina sendiri baru dapat diperoleh setelah
ada kepastian bahwa tanaman yang akan ditebang benar- benar jenis Cinchona
yang dikehendaki.
Gambar 2.2 Proses pembuatan obat tradisional secara turun temurun
Dalam proses pembuatan zat-zat secara semisintetis, maka farmakognosi sangat
erat hubungannya dengan biokimia dan kimia sintesa, misalnya dalam pembuatan
Kortison, Hidrokortison, prednison dan prednisolon. Untuk membuat keempat
macam hormon tersebut, sebagai bahan bahan baku dipergunakan Stigmasterol
yang terdapat dalam biji kedelai atau memakai diosgenin yang terdapat
dalam umbi gadung. Biji kedelai dan umbi gadung tidak pernah dimuat
monografinya dalam farmakope, tetapi secara tidak langsung kedua bahan
tersebut penting bagi proses semisintesa yang akan dilakukan.
Dari contoh-contoh tersebut maka dapat diketahui bahwa ruang lingkup
Farmakognosi tidak terbatas pada pengetahuan tentang simplisia yang tertera
dalam Farmakope, tetapi meliputi pemanfaatan alam nabati-hewani dan mineral
dalam berbagai aspeknya di bidang farmasi dan kesehatan.
Simplisia harus mempunyai identitas botani - zoologi yang pasti, artinya harus
diketahui dengan tepat nama latin tanaman atau hewan dari mana simplisia
tersebut diperoleh, misalnya: menurut Farmakope Indonesia ditentukan bahwa
untuk Kulit Kina harus diambil dari tanaman asal Cinchona succirubra,
sedangkan jenis kina terdapat banyak sekali, yang tidak mempunyai kadar kina
yang tinggi. Atas dasar pentingnya identitas botani - zoologi maka nama-nama
tanaman atau hewan dalam Farmakope selalu disebut nama latin dan tidak
dengan nama daerah, sebab satu nama daerah seringkali berlaku untuk lebih
dari satu macam tanaman sehingga dengan demikian nama daerah tidak selalu
memberikan kepastian identitas. Dengan demikian menetapkan identitas botani-
zoologi secara tepat yaitu langkah pertama yang harus ditempuh sebelum
melakukan kegiatan-kegiatan lainnya dalam bidang farmakognosi.
Beberapa definisi tentang obat:
1. Obat : yakni suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang
dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan
diagnose, mencegah, mengurangkan,
menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka,
atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia
atau hewan, memperelok bagian badan manusia.
2. Obat Jadi : yakni obat dalam keadaan murni atau campuran
dalam bentuk serbuk, cairan, salep, tablet, pil,
suppositoria atau bentuk yang mempunyai nama
teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau
buku-buku lain yang ditetapkan pemerintah.
Gambar 2.3 Contoh obat jadi
3. Obat Generik : obat yang telah habis masa patennya, sehingga
dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi
tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat
generik, yaitu obat generik bermerek dagang dan
obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek
kandungan zat aktifnya. Dalam obat generik
bermerek, kandungan zat aktif itu diberi nama
(merek). Zat aktif amoxicillin misalnya, oleh pabrik ”A”
diberi merek ”inemicillin”, sedangkan pabrik ”B”
memberi nama ”gatoticilin” dan seterusnya, sesuai
keinginan pabrik obat. Dari berbagai merek tersebut,
bahannya sama: amoxicillin.
Gambar 2.4 Contoh obat generik
4. Obat Paten : yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar
atas nama pembuat atau dikuasakannya dan dijual
dalam bungkus asli dari pabrik yang
memproduksinya.
5. Obat Baru : yakni obat yang terdiri dari atau berisi suatu zat baik
sebagai bagian yang berkhasiat maupun yang tidak
berkhasiat, misalnya lapisan, pengisi, pelarut, bahan
pembantu (vehiculum) atau komponen lain yang
belum dikenal, sehingga tidak diketahui khasiat atau
keamanannya.
6. Obat Asli : yakni obat yang didapat langsung dari bahan-bahan
alamiah Indonesia, teerolah secara sederhana atas
dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan
tradisonal.
Gambar 2.5 Contoh Obat Asli
7. Obat Tradisional : yakni bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan
galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut,
secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman.
Gambar 2.6 Contoh Obat Tradisional
8. Obat Herbal
Terstandar:
sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan
keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji
praklinik dan bahan bakunya telah distandarisasi
Gambar 2.7 Contoh Obat Herbal Terstandar
9. Fitofarmaka : sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan
keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji
praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya
telah di standarisasi.
Gambar 2.8 Contoh obat Fitofarmaka
Beberapa Definisi dalam ilmu farmakognosi
1. Simplisia : yaitu bahan alamiah yang digunakan sebagai obat
yang belum mengalami pengolahan apapun juga,
kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah
dikeringkan.
(Zingiberis Rhizoma, Abri Folium) dll
2. Simplisia nabati : yaitu simplisia berupa tanaman utuh, bagian
tanaman atau eksudat tanaman.
(Rhizoma, herba, damar dll)
3. Eksudat tanaman : yaitu isi sel yang secara spontan keluar dari
tanaman atau isi sel dengan cara tertentu
dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya
yang dengan cara tertentu dipisahkan dari
tanamannya dan belum berupa zat kimia murni.
(Opium, Papainum dll)
4. Simplisia hewani : yaitu simplisia yang berupa hewan utuh, bagian
hewan atau zat-zat yang berguna yang dihasilkan
oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.
(Adeps Lanae, Mel Depuratum dll).
5. Simplisia mineral
(pelikan)
: yaitu simplisia yang berupa mineral (pelikan) yang
belum diolah atau diolah dengan cara sederhana dan
belum berupa zat kimia murni. (Vaselinum Album,
Paraffinum Solidum).
6. Alkaloida : yaitu suatu basa organik yang mengandung unsur
Nitrogen (N) pada umumnya berasal dari tanaman,
yang mempunyai efek fisiologis kuat/ keras terhadap
manusia. Sifat lainnya yaitu sukar larut dalam air,
dengan suatu asam akan membentuk garam alkaloid
yang lebih mudah larut dalam air. Contohnya Codein,
Papaverin, Atropin.
7. Glikosida : yaitu suatu zat yang oleh enzim tertentu akan
terurai menjadi satu macam gula serta satu atau lebih
zat bukan gula. Contohnya Digitalis Folium Purpurea
mengandung glukosida A yang dengan enzim
digipurpidase digitoksin berubah menjadi
digitoksigenin + 3 digitoksin + glukosa.
8. Enzim : yaitu suatu biokatalisator yaitu senyawa atau zat
yang berfungsi mempercepat reaksi biokimia
/metabolisme dalam tubuh organisme. Sering
mempunyai nama dengan akhiran ase, seperti:
Amilase, Penisilinase dan lain-lain. Daya kerjanya
dibatasi oleh suhu, dimana pada suhu 0o C tidak
akan aktif dan diatas 60o C akan mati. (Carica papaya
mengandung enzim papain).
9. Vitamin : yaitu suatu zat yang dalam jumlah sedikit sekali
diperlukan oleh tubuh manusia untuk membentuk
metabolisme tubuh. Tubuh manusia sendiri tidak
dapat memproduksi vitamin.
(Oleum Iecoris mengandung Vitamin A dan viatmin
D).
10. Hormon : yaitu suatu zat yang dikeluarkan oleh kelenjar
endokrin yang mempengaruhi faal tubuh dan
mempengaruhi besar bentuk tubuh.
(Thyroidum).
11. Bahan Organik
Asing
: disingkat benda asing, yaitu satu atau
keseluruhan dari apa yang disebutkan dibawah ini:
a. Fragmen bagian atau bagian tanaman asal
simplisia selain bagian tanaman yang
disebutkan dalam paparan makroskopik atau
bagian sedemikian yang nilai batasnya
disebut monografi
b. Hewan atau hewan asing berikut fragmennya,
zat yang dikeluarkan hewan, kotoran hewan,
batu, tanah atau zat pengotor lainnya
12. Pemerian : uraian tentang bentuk, bau, rasa dan warna simplisia.
Pemerian merupakan informasi yang diperlukan
dalam pengamatan terhadap simplisia nabati yang
berupa bagian tanaman (kulit, daun, akar, dll)
3) Ejaan Latin
Dalam ilmu farmakognosi kita memakai bahasa latin dalam penamaan
tanaman obat. Meskipun alfabet Latin sama dengan alfabet yang dipergunakan
dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan ejaan yang disempurnakan pada bahasa
Indonesia, maka terrdapat perbedaan cara pengucapan dari beberapa huruf dan
rangkaian huruf.
Cara pembacaan huruf-huruf atau rangkaian-rangkaian huruf Latin yang
dimaksud, dapat kita lihat pada contoh-contoh berikut ini:
Huruf atau
rangkaian
huruf
Dibaca sebagai Contoh Diucapkan
sebagai
Ae e Galangae ga-la-nge
Lobeliae lo-be-li-e
C k jika diikuti huruf a,
o, u atau huruf mati
Cacao ka-ka-o
Cola ko-la
Curcuma kur-ku-ma
Fructus Fruk –tus
C s jika diikuti huruf
e,i,y
Cera
Citri
Glycyrrhiza
Se-ra
Sit-tri
Gli-si-ri-sa
Cc kk jika diikuti huruf
a,o,u
Succus Suk-kus
Cc ks jika diikuti huruf
e,i,y
Coccinella Kok-si-ne-la
Ch kh jika diikuti huruf Cinchona Sin-ko-na
Hidup
Ch h jika diikuti huruf mati Strychni Strih-ni
Eae E Dioscoreae Di-es-ko-re
Eu e + u Oleum O-le-um
Cetaceum Se-ta-se-um
Ff F Paraffinum Pa-ra-fi-num
Ie i..+ ye Iecoris Iye-ko-ris
Ii i + i Aurantii Au-ran-ti-i
J Y Cajuputi Ka-yu-pu-ti
Ll L Vanilla Va-ni-la
Mm M Gummi Gu-mi
Ichtammolum Ih-ta-mo-lum
Nh N Ipecacuanhae I-pe-ka-ku-ane
Oe Eu Foeniculi Feu-ni-ku-li
Asafoetida A-sa-feu-ti-da
Nn N Belladonna Be-la-do-na
Sennae Se-ne
Ph F Orthosiphon Or-to-si-fon
Pp P Hippoglossi hi-po-glo-si
Qu Kw Quercus kwer-kus
Farmakognosi l
21
Huruf atau
rangkaian
huruf
Dibaca sebagai Contoh Diucapkan
sebagai
Rh R rhei
rhizoma
re-i
ri-zo-ma
Rr R Myrrha mi-ra
Sh Sy Shorea syo-re
Purshiana pur-si-a-na
Ss S Cassia ka-si-a
Th T Mentha men-ta
Tiae Sie Liquiritiae li-kwi-ri-sie
X ks jika tertera pada
tengah/akhir kata
s jika pada permulaan
kata
pix
radix
cortex
bixa
xanthorrhiza
piks
ra-diks
kor-teks
bik-sa
san-to-ri-za
Y i jika didahului dan/ atau
diikuti oleh huruf mati
hydrastis
maydis
hi-dras-tis
ma-i-dis
y jika diapit oleh 2 huruf
hidup
Papaya pa-pa-ya
4) Sistematika Tanaman Obat
Tata Nama Latin Tanaman
1. Nama Latin tanaman terdiri dari 2 kata, kata pertama disebut nama genus
dan perkataan kedua disebut petunjuk species, misalnya nama latin dari
padi yaitu Oryza sativa, jadi Oryza yaitu genusnya sedangkan sativa
yaitu petunjuk speciesnya. Huruf pertama dari genus ditulis dengan huruf
besar dan huruf pertama dari petunjuk species ditulis dengan huruf kecil.
Nama ilmiah lengkap dari suatu tanaman terdiri dari nama latin diikuti
dengan singkatan nama ahli botani yang memberikan nama latin tersebut.
Beberapa contoh yaitu sebagai berikut:
Nama ahli botani Disingkat sbg Nama tanaman lengkap
Linnaeus L Oryza sativa L
De Candolle DC Strophanthus hispidus DC
Miller Mill Foeniculum vulgare Mill
Houttuyn Houtt Myristica fragrans Houtt
2. Nama latin tanaman tidak boleh lebih dari 2 perkataan, jika lebih dari 2
kata (3 kata), 2 dari 3 kata tersebut harus digabungkan dengan tanda ().
Contoh:
Dryopteris filix - mas
Strychnos nux - vomica
Hibiscus rosa – sinensis
3. Kadang-kadang terjadi penggunaan 1 nama latin terhadap 2 tanaman
yang berbeda, hal ini disebut homonim dan keadaan seperti ini terjadi
sehingga ahli botani lain keliru memakai nama latin yang
bersangkutan terhadap tanaman lain yang juga cocok dengan uraian
morfologis tersebut.
Tata Nama Simplisia
Dalam ketentuan umum Farmakope Indonesia disebutkan bahwa nama simplisia
nabati ditulis dengan menyebutkan nama genus atau species nama tanaman,
diikuti nama bagian tanaman yang digunakan. Ketentuan ini tidak berlaku untuk
simplisia nabati yang diperoleh dari beberapa macam tanaman dan untuk eksudat
nabati.
Contoh :
1. Genus + nama bagian tanaman: Cinchonae Cortex (Cinchona
succirubra)
Digitalis Folium (Digitalis lanata)
Thymi Herba (Thymus vulgaris)
Zingiberis Rhizoma (Zingiber officinale)
2. Petunjuk species + nama bagian
tanaman:
Belladonnae Herba (Atropa belladona)
Serpylli Herba (Thymus serpyllum)
Ipecacuanhae Radix (Cephaelis
ipecacuanha)
Stramonii Herba (Datura stramonium)
3. Genus + petunjuk species + nama
bagian tanaman:
Curcuma aeruginosae Rhizoma
(Curcuma aeruginosa)
Capsici frutescentis Fructus (Capsici
frutescentis)
Keterangan : Nama species terdiri dari genus + petunjuk spesies
Beberapa nama simplisia yang tidak mengikuti tata nama diatas:
Galangae Rhizoma (Alpinia officinarum)
Sennae Folium (Cassia acutifolia)
Oleum Aurantii (Citrus sinensis)
Pyrethri Flos (Chrysanthemum cinerariaefolium)
Dan lain-lain
c. Rangkuman
1. Farmakognosi berhubungan dengan ilmu lain yaitu antara lain ilmu kimia,
Biologi-Zoologi dan lain-lain
2. Nama Latin tanaman terdiri dari 2 kata, kata pertama disebut nama genus
dan perkataan kedua disebut petunjuk species
3. Nama latin tanaman tidak boleh lebih dari 2 perkataan, jika lebih dari 2
kata (3 kata), 2 dari 3 kata tersebut harus digabungkan dengan tanda ().
4. Dalam ketentuan umum Farmakope Indonesia nama simplisia nabati
ditulis dengan menyebutkan nama genus atau species nama tanaman,
diikuti nama bagian tanaman yang digunakan,kecuali untuk simplisia
nabati yang diperoleh dari beberapa macam tanaman dan untuk eksudat
nabati.
1. Tata Nama Simplisia
Dalam ketentuan umum Farmakope Indonesia disebutkan bahwa nama simplisia
nabati ditulis dengan menyebutkan nama genus atau species nama tanaman,
diikuti nama bagian tanaman yang digunakan. Ketentuan ini tidak berlaku untuk
simplisia nabati yang diperoleh dari beberapa macam tanaman dan untuk
eksudat nabati.
Contoh :
a. Genus + nama bagian tanaman
:
Cinchonae Cortex (Cinchona succirubra)
Digitalis Folium (Digitalis lanata)
Thymi Herba (Thymus vulgaris)
Zingiberis Rhizoma (Zingiber officinale)
b. Petunjuk species + nama bagian
tanaman :
Belladonnae Herba (Atropa belladona)
Serpylli Herba (Thymus serpyllum)
Ipecacuanhae Radix ( Cephaelis
ipecacuanha)
Stramonii Herba (Datura stramonium)
c. Genus + petunjuk species +
nama bagian tanaman :
Curcuma aeruginosae Rhizoma
(Curcuma aeruginosa)
Capsici frutescentis Fructus (Capsici
frutescentis)
2. Alkaloida yaitu suatu basa organik yang mengandung unsur Nitrogen (N)
pada umumnya berasal dari tanaman, yang mempunyai efek fisiologis kuat/
keras terhadap manusia. Sifat lainnya yaitu sukar larut dalam air, dengan
suatu asam akan membentuk garam alkaloid yang lebih mudah larut dalam
air. Contohnya Codein, Papaverin, Atropin
Eksudat tanaman yaitu isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman
atau isi sel dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati
lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum
berupa zat kimia murni (Opium, Papainum dll).
3. a. Simplisia nabati : yaitu simplisia berupa tanaman
utuh,bagian tanaman atau eksudat
tanaman. (Rhizoma, herba, damar dll)
b. Glikosida : yaitu suatu zat yang oleh enzim tertentu
akan terurai menjadi satu macam gula
serta satu atau lebih zat bukan gula.
Contohnya Digitalis Folium Purpurea
mengandung glukosida A yang dengan
enzim digipurpidase digitoksin berubah
menjadi digitoksigenin + 3 digitoksin +
glukosa.
c. Enzim : yaitu suatu biokatalisator yaitu senyawa
atau zat yang berfungsi mempercepat reaksi
biokimia/metabolisme dalam tubuh
organisme. Sering mempunyai nama
dengan akhiran ase, seperti: Amilase,
Penisilinase dan lain- lain. Daya kerjanya
dibatasi oleh suhu, dimana pada suhu 0o C
tidak akan aktif dan diatas 60o C akan mati.
(Carica papaya mengandung enzim papain)
1) Budidaya Tanaman Obat
Berdasarkan kenyataan hingga sekarang sumber simplisia nabati sebagian masih
diperoleh dengan menebang atau memungut langsung dari tempat tumbuh
alami. Sedangkan pembudidayaan tanaman obat masih terbatas pada jenis-
jenis tertentu.
Penambangan simplisia tanpa pertimbangan atau pengelolaan yang baik
demi kesetimbangan alam, akan dapat memicu kelangkaan. Bahkan
sering terjadi, dengan pengenalan teknologi baru atau pengabaian lingkungan
tumbuh, dapat menimbulkan dampak (akibat) yang merugikan bagi
kelestarian suatu species. Adanya tindakan pembudidayaan, merupakan suatu
tindakan pengadaan atau penyediaan simplisia secara kontinyu dan teratur yang
sekaligus dapat merupakan suatu pelestarian nuftah. Pembudidayaan tanaman
obat dapat pula merupakan usaha utama atau sambilan yang dapat menambah
pendapatan keluarga.
Dipekarangan pengembangan TOGA (tanaman obat keluarga) berarti
pendayagunaan lahan untuk untuk memenuhi nilai estetika maupun untuk
keperluan kesehatan. Umumnya simplisia hasil budidaya pedesaan mutunya
belum tinggi. Hal ini umumnya sebab kurang intensifnya penanaman, meliputi
cara bertanam, pemeliharaan dan panen. Bahkan sering penentuan waktu panen
lebih banyak berorientasi kepada harga pasar dari pada stadia tumbuh yang erat
hubungannya dengan tingginya hasil dan kualitas.
Budidaya tanaman obat pada hakekatnya yaitu suatu cara pengelolaan
sehingga suatu tanaman obat dapat mendatangkan hasil tinggi dan bermutu baik.
Keadaan ini bisa terjadi jika tanaman dapat tumbuh pada lingkungan yang sesuai,
antara lain pada kesuburan tanah sepadan, iklim yang sesuai dengan teknologi
tepat guna.
Tahap pembudidayaan tanaman dilakukan sebagai berikut:
Gambar 2.9 Budidaya tanaman obat dan contoh TOGA
Tempat Tumbuh
Pengertian tumbuh yaitu daerah yang banyak menghasilkan simplisia yang
bersangkutan. Data tentang tempat tumbuh asli kadang-kadang hanya
mempunyai nilai sejarah dan tidak mempunyai arti ekonomis.
Misalnya:
Tanaman kina yang asli terdapat dipegunungan Andez di Amerika selatan,
sekarang kultur yang ekonomis bernilai hanya dilakukan di pulau Jawa. Minyak
Kenanga yang semula dikuasai produknya oleh Filipina, sekarang sebagian besar
diproduksi di kepulauan Nossi Be dan Komoro dekat Madagaskar. Untuk
keperluan tertentu, cengkeh Zanzibar ternyata lebih disukai dari cengkeh daerah
asalnya, kepulauan Maluku. Buah Vanili asli dari Meksiko tidak lagi diproduksi di
daerah asalnya, melainkan di produksi di Tahiti, Indonesia dan kepulauan
Reunion.
1. Pengelolaan tanah
Sebagian besar tanaman obat diusahakan di tanah kering. Pada dasarnya
pengolahan tanah bertujuan menyiapkan tempat atau media tumbuh yang
serasi bagi pertumbuhan tanaman. Pada kesuburan fisik dan kesuburan
kimiawi. Jika kedua macam kesuburan telah dipenuhi untuk jenis tanaman
yang diusahakan, maka dapat dikatakan tanah tersebut subur bagi tanaman
tersebut. Kesuburan fisik sangat erat hubungannya dengan struktur tanah
yang menggambarkan susunan butiran tanah, udara, dan air, sehingga dapat
menjamin aktivitas akar dalam mengambil zat-zat yang diperlukan tanaman.
Sedangkan kesuburan kimiawi sangat erat hubungannya dengan kemampuan
tanah menyediakan kebutuhan nutrisi tanaman. Kedua kesuburan tersebut
saling berinteraksi dalam menentukan tingkat kesuburan bagi pertumbuhan
tanaman.
Gambar 2.10 Cara pengelolaan tanah
Di samping itu, pengolahan tanah mencakup pula menghilangkan gulma yang
merupakan saingan tanaman, menimbun dan meratakan bahan organik yang
penting bagi tanaman serta pertumbuhannya, saluran drainase untuk
mencegah terjadinya kelebihan air seperti dikehendaki oleh tanaman. Dalam
pengolahan tanah memerlukan waktu mengingat terjadinya proses fisik, kimia
dan biologis dalam tanah sehingga terbentuk suatu media yang baik bagi
pertumbuhan tanaman.
Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam pengolahan tanah bagi tanaman
obat antara lain:
a. Bagi tanaman obat yang dipungut hasilnya dalam bentuk umbi (tuber)
umumnya dikehendaki pengolahan-pengolahan tanah cukup dalam
(25 – 40 cm), struktur gembur sehingga pertumbuhan umbi atau
rimpang dapat berkembang dengan baik.
b. Menghindari tercampurnya bahan induk yang belum melapuk dalam
daerah pekarangan tanaman.Untuk itu perlu adanya waktu yang
cukup untuk memberi kesempatan terjadinya proses pelapukan,
antara lain proses oksidasi, sehingga akan terbentuk lapisan tanah
yang menjamin pertumbuhan akar. Hal itu penting yaitu pada waktu
membuat lubang tanah (sedalam 40x60) bagi tanaman obat
berbentuk pohon, seperti Cengkeh (Eugenia caryophyllata), Kola
(Cola nitida).
c. Pembuatan teras-teras apabila tanah terlalu miring, agar erosi dapat
diperkecil, misal dalam penanaman Sereh (Cymbopogon nardus)
d. Pengolahan tanah intensif, diusahakan bebas gulma pada awal
pertumbuhan, yaitu untuk tanaman obat berhabitur perdu seperti
Kumis kucing (Orthosiphon stamineus), Mentol (Mentha piperita),
Timi (Thymus vulgaris)
e. Pembuatan guludan sering dilengkapi dengan saluran drainase yang
baik, terutama bagi tanaman yang tidak toleran terhadap genangan
air. Seperti Cabe (Capsicum annuum).
2. Penanaman
Dalam penanaman dikenal dua cara utama yaitu penanaman bahan tanaman
(benih atau stek) secara langsung pada lahan dan disemaikan dahulu baru
kemudian diadakan pemindahan tanaman ke lahan yang telah disediakan atau
disiapkan. Umumnya persemaian diadakan terutama bagi tanaman yang
pada waktu masih kecil memerlukan pemeliharaan intensif. Tanpa perlakuan
tersebut akan memicu tingkat kematian yang tinggi. Disamping itu
persemaian diperlukan apabila benih terlalu kecil sehingga sulit untuk
mengatur tanaman sesuai dengan perkembangan teknologi tepat guna.
Gambar 2.11 Cara penanaman tanaman obat
Tujuan lain dari adanya persemaian agar dapat memanfaatkan (menghemat)
waktu musim tanam tiba (umumnya pada awal musim hujan), sehingga pada
saat musim tiba tanaman telah mengawali tumbuh lebih dahulu. Contohnya
temulawak (Curcuma xanthorrhiza), rimpang ditunaskan lebih dahulu pada
persemaian yang lembab dan agak gelap, baru kemudian belahan rimpang
dengan tunasnya ditanam di lahan.
Hal-hal yang perlu mendapat pertimbangan pada penanaman tanaman obat
antara lain:
a. Mengingat pada umumnya penanaman pada lahan kering tanpa irigasi
dan cuaca cukup panas maka penanaman dilakukan pada awal musim
hujan.
b. Penanaman dengan jarak atau baris teratur akan lebih baik dipandang
dari segi fisiologi tanaman pemeliharaan dan estetika.
c. Penanaman secara tunggal (monokultur) terutama bagi tanaman yang
tidak tahan cahaya matahari, misalnya Mentol (Mentha piperita).
d. Penanaman ganda dapat dilakukan pada tanaman yang memerlukan
naungan ataupun untuk pertumbuhannya dapat beradaptasi terhadap
sinar matahari tidak langsung, misalnya Kemukus (Piper cubeba).
Tanaman yang dapat saling bertoleransi terhadap persaingan sebab
dapat memenuhi beberapa tujuan antara lain : memperluas areal tanam
(pada satu tempat dan waktu bersamaan ditanam lebih dari satu
macam tanaman), menghemat pemeliharaan, memperkecil resiko
kegagalan panen. Penggunaan alat penopang bagi tanaman obat yang
berbatang merambat dengan sistem tanaman ganda, tiang penopang
dapat saja diganti dengan tanaman tegak lalu yang dapat juga
menghasilkan.
e. Populasi tanaman erat hubungannya dengan hasil, antara lain
dipengaruhi oleh terjadinya persaingan antara tanaman dan kesuburan
tanah.
3. Pemeliharaan tanaman
Beberapa faktor penghambat produksi, misalnya gulma, hama penyakit
harus ditekan sehingga batas tertentu. Demikian pula faktor penghambat
lingkungan fisik dan kimia, seperti kekurangan air, tingginya suhu,
kesuburan tanah, hendaknya diperkecil pengaruhnya. Perlu dilakukan
pemupukan, misalnya pemupukan nitrogen pada kandungan alkaloida pada
tanaman tembakau (Nicotiana tobacum). Demikian pula tindakan
pemangkasan merupakan bentuk pemeliharaan lain.
Beberapa tindakan pemeliharaan pada tanaman obat yaitu :
a. Bibit yang mudah layu, perlu adanya penyesuaian waktu tanamnya
sehingga tidak mendapat sinar matahari berlebihan, misalnya
penanaman Tempuyung (Sonchus arvensis) hendaknya dilakukan
pada sore hari dan diberi naungan sementara.
b. Penyiangan yang intensif guna menekan populasi gulma disamping
dapat mengurangi kesempatan tumbuh tanaman usaha juga dapat
mengganggu kebersihan hasil pada saat panen (misal pada tanaman
Mentha arvensis)
c. Penimbunan dan penggemburan dilakukan agar memperbaiki sifat
tanah tempat tumbuh.
d. Perbaikan saluran drainase untuk mencegah terjadinya genangan atau
kelebihan air yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
e. Untuk mengurangi evaporasi (penguapan) air tanah, sehingga
kelembaban tanah dapat tetap sesuai, dilakukan pemberian mulsa.
Misalnya pada tanaman Jahe (Zingiber officinale) pemberian mulsa
jerami dapat menaikkan hasil sebesar 35 %.
f. Pemangkasan bunga, yang berarti mencegah perubahan fase vegetatif
ke generatif yang banyak memerlukan energi, sehingga kandungan
bahan berkhasiat sebagai sumber energi tidak berkurang. Pada
tanaman Dioscorea compositae kandungan glikosida diosgenin dapat
bertambah dengan dilakukan pemangkasan bunga.
g. Pemangkasan pucuk batang akan menstimulir percabangan, sehingga
dapat menambah jumlah daun yang tumbuh serta kandungan alkaloida
dalam akar bertambah. Misalnya pada tanaman Kumis kucing
(Orthosiphon stamineus).
h. Pemupukan nitrogen dapat meningkatkan kandungan alkaloida dalam
akar Pule pandak (Rauwolfia serpentina).
Gambar 2.12 Cara pemeliharaan tanaman obat
4. Pemungutan hasil (panen)
Penentuan saat panen suatu tanaman obat hendaknya selalu diingat akan
kwantitas dan kwalitas simplisia. Hal ini mengingat jumlah zat berkhasiat
dalam tanaman tidak selalu konstan sepanjang tahun atau selama tanaman
siklus hidupnya, tetapi selalu berubah dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.
Misalnya tanaman Kelembak (Rheum officinale) tidak mengandung derivat
antrakinon dalam musim dingin, melainkan antranol, yang dirubah menjadi
antrakinon pada musim panas. Umur tanaman juga umumnya merupakan
faktor penting dalam akumulasi bahan yang diinginkan.
Beberapa penentuan (pedoman) saat panen:
a. Bagi tanaman Empon-empon (familia Zingiberaceae), panen dilakukan
umumya pada saat bagian tanaman diatas tanah menua atau kuning
yang biasanya terjadi pada musim kering,dan jika yang diambil
akarnya. Misalnya temulawak (Curcuma xanthorrhiza).
b. Daun dipungut sewaktu proses fotosintesa maksimal yaitu sebelum
pembentukan buah. Misal tanaman Saga (Abrus praecatorius).
c. Bunga dipetik selagi masih kuncup (sebelum berkembang) misal pada
cengkeh (Eugenia caryophyllata).
d. Buah dipetik menjelang masak, misal Solanum laciniatum sedangkan
adas (Anethum graveolens) dipetik setelah masak benar.
e. Biji dipungut sebaiknya pada saat buah masak
f. Kulit diambil sewaktu bertunas.
Gambar 2.13 Contoh cara panen tanaman obat
2) Pengolahan Simplisia
Tahap Pembuatan Simplisia meliputi:
a) Pengumpulan bahan
Dalam pengumpulan bahan, yang perlu diperhatikan yaitu umur
tanaman, bagian tanaman pada waktu dipanen dan lingkungan tempat
tumbuh.
b) Sortasi basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-
bahan asing lainnya dari bahan simplisia sehingga tidak ikut terbawa
pada proses selanjutnya yang akan mempengaruhi hasil akhir
c) Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan kotoran lainnya
yang melekat pada bahan simplisia. Air yang digunakan sebaiknya
yaitu air mengalir yang bersumber dari air bersih, seperti air PAM, air
sumur, atau mata air
d) Perajangan
Perajangan tidak harus selalu dilakukan. Proses ini pada dasarnya
dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan. Jika ukuran
simplisia kecil/tipis, proses ini dapat diabaikan
e) Pengeringan
Hasil panen tanaman obat untuk dibuat simplisia umumnya perlu segera
dikeringkan. Tujuan pengeringan yaitu untuk mengurangi kadar air,
untuk menjamin dalam penyimpanan, mencegah pertumbuhan jamur
serta mencegah terjadinya proses atau reaksi enzimatika yang dapat
menurunkan mutu.
Dalam pengeringan faktor yang penting yaitu suhu, kelembaban dan
aliran udara (ventilasi). Sumber suhu dapat berasal dari matahari atau
dapat pula dari suhu buatan.
Umumnya pengeringan bagian tanaman yang mengandung minyak atsiri
atau komponen lain yang termolabil, hendaknya dilakukan pada suhu
tidak terlalu tinggi dengan aliran udara berlengas rendah secara teratur.
Untuk simplisia yang mengandung alkaloida, umumnya dikeringkan pada
suhu kurang dari 70o C.
Agar dalam pengeringan tidak terjadi proses pembusukan, hendaknya
simplisia jangan tertumpuk terlalu tebal. Sehingga proses penguapan
berlangsung dengan cepat. Sering suhu yang tidak terlalu tinggi dapat
menyebabkan warna simplisia menjadi lebih menarik. Misalnya pada
pengeringanTemulawak suhu awal pengeringan dengan panas buatan
antara 50o – 55o C.
f) Sortasi kering
Tujuan sortasi kering yaitu memisahkan bahan-bahan asing, seperti
bagian tanaman yang tidak diinginkan dan kotoran lain, yang masih
tertinggal di simplisia kering.
Gambar 2.14 Cara Pengolahan Simplisia
g) Pengemasan
Pengemasan simplisia memakai wadah yang inert, tidak beracun,
dapat melindungi simplisia dari cemaran, dan untuk mencegah
kerusakan.
Wadah atau bungkus tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan
didalamnya baik secara kimia maupun secara fisika yang dapat
memicu perubahan potensi, mutu dan kemurnian. Jika pengaruh
itu tidak dapat dihindarkan, maka perubahan yang terjadi tidak boleh
sedemikian besar sehingga menyebabkan bahan yang disimpan tidak
memenuhi syarat baku.
Wadah tertutup baik : harus melindungi isinya terhadap masuknya
bahan padat dari luar dan mencegah kehilangan waktu pengangkutan,
penyimpanan dan penjualan dalam keadaan biasa dan dengan cara
biasa.
Wadah tertutup rapat : harus melindungi isinya terhadap masuknya
bahan padat atau lengas dari luar dan mencegah kehilangan, pelapukan,
pencairan dan penguapan pada waktu pengurusan, pengangkutan,
penyimpanan dan penjualan dalam keadaan biasa dan dengan cara
biasa
h) Penyimpanan
Penyimpanan simplisia sebaiknya di tempat yang kelembabannya rendah
dan terlindung dari sinar matahari, serta terlindung dari gangguan
serangga dan tikus.
Suhu penyimpanan
Apabila tidak dinyatakan lain, simplisia disimpan ditempat terlindung dari
sinar matahari dan pada suhu kamar
Simplisia yang mudah menyerap air harus disimpan dalam wadah
tertutup rapat yang berisi kapur tohor.
Dingin : yaitu suhu tidak lebih dari 8o C, Lemari pendingin mempunyai
suhu antara 2o C – 8o C, sedangkan lemari pembeku mempunyai suhu
antara 20oC dan 10o C.
Sejuk : yaitu suhu antara 8oC dan 15oC. Kecuali dinyatakan lain,
bahan yang harus di simpan pada suhu sejuk dapat disimpan pada lemari
pendingin.
Suhu kamar : yaitu suhu pada ruang kerja. Suhu kamar terkendali
yaitu suhu yang di atur antara 15o dan 30o.
Hangat : hangat yaitu suhu antara 30o dan 40o .
Panas berlebih : panas berlebih yaitu suhu di atas 40o.
Disimpan terlindung dari sinar matahari berarti bahwa simplisia harus
disimpan dalam wadah atau botol yang dibuat dari kaca inaktinik
berwarna hitam, merah atau coklat.
Semua simplisia yang termasuk daftar narkotika, diberi tanda palang
medali berwarna merah di atas putih dan harus disimpan dalam lemari
terkunci. Semua simplisia yang termasuk daftar obat keras kecuali yang
termasuk daftar narkotika, diberi tanda tengkorak dan harus disimpan
dalam lemari terkunci.
i) Pengawetan
Simplisia nabati atau simplisia hewani harus dihindarkan dari serangga
atau cemaran atau mikroba dengan penambahan kloroform, karbon
tetraklorida, etilenoksida atau pemberian bahan atau penggunaan cara
yang sesuai, sehingga tidak meninggalkan sisa yang membahayakan
kesehatan.
j) Pemeriksaan mutu
Pemeriksaan mutu merupakan usaha untuk menjaga kestabilan mutu
simplisia.Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan
atau penyerahan dari pengumpul/pedagang simplisia. Simplisia yang
diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum
untuk simplisia. Simplisia yang bermutu yaitu simplisia yang memenuhi
persyaratan Farmakope Indonesia atau Materia Medika Indonesia.
Pemeriksaan mutu simplisia meliputi hal-hal sebagai berikut :
(1). Kebenaran simplisia Pemeriksaan kebenaran simplisia dilakukan
dengan cara organoleptis, makroskopis, dan mikroskopis.
Pemeriksaan organoleptis dan makroskopis dilakukan
dengan memakai indera manusia melalui pengamatan
terhadap bentuk, ciri-ciri luar, warna dan bau simplisia.
Pemeriksaan secara organoleptis sebaiknya dilanjutkan
dengan mengamati ciri-ciri anatomi histologi terutama untuk
menegaskan keaslian simplisia, meliputi pengamatan terhadap
irisan melintang dan terha dap serbuk.
(2). Parameter nonspesifik
Parameter nonspesifik terkait dengan faktor lingkungan dalam
pembuatan simplisia, seperti uji adanya pencemaran yang
disebabkan oleh pestisida, jamur, aflotoksin, .logam berat, dan
benda asing lainnya.
(3). Parameter spesifik
Parameter spesifik terkait langsung dengan senyawa yang
terkandung dalam tanaman. Pemeriksaan parameter spesifik
meliputi :
Pemeriksaan secara fisika, yang meliputi penetapan daya
larut, bobot jenis, rotasi optik, titik lebur, titik beku, kadar air,
sifat-sifat simplisia di bawah sinar ultra violet, pengamatan
mikroskopik dengan sinar polarisasi dan lain sebagainya
Pemeriksaan secara Kimia, Yang bersifat kwalitatif disebut
identifikasi dan pada umumnya berupa reaksi warna atau
pengendapan. Sebelum reaksi - reaksi tersebut dilakukan
terlebih dahulu diadakan isolasi terhadap zat yang dikehendaki,
misalnya isolasi dengan cara pelarutan, penyaringan dan
mikrosublimasi. Pemeriksaan secara kimia yang bersifat
kwantitatif disebut penetapan kadar.
Pemeriksaan secara Hayati/Biologi, pada umumnya bersifat
penetapan potensi zat berkhasiat
Gambar 2.15 Salah satu cara pemeriksaan mutu simplisia
3) Pembuatan Serbuk Simplisia
1. Bersihkan simplisia dari bahan organik asing dan pengotoran lain secara
mekanik atau dengan cara lain yang cocok, keringkan pada suhu yang
cocok, haluskan, ayak.Kecuali dinyatakan lain, seluruh simplisia harus
dihaluskan sesuai derajat halus yang ditetapkan.
2. Simplisia yang mengandung zat berkhasiat yang tidak tahan panas,
dikeringkan pada suhu serendah mungkin, jika perlu dengan pengurangan
tekanan udara.
3. Pada pembuatan serbuk simplisia yang mempunyai persyaratan potensi dan
kadar zat tertentu, misalnya serbuk Digitalis dan serbuk Opium, boleh
ditambahkan serbuk sejenis yang mempunyai potensi atau kadar lebih
rendah atau lebih tinggi, atau ditambah bahan lain yang cocok, misalnya
Laktosa, Pati beras, hingga hasil pengolahan terakhir memenuhi persyaratan.
4) Kemurnian Simplisia
Persyaratan simplisia nabati dan simplisia hewani diberlakukan pada simplisia
yang diperdagangkan, tetapi pada simplisia yang digunakan untuk suatu
pembuatan atau isolasi minyak atsiri, alkaloida, glikosida, atau zat aktif lain,
tidak harus memenuhi persyaratan tersebut.
Persyaratan yang membedakan strukrur mikroskopik serbuk yang berasal dari
simplisia nabati atau simplisia hewani dapat tercakup dalam masing- masing
monografi, sebagai petunjuk identitas, mutu atau kemurniannya.
Simplisia nabati harus bebas dari serangga, fragmen hewan atau
kotoran hewan, tidak boleh menyimpang bau dan warnanya, tidak
boleh mengandung lendir dan cendawan atau menunjukan tanda-tanda
pengotoran lain; tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun atau
berbahaya.
Simplisia hewani harus bebas dari fragmen hewan asing atau kotoran
hewan, tidak boleh menyimpang bau dan warnanya, tidak boleh
mengandung cendawan atau tanda-tanda pengotoran lainnya, tidak
boleh mengandung bahan lain yang beracun atau berbahaya.
Simplisia pelikan harus bebas dari pengotoran oleh tanah, batu,
hewan, fragmen hewan dan bahan asing lain
Dalam perdagangan, jarang dijumpai simplisia nabati tanpa terikut atau
tercampur bagian lain, maupun bahan asing, yang biasanya tidak
mempengaruhi simplisianya sendiri.
5) Pemalsuan dan Penurunan Mutu Simplisia
Pemalsuan umumnya dilakukan secara sengaja, sedangkan penurunan mutu
mungkin dilakukan secara tidak sengaja.
Simplisia dianggap bermutu rendah jika tidak memenuhi persyaratan -
persyaratan yang telah ditetapkan, khususnya persyaratan kadarnya. Mutu
rendah ini dapat disebabkan oleh tanaman asal, cara panen dan pengeringan
yang salah, disimpan terlalu lama, kena pengaruh kelembaban, panas atau
penyulingan.
Simplisia dianggap rusak jika oleh sebab tertentu, keadaannya tidak lagi
memenuhi syarat, misalnya menjadi basah oleh air laut, tercampur minyak
pelumas waktu diangkut dengan kapal dan lain sebagainya.
Simplisia dinyatakan bulukan jika kwalitasnya turun sebab dirusak oleh bakteri,
cendawan atau serangga.
Simplisia dinyatakan tercampur jika secara tidak sengaja terdapat bersama -
sama bahan-bahan atau bagian tanaman lain, misalnya kuncup Cengkeh
tercampur dengan tangkai Cengkeh, daun Sena tercampur dengan tangkai daun.
Simplisia dianggap dipalsukan jika secara sengaja diganti, diolah atau ditambahi
bahan lain yang tidak semestinya. Misalnya minyak zaitun diganti minyak biji
kapas, tetapi tetap dijual dengan nama minyak Zaitun. Tepung jahe yang
ditambahi pati terigu agar bobotnya bertambah, ditambah serbuk cabe agar tetap
ada rasa pedasnya, ditambah serbuk temulawak agar warnanya tampak seperti
keadaan semula.
6) Isi Simplisia
Isi simplisia dibagi dalam dua kelompok, yaitu isi utama dan isi tambahan.
Keterangan tentang isi kadang-kadang malah merupakan kunci dalam sediaan-
sediaan galenik.
7) Penggunaan
Penggunaan merupakan petunjuk mengenai kerja farmakologik atau penggunaan
secara tradisional untuk pengobatan dan tidak berarti bahwa simplisia yang
bersangkutan tidak mempunyai khasiat dan penggunaan lain.
8) Pengambilan Contoh
Perlu dipastikan bahwa contoh suatu simplisia harus mewakili bets yang diuji,
untuk mengurangi penyimpangan yang disebabkan oleh kesalahan pengambilan
contoh terhadap hasil analisis baik kwalitatif maupun kwantitatif. Cara
pengambilan contoh berikut merupakan cara paling sederhana yang dapat
diterapkan untuk bahan nabati.
Contoh dalam skala besar
Jika pada pengamatan bagian luar wadah, penandaan dan keterangan etiket
menunjukkan bahwa bets dapat dianggap homogen, ambil contoh secara terpisah
dari berbagai wadah yang dipilih secara acak sesuai ketentuan dibawah ini. Jika
bets tidak dapat dianggap homogen, bagi menjadi beberapa sub-bets yang
sehomogen mungkin, kemudian lakukan pengambilan contoh pada masing-
masing sub-bets seperti pada bets yang homogen.
Jumlah wadah dalam bets (N) Jumlah wadah yang harus diambil
contohnya (N)
1 sampai 10 Semua
11 sampai 19 11
19 n = 10 +
Catatan: Bulatkan harga n ke angka yang lebih tinggi.
Contoh bahan harus diambil pada bagian atas, tengah dan bawah dari setiap
wadah. Jika contoh bahan terdiri dari bagian - bagian berukuran 1 cm atau lebih
kecil dan untuk semua bahan yang diserbukkan atau digiling, lakukan
pengambilan contoh dengan memakai suatu alat pengambil contoh yang
dapat menembus bahan dari bagian atas ke bagian bawah wadah, tidak kurang
dari dua kali pengambilan yang dilakukan pada arah yang berlawanan. Jika bahan
berupa bagian dengan ukuran lebih dari 1 cm, lakukan pengambilan contoh
dengan tangan. Untuk bahan dalam wadah atau bungkus yang besar
pengambilan contoh harus dilakukan pada kedalaman 10 cm, sebab kelembaban
bagian permukaan mungkin berbeda dengan bagian dalam. Persiapkan contoh
dalam skala besar dengan menggabungkan dan mencampurkan setiap contoh
yang telah diambil dari setiap wadah yang telah terbuka dan jaga jangan sampai
terjadi kenaikan tingkat fragmentasi atau mempengaruhi derajat kelembaban
secara bermakna.
9) Bagian-Bagian dari Tanaman
Kormus (tubuh tanaman) umumnya dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu radix
(akar), caulis (batang) dan folium (daun). Di samping itu pada tanaman dapat
ditemukan gema (kuncup), flos (bunga), fructus (buah), semen (biji), tubera
(umbi), rhizoma (akar tinggal), bulbus (umbi lapis). Cortex (kulit bagian batang
atau buah atau buah yang dapat dikelupas), herba (bagian tanaman lunak di atas
tanah), pulpa (daging buah), kayu (lignum).
10
N
10) Uraian Tentang Simplisia
a) Buku-buku yang digunakan :
(1). Simplisia yang monografinya diuraikan di FI
(2). Beberapa simplisia yang monografinya diuraikan di EFI dan dianggap
masih relevan untuk diketahui siswa.
(3). Beberapa simplisia yang monografinya diuraikan dalam MMI (Materia
Medika Indonesia)
(4). Simplisia yang sediaan galeniknya diuraikan di FI
(5). Simplisia di dalam bab-bab tertentu masih disebutkan oleh FI baik
sebagai contoh maupun keterangan lain.
b) Uraian masing-masing simplisia meliputi:
(1). Nama dan sinonim/nama lain simplisia
(2). Tanaman asal simplisia
(3). Familia atau keluarga simplisia
(4). Isi/zat berkhasiat utama dan persyaratan kadar
(5). Penggunaannya
(6). Pemerian
(7). Bagian yang digunakan
(8). Keterangan mengenai :
Sediaan atau preparat yang terdapat di FI dan Form.Nas yang masih
digunakan
Penyimpanan
Jenis-jenisnya
Waktu panen/cara memproleh
Keterangan lain yang dianggap perlu
c. Rangkuman
1. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan tanah bagi tanaman obat
antara lain perlu Pembuatan teras-teras apabila tanah terlalu miring,agar erosi
dapat diperkecil, misal dalam penanaman Sereh (Cymbopogon nardus ),
Pengolahan tanah intensif, diusahakan bebas gulma pada awal
pertumbuhan, yaitu untuk tanaman obat berhabitur perdu seperti Kumis
kucing (Orthosiphon stamineus), Mentol (Mentha piperita), Timi (Thymus
vulgaris), Pembuatan guludan sering dilengkapi dengan saluran drainase yang
baik, terutama bagi tanaman yang tidak toleran terhadap genangan air.
Seperti Cabe (Capsicum annuum). Pembuatan guludan sering dilengkapi
dengan saluran drainase yang baik, terutama bagi tanaman yang tidak
toleran terhadap genangan air. Seperti Cabe (Capsicum annuum).
2. Tindakan yang diperlukan dalam pemeliharaan tanaman obat umumnya
persemaian diadakan terutama bagi tanaman yang pada waktu masih kecil
memerlukan pemeliharaan intensif. Tanpa perlakuan tersebut akan
memicu tingkat kematian yang tinggi. Disamping itu persemaian
diperlukan apabila benih terlalu kecil sehingga sulit untuk mengatur tanaman
sesuai dengan perkembangan teknologi tepat guna.
3. Tujuan lain dari adanya persemaian agar dapat memanfaatkan (menghemat)
waktu musim tanam tiba (umumnya pada awal musim hujan), sehingga pada
saat musim tiba tanaman telah mengawali tumbuh lebih dahulu. Contohnya
temulawak (Curcuma xanthorrhiza), rimpang ditunaskan lebih dahulu pada
persemaian yang lembab dan agak gelap, baru kemudian belahan rimpang
dengan tunasnya ditanam di lahan.
4. Pedoman saat panen bagi tanaman obat antara lain
Bagi tanaman Empon-empon (familia Zingiberaceae), panen dilakukan
umumya pada saat bagian tanaman diatas tanah menua atau kuning yang
biasanya terjadi pada musim kering,dan jika yang diambil akarnya .
Misalnya temulawak (Curcuma xanthorrhiza)
Daun dipungut sewaktu proses fotosintesa maksimal yaitu sebelum
pembentukan buah. Misal tanaman Saga (Abrus praecatorius)
Bunga dipetik selagi masih kuncup (sebelum berkembang) misal pada
cengkeh (Eugenia caryophyllata).
Buah dipetik menjelang masak, misal Solanum laciniatum sedangkan adas
(Anethum graveolens) dipetik setelah masak benar.
Biji dipungut sebaiknya pada saat buah masak
Kulit diambil sewaktu bertunas
5. Tujuan pengeringan simplisia yaitu untuk mengurangi kadar air, untuk
menjamin dalam penyimpanan, mencegah pertumbuhan jamur serta
mencegah terjadinya proses atau reaksi enzimatika yang dapat menurunkan
mutu.
6. Cara-cara pemeriksaan untuk menilai simplisia
Secara organoleptik
Secara mikroskopis
Secara kimia
Secara fisika
Secara biologi/ hayati
Uraian
1. Pemalsuan umumnya dilakukan secara sengaja, sedangkan penurunan
mutu mungkin dilakukan secara tidak sengaja.
Simplisia dianggap bermutu rendah jika tidak memenuhi persyaratan -
persyaratan yang telah ditetapkan, khususnya persyaratan kadarnya. Mutu
rendah ini dapat disebabkan oleh tanaman asal, cara panen dan
pengeringan yang salah, disimpan terlalu lama, kena pengaruh kelembaban,
panas atau penyulingan.
Simplisia dianggap rusak jika oleh sebab tertentu, keadaannya tidak lagi
memenuhi syarat, misalnya menjadi basah oleh air laut, tercampur
minyak pelumas waktu diangkut dengan kapal dan lain sebagainya.
Simplisia dinyatakan bulukan jika kwalitasnya turun sebab dirusak oleh
bakteri, cendawan atau serangga.
Simplisia dinyatakan tercampur jika secara tidak sengaja terdapat
bersama-sama bahan-bahan atau bagian tanaman lain, misalnya kuncup
Cengkeh tercampur dengan tangkai Cengkeh, daun Sena tercampur
dengan tangkai daun.
Simplisia dianggap dipalsukan jika secara sengaja diganti, diolah atau
ditambahi bahan lain yang tidak semestinya. Misalnya minyak zaitun diganti
minyak biji kapas, tetapi tetap dijual dengan nama minyak Zaitun. Tepung
jahe yang ditambahi pati terigu agar bobotnya bertambah, ditambah serbuk
cabe agar tetap ada rasa pedasnya, ditambah serbuk temulawak agar
warnanya tampak seperti keadaan semula.
2. Tujuan pengeringan yaitu untuk mengurangi kadar air, untuk menjamin
dalam penyimpanan, mencegah pertumbuhan jamur serta mencegah
terjadinya proses atau reaksi enzimatika yang dapat menurunkan mutu.
3. Pembuatan Serbuk Simplisia
a) Bersihkan simplisia dari bahan organik asing dan pengotoran lain
secara mekanik atau dengan cara lain yang cocok, keringkan pada
suhu yang cocok, haluskan, ayak.Kecuali dinyatakan lain, seluruh
simplisia harus dihaluskan sesuai derajat halus yang ditetapkan.
b) Simplisia yang mengandung zat berkhasiat yang tidak tahan panas,
dikeringkan pada suhu serendah mungkin, jika perlu dengan
pengurangan tekanan udara.
c) Pada pembuatan serbuk simplisia yang mempunyai persyaratan
potensi dan kadar zat tertentu, misalnya serbuk Digitalis dan serbuk
Opium, boleh ditambahkan serbuk sejenis yang mempunyai potensi
atau kadar lebih rendah atau lebih tinggi, atau ditambah bahan lain
yang cocok, misalnya Laktosa, Pati beras, hingga hasil pengolahan
terakhir memenuhi persyaratan.
g. Lembar Kerja
Isilah lembar jawaban berikut:
Pada soal pemeriksaan mutu simplisia
No Pemeriksaan mutu
simplisia secara
Uraian
1 Kimia
2 memakai panca indera terhadap
bentuk dan bau simplisia
3 Parameter nonspesifik
Farmakognosi l
54
3 Kegiatan Belajar 3
RHIZOMA
a. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari kompetensi ini diharapkan siswa mampu:
1. Mendefinisikan Rhizoma
2. Menjelaskan cara panen secara umum dari Rhizoma
3. Menyebutkan tanaman asal dari simplisia tanaman obat yang berasal dari
Rhizoma
4. Menyebutkan nama lain dari simplisia tanaman obat yang berasal dari
Rhizoma
5. Menyebutkan keluarga dari tanaman obat yang berasal dari Rhizoma
6. Menyebutkan bagian tanaman yang digunakan dari tanaman obat yang
berasal dari Rhizoma
7. Menyebutkan manfaat dari tanaman obat yang berasal dari Rhizoma
8. Menyebutkan isi berkhasiat dari tanaman obat yang berasal dari Rhizoma
b. Uraian Materi
1. BOESENBERGIAE RHIZOMA (MMI)
2. CALAMI RHIZOMA (MMI)
3. CURCUMAE RHIZOMA (FI)
4. CURCUMAE AERUGINOSAE RHIZOMA (MMI)
5. CURCUMAE DOMESTICAE RHIZOMA (MMI)
6. CURCUMAE HEYNEANAE RHIZOMA (MMI)
7. CYPERI RHIZOMA (MMI)
8. IMPERATAE RHIZOMA (MMI)
9. KAEMPFERIAE RHIZOMA (MMI)
10. LANGUATIS RHIZOMA (MMI)
11. ZINGIBERIS RHIZOMA (MMI)
12. ZINGIBERIS AROMATICAE RHIZOMA (MMI)
13. ZINGIBERIS LITTORALIS RHIZOMA (MMI)
14. ZINGIBERIS PURPUREI RHIZOMA (MMI)
15. ZINGIBERIS ZERUMBETI RHIZOMA (MMI)
Rhizoma (akar tinggal) yaitu : sebuah bentuk modifikasi batang tanaman yang
biasanya menjalar didalam tanah dan dapat menghasilkan tanaman baru dari
ruasnya. (Lawrence,1995, Tjitrosoepomo 1993). Sebetulnya yaitu batang yang
seluruhnya berada dan tumbuh menjalar di dalam/permukaan tanah.
1. BOESENBERGIAE RHIZOMA (MMI)
Gambar 2.16 Boesenbergiae Rhizoma
Nama lain : Temu Kunci
Nama tanaman asal : Boesenbergia pandurata (Roxb) Schlecht
Keluarga : Zingiberaceae
Zat berkhasiat
utama/isi
: Minyak atsiri, damar, pati
Penggunaan : Antidiare
Pemerian : Bau khas aromatik, rasa agak pahit menimbulkan
rasa agak tebal
Bagian yang
digunakan
: Kepingan-kepingan akar tinggal
Keterangan :
Waktu panen : Dilakukan pada umur 1 tahun
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
2. CALAMI RHIZOMA (MMI)
Gambar 2.17 Calami Rhizoma
Nama lain : Dlingo, Dringo, Jaringau, Calamus, Sweetflag
Nama tanaman asal : Acorus calamus (L)
Keluarga : Araceae
Zat berkhasiat
utama/isi
: Minyak atsiri mengandung egenol. asaron. asaril
aldehid. Zat pahit akorin 0,2%, zat penyamak, pati,
akoretin, tannin.
Penggunaan : Bahan pewangi, karminativa, insektisida, demam
nifas
Pemerian : Bau khas aromatik, rasa pahit, agak pedas.
Bagian yang
digunakan
: Akar tinggal
Keterangan :
Waktu panen : Dikumpulkan pada waktu daun mulai kering,
dibersihkan dari semua bagian tanaman lain,tetapi
tidak dikupas, biasanya diperoleh dari tanaman
berumur 1 tahun. Bila panenan dilakukan kurang dari
1 tahun hasilnya berkurang, dan bila lebih dari 1
tahun hasilnya masih dapat ditingkatkan.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
3. CURCUMAE RHIZOMA (FI)
Gambar 2.18 Curcumae Rhizoma
Nama lain : Temu lawak, Koneng gede
Nama tanaman asal : Curcuma xanthorrhiza (Roxb)
Keluarga : Zingiberaceae
Zat berkhasiat
utama/isi
: Minyak atsiri yang mengandung felandren dan
tumerol, zat warna kurkumin, pati. Kadar minyak
atsiri tidak kurang dari 8,2 % b/v
Penggunaan : Kolagoga, antispasmodika
Pemerian : Bau khas aromatik, rasa tajam dan pahit
Bagian yang
digunakan
: Kepingan akar tinggal
Keterangan :
Waktu panen : Panenan dilakukan apabila daun dan bagian atas
tanaman sudah mengering. Untuk daerah yang
musim kemaraunya jelas penanamannya dilakukan
pada musim kemarau berikutnya. Di daerah yang
banyak dan merata curah hujannya dan tidak jelas
musim kemaraunya tanaman dapat dipanen pada
umur 9 bulan atau lebih. Cara panen dilakukan
dengan membongkar rimpang memakai garpu
Syarat Temulawak kering untuk ekspor sebagai berikut :
Warna : Kuning jingga sampai coklat
Aroma : Khas wangi aromatik
Rasa : Pahit, agak pedas
Kelembaban : Maksimum 12 %
Abu : 3 7 %
Pasir : 1 %
Kadar minyak atsiri : minimal 5 %
Sediaan
Penyimpanan
:
:
EM kapsul ®
Dalam wadah tertutup baik
Farmakognosi l
59
4. CURCUMAE AERUGINOSAE RHIZOMA (MMI)
Gambar 2.19 Curcumae Aeruginosae Rhizoma
Nama lain : Temu hitam, Temu ireng
Nama tanaman asal : Curcuma aeruginosa (Roxb)
Keluarga : Zingiberaceae
Zat berkhasiat
utama/isi
: Minyak atsiri, pati, damar, lemak
Persyaratan kadar : Minyak atsiri tidak kurang dari 0,3 %
Penggunaan : Bagian dari jamu, antirematik, karminativa
Pemerian : Bau aromatik lemah, rasa sangat pahit, lama-lama
menimbulkan rasa tebal
Bagian yang
digunakan
: Kepingan-kepingan akar tinggal yang dikeringkan
Keterangan :
Sediaan : 1. P








