Minggu, 07 Juni 2026

sediaan obat 5

 


yaitu variasi waktu 

pengeringan dan suhu dapat mempengaruhi produk akhir. Setelah 

pengeringan granul diayak dan dilakukan pencampuran akhir.  

 Fluid-bed dryers telah digunakan selama beberapa tahun untuk 

pembuatan granul effervescent. Dasarnya yaitu  air atau larutan 

pengikat dalam aliran udara panas dan kering disemprotkan ke dalam 

191Formulasi Tablet Khusus

campuran effervescent. Kelembaban dan suhu dari udara untuk 

menghentikan reaksi effervescent secara dini.  Vakum granulator juga 

telah digunakan untuk pembuatan granul effervescent. Peralatan ini 

sangat mengontrol granulasi produk dan lingkungan yang bebas debu. 

Pada proses granulasi air atau larutan pengikat disemprotkan ke dalam 

campuran effervescent selama pencampuran. Pengeringan terjadi 

dengan menempatkan granul di bawah vakum dan pemanasannya 

melalui suatu thermal jacket.  

 Produk effervescent biasanya dicetak menjadi tablet dengan 

tekanan kompresi yang tinggi. Pengontrolan dilakukan dengan ketat 

dari suhu dan kelembaban pada keseluruhan area yaitu 65 sampai 75ºF, 

dan kelembaban relatif 10 persen.  

6. Bahan pengemas 

Jenis pengemas yang paling banyak untuk produk effervescent 

yaitu  pembungkus foil dan tube. Gambar berikut memperlihatkan 

proses pengemasan tablet effervescent.

  

Gambar 7.2 Proses pengemasan tablet effervescent 

192 

Beberapa alasan terjadinya degradasi produk effervescent yaitu : 

a. Bahan pengemas tidak mampu menghalangi kelembaban 

udara sehingga lembab dapat masuk ke dalam pengemas 

b. Segel/seal dari foil rusak. Ini dapat terjadi apabila ada debu 

dalam ruang pengemas  atau apabila mesin tidak berfungsi 

baik selama pengemasan produk. 

c. Ada bahan-bahan dari formula yang tidak kompatibel dengan 

komponen-komponen effervescent yang dipilih.  

Contoh formula tablet effervescent yaitu  sebagai berikut : 

Zat khasiat    (aspirin, dll) 

Bahan pengisi  (laktosa) 

Bahan penghancur  (kombinasi asam sitrat dengan Natrium 

bikarbonat) 

Bahan pengikat  (dekstrosa, sorbitol, sitol dan laktosa) 

Bahan lubrikan  (PEG 4000, PEG 6000) 

Bahan pemanis (sakarin Na) 

Bahan pengharum  (minyak jeruk, dll) 

Solubilizer    (disesuaikan dengan zat khasiatnya) 

C. TABLET BUKA ATAU SUB LINGUAL 

Tablet ini pada umumnya mengandung zat khasiat yang akan 

mengalami peruraian, atau inaktivasi dalam saluran pencernaan akibat 

aksi dari enzim pencernaan ataupun akibat pengaruh keasaman 

lambung. Tablet ini biasanya mengandung zat khasiat seperti hormon 

steroid, gliseril trinitrat yang absorpsinya lebih cepat di dalam 

mukosa mulut sehingga ke dua tablet ini digunakan dengan jalan 

menyisipkannya di bawah lidah (sub lingual) atau diantara pipi dengan 

gusi (bukal) 

Tablet ini didesain untuk hancur lama serta dengan kelarutan dan 

absorpsi  yang cepat. Alasan penggunaan bentuk sediaan ini yaitu  

pada obat-obat yang dirusak pada cairan saluran cerna, obat diabsorpsi 

193Formulasi Tablet Khusus

lama di saluran cerna dan untuk meningkatkan absorpsi obat misalnya 

pada nitrogliserin. 

Bentuk tablet ini biasanya bulat telur atau pipih dengan ukurannya 

kecil untuk memudahkan pemakaiannya. Tablet bukal atau sub 

lingual didesain sedemikian rupa sehingga pembebasan zat khasiat 

berlangsung secara terkendali oleh karena absorpsi yang diharapkan 

dari zat khasiat yang dikandung ke dua tablet ini berlangsung secara 

lambat. Pada umunya digunakan untuk pengobatan angina pectoris. 

Bahan pengisi seperti halnya dalam formula tablet kunyah dipilih 

laktosa sebab dapat memberikan kemudahan dalam pencetakan di 

samping rasanya yang manis. Bahan penghancur baik penghancur 

dalam maupun penghancur luar untuk tablet ini tidak diperlukan karena 

ke dua tablet ini membutuhkan waktu hancur yang panjang, kecuali 

untuk tablet nitrogliserin dan manitol heksonitrat yang membutuhkan 

waktu hancur yang singkat yakni sekitar 2 menit setelah disisipkan di 

bawah lidah. 

Tablet bukal maupun sublingual membutuhkan adanya bahan 

pemanis seperti manitol atau sukrosa di samping membutuhkan 

adanya bahan pengikat seperti halnya tablet kunyah. Bahan lubrikan 

dipilih yang larut dalam air. 

Ringkasan formula tablet bukal atau tablet sub lingual yaitu  

sebagai berikut : 

Zat khasiat  (hormon steroid, nitrogliserin) 

Bahan pengisi  (laktosa) 

Bahan pengikat  (metil selulosa, gelatin) 

Bahan lubrikan (talkum) 

Bahan pemanis  (manitol, sukrosa) 

194 

D. LOZENGES (TABLET HISAP) 

Pada umumnya tablet hisap mengandung zat khasiat seperti lokal 

anestesi, antiseptik, antibiotika, antasida atau kombinasi dari zat khasiat 

di atas, dipergunakan untuk pengobatan lokal dimulut. Zat khasiat 

yang sering terdapat dalam formula tablet hisap ini yaitu  sinkokaina, 

benzokain atau mentol, penisilin, thyrotrisin dan garam ammonium 

kuarterner. 

Bahan pengisi seperti halnya tablet-tablet sebelumnya selalu dipilih 

laktosa. Bahan pengikat yang digunakan dalam formula tablet hisap 

yaitu  gelatin atau tragakan untuk menghasilkan efek demulsen yang 

menyenangkan di mulut. Oleh karena waktu hancur yang diharapkan 

dari tablet hisap dapat berlangsung lama maka bahan penghancur 

dalam formula tablet hisap tidak dibutuhkan. Bahan lubrikan sebaiknya 

dipilih yang tidak larut dalam air untuk membantu memperpanjang 

waktu hancur tablet. Bahan pemanis yang disarankan yaitu  sukrosa 

dan manitol Bentuk tablet hisap akan lebih menyenangkan apabila 

sisi-sisi tablet ini  tidak tajam dan dibuat sepipih mungkin. 

 

 Ringkasan formula tablet hisap yaitu  sebagai berikut : 

Zat khasiat  (anestesi lokal, antibiotika ,antiseptika) 

Bahan pengisi  (laktosa) 

Bahan pengikat  (tragakan, gelatin) 

Bahan lubrikan (talkum) 

Bahan pemanis  (manitol, sukrosa) 

Soal Latihan 

1. Tuliskan persyaratan obat yang dibuat menjadi tablet kunyah 

beserta desain formulanya. 

2. Uraikan faktor kritis dalam formulasi tablet effervescent 

3. Buatlah rancangan formula serta proses manufaktur tablet hisap, 

 

 

195Tablet Salut

BAB 8 

TABLET SALUT 

_____________________________________ 

Mahasiswa memahami dan mampu menjelaskan tentang:

1. Konsep formulasi dan proses  pembuatan tablet salut yang meliputi 

salut gula dan lapis tipis 

2. Permasalahan dan teknik untuk mengatasinya.

A. Pendahuluan  

Tablet merupakan bentuk sediaan yang paling populer apabila 

diberikan pada pasien, proporsi yang lebih besar dari tablet yang 

dihasilkan yaitu  film coating atau salut lapis tipis. Dengan kesadaran 

keinginan untuk sehat, kemanan dan permasalahan lingkungan, film 

coating meruakan proses yang secara rutin digunakan dalam penyiapan 

sediaan farmasi padat (solid dosage form). Kesuksesan dalam proses 

penyalutan (coating) tablet ditentukan oleh 3 faktor yaitu : formulasi dari 

sitem penyalutan, proses penyalutan dan tablet inti.

Bahan yang digunakan untuk penyalutan sebagian besar dapat 

terdiri dari sukrosa (lapisan gula), polimer pembentuk film yang larut 

dalam air (lapisan film) atau zat yang larut dalam usus namun tidak 

hancur pada lambung (lapisan enterik). Jenis lapisan ini semua dapat 

diaplikasikan pada proses menggunakan panci atau fluid-bed; teknik 

penyalutan kompresi cocok untuk salut gula dan enterik, namun tidak 

untuk salut film.  

1. Kegunaan tablet salut. 

Penggunaan dari penyalutan tablet, yang merupakan tahapan 

tambahan dalam proses manufaktur, meningkatkan biaya produk. Oleh 

sebab itu, keputusan dalam penyalutan tablet biasanya berdasarkan 

pada satu atau lebih tujuan sebagai berikut : 

196 

a. Untuk menutupi rasa, bau, warna dari obat. 

b. Untuk menyediakan perlindungan fisik dan kimia dari obat. 

c. Untuk mengontrol pelepasan obat dari tablet. 

d. Untuk melindungi obat dari lingkungan asam di lambung dengan 

suatu penyalutan enterik yang tahan terhadap asam. 

e. Untuk memesukkan obat lain atau formula tambahan dalam 

penyalutan untuk menghindari inkompatibilitas kimia atau untuk 

menyediakan rangkaian pelepasan obat. 

f. Untuk memperbaiki tampilan farmasetik dengan menggunakan 

warna khusus dan mencolok. 

2. Jenis penyalutan yang digunakan pada industri farmasi  

Berikut yaitu  berbagai jenis penyalutan yang lazim dilakukan di 

Industri Farmasi: 

a. Penyalutan dengan lapisan gula (sugar coating) 

b. Penyalutan lapisan tipis menggunakan polimer baik untuk tujuan 

enterik atau non enterik (film coating) 

c. Penyalutan secara kompresi (compression coating) 

Metode ini jarang digunakan untuk produk baru. Peralatan 

kompresi sangat komplek dan membutuhkan skill untuk set up 

dalam upaya menghasilkan produk dengan kualitas tinggi.  

d. Enkapsulasi 

Metode ini menggunakan kapsul keras dan lunak. Mikro 

enkapsulasi dapat digunakan sebagai prosedur penyalutan. 

Secara umum tablet salut gula kelihatan halus, bundar pada 

pinggirannya dan permukaan yang mengkilap. Sedangkan untuk tablet 

salut lapis tipis bentuk tablet intinya masih jelas kelihatan. Bentuk tablet 

ini  dapat dilihat pada gambar berikut. 

197Tablet Salut

    

                      A           B 

 Gambar 8.1 Bentuk tablet salut gula (A) dan salut lapis tipis (B) 

B. Penyalutan Gula (Sugar Coating) 

Proses farmasetik dari penyalutan gula masih digunakan secara 

luas dalam teknologi praktis. Berbeda dengan penyalutan lapis 

tipis, penyalutan gula masih menggunakan proses beberapa tahap 

(multiprocess step). Proses penyalutan gula lebih butuh pekerjaan yang 

intensif daripada penyalutan lapis tipis dan prosesnya memerlukan 

operator yang memiliki keahlian lebih.  

Dalam peralatan penyalutan gula yang cocok, tablet inti dikerjakan 

secara berurutan dengan larutan sukrosa, yang mana tergantung pada 

tahapan penyalutan dapat tercapai yang memungkinkan mengandung 

bahan fungsional lainnya seperti pengisi, pewarna dan lain sebagainya. 

Bahan penyalut dibentuk oleh adanya pemindahan medium penyalut 

dari satu tablet ke yang lainnya. Biasanya suatu aplikasi cairan tunggal 

akan dibuat yang akan dapat disebarkan ke seluruh tablet menggunakan 

kemampuan pencampuran dari peralatan tertentu. Pada kondisi ini, 

pengeringan biasanya dalam bentuk udara panas akan digunakan 

untuk proses pengeringan. Seluruh siklus kemudian akan berturut-turut 

diulang. Dallam hal ini, penyalutan gula berbeda dengan penyalutan 

lapis tipis yang mana dalam proses ini masingmasing tablet melewati 

suatu zona aplikasi yang dilakukan dengan cepat dan pengeringan 

terus menerus. 

198 

Secara umum keuntungan dari penyalutan gula yaitu  sebagai 

berikut: 

a. Menggunakan bahan baku yang murah dan mudah 

didapatkan. 

b. Konstituen bahan baku secara luas diterima dan tidak 

bermasalah dalam peraturan perundang-undangan. 

c. Tidak ada peralatan yang rumit atau servis yang dibutuhkan. 

d. Proses ini mampu dikendalikan dan dokumentasikan untuk 

memenuhi standar CPOB yang modern. 

e. Peralatan yang sederhana dan bahan bauk tersedia dengan 

cepat membuat penyalutan gula merupakan suatu metode 

penyalutan pada negara berkembang. 

f. Proses penyalutan gula umumnya tidak sama kritisnya 

dengan penyalutan lapis tipis; prosedur pemulihan kembali 

masih dapat dilakukan. 

g. Untuk iklim dengan tingkat kelembaban yang tinggi, proses 

penyalutan gula umumnya memiliki keuntungan lebih stabil 

dibandingkan dengan penyalutan lapis tipis 

h. Hasilnya lebih menarik dan lebih disenangi oleh konsumen 

i. Tablet inti secara umumnya lebih lembut dibandingkan 

dengan yang diharapkan pada penyalutan lapis tipis terutama 

untuk lapisan penyalutan yang berair. 

Sedangkan secara khusus proses penyalutan gula memberikan 

keuntungan sebagai berikut : 

a. Melindungi dari oksigen yang ada pada atmosfer.  

b. Melindungi dari lembab 

c. Menutupi bau yang tidak enak 

d. Menutupi dari rasa yang tidak enak 

e. Meningkatkan penampilan 

199Tablet Salut

Sedangkan kerugian dari proses penyalutan gula yaitu  : 

a. Dibutuhkan waktu yang lama dalam proses pembuatan 

b. Meningkatkan ukuran dan bobot tablet 

Proses salut gula disebut juga dengan proses multistage karena 

melibatkan 6 proses yang terpisah yaitu : 

1. Sealing (waterproofing) 

Proses ini bertujuan untuk melindungi tablet inti terhadap 

kemungkinan penetrasi kelembaban (uap air) selama proses penyalutan. 

Proses ini menggunakan satu atau lebih lapisan bahan polimer yang 

tidak dapat ditembus oleh air (impermeable) dalam bentuk semprotan 

menggunakan pelarut organik seperti shellac, selulosa asetat ftalat dan 

polivinil asetat ftalat atau polimer sintetis, seperti selulosa asetat flalat 

(CAP) yang akan melindungi tablet inti dari lembab dan meningkatkan 

waktu paro eliminasinya. Shellac merupakan penutup yang efektif, tapi 

waktu disintegrasi dan waktu larut tablet cenderung bertambah bila 

tablet menua karena polimerisasi shellac. Zein, suatu derivat protein 

jagung yang larut dalam alkohol juga digunakan sebagai zat penutup. 

Bahan-bahan ini dilarutkan dalam pelarut organik dengan konsentrasi 

15 – 30 %. 

Lapisan gula yaitu  formulasi berair yang memungkinkan air 

menembus langsung ke inti tablet dan berpotensi mempengaruhi 

stabilitas produk dan mungkin menyebabkan disintegrasi tablet 

prematur.

2. Pelapisan dasar (subcoating)

Pelapisan dasar digunakan untuk membulatkan tepi tablet dan 

meningkatkan ukuran tablet. Penyalutan gula dapat meningkatkan 

berat tablet 50 – 100 %. Formulasi subcoating mengandung bahan 

pengisi dengan konsentrasi tinggi seperti; talkum, kalsium karbonat, 

kalsium sulfat, kaolin dan titanium dioksida. Selain bahan pengisi juga 

200 

ada bahan pembentuk lapis tipis seperti akasia, gelatin, turunan selulosa 

yang berfungsi untuk meningkatkan kekuatan struktur penyalut.

Lapisan dasar dipakai berturut-turut dengan cara yang sama 

sampai tepi tablet tertutup dan hilang, ketebalan yang diinginkan 

tercapai. Untuk proses penyemprotan, suatu suspensi pelapis dasar yang 

mengandung pengikat dan bubuk yang tidak dapat larut disemprotkan 

secara berselang waktu ke tumpukan tablet

Ada 2 pendekatan utama dalam proses subcoating yaitu:

a. Teknik laminasi

Proses laminasi merupakan penambahan larutan bahan pengikat 

dan serbuk bergantian. Prinsip dari proses ini yaitu  sejumlah 

volume larutan pengikat digunakan untuk melapisi inti dalam 

panci penyalut. Setelah menyebar, serbuk ditaburkan ke dalam 

panci sampai merata dan selanjutnya dilakukan pengeringan. 

Proses pengeringan udara perlu dikontrol dengan hati-hati agar 

tidak terjadi penguapan air yang terlalu cepat. Tujuannya membuat 

lapisan yang halus sehingga mengurangi waktu penghalusan 

pada tahap akhir penyalutan. Pengeringan yang cepat akan 

menghasilkan permukaan yang tidak rata. Tingkat penguapan 

yang terlalu rendah dengan waktu proses yang panjang dapat 

menimbulkan tablet inti melengket sesamanya. Berikut yaitu  

contoh formula yang digunakan dalam proses laminasi pada 

proses subcoating.

201Tablet Salut

Tabel 8.1 Formulasi yang digunakan pada proses 

lamination subcoating (sumber: Cole, 2002)

Fungsi Bahan Jumlah

Larutan pengikat (%w/w) Gelatin 3,3 8,0

Gum akasia 8,7 8,0

Sukrosa 55,3 45,0

Air suling 32,7 41,0

Serbuk (%w/w) Kalsium karbonat 40,0 -

Titanium dioksida 5,0 1,0

Talkum 25,0 61,0

Sukrosa (diserbuk) 28,0 38,0

Gum akasia 2,0 -

b. Formulasi suspensi subcoating

Suspensi hasil proses subcoating dihasilkan dari kombinasi 

formulasi pengikat dan serbuk yang digunakan dalam teknik 

laminasi tradisional. Teknik ini mengurangi kompleksitas proses. 

Berikut yaitu  contoh formula suspensi pada proses subcoating.

Tabel 8.2 Formulasi suspensi subcoating (sumber: Cole, 2002)

Fungsi Bahan Jumlah

Komponen suspensi (%w/w) Sukrosa 40,0 58,25

Kalsium karbonat 20,0 18,45

Talkum 12,0 -

Titanium 

dioksida

1,0 1,0

Gum akasia 2,0 -

Gelatin - 0,01

Air suling 25,0 22,29

202 

3. Penghalusan (smoothing)

Tujuan tahap ini yaitu  untuk menutupi dan mengisi cacat 

pada permukaan tablet yang disebabkan oleh tahap pelapisan dasar. 

Untuk memproduksi produk salut gula berkualitas tinggi, sangat 

penting diperhatikan kehalusan permukaan lapisan dan bebas dari 

penyimpangan sebelum pemberian pelapis warna. Smoothing 

biasanya dicapai dengan penggunaan sirup sukrosa 70%, yang sering 

mengandung titanium dioksida sebagai bahan tak tembus cahaya 

(opacifier) atau pemutih.

4. Pewarnaan

Pewarnaan yaitu  langkah terpenting dalam proses salut gula 

karena memiliki dampak visual langsung. Penggunaan pewarna yang 

tepat, yaitu: (1) terlarut (larut dalam air) atau (2)  terdispersi (pigmen yang 

tidak larut dalam air) pada sirup pelapis, memungkinkan tercapainya 

warna yang diinginkan. Pewarna encer dapat ditambahkan pada tahap 

ini, untuk memberikan warna dasar yang mempermudah keseragaman 

pewarnaan pada tahap-tahap selanjutnya. Umumnya pewarna tidak 

ditambahkan sampai tablet cukup halus. Pemakaian pewarna yang 

terlalu dini ke tablet yang kasar akan menghasilkan penampilan tablet 

yang berbintik-bintik pada pelapisan akhir. Pada tahap akhir dapat 

dipakai sedikit sirup pelapis yang jernih.

5. Pengkilapan (polishing)

Karena tablet yang baru disalut terlihat kusam, perlu untuk 

memolesnya untuk mencapai permukaan yang halus dari tablet salut 

gula. Sistem pengkilapan meliputi: (1) Larutan lilin dengan pelarut 

organik (lilin lebah, lilin carnauba); (2) lilin dalam pelarut alkohol; (3) 

campuran serbuk halus lilin kering; dan (4) larutan alkohol berbagai 

macam shellac.

203Tablet Salut

6. Printing

Proses ini merupakan pemberian tinta branding farmasi ke 

permukaan tablet yang disalut. 

Ada 3 proses yang dilakukan dalam proses salut gula yaitu:

1. Penggunaan volume cairan penyalut yang mencukupi untuk 

melapisi tablet 

2. Distribusi cairan penyalut melintasi permukaan masing-masing 

tablet

3. Pengeringan cairan penyalut pada saat tercapainya distribusi yang 

merata.

Di masa lalu, cairan penyalut gula diaplikasikan secara manual, 

sekarang teknik penyalutan menggunakan teknik penyemprotan. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi keseragaman lapisan dalam proses 

pelapisan gula yaitu :

1. Bahan pelapis tetap cair sampai menyebar ke permukaan 

setiap tablet dalam batch

2. Menggunakan cairan penyalut yang mencukupi untuk 

menjamin setiap tablet dalam batch dapat terbasahi

3. Panci penyalut menunjukkan karakteristik penyalutan yang 

baik, sehingga menghindari daerah yang tidak terjangkau 

dalam proses penyalutan.

Permasalahan yang muncul pada salut gula

1. Masalah pada ketahanan tablet inti

Tablet yang pecah tidak hanya menjadi masalah karena tablet yang 

rusak tidak akan laku, akan tetapi bagian pecahan bisa menempel 

ke permukaan tablet yang tidak rusak.

2. Permasalahan kualitas pada produk akhir

a. Chipping (sumbing)

Lapisan penyalut yang sumbing (chipping) disebabkan oleh 

kerapuhan yang meningkat dengan penggunaan pengisi 

204 

dan pigmen yang tidak larut secara berlebihan atau jumlah 

polimer yang rendah dan penambahan polimer yang sedikit.

 Gambar 8.2 Sumbing pada tablet salut gula (sumber: 

http://slideplayer.com/slide/1429956)

b. Cracking (retak)

Lapisan penyalut yang retak (cracking) disebabkan oleh 

ekspansi dihasilkan dari penyerapan lembab atau disebabkan 

oleh relaksasi ketegangan dari tablet inti setelah kompaksi.

Gambar 8.3 Retak pada tabet salut gula (sumber: Vecchio, slide persentasi)

c. Penyalut yang tidak kering

Penyalut yang tidak kering disebabkan oleh ketidak mampuan 

untuk mengering apabila kadar gula lebih dari 5 %.

d. Lengket atau menjadi berganda (twinning or build of multiple) 

Formulasi salut gula sifat dasarnya sangat lengket, terutama 

saat mulai mengering, sehingga tablet yang berdekatan 

205Tablet Salut

akan lengket sesamanya. Tablet berhimpitan membentuk 

lapisan berganda akan menjadi masalah saat tablet yang 

disalut memiliki permukaan datar yang bisa dengan mudah 

bersentuhan satu sama lain. Permasalahan lainnya pada 

tablet dosis tinggi berbentuk kapsul yang memiliki dinding 

pinggiran tablet yang luas. Pemilihan yang tepat dari desain 

punch secara efektif dapat meminimalkan masalah ini. 

Gambar 8.4 Lengket dan membentuk lapis ganda pada tablet salut gula 

(sumber: https://www.slideshare.net/shafiqueaci/presentation-for-coating)

e. Distribusi warna yang tidak merata

Warna tidak merata disebabkan oleh distribusi yang tidak 

baik dari cairan penyalut, migrasi warna, pengeringan 

berlebihan saat proses warna. Selama proses penyalutan bias 

jadi disebabkan oleh pencampuran yang tidak mencukupi, 

pola penyemprotan yang tidak merata, penyalut yang tidak 

mencukupi dan tidak meratanya lapisan sub coating.

206 

 

Gambar 8.5 Distribusi warna yang tidak merata pada tablet salut gula 

(sumber: https://www.slideshare.net/suraj_mindgamer/tablet-defects)

f. Berkabut (blooming) dan berkeringat (sweating)

Sisa lembab pada tahap akhir pembuatan tablet salut gula 

seringkali menjadi masalah selama periode waktu tertentu, 

kelembapan ini dapat menyebar dan mempengaruhi kualitas 

produk. Pada tingkat kelembaban sedang menyebabkan 

pengkilapan produk tampak berkabut, fenomena yang 

sering disebut blooming. Pada tingkat kelembaban yang 

lebih tinggi, kelembaban mungkin tampak seperti butiran 

keringat pada permukaan tablet, sebuah fenomena yang 

sering disebut berkeringat (sweating).

C. Penyalutan Lapis Tipis 

Penyalutan lapis tipis merupakan pendekatan modern untuk 

penyalutan tablet, kapsul atau pellet dengan melapisi tablet dengan 

lapisan tipis dari material polimer. Deskripsi dari tablet yaitu  masih 

dapat dengan jelas kelihatan tablet intinya. Proses dari penyalutan lapis 

tipis ini yaitu  satu tahap (single stage process), yang mana memerlukan 

penyemprotan (spraying) suatu larutan penyalut yang terdiri dari 

sebagai berikut : 

1. Polimer 

2. Pelarut 

3. Plasticizer 

4. Pewarna 

207Tablet Salut

Larutan disemprotkan kedalam alat penyalutan yang berisi tablet 

yang diputar yang diikuti dengan proses pengeringan, yang bertujuan 

untuk menghilangkan pelarut dari material lapisan tipis penyalut yang 

ada disekitar masing-masing tablet. Secara umum tablet salut lapis tipis 

memberikan keuntungan dibandingkan dengan tablet salut gula yaitu  

menghasilkan tablet dengan satu tahapan proses sehingga memberikan 

waktu yang lebih pendek. Proses memungkinkan lapisan fungsional 

dimasukkan kedalam bentuk sediaan. Sedangkan keterbatasannya 

yaitu  ada implikasi lingkungan dan keamanan dari penggunaan 

pelarut organik dan juga biaya yang lebih mahal dari pelarut organik 

ini . 

1. Keuntungan penyalutan lapis tipis 

a. Menghemat waktu 

b. Menghemat bahan 

c. Menghemat tenaga kerja (man – hours) 

d. Mengurangi biaya transpor, karena bobot lebih ringan 

e. Tidak diperlukan salut segel (sealing coats) karena bersifat 

menolak air 

f. Nama dan garis tablet inti masih terlihat 

g. Dapat digunakan alat penyalut standar, sehingga tidak 

dibutuhkan peralatan baru 

h. Elegansi penampilan tanpa peningkatan berarti volume berat 

i. Karena ukuran tidak banyak berubah, kemudahan ditelan 

hampir sama dengan tablet inti 

j. Licin seperti tablet salut gula 

k. Dapat memberikan bermacam perlindungan 

l. Hasil penyalutan cukup keras dan tahan terhadap pengaruh 

transportasi (transit) 

m. Stabil terhadap cahaya, udara, panas dan uap 

n. Lapisan penyalut tidak larut air, tidak toksik dan tidak 

tersatukan (inkompatibilitas) relatif kecil 

208 

o. Lapis penyalut tidak berbau dan tidak berasa 

p. Teknik penyalutan lapis tipis mudah dilakukan 

q. Tidak menghasilkan debu selama penyalutan 

r. Waktu hancur tablet relatif tidak meningkat karena disalut 

lapis tipis 

s. Dibutuhkan alat yang lebih sedikit dibandingkan dengan 

peralatan untuk salut gula 

t. Tempat penyimpanan (penampungan) digunakan lebih 

efisien 

u. Tempat yang dibutuhkan untuk pengemasan berkurang 

2. Kerugian penyalutan lapis tipis 

a. Zat yang terdapat dalam tablet inti, dapat mengabsorpsi 

pelarut penyalut, sehingga tablet inti berubah dan melunak 

atau bahkan sampai hancur karena terjadinya ekspansi 

b. Jika obat berasa pahit, dan larut dalam penyalut dan 

berpenetrasi melewati lapis tipis penyalut, rasa pahit akan 

segera terasa saat tablet akan ditelan 

c. Pelarut atau konstituen lain dari formulasi larutan penyalut 

kemungkinan tidak tersatukan dengan bahan. Dalam hal 

ini tablet tidak boleh disalut dengan polimer yang akan 

digunakan. 

d. Jika bekerja dengan skala batch yang besar, cara penuangan 

lapisan penyalut kepada massa tablet inti yang disalut akan 

menimbulkan bermacam resiko, oleh sebab itu proses 

penyalutan ini sebaiknya menggunakan alat penyemprot 

(sprayer) 

3. Komponen larutan penyalut 

a. Polimer 

Polimer berfungsi memberikan struktur utama, dan sifat kimia dan 

fisik dasar penyalutan. Contoh:  Eterselulosa (HPMC, Etil selulosa, CAP), 

209Tablet Salut

Vinil Polimer (PVAP, PVP) dan asam metakrilat Co-polimer. Sifat-sifat 

yang harus dimiliki polimer yaitu ; (1) Secara fisiologis kompatibel; (2) 

Membentuk lapis tipis yang lengket dengan kualitas yang seragam; dan 

(3) Larutan polimer jangan terlalu kental.

b. Zat pemlastis (Plastisizer) 

Plastizizer berfungsi untuk mengubah sifat dasar polimer. 

Plastisizer mempunyai afinitas yang tinggi untuk polimer ; interaksinya 

mengurangi ikatan antara molekul polimer yang berdekatan. Beberapa 

bahan yang sering digunakan sebagai plastisizer yaitu : PEG, propilen 

glikol, triasetin, gliserol. Sifat yang dimiliki oleh pemlastis yaitu : (1) 

Membantu meningkatkan elastisitas dari lapis tipis dan mengurangi 

lengket; dan (2) Plastisizer lipofilik hanya digunakan sedikit karena film 

akan menjadi terlalu lemah dan menolak air.

c. Surfaktan 

Surfaktan berfungsi untuk meningkatkan proses pembasahan dan 

sifat penyebaran,  misalnya Tween dan alkohol lemah tersulfonasi.

d. Zat warna 

Zat warna berfungsi untuk meningkatkan penampilan produk 

dengan menutupi penampilan substrat, memberikan identifikasi 

produk (warna), melindungi formula inti dari cahaya dan lembab. Sifat-

sifat yang dimiliki oleh pewarna yaitu : (1) Hanya boleh digunakan zat 

warna yang diizinkan untuk obat secara oral; (2) Misalnya zat warna larut 

air (kadang-kadang berfungsi sebagai pigmen dalam pelarut lake); dan 

(3) Kelebihan pigmen akan mengurangi keindahan penampilan lapis 

tipis penyalut

e. Pigmen putih 

Pigmen putih berfungsi menghasilkan opasitas dan penampilan 

yang menarik, misalnya titan dioksida 

f. Pemanis dan aroma  

Pemanis dan aroma berfungsi untuk meningkatkan rasa dan bau, 

misalnya, sukaril, sakharin, siklamat, vanilla dan sebagainya 

210 

g.  Pelarut 

Pelarut berfungsi memberikan medium cairan untuk formula 

salut yang memungkinkan pemompaan dan penyemprotan serta 

meningkatkan pengeringan dan pembentukan film.  Pelarut yang 

sering digunakan yaitu  campuran alkohol dengan metilen klorida 

atau dengan air. Karena pertimbangan keamanan, biaya dan polusi 

lingkungan, air merupakan pelarut yang paling sering digunakan untuk 

film coating. Sifat yang dimiliki oleh pelarut yaitu : (1) Pelarut bukan 

air harus mudah menguap; (2) Tidak boleh menggunakan pelarut yang 

akan menyebabkan ketidakteraturan lapisan tipis penyalut; (3) Air 

merupakan pilihan utama karena tidak membahayakan lingkungan; 

dan (4) Pelarut air dan non air merupakan pembawa untuk dasar film. 

h. Bahan pengkilap 

Bahan pengkilap menyebabkan hasil penyalutan berkilap, 

misalnya, sera, setil alkohol dan lemak-lemak padat 

4. Material polimer untuk penyalutan 

Secara umum material polimer yang digunakan untuk penyalutan 

dikategorikan atas 2 yaitu material polimer non enterik dan material 

polimer enterik. Kedua jenis ini memiliki fungsi yang berbeda. 

a.  Material polimer non enterik 

Fungsi dari material ini yaitu  untuk memperlama pelepasan 

(slowing drug release) dari obat. Proses ini terjadi dengan mekanisme 

sebagai berikut: (1) Polimer mengembang dan membentuk suatu 

membran semi permeabel; (2) Obat berdifusi secara lambat melalui 

lapisan penyalut; dan (3) Tebal dan tipisnya lapisan penyalut merupakan 

faktor kritis. Semakin tipis lapisannya maka pelepasan obat semakin 

cepat dan sebaliknya semakin tebal lapisan maka obat akan semakin 

lama untuk dilepaskan. Contoh dari material polimer ini yaitu : (1) Etil 

selulosa; (2) Hidroksipropil Matilselulosa; dan (3) Eudragit® RS 30 D

Berikut yaitu  mekanisme pelepasan obat dari sistem penyalutan 

non enterik: (1) Lapisan penyalut akan mengembang pada saat 

211Tablet Salut

kontak dengan cairan saluran cerna (air); (2) Cairan saluran cerna (air) 

berpenetrasi melalui lapisan penyalut masuk kedalam tablet inti; (3) Obat 

larut dalam cairan saluran cerna (air); (4) Obat berdifusi keluar melewati 

lapisan penyalut; dan (5) Tebal dan tipisnya lapisan penyalut merupakan 

faktor kritis, semakin tebal lapisan penyalut maka semakin lama obat 

terlepas dari sediaan. Mekanisme pelepasan obat dari material polimer 

tablet salut non enterik yaitu  sebagai berikut :

 

Gambar 8.6 Mekanisme pelepsan obat dari material polimer penyalutan non enterik. 

b.  Material polimer enterik 

Fungsi dari material polimer enterik yang terdapat pada lapisan 

penyalut ini yaitu  untuk menunda pelepasan obat karena target 

pelepasan obat ini  yaitu  pada usus atau kolon. Material 

polimer yang ada pada lapisan penyalut akan terlepas tergantung dari 

kemampuan ionisasi dari gugus fungsional, yang meliputi: (1) Kelarutan 

material polimer tergantung dari pH; dan (2) Material polimer tidak larut 

pada pH rendah, tetapi akan larut pada pH yang lebih tinggi. Contoh 

dari material polimer ini yaitu : selulosa asetat ftalat (CAP) dan polivinil 

asetat ftalat (PVAP)

212 

Berikut yaitu  mekanisme pelepasan obat dari material polimer 

dari tablet salut enterik.

  

 Gambar 8.7  Mekanisme pelepasan obat dari material polimer tablet salut enterik 

Proses penyalutan enterik dilakukan dengan berbagai alasan yaitu : 

a. Obat yang dimungkinkan mengalami peruraian (degradasi) 

pada pH asam 

b. Obat yang dimungkinkan mengalami peruraian (degradasi) 

yang diakibatkan enzim yang ada pada lambung 

c. Obat yang dimungkinkan dapat menimbulkan iritasi pada 

mukosa lambung 

Berikut yaitu  gambar granul yang disalut enterik. 

 

Gambar 8.8 Contoh granul yang dilakukan salut enterik (sumber: www.dexilant.com)

213Tablet Salut

5. Proses Penyalutan

Tahapan yang dilakukan dalam pembuatan film coating yaitu  

sebagai berikut :

a. Penyiapan formulasi film coating

b. Penempatan tablet inti dalam alat coating berikut dilakukan 

pemanasan awal untuk mempercepat penguapan pelarut

c. Penyemprotan material polimer dengan teknik spray 

atomization 

d. Pemeliharaan produk yang disalut dengan pengeringan 

sehingga terjadi penyatuan penyalut secara bertahap 

Gambar peralatan yang digunakan dalam proses penyalutan tablet 

yaitu  sebagai berikut:

a. Panci penyalut biasa (conventional coating pans), digunakan untuk 

proses tablet salut gula dan lapis tipis. Alat ini dapat dilihat pada 

gambar berikut. 

Gambar 8.9 Proses penyalutan menggunakan conventional coating pans 

(sumber: https://www.slideshare.net/ceutics1315/tabletcoating)

b. Panci penyalut yang berlobang (perforated coating pans), 

digunakan untuk penyalutan lapis tipis dan penyalutan kapsul 

214 

 Gambar 8.10 Proses penyalutan menggunakan perforated coating pans 

(sumber: https://www.freund-vector.com/technology/coating-pan) 

c. Fluidized bed coating, digunakan untuk penyalutan lapis tipis pellet 

dan granul. Proses ini dapat dilihat pada gambar berikut. 

 

Gambar 8.11 Proses penyalutan dengan fluid bed coating (sumber:https://

www.colorcon.com/products formulation/process/fluid-bed-coating)

Secara umum penyalutan lapis tipis lebih disenangi dibandingkan 

dengan penyalutan gula dengan alasan sebagaimana tabel 8.3.

215Tablet Salut

 Tabel 8.3 Perbedaan antara tablet salut lapis tipis dan salut gula

Salut lapis tipis (film coating) Salut gula (sugar coating)

Penampilan 

tablet

a.    Mempertahankan

       bentuk inti tablet

b.   Hanya sedikit meningkatkan

       bobot tablet sekitar2 – 3%

       akibat penyalutan

c.    Dimungkinkan adanya logo

a.   Bulat dan mengkilap

b.   Bobot tablet naik lebih

       tinggi 30 – 50 % yang  

       disebabkan material 

       penyalut.

c.   Dimungkinkan adanya logo

Proses a.   Dapat diotomatisasi, misalnya 

      Accela Cota

b.   Mudah dilakukan training 

       terhadap operator

c.   Proses dilakukan satu tahap

d.   Mudah diadaptasi untuk

       mengontrol pelepasan   

       yang memungkinkan untuk 

       penyalutan fungsional

a.   Sulit untuk diotomatisasi

      dikarenakan mesin 

      penyalut tradisional

b.   Dibutuhkan training 

       khusus untuk operator  

       mesin

c.   Prosesnya beberapa tahap 

      (multistage process)

d.   Tidak dapat digunakan 

      untuk mengontrol 

      kecepatan pelepasan selain 

      dari penyalutan enterik

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Salut Lapis Tipis 

(Film Coating)

Untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas 

(visual dan fungsional) produk akhir penyalutan dibutuhkan untuk 

menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh yang meliputi:

a. Interaksi antara bahan inti (substrat) dan lapisan yang 

diaplikasikan

b. Proses pengeringan

c. Keseragaman distribusi lapisan 

Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi antara substrat dan 

lapisan yaitu :

a. Tablet inti

Bahan berpengaruh pada pembasahan oleh cairan penyalut 

216 

dan adhesi dari film yang kering. Porositas berpengaruh pada adhesi 

film kering sedangkan permukaan yang kasar berpengaruh pada 

pembasahan cairan penyalut, penyebaran cairan penyalut melintasi 

permukaan dan kekasaran lapisan. 

b. Cairan penyalut

Bahan padatan berpengaruh pada kekasaran lapisan kering dan 

viskositas cairan penyalut. Viskositas berpengaruh pada penyebaran 

cairan penyalut pada permukaan substrat dan penggabungan 

tetesan cairan penyalut menjadi film kontinu. Tegangan permukaan 

berpengaruh pada pembasahan permukaan substrat oleh cairan 

penyalut, penyebaran cairan penyalut pada permukaan substrat dan 

penggabungan tetesan cairan penyalut menjadi film kontinu.

c. Proses pengeringan

Tingkat pengeringan berpengaruh pada kemampuan cairan 

penyalut pada saat kontak dengan permukaan substrat dan struktur 

penyalut kering. Panas berpengaruh pada peningkatan tegangan 

internal dalam film (mempengaruhi adhesi dan kohesi) dan sifat mekanis 

penyalut (berpengaruh pada kerusakan penyalut).

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengeringan yaitu :

a. Peralatan semprot 

Desain mulut penyemprot (nozle) berpengaruh pada 

kehalusan pengabutan cairan penyalut dan kecepatan penguapan 

pelarut. Jumlah penyemprot yang digunakan berpengaruh 

pada keseragaman distribusi cairan penyalut dan menghindari 

pembasahan berlebihan yang terlokalisasi.

b. Kondisi pengeringan

Aliran udara, suhu dan kelembaban berpengaruh pada 

kecepatan pelarut hilang dari cairan penyalut dan suhu produk.

c. Kecepatan penyemprotan

Desain nozel, jumlah penyemprot dan sistem pemompaan 

berpengaruh pada kecepatan pelarut hilang dari cairan penyalut 

dan suhu produk.

217Tablet Salut

d. Kandungan padat cairan penyalut

Konsentrasi cairan penyalut berpengaruh pada kualitas 

pelarut yang harus hilang dari cairan penyalut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keseragaman distribusi 

penyalut yaitu :

a. Peralatan penyemprot

Desain nozel berpengaruh pada kehalusan pengabutan 

cairan penyalut dan area cairan penyalut disemprotkan. 

Jumlah penyemprot berpengaruh pada area lapisan penyalut 

yang disemprotkan dan lama proses penyalutan.

b. Kondisi pengeringan

Aliran udara, suhu dan kelembaban berpengaruh pada 

efisiensi proses pengeringan, misalnya jumlah penyalut yang 

berakhir pada material inti. 

c. Kecepatan semprot

Kecepatan penyemprotan berpengaruh pada lamanya proses 

penyalutan, jumlah cairan penyalut yang diendapkan pada 

substrat pada masing - masing melewati zona semprotan dan 

jumlah lapisan yang hilang selama proses berlangsung.

d. Kandungan padatan cairan penyalut

Kandungan padatan pada cairan penyalut berpengaruh 

pada lamanya proses penyalutan, jumlah cairan penyalut 

yang diendapkan pada substrat pada masing-masing zona 

penyemprotan yang terlewati dan kehalusan penyalut yang 

telah kering.

e. Kecepatan putaran panci penyalut atau fluidasi udara

Kecepatan putaran panci dan fluidasi udara berpengaruh 

pada keseragaman pencampuran, jumlah cairan penyalut 

yang diendapkan pada substrat pada masing-masing zona 

yang terlewati dan kehilangan penyalut yang disebabkan 

pengaruh pengurangan.

218 

7. Komponen Utama yang Terlibat dalam Penyalutan Tablet 

Ada tiga komponen utama yang terlibat dalam penyalutan tablet, 

yaitu:

a. Sifat-sifat dari tablet

b. Proses penyalutan, meliputi: (1) Peralatan penyalut (coating 

equipment); (2) Parameter dari proses penyalutan; (3) 

Fasilitas dan peralatan tambahan; dan (4) Otomatisasi proses 

penyalutan

c. Komposisi atau formula penyalut

a. Sifat-sifat dari Tablet

Keuntungan dari penyalutan lapis tipis bukan hanya sekedar yang 

terlihat pada produk yang meningkatkan penampilannya saja tetapi 

harus tahan terhadap tekanan mekanik serta suhu dan kelembaban yang 

tinggi. Oleh sebab itu, tablet inti harus dirancang dengan menggunakan 

kriteria yang lebih ketat dibandingkan dengan tablet yang tidak disalut 

untuk menjamin produk memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan 

tekanan tambahan yang terjadi pada proses penyalutan lapis tipis. 

Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh tablet inti yaitu  sebagai berikut:

i). Tablet harus tahan terhadap pengikisan dan bagian yang 

sumbing yang disebabkan oleh benturan yang kuat antar 

tablet atau dinding peralatan penyalut selama proses 

penyalutan

ii). Permukaan tablet yang rapuh, melunak pada saat panas atau 

dipengaruhi oleh komposisi penyalut cenderung menjadi 

kasar dalam tahap awal proses penyalutan selama proses 

penyalutan

iii). Penyalut lapis tipis menutupi semua permukaan, sehingga 

ketidaksempurnaan permukaan yang disalut tidak dapat 

dihilangkan. Kualitas dari penyalut lapis tipis yang digunakan 

pada tablet kompresi biasanya sangat tergantung pada 

kualitas tablet inti dibandingkan dengan kualitas kapan 

219Tablet Salut

penyalutan gula dilakukan.

iv). Selain permukaan yang halus, bentuk fisik dari tablet juga 

penting. Bentuk yang ideal untuk penyalutan yaitu  bundar, 

yang memungkinkan tablet untuk menggelinding dengan 

bebas pada panci penyalut dengan kontak antar tablet 

yang minimal. Bentuk yang paling tidak baik yaitu  bentuk 

persegi, yang mana dalam kasus ini bahan penyalut akan 

mengumpul antara permukaan untuk menempel sesamanya. 

Dengan demikian tablet yang akan disalut harus memiliki 

permukaan yang bundar, permukaan yang lebih cembung 

dan lebih sedikit ditemukan kesulitan  terjadinya aglomerasi 

tablet

v). Supaya penyalut lengket pada tablet, komposisi penyalut 

harus membasahi permukaan. Sifat permukaan dari tablet 

tergantung pada sifat kimia dari bahan yang digunakan 

dalam formulasi. Tablet dengan permukaan yang hidrofobik 

sulit untuk disalut dengan penyalut dengan bahan dasar air 

yang tidak membasahi permukaan.

b. Proses Penyalutan

Prinsip dari penyalutan tablet relatif sederhana, yaitu :

a. Penyalut tablet yang digunakan dari formula penyalut 

berputar dengan penggunaan secara bersamaan udara panas 

yang berfungsi untuk memudahkan penguapan pelarut.

b. Distribusi dari penyalut dicapai dengan pergerakan baik 

secara tegak lurus (panci penyalut) atau vertikal (suspensi 

udara) untuk menyemprotkan formula penyalut.

c. Peralatan

Berbagai teknik dapat digunakan untuk memperbaiki keseragaman 

penyalutan. Suatu studi membuktikan bahwa jumlah tablet yang disalut 

tidak terlalu banyak, peralatan semprot yang banyak, dan optimasi yang 

220 

baik dari sistem yang tidak menentu akan menghasilkan penyalutan 

terbaik.

Untuk menghasilkan film coating yang baik, diperlukan: (1) Formula 

tablet inti yang bagus; (2) Formula film coating yang bagus; dan (3) 

Mesin coating yang bagus dengan handling udara yang baik. Tablet Inti 

yang ideal yaitu : (1) Sedapat mungkin dapat berputar dan bergerak 

dengan mudah; (2) Permukaan tablet sferis atau parabola sedapat 

mungkin tidak mengandung bagian yang rata; dan (3) Mempunyai 

resistensi dan kekerasan yang cukup untuk menahan bantingan selama 

proses penyalutan

8. Proses penyalutan 

Dinamika dari proses penyalutan dapat digambarkan sebagai 

berikut : 

Gambar 8.12 Skema Proses Penyalutan 

Pembentukan lapisan tipis pada substrat membutuhkan : (1) 

Pembentukan ukuran tetes yang sesuai; (2) Kontak permukaan tetesan 

dengan substrat yang optimal; (3) Penyebaran dan koalesensi tetesan, 

dan terakhir penguapan pelarut; (4) Keseimbangan dan kontrol atau 

kecepatan penambahan cairan penyalut dan proses pengeringan; (5) 

Keseragaman distribusi cairan penyalut pada permukaan yang disalut; 

dan (6) Optimasi kualitas (baik visual maupun fungsional) dari produk 

akhir yang disalut. Parameter penting dalam proses penyalutan lapis 

tipis yaitu : (1) Temperatur yang masuk (inlet) dan temperatur tempat 

penyalut (bed); (2) Kelembaban relatif; (3) Tekanan udara pengabutan 

(atomisasi); (4) Kecepatan penyemprotan cairan; (5) Ukuran tetesan; dan 

221Tablet Salut

(6) Waktu pengeringan

Variabel kritis selama proses penyalutan lapis tipis yaitu : (1) 

Kecepatan penyemprotan; (2) Tekanan udara yang diatomisasi; (3) 

Temperatur udara masuk (inlet); (4) Volume udara; (5) Ukuran batch; 

(6) Temperatur udara yang dihisap selama penyalutan; (7) Temperatur 

produk (ingat produk yang tidak tahan panas); (8)  Jenis peralatan; (9) 

Cara penyemprotan; (10)  Jarak penyemprot pada permukaan tablet/

pellet yang disalut; (11) Lama pengeringan; (12) Efek kelembaban; (13) 

Kecepatan perputaran panci penyalut; dan (14) Dimensi alat

9. Permasalahan dalam penyalutan lapis tipis

Permasalahan yang terjadi dalam proses penyalutan lapis tipis 

yaitu : (1) Defisiensi tablet inti; (2) Defisiensi formula penyalut; dan (3) 

Defisiensi proses penyalutan. Permasalahan yang seringkali terjadi pada 

tablet inti biasanya disebabkan oleh: (1) Ukuran dan bentuk tablet; (2) 

Kekerasan tablet; (3) Kerapuhan tablet; (4) Kepekaan zat aktif terhadap 

lembab; dan (5) Ada atau tidaknya logo.

Berikut yaitu  permasalahan yang sering terjadi dalam penyalutan 

diantaranya adanya bagian yang sumbing, permukaan yang kasar, 

pelengketan dan keretakan pada lapisan penyalut. Massalah ini  

dapat dilihat pada gambar berikut.

222 

Gambar 8.13 Permasalahan yang terjadi dalam penyalutan tablet: sumbing 

pada bagian pinggir (A); permukaan yang disalut kasar (B); lengket setelah 

proses penyalutan (C); dan keretakan pada lapisan penyalut (D).

10. Permasalahan Formulasi Coating 

Berikut yaitu  permasalahan yang seringkali muncul pada 

formulasi larutan penyalut diantaranya: (1) Poor colour uniformity; (2) 

Logo bridging; (3) Edge spliting; dan (4) Cracking and peeling.

a. Poor colour uniformity

Poor colour uniformity disebabkan oleh penggunaan zat warna 

larut yang air, migrasi plastisizer dan dispersi pigmen yang jelek

b. Logo Bridging

Logo bridging disebabkan karena kekurangan dalam sifat mekanik 

film (stres internal film tinggi, sifat plastik tidak memadai, adhesi yang 

jelek terhadap substrat). Hal ini dapat diatasi dengan cara mengurangi 

stress sisa dengan menggunakan polimer dengan bobot molekul rendah, 

penggunaan kadar plastisizer yang lebih tinggi dan penggunaan jenis 

polimer yang lebih adhesif 

c. Edge Spliting

Film tidak cukup mempunyai kekuatan rentang untuk menahan 

gaya yang dihasilkan oleh ekspansi inti. Ekspansi inti dapat terjadi karena 

223Tablet Salut

panas selama proses pengeringan atau karena absorpsi pelarut film oleh 

inti. Pengatasan dilakukan dengan cara menggunakan polimer dengan 

bobot molekul tinggi atau dengan menurunkan kadar plastisizer.

d. Cracking and peeling

Cracking and peeling disebabkan oleh faktor kekuatan film yang 

rendah, adanya stress sisa yang tinggi dan jeleknya adhesi. Hal ini dapat 

diatasi dengan penggunaan polimer yang lebih adhesif dan pemilihan 

plastisizer yang lebih baik.

Berikut yaitu  gambar permasalahan dalam formula salut lapis tipis.

Gambar 8.14 Permasalahan dalam formula tablet salut 

lapis tipis: edge splitting (A); dan cracking (B).

11. Permasalahan dalam penyalutan lapis tipis 

Permasalahan yang seringkali muncul dalam proses penyalutan 

lapis tipis yaitu  sebagai berikut: (1) Picking and sticking; (2) Chipping/ 

erosi pada pinggiran; (3) Permukaan yang kasar (spray drying dan  kulit 

jeruk); dan (4) variasi warna antar tablet.

a. Picking dan Sticking

Picking dan sticking merupakan cacat dimana daerah terisolasi dari 

film ditarik menjauh dari permukaan saat tablet menempel bersamaan 

atau sebagian. Picking tidak terjadi sendiri karena pasti ada tablet lain 

menempel yang disebut sticking. Picking dan sticking disebabkan oleh 

application rate terlalu besar, volume udara  terlalu rendah, temperatur 

224 

udara terlalu rendah dan rendahnya padatan suspensi penyalut (juga 

merupakan permasalahan formulasi).

b. Permukaan yang kasar

Permukaan yang kasar dikategorikan atas: (1) Spray drying 

merupakan permukaan tablet  yang disalut kasar dan tidak mengkilap; 

dan (2) seperti kulit jeruk yaitu permukaan tablet  yang  disalut kasar 

tetapi mengkilap. Permasalahan ini dapat diatasi dengan cara: (1) untuk 

spray drying dengan cara pengurangan tekanan atomisasi/penurunan 

volume dan suhu udara pengering; dan (2) untuk kulit jeruk dengan cara 

meningkatkan tekanan atomisasi

c. Chipping 

Chipping atau erosi yang terjadi pada bagian pinggiran tablet 

salut disebabkan oleh application rate terlalu rendah, pan speed terlalu 

cepat variabel tablet inti (juga massalah tablet inti), rendahnya padatan 

suspensi penyalut (juga massalah formulasi penyalut) dan rendahnya 

kekuatan film coating (juga massalah formulasi penyalut).

d. Variasi warna antar tablet

Variasi warna antar tablet disebabkan oleh kurangnya 

kesempurnaan pencampuran, rendahnya pan speed, padatan suspensi 

penyalut terlalu tinggi (juga massalah formulasi penyalut), bentuk tablet 

yang sukar (juga massalah tablet inti) dan tingginya friabilita tablet (juga 

massalah tablet inti)

225Tablet Salut

Gambar 8.15 Permasalahan dalam proses penyalutan: picking (A); sticking (B); 

spray drying (C); kulit jeruk (D); chipping (E) dan variasi warna antar tablet (F).

Soal Latihan 

1. Tuliskan tujuan dilakukannya proses penyalutan tablet 

2. Uraikan jenis-jenis penyalutan tablet di industri farmasi 

3. Tuliskan perbedaan antara tablet salut lapis tipis dengan salut gula 

4. Uraikan proses salut gula 

5. Buatlah formula umum salut lapis tipis 

6. Uraikan penyebab terjadinya picking dan sticking dalam proses 

penyalutan lapis tipis dan bagaimana cara mengatasinya 

 


227Teknologi Sediaan Kapsul

BAB 9 

TEKNOLOGI SEDIAAN KAPSUL 

_____________________________________ 

Mahasiswa memahami konsep teknologi dan formulasi sediaan kapsul 

yang meliputi kapsul cangkang keras dan lunak. 

A. Pendahuluan 

Kapsul berupa bentuk sediaan padat dengan bahan obat atau 

eksipien tertutup dengan suatu cangkang kecil. Cangkang dibuat 

dari gelatin, amilum atau bahan lain yang cocok dengan karakteristik 

cangkang keras (hard) atau lunak (soft). Kapsul dapat digunakan secara 

oral, disebarkan di atas makanan dan berupa dry powder inhalers untuk 

penghantaran inhalasi  

  

Gambar 9.1 Kapsul yang disebarkan pada makanan 

 

Gelatin diperoleh dari hidrolisis sebagian (parsial) kolagen dari 

kulit, jaringan penyambung dan tulang dari binatang. Gelatin stabil 

228 

pada udara jika kering, tetapi rentan terhadap dekomposisi mikroba 

jika lembab atau dalam larutan. Perbedaan antara kapsul gelatin keras 

(Hard Gelatin) dengan kapsul gelatin lunak (Soft Gelatin “Softgels”) dapat 

dilihat pada tabel berikut ini. 

 Tabel 9.1 Perbedaan kapsul gelatin keras dan lunak 

Kriteria Kapsul gelatin keras Kapsul gelatin lunak 

Cangkang Tidak plastis 

Plastis (gliserin, 

propilenglikol, 

sorbitol) 

Isi 

Biasanya bahan  padat kering 

(dimungkinkan matrik cair/

semi padat) 

Biasanya cairan 

atau suspensi 

(dimungkinkan bahan 

padat 

kering) 

Manufaktur 

Cangkang dibuat dalam satu 

operasi dan pengisian dalam 

suatu proses terpisah. 

Pembuatan/pengisian  

dalam satu operasi 

Penutupan 

Secara tradisional 

menggeser hingga pas, 

penyambungan mekanik, 

memungkinkan segel pita 

dan cairan 

Tersegel secara rapat 

(melekat) 

Ukuran dan 

bentuk Terbatas Banyak 

Teknologi 

formulasi Padat Cair 

Akurasi 

pengisian 

2 – 5 % (dengan mesin 

modern otomatis) 1 – 3 % 

Kapsul merupakan metode alternatif untuk formulasi sediaan 

dalam bentuk padatan. Sediaan kapsul dapat memberikan keuntungan 

dan lebih disenangi dengan berbagai alasan:

1. Kapsul (umumnya kapsul dengan cangkang gelatin lunak) dapat 

diformulasi untuk meningkatkan ketersediaan hayati obat yang 

sukar larut dalam air. Biasanya kasus ini apabila diformulasi sebagai 

229Teknologi Sediaan Kapsul

kapsul dengan cangkang gelatin keras dan lunak zat aktif diisikan 

dalam bentuk cairan.

2. Kapsul yaitu  metode yang memungkinkan pemberian cairan 

secara per oral pada pasien  yang dimasukkan ke dalam cangkang 

gelatin keras atau lunak sebagai satu unit sediaan farmasi.

3. Kapsul sulit dipalsukan

4. Formulasi kapsul dapat meningkatkan stabilitas zat aktif

5. Kapsul aman digunakan untuk memformulasi bahan-bahan yang 

disalahgunakan seperti temazepam. 

Sedangkan, keterbatasan sediaan kapsul yaitu :

1. Membutuhkan peralatan yang khusus untuk manufaktur.

2. Permasalahan stabilitas apabila kapsul berisi cairan

3. Permasalahan yang berhubungan dengan homogenitas 

kandungan zat aktif dan keragaman bobot yang berhubungan 

dengan formulasi kapsul.

B. Kapsul Cangkang Keras 

Formulasi dari kapsul cangkang keras terdiri dari gelatin, gula dan 

air (13- 16% sisa lembab dalam kapsul cangkang keras). Desain kapsul 

cangkang keras terdiri dari 2 bagian (2 piece shell) yang terdiri dari badan 

kapsul (body) dan penutup (cap) lebih pendek 

 

Gambar 9.2 Cangkang terdiri dari 2 bagian dari kapsul gelatin keras 

 Keuntungan dari kapsul gelatin keras yaitu :

1. Memungkinkan pelepasan obat dengan cepat. 

2. Fleksibilitas dari formulasi 

230 

a. Mudah dicampurkan (lebih praktis). 

b. Tidak butuh pembentukan massa kompak  

c. Berperan dalam pengembangan obat. 

3. Segel kapsul cangkang keras merupakan penghalang yang bagus 

terhadap oksigen atmosfer. 

Sedangkan keterbatasan dari kapsul gelatin keras yaitu : 

1. Problem pada bahan dengan jumlah besar. 

2. Peralatan pengisi lebih lama dibandingkan tablet 

3. Secara umum lebih mahal daripada tablet, tetapi harus 

mempertimbangkan kasus demi kasus dasar.. 

4. Perhatian lebih dalam memelihara kadar lembab yang tepat bagi 

cangkang. 

a. Cangkang harus mempunyai kadar lembab 13 – 15 % 

b. Jika terlalu kering akan menjadi rapuh/mudah retak, dan jika 

terlalu lembab akan menjadi lunak dan dapat melengket. 

c. Kapsul yang tidak ditutup paling baik disimpan pada 

kelembaban relatif 45 - 65%. 

d. Hati-hati menggunakan obat-obat yang sangat higroskopis.

Ukuran dan kapasitas rata-rata dari cangkang kapsul gelatin keras 

dapat dilihat pada tabel berikut. 

Tabel 9.2 Ukuran dan kapasitas rata-rata cangkang kapsul gelatin keras

Ukuran 000 00el 00 0el 0 1 2 3 4 5

Volume 

(mL) 1,37 1,02 0,91 0,78 0,68 0,50 0,37 0,30 0,21 0,10 

Kapasitas 

(mg)  1096 816 728 624 544 400 296 240 168 104 

231Teknologi Sediaan Kapsul

  Gambar 9.3 Berbagai ukuran kapsul gelatin keras 

 

Berikut contoh perhitungan untuk penentuan ukuran kapsul. 

Misalnya dosis zat aktif 150 mg, zat aktif + eksipien 200 mg per kapsul. 

Serbuk bobot jenis tinggi 0,8 g/cc. Maka 800 mg/cc = 200mg/X, sehingga 

X = 0,25cc (ukuran nomor 3). Jika bobot jenis rendah 0,3g/cc, maka 300 

mg/cc = 200 mg/X, sehingga X = 0,67cc (ukuran no 0) 

Berikut yaitu  komposisi cangkang gelatin keras (1) Gelatin 

(gelatin tulang /type B dan gelatin kulit/type A); (2) air;  (3) pewarna; (4) 

senyawa tak tembus cahaya  (TiO2); dan (5) pengawet

1. Pembuatan cangkang kapsul keras  

Cangkang gelatin keras dibuat dalam 2 tahap yaitu pembuatan 

penutup yang lebih pendek (shorter cap) dan badan (body). Mula-mula 

campuran gelatin dipanaskan dalam suatu reservoir. Berikut dilakukan 

pembuatan lobang  (dipping) dari cetakan (pegs) ke dalam campuran 

gelatin. Cetakan dilekatkan pada pelat, masing-masing memiliki kira-kira 

500 cetakan. Pelat secara mekanik diturunkan ke dalam campuran 

gelatin.  Pengeringan gelatin pada cetakan (pengeringan yang 

berlebihan akan membuat cangkang rapuh). Selanjutnya dilakukan 

pemotongan (stripping) dari cetakan dan diratakan secara mekanik 

untuk suatu keseragaman panjang. Terakhir dilakukan pemasangan 

232 

penutup kepada badan (ketebalan harus dikontrol secara ketat atau 

lainnya mudah untuk dilepaskan)  

Proses pembuatan lobang (dipping) pembuatan kapsul gelatin 

keras dapat dilihat pada gambar berikut. 

 

Gambar 9.4 Proses dipping 

 Proses penyegelan (seal) dan penutupan  

Tujuan penyegelan dan penutupan yaitu  untuk pertimbangan 

sebagai berikut : 

a. Mencegah pemisahan akibat kekurang hati-hatian pada 

penanganan / pengisian 

b. Memungkinkan membuat pengisian cairan/semi padat kapsul 

gelatin keras 

c. Segel kapsul merupakan penghalang yang baik terhadap oksigen 

Tujuan penutupan kapsul (coni-snap capsules) dapat dilihat pada 

gambar berikut : 

233Teknologi Sediaan Kapsul

 

Gambar 9.5 Penutupan kapsul (sumber: http://www.bellacorp.com.au/capsules)

Berikut yaitu  teknik sealing dari Capsugel 

 

Gambar 9.6 Teknik sealing (http://www.capsugel.com/equipment/cfs1000.php) 

Bahan-bahan yang diisikan ke dalam kapsul dapat berupa 

campuran pellet, serbuk/granul, padatan, kapsul dan pasta sebagaimana 

gambar berikut. 

234 

 

Gambar 9.7 Bahan-bahan yang diisikan pada kapsul 

(sumber: http://jerryfahrni.com/2009/)

Alat pengisian kapsul gelatin keras menggunakan mesin tangan 

(Hand-Operated Manual) dapat dilihat pada gambar berikut: 

 

Gambar 9.8. Mesin pengisian kapsul manual

235Teknologi Sediaan Kapsul

Tabel 9.3 Kapasitas keluaran (Output) dari beberapa mesin pengisian kapsul 

Semi otomatis No. 8 machine 120.000 – 140.000 / shif 

Otomatis 

Zanasi Z-5000/R3 150.000 / jam 

MG2 G100 100.000 / jam 

Bosch GKF 3000 180.000 / jam 

Osaka R-180 165.000 / jam 

Pengisian kapsul dengan pelat atau metode kapsul tunggal dan 

auger feed system dapat dilihat pada gambar berikut.  

Gambar 9.9 Diagram sistem pengisian auger (Model No. 8); hopper 

serbuk (A); tangkai pengaduk (B); auger (C); holder (D);  meja putar 

(E); dan cincin kapsul (F) (sumber: Swabrick, J (ed), 2007) 

Gambar 9.10 Proses pengisian kapsul otomatis

236 

Sekarang kapsul gelatin keras seringkali diisi dengan mesin 

otomatis yang mirip dengan pengempaan tablet yaitu dengan 

pembentukan isian serbuk dengan kompresi dan menyemprotkannya 

ke dalam kapsul kosong.

Berikut yaitu  gambar alat pengisian kapsul dengan dosator (MG2 

Futura Dosator Machine).

  

  Gambar 9.11 Mesin MG2 Futura Dosator Machine (sumber: 

https://www.equipnet.com/mg2-futura-capsule-filling-machine) 

Selain itu juga ada prinsip Dosing Disc sebagaimana gambar 

berikut. 

      

Gambar 9.12 Prinsip dosing disc dan mesin Bosch GKF 

1500 Dosing Disc Machine 90.000/jam 

237Teknologi Sediaan Kapsul

2. Formulasi Bahan yang diisikan kedalam Cangkang Kapsul

a. Zat aktif

Untuk zat aktif yang kelarutannya tinggi dalam air memperlihatkan 

sedikit permasalahan dalam formulasi terutama pada pelepasan obat 

dari tablet atau kapsul.  Mengurangi ukuran partikel (mikronisasi) dari 

zat aktif yang kelarutannya sukar dalam air dapat meningkatkan disolusi 

dari tablet dan kapsul. Daerah permukaan efektif dapat dikurangi 

dengan penggabungan (agglomerasi) dari partikel-partikel yang kecil. 

Penambahan senyawa pembasah (surfaktan) dapat membantu.

b. Bahan Pengisi (Filler)

Bahan pengisi berupa laktosa, amilum, dikalsium fosfat. Bentuk 

modifikasi berupa minigranul untuk tablet kempa langsung berguna 

untuk memperbaiki aliran dan kekompakan (compactibility) khususnya 

penting untuk bentuk mesin plug. Pertimbangan kelarutan obat dalam 

pemilihan bahan pengisi. Bahan pengisi larut air disarankan untuk obat 

yang sukar larut dalam air. Dalam kondisi khusus, pengsi larut air dalam 

jumlah besar dalam formulasi memperlama disolusi dari obat larut air. 

Kemungkinan interaksi secara farmasetika (inkompatibilitas). Contoh 

klasik: Tetrasiklin yang diformulasi dengan kalsium fosfat.

c. Pelincir

Glidan (colloidal silika seperti Cab-O-Sil) dengan konsentrasi 

optimum <1%, biasanya 0,25-0, 50%. Lubrikan  dan antiadheran (seperti 

logam stearat, asam stearat). Lubrikan terbaik yaitu  hidrofobik. 

Peningkatan konsentrasi biasanya memperlama disolusi. Lama 

pencampuran suatu permasalahan dengan lubrikan berlapis (laminar 

lubricans). Untuk itu hindari pencampuran terlalu lama

d. Bahan Penghancur (Disintegran) 

Contoh dari bahan penghancur yaitu  sodium starch glycolate; 

croscarmellose sodium. Bahan penghancur befungsi untuk mempercepat 

disolusi obat dengan menaikkan penetrasi cairan (wicking) dan 

menaikkan deaggregasi. Efisiensi sering  meningkat dengan peningkatan 

kekerasan. Efektif digunakan pada konsentrasi 4 - 8%.

238 

e. Surfaktan 

Contoh dari surfaktan yaitu  sodium docusate; sodium lauryl 

sulfate (SLS), berfungsi untuk mempercepat disolusi dengan 

meningkatkan pembasahan dari massa serbuk (dapat mengatasi 

pengaruh waterproofing dari lubrikan hidrofob). Konsentrasi yang 

biasa digunakan SLS, 1-2% dan sodium docusate, 0.1-0.5%. Bahan yang 

tidak cocok untuk formulasi kapsul cangkang keras yaitu  cairan berair 

dan bahan higroskopik. Hal diatas dikarenakan gelatin mengandung 

lembab dan dapat mengabsorpsi atau melepaskan lembab. Metode 

untuk memisahkan atau meminimalkan inkompatibilitas kimiawi yaitu  

dengan penambahan lagi pengisi, adsorben misalnya magnesium 

karbonat dan kaolin serta membentuk granul dari satu eksipien untuk 

meminimalkan kontak fisik. 

Cairan dalam kapsul gelatin keras memberikan keuntungan 

permeabilitas oksigen rendah, meningkatkan ketersediaan hayati dan 

relatif mudah untuk diformulasi untuk bahan titik lebur rendah dan zat 

aktif dosis rendah. Sedangkan kerugiannya yaitu  stabilitas fisik dan 

kimia, memungkinkan bocor sehingga dibutuhkan sealing/banding.

3. Tahap akhir (finishing) proses pembuatan kapsul 

Pada tahapan akhir serbuk yang ada pada bagian luar kapsul 

dihilangkan dengan pengkilapan. Ini dapat dilakukan dengan : 

a. Pengkilapan tangan dengan kain atau jika batch-nya kecil 

b. Pemutaran dalam suatu drum dengan vakum 

c. Pengocokan dengan natrium klorida (NaCl) kristal 

d. Penggelindingan (rolling) pada kain yang menutupi permukaan 

(cloth-covered surface) 

Uji akhir produk (quality control) meliputi, keseragaman warna, 

kandungan (isi) dan bentuk, berat, penampilan, pengamatan visual 

atau elektronik. Pengisian ke dalam container dan labeling merupakan 

atomatis dalam manufacturing, dan tahapan ini juga merupakan subjek 

pada persyaratan Good Manufacturing Practices (GMP) 

239Teknologi Sediaan Kapsul

Faktor-faktor yang mempengaruhi disolusi obat dari kapsul gelatin 

keras, kelihatannya sama dengan tablet kecuali untuk cangkangnya, 

yaitu :

a. Kecepatan disolusi dari cangkang 

b. Kecepatan penetrasi dari medium disolusi 

c. Kecepatan deagregasi dari massa serbuk 

d. Sifat dari partikel obat 

Disolusi dan pecahnya cangkang secara norma selama 4 menit 

dengan tahapan : 

a. Pecahan terjadi pertama pada bagian bahu dimana di dinding 

cangkang menipis. 

b. Terakhir berkurang dan cairan berpenetrasi dan terjadi deagregasi, 

formulasi keluar dari cangkang. 

C. Kapsul Cangkang Lunak 

Perlu diingat bahwa kapsul cangkang lunak sama dengan kapsul 

cangkang gelatin keras, kecuali pemlastis (plastisizer) yang menyatu 

(sorbitol, propilen glikol, gliserin). Biasanya diisi dengan cairan atau 

suspensi (padatan kering yang memungkinkan, termasuk tablet 

kompresi (“Geltabs”). 

 Kapsul cangkang lunak memiliki ciri-ciri sebagai berikut, 

karakteristik fleksibel,  pemlastis (plasticizer) dengan gelatin, bentuknya 

banyak, bujur, bulat, bentuk tabung, elips dan kapsul umumnya 

disiapkan, diisi dan disegel dalam operasi berkelanjutan  

Kapsul gelatin lunak dapat digunakan secara oral dengan, ditelan 

keseluruhan, kunyah (antasida, batuk/flu, vitamin). Selain itu juga dapat, 

dihisap,  pelepasan ditunda (salut enterik) dan suppositoria rectal/

vaginal, menggunakan lembab untuk melarut. 

240 

  

Gambar 9.13 Berbagai bentuk kapsul gelatin lunak (sumber: http://drugdiscovery.

pharmaceutical-business-review.com/suppliers/softigel-pbr/products/)

Keuntungan dari kapsul gelatin lunak yaitu  sebagai berikut. 

a. Keakuratan tinggi/memungkinkan ketepatan 

b. Segelnya rapat (inherently) 

c. Memungkinkan keuntungan ketersediaan hayati 

d. Memungkinkan pengurangan iritasi lambung dibandingkan tablet 

dan kapsul cangkang keras.  

e. Tersedianya pengemas khusus 

Sedangkan keterbatasan kapsul gelatin lunak yaitu :

a. Secara umum lebih mahal untuk menghasilkannya dibandingkan 

tablet dan kapsul cangkang keras  

b. Lebih kuat kontak antara cangkang dan isi daripada kapsul gelatin 

keras yang isinya kering, berkaitan dengan stabilitasnya.  

c. Tidak dapat menyesuaikan untuk diisi dari lebih dari satu macam isi 

kapsul yang sama (dibandingkan dengan kapsul cangkang keras)  

1. Komponen cangkang kapsul lunak 

a. Gelatin 

Gelatin kualitas tinggi sangat penting untuk keoptimalan 

pembentukan kapsul, meliputi karakteristik seperti kekuatan 

gelatin. Sekarang tersedia gelatin alternatif yang  bukan 

produk binatang seperti kappa. 

241Teknologi Sediaan Kapsul

b. Cargeenan, hidroksi propilmetilselulosa yang dimodifikasi 

(HMPC) atau produk amilum yang terhidrolisa.  

c. Zat pewarna 

d. Opacifier atau dye/lake 

e. Pemlastis (plasticizer), lebih banyak dari kapsul cangkang 

keras untuk membuatnya lebih fleksibel dan tebal.  

f. Pengawet 

Gambar 9.14 Skema dinamik dari kapsul cangkang lunak 

2. Formulasi 

a. Cairan murni, campuran dari cairan yang bercampur, padatan yang 

dilarutkan atau disuspensikan dalam cairan pembawa.  

b. Pembawa 

 - Cairan yang tidak bercampur dengan air yang tidak 

menguap, misalnya minyak tumbuhan. Minyak mineral tidak 

direkomendasikan untuk formulasin obat. 

 - Cairan yang bercampur dengan air yang tidak menguap, 

misalnya PEG bobot molekul rendah  dan surfaktan non ionik 

seperti polisorbat 80 

242 

Batasan isi cairan yaitu : 

a. Air tidak boleh melebihi  5% dari isi  

b. pH harus antara 2,5 dan 7,5 

c. Senyawa dengan bobot molekul rendah yang larut dalam air dan 

harus menguap 

d. Aldehida, umumnya, harus ditiadakan (menyebabkan pautan 

silang)  

e. Obat , tidak larut dalam air, stabil secara kimia dalam air  

f. Penggunaan etanol (sebagai kosolven), disiapkan pengemas 

khusus  

Paling banyak kapsul gelatin lunak dibuat menggunakan suatu 

proses Rotary Die sebagaimana gambar berikut. 

Gambar 9.15 Ilustrasi proses pengisian kapsul gelatin lunak (sumber: 

http://www.daeyangsoft.com/tag/made%20in%20korea) 

243Teknologi Sediaan Kapsul

     

Gambar 9.16 Mesin pembuatan dan pengisian kapsul cangkang lunak 

(sumber: http://www.daeyangsoft.com/tag/made%20in%20korea) 

Soal Latihan 

1. Uraikan perbedaan antara kapsul cangkang keras dan lunak 

2. Uraikan keuntungan dan kerugian kapsul cangkang keras 

3. Uraikan komponen pada kapsul cangkang lunak