A. Kewajiban Bagi Orang Yang Sedang Sakit
1. Bersikap sabar
2. Senantiasa berikhtiar
3. Berprasangka baik kepada Allah
4. Merasa takut sekaligus penuh pengharapan
(khauf dan raja’)
5. berwasiat (harta) kepada sanak keluarga.
B. Kewajiban Muslim/Keluarga terhadap orang
yang akan dan telah meninggal.
1. Menalkinkan (menuntun) dengan lafadz “Laa
ilaaha Illallaah”.
2. Menghadapkannya ke arah qiblat
3. Memejamkan matanya dan mendo’akannya
sesudah meninggal.
4. Menutupinya dengan kain yang bagus
5. Menyegerakan perawatannya.
6. Mengumumkan kepada kerabat dan teman-
temannya
7. Melunasi hutang dan melaksanakan wasiat.
2
C. Memandikan Jenazah
1. Persiapan
a. Mempersiapkan air bersih dan suci, air yang
dicampur sabun, dan air yang dicampur
kapur barus atau waangi-wangian, kemudian
handuk, dan yang lainnya.
b. Memandikan jenazah di tempat tertutup
(ruangan), jika dimandikan di tempat terbuka
maka harus memakai hijab/penutup sehingga
tidak bisa terlihat oleh orang yang tidak
sedang memandikan jenazah/pelayat
c. Orang Yang memandikan jenazah diutamakan
dari keluarga dekat jenazah, dan jika tidak ada
yang sanggup, diusahakan orang-orang yang
memahami tata cara memandikan jenazah
sesuai sunnah. Bila jenazahnya laki-laki maka
yang memandikan laki – laki, dan begitupula
sebaliknya bila jenazahnya perempuan
dimandikan oleh perempuan kecuali suami
istri dan anak yang belum baligh.
2. Cara memandikan jenazah
a. Niat ikhlas karena Allah
b. Menutupi jenazah dengan kain yang bagus
c. memberi kotorannya
d. Memulai memandikan jenazah dengan
memberi anggota wudlu, dengan
mendahulukan anggota sebelah kanan
e. memberi bagian punggung dengan
memiringkan jenazah ke sebelah kiri
kemudian ke sebelah kanan
f. Memandikan dengan bilangan gasal, tiga
atau lima atau lebih sesuai kebutuhan
g. Jika jenazahnya wanita (yang berambut
panjang) hendaknya melepaskan gelungan
rambut dan mencucinya dengan bersih
h. Pada bagian akhir memandikan/siraman
dengan menggunakan air yang sudah di
campur kapur barus atau wangi-wangian
lainnya
i. Mengeringkannya dengan handuk atau
lainnya
j. Menjalin rambut tiga pintal (dikepang tiga)
bagi jenazah perempuan
k. Merahasiakan aib yang ada ditubuhnya.
l. Menutup Jenazah dengan kain, lalu
dibaringkan ditempat yang telah disiapkan
untuk mengafaninya
D. Mengafani Jenazah
1. Persiapan
a. Menyiapkan kain kafan secukupnya,
diutamakan kain yang berwarna putih
b. Kain kafan untuk laki-laki tiga lembar,
sedang kain kafan untuk perempuan
sebanyak 5 lembar, yang terdiri dari:
4
1) kain basahan
2) baju kurung
3) kerudung, dan
4) kain penutup sebanyak dua lembar
c. Menyiapkan tali pengikat secukupnya
d. Menyiapkan wangi-wangian seperti parfum,
kapur barus atau yang lainnya
2. Cara Mengafani Jenazah
a. Mengafani jenazah dengan baik
b. Jenazah yang telah dimandikan diletakkan di
atas kain penutup dalam keadaan tertutup
auratnya.
c. Untuk tali pengikat, bisa diletakkan di bawah
kain penutup sebelum jenazah diletakkan di
atasnya, dapat pula dipakai pada saat jenazah
sudah ditutup.
d. Jenazah laki-laki ditutup dengan tiga lembar
kain dengan baik dan rapih
e. Bagi jenazah wanita ditutup dengan lima
lembar kain, yaitu; kain basahan, baju kurung,
kerudung dan dua lembar kain penutup
f. sesudah selesai ditutup dengan kain, lalu
diikat dengan tali yang sudah disiapkan,
dengan simpul di sebelah kiri
g. memberi wangi-wangian seperti parfum,
kapur barus atau yang lainnya, kecuali bagi
jenazah yang sedang berihram
h. Tidak berlebih –lebihan dalam mengafani
jenazah
E. Tata Cara Menshalatkan Jenazah
1. Diperkenankan menshalatkan di dalam masjid
2. Niat ikhlas karena Allah
3. Shalat berjama’ah (diutamakan dengan tiga
baris (shaf)
4. Imam berdiri pada arah kepala mayat (jenazah)
pria dan pada arah tengah (lambung) mayat
(jenazah) wanita
5. Bertakbir dengan mengangkat tangan pada
setiap kali takbir.
a. Takbir pertama membaca al Fatihah dan
Shalawat
b. Takbir kedua berdo’a bagi jenazah.
c. Takbir ketiga berdo’a bagi mayit dengan
ikhlas
d. Takbir keempat membaca salam seperti
salam dalam shalat
Shalat jenazah bisa juga dilakukan dengan
cara lain yaitu; sesudah takbir yang pertama
membaca Al Fatihah, sesudah takbir kedua
membaca Shalawat, sesudah takbir yang
ketiga dan keempat membaca do’a lalu Salam
sebagaimana bacaan salam dalam shalat.
Cara Pertama Shalat Jenazah
Bertakbir, sesudah takbir yang pertama membaca al
Fatihah Dan Shalawat:
يِن َعا�َِمنَي * ا�رَّمْحَِن ا�رَِّحيِم * َما�ِِك يَْوِم ادلِّ
ْ
َْمُد ِهللاِ رَبِّ ال
ْ
احل
ُمْستَِقيَم *
ْ
ا� اَط َ اْهِدنَا ا�رصِّ �َْستَِعنُي * َو�ِيَّاَك َ�ْعبُُد إِيَّاَك * َ
َوال َعلَيِْهْم َمْغُضوِب
ْ
ا� َ�رْيِ َعلَيِْهْم ْ�َعْمَت
َ
أ يَن ِ
َّ
اذل اَط رِصَ
الِّنَي * ا�ضَّ
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. segala puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
yang menguasai di hari Pembalasan. hanya Engkaulah
yang Kami sembah[6], dan hanya kepada Engkaulah
Kami meminta pertolongan. Tunjukilah Kami jalan
yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan)
mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka
yang sesat."
Lalu membaca
ىلَع َصلَّيَْت َكَما ٍد, حُمَمَّ اِل وىلََع ٍد حُمَمَّ ىلَع َصلِّ ا�لُّهمَّ
َكَما ٍد, حُمَمَّ َواِل ٍد حُمَمَّ ىلَع َوَ�ارِْك ِابَْراِهيَْم, َواِل ِابَْراِهيَْم
يٌْد يٌْد جَمِ َت ىلَع ِابَْراِهيَْم َواِل ِابَْراِهيَْم ِانََّك مَحِ
ْ
بَاَر�
7
Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali
Muhammad kamaa shallaita ‘alaa Ibraahiim wa aali
Ibraahiim wa baarik ‘alaa Muhammad wa’alaa aali
Muhammad kamaa baarakta ‘alaa Ibraahiim wa aali
Ibraahiim innaka hamiidum majiid
“Ya Allah, limpahkanlah kemurahanMu kepada
Muhammad dan keluarganya, sebagaimana telah
Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan keluarganya.
berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana
Engkau telah memberkahi pada ibrahim dan
keluarganya. Sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha
Terpuji dan Maha Mulia”.
Bertakbir, pada takbir yang kedua membaca Do’a:
ُ نُُزهلَ ِرْم
ْ
�
َ
َوأ َ�نُْه َواْ�ُف واََعفِِه ، َوارمَْحُْه ُ
َ
هل اْغِفْر ا�لُهمَّ
ِمْن ِه َوَ�قِّ ، َوَ�َرٍد ٍج
ْ
َوثَل بَِماٍء ُه
ْ
َواْغِسل ، ُمْدَخلَُه ْع َووَسِّ ،
ُ َداًرا
ْ
بِْدهل
َ
�َِس ، َوأ ْ�يَُض ِمْن ادلَّ
َ ْ
ََطايَا َكَما ُ�نَىقَّ اثلَّوُْب األ
ْ
اخل
ِمْن ا َخرْيً َوَزوًْجا ، ْهِلِه
َ
أ ِمْن ا َخرْيً ْهًال
َ
َوأ ، َدارِهِ ِمْن ا َخرْيً
َقرْبِ وََعَذاَب انلَّاِر
ْ
َزوِْجِه ، َوقِه فِتْنََة ال
Allahummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu
‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu
waghsilhu bima’in wa tsaljin wa barad wa naqqihi
minal khathaayaayaa kamaa yunaqats tsaubul
abyadlu minaddanas wa abdilhu daaran khairan min
daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan
8
min zaujihi waqqihi fitnatal qabri wa ‘adzaabah
“Ya Allah, berilah ampunan, rahmat dan afiyat
kepadanya. Muliakanlah tempat turunnya, luaskanlah
tempat masuknya, mandikanlah dengan air dan salju,
bersihkanlah dari segala kesalahan, sebagaimana
pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Gantikanlah
baginya rumah yang lebih baik daripada rumahnya,
keluarga yang lebih baik daripada keluarganya dan
jodoh yang lebih baik daripada jodohnya. Jauhkanlah
daripadanya fitnah kubur dan siksanya”.
Bertakbir, pada takbir yang ketiga membaca do’a:
ا�لُهمَّ اْغِفْر حِلَيِّنَا ، َوَميِّ�ِنَا ، وََشاِهِدنَا ، واََغئِِ�نَا ، وََصِغرِينَا
ْحِيِه
َ
فَأ ِمنَّا ْحيَ�ْته
َ
أ َمْن ا�لُهمَّ ْ�ثَانَا،
ُ
َوأ ، وََذَكِرنَا َوَ�ِبرِينَا ، َ
يَماِن ا�لُهمَّ ال ِ
ْ
يْته ِمنَّا َ�تََوفَُّه ىلَعَ اإل ِْسَالِم ، َوَمْن تََو�َّ
ْ
ىلَعَ اإل
تُِضلَّنَا َ�ْعَدُه .
َ
ْجَرُه َوال
َ
ِْرْمنَا أ
َ
حت
Allahummaghfir lihayyinaa wa mayyitinaa wa
syaahidinaa wa ghaa›ibinaa wa shagiirinaa wa
kabiirinaa wa dzakarinaa wa untsaanaa. Allahumma
man ahyaitahu minnaa fa ahyihihi ‹alal islaam wa
man tawaffahu minnaa fatawaffahuu ‹alal iimaan.
Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa tudlillanaa
ba›dahu
“Ya Allah, berilah ampunan, rahmat dan afiyat
kepadanya. Muliakanlah tempat turunnya, luaskanlah
9
tempat masuknya, mandikanlah dengan air dan salju,
bersihkanlah dari segala kesalahan, sebagaimana
pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Gantikanlah
baginya rumah yang lebih baik daripada rumahnya,
keluarga yang lebih baik daripada keluarganya dan
jodoh yang lebih baik daripada jodohnya. Jauhkanlah
daripadanya fitnah kubur dan siksanya”.
Bertakbir, sesudah takbir yang keempat membaca
salam:
ا�سالم علي�م ورمحة اهللا و�ر�ته
Cara Kedua Shalat Jenazah
Bertakbir, sesudah takbir yang pertama
membaca al Fatihah:
يِن َعا�َِمنَي * ا�رَّمْحَِن ا�رَِّحيِم * َما�ِِك يَْوِم ادلِّ
ْ
َِّ رَبِّ ال َْمُد ِهللا
ْ
احل
ُمْستَِقيَم *
ْ
ا� اَط َ اْهِدنَا ا�رصِّ �َْستَِعنُي * َو�ِيَّاَك َ�ْعبُُد إِيَّاَك * َ
َوال َعلَيِْهْم َمْغُضوِب
ْ
ا� َ�رْيِ َعلَيِْهْم ْ�َعْمَت
َ
أ يَن ِ
َّ
اذل اَط رِصَ
الِّنَي * ا�ضَّ
10
Bertakbir, pada takbir yang kedua membaca
shalawat:
ىلَع َصلَّيَْت َكَما ٍد, حُمَمَّ اِل وىلََع ٍد حُمَمَّ ىلَع َصلِّ َ ا�لُّهمَّ
َكَما ٍد, حُمَمَّ َواِل ٍد حُمَمَّ ىلَع َوَ�ارِْك ِابَْراِهيَْم, َواِل ِابَْراِهيَْم
يٌْد يٌْد جَمِ َت ىلَع ِابَْراِهيَْم َواِل ِابَْراِهيَْم ِانََّك مَحِ
ْ
بَاَر�
Bertakbir, pada takbir yang ketiga membaca
do’a:
ُ نُُزهلَ ِرْم
ْ
�
َ
َوأ َ�نُْه َواْ�ُف واََعفِِه ، َوارمَْحُْه ُ
َ
هل اْغِفْر ا�لُهمَّ
ِمْن ِه َوَ�قِّ ، َوَ�َرٍد ٍج
ْ
َوثَل بَِماٍء ُه
ْ
َواْغِسل ، َمْدَخلَُه ْع َووَسِّ ،
ُ َداًرا
ْ
بِْدهل
َ
�َِس ، َوأ ْ�يَُض ِمْن ادلَّ
َ ْ
ََطايَا َكَما ُ�نَىقَّ اثلَّوُْب األ
ْ
اخل
ِمْن ا َخرْيً َوَزوًْجا ، ْهِلِه
َ
أ ِمْن ا َخرْيً ْهًال
َ
َوأ ، َدارِهِ ِمْن ا َخرْيً
َقرْبِ وََعَذاَب انلَّاِر
ْ
َزوِْجِه ، َوقِه فِتْنََة ال
Bertakbir, sesudah takbir yang keempat
membaca do’a :
ا�لُهمَّ اْغِفْر حِلَيِّنَا ، َوَميِّ�ِنَا ، وََشاِهِدنَا ، واََغئِِ�نَا ، وََصِغرِينَا
ْحِيِه
َ
فَأ ِمنَّا ْحيَ�ْته
َ
أ َمْن ا�لُهمَّ ْ�ثَانَا،
ُ
َوأ ، وََذَكِرنَا َوَ�ِبرِينَا ،
يَماِن ا�لُهمَّ َال ِ
ْ
يْته ِمنَّا َ�تََوفَُّه ىلَعَ اإل ِْسَالِم ، َوَمْن تََو�َّ
ْ
ىلَعَ اإل
تُِضلَّنَا َ�ْعَدُه .
َ
ْجَرُه َوال
َ
ِْرْمنَا أ
َ
حت
11
Kemudian
ا�سالم علي�م ورمحة اهللا و�ر�ته
Doa – Doa Shalat Jenazah
ُ نُُزهلَ ِرْم
ْ
�
َ
َوأ َ�نُْه َواْ�ُف واََعفِِه ، َوارمَْحُْه ُ
َ
هل اْغِفْر ا�لُهمَّ
ِمْن ِه َوَ�قِّ ، َوَ�َرٍد ٍج
ْ
َوثَل بَِماٍء ُه
ْ
َواْغِسل ، َمْدَخلَُه ْع َووَسِّ ،
ُ َداًرا
ْ
بِْدهل
َ
�َِس ، َوأ ْ�يَُض ِمْن ادلَّ
َ ْ
ََطايَا َكَما ُ�نَىقَّ اثلَّوُْب األ
ْ
اخل
ِمْن ا َخرْيً َوَزوًْجا ، ْهِلِه
َ
أ ِمْن ا َخرْيً ْهًال
َ
َوأ ، َدارِهِ ِمْن ا َخرْيً
َقرْبِ وََعَذاَب انلَّاِر
ْ
َزوِْجِه ، َوقِه فِتْنََة ال
“Ya Allah, berilah ampunan, rahmat dan afiyat
kepadanya. Muliakanlah tempat turunnya, luaskanlah
tempat masuknya, mandikanlah dengan air dan salju,
bersihkanlah dari segala kesalahan, sebagaimana
pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Gantikanlah
baginya rumah yang lebih baik daripada rumahnya,
keluarga yang lebih baik daripada keluarganya dan
jodoh yang lebih baik daripada jodohnya. Jauhkanlah
daripadanya fitnah kubur dan siksanya”.
12
Atau
ا�لُهمَّ اْغِفْر حِلَيِّنَا ، َوَميِّ�ِنَا ، وََشاِهِدنَا ، واََغئِِ�نَا ، وََصِغرِينَا
ْحِيِه
َ
فَأ ِمنَّا ْحيَ�ْته
َ
أ َمْن ا�لُهمَّ ، ْ�ثَانَا
ُ
َوأ ، وََذَكِرنَا َوَ�ِبرِينَا ، َ
يَماِن ا�لُهمَّ ال ِ
ْ
يْته ِمنَّا َ�تََوفَُّه ىلَعَ اإل ِْسَالِم ، َوَمْن تََو�َّ
ْ
ىلَعَ اإل
تُِضلَّنَا َ�ْعَدُه .
َ
ْجَرُه َوال
َ
ِْرْمنَا أ
َ
حت
“Ya Allah berilah ampunan kepada kami yang hidup
dan yang telah mati, yang menyaksikan (hadir) dan
yang tidak, yang tua dan yang muda, yang pria dan
yang wanita. Ya Allah kepada orang yang Kau hidupkan
daripada kami, maka hidupkanlah di atas Islam dan
kepada orang yang Kau matikan daripada kami, maka
matikanlah di atas iman. “Ya Allah janganlah Engkau
jauhkan kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau
sesatkan kami sesudahnya”
Do’a untuk jenazah anak-anak
ْجًرا
َ
َا َسلًَفا َوفََرًطا َوأ
َ
ُه نل
ْ
ا�لُهمَّ اْجَعل
Allahummaj›alhu salafan wa farathan wa ajraa
"Ya Allah, jadikanlah ia pendahulu dan tabungan serta
pahala bagi kami".
1
F. Cara Mengubur Mayat (jenazah)
1. Mempercepat membawa jenazah ke pekuburan
2. Mengiringi dengan tenang dan berjalan
mengikuti jenazah disekitarnya.
3. Hendaknya wanita tidak ikut mengiringi jenazah
4. Orang yang mengantarkan jenazah atau pelayat
bila hendak masuk kuburan supaya melepas alas
kaki
5. sesudah sampai dikuburan , para pelayat tidak
diperkenankan duduk sebelum mayat diletakkan
kecuali bila lubang kubur belum selesai digali.
6. Mengubur mayat (jenazah) dalam lubang yang
baik dan dalam
7. Membuat galian lahat serta memasang tanda di
atas kuburan kaum muslimin.
8. Memasukkan mayat (jenazah) dari arah kaki
kubur dari arah selatan
9. Saat meletakkan mayat (jenazah) dalam
kubur membaca “Bismillaahi wa ‘ala millati
Rasuulillaah”.
10. Menutupi bagian atas kubur mayat (jenazah)
wanita saat dikuburnya dengan kain.
11. Orang yang menurunkan mayat (jenazah) ke
dalam kubur bukan orang yang telah bersetubuh
pada tadi malamnya
12. Meletakkan mayat (jenazah) dengan
menghadapkannya ke arah qiblat
14
13. Meninggikan kubur (sebatas/seukuran) sejengkal
14. Diperbolehkan membuat tanda di atas kubur
seperti dengan batu atau yang lainnya pada arah
kepalanya
15. Menaburkan tanah dari arah kepala sebanyak
tiga kali
16. sesudah selesai penguburan kemudian men-
doakan nya untuk memintakan ampunan dan
ketetapan hati bagi si mayat (jenazah)
G. Hal - Hal Yang tidak dituntunkan
1. Meratapi mayat dengan berteriak histeris,
menampar – nampar pipi dan merobek pakaian
saat ditinggal kematian
2. Menguburkan jenazah pada waktu matahari
terbit, pada waktu tengah hari (pada waktu
matahari di arah atas kepala), dan pada waktu
matahari hampir terbenam
3. Mengadzani jenazah pada saat akan dikuburkan
4. Mentalkini jenazah yang sudah meninggal dunia
5. Membacakan surat yasin saat akan meninggal
dunia
6. Meninggikan kuburan lebih dari sejengkal
7. Membangun kuburan atau membuat tembok di
atas kuburan
8. Menjadikan kuburan sebagai masjid – masjid
9. Duduk-duduk di atas kuburan
15
10. Membacakan surat Yasin dikuburan baik saat
mayit dikuburkan maupun sesudah nya
11. Menyelenggarakan tahlilan dan membacakan al
Qur’an untuk si mayat.
12. Menyenggarakan tahlilan dan makan-makan di
rumah orang yang ditinggal kematian
13. Berziarah dengan tujuan membaca al Qur’an,
dzikir-dzikir dan melakukan shalat di atas kuburan
14. Bertawassul kepada Allah dengan perantara
orang yang sudah mati (dll.)
H. Hal-hal yang dibolehkan.
1. Membuka wajah mayat
2. Mencium kening mayat
3. Menangis (bukan meratap)
ALASAN DALIL
A. Kewajiban Bagi Orang Yang Sedang Sakit
1. Bersikap sabar
Berdasarkan hadits dari Shuhaib
ُمْؤِمِن
ْ
ا� ْ�ِر
َ
ِأل قَاَل رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َعَجبًا
َصاَ�تُْه
َ
ُمْؤِمِن إِْن أ
ْ
�ِل
َّ
َحٍد إِال
َ
ْ�َرُه لُكَُّه َخرْيٌ َولَ�َْس َذاَك ِأل
َ
إِنَّ أ
فَاَكَن َصرَبَ اُء رَضَّ َصاَ�تُْه
َ
أ َو�ِْن ُ
َ
هل ا َخرْيً فَاَكَن َشَكَر اُء رَسَّ
ُ ا هلَ َخرْيً
"Sungguh mengagumkan perkara orang mukmin
karena semua urusannya adalah baik, dan hal itu
16
tidak terjadi pada seorangpun kecuali orang mukmin.
Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka hal
itu baik baginya. dan apabila ditimpa kesulitan, ia
bersabar, maka hal itupun baik baginya”.1
2. Senantiasa berikhtiar
3. Berprasangka baik kepada Allah
Berdasarkan hadits dari Jabir:
بِثََالٍث َوفَاتِِه َ�بَْل وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ انلَّيِبَّ َسِمْعُت
نَّ َوُهَو حُيِْسُن بِاِهللا الظَّ
َّ
َحُدُ�ْم إِال
َ
َ�ُموَ�نَّ أ
َ
َ�ُقوُل ال
“Aku pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda
sebelum wafatnya:”Janganlah salah seorang
dari kamu semua mati, kecuali berbaik sangka
(Husnudzan) kepada Allah”.2
4. Hendaknya selalu optimis dan penuh pengharapan
(Khaouf dan Roja’)
Berdasarkan hadits dari Anas:
يِف َوُهَو َشابٍّ ىلَعَ َدَخَل وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ انلَّيِبَّ نَّ
َ
أ
رُْجو
َ
ينِّ أ
َ
ُدَك قَاَل َواِهللا يَا رَُسوَل اِهللا � ِ
َ
َموِْت َ�َقاَل َكيَْف جت
ْ
ا�
َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوُل َ�َقاَل ُذنُوِ� َخاُف
َ
أ َو�يِنِّ َّ اَهللا
إِال َمْوِطِن
ْ
ا� َهَذا ِمثِْل يِف َ�بٍْد ِب
ْ
قَل يِف جَيْتَِمَعاِن
َ
وََسلََّم ال
ا خَيَاُف ْ�َطاُه اُهللا َما يَرُْجو َوآَمنَُه ِ�مَّ
َ
أ
1 HR. Muslim : Shahih Muslim
2 HR. Muslim : Shahih Muslim
17
“Bahwa Rasulullah SAW. masuk kepada seorang
pemuda yang hampir pada ajalnya, maka beliau
bersabda:”Bagaimana perasaanmu? Jawabnya:”Aku
berharap kepada Allah dan khawatir akan dosaku”.
Maka beliau SAW. bersabda:”Kalau berkumpul
kedua sifat itu dalam hati seorang hamba pada
peristiwa seperti ini tentulah Allah memberi apa
yang diharapkan dan melindunginya dari apa yang
ditakutkan”.3
5. Berwasiat kepada sanak keluarga
Firman Allah SWT:
ا َخرْيً تََرَك إِْن َموُْت
ْ
ا� َحَدُ�ُم
َ
أ َحرَضَ إَِذا َعلَيُْ�ْم ُكِتَب
ُمتَِّقنَي
ْ
ا ىلَعَ ا� َمْعُروِف َحقًّ
ْ
قَْر�نَِي بِا�
َ ْ
يِْن َواأل َوادِلَ
ْ
وَِصيَُّة �ِل
ْ
ا�
“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara
kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia
meninggalkan harta yang banyak, berwasiat
untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara
ma’ruf, (Ini adalah) kewajiban atas orang-orang
yang bertakwa.4
3 HR. Tirmidzi: Sunan al Tirmidzi
4 QS. Al Baqarah: 180
18
B. Kewajiban umat Islam/keluarga terhadap
orang yang akan dan telah meninggal
1. Mentalqinkan (menuntun) orang yang akan
meninggal dunia dengan lafadz “Laa ilaaha Illallaah”.
Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah:
َ
ال َ�ْوتَاُ�ْم نُوا لَقِّ وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوُل قَاَل
اُهللا
َّ
َ إِال
َ
إِهل
“Rasulullah bersabda:”Talqinkanlah orang yang
akan meninggal dengan mengucap:”Laa Ilaaha
Illallaah”.5
2. Menghadapkannya ke arah qiblat
Berdasarkan hasdits dari Abu Qatadah:
َل َعِن
َ
َمِدْ�نََة َسأ
ْ
نَّ انلَّيِبَّ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم ِحنْيَ قََدَم اَ�
َ
أ
وىَْص بِثُلُِثِه �ََك يَا رَُسْوَل
َ
َ َوأ اِء بِْن َمْعُرْوٍر، َ�َقا�ُْوا : تُُو�ِّ رَبَّ
ْ
ا�
، َ�َقاَل رَُسْوُل ا ِاْحتَرَضَ ِقبْلَِة �َمَّ
ْ
ال
َ
َه إِىل ْن يُوَجِّ
َ
وىَْص أ
َ
اِهللا، َوأ
رََدْدُت َوقَْد َفْطَرَة
ْ
ال َصاَب
َ
أ " : وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا اِهللا َصىلَّ
هِ ِ
َ
ثُلُثَُه ىلَعَ َودل
“Bahwasanya Rasulullah SAW ketika sampai di
Madinah, beliau menanyakan perihal Bara bin Ma’rur,
kemudian mereka menjawab:”Ia telah meninggal
5 HR. Muslim: Shahih Muslim
19
dunia, dan ia berwasiat dengan sepertiga harta
untukmu ya Rasulullah, dan ia juga berwasiat
untuk supaya dihadapkan ke arah Qiblat. Rasul
SAW berkata:”Ia telah sesuai dengan fithrah
(sesuai ajaran agama Islam), dan aku kembalikan
yang sepertiga kepada anaknya”.6
3. Memejamkan matanya dan mendo’akannya sesudah
meninggal
Berdasarkan hadits dari Ummu Salamah:
يِب َسلََمَة َوقَْد
َ
َدَخَل رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم ىلَعَ أ
َرَصُ وَح إَِذا قُِبَض تَِبَعُه ابلْ ْ�َمَضُه ُ�مَّ قَاَل إِنَّ ا�رُّ
َ
ُه فَأ َّ َشقَّ برََصُ
إِال ْ�ُفِسُ�ْم
َ
أ ىلَعَ تَْدُعوا
َ
ال َ�َقاَل ْهِلِه
َ
أ ِمْن نَاٌس فََضجَّ
نُوَن ىلَعَ َما َ�ُقو�ُوَن ُ�مَّ قَاَل ا�لُهمَّ َمَالئَِ�َة يَُؤمِّ
ْ
إِنَّ ا�
رْيٍ فَ
خِبَ
يِف َواْخلُْفُه َمْهِديِّنَي
ْ
ا� يِف َدرََجتَُه َواْرَ�ْع َسلََمَة يِب
َ
ِأل اْغِفْر
ُ َعا�َِمنَي َوافَْسْح هلَ
ْ
ُ يَا رَبَّ ال
َ
َا َوهل
َ
َغابِِر�َن َواْغِفْر نل
ْ
َعِقِبِه يِف ال
ُ ِ�يِه
َ
ْر هل يِف َ�رْبِهِ َونَوِّ
“Rasulullah datang kepada Abi Salamah
(diwaktu sampai pada ajalnya) padahal matanya
melotot, maka beliau memejamkannya”.
Kemudian Nabi SAW bersabda:” Sesungguhnya
ruh itu kalau dipecatkan, diikuti oleh mata”. Maka
bergemuruhlah orang-orang dari keluarganya, maka
6 HR. Hakim dalam kitab al Mustadrak ‘ala al Shahihain
20
beliau bersabda:”Janganlah mendoakan atas dirimu,
kecuali kebaikan, karena sesungguhnya Malaikat itu
mengamini atas apa yang kamu katakan “kemudian
sabdanya:”Ya Allah, ampunilah Abu Salamah,
junjunglah derajatnya setinggi derajat orang-orang
yang shaleh, berilah gantinya pada sepeninggalnya,
berilah pengampunan bagi kami dan baginya Ya Rabbul
‘Aalamiin, lapangkanlah kuburnya, dan terangilah dia
didalamnya”.7
4. Menutupnya dengan kain yang bagus
Berdasarkan hadits dari ’Aisyah:
ٍة َ برُِبٍْد ِحرَبَ َ ُسيجِّ نَّ رَُسوَل اهللاِ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم ِحنَي تُُو�ِّ
َ
أ
“Bahwa Rasulullah SAW ditutup dengan kain hibrah
(sejenis kain Yaman yang bercorak).8
5. Menyegerakan perawatannya
Berdasarkan hadits dari ’Ali bin Abi Thalib:
َ
َعيِلُّ ال يَا ثََالثٌَة قَاَل َعلَيِْه وََسلََّم اُهللا نَّ رَُسوَل اِهللا َصىلَّ
َ
أ
ُم إَِذا
ِّ�
َ ْ
َنَاَزُة إَِذا َحرَضَْت َواأل
ْ
تَْت َواجل
َ
َالُة إَِذا أ ْرُهنَّ ا�صَّ تُؤَخِّ
وََجَدْت ُكُفًؤا
“Bahwa Rsulullah SAW bersabda:”hai Ali ada tiga
perkara yang tidak boleh ditangguhkan, yaitu
7 HR. Muslim: Shahih Muslim
8 HR. al Bukhari: Shahih al Bukhari
21
shalat bila datang waktunya, jenazah bila telah
jelas matinya dan wanita tidak bersuami bila telah
menemukan jodohnya”.9
6. Mengumumkan kepada kerabat dan teman-
temannya
Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah:
َْوِم نَّ رَُسوَل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َ�ىَع انلََّجايِشَّ يِف ايلْ
َ
أ
ي َماَت ِ
َّ
اذل
“Bahwa Rasulullah SAW memberitakan kematian
Raja Najasyi kepada para shahabat pada hari
kematiannya”.10
Hadits dari Anas r.a:
َواْ�َن وََجْعَفًرا َز�ًْدا َ�ىَع وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ انلَّيِبَّ نَّ
َ
أ
ِ�يَُهْم َخرَبُُهْم
ْ
ْن يَأ
َ
َرَواَحَة �ِلنَّاِس َ�بَْل أ
“Dan beliau memberitakan kematian Zaid bin
Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan ‘Abdullah bin
Rawahah r.a kepada orang-orang sebelum mereka
mengetahui”.11
9 HR. Ahmad: Musnad Ahmad
10 HR. Bukhari: Shahih al Bukhari
11 HR. Bukhari: Shahih al Bukhari
22
Hadits Dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas:
بَِموِْت ْخرِبَ
ُ
أ ْن
َ
أ َ�ْعَد قَاَل وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ انلَّيِبَّ نَّ
َ
أ
آَذْ�تُُموِ�
َ
ال
َ
َمْسِجَد : أ
ْ
ي اَكَن َ�ُقمُّ ا� ِ
َّ
ابِّ اذل ْو ا�شَّ
َ
وَْداِء أ ا�سَّ
ُ�ْعِلُموِ� ” ْن
َ
أ َمنََعُ�ْم َما ” : َ�بَّاٍس ابِْن َوِ� َحِديِث ؟
ِْذِن
ْ
َُخارِيُّ : بَاَب اإل ابلْ
“Bahwa Nabi SAW bersabda sesudah diberitahu tentang
kematian orang yang menyapu masjid :”Tidak
sudikah kamu memberitakannya kepdaku?. Dan
dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas:”Mengapa kamu
tidak memberitakan kepadaku?”.12
7. Melunasi hutangnya
Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah:
ُمْؤِمِن ُمَعلََّقٌة
ْ
قَاَل رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َ�ْفُس ا�
بَِديِْنِه َحىتَّ ُ�ْقىَض َ�نُْه
“Rasulullah SAW bersabda:”jiwa orang Mu’min
itu bergantung dengan hutangnya, sampai
dilunasinya”.13
12 Hadits tersebut menurut imam Asy Syaukani terdapat dalam kitab
Shahih al Bukhari dalam bab al Adzan (lihat kitab Nailul Authar)
13 HR. Tirmidzi: Sunan al Tirmidzi
2
�ُونَُه إِنَّ يَن ُ�بَدِّ ِ
َّ
إِْ�ُمُه ىلَعَ اذل َما
إِ�َّ
ُ َ�ْعَدَما َسِمَعُه فَ
َ
هل َ�َمْن بَدَّ
اَهللا َسِميٌع َعِليٌم (ابلقرة:١٨١)
Maka barang siapa yang mengubah wasiat itu, sesudah
ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya
adalah bagi orang-orang yang mengubahnya.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.
C. Memandikan Jenazah
1. Persiapan
a. Mempersiapkan air bersih dan suci, air yang
dicampur sabun, dan air yang dicampur kapur
barus atau waangi-wangian, kemudian handuk,
dan yang lainnya
Berdasarkan hadits dari Ummu ’Athiyyah r.a:
ِحنَي وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوُل َعلَيْنَا َدَخَل
رَثَ
ْ
�
َ
أ ْو
َ
أ مَخًْسا ْو
َ
أ ثََالثًا نََها
ْ
اْغِسل َ�َقاَل ابْ�َتُُه يَْت تُُو�ِّ
ِخَرِة
ْ
َن يِف اآل
ْ
ْ�نُتَّ َذ�َِك بَِماٍء وَِسْدٍر َواْجَعل
َ
ِمْن َذ�َِك إِْن َرأ
ا فَلَمَّ فَآِذنَّيِن فََرْ�نُتَّ إَِذا
فَ اَكفُوٍر ِمْن َش�ْئًا ْو
َ
أ اَكفُوًرا
َ�ْعيِن إِيَّاُه ْشِعْرَ�َها
َ
أ َ�َقاَل ِحْقَوُه ْ�َطانَا
َ
فَأ آَذنَّاُه فََرْ�نَا
إَِزارَُه
“Rasulullah menemui kami ketika kematian anak
24
perempuannya, lalu bersabda:”Mandikanlah
ia tiga atau lima kali atau lebih dari itu,
menurut pendapatmu, dengan air dan
daun bidara, dan pada akhirnya taruhlah
kapur barus . Maka bilamana sudah selesai
beritahukanlah kepadaku”. Maka sesudah kami
selesai, kami memberitahukannya kepada beliau.
Lalu beliau memberi kepada kami kainnya sambil
bersabda:”kenakanlah ini, yakni kainnya”.14
b. Memandikan jenazah di tempat tertutup
(ruangan), jika dimandikan di tempat terbuka
maka harus memakai hijab/penutup sehingga
tidak bisa terlihat oleh orang yang tidak sedang
memandikan jenazah/pelayat
c. Orang yang memandikan jenazah diutamakan
dari keluarga dekat jenazah, dan jika tidak ada
yang sanggup, diusahakan orang-orang yang
memahami tata cara memandikan jenazah sesuai
sunnah. Bila jenazahnya laki-laki maka yang
memandikan laki – laki, dan begitupula sebaliknya
bila jenazahnya perempuan dimandikan oleh
perempuan. Kecuali suami istri
Berdasarkan hadits dari Asma’ binti ‘Amis:
ْسَماُء
َ
َوأ ٌ ىلَعِ َزوُْجَها لََها ُ�َغسِّ ْن
َ
أ وَْصْت
َ
أ فَاِطَمَة نَّ
َ
أ
الََها . َ�َغسَّ
14 HR. Bukhari: Shahih al Bukhari
25
“Bahwa Fathimah berwasiat supaya
dimandikan oleh suaminya, yakni ‘Ali.
Kemudian ‘Ali dan Asma memandikannya”.15
Hadits dari Asma :
ْن
َ
أ ُ�َم�ٍْس بِنَْت ْسَماَء
َ
أ تَُه
َ
اْ�َرأ وىَْص
َ
أ بَْ�ٍر بَا
َ
أ نَّ
َ
أ
لَُه َواْستََعانَْت بَِعبِْد ا�رَّمْحَِن بِْن َعوٍْف �َِضْعِفَها َ�ْن ُ�َغسِّ
َحٌد
َ
َذ�َِك َو�َْم ُ�نِْكْرُه أ
“Bahwa Abu Bakar berpesan kepada istrinya,
Asma binti ‘Amis, supaya memandikannya;
kemudian Asma minta bantuan pada ‘Abdurrahman
bin ‘Auf, karena usianya yang tua serta tiada
seorangpun yang menyangkal tindakannya”.16
Hadits dari ‘Aisyah:
َل َغسَّ َما اْستَْدبَْرُت َما ْ�ِري
َ
أ ِمْن ُت
ْ
اْستَْقبَل ُكنُْت �َْو
انلَّيِبَّ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َ�رْيُ �َِسائِِه
“Seandainya aku dapat mengulangi perkara yang
telah lampau, pastilah yang memandikan Nabi
saw. itu hanya istri-istrinya”.17
15 HR. Daruquthni : Sunan Ad Daruquthni
16 HR. Baihaqi : Sunan al Baihaqi. Lihat juga kitab Subulussalam
17 HR. Ibnu Majjah: Sunan Ibnu Majah
26
Hadits dari ‘Aisyah:
ُ�مَّ نْتُِك َوَ�فَّ تُِك
ْ
ل َ�َغسَّ َ�بيِْل ِمتِّ �َْو ِك رَضَّ َما قَاَل
َصلَّيُْت َعلَيِْك وََدَ�نْتُِك
“Rasulullah saw. bersabda:”Apa halangannya
seandainya kau mati sebelumku, akulah yang
memandikanmu, menshalatkanmu dan
menguburmu”.18
2. Cara Memandikan Jenazah
a. Niat Ikhlas Karena Allah
Berdasarkan hadits dari ‘Umar bin Khatab:
ْ�َماُل بِانلِّيَّاِت
َ ْ
إِ�ََّما األ
“Sesungguhnya (shahnya) amal itu tergantung
kepada niyat”19
b. Menutupi jenazah dengan kain yang bagus
c. memberi kotorannya
d. Memulai memandikan jenazah dengan
memberi anggota wudlu, dengan
mendahulukan anggota sebelah kanan
Berdasarkan hadits dari Ummu ’Athiyyah r.a:
ابْ�َِتِه َغْسِل يِف وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوُل قَاَل
وُُضوِء ِمنَْها
ْ
َن بَِميَاِمِنَها َوَ�َواِضِع ا�
ْ
ابَْدأ
18 HR. Ahmad: Musnad Ahmad
19 HR. Bukhari : Shahih al Bukhari dan Muslim : Shahih Muslim
27
“Rasulullah SAW bersabda ketika anak perempuan
beliau dimandikan:”Mulailah dengan anggota
kanannya dan anggota wudhunya”.20
e. memberi bagian punggung dengan
memiringkan jenazah ke sebelah kiri dan lalu ke
sebelah kanan
f. Memandikan dengan bilangan gasal, tiga atau
lima atau lebih sesuai kebutuhan
Hadits dari Ummu ’Athiyyah r.a:
رَثَ ِمْن َذ�َِك
ْ
�
َ
ْو أ
َ
ْو َسبًْعا أ
َ
ْو مَخًْسا أ
َ
نََها ِوتًْرا ثََالثًا أ
ْ
اْغِسل
َقيْنَاَها
ْ
فَال قُُروٍن ثََالثََة َشْعَرَها فََضَفْرنَا { ْ�نُتَّ
َ
َرأ إْن
” ِ�يِه �ُِمْسِلٍم لَ�َْس لَِ�ْن َعلَيِْهَما ُمتََّفٌق { َفَها
ْ
َخل
َفَها ”.
ْ
َقيْنَاَها َخل
ْ
ل
َ
فَأ
“Mandikanlah dalam jumlah gasal, tiga atau
lima atau tujuh kali atau lebih daripada itu
menurut pendapatmu”. Ia berkata:”Kemudian
kami menjalin rambutnya tiga kali”.21
g. Jika jenazahnya wanita (yang berambut panjang)
hendaknya melepaskan ikatan rambut dan
mencucinya dengan bersih
20 HR. Bukhari: Shahih al Bukhari
21 HR. Bukhari – Muslim. Akan tetapi dalam lafadz dari muslim tidak
terdapat kalimat َفَها
ْ
َقيْنَاَها َخل
ْ
ل
َ
Nailul Authar. Lihat pula hadits dari ummu .فَأ
‘Athiyah pada no. 10
28
h. Pada bagian akhir memandikan/siraman dengan
menggunakan air yang sudah di campur kapur
barus atau wangi-wangian lainnya22
i. Mengeringkannya dengan handuk atau lainnya
Berdasarkan hadits dari ’Aisyah:
ْدِرَج رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم يِف ُحلٍَّة َ�َمِنيٍَّة
ُ
أ
يِب بَْ�ٍر ُ�مَّ نُزَِعْت َ�نُْه
َ
اَكنَْت ِلَعبِْد اِهللا بِْن أ
“Rasulullah saw. dihanduki dengan kain
Yaman untuk mengeringkannya, sebagaimana
yang dilakukan kepada Abdillah bin Abi Bakar, lalu
dilepaskannya”23.
Hadits dari Hisyam bin ‘Urwah:
َف ٍة ُجفِّ نَّ انلَّيِبَّ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم لُفَّ يِف بُرٍْد َحرِبَ
َ
أ
ِ�يِه ُ�مَّ نُِزَع َ�نُْه
“Bahwa Nabi saw. dihanduki dengan kain
Hibrah untuk dikeringkan, kemudian
Dilepaskan”24.
22 Berdasarkan hadits dari Ummu ‘Athiyah pada no. 2
23 HR. Muslim: Shahih Muslim
24 HR. ‘Abdur Razaq. Lihat Nailul Authar
29
j. Menjalin rambut tiga pintal (dikepang tiga) bagi
jenazah perempuan
Hadits dari Ummu ’Athiyyah r.a:
َفَها } ُمتََّفٌق
ْ
َقيْنَاَها َخل
ْ
فََضَفْرنَا َشْعَرَها ثََالثََة قُُروٍن فَال
َفَها ”.
ْ
َقيْنَاَها َخل
ْ
ل
َ
َعلَيِْهَما لَِ�ْن لَ�َْس �ُِمْسِلٍم ِ�يِه ” فَأ
Kemudian kami menjalin rambutnya tiga kali,
lalu kami letakkan dibelakangnya ”.25
k. Merahasiakan aib yang ada ditubuhnya
Berdasarkan hadits dari Abu Rafi:
غسل من " : وسلم عليه اهللا صىل اهللا رسول قال
ميتا فكتم عليه غفر هل أر�عني �رة ، " هذا حديث
صحيح ىلع رشط �سلم ، و�م خيرجاه "
“Barangsiapa memandikan mayat (jenazah), lalu
merahasiakan cacat tubuhnya, maka Allah
memberi ampun baginya empat puluh kali.”26
l. Menutup Jenazah dengan kain, lalu dibaringkan
di tempat yang telah disiapkan
25 HR. Bukhari – Muslim. Akan tetapi dalam lafadz dari muslim tidak
terdapat kalimat َفَها
ْ
َقيْنَاَها َخل
ْ
ل
َ
Nailul Authar. Lihat pula hadits dari ummu .فَأ
‘Athiyah pada no. 10
26 HR. Hakim : al Mustadrak ‘Ala al Shahihain li al Hakim
30
D. Mengafani Jenazah
1. Persiapan
a. Menyiapkan kain kafan secukupnya, diutamakan
kain yang berwarna putih
Berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Abbas :
ِمْن �َُسوا
ْ
ال وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوُل قَاَل
نُوا ِ�يَها َها ِمْن َخرْيِ ِ�يَابُِ�ْم َوَ�فِّ إِ�َّ
ِيَض فَ
ْ
ِ�يَابُِ�ْم ابل
َ�ْوتَاُ�ْم
“Rasulullah saw. bersabda:”Pakailah pakaianmu
yang putih, karena itulah sebagus-bagus
pakaianmu dan kafanilah mayat (jenazah)-
mayat (jenazah)mu dengan kain yang putih”.27
b. kain kafan untuk laki-laki tiga lembar, sedang
kain kafan untuk perempuan sebanyak 5 lembar,
yang terdiri dari:
1) kerudung
2) baju kurung
3) kain basahan, dan
4) kain penutup sebanyak dua lembar
c. Menyiapkan tali pengikat secukupnya
d. Menyiapkan wangi-wangian seperti parfum,
kapur barus atau yang lainnya.
27 HR. Ahmad: Musnad Ahmad
31
2. Cara Mengafani Jenazah
a. Mengafani mayat (jenazah) dengan baik
Berdasarkan hadits dari Abu Qatadah :
َحُدُ�ْم
َ
َم إَِذا َوِ�َ أ
قَاَل رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلَّ
يُْحِسْن َكَفنَُه
ْ
َخاُه فَل
َ
أ
“Apabila salah seorang dari kamu mengurusi
(jenazah) saudaranya, maka hendaklah
memperbaiki kafannya (mengafani dengan baik-
baik)”.28
Hadits dari Jabir bin ‘Abdillah :
َحُدُ�ْم
َ
أ َن َكفَّ إَِذا وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ انلَّيِبُّ قَاَل
ْن َكَفنَُه يَُحسِّ
ْ
َخاُه فَل
َ
أ
“Bahwa Nabi saw. bersabda:”Apabila salah seorang
dari kamu mengkafani (jenazah) saudaranya, maka
hendaklah baik-baik dalam mengkafaninya”.29
b. Jenazah yang telah dimandikan diletakkan di atas
kain penutup dalam keadaan tertutup auratnya.
Untuk tali pengikat, bisa diletakkan di bawah
kain penutup sebelum jenazah diletakkan di
atasnya, dapat pula dipakai pada saat jenazah
sudah ditutup.
28 HR. Tirmidzi: Sunan At Tirmidzi
29 HR. Muslim: Shahih Muslim
32
c. Jenazah laki-laki ditutup dengan tiga lembar kain
dengan baik dan rapih
Berdasarkan hadits dari ’Aisyah:
ثَْواٍب
َ
َن رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم يِف ثََالثَِة أ َ ُكفِّ
َوال قَِميٌص ِ�يَها لَ�َْس ُكرُْسٍف ِمْن َسُحويِلٍَّة �ِيٍض
ِعَماَمٌة (�سلم:اجلنائز)
“Rasulullah dikafani dalam tiga pakaian
putih bersih yang terbuat dari kapas, tanpa
baju kurung dan serban”.30
d. Bagi jenazah wanita ditutup dengan lima lembar
kain, yaitu; kain basahan, baju kurung, kerudung
dan dua lembar kain penutup
Berdasarkan hadits dari Laila binti Qanih ats
Tsaqafiyah:
ثُوٍم بِنَْت رَُسوِل اِهللا َصىلَّ اُهللا
ْ
مَّ لُك
ُ
َل أ ُكنُْت ِ�يَمْن َغسَّ
رَُسوُل ْ�َطانَا
َ
أ َما ُل وَّ
َ
أ َوَ�َن َوفَاتَِها ِعنَْد وََسلََّم َعلَيِْه
َِماَر
ْ
ْرَع ُ�مَّ اخل َِقاَء ُ�مَّ ادلِّ
ْ
اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم احل
قَالَْت ِخِر
ْ
اآل اثلَّوِْب يِف َ�ْعُد ْدرَِجْت
ُ
أ ُ�مَّ َحَفَة
ْ
ِمل
ْ
ا� ُ�مَّ
َمَعُه َاِب
ْ
ابل ِعنَْد وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا َورَُسوُل
َكَفنَُها ُ�نَاِونُلَاُه ثَْوً�ا ثَْوً�ا
30 HR. Muslim: Shahih Muslim
3
“Aku turut memandikan Ummi Kultsum binti
Rasulullah saw. waktu wafatnya, maka mula-
mula barang yang diberikan kepadaku oleh
Rasulullah saw. ialah kain, lalu selubung;
kemudian sesudah itu dimasukkan ke dalam
pakaian lain”. Kata Laila selanjutnya:”Selama
itu Rasulullah di tengah pintu membawa kafannya
dan memberi nya kepada kami satu persatu”.31
e. sesudah selesai ditutup dengan kain, lalu diikat
dengan tali yang sudah disiapkan, dengan simpul
di sebelah kiri
f. memberi wangi-wangian seperti parfum,
kapur barus atau yang lainnya, kecuali bagi mayat
(jenazah) yang sedang berihram.
Berdasarkan hadits dari Jabir:
َميَِّت
ْ
ا� مْجَْرُ�ْم
َ
أ إَِذا وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ انلَّيِبُّ قَاَل
ُروُه ثََالثًا مْجِ
َ
فَأ
“Nabi saw. bersabda:”Apabila kamu hendak
memberi wangi-wangiani mayat (jenazah), maka
berilah tiga kali”.32
31 Ahmad : Musnad Ahmad
32 HR. Ahmad: Musnad Ahmad
34
Bagi orang yang sedang berihram yang meninggal
karena terjatuh dari untanya, Berdasarkan hadits
dari Ibnu ‘Abbas, Rasul bersabda:
َ
َنُِّطوُه َوال
ُ
حت
َ
نُوُه يِف ثَْوَ�نْيِ َوال َوَ�فِّ اْغِسلُوُه بَِماٍء وَِسْدٍر
ِقيَاَمِة ُ�لَبِّيًا
ْ
إِنَّ اَهللا َ�بَْعثُُه يَْوَم ال
َسُه فَ
ْ
ُروا َرأ َمِّ ختُ
"Janganlah kamu lulut ia dengan cendana
dan jangan pula kamu tutupi kepalanya,
sesungguhnya Allah membangkitkannya kelak di
hari Qiyamat dalam keadaan bertalbiyah”.33
Juga hadits dari Ibnu ‘Abbas:
ُمْحِرَم
ْ
قَاَل رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم اْغِسلُوا ا�
وَِسْدٍر بَِماٍء َواْغِسلُوُه ِ�يِهَما ْحَرَم
َ
أ يِْن َ ا�ذلَّ ثَْوَ�يِْه يِف
َسُه
ْ
َرأ ُروا َمِّ ختُ
َ
َوال بِِطيٍب وُه تُِمسُّ
َ
َوال ثَْوَ�يِْه يِف نُوُه َوَ�فِّ
ِقيَاَمِة حُمِْرًما
ْ
إِنَُّه ُ�بَْعُث يَْوَم ال
فَ
“Rasulullah saw bersabda:”Mandikanlah orang
ihram dalam kedua pakaiannya yang dipakai
berihram, dan mandikanlah ia dengan air dan daun
bidara, kafanilah ia dengan kedua pakaiannya, dan
jangan kamu memberi wangi-wangian dan
jangan pula kamu tutupi kepalanya, sebab kelak
ia akan dibangkitkan dalam keadaan berihram”.34
33 HR. Bukhari: Shahih al Bukhari
34 HR. al Nasai: Sunan al Nasa’iy
35
g. Tidak berlebih – lebihan dalam mengafani
jenazah
Berdasarkan hadits dari ‘Ali bin Abi Thalib:
إِينِّ َسِمْعُت رَُسوَل اِهللا َصىلَّ اُهللا
ُ�َغاِل يِل يِف َكَفٍن فَ
َ
ال
بًا
ْ
إِنَُّه �ُْسلَبُُه َسل
َكَفِن فَ
ْ
َ�َغا�َْوا يِف ال
َ
َعلَيِْه وََسلََّم َ�ُقوُل ال
�ًعا رَسِ
“Janganlah kamu berlebih lebihan dalam
mengafaniku, karena sesungguhnya aku pernah
mendengar Rasulullah saw. bersabda:”Janganlah
kamu berlebih –lebihan dalam perkara kafan,
karena sesungguhnya ia akan segera rusak”.35
E. Cara Menshalatkan Jenazah
1. Diperkenankan menshalatkan di dalam masjid
Berdasarkan hadits dari ‘Aisyah r.a, bahwa ia berkata
pada saat meninggalnya Sa’ad bin Abi Waqash:
نِْ�َر َذ�َِك َعلَيَْها
ُ
َ َعلَيِْه فَأ َصيلِّ
ُ
َمْسِجَد َحىتَّ أ
ْ
َ�َقالَْت َواِهللا لََقْد َصىلَّ رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم ىلَعَ اْدُخلُوا بِِه ا�
ِخيِه
َ
َمْسِجِد ُسَهيٍْل َوأ
ْ
اْ�يَنْ َ�يَْضاَء يِف ا�
“Bawalah ia masuk ke masjid agar aku dapat
menshalatkannya”. Ada orang yang menegurnya
tentang hal itu. Maka kata ‘Aisyah ra:”Demi Allah,
35 HR. Abu Dawud: Sunan Abu Dawud
36
sungguh Rasulullah saw. menshalatkan kedua anak
Baidla’, yaitu Suhail dan saudaranya di dalam masjid”.36
Dalam dari lain bahkan dikatakan Suhail dishalatkan
di tengah-tengah masjid:
َيَْضاِء
ْ
َما َصىلَّ رَُسوُل اهللاِ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم ىلَعَ ُسَهيِْل بِْن ابل
َُخارِيَّ ) . ابلْ
َّ
ََماَعُة إال
ْ
َمْسِجِد . َرَواهُ اجل
ْ
يِف َجوِْف ا�
َّ
إال
“Bahwa Rasulullah saw. menshalatkan Suhail di
tengah-tengah masjid”.37
Dan dari lain dari ibnu ‘Umar:
َمْسِجِد
ْ
َ ىلَعَ ُ�َمَر يِف ا� ُصيلِّ
“Bahwa ‘Umar dishalatkan di dalam masjid”.38
2. Niat ikhlas karena Allah
Hadits dari ‘Umar bin Khatab :
ْ�َماُل بِانلِّيَّاِت
َ ْ
إِ�ََّما األ
“Sesungguhnya (shahnya) amal itu tergantung
kepada niyat”39
36 HR. Muslim: Shahih Muslim
37 HR. Jama’ah kecuali Bukhari. Lihat kaitab Nailul Authar
38 HR. Malik. Lihat kitab Nailul Authar
39 HR. Bukhari : Shahih al Bukhari dan Muslim : Shahih Muslim
37
3. Shalat berjama’ah dengan tiga baris (shaf)
Berdasrkan hadits dari Malik bin Hubairah :
قَاَل رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َما ِمْن ُ�ْؤِمٍن َ�ُموُت
ْن يَُ�ونُوا ثََالثََة
َ
أ بَلَُغوا ُمْسِلِمنَي
ْ
ا� ِمْن ٌة مَّ
ُ
أ َ�يَُصيلِّ َعلَيِْه
َة َ�تََحرَّى إَِذا ُ قَاَل فَاَكَن َما�ُِك ْ�ُن ُهبَرْيَ
َ
ُغِفَر هل
َّ
ُصُفوٍف إِال
ْن جَيَْعلَُهْم ثََالثََة ُصُفوٍف
َ
ْهُل َجنَاَزٍة أ
َ
قَلَّ أ
“Rasulullah saw bersabda:”orang mukmin yang mati
lalu dishalatkan oleh segolongan kaum muslimin,
sampai jadi tiga shaf, tentulah diberi ampun”.
Maka kalau sedikit bilangan orang yang menshalatkan
jenazah, Malik bin Hubairah berusaha menjadikan
mereka itu tiga shaf”.40
Hadits dari Ibnu ‘Abbas:
إِينِّ َسِمْعُت رَُسوَل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َ�ُقوُل َما ِمْن
َ فَ
ال رَُجًال ْرَ�ُعوَن
َ
أ َجنَاَزتِِه ىلَعَ َ�يَُقوُم َ�ُموُت ُ�ْسِلٍم رَُجٍل
َعُهْم اُهللا ِ�يِه َشفَّ
َّ
ُ�وَن بِاِهللا َش�ْئًا إِال �رُْشِ
“Bahwasanya aku pernah mendengar Rasulullah saw.
bersabda:”Orang Islam yang mati lalu jenazahnya
dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak
musyrik, tentulah Allah mengabulkan do’a mereka
untuknya”.41
40 HR. Ahmad: Musnad Ahmad
41 HR. Muslim: Shahih Muslim
38
4. Imam berdiri pada arah kepala jenazah pria dan
pada arah tengah (lambung) jenazah wanita
Berdasarkan hadits dari Abu Ghalib al Khayyath:
ِسِه
ْ
�ََس ْ�َن َما�ٍِك َصىلَّ ىلَعَ ِجنَاَزةِ رَُجٍل َ�َقاَم ِعنَْد رَأ
َ
َشِهْدُت أ
ُ يَا
َ
نَْصاِر فَِقيَل هل
َ ْ
ْو ِمْن األ
َ
ةٍ ِمْن قَُر�ٍْش أ
َ
نَاَزةِ اْ�َرأ يِتَ جِبِ
ُ
ا ُرفَِع أ فَلَمَّ
بَا مَحَْزةَ َهِذهِ ِجنَاَزةُ فَُالنََة اْ�نَِة فَُالٍن فََصلِّ َعلَيَْها فََصىلَّ َعلَيَْها
َ
أ
ى اْخِتَالَف
َ
ا رَأ َعَدوِيُّ فَلَمَّ
ْ
َعَالُء ْ�ُن ِزَ�اٍد ال
ْ
َ�َقاَم وََسَطَها َوِ�ينَا ال
بَا مَحَْزةَ َهَكَذا اَكَن رَُسوُل اِهللا
َ
ةِ قَاَل يَا أ
َ
َمْرأ
ْ
ِ�يَاِمِه ىلَعَ ا�رَُّجِل َوا�
ِة
َ
َمْرأ
ْ
َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َ�ُقوُم ِمْن ا�رَُّجِل َحيُْث ُ�ْمَت َوِمْن ا�
َحيُْث ُ�ْمَت قَاَل َ�َعْم
“Aku menyaksikan Anas bin Malik menshalatkan
jenazah seorang pria, ia berdiri pada arah
kepalanya. sesudah diangkatnya didatangkanlah
jenazah seorang wanita, lalu ia menshalatkannya,
maka ia berdiri pada arah lambungnya. Padahal
diantara kita ada Al ‘A’la bin Ziyad ‘Alawi. Maka
sesudah melihat perbedaan berdirinya pada janazah pria
dan jenajah wanita, menanyakan:”Hai Abu Hamzah
adakah demikian Rasulullah saw. berdiri pada (jenazah)
pria ditempat kamu berdiri dan pada (jenazah) wanita
ditempat kamu berdiri?. Jawabnya:”Ya”.42
Mengangkat tangan pada setiap kali bertakbir
42 Ahmad: Baqi Musnad al Muktsirin:12160
39
5. Bertakbir dengan mengangkat tangan pada setiap
kali takbir.
a. sesudah takbir pertama lalu membaca al Fatihah
dan Shalawat.
b. Bertakbir, sesudah takbir kedua lalu berdo’a bagi
jenazah dengan ikhlas.
Berdasarkan dari Isma’il al Qadli dalam kitab al
Shalat alan Nabi dari Abu Umamah:
نَاَزِة ِ
ْ
َالِة ىلَعَ اجل نََّة يِف ا�صَّ نَُّه قَاَل إنَّ ا�سُّ
َ
َماَمَة �
ُ
يِب أ
َ
َ�ْن أ
اُهللا َصىلَّ انلَّيِبِّ ىلَعَ َ َوُ�َصيلِّ ِكتَاِب
ْ
ال بَِفاحِتَِة
َ
َ�ْقَرأ ْن
َ
َ أ
َوال
َ
َميِِّت َحىتَّ َ�ْفُرغ
ْ
اَعَء �ِل َعلَيِْه وََسلََّم ُ�مَّ خُيِْلَص ادلُّ
ُمنْتَىَق
ْ
َاُروِد يِف ا�
ْ
ْخرََجُه اْ�ُن اجل
َ
ًة ُ�مَّ �َُسلَِّم . َوأ َ�رَّ
َّ
إال
ُ
َ�ْقَرأ
ِحيَحنْيِ ٌج �َُهْم يِف ا�صَّ ُ خُمَرَّ
ُ
َافُِظ : َورَِجاهل
ْ
.قَاَل احل
“Dari Abu Umamah, bahwa ia berkata: ”Sesung-
guhnya menurut sunnah dalam menshalatkan
jenazah ialah membaca Al Fatihah dan
membaca Shalawat atas Nabi saw. lalu dengan
ikhlas mendo’akan untuk mayat (jenazah) sampai
selesai, dan membaca hanya sekali kemudian
salam”.43
43 HR. Ibnu Jarud dalam kitab “al Muntaqa”, yang dikatakan oleh
Hafidh, bahwa mereka yang membawakan hadits ini tersebut dalam kitab
Bukhari dan Muslim. (Nailul Authar )
40
َنَاَزِة .
ْ
يِع تَْ�ِبرَياِت اجل إنَُّه اَكَن يَْرَ�ُع يََديِْه يِف مَجِ
"Bahwasanya beliau saw. mengangkat kedua
tangannya dalam semua takbir shalat
jenazah”.44
c. Bertakbir, sesudah takbir ketiga lalu berdo’a bagi
jenazah dengan ikhlas
Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah ra:
إَِذا َ�ُقوُل وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوَل َسِمْعُت
اَعَء ُ ادلُّ
َ
ْخِلُصوا هل
َ
َميِِّت فَأ
ْ
َصلَّيْتُْم ىلَعَ ا�
“Aku mendengar Rasulullah saw., beliau
bersabda:”Apabila kamu menshalatkan jenazah,
maka ikhlashkanlah dalam mendoakannya”.45
d. Bertakbir, sesudah takbir yang keempat Lalu
membaca salam seperti salam dalam shalat
Shalat jenazah bisa juga dilakukan dengan cara
lain yaitu; sesudah takbir yang pertama membaca
Al Fatihah, sesudah takbir kedua membaca
Shalawat, sesudah takbir yang ketiga dan
keempat membaca do’a lalu Salam sebagaimana
bacaan salam dalam shalat.
44 Dan berdasarkan hadits Baihaqi dari Ibnu ‘Umar: menurut al Ha-
fidh: sanadnya shahih; dan oleh Bukhari di mu’allaqkan dan pada bagian
yang menerangkan “mengangkat tangan” sanadnya dikatakan muttasil (ber-
sambung). Lihat Nailul Authar
45 HR. Abu Dawud : Sunan Abu dawud, Ibnu Majjah: Sunan Ibnu Ma-
jah, Ibnu Hibban dan Baihaqi.
41
Doa – Doa Shalat Jenazah
ْع َووَسِّ ،ُ
َ
نُُزهل ِرمْ
ْ
�
َ
وَأ َ�نُْه َواْ�ُف واََعفِِه َوارمَْحُْه، ُ
َ
هل اْغِفْر ا�لُهمَّ
ََطايَا َكَما ُ�نَىقَّ
ْ
ِه ِمَن اخل ٍج َوَ�رٍَد، َوَ�قِّ
ْ
ُه بَِماٍء َوثَل
ْ
َمْدَخلَُه، َواْغِسل
ْهًال َخرْيًا
َ
ُ َدارًا َخرْيًا ِمْن َدارِهِ، وَأ
ْ
بِْدهل
َ
�َِس، وَأ ْ�يَُض ِمَن ادلَّ
َ ْ
اثلَّوُْب األ
َقرْبِ وََعَذاَب انلَّاِر
ْ
ْهِلِه، َوَزوًْجا َخرْيًا ِمْن َزوِْجِه، َوقِه فِتْنََة ال
َ
ِمْن أ
Dalam sebagian dari Muslim dan Nasa’i dengan
menggunakan kata َواْ�ُف َ�نْه واََعفِِه
Berdasarkan hadits dari ‘Auf bin Malik ra:
َسِمْعُت انلَّيِبَّ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َصىلَّ ىلَعَ ِجنَاَزةٍ َ�ُقوُل : ا�لُهمَّ
ْع ُمْدَخلَُه، ُ، َووَسِّ
َ
ِرمْ نُُزهل
ْ
�
َ
ُ َوارمَْحُْه، َواْ�ُف َ�نُْه واََعفِِه وَأ
َ
اْغِفْر هل
اثلَّوُْب ُ�نَىقَّ َكَما ََطايَا
ْ
اخل ِمْن ِه َوَ�قِّ َوَ�رٍَد، ٍج
ْ
َوثَل بَِماٍء ُه
ْ
َواْغِسل
ْهًال َخرْيًا ِمْن
َ
ُ َدارًا َخرْيًا ِمْن َدارِهِ، وَأ
ْ
بِْدهل
َ
�َِس، وَأ ْ�يَُض ِمْن ادلَّ
َ ْ
األ
َقرْبِ وََعَذاَب انلَّاِر
ْ
ْهِلِه، َوَزوًْجا َخرْيًا ِمْن َزوِْجِه، َوقِه فِتْنََة ال
َ
أ
“Aku mendengar Nabi saw. shalat (dalam) shalat jenazah
berdo’a:”Allahummaghfir lahu warhamhu wa’fu
‘anhu wa’aafihi wa akrim nuzulahu wa wassi’
madkhalahu waghsilhu bima’in wa tsaljin wa barad
wa naqqihi minal khathaayaayaa kamaa yunaqats
tsaubul abyadlu minaddanas wa abdilhu daaran
khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa
42
zaujan khairan min zaujihi waqqihi fitnatal qabri
wa ‘adzaabahu”.46
Atau
ا�لُهمَّ اْغِفْر حِلَيِّنَا، َوَميِّ�ِنَا، وََشاِهِدنَا، واََغئِِ�نَا، وََصِغرِينَا، َوَ�ِبرِينَا
ِْسَالِم،
ْ
اإل ىلَعَ ْحِيِه
َ
فَأ ِمنَّا ْحيَ�ْته
َ
أ َمْن ا�لُهمَّ ْ�ثَانَا،
ُ
َوأ َ وََذَكِرنَا،
ْجَرُه َوال
َ
ِْرْمنَا أ
َ
حت
َ
يَماِن ا�لُهمَّ ال ِ
ْ
يْته ِمنَّا َ�تََوفَُّه ىلَعَ اإل َوَمْن تََو�َّ
تُِضلَّنَا َ�ْعَدُه .
Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah r.a :
َم إَِذا َصىلَّ ىلَعَ ِجنَاَزٍة َ�ُقوُل
اَكَن رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلَّ
َوَ�ِبرِينَا وََصِغرِينَا واََغئِِ�نَا وََشاِهِدنَا َوَميِّ�ِنَا حِلَيِّنَا اْغِفْر ا�لُهمَّ
ِْسَالِم َوَمْن
ْ
ْحِيِه ىلَعَ اإل
َ
ْحيَ�ْتَُه ِمنَّا فَأ
َ
ْ�ثَانَا ا�لُهمَّ َمْن أ
ُ
وََذَكِرنَا َوأ
تُِضلَّنَا
َ
ْجَرُه َوال
َ
ِْرْمنَا أ
َ
حت
َ
يَماِن ا�لُهمَّ ال ِ
ْ
يْتَُه ِمنَّا َ�تََوفَُّه ىلَعَ اإل تََو�َّ
َ�ْعَدُه
“Adalah Rasulullah saw, apabila beliau menshalatkan
jenazah maka beliau membaca:”Allahummaghfir
lihayyinaa wa mayyitinaa wa syaahidinaa wa
ghaa’ibinaa wa shagiirinaa wa kabiirinaa wa
dzakarinaa wa untsaanaa. Allahumma man
ahyaitahu minnaa fa ahyihihi ‘alal islaam wa
man tawaffahu minnaa fatawaffahuu ‘alal
46 HR. Muslim : Shahih Muslim dan Nasai : Sunan al nasa’iy Lafadz
milik Nasa’i
4
iimaan. Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa
tudlillanaa ba’dahu”.47
Do’a untuk jenazah anak-anak
ْجًرا
َ
َا َسلًَفا َوفََرًطا َوأ
َ
ُه نل
ْ
ا�لُهمَّ اْجَعل
Hadits dari Abu Hurairah r.a :
ي �َْم َ�ْعَمْل َخِطيْئََة َ�طٌّ َوَ�ُقْوُل ِ
َّ
َمنُْفوِْس اذل
ْ
نَُّه اَكَن يَُصيلِّ ىلَعَ ا�
َ
�
ْجًرا)
َ
َا َسلًَفا َوفََرًطا وَُذْخًرا (َوأ
َ
ُه نل
ْ
اَ�لَُّهمَّ اْجَعل
"Bahwasanya Rasulullah saw. Beliau shalat atas jenazah
yang tidak pernah melakukan kesalahan (anak-anak)
dengan membaca "Ya Allah jadikanlah ia pendahulu,
tabungan dan pahala bagi kami”. 48
F. Cara Mengubur Mayat (jenazah)
1. Mempercepat membawa jenazah ke pekuburan
Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah r.a:
رْسُِعوا
َ
أ َ�ُقوُل وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوَل َسِمْعُت
َو�ِْن اَكنَْت رَْيِ
ْ
اخل
َ
إِىل �ْتُُموَها قَرَّ إِْن اَكنَْت َصاحِلًَة
فَ َنَاَزِة
ْ
بِاجل
ا تََضُعونَُه َ�ْن ِرقَابُِ�ْم (�سلم: اجلنائز) َ�رْيَ َذ�َِك اَكَن رَشًّ
47 HR. Abu Dawud : Sunan Abu Dawud, Tirmidzi : Sunan At Tirmidzi
dan Ibnu Majah :Sunan Ibnu Majah. Lafadz milik Ibnu Majah
48 HR. al Baihaqi : Sunan al Kubra lil baihaqiy
44
“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: ”Percepat-
lah (dalam penyelenggaraan) jenazah, kalau jenazah
itu baik kamu telah mendekatkannya (menyegerakan)
kepada yang baik, dan kalau ia tidak demikian , maka
kamu akan melepaskan yang jelek itu dari bahumu”. 49
2. Mengiringi dengan tenang dan berjalan mengikuti
jenazah disekitarnya.
Berdasarkan hadits dari Jabir bin Samurah
فََرِ�بَُه ُمْعَرْورًى بَِفَرٍس وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ انلَّيِبُّ يِتَ
ُ
أ
ُ ُْن َ�ْميِش َحْوهلَ
َ
ْحَداِح َوحن ِحنَي انرَْصََف ِمْن َجنَاَزِة ابِْن ادلَّ
(�سلم: اجلنائز)
"Ketika selesai mengantarkan jenazah ibnu
Dahda, didatangkan kepada Nabi saw seekor kuda
berpelana, kemudian beliau menungganginya,
sedang kami berjalan disekitarnya".50
Hadits dari Mughirah bin Syu,bah r.a :
َ�ْن قَِر�بًا َماَ�َها
َ
أ َمايِش
ْ
َوا� نَاَزِة ِ
ْ
اجل َف
ْ
َخل اِكُب ا�رَّ قَاَل
ْو َ�ْن �ََسارَِها (أمحد: �سند ا�كوفيني)
َ
يَِميِنَها أ
Rasulullah saw bersabda:”Orang yang berkendaraan
itu dibelakang jenazah, dan yang berjalan kaki di
49 HR. Muslim: Shahih Muslim
50 HR. Muslim : Shahih Muslim
45
depannya, dekat dari padanya dari arah kanan
kirinya”.51
Hadits dari Mughirah bin Syu,bah r.a:
نَاَزِة ِ
ْ
َف اجل
ْ
اِكُب َخل قَاَل رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم ا�رَّ
َمايِش َحيُْث َشاَء ِمنَْها (أمحد: �سند ا�كوفيني)
ْ
َوا�
“Rasulullah bersabda:”Orang yang berkendaraan
itu di belakang jenazah dan yang berjalan kaki
dimana yang dikehendakinya”.52
Hadits dari Ibnu ,Umar r.a:
بَا بَْ�ٍر َوُ�َمَر َ�ْمُشوَن
َ
يُْت انلَّيِبَّ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َوأ
َ
َرأ
نَاَزِة ، إبن ماجه: ماجاء ىف اجلنائز: ِ
ْ
َماَم اجل
َ
أ
“Aku melihat Nabi saw, Abu Bakar dan ‘Umar,
berjalan di muka jenazah”.53
3. Hendaknya wanita tidak ikut mengiringi jenazah
Berdasarkan hadits dari Ummu ‘Athiyah r.a:
َنَاَزِة َو�َْم ُ�ْعَزْم َعلَيْنَا
ْ
نُِهينَا َ�ْن ا�ِّبَاِع اجل
51 HR. Ahmad: Musnad Ahmad
52 HR. Ahmad: Musnad Ahmad
53 HR. Ibnu Majah : Sunan Ibnu Majah
46
“Kami (wanita) dilarang mengikuti jenazah,
meskipun larangan itu tidak diperkeras”.54
4. Orang yang mengantarkan jenazah atau pelayat bila
hendak masuk kuburan supaya melepas alas kaki
Berdasarkan hadits dari Basyir bin al Khashashiyyah
r.a:
َ�ْميِش رَُجًال ى
َ
َرأ وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوَل نَّ
َ
أ
ِقِهَما
ْ
ل
َ
أ �ِْت�َّتَنْيِ ا�سَّ َصاِحَب يَا َ�َقاَل ُقبُوِر
ْ
ال َ�نْيَ َ�ْعلنَْيِ يِف
(أمحد: �سند ابلرص�ني)
“Bahwa Rasulullah saw melihat seseorang yang
berjalan di atas kuburan dengan mengenakan alas kaki,
lalu beliau berkata: wahai orang yang berterumpah
(mengenakan alas kaki) lepaskanlah kedua alas
kakimu”.55
5. sesudah sampai di kuburan, para pelayat tidak
diperkenankan duduk sebelum mayat (jenazah)
diletakkan kecuali bila bila galiankubur belum
selesai digali
Berdasarkan hadits dari Abu Sa’id al Khudriy r.a:
َنَاَزَة
ْ
ْ�تُْم اجل
َ
نَّ رَُسوَل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم قَاَل إَِذا َرأ
َ
أ
َ�ُقوُ�وا َ�َمْن تَِبَعَها فََال جَيِْلْس َحىتَّ تُوَضَع (�سلم: اجلنائز)
54 HR. al Bukhari: Shahih al Bukhari
55 HR. Ahmad: Musnad Ahmad
47
“Bahwa Rasulullah saw bersabda:”Apabila kamu
melihat jenazah, maka berdirilah, dan barangsiapa
mengiringkannya, jangan sampai duduk sehingga
jenazah diletakkan”.56
Hadits dari ‘Amir bin Rabi’ah r.a:
َنَاَزَة
ْ
اجل ْ�تُْم
َ
َرأ إَِذا وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوُل قَاَل
ْو تُوَضَع
َ
َلَِّفُ�ْم أ َ�ُقوُ�وا �ََها َحىتَّ ختُ
“Rasulullah saw bersabda:”Apabila kamu melihat
jenazah, maka berdirilah, sehingga melewati kamu
atau diletakkannya”.57
Hadits dari Sahal Ibnu Hunaif dan Qais bin Sa’ad r.a:
ُ إِنَّ انلَّيِبَّ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َ�رَّْت بِِه ِجنَاَزٌة َ�َقاَم فَِقيَل هلَ
لَ�َْسْت َ�ْفًسا (ابلخارى: اجلنائز)
َ
َها ِجنَاَزُة َ�ُهوِديٍّ َ�َقاَل أ إِ�َّ
”Bahwa Rasulullah saw, dilalui jenazah, lalu beliau
berdiri. Maka dikatakan kepada beliau, bahwa itu
jenazah orang Yahudi. Sahut beliau:”Bukankah ia itu
manusia juga ?”.58
56 HR. Muslim: Shahih Muslim
57 HR. Muslim: Shahih Muslim
58 HR. Al Bukhari: Shahih al Bukhari
48
Hadits dari al Barra’ bin ’Azib r.a:
َخرَْجنَا َمَع رَُسوِل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم يِف َجنَاَزِة رَُجٍل
َحْد فََجلََس رَُسوُل
ْ
ا يُل َقرْبِ َو�َمَّ
ْ
ال
َ
نَْصاِر فَاْ�تََهيْنَا إِىل
َ ْ
ِمْن األ
ُ (أبو داود : ا�سنة)
َ
اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم وََجلَْسنَا َحْوهل
”Bahwa kami keluar bersama Rasulullah saw.
Mengantarkan jenazah seorang sahabat anshar, maka
sampailah kami ke kubur, padahal belum digali, maka
duduklah Rasulullah saw. Menghadap Qiblat
dan akupun duduk didekatnya”.59
6. Mengubur mayat (jenazah) dalam lubang yang baik
dan dalam
Berdasarkan hadits dari Hisyam bin ’Amir r.a:
نَا
ْ
ُحٍد َ�ُقل
ُ
رَُسوِل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم يَْوَم أ
َ
َشَكْونَا إِىل
َ�َقاَل رَُسوُل َشِديٌد إِ�َْساٍن
ِللُكِّ َعلَيْنَا َْفُر
ْ
اِهللا احل يَا رَُسوَل
ْحِسنُوا
َ
َوأ ْعِمُقوا
َ
َوأ اْحِفُروا وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا
ُم يَا َواْدفِنُوا اِالثْ�نَْيِ َواثلََّالثََة يِف َ�رْبٍ َواِحٍد قَا�ُوا َ�َمْن ُ�َقدِّ
ثَاِلَث يِب
َ
أ فَاَكَن قَاَل قُْرآنًا رَثَُهْم
ْ
�
َ
أ ُ�وا قَدِّ قَاَل اِهللا رَُسوَل
ثََالثٍَة يِف َ�رْبٍ َواِحٍد
”Kami mengadu kepada Rasulullah saw. Pada hari
Uhud, kami berkata:”Ya Rasulullah, membuat liang
59 HR. Abu Dawud: Sunan Abu Dawud
49
kubur bagi tiap-tiap orang itu berat bagi kami”. Lalu
Rasulullah bersabda:Galilah, perdalamkanlah dan
kerjakanlah dengan baik”.60
7. Membuat galian lahat serta memasang batu-bata
merah di atas kuburan kaum muslimin
Berdasarkan hadits dari ’Amir bin Sa’ad bin Abi
Waqash r.a:
ِ�يِه َهلََك ي ِ
َّ
اذل َ�َرِضِه يِف قَاَل َوقَّاٍص يِب
َ
أ ْ�َن َسْعَد نَّ
َ
أ
ًْدا َوانِْصبُوا َعيَلَّ ا�لَّنِبَ نَْصبًا َكَما ُصِنَع بِرَُسوِل
َ
َُدوا يِل حل
ْ
احل
اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم
“Bahwa Sa’ad bin Abi Waqash, ketika sakit ia
berkata:”Buatlah bagiku liang lahat dan pasanglah
di atas kuburku batu bata sebagaimana yang
diperbuat pada Rasulullah saw”.61
8. Memasukkan mayat (jenazah) dari arah kaki kubur
(dari arah selatan)
Berdasarkan hadits Abu Ishak r’a:
فََصىلَّ يَِز�َد ْ�ُن اِهللا َ�بُْد َعلَيِْه َ يَُصيلِّ ْن
َ
أ َارُِث
ْ
احل وىَْص
َ
أ
َقرْبِ َوقَاَل َهَذا ِمَن
ْ
َقرْبَ ِمْن قِبَِل رِْجيَلْ ال
ْ
ْدَخلَُه ال
َ
أ َعلَيِْه ُ�مَّ
نَِّة ا�سُّ
60 HR. al Nasai: Sunan al Nasa’iy
61 HR. Muslim: Shahih Muslim, hadits ini juga didarikan oleh Ah-
mad.
50
”al Harits berpesan supaya ia dishalatkan oleh ’Abdullah
bin Yazid. Lalu ’Abdullah menshalatkannya kemudian
memasukkan janazahnya ke dalam kubur dari
arah kedua kakinya seraya berkata:”Inilah daripada
sunnah”62
9. Saat meletakkan mayat (jenazah) dalam kubur
membaca “Bismillaahi wa ‘ala millati Rasuulillaah”.
Berdasarkan hadits Ibnu ’Umar r.a dari Nabi saw:
ِ�لَِّة وىلََعَ ، اِهللا � : قَاَل َقرْبِ
ْ
ال يِف َميُِّت
ْ
ا� وُِضَع إَذا اَكَن
َْمَسُة
ْ
رَُسوِل اِهللا َوِ� لَْفِظ : وىلََعَ ُسنَِّة رَُسوِل اِهللا } َرَواُه اخل
ال�ََّسايِئّ ) .
َّ
إال
“Adalah Rasulullah saw bila mayat (jenazah) telah
diletakkan dalam kubur, beliau membaca:”Bismillaahi
wa ‘alaa millati Rasuulillaah”. Dalam dari lain
“wa ‘alaa sunnati rasuulillaah”.63
10. Menutup atas kubur mayat (jenazah) wanita saat
dikuburnya
Berdasarkan hadits Abu Ishak r.a:
فََصىلَّ يَِز�َد ْ�ُن اِهللا َ�بُْد َعلَيِْه َ يَُصيلِّ ْن
َ
أ َارُِث
ْ
احل وىَْص
َ
أ
َقرْبِ َوقَاَل : َهَذا ِمْن
ْ
َقرْبَ ِمْن قِبَِل رِْجيَلْ ال
ْ
ْدَخلَُه ال
َ
َعلَيِْه ُ�مَّ أ
62 HR. Abu Dawud: Sunan Abu Dawud
63 HR. lima ahli hadits kecuali al Nasa’iy (lihat kitab Nailul Authar
milik Imam Asy Syaukani)
51
َما يُْصنَُع َهَذا بِال�َِّساِء) إِ�َّ
�ِْشُطوا اثلَّوَْب فَ
َ
نَِّة . ُ�مَّ قَاَل : أ ا�سُّ
”al Harits berpesan supaya ia dishalatkan oleh
’Abdullah bin Yazid. Lalu ’Abdullah menshalatkannya
kemudian memasukkan janazahnya ke dalam kubur
dari arah kedua kakinya seraya berkata:”Inilah
daripada sunnah”. Kemudian berkata:gulunglah kain
itu, karena yang demikian itu dilakukan pada
wanita”.64
sedang dalam hadits Ishaq dalam riwayat Ibnu
Abi Syaibah dengan perkataan:
ْوا ىلَعَ َ�رْبِهِ ثَْوً�ا فََكَشَفُه َ�بُْد َارِِث َ�َمدُّ
ْ
َشِهْدُت َجنَاَزَة احل
َما ُهَو رَُجٌل. اِهللا بِْن يَِز�ُْد قَاَل إِ�َّ
“Aku menyaksikan (perawatan) janazah al Harits,
mereka membentangkan kain di atas kuburnya, lalu
Abdullah bin Yazid menariknya dengan berkata:”Dia
seorang pria”.65
64 HR. Abu Dawud: Sunan Abu Dawud (lihat kitab Nailul Authar)
65 HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushnaf Ibnu Abi Syaibah
52
11. Yang menurunkan mayat (jenazah) ke dalam kubur
bukan orang yang telah bersetubuh pada tadi
malamnya
Berdasarkan hadits Anas r.a:
َشِهْدنَا بِنَْت رَُسوِل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َورَُسوُل اِهللا
َ�يْ�َيِْه يُْت
َ
فََرأ َقرْبِ
ْ
ال ىلَعَ َجا�ٌِس وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ
َحٍد �َْم ُ�َقارِْف ا�لَّيْلََة َ�َقاَل
َ
تَْدَمَعاِن َ�َقاَل َهْل ِ�يُ�ْم ِمْن أ
َل يِف َ�رْبَِها َ�َقرَبََها يِف َ�رْبَِها َ�زَنَ
ْ
نَا قَاَل فَانِْزل
َ
َحَة أ
ْ
بُو َطل
َ
أ
“Kami menyaksikan anak perempuan Rasulullah saw
(dikuburkan), ketika itu beliau duduk disisi kuburan,
aku melihat kedua mata beliau berlinang air mata,
maka sabdanya:”Adakah di antaramu orang
yang tidak bercampur tadi malam?”. Jawab Abu
Thalhah:”saya!”.kemudian beliau bersabda:”turunlah
ke dalam kuburnya!”. Ia lalu turun ke dalam kuburnya,
dan menguburkannya”.66
66 HR. al Bukhari: Shahih al Bukhari
5
12. Meletakkan jenazah dengan menghadapkannya ke
arah qiblat67
13. Meninggikan kubur (sebatas/seukuran) sejengkal
Berdasarkan hadits Abu Hayyaj al Asadiy r.a:
ْ�َعثَُك ىلَعَ َما َ�َعثَيِن َعلَيِْه
َ
أ
َ
ال
َ
يِب َطاِلٍب أ
َ
َّ قَاَل يِل َعيِلُّ ْ�ُن أ
إِال
ً
تِْمثَاال تََدَع
َ
ال ْن
َ
أ وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوُل
�ْتَُه َسوَّ
َّ
فًا إِال ا ُ�رْشِ َ�رْبً
َ
َطَمْستَُه َوال
“Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku:”ingat! Aku
mengutus kamu, sebagaimana Rasulullah mengutus
aku. Janganlah kamu membiarkan arca kecuali
harus kamu singkirkan, dan kuburan yang
ditinggikan melainkan kamu ratakan”.68
Hadits Sufyan Tammar r.a:
ى َ�رْبَ انلَّيِبِّ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم ُ�َسنًَّما
َ
نَُّه َرأ
َ
�
“Bahwa ia melihat kubur Rasulullah saw
beronggok”.69
67 Menurut Syeikh Nasyiruddin al Bani hal ini telah dilakukan pada
masa Rasulullah sampai sekarang ini sebagaimana dikemukakan Ibnu Hazm
dalam kitab al Muhalla (lihat kitab Ahkaam al Jana’iz wa bid’iihaa)
68 HR. Muslim: Shahih Muslim
69 HR. al Bukhari: Shahih al Bukhari
54
Hadits Shalih bin Abi Shalih r.a:
َْو ِشرْبٍ
َ
ْو حن
َ
ا أ يْت َ�رْبَ انلَّيِبِّ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم ِشرْبً
َ
َرأ
“Aku melihat kubur Rasulullah saw. Sejengkal atau
sekedar sejengkal tingginya”.70
14. Diperbolehkan membuat tanda di atas kubur seperti
dengan batu atau yang lainnya pada arah kepalanya
Berdasarkan hadits al Muththalib bin ‘Abdullah r.a:
َ�َر
َ
فَأ فَُدفَِن جِبَنَاَزتِِه ْخِرَج
ُ
أ َمْظُعوٍن ْ�ُن ُ�ثَْماُن َماَت ا �َمَّ
فَلَْم حِبََجٍر ِ�يَُه
ْ
يَأ ْن
َ
أ رَُجًال وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ انلَّيِبُّ
َْها رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم
َ
إِيل َ�َقاَم �َْستَِطْع مَحْلَُه
ي ِ
َّ
اذل قَاَل ِلُب ُمطَّ
ْ
ا� قَاَل َكِثرٌي قَاَل ِذَراَ�يِْه َ�ْن ينِّ وََحرَسَ
َ
ِ� َذ�َِك َ�ْن رَُسوِل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم قَاَل َك� خُيْرِبُ
وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوِل ِذَرايَعْ َ�يَاِض
َ
إِىل ْ�ُظُر
َ
أ
َوقَاَل ِسِه
ْ
َرأ ِعنَْد فَوََضَعَها مَحَلََها ُ�مَّ َ�نُْهَما َحرَسَ ِحنَي
ْهيِل
َ
ِْه َمْن َماَت ِمْن أ
َ
ْدفُِن إِيل
َ
يِخ َوأ
َ
َ�َعلَُّم بَِها َ�رْبَ أ
َ
أ
“Ketika ‘Utsman bin madh’un wafat, janazahnya
dibawa ke luar dan dikubur, lalu Nabi saw.
Memerintahkan seorang laki-laki supaya mengambil
batu, tetapi tidak kuat mengangkatnya, lalu Rasulullah
saw mendekatinya dan menyingsingkan kedua
70 HR. Abu Dawud dalam kitabnya Marasil (lihat kitab Nailul Authar)
55
lengannya. Berkata Muthalib:berkata seseorang yang
mengkhabarkan kepadaku seolah-olah aku melihat
kedua lengan Rasulullah saw. Yang putih waktu
disingsingkannya. Kemudian beliau mengangkat
batu itu dan meletakkannya di arah kepalanya,
dengan sabdanya:”Aku memberi tanda kubur
saudaraku ini dan aku akan mengubur ahliku yang
meninggal disitu juga”.71
15. Menaburkan tanah dari arah kepala sebanyak tiga kali
Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah r.a:
ىَت
َ
نَّ رَُسوَل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم َصىلَّ ىلَعَ جنَاَزٍة ُ�مَّ أ
َ
أ
ِسِه ثََالثًا
ْ
َميِِّت فََحىَث َعلَيِْه ِمْن قِبَِل َرأ
ْ
َ�رْبَ ا�
“Bahwasanya Rasulullah saw. Menshalatkan
jenazah, lalu datang pada kubur si mayit, kemudian
menaburkan tanah atasnya dari arah kepalanya
tiga kali”.72
16. sesudah selesai penguburan kemudian mendoakan-
nya untuk memintakan ampunan dan ketetapan
hati bagi si mayat (jenazah)
Berdasarkan hadits dari ‘Utsman bin ‘Affan r.a:
َميِِّت
ْ
ِمْن َدفِْن ا�
َ
إَِذا فََرغ َم
اَكَن انلَّيِبُّ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلَّ
71 HR. Abu Dawud: Sunan Abu Dawud
72 HR. Ibnu Majah: Sunan Ibnu Majah
56
ُ بِاتلَّ�ِْبيِت
َ
ِخيُ�ْم وََسلُوا هل
َ
َوَ�َف َعلَيِْه َ�َقاَل اْستَْغِفُروا ِأل
ُل
َ
َن �ُْسأ
ْ
إِنَُّه اآل
فَ
“Bahwa Rasulullah saw. apabila selesai dari
mengubur mayat (jenazah), berdiri di sisinya seraya
bersabda:”Mintakanlah ampun bagi saudaramu
dan mohonkanlah ketetapan baginya, karena
sekarang ia sedang ditanya”.73
G. Hal - Hal Yang tidak dituntunkan
1. Meratapi mayat dengan berteriak histeris,
menampar – nampar pipi dan merobek pakaian,
serta memotong rambut saat ditinggal kematian
Berdasarkan hadits dari Abu Malik al ‘Asy’ariy r.a:
ْ�ِر
َ
يِت ِمْن أ مَّ
ُ
ْرَ�ٌع يِف أ
َ
نَّ انلَّيِبَّ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم قَاَل أ
َ
أ
يِف ْعُن َوالطَّ ْحَساِب
َ ْ
األ يِف َفْخُر
ْ
ال ُكوَ�ُهنَّ َ�رْتُ
َ
ال َاِهِليَِّة
ْ
اجل
ْس�ِْسَقاُء بِانلُُّجوِم َوانلِّيَاَحُة َوقَاَل انلَّاحِئَُة إَِذا
ْ
�َْساِب َواال
َ ْ
األ
ِمْن َ�اٌل رِسْ وََعلَيَْها ِقيَاَمِة
ْ
ال يَْوَم ُ�َقاُم َ�ْوتَِها َ�بَْل َ�تُْب �َْم
قَِطَراٍن وَِدْرٌع ِمْن َجَرٍب
"Bahwa Nabi bersabda;"Di tengah-tengah umatku ada
empat hal dari (sifat-sifat) jahiliyah yang belum mereka
tinggalkan; 1) membanggakan kedudukan, 2) mencela
keturunan, 3) minta hujan kepada bintang dan 4)
73 HR. Abu Dawud: Sunan Abu Dawud
57
meratapi mayat”. Dan beliau bersabda:’wanita
yang meratapi bila tidak bertobat sebelum
matinya, akan dibangkitkan di hari qiyamat
dengan pakaian daripada getah dan baju dari
koreng”.74
Hadits dari ‘Abdullah r.a :
َ�ْن انلَّيِبِّ َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم قَاَل لَ�َْس ِمنَّا َمْن رَضََب
َاِهِليَِّة
ْ
ُيُوَب وََداَع بَِدْعَوى اجل
ْ
ُُدوَد وََشقَّ اجل
ْ
اخل
"Dari Nabi saw, beliau bersabda:"Bukan termasuk
golongan kami, orang-orang yang menampar pipi
dan merobek-robek pakaian serta berteriak-
teriak cara jahiliyah’.75
2. Menguburkan jenazah pada waktu matahari terbit,
pada waktu tengah hari (pada waktu matahari di
arah atas kepala), dan pada waktu matahari hampir
terbenam
Berdasarkan hadits dari ‘Uqbah bin ‘Amir al Juhaniy
r.a :
وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ اِهللا رَُسوُل اَكَن َسااَعٍت ثََالُث
ْن َ�ْقرُبَ ِ�يِهنَّ َ�ْوتَانَا ِحنَي َ�ْطلُُع
َ
ْو أ
َ
َ ِ�يِهنَّ أ ْن نَُصيلِّ
َ
َ�نَْهانَا أ
ِهرَيِة َحىتَّ ْمُس بَازَِغًة َحىتَّ تَْرتَِفَع وَِحنَي َ�ُقوُم قَائُِم الظَّ ا�شَّ
74 HR. Muslim : Shahih Muslim dan Ahmad : Musnad Ahmad
75 HR. Bukhari : Shahih al Bukhari dan Muslim : Shahih Muslim
58
ُغُروِب َحىتَّ َ�ْغُرَب
ْ
ْمُس �ِل ْمُس وَِحنَي تََضيَُّف ا�شَّ تَِميَل ا�شَّ
"Tiga waktu Rasulullah melarang kami menshalatkan
dan mengubur mayat: 1) waktu terbit matahari
sehingga naik, 2) waktu matahari di tengah-
tengah sehingga condong dan 3) waktu hamper
terbenam sehingga benar-benar terbenam”.76
3. Mengadzani jenazah pada saat akan dikuburkan77
4. Mentalkini jenazah yang sudah meninggal dunia78
5. Membacakan surat yasin saat akan meninggal
dunia79
6. Meninggikan kuburan lebih dari sejengkal80
7. Membangun kuburan atau membuat tembok di atas
kuburan
Berdasarkan hadits Jabir r.a:
ْن
َ
َقرْبُ َوأ
ْ
َص ال ْن جُيَصَّ
َ
َ�ىَه رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم أ
ْن يُ�ىَْن
َ
ُ�ْقَعَد َعلَيِْه َوأ
76 HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, nasa’I, Ahmad dll., kecuali
bukhari
77 Tidak ada tuntunan dari Rasulullah maupun perbuatan shahabat
78 Hadits yang memerintahkan membaca talqin adalah talqin bagi
orang yang akan meninggal dunia, agar ia dapat mengucapkan kalimat laa
ilaaha illallah. Dan bukan orang yang sudah mati
79 Hadits perintah membacakan surat Yasin tidak bisa dijadikan huj-
jah (lemah)
80 Perhatikan hadits-hadits poin nomor 15 (lima belas)
59
“Rasulullah saw melarang orang menembok
kuburan dan duduk di atas kuburan serta melarang
mendirikan bangunan di atasnya”.81
8. Menjadikan kuburan sebagai masjid – masjid
Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah r.a :
َُهوَد ايلْ اُهللا لََعَن قَاَل وََسلََّم َعلَيِْه اُهللا اِهللا َصىلَّ رَُسوَل نَّ
َ
أ
نِْ�يَائِِهْم َ�َساِجَد
َ
َُذوا ُ�بُوَر أ َوانلََّصارَى اختَّ
"Bahwasanya Rasulullah saw bersabda:"Allah
melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani, dimana
mereka menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi
mereka sebagai masjid”.82
9. Duduk-duduk di atas kuburan
Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah r.a:
َحُدُ�ْم
َ
ْن جَيِْلَس أ
َ َ
قَاَل رَُسوُل اِهللا َصىلَّ اُهللا َعلَيِْه وََسلََّم أل
ْن
َ
ُ ِمْن أ
َ
هِ َخرْيٌ هل ِ
ْ
ِجدل
َ
ىلَعَ مَجَْرٍة َ�تُْحِرَق ِ�يَابَُه َ�تَْخلَُص إِىل
جَيِْلَس ىلَعَ َ�رْبٍ
”Rasulullah saw bersabda:”Sungguh seorang
daripadamu duduk di atas bara api hingga
membakar pakaiannya sampai tembus kekulitnya,
lebih baik daripada duduk di atas kubur”.
81 HR. Muslim: Shahih Muslim
82 HR. Muslim: Shahih Muslim
60
10. Membacakan surat Yasin dikuburan baik saat mayit
dikuburkan maupun sesudah nya
11. Menyelenggarakan tahlilan dan membaca al Qur’an
bagi orang yang sudah meninggal
ْن لَ�َْس �ِإل�َْساِن إِال َما َسىَع
َ
َوأ
"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya,".83
َْزْوَن إِال َما ُكنْتُْم َ�ْعَملُوَن
ُ
َْوَم ال ُ�ْظلَُم َ�ْفٌس َش�ْئًا َوال جت فَايلْ
" Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan
sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa
yang telah kamu kerjakan".84
12. Menyenggarakan tahlilan dan makan-makan di
rumah orang yang ditinggal kematian
Berdasarkan hadits dari Jarir bin ‘Abdullah r.a :
َ�ْعَد َعاِم الطَّ وََصِنيَعَة َميِِّت
ْ
ا� ْهِل
َ
أ
َ
إِىل اِالْجِتَماَع َ�ُعدُّ ُكنَّا
َدفِْنِه ِمْن انلِّيَاَحِة
"Adalah kami menganggap, bahwa berkumpul di
rumah orang yang ditinggal kematian dan mereka
membuat makanan sesudah mayit dikuburkan adalah
termasuk meretap (nihayah)”.85
83 QS. An Najm : 39
84 QS. Yaasin : 54
85 HR. Ahmad : Musnad Ahmad. Hadits ini juga dikutip oleh imam As
61
Hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far :
َعلَيِْه اُهللا َصىلَّ انلَّيِبُّ قَاَل قُِتَل ِحنَي َجْعَفٍر َ�يْعُ َجاَء ا �َمَّ
تَاُهْم َما �َْشَغلُُهْم
َ
وََسلََّم : اْصنَُعوا ِآلِل َجْعَفٍر َطَعاًما، َ�َقْد أ
“Ketika tersiar kabar terbunuhnya ja’far, bersabda nabi
saw:”Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far
karena mereka telah kedatangan perkara yang
menyusahkan mereka (sedang berduka cita)”.86
13. Memberi upah kepada yang membaca al Qur’an
untuk dihadiahkan pahalanya kepada si mayat
14. Berziarah dengan tujuan membaca al Qur’an, dzikir-
dzikir dan melakukan shalat di atas kuburan
15. Bertawassul kepada Allah dengan perantara orang
yang sudah mati dll.
Syaukani dalam kitab Nailul Authar dan As Shan’ani dalam kitab Subulus-
salam. sedang Menurut pengarang kitab al Musnadul jami’ hadits ini
juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Mengadakan tahlilan sesudah ditingal
kematian tidak pernah dilakukan oleh Nabi maupun para shabat nabi. Se-
dangkan ahli mayit membuatkan makanan bagi orang lain, menurut Asy
Syaukani perbuatan tersebut menyalahi sunnah, karena yang disunnahkan
adalah orang lain (penta’ziyah) yang dianjurkan untuk membuatkan ma-
kanan bagi keluarga yang ditinggal kematian sebagaimana hadits dari ‘Ab-
dullah bin Ja’far.
86 HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Imam Asyafi’i
62










