Minggu, 07 Juni 2026

perawatan gerontik

 


Lanjut usia atau biasa disebut dengan istilah “lansia” merupakan 

seseorang yang telah mencapai tahap akhir dalam siklus kehidupan manusia, 

yang ditandai dengan usia 60 tahun ke atas. Lansia mengalami suatu proses 

alami yang tidak dapat dihindari dan pasti akan dialami. Secara kronologis, 

lansia dikategorikan berdasarkan usia, tetapi konsep lansia lebih dari sekadar 

penambahan usia 

Dalam keperawatan gerontik, lansia dianggap sebagai kelompok orang 

yang mengalami perubahan kompleks dalam hal fisik, psikologis, dan sosial. 

Perubahan ini mencakup penurunan fungsi fisiologis, seperti penurunan 

kekuatan otot, penurunan kapasitas organ, dan penurunan sistem kekebalan 

tubuh. Di sisi psikologis, lansia mungkin mengalami perubahan dalam kognitif, 

seperti memori dan pemrosesan informasi, serta kesulitan emosional, seperti 

adaptasi terhadap kehilangan 

Lansia sering kali menghadapi perubahan dalam interaksi sosial, peran 

keluarga, dan status ekonomi secara sosial. Dukungan keluarga dan 

lingkungan sosial sangat penting untuk kesejahteraan lansia. Untuk membuat 

pendekatan keperawatan yang holistik dan berpusat pada kebutuhan orang 

tua, yang bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas hidup 

mereka seiring dengan bertambahnya usia, sangat penting untuk memahami 

konsep dasar ini 

Di Indonesia, lansia diatur dalam undang-undang No. 13 Tahun 1998 

tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut yaitu  seseorang yang telah 

mencapai usia lebih dari 60 tahun. menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU Pada 

hakekatnya menua bukan suatu penyakit, namun merupakan proses 

berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam 

maupun dari luar (Kemenkes RI, 2015). Dan pada tahun 2021, dikuatkan oleh 

Peraturan Presiden (Perpres) No. 88 Tahun 2021 tentang Strategi Nasional 

Kelanjutusiaan. Perpres ini  diharapkan dapat mewujudkan lansia yang 

mandiri, sejahtera, dan bermartabat 

B. Batasan Lansia  

Menurut Basuki et al., (2018), yang dikutip dari Organisasi Kesehatan Dunia 

atau World Health Organization (WHO), batasan usia lansia meliputi: 

 

      

1. Usia 45-59 tahun = Usia pertengahan (middle age) 

2. Usia 60-74 tahun = Lanjut usia (elderly) 

3. Usia 75-90 tahun = Lanjut usia tua (old) 

4. Usia diatas 90 tahun = Usia sangat tua (very old) 

 

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), batasan 

usia lansia diklasifikasikan sebagai berikut: 

1. Usia 50-64 tahun = Pralansia  

2. Usia 65-80 tahun = Lansia muda  

3. Usia>80 tahun  = Lansia lanjut  

Klasifikasi ini membantu dalam merancang program kesehatan dan layanan 

yang sesuai untuk setiap kelompok usia 

 

C. Teori Penuaan 

Ada beberapa teori yang menjelaskan proses penuaan, yang dapat dibagi 

menjadi beberapa kategori antara lain teori biologis, psikologis, sosiologis dan 

evolusi. Berikut yaitu  beberapa teori utama tentang proses penuaan: 

1. Teori Biologis 

a. Teori Radikal Bebas: Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab  

kerusakan sel yang disebabkan oleh radikal bebas, yaitu molekul yang 

sangat reaktif yang dapat merusak komponen seluler seperti DNA, 

protein, dan lipid. 

b. Teori Genetik: Menyatakan bahwa penuaan dikendalikan oleh genetik 

dan bahwa setiap organisme memiliki “jam biologis” yang menentukan 

umur panjangnya. 

c. Teori Cross-Linking: Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab  

pembentukan ikatan silang antara molekul protein yang mengakibatkan 

penurunan fungsi jaringan. 

d. Teori Apoptosis: Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab  kematian sel 

terprogram yang terhambat, mengakibatkan penurunan kemampuan 

regenerasi sel dan kerusakan sel 

2. Teori Psikologis 

a. Teori Aktivitas: Menyatakan bahwa individu yang tetap aktif secara fisik 

dan sosial cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan 

penuaan yang lebih sehat. 

 

6      

b. Teori Disengagement: Menyatakan bahwa penuaan yaitu  proses alami 

di mana individu secara bertahap menarik diri dari peran sosial dan 

tanggung jawab 

3. Teori Sosiologis 

a. Teori Continuity: Menyatakan bahwa individu yang mempertahankan 

pola hidup, kebiasaan, dan hubungan sosial yang konsisten sepanjang 

hidup mereka cenderung mengalami penuaan yang lebih positif. 

b. Teori Modernisasi: Menyatakan bahwa perubahan dalam struktur sosial 

dan ekonomi, seperti urbanisasi dan industrialisasi, dapat mempengaruhi 

status dan peran lansia dalam masyarakat (Ilmarinen, 2012). 

4. Teori Evolusi 

a. Teori Seleksi Antagonistik Pleiotropik (Antagonistic Pleiotropy Theory): 

Mengusulkan bahwa beberapa gen yang bermanfaat untuk reproduksi 

dan kelangsungan hidup pada usia muda memiliki efek merugikan pada 

kesehatan di usia tua. Gen ini tetap dipertahankan sebab  manfaatnya di 

usia muda melebihi kerugiannya di kemudian hari. 

b. Teori Akumulasi Mutasi (Mutation Accumulation Theory): Berpendapat 

bahwa seleksi alam menjadi kurang efektif pada usia lanjut, sehingga 

mutasi yang merugikan bisa terakumulasi tanpa diseleksi keluar dari 

populasi, yang kemudian berkontribusi pada penuaan dan kematian 


 

D. Faktor Yang Mempengaruhi Proses Penuaan dan Perubahan pada Lansia 

Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia dipengaruhi oleh berbagai 

faktor yang dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu: 

1. Faktor Internal 

a. Genetika: genetika berperan besar dalam menentukan bagaimana 

seseorang menua. Gen yang diwariskan dapat mempengaruhi 

kecepatan dan cara penuaan, termasuk risiko penyakit kronis yang 

terkait dengan usia, seperti alzheimer dan penyakit jantung 

b. Hormon: perubahan hormonal, seperti penurunan produksi hormon 

estrogen pada wanita setelah menopause atau penurunan testosteron 

pada pria, dapat mempengaruhi proses penuaan, termasuk densitas 

tulang, distribusi lemak tubuh, dan fungsi seksual

 

      

c. Metabolisme: laju metabolisme yang menurun seiring bertambahnya 

usia dapat mempengaruhi berat badan, energi, dan kemampuan tubuh 

untuk memperbaiki jaringan  

d. Sistem kekebalan tubuh: sistem kekebalan tubuh cenderung melemah 

dengan bertambahnya usia, yang membuat tubuh lebih rentan 

terhadap infeksi dan penyakit 

e. Sistem sel: Pada sel jumlahnya berkurang, ukuran membesar, cairan 

tubuh menurun, dan cairan intraseluler menurun. 

f. Sistem Organ: 

1) Sistem kardiovaskuler katup jantung menebal dan kaku, 

kemampuan memompa darah menurun, elastisitas pembuluh 

darah menurun, resistensi pembuluh darah meningkat atau 

hipertensi. 

2) Sistem respirasi, kekuatan otot pernafasan menurun, elastisitas paru 

menurun, kemampuan batuk menurun, dan dypsnea. 

3) Sistem persarafan, terjadi penurunan pada seluruh panca indera 

dan menurunnya respon atau reflek motorik maupun sensorik. 

4) Sistem urinaria, otot vesika urinaria menurun, hipertropi prostat, 

dan gangguan pada ginjal. 

5) Sistem gastrointestinal, esofagus melebar, rasa lapar menurun, 

peristaltik menurun, ukuran lambung mengecil dan asam lambung 

menurun. 

6) Sistem muskuloskeletal biasanya kadar kapur (kalsium) dalam 

tulang menurun sehingga mengakibatkan pengeroposan tulang 

atau osteoporosis dan mudah patah. 

7) Sistem endokrin, mengalami penurunan produksi hormon. 

8) Pada kulit keriput dan menipis, rambut di dalam hidung dan telinga 

menebal, kuku keras dan rapuh, serta rambut memutih. 

2. Faktor Eksternal 

a. Perubahan Sosial 

1) Peran meliputi post power syndrome (pensiun dan PHK), single 

woman, dan single parent (orang tua tunggal). 

2) Keluarga dan teman meliputi kehilangan (meninggal) dan 

kesendirian 

3) Ekonomi, politik, hukum, agama, pendidikan, rekreasi, keamanan, dan 

transportasi. 

 

8      

b. Perubahan Psikologi 

Perubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory 

(penurunan fungsi kognitif dan aktivitas fisik), frustasi, depresi, 

kecemasan, dan takut kehilangan kebebasan serta takut menghadapi 

kematian. 

c. Perubahan Lingkungan 

Paparan terhadap polusi, radiasi ultraviolet dari sinar matahari, dan bahan 

kimia berbahaya dapat mempercepat penuaan kulit dan meningkatkan 

risiko penyakit kronis. 

d. Gaya Hidup 

Kebiasaan seperti pola makan, aktivitas fisik, konsumsi alkohol, dan 

merokok memiliki dampak signifikan terhadap penuaan. Misalnya, pola 

makan yang tidak sehat dapat mempercepat penuaan, sementara 

olahraga teratur dapat memperlambatnya. 

e. Stressor 

Stres yang datang dari berbagai factor eksternal dapat berdampak 

negatif pada kesehatan secara keseluruhan dan mempercepat proses 

penuaan melalui mekanisme seperti peningkatan kadar kortisol, hormon 

stres yang dapat merusak jaringan tubuh 

 

E. Masalah pada lansia  

 dalam usaha  peningkatan kualitas hidup, 

lansia sering menghadapi berbagai masalah yang dapat mempengaruhi 

kualitas hidup mereka. Masalah-masalah ini dapat berupa masalah fisik, 

psikologis, sosial, maupun ekonomi. Akibatnya, diperlukan dukungan dari 

berbagai pihak baik keluarga maupun lainnya, termasuk intervensi medis, 

sosial, dan lingkungan. 

Berikut yaitu  beberapa masalah umum yang sering dialami oleh lansia: 

1. Masalah Kesehatan Fisik 

a. Penyakit Kronis: Banyak lansia menderita penyakit kronis seperti 

diabetes, hipertensi, penyakit jantung, arthritis, dan osteoporosis. 

Penyakit-penyakit ini sering kali memerlukan perawatan jangka panjang 

dan dapat mempengaruhi mobilitas serta kualitas hidup. 

b. Kehilangan Mobilitas: Penurunan kekuatan otot, keseimbangan, dan 

kepadatan tulang dapat memicu  kesulitan dalam bergerak, 

 

     

meningkatkan risiko jatuh, dan membuat lansia lebih tergantung pada 

orang lain. 

c. Gangguan Indera: Penurunan pendengaran, penglihatan, dan fungsi 

indera lainnya dapat membuat lansia kesulitan dalam berkomunikasi, 

membaca, dan menjalani aktivitas sehari-hari. 

d. Malnutrisi: Lansia berisiko mengalami malnutrisi akibat penurunan 

nafsu makan, gangguan pencernaan, atau masalah gigi yang membuat 

mereka sulit makan. 

e. Gangguan Tidur Insomnia dan gangguan tidur lainnya sering terjadi 

pada lansia, yang dapat memicu  kelelahan, penurunan kognitif, 

dan gangguan mood. 

2. Masalah Kesehatan Mental 

a. Depresi: Depresi yaitu  masalah kesehatan mental yang umum pada 

lansia, sering kali disebabkan oleh isolasi sosial, kehilangan orang yang 

dicintai, pensiun, atau penyakit kronis. 

b. Demensia: Penyakit seperti Alzheimer dapat memicu  penurunan 

kognitif yang signifikan, mempengaruhi memori, pemikiran, dan 

kemampuan berfungsi sehari-hari. 

c. Kecemasan: Lansia juga mungkin mengalami kecemasan yang 

disebabkan oleh ketidakpastian tentang kesehatan, keuangan, atau 

perubahan hidup lainnya. 

3. Masalah Sosial 

a. Isolasi Sosial: Lansia sering kali mengalami isolasi sosial akibat 

kehilangan pasangan, teman, atau anggota keluarga, serta penurunan 

mobilitas yang membatasi partisipasi dalam kegiatan sosial. 

b. Kehilangan Peran Sosial: Pensiun dan perubahan dalam peran sosial 

dapat memicu  perasaan kehilangan identitas dan harga diri, serta 

meningkatkan risiko depresi. 

c. Kekerasan dan Penelantaran: Beberapa lansia mungkin menjadi korban 

kekerasan fisik, emosional, atau finansial, atau mengalami penelantaran 

oleh pengasuh atau keluarga. 

4. Masalah Ekonomi 

a. Kesulitan Keuangan: Banyak lansia menghadapi masalah keuangan 

akibat pensiun, biaya perawatan kesehatan yang tinggi, atau kurangnya 

dukungan finansial dari keluarga. Hal ini dapat memicu  stres dan 

kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar. 

b. Ketergantungan Finansial: Lansia yang tidak memiliki sumber 

pendapatan yang memadai mungkin bergantung pada keluarga atau 

bantuan pemerintah, yang dapat memicu  rasa tidak nyaman atau 

penurunan harga diri. 

5. Masalah Lingkungan 

a. Perumahan yang Tidak Sesuai: Banyak lansia tinggal di rumah atau 

lingkungan yang tidak dirancang untuk kebutuhan mereka, seperti 

rumah dengan tangga yang curam atau akses yang sulit ke fasilitas 

umum. 

b. Kurangnya Akses ke Layanan Kesehatan: Lansia yang tinggal di daerah 

terpencil atau tidak memiliki transportasi yang memadai mungkin 

kesulitan mengakses layanan kesehatan yang mereka butuhkan. 

 

4. Menurut WHO dalam Ahmad & Damayanti, (2018). Dijelaskan bahwa: 

a. Teori Radikal Bebas 

Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab  kerusakan sel yang 

disebabkan oleh radikal bebas, yaitu molekul yang sangat reaktif yang 

dapat merusak komponen seluler seperti DNA, protein, dan lipid. 

b. Teori Genetik 

Menyatakan bahwa penuaan dikendalikan oleh genetik dan bahwa 

setiap organisme memiliki “jam biologis” yang menentukan umur 

panjangnya. 

c. Teori Cross-Linking 

Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab  pembentukan ikatan silang 

antara molekul protein yang mengakibatkan penurunan fungsi 

jaringan. 

d. Apoptosis 

Menyatakan bahwa penuaan terjadi sebab  kematian sel terprogram 

yang terhambat, mengakibatkan penurunan kemampuan regenerasi 

sel dan kerusakan sel 

5. Menurut Basuki et al., (2018). Dijelaskan bahwa: 

a. Teori Aktivitas: Menyatakan bahwa individu yang tetap aktif secara fisik 

dan sosial cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan 

penuaan yang lebih sehat. 

b. Teori Disengagement: Menyatakan bahwa penuaan yaitu  proses 

alami di mana individu secara bertahap menarik diri dari peran sosial 

dan tanggung jawab. 

6. Menurut Ilmarinen, (2012). Dijelaskan bahwa: 

a. Teori Continuity: Menyatakan bahwa individu yang mempertahankan 

pola hidup, kebiasaan, dan hubungan sosial yang konsisten sepanjang 

hidup mereka cenderung mengalami penuaan yang lebih positif. 

b. Teori Modernisasi: Menyatakan bahwa perubahan dalam struktur 

sosial dan ekonomi, seperti urbanisasi dan industrialisasi, dapat 

mempengaruhi status dan peran lansia dalam masyarakat. 

7. Menurut Mitteldorf, (2019). Dijelaskan bahwa: 

a. Teori Seleksi Antagonistik Pleiotropik (Antagonistic Pleiotropy Theory): 

Mengusulkan bahwa beberapa gen yang bermanfaat untuk reproduksi 

dan kelangsungan hidup pada usia muda memiliki efek merugikan 


pada kesehatan di usia tua. Gen ini tetap dipertahankan sebab  

manfaatnya di usia muda melebihi kerugiannya di kemudian hari. 

b. Teori Akumulasi Mutasi (Mutation Accumulation Theory): Berpendapat 

bahwa seleksi alam menjadi kurang efektif pada usia lanjut, sehingga 

mutasi yang merugikan bisa terakumulasi tanpa diseleksi keluar dari 

populasi, yang kemudian berkontribusi pada penuaan dan kematian. 

8. Ada 2 macam, antara lain: 

a. Faktor Internal menurut  antara 

lain: Genetika, Hormon, Metabolisme, Sistem kekebalan tubuh, Sistem 

sel, dan Sistem Organ 

b. Faktor Eksternal menurut , antara lain: Perubahan Sosial, Perubahan Psikologi, Perubahan 

Lingkungan, Gaya Hidup, dan Stressor 

9. Masalah Kesehatan Fisik, Masalah Kesehatan Mental, Masalah Sosial, 

Masalah Ekonomi, dan Masalah Lingkungan. 

 

G. Rangkuman Materi 

Lansia yaitu  individu yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas, 

mengalami proses alami yang melibatkan perubahan fisik, psikologis, dan 

sosial. Lansia mengalami penurunan fungsi fisiologis, kognitif, dan sosial. Di 

Indonesia, lansia diatur oleh UU No. 13 Tahun 1998 dan Perpres No. 88 Tahun 

2021, yang menekankan pentingnya kesejahteraan lansia. 

Batasan Lansia Menurut WHO, lansia dibagi menjadi: 

1. Usia 45-59 tahun: Usia pertengahan. 

2. Usia 60-74 tahun: Lansia. 

3. Usia 75-90 tahun: Lansia tua. 

4. Usia di atas 90 tahun: Usia sangat tua. 

Menurut Kemenkes RI, batasannya yaitu  Pra Lansia (45-59 tahun) dan Lansia 

(60 tahun ke atas). 

Teori Penuaan Teori penuaan dibagi menjadi: 

1. Teori Biologis seperti Radikal Bebas, Genetik, Cross-Linking, dan Apoptosis. 

2. Teori Psikologis seperti Aktivitas dan Disengagement. 

3. Teori Sosiologis seperti Continuity dan Modernisasi. 

4. Teori Evolusi seperti Seleksi Antagonistik Pleiotropik dan Akumulasi 

Mutasi. 

 

    

Proses penuaan dipengaruhi oleh faktor internal (genetika, hormon, 

metabolisme, sistem kekebalan tubuh, dan sistem organ) dan faktor eksternal 

(perubahan sosial, psikologi, lingkungan, gaya hidup, dan stressor). Lansia 

menghadapi masalah kesehatan fisik (penyakit kronis, gangguan mobilitas, 

indera, malnutrisi, gangguan tidur), kesehatan mental (depresi, demensia, 

kecemasan), sosial (isolasi, kehilangan peran, kekerasan), ekonomi (kesulitan 

keuangan, ketergantungan finansial), dan lingkungan (perumahan tidak sesuai, 

kurang akses layanan kesehatan). 

 

H. Glosarium 

CTL  : Contextual Teaching and Learning  

Kemenkes : Kementerian Kesehatan 

M.Kep  : Magister Keperawatan 

No.  : Nomor 

Ns  : Ners 

Perpres  : Peraturan Presiden 

PHK  : Putus Hubungan Kerja 

RI  : Republik Indonesia 

SDL  : Self-Directed Learning 

SGD  : Small Group Discussion 

S.Kep  : Sarjana Keperawatan 

SWT  : Subhanallahu Waa Ta’alla 

UU  : Undang-undang 

WHO  : World Health Organization 

 

  

KOMUNIKASI TERAPEUTIK SESUAI DENGAN 

MASALAH DAN PERKEMBANGAN LANJUT 

USIA 

 

 

A. Komunikasi dengan lansia 

Komunikasi yaitu  proses interpersonal yang melibatkan perubahan 

verbal dan non verbal dari informasi dan ide. Komunikasi mengacu tidak hanya 

pada isi tetapi juga pada perasaan dan emosi dimana individu menyampaikan 

hubungan (Potter-Perry, 301). Komunikasi yang baik akan sangat membantu 

dalam keterbatasan kapasitas fungsional, sosial, ekonomi, perilaku emosi yang 

labil pada pasien lanjut usia (William et al., 2007). Komunikasi efektif dapat 

mengikutsertakan partisipasi pasien dalam pengambilan keputusan. Dalam 

melakukan komunikasi dengan lansia perlu memperhatikan kelemahan-

kelemahan yang mungkin dimiliki oleh lansia sehingga komunikasi bisa lebih 

efektif dan saling percaya antar lansia dengan tenaga kesehatan bisa terjalin. 

Komunikasi yaitu  keterampilan inti dalam profesi keperawatan. 

Kemampuan dalam berkomunikasi secara efektif memiliki peranan penting 

untuk mengumpulkan data dan berbagi informasi serta untuk membangun 

hubungan dengan pasien dan keluarga mereka. Sebagai Perawat kita perlu 

mempelajari dan mempraktikkan seni komunikasi khususnya pada lansia, 

terlebih berkomunikasi dengan orang dewasa yang lebih tua dapat 

menimbulkan kecemasan dan penuh dengan tantangan. Tantangan-tantangan 

ini mungkin dikaitkan dengan masalah daya ingat lansia,maupun terkait 

dengan karakteristik fisiologis atau psikososial yang terkait dengan penuaan. 

Tujuan dari bab ini yaitu  untuk meninjau prinsip-prinsip dasar komunikasi 

dan menyajikan strategi untuk berkomunikasi dengan lansia. Informasi ini 

harus mendorong pengembangan keterampilan yang dibutuhkan untuk 

berkomunikasi secara efektif dan meningkatkan kesehatan yang optimal untuk 

lanjut usia.  

1. Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi dengan Lansia 

a. Komunikasi pada lanjut usia dapat menjadi lebih sulit akibat dari 

gangguan sensori yang terkait usia dan penurunan memori. Lansia 

yang mengalami masalah pendengaran ataupun kesulitan dalam 

mengingat dapat menjadi kendala tersendiri sehingga dapat menjadi 

sumber dari kesalahpahaman dan ketidaksampaian informasi yang 

akurat. Oleh sebab  itu sebagai tenaga kesehatan, perlunya kita 

memahami adanya kondisi ini sebelum melakukan komunikasi 

lanjutan dengan lansia 

 

19 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan 

Perkembangan Lanjut Usia 

b. Klien lanjut usia umumnya lebih sedikit bertanya dan menunggu untuk 

ditanya sesuai kewenangan tenaga kesehatan. Jangan memaksakan 

untuk lansia menjawab semua pertanyaan yang diajukan terutama 

bagi lansia yang mengalami masalah memori. Sebagai tenaga 

kesehatan, perlunya pro aktif dalam melakukan komunikasi dengan 

lansia agar informasi yang diharapkan dapat diperoleh dengan 

maksimal.  

c. Ageism lazim dijumpai pada perawatan kesehatan dan secara tidak 

sengaja berperan terhadap buruknya komunikasi dengan pasien lanjut 

usia 

d. Penyakit Kronis 

Salah satu faktor yang menghambat komunikasi dengan lansia yaitu 

adanya penyakit kronis yang dialami lansia. Hal ini memicu  

kadang lansia lebih apatis dan kurang dalam merespon terhadap 

lansia.  

2. Teknik agar Komunikasi dapat Berlangsung Efektif  

Sebelum melakukan komunikasi dengan lansia, ada beberapa teknik yang 

perlu diperhatikan diantaranya: 

a. Mulai komunikasi dengan melakukan pengecekan dahulu pada fungsi 

pendengaran klien. Hal ini penting dilakukan agar informasi yang akan 

disampaikan kepada klien dapat tersampaikan dengan baik sebab  

banyak informasi yang tidak sampai sebab  tenaga kesehatan tidak 

memahami bahwa lansia ini memiliki masalah pada gangguan 

pendengaran.  

Jika diperlukan keraskan suara saat  terjadi masalah pendengaran 

pada lansia, maka jika diperlukan, perawat/ tenaga kesehatan 

menambah volume suaranya sehingga lansia ini dapat memahami 

informasi yang akan di sampaikan kepada klien.  

b. Tempatkan perhatian klien sebelum memulai untuk berkomunikasi. 

Pandanglah klien sehingga klien dapat melihat gerakan mulut kita. Hal 

ini perlu dilakukan untuk memfokuskan perhatian lansia kepada kita 

selain itu bagi lansia yang mengalami gangguan pendengaran, dengan 

menghadapkan posisis klien dihadapan perawat, klien dengan mudah 

mengikuti gerakan mulut perawat saat berkomunikasi  

c. Pengaturan lingkungan sangat dianjurkan sehingga lingkungan lebih 

kondusif untuk berkomunikasi yang baik. Kurangi gangguan visual dan 

auditori seta pastikan pencahayaan yang cukup. 

d. Jika lansia ini  memiliki gangguan komunikasi, perhatikan 

kelemahannya sehingga lebih mudah dalam proses komunikasi. 

Jangan berharap untuk berkomunikasi dengan cara yang sama dengan 

orang yang tidak mengalami gangguan komunikasi  

e. Berbicara dengan pelan dan jelas saat menatap matanya, gunakan 

kalimat pendek dan bahasa yang sederhana. Hal ini penting dilakukan 

dimana seorang lansia memiliki banyak keterbatasan dengan bahasa 

yang singkat dan sederhana, seorang lansia akan lebih mudah 

mencerna kata-kata yang kita sampaikan.  

f. Bantu kata-kata anda dengan isyarat visual 

saat  komunikasi dengan memakai  kata-kata tidak 

tersampaikan dengan baik, perawat perlu mencari alternatif lain 

misalnya dengan memakai  isyarat visual yang dapat dimengerti 

oleh lansia ini .  

g. Berikan klien waktu untuk bertanya atau mengklarifikasi pertanyaan 

atau jawaban yang diberikan. Dalam melakukan komunikasi lansia, 

perlunya waktu yang diberikan kepada lansia untuk bertanya atau 

mengklarifikasi kata-kata yang mungkin masih belum dimengerti. Hal 

ini penting untuk menghindari adanya miskomunikasi antar klien dan 

perawat.  

h. Jadilah pendengar yang baik saat melakukan komunikasi dengan klien. 

Kebanyakan lansia akan mencurahkan semua isi hati hati nya serta apa 

yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga untuk 

kelancaran dalam menjalin komunikasi dengan seorang lansia, 

adakalanya perawat harus menjadi pendengar yang baik. Biarkan 

lansia ini  menceritakan atau mencurahkan isi hatinya hingga 

pada waktu perawat bisa menjalin komunikasi dengan baik dengan 

klien ini . Ikutkan keluarga yang merawat pasien di dalam 

ruangan saat proses komunikasi akan dilaksanakan sebab  biasanya 

orang terdekat klien sangat memahami pola komunikasi klien 

sehingga dapat membantu saat proses komunikasi. 

3. Penerapan Model Komunikasi pada Lansia  

 

21 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan 

Perkembangan Lanjut Usia 

Berbagai penerapan model yang dapat diaplikasikan dalam melakukan 

komunikasi denga lansia diantaranya:  

a. Model komunikasi Shannon Weaver  

Model komunikasi Shannon Weaver yaitu  model yang diterapkan 

dengan melibatkan anggota keluarga sebagi transmitter untuk 

mengenal lebih jauh tentang klien. Keluarga merupakan orang terdekat 

dari klien sehingga secara emosional lebih memahami pola komunikasi 

klien dalam sehari-hari. Kelebihan dari model ini yaitu dalam proses 

komunikasi, anggota keluarga atau orang lain yang berpengaruh 

dilibatkan. Namun kekurangannya memerlukan waktu yang cukup lama 

sebab  klien dalam reaksi penolakan sehingga tidak dapat melakukan 

evaluasi sebab  tidak ada umpan balik dalam proses komunikasi 

ini . 

b. Model SMCR  

Kelebihan dari model ini yaitu proses komunikasi simple sehingga 

model ini efektif bila keadaan lansia sehat belum banyak mengalami 

penurunan secara fisik maupun psikis. Sedangkan kekurangan dari 

model ini bahwa klien tidak memenuhi syarat seperti yang ditetapkan. 

Proses lamanya tergantung pada kondisi pasien.  

c. Model Leary 

Kelebihan dari model ini yaitu terjadi interaksi atau relationship antara 

perawat dan klien sehingga masalah lebih mudah diselesaikan. Namun 

dalam model ini perawat lebih dominan sedangkanklien harus patuh.  

d. Model Terapeutik  

Yaitu bentuk komunikasi yang membantu mendorong melakukan 

komunikasi dengan sifat empati, menghargai dan harmonis sehingga 

lansia akan lebih paham atas apa yang dibicarakan. Namun kondisi 

empati ini kurang cocok diterapkan pada lansia yang memiliki reaksi 

penolakan. 

e. Model Kayakinan Kesehatan  

Model ini menekankan pada persepsi klien untuk mencari sehat, 

menjauhi sakit, merasakan adanya ancaman/ manfaat untuk 

mempertahankan kesehatannya. 

f. Model Komunikasi Kesehatan  

Model komunikasi ini berfokus pada transaksi antar profesional 

kesehatan-klien yang sesuai dengan permasalahan kesehatan klien. 

 

B. Komunikasi dengan kelompok keluarga lansia 

1. Libatkan keluarga atau pihak terdekat untuk membantu perawat 

memperoleh sumber informasi atau data dan mengefektifkan rencana atau 

tidakan agar dapat terealisasi dengan baik. Hal ini dapat dilakukan dengan 

cara sebagai berikut:  

- Melibatkan keluarga atau pihak terdekat dalam membantu klien untuk 

menentukan perasaannya  

- Meluangkan waktu untuk menerangkan kepada mereka yang 

bersangkutan tentang masalah klien dan hal-hal yang dapat dilakukan 

dalam rangka membantu  

- Hendaknya pihak lain memuji usaha klien dalam usaha untuk 

menerima kenyataan 

- Menyadarkan pihak terkait akan pentingnya hukuman (bukan 

hukuman fisik) apabilan klien memakai  penolakan. 

2. Pendekatan perawatan lansia dalam konteks komunikasi  

a. Pendekatan fisik  

Mencari informasi tentang kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian, 

yang dialami, peruban fisik organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih 

bisa di capai dan dikembangkan serta penyakit yang dapat dicegah 

progresifitasnya. Pendekatan ini relative lebih mudah dilaksanakan dan 

dicarikan solusinya sebab  riil dan mudah di observasi 

b. Pendekatan psikologis  

sebab  pendekatan ini sifatnya abstrak dan mengarah pada perubahan 

perilaku, maka umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk 

melaksanakan pendekatan ini perawat berperan sebagai konselor, 

advokat, supporter, interpreter terhadap sesuatu yang asing atau 

sebagai penampung masalah-masalah yang pribadi dan sebagai 

sahabat yang akrab bagi klien. 

c. Pendekatan sosial  

Pendekatan ini dilakukan untuk meningkatkan keterampilan 

berinteraksi dalam lingkungan. Mengadakan diskusi, tukar pikiran, 

bercerita, bermain, atau mengadakan kegiatan-kegiatan kelompok 

merupakan implementasi dari pendekatan ini agar klien dapat 

berinteraksi dengan sesama klien maupun dengan petugas kesehatan 

d. Pendekatan spritual  

 

23 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan 

Perkembangan Lanjut Usia 

Perawat harus bisa memberi  kepuasan batin dalam hubunganya 

dengan Tuhan atau agama yang dianutnya terutama saat  klien 

dalam keadaan sakit. 

 

3. Teknik Komunikasi Pada Lansia 

Untuk dapat melaksanakan komunikasi yang efektif kepada lansia, 

selain pemahaman yang memadai tentang karakteristik lansia, petugas 

kesehatan atau perawat juga harus memiliki  teknik-teknik khusus agar 

komunikasi yang dilakukan dapat berlangsung secara lancar dan sesuai 

dengan tujuan yang diinginkan. Beberapa teknik komunikasi yang dapat 

di terapkan antara lain: 

a. Tehnik asertif  

Asertif yaitu  sikap yang dapat menerima, memahami pasangan 

bicara dengan menunjukan sikap peduli, sabar untuk mendengarkan 

dan memperhatikan saat  pasangan bicara agar maksud komunikasi 

atau pembicaraan dapat di mengerti. Asertif merupakan pelaksanaan 

dan etika berkomunikasi. Sikap ini akan sangat membantu petugas 

kesehatan untuk menjaga hubungan yang terapeutik dengan klien 

lansia. 

b. Responsif  

Reaksi petugas kesehatan terhadap fenomena yang terjadi pada klien 

merupakan bentuk perhatian petugas kepada klien. saat  perawat 

mengetahui adanya perubahan sikap atau kebiasaan klien sekecil 

apapun hendaknya menanyakan atau klarifikasi tentang perubahan 

ini  misalnya dengan mengajukan pertanyaan ‘apa yang sedang 

bapak/ ibu pikirkan saat ini, ‘apa yang bisa bantu?, berespon berarti 

bersikap aktif tidak menunggu permintaan bantuan dari klien. Sikap 

aktif dari petugas kesehatan ini akan menciptakan perasaan tenang 

bagi klien. 

c. Fokus  

Sikap ini merupakan usaha  perawat untuk tetap konsisten terhadap 

materi komunikasi yang di inginkan. saat  klien mengungkapkan 

pertanyaan-pertanyaan di luar materi yang diinginkan, maka perawat 

hendaknya mengarahkan maksud pembicaraan. usaha  ini perlu di 

perhatikan sebab  umumnya klien lansia senang menceritakan hal-hal 

yang mungkin tidak relevan untuk kepentingan petugas kesehatan. 

 

24      

d. Supportif  

Perubahan yang terjadi pada lansia, baik pada aspek fisik maupun 

psikis secara bertahap memicu  emosi klien relative menjadi labil 

perubahan ini perlu di sikapi dengan menjaga kesetabilan emosi klien 

lansia, mesalnya dengan mengiyakan, senyum dan mengagukkan 

kepala saat  lansia mengungkapkan perasaannya sebagai sikap 

hormat menghargai selama lansia berbicara. Sikap ini dapat 

menumbuhkan kepercayaan diri klien lansia sehingga lansia tidak 

menjadi beban bagi keluarganya. Dengan demikian diharapkan klien 

termotivasi untuk menjadi dan berkarya sesuai dengan 

kemampuannya. Selama memberi dukungan baik secara materiil 

maupun moril, petugas kesehatan jangan terkesan menggurui atau 

mangajari klien sebab  ini dapat merendahkan kepercayaan klien 

kepada perawat atau petugas kesehatan lainnya. 

e. Klarifikasi 

Dengan berbagai perubahan yang terjadi pada lansia, sering proses 

komunikasi tidak berlangsung dengan lancar. Klarifikasi dengan cara 

mengajukan pertanyaan ulang dan memberi penjelasan lebih dari satu 

kali perlu di lakukan oleh perawat agar maksud pembicaraan kita dapat 

di terima dan dipersepsikan sama oleh klien. 

Komunikasi antara perawat dengan pasien geriatri sangat berbeda 

dengan saat berkomunikasi dengan pasien dewasa. Perbedaan terjadi 

sebab  pada pasien geriatri, sebab  pasien mengalami berbagai gangguan 

yang bisa menghambat komunikasi antara perawat dan pasien, perawat 

harus mempelajari apa yang disebut dengan komunikasi terapeutik. 

Sejatinya, perawat berkomunikasi dengan pasien, dalam rangka 

meningkatkan kesembuhan pasien. sebab  itu dalam komunikasi 

terapeutik, saat berkomunikasi, akan tergantung bagaimana gangguan 

yang dialami pasien geriatri, dan disesuaikan dengan tingkat kesadaran 

nilai GCS (Glasgow Coma Scale). 

Cara berkomunikasi dengan pasien yang mengalami gangguan 

pendengaran sangat berbeda dengan pasien yang mengalami gangguan 

penglihatan atau pasien yang mengalami pikun atau demensia. Saat 

melakukan komunikasi terapeutik, akan melakukan tindakan, perawat 

harus memberitahukan pasien tindakan apa yang akan dilakukan, berapa 

lama waktu yang diperlukan, dan tujuan dari tindakan. Misalnya, perawat 

 

25 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan 

Perkembangan Lanjut Usia 

akan memberi  obat lewat suntikan, harus memberitahukan pasien 

terkait tujuan dilakukan pemberian obat lewat suntikan, berapa lama 

waktu yang dibutuhkan dan obat yang akan diberikan serta kemungkinan 

efeknya.  

Hal penting saat  perawat akan melakukan tindakan apa serta 

tujuannya yaitu: Pertama, perawat harus memperkenalkan diri, terlebih jika 

baru pertama kali bertemu dengan pasien. Kedua, dijelaskan si perawat 

akan bertugas dari jam berapa hingga jam berapa, dan bertugas di ruang 

apa saja. Ketiga, memberitahukan tindakan yang akan dilakukan, misalnya 

suntikan, obatnya, tujuannya apa, dan berapa waktu yang diperlukan, serta 

di bagian mana pasien akan disuntik. Kita jelaskan hal-hal ini  hingga 

pasien benar-benar mengerti, baru tindakan bisa dilakukan. Jika pasien 

ingin tindakan ditunda, misalnya ingin dilakukan setelah makan, jika 

memang bisa ditunda maka keinginan pasien bisa dipenuhi. Jika memang 

harus segera dilakukan, sebab  pemberian obat harus tepat waktu, maka 

pasien harus diberi pengertian, susaha  pasien menyadari tindakan ini  

penting untuk dilaksanakan. Keempat, saat  tindakan sudah dilakukan, 

kita berikan waktu untuk meihat respons pada pasien, apakah ada keluhan, 

kita evaluasi dan jelaskan kalau terjadi reaksi tertentu beberapa jam setelah 

tindakan. Kelima, pasca tindakan perawat harus memberitahukan dimana 

pasien bisa mengontak dirinya, dan kapan akan kembali ke pasien untuk 

tindakan berikutnya. 

Komunikasi terapeutik yang harus dilakukan pada pasien geriatri 

yang memiliki gangguan fisik yang berbeda? Pertama, saat assesment, 

perawat harus mengerti gangguan fisik yang dialami pasien yang mungkin 

menghambat pola komunikasi. 

Kedua, setelah mengetahui, perawat berkomunikasi dengan 

pasien dengan memperhatikan bagian fisik yang mengalami gangguan. 

Misalnya, jika ada gangguan pendengaran di telinga sebelah kiri, maka 

perawat harus berbicara dari sisi sebelah kanan, demikian juga sebaliknya. 

Ketiga, saat  pasien mengalami gangguan pendengaran pada kedua 

telinga, gunakan tulisan agar pasien mengerti. Jika pasien tidak mengalami 

gangguan pendengaran tetapi mengalami gangguan penglihatan, maka 

komunikasi dengan suara akan lebih efektif. Keempat, jika berkomunikasi 

dengan pasien demensia atau pikun, perawat tidak boleh menjelaskan 

terlalu panjang lebar. Berkomunikasihlah dengan singkat, pada, jelas 

 

sehingga bisa dimengerti oleh pasien. Kalau penjelasan terlalu panjang 

lebar dikhawatirkan pasien akan bingung 

 

C. Masalah komunikasi yang umum terjadi pada lansia 

1. Pasien dengan Defisit Sensorik 

Defisit sensorik yaitu  suatu kerusakan dalam fungsi normal 

penerimaan dan persepsi sensori. Individu tidak mampu menerima stimulus 

tertentu (misalnya kebutaan atau tuli), atau stimulus menjadi distorsi 

(misalnya penglihatan kabur sebab  katarak). Kehilangan sensori secara tiba-

tiba dapat memicu  ketakutan, marah, dan perasaan tidak berdaya. 

Apabila indera rusak maka perasaan terhadap diri juga rusak. Pada awalnya 

individu bersikap menarik diri dengan menghindari komunikasi atau 

sosialisasi dengan orang lain dalam suatu usaha untuk mengatasi 

kehilangan sensori. 

Klien yang mengalami defisit sensori dapat mengubah perilaku 

dalam cara-cara yang adaptif atau maladaptif. Sebagai contoh, seorang 

klien yang mengalami kerusakan pendengaran dapat memutar telinga yang 

tidak terganggu kearah pembicara untuk mendengar dengan lebih baik, 

sementara klien lain mungkin menghidar dari orang lain untuk menghidari 

malu sebab  tidak mampu memahami pembicaraan mereka. 

a. Pendekatan komunikasi dengan lansia dengan gangguan 

pendengaran  

Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang 

paling sering digunakan ialah media visual. Klien menangkap pesan 

bukan dari suara yang dikeluarkan orang lain, tetapi dengan 

mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi sangat 

penting bagi klien ini sehingga dalam melakukan komunikasi, usaha kan 

susaha  sikap dan gerakan anda dapat ditangkap oleh indra visualnya. 

Pendekatan komunikasi dengan lansia dengan gangguan sensoris 

pendengaran yaitu  sebagai berikut:  

• Orientasikan kehadiran anda dengan cara menyentuh klien atau 

memposisikan diri di depan klien 

• Gunakan bahasa yang sederhana dan bicaralah dengan perlahan 

untuk memudahkan klien membaca gerak bibir anda. 

• Usahakan berbicara dengan posisi tepat didepan klien dan 

pertahankan sikap tubuh dan mimik wajah yang lazim 

 

27 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan 

Perkembangan Lanjut Usia 

• Jangan melakukan pembicaraan saat  anda sedang mengunyah 

sesuatu (permen karet) 

• Bila mungkin gunakan bahasa pantomim dengan gerakan 

sederhana dan wajar 

• Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila anda bisa dan 

diperlukan 

• Apabila ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan, cobalah 

sampaikan pesan dalam bentuk tulisan atau gambar (simbol). 

b. Pendekatan komunikasi dengan lansia dengan gangguan Penglihatan  

Gangguan penglihatan dapat terjadi baik sebab  kerusakan 

organ, missal: kornea, lensa mata, kekeruhan humor viterius, maupun 

kerusakan kornea, serta kerusakan saraf penghantar impuls menuju 

otak. Kerusakan di tingkat persepsi antara lain dialami klien dengan 

kerusakan otak. Semua ini mengakibatkan penurunan visus hingga 

dapat memicu  kebutaan, baik parsial maupun total. Akibat 

kerusakan visual, kemampuan menangkap rangsang saat  

berkomunikasi sangat bergantung pada pendengaran dan sentuhan. 

Oleh sebab  itu, komunikasi yang dilakukan harus mengoptimalkan 

fungsi pendengaran dan sentuhan sebab  fungsi penglihatan sedapat 

mungkin harus digantikan oleh informasi yang dapat ditransfer melalui 

indra yang lain. 

 

Berikut yaitu  tehnik-tehnik yang diperhatikan selama berkomunikasi 

dengan klien yang mengalami gangguan penglihatan: 

• Sedapat mungkin ambil posisi yang dapat dilihat klien bila 

mengalami kebutaan parsial atau sampaikan secara verbal 

keberadaan/ kehadiran perawat saat  anda berada didekatnya 

• Identifikasi diri anda dengan menyebutkan nama (dan peran) anda 

• Berbicara memakai  nada suara normal sebab  kondisi klien 

tidak memungkinkanya menerima pesan verbal secara visual. Nada 

suara anda memegang peranan besar dan bermakna bagi klien 

• Terangkan alasan anda menyentuh atau mengucapkan kata–kata 

sebelum melakukan sentuhan pada klien 

• Informasikan kepada klien saat  anda akan meninggalkannya/ 

memutus komunikasi 

• Orientasikan klien dengan suara–suara yang terdengar disekitarnya. 


• Orientasikan klien pada lingkunganya bila klien dipindah ke 

lingkungan / ruangan yang baru. 

c. Pendekatan komunikasi dengan pasien gangguan wicara  

Berkomunikasi dengan klien dengan gangguan wicara 

memerlukan kesabaran susaha  pesan dapat dikirim dan ditangkap 

dengan benar. Klien yang mengalami gangguan wicara umumnya telah 

belajar berkomunikasi dengan memakai  bahasa isyarat atau 

memakai  tulisan dan gambar. 

Pada saat berkomunikasi dengan klien dengan gangguan wicara, hal-

hal berikut perlu diperhatikan: 

• Perhatikan mimik dan gerak bibir klien 

• Memperjelas kata–kata yang diucapkan kien dengan mengulang 

kembali. 

• Batasi topik pembicaraan. 

• Suasana rilek dan pelan. 

• Bila perlu gunakan bahasa tulisan/ simbol. 

d. Pendekatan komunikasi dengan pasien gangguan kematangan 

kognitif  

Berbagai kondisi dapat mengakibatkan gangguan kematangan 

kognitif, antara lain akibat penyakit: retardasi mental, sindrome down 

ataupun situasi sosial, misal: pendidikan yang rendah, kebudayaan 

primitif, dan sebagainya. Dalam berkomunikasi dengan klien yang 

mengalami gangguan kematangan, sebaiknya memperhatikan prinsip 

komunikasi dengan pendekatan komunikasi efektif, yaitu mengikuti 

kaidah sesuai kemampuan audiens (capability of audience) sehingga 

komunikasi dapat berlangsung lebih efektif. Tehnik-tehnik komunikasi 

dengan klien yang mengalami gangguan kognitif: 

• Bicara dengan tema yang jelas dan terbatas 

• Hindari pemakaian  istilah, gunakan kata pengganti yang mudah 

dimengerti, gambar, simbol 

• Nada bicara yang relatif datar dan pelan 

• Bia perlu lakukan pengulangan, tanyakan kembali pesan untuk 

memastikan maksud pesan sudah diterima 

• Hati–hati dalam komunikasi nonverbal, dapat menimbulkan 

interpretasi yang beda pada klien. 

2. Pasien dengan Dimensia  

 

29 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan 

Perkembangan Lanjut Usia 

Penyakit Demensia Alzheimer merupakan penyakit yang diderita 

orang tua berusia lanjut. Penyakit ini ditandai oleh melemahnya daya ingat, 

hingga gangguan otak dalam melakukan perencanaan, penalaran, persepsi, 

dan berbahasa. Meski belum diketahui penyebabnya secara pasti, namun 

para ahli percaya bahwa penyakit Alzheimer umumnya terjadi akibat 

meningkatnya produksi protein dan khususnya penumpukan protein beta-

amyloid di dalam otak yang memicu  kematian sel saraf. 

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena 

penyakit, seperti pertambahan usia, cidera parah di kepala, riwayat 

kesehatan keluarga atau genetika, dan gaya hidup. Penyakit Alzheimer 

sangat rentan  diderita oleh orang-orang yang telah berusia di atas 65 tahun 

dan sebanyak 16 persen dialami yang usianya di atas 80 tahun. Faktor yang 

paling kritis dalam berkomunikasi dengan pasien demensia yaitu  

memantapkan hubungan perawatan sesegera mungkin. Hal penting dalam 

merawat pasien dengan penuh martabat dan hormat. Ada kecenderungan 

untuk memperlakukan pasien demensia seperti anak-anak atau berbicara 

dengan mereka sepertinya mereka yaitu  anak-anak. Harus diingat bahwa 

pasien demensia kehilangan kemampuannya untuk berkomunikasi, bukan 

kehilangan kepandaiannya. Mereka yaitu  orang dewasa yang hidup 

produktif dan layak mendapatkan penghormatan. Pasien demensia juga 

sangat sensitif terhadap emosi orang lain. Pada umumnya pasien ini , 

lebih merespon kepada bagaimana cara seseorang berbicara kepada 

mereka daripada apa yang sebetulnya dikatakan. 

 

D. Perumusan diagnosa keperawatan pada lansia dengan masalah 

komunikasi 

1. Gangguan persepsi sensori-pendengaran berhubungan dengan 

penurunan, keterlambatan atau ketiadaan kemampuan untuk menerima, 

memproses, mengirim, dan atau memakai  system simbol ditandai 

dengan klien mengatakan kepala sering tiba tiba pusing dan kuping tiba-

tiba berdengung, klien mengatakan jarang memeriksakan kesehatan 

kepuskemas, klien mengatakan keluhan ini terjadi sekitar 2 tahun terakhir, 

klien ingin membeli alat bantu pendengar, Klien tampak kesulitan dalam 

memahami komunikasi, Klien tidak mampu mendengar, Klien tampak 

bingung saat diajak bicara, Suka melamun dan menyendiri, Respon klien 

tidak sesuai saat bicara dengan yang dikatakan lawan bicara. 

 

2. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis 

(degenerasi neuron ireversibel), kehilangan memori/ ingatan, gangguan 

tidur, konflik psikologis, gangguan penilaian, ditandai dengan hilang 

konsentrasi (distrakbilitas), hilang ingatan/ memori, tidak mampu membuat 

keputusan, menghitung, mengumpulkan gagasan, melakukan abstraksi 

dan memecahkan masalah. 

3. Gangguan persepsi-sensori (universal) berhubungan dengan pembatasan 

lingkungan secara terapeutik (isolasi, perawatan intensif, tirah baring), 

pembatasan lingkungan sosial (panti jompo, stigma, keterbelakangan 

mental, perubahan persepsi, tidak mampu berkomunikasi, gangguan tidur, 

nyeri), stres psikologis, gangguan kimiawi (endogen, eksogen), ditandai 

dengan perubahan kemampuan pemecahan masalah, perubahan respon 

stimulasi normal seperti disorientasi spasial, bingung, perubahan perilaku, 

konsentrasi menurun, respon emosional berlebihan, perubahan sensasi 

rasa. 

4. Gangguan bahasa spesifik dan strategi berhubungan dengan individu yang 

menderita penyakit Alzheimer ditandai dengan gangguan mengingat kata, 

kehilangan komunikasi yang bermakna (semantik), fokus pada diri sendiri 

dan peran masa lalu, ketidakmampuan berespon, penurunan kemampuan 

bercaka-cakap, ketidakmampuan mengikuti perintah, ketidakmampuan 

menulis, pemahaman terhadap bacaan menurun. 

E. Perencanaan tindakan keperawatan pada lansia dengan masalah 

komunikasi 

1. Perencanaan/ intervensi keperawatan pada gangguan persepsi sensori- 

pendengaran meliputi:  

a. mendengarkan klien dengan penuh perhatian; hadapi klien secara 

langsung, bangun kontak mata 

b. gunakan suara yang lebih rendah dalam berbicara 

c. hindari lingkungan yang berisik saat berbicara 

d. gunakan gerakan tubuh bila diperlukan 

e. monitor akumulasi serumen yang berlebihan 

f. bersihkan serumen yang berlebihan 

g. melakukan skrining rutin terkait dengan fungsi pendengaran 

h. melakukan peningkatan kualitas komunikasi dengan pasien 

2. Perencanaan/ intervensi keperawatan pada perubahan proses pikir 

meliputi:  

 

31 Komunikasi Terapeutik Sesuai Dengan Masalah dan 

Perkembangan Lanjut Usia 

a. kembangkan lingkungan yang mendukung hubungan klien-perawat 

yang terapeutik 

b. kaji derajat gangguan kognitif seperti perubahan orientasi, rentang 

perhatian dan kemampuan berpikir 

c. pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang 

d. lakukan pendekatan secara perlahan 

e. tatap wajah saat  berbicara dengan klien 

f. panggil klien dengan namanya; gunakan suara yang agak rendah dan 

berbicara secara perlahan 

g. gunakan kata-kata pendek, kalimat dan instruksi sederhana 

h. berhenti sejenak diantara kalimat dan beri isyarat tertentu, gunakan 

kalimat terbuka 

i. dengarkan penuh perhatian pembicaraan klien, interpretasikan 

pertanyaan, arti dan kata 

j. hindari kritikan, argumentasi dan konfrontasi negati 

k. gunakan distraksi/ pengalihkan perhatian jika tidak meningkatkan 

kecemasan 

l. hindari dari aktivitas dan komunikasi yang dipaksakan 

m. gunakan hal-hal yang humoris saat berinteraksi dengan klien 

n. fokuskan tingkah laku yang sesuai 

o. hormati klien dan evaluasi kebutuhan secara spesifik 

p. berikan kesempatan saling memiliki dan dimiliki 

q. ciptakan aktivitas sederhana, bermanfaat dan tidak bersifat kompetitif 

sesuai kemampuan klien 

r. evaluasi pola tidur, catat letargi, peningkatan peka rangsang, sering 

menguap, dan garis hitam di bawah mata. 

 

3. Perencanaan/ intervensi keperawatan pada gangguan persepsi-sensori 

(universal) meliputi:  

a. kembangkan lingkungan yang supportif dan hubungan perawat-klien 

terapeutik 

b. bantu klien untuk memahami halusinasi 

c. beri informasi tentang sifat halusinasi, hubungan terhadap stressor 

traumatic, pengobatan dan cara mengatasi 

d. kaji derajat sensoria tau gangguan persepsi 

e. ajarkan strategi mengurangi stress 

 

f. anjurkan memakai  kaca mata atau alat bantu pendengaran sesuai 

kebutuhan 

g. pertahankan hubungan orientasi realita dan lingkungan 

h. berikan lingkungan yang tenang 

i. berikan sentuhan dan perhatian 

j. berikan perhatian dalam kenangan indah secara berkala 

k. ajak piknik sederhana, jalan-jalan dan pantau aktivitas 

l. tingkatkan keseimbangan fungsi fisiologis 

m. libatkan aktivitas sesuai kemampuan dan situasu tertentu 

 

4. Perencanaan/ intervensi keperawatan pada gangguan bahasa spesifik dan 

strategi meliputi: 

a. minimalkan keletihan, beri kesempatan untuk tidur 

b. pelajari pengalaman dan hubungan yang dijalin pada masa lalu 

c. jangan menyangkal atau mengorientasikan Kembali individu saat  

klien berfantasi 

d. gunakan cerita dan kisah lucu dan menyenangkan 

e. gunakan tehnik validasi, terapi nostalgia dan Analisa percakapan 

f. kombinasikan lingkungan, tindakan, ekspresi wajah dan pantomin 

disertai pemakaian  komunikasi verbal 

g. verbalisasi suatu topik/ pemikiran sederhana untuk setiap pernyataan 

dan berikan waktu yang cukup 

h. gunakan gestur yang sopan disertai ungkapan kata-kata 

i. anjurkan keluarga tentang strategi untuk memperbaiki kesalahan 

dalam percakapan yang dibuat orang yang dicintai dengan orang lain. 

 

G. Rangkuman Materi  

Komuniasi merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam membantu 

memenuhi kebutuhan klien, bahkan dapat membantu penyembuhan lansia. 

Prinsip dalam berkomunikasi terhadap lansia disesuaikan gangguan yang 

terjadi. Pemasalahan atau diagnosa keperawatan prioritas terkait komunikasi 

pada lansia yaitu gangguan persepsi-sensori pendengaran, perubahan proses 

pikir, gangguan persepsi-sensori, gangguan Bahasa spesifik dan strategi. 

 

H. Glosarium 

Lansia : lanjut usia 

SMCR : Sender Message Channel Receiver 

GCS : Glasgow Coma Scale 

 


ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA (GE

Tujuan penulisan buku ini yaitu  untuk membantu pembaca dalam memahami 

konsep asuhan keperawatan gerontik. Setelah membaca buku ini, pembaca akan 

lebih memahami dalam penerapan asuhan keperawatan pada lansia dengan 

masalah biologis/ fisik, psikologis, sosial kultural maupun spiritual. 

Buku ini dapat digunakan yaitu  mahasiswa, dosen maupun atau tenaga perawat 

profesional dalam meningkatkan pengetahuan, kemampuan dalam perawatan 

lansia melalui pendekatan asuhan keperawatan.  

Buku ini berisikan tentang penyusunan asuhan keperawatan lansia (pengkajian, 

analisis data, perumusan diagnosis keperawatan, merencanakan intervensi, 

implementasi hingga evaluasi keperawatan pada lansia. 

Tujuan Intruksional dan Capaian Pembelajaran 

Setelah mempelajari buku ini diharapkan pembaca mampu menjelaskan konsep 

dasar asuhan keperawatan gerontik dengan memfokuskan pada asuhan individu 

lansia dengan masalah biologis/ fisik, psikologis, sosial kultural maupun spiritual. 

 

Tujuan Intruksional: 

Setelah mempelajari buku ini diharapkan pembaca: 

A. Memahami konsep asuhan keperawatan lansia  

B. Memahami proses pengkajian keperawatan lansia  

C. Memahami proses analisis dan diagnosis keperawatan lansia 

D. Memahami proses  intervensi keperawatan lansia 

E. Memahami proses implementasi keperawatan lansia 

F. Memahamai proses evaluasi keperawatan lansia 

Capaian Pembelajaran: 

A. Memahami konsep asuhan keperawatan lansia  

1. Sasaran asuhan keperawatan  

2. Tujuan asuhan keperawatan 

B. Memahami proses pengkajian keperawatan lansia  

1. Lingkungan dalam proses pengkajian dilakukan  

2. Faktor yang memengaruhi pengkajian pada lansia  

3. Pengkajian data pada lansia secara fisik lansia 

4. Pengkajian data pada lansia secara psikologis lansia 

5. Pengkajian data pada lansia secara psikososial dan ekonomi lansia  

6. Pengkajian data pada lansia secara spiritual lansia  

C. Memahami proses analisis dan diagnosis keperawatan lansia 

1. Pengertian analisis data dan diagnosis keperawatan  

2. Komponen diagnosis keperawatan  

3. Jenis diagnosis keperawatan  

D. Memahami proses  intervensi keperawatan lansia 

1. Definisi intervensi dan tindakan keperawatan  

2. Prioritas masalah keperawatan  

3. Penentuan tujuan dan hasil yang diharapkan  

4. Rencana tindakan  

5. Luaran keperawatan 

E. Memahami proses implementasi keperawatan lansia 

F. Memahamai proses evaluasi keperawatan lansia 

 

37 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik) 

1. Definisi evaluasi keperawatan  

2. Penilaian evaluasi  

3. Kegiatan dalam evaluasi  

4. Manfaat evaluasi dalam keperawatan  

5. Jenis evaluasi  

  


 

Keperawatan Lansia  

Keperawatan yaitu  bentuk pelayanan kepada masyarakat yang didasarkan pada 

ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-kultural dan 

spiritual yang berdasarkan pada pencapaian bersifat komperhensif yang 

ditujukan kepada individu, kelompok, keluarga, dan masyarakat baik dalam 

keadaan sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. 

Keperawatan yaitu  suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan 

bagian integral dari pelayanan kesehatan bersifat komprehensif agar dapat 

mencapai status kesehatan lansia yang optimal.  Proses penuaan yang terjadi 

pada lansia memicu  lansia mengalami berbagai masalah kesehatan. 

Perawat memiliki peran dalam memberi  perawatan atau bantuan bagi lansia 

untuk memecahkan masalah kesehatan dengan pendekatan proses keperawatan 

secara komprehensif dalam bentuk asuhan keperawatan yang meliputi 

pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.  

 

A. Konsep Asuhan Keperawatan Lansia  

Keperawatan yaitu  bentuk pelayanan kepada masyarakat yang didasarkan 

pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-

kultural dan spiritual yang berdasarkan pada pencapaian bersifat 

komperhensif yang ditujukan kepada individu, kelompok, keluarga, dan 

masyarakat baik dalam keadaan sehat maupun sakit yang mencakup seluruh 

proses kehidupan manusia. 

1. Asuhan keperawatan gerontik diberikan berupa bantuan kepada klien 

lanjut usia sebab  adanya : 

a. Kondisi kelemahan fisik, mental dan sosial lansia  

b. Keterbatasan pengetahuan yang dimiliki lansia  

c. Kurangnya kemampuan, motivasi dan kemauan dalam melaksanakan 

aktivitas hidup sehari-hari secara mandiri. 

2. Tujuan Asuhan Keperawatan lansia 

a. Agar lansia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri 

dengan : 

1) Peningkatan kesehatan (Health Promotion) 

2) Pencegahan penyakit (Health Prevention) 

 

39 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik) 

3) Pemeliharaan kesehatan (Health Maintenance) 

Sehingga memiliki ketenangan hidup dan produktif sampai akhir hidup. 

b. Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang 

usianya telah lanjut dengan jalan perawatan dan pengobatan. 

c. Membantu mempertahankan serta meningkatkan daya hidup semangat 

hidup klien lansia (Life Support). 

d. Menolong dan merawat klien lansia yang menderita penyakit atau 

mengalami gangguan tertentu (kronis maupun akut). 

e. Merangsang para petugas kesehatan (dokter, perawat) untuk dapat 

mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka 

menjumpai suatu kelainan atau kondisi tertentu pada lansia. 

f. Mencari usaha  semaksimal mungkin agar para klien lanjut usia yang 

menderita suatu penyakit/gangguan masih dapat mempertahankan 

kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara 

kemandirian secara maksimal) 

 

B. Proses Pengkajian Keperawatan Individu Lansia 

Pengkajian pada lansia merupakan langkah penting dalam 

memberi  asuhan keperawatan. Data multidimensional yang dikaji akan 

memberi  gambaran mengenai status kesehatan lansia secara menyeluruh 

baik kondisi kesehatan fisik, mental, sosial, maupun fungsi tubuh secara 

keseluruhan sehingga diharapkan intervensi yang dilakukan akan lebih 

terarah dan komprehensif, untuk mengoptimalkan derajat kesehatan lansia 

di masa mendatang. Pengkajian ini dapat dilakukan di rumah, rumah sakit, 

pusat perawatan sehari, maupun di fasilitas perawatan jangka panjang (panti). 

Selama proses pengkajian, perawat perlu menciptakan lingkungan 

yang kondusif selama pengkajian, meliputi: 

1. pemakaian  ruangan serta lingkungan yang adekuat, terutama apabila 

klien memakai  alat bantu mobilisasi agar lansia tetap aman 

2. Minimalkan kebisingan dan distraksi agar lansia tetap fokus dan rileks 

3. Suhu ruangan cukup hangat dan nyaman 

4. Beri tempat dengan penerangan yang cukup 

5. Beri posisi duduk yang nyaman selama pengkajian 

6. Sediakan air minum didekat klien 

7. Jaga privasi klien 

8. Pengkajian harus dilakukan dengan relaks, sabar dan tidak tergesa-gesa 

 

9. Berikan klien banyak waktu untuk berespon terhadap pertanyaan dan 

petunjuk, jangan terkesan terburu-buru. 

10. Waspadai adanya tanda keletihan seperti mengeluh, menyeringai, peka, 

bersandar ke objek, kepala dan bahu terkulai, serta kelambanan progresif. 

11. Lakukan pengkajian selama puncak energy klien, biasanya pada pagi hari. 

 

Lingkungan yang kondusif akan memungkinkan pengkajian dapat 

berjalan dengan baik dan lancar. Selain itu untuk mendapatkan hasil 

pengkajian yang optimal, perawat harus memperhatikan hal-hal sebagai 

berikut: 

1. Kaji lebih dari satu kali dan pada waktu yang berbeda setiap hari 

2. Pastikan bahwa alat bantu sensori sensitive (kacamata, alat bantu dengar) 

dan alat mobilitas (tongkat walker) tersedia dan berfungsi dengan tepat. 

3. Wawancarai keluarga, teman dan orang terdekat yang terlibat dalam 

perawatan klien untuk memvalidasi pengkajian 

4. Gunakan bahasa tubuh, sentuhan, kontak mata dan berbicara untuk 

meningkatkan tingkat partisipasi maksimum klien. 

5. Sadari keadaan dan perhatian emosional klien misalna takut,ansietas dan 

bosan, sebab  hal ini dapat menimbulksn keseimpulan pengkajian yang 

tidak akurat mengenai kemampuan fungsional. 

Pengkajian khusus pada pengkajian lansia yaitu  dengan adanya 

penurunan seluruh fungsi tubuh (penglihatan, pendengaran, kondisi 

ekstremitas atas dan bawah, fungsi sistem dan status nutrisi klien serta 

psikososial dan lingkungannya).  

1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengkajian Pada Lansia 

a. Interelasi (saling keterkaitan) antara aspek fisik dan psikososial: terjadi 

penurunan kemampuan mekanisme terhadap stres, masalah psikis 

meningkat dan terjadi perubahan pada fisik lansia. 

b. Adanya penyakit dan ketidakmampuan status fungsional. 

c. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pengkajian, yaitu: ruang yang 

adekuat, kebisingan minimal, suhu cukup hangat, hindari cahaya 

langsung, posisi duduk yang nyaman, dekat dengan kamar mandi, 

privasi yang mutlak, bersikap sabar, relaks, tidak tergesa-gesa, beri 

kesempatan pada lansia untuk berpikir, waspada tanda-tanda 

keletihan. 


 

2. Fokus Pengkajian Pada Lansia dilihat dari Perubahan secara Fisik, 

Psikologis, Ekonomi, Psikososial dan Spiritual.  

a. Data Yang Perlu Dikaji Tentang Perubahan Lansia Secara Fisik  

1) Pengumpulan data dengan wawancara yaitu tentang:  

a) Pandangan lanjut usia tentang kesehatan,  

b) Kegiatan yang mampu di lakukan lansia,  

c) Kebiasaan lanjut usia merawat diri sendiri, 

d) Kekuatan fisik lanjut usia: otot, sendi, penglihatan, dan 

pendengaran, Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, 

BAB/BAK, 

e) Kebiasaan gerak badan/olahraga/senam lansia, 

f) Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang dirasakan sangat 

bermakna, 

g) Kebiasaan lansia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan 

dalam minum obat. 

2) Pengumpulaan data dengan pemeriksaan fisik: pemeriksanaan 

dilakukan dengan cara inspeksi, palpilasi, perkusi, dan auskultasi 

untuk mengetahui perubahan sistem tubuh. 

a) Pengkajian sistem persyarafan: kesimetrisan raut wajah, tingkat 

kesadaran adanya perubahan-perubahan dari otak, kebanyakan 

memiliki  daya ingatan menurun atau melemah. 

b) Mata: pergerakan mata, kejelasan melihat, dan ada tidaknya 

katarak. Pupil: kesamaan, dilatasi, ketajaman penglihatan 

menurun sebab  proses pemenuaan, Ketajaman pendengaran: 

apakah memakai  alat bantu dengar, tinnitus, serumen 

telinga bagian luar, kalau ada serumen jangan di bersihkan, 

apakah ada rasa sakit atau nyeri ditelinga. 

c) Sistem kardiovaskuler: sirkulasi perifer (warna, kehangatan), 

auskultasi denyut nadi apical, periksa adanya pembengkakan 

vena jugularis, apakah ada keluhan pusing, edema. 

d) Sistem gastrointestinal: status gizi (pemasukan diet, anoreksia, 

mual, muntah, kesulitan mengunyah dan menelan), keadaan gigi, 


rahang dan rongga mulut, auskultasi bising usus, palpasi apakah 

perut kembung ada pelebaran kolon, apakah ada konstipasi 

(sembelit), diare, dan inkontinensia alvi. 

e) Sistem genitourinarius: warna dan bau urine, distensi kandung 

kemih, inkontinensia (tidak dapat menahan buang air kecil), 

frekuensi, tekanan, desakan, pemasukan dan pengeluaran cairan. 

Rasa sakit saat buang air kecil, kurang minat untuk melaksanakan 

hubungan seks, adanya kecacatan sosial yang mengarah ke 

aktivitas seksual. 

f) Sistem kulit/ integumen: kulit (temperatur, tingkat kelembaban), 

keutuhan luka, luka terbuka, robekan, perubahan pigmen, 

adanya jaringan parut, keadaan kuku, keadaan rambut, apakah 

ada gangguan-gangguan umum. 

g) Sistem muskuloskeletal: kaku sendi, pengecilan otot, 

mengecilnya tendon, gerakan sendi yang tidak adekuat, 

bergerak dengan atau tanpa bantuan/peralatan, keterbatasan 

gerak, kekuatan otot, kemampuan melangkah atau berjalan, 

kelumpuhan dan bungkuk. 

b. Data Yang Perlu Dikaji Tentang Perubahan Lansia Secara Psikologis 

1) Bagaimana sikap lansia terhadap proses penuaan,  

2) Apakah dirinya merasa di butuhkan atau tidak,  

3) Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan,  

4) Bagaimana mengatasi stres yang di alami, 

5) Apakah mudah dalam menyesuaikan diri,  

6) Apakah lansia sering mengalami kegagalan, kesedihan, depresi 

7) Apakah harapan pada saat ini dan akan datang, 

8) Perlu di kaji juga mengenai fungsi kognitif: daya ingat, proses pikir, 

alam perasaan, orientasi, dan kemampuan dalam menyelesaikan 

masalah. 

Pengkajian dilakukan dengan memakai  instrumen yang 

tepat bagi mengetahui kondisi kesehatan lansia, misalnya dengan GDS, 

MMSE, dan lain-lain.  

c. Data Yang Pelu Dikaji Tentang Perubahan Psikososial Dan Ekonomi 

Lansia.  

1) Darimana sumber keuangan lansia, 

2) Apa saja kesibukan lansia dalam mengisi waktu luang,  

 

43 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik) 

3) Dengan siapa dia tinggal, 

4) Kegiatan organisasi apa yang diikuti lansia,  

5) Bagaimana pandangan lansia terhadap lingkungannya, 

6) Seberapa sering lansia berhubungan dengan orang lain di luar 

rumah,  

7) Siapa saja yang bisa mengunjungi, 

8) Seberapa besar ketergantungannya.  

9) Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginan dengan fasilitas 

yang ada. 

d. Data Yang Perlu Dikaji Tentang Perubahan Spiritual 

1) Apakah secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan 

agamanya,  

2) Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan 

keagamaan, misalnya pengajian dan penyantunan anak yatim atau 

fakir miskin. 

3) Bagaimana cara lansia menyelesaikan masalah apakah dengan 

berdoa,  

4) Apakah lansia terlihat tabah dan tawakal serta menerima segala 

yang terjadi dalam kehidupannya.  

 

C. Proses Analisis Data Dan Diagnosis Keperawatan Individu Lansia 

Data yang ditemukan dari hasil pengkajian, tertuang dalam data 

subjektif maupun data objektif akan dianalisis dan dikelompokkan dalam 

rumusan diagnosis keperawatan. 

1. Pengertian Diagonsis Keperawatan  

Diagnosis keperawatan merupakan suatu penilaian klinis 

mengenai respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses 

kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung aktual maupun 

potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi 

respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang 

berkaitan dengan kesehatan.  

Perawat diharapkan memiliki rentang perhatian yang luas, baik 

pada klien sakit maupun sehat. Respons-respons ini  merupakan 

reaksi terhadap masalah kesehatan dan proses kehidupan yang dialami 

klien. Masalah kesehatan mengacu kepada respons klien terhadap 


kondisi sehat-sakit, sedangkan proses kehidupan mengacu kepada 

respons klien terhadap kondisi yang terjadi selama rentang kehidupannya 

dimulai dari fase pembuahan hingga menjelang ajal dan meninggal yang 

membutuhkan diagnosis keperawatan dan dapat diatasi atau diubah 

dengan intervensi keperawatan 

2. Komponen Diagnosis Keperawatan  

Diagnosis keperawatan memiliki dua komponen utama yaitu Masalah 

(Problem) atau Label Diagnosis dan Indikator Diagnostik.  

Masing-masing komponen diagnosis diuraikan sebagai berikut:  

a. Masalah (Problem) 

Masalah merupakan label diagnosis keperawatan yang 

menggambarkan inti dari respons klien terhadap kondisi kesehatan 

atau proses kehidupannya. Label diagnosis terdiri atas Deskriptor atau 

penjelas dan Fokus Diagnostik 

b. Indikator Diagnostik  

Indikator diagnostik terdiri atas penyebab, tanda/gejala, dan faktor 

risiko dengan uraian sebagai berikut.  

1) Penyebab (Etiology) merupakan faktor-faktor yang 

mempengaruhi perubahan status kesehatan. Etiologi dapat 

mencakup empat kategori yaitu: a) Fisiologis, Biologis atau 

Psikologis: b) Efek Terapi/T indakan, c) Situasional (lingkungan 

atau personal), dan d) Maturasional.  

2) Tanda (Sign) dan Gejala (Symptom). Tanda merupakan data 

objektif yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan 

laboratorium dan prosedur diagnostik, sedangkan gejala 

merupakan data subjektif yang diperoleh dari hasil anamnesis.  

Tanda/gejala dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu:  

a) Mayor: Tanda/gejala ditemukan sekitar 80%— 100% untuk 

validasi diagnosis.  

b) Minor: Tanda/gejala tidak harus ditemukan, namun jika 

ditemukan dapat mendukung penegakan diagnosis.  

3) Faktor Risiko merupakan kondisi atau situasi yang dapat 

meningkatkan kerentanan klien mengalami masalah kesehatan.  

Pada diagnosis aktual, indikator diagnostiknya terdiri atas 

penyebab dan tanda/gejala. Pada diagnosis risiko tidak memiliki 

 

45 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik) 

penyebab dan tanda/gejala, hanya memiliki faktor risiko. 

Sedangkan pada diagnosis promosi kesehatan, hanya memiliki 

tanda/gejala yang menunjukkan kesiapan klien untuk mencapai 

kondisi yang lebih optimal. 

3. Jenis Diagnosis Keperawatan  

Jenis-jenis diagnosis keperawatan ini  dapat diuraikan sebagai 

berikut 

a. Diagnosis Aktual  

Diagnosis ini menggambarkan respons klien terhadap kondisi 

kesehatan atau proses kehidupannya yang memicu  klien 

mengalami masalah kesehatan. Tanda/ gejala mayor dan minor dapat 

ditemukan dan divalidasi pada klien. 

Contoh:  

Ketidakberdayaan (P) berhubungan dengan progam perawatan/ 

pengobatan yang kompleks atau jangka Panjang (E) dibuktikan 

dengan: (D.0088). 

Data Subjektif (DS): 

- Lansia menyatakan frustasi atau tidak mampu melaksanakan 

aktivitas sebelumnya (Data Mayor) 

- Lansia merasa diasingkan, menyatakan keraguan tentang kinerja 

peran, menyatakan kurang kontrol, menyatakan rasa malu, merasa 

tertekan/ depresi. (Data Minor).  

Data Objektif (DO): 

- Bergantung pada orang lain (Data Mayor)  

- Tidak berpartisipasi dalam perawatan, pengasingan (Data Minor)  

b. Diagnosis Risiko  

Diagnosis ini menggambarkan respons klien terhadap kondisi 

kesehatan atau proses kehidupannya yang dapat memicu  klien 

berisiko mengalami masalah kesehatan. Tidak ditemukan tanda/gejala 

mayor dan minor pada klien, namun klien memiliki faktor risiko 

mengalami masalah kesehatan.  

Contoh:  

Risiko distress spiritual berhubungan dengan sakit kronis. (D.0100). 

Kondisi masalah kesehatan yang terkait yaitu  adanya penyakit kronis 

pada lansia.  

c. Diagnosis Promosi Kesehatan  

 

Diagnosis ini menggambarkan adanya keinginan dan motivasi klien 

untuk meningkatkan kondisi kesehatannya ke tingkat yang lebih baik 

atau optimal. 

Contoh:  

Kesiapan peningkatan tidur  

Data Subjektif (DS): 

- Lansia mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan tidur; 

mengekspresikan perasaan cukup istirahat setelah tidur (Data 

Mayor) 

- Lansia tidak memakai  obat tidur (Data Minor).  

 

Data Objektif (DO): 

- Jumlah waktu tidur sesuai dengan kebutuhan pada masa 

pertumbuhan perkembangan lansia (Data Mayor)  

- Lansia menerapkan rutinitas tidur yang meningkatkan kebiasaan 

tidur (Data Minor).   

Diagnosis Keperawatan merupakan kesimpulan yang ditarik dari data 

yang dikumpukan tentang lansia, yang berfungsi sebagai alat untuk 

menggambarkan masalah lansia, dan penarikan kesimpulan ini dapat 

dibantu oleh perawat.  

 

D.  Proses Intervensi Keperawatan Individu Lansia 

1. Definisi Intervensi dan Tindakan Keperawatan (SLKI, 2019) 

a. Intervensi keperawatan yaitu  segala treatment yang dikerjakan oleh 

perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk 

mencapai luaran (outcome) yang diharapkan.  

b. Tindakan keperawatan yaitu  perilaku atau aktivitas spesifik yang 

dikerjakan oleh perawat untuk mengimplementasikan intervensi 

keperawatan. 

c. Perencanaan keperawatan gerontik yaitu  suatu proses penyusunan 

berbagai intervensi keperawatan yang berguna untuk mencegah, 

menurunkan atau mengurangi masalah-masalah lansia.  

2. Prioritas Masalah Keperawatan 

Penentuan prioritas diagnosis ini dilakukan pada tahap perencanaan 

setelah tahap diagnosis keperawatan. Dengan menentukan diagnosis 

keperawatan, maka perawat dapat mengetahui diagnosis mana yang akan 

 

47 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik) 

dilakukan atau diatasi pertama kali atau yang segera dilakukan. Terdapat 

beberapa pendapat untuk menentukan urutan prioritas, yaitu: 

a. Berdasarkan tingkat kegawatan (mengancam jiwa) 

Penentuan prioritas berdasarkan tingkat kegawatan (mengancam jiwa) 

yang dilatarbelakangi oleh prinsip pertolongan pertama, dengan 

membagi beberapa prioritas yaitu prioritas tinggi, prioritas sedang dan 

prioritas rendah. 

1) Prioritas Tinggi  

Prioritas tinggi mencerminkan situasi yang mengancam kehidupan 

(nyawa seseorang) sehingga perlu dilakukan terlebih dahulu seperti 

masalah bersihan jalan napas (jalan napas yang tidak effektif). 

2) Prioritas Sedang 

Prioritas ini menggambarkan situasi yang tidak gawat dan tidak 

mengancam hidup klien seperti masalah higiene perseorangan. 

3) Prioritas Rendah 

Prioritas ini menggambarkan situasi yang tidak berhubungan 

langsung dengan prognosis dari suatu penyakit yang secara spesifik, 

seperti masalah keuangan atau lainnya. 

b. Berdasarkan kebutuhan Maslow 

Maslow menentukan prioritas diagnosis yang akan direncanakan 

berdasarkan kebutuhan, diantaranya kebutuhan fisiologis keselamatan 

dan keamanan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri. 

Untuk prioritas diagnosis yang akan direncanakan, Maslow membagi 

urutan ini  berdasarkan kebutuhan dasar manusia, diantaranya: 

1) Kebutuhan fisiologis 

Meliputi masalah respirasi, sirkulasi, suhu, nutrisi, nyeri, cairan, 

perawatan kulit, mobilitas, dan eliminasi. 

2) Kebutuhan keamanan dan keselamatan 

Meliputi masalah lingkungan, kondisi tempat tinggal, perlindungan, 

pakaian, bebas dari infeksi dan rasa takut. 

3) Kebutuhan mencintai dan dicintai 

Meliputi masalah kasih sayang, seksualitas, afiliasi dalam kelompok 

antar manusia. 

4) Kebutuhan harga diri 

Meliputi masalah respect dari keluarga, perasaaan menghargi diri 

sendiri. 

 

5) Kebutuhan aktualisasi diri 

Meliputi masalah kepuasan terhadap lingkungan. 

3. Penentuan Tujuan Dan Hasil Yang Di Harapkan 

a. Penentuan Tujuan  

Tujuan merupakan hasil yang ingin dicapai untuk mengatasi masalah 

diagnosis keperawatan, dengan kata lain tujuan merupakan sinonim 

kriteria hasil (hasil yang diharapkan) yang memiliki  komponen 

sebagai berikut: 

S (subyek) P (predikat) Kr (kriteria) Ko (kondisi) W (waktu), 

dengan penjabaran sebagai berikut: 

S: Perilaku lansia yang diamati. 

P: Kondisi yang melengkapi lansia. 

Kr: Kata kerja yang dapat diukur atau untuk menentukan tercapainya 

tujuan. 

Ko: Sesuatu yang memicu  asuhan diberikan. 

W: Waktu yang ingin dicapai. 

 

b. Kriteria hasil (hasil yang diharapkan)  

Kriteria Hasil merupakan standard evaluasi yang merupakan gambaran 

faktor-faktor yang dapat memberi petunjuk bahwa tujuan telah 

tercapai. Kriteria hasil ini digunakan dalam membuat pertimbangan 

dengan cirri-ciri sebagai berikut: setiap kriteria hasil berhubungan 

dengan tujuan yang telah ditetapkan, hasil yang ditetapkan 

sebelumnya memungkinkan dicapai, setiap kriteria hasil yaitu  

pernyataan satu hal yang spesifik, harus sekongkrit mungkin untuk 

memudahkan pengukuran, kriteria cukup besar atau dapat diukur, 

hasilnya dapat dilihat, didengar dan kriteria memakai  kata-kata 

positif bukan memakai  kata negative. 

4. Rencana Tindakan  

Tindakan-tindakan pada intervensi keperawatan terdiri dari:  

a. Tindakan Observasi  

Tindakan yang ditujukan untuk mengumpulkan dan menganalisis data 

status kesehatan pasien.  

b. Tindakan Terapeutik 

 

49 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik) 

Tindakan yang secara langsung dapat berefek memulihkan status 

kesehatan pasien atau dapat mencegah perburukan masalah 

kesehatan pasien.  

c. Tindakan Edukasi  

Tindakan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pasien 

dalam merawat dirinya dengan membantu pasien memperoleh 

perilaku baru yang dapat mengatasi masalah.  

d. Tindakan Kolaborasi  

Tindakan yang membutuhkan kerjasama baik dengan perawat lain 

maupun profesi kesehatan lainnya.  

5. Contoh intervensi keperawatan pada diagnosis keperawatan defisit nutrisi 

berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan (D.0019) yang 

ditandai dengan ditemukan klien tidak mampu menelan makan dengan 

baik, berat badan menurun 11% di bawah rentang ideal, mengatakan 

cepat kenyang setelah makan, kadang terasa kram abdomen sehingga 

nafsu makan menurun, otot pengunyah lemah dan otot menelan lemah 

yaitu: 

a. Intervensi utama  

1) Manajemen nutrisi  

2) Promosi berat badan  

b. Intervensi pendukung 

1) Dukungan kepatuhan program pengobatan  

2) Edukasi diet  

3) Edukasi kemoterapi  

4) Konseling nutrisi  

5) Konsultasi  

6) Manajemen hiperglikemia  

7) Manajemen hipoglikemia 

8) Manajemen kemoterapi  

9) Manajemen reaksi alergi 

10) Pemantauan cairan  

11) Pemantauan nutrisi.  

 

6. Luaran Keperawatan  

a. Definisi luaran keperawatan Definisi Luaran Keperawatan  


Luaran (outcome) keperawatan merupakan aspek-aspek yang dapat 

diobservasi dan diukur meliputi kondisi, perilaku, atau dari persepsi 

pasien, keluarga atau komunitas sebagai respons terhadap intervensi 

keperawatan. Luaran keperawatan menunjukkan status diagnosis 

keperawatan setelah dilakukan intervensi keperawatan 

Luaran keperawatan dapat juga diartikan sebagai hasil akhir intervensi 

keperawatan yang terdiri atas indikator-indikator atau kriteria-kriteria 

hasil pemulihan masalah. Luaran keperawatan merupakan perubahan 

kondisi yang spesifik dan terukur yang perawat harapkan sebagai 

respons terhadap asuhan keperawatan (ICN, 2009). 

Luaran keperawatan dapat membantu perawat memfokuskan atau 

mengarahkan asuhan keperawatan sebab  merupakan respons 

fisiologis, psikologis, sosial, perkembangan, atau spiritual yang 

menunjukkan perbaikan masalah kesehatan pasien 

b. Komponen Luaran Keperawatan  

Luaran keperawatan terdiri dari luaran utama dan luaran tambahan.  

Contoh untuk diagnosis keperawatan: defisit nutrisi (L.03030) yaitu:  

1) Luaran utama: status nutrisi membaik (keadekuatan asupan nutrisi 

untuk memenuhi kebutuhan metabolism)  

2) Luaran tambahan: berat badan membaik, eliminasi fekal membaik, 

fungsi gastrointestinal membaik, nafsu makan membaik, perilaku 

meningkatkan berat badan meningkat, status menelan membaik, 

tingkat depresi menurun dan tingkat nyeri menurun. 

 

E. Proses Implementasi Keperawatan Individu Lansia 

Pelaksanaan tindakan merupakan langkah keempat dalam tahap proses 

keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan 

keperawatan), strategi ini terdapat dalam rencana tindakan keperawatan. 

Tahap ini perawat harus mengetahui berbagai hal, diantaranya bahaya-bahaya 

fisik dan pelindungan pada lansia, teknik komunikasi, kemampuan dalam 

prosedur tindakan, pemahaman tentang hak-hak dari lansia dan memahami 

tingkat perkembangan lansia. Pelaksanaan tindakan gerontik diarahkan untuk 

mengoptimalkan kondisi lansia agar mampu mandiri dan produktif. 

 

51 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik) 

Pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan standar yang telah 

ditetapkan, sehingga dapat menghasilkan pelayanan yang berkualitas untuk 

hasil yang optimal. Perawat harus memperhatian kualitas diri, kerjasama, 

manajemen asuhan keperawatan, pengembangan layanan keperawatan dan 

kemampuan change agent serta praktik yang aman bagi lansia. Perawat juga 

perlu memperhatikan lingkungan yang aman bagi lansia dalam melakukan 

implementasi keperawatan, terutama lansia dengan risiko jatuh.  

 

F. Proses Evaluasi Keperawatan Individu Lansia  

1. Definisi Evaluasi Keperawatan Lansia 

Menurut Craven dan Hirnle (2000) evaluasi didefinisikan sebagai 

keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan 

keperawatan yang telah ditetapkan dengan respon perilaku lansia yang 

tampilkan. 

2. Penilaian Evaluasi  

Penilaian dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam melaksanakan 

rencana tindakan yang telah ditentukan, kegiatan ini untuk mengetahui 

pemenuhan kebutuhan klien secara optimal dan mengukur hasil dari 

proses keperawatan. 

Penilaian keperawatan yaitu  mengukur keberhasilan dari rencana, dan 

pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan 

lansia. 

3. Kegiatan dalam Evaluasi  

a. Mengkaji ulang tujuan klien dan kriteria hasil yang telah ditetapkan, 

Mengumpulkan data yang berhubungan dengan hasil yang 

diharapkan, Mengukur pencapaian tujuan, 

b. Mencatat keputusan atau hasil pengukuran pencapaian tujuan, 

c. Melakukan revisi atau modifikasi terhadap rencana keperawatan bila 

perlu. 

4. Manfaat Evaluasi Dalam Keperawatan 

a. Menentukan perkembangan kesehatan klien, 

b. Menilai efektifitas, efisiensi dan produktifitas asuhan keperawatan yang 

diberikan, 

c. Menilai pelaksanaan asuhan keperawatan, 

d. Sebagai umpan balik untuk memperbaiki atau menyusun siklus baru 

dalam proses keperawatan, 


e. Menunjang tanggung gugat dan tanggung jawab dalam pelaksanaan 

keperawatan. 

5. Jenis Evaluasi menurut Ziegler, Voughan – Wrobel, & Erlen terbagi menjadi tiga jenis, yaitu: 

a. Evaluasi struktur 

Evaluasi struktur difokuskan pada kelengkapan tata cara atau keadaan 

sekeliling tempat pelayanan keperawatan diberikan. Aspek lingkungan 

secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi dalam pemberian 

pelayanan. Persediaan perlengkapan, fasilitas fisik, rasio perawat-klien, 

dukungan administrasi, pemeliharaan dan pengembangan kompetensi 

staf keperawatan dalam area yang diinginkan. 

b. Evaluasi proses 

Evaluasi proses berfokus pada penampilan kerja perawat, dan apakah 

perawat dalam memberi  pelayanan keperawatan merasa cocok, 

tanpa tekanan, dan sesuai wewenang. Area yang menjadi perhatian 

pada evaluasi proses mencakup jenis informasi yang didapat pada saat 

wawancara dan pemeriksaan fisik, validasi dari perumusan diagnosa 

keperawatan, dan kemampuan tehnikal perawat. 

c. Evaluasi hasil 

Evaluasi hasil berfokus pada respons dan fungsi klien. Respons perilaku 

lansia merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan dan akan 

terlihat pada pencapaian tujuan dan kriteria hasil. Evaluasi formatif 

dilakukan sesaat setelah perawat melakukan tindakan pada lansia. 

Evaluasi hasil/sumatif: menilai hasil asuhan keperawatan yang 

diperlihatkan dengan perubahan tingkah laku lansia setelah semua 

tindakan keperawatan dilakukan. Evaluasi ini dilaksanakan pada akhir 

tindakan keperawatan secara paripurna. 

Hasil evaluasi yang menentukan apakah masalah teratasi, teratasi 

sebagian, atau tidak teratasi, yaitu  dengan cara membandingkan 

antara SOAP (Subjektive-Objektive-Assesment-Planning) dengan 

tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan. 

S: (Subjective) yaitu  informasi berupa ungkapan yang didapat dari 

lansia setelah tindakan diberikan. 

O (Objective) yaitu  informasi yang didapat berupa hasil pengamatan, 

penilaian, pengukuran yang dilakukan oleh perawat setelah tindakan 

dilakukan. 

 

53 Asuhan Keperawatan Lansia (Gerontik) 

A (Assessment) yaitu  membandingkan antara informasi subjective 

dan objective dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil 

kesimpulan bahwa masalah teratasi, teratasi sebagian, atau tidak 

teratasi. 

P (Planning) yaitu  rencana keperawatan lanjutan yang akan dilakukan 

berdasarkan hasil analisis. 

Contoh: 

S: Lansia mengatakan merasa kalau saat ini merasa senang sebab  

anak dan cucunya berkunjung dan memperhatikannya  

O: Lansia terlihat ceria dan mampu beraktifitas secara aktif mandiri 

secara bertahap  

A: Tujuan Tercapai  

P : Rencana Keperawatan dihentikan. 

 

H. Rangkuman Materi 

1. Proses penuaan yang terjadi pada lansia memicu  lansia mengalami 

berbagai masalah kesehatan. Perawat memiliki peran dalam memberi  

perawatan atau bantuan bagi lansia untuk memecahkan masalah 

kesehatan dengan pendekatan proses keperawatan secara komprehensif 

dalam bentuk asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis, 

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan. 

2. Proses pengkajian keperawatan lansia dilakukan dalam usaha  

pengumpulan data dengan wawancara, pemeriksaan fisik. Pengkajian 

dilakukan untuk pemeriksaan perubahan secara fisik, psikologis, 

psikososial, ekonomi, spiritual.  

3. Diagnosis keperawatan lansia suatu penilaian klinis mengenai respons 

klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya 

baik yang berlangsung aktual maupun potensial. 

4. Intervensi keperawatan lansia dilakukan didasarkan pada pengetahuan 

dan penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan, 

kemudian diprioritaskan untuk menentukan intervensi yang akan segera 

dilakukan. Komponen dalam intervensi keperawatan yaitu  S (subyek) P 

(predikat) Kr (kriteria) Ko (kondisi) W (waktu), 

5. Pelaksanaan tindakan gerontik diarahkan untuk mengoptimalkan kondisi 

lansia agar mampu mandiri dan produktif. Pelaksanaan tindakan 

keperawatan berdasarkan standar yang telah ditetapkan, sehingga dapat 

menghasilkan pelayanan yang berkualitas untuk hasil yang 

optimal.Memahami proses implementasi keperawatan lansia 

6. Proses evaluasi keperawatan lansia merupakan kegiatan dalam 

melaksanakan rencana tindakan yang telah ditentukan, kegiatan ini untuk 

mengetahui pemenuhan kebutuhan klien secara optimal dan mengukur 

hasil dari proses keperawatan. 

 

I. Glosarium 

Lansia  : Lanjut usia  

BAK  : Buang Air Kecil  

BAB : Buang Air Besar 

GDS : Geriatic Depression Scale  

MMSE : Mini Mental State Examination 

SDKI  : Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia  

SIKI  : Standar Intervensi Keperawatan Indonesia 

SLKI  : Standar Luaran Keperawatan Indonesia