Sabtu, 06 Juni 2026

kasus obstetri 2

 

















mtomatik yang 

menjalani terapi untuk 

gejala gagal jantung 

sebelumnya. 

   

Pasien dengan penyakit jantung struktural 

lanjutan dan didapatkan gejala gagal jantung 

saat istirahat meski dengan terapi medis 

maksimal dan memerlukan intervensi khusus. 

Pasien yang menjalani 

rawat inap berulang 

sebab  gagal jantung atau 

tidak bisa dipulangkan 

secara aman dari rumah 

sakit, pasien di rumah 

sakit menunggu 

transplantasi jantung, 

pasien di rumah dengan 

dukungan intravena 

secara berkelanjutan 

untuk meringankan gejala 

atau didukung dengan alat 

bantu sirkulasi mekanik. 

 

 

Klasifikasi berdasar  etiologi   

berdasar  etiologinya, penyakit jantung pada kehamilan 

dapat diklasifikasikan menjadi  

1. Penyakit jantung kongenital 

a. Penyakit jantung kongenital asianotik 

b. Penyakit jantung kongenital sianotik 

2. Penyakit jantung didapat (acquired heart disease) 

a. Penyakit jantung rematik 

b. Penyakit jantung koroner 

3. Penyakit jantung spesifik pada kehamilan, yaitu 

kardiomiopati peripartum  

Penilaian Risiko 

Penilaian risiko maternal dilakukan menurut klasifikasi 

risiko yang dimodifikasi menurut World Health Organization 

(WHO). Klasifikasi risiko ini mengintegrasikan semua faktor 

risiko kardiovaskuler maternal yang ada termasuk penyakit 

jantung penyerta dan komorbiditas lainnya. Klasifikasi ini 

ditunjukkan pada Tabel 4  

 

Tabel 4.Klasifikasi WHO yang dimodifikasi untuk  

            risiko kardiovaskuler maternal 

KELAS 

RISIKO 

RESIKO KEHAMILAN berdasar  KONDISI 

MEDIS 

I Tidak terdeteksi peningkatan risiko mortalitas maternal 

dan tanpa/peningkatan ringan dalam morbiditas. 

II Sedikit peningkatan risiko mortalitas maternal atau 

peningkatan moderat dalam morbiditas. 

III 

Peningkatan risiko mortalitas maternal signifikan atau 

morbiditas berat. Konseling dengan ahli diperlukan. Jika 

diputuskan hamil, pengawasan spesialis jantung dan 

kandungan secara intensif dibutuhkan selama 

kehamilan, persalinan, dan nifas. 

       IV 

Risiko mortalitas maternal sangat tinggi atau morbiditas 

berat, dikontraindikasikan hamil. Jika kehamilan terjadi, 

terminasi perlu didiskusikan. Jika kehamilan berlanjut, 

dirawat seperti kelas III 

 

 

KONDISI DIMANA RESIKO KEHAMILAN TERMASUK WHO I 

Tanpa komplikasi, kecil atau ringan 

- Stenosis pulmonal 

- Patent ductus arteriosus 

- Prolaps katup mitral 

Perbaikan lesi sederhana yang berhasil (defek septal ventrikular 

atau atrial, patent ductus arteriosus, anomali aliran vena pulmonalis) 

Denyut ektopik ventrikular atau atrial, isolated 

KONDISI DIMANA RESIKO KEHAMILAN TERMASUK WHO II 

ATAU III 

WHO II (jika dinyatakan baik dan tanpa komplikasi) 

- Defek septal atrial atau ventrikular yang tidak dioperasi  

- Repaired tetralogi fallot  

- Sebagian besar aritmia 

WHO II-III (tergantung individu) 

- Gangguan ventrikel kiri ringan 

- Kardiomiopati hipertrofik  

- Sindroma Marfan tanpa dilatasi aorta 

Aorta <45 mm pada gangguan aorta berhubungan dengan 

katup bikuspidal aorta 

- Koarktasio yang diperbaiki 

 

WHO III 

- Katup mekanik  

- Penyakit jantung sianosis (tanpa perbaikan) 

- Penyakit jantung bawaan kompleks lainnya 

- Dilatasi aorta 40-45 mm pada Sindrom Marfan 

Dilatasi aorta 40-45 mm pada gangguan aorta 

berhubungan dengan katup bikuspidal aorta 

KONDISI DIMANA RESIKO KEHAMILAN TERMASUK WHO IV 

(kontraindikasi hamil) 

- Hipertensi arteri pulmonal dengan pemicu  apapun 

- Disfungsi ventrikel sistemik berat (LVEF <30%, NYHA III IV) 

- kardiomiopati peripartum sebelumnya dengan adanya sisa 

gangguan fungsi ventrikel kiri 

- Stenosis mitral berat, stenosis aorta simptomatik berat 

- Sindroma Marfan dengan dilatasi aorta >45 mm 

Dilatasi aorta >50 mm pada gangguan aorta berhubungan 

dengan katup aorta bikuspidal 

 

Penjelasan : 

   WHO kelas I merupakan risiko sangat rendah, dan 

tindak lanjut kardiologi selama kehamilan dapat 

terbatas pada satu atau dua pertemuan.  

 

 

   WHO kelas II merupakan risiko rendah atau 

moderat, dan direkomendasikan untuk tindak lanjut 

tiap trimester.  

   WHO kelas III, terdapat risiko komplikasi yang 

tinggi, dan peninjauan kardiologi dan obstetrik 

berkala direkomendasikan tiap bulan atau tiap dua 

bulan.  

   WHO kelas IV perlu disarankan tidak hamil. namun , 

jika hamil dan tidak menginginkan terminasi, 

diperlukan peninjauan tiap bulan ataupun dua 

bulan. 

berdasar  risiko mortalitas maternal, maka penyakit 

jantung pada kehamilan dapat dikelompokkan menjadi 3 

kelompok seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5 

 

Tabel 5. Mortalitas maternal penyakit jantung pada  

             kehamilan (5) 

KELOMPOK PENYAKIT JANTUNG RISIKO 

MORTALITAS 

- Atrial Septal Defect (ASD) 

- Ventricular Septal Defect (VSD) 

- Patent ductus arteriosus (PDA) 

- Mitral stenosis – NYHA klas I&II  

- Gangguan katup 

pulmonal/trikuspidal 

- Tetralogi Fallot yang dikoreksi 

< 1 % 

II 

2A 

- Mitral stenosis – NYHA klas III 

atau IV 

- Aorta Stenosis 

- Koarktasio aorta tanpa kelainan 

katup 

- Tetralogi Fallot tanpa koreksi 

- Sindroma Marfan dengan aorta 

normal 

- Riwayat miokard infark  

2B 

• Katup prostetik mekanis 

• Mitral stenosis dengan atrial 

fibrilasi 

5-15 % 

 

 

III 

• Hipertensi pulmonal  

- Primer 

- Sindroma Eisenmenger 

• Koarktasio aorta dengan kelainan 

katup 

• Sindroma Marfan dengan kelainan 

aorta 

• Kardiomiopati peripartum dengan 

disfungsi ventrikel kiri persisten 

25-50 % 

 

Prediktor komplikasi maternal  

Skor risiko jantung berikut dapat memperkirakan 

kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan 

(Tabel 6). (2,5,8) 

 

Tabel 6. Prediktor Resiko Maternal untuk Komplikasi                        

             Jantung 

 

KRITERIA CONTOH POIN 

Kejadian sakit 

jantung sebelumnya 

Gagal jantung, transient ischemic attack, stroke 

sebelum kehamilan, aritmia 1 

NYHA III atau IV atau 

sianosis  1 

Obstruksi jantung kiri 

Area katup aorta <1.5 cm2, area katup mitral <2 

cm2, atau gradien puncak left ventricular outflow 

tract >30 mmHg 

Disfungsi miokardial LVEF <40%, kardiomiopati restriktif, atau 

kardiomiopati hipertrofik 1 

 

  

 

Risiko komplikasi maternal berhubungan dengan jumlah 

prediktor diatas yaitu  sebagai berikut : 

 

Jumlah 

Prediktor 

Risiko kejadian gangguan 

jantung dalam kehamilan 

0 5% 

1 27% 

>1 75% 

 

 

 

Komplikasi neonatal 

Terjadi pada 20–28% pasien dengan penyakit jantung 

dengan mortalitas neonatal antara 1% dan 4%. 8,9 Prediktor 

komplikasi neonatal yaitu  sebagai berikut. 

 

Tabel 7. Perkiraan maternal untuk kejadian neonatus   

             pada wanita dengan penyakit jantung2 

 

1. Berdasar NYHA kelas >II atau sianosis 

2. Obstruksi jantung kiri maternal 

3. Merokok selama kehamilan 

4. Gestasi multipel 

5. Penggunaan antikoagulan oral selama 

kehamilan 

6. Prostesis katup mekanik 

 

 

 

II. DIAGNOSIS PENYAKIT JANTUNG DALAM 

KEHAMILAN 

 

Sesuai NYHA, poin penting dari proses diagnosis penyakit 

jantung yang lengkap meliputi hal-hal sebagai berikut :10 

1. Etiologi. Apakah terjadi akibat penyakit kongenital, 

infeksius, hipertensif, atau iskemik? 

2. Kelainan anatomis. Bagian jantung mana yang 

terlibat? Apakah hipertrofi, dilatasi, atau keduanya? 

Katup mana yang terkena? Apakah bersifat 

regurgitasi dan/atau stenosis? Apakah didapatkan 

infark miokardium? 

3. Gangguan fisiologis. Apakah terdapat aritmia? 

Apakah didapatkan bukti adanya gagal jantung 

kongestif atau iskemia miokardium? 

4. Gangguan fungsional. Seberapa berat aktivitas 

fisik mempengaruhi terjadinya gejala?  

Penegakkan diagnosis penyakit jantung yang lengkap dan 

benar membutuhkan proses anamnesis dan pemeriksaan 

fisik yang seksama. Sebagian besar diagnosis penyakit 

jantung dapat ditegakkan dengan prosedur non-invasif 

 


misalnya anamnesa, pemeriksaan fisik, EKG, foto toraks, 

maupun ekokardiografi. Jika diperlukan dapat dilanjutkan 

dengan kateterisasi dan fluoroskopi. 

Anamnesis & Pemeriksaan Fisik 

Beberapa gejala yang menyerupai penyakit jantung dapat 

muncul pada wanita hamil seperti mudah lelah, dispnu, 

edema ekstremitas bawah, dan murmur. Gejala dan tanda 

ini  dapat merupakan kondisi normal pada wanita 

hamil, namun demikian ada beberapa kondisi yang 

memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Gejala dan tanda 

kardiovaskuler yang dapat muncul selama kehamilan dapat 

dilihat pada Tabel 8. 

Murmur atau bising jantung salah satu tanda adanya 

kelainan jantung, walaupun tidak semua bising jantung 

merupakan tanda penyakit jantung. Murmur atau bising 

jantung dapat timbul pada hampir semua wanita selama 

kehamilan. Murmur ini biasanya lemah, mid-sistolik, dan 

terdengar pada sepanjang tepi tulang sternum kiri. 

Intensitasnya dapat meningkat sejalan dengan peningkatan 

curah jantung selama kehamilan. Pemeriksaan dengan 

ekokardiografi diperlukan jika didapatkan murmur diastolik, 

murmur kontinum atau murmur sistolik (grade 2 atau lebih) 

– lihat Lampiran, atau murmur yang berhubungan dengan 

gejala atau EKG yang abnormal. 

Sangatlah penting untuk mengukur tekanan darah secara 

tepat yaitu dalam posisi miring kiri, dan bila perlu dilakukan 

pemeriksaan proteinuria, khususnya pasien dengan riwayat 

hipertensi atau preeklampsia. Oksimetri harus dipasang 

dan diperiksa saturasi oksigen dalam darah pada pasien 

dengan penyakit jantung kongenital.2 

 

Tabel 8. Gejala dan tanda kardiovaskuler pada kehamilan 

 

NORMAL ABNORMAL 

Lelah  Sinkop  

Dispnu  Dispnu paroksismal nokturnal 

Kadang-kadang palpitasi Takikardia > 120 x / menit 

Murmur sistolik (1-2/6) Aritmia yang terus-menerus 

 


 

Pulsasi vena leher Nafas memendek saat istirahat 

Edema ekstremitas bawah Distensi vena leher 

Suara S-1 wide split dan keras Summation Gallop  

Murmur sistolik (4-6/6) 

Murmur diastolik 

Nyeri dada 

Hemoptisis 

Sianosis  

 

Pemeriksaan noninvasif 

Elektrokardiografi 

Sebagian besar pasien hamil mengalami perputaran 

jantung ke kiri dan pada EKG terdapat deviasi aksis kiri 15–

20, khususnya selama trimester ketiga, ketika diafragma 

terdorong keatas oleh uterus.  

Temuan yang umum meliputi perubahan sementara dari 

segmen ST dan gelombang T, adanya gelombang Q dan 

gelombang T terbalik pada lead III, dan adanya penguatan 

(atenuasi) gelombang Q pada sadapan AVF, serta 

gelombang T terbalik pada sadapan V1, V2, dan terkadang 

V3. Perubahan EKG ini dapat berhubungan sebab  adanya 

perubahan secara bertahap pada posisi jantung dan dapat 

menyerupai hipertrofi ventrikel kiri ataupun kelainan struktur 

jantung lainnya. 

Ekokardiografi 

Penggunaan ekokardiografi lebih banyak digunakan untuk 

diagnosis penyakit jantung dalam kehamilan sebab  

bersifat non-invasif dan aman. Dengan kemampuan M-

Mode, 2-D dan Doppler (pulse, continuous wave dan colour 

flow) dapat ditentukan kelainan struktural termasuk ukuran 

jantung, tekanan arteri pulmonal, kontraktilitas ventrikel, 

adanya trombus, fungsi katup maupun iskemia miokard. 

Ekokardiografi trans-esofageal dapat bermanfaat pada 

beberapa kasus tertentu seperti endokarditis, diseksi aorta 

atau pada keadaan kesulitan dilakukan ekokardiografi 

transtoraks. 

 

 

 Ekokardiografi dilakukan pada semua pasien hamil 

dengan tanda-tanda atau gejala-gejala kardiovaskular 

yang baru ataupun yang belum jelas (Rekomendasi I-

C) 

Pemeriksaan dengan latihan 

Pemeriksaan dengan latihan/Exercise testing berguna 

untuk menilai secara obyektif dari kapasitas fungsional, 

kronotropik dan respon tekanan darah. Pemeriksaan ini 

menjadi bagian penting pada pasien dengan penyakit 

jantung bawaan dan penyakit katup asimtomatis. Pada 

pasien dengan kelainan jantung yang telah diketahui, 

diperlukan pemeriksaan sejak sebelum kehamilan untuk 

menilai risiko komplikasi akibat kehamilan. 

Pemeriksaan dengan Paparan Radiasi 

Pemeriksaan radiografi toraks rutin harus dihindari, 

terutama pada trimester pertama. Efek radiasi pada janin 

tergantung pada dosis radiasi dan usia kehamilan saat 

terkena paparan. Jika memungkinkan, prosedur ini ditunda 

setidaknya sesudah  masa organogenesis terlampaui (usia 

kehamilan 12 minggu).  

 Foto Rontgen dada dengan memperisai janin, dapat 

dipertimbangkan jika metode lain tidak berhasil dalam 

mengklarifikasi pemicu  dispnu (Rekomendasi IIb-C) 

 Kateterisasi jantung dapat dipertimbangkan dengan 

indikasi, waktu, dan memperisai janin dengan sangat 

ketat. (Rekomendasi IIb-C) 

 

 

 

Alur Diagnostik  

 

 

Penatalaksanaan Umum 

Prekonsepsi 

Pada semua wanita yang menunjukkan gejala dan tanda 

adanya penyakit jantung sebaiknya dilakukan evaluasi 

menyeluruh tentang status kardiologinya sebelum 

kehamilan. Evaluasi itu antara lain: 

   Riwayat penyakit jantung yang diderita beserta 

penanganannya 

 


   Pemeriksaan fisik umum 

   Pemeriksaan foto toraks dan EKG 12-lead 

   Pemeriksaan pulse oxymetri 

   Pemeriksaan trans-toraks ekokardiografi (untuk 

mencari lesi spesifik maupun menentukan fraksi 

ejeksi) 

   Evaluasi status fungsional jantung (menurut NYHA 

atau ACC/AHA) 

   Pengelompokan penyakit jantung berdasar  

kelompok risiko 

   Bila perlu dilakukan pemeriksaan MSCTscan 

jantung 

Selain itu, dibutuhkan konseling individual oleh spesialis 

kandungan ataupun kardiologi. Hal-hal penting yang perlu 

disampaikan meliputi : 

   Lesi jantung yang menyertai (fungsi ventrikel, 

tekanan pulmonal, besarnya lesi obstruktif, shunt, 

adanya hipoksemia) 

   Status fungsional jantung pasien 

   Kemungkinan bedah korektif maupun paliatif 

   Faktor risiko tambahan seperti pemakaian 

antikoagulan dan pemakaian prostetik 

   Risiko kehamilan yang tergantung pada penyakit 

jantung spesifik dan status klinis pasien. Oleh 

sebab  itu perlu dijelaskan risiko yang akan terjadi 

jika akan hamil atau saat ini dalam kondisi hamil. 

   Pemberian rekomendasi untuk kontrasepsi, dan 

masalah kehamilan jika pasien masih aktif secara 

seksual.  

   Harapan hidup dan kemampuan merawat anak 

   Kemungkinan tatalaksana selama kehamilan 

   Persalinan disarankan dilakukan di rumah sakit, 

ditangani bersama oleh dokter ahli kandungan dan 

jantung sejak awal kehamilan.  

 


 

 Penilaian risiko sebelum kehamilan dan konseling 

diindikasikan pada semua wanita dengan penyakit 

kardiovaskular kongenital atau didapat yang diketahui 

atau dicurigai (Rekomendasi I-C) 

 Penilaian risiko harus dilakukan pada semua wanita 

dengan penyakit jantung dari usia anak-anak 

(Rekomendasi I-C) 

 Pasien risiko tinggi harus dirawat di pusat kesehatan 

khusus oleh tim secara multidisiplin (Rekomendasi I-

C) 

 Wanita dengan saturasi oksigen dibawah 85% saat 

istirahat harus disarankan agar tidak hamil 

(Rekomendasi III-C). 

Antepartum 

Hal-hal yang perlu diperhatikan selama pasien 

melakukan kunjungan antenatal antara lain : 

   Pendekatan multidisiplin 

   Konfirmasi usia kehamilan berdasar  HPHT 

maupun USG 

   Pemeriksaan ekokardiografi janin dilakukan pada 

usia kehamilan 20-24 minggu khususnya pada ibu 

dengan penyakit jantung kongenital 

   Pemeriksaan kesejahteraan janin dilakukan untuk 

menilai pertumbuhan janin baik dengan biometri 

janin, Doppler velocimetry, maupun NST dimulai 

saat usia kehamilan 30-34 minggu. 

   Deteksi dini kelainan yang menyertai misalnya 

preeklampsia, anemiaa, hipertiroid, maupun infeksi. 

   Perencanaan kapan terminasi kehamilan dan mode 

of delivery-nya 

 


 

Intrapartum 

Induksi persalinan, penanganan persalinan, dan 

pascapersalinan memerlukan perhatian dan keahlian 

khusus serta manajemen kolaboratif oleh dokter ahli 

kandungan, ahli jantung, dan ahli anestesia, dengan 

pengalaman yang tinggi terhadap unit dan obat maternal-

fetal. 

Waktu kelahiran 

Pada pasien dengan penyakit jantung lebih disarankan 

untuk melakukan induksi persalinan. Waktu yang tepat 

sangatlah individual tergantung pada status jantung 

gravida, skor Bishop, kesejahteraan janin dan maturitas 

paru janin.  

Induksi persalinan 

Oksitosin dan pecah ketuban buatan diindikasikan jika skor 

Bishop >5. Waktu induksi yang memanjang perlu dihindari 

jika serviks belum matang. 

Metode-metode mekanik seperti penggunaan kateter Foley 

lebih baik jika dibandingkan dengan agen farmakologis, 

khususnya pada pasien dengan sianosis dimana adanya 

penurunan tahanan vaskular sistemik atau tekanan darah 

akan sangat merugikan.2 

Monitor Hemodinamik 

Pulse oxymetri dan pengawasan EKG digunakan sesuai 

kebutuhan. Tekanan arterial sistemik dan denyut jantung 

ibu dipantau ketat disebab kan anestesia lumbal epidural 

dapat menyebabkan hipotensi. 

Anestesia/analgesia 

Analgesiaa lumbal epidural seringkali dianjurkan. 

Analgesiaa lumbal epidural secara kontinyu dengan 

anestesia lokal atau opiat, atau anestesiaa spinal opioid 

secara kontinyu dapat diberikan (11) 

Anestesia regional dapat menyebabkan hipotensi sistemik, 

oleh sebab  itu harus  digunakan dengan hati-hati pada 

pasien dengan lesi katup obstruktif.  Perfusi intravena 

harus dipantau hati-hati (11). 

  

 

Persalinan pervaginam atau perabdominam 

Cara persalinan secara umum yang dipilih yaitu  

pervaginam. Rencana persalinan harus dilakukan per- 

individu, hal yang perlu diinformasikan yaitu  waktu 

persalinan, metode persalinan, induksi persalinan, 

anestesia analgesiaa / regional, dan monitoring yang 

diperlukan. Persalinan harus dilakukan di pusat kesehatan 

tersier dengan tim perawatan multidisiplin. Secara umum, 

persalinan sesar dilakukan bila ada indikasi obstetrik.  

 

Persalinan sesar dianjurkan untuk wanita dengan:  

1. Stenosis aorta berat (AS) 

2. Bentuk hipertensi pulmonal berat (termasuk sindrom 

Eisenmenger) 

3. Gagal jantung akut 

4. Dipertimbangkan pada pasien dengan prostesis 

katup jantung mekanik untuk mencegah masalah 

dengan persalinan pervaginam yang terencana. 

5. Sindrom Marfan 

6. Diseksi aorta kronik atau akut 

 

 Persalinan pervaginam direkomendasikan sebagai 

pilihan pertama pada sebagian besar pasien 

(Rekomendasi I-C)  

 Pada pasien dengan hipertensi berat, persalinan 

pervaginam dengan epidural analgesiaa dan 

persalinan instrumental elektif  perlu dipertimbangkan 

(Rekomendasi IIa-C) 

 Persalinan sesar  harus  dipertimbangkan untuk 

indikasi obstetrik atau untuk pasien dengan dilatasi 

aorta ascenden >45 mm, stenosis aorta berat, 

persalinan prematur dengan antikoagulan oral, sindrom  

Eisenmenger, atau gagal jantung berat (Rekomendasi 

IIa-C) 

  

 

Persalinan 

Prinsip umum manajemen intrapartum yaitu  meminimal -

kan stres kardiovaskular. Pada sebagian besar kasus, 

prinsip ini akan dicapai dengan penggunaan anestesia 

epidural inkremental awal lambat dan dibantu persalinan 

pervaginam. 

Saat persalinan, hindari posisi supinasi dan pasien pada 

posisi lateral dekubitus serta pemberian oksigen untuk 

meminimalisir dampak hemodinamik dari kontraksi uterus.12 

Kontraksi uterus harus dapat menurunkan kepala janin 

hingga ke perineum tanpa adanya dorongan mengejan, 

untuk menghindari efek samping dari manuver valsava.13,14 

Persalinan sebaiknya dibantu dengan forsep rendah atau 

ekstraksi vakum. Disarankan untuk melakukan monitoring 

denyut jantung janin secara terus-menerus.  

Berikut merupakan poin-poin yang harus diperhatikan 

selama persalinan : 

   Monitoring ketat 

   Posisi left lateral decubitus 

   Balans cairan 

   Bila memungkinkan pengukuran saturasi O2 dengan 

pulse oxymetri 

   Pada kasus risiko tinggi pertimbangkan monitoring 

invasif 

   Pertimbangkan penggunaan intrapartum analgesiaa 

   Pada persalinan pervaginam dilakukan percepat kala II 

   Pada pasien yang menggunakan warfarin harus 

dihentikan minimal 2 minggu sebelum persalinan dan 

diganti heparin 

Pascapersalinan 

Infus oksitosin i.v lambat (<2 U/menit) diberikan sesudah  

pengeluaran plasenta. Metilergonovine dikontraindikasikan 

sebab  adanya risiko (>10%) vasokonstriksi dan 

hipertensi.15,16  

Bantuan berupa pemasangan stoking elastik pada tungkai 

bawah, dan  ambulasi dini sangat penting untuk 

mengurangi risiko tromboemboli. 

  

 

Pemantauan hemodinamik harus dilanjutkan selama 

minimal 24 jam sesudah  melahirkan. Selain itu diperlukan 

saran yang tepat tentang penggunaan kontrasepsi. 

 

Laktasi 

Laktasi dapat berhubungan dengan risiko rendah terjadinya 

bakteremia sekunder akibat mastitis. Pada pasien 

gangguan jantung berat / simtomatis, perlu dipertimbangan 

untuk menyusui menggunakan botol. 

 

Kontrasepsi 

Kontrasepsi ideal harus memenuhi kriteria: aman, efektif, 

dan dapat diterima. Untuk wanita dengan penyakit jantung, 

tidak ada kontrasepsi yang benar-benar ideal, sebab  risiko 

terjadinya komplikasi seperti trombosis dan infeksi. 

 

Metode barier (kondom, diafragma) 

Penggunaan metode barier kurang ideal sebab  angka 

kegagalan yang cukup tinggi. 

 

Alat kontraseptif dalam rahim 

Pemakaian IUD harus hati-hati sebab  adanya risiko, 

infeksi dan refleks vagal yang dapat menimbulkan 

bradikardia pada saat pemasangan. Selain itu pada pasien 

yang memakai antikoagulan ada risiko perdarahan 

menstruasi yang banyak. 

IUD pelepas levonorgestrel yaitu  kontrasepsi yang paling 

aman dan paling efektif yang dapat digunakan pada wanita 

dengan penyakit jantung sianosis bawaan dan pembuluh 

darah pulmonal. Ini mengurangi kehilangan darah 

menstruasi sebesar 40-50%.17  

 

Pil kontraseptif oral 

Kontrasepsi bebas estrogen walaupun efektifitasnya lebih 

rendah tapi terbukti aman untuk wanita dengan penyakit 

jantung. Kontrasepsi oral dosis rendah yang mengandung 

20 µg etinilestradiol aman pada wanita dengan potensi 

trombogenik rendah, namun  harus dihindari pada wanita 

dengan penyakit katup yang kompleks seperti pada 

  

 

kelainan jantung mitral stenosis, riwayat tromboemboli, 

atrial fibrilasi, katup jantung prostetik, kardiomiopati, dan 

sindroma Eisenmenger.18,19 

Injeksi  

Suntikan bulanan yang mengandung medroksiprogesteron 

asetat tidak sesuai untuk pasien dengan gagal jantung 

sebab  kecenderungan terjadinya retensi cairan.2 

 

Sterilisasi 

Sterilisasi dengan tubektomi atau vasektomi dianjurkan 

pada pasien yang sudah tidak menginginkan anak, atau 

pada penyakit jantung dengan risiko kehamilan yang tinggi. 

Adanya penggunaan anestesiaa dalam prosedur sterilisasi, 

menyebabkan tetap perlunya perhatian khusus pada 

pasien dengan penyakit jantung. 

 

Terminasi Kehamilan 

Dilatasi dan evakuasi yaitu  prosedur yang paling aman 

pada trimester pertama dan kedua. Dapat pula digunakan 

prostaglandin E1 atau E2, atau misoprostol untuk 

mengeluarkan konsepsi.  

Trimester pertama yaitu  waktu yang paling aman untuk 

terminasi kehamilan elektif dan harus dilakukan di rumah 

sakit. Selain itu perlu juga perhatian pada anestesia dan 

disesuaikan untuk tiap individu. 

 

Tabel 9. Obat-Obatan Pada Kehamilan Dengan Penyakit 

Jantung 

 

DRUGS CLASSIFI-CATION 

FDA 

CATEG

ORY 

PLACENTA 

PERMEAB

LE 

TRANSFE

R TO 

BREAST 

MILK 

(FETAL 

DOSE) 

ADVERSE EFFECTS 

Abciximab 

Monoclonal antibody 

with antithrombotic 

effects 

C Unknown Unknown 

inadequate human studies; 

should be given only if the 

potential bene t outweights 

the potential risk to the fetus. 

Acenocoum

arola Vitamin K antagonist D Yes 

Yes (no 

adverse 

effects 

reported) 

Embryophaty (mainly first 

trimester), bleeding  (see 

further discussion in section 5 

for use during pregnancy). 

Acetylsalicy

lic acid (low 

dose) 

Antiplatelet drug B Yes Well-

tolerated 

No teratogenic effects (large 

datasets). 

  

 

Adenosineb Antiarrhytmic C No No No fetal adverse effects  

reported (limited human data) 

Aliskiren Rennin inhibitor D Unknown Unknown Unknown (limited 

experience). 

Amiodaron

Antiarrhytmic (Class 

III) D Yes Yes 

Thyroid insuf ciency 

(9%),hyperthyroidism, goiter, 

bradycardia, growth 

retardation, premature birth. 

Ampicillin, 

amoxicillin, 

cephalospo

rins, 

erythromyci

n, 

mezlocillin, 

penicillin 

Antibiotics B Yes Yes No fetal adverse effects  

reported. 

Imipenem, 

rifampicin, 

teicoplanin, 

vancomycin 

Antibiotics C Unkown Unknown Risk cannot excluded (limited 

human data) 

Aminoglyco

sides, 

quinoloes 

teracyclines 

Antibiotics D Unkown Unkown Risk to the fetus exist 

(reserved for vital indication) 

Atenololc β-blocker (class II) D Yes Yes 

Hypospadias (first 

trimester):birth defects, low 

birth weight, bradycardia and 

hypoglycaemia in fetus 

(second and third trimester) 

Benazeprild ACE inhibitor D Yes 

Yese 

(maximum 

1.6%) 

Renal or tubular dysplasia, 

oligohydramnion, growth 

retardation, ossication 

disorders of skull, lung 

hypoplasia, contractures, 

large joint, anemiaa, 

intrauterine fetal death. 

Bisoprol β-blocker (class II) C Yes Yes Bradycardia and 

hypoglycaemia in fetus 

Candesarta

Angiotensin II receptor 

blocker D Unkown 

Unkown;not 

recomende

Renal or tubular dysplasia, 

oligohydramnion, growth 

retardation, ossication 

disorders of skull, lung 

hypoplasia, contractures, 

large joint, anemiaa, 

intrauterine fetal death. 

Captoprild ACE inhibitor D Yes Yese(maxi

mum 1.6%) 

Renal or tubular dysplasia, 

oligohydramnion, growth 

retardation, ossication 

disorders of skull, lung 

hypoplasia, contractures, 

large joint, anemiaa, 

intrauterine fetal death. 

Clopidogrel Antiplatelet drug C Unkown Unkown No information during 

pregnancy available. 

Colestipol, 

cholestyra

mine 

Lipid-lowering drugs C Unkown 

Yes-

lowering fat 

soluble 

vitamins 

My impair absorption of fat-

soluble vitamins, e-g, vitamin 

K> cerebral bleeding 

(neonatal). 

Danaparoid Anticoagulant B No No No side effects (limited 

human data). 

  

 

Digoxinf Cardiac glycoside C Yes Yese Serum levels unreliable, safe. 

Diltiazem Calcium channel 

clocker (class IV) C No Yese Possible teratogenic effects. 

Disopyrami

de 

Antiarrhythmic (class 

1A) C Yes Yese 

 

Uterus contraction. 

 

Enalaprild ACE inhibitor D Yes Yese(maxi

mum 1.6%) 

Renal or tubular dysplasia, 

oligohydramnion, growth 

retardation, ossication 

disorders of skull, lung 

hypoplasia, contractures, 

large joint, anemiaa, 

intrauterine fetal death. 

Eplereone Aldosterone 

antagonist - Unkown Unkown Unkown (limited experience). 

Feno brate Lipid-lowering drug C Yes Yes No adequate human data 

Flecainide Antiarrhytmic (class 

1C) C Yes Yese Unknown (limited experience) 

Fondaparin

ux Anticoagulant - 

Yes 

(maximum 

10%) 

No New drug, (limited 

experience) 

Furosemide Diuretic C Yes 

Well 

tolerated; 

milk 

production 

can 

reduced 

Oligohydramnion. 

Gem brozil Lipid-lowering drug C Yes Unkown No adequate human data. 

Glyceryl 

trinitrate Nitrate B Unkown Unkown Bradycardia, tocolytic 

Heparine(lo

molecular 

weigth) 

Anticoagulant B No No 

Long-term application:seldom 

osteoporosis and markedly 

less thrombocytopenia than 

UF heparin. 

Heparin 

(unfractiona

ted) 

Anticoagulant B No No 

Long-term application; 

osteoporosis and 

thrombocytopenia. 

Hydralazine Vasodilator C Yes 

Yese 

(maximum 

I%) 

Maternal side effects: lupus-

like symptoms; fetal 

tachyarrthmias (maternal 

use). 

Hydrochlor

othiazid Diuretic B Yes 

Yes; milk 

production 

can be 

reduced 

Oligohydramnion. 

Irbesartand Angiotensin II receptor 

blocker D Unknown Unknown 

Renal or tubular dysplasia, 

oligohydramnion, growth 

retardation, ossication 

disorders of skull, lung 

  

 

hypoplasia, contractures, 

large joint, anemiaa, 

intrauterine fetal death. 

Isosorbide 

dinitre Nitrate B Unknown Unknown Bradycardia. 

Isradipine Calcium channel 

blocker C Yes Unknown 

Potential synergism with 

magnesium sulfate may 

induce hypotension. 

Labetalol α-|β-blocker C Yes Yese 

Intrauterine growth 

retardation (second and third 

trimester), neonatal 

bradycardia and hypotension 

(used near term) 

Lidocaine Antiarrhythmic (class 

IB) C Yes Yese 

Fetal bradycardia, acidosis, 

central nervous system 

toxicity. 

Methyldopa Central α-gonist B Yes Yese Mild neonatal hypotension. 

Metoprolol β-blocker (class II) C Yes Yese Bradycardia and 

hypoglycaemia in fetus. 

Mexiletine Antiarrhytmic (class 

IB) C Yes Yese Fetal Bradycardia. 

Nifedipine Calcium channel 

blocker C Yes 

Yese 

(maximum 

1.8%) 

Tocolytic;s.I. application and 

potential synergism with 

magnesium sulfate may 

induce hypotension (mother) 

and fetal hypoxia. 

Phenproco

umon Vitamin K antagonist D Yes 

Yese 

(maximum 

10%), well 

tolerated as 

inactive 

metabolite 

Coumarin-

embryopathy,bleeding (see 

further discussion in section 

in section 5 for use during 

pregnancy). 

Procainami

de Antiarrhytmic(class IA) C Yes Yes Unknown (limited experience) 

Propafenon

e ACE inhibitor C Yes Unknown Unknown (limited experience) 

Propranolol Antiarrhytmic (classIII) C Yes Yese Bradycardia and 

hypoglycaemia in fetus 

Quinidine Aldostrone antagonist C Yes Yese Thrombopenia, premature 

birth, VII th nerve toxicity. 

Ramiprild Lipid-lowering drugs D Yes 

Yes 

(maximum 

1,6%) 

Renal or tubular dysplasia, 

oligohydramnion, growth 

retardation, ossication 

disorders of skull, lung 

hypoplasia, contractures, 

large joint, anemiaa, 

intrauterine fetal death. 

Sotatol Antiarrhytmic (class 

III) B Yes Yese 

Bradycardia and 

hypoglycaemia in fetus 

(limited experience) 

Spironolact

one 

Aldosterone 

antagonist D Yes 

Yese 

(maximum 

1.2%); milk 

production 

can be 

reduced 

Antiandrogenic effects, oral 

clefts (first trimester). 

  

 

Statinsg Lipid-lowering drugs X Yes Unknown Congenital anomalies. 

Ticlopidine Antiplatelet C Unknown Unknown Unknown (limited experience) 

Valsartand Angiotensin II receptor 

blocker D Unkown Unkown 

Renal or tubular dysplasia, 

oligohydramnion, growth 

retardation, ossication 

disorders of skull, lung 

hypoplasia, contractures, 

large joint, anemiaa, 

intrauterine fetal death. 

Verapamil 

oral 

Calcium channel 

blocker (class IV) C Yes Yese Well tolerated (limited 

experience during pregnancy) 

Verapamil 

i.v. 

Calcium channel 

blocker (class IV) C Yes Yese 

Intravenously use is may be 

associated with a greater risk 

of hypotension and 

subsequent fetal 

hypoperfusion. 

Vernakalnt Calcium channel 

blocker (class III) - Unkown Unkown No experience of use in 

pregnancy. 

Warfarina Vitamin K antagonist D Yes 

Yes 

(maximum 

10%), well 

tolerated as 

inactive 

metabolite 

Coumarin-embrypathy, 

bleeding (see further 

discussion in section 5 for 

use during pregnancy). 

 

Antibiotik Profilaksis 

American Heart Association tidak lagi merekomendasikan 

antibiotik profilaksis untuk pencegahan endokarditis bakteri 

selama prosedur yang berhubungan dengan genitourinaria, 

seperti persalinan pervaginam dan operasi sesar.2,20 

 

Antikoagulan 

Beberapa kondisi membutuhkan inisiasi dan antikoagulan 

selama kehamilan, seperti pada pasien dengan katup 

mekanis, riwayat tromboemboli vena, trombosis vena 

dalam yang akut atau tromboemboli selama kehamilan, 

sindrom antibodi antifosfolipid, dan atrial fibrilasi.  

 

Rekomendasi 

 Antikoagulasi direkomendasikan pada pasien dengan 

trombus intrakardiak dideteksi melalui pencitraan atau 

dengan bukti emboli sistemik. (Rekomendasi I-A)  

 Wanita dengan HF selama kehamilan harus diterapi 

berdasar  panduan terbaru untuk pasien tidak hamil, 

dengan memperhatikan kontraindikasi untuk beberapa 

obat-obat dalam kehamilan. (Rekomendasi I-B) 

  

 

 Terapi profilaksis antibiotik selama persalinan tidak 

direkomendasikan (Rekomendasi III-C) 

 

 

Penyakit jantung dalam kehamilan memiliki spektrum 

kelainan yang bervariasi. Konsep dasar yang perlu diingat 

yaitu  sebagai berikut: 

• Volume darah dan curah jantung meningkat selama 

kehamilan normal, mencapai puncaknya ada akhir 

trimester kedua. 

• Kelainan jantung yang sudah ada sebelumnya harus 

dievaluasi sehubungan dengan resiko yang didapatkan 

selama kehamilan. 

• Kontraindikasi terhadap kehamilan mencakup 

hipertensi pulmonal berat atau sindrom Eisenmenger, 

kardiomiopati dengan gejala NYHA kelas III atau IV, 

riwayat kardiomiopati peripartum, stenosis katup berat 

yang tidak dikoreksi, penyakit jantung sianosis bawaan 

yang tidak dikoreksi, dan sindrom Marfan dengan aorta 

abnormal. 

• Pengetahuan terhadap obat-obatan jantung yang 

masuk dalam kategori kontraindikasi selama kehamilan 

sangatlah penting untuk pengobatan hipertensi dan 

gagal jantung selama kehamilan. 

• Antikoagulasi selama kehamilan memberikan tantangan 

sebab  warfarin, unfractionated heparin, dan LMWH 

memiliki efek samping terhadap maternal dan janin. 

 

 

 

 

 

PERTUMBUHAN 

JANIN TERHAMBAT 

 

 

ASPEK UMUM 


 

Bayi kecil masa kehamilan (KMK) disebut juga SGA (small 

for gestational age), sering disamakan dengan bayi 

pertumbuhan janin terhambat (PJT) atau intra uterine 

growth restriction (IUGR). Diagnosis bayi KMK dapat 

disebabkan oleh beberapa keadaan seperti: kesalahan 

dalam pencatatan umur kehamilan (HPHT), bayi kecil tapi 

sehat, cacat bawaan, kelainan genetik/kromosom, infeksi 

intra uterin, dan PJT. Kurang lebih 80-85% bayi KMK 

yaitu  kecil tapi sehat, 10-15% yang murni PJT dan 

sisanya 5-10% yaitu  janin dengan kelainan kromosom, 

cacat bawaan atau infeksi intra uterin. (Harkness, 2004; 

Sheridan, 2005) 

 

Janin KMK yaitu  janin yang berat badannya sama atau 


  

 

kurang dari 10 persentil, atau yang lingkaran perutnya 

sama atau kurang dari 5 persentil. Sekitar 40% janin 

ini  konstitusinya kecil dengan risiko morbiditas dan 

mortalitas perinatalnya yang tidak meningkat. Empat puluh 

persen pertumbuhan janin terhambat (PJT) sebab  perfusi 

plasenta yang menurun atau insufisiensi utero-plasenta, 

dan 20% hambatan pertumbuhan sebab  potensi tumbuh 

yang kurang. Potensi tumbuh yang kurang sebab  

disebabkan oleh kelainan genetik atau kerusakan 

lingkungan. (Harper, T, 2004). Tidak semua PJT yaitu  

KMK, dan tidak semua KMK menderita PJT. Hanya 15% 

KMK badannya kecil sebab  PJT. (Murray, L, 2004) 

 

Perbedaan definisi yang dipakai, kurva standar, ketinggian 

tempat tinggal, jenis kelamin dan ras seseorang, antara lain 

sebagai pemicu  bervariasinya angka kejadian PJT. 

Selain angka kejadian PJT yang bervariasi antara 3-10%, 

yang terlebih penting lagi, angka kematian perinatal bayi-

bayi dengan PJT kurang lebih 7-8 kali lebih tinggi 

dibandingkan dengan bayi-bayi normal lainnya. Kurang 

lebih 26% atau lebih kejadian lahir mati, ternyata 

berhubungan dengan PJT. (Weiner, 2000) 

 

Jika didapatkan estimasi berat badan dan lingkaran perut 

yang kecil, maka perlu dipertimbangkan 4 hal: 1) umur 

kehamilan yang salah; 2) janin kecil tapi normal; 3) janin 

kecil abnormal; atau 4) janin kecil yang mengalami starvasi. 

 

Secara klinis PJT dibedakan atas 2 tipe yaitu: tipe I 

(simetris) dan tipe II (asimetris). Kedua tipe ini mempunyai 

perbedaan dalam etiologi, terapi, dan prognosisnya (Lin, 

1984; Manning, 1991). Cara-cara pemeriksaan klinis untuk 

mendeteksi PJT (berupa identifikasi faktor risiko dan 

pengukuran tinggi fundus uteri) seringkali memberikan hasil 

yang kurang akurat. Campbell mencatat nilai prediksi 

positif yang rendah, Positive Predicted Value (PPV) 16% 

dan Negative Predicted Value (NPV) 20% (Manning, 1991, 

Campbell, 1974). Peninggian kadar Alfa Feto Protein 

(AFP) pada janin yang normal (tanpa cacat bawaan) akan 

  

 

meningkatkan kejadian PJT 5-10 kali lebih tinggi. 

 

Umur kehamilan yang salah disebabkan sebab : HPHT 

tidak jelas atau lupa, siklus haid tidak teratur, dan sesudah  

penggunaan kontrasepsi pil atau suntik. Meskipun ukuran 

biometri janin kecil simetris, akan namun  tidak ada kelainan 

anatomis, volume air ketuban dan aktifitas janin dalam 

keadaan normal masih memerlukan pemeriksaan ulangan 

sesudah  2 minggu, untuk memastikan adanya peningkatan 

ukuran biometri janin dan kecepatan pertumbuhan yang 

normal. 

 

Janin kecil tapi normal: ibu biasanya konstitusi tubuhnya 

kecil, pada pemeriksaan USG sering dikelirukan dengan 

umur kehamilan yang salah. Pada pemeriksaan USG 2 

minggu kemudian akan menunjukkan deviasi ukuran-

ukuran janin lebih jauh dari normal. 

 

Janin kecil abnormal: mungkin didapatkan kelainan 

anatomi, akibat kelainan kromosom atau sebab  faktor 

lingkungan. 

 

Janin kecil sebab  starvasi: biasanya ukuran janin tidak 

sesuai / asimetris dalam hal  ukuran lingkaran perut, femur 

dan lingkaran kepala. Akan ditemukan pula pengurangan 

volume air ketuban dan gerakan janin serta terdapat 

kelainan aliran darah pada a. uterina dan a. umbilikalis. 


  

2. DEFINISI 

 

Pertumbuhan janin terhambat (PJT) yaitu  janin dengan 

berat badan kurang atau sama dengan 10 persentil, atau 

lingkaran perut kurang atau sama dengan 5 persentil atau 

FL/AC > 24. Hal ini  dapat disebabkan sebab  

berkurangnya perfusi plasenta, kelainan kromosom, dan 

faktor lingkungan atau infeksi (Maulik, D). Penentuan PJT 

 

 

juga dapat ditentukan secara USG dimana biometri tidak 

berkembang secara bermakna sesudah  2 minggu. 

 

3. PREVALENSI 

 

Pada penelitian  di 4 senter fetomaternal di 

Indonesia tahun 2004-2005 didapatkan 571 KMK dalam 

14.702 persalinan atau rata-rata 4,40%. Paling sedikit di 

RS Dr. Soetomo Surabaya 2,08% dan paling banyak di RS 

Dr. Sardjito Yogyakarta 6,44%. 

 

4. KLASIFIKASI 

 

Simetris: ukuran badannya secara proporsional kecil, 

gangguan pertumbuhan janin terjadi sebelum umur 

kehamilan 20 minggu, sering disebabkan oleh kelainan 

kromosom atau infeksi. 

 

Asimetris: ukuran badannya tidak proporsional, gangguan 

pertumbuhan janin terjadi pada kehamilan trimester III, 

sering disebabkan oleh insufisiensi plasenta 

 

Jika faktor yang menghambat pertumbuhan terjadi pada 

awal kehamilan, saat hiperplasia (biasanya sebab  kelainan 

kromosom dan infeksi), akan menyebabkan PJT yang 

simetris. Jumlah sel berkurang dan secara permanen akan 

menghambat pertumbuhan janin dan prognosisnya jelek. 

Penampilan klinisnya proporsinya tampak normal sebab  

berat dan panjangnya sama-sama terganggu, sehingga 

ponderal indeksnya normal. 

 

Jika faktor yang menghambat pertumbuhan terjadi pada 

saat kehamilan lanjut, saat hipertrofi (biasanya gangguan 

fungsi plasenta, misalnya pada preeklamsia), akan 

menyebabkan ukuran selnya berkurang, menyebabkan PJT 

yang asimetris dengan prognosis lebih baik. Lingkaran 

perutnya kecil, skeletal dan kepala normal, ponderal 

indeksnya abnormal. 

 

FAKTOR RISIKO DAN ETIOLOGI 

 

1. FAKTOR RISIKO 

 

Kecurigaan akan PJT ditegakkan berdasar  pengamatan 

faktor-faktor risiko dan ketidaksesuaian tinggi fundus uteri 

dengan umur kehamilannya (Miller,1972;Manakalata,2002). 

namun  kurang akuratnya pemeriksaan klinis dalam 

meramalkan kejadian PJT pada umumnya disebabkan 

oleh: 1) kesalahan dalam menentukan umur kehamilan, 2) 

kesalahan dalam cara pengukuran tinggi fundus uteri, 3) 

adanya fenomena trimester terakhir, yaitu bayi-bayi yang 

tersangka PJT pada kehamilan 28-34 minggu, kemudian 

menunjukan pertumbuhan yang cepat pada kehamilan 36-

39 minggu. 

 

Faktor-faktor Risiko PJT (Lin CC,1984) : 

1. Lingkungan sosio-ekonomi rendah 

2. Riwayat PJT dalam keluarga 

3. Riwayat obstetri yang buruk 

4. Berat badan sebelum hamil dan selama kehamilan 

yang rendah 

5. Komplikasi obstetri dalam kehamilan 

6. Komplikasi medik dalam kehamilan 

 

      Faktor-faktor Risiko PJT sebelum & selama kehamilan 

(Manakatala, 2002)  : 

1. Terdeteksi sebelum kehamilan 

• Riwayat PJT sebelumnya 

• Riwayat penyakit kronis 

• Riwayat APS (Antiphospholipid syndrome) 

• Indeks masa tubuh yang rendah 

• Maternal hipoksia 

2. Terdeteksi selama kehamilan 

• Peninggian maternal serum alfa feto protein 

(MSAFP) atau human chorionic gonadotropin 

(hCG) 

  

 

• Riwayat makan obat-obatan tertentu (coumarin, 

hydantoin) 

• Perdarahan pervaginam 

• Kelainan plasenta 

• Partus prematurus 

• Kehamilan ganda 

• Kurangnya pertambahan BB selama kehamilan 

 

2. ETIOLOGI 

 

Maternal:  

Hipertensi dalam kehamilan, penyakit jantung sianosis, DM 

kelas lanjut, hemoglobinopati, penyakit autoimun, 

malnutrisi, merokok, narkotik, kelainan uterus, dan 

trombofilia. 

Plasenta dan tali pusat:  

Sindroma twin-twin transfusion, kelainan plasenta, solusio 

plasenta kronik, plasenta previa, kelainan insersi tali pusat, 

kelainan tali pusat, kembar. 

Infeksi:  

HIV, sitomegalovirus, rubela, herpes, toksoplasmosis, 

sifilis. 

Kelainan kromosom/genetik:  

Trisomi 13, 18, dan 21, triploidi, sindroma Turner dan 

penyakit metabolisme (Harper, T, 2004). 

Di RS Dr. Soetomo Surabaya pemicu  PJT yaitu  

preeklamsia/Eklamsi 79%, hipertensi 17% dan 3,4% dari 

kehamilan dengan KMK di 4 senter fetomaternal menderita 

cacat bawaan. 

 

ASPEK KLINIS 

 

1. SKRINING 

 

Skrining: pada populasi umum skrining dilakukan dengan 

cara mengukur tinggi fundus uteri (TFU), yang dilakukan 

secara rutin pada waktu pemeriksaan antenatal (ANC) 

  

 

sejak umur kehamilan 20 minggu sampai aterm. Jika ada 

perbedaan sama atau lebih besar dari 3 cm dengan kurva 

standar, perlu dilakukan pemeriksaan USG (Harper,T). 

Pada kehamilan yang berisiko terjadi PJT pemeriksaan 

USG dilakukan pertama kali pada kehamilan trimester I 

untuk konfirmasi haid pertama yang terakhir dan 

kemungkinan kehamilan multipel. Kemudian pada 

pertengahan trimester II (18-20 minggu) untuk mencari 

kelainan bawaan dan patologi lain. Pemeriksaan USG 

diulang pada umur kehamilan 28-32 minggu untuk deteksi 

gangguan pertumbuhan dan fisiologi brain sparing effect 

(oligohidramnion dan pemeriksaan Doppler velocimetry 

yang abnormal). 

 

Penegakan diagnosis: estimasi berat janin sama atau 

kurang dari 10 persentil dan lingkaran perut (AC) yang 

sama atau kurang dari 5 persentil atau FL/AC > 24, atau 

biometri tidak berkembang sesudah  2 minggu. 

 

Suspek PJT jika terdapat satu atau lebih tanda-tanda di 

bawah ini (MUHC Guideline) : 

1. TFU 3 cm atau lebih dibawah normal 

2. Pertambahan berat badan < 5 kg pada UK 24 

minggu atau < 8 kg pada UK 32 minggu (untuk ibu 

dengan BMI < 30) 

3. Estimasi berat badan < 10 persentil 

4. HC/AC > 1 

5. AFI 5 cm atau kurang 

6. Sebelum UK 34 minggu plasenta grade 3 

7. Ibu merasa gerakan janin berkurang 

 

2. DIAGNOSIS 

 

1. Palpasi: akurasinya terbatas, dapat mendeteksi 

janin KMK sebesar 30%, sehingga perlu tambahan 

pemeriksaan biometri janin (Evidens III dan IV). 

2. Mengukur tinggi fundus uteri (TFU): terbatas 

akurasinya untuk mendeteksi janin KMK, 

sensitivitas 56-86%, spesifisitas 80-93%. Dengan 

jumlah sample 2941, sensitifitas 27%, spesifisitas 

88%. Pengukuran TFU secara serial akan 

meningkatkan sensitifitas dan spesifisitas (Evidens 

II dan III). Dengan jumlah sampel 1639. TFU tidak 

meningkatkan luaran perinatal (Evidens Ib). 

3. Estimasi berat janin (EFW) dan abdominal 

circumference (AC) lebih akurat untuk diagnosis 

KMK. Pada KRT dengan AC<10 persentil dapat 

memprediksi KMK dengan sensitifitas 72,9-94,5% 

dan spesifisitas 50,6-83,8%. Pengukuran AC dan 

EFW dapat memprediksi luaran perinatal yang jelek 

(Evidens II). Systematic Review dalam Cochrane 

database menunjukkan bahwa pemeriksaan USG 

pada KRR sesudah  umur kehamilan 24 minggu tidak 

meningkatkan luaran perinatal (Evidens Ia).  

4. Mengukur volume air ketuban (AFI), Doppler, KTG 

dan BPS lemah dalam mendiagnosis PJT. Meta 

analisis menunjukkan bahwa AFI antepartum < 5 

cm meningkatkan bedah sesar atas indikasi gawat 

janin. AFI dilakukan setiap minggu atau 2 kali 

seminggu tergantung berat ringannya PJT (Evidens 

I dan III). Doppler pada a. uterina akurasinya 

terbatas untuk memprediksi PJT dan kematian 

perinatal (RCOG Guideline No.31). 

 

Diagnosis ini  di atas disesuaikan berdasar  tingkat 

pengetahuan, ketrampilan dan peralatan yang dimiliki oleh 

bidan, dokter umum, dokter spesialis obgin atau konsultan 

fetomaternal. 

 

DAMPAK PJT 

 

Morbiditas dan mortalitas perinatal kehamilan dengan PJT 

lebih tinggi daripada kehamilan yang normal. Morbiditas 

perinatal yaitu  : prematuritas, oligohidramnion, DJJ yang 

abnormal, meningkatkan angka SC, asfiksia intrapartum, 

skor APGAR yang rendah, hipoglikemia, hipokalsemia, 

polisitemia, hiperbilirubinemia, hipotermia, apnea, kejang 

dan infeksi. Mortalitas perinatal dipengaruhi beberapa 

 

Pertumbuhan Janin Terhambat      87 

 

faktor, termasuk: derajat keparahan PJT, saat terjadinya 

PJT, umur kehamilan dan pemicu  dari PJT. Makin kecil 

persentil berat badannya makin tinggi angka kematian 

perinatalnya. 

 

Pola kecepatan pertumbuhan bayi KMK bervariasi.  

Pertumbuhan tinggi badan dan berat badan bayi preterm 

KMK yang PJT lebih ketinggalan dibanding bayi preterm 

Appropriate for Gestational Age (AGA) yang tidak PJT. 

 

Bukti epidemiologis menunjukkan adanya SGA dengan 

meningkatnya risiko dari kejadian kadar lipid darah yang 

abnormal, diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung 

iskemik pada masa dewasa (hipotesis Barker) (Maulik; 

Harper, 2004; Barker, 1997). 

 

FETAL SURVEILLANCE / PEMANTAUAN FUNGSIONAL 

JANIN 

 

Tes yang dipergunakan yaitu  Non Stress Test (NST), 

Biophysic Profile Score (BPS), Amniotic Fluid Index (AFI) 

dan Doppler Velocimetry dari a. umbilikalis atau pembuluh 

darah lainnya. False Negative Rate (FPR) NST 2-3 per 

1000, NPV 99,8% dan False Positive Rate (FPR) 80%. 

NST dilakukan setiap minggu, dua kali perminggu atau 

setiap hari, tergantung berat ringannya PJT. BPS efektif 

untuk memprediksi keluaran perinatal, FNR 0,8 per 1000, 

NPV 99,9% dan FPR 40%-50%. 

 

Pemantauan biometrik janin dengan USG penting untuk 

menegakkan diagnosis dini PJT, akan namun  yang lebih 

penting yaitu  peranan USG dalam menentukan 

fungsional janin. Hal ini sangat penting oleh sebab  akan 

menentukan etiologi, derajat beratnya PJT, prognosis janin, 

jenis dan waktu tindakan yang harus diambil. 

  

1. Penilaian volume air ketuban : 

 

Ultrasonografi dapat digunakan untuk menilai volume air 

  

 

ketuban secara semi-kuantitatif yang sangat bermanfaat 

dalam mengevaluasi PJT. Penilaian volume air ketuban 

dapat diukur dengan mengukur skor 4 kuadran atau 

pengukuran diameter vertikal kantong amnion yang 

terbesar. Nilai prediksi oligohidramnion untuk PJT berkisar 

antara 79-100% (Phelan, 1985; Manning, 1981). Namun 

demikian volume air ketuban yang normal tidak dapat 

dipakai untuk menyingkirkan kemungkinan adanya PJT. 

Janin PJT dengan oligohidramnion akan disertai dengan 

peningkatan angka kematian perinatal lebih dari 50 kali dari 

bayi normal (Manning, 1981). 

 

Oleh sebab itu oligohidramnion pada PJT diangap sebagai 

suatu keadaan emergensi dan merupakan indikasi untuk 

melakukan terminasi kehamilan pada janin viable. 

Kemungkinan adanya kelainan bawaan yang dapat 

menyebabkan terjadinya oligohidramnion (agenesis atau 

disgenesis ginjal) juga perlu diwaspadai (Phelan, 1985; 

Manning, 1981). 

 

AFI <5 cm dan diameter kantong amnion < 2 cm memiliki 

LR positif sebesar 2,5 dan LR negatif 0,94 dan 0,97 dalam 

memprediksi volume air ketuban < 5 promil. Suatu 

penelitian meta-analisis yang melibatkan 18 penelitian 

dengan 10.000 pasien melaporkan bahwa AFI <5 

berhubungan dengan peningkatan risiko nilai APGAR 5 

menit < 7 (RR:5,2;CI:95%2,4-11,3) (Chauhan, 1999) 

(Evidens level I dan III, rekomendasi B) (Coomarasamy, 

2002) 

 

2. Penilaian kesejahteraan janin : 

 

Dengan mengetahui kesejahteraan janin, dapat dideteksi 

ada tidaknya asfiksia pada janin dengan PJT. Beberapa 

cara pemeriksaan dapat dikerjakan, antara lain 

pemeriksaan BPS. Kematian perinatal akibat asfiksi akan 

meningkat jika nilai skor jumlahnya < 4 (Manning, 1991). 

Hasil penelitian meta-analisis melaporkan bahwa penilaian 

BPS tidak meningkatkan perinatal outcome. Namun pada 

 

 

KRT penilaian BPS memiliki nilai prediksi negatif yang baik. 

Kematian janin lebih jarang pada kelompok dengan BPS 

yang normal (Alfirevic, 1997). (Evidens level Ia, 

rekomendasi A) (Coomarasamy, 2002). Pelaksanaan 

penilaian BPS sangat menyita waktu dan tidak dianjurkan 

pada pemantauan rutin Kehamilan Risiko Rendah (KRR) 

atau untuk surveillance primer janin dengan PJT (Evidens 

level IB, rekomendasi A) 

 

3. Pengukuran Doppler Velocimetry 

 

PJT tipe II yang terutama disebabkan oleh infusiensi 

plasenta akan terdiagnosis dengan baik secara Doppler 

USG. Peningkatan resistensi perifer dari kapiler-kapiler 

dalam rahim (terutama pada HDK) akan ditandai dengan 

penurunan tekanan diastol sehingga S/D ratio akan naik, 

demikian juga PI dan RI. Pada akhir-akhir ini Doppler USG 

dianggap sebagai metode yang paling dini mendiagnosis 

adanya gangguan pertumbuhan sebelum terlihat tanda-

tanda lainnya. 

 

Kelainan aliran darah pada pemeriksaan Doppler baru akan 

terdeteksi dengan pemeriksaan KTG satu minggu 

kemudian. Hilangnya gelombang diastol (AEDF) akan 

diikuti dengan kelainan pada KTG 3-4 hari kemudian. 

Gelombang diastol yang terbalik (REDF) akan disertai 

dengan peningkatan kematian perinatal dalam waktu 48-72 

jam 

 

Dengan demikian pemeriksaan Doppler USG dapat 

digunakan untuk mengetahui etiologi, derajat penyakit dan 

prognosis janin dengan PJT. 

 

4. Pemeriksaan pembuluh darah arteri 

 

a. Arteri umbilikalis 

 

Pada kehamilan yang mengalami PJT, maka gambaran 

gelombang Doppler-nya akan ditandai oleh menurunnya 

 

 

frekuensi akhir diastol. Pada preeklamsi dan adanya PJT 

akan terlihat gambaran gelombang diastol yang rendah 

(reduced), hilang (absent), atau terbalik (reversed). Hal ini 

terjadi akibat adanya perubahan-perubahan pada 

pembuluh darah di plasenta dan umbilikus. Adanya 

sklerosis yang disertai dengan obliterasi lapisan otot polos 

pada dinding arteriole vili khorialis akan menyebabkan 

terjadinya peningkatan tahanan perifer pada pembuluh-

pembuluh darah ini . Sampai pada saat ini 

pemeriksaan arteri umbilikalis untuk mendiagnosis keadaan 

hipoksia janin pada kasus preeklampsi atau PJT masih 

menjadi cara pemeriksaan pilihan oleh sebab  lebih mudah 

mendapatkannya dan mudah interpretasinya (Sebire, 2003) 

 

Hilang (AEDF) atau terbaliknya (REDF) gelombang diastol 

arteri umbilikalis berhubungan dengan peningkatan 

kesakitan dan kematian perinatal. Walaupun kejadian RDS 

dan NEC tidak meningkat dengan kejadian AEDF/REDF, 

namun akan disertai dengan peningkatan kejadian 

perdarahan serebral, anemia dan hipoglikemia. (Karsdorp, 

1994). (Evidens Ia, rekomendasi C) (Coomarasamy, 2002). 

 

Doppler Velocimetry a. umbilikalis pada KRT merupakan 

prediktor keluaran perinatal. Pulsatility Index (PI), 

Systolic/Diastolic ratio (S/D ratio) dan Resistence Index (RI) 

mempunyai sensitifitas 79%, spesifitas 93%, PPV 83%, 

NPV 91% dan Kappa Index 73%. 

 

b. Arteri serebralis media (MCA) 

 

Sirkulasi serebral pada kehamilan trimester I, akan ditandai 

oleh gambaran absent of end-diastolic flow, kemudian 

gelombang diastol mulai akan terlihat sejak akhir trimester 

pertama. Doppler velocimetry pada serebral janin juga 

membantu mengidentifikasi fetal compromise pada 

Kehamilan Risiko Tinggi (KRT). Jika janin tidak cukup 

mendapatkan oksigen akan terjadi central redistribution dari 

aliran darah dengan meningkatnya aliran darah ke otak, 

jantung dan glandula adrenal. Hal ini disebut brain-sparing 

 

 

reflux atau brain-sparing effect (BSE), yaitu redistribusi 

aliran darah ke organ-organ vital dengan cara mengurangi 

aliran darah ke perifer dan plasenta (Abuhamad, 2003). 

 

Pada janin yang mengalami hipoksia (PJT), maka akan 

terjadi penurunan aliran darah  uteroplasenter. Pada 

keadaan ini, gambaran Doppler akan memperlihatkan 

adanya peninggian resistensi atau peninggian indeks 

pulsatilitas arteri umbilikasis yang disertai penurunan 

resistensi  sirkulasi serebral yang terkenal dengan 

fenomena BSE yang merupakan mekanisme kompensasi 

tubuh untuk mempertahankan aliran darah ke otak dan 

organ-organ penting lainnya. Pada keadaan hipoksia yang 

berat, hilangnya fenomena BSE merupakan tanda 

kerusakan yang ireversibel yang mendahului kematian 

janin.  

 

Velositas puncak sistolis MCA merupakan indikator yang 

baik bagi anemia janin dengan inkompatabilitas rhesus, 

namun kurang sensitif untuk menegakkan anemia janin 

pada janin dengan PJT 

 

3. Cerebroplacental ratio (CPR) 

 

Pemeriksaan rasio otak/plasenta (CPR) janin (yaitu nilai PI 

arteri serebralis media (MCA) / nilai PI arteri umbilikalis) 

merupakan alternatif lain untuk mendiagnosis PJT. 

(Bahado-Singh, 1999). Pemeriksaan CPR bermanfaat 

untuk mendeteksi kasus PJT yang ringan. 

 

Janin yang mengalami PJT akibat insufisiensi plasenta 

sebelum kehamilan 34 minggu seringkali disertai dengan 

gambaran Doppler arteri umbilikalis yang abnormal. 

Apabila terjadi gangguan nutrisi sesudah  kehamilan 34 

minggu, bisa terjadi gambaran Doppler arteri umbilikalis 

masih normal walaupun respons MCA abnormal. Oleh 

sebab itu nilai CPR bisa abnormal pada janin dengan PJT 

yang ringan. sesudah  kehamilan 34 minggu, nilai indeks 

Doppler MCA atau CPR yang menurun harus dicurigai 

 

 

akan adanya PJT walaupun indeks arteri umbilikalis masih 

normal (Bahado-Singh, 1999). Pemeriksaan CPR juga 

diindikasikan pada janin yang kecil dengan nilai Doppler a. 

umbilikalis yang normal. Apabila sudah ditemukan 

AEDF/REDF pada a.umbilikalis, maka pemeriksaan CPR 

tidak diperlukan lagi 

 

 

5. Pemeriksaan pembuluh darah vena 

 

a. Vena umbilikalis 

 

Dalam keadaan normal, pada kehamilan trimester I, terlihat 

gambaran pulsasi vena umbilikalis sedangkan pada 

kehamilan >12 minggu gambaran pulsasi ini menghilang 

dan diganti oleh gambaran continuous forward flow. 

Pada keadaan insufisiensi uteroplasenta, gambaran pulsasi 

VU akan terlihat (kembali) pada trimester II-III dan 

gambaran ini menunjukkan keadaan hipoksia yang berat 

sehingga sering dipakai sebagai indikasi untuk menentukan 

terminasi kehamilan 

 

b. Duktus venosus 

 

Duktus venosus (DV) Arantii, pada akhir-akhir ini banyak 

menarik perhatian para ahli untuk diteliti sebab  perannya 

yang penting pada keadaan hipoksia janin. Apabila terjadi 

keadaan hipoksia, maka mekanisme sfingter di 

percabangan VU ke vena hepatika akan bekerja sebaliknya 

akan terjadi penurunan resistensi DV sehingga darah dari 

plasenta (VU) akan lebih banyak diteruskan melalui DV 

langsung ke atrium kanan dan atrium kiri melalui foramen 

ovale. Dengan demikian gambaran penurunan resistensi 

DV yang menyerupai gambaran mekanisme BSE, 

merupakan petanda penting dari adanya hipoksia berat 

pada PJT. Dalam keadaan normal, gambaran arus darah 

DV ditandai oleh adanyan gelombang “A” dari takik akhir 

diastol. Jadi, merupakan gambaran bifasik seperti 

 

 

punggung unta. Puncak yang kedua (gelombang “A”) 

merupakan akibat dari adanyan kontraksi atrium. 

Dengan bertambahnya umur kehamilan maka akan terjadi 

perubahan-perubahan sebagai berikut : terjadi peningkatan 

pada time averaged velocity, peak systolic velocity, dan 

peak diastolic velocity. Sedangkan peak S/D dengan 

sendirinya akan menetap. 

Pada keadaan hipoksia seperti pada preeklamsi atau PJT, 

maka akan terjadi pengurangan aliran darah yang ditandai 

dengan pengurangan atau hilangnya gambaran gelombang 

“A”. Pada hipoksia yang berat bisa terlihat gambaran 

gelombang A yang terbalik. Lebih lanjut dikemukakan 

bahwa pemeriksaan Doppler DV merupakan prediktor yang 

terbaik dibandingkan dengan Doppler arteri uterina dan 

KTG (Bilardo, 2004). 

 

PENGELOLAAN 

 

1. Surveillance janin: systematic review dengan meta- 

analisis menunjukkan bahwa Doppler pada a. 

umbilikalis pada KRT mengurangi morbiditas dan 

mortalitas perinatal. RI a. umbilikalis merupakan 

prediktor luaran perinatal yang jelek seperti SGA, 

APGAR Score yang rendah, KTG yang abnormal dan 

pH tali pusat yang rendah (Evidens II). Jika SGA 

dengan Doppler a. umbilikalis yang normal 

menunjukkan KMK yang kecil tapi normal (Evidens II). 

PuIsatile Index (PI), S/D ratio dan RI mempunyai 

sensitifitas 79%, spesifisitas 93%, PPV 83% dan NPV 

91% Kappa Index 73% (Evidens II). 

2. AFI < 5 cm, single pocket < 2 cm ada hubungannya 

dengan meningkatnya risiko AS < 7 pada 5 menit 

(RR:5,2;95%CI:2,4-11,3) (Evidens I). Reduksi AFV ada 

hubungannya dengan meningkatnya mortalitas 

perinatal dibanding dengan kontrol (Evidens III). 

3. Biophysical Profile Score: ada bukti bahwa BPS pada 

KRT mempunyai NPV yang baik dan pada BPS yang 

normal jarang terjadi kematian janin. Evaluasi BPS 

tidak direkomendasikan untuk pemeriksaan rutin pada 

 

 

KRR. Penilaian BPS pada KRT dikerjakan jika Doppler 

a. umbilikalis abnormal dan mempunyai NPV yang baik. 

Ada bukti bahwa BPS jarang abnormal jika Doppler a. 

umbilikalis normal (Evidens Ib). Nilai BPS efektif untuk 

memprediksi luaran perinatal, FNR 0,8 per 1000, NPV 

99,9% dan FPR 40-50%. Berlainan dengan NST dan 

BPS, efektifitas fetal surveillance dengan cara Doppler 

velocimetry a. umbilikalis pada KRT akan meningkatkan 

luaran perinatal. Hal ini telah dibuktikan dengan meta- 

analisis, terutama pada PJT sebab  preeklamsia. 

4. Evaluasi KTG: FNR NST 2-3 per 1000. NPV 99,8% dan 

FPR 80%. Pemeriksaan NST dilakukan setiap minggu, 

2 kali perminggu atau setiap hari tergantung berat 

ringannya PJT (RCOG Guideline No. 31, 2002). 

 

PERSALINAN  

 

1. Jika End Diastolic (ED) masih ada, persalinan ditunda 

sampai umur kehamilan 37 minggu. Kapan saat 

terminasi kehamilan dengan PJT sangat bervariasi. 

Nilai OR AEDF dan REDF untuk kematian perinatal 

masing-masing 4,0 dan 10,6 dibanding dengan jika End 

Diastolic Flow masih ada. Insidensi RDS dan NEC tidak 

meningkat pada AEDF atau REDF, namun  meningkatkan 

perdarahan otak, anemia atau hipoglikemia (Evidens 

IIa). 

2. Bila pada surveillance didapatkan AEDF atau REDF 

sebaiknya diberikan steroid. Jika yang lain (BPS, 

venous Doppler) abnormal segera diterminasi. Jika 

umur kehamilan > 34 minggu, meskipun yang lain 

normal, terminasi perlu dipertimbangkan.  

3. Pemberian kortikosteoid bila umur kehamilan < 36 

minggu untuk mengurangi kejadian RDS (Evidens Ia) 

4. Persalinan dilakukan di tempat mana ada sumber daya 

manusia dan fasilitas resusitasi yang berpengalaman. 

5. Monitoring intrapartum dengan KTG 

6. Cara persalinan : belum cukup data yang mendukung 

seksio sesaria efektif pada semua KMK 

 

 

Di empat senter Fetomaternal di Indonesia 66,2% janin 

KMK lahir pervaginam, sisanya secara seksio sesaria. Di 

RS Dr. Soetomo Surabaya persalinan pervaginam 66% 

seksio sesaria 34%. 

 

 

Dilakukan terminasi kehamilan bila: 

 

i. Rasio FL/AC biometri ≥ 26, janin termasuk PJT berat 

ii. Doppler velocimetry a atau v umbilikalis (PI ≥ 1,8) yang 

disertai AEDF/REDF  

iii. AFI ≤ 4 

iv. BPS memburuk 

v. KTG: deselerasi lambat 

vi. Tambahan: Doppler a. Uterina, MCA, DV. 

 

Terminasi kehamilan mutlak bila: a, b dan c terpenuhi 

 

Umur kehamilan : 

a. Umur kehamilan ≥ 37 minggu: terminasi kehamilan 

dengan seksio sesaria atau pervaginam bila skala 

Bishop ≥ 5. 

b. Umur kehamilan 32-36 minggu: boleh konservatif se-

lama 10 hari terutama (50%) terjadi pada preeklamsia. 

c. Umur kehamilan < 32 minggu: perawatan konservatif 

tidak menjanjikan, sebagian besar kasus berakhir 

dengan terminasi. 

 

TERAPI LAIN 

 

Bed rest masih dipertanyakan manfaatnya, tidak ada 

perbedaan keluaran janin antara perawatan bed rest 

dengan perawatan jalan/ambulatoir. Bed rest bisa 

menyebabkan thromboembolism, memerlukan biaya dan 

tidak menyenangkan. Nutrisi dengan protein tinggi, 

balanced energy/protein supplementation (protein < 25% 

energi total) dapat mengurangi PJT. 

  

 

Kurang bukti bahwa pemberian oksigen, dekompensasi 

abdomen, obat-obat seperti: Ca channel blocker, beta 

mimetic dan magnesium menguntungkan dan efektif 

mencegah PJT. 

Meta-analisis yang melibatkan 13.000 ibu hamil 

mendapatkan bahwa pemberian aspirin dapat mengurangi 

kejadian PJT namun  gagal dalam meningkatkan keluaran 

perinatal. Pemberian aspirin pada kehamilan risiko tinggi 

tidak mengurangi kejadian PJT namun  mengurangi preterm. 

(Maulik, RCOG, Guideline No. 31, 2002). 

Menurut The Cochrane Library, Issue 3, 2005, bed rest, 

nutrisi, oksigen, beta mimetic, Ca channel blocker dan 

hormon belum ada cukup bukti untuk dievaluasi 

pengaruhnya bagi pengobatan kehamilan dengan janin 

KMK (Say,L,2005) 

 

PENGELOLAAN KEHAMILAN PRETERM DENGAN PJT 

(MUHC Guideline) 

  

Umur Kehamilan < 32 minggu : 

1. Klasifikasi PJT berdasar  etiologi: infeksi, kelainan 

bawaan atau menurunnya sirkulasi feto-plasenter  

2. Tentukan tipe PJT: simetris atau asimetris 

3. Obati keadaan ibu, kurangi stres, peningkatan nutrisi, 

mengurangi rokok dan atau narkotik 

4. Istirahat tidur miring 

5. Pemeriksaan USG untuk evaluasi pertumbuhan dan 

DV a. umbilikalis setiap 3 minggu sampai UK 36 

minggu atau sampai timbul oligohidramnion 

6. Evaluasi BPS setiap minggu termasuk NST, diikuti 

dengan NST saja pada minggu yang sama. 

 

 Dirawat di Rumah Sakit jika : 

1. AFI < 2,5 persentil dengan DV a. umbilikalis normal 

2. Nilai DV a. umbilikalis hilang (AEDF) atau terbalik 

(REDF) 

 

 

 

 Terminasi jika : 

1. Anhidramnion (tidak ada poket) pada UK 30 minggu 

atau lebih 

2. Deselerasi berulang 

3. Selama 2 minggu tidak ada pertumbuhan janin dan 

paru janin sudah masak 

4. Hasil DV : AEDF atau REDF  

 

Umur Kehamilan ≥ 32 minggu : 

1. Klasifikasi PJT berdasar  etiologi: kelainan bawaan, 

infeksi atau menurunnya sirkulasi feto-plasenter  

2. Tentukan tipe PJT: simetris atau asimetris 

3. Obati keadaan ibu, kurangi stres, peningkatan nutrisi, 

mengurangi rokok dan atau obat narkotika 

4. Istirahat tidur miring kekiri 

5. Pemeriksaan USG untuk evaluasi pertumbuhan dan 

DV a. umbilikalis setiap 3 minggu  

6. Setiap minggu dilakukan BPS termasuk NST, diikuti 

dengan hanya NST saja pada minggu yang sama. 

 

 Dirawat di Rumah Sakit jika : 

1. AFI ≤ 5 cm 

2. Atau Ekuivokal BPS (6/10) 

 

 Terminasi jika : 

 Oligohidramnion (AFI < 5 cm) 

1. Umur kehamilan 36 minggu atau lebih 

2. Oligohidramnion pada UK < 36 minggu dikombinasi 

dengan DV a. umbilikalis abnormal. 

 

Abnormal Doppler velocimetry a. umbilikalis : 

1. Pada UK 36 minggu atau lebih 

2. Doppler velocimetry a. umbilikalis REDF sesudah  32 

minggu 

3. Doppler velocimetry a. umbilikalis AEDF sesudah  34 

minggu, jika AEDF pada < 34 minggu, BPS dua kali 

seminggu 

4. AEDF + abnormal NST 

5. AEDF + oligohydramnion 

 

 

 

Abnormal BPS : 

1. Kurang atau sama dengan 4/10 

2. Jika BPS ekuivokal (6/10), dirawat dan ulangi 4-6 jam, 

jika tetap ekuivokal diterminasi. 

 

Pertumbuhan janin yang kurang : 

Jika tidak ada pertumbuhan selama 2 minggu pemeriksaan 

USG serial. 

 

Anhidramnion (tidak ada poket) : 

Deselerasi berulang. 

 

KESIMPULAN 

Secara rasional pengelolaan kehamilan yang tersangka 

PJT bisa dimulai dari tindakan untuk menghilangkan faktor 

risiko seperti infeksi, kekurangan nutrisi, mengobati 

hipertensi, mencegah atau menghilangkan kebiasaan 

merokok, dsb. 

Berbagai upaya intervensi telah dicoba namun hasilnya 

belum dapat direkomendasikan seperti terapi oksigen, 

nutrisi, rawat inap di RS, bed rest, beta-mimetic, calcium 

channel blockers, terapi hormonal, plasma ekspander, 

pemberian aspirin dsb 

Pemberian kortikosteroid pada kehamilan 24-36 minggu 

dapat menurunkan kejadian sindroma distres pernafasan 

(RDS). (Evidens Ia, rekomendasi A). 

Pemantauan kesejahteraan janin dengan Doppler USG, 

KTG dan BPP. Kehamilan diterminasi apabila ditemukan 

gambaran Doppler yang abnormal (AEDF/REDF, A/R 

Ductus Venosus flow, pulsasi v.umbilikalisis), abnormal 

KTG, atau abnormal BPP (Evidens Ia, rekomendasi A) 

(Coomarasamy, 2002). 

Apabila kehamilan akan diakhiri, pada janin yang prematur, 

pilihannya yaitu  seksio sesaria. Pada janin yang aterm, 

induksi persalinan pervaginam dapat dilakukan dengan 

pemantauan intrapartum yang ketat. (Evidens Ia dan III, 

rekomendasi C). Belum tersedia data yang cukup untuk 

 

merekomendasikan bahwa seksio efektif pada semua janin 

dengan PJT. (Evidens Ia) (Coomarasamy, 2002) 

Apabila Doppler a. umbilikalis memperlihatkan gambaran 

ARED atau OCT positif gawat janin maka seksio sesarea 

yaitu  pilihannya. Namun, bila Doppler a. umbilikalis hanya 

memperlihatkan peninggian nilai PI dengan OCT yang 

negatif, maka induksi persalinan pervaginam akan berhasil 

baik pada 30% kasus (Li, 2003). 

Diajurkan agar persalinan dilakukan di unit yang memiliki 

fasilitas dan ahli perinatologi/neonatus yang baik. Harus 

didampingi oleh petugas yang trampil melakukan resusitasi 

bayi. (Evidens IV, rekomendasi C) (Coomarasamy, 2002) 

 


 

PENATALAKSANAAN 

KEHAMILAN 

MULTIFETUS 

 

  

 

Kehamilan multifetus selalu dikaitkan dengan berbagai 

masalah medis dan nonmedis. Saat ini kehamilan 

multifetus/ ganda/ multipel semakin sering terjadi, 

sehubungan dengan metode reproduksi berbantu. 

Kemajuan manajemen perinatologi mendukung penurunan 

angka morbiditas dan mortalitas neonatus pada kehamilan 

ganda. Sejalan dengan hal ini  penyulit dalam 

kehamilan seperti preeklamsia dan perdarahan pada 

kehamilan ganda tetap menjadi masalah yang 

mempengaruhi morbiditas dan mortalitas maternal. Twin to 

twin transfusion syndrome (TTTS) dan kehamilan kembar 

siam yaitu  beberapa penyulit kehamilan ganda yang 

memerlukan perhatian khusus. Panduan berikut bertujuan 

memberikan penjelasan mengenai tatalaksana kehamilan 

multifetus untuk pelayanan kehamilan praktis. 


 


  

   

HARAPAN 

 

Pemahaman atas konsep penatalaksanaan kehamilan 

multifetus akan menurunkan morbiditas dan mortalitas 

maternal dan neonatus.  

 

 

 

Insiden kehamilan multipel terus meningkat, sesuai dengan 

semakin meningkatnya penggunaan obat-obatan untuk 

induksi ovulasi dan Teknologi Reproduksi Berbantu 

(TRB).1,2 Morbiditas dan mortalitas meningkat pada 

kehamilan multipel dibandingkan kehamilan tunggal.1 

Pengaruh kehamilan multipel pada masalah ekonomi, 

sosial dan emosional lebih besar pada