yaitu variasi waktu
pengeringan dan suhu dapat mempengaruhi produk akhir. Setelah
pengeringan granul diayak dan dilakukan pencampuran akhir.
Fluid-bed dryers telah digunakan selama beberapa tahun untuk
pembuatan granul effervescent. Dasarnya yaitu air atau larutan
pengikat dalam aliran udara panas dan kering disemprotkan ke dalam
191Formulasi Tablet Khusus
campuran effervescent. Kelembaban dan suhu dari udara untuk
menghentikan reaksi effervescent secara dini. Vakum granulator juga
telah digunakan untuk pembuatan granul effervescent. Peralatan ini
sangat mengontrol granulasi produk dan lingkungan yang bebas debu.
Pada proses granulasi air atau larutan pengikat disemprotkan ke dalam
campuran effervescent selama pencampuran. Pengeringan terjadi
dengan menempatkan granul di bawah vakum dan pemanasannya
melalui suatu thermal jacket.
Produk effervescent biasanya dicetak menjadi tablet dengan
tekanan kompresi yang tinggi. Pengontrolan dilakukan dengan ketat
dari suhu dan kelembaban pada keseluruhan area yaitu 65 sampai 75ºF,
dan kelembaban relatif 10 persen.
6. Bahan pengemas
Jenis pengemas yang paling banyak untuk produk effervescent
yaitu pembungkus foil dan tube. Gambar berikut memperlihatkan
proses pengemasan tablet effervescent.
Gambar 7.2 Proses pengemasan tablet effervescent
192
Beberapa alasan terjadinya degradasi produk effervescent yaitu :
a. Bahan pengemas tidak mampu menghalangi kelembaban
udara sehingga lembab dapat masuk ke dalam pengemas
b. Segel/seal dari foil rusak. Ini dapat terjadi apabila ada debu
dalam ruang pengemas atau apabila mesin tidak berfungsi
baik selama pengemasan produk.
c. Ada bahan-bahan dari formula yang tidak kompatibel dengan
komponen-komponen effervescent yang dipilih.
Contoh formula tablet effervescent yaitu sebagai berikut :
Zat khasiat (aspirin, dll)
Bahan pengisi (laktosa)
Bahan penghancur (kombinasi asam sitrat dengan Natrium
bikarbonat)
Bahan pengikat (dekstrosa, sorbitol, sitol dan laktosa)
Bahan lubrikan (PEG 4000, PEG 6000)
Bahan pemanis (sakarin Na)
Bahan pengharum (minyak jeruk, dll)
Solubilizer (disesuaikan dengan zat khasiatnya)
C. TABLET BUKA ATAU SUB LINGUAL
Tablet ini pada umumnya mengandung zat khasiat yang akan
mengalami peruraian, atau inaktivasi dalam saluran pencernaan akibat
aksi dari enzim pencernaan ataupun akibat pengaruh keasaman
lambung. Tablet ini biasanya mengandung zat khasiat seperti hormon
steroid, gliseril trinitrat yang absorpsinya lebih cepat di dalam
mukosa mulut sehingga ke dua tablet ini digunakan dengan jalan
menyisipkannya di bawah lidah (sub lingual) atau diantara pipi dengan
gusi (bukal)
Tablet ini didesain untuk hancur lama serta dengan kelarutan dan
absorpsi yang cepat. Alasan penggunaan bentuk sediaan ini yaitu
pada obat-obat yang dirusak pada cairan saluran cerna, obat diabsorpsi
193Formulasi Tablet Khusus
lama di saluran cerna dan untuk meningkatkan absorpsi obat misalnya
pada nitrogliserin.
Bentuk tablet ini biasanya bulat telur atau pipih dengan ukurannya
kecil untuk memudahkan pemakaiannya. Tablet bukal atau sub
lingual didesain sedemikian rupa sehingga pembebasan zat khasiat
berlangsung secara terkendali oleh karena absorpsi yang diharapkan
dari zat khasiat yang dikandung ke dua tablet ini berlangsung secara
lambat. Pada umunya digunakan untuk pengobatan angina pectoris.
Bahan pengisi seperti halnya dalam formula tablet kunyah dipilih
laktosa sebab dapat memberikan kemudahan dalam pencetakan di
samping rasanya yang manis. Bahan penghancur baik penghancur
dalam maupun penghancur luar untuk tablet ini tidak diperlukan karena
ke dua tablet ini membutuhkan waktu hancur yang panjang, kecuali
untuk tablet nitrogliserin dan manitol heksonitrat yang membutuhkan
waktu hancur yang singkat yakni sekitar 2 menit setelah disisipkan di
bawah lidah.
Tablet bukal maupun sublingual membutuhkan adanya bahan
pemanis seperti manitol atau sukrosa di samping membutuhkan
adanya bahan pengikat seperti halnya tablet kunyah. Bahan lubrikan
dipilih yang larut dalam air.
Ringkasan formula tablet bukal atau tablet sub lingual yaitu
sebagai berikut :
Zat khasiat (hormon steroid, nitrogliserin)
Bahan pengisi (laktosa)
Bahan pengikat (metil selulosa, gelatin)
Bahan lubrikan (talkum)
Bahan pemanis (manitol, sukrosa)
194
D. LOZENGES (TABLET HISAP)
Pada umumnya tablet hisap mengandung zat khasiat seperti lokal
anestesi, antiseptik, antibiotika, antasida atau kombinasi dari zat khasiat
di atas, dipergunakan untuk pengobatan lokal dimulut. Zat khasiat
yang sering terdapat dalam formula tablet hisap ini yaitu sinkokaina,
benzokain atau mentol, penisilin, thyrotrisin dan garam ammonium
kuarterner.
Bahan pengisi seperti halnya tablet-tablet sebelumnya selalu dipilih
laktosa. Bahan pengikat yang digunakan dalam formula tablet hisap
yaitu gelatin atau tragakan untuk menghasilkan efek demulsen yang
menyenangkan di mulut. Oleh karena waktu hancur yang diharapkan
dari tablet hisap dapat berlangsung lama maka bahan penghancur
dalam formula tablet hisap tidak dibutuhkan. Bahan lubrikan sebaiknya
dipilih yang tidak larut dalam air untuk membantu memperpanjang
waktu hancur tablet. Bahan pemanis yang disarankan yaitu sukrosa
dan manitol Bentuk tablet hisap akan lebih menyenangkan apabila
sisi-sisi tablet ini tidak tajam dan dibuat sepipih mungkin.
Ringkasan formula tablet hisap yaitu sebagai berikut :
Zat khasiat (anestesi lokal, antibiotika ,antiseptika)
Bahan pengisi (laktosa)
Bahan pengikat (tragakan, gelatin)
Bahan lubrikan (talkum)
Bahan pemanis (manitol, sukrosa)
Soal Latihan
1. Tuliskan persyaratan obat yang dibuat menjadi tablet kunyah
beserta desain formulanya.
2. Uraikan faktor kritis dalam formulasi tablet effervescent
3. Buatlah rancangan formula serta proses manufaktur tablet hisap,
195Tablet Salut
BAB 8
TABLET SALUT
_____________________________________
Mahasiswa memahami dan mampu menjelaskan tentang:
1. Konsep formulasi dan proses pembuatan tablet salut yang meliputi
salut gula dan lapis tipis
2. Permasalahan dan teknik untuk mengatasinya.
A. Pendahuluan
Tablet merupakan bentuk sediaan yang paling populer apabila
diberikan pada pasien, proporsi yang lebih besar dari tablet yang
dihasilkan yaitu film coating atau salut lapis tipis. Dengan kesadaran
keinginan untuk sehat, kemanan dan permasalahan lingkungan, film
coating meruakan proses yang secara rutin digunakan dalam penyiapan
sediaan farmasi padat (solid dosage form). Kesuksesan dalam proses
penyalutan (coating) tablet ditentukan oleh 3 faktor yaitu : formulasi dari
sitem penyalutan, proses penyalutan dan tablet inti.
Bahan yang digunakan untuk penyalutan sebagian besar dapat
terdiri dari sukrosa (lapisan gula), polimer pembentuk film yang larut
dalam air (lapisan film) atau zat yang larut dalam usus namun tidak
hancur pada lambung (lapisan enterik). Jenis lapisan ini semua dapat
diaplikasikan pada proses menggunakan panci atau fluid-bed; teknik
penyalutan kompresi cocok untuk salut gula dan enterik, namun tidak
untuk salut film.
1. Kegunaan tablet salut.
Penggunaan dari penyalutan tablet, yang merupakan tahapan
tambahan dalam proses manufaktur, meningkatkan biaya produk. Oleh
sebab itu, keputusan dalam penyalutan tablet biasanya berdasarkan
pada satu atau lebih tujuan sebagai berikut :
196
a. Untuk menutupi rasa, bau, warna dari obat.
b. Untuk menyediakan perlindungan fisik dan kimia dari obat.
c. Untuk mengontrol pelepasan obat dari tablet.
d. Untuk melindungi obat dari lingkungan asam di lambung dengan
suatu penyalutan enterik yang tahan terhadap asam.
e. Untuk memesukkan obat lain atau formula tambahan dalam
penyalutan untuk menghindari inkompatibilitas kimia atau untuk
menyediakan rangkaian pelepasan obat.
f. Untuk memperbaiki tampilan farmasetik dengan menggunakan
warna khusus dan mencolok.
2. Jenis penyalutan yang digunakan pada industri farmasi
Berikut yaitu berbagai jenis penyalutan yang lazim dilakukan di
Industri Farmasi:
a. Penyalutan dengan lapisan gula (sugar coating)
b. Penyalutan lapisan tipis menggunakan polimer baik untuk tujuan
enterik atau non enterik (film coating)
c. Penyalutan secara kompresi (compression coating)
Metode ini jarang digunakan untuk produk baru. Peralatan
kompresi sangat komplek dan membutuhkan skill untuk set up
dalam upaya menghasilkan produk dengan kualitas tinggi.
d. Enkapsulasi
Metode ini menggunakan kapsul keras dan lunak. Mikro
enkapsulasi dapat digunakan sebagai prosedur penyalutan.
Secara umum tablet salut gula kelihatan halus, bundar pada
pinggirannya dan permukaan yang mengkilap. Sedangkan untuk tablet
salut lapis tipis bentuk tablet intinya masih jelas kelihatan. Bentuk tablet
ini dapat dilihat pada gambar berikut.
197Tablet Salut
A B
Gambar 8.1 Bentuk tablet salut gula (A) dan salut lapis tipis (B)
B. Penyalutan Gula (Sugar Coating)
Proses farmasetik dari penyalutan gula masih digunakan secara
luas dalam teknologi praktis. Berbeda dengan penyalutan lapis
tipis, penyalutan gula masih menggunakan proses beberapa tahap
(multiprocess step). Proses penyalutan gula lebih butuh pekerjaan yang
intensif daripada penyalutan lapis tipis dan prosesnya memerlukan
operator yang memiliki keahlian lebih.
Dalam peralatan penyalutan gula yang cocok, tablet inti dikerjakan
secara berurutan dengan larutan sukrosa, yang mana tergantung pada
tahapan penyalutan dapat tercapai yang memungkinkan mengandung
bahan fungsional lainnya seperti pengisi, pewarna dan lain sebagainya.
Bahan penyalut dibentuk oleh adanya pemindahan medium penyalut
dari satu tablet ke yang lainnya. Biasanya suatu aplikasi cairan tunggal
akan dibuat yang akan dapat disebarkan ke seluruh tablet menggunakan
kemampuan pencampuran dari peralatan tertentu. Pada kondisi ini,
pengeringan biasanya dalam bentuk udara panas akan digunakan
untuk proses pengeringan. Seluruh siklus kemudian akan berturut-turut
diulang. Dallam hal ini, penyalutan gula berbeda dengan penyalutan
lapis tipis yang mana dalam proses ini masingmasing tablet melewati
suatu zona aplikasi yang dilakukan dengan cepat dan pengeringan
terus menerus.
198
Secara umum keuntungan dari penyalutan gula yaitu sebagai
berikut:
a. Menggunakan bahan baku yang murah dan mudah
didapatkan.
b. Konstituen bahan baku secara luas diterima dan tidak
bermasalah dalam peraturan perundang-undangan.
c. Tidak ada peralatan yang rumit atau servis yang dibutuhkan.
d. Proses ini mampu dikendalikan dan dokumentasikan untuk
memenuhi standar CPOB yang modern.
e. Peralatan yang sederhana dan bahan bauk tersedia dengan
cepat membuat penyalutan gula merupakan suatu metode
penyalutan pada negara berkembang.
f. Proses penyalutan gula umumnya tidak sama kritisnya
dengan penyalutan lapis tipis; prosedur pemulihan kembali
masih dapat dilakukan.
g. Untuk iklim dengan tingkat kelembaban yang tinggi, proses
penyalutan gula umumnya memiliki keuntungan lebih stabil
dibandingkan dengan penyalutan lapis tipis
h. Hasilnya lebih menarik dan lebih disenangi oleh konsumen
i. Tablet inti secara umumnya lebih lembut dibandingkan
dengan yang diharapkan pada penyalutan lapis tipis terutama
untuk lapisan penyalutan yang berair.
Sedangkan secara khusus proses penyalutan gula memberikan
keuntungan sebagai berikut :
a. Melindungi dari oksigen yang ada pada atmosfer.
b. Melindungi dari lembab
c. Menutupi bau yang tidak enak
d. Menutupi dari rasa yang tidak enak
e. Meningkatkan penampilan
199Tablet Salut
Sedangkan kerugian dari proses penyalutan gula yaitu :
a. Dibutuhkan waktu yang lama dalam proses pembuatan
b. Meningkatkan ukuran dan bobot tablet
Proses salut gula disebut juga dengan proses multistage karena
melibatkan 6 proses yang terpisah yaitu :
1. Sealing (waterproofing)
Proses ini bertujuan untuk melindungi tablet inti terhadap
kemungkinan penetrasi kelembaban (uap air) selama proses penyalutan.
Proses ini menggunakan satu atau lebih lapisan bahan polimer yang
tidak dapat ditembus oleh air (impermeable) dalam bentuk semprotan
menggunakan pelarut organik seperti shellac, selulosa asetat ftalat dan
polivinil asetat ftalat atau polimer sintetis, seperti selulosa asetat flalat
(CAP) yang akan melindungi tablet inti dari lembab dan meningkatkan
waktu paro eliminasinya. Shellac merupakan penutup yang efektif, tapi
waktu disintegrasi dan waktu larut tablet cenderung bertambah bila
tablet menua karena polimerisasi shellac. Zein, suatu derivat protein
jagung yang larut dalam alkohol juga digunakan sebagai zat penutup.
Bahan-bahan ini dilarutkan dalam pelarut organik dengan konsentrasi
15 – 30 %.
Lapisan gula yaitu formulasi berair yang memungkinkan air
menembus langsung ke inti tablet dan berpotensi mempengaruhi
stabilitas produk dan mungkin menyebabkan disintegrasi tablet
prematur.
2. Pelapisan dasar (subcoating)
Pelapisan dasar digunakan untuk membulatkan tepi tablet dan
meningkatkan ukuran tablet. Penyalutan gula dapat meningkatkan
berat tablet 50 – 100 %. Formulasi subcoating mengandung bahan
pengisi dengan konsentrasi tinggi seperti; talkum, kalsium karbonat,
kalsium sulfat, kaolin dan titanium dioksida. Selain bahan pengisi juga
200
ada bahan pembentuk lapis tipis seperti akasia, gelatin, turunan selulosa
yang berfungsi untuk meningkatkan kekuatan struktur penyalut.
Lapisan dasar dipakai berturut-turut dengan cara yang sama
sampai tepi tablet tertutup dan hilang, ketebalan yang diinginkan
tercapai. Untuk proses penyemprotan, suatu suspensi pelapis dasar yang
mengandung pengikat dan bubuk yang tidak dapat larut disemprotkan
secara berselang waktu ke tumpukan tablet
Ada 2 pendekatan utama dalam proses subcoating yaitu:
a. Teknik laminasi
Proses laminasi merupakan penambahan larutan bahan pengikat
dan serbuk bergantian. Prinsip dari proses ini yaitu sejumlah
volume larutan pengikat digunakan untuk melapisi inti dalam
panci penyalut. Setelah menyebar, serbuk ditaburkan ke dalam
panci sampai merata dan selanjutnya dilakukan pengeringan.
Proses pengeringan udara perlu dikontrol dengan hati-hati agar
tidak terjadi penguapan air yang terlalu cepat. Tujuannya membuat
lapisan yang halus sehingga mengurangi waktu penghalusan
pada tahap akhir penyalutan. Pengeringan yang cepat akan
menghasilkan permukaan yang tidak rata. Tingkat penguapan
yang terlalu rendah dengan waktu proses yang panjang dapat
menimbulkan tablet inti melengket sesamanya. Berikut yaitu
contoh formula yang digunakan dalam proses laminasi pada
proses subcoating.
201Tablet Salut
Tabel 8.1 Formulasi yang digunakan pada proses
lamination subcoating (sumber: Cole, 2002)
Fungsi Bahan Jumlah
Larutan pengikat (%w/w) Gelatin 3,3 8,0
Gum akasia 8,7 8,0
Sukrosa 55,3 45,0
Air suling 32,7 41,0
Serbuk (%w/w) Kalsium karbonat 40,0 -
Titanium dioksida 5,0 1,0
Talkum 25,0 61,0
Sukrosa (diserbuk) 28,0 38,0
Gum akasia 2,0 -
b. Formulasi suspensi subcoating
Suspensi hasil proses subcoating dihasilkan dari kombinasi
formulasi pengikat dan serbuk yang digunakan dalam teknik
laminasi tradisional. Teknik ini mengurangi kompleksitas proses.
Berikut yaitu contoh formula suspensi pada proses subcoating.
Tabel 8.2 Formulasi suspensi subcoating (sumber: Cole, 2002)
Fungsi Bahan Jumlah
Komponen suspensi (%w/w) Sukrosa 40,0 58,25
Kalsium karbonat 20,0 18,45
Talkum 12,0 -
Titanium
dioksida
1,0 1,0
Gum akasia 2,0 -
Gelatin - 0,01
Air suling 25,0 22,29
202
3. Penghalusan (smoothing)
Tujuan tahap ini yaitu untuk menutupi dan mengisi cacat
pada permukaan tablet yang disebabkan oleh tahap pelapisan dasar.
Untuk memproduksi produk salut gula berkualitas tinggi, sangat
penting diperhatikan kehalusan permukaan lapisan dan bebas dari
penyimpangan sebelum pemberian pelapis warna. Smoothing
biasanya dicapai dengan penggunaan sirup sukrosa 70%, yang sering
mengandung titanium dioksida sebagai bahan tak tembus cahaya
(opacifier) atau pemutih.
4. Pewarnaan
Pewarnaan yaitu langkah terpenting dalam proses salut gula
karena memiliki dampak visual langsung. Penggunaan pewarna yang
tepat, yaitu: (1) terlarut (larut dalam air) atau (2) terdispersi (pigmen yang
tidak larut dalam air) pada sirup pelapis, memungkinkan tercapainya
warna yang diinginkan. Pewarna encer dapat ditambahkan pada tahap
ini, untuk memberikan warna dasar yang mempermudah keseragaman
pewarnaan pada tahap-tahap selanjutnya. Umumnya pewarna tidak
ditambahkan sampai tablet cukup halus. Pemakaian pewarna yang
terlalu dini ke tablet yang kasar akan menghasilkan penampilan tablet
yang berbintik-bintik pada pelapisan akhir. Pada tahap akhir dapat
dipakai sedikit sirup pelapis yang jernih.
5. Pengkilapan (polishing)
Karena tablet yang baru disalut terlihat kusam, perlu untuk
memolesnya untuk mencapai permukaan yang halus dari tablet salut
gula. Sistem pengkilapan meliputi: (1) Larutan lilin dengan pelarut
organik (lilin lebah, lilin carnauba); (2) lilin dalam pelarut alkohol; (3)
campuran serbuk halus lilin kering; dan (4) larutan alkohol berbagai
macam shellac.
203Tablet Salut
6. Printing
Proses ini merupakan pemberian tinta branding farmasi ke
permukaan tablet yang disalut.
Ada 3 proses yang dilakukan dalam proses salut gula yaitu:
1. Penggunaan volume cairan penyalut yang mencukupi untuk
melapisi tablet
2. Distribusi cairan penyalut melintasi permukaan masing-masing
tablet
3. Pengeringan cairan penyalut pada saat tercapainya distribusi yang
merata.
Di masa lalu, cairan penyalut gula diaplikasikan secara manual,
sekarang teknik penyalutan menggunakan teknik penyemprotan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keseragaman lapisan dalam proses
pelapisan gula yaitu :
1. Bahan pelapis tetap cair sampai menyebar ke permukaan
setiap tablet dalam batch
2. Menggunakan cairan penyalut yang mencukupi untuk
menjamin setiap tablet dalam batch dapat terbasahi
3. Panci penyalut menunjukkan karakteristik penyalutan yang
baik, sehingga menghindari daerah yang tidak terjangkau
dalam proses penyalutan.
Permasalahan yang muncul pada salut gula
1. Masalah pada ketahanan tablet inti
Tablet yang pecah tidak hanya menjadi masalah karena tablet yang
rusak tidak akan laku, akan tetapi bagian pecahan bisa menempel
ke permukaan tablet yang tidak rusak.
2. Permasalahan kualitas pada produk akhir
a. Chipping (sumbing)
Lapisan penyalut yang sumbing (chipping) disebabkan oleh
kerapuhan yang meningkat dengan penggunaan pengisi
204
dan pigmen yang tidak larut secara berlebihan atau jumlah
polimer yang rendah dan penambahan polimer yang sedikit.
Gambar 8.2 Sumbing pada tablet salut gula (sumber:
http://slideplayer.com/slide/1429956)
b. Cracking (retak)
Lapisan penyalut yang retak (cracking) disebabkan oleh
ekspansi dihasilkan dari penyerapan lembab atau disebabkan
oleh relaksasi ketegangan dari tablet inti setelah kompaksi.
Gambar 8.3 Retak pada tabet salut gula (sumber: Vecchio, slide persentasi)
c. Penyalut yang tidak kering
Penyalut yang tidak kering disebabkan oleh ketidak mampuan
untuk mengering apabila kadar gula lebih dari 5 %.
d. Lengket atau menjadi berganda (twinning or build of multiple)
Formulasi salut gula sifat dasarnya sangat lengket, terutama
saat mulai mengering, sehingga tablet yang berdekatan
205Tablet Salut
akan lengket sesamanya. Tablet berhimpitan membentuk
lapisan berganda akan menjadi masalah saat tablet yang
disalut memiliki permukaan datar yang bisa dengan mudah
bersentuhan satu sama lain. Permasalahan lainnya pada
tablet dosis tinggi berbentuk kapsul yang memiliki dinding
pinggiran tablet yang luas. Pemilihan yang tepat dari desain
punch secara efektif dapat meminimalkan masalah ini.
Gambar 8.4 Lengket dan membentuk lapis ganda pada tablet salut gula
(sumber: https://www.slideshare.net/shafiqueaci/presentation-for-coating)
e. Distribusi warna yang tidak merata
Warna tidak merata disebabkan oleh distribusi yang tidak
baik dari cairan penyalut, migrasi warna, pengeringan
berlebihan saat proses warna. Selama proses penyalutan bias
jadi disebabkan oleh pencampuran yang tidak mencukupi,
pola penyemprotan yang tidak merata, penyalut yang tidak
mencukupi dan tidak meratanya lapisan sub coating.
206
Gambar 8.5 Distribusi warna yang tidak merata pada tablet salut gula
(sumber: https://www.slideshare.net/suraj_mindgamer/tablet-defects)
f. Berkabut (blooming) dan berkeringat (sweating)
Sisa lembab pada tahap akhir pembuatan tablet salut gula
seringkali menjadi masalah selama periode waktu tertentu,
kelembapan ini dapat menyebar dan mempengaruhi kualitas
produk. Pada tingkat kelembaban sedang menyebabkan
pengkilapan produk tampak berkabut, fenomena yang
sering disebut blooming. Pada tingkat kelembaban yang
lebih tinggi, kelembaban mungkin tampak seperti butiran
keringat pada permukaan tablet, sebuah fenomena yang
sering disebut berkeringat (sweating).
C. Penyalutan Lapis Tipis
Penyalutan lapis tipis merupakan pendekatan modern untuk
penyalutan tablet, kapsul atau pellet dengan melapisi tablet dengan
lapisan tipis dari material polimer. Deskripsi dari tablet yaitu masih
dapat dengan jelas kelihatan tablet intinya. Proses dari penyalutan lapis
tipis ini yaitu satu tahap (single stage process), yang mana memerlukan
penyemprotan (spraying) suatu larutan penyalut yang terdiri dari
sebagai berikut :
1. Polimer
2. Pelarut
3. Plasticizer
4. Pewarna
207Tablet Salut
Larutan disemprotkan kedalam alat penyalutan yang berisi tablet
yang diputar yang diikuti dengan proses pengeringan, yang bertujuan
untuk menghilangkan pelarut dari material lapisan tipis penyalut yang
ada disekitar masing-masing tablet. Secara umum tablet salut lapis tipis
memberikan keuntungan dibandingkan dengan tablet salut gula yaitu
menghasilkan tablet dengan satu tahapan proses sehingga memberikan
waktu yang lebih pendek. Proses memungkinkan lapisan fungsional
dimasukkan kedalam bentuk sediaan. Sedangkan keterbatasannya
yaitu ada implikasi lingkungan dan keamanan dari penggunaan
pelarut organik dan juga biaya yang lebih mahal dari pelarut organik
ini .
1. Keuntungan penyalutan lapis tipis
a. Menghemat waktu
b. Menghemat bahan
c. Menghemat tenaga kerja (man – hours)
d. Mengurangi biaya transpor, karena bobot lebih ringan
e. Tidak diperlukan salut segel (sealing coats) karena bersifat
menolak air
f. Nama dan garis tablet inti masih terlihat
g. Dapat digunakan alat penyalut standar, sehingga tidak
dibutuhkan peralatan baru
h. Elegansi penampilan tanpa peningkatan berarti volume berat
i. Karena ukuran tidak banyak berubah, kemudahan ditelan
hampir sama dengan tablet inti
j. Licin seperti tablet salut gula
k. Dapat memberikan bermacam perlindungan
l. Hasil penyalutan cukup keras dan tahan terhadap pengaruh
transportasi (transit)
m. Stabil terhadap cahaya, udara, panas dan uap
n. Lapisan penyalut tidak larut air, tidak toksik dan tidak
tersatukan (inkompatibilitas) relatif kecil
208
o. Lapis penyalut tidak berbau dan tidak berasa
p. Teknik penyalutan lapis tipis mudah dilakukan
q. Tidak menghasilkan debu selama penyalutan
r. Waktu hancur tablet relatif tidak meningkat karena disalut
lapis tipis
s. Dibutuhkan alat yang lebih sedikit dibandingkan dengan
peralatan untuk salut gula
t. Tempat penyimpanan (penampungan) digunakan lebih
efisien
u. Tempat yang dibutuhkan untuk pengemasan berkurang
2. Kerugian penyalutan lapis tipis
a. Zat yang terdapat dalam tablet inti, dapat mengabsorpsi
pelarut penyalut, sehingga tablet inti berubah dan melunak
atau bahkan sampai hancur karena terjadinya ekspansi
b. Jika obat berasa pahit, dan larut dalam penyalut dan
berpenetrasi melewati lapis tipis penyalut, rasa pahit akan
segera terasa saat tablet akan ditelan
c. Pelarut atau konstituen lain dari formulasi larutan penyalut
kemungkinan tidak tersatukan dengan bahan. Dalam hal
ini tablet tidak boleh disalut dengan polimer yang akan
digunakan.
d. Jika bekerja dengan skala batch yang besar, cara penuangan
lapisan penyalut kepada massa tablet inti yang disalut akan
menimbulkan bermacam resiko, oleh sebab itu proses
penyalutan ini sebaiknya menggunakan alat penyemprot
(sprayer)
3. Komponen larutan penyalut
a. Polimer
Polimer berfungsi memberikan struktur utama, dan sifat kimia dan
fisik dasar penyalutan. Contoh: Eterselulosa (HPMC, Etil selulosa, CAP),
209Tablet Salut
Vinil Polimer (PVAP, PVP) dan asam metakrilat Co-polimer. Sifat-sifat
yang harus dimiliki polimer yaitu ; (1) Secara fisiologis kompatibel; (2)
Membentuk lapis tipis yang lengket dengan kualitas yang seragam; dan
(3) Larutan polimer jangan terlalu kental.
b. Zat pemlastis (Plastisizer)
Plastizizer berfungsi untuk mengubah sifat dasar polimer.
Plastisizer mempunyai afinitas yang tinggi untuk polimer ; interaksinya
mengurangi ikatan antara molekul polimer yang berdekatan. Beberapa
bahan yang sering digunakan sebagai plastisizer yaitu : PEG, propilen
glikol, triasetin, gliserol. Sifat yang dimiliki oleh pemlastis yaitu : (1)
Membantu meningkatkan elastisitas dari lapis tipis dan mengurangi
lengket; dan (2) Plastisizer lipofilik hanya digunakan sedikit karena film
akan menjadi terlalu lemah dan menolak air.
c. Surfaktan
Surfaktan berfungsi untuk meningkatkan proses pembasahan dan
sifat penyebaran, misalnya Tween dan alkohol lemah tersulfonasi.
d. Zat warna
Zat warna berfungsi untuk meningkatkan penampilan produk
dengan menutupi penampilan substrat, memberikan identifikasi
produk (warna), melindungi formula inti dari cahaya dan lembab. Sifat-
sifat yang dimiliki oleh pewarna yaitu : (1) Hanya boleh digunakan zat
warna yang diizinkan untuk obat secara oral; (2) Misalnya zat warna larut
air (kadang-kadang berfungsi sebagai pigmen dalam pelarut lake); dan
(3) Kelebihan pigmen akan mengurangi keindahan penampilan lapis
tipis penyalut
e. Pigmen putih
Pigmen putih berfungsi menghasilkan opasitas dan penampilan
yang menarik, misalnya titan dioksida
f. Pemanis dan aroma
Pemanis dan aroma berfungsi untuk meningkatkan rasa dan bau,
misalnya, sukaril, sakharin, siklamat, vanilla dan sebagainya
210
g. Pelarut
Pelarut berfungsi memberikan medium cairan untuk formula
salut yang memungkinkan pemompaan dan penyemprotan serta
meningkatkan pengeringan dan pembentukan film. Pelarut yang
sering digunakan yaitu campuran alkohol dengan metilen klorida
atau dengan air. Karena pertimbangan keamanan, biaya dan polusi
lingkungan, air merupakan pelarut yang paling sering digunakan untuk
film coating. Sifat yang dimiliki oleh pelarut yaitu : (1) Pelarut bukan
air harus mudah menguap; (2) Tidak boleh menggunakan pelarut yang
akan menyebabkan ketidakteraturan lapisan tipis penyalut; (3) Air
merupakan pilihan utama karena tidak membahayakan lingkungan;
dan (4) Pelarut air dan non air merupakan pembawa untuk dasar film.
h. Bahan pengkilap
Bahan pengkilap menyebabkan hasil penyalutan berkilap,
misalnya, sera, setil alkohol dan lemak-lemak padat
4. Material polimer untuk penyalutan
Secara umum material polimer yang digunakan untuk penyalutan
dikategorikan atas 2 yaitu material polimer non enterik dan material
polimer enterik. Kedua jenis ini memiliki fungsi yang berbeda.
a. Material polimer non enterik
Fungsi dari material ini yaitu untuk memperlama pelepasan
(slowing drug release) dari obat. Proses ini terjadi dengan mekanisme
sebagai berikut: (1) Polimer mengembang dan membentuk suatu
membran semi permeabel; (2) Obat berdifusi secara lambat melalui
lapisan penyalut; dan (3) Tebal dan tipisnya lapisan penyalut merupakan
faktor kritis. Semakin tipis lapisannya maka pelepasan obat semakin
cepat dan sebaliknya semakin tebal lapisan maka obat akan semakin
lama untuk dilepaskan. Contoh dari material polimer ini yaitu : (1) Etil
selulosa; (2) Hidroksipropil Matilselulosa; dan (3) Eudragit® RS 30 D
Berikut yaitu mekanisme pelepasan obat dari sistem penyalutan
non enterik: (1) Lapisan penyalut akan mengembang pada saat
211Tablet Salut
kontak dengan cairan saluran cerna (air); (2) Cairan saluran cerna (air)
berpenetrasi melalui lapisan penyalut masuk kedalam tablet inti; (3) Obat
larut dalam cairan saluran cerna (air); (4) Obat berdifusi keluar melewati
lapisan penyalut; dan (5) Tebal dan tipisnya lapisan penyalut merupakan
faktor kritis, semakin tebal lapisan penyalut maka semakin lama obat
terlepas dari sediaan. Mekanisme pelepasan obat dari material polimer
tablet salut non enterik yaitu sebagai berikut :
Gambar 8.6 Mekanisme pelepsan obat dari material polimer penyalutan non enterik.
b. Material polimer enterik
Fungsi dari material polimer enterik yang terdapat pada lapisan
penyalut ini yaitu untuk menunda pelepasan obat karena target
pelepasan obat ini yaitu pada usus atau kolon. Material
polimer yang ada pada lapisan penyalut akan terlepas tergantung dari
kemampuan ionisasi dari gugus fungsional, yang meliputi: (1) Kelarutan
material polimer tergantung dari pH; dan (2) Material polimer tidak larut
pada pH rendah, tetapi akan larut pada pH yang lebih tinggi. Contoh
dari material polimer ini yaitu : selulosa asetat ftalat (CAP) dan polivinil
asetat ftalat (PVAP)
212
Berikut yaitu mekanisme pelepasan obat dari material polimer
dari tablet salut enterik.
Gambar 8.7 Mekanisme pelepasan obat dari material polimer tablet salut enterik
Proses penyalutan enterik dilakukan dengan berbagai alasan yaitu :
a. Obat yang dimungkinkan mengalami peruraian (degradasi)
pada pH asam
b. Obat yang dimungkinkan mengalami peruraian (degradasi)
yang diakibatkan enzim yang ada pada lambung
c. Obat yang dimungkinkan dapat menimbulkan iritasi pada
mukosa lambung
Berikut yaitu gambar granul yang disalut enterik.
Gambar 8.8 Contoh granul yang dilakukan salut enterik (sumber: www.dexilant.com)
213Tablet Salut
5. Proses Penyalutan
Tahapan yang dilakukan dalam pembuatan film coating yaitu
sebagai berikut :
a. Penyiapan formulasi film coating
b. Penempatan tablet inti dalam alat coating berikut dilakukan
pemanasan awal untuk mempercepat penguapan pelarut
c. Penyemprotan material polimer dengan teknik spray
atomization
d. Pemeliharaan produk yang disalut dengan pengeringan
sehingga terjadi penyatuan penyalut secara bertahap
Gambar peralatan yang digunakan dalam proses penyalutan tablet
yaitu sebagai berikut:
a. Panci penyalut biasa (conventional coating pans), digunakan untuk
proses tablet salut gula dan lapis tipis. Alat ini dapat dilihat pada
gambar berikut.
Gambar 8.9 Proses penyalutan menggunakan conventional coating pans
(sumber: https://www.slideshare.net/ceutics1315/tabletcoating)
b. Panci penyalut yang berlobang (perforated coating pans),
digunakan untuk penyalutan lapis tipis dan penyalutan kapsul
214
Gambar 8.10 Proses penyalutan menggunakan perforated coating pans
(sumber: https://www.freund-vector.com/technology/coating-pan)
c. Fluidized bed coating, digunakan untuk penyalutan lapis tipis pellet
dan granul. Proses ini dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 8.11 Proses penyalutan dengan fluid bed coating (sumber:https://
www.colorcon.com/products formulation/process/fluid-bed-coating)
Secara umum penyalutan lapis tipis lebih disenangi dibandingkan
dengan penyalutan gula dengan alasan sebagaimana tabel 8.3.
215Tablet Salut
Tabel 8.3 Perbedaan antara tablet salut lapis tipis dan salut gula
Salut lapis tipis (film coating) Salut gula (sugar coating)
Penampilan
tablet
a. Mempertahankan
bentuk inti tablet
b. Hanya sedikit meningkatkan
bobot tablet sekitar2 – 3%
akibat penyalutan
c. Dimungkinkan adanya logo
a. Bulat dan mengkilap
b. Bobot tablet naik lebih
tinggi 30 – 50 % yang
disebabkan material
penyalut.
c. Dimungkinkan adanya logo
Proses a. Dapat diotomatisasi, misalnya
Accela Cota
b. Mudah dilakukan training
terhadap operator
c. Proses dilakukan satu tahap
d. Mudah diadaptasi untuk
mengontrol pelepasan
yang memungkinkan untuk
penyalutan fungsional
a. Sulit untuk diotomatisasi
dikarenakan mesin
penyalut tradisional
b. Dibutuhkan training
khusus untuk operator
mesin
c. Prosesnya beberapa tahap
(multistage process)
d. Tidak dapat digunakan
untuk mengontrol
kecepatan pelepasan selain
dari penyalutan enterik
6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Salut Lapis Tipis
(Film Coating)
Untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas
(visual dan fungsional) produk akhir penyalutan dibutuhkan untuk
menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh yang meliputi:
a. Interaksi antara bahan inti (substrat) dan lapisan yang
diaplikasikan
b. Proses pengeringan
c. Keseragaman distribusi lapisan
Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi antara substrat dan
lapisan yaitu :
a. Tablet inti
Bahan berpengaruh pada pembasahan oleh cairan penyalut
216
dan adhesi dari film yang kering. Porositas berpengaruh pada adhesi
film kering sedangkan permukaan yang kasar berpengaruh pada
pembasahan cairan penyalut, penyebaran cairan penyalut melintasi
permukaan dan kekasaran lapisan.
b. Cairan penyalut
Bahan padatan berpengaruh pada kekasaran lapisan kering dan
viskositas cairan penyalut. Viskositas berpengaruh pada penyebaran
cairan penyalut pada permukaan substrat dan penggabungan
tetesan cairan penyalut menjadi film kontinu. Tegangan permukaan
berpengaruh pada pembasahan permukaan substrat oleh cairan
penyalut, penyebaran cairan penyalut pada permukaan substrat dan
penggabungan tetesan cairan penyalut menjadi film kontinu.
c. Proses pengeringan
Tingkat pengeringan berpengaruh pada kemampuan cairan
penyalut pada saat kontak dengan permukaan substrat dan struktur
penyalut kering. Panas berpengaruh pada peningkatan tegangan
internal dalam film (mempengaruhi adhesi dan kohesi) dan sifat mekanis
penyalut (berpengaruh pada kerusakan penyalut).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengeringan yaitu :
a. Peralatan semprot
Desain mulut penyemprot (nozle) berpengaruh pada
kehalusan pengabutan cairan penyalut dan kecepatan penguapan
pelarut. Jumlah penyemprot yang digunakan berpengaruh
pada keseragaman distribusi cairan penyalut dan menghindari
pembasahan berlebihan yang terlokalisasi.
b. Kondisi pengeringan
Aliran udara, suhu dan kelembaban berpengaruh pada
kecepatan pelarut hilang dari cairan penyalut dan suhu produk.
c. Kecepatan penyemprotan
Desain nozel, jumlah penyemprot dan sistem pemompaan
berpengaruh pada kecepatan pelarut hilang dari cairan penyalut
dan suhu produk.
217Tablet Salut
d. Kandungan padat cairan penyalut
Konsentrasi cairan penyalut berpengaruh pada kualitas
pelarut yang harus hilang dari cairan penyalut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keseragaman distribusi
penyalut yaitu :
a. Peralatan penyemprot
Desain nozel berpengaruh pada kehalusan pengabutan
cairan penyalut dan area cairan penyalut disemprotkan.
Jumlah penyemprot berpengaruh pada area lapisan penyalut
yang disemprotkan dan lama proses penyalutan.
b. Kondisi pengeringan
Aliran udara, suhu dan kelembaban berpengaruh pada
efisiensi proses pengeringan, misalnya jumlah penyalut yang
berakhir pada material inti.
c. Kecepatan semprot
Kecepatan penyemprotan berpengaruh pada lamanya proses
penyalutan, jumlah cairan penyalut yang diendapkan pada
substrat pada masing - masing melewati zona semprotan dan
jumlah lapisan yang hilang selama proses berlangsung.
d. Kandungan padatan cairan penyalut
Kandungan padatan pada cairan penyalut berpengaruh
pada lamanya proses penyalutan, jumlah cairan penyalut
yang diendapkan pada substrat pada masing-masing zona
penyemprotan yang terlewati dan kehalusan penyalut yang
telah kering.
e. Kecepatan putaran panci penyalut atau fluidasi udara
Kecepatan putaran panci dan fluidasi udara berpengaruh
pada keseragaman pencampuran, jumlah cairan penyalut
yang diendapkan pada substrat pada masing-masing zona
yang terlewati dan kehilangan penyalut yang disebabkan
pengaruh pengurangan.
218
7. Komponen Utama yang Terlibat dalam Penyalutan Tablet
Ada tiga komponen utama yang terlibat dalam penyalutan tablet,
yaitu:
a. Sifat-sifat dari tablet
b. Proses penyalutan, meliputi: (1) Peralatan penyalut (coating
equipment); (2) Parameter dari proses penyalutan; (3)
Fasilitas dan peralatan tambahan; dan (4) Otomatisasi proses
penyalutan
c. Komposisi atau formula penyalut
a. Sifat-sifat dari Tablet
Keuntungan dari penyalutan lapis tipis bukan hanya sekedar yang
terlihat pada produk yang meningkatkan penampilannya saja tetapi
harus tahan terhadap tekanan mekanik serta suhu dan kelembaban yang
tinggi. Oleh sebab itu, tablet inti harus dirancang dengan menggunakan
kriteria yang lebih ketat dibandingkan dengan tablet yang tidak disalut
untuk menjamin produk memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan
tekanan tambahan yang terjadi pada proses penyalutan lapis tipis.
Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh tablet inti yaitu sebagai berikut:
i). Tablet harus tahan terhadap pengikisan dan bagian yang
sumbing yang disebabkan oleh benturan yang kuat antar
tablet atau dinding peralatan penyalut selama proses
penyalutan
ii). Permukaan tablet yang rapuh, melunak pada saat panas atau
dipengaruhi oleh komposisi penyalut cenderung menjadi
kasar dalam tahap awal proses penyalutan selama proses
penyalutan
iii). Penyalut lapis tipis menutupi semua permukaan, sehingga
ketidaksempurnaan permukaan yang disalut tidak dapat
dihilangkan. Kualitas dari penyalut lapis tipis yang digunakan
pada tablet kompresi biasanya sangat tergantung pada
kualitas tablet inti dibandingkan dengan kualitas kapan
219Tablet Salut
penyalutan gula dilakukan.
iv). Selain permukaan yang halus, bentuk fisik dari tablet juga
penting. Bentuk yang ideal untuk penyalutan yaitu bundar,
yang memungkinkan tablet untuk menggelinding dengan
bebas pada panci penyalut dengan kontak antar tablet
yang minimal. Bentuk yang paling tidak baik yaitu bentuk
persegi, yang mana dalam kasus ini bahan penyalut akan
mengumpul antara permukaan untuk menempel sesamanya.
Dengan demikian tablet yang akan disalut harus memiliki
permukaan yang bundar, permukaan yang lebih cembung
dan lebih sedikit ditemukan kesulitan terjadinya aglomerasi
tablet
v). Supaya penyalut lengket pada tablet, komposisi penyalut
harus membasahi permukaan. Sifat permukaan dari tablet
tergantung pada sifat kimia dari bahan yang digunakan
dalam formulasi. Tablet dengan permukaan yang hidrofobik
sulit untuk disalut dengan penyalut dengan bahan dasar air
yang tidak membasahi permukaan.
b. Proses Penyalutan
Prinsip dari penyalutan tablet relatif sederhana, yaitu :
a. Penyalut tablet yang digunakan dari formula penyalut
berputar dengan penggunaan secara bersamaan udara panas
yang berfungsi untuk memudahkan penguapan pelarut.
b. Distribusi dari penyalut dicapai dengan pergerakan baik
secara tegak lurus (panci penyalut) atau vertikal (suspensi
udara) untuk menyemprotkan formula penyalut.
c. Peralatan
Berbagai teknik dapat digunakan untuk memperbaiki keseragaman
penyalutan. Suatu studi membuktikan bahwa jumlah tablet yang disalut
tidak terlalu banyak, peralatan semprot yang banyak, dan optimasi yang
220
baik dari sistem yang tidak menentu akan menghasilkan penyalutan
terbaik.
Untuk menghasilkan film coating yang baik, diperlukan: (1) Formula
tablet inti yang bagus; (2) Formula film coating yang bagus; dan (3)
Mesin coating yang bagus dengan handling udara yang baik. Tablet Inti
yang ideal yaitu : (1) Sedapat mungkin dapat berputar dan bergerak
dengan mudah; (2) Permukaan tablet sferis atau parabola sedapat
mungkin tidak mengandung bagian yang rata; dan (3) Mempunyai
resistensi dan kekerasan yang cukup untuk menahan bantingan selama
proses penyalutan
8. Proses penyalutan
Dinamika dari proses penyalutan dapat digambarkan sebagai
berikut :
Gambar 8.12 Skema Proses Penyalutan
Pembentukan lapisan tipis pada substrat membutuhkan : (1)
Pembentukan ukuran tetes yang sesuai; (2) Kontak permukaan tetesan
dengan substrat yang optimal; (3) Penyebaran dan koalesensi tetesan,
dan terakhir penguapan pelarut; (4) Keseimbangan dan kontrol atau
kecepatan penambahan cairan penyalut dan proses pengeringan; (5)
Keseragaman distribusi cairan penyalut pada permukaan yang disalut;
dan (6) Optimasi kualitas (baik visual maupun fungsional) dari produk
akhir yang disalut. Parameter penting dalam proses penyalutan lapis
tipis yaitu : (1) Temperatur yang masuk (inlet) dan temperatur tempat
penyalut (bed); (2) Kelembaban relatif; (3) Tekanan udara pengabutan
(atomisasi); (4) Kecepatan penyemprotan cairan; (5) Ukuran tetesan; dan
221Tablet Salut
(6) Waktu pengeringan
Variabel kritis selama proses penyalutan lapis tipis yaitu : (1)
Kecepatan penyemprotan; (2) Tekanan udara yang diatomisasi; (3)
Temperatur udara masuk (inlet); (4) Volume udara; (5) Ukuran batch;
(6) Temperatur udara yang dihisap selama penyalutan; (7) Temperatur
produk (ingat produk yang tidak tahan panas); (8) Jenis peralatan; (9)
Cara penyemprotan; (10) Jarak penyemprot pada permukaan tablet/
pellet yang disalut; (11) Lama pengeringan; (12) Efek kelembaban; (13)
Kecepatan perputaran panci penyalut; dan (14) Dimensi alat
9. Permasalahan dalam penyalutan lapis tipis
Permasalahan yang terjadi dalam proses penyalutan lapis tipis
yaitu : (1) Defisiensi tablet inti; (2) Defisiensi formula penyalut; dan (3)
Defisiensi proses penyalutan. Permasalahan yang seringkali terjadi pada
tablet inti biasanya disebabkan oleh: (1) Ukuran dan bentuk tablet; (2)
Kekerasan tablet; (3) Kerapuhan tablet; (4) Kepekaan zat aktif terhadap
lembab; dan (5) Ada atau tidaknya logo.
Berikut yaitu permasalahan yang sering terjadi dalam penyalutan
diantaranya adanya bagian yang sumbing, permukaan yang kasar,
pelengketan dan keretakan pada lapisan penyalut. Massalah ini
dapat dilihat pada gambar berikut.
222
Gambar 8.13 Permasalahan yang terjadi dalam penyalutan tablet: sumbing
pada bagian pinggir (A); permukaan yang disalut kasar (B); lengket setelah
proses penyalutan (C); dan keretakan pada lapisan penyalut (D).
10. Permasalahan Formulasi Coating
Berikut yaitu permasalahan yang seringkali muncul pada
formulasi larutan penyalut diantaranya: (1) Poor colour uniformity; (2)
Logo bridging; (3) Edge spliting; dan (4) Cracking and peeling.
a. Poor colour uniformity
Poor colour uniformity disebabkan oleh penggunaan zat warna
larut yang air, migrasi plastisizer dan dispersi pigmen yang jelek
b. Logo Bridging
Logo bridging disebabkan karena kekurangan dalam sifat mekanik
film (stres internal film tinggi, sifat plastik tidak memadai, adhesi yang
jelek terhadap substrat). Hal ini dapat diatasi dengan cara mengurangi
stress sisa dengan menggunakan polimer dengan bobot molekul rendah,
penggunaan kadar plastisizer yang lebih tinggi dan penggunaan jenis
polimer yang lebih adhesif
c. Edge Spliting
Film tidak cukup mempunyai kekuatan rentang untuk menahan
gaya yang dihasilkan oleh ekspansi inti. Ekspansi inti dapat terjadi karena
223Tablet Salut
panas selama proses pengeringan atau karena absorpsi pelarut film oleh
inti. Pengatasan dilakukan dengan cara menggunakan polimer dengan
bobot molekul tinggi atau dengan menurunkan kadar plastisizer.
d. Cracking and peeling
Cracking and peeling disebabkan oleh faktor kekuatan film yang
rendah, adanya stress sisa yang tinggi dan jeleknya adhesi. Hal ini dapat
diatasi dengan penggunaan polimer yang lebih adhesif dan pemilihan
plastisizer yang lebih baik.
Berikut yaitu gambar permasalahan dalam formula salut lapis tipis.
Gambar 8.14 Permasalahan dalam formula tablet salut
lapis tipis: edge splitting (A); dan cracking (B).
11. Permasalahan dalam penyalutan lapis tipis
Permasalahan yang seringkali muncul dalam proses penyalutan
lapis tipis yaitu sebagai berikut: (1) Picking and sticking; (2) Chipping/
erosi pada pinggiran; (3) Permukaan yang kasar (spray drying dan kulit
jeruk); dan (4) variasi warna antar tablet.
a. Picking dan Sticking
Picking dan sticking merupakan cacat dimana daerah terisolasi dari
film ditarik menjauh dari permukaan saat tablet menempel bersamaan
atau sebagian. Picking tidak terjadi sendiri karena pasti ada tablet lain
menempel yang disebut sticking. Picking dan sticking disebabkan oleh
application rate terlalu besar, volume udara terlalu rendah, temperatur
224
udara terlalu rendah dan rendahnya padatan suspensi penyalut (juga
merupakan permasalahan formulasi).
b. Permukaan yang kasar
Permukaan yang kasar dikategorikan atas: (1) Spray drying
merupakan permukaan tablet yang disalut kasar dan tidak mengkilap;
dan (2) seperti kulit jeruk yaitu permukaan tablet yang disalut kasar
tetapi mengkilap. Permasalahan ini dapat diatasi dengan cara: (1) untuk
spray drying dengan cara pengurangan tekanan atomisasi/penurunan
volume dan suhu udara pengering; dan (2) untuk kulit jeruk dengan cara
meningkatkan tekanan atomisasi
c. Chipping
Chipping atau erosi yang terjadi pada bagian pinggiran tablet
salut disebabkan oleh application rate terlalu rendah, pan speed terlalu
cepat variabel tablet inti (juga massalah tablet inti), rendahnya padatan
suspensi penyalut (juga massalah formulasi penyalut) dan rendahnya
kekuatan film coating (juga massalah formulasi penyalut).
d. Variasi warna antar tablet
Variasi warna antar tablet disebabkan oleh kurangnya
kesempurnaan pencampuran, rendahnya pan speed, padatan suspensi
penyalut terlalu tinggi (juga massalah formulasi penyalut), bentuk tablet
yang sukar (juga massalah tablet inti) dan tingginya friabilita tablet (juga
massalah tablet inti)
225Tablet Salut
Gambar 8.15 Permasalahan dalam proses penyalutan: picking (A); sticking (B);
spray drying (C); kulit jeruk (D); chipping (E) dan variasi warna antar tablet (F).
Soal Latihan
1. Tuliskan tujuan dilakukannya proses penyalutan tablet
2. Uraikan jenis-jenis penyalutan tablet di industri farmasi
3. Tuliskan perbedaan antara tablet salut lapis tipis dengan salut gula
4. Uraikan proses salut gula
5. Buatlah formula umum salut lapis tipis
6. Uraikan penyebab terjadinya picking dan sticking dalam proses
penyalutan lapis tipis dan bagaimana cara mengatasinya
227Teknologi Sediaan Kapsul
BAB 9
TEKNOLOGI SEDIAAN KAPSUL
_____________________________________
Mahasiswa memahami konsep teknologi dan formulasi sediaan kapsul
yang meliputi kapsul cangkang keras dan lunak.
A. Pendahuluan
Kapsul berupa bentuk sediaan padat dengan bahan obat atau
eksipien tertutup dengan suatu cangkang kecil. Cangkang dibuat
dari gelatin, amilum atau bahan lain yang cocok dengan karakteristik
cangkang keras (hard) atau lunak (soft). Kapsul dapat digunakan secara
oral, disebarkan di atas makanan dan berupa dry powder inhalers untuk
penghantaran inhalasi
Gambar 9.1 Kapsul yang disebarkan pada makanan
Gelatin diperoleh dari hidrolisis sebagian (parsial) kolagen dari
kulit, jaringan penyambung dan tulang dari binatang. Gelatin stabil
228
pada udara jika kering, tetapi rentan terhadap dekomposisi mikroba
jika lembab atau dalam larutan. Perbedaan antara kapsul gelatin keras
(Hard Gelatin) dengan kapsul gelatin lunak (Soft Gelatin “Softgels”) dapat
dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 9.1 Perbedaan kapsul gelatin keras dan lunak
Kriteria Kapsul gelatin keras Kapsul gelatin lunak
Cangkang Tidak plastis
Plastis (gliserin,
propilenglikol,
sorbitol)
Isi
Biasanya bahan padat kering
(dimungkinkan matrik cair/
semi padat)
Biasanya cairan
atau suspensi
(dimungkinkan bahan
padat
kering)
Manufaktur
Cangkang dibuat dalam satu
operasi dan pengisian dalam
suatu proses terpisah.
Pembuatan/pengisian
dalam satu operasi
Penutupan
Secara tradisional
menggeser hingga pas,
penyambungan mekanik,
memungkinkan segel pita
dan cairan
Tersegel secara rapat
(melekat)
Ukuran dan
bentuk Terbatas Banyak
Teknologi
formulasi Padat Cair
Akurasi
pengisian
2 – 5 % (dengan mesin
modern otomatis) 1 – 3 %
Kapsul merupakan metode alternatif untuk formulasi sediaan
dalam bentuk padatan. Sediaan kapsul dapat memberikan keuntungan
dan lebih disenangi dengan berbagai alasan:
1. Kapsul (umumnya kapsul dengan cangkang gelatin lunak) dapat
diformulasi untuk meningkatkan ketersediaan hayati obat yang
sukar larut dalam air. Biasanya kasus ini apabila diformulasi sebagai
229Teknologi Sediaan Kapsul
kapsul dengan cangkang gelatin keras dan lunak zat aktif diisikan
dalam bentuk cairan.
2. Kapsul yaitu metode yang memungkinkan pemberian cairan
secara per oral pada pasien yang dimasukkan ke dalam cangkang
gelatin keras atau lunak sebagai satu unit sediaan farmasi.
3. Kapsul sulit dipalsukan
4. Formulasi kapsul dapat meningkatkan stabilitas zat aktif
5. Kapsul aman digunakan untuk memformulasi bahan-bahan yang
disalahgunakan seperti temazepam.
Sedangkan, keterbatasan sediaan kapsul yaitu :
1. Membutuhkan peralatan yang khusus untuk manufaktur.
2. Permasalahan stabilitas apabila kapsul berisi cairan
3. Permasalahan yang berhubungan dengan homogenitas
kandungan zat aktif dan keragaman bobot yang berhubungan
dengan formulasi kapsul.
B. Kapsul Cangkang Keras
Formulasi dari kapsul cangkang keras terdiri dari gelatin, gula dan
air (13- 16% sisa lembab dalam kapsul cangkang keras). Desain kapsul
cangkang keras terdiri dari 2 bagian (2 piece shell) yang terdiri dari badan
kapsul (body) dan penutup (cap) lebih pendek
Gambar 9.2 Cangkang terdiri dari 2 bagian dari kapsul gelatin keras
Keuntungan dari kapsul gelatin keras yaitu :
1. Memungkinkan pelepasan obat dengan cepat.
2. Fleksibilitas dari formulasi
230
a. Mudah dicampurkan (lebih praktis).
b. Tidak butuh pembentukan massa kompak
c. Berperan dalam pengembangan obat.
3. Segel kapsul cangkang keras merupakan penghalang yang bagus
terhadap oksigen atmosfer.
Sedangkan keterbatasan dari kapsul gelatin keras yaitu :
1. Problem pada bahan dengan jumlah besar.
2. Peralatan pengisi lebih lama dibandingkan tablet
3. Secara umum lebih mahal daripada tablet, tetapi harus
mempertimbangkan kasus demi kasus dasar..
4. Perhatian lebih dalam memelihara kadar lembab yang tepat bagi
cangkang.
a. Cangkang harus mempunyai kadar lembab 13 – 15 %
b. Jika terlalu kering akan menjadi rapuh/mudah retak, dan jika
terlalu lembab akan menjadi lunak dan dapat melengket.
c. Kapsul yang tidak ditutup paling baik disimpan pada
kelembaban relatif 45 - 65%.
d. Hati-hati menggunakan obat-obat yang sangat higroskopis.
Ukuran dan kapasitas rata-rata dari cangkang kapsul gelatin keras
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 9.2 Ukuran dan kapasitas rata-rata cangkang kapsul gelatin keras
Ukuran 000 00el 00 0el 0 1 2 3 4 5
Volume
(mL) 1,37 1,02 0,91 0,78 0,68 0,50 0,37 0,30 0,21 0,10
Kapasitas
(mg) 1096 816 728 624 544 400 296 240 168 104
231Teknologi Sediaan Kapsul
Gambar 9.3 Berbagai ukuran kapsul gelatin keras
Berikut contoh perhitungan untuk penentuan ukuran kapsul.
Misalnya dosis zat aktif 150 mg, zat aktif + eksipien 200 mg per kapsul.
Serbuk bobot jenis tinggi 0,8 g/cc. Maka 800 mg/cc = 200mg/X, sehingga
X = 0,25cc (ukuran nomor 3). Jika bobot jenis rendah 0,3g/cc, maka 300
mg/cc = 200 mg/X, sehingga X = 0,67cc (ukuran no 0)
Berikut yaitu komposisi cangkang gelatin keras (1) Gelatin
(gelatin tulang /type B dan gelatin kulit/type A); (2) air; (3) pewarna; (4)
senyawa tak tembus cahaya (TiO2); dan (5) pengawet
1. Pembuatan cangkang kapsul keras
Cangkang gelatin keras dibuat dalam 2 tahap yaitu pembuatan
penutup yang lebih pendek (shorter cap) dan badan (body). Mula-mula
campuran gelatin dipanaskan dalam suatu reservoir. Berikut dilakukan
pembuatan lobang (dipping) dari cetakan (pegs) ke dalam campuran
gelatin. Cetakan dilekatkan pada pelat, masing-masing memiliki kira-kira
500 cetakan. Pelat secara mekanik diturunkan ke dalam campuran
gelatin. Pengeringan gelatin pada cetakan (pengeringan yang
berlebihan akan membuat cangkang rapuh). Selanjutnya dilakukan
pemotongan (stripping) dari cetakan dan diratakan secara mekanik
untuk suatu keseragaman panjang. Terakhir dilakukan pemasangan
232
penutup kepada badan (ketebalan harus dikontrol secara ketat atau
lainnya mudah untuk dilepaskan)
Proses pembuatan lobang (dipping) pembuatan kapsul gelatin
keras dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 9.4 Proses dipping
Proses penyegelan (seal) dan penutupan
Tujuan penyegelan dan penutupan yaitu untuk pertimbangan
sebagai berikut :
a. Mencegah pemisahan akibat kekurang hati-hatian pada
penanganan / pengisian
b. Memungkinkan membuat pengisian cairan/semi padat kapsul
gelatin keras
c. Segel kapsul merupakan penghalang yang baik terhadap oksigen
Tujuan penutupan kapsul (coni-snap capsules) dapat dilihat pada
gambar berikut :
233Teknologi Sediaan Kapsul
Gambar 9.5 Penutupan kapsul (sumber: http://www.bellacorp.com.au/capsules)
Berikut yaitu teknik sealing dari Capsugel
Gambar 9.6 Teknik sealing (http://www.capsugel.com/equipment/cfs1000.php)
Bahan-bahan yang diisikan ke dalam kapsul dapat berupa
campuran pellet, serbuk/granul, padatan, kapsul dan pasta sebagaimana
gambar berikut.
234
Gambar 9.7 Bahan-bahan yang diisikan pada kapsul
(sumber: http://jerryfahrni.com/2009/)
Alat pengisian kapsul gelatin keras menggunakan mesin tangan
(Hand-Operated Manual) dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 9.8. Mesin pengisian kapsul manual
235Teknologi Sediaan Kapsul
Tabel 9.3 Kapasitas keluaran (Output) dari beberapa mesin pengisian kapsul
Semi otomatis No. 8 machine 120.000 – 140.000 / shif
Otomatis
Zanasi Z-5000/R3 150.000 / jam
MG2 G100 100.000 / jam
Bosch GKF 3000 180.000 / jam
Osaka R-180 165.000 / jam
Pengisian kapsul dengan pelat atau metode kapsul tunggal dan
auger feed system dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 9.9 Diagram sistem pengisian auger (Model No. 8); hopper
serbuk (A); tangkai pengaduk (B); auger (C); holder (D); meja putar
(E); dan cincin kapsul (F) (sumber: Swabrick, J (ed), 2007)
Gambar 9.10 Proses pengisian kapsul otomatis
236
Sekarang kapsul gelatin keras seringkali diisi dengan mesin
otomatis yang mirip dengan pengempaan tablet yaitu dengan
pembentukan isian serbuk dengan kompresi dan menyemprotkannya
ke dalam kapsul kosong.
Berikut yaitu gambar alat pengisian kapsul dengan dosator (MG2
Futura Dosator Machine).
Gambar 9.11 Mesin MG2 Futura Dosator Machine (sumber:
https://www.equipnet.com/mg2-futura-capsule-filling-machine)
Selain itu juga ada prinsip Dosing Disc sebagaimana gambar
berikut.
Gambar 9.12 Prinsip dosing disc dan mesin Bosch GKF
1500 Dosing Disc Machine 90.000/jam
237Teknologi Sediaan Kapsul
2. Formulasi Bahan yang diisikan kedalam Cangkang Kapsul
a. Zat aktif
Untuk zat aktif yang kelarutannya tinggi dalam air memperlihatkan
sedikit permasalahan dalam formulasi terutama pada pelepasan obat
dari tablet atau kapsul. Mengurangi ukuran partikel (mikronisasi) dari
zat aktif yang kelarutannya sukar dalam air dapat meningkatkan disolusi
dari tablet dan kapsul. Daerah permukaan efektif dapat dikurangi
dengan penggabungan (agglomerasi) dari partikel-partikel yang kecil.
Penambahan senyawa pembasah (surfaktan) dapat membantu.
b. Bahan Pengisi (Filler)
Bahan pengisi berupa laktosa, amilum, dikalsium fosfat. Bentuk
modifikasi berupa minigranul untuk tablet kempa langsung berguna
untuk memperbaiki aliran dan kekompakan (compactibility) khususnya
penting untuk bentuk mesin plug. Pertimbangan kelarutan obat dalam
pemilihan bahan pengisi. Bahan pengisi larut air disarankan untuk obat
yang sukar larut dalam air. Dalam kondisi khusus, pengsi larut air dalam
jumlah besar dalam formulasi memperlama disolusi dari obat larut air.
Kemungkinan interaksi secara farmasetika (inkompatibilitas). Contoh
klasik: Tetrasiklin yang diformulasi dengan kalsium fosfat.
c. Pelincir
Glidan (colloidal silika seperti Cab-O-Sil) dengan konsentrasi
optimum <1%, biasanya 0,25-0, 50%. Lubrikan dan antiadheran (seperti
logam stearat, asam stearat). Lubrikan terbaik yaitu hidrofobik.
Peningkatan konsentrasi biasanya memperlama disolusi. Lama
pencampuran suatu permasalahan dengan lubrikan berlapis (laminar
lubricans). Untuk itu hindari pencampuran terlalu lama
d. Bahan Penghancur (Disintegran)
Contoh dari bahan penghancur yaitu sodium starch glycolate;
croscarmellose sodium. Bahan penghancur befungsi untuk mempercepat
disolusi obat dengan menaikkan penetrasi cairan (wicking) dan
menaikkan deaggregasi. Efisiensi sering meningkat dengan peningkatan
kekerasan. Efektif digunakan pada konsentrasi 4 - 8%.
238
e. Surfaktan
Contoh dari surfaktan yaitu sodium docusate; sodium lauryl
sulfate (SLS), berfungsi untuk mempercepat disolusi dengan
meningkatkan pembasahan dari massa serbuk (dapat mengatasi
pengaruh waterproofing dari lubrikan hidrofob). Konsentrasi yang
biasa digunakan SLS, 1-2% dan sodium docusate, 0.1-0.5%. Bahan yang
tidak cocok untuk formulasi kapsul cangkang keras yaitu cairan berair
dan bahan higroskopik. Hal diatas dikarenakan gelatin mengandung
lembab dan dapat mengabsorpsi atau melepaskan lembab. Metode
untuk memisahkan atau meminimalkan inkompatibilitas kimiawi yaitu
dengan penambahan lagi pengisi, adsorben misalnya magnesium
karbonat dan kaolin serta membentuk granul dari satu eksipien untuk
meminimalkan kontak fisik.
Cairan dalam kapsul gelatin keras memberikan keuntungan
permeabilitas oksigen rendah, meningkatkan ketersediaan hayati dan
relatif mudah untuk diformulasi untuk bahan titik lebur rendah dan zat
aktif dosis rendah. Sedangkan kerugiannya yaitu stabilitas fisik dan
kimia, memungkinkan bocor sehingga dibutuhkan sealing/banding.
3. Tahap akhir (finishing) proses pembuatan kapsul
Pada tahapan akhir serbuk yang ada pada bagian luar kapsul
dihilangkan dengan pengkilapan. Ini dapat dilakukan dengan :
a. Pengkilapan tangan dengan kain atau jika batch-nya kecil
b. Pemutaran dalam suatu drum dengan vakum
c. Pengocokan dengan natrium klorida (NaCl) kristal
d. Penggelindingan (rolling) pada kain yang menutupi permukaan
(cloth-covered surface)
Uji akhir produk (quality control) meliputi, keseragaman warna,
kandungan (isi) dan bentuk, berat, penampilan, pengamatan visual
atau elektronik. Pengisian ke dalam container dan labeling merupakan
atomatis dalam manufacturing, dan tahapan ini juga merupakan subjek
pada persyaratan Good Manufacturing Practices (GMP)
239Teknologi Sediaan Kapsul
Faktor-faktor yang mempengaruhi disolusi obat dari kapsul gelatin
keras, kelihatannya sama dengan tablet kecuali untuk cangkangnya,
yaitu :
a. Kecepatan disolusi dari cangkang
b. Kecepatan penetrasi dari medium disolusi
c. Kecepatan deagregasi dari massa serbuk
d. Sifat dari partikel obat
Disolusi dan pecahnya cangkang secara norma selama 4 menit
dengan tahapan :
a. Pecahan terjadi pertama pada bagian bahu dimana di dinding
cangkang menipis.
b. Terakhir berkurang dan cairan berpenetrasi dan terjadi deagregasi,
formulasi keluar dari cangkang.
C. Kapsul Cangkang Lunak
Perlu diingat bahwa kapsul cangkang lunak sama dengan kapsul
cangkang gelatin keras, kecuali pemlastis (plastisizer) yang menyatu
(sorbitol, propilen glikol, gliserin). Biasanya diisi dengan cairan atau
suspensi (padatan kering yang memungkinkan, termasuk tablet
kompresi (“Geltabs”).
Kapsul cangkang lunak memiliki ciri-ciri sebagai berikut,
karakteristik fleksibel, pemlastis (plasticizer) dengan gelatin, bentuknya
banyak, bujur, bulat, bentuk tabung, elips dan kapsul umumnya
disiapkan, diisi dan disegel dalam operasi berkelanjutan
Kapsul gelatin lunak dapat digunakan secara oral dengan, ditelan
keseluruhan, kunyah (antasida, batuk/flu, vitamin). Selain itu juga dapat,
dihisap, pelepasan ditunda (salut enterik) dan suppositoria rectal/
vaginal, menggunakan lembab untuk melarut.
240
Gambar 9.13 Berbagai bentuk kapsul gelatin lunak (sumber: http://drugdiscovery.
pharmaceutical-business-review.com/suppliers/softigel-pbr/products/)
Keuntungan dari kapsul gelatin lunak yaitu sebagai berikut.
a. Keakuratan tinggi/memungkinkan ketepatan
b. Segelnya rapat (inherently)
c. Memungkinkan keuntungan ketersediaan hayati
d. Memungkinkan pengurangan iritasi lambung dibandingkan tablet
dan kapsul cangkang keras.
e. Tersedianya pengemas khusus
Sedangkan keterbatasan kapsul gelatin lunak yaitu :
a. Secara umum lebih mahal untuk menghasilkannya dibandingkan
tablet dan kapsul cangkang keras
b. Lebih kuat kontak antara cangkang dan isi daripada kapsul gelatin
keras yang isinya kering, berkaitan dengan stabilitasnya.
c. Tidak dapat menyesuaikan untuk diisi dari lebih dari satu macam isi
kapsul yang sama (dibandingkan dengan kapsul cangkang keras)
1. Komponen cangkang kapsul lunak
a. Gelatin
Gelatin kualitas tinggi sangat penting untuk keoptimalan
pembentukan kapsul, meliputi karakteristik seperti kekuatan
gelatin. Sekarang tersedia gelatin alternatif yang bukan
produk binatang seperti kappa.
241Teknologi Sediaan Kapsul
b. Cargeenan, hidroksi propilmetilselulosa yang dimodifikasi
(HMPC) atau produk amilum yang terhidrolisa.
c. Zat pewarna
d. Opacifier atau dye/lake
e. Pemlastis (plasticizer), lebih banyak dari kapsul cangkang
keras untuk membuatnya lebih fleksibel dan tebal.
f. Pengawet
Gambar 9.14 Skema dinamik dari kapsul cangkang lunak
2. Formulasi
a. Cairan murni, campuran dari cairan yang bercampur, padatan yang
dilarutkan atau disuspensikan dalam cairan pembawa.
b. Pembawa
- Cairan yang tidak bercampur dengan air yang tidak
menguap, misalnya minyak tumbuhan. Minyak mineral tidak
direkomendasikan untuk formulasin obat.
- Cairan yang bercampur dengan air yang tidak menguap,
misalnya PEG bobot molekul rendah dan surfaktan non ionik
seperti polisorbat 80
242
Batasan isi cairan yaitu :
a. Air tidak boleh melebihi 5% dari isi
b. pH harus antara 2,5 dan 7,5
c. Senyawa dengan bobot molekul rendah yang larut dalam air dan
harus menguap
d. Aldehida, umumnya, harus ditiadakan (menyebabkan pautan
silang)
e. Obat , tidak larut dalam air, stabil secara kimia dalam air
f. Penggunaan etanol (sebagai kosolven), disiapkan pengemas
khusus
Paling banyak kapsul gelatin lunak dibuat menggunakan suatu
proses Rotary Die sebagaimana gambar berikut.
Gambar 9.15 Ilustrasi proses pengisian kapsul gelatin lunak (sumber:
http://www.daeyangsoft.com/tag/made%20in%20korea)
243Teknologi Sediaan Kapsul
Gambar 9.16 Mesin pembuatan dan pengisian kapsul cangkang lunak
(sumber: http://www.daeyangsoft.com/tag/made%20in%20korea)
Soal Latihan
1. Uraikan perbedaan antara kapsul cangkang keras dan lunak
2. Uraikan keuntungan dan kerugian kapsul cangkang keras
3. Uraikan komponen pada kapsul cangkang lunak







