Lanjut usia atau biasa disebut dengan istilah “lansia” merupakan
seseorang yang telah mencapai tahap akhir dalam siklus kehidupan manusia,
yang ditandai dengan usia 60 tahun ke atas. Lansia mengalami suatu proses
alami yang tidak dapat dihindari dan pasti akan dialami. Secara kronologis,
lansia dikategorikan berdasarkan usia, tetapi konsep lansia lebih dari sekadar
penambahan usia
Dalam keperawatan gerontik, lansia dianggap sebagai kelompok orang
yang mengalami perubahan kompleks dalam hal fisik, psikologis, dan sosial.
Perubahan ini mencakup penurunan fungsi fisiologis, seperti penurunan
kekuatan otot, penurunan kapasitas organ, dan penurunan sistem kekebalan
tubuh. Di sisi psikologis, lansia mungkin mengalami perubahan dalam kognitif,
seperti memori dan pemrosesan informasi, serta kesulitan emosional, seperti
adaptasi terhadap kehilangan
Lansia sering kali menghadapi perubahan dalam interaksi sosial, peran
keluarga, dan status ekonomi secara sosial. Dukungan keluarga dan
lingkungan sosial sangat penting untuk kesejahteraan lansia. Untuk membuat
pendekatan keperawatan yang holistik dan berpusat pada kebutuhan orang
tua, yang bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas hidup
mereka seiring dengan bertambahnya usia, sangat penting untuk memahami
konsep dasar ini
Di Indonesia, lansia diatur dalam undang-undang No. 13 Tahun 1998
tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut yaitu seseorang yang telah
mencapai usia lebih dari 60 tahun. menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU Pada
hakekatnya menua bukan suatu penyakit, namun merupakan proses
berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam
maupun dari luar (Kemenkes RI, 2015). Dan pada tahun 2021, dikuatkan oleh
Peraturan Presiden (Perpres) No. 88 Tahun 2021 tentang Strategi Nasional
Kelanjutusiaan. Perpres ini diharapkan dapat mewujudkan lansia yang
mandiri, sejahtera, dan bermartabat
B. Batasan Lansia
Menurut Basuki et al., (2018), yang dikutip dari Organisasi Kesehatan Dunia
atau World Health Organization (WHO), batasan usia lansia meliputi:
1. Usia 45-59 tahun = Usia pertengahan (middle age)
2. Usia 60-74 tahun = Lanjut usia (elderly)
3. Usia 75-90 tahun = Lanjut usia tua (old)
4. Usia diatas 90 tahun = Usia sangat tua (very old)
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), batasan
usia lansia diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Usia 50-64 tahun = Pralansia
2. Usia 65-80 tahun = Lansia muda
3. Usia>80 tahun = Lansia lanjut
Klasifikasi ini membantu dalam merancang program kesehatan dan layanan
yang sesuai untuk setiap kelompok usia
C. Teori Penuaan
Ada beberapa teori yang menjelaskan proses penuaan, yang dapat dibagi
menjadi beberapa kategori antara lain teori biologis, psikologis, sosiologis dan
evolusi. Berikut yaitu beberapa teori utama tentang proses penuaan:
1. Teori Biologis
a. Teori Radikal Bebas: Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab
kerusakan sel yang disebabkan oleh radikal bebas, yaitu molekul yang
sangat reaktif yang dapat merusak komponen seluler seperti DNA,
protein, dan lipid.
b. Teori Genetik: Menyatakan bahwa penuaan dikendalikan oleh genetik
dan bahwa setiap organisme memiliki “jam biologis” yang menentukan
umur panjangnya.
c. Teori Cross-Linking: Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab
pembentukan ikatan silang antara molekul protein yang mengakibatkan
penurunan fungsi jaringan.
d. Teori Apoptosis: Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab kematian sel
terprogram yang terhambat, mengakibatkan penurunan kemampuan
regenerasi sel dan kerusakan sel
2. Teori Psikologis
a. Teori Aktivitas: Menyatakan bahwa individu yang tetap aktif secara fisik
dan sosial cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan
penuaan yang lebih sehat.
6
b. Teori Disengagement: Menyatakan bahwa penuaan yaitu proses alami
di mana individu secara bertahap menarik diri dari peran sosial dan
tanggung jawab
3. Teori Sosiologis
a. Teori Continuity: Menyatakan bahwa individu yang mempertahankan
pola hidup, kebiasaan, dan hubungan sosial yang konsisten sepanjang
hidup mereka cenderung mengalami penuaan yang lebih positif.
b. Teori Modernisasi: Menyatakan bahwa perubahan dalam struktur sosial
dan ekonomi, seperti urbanisasi dan industrialisasi, dapat mempengaruhi
status dan peran lansia dalam masyarakat (Ilmarinen, 2012).
4. Teori Evolusi
a. Teori Seleksi Antagonistik Pleiotropik (Antagonistic Pleiotropy Theory):
Mengusulkan bahwa beberapa gen yang bermanfaat untuk reproduksi
dan kelangsungan hidup pada usia muda memiliki efek merugikan pada
kesehatan di usia tua. Gen ini tetap dipertahankan sebab manfaatnya di
usia muda melebihi kerugiannya di kemudian hari.
b. Teori Akumulasi Mutasi (Mutation Accumulation Theory): Berpendapat
bahwa seleksi alam menjadi kurang efektif pada usia lanjut, sehingga
mutasi yang merugikan bisa terakumulasi tanpa diseleksi keluar dari
populasi, yang kemudian berkontribusi pada penuaan dan kematian
D. Faktor Yang Mempengaruhi Proses Penuaan dan Perubahan pada Lansia
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu:
1. Faktor Internal
a. Genetika: genetika berperan besar dalam menentukan bagaimana
seseorang menua. Gen yang diwariskan dapat mempengaruhi
kecepatan dan cara penuaan, termasuk risiko penyakit kronis yang
terkait dengan usia, seperti alzheimer dan penyakit jantung
b. Hormon: perubahan hormonal, seperti penurunan produksi hormon
estrogen pada wanita setelah menopause atau penurunan testosteron
pada pria, dapat mempengaruhi proses penuaan, termasuk densitas
tulang, distribusi lemak tubuh, dan fungsi seksual
c. Metabolisme: laju metabolisme yang menurun seiring bertambahnya
usia dapat mempengaruhi berat badan, energi, dan kemampuan tubuh
untuk memperbaiki jaringan
d. Sistem kekebalan tubuh: sistem kekebalan tubuh cenderung melemah
dengan bertambahnya usia, yang membuat tubuh lebih rentan
terhadap infeksi dan penyakit
e. Sistem sel: Pada sel jumlahnya berkurang, ukuran membesar, cairan
tubuh menurun, dan cairan intraseluler menurun.
f. Sistem Organ:
1) Sistem kardiovaskuler katup jantung menebal dan kaku,
kemampuan memompa darah menurun, elastisitas pembuluh
darah menurun, resistensi pembuluh darah meningkat atau
hipertensi.
2) Sistem respirasi, kekuatan otot pernafasan menurun, elastisitas paru
menurun, kemampuan batuk menurun, dan dypsnea.
3) Sistem persarafan, terjadi penurunan pada seluruh panca indera
dan menurunnya respon atau reflek motorik maupun sensorik.
4) Sistem urinaria, otot vesika urinaria menurun, hipertropi prostat,
dan gangguan pada ginjal.
5) Sistem gastrointestinal, esofagus melebar, rasa lapar menurun,
peristaltik menurun, ukuran lambung mengecil dan asam lambung
menurun.
6) Sistem muskuloskeletal biasanya kadar kapur (kalsium) dalam
tulang menurun sehingga mengakibatkan pengeroposan tulang
atau osteoporosis dan mudah patah.
7) Sistem endokrin, mengalami penurunan produksi hormon.
8) Pada kulit keriput dan menipis, rambut di dalam hidung dan telinga
menebal, kuku keras dan rapuh, serta rambut memutih.
2. Faktor Eksternal
a. Perubahan Sosial
1) Peran meliputi post power syndrome (pensiun dan PHK), single
woman, dan single parent (orang tua tunggal).
2) Keluarga dan teman meliputi kehilangan (meninggal) dan
kesendirian
3) Ekonomi, politik, hukum, agama, pendidikan, rekreasi, keamanan, dan
transportasi.
8
b. Perubahan Psikologi
Perubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory
(penurunan fungsi kognitif dan aktivitas fisik), frustasi, depresi,
kecemasan, dan takut kehilangan kebebasan serta takut menghadapi
kematian.
c. Perubahan Lingkungan
Paparan terhadap polusi, radiasi ultraviolet dari sinar matahari, dan bahan
kimia berbahaya dapat mempercepat penuaan kulit dan meningkatkan
risiko penyakit kronis.
d. Gaya Hidup
Kebiasaan seperti pola makan, aktivitas fisik, konsumsi alkohol, dan
merokok memiliki dampak signifikan terhadap penuaan. Misalnya, pola
makan yang tidak sehat dapat mempercepat penuaan, sementara
olahraga teratur dapat memperlambatnya.
e. Stressor
Stres yang datang dari berbagai factor eksternal dapat berdampak
negatif pada kesehatan secara keseluruhan dan mempercepat proses
penuaan melalui mekanisme seperti peningkatan kadar kortisol, hormon
stres yang dapat merusak jaringan tubuh
E. Masalah pada lansia
dalam usaha peningkatan kualitas hidup,
lansia sering menghadapi berbagai masalah yang dapat mempengaruhi
kualitas hidup mereka. Masalah-masalah ini dapat berupa masalah fisik,
psikologis, sosial, maupun ekonomi. Akibatnya, diperlukan dukungan dari
berbagai pihak baik keluarga maupun lainnya, termasuk intervensi medis,
sosial, dan lingkungan.
Berikut yaitu beberapa masalah umum yang sering dialami oleh lansia:
1. Masalah Kesehatan Fisik
a. Penyakit Kronis: Banyak lansia menderita penyakit kronis seperti
diabetes, hipertensi, penyakit jantung, arthritis, dan osteoporosis.
Penyakit-penyakit ini sering kali memerlukan perawatan jangka panjang
dan dapat mempengaruhi mobilitas serta kualitas hidup.
b. Kehilangan Mobilitas: Penurunan kekuatan otot, keseimbangan, dan
kepadatan tulang dapat memicu kesulitan dalam bergerak,
meningkatkan risiko jatuh, dan membuat lansia lebih tergantung pada
orang lain.
c. Gangguan Indera: Penurunan pendengaran, penglihatan, dan fungsi
indera lainnya dapat membuat lansia kesulitan dalam berkomunikasi,
membaca, dan menjalani aktivitas sehari-hari.
d. Malnutrisi: Lansia berisiko mengalami malnutrisi akibat penurunan
nafsu makan, gangguan pencernaan, atau masalah gigi yang membuat
mereka sulit makan.
e. Gangguan Tidur Insomnia dan gangguan tidur lainnya sering terjadi
pada lansia, yang dapat memicu kelelahan, penurunan kognitif,
dan gangguan mood.
2. Masalah Kesehatan Mental
a. Depresi: Depresi yaitu masalah kesehatan mental yang umum pada
lansia, sering kali disebabkan oleh isolasi sosial, kehilangan orang yang
dicintai, pensiun, atau penyakit kronis.
b. Demensia: Penyakit seperti Alzheimer dapat memicu penurunan
kognitif yang signifikan, mempengaruhi memori, pemikiran, dan
kemampuan berfungsi sehari-hari.
c. Kecemasan: Lansia juga mungkin mengalami kecemasan yang
disebabkan oleh ketidakpastian tentang kesehatan, keuangan, atau
perubahan hidup lainnya.
3. Masalah Sosial
a. Isolasi Sosial: Lansia sering kali mengalami isolasi sosial akibat
kehilangan pasangan, teman, atau anggota keluarga, serta penurunan
mobilitas yang membatasi partisipasi dalam kegiatan sosial.
b. Kehilangan Peran Sosial: Pensiun dan perubahan dalam peran sosial
dapat memicu perasaan kehilangan identitas dan harga diri, serta
meningkatkan risiko depresi.
c. Kekerasan dan Penelantaran: Beberapa lansia mungkin menjadi korban
kekerasan fisik, emosional, atau finansial, atau mengalami penelantaran
oleh pengasuh atau keluarga.
4. Masalah Ekonomi
a. Kesulitan Keuangan: Banyak lansia menghadapi masalah keuangan
akibat pensiun, biaya perawatan kesehatan yang tinggi, atau kurangnya
dukungan finansial dari keluarga. Hal ini dapat memicu stres dan
kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar.
b. Ketergantungan Finansial: Lansia yang tidak memiliki sumber
pendapatan yang memadai mungkin bergantung pada keluarga atau
bantuan pemerintah, yang dapat memicu rasa tidak nyaman atau
penurunan harga diri.
5. Masalah Lingkungan
a. Perumahan yang Tidak Sesuai: Banyak lansia tinggal di rumah atau
lingkungan yang tidak dirancang untuk kebutuhan mereka, seperti
rumah dengan tangga yang curam atau akses yang sulit ke fasilitas
umum.
b. Kurangnya Akses ke Layanan Kesehatan: Lansia yang tinggal di daerah
terpencil atau tidak memiliki transportasi yang memadai mungkin
kesulitan mengakses layanan kesehatan yang mereka butuhkan.
4. Menurut WHO dalam Ahmad & Damayanti, (2018). Dijelaskan bahwa:
a. Teori Radikal Bebas
Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab kerusakan sel yang
disebabkan oleh radikal bebas, yaitu molekul yang sangat reaktif yang
dapat merusak komponen seluler seperti DNA, protein, dan lipid.
b. Teori Genetik
Menyatakan bahwa penuaan dikendalikan oleh genetik dan bahwa
setiap organisme memiliki “jam biologis” yang menentukan umur
panjangnya.
c. Teori Cross-Linking
Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab pembentukan ikatan silang
antara molekul protein yang mengakibatkan penurunan fungsi
jaringan.
d. Apoptosis
Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab kematian sel terprogram
yang terhambat, mengakibatkan penurunan kemampuan regenerasi
sel dan kerusakan sel
5. Menurut Basuki et al., (2018). Dijelaskan bahwa:
a. Teori Aktivitas: Menyatakan bahwa individu yang tetap aktif secara fisik
dan sosial cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan
penuaan yang lebih sehat.
b. Teori Disengagement: Menyatakan bahwa penuaan yaitu proses
alami di mana individu secara bertahap menarik diri dari peran sosial
dan tanggung jawab.
6. Menurut Ilmarinen, (2012). Dijelaskan bahwa:
a. Teori Continuity: Menyatakan bahwa individu yang mempertahankan
pola hidup, kebiasaan, dan hubungan sosial yang konsisten sepanjang
hidup mereka cenderung mengalami penuaan yang lebih positif.
b. Teori Modernisasi: Menyatakan bahwa perubahan dalam struktur
sosial dan ekonomi, seperti urbanisasi dan industrialisasi, dapat
mempengaruhi status dan peran lansia dalam masyarakat.
7. Menurut Mitteldorf, (2019). Dijelaskan bahwa:
a. Teori Seleksi Antagonistik Pleiotropik (Antagonistic Pleiotropy Theory):
Mengusulkan bahwa beberapa gen yang bermanfaat untuk reproduksi
dan kelangsungan hidup pada usia muda memiliki efek merugikan
pada kesehatan di usia tua. Gen ini tetap dipertahankan sebab
manfaatnya di usia muda melebihi kerugiannya di kemudian hari.
b. Teori Akumulasi Mutasi (Mutation Accumulation Theory): Berpendapat
bahwa seleksi alam menjadi kurang efektif pada usia lanjut, sehingga
mutasi yang merugikan bisa terakumulasi tanpa diseleksi keluar dari
populasi, yang kemudian berkontribusi pada penuaan dan kematian.
8. Ada 2 macam, antara lain:
a. Faktor Internal menurut antara
lain: Genetika, Hormon, Metabolisme, Sistem kekebalan tubuh, Sistem
sel, dan Sistem Organ
b. Faktor Eksternal menurut , antara lain: Perubahan Sosial, Perubahan Psikologi, Perubahan
Lingkungan, Gaya Hidup, dan Stressor
9. Masalah Kesehatan Fisik, Masalah Kesehatan Mental, Masalah Sosial,
Masalah Ekonomi, dan Masalah Lingkungan.
G. Rangkuman Materi
Lansia yaitu individu yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas,
mengalami proses alami yang melibatkan perubahan fisik, psikologis, dan
sosial. Lansia mengalami penurunan fungsi fisiologis, kognitif, dan sosial. Di
Indonesia, lansia diatur oleh UU No. 13 Tahun 1998 dan Perpres No. 88 Tahun
2021, yang menekankan pentingnya kesejahteraan lansia.
Batasan Lansia Menurut WHO, lansia dibagi menjadi:
1. Usia 45-59 tahun: Usia pertengahan.
2. Usia 60-74 tahun: Lansia.
3. Usia 75-90 tahun: Lansia tua.
4. Usia di atas 90 tahun: Usia sangat tua.
Menurut Kemenkes RI, batasannya yaitu Pra Lansia (45-59 tahun) dan Lansia
(60 tahun ke atas).
Teori Penuaan Teori penuaan dibagi menjadi:
1. Teori Biologis seperti Radikal Bebas, Genetik, Cross-Linking, dan Apoptosis.
2. Teori Psikologis seperti Aktivitas dan Disengagement.
3. Teori Sosiologis seperti Continuity dan Modernisasi.
4. Teori Evolusi seperti Seleksi Antagonistik Pleiotropik dan Akumulasi
Mutasi.
Proses penuaan dipengaruhi oleh faktor internal (genetika, hormon,
metabolisme, sistem kekebalan tubuh, dan sistem organ) dan faktor eksternal
(perubahan sosial, psikologi, lingkungan, gaya hidup, dan stressor). Lansia
menghadapi masalah kesehatan fisik (penyakit kronis, gangguan mobilitas,
indera, malnutrisi, gangguan tidur), kesehatan mental (depresi, demensia,
kecemasan), sosial (isolasi, kehilangan peran, kekerasan), ekonomi (kesulitan
keuangan, ketergantungan finansial), dan lingkungan (perumahan tidak sesuai,
kurang akses layanan kesehatan).
H. Glosarium
CTL : Contextual Teaching and Learning
Kemenkes : Kementerian Kesehatan
M.Kep : Magister Keperawatan
No. : Nomor
Ns : Ners
Perpres : Peraturan Presiden
PHK : Putus Hubungan Kerja
RI : Republik Indonesia
SDL : Self-Directed Learning
SGD : Small Group Discussion
S.Kep : Sarjana Keperawatan
SWT : Subhanallahu Waa Ta’alla
UU : Undang-undang
WHO : World Health Organization
KOMUNIKASI TERAPEUTIK SESUAI DENGAN
MASALAH DAN PERKEMBANGAN LANJUT
USIA
A. Komunikasi dengan lansia
Komunikasi yaitu proses interpersonal yang melibatkan perubahan
verbal dan non verbal dari informasi dan ide. Komunikasi mengacu tidak hanya
pada isi tetapi juga pada perasaan dan emosi dimana individu menyampaikan
hubungan (Potter-Perry, 301). Komunikasi yang baik akan sangat membantu
dalam keterbatasan kapasitas fungsional, sosial, ekonomi, perilaku emosi yang
labil pada pasien lanjut usia (William et al., 2007). Komunikasi efektif dapat
mengikutsertakan partisipasi pasien dalam pengambilan keputusan. Dalam
melakukan komunikasi dengan lansia perlu memperhatikan kelemahan-
kelemahan yang mungkin dimiliki oleh lansia sehingga komunikasi bisa lebih
efektif dan saling percaya antar lansia dengan tenaga kesehatan bisa terjalin.
Komunikasi yaitu keterampilan inti dalam profesi keperawatan.
Kemampuan dalam berkomunikasi secara efektif memiliki peranan penting
untuk mengumpulkan data dan berbagi informasi serta untuk membangun
hubungan dengan pasien dan keluarga mereka. Sebagai Perawat kita perlu
mempelajari dan mempraktikkan seni komunikasi khususnya pada lansia,
terlebih berkomunikasi dengan orang dewasa yang lebih tua dapat
menimbulkan kecemasan dan penuh dengan tantangan. Tantangan-tantangan
ini mungkin dikaitkan dengan masalah daya ingat lansia,maupun terkait
dengan karakteristik fisiologis atau psikososial yang terkait dengan penuaan.
Tujuan dari bab ini yaitu untuk meninjau prinsip-prinsip dasar komunikasi
dan menyajikan strategi untuk berkomunikasi dengan lansia. Informasi ini
harus mendorong pengembangan keterampilan yang dibutuhkan untuk
berkomunikasi secara efektif dan meningkatkan kesehatan yang optimal untuk
lanjut usia.
1. Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi dengan Lansia
a. Komunikasi pada lanjut usia dapat menjadi lebih sulit akibat dari
gangguan sensori yang terkait usia dan penurunan memori. Lansia
yang mengalami masalah pendengaran ataupun kesulitan dalam
mengingat dapat menjadi kendala tersendiri sehingga dapat menjadi
sumber dari kesalahpahaman dan ketidaksampaian informasi yang
akurat. Oleh sebab itu sebagai tenaga kesehatan, perlunya kita
memahami adanya kondisi ini sebelum melakukan komunikasi
lanjutan dengan lansia
19 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan
Perkembangan Lanjut Usia
b. Klien lanjut usia umumnya lebih sedikit bertanya dan menunggu untuk
ditanya sesuai kewenangan tenaga kesehatan. Jangan memaksakan
untuk lansia menjawab semua pertanyaan yang diajukan terutama
bagi lansia yang mengalami masalah memori. Sebagai tenaga
kesehatan, perlunya pro aktif dalam melakukan komunikasi dengan
lansia agar informasi yang diharapkan dapat diperoleh dengan
maksimal.
c. Ageism lazim dijumpai pada perawatan kesehatan dan secara tidak
sengaja berperan terhadap buruknya komunikasi dengan pasien lanjut
usia
d. Penyakit Kronis
Salah satu faktor yang menghambat komunikasi dengan lansia yaitu
adanya penyakit kronis yang dialami lansia. Hal ini memicu
kadang lansia lebih apatis dan kurang dalam merespon terhadap
lansia.
2. Teknik agar Komunikasi dapat Berlangsung Efektif
Sebelum melakukan komunikasi dengan lansia, ada beberapa teknik yang
perlu diperhatikan diantaranya:
a. Mulai komunikasi dengan melakukan pengecekan dahulu pada fungsi
pendengaran klien. Hal ini penting dilakukan agar informasi yang akan
disampaikan kepada klien dapat tersampaikan dengan baik sebab
banyak informasi yang tidak sampai sebab tenaga kesehatan tidak
memahami bahwa lansia ini memiliki masalah pada gangguan
pendengaran.
Jika diperlukan keraskan suara saat terjadi masalah pendengaran
pada lansia, maka jika diperlukan, perawat/ tenaga kesehatan
menambah volume suaranya sehingga lansia ini dapat memahami
informasi yang akan di sampaikan kepada klien.
b. Tempatkan perhatian klien sebelum memulai untuk berkomunikasi.
Pandanglah klien sehingga klien dapat melihat gerakan mulut kita. Hal
ini perlu dilakukan untuk memfokuskan perhatian lansia kepada kita
selain itu bagi lansia yang mengalami gangguan pendengaran, dengan
menghadapkan posisis klien dihadapan perawat, klien dengan mudah
mengikuti gerakan mulut perawat saat berkomunikasi
c. Pengaturan lingkungan sangat dianjurkan sehingga lingkungan lebih
kondusif untuk berkomunikasi yang baik. Kurangi gangguan visual dan
auditori seta pastikan pencahayaan yang cukup.
d. Jika lansia ini memiliki gangguan komunikasi, perhatikan
kelemahannya sehingga lebih mudah dalam proses komunikasi.
Jangan berharap untuk berkomunikasi dengan cara yang sama dengan
orang yang tidak mengalami gangguan komunikasi
e. Berbicara dengan pelan dan jelas saat menatap matanya, gunakan
kalimat pendek dan bahasa yang sederhana. Hal ini penting dilakukan
dimana seorang lansia memiliki banyak keterbatasan dengan bahasa
yang singkat dan sederhana, seorang lansia akan lebih mudah
mencerna kata-kata yang kita sampaikan.
f. Bantu kata-kata anda dengan isyarat visual
saat komunikasi dengan memakai kata-kata tidak
tersampaikan dengan baik, perawat perlu mencari alternatif lain
misalnya dengan memakai isyarat visual yang dapat dimengerti
oleh lansia ini .
g. Berikan klien waktu untuk bertanya atau mengklarifikasi pertanyaan
atau jawaban yang diberikan. Dalam melakukan komunikasi lansia,
perlunya waktu yang diberikan kepada lansia untuk bertanya atau
mengklarifikasi kata-kata yang mungkin masih belum dimengerti. Hal
ini penting untuk menghindari adanya miskomunikasi antar klien dan
perawat.
h. Jadilah pendengar yang baik saat melakukan komunikasi dengan klien.
Kebanyakan lansia akan mencurahkan semua isi hati hati nya serta apa
yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga untuk
kelancaran dalam menjalin komunikasi dengan seorang lansia,
adakalanya perawat harus menjadi pendengar yang baik. Biarkan
lansia ini menceritakan atau mencurahkan isi hatinya hingga
pada waktu perawat bisa menjalin komunikasi dengan baik dengan
klien ini . Ikutkan keluarga yang merawat pasien di dalam
ruangan saat proses komunikasi akan dilaksanakan sebab biasanya
orang terdekat klien sangat memahami pola komunikasi klien
sehingga dapat membantu saat proses komunikasi.
3. Penerapan Model Komunikasi pada Lansia
21 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan
Perkembangan Lanjut Usia
Berbagai penerapan model yang dapat diaplikasikan dalam melakukan
komunikasi denga lansia diantaranya:
a. Model komunikasi Shannon Weaver
Model komunikasi Shannon Weaver yaitu model yang diterapkan
dengan melibatkan anggota keluarga sebagi transmitter untuk
mengenal lebih jauh tentang klien. Keluarga merupakan orang terdekat
dari klien sehingga secara emosional lebih memahami pola komunikasi
klien dalam sehari-hari. Kelebihan dari model ini yaitu dalam proses
komunikasi, anggota keluarga atau orang lain yang berpengaruh
dilibatkan. Namun kekurangannya memerlukan waktu yang cukup lama
sebab klien dalam reaksi penolakan sehingga tidak dapat melakukan
evaluasi sebab tidak ada umpan balik dalam proses komunikasi
ini .
b. Model SMCR
Kelebihan dari model ini yaitu proses komunikasi simple sehingga
model ini efektif bila keadaan lansia sehat belum banyak mengalami
penurunan secara fisik maupun psikis. Sedangkan kekurangan dari
model ini bahwa klien tidak memenuhi syarat seperti yang ditetapkan.
Proses lamanya tergantung pada kondisi pasien.
c. Model Leary
Kelebihan dari model ini yaitu terjadi interaksi atau relationship antara
perawat dan klien sehingga masalah lebih mudah diselesaikan. Namun
dalam model ini perawat lebih dominan sedangkanklien harus patuh.
d. Model Terapeutik
Yaitu bentuk komunikasi yang membantu mendorong melakukan
komunikasi dengan sifat empati, menghargai dan harmonis sehingga
lansia akan lebih paham atas apa yang dibicarakan. Namun kondisi
empati ini kurang cocok diterapkan pada lansia yang memiliki reaksi
penolakan.
e. Model Kayakinan Kesehatan
Model ini menekankan pada persepsi klien untuk mencari sehat,
menjauhi sakit, merasakan adanya ancaman/ manfaat untuk
mempertahankan kesehatannya.
f. Model Komunikasi Kesehatan
Model komunikasi ini berfokus pada transaksi antar profesional
kesehatan-klien yang sesuai dengan permasalahan kesehatan klien.
B. Komunikasi dengan kelompok keluarga lansia
1. Libatkan keluarga atau pihak terdekat untuk membantu perawat
memperoleh sumber informasi atau data dan mengefektifkan rencana atau
tidakan agar dapat terealisasi dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut:
- Melibatkan keluarga atau pihak terdekat dalam membantu klien untuk
menentukan perasaannya
- Meluangkan waktu untuk menerangkan kepada mereka yang
bersangkutan tentang masalah klien dan hal-hal yang dapat dilakukan
dalam rangka membantu
- Hendaknya pihak lain memuji usaha klien dalam usaha untuk
menerima kenyataan
- Menyadarkan pihak terkait akan pentingnya hukuman (bukan
hukuman fisik) apabilan klien memakai penolakan.
2. Pendekatan perawatan lansia dalam konteks komunikasi
a. Pendekatan fisik
Mencari informasi tentang kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian,
yang dialami, peruban fisik organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih
bisa di capai dan dikembangkan serta penyakit yang dapat dicegah
progresifitasnya. Pendekatan ini relative lebih mudah dilaksanakan dan
dicarikan solusinya sebab riil dan mudah di observasi
b. Pendekatan psikologis
sebab pendekatan ini sifatnya abstrak dan mengarah pada perubahan
perilaku, maka umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk
melaksanakan pendekatan ini perawat berperan sebagai konselor,
advokat, supporter, interpreter terhadap sesuatu yang asing atau
sebagai penampung masalah-masalah yang pribadi dan sebagai
sahabat yang akrab bagi klien.
c. Pendekatan sosial
Pendekatan ini dilakukan untuk meningkatkan keterampilan
berinteraksi dalam lingkungan. Mengadakan diskusi, tukar pikiran,
bercerita, bermain, atau mengadakan kegiatan-kegiatan kelompok
merupakan implementasi dari pendekatan ini agar klien dapat
berinteraksi dengan sesama klien maupun dengan petugas kesehatan
d. Pendekatan spritual
23 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan
Perkembangan Lanjut Usia
Perawat harus bisa memberi kepuasan batin dalam hubunganya
dengan Tuhan atau agama yang dianutnya terutama saat klien
dalam keadaan sakit.
3. Teknik Komunikasi Pada Lansia
Untuk dapat melaksanakan komunikasi yang efektif kepada lansia,
selain pemahaman yang memadai tentang karakteristik lansia, petugas
kesehatan atau perawat juga harus memiliki teknik-teknik khusus agar
komunikasi yang dilakukan dapat berlangsung secara lancar dan sesuai
dengan tujuan yang diinginkan. Beberapa teknik komunikasi yang dapat
di terapkan antara lain:
a. Tehnik asertif
Asertif yaitu sikap yang dapat menerima, memahami pasangan
bicara dengan menunjukan sikap peduli, sabar untuk mendengarkan
dan memperhatikan saat pasangan bicara agar maksud komunikasi
atau pembicaraan dapat di mengerti. Asertif merupakan pelaksanaan
dan etika berkomunikasi. Sikap ini akan sangat membantu petugas
kesehatan untuk menjaga hubungan yang terapeutik dengan klien
lansia.
b. Responsif
Reaksi petugas kesehatan terhadap fenomena yang terjadi pada klien
merupakan bentuk perhatian petugas kepada klien. saat perawat
mengetahui adanya perubahan sikap atau kebiasaan klien sekecil
apapun hendaknya menanyakan atau klarifikasi tentang perubahan
ini misalnya dengan mengajukan pertanyaan ‘apa yang sedang
bapak/ ibu pikirkan saat ini, ‘apa yang bisa bantu?, berespon berarti
bersikap aktif tidak menunggu permintaan bantuan dari klien. Sikap
aktif dari petugas kesehatan ini akan menciptakan perasaan tenang
bagi klien.
c. Fokus
Sikap ini merupakan usaha perawat untuk tetap konsisten terhadap
materi komunikasi yang di inginkan. saat klien mengungkapkan
pertanyaan-pertanyaan di luar materi yang diinginkan, maka perawat
hendaknya mengarahkan maksud pembicaraan. usaha ini perlu di
perhatikan sebab umumnya klien lansia senang menceritakan hal-hal
yang mungkin tidak relevan untuk kepentingan petugas kesehatan.
24
d. Supportif
Perubahan yang terjadi pada lansia, baik pada aspek fisik maupun
psikis secara bertahap memicu emosi klien relative menjadi labil
perubahan ini perlu di sikapi dengan menjaga kesetabilan emosi klien
lansia, mesalnya dengan mengiyakan, senyum dan mengagukkan
kepala saat lansia mengungkapkan perasaannya sebagai sikap
hormat menghargai selama lansia berbicara. Sikap ini dapat
menumbuhkan kepercayaan diri klien lansia sehingga lansia tidak
menjadi beban bagi keluarganya. Dengan demikian diharapkan klien
termotivasi untuk menjadi dan berkarya sesuai dengan
kemampuannya. Selama memberi dukungan baik secara materiil
maupun moril, petugas kesehatan jangan terkesan menggurui atau
mangajari klien sebab ini dapat merendahkan kepercayaan klien
kepada perawat atau petugas kesehatan lainnya.
e. Klarifikasi
Dengan berbagai perubahan yang terjadi pada lansia, sering proses
komunikasi tidak berlangsung dengan lancar. Klarifikasi dengan cara
mengajukan pertanyaan ulang dan memberi penjelasan lebih dari satu
kali perlu di lakukan oleh perawat agar maksud pembicaraan kita dapat
di terima dan dipersepsikan sama oleh klien.
Komunikasi antara perawat dengan pasien geriatri sangat berbeda
dengan saat berkomunikasi dengan pasien dewasa. Perbedaan terjadi
sebab pada pasien geriatri, sebab pasien mengalami berbagai gangguan
yang bisa menghambat komunikasi antara perawat dan pasien, perawat
harus mempelajari apa yang disebut dengan komunikasi terapeutik.
Sejatinya, perawat berkomunikasi dengan pasien, dalam rangka
meningkatkan kesembuhan pasien. sebab itu dalam komunikasi
terapeutik, saat berkomunikasi, akan tergantung bagaimana gangguan
yang dialami pasien geriatri, dan disesuaikan dengan tingkat kesadaran
nilai GCS (Glasgow Coma Scale).
Cara berkomunikasi dengan pasien yang mengalami gangguan
pendengaran sangat berbeda dengan pasien yang mengalami gangguan
penglihatan atau pasien yang mengalami pikun atau demensia. Saat
melakukan komunikasi terapeutik, akan melakukan tindakan, perawat
harus memberitahukan pasien tindakan apa yang akan dilakukan, berapa
lama waktu yang diperlukan, dan tujuan dari tindakan. Misalnya, perawat
25 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan
Perkembangan Lanjut Usia
akan memberi obat lewat suntikan, harus memberitahukan pasien
terkait tujuan dilakukan pemberian obat lewat suntikan, berapa lama
waktu yang dibutuhkan dan obat yang akan diberikan serta kemungkinan
efeknya.
Hal penting saat perawat akan melakukan tindakan apa serta
tujuannya yaitu: Pertama, perawat harus memperkenalkan diri, terlebih jika
baru pertama kali bertemu dengan pasien. Kedua, dijelaskan si perawat
akan bertugas dari jam berapa hingga jam berapa, dan bertugas di ruang
apa saja. Ketiga, memberitahukan tindakan yang akan dilakukan, misalnya
suntikan, obatnya, tujuannya apa, dan berapa waktu yang diperlukan, serta
di bagian mana pasien akan disuntik. Kita jelaskan hal-hal ini hingga
pasien benar-benar mengerti, baru tindakan bisa dilakukan. Jika pasien
ingin tindakan ditunda, misalnya ingin dilakukan setelah makan, jika
memang bisa ditunda maka keinginan pasien bisa dipenuhi. Jika memang
harus segera dilakukan, sebab pemberian obat harus tepat waktu, maka
pasien harus diberi pengertian, susaha pasien menyadari tindakan ini
penting untuk dilaksanakan. Keempat, saat tindakan sudah dilakukan,
kita berikan waktu untuk meihat respons pada pasien, apakah ada keluhan,
kita evaluasi dan jelaskan kalau terjadi reaksi tertentu beberapa jam setelah
tindakan. Kelima, pasca tindakan perawat harus memberitahukan dimana
pasien bisa mengontak dirinya, dan kapan akan kembali ke pasien untuk
tindakan berikutnya.
Komunikasi terapeutik yang harus dilakukan pada pasien geriatri
yang memiliki gangguan fisik yang berbeda? Pertama, saat assesment,
perawat harus mengerti gangguan fisik yang dialami pasien yang mungkin
menghambat pola komunikasi.
Kedua, setelah mengetahui, perawat berkomunikasi dengan
pasien dengan memperhatikan bagian fisik yang mengalami gangguan.
Misalnya, jika ada gangguan pendengaran di telinga sebelah kiri, maka
perawat harus berbicara dari sisi sebelah kanan, demikian juga sebaliknya.
Ketiga, saat pasien mengalami gangguan pendengaran pada kedua
telinga, gunakan tulisan agar pasien mengerti. Jika pasien tidak mengalami
gangguan pendengaran tetapi mengalami gangguan penglihatan, maka
komunikasi dengan suara akan lebih efektif. Keempat, jika berkomunikasi
dengan pasien demensia atau pikun, perawat tidak boleh menjelaskan
terlalu panjang lebar. Berkomunikasihlah dengan singkat, pada, jelas
sehingga bisa dimengerti oleh pasien. Kalau penjelasan terlalu panjang
lebar dikhawatirkan pasien akan bingung
C. Masalah komunikasi yang umum terjadi pada lansia
1. Pasien dengan Defisit Sensorik
Defisit sensorik yaitu suatu kerusakan dalam fungsi normal
penerimaan dan persepsi sensori. Individu tidak mampu menerima stimulus
tertentu (misalnya kebutaan atau tuli), atau stimulus menjadi distorsi
(misalnya penglihatan kabur sebab katarak). Kehilangan sensori secara tiba-
tiba dapat memicu ketakutan, marah, dan perasaan tidak berdaya.
Apabila indera rusak maka perasaan terhadap diri juga rusak. Pada awalnya
individu bersikap menarik diri dengan menghindari komunikasi atau
sosialisasi dengan orang lain dalam suatu usaha untuk mengatasi
kehilangan sensori.
Klien yang mengalami defisit sensori dapat mengubah perilaku
dalam cara-cara yang adaptif atau maladaptif. Sebagai contoh, seorang
klien yang mengalami kerusakan pendengaran dapat memutar telinga yang
tidak terganggu kearah pembicara untuk mendengar dengan lebih baik,
sementara klien lain mungkin menghidar dari orang lain untuk menghidari
malu sebab tidak mampu memahami pembicaraan mereka.
a. Pendekatan komunikasi dengan lansia dengan gangguan
pendengaran
Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang
paling sering digunakan ialah media visual. Klien menangkap pesan
bukan dari suara yang dikeluarkan orang lain, tetapi dengan
mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi sangat
penting bagi klien ini sehingga dalam melakukan komunikasi, usaha kan
susaha sikap dan gerakan anda dapat ditangkap oleh indra visualnya.
Pendekatan komunikasi dengan lansia dengan gangguan sensoris
pendengaran yaitu sebagai berikut:
• Orientasikan kehadiran anda dengan cara menyentuh klien atau
memposisikan diri di depan klien
• Gunakan bahasa yang sederhana dan bicaralah dengan perlahan
untuk memudahkan klien membaca gerak bibir anda.
• Usahakan berbicara dengan posisi tepat didepan klien dan
pertahankan sikap tubuh dan mimik wajah yang lazim
27 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan
Perkembangan Lanjut Usia
• Jangan melakukan pembicaraan saat anda sedang mengunyah
sesuatu (permen karet)
• Bila mungkin gunakan bahasa pantomim dengan gerakan
sederhana dan wajar
• Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila anda bisa dan
diperlukan
• Apabila ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan, cobalah
sampaikan pesan dalam bentuk tulisan atau gambar (simbol).
b. Pendekatan komunikasi dengan lansia dengan gangguan Penglihatan
Gangguan penglihatan dapat terjadi baik sebab kerusakan
organ, missal: kornea, lensa mata, kekeruhan humor viterius, maupun
kerusakan kornea, serta kerusakan saraf penghantar impuls menuju
otak. Kerusakan di tingkat persepsi antara lain dialami klien dengan
kerusakan otak. Semua ini mengakibatkan penurunan visus hingga
dapat memicu kebutaan, baik parsial maupun total. Akibat
kerusakan visual, kemampuan menangkap rangsang saat
berkomunikasi sangat bergantung pada pendengaran dan sentuhan.
Oleh sebab itu, komunikasi yang dilakukan harus mengoptimalkan
fungsi pendengaran dan sentuhan sebab fungsi penglihatan sedapat
mungkin harus digantikan oleh informasi yang dapat ditransfer melalui
indra yang lain.
Berikut yaitu tehnik-tehnik yang diperhatikan selama berkomunikasi
dengan klien yang mengalami gangguan penglihatan:
• Sedapat mungkin ambil posisi yang dapat dilihat klien bila
mengalami kebutaan parsial atau sampaikan secara verbal
keberadaan/ kehadiran perawat saat anda berada didekatnya
• Identifikasi diri anda dengan menyebutkan nama (dan peran) anda
• Berbicara memakai nada suara normal sebab kondisi klien
tidak memungkinkanya menerima pesan verbal secara visual. Nada
suara anda memegang peranan besar dan bermakna bagi klien
• Terangkan alasan anda menyentuh atau mengucapkan kata–kata
sebelum melakukan sentuhan pada klien
• Informasikan kepada klien saat anda akan meninggalkannya/
memutus komunikasi
• Orientasikan klien dengan suara–suara yang terdengar disekitarnya.
• Orientasikan klien pada lingkunganya bila klien dipindah ke
lingkungan / ruangan yang baru.
c. Pendekatan komunikasi dengan pasien gangguan wicara
Berkomunikasi dengan klien dengan gangguan wicara
memerlukan kesabaran susaha pesan dapat dikirim dan ditangkap
dengan benar. Klien yang mengalami gangguan wicara umumnya telah
belajar berkomunikasi dengan memakai bahasa isyarat atau
memakai tulisan dan gambar.
Pada saat berkomunikasi dengan klien dengan gangguan wicara, hal-
hal berikut perlu diperhatikan:
• Perhatikan mimik dan gerak bibir klien
• Memperjelas kata–kata yang diucapkan kien dengan mengulang
kembali.
• Batasi topik pembicaraan.
• Suasana rilek dan pelan.
• Bila perlu gunakan bahasa tulisan/ simbol.
d. Pendekatan komunikasi dengan pasien gangguan kematangan
kognitif
Berbagai kondisi dapat mengakibatkan gangguan kematangan
kognitif, antara lain akibat penyakit: retardasi mental, sindrome down
ataupun situasi sosial, misal: pendidikan yang rendah, kebudayaan
primitif, dan sebagainya. Dalam berkomunikasi dengan klien yang
mengalami gangguan kematangan, sebaiknya memperhatikan prinsip
komunikasi dengan pendekatan komunikasi efektif, yaitu mengikuti
kaidah sesuai kemampuan audiens (capability of audience) sehingga
komunikasi dapat berlangsung lebih efektif. Tehnik-tehnik komunikasi
dengan klien yang mengalami gangguan kognitif:
• Bicara dengan tema yang jelas dan terbatas
• Hindari pemakaian istilah, gunakan kata pengganti yang mudah
dimengerti, gambar, simbol
• Nada bicara yang relatif datar dan pelan
• Bia perlu lakukan pengulangan, tanyakan kembali pesan untuk
memastikan maksud pesan sudah diterima
• Hati–hati dalam komunikasi nonverbal, dapat menimbulkan
interpretasi yang beda pada klien.
2. Pasien dengan Dimensia
29 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan
Perkembangan Lanjut Usia
Penyakit Demensia Alzheimer merupakan penyakit yang diderita
orang tua berusia lanjut. Penyakit ini ditandai oleh melemahnya daya ingat,
hingga gangguan otak dalam melakukan perencanaan, penalaran, persepsi,
dan berbahasa. Meski belum diketahui penyebabnya secara pasti, namun
para ahli percaya bahwa penyakit Alzheimer umumnya terjadi akibat
meningkatnya produksi protein dan khususnya penumpukan protein beta-
amyloid di dalam otak yang memicu kematian sel saraf.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena
penyakit, seperti pertambahan usia, cidera parah di kepala, riwayat
kesehatan keluarga atau genetika, dan gaya hidup. Penyakit Alzheimer
sangat rentan diderita oleh orang-orang yang telah berusia di atas 65 tahun
dan sebanyak 16 persen dialami yang usianya di atas 80 tahun. Faktor yang
paling kritis dalam berkomunikasi dengan pasien demensia yaitu
memantapkan hubungan perawatan sesegera mungkin. Hal penting dalam
merawat pasien dengan penuh martabat dan hormat. Ada kecenderungan
untuk memperlakukan pasien demensia seperti anak-anak atau berbicara
dengan mereka sepertinya mereka yaitu anak-anak. Harus diingat bahwa
pasien demensia kehilangan kemampuannya untuk berkomunikasi, bukan
kehilangan kepandaiannya. Mereka yaitu orang dewasa yang hidup
produktif dan layak mendapatkan penghormatan. Pasien demensia juga
sangat sensitif terhadap emosi orang lain. Pada umumnya pasien ini ,
lebih merespon kepada bagaimana cara seseorang berbicara kepada
mereka daripada apa yang sebetulnya dikatakan.
D. Perumusan diagnosa keperawatan pada lansia dengan masalah
komunikasi
1. Gangguan persepsi sensori-pendengaran berhubungan dengan
penurunan, keterlambatan atau ketiadaan kemampuan untuk menerima,
memproses, mengirim, dan atau memakai system simbol ditandai
dengan klien mengatakan kepala sering tiba tiba pusing dan kuping tiba-
tiba berdengung, klien mengatakan jarang memeriksakan kesehatan
kepuskemas, klien mengatakan keluhan ini terjadi sekitar 2 tahun terakhir,
klien ingin membeli alat bantu pendengar, Klien tampak kesulitan dalam
memahami komunikasi, Klien tidak mampu mendengar, Klien tampak
bingung saat diajak bicara, Suka melamun dan menyendiri, Respon klien
tidak sesuai saat bicara dengan yang dikatakan lawan bicara.
2. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis
(degenerasi neuron ireversibel), kehilangan memori/ ingatan, gangguan
tidur, konflik psikologis, gangguan penilaian, ditandai dengan hilang
konsentrasi (distrakbilitas), hilang ingatan/ memori, tidak mampu membuat
keputusan, menghitung, mengumpulkan gagasan, melakukan abstraksi
dan memecahkan masalah.
3. Gangguan persepsi-sensori (universal) berhubungan dengan pembatasan
lingkungan secara terapeutik (isolasi, perawatan intensif, tirah baring),
pembatasan lingkungan sosial (panti jompo, stigma, keterbelakangan
mental, perubahan persepsi, tidak mampu berkomunikasi, gangguan tidur,
nyeri), stres psikologis, gangguan kimiawi (endogen, eksogen), ditandai
dengan perubahan kemampuan pemecahan masalah, perubahan respon
stimulasi normal seperti disorientasi spasial, bingung, perubahan perilaku,
konsentrasi menurun, respon emosional berlebihan, perubahan sensasi
rasa.
4. Gangguan bahasa spesifik dan strategi berhubungan dengan individu yang
menderita penyakit Alzheimer ditandai dengan gangguan mengingat kata,
kehilangan komunikasi yang bermakna (semantik), fokus pada diri sendiri
dan peran masa lalu, ketidakmampuan berespon, penurunan kemampuan
bercaka-cakap, ketidakmampuan mengikuti perintah, ketidakmampuan
menulis, pemahaman terhadap bacaan menurun.
E. Perencanaan tindakan keperawatan pada lansia dengan masalah
komunikasi
1. Perencanaan/ intervensi keperawatan pada gangguan persepsi sensori-
pendengaran meliputi:
a. mendengarkan klien dengan penuh perhatian; hadapi klien secara
langsung, bangun kontak mata
b. gunakan suara yang lebih rendah dalam berbicara
c. hindari lingkungan yang berisik saat berbicara
d. gunakan gerakan tubuh bila diperlukan
e. monitor akumulasi serumen yang berlebihan
f. bersihkan serumen yang berlebihan
g. melakukan skrining rutin terkait dengan fungsi pendengaran
h. melakukan peningkatan kualitas komunikasi dengan pasien
2. Perencanaan/ intervensi keperawatan pada perubahan proses pikir
meliputi:
31 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan
Perkembangan Lanjut Usia
a. kembangkan lingkungan yang mendukung hubungan klien-perawat
yang terapeutik
b. kaji derajat gangguan kognitif seperti perubahan orientasi, rentang
perhatian dan kemampuan berpikir
c. pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang
d. lakukan pendekatan secara perlahan
e. tatap wajah saat berbicara dengan klien
f. panggil klien dengan namanya; gunakan suara yang agak rendah dan
berbicara secara perlahan
g. gunakan kata-kata pendek, kalimat dan instruksi sederhana
h. berhenti sejenak diantara kalimat dan beri isyarat tertentu, gunakan
kalimat terbuka
i. dengarkan penuh perhatian pembicaraan klien, interpretasikan
pertanyaan, arti dan kata
j. hindari kritikan, argumentasi dan konfrontasi negati
k. gunakan distraksi/ pengalihkan perhatian jika tidak meningkatkan
kecemasan
l. hindari dari aktivitas dan komunikasi yang dipaksakan
m. gunakan hal-hal yang humoris saat berinteraksi dengan klien
n. fokuskan tingkah laku yang sesuai
o. hormati klien dan evaluasi kebutuhan secara spesifik
p. berikan kesempatan saling memiliki dan dimiliki
q. ciptakan aktivitas sederhana, bermanfaat dan tidak bersifat kompetitif
sesuai kemampuan klien
r. evaluasi pola tidur, catat letargi, peningkatan peka rangsang, sering
menguap, dan garis hitam di bawah mata.
3. Perencanaan/ intervensi keperawatan pada gangguan persepsi-sensori
(universal) meliputi:
a. kembangkan lingkungan yang supportif dan hubungan perawat-klien
terapeutik
b. bantu klien untuk memahami halusinasi
c. beri informasi tentang sifat halusinasi, hubungan terhadap stressor
traumatic, pengobatan dan cara mengatasi
d. kaji derajat sensoria tau gangguan persepsi
e. ajarkan strategi mengurangi stress
f. anjurkan memakai kaca mata atau alat bantu pendengaran sesuai
kebutuhan
g. pertahankan hubungan orientasi realita dan lingkungan
h. berikan lingkungan yang tenang
i. berikan sentuhan dan perhatian
j. berikan perhatian dalam kenangan indah secara berkala
k. ajak piknik sederhana, jalan-jalan dan pantau aktivitas
l. tingkatkan keseimbangan fungsi fisiologis
m. libatkan aktivitas sesuai kemampuan dan situasu tertentu
4. Perencanaan/ intervensi keperawatan pada gangguan bahasa spesifik dan
strategi meliputi:
a. minimalkan keletihan, beri kesempatan untuk tidur
b. pelajari pengalaman dan hubungan yang dijalin pada masa lalu
c. jangan menyangkal atau mengorientasikan Kembali individu saat
klien berfantasi
d. gunakan cerita dan kisah lucu dan menyenangkan
e. gunakan tehnik validasi, terapi nostalgia dan Analisa percakapan
f. kombinasikan lingkungan, tindakan, ekspresi wajah dan pantomin
disertai pemakaian komunikasi verbal
g. verbalisasi suatu topik/ pemikiran sederhana untuk setiap pernyataan
dan berikan waktu yang cukup
h. gunakan gestur yang sopan disertai ungkapan kata-kata
i. anjurkan keluarga tentang strategi untuk memperbaiki kesalahan
dalam percakapan yang dibuat orang yang dicintai dengan orang lain.
G. Rangkuman Materi
Komuniasi merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam membantu
memenuhi kebutuhan klien, bahkan dapat membantu penyembuhan lansia.
Prinsip dalam berkomunikasi terhadap lansia disesuaikan gangguan yang
terjadi. Pemasalahan atau diagnosa keperawatan prioritas terkait komunikasi
pada lansia yaitu gangguan persepsi-sensori pendengaran, perubahan proses
pikir, gangguan persepsi-sensori, gangguan Bahasa spesifik dan strategi.
H. Glosarium
Lansia : lanjut usia
SMCR : Sender Message Channel Receiver
GCS : Glasgow Coma Scale
ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA (GE
Tujuan penulisan buku ini yaitu untuk membantu pembaca dalam memahami
konsep asuhan keperawatan gerontik. Setelah membaca buku ini, pembaca akan
lebih memahami dalam penerapan asuhan keperawatan pada lansia dengan
masalah biologis/ fisik, psikologis, sosial kultural maupun spiritual.
Buku ini dapat digunakan yaitu mahasiswa, dosen maupun atau tenaga perawat
profesional dalam meningkatkan pengetahuan, kemampuan dalam perawatan
lansia melalui pendekatan asuhan keperawatan.
Buku ini berisikan tentang penyusunan asuhan keperawatan lansia (pengkajian,
analisis data, perumusan diagnosis keperawatan, merencanakan intervensi,
implementasi hingga evaluasi keperawatan pada lansia.
Tujuan Intruksional dan Capaian Pembelajaran
Setelah mempelajari buku ini diharapkan pembaca mampu menjelaskan konsep
dasar asuhan keperawatan gerontik dengan memfokuskan pada asuhan individu
lansia dengan masalah biologis/ fisik, psikologis, sosial kultural maupun spiritual.
Tujuan Intruksional:
Setelah mempelajari buku ini diharapkan pembaca:
A. Memahami konsep asuhan keperawatan lansia
B. Memahami proses pengkajian keperawatan lansia
C. Memahami proses analisis dan diagnosis keperawatan lansia
D. Memahami proses intervensi keperawatan lansia
E. Memahami proses implementasi keperawatan lansia
F. Memahamai proses evaluasi keperawatan lansia
Capaian Pembelajaran:
A. Memahami konsep asuhan keperawatan lansia
1. Sasaran asuhan keperawatan
2. Tujuan asuhan keperawatan
B. Memahami proses pengkajian keperawatan lansia
1. Lingkungan dalam proses pengkajian dilakukan
2. Faktor yang memengaruhi pengkajian pada lansia
3. Pengkajian data pada lansia secara fisik lansia
4. Pengkajian data pada lansia secara psikologis lansia
5. Pengkajian data pada lansia secara psikososial dan ekonomi lansia
6. Pengkajian data pada lansia secara spiritual lansia
C. Memahami proses analisis dan diagnosis keperawatan lansia
1. Pengertian analisis data dan diagnosis keperawatan
2. Komponen diagnosis keperawatan
3. Jenis diagnosis keperawatan
D. Memahami proses intervensi keperawatan lansia
1. Definisi intervensi dan tindakan keperawatan
2. Prioritas masalah keperawatan
3. Penentuan tujuan dan hasil yang diharapkan
4. Rencana tindakan
5. Luaran keperawatan
E. Memahami proses implementasi keperawatan lansia
F. Memahamai proses evaluasi keperawatan lansia
37 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik)
1. Definisi evaluasi keperawatan
2. Penilaian evaluasi
3. Kegiatan dalam evaluasi
4. Manfaat evaluasi dalam keperawatan
5. Jenis evaluasi
Keperawatan Lansia
Keperawatan yaitu bentuk pelayanan kepada masyarakat yang didasarkan pada
ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-kultural dan
spiritual yang berdasarkan pada pencapaian bersifat komperhensif yang
ditujukan kepada individu, kelompok, keluarga, dan masyarakat baik dalam
keadaan sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
Keperawatan yaitu suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan bersifat komprehensif agar dapat
mencapai status kesehatan lansia yang optimal. Proses penuaan yang terjadi
pada lansia memicu lansia mengalami berbagai masalah kesehatan.
Perawat memiliki peran dalam memberi perawatan atau bantuan bagi lansia
untuk memecahkan masalah kesehatan dengan pendekatan proses keperawatan
secara komprehensif dalam bentuk asuhan keperawatan yang meliputi
pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.
A. Konsep Asuhan Keperawatan Lansia
Keperawatan yaitu bentuk pelayanan kepada masyarakat yang didasarkan
pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-
kultural dan spiritual yang berdasarkan pada pencapaian bersifat
komperhensif yang ditujukan kepada individu, kelompok, keluarga, dan
masyarakat baik dalam keadaan sehat maupun sakit yang mencakup seluruh
proses kehidupan manusia.
1. Asuhan keperawatan gerontik diberikan berupa bantuan kepada klien
lanjut usia sebab adanya :
a. Kondisi kelemahan fisik, mental dan sosial lansia
b. Keterbatasan pengetahuan yang dimiliki lansia
c. Kurangnya kemampuan, motivasi dan kemauan dalam melaksanakan
aktivitas hidup sehari-hari secara mandiri.
2. Tujuan Asuhan Keperawatan lansia
a. Agar lansia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri
dengan :
1) Peningkatan kesehatan (Health Promotion)
2) Pencegahan penyakit (Health Prevention)
39 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik)
3) Pemeliharaan kesehatan (Health Maintenance)
Sehingga memiliki ketenangan hidup dan produktif sampai akhir hidup.
b. Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang
usianya telah lanjut dengan jalan perawatan dan pengobatan.
c. Membantu mempertahankan serta meningkatkan daya hidup semangat
hidup klien lansia (Life Support).
d. Menolong dan merawat klien lansia yang menderita penyakit atau
mengalami gangguan tertentu (kronis maupun akut).
e. Merangsang para petugas kesehatan (dokter, perawat) untuk dapat
mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka
menjumpai suatu kelainan atau kondisi tertentu pada lansia.
f. Mencari usaha semaksimal mungkin agar para klien lanjut usia yang
menderita suatu penyakit/gangguan masih dapat mempertahankan
kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara
kemandirian secara maksimal)
B. Proses Pengkajian Keperawatan Individu Lansia
Pengkajian pada lansia merupakan langkah penting dalam
memberi asuhan keperawatan. Data multidimensional yang dikaji akan
memberi gambaran mengenai status kesehatan lansia secara menyeluruh
baik kondisi kesehatan fisik, mental, sosial, maupun fungsi tubuh secara
keseluruhan sehingga diharapkan intervensi yang dilakukan akan lebih
terarah dan komprehensif, untuk mengoptimalkan derajat kesehatan lansia
di masa mendatang. Pengkajian ini dapat dilakukan di rumah, rumah sakit,
pusat perawatan sehari, maupun di fasilitas perawatan jangka panjang (panti).
Selama proses pengkajian, perawat perlu menciptakan lingkungan
yang kondusif selama pengkajian, meliputi:
1. pemakaian ruangan serta lingkungan yang adekuat, terutama apabila
klien memakai alat bantu mobilisasi agar lansia tetap aman
2. Minimalkan kebisingan dan distraksi agar lansia tetap fokus dan rileks
3. Suhu ruangan cukup hangat dan nyaman
4. Beri tempat dengan penerangan yang cukup
5. Beri posisi duduk yang nyaman selama pengkajian
6. Sediakan air minum didekat klien
7. Jaga privasi klien
8. Pengkajian harus dilakukan dengan relaks, sabar dan tidak tergesa-gesa
9. Berikan klien banyak waktu untuk berespon terhadap pertanyaan dan
petunjuk, jangan terkesan terburu-buru.
10. Waspadai adanya tanda keletihan seperti mengeluh, menyeringai, peka,
bersandar ke objek, kepala dan bahu terkulai, serta kelambanan progresif.
11. Lakukan pengkajian selama puncak energy klien, biasanya pada pagi hari.
Lingkungan yang kondusif akan memungkinkan pengkajian dapat
berjalan dengan baik dan lancar. Selain itu untuk mendapatkan hasil
pengkajian yang optimal, perawat harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Kaji lebih dari satu kali dan pada waktu yang berbeda setiap hari
2. Pastikan bahwa alat bantu sensori sensitive (kacamata, alat bantu dengar)
dan alat mobilitas (tongkat walker) tersedia dan berfungsi dengan tepat.
3. Wawancarai keluarga, teman dan orang terdekat yang terlibat dalam
perawatan klien untuk memvalidasi pengkajian
4. Gunakan bahasa tubuh, sentuhan, kontak mata dan berbicara untuk
meningkatkan tingkat partisipasi maksimum klien.
5. Sadari keadaan dan perhatian emosional klien misalna takut,ansietas dan
bosan, sebab hal ini dapat menimbulksn keseimpulan pengkajian yang
tidak akurat mengenai kemampuan fungsional.
Pengkajian khusus pada pengkajian lansia yaitu dengan adanya
penurunan seluruh fungsi tubuh (penglihatan, pendengaran, kondisi
ekstremitas atas dan bawah, fungsi sistem dan status nutrisi klien serta
psikososial dan lingkungannya).
1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengkajian Pada Lansia
a. Interelasi (saling keterkaitan) antara aspek fisik dan psikososial: terjadi
penurunan kemampuan mekanisme terhadap stres, masalah psikis
meningkat dan terjadi perubahan pada fisik lansia.
b. Adanya penyakit dan ketidakmampuan status fungsional.
c. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pengkajian, yaitu: ruang yang
adekuat, kebisingan minimal, suhu cukup hangat, hindari cahaya
langsung, posisi duduk yang nyaman, dekat dengan kamar mandi,
privasi yang mutlak, bersikap sabar, relaks, tidak tergesa-gesa, beri
kesempatan pada lansia untuk berpikir, waspada tanda-tanda
keletihan.
2. Fokus Pengkajian Pada Lansia dilihat dari Perubahan secara Fisik,
Psikologis, Ekonomi, Psikososial dan Spiritual.
a. Data Yang Perlu Dikaji Tentang Perubahan Lansia Secara Fisik
1) Pengumpulan data dengan wawancara yaitu tentang:
a) Pandangan lanjut usia tentang kesehatan,
b) Kegiatan yang mampu di lakukan lansia,
c) Kebiasaan lanjut usia merawat diri sendiri,
d) Kekuatan fisik lanjut usia: otot, sendi, penglihatan, dan
pendengaran, Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur,
BAB/BAK,
e) Kebiasaan gerak badan/olahraga/senam lansia,
f) Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang dirasakan sangat
bermakna,
g) Kebiasaan lansia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan
dalam minum obat.
2) Pengumpulaan data dengan pemeriksaan fisik: pemeriksanaan
dilakukan dengan cara inspeksi, palpilasi, perkusi, dan auskultasi
untuk mengetahui perubahan sistem tubuh.
a) Pengkajian sistem persyarafan: kesimetrisan raut wajah, tingkat
kesadaran adanya perubahan-perubahan dari otak, kebanyakan
memiliki daya ingatan menurun atau melemah.
b) Mata: pergerakan mata, kejelasan melihat, dan ada tidaknya
katarak. Pupil: kesamaan, dilatasi, ketajaman penglihatan
menurun sebab proses pemenuaan, Ketajaman pendengaran:
apakah memakai alat bantu dengar, tinnitus, serumen
telinga bagian luar, kalau ada serumen jangan di bersihkan,
apakah ada rasa sakit atau nyeri ditelinga.
c) Sistem kardiovaskuler: sirkulasi perifer (warna, kehangatan),
auskultasi denyut nadi apical, periksa adanya pembengkakan
vena jugularis, apakah ada keluhan pusing, edema.
d) Sistem gastrointestinal: status gizi (pemasukan diet, anoreksia,
mual, muntah, kesulitan mengunyah dan menelan), keadaan gigi,
rahang dan rongga mulut, auskultasi bising usus, palpasi apakah
perut kembung ada pelebaran kolon, apakah ada konstipasi
(sembelit), diare, dan inkontinensia alvi.
e) Sistem genitourinarius: warna dan bau urine, distensi kandung
kemih, inkontinensia (tidak dapat menahan buang air kecil),
frekuensi, tekanan, desakan, pemasukan dan pengeluaran cairan.
Rasa sakit saat buang air kecil, kurang minat untuk melaksanakan
hubungan seks, adanya kecacatan sosial yang mengarah ke
aktivitas seksual.
f) Sistem kulit/ integumen: kulit (temperatur, tingkat kelembaban),
keutuhan luka, luka terbuka, robekan, perubahan pigmen,
adanya jaringan parut, keadaan kuku, keadaan rambut, apakah
ada gangguan-gangguan umum.
g) Sistem muskuloskeletal: kaku sendi, pengecilan otot,
mengecilnya tendon, gerakan sendi yang tidak adekuat,
bergerak dengan atau tanpa bantuan/peralatan, keterbatasan
gerak, kekuatan otot, kemampuan melangkah atau berjalan,
kelumpuhan dan bungkuk.
b. Data Yang Perlu Dikaji Tentang Perubahan Lansia Secara Psikologis
1) Bagaimana sikap lansia terhadap proses penuaan,
2) Apakah dirinya merasa di butuhkan atau tidak,
3) Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan,
4) Bagaimana mengatasi stres yang di alami,
5) Apakah mudah dalam menyesuaikan diri,
6) Apakah lansia sering mengalami kegagalan, kesedihan, depresi
7) Apakah harapan pada saat ini dan akan datang,
8) Perlu di kaji juga mengenai fungsi kognitif: daya ingat, proses pikir,
alam perasaan, orientasi, dan kemampuan dalam menyelesaikan
masalah.
Pengkajian dilakukan dengan memakai instrumen yang
tepat bagi mengetahui kondisi kesehatan lansia, misalnya dengan GDS,
MMSE, dan lain-lain.
c. Data Yang Pelu Dikaji Tentang Perubahan Psikososial Dan Ekonomi
Lansia.
1) Darimana sumber keuangan lansia,
2) Apa saja kesibukan lansia dalam mengisi waktu luang,
43 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik)
3) Dengan siapa dia tinggal,
4) Kegiatan organisasi apa yang diikuti lansia,
5) Bagaimana pandangan lansia terhadap lingkungannya,
6) Seberapa sering lansia berhubungan dengan orang lain di luar
rumah,
7) Siapa saja yang bisa mengunjungi,
8) Seberapa besar ketergantungannya.
9) Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginan dengan fasilitas
yang ada.
d. Data Yang Perlu Dikaji Tentang Perubahan Spiritual
1) Apakah secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan
agamanya,
2) Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan
keagamaan, misalnya pengajian dan penyantunan anak yatim atau
fakir miskin.
3) Bagaimana cara lansia menyelesaikan masalah apakah dengan
berdoa,
4) Apakah lansia terlihat tabah dan tawakal serta menerima segala
yang terjadi dalam kehidupannya.
C. Proses Analisis Data Dan Diagnosis Keperawatan Individu Lansia
Data yang ditemukan dari hasil pengkajian, tertuang dalam data
subjektif maupun data objektif akan dianalisis dan dikelompokkan dalam
rumusan diagnosis keperawatan.
1. Pengertian Diagonsis Keperawatan
Diagnosis keperawatan merupakan suatu penilaian klinis
mengenai respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses
kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung aktual maupun
potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi
respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang
berkaitan dengan kesehatan.
Perawat diharapkan memiliki rentang perhatian yang luas, baik
pada klien sakit maupun sehat. Respons-respons ini merupakan
reaksi terhadap masalah kesehatan dan proses kehidupan yang dialami
klien. Masalah kesehatan mengacu kepada respons klien terhadap
kondisi sehat-sakit, sedangkan proses kehidupan mengacu kepada
respons klien terhadap kondisi yang terjadi selama rentang kehidupannya
dimulai dari fase pembuahan hingga menjelang ajal dan meninggal yang
membutuhkan diagnosis keperawatan dan dapat diatasi atau diubah
dengan intervensi keperawatan
2. Komponen Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan memiliki dua komponen utama yaitu Masalah
(Problem) atau Label Diagnosis dan Indikator Diagnostik.
Masing-masing komponen diagnosis diuraikan sebagai berikut:
a. Masalah (Problem)
Masalah merupakan label diagnosis keperawatan yang
menggambarkan inti dari respons klien terhadap kondisi kesehatan
atau proses kehidupannya. Label diagnosis terdiri atas Deskriptor atau
penjelas dan Fokus Diagnostik
b. Indikator Diagnostik
Indikator diagnostik terdiri atas penyebab, tanda/gejala, dan faktor
risiko dengan uraian sebagai berikut.
1) Penyebab (Etiology) merupakan faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan status kesehatan. Etiologi dapat
mencakup empat kategori yaitu: a) Fisiologis, Biologis atau
Psikologis: b) Efek Terapi/T indakan, c) Situasional (lingkungan
atau personal), dan d) Maturasional.
2) Tanda (Sign) dan Gejala (Symptom). Tanda merupakan data
objektif yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan prosedur diagnostik, sedangkan gejala
merupakan data subjektif yang diperoleh dari hasil anamnesis.
Tanda/gejala dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu:
a) Mayor: Tanda/gejala ditemukan sekitar 80%— 100% untuk
validasi diagnosis.
b) Minor: Tanda/gejala tidak harus ditemukan, namun jika
ditemukan dapat mendukung penegakan diagnosis.
3) Faktor Risiko merupakan kondisi atau situasi yang dapat
meningkatkan kerentanan klien mengalami masalah kesehatan.
Pada diagnosis aktual, indikator diagnostiknya terdiri atas
penyebab dan tanda/gejala. Pada diagnosis risiko tidak memiliki
45 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik)
penyebab dan tanda/gejala, hanya memiliki faktor risiko.
Sedangkan pada diagnosis promosi kesehatan, hanya memiliki
tanda/gejala yang menunjukkan kesiapan klien untuk mencapai
kondisi yang lebih optimal.
3. Jenis Diagnosis Keperawatan
Jenis-jenis diagnosis keperawatan ini dapat diuraikan sebagai
berikut
a. Diagnosis Aktual
Diagnosis ini menggambarkan respons klien terhadap kondisi
kesehatan atau proses kehidupannya yang memicu klien
mengalami masalah kesehatan. Tanda/ gejala mayor dan minor dapat
ditemukan dan divalidasi pada klien.
Contoh:
Ketidakberdayaan (P) berhubungan dengan progam perawatan/
pengobatan yang kompleks atau jangka Panjang (E) dibuktikan
dengan: (D.0088).
Data Subjektif (DS):
- Lansia menyatakan frustasi atau tidak mampu melaksanakan
aktivitas sebelumnya (Data Mayor)
- Lansia merasa diasingkan, menyatakan keraguan tentang kinerja
peran, menyatakan kurang kontrol, menyatakan rasa malu, merasa
tertekan/ depresi. (Data Minor).
Data Objektif (DO):
- Bergantung pada orang lain (Data Mayor)
- Tidak berpartisipasi dalam perawatan, pengasingan (Data Minor)
b. Diagnosis Risiko
Diagnosis ini menggambarkan respons klien terhadap kondisi
kesehatan atau proses kehidupannya yang dapat memicu klien
berisiko mengalami masalah kesehatan. Tidak ditemukan tanda/gejala
mayor dan minor pada klien, namun klien memiliki faktor risiko
mengalami masalah kesehatan.
Contoh:
Risiko distress spiritual berhubungan dengan sakit kronis. (D.0100).
Kondisi masalah kesehatan yang terkait yaitu adanya penyakit kronis
pada lansia.
c. Diagnosis Promosi Kesehatan
Diagnosis ini menggambarkan adanya keinginan dan motivasi klien
untuk meningkatkan kondisi kesehatannya ke tingkat yang lebih baik
atau optimal.
Contoh:
Kesiapan peningkatan tidur
Data Subjektif (DS):
- Lansia mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan tidur;
mengekspresikan perasaan cukup istirahat setelah tidur (Data
Mayor)
- Lansia tidak memakai obat tidur (Data Minor).
Data Objektif (DO):
- Jumlah waktu tidur sesuai dengan kebutuhan pada masa
pertumbuhan perkembangan lansia (Data Mayor)
- Lansia menerapkan rutinitas tidur yang meningkatkan kebiasaan
tidur (Data Minor).
Diagnosis Keperawatan merupakan kesimpulan yang ditarik dari data
yang dikumpukan tentang lansia, yang berfungsi sebagai alat untuk
menggambarkan masalah lansia, dan penarikan kesimpulan ini dapat
dibantu oleh perawat.
D. Proses Intervensi Keperawatan Individu Lansia
1. Definisi Intervensi dan Tindakan Keperawatan (SLKI, 2019)
a. Intervensi keperawatan yaitu segala treatment yang dikerjakan oleh
perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk
mencapai luaran (outcome) yang diharapkan.
b. Tindakan keperawatan yaitu perilaku atau aktivitas spesifik yang
dikerjakan oleh perawat untuk mengimplementasikan intervensi
keperawatan.
c. Perencanaan keperawatan gerontik yaitu suatu proses penyusunan
berbagai intervensi keperawatan yang berguna untuk mencegah,
menurunkan atau mengurangi masalah-masalah lansia.
2. Prioritas Masalah Keperawatan
Penentuan prioritas diagnosis ini dilakukan pada tahap perencanaan
setelah tahap diagnosis keperawatan. Dengan menentukan diagnosis
keperawatan, maka perawat dapat mengetahui diagnosis mana yang akan
47 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik)
dilakukan atau diatasi pertama kali atau yang segera dilakukan. Terdapat
beberapa pendapat untuk menentukan urutan prioritas, yaitu:
a. Berdasarkan tingkat kegawatan (mengancam jiwa)
Penentuan prioritas berdasarkan tingkat kegawatan (mengancam jiwa)
yang dilatarbelakangi oleh prinsip pertolongan pertama, dengan
membagi beberapa prioritas yaitu prioritas tinggi, prioritas sedang dan
prioritas rendah.
1) Prioritas Tinggi
Prioritas tinggi mencerminkan situasi yang mengancam kehidupan
(nyawa seseorang) sehingga perlu dilakukan terlebih dahulu seperti
masalah bersihan jalan napas (jalan napas yang tidak effektif).
2) Prioritas Sedang
Prioritas ini menggambarkan situasi yang tidak gawat dan tidak
mengancam hidup klien seperti masalah higiene perseorangan.
3) Prioritas Rendah
Prioritas ini menggambarkan situasi yang tidak berhubungan
langsung dengan prognosis dari suatu penyakit yang secara spesifik,
seperti masalah keuangan atau lainnya.
b. Berdasarkan kebutuhan Maslow
Maslow menentukan prioritas diagnosis yang akan direncanakan
berdasarkan kebutuhan, diantaranya kebutuhan fisiologis keselamatan
dan keamanan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri.
Untuk prioritas diagnosis yang akan direncanakan, Maslow membagi
urutan ini berdasarkan kebutuhan dasar manusia, diantaranya:
1) Kebutuhan fisiologis
Meliputi masalah respirasi, sirkulasi, suhu, nutrisi, nyeri, cairan,
perawatan kulit, mobilitas, dan eliminasi.
2) Kebutuhan keamanan dan keselamatan
Meliputi masalah lingkungan, kondisi tempat tinggal, perlindungan,
pakaian, bebas dari infeksi dan rasa takut.
3) Kebutuhan mencintai dan dicintai
Meliputi masalah kasih sayang, seksualitas, afiliasi dalam kelompok
antar manusia.
4) Kebutuhan harga diri
Meliputi masalah respect dari keluarga, perasaaan menghargi diri
sendiri.
5) Kebutuhan aktualisasi diri
Meliputi masalah kepuasan terhadap lingkungan.
3. Penentuan Tujuan Dan Hasil Yang Di Harapkan
a. Penentuan Tujuan
Tujuan merupakan hasil yang ingin dicapai untuk mengatasi masalah
diagnosis keperawatan, dengan kata lain tujuan merupakan sinonim
kriteria hasil (hasil yang diharapkan) yang memiliki komponen
sebagai berikut:
S (subyek) P (predikat) Kr (kriteria) Ko (kondisi) W (waktu),
dengan penjabaran sebagai berikut:
S: Perilaku lansia yang diamati.
P: Kondisi yang melengkapi lansia.
Kr: Kata kerja yang dapat diukur atau untuk menentukan tercapainya
tujuan.
Ko: Sesuatu yang memicu asuhan diberikan.
W: Waktu yang ingin dicapai.
b. Kriteria hasil (hasil yang diharapkan)
Kriteria Hasil merupakan standard evaluasi yang merupakan gambaran
faktor-faktor yang dapat memberi petunjuk bahwa tujuan telah
tercapai. Kriteria hasil ini digunakan dalam membuat pertimbangan
dengan cirri-ciri sebagai berikut: setiap kriteria hasil berhubungan
dengan tujuan yang telah ditetapkan, hasil yang ditetapkan
sebelumnya memungkinkan dicapai, setiap kriteria hasil yaitu
pernyataan satu hal yang spesifik, harus sekongkrit mungkin untuk
memudahkan pengukuran, kriteria cukup besar atau dapat diukur,
hasilnya dapat dilihat, didengar dan kriteria memakai kata-kata
positif bukan memakai kata negative.
4. Rencana Tindakan
Tindakan-tindakan pada intervensi keperawatan terdiri dari:
a. Tindakan Observasi
Tindakan yang ditujukan untuk mengumpulkan dan menganalisis data
status kesehatan pasien.
b. Tindakan Terapeutik
49 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik)
Tindakan yang secara langsung dapat berefek memulihkan status
kesehatan pasien atau dapat mencegah perburukan masalah
kesehatan pasien.
c. Tindakan Edukasi
Tindakan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pasien
dalam merawat dirinya dengan membantu pasien memperoleh
perilaku baru yang dapat mengatasi masalah.
d. Tindakan Kolaborasi
Tindakan yang membutuhkan kerjasama baik dengan perawat lain
maupun profesi kesehatan lainnya.
5. Contoh intervensi keperawatan pada diagnosis keperawatan defisit nutrisi
berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan (D.0019) yang
ditandai dengan ditemukan klien tidak mampu menelan makan dengan
baik, berat badan menurun 11% di bawah rentang ideal, mengatakan
cepat kenyang setelah makan, kadang terasa kram abdomen sehingga
nafsu makan menurun, otot pengunyah lemah dan otot menelan lemah
yaitu:
a. Intervensi utama
1) Manajemen nutrisi
2) Promosi berat badan
b. Intervensi pendukung
1) Dukungan kepatuhan program pengobatan
2) Edukasi diet
3) Edukasi kemoterapi
4) Konseling nutrisi
5) Konsultasi
6) Manajemen hiperglikemia
7) Manajemen hipoglikemia
8) Manajemen kemoterapi
9) Manajemen reaksi alergi
10) Pemantauan cairan
11) Pemantauan nutrisi.
6. Luaran Keperawatan
a. Definisi luaran keperawatan Definisi Luaran Keperawatan
Luaran (outcome) keperawatan merupakan aspek-aspek yang dapat
diobservasi dan diukur meliputi kondisi, perilaku, atau dari persepsi
pasien, keluarga atau komunitas sebagai respons terhadap intervensi
keperawatan. Luaran keperawatan menunjukkan status diagnosis
keperawatan setelah dilakukan intervensi keperawatan
Luaran keperawatan dapat juga diartikan sebagai hasil akhir intervensi
keperawatan yang terdiri atas indikator-indikator atau kriteria-kriteria
hasil pemulihan masalah. Luaran keperawatan merupakan perubahan
kondisi yang spesifik dan terukur yang perawat harapkan sebagai
respons terhadap asuhan keperawatan (ICN, 2009).
Luaran keperawatan dapat membantu perawat memfokuskan atau
mengarahkan asuhan keperawatan sebab merupakan respons
fisiologis, psikologis, sosial, perkembangan, atau spiritual yang
menunjukkan perbaikan masalah kesehatan pasien
b. Komponen Luaran Keperawatan
Luaran keperawatan terdiri dari luaran utama dan luaran tambahan.
Contoh untuk diagnosis keperawatan: defisit nutrisi (L.03030) yaitu:
1) Luaran utama: status nutrisi membaik (keadekuatan asupan nutrisi
untuk memenuhi kebutuhan metabolism)
2) Luaran tambahan: berat badan membaik, eliminasi fekal membaik,
fungsi gastrointestinal membaik, nafsu makan membaik, perilaku
meningkatkan berat badan meningkat, status menelan membaik,
tingkat depresi menurun dan tingkat nyeri menurun.
E. Proses Implementasi Keperawatan Individu Lansia
Pelaksanaan tindakan merupakan langkah keempat dalam tahap proses
keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan
keperawatan), strategi ini terdapat dalam rencana tindakan keperawatan.
Tahap ini perawat harus mengetahui berbagai hal, diantaranya bahaya-bahaya
fisik dan pelindungan pada lansia, teknik komunikasi, kemampuan dalam
prosedur tindakan, pemahaman tentang hak-hak dari lansia dan memahami
tingkat perkembangan lansia. Pelaksanaan tindakan gerontik diarahkan untuk
mengoptimalkan kondisi lansia agar mampu mandiri dan produktif.
51 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik)
Pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan standar yang telah
ditetapkan, sehingga dapat menghasilkan pelayanan yang berkualitas untuk
hasil yang optimal. Perawat harus memperhatian kualitas diri, kerjasama,
manajemen asuhan keperawatan, pengembangan layanan keperawatan dan
kemampuan change agent serta praktik yang aman bagi lansia. Perawat juga
perlu memperhatikan lingkungan yang aman bagi lansia dalam melakukan
implementasi keperawatan, terutama lansia dengan risiko jatuh.
F. Proses Evaluasi Keperawatan Individu Lansia
1. Definisi Evaluasi Keperawatan Lansia
Menurut Craven dan Hirnle (2000) evaluasi didefinisikan sebagai
keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan
keperawatan yang telah ditetapkan dengan respon perilaku lansia yang
tampilkan.
2. Penilaian Evaluasi
Penilaian dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam melaksanakan
rencana tindakan yang telah ditentukan, kegiatan ini untuk mengetahui
pemenuhan kebutuhan klien secara optimal dan mengukur hasil dari
proses keperawatan.
Penilaian keperawatan yaitu mengukur keberhasilan dari rencana, dan
pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
lansia.
3. Kegiatan dalam Evaluasi
a. Mengkaji ulang tujuan klien dan kriteria hasil yang telah ditetapkan,
Mengumpulkan data yang berhubungan dengan hasil yang
diharapkan, Mengukur pencapaian tujuan,
b. Mencatat keputusan atau hasil pengukuran pencapaian tujuan,
c. Melakukan revisi atau modifikasi terhadap rencana keperawatan bila
perlu.
4. Manfaat Evaluasi Dalam Keperawatan
a. Menentukan perkembangan kesehatan klien,
b. Menilai efektifitas, efisiensi dan produktifitas asuhan keperawatan yang
diberikan,
c. Menilai pelaksanaan asuhan keperawatan,
d. Sebagai umpan balik untuk memperbaiki atau menyusun siklus baru
dalam proses keperawatan,
e. Menunjang tanggung gugat dan tanggung jawab dalam pelaksanaan
keperawatan.
5. Jenis Evaluasi menurut Ziegler, Voughan – Wrobel, & Erlen terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Evaluasi struktur
Evaluasi struktur difokuskan pada kelengkapan tata cara atau keadaan
sekeliling tempat pelayanan keperawatan diberikan. Aspek lingkungan
secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi dalam pemberian
pelayanan. Persediaan perlengkapan, fasilitas fisik, rasio perawat-klien,
dukungan administrasi, pemeliharaan dan pengembangan kompetensi
staf keperawatan dalam area yang diinginkan.
b. Evaluasi proses
Evaluasi proses berfokus pada penampilan kerja perawat, dan apakah
perawat dalam memberi pelayanan keperawatan merasa cocok,
tanpa tekanan, dan sesuai wewenang. Area yang menjadi perhatian
pada evaluasi proses mencakup jenis informasi yang didapat pada saat
wawancara dan pemeriksaan fisik, validasi dari perumusan diagnosa
keperawatan, dan kemampuan tehnikal perawat.
c. Evaluasi hasil
Evaluasi hasil berfokus pada respons dan fungsi klien. Respons perilaku
lansia merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan dan akan
terlihat pada pencapaian tujuan dan kriteria hasil. Evaluasi formatif
dilakukan sesaat setelah perawat melakukan tindakan pada lansia.
Evaluasi hasil/sumatif: menilai hasil asuhan keperawatan yang
diperlihatkan dengan perubahan tingkah laku lansia setelah semua
tindakan keperawatan dilakukan. Evaluasi ini dilaksanakan pada akhir
tindakan keperawatan secara paripurna.
Hasil evaluasi yang menentukan apakah masalah teratasi, teratasi
sebagian, atau tidak teratasi, yaitu dengan cara membandingkan
antara SOAP (Subjektive-Objektive-Assesment-Planning) dengan
tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan.
S: (Subjective) yaitu informasi berupa ungkapan yang didapat dari
lansia setelah tindakan diberikan.
O (Objective) yaitu informasi yang didapat berupa hasil pengamatan,
penilaian, pengukuran yang dilakukan oleh perawat setelah tindakan
dilakukan.
53 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik)
A (Assessment) yaitu membandingkan antara informasi subjective
dan objective dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil
kesimpulan bahwa masalah teratasi, teratasi sebagian, atau tidak
teratasi.
P (Planning) yaitu rencana keperawatan lanjutan yang akan dilakukan
berdasarkan hasil analisis.
Contoh:
S: Lansia mengatakan merasa kalau saat ini merasa senang sebab
anak dan cucunya berkunjung dan memperhatikannya
O: Lansia terlihat ceria dan mampu beraktifitas secara aktif mandiri
secara bertahap
A: Tujuan Tercapai
P : Rencana Keperawatan dihentikan.
H. Rangkuman Materi
1. Proses penuaan yang terjadi pada lansia memicu lansia mengalami
berbagai masalah kesehatan. Perawat memiliki peran dalam memberi
perawatan atau bantuan bagi lansia untuk memecahkan masalah
kesehatan dengan pendekatan proses keperawatan secara komprehensif
dalam bentuk asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.
2. Proses pengkajian keperawatan lansia dilakukan dalam usaha
pengumpulan data dengan wawancara, pemeriksaan fisik. Pengkajian
dilakukan untuk pemeriksaan perubahan secara fisik, psikologis,
psikososial, ekonomi, spiritual.
3. Diagnosis keperawatan lansia suatu penilaian klinis mengenai respons
klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya
baik yang berlangsung aktual maupun potensial.
4. Intervensi keperawatan lansia dilakukan didasarkan pada pengetahuan
dan penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan,
kemudian diprioritaskan untuk menentukan intervensi yang akan segera
dilakukan. Komponen dalam intervensi keperawatan yaitu S (subyek) P
(predikat) Kr (kriteria) Ko (kondisi) W (waktu),
5. Pelaksanaan tindakan gerontik diarahkan untuk mengoptimalkan kondisi
lansia agar mampu mandiri dan produktif. Pelaksanaan tindakan
keperawatan berdasarkan standar yang telah ditetapkan, sehingga dapat
menghasilkan pelayanan yang berkualitas untuk hasil yang
optimal.Memahami proses implementasi keperawatan lansia
6. Proses evaluasi keperawatan lansia merupakan kegiatan dalam
melaksanakan rencana tindakan yang telah ditentukan, kegiatan ini untuk
mengetahui pemenuhan kebutuhan klien secara optimal dan mengukur
hasil dari proses keperawatan.
I. Glosarium
Lansia : Lanjut usia
BAK : Buang Air Kecil
BAB : Buang Air Besar
GDS : Geriatic Depression Scale
MMSE : Mini Mental State Examination
SDKI : Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
SIKI : Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
SLKI : Standar Luaran Keperawatan Indonesia







