Minggu, 07 Juni 2026

sediaan obat 3

 


nggi

vii). Praktis tidak larut dan tidak membentuk gel

viii). Mempunyai fungsi ganda : pengikat dan disintegran

ix). Mempercepat laju disolusi

Konsentrasi pemakaian 1 – 5 %

c. Amilum pregelatinasi (misalnya Starch 1500)

d. Croscarmellose sodium (misalnya Ac-Di-Sol dan Explocel)

3. Lubrikan dan Glidan untuk Tablet Cetak Langsung

Jenis lubrikan dan glidan yang digunakan untuk manufaktur tablet 

dengan kempa langsung sama dengan yang digunakan pada metode 

lain yaitu: 

a. Lubrikan, misalnya magnesium stearat, asam stearat, natrium 

staril fumarat

b. Glidan, misalnya talkum, silikon dioksida koloidal

Jenis silikon dioksida koloidal Cab-O-Sil atau Aerosil berfungsi 

mampu memperbaiki sifat aliran masa cetak tablet. Aerosil mempunyai 

sifat bebas mengalir, anticaking dan anticlogging. Setelah dicampur 

dengan serbuk lain, akan mengadsorpsi sebagian atau keseluruhan 

89Formulasi  Sediaan Tablet

lembab yang ada pada permukaan pertikel. Konsentrasi efektif sebagai 

glidan 0,1 – 0,5 %. 

E. Potensi Amilum Lokal sebagai Eksipien dalam Formulasi 

Sediaan Tablet 

Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak menghasilkan 

umbi-umbian  yang potensial untuk diproses menghasilkan amilum. 

Amilum bisa diperoleh dari  jagung (Zea mays), kentang (Solanum 

tuberosum), singkong (Manihot utilissima Pohl) dan lain sebagainya. 

Dari uraian sebelumnya dinyatakan bahwa amilum merupakan bahan 

tambahan/eksipien yang penting dalam formulasi sediaan tablet 

yang berfungsi sebagai bahan pengisi, bahan pengikat dan bahan 

penghancur. 

Berbagai upaya untuk mengembangkan amilum dari bahan baku 

dari umbi-umbian lokal  sebagai bahan tambahan dalam formulasi 

sediaan tablet yang diproses dari pisang kepok, jagung, singkong dan 

ubi jalar yang berfungsi sebagai bahan pengikat dan bahan penghancur. 

Berikut yaitu  karakteristik fisikokimia beberapa amilum yang 

berasal dari sumber lokal meliputi pisang kepok, jagung, singkong dan 

ubi jalar. 

90 

 Tabel 4.4 Karakteristik fisikokimia amilum pisang kepok dan 

jagung dibandingkan dengan Amprotab  (Syukri, 2009).

No. Karakteristik Amilum 

pisang kepok 

Amilum 

jagung 

Amprotab 

1. Organoleptik Serbuk halus, 

putih, tidak 

berbau dan 

tidak berasa  

Serbuk 

kasar, coklat 

kekuningan, 

tidak berasa 

dan tidak 

berwarna. 

Serbuk halus, 

putih, tidak 

berbau dan 

tidak berasa 

2. Kelarutan Praktis tidak 

larut dalam 

etanol (95 

%) dan air  

Praktis tidak 

larut dalam 

etanol (95 %) 

dan air 

Praktis tidak 

larut dalam 

etanol (95 %) 

dan air 

3. Ukuran  

partikel (µm) 

1,01 – 2,00 0,51 - 1,00  1,01 – 2,00 

4. Sudut diam (o) 11,66  10,10  - 

5. Bulk Density 

(g/ml) 

0,52 0,48 0,47 

6. Tap density (g/

ml) 

0,75 0,64 0,64 

7. Hausner ratio 1,44 1,33 1,36 

8. Carrs Index (%) 30,00 37,80 27,23 

9. Kandungan 

lembab (%) 

13,48 9,21 11,10 

 

  

91Formulasi  Sediaan Tablet

 Tabel 4.5 Karakteristik fisikokimia amilum singkong dan ubi 

jalar dibandingkan dengan Amprotab (Syukri, 2009)

No. Karakteristik Amilum 

singkong 

Amilum ubi 

jalar 

Amprotab 

1. Organoleptik Serbuk halus, 

putih, tidak 

berbau dan 

tidak berasa  

Serbuk 

kasar, coklat 

kekuningan, tidak 

berasa dan tidak 

berwarna. 

Serbuk halus, 

putih, tidak 

berbau dan 

tidak berasa 

2. Kelarutan Praktis tidak 

larut dalam 

etanol (95 

%) dan air  

Praktis tidak larut 

dalam etanol (95 

%) dan air 

Praktis tidak 

larut dalam 

etanol (95 %) 

dan air 

3. Ukuran partikel 

(µm) 

1,01 – 1,50 1,01 – 1,50 1,01 – 2,00 

4. Sudut diam (o) - - - 

5. Bulk Density (g/

ml) 

0,61 0,46 0,47 

6. Tap density (g/ml) 0,83 0,83 0,64 

7. Hausner ratio 1,36 1,80 1,36 

8. Carrs Index (%) 26,51 27,41 27,23 

9. Kandungan 

lembab (%) 

10,78 12,56 11,10 

Karakteristik fisikokimia amilum pisang kepok, amilum jagung, 

amilum singkong dan amilum ubi jalar memenuhi persyaratan untuk 

dikembangkan menjadi bahan penghancur dan bahan pengikat pada 

tablet yang dibuat dengan teknik granulasi. 

92 

Soal Latihan  

1. Tuliskan persyaratan sediaan tablet yang dihasilkan dalam proses 

produksi. 

2. Uraikan teknik dalam mendesain tablet untuk efek lokal dan tablet 

untuk efek sistemik. 

3. Uraikan formula umum untuk sediaan tablet beserta fungsi dan 

contoh bahannya.  

93Proses Manufaktur Sediaan Tablet

BAB 5 

PROSES MANUFAKTUR SEDIAAN TABLET 

_____________________________________

Mahasiswa memahami dan mampu menjelaskan tentang:

1. Konsep manufaktur sediaan tablet 

2. Proses pembuatan sediaan tablet dengan teknik kempa langsung 

dan granulasi 

3. Jenis-jenis peralatan dalam proses granulasi basah. 

A. Pendahuluan

Tablet merupakan sediaan padat yang mengandung dosis tunggal 

dari satu atau lebih zat aktif. Tablet diperoleh dengan cara pencetakan 

partikel dan hampir semuanya dimaksudkan untuk penggunaan 

oral. Tablet merupakan bentuk sediaan yang paling populer karena 

memberikan banyak keuntungan dibandingkan bentuk sediaan lain 

yang digunakan untuk pengobatan. Meskipun pengeluaran modal awal 

untuk manufaktur tablet perlu dipertimbangkan, tablet dapat dihasilkan 

dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan bentuk sediaan yang 

lainnya bahkan tablet dapat dihasilkan sebanyak satu juta butir per jam. 

Tablet merupakan sediaan dalam bentuk kering sehingga lebih 

stabil. Secara umum tablet memiliki waktu paruh eliminasi yang 

panjang. Tablet juga lebih mudah dalam hal transportasi karena jumlah 

eksipiennya relatif sedikit dibandingkan dengan sediaan dalam bentuk 

cairan. Bagi farmasis, tablet merupakan sediaan yang mudah dalam 

hal pemberian. Lebih lanjut tablet memiliki keseragaman kandungan 

zat aktif yang lebih tinggi dibandingkan obat yang lain. Penyalutan 

yang sesuai dapat menutupi rasa yang tidak enak dan meningkatkan 

kenyamanan bagi pasien dalam mengkonsumsi obat. 

Tablet juga menyediakan suatu sistem penghantaran obat dengan 

berbagai macam fungsi.  Meskipun sebagian besar tablet dimaksudkan 

94 

untuk ditelan, proses manufaktur dasar yang sama yang dikaitkan 

dengan formulasi yang tepat, menyediakan obat-obat untuk sublingual, 

bukal, vaginal, tablet hisap, tablet larut, tablet terdispersi dan tablet 

effervescent. Sebagai tambahan juga tersedia teknik-teknik yang dapat 

memperlama atau pelepasan yang dimodifikasi zat aktif dari tablet.  

Secara alamiah tablet hanya memiliki keuntungan-keuntungan di 

bawah ini jika diformulasi dan dimanufaktur dengan tepat. Tablet yang 

disiapkan dengan baik akan memiliki kualitas : 

1. Mengandung dosis dalam jumlah yang lazim dan dalam batas 

yang diijinkan. 

2. Harus mempunyai kekuatan yang cukup untuk menahan 

goncangan selama proses manufaktur, transportasi dan 

penanganan sampai diserahkan pada pasien. 

3. Harus menghantarkan obat pada tempat dan kecepatan yang 

dibutuhkan. 

4. Ukuran, rasa dan penampilan harus tidak mengurangi penerimaan 

dari pasien. 

 Secara umum ada 3 metode utama dalam proses produksi sediaan 

tablet, yaitu: 

1. Kempa langsung (Direct compression) 

2. Granulasi basah (Wet granulation) 

3. Granulasi kering (Dry granulation) 

Dari semua metode di atas prinsipnya yaitu  mencampurkan zat 

aktif dengan eksipien. Eksipien berperan dalam memperbaiki sifat fisik 

dari tablet. Permasalahan yang biasanya muncul sebelum pemilihan 

metode yang cocok untuk dikembangkan yaitu  : 

1. Pada obat dengan dosis kecil biasanya akan sulit untuk 

mendapatkan keseragaman kandungan (keakuratan dan 

ketepatan kandungan unit dosis). 

2. Pada obat dengan dosis besar biasanya mengalami kesulitan 

dalam proses pencetakan. 

95Proses Manufaktur Sediaan Tablet

3. Ketersediaan hayati (pada obat dengan kelarutan rendah dalam air 

atau kesalahan dalam formulasi) 

Untuk mengatasi problem di atas diperlukan pemilihan metode 

yang tepat sebelum dilakukan proses pencetakan tablet. Desain 

dan formulasi sediaan tablet (kompresi) tujuannya yaitu  untuk 

memaksimumkan kekompakan (compactibility), sifat alir (fluidity) dan 

pelincir (lubricity). Untuk itu pemilihan bahan tambahan dan pemilihan 

metode pembuatan merupakan faktor kritis yang harus diperhatikan 

untuk memperoleh tablet yang memenuhi persyaratan.

Secara umum, pemilihan metode manufaktur tablet tergantung 

pada sejumlah faktor yaitu:

1. Stabilitas fisika dan kimia zat aktif selama proses manufaktur

2. Ketersediaan peralatan prosesing yang diperlukan

3. Biaya proses manufaktur

4. Eksipien yang digunakan untuk memformulasi produk.

B. Metode Pembuatan Tablet  

Berdasarkan prinsip pembuatannya, dapat dibedakan 2 metode 

pembuatan tablet, yaitu metode cetak langsung dan metode granulasi. 

1. Metode cetak langsung 

Pembuatan tablet dengan menggunakan granulasi basah atau 

metode granulasi kering, membutuhkan serangkaian operasi unit, 

memakan waktu dan berpotensi mahal. Untuk itu diperlukan pilihan 

metode manufaktur yang berpotensi lebih menarik untuk pembuatan 

tablet yang hanya membutuhkan pencampuran serbuk dan berikutnya 

proses pencetakan, sehingga menghindari proses granulasi (dan operasi 

unit terkait). Proses ini disebut kompresi/cetak langsung. Mekanisme 

interaksi partikel-partikel dalam tablet yang dihasilkan oleh kompresi 

langsung serupa dengan operasi pada tablet yang diproduksi oleh 

granulasi kering dan roller compaction. Pada obat dengan dosis rendah 

secara umum dapat dilakukan teknik kempa langsung. Metode ini 

96 

sangat sederhana yang diawali dengan pencampuran berikut langsung 

dicetak menjadi tablet. Metode ini cocok untuk obat-obat yang memiliki 

kemampuan dicetak sangat baik atau dicampurkan terlebih dahulu 

dengan bahan pengisi yang memiliki kemampuan dicetak yang baik. 

Jika zat aktif tidak memiliki kemampuan dicetak yang baik serta sifat alir 

yang baik perlu dilakukan upaya untuk perbaikan kemampuan cetak 

dan sifat alir ini  dengan memilih bahan pengisi yang mampu 

memperbaiki kemampuan cetak dan sifat alirnya. 

Bahan pengisi yang memiliki kemampuan cetak dalam tablet 

untuk kempa langsung memiliki persyaratan sebagai berikut : 

a. Memiliki sifat alir dan kompresi yang baik 

b. Tidak berkhasiat secara fisiologis (inert) 

c. Tidak berasa 

d. Mampu mengalami disintegrasi 

e. Ekonomis dari segi biaya 

a. Formula umum dan eksipien tablet kempa langsung   

Formula umum untuk dan bahan-bahan yang banyak 

digunakan sebagai bahan pengisi sekaligus bahan pengikat untuk 

tablet kempa langsung yaitu  sebagai berikut : 

 Tabel 5.1  Formula umum tablet kempa langsung 

Bahan Jumlah 

Za aktif 

Bahan pengisi-pengikat 

Bahan penghancur 

Super disintegran 

Glidan 

Silika koloidal 

Lubrikan 

Magnesium stearat 

1 bagian 

2 – 3 bagian 

 

2 – 5 % 

 

0.5 – 1 % 

 

0,5 – 1 % 

97Proses Manufaktur Sediaan Tablet

Tabel 5.2 Bahan pengisi yang sering digunakan dalam tablet kempa langsung 

Bahan Pengisi Nama Dagang Sifat 

Mikrokristalin selulosa Avicel PH Kemampuan cetak sangat 

baik (compressible) 

Mikrofin selulosa Elcema  

Laktosa ; spray-dried Zeparox Sangat kompresibel ; sifat alir 

baik ; bulk density tinggi 

Amilum dimodifikasi 

(modified starch) Starch 1500 Lebih banyak  digunakan 

sebagai disintegran 

Sukrosa –  Dekstrin

copresipitat Dipac Sifat alir baik ; sensitif 

terhadap lembab 

Dekstrosa - Maltosa Emdex  

Dikalsium fosfat Emcompress Tidak larut dalam air ; sifat alir 

baik 

Secara umum bahan pengisi sekaligus bahan pengikat 

untuk tablet kempa langsung yaitu  bahan pengisi yang sudah 

dimodifikasi secara fisik. Berikut yaitu  contoh bahan pengsi dan 

sekaligus bahan pengikat untuk tablet kempa langsung. 

i. Mikrokristalinselulosa (MCC) ; diisolasi dari serat selulosa 

dengan hidrolisis asam (nama dagang Avicel). Bahan ini 

merupakan material yang paling kompatibel tersedia untuk 

pengggunaan farmasetik.  

ii. Spray processed lactose [Fast Flo Lactose]. Merupakan 

minigranulasi dari kristal laktosa yang terikat dengan 

sejumlah kecil laktosa amorf. iii. 

iii.  Dicalcium phosphate dihydrate, unmilled [Ditab, Emcompress]. 

Merupakan minigranul yang terbuat dari kristalit yang 

teraglomerasi. 

iv. Spray processesd sucrose [Dipac]. Digunakan untuk tablet 

kunyah. Merupakan minigranulasi dari kristal gula yang 

terikat dengan dekstrin amorf.

98 

b. Proses pembuatan tablet secara kempa langsung 

Metode cetak langsung sangat cocok untuk zat aktif 

yang memiliki sifat alir dan kekompakan yang baik. Metode ini 

merupakan proses dimana tablet dicetak langsung dari campuran 

serbuk zat aktif dan eksipien. Eksipien yang umum yaitu  pengisi, 

disintegran dan lubrikan. Untuk menghasilkan tablet yang baik, 

campuran serbuk harus mengalir secara seragam dan membentuk 

massa yang kompak. 

Produksi tablet secara kempa langsung dilakukan sebagai 

berikut : 

Gambar 5.1 Proses pembuatan tablet secara kempa langsung  

c. Tahapan pembuatan tablet secara kempa langsung

i). Premilling komponen formulasi. 

Dalam pembuatan tablet secara kempa langsung, ukuran 

partikel dan distribusi ukuran partikel dari zat aktif dan eksipien 

merupakan faktor penentu yang penting untuk mendapatkan 

sifat kompresi yang baik campuran serbuk. Eksipien dapat dibeli 

dengan spesifikasi ukuran partikel tertentu, sedangkan sifat ukuran 

partikel obat seringkali perlu dimodifikasi dengan penggilingan 

menggunakan Quadro Comil atau penggilingan dengan energi 

tinggi menggunakan Fitzmill. Operasi Quadro Comil dapat dilihat 

pada gambar 5.2 dan operasi Fitzmill diilustrasikan pada Gambar 

5.3.

99Proses Manufaktur Sediaan Tablet

         

      A            B

 Gambar 5.2  Quadro Comil. (A) Unit penggerak (kondisi terbungkus), 

ruang berbentuk kerucut dan zona pengumpulan serbuk. (B) Ruang berbentuk 

kerucut, ayakan dan impeller yang berputar (Jones, David S, 2008).

Dalam Quadro Comil (Gambar 5.2) serbuk kering ditempatkan 

di dalam ruang berbentuk kerucut (berisi ayakan ukuran mesh yang 

ditentukan). Serbuk kemudian dilewatkan melalui ayakan dengan 

cara sentrifugal oleh aksi impeller yang berputar, selanjutnya 

serbuk dikumpulkan.

Gambar 5.3 Operasi Fitzmill (http://www.fitmill.com)

100 

Dalam proses ini serbuk dimasukkan ke dalam ruang yang 

terkena sistem pisau berputar. Ukuran partikel dikurangi oleh 

pemotongan dari pisau atau tabrakan partikel oleh mata pisau 

dan ayakan di pinggiran ruangan. Partikel yang digiling kemudian 

dilewatkan melalui ayakan. Ukuran partikel/distribusi ukuran 

partikel dapat dikendalikan dengan mengubah kecepatan rotor, 

morfologi mata pisau dan ukuran mesh ayakan.

ii). Pencampuran zat aktif dengan eksipien (dalam 

bentuk serbuk, termasuk lubrikan)

Tahapan ini melibatkan pencampuran semua serbuk eksipien 

dan obat (termasuk lubrikan) ke dalam pencampur/mixer serbuk. 

Jenis mixer yang digunakan untuk proses ini yaitu : (1) planetary 

bowl mixer; (2) rotating drum mixer (seperti Y-cone, cube atau 

double-cone mixer); dan (3) high-speed mixer (seperti Diosna 

mixer).

iii). Pencetakan campuran serbuk menjadi tablet

Metode kempa langsung memerlukan pendekatan baru dan 

kritis dalam menyeleksi bahan baku, sifat aliran dari campuran 

serbuk dan efek formulasi yang berfariasi (tahap kompresibilitas). 

Keuntungan metode cetak langsung yaitu :

a. Ekonomis 

Ekonomis karena terjadi reduksi waktu proses, ongkos 

produksi, tahap-tahap pembuatan, jenis alat, ruangan 

yang dibutuhkan dan jumlah tenaga yang mengerjakan

b. Eliminasi panas dan lembab

Eliminasi panas dan lembab sangat bermanfaat untuk 

zat aktif yang peka terhadap panas dan lembab

c. Mempercepat disolusi

Disolusi merupakan salah satu proses optimasi 

disintegrasi tablet. Disintegran yang ditambahkan 

pada proses granulasi basah diketahui kurang efektif 

dibandingkan cetak langsung, karena pada tablet cetak 

101Proses Manufaktur Sediaan Tablet

langsung tablet lebih cepat terdisintegrasi menghasilkan 

partikel, sedangkan pada metode granulasi, tablet 

terdisintegrasi dulu menjadi granul, baru kemudian 

menjadi partikel 

d. Stabil

Stabilitas beberapa senyawa kimia tidak menjadi 

problem, karena lembab sebagai penyebab utama 

ketidakstabilan dieliminasi

e. Ukuran partikel

Keseragaman lebih terjamin dibandingkan dengan 

metode granulasi, dimana fase luar ditambahkan 

sebagai fines.

Sedangkan keterbatasan metode cetak langsung yaitu :

a. Teknologi 

Ada massalah aliran dan ikatan untuk dapat membentuk 

massa cetak yang kuat serta kecepatan untuk 

meningkatkan laju produksi

b. Zat aktif

1. Dosis rendah (< 50 mg)

Ada massalah keseragaman distribusi obat, 

kemungkinan tidak tercampur dengan eksipien 

atau terjadi pemisahan selama proses kompresi

2. Dosis tinggi

Senyawa-senyawa dengan bulk volume besar, 

kompresibilitas rendah dan aliran buruk tidak 

mungkin dicetak dengan metode cetak langsung

c. Pemilihan eksipien sangat kritis

Pengisi-pengikat harus mempunyai kompresibilitas 

dan waktu alir yang baik. Sebaiknya diketahui potensial 

pengencerannya (bagian yang dikompresi menjadi 

102 

massa kompak dengan menggunakan pengisi ini ). 

Potensial ini sebenarnya juga dipengaruhi oleh zat aktif

d. Dapat terjadi pemisahan setelah proses pencampuran

Berkurangnya lembab dapat meningkatkan muatan 

elektrostatik, sehingga dapat menyebabkan pemisahan 

(unblending). Perbedaan ukuran partikel dan bobot 

jenis antara obat dan eksipien juga dapat menyebabkan 

unblending. Unblending dapat diatasi dengan cara:

1. Menggunakan eksipien dengan ukuran partikel 

yang mendekati ukuran partikel zat aktif. 

2. Pencampuran dapat dilakukan secara bertahap : 

zat aktif yang telah dihaluskan dicampur dengan 

eksipien dengan ukuran partikel paling besar. 

Akibatnya partikel zat akan terjerat secara bertahap 

dan tidak teratur pada permukaan partikel pengisi 

(terikat dengan gaya van der waals atau gaya 

elektrostatik)

Eksipien ideal untuk tablet cetak langsung yaitu  sebagai berikut : 

a. Kemampuan mengalir tinggi (aliran sangat baik) 

b. Kompresibilitas dan kompaktibilitas tinggi 

c. Inert secara fisiologi 

d. Tersatukan dengan berbagai zat aktif 

e. Tidak menunjukkan adanya perubahan sifat fisika atau kimia, 

serta stabil terhadap udara, kelembaban dan panas 

f. Mempunyai kapasitas yang tinggi untuk mengencerkan 

zat aktif (lazim dinyatakan sebagai persentase zat non 

compresibel atau sebagai ratio pengenceran obat yang 

optimum) 

g. Tidak berwarna dan tidak berasa 

h. Dapat diwarnai secara merata oleh zat warna 

i. Relatif tidak mahal 

103Proses Manufaktur Sediaan Tablet

j. Mempunyai raba mulut (mouth feel) yang baik, khususnya 

jika digunakan untuk tablet kunyah 

k. Tidak mempengaruhi bioavailabilitas zat aktif 

l. Ukuran partikelnya ekuivalen dengan kebanyakan zat aktif 

m. Dapat dicetak ulang (rework) tanpa mengurangi sifat aliran 

dan/atau kompresibilitasnya 

n. Mempunyai profil tekanan vs kekerasan yang baik (makin 

besar tekanan yang diberikan, kekerasan tablet makin 

meningkat) 

Secara umum, pengisi dan pengikat untuk tablet kempa langsung 

merupakan bahan pengisi umum yang digunakan tetapi telah 

dimodifikasi secara fisik. Contoh bahan pengisi dan pengikat untuk 

tablet secara kempa langsung yaitu  sebagai berikut. 

c. Pengembangan formulasi tablet cetak langsung  

Keberhasilan formulasi tablet cetak langsung tergantung 

pada kecermatan memilih sifat-sifat eksipien dan optimasi 

kompresibilitas, aliran dan lubrikasi campuran serbuk 

i). Kompresibilitas dan Kompaktibilitas 

Formulasi diarahkan pada optimasi kekerasan tablet 

tanpa pemakaian kekuatan kompresi yang berlebihan, serta 

memberikan disintegrasi dan disolusi obat yang cepat. Jika 

kadar obat kecil, kompresibilitas tidak menjadi problem. Yang 

menjadi problem yaitu  homogenitas distribusi obat dan 

keseragaman kandungan. Tapi jika kadar obat cukup besar, 

timbul massalah sifat-sifat zat aktif, tipe dan konsentrasi 

eksipien.

Pengikat kering yang efektif antara lain yaitu  Avicel 3 

– 5 %. Sedangkan konsentrasi Avicel ± 65 % lazim digunakan 

untuk mengikat zat aktif yang mempunyai karakteristik 

kompresibilitas yang jelek. Kebanyakan disintegran, seperti : 

amilum, dan glidan dapat mengurangi kompresibilitas massa 

104 

cetak. Sedangkan sifat-sifat kompresibilitas eksipien juga 

dapat bersifat aditif, seperti : campuran Avicel dan spray-dried 

lactose  

ii). Aliran 

Sifat aliran penting dalam hal pencampuran, 

homogenitas serbuk, keseragaman pengisian die dan 

keseragaman bobot tablet. Jika dosis obat kecil, maka proses 

penghalusan obat (untuk memperbaiki disolusi) tidak akan 

menimbulkan problem. Tetapi jika dosis obat cukup besar, 

diperlukan pemilihan pengisi yang sesuai dan penambahan 

glidan. Glidan yang sesuai yaitu  micronized silica, seperti : 

Cab-O-Sil atau Syloid 0,1 – 0,5 %.  

Pada konsentrasi glidan yang lebih besar, akan terjadi 

peningkatan variasi bobot tablet dan kekerasan tablet 

berkurang. Tetapi jumlah glidan yang besar mungkin juga 

berfungsi sebagai antiadheran dan mereduksi massalah 

filming dan picking pada permukaan punch. Hampir semua 

disintegran memperlambat aliran. Oleh sebab itu untuk 

mendapatkan waktu disintegrasi yang optimal sebaiknya 

digunakan ukuran partikel disintegran yang sekecil mungkin 

(kalau dapat yang lebih kecil dari zat aktif ). Makin seragam 

ukuran partikel dan makin mirip bobot jenisnya, maka makin 

kecil kemungkinan terjadi unblending atau pemisahan. 

Diantara beberapa metode untuk menetapkan 

sifat aliran, metode penetapan free-flow cone height 

merupakan metode yang mudah dilakukan dan mempunyai 

reprodusibilitas yang baik. Caranya: Serbuk dialirkan melalui 

pengayak yang sesuai (tanpa diberi tekanan), sehingga 

terbentuk kerucut (cone) di atas selinder, yang diletakkan di 

bawah ayakan dengan jarak 3 – 10 cm. Selanjutnya diukur 

tinggi kerucut ini . Makin rendah tinggi kerucut, sifat 

alir serbuk makin baik. Metode lain untuk menetapkan aliran 

105Proses Manufaktur Sediaan Tablet

yaitu  dengan menggunakan parameter laju aliran (flow 

rate) dan penetapan sudut jatuh/diam (angle of repose)  

iii). Lubrikasi 

Dua hal yang berhubungan dengan massalah lubrikasi yaitu :

• Tipe dan jumlah lubrikan yang dibutuhkan untuk 

mendapatkan efek lubrikasi yang memadai 

• Efek pelunakan tablet akibat lubrikasi 

Karena umumnya ukuran partikel untuk tablet cetak langsung 

lebih kecil dari granul, maka dibutuhkan jumlah lubrikan yang lebih 

banyak (karena lebih besar permukaan yang harus dilapisi). Akibatnya 

efek pelunakan juga akan lebih besar. Selama pencampuran mungkin 

seluruh permukaan serbuk sudah terlapisi, dan mungkin juga belum. 

Oleh sebab itu waktu pencampuran merupakan faktor yang penting 

dalam metode cetak langsung (lebih penting daripada dalam granulasi). 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan, waktu disintegrasi dan 

disolusi tablet yang mengandung laktosa dan Avicel dipengaruhi oleh 

lamanya waktu pencampuran. 

2. Metode granulasi  

Apabila teknik kempa langsung tidak praktis untuk dilakukan 

dikarenakan zat aktif tidak memiliki sifat alir dan kekompakan yang 

baik maka dilakukan teknik granulasi. Granulasi merupakan proses 

meningkatkan ukuran partikel. Sehingga ukuran partikel yang lebih 

besar ini berperan untuk memperbaiki sifat alir. Proses granulasi 

dilakukan dengan penambahan cairan bahan pengikat. Penambahan 

cairan bahan pengikat dalam bentuk musilago inilah yang berperan 

untuk memperbaiki kekompakan (compactibility) dari campuran zat 

aktif dan eksipien. 

Metode ini merupakan proses yang komplek diawali dengan 

pembentukan granul dari campuran serbuk berikut granul yang 

dihasilkan dicetak menjadi tablet. Metode ini dibagi 2 berdasarkan 

106 

kestabilan zat aktifnya terhadap air dan pemanasan. 

a. Granulasi basah, cocok untuk zat aktif yang tahan terhadap air dan 

pemanasan 

b. Granulasi kering, dilakukan pada zat aktif yang rusak oleh air dan 

atau pemanasan. 

Pemilihan dari metode di atas tergantung pada takaran / ukuran 

dosis, kekompakan dan sifat alir dari zat aktif, stabilitas dan karakteristik 

dari zat aktif.  Takaran dosis merupakan pertimbangan awal yang 

dilakukan. Pada obat dengan dosis rendah sebagian besar formulasi 

tablet yaitu  bahan tambahan sehingga faktor kritis yang diperhatikan 

yaitu  keseragaman kandungan zat aktif. Sedangkan pada obat dosis 

besar sebagian besar formulasi tablet yaitu  bahan zat aktif sehingga 

faktor kritis yang diperhatikan yaitu  kekompakan dan sifat alir. 

Granulasi merupakan proses partikel primer serbuk dibuat 

berikatan untuk menjadi lebih besar, wujud multipartikel ini disebut 

dengan granul. Granul farmasetik secara khusus memiliki range ukuran 

partikel antara 0,2 sampai 4 mm, tergantung pada penggunaannya. 

Alasan dilakukannya proses granulasi yaitu  sebagai berikut : 

a. Untuk mencegah segregasi dari campuran serbuk 

Segregasi (pemisahan) dikarenakan perbedaan ukuran dan 

densitas dari komponen dari campuran. Granulasi yang ideal akan 

mengandung semua konstituen dari campuran dari porsi yang 

tepat, dan segregasi dari bahan tidak terjadi, sebagaimana gambar 

berikut. 

107Proses Manufaktur Sediaan Tablet

 

Gambar 5.4 Granulasi untuk mencegah segregasi 

b. Untuk memperbaiki sifat alir dari campuran. 

Kebanyakan serbuk, karena ukuran partikelnya kecil, bentuk tidak 

beraturan atau karakteristik permukaan yang kohesif sehingga 

sifat alirnya jelek. Aliran yang jelek akan menghasilkan variasi 

bobot pada tablet.  

c. Untuk memperbaiki karakteristik kemapuan cetak dari campuran. 

Beberapa serbuk sulit untuk dikempa, tetapi granul dan beberapa 

formulasi seringkali lebih mudah dikempa dan menghasilkan 

tablet yang lebih kuat. Ini dikaitkan dengan distribusi dari bahan 

pengikat pada granul dan merupakan suatu fungsi dari metode 

yang dilakukan untuk menghasilkan granul. 

Metode granulasi digunakan karena metode kempa langsung 

tidak dapat dikembangkan dengan alasan dosis zat aktif besar, kurang 

kompatibel dan sifat alir zat aktif tidak baik. Granulasi merupakan proses 

108 

untuk meningkatkan ukuran partikel sehingga meningkatkan sifat alir 

dari bahan obat. Penambahan bahan pengikat akan menyebabkan bahan 

terikat pada granul sehingga membantu peningkatan kekompakan 

tablet.  Tujuan dari proses granulasi yaitu  sebagai berikut : 

a. Untuk memperbaiki sifat alir material  

b. Untuk karakteristik kompresi 

c. Untuk mencegah terjadinya segregasi dari campuran serbuk dan 

granul 

 

Mekanisme proses granulasi yaitu  sebagai berikut : 

1. Mekanisme ikatan partikel 

Untuk membentuk granul, harus dibentuk ikatan antara partikel 

serbuk sehingga partikel akan berikatan dan ikatan ini harus memiliki 

kekuatan yang cukup untuk mencegah granul pecah menjadi serbuk 

pada saat penanganan. Ada lima mekanisme ikatan antar partikel : 

a. Gaya adhesi dan kohesi dalam lapisan cairan yang tidak 

bergerak antara partikel utama masing-masing serbuk 

b. Gaya antarmuka dalam lapisan cairan yang bergerak dengan 

granul 

c. Pembentukan jembatan padat setelah pelarut menguap 

d. Gaya tarik antara partikel padat 

e. Penyatuan antar partikel secara mekanik (mechanical 

interlocking) 

a.  Gaya adhesi dan kohesi dalam lapisan tidak bergerak 

Jika cairan yang cukup ada dalam serbuk untuk membentuk 

suatu yang tipis, lapisan tidak bergerak, akan efektif mengurangi 

jarak antar partikel dan meningkatkan area kontak antara partikel. 

Kekuatan ikatan antara partikel akan ditingkatkan karena ini, 

karena gaya van der Waals gaya tarik menarik sebanding dengan 

diameter partikel dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak 

pemisahan.  

109Proses Manufaktur Sediaan Tablet

Situasi ini akan muncul dengan lembab yang diabsorpsi dan 

perkiraan kohesi dari serbuk yang agak lembab. Meskipun lapisan 

ini  masih ada sebagai cairan sisa setelah granulasi disiapkan 

dengan granulasi basah telah dikeringkan, tidak mungkin bahwa 

mereka berkontribusi sangat signifikan pada kekuatan granul akhir. 

Pada granulasi kering, bagaimanapun tekanan yang digunakan 

akan meningkatkan kontak antara lapisan dan penurunan jarak 

antar partikel; dan ini akan berkontribusi pada kekuatan granul 

akhir.  

b. Gaya antarmuka dalam lapisan cairan bergerak 

Selama cairan granulasi basah ditambahkan pada campuran 

serbuk dan akan terdistribusi sebagai lapisan disekeliling dan antar 

partikel. Cairan yang mencukupi biasanya ditambahkan untuk 

melebihi yan diperlukan untuk suatu lapisan yang tidak bergerak 

dan untuk menghasilkan suatu lapisan bergerak. Ada tiga keadaan 

distribusi air antar partikel yang diilustrasikan pada gambar. 5.5 

 

Gambar 5.5 Distribusi air antara partikel dari granul selama 

pembentukan dan pengeringan (Salman, 2007)

110 

 Pada suhu yang rendah, disebut dengan  pendular 

(pendular state), partikel berikatan sesamanya dengan cincin 

berbentuk lensa dari cairan. Ini menyebabkan adhesi dikarenakan 

gaya tegangan permukaan pada antarmuka. Apabila semua udara 

telah digantikan dari antara partikel kondisi capilary tercapai, dan 

partikel dipengaruhi oleh hisapan capilary pada antarmuka cairan/

udara, yang sekarang hanya pada permukaan granul. Kondisi 

funicular merupakan suatu tahapan antara pendular dan capilary. 

Kekuatan gaya tarik (tensile strength)  granul lembab meningkat 

kira-kira tiga kali antara kondisi pendular dan capilary.   

c. Jembatan padat 

Ini dapat dibentuk oleh : (1)Peleburan parsial; (2)Pengerasan 

bahan pengikat; dan (3)Kristalisasi dari bahan terlarut.  

d. Gaya tarik antara partikel padat 

Dengan adanya cairan dan jembatan padat terbentuk dengan 

bahan pengikat, ada dua jenis gaya tarik yang dapat bekerja antara 

partikel dalam sistem farmasetik.  

(1) Gaya elektrostatik, penting dalam menyebabkan kohesi

serbuk dan pembentukan awal dari aglomerat, seperti 

selama pencampuran. Secara umum tidak berkontribusi 

signifikan pada kekuatan akhir dari granul. 

(2) Gaya Van der Waals, bagaimanapun juga gaya ini kira-kira 

empat kali lipat lebih besar dari pada gaya elektrostatik 

dan berkontribusi signifikan terhadap kekuatan granul 

yang dihasilkan dengan granulasi kering.  

2. Mekanisme pembentukan granul 

Pada metode kering, adhesi partikel diakibatkan oleh tekanan yang 

diberikan. Suatu material yang kompak yang dihasilkan lebih besar dari 

ukuran granul yang dibutuhkan, dan oleh sebab itu ukuran granul yang 

diharapkan dapat dicapai dengan penggilingan dan pengayakan. Pada 

metode granulasi basah, cairan ditambahkan pada serbuk kering yang 

111Proses Manufaktur Sediaan Tablet

harus terdistribusi dengan pengadukan mekanik yang dilakukan pada 

granulator. Prinsip pengikatan partikel sesamanya dikarenakan lapisan 

cairan, dan lebih lanjut penambahan pengadukan dan/atau cairan yang 

menyebabkan lebih banyak partikel berikatan. Mekanisme granulasi 

yang diusulkan dapat dibagi atas tiga tahap.  

a. Pembentukan dasar/inti (nucleation) 

Granulasi diawali dengan kontak antar partikel dan adhesi yang 

dikarenakan jembatan cairan. Sejumlah partikel akan bergabung 

untuk membentuk pendular state yang diilustrasikan pada gambar 

di atas. Lebih lanjut pengadukan menjadikan badan pendular untuk 

membentuk capilary state, dan badan ini bekerja sebagai inti untuk 

lebih lanjut pertumbuhan granular. 

b. Transisi 

Inti (nuclei) dapat tumbuh dalam dua cara yang memungkinkan; 

salah satunya partikel tunggal dapat ditambahkan pada inti dengan 

jembatan pendular, atau dua atau lebih inti dimungkinkan bergabung. 

Inti yang bergabung akan berubah bentuk dengan pengadukan dari 

dasar. 

c. Pertumbuhan bola (ball growth) 

Lebih lanjut granul tumbuh menghasilkan granul yang besar, bulat 

dan ukuran partikel rata-rata dari sistem granulasi akan meningkat 

dengan waktu. Jika pengadukan dilanjutkan, penggabungan granul 

akan berlanjut dan menghasilkan sesuatu yang tidak dapat digunakan, 

sistem massa yang berlebihan meskipun ini tergantung pada jumlah 

cairan yang ditambahkan dan sifat dari material yang digranulasi. Ada 

empat mekanisme yang memungkinkan dari pertumbuhan bola yang 

diilustrasikan pada gambar 5.6. 

112 

  

Gambar 5.6 Mekanisme pertumbuhan bola selama granulasi (Salman, 2007)   

Coalescence merupakan dua atau lebih granul bergabung untuk 

membentuk granul yang lebih besar. 

Breakage merupakan granul pecah menjadi fragmen yang mengikat 

pada granul yang lain membentuk suatu lapisan material di atas granul 

yang lain. 

Abrasion transfer merupakan pengadukan granul yang mengarahkan 

pada ikatan material dari granul. Material yang terkikis ini mengikat 

pada granul lain sehingga meningkatkan ukurannya. 

Layering merupakan apabila beberapa batch dari campuran serbuk 

ditambahkan pada bagian dasar dari granul serbuk akan mengikat 

pada granul, membentuk lapisan di atas permukaan dan meningkatkan 

ukuran granul.   

113Proses Manufaktur Sediaan Tablet

a. Metode granulasi basah 

Granulasi basah merupakan metode tertua dan sampai sekarang 

masih banyak digunakan. Granulasi basah diawali dengan pembuatan 

massa granul yang berasal dari campuran serbuk atau partikel 

menggunakan cairan penggranul. Cairan penggranul mengandung 

pelarut yang harus dihilangkan dengan teknik pengeringan dan pelarut 

tidak toksik. Secara khusus pelarut yang digunakan yaitu  air, etanol 

dan isopropanol. Cairan penggranul biasanya digunakan pelarut yang 

mengandung bahan pengikat (adhesive). Air biasanya digunakan sebagai 

cairan penggranul karena tidak mudah terbakar dan ekonomis dari segi 

biaya. Bagaimanapun juga air dimungkinkan dapat mempengaruhi 

stabilitas zat aktif dan menyebabkan hidrolisis. Keterbatasan lainnya dari 

air yaitu  dibutuhkannya waktu yang lebih lama untuk kontak dengan 

panas pada saat pengeringan sehingga mempengaruhi stabilitasnya. 

Pada obat-obat yang sensitif terhadap air ada 2 alternatif yang dapat 

dilakukan yaitu menggunakan pelarut organik sebagai pelarut bahan 

pengikat dan menggunakan metode granulasi kering. 

Setelah dilakukan proses pencampuran partikel kering dengan 

cairan penggranul akan diperoleh massa granul yang basah. Massa 

granul basah ini diayak untuk menghasilkan granul yang diharapkan 

dan berikut dikeringkan. Berikutnya granul kering diayak lagi untuk 

menyeragamkan ukuran partikel.  

114 

Gambar 5.7  Proses Pembuatan Tablet dengan Teknik Granulasi Basah 

 

Pada gambar di atas khusus untuk penambangan bahan 

penghancur ada 3 cara yaitu; 

a. Ditambahkan pada saat pencampuran akhir (sebagaimana 

gambar 4.3, disebut juga dengan ekstragranular) 

b. Ditambahkan bersamaan dengan zat aktif dan bahan pengisi 

dan bahan penghancur ikut digranul (disebut juga metode 

intragranular) 

c. Ditambahkan setengah bagian dengan metode intragranular 

dan setengah bagian ditambahkan dengan metode 

ekstragranular (disebut juga metode kombinasi ekstra dan 

intra granular). 

115Proses Manufaktur Sediaan Tablet

Disebut granulasi basah karena dalam proses pembuatannya 

granulnya mempergunakan larutan bahan pengikat didalam air seperti 

mucilago CMC, gom arab, gelatin, pasta pati dan lain-lain sesuai dengan 

sifat yang dimiliki zat khasiat yang akan dibuat tablet 

Bahan pengikat lain seperti air, alkohol ataupun campuran 

air-alkohol serta bahan pengikat yang larut dalam alkohol maupun 

larut dalam pelarut organik lainnya dapat juga digunakan dalam proses 

granulasi basah ini. Tablet yang dihasilkan dari cara granulasi basah 

pada umumnya lebih kompak dan lebih keras dibandingkan dengan 

tablet hasil pencetakan secara langsung ataupun cara slugging 

Tahap-tahap pengerjaan dalam proses granulasi basah ini yaitu  : 

a. Penimbangan 

b. Pencampuran 

c. Granulasi 

Campuran serbuk yang telah melalui tahap pencampuran 

dibasahi dengan larutan bahan pengikat yang cocok sampai 

diperoleh distribusi bahan pengikat yang homogen.. Dalam 

skala besar digunakan Glen Mixer atau Hobart Mixer. Pada alat 

ini larutan bahan pengikat ditambahkan sedikit demi sedikit 

kedalam campuran serbuk yang dibiarkan berputar sampai 

larutan bahan pengikat terdistribusi merata, membentuk 

adonan yang diinginkan 

d. Pengayakan massa basah 

Pengayakan dimaksudkan untuk menghasilkan granul 

dengan ukuran yang sama di samping untuk membentuk 

massa granul yang lebih kompak. Dalam proses pengayakan 

perlu diperhatikan logam yang digunakan pada ayakan 

ini  ada zat khasiat tertentu seperti Vitamin C yang 

mengalami penurunan potensi akibat pengaruh logam 

tembaga.  

Dalam skala besar, massa basah yang dihasilkan dilewatkan 

kedalam Stokes Oscillator / Colton Rotary Granulator / Fitzpatrich 

116 

Comminulting mill / Stokes Tornato mill yang masing-masing 

dilengkapi dengan ayakan yang berbeda-beda ukurannya 

sesuai dengan ukuran granul yang diharapkan. Granul 

yang terbentuk langsung ditampung dalam nampan yang 

beralaskan kawat dilapisi kertas perkamen yang bersih 

e. Pengeringan 

Dalam skala lab dilakukan dalam lemari pengering dengan 

suhu 50 – 60 oC. Di Industri dilakukan pada Fluidized bed drier, 

lemari pengering yang dilengkapi dengan lampu inframerah. 

Selama proses pengeringan berlangsung dilakukan 

kontrol terhadap suhu pengeringan dan lamanya waktu 

pengeringan. Suhu dan waktu pengeringan berpengaruh 

dalam menentukan kadar air yang masih terdapat didalam 

granul yang kering. Kadar air sisa untuk setiap granul zat 

khasiat tidak sama. Air sisa berguna untuk mengaktifkan 

kembali fungsi bahan pengikat di samping untuk menekan 

kemungkinan timbulnya muatan elektrostatika sewaktu 

pencetakan 

Pemilihan alat pengering sebaiknya didasarkan atas 

kemampuan pengering ini  untuk memberikan harga 

kadar air yang dapat dipercaya ketepatannya. Pengukuran 

kadar air secara otomatis dapat dilakukan dengan 

menggunakan alat Moisture Balance yang pada umumnya 

dilengkapi dengan lampu IR untuk mengeringkan granul-

granul yang akan ditentukan kadar airnya. Alat ini terbatas 

penggunaannya hanya untuk granul yang mengandung zat 

khasiat yang tidak mudah menguap 

f. Pengayakan massa kering 

Granul yang telah dikeringkan kembali diayak dengan 

menggunakan cara yang sama seperti halnya sewaktu 

pengayakan massa basah, bedanya disini hanya pada ukuran 

mesh ayakan yang digunakan. Untuk pengayakan massa 

117Proses Manufaktur Sediaan Tablet

kering digunakan ayakan dengan mesh lebih besar daripada 

mesh sewaktu pengayakan massa basah. Misal sewaktu 

pengayakan massa basah menggunakan ayakan 12 mesh 

maka pada pengayakan massa kering digunakan ayakan 14 

mesh. Pada saat ini biasanya dihasilkan fines  

g. Lubrikasi 

Granul kering yang telah melewati tahap pengayakan 

kembali dicampurkan dengan bahan lubrikan tablet. Bahan 

lubrikan ini berbentuk halus yang fungsinya sinergis dengan 

fungsi fines yakni membantu memperbaiki aliran massa cetak 

 Mekanisme lubrikasi dapat berlangsung sebagai berikut : 

a. Sebagai bahan yang halus maka bahan lubrikan ini mampu 

mengisi lekukan-lekukan yang terdapat pada permukaan 

granul sehingga memperbaiki permukaan granul menjadi 

lebih licin dan halus, akibatnya granul-granul ini  dapat 

mengalir dengan lebih baik 

b. Bahan lubrikan ini diadsorpsi oleh permukaan granul 

membentuk suatu lapisan yang tipis dan mampu mencegah 

timbulnya daya kohesi antar granul 

 Tahap-tahap yang dilakukan dalam pembuatan tablet : 

i). Penyiapan larutan pengikat 

ii). Pembasahan campuran serbuk dengan larutan pengikat 

untuk membentuk massa yang basah 

iii). Pengayakan kasar massa yang basah dengan ayakan 

6 – 12 mesh 

iv). Pengeringan granul yang lembab 

v). Pengayakan granul kering dengan ayakan 14 – 20 mesh 

vi). Pencampuran granul yang telah diayak dengan lubrikan 

vii). Kompresi tablet 

118 

b.       Metode granulasi kering 

Proses ini menunjukkan granulasi campuran serbuk kering dengan 

cara kompresi tanpa melibatkan panas dan pelarut. Pada metode ini 

partikel serbuk dijadikan agregat dengan tekanan yang tinggi. Metode 

ini khususnya cocok untuk senyawa aktif yang peka terhadap panas dan 

lembab. 

Ada dua metode proses yang digunakan dalam granulasi kering, yaitu; 

i) Slugging, yang ditujukan untuk menghasilkan tablet dengan 

ukuran yang besar (slug) tanpa mempertimbangkan ukuran, 

kekerasan dan ketebalan tablet. 

ii) Roller compaction, yaitu proses dimana serbuk dilewatkan pada 

2 penggiling (roll) untuk menghasilkan lembaran material yang 

lebih besar.  

Pada kedua metode di atas slug atau lembaran material yang 

dihasilkan berikut dihancurkan dan diayak yang ditujukan untuk 

menghasilkan distribusi ukuran granul yang diharapkan. 

Granulasi kering dengan cara slugging yaitu  mengkompresi 

serbuk menjadi tablet keras (slug) dengan diameter umumnya ¾ sampai 

5/

4

 inch, dengan ketebalan tablet setebal mungkin. Akurasi dan kondisi 

slug tidaklah penting. Slugging sering menunjukkan prekompresi atau 

kompresi ganda. Mesin yang lebih cocok untuk slugging yaitu  mesin 

tipe rotary 

Faktor penentu slug yang baik yaitu  sebagai berikut : 

i. Kompresibilitas atau kohesivitas serbuk 

ii. Ratio kompresi serbuk (ratio kedalaman ruang die dan 

ketebalan slug yang dihasilkan) 

iii. Bobot jenis serbuk 

iv. Tipe mesin : rotary atau single punch 

v. Ukuran dan kapasitas mesin 

vi. Ukuran punch dan die 

vii. Clearance punch dan die 

viii. Ketebalan slug 

119Proses Manufaktur Sediaan Tablet

ix. Kecepatan kompresi 

x. Tekanan yang dihasilkan untuk mencetak slug 

Proses granulasi kering dapat dilihat pada gambar brikut ini;

Gambar 5.8 Proses Pembuatan Tablet dengan Teknik Granulasi Kering Proses Slugging

Untuk keseragaman pengisian dan kompresi, ketebalan slug 

sebaiknya tidak lebih dari ½ inch. Jika terjadi laminasi, breaking atau 

sticking pada slug, dianjurkan untuk mengurangi kecepatan dan/atau 

tekanan, serta mengurangi ketebalan slug 

Keuntungan metode slugging yaitu  hemat peralatan dan ruang 

produksi dan tidak memerlukan larutan pengikat, peralatan mixing 

yang berat serta hemat ongkos produksi. 

Slugging sangat bermanfaat untuk situasi berikut : 

i). Obat sensitif terhadap panas dan/atau lembab 

ii). Perbaikan disintegrasi tanpa penambahan pengikat 

120 

iii). Perbaikan kelarutan, misalnya : zat anhidrat yang akan 

berkurang kelarutannya jika dalam keadaan basah 

iv). Perbaikan mixing, dimana tidak terjadi migrasi zat aktif 

Sedangkan kerugian slugging yaitu  : 

i). Memerlukan tekanan tablet yang besar untuk dapat 

menghasilkan slug 

ii). Tidak memungkinkan distribusi zat warna yang seragam  

iii). Tekanan dari roll press tidak dapat digunakan untuk zat yang 

tidak larut, karena dapat memperlambat laju disolusi 

iv). Proses menghasilkan debu yang lebih banyak dari granulasi 

basah, sehingga meningkatkan resiko kontaminasi silang  

c. Extrusion/Spheronisation 

Salah satu metode khusus aglomerasi partikel yaitu  ekstrusi 

dan spheronisasi, untuk menghasilkan partikel berbentuk bola atau 

mendekati bola. Partikel seperti ini cocok untuk disalut dengan penyalut 

menghasilkan formulasi dengan pelepasan terkontrol. Partikel biasanya 

diisikan ke dalam kapsul gelatin keras sebelum diberikan pada pasien. 

Proses ekstrusi/spheronisasi disajikan pada gambar 5.9.

Gambar 5.9 Skema proses extrusion/spheronization (sumber: Gibson, 2009)

121Proses Manufaktur Sediaan Tablet

Obat dan bahan pengisi dicampur dengan air untuk membentuk 

massa basah. Tahapan ini dilakukan dengan menggunakan peralatan 

yang serupa dengan granulasi basah secara konvensional, walaupun 

jumlah air yang ditambahkan lebih besar sehingga menghasilkan massa 

yang plastis daripada granul. Massa kemudian diekstrusi, yaitu ditekan 

melalui ayakan yang berisi lubang bundar, untuk membentuk ekstrudat 

seperti spaghetti. Ekstrudat dipotong panjangnya kira-kira dua kali 

diameter lubang dan digulung oleh gaya gesekan dan sentrifugal pada 

lempeng beralur berputar yang dikenal sebagai spheronizer. Putaran 

bekerja menekan silinder sepanjang panjang dan putaran ujungnya, 

membentuk dumbells yang selanjutnya dicetak sepanjang panjangnya 

untuk membentuk bulatan (bola). Spheronizer berhenti membentuk 

bulatan dan berikutnya dikeringkan, biasanya dengan fluid bed drying.

Bahan dasar kebanyakan berbentuk bulatan (spheroid) yaitu  zat 

aktif, mikrokristalin selulaosa dan air. Mikrokristalin selulosa tampaknya 

unik dalam kemampuannya membentuk spheroid dengan metode 

ini, karena mungkin kemampuannya menahan air selama ekstrusi. 

Pengayakan massa basah melalui sebuah ayakan selama ekstrusi 

memaksa sebagian besar bahan untuk kehilangan air, dan ekstrudat 

yang dihasilkan tidak memiliki plastisitas yang diperlukan untuk 

membentuk spheroid.

Banyak jenis pengekstrusi yang tersedia, dengan kekuatan geser 

yang sangat berbeda. Kekuatan geser yang berbeda akan berpengaruh 

pada distribusi air di ekstrudat. Karena tingkat air sangat penting untuk 

mengoptimalkan proses spheronisasi, jelas bahwa pengembangan 

formula dan pengembangan proses perlu dipertimbangkan sebagai 

satu jenis proses ini.

Komponen formulasi untuk extrusion spheronization yaitu  (sumber: 

http://www.controlledreleasesociety.org/meetings/workshops/

Documents/2015Workshops/MultiparticulatePresentations/Petraglia.

pdf ): (1) Komponen utama berupa zat aktif; pembantu extrusion 

spheronization; dan air (pelarut); serta (2) Komponen sekunder berupa 

122 

bahan pengikat; bahan tambahan untuk memodifikasi pelepasan; 

bahan pengisi dan bahan penghancur. Proses extrusion spheronization 

secara skematik dapat dilihat pada gambar 5.10.

 

 

   Gambar 5.10 Tahapan proses extrusion spheronization  (sumber:http://www.

controlledreleasesociety.org/meetings/workshops/Documents/2015Workshops/

MultiparticulatePresentations/Petraglia.pdf )

C. Peralatan yang Digunakan dalam Proses Granulasi Basah

Secara umum peralatan yang digunakan untuk proses granulasi 

basah dikategorikan 3 yaitu; 

1. Shear granulators  

2. High-speed mixer/granulators  

3. Fluidized-bed granulators  

1. Shear granulators  

Dalam proses granulasi tradisional pencampura massa basah 

dilakukan dalam planetary mixer (gambar 4.5). Pencampuran serbuk 

biasanya dilakukan dalam suatu kerja yang terpisah menggunakan 

perlatan pencampur yang cocok. Pada proses ini zat aktif, bahan 

pengisi, bahan penghancur (metode intragranular) setelah dicampur 

dalam tempat yang terpisah dengan alat, ditambahkan dengan 

cairan penggranul dalam suatu planetary mixer. Massa granul yang 

basah diayak menggunakan oscilating granulator (gambar 4.6) untuk 

mendapatkan granul dengan ukuran yang diharapkan. Granul yang 

diperoleh dikeringkan menggunakan oven atau fluidized bed dryer 

(gambar 5.13). 

123Proses Manufaktur Sediaan Tablet

 

Gambar 5.11 Plateray mixer untuk pembuatan massa 

granul (sumber: Collette Planetary Mixer)  

 

 Gambar 5.12 Oscilating Granulator/Erweka-type laboratory 

oscillatting granulator (sumber: Devay, 2013)

 

124 

 

Gambar 5.13 Fluidized Bed Dryer (CHAMUNDA PHARMA  MACHINERY 

PVT. LTD, sumber: http://cpmpl.tradeindia.com) 

Proses pengeringan menggunakan fluidized bed dyer dapat dilihat 

pada gambar berikut. 

  

Gambar 5.14 Proses pengeringan dengan fluidized bed dryer (sumber: emtindia.net) 

125Proses Manufaktur Sediaan Tablet

 Dari proses di atas terlihat bahwa proses pengeringan 

menggunakan fluidized bed dryer yaitu  dengan memanfaatkan udara 

panas yang muncul dari bagian bawal alat yang disemprotkan menuju 

bagian atas. Akibatnya granul akan beterbangan sampai terbentur pada 

bagian atas yang berupa filter. Dengan adanya filter ini akan mencegah 

granul akan beterbangan keluar dari alat. Pada proses ini dimungkinkan 

pengeringan akan terjadi lebih sempurna. 

Berikut yaitu  permasalahan yang mungkin muncul apabila 

pengeringan menggunakan oven; 

a. Waktu pengeringan lebih lama 

b. Bahan terlarut dapat bermigrasi pada bagian atas dari granul 

c. Granul mungkin membentuk agregat untuk menjembatani titik 

kontak dari granul 

Keuntungan dari metode shear granulator yaitu  bahwa proses 

tidak sensitif terhadap perubahan karakteristik dari bahan-bahan 

yang digranul (seperti perbedaan area permukaan dari eksipien), dan 

tahapan akhir dari proses granulasi dapat ditentukan dengan tidak 

terlalu sulit. Sedangkan keterbatasan metode ini yaitu  waktu yang 

relatif lama, dibutuhkan beberapa alat sampai proses pengeringan 

sehingga dimungkinkan banyak terjadi kehilangan material pada saat 

pemindahan dari satu alat ke alat yang lain. 

2. High-speed mixer/granulators  

Granulator jenis ini (seperti Diosna, Fielder) banyak digunakan 

dalam industri farmasi. Mesin memiliki mangkuk pencampur dari baja 

anti karat yang terdiri dari 3 bilah (three-bladed) impeller utama, yang 

berputar pada bidang horizontal dan alat pemecah lain (chopper) yang 

berputar vertikal atau horizontal. Alat ini dapat dilihat pada gambar 5.15.

126 

 

Gambar 5.15 High-speed mixer/granulator (sumber: Diosna P 250A)

 Serbuk kering yang belum dicampur ditempatkan pada alat 

dan dicampur dengan putaran dari impeller selama beberapa menit. 

Cairan penggranul kemudian ditambahkan melalui suatu tempat yang 

tersedia pada granulator sementara itu impeller terus berputar. Cairan 

penggranul dicampurkan kedalam campuran serbuk dengan impeller. 

Chopper biasanya akan berputar apabila massa granul basah terbentuk, 

dan ia akan berfungsi memecah massa granul basah untuk menghasilkan 

granul dengan ukuran yang diharapkan. Setelah granul dengan ukuran 

yang diharapkan terbentuk berikut dipindahkan kedalam fluidized bed 

dryer. 

Keuntungan dari proses ini yaitu  pencampuran, pembuatan 

massa granul dan granulasi sampai didapatkan ukuran granul yang 

diharapkan dilakukan dengan waktu singkat dalam tempat yang sama. 

Proses ini harus dikontrol hati-hati karena proses granulasi terjadi 

dengan cepat sehingga granul yang sudah baik terbentuk akan cepat 

berubah menjadi tidak baik yang disebabkan oleh pembentukan 

granul yang berlebihan (overmassed). Oleh karena itu penting untuk 

127Proses Manufaktur Sediaan Tablet

menggunakan sistem monitoring yang cocok untuk menentukan akhir 

dari proses granulasi, misalnya apabila granul dengan ukuran yang 

diharapkan sudah terbentuk. Proses juga sensitif terhadap variasi bahan 

baku, tetapi ini dapat dminimalisasi dengan menggunakan alat monitor 

yang cocok untuk menentukan titik akhir (end-point monitor). 

Suatu variasi dari desain Diosna/Fielder yaitu  Collete-Gral mixer 

(gambar 4.12). Alat ini didasarkan pada bowl dan overhead drive dari 

planetary mixer, tetapi pendayung tunggal (singe peddle) diganti 

dengan dua alat pencampur. Satu diantaranya membawa tiga bagian 

yang tajam (three blades) yang berputar dalam  bidang horizontal pada 

dasar mangkuk (bowl), dan yang kedua membawa bagian tajam yang 

lebih kecil yang bekerja sebagai chopper dan berputar dalam bidang 

horizontal pada bagian atas dari massa granul. Jadi prinsip operasi alat 

ini sama. 

 

Gambar 5.16 Collette–Gral granulator: mixing shafts dan bow (sumber: 

http://www.gea.com/en/products/gral-ultimagral.jsp)

128 

Komposisi bahan-bahan campuran serbuk untuk granulasi 

biasanya terdiri dari zat aktif, bahan pengisi, bahan penghancur dan 

bahan pengikat. Proses high-shear wet-granulation meliputi tahapan 

sebagai berikut; 

a. Memasukkan semua bahan untuk digranul kedalam mixing bowl 

dengan salah satu metode berikut yaitu; pengisian berdasarkan 

gaya tarik atau katup pneumatik, dan pengisian dengan vakum 

b. Pencampuran dari serbuk kering dari zat aktif, bahan pengisi, dan 

bahan penghancur pada kecepatan impeller dan chopper yang 

tinggi dalam waktu pendek (2 – 5 menit) 

c. Penambahan cairan bahan pengikat kedalam campuran serbuk, 

sedangkan kedua impeller dan chopper berputar pada kecepatan 

yang rendah. 

d. Setelah terbentuk massa basah, impeller dan chopper keduanya 

berputar pada kecepatan tinggi. 

e. Setelah massa granul dengan ukuran yang sesuai dengan yang 

diharapkan terbentuk, berikut massa granul basah ini  

dipindahkan dari granulator, dan dikeringkan menggunakan 

teknik yang sesuai seperti fluidized bed dryer. 

f. Pengayakan granul kering 

  

 

 

129Proses Manufaktur Sediaan Tablet

Berikut yaitu  gambar beberapa jenis alat High-speed mixer/granulator.

                  

                            (A)                                            (B) 

 

             (C)         (D) 

Gambar 5. 17. (A) Foto dari suatu top-driven vertical high shear granulator (UltimaGral 

150, Courtesy dari Niro Pharma Systems, disunting dari Handbook of Pharmaceutical 

Granulation Technology) (B) Foto dari top-driven vertical high shear granulator (GMX 

10 courtesy dari Vector Corporation, disunting dari Handbook of Pharmaceutical 

Granulation Technology) (C) Foto dari top-driven vertical high shear granulator (GMA 

1200 courtesy dari L. B. Bohle, disunting dari Handbook of Pharmaceutical Granulation 

Technology) (D) Foto dari top-driven vertical high shear granulator  (Courtesy dari 

Glatt Air Techniques, disunting dari  Handbook of Pharmaceutical Granulation) 

130 

Berikut yaitu  gambar dari impeller dan chopper pada alat granulator. 

 

(A) 

 

(B) 

Gambar 5.18 (A) Tampak atas dari suatu bottom-driven impeller dengan suatu 

chopper horizontal (Courtesy dari Diosna, disunting dari Handbook of Pharmaceutical 

Granulation Technology) (B) Tampak atas dari suatu a bottom-driven impeller 

dengan suatu chopper horizontal dalam mangkuk berbentuk kerucut. (Courtesy 

of Glatt Air Techniques, disunting dari Handbook of Pharmaceutical Granulation)

Proses high-shear wet granlation memberikan beberapa 

keuntungan dibandingkan proses granulasi lainnya, diantaranya; 

131Proses Manufaktur Sediaan Tablet

a. Proses dilakukan dalam waktu yang relatif pendek 

b. Menggunakan larutan bahan pengikat yang lebih sedikit 

c. Granulasi dari bahan yang sangat kohesif yang mengandung 

polimer hidrofilik dapat dilakukan, dimana proses ini tidak 

dapat dicapai pada proses shear granulation 

d. Produksi granul yang reprodusibel dengan distribusi ukuran 

partikel yang seragam 

e. Mengurangi debu proses sehingga meminimalkan 

pemaparan dengan karyawan 

f. Penentuan titik akhir (end-point) dari granul yang diperolehnya 

dapat diprediksi. 

Walaupun memberikan keuntungan seperti di atas, namun ada 

beberapa keterbatasan dari metode ini diantaranya; 

a. Produksi granul kurang kompresibel, dibandingkan dengan 

proses low-shear granulation 

b. Kondisi operasi dengan jarak yang sempit 

Proses high-shear wet-granulation dapat dibagi atas 5 tahapan 

sebagaimana di bawah ini yaitu; pencampuran, penambahan cairan 

bahan pengikat, pembasahan dan pembentukan inti (nucleation), 

konsolidasi dan pertumbuhan, dan pengurangan ukuran granul  

Gambar 5.19 Proses high-shear wet-granulation 

132 

Berikut yaitu  faktor-faktor yang mempengaruhi proses granulasi 

dan sifat-sifat granul. 

a. Variabel Formulasi 

Di samping zat aktif, eksipien seperti bahan pengisi, 

bahan penghancur dan bahan pengikat juga dilibatkan dalam 

pencampuran serbuk dari formulasi tablet. Bahan pengisi yang 

digunakan dalam formulasi tablet dapat diklasifikasikan dalam 

dua kategori, berdasarkan kelarutan dalam air. Bahan pengisi larut 

air seperti laktosa, sukrosa, manitol dan lain sebagainya sedangkan 

yang tidak larut air seperti mikrokristalin selulosa, amilum, kalsium 

karbonat, kalsium fosfat dan lain sebagainya. Bahan pengikat yang 

digunakan dalam proses granulasi basah yaitu  polimer yang larut 

air seperti gelatin, PVP, HPMC dan gula (seperti glukosa, sukrosa 

dan sorbitol). Beberapa bahan penghancur umum yang digunakan 

yaitu  sodium starch glycolate, crosslinked PVP, dan cross-linked 

carboxymethylcellulose. Eksipien-eksipien ini tersedia dalam 

berbagai kualitas (grades) dari pemasok bahan baku (vendor). 

Oleh karena itu, sifat fisik seperti distribusi ukuran partikel, bentuk 

partikel, morfologi permukaan, area permukaan, dan kelarutan 

dari zat aktif dan eksipien dalam larutan bahan pengikat  dapat 

sangat bervariasi. Kecepatan dan kualitas dari pembentukan 

granul dikontrol oleh sifat fisik seperti distribusi ukuran partikel, 

bentuk partikel, morfologi permukaan, area permukaan, kelarutan 

dan larutan bahan pengikat dan lain sebagainya dari bahan 

awal. Oleh sebab itu, karakteristik fisik dari obat, jenis dan jumlah 

eksipien, dan jenis dan jumlah bahan pengikat yang digunakan 

dapat mempengaruhi kualitas akhir dari massa granul yang 

dihasilkan. Juga, aspek-aspek dari campuran serbuk ini dapat 

juga mempengaruhi jumlah dan cairan yang dibutuhkan untuk 

granulasi dan derajat saturasi cairan dalam agglomerasi selama 

proses granulasi basah yang pada gilirannya mempengaruhi sifat 

fisik dari granul yang diperoleh.  

133Proses Manufaktur Sediaan Tablet

b. Pengaruh Jenis dan Jumlah Larutan Bahan Pengikat yang 

Digunakan 

Bahan pengikat secara normal dibutuhkan untuk proses 

granulasi basah. Bahan pengikat dapat ditambahkan kedalam 

campuran serbuk sebagai serbuk kering yang diikuti dengan 

penambahan air atau pelarut yag sesuai untuk mengaktifkan 

pengikatan. Sebagai alternatif, bahan pengikat dapat juga 

ditambahkan kedalam campuran serbuk sebagai cairan bahan 

pengikat. Karakteristik pengikatan dari bahan pengikat yang 

digunakan untuk granulasi basah dapat bervariasi dikarenakan 

perbedaan sifat fisikokimanya. Oleh sebab itu, jenis dari bahan 

pengikat yang digunakan untuk granulasi dapat mempengaruhi 

proses granulasi, jumlah dari bahan pengikat yang dibutuhkan 

untuk granulasi, dan sifat fisik dari granul yang diperoleh.  

c. Pengaruh dari Variabel Proses 

Variabel proses berperanan kritis dalam proses granulasi 

karena mempengaruhi bagaimana bahan cairan bahan pengikat 

terdistribusi dalam serbuk dan pembentukan granul dari campuran 

serbuk. Oleh sebab itu, variabel proses dapat mempengaruhi sifat 

seperti distribusi ukuran partikel dan keseragaman kandungan 

obat granul yang diperoleh. Secara khusus, variabel proses yang 

mempengaruhi proses granulasi dan sifat fisik dari granul yang 

diperoleh yaitu ; 

• Beban atau kapasitas dari bowl granulator 

• Kecepatan impeller 

• Metode penambahan cairan penggranul 

• Kecepatan penambahan cairan penggranul 

• Kecepatan chopper 

• Waktu pembentukan massa basah 

 3. Fluidized-bed granulators  

Fluidized-bed granulator (seperti Aeromatic, Glatt) memiliki suatu 

kesamaan desain dan operasi dengan fluidized-bed dryer, dimana 

134 

partikel serbuk disemprotkan dalam suatu udara panas, tetapi sebagai 

tambahan cairan penggranul disemprotkan dari suatu nozel pada 

campuran serbuk (sebagaimana gambar 5.20). 

 

Gambar 5.20 Fluidized-bed granulator (Sumber: Qiu, 2009)

Udara panas dan tersaring ditiup atau disemprotkan melalui 

bagian bawah serbuk yang belum tercampur untuk menghamburkan 

partikel dan mencampurkan serbuk. Fluidisasi merupakan proses 

pencampuran yang sangat efisien. Cairan penggranul dipompakan dari 

suatu tempat penyimpanan melalui suatu semprotan dari nozel dari 

bagian atas dari partikel. Cairan menyebabkan partikel-partikel serbuk 

berikatan apabila tetesan dan serbuk bertabrakan. Bahan yang keluar 

dari ruangan granulasi dicegah dengan filter pembuangan dimana 

secara periodik mengaduk untuk memasukkan kembali bahan yang 

terkumpul kedalam fluidized bed. Cairan yang mencukupi disemprotkan 

untuk menghasilkan granul dengan ukuran yang diharapkan. Setelah 

granul terbentuk penyemprotan cairan penggranul berhenti tetapi 

aliran udara masih berlangsung. Granul basah berikutnya dikeringkan 

dalam aliran udara panas. 

Keuntungan dari metode ini yaitu ; 

135Proses Manufaktur Sediaan Tablet

a. Seluruh proses granulasi dikerjakan dalam satu unit sehingga 

menghemat tenaga, biaya, kehilangan material dan waktu 

b. Proses dapat diautomisasi setelah kondisi telah dioptimasi

Sedangkan keterbatasan metode ini yaitu  : 

a. Peralatan mahal 

b. Optimasi parameter proses (dan produk) mempengaruhi 

granulasi dengan demikian membutuhkan pengembangan 

yang ekstensif, tidak hanya selama formulasi awal tapi juga 

selama scale-up dari pengembangan ke produksi. 

Ada sejumlah parameter alat, proses dan produk yang 

mempengaruhi kualitas dari granul akhir. Parameter ini dapat dilihat 

pada tabel 5.3. Keberadaan tabel ini bergandengan dengan fakta bahwa 

keberadaan masing-masing formulasi menyajikan masalah tersendiri 

secara individu, mengakibatkan granulasi dengan fluidized-bed tidak 

mencapai potensi yang optimal dalam produksi farmasetik.

 Tabel 5.3  Variabel alat, proses dan produk yang  

empengaruhi fluidized-bed granulator.

Parameter alat Parameter proses Parameter produk 

1. Pendistribusian 

udara 

2. Bentuk  

dari  body 

granulator 

3. Tinggi nozel 

4. Positif  

atau  negatif 

operasi tekanan 

5. Scale-up  

 

1. Beban bed 

2. Kecepatan  aliran  

udara fluidisasi 

3. Suhu udara fluidisasi 

4. Kelembaban udara 

fluidisasi 

5. Atomisasi 

a. Jenis nozel 

b. Sudut penyemprotan 

c. Kecepatan alir cairan 

d. Kecepatan  alir  

udara atomisasi 

e. Tekanan udara 

atomisasi 

f. Ukuran tetesan 

1. Jenis bahan 

pengikat 

2. Jumlah bahan 

pengikat 

3. Pelarut bahan 

pengikat 

4. Konsentrasi  

larutan penggranul 

5. Suhu larutan 

penggranul 

6. Bahan awal 

a. Fluidisasi 

b. Hidrifobisitas 

serbuk 

 

136 

Gambar 5.21 Fluidized-bed granulator skala lab. (Courtesy of Heinen, 

Germany, disunting dari Handbook of Pharmaceutical Granulation)  

  

Gambar 5.22 Tabletop fluid bed processor (Courtesy of the Glatt 

Group sumber: Handbook of Pharmaceutical Granulation) 

 

137Proses Manufaktur Sediaan Tablet

   

  (A)                                    (B) 

Gambar 5.23 Berbagai teknik penyemprotan bahan pengikat dari fluidized-bed 

granlator (A) dari bagian atas ke bawah dan (B) dari bagian bawah ke atas (sumber: 

http://www.cjtech.co.kr/Technical%20Process%20Fluid%20Bed%20Gran ulation.htm) 

Mekanisme dari pembentukan granul dari alat fluidized-bed 

granulator yaitu ;

a. Pembentukan inti (nucleation) 

b. Transisi 

c. Pertumbuhan granul 

Pertumbuhan granul relatif terhadap cairan yang ditambahkan. 

Pada tahap penyemprotan awal, partikel utama dari inti berikatan 

bersama dengan jembatan cairan dalam status pendular. Ukuran dari 

inti ini tergantung pada ukuran tetesan dari larutan bahan pengikat. 

Sementara penambahan cairan berlanjut, inti ber-agglomerasi dan 

selanjutnya transisi dari pendular menjadi kapiler. 

 

138 

 

 Gambar 5.24 Saturasi cairan. Jembatan cairan dari agglomerat di bawah 

(A) penambahan cairan bahan pengikat dan (B) densifikasi  

D. Peralatan untuk Granulasi Kering (Dry Granulator) 

Meskipun granulasi basah telah digunakan secara luas, tetapi 

memiliki beberapa keterbatasan. Air merupakan cairan penggranul 

yang sering digunakan sehingga dimungkinkan dapat menghidrolisis 

beberapa jenis zat aktif. Lebih lanjut, cairan penggranul dihilangkan 

dengan proses pemanasan. Dengan demikian menambah biaya energi, 

menaikkan suhu akan mempercepat reaksi hidrolisis yang mungkin 

terjadi. Granulasi kering merupakan alternatif metode yang dapat 

digunakan dalam proses manufaktur jika metode granulasi basah tidak 

memungkinkan. Komponen-komponen formulasi yang akan dicetak 

dalam kondisi kering. Jika kekuatan ikatan yang mencukupi tidak dapat 

ditingkatkan dengan hanya dari kompresi, suatu bahan pengikat perlu 

ditambahkan, juga dalam kondisi kering. Pada proses granulasi kering 

partikel serbuk akan diubah menjadi granul dengan pemberian tekanan 

tanpa menggunakan perantara cairan. Oleh sebab itu, akan menghindari 

panas dan suhu tinggi yang dimungkinkan mengakibatkan degradasi 

139Proses Manufaktur Sediaan Tablet

dari produk. Dibutuhkan dua peralatan dalam proses granulasi kering 

yaitu;  pertama, suatu mesin untuk mencetak serbuk kering menjadi 

suatu massa yang kompak atau lempengan tipis, dan kedua suatu 

tempat penghancuran lempengan menjadi granul-granul. 

 1. Sluggers 

Serbuk kering dapat dicetak menggunakan suatu mesin tablet 

konvensional atau yang lebih biasa digunakan suatu mesin rotary yang 

ditekan sangat kuat. Proses ini seringkali dikenal dengan “slugging”, 

merupakan massa kompak yang dibuat dengan proses (secara khas 

diameter 25 mm dengan ketebalan sekitar 10 – 15 mm) yang disebut 

dengan “slug”. Suatu hummer mill cocok digunakan untuk memecah 

massa yang kompak untuk membentuk granulgranul. 

 2. Roller compactors 

Roller compactors merupakan suatu metode alternatif yang baik, 

campuran serbuk diperas (squeezed) diantara dua penggiling untuk 

membentuk suatu bentuk lembaran yang dicetak (sebagaimana gambar 

5.25). Lembaran ini biasanya lemah dan rapuh serta pecah dengan 

cepat menjadi butiran tipis. Butiran-butiran tipis ini membutuhkan 

pengerjaan lebih baik untuk pecah menjadi granul. Berikut diayak 

sampai didapatkan ukuran granul yang sesuai dengan diharapkan.     

    A  B  

Gambar 5.25 Seperangkat alat Roller compaction (A) model 

dari Alexaderwerk dan (B) jenis Hutt  (Qiu, 2009)

140 

  

Gambar 5.26  Sistem roller compaction

Roller compaction merupakan proses granulasi kering berkelanjutan 

yang secara luas telah digunakan dalam industri farmasetik, industri 

kima, industri mineral dam industri makanan untuk menghasilkan 

bahan-bahan agglomerat yang memiliki sifat alir yang baik. Beberapa 

keuntungan dari roller compaction yaitu : 

1. Pencampuran yang seragam. Produksi granul dari keseragaman 

yang konsisten dan meminimalkan permasalahan segregasi 

yang disebabkan perbedaan ukuran partikel, bentuk partikel dan 

densitas partikel. 

2. Jarak ukuran partikel yang seragam. Roll compaction dapat 

membantu granul yang seragam dari ukuran yang spesifik untuk 

memenuhi persyaratan yang tepat. 

3. Meningkatkan sifat alir. Granul yang kompak memiliki karakteristik 

aliran yang meningkat dibandingkan dengan serbuk. 

4. Debu ter